Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM FISWAN

PENGARUH SUHU TERHADAP DENYUT JANTUNG Daphnia

Disusun Oleh : 1. Astrini Widyanita (083204011) 2. Dessy Ratna D.K (083204034) 3. Nungki Lukitasari (083204203) 4. Charisma Endrawati (083204206) 5. Nararia Wildani W (083204218) Pendidikan Biologi 2008

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA 2011

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Crustacea mempunyai anggota seperti udang, teritip, lobster dan lainlain. Habitat Crustacea meliputi air tawar, air laut, dan air payau. Beberapa larva dan beberapa spesies anggota kelas ini bersifat meliang (tinggal di dalam liang), sedangkan yang lain bersifat pelagik, bahkan ada yang menghuni laut dalam. Sebagian besar hidup bebas dan ada yang hidup dalam kelompok-kelompok besar. Adapun contoh dari anggota Crustacea adalah Daphnia. Daphnia adalah salah satu spesies dari Crustacea berupa plankton. Hewan ini hidup di air tawar dan mudah ditemukan di kolam. Tubuhnya transparan dan tidak berwarna., apabila air sebagai tempat hidupnya teraerasi dengan baik. Alat gerak utamanya adalah antenna yang mengatur gerakan gerakan ke atas dank e bawah. Daphnia selalu ditemukan di tempat hidupnya dengan posisi kepala di atas. Jantung Daphnia merupakan struktur globular kecil di bagian anterodorsal badan. Kecepatan denyut jantungnya dipengaruhi beberapa factor, antara lain suhu lingkungan. Suhu mempengaruhi proses fisiologis organisme termasuk frekuensi denyut jantung. Penaikan maupun penurunan tersebut dapat mencapai 2 kali aktivitas normal. Perubahan aktivitas akibat pengaruh suhu dirumuskan sebagai berikut :

Aktivitas akan naik seiring dengan naiknya suhu sampai pada titik di mana terjadi kerusakan jaringan, kemudian diikuti aktifitas yang menurun dan akhirnya terjadi kematian. Pada suhu sekitar 100C di bawah atau di atas suhu normal suatu jasad hidup dapat mengakibatkan penurunan atau kenaikan aktivitas jasad hidup tersebut menjadi kurang lebih dua kali pada suhu normalnya. Sedangkan perubahan suhu yang tiba-tiba akan mengakibatkan terjadinya kejutan atau shock yang biasanya dikaitkan dengan koefisien aktivitas (Q), perbandingan suatu aktivitas yang disebabkan oleh kenaikan suhu 100C atau dinyatakan dengan rumus: A(t + 10)C A(t ) Q10 =

B. Rumusan masalah a.Berapa frekuensi denyut jantung dan pengaruh suhu terhadap denyut jantung Daphnia sp? C. Tujuan percobaan a.Mengetahui cara mengukur frekuensi denyut jantung Daphnia sp. b.Mengidentifikasi frekuensi denyut jantung dan pengaruh suhu terhadap denyut jantung Daphnia sp.

BAB II DASAR TEORI 1. Suhu Tubuh Hewan Suhu merupakan salah satu faktor pembatas penyebaran hewan dan selanjutnya menentukan aktivitas hewan. Rentangan suhu lingkungan di bumi jauh lebih besar dibandingkan dengan rentangan penyebaran aktivitas hidupnya. Secara umum aktivitas kehidupan terjadi antara rentangan sekitar 00C-400C. kebanyakan hewan hidup dalam rentangan suhu yang lebih sempit. Banyak hewan yang suhu tubuhnya disesuaikan dengan suhu lingkungan, dan kelompok hewan ini disebut hewan berdarah dingin atau poikilotermik. Menghadapi fluktuasi suhu, hewan ini melakukan konformitas suhu, suhu tubuhnya berfluktuasi sesuai dengan suhu lingkungan. Laju kehilangan panas pada hewan poikilotermik lebih tinggi daripada laju produksi panas, sehingga tubuhnya lebih ditentukan oleh suhu lingkungan eksternalnya daripada suhu metabolisme internalnya. harfiahnya suhu luar). Lebih sedikit hewan mempertahankan suhu tubuhnya, kelompok hewan ini disebut hewan berdarah panas atau homeotermik. Menghadapi suhu lingkungan, hewan ini melakukan regulasi suhu , suhu tubuhnya konstan walaupun suhu lingkungan berfluktuasi. Kehilangan panas lebih sedikit dibandingkan dengan laju produksi panas internalnya, sehingga suhu tubuhnya lebih ditentukan oleh produksi internalnya. Dalam keadaan demikian, hewan homeotermik disebut Dilihat dari ketergantungannya terhadap suhu lingkungan, hewan poikilotermik disebut juga sebagai hewan ektotermik (arti

hewan endotermik (suhu dalam). Grafik suhu tubuh dan suhu lingkungan pada hewan poikilotermik dapat ditunjukkan dengan grafik dibawah ini:

Gambar anatomi Daphnia sp.


dhgt251685888fLayoutInCell1fAllowOverlap1fBehindDocument0fHidde n0fLayoutInCell1

Gambar Daphnia sp.

dhgt251686912fLayoutInCell1fAllowOverlap1fBehindDocument0fHidde n0fLayoutInCell1

Suhu Lingkungan (0C)

Suhu Tubuh

Suhu tubuh, endoterm atau eksoterm, tergantung pada jumlah panas (kalori) per unit massa jaringan. Jaringan terdiri terutama atas, sehingga kapasitas panas jaringan antara 00 C-400 C kira-kira 1,0 kalori per 0C per gram. Ini berarti bahwa makin luas hewan, makin besar panas tubuh menentukan suhu hewan. Kecepatan perubahan panas tubuh tergantung pada (1) kecepatan produksi panas melalui aktivitas metabolik, (2) kecepatan penambahan panas atau (3) kecepatan kehilangan panas ke lingkungan. Sehingga dapat dikatakan bahwa: Panas tubuh = Produksi Panas + Penambahan Panas- Kehilangan panas = Panas yang diproduksi + Perpindahan Panas Jadi panas tubuh, dan selanjutnya suhu tubuh seekor hewan, dapat diregulasi dengan mengubah kecepatan produksi panas dan perpindahan panas. a. Produksi Panas Mekanisme yang mempengaruhi kecepatan produksi panas tubuh dapat diklasifikasikan menjadi: (1) mekanisme tingkah laku, seperti latihan ringan (pemanasan); (2) mekanisme otonomik seperti mempercepat metabolisme simpanan energi, (3) mekanisme adaptif atau aklimatisasi, yang lebih lamban daripada dua proses yang lain yaitu memproduksi penambahan panas pada metabolisme basal. a. Transfer Panas Kecepatan transfer panas (kalori per jam) ke dalam atau keluar tubuh tergantung pada tiga faktor: 1. Luas Permukaan. Makin kecil hewan maka makin tinggi aliran panas per unit berat tubuh. 2. Perbedaan suhu. Makin dekat seekor hewan memelihara suhu tubuhnya ke suhu lingkungan, makin sedikit panas akan mengalir ke dalam atau keluar tubuhnya. 3. Konduktansi panas spesifik permukaan tubuh hewan. Permukaan jaringan poikilotermik memiliki kondutansi panas yang tinggi,

sehingga hewan ini memiliki suhu tubuh mendekati suhu lingkungan (kecuali apabila hewan berjemur di panas matahari). 2. Pengaruh Perubahan Suhu Perubahan suhu memiliki pengaruh besar terhadap berbagai proses fisiologis. Dalam batas tertentu, peningkatan suhu akan mempercepat banyak proses fisiologis. Misalnya pengaruh suhu terhadap kecepatan denyut jantung atau konsumsi oksigen. Dalam batas-batas toleransi hewan, kecepatan denyut jantung atau konsumsi oksigen akan meningkatknya suhu lingkungan. Suatu metode untuk menghitung pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi adalah perkiraan Q10 yaitu peningkatan kecepatan proses yang disebabkan oleh peningkatan suhu 100 C. Secara umum peningkatan suhu tubuh hewan 100 C, menyebabkan kecepatan denyut jantung atau konsumsi oksigen antara harga 1 dan 2, dan sebaliknya bila suhu tubuh diturunkan 100 C, maka kecepatan denyut jantung atau konsumsi oksigen akan turun menjadi setengahnya. Bila kecepatan 2 kali, maka Q10= 2, bila kecepatannya 3 kali, maka Q10=3 dan seterusnya. Istilah ini bukan hanya konsumsi oksigen saja, tetapi untuk semua proses yang dipengaruhi oleh suhu. 3. Mekanisme pengaturan suhu Kulit > Reseptor ferifer > hipotalamus (posterior dan anterior) > Preoptika hypotalamus > Nervus eferent > kehilangan/pembentukan panas Dalam pengaturan suhu tubuh, hewan harus mengatur panas yang diterima atau yang hilang ke lingkungan. Mekanisme perubahan panas tubuh hewan dapat terjadi dengan 4 proses, yaitu konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi. 1. Penguapan (evaporasi) Evaporasi proses kehilangan panas dari permukaan cairan yang ditranformasikan dalam bentuk gas. Penguapan dari tubuh merupakan salah satu jalan melepaskan panas. Walau tidak berkeringat, melalui kulit selalu ada air berdifusi sehingga penguapan dari permukaan tubuh kita selalu terjadi disebut inspiration perspiration (berkeringat tidak terasa) atau biasa disebut IWL (insensible water loss). Inspiration perspiration melepaskan panas + 10 kcal/jam dari permukaan panas dari metabolism kulit. Dari jalan pernafasan +

7 kcal/jam dikeluarkan dengan cara evaporasi 20 - 25%. 2. Radiasi

Radiasi adalah emisi dari energi elektromagnet. Radiasi dapat mentransfer panas antar obyek yang tidak kontak langsung. Bila suhu disekitar lebih panas dari badan permukaan tubuh akan menerima panas, bila disekitar dingin akan melepaskan panas. Proses ini terjadi dalam bentuk gelombang radiasi.elektromagnetik dengan kecepatan seperti cahaya. Sebagai contoh, radiasi sinar matahari 3. Konduksi Perpindahan panas dari atom ke atom/ molekul ke molekul dengan jalan pemindahan berturut turut dari energi kinetic dalam keadaan ini yaitu perubahan panas tubuh hewan karena kontak dengan suatu benda.Pertukaran panas dari jalan ini dari tubuh terjadi sedikit sekali (kecuali menyiram dengan air). 4. Konveksi Perpindahan panas dengan perantaraan gerakan molekul, gas atau cairan. Misalnya pada waktu dingin udara yang diikat/dilekat pada tubuh akan menjadi kurang dipanaskan (dengan melalui konduksi dan radiasi) padat, naik dan diganti udara yang lebih dingin. Biasanya ini kurang berperan dalam pertukaran panas. PENGATURAN SUHU TUBUH PADA KEADAAN DINGIN Ada dua mekanisme tubuh untuk keadaan dingin yaitu : 1. Secara fisik (prinsif-prinsif ilmu alam) Yaitu pengaturan atau reaksi yang terdiri dari perubahan sirkulasi dan tegaknya bulu-bulu badan (piloerektion) > erector villi 2. Secara kimia yaitu terdiri dari penambahan panas metabolisme. Pengaturan secara fisik Dilakukan dengan dua cara : 1. Vasokontriksi pembuluh darah (cutaneus vasokontriksi)

Pada reaksi dingin aliran darah pada jari-jari ini bias berkurang + 1% dari pada dalam keadaan panas. Sehingga dengan mekanisme vasokontriksi maka panas yang keluar dikurangi atau penambahan isolator yang sama dengan memakai 1 rangkap pakaian lagi. 2. Limit blood flow slufts (Perubahan aliran darah) Pada prinsifnya yaitu panas/temperature inti tubuh terutama akan lebih dihemat (dipertahankan) bila seluruh anggota badan didinginkan Pengaturan secara kimia: Pada keadaan dingin, penambahan panas dengan metabolisme akan terjadi baik secara sengaja dengan melakukan kegiatan otot-otot ataupun dengan cara menggigil. Menggigil adalah kontraksi otot secara kuat dan lalu lemah bergantian, secara synkron terjadi kontraksi pada group-group kecil motor unit alau seluruh otot. Pada menggigil kadang terjadi kontraksi secara simultan sehingga seluruh badan kaku dan terjadi spasme. Menggigil efektif untuk pembentukan panas, dengan menggigil pada suhu 50 c selama 60 menit produksi panas meningkat 2 kali dari basal, dengan batas maximal 5 kali. PENGATURAN SUHU TUBUH DALAM KEADAAN PANAS 1. Fisik

Penambahan aliran darah permukaan tubuh Terjadi aliran darah maximum pada anggota badan Perubahan (shift) dari venus return ke vena permukaan Proses ini terutama efektif pada keadaan temperature kurang/dibawah 340 C. penambahan konduktivitas panas (thermalpenambahan aliran darah konduktivity)

2. Keringat

Pada temperature diatas 340 C, pengaturan sirkulasi panas tidak cukup dengan radiasi, dimana pada kondisi ini tubuh mekanisme panas yang dipakai dalam mendapat panas dari radiasi. keadaan ini dengan cara penguapan (evaporasi).

Gerakan kontraksi pada kelenjar keringat, berfungsi secara periodic memompa tetesan cairan keringat dari lumen permukaan keringat

merupakan mekanisme pendingin yang paling efektif.kulit 4. Termoregulasi Pada Hewan Poikiloterm (Eksoterm) Eksoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan). Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan. Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan reptilia. Suhu tubuh hewan poikiloterm atau eksoterm ditentukan oleh keseimbangan kondisi suhu lingkungan dan berubah-ubah seperti berubahubahnya kondisi suhu lingkungan. Pada hewan poikiloterm air, suhu tubuhnya sangat ditentukan oleh keseimbangan konduktif dan konfektif dengan air mediumnya dan suhu tubuhnya mirip dengan suhu air. Hewan memproduksi panas internal secara metabolic, dan ini mungkin meningkatkan suhu tubuh di atas memiliki insulasi sehingga perbedaan suhu hewan dengan air sangat kecil. Ada beberapa cara untuk mencapai keseimbangan ini . Salah satu cara dengan lingkungan adalah memperluas permukaan tubuh sehingga dapat meningkatkan panas yang masuk dari radiasi matahari. Ini dilakukan dengan mengarahkan permukaan kulitnya tegak lurus dengan sinar matahari. Dengan cara ini dapat menyerap panas jauh lebih tinggi daripada suhu udara lingkungannya. Bila suhu tubuh yang cocok telah tercapai, biasanya hewan air ini akan berpindah ketempat yang lebih teduh. Hal ini berarti dapat dipahami bahwa hewan poikiloterm yang biasanya didefinisikan sebagai hewan yang menyesuaikan suhu tubuhnya dengan fluktuasi suhu lingkungannya dan dianggap tidak melakukan usaha untuk mempertahankan suhu tubuhnya ternyata kurang tepat, sebab banyak usaha yang dilakukan oleh poikiloterm untuk mempertahankan suhu tubuhnya. 5. Termoregulasi Pada Hewan Endoterm Hewan endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari hasil metabolisme. Suhu tubuh hewan ini lebih konstan. Endoterm umum dijumpai pada kelompok burung (Aves), dan mamalia. Hewan berdarah panas adalah hewan yang dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya. Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. Contoh hewan berdarah panas

adalah bangsa burung dan mamalia, hewan yang berdarah dingin adalah hewan yang suhu tubuhnya kira-kira sama dengan suhu lingkungan sekitarnya (Guyton, 1987).

BAB III METODE PERCOBAAN


A. Jenis Penelitian Penelitian ini tergolong eksperimental karena terdapat banyak variabel yang mempengaruhi diantaranya yaitu variabel kontrol, variabel manipulasi dan variabel respon. B. Variabel Percobaan Dalam percobaan ini menggunakan beberapa variabel yaitu 1. Variabel kontrol Jenis Daphnia Jenis air Jenis es batu : : a. Alat Mikroskop Gelas objek Gelas piala Gelas arloji Pipet tetes Termometer Suhu Jumlah denyut jantung Koefisien aktivitas (Q) :

2. Variabel manipulasi 3. Variabel respon

C. Alat dan Bahan

b. Bahan Daphnia sp. Es batu Air biasa Air Hangat D. Prosedur Kerja 1. Menyiapkan Kultur Daphnia pada suhu awal [100C, 150C, 200C, 250C ]. Meletakkan Daphnia pada gelas arloji yang berada pada suhu yang telah ditentukan [meletakkan di atas es batu atau air dengan suhu yang dikehendaki]. 2. Dengan pipet, memindahkan secara hati-hati seekor Daphnia pada gelas objek yang cekung atau gelas arloji lain sambil dilihat dibawah mikroskop. Daphnia bisa juga diletakkan di atas gelas objek datar. 3. Menambahkan air secukupnya agar tidak kekeringan. Jangan menambahkan air terlalu banyak, karena Daphnia akan mudah bergerak dan sulit diatur posisinya. Mengatur letak Daphnia dengan posisi tuduh miring hingga jantungnya tampak jelas dan mudah diikuti denyutnya. Apabila menggunakan gelas arloji atau gelas objek datar tidak perlu ditutup dengan kaca penutup. 4. Setelah tampak denyutan jantungnya, menghitung jumlah denyut setiap 15 detik [dengan menggunakan jarum penunjuk detik pada arloji anda]. Membuat empat kali pengukuran dan hasilnya di rata-rata. Pada setiap kali pengukuran suhu harus tetap pada suhu yang dikehendaki. Jika perlu setiap selesai satu kali pengukuran Daphnia dikembalikan pada air dengan suhu yang telah ditentukan. Lampu mikroskop dapat dengan cepat menaikkan suhu objek pada meja objek. 5. Selanjutnya memindahkan Daphnia ke tempat baru [100C lebih tinggi dari pada suhu awal]. 6. Mengukur denyut jantung Daphnia pada suhu yang baru. Pengukuran dilakukan seperti cara/langkah pada urutan 4.

E. Rancangan Percobaan

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan Tabel 1. PENGARUH SUHU TERHADAP FREKUENSI DENYUT JANTUNG Daphnia sp. Suhu Awal Denyut Jantung 1. 40 2. 33 10 C
0

Ratarata

Suhu Akhir

Denyut Jantung 1. 50 2. 52

Ratarata

Q10

39 3. 38 4. 45 1. 50 2. 52

20 C
0

52 3. 55 4. 50 1. 62 2. 58

1,33

15 C
0

49 3. 48 4. 45 1. 53 2. 56

25 C
0

60 3. 58 4. 60 1. 65 2. 60

1,22

20 C
0

52 3. 50 4. 48

30 C
0

64 3. 66 4. 64 1. 70

1,23

250C

1. 60 2. 55 3. 62 59 350C

2. 69 3. 68

70

1,18

4. 60

4. 72

dhgt251687936fLayoutInCell1fAllowOverlap1fBehindDocument0fHidde n0fLayoutInCell1

dhgt251683840fLayoutInCell1fAllowOverlap1fBehindDocument0fHidde n0fLayoutInCell1

B. Analisis Data Dari tabel pengaruh suhu terhadap denyut jantung Daphnia sp. yang kami peroleh dapat diketahui bahwa makin tinggi suhu maka makin banyak denyutan jantung dari Daphnia sp. Begitu pula sebaliknya makin rendah suhu maka makin sedikit jumlah denyut jantungnya. Hal ini dapat dilihat pada data tabel hasil praktikum yang telah kami lakukan yang mana menunjukkan pada suhu awal 10oC jumlah denyut jantung Daphnia sp. sebayak 39 kali, pada suhu 15oC jantung berdenyut sebanyak 49 kali, pada suhu 20oC jantung berdenyut sebanyak 52 kali, dan pada suhu 25oC jantung berdenyut sebanyak 59 kali. Sedangkan pada suhu akhir dimana suhu awal ditambahkan suhu 10oC, suhu yang awalnya 10oC menjadi 20oC yang mengakibatkan denyut jantung Daphnia sp. Berubah menjadi 52 kali, pada suhu 25oC jantung berdenyut sebanyak 60 kali, pada suhu 300C jantung berdenyut sebanyak 64 kali, sedangkan pada suhu 350C jantung berdenyut sebanyak 70 kali. Dengan hasil demikianlah dapat diperoleh hasil koefisien aktifitas dari Daphnia sp. Koefisisen aktifitas diperoleh dari banyaknya denyut jantung pada suhu awal dibagi dengan banyaknya denyut jantung pada suhu akhir, sehingga diperoleh koefisien aktifitas antara lain 1,33, 1,22, 1,23 dan 1,18.

C. Pembahasan Berdasarkan percobaan pengamatan denyut jamtung yang telah kami lakukan didapat bahwa pada Daphnia sp, denyut jantungnya bertambah seiring dengan pertambahan suhu lingkungan (air). Hal ini merupakan reaksi fisiologi Daphnia terhadap perubahan suhu lingkungan. Seiring dengan peningkatan suhu

lingkungan maka Daphnia sp akan meningkatkan konsumsi oksigennya guna menyesuaikan diri dengan peningkatan laju metabolismenya. Dari percobaan diatas juga dapat disimpulkan bahwa Daphnia termasuk hewan yang Poikiloterm (berdarah dingin), artinya suhu tubuh Daphnia akan mengikuti suhu lingkungannya. Dengan bertambahnya suhu lingkungan maka Daphnia sp akan juga meningkatkan suhu tubuhnya mengikuti pertambahan suhu lingkungan. Akibatnya metabolisme tubuhnya akan meningkat dengan pesat (sesuai dengan hukum kimia bahwa peningkatan suhu akan meningkatkan kecepatan suatu reaksi). Peningkatan metabolisme akan mengakibatkan kecepatan pernafasan Daphnia sp juga akan bertambah. Yang akhirnya juga akan berakibat terhadap peningkatan denyut jantung. Hal ini dikarenakan jantung memompa darah yang berisi oksigen, yang berfungsi sebagai akseptor proton dalam proses metabolisme (transport elektron). Dengan begitu metabolisme akan menghasilkan tenaga yang sebagaian besar akan dikeluarkan sebagai panas (heat) yang akan meningkatkan suhu tubuh Daphnia sp.sesuai dengan fluktuasi suhu lingkungan yang berubah.

D. Diskusi a. GRAFIK HUBUNGAN ANTARA JUMLAH DENYUT JANTUNG PERMENIT DENGAN BERBAGAI SUHU AWAL Suhu Awal Denyut Jantung Per 15 detik 1. 40 2. 33 3. 38 4. 45 Denyut Jantung Permenit

Rata-rata

100C

39

156

1. 50 2. 52 15 C
0

3. 48 4. 45 1. 53 2. 56 20 C
0

49

195

52 3. 50 4. 48 1. 60 2. 55

207

25 C
0

60 3. 62 4. 60

237

dhgt251682816fLayoutInCell1fAllowOverlap1fBehindDocument0fHidde n0fLayoutInCell1

b. Pengaruh suhu terhadap denyut jantung Daphnia adalah ketika Daphnia ditempatkan pada suhu yang lebih tinggi, jumlah denyut jantungnya semakin banyak setiap menitnya. Jadi, makin tinggi suhu maka makin tinggi kecepatan denyut jantung Daphnia. c. Perhitungan Q10 pada setiap suhu yang telah dilakukan. A(t + 10)C A(t ) Q10 =

Q10 pada suhu awal 100C =

= 1,33

60 Q10 pada suhu awal 150C = 49 = 1,22 64 Q10 pada suhu awal 200C = 52 = 1,23 70 Q10 pada suhu awal 100C = 59 = 1,18

BAB V KESIMPULAN
Dari pengamatan pengaruh suhu terhadap denyut jantung Daphnia, dapat diambil simpulan bahwa: Makin tinggi suhu lingkungan maka makin naik konsumsi oksigen dan metabolisme Daphnia. sp, sehingga denyut jantung semakin cepat.

DAFTAR PUSTAKA
Kuswanti, Nur, Raharjo dan Nur Qomariah. Panduan Praktikum Fisiologi Hewan. Surabaya: Biologi FMIPA UNESA. Leonhardt,Helmut. 1990. Atlas dan Buku Teks Anatomi Manusia. Jakarta: EGC Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Depdikbud. Wulangi, Kartolo S. 1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Jakarta: Depdikbud. Campbell, Reece Mitchell. 2000. Biologi Edisi Ke-5 Jilid 3. Jakarta: Erlangga.