Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM PENCAPAN 1

PENCAPAN KAIN KAPAS RAJUT MENGGUNAKAN ZAT WARNA REAKTIF DINGIN DENGAN VARIASI WAKTU FIKSASI

Disusun Oleh :

Group Kelompok Nama

: K-1 :2 : Iis Lusi Nurhayati Rita Yulianti Siti Yulianti Nurul Afifah Windy Gustiany (09.K40010) (09.K40014) (09.K40017) (09.K40018)

Dosen Asisten

: Sasmaya., S.ST : Sukirman, S.ST Desiriana

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL BANDUNG 2011

PENCAPAN KAIN KAPAS RAJUT MENGGUNAKAN ZAT WARNA REAKTIF DINGIN DENGAN VARIASI WAKTU FIKSASI
I. MAKSUD DAN TUJUAN 1.1. Maksud Melakukan pencapan/memberikan motif pada kain kapas rajut dengan zat warna reaktif dingin dan membuat pasta cap yang dapat digunakan untuk mencap. 1.2. Tujuan Untuk bisa melakukan pencapan kain kapas rajut dengan zat warna reaktif dingin.

II.

TEORI DASAR Pencapan adalah suatu proses pemberian warna pada kain secara tidak merata sesuai dengan motif yang telah ditentukan dan hasilnya memiliki ketahanan luntur warna. Untuk mencapai hasil pencapan yang baik pada proses pencapan dibutuhkan kondisi yang spesifik, peralatan khusus dan desain yang sempurna, desain memiliki nilai seni yang tinggi dan biasanya diciptakan sebagai hasil karya seni. Teknik pencapan intinya merupakan cara pemindahan desain dengan suatu peralatan tertentu yang diharapkan dapat menjamin mutu dan kualitas hasil pencapan. Pada pencapan dapat digunakan bermacam-macam warna dan golongan zat warna dalam satu kain dan tidak saling mempengaruhi.

1.1. Zat Warna Reaktif Dingin Pencapan dengan zat warna reaktif banyak digunakan karena disamping pilihan warnanya yang banyak juga karena dapat dikerjakan dengan kondisi yang sederhana. Ukuran molekulnya kecil dan larut dengan baik didalam air sehingga cepat berdifusi kedalam serat, hasil pencapannya mempunyai kilau yang tinggi serta dalam bentuk terhidrolisa sisa-sisa zat warna yang tidak terfisasi mudah dihilanngkan dalam proses pencucian dan penyabunan (washinng off).

Zat warna reaktif dapat mengadakan reaksi dengan selulosa membentuk ikatan kovalen. Berdasarkan kereaktifannya, dikenal dua jenis zat waarna reaktif, yaitu zat warna reaktif dingin dan zat waarna reaktif panas. Zat warna reaktif dingin lebih reaktif (misal diklorotriazin) oleh karenanya fiksasinya dapat dilakukan dengan penganginanginan. Contoh nama-nama zat warna reaktif : Golongan mono dan diklorotriazin antara lain Procion, Cibacron,

Amayl,Chemative,Golddazol dsb. Golongan sulfatoetil sulfonat (vinil sulfon) antara lain Remazol, Navictive dsb. Golongan trikloropirimidin antara lain Reactone, Drimaren dsb. Faktor penting yang perlu diperhaatikan dalam penggunaan zat warna reaktif adalah kestabilan paasta capnya dan kemungkinan terjadinya penodaan warna dasar pada saat proses pencucian. Zat pengental yang digunakan untuk pencapan, dipillih yang tidak dapat bereaksi dengan zat warna, yang umum digunakan adalah pengental jenis natrium alginat.pengental sintetik dari jenis asam poliakrilat dapat memberikan hasil pewarnaan yang lebih memuaskan dan lebih mudah dihilangkan pada proses pencucian dibandingkan jika menggunakan pengental alginat. Pengental emulsi penuuh dan setengah emulsi baik dari tipe minyak dalam air (oil-in-water) dan air dalam minyak (water-in-oil) juga umum digunakan. Alkali diperllukan untuk menghasilkan gugus ion selulosa sehingga dapat bereaksi dengan zat warna. Pemilihan jenis alkali berdasarkan padda kereaktifan zat warna yang digunakan dan kestabilan dari pasta cap yang diperlukan. Naatrium bikarbnaat selain harganya murah juga memberikan kestabilan paasta cap yang tinggi dengan hampir semua zat warna reaktif. Jika digunakan jenis zat wwarna yang mempnyai kestabilan yanng cukup tinggi dapat digunakan Natrium karbonat atau soda kostik karena akan memberikan hasil pewarnaan yanng lebih tinggi. Untuk jenis zat warna reaktif dingin atau yan kereaktifannya tinggi, konsentrasi bikarbonat bisa dikurangi. Reaksi zat waarna reaktif dengan selulosa dan dengan air dapat digambaarkan sebagai berikut :

Contoh untuk golongan diklorotriazin.


Cl alkalli O-Sel Cl

D-NHCl

+ Sel-OH

D-NH-

Cl

alkalli

O-Sel

D-NHCl

+ H-OH

D-NHCl

1.2. Kain Kapas Serat kapas merupakan serat alam yang dihasilkan dari tanaman Gossypium. Kapas berasal dari serat tumbuh-tumbuhan yang tergolong kedalam serat selulosa alam yang diambil dari buahnya. Selulosa merupakan polimer linear yang tersusun dari kondensasi molekul-molekul glukosa, yang dihubung-hubungkan seperti pada gambar yang berada dibawah ini :

Struktur kimianya merupakan senyawa benzene yang mengandung gugus hidroksil yang mudah menyerap air yang sebagian besar terdiri dari selulosa (komponen utamanya) dan komponen bawaannya misalnya lemak, malam, pektin, dll. Morfologi serat kapas : Penampang membujur, seperti pipa terpilin. Penampang melintang, seperti ginjal. Sifat-sifat kapas secara fisik : Warna serat kapas tidak betul-betul putih, biasanya sedikit cream. Kekuatan serat perbundelnys adalah 70.000 sampai 96.700 pon/inci. Mulur serat kapas antara 4 -13 % dengan rata-ratanya 7%. Mousture regain serat kapas pada kondisi standar adalah 7 - 8,5 %. Berat jenis serat kapas berkisar 1,50 - 1,56.

Sifat-sifat kapas secara kimia : Serat kapas akan terhidrolisa oleh asam kuat. Oksidator akan menurunkan kekuatan. Alkali pekat akan menggelembungkan serat.

III.

ALAT dan BAHAN 3.1. Alat : Kasa screen dan rakel Meja print Mixer (untuk pembuatan pengental emulsi ) Tempat untuk pasta. 3.2. Bahan : Zat warna reaktif dingin Kain yang akan dicap (bahan Kapas) Urea Matexil PA-L NaHCO3 (Soda Kue) Na2CO3 (Soda Abu) Pengental (alginat) Air

IV.

RESEP 4.1. Resep Pasta Cap Zw reaktif dingin Urea Matexil NaHCO3 (Soda Kue) Na2CO3 (Soda Abu) Pengental (alginat) Balance : 20 g

: 100 g : : : 20 g 20 g 5 g

: 700 g : 135 g 1000 g

4.2. Resep pengental Induk Pengental alginat 5% Air

V.

FUNGSI ZAT Zat warna reaktif dingin berfungsi untuk memberi warna pada kain kapas rajut. Pengental berfungsi untuk meningkatkan kekentalan pasta cap, melekatkan zat warna pada bahan dan sebagai pengatur viskositas. Urea berfungsi sebagai zat higroskopis dan membantu pelarutan zat warna reaktif. Alkali berfungsi untuk memberikan suasana alkali dan membantu proses fiksasi zat warna reaktif.

VI.

DIAGRAM ALIR Persiapan bahan Print Pengeringan

Fiksasi

Pencucian

VII.

CARA KERJA Pembuatan Pengental sintetik 1. Menimbang pengental alginat 15 gram. 2. Menambahkan sebagian air sampai 285 gram. 3. Mengaduk secara merata dengan menggunakan mixer sampai pengental mengental. Pembuatan Pasta Cap 1. Mengambil pengental yang telah jadi sesuai dengan kebutuhan, 2. Memasukkan zat warna reaktif dingin ke dalamnya dan diaduk terus sampai semua bagian merata. 3. Menambahkan urea dan matexil. 4. Pada saat akan dilakukan pencapan baru ditambahkan NaHCO3, Na2CO3.

Pencapan (print) 1. Kain yang akan dicap dipasang pada meja cap dengan posisi terbuka sempurna dan konstan pada meja cap. 2. Meletakkan screen tepat berada pada bahan yang akan dicap 3. Pasta cap ditaburkan pada bagian pinggir screen (tidak mengenai motif). 4. Menahan screen agar tetap mengepres pada bahan, kemudian dilakukan proses pencapan dengan cara memoles screen dengan pasta cap menggunakan rakel. 5. Pada proses pencapan, penarikan rakel harus kuat dan menekan ke bawah agar dapat mendorong zat warna masuk ke motif. 6. 7. Screen kemudian dilepaskan ke atas. Untuk screen berikutnya (warna berbeda), dipasang screen dengan memposisikan motif, agar kedua motif dapat berimpit dengan tepat. 8. 9. Melakukan proses pencapan seperti point di atas. Setelah selesai, pasta cap dibiarkan pada kain hingga sedikit mengering untuk kemudian mengangkatnya secara hati-hati. 10. Dilakukan proses pengeringan, dengan cara diangin-anginkan. 11. Setelah kering, dilakukan proses curing fiksasi dengan waktu yang berbeda-beda.

Perakelan

VIII.

PERHITUNGAN 8.1. Pasta Cap dalam 1 warna a= kebutuhan pasta cap=50 gram Resep Zw reaktif dingin Urea Matexil PA-L NaHCO3 Na2CO3 Pengental Waktu Fiksasi 8 Jam 16 Jam 24 Jam 32 Jam R1 R2 R3 R4

8.2. Pengental sintetik dalam 1 warna

IX.

DATA PERCOBAAN (terlampir)

X.

DISKUSI Pada proses pencapan dengan zat warna reaktif dingin pada kain kapas rajut dapat didiskusikan hal-hal sebagai berikut :

Ketuaan warna Urutan ketuaan warna dari yang paling tua sampai paling muda hasil pencapan didapatkan warna yang secara berturut-turut adalah hasil pencapan dengan waktu fiksasi paling lama yaitu 32 jam, 24 jam, 16 jam dan 8 jam. Hasil pencapan dengan waktu fiksasi 8 jam warnanya lebih muda karena waktu fiksasinya lebih sebentar dibandingkan dengan hasil pencapan yang waktu fiksasinya lebih lama. Tahan Luntur Hasil pencapan setelah dicuci pada setiap kain mengalami perubahan warna atau luntur. Hal ini disebabkan karena zat warna reaktif dapat berikatan dengan air sehingga pada saat dicuci terdapat sebagian zat warna yang terbawa oleh air. Hasil pencapan yang tahan lunturnya paling rendah adalah kain hasil pencapan dengan waktu fiksasi yang paling sebentar atau 8 jam. Hal ini disebabkan karena zat warna belum sepenuhnya berikatan atau fiksasi dengan serat tetapi sudah dilakukan pencucian sehingga tahan lunturnya sangat rendah. Sebaliknya kain hasil pencapan dengan waktu fiksasi yang lama ketahanan lunturnya lebih tinggi. Ketajaman Motif Untuk warna merah setelah dilakukan pencapan dengan zat warna yang merah hasilnya baik atau ketajaman motifnya baik. Namun untuk warna biru ketajaman motifnya kurang, hal ini dapat terjadi mungkin karena pada saat pembuatan pasta capnya terlalu kental sehingga pada saat dilakukan proses pencapan pasta cap yang menembus screen sedikit sehingga hasilnya kurang baik.

XI.

KESIMPULAN Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapat kesimpulan sebagai berikut ; Waktu fiksasi mempengaruhi terhadap tahan luntur hasil pencapan, semakin lama waktu fiksasinya maka tahan lunturnya semakin bagus. Ketajaman motif hasil pencapan sangat dipengaruhi oleh viskositas pasta cap.

DAFTAR PUSTAKA Soeprijono. P. dkk, Serat-Serat Tekstil, ITT, Bandung : 1973 Lubis A, dkk, Teknologi Pencapan Tekstil, STT Tekstil, Bandung : 1998 Djufri R, dkk, Teknologi Pengelantangan, Pencelupan dan Pencapan, ITT, Bandung : 1978 www.google.com