Anda di halaman 1dari 5

KONDENSASI

Kondensasi atau pengembunan adalah perubahan wujud zat dari zat gas menjadi
zat cair, seperti gas (atau uap) menjadi cairan. Pengembunan atau kondensasi merupakan
proses perubahan zat yang melepaskan kalor/ panas. Kondensasi atau pengembunan ini
merupakan lawan dari penguapan atau evaporasi yang melepaskan panas.Proses
terjadinya pengembunan atau kondensasi ini adalah saat uap air di udara melalui
permukaan yang lebih dingin dari titik embun uap air, maka uap air ini akan
terkondensasi menjadi titik titik air atau embun.
Proses kondensasi ini dapat dijumpai di alam sekitar kita. Proses terbentuknya awan
merupakan proses kondensasi. Uap air yang naik akibat sinar matahari akan
terkondensasi di udara, hal ini dikarenakan udara di atas permukaan bumi lebih rendah
dari titik embun uap air. Proses kondensasi inilah yang menyebabkan terjadinya awan
Sebuah alat yang digunakan untuk mengkondensasi uap menjadi cairan disebut
kondensor. Kondensor umumnya adalah sebuah pendingin atau penukar panas yang
digunakan untuk berbagai tujuan, memiliki rancangan yang bervariasi, dan banyak
ukurannya dari yang dapat di genggam sampai yang sangat besar Contoh kondensasi
atau pengembunan ini adalah :

1. Embun di pagi hari
2. Titik titik air atau embun yang muncul di dinding gelas jika gelas diisi air dingin.
Kondensasi Dan Pendinginan Lanjut (Sub-Cooling)

Fungsi dari kondensor adalah merubah wujud reIrigerant dari bentuk uap/gas
menjadi reIrigerant dengan bentuk cair. Proses perubahan dari gas ke cair ini dilakukan
dengan membuang kalor yang ada pada reIrigerant ke lingkungan sekitarnya pada suhu
dan tekanan konstan. Dalam percobaan ini kalor dibuang dengan cara konveksi yaitu
meniupkan udara yang mempunyai temperatur lebih rendah dari reIrigerant melewati
kondensor sehingga terjadi perpindahan kalor. Proses perpindahan kalor ini
dimaksimalkan dengan adanya sirip-sirip pada kondensor dan aliran Udara yang cukup
dan bebas dari hambatan.Proses kondensasi atau perubahan dari wujud gas ke cair ini
terjadi di alam pipa kondensor dan terjadi pada kondisi tekanan dan temperatur tetap.
ika perancangan dan pemilihan ukuran kondensor tidak tepat ataupun sirip-sirip
kondensor kotor maka pada ujung kondensor belum tentu semua reIrigerant telah
berbentuk cair.Suhu atau temperatur pada waktu proses kondensasi ini terjadi masih
lebih tinggi dari temperatur udara disekitarnya. Oleh karena itu reIrigerant yang
mengalir keluar dari kondensor menuju TXV melalui 'Iilter drier masih akan
mengalami proses perpindahan kalor yang akan menurunkan suhu reIrigerant lebih
rendah lagi dari suhu cair jenuhnya (saturated liquid). Proses penurunan suhu setelah
melalui titik 'saturated liquid ini disebut proses subcooling dan wujud reIrigerant
disebut 'subcooled liquid. Daerah subcooled liquid ini terletak disebelah kiri dari kurva
saturated liquid pada diagram p-h.Besarnya pendinginan lanjut yang terjadi di kondenser
ini dihitung dengan cara mengurangi temperatur kondensasi dengan temperatur yang
terukur di akhir kondensor.
Contoh:
Menentukan besarnya pendinginan lanjut di kondensor :
Haasil pengukuran temperatur di pipa akhir kondenser 47C
Tekanan condenser 267psig(18.4bar), reIrigerant yang dipakai R-22.
Dari table konversi didapat temperatur evaporasi 50C
Superheat di evaporator Temperatur evaporasi - Temperatur pipa akhir evaporator
50C - 47C
3K (nilai superheat dinyatakan dengan satuan absolute celcius yaitu Kelvin)
Polimerisasi Kondensasi
Polimerisasi kondensasi merupakan suatu proses pembentukan suatu polimer
dari monomer-monomernya dengan menghasilkan ai dimana akan dibandingkan polimer
dengan perbandingan penyusun yang berbeda, polimer yang pertama terdiri dari gliserol
: anhidrida asam Italat 2 :2 dan yang kedua dengan pereaksi yang sama dengan
perbandingan 2 : 4.
Proses polimerisasi kondensasi ini menghasilkan polimer berbentuk gumpalan
dengan volume yang besar dan struktur yang keras dan berwarna kuning transparan.
Pemanasan pada percobaan bertujuan untuk menghilangkan molekul air yang terbentuk
dari akibat reaksi kondensasi ini. Pengaruh penambahan anhidrida asam Italat yang lebih
banyak pada polimer kedua ini adalah pada kepolaran dari polimer ini.
Semakin banyak anhidrida asam Italat pada struktur penyusunnya maka polimer
akan semakin bersiIat polar dan siIat kepolaran ini juga berhubungan dengan kelarutan
polimer pada beberapa pelarut.Polimerisasi kondensasi ini juga terjadi pada proses
pembuatan nylon-6,6 dengan reaksi sebagai berikut :
Pada reaksi poli(heksametilen adipamida) yang menunjukkan poliamidasi
heksametilendiamin (disebut juga 1,6-heksan diamin) dengan asam adipat. Contoh lain
dari reaksi polimerisasi kondensasi adalah bakelit yang bersiIat keras, dan dracon, yang
digunakan sebagai serat pakaian dan karpet, pendukung pada tape audio dan tape
video, dan kantong plastik. Monomer yang dapat mengalami reaksi polimerisasi secara
kondensasi adalah monomer-monomer yang mempunyai gugus Iungsi, seperti gugus
OH; -COOH; dan NH
3
.
Pada polimerisasi kondensasi penggabungan monomer membentuk polimer
dengan melepaskan molekul kecil seperti air (H2O) atau ammonia (NH3).Untuk
mempermudah ilustrasi dari reaksi polimerisasi kondensasi dapat kita amati pada
persamaan reaksi dibawah ini :




Pada polimerisasi kondensasi, banyak monomer pembentuk polimer lebih dari satu jenis
atau terbentuk dari bermacam-macam monomer, sehingga disebut kopolimer. Struktur
umum kopolimer adalah A B A B A B A B . Pembentukan polimer
semacam ini ditunjukan pada Bagan 13.9, pada pembuatan karet sintetik.




Polimer kondensasi terjadi dari reaksi antara gugus Iungsi pada monomer yang
sama atau monomer yang berbeda. Dalam polimerisasi kondensasi kadang-kadang
disertai dengan terbentuknya molekul kecil seperti H2O, NH3, atau HCl.Di dalam jenis
reaksi polimerisasi yang kedua ini, monomer-monomer bereaksi secara adisi untuk
membentuk rantai. Namun demikian, setiap ikatan baru yang dibentuk akan bersamaan
dengan dihasilkannya suatu molekul kecil biasanya air dari atom-atom monomer.
Pada reaksi semacam ini, tiap monomer harus mempunyai dua gugus Iungsional
sehingga dapat menambahkan pada tiap ujung ke unit lainnya dari rantai tersebut. enis
reaksi polimerisasi ini disebut reaksi kondensasi.Dalam polimerisasi kondensasi, suatu
atom hidrogen dari satu ujung monomer bergabung dengan gugus-OH dari ujung
monomer yang lainnya untuk membentuk air. Reaksi kondensasi yang digunakan untuk
membuat satu jenis nilon ditunjukkan pada Gambar 9 dan Gambar 10.




Gambar 9. Kondensasi terhadap dua monomer yang berbeda yaitu 1,6 diaminoheksana
dan asam adipat yang umum digunakan untuk membuat jenis nylon. Nylon diberi nama
menurut jumlah atom karbon pada setiap unit monomer. Dalam gambar ini, ada enam
atom karbon di setiap monomer, maka jenis nylon ini disebut nylon 66.

Gambar 10. Pembuatan Nylon 66 yang sangat mudah di laboratorium.
Contoh lain dari reaksi polimerisasi kondensasi adalah bakelit yang bersiIat
keras, dan dracon, yang digunakan sebagai serat pakaian dan karpet, pendukung pada
tape audio dan tape video, dan kantong plastik.Monomer yang dapat mengalami
reaksi polimerisasi secara kondensasi adalah monomer-monomer yang mempunyai
gugus Iungsi, seperti gugus -OH; -COOH; dan NH3.
Pada polimerisasi kondensasi, jika monomer-monomer bergabung bersama, ada
sebuah molekul kecil yang hilang. Ini berbeda dengan polimerisasi adisi yang
menghasilkan polimer seperti poli(eten) dimana pada proses ini tidak ada yang hilang
ketika monomer-monomer bergabung bersama.
Sebuah poliester dibuat dengan sebuah reaksi yang melibatkan sebuah asam
dengan dua gugus -COOH, dan sebuah alkohol dengan dua gugus -OH.Pada poliester
umum terdapat pada:Asam benzen-1,4-dikarboksilat (nama lama: asam tereItalat) dan
Alkohol yaitu etana-1,2-diol (nama lama: etilen glikol).
Cara kondensasi termasuk cara kimia

kondensasi
Prinsip : Partikel Molekular Partikel Koloid

Reaksi kimia untuk menghasilkan koloid meliputi :
1. #eaksi #edoks
2 H
2
S(g) SO
2
(aq) 3 S(s) 2 H
2
O(l)
2. #eaksi Hidrolisis
FeCl
3
(aq) 3 H
2
O(l) Fe(OH)
3
(s) 3 HCl(aq)
3. #eaksi Substitusi
2 H
3
AsO
3
(aq) 3 H
2
S(g) As
2
S
3
(s) 6 H
2
O(l)
4. #eaksi Penggaraman
Beberapa sol garam yang sukar larut seperti AgCl, AgBr, PbI
2
, BaSO
4
dapat
membentuk partikel koloid dengan pereaksi yang encer.
AgNO
3
(aq) (encer) NaCl(aq) (encer) AgCl(s) NaNO
3
(aq) (encer)