Anda di halaman 1dari 9

1

BAB I Pendahuluan Pterigium adalah pertumbuhan berbentuk sayap sayap pada konjungtiva bulbi, kelainan ini berupa pertumbuhan segitiga horizontal dari jaringna abnormal yang invasi ke kornea dari regio canthus pada konjungtiva bulbi. Berpotensi menjadi penyebab kebutaan pada pertumbuhan pterigium yang lanjut, memerlukan tindakan pembedahan untuk memperbaiki penglihatan. Distribusi pterigium tersebar didunia tertapi sering pada daerah panas, beriklim kering. Prevalensi pada daerah equator kira-kira 22% dan kurang dari 2% didaerah lintang diatas 40O. Pada penelitian di Australia, mengidentifikasikan jumlah pterigium berdasarkan faktor resiko; 44x lebih banyak pada pasien yang bermukim di daerah tropis, 11 x lebih banyak pada pekerja yang berhubungan dengan pasir, 9 x lebih banyak dengan riwayat tanpa menggunakan kacamata. Masalah klinis yang menjadi tantangan adalah tingginya frekuensi pterigium rekuren dan pertumbuhannya yang agresif. Selain itu pterigium menimbulkan keluhan kosmetik dan berpotensi mengganggu penglihatan pada stadium lanjut yang memerlukan tindakan pembedahan.

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR ILMU PENYAKIT MATA RUMAH SAKIT HAJI MEDAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Menurut Hamurwono, pterygium merupakan konjungtiva bulbi patologik yang menunjukkan penebalan berupa lipatan berbentuk segitiga yang tumbuh menjalar ke kornea dengan puncak segitiga di kornea. Pterigium berasal dari bahasa yunani, yaitu pteron yang artinya wing atau sayap. Insidens pterygium di Indonesia yang terletak digaris ekuator, yaitu 13,1%. Diduga bahwa paparan ultraviolet merupakan salah satu faktor risiko terjadinya pterigium.

Gambar 1. Pterigium 2.2. Faktor Resiko Faktor risiko yang mempengaruhi antara lain : 1. Usia Prevalensi pterigium meningkat dengan pertambahan usia banyak ditemui pada usia dewasa tetapi dapat juga ditemui pada usia anak-anak. Tan berpendapat pterigium terbanyak pada usia dekade dua dan tiga. 2. Pekerjaan Pertumbuhan pterygium berhubungan dengan paparan yang sering dengan sinar UV. 3. Tempat tinggal
KEPANITERAAN KLINIK SENIOR ILMU PENYAKIT MATA RUMAH SAKIT HAJI MEDAN

Gambaran

yang

paling

mencolok

dari

pterigium

adalah

distribusi

geografisnya. Distribusi ini meliputi seluruh dunia tapi banyak survei yang dilakukan setengah abad terakhir menunjukkan bahwa negara di khatulistiwa memiliki angka kejadian pterigium yang lebih tinggi. 4. Jenis kelamin Tidak terdapat perbedaan risiko antara laki-laki dan perempuan. 5. Herediter Pterigium dipengaruhi faktor herediter yang diturunkan secara autosomal dominan. 6. Infeksi Human Papiloma Virus (HPV) dinyatakan sebagai faktor penyebab Pterigium. 7. Faktor risiko lainnya Kelembaban yang rendah dan mikrotrauma karena partikel-partikel tertentu seperti asap rokok , pasir merupakan salah satu faktor risiko terjadinya pterygium. 2.3. Etiopatogenesis Etiologi pterigium tidak diketahui secara pasti. Namun karena lebih sering pada orang yang tinggal didaerah iklim panas. Maka gambaran yang paling diterima tentang hal tersebut adalah respon terhadap faktor-faktor lingkungan seperti paparan terhadap matahari (ultraviolet), daerah kering, inflamasi, daerah angin kencang dan debu atau faktor iritan lainnya. Pengeringan lokal dari kornea dan konjungtiva pada fissura interpalpebralis disebabkan oleh karena kelainan tear film bisa menimbulkan pertumbuhan fibroblastik baru merupakan salah satu teori. Ultraviolet adalah mutagen untuk p53 tumor supressor gene pada limbal basal stem sel. Tanpa apoptosis, transforming growth factor-beta (TGF-) mengalami overproduksi dan menimbulkan proses collagenase meningkat, sel-sel bermigrasi dan angiogenesis. Akibatnya terjadi perubahan degenerasi colagen dan terlihat jaringan subepitelial fibrovaskular. Jaringan subconjunctiva terjadi degenerasi elastoic dan proliferasi jaringan granulasi vaskular dibawah epitelium.

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR ILMU PENYAKIT MATA RUMAH SAKIT HAJI MEDAN

2.4. Klasifikasi Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia derajat

pertumbuhan Pterigium dibagi menjadi: 1. Derajat I : hanya terbatas pada limbus 2. Derajat II : Sudah melewati limbus tetapi tidak melebihi dari 2 mm melewati kornea 3. Derajat III : jika telah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi pinggir pupil mata dalam keadaan cahaya (pupil dalam keadaan normal sekitar 3-4 mm) 4. Derajat IV : Jika pertumbuhan Pterigium sudah melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan 2.5. Gejala klinik Pterigium umumnya asimptomatis atau akan memberikan keluhan berupa mata sering berair dan tampak merah dan mungkin menimbulkan astigmatisma yang memberikan keluhan gangguan penglihatan. Pada kasus berat dapat menimbulkan diplopia. Biasanya penderita mengeluhkan adanya sesuatu yang tumbuh di kornea dan khawatir akan adanya keganasan atau alasan kosmetik. Keluhan subjektif dapat berupa rasa panas, gatal, ada yang mengganjal. 2.6. Diagnosis Banding Secara klinis pterigium dapat dibedakan dengan dua keadaan yang sama yaitu pinguekula dan pseudopterigium. Pada Pinguekula, bentuk kecil, meninggi, massa kekuningan berbatas dengan limbus pada cojunctiva bulbi di fissura intrapalpebra dan kadang terinflamasi. Exposure sinar UV bukan faktor resiko penyebab pada pinguekula. Pseudopterigium mirip dengan pterigium, dimana fibrovaskular scar yang timbul pada conjunctiva bulbi menuju cornea. Berbeda dengan pterigium, pseudopterigium adalah akibat inflamasi permukaan okular sebelumnya seperti trauma, trauma kimia, conjunctivitis sikatrik, trauma bedah atau ulcus perifer
KEPANITERAAN KLINIK SENIOR ILMU PENYAKIT MATA RUMAH SAKIT HAJI MEDAN

cornea.untuk mengidentifikasikan pseudopterigium, cirinya tidak melekat pada limbus cornea. 2.7. Penatalaksanaan Prinsip penanganan pterigium dibagi 2, yaitu cukup dengan pemberian obat-obatan jika pterigium masih derajat 1 dan 2. Sedangkan tindakan bedah dilakukan pada pterigium yang melebihi derajat 2. Tindakan bedah juga dipertimbangkan pada pterigium derajat 1 atau 2 yang telah mengalami gangguan penglihatan. Eksisi pterigium bertujuan untuk mencapai keadaan normal, gambaran permukaan bola mata yang licin. Teknik bedah yang sering digunakan untuk mengangkat pterigium menggunakan pisau yang datar untuk mendiseksi pterigium kearah limbus. Pengobatan tidak diperlukan karena bersifat rekuren, terutama pada pasien yang masih muda. Bila pterygium meradang dapat diberikan steroid atau suatu tetes mata dekongestan. Lindungi mata yang terkena pterygium dari sinar matahari, debu dan udara kering dengan kacamata pelindung. Bila terdapat tanda radang beri air mata buatan bila perlu dapat diberikan steroid. Bila diberi vasokonstriktor maka perlu control dalam 2 minggu dan bila telah terdapat perbaikan pengobatan dihentikan. Beberapa pilihan untuk menutup luka: a. Bare sclera: tidak ada jahitan atau benang absorbable digunakan untuk melekatkan konjungtiva ke superfisial ssclera didepan insersi rectus. Meninggalkan suatu daerah sclera terbuka. b. Simple clourse: pinggir dari konjungtiva yang bebas di jahit bersama. c. Sliding flap: suatu insisi bentuk L dibuat sekitar luka untuk membentuk flap konjungtiva untuk menutup luka. d. Rotation flap: insisi betuk U dibuat sekitar luka untuk membentuk lidah dari konjungtiva yang diputar untuk menutup luka.

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR ILMU PENYAKIT MATA RUMAH SAKIT HAJI MEDAN

e. Conjunctiva graft: suatu free graft biasanya dari konjungtiva superior, dieksisi sesuai dengan besar luka. 2.8. Prognosa Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik. Rasa tidak nyaman pada hari pertama postoperasi dapat ditoleransi, kebanyakan pasien setelah 48 jam postoperasi dapat beraktivitas kembali. Pasien dengan rekuren pterigium dapat dilakukan eksisi ulang dan graft dengan conjuntiva autograft. Pasien dengan resiko tinggi timbulnya pterigium seperti riwayat keluarga atau karena terpapar sinar matahari yang lama dianjurkan memakai kacamata pelindung dan mengurangi terpapar sinar matahari.

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR ILMU PENYAKIT MATA RUMAH SAKIT HAJI MEDAN

BAB III Status pasien Anamnese pasien Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Tanggal masuk Alamat : Thamrin : 68 tahun : Laki-laki : Pensiunan PNS : 15 Oktober 2011 : Jln. Bilal ujung gg. Bima

Anamnese penyakit Keluhan utama Telaah RPT RPO Status present Sensorium Tekanan darah Nadi Pernafasan Suhu Status generalisata Kepala Leher Thorax Genitalia Ekstremitas : Dalam Batas Normal : Dalam Batas Normal : Dalam Batas Normal : Dalam Batas Normal : Dalam Batas Normal : compos mentis : Tidak Dilakukan Pemeriksaan : Tidak Dilakukan Pemeriksaan : Tidak Dilakukan Pemeriksaan : Tidak Dilakukan Pemeriksaan : mata sering berair, merah dan seperti ada benjolan : pasien mengeluhkan mata sering berair, merah dan seperti ada benjolan. Hal ini sudah dialami 2 minggu ini ::-

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR ILMU PENYAKIT MATA RUMAH SAKIT HAJI MEDAN

Status optalmikus Visus tanpa koreksi Visus dengan koreksi Posisi Pergerakan OD 20/30 TAK orthoporia OS 20/30 TAK orthoporia

Palpebra Superior Palpebra Inferior Conjunctiva Tarsalis Superior Conjunctiva Tarsalis Inferior Conjunctiva Bulbi Cornea C.O.A Iris Pupil Lensa Fundus Copy Tensi Oculi Gambar mata

DBN DBN DBN DBN DBN Jernih Sedang Cokelat RC (+) Jernih TDP TDP

DBN DBN DBN DBN Benjolan Jernih Sedang Cokleat RC (+) Jernih TDP TDP

Diagnosa Terapi

: Pterigium grade I OS : C. Alletrol ed 4x1 gtt C. Lyters ed 4x1 gtt

Rencana Anjuran

: Kontrol Ulang :-

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR ILMU PENYAKIT MATA RUMAH SAKIT HAJI MEDAN

DAFTAR PUSTAKA 1. Ilyas S. Ilmu penyakit mata. Edisi ketiga. Jakarta: Fkultas Kedoktran UI, 2010 2. Laszuarni. Prevalensi Pterigium Di Kabupaten Langkat. Tesis Dokter Spesialis Mata. Medan; FK USU. 2009 3. Hamurwono GD, Nainggolan SH, Soekraningsih. Buku Pedoman Kesehatan Mata dan Pencegahan Kebutaan Untuk Puskesmas. Jakarta: Direktorat Bina Upaya Kesehatan Puskesmas Ditjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan, 1984. 14-17 4. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Editor Tahjono. Dalam panduan manajermen klinik PERDAMI. CV Ondo Jakarta; 2006. 56 58 5. Raihana. Karakteristik penderita pterygium dipoliklinik mata RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Periode Januari 2003 Desember 2005. Pekanbaru ; FK UNRI, 2007 6. Putra AK. Penatalaksanaan pterygium Atmajaya. 2003 : 2 : 137 147 7. Pterigium in http://www.e.medicine

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR ILMU PENYAKIT MATA RUMAH SAKIT HAJI MEDAN