Anda di halaman 1dari 14

ASAL MULA ORNAMAEN EROPA dalam KRATON MANGKUNEGARAN TOPIK Sebagai salah satu keraton di jawa mangkunegaran mempunyai

peran penting di masanya dulu dan menjadi situs peninggalan sejarah yang berharga saat ini. Sebagai sebuah situs sejarah yang penting, maka sudah seharusnya kita mengenali karakteristik dari setiap keraton keraton tersebut. Bangunan dari pure mangkunegaran ini mempunyai kkomponen komponen seperti rumah joglo untuk bangsawan pada umumnya. Akan tetapi yang unik adalah penerapan beberapa unsur eropa pada beberapa bagian bangunan, ornamen bangunan maupun gaya furniturenya. PENDAHULUAN Pura (Puro) Mangkunegaran adalah istana tempat kediaman Sri Paduka Mangkunagara di surakarta dan dibangun setelah tahun 1757 dengan mengikuti model keraton yang lebih kecil dari kraton kasunanan. Secara arsitektur bangunan ini memiliki ciri yang sama dengan keraton, yaitu pada pamedan, pendopo, pringgitan, dalem, dan kaputran, yang seluruhnya dikelilingi oleh tembok yang kokoh atau benteng. Seperti bangunan utama di keraton Surakarta dan keraton Yogyakarta, Puro

Mangkunegaran mengalami beberapa perubahan selama puncak masa pemerintahan kolonial belanda di jawa tengah. Perubahan ini tampak pada ciri dekorasi Eropa yang popular saat itu Istana Mangkunegaran berdiri sejak tahun 1757 dan pada waktu awal mula berdiri komplek istana belum dilengkapi dengan Pendapa. Bangunan Pendapa dengan atap joglo baru dibangun pada masa pemerintahan mangkunegaran IV yakni tahun 1866.Surakarta yang kental dengan kebiasaan kebiasaan jawa mengadopsi style Eropa yang dijadikannya menjadi jawa tampil dalam hal pembangunan fisik. Bangunan jawa secara prinsipial tidak mengenal adanya teras atau elemen serambi karena elemen ini merupakan ke khas an dari villa villa di eropa.Bangunan jawa yang tanpa mengenal serambi ini dipadukan dengan elemen eropa secara visual dan fungsional menghadirkan keindahan dan kegunaan terwariskan secara tradisi kegenerasi

berikutnya.Aliran klasik dan neoklasik eropa berpadu dengan semangat neoklasik jawa menghadirkan pengolahan tata ruang yang secara simbolik menampilkan citra dan kegunaan aktivitas beserta ornamen dan pahatan sebagai simbolik. Dari visualisasi bangunan, Istana mangkunegaran mengambil corak eropa dalam empire style dalam perpaduan jawa yang menghadirkan kemaharajaan dengan keagungan dan kewibawaannya.Perpaduan antara arsitektur jawa dan arsitektur eropa terserap di Mangkunegaran yang memang terbuka untuk inovasi dan ide ide yang baru. Sistem denah menghadirkan suatu pola tatanan ruang yang tertutup dan bersifat linear.Pada kondisi struktur bangunan tampak bahwa antara atap dan dinding merupakan satu kesatuan utuh struktur dengan kata lain sistem struktur bangunan Istana menggunakan sistem strutur dinding pemikul.Penggunaan kolom kolom bulat yang terbuat dari besi tuang (cor) dengan konsol konsol besi semakin menampakan perpaduan jawa dengan neoklasik eropa dalam penampilannya. Ciri utama peningalan eropa di jawa dalam soal bangunan juga terdapat pada keluasan bidang bukaan jendela dan pintu serta skala ruang yang luas dan tinggi.Aspek keluasan ini pada intinya adalah pengolahan aspek kenyamanan penghuni dalam aktivitasnya sehari hari yang hadir di bumi beriklim tropis. ISI

Objek di dalam pendopo Didepan pendopo diberi teras yg merupakan gaya dari eropa. Bentuk teras ini meniru pantheon dari yunani, yang mmpunyai

makna bangunan agung di daerah asalnya.

bagian atas teras pendopo menggunakan ornament seperti ornament dari prancis. Dengan 2 malaikat yang membawa

lambing mangkunegaran.

4 patung singa di teras masuk depan pendopo. Ppatung kuningan ini berasal dari jerman. Setiap singa menghadap pada arah yang berbeda, Dengan makna agar manusia waspada pada setiap yang datang dari arah mana pun. 3set gamelan yang ada di dalam pendopo. Yang paling muda 35tahun, yang paling tua 250 tahun. Gamelan ini di gunakan untuk latihan tai para penari keratin, pementasan, ataupun pementasan wayang kulit.

Chandelier pendopo. Dipasang pada tahun 1866, seiring dgn dibangunnya pendopo ini. Chandelier ini berasal dari belanda, dan hampir semua chandelier atau lampu gantung di pure mangkunegaran ini berasal dari belanda. Lampu ini terbuat dari kuningan tanpa cat. Awalnya menggunakan llilin, namun seiring perkembangan jaman diganti dengan lampu pijar. lantai pendopo. Lantai ini menggunakan marmer dari italia. Dibawa dalam bentuk bongkahan besar, kemudian baru dipotong potong di mangkunegaran. Beberapa sisa bongkahannya masih disimpan di samping pure. Awalnya marmer ini berwarna coklat salem muda. Namun karena banjir besar tahun 60an yang melanda solo dan sekitarnya selama 1 minggu, marmer ini berubah warna menjadi flek flek coklat tua.

Tumpang sari pendopo. Menggunakan kain batik. Di tiap kotak mempunyai warna yang berbeda dengan makna maknanya sendiri. Takut lapar, takut mati, takut roh halus, takut miskin dan lain lain.

Disamping tumpang sari ada lagi ornament yang unik, yaitu ornament rasi bintang eropa(zodiac). Dengan 12 unsurnya mengelilingi tumpang sari. Meski zodiac merupakan budaya eropa, namun penggambarannya ornamentnya khas batik jawa kuno.

jika di depan ada 4 singa, di bagian belakang pendopo yang menghadap pringgitan juga ada 4 singa, namun 2 yang lain berukuran kecil. Ini dimaksudkan bahwa musuh bukan hanya dari luar saja, namun kadang juga berasal dari dalam atau keluarga. Namun tak perlu terlalu curiga, maka 2 singa yang lain kecil kecil. Patung ini juga dari jerman.

pintu utama di bangunan pringgitan. Pintu ini di desain oleh mangkunegaran IV sendiri. Dapat dilihat dari bentuk mahkota khas mangkunegara IV.

Pada bagian samping teras pringgitan ini terdapat sebuah jendela besar dengan bentuk setengah segi 6. Terdairi dari 3 sisi. Pada awalnya ini hanya terdiri dari 2 jendela, namun saat mangkunegara VII, ditambah satu sisi jendela dimaksudkan untuk menambah aliran sirkulasi udara. Terdapat 3 lubang ventilasi dengan cirri khas masing2 mangkunegara. Pada bagian kiri dan kanan milik mangkunegara IV. Memiliki cirri khas ukiran eropa dan juga symbol dari mangkunegara IV sendiri. Sedangkan pada jendela tengah sebagai

jendela tamabahn dari mangkunegara VII, lubang ventilasinya memilki cirri khas ukiran jawa dan symbol mangkunegara VII.

pada tangga naik ke serambi pringgitan, terdapat 4 patung kuningan yang berfungsi sebagai vas bunga juntai. Di bagian depan ada 2 patung wanita eropa, ukurannya setinggi manusia. Patung ini merupakan cindera mata dari eropa. Sedang di belakangnya terdapat patung laki laki dan wanita yang menggendong sebuah guci. Sepasang patung ini merupakn cinderamata dari seorang utusan dari china. Pada saat tidak digunakan, atau pada malam hari patung ini akan dibungkung dengan kain hijau, agar tak lekas rusak. pada gambar disamping adalah tiang pada bagian depan teras bangunan pringgitan. Tiang ini memiliki ukiran khas mangkunegaran VII yang

berupa sulur sulur klasik jawa. Teknik pengecatanyamenggunakan teknik

sungging. Catnya pun masih asli hingga saat ini. Warnanya yang alami dan masih asli ini banyak menarik minat turis terutama turis asing dari jepang.

Terdapat symbol mangkunegara IV di bagian tengah. Dapat di lihat di samping kanan kirinya terdapat ukiran sepanjang teras pringgitan. Ikuran ini desain dari mangkunegara IV sendiri, yang pengerjaannya dibuat oleh tukang kayu keratin. Ukiran ini menggambarkan bokor kencono, mkananya adalah bahwa pringgitan ini tempat berkumpulnya(bokor) keluarga kerajaan(kencana/emas). Pringgitan keratin mangkunegaran ini seperti museum kraton, dimana koleksi keratin dipajang, juga area singgasananya.

pada

teras

belakang

pringgitan,

terdapat beberapa set furniture yang masih asli. 1set meja makan, satu set bangku dan 1 set meja kursi classic. Untuk bangku dan meja makan milik mangkunegara VII, sedangkan kursi classic (gambar bawah) merupakan oleh oleh dari ratu Negara belanda, di masa mangkunegaran IV. Jika diperhatikan kursi klasik ini

memilki detail desain burung garuda yang sangat menarik

Di sepanjang koridor koridor bangunan kraton mangkunegaran ini terdapat banyak almari almari dari masa mangkunegaran IV, dan beberapa dari masa mangkunegara VII. Seperti yang lainya, ornament dari mangkunegara IV, memiliki gaya eropa, untuk beberapa desain almari menggunakan desain dari italia dan belanda. Ini bisa dilihat pada ornament sulur sulur dan bunga yang ada, dan yang paling khas adalah pada sudut sudut atas almari. Terdapat sebuah bentuk piala. Bentuk piala di sudut atas ini merupakan ke khasan furniture klasik dari eropa. Bentuknya sendiri di setiap lemari berbeda beda.

10

di dalam kraton ini terdapat sebuah bangunan yang dirancang oleh ir. Kartsen yang merupakan sahabat dari mangkunegaran VII. Bangunan ini terdiri dari 2 ruang, yaitu ruang keluarga dan ruang makan. digunakan bangunan keluarga ini sering keraton

mangkunegaran untuk berkumpul, melakukan berbagai perbincangan bahkan hingga rapat rapat

kerajaan, yang biasanya kemudian dilanjutkan dengan bersantap hidangan di ruang sebelahnya. ruang keluarga ini memiliki layout dengan bentuk segi 8. Selain itu ruang ini juga memiliki beberapa keunikan. Ruang ini tidak menggunakan soko guru yang umumnya ada pada bangunan joglo. Soko guru diganti dengan balok kayu di langit dan ukiran seperti nanasan. Plafonya seperti bentuknya tumpeng. Sedangkan furniture nya mulai dari kursi, meja kecil, dan foot stool berasal dari belanda. Untuk backdrop belakang

merupakan desain dari mangkunegaran.

11

Plafon dari bangunan ini dari luar seperti bentuk tumpeng. Sedangkan bagian dalamnya, seprti tumpang sari. Untuk cat, masih asli seperti aslinya. Menggunakan teknik pengecatan sungging, menjadikan warnanya bertahan lama. Lampu candelier yang ada di dalam maupun di teras nya berasal dari belanda, karena hampir semua lampu di keraton ini berasal dari belanda.

Selain ruang keluarga, bangunan ini memilki 1 ruang lagi, yaitu ruang makan keluarga. Letak ruang ini di sebelah kiri ruang keluarga. Beberapa hal unik ada di ruang ini seperti plafon, kaca patri dan aksesoris interiornya. Seperti pada gambar, plafon ini ditutp dengan kaca cermin. Awalnya plafond ini hanya plafon kayu biasa, kemudian di tahun 1996 plafond baru diganti dengan kaca cermin.

12

Keunikan yang lainnya adalah jendela kaca patri. Jendela ini di desain juga oleh ir. Kartsen. Menggambarkan pewayangan jawa, namun dengan penggambaran sentuhan ornamen eropa. Pembuatan dari kaca patri ini pun juga dibuat di belanda. Dan setiap segment jendelanya mempunyai crita gambar yang berbeda. Untuk aksesoris interiornya, yang paling unik adalah gading gajah berukir yang merupakan cindera mata dari raja bali. Ukiranya yang sangat detail dan menceritakan kisah ramayana, merupakan sebuah aksesoris interior yang sangat bernilai tinggi.

13

di

dalam

keraton

ini,

semua

bangunan memiliki beranda/ teras. Dan antara beranda dengan taman dibatasi dengan pagar teralis yang cantik. Disana terdapat beberapa motif pagar, namun pagar secara ini

keseluruhan

pagar

bermotif sulur khas eropa, karena dibuat di perancis pada zaman mangkunegara IV. Demikian juga dengan patung patung yang berada di taman, merupakan patung dari perancis dengan model wanita wanita eropa ala renaisans. Namun selain itu juga ada patung singa yang berasal dari jerman yang diletakan di tengah kolam ikan, sebagi iar mancur. Dan beberapa artefak lingga yoni yang berasal dari candi sukuh, mengingat bahwa sebelum dikelola negara, candi ini dikelola keraton

mangkunegaran.

14