Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PENUGASAN BLOK RESPIRASI CRITICAL APRAISAL

Nama Tutor Kelompok

Oleh : : Rahmat Nugroho Fajar Ardi : dr. Luthfi Gazhali, M.Kes : 28

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2011

1. Resume Kasus Seorang laki-laki 30 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan batuk berdahak yang bercampur darah. Batuk di rasakan sejak 3 bulan yang lalu dan selama ini hanya minum obat batuk yang baru dibeli di warung namun tidak membaik. Pasien menyatakan sejak batuk ini berat badanya turun, merasa lesu, sering demam dan tidak nafsu makan. Ayah pasien yang tinggal serumah dengannya juga memliki riwayat batuk lama dan berobat tidak rutin. Dokter menduga pasien tersebut menderita TBC dan berencana melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

2. Analisis Kasus dengan pendekatan EBM Step I : Menentukan problem pasien Contoh : a. Problem diagnosis - Apakah batuk batuk berdahakn dan bercampur darah merupakan gejala dari TBC ? - Apakah batuk yang dirasakan selama 3 bulan itu merupakan gejala dari TBC ? - Bagaimana cara menegakan diagnosis TBC ? b. Problem terapi - Mengapa obat yang dibeli di warung tidak mampu untuk mengatasi batuk tersebut ? - Terapi apa yang lebih tepat untuk kasus TBC ? c. Problem harm - Apakah ayah pasien yang mengalami gejala yang sama merupakan factor resiko untuk mengalami TBC ? d. Problem prognosis - Bagaimana prognosis dari penyakit TBC ? - Bagaimana prognosis dari penyakit TBC yang telat tertangani ? e. Problem Ekonomi - Apakah pemeriksaan TBC membutuhkan biaya yang besar ? Step II : Analisis PICO Patient/Problem (P) Intervention Comparison Outcome

: Laki-laki 30 tahun dengan curiga penyakit TBC : : : Diagnosis pasti penyakit yang diderita

Step III : Menyusun Good Clinical Answerable Question Apakah Step IV : Penulusuran Evidence Melalui ebsco : search.ebscohost.com Kata kunci : diagnosis + tuberculosis Dipilih artikel : Diagnosis and follow up of treatment of latent tuberculosi; the utility of the QuantiFERON-TB Gold In-Tube assay in outpatients from a tuberculosis low-endemic country. Anne M Dyrhol-Riise, Gerd Gran, Tore Wentzel-Larsen, Bjorn Blomberg, Christel Gill Haanshuus, Odd Morkve

Resume dari evidence Background : Interferon-gamma (IFN-) Release Assays (IGRA) are more specific than the tuberculosis skin test (TST) in the diagnosis of latent tuberculosis (TB) infection (LTBI). We present the performance of the QuaniFERON-TB Gold In-tube (QFT-TB) assay as diagnostic test and during follow-up of presentive TB therapy in outpatients from a TB low-endemic country. Methods : 481 persons with suspect TB interfention were tested with QFT-TB. Thoracic X-ray and sputum samples were performed and a questionnaire risk factors for TB was filled. Three months of isoniazid and rifampicin were given to patients with LBTI and QFT-TB test were performed after three and 15 months. Results : the QFT-TB test was positive in 30.8% (148/481) of the total, in 66,9 % (111/166) of persons with origin from a TB endemic country, in 71,4% (20/28) previously treated and 100% (15/15) of those diagnosed with active TB with no inconclusive results. The QFT-TB test was more frequently positive in those with TST > 15 mm (47,5%) compared to TST 11-14 mm (21,3%) and TST 6-10 mm (10,5%), (p < 0,001). Origin from a TB endemic country (OR 6,82, 95% Cl 1,73-26,82), recent stay in a TB endemic country (OR 1.32,95% Cl 2.02-66.73) were all independently associated with a positive QFT-TB test. After preventive therapy; 35/40 (87,5%) and 22/26 (84,6%) were still QFT-TB positive after three and 15 months, respectively. IFN- Response were comparable at start (mean 6.13 IU/ml + SD 3.99) and after three months (mean 5.65 IU/ml + SD 3.66) and 15 months (mean 5.65 IU/ml + SD 4.14), (p > 0.05). Conclusion : Only one third of those with suspected TB infection had a positive QFT-TB Test. Recent immigration from TB endemic countries and long duration of exposure arte risk factor for a positive QFT-TB test and these group should be targeted through screening. Since most patients remained QFT-TB positive after therapy, the test should not be used to monitor the effect of preventive therapy. Prospective studies are needed in order to determine the usefulness of IGRA test during therapy. Step V Jawaban Pertanyaan Klinik Diagnosis pasti TBC pada penggunaan tes IGRA masih dalam penelitian karena pada penilitian ini tes IGRA digunakan pada pasien yang sedang mengalami terapi pencegahan TB di daerah yang bukan merupakan endemik TB. Step VI : Menentukan Level Evidence Step VII : Critical Appraisal

Step VIII : Penerapan pada Praktek Dengan memperhatikan beberapa kriteria kesamaan kasus atau problem dan variable individual pasien dapat disimpulkan bahwa hasil pencarian evidence ini belum bisa diterapkan karena masih butuh penilitian selanjutnya. Step IX : Evaluasi