Anda di halaman 1dari 49

1

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Studi kelayakan/evaluasi proyek bertujuan menilai kelayakan suatu gagasan, bisa dalam bentuk usaha atau proyek dan hasil dari penilaiannya merupakan bahan pertimbangan apakah proyek/usaha tersebut diterima atau ditolak. Studi kelayakan harus mengacu kepada suatu tujuan yang telah ditetapkan. Kalau untuk usaha baru maka dalam studi kelayakan penetapan tujuan menjadi titik pangkal (starting point). Studi kelayakan menganalisis apakah suatu investasi yang direncanakan layak atau tidak untuk dilaksanakan. Selain itu dapat pula digunakan untuk menentukan prioritas investasi atas sejumlah rencana usaha yang feasible. Berbeda dengan analisis yang lain maka studi kelayakan ini dilakukan untuk usaha/proyek yang akan datang, dimana waktunya tertentu sehingga diketahui pasti starting point serta ending point nya. Analisis studi kelayakan dibedakan atas analisis financial yang menekankan analisis pada financial benefit suatu rencana usaha dari sisi kepentingan investor atau perusahaan dan analisis ekonomi yang menekankan pada economic benefit yaitu benefit dari sisi perekonomian masyarakat secara keseluruhan, baik yang terlibat dengan proyek maupun yang tidak terlibat langsung dengan proyek. Pendirian maupun perluasan usaha memerlukan investasi yang tidak sedikit jumlahnya, modal yang diperlukan biasanya disesuaikan dengan tujuan perusahaan dan bentuk badan usahanya. Agar tujuan perusahaan dapat tercapai sesuai yang direncanakan perlu dilakukan suatu studi untuk menilai apakah investasi yang akan ditanamkan layak atau tidak dijalankan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Studi kelayakan diperlukan untuk menghindari kegagalan setelah proyek dilakukan. Salah satu tujuan dilakukannya studi kelayakan bisnis adalah mencari jalan keluar agar dapat meminimalkan hambatan dan resiko yang mungkin timbul di masa yang akan datang karena keadaan yang akan datang penuh dengan ketidakpastian. 1

Ledre merupakan makanan khas daerah Bojonegoro, Jawa Timur. Makanan berbahan baku pisang ini menyerupai makanan leker (khas Solo) namun digulung memanjang. Produsen ledre didominasi oleh industry rumahan yang berada di Kecamatan Padangan. Ledre merupakan salah satu sumber pendapatan untuk Pemerintah Daerah Bojonegoro. Oleh karena itu, usaha ledre ini sangat didukung keberadaannya oleh pemerintah setempat. B. Tujuan dan Kegunaan Studi Kelayakan 1. Tujuan Tujuan dari studi kelayakan bagi mahasiswa yaitu : a. Mahasiwa dapat menganalisis aspek-aspek studi kelayakan usaha ledre sehingga dapat menentukan atau memberikan rasionalisasi tentang kelayakan dari masing-masing aspek tersebut. b. Mahasiswa dapat mengidentifikasi peluang-peluang investasi usaha ledre yang layak untuk diusahakan 2. Kegunaan a. Mahasiwa mengetahui cara menganalisis kelayakan investasi usaha ledre b. Mahasiswa bisa mengetahui apakah usaha ledre layak dijalankan atau tidak C. Uraian Singkat Rencana Usaha Usaha ledre banyak dijalankan oleh masyarakat di Kecamatan Padangan. Hal ini karena bahan baku untuk pembuatan ledre yaitu pisang raja melimpah di daerah ini dan bisa didapatkan setiap harinya. Oleh karena itu produksi ledre berjalan setiap harinya. Di bulan-bulan tertentu seperti saat Hari Raya, banyak produsen yang meningkatkan prduksi ledrenya karena banyak pengunjung yang datang di kota Bojonegoro. Selain itu Bojonegoro merupakan akses umum jalan ke Jawa Timur dari Jawa Tengah sehingga banyak pendatang yang singgah ke Bojonegoro untuk membeli ledre sebagai buah tangan. Kondisi ini membuka peluang bagi para produsen untuk meningkatkan produksi ledre di Bojonegoro. Banyak agen ledre di Bojonegoro yang memasok ledre dari beberapa pembuat ledre di daerah

sekitarnya. Namun tak sedikit pula konsumen yang membeli ledre langsung ke rumah produksi ledre karena harganya lebih murah dibanding harga toko. Bagi produsen, menjual ledre langsung kepada konsumen lebih menguntungkan dibanding menjual ke agen. Oleh karena itu, agen biasanya memesan kepada industry rumah tangga. D. Lokasi Usaha Kabupaten Bojonegoro, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur ,Indonesia. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Tuban di utara, Kabupaten Lamongan di timur, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Ngawi di selatan, serta Kabupaten Blora (Jawa Tengah) di barat. Bagian barat Bojonegoro (perbatasan dengan Jawa Tengah) merupakan bagian dari Blok Cepu, salah satu sumber deposit minyak bumi terbesar di Indonesia. Kecamatan Padangan merupakan produsen ledre terbesar di Bojonegoro, terletak 25 Km arah barat Kota Bojonegoro. Disana terdapat 110 unit usaha yang kebanyakan merupakan industri rumah tangga. Salah satunya adalah industry rumah tangga yang kami analisis pada praktikum Studi Kelayakan Investasi Agribisnis kali ini.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Studi Kelayakan Studi kelayakan pada hakikatnya adalah suatu metode penjajakan dari suatu gagasan usaha tentang kemungkinan layak atau tidaknya gagasan usaha tersebut dilaksanakan. Arti penting pembuatan studi kelayakan baik bagi pengusaha maupun pihak-pihak lain yang mempunyai kepentingan langsung maupun tidak langsung atas suatu proyek. Pihak-pihak yang berkepentingan tersebut antara lain sebagai berikut: 1. Pengusaha Fungsi studi kelayakan bagi pengusaha yaitu pengusaha akan mengetahui apakah gagasan usahanya layak untuk dilaksanakan atau tidak, bila ditinjau dari sudut perusahaan. Apabila berdasarkan studi kelayakan gagasan usahanya tidak layak untuk dilaksanakan maka pengusaha tersebut telah menyelamatkan investasinya dari kerugian besar yang mungkin timbul karena kegagalan. Sebaliknya, bila berdasarkan studi kelayakan 2. Kreditor Apabila berdasarkan studi kelayakan disimpulkan bahwa suatu proyek ternyata layak untuk dilaksanakan maka kita akan dapat meyakinkan pihak kreditor, khususnya perbankan, untuk memberikan kredit pada gagasan usaha tersebut. Sebelum kreditor memberikan kredit dia akan mengkaji kembali studi kelayakan yang telah dibuat oleh pihak pengusaha. Pemberian kredit oleh kreditir bukan semata-mata didasarkan atas studi kelayakan, tetapi juga oleh pertimbangan-pertimbangna lain, misalnya bonafiditas dari ternyata gagasannya layak untuk dilaksanakan maka kemungkinan besar usahanya akan berhasil.

pengusaha, tingkat hubungan kedua belah pihak, jaminan, dan sebagainya. Meskipun demikian studi kelayakan mempunyai andil yang tidak sedikit untuk menggolkan suatu kredit. 3. Penanam Modal (Investor)

4 Sama halnya dengan kreditor, calon investor pun mempunyai

kepentingan atas studi kelayakan. Dengan mempelajari studi kelayakan studi kelayakan. Dengan mempelajari studi kelayakan tersebut mereka akan dapat mengambil keputusan, apakah akan menanamkan modalnya atau tidak dalam perusahaan. Mereka ini mempunyai kepentingan langsung tentang keuntungan yang akan diperoleh dan kestabilan dari perusahaan. Dengan kata lain, calon investor ini perlu jaminan keselamatan atas modal yang akan ditanamkannya. 4. Masyarakat/ Pemerintah Kepentingan masyarakat/pemerintah terhadap studi kelayakan suatu proyek menyangkut externalities, yakni efek/dampak positif dan negative yang ditimbulkan. Misalnya, pendirian pabrik gula yang mempunyai dampak negative seperti pengotoran lingkungan dan kebisingan. Dampak semacam ini disebut social costs. Sedangkan dampak positif yang diakobatkan, seperti adanya pembuatan jalan baru dari kota menuju pabrik disebut social benefit. Karena pihak perusahaan pada umumnya tidak memasukkan faktor ini dalam neraca keuntungan dan kerugian terutama karena sulit dinilai dengan uang maka masyarakat yang dapat diwakili oleh pemerintah mempunyai kepentingan memasukkan faktor tersebut ke dalam studi kelayakan. Sehingga dapat dilihat apakah suatu proyek dapat diterima atau tidak. Dengan demikian, apabila berdasarkan studi kelayakan bahwa suatu proyek mempunyai social costs lebih kecil daripada social benefits, dengan sendirinya proyek akan mendapat dukungan dari pemerintah/masyarakat. Demikian pula sebaliknya. (Achmad, 2004).

Menurut William F. Sharfe, investasi adalah mengorbankan dollar sekarang untuk dollar di masa yang akan datang. Maksudnya ialah dengan mengorbankan uang/dollar dalam arti menanamkan sejumlah dana (uang) dalam suatu usaha saat sekarang dengan mengharapkan pengembalian investasi disertai tingkat keuntungan yang diharapkan di masa yang akan dating (dalam waktu tertentu). Jenis-jenis Investasi: 1. Investasi Nyata (real investment) : ialah investasi yang dibuat dalam harta tetap (fixed asset) seperti tanah, bangunan, peralatan atau mesinmesin 2. Investasi Finansial (financial investment) : ialah investasi dalam bentuk kontrak kerja, pembelian saham atau obligasi atau surat berharga lainnya seperti sertifikat deposito Pendirian maupun perluasan usaha memerlukan investasi yang tidak sedikit jumlahnya, modal yang diperlukan biasanya disesuaikan dengan tujuan perusahaan dan bentuk badan usahanya. Agar tujuan perusahaan dapat tercapai sesuai yang direncanakan perlu dilakukan suatu studi untuk menilai apakah investasi yang akan ditanamkan layak atau tidak dijalankan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Studi kelayakan diperlukan untuk menghindari kegagalan setelah proyek dilakukan. Salah satu tujuan dilakukannya studi kelayakan bisnis adalah mencari jalan keluar agar dapat meminimalkan hambatan dan resiko yang mungkin timbul di masa yang akan datang karena keadaan yang akan datang penuh dengan ketidakpastian. Pengertian studi kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu kegiatan atau usaha yang akan dijalankan, untuk menentukan layak atau tidaknya suatu bisnis dijalankan (Gittinger, 2008). B. Aspek Pasar Dan Pemasaran Untuk mengetahui sejauh mana barang dan jasa yang akan dihasilkan mampu bersaing di pasaran maka pengusaha perlu mengetahui danmeneliti faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatana dan kelemahan daya saing

produk atau jasa kita di pasaran. Faktor-faktor yang harus diperhatikan antara lain:

1. Mutu/ kualitas Dalam merumuskan taktik dan strategi pemasaran barang atau jasa yang akan dihsilkan, terlebih dahulu pengusaha harus mampu mengategorikan apakah barang atau jasa tersebut termasuk barang atau jasa yang peka mutu atau tidak. Artinya konsumen dalam memilih barang/ jasa banyak menggantungkan kepercayaannya terhadap merek tertentu. Hal ini disebabkan oleh perbedaan mutu yang akan memberikan kepuasan tersendiri bagi konsumen. Misalnya arloji, rokok, obat-obatan danmesin jahit. Sebaliknya, yang dipilih konsumen yang tidak memperhatikan merek, seperti jamur, kantong plastic, dan telur ayam ras. 2. Brand loyality Meskipun mempunyai kemampuan untuk menghasilkan barang atau jasa yang sesuai dengan mutu standar dari saingan, hal ini belum merupakan jaminan bahwa gagasan usaha akan layak dari sudut pemasaran. Harus diketahui terlebih dahulu kekuatan pasar dari saingan dengan merek yang mereka miliki. Dengan kata lain, bagaimana kefanatikan merek (brand loyality) dari para konsumen terhadap merek tersebut. Makin tinggi tingkat kefanatikan merek maka makin semakin sulit bagi kita untuk menerobos pasaran demikian pula sebaliknya. Kefanatikan merek adalah kesetiaan konsumen terhadap suatu merek tertentu karena adanya kesetiaan konsumen terhadap merek tersebut. Semakin tinggi tingkat kefanatikan konsumen terhadap suatu merek, semakin engganlah dia pindah ke merek yang lain meskipun dengan mutu yang sama atau lebih baik. 3. Struktur pasar Untuk mengetahui kekuatan daya saing dari usaha yang akan dijalankan maka perlu juga dipelajari tentang struktur pasar yang akan

dimasuki. Struktur pasar adalah susunan dan kerangka pasar yang ditunjukkan oleh perimbangan penguasaan pasar baik oleh perusahaan besar maupun perusahaan yang tidak termasuk kategori besar. Dengan kata lain, penguasaan pasar ini adalah hanya bagian dari struktur psar yang sangat penting dibicarakan karena masih banyak dari unsure-unsur struktur pasar yang harus diteliti. 4. Organisasi Pemasaran Masalah selanjutnya yang harus dipecahkan oleh perusahaan adalah bagaimana menyalurkan barang/jasa sampai kepada konsumen terakhir. Hal ini sangat penting karena tanpa adanya kemampuan menyalurkan barang/jasa ke konsumen maka sulitlah bagi perusahaan untuk memasarkan barang/jasa meskipun sudah melaksanakan kegiatankegiatan lainnya dalam bidang pemasaran. Misalnya telah melaksanakan promosi penjualan dengan baik, tetapi ternyata perusahaan tidak mampu menyampaikan barang/jasa kepada para pengecer. Maka hal ini berarti promosi yang dijalankan belum mencapai sasaran dalam memasarkan barang/ jasa yang dihasilkan. Kemampuan dalam menyalurkan barang/jasa secara efektif dan efisien sebagian besar tergantung kepada organisasi distribusi perusahaan. Misalnya, suatu perusahaan dapat mempercayakan penyaluran barang jasa hasil produksinya kepada beberapa agen bonafit. Maka dalam hal ini perusahaan sebenarnya sudah mempunyai suatu organisasi distribusi yang baik. Apabila suat perusahaan ingin menyalurkan baranng/jasa sampai ke konsumen melalui organisasi distribusi intern maka hal pertama yang dilakukan adalah mengevaluasi kemampuan organisasi distribusi intern perusahaan dalam penyaluran barang/jasa tersebut. Karena proses distribusi tergantung kepada struktur organisasi, personalia, biaya, motivasi, pengawasan, dan sebagainya. Apabila suatu perusahaan mampu melaksanakan sendiri tugas pendistribusian, berarti bahwa distribusi dapat dilaksanakan sendiri. Sebaliknya bila perusahaan merasa tidak mampu

maka harus memilih alternative lain, yaitu menunjuk oraganisasi distribusi pihak lain, seperti gen. akan tetapi jika perusahaan mampu menyalurkan sendiri, hal ini bukan berarti alternative itulah yang dipilih. 5. Promosi penjualan Dalam hubungannya dengan kegiatan promosi penjualan maka barang/ jasa yang akan dihasilkan dapat dikategorikan ke dalam salah satu kategori-kategori seperti berikut ini:
a. Peranan promosi penjualan tidak begitu menentukan

Kadang-kadang peranan promosi penjualan suatu barang atau jasa tidak begitu diperlukan, artinya ada atau tidaknya promosi penjualan tidak banyak mempengaruhi volume penjualan tidak banyak mempengaruhi volume penjualan. Barang/ jasa yang demikian pada umumnya temasuk ke dalam kategori tidak peka mutu, yaitu barang atau jasa yang dipilih konsumen tanpa begitu banyak mempedulikan mutu. Karena pada umumnya perbedaan mutu relative kecil dan untuk barang-barang seperti ini, merek (brand) umumnya kurang begitu diperhatikan.
b. Peranan promosi penjualan sebagai penunjang

Ada beberapa barang/ jasa yang sebenarnya memerlukan promosi penjualan. Hanya saja peranannya kurang penting dibandingkan dengan faktor-faktor lain dalam usaha memasarkan barang. Barang-barang yang demikian, pada umunya konsumen sanggup membedakan kualitas meskipun belum dibeli. Kegiatan promosi penjualan, peranannya hanya sekadar mengingatkan adanya barang dengan merek tersebut misalnya seorang pembeli ingin membeli tekstil maka pilihannya lebih ditekankan pertimbangan pada desain, komposisi warna, kualitas kain, serta harga daripada mereknya. Meskipun demikian, jika dibandingkan dengan kategori sebelumnya untuk barang dan jasa yang demikian, perusahaan dapat saja melaksanakan promosi penjualan apabila persaingan cukup tajam.

10

Tetapi dana yang disisihkan untuk kegiatan promosi tersebut tidak dalam persentase yang berlebihan karena peranan promosi penjualan di sini hanya sebagai penunjang, bukan sebagai penentu.
c. Peranan promosi penjualan sangat menentukan

Untuk barang/ jasa tertentu, peranan promosi penjualan justru sangat menentukan apalagi bila persaingannya sangat tajam. Peranan promosi penjualan barang/jasa yang sangat menentukan mempunyai cirri-ciri sebagai berikut: 1) Mutu barang/jasa sulit diuji konsumen sebelum membeli, contohnya, rokok, obat, dan sabuun mandi merupakan barang-barang yang sulit diuji mutunya sebeleum konsumen membelinya. Dalam hal ini promosi penjualan memegang peranan penting untuk menimbulkan kepercayaan konsumen terhadap barang dengan merek tersebut, setidak-tidaknya untuk memberikan informasi. 2) Barang dan jasa yang peka mutu
3) Barang/ jasa yang dapat menimbulkan status social

6. Harga Jual Selain faktor-faktor seperti yang telah diuraikan sebelumnya, ada satu faktor lagi yang mempengaruhi daya saing dari barang yang akan kita jual, yaitu harga jual. Faktor ini harus diperhitungkan, terutama jika suatu barang akan bersaing keras di pasaran.ngkan apakah Sebelum memproduksi barang, seorang pengusaha harus memperhitungkan apakah barang tersebut dapat dijual dengan harga yang sejajar atau lebih rendah dari harga barang pesaing (untuk mutu yang relative sama). Apabila barang yang akan dihasilkan, harga pokoknya tinggi sehingga harganya harus dijual diatas harga pesaing maka daya saing barang lebih rendah dari pesaing di pasaran. Dengan harga yang sejajar pun belum tentu dapat memasuki pasaran dengan mudah. Analisis aspek pasar merupakan rangkaian dari analisis aspek lainnya dan memegang peranan penting di dalam suatu kegiatan usaha. Memahami

11

pengertian pasar, pemasaran dan konsep pemasaran merupakan landasan yang utama. Model-model persaingan pasar terdiri atas pasar bersaing sempurna serta pasar bersaing tidak sempurna. Pasar tidak bersaing sempurna terdiri atas pasar monopoli, oligopoli, persaingan monopolis dan monopsoni. Atas dasar sasarannya pasar terdiri atas pasar konsumen, pasar industri, pasar penjual kembali, dan pasar pemerintah. Alat-alat analisis pasar terdiri atas pengukuran permintaan produk dengan menggunakan data impor, permintaan efektif, dan metode rasio rantai. Ramalan permintaan produk baru dapat menggunakan metode trend linier dan tren kuadratik. Peramalan pangsa pasar dapat menggunakan rumus pangsa pasar, diagram pohon, dan ukuran potensi pasar relatif. Strategi pemasaran terdiri atas segmentasi, targetting, dan positioning, sedangkan untuk taktik pemasaran terdiri atas taktik produk, taktik harga, taktik tempat/distribusi, dan taktik promosi (Achmad, 2004). C. Aspek Teknis dan Teknologis Analisis aspek teknis merupakan rangkaian dari analisis aspek lainnya. Aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis pengoperasiannya setelah proyek tersebut selesai dibangun. Beberapa pertanyaan utama yang perlu mendapat jawaban yaitu lokasi proyek, skala operasi/luas produksi, kriteria pemilihan mesin dan equipment, proses produksi dan layout, serta jenis teknologi. Analisis aspek teknis lebih cocok untuk kegiatan usaha yang bersifat menghasilkan produk (barang/goods) atau mengolah hasil yang memerlukan proses produksi secara teknis. Yang perlu diperhatikan dalam aspek teknis adalah penentuan kapasitas produksi, penentuan lokasi, teknologi, alat produksi, proses produksi, pengadaan bahan baku, dan bahan pembantu, sarana dan prasarana produksi, dan skala produksi (Achmad, 2004). Beberapa faktor dari aspek teknis ialah 1. Teknologi Keberhasilan setiap usaha selalu tergantung kepada kemampuan teknologi yang dimiliki. Hal ini berarti bahwa suatu gagasan usaha akan

12

mengalami kegagalan apabila kemampuan teknologi tidak dimiliki. Banyak orang berpendapat bahwa teknologi identik dengan skill (ketampilan), padahal antara skill (ketrampilan), padahal antara skill dan teknologi sebenarnya tidak sama. Dengan sedikit bakat dan latihan yang intensif seseorang akan dapat memiliki suatu skill. Hal ini berarti ketrampilan seseorang kemungkinan dapat digantikan oleh mesin atau computer, sedangkan teknologi merupakan kemajuan dalam penerapan pengetahuan dan seni dalam bidang industry, manajemen, dan sebagainya. Kemampuan ini sulit atau bahkan mungkin tidak dapat digantikan oleh mesin ataupun komputer. 2. Tenaga teknis Tenaga teknis untuk melaksanakan suatu pekerjaan secara rutin sebagai penerapan suatu teknologi yang sudah baku. Antara teknologi dan teknis bila dilihat dalam konteks yang dinamis keadaannya tetap tidak sama. Pedoman-pedoman yang daoat dinilai kelayakan suatu gagasab usaha ditinjau dari faktor tenaga teknis. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut: a. Kuantitas tenaga teknis b. Kualitas tenaga teknis
c. Bahan baku (Raw Materials)

Analisa secara teknis akan dapat mengidentifikasi perbedaanperbedaan yang terdapat dalam informasi yang harus dipenuhi baik sebelum perencanaan proyek atau pada tahap awal pelaksanaan (jika dana yang ada adalah dimaksudkan agar proyek dimodifikasikan sehingga lebih banyak informasi dapat tersedia) (Gittinger, 2008). Aspek teknis merupakan aspek yang berkenaan dengan pengoperasian dan proses pembangunan proyek secara teknis setelah proyek/bisnis tersebut selesai dibangun/didirikan. Berdasarkan analisis ini pula dapat diketahui rancangan awal penaksiran biaya investasi termasuk start up cost/pra operasional proyek yang akan dilaksanakan. Studi aspek

13

teknis dan teknologi akan mengungkapkan kebutuhan apa yang diperlukan dan bagaimana secara teknis proses produksi akan dilaksanakan. Untuk bisnis industri manufaktur, misalnya, perlu dikaji mengenai kapasitas produksi, jenis teknologi yang dipakai, pemakaian peralatan dan mesin, lokasi pabrik, dan tata-letak pabrik yang paling menguntungkan. lalu dari kesimpulan itu, dapat dibuat rencana jumlah biaya pengadaan harta tetapnya (Anonim, 2009). D. Aspek Finansial Aspek keuangan dalam studi kelayakan bukan hanya mempertimbangkan jumlah modal yang diperlukan, tetapi pertimbangan lainnya dalam aspek keuangan perlu pula dipertimbangkan. Misalnya, tingkat rentabilitas, jangla waktu pengembalian modal dan sebagainya (Nitisemito dan Burhan, 2004). Ruang lingkup aspek finansial terdiri atas tujuan analisis (likuiditas dan pencapaian laba). Taksiran dana (biaya investasi dan modal kerja), dan sumber pendanaan. Kebutuhan modal tetap terdiri atas dana untuk pembelian tanah, bangunan, mesin dan peralatan, dan biaya pendahuluan, kuantitatif, konsep kualitatif, dan konsep fungsional). Modal kerja dapat mengacu kepada salah satu dari 3 konsep (konsep kuantitatif, konsep kualitatif dan konsep fungsional) Modal kerja juga dapat dilihat dari 2 pendekatan (pendekatan neraca, dan pendekatan biaya/pengeluaran). Beberapa perhitungan yang perlu dilakukan terdiri atas komposisi pembiayaan, proyeksi penjualan/penerimaan (revenue), pengeluaran biaya, arus kas, dan laba rugi (Achmad, 2004). Ada beberapa sumber data penting yang akan digunakan, yaitu: 1. Data awal aspek pasar dan pemasaran berupa: proyeksi penjualan/permintaan, harga produk, dan anggaran (biaya) pemasaran. 2. Data operasi dan produksi, berupa: rencana lokasi baik sewa maupun beli, harga pokok produksi (bahan baku, TKL, bahan pembantu), dan rencana pengadaan mesin, peralatan, teknologi yang digunakan. 3. Data personalia, berupa: rencana biaya perekrutan, biaya pelatihan, biaya upah tetap, tunjangan-tunjangan, dan lain-lain.

14

4. Legalitas, berupa: biaya notaris, biaya perizinan prinsip (misal, DepKeu,

DepDag, DepAg, DepHut, DepHub, DepKeh, DepKes, DikNas dll), biaya perizinan operasional (Pemda) (Anonim, 2009). Suatu studi kelayakan pertama-tama harus dapat menetapkan jumlah kebutuhan dari usaha yang akan dilaksanakan. Suatu perusahaan yang akan didirikan pada umumnya memerlukan tanah, gedung, mesin, serta peralatan. Tanah, gedung, mesin, serta peralatan pengadaannya dapat dilakukan dengan beberapa alternative, yaitu membeli, menyewa, atau kombinasi dari keduanya. Apabila pengadaan itu semua harus dibeli, berarti perusahaan harus sanggup menyediakan modal. Tetapi apabila semua itu atau sebagaian dapat diperoleh dengan jalan sewa atau kontrak, berarti kebutuhan modal untuk itu akan lebih kecil. Selain itu dalam pelaksanaan suatu gagasan usaha diperlukan pula modal operasi. Yang dimaksud dengan modal operasi adalah modal untuk pembelian bahan baku, gaji pegawai/karyawan, piutang, biaya promosi penjualan, biaya listrik, dan biaya-biaya yang lain. Suatu studi kelayakan dapat pula menetapkan titik pulang pokok (break event point). Dengan kata lain, dalam studi kelayakan tingkat produksi di mana titik pulang pokok tercapai harus dapat ditentukan. Penetapan titik pulang pokok ini harus dihubungkan dengan ramalan penjualan yang dapat dicapai (Achmad, 2004). Dalam analisis finansial terdapat dua metode yang dapat digunakan untuk perhitungannya, yaitu perhitungan yang tidak memperhatikan nilai uang karena faktor waktu yang terdiri atas Revenue-Cost ratio (R/C), Periode pengembalian investasi (Payback period), dan Break Event Point (BEP). Sedangkan untuk analisis yang memperhatikan nilai uang karena faktor waktu digunakan terdiri atas : Net Present Value (NPV), Benefit Cost ratio (B/C), dan Internal Rate of Return (IRR). Untuk melengkapi analisis agar lebih realistis dan rasional diperlukan adanya analisis kepekaan (Sensitivity analysis), dan analisis hubungan antarproyek dengan mengacu kepada hubungan baik yang bersifat kontigensi, maupun yang saling meniadakan (Achmad, 2004). E. Teori Kelayakan

15

Menurut Kadariah (1988) dalam evaluasi proyek biasanya diadakan dua macam analisis yaitu (1) analisis finansial dan (2) analaisis ekonomi. Dalam analisis finansial proyek dilihat dari sudut badan atau orang yang menanam modalnya dalam proyek. Dalam analisis ini yang diperhatikan adalah hasil untuk modal saham (equity capital) yng ditanam dalam proyek yang harus diterima para pengusaha atau petani. Hasil finansialnya disebut privat return. Analisis finansial ini penting artinya dalam memperhitungkan rangsangan (insentive) bagi orang-orang yang turut serta dalam menyukseskan pelaksanaan proyek. Sedangkan dalam analisis ekonomi proyek dilihat dari sudut perekonomian secara keseluruhan. Hasil analisis ekonomi ini disebut the social return atau the economic return bagi proyek (Kadariah, 1988). Unsur-unsur yang berlainan penilaiannya dalam analisis finansial dan analisis ekonomi dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Unsur yang Berlainan dalam Analisis Ekonomi Unsur Harga Bunga Pajak Subsidi Analisis Finansial Harga Pasar (market price) Analisis Ekonomi Harga bayangan (shadow price) Dihitung sebagai biaya Tidak dihitung sebagai biaya Dihitung sebagai biaya Tidak dihitung sebagai biaya Dihitung sebagai Tidak dihitung sebagai keuntungan keuntungan

Dalam proses mengkaji kelayakan proyek/investasi dari aspek finansial, pendekatan konvensional yang dilaksanakan adalah analisis perkiraan aliran kas keluar dan masuk selama umur proyek atau investasi, yaitu menguji dengan memakai kriteria investasi (Soeharto,1999). Dalam mengukur atau menilai adanya suatu proyek yang akan atau telah didirikan, terdapat beberapa kriteria yang digunakan: Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C-ratio), Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/Cratio), dan Internal Rate of Return (IRR). Uraian mengenai investment criteria yang telah disebut di atas adalah sebagai berikut. 1. Net Present Value (NPV)

16

Net present value suatau proyek merupakan nilai sekarang (present value) dari selisih antara benefit (manfaat) dengan cost (biaya) pada discount rate tertentu. Net present value adalah kelebihan benefit dibanding cost. Jika present value benefit lebih besar daripada present value biaya, berarti proyek tersebut layak atau menguntungkan. Namun, jika present value benefit lebih kecil daripada present value biaya, berarti pryek tersebut tidak layak (Soeharto, 1999). Guna menentukan ratio-ratio atau net present value tersebut, harus ditetapkan terlebih dahulu discount rate yang digunakan untuk menghitung the present value, baik dari sisi benefit maupun dari sisi cost. Pada perhitungannya ada kebiasaan untuk men-discount semua biaya dan benefit mulai tahun pertama (tahun ke-1). Semua biaya yang dikeluarkan dari benefit yang diperoleh mulai permulaan tahun sampai akhir tahun (sepanjang tahun) dianggap sebagai pengeluaran atau penerimaan pada akhir tahun (Kadariah, 1988). 2. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C-Ratio) Net B/C-ratio untuk tiap tahun dihitung berdasarkan selisih gross benefit dan gross cost. Pada tahun-tahun awal investasi biasanya gross cost lebih besar daripada gross benefit, sehingga net benefit adalah negatif atau dengan kata lain adalah net cost. Pada tahun-tahun sesudahnya biasanya gross benefit lebih besar daripada gross cost, sehingga net benefit adalah positif. Dengan demikian, net B/C-ratio adalah perbandingan antara jumlah NPV positif dengan jumlah NPV negatif. Net B/C-ratio menunjukkan gambaran berapa kali lipat benefit akan diperoleh dari cost yang dikeluarkan (Kadariah, 1988). Net B/Cratio adalah menggambarkan seberapa besar bagin dari biaya proyek setiap tahun yang tidak dapat tertutup oleh manfaat proyek. Apabila Net B/C-ratio lebih kecil dari satu berarti ada investasi proyek yang tidak dapat kembali, atau tingkat pengembalian investasi proyek lebih kecil daripada opportunity costnya (LPEM-FE-UI, 1999). 3. Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C-Ratio)

17

Gross B/C-ratio adalah perbandingan antara jumlah present value benefit (PV benefit) dengan present value cost (PV cost). Pada gross B/C-ratio yang dihitung sebagai gross cost adalah biaya modal (capital cost) atau biaya investasi permulaan, biaya operasi, dan biaya pemeliharaan. Sedangkan yang dihitung sebagai gross benefit adalah nilai total produksi dan salvage value dari investasi (Kadariah, 1988). Kriteria investasi ini hampir sama dengan kriteria investasi net B/C-ratio. Perbedaannya adalah bahwa dalam perhitungan net B/C-ratio, biaya tiap tahun dikurangkan dari benefit tiap tahun untuk mengetahui benefit netto yang positif dan negatif. Kemudian, jumlah present value yang positif dibandingkan dengan present value yang negatif. Sebaliknya, dalam perhitungan gross B/C-ratio pembilang adalah jumlah present value arus benefit (bruto) dan penyebut adalah jumlah present value arus biaya/bruto. Menurut LPEM-FE-UI (1999) gross B/C-ratio dapat digunakan untuk menghitung seberapa besar biaya atau manfaat proyek, bisa naik/turun dengan tetap mempertahankan kelayakan proyek. Dengan perkataan lain, dengan gross B/C-ratio kita bisa menghitung dua switching values, atau berapa besar biaya atau manfaat proyek kita berubah sampai investasi proyek dianggap tidak dapat diterima. 4. Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan tingkat bunga yang menggambarkan bahwa antara benefit (penerimaan) yang telah d-presentvalue-kan dan cost (pengeluaran) yang telah di-presentvalue-kan sama dengan nol. Dengan demikian, IRR menunjukkan kemampuan suatu proyek untuk menghasilkan return atau tingkat keuntungan yang dapat dicapainya. Kadang-kadang IRR digunakan sebagai pedoman tingkat bunga (i) yang berlaku, walaupun sebetulnya bukan i. Akan tetapi, IRR akan selalu mendekati besarnya i. Kriteria investasi IRR ini memberikan pedoman bahwa proyek akan dipilih apabila IRR > social discount rate. Begitu pula sebaliknya, jika diperoleh IRR < social discount rate, maka proyek sebaiknya tidak dijalankan. Menurut LPEM-FE-UI (1999), IRR

18

menggambarkan earning power dari modal, yaitu kemampuan modal untuk menghasilkan. Kalau IRR ternyata lebih tinggi dari tingkat bunga pinjaman untuk modal tersebut, atau lebih tinggi dari tingkat opportunity cost of capitalnya (OCC), maka proyek tersebut dapat dikatakan menguntungkan.

5.

Payback Period Method (PP) Selain investment criteria di atas ada juga perhitungan mengenai investasi yang disebut payback period method. Diartikan sebagai jangka waktu kembalinya investasi yang telah dikeluarkan melalui keuntungan yang diperoleh dari suatu proyek. Semakin cepat waktu pengembalian, semakin baik untuk diusahakan (Soetriono, 2002). Cara payback period ini tampaknya sederhana dan mudah dilakukan dengan cepat. Akan tetapi, dalam praktik kadang-kadang dijumpai kesulitan, khususnya dalam hal menghitung besarnya keuntungan. Namun demikian, apabila proyek sudah dilaksanakan dengan baik tanpa ada rintangan, maka cara ini sangat bermanfaat (Soekartiwi, 1995). Payback period dapat dipakai sebagai alat checking dari besarnya nilai capital/output ratio dan Payback period dapat dipakai sebagai alat checking dari besarnya nilai internal rate of return (IRR), karena IRR sama dengan kebalikan dari besarnya payback period.

19

III. A. Aspek Pasar

ASPEK PASAR PEMASARAN

1. Tinjauan Tentang Pasar Sasaran Ledre adalah makanan khas Kabupaten bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Makanan ledre ini terbuat dari tepung beras, tepung tapioca, gula, santan, vanili, dan bahan khasnya adalah pisang raja. Makanan ledre ini memiliki kekhasan yang unik yaitu pembuatannya yang masih bersifat hand-made (proses pengerjaannya masih dilakukan oleh manusia bukan mesin atau peralatan canggih lainnya). Wilayah industri ledre ini sebenarnya berada di Kecamatan Padangan yang masih termasuk dalam Kabupaten Bojonegoro. Kecamatan Padangan merupakan daerah yang berada di persimpangan (jalur utama) menuju Kabupaten Blora, Kabupaten Ngawi, dan Kabupaten Bojonegoro. Strategisnya kecamatan ini mendorong diminatinya makanan ini karena begitu banyaknya orangorang baik yang berkendaraan pribadi maupun truk untuk berhenti dan selanjutnya mencicipi ledre sebgai makanan ringan yang bercita rasa unik. Namun lokasi yang strategis harus juga ditunjang dengan pemasaran yang baik. Banyaknya papan reklame yang mempromosikan makanan ledre ini, yang tidak hanya ada diwilah yang Padangan saja tetapi juga diwilayah lainnya, akan sangat mendorong meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan ledre. Selain itu juga pemajangan kemasan ledre yang rapi dan menarik ditempat-tempat pemberhentian bus dan truk, juga dirumahrumah makan sekaligus mendorong banyaknya masyarakat yang tertarik untuk mencicipi makanan ini. Awalnya makanan ledre hanya dikonsumsi oleh pejabat-pejabat perusahaan minyak bumi yang sebagian besar adalah orang Belanda. Hal itu disebabkan karena Kecamatan Padangan ini yang merupakan tempat industri ledre berada berdekatan dengan tempat tinggal para pejabat perusahan minyak. Tetapi sekarang karena semakin tingginya mobilitas

19

20

antar Kabupaten oleh masyarakat umum menyebabkan makanan ledre ini mulai diksenal secara umum dan ternyata cukup diminati. 2. Segmen Pasar Potensial Kabupaten Bojonegoro merupakan sebuah kabupaten kecil yang jika dibandingkan dengan Kabupaten Surabaya. Penduduk Kabupaten Bojonegoro pada umumnya terdiri dari penduduk yang telah menetap sejak lama di Kabupaten Bojonegoro dan para pendatang yang datang untuk tinggal di Bojonegoro. Para pendatang ini umumnya adalah mereka yang datang untuk bekerja di tempat proyek pengeboran minyak yang kebetulan proyek tersebut berada termasuk dalam wilayah Kabupaten Bojonegoro. Selain itu juga wilayah Bojonegoro merupakan jalan lintas tengah antar kabupaten dan jalur utama kereta api lintas utara. Keyataan tersebut menyebabkan setiap harinya cukup banyak orang yang singgah di Kabupaten Bojonegoro ini terutama di tempat-tempat umum yaitu di terminal, stasiun dan rumah makan, dimana mereka meluangkan waktu untuk membeli/mencari oleh-oleh yang ada diterminal, stasiun ataupun di rumah makan. Hal itu jelas memberikan potensi pasar yang baik bagi pengembangan makanan ledre. Ledre juga sudah dipasarkan hampir diseluruh wilayah Jawa Timur dan beberapa Kabupaten di Jawa Tengah. 3. Segmentasi Pasar Dan Penetapan Pasar Segmentasi pasar membagi sebuah pasar ke dalam kelompokkelompok pembeli yang khas berdasarkan kebutuhan, karakteristik atau perilaku yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang terpisah. Segmentasi pasar ledre adalah untuk semua kalangan masyarakat baik masyarakat kelas menengah maupun masyarakat kelas bawah karena harga ledre Ledre Super Pisang Raja sangat terjangkau yaitu Rp 5.000,per bungkusnya. Strategisnya wilayah Kabupaten Bojonegoro menjadikan ledre menjadi oleh-oleh khas yang sangat di sukai oleh wisatawan yang berkunjung ataupun hanya sekendar melintas di Kabupaten Bojonegoro.

21

4. Analisis Permintaan Efektif Analisis permintaan yang menghasilkan prakiraan permintaan terhadap suatu produk. Permintaan konsumen terhadap barang dan jasa akan menentukan jumlah barang dan jasa yang harus dihasilkan. Permintaan ledre mengalami fluktuasi pada setiap tahun, pada musim liburan dan menjelang hari raya permintaan akan ledre akan meningkat sehingga para pembuat ledre meningkatkan jumlah produksi. Keuntungan yang didapat oleh pembuat ledre lebih banyak apabila dia menjual ledrenya sendiri dibandingkan dijual kepada agen, karena agen memberikan harga yang lebih rendah dan dipukul sama rata oleh agen. Presentasi penjualan sekarang lebih banyak dijual langsung oleh pembuat ledre dibandingkan di kumpulkan di agen, namun pada saat agen mendapat pesanan yang pembuat ledre juga tetap melayani pesanan dari agen tersebut. 5. Analisis Penawaran Ledre yang ditawarkan mempunyai beberapa varian rasa sebagai inovasi agar konsumen tidak bosan dengan rasa ledre yang original. Varian rasa dari ledre yang paling disukai oleh konsumen adalah rasa cokelat, susu, dan durian. Ledre yang dijual memiliki beberapa macam kemasan yaitu dalam kemasan kecil, besar dan sedang sehingga konsumen dapat memilih seuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka. 6. Analisis Luas Pasar (Market Share) Terdapat beberapa merk ledre di Kabupaten Bojonegoro, namun yang menguasai penjualan ledre di Kabupaten Bojonegoro adalah merk Ledre Super Pisang Raja. Kelebihan yang dimiliki dari merk tersebut adalah memilik banyak varian rasa, kualitas rasa lebih banyak digemari oleh konsumen dan dalam hal promosi paling menonjol dibandingkan dengan merk yang lain. Ledre Super Pisang Raja menguasai 80% penjualan ledre.

22

Ledre tidak hanya dihasilkan di Kabupaten Bojonegoro tetpai daerah lain yaitu Purwodadi juga menghasilkan ledre pisang. Secara umum market share dari Purwodadi masih sedikit, yaitu masih dalam skala lokal dan di daerah purwodadi, sedangkan untuk ledre Bojonegoro market sharenya sudah cukup luas. Ledre Bojonegoro juga lebih dikenal oleh masyarakat secara luas daripada ledre Purwodadi. 7. Strategi dan Program Pemasaran Strategi pemasaran dan promosi yang dilakukan oleh toko adalah dengan menggunakan spanduk dan papan nama agar lebih menarik perhatian para pengunjung. Pemerintahan Kabupaten juga telah menetapkan ledre sebagai makanan khas Kabupaten Bojonegoro sehingga jika ada pendatang atau wisatawan yang berada di Kabupaten Bojonegoro maka akan disarankan membeli ledre sebagai oleh-oleh khas. Pengemasan ledre secara rapi juga salah satu strategi untuk menarik minat dari konsumen. B. Analisis Persaingan dan Peluang Pasar Persaingan untuk usaha ini cukup tinggi karena jumlah usaha pembuatan ledre relatif banyak. Peluang pasar untuk produk ledre ini dapat diperoleh dengan menghasilkan produk inovasi baru dengan variasi rasa yang lebih banyak sehingga dapat lebih menarik minta konsumen. Berbagai varian rasa ledre yang ada di pasaran membuat konsumen semakin mempunyai banyak pilihan. Selain produk inovasi baru peluang pasar untuk ledre adalah segmen pasar yang sangat luas. Produk ini dikonsumsi secara luas dari masyarakat berpenghasilan rendah sampai masyarakat penghasilan tinggi. Diperkirakan jumlah konsumsi ledre akan meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan perkembangan gaya hidup masyarakat yang menjadikan ledre sebagai cemilan yang nikmat serta dapat dijadikan buah tangan untuk sanak saudara. C. Aspek Pemasaran 1. Harga

23

Harga ledre berbeda-beda untuk setiap varian rasanya. Harga ledre untuk rasa cokelat adalah Rp 6.000, kemudian untuk rasa susu adalah Rp 5.500, sedangkan untuk rasa durian per bungkusnya Rp 6.500. Untuk rasa original saja dengan harga Rp 5.000 per bungkusnya. 2. Varian Rasa Varian rasa ledre ada rasa cokelat, susu, durian dan original. Namun pembuat ledre yang kami wawancarai hanya membuat ledre dengan rasa original. 3. Merk Merk ledre yang menjadi favorit konsumen selain "Ledre Super Pisang Raja adalah merk Dua Bidadari dan Anyar Mas.
4. Rantai Pemasaran

Ledre yang dihasilkan dipasarkan dengan 2 cara, yang pertama adalah ledre disektor agen. Apabila disetor diagen keutungan yang didapat lebih sedikit dibandingkan dengan dijual sendiri secara langsung kepada konsumen. Apabila ledre disetor kepada agen maka harga yang diberikan kepada pembuat cukup rendah, inilah yang membuat pembuat ledre lebih sering memasarkan ledrenya sendiri. Namun biasanya apabila agen kekurangan stok maka agen akan memesan secara langsung kepada pembuat ledre. D. Kendala Pemasaran Kendala dalam pemasaran ledre adalah apabila ledre yang sudah diproduksi tidak laku. Menurut hasil wawancara apabila ledre yang dihasilkan dijual langsung kepada konsumen maka ledre tersebut laku semua. Biasanya ledre yang tidak laku adalah ledre yang telah dibeli oleh agen. Pada agen apabila tidak laku maka ledre tersebut dibuang begitu saja. Ledre dapat disimpan selama 1 tahun apabila kemasannya masih utuh dan dalam kondisi baik. Apabila kemasan plastic sudah terbuka ledre hanya dapat bertahan selama maksimal 2 minggu, hal ini disebabkan karena ledre tidak menggunakan bahan pengawet.

24

BAB IV. ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGI Tujuan studi aspek ini adalah untuk meyakini apakah secara teknis dan pilihan teknologi dalam bisnis ledre ini dapat dilaksanakan secara layak atau tidak. Ledre pisang merupakan produk olahan makanan pertanian pangan yang umumnya diproduksi oleh industri rumah tangga dan banyak digemari oleh masyarakat lokal maupun luar daerah. Bisnis Ledre merupakan makanan khas daerah Bojonegoro, yaitu makanan menyerupai leker (makanan khas Solo) namun di gulung dan di bentuk memanjang, sehingga terasa lebih renyah dan nikmat. Adanya industri rumah tangga pembuat ledre pisang diharapkan mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga dan memerlukan pengembangan yang lebih lanjut karena pengembangan industri rumah tangga ini akan mampu mendorong perkembangan industri lainnya. Industri rumah tangga ini masih tergolong bisnis skala kecil. Teknologi proses yang digunakan masih bersifat handmade (proses pengerjaannya masih dilakukan oleh manusia bukan mesin atau peralatan canggih lainnya). Dilihat dari bahan baku mudah untuk didapat karena sudah mempunyai langganan yang menyetok bahan baku secara rutin yaitu di pasar. Oleh karena itu, peralatan yang digunakan dalam pembuatan ledre ini merupakan peralatan masak sederhana, seperti kompor minyak, penggorengan, pisau, adukan, sutil, dan tampah, hanya saja ditambahkan alat penumbuk pisang dan juga cetakan untuk membentuk ledre yang terbuat dari teflon agar adonan tidak melengket. Pembuatan ledre dengan teknologi handmade (proses pengerjaannya masih dilakukan oleh manusia bukan mesin atau peralatan canggih lainnya) merupakan cara yang digunakan sejak dulu hal tersebut tetap di jaga untuk menjaga cita rasa. Menurut pemilik home industry pada proses penggulungan ledre hanya bisa dilakukan secara manual tidak bisa digantikan oleh mesin. Apabila permintaan sedang tinggi teknologi handmade tetap bisa memenuhi permintaan tersebut dengan jam kerja yang extra. Biasanya permintaan tinggi

24

25

pada saat-saat tertentu dan jika ada pesanan. Jadi pembuat ledre bisa mengatur pembuatan ledre tersebut agar permiuntaan tetap terpenuhi. Menurut kelompok dalam pembuatan ledre ini dengan teknologi handmade sudah cukup efisien karena mengingat bahwa ada beberapa proses pembuatan yang tidak bisa dikerjakan atau digantikan oleh mesin. Pemilik usaha rumahan skala kecil tidak mendapatkan banyak keuntungan sehingga kurang mampu untuk membeli alat-alat modern atau mesin-mesin. Ditinjau dari dampak eksternalitas industri rumah tangga ledre ini, maka tidak ditemukan dampak negatif dari usaha ledre ini. Dampak positifnya salah satunya yaitu membuka peluang bagi para petani pisang untuk menghasilkan pisang lebih banyak dan bagi agen untuk mendapatkan ledre untuk dijual kembali ke konsumen. Pengrajin ledre sebagian besar merupakan ibu-ibu rumah tangga sehingga pendapatan keluarga tidak hanya digantungkan pada hasil penjualan ledre. Hasil dari penjualan ledre ini lebih banyak digunakan sebagai tambahan penghasilan karena suami juga bekerja. Dalam pembuatan ledre tersebut terdapat berbagai macam proses yaitu meliputi proses produksi, packing kemasan, dan distribusi. Tidak terdapat pegawai atau tenaga kerja luar yang digunakan dalam semua proses dalam industri rumahan ledre ini. Tenaga kerja yang digunakan yaitu tenaga kerja keluarga yang dikepalai kepala keluarga beserta keluarganya dan termasuk anakanaknya yang membantu dalam proses industri rumahan tersebut. Kondisi lokasi usaha rumahan ledre ini yaitu menggunakan bagian dapur rumah pemilik usaha dan juga bagian rumah lain yang digunakan untuk proses pengemasan dan pengepakan. Sehingga tidak perlu menyewa lokasi usaha lain untuk melaksanakan proses produksi ledre ini. Rumah produsen juga dijadikan sebagai tempat menjual ledre, selain ada yang dijual ke agen-agen ledre yang mengumpulkan ledre dari berbagai produsen ledre di sekitarnya. Jadwal pelaksanaan produksi ledre ini dilakukan setiap harinya, namun di bulan-bulan tertentu seperti saat Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan Tahun Baru, produsen menghasilkan ledre lebih banyak dibanding hari biasanya.

26

Kenaikan produksi pada saat hari raya bisa mencapai dua sampai lima kali lipat dibanding hari biasa. Pada hari biasa produsen hanya menghasilkan 15 bungkus ledre, namun pada hari raya produsen bisa menghasilkan lebih dari 30 bungkus ledre per harinya. Peningkatan produksi pada hari raya membuka kesempatan produsen ledre untuk menjual ledre dengan harga yang lebih tinggi kepada konsumen sehingga akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

27

BAB V . ASPEK FINANSIAL Aspek keuangan dalam study kelayakan bukan hanya mempertimbangkan jumlah modal yang diperlukan, tetapi pertimbangan lainnya dalam aspek keuangan perlu dipertimbangkan. Suatu gagasan usaha tidak mungkin dilaksanakan tanpa dukungan modal. Untuk itu dalam membuat study kelayakan harus pula dipelajari dan diteliti kemungkinan dukumgan modal untuk merealisasikan suatu gagasan usaha tersebut. Ada dua jenis modal yaitu modal sendiri dan modal asing. Modal sendiri yaitu modal yang diharapkan mendukung realisasi gagasan usaha dan bukan merupakan pinjaman, misalnya modal sendiri dari pendiri/pengusaha dan modal saham. Sedangkan modal asing adalah modal pinjaman dengan konsekuensi harus membayar beban bunga. Pelaksaan suatu gagasan usaha memerlukan pula modal operasi yaitu modal untuk pembelian bahan baku, gaji pegawai, piutang, biaya promosi penjualan, biaya listrik dan biaya lain-lain. Net present Value (NPV) atau keuntungan bersih sekarang merupakan jumlah nilai kini dari arus keuntungan bersih (net revenue) tahunan kumulatif, mulai investasi dimulai (t=0) sampai dengan berakhirnya masa atau waktunya (t=n-1). NPV berkembang sejaln dengan waktu, oleh karena itu biasanya indeks tahun untuk menunjukkan NPV pada tahun keberapa.. NPV adalah kriteria investasi yang banyak digunakan dalam mengukur apakah suatu proyek feasible atau tidak. Perhitungan net present value merupakan net benefit yang telah di diskon dengan menggunakan social opportunity cost of capital (SOCC) sebagi diskon faktor. Internal Rate of Retrun (IRR) adalah suatu tingkat discont rate yang menghasilkan net present value sama dengan nol. Penggunaan investasi untuk pemerajaan akan layak apabila mempunyai IRR yang lebih besar daripada tingkat sukubunga yang sedang berlaku, tetapi jika IRR-nya lebih kecil dari tingkat suku bunga berlaku berarti NPV lebih kecil dari nol (rugi).

28

Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan net benefit yang telah di discount positif (+) dengan net benefit yang telah di discount negative (-). Jika nilai net B/C lebih besar dari satu bearti gagasan usaha/proyek tersebut layak untuk dikerjakan dan jika lebih kecil dari satu bearti proyek 27 tersebut tidak layak dikerjakan. Tabel 1. Perincian Biaya Investasi Modal Tetap
No 1 Uraian Bangunan Rumah Sub total 2 Peralatan penunjang Kompor Minyak Penggorengan Pisau Penumbuk pisang Adukan Sutil Cetakan Tampah Sub total 3 Instalasi penunjang Instalasi air Instalasi listrik sub total JUMLAH unit unit 1 1 150.000 250.000 150.000 250.000 400.000 10.442.000 unit unit unit unit unit unit unit unit 3 2 4 2 4 4 2 5 125.000 85.000 15.000 50.000 15.000 10.000 86.000 13.000 375.000 170.000 60.000 100.000 60.000 40.000 172.000 65.000 1.042.000 m2 30 300.000 9.000.000 9.000.000 Satuan Jumlah Harga/Satuan Total (Rp)

Tabel 2. Perincian Biaya Penyusutan


No 1 2 Uraian Bangunan Rumah Mesin dan peralatan Kompor Minyak Penggorengan Pisau Penumbuk pisang Adukan Sutil Cetakan Tampah 10 8 2 10 5 5 8 5 375.000 170.000 60.000 100.000 60.000 40.000 172.000 65.000 225.000 100.000 28.000 74.000 28.000 20.000 92.000 30.000 15.000 8.750 16.000 2.600 6.400 4.000 10.000 7.000 25 9.000.000 6.400.000 104.000 Umur (Thn) Nilai Awal Nilai Akhir Penyusutan Pertahun

29

JUMLAH
No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng SubTotal 2 Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total 3 Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari 1 1 4 Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari 1 0,25 0,5 1 2 0,125 Satuan

6.997.000
Jumlah/Hari Harga/Satuan 6.500 5.000 12.000 5.000 12.500 15.000

173.750
Biaya/Bulan 195.000 37.500 180.000 150.000 750.000 56.250 1.368.750 2.500 500 2.500 75.000 15.000 300.000 390.000 40.000 100.000 140.000 1.898.750

Tabel 3. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 1 Bulan 1

Tabel 4. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 1 Bulan 2


No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng SubTotal 2 Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total 3 Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH 50.000 135.000 185.000 2.907.500 Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari 1 1 4 2.000 500 2.500 60.000 15.000 300.000 375.000 Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari 1,5 0,5 1 2 4 0,250 6.500 4.500 9.500 4.500 11.000 15.000 292.500 67.500 285.000 270.000 1.320.000 112.500 2.347.500 Satuan Jumlah/Hari Harga/Satuan Biaya/Bulan

30

Tabel 5. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 1 Bulan 3


No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng SubTotal Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 1 0,25 0,5 1 2 0,125 Harga/Satuan 6.000 4.500 8.500 4.500 12.000 12.500 Biaya/Bulan 180.000 33.750 127.500 135.000 720.000 46.875 1.243.125 60.000 9.000 240.000 309.000 50.000 145.000 195.000 1.747.125

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1 1 4

2.000 300 2.000

Tabel 6. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 1 Bulan 4


No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng SubTotal Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 1 0,25 0,5 1 2 0,125 Harga/Satuan 5.500 5.000 8.800 4.000 12.000 13.000 Biaya/Bulan 165.000 37.500 132.000 120.000 720.000 48.750 1.223.250

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1 1 4

1.300 150 1.600

39.000 4.500 192.000 235.500 50.000 145.000 195.000 1.653.750

31

Tabel 7. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 1 Bulan 5


No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng SubTotal Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 1 0,25 0,5 1 2 0,125 Harga/Satuan 6.000 4.500 8.900 3.500 12.000 13.000 Biaya/Bulan 180.000 33.750 133.500 105.000 720.000 48.750 1.221.000 39.000 4.500 192.000 235.500 50.000 150.000 200.000 1.656.500

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1 1 4

1.300 150 1.600

Tabel 8. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 1 Bulan 6


No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng SubTotal Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 1 0,25 0,5 1 2 0,125 Harga/Satuan 5.000 4.000 8.500 3.000 9.000 12.000 Biaya/Bulan 150.000 30.000 127.500 90.000 540.000 45.000 982.500 39.000 4.500 192.000 235.500 65.000 155.000 220.000 1.438.000

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1 1 4

1.300 150 1.600

Tabel 9. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 1 Bulan 7

32

No 1

Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng SubTotal Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH

Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari

Jumlah/Hari 3 0,75 1,5 3 6 0,375

Harga/Satuan 5.000 4.000 8.500 3.000 9.000 10.000

Biaya/Bulan 450.000 90.000 382.500 270.000 1.620.000 112.500 2.925.000 117.000 13.500 576.000 706.500 90.000 320.000 410.000 4.041.500

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

3 3 12

1.300 150 1.600

Tabel 10. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 1 Bulan 8
No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng SubTotal Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH Uraian Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 1 0,25 0,5 1 2 0,125 Harga/Satuan 5.000 4.000 8.500 3.000 9.000 12.000 Biaya/Bulan 150.000 30.000 127.500 90.000 540.000 45.000 982.500 39.000 4.500 192.000 235.500 65.000 155.000 220.000 1.438.000 Satuan Jumlah/Hari Harga/Satuan Biaya/Bulan

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1 1 4

1.300 150 1.600

Tabel 11. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 1 Bulan 9
No

33

Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng SubTotal Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH

Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari

5 5 1,25 2,5 5 10 0,625 5 5 20

5.000 4.000 8.500 3.000 9.000 12.000

750.000 600.000 318.750 225.000 1.350.000 3.600.000 6.843.750 195.000 22.500 960.000 1.177.500 150.000 580.000 730.000 8.751.250

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1.300 150 1.600

Tabel 12. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 1 Bulan 10
No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH Uraian Bahan baku Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 1 0,25 0,5 1 2 0,125 Harga/Satuan 5.200 4.300 8.800 3.000 9.000 11.000 Biaya/Bulan 156.000 32.250 132.000 90.000 540.000 41.250 991.500 42.000 4.500 204.000 250.500 45.000 127.000 172.000 1.414.000 Satuan Jumlah/Hari Harga/Satuan Biaya/Bulan

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1 1 4

1.400 150 1.700

Tabel 13. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 1 Bulan 11
No 1

34

Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH

Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari

3 0,75 1,5 3 6 0,375

5.200 4.300 8.800 3.000 9.000 11.500

468.000 96.750 396.000 270.000 1.620.000 129.375 2.980.125 126.000 13.500 612.000 751.500 85.000 180.000 265.000 3.996.625

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

3 3 12

1.400 150 1.700

Tabel 14. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 1 Bulan 12
No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH Uraian Bahan baku Tepung beras Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 4 1 2 4 8 0,5 Harga/Satuan 5.400 4.500 8.800 3.000 9.000 11.500 Biaya/Bulan 648.000 135.000 528.000 360.000 2.160.000 172.500 4.003.500 168.000 18.000 816.000 1.002.000 125.000 360.000 485.000 5.490.500 Satuan Kg/hari Jumlah/Hari 4 Harga/Satuan 5.600 Biaya/Bulan 672.000

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

4 4 16

1.400 150 1.700

Tabel 15. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 2 Bulan 1
No 1

35

Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH

Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari

1 2 4 8 0,5

5.000 8.800 3.500 10.000 12.000

150.000 528.000 420.000 2.400.000 180.000 4.350.000 180.000 18.000 720.000 918.000 130.000 380.000 510.000 5.778.000

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

4 4 16

1.500 150 1.500

Tabel 16. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 2 Bulan 2
No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 2 0,5 1 2 4 0,25 Harga/Satuan 5.500 4.000 9.000 4.000 10.000 11.000 Biaya/Bulan 330.000 60.000 270.000 240.000 1.200.000 82.500 2.182.500 90.000 12.000 180.000 282.000 125.000 280.000 405.000 2.869.500 Satuan Kg/hari Kg/hari Jumlah/Hari 1 0,25 Harga/Satuan 5.500 4.000 Biaya/Bulan 165.000 30.000

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

2 2 4

1.500 200 1.500

Tabel 17. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 2 Bulan 3
No 1

36

Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH

Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari

0,5 1 2 0,125

9.000 4.000 10.000 12.000

135.000 120.000 600.000 45.000 1.095.000 45.000 6.000 180.000 231.000 55.000 138.000 193.000 1.519.000

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1 1 4

1.500 200 1.500

Tabel 18. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 2 Bulan 4
No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 1 0,25 0,5 1 2 0,125 Harga/Satuan 5.500 4.000 9.000 4.000 10.000 12.000 Biaya/Bulan 165.000 30.000 135.000 120.000 600.000 45.000 1.095.000 45.000 6.000 180.000 231.000 55.000 138.000 193.000 1.519.000 Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Jumlah/Hari 1 0,25 0,5 Harga/Satuan 5.500 4.000 9.000 Biaya/Bulan 165.000 30.000 135.000

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1 1 4

1.500 200 1.500

Tabel 19. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 2 Bulan 5
No 1

37

Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH

Biji/hari Sisir/hari Liter/hari

1 2 0,125

4.000 10.000 12.000

120.000 600.000 45.000 1.095.000 45.000 6.000 180.000 231.000 55.000 138.000 193.000 1.519.000

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1 1 4

1.500 200 1.500

Tabel 20. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 2 Bulan 6
No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 1 0,25 0,5 1 2 0,125 Harga/Satuan 5.500 4.000 9.000 4.000 10.000 12.000 Biaya/Bulan 165.000 30.000 135.000 120.000 600.000 45.000 1.095.000 45.000 6.000 180.000 231.000 55.000 138.000 193.000 1.519.000 Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Jumlah/Hari 4 1 2 4 Harga/Satuan 5.700 4.200 9.000 4.000 Biaya/Bulan 684.000 126.000 540.000 480.000

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1 1 4

1.500 200 1.500

Tabel 21. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 2 Bulan 7
No 1

38

Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH

Sisir/hari Liter/hari

8 0,5

10.000 12.000

2.400.000 180.000 4.410.000 180.000 24.000 720.000 924.000 165.000 400.000 565.000 5.899.000

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

4 4 16

1.500 200 1.500

Tabel 22. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 2 Bulan 8
No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 1 0,25 0,5 1 2 0,125 Harga/Satuan 5.700 4.200 9.000 4.000 10.000 12.000 Biaya/Bulan 171.000 31.500 135.000 120.000 600.000 45.000 1.102.500 45.000 6.000 180.000 231.000 55.000 138.000 193.000 1.526.500 Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Jumlah/Hari 5 5 1,25 2,5 5 Harga/Satuan 5.200 4.200 8.700 3.500 9.700 Biaya/Bulan 780.000 630.000 326.250 262.500 1.455.000

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1 1 4

1.500 200 1.500

Tabel 23. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 2 Bulan 9
No 1

39

Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH

Liter/hari

10 0,625 5 5 20

10.500

3.150.000 6.603.750 225.000 30.000 840.000 1.095.000 175.000 412.000 587.000 8.285.750

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1.500 200 1.400

Tabel 24. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 2 Bulan 10
No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH Uraian Bahan baku 4 Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kg/hari 1 Kg/hari 2 Kg/hari 8.700 522.000 4.200 126.000 5.200 624.000 Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 1 0,25 0,5 1 2 0,125 Harga/Satuan 5.500 4.200 9.000 4.000 10.000 12.000 Biaya/Bulan 165.000 31.500 135.000 120.000 600.000 45.000 1.096.500 45.000 6.000 180.000 231.000 55.000 138.000 193.000 1.520.500 Satuan Jumlah/Hari Harga/Satuan Biaya/Bulan

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1 1 4

1.500 200 1.500

Tabel 25. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 2 Bulan 11
No 1

40

4 Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total 2 Bahan pengemas 4 Plastic Lilin Kardus Sub Total 3 Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH 165.000 415.000 580.000 5.633.500 Bungkus (isi 15 buah) 4 Unit/hari 16 1.400 672.000 876.000 200 24.000 1.500 180.000 Biji/hari 8 Sisir/hari 0,5 Liter/hari 10.500 157.500 4.177.500 9.700 2.328.000 3.500 420.000

Tabel 26. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 2 Bulan 12
No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 5 5 1,25 2,5 5 10 0,625 5 5 20 Harga/Satuan 5.200 4.200 8.700 3.500 9.700 10.500 Biaya/Bulan 780.000 630.000 326.250 262.500 1.455.000 3.150.000 6.603.750 225.000 30.000 840.000 1.095.000 180.000 435.000 615.000

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1.500 200 1.400

41

JUMLAH

8.313.750 Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 4 1 2 4 8 0,5 Harga/Satuan 6.000 5.000 8.800 3.500 10.000 12.000 Biaya/Bulan 720.000 150.000 528.000 420.000 2.400.000 180.000 4.398.000 180.000 18.000 720.000 918.000 160.000 400.000 560.000 5.876.000

Tabel 27. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 3 Bulan 1
No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

4 4 16

1.500 150 1.500

Tabel 28. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 3 Bulan 2
No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 2 0,5 1 2 4 0,25 Harga/Satuan 5.500 4.000 9.000 4.000 10.000 11.000 Biaya/Bulan 330.000 60.000 270.000 240.000 1.200.000 82.500 2.182.500 90.000 12.000 180.000 282.000 130.000 280.000 410.000

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

2 2 4

1.500 200 1.500

42

JUMLAH

2.874.500 Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 1 0,25 0,5 1 2 0,125 Harga/Satuan 5.500 4.000 9.000 4.000 10.000 11.000 Biaya/Bulan 165.000 30.000 135.000 120.000 600.000 41.250 1.091.250 45.000 6.000 180.000 231.000 55.000 138.000 193.000 1.515.250

Tabel 29. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 3 Bulan 3
No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1 1 4

1.500 200 1.500

Tabel 30. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 3 Bulan 4
No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 1 0,25 0,5 1 2 0,125 Harga/Satuan 5.500 4.200 9.000 4.000 10.000 11.000 Biaya/Bulan 165.000 31.500 135.000 120.000 600.000 41.250 1.092.750 45.000 6.000 180.000 231.000 55.000 140.000 195.000

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1 1 4

1.500 200 1.500

43

JUMLAH

1.518.750

Tabel 31. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 3 Bulan 5
No Ur aia n 1 Harga/Satua n 1 0,25 0,5 1 2 0,125

Satuan Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH

Jumlah/Hari Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari

Biaya/Bulan 5.500 4.200 9.000 4.000 10.000 11.000 165.000 31.500 135.000 120.000 600.000 41.250 1.092.750 45.000 6.000 180.000 231.000 55.000 140.000 195.000 1.518.750

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1 1 4

1.500 200 1.500

44

Tabel 32. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 3 Bulan 6
No 1 Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH Uraian Bahan baku Tepung beras Tepung tapioca Gula pasir Kelapa Pisang raja Minyak goreng Sub Total Bahan pengemas Plastic Lilin Kardus Sub Total Utilitas Listrik Bahan bakar Sub Total JUMLAH Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 1 0,25 0,5 1 2 0,125 Harga/Satuan 5.600 4.300 9.000 4.000 10.000 11.000 Biaya/Bulan 168.000 32.250 135.000 120.000 600.000 41.250 1.096.500 45.000 6.000 180.000 231.000 55.000 140.000 195.000 1.522.500 Satuan Kg/hari Kg/hari Kg/hari Biji/hari Sisir/hari Liter/hari Jumlah/Hari 5 5 1,25 2,5 5 10 0,625 5 5 20 Harga/Satuan 5.600 4.300 9.000 4.000 10.000 11.000 Biaya/Bulan 840.000 645.000 337.500 300.000 1.500.000 3.300.000 6.922.500 225.000 30.000 900.000 1.155.000 175.000 412.000 587.000 8.664.500

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1 1 4

1.500 200 1.500

Tabel 33. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 3 Bulan 7
No 1

Bungkus (isi 15 buah) Unit/hari

1.500 200 1.500

Tabel 34. Perincian Bahan Baku dan Bahan Pengemas Tahun ke 3 Bulan 8

45

Tabel 44. Perhitungan NPV


Tahun 2008 2009 2010 Jumlah Benefit 48.600.000 60.750.000 99.960.000 Biaya 36.906.090 46.285.090 51.382.840 Benefit bersih 11.693.910 14.464.910 48.577.160 DF (28%) 0,781250 0,610352 0,476837 NPV 9.135.867,188 8.828.686,748 23.163.387,24 3 41.127.941,17 9

Aspek finansial yang dinilai dalam industri rumah tangga ledre ini mencakup perincian biaya investasi modal tetap, perincian biaya penyusutan, perincian biaya bahan baku dan bahan pengemas, perincian biaya pemeliharaan dan perbaikan, ringkasan biaya operasional, proyeksi rugi laba dan proyeksi arus kas. Perincian biaya investasi modal tetap untuk industri rumah tangga ledre ini mencakup bangunan seluas 30 m2 dengan harga satuan Rp 300.000,-/m2 sehingga total biaya modal bangunan sebesar Rp. 9.000.000,-. Peralatan penunjang yang digunakan dlaam usaha ini yaitu kompor miyak, penggorengan, pisau, penumbuk pisang, adukan, sutil, cetakan, dan tampah yang jumlah keseluruhannya mencapai Rp 1.042.000,-. Instalasi penunjang yang digunakan mecncakup instalasi listrik sebesar Rp 150.000,- dan instalasi air sebesar Rp 250.000;-. Total untuk biaya investasi modal tetap industri rumah tangga ledre ini sebesar Rp 10.442.000,-. Biaya penyusutan untuk modal tetap sebesar Rp 173.750,-. Setiap tahun industri rumah tangga ledre ini menghasilkan jumlah produksi yang berbeda dimana selalu terjadi kenaikan jumlah produksi. Pada tahun pertama industri ini menghasilkan 10.800 bungkus ledre dan dijual dengan harga Rp 4.500,- per bungkus sehingga pendapatan di tahun pertama sebesar Rp 48.600.000,-. Pada tahun kedua industri ini menghasilkan 13.500 bungkus

46

ledre dan dijual dengan harga Rp 4.500,- per bungkus sehingga pendapatan di tahun kedua sebesar Rp 60.750.000,-. Pada tahun ketiga bungkus sehingga pendapatan di tahun ketiga sebesar industri ini menghasilkan 13.950 bungkus ledre dan dijual dengan harga Rp 4.800,- per Rp 66.960.000,-. Total biaya penggunaan bahan baku dan bahan pengemas pada tahun pertama sampai tahun ketiga mengalami peningkatan yaitu pada tahun pertama sebesar Rp. 36.523.500, tahun kedua sebesar Rp. 45.902.500 dan tahun ketiga adalah sebesar Rp. 51.000.250. Biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan dan perbaikan setiap tahunnya adalah sebesar Rp. 208.840. Biaya operasional yang dikeluarkan setiap tahunnya juga mengalami peningkatan. Hal ini juga dipengaruhi dari biaya penyusutan, pemeliharaan, perbaikan, biaya bahan baku, pengemasan dan biaya utilitas setiap tahunnya meningkat. Biaya operasi pada tahun pertama adalah sebesar Rp. 36.906.090, pada tahun kedua adalah sebesar Rp. 46.285.090 dan pada tahun ketiga adalah sebesar Rp. 51.382.840. Bunga tabungan yang diperoleh pada tahun pertama adalah sebesar Rp. 480.000, tahun kedua adalah sebesar Rp. 960.000 dan tahun ketiga adalah sebesar Rp. 1.440.000. Pada tabel proyeksi rugi laba dapat diketahui bahwa laba sebelum pajak yang diperoleh pada tahun pertama adalah sebesar Rp. 12.173.910, pada tahun kedua adalah sebesar Rp. 15.424.910 dan pada tahun ketiga adalah sebesar Rp. 17.017.160. Peningkatan laba tersebut terjadi karena laba operasi pada setiap tahunnya juga mengalami peningkatan. Laba yang didapat kemudian akan dipotong pajak sebesar 2% sehingga akan didapat laba bersih yang setiap tahunnya juga mengalami peningkatan yaitu pada tahun pertama sebesar Rp. 11.930.432 tahun kedua sebesar Rp. 15.116.412 dan tahun ketiga sebesar Rp. 16.676.817. Dalam aspek finansial ini tidak diperhitungkan Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Net B/C Ratio karena pendanaan dan aliran kas tidak mengalami kekurangan atau tidak mengalami kerugian sehingga usaha Home Industry ini masih layak untuk dijalankan.

47

VI. PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Ledre pisang merupakan produk olahan makanan pertanian pangan

yang umumnya diproduksi oleh industri rumah tangga dan mendapat tempat di masyarakat. 2. industri rumah tangga pembuat ledre pisang diharapkan mampu pendapatan rumah tangga dan memerlukan meningkatkan

pengembangan yang lebih lanjut karena pengembangan industri rumah rumah tangga akan mampu mendorong perkembangan industri lainya. 3. Data yang diambil adalah data primer dimana data primer yaitu data yang diperoleh dari pengusaha ledre pisang dengan wawancara langsung dengan pemilik usaha.
4.

Home industri ledre ini masih terus diusahakan, hal ini dikarenakan para pengrajin ledre tidak memperhitungkan biaya tenaga kerja

memberikan keuntungan yang tinggi.


5.

yang semua proses produksi dikerjakan sendiri oleh anggota keluarga. B. Saran

48

Jika memungkinkan home industri ini dijadikan sebuah usaha industri kecil dengan cara mengumpulkan pengrajin ledre dalam satu atap, sehingga diharapkan total biaya dapat ditekan seminimal mungkin dan akhirnya dapat meningkatkan pendapatan pengrajin ledre. Selain itu untuk meningkatkan efisiensi maka hendaknya produsen memperbesar volume produksi dengan input yang sudah ada.

Daftar Pustaka 51 Achmad. 2004. Studi Kelayakan Bisnis, Edisi 3. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Anonim. 2009. http://eprints.umm.ac.id/7926/1/Analisis Preferensi Konsumen Terhadap Ledre Pisang.pdf. Diakses pada Kamis, 9 Juni 2011 pukul 13.25 WIB Gitingger, D. 2008. Perencanaan dan Analisa Proyek. Edisi ke- 2. Universitas Indonesia. Jakarta. Kadariah. 1988. Evaluasi Proyek Analisa Ekonomis. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Lembaga Penyelidikan Ekonomi Manajemen (LPEM)-FE-UI. 1999. Kriteria Investasi dan Pengaruh Inflasi Pada Perencanaan Proyek. Jakarta: LPEM-FE-UI. Soeharto, I. 1999. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Jakarta: Erlangga. Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Jakarta: UI-Press. Soetriono. 2002. Analisis Manfaat dan Biaya. Universitas Jember. Jember: Fakultas Pertanian

49

52