Anda di halaman 1dari 54

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!

o
[1]

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar BeIakang
Pendidikan tenaga kesehatan merupakan bagian integral
dari pembangunan kesehatan secara nasional merupakan salah
satu elemen penting dalam mewujudkan ndonesia Sehat 2010.
yang di arahkan untuk mendukung upaya pencapaian derajat
kesehatan yang di selenggarakan untuk memperloleh tenaga
kesehatan yang bermutu,yang mamapu mengembangkan tugas
dan mewujudkan perubahan,pertumbuhan dan pembaharuan
dalam rangka memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan bagi
seluruh masyarakat.
Untuk mewujudkan ndonesia Sehat 2010 telah ditetapkan
misi dan strategi yang meliputi pembangunan yang berwawasan
kesehatan yang dilandasi pandangan baru dan paradigma sehat,
professional, jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
(JPKM) dan desentralisasi. Keempat strategi tersebut sangat
relevan dengan perkembangan yang terjadi di tanah air kita
dewasa ini. Salah satu institusi lembaga kesehatan yang

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[2]

menyediakan tenaga kesehatan khususnya di bidang Farmasi
adalah Sekolah Menengah Kejuruan Farmasi Yamasi.

Sekolah Menengah Kejuruan Farmasi Yamasi
menyelenggarakan pendidikan untuk menghasilkan tenaga
Farmasi yang terampil, terlatih dan dapat mengembangkan diri
secara professional berdasarkan nilai-nilai yang dapat menunjang
upaya pengembangan dibidang kesehatan.
Untuk menghasilkan tenaga kesehatan khususnya dibidang
Farmasi, maka penyelenggaraan pendidikan terutama proses
belajar mengajar harus ditingkatkan secara terus menerus baik
kualitas maupun kuantitas. Dalam pelaksanaan pendidikan, proses
pembelajaran yang terjadi tidak terbatas di dalam kelas saja.
Pelajaran yang berlangsung pada pendidikan ini lebih ditekankan
pada pengajaran yang menerobos diluar kelas bahkan diluar
institusi pendidikan seperti lingkungan kerja atau masyarakat.
Dalam hal ini praktek kerja lapangan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari sistem program pengajaran serta merupakan
wadah yang tepat untuk mengaplikasikan pengetahuan, sikap dan
keterampilan yang diperoleh dalam proses belajar mengajar (PBM).

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[3]

ahan praktek sebagai sarana belajar mengajar utama untuk
mewujudkan tenaga professional dan juga sebagai wahana untuk
meningkatkan keterampilan secara utuh dari seorang pelajar yang
telah mendapatkan pelajaran di kelas atau praktek di laboratorium.

B. Pengertian
Praktek Kerja apangan adalah proses belajar mengajar
yang merupakan sarana pengenalan lapangan kerja dan informasi
bagi peserta didik sehingga dapat melihat, mengenal, mengetahui,
menerima dan menyerap teknologi yang ada dimasyarakat. PK
yang merupakan proses belajar mengajar yang pada sarana
kesehatan yang meliputi berbagai kegiatan antara lain :
O Pendistribusian
O Administrasi dan pengawasan mutu sediaan Farmasi, makanan,
minuman dan alat kesehatan
O Serta penyuluhan kepada masyarakat.
Sehingga peserta didik mendapat pengalaman yang nyata
langsung pada satuan kerja.
. Tujuan PeIaksanaan PKL

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[4]

Dengan adanya Praktek Kerja apangan, diharapkan dapat
menghasilkan tenaga kesehatan dibidang farmasi tingkat
menengah yang mampu bekerja dalam sistem pelayanan
kesehatan.


Tujuan Pelaksanaan PK adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan, memperluas dan memantapkan keterampilan yang
membentuk kemampuan peserta didik sebagai bekal untuk
memasuki lapangan kerja sesuai dengan kebutuhan program
pendidikan yang ditetapkan.
2. Mengenal kegiatan-kegiatan penyelenggaraan program kesehatan
masyarakat secara menyeluruh baik ditinjau dari aspek
administrasi, teknis maupun sosial budaya.
3. Memberi kesempatan kerja yang nyata dan langsung secara
terpadu dalam melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan
dibidang Farmasi di Rumah Sakit, Puskesmas, PBF, PBAK, BPOM,
Gudang Farmasi dan penyuluhan kepada masyarakat.
4. Menumbuh kembangkan dan menetapkan sikap etis dan
profesionalisme yang diperlukan peserta didik untuk memasuki
lapangan kerja sesuai dengan bidangnya.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[5]

. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
memasyarakatkan diri pada suasana atau iklim lingkungan kerja
yang sebenarnya.
6. Meningkatkan, memperluas dan memantapkan proses penyerapan
teknologi baru dari lapangan kerja kesekolah dan sebaliknya.
7. Memperoleh masukan dan umpan balik, guna memperbaiki dan
mengembangkan serta meningkatkan penyelenggaraan pendidikan
Sekolah Menengah Farmasi.
8. Memberi kesempatan penempatan kerja kepada peserta didik.

D. Tujuan Pembuatan Laporan PKL
Pembuatan laporan PK mempunyai tujuan :
1. Peserta PK akan mampu memahami, memantapkan, dan
mengembangkan pelajaran yang telah diperoleh di sekolah dan
diterapkan di lapangan kerja.
2. Peserta PK mampu mencari pemecahan masalah yang
ditemukan di lapangan.
3. Mengumpulkan data guna kepentingan institusi pendidikan
maupun peserta didik yang bersangkutan.
4. Menambah inventarisasi perpustakaan sekolah untuk menunjang
peningkatan pengetahuan peserta didik.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[6]



BAB II
URAIAN UMUM

A. Pengertian Gudang Farmasi (Unit PengoIahan Obat dan
PerbekaIan Kesehatan)
Gudang Farmasi adalah tempat penerimaan barang
persediaan berupa obat, alat kesehatan dan perbekalan kesehatan
lainnya yang tujuannya akan digunakan untuk melaksanakan
program kesehatan di Kabupaten yang bersangkutan.
B. Kedudukan Gudang Farmasi Kota Makassar
Keputusan Menkes No.610/Menkes/SK/X/1981 tentang
organisasi dan tata kerja gudang perbekalan kesehatan dibidang
farmasi kabupaten, yang menetapkan bahwa gudang farmasi
berkedudukan sebagai unit pelaksana teknis dalam lingkungan
Departemen Kesehatan yang merupakan tempat penerimaan,
penyimpanan dan pendistribusian perbekalan farmasi dan
peralatan kesehatan yang berada di bawah bertanggung jawaban
langsung kepada Kepala Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten.
Dengan dikeluarkan peraturan mengenai "OTODA No. 22 tahun
1999 maka Gudang Farmasi Kota Makassar tidak berada dan

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[7]

bertanggung jawab langsung kepada Dinas Kesehatan Kota
Makassar.

. Tugas dan Fungsi Gudang Farmasi Kota Makassar (Unit
PengeIoIaan PubIik dan PerbekaIan Kesehatan)
Sesuai dengan keputusan menteri Kesehatan
No.610/Menkes/SK/X/1981 tentang organisasi dan tata kerja
perbekalan kesehatan dibidang farmasi kabupaten antara lain
ditetapkan mengenai tugas dan fungsi Gudang Farmasi.
Gudang Farmasi mempunyai tugas melaksanakan
pengelolaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian
perbekalan farmasi dan peralatan kesehatan, pencegahan dan
pemberantasan penyakit serta pembinaan masyarakat di
Kabupaten sesuai petunjuk Kepala Kantor Dinas Kesehatan
Kabupaten yang bersangkutan.
Fungsi Gudang Farmasi yaitu :
1. Menerima, menyimpan memelihara, mendistribusikan obat
dan alat kesehatan serta perbekalan kesehatan lainnya.
2. Menyiapkan penyusunan rencana pencatatan dan
pelaporan mengenai persediaan dan penggunaan obat,
alat kesehatan dan perbekalan farmasi.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[8]

3. Mengenai mutu dan khasiat obat secara umum, baik yang
dalam persediaan maupun yang akan di distribusikan.
D. Kedudukan KepaIa Gudang Farmasi Kota Makassar
1. Kepala Gudang Farmasi secara struktural berkedudukan
sebagai Kepala Unit Pelaksanaan Teknis.
2. Disamping itu Kepala Gudang Farmasi mempunyai tugas :
a. Mengolah dan mengevaluasi laporan tentang mutu obat,
alat kesehatan dan perbekalan kesehatan lainnya.
b. Memberikan informasi tentang pengelolaan obat, alat
kesehatan dan perbekalan kesehatan lainnya.
c. Melakukan penyiapan penyusunan rencana, pencatatan
dan pelaporan mengenai persediaan dan penggunaan
obat, alat kesehatan dan perbekalan kesehatan lainnya.
3. Kepala Gudang Farmasi Kota Makassar secara fungsional
berkedudukan sebagai Bendaharawan Barang.
Selaku demikian yang bersangkutan mempunyai tugas :
a. Menerima, menyimpan, memelihara, dan mengeluarkan
barang.
b. Menyelenggarakan tata buku pergudangan yang cukup
jelas dan mudah dikontrol, serta membukukan setiap
mutasi barang.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[9]

c. Menyusun pencatatan dan laporan mengenai persediaan
dan penggunaan obat-obat, alat kesehatan dan
perbekalan kesehatan lainnya serta melakukan evaluasi.
d. Melaporkan (dalam bentuk berita acara) atas kehilangan
/ kerusakan barang persediaan.
E. Keadaan Gudang Farmasi Kota Makassar
Dengan berdirinya gudang farmasi kota Makassar, maka di
harapkan pengelolaan obat dapat berjalan lebih lancar, efektif dan
efisien serta penggunaan obat lebih rasional dan mutu obat lebih
terjamin. Gudang farmasi bukan hanya melayani masyarakat di
bidang obat, tetapi juga berperan sebagai pusat informasi untuk
pengelolaan alat kesehatan dan perbekalan farmasi lainnya.
F. Struktur Organisasi Gudang Farmasi Kota Makassar (Unit
PengeIoIaan Obat PubIik dan PerbekaIan Kesehatan)
ampiran : Peraturan Wakil Kota Makassar
Nomor : 88 Tahun 200
Tentang : Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja
UPTD Pengelolaan Obat.
Untuk daerah Sulawesi Selatan khususnya Kota Makassar, dimana
struktur organisasinya sebagai berikut :

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[10]

STRUKTUR ORGANISASI
GUDANG FARMASI KOTA MAKASSAR















G. Daftar Puskesmas dan BaIai Pengobatan Kota Makassar Yang
DiIayani OIeh Gudang Farmasi
Daftar puskesmas dan balai pengobatan yang dilayani oleh
unit pelayanan pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan kota
Makassar

KEOMPOK JABARAN FUNGSONA




KEPAA UPTD
KETATAUSAHAAN

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[11]

u, Puskesmus
Puskesmus AnduIus
Puskesmus Anturu
Puskesmus Antung Lumu
Puskesmus Antung Perumnus
Puskesmus uru-uruyu
Puskesmus utuu
Puskesmus iru
Puskesmus urombong
Puskesmus Cenderuwusih
Puskesmus DuhIiu
Puskesmus Duyu
Puskesmus Jonguyu
Puskesmus TuIIo {Ugungpundung uru}
Puskesmus kuIuku odou
Puskesmus kussi-kussi
Puskesmus kuruwisi
Puskesmus Lugung

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[12]

Puskesmus Mungusu
Puskesmus Mukkusuu
Puskesmus Merdekuyu
Puskesmus Muccini Suwuh
Puskesmus Mumugung
Puskesmus MuIIimmongun uru
Puskesmus Minusu Upu
Puskesmus Pertiwi
Puskesmus Punumbungun
Puskesmus Pumpung
Puskesmus PuttinguIIoung
Puskesmus RuppokuIIing
Puskesmus Tuburingun
Puskesmus Turukun
Puskesmus Tumungupu
Puskesmus TumuIute
Puskesmus Tumumuung
Puskesmus TumuIunreu

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[13]

Puskesmus Sudiung
Puskesmus Sudiung Ruyu
Puskesmus urrung Lompo
b, PoIikIinik
PoIikIinik Unhus
c, uIui pengobutun
uIui Pengobutun Rumuh Tuhunun
uIui Pengobutun Lembugu Pemusyurukutun,
H. Tujuan Pembentukan Gudang Farmasi Kota Makassar (Unit
PengeIoIaan Obat PubIik dan PerbekaIan Kesehatan)
Tujuan Pembentukan Gudang Farmasi Kota Makassar
sebagaimana dicantumkan dalam dasar pertimbangan keputusan
Menteri Kesehatan No.610/Menkes/SK/X/ Tahun 1981 tersebut
adalah untuk memelihara mutu obat dan alat kesehatan yang
diperlukan dan untuk menunjang pelaksana upaya kesehatan yang
menyeluruh, terarah dan terpadu ditingkat Kabupaten yang
bersangkutan. Sesuai dengan tujuan di atas, dan sesuai pula
dengan lingkup tugas pengelolaan perbekalan farmasi dan alat
kesehatan, maka gudang farmasi harus dapat berperan sebagai

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[14]

pusat informasi untuk pengelolaan obat, alat kesehatan dan
perbekalan kesehatan lainnya di kabupaten yang bersangkutan.
BAB III
URAIAN KHUSUS

Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Gudang Farmasi dimaksudkan
untuk memastikan bahwa anggaran obat yang berasal dari berbagai
sumber anggaran pemerintah dapat digunakan secara optimal untuk
mendukung ketersediaan obat disarana pelayanan kesehatan di Kota
Makassar.
Obat untuk pelayanan kebutuhan dasar yang telah di tetapkan
daerah tingkat selama ini di biayai melalui berbagai sumber anggaran
yaitu antara lain; DAU (Dana Alokasi Umum),ASKES (Asuransi
Kesehatan),Buffer Stock Provinsi,Buffer Stock Pusat
Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Gudang Farmasi Kota
Makassar terdiri dari :
A. Perencanaan
Perencanaan kebutuhan obat adalah salah satu aspek penting
dalam menentukan pengelolaan obat karena perencanaan kebutuhan

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[15]

akan mempengaruhi pengadaan, pendistribusiaan dan pemakaian obat di
unit pelayanan kesehatan.

Perencanaan terpadu untuk Kota Makassar bertujuan untuk :
1. Menghindari tumpang tindih penggunaan anggaran.
2. Keterpaduan dalam evaluasi kebutuhan dan perencanaan.
3. Koordinasi antara pengguna dan penyediaan obat.
4. Memanfaatkan sumber anggaran secara normal.
. Kesamaan persepsi antara pemakai, penyedia dan anggaran.
6. Pengendalian persediaan dan penggunaan obat.
7. Menghasilkan estimasi kebutuhan obat yang lebih tepat.
a. Analisa dan rencana kebutuhan obat
Yang dimaksud perencanaan pengadaan obat di
kabupaten adalah suatu proses kegiatan seleksi jenis
obat dan menentukan jumlahnya obat yang dibutuhkan
dalam rangka pembelanjaan obat di kabupaten.
1) Tujuan Perencanaan
b. Merumuskan daftar belanja obat per sumber anggaran
c. Menyesuaikan rencana pengadaan dengan anggaran
yang tersedia di daerah Kota Makassar.
2) Tahapan Perencanaan

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[16]

b. Evaluasi pemakaian dan penggunaan obat periode yang
lalu. Pada tahap ini standar kegiatan yang dilakukan
adalah :
1. Menghitung kebutuhan obat berdasarkan morbiditas
menggunakan standar terapi beserta biayanya.
2. Menghitung biaya obat berdasarkan data konsumsi
3. Menghitung deviasi biaya antara morbiditas dan
konsumen.
4. Menganalisa deviasi pemakaian dan penggunaan.
. Menetapkan keputuskan pada tahap ini berupa
langkah penanggulangan dan pencegahan.
b. Proyeksi pemakaian berdasarkan konsumsi dari data
pemakaian akhir.
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah :
1. Menghitung estimasi kebutuhan periode yang akan
datang dengan metode rata-rata.
2. Menghitung kebutuhan obat untuk tahun berjalan dan
untuk tahun yang akan datang.
3. Menetapkan keputusan sebagai koreksi kebutuhan
baru dengan bantuan hasil pilihan dari metode

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[17]

perhitungan dan penyesuaian dengan keputusan dari
tahap evaluasi.
c. Penyesuaian rancangan belanja obat dengan anggaran
obat yang tersedia di daerah kabupaten.
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah :
1. Melakukan analisa ABC-VEN
2. Menyusun prioritas kebutuhan dan penyesuaian
dengan anggaran yang tersedia.
d. Alokasi anggaran dan belanja obat per sumber
anggaran.
1. Menetapkan kebutuhan anggaran untuk masing-
masing obat per anggaran.
2. Menghitung persentase belanja untuk masing-masing
obat terhadap masing-masing sumber anggaran.
3. Menghitung persentase anggaran masing-masing
obat terhadap total anggaran dari semua sumber.
3) Menghitung kebutuhan obat
Dalam menghitung kebutuhan obat untuk tahun
anggaran berikutnya harus disesuaikan dengan dana
yang tersedia oleh karena itu harus digunakan suatu
metode perhitungan yang baik, tepat dan tidak rumit.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[18]

Metode konsumsi adalah metode perhitungan dengan
memperlihatkan kenaikan jumlah waktu tunggu (lead time), stok
penyangga atau stok pengaman ditambah konsumsi obat tahun
lalu.
Adapun pengertian istilah-istilah adalah sebagai berikut :
a. ead time
Adalah waktu yang dibutuhkan pada saat memesan
obat sampai dengan kedatangan obat.
b. Stok cadangan
Adalah stok cadangan yang diperlukan jika terjadi
peningkatan konsumsi obat karena hal-hal yang
belum perlu diperkirakan pada waktu penyusunan
rencana kebutuhan.
c. Kekosongan obat
Adalah jumlah obat yang diperlukan sejak persediaan
habis sampai dengan kedatangan obat.
d. Rencana obat masuk
Adalah obat yang akan diterima oleh Gudang Farmasi
Kota Makassar pada tahun anggaran yang
bersangkutan.
Metode konsumsi ini dipakai dengan asumsi bahwa
penggunaan obat tidak banyak berubah dari waktu ke

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[19]

waktu. angkah-langkah yang dilakukan dalam
perhitungan obat berdasarkan metode konsumsi
yaitu:
a. Menghitung jumlah pemakaian yang sebenarnya pada tahun
lalu. Data pemakaian obat sebenarnya dapat diperoleh dari
berbagai sumber misalnya :
1. aporan bulanan pemakaian obat di Puskesmas (B4)
2. Data penggunaan obat bulanan di Puskesmas
3. Catatan pengeluaran obat dari Gudang Farmasi Kota
Makassar ke Puskesmas.
a. Menghitung kebutuhan obat sebenarnya pada tahun
lalu.
Setelah jumlah setiap jenis obat yang dikonsumsi pada
tahun lalu didapatkan kemudian dilakukan koreksi
terhadap jumlah tersebut untuk mencari berapa jumlah
yang seharusnya terkonsumsi.
b. Menghitung jumlah kebutuhan obat yang akan datang.
Kelemahan metode konsumsi adalah kesulitan dalam
mengantisipasi kalau dalam tahun berjalan ada
perubahan kebiasaan pengobatan, oleh karena itu bila
metode konsumsi ini akan digunakan perlu dipikirkan
secara pemantauan penggunaan obat, agar dalam

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[20]

pemakaian obat nantinya sesuai dengan apa yang
direncanakan. Prinsip dasar mordibitas adalah
menghitung kebutuhan obat berdasarkan jenis penyakit
dan banyaknya kasus yang akan dihadapi serta
pengobatan yang tersedia.
b. Memperkirakan jumlah kasus penyakit
Untuk dapat memproyeksikan jumlah kasus suatu penyakit di
tahun yang akan datang dilakukan dengan dua cara yaitu :
1. Proyeksi berdasarkan data penduduk (population based
estimation).
Data dasar yang diperlukan adalah :
a. Jumlah penduduk
b. Persentase kasus yang terjadi pada masa lalu.
Kesulitan yang dihadapi adalah :
a. Tidak semua penduduk di unit pelayanan kesehatan
pemerintah.
b. Data yang dimiliki tak hanya penduduk dari wilayah unit
pelayanan yang bersangkutan.
c. Pola penyakit yang dimiliki bukanlah data pola penyakit
untuk seluruh penduduk.
2. Proyeksi berdasarkan data kunjungan

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[21]

Didasarkan atas dua data kunjungan atau kontak yang
terjadi antara unit pelayanan dan masyarakat. Dengan
bantuan angka persentase suatu penyakit yang dapat
diproyeksikan jumlah beban yang harus dilayani oleh suatu
unit pelayanan berdasarkan angka kunjungan yang telah
dipertimbangan faktor lainnya.
Faktorfaktor yang perlu diperhatikan untuk proyeksi jumlah
kunjungan antara lain :
1. Rencana perluasan jangkauan pelayanan.
2. Rencana pembukaan puskesmas pembantu baru.
3. Perkiraan fluktuasi beberapa penyakit.
4. Akan dilakukan program tertentu dan sebagainya.
c. Menghitung kebutuhan obat
Jumlah obat yang dibutuhkan = proyeksi jumlah kasus x jumlah
obat menurut pedoman pengobatan.
Syarat utama agar metode mordibitas dapat dipakai untuk
menghitung jumlah obat yang dibutuhkan adalah harus ada
pedoman pengobatan yang telah disepakati antara
perencanaan dan penggunaan.
Tahap metode mordibitas adalah :
1. Menetapkan jumlah penduduk yang akan dijadikan dasar.
2. Menetapkan jumlah kasus per kelompok umur.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[22]

3. Mengukuhkan pedoman pengobatan sebagai patokan yang
disepakati semua petugas.
4. Menghitung jumlah obat yang dibutuhkan dengan bantuan
ketiga dasar di atas.
Masalah-masalah dalam perhitungan kebutuhan obat
berdasarkan metode mordibitas pada dasarnya tergantung
pada unit-unit pelayanan kesehatan apakah mereka mengikuti
syarat-syarat yang telah ditetapkan atau tidak. Adapun
persyaratan penggunaan kebutuhan dengan metode
mordibitas adalah sebagai berukit :

1. Adanya pedoman pengobatan.
2. Kesepakatan untuk menaati pedoman pengobatan.
3. Data penyakit yang dapat dipercaya.
4. Kemampuan staf untuk membaca data.
. Kemampuan staf untuk melakukan perhitungan.
Jika syarat-syarat itu tidak dipenuhi maka metode mordibitas
tidak dapat dilakukan karena kemungkinan besar obat yang
telah direncanakan tidak memenuhi kebutuhan unit pelayanan
kesehatan.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[23]

Dari kedua metode di atas yang bisa digunakan adalah metode
konsumsi. Apabila dibuat perhitungan rencana kebutuhan obat
dan ternyata anggaran yang tersedia tidak mencukupi maka
perlu dilakukan analisa penurunan biaya.
Strategi penurunan biaya bertujuan meningkatkan efektifitas
dan efisiensi pengelolaan obat. Efisiensi berarti bahwa dengan
dana yang dibelanjakan dapat diperoleh selengkap mungkin
jenis obat dalam jumlah yang mencukupi dan efektifitas
menyangkut penggunaan seoptimal mungkin dosis setiap jenis
obat yang disediakan.


Analisa penggunaan obat antara lain :
1. Analisa VEN
Obat-obat kelompok V atau Metode analisa VEN adalah
menentukan perioritas kebutuhan obat dengan
mempertimbangkan apakah suatu obat termasuk jenis yang
dapat dihilangkan atau dikurangi dalam perencanaan obat untuk
menyediakan penyesuaian harga analisa VEN didasarkan
dampak dari setiap jenis obat terhadap kesehatan.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[24]

vital adalah vaksin atau serum, obat gawat darurat, obat
program, obat untuk 10 penyakit penyebab kematian terbanyak,
obat untuk mengurangi bahaya kematian yang relatif terjadi
pada waktu pendek atau akut misalnya tercantum keracunan,
diare, dan obat untuk penyakit yang menyebabkan kecacatan.
Kelompok obat yang termasuk dalam kelompok V harus
tersedia dalam jumlah minimal cukup untuk melayani penyakit
penyebab kematian terbanyak dan bahkan perlu ditambah
sekitar 20 % dari kebutuhan.
Obat-obat kelompok E (esensial) adalah obat yang digunakan
untuk mencegah dan atau menyembuhkan penyakit terbanyak
yang menimbulkan kesakitan untuk daerah tertentu, misalnya
obat-obat 10 penyakit terbanyak seperti seperti SPA (nfeksi
Pernafasan Akut), kulit, gigi dan penyakit susunan saraf.
Obat-obat kelompok N (Non Esensial) adalah obat yang
kerjanya ringan dan digunakan untuk menimbulkan
kenyamanan dan menyembuhkan keluhan ringan. Obat N
merupakan prioritas utama untuk dikurangi dalam rangka
penurunan biaya atau penyesuaian anggaran. Contoh obatnya
adalah vitamin.
Untuk menentukan kriteria VEN perlu tersedia informasi :
a. Data pengobatan (B)

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[25]

b. Standar pengobatan
c. nformasi obat
2. Analisa PARETO (ABC)
Sesuai hukum yang dirumuskan oleh pareto dikenal "The Vital
Few yang untuk obat dapat ditafsirkan, jumlah obat yang
sedikit yang menentukan penyerapan anggaran yang terbesar.
Analisa ABC adalah suatu teknis atau cara yang dapat
dilakukan untuk membantu, menyesuaikan proyeksi kebutuhan
terhadap alokasi dana yang tersedia. Dalam suatu keadaan
dimana dibutuhkan penyesuaian dengan alokasi dana atau
lebih efektif kalau peninjauan terutama ditujukan pada jenis-
jenis obat yang menyerap anggaran terbesar. Caranya dengan
menelaah apakah jumlah sebesar itu memang benar-benar
diperlukan atau apakah ada alternatif bentuk sediaan lain yang
lebih murah misalnya sirup diganti dengan tablet.
Prinsip dasar analisa ABC ini yaitu menetapkan jenis-jenis obat
yang dibutuhkan ke dalam urutan penyakit dimulai dengan obat
yang menyerap dana terbanyak.
Adapun golongan obat-obat tersebut adalah :
a. Obat-obatan yang menyerap anggaran belanja terbesar
(menyerap 70% anggaran) dikelompokkan sebagai obat-obat
kelompok A.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[26]

b. Obat-obatan yang menyerap anggaran belanja dengan sekitar
20% sebagai kelompok B.
c. Obat-obatan yang menyerap 10% anggaran dikelompokkan
sebagai obat-obat kelompok C.
B. Pengadaan
Pengadaan merupakan proses penyediaan obat yang dibutuhakan
di unit pelayanan kesehatan.
Tujuan pengadaan obat adalah tersedianya obat dengan jenis dan
jumlah yang cukup sesuai dengan kebutuhan, dengan mutu yang
terjamin serta dapat diperoleh pada saat yang diperlukan. Sumber
pengadaan obat di gudang farmasi di dapat dari empat pemasok
yaitu: DAU, ASKES, Buffer Stock Provinsi, Buffer Stock Pusat.
Tata cara pengadaan obat
Tata cara pengadaan obat di gudang farmasi kota Makassar adalah
sebagai berikut :
a. Pemilihan metode pengadaan
b. Pemilihan pemasokan
c. Pemantauan status pesanan penentuan waktu pengadaan dan
kedatangan obat
a. Pemilihan metode pengadaan obat
Pemilihan metode pengadaan obat ada empat cara yaitu :

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[27]

1) Pelelangan umum
2) Pelelangan terbatas
3) Pemilihan langsung
4) Pembelian/pengadaan langsung
b. Memilih pemasok
Pemilihan pemasok secara hati-hati adalah penting, karena dapat
mempengaruhi biaya obat yang dibutuhkan.
c. Pemantauan status pesanan
Pemantauan status pesanan dapat dilakukan dengan menggunakan
suatu daftar atau bagan, antara lain berisi :
1) Nama Obat
2) Status Kemasan
3) Jumlah Obat
4) Obat yang sudah diterima
d. Penentuan waktu kedatangan dan pengadaan
Waktu pengadaan dan waktu kedatangan obat perlu diterapakan
berdasarkan hasil analisis data yaitu :
1) Sisa Stok
2) Jumlah obat yang akan diterima sampai dengan akhir tahun anggaran
3) Waktu tunggu (lead time)
4) Penerimaan dan pemeriksaan obat

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[28]

. Penerimaan
Penerimaan obat adalah suatu rangkaian dalam menerima obat-
obatan dalam rangka pesanan atau permintaan obat dari yang
bersangkutan. Obat-obat yang diterima baik jenis dan jumlahnya
sesuai dengan dokumen yang menyertainya.
angkah-langkah dalam penerimaan dan pemeriksaan obat yaitu :
1. Penyusunan rencana pemasukan obat
Berdasarkan pemberitahuan dari pimprov/kepala kantor/satuan
kerja mengenai datangnya obat-obatan dari pemasok, maka disusun
rencana pemasukan obat, personil, peralatan, dan tempat
penyimpanan.
2. Penerimaan obat
Obat yang baru diterima di tempatkan di tempat khusus (karantina)
sebelum diperiksa oleh panitia penerimaan obat dari label warna
kuning dengan tulisan: KARANTNA. Panitia penerimaan obat
melaksanakan pemeriksaan setelah dokumen atau surat-surat lengkap
dan sesuai dengan obat yang diterima. Panitia meneliti kemasan/peti
obat serta memeriksa jelas isinya menurut cara yang lazim dipakai.
3. Pemeriksaan mutu obat
Pada waktu penerimaan obat, hendaknya dilakukan pemeriksaan
mutu obat, yang dimaksud ini adalah terbatas pada pemeriksaan

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[29]

organoleptik, serta pada warna, bau, rasa, kemasan dan lain-lain
tergantung bentuk sediaannya.
4. Berita acara pemeriksaan obat dan penerimaan obat
Panitia penerimaan obat membuat berita acara pemeriksaan dan
penerimaan obat sesuai dengan hasil yang diperoleh
. Peraturan tata ruang
Obat-obat yang telah diterima dan diperiksa harus segera
dibukukan pada buku harian penerimaan obat mengenai data dan
dokumen obat tersebut.
D. Penyimpanan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara
dengan cara menempatkan obat-obatan yang diterima pada tempat
yang dinilai aman dari pencurian dan gangguan fisik yang dapat
merusak mutu obat.
Tujuan penyimpanan obat adalah untuk :
1. Memelihara mutu obat
2. Menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab
3. Menjaga kelangsungan persediaan
4. Memudahkan pencarian dan pengawasan.
Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, gudang / tempat penyimpanan
barang harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[30]

a. Tersedianya ruangan / tempat penyimpanan dan peralatan yang
cukup
b. Sirkulasi udara yang baik
c. Tersedianya alat pemadam kebakaran yang sesuai dengan
ketentuan
d. Suhu ruangan sesuai persyaratan untuk obat tertentu.
Kegiatan penyimpanan meliputi :
1. Pengaturan tata ruang
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam merancang ruang
gudang adalah sebagai berikut :
a. Kemudahan bergerak
Berdasarkan arah arus penerimaan dan pengeluaran obat,
ruang gudang dapat didata berdasarkan sistem arus garis lurus,
arus U, arus .
b. Sirkulasi udara yang baik.
c. Rak dan pallet.
Penempatan rak yang benar dan penggunaan pallet akan
dapat meningkatkan sirkulasi dan gerakan stok obat.
d. Kondisi dan penyimpanan khusus
1) Vaksin membutuhkan "Cold Chain khusus dan harus dilindungi
oleh kemungkinan putusnya aliran listrik.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[31]

2) Narkotika dan bahan berbahaya harus disimpan dalam lemari
khusus dan selalu terkunci.
3) Bahan-bahan yang mudah terbakar seperti alkohol, eter harus
disimpan dalam ruang khusus.
e. Pencegahan kebakaran
Alat pemadam kebakaran harus dipasang di tempat yang
mudah dijangkau dan dalam jumlah yang cukup.
2. Penyusunan Stok Obat
Obat disusun menurut sediaan alfabetis. Untuk memudahkan
pengendalian stok maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Gunakan sistem FFO (First n First Out) atau FEFO (First Expired
First Out) dalam penyusunan obat, obat yang pertama diterima
harus pertama juga dikeluarkan dan obat yang pertama kadaluarsa
harus pertama juga dikeluarkan.
b. Susunan obat dalam kemasan besar harus di atas pallet.
c. Gunakan lemari yang khusus untuk menyimpan narkotika
d. Simpan obat yang dapat dipengaruhi temperature, udara, cahaya,
dan kontaminasi bakteri pada tempat yang sesuai.
e. Simpan obat dalam rak. Cantumkan nama masing-masing obat
obat pada rak dengan rapi.
f. Bentuk sirup dan cairan dapat disimpan di rak paling bawah.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[32]

g. Bahan yang mudah terbakar disimpan pada tempat tersendiri.
3. Pencatatan di kartu stock
Kartu stok digunakan untuk mencatat mutasi obat, tiap lembar kartu
stok hanya diperuntukkan untuk mencatat data mutasi satu jenis
obat yang berasal dari satu sumber anggaran.
4. Penggunaan mutu obat
Mutu obat yang disimpan di gudang farmasi dapat mengalami
perubahan baik karena faktor fisik maupun kimiawi. Namun
pengamanan mutu obat di gudang farmasi dilakukan dari segi fisik
yang dapat dilihat secara organoleptis.
E. PengendaIian Persediaan
Manfaat dan kerugian adanya persediaan :
1. Manfaat adanya persediaan
Manfaat adanya persediaan pada gudang farmasi kota Makassar
pada umumnya :
a) Dapat mengatasi jumlah obat yang sudah habis tanpa diduga-duga
b) Dapat mengatasi kebutuhan obat, bila terjadi KB (Kejadiaan uar
Biasa) dan obat yang dibutuhkan tersebut tidak terdapat lagi di
puskesmas.
c) Untuk mengatasi sisa stok
d) Dalam jumlah persediaan yang ada di gudang

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[33]

2. Kerugiaan adanya persediaan
Adanya persediaan di gudang yang berlebihan dapat
menyebabkan :
a) Barang atau obat dapat rusak karena banyak dos yang tumpang
tindih sehingga akan banyak obat dalam bentuk kemasan botol
akan pecah dan obat dalam kemasan strip yang hancur karena
lama disimpan.Banyak obat yang masa kadaluarsanya tidak
diketahui sebab banyak jumlah persediaan yang terdapat dalam
gudang.
b) Gudang akan terlihat sempit apabila terdapat banyak persediaan
obat di dalamnya.
3. Tujuan pengendalian persediaan
Adapun tujuan pengendalian persediaan di Gudang Farmasi
Kota Makassar adalah pada umumnya sama dengan Gudang
Farmasi Kabupaten/Kotamadya yaitu kapasitas ruangan dari
masing-masing gudang farmasi dan jumlah unit pelayanan
kesehatan yang ditangani di wilayah kerjanya.
Tujuan pengendalian persediaan obat di gudang farmasi
antara lain sebagai berikut :
a) Untuk mengatasi masalah terjadinya kekurangan obat
b) Untuk mengetahui jumlah obat di masing-masing Puskesmas
sesuai dengan kebutuhan

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[34]

c) Agar dapat memenuhi permintaan dari masing-masing Puskesmas
d) Pengamanan mutu
Mutu obat yang disimpan di gudang dapat mengalami
perubahan baik faktor fisik maupun kimiawi. Perubahan mutu obat
dapat diamati secara fisik
4. Tindak lanjut terhadap obat yang terbukti rusak adalah:
a) Dikumpulkan dan disimpan terpisah
b) Dikembalikan atau diklaim sesuai aturan yang berlaku
c) Dihapuskan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.


F. Pendistribusian
Distribusi adalah suatu rangkaian kegiatan dalam rangka
pengelsuaran dan pengiriman obat yang bermutu, terjamin
keabsahan serta tepat jenis dan jumlahnya dari gudang obat
secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan unit-unit
pelayanan kesehatan.
Tujuan distribusi adalah untuk :
Terlaksananya pengiriman obat secara merata dan teratur
sehingga dapat diperoleh pada saat dibutuhkan.
Terjaminnya kecukupan dan terjaganya efisiensi penggunaan
obat di unit pelayanan kesehatan

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[35]

Terlaksananya pemerataan kecukupan obat sesuai kebutuhan
pelayanan dan program kesehatan.
Tata cara pendistribusian obat adalah gudang farmasi
melaksanakan distribusi ke puskesmas, rumah sakit tipe D di
wilayah kerja masing-masing. Puskesmas induk
mendistribusikan kebutuhan obat untuk puskesmas pembantu,
puskesmas keliling dan unit-unit pelayanan kesehatan lainnya
yang ada di wilayah binaannya. Obat yang dikirim ke
puskesmas atau rumah sakit harus disertai dengan dokumen
penyerahan atau pengiriman obat.
Tiap pengeluaran obat dari gudang farmasi kota Makassar
segera dicatat di Kartu Stok dan Kartu Stok nduk serta Buku
Harian Pengeluaran Obat.
G. Pencatatan dan PeIaporan
Pencatatan dan pelaporan data obat di unit pengelola obat
publik dan rangka penatausahaan obat-obatan yang diterima,
disimpan, didistribusikan, maupun yang digunakan di unit-unit
pelayanan kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit.
Tujuan pencatatan dan pelaporan adalah tersedianya data
mengenai jenis dan jumlah penerimaan, persediaan,
pengeluaran/penggunaan dan data mengenai waktu dari seluruh
rangkaian kegiatan mutasi obat.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[36]

1. aporan yang perlu disusun GFK terdiri dari :
a. aporan mutasi obat (laporan bulanan, laporan triwulan)
Kegunaan laporan mutasi obat adalah :
- Untuk mengetahui jumlah penerimaan dan pengeluaran obat
tiap triwulan
- Untuk mengetahui sisa persediaan obat pada akhir tahun
- Untuk mempertanggung jawabkan kepada Kepala Gudang
Farmasi atau Bendahara barang
- aporan kegiatan distribusi
- Digunakan kartu per UPK yang tidak lain adalah PPO.
b. aporan kegiatan distribusi
1) Fungsi :
a) aporan puskesmas atas mutasi obat dan kunjungan resep
b) embar permintaan obat Puskesmas
c) Dokumen bukti mutasi obat
d) Surat pengiriman obat
2) Kegiatan yang harus dilakukan :
a) Tentukan stok optimum masing-masing obat bagi masing-
masing Unit Pelayanan Kesehatan Masyarakat/Puskesmas.
b) akukan pengisian dengan memanfaatkan data dari dokumen
PPO, kartu rencana distribusi dan lain-lain.
3) nformasi yang didapat :
a) Jumlah obat yang tersedia (stok akhir)

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[37]

b) Jumlah obat yang diterima
c) Jangka waktu kekosongan obat
d) Jumlah kunjungan resep.
4) Manfaat informasi yang didapat
a) Jenis dan jumlah persediaan obat disetiap UPK
b) Perbandingan sisa stok dengan pemakaian per bulan
c) Perbandingan pemakaian dengan 100 kunjungan resep
d) Perbandingan jumlah persediaan dengan jumlah pemakaian per
bulan
c. aporan pencacahan persediaan akhir tahun anggaran
1) Petugas pencatatan dan evaluasi mempersiapkan/membuat berita
acara pencacahan obat akhir tahun anggaran (formulir X) dan
laporan pencatatan persediaan akhir tahun anggaran (formulir X).
2) aporan pencacahan persediaan akhir tahun anggaran dibuat pada
setiap akhir tahun anggaran yang memuat jumlah penerimaan dan
pengeluaran selama 1 tahun anggaran dan sisa persediaan pada
akhir tahun anggaran yang bersangkutan.
3) Kegunaan laporan pencacahan persediaan akhir tahun anggaran
adalah:
a) Untuk mengetahui jumlah penerimaan dan pengeluaran obat
selama 1 tahun anggaran.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[38]

b) Untuk mengetahui sisa persediaan obat pada akhir tahun
anggaran.
c) Sebagai pertanggung jawaban dari kepala
UPOPPK/Bendaharawan Barang kepada Dinkes
Kabupaten/Kota, Badan Pengawas Daerah.
d) aporan pencacahan persediaan akhir tahun anggaran dibuat
rangkap 3 yaitu:
O Asli dikirim kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota
Makassar.
O Tindasan 1 dikirim kepada Bawasda (Badan Pengawas
Daerah).
O Arsip (1x)
d. aporan pengelolaan obat tahunan/profil pengelolaan obat
Kabupaten/Kota
Fungsi:
a) Mengukur tingkat kinerja pengelolaan obat di Daerah
Kabupaten/kota selama 1 tahun anggaran.
b) Kegiatan yang harus dilakukan
O Siapkan data pencacahan obat per 31 Desember
ditingkat UPOPPK.
O Siapkan data pencacahan obat per 31 Desember
ditingkat Puskesmas.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[39]

O Susun daftar obat yang akan diterima pada tahun
anggaran berjalan, berasal dari berbagai sumber
anggaran obat.
O Evaluasi PPO/B2 untuk mendapatkan informasi
mengenai:
1. Pemakaian rata-rata setiap jenis obat
2. Jumlah kunjungan resep
O Daftar obat dengan harga patokannya (ambil harga
patokan obat PKD yang terakhir).
O Jumlah alokasi dana obat untuk tahun berjalan dari
berbagai sumber.
O Data umum yang menyangkut:
1. Jumlah penduduk
2. Jumlah kunjungan/kunjungan kasus
3. Jumlah peserta ASKES
c) nformasi yang didapat :
i. Jumlah dan nilai persediaan obat ditingkat UPOPPK per 31
Desember.
ii. Jumlah dan nilai persediaan obat ditingkat Puskesmas per
31 Desember.
iii. Pemakaian rata-rata per bulan untuk setiap jenis obat.
iv. Tingkat kecukupan setiap jenis obat.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[40]

v. Rencana kebutuhan obat untuk tahun anggaran berikutnya.
vi. Rencana pengadaan obat menurut sumber anggaran.
vii. Biaya obat per kunjungan kasus.
H. Penghapusan
Penghapusan adalah rangkaian kegiatan dalam rangka
pembebasan obat-obatan milik atau kekayaan Negara dari
tanggung jawab berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Tujuan penghapusan obat adalah :
1. Penghapusan pertanggung jawaban petugas terhadap obat-
obatan yang diurusnya sudah ditetapkan untuk dihapuskan
sesuai ketentuan yang berlaku.
2. Menghindarkan pembiayaan (biaya penyimpanan,
pemeliharaan, penjagaan dan lain-lain) atas barang yang
sudah tidak layak dipelihara.
3. Menjaga keselamatan kerja dan menghindarkan diri dari
pengotoran lingkungan.
Kegiatan penghapusan obat :
- Menyusun daftar obat-obatan yang akan dihapuskan beserta
alasan-alasannya.
- Melaporkan kepada atasan mengenai obat-obatan yang
akan dihapuskan.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[41]

- Membentuk panitia pemeriksaan obat (Surat Keputusan
kepada Bupati/Walikota)
- Membuat berita acara hasil pemeriksaan obat-obatan oleh
panitia pemeriksaan obat.
- Melaporkan hasil pemeriksaan kepada yang berwenang
atau pemilik obat.
- Melaksanakan hasil penghapusan setelah ada keputusan
dari yang berwenang.
1. Daftar Obat
a. Petugas perencanaan dan evaluasi mempersipkan/membuat
daftar obat untuk dihapuskan serta mengumpulkan data suatu
tempat berdasarkan:
- Data-data dari sub seksi penyimpanan dan penyaluran.
- Peraturan-peraturan yang berlaku misalnya dari CW.
b. Kepada unit Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
membuat laporan serta mengirimkan daftar obat tersebut
kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kotamadya
dengan maksud agar obat-obatan tersebut dapat dihapuskan
dari pengurusan dan pertanggung jawaban. Berdasarkan
laporan tersebut Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kotamadya membentuk panitia pemeriksa obat
yang akan dihapuskan.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[42]

2. Panitia Pemeriksa Obat
Panitia pemeriksa obat ini melakukan pemeriksaan atas obat-
obat yang akan dihapuskan dan hasilnya akan dibuatkan berita
acara pemeriksaan obat dengan memakai formulir X yang
membuat jenis, keadaan dan jumlah obat yanghendak
dihapuskan.
Formulir berita acara pemeriksaan obat diisi dengan nama,
tempat gudang farmasi Kabupaten/Kota, hari, tanggal, bulan
dan tahun yang akan dilaksanakan pemeriksaan oleh panitia,
nama-nama anggota panitia, jabatan anggota panitia, nomor
dan tanggal surat penunjukan panitia pemeriksaan barang
untuk dihapuskan.
Kolom-kolom pada formulir X diisi dengan:
a. Angka barang yang akan diperiksa
b. Huruf banyaknya barang yang akan diperiksa
c. Satuan barang yang akan diperiksa (kg, liter, buah dan lain-lain)
d. Nama/jenis barang yang akan diperiksa
e. Keadaan barang-barang yang tidak dapat dipakai lagi (bila
diperlukan digunakan hasil).
f. Kepala Gudang Farmasi yang bersangkutan
g. Nama anggota panitia yang bertanda tangan
Panitia pemeriksaan barang membuat laporan rangkap 4, yaitu:

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[43]

1) Asli dikirim kepada Kepala Dinas Kesehatan
2) Tindasan 1 dikirim kepada Bupati/Walikota setempat
3) Tindasan 2 dikirim kepada Badan Pengawasan Daerah
setempat
4) Tindasan 3 dikirim kepada Kepala Unit Pengelola Obat Publik
dan Perbekalan Kesehatan.
Cara-cara Penghapusan
Bupati/Walikota mengeluarkan Surat Keputusan Penghapusan
Obat.
Dalam surat keputusan ini ditentukan cara penghapusan yaitu
dengan cara pemusnahan obat.
Penghapusan dengan cara pemusnahan:
a. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, membentuk Panitia
Pemusnahan, dengan tugas-tugas antara lain:
1) Menentukan cara-cara pemusnahan dengan memperhatikan
ketentuan yang berlaku dan konsultasikan dengan BPOM.
2) Menyiapkan obat-obat yang dimusnahkan
3) Menyiapkan pelaksanaan pemusnahan, sesuai dengan tata
cara yang disetujui, misalnya obat sediaan tablet dengan cara
direndam, ditanam atau dibakar, larutan dengan cara dibuang
isinya.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[44]

4) Menetapkan lokasi pemusnahan yang jauh dari pemukiman dan
lokasi tersebut memang tempat pembuangan.
) Membuat berita acara pemusnahan
6) Menyampaikan laporan pelaksanaan pekerjaan kepada
Bupati/Walikota setempat.
b. Berdasarkan laporan dari panitia pemusnahan, Kepala Dinas
Kabupaten/Kotamadya setempat melaporkan kepada
Bupati/Walikota, tentang pelaksanaan surat keputusan
pemusnahan, yaitu:
1) Surat pengantar laporan pelaksanaan dari Panitia Pemusnahan
2) Berita acara pemusnahan.
Syarat-syarat penghapusan barang
1. Daftar barang
Sub seksi pencatatan dan evaluasi mempersiapkan / mambuat
daftar barang untuk dihapuskan serta mengumpulkannya pada
suatu tempat berdasarkan :
a. Data-data dari sub seksi penyimpanan dan penyaluran.
b. Peraturan-peraturan yang berlaku misalnya CW.
c. Kepala Gudang Farmasi membuat laporan serta mengirimkan
daftar barang tersebut.
d. Kepala Kakandepkes dengan maksud agar barang-barang tersebut
dapat dihapuskan dari pengurusan dan pertanggung jawaban.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[45]

Berdasarkan laporan tersebut Kakandepkes membentuk panitia
pemeriksa barang yang akan dihapuskan.
2. Panitia pemeriksaan barang
Panitia pemeriksa barang ini melakukan pemeriksaan atas
barang-barang yang akan dihapuskan dan hasilnya dibuatkan
berita acara pemeriksaan barang dengan memakai formulir X
yang memuat jenis, keadaan dan jumlah barang yang hendak
dihapuskan.
Bagian judul pada formulir berita acara pemeriksaan barang diisi
dengan : nama, tempat Gudang Farmasi Kabupaten / Kotamadya,
hari, tanggal, bulan dan tahun yang akan dilaksanakan
pemeriksaan oleh panitia, nama-nama anggota panitia jabatan
anggota panitia, nomor dan tanggal surat penunjukan panitia
pemeriksaan barang untuk dihapuskan.
Kolom-kolom pada formulir X diisi dengan :
Angka barang yang akan diperiksa.
Huruf banyaknya barang yang akan diperiksa.
Satuan barang yang diperiksa (kg, liter, buah dan lain-lain).
Nama / jenis barang yang akan diperiksa.
Keadaan barang-barang yang tidak dapat dipakai lagi (bila
diperlukan digunakan lagi).
Kepala Gudang Farmasi yang bersangkutan.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[46]

Nama anggota panitia yang bertanda tangan.
Panitia pemeriksa barang membuat laporan 8 rangkap :
Asli dikirim kepada Menteri Kesehatan R.
Tindasan 1 dikirim kepada BAPEKA.
Tindasan 2 dikirim kepada Ka. Kan. Wil. Kes.
Tindasan 3 dikirim kepada Ka. Kan. Dep. Kes.
Tindasan 4 dikirim kepada Bupati Kepala Dati yang
bersangkutan.
Tindasan dikirim kepada Kepala Gudang Farmasi (3x).
Berdasarkan laporan panitia pemeriksa barang Ka. Kandep. Kes
mengajukan usul penghapusan melalui Ka Kanwil.
I. EvaIuasi
Evaluasi adalah rangkaian untuk mengetahui efektifitas
pelaksanaan perencanaan dan sekaligus untuk mengukur dan
memberi nilai secara objektif pencapaian hasil yang telah
direncanakan sebelumnya atas seluruh kegiatan pengelolaan obat.
Tujuan evaluasi adalah :
O Untuk memastikan semua ketentuan yang telah dilakukan secara
baik dan benar terutama pengelolaan distribusi obat dan pelayanan
di puskesmas dan balai pengobatan. Mengidentifikasi masalah
agar dapat dilakukan langkah-langkah perbaikan.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[47]

O Mengidentifikasi masalah agar dapat dilakukan langkah-langkah
perbaikan.
O Meningkatkan mutu kerja dan pelayanan dalam melakukan
evaluasi di unit pelayanan kesehatan, gudang farmasi melakukan
supervisi ke puskesmas dan memberikan penilaian meliputi:
Penilaian informasi dan kartu stok
Penilaian informasi PPO
Penilaian administrasi resep
Pelayanan resep, penataan obat di gudang
Penataan obat di gudang racikan
Pengetahuan mengenai obat
Format laporan evaluasi.









!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[48]



BAB IV
PEMBAHASAN


A.MasaIah yang ditemukan
Adapun beberapa masalah yang terjadi sehingga proses
penyaluran obat Puskesmas terhambat diantaranya :
1. Kekosongan obat untuk jenis obat tertentu biasanya terjadi, hal ini
disebabkan oleh pengiriman obat yang terlambat ke Gudang
Farmasi Kota Makassar, sehingga berakibat penyaluran obat ke
Unit pelayanan kesehatan/ Puskesmas juga terlambat.
Alternatif pemecahan masalahnya yaitu, Usahakan agar pegawai
lebih memperlihatkan keadaan obat (apakah masih cukup atau
tidak persediaan).

2. Kurangnya pegawai pria yang dapat membantu memindahkan obat
yang baru diterima.
Alternatif pemecahan masalahnya yaitu, Diusahakan Gudang
Farmasi Kota Makassar menambah tenaga kerja khususnya pria

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[49]

hingga pelaksanaan tugas di Gudang Farmasi Kota Makassar
dapat berjalan dengan lancar dan tidak kesulitan soal pelayanan.

3. Pengaturan obat yang tidak alfabetis.
Alternatif pemecahan masalahnya yaitu, pengaturan obat
sebaiknya alfabetis sehingga mempermudah pencarian obat,pada
rak di berikan nomor kode seta mencantumkan nama masing-
masing obat pada rak dengan rapi.
4. Bahan-bahan yang mudah terbakar tidak disimpan dalam ruangan
khusus.
Alternatif pemecahan masalahnya yaitu,membuat ruanagan
khusus yang aman untuk bahan-bahan mudah terbakar..
.Sirkulasi udara kurang baik & Ventilasi udara kurang memadai.
Alternatif pemecahan masalahnya yaitu,dengan menambahkan
jumlah ventilasi udara yang memadai karena dengan ventilasi udara
yang cukup maka sirkulasi udara akan baik pula.
6.Tempat penyimpanan kurang memadai.
Alternatif pemecahan masalahnya yaitu,tempat penyimpanan obat
perlu di perluas agar dapat menampung obat yang
masuk,memudahkan dalam penataan posisi obat tersebut .

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[50]

B. AIternatif Pemecahan MasaIah yaitu :
Sebaiknya petugas gudang memperhitungkan jumlah obat
jika terjadi kekosongan obat dan cepat mengantisipasinya agar
penyaluran obat pada Unit Pelayanan Kesehatan dan Puskemas
tidak terhambat.
Sebaiknya masalah tenaga kerja, kepala gudang farmasi
mengajukan kepada pemerintah setempat/ walikota Makassar agar
pengangkatan tenaga kerja dibidang farmasi lebih ditingkatkan
sehingga tenaga kerja digudang farmasi dapat terpenuhi dan
pelayanannya lebih efektif.
Sebaiknya pengaturan obat sesuai dengan sediaan dan
kegunaannya, walaupun tidak alfabetis tapi kita dapat mengetahui
susunan obat dan jenis-jenis obat yang disimpan.
Bahan-bahan yang mudah terbakar meskipun tidak disimpan
diruangan khusus, tapi tempatnya harus aman dan suhunya
terjaga.
Sebaiknya digudang diberi pengontrol udara walapun
ventilasinya kurang tapi, udara yang ada didalam gudang dapat
terkontrol.
Walaupun penyimpanan kurang memadai, pengaturan obat
digudang harus dengan sesuai sediaan, kegunaan, dan waktu
expayer date.

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[51]

BAB V
PENUTUP

A. KesimpuIan
Setelah mengikuti Praktek Kerja apangan di Gudang Farmasi
Kota Makassar maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa :
1. Gudang Farmasi merupakan titik sentral pengelolaan obat dan
sediaan farmasi lainnya yang diperuntukkan bagi pelayanan
kesehatan dasar di unit-unit pelayanan kesehatan pemerintah.
2. Gudang Farmasi merupakan sumber informasi timbal balik dalam
hal pengelolaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan
lainnya.

B. Saran
Kami peserta PK dari SMK Farmasi Yamasi Makassar memberi
saran agar ;
1. Sebaiknya menambah tenaga kerja khususnya pria.
2. Obat yang termasuk dalam golongan psikotropika di simpan dalam
lemari khusus dan selalu terkunci

!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[52]

3. Bahan-bahan yang mudah terbakar seperti Chloro Etyl di simpan
dalam ruang khusus
4. Alat pemadam kebakaran harus ada dan di pasang di tempat yang
mudah di jangkau dan dalam jumlah yang cukup
. Mencantumkan nama masing-masing obat pada rak dengan rapi

















!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[53]

DAFTAR PUSTAKA

Pelaksanaan Teknis Praktek Kerja apangan (2009), "Buku Panduan
Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan Sekolah Menengah Kejuruan
Farmasi Yamasi (2009-2010)". Makassar
Mutmainah dkk, "Laporan Praktek Kerja Lapangan Sekolah Menengah Kejuruan
Farmasi Yamasi (2009)"
Departemen Kesehatan R Pusat Pendidikan dan atihan Pegawai Jakarta
(1990). "Pedoman Pengelolaan Obat di Gudang Farmasi".
Madeppungeng,Andi." Administrasi Farmasi Jilid II Kelas II".Pusdisnakes 2008















!oo+o+ ))! U)T1 1++!e; )o!o


[54]