Anda di halaman 1dari 75

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS RIAU FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PEKANBARU

PERS DALAM DEMOKRATISASI DI INDONESIA (Kajian Tentang Peranan Pers Dalam Peristiwa Revolusi Mei 1998)

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Serta Melengkapi Syarat-syarat Mencapai Gelar Sarjana Strata 1 (S1) Pada Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Riau

OLEH

AKMAL SAPRI O210014

JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2008

ABSTRAK Dalam berbagai deskripsi para ahli, diakui bahwa pers Indonesia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan reformasi atau revolusi Mei 1998 yang mencapai momen bersejarah dengan pengunduran diri presiden Soeharto, setelah berkuasa selama 32 tahun. Meskipun pers bukanlah pelopor dari gerakan revolusi itu, namun pers telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam peristiwa tersebut dengan penyajian berita-berita yang kritis sehingga melemahkan legitimasi rezim Orde Baru yang berkuasa pada waktu itu. Wacana tentang peranan pers dalam peristiwa revolusi Mei 1998 dapat digeneralisasikan bahwa wacana mengenai kontribusi signifikan pers dalam memicu perubahan masyarakat seakan mengikuti teori klasik komunukasi massa yang telah populer sejak lama, yaitu teori serba media. Diasumsikan bahwa media massa (dalam hal ini pers) mempunyai kekuatan yang besar untuk mempengaruhi masyarakat, bukan saja dalam membentuk opini dan sikap tetapi juga dalam memicu terjadinya gerakan sosial. Berangkat dari teori dan realita diatas penulis mencoba melakukan penelitian dengan judul "Pers Dalam Demokratisasi di Indonesia, Kajian Tentang Peranan Pers Dalam Peristiwa Revolusi Mei 1998", dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana peranan pers dalam peristiwa revolusi Mei 1998 serta mengetahui kendala-kendala yang dihadapi oleh pers dalam menjalankan peranannya tersebut. Penelitian ini bersifat deskriptif dan literatu atau yang dikenal juga dengan studi kepustakaan, yakni dengan menganalisa dan menggambarkan peranan pers dalam peristiwa revolusi Mei 1998 melalui buku-buku, jurnal, artikel, dokumen dan hasil-hasil penelitian yang berhubungan dengan peristiwa tersebut. Latar belakang penetapan topik penelitian ini mengingat pers sebagai suatu lembaga sosial yang mempunyai kekuatan dalam sistem politik dan berdasarkan pengamatan penulis bahwa pers selama orde baru senantiasa dibatasi ruang geraknya oleh pemerintah, dengan kata lain dilakukannya kontrol yang ketat oleh pemerintah terhadap pers, namun dalam situasi dan kondisi seperti itu pers tetap mampu berperan dalam mewujudkan demokrasi di Indonesia, khususnya dalam peristiwa revolusi Mei 1998. Berita-berita yang disajikan oleh pers seputar peristiwa revolusi Mei 1998 menjadi suatu acuan dan panduan bagi masyarakat dalam menentukan sikap dan dalam bertindak. Berita-berita yang kritis pada waktu revolusi Mei 1998 yang disajikan oleh pers akan menggerogoti legitimasi rezim pemerintahan. Pers juga menjadi sarana bagi masyarakat dalam menyampaikan input dalam sistem politik. Dengan demikian jelaslah bahwasanya pers mempunyai peranan yang yang cukup signifikan dalam peristiwa revolusi Mei 1998. Peranan pers dalam demokratisasi adalah sebagai sarana perubahan dan sebagai sarana kontrol dan kritik. bila dikaitkan dengan peristiwa revolusi Mei, maka peranan pers sebagai sarana perubahan terdiri dari pers sebagai issues manager, sebagai delegitimasi rezim dan sebagai social organizer. Hambatan yang dialami oleh pers dalam menjalankan peranannya tersebut adalah adanya intervensi atau pengekangan pemerintah terhadap pers dan trsanginya pers oleh media elektronik.

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7

Foto jurnalistik penanda tanganan nota kesepakatan antara Indonesia dan IMF Foto jurnalistik antrian minyak disebabkan krisis moneter Kompas, Rabu 13 Mei 1998. Insiden di universitas Trisakti, enam mahasiswa tewas. Kompas, kamis 14 Mei 1998. Selamat Jalan Bunga Reformasi Kompas, Kamis 14 Mei 1998. Jakarta Dilanda Kerusuhan Massa Kompas, Jum'at 15 Mei 1998. Perusuh Menjarah Kompas, Selasa 19 Mei 1998. Ribuan Mahasiswa ke DPR Mendesak Diadakannya Sidang Sidang Istimewa MPR

Lampiran 8 Lampiran 9

Kompas, Selasa 19 Mei 1998. Pimpinan DPR : Sebaiknya Pak Harto Mudur Kompas, Rabu 20 Mei 1998. Puluhan Ribu Mahasiswa "Duduki" DPR

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Demokrasi sebagai dasar hidup berbangsa pada umumnya memberikan pengertian bahwa adanya kesempatan bagi rakyat untuk ikut memberikan ketentuan dalam masalahmasalah pokok yang mengenai kehidupannya, termasuk dalam menilai kebijakan pemerintah, oleh karena kebijakan tersebut menentukan kehidupannya. Dengan kata lain dalam suatu negara demokrasi terdapat kebebasan-kebebasan masyarakat untuk berpartisipasi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Agar masyarakat dapat berperan serta dalam mempengaruhi proses pembuatan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah, maka perlu adanya sarana atau media yang akan digunakan dalam partisipasi tersebut. Salah satu sarana yang dapat digunakan masyarakat dalam partisipasi politik adalah pers. Dalam proses demokratisasi faktor komunikasi dan media massa mempunyai fungsi penyebaran informasi dan kontrol sosial. Pers merupakan media komunikasi antar pelaku pembangunan demokrasi dan sarana penyampaian informasi dari pemerintah kepada masyarakat maupun dari masyarakat kepada pemerintah secara dua arah. Komunikasi ini diharapkan menimbulkan pengetahuan, pengertian, persamaan persepsi dan partisipasi masyarakat sehingga demokrasi dapat terlaksana. Sebagai lembaga sosial pers adalah sebuah wadah bagi proses input dalam sistem politik. Diantara tugasnya pers berkewajiban membentuk kesamaan kepentingan antara masyarakat dan negara sehingga wajar sekali apabila pers berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan kepentingan pemerintah dan masyarakat. Untuk itu dibutuhkan

keterbukaan pers untuk secara baik dan benar dalam mengajukan kritik terhadap sasaran yang manapun sejauh hal itu benar-benar berkaitan dengan proses input. Demokrasi sering kali datang bersamaan dengan semacam gelombang revolusioner dari mobilisasi rakyat, yakni gelombang pasang rakyat yang bersamanya berbagai unsur masyarakat terbawa dalam suatu gelombang massa yang mencari identitasnya dengan berbagai unjuk rasa. Mobilisasi yang demikian bisa saja episodik dan terkendali yang mendesak agar dilakukan negosiasi-negosiasi untuk peralihan kearah demokrasi. Atau mungkin juga berbentuk suatu gelombang massa yang sulit terbendung, seperti yang pernah terjadi di Indonesia dimana terjadinya mobilisasi massa secara besar-besaran yang dipelopori oleh mahasiswa untuk menumbangkan rezim pemerintahan yang otoriter dan menciptakan demokrasi. Mobilisasi massa atau gerakan revolusioner yang terjadi di Indonesia pada bulan Mei 1998, didukung oleh berbagai kalangan tak terlepas juga dukungan dan peranan pers.
Ada banyak peranan yang dilakukan oleh pers dalam suatu negara dan dalam mewujudkan demokrasi. Namun, agar pers mampu menjalankan peranannya terutama dalam menunjang demokratisasi maka perlu adanya kebebasan pers dalam menjalankan tugas serta fungsinya secara professional. Media masa yang bebas memberikan dasar bagi pembatasan kekuasaan negara dan dengan demikian adanya kendali atas negara oleh rakyat, sehingga menjamin hadirnya lembaga-lembaga politik yang demokratis sebagai sarana yang paling efekif untuk menjalankan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat itu. Apabila negara mengendalikan media massa maka terhambatnya cara untuk memberitakan penyalahgunaan wewenang dan korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara. Bagi suatu pemerintahan diktator kebenaran merupakan bahaya baginya, sebab kebenaran akan membuka seluruh jaringan tipu dayanya. Berita-berita yang berasal dari foto jurnalisme serta data dokumenter lainnya memang memiliki daya yang sangat kuat. Misi pertama pers dalam suatu masyarakat yang demokrartis atau suatu masyarakat yang sedang berjuang untuk menjadi demokratis adalah melaporkan fakta. Misi ini tidak akan mudah dilaksanakan dalam suatu situasi ketidak adilan secara besar-besaran dan

pembagian yang terpolarisasi. Terkucilnya prospek kebebasan pers jelas merupakan bagian dari redupnya prospek demokratisasi.

Perkembangan dan pertumbuhan media massa atau pers di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan dan pertumbuhan sistem politik dinegara ini. Bahkan sistem pers di Indonesia merupakan sub sistem dari sistem politik yang ada (Harsono Suwardi, 1993 : 23)
Di negara dimana sistem persnya mengikuti sistem politik yang ada maka pers cenderung bersikap dan bertindak sebagai balancer antara kekuatan yang ada. Tindakan atau sikap ini bukan tanpa alasan mengingat pers di negara berkembang seperi di Indonesia mempunyai banyak pengalaman bagaimana mereka mencoba mempertahankan keberadaannya sebagai pers yang bebas dan bertanggung jawab. Banyak pers yang khawatir bahwa keberadaannya akan sirna manakala mereka tidak mengikuti sistem yang berlaku. Oleh karena itu guna mempertahankan keberadaannya, pers tidak jarang memilih jalan tengah. Cara inilah yang sering mendorong pers itu terpaksa harus bersikap mendua terhadap suatu masalah yang berkaitan dengan kekuasaan. Dalam kaitan ini pulalah banyak pers di negara berkembang pada umumnya termasuk di Indonesia lebih suka mengutamakan konsep stabilitas politik nasional sebagai acuan untuk kelangsungan hidup pers itu sendiri. Diawal kekuasaannya, rezim pemerintahan orde baru menghadapi Indonesia yang traumatis. Suatu kondisi dimana kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya serta psikologis rakyat yang baru tertimpa prahara. Politik satu kata yang tepat ketika itu kemudian dijadikan formula orde baru, yakni pemulihan atau normalisasi secepatnya harus dilakukan, jika tidak kondisi bangsa akan kian berlarut-larut dalam ketidak pastian dan pembangunan nasional akan semakin tertunda. Konsentrasi bangsa diarahkan untuk pembangunan nasional. Hampir seluruh sektor dilibatkan serta seluruh segmen masyarakat dikerahkan demi mensukseskan pembangunan nasional tersebut. Keterlibatan seluruh sektor maupun segmen masyarakat tersebut agaknya sebanding dengan beban berat warisan Orde Lama yang ditimpakan kepada Orde Baru. Pemerintah Orde Baru memprioritaskan trilogi pembangunannya yakni stabilitas, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan sebagai kata kunci yang saling berkait erat serta sebagai bagian doktrin negara.

Oleh karena pemerintah menitik beratkan pembaruan pada pembangunan nasional, maka sektor demokrasi akhirnya terlantarkan. Hal ini mungkin terpaksa dilakukan oleh karena sepeninggalan orde lama tidak satupun kekuatan non negara yang bisa dijadikan acuan dan preferensi, serta seluruh yang tersisa mengidap kerentanan fungsi termasuk yang melanda pers nasional. Deskripsi-deskripsi yang sering kali ditulis oleh para pemerhati pers menyatakan bahwa kehidupan pers diawal-awal orde baru adalah sarat dengan muatan represif, ketiadaan pers yang bebas, kehidupan pers yang ditekan dari segala penjuru untuk dikuasai negara, wartawan bisa dibeli serta pers yang bisa dibredel sewaktu-waktu. Dalam sejarah demokratisasi di Indnesia, khususnya pada era orde baru yang mencapai puncaknya pada peristiwa revolusi Mei 1998 yang ditandai dengan berakhirnya rezim orde baru dan pengunduran diri presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998, pers mempunyai peranan yang sangat penting. Peranan tersebut tentunya tidak terlepas dari kedala dan hambatan yang mereka alami karena rezim pemerintahan orde baru dikenal sebagai rezim pemerintahan yang otoriter yang memasung hak masyarakat untuk berbicara. Diakui bahwa pers Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari gerakan reformasi atau revolusi pada tahun 1998, yang mencapai momen bersejarah dengan pengunduran diri Soeharto setelah berkuasa selama 32 tahun pada 21 Mei 1998. Meskipun pers bukanlah pelopor gerakan revolusi itu, sulit dibayangkan bahwa gerakan revolusi yang dipelopori mahasiswa itu akan terus bergulir tanpa pemberitaan dan dukungan gencar media di Indonesia seperti pers. Proses revolusi yang didahului oleh krisis ekonomi antara Agustus hingga September 1997 yang menyebabkan kemunduran dalam kehidupan dan kesejahteraan rakyat menjadi faktor pemicu persatuan rakyat dalam kelompok aktifis demokrasi seperti mahasiswa, kelompok intelektual dan bahkan kelompok politik yang terpinggirkan. Kekuasaan presiden Soeharto yang mendekati absolut menyebabkan faktor pemersatu diluar pemerintah bahkan menjadi semakin besar. Kondisi ini dipicu semakin keras oleh peranan pers yang menyiarkan pemberitaan yang semakin kritis terhadap pemerintah maupun penyajian opini publik mengenai kesalahan serta kelemahan kebijakan publik. Seluruh gejolak yang terjadi dalam masyarakat ketika upaya menuntut pengunduran diri Soeharto merupakan lahan peristiwa dan isu yang sulit untuk tidak diolah oleh pekerja pers sebagai komoditi berita terlebih lagi krisis tersebut telah memperoleh pemberitaan gencar dari media luar negeri.

Pemberitaan seputar krisis ekonomi khususnya yang terjadi di Jakarta dan sejumlah kota besar di pulau Jawa telah menciptakan suatu lingkungan simbolik dimana masyarakat disemua bagian wilayah Indonesia merasa krisis tersebut juga terjadi dilingkungan dekatnya. Oleh karena itu eforia revolusi dengan cepat juga menjalar keberbagai daerah yang ditandai maraknya aksi demo mahasiswa dan aksi protes masyarakat di kota-kota kecil baik di Jawa maupun di luar Jawa. Memang rezim penguasa berusaha keras untuk menekan pers agar tidak terlalu membesarkan krisis yang terjadi, khususnya dimasa awal krisis ketika nilai rupiah mulai semakin anjlok. Namun jurnalis seluruh media massa selalu menemukan celah-celah dimana berita serta analisis krisis bisa disajikan. Krisis dalam tataran makro struktur ekonomi-politik Orde Baru secara langsung mempengaruhi struktur hubungan kekuasaan antar pelaku sosial yang terlibat dalam proses memproduksi teks disektor media. Beberapa waktu sebelum Soeharto lengser pada medio 1998 terjadi semacam power facum, dimana pihak pemilik perusahaan melepaskan diri dari intervensi yang dilakukan dalam memproduksi berita. Dalam kondisi semacam itu inisiatif hampir sepenuhnya ditangan jurnalis profesional. Seandainya para jurnalis sebagai aktor dengan kedudukan profesional yang signifikan disektor industri media tidak menagambil alih inisiatif untuk memproduksi teks pemberitaan seputar krisis dan mengemasnya sebagai teks yang melemahkan legitimasi rezim Orde Baru tentunya akan sulit struktur politik ditanah air bisa berubah dari struktur otoritarian menjadi struktur politik seperti yang ada saat sekarang ini. Menurut hemat penulis upaya yang dilakukan oleh pers untuk mewujudkan demokrasi di tengahtengah rezim pemerintah otoritarian yang senantiasa berusaha untuk mempertahankan kekuasaan merupakan hal yang menarik untuk diteliti. Selain itu pers merupakan lembaga sosial yang secara ideal nya bersifat netral, tidak untuk kepentingan kelompok orang-orang tertentu melainkan untuk semua orang. Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana peranan pers dalam proses demokratisasi di Indonesia, maka penulis akan melakukan penelitian dengan judul Pers Dalam Demokratisasi di Indonesia, Kajian Tentang Peranan Pers Dalam Peristiwa Revolusi Mei 1998

B. Perumusan Maslah

Pertumbuhan dan perkembangan dalam segala aspek kehidupan yang semakin pesat mendorong meningkatnya kebutuhan akan informasi yang secara tidak langsung

mendorong peningkatan pertumbuhan media massa. Informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat tidak hanya terbatas pada hal bisnis dan ekonomi bahkan lebih jauh kebutuhan informasi tentang kebijakan pemerintah dan informasi tentang perkembangan politik yang terjadi serta tentang perilaku aparat pemerintahan.
Kebutuhan masyarakat akan informasi tentang kebijakan pemerintah dan situasi politik serta tentang perilaku aparat pemerintahan tersebut secara tidak langsung akan menjadi kontrol politik bagi pemerintah, yang pada akhirnya akan menunjang proses demokratisasi. Upaya penyajian informasi yang dilakukan oleh insan pers tidak pernah lepas dari hambatan ataupun kendala mengingat sebuah fakta dan berita tentang kebobrokan pemerintah merupakan suatu bumerang yang berbahaya bagi rezim pemerintahan yang berkuasa dan dapat menggerogoti legitimasi rezim. Dalam peristiwa revolusi Mei yang menjatuhkan suatu rezim pemerintahan Orde Baru di Indonesia, pers ikut ambil bagian dalam proses demokratisasi tersebut. Dari sekelumit permasalahan yang telah penulis kemukakan sebelumnya maka dapat diidentifikasi permasalahan dari penelitiaan ini adalah peristiwa revolusi Mei 1998 yang terjadi di Indonesia tidak terlepas dari peranan pers walaupun pers mempunyai banyak kendala dan hambatan dalam mewujudkan demokratisasi pada era Orde Baru. Dengan demikian dapat dirumuskan permasalahan penelitian ini melalui pertanyaan penelitian, yakni : Bagaimana peranan pers dalam demokratisasi di Indonesia khusunya dalam peristiwa revolusi Mei 1998 ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian


1. Tujuan Penelitian 1.1. Untuk mendiskripsikan peranan pers dalam demokratisasi di Indonesia khususnya pada peristiwa revolusi Mei 1998 1.2. Mengetahui faktor penghambat bagi pers dalam upaya mewujudkan demokratisasi di Indonesia, khususnya dalam peristiwa revolusi Mei 1998. 2. Manfaat Penelitian 2.1. Sebagai bahan masukan atau informasi serta bahan perbandingan bagi peneliti berikutnya dalam hal atau masalah yang sama 2.2. Mengembangkan kemampuan berfikir penulis secara ilmiah dalam menganalisa setiap gejala yang terjadi pada peristiwa revolusi Mei 1998 khususnya mengenai peranaan pers. 2.3. Guna memenuhi dan melengkapi 0salah satu persyaratan akademis untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau.

D. Kerangka Teori
Ketentuan tentang penyelenggaraan pers di negara Kita diatur dalam Undang-Undang nomor 11 tahun 1966. sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan maka Undang-Undang ini diperbarui dengan Undang-Undang nomor 04 tahun 1967 dan terakhir diperbarui dengan Undang-Undang nomor 21 tahun 1982. Dalam Undang-Undang nomor 11 tahun 1966 tentang ketentuan-ketentuan pokok pers yang dimaksud dengan pers adalah lembaga kemasyarakatan, alat revolusi yang mempunyai karya sebagai salah satu media komunikasi massa yang bersifat umum berupa penerbitan yang teratur waku terbitnya, diperlengkapi atau tidak diperlengkapi dengan alat-alat milik sendiri berupa percetakan, alat-alat foto, klise, mesin-mesin stensil atau alat-alat cetak lainnya. Sesuai dengan perubahan Undang-Undang nomor 11 tahun 1966 yang diganti dengan UndangUndang nomor 21 tahun 1982 maka istilah pers sebagai lembaga kemasyarakatan alat revolusi yang

tercantum dalam Undang-Undang nomor 11 tahun 1966 diganti dengan pers adalah lembaga kemasyarakatan alat perjuangan nasional.

A. Muis menyatakan pers secara etimologis berasal dari bahasa Prancis preese berarti tekan atau cetak. dari bahasa Latin pressare dari kata premare definisi terminologinya media massa cetak disingkat media cetak. bahasa Belandannya drukpers atau pers yang diartikan sebagai surat kabar atau majalah. Menurut Totok Djuroto (2002 : 11) Pers merupakan kumpulan berita, head line, tajuk, artikel, cerita, iklan, karikatur dan informasi yang dicetak disuatu kertas yang berukuran plano, yang diterbitkan secara teratur (harian, mingguan, bulanan) Berbicara tentang peranan pers dalam proses demokratisasi, maka tidak akan terlepas dari berbicara masalah komunikasi politik. Komunikasi politik merupakan segala komunikasi yang terjadi dalam suatu sistem politik dan antara sistem politik tersebut denagan lingkungannya. Dalam suatu sistem politik komunikasi politik juga sebagai penghubung antara situasi kehidupan yang ada pada supra struktur dan infra struktur politik untuk menciptakan kondisi politik yang stabil. (Harsono Suwardi, 1993 : 45). Komunikasi politik merupakan suatu fungsi yang amat penting dalam sistem politik yang bertugas menyalurkan dan menyampaikan aspirasi politik maupun kepentingan politik. Melalui komunikasi politik rakyat dapat memberikan in put dan menerima out put. Banyak batasan mengenai komunikasi politik yang diberikan para ahli, seperti halnya Dan Nimmo yang terlebih dahulu memaknai politik sebagai kegiatan orang secara kolektif yang mengatur perbuatan mereka dalam kondisi penekanan pada efek yang muncul pada komunikan sebagai akibat penyampaian suatu pesan. Sehingga pada akhirnya Dan Nimmo mendefinisikan komunikasi politik sebagai kegiatan komunikasi yang dianggap politis atas dasar konsekuensi-konsekuensi aktual dan potensial yang mengatur perbuatan atau perilaku manusia dalam kondisi-kondisi konflik. (Dan Nimmo, 2000 : 9). Richard Fagen mengatakan bahwa komunikasi politik adalah suatu aktivitas komunikasi yang membawa konsekuensi-konsekuensi politik baik yang actual maupun yang potensial didalam suatu sistem politik yang ada. Lebih jauh Arranguren mengatakan bahwa komunikasi politik tidak lain adalah suatu penyampaian pesan-pesan politik (terutama pesan-pesan yang dilambangkan dengan menggunakan bahasa dalam arti luas) dari suatu sumber kepada sejumlah sasaran dengan tujuan yang pasti. Sedangkan Dennis Mc Quail menyatakan, mengingat keaneka ragaman dalam definisi komunikasi politik maka ia tidak memberikan batasan komunikasi politik secara tegas, tetapi Mc Quail menjelaskan bahwa yang terpenting didalam

komunikasi politik adalah pesan-pesan politik, yang mana suatu bentuk komunikasi akan mempunyai arti politik apabila informasi yang disampaikan memberikan tekanan pada makna isi pesan politik tersebut (Harsono Suwardi, 1993 : 42-43). Astrid Suseno memberikan pengertian komunikasi politik adalah komunikasi yang diarahkan kepada pencapaian suatu pengaruh, sehingga masalah yang dibahas oleh kegiatan komunikasi ini dapat mengikat semua warga melalui sanksi yang ditentukan bersama oleh lembaga-lembaga politik. Selanjutnya Rusadi Kantaprawira menjelaskan bahwa komunikasi politik adalah untuk menghubungkan fikiran politik yang hidup dalam sector kehidupan masyarakat dengan sektor kehidupan politik pemerintah (Jalaludin Rahmad, 1996 : 4). Pers dalam rangka komunikasi politik dikaitkan dengan kebebasan pers, independensi pers terhadap kontrol yang berasal dari luar dan integrasi pers paa misi yang diembannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi peranan pers. 1. Tempat hidup dan berkembangnya media tersebut. Karena dalam masyarakat peranan itu bukan

hanya abstrak tetapi harus konkret. 2. Komitmen pada kepentingan bersama yang harus sanggup mengatasi komitmen akan kepentingan

dan pertimbangan kelompok bukan dalam suatu hubungan yang konteradiktif. 3. Visi dan editorial policy, yang akan membedakan media cetak yang satu dengan media cetak yang

lain dan juga menjadi pedoman serta kriteria dalam proses menyeleksi kejadian-kejadian dan permasalahan untuk diliput dan dijadikan pemberitaan. (Jacob Oetama, 2001 : 433). Secara umum didalam Undang-undang nomor 11 tahun 1966 yang kemudian diubah dengan Undang nomor 21 tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pers, peranan dan fungsi pers adalah sebagai berikut: 1. Melakukan pendidikan kepada masyarakat dalam arti seluas-luasnya terutama mengenai tujuan-

tujuan dan urgensi serta jalannya proses pembangunan dalam segala aspek. 2. Melakuakan penerangan dalam arti memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat khususnya

yang berhubungan dengan peningkatan pengetahuan rakyat mengenai masalah-masalah pembangunan dalam arti luas.

3.

Memberikan hiburan dalam arti penyegaran untuk memulihkan dan mempertinggi gairah hidup

(optimisme) masyarakat. 4. Mendorong kegiatan kebudayaan dalam arti luas demi pembinaan kebudayaan bangsa untuk

menyongsong tantangan dunia modern dengan tidak melupakan akar-akar kebudayaan asli yang terdapat pada rakyat. 5. Melakukan kontrol, kritik dan koreksi yang bersifat konstruktif dalam semua bidang kegiatan

kehidupan bangsa antara lain dengan menggalakkan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. 6. Menjadikan dirinya sebagai sarana perubahan dan modernisasi. (Sumono Mustofa, 1978: 34-35) Wacana tentang peranan pers dalam peristiwa revolusi Mei 1998 dapat digeneralisasikan bahwa wacana mengenai kontribusi signifikan pers dalam memicu perubahan masyarakat seakan mengikuti teori klasik komunukasi massa yang telah populer sejak lama, yaitu teori serba media. Diasumsikan bahwa media massa (dalam hal ini pers) mempunyai kekuatan yang besar untuk mempengaruhi masyarakat, bukan saja dalam membentuk opini dan sikap tetapi juga dalam memicu terjadinya gerakan sosial. Kekuatan media massa sebagai penggerak masyarakat ini menurut teori media defedency bahkan akan semakin meningkat ketika terjadi suatu krisis, dimana tingkat ketergantungan masyarakat terhadap media massa sebagai sumber informasi juga semakin meningkat. (Dedi N Hidayat, 2000 : 380) Untuk dapat melakukan peranannya yang tepat, pers harus senantiasa mengikuti dengan peka dan cermat perkembangan masyarakat dan perkembangan lingkungan sekitarnya termasuk perkembangan politik. Sesuai dengan tanggung jawabnta sebagai avant grade bahkan harus sanggup membuat antisipasi terhadap perkembangan keadaan dengan mencoba membaca kecendrungannya. Sebagai media komunikasi politik, pers dapat berkaitan dengan demokratisasi. Demokratisasi adalah usaha atau proses penerapan kaidah demokrasi dalam setiap kegiatan politik sehingga terciptanya kehidupan politik yang bercirikan demokrasi. Menurut Riswanda Imawan (AIPI, 2002 : 47) demokratisasi adalah proses perubahan dari struktur dan tatanan pemerintahan yang otoriter kearah struktur dan tatanan pemerintahan yang demokratis. Dimana pada demokratisasi adanya proses diversifikasi kekuasaan untuk meniadakan kesenjangan hak-hak politik warga Negara serta memperluas hak warga Negara untuk bersuara dan berpendapat. Kaidah atau nilai-nilai demokrasi menurut Henry B. Mayo adalah :

1.

Menyelesaikan perselisihan dengan damai dan secara melembaga.

Dalam setiap masyarakat terdapat perselisihan pendapat serta kepentingan, yang dalam alam demokrasi dianggap wajar untuk diperjuangkan. Perselisihan-perselisihan ini harus dapat diselesaikan melalui perundingan serta dialog terbuka dalam usaha untuk mencapai kompromi, konsensus atau mufakat. Kalau golongan-golongan yang berkepentingan tidak mampu untuk mencapai kompromi, maka ada bahaya bahwa keadaan semacam ini mengundang kekuatan-kekuatan dari luar untuk campur tangan dan memaksakan dengan kekerasan tercapainya kompromi atau mufakat. 2. Menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam masyarakat yang sedang berubah.

Dalam setiap masyarakat yang memodernisasikan diri terjadi perubahan sosial yang sebabkan oleh berbagai faktor. Pemerintah harus dapat menyesuaikan kebijakannya kepada perubahan-perubahan ini, dan sedapat mungkin membinanya jangan sampai tidak terkendalikan. Sebab kalau hal ini terjadi, ada kemungkinan sistem demokratis tidak dapat berjalan, sehingga timbul system diktatur. 3. Menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur.

Pergantian atas dasar keturunan, atau dengan jalan mengangkat diri sendiri serta ketiadan pergantian pemimpin dalam jangka waktu tertentu dianggap tidak wajar dalam demokrasi. 4. Membatasi pemakaian kekerasan sampai tingkat minimum.

Golongan-golongan minoritas yang sedikit banyak kena paksaan akan lebih menerimanya kalau diberi kesempatan untuk turut serta dalam diskusi-diskusi yang terbuka dan kreatif, 5. Mengakui serta menganggap wajar adanya keanekaragaman.

Dalam masyarakat yamg tercermin dalam keanekaragaman pendapat, kepentingan serta tingkah laku. Untuk hal ini perlu terselenggaranya suatu masyarakat terbuka serta kebebasan-kebebasan politik yang memungkinkan timbulnya fleksibilitas dan tersedianya alternatif dalam jumlah yang cukup banyak. 6. Menjamin tegaknya keadilan.

Dalam hal ini semua masyarakat mempunyai hak-hak yang sama serta adanya kebebasan berpartisipasi dan beroposisi bagi partai politik, organisasi kemasyarakatan dan perorangan serta prasarana pendapat umum semacam pers dan media massa. (Miriam Budiarjdo, 2003 : 62-63) Selanjutnya Riswanda Imawan (AIPI, 2002 : 47) juga mengatakan bahwa demokratisasi muncul karena terjadinya kesenjangan yang makin melebar antara demokrasi formal dan demokrasi substansial yang

dirasakan oleh masyarakat, makin sempitnya ruang partisipasi bagi masyarakat akibat pilihan pola dan strategi pembangunan nasional serta ada perilaku politik yang berinisiatif menyatakan kekuatan demokratik yang terpendam dalam masyarakat. Masih menurut Riswanda Imawan (AIPI, 2002 : 47-48) bahwa perwujudan demokratisasi terkait pada empat cara. Pertama, dilakukannya rasionalisasi kekuasaaan yang melingkupi ruang lingkup kekuasaan serta waktu berkuasanya seseorang dalam tampuk pemerintahan. Kedua, adanya differensiasi konflik dimana wilayah konflik dibatasi sehingga tidak semua konflik yang muncul dalam masyarakat langsung kepusat sarat politik nasional. Ketiga, peningkatan peranan politik rakyat agar kesadaran elit terpelihara bahwa mereka berkuasa karena diberi kewenangan, dianggap mampu dan mau mengurusi kepentingan rakyat. Keempat, menghapus akar tegaknya rezim otoriter yang bertumpu pada penggunaan represi fisik dan ideologis untuk mendapatkan ketaatan warga Negara, kentalitas ekonomi untuk menguatkan basis legitimasi yang positif dan renumeratif serta kooperatisme Negara untuk menjamin reformasi yang masuk kedalam sistem politik tidak membuat sistem terkontaminasi ole hide-ide pembaharuan. Ada banyak hal yang mendorong masyarakat Indonesia khususnya mahasiswa dan kaum intelektual menuntut dilaksanakannya demokratisasi pada era Orde Baru. Kepolitikan Orde Baru ditandai oleh minculnya gejala-gejala kearah krisis partisipasi politik, yaitu sebagaimana yang didefinisikan oleh Myron Weiner sebagai suatu keadaan yang ditandai oleh dianggap tidak sah dan tidak legalnya tuntutan dan tingkah laku tertentu masyarakat yang ingin berperan serta dalam politik dan pemerintahan. (Eep, 2000 : 51) Sementara itu menurut Karl D Jackson kepolitikan Orde Baru ditandai oleh dimonopolinya kekuasaan dan partisipasi politik oleh level-level teratas dalam birokrasi sipil dan militer. Hal ini baik dalam supra struktur politik maupun infra struktur politik. Dalam tataran supra struktur politik level-level teratas dalam birokrasi relatif lebih dominan dibanding lembaga legislatif dan yudikatif. Dalam tingkatan infra struktur politik partisipasi politik dikendalikan oleh struktur birokrasi yang ada dalam tiap tingkatan pemerintahan sehingga tampak peran Negara lebih dominan dibanding dengan inisiatif masyarakat. Sedangkan menurut R William Liddle partisipasi masyarakat pada era Orde Baru lebih banyak disebabkan oleh mobilisasi birokrasi Negara, baik birokrasi pusat maupun birokrasi lokal. (Eep, 2000 : 51)

Apabila dilihat dari pendapat-pendapat diatas terlihat bahwa kurangnya partisipasi aktif masyarakat dalm proses politik dimasa Orde Baru disebabkan oleh tekanan, monopoli kekuasaan, mobilisasi, besarnya peranan militer dan intervensi Negara yang terlalu besar dalam kehidupan sosial politik dan ekonomi, sehingga masyarakat mengalami krisis partisipasi politik yaitu suatu keadaan yang ditandai dengan dianggap tidak sah dan tidak legalnya berbagai tuntutan serta tingkah laku politik masyarakat yang ingin berperan serta dalam proses politik dan pemerintahan. Akibat partisipasi politik yang dibatasi maka rakyat cenderung memilih unjuk rasa sebagai partisipasi politik. Unjuk rasa yang terjadi pada bulan Mei tahun 1998 yang dilakukan oleh mahasiswa dan didukung oleh masyarakat merupakan suatu bentuk ketidak puasan dan kejenuhan masyarakat terhadap pemerintah yang akhirnya mampu menggantikan kekuasaan yang ada dan menggantikan pula sistem penyelenggaraan Negara. (Sri Bintang Pamungkas, 2001 : 35) Tiga karakter Orde Baru yang harus ditolak dalam sistem pemerintahan Negara adalah absolutisme kekuasaan eksekutif, sentralisme kekuasaan pada pemerintahan pusat dan militerisme. Penolakan inilah yang mendorong terjadinya gerakan revolusi yang dipelopori oleh mahasiswa dengan dukungan masyarakat. (Sri Bintang Pamungkas, 2001 : 35). Peristiwa revolusi yang terjadi pada bulan Mei 1998 berawal dari krisis ekonomi yang menyebabkan kemunduran dalam kehidupan dan kesejahteraan rakyat, sehingga menjadi faktor pemicu persatuan rakyat dengan kelompok aktivis reformasi seperti mahasiswa, kelompok intelektual dan bahkan kelompok politik yang terpinggirkan. Selain itu kekuasaan presiden Soeharto yang mendekati absolute juga menjadi faktor pemersatu diluar pemerintah yang semakin besar. Kondisi ini dipicu makin keras oleh peranan media massa yang menampilkan pemberitaan yang makin kritis terhadap pemerintah serta penyajian debat politik mengenai kesalahan dan kelemahan kebijakan publik ( Sri Mulyani Indrawati, 200 : 23). Masalah-masalah perkembangan, kemacetan dan kemerosotan politik menyangkut arah dari perubahan politik. Perubahan politk yang mantap akan berjalan relatif lambat, tidak radikal dan tidak disertai kekerasan. Hal ini disebut juga dengan reformasi politik atau evolusi politik. Sementara revolusi politik dapat digambarkan sebagai perubahan yang radikal, cepat dan dengan pengguanaan ancaman serta kekerasan dalam suatu sistem politik dan bila perlu juga dalam sektor-sektor lain dari masyarakat.(A Hoogerwerf, 1985 : 261).

Perubahan dalam sistem politik dan penyelenggaraan Negara yang terjadi di Indonesia dapat dikatakan revolusi apabila tanpa adanya dukungan lima faktor berikut. Pertama, penegakan hukum yang selain menjamin hak warga Negara untuk menentukan warna kehidupan sosial politik yang baru dan juga memastikan tiap warga Negara mematuhi aturan yang berlaku yang disepakati bersama agar hak tiap warga Negara tidak terganggu oleh penggunaan hak yang sama oleh warga Negara lainnya. Kedua, predictability yakni kejelasan pola fikif dan pola tindak agen perubahan sehingga warga Negara dapat berinisiatif mengambil langkah-langkah pembaruan tanpa terlepas dari keseluruhan konteks gerakan dan arah reformasi. Ketiga, Transparancy yakni keterbukaan mekanisme politik sehingga warga Negara paham akan masalah yang dihadapi, alternative untuk mengatasinya serta alasan-alasan mengapa suatu alternative dipilih oleh para tokoh reformasi. Keempat, Accountability, yakni kepercayaan warga Negara bahwa tokoh reformasi benarbenar mengambil keputusan atau inisiatif yang sejalan dengan arah yang dikehendaki bersama. Kelima, Rationality, yakni keharusan bagi seluruh komponen reformis untuk lebih mengutamakan akal sehat dari pada perasaan dalam bertindak. (Riswanda Imawan, 2000 : 262-263). Menurut Riswanda Imawan, gerakan reformasi yang terjadi di Indonesia pada bulan Mei 1998 tampak mengalami anti klimaks. Para tokoh reformis muncul seperti jamur dimusim hujan disertai dengan tuntutan, pernyataan samapai dengan pembentukan kelompok politik yang membuat arah reformasi terasa semakin centang perenang. Kelima faktor pendukung yang diperlukan seakan sirna dari gerakan reformasi, justru semenjak gerakan itu memperoleh momen untuk mengubah arah perjalanan bangsa kita memasuki millennium baru abad ke-21. Law Environment demikian lemah sebagai akibat keterlibatan terlalu jauh dari aparat penegak hukum yang seharusnya bersikap netral. Aparat penegak hukum justru Nampak terlibat dalam upaya menegakkan dan memelihara status quo rezim politik yang monolitik. Indikasinya dapat dilihat dari rangkaian kerusuhan sosial dimana terjadi perang antar rakyat yang seharusnya dibaca sebagai ketidak percayaan rakyat kepada aparat keamanan yang seharusnya melindungi mereka. Selai itu, dimata rakyat pola fakir dan pola tindak para reformis juga tidak dapat diduga. Semakin lama semakin sulit menemukan tokoh reformis yang secara konsisten berdiri pada posisinya untuk mengahadapi persoalan sosial politik yang semakin komplek. Tiap orang yang mentasbihkan dirinya sebagai tokoh reformis dalam tindakannya seakan-akan membawa

agenda terselubung sehingga harapan akan trnsparansi proses politik tidak kunjung terwujud. (Riswanda Imawan, 2000 : 263) Dari pernyatan-pernyataan diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa reformasi yang terjadi di Indonesia pada bulan Mei 1998 merupakan suatu gerakan revolusi yang tentunya tidak lepas dari peranan pers.

E. Konsep Operasional

Untuk menghindari kesalah pahaman dalam penulisan ini dan memudahkan analisa serta agar didapat suatu pemahaman yang sama maka penulis mengemukakan konsepkonsep operasional yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Peranan Pers Peranan pers yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perilaku atau tindakan yang diharapkan dilakukan oleh pers sebagai sebuah lembaga atau institusi dalam mewujudkan demokrasi di Indonesia, khususnya dalam peristiwa revolusi Mei 1998. Secara umum pers mempunyai banyak peranan, namun peranan-peranan pers yang menjadai fokus dalam penelitian ini adalah : 1. 2. 2. Demokratisasi Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan demokratisasi adalah proses perubahan politik masyarakat dengan penerapan nilai-nilai atau kaidah-kaidah demokrasi dalam setiap kehidupan politik sehingga terbentuknya kehidupan politik yang bercirikan demokrasi. Melakukan kontrol, kritik dan koreksi yang bersifat konstruktif Menjadikan dirinya sebagai sarana perubahan

3. Peristiwa Revolusi Mei Yang dimaksud dengan peristiwa revolusi Mei dalam penelitian ini adalah perubahan kekuasaan dan sistem penyelengaaraan negara yang dilakukan oleh rakyat Indonesia dan dipelopori oleh mahasiswa serta kaum intelektual yang mencapai puncaknya dengan pengunduran diri presiden Soeharto selaku pemegang kekuasaan pada bulan Mei 1998. Peristiwa ini dimulai dari terjadinya krisis ekonomi yang berlanjut pada

krisis moneter serta krisis multi dimensi yang melanda Indonesia dan penolakan mahasiswa atas pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden melalui berbagai aksi unjuk rasa. Pada hsri-hsri menjelang puncak revolusi Mei pilihan aksi yang dipilih oleh kebanyakan kelompok mahasiswa untuk mendorong turunnya Soeharto mengerucut pada aksi pendudukan gedung DPR.

F. Metode Penelitian
Penelitian yang akan dilakukan ini bersifat deskriptif analitis yaitu suatu usaha mengumpulkan, menyusun, menginterpretasikan data yang ada kemudian menganalisa data tersebut, menggambarkan dan menelaah secara lebih jelas dari berbagai faktor yang berkaitan dengan keadaan situasi dan fenomena yang diselidiki. Dalam hal penelitian ini penulis menggambarkan dan menjelaskan peranan pers dalam peristiwa revolusi Mei 1998. 1. Sumber Data Untuk melakukan sebuah penelitian terdapat tiga jenis data, yaitu data survei, data agregat dan data dokumenter yang masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Dari tiga jenis data tersebut, dalam penelitian ini penulis menggunakan dua jenis data yaitu, data agregat dan data dokumenter sesuai dengan data yang ingin dicari. Data agregat adalah data yang telah diolah oleh orang lain terutama peneliti yang penelitiannya telah dipublikasikan dalam bentuk buku, artikel, jurnal-jurnal ilmiah dan sebagainya. Sedangkan data dokumenter adalah data dan bukti otentik dari sejarah yang berasal dokumen-dokumen dan arsip-arsip yang telah teruji keabsahannya. 2. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang akan penulis gunakan adalah teknik telaah kepustakaan atau studi pustaka. Penulis akan mengumpulkan data dari buku, jurnal artikel dan hasil penelitian ilmiah yang berhubungan dengan peranan pers dalam demokratisasi di Indonesia khususnya peranan pers dalam peristiwa revolusi Mei 1998. 3. Analisa Data

Metode analisa yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Salah satu ciri penelitian dengan metode kualitatif adalah seringnya berubah-ubah desain penelitian tergantung perkembangan data yang akan dikumpulkan. Dalam penelitian kualitatif para peneliti tidak mencari kebenaran (dalam arti teleologis) dan moralitas tetapi mencari pemahaman. Untuk itu dalam penelitian ini, data sekunder yang penulis dapat diinterpretasikan sesuai dengan penelitian ini dan data tersebut kemudian diolah dipilih serta diuji keobjektifitasannya melalui perbandingan data yang ada.

BAB II GAMBARAN UMUM

A. SEJARAH PERTUMBUHAN PERS DI INDONESIA 1. Sejarah Pertumbuhan Kantor Berita di Indonesia Dizaman penjajahan Belanda, yaitu sebelum pecah perang pasifik dinegeri ini terdapata 2 (dua) kantor berita. Yang pertama ialah kantor berita Aneta dan yang kedua adalah kantor berita Antara. Aneta adalah institusi pers yang mendukung kepentingan kaum pengusaha serta pemerintah penjajah dibidang pemberitaan. Ini bukan hal yang mengherankan karena memang saham Aneta dimiliki oleh orang Belanda. Kantor berita Antara didirikan oleh wartawan-wartawan pejuang Indonesia ditengah bergeloranya perjuangan melawan penjajah. Untuk melayani kepentingan pers dan perjuangan bangsa Indonesia ketika itu, Antara pada saat itu tentulah berprasangka terhadap kaum penjajah beserta tujuan-tujuannya. Pemerintah dan pers Belanda tentunya tidak senang kepada Antara, karena itu tidak mengherankan kalau wartawanwartawannya selalu dihalang-halangi, ditangkap dan seterusnya. Tetapi fakta sejarah menunjukkan bahwa kendatipun banyak halangan dan kesulitan kantor berita yang didukung oleh banyak idealisme dan sedikit orang itu bisa terus berfungsi sampai pada masa akhir penjajahan Belanda. Setelah tentara Jepang menduduki negeri ini, segera kegiatan kantor berita Antara dihentikan oleh Jepang. Kantor berita itu dipaksa melebur pada kantor berita Jepang Domei. Bukan suatu kebetulan bahwa suatu rezim militer fasis tidak menghendaki adanya sumber informasi yang lebih dari satu. Sistem totaliter menghendaki semua kekuasaan berada pada satu tangan, dalam hal ini yakni pemerintahan Jepang. Karena itu sumber informasi utama seperti kantor berita harus dikuasai sepenuhnya. Ketika masuk era Indonesia merdeka, kita menemui sistem kantor berita yang lebih dari satu dalam dunia pers Indonesia. Sulit untuk dipastikan berapa jumlah kantor berita yang ada setelah Indonesia merdeka. Kemerdekaan merupakan suatu momen yang baik menurut pengusaha untuk mendirikan kantor berita. Kemunculan banyak kantor berita itu tentunya memberikan nilai yang positif dalam sistem komunikasi bangsa Indonesia. Selain itu informasi tidak lagi dimonopoli oleh satu sumber saja. Pada kisaran tahun 1963 sampai menjelang meledaknya G 30S/PKI tahun 1965, orang-orang komunis berusaha keras untuk menguasai secara mutlak lembaga-lembaga pers yang ada seperti Antara,

organisasi wartawan PWI. Dalam teori komunisme yang bersifat totaliter yakni kekuasaan yang memusat secara total atau mutlak. Karena itu sesuai dengan ajaran mereka usaha mereka untuk menguasai pers dan lembaga pemberitaan lainnya dapat dianggap sebagai "prolog" yang sesungguhnya dalam pemberontakan G 30S/PKI terhadap pers Indonesia. Pada sekitar tahun 1966, ditengah-tengah bergeloranya perjuangan menegakkanOrde Baru, beberapa tokoh pers yang pernah jadi sasaran pelarangan terbit dan dikuasai komunis berkumpul, mereka membicarakan perlu adanya kerja sama pers dalam membangun bangsa. Ketika sampai pada masalah kantor berita semua yang hadir berpendapat bahwa demi kepentingan untuk mengejar sejauh mungkin tercapainya obyektifitas dalam pemberitaan dinegeri ini harus sekurang-kurangnya terdapat lebih dari satu kantor berita. Sistem ini akan menjamin kompetisi yang sehat dan akan membatasi kecendrungan-kecendrungan untuk bersikap sewenang-wenang oleh salah satu pihak. 2. Sejarah Pertumbuhan Organisasi Wartawan Indonesia Dalam pers Indonesia kita mengenal organisasi profesi wartawan, yang dikenal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Sejarah berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia dimulai dari kongres PWI pertama yang dilangsungkan di Solo dari tanggal 9 sampai dengan 10 Februari 1946. disitulah para wartawan Indonesia menyatakan berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia yang disingkat PWI. Hampir dalam tempo yang bersamaan di Jakarta dibentuk pula organisasi wartawan yang diberi nama Ikatan Wartawan Indonesia, yang mana dalam kepengurusannya ada yang juga merupakan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia. Pada kongres PWI kedua yang berlangsung dari tanggal 23 sampai dengan 24 Februari 1947 di Malang, masalah Ikatan Wartawan Indonesia turut dibicarakan. Ketika mendengarkan keterangan pengurus Ikatan Wartawan Indonesia, yang menyatakan pada prinsipnya tujuan organisasi mereka tidaklah jauh berbeda dengan tujuan PWI. Maka muncul wacana agar kedua organisasi tersebut dilebur menjadi satu. Selain dari kedua organisasi tersebut, di Jakarta yang ketika itu masih bernama Batavia adapula organisasi wartawan yang lain, seperti perhimpunan pengarang surat kabar melayu. Demikian juga di daerahdaerah lainnya, juga terdapat berbagai macam organisasi-organisasi wartawan. Namun sejak tahun 1975 PWI dinyatakan sebagai satu-satunya organisasi wartawan Indonesia yang diakui pemerintah. Hal ini dilakukan oleh pemerintah yang berkuasa pada waktu itu agar mempermudah pemerintah untuk mengontrol dan mengawasi setiap gerak gerik atau pun seluruh aktivitas para wartawan yang ada di Indonesia.

B. REVOLUSI SEBAGAI UPAYA DEMOKRATISASI Demokrasi dalam sebuah Negara otoriter tidak dengan mudah dapat dicapai hanya dengan proses pembangunan sosio ekonomi yang tersembunyi disuatu Negara yang membawanya kesuatu titik tertentu sehingga Negara tersebut lalu memiliki dengan begitu saja semua prasyarat penting untuk kehidupan yang demokratis. Demokrasi juga tidak dapat dicapai sebagai hasil dari pembagian, strategi, taktik dan negosiasinegosiasi serta kesepakatan dari kelompok-kelompok elit yang saling bertentangan. Demokrasi dalam suatu Negara otoriter dapat dicapai melalui sebuah revolusi. Revolusi untuk demokrasi bukan merupakan hasil usaha dan pengorbanan sekelompok orang-orang tertentu saja. Revolusi demokrasi adalah tumpukan pencapaian tujuan dari ratusan ribu bahkan jutaan rakyat dari berbagai kalangan yang secara aktif maupun pasif melibatkan diri dalam gerakan kemasyarakatan dan gerakan media yang independen. Dalam upaya revolusi demokrasi ini terdapat dua golongan masyarakat yang berperan serta dalam mewujudkan demokrasi tersebut. Pertama, yang disebut masyarakat beradab, yakni arena tempat terdapat banyak sekali gerakan sosial seperti persatuan atas dasar kekerabatan, perhimpunan wanita, kelompok agama, organisasi cendikiawan dan organisasi-organisasi kemasyarakatan dari berbagai golongan serta kelompok profesi seperti persatuan sarjana hukum, persatuan wartawan, serikat pekerja dan lain sebagainya, yang mencoba membentuk diri mereka dalam suatu keteraturan supaya mereka dapat menyatakan dirinya dan menyalurkan kepentingan-kepentingannya. Dalam masyarakat beradap yang demikian, media masa yang otonom dan dan kehidupan budaya merupakan suatau dimensi penting lainnya yang harus ada demi mencapai tujuan revolusi. Gerakan-gerakan lembaga-lembaga dan organisasi dapat mengarahkan kegiatan-kegiatan mereka kepada penguasa dan menyatakan aspirasi serta kepentingankepentingan mereka. Kedua, masyarakat politik yakni arena tempat dimana para pelaku politik dan lembaga-lembaga politik bersaing untuk mendapat dukungan untuk menjadi pimpinan, menjadi penguasa Negara dalam seluruh aspek administratifnya, aspek birokrasi serta aspek hukum dan perundang-undangan yang bersifat memaksa dengan seluruh tingkat kewenangannya. Suatu masyarakat beradap akan memberikan banyak sumbangan bagi revolusi untuk demokrasi. Diantaranya bahwa mereka akan menyediakan wahana sumber daya politik, ekonomi, kebudayaan dan bahkan moral untuk mengawasi dan menjaga keseimbangan diantara pejabat Negara. Suatu rentetan asosiasi

yang independen dan media yang bebas memberikan dasar bagi pembatasan kekuasaan Negara dan dengan demikian adanya kendali atas Negara oleh rakyat serta akan menjamin hidirnya lembaga-lembaga politik yang demokratis sebagai sarana yang paling efektif untuk menjalankan pemerintahan dari rakyat itu. Selain itu masyarakat beradap atau juga yang dikenal dengan kelas menengah ini akan menjadi titik awal kehancuran dari rezim otoriter serta mempercepat berakhirnya rezim itu dari kekuasaannya. Hal ini terjadi karena aspek mencolok dari sistem pemerintahan yang otoriter salah satunya adalah bahwa sistem itu menghapus eksistensi masyarakat beradap, menempatkan semua bentuk organisasi dan pernyataan pendapat tentang pengawasan Negara. Yang pada akhirnya akan memunculkan gerakan bawah tanah atau pernyataan ketidak puasan dari organisasi yang independen. Betapapunj lemahnya gerakan bawah tanah ini namun menandai keretakan pertama dalam dominasi pemerintahan rezim otoriter yang suatu saat akan menjadi ledakan revolusi. Dalam demokratisasi disebuah Negara, bukanlah sekedar soal disposisi-disposisi, kalkulasi-kalkulasi dan fakta-fakta kelompok elit. Jika selama ini banyak anggapan yang menekankan pada aspek-aspek tersebut disebabkan karena aspek-aspek itu yang memang sangat menentukan dapat tidaknya suatu keterbukaan terjadi secara menyeluruh dan juga hal tersebut menyediakan sejumlah parameter penting mengenai tingkat peluang bagi liberalisasi dan demokratisasi. Namun hal ini bukan berarti aspek-aspek lain tidak diperlukan Pemerintahan yang otoriter dengan menyepelekan soal-soal kewarganegaraan dan memberangus identitas-identitas politik yang terbentuk secara otonom dan menggantikannya dengan arena politik yang dikontrol Negara. Di arena baru ini, perdebatan-perdebatan mengenai berbagai isu harus dilakukan menurut aturan-aturan dan syarat-syarat yang sudah ditetapkan pemerintah dengan memberikan peluang sekedarnya bagi sejumlah kecil pembangkang politik yang dianggap masih bias ditolerir dan sejumlah orang yang independen yang secara berhati-hati diabaikan oleh media yang dikontrol rezim. Hanya orang-orang yang memiliki motivasi yang sangat besar saja yang siap menerima resiko untuk bergerak diluar arena ini. Pergerakan orang-orang ini pada suatu saat tertentu akan meluas dan semakin besar. Katalisator dalam transformasi ini datang pertama-tama dari langkah-langkah sejumlah orang yang mulai mencoba-coba melewati batas-batas tindakan yang semula dilarang oleh rezim yang sedang berkuasa. Ini membawa mereka pada penemuan tujuan-tujuan bersama yang memiliki arti politik yang sangat signifikan karena hal itu diartikulasikan secara luas setelah periode panjang pelarangan, kesengsaraan dan penindasan. Dalam ruang politik yang genting pada tahap-tahap awal transisi ini, langkah-langkah perorangan tersebut

secara mengesankan akhirnya berhasil memancing atau menghidupkan kembali identifikasi-identifikasi dan tindakan-tindakan kolektif. Pada gilirannya ini turut menggalang kemunculan identifikasi yang luas yang mewadahi ledakan suatu masyarakat yang penuh kemarahan dan mengalami repolitisasi yang sangat intensif. Tidak ada gambaran tunggal dari bentuk-bentuk ledakan ini. Ini bisa saja berupa munculnya kembali partai-partai politik lama atau pembentukan kembali partai-partai politik baru yang mendesakkan demokratisasi. Publikasi mendadak berbagai buku dan majalah-majalah mengenai tema-tema yang sudah sekian lama diberangus dan dianggap tabu oleh pemerintah, perubahan dalam institusi-institusi, asosiasiasosiasi profesional, dan universitas-universitas dari peran mereka sebelumnya sebagai agen kontrol pemerintah yang terkekang menjadi sarana-sarana untuk menyuarakan kepentingan-kepentingan, tujuantujuan dan harapan-harapan yang berlawanan dengan yang dipertahankan rezim. Kelompok-kelompok yang berasal dari segmen penduduk yang agak berbeda justru mengambil keuntungan yang muncul secara cepat dalam proses liberalisasi. Mereka yang berada pada sektor yang diuntungkan yang menjadi salah satu pendukung bagi rezim dan yang setidak-tidaknya pada awalnya menerima hak-hak istimewa tiba pada kesimpulan bahwa rezim otoriter itu tidak diperlukan lagi. Mereka mungkin menganggap bahwa rezim telah mencapai tujuan-tujuan yang dicanangkan yakni apa yang mereka dambakan. Dengan mempertahankan rezim lebih lama dari jangka waktu yang diperlukan justru akan mengundang resiko terjadinya polarisasi sosial dan reaksi kekerasan massal. Ketika rezim tak lebih dari suatu manifestasi kegagalan kalangan ini mungkin merasa bahwa sudah tiba saatnya mencoba sesuatu yang lain. Selain itu kalangan profesional bergaji dan independen mereka kerap kali berorganisasi dalam berbagai kalangan, kolega atau lembaga yang sebagian malah disponsori oleh pemerintah. Asosiasi-asosiasi pengacara, insinyur, arsitek, dokter, psikolog, wartawan dan pekerja sosial secara politik biasanya mereka memilih bungkam dan berorientasi untuk sekedar mempertahankan keuntungan-keuntungan hak-hak istimewa golongan. Tetapi dengan berlangsungnya keterbukaan dan informasi yang faktual dari media, sebagian dari mereka beralih menyuarakan isu-isu yang lebih luas. Seperti penghormatan pada hukum, pemurnian normanorma profesional serta demokrasi. Mereka juga menegaskan bahwa pemenuhan tuntutan-tuntutan itu tergantung pada demokratisasi kehidupan politik. Diskursus-diskursus mereka memiliki bobot ideologis yang kuat, sebab isu-isu tersebut dikemukakan oleh kalangan-kalangan yang mempunyai intelektualitas yang patut dihormati, karenanya digunakan untuk mengkritik rezim otoriter dan menuntut demokratisasi.

Dalam masa menjelang puncak perubahan atau revolusi sumber-sumber data, naskah-naskah, buku, esai-esai dan hasil-hasil penelitian yang memang sudah dipersiapkan sepanjang masa-masa represi tetapi tidak dapat atau tidak berani untuk diterbitkan, kini mulai bermunculan. Karya-karya ini melengkapi pernyataanpernyataan yang dikemukakan asosiasi-asosiasi profesional dan partai-partai politik. Sebagian malah menjadi bacaan terlaris dan semua publikasi tersebut menjadi suntikan kehidupan baru dalam universitas, took-toko buku, restoran dan tempat-tempat pertemuan lainnya, dimana diskusi-diskusi kritis kini ditolerir setidaktidaknya secara de facto jika tidak secara de jure. Karenanya begitu langkah-langkah pertama menuju liberalisasi telah diayunkan dan sejumlah orang sudah berani mencoba melewati batas-batasnya, maka keseluruhan jaringan kepadatan dan kandungan diskursus kalangan otoritas intelektual akan berubah dan memberikan dorongan-dorongan untuk meruntuhkan pemerintahan otoriter. Ketika masa transisi atau perubahan mulai berlangsung, organisasi-organisi dan aktivis-aktivis hakhak azasi manusia tampil dengan otoritas moral yang kuat. Ini menjadikan kritik mereka yang pedas terhadap rezim otoriter, dan akan memperoleh khalayak yang luas. Kritik yang mau tidak mau akan melebar dan mencakup hak-hak politik dan sosial yang hanya benar-benar dapat dijamin lewat demokrasi. Tantangan terbesar bagi rezim dalam masa transisi atau perubahan mungkin muncul dari identitasidentitas baru atau yang hidup kembali dan kapasitas untuk melancarkan aksi bersama dari kelas buruh dan pekerja-pekerja rendahan yang sering kali tergabung dalam serikat buruh. Tidak mengherankan inilah wilayah dimana liberalisasi berkembang secara paling meragukan dan paling tidak tentu arahnya. Seluruh perubahan ini terjadi secara cepat, tak terduga dan mencakup sebagian besar masyarakat sipil sehingga ini akan memperlemah usah-usaha rezim untuk melestarikan dan mempertahankan kekuasaannya. Walaupun aksi-aksi ini muncul dari berbagai kalangan namaun pada dasarnya tuntutan mereka sama yakni terwujudnya pemerintahan yang lebih demokratis atau tuntutan akan adanya demokratisasi.

BAB III PEMBAHASAN

A. PERS SEBAGAI PELAKSANA PERUBAHAN DAN PEMBAHARUAN Negara Indonesia adalah Negara yang berdasarkan kepada pancasila dan UUD 1945, untuk itu tujuan dari Negara Indonesia adalah mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Maka dalam pencapaian tujuan tersebut pemerintah melaksanakan pembangunan dalam segala bidang kehidupan, termasuk juga alam bidang komunikasi politik. Komunikasi politik merupakan fungsi yang sangat mendasar dalam sistem politik dengan konsekuensinya yang banyak untuk pemeliharaan ataupun perubahan dalam kebudayaan politik dan struktur politik. Seseorang tentunya dapat mengasumsikan bahwa semua perubahan penting dalam sistem politik akan menyangkut pada pola-pola kominikasi dan biasanya baik sebagai penyebab ataupun akibat. Sebuah proses sosialisasi misalnya merupakan proses komunikasi, meskipun komunikasi tidak selalu menghasilkan perubahan sikap. Peranan pers sebagai saluran komunikasi politik sesuai dengan kondisi yang dipunyai oleh masyarakat tempat pers situ berada. Namun secara umum dapat disimpulkan, dimana saja dalam sistem politik dunia ini, pers selalu mempunyai peranan tertentu dalam penyaluran pesan-pesan, informasi dan political content di tengah masyarakatnya. Peranan pers dalam hal ini memang sudah otomatis sifatnya. Peranan pers sangat penting bagi pemerintah dan masyarakat dalam penyebaran dan perluasan informasi politik, berarti dengan adanya pers pemerintah akan dapat menyampaikan pesan-pesannya pada masyarakat dan masyarakat akan mengetahui dengan jelas program-program apa yang akan dilakukan oleh pemerintah, masyarakat juga akan dapat menyampaikan pesan-pesan politik berupa tuntutan-tuntutan dan dukungan kepada pemerintah dalam merespon kebijakan-kebijakan. Dengan demikian pers dapat menjadi media penghubung antara pemerintah dengan masyarakat dan juga sebaliknya. Pers saat sekarang ini mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan politik suatu bangsa dan Negara. Di Indonesia peranan pers dibidang politik telah dimulai sejak zaman perjuangan kemerdekaan. Saat itu pers digunakan sebagai alat penyalur ide nasionalisme yang menyirati anti kolonoalisme dan

imperialisme. Demikian juga dengan sekarang ini, ditengah Indonesia yang senantiasa berusaha untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang demikratis, pers tentu mempunyai peranan yang juga sangat penting. Untuk menunjuk salah satu ciri dari demokrartis dan tidaknya sebuah pemerintahan, kehidupan pers sering kali dijadikan parameter, namun bukan berarti tidak adanya parameter yang lain. Demokrasi mengandaikan kebebasan warga Negara untuk berkumpul, berpendapat dan mengemukakan kritik. Sebaliknya pemerintahan yang antidemokrasi akan selalu mengawasi orang berkumpul, menekan pendapat dan meniadakan kritik. Cara yang paling mudah sekaligus tradisional untuk hal ini adalah mengawasi distribusi informasi, mengatur dan mengarahkan pemberitaannya, menempatkan orang-orang yang propemerintah dalam jajaran redaksi dan kepemimpinan organisasi pers dan bahkan merekayasa berita bohong. Dibawah pemerintahan yang otoriter pers adalah lembaga sosial yang tersiksa. Ia merupakan korban sekaligus dengan terpaksa harus menjadi pelakunya sendiri. Media massa selama orde baru memang jauh dari fungsinya sebagai pilar penegakan suatu opini publik. Konsepsi korporatisme otoriter yang diterapkan orde baru, dengan kecendrungan kuat kearah pewadah tunggalan dan homogenisasi, telah menempatkan berbagai kawasan publik dalam posisi subordinate dihadapan penguasa Negara. Pers serta lembaga publik lainnya, diupayakan oleh penguasa agar sepenuhnya bisa berfungsi sebagai aparatus ideologi Negara, berpasangan dengan sejumlah aparatus represif Negara, seperti militer dan kelompok-kelompok political thugs (preman-preman politik) yang dibina penguasa. Pers merupakan media massa yang mempunyai peranan tidak kalah penting dengan media massa lainnya. Oleh karena pers merupakan media cetak maka peranannya sangat penting ditinjau dari nilai dokumentasinya. Sebagai media informasi pers memiliki kelebihan dibanding media lain, diantaranya adalah bias disimpan dalam waktu yang cukup lama sehingga berita-berita penting dapat diingat terus. (A. Muis, 2000 : 805). Selain itu surat kabar atau pers bisa dibaca berulang-ulang dan sampai saat ini masih menjadi sumber pengecekan autensitas informasi. Kelebihan-kelebihan pers yang sering kali disebut adalah kemampuannya untuk memberikan informasi secara lebih lengkap, logis, jelas dan mencakup kemampuannya berbicara pada rasio dari pada sekedar emosi, kemampuannya untuk mengintegrasikan kehidupan masyarakat dan persoalan yang ada pada masyarakat melalui penyajian berita dan opini sekaligus (Jacob Oetama, 2001 : 125).

Konsepsi opini publik yang dimainkan oleh pers merupakan salah satu cara dan sarana yang digunakan oleh pers dalam mewujudkan demokrasi dalam sebuah Negara. Melalui konsepsi ini maka masyarakat dapat menjadi pemantau dan pengontrol dalam pelaksanaan tugas-tugas Negara. Konsepsi opini publik, memang tidak akan terlepas dari bumbu romantisme ataupun mitos yang beredar di sekitar warung kopi ditengah masyarakat. Namun opini publik lebih dari sekedar obrolan warung kopi, sebab setidaknya ada sejumlah kualitas yang harus dimiliki oleh sebuah opini publik agar tidak terjadi distorsi sistematik terhadap proses-proses pencapaian konsensus yang dilakukan serta agar sebuah opini dapat menjadi alat kontrol. Pertama, selain kawasan opini publik harus cukup terlindung dari intervensi Negara ataupun pasar dan harus adapula distribusi kuasa yang sama antara antara individu yang terlibat di dalamnya, maka akses kekawasan itupun harus terbuka lebar bagi setiap warga dan tidak ada pengistimewaan yang diberikan kepada pihak-pihak tertentu. Kedua, adanya kesepakatan untuk mematuhi aturan-aturan penyelenggaraan sebuah diskursus rasional dimana setiap klaim kebenaran dapat diuji kebenaran, ketepatan dan kelayakannya melaui kaidah-kaidah yang rasional, terbebas dari distorsi permainan politik dan ekonomi. Dalam suatu Negara yang sedang berkembang seperti Negara kita Indonesia maka peranan pers akan menjadi terasa lebih berarti, baik sebagai sarana informasi dan komunikasi politik maupun sebagai sarana kontrol terhadap jalannya pemerintahan karena secara tidak langsung ini akan menjadi faktor penunjang dalam menuju masyarakat dan pemerintahan yang lebih demokratis. Pentingnya peranan pers dalam perubahan karena pers dapat membantu memperkenalkan usahausaha pembaharuan serta menyampaikan kepada masyarakat tentang program-program pembangunan terutama pembangunan politik yang demokratis serta kebijakan-kebijakan yang ada dalam negaranya. Dengan kata lain bahwa pers berperan untuk memperdekat jarak yang jauh, memperjelas hal-hal yang kabur, memperkenalkan sesuatu yang masih asing, mengangkat isu-isu politik yang sedang berkembang, bahkan dapat membentuk pola perilaku rakyat, yang pada gilirannya pers mampu menjembatani peralihan antara masyarakat tradisional kearah masyarakat modern atau peralihan pemeritahan otoriter kearah pemerintahan yang demokratis. Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa pers merupakan lembaga keempat dalam pemerintahan suatu Negara demokrasi. Arti pers sebagai lembaga keempat adalah pers merupakan institusi yang dianggap sejajar dengan ketiga lembaga itu. Istilah ini sebenarnya hanyalah citra yang muncul dari kalangan pers

sendiriyang merasa bahwa pers merupakan institusi yang berpengaruh terhadap ketiga lembaga Negara yang lain yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif. Disebut lembaga keempat karena adanya kekuatan, besarnya peranan dan pengaruh pers terhadap jalannya kehidupan bernegara, seperti mempunyai otonomi, mengawasi pemerintah, mengungkap penyelewengan, menggerakkan, mendidik dan mewakili masyarakat, melayani hak rakyat mengetahui, menyumbangkan informasi dan pendapat untuk diskusi umum, mengkritik pemerintah serta menjadi komunikator rakyat terhadap apa yang dikerjakan pemerintah. Dalam peristiwa revolusi mei, ditengah struktur media yang ada, dimana banyak unsur-unsur elit penguasa rezim Soeharto yang memiliki media,serta kontrol informasi, pers Indonesia mampu memainkan peran aktif dalam proses reformasi khususnya selama minggu-minggu terakhir menjelang Soeharto memutuskan untuk turun dari jabatannya. Sebagai sarana perubahan pers mempunyai beberapa fungsi, yang diantaranya adalah: 1. Survailansi/pengamatan Fungsi pers dalam survailansi adalah melaporkan peristiwa yang sedang terjadi. Fungsi ini terbagi menjadi survailansi umum dan survailansi pribadi. Dalam survailansi umum pers berfungsi menentukan agenda tentang masalah dan kegiatan umum yang berkenaan dengan orang, organisasi dan peristiwa-peristiwa tertentu yang akan menjadi perhatian khalayak keseluruhan dan menciptakan kegiatan politik pada komunitas politik yang bebas. Orang pers menentukan apa yang akan diberitakan, diliput dan diabaikan. Dengan cara ini pers akan mempengaruhi siapa dan apa yang hendak berpeluang menjadi bahan diskusi dan kegiatan politik. Dengan peliputan yang dilakukan oleh pers obyek yang diliput akan berpengaruh atau menambah pengaruh bagi pembuat keputusan. Dengan fungsi ini beberapa pers telah menjadikan per situ sendiri sebagai wadah informasi politik. Sebagai tindak lanjutnya pers dapat mengumpulkan dan menyebarkan pendapat umum dan sekaligus menjadikan isi dokumen itu sebagai bahan diskusi umum. Dalam peristiwa revolusi Mei pers telah memilih informasi-informasi yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa revolusi tersebut. Sebagai contoh pers menampilkan berita-berita tentang kerusuhan yang terjadi di Jakarta, ini menandakan bahwa situasi Ibu Kota berada tidak di bawah kendali pihak keamanan dan menunjukkan ketidak percayaan masyarakat terhadap pemerintah. Demikian juga berita-berita yang ditampilkan oleh pers tentang pendudukan gedung DPR oleh mahasiswa yang menuntut pengunduran diri Soeharto ini menjadi suatu energi dalam sistem politik berupa tuntutan yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah.

Melalui survailansi pribadi pers berfungsi sebagai sarana pengamat yang melaporkan keadaan disekitarnya, seperti ekonomi, cuaca, olah raga, pekerjaan, peragaan, peristiwa sosial, budaya, kesehatan, sains, serta kehidupan umum dan pribadi orang terkenal. Informasi yang disiarkan secara tetap dapat menentramkan masyarakat karena mereka dapat mengetahui sistem politik, ekonomi dan sistem lainnya yang sedang berlangsung disekitarnya. Keadaan ini penting bagi kedamaian masyarakat dan secara politis cenderung membuatnya tenang karena tidak perlu lagi bertindak jika para pemimpin politiknya diketahui sedang melaksanakan tugasnya. Dalam peristiwa revolusi Mei 1998, pers menampilkan berita-berita tentang beberapa orang menteri yang menolak dicalonkan kembali dalam kabinet pembangunan tujuh. Yang secara tidak langsung berita-berita ini akan menggerogoti legitimasi rezim orde baru. 2. Interpretasi Pers berfungsi sebagai penginterpretasi karena pers menafsirkan makna peristiwa, memasukkannya kedalam konteks, dan mempertimbangkan konsekuensinya. Sebagian besar peristiwa memiliki berbagai interpretasi yang tergantung pada nilai dan pengalaman penafsirnya. Pers akan memilih jenis interpretasi yang hendak mempengaruhi konsekuensi politik melalui beritanya. Jenis pembuatan berita tergantung pada berbagai keadaan. Tetapi faktor utama tergantung pada keputusan reporter, wartawan atau redaksi dalam menyajikan isi tertentu dan memilih informan serta fakta yang sesuai dengannya. Cara ini akan menentukan siapa yang tertarik pada berita itu, berapa banyak dukungan dari pejabat umum, dan sikap pemecahan. Melalui interpretasinya, dengan menunjukkan alasan dan hubungan dengan berbagai peristiwa, pers dapat membangkitkan opini atau mungkin dapat mempengaruhi pembentukan opini dan penilaian oleh masyarakat. Pers yang terdiri dari seluruh komponennya senantiasa berharap adanya kebebasan pers dalam menjalankan tugas, fungsi dan peranannya secara profesional, maka dari itu secara tidak langsung pers mengharapkan adanya pemerintahan yang demokratis, karna dengan sistem pemerintahan yang demokratislah pers akan mendapatkan kebebasan dalam menjalankan semua tugas, fungsi dan peranannya. Berita yang disajikan oleh pers menjelang turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan mengarah kepada pembentukan opini tidak adanya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Hal ini terlihat dari berita-berita seputar kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di Jakarta dan wilayah lainnya sebagai bentuk dari ketidak percayaan

masyarakat tersebut kepada pemerintah. Selain itu berita tentang krisis ekonomi yang terjadi merupakan imbas dari permasalahan-permasalahan politik yang tidak bisa diatasi oleh pemerintah. 3. Sosialisasi Sosialisasi berarti bahwa pers berfungsi memasyarakatkan individu dalam latar budayanya. Melalui informasi media, terdapat proses yang melibatkan pengetahuan nilai-nilai dan orientasi dasar yang dapat mempersiapkan individu sesuai dengan lingkungan budayanya. Sebagian besar informasi mengenai alam politik yang diterima masyarakat berasal dari media massa. Informasi ini diterima secara langsung melalui media cetak dan elektronik, atau secara tidak langsung melaui media massa yang dilaporkan oleh keluarga, guru, kenalan dan kawan sebaya. Informasi ini menyajikan fakta khusus dan nilai-nilai umum yang dapat menjadikan kekuatan, keberhasilan dan kekuasaan dalam masyarakat serta memberikan panutan. Kegiatan melalui informasi akan membantu menyatukan masyarakat dan meningkatkan keterpaduan sosial dengan memberi norma dasar sosial, nilai-nilai dan pengalaman yang dirasakan bersama oleh anggota masyarakat. Melalui fungsi ini, individu akan terbantu akan menyatukan diri dengan masyarakat melalui pengungkapan norma sosial umum dan masalah budaya lainnya. Singkatnya, informasi media massa memberi petunjuk kepada masyarakat untuk menempatkan sikap dan opininya agar selaras dengan keadaan di sekitarnya yang selalu berubah. Informasi yang disajikan oleh pers seputar peristiwa revolusi mei 1998 seperti mengenai aksi demonstrasi mahasiswa menuntut pengunduran diri Soeharto membantu masyarakat membentuk opini tentang ketidak percayaan masyarakat terhadap pemerintah yang pada akhirnya menggerogoti legitimasi rezim orde baru. Berita-berita yang ditampilkan pers mengenai kebobrokan pemerintah seperti mengenai KKN yang dilakukan oleh elit politik menjelang jatuhnya presiden Soeharto dan tindakan represif aparat keamanan terhadap mahasiswa dalam peristiwa Trisakti mengundang animo masyarakat untuk mendukung aksi-aksi mahasiswa yang menuntut mundurnya Soeharto dari kursi kepresidenannya.

B. REVOLUSI MEI SEBUAH DEMOKRATISASI DI INDONESIA Revolusi adalah suatu perubahan dalam waktu relatif singkat dan tajam dalam siklus kekuasaan sosial. Ia tercermin dalam perubahan radikal terhadap proses pemerintahan yang berdaulat pada segenap kewenangan dan legitimasi resmi dan sekaligus perubahan radikal dalam konsepsi tatanan sosialnya. Dengan kata lain revolusi dapat diartikan sebagai suatu penjungkir balikan nilai-nilai, mitos, lembaga-lembaga politik, struktur sosial, struktur kepemimpinan serta aktivitas maupun kebijakan pemerintah yang telah dominan dalam masyarakat. Setelah peristiwa penembakan mahasiswa Universitas Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998, seluruh lapisan masyarakat Indonesia berduka dan marah. Terutama dari kalangan mahasiswa. Akibatnya peristiwa ini diikuti dengan peristiwa anarkis di Ibukota dan beberapa kota lainnya pada tanggal 13 14 Mei 1998 yang menimbulkan banyak korban baik jiwa maupun material. Semua peristiwa tersebut semakin meyakinkan mahasiswa untuk menguatkan tuntutan pengunduran diri Soeharto dari kursi kepresidenan. Pilihan aksi kemudian yang dipilih oleh kebanyakan kelompok mahasiswa untuk mendorong turunnya Soeharto mengerucut pada aksi pendudukan gedung DPR. Sebagai mana kita ketahui, selama 32 tahun berkuasa rezim militeristis Orde Baru telah dijalankan secara sistematis dengan menggunakan dua instrument politik, yaitu politik keamanan dan politik logistik. Dua instrument politik itu pada akhirnya melahirkan suatu masyarakat yang sangat pragmatis dan apolitis, yaitu masyarakat yang begitu lemah posisinya ketika dibandingkan dengan posisi Negara yang begitu kuat dan hegemonik. Masyarakat yang lemah akan selalu terkalahkan bahkan sejak dari pertarungan wacana. Ada semacam pola lama dari rezim Orde Baru dalam melakukan menejemen konflik guna memenangkan pertarungan wacana diruang publik. Pertama rezim melakukan manipulasi informasi dan monopoli serta menguasai interpretasi makna atas setiap realitas. Kemudian berlandaskan interpretasi sepihak tersebut, rezim melakukan proses kriminalisasi atas setiap usaha dari masyarakat yang mencoba memberikan interpretasi sendiri. Tak heran jika label penjahat pengacau keamanan bahkan label ideology tertentu diberikan kepada siapa saja yang berani mengambil posisi bersebrangan dengan rezim. Dengan cara itulah rezim menebar rasa takut dan tidak aman ditengah-tengah masyarakat kritis guna mendapatkan legitimasi atas setiap tindakan represif yang dilakukan atas nama dan untuk kepentingan rakyat.

Pada dasarnya telah berkali-kali dan dengancara yang damai serta teratur menurut hukum yang berlaku diusahakan oleh masyarakat untuk menciptakan iklim yang lebih demokratis dinegara ini, namun kekuatan yang mempertahankan status quo begitu kuat sehingga gerakan secara damai tidak mampu untuk mengusahakan perubahan yang diinginkan. Karena itu terpaksa digunakan kekuatan massal yang keras dengan menyimpang dari tatanan hukum yang melindungi kekuatan dan kekuasaan yang hendak bertahan. Gerakan yang menumbangkan kekuasaan pemerintah dengan cara kekerasan dan melawan hukum oleh pihak yang hendak bertahan dinamakan makar. Sebaliknya gerakan itu oleh pihak yang menginginkan perubahan politik dan sosial dinamakan pembebasan dari kekuatan yang mendukung kesengsaraan rakyat atau revolusi. Gerakan revolusi Mei yang sejak awal 1998 dilakukan oleh para mahasiswa di seluruh Indonesia mempunyai tujuan dan sifat yang sama seperti gerakan-gerakan pendahulunya. Tujuan para mahasiswa adalah untuk menghentikan kekuatan politik dan sosial yang secara otoriter dan represif menyesakkan nafas hidup masyarakat. Apabila tujuan itu tercapai maka para mahasiswa telah berhasil membuka jalan reformasi kearah tata hidup sosial yang bebas dan aman dibawah lingkungan hukum dan sistem ekonomi yang dapat menjamin kesejahteraan umum, dan pola politik yang benar-benar demokratis dalam arti berorientasi pada aspirasi dan kepentingan rakyat dengan pemerintah yang bersih dan berwibawa sebagai abdi masyarakat dan Negara. Semula para mahasiswa dengan tertib menjalankan aksi didalam kampus masing-masing sambil dijaga oleh alat-alat keamanan Negara, polisi dan tentara di sekelilingnya. Tetapi oleh karena seruan-seruan para mahasiswa yang membawakan suara rakyat itu tidak diperhatikan oleh pemerintah, yang pada waktu itu dipimpin oleh Presiden Soeharto, maka dengan resiko jatuhnya korban mereka menjebol lingkaran polisi dan tentara bersenjata dan bergerak secara demonstratif di jalan-jalan dan lapangan umum dibawah simpati penuh dari masyarakat. Aksi yang menjadi gerakan itu dilakukan oleh para mahasiswa diseluruh Indonesia dan dalam kurun waktu yang sama. Dengan demikian gerakan ini berkembang dari aksi lokal yang tersebar menjadi gerakan nasional yang massif dan dengan tujuan yang sama. Pada awal nya tujuan itu secara sederhana dirumuskan dengan kata-kata Turunkan Harga, yaitu harga sembako (Sembilan Bahan Pokok). Yang naik dengan cepat sekali karena krisis moneter yang disusul dengan krisis ekonomi. Krisis moneter menjatuhkan nilai rupiah terhadap dollar Amerika sebagai mata uang

ekonomi internasional dan dengan sendirinya menaikkan harga dari sembako dalam rupiah. Krisis ekonomi mengakibatkan ditutupnya banyak perusahaan bisnis dan di PHK kannya ratusan ribu karyawan yang menjadi penganggur tanpa sumber penghasilan untuk hidup. Tidak lama kemudian para mahasiswa yang didukung oleh sebagian para rektor dan dosen yang menyadari bahwa untuk menurunkan harga diperlukan perombakan sistem ekonomi yang rapuh karena sarat dengan korupsi. Untuk membersihkan sistem ekonomi secara mutlak diperlukan perubahan atau reformasi sistem politik yang penuh dengan kolusi yang tidak sehat, lagi pula berjalan tidak adil dengan nepotisme yang mengalokasikan jabatan-jabatan penting dan basah pada keluarga dan kawan-kawan para pejabat tinggi, termasuk yang tertinggi yang berkuasa. Atas dasar kepahaman itu para mahasiswa meluaskan tujuan gerakan mereka menjadi tujuan perjuangan menghapus korupsi, kolusi dan nepotisme disingkat KKN. Jalannya adalah melalui reformasi ekonomi, politik dan hukum atau disebut juga reformasi total. Semakin gencar jalannya perjuangan yang berbentuk demonstransi, dan semakin meluas jumlah mahasiswa dan universitas yang melibatkan diri makin jelas dirasakan perlunya suatu sasaran fisik yang menjadi simbol tujuan perjuangan itu. Tujuan semula yang berbunyi Turunkan Harga diartikan menjadi turunkan Soeharto dan keluarga. Para mahasiswa berfikir, kalau Soeharto dapat diturunkan sebagai Presiden dan kalau anak-anak dan cucunya dapat dihentikan dari praktek-praktek bisnis tidak sehat yang dilindungi oleh bapaknya, maka rintangan terbesar menjalankan reformasi dapat dilumpuhkan. Karena perjuangan mahasiswa ingin tetap sifat dan sikapnya sebagai kekuatan moral, maka usaha menurunkan Soeharto dari tahta kepresidenannya tidak dijalankan dengan kekerasan yang memungkinkan membawa pertumpahan darah. Para mahasiswa memilih jalan damai dan kalu dapat konstitusional. Jalan untuk itu adalah melalui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Para pejuang senior, baik dari kalangan civitas academica maupun dari luar kampus yang selalu berjuang bersama para mahasiswa berganti-ganti membuat pernyataan yang memperkuat tujuan perjuangan para mahasiswa. Pernyatan-pernyataan itu disampaikan kepada DPR di Jakarta atau pada DPRD di daerahdaerah. Kalau mahasiswa tetap berdemonstrasi di jalan-jalan dan lapangan-lapangan untuk mengkomunikasikan maksud mereka secara langsung kepada rakyat, dan kalau pers di seluruh negeri setiap hari menyebarkan berita-berita perjuangan untuk dibaca oleh mereka yang tinggal di rumah atau di tempat

kerja, maka organisasi-organisasi perjuangan senior boleh dikatakan setiap hari mertamu pada DPR untuk menyampaikan berbagai macam pernyataan. Dalam suasana yang ultra panas ini terjadi suatu peristiwa yang meledakkan kemarahan para mahasiswa dan masyarakat terutama di Jakarta. Pada tanggal 12 Mei 1998 para mahasiswa Universitas Trisakti di kota Jakarta menjalankan demonstrasi tertib dan teratur dengan pengawalan alat-alat keamanan yang bersenjata. Setelah mereka berdemonstrasi maka mereka secara damai masuk kembali ke dalam kampus dan mempersiapkan diri untuk pulang. Sebagian para dosen dan mahasiswa sudah meninggalkan kampus dan sebagian lain bersiap-siap untuk pergi keluar. Pada waktu itu terdengar suara tembakan-tembakan dari barisan penjaga keamanan yang mengelilingi kampus. Lebih dari sepuluh mahasiswa terkena tembakan dan dengan kendaraan yang ada mereka dilarikan kerumah sakit yang terdekat. Empat orang diantara mahasiswa meninggal ditempat di dalam kampus. Peristiwa ini menimbulkan amarah seluruh rakyat Indonesia, terutama para mahasiswa yang jiwa perjuangannya sedang menyala-nyala. Rakyat Jakarta mengungkapkan rasa marah mereka dalam bentuk riots, yaitu aksi massa yang tak terkendali selama dua hari berturut-turut tanggal 14 dan 15 Mei 1998di berbagai daerah dalam kota basar Jakarta. Selain atas dasar tersebut masyarakat menggunakan kesempatan tersebut untuk medapatkan barang-barang kebutuhan yang selama ini sulit didapatkan dikarenakan kesusahan ekonomi. Dengan beringas mereka merusak dan membakar gedung-gedung perkantoran, perniagaan dan merampok serta menjarah isinya. Selama dua hari itu alat-alat penegak keamanan tidak tampak bertindak di tempat-tempat kerusuhan. Mahasiswa tidak pernah merusak membakar dan menjarah. Mereka meningkatkan perjuangan reformasinya yang khusus diarahkan pada DPR pusat. Mulai tanggal 18 Mei 1998 ratusan ribu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta dan dari luar Jakarta siang malam menduduki gedung DPR dengan tuntutan agar DPR, setidak-tidaknya pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksinya memutuskan agar Soeharto lengser keprabon. Presiden Soeharto berusaha untuk menentramkan suasana dengan kabinet baru yang menurut pandangan masyarakat sama sekali tidak berjiwa reformasi. Presiden Soeharto juga menawarkan dibentuknya sebuah komite reformasi nasional yang akan dipimpin oleh Soeharto sendiri, tetapi tidak ada seorang pun

yang sanggup menerima permintaan menjadi anggota. Bahkan sebaliknya ada sejumlah menteri yang menyampaikan pernyataan kepadanya untuk mengundurkan diri dari kabinet. Para mahasiswa berhasil menekan pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi mengambil keputusan agar Soeharto berhenti sebagai presiden Republik Indonesia. Keputusan ini disampaikan mereka bersama kepada presiden Soeharto pada tanggal 20 Mei 1998. Selanjutnya pada tanggal 21 Mei 1998 di Istana Negara dan di depan pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi, Soeharto menyatakan dirinya berhenti dari jabatannya sebagai presiden Republik Indonesia. Dengan berakhirnya masa kepemimpinan Soeharto mahasiswa berharap dan beranggapan sistem pemerintahan akan berubah kearah yang lebih demokratis.

C. PERANAN PERS DALAM REVOLUSI MEI 1998

Dalam pencapaian masyarakat yang demokratis, tentu perlu ditunjang dengan sistem komunikasi politik yang baik. Sejalan dengan pembangunan nasional diharapkan pula pembangunan dalam bidang komunikasi, informasi dan media massa. Media massa yang dalam hal ini pers sudah barang tentu berfungsi sebagai penyebar informasi yang objektif, melakukan kontrol sosial yang konstruktif secara menyeluruh, aspiratif dan meluaskan komunikasi serta partisipasi yang positif antara pemerintah dengan masyarakat. Untuk mencapai fungsi pers Indonesia yang ideal seperti diatas tentunya sangat ditentukan oleh sistem politik suatu Negara. Sebab secara umum peranan pers yang dapat berfungsi dengan baik sangat diwarnai oleh situasi dan kondisi perpolitikan Negara yang bersangkutan. Semakin demokrasi suatu Negara maka semakin baik pula fungsi yang dapat dijalankan oleh pers, demikian juga sebaliknya. Apabila pers tidak dapat menjalankan fungsinya dikarenakan adanya tekanan dan hambatan yang diberikan oleh pemerintah suatu rezim, maka pers tersebut tentunya akan menjadi suatu bumerang yang akan menggerogoti legitimasi rezim tersebut. Dalam menyajikan informasi atau berita, bagi pers yang berada dibawah tekanan pemerintahan yang otoriter dihadapakan pada dua pilihan yang sangat sulit di satu sisi pers harus mngikuti keinginan pemerintah yang ingin mempertahankan legitimasi kekuasaannya, namun disisi lain pers harus menyajikan berita yang nyata atau faktual dan tuntutan pasar akan berita yang berbobot, objektif dan disukai oleh para pembaca. Pada era Orde Baru aparat keamanan dan intelijen rezim Orde Baru telah sejak beberapa tahun anggaran sibuk meneliti gerak gerik wartawan dan bahkan sampai pada tahap menangkap beberapa orang diantara wartawan. Tidak demikian adanya dengan para pakar politik pemerhati Indonesia. Baru segelintir pakar yang menangkap potensi kelas menengah wartawan itu dalam kajian mereka mengenai prospek demokratisasi di Indonesia. Analisis-analisis yang berusaha menjelaskan bagaimana rezim Orde Baru berakhir, pada umumnya juga terfokus pada peran yang telah dimainkan oleh gerakan mahasiswa, aksi berbagai kelompok politik, kerusuhan sosial, tekanan komunitas internasional dan krisis ekonomi yang terjadi menjelang revolusi Mei. Belum banyak yang secara signifikan menyorot konstribusi media massa dan para wartawannya dalam proses politik yang mengakhiri rezim Orde Baru.

Ada sejumlah alasan mengapa media massa dan kelompok jurnalis memperoleh tempat marjinal dalam analisis-analisis seputar demokratisasi atau reformasi. Media massa didalam berbagai pendekatan cenderung diamati hanya sekedar medium bagi beroperasinya berbagai faktor pendorong demokratisasi. Bila pendekatan struktural menonjolkan peran kelas menengah sebagai kelompok yang mampu mendesakkan tuntutan demokratisasi dan pendekatan cultural menekankan kontribusi ide-ide demokrasi maka media massa hanyalah medium dimana tuntutan kelas menengah dan ide-ide demokrasi tersebut disampaikan kepada penguasa dan publik yang lebih luas. Selain itu sejarah panjang pembredelan atau pencabutan Surat Izin Terbit, budaya telepon, serta hegemoni ide-ide semacam pers partner pemerintah atau kebebasan yang bertanggung jawab dan semakin kuatnya dominasi kroni Soeharto dalam sektor industri media massa, kesemuanya telah menurunkan bobot faktor peran media massa dalam analisis-analisis mengenai prospek demokrasi di Indonesia ataupun kajian tentang kemungkinan jatuhnya rezim Orde Baru dalam dasawarsa 1990-an. Meskipun demikian, pengamatan terhadap perkembangan dari hari ke hari menjelang revolusi Mei memperlihatkan bahwa tanpa adanya peran aktif pers justru peran aksi-aksi mahasiswa, kerusuhan-kerusuhan sosial, krisis ekonomi, sikap para pemuka pendapat, kesalahan-kesalahan yang dilakukan sejumlah pejabat Orde Baru ataupun fragmentasi dikalangan elit penguasa, kesemuanya belum tentu bisa memperoleh bobot yang signifikan dalam mengerogoti legitimasi pemerintahan Soeharto. Para mahasiswa mungkin akan menjadi pejuang yang amat kesepian dan terisolir satu sama lain. Kerusuhan-kerusuhan sosial, perpecahan diantara para elit penguasa, pernyataan sejumlah tokoh oposisi yang menolak dicalonkannya kembali Soeharto sebagai presiden RI, tampilnya sejumlah guru besar Universitas Indonesia dan sejumlah perguruan tinggi ternama lainnya dalam aksi-aksi mahasiswa, semuanya bagi sebagian besar anggota masyarakat mungkin hanya kan beredar sebagai rumor. Pada awalnya dalam proses penciptaan kondisi yang mendorong Soeharto memutuskan untuk mengundurkan diri dari Jabatan Presiden bulan Mei 1998, media massa nasional memang bersikap amat berhati-hati. Bahkan banyak diantaranya yang bertiarap sampai pada titik yang membuat banyak anggota masyarakat sedemikian gemas, frustasi dan melarikan diri mencari berbagai media alternatif, mulai dari selebaran gelap, web site, media asing ataupun memburu informasi alternatif semacam rumor. Sekurangkurangnya pada waktu awal-awal krisis tidak ada satu pun media massa yang cukup berani secara lugas

mengolah topic-topik tertentu untuk menjadi komoditi informasi. Berbagai penilaian dan ulasan kritis seputar bisnis keluarga cendana, kepemimpinan Soeharto serta kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya, perpecahan atau fiksi dikalangan elit penguasa serta kontroversi seputar dwi fungsi ABRI merupakan area pemberitaan yang tabu yang sejauh mungkin dihindari media massa. Nasib yang menimpa Tempo, Detik dan Editor ketika era keterbukaan yang dianugerahkan Soeharto melalui pidato kenegaraan bulan Agustus 1990 tiba-tiba dicabut izin terbitnya bulan Juni 1994, agaknya hal ini telah membuat para jurnalis ditanah air semakin ketat menerapkan menghindar jauh-jauh dari topic-topik tabu. Keadaan ini terus berlanjut hingga menjelang awal revolusi mei 1998. Diantara sekian banyak topik yang dianggap tabu oleh pemerintah, maka kondisi dan peristiwa yang berkaitan dengan kepemimpinan Soeharto relatif paling banyak memuat elemen yang sensitif khususnya yang secara langsung bisa mengarah kepada gugatan terhadap legitimasi kepemimpinan Soeharto. Karenanya tidaklah mengherankan bila banyak pernyataan yang mengatakan Soeharto adalah bagian dari masalah yang hanya bisa diketahui segelintir masyarakat di tanah air melalui media massa luar negeri. Beberapa bulan menjelang Soeharto mundur dari kursi presiden pada bulan Mei 1998, serangkaian pernyataan sikap menentang rezim Orde Baru yang secara lebih spesifik dan terbuka diarahkan kepada Soeharto sebenarnya telah sedemikian marak. Selama bulan Januari 1998 contohnya tercatat serangkaian aksi menolak pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden RI untuk masa jabatan ke-7. beberapa diantaranya adalah yang dilakukan oleh sekelompok kecil aktivis militant dari pijar Indonesia yang pada tanggal 9 Januari 1998 di jalan Rasuna Said membentang spanduk bertuliskan "Presiden Baru, Badai Pasti Berlalu, pernyataan 16 organisasi kepemudaan yang menolak pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden. Kemudian tanggal 20 Januari 1998, 19 orang peneliti LIPI membuat pernyataan yang berbunyi "pengelola kekuasaan Negara telah gagal menjalankan amanat rakyat, oleh karena itu kami menganggap perlunya pergantian kepemimpinan nasional". Beberapa hari kemudian, tanggal 22 Januari ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta mendatangi gedung DPR untuk menyampaikan penolakan mereka terhadap pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden RI. Rangkaian penolakan terhadap pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden RI tersebut terus berlangsung hingga sidang umum MPR. Aaksi-aksi mahasiswa di berbagai kampus juga nampak semakin banyak berisi orasi, spanduk-spanduk dan poster yang secara eksplisit menolak Soeharto. Kata-kata "Tolak

Soeharto", "Soeharto Mundur atau Hancur" dan yang senada mulai menggantikan kata-kata halus semacam "Kita tuntut suksesi kepemimpinan nasional". Tuntutan turunkan harga yang terpampang di spanduk-spanduk demo mahasiswa telah ditulis sebagai Turunkan Harto dan Keluarga. Bahkan di Yogyakarta dikampus UGM Bulaksumur, tanggal 11 Maret aksi mahasiswa telah mencapai tahap penolakan terhadap Soeharto yang diwujudkan melalui pembakaran patung Soeharto. Namun selama periode tersebut hampir semua media massa nasional belum berani secara spesifik memberitakan substansi penolakan terhadap pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden. Sebagian besar isi pemberitaan hanyalah menyangkut kedatangan merka ke DPR, aksi-aksi demo yang terjadi dikampuskampus, bentrokan fisik dengan aparat keamanan, tuntutan-tuntutan lunak seperti turunkan harga dan rombak kabinet. Tuntutan yang secara eksplisit menolak pencalonan kembali Soeharto atau yang menuntut pengunduran diri Soeharto, umumnya oleh media massa nasional disajikan dalam penggambaran yang sangat umum dan kabur. Pemberitaan yang secara spesifik menunjukkan adanya penolakan terhadap Soeharto hanya bisa diperoleh dari sumber-sumber alternatif seperti media asing, berbagai internet, pamphlet dan bulletin gelap, penerbitan kampus ataupun informasi alternatif seperti rumor yang tidak jelas sumbernya. Melalui media alternatif itulah pada mulanya masyarakat bisa mengetahui bahwa aksi penolakan terhadap Soeharto telah mencapai suatu tahap yang benar-benar sulit dipercaya beberapa bulan sebelumnya, seperti pembakaran patung Soeharto dalam aksi mahasiswa Yogyakarta dikampus UGM. Walaupun demikian sebenarnya pers dengan segala belenggu yang membatasi ruang geraknya telah sejak lama menggerogoti legitimasi rezim Orde Baru. Itu dilakukan pers sampai ke titik dimana banyak kelompok-kelompok masyarakat menjadi berani secara terbuka menyatakan sikap penolakan mereka terhadap rezim Orde Baru termasuk menolak Soeharto sebagai figur sentral Orde Baru, seperti yang kemudian bisa diamati selama masa menjelang Soeharto turun dari jabatannya. Dengan kata lain pers sebenarnya telah berfungsi menciptakan pra kondisi dimana delegitimasi yang dialami Orde Baru telah sedemikian rupa, sehingga justru memberi legitimasi bagi unsur-unsur masyarakat yang menentang rezim Orde Baru, terlebih lagi ketika krisis moneter mulai menggoyang sumber utama legitimasi Orde Baru, yakni pertumbuhan ekonomi.

Mendekati bulan Mei, pemberitaan pers mengenai aksi para mahasiswa semakin sulit untuk bisa dibendung atau membendung diri oleh pers. Selain itu pemberitaan media massa juga menimbulkan suatu dampak baik terhadap aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa dan berbagai kelompok kiri maupun terhadap pemberitaan pers selanjutnya. Dengan kata lain, pemberitaan pers yang hampir rutin tiap hari seputar aksiaksi mahasiswa dan berbagai kelompok masyarakat telah mendorong semangant dan jumlah dilakukannya aksi oleh mahasiswa dan kelompok masyarakat itu sendiri. Lebih lanjut semangant aksi yang mahasiswa lakukan menciptakan peristiwa-peristiwa yang membuat pers semakin sulit untuk tidak memberitakannya, atau merasa tertinggal bila melewatkan peristiwa-peristiwa itu dari dalam liputannya. Proses tadi antara lain disebabkan kemampuan pers untuk menciptakan kompetisi diantara berbagai kelompok mahasiswa dan aktivis pro-demokrasi dan juga menumbuhkan suatu dorongan menjadi bagian dari sejarah melalui pemberitaan-pemberitaan yang nyaris rutin setiap hari tentang semangat perjuangan aksi-aksi pro demokrasi yang terjadi. Bila para mahasiswa berlomba melakukan aksi dalam skala dan intensitas yang lebih besar, dengan substansi tuntutan yang lebih tajam maka pers akan semakin sulit untuk tidak memberitakannya atau merasa ketinggalan dari media lain seandainya tidak memberitakannya. Demikian seterusnya. Yang terjadi alah sebuah proses bola salju yakni suatu interaksi timbal balik antarapemberitaan media massa dan aktivitas subjek yang diberitakan. Setelah terjadinya peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti, pemberitaan media cetak mengenai peristiwa tersebut yang dikemas dalam bingkai kata-kata seperti gugur atau syuhada ataupun headlines selamat jalan bunga reformasi dan selamat jalan pahlawan reformasi, kesemuanya tak kurang pula kontribusinya dalam menggerogoti keabsahan moral rezim Orde Baru. Sementara itu dilain pihak, masyarakat dan pembaca sendiri telah mengembangkan etnometodologi untuk menangkap makna yang tersembunyi dibalik realitas simbolik teks yang ditampilkan oleh pers. Dalam peristiwa revolusi mei 1998, nampak jelas bahwa media massa tidak hanya memainkan peran pasif atau sekedar sebagai medium yang memberitakan peristiwa serta tidak hanya sekedar merefleksikan realitas sosial politik seputar aksi-aksi demokratisasi. Media massa atau pers secara aktif berperan serta mendefinisikan dan menciptakan realitas sosial politik yang berkaitan dengan peristiwa demokratisasi tersebut.

1. Pers Sebagai Sarana Perubahan Salah satu dari peranan pers dalam demokratisasi adalah menjadi sarana perubahan melalui kemampuan komunikasi politiknya. Dalam peristiwa Revolusi Mei 1998 apabila dikaitkan dengan fungsi survailansi, interpretasi dan sosialisasi, maka pers mempunyai peranan sebagai berikut : a. Pers Sebagai Issues Manager Pers bisa diamati sebagai issues manager yakni mendefinisikan kondisi sosial politik yang ada dan menterjemahkannya menjadi isu-isu utama dalam agenda publik. Ini ditempuh antara lain melalui pemilihan peristiwa yang akan diberitakan, penentuan sudut pemberitaan, penentuan figur-figur yang akan diwawancara atau penentuan topik dan partisipan dalam rubrik serta opini baik yang didasarkan atas kaidah-kaidah profesi jurnalisme atau idealisme para wartawan sendiri. Dalam usahanya tersebut pers sering kali tampak berhadapan dengan isu-isu yang di pelopori pihak lain. Keinginan para wartawan atau insan pers untuk dapat menjalankan profesi mereka sesuai dengan undang-undang tentunya juga menjadi faktor penentu bagi pers dalam menyajikan berita. Pada peristiwa revolusi Mei 1998, pada waktu itu umumnya pers telah memilih topik tentang kerusuhan dan aksi mahasiswa sebagai isu ketidakmampuan pemerintah dalam mengatasi masalah-masalah yang terjadi di Negara ini. Walaupun pemberitan-pemberitaan oleh pers tidak langsung mengarah pada tuntutan akan perubahan sistem pemerintahan, politik, ekonomi dan aspek lainnya, namun pers mampu mengorganisir pemberitaannya kearah tersebut. Aksi-aksi mahasiswa dan kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di pulau Jawa merupakan topik berita yang paling menarik dan hangat ketika itu untuk diliput oleh pers. Melalui pemberitaannya itu pers mampu mensosialisasikan isu yang diusung oleh aksi-aksi mahasiswa kemudian melalui kemampuan idan fungsi interpretasinya, pers memberanikan diri untuk mengemukakan isu bahwa solusi dari semua permasalahan yang dihadapi ketika itu adalah memenuhi tuntutan mahasiswa yakni perlunya demokratisasi dengan cara turunya Soeharto dari kursi kepresidenan. Upaya-upaya pengorganisasian isu yang dilakukan oleh pers pada peristiwa revolusi Mei 1998 tampak melalui berita-berita yang diterbitkan oleh pers. Pada awalnya isu yang diusung dalam aksi mahasiswa hanya terbatas pada turunkan harga, dikarenakan pada waktu itu harga sembako yang melambung

tinggi sebagai akibat dari terjadinya krisis ekonomi. Namun pada akhirnya secara berangsur-angsur diorganisir oleh pers melalui pemberitaannya menjadi turunkan Harto dan keluarga. b. Pers Sebagai Agen Delegitimasi Kekuasaan Media menempatkan diri sebagai agen delegitimasi kekuasaan rezim atau sebagai bagian dari mekanisme proses delegitimasi, yang berangsur-angsur menenmpatkan rezim Soeharto dalam posisi sebagai batu penghalang kearah demokrasi atau bagian dari masalah untuk menuju masyarakat yang adil dan makmur. Peran itu dijalankan pers antara lain dengan meletakkan peristiwa atau kondisi tertentu dalam bingkai pemberitaan yang dapat mengguncang legitimasi rezim Soeharto. Contohnya dengan menyajikan realitas krisis ekonomi dalam bingkai krisis kepercayaan terhadap rezim Soeharto. Pemberitaan yang disajikan oleh pers tentang keadaan krisis ekonomi dan keadaan keamanan Negara disaat menjelang lengsernya Soeharto memberikan cerminan kepada masyarakat akan kelemahan pemerintah dalam menangani masalah yang secara tidak langsung akan melemahkan legitimasi rezim. Nada, nuansa, ataupun kemasan pemberitaan media massa pada waktu menjelang puncak revolusi Mei memberikan kontribusi dalam proses delegitimasi rezim Soeharto. Salah satu usaha tersebut adalah antara lain bisa diamati melalui penampilan berbagai realitas simbolik tertentu yang dilakukan media massa. Sebagai contoh sederhana, pemberitaan sejumlah media massa yang menggambarkan keintiman hubungan Soeharto dengan pengusaha Bob Hasan ketika bermain golf, bisa dinilai sebagai suatu bingkai untuk memposisikan pembangunan ekonomi Orde Baru dalam citranya sebagai kroni kapitalis, yang dengan demikian bisa menurunkan legitimasi Soeharto sebagai negarawan dan tokoh sentral Orde Baru di mata rakyat. Sebuah penampilan simbolik serupa juga dilakukan oleh majalah D&R, yakni yang sampul depannya menampilkan foto Soeharto dalam ilustrasi sebagai raja kartu kocok (D&R, edisi 11 Oktober 1998). Penampilan foto tersebut menggambarkan bahwa Soeharto tidak ubahnya laksana seorang raja yang memimpin Negara dengan kekuasaan penuh dan otoriter. Penampilan visual tersebut pada waktu itu oleh sejumlah Menteri pembantu Soeharto sempat dinilai sebagai penghinaan terhadap Kepala Negara dan dinilai pula sebagai suatu tindakan yang tidak sesuai dengan nilai budaya bangsa kita. Majalah D&R yang selama beberapa kali penerbitan memberi porsi dan fokus khusus terhadap masalah penculikan dan penghilangan aktivis pro-demokrasi dan juga korban-korban mahasiswa yang mulai

berjatuhan, merupakan salah satu diantara media cetak, yang pemberitaannya pada waktu itu sangat berpotensi membangkitkan anti-pati terhadap aparat represif Orde Baru dan menggoyahkan legitimasi rezim itu dari segi moralitas politik. Dalam bulan-bulan terakhir sebelum Soehato turun dari jabatannya, sejumlah media massa nampak telah berhasil memanfaatkan momentum krisis moneter untuk memperlemah legitimasi rezim Orde Baru melalui bingkai pemberitaan mereka seputar krisis moneter. Sebagai contoh yang paling menonjol waktu itu adalah penggunaan metafor krisis kepercayaan dan jargon-jargon seperti transparansi KKN sebagai suatu farming devices dalam memberitakan kondisi dan peristiwa seputar krisis moneter ataupun dalam mengarahkan komentar dan analisis para pakar. Kata-kata krisis kepercayaan yang semula secara spesifik menunjuk pada goyahnya kepercayaan masyarakat terhadap nilai rupiah, secara berangsur-angsur lebih merujuk pada pengertian krisis kepercayaan terhadap pemerintahan Orde Baru, terutama dalam kaitannya dengan sikap berbelit-belit yang diperlihatkan Soeharto dalam proses negosiasi dengan pihak IMF. Selain itu diterapkan pula reasoning device tertentu berupa logika kausalitas yang memfokuskan faktor-faktor politik dipihak penguasa sebagai penyebab krisis ekonomi. Di samping itu media massa juga menampilkan realitas kamera dan grafis yang kontribusinya sulit diabaikan dalam proses delegitimasi Soeharto ataupun rezim Orde Baru. Satu diantaranya adalah sebuah foto yang diambil ketika Soeharto, 15 Januari 1998, menanda tangani letter of intent dengan disaksikan oleh Managing Director IMF, Michel Camdessus, yang ketika itu berdiri menyaksikan sambil melipat tangannya di dada. Adegan dalam foto tersebut, yang dimuat secara luas oleh media cetak dalam maupun luar negeri, memang dinilai mengesankan adegan seperti seorang guru yang sedang menghukum muridnya (Kompas, 15 Mei 1998). Pada saat terjadinya kerusuhan di Jakarta dan beberapa kota lainnya pers menampilkan berita-berita yang menggambarkan kondisi dan situasi kota Jakarta yang mencekam, masyarakat menjarah toko, pembakaran bahkan sampai pada perusakan fasilitas-fasilitas Negara. Hal tersebut mencerminkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Pers menyebutkan dengan tulisannya bahwa kemarahan masyarakat tersebut terjadi karena sulitnya bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sebagai akibat dari krisis ekonomi yang berimbas pada naiknya harga barang. Pemberitan-pemberitaan pers yang semacam ini menggambarkan bahwa legitimasi kekuasaan pemerintah mulai memudar dikalangan masyarakat.

Demikian juga dalam aksi-aksi mahasiswa, pers memberitakan bahwa ribuan mahasiswa melakukan demonstrasi setiap harinya pada minggu terakhir menjelang Soeharto mengundurkan diri. Pers menulis bahwa mahasiswa menuntut adanya perubahan dalam sistem penyelenggaraan Negara. Pemberitaan ini mencerminkan kepada masyarakat luas bahwa sebagian besar mahasiswa tidak lagi mempercayai pemerintah. Penembakan mahasiswa dalam tragedy di kampus Trisakti juga merupakan berita yang disajikan pers sebagai hantaman keras terhadap legitimasi pemerintah dimata rakyat. Peristiwa tersebut menggambarkan sikap represif aparat yang telah melanggar Hak Azasi Manusia. c. Pers sebagai social organizer pers juga mengambil peran sebagai social organizer dalam menggalang koordinasi gerakan reformasi dalam skala luas, baik yang meliputi koordinasi aksi dan tindakan ataupun isu-isu serta ide-ide pemikiran. Ini antara lain dilakukan melaui pemberitaan-pemberitaan aksi reformasi yang terjadi diberbagai tempat dan yang dilakukan oleh berbagai unsur masyarakat. Isu-isu yang dikemukakan melaui aksi-aksi mahasiswa di satu kota, bisa digunakan oleh mahasiswa kelompok lain atau mahasiswa dari kota lain sebagai dasar merumuskan, menajamkan ataupun mengevaluasi relevansi isu-isu yang akan mereka tampilkan dalam aksi dikota atau kampus mereka sendiri. Pemberitaan pers tentang demonstrasi disuatu wilayah yang disertai dengan rumusan tuntutan para demonstran tersebut, ketika dibaca oleh kelompok demonstran lain, mereka akan memakai rumusan tuntutan tersebut sebagai acuan untuk menentukan rumusan tuntutan mereka pula dan juga menjadikannya sebagai pengevaluasi tuntutan mereka selama ini, dimanakah tuntutan yang masih perlu dipertajam atau dipertegas. Pers yang menampilkan berita melalui teknik wawancara terhadap mahasiswa dan tokoh prodemokrasi juga menampilkan perancanaan aksi yang akan dilakukan selanjutnya sehingga perencanaan yang beritakan oleh pers mampu menjadi suatu pedoman bagi mahasiswa yang lain untuk melakukan aksi selanjutnya. Melalui pers juga para mahasiswa dapat mengajak dan memberikan pandangan tentang tujuantujuan aksi mereka sehingga mempengaruhi mahasiswa lainnya untuk ikut serta dalam aksi. Pemberitaan yang disajikan oleh pers juga mampu menciptakan sence of competition di antara berbagai kelompok mahasiswa dan aktivis pro demokrasi dan juga menumbuhkan suatu dorongan untuk menjadi bagian pembuat sejarah melalui sajian berita-berita yang rutin setiap harinya tentang eskalasi-eskalasi pro demokrasi yang terjadi.

Munculnya sence of competition bisa saja dideteksi melalui komentar-komentar mahasiswa ketika menyaksikan liputan pers. Misalnya pernyataan "masa kita kalah dengan UGM, lihat dong di Koran kemaren ribuan yang ikut". Sedangkan munculnya dorongan menjadi bagian dari pembuat sejarah, dengan melihat berita-berita dikoran mahasiswa menjadi merasa ingin kampus-kampus mereka tersebut sebagai bagian dari terjadinya peristiwa revolusi Mei.

2. Pers Sebagai Alat Kontrol Politik Kritik pada dasarnya diawali dengan adanya perbedaan pendapat dan penilaian antara orang yang satu dengan yang lain atau seseorang dengan sekelompok orang, atau suatu kelompok dengan kelompok lainnya, terhadap suatu gagasan atau aktivitas yang disampaikan oleh satu pihak yang terlibat dalam interaksi tersebut. Pihak yang melakukan kritik tersebut merasa tidak puas atas gagasan atau aktivitas yang dijalankan oleh pihak lain dan menyatakan bahwa gagasan atau aktivitas yang dijalankan oleh pihak yang dikritik adalah salah dan harus diperbaiki. Dengan kritik-kritik yang disampaikan kepada suatu pihak maka kritik tersebut akan menjadi kontrol bagi pihak yang dikritik. Dalam Undang-undang tentang ketentuan-ketentuan pokok pers dijelaskan bahwa pers merupakan lembaga kemasyarakatan, alat revolusi yang mempunyai karya sebagai salah satu media komunikasi massa yang bersifat umum berupa penerbitan yang teratur waktunya dan mempunyai fungsi sebagai alat kontrol atau kritik dan koreksi yang bersifat korektif dan konstruktif. Sebagai alat kritik dan kontrol sosial pers melakukannya dengan penyajian berita-berita dan penyampaian opini publik melalui kemampuan survailansi, interpretasi dan sosialisasi yang dimilikinya. Penyediaan kolom opini yang disediakan oleh pers merupakan salah satu tempat paling efektif dalam menyampaikan kritik dan melakukan kontrol. Kritik-kritik seputar peristiwa revolusi Mei 1998 yang diawali dengan krisis ekonomi disajikan oleh pers melalui pemberitaannya dan penyajian opini publik. Salah satunya adalah kritik pers terhadap pemerintah tentang penerapan sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan oleh rezim pemerintahan orde baru, yang mana pemerintah melaksanakan sistem ekonomi kroni kapitalis dengan nepotisme yang sangat kuat. Kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah cenderung menguntungkan bagi kroni Soeharto dan keluarganya.

Sebagaimana yang pernah ditulis oleh majlah prospek tentang pengusaha Hutomo Mandala Putra, yang merupakan putra bungsu Soeharto. "Muda, ganteng dan kaya raya. Itulah Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto. Mendirikan perusahaan di usia muda, 22 tahun. Kini Tommy merupakan salah satu pengusaha papan atasnegeri ini karena ia anak orang nomor satu negeri ini". (Prospek 27 Oktober 1997) Berita yang disajikan oleh pers diatas merupakan suatu kritikan bagi pemerintah. Kata "karena ia anak orang nomor satu di Negara ini" mencerminkan sistem ekonomi kapitalis atau kroni kapitalis yang ia terapkan. Kritikan tersebut akhirnya menjadi salah satu berita pers yang merongrong legitimasi pemerintahannya. Kritikan pers yang semacam ini dalam rangka peristiwa revolusi Mei 1998 tidak hanya sebatas pada hal krisis ekonomi. Dalam peristiwa kerusuhan massal dan peristiwa Trisakti misalnya, dalam peristiwa tersebut pers dengan gencar memberitakan tentang tindakan represif aparat atas penembakan mahasiswa. Ini merupakan kritikan pedas terhadap aparat dan pemerintah yang senantiasa mengedepankan kekuatannya dan selalu bertindak sewenang-wenang serta telah melanggar HAM. Akibat dari berita-berita yang disajikan pers aparat dan pemerintah menerima kecaman dari masyarakat termasuk juga dari masyarakat internasional. Pemberitaan-pemberitaan yang disajikan oleh pers menampilkan realitas yang ada tentang kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan perilaku aparat pemerintah tersebut. Pemberitaan ini menjadikan aparat pemerintah merasa selalu diawasi dan diikuti oleh masyarakat sehingga merekapun dikontrol oleh masyarakat melalui pers, dan tidak bisa berbuat sewenang-wenang dalam membuat keputusan dan bertindak. Pers mahasiswa juga mengambil peranan yang sangat penting dalam peristiwa revolusi mei 1998. pers mahasiswa merupakan sesuatu yang unik. Ia pernah bergandengan tangan dengan gerakan mahasiswa, menjadi media komunikasi politik mereka, saat kontrol dan represi rezim orde baru terhadap media umum dirasa sangat kuat. Sementara pers umum takut atas ancaman diberangus, pers mahasiswa tampil menjadi corong perjuangan. Ia menyajikan berita-berita alternatif, kritis dan berani, tanpa takut ditutup karena ia memang tidak butuh Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Hal ini menjadi semacam kelebihan yang dimiliki oleh pers mahasiswa. Jika hari ini sebuah media mahasiswa ditutup atau dipaksa tutup, maka besok hari ia sudah bisa terbit kembali dengan hanya berganti nama. Pemberitaannyapun khas anak muda. Ia mengusung isu-isu yang sangat sulit diangkat media umum pada zaman itu. Sesuatu yang bagi pembaca tidak bisa didapat diluaran. Bahasanya lugas dan pedas. Lugas

tanpa mesti repot menyembunyikan kenyataan dengan eufemisme bahasa. Pedas tanpa mesti takut menyinggung perasaan pemerintah. Melalui pers kampus mahasiswa mampu berkomunikasi secara luas antara sesame mahasiswa dan juga dapat dijadikan sebagai propaganda dalam mewujudkan demokrasi terutama dalam upaya mempengaruhi mahasiswa supaya turut serta dalam peristiwa revolusi mei 1998.

D. INTERVENSI PEMERINTAH SEBAGAI PENGHAMBAT PERANAN PERS DALAM REVOLUSI MEI 1998

Dalam revolusi Mei 1998, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pers juga mempunyai peranan. Peranan yang dilakukan oleh pers tentunya tidak akan terlepas dari kendala dan hambatan yang dihadapi oleh pers tersebut. Bagi suatu pemerintahan diktator kebenaran merupakan bahaya baginya, sebab kebenaran akan membuka seluruh jaringan tipu dayanya. Berita-berita yang berasal dari foto jurnalisme serta data dokumenter lainnya memang memiliki daya yang sangat kuat. Misi pertama pers dalam suatu masyarakat yang demokrartis atau suatu masyarakat yang sedang berjuang untuk menjadi demokratis adalah melaporkan fakta. Misi ini tidak akan mudah dilaksanakan dalam suatu situasi ketidak adilan secara besar-besaran dan pembagian yang terpolarisasi. Terkucilnya prospek kebebasan pers jelas merupakan bagian dari redupnya prospek demokratisasi. Ketentuan dasar yang mengatur kegiatan pengeluaran pendapat dinegara Indonesia tercantum dalam pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945. ketentuan dasar ini kemudian dijabarkan dalam Undang-Undang pokok pers. Pada masa orde baru sejak tahun 1966 ketentuan tentang penyelenggaraan pers di Indonesia dituangkan dalam Undang-Undang nomor 11 tahun 1966. undang-undang ini diperbaharui dangan Undang-undang nomor 4 tahun 1967 dan terakhir diperbaharui dengan Undang-undang nomor 21 tahun 1982. Dalam Undang-undang nomor 21 tahun 1982 diatur masalah-masalah fundamental bagi kehidupan pers yang tidak memerlukan pengaturan yang lebih lanjut lagi. Diantara masalah-masalah fundamental tersebut adalah : 1. 2. 3. 4. Hak pers melakukan kontrol, kritik dan koreksi yang bersifat konstruktif Sensor dan pembredelan tidak dikenakan terhadap pers nasional Kebebasan pers sesuai dengan hak azasi warga dijamin Untuk mengusahakan penerbitan pers dan mengelola badan usahanya tidak memerlukan Surat Izin Terbit (SIT) Akan tetapi ketentuan yang demikian pasti dan tegas ini menjadi tidak mempunyai makna dan kekuatan jika dihadapkan pada ketentuan peraturan menteri penerangan nomor 01/Per/MenPen/1984 yang

derajatnya lebih rendah dari Undang-undang, Khsusnya pasal 33 butir (h). Pasal ini berbunyi :Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) yang telah diberikan kepada perusahaan/penerbit pers dapat dibatalkan oleh menteri penerangan setelah mendengar dewan pers, apabila menurut penilaian dewan pers perusahaan/penerbit dan penerbitan pers yang bersangkutan dalam penerbitannya tidak lagi mencerminkan kehidupan pers yang sehat, pers yang bebas bertanggung jawab. Sebenarnya banyak praktisi pers, pakar komunikasi dan masyarakat pemerhati pers yang memandang pembatalan SIUPP surat kabar dan majalah bertentangan dengan Undang-Undang no 21 tahun 1982 yang memuat ketentuan bahwa sensor dan pembredelan tidak dikenakan terhadap pers nasional. Tetapi pemerintah tidak menganggap demikian, tindakan pembatalan SIUPP dipandang tidak bertentangan dengan Undang-Undang. Pada era orde baru juga diterapkannya berbagai pembatasan oleh pemerintah sehingga wartawan tidak bebas menulis dan munculnya budaya telepon. Peringatan melalui telepon ini bisa dilakukan oleh siapa saja dikalangan aparat pemerintah untuk mencegah media menulis laporan tertentu yang tidak disukai pemerintah. Secara keseluruhan rezim Orde Baru selalu mengharapkan pers bisa berperan dalam proses memproduksi dan menjaga stabilitas negara legitimasi rezim. Untuk itu Orde Baru telah menerapkan berbagai kontrol terhadap pers, yang pada garis besarnya mencakup : 1. Kontrol preventif dan korektif terhadap kepemilikan industri media, antara lain dengan pemberian SIT secara selektif berdasarkan kriteria politik tertentu. 2. Kontrol terhadap individu dan kelompok pelaku profesional (wartawan) melalui mekanisme seleksi dan regulasi, seperti keharusan menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai wadah tunggal, kewajiban untuk mengikuti P4 bagi pimpinan redaksi dan kontrol berupa penunjukan individu-individu untuk menduduki jabatan tertentu dalam media milik pemerintah. 3. Kontrol terhadap produk teks pemberitaan, baik isi maupun isu pemberitaan melalui berbagai mekanisme. 4. 5. Konterol terhadap sumber daya, antara lain berupa monopoli kertas oleh penguasa. Kontrol terhadap akses ke pers, berupa pencekalan tokoh-tokoh demokrasi untuk tidak ditampilkan dalam pemberitaan media.

Bagi rezim orde baru, penyampaian informasi sepenuhnya yang dilakukan oleh pers berarti membahayakan stabilitas nasional tepatnya membahayakan stabilitas presiden Soeharto, keluarga dan kroninya. Orde baru hanya mengizinkan media massa yang mendukung kebijakan politiknya. Intervensi terhadap media massa dimulai oleh rezim orde baru dengan mengajukan penanggung jawab redaksi harian Nusantara ke pengadilan karena menghina pemerinta Republik Indonesia dan Presiden Soeharto. Namun pembredelan dengan pencabutan Surat Izin Terbit (SIT) diawali oleh harian sinar harapan pada Januari 1973. Tindakan ini dilakukan oleh Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) dengan tuduhan harian tersebut telah menyiarkan isi RAPBN 1973-1974 sebelum pemerintah mengumumkannya secara resmi. Ketegangan antara media massa daan rezim orde baru juga terjadi pada tahun 1974, dimana gerakan mahasiswa menemukan momentum barunya pasca 1966, yang berujung pada peristiwa Malari. Menyusul peristiwa Malari Presiden Soeharto dan wakil presiden Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengeluarkan pernyataan 17 Januari. Isinya antara lain melarang demonstrasi, menertibkan pemberitaan pers, dan menertibkan kehidupan universitas agar tidak lagi digunakan sebagai basis kekuatan politik. Pasca peristiwa tersebut juga terjadi pencabutan SIT beberapa surat kabar diantaranya Indonesia Raya, Pedoman, The Jakarta Times, Abadi. Ditengah media massa yang sudah terkooptasi seperti itu, pembredelan masih saja terjadi. Pada tahun 1984, Sinar Harapan dan Prioritas dicabut Surat Izin Penerbitan Pers-nya. Keduanya dinyatakan bersalah, bersikap tidak etis dan melanggar kode etik jurnalistik karena memuat berita Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 1984-1985 yang mendahului pengumuman resmi pemerintah. Berikutnya, pada 21 Juni 1994, rezim orde baru melalui Surat Keputusan Menteri Penerangan Nomor. 123, 124 dan 125 membatalkan SIUPP majalah Tempo, Editor dan Detik. Sejumlah alasan pembredelan dimuat pada surat keputusan tersebut. Tetapi, intinya merupakan upaya tindakan pelarangan terhadap media massa yang mencoba menjalankan fungsinya sebagai alat kontol dan penyalur kritik yang mampu memberikan sepenuhnya informasi kepada masyarakat.bagi rezim otoriter seperti orde baru informasi sepenuhnya yang berupa fakta berarti akan membahayakan stabilitas kekuasaannya.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan . Peranan pers dalam gerakan revolusi Mei dapat digeneralisasikan dalam tema, bahwa kontribusi signifikan pers dalam memicu perubahan masyarakat seakan mengikuti teori klasik komunikasi massa yaitu teori serba media. Diasumsikan bahwa media massa termasuk pers mempunyai kekuatan yang besar untuk mempengaruhi masyarakat, bukan saja dalam membentuk opini dan sikap tetapi juga dalam memicu terjadinya gerakan sosial. Dalam peristiwa revolusi mei 1998, nampak jelas bahwa media massa tidak hanya memainkan peran pasif atau sekedar sebagai medium yang memberitakan peristiwa serta tidak hanya sekedar merefleksikan realitas sosial politik seputar aksi-aksi demokratisasi. Media massa atau pers secara aktif berperan serta mendefinisikan dan menciptakan realitas sosial politik yang berkaitan dengan peristiwa demokratisasi tersebut. Dalam garis besarnya, ada sejumlah peran aktif yang telah dijalankan oleh pers, khususnya dalam konteks aksi-aksi reformasi selama periode 1998 yang lalu ditanah air. 1. Pers Sebagai Sarana Perubahan Salah satu dari peranan pers dalam demokratisasi adalah menjadi sarana perubahan melalui kemampuan komunikasi politiknya. Dalam peristiwa Revolusi Mei 1998 apabila dikaitkan dengan fungsi survailansi, interpretasi dan sosialisasi, maka pers mempunyai peranan sebagai berikut : a. Pers Sebagai Issues Manager Pers bisa diamati sebagai issues manager yakni mendefinisikan kondisi sosial politik yang ada dan menterjemahkannya menjadi isu-isu utama dalam agenda publik. Ini ditempuh antara lain melalui pemilihan peristiwa yang akan diberitakan, penentuan sudut pemberitaan, penentuan figur-figur yang akan diwawancara atau penentuan topik dan partisipan dalam rubrik serta opini baik yang didasarkan atas kaidah-kaidah profesi jurnalisme atau idealisme para wartawan sendiri. b. Pers Sebagai agen delegitimasi Kekuasaan

Media menempatkan diri sebagai agen delegitimasi kekuasaan rezim atau sebagai bagian dari mekanisme proses delegitimasi, yang berangsur-angsur menenmpatkan rezim Soeharto dalam posisi sebagai batu penghalang kearah demokrasi atau bagian dari masalah untuk menuju masyarakat yang adil dan makmur. c. Pers sebagai social organizer pers juga mengambil peran sebagai social organizer dalam menggalang koordinasi gerakan reformasi dalam skala luas, baik yang meliputi koordinasi aksi dan tindakan ataupun isu-isu serta ide-ide pemikiran. 2. Pers Sebagai Alat Kontrol Politik Dalam demokratisasi komunikasi politik merupakan hal yang sangat penting untuk mengontrol semua usaha dalam demokratisasi tersebut. Pers sebagai sarana komunikasi politik melalui fungsi survailansi, interpretasi dan sosialisasi mampu menjadi sebagai sarana kritik dan kontrol bagi pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan sehingga terciptanya sistem politik yang demokratis. Upaya kontrol dan kritik ini dapat dilakukan oleh pers melalui penyampaian opini-opini yang merupakan bagian dari pers. Dalam menjalankan peranannya untuk menciptakan demokrasi di Indonesia khususnya dalam peristiwa revolusi Mei 1998, pers tidak terlepas dari hambatan yang dihadapinya hambatan tersebut adalah intervensi atau pengekangan pemerintah terhadap pers.

B. Saran Adapun saran yang dapat penulis berikan sebagai bahan masukan bagi pembaca pada umumnya berkaitan dengan peranan pers dalam demokratisasi adalah: 1. Dalam mewujudkan demokrasi dan menjaga demokrasi dalam suatu Negara atau pemerintahan maka jangan mengesampingkan peranan yang dapat dilakukan oleh pers. Informasi yang disajikan oleh pers dapat menimbulkan suatu akibat yang merupakan pengaruh dari pers. Selain itu dengan fakta yang disampaikan oleh pers kita akan dapat mengetahui situasi dan kondisi politik yang ada disekitar kita yang secara tidak langsung akan menjadi kontrol jalannya roda pemerintahan. 2. Agar pers dapat menjalankan tugas, fungsi dan perananya dalam mewujudkan dan menjaga demokrasi maka perlu adanya kebebasan pers. Maka dari itu harus ada peraturan hukum yang jelas untuk mengatur kebebasan pers tersebut serta adanya penegakan hukum tersebut secara baik.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik. Krisis Masa Kini dan Orde Baru. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 2003. Basuki, Wishnu. Pers dan Penguasa. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. 1995. Budiardjo, Miriam. Dasar-dasar Ilmu Politik.
Djuroto, Totok. Penerbitan Pers Bandung. PT Remaja Rosdakarya. Bandung. 2000. Efendi, Amran. Bunga Rampai Peranan Pers Indonesia Dalam Laju Pembangunan. Yayasan Pembinaan dan Pengembangan Karya Generasi Muda Indonesia. Medan. 1983. Eisenstadt, S N. Revolusi dan Transformasi Masyarakat. CV Rajawali. Jakarta. 1986 Fatah, Eep Saefullah. Penghianatan Demokrasi Ala Orde Baru. PT Remaja Rosdakarya. Bandung. 2000. Hidayat, Dedy N. Pers Dalam Revolusi Mei, Runtuhnya Sebuah hegemoni. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2000. Hoogerwerf, A. Politikologi, Pengertian dan Problem-problemnya. Erlangga. Jakarta. 1985. Imawan, Riswanda. Desentralisasi, Demokrtaisasi dan Pembentukan Good Governance, Dalam Syamsudin Haris Desentralisasi, Demokratisasi dan Akuntabilitas Pemerintahan Daerah. AIPI dan Pathnership For Governance Reform In Indonesia. Jakarta. 2001. Indrawati, Srimulyani. Kapitalisme Global dan Krisis Kepercayaan Terhadap Rezim Soeharto, dalam Pers Dalam Revolusi Mei, Runtuhnya Sebuah Hegemoni. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2000. Muis, A. Titian Jalan Demokrasi, Peranan Kebebasan Pers Untuk Budaya Komunikasi Politik. Kompas. Jakarta. 2000. Muis, A Dkk. Humanisme dan Kebebasan Pers. Kompas. Jakarta. 2001.

Nimmo, Dan. Komunikasi Khalayak dan Efek. PT Remaja Rosda Karya. Bandung. 2000.
Oetama, Jakob. Pers Indonesia, Berkomunikasi Dalam Masyarakat Yang Tidak Tulus. Kompas. Jakarta. 2001. Pamungkas, Sri Bintang. Dari Orde Baru ke Indonesia Baru Lewat Reformasi Total. Erlangga. Jakarta. 2001.

Soemarjan, Selo. Kisah Perjuangan Reformasi. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. 1999 Suwardi, Harsono. Peranan Pers Dalam Politik Indonesia. Sinar Harapan. Jakarta. 1993. Sumono, Mustofa. Kebebasan Pers Fungsional Sebagai Salah Satu Sarana Perjuangan Kemerdekaan di Indonesia. Yayasan Idayu. Jakarta. 1978. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1967 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1982 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers Sebagai Mana Telah Diubah Dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1967. http//www.kompas.com

Rabu, 20 Mei 1998 Puluhan Ribu Mahasiswa "Duduki" DPR Jakarta, Kompas Puluhan ribu mahasiswa dari puluhan perguruan tinggi di wilayah Jabotabek, Selasa (19/5), "menduduki" gedung DPR/ MPR. Mereka bukan saja memadati pelataran DPR, tapi juga menaiki kubah gedung, memenuhi Kompas/ed taman-taman, loronglorong maupun ruangan MENDUDUKI GEDUNG DPR/MPR - Puluhan ribu mahasiswa lobi. Ini merupakan Selasa (19/5) mendatangi dan "menduduki" Gedung DPR/MPR demonstrasi terbesar Senayan, Jakarta. Mereka bukan hanya menduduki, dalam arti yang pernah dilakukan 'menguasai' gedung itu, melainkan menduduki dalam arti harfiah. mahasiswa selama 30 Mereka benar-benar duduk di atas kubah Gedung DPR/MPR. tahun terakhir di Gedung DPR/MPR. Sampai Rabu dini hari, ribuan mahasiswa masih tetap bertahan di situ. Suasana malam hari mirip pasar malam, karena seluruh mahasiswa secara bersemangat tetap melakukan aksinya lewat orasi, pembacaan puisi dan sebagainya. Di arena ini pun dibangun stan konsumsi yang merupakan sumbangan berbagai pihak yang bersimpati terhadap perjuangan mahasiswa. Sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Fosko 66, antara lain menyumbang ribuan nasi bungkus dan satu mobil boks minuman air mineral. Sementara itu suasana tengah malam di kawasan Thamrin-Sudirman-Silang Monas mulai dipenuhi barikade kawat berduri, ban-ban bekas, dan puluhan panser maupun tank bersama kawalan voorrijder. Panser-panser juga disiagakan, antara lain di seluruh sudut Silang Monas, Jl Ir H Juanda sampai Jalan Veteran. Sementara jalan di depan Istana Merdeka diblokir. Ratusan aparat keamanan juga siap siaga di seluruh kawasan itu. Penjagaan ini kemungkinan untuk mengantisipasi rencana aksi turun ke alan yang berlangsung di seluruh Indonesia menyambut Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei.

Kamis, 14 Mei 1998 Jakarta Dilanda Kerusuhan Massa Jakarta, Kompas Kerusuhan massa yang diwarnai aksi perusakan dan pembakaran bangunan dan kendaraan bermotor melanda sebagian Jakarta, Rabu (13/5). Kerusuhan bermula dari kawasan di sekitar Kampus Trisakti yaitu Jalan Daan Mogot, Jalan Kyai Tapa, Jalan S Parman. Menjelang sore hari aksi perusakan dan pembakaran meluas ke kawasan Bendungan Hilir, Kedoya, Jembatan Besi, Bandengan Selatan, Tubagus Angke, Semanan, Kosambi. Massa yang berdiam di kawasan sekitar kampus Trisakti mulai menyemut sekitar pukul 11.30 WIB. Ribuan mahasiswa Trisakti yang sedang mengadakan aksi berkabung atas gugurnya rekan-rekan mereka dengan disiplin dan tegas melarang mahasiswa keluar kampus atau mendekati pagar kampus, untuk menghindari insiden yang tak diinginkan. Sekitar pukul 12.00 WIB terjadi pembakaran sebuah truk sampah di perempatan jalan layang. Massa kemudian melempari barisan aparat yang memblokir jalan di depan Gedung Mal Ciputra dengan batu, botol dan benda lainnya. Mereka juga mencabuti dan merusak rambu-rambu lalu lintas maupun pagar pembatas jalan. Aparat kemudian mengeluarkan rentetan tembakan peringatan dan gas air mata, yang membuat massa tunggang langgang. Di Jl Daan Mogot, massa mengamuk dengan membakar dan merusak gedung maupun mobil. Situasi memprihatinkan terlihat di parkiran mobil yang terletak di belakang gedung Mal Ciputra. Area ini biasa digunakan sebagai tempat parkir mahasiswa Trisakti maupun Tarumanegara. Sekitar 15 mobil hangus terbakar dan sembilan lainnya hancur total. Isi mobil telah dijarah terlebih dahulu oleh massa sebelum dihancurkan. Massa juga membakar sebuah bus yang berada di area parkir. Buku-buku kuliah, diktat, tanda identitas mahasiswa tampak berserakan di antara bangkai mobil. Di lintasan kiri maupun kanan Daan Mogot, kaca-kaca gedung hancur berantakan. Tiga kios yang berada di pompa bensin hangus terbakar. Di area parkir PT Putra Surya Multidana, enam mobil dibakar dan satu dirusak. Hotel Daan Jaya hangus terbakar dan kobaran apinya mulai menyentuh ke gedung di belakangnya, yaitu sebuah diskotek. Gedung BCA, rumah bilyar, dan sejumlah gedung yang berada di jajarannya ikut jadi korban amukan massa. Sekitar pukul 15.30 WIB tiga helikopter terbang rendah dan berputar-putar meminta agar massa yang berada di kawasan Daan Mogot tidak berkerumun dan pulang ke rumah. Di Jl S Parman, khususnya di depan Mal Ciputra, Pasukan Huru-hara (PHH) berseragam hitam menutup hampir semua badan jalan. Kekuatan aparat yang semula sekitar 200 orang

terus bertambah lapisannya. Bentrokan antara aparat dan massa berlangsung mulai siang hingga sore hari yang menyisakan batu-batu dan pecahan beling/botol di seluruh badan jalan. Menjelang maghrib, massa masih terus bergerombol di pinggiran jalan layang Grogol dan di depan Ukrida. Di Jl Kyai Tapa, massa melempari petugas keamanan dengan batu maupun botol. Aparat yang mengintai di Pos Polisi Grogol membalasnya dengan tembakan dan gas airmata serta semburan water canon. Sebuah kios oli di pompa bensin Jl Kyai Tapa terbakar habis. Sebuah truk besar B-9856-HB yang dinaiki banyak massa dengan kibaran bendera Merah Putih sengaja didorong ke arah petugas. Dengan menggunakan ganjal, truk dijalankan tanpa sopir dan diarahkan ke pos polisi. Namun luput, truk terus meluncur ke arah kerumunan massa yang dijaga ketat aparat keamanan dari Korps Marinir. Massa yang melihat tak menduga truk itu tak ada sopirnya. Baru setelah makin dekat, massa sadar dan sambil berteriak-teriak berusaha menghindar. Dua warga tertabrak dan langsung tewas. Mayatnya dilarikan ke RS Sumber Waras. Truk baru berhenti setelah menabrak trotoar. Massa kemudian membakar truk itu. Nama kedua korban tidak diketahui, karena tidak ada identitas apa pun di kantung masing-masing. Dari data di Pos Kesehatan Universitas Trisakti sampai sekitar pukul 16.00 WIB sedikitnya sembilan orang terkena tembakan. Di klinik, luka-luka korban yang terdiri dari masyarakat umum, pelajar dan mahasiswa tersebut dijahit oleh tim kesehatan. Data tersebut belum termasuk mereka yang terluka dalam insiden di Jl Daan Mogot. Menurut seorang paramedis yang merawat korban, hanya tiga orang yang terkena tembakan peluru karet, namun lainnya terkena peluru tajam. Mereka adalah Dominic (terkena bahu), Rusman (paha kiri), Nju siswa STM Pluit (dada kiri), Junaedi (kepala), Suhemi (dada kiri), Cahyadi (kepala), Dahlan, Uke (kepala), Samuel Napitupulu dan Muhammad Ikhsan terkena peluru tajam pada bagian pundak belakang. Massa juga menyerang pos polisi Grogol dengan lemparan batu. Untuk membubarkan massa yang terus menyerang, sesekali aparat keamanan yang berjaga di depan pos polisi menembakkan senjata ke udara dan gas air mata. Namun, setelah tembakan selesai, massa kembali mendekati pos dan melemparinya. Sudirman-Benhil. Kerusuhan massa meletus di kawasan bisnis Jl Jenderal Sudirman, tepatnya di depan Gedung Wisma GKBI, Gedung BRI I dan II, serta pasar dan pusat pertokoan Bendungan Hilir (Benhil). Kerusuhan mengakibatkan sedikitnya dua ruko di pertokoan Benhil rusak dan dua mobil terbakar. Lalu lintas dari arah jembatan Sudirman ke Semanggi dan sebaliknya terhenti sekitar dua jam. Kerusuhan bermula ketika ratusan mahasiswa Unika Atma Jaya menggelar aksi keprihatinan dan duka cita bagi para mahasiswa yang menjadi korban dalam insiden di Universitas Trisakti, sekitar pukul 13.00. Aksi ini disambut ratusan pegawai yang berkantor di depan kampus Unika Atma Jaya dan warga yang tinggal di kawasan Benhil dan seputar

kampus. Gabungan pegawai dan warga itu berdiri di depan Gedung BRI I dan II, yang berhadapan dengan Kampus Unika Atma Jaya. Puluhan aparat keamanan dari Polri membubarkan kerumunan warga, yang disambut lemparan batu. Gas air mata ditembakkan dan aparat pun mengejar orang-orang yang dicurigai melakukan pelemparan. Akibatnya, para pegawai berlarian masuk kantor kembali. Namun konsentrasi warga tetap terbentuk di depan Gedung BRI I dan II. Sementara itu, di pertigaan jalan di depan pertokoan Benhil, massa yang berkumpul melempari polisi dengan batu. Sekitar pukul 16.15, berdatangan pasukan PHH dengan berjalan kaki dari arah Jl Sudirman, diikuti sebuah truk pengendali massa. Jakarta Barat. Selepas pukul 18.00 WIB keberingasan massa mulai muncul di berbagai kawasan, terutama di Jakarta Barat. Di Jl Bandengan Selatan, Tubagus Angke, dan Jembatan Dua, massa mulai menjarah rumah-rumah warga. Beberapa toko bahkan dibakar. Di Bojong, sebuah pasar swalayan mini dibakar massa. Di Jl Lingkar Luar Barat, massa menghadang dan menjarah setiap kendaraan yang melintas. Massa juga menghancurkan Mal Puri Indah dan Green Garden. Hingga larut malam, pembakaran gedung, mobil dan penjarahan toko masih berlangsung, terutama di sekitar kawasan Angke, Jakarta Utara. Suasana mencekam masih ditambah padamnya lampu penerangan jalan dan gedung-gedung. Kerumunan massa tampak di sepanjang Jl Daan Mogot ke arah Cengkareng. Di jalan tersebut, sekitar 500 meter dari Stasiun TV Indosiar terlihat sebuah sedan teronggok habis terbakar. Di Taman Harapan Permai, sebuah pertokoan dan rumah duka dibakar massa. Sementara itu, nyala api terlihat di beberapa tempat di Jakarta Utara, seperti Gedongpanjang, Angke, dan Jembatan Tiga. Wilayah-wilayah tersebut tampak gelap. Suasana lalu lintas di jalan-jalan seperti Gajahmada dan Hayamwuruk yang biasanya sampai pukul 24.00 WIB masih ramai, Rabu malam sekitar pukul 20.00 WIB sudah sangat lengang. Hanya satu dua kendaraan yang melintas. Di atas jalan tol depan Taman Harapan Permai, beberapa pengendara mobil dan motor memarkir kendaraannya. Di samping pengemudinya hendak melihat peristiwa, banyak di antara mereka adalah warga sekitar yang takut kembali pulang ke rumah. Masih di Jl Daan Mogot, menjelang pukul 22.00 WIB kerusuhan sudah memasuki wilayah Kodya Tangerang, yaitu di wilayah Batuceper. Kerusuhan juga terjadi di Taman Semanan dan Kosambi, Jakbar. (myr/ush/gg/uu/bdm/oki/msh/tra/we/mul/nn/bb/cc/lom)

Kamis, 14 Mei 1998

Selamat Jalan Bunga Reformasi "SAYA menangis setelah membaca berita tadi pagi tentang tewasnya lima mahasiswa Universitas Trisakti dan beberapa mahasiswa lainnya yang luka-luka akibat serangan aparat. Saya hanya seorang ibu rumah tangga, sangat mengutuk perlakuan represif itu dan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas peristiwa ini." Kata-kata itu ditulis dengan tulisan tangan, dikirim ke Redaksi Kompas lewat faksimili oleh Nyonya Kurnia Indawati Nusanto. Sampai pukul 17.00 WIB petang, lebih dari 150 faksimili berisi ucapan belasungkawa untuk keluarga korban diterima Kompas. Pesan lewat faksimili itu masih terus mengalir, belum lagi yang melalui E-mail. Pesan datang baik dari perorangan, seperti ibu rumah tangga, pekerja kantor, anak-anak, pejabat, maupun dari lembaga swadaya masyarakat, kelompok profesi dan lain-lain. Satu faksimili bisa ditandatangani satu sampai puluhan orang. Keluarga korban yang tengah berduka tidak perlu merasa sendirian. Semua pesan itu mengirim doa, simpati, cinta, dan belasungkawa mendalam. Di lain pihak juga kecaman keras terhadap tindakan aparat.

***
DARI bilik-bilik rumah tangga di berbagai penjuru daerah, gedung-gedung perkantoran tinggi di Jakarta, getaran perasaan dan airmata seperti tertumpah lewat suratsurat itu. "Saya beserta keluarga dan rekan-rekan di Cilacap sangat shock dan terpukul dengan insiden Trisakti kemarin," begitu tulis keluarga Toga Pangaribuan. "Saya seorang ibu rumah tangga, membaca tewasnya enam orang mahasiswa Trisakti, saya sangat sedih. Harap keenam mahasiswa tersebut diusulkan menjadi pahlawan nasional," ungkap Ibu Ida, beralamat di Meruya Utara, Jakarta. Ibu rumah tangga lain, Ibu Sabar dari Kalimalang, Jakarta, menulis, " ...perasaan saya hancur. Apakah aparat keamanan pemerintahan Indonesia bertindak membabi-buta melaksanakan perintah atau bayaran?" Suara-suara para ibu rumah tangga, karyawan, atau mereka yang mengaku sebagai orang kebanyakan itu umumnya tanpa pretensi, mengungkapkan apa adanya apa yang mereka pikir dan rasakan. Beberapa nama yang cukup dikenal masyarakat, dari kalangan profesional, penegak hukum, pengajar, banyak yang mengirimkan selain ucapan bela sungkawa juga ungkapan hati mereka, melepaskan diri dari latar belakang sosial mereka sehari-hari. Mereka mengungkapkan diri sebagai manusia. "Duka kami adalah duka para ibu yang ikhlas, perantara kehidupan anak-anak kami/Duka kami adalah duka para ibu yang penuh harapan menyaksikan pertumbuhan anak-anak kami/ Duka kami adalah duka para ibu yang dengan susah payah menanamkan

nilai-nilai pada kehidupan mereka/Duka kami adalah duka para ibu yang bangga menyaksikan api-api kehidupan kami menghangati bumi, mewartakan nurani mereka/Duka kami adalah perihnya hati mendapatkan api kehidupan telah dimatikan dengan paksa/Duka kami tak bisa diobati: tidak juga dengan berubahnya dunia..." Larik kata-kata itu dikirim Kelompok Ibu Berduka, ditandatangani antara lain oleh Henny Supolo Sitepu, Lelyana Santosa, Niniek L. Karim, Joy Ramedhan, Arie Triadi, dan lain-lain. Mereka berencana segera menemui Kapolri dan para pejabat berwenang untuk menyatakan duka mereka. Komunitas Utan Kayu, ditandatangani antara lain Goenawan Mohamad, Sitok Srengenge, Ahmad Sahal, Asikin Hasan, dan puluhan nama lain mengeluarkan "Deklarasi Utan Kayu". Isinya antara lain: "Bersama-sama dengan para pemimpin masyarakat, seperti Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, Emil Salim, dan Ali Sadikin, kami menyerukan dilangsungkannya masa berkabung atas gugurnya para pejuang reformasi, dengan mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang di depan rumah masing-masing selama tujuh hari."

Rabu, 13 Mei 1998

Insiden di Universitas Trisakti


Enam Mahasiswa Tewas Jakarta, Kompas Enam mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, tewas terkena peluru tajam yang ditembakkan aparat keamanan sewaktu terjadi aksi keprihatinan ribuan mahasiswa yang berlangsung di kampus Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, Selasa (12/5). Keenam mahasiswa itu tertembak sewaktu berada di dalam kampus oleh berondongan peluru yang Kompas/arb diduga ditembakkan oleh aparat yang berada di jalan layang Grogol (Grogol fly over). JUMPA PERS - Rektor Universitas Puluhan mahasiswa lainnya menderita lukaTrisakti Prof Dr Moedanton Moertedjo luka berat dan ringan.Nama para korban Rabu (13/5) dinihari menjelaskan terjadinya adalah Elang Mulia Lesmana (Fakultas insiden di Universitas Trisakti, di Markas Arsitektur, angkatan 1996), Alan Mulyadi Kepolisian Daerah (Mapolda) Metro Jaya. (Fakultas Ekonomi, angkatan 96), Heri Ia didampingi Pangdam Jaya Mayjen TNI Heriyanto (Fakultas Teknik Industri Jurusan Sjafrie Sjamsoeddin (kiri) dan Kapolda Mesin, angkatan 95) luka tembak di Metro Jaya Mayjen (Pol) Hamami Nata. punggung, Hendriawan (Fakultas Ekonomi Dalam insiden itu, enam mahasiswa Trisakti Jurusan Manajemen, angkatan 96) luka tewas, puluhan lainnya luka-luka. tembak di pinggang, Vero (Fakultas Ekonomi, angkatan 96), dan Hafidi Alifidin (Fakultas Teknik Sipil, angkatan 95) luka tembak di kepala. Menurut rencana, jenazah akan disemayamkan di gedung rektorat Universitas Trisakti hari Rabu pukul 08.00 WIB ini, sementara tempat dan waktu pemakaman belum ditentukan. Jumpa pers oleh Panglima Kodam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin yang sedianya akan dilangsungkan pukul 23.00 WIB di Markas Polda Metro Jaya, baru dimulai Rabu dinihari pukul 01.30 WIB, dan hadir pula Kapolda Metro Jaya Mayjen (Pol) Hamami Nata, Kasdam Jaya Brigjen TNI Sudi Silalahi, Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) Jaya Letkol (Inf) DJ Nachrowi, dan Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Polda Metro Jaya Letkol (Pol) Edward Aritonang. Hingga berita ini diturunkan pukul 02.30, jumpa pers masih berlangsung.

Dalam jumpa pers itu hadir Rektor Universitas Trisakti Prof Dr Moedanton Moertedjo yang menegaskan, enam mahasiswa tewas dalam insiden di Universitas Trisakti. Kapolda Metro Jaya Mayjen (Pol) Hamami Nata menyatakan kepada wartawan, kematian enam mahasiswa itu masih diteliti, sambil menunggu hasil visum et repertum. "Karena polisi hanya menggunakan tongkat pemukul, peluru kosong, peluru karet, dan gas air mata." Ketua Crisis Centre Universitas Trisakti, Adi Andojo Soetjipto SH dalam jumpa pers, Selasa malam, mengemukakan, Universitas Trisakti akan mengajukan protes keras kepada pihak berwajib khususnya Kepala Kepolisian RI (Kapolri) dan Menhankam/Pangab atas kejadian itu, dan akan melakukan konsultasi dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Kompas/arb

JENGUK KORBAN - Dekan Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Jakarta, Adi Andojo, Selasa (12/5) malam menjenguk mahasiswa yang menjadi korban tertembak aparat keamanan di Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta. Adi Andojo berbincang dengan Alexander, mahasiswa semester IV Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti yang tertembak di leher kirinya.

"Kita sudah bilang aparat jangan represif, tapi kok seperti ini. Mahasiswa saya ditembaki dengan peluru tajam, dan itu berlangsung di dalam kampus. Padahal seharusnya ada prosedurnya. Kok ini tiba-tiba pakai peluru tajam, dan mereka (mahasiswa) sudah berada di dalam kampus. Padahal mahasiswa tidak melawan, tidak melempar batu, dan tidak melakukan kekerasan. Mahasiswa saya itu sudah berangsur-angsur pulang ke kampus," kata Adi. Menurut Adi Andojo, ia ikut mengawasi sewaktu mahasiswa melakukan unjuk rasa sampai di luar kampus. "Waktu itu mahasiswa hendak menuju ke DPR, tapi kemudian dihalang-halangi pasukan keamanan yang awalnya selapis, kemudian datang berlapis-lapis. Tetapi saya berhasil menahan mereka untuk berhenti di depan bekas kantor Wali Kota. Bahkan Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Jakarta Barat, Letkol (Pol) Timur Pradopo, mengakui dan mengucapkan terima kasih atas ketertiban yang ditunjukkan mahasiswa. Jadi ini diakui sendiri oleh Kapolres," katanya. Selanjutnya, menurut Adi, pihak mahasiswa bersedia mundur bila pihak keamanan juga mundur. "Akhirnya mahasiswa saya bubar dengan tertib dan mereka semua kembali ke kampus. Bahkan saya merasa itu sudah selesai, sehingga saya pulang ke rumah," ujarnya. Ternyata Adi kemudian mendapat laporan bahwa ada seorang mahasiswa yang tertembak kepalanya. Tak lama kemudian ia memperoleh kabar bahwa empat mahasiswa

Trisakti meninggal dunia. "Saya telah melihat jenazah mereka dengan mata kepala saya sendiri," katanya. Menurut Adi, bekas darah yang tercecer di dalam kampus menunjukkan bahwa para mahasiswa itu jelas-jelas ditembak di dalam kampus. Di lokasi itu juga kaca-kaca pecah karena tembakan. Wakil Ketua Komnas HAM Marzuki Darusman, yang hadir di Kampus Universitas Trisakti, Grogol, sekitar pukul 22.00 WIB, mengatakan, adanya mahasiswa yang tewas merupakan bukti telah terjadinya serangan terhadap kemanusiaan. Keterangan yang sama juga disampaikan Albert Hasibuan, anggota Komnas HAM. Langkah pertama yang perlu dilakukan, kata Marzuki, adalah menenangkan situasi dan mencari penjelasan selengkapnya mengenai duduk perkara yang sebenar-benarnya, yang langkah-langkahnya akan didiskusikan dengan para pejabat universitas. Sampai berita ini diturunkan, sekitar 200 mahasiswa masih menunggu di sepanjang koridor RS Sumber Waras, menjaga rekan-rekan mereka yang masih dirawat di Unit Gawat Darurat, maupun Kompas/js menjaga jenazah rekan mereka yang disemayamkan. Suasana memilukan KORBAN BENTROKAN - Seorang mahasiswi terlihat di sekitar kamar jenazah yang tergeletak di jalan setelah pecah bentrokan dipenuhi jerit dan isak tangis keluarga antara petugas keamanan dan para mahasiswa korban. Universitas Trisakti dalam unjuk keprihatinan di depan Kampus Universitas Trisakti, Jakarta, Keluarga korban meninggal Selasa (12/5) petang. terlihat sangat terpukul dan tidak mau dimintai keterangan. Ketika Adi Andojo mulai menemui korban di ruang perawatan, keluarga korban yang sudah tidak sabar langsung menyerbu masuk ruangan. Jeritan tangis haru pun tak tertahankan ketika mereka melihat jenazah anak-anaknya. Keluarga korban sampai tengah malam masih menunggu jenazah di sekitar kamar jenazah, mereka masih menunggu pengaturan selanjutnya. Hampir terjadi insiden di kamar jenazah, ketika Komandan Polisi Militer Kodam Jaya (Danpomdam Jaya) Kolonel CPM Hendardji pukul 21.45 WIB datang ke kamar jenazah untuk mencek mahasiswa yang tewas. Semula mahasiswa tidak memberikan izin, tetapi setelah dibujuk dosen akhirnya mereka mengizinkan. Namun pengekan itu dilakukan secara tertutup. ma/myr/gg/vik/iie/ssd/msh/ uu/bb/bdm/cc/lom/bw/oki/boy/rh)

***

Jumat, 15 Mei 1998 Perusuh Menjarah

Kompas js/arb

KERUSUHAN - Penjarahan atas toko-toko seperti terlihat di Jalan Wahid Hasyim, Tanahabang, dan pembakaran seperti terjadi di Jalan Samanhudi, Pasar Baru, mewarnai kerusuhan massa di Jakarta, Kamis (14/5). Jakarta, Kompas Gelombang kerusuhan di Jakarta, Kamis (14/5), memasuki hari kedua, diwarnai perusakan, pembakaran, dan penjarahan dan perampokan di sentra-sentra perdagangan di seluruh wilayah Jakarta. Langit Jakarta diselimuti kabut hitam akibat pembakaran ratusan gedung, pasar, toko, mobil, dan motor. Situasi berangsur terkendali menjelang tengah malam.Amuk massa terjadi di depan Kampus UI Salemba, sekitar pukul 12.00 WIB. Mereka mencabuti pagar pembatas Top of Form

Sekitar pukul 13.25 WIB sepasukan Marinir TNI AL datang menenangkan massa. Bersama-sama mereka mulai membersihkan kerusakan-kerusakan di jalan. Kemudian massa ditahan oleh Marinir di perempatan Jl Salemba Raya-Matraman Raya. Sisi Jl Matraman Raya dibarikade satuan PHH Batalyon Infantri 202 dan Jl Matraman Proklamasi oleh satuan Brimob Polda Metro Jaya. Namun bentrokan di kawasan itu tak dapat dihindarkan. Dua orang tewas dan dua orang dalam keadaan kritis kena tembak di sekitar Jl Pramuka dan Jl Matraman Raya, Jakarta Timur. Kedua orang yang tewas adalah Arif Ansari (25) kena peluru di pinggang, Andri Priono (18) siswa SMU Diponegoro kelas 1 luka di dada. Dua orang yang dalam keadaan kritis adalah Abdul Arief (16), dan Abdullah (16) masing-masing kena peluru di kaki kanan dan bagian leher. Kondisi seluruh korban telah dikonfirmasi pihak RSCM. Sementara itu, tujuh kendaraan di depan Polsek Matraman, terdiri dua mobil derek, empat mobil penumpang, dan sebuah sepeda motor plat merah B 7516 ES ludes dibakar massa, termasuk sebuah jip karavan milik URC (unit reaksi cepat) Polri. Selain itu enam gedung perkantoran dan perdagangan lainnya rusak berat akibat timpukan batu bertubi-tubi. Di kawasan Pegangsaan-Proklamasi-Diponegoro, sejumlah gedung hancur dilempari, di antaranya Gedung Astra Mobil, Gedung BII, seluruh toko di kompleks Megaria, termasuk pasar swalayan Hero, dan pertokoan di apartemen Menteng Prada. Semua barang mulai dari makanan-minuman, tabung gas, gula, buah-buahan, kursi, cash register, komputer, tabung gas, dispenser, blangkon, sampai kain batik dan jas habis digasak. Pos polisi di bawah jembatan layang Manggarai, beserta mobil dan motor yang diparkir hangus terbakar. Setiap ada orang yang berhasil menjarah barang berharga dan besar seperti televisi, kulkas atau brandkas, massa penonton memberi tepuk tangan dan semangat. Setelah puas menjarah barang-barang, gedung swalayan Hero dibakar. Massa bergerak ke arah apartemen Menteng Prada dan melakukan hal serupa. Anak-anak kecil, ibu-ibu berbaur bersama pria dewasa menjarah. Seluruh barang yang ada di pertokoan Menteng Prada dan Golden Truly, mulai dari sepatu, kaca mata, bola kaki, mainan anak, baby walker, semua habis. Sebuah ATM Bank Arya dijungkirbalikkan dan isinya dikuras.

Semanggi-Sudirman Kerusuhan di Kawasan Semanggi-Sudirman mengakibatkan seorang pemuda terluka akibat tembakan peluru karet di bahu kanannya. Tembakan dilepaskan aparat yang berusaha menghalau massa yang berkerumun di jembatan Semanggi ke arah Jl Sudirman. Namun langkah simpatik PHH terhadap ribuan massa pengunjuk rasa, berhasil menenangkan keadaan sehingga tidak ada kerusakan gedung. Massa yang berkerumun di muka gedung BRI I dan II berkumpul sejak sekitar pukul 12.00 WIB. Mereka sempat membakar tiga ban di jalan raya dan mengajak mahasiswa Universitas Katolik Atma Jaya, yang saat itu sedang menggelar aksi di halaman

depan kampus, untuk keluar dan bergabung bersama massa. Namun para mahasiswa menolak untuk ke luar bersama-sama. Sebagian mahasiswa berkumpul di hall B, tapi sebagian lagi turut bergabung bersama massa. Ketika sembilan panser PHH melintas Sudirman menuju ke arah Bundaran Hotel Indonesia, massa memberi jalan dan PHH yang berada di dalamnnya melambai-lambaikan tangan. Massa beberapa kali hampir bentrok dengan aparat kepolisian, tetapi dihalanghalangi petugas Kodam Jaya. Aparat kepolisian beberapa kali melepaskan tembakan menghalau massa. Karena marah, massa kemudian mulai menjebol rambu-rambu lalu lintas, membongkar papan-papan arah jalan yang dipasang di sisi pagar jembatan Semanggi. Sekitar pukul 15.30 WIB, 18 panser PHH Kodam Jaya berjalan secara konvoi melintasi massa, menuju utara. Secara tertib massa memberi jalan pada rombongan panserpanser tersebut. Menjelang pukul 17.30 WIB, massa berangsur-angsur meninggalkan lokasi. Karena tidak ada angkutan umum yang beroperasi, warga Jakarta terpaksa jalan kaki. Pusat-pusat pertokoan di kawasan Pasarbaru, habis dirusak dan dibakar massa. Harco yang terletak di Jl Samanhudi ludes dilalap api, bioskop Krekot dirusak, dan berbagai gedung bank dan pertokoan lainnya rusak parah. Massa terus bergerombol dan membakari apa saja, termasuk kendaraan bermotor di Jl Gunung Sahari, kawasan Sawahbesar, Jl Letjen Suprapto, kawasan Cempaka Putih, Pasarsenen, Jl A Yani, kawasan Manggadua, Jl Palmerah. Di kawasan Pasarbaru, Senen, Cempaka Putih, massa bergerombol di jalan-jalan, dan menjarah barang-barang dari pertokoan. Kerusuhan juga melanda Jl Ciledug Raya. Penjarahan menimpa sejumlah toko di sepanjang jalan itu. Pasar Swalayan Hero, Ramayana, dan Plaza Cipulir tidak lepas dari jarahan massa dan kemudian dibakar. Namun beberapa pompa bensin yang langsung menghentikan operasinya, luput dari api. Sebanyak 40 mobil, 30 di antaranya kendaraan umum dan puluhan sepeda motor dibakar di tengah jalan. Massa termasuk di antaranya anak-anak dan perempuan menjarah toko-toko yang mereka bobol. Teralis besi dan rolling door dibuka paksa beramai-ramai, lalu mereka masuk dan menyikat barang yang ada. Ada yang dengan cepat membawa televisi, ada yang bersama menggotong lemari es. Tampak pula seorang pria memikul kasur busa dari sebuah toko perlengkapan rumah tangga. Di pusat perdagangan Gajah Mada, massa bergerak sejak pagi dari arah Grogol, melewati Jl Kiai Tapa dan Hasyim Ashary, kemudian masuk ke Jl Gajah Mada. Toko-toko di sepanjang jalan yang mereka lewati dilempari sehingga rusak berat. Sebuah mobil dibakar tak jauh dari kawasan Roxy Mas. Memasuki Jl Gajah Mada massa bergerak ke arah Glodok, bersamaan dengan itu ribuan massa dari jalan-jalan kecil yang ada di sisi Jl Gajah Mada dan Hayam Wuruk keluar dan bergabung.

Aksi penjarahan hanya diawasi aparat keamanan gabungan pasukan dari Kostrad dan PHH Kodam Jaya. Mereka membentuk barisan di mulut jalan menuju Setneg, Bina Graha dan Istana Merdeka. Arus lalu lintas dari Jl Medan Merdeka Timur dan Barat dibelokkan ke Jl Juanda. Aksi penjarahan juga berlangsung di pusat perbelanjaan Golden Truly di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Di kawasan segitiga Senen, Jakarta Pusat, aparat keamanan memblokir jalan-jalan menuju Atrium Senen. Di Jl Cempaka Putih sedikitnya tiga mobil dibakar massa. Sekitar pukul 20.00 WIB, petugas mulai menangkapi sejumlah penjarah di Jl Gajah Mada. (myr/ee/nn/iie/wis/gg/uu/ssd/oki/we/msh/xjb/ken/lom)

Selasa, 19 Mei 1998

Pimpinan DPR:
Sebaiknya Pak Harto Mundur Jakarta, Kompas Demi persatuan dan kesatuan bangsa, pimpinan DPR baik Ketua maupun para Wakil Ketua, mengharapkan Presiden Soeharto mengundurkan diri secara arif dan bijaksana. Demikian ditegaskan Ketua DPR/MPR Harmoko, Senin (18/5) di Gedung DPR/ MPR Jakarta, usai mengetuai Rapat Pimpinan DPR. Harapan disampaikan Harmoko ketika memberikan keterangan pers mulai pukul 15.20 WIB dan hanya berlangsung selama lima menit. Saat membacakan satu halaman keterangan persnya itu, Harmoko didampingi seluruh Wakil Ketua DPR/ MPR yakni Ismail Hasan Metareum, Abdul Gafur, Fatimah Achmad, dan Syarwan Hamid. Berikut keterangan pers yang dikutip selengkapnya: " Pimpinan Dewan dalam rapatnya hari ini (Senin 18/5 - Red) telah mempelajari dengan cermat dan sungguh-sungguh perkembangan dan situasi nasional yang sangat cepat yang menyangkut aspirasi masyarakat tentang reformasi, termasuk Sidang Umum MPR dan pengunduran diri Presiden." "Untuk pembahasan masalah tersebut, besok tanggal 19 Mei 1998 (hari ini - Red) Pimpinan Dewan akan melaksanakan pertemuan dengan Pimpinan fraksi-fraksi. Hasilnya akan disampaikan kepada Presiden Soeharto." "Mekanisme tersebut ditempuh sesuai dengan peraturan Tata Tertib Dewan, karena dalam mengambil keputusan Pimpinan Dewan harus bersama-sama Pimpinan Fraksifraksi." "Dalam menanggapi situasi seperti tersebut di atas, Pimpinan Dewan baik Ketua maupun Wakil-wakil Ketua mengharapkan demi persatuan dan kesatuan bangsa, agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri." "Pimpinan Dewan menyerukan kepada seluruh masyarakat agar tetap tenang, menahan diri, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mewujudkan keamanan ketertiban supaya segala sesuatunya dapat berjalan secara konstitusional." Usai menyampaikan keterangan persnya, Harmoko dengan ekspresi wajah tanpa senyum, bergegas meninggalkan ruangan tanpa bersedia diwawancara lagi. Harmoko

diikuti para wakilnya, kecuali langkah Syarwan Hamid yang terhenti karena diwawancarai puluhan mahasiswa. Bersamaan dengan jumpa pers itu, di halaman Gedung DPR/MPR berlangsung aksi mahasiswa. Ribuan mahasiswa itu menolak untuk dipulangkan meskipun sudah disediakan sejumlah kendaraan bus. Mahasiswa baru bersedia meninggalkan Gedung DPR/MPR setelah Sekretaris Umum Yayasan Kerukunan Persaudaraan Kebangsaan (YKPK) Matori Abdul Djalil turun ke lobi dan mengabarkan pernyataan Harmoko bahwa pimpinan DPR/MPR baik Ketua maupun para Wakil Ketua, mengharapkan Presiden Soeharto mengundurkan diri secara arif dan bijaksana. (pep/rs/ush/iie/ely/Ant/ama/ast)

Selasa, 19 Mei 1998

Ribuan Mahasiswa ke DPR


Mendesak, Diadakannya Sidang Istimewa MPR Jakarta, Kompas Ribuan mahasiswa yang tergabung dari puluhan perguruan tinggi di Jabotabek, hari Senin (18/5), memadati pelataran gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Mereka mendesak pimpinan Dewan untuk mengusulkan kepada MPR agar menyelenggarakan Sidang Istimewa dalam waktu sesegera mungkin.Suasana di DPR sangat marak. Sejak pagi hari secara bergelombang Kompas/js mahasiswa mendatangi gedung DPR dengan bus-bus maupun mobil pribadi. Ribuan mahasiswa ini ada yang TUNTUTAN MAHASISWA - Tuntutan tergabung dalam Forum Komunikasi mengenai pelaksanaan suksesi kepemimpinan nasional menyeruak ke permukaan Senin (18/5). Mahasiswa se-Jabotabek, juga ada yang tergabung dalam Forum Komunikasi Ribuan mahasiswa dari sekitar 50 perguruan tinggi di Jakarta mendatangi Gedung MPR/DPR Senat Mahasiswa Jakarta, maupun yang mewakili organisasi kemasyarakatan untuk mengajukan tuntutan agar Presiden lainnya, seperti PMII, HMI cabang Soeharto mengundurkan diri. Depok, Forum Masyarakat Muslim Indonesia dan lainnya. Delegasi para alumni perguruan tinggi beserta tokoh-tokoh masyarakat dan purnawirawan ABRI yang menamakan dirinya anggota Gerakan Reformasi Nasional (GRN) juga menyampaikan pernyataan bersama yang dibacakan Ketua GRN Prof Dr Subroto. Di antara yang hadir adalah YB Mangunwijaya, Ali Sadikin, Solichin GP, Frans Seda, Rendra, Sri Edi Swasono, Dimyati Hartono, Koesnadi Hardjasoemantri, Mahar Mardjono, Rizal Ramli. Pada saat yang bersamaan, Ketua PP Muhammadiyah Amien Rais juga melakukan dengar pendapat umum dengan Komisi II DPR.

Penjagaan di pintu gerbang utama DPR sangat ketat. Ratusan pasukan Kostrad dan Armed (Artileri Medan) bersenjata lengkap menjaga di segala sisi gedung DPR, dilengkapi sejumlah panser. (myr/ush/bw/gg/uu/wis/ely)