Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM KELISTRIKAN PERTANIAN (Daya Lampu Pada Jaringan AC/DC)

Disusun Oleh : Hari, Tanggal Praktikum : Senin, 3 Oktober 2011 Waktu : 15.00 WIB

Kelompok : 1 Shift A2 1. Baron Al Amru 2. Egi Rahmat S 3. Gardhi D W 4. Muhammad Mudawir 5. Lulu Labida (240110090027) (240110090028) (240110090029) (240110090030) (240110090031)

Asisten Dosen

: 1. Bhakti Priandi 2. Diki

LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN ELEKTRONIKA JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang ............................................................................... 1-3 1.2 Tujuan ........................................................................................... 1-3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 2-4 BAB III METODOLOGI 3.1 Alat dan Bahan .............................................................................. 3-14 3.2 Prosedur Praktikum ....................................................................... 3-14 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil .............................................................................................. 4-15 4.2 Pembahasan Baron Al-Amru ......................................................... 4-17 4.2 Pembahasan Egi Rahmat S ............................................................. 4-19 4.2 Pembahasan Gardhi DW ................................................................ 4-21 4.2 Pembahasan Muhammad Mudawir ................................................ 4-23 4.2 Pembahasan Lulu Labida ............................................................... 4-25 BAB V PENUTUP PENUTUP Baron Al-Amru ................................................................. 5-27 PENUTUP Egi Rahmat S .................................................................... 5-28 PENUTUP Gardhi DW ........................................................................ 5-29 PENUTUP Muhammad Mudawir ........................................................ 5-30 PENUTUP Lulu Labida ....................................................................... 5-31 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 32 LAMPIRAN ................................................................................................... 33

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Untuk mengendalikan intensitas lampu pijar dapat diimplementasikan

dengan banyak metode. Pengendalian ini pada prinsipnya dengan mengendalikan daya yang masuk ke lampu pijar. Lampu pijar yang bekerja pada tegangan AC, pengendalian dayanya dapat dilakukan dengan triac. Daya yang melewati lampu diatur dengan sudut picu pada triac-nya. Proses pengaturan sudut picu triac ini dikendalikan dengan mikrokontroler. Sistem ini terdiri atas empat blok utama, yaitu zero detector, potensiometer, mikrokontroler dan driver triac. Zero detector digunakan untuk mendeteksi tegangan nol volt sinyal AC, potensiometer digunakan untuk mengatur tegangan masukan pada mikrokontroler, mikrokontroler digunakan untuk mengolah masukan dari potensiometer menjadi data digital yang digunakan untuk mengatur sudut picu triac dan driver triac digunakan untuk antarmuka mikrokontroler dengan triac yang terhubung dengan tegangan AC 220 volt. Untuk mengetahui arus AC/DC yang melalui lampu dan mengetahui daya/power pada jaringan AC/DC maka dilakukanlah praktikum ini.

1.2

Tujuan Pengamatan

1. Menentukan besarnya resistansi dan reaktansi lampu. 2. Menentukan besarnya arus AC/DC yang melalui lampu. 3. Membandingkan besarnya daya/power pada jaringan AC/DC.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Resistansi, Reaktansi dan Impedansi Resistansi, reaktansi dan impedansi merupakan istilah yang mengacu pada

karakteristik dalam rangkaian yang bersifat melawan arus listrik.

Resistansi

merupakan tahanan yang diberikan oleh resistor. Reaktansi merupakan tahanan yang bersifat reaksi terhadap perubahan tegangan atau perubahan arus. Nilai tahanannya berubah sehubungan dengan perbedaan fase dari tegangan dan arus. Selain itu reaktansi tidak mendisipasi energi. Sedangkan impedansi mengacu pada keseluruhan dari sifat tahanan terhadap arus baik mencakup resistansi, reaktansi atau keduanya. Ketiga jenis tahanan ini diekspresikan dalam satuan ohm. (http://web.ipb.ac.id/~tepfteta/elearning/media/Energi%20dan%20Listrik%20Pert anian/MATERI%20WEB%20ELP/Bab%20VIII%20RANGKAIAN%20RLC/pen dahuluan.htm) Berikut contoh diagram fasor untuk Impedansi, seperti yang ditujukan pada gambar 2.1 dibawah ini (http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Impedance_fazor.png):

Gambar 2.1 Diagram Fasor Impedansi

2.2

Induktor Sebuah induktor atau reaktor adalah sebuah komponen elektronika pasif

yang dapat menyimpan energi pada medan magnet yang ditimbulkan oleh arus listrik yang melintasinya. Kemampuan induktor untuk menyimpan energi magnet

ditentukan oleh induktansinya, dalam satuan Henry. Biasanya sebuah induktor adalah sebuah kawat penghantar yang dibentuk menjadi kumparan, lilitan membantu membuat medan magnet yang kuat didalam kumparan dikarenakan hukum induksi Faraday. Induktor adalah salah satu komponen elektronik dasar yang digunakan dalam rangkaian yang arus dan tegangannya berubah-ubah dikarenakan kemampuan induktor untuk memproses arus bolak-balik. Sebuah induktor ideal memiliki induktansi, tetapi tanpa resistansi atau kapasitansi, dan tidak memboroskan daya. Sebuah induktor pada kenyataanya merupakan gabungan dari induktansi, beberapa resistansi karena resistivitas kawat, dan beberapa kapasitansi. Pada suatu frekuensi, induktor dapat menjadi sirkuit resonansi karena kapasitas parasitnya. Selain memboroskan daya pada resistansi kawat, induktor berinti magnet juga memboroskan daya didalam inti karena efek histeresis, dan pada arus tinggi mungkin mengalami nonlinearitas karena penjenuhan (http://id.wikipedia.org/wiki/Induktor).

2.3

Kapasitor Kapasitor adalah komponen elektronika yang digunakan untuk menyimpan

muatan listrik, dan secara sederhana terdiri dari dua konduktor yang dipisahkan oleh bahan penyekat (bahan dielektrik) tiap konduktor di sebut keping. Kapasitor atau disebut juga kondensator adalah alat (komponen) listrik yang dibuat sedemikian rupa sehingga mampu menyimpan muatan listrik untuk sementara waktu. Pada prinsipnya sebuah kapasitor terdiri atas dua konduktor (lempeng logam) yang dipisahkan oleh bahan penyekat (isolator). Isolator penyekat ini sering disebut bahan (zat) dielektrik (http://www.e-

dukasi.net/mapok/mp_full.php?id=275). Kapasitas kondensator diukur dalam satuan Farad. Untuk rangkain elektronik praktis, satuan Farads adalah sangat besar sekali. Umumnya kapasitor yang ada di pasar memiliki satuan F (10-6 F), nF (10-9 F) dan pF (10-12 F). Konversi satuan penting diketahui untuk memudahkan membaca besaran sebuah kapasitor. Misalnya 0.047F dapat juga dibaca sebagai 47nF, atau contoh lain 0.1nF sama dengan 100pF

(http://www.electroniclab.com/index.php?option=com_content&view=article&id =9:kapasitor-&catid=6:elkadasar&Itemid=7).

2.4

Rangkaian R

Perhatikan rangkaian AC dengan sebuah hambatan (R), rangkaian ini dinamakan rangkaian resistif. (http://www.norture.com/dl_view.php?file=Documents/Rangkaian+Listrik+(RL)/ Laporan+Praktikum+IV++Induktansi+dan+Kapasitansi+Pada+Rangkaian+AC.docx) Misalkan: ( ) Artinya: () () ( ) ( ) ( ( ) ) ( )

Dengan menggunakan aturan Kirchhoff, arus pada rangkaian adalah: ( ) atau: ( ) dengan arus dan tegangan sefasa satu sama lain. ( ) ( )

Grafik

( ) dan

( )

Pada rangkaian resistif egangan dan arus pada phase yang sama. Daya selalu benilai positif. Resistor (beban) selalu menghamburkan daya, mengambilnya dari sumber dan melepaskannya dalam bentuk energi panas (Kuphaldt, 2007).

Berikut gambar kurva hubungan antara arus, tegangan dan daya pada rangkaian resistif murni seperti pada gambar 2.4.1 dibawah ini (Kuphaldt, 2007) :

Gambar 2.4.1 kurva hubungan antara arus, tegangan dan daya pada rangkaian resistif murni.

Berikut gambar diagram fasor untuk rangkaian induktif, seperti yang perlihatkan pada gambar 2.4.2 (http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Impedans-induktiv.svg) :

Gambar 2.4.2 diagram fasor untuk rangkaian induktif

2.5

Rangkaian L Perhatikan rangkaian AC dengan komponen induktor (L), rangkaian ini

dinamakan rangkaian induktif. (http://www.norture.com/dl_view.php?file=Documents/Rangkaian+Listrik+(RL)/ Laporan+Praktikum+IV++Induktansi+dan+Kapasitansi+Pada+Rangkaian+AC.docx)

Misalkan: ( ) Artinya: ()

( (

) ) ( )

Dengan menggunakan aturan Kirchhoff, didapat perubahan arus terhadap waktu sebagai berikut. ( ) ( )

Bila diintegralkan akan diperoleh: ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )

Besaran L dinamakan reaktansi induktif (XL) yang menyatakan resistansi efektif pada rangkaian induktif:

Grafik

( ) dan

( )

Induktor berbeda dengan resistorInduktor akan beraksi melawan perubahan arus yang melaluinya, dengan cara menurunkan tegangan yang sebanding dengan besarnya perubahan arus. Jika magnitude arus meningkat, tegangan induksi akan menahan aliran elektron Jika magnitude arus menurun, tegangan induksi akan mendorong aliran elektron Reaktansi (Kuphaldt, 2007). Berikut gambar kurva hubungan antara arus, tegangan dan daya pada rangkaian induktif murni seperti pada gambar 2.5 dibawah ini (Kuphaldt, 2007) : Perlawanan terhadap aliran arus ini dikatakan

Gambar 2.5 kurva hubungan antara arus, tegangan dan daya pada rangkaian induktif murni.

2.6

Rangkaian C Perhatikan rangkaian AC dengan komponen kapasitor (C), rangkaian ini

dinamakan rangkaian kapasitif. (http://www.norture.com/dl_view.php?file=Documents/Rangkaian+Listrik+(RL)/ Laporan+Praktikum+IV++Induktansi+dan+Kapasitansi+Pada+Rangkaian+AC.docx)

Misalkan: ( ) Artinya: ()

( (

) ) ( )

Dengan menggunakan aturan Kirchhoff, didapat perubahan arus terhadap waktu sebagai berikut. ( ) ( ) Besaran ( ( ( ) )) ( ) ( )

dinamakan reaktansi kapasitif (XC) yang menyatakan

resistansi efektif pada rangkaian kapasitif:

Grafik

( ) dan

( ) akan beraksi melawan

Kapasitor berbeda dengan resistor. kapasitor

perubahan tegangan yang melaluinya, dengan cara menurunkan arus yang sebanding dengan besarnya perubahan tegangan. Jika magnitude tegangan meningkat, akan melakukan pengisian muatan, arus tertahan. Jika magnitude tegangan menurun, akan melepaskan muatan, arus bertambah. Perlawanan terhadap perubahan tegangan ini dikatakan Reaktansi kapasitif (Kuphaldt, 2007). Berikut gambar kurva hubungan antara arus, tegangan dan daya pada rangkaian kapasitif murni seperti pada gambar 2.6.1 dibawah ini (Kuphaldt, 2007) :

Gambar 2.6.1 kurva hubungan antara arus, tegangan dan daya pada rangkaian kapasitif murni. Berikut gambar diagram fasor untuk rangkaian kapasitif, seperti yang perlihatkan pada gambar 2.6.2 (http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Negativfasvridning.svg) :

10

Gambar 2.6.2 diagram fasor untuk rangkaian kapasitif

2.7

Rangkaian R-L Seri Hambatan seri R dan XL dihubungkan dg teg. bolak-balik V. Hukum Ohm I :
VR iR VL iX L

VR = beda potensial antara ujung-ujung R VL = beda potensial antara ujung-ujung XL

Besar tegangan total V ditulis secara vektor :


V VR VL
2 2

Hambatan R dan XL juga dijumlahkan secara vektor :


Z R2 X L
2

Z = impedansi (Ohm)

Kuat arus yg mengalir pada rangkaian ini adalah :

V Z

V R XL
2 2

(http://mohtar.staff.uns.ac.id/files/2008/08/arus-bolak-balik.ppt)

2.8

Rangkaian RLC seri Perhatikan rangkaian AC yang terdiri dari hambatan (R), induktor (L) dan

kapasitor (C) yang tersusun seri. (http://www.norture.com/dl_view.php?file=Documents/Rangkaian+Listrik+(RL)/ Laporan+Praktikum+IV++Induktansi+dan+Kapasitansi+Pada+Rangkaian+AC.docx)

11

Impedansi pada rangkaian RLC seri dilambangkan Z, dengan rumus umum: Misalkan tegangan sumber adalah: ( ) ( ) ( ( ) ) ( )

sedangkan arus pada rangkaian adalah : Simbol menyatakan beda fasa antara arus dan tegangan. Karena rangkaian seri, maka arus pada setiap komponen sama dengan arus total, yaitu: ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ( ( ) ) ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ( ( ) ) )

Tegangan pada masing-masing komponen diberikan dalam tabel berikut. Komponen R L C Dengan: ( )

Sehingga: ( ) ( ) ( ) ( ) ( ( ) ( ( IMPEDANSI RANGKAIAN : ) ) ( )

12

Z = [R + (XL-XC)] BEDA FASE RANGKAIAN : tgq = (XL - XC)/R TEGANGAN RANGKAIAN (penjumlahan vektor-vektor VL, Vc dan VR) : V = [VR + (VL - VC)] BESAR FREKUENSI RESONANSI : F = 1/(2p) X [ 1/(LC)] Jika : XL > XC maka tg q positif berarti tegangan mendahului arus (rangkaian bersifat induktif). XL < XC maka tg q negatif berarti arus mendahului tegangan (rangkaian bersifat kapasitif). XL = XC maka tg q = nol sehingga Z = R Jadi di dalam rangkaian hanya ada hambatan R. dan dikatakan pada rangkaian terjadi resonansi seri (rangiaian bersifat resistif) (http://ilmupedia.com/akademik/fisika/63/318rangkaian-seri-rlc.html).

13

BAB III METODOLOGI

3.1 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Alat dan Bahan Breadbroad Kabel penghubung Trafo Batere Lampu Hambatan 1 ohm Multimeter

3.2

Prosedur Percobaan DC POWER

1. 2. 3.

Mengukur resistensi r dalam dari lampu dengan ohm meter. Memasang R dan lampu secara seri, seperti gambar. Menyiapkan sebuah batere1.5 volt dan menghubungkan dengan rangkain R dan lampu secara seri.

4.

Mengukur tegangan pada R, L (lampu), dan RL seri dengan multimeter volt DC.

AC POWER 1. 2. Memasang R dan lampu secara seri, seperti pada gambar. Menyiapkan trafo dengan keluaran sekitar 1,5 volt sebagai sumber tegangan AC dan menghubungkan dengan rangkaian R dan lampu secara seri. 3. Mengukur tegangan pada R,L (lampu), dan RL seri dengan multimeter volt AC.

14

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil

Pengamatan: a. DC POWER R OHM R OHM VR(V) VL,r (lampu) (V) 3,4 Perhitungan I=(
)

VS (V)

I(A)

P(watt)

4,928

0,37

1,86

2,6

0,3122

0,8117

I = 0,3122 A P = I x VS P = 0,8117

b. AC POWER R OHM L (mH) VR(V) VL,r


(lampu)

VS (V)

Z (OHM)

I (A)

(o)

P (watt)

(V) 3,4 1,7 x 10-3 0,7 9,8 12,2 8,59 1,2448 31,0306o 10,139

Perhitungan: VR VR XL XL Z2 Z I I = VL R/XL = 15,59 V = L = 2FL = 2 . . 200 . (1,7 x 10-3) = 2,136 = (R+r)2 + XL2 = 8,59 = VS/Z = VR/R = VC/XL = 1,2448 A

Tg = VL/(VR + Vr) = XL/(XR + Xr)


15

Pmaks Pmaks Peff

= 31,0306o = (VR + Vr) I = 20,28 watt = 10,139 watt

Diagram Fasor:

12,2 9,8 31,0306o 15,59 0,7

20,35

16

Baron Al Amru 240110090027 4.2 Pembahasan Pada percobaan kali ini, dilakukan perbandingan efektif antara aliran listrik arus AC dan DC. Media percobaannya adalah bola lampu. Pertama-tama, lampu dialiri listrik dari sumber berupa baterai dengan kapasitas tegangan 3 v (2 buah baterai). Pada breadboard, disusun rangkaian seri yang disisipi resistor untuk memberi hambatan. Bola lampu yang dinyalakan melalui rangkaian ini tidak terlalu terang, karena rangkaian ini dialiri daya total sebesar 2,6 V dengan hambatan atau resistansi sebesar 0,37 V dan tegangan pada lampunya sendiri sebesar 1,86 V. Selanjutnya adalah tahap percobaan yang menyalakan lampu

menggunakan aliran AC attau arus bolak-balik. Karena AC, maka dilakukan pergantian sumber tegangan dari 2 buah baterai berukuran AA menjadi adaptor yang dihubungkan pada sumber listrik di laboratorium. Dengan perbedaan hasil yang cukup signifikan, dapat dilihat bahwa besarnya teganganpun relatif besar jikadibandingkan dengan sebelumnya. Pada jaringan listrik AC, tegangan yang diberikan pada lampu sebesar 9,7 V dengan hambatan sebesar 0,7 V dan tegangan total sebesar 12,2 V. Jika ditinjau melalui perhitungannya, hal-hal yang menyebabkan besarnya perbedaan yang terjadi antara lampu yang dialiri listrik dari aliran AC dan DC adalah pada besarnya arus listrik yaitu sebesar 0,3122 Ampere pada listrik DC dan 1,2488 Ampere pada AC. Dengan selisih besarnya arus yang senilai 0,9366 A, maka dapat diketahui bahwa besarnya nila arus menentukan besarnya tegangan pada lampu. Pada perhitungan daya efektif, diperoleh perbedaan yang jauh yaitu 0,8117 w dan 10,139 w. sangat besar, dan dari percobaan pun telah diketahui bahwa aliran listrik AC memberikan tingkat keterangan lampu yang jauh dibandingkan DC. Dengan diagram fasor yang merupakan pythagoras dari Vs, Vr, dan VR.

Tugas Pendahuluan 3. Diketahui : F1 = 60 Hz F2 = 120 Hz F3 = 2500 Hz

17

Baron Al Amru 240110090027 Induktif XL = 2 F L = 2 . 60 . 10-5 = 3,769 . 10-3 XL = 2 F L = 2 . 120 . 10-5 = 7,5398 . 10-3 XL = 2 F L = 2 . 2500 . 10-5 = 0,157 . 10-3

Kapasitif XC = 1/(2 F C) = 1/(2 . 60 . 10-4) = 26,52 XC = 1/(2 F C) = 1/(2 . 120 . 10-4) = 13,2629 XC = 1/(2 F C) = 1/(2 . 2500 . 10-4) = 0,6366 4. XL = 650 . 10-3 . 2 . 60 = 245,044 XC = 1/(2 . 60 . 1,5 . 10-6) = 1768,388 Zr2 = r2 + Xr2 Zr = 250 + 0 j atau 250 < 00 ZL2 = rL2 + XL2 ZL = 0 + 245,044 j atau 245,044 < 900 ZC2 = rC2 + XC2 ZC = 0 + 1768,388 j atau 1768,388 < -900 Z total = 250 + 2013,432 j atau 1543,72 < -80,68

18

Egi Rahmat Suprayogi 240110090028 4.2 Pembahasan

1. Pengukuran pada jaringan DC Berdasarkan hasil pengamatan yang terdapat pada tabel 1. Diperoleh data resistor 10 dan sumber listrik dari 2 buah batu baterai. Pertama-tama Pengamatan dilakukan dengan menyusun terlebih dahulu resistor dan lampu secara rangkaian RL seri yang dihubungkan sumber listrik yaitu kedua buah batu baterai. Setelah rangkaian terbentuk, Kemudian dilakukan pengukuran tegangan dengan menggunakan multimeter volt DC. Data yang dihasulkan dari pengukuran tersebut adalah nilai tegangan R dan L masing masing 3,4dan 1,7 x 10-3volt. Setelah nilai R dan L diperoleh , kemudian dilakukan perhitungan selanjutnya yaitu mencari nilai tegangan sumber isyarat ( Vs ) , arus ( I ) dan daya ( P ) dengan rumus sebagai berikut : I= Vs = P = I2 (R + r)

Dengan menggunakan rumus diatas maka diperoleh nilai I = 0,3122 A , Vs = 2,6Volt , dan P = 0,8117 watt.. Nilai P dipengaruhi oleh besar kecil nya arus dan tegangan, Semakin besar nilai arus dan tegangan maka akan semakin besar juga daya yang dapat ditampung atau dihasilkan.

2. Pengukuran pada jaringan AC Berdasarkan hasil pengamatan yang terdapat pada tabel 2. diperoleh data resistor 10 dan sumber listrik dari trafo dan induktansi. pertama tama

Pengamatan dilakukan dengan menyusun terlebih dahulu resistor dan lampu secara rangkaian RL seri yang dihubungkan sumber listrik yaitu trafo. Setelah rangkaian terbentuk, kemudian dilakukan pengukuran tegangan dengan

menggunakan multimeter volt AC. data yang dihasulkan dari pengukuran tersebut adalah nilai tegangan R dan L masing masing 1.21 dan 1.6 volt. Setelah nilai R dan L diperoleh , kemudian dilakukan perhitungan selanjutnya yaitu mencari nilai tegangan sumber isyarat ( Vs ) , arus ( I ) dan daya ( P ) dalam jaringan AC di hitung juga impedansi ( Z ) , sudut ( ) dan daya efektif ( PEff ) .

Berdasarkan data praktikum diperoleh nilain I = 1,2448 A , Vs = 12,2 Volt , P = 10,139watt , Z = 8,59, = 31,0306o

19

Egi Rahmat Suprayogi 240110090028 dari ke-2 pengamatan yang telah dilakukan dengan menggunakan jaringan AC dan DC ternyata nyala lampu yang dihasilkan trafo lebih terang dari pada yang menggunakan baterai ,hal ini kemungkinan terjadi karena adanya pengurangan daya pada baterai .

Tugas Pendahuluan 3. Diketahui : F1 = 60 Hz F2 = 120 Hz F3 = 2500 Hz Induktif XL = 2 F L = 2 . 60 . 10-5 = 3,769 . 10-3 XL = 2 F L = 2 . 120 . 10-5 = 7,5398 . 10-3 XL = 2 F L = 2 . 2500 . 10-5 = 0,157 . 10-3

Kapasitif XC = 1/(2 F C) = 1/(2 . 60 . 10-4) = 26,52 XC = 1/(2 F C) = 1/(2 . 120 . 10-4) = 13,2629 XC = 1/(2 F C) = 1/(2 . 2500 . 10-4) = 0,6366 4. XL = 650 . 10-3 . 2 . 60 = 245,044 XC = 1/(2 . 60 . 1,5 . 10-6) = 1768,388 Zr2 = r2 + Xr2 Zr = 250 + 0 j atau 250 < 00 ZL2 = rL2 + XL2 ZL = 0 + 245,044 j atau 245,044 < 900 ZC2 = rC2 + XC2 ZC = 0 + 1768,388 j atau 1768,388 < -900 Z total = 250 + 2013,432 j atau 1543,72 < -80,68

20

Gardhi D W 240110090029 4.2 Pembahasan Untuk praktikum kali ini kita menghitung suatu arus listrik pada lampu yang di aliri oleh arus AC dan DC. Pertama kali di gunakan batu baterai 2 buah yang memiliki tegangan 3 V. Sebelumnya menghitung dulu hambatan pada resistor. Selanjutnya merangkai Rangkaian di buat dengan cara seri dan di beri sebuah resistor. Kemudian dialiri arus DC dari 2 buah baterai tersebut. Setelah mengalir terlihat lampu menyala tetapi tidak terlalu terang dan setelah pengukuran di dapat tegangan untuk resistor adalah 0,37 V dan untuk tegangan pada lampu adalah 1,86 V dengan tegangan total 2,6 V pada arus DC. Untuk percobaan pada arus AC terjadi penggantian sumber listrik

sehingga batu batrai di ganti oleh adaptor AC. Setelah pergantian sumber listrik dengan rangkaian yang sama setelah teraliri oleh adaptor AC terlihat dengan multimeter tegangan pada resistor adalah 0,7 V dan tegangan pada lampu adalah 9,8 V dan untuk tegangan gabungan adalah 12,2 V. Terlihat perubahan dari lampu yang semula dengan arus DC menyala dengan tingkat keterangan yang sedikit tetapi setelah pergantian sumber lampu menyala lebih terang dibandingkan dengan arus pada DC. Setelah di bandingkan ternyata adanya perbedaan dari nilai tegangan akan sumber AC dan DC. Perbedaan tersebut adalah pada arus listrik dengan nilai yang lumayan agak berbeda yaitu 0,3122 A untuk DC sedangkan untuk AC di dapat 1,2448 A . Untuk daya efektif di dapatkan perbedaan sebesar 0,8117 watt untuk arus DC sedangkan di dapat sebesar 10,139 watt untuk arus AC. Bedasarkan diagram fasor dapat dianalisis bahwa besarnya VL berdasarkan dari phytagoras antara VS , VR , dan Vr .

Tugas Pendahuluan 3. Diketahui : F1 = 60 Hz F2 = 120 Hz F3 = 2500 Hz Induktif XL = 2 F L = 2 . 60 . 10-5 = 3,769 . 10-3 XL = 2 F L = 2 . 120 . 10-5 = 7,5398 . 10-3

21

Gardhi D W 240110090029 XL = 2 F L = 2 . 2500 . 10-5 = 0,157 . 10-3

Kapasitif XC = 1/(2 F C) = 1/(2 . 60 . 10-4) = 26,52 XC = 1/(2 F C) = 1/(2 . 120 . 10-4) = 13,2629 XC = 1/(2 F C) = 1/(2 . 2500 . 10-4) = 0,6366 4. XL = 650 . 10-3 . 2 . 60 = 245,044 XC = 1/(2 . 60 . 1,5 . 10-6) = 1768,388 Zr2 = r2 + Xr2 Zr = 250 + 0 j atau 250 < 00 ZL2 = rL2 + XL2 ZL = 0 + 245,044 j atau 245,044 < 900 ZC2 = rC2 + XC2 ZC = 0 + 1768,388 j atau 1768,388 < -900 Z total = 250 + 2013,432 j atau 1543,72 < -80,68

22

Muhammad Mudawir 240110090030 4.2 Pembahasan Pengamatan dengan DC power Pada pengamatan dengan DC power, diawali dengan mengukur resistansi pada lampu, nilai R pada lampu sebesar 1,86 ohm, nilai resistansi dapat diketahui dengan menggunakan mutitester. Dari ) I adalah

persamaan I = V/R didapatkan nilai I = 0,3122 ampere. Kemudian daya maksimal yang didapat melalui persamaan Pmaks=( ) I adalah 0,14965 watt.

20,28 watt dan daya efisien yang didapat melalui persamaan Peff =0,5(

Pengamatan dengan AC power Untuk dapat mengetahui nilai reaktansi dari lampu langkah yang

dilakukan adalah mencari nilai L dan dengan persamaan XL= L, maka didapatkan nilai reaktansi sebesar 15,59. Kemudian untuk menentukan besar arusnya digunakan persamaan I = = didapatkan arus

sebesar 1,2448 Ampere, dan mendapatkan daya maksimal pada jaringan AC dengan menggunakan persamaan Pmaks = (VR+Vr) I didapatkan daya sebesar 20,28 watt dan daya efektif sebesar 10,139 watt dengan menggunakan persamaan Peff = 0.5(VR+Vr) I. Daya yang didapatkan pada rangkaian AC dan rangkaian DC memiliki perbedaan nilai yang cukup jauh, walaupun rangkaian AC/DC tersebut mendapatkan tegangan yang pada msaing-msing rangkaiannya.

Tugas Pendahuluan 3. Diketahui : F1 = 60 Hz F2 = 120 Hz F3 = 2500 Hz Induktif XL = 2 F L = 2 . 60 . 10-5 = 3,769 . 10-3 XL = 2 F L = 2 . 120 . 10-5 = 7,5398 . 10-3 XL = 2 F L = 2 . 2500 . 10-5 = 0,157 . 10-3

23

Muhammad Mudawir 240110090030 Kapasitif XC = 1/(2 F C) = 1/(2 . 60 . 10-4) = 26,52 XC = 1/(2 F C) = 1/(2 . 120 . 10-4) = 13,2629 XC = 1/(2 F C) = 1/(2 . 2500 . 10-4) = 0,6366 4. XL = 650 . 10-3 . 2 . 60 = 245,044 XC = 1/(2 . 60 . 1,5 . 10-6) = 1768,388 Zr2 = r2 + Xr2 Zr = 250 + 0 j atau 250 < 00 ZL2 = rL2 + XL2 ZL = 0 + 245,044 j atau 245,044 < 900 ZC2 = rC2 + XC2 ZC = 0 + 1768,388 j atau 1768,388 < -900 Z total = 250 + 2013,432 j atau 1543,72 < -80,68

24

Lulu Labida 240110090031 4.2 Pembahasan Pada praktikum yang berjudul Daya Lampu Pada jaringan AC/DC ini kita melakukan percobaan untuk mengetahui besarnya resistansi dan reaktansi lampu, menentukan besarnya arus AC/DC yang melalui lampu dan

membandingkan besarnya daya/power pada jaringan AC dan DC. Pada rangkaian DC kita menggunakan dua buah batu baterai yang memiliki tegangan 3 V. Hal pertama yang dilakukan adalah menghitung hambatan pada resistor, kemudian membuat rangkaian. Rangkaian dibuat dengan cara seri, diberi sebuah resistor, kemudian dialiri arus DC dari dua buah baterai tersebut. Setelah mengalir hasil yang didapat adalah lampu menyala tetapi tidak terlalu terang. Setelah dilakukan pengukuran maka tegangan untuk resistor diperoleh sebesar 0,37 V, tegangan pada lampu sebesar 1,86 V dan tegangan total sebesar 2,6 V. Pada arus AC terjadi penggantian sumber listrik dari batu baterai menjadi adaptor AC. Dengan menggunakan rangkaian yang sama setelah teraliri oleh adaptor AC, pada multimeter terlihat bahwa tegangan pada resistor diperoleh sebesar 0,7 V dan tegangan pada lampu adalah 9,8 V, sedangkan untuk tegangan gabungan adalah 12,2 V. Dapat dilihat bahwa perbedaan yang signifikan terjadi ketika sumber listrik yang digunakan berbeda. Nyala lampu pada arus DC tidak seterang lampu pada arus AC. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan dari nilai tegangan pada sumber AC dan DC. Perbedaan tersebut terdapat pada besarnya arus listrik yaitu 0,3122 A untuk DC sedangkan untuk AC adalah 1,2448 A. Untuk daya efektif pada arus DC didapatkan nilai sebesar 0,8117 watt sedangkan pada arus AC sebesar 10,139 watt. Dari diagram fasor dapat dianalisis bahwa besarnya VL ditentukan dari perhitungan phytagoras antara VS , VR , dan Vr .

Tugas Pendahuluan 3. Diketahui : F1 = 60 Hz F2 = 120 Hz F3 = 2500 Hz Induktif XL = 2 F L = 2 . 60 . 10-5 = 3,769 . 10-3

25

Lulu Labida 240110090031 XL = 2 F L = 2 . 120 . 10-5 = 7,5398 . 10-3 XL = 2 F L = 2 . 2500 . 10-5 = 0,157 . 10-3

Kapasitif XC = 1/(2 F C) = 1/(2 . 60 . 10-4) = 26,52 XC = 1/(2 F C) = 1/(2 . 120 . 10-4) = 13,2629 XC = 1/(2 F C) = 1/(2 . 2500 . 10-4) = 0,6366 4. XL = 650 . 10-3 . 2 . 60 = 245,044 XC = 1/(2 . 60 . 1,5 . 10-6) = 1768,388 Zr2 = r2 + Xr2 Zr = 250 + 0 j atau 250 < 00 ZL2 = rL2 + XL2 ZL = 0 + 245,044 j atau 245,044 < 900 ZC2 = rC2 + XC2 ZC = 0 + 1768,388 j atau 1768,388 < -900 Z total = 250 + 2013,432 j atau 1543,72 < -80,68

26

Baron Al Amru 240110090027 BAB V PENUTUP

5.1

Kesimpulan Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Tegangan yang lebih besar memberikan tingkat keterangan yang lebih juga pada lampu. 2. Tegangan AC yang merupakan listrik dari Laboratorium memiliki daya yang jauh lebih besar dibandingkan dengan daya dari sumber tegangan DC yang berupa baterai. 3. Perbedaan daya efektif pada aliran listrik AC dan DC adalah 10,139 w0,8117 w = 9,3273 watt. 4. Perolehan diagram fasor dari L merupakan perumusan dari pythagoras antara VR, VS, dan Vr .

5.2

Saran 1. Peralatan dasar seperti multimeter sangat diperlukan, sehingga sebaiknya penyediaan peralatan pada keadaan optimal akan sangat membantu jalannya praktikum. 2. Pengawasan asisten bersifat krusial sehingga sangat dibutuhkan demi kelancaran percobaan.

27

Egi Rahmat Suprayogi 240110090028 BAB V PENUTUP

5.1 1.

Kesimpulan Listrik arus searah atau DC (Direct Current) adalah aliran arus listrik yang konstan dari potensial tinggi ke potensial rendah.

2.

Arus bolak-balik (AC/alternating current) adalah arus listrik dimana besarnya dan arahnya arus berubah-ubah secara bolak-balik.

3. 4.

Nilai arus dipengaruhi oleh besar-kecilnya tegangan yang diinput. Pada jaringan DC Nilai P dipengaruhi oleh besar kecil nya arus dan tegangan, Semakin besar nilai arus dan tegangan maka akan semakin besar juga daya yang dapat ditampung atau dihasilkan.

5.

Nyala lampu yang dihasilkan trafo lebih terang dari pada yang menggunakan baterai , hal ini kemungkinan terjadi karena adanya pengurangan daya pada baterai .

5.2 1.

Saran Pasanglah resistor atau lampu dengan benar pada breadboar agar tidak mudah lepas.

2.

Pastikan alat pengukur tegangan benar-benar menempel pada objek praktikum agar diperoleh data yang akurat.

28

Gardhi D W 240110090029 BAB V PENUTUP

5.1

Kesimpulan Kesimpulan yang di dapat pada praktikum kali ini adalah :

1.

Lampu menyala lebih terang saat di beri tegangan AC sedangkan lampu tidak terlalu terang saat di aliri aliran DC.

2.

Daya pada arus AC dan DC berbeda yaitu 0,8117 watt pada DC dan 10,139 watt pada AC.

3.

Diagram fasor dalam pencarian tegangan pada L di dapat dari rumusan phytagoras dari VR , VS , Vr

5.2 1.

Saran Sebaiknya multimeter diperiksa terlebih dahulu sebelum praktikum agar tidak mengganggu pada saat praktikum.

2.

Pada saat praktikum sebaiknya minta pengawasan asdos agar tidak terjadi kesalahan.

29

Muhammad Mudawir 240110090030 BAB V PENUTUP

5.1 1.

Kesimpulan Nilai I dan P pada rangkaian DC masing-masing 0,129 ampere dan 0,2993 watt, sedangkan pada rangkaian AC didapatkan besar arus sebesar 0,173 ampere dan daya efektik sebesar 0,269 watt.

2. 3. 4.

Arus DC yang melalui lampu lebih besar daripada arus AC. Besar daya pada rangkaian AC lebih besar dari rangkaian DC. Pada rangkaian yang dialiri arus DC dapat menghitung besar resistansi lampu saja, sedangkan pada rangkaian yang dialiri arus AC menghitung nilai reaktansi lampu saja. dapat

5.

Arus AC merupakan arus listrik dimana besarnya dan arahnya arus berubah secara bolak-balik, yang berarti tidak konstan dan besarnya daya pun bisa tinggi atau pun rendah.

5.2 1. 2.

Saran Agar lebih teliti dalam menbaca nilai pada multitester. Praktikan agar mengerti prosedur praktikum sebelumnya agar tidak kesalahan.

3.

Lebih memahami teori-teori yang berlaku pada jaringan AC dan DC.

30

Lulu Labida 240110090031 BAB V PENUTUP

5.1

Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum kali ini adalah :

4.

Nyala lampu pada arus DC tidak seterang lampu pada arus AC. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan dari nilai tegangan pada sumber AC dan DC.

5.

Besar arus listrik pada DC adalah sebesar 0,3122 A, sedangkan pada AC sebesar 1,2448 A.

6.

Besar daya efektif pada arus DC adalah sebesar 0,8117 watt, sedangkan pada arus AC sebesar 10,139 watt.

7.

Dari diagram fasor dapat dianalisis bahwa besarnya VL ditentukan dari perhitungan phytagoras antara VS , VR , dan Vr .

5.2

Saran Beberapa saran yang diberikan agar praktikum berjalan dengan lebih baik

kedepannya diantaranya: 1. Dalam menghitung sebaiknya dilakukan dengan lebih teliti dan hati-hati agar hasil perhitungan akurat. 2. Diperlukan kerja sama yang baik diantara anggota kelompok agar praktikum berjalan dengan cepat, baik dan lancar. 3. Kelancaran alat harus sangat diperhatikan karena dengan alat yang berfungsi baik praktikum pun akan berjalan dengan lancar.

31

DAFTAR PUSTAKA Kuphaldt R.Tony. 2007. Lessons In Electric Circuits, Volume II AC. Publish by Design Science License. California http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Negativ-fasvridning.svg (Diakses pada tanggal 10/10/2011 pukul 19.00 WIB) http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Impedans-induktiv.svg (Diakses tanggal 10/10/2011 pukul 19.00 WIB) http://id.wikipedia.org/wiki/Induktor (Diakses pada tanggal 10/10/2011 pukul 19.00 WIB) http://ilmupedia.com/akademik/fisika/63/318-rangkaian-seri-rlc.html pada tanggal 10/10/2011 pukul 19.00 WIB) (Diakses pada

http://web.ipb.ac.id/~tepfteta/elearning/media/Energi%20dan%20Listrik%20Perta nian/MATERI%20WEB%20ELP/Bab%20VIII%20RANGKAIAN%20RLC /pendahuluan.htm (Diakses pada tanggal 10/10/2011 pukul 19.00 WIB)

http://www.electroniclab.com/index.php?option=com_content&view=article&id= 9:kapasitor-&catid=6:elkadasar&Itemid=7 10/10/2011 pukul 21.00 WIB) http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_full.php?id=275 10/10/2011 pukul 21.00 WIB) http://www.norture.com/dl_view.php?file=Documents/Rangkaian+Listrik+(RL)/L aporan+Praktikum+IV++Induktansi+dan+Kapasitansi+Pada+Rangkaian+AC.docx (Diakses pada tanggal 10/10/2011 pukul 21.00 WIB) http://mohtar.staff.uns.ac.id/files/2008/08/arus-bolak-balik.ppt tanggal 10/10/2011 pukul 21.30 WIB) http://irshadi-bagas-4all.blogspot.com/2008/01/elektronika-dasar-resistor-rresistor.html (Diakses pada tanggal 10/10/2011 pukul 21.30 WIB) (Diakses pada (Diakses pada tanggal (Diakses pada tanggal

32

LAMPIRAN

Gambar 1 : Bola lampu

Gambar 2 : Multimeter

Gambar 3 : Breadboard

33