Anda di halaman 1dari 19

BAB I LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS Nama Usia Berat badan Jenis kelamin Alamat Pekerjaan Agama No RM Tanggal masuk RS Tanggal keluar RS : An. S : 8 tahun : 21 kg : Perempuan : Setieng, Kejajar : Pelajar kelas 2 SD : Islam : 51 05 55 : 9 oktober 2011 : 24 oktober 2011

B. ANAMNESIS Keluhan Utama : nyeri saat menggerakkan paha

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke IGD post KLL 1,5 jam SMRS dimana pasien pasien tertabraksepeda motor saat menyeberang jalan. Pasien mengeluh nyeri pada paha kanan serta nyeri bila di gerakkan. Pasien tidak ingat kejadian saat tertabrak motor. Pingsan (+), mual (+), muntah (-). Riwayat Penyakit Dahulu Pasien belum pernah opname sebelumnya. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada yang keluarga yang mempunyai riwayat opname karena patah tulang, osteoporosis, dan osteoarthritis. Anamnesis Sistem Sistem Cerebrospinal : Pasien sadar, tidak demam, tidak pusing

Sistem Respirasi : Tidak batuk, tidak sesak nafas Sistem Kardiovaskuler : Tidak berdebar-debar Sistem Gastrointestinal : BAB tidak ada keluhan. Kentut (+) Sistem Urinarius : BAK tidak sulit dan tidak nyeri dan terasa tuntas Sistem Muskuloskeletal : nyeri pada paha kanan tengah saat di tekan, terutama bila di gerakkan Sistem Integumentum : Suhu raba hangat, turgor kulit baik Ringkasan Anamnesis Pasien perempuan berusia 8 tahun datang ke IGD setelah kecelakaan lalu lintas yaitu tertabrak sepeda motor sewaktu menyeberang jalan. Pada paha kanan pasien terasa nyeri sewaktu di gerakkan. Pasien tidak ingat bagaimana kejadian tabrakan tersebut. Pasien merasa mual, tidak muntah. Pasien tidak merasa sesak napas. C. PEMERIKSAAN FISIK (24 Oktober 2011) Keadaan Umum : pasien tampak sakit sedang Kesadaran Vital Sign Tekanan darah Nadi Respiratory rate Status Generalisata Pemeriksaan Kepala Kepala Wajah Mata Hidung Mulut Telinga : Bentuk mesochepal : Simetris, pigmentasi (-), tanda-tanda radang (-) : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor (+/+) : Deformitas (-), sekret (-) : Bibir kering (-), lidah kotor (-) : Discharge (-), pendengaran normal : 90/60 mmHg : 108x/menit, isi dan tegangan cukup, teratur : 24x/menit, reguler Suhu 36,7 C : compos mentis

Pemeriksaan Leher Kelenjar parotis tidak membesar, limfonodi cervikalis kanan dan kiri tidak membesar, JVP tidak meningkat.

Pemeriksaan Toraks Cor Inspeksi : simetris, deformitas (-), sikatrik (-), ketinggalan gerak (-) Palpasi : iktus kordis tak teraba Perkusi : Kanan atas Kanan bawah Kiri atas Kiri bawah : SIC III LPS dextra : SIC V LPS dextra : SIC III LMC sinistra : SIC V LMC sinistra

Auskultasi : bunyi jantung S1 S2 tunggal, bising (-)

Pulmo Inspeksi : simetris, deformitas (-), sikatrik (-), ketinggalan gerak (-), retraksi (-) Palpasi : ketinggalan gerak (-), vokal fremitus kanan = kiri Perkusi : sonor pada kedua lapang paru Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)

Pemeriksaan Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi : dinding dada//dinding perut, massa (-), sikatrik (-) : bunyi usus peristaltik normal : timpani, redup hepar di SIC VI : supel, massa tumor (-), nyeri tekan (-) Hepar tak teraba. Lien tak teraba. Nyeri ketok costovertebra dextra et sinistra (-). Pemeriksaan Ekstremitas Ekstremitas superior: simetris, telapak tangan tidak pucat, akral hangat, WPK <2detik, palmar eritem (-), deformitas (-), refleks fisiologis (+), sensasi taktil (+), kekuatan otot 5/5 Ekstremitas inferior:

asimetris, telapak kaki tidak pucat, akral hangat, WPK <2 detik, palmar eritem (-), sensasi taktil (+), m.VE dengan diameter 1x1cm di regio cruris dextra Status Lokalis Regio Femur Dextra Inspeksi: Deformitas berupa pemendekan 1 cm. hematom (-) jejas (-) edema (+) Palpasi: nyeri tekan (+), nyeri gerak (+), krepitasi (+) Look (Inspeksi)

- Deformitas : angulasi (-) ; diskrepensi: (+) perpendekan 1 cm - Bengkak : (+) - Fungsio laesa (hilangnya fungsi gerak): (+) - Jejas: (-) Feel (Palpasi)

- Tenderness (nyeri tekan) pada derah fraktur: (+)++ - Krepitasi: tidak jelas (pada 1/3 femur tengah) - Nyeri sumbu: (+) AVN -WPK<2detik : (+) -Arteri dorsalis pedis: (+) denyut teraba -Akral hangat : (+) -Sensasi taktil: (+) terasa -Pengukuran panjang anggota gerak: (+) pedis dextra lebih pendek 1 cm di banding pedis sinistra, dengan posisi anatomis dari trochanter mayor dextra dan sinistra masih sejajar horizontal. Move (Gerakan)

- Nyeri bila digerakan, baik gerakan aktif maupun pasif: (+) ++ - Gerakan yang tidak normal yaitu gerakan yang terjadi tidak pada sendinya: (-)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG Foto femur dextra (15 Oktober 2011)

Kesan

: Struktur tulang baik Tampak fraktur femur dextra 1/3 distal proximal Posisi fragmen fraktur tidak baik

E. PEMERIKSAAN LABORATORIUM 1. Pemeriksaan darah laboratorium Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Laboratorium AL EO% PLT Darah, 9 Oktober 2011 H 20,9x103 1,10 525x103

F.

DIAGNOSIS Close fraktur femur 1/3 tengah proximal complete oblique non complicata

G. TERAPI Traksi Hamilton Russel (skin traction) 2 minggu kemudian Gips hemispica

H. RIWAYAT INAP DAN FOLLOW UP 9 Oktober 2010 Pasien perempuan berusia 8 tahun datang ke IGD setelah kecelakaan lalu lintas yaitu tertabrak sepeda motor sewaktu menyeberang jalan. Pada paha kanan pasien terasa sangat nyeri sewaktu di gerakkan. Pasien tidak ingat bagaimana kejadian tabrakan tersebut. Pasien merasa mual, tidak muntah. Keadaan umum pasien sakit sedang, compos mentis, GCS: E4V5M6. TD: 100/70 mmHg t: 38C nadi: 96x/menit. RR: 28x/menit. Diberikan terapi infus RL 20 tpm, ketorolac i.v. 2x1/2 ampul, ranitidin i.v. 2x1/2 ampul, piracetam i.v. 3x1gram, citicholin 3x125mg. Pasien dirawat di unit bedah (bangsal Bougenville). 10 Oktober 2011 (Bangsal Bougenville) Pasien masih merasa nyeri di paha kanan. umum pasien sakit sedang, compos mentis, GCS: E4V5M6. TD: 100/70 mmHg t: 38C nadi: 92x/menit. RR: 28x/menit. Diberikan terapi infus RL = 20 tpm, Ranitidine 2x1/2ampul, Paracetamol 3x1/2. Dan pasien mendapat program skin traksi dengan beban 3kg. 11 Oktober 2011 Nyeri di paha kanan masih terasa. Keadaan umum pasien sakit sedang, compos mentis, GCS: E4V5M6. TD: 100/70 mmHg t: 38C nadi: 96x/menit. RR: 28x/menit. Status lokalis: akral hangat (+). Denyut arteri dorsalis pedis dextra teraba, WPK<2 detik, sensasi taktil terasa (+) oedem (+). Diberikan terapi Na Diclofenak 3x1/2 ampul. 12 Oktober 2011 Nyeri di paha kanan masih terasa. TD: 110/70; Nadi: 88x/menit; RR: 24x/menit. Status lokalis: gerakan jari (+), akral hangat, WPK<2 detik, denyut arteri dorsalis pedis terasa. Sensasi taktil terasa (+) bengkak (+). Terapi: infus RL 20 tpm, dan Na diclofenak 13 Oktober 2011 D: 100/70mmHg t: 36,5C nadi: 80x/menit rr: 20x/menit. Terapi dilanjutkan. 14 Oktober 2011 D: 100/70mmHg t: 36,5C nadi: 68x/menit rr: 24x/menit. Terapi dilanjutkan. 15 Oktober 2011 D: 100/70mmHg t: 36,5C nadi: 80x/menit rr: 20x/menit. Terapi dilanjutkan. Hasil foto rontgen femur: Struktur tulang baik, tampak fraktur fremur dextra 1/3 proximal, posisi fraktur tidak baik. 16 Oktober 2011 bengkak pada cruris dextra (-)

17 Oktober 2011 D: 80/50mmHg t: 37,3C nadi: 108x/menit rr: 24x/menit. Terapi dilanjutkan 18 Oktober 2011 D: 90/60mmHg t: 36.7C nadi: 84x/menit rr: 20x/menit. Terapi dilanjutkan. 19 Oktober 2011 D: 90/60mmHg t: 36,7C nadi: 84x/menit rr: 20x/menit. Terapi dilanjutkan.

20 Oktober 2011 D: 90/50mmHg t: 36,8C nadi: 64x/menit rr: 20x/menit. Terapi dilanjutkan. 21 Oktober 2011 D: 90/70mmHg t: 37,3C nadi: 116x/menit rr: 24x/menit. Terapi dilanjutkan. 22 Oktober 2011 D: 90/60mmHg t: 37C nadi: 108x/menit rr: 24x/menit. Terapi dilanjutkan. 23 Oktober 2011 Terapi dilanjutkan. 24 Oktober 2011 D: 90/60mmHg t: 36,7C nadi: 108x/menit rr: 24x/menit. Traksi di lepas. Pasien di pasang Gips hemispica

Diagnosis akhir: Close Fraktur Femur 1/3 Tengah Tertutup Complete Oblique Non-complicata

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Definisi Fraktur Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Kebanyakan kasus fraktur sekarang di akibatkan oleh tinggainya angka kecelakaan yang terjadi di jalan raya yang di akibatkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan alatalat yang memenuhi standar keselamatan dalam berkendaraan. Seperti menggunakan helm yang standar untuk pengendara sepeda motor dan menggunakan sabuk pengaman untuk pengendara mobil.
B. Anatomi dan Fisiologi Tulang

Nama nama tulang pada manusia: 1. Cranium (tengkorak) 2. Mandibula (tulang rahang) 3. Clavicula (tulang selangka) 4. Scapula (tulang belikat) 5. Sternum (tulang dada) 6. Rib (tulang rusuk) 7. Humerus (tulang pangkal lengan) 8. Vertebra (tulang punggung) 9. Radius (tulang lengan) 10. Ulna (tulang hasta) 11. Carpal (tulang pergelangan tangan) 12. Metacarpal (tulang telapak tangan) 13. Phalanges (ruas jari tangan dan jari kaki) 14. Pelvis (tulang panggul) 15. Femur (tulang paha) 16. Patella (tulang lutut) 17. Tibia (tulang kering) 18. Fibula (tulang betis) 19. Tarsal (tulang pergelangan kaki) 20. Metatarsal (tulang telapak kaki)

Tulang dalam garis besarnya di bagi atas: a. Tulang panjang Yang termasuk tulang panjang misalnya femur, tibia, fibula, ulna, dan humerus. b. Tulang pendek Contoh dari tulang pendek adalah tulsng vertebra dan tulsng-tulang karpal

c. Tulang pipih Yang termasuk tulang pipih antara lain tulang iga, scapula, dang tulang pelvis Bagian-bagian dari tulang panjang yaitu: a) Diafisis ( batang ) Merupakan bagian tengah tulang yang berbentuk silinder, bagian ini tersusun dari tulang kortikal yang memiliki kekuatan yang besar. b) Metafisis Adalah bagian tulang yang melebar di dekat ujung akhir batang. Daerah ini terutama disusun oleh tulang trabekula atau spongiosa yang mengandung, sumsum merah. Metafisis juga menopang sendi dan menyediakan daerah yang cukup luas untuk perlekatan tendon pada epifisis. Daerah ini merupakan suatu daerah yang sangat sering di temukan adanya kelainan atau penyakit, oleh karena daerah ini merupakan daerah metabolik yang aktif dan banyak mengandung pembuluh darah. Kerusakan atau kelainan perkembangan pada daerah lempeng epifisis akan menyebabkan kelianan pertumbuhan. c) Epifisis Lempeng epifisis adalah pertumbuhan longitudinal pada anak-anak. Bagian ini akan menghilang pada tulang dewasa. Bagian epifisis yang letaknya dekat dengan sendi tulang panjang bersatu dengan metafisis sehingga pertumbuhan memanjang tulang terhenti. Seluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum, yaitu: yang mengandung selsel yang berproliferasi dan berperan dalam proses pertumbuhan transversal tulang panjang

Klasifikasi Fraktur 1. Klasifikasi etiologi Fraktur traumatik, terjadi karena trauma tiba-tiba Fraktur patologis, terjadi karena kelelahan tulang sebelumnya akibat proses patologis didalam tulang Fraktur stres, terjadi akibat trauma yang terus menerus pada suatu tempat tertentu. 2. Klasifikasi klinis Fraktur tertutup (simple fracture) adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar. Fraktur terbuka (compound fracture) adlah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, terbagi atas : o Derajat I : Laserasi <2 cm, fraktur sederhana dengan dislokasi fragmen minimal. o Derajat II : Laserasi >2cm dengan kontusi otot disekitarnya, dislokasi fragmen jelas. o Derajat III : Luka lebar, rusak hebat atau hilangnya jaringan di sekitarnya, dengan fraktur komunitif, segmental dan fragmen tulang ada yang hilang. Fraktur dengan komplikasi Fraktur yang disertai dengan komplikasi misalnya malunion, delayed union, non union, infeksi tulang. 3. Klasifikasi Radiologi Menurut lokalisasi a. Diafisial b. Metafisial c. Intra-artikuler d. Fraktur dengan dislokasi Menurut konfigurasi a. Fraktur transversal: suatu fraktur komplit yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu tulang. b. Fraktur oblik: fraktur komplit yang melalui korteks secara diagonal. c. Fraktur spiral: bila garis patah terdapat mengelilingi sepanjang korteks. d. Fraktur komunitif: Garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan e. Fraktur segmental: garis patah lebih dari satu, tetapi tidak berhubungan f. Fraktur depresi: garis patahnya masuk ke arah medial tulang

Penyembuhan Fraktur pada Anak Proses penyembuhan fraktur adalah suatu proses biologis alami yang akan terjadi pada setiap fraktur. Setiap tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa jaringan parut. Proses penyembuhan mulai terjadi segera setelah tulang mengalami kerusakan bila lingkungannya memadai maka bisa sampai terjadi konsolidasi. Faktor mekanis seperti imobilisasi sangat penting untuk penyembuhan, selain itu faktor biologis juga sangat esensial dalam penyembuhan fraktur. Proses penyembuhan fraktur berbeda-beda pada tulang kortikal (pada tulang panjang), tulang kanselosa (pada metafisis tulang panjang dan tulang-tulang pendek) dan pada tulang rawan persendian. Penyembuhan fraktur pada tulang kortikal

Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri atas lima fase, yaitu : 1. Fase hematoma Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil yang melewati kanalikuli dalam sistem Haversian mengalami robekan pada daerah fraktur dan akan membentuk hematoma diantara kedua sisi fraktur. Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum. Periosteum akan terdorong dan dapat mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah ke dalam jaringan lunak. Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari daerah fraktur akan kehilangan darah dan mati, yang akan menimbulkan suatu daerah cincin avaskuler tulang yang mati pada sisi-sisi fraktur segera setelah trauma. 2. Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal Pada fase ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi penyembuhan. Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel-sel osteogenik yang berproliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus interna sebagai aktifitas seluler dalam kanalis medularis. Apabila terjadi robekan yang hebat pada periosteum, maka penyembuhan sel berasal dari diferensiasi sel-sel mesenkimal yang tidak berdiferensiasi ke dalam jaringan lunak. Pada tahap awal dari penyembuhan fraktur ini terjadi pertambahan jumlah dari sel-sel osteogenik yang memberi pertumbuhan yang cepat pada jaringan osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas. Pembentukan jaringan seluler tidak terbentuk dari organisasi pembekuan hematoma suatu daerah fraktur. Setelah beberapa minggu, kalus dari fraktur akan membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik. Pada pemeriksaan radiologis kalus belum mengandung tulang sehingga merupakan suatu daerah radiolusen. 3. Fase pembentukan kalus (fase union secara klinis) Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang berasal dari osteoblas dan kemudian pada kondroblas membentuk tulang rawan. Tempat osteoblast diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan perlengketan polisakarida oleh garam-garam kalsium membentuk suatu tulang yang imatur. Bentuk tulang ini disebut sebagai woven bone. Pada pemeriksaan radiologi kalus atau woven bone sudah terlihat dan merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur. 4. Fase konsolidasi (fase union secara radiologik) Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan diubah menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi struktur lamelar dan kelebihan kalus akan diresorpsi secara bertahap. 5. Fase remodeling

Bilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru membentuk bagian yang menyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis medularis. Pada fase remodeling ini, perlahanlahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan tetap terjadi proses osteoblastik pada tulang dan kalus eksterna secara perlahan-lahan menghilang. Kalus intermediat berubah menjadi tulang yang kompak dan berisi sistem Haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami peronggaan untuk membentuk ruang sumsum.

Faktor-faktor yang yang mempengaruhi penyembuhan tulang, antara lain : a. Faktor yang mengganggu penyembuhan fraktur 1. Imobilisasi yang tidak cukup Imobilisasi dalam balutan gips umumnya memenuhi syarat imobilisasi, asalkan persendian proksimal dan distal dari patah tulang turut di imobilisasi. Gerakan minimal pada ujung pecahan patah tulang di tengah otot dan di dalam lingkaran kulit dalam gips, yang misalnya disebabkan oleh latihan ekstremitas yang patah tulang tidak mengganggu, bahkan dapat merangsang perkembangan kalus. Hal ini berlaku nutuk atah tulang yang ditangani gips maupun traksi. 2. Infeksi Infeksi di daerah patah tulang merupakan penyulit berat Hematom merupakan lingkungan subur untuk kuman patologik yang dapat menyebabkan osteomyelitis di kedua ujung patah tulang, sehingga proses penyembuhan sama sekali tidak dapat berlangsung. 3. Ruang diantara kedua fragmen serta Interposisi oleh jaringan lunak Interposisi jaringan seperti otot atau tendo antara kedua fragmen patah tulang dapat menjadi halangan perkembangan kalus antara ujung patahan tulang Penyebab yang lain, karena distraksi yang mungkin disebabkan oleh kelebihan traksi atau karena tonus dan tarikan otot. 4. Gangguan perdarahan setempat Pendarahan jaringan tulang yang mencukupi untuk membentuk tulang baru merupakan syarat mutlak penyatuan fraktur. 6. Nekrosis avaskuler

Apabila kedua fragmen mempunyai vaskularisasiyang baik, maka penyembuhan biasanya tanpa komplikasi akan tetapi bila salah satu sisi fraktur vaskularisasinya jelek sehingga mengalami kematian maka akan menghambat penyembuhannya. 7. Fraktur intra artikuler (cairan sinovial mengandung fibrolisin, yang akan melisis bekuan darah awal dan memperlambat pembentukan jendalan) 8. Usia (lansia sembuh lebih lama) Waktu penyembuhan tulang pada anak-anak jauh lebih cepat Daripada orang dewasa. Hal ini terutama disebabkan karena aktifitas proses osteogenesis pada periosteum dan endosteum dan juga berhubungan dengan proses remodeling tulang pada bayi sangat aktif dan makin berkurang apabila umur bertambah. b. Faktor yang mempercepat penyembuhan fraktur 1. Imobilisasi fragmen tulang 2. Kontak fragmen tulang maksimal 3. Asupan darah yang memadai (dengan syarat imobilisasi yang baik) 4. Nutrisi yang baik 5. Hormon-hormon pertumbuhan, tiroid kalsitonin, vitamain D, steroid anabolic Penyembuhan fraktur berkisar antara 3 minggu sampai 4 bulan. Waktu penyembuhan pada anak secara kasar waktu penyembuhan pada dewasa. Penegakan Diagnosis Fraktur Pemeriksaan untuk menentukan ada atau tidaknya patah tulang terdiri atas empat langkah: tanyakan (anamnesis, adakah cedera khas), lihat (inspeksi, bandingkan kiri dan kanan), raba (analisis nyeri), dan gerakan (akif dan/atau pasif). 1. Riwayat pasien Sering kali pasien datang sudah dengan keluhan bahwa tulangnya patah karena jelasnya keadaan patah tulang tersebut bagi pasien. Sebaliknya juga mungkin, fraktur tidak disadari oleh penderita dan mereka datang dengan keluhan keseleo, terutama patah yang disertai dislokasi fragmen yang minimal. Dalam persepsi penderita trauma tersebut bisa dirasa berat meskipun sebenarnya ringan, sebaliknya bisa dirasakan ringan meskipun sebenarnya berat. Diagnosis fraktur juga dimulai dengan anamnesis adanya trauma tertentu, seperti jatuh, terputar, tertumbuk, dan berapa kuatnya trauma tersebut. Anamnesis dilakukan untuk menggali riwayat mekanisme cedera (posisi kejadian) dan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan cedera tersebut. Selain riwayat trauma, biasanya didapati keluhan nyeri meskipun fraktur yang fragmen patahannya stabil, kadang tidak menimbulkan keluhan nyeri. Banyak fraktur mempunyai cedera yang khas. Perlu ditanyakan mengenai keluhan penderita dan lokasi keluhannya. Keluhan klasik fraktur komplet adalah sakit, bengkak, deformitas, dan penurunan fungsi. Sakit akan bertambah apabila bagian yang patah digerakkan. Deformitas fraktur harus dijelaskan dengan lengkap. Kita harus mengetahui bagaimana terjadinya kecelakaan, tempat yang terkena dan kemungkinan adanya

faktor presipitasi fraktur (misal, tumor tulang, dll). Untuk itu, perlu ditanyakan riwayat pasien sebelumnya, apakah pasien mengalami osteoporosis, hipertensi, mengkonsumsi kortikosteroid, dll. Perlu pula diketahui riwayat cedera atau fraktur sebelumnya, riwayat sosial ekonomi, pekerjaan, obat-obatan yang dikonsumsi, merokok, riwayat alergi, dan riwayat osteoporosis serta penyakit lain. 2. Pemeriksaan fisik a. Inspeksi / look Pada pemeriksaan fisik mula-mula dilakukan inspeksi dan terlihat adanya asimetris pada kontur atau postur, pembengkakan, dan perubahan warna local. Pasien merasa kesakitan, mencoba melindungi anggota badannya yang patah, terdapat pembengkakan, perubahan bentuk berupa bengkok, terputar, pemendekan, dan juga terdapat gerakan yang tidak normal. Adanya luka kulit, laserasi atau abrasi, dan perubahan warna di bagian distal luka meningkatkan kecurigaan adanya fraktur terbuka. Pasien diinstruksikan untuk menggerakkan bagian distal lesi, bandingkan dengan sisi yang sehat. Look (Inspeksi) - Deformitas : angulasi ( medial, lateral, posterior atau anterior), diskrepensi (rotasi, perpendekan atau perpanjangan). - Bengkak atau kebiruan. - Fungsio laesa (hilangnya fungsi gerak) Feel (Palpasi) - Tenderness (nyeri tekan) pada derah fraktur. - Krepitasi. - Nyeri sumbu. Move (Gerakan) - Nyeri bila digerakan, baik gerakan aktif maupun pasif. - Gerakan yang tidak normal yaitu gerakan yang terjadi tidak pada sendinya. Pemeriksan trauma di tempat lain seperti kepala, thorak, abdomen, tractus urinarius dan pelvis.

Pemeriksaan komplikasi fraktur seperti neurovaskular bagian distal fraktur yang berupa pulsus arteri, warna kulit, temperatur kulit, pengembalian darah ke kapiler (Capillary refil test), sensasi motorik dan sensorik. Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pemeriksan Radiologi. Untuk melengkapi deskripsi fraktur dan dasar untuk tindakan selanjutnya. Foto rontgen minimal harus dua proyeksi yaitu AP dan lateral. b. Palpasi / feel Nyeri yang secara subyektif dinyatakan dalam anamnesis, didapat juga secara objektif pada palpasi. Nyeri itu berupa nyeri tekan yang sifatnya sirkuler dan nyeri tekan sumbu pada waktu menekan atau menarik dengan hati-hati anggota badan yang patah searah dengan sumbunya. Keempat sifat nyeri ini didapatkan pada lokalisasi yang tepat sama. Status neurologis dan vaskuler di bagian distalnya perlu diperiksa. Lakukan palpasi pada daerah ekstremitas tempat fraktur tersebut, meliputi persendian diatas dan dibawah cedera, daerah yang mengalami nyeri, efusi, dan krepitasi. Neurovaskularisasi yang perlu diperhatikan pada bagian distal fraktur diantaranya, pulsasi arteri, warna kulit, pengembalian cairan kapiler (capillary refill test), sensibilitas. Palpasi harus dilakukan di sekitar lesi untuk melihat apakah ada nyeri tekan, gerakan abnormal, kontinuitas tulang, dan krepitasi. Juga untuk mengetahui status vaskuler di bagian distal lesi. Keadaan vaskuler ini dapat diperoleh dengan memeriksa warna kulit dan suhu di distal fraktur. Pada tes gerakan, yang digerakkan adalah sendinya. Jika ada keluhan, mungkin sudah terjadi perluasan fraktur. c. Gerakan / moving Gerakan antar fragmen harus dihindari pada pemeriksaan karena menimbulkan nyeri dan mengakibatkan cedera jaringan. Pemeriksaan gerak persendian secara aktif termasuk dalam pemeriksaan rutin fraktur. Gerakan sendi terbatas karena nyeri, akibat fungsi terganggu (Loss of function). 3. Pemeriksaan penunjang Pada pemeriksaan radiologis dengan pembuatan foto Rontgen dua arah 90o didapatkan gambaran garis patah. Pada patah yang fragmennya mengalami dislokasi, gambaran garis patah biasanya jelas. Dalam banyak hal, pemeriksaan radiologis tidak dimaksudkan untuk diagnostik karena pemeriksaan klinisnya sudah jelas, tetapi untuk menentukan pengelolaan yang tepat dan optimal. Sehingga pemeriksaan radiologi untuk fraktur ini dapat digunakan untuk diagnosis, konfirmasi diagnosis dan perencanaan terapi, serta untuk mengetahui prognosis trauma. Pada tulang, panjang persendian proksimal maupun yang distal harus turut difoto. Bila ada kesangsian atas adanya fraktur atau tidak, sebaiknya dibuat foto yang sama dari anggota gerak yang sehat untuk perbandingan. Bila tidak diperoleh kepastian adanya kelainan, seperti fisura,

sebaiknya foto diulang setelah satu minggu, retak akan menjadi nyata karena hiperemia setempat sekitar tulang yang retak itu akan tampak sebagai dekalsifikasi. Radiologis untuk lokasi fraktur harus menurut rule of two, terdiri dari : a. Memuat 2 gambaran, anteroposterior (AP) dan lateral b. Memuat 2 sendi di proksimal dan distal fraktur c. Memuat gambaran foto 2 ekstremitas, yaitu ekstremitas yang tidak terkena cedera (pada anak) d. Dilakukan foto sebanyak 2 kali, yaitu sebelum tindakan dan sesudah tindakan

Penatalaksanaan Fraktur Enam prinsip umum penatalaksaan fraktur: 1. Jangan membuat keadaan lebih jelek 2. Pengobatan berdasarkan atas diagnosis dan prognosis yang akurat 3. Seleksi pengobatan dengan tujuan khusus: a. Menghilangkan nyeri b. Memperoleh posisi yang baik dari fragmen c. d. Mengusahakan terjadinya penyambungan tulang Mengembalikan fungsi secara optimal

4. Mengingat hukum-hukum penyembuhan secara alami 5. Bersifat realistik dan praktis dalam memilih jenis pengobatan 6. Seleksi pengobatan sesuai dengan penderita secara individual

Pilihan penatalaksanaan fraktur adalah terapi konservatif atau operatif. Pilihan harus mengingat tujuan pengobatan fraktur, yaitu : mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin.

I. Terapi Konservatif a. Proteksi saja Misalnya mitella untuk fraktur collum chirurgicum humeri dengan kedudukan baik. b. Immobilisasi saja tanpa reposisi Misalnya pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkomplit dan fraktur dengan kedudukan baik. c. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips Misalnya fraktur supracondylair, fraktur colles, fraktur smith. Reposisi dapat dengan anestesi umum atau anestesi lokal dengan menyuntikkan obat anestesi dalam hematoma fraktur. Fragmen distal dikembalikan pada kedudukan semula terhadap fragmen proksimal dan dipertahankan dalam kedudukan yang stabil dalam gips. Misalnya fraktur distal radius, immobilisasi dalam pronasi penuh dan fleksi pergelangan. d. Traksi Traksi dapat untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh atau dipasang gips setelah tidak sakit lagi. Pada anak-anak dipakai traksi kulit (traksi Hamilton Russel/traksi Bryant). Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5 kg, untuk anak-anak waktu dan beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai traksi definitif, bilamana tidak maka diteruskan dengan immobilisasi gips. Untuk orang dewasa traksi definitif harus traksi skeletal berupa balanced traction. II. Terapi Operatif a. Terapi operatif dengan reposisi secara tertutup dengan bimbingan radiologis (image intensifier, C-arm) : 1. Reposisi tertutup-Fiksasi eksterna Setelah reposisi baik berdasarkan kontrol radiologis intraoperatif maka dipasang alat fiksasi eksterna. 2. Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti fiksasi interna Misalnya : reposisi fraktur tertutup supra condylair pada anak diikuti dengan pemasangan paralel pins. Reposisi tertutup fraktur collumum pada anak diikuti pinning dan immobilisasi gips. Cara ini sekarang terus dikembangkan menjadi close nailing pada fraktur femur dan tibia, yaitu pemasangan fiksasi interna intra meduller (pen) tanpa membuka frakturnya.

b. Terapi operatif dengan membuka frakturnya : 1. Reposisi terbuka dan fiksasi interna ORIF (Open Reduction and Internal Fixation) Keuntungan cara ini adalah : - Reposisi anatomis. - Mobilisasi dini tanpa fiksasi luar. Indikasi ORIF : a. Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avascular nekrosis tinggi, misalnya : - Fraktur talus. - Fraktur collum femur. b. Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya : - Fraktur Monteggia. 2. Excisional Arthroplasty Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi, misalnya : - Fraktur caput radii pada orang dewasa. - Fraktur collum femur yang dilakukan operasi Girdlestone. 3. Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis Dilakukan excisi caput femur dan pemasangan endoprosthesis Moore atau yang lainnya. Sesuai tujuan pengobatan fraktur yaitu untuk mengembalikan fungsi maka sejak awal sudah harus diperhatikan latihan-latihan untuk mencegah disuse atropi otot dan kekakuan sendi, disertai mobilisasi dini. Pada anak jarang dilakukan operasi karena proses penyembuhannya yang cepat dan nyaris tanpa komplikasi yang berarti.