Anda di halaman 1dari 4

VII) PEMBAHASAN Praktikum kali ini adalah untuk mengukur kadar minyak atsiri didalam simplisia Menthae folium.

Terdapat perlbagai metode untuk mengisolasi minyak atsiri dari satu sampel, antaranya metode destilasi uap dimana isolasi dibantu dengan uap air. Metode lainnya adalah metode pemerasan, iaitu bahan secara langsung ditekan atau diremas. Selain itu, metode penyarian dengan mengekstraksi menggunakan pelarut yang non polar dan metode enfleurage iaitu penyerapan minyak atsiri menggunakan vaselin. Tetapi didalam prkatikum kali ini digunakan metode penetapan kadar iaitu dengan cara destilasi stahl. Terdapat dua cara metode destilasi stahl iaitu dengan penggunaan xilena dan tanpa penggunaan xilena. Minyak atsiri ditetapkan kadarnya menggunakan cara tanpa penambahan xilena. Pertama sekali, disiapkan simplisia Menthae folium untuk penetapan kadar minyak atsirinya. Bagian Menthae folium yang digunakan adalah bagian daun karena minyak atsiri banyak didapatkan dibagian daun. Daun utuh dan dipotong mengandung tidak kurang dari 1,2% dan 0,9% (v / b) minyak atsiri, masing-masing, yang ditentukan seperti yang dijelaskan dalam farmakope Eropa. Unsur utama dari daun adalah minyak atsiri (0,5-4%), yang mengandung mentol (30-55%) dan menthone (14-32%). Mentol terjadi kebanyakan dalam bentuk bebas alkohol, dengan jumlah kecil sebagai (% 3-5) asetat dan Valerat ester. monoterpen lain yang hadir termasuk isomenthone (2-10%), 1,8-cineole (6-14%), a-pinene (1,0-1,5%), b-pinene (1-2%), limonene (1 5%), neomenthol (2.5-3.5%) dan menthofuran (1-9%). Digunakan simplisia yang berbentuk ranjangan yang dipotong-potong atau diiris-iris hingga derajat halus tertentu. Jika simplisia yang digunakan terlalu halus, dikhuatiri kandungan minyak atsiri didalam simplisia akan terjejas. Ditimbang jumlah simplisia yang mahu digunakan, bobot yang ditimbang adalah 78.11g. jika simplisia terlalu banyak, labu Stahl akan terisi penuh dan pelarut yang akan ditambah nanti akan melimpah keluar.

Sebelum simplisia dimasukkan ke dalam labu Stahl, dimasukkan terlebih dahulu batu didih kedalam labu. ungsi penambahan batu didih ada 2, iaitu ntuk meratakan panas sehingga panas menjadi homogen pada seluruh bagian larutan dan untuk menghindari titik lewat didih.Pori-pori dalam batu didih akan membantu penangkapan udara pada larutan dan melepaskannya ke permukaan larutan (ini akan menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung kecil pada batu didih). Tanpa batu didih, maka larutan yang dipanaskan akan menjadi superheated pada bagian tertentu, lalu tiba-tiba akan mengeluarkan uap panas yang bisa menimbulkan letupan/ledakan (bumping). Batu didih tidak boleh dimasukkan pada saat larutan akan mencapai titik didihnya. Jika batu didih dimasukkan pada larutan yang sudah hampir mendidih, maka akan terbentuk uap panas dalam jumlah yang besar secara tiba-tiba. Hal ini bisa menyebabkan ledakan ataupun kebakaran. Jadi, batu didih harus dimasukkan ke dalam cairan sebelum cairan itu mulai dipanaskan. Jika batu didih akan dimasukkan di tengah-tengah pemanasan (mungkin karena lupa), maka suhu cairan harus diturunkan terlebih dahulu.Sebaiknya batu didih tidah digunakan secara berulangulang karena pori-pori dalam batu didih bisa tersumbat zat-zat pengotor dalam cairan Kemudian dimasukkan simplisia ke dalam labu Stahl, dicampur dengan sejumlah volume tertentu aquadest hingga seluruh simplisia terendam. Dipasang alat Stahl, kemudian diisi buret dengan aquadest hingga hampir penuh. Sebelum alat destilasi dipasang, alat destilasi dibasuh dengan etanol. Etanol disemprotkan kedalam saluran alat destilasi untuk membersihkan kekotoran yang melekat atau masih tertinggal oleh penggunaan yang sebelumnya. Etanol digunakan karena dapat memecahkan lemak atau kotoran. Setelah dicuci dengan etanol, saluran alat destilasi dibilas dengan akuades. Digunakan akuades karena pelarut yang digunakan adalah akuades. Semasa pemasangan labu stahl kepada alat destilasi, vaselin diletakkan disekeliling mulut labu. Hal ini adalah untuk mengelak dari kemasukkan udara kedalam labu stahl semasa proses destilasi berlaku.

Labu stahl dipasangkan kepada alat destilasi. Alat dihidupkan dan ditetapka suhu 70C. suhu ini digunakan karena minyak atsiri didalam simplisia ini memiliki senyawa yang nudah menguap, jadi untuk mengelak minyak atsiri menguap dan serta mengurangkan kadar minyak atsiri yang terbuang , metode ini digunakan. Berlainan dengan metode refluks yang menggunakan pemanasan yang tinggi dan akhirnya akan menyebabkan minyak atsiri menguap. Dilakukan destilasi dengan alat pemanas, diatur pemanasannya hingga destilasi berjalan lambat tetapi teratur. Dilakukan destilasi selama 2,5 jam. Dihentikan pemanasan, dibiarkan dingin, lalu dicatat volume minyak atsiri yang terjadi. Dihitung kadar minyak atsirinya dengan rumus sebagai berikut: Kadar minyak atsiri (%v/b) = x 100%

Volume minyak atsiri yang didapatkan adalah 0.15ml. Volume minyak atsiri didalam simplisia bergantung kepada lama waktu destilasi berlangsung. Kemungkinan untuk mendapatkan volume yang lebih tinggi dari proses destilasi adalah tinggi tetapai disebabkan kesempitan waktu, proses destilasi dihentikan. Kadar minyak atsiri yang didapatkan adalah 0.192%. Kadar minyak atsiri ini adalah sedikit dari kadar yang seharusnya. Hal ini terjadi mungkin disebabkan lama waktu destilasi yang tidak mencukupi, atau mungkin minyak atsiri menguap ke udara ketika labu stahl dialihkan dari alat destilasi pada saat labu masih panas. Hal ini disebabkan karena tanaman menta segar memiliki kandungan air embun yang tinggi, sehingga minyak yang terkandung di dalamnya tidak dapat dilepaskan secara sempurna dengan cara penyulingan (Hardjono, 2004) Kemudian dilakukan pengujian KLT menggunakan kertas kromatografi silica. Prosedur ini diteruskan untuk mengetahui nilai rf senyawa didalam minyak atsiri ini. Pengembang yang digunakan adalah toluene dan etil asetat pada rasio (93 : 7) dengan pereaksi penampak vanilin asam sulfat (Wagner dkk, 1984). Sebelum digunakan, pengembang yang telah dicampurkan dibiarkan

menjenuh didalam bejana atau wadah selama beberapa menit( 30menit). Pada masa yang sama plat silica diukur saiznya dan ditanda bagi garis awal dan garis akhir perjalan fase gerak. Hal ini untuk memdahkan pengiraan nilai rf minyak atsiri. Tetapi hasil yang difoto tidak memuaskan karena kelihatan ekstrak yang ditotolkan diatas fase diam (plat silica) mengembang dan tersebar keseluruh plat. Nilai rf tidak dapat dihitung karena bercak tidak terlihat sama sekali. Kadar minyak atsiri didalam simplisia ini berubah-rubah mengikut pada usia daun atau simplisia. Daun simplisia yang muda memiliki peratus minyak atsiri yang lebih tinggi berbanding daun yang lebih tua. Kualitas minyak atsiri pada Mentha piperita dapat dilihat dari oksidasi dan reduksi pulegon menjadi menthofuran atau menthon. Dapat dilakukan dengan mengukur kadar menthofuran atau menthonnya, jika kadar menthon lebih banyak maka dapat dikatakan minyak atsiri dari tanaman tersebut sudah termasuk baik.Enzim yang berperan merubah geranilpirofosfat menjadi limonene yaitu (4-s)-(-)-limonen sintiase. Sedangkan enzim yang berperan dalam mengubah isomenthon menjadi menthon adalah pulegon reduktase, enzim yang berperan mengubah menthon menjadi menthol dan neomenthol adalah menthon reduktase.