Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN


Latar Belakang
Vertigo posisi paroksismal jinak mungkin merupakan penyebab yang paling sering di
Amerika Serikat. Diperkirakan bahwa setidaknya 20 dari seluruh pasien yang
mengeluhkan vertigo merupakan vertigo posisi paroksismal jinak. Vertigo posisi
paroksismal jinak sering salah didiagnosa karena sering bersamaan dengan penyakit
telinga dalam lain (seorang pasien dengan diagnosa penyakit meniere dapat
mengalami vertigo posisi paroksismal jinak secara bersamaan).
1

Vertigo posisi paroksismal jinak dideIinisikan sebagai perasaan gangguan
keseimbangan yang dipicu oleh posisi provokatiI tertentu. Posisi provokatiI ini
biasanya juga memicu terjadinya gerakan mata yang spesiIik (nistagmus).
2

Vertigo posisi paroksismal jinak ditemukan pertama kali oleh Meniere tahun
1921. Karakteristik nistagmus dan vertigo berhubungan dengan perubahan posisi
yang berhubungan dengan organ otolit. Tahun 1952, perasat Dix Hallpike menjadi
pemeriksaan untuk memprovokasi terjadinya vertigo posisi paroksismal jinak dan
perasat ini sampai sekarang masih digunakan.
1

%::an
1. &ntuk mengetahui vertigo posisi paroksismal jinak
2. &ntuk mengetahui epidemiologi vertigo posisi paroksismal jinak
3. &ntuk mengetahui etiologi vertigo posisi paroksismal jinak
4. &ntuk mengetahui patoIisiologi vertigo posisi paroksismal jinak
5. &ntuk mengetahui diagnosa vertigo posisi paroksismal jinak
6. &ntuk mengetahui Tatalaksana vertigo posisi paroksismal jinak


BAB II
%IN1AUAN PUS%AKA


2 Definisi Vertigo Posisi Paroksismal 1inak
Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek; yang sering
digambarkan sebagai rasa berputar, rasa oleng, tak stabil (giddiness,
unsteadiness) atau rasa pusing (di::iness); deskripsi keluhan tersebut penting
diketahui agar tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau seIalgi, terutama
karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan nyeri kepala)
sering digunakan secara bergantian.
3

Vertigo posisi paroksismal jinak atau disebut juga dengan Benign
Paroxysmal Potitional Vertigo (BPPV) adalah gangguan keseimbangan periIer
yang sering dijumpai. Gejala yang dikeluhkan adalah vertigo yang datang tiba-
tiba pada perubahan posisi kepala, beberapa pasien dapat mengatakan dengan
tepat posisi tertentu yang menimbulkan keluhan vertigonya. Biasanya vertigo
dirasakan sangat berat, berlangsung singkat hanya beberapa detik saja
walaupun penderita merasakannya lebih lama. Serangan ini disertai nistagmus
yang melemah pada pengujian berulang. Yang khas adalah awitan vertigo
sedikit terlambat dari awitan perubahan posisi. Serangan pertama biasanya
paling berat, sedangkan serangan berulang siIatnya menjadi lebih ringan.
Keluhan dapat disertai mual bahkan sampai muntah sehingga penderita merasa
khawatir akan timbul serangan lagi, hal ini yang menyebabkan penderita
sangat hati-hati dalam posisi tidurnya. Vertigo jenis ini sering berulang
kadang-kadang dapat sembuh dengan sendirinya.
4

22 Insiden Vertigo Posisi Paroksismal 1inak


VPPJ merupakan salah satu penyebab terbanyak dari serangan vertigo yang
tiba tiba. Pada suatu penelitian di Amerika Serikat menunjukkan insidensi
terjadinya VPPJ adalah 64 per 100.000 orang. Insidensi dari VPPJ pada
populasi lebih tinggi pada usia lebih dari 40 tahun dengan usia onset rata rata
adalah 51 tahun. VPPJ jarang ditemukan pada pasien kurang dari 35 tahun
tanpa adanya riwayat trauma. Pada suatu penelitian yang dilakukan pada
kelompok usia tua ditemukan bahwa insidensi VPPJ adalah sebesar 8 .
Distribusi VPPJ berdasarkan jenis kelamin adalah sama antara wanita dan pria,
walaupun berdasarkan beberapa penelitian menunjukkan adanya sedikit
kecenderungan pada wanita (64).
1

VPPJ disebabkan oleh canalitiasis yang dapat terjadi pada seluruh
kanalis semisirkularis. Berdasarkan penelitian, angka kejadian kanalitiasis pada
kanalis semisirkularis posterior merupakan yang paling tinggi dengan
persentasi sebesar 93 dengan 85 mengenai unilateral dan 8 mengenai
kedua sisi. Angka kejadian kanalitiasis pada kanalis semisirkularis horizontal
sebesar 5 . Sementara keterlibatan kanalis semisirkularis anterior jarang
ditemukan.
5


2 Etiologi Vertigo Posisi Paroksismal 1inak
Berbagai penyebab yang mungkin menyebabkan VPPJ antara lain cedera
kepala, vestibular neuronitis, labirinitis, stapedektomi, penyakit sistem nervus
centralis, dll. Nistagmus posisional juga dapat ditemukan akibat intoksikasi
obat obatan.
2

Salah satu penyebab terjadinya VPPJ yang terbanyak adalah trauma
kepala. Sampai saat ini belum ada teori yang dapat menjelaskan mekanisme
trauma kepala dapat menimbulkan VPPJ akan tetapi diasumsikan bahwa pada
saat terjadi trauma, partikel partikel yang ada dalam vestibula terlepas dan
masuk ke dalam kanalis semi sirkularis (kupulolitiasis dan kanalitiasis). Hal ini

menyebabkan kanal sangat sensitiI terhadap perubahan gravitasi yang


berkaitan dengan posisi kepala yang berbeda.
1,2

Pemeriksaan neurologi dan otologi yang lengkap sangat penting karena
kebanyakan pasien memiliki kelainan telinga yang terjadi bersamaan, antara
lain sebagai berikut
1
:
1. Idiopatik 39
2. Trauma 21
3. Penyakit pada telinga 29
4. Otitis media kronis 9
5. Neuronitis vestibular 7
6. Penyakit Meniere 7
7. Otosklerosis 4
8. $ensorineural hearing loss mendadak 2
9. Penyakit CNS 11
10.InsuIisiensi vertebrobasiler 9
11.Akustik neuroma 2
12.Vertigo servikalis 2

2 Patofisiologi Vertigo Posisi Paroksismal 1inak
Terdapat dua teori besar yang dipercaya dalam patoIisiologi VPPJ yaitu teori
kupolitiasis dan teori kanalitiasis.
1

%eori K:5olitiasis
Pada tahun 1962, Dr Harold Schuknecht memperkenalkan teori
kupulolitiasis (kupula berat) sebagai penjelasan terhadap kejadian VPPJ.
Melalui IotomikrograI , ditemukan bahwa terdapat partikel basoIilik yang
menempel di kupula. Dia mendalil kan bahwa terjadi perubahan sensitivitas
kanalis semisirkularis posterior terhadap gravitasi akibat adanya partikel
abnormal yang menempel pada kupula tersebut. Hal ini analog, atau bisa
diibaratkan pada keadaan dimana terdapat benda yang berat menempel

pada sebuah tiang. Tambahan beban membuat tiang tersebut tidak stabil dan
menjadi sulit untuk tetap berada pada posisi yang netral. Sehingga tiang
tersebut dengan lebih mudah bergerak dari satu sisi ke sisi lain tergantung
tiang tersebut di miringkan ke arah mana. Ketika posisi akhir tercapai,
berat dari partikel tersebut menahan kupula untuk kembali ke posisi netral. Hal
ini ditunjukkan oleh adanya nistagmus yang persisten dan juga menjelaskan
rasa pusing yang dialami pasien ketika kepala pasien dimiringkan ke
belakang.
1


%eori Kanalitiasis
Teori ini dipublikasikan oleh Epley pada tahun 1980. Simptom VPPJ
dipercaya lebih konsisten dengan adanya benda padat atau partikel yang
bergerak bebas (kanalith) di kanalis semisirkularis posterior daripada
adanya benda yang menempel pada kupula. Ketika kepala pada posisi
tegak, partikel yang terdapat di kanalis semisirkularis posterior berada pada
posisi paling mudah dipengaruhi gravitasi. Ketika kepala dimiringkan ke
belakang pada posisi supinasi, partikel akan dirotasikan sekitar 90 derajat
searah dengan arkus kanalis semisirkularis posterior. Setelah beberapa saat
tertinggal, gravitasi menarik partikel jatuh ke arkus. Hal ini menyebabkan
endolimIe mengalir dari ampulla dan menyebabkan kupula terbelokkan
atau deIleksi. DeIleksi kupula menimbulkan nistagmus. Kebalikan arah rotasi
(dengan duduk kembali) menyebabkan deIleksi balik kupula sehingga
terjadi dizziness dan nistagmus pada arah yang berlawanan.
1

Teori ini memberi kesan bahwa partikel menunjukkan reaksi seperti
kerikil di dalam sebuah roda. Ketika roda berputar, kerikil tersebut
terangkat sebentar kemudian terjatuh akibat adanya gravitasi. Gerakan
jatuhnya partikel ini memacu saraI secara tidak tepat dan menimbulkan sensasi
dizziness. Arah rotasi yang berkebalikan tentu saja akan menyebabkan
aliran yang terbalik juga sehingga arah dizzines juga berbalik.Sebagai

perbandingan terhadap adanya benda pada kupula keberadaan benda pada


canal ini bisa menjelaskan dengan lebih baik adanya keterlambatan gejala
(delay), nistagmus yang transien dan adanya keterbalikan pada posisi
tegak. Teori ini ditunjang oleh penemuan Parnes dan McClure pada 1991
yang menemukan dan mendokumentasikan adanya partikel bebas pada
kanalis semisirkularis posterior pada operasi yang dilakukan.
1


2 Geala dan %anda Vertigo Posisi Paroksismal 1inak
Penderita merasa seolah olah dirinya bergerak atau berputar; atau penderita
merasakan seolah olah benda disekitarnya bergerak atau berputar.
2

Geala
1. Vertigo
2. Durasi singkat ( tiba tiba)
3. Posisional; hanya dirasakan ketika adanya perubahan posisi
4. Sering disertai mual
5. Gangguan visual : sulit melihat atau membaca pada suatu serangan
akibat adanya nistagmus
6. Pra keadaan pingsan (1aint 1eeling) atau keadaan pingsan yang tidak
biasa
7. Muntah jarang ditemukan tetapi dapat terjadi
%anda
Nystagmus torsional atau berputar, dimana bagian atas mata berputar ke arah
telinga yang terkena.
2


2 Diagnosa Vertigo Posisi Paroksismal 1inak
VPPJ pada kanalis posterior dan anterior dapat ditegakkan dengan cara
memprovokasi dan mengamati respon nistagmus yang abnormal dan respon
vertigo dari kanalis semisirkularis yang terlibat. Pemeriksaan dapat memilih
perasat Dix-Hallpike atau sidelying. Parasat Dix-Hallpike lebih sering

digunakan karena parasat tersebut posisi kepala sangat sempurna untuk


.analith repositioning treatment. Side- lying test digunakan untuk menilai
VPPJ pada kanal posterior dan anterior . Selain kedua pemeriksaan tersebut,
terdapat pemeriksaan lain untuk menilai vertigo yang melibatkan kanal
horizontal.
2,4

Pada saat perasat provokasi dilakukan, pemeriksa harus mengobservasi
timbulnya respon nistagmus pada kacamata FRENZEL yang dipakai oleh
pasien dalam ruangan gelap lebih baik lagi bila direkam dengan sistem Video
InIra Merah(VIM). Pengguna VIM memungkinkan penampakan secara
simultan dari beberapa pemeriksaan dan rekaman dapat disimpan untuk
penayangan ulang. Perekaman tersebut tidak dapat bersamaan dengan
pemeriksaan ENG karena prosesnya dapat terganggu oleh pergerakan dan
arteIak kedipan mata, selain itu nistagmus mempunyai komponen tersional
yang prominen yang tidak dapat terdeteksi ENG.
2,4

Perasat Dix-Hallpike pada garis besarnya terdiri dari 2 gerakan. Perasat
dix-hallpike kanan pada bidang kanal anterior kiri dan kanal posteior kanan
dan perasat dix-hallpike kiri pada bidang posterior kiri untuk melakukan
perasat dix-hallpike kanan, pasien duduk tegak pada meja pemeriksaan dengan
kepala menoleh 45
0
ke kanan. Dengan cepat pasien dibaringkan dengan kepala
tetap miring 45
o
ke kanan sampai kepala pasien menggantung 20-30
0
pada
ujung meja pemeriksaan, tunggu 40 detik sampai respon abnormal. Penelaian
respon pada monitor dilakukan selama 1 menit atau sampai respon
menghilang. Setelah tindakan pemeriksaan ini dapat langsung dilanjutkan
dengan .analith repositioning treatment (CRT). Bila tidak ditemukan respon
abnormal atau bila perasat tersebut tidak diikuti dengan CRT, pasien secara
perlahan-lahan didudukkan kembali. Lanjutkan pemeriksaan dengan perasat
dix-hallpike kiri dengan kepala dihadapkan 45
o
ke kiri, tunggu maksmial 40
detik sampai respon abnormal hilang. Bila ditemukan adanya respon abnormal,
dapat dilanjutkan dengan CRT, bila tidak ditemukan dengan respon abnormal

atau bila tidak dilanjutkan dengan tindakan CRT, pasien secara perlahan-lahan
didudukkan kembali
2,4


Gambar 2.1 Perasat Dix-Hallpike pada sisi kanan

Perasat sidelying juga terdiri dari dua gerakan yaitu perasat sidelying
kanan yang menempatkan kepala pada posisi dimana kanalis anterior
kiri/kanalis posterior kanan pada bidang tegak lurus garis horizontal dengan
kanal posterior pada posisi paling bawah dan perasat sidelying kiri yang
menempatkan kepala pada posisi dimana kanalis anterior kanan dan kanalis
posterior kiri pada bidang tegak lurus garis horizontal dengan kanal posterior
pada posisi paling bawah.
2,4

Pasien duduk pada meja pemeriksaan denga kaki menggantung di tepi
meja, kepala ditegakkan ke sisi kanan, tunggu 40 detik sampai timbul respon

abnormal. Pasien kembali ke posisi duduk untuk dilakukan perasat sidelying


kiri, pasien secara cepat dijatuhkan ke sisi kiri dengan kepala ditorehkan 45
o
ke
kanan (menempatkan kepala pada posisi kanalis anteriorkanan atau canalis
posterior kiri). Tunggu 40 detik sampai timbul respon abnormal.
2,4



Gambar 2.2 Perasat Side-lying


ENG (Electronystagmogra5y)
Akan sangat membantu untuk dapat mencetak catatan BPPV nistagmus selama
Dix- Hallpike. Hal ini memungkinkan dokter yang merawat untuk mengukur
respon, dan juga sangat membantu dalam situasi di mana dokumentasi yang
baik adalah sangat penting.
2,4


Gambar 2.3 Nistagmus pada VPPJ berdasarkan hasil ENG

Horizontal (atas) dan vertikal (bawah) posisi mata selama-Hallpike Dix Test.
Jejak bawah menunjukkan karakteristik upbeating nystagmus. Nystamus
torsional tidak dapat direkam di ENG.

#ESPON ABNO#AL
Pada orang normal nistagmus apat timbul pada saat gerakan provokasi ke
belakang, namun saat gerakan selesai dilakukan tidak tampak lagi nistagmus.
Pada pasien VPPJ setelah provokasi ditemukan nitagmus yang timbulnya
lambat, 40 detik, kemudian nistagmus menghilang kurang dari satu menit
bila sebabnya kanalitiasis, pada kupulolitiasis nistagmus dapat terjadi lebih dari
satu menit, biasanya serangan vertigo berat dan timbul bersamaan dengan
nistagmus.
2,4

Pemeriksa dapat mengidentiIikasi jenis kanal yang terlibat dengan mencatat
arah Iase cepat nistagmus yang abnormal dengan mata pasien menatap lurus ke
depan.
2,4

1. Fase cepat ke atas, berputar ke kanan menunjukkan VPPJ pada kanalis


posterior kanan
2. Fase cepat ke atas, berputar ke kiri menunjukkan VPPJ pada kanalis
posterior kiri.
3. Fase cepat ke bawah, berputar ke kanan menunjukkan VPPJ pada kanalis
anterior kanan.
4. Fase cepat ke bawah, berputar ke kiri menunjukkan VPPJ pada kanalis
anterior kiri.
Respon abnormal diprovokasi oleh perasat dix-hallpike/sidelying pada
bidang yang sesuai dengan kanal yang terlibat. Perlu diperhatikan, bila respon
nistagmus sangat kuat oleh dapat diikuti oleh nistagmus sekunder dengan arah
Iase cepat berlawanan dengan nistagmus pertama. Nistagmus sekunder terjadi
oleh karena proses adaptasi sistem vestibuler sentral. Perlu dicermati bila psien
kembali ke posisi duduk setelah mengikuti pemeriksaan dengan hasil respon
positiI, pada umumnya pasien mengalami serangan nistagmus dan vertigo
kembali. Respon tersebut menyerupai respon yang pertama amun lebih lemah
dan nistagmus Iase cepat timbul dengan arah yang berlawanan, hal tersebut
disebabkan oleh gerakan k analith ke kupula.
2,4

Pada umumnya VPPJ timbul pada kanalis posterior dari hasil penelitian
Herdman terhadap 77 pasien VPPJ. Mendapatkan 49 pasien (64) dengan
kelainan pada kanalis posterior, 9 pasien (12) pada kanalis anterior dan 18
pasien (23) tidak dapat ditentukan jenis kanal mana yang terlibat, serta
didapatkan satu pasien dengan keterlibatan pada kanalis horizontal.Kadang-
kadang perasat dix-hallpike/sidelying menimbulkan nistagmus horizontal.
Nistagmus ini bisa terjadi karena nistagmus spontan, nistagmus posisi atau
VPPJ pada canalis horizontal. Bila timbul nistagmus horizontal, pemeriksaan
harus dilanjutkan dengan pemeriksaan Roll Test.
2,4




2 Diagnosa Vertigo Posisi Paroksismal 1inak


Tuli
konduksi sensorineural Kelumpuhan saraI
Kranialis lain
VPPJ - - -
Penyakit Meniere - -
.ute Peripheral vestibulopathy - - -
Otosklerosis -
Trauma kapitis
Tumor cerebellopontine -
Toxi. vestibulopathy
Alkohol - - -
Aminoglikosida - -
Salisilat - -
Quinin - -
Neuropati N VIII
Basilar meningitis -
Hipotiroid - -
Diabetes -
Paget diasease o1 the skull -


2 %atalaksana Vertigo Posisi Paroksismal 1inak
Tiga macam perasat dilakukan untuk menanggulangi VPPJ yaitu CRT (
analith Repositioning Treatment), Perasat Liberatory dan latihan Brandt-
DaroII. CRT sebaiknya segera dilakukan setelah hasil perasat Dix- Hallpike
menimbulkan respon abnormal. Pemeriksa dapat mengindentiIikasi adanya
kanalitiasis pada kanal anterior atau kanal posterior dari telinga yang

terbawah. Pasien tidak kembali ke posisi duduk, namun kepala pasien


dirotasikan dengan tujuan untuk mendorong kanalith keluar dari kanalis
semisirkularis menuju ke utrikulus, tempat dimana kanalith tidak menimbulkan
gejala.
2,4

Bila kanalis posterior kanan yang terlibat maka harus dilakukan tindakan
CRT kanan. Perasat ini dimulai pada posisi Dix-Hallpike yang menimbulkan
respon abnormal dengan cara kepala ditahan pada posisi tersebut selama 1- 2
menit, kemudian kepala direndahkan dan diputar secara perlahan ke kiri dan
dipertahankan selama beberapa saat. Setelah itu badan pasien dimiringkan
dengan kepala tetap dipertahankan pada posisi menghadap kiri dengan sudut
45
0
sehingga kepala menghadap ke bawah melihat ke lantai. Akhirnya pasien
kembali ke posisi duduk, dengan kepala menghadap ke depan. Setelah terapi
inipasien dilengkapi dengan menahan leher dan disarankan untuk tidak
menunduk, berbaring, membungkukkan badan selama satu hari. Pasien harus
tidur pada posisi duduk dan harus tidur pada posisi duduk dan harus tidur pada
posisi yang sehat untuk 5 hari.
2,4

Perasat yang sama juga dapat digunakan pada pasien dengan kanalitiasis
pada kanal anterior kanan. Pada pasien dengan kanalith pada kanal anterior kiri
dan kanal posterior, CRT kiri merupakan metode yang dapat digunakan, yaitu
dimulai dengan kepala menggantung kiri dan membalikkan tubuh ke kanan
sebelum duduk.
2,4

Herman dkk mengemukakan bahwa bila kepala pasien hanya diputar ke
sisi kontralateral saja sebelum kembali ke posisi duduk remisinya hanya 50,
bila diputar ke kontralateral dengan kepala diputar 45
0
ke arah lantai angka
remisi 83.
2,4

Perasat liberatory, yang dikembangkan oleh Semont, juga dibuat untuk
memindahkan otolit (debris/kotoran) dari kanal semisirkularis. Tipe perasat
yang dilakukan tergantung dari jenis kanal mana yang terlibat, apakah kanal
anterior atau posterior. Bila terdapat keterlibatan kanal posterior kanan,

dilakukan perasat liberatory kanan perlu dilakukan. Perasat dimulai dengan


penderita diminta untuk duduk pada meja pemeriksaan dengan kepala diputar
menghadap kiri 45
0
. Pasien yang duduk dengan kepala menghadap ke kiri
secara cepat dibaringkan ke sisi kanan dengan kepala menggantung ke bahu
kanan. Setelah 1 menit, pasien digerakkan secara cepat ke posisi duduk awal
dan untuk posisi sidelying kiri. Pertahankan pasien dalam posisi ini selama 1
menit dan perlahan lahan kembali ke posisi duduk. Penopang leher kemudian
dikenakan dan diberi instruksi yang sama dengan pasien yang diterapi dengan
CRT.
2,4

Bila kanal anterior kanan yang terlibat, perasat yang dilakukan sama,
namun kepala diputar menghadap ke kanan. Bila posterior kiri yang terlibat,
perasat liberatory kiri harus dilakukan, (pertama pasien bergerak ke posisi
sidelying kiri kemudian posisi sidelying kanan) dengan kepala menghadap
kanan. Bila kanal anterior kiri yang terlibat, perasat liberatory kiri dilakukan
dengan kepala diputar menghadap kiri.
2,4

Sekarang manuver Epley merupakan manuver yang sering digunakan di
Amerika serikat. Gangguan BPPV sering bisa dilenyapkan dengan
mempergunakan manuver Epley untuk mengeluarkan partikel dari kanal.
Pada manuver ini, badan dan kepala orang digerakkan ke dalam posisi
berbeda beriringan. Masing-masing posisi ditahan selama sekitar 30 detik
untuk membiarkan partikel pindah oleh gravitasi ke bagian kanal lain.
&ntuk memeriksa jika manuver berjalan, pasien memindahkan kepala ke arah
di mana dulunya menyebabkan vertigo. Jika vertigo tidak terjadi manuver
berjalan baik. Tetap dalam posisi semi-tegak selama 24 jam setelah
manuver Epley, dulunya dianjurkan, tetapi sekarang tidak lagi perlu
dipertimbangkan.
2,4

Pertama, dengan pasien posisi duduk, kepala diputar sekitar 45
derajat ke sebelah kanan atau kiri, tergantung pada sisi pemicu vertigo.

Pasien kemudian berbaring dengan kepala bergantung dibalik pinggir meja


periksa (atau tempat tidur). Partikel memicu sinyal ke otak, menghasilkan
vertigo. Kedua, kepala kemudian diubah ke arah yang lain dengan sudut
yang sama. Kepala dibelokkan lebih jauh ke sebelah kiri, agar telinga sejajar
dengan lantai. Akhirnya, kepala dan badan dibalik semakin banyak, sampai
hidung menunjuk ke lantai . Pasien kemudian duduk tegak tetapi menjaga
kepala agar tetap dibelokkan sejauh mungkin. Ketika pasien sudah duduk
tegak, kepala bisa dihadapkan ke depan (lihat gambar 2. 3)
2,4,7


Gambar 2.3 Perasat Epley
Latihan Brandt- DaroII adalah sebuah metode untuk merawat VPPJ,
biasanya digunakan ketika manuver Epley dan Semont yang telah di bahas
diatas gagal. Latihan ini berhasil dal am 95 kasus, tetapi lebih sulit daripada

manuver Epley dan Semont. Latihan ini akan dilakukan dalam tiga set per
hari selama dua minggu. Dalam setiap set, manuver dilakukan lima kali.
2,4


1 repetisi manuver dilakukan untuk masing-masing sisi bergantian ( 2
menit)

tabel 2.1 Jadwal yang Disarankan untuk Latihan Brandt- DaroII


Mulai duduk tegak lurus (posisi 1). Kemudian pindah ke salah satu
sisi (posisi 2), dengan kepala setengah menoleh ke atas. Cara mudah untuk
mengingat ini adalah bayangkan seseorang berdiri dengan jarak sekitar 6
kaki di depan Anda, dan hanya melihat kepala mereka setiap waktu.
Tetap pada posisi di salah satu sisi selama 30 detik, atau sampai pusing
hilang, kemudian kembali ke posisi duduk (posisi 3). Posisikan selama 30
detik, dan kemudian ganti ke sisi lainnya (posisi 4) dan ikuti hal yang sama.
Latihan ini harus dilakukan selama dua minggu, tiga kali per hari, atau
selama tiga minggu, dua kali per hari . Ini menambahkan hingga total 52
set. Pada kebanyakan orang, gejala berkurang setelah 30 set, atau sekitar 10
hari. Sekitar 30 persen pasien, BPPV akan terulang dalam satu tahun. Jika
BPPV berulang, mungkin pasien ingin menambahkan 10 menit untuk latihan
rutin sehari-hari.
2,4


Gambar 2.4 Perasat Brandt- DaroII
7

Jika latihan diatas tidak eIektiI dalam menanggulangi gejala, gejala
persisten 1 tahun atau lebih, dan diagnosis sangat jelas prosedur operasi yang
disebut "posteri or kanal plugging" mungkin dianjurka. Pembedahan tidak
boleh dilakukan sampai tiga manuver / latihan (Epley, Semont, dan
Brandt- DaroII) telah dicoba dan gagal. Labyrintyhectomy dan sacculotyomy
tidak cocok karena pada prosedur ini dapat terjadi pengurangan atau
kehilangan pendengaran.
4




BAB III
KESIPULAN DAN SA#AN

KESIPULAN
1. Vertigo posisi paroksismal jinak dideIinisikan sebagai perasaan gangguan
keseimbangan yang dipicu oleh posisi provokatiI tertentu. Posisi
provokatiI ini biasanya juga memicu terjadinya gerakan mata yang
spesiIik (nistagmus).
2

2. VPPJ merupakan salah satu penyebab terbanyak dari serangan vertigo
yang tiba tiba. Pada suatu penelitian di Amerika Serikat menunjukkan
insidensi terjadinya VPPJ adalah 64 per 100.000 orang. Insidensi dari
VPPJ pada populasi lebih tinggi pada usia lebih dari 40 tahun dengan usia
onset rata rata adalah 51 tahun.
1

3. Berbagai penyebab yang mungkin menyebabkan VPPJ antara lain cedera
kepala, vestibular neuronitis, labirinitis, stapedektomi, penyakit sistem
nervus centralis, dll. Nistagmus posisional juga dapat ditemukan akibat
intoksikasi obat obatan.
2

4. PatoIisiologi VPPJ dapat dijelaskan oleh teori kanalitiasis dan
kupolitiasis.
2

5. Diagnosa VPPJ dapat dilakukan dengan perasat Dix- Hallpike, Side-
Lying, dan Tes Roll.
4

6. Tatalaksana VPPJ menggunakan perasat CRT (Canalith Repositioning
Therapy), perasat Liberatory, manuver Epley, dan latihan Brandt- DaroII.
4


2 SA#AN
Tatalaksana VPPJ sebaiknya dilakukan dengan perasat CRT (Canalith
Repositioning Therapy), perasat Liberatory, manuver Epley, dan latihan
Brandt- DaroII. Pembedahan hanya dilakukan apabila perasat tersebut gagal.


DAF%A# PUS%AKA

1. C, John Li. Neurologic ManiIestations oI Benign Positional Vertigo.
Available at: http://emedicine.medscape.com/article/1158940-
medication#showall.|Accesed on 10 April 2011|.
2. &niversitas Gajah Mada. Benign Paroxismal Positional Vertigo. Fakultas
Kedokteran &nivertas Gajah Mada. 2009. Yogyakarta.
3. Wreksoatmojo, Budi Riyanto. Vertigo: Aspek Neurologi. Cermin Dunia
Kedokteran. Available at: http. www.kalbe.co.id/cdk. .|Accesed on 10 April
2011|.
4. Bashiruddin, Jenny. 2008.Vertigo Posisi Paroksismal Jinak. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok Kepala dan Leher. Jakarta: Balai
Penerbit FK&I.
5. Solomon, David. Benign Paroxismal Positional Vertigo Available at:
http://www.med.upenn.edu/solomon/images/BPPV.pdI. |Accesed on 10 April
2011|.
6. Simon, Roger P. 2009. Disorders oI Equilibrium. Clinical Neurology. North
America: Lange.
7. CSCD. Benign Paroxismal Positional Vertigo. Available at:
http://www.cscd.nwu.edu/public/balance/bppv.html. |Accesed on 10 April
2011|.