Anda di halaman 1dari 12

Sebuah Tinjauan:

Etika DaIam Praktik Akuntansi Manajemen


Dan Akuntansi Keuangan






MAKALAH


OIeh
Tefanny Yosteja
Marvina Aurecianus
Prasaja PriciIIia Sujatmiko




UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN
FakuItas Ekonomi
Program Pendidikan Profesi Akuntansi
2011
I. PENDAHULUAN
Akuntansi memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup perusahaan. nformasi yang
dihasilkan oleh sistem akuntansi menjadi dasar bagi manajemen dalam pengambilan keputusan.
Untuk membuat keputusan yang tepat, manajemen bergantung pada kualitas informasi yang
dihasilkan oleh akuntan.
Akuntan sebagai pemegang kendali atas angka dalam informasi tersebut memiliki posisi yang
krusial di dalam bisnis. nformasi akuntansi dituntut untuk akurat, relevan, dapat diandalkan, dan
memberi manfaat. nformasi tersebut digunakan tidak hanya oleh manajer, tetapi juga oleh
pemegang saham dan pihak eksternal yang berkepentingan dengan perusahaan. Dalam situasi
seperti itu, praktik akuntansi bukan tempat di mana akuntan dapat sengaja memberikan informasi
yang salah, apalagi melakukan praktik kecurangan. Di sinilah etika berperan penting dalam praktik
akuntansi.
Skandal-skandal kecurangan yang terjadi sejak tahun 2001 menurunkan kepercayaan publik
terhadap profesi akuntansi. Kecurangan tersebut menimbulkan perhatian besar terhadap isu etika
di profesi akuntansi. Profesi akuntansi sendiri terdiri dari akuntan publik, akuntan pendidik,
akuntan manajemen, akuntan pajak, akuntan pemerintah. Setiap jenis profesi akuntan memiliki isu
etika tersendiri. Makalah ini membahas isu etika dalam profesi akuntan yang bekerja kepada
pemberi kerja (perusahaan). Akuntan dalam perusahaan dapat dibagi dua, akuntan manajemen
dan akuntan keuangan. Akuntan manajemen menghasilkan informasi untuk pihak internal
perusahaan yaitu manajemen, sedangkan akuntan keuangan menghasilkan informasi bagi pihak
eksternal perusahaan.
Pada makalah ini akan dibahas etika terkait profesi akuntan manajemen dan akuntan keuangan,
praktik-praktik pelanggaran etika yang terjadi di perusahaan dalam akuntansi manajemen dan
keuangan, dan isu pengembangan etika bagi akuntan profesional yang bekerja pada pemberi
kerja.
II. PEMBAHASAN
2.1. Etika DaIam Praktik Profesi Akuntansi Manajemen dan Keuangan
Dalam praktik akuntansi, etika tidak dapat diabaikan. Menghadapi turunnya kepercayaan para
pemakai jasa terhadap profesi akuntan, organisasi profesi akuntan di ndonesia tidak tinggal diam.
Salah satu tindakan yang dilakukan yaitu menetapkan subjek Etika Bisnis dan Profesi sebagai
mata kuliah wajib bagi program pendidikan profesi akuntansi di ndonesia. Selain itu katan
Akuntansi ndonesia sebagai organisasi profesi juga mengeluarkan kode etik profesi bagi akuntan
profesional. Secara umum profesi akuntan manajemen dan keuangan mengacu pada Kode Etik
katan Akuntan ndonesia (A).
Kode Etik A menjelaskan bahwa profesi akuntansi bertujuan untuk memenuhi tanggung-
jawabnya dengan standar profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja tertinggi, dengan
orientasi kepada kepentingan publik. Ada empat kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk
mencapai tujuan tersebut:
1. Kredibilitas
Masyarakat membutuhkan kredibilitas informasi dan sistem informasi
2. Profesionalisme
Diperlukan individu yang dengan jelas dapat diidentifikasikan oleh pemakai jasa akuntan sebagai
profesional di bidang akuntansi
3. Kualitas Jasa
Terdapatnya keyakinan bahwa semua jasa yang diperoleh dari akuntan diberikan dengan standar
kinerja tertinggi
4. Kepercayaan
Pemakai jasa akuntan harus dapat merasa yakin bahwa terdapat kerangka etika profesional yang
melandasi pemberian jasa oleh akuntan
Kode Etik A terdiri dari tiga bagian:
(1) Prinsip Etika;
(2) Aturan Etika; dan
(3) nterpretasi Aturan Etika.
Prinsip etika pada Kode Etik A adalah sebagai berikut:
(1) Tanggung Jawab Profesi
(2) Kepentingan Publik
(3) ntegritas
(4) Objektivitas
(5) Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
(6) Kerahasiaan
(7) Perilaku Profesional
(8) Standar Teknis
Tanggung Jawab Profesi. Sebagai profesional, akuntan mempunyai tanggung jawab kepada
pengguna jasa profesional mereka. Dalam melaksanakan tanggung jawabnya akuntan harus
senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang
dilakukannya. Akuntan harus selalu bertanggung jawab untuk bekerja sama dengan akuntan
lainnya untuk mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat, dan
menjalankan tanggung jawab profesi dalam mengatur diri sendiri.
Kepentingan Publik. Publik dari profesi akuntan yang terdiri dari klien, kreditor, pemerintah,
pemberi kerja, pegawai, investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak lainnya. Kepentingan
publik didefinisikan sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang dilayani akuntan secara
keseluruhan. Ketergantungan ini menyebabkan sikap dan tingkah laku akuntan dalam
menyediakan jasanya mempengaruhi kesejahteraan ekonomi masyarakat dan negara.
Setiap akuntan berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada
publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme.
Semua akuntan mengikat dirinya untuk menghormati kepercayaan publik. Atas kepercayaan yang
diberikan publik kepadanya, akuntan harus secara terus-menerus menunjukkan dedikasi mereka
untuk mencapai profesionalisme yang tinggi. Dalam melaksanakan tugasnya seorang akuntan
harus mengikuti standar profesi yang dititik-beratkan pada kepentingan publik, misalnya pada
akuntansi manajemen, akuntan manajemen memberikan kontribusi terhadap efisiensi dan
efektivitas dari penggunaan sumber daya organisasi.
ntegritas. Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap akuntan harus
memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.ntegritas
merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik. ntegritas mengharuskan seorang
akuntan untuk, antara lain, bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia
penerima jasa.Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan
pribadi.ntegritas merupakan patokan (benchmark) bagi akuntan dalam menguji semua keputusan
yang diambilnya.
Objektivitas. Prinsip objektivitas mengharuskan akuntan bersikap adil, tidak memihak, jujur secara
intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau berada di
bawah pengaruh pihak lain.Apapun jasa atau kapasitasnya, akuntan harus melindungi integritas
pekerjaannya dan memelihara objektivitas.
Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional. Setiap akuntan harus melaksanakan jasa
profesionalnya dengan kehati-hatian, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban
untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan
untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh matifaat dari jasa profesional yang
kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang paling mutakhir.
Kerahasiaan. Setiap akuntan harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama
melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut
tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk
mengungkapkannya.
Perilaku Profesional. Akuntan berkewajiban menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan
profesi.
Standar Teknis. Setiap akuntan harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar
teknis dan standar proesional yang relevan. Standar teknis dan standar profesional yang hams
ditaati akuntan adalah standar yang dikeluarkan oleh lkatan Akuntan ndonesia, nternational
Federation of Accountants, badan pengatur, dan peraturan perundang-undangan yang relevan.
Profesi Akuntan Manajemen sendiri di ndonesia memiliki organisasi bernama nstitut Akuntan
Manajemen ndonesia yang mengatur para akuntan manajemen profesional. MA (nstitute of
Management Accountants) mengeluarkan suatu pernyataan tentang standar perilaku etis untuk
akuntan manajemen. Standar tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kompetensi
a. Menjaga tingkat kompetensi profesional yang memadai dengan meningkatkan
kemampuan dan pengetahuan secara berkesinambungan.
b. Melaksanakan tanggung jawab profesional sesuai dengan hukum, aturan dan standar
teknis yang berlaku.
c. Menyiapkan laporan dan rekomendasi yang jelas dengan melakukan analisa yang
memadai atas informasi yang relevan dan dapat dipercaya.
2. Kerahasiaan
a. Tidak membocorkan rahasia yang didapat dari pelaksanaan pekerjaan kecuali diijinkan
atau secara hukum wajib dilakukan.
b. Memberitahukan kepada bawahan secara memadai tentang kerahasian informasi dan
mengawasi kegiatan mereka untuk menjaga kerahasiaan.
c. Mencegah penggunaan informasi yang diperoleh untuk memperoleh keuntungan yang
tidak etis atau legal baik untuk pribadi atau pihak ketiga.
3. ntegritas
a. Menghindari dan memperingati kemungkinan adanya konflik kepentingan.
b. Tidak melibatkan diri kedalam kegiatan dimana kewajiban pelaksanaannya
disangsikan.
c. Menolak segala hadiah yang dapat mempengaruhi tindakan mereka.
d. Mencegah keterlibatan kegiatan yang dapat menganggu pencapaian tujuan
perusahaan yang etis dan sah.
e. Mengkomunikasikan informasi sesuai yang didapat dalam pelaksanaan pekerjaan baik
itu menguntungkan atau tidak.
f. Mencegah melibatkan diri dalam kegiatan yang dapat mendiskreditkan profesi.
4. Objektivitas
a. Mengkomunikasikan informasi secara objektif dan adil.
b. Mengungkapkan secara utuh seluruh informasi yang relevan atas laporan, komentar,
dan rekomendasi yang dapat mempengaruhi pemahaman penggunanya.
5. Resolusi konfik etika
Dalam pelaksanaan standar perilaku etis, akuntan manajemen mungkin menghadapi
masalah dalam mengidentifikasi perilaku yang tidak etis, atau dalam meyelesaikan konflik
etika. Ketika menghadapi isu-isu etika yang penting, akuntan manajemen harus mengiuti
kebijakan yang ditetapkan organisasi dalam mengatasi konflik. Jika kebijakan ini tidak
menyelesaikan konflik etika, akuntan manajemen harus mempertimbangkan tindakan
berikut ini:
a. Mendiskusikan masalah tersebut dengan supervisor kecuali jika masalah itu
melibatkan atasannya. Dalam kasus ini, masalah tersebut harus dilaporkan
secepatnya kepada jenjang yang lebih tinggi berikutnya. Jika resolusi akhir yang
memuaskan tidak dapat dicapai pada saat masalah diungkapkan, sampaikan
masalah tersebut kepada jenjang yang lebih tinggi.
b. Jika atasan langsung merupakan kepala eksekutif pelaksana (CEO), atau
setingkat, wewenang untuk mengatasi mungkin berada di tangan suatu kelompok
seperti komite audit, komite eksekutif, dewan direksi, dewan perwalian, atau
pemilik. Berhubungan dengan jenjang di atas atasan langsung sebaiknya dilakukan
dengan sepengetahuan atasan.
c. Menjelaskan konsep-konsep yang relevan melalui diskusi rahasia dengan seorang
penasihat yang objektif untuk mencapai pemahaman terhadap tindakan yang
mungkin dilakukan.
d. Jika konflik etika masih ada setelah dilakukan tinjauan terhadap semua jenjang,
akuntan manajemen mungkin tidak mempunyai jalan lain kecuali mengundurkan
diri dari organisasi dan memberikan memo yang informatif kepada perwakilan
organisasi yang ditunjuk.
e. Kecuali jika diperintah secara hukum, mengkomunikasikan masalah tersebut
kepada berbagai otoritas atau individu yang tidak ada hubungan dengan organisasi
bukanlah pertimbangan yang tepat.
Sebagai akuntan yang bekeja di perusahaan, akuntan manajemen dan keuangan tidak lepas dari
masalah etis. Dalam melakukan profesinya, akuntan manajemen dan keuangan hendaknya selalu
bertanya "apakah yang saya lakukan ini benar? agar terhindar dari tindakan yang tidak etis.
Berikut akan dibahas kondisi praktik kerja di lingkungan akuntan manajemen dan akuntan
keuangan khususnya contoh-contoh pelanggaran etika oleh akuntan manajemen dan keuangan.
2.2. Praktik-Praktik PeIanggaran Etika OIeh Akuntan Manajemen dan Keuangan
Praktik etika oleh profesi berbanding lurus dengan kepercayaan publik terhadap bisnis profesi
akuntansi.Kepatuhan terhadap kode etik profesi menumbuhkan kepercayaan atas kualitas jasa
yang diberikan oleh akuntan, sedangkan pelanggaran terhadap kode etik menimbulkan sikap
skeptis atas profesi akuntan.Begitu pula yang terjadi pada profesi akuntan manajemen dan
akuntansi.
Banyak kasus pelanggaran etika terkenal sejak tahun 2001 seperti Enron, Worldcom, Xerox Corp,
TYCO, dan Global Crossing. Semua perusahaan tersebut berada di Amerika.Banyak dari
perusahaan-perusahaan itu melakukan pelanggaran etika dengan memanipulasi laporan
keuangan. Kasus-kasus tersebut kemudian menstimulasi dikeluarkannya Sarbanex-Oxley,
peninjauan kembali atas standar praktik akuntansi yang berlaku, dan secara keseluruhan
membawa perubahan besar terhadap profesi akuntan dan praktik akuntansi.
Ketika informasi yang diberikan dimaksudkan untuk menipu pengguna, saat itulah terjadi fraud.
Arens dkk (2008) mengatakan fraud sebagai "any intentional deceit meant to deprive another
person or party of their property or rights". Menurut ACFE seperti yang dikutip oleh Theodorus
(2007:96-105) fraud terbagi menjadi tiga kategori, yaitu:
1. Corruption
Korupsi dibagi menjadi empat bagian, yaitu:
a. Conflict of interest
Conflict of interest biasanya terjadi dalam skema permainan pembelian maupun
penjualan.
b. Penyuapan (Bribery)
c. Illegal gratuities
Pemberian hadiah yang merupakan bentuk terselubung berupa penyuapan.
d. Pemerasan (Economic exortion)
2. Misappropriation of Asset
Pengambilan aset secara illegal biasa dikenal dengan istilah mencuri. Dalam istilah hukum
mengambil aset secara illegal atau tidak sah (melawan hukum) yang dilakukan oleh
seseorang yang diberi wewenang untuk mengelola atau mengawasi aset disebut dengan
istilah menggelapkan (embezzlement). Pencurian pada umumnya dikenal dengan istilah
Larceny. Larceny biasanya terjadi karena lemahnya pengendalian intern yang
berhubungan dengan perlindungan keamanan aset (safeguarding of assets).
3. Fraudulent Statements
a. Fraud dalam menyusun laporan keuangan, yaitu berupa kesalahan angka pada laporan
keuangan maupun pada disclosure yang disengaja untuk menipu pengguna laporan
keuangan. Praktik-praktik dalam fraudulent financial reporting biasa disebut earnings
management dan income smoothing.
i. Earnings management (manajemen laba): tindakan yang dilakukan manajemen
untuk mencapai tujuan terkait laba perusahaan. Pola manajemen laba antara lain:
income minimization, income maximization, income smoothing, taking a bath,
cookie jar, abuse of materiality, revenue recognition.
ii. Income smoothing: bentuk dari manajemen di mana pendapatan dan beban digeser
antara periode yang ada untuk menghindari fluktuasi pada laba.
b. Fraud dalam menyusun non-keuangan, biasanya memutarbalikan keadaan yang
sebenarnya. Misalnya: Perusahaan yang alat produksinya atau limbahnya membawa
bencana bagi masyarakat, tetapi secara terbuka (melalui iklan) mengklaim keadaan
sebaliknya.
Fraud yang dilakukan manajemen tidak lepas dari peran akuntan dalam perusahaan.Untuk
melakukan manajemen laba, manajemen butuh kerjasama dari akuntan terutama akuntan
keuangan.Oleh karena itu fraud yang dikomitmenkan manajemen termasuk dalam pelanggaran
etika.Selain fraud pelanggaran etika yang umum terjadi yaitu double bookkeeping, di mana
akuntan perusahaan membuat lebih dari satu laporan keuangan yang diberikan kepada pihak
yang berlainan untuk memenuhi tujuan tertentu.Di ndonesia pembukuan dibuat dua, satu untuk
pemegang saham dan satunya untuk pihak pemerintah demi mengecilkan pajak yang harus
dibayar.
Akuntan keuangan menghasilkan informasi bagi pihak luar perusahaan.Manipulasi laporan
keuangan dapat diidentikan dengan pelanggaran etika oleh akuntan keuangan, meskipun di dalam
manipulasi laporan keuangan pasti tidak lepas dari peran akuntan manajemen.Akuntan
manajemen pada perusahaan besar bertugas menghasilkan informasi bagi pihak dalam
perusahaan. Pelanggaran etika pada akuntan manajemen mungkin tidak banyak mencuat seperti
pada profesi akuntan keuangan, tapi berikut beberapa praktik yang terjadi di lapangan akuntansi
manajemen:
a. Budgetary Slack, suatu kondisi di mana anggaran disusun untuk mudah dicapai. Anggaran
tersebut tidak mempresentasikan efektivitas dan efisiensi dari operasi perusahaan.
Akuntan manajemen berperan besar dalam pengembangan anggaran. Budgetary slack
dapat menyebabkan manajemen salah menilai kondisi perusahaan.
b. nsider Trading, pemakaian informasi yang seharusnya rahasia untuk kepentingan
transaksi pemegang informasi. Akuntan manajemen sebagai pemegang informasi-
informasi konfidensial perusahaan bertindak tidak etis ketika menggunakan informasi-
informasi perusahaan untuk kepentingan diri sendiri.
Praktik kecurangan yang dipaparkan di atas seringkali membawa akuntan pada dilemma etika di
mana akuntan menjadi ragu apakah tindakan yang dilakukan benar atau tidak dari segi
etika.Seringkali juga akuntan internal yang memegang informasi penting perusahaan terpaksa
membeberkan praktik kecurangan yang dilakukan oleh manajemen.Kondisi ini disebut
whistleblowing. Sampai saat ini whistleblowing masih menjadi isu dilema etika bagi profesi
akuntan. Di satu pihak akuntan memiliki prinsip tanggung jawab kepada kepentingan publik di luar
perusahaan, di sisi lain whistleblowing yang dilakukan akuntan dapat menyebabkan operasi
perusahaan terganggu.



2.3. Faktor Penyebab PeIanggaran Etika pada Profesi Akuntan Manajemen dan Keuangan
Pelanggaran etika membawa konsekuensi buruk bagi pelaku pelanggaran etika dan bisnis
perusahaan. Pelanggaran etika oleh akuntan manajemen dan akuntan keuangan terutama
berdampak buruk bagi para pengguna informasi keuangan yang dihasilkan. Pada bagian
sebelumnya dibahas mengenai fraud dan peran akuntan manajemen serta akuntan keuangan
dalam tindak fraud.Untuk menghindari terjadinya fraud dalam perusahaan, perlu diketahui faktor-
faktor yang mendukung terjadinya fraud dan pelanggaran etika lainnya.
Albrecht, dkk (2006:31-37) menjelaskan tiga elemen yang mendorong timbulnya fraud. Tiga
elemen tersebut dikenal dengan istilah fraud triangle, yaitu:
1. Tekanan (Incentives/Pressure)
Para ahli membagi faktor pressure ini menjadi empat jenis, yaitu tekanan keuangan,
tekanan rekan kerja, tekanan yang berhubungan dengan pekerjaan, dan tekanan lainnya.
a. Tekanan Keuangan (Financial Pressures)
Umumnya tekanan keuangan berhubungan dengan fraud yang menguntungkan pelaku
secara langsung. Tekanan-tekanan yang menimbulkan terjadinya fraud, yaitu:
i. Ketamakan (Greed)
ii. Hidup tidak seperti kenyataan (Living beyond one's means)
iii. Tagihan yang menumpuk (High bills or personal asset)
iv. Kredit Macet (Poor Credit)
v. Kerugian finansial (Personal financial losses)
vi. Kebutuhan finansial yang tidak diharapkan (Unexpected financial needs)
b. Tekanan rekan kerja (Vices Pressures)
Tekanan karena sifat buruk yang ada pada pribadi individu seperti suka berjudi, narkoba,
alkohol.
c. Tekanan yang berhubungan dengan pekerjaan (Work-related Pressures)
Tekanan keuangan dan tekanan rekan kerja memotivasi timbulnya fraud, tetapi beberapa
orang melakukan fraud karena pekerjaan itu sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain:
i. Pengakuan atas kinerja (Getting little recognition for job performance)
ii. Tidak puas dalam bekerja (Having a feeling of job dissatisfaction)
iii. Takut kehilangan pekerjaan (fearing losing one's job)
iv. ngin mendapat promosi (Being overlooked for a promotion)
v. Merasa kurang dibayar (Feeling underpaid)
d. Tekanan lain (Other Pressures)
Tekanan lainnya yang memicu terjadinya fraud adalah keinginan meningkatkan gaya hidup
atau mengubah gaya hidup.
2. Kesempatan (Opportunity)
Suatu keadaan atau lingkungan yang dapat memberikan ruang bagi manajemen dan
karyawan untuk melakukan fraud. Terdapat enam faktor yang meningkatkan kesempatan
untuk individu melakukan fraud, yaitu:
i. Kurangnya pengendalian untuk mencegah atau mendeteksi tingkah laku
kecurangan.
ii. Ketidakmampuan untuk menilai kualitas kinerja
iii. Kegagalan untuk mendisiplinkan pelaku fraud
iv. Kekurangan akses infromasi
v. Cuek, tidak peduli, ketidakmampuan
vi. Kurangnya audit trail
3. Rasionalisasi (Attitudes/Razionalization)
Rasionalisasi merupakan sikap, karakter, atau sekumpulan nilai-nilai etis yang
membiarkan tindakan fraud atau lingkungan merasionalisasikan perbuatan-perbuatan
tidak jujur.

Konsekuensi dari pelanggaran etika oleh akuntan tergantung pada organisasi profesi tempat
akuntan tersebut bernaung. Akan tetapi dampak yang ditimbulkan oleh pelanggaran etika oleh
akuntan akan dirasakan pada para pengguna informasi akuntansi, akuntan sendiri, dan orang-
orang yang terkait dalam tindakan tidak etis tersebut. Tindakan pelanggaran etika dapat memiliki
konsekuensi sosial (diacuhkan) sampai konsekuensi hukum (diadili).
2.4. Perkembangan Isu Etika Pada Profesi Akuntan Manajemen dan Keuangan
Kasus Enron dan perusahaan-perusahaan besar lainnya memicu perubahan besar di bidang
profesi akuntan. Beberapa hal berkaitan dengan pemulihan kembali kepercayaan publik yaitu:
1. Organisasi profesi akuntan seperti ACPA dan A menerbitkan kode etik profesi untuk
menjadi acuan bagi para akuntan profesional maupun pengguna jasa,
2. Akuntan perlu menyadari bahwa ia bertanggung jawab kepada publik.
3. Akuntan perlu berhati-hati dengan kepentingan berlebih dari manajemen untuk mengejar
keuntungan. Keinginan berlebih tersebut dapat membawa kepada praktik-praktik
kecurangan seperti manajemen laba.
4. Akuntan bertindak sebagai penjaga keamanan atas dirinya sendiri agar tidak
mendahulukan kepentingan dirinya sendiri.
5. Perusahaan perlu melakukan seleksi untuk mempekerjakan akuntan yang memiliki sikap
beretika dan bertanggung jawab atas hasil pekerjaannya.
6. Akuntan perlu menyadari bahwa setiap perbuatannya, sekecil apapun, berdampak bagi
orang dan pihak lain yang menggunakan jasanya.
Etika menjadi krusial dalam profesi akuntan internal saat ini.Kualitas jasa yang diberikan akuntan
bergantung pada sejauh mana akuntan memegang prinsip-prinsip etika yang tertuang dalam kode
etik profesi. Semakin etis seorang akuntan, semakin pengguna jasa akan menaruh kepercayaan
pada profesi akuntan secara keseluruhan. Namun profesi akuntan internal yang bersentuhan
langsung dengan bisnis perusahaan akan selalu menghadapi dilema etika ketika ketiga faktor
yang menyebabkan pelanggaran etika muncul. Oleh karena itu akuntan perlu memahami betul
etika dalam profesi yang ditekuninya.

III. KESIMPULAN
1. Skandal-skandal kecurangan akuntansi seperti kasus Enron, Worldcom, dan sebagainya
menurunkan kepercayaan pengguna jasa atas jasa akuntan dan menimbulkan perubahan
besar pada bidang profesi akuntan.
2. Organisasi-organisasi profesi akuntan menerbitkan kode etik profesi sebagai acuan bagi
akuntan profesional agar ada kejelasan dalam praktik akuntansi di lapangan. Tindakan ini
dilakukan demi memulihkan kepercayaan penggguna jasa terhadap kualitas jasa yang
diberikan akuntan profesional.
3. Praktik-praktik pelanggaran etika yang terjadi di internal perusahaan melibatkan akuntan
manajemen dan akuntan keuangan, di mana akuntan memberikan dan menghasilkan
informasi yang salah dalam mendukung praktik pelanggaran etika seperti fraud, budgetary
slack, double bookkeeping. Selain itu praktik pelanggaran etika juga terjadi ketika akuntan
manajemen melakukan insider trading untuk kepentingan pribadi.
4. Pelanggaran etika yang dilakukan akuntan internal berdampak buruk dengan merugikan
setiap pengguna informasi, para pelaku pelanggaran etika yang lain, dan akuntan itu
sendiri.
5. Terdapat faktor-faktor yang mendukung terjadinya pelanggaran etika, khususnya fraud
yaitu: incentives/pressures, opportunities, dan attitudes/rationalization. Ketiga faktor-faktor
ini perlu diidentifikasi dan diwaspadai guna mencegah erjadinya pelanggaran etika.
6. Etika menjadi isu penting dalam perkembangan profesi akuntan. Akuntan perlu
memperhatikan dan memikirkan secara rasional dampak dari setiap tindakan yang
diambilnya.
Daftar Pustaka
http://www.iaiglobal.or.id/tentang_iai.php?id=18
http://ade-hsl.blogspot.com/2009/11/etika-bisnis-dan-profesional-akuntan.html
http://www.direct.gov.uk/en/Employment/ResolvingWorkplaceDisputes/Whistleblowingintheworkpl
ace/DG_175821
http://www.ehow.com/how-does_4571925_why-ethics-important-accounting.html
http://www.ehow.com/about_4828564_ethical-issues-facing-accountants.html
http://acct.tamu.edu/smith/ethics/ethics.htm
Albrecht, dkk. (2006), Second Edition. Fraud Examination. Canada: Thomson South-Western.
Arens, A.A, Elder, R, J. A and Beasley, M.S. 2008. Auditing and Assurance Service : An
Intergrated Approach. Twelfth Edition. Prentice Hall. New Jersey.
Materi Kuliah Sukrisno Agoes dalam PPA FE Unpar 2011
Tuanakotta, Theodorus M. (2007). Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif. Jakarta: Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas ndonesia.