Anda di halaman 1dari 15

PERTUMBUHAN EKONOMI DAN KETIMPANGAN ANTAR PROVINSI DI INDONESIA

PENDAHULUAN
Istilah pembangunan bisa saja diartikan berbeda oleh masingmasing orang, daerah satu dengan lainnya maupun negara satu dengan negara lainnya. Penting bagi kita untuk dapat memiliki definisi yang sama dalam mengartikan pembangunan. Secara tradisional pembangunan memiliki arti peningkatan yang terus menerus pada Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara. Untuk daerah, makna pembangunan yang tradisional difokuskan pada PDRB suatu provinsi, kabupaten dan kota. Namun muncul kemudian alternatif definisi pembangunan ekonomi yang lebih menekankan pada peningkatan income per capita (pendapatan perkapita). Definisi ini lebih menekankan pada kemampuan suatu negara untuk meningkatkan output yang dapat melebihi tingkat pertumbuhan penduduk. Definisi pembangunan tradisional sering dikaitkan dengan sebuah strategi mengubah struktur suatu negara atau sering kita kenal dengan industrialisasi. Konstribusi pertanian mulai digantikan dengan kontribusi industri. Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan seluruh komponen masyarakat mengelola berbagai sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi dalam daerah tersebut (Lincolin Arsyad, 1999; Blakely E. J, 1989). Tolak ukur keberhasilan pembangunan dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi, struktur ekonomi dan semakin kecilnya ketimpangan pendapatan antar penduduk, antar daerah dan antar sektor. Suatu ekonomi dikatakan mengalami pertumbuhan yang berkembang apabila tingkat kegiatan ekonominya lebih tinggi dari pada apa yang dicapai pada masa sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Disini, proses

mendapat

penekanan

karena

mengandung

unsur

dinamis.

Para

ekonomis menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya diukur dengan pertambahan PDB dan PDRB saja, akan tetapi juga diberi bobot yang bersifat immaterial seperti kenikmatan, kepuasan, dan kebahagiaan dengan rasa aman dan tentram yang dirasakan oleh masyarakat luas (Lincolin Arsyad, 1999). Disparitas antar daerah tidak dapat dihindari akibat tidak terjadinya efek perembesan ke bawah (trickkle down effect) dari output secara nasional terhadap masyarakat mayoritas bahkan sampai saat sekarang (reformasi). Kenikmatan hasil output nasional hanya dinikmati oleh segelintir golongan minoritas. Angka kemiskinan absolut justru meningkat karena semakin lebarnya jurang perbedaan antara golongan kaya dengan golongan miskin. Disparitas pendapatan antar daerah merupakan topik yang perlu dikaji dengan memperhitungkan beberapa alasan. Dasar utama menariknya hal ini untuk diteliti karena disparitas merupakan suatu hal yang dapat menghambat pembangunan daerah khususnya dan pembangunan nasional pada umumnya. Masalah ketimpangan ekonomi antar daerah tidak hanya tampak pada wilayah kecamatan, kabupaten, provinsi melainkan juga pada antar Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa, Kawasan Barat Indonesia (Kabarin) dan Kawasan Timur Indonesia (Katimin). Berbagai program yang dikembangkan untuk mengurangi maupun menghilangkan ketimpangan antardaerah selama ini ternyata belum mencapai hasil yang memadai. Alokasi anggaran pembangunan sebagai instrumen untuk mengurangi ketimpangan ekonomi tampaknya lebih perlu diperhatikan. Strategi alokasi anggaran tersebut harus mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menjadi alat untuk mengurangi kesenjangan/ketimpangan regional (Majidi, 1997). Proses akumulasi dan mobilisasi sumber-sumber berupa akumulasi modal, keterampilan tenaga kerja dan sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu daerah merupakan pemicu dalam laju pertumbuhan ekonomi wilayah yang bersangkutan. Adanya heterogenitas dan beragam karakteristik suatu wilayah menyebabkan kecendrungan terjadinya ketimpangan antardaerah dan antarsektor ekonomi suatu daerah.

Bertitik

tolak

dari

kenyataan

tersebut,

kesenjangan

atau

ketimpangan antardaerah merupakan konsekuensi logis pembangunan dan merupakan suatu tahap perubahan dalam pembangunan itu sendiri. Perbedaan tingkat kemajuan ekonomi antardaerah yang berlebihan akan menyebabkan pertumbuhan pengaruh daerah, yang dalam merugikan hal ini (backwash effects) proses mendominasi pengaruh yang menguntungkan (spread effects) terhadap mengakibatkan ketidakseimbangan. Pelaku-pelaku yang mempunyai kekuatan di pasar secara normal akan cenderung meningkat bukannya menurun, sehingga akan mengakibatkan peningkatan ketimpangan antar daerah. Tujuan utama dari usaha pembangunan ekonomi selain menciptakan pertumbuhan yang setinggi-tingginya, harus pula menghapus dan mengurangi tingkat kemiskinan, ketimpangan pendapatan dan tingkat pengangguran. Kesempatan kerja bagi penduduk atau masyarakat akan memberikan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang tahta (M.P.Todaro, 2000). Paradigma pembangunan modern memandang suatu pola mulai mengedepankan dethronement of GNP (penurunan berbeda dengan pembangunan tradisional. Beberapa ekonomi modern pertumbuhan ekonomi), pengentasan pengangguran bahwa yang ada. Teriakan dilihat garis kemiskinan, pengurangan para ekonom suatu ini membawa yang

distribusi pendapatan yang semakin timpang dan penurunan tingkat perubahan dalam paradigma pembangunan yang mulai menyoroti pembangunan harus sebagai proses multidimensional (Mudrajat Kuncoro, 2001). Pembangunan dalam lingkup negara secara spasial tidak selalu merata. Kesenjangan antar daerah seringkali menjadi permasalahan yang serius. Beberapa daerah dapat mencapai pertumbuhan yang signifikan, sementara beberapa daerah lainnya mengalami pertumbuhan yang lambat. adanya Daerah-daerah yang tidak mengalami kemajuan yang pemilik yang listrik, modal memiliki jaringan (investor) fasilitas memilih seperti daerah sama disebabkan karena kurangnya sumber-sumber yang dimiliki; kecendrungan atau daerah jaringan perkotaan prasarana perbankan,

perhubungan,

telekomunikasi,

asuransi juga tenaga terampil. Di samping itu juga adanya ketimpangan redistribusi pembagian pendapatan dari pemerintah pusat atau provinsi kepada daerah seperti provinsi atau kecamatan (Mudrajat Kuncoro, 2001). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi pertumbuhan perekonomian masing-masing provinsi di Indonesia berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) per kapita serta untuk mengetahui ketimpangan pertumbuhan ekonomi antar Provinsi.

METODOLOGI
Penelitian ini dilakukan untuk seluruh provinsi di Indonesia. Data yang digunakan adalah berupa data sekunder yang diperoleh dari pihak terkait. Data yang diperlukan antara lain data PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia, populasi masing-masing provinsi dan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) masing-masing provinsi. Adapun analisis data yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Analisis yang digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola

dan struktur pertumbuhan ekonomi masing-masing daerah adalah Analisis Tipologi Klassen/Daerah (H. Aswandi dan Mudrajat Kuncoro, 2002). Kriteria yang digunakan terdiri dari 4 (empat) kuadran yaitu: a) Kuadran I (pertama) yakni daerah cepat maju dan cepat tumbuh (high income and high growth) adalah provinsi yang memiliki pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan per kapita nasional. b) Kuadran II (kedua) yakni provinsi maju tapi tertekan (high income but low growth) adalah daerah yang memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi, tetapi tingkat pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan pertumbuhan nasional. c) Kuadran III (ketiga) yakni provinsi berkembang cepat (high growth but low income) adalah daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi, tetapi tingkat pendapatan per kapita lebih rendah dibandingkan pendapatan per kapita nasional.

d) Kuadran IV (keempat) adalah provinsi relatif tertinggal (low growth and low income) adalah provinsi yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita lebih rendah dibandingkan dengan level nasional 2. Analisis ketimpangan ekonomi antar daerah digunakan 2 (dua) jenis analisis yaitu: a) Indeks Ketimpangan Williamson (Syafrizal, 1997) yakni analisis yang digunakan sebagai indeks ketimpangan regional (regional inequality) dengan persamaan sebagai berikut:

IW =

( Yi Y )
Y

fi

Dimana: Yi = PDRB per kapita provinsi i Y = PDRB per kapita rata-rata nasional fi = jumlah penduduk di provinsi i n = jumlah penduduk Indonesia Dengan indikator bahwa apabila angka indeks ketimpangan Williamson yang diperoleh terletak antara 0 sampai dengan 1, jika mendekati 0 berarti ketimpangan (disparitas) pendapatan antar provinsi di Indonesia semakin rendah atau dengan kata lain pertumbuhan ekonomi regional terjadi secara merata, tetapi jika bila angka indeks menunjukkan semakin jauh dari nol atau mendekati 1 maka disparitas pendapatan provinsi di Indonesia semakin tinggi serta mengidentifikasikan adanya pertumbuhan ekonomi regional yang tidak merata. b) Indeks Entropi Theil yang merupakan aplikasi konsep teori informasi dalam mengukur ketimpangan dan konsentrasi industri. Adapun rumusan dari indeks entropi Theil adalah sebagai berikut (Ying, 2000:60):

Dimana: I(y) = indeks entropi Theil

yj = PDRB per kapita provinsi j Y = jumlah PDRB per kapita seluruh provinsi xj = jumlah penduduk provinsi j X = jumlah penduduk Indonesia Dengan indikator bahwa apabila semakin besar nilai indeks entropi Theil maka semakin besar ketimpangan yang terjadi sebaliknya apabila semakin kecil nilai indeks maka semakin merata terjadinya pembangunan.
3. Kurva U Terbalik oleh Kuznets yaitu pada tahap-tahap awal

pertumbuhan ekonomi ketimpangan memburuk atau membesar dan pada tahap-tahap berikutnya ketimpangan menurun, namun pada suatu waktu ketimpangan akan menaik dan demikian seterusnya sehingga terjadi peristiwa yang berulang dan jika digambarkan akan membentuk kurva U terbalik. Dalam hal ini pembuktian kurva U terbalik digunakan sebagai berikut (Mudrajat Kuncoro, 2001) ; - Menghubungkan antara angka indeks Williamson dengan pertumbuhan PDB nasional Menghubungkan antara angka indeks entropi Theil dengan pertumbuhan PDB nasional Dengan Indonesia Indonesia. indikator apabila kedua angka indeks tersebut tidak menggambarkan kurva U terbalik, maka teori Kuznets berlaku di sebaliknya apabila kedua angka indeks menggambarkan kurva U terbalik, maka teori Kuznets tidak berlaku di

HASIL ANALISIS
Tipologi Klassen Alat analisis tipologi Klassen digunakan untuk mengetahui klasifikasi daerah berdasarkan dua indikator utama, yaitu pertumbuhan ekonomi dan pendapatan atau produk domestik regional bruto per kapita daerah. Dengan menentukan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebagai sumbu vertikal dan rata-rata produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita sebagai sumbu horisontal, daerah dalam hal ini provinsi yang diamati dapat dibagi menjadi empat klasifikasi/golongan, yaitu:

daerah/provinsi yang cepat maju dan cepat tumbuh (high growth and high income), daerah/provinsi maju tapi tertekan (high income but low growth), daerah/provinsi yang berkembang cepat (high growth but low income), dan daerah/provinsi yang relatif tertinggal (low growth and low income) (Syafrizal, 1997: 2738; Kuncoro dan Aswandi, 2002 : 27-43). Dengan tipologi Klassen, seluruh provinsi dibagi menjadi empat (4) klasifikasi (lihat gambar 1). Provinsi DKI Jakarta, Kepulauan Riau dan Papua Barat termasuk provinsi yang cepat maju dan cepat tumbuh. Provinsi yang termasuk kategori provinsi yang maju dan tumbuh cepat ini pada umumnya daerah yang maju baik dari segi pembangunan atau kecepatan pertumbuhan. Provinsi NAD, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kalimantan Timur termasuk provinsi yang maju tapi tertekan. Provinsi ini adalah daerah/provinsi yang relatif maju tetapi dalam beberapa tahun mengalami pertumbuhan yang relatif kecil, akibat tertekannya kegiatan utama provinsi yang bersangkutan. Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara termasuk provinsi yang berkembang cepat. Provinsi yang termasuk dalam kategori ini adalah provinsi yang mempunyai potensi yang besar tetapi belum diolah secara baik, sehingga meskipun pertumbuhannya pendapatan pendapatan cepat tetapi nasional. tersebut pendapatannya Hal masih ini relatif masih di bawah bahwa rata-rata provinsi mengindikasikan rendah

dibandingkan

provinsi-provinsi lain, sehingga masa depan harus terus dikembangkan agar memperoleh pendapatan per kapita yang tidak relatif rendah lagi. Provinsi Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, D.I.Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Maluku, Maluku Utara dan Papua termasuk provinsi yang relatif tertinggal. Provinsi-provinsi yang termasuk dalam kategori ini adalah provinsi-provinsi yang secara ekonomis sangat tertinggal, baik dari segi pertumbuhan ekonomi maupun pendapatan per kapita. Dengan kata lain, provinsi-provinsi

dalam kategori ini adalah provinsi yang paling buruk keadaannya dibandingkan berdasarkan 1. Gambar 1 Pola dan Struktur Perekonomian Indonesia Menurut Tipologi Klassen, 2004-2008
10 8 grn 6

dengan

provinsi per

lain. kapita

Klasifikasi dan

daerah/provinsi dapat

pendapatan

pertumbuhan

digambarkan dengan tipologi Klassen, dapat dilihat seperti pada gambar

sltrsltg kepr dki riau kltm

Pertumbuhan (% )

pbr slsl smt jam smbr slbr slt kltg ban jbr jtm mlt bgkl baliklsl jtg mlk lam klbr smsl ntt diy bbl ntb

ppa

-2

-4 nad -6 0 5.000 10.000 15.000 20.000 PDRB per kapita (Rp) 25.000 30.000 35.000 40.000

Sumber : BPS, diolah Keterangan :


No 1 2 3 4 5 6 7 No 8 Simbol nad smt smbr riau kepr jam smsl Simbol bbl Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung No 18 19 20 21 22 23 24 No 25 Simbol ntb ntt klbr kltg klsl kltm slt Simbol grn Provinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Provinsi Gorontalo

9 10 11 12 13 14 15 16 17

bgkl lam dki jbr ban jtg diy jtm bali

Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali

26 27 28 29 30 31 32 33

sltg slsl slbr sltr mlk mlt ppa pbr

Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat

Analisis Ketimpangan Besar kecilnya ketimpangan PDRB per kapita antar provinsi memberikan gambaran tentang kondisi dan perkembangan pembangunan di Indonesia. Untuk memberikan gambaran yang lebih baik tentang kondisi dan perkembangan pembangunan daerah di wilayah Indonesia, akan dibahas pemerataan PDRB perkapita antar provinsi yang dianalisis dengan menggunakan indeks ketimpangan Williamson dan indeks entropi Theil. Angka indeks ketimpangan Williamson semakin kecil atau mendekati nol menunjukkan ketimpangan yang semakin kecil pula atau dengan kata lain makin merata, dan bila semakin jauh dari nol menunjukkan ketimpangan yang semakin melebar. Tabel 1. Indeks Williamson dan Indeks Entropi Theil Indonesia, 2004 2008 NO 1 2 3 4 5 TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 INDEKS WILLIAMSON 0,8237 0,8160 0,8089 0,7970 0,7933 0,8078 INDEKS ENTROPI THEIL 0,3797 0,3716 0,3595 0,3486 0,3405 0,3600

Rata-rata Sumber : BPS, diolah

Tabel 1 menunjukkan angka indeks ketimpangan PDRB per kapita antar provinsi di Indonesia selama periode 2004-2008 yaitu rata-rata

0,8078. Angka ini menunjukkan bahwa provinsi-provinsi di Indonesia mengalami ketimpangan dalam hal pendapatan per kapita, terlihat dari indeks Williamson yang lebih mendekati angka 1 (satu). Walaupun begitu, selama tahun 2004-2008 terjadi penurunan ketimpangan pendapatan per kapita antar provinsi. Setiap tahun terjadi penurunan indeks Williamson, pada tahun 2004 sebesar 0,8237 menurun menjadi sebesar 0,7933 pada tahun 2008. Hal ini menunjukkan tingkat distribusi pendapatan antar provinsi yang semakin merata. Kecenderungan penurunan ketimpangan dapat dilihat pada gambar 2. Gambar 2 Grafik Indeks Williamson Antar Provinsi di Indonesia, 20042008
0,90 0,85 0,80 0,75 0,70 0,65 0,60 2004 2005 2006 Tahun 2007 2008

Sumber : tabel 2 Untuk mengetahui besarnya tingkat ketimpangan suatu daerah selain memakai indeks Williamson juga dapat memakai indeks entropi Theil. Indeks entropi Theil pada dasarnya merupakan aplikasi konsep teori informasi dalam mengukur ketimpangan ekonomi dan konsentrasi industri (Kuncoro; 2001: 87). Dari hasil analisis didapatkan nilai indeks entropi Theil periode tahun 20042008 rata-rata sebesar 0,3600, lihat

Indeks William son

tabel 1. Seperti indeks Williamson, pada indeks entropi Theil juga terjadi kecenderungan penurunan ketimpangan dari tahun 2004 sampai tahun 2008. Pada tahun 2004 nilai indeks entropi Theil sebesar 0,3797 dan pada tahun 2008 menurun menjadi sebesar 0,3405. Indeks entropi Theil semakin mengecil berarti menunjukkan ketimpangan yang semakin rendah/kecil atau dengan kata lain semakin merata, bila indeknya semakin besar maka ketimpangan akan semakin besar pula. Hal tersebut sejalan dengan indeks ketimpangan Williamson. Indeks ketimpangan entropi Theil tidak memiliki batas atas atau batas bawah, hanya apabila semakin besar nilainya maka semakin timpang dan semakin kecil semakin merata. Gambar yang menunjukkan kecenderungan peningkatan ketimpangan dapat juga dilihat seperti pada gambar 4. Gambar 3 Grafik Indeks Entropi Theil Antar Provinsi di Indonesia, 20042008
0,50 0,45 0,40 Indek E s ntropi T heil 0,35 0,30 0,25 0,20 0,15 0,10 0,05 0,00 2004 2005 2006 Tahun 2007 2008

Sumber : tabel 2 Hipotesis Kuznets

Dari gambar 2 dan 3 diperoleh hasil, baik indeks Williamson maupun indeks entropi Theil, menunjukkan terjadinya kecenderungan penurunan ketimpangan antar provinsi di Indonesia dalam periode penelitian. Kecenderungan penurunan tersebut belum membuktikan berlakunya hipotesis Kuznets di Indonesia. Hipotesis Kuznets dapat dibuktikan dengan membuat grafik antara pertumbuhan produk domestik regional bruto dan indeks ketimpangan. Grafik tersebut merupakan hubungan antara pertumbuhan PDRB dengan indeks ketimpangan Williamson maupun pertumbuhan PDRB dengan indeks ketimpangan entropi Theil pada periode pengamatan. Gambar 4 Kurva Hubungan antara Indeks Williamson dengan Pertumbuhan PDRB Antar Provinsi di Indonesia, 2004-2008
0,850 0,840 0,830 0,820 Indeks William son 0,810 0,800 0,790 0,780 0,770 0,760 0,750 4,5 4,7 4,9 5,1 5,3 5,5 5,7 5,9 6,1 6,3 6,5 Pertumbuhan PDB (% )

Keterangan : data aktual garis trend linear Sumber : data diolah dari tabel 2 Gambar 4 dan 5 merupakan hubungan antara indeks ketimpangan dan pertumbuhan PDRB. Kurva tersebut (lihat gambar 4 dan 5) tidak berbentuk U terbalik. Menurut hipotesis Kuznets, pada pertumbuhan awal ketimpangan memburuk dan pada tahap-tahap berikutnya

ketimpangan

menurun,

namun

pada

suatu

waktu

akan

terjadi

peningkatan ketimpangan lagi dan akhirnya akan menurun lagi sehingga dapat dikatakan peristiwa tersebut seperti berulang kembali. Kurva yang tidak berbentuk U terbalik menunjukkan bahwa hipotesis Kuznets tidak dapat dikatakan berlaku di Indonesia. Tetapi, hal tersebut lebih disebabkan terlalu pendeknya rentang periode pengamatan. Pada gambar 4 dan 5, kurva yang terlihat baru menunjukkan adanya periode awal pertumbuhan yaitu adanya penurunan ketimpangan. Diperlukan periode waktu pengamatan yang lebih panjang lagi untuk dapat membuktikan berlakunya hipotesis Kuznets di Indonesia. Gambar 5 Kurva Hubungan antara Indeks Entropi Theil dengan Pertumbuhan PDRB Antar Provinsi di Indonesia, 2004-2008
0,400 0,390 0,380 Indeks Entropi Theil 0,370 0,360 0,350 0,340 0,330 0,320 0,310 0,300 4,5 4,7 4,9 5,1 5,3 5,5 5,7 5,9 6,1 6,3 6,5 Pertumbuhan PDB (% )

Keterangan : data aktual garis trend linear Sumber : data diolah dari tabel 2 KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian dan pembahasan terhadap pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan antar provinsi di Indonesia pada tahun 20042008 adalah sebagai berikut: 1. Berdasarkan tipologi Klassen, daerah/provinsi di Indonesia dapat diklasifikasikan berdasarkan pertumbuhan dan pendapatan per kapita menjadi empat kelompok yaitu daerah/provinsi cepat maju dan cepat tumbuh, daerah/provinsi yang maju tapi tertekan, daerah/provinsi yang berkembang cepat dan daerah/provinsi tertinggal. 2. Pada periode pengamatan 20042008 terjadi kecenderungan penurunan ketimpangan, baik dianalisis dengan indeks Williamson maupun dengan indeks entropi Theil. Hal tersebut menunjukkan bahwa distribusi pendapatan antar provinsi di Indonesia semakin merata walaupun tidak signifikan. 3. Hipotesis Kuznets mengenai ketimpangan yang berbentuk kurva U terbalik tidak berlaku di Indonesia selama periode pengamatan 20042008, tetapi hal ini lebih disebabkan oleh terlalu pendeknya periode pengamatan. Implikasi Kebijakan 1. Perlunya perhatian pemerintah secara serius untuk mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan ekonomi terutama untuk memeratakan pembangunan dan pendapatan per kapita penduduk antar provinsi di Indonesia. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat atau sentra ekonomi di daerah melalui pemberdayaan kegiatan ekonomi masyarakat. 2. Konsolidasi antar daerah atau provinsi dengan pemerintahan pusat perlu dilakukan agar pelaksanaan pembangunan dapat terlaksana secara menyeluruh sehingga pemerataan pembangunan dapat tercapai dan ketimpangan terhadap pembangunan ekonomi dapat diminimalisir. DAFTAR PUSTAKA Arsyad, Lincolin, 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah, BPFE, Jogjakarta.

Badan Pusat Statistik, Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial Ekonomi Indonesia beberapa terbitan, BPS, Jakarta. Blakely, E. J. 1989. Planning Local Economic Development: Theory and Practice. California: SAGE Publication, Inc Kuncoro, Mudrajad. 2001. Analisis Spasial dan Regional, UPP AMP YKPN. Yogyakarta. Kuncoro, Mudrajad. 2001. Metoda Kuantitatif, UPP AMP YKPN. Yogyakarta. Kuncoro, M dan Aswandi, H. 2002. Evaluasi Penetapan Kawasan Andalan: Studi Empiris di Kalimantan Selatan 1993 1999, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 17, No. 1. 27 45. UGM, Jogjakarta. Majidi, Nasyith. 1997. Anggaran Pembangunan dan Ketimpangan Ekonomi antar Daerah, Prisma, LP3ES No. 3; 3 16. Sjafrizal, 1997, Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Regional Wilayah Indonesia Bagian Barat, Prisma, LP3ES, Nomor 3, 27-38. Sutarno, dan Kuncoro, M. Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Antar Kecamatan di Kabupaten Banyumas, 1993-2000, Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 8 No. 2, Desember 2003 Hal: 97 110 Todaro, Michael, P., 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Edisi Ketujuh (diterjemahkan oleh Haris Munandar), Jakarta: Erlangga. Ying, Long,G. 2000. Chinas Changing Regional Disparities during the Reform Period, Economic Geography, Vol. XXIV No. 7. 59-70.