Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Bahwa tidak dapat dipungkiri, jika pengembangan kemampuan ekonomi masyarakat selalu berimbas pada kemungkinan terjadinya eksploitasi Sumber Daya Alam, salah satunya Sumber Daya Air. Penggunaan sumber daya alam dapat berkelanjutan apabila kegunaanya diikuti oleh upaya upaya pelestarian, maupun pencegahan terhadap dampak negatif yang mungkin terjadi. Kebijaksanaan pengelolaan lingkingan hidup secara umum diatur dalam UU No. 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dimana pada pasal 6 ayat (1) disebutkan bahwa: Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Dan ayat (2) bahwa: Setiap orang yang melakukan usaha dan atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup. Khusus di sektor industri telah diatur dalam UU No. 5/1984 tentang Perindustrian yang menyebutkan bahwa Pembangunan Industri Nasional harus menganut prinsipprinsip berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Harus dilakukan upaya untuk mencegah terjadinya pencemaran akibat eksploitasi sumber daya alam yang tidak terencana dan pembuangan limbah industri yang tidak terkendali. Zat- zat pencemaran yang yang dibuang ke lingkungan harus memenuhi daya dukung lingkungan yang ditentukan dengan mekanisme Baku Mutu Lingkungan (BML) dan Nilai Ambang Batas (NAB) Berpedoman pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 27 Tahun 1999 pasal 3 ayat (4) bahwa bagi rencana usaha dan atau kegiatan diluar usaha dan atau kegiatan kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting bagi lingkungan hidup wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan atau yang bersangkutan. Keputusan Menteri Negara Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup, maka rencana kegiatan yang tidak mempunyai dampak besar dan penting, atau dampak pentingnya dapat ditanggulangi secara teknologi tetap diwajibkan untuk menyusun dokumen UKL dan UPL.

Upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan perlu dilakukan, untuk mengantisipasi terjadinya penurunan debit air tanah yang berlebihan, dan terjadinya pencemaran air, tanah, dan udara akibat utilitas pabrik.

1.2 Dasar Hukum


1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 2. Undang-Undang No. 36 Tahun 2007 tentang Penataan Ruangan. 3. Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 4. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. 5. Peraturan Pemerintah No.82 Tahun 2001 , tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. 6. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Daerah sebagai Daerah Otonomi. 7. Permen No. 45/PRT/1990 Tentang Pengendalian Mutu Air pada Sumber Air. 8. Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Ri No. 12/MENLH/PER1994, tentang pedoman umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). 9. Keputusan Menteri Perindustrian Nomor: 250/M/SK/10/1994 tentang Pedoman Teknis Penyusunan Pengendalian Dampak Terhadap Lingkungan Hidup pada Sektor Industri. 10. Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 148/m/s/7/1997tentang Penetapan Jenis dan Komoditi Industri yang proses Produksinya tidak merusak ataupun tidak membahayakan lingkungan serta tidak menggunakan Sumber Daya Alam secara berlebihan. 11. Keputusan Menteri Perdagangan Nomor. 35/KP/II/1995 TENTANG Penetapan Kegiatan wajib UKL dan UPL Bidang Perdagangan. 12. Keputusan Menteri Negara Lingkungan HidupNomor. 86 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup. 13. Surat Edaran Kepala BPPIIP Nomor. 287/BPPIP-SDWLH/VI/2000 tentang Pelaksanaan Dokumen UKL dan UPL. 14. Surat Edaran Kepala BPPIP NOMOR. 428?BPPIP-SDWLH/IX/2000 tentang Pelaksanaan Penilaian Dokumen UKL dan UPL. 15. Keputusan Gubernur Jawa Timur No. 413 Tahun 197,tentang Penggolongan dan Baku Mutu Air di Jawa Timur. 16. Keputusan Gubernur Jawa Timur No. 188 Tahun 1988, tentang Baku Mutu Kualits Udara Ambient dan Air Laut. 17. Keputusan Gubernur Jawa Timur Bo. 129 Tahun 1996,tentang Baku Mutu Kualitas Udara Ambient dan Emisi Sumber Tak Bergerak.

18. Keputusan Gubernur Jawa Timur No. 45Tahun 2002,tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Industri atau Kegiatan Usaha Lainnya di Jawa Timur. 19. Keputusan Menteri Jawa Timur No. 10 Tahun 2004, tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya pemantauan Lingkungan Hidup. 20. Perda No. 2 Tahun 1996 tentang Penetapan Kawasan Lingkungan di Kabupaten Ngawi. 21. Peraturan Bupati Ngawi No. 04 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan Dukumen UKL-UPL 22. Peraturan Bupati Ngawi No. 32 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan dan Penilaian Dokumen AMDAL. 23. Keputusan Bupati Ngawi No. 188/106/404/2007 tentang Pembentukan Komisi Penilai AMDAL.

1.3 Tujuan dan Fungsi UKL-UPL


a. Tujuan Tujuan dari adanya dokumen UKL-UPL ini adalah: Menjadikan acuan untuk pengambilan keputusan dalam rangka pemilihan alternative yang layak dari segi lingkungan. Mengurangi, mencegah, dan mengatasi dampak negatif yang mungkin terjadi akibat dari kegiatan operasional industri. Mengembangkan dampak positif dan mengambil manfaat yang mungkin terjadi. Mewujudkan suatu bentuk manajemen lingkungan hidup yang terkendali, untuk menyempurnakan sistem pengendalian lingkungan kedalam maupun keluar dari batas kegiatan dan atau operasional kegiatan melalui pemantauan lingkungan sebagai umpan balik. b. Fungsi 1. Bagi Pemprakarsa Untuk turut serta dalam sistem pembangunan yang berkelanjutan. Terwujudnya pedoman yang sistematis tentang berbagai bentuk manajemen pengelolaan lingkungan hidup yang dapat dilaksanakan sejalan dengan pelaksanaan kegiatan pengelolaan industri dan pemantauannya. 2. Bagi Pemerintah Sebagai teladan dalam melaksanakan dalam melaksanakan peraturan perundangan mengenai pengelolaan lingkungan hidup dan pemantauan lingkungan hidup, sekaligus sebagai obyek evaluasi pada tingkat Efektifitas ketentuan-ketentuan yang terkadang dalam peraturanperundangan tersebut. 3. Bagi Masyarakat

Memberikan kepastian bahwa ada kepedulian pada pemrakarsa terhadap pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup didalam kawasan kolam renang dan akibat yang ditimbulkannya. Mencegah terjadinya konflik sosial antara masyarakat yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam kegiatan kolam renang. BAB II RENCANA USAHA DAN ATAU KEGIATAN

2.1 IDENTITAS PEMRAKARSA A. Data Umum Perusahaan Nama perusahaan : PT.ENVIROMATE TECHNOLOGY INTERNATIONAL Tahun Pendirian : 2003 Jenis Usaha : Pemecah Batu / crusher NPWP : 35.21.050.010.010-005.0 Kapasitas Produksi : Status Usaha : Perseroan Terbatas Alamat : Jl. Raya Ngawi-Madiun KM. 7, Ds Geneng Kec. Geneng Kab. Ngawi Telp/Fax :B. Penanggung Jawab Perusahaan Nama : SUSANTO Jabatan : Direktur Alamat : Jl. Sripulau Rt. 04/02 Ds. Bengkalis Kota, Kec. Bengkalis Kab. Bengkalis Telp/Fax :C. Keterangan Badan Usaha Bentuk Badan Usaha Akta Pendirian D. Areal Pemecah Batu Luas Penggunaan Lahan Status Lahan : Perseroan Terbatas : 03, Tanggal 12 Mei 2009 : 10.545 m2 : 866 m2 : Sewa

E. Jenis Perusahaan yang sudah dimiliki Surat Izin Tempat Usaha Surat Izin Usaha Tetap Surat Izin Mendirikan Bangunan Surat Izin Pengambilan Air Bawah Tanah Surat Izin Gangguan 2.2 DATA KEGIATAN A. B. C. D. E. F. G. Jenis Peralatan Waktu Operasi Jumlah Tenaga Kerja Penggunaan Energi Penggunaan Minyak Pelumas Pengelolaan Limbah

BAB III KOMPONEN LINGKUNGAN Komponen lingkungan yang diperkirakan mempunyai interaksi dengan kegiatan industri pengilinggan batu ini pada tahap oprasional adalah: 3.1 IKLIM Secara geografis, Kabupaten Ngawi terletak pada posisi 7 29 7 3320 Lintang Selatan dan 111 1926 111 2927Bujur Timur. Secara administrasi Wilayah Kabupaten Ngawi terbagi menjadi 19 kecamatan, dan 217 desa, dimana 4 dari desa tersebut adalah kelurahan. Luas Wilayah Kabupaten Ngawi adalah 1.298,58 km , dimana sekitar 40% atau 506,6 km berupa lahan sawah. Lokasi penggilingan batu memiliki suhu berkisar antara 15 C 38 C dan kelembaban udara berkisar antara 52% - 94%. Kabupaten Ngawi memiliki curah hujan rata-rata per bulan 20,27 mm. 3.2 KUALITAS AIR Ketersediaan air bersih sangat urgen bagi organisme hidup termasuk manusia. Ketersediaan itu tergantung pada kondisi tanah, kemiringan tanah, ketinggian tanah, curah hujan, debit aliran sungai, dll. Sebagian besar kebutuhan air diproduksi dari Air Bawah Tanah dan Air Sungai. Air Bawah Tanah menjadi sangat urgen bagi suplai air minum penduduk Kabupaten Ngawi, terutama di Kecamatan Ngawi. Keterediaan Air Bawah Tanah dipengaruhi oleh curah hujan dan daya serap tanah. Diharapkan,pada saan hujan tidak terjadi Run Off, sehingga presentasi air hujan yang terserap tanah menjadi sangat tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya tumbuh-tumbuhan sebagai penahan air hujan. Maka diperlukan kosistensi penghijauan di Kabupaten Ngawi, dan memerangi pembalakan liar (ILLEGAL LOGGING), perusakan hutan akibat kebakaran, dll.

Air Sungai terkait dengan banyaknya atau Volume sumber air di daerah dataran tinggi (pegunungan), berarti juga terkait dengan ketersediaan Air Bawah Tanah yang mencukupi. Karena itu, konsumsi air sumber di daerah dataran tinggi harus dibatasi, sehingga aliran sungai dibawahnya tidak mengalami penurunan debit. Hal ini harus diperhatikan, karena irigasi pertanian membutuhkan debit air sungai yang cukup.

3.3 MORFOLOGI DAN TOPOGRAFI Lokasi pabrik adalah di Jl. Raya Ngawi Madiun KM 7 Kec. Geneng, dimana bentuk lahan di Kecamatan Paron sebagian besar terbentuk karena aktifitas binaan manusia, yaitu bangunan toko, dan pasar, perumahan dan kantor, perkerasan aspal jalan, saluran, dll. Luas lahan pemukiman di Kecamatan Paron adalah 52 KM 2 , pertokoan atau pasar 1 pasar desa ( Data dari Kabupaten Ngawi dalam angka 2009). 3.4 KOMPONEN SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA Lokasi kegiatan penggilingan batu dari badan di Jl. Raya Ngawi Madiun KM 7 Kecamatan Paron Kondisi ekonomi dan budaya Kecamatan Paron dapat diuraikan sebagai berikut: a. Kependudukan Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kecamatan Paron, menggambarkan bahwa Kecamatan Paron pada tahun 2009. Memiliki luas wilayah administrasi 9297,5 ha. Demokrasi Kecamatan Paron menurut klasifikasi jumlah penduduk adalah sebesar 89.362 jiwa, sedangkan rata-rata anggota keluarga 3 orang/keluarga, maka kepadatan keluarga adalah sebesar keluarga. b. Kawasan Pemukiman Kawasan pemukiman adalah salah satu sarana hunian yang erat kaitannya dengan tata cara kehidupan masyarakat. Lingkungan daerah pemukiman merupakan suatu daerah hunian yang perlu dilindungi dan bebas dari gangguangangguan. Luas Pabrik Pupuk Organik adalah sebesar 7.480 m2 c. Fasilitas Pendidikan Bagi penduduk Pendidikan merupakan kebutuhan yang tidak bias dihindari, untuk meningkatkan mutu kualitas sumber daya manusia, terutama dimasa pembangunan sekarang ini. Ketersediaan fasilitas pendidikan sangat menunjang terlaksananya kegiatan pendidikan itu. Kecamatan Paron adalah pusat dari Kabupaten Ngawi, sehingga dari segi ketersediaan fasilitas pendidikan sama sekali tidak ada masalah dan sangat mencukupi bagi penduduk di Kecamatan Paron

d.

Agama dan Fasilitas Keagamaan Berdasar pada data BPS Kabupaten Ngawi tahun 2009, di Kecamatan Paron mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Islam sebanyak 89.013 jiwa, kemudian Kristen 204 jiwa, Katolik 122 jiwa, Budha 22 jiwa, dan Hindu 0 jiwa Untuk menunjang kegiatan keagamaan dan peribadahan di Kecamatan Paron, data jumlah Masjid adalah 116 Buah, Musola 450 buah, gereja 5 Buah, klenteng 1 buah, kuil 2 e. 1. Kesehatan Fasilitas Kesehatan dan tenaga Medis Untuk menunjang dan menjaga kesehatan masyarakat, dibutuhkan fasilitas kesehatan yang memadai, dan tenaga medis yang cukup. Hal ini sangat dibutuhkan, sebagian dari pengaruh kesehatan bagi masyarakat terkait dengan masyarakat di pabrik. Data BPS Kabupaten Ngawi di Kecamatan Paron terdapat 0 Rumah Sakit Swasta, 0 buah Rumah Sakit Bersalin, 0 juga ada 111 Buah posyandu, 9 buah polindes, 2 buah Apotik, dan 9 buah Toko Obat / Jamu. Jumlah tenaga medis di Kecamatan Paron adalah 89 Orang ( Kabupaten Dalam Angka Tahun 2008 ) 2. Gangguan Kesehatan Gangguan kesehatan yang banyak terjadi di Kabupaten Ngawi adalah gangguan kesehatan saluran pernafasan atas dengan jumlah penderita sebesar 0 jiwa. Sedangkan penyakit lainnya adalah sebesar 37.962 Jiwa. Penyakit sistem otot dan jringan pengikat menempati urutan ketiga dengngan jumlah penderita sejumlah 4000 jiwa.Hal ini menjadi perhatian dan acuan bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dan brsiap priventif terhadap kemungkinan mengidap penyakit diatas. f. Air Bersih

Untuk keperluan sehari-hari, yaitu untuk air minum, mandi, dan mencuci, dibutuhkan air bersih yang mencukupi. Umumnya masyarakat mencukupi kebutuhan air bersih dari sumur gali. Tetapi ada sebagian yang memenuhi dari sumur pompa, PDAM, dan membeli air sumber ( untuk air minim ) dari sumber pegunungan. Dari hasil analisa air bawah tanah di lokasi pabrik Pupuk Organik, semua parameter uji memenuhi syarat baku mutu air minum .

BAB IV DAMPAK-DAMPAK YANG AKAN TERJADI Berdasarkan komponen lingkungan yang merupakan komponen lingkungan awal, dapat diperkirakan dampak-dampak yang akan timbul dalam kegiatan operasional Pabrik Pupuk Organik. Guna mengetahui lebih lanjut dampak-dampak yang akan terjadi, akibat dari pola interaksi antara kegiatan usaha dengan kompoonen lingkungan pada tahap operasional pabrik, maka dapat diuraikan sebagai berikut. 4.1 1. SUMBER DAMPAK Utilitas ( Proses Produksi ) udara 1) Faktor internal (secara alamiah), misalnya: debu beterbangan oleh tiupan angin abu atau debu dan gas-gas volkanik dari letusan gunung berapi proses pembusukan sampah 2) Faktor eksternal (karena ulah manusia), misalnya: pembakaran bahan bakar fosil debu atau serbuk dari kegiatan industri pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara Sumber Limbah Cair Sebagai bahan proses produksi. Air harus memiliki baku mutu yang dipersyaratkan, yaitu baku mutu air kelas 1 untuk air minum. Kualitas air mempengaruhi kualitas hasil produksi akiranya Sumber Energi

Energi untuk proses pengolahan berpengaruh terhadap kualitas lingkungan yang mengunakan mesin diesel berpotensi mencemari lingkungan sekitar.. Getaran Getaran yang berasal dari aktifitas kegiatan penggilingan batu mengakibatkan dampak lingkungan terutama pada tanah. 2. Tempat pembuangan limbah Pada proses pengolahan ini, limbah yang dihasilkan terkait dengan pencemaran udara, sisa-sisa olie, air, dan sampah domestik. Perawatan, Perbengkelan, dan Sanitasi Untuk kegiatan perawatan dan perbengkelan fasilitas yang dimiliki pabrik, juga akan menimbulkan pencemaran yang tidak kalah pentingnya. Pada kegiatan ini, terhadap sisa-sisa pelumasan yang berpeluang menjadi zat pencemaran. Logam-logam peralatan yang aus, juga sanitasi atau pencucian dengan menggunakan deterjen dari bahan kimia non-degradable juga berpotensi menjadi pencemaran lingkungan. 4. Kegiatan produksi Secara Ekonomi, kegiatan industri dan produksi sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat sekitar pabrik.

3.

4.2

JENIS DAMPAK Berdasar pada sumber dampak yang sudah dibahas sebelumnya, maka jenis dampak yang akan mungkin terjadi antara lain: 1. Utillasi ( Proses Produksi ) Penurunan Kualitas udara 1. Dampak Pencemaran oleh Karbon Monoksida (CO) Gas CO tidak berbau dan tidak berwarna. Pada keadaan normal konsentrasinya di udara 0,1 ppm, dan di kota dengan lalulintas padat 10 - 15 ppm. Dampak pencemaran oleh gas COantara lain: Bagi manusia dampak CO dapat menyebabkan gangguan kesehatan sampai kematian, karena CO bersifat racun metabolis, ikut bereaksi secara metabolis dengan hemoglobin dalam darah (Hb) : Hb + O2 O2Hb (oksihemoglobin) Hb + CO COHb (karboksihemoglobin) COHb 140 kali lebih stabil daripada O2Hb. Kadar CO : Waktu kontak : Dampaknya bagi tubuh :

100 ppm 30 ppm 1000 ppm 1300 ppm > 1300 ppm

sebentar 8 jam 1 jam 1 jam 1 jam

dianggap aman menimbulkan pusing dan mual pusing dan kulit berubah kemerah-merahan kulit jadi merah tua dan rasa pusing yang hebat lebih hebat sampai kematian

Tanda-tanda keracunan gas CO adalah: pusing, sakit kepala dan mual. Keadaan yang lebih berat lagi adalah: kemampuan gerak tubuh menurun, gangguan pada sistem kardiovaskular, serangan jantung, sampai dengan kematian. Bagi tumbuhan, kadar CO 100 ppm pengaruhnya hampir tidak ada khususnya tumbuhan tingkat tinggi. Kadar CO 200 ppm dengan waktu kontak 24 jam dapat mempengaruhi kemampuan fiksasi nitrogen oleh bakteri bebas terutama yang terdapat pada akar tumbuhan. 2). Dampak Pencemaran Oleh Oksida Nitrogen (NOx) Gas NO tidak berbau dan tidak berwarna. Gas NO2 berbau menyengat, berwarna coklat kemerahan. Sifat racun (toksisitas) NO2 empat kalinya NO. Organ yang paling peka paru-paru, jika terkena NO2 akan membengkak sehingga sulit bernapas sampai kematian. Konsentrasi NO yang tinggi mengakibatkan kejang-kejang, bila keracunan berlanjut mengakibatkan kelumpuhan. NO akan lebih berbahaya jika teroksidasi menjadi NO2. Oksida nitrogen bagi tumbuhan menyebabkan bintik-bintik pada permukaan daun, bila konsentrasinya tinggi mengakibatkan nekrosis (kerusakan jaringan daun), sehingga fotosintesis terganggu. Konsentrasi NO 10 ppm dapat menurunkan kemampuan fotosintesis 60 70 %. Di udara oksida nitrogen dapat menimbulkan PAN (Peroxy Acetyl Nitrates) yang dapat menyebabkan iritasi mata (pedih dan berair). PAN bersama senyawa yang lain akan menimbulkan kabut foto kimia (Photo Chemistry Smog). 3). Dampak Pencemaran oleh Oksida Belerang (SOx) SOx sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, terutama batubara. Gas buang lebih banyak mengandung SO2 dibanding SO3. Dengan oksigen dari udara SO2 menghasilkan SO3: SO2 + O2 SO3 Gas SO2 berbau tajam dan tak mudah terbakar. Gas SO3 sangat reaktif. Dengan uap air dari udara: SO2 + H2O SO3 + H2O H2SO3 H2SO4

Jika ikut terkondensasi di udara dan jatuh bersama air hujan menyebabkan hujan asam. Bagi tumbuhan kadar SOx 0,5 ppm dapat menyebabkan timbulnya bintik-bintik pada daun. Jika paparan lama daun menjadi

berguguran. Bagi manusia SOx menimbulkan gangguan pernapasan. Jika SOx berubah menjadi asam akan menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan dan saluran napas yang lain sampai ke paru-paru. SO2 dapat menimbulkan iritasi tenggorokan tergantung daya tahan masing-masing (ada yang 1 - 2 ppm, atau 6 ppm). SO2 berbahaya bagi anak-anak, orang tua, dan orang yang menderita kardiovaskuler. Otot saluran pernapasan akan mengalami kejang (spasma). Akan lebih berat lagi jika konsentrasi SO2 tinggi dan suhu udara rendah. Pada paparan lama akan terjadi peradangan yang hebat pada selaput lendir yang diikuti paralysis cilia (kelumpuhan sistem pernapasan), kerusakan lapisan ephitelium, akhirnya kematian. Pada konsentrasi 6 - 12 ppm dengan paparan pendek yang berulang-ulang dapat menyebabkan hiperplasia dan metaplasia sel-sel epitel yang akhirnya menjadi kangker. Pada benda-benda, SO2 bersifat korosif. Cat dan bangunan gedung warnanya menjadi kusam kehitaman karena PbO pada cat bereaksi dengan SOx menghasilkan PbS. Jembatan menjadi rapuh karena mempercepat pengkaratan. 4). Dampak Pencemaran oleh Hidrokarbon Pembakaran hidrokarbon menghasilkan panas. Panas yang tinggi menimbulkan peristiwa pemecahan (Cracking) menghasilkan rantai hidrokarbon pendek atau partikel karbon. Gas hidrokarbon dapat bercampur dengan gas buangan lainnya. Cairan hidrokarbon membentuk kabut minyak (droplet). Padatan hidrokarbon akan membentuk asap pekat dan menggumpal menjadi debu/partikel. Hidrokarbon bereaksi dengan NO2 dan O2 mengahsilkan PAN (Peroxy Acetyl Nitrates). Campuran PAN dengan gas CO dan O3 disebut kabut foto kimia (Photo Chemistry Smog) yang dapat merusak tanaman. Daun menjadi pucat karena selnya mati. Jika hidrokarbon bercampur bahan lain toksitasnya akan meningkat. Berikut ini adalah toksitas benzena dan toluena: Konsentrasi Pengaruhnya terhadap tubuh:

Benzena (ppm): 100 3 000 7 500 20 000 200 600 iritasi terhadap mukosa lemas (0,5 - 1 jam) paralysys (0,5 -1 jam) kematian (5 - 10 menit) pusing, lemah, pandangan kabur setelah 8 jam. gangguan syaraf, dapat diikuti kematian jika waktu kontak lama. 5). Dampak Pencemaran oleh Partikel Partikel (debu) yang masuk/mengendap dalam paru-paru dapat

Toluena (ppm):

menimbulkan berbagai macam penyakit saluran pernapasan (pnevmokoniosis) antara lain: a. Penyakit silikosis Disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas (SiO2). Dapat terjadi pada daerah pabrik besi dan baja, keramik, pengecoran beton, bengkel yang mengerjakan besi (mengikir/ menggerinda), penambangan bijih besi, timah putih dan batubara. Bila sudah parah penyakit ini dapat diikuti hipertropi jantung sebelah kanan yang mengakibatkan kegagalan kerja jantung. b. Penyakit asbestosis Disebabkan oleh debu/serat asbes (campuran berbagai silikat terutama magnesium silikat). Dapat terjadi di daerah pabrik/industri yang menggunakan asbes, pabrik pemintalan serat asbes, pabrik yang beratap asbes, dan lain-lain. c. Penyakit Bisinosis Disebabkan oleh debu/serat kapas. Dapat terjadi pada daerah pabrik pemintalan kapas/tekstil, pembuatan kasur atau jok kursi. Penyakit ini dapat diikuti bronkitis kronis. d. Penyakit antrakosis Disebabkan oleh debu batubara. Dapat terjadi pada daerah tambang batubara, penggunaan batubara pada tanur besi, lokomotif (stoker), kapal laut bertenaga batubara, pekerja boiler pada PLTU bertenaga batubara e. Penyakit Beriliosis Disebabkan oleh debu logam berilium yang dapat berupa logam murni, oksida, sulfat, atau halogenida. Dapat terjadi pada daerah industri logam campur berilium-tembaga, pabrik fluoresen, pabrik pembuat tabung radio, pengolahan bahan penunjang industri nuklir. Penurunan Kualitas air Akibat proses produksi yang berakibat mencemari air baik secara langsung maupun tidak langsung, langsung yaitu limbah cair yang di hasilkan langsung dan mencemari air permukaan dan tidak langsung yaitu meresapnya limbah cair ke dalam tanah yang mengakibatkan tercemarnya air bawah tanah. Keselamatan Kerja serta Kesehatan Karyawan dan Masyarakat Pemakaian energi disel dan alat berat berpotensi terhadap keselamatan kerja karyawan. Tidak dapat dipungkiri, meskipun pada frekwensi yang sangat kecil, masih terdengar terjadinya kecelakaan kerja karena penggunaan alat tersebut. Selain itu, limbah debu yang di hasilkan dari aktifitas penggilingan batu juga berpotensi membahayakan kesehatan kerja karyawan.. Persepsi dan Sikap Masyarakat Timbulnya persepsi dan sikap Masyarakat yang negatif bisa saja muncul. Terutama terhadap pencemaran udara dan debu. Mengingat, masyarakat sekitar lokasi pabrik. 2. Tempat pembuangan Limbah

Kualitas Air Pembuangan oli dan air ke badan air harus dihindari, karena limbah tersebut sudah termasuk limbah B3 karena itu, limbah tersebut harus ditampung dalam tangki penyimpan dan tidak boleh dibuang kelingkungan . Persepsi dan sikapmasyarakat Pengelolaan limbah olie dan air ini bisa menimbulkan persepsi dan sikap masyarakat yang negatif.

3. Perawatan,Pengembangan, dan sanitasi. Kualitas Air Pencemaryang timbul dari perawatan dan perbengkelan berasal dari sisa-sisa pelumas. Logam-logam peralatan yang aus, dan juga sanitasi atau pencucian dengan deterjen atau bahan kimia non-degradable yang lain. 4. Kegiatan Produksi Lapangan Kerja Tidak dapat dipungkiri, bahwa ekonomi masyarakat sangat dipengaruhi tingkat kenyamanan dan ketentraman disekitar pabrik. Kenaikan tingkat ekonomi akan memecahkan banyak masalah dan kebutuhan-kebutuhan yang mungkin timbul. 4.3 SIFAT DAN TOLAK UKUR DAMPAK Suatu kegiatan harus dikaji dan ditelaah sifat dampaknya terhadap lingkungan secara cermat sehingga dapat ditentukan cara penanganannya. Dampak yang positif yangt perlu dipertahankan dan dikembangkan agar mempunyai nilaitambah terhadap keberadaan lingkungan. Sedangkan dampak yang negatif harus ditanggulangi secara teliti dan cermat, sehingga sifat dampak tersebut dapat dihindarkan maupun dikurangi, atau bahkan dihilangi agar dapat dipelihara sumberdaya lingkungan dan kondisi masyarakat yang nyaman. Untuk menentukan dan melihat sejauh mana sifat dampak tersebut dapat mempengaruhi kualitas lingkungan. Perlu adanya tolok ukur dampak yang berupa peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk lebih jelasnya, dapat diterangkan penyajiannya akan sifat dapak dan tolak ukur yang digunakan: 1. Utilitas (Proses Produksi)

Penurunan kualitas udara

Sifat Dampak : Negatif, terjadi penurunan kualitas udara dan debu sekitar pabrik. Tolok Ukur : Udara yang ada di sekitar pabrik Penurunan Kualitas Air dan Biota Air Sifat Dampak : Negatif, terjadinya penurunan kualitas air sungai atu badan air, dan penurunan junlah biota air. Tolak Ukur : Buku Mutu kualitas air pada sungai atu air bawah tanah berdasarkan PP No 2. Tempat pembuangan Limbah Kualitas Air Sifat Dampak : Negatif, berupa pencemaran air sungai atu badan air oleh limbah B3 Tolak Ukur : Tingkat pencemaran limbah B3 Persepsi dan sikap masyarakat Sifat Dampak : Negatif, masyarakat tidak menginginkan terjadinya pencemaran air sungai atau air badan air oleh limbah B3 yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat. Tolok Ukur : Respon dan pemahaman masyarakat. 3. Kualitas Air Sifat Dampak Tolok Ukur 4. Lapangan Kerja Sifat Dampak Tolok Ukur Perawatan, Perbengkelan, dan sanitasi : Negatif, berupa pencemaran air dan badan air akibat kegiatan perawatan, perbengkelan, dan sanitasi. : Buku mutu kualitas air pada air sungai atau air badan air sungai dengan PP No. 82 Tahun 2001. Kegatan Produksi : Positif, terbukanya lapangan kerja dan usaha bagi masyarakat di sekitar pabrik. : Jumlah kesempatan kerja usha akibat kegiatan produksi.

Tabel 4.1 Matriks Dampak yang akan Timbul

No.

Sumber Dampak

Komponen Lingkungan yang Terkena Dampak Penurunan Kualitas Air dan Biota air Penurunan Kualitas Udara Keselamatan Kerja serta Kesehatan Karyawan Dan Masyarakat Persepsi dan Sikap Masyarakat Kualitas air

Sifat Dampak Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Positif

Tolok Ukur Dampak PP No. 82 Tahun 2001 dan jumlah biota air Baku mutu kualitas udara berdasarkan SK Gubernur Jatim No. 129/1996 Tingkat Kecelakaan dan kesehatan karyawan dan masyarakat Keresahan masyarakat Tikat pencemaran limbahB3 Respon dan pemahaman masyarakat PP No.82 Tahun 2001 Jumlah kesempatan kerja dan usaha akibat kegiatan produksi

2 3 4

Tempat Pembuangan Limbah Perawatan, Sanitasi Perbengkelan dan

Persepsi dan Sikap Masyarakat Kualitas Air Lapangan Kerja

Kegiatan Produksi

BAB V UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (UKL) Dalam melaksanakan pengelolaan lingkungan, dipertimbangkan peraturan perundangan yang berlaku serta kelayakan terhadap pemanfaatan sumber daya alam yang ada dan faktor lainnya yang menunjang kegiatan produksi. Untuk pendekatan pengalolaan berkaitan dengan kegiatan 3 hal yaitu: Pendekatan Tehnologi, Pendekatan Sosial Budaya Masyarakat, Dan Kelembagaan Upaya Pengelolaan Lingkungan adalah upaya untuk mengelola dampak yang akan terjadi akibat kegiatan terhadap lingkungan, baik pengelolaan dampak negatif yang timbul yang perlu di eliminasi dan diminimalisasi, serta dampak positif yang perlu di kembangkan. Pokok kajian yang hendak diterapkan dalam pengelolaan ini akan didasarkan pada pembahasan efaluasi dampak yang telah disajikan sebelumnya. Oleh karena itu, pelaksanaan pengalolaan: dampak akan meliputi beberapa aspek yang berkaitan dengan dampak dan langkah pengelolaan, dalam hal ini adalah kegiatan-kegiatan yang akan memberikan kontribusi pencemaran. Maka didalam pembahasan upaya pengelolaan lingkungan, akan disajikan informasi yang sudah ada (existing) serta akan dilaksanakan pengalolaan lingkungan yang dipandang perlu untuk disempurnakan. Untuk lebih memeperjelas Upaya Pengelolaan Lingkungan 1. 2. timbul 3. 4. Lingkungan pengelolaan pengelolaan Pengelolaan Pengelolaan Secara rinci Upaya pengelolaan Lingkungan (UKL) berikut: a. Sumber Dampak Utilitas Sumber dampak Jenis dampak yang

Tolok ukur dampak Upaya Penelolaan Cara Waktu Lokasi Pelaksanaan dapat diuraikan sebagai

Komponen Lingkungan: Penurunan kualitas udara dan debu Sifat Dampak Tolok ukur : Negatif, terjadi penurunan kualitas udara dan debu dilokasi sekitar pabrik. : Udara di sekitar pabrik

Upaya PengelolaanLingkungan: Cara Pengelolaan Dampak: Mengeliminir dan mengatur pengatur penempatan mesin penggilingan Waktu Pengelolaan dampak Selama operasional Lokasi Pengelolaan Diseluruh areal Pelaksanaan pengelolaan PT. Enviromate Technology International Komponen Lingkungan: Penurunan Kualitas Air dan Biota Air Sifat Dampak Tolok Ukur : Negatif, terjadinya penurunan kualitas air sungai atu badan air, dan penurunan jumlah biota air. : Baku atau mutu kualitas Air pada sungai atau air bawah tanah berdasarkan PP No. 82 Thun 2001 dan jumlah biota air.

Upaya P englolaan Lingungan Cara Pengelolaan dampak Pembuatan sapiteng bawah tanah Waktu Pengelolaan Dampak: Selama operasional Lokasi pengelolaan: Bagian operasional Pelaksanaan pengelolaan: PT. Enviromate Technology International

Komponen Lingkungan: Keselamatan Kerja serta Kesehatan Karyawan dan Masyarakat Sifat Dampak : Negatif, terjadinya kecelakaan kerja dan penurunan kesehatan karyawan dan masyarakat. Tolok Ukur : Tingkat kecelakaan dan kesehatan karyawan dan masyarakat.

Upaya Pengelolaan Lingkungan: Cara Pengelolaan Dampak: Membuat Kerangka Acuan Kerja (KAK)pada setiap operasi peralatan produksi. Memuat peringatan-peringatan diruan produksi terkait dengan bahaya-bahaya operasi peralatan. Waktu Pengelolaan Dampak: Selama operasional Lokasi pengelolaan: Bagian personalia Pelaksanaan pengelolaan: PT. Enviromate Technology International Komponen Lingkungan: Persepsi dan Sikap Masyarakat. Sifat Dampak Tolok Ukur : Negatif, bila kualitas lingkungan tidak dikelola eksploitasi sumber air bawah tanah berlebihan. : Keresahan Masyarakat

Upaya Pengelolaan Lingkungan : Cara Pengelolaan dampak Melakukan pendekatan sosial, dan memberikan penjelasan yang memuaskan masyarakat terkait dengan jaminan keselamatan, pengelolaan lingkungan, dan eksploitasi air bawah tanah yang terkendali dan sesui dengan perizinan yang diajukan. Waktu Pengelolaan dampak: Lokasi Pengelolaan: Masyarakat disekitar wilayah operasional Pelaksanaan pengelolaan: PT. Enviromate Technology International

Komponen Lingkungan:Persepsi dan Sikap Masyarakat. Sifat Dampak Tolok Ukur : Negatif, bila kualitas lingkugan tidak dikelola dan eksploitasi sunber air bawah tanah berlebihan. : Keresahan masyarakat.

Upaya Pengelolaan Lingkungan: Cara Pengelolaan dampak: Melakukan pendekatan sosial, dan memberikan penjelasan yang memuuaskan pada masyarakat terkait dengan jaminan keselamatan, pengelolaan lingkungan, dan eksploitasi air bawah tanah yang terkendali dan sesuai dengan perizinan yang diajukan.

Waktu Pengelolaan lingkungan: Lokasi Pengelolaan : Masyarakat disekitar Wilayah operasional Pelaksanaan pengelolaan: PT. Enviromate Technology International Upaya Pengelolaan Lingkungan: Cara Pengelolaan Dampak: Melakukan sosialisasi, memberikan informasi masyarakat. Waktu Pengelolaan dampak Selama operasional Lokasi Pengelolaan Diseluruh areal Pelaksanaan pengelolaan PT. Enviromate Technology International Kegiatan Produksi

dan

keyakinan

kepada

Komponen Lingkungan: Lapangan Kerja : Positif, terbuka lapangan kerja dan usaha bagi masyarakat disekitar pabrik Tolok Ukur : Jumlah kesempatan kerja dan usaha akibat kegiatan produksi. Upaya Pengelolaan Lingkungan: Cara pengelolan dampak: Pemberian informasi kepada masyarakat sekitar pabrik Memberi dan menambah kesempatan kerja bagi masyarakat local. Waktu Pengelolaan dampak: Selama operasional masih berjalan Pelaksanaan pengelolaan: PT. Enviromate Technology International Sifat Dampak

MEKANISME PENGOLAHAN LIMBAH

Tabel 5.1 Matrik Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) Upaya Pengelolaan Lingkungan Waktu Lokasi Metode Pengolahan Pelaksanaan Pengelolaan Penurunan PP No.. 82 Tahun 2001 Melakukan pengenceran air garam,atau Kualitas Air dan jumlah biota ir melakukan recycling and rause terhadap Selama Bagian dan Biota Air air garam.Melakukan analisa kualitas air operasional produksi limbah dan badan air atau sungai pabrik penampung air limbah Keselamatan Tingkat kecelakaan dan Membuat kerangka Acuan kerja (KAK) Kerja dan kesehatankaryawan dan pada setiap operasi peralatan Selama Bagian Kesehatan masyarakat produksi.Membuat peringatan-peringatan operasional produksi Karyawan dan diruang produksi terkait dengan bahaya- pabrik Masyarakat bahaya operasional peralatan Persepsi dan Keresahan masyarakat Melakukan pendekatan sosial,dan sikap memberikan penjelasan yang memuaskan Selama Masyarakat masyarakat kepada masyarakat terkait dengan jaminan operasional di sekitar keselamatan,pengelolaan lingkungan,dan pabrik wilayah eksploitasi air bawah tanah yang masih operasional terkendali dan sesuai dengan pericinan berjalan pabrik yang diajukan Jenis Dampak ToloUkur Dampak

Pelaksanaan Pengelolan

NO.

Sumber Dampak

BAB VI UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (UPL) Sebagai tindak lanjut terhadap pengelolaan lingkungan (UKL), perlu dilakukan upaya pemantauan lingkungan (UPL). Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) ditetapkan berdasarkan timbangan-timbangan teknis, pembiayaan dan aspek sosial guna meningakatkan dampak positif dan mengurngi atau bahkan menghilangkan dampak negatif yang mungkin terjadi terhadap komponen lingkungan. Upaya Pengelolaan Lingkungan pada kegiatan Kolam Renang : 1. Jenis dampak yang akan dipantau. 2. Lokasi pemantauan. 3. Waktu Pelaksanaan pemantauan 4. Cara/metode pemantauan 5. Pelaksanaan pemantauan 6. Pelaporan hasil pemantauan 6.1 Upaya Pemantauan Lingkungan (ukl) a. Utilitas Jenis dampak yang akan dipantau: Penurunan kualitas udara Keselamatan Kerja serta Kesehatan karyawan dan masyarakat Jumlah masyarakat yang resah Lokasi Pemantauan - Didalam lokasi sekitar pabrik penggilingan batu dan masyarakat sekitar pabrik penggilingan batu Waktu Pelaksanaan pemantausn - Selama operasi masih berjalan Cara/metode Pemantauan - Analisa kualitas udara (laboratorium, anlisa kualitas udara (laboratorium), pengamatan visual, dan pendataan visual . Pelaksanaan Pemantauan - Pimpinan, khususnya kepala dan instansi Pelaporan hasil pemantauan - Dinas Lingkungan Hidup Pertambangan dan Energi Kabupaten Ngawi - Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Ngawi - Dinas Kesehatan - Pimpinan b. Tempat Pembuangan Limbah

Jenis dampak yang akan dipantau :

- jumlah masyarakat yang resah Lokasi Pemantauan: Didalam lokasi pabrik dan masyarakat sekitar pabrik Waktu Pelaksanaan Pemantauan Selama operasi pabrik masih berjalan Cara/Metode Pemantauan: Analisa Kualitas udara (laboratorium), observasi, dan pendataan visual. Pelaksanaan Pemantauan: Pimpinan, khususnya kepala dan instansi Pelaporan Hasil Laporan: Dinas Lingkungan Hidup Pertambangan dan Energi Kabupaten Ngawi Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Ngawi Dinas Kesehatan Pimpinan

Tabel 6.1 Matrik Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) No. Sumber Dampak Jenis Dampak Penurunan Debit Air Keselamatan kerja dan kesehatan karyawan dan masyarakat Persepsi dan sikap masyarakat Jenis Dampak yang akan dipantau Debit air bawah tanah yang mengalami penurunan Keselamatan kerja serta kesehatan karyawan dan masyarakat Jumlah masyarakat yang resah Cara/metode pemantauan Waktu Pelaksanaan Pemantauan Lokasi Pemantauan Pelaksana Pemantauan

Utilitas

Analisa bkualitas air limbah (laboratorium), analisa kualitas Selama operasi udara (laboratorium), masih berjalan pengamatan Visual, dan pendataan Visual.

Didalam lokasi pabrik pupuk organik dan masyarakat sekitar pabrik