Anda di halaman 1dari 10

1.

PENDAHULUAN

1 UMUM

Sudah sejak timbulnya telekomunikasi, yang dalam hal ini dibidang telepon dan juga
telegrap, sudah muncul permasalahan seberapa besar/banyak fasilitas
telekomunikasi disediakan untuk melayani hubungan telepon atau telegrap tersebut.
Mulai saat itulah rekayasa trafik berkembang. Rekayasa trafik ini mampu merancang
peralatan/jumlah saluran yang diperlukan secara kuantitatif.

1.1 Kriteria Perancangan.

− Pada umumnya Sentral Telepon (dan peralatan telekomunikasi yang lainnya)


dirancang sedemikian rupa sehingga pada waktu sibuk (dimana trafik besar),
keinginan pelanggan untuk mengadakan sambungan dapat dipenuhi dengan
kemungkinan (probabilitas) yang cukup besar.
− Perlengkapan penyambungan (selektor-selektor, saluran-saluran, kanal-kanal,
"common circuit", dll) harus ditentukan sedemikian rupa sehingga pada saat-saat
sibuk hanya sebagan kecil saja dari permintaan pelanggan tidak dapat dilayani
sehubungan dengan perlengakapan penyambungan yang terbatas.
Jadi ada hubungan antara jumlah peralatan dan besarnya probabilitas
(kemungkinan) dipenuhinya suatu permintaan pengadaan hubungan, yaitu :
Makin besar jumlah peralatan yang disediakan, akan makin besar kemungkinan
dipenuhinya permintaan pengadaan sambungan.

1.2 Bentuk Jaringan


Penyediaan peralatan/jaringan yang terbatas tersebut menyebabkan tidak setiap
permintaan sambungan akan berhasil dilaksanakan dengan segera. Jaringan ini
hanya mampu menyambungkan secara statistik.

Set dari n Jaringan dengan Set dari n


masukan(input) route variabel keluaran (output)

Jaringan ini mampu


menyambungkan secara statistik

I- 1
Untuk bidang telepon, ada 2 bentuk jaringan dasar :
a. Mata jala b. Bintang

1
PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN :
n 1
Dipandang dari segi ekonomis :
n 2
a) Jaringan mata jala. S

1. n buah sentral untuk melayani n pelanggan.


3 2
1
4
2. Diperlukan :3
 .n.( n − 1) saluaran, hal ini diperlukan saluran yang sangat
2
banyak.
3. Tiap pelanggan dapat dihubungkan ke setiap pelanggan lainnya untuk setiap
waktu (bebas 100%).
4. Kalau ada penambahan pelanggan, harus diadakan saluran dari/ke
pelanggan baru dengan pelanggan lama yang sudah ada.
Jadi : Tambah satu pelanggan, diperlukan n saluran baru.
KENYATAAN :
1. Tiap pelanggan hanya 1 kali bicara dalam tiap saat (kebebasan 100% yang
dipunyai tak dapat digunakan sepenuhnya).
2. Pelanggan yang sedang berbicara tak dapat (tak boleh) dipanggil (ini juga
menyebabkan kebebasan 100% tak dapat digunakan sepenuhnya).
Hal-hal trersebut menyebabkan :
Jaring bintang yang dipakai (dipelanggan tidak ada sentral).
b) Jaringan bintang.
1. n pelanggan hanya ada 1 sentral.
2. Tiap pelanggan dihubungkan dengan satu saluran ke sentral. Jadi hanya
ada n saluran ke sentral.
3. Di sentral, tiap saluran pelanggan mempunyai "saluran mobil" yang dapat
menghubungkan saluran pelanggan lain yang dipilih.
4. Kalau ada penambahan pelanggan baru, cukup diadakan saluran sejumlah
pelanggan baru saja.

KENYATAAN :
1
2
pelanggan pelanggan

I- 2
Saluran mobil
Yang mengadakan pembicaraan biasanya hanya 20%-30% saja, sehingga
jumlah saluran mobil dapat dikurangi menjadi hanya 10% saja.
Dengan demikian selalu ada kemungkinan bahwa ada permintaan sambungan
dari pelanggan yang tidak dapat dilayani.
Hingga ada 2 hal yang bertentangan yang harus dipenuhi :
1. Pelayanan (service) yang baik.
2. Ekonomis.
Penyelesaian kompromi diatas dapat diadakan bila diketahui :
1. Besar trafik yang akan (harus) diolah (dilayani).
2. Seberapa tinggi tingkat pelayanan (service) yang diadakan (biasanya
dinyatakan dalam % : GOS (Grade Of Service)
Misal : 0,1% berarti dari 1000 permintaan sambungan, 1 gagal.
Untuk komunikasi data :
Biasanya berbentuk : selain mata jala dan bintang juga :
a). Loop b). Bus c). Pohon

I- 3
I- 4
1.3 Pemodelan Sistem Telekomunikasi
Dalam menganalisa sistem telekomunikasi harus dibuat suatu model untuk
menggambarkan suatu sistem dan bagian-bagiannya. Model tersebut mengandung 3
elemen utama yaitu :
o Struktur sistem
o Strategi operasional
o Sifat statistik trafik

I- 5
I- 6
I- 7
I- 8
I- 9
I - 10