Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN BENIGNA PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH)

DISUSUN OLEH : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kurnia Yulianingrum Oki Widia Nurjayanti Suparningsih Suparti Syarif Fatkhu Rokhman Wahyu Triono P17420208022 P17420208029 P17420208032 P17420208033 P17420208034 P17420208038

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PURWOKERTO 2011

KONSEP DASAR PENYAKIT

BENIGNA PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH)

A. DEFINISI BPH adalah pembesaran glandula dan jaringan seluler kelenjar prostat yang berhubungan dengan endokrin berkenaan dengan proses penuaan,kelenjar prostat mengitari leher kandung kemih dan uretra, sehingga hipertrofi prostat sering menghalangi pengosongan kandung kemih (Tucker, 1998). BPH adalah kondisi patologis yang paling umum pada pria lansia dan penyebab kedua yang sering untuk intervensi medis pada pria di atas usia 60 tahun ( brunner suddart, 2001) Hiperplasia prostat jinak (BPH) menurut adalah penyakit yang disebabkan oleh penuaan. (Price&Wilson, 2005) Brunner & Suddart yang dikutip dari bukunya Smeltzer dan Bare (2001) BPH adalah suatu keadaan dimana prostat mengalami pembesaran memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan cara menutupi orifisium uretra. Hiperplasi prostat adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umum pada pria > 50 tahun) yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretra dan pembiasan aliran urinarius. (Doenges, 1999) Kesimpulan BPH (benign prostatic hyperplasia) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh faktor penuaan, dimana prostat mengalami pembesaran memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan cara menutupi orifisium uretra.

B. ETIOLOGI Menurut Purnomo (2000), hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab prostat hiperplasi, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa

hiperplasi prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasi prostat adalah :
1.

Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan Peranan dari growth factor (faktor pertumbuhan) sebagai pemicu Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel Teori sel stem, menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel

estrogen pada usia lanjut.


2.

pertumbuhan stroma kelenjar prostat.


3.

yang mati. 4. stem sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan.

C. TANDA DAN GEJALA 1. 2. 3. 4. 5.


6.

Peningkatan frekuensi berkemih Nokturia Anyang-anyangan Abdomen tegang Volume urin menurun Aliran urin tidak lancar (Hilangnya kekuatan pancaran saat miksi) Retensi urin Rasa nyeri saat mulai miksi Adanya urine yang bercampur darah (hematuri)

7.
8. 9.

D. PATOFISIOLOGI Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli, dan membungkus uretra posterior. Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa 20 gram. Sjamsuhidajat (2005), menyebutkan bahwa pada usia lanjut akan terjadi perubahan keseimbangan testosteron estrogen karena produksi testosteron

menurun dan terjadi konversi tertosteron menjadi estrogen pada jaringan adipose di perifer. Purnomo (2000) menjelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung pada hormon tertosteron, yang di dalam sel-sel kelenjar prostat hormon ini akan dirubah menjadi dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim alfa reduktase. Dehidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu m-RNA di dalam sel-sel kelenjar prostat untuk mensintesis protein sehingga terjadi pertumbuhan kelenjar prostat. Oleh karena pembesaran prostat terjadi perlahan, maka efek terjadinya perubahan pada traktus urinarius juga terjadi perlahan-lahan. Perubahan patofisiologi yang disebabkan pembesaran prostat sebenarnya disebabkan oleh kombinasi resistensi uretra daerah prostat, tonus trigonum dan leher vesika dan kekuatan kontraksi detrusor. Secara garis besar, detrusor dipersarafi oleh sistem parasimpatis, sedang trigonum, leher vesika dan prostat oleh sistem simpatis. Pada tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat akan terjadi resistensi yang bertambah pada leher vesika dan daerah prostat. Kemudian detrusor akan mencoba mengatasi keadaan ini dengan jalan kontraksi lebih kuat dan detrusor menjadi lebih tebal. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih dengan sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut trahekulasi (buli-buli balok). Mukosa dapat menerobos keluar diantara serat aetrisor. Tonjolan mukosa yang kecil dinamakan sakula sedangkan yang besar disebut divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebut Fase kompensasi otot dinding kandung kemih. Apabila keadaan berlanjut maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. Pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup lama dan kuat sehingga kontraksi terputus-putus (mengganggu permulaan miksi), miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran lemah, rasa belum puas setelah miksi. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksi walaupun belum penuh atau dikatakan sebagai

hipersenitivitas otot detrusor (frekuensi miksi meningkat, nokturia, miksi sulit ditahan/urgency, disuria). Karena produksi urin terus terjadi, maka satu saat vesiko urinaria tidak mampu lagi menampung urin, sehingga tekanan intravesikel lebih tinggi dari tekanan sfingter dan obstruksi sehingga terjadi inkontinensia paradox (overflow incontinence). Retensi kronik menyebabkan refluks vesiko ureter dan dilatasi. ureter dan ginjal, maka ginjal akan rusak dan terjadi gagal ginjal. Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambal. Keluhan iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria menjadikan media pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005)

E. KOMPLIKASI 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Aterosclerosis Infark jantung Impoten Haemorogik post operasi Fistula Striktur Incontensia urin Syok Peningkatan suhu tubuh

10.

Nyeri saat berjalan

F. PATHWAY
Perubahan usia (usia lanjut) Ketidak seimbangan produksi estrogen dan testosteron Kadar Testoteron menurun Kadar Estrogen meningkat

Proliferasi sel prostat

Hiperplasi sel stroma pada jaringan prostat

BPH

Pembedahan RESIKO Pendarahan KEKURANGAN

IMMOBILITAS FISIK RESIKO

KERUSAKAN RESIKO INFEKSI Terputusnya kontinuitas NYERI AKUT jaringan

Sumber: (Doenges,1998; Carpenito, 2000; & NANDA, 2005) G. PEMERIKSAAN PENUNJANG Menurut Doenges (1999), pemeriksaan penunjang yang mesti dilakukan pada pasien dengan BPH adalah : a. Laboratorium 1) Sedimen Urin Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi saluran kemih. 2) Kultur Urin Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi atau sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan. b. Pencitraan 1) Foto polos abdomen

Mencari kemungkinan adanya batu saluran kemih atau kalkulosa prostat dan kadang menunjukan bayangan buii-buli yang penuh terisi urin yang merupakan tanda dari retensi urin.
2) IVP (Intra Vena Pielografi)

Mengetahui kemungkinan kelainan ginjal atau ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis, memperkirakan besarnya kelenjar prostat, penyakit pada buli-buli.
3) Ultrasonografi (trans abdominal dan trans rektal)

Untuk mengetahui, pembesaran prostat, volume buli-buli atau mengukur sisa urin dan keadaan patologi lainnya seperti difertikel, tumor. 4) Systocopy Untuk mengukur besar prostat dengan mengukur panjang uretra parsprostatika dan melihat penonjolan prostat ke dalam rektum.

KONSEP KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN a. Pengkajian Primer 1. Airway Menilai jalan nafas bebas. Apakah pasien dapat berbicara dan bernafas dengan bebas. Jika ada obstruksi maka lakukan : Chin lift / jaw trust Suction / hisap Guedel airway

Intubasi trakhea dengan leher ditahan (imobilisasi) pada posisi netral.

2. Breathing Menilai pernafasan cukup, sementara itu nilai ulang apakah jalan nafas bebas. Jika pernafasan tidak memadai lakukan : Dekompensasi ronga pleura Nafas buatan Berikan oksigen jika ada

3. Sirculation Menilai sirkulasi/ peredaran darah. Sementara itu, nilai ulang apakah jalan nafas bebas dan pernafasan cukup. Jika sirkulasi tidak memadai lakukan : Hentikan peredaran darah eksternal Berikan infuse cairan Segera pasang 2 jalur infuse dengan jarum besar (14-16)

4. Disability Menilai kesadaran dengan cepat,apakah sadar, hanya respon terhadap nyeri atau atau sama sekali tidak sadar. Tidak dianjurkan mengukur GCS. Adapun cara yang cukup jelasa dan cepat adalah Awake Respon bicara Respon nyeri :A :V :P

Tidak ada espon :U 5. Eksposure

Lepaskan baju dan penutuo tubuh pasien agar dapat dicari semua cidera yang mungkin ada, jika adakecurigan cedera leher atau tulang belakang, maka imobilisasi in line harus dikerjakan. b. Pengkajian Sekunder Pengkajian sekunder meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Anamnesis dapat meggunakan format AMPLE (Alergi, Medikasi, Post illnes, Last meal, dan Event/ Environment yang berhubungan dengan kejadian). Pemeriksaan fisik dimulai dari kepala hingga kaki dan dapat pula ditambahkan pemeriksaan diagnostik.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan pasca obstruksi dengan diuresis dari drainase cepat kandung kemih yang terlalu distensi secara kronis. 2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi ( terputusnya kontinuitas jaringan akibat pembedahan ) 3. Kerusakan mobolitas fisik berhubungan dengan kerusakan neurovakuler ( nyeri) 4. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik 5. Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan paparan ling kungan terhadap patogen ( adanya media masuknya kuman akibat prosedur invasif

C. PERENCANAAN

DX I

: Resiko kekurangan volume cairan berhubungan denganpasca obstruksi dengan diuresis dari drainase cepat kandung kemih yang terlalu distensi secara kronis.

Tujuan

: Setelah dilkukan tindakan perawatan proses keperawatan diharapkan kebutuhan cairan dan elektrolitterpenuhi.

NOC

: Fluid balance :

Kriteria hasil

a. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia b. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal c. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi,elastisitas turgor kulit baik d. Membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan Keterangan Skala :

1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan NIC : Fluid Management

a. Pertahankan catatan intake dan outputyang akurat b. Monitor status hidrasi ( klemhan membran mukosa, nadisdekuat ) c. Monitor vital sign d. Monitor cairan atau makanan dan hitung intake kalon harian e. Kolaborasikan pemberian cairan IV f. Masukan oral g. keluarga untuk membantu pasien maka DX II : Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi ( terputusnya kontinuitas jaringan akibat pembedahan ) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang atau hilang. NOC 1 : Level Nyeri

Kriteria hasil a. b. c. d. e. NOC 2

: Laporkan frekuensi nyeri Kaji frekuensi nyeri Lamanya nyeri berlangsung Ekspresi wajah terhadap nyeri Perubahan TTV

: Kontrol nyeri :

Kriteri hasil

a. Mengenal faktor penyebab b. Gunakantindakan pencegahan c. Gunakan tindaka non analgetik d. Gunakan analgetikyang tepat Keterangan Skala :

1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan NIC : Manajemen Nyeri

a. Kaji secara mnyeluruh tentang nyeri termasuk lokasi, dursi, frekuensi, intensitas, dan faktor penyebab. b. Observasi isyarat non verbal dari ketidaknyamanan terutama jika tidak dapat berkomunikasi secara efektif c. Berikan analgetik dengan tepat d. Berikan informasi tentang nyeri, sperti penyebab nyeri,berapa lama akan berakhir, dan antisipasi ketidaknyamanan dri prosedur. e. Ajarkan tekniknon formakologi (misalnya; relaksasi)

DX III

: Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neorovaskuler

Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat meningkatkan mobilisasi pada tingkat yang paling tinggi.

NOC

: Mobility Level :

Kreteria hasil

a. Kesinambungan penampilan b. Memposisikan tubuh c. Gerakan otot d. Gerakan Sendi e. Ambulansi jalan f. Ambulansi kursi roda Keterangan Skala : 1 = Dibantu total 2 = Memerlukan bantuan orang lain dan alat 3 = Memerlukan orang lain 4 = Dapat melakukan sendiri dengan bantuan alat 5 = Mandiri NIC : Exercise Therapy Ambulation

a. Bantu pasien untuk menggunakan fasilitas alat bantu jalan dan cegah kecelakaan atau jatuh b. Tempatkan tempat tidur pada posisi yang mudah dijangkau/ diraih c. Konsultasikan dengan fisioterapa tentang rencana ambulansi sesuai kebutuhan d. Monitor pasien dalam menggunakan alat bantu jalan yang lain e. Intruksikan pasien/ pemberi peleyanan ambulansi tentang teknik ambulansi

DX IV

: Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilitasi fisik.

Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan perawatan diharapkan kerusakan integritas kulit tidak terjadi.

NOC

: Integritas jaringan: kulit dan membran mukosa :

Kriteria hasil

a. Sensasi normal b. Elastisitas normal c. Warna d. Tekstur e. Jaringan bebas lesi f. Adanya pertumbuhan rambut di kuliut g. Kulit utuh Keterangan Skala : 1 = Kompromi luar biasa 2 = Kompromi baik 3 = Kompromi kadang - kadang 4 = Jarang kompromi 5 = Tidak pernah kompromi NIC : Skin Surveilance

a. Observation ekstremitas oedema, ulserasi, kelembaban b. Monitor warna kulit c. Monitor temperatur kulit d. Inspeksi kulit dan membran mukosa e. Inspeksi kondisi insisi bedah f. Monitor kulit pada daerah kerusakan dan kemerahan g. Monitor infeksi dan oedema

DX V

: Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan paparan lingkungan terhadap patogen ( adanya media masuknya kuman akibat prosedur invasif )

Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi.

NOC

: Deteksi infeksi :

Kriteria hasil

a. Mengukur tanda dan gejala yang mengindikasikan infeksi b. Berpartisipasi dalam perawatan kesehatan c. Mampu mengindentifikasi potensial resiko Keterangan Skala :

1 = Selalu menunjukan 2 = Sering menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Jarang menunjukan 5 = Tidak pernah menunjukan NIC : Teaching dises proses

a. Deskripsikan proses penyakit dengantepat b. Sediakan informasi tentang kondisi pasien c. Diskusikan perawatan yang akan dilakukan d. Gambaran tanda dan gejala penyakit e. Instruksikan pasien untuk melaporkan kepada perawatuntuk melaporkan tentang tanda dan gejala yang dirasakan.

D. EVALUASI DX I KRITERIA HASIL NOC : Fluid Balance 1. Memepertahankan urine output sesuai dengan usia 2. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal 3. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas, turgor kulit baik 4. Membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang II berlebihan 1. NOC 1 : Level Nyeri 2. Kaji frekuensi nyeri Lamanya nyeri berlangsung Perubahan TTV NOC 2 : Kontrol Nyeri 1. Mengenal faktor penyebab 2. Gunakan tindakan pencegahan ( 4 ) 3. Gunakan tindakan non analgetik ( 4 ) 4. Gunakan analgetik yang tepat III (4) NOC : Mobility Level 1. Keseimbangan penempilan Memposisikan tubuh 1 = Dibantu total 2 = Memerlukan bantuan orang lain dan alat 1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan KETERANGAN SKALA 1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan

3. Ekspresi wajah terhadap nyeri 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan

2. Gerakan Otot 3. Gerakan Sendi 4. Ambulansi Jalan

3 = Memerlikan orng lain 4 = Dapat melakukan sensiri dengan bantuan alat

IV

NOC : Integritas jaringan kulit dan membran mukosa 1. Sensasi normal 2. Elastisitas normal Warna Tekstur Jaringan bebas lesi

1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan

NOC : Deteksi Infeksi 1. Mengukur tanda dan gejala yang mengindikasikan infeksi Berpartisipasi dalam perawatan kesehatan 2. Mampu mengindentifikasi potensial resiko

1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan

Daftar Pustaka

Carpenito, L. J. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Alih Bahasa Monica Ester. Jakarta : EGC.

Corwin, E. J. 2000. Buku Saku Pathofisiologi. Editor Endah P. Jakarta : EGC.

Doenges, M. E., Moorhous, M. F., & Geissler, A. C. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Alih Bahasa I Made Kariasa dan Ni Made Sumarwati. Jakarta : EGC.

Engram, B. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.

Mansjoer, A., dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapis.

NANDA. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan. Nanda 2005-2006. Editor Budi Santoso. Jakarta: Prima Medika.

Potter, P. A., & Perry, A. G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Prose.c, dan Praktik. Jakarta : EGC.

Price, S. A., & Wilson, L. M. 2005. Pathofsiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Alih Bahasa: Editor Caroline Wijaya. Edisi 4. Jakarta : EGC.

Purnomo, B. B. 2000. Dasar-dasar Urologi. Jakarta : CV Info Medika.

Sjamsuhidajat, R., & de Jong, W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.

Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & Suddarth, Editor Suzane, C. S., Brenda, G. B.Edisi 8. Jakarta : EGC.