Anda di halaman 1dari 12

FUNDAMENTAL OF NURSING I Transkultural Nursing

Kelompok 2 :
Walastiono Wildan RR Maulida Nur H Ariska Junior A N try Yulianti Rizkytia Oseatiarla Hera Hertiani Hilma Zahra Ayu Agustin Dedi Suhendi 220110080014 220110080015 220110080016 220110080017 220110080019 220110080021 220110080022 220110080023 220110080024 220110080025 220110080026

Adisti Andaruni 220110080018 Natalia Chandra 220110080020

Fakultas llmu Keperawatan Universitas Padjadjaran


1

DAFTAR ISI

I. Daftar Isi.........................................................................................................1 II. Kata Pengantar............................................................................................... 2 III. Pendahuluan...................................................................................................3 i. Latar Belakang................................................................................ 3 ii. Tujuan..............................................................................................3 iii. Batasan Masalah............................................................................. 3 iv. Alasan Pemilihan Judul...................................................................4 v. Sistematika...................................................................................... 4 IV. Isi................................................................................................................... 5 i. Kasus I............................................................................................ 5 ii. Kasus II........................................................................................... 8 V. Penutup..............................................................................................................14 VI.Daftar Pustaka................................................................................................15

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang berkat nikmat dan hidayat-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baik usaha kami. Mata kuliah Fundamental Of Nursing memiliki sub materi transculture nursing yang membahas tentang menyimpangnya prilaku medik dan pengaruh budaya dalam penerapannya, serta bagaimana sebaiknya perawat profesional menanggapi hal tersebut. Terdapat model-model pelayanan keperawatan yang dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan dan pengambilan tindakan yang dilakukan oleh perawat. Untuk lebih jelasnya akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini. Pembuatan makalah ini tidak akan berjalan baik tanpa adanya peran serta para anggota kelompok yang tergabung dalam tim penyusun makalah ini, juga tanpa bimbingan dosendosen pembimbing. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait yang telah aberperan dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Kritik dan saran yang bertujuan membangun sangat diharapkan demi meningkatnya kualitas pembelajaran kami. Sumedang, September 2008

Tim Penyusun

BAB I PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Budaya dan kebiasaan masyarakat yang salah mengakibatkan penyimpangan prilaku medik dalam praktik kesehatan. Hal ini membuat client, baik yang sakit maupun yang sehat terancam bahaya dikarenakan tidak adanya ilmu dan keahlian khusus dalam bidang tersebut. Selain itu, persepsi masyarakat yang salah tentang praktik kesehatan dikhawatirkan semakin mengancam kualitas kesehatan client itu sendiri.

TUJUAN
Dibuatnya makalah ini bertujuan untuk meluruskan persepsi salah dari masyarakat. Ditunjang dengan fakta-fakta dan ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan, kami berharap client akan menuju praktik kesehatan yang aman dan benar.

BATASAN MASALAH
1. IBU Mitha 22 tahun, sedang hamil 32 minggu, ia selalu menolak anjuran perawt untuk kontrol kandungannya ke puskesmas. Ia mengatakan bahwa ia lebih percaya kepada dukun beranak yang sudah turun menurun dipercaya oleh keluarga besarnya. Ibu Mitha mengatakan bahwa dukun beraak dapat memberikan pelayanan yang diinginkan sampai 40 hari setelah kelahiran. Dan ia percaya bahwa dukun beranak tersebut memberikan rasa tenang secara batiniah. 2. ibu Hart 43 tahun, seorang ibu rumah tangga. Beliau sedang menderita sakit demam yang sangat tinggi sampai mengigil. Ketika perawat komunitas datang, Ibu Hart meminta agar dirinya disuntik. Ia mengatakan jika ia tidak disuntik, maka ia tidak akan sembuh dari penyakitnya. Sehingga ia mengatakan walaupun harus membayar biaya yang mahal untuk suntik tersebut, ia akan membayarnya. Perawat komunitas yang melihat Ibu Hart demam dan tenggorokannya kemerahan, menganjurkan Ibu Hart untuk meminum jus buah atau air jeruk dingin. Ibu Hart kebingungan, mengapa ia dianjurkan untuk meminum jus, sementara ia ia dalam keadaan sakit. Menurut Ibu Hart, jika ia meminum jus, ia akan bertambah sakit.

ALASAN PEMILIHAN JUDUL


Dari beberapa kasus yang ada, dipilih dua kasus tersebut di atas dikarenakan kedua masalah tersebut bukan lagi kasus yang cukup menantang bagi kami. Diharapkan dengan kasus tersebut, kami dapat mengambil pelajaran tentang bagaimana praktik kesehatan yang baik dan benar serta sesuai dengan etika keperawatan.

SISTEMATIKA
BAB I mengenai Pendahuluan I.a. Latar belakang I.b. Tujuan I.c. Batasan Masalah I.d. Alasan Pemilihan Judul BAB II mengenai Isi BAB III mengenai Penutup

BAB II ISI
Kasus Transcultural of Nursing yang didiskusikan :
KASUS I I. Ibu Mitha 22 tahun sedang hamil 32 minngu, dia selalu menolak anjuran perawat untuk kontrol kandungannya ke puskesmas . Dia mengatakan bahwa dia lebih percaya pada dukun beranak yang sudah dipercaya turun temurun oleh keluarga besarnya. Ibu mita mengatakan bahwa dukun beranak dapat memberikan pelayanan yang diinginkan sampai 40 hari setelah kelahiran . Dan dia percaya bahwa dukun beranak itu memberikan ketenangan secara bathinah. Dengan menggunakan 3 model pelayanan keperawatan dan pengambilan keputusan sesuai dengan teori transcultural yaitu: Sebagai seorang perawat hal yang harus dilakukan dalam menghadapi ibu Mita yang sedang hamil adalah menekankan bahwa: 1. Agar kondisi kandungannya dapat terjaga dan tetap sehat, baik ibu Mitha itu sendiri maupun bayi yang ada dalam kandungannya diberi cukup nutrisi yang seimbang. 2. Kita harus menegaskan bahwa peralatan yang ada di dukun bayi itu tidak selengkap di Rumah Sakit, 3. Dukun bayi itu tidak memiliki ijin praktek resmi dari Depkes. 4. Apabila terjadi suatu masalah terhadap kandungannya dukun bayi tersebut tidak dapat memberikan pelayanan seperti pelayanan yang ada di Rumah Sakit. Kecenderungan dan Dilema BIAYA SOSIAL Biaya biaya Sosial berkenaan dengan penyusunan kembali hubungan personal, pola-pola adat pergaulan dan hubungan persahabatan yang sering mengikuti inovasi. Seorang wanita muda mungkin dapat diyakinkan bahwa pusat pelayanan kesehatan pemerintah di desa atau dekat desanya, dengan pelayanan

sebelum dan setelah kelahiran oleh tim yang terdiri dari dokter dan bidan perawat, lebih baik daripada melahirkan dengan bantuan dukun bayi desa Rasa percaya pada profesi non kesehatan Bentuk perawat kesehatan alternate (alternatif) dapat memenuhi kesehatan dari segi sosial, psikologi dan mungkin juga organik, yang bagi beberapa orang, paling sedikit tidak berhasil diperoleh dari dokter maupun dari pelayan kesehatn yang berkaitan. Walaupun terdapat keberhasilan di beberapa negara dalam mengintegrasikan para dukun bayi maupun ke dalam pelayanan kesehatan nasional, dan walaupun ada bukti tentang keberhasilan yang diperoleh dari pemanfaatan para penyembuh gangguan jiwa pribumi, masalah mengenai pengikusertaan secara terselubung para penyembuh pribumi dalam pelayanan kesehatan ilmiah adalah luar biasa. Karena penanganan penyait-penyakit mental nonorganis dalam masyarakat kurang dianggap sebagau ilmu dari ilmu bedah,wajarlah untuk berasunsi seperti yang diungkapkan LAMBO,bahwa para penyembuh pribumi dapat melakukan peranan terahdap pelayanan-pelayanan kesehatan formal.

PERBEDAAN ILMU KEDOKTERAN DAN KEDUKUNAN


PERBEDAAN ASASI Ilmu kedokteran adalah suatu ilmu, sesuatu yang berdasarkan eksperimen ilmiah berdasarkan akal, sesuatu yang dapat diterangkan dengan hukum sebab akibat. Sebaliknya kedukunan bersindikat kepercayaan, berhubungan erat dengan tenaga-tenaga supernatural, kebatinan, agama, dan tradisi. Didalam kedokteran, diagnosis (menentukan sesuatu penyakit dan riwayat kedokteran si penderita). Diagnosis ditentukan oleh kekuatan supernatural sedangkan kedukunan ditentukan oleh kekuatan gaib. Ilmu kedokteran diajarkan secara formal di perguruan tinggi sedangkan kedukunan diajarkan secara formal dan diterima tidak dengan kritis. Jadi perbedaannya kelihatan tegas. Bagi dukun-dukun modern, mantera da jamu sudah terlalu kolot, maka mereka memakai alatalat teknik modern dan rumus-rumus kimia palsu yang dapat digolongkan ke dalam pseudoscience. PRAKTEK KEDUKUNAN Tentang praktek kedukunan sudah banayak diketahui. Oleh karena praktek tersebut diterima dengan penuh kepercayaan dan tidak secara kritis, maka banyak dari prosedur-

prosedur kedukunan sekarang dipraktekkan sejak berabad-abad yang lalu. Banyak sekali muslihat-musliha kecil yang dipakai oleh dukun dan dokter palsu, sehinhgga satu buku besar, kalau saya mau menulisnya, tidak akan dapat mencakupinya. Orang bijaksana tidak akan mempercayakan nyawanya dalam tangan merekan dan tidak akan memakan obat-obat mereka yang selalu mematikan banyak orang. Meskipun sudah 10 abad ditulis, uraian itu seperti menceritakan keadaan sekarang saja. PENGARUH TIMBAL BALIK Baik di negeri yang sudah maju, maupun di negeri yang kurang maju, terdapat kedokteran dan kedukunan: hanya luas pengaruh masing-masing yang berbeda. Di negerinegeri lain kedukunan yang lebih berpengaruh. Jarang sekali, di mana hanya ada dokterdokter atau dukun-duku n saja dalam pengobatan. Karena kedokteran dan kedukunan sebagai suatu lembaga kebudayaan, maka keduanya dipengaruhi dan mempengaruhi lembaga-lembaga kebudayaan lain. Jika dalam suatu masyarakat, kedukunan sangat berpengaruh, jadi lebih kokoh integrasinya dengan lembaga-lembaga kebudayaan lein dalam satu kesatuan, maka pemasukan ilmu kedokteran ke situ akam mengalami kesukaran-kesukaran. Sebaliknya jika kedokteran yang berpengaruh, maka kedukunan akan sukar sekali mempertahankan diri atau masuk kembali. Pengaruh kedukunan terhadap kedokteran dapat dilihat juga pada obat-obat yang diambil oleh yang berkalangan, umpamanya adrenalin, kina, digitalis, rauwolfia, cocain, ipepac dan sebagainya.

MASA DEPAN KEDUKUNAN DI INDONESIA Beberapa jenis penyakit membuka pintu bagi para dukun seperti penyakit psikofisiologis yang ringan (dulu disebut psikosomatik) yaitu penyakit psikis yang menimbulkan gangguan fisiologis. Dengan penenang, reassurance, dapat disembuhkan oleh siapa aja, dokter , dukun, pendeta, ulama, orang tua, saudara atau sahabat karib. Penyakitpenyakit ini meliputi persentase yang besar. Ada pula penyakit yang membatasi dirinya (self limmited diseasae) yaitu dapat sembuh sendiri dalam waktu tertentu setelah selesai coursenya, meskipun tidak diobati, asal tidak ada komplikasi, seperti pilek, cacar dan lain-lain. Tidak ubahnya seperti gerhana apakah kita menggunakan palu besar untuk memukul gendang dengan gegap-gempita ataukah kita diam saja, ia akan selesai pada waktunya. 8

Adapula penyakit yang oleh dokter pun tidak dapat diobati, misalnya kanker lanjut. Demikian pula penyakit yang sukar diagnosisnya dan kanker lanjut. Demikian pula penyakit yang sukar diagnosisnya dan membutuhkan pemeriksaan laboratoria yang banyak. Fasilitas tidak lengkap, mahal atau lama, atau kekeliruan diagnosis, semuanya memungkinkan si penderita lari ke dukun. Penyakit-penyakit itu semua menjadi pintu terbuka bagi dukun. Untuk mempertahankan dirinya di kota atau dalam keadaan pendidikan yang makin maju nanti, mungkin kedukunan akan meninjam beberapa prosedur kedokteran atau pseudo ilmiah dan memperhebat pengiklanannya. Sebaliknya untuk memajukan kedokteran, dapat diperhebat pendidikan kesehatan kepada masyarakat, dengan mengajak rakyat ikut serta dalam usaha perbaikan kesehatan mereka dengan pertolongan para ahli antopologi budaya dan intensifikasi pendidikan medis dan paramedis. KESIMPULAN 1. Antara ilmu kedokteran dan kedukunan terdapat perbedaan yang jelas, baik dasar falsafahnya, cara mengajarkan, mendiagnosis ataupun memperkirakan jalannya penyakit. 2. Dijelaskan beberapa aliran seperti homepathy, naturopathy, osteopathy, dan kiroprakis. 3. Dalam mempertahankan dirinya, masing-masing cra pelayanan kesehatan ini saling menggunakan teknik pihak lain sehingga dapat memperoleh akseptabilitas dari pemakai

KASUS II
II. Ibu Hart 43 tahun seorang ibu rumah tangga. Beliau sedang menderita sakit demam yang sangat tinggi sampai menggigil. Ketika ada perawat komunitas datang ke rumahnya, ibu itu minta disuntik dan dia mengatakan kalau tidak disuntik dia percaya tidak akan sembuh dari sakitnya. Sehingga dia mengatakan walaupun bayarnya mahal di akan tetap membayarnya. Perawat komunitas karena melihat ibu hart demam dan tenggorokannya kemerahan, dia menganjurkan ibu hart itu minum jus buah-buahan 9

atau jeruk yang dingin. Ibu hart kebingungan, koq bisa dia yang sakit disuruh minum jus....menurut fikiran ibu hart, dia akan tambah sakit.

Dengan menggunakan 3 model pelayanan keperawatan dan pengambilan keputusan sesuai dengan teori transcultural yaitu: Sebagai seorang perawat dalam menghadapi ibu Hart yang sedang sakit adalah : 1. 2. 3. Memberikan pengertian bahwa sakit demamnya itu masih dalam batas normal sehingga tidak memerlukan pengobatan secara injeksi. Kita harus bisa mengarahkan bahwa penyakitnya paling baik bisa disembuhkan dengan meminum jus tanpa harus disuntik. Jika ibu Hart tetap bersikukuh, cara terakhir yang kita lakukan tetap menyuntiknya tetapi dengan caira yang tidak berbahaya misalnya cairan infus. Akan tetapi tetap disarankan untuk meminum jus. 4. 5. Perawat pasti menyuruh pasien untuk mengkonsumsi jus karena perawat tersebut sudah mengetahui manfaat jus tersebut. Menekankan kepada ibu Hart bahwa jika terlalu banyak menggunakan suntikan akan menimbulkan banyak efek samping seperti pegal-pegal di seluruh tubuh dan kerusakan organ sehingga lebih baik untuk mengkonsumsi bahan-bahan alami yang lebih bervitamin, higienis dan tanpa efek samping. Sesuai dengan buku transkultural masing-masing bahwa makanan atau minuman berfungsi untuk : 1. 2. 3. 4. Untuk perawatan dan pencegahan sakit. Untuk kebutuhn fisik seperti memberi energi dan nutrisi. Untuk hubungan antar manusia. Misalnya, makanan sebagai simbol untuk mengindikasikan kebudayaan tertentu dan membina hubungan antar manusia. Untuk menanggulangi stress dan konflik.

10

BAB III PENUTUP


Budaya mempengaruhi sikap dan tindakan perawat dalam melakukan asuhan keperawatan di rumah sakit karena klien memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda sehingga perawat harus mampu menyesuaikan diri dengan situasi tersebut dan klien merasa aman. Demikian makalah ini kami buat dengan usaha yang sebaik-baiknya. Kami ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait yang mendukung kelancaran dalam pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat ini jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi meningkatkan kualitas pembelajaran kami selanjutnya. Wassalam.

11

DAFTAR PUSTAKA
Leininger,Maideleine & R.Mc Farland Marilyn. 2002 . Transkultural nursing.

12