Anda di halaman 1dari 11

J. Sains & Teknologi, Agustus 2004, Vol. 4 No.2: 54-64.

ISSN 1411-4674

EVALUASI MUTU FISIK DAN FISIOLOGIS BENIH JAGUNG CV. LAMURU DARI UKURAN BIJI DAN UMUR SIMPAN YANG BERBEDA
Ramlah Arief1, Elkawakib Syamun2 & Sania Saenong1
1. 2. Staf peneliti pada Balai Penelitian Serealia Maros Dosen pada Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian dan Kehutanan UNHAS

ABSTRACT
The research aimed to evaluate physical and physiological seed quality of maize cv Lamuru from different seed size and storage life. The research was conducted under laboratory and green house condition of Indonesian Cereal Institute at Maros district from August 2002 until March 2004. Observation on physical and physiological seed quality were recorded for 1000 seeds weight, specific gravity of seeds, germination capacity, spontaneous growth, germination speed, seedling dry weight, length of primary root, electrical conductivity and K content of seed soaking water, free fatty acid. The result showed that there were no significant affect on germination capacity, spontaneous growth, seedling dry weight and length of primary root in relation to its seed size, but in term of storage life the decreased were 25,00; 48,97; 61,69 and 38,88% respectively. Seeds specific gravity and 1000-seeds weight of small size seeds was lower than big size seeds. No significant interaction affect was found between seed size and storage life. Keyword : seed size, storage, quality & physiology

PENDAHULUAN Dalam penyimpanan, benih dapat mengalami deteriorasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju deterio-rasi benih dalam penyimpanan, antara lain : vigor awal benih, proses panen dan pascapanen (termasuk kondisi lingkungan dan lama penyimpanan). Penurunan mutu fisiologis benih dapat terjadi jika faktor-faktor yang mempengaruhi laju deteriorasi benih sulit dikendalikan. Selain itu sortasi benih dalam proses pascapanen masih sering diabaikan sehingga mutu yang tinggi dari setiap individu benih sangat sulit diperoleh. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran biji berpengaruh terhadap daya simpan. Untuk beberapa spesies, biji-biji yang lebih kecil dalam suatu lot benih pada kultivar yang sama mempunyai masa hidup yang lebih

pendek (Priestley, 1986). Ukuran biji biasanya dikaitkan dengan kandungan cadangan makanan dan ukuran embrio. Vaughan dan Moore (1980) melaporkan bahwa biji kacang tanah yang kecil kehilangan viabilitasnya lebih cepat dari-pada biji yang lebih besar, dan ke-mampuan berkecambah awalnya juga lebih rendah. Fenomena yang serupa juga terjadi pada beberapa legum pakan ternak (Gaspar et al. 1981). Hasil penelitian Gusta et al. (2003) serta Elliot dan Olfet (2003) menunjukkan adanya hubungan antara ukuran biji canola dengan vigor benih, biomas tanam-an, kualitas benih dan hasil. Gusta et al. (2003) juga melaporkan bahwa benih dengan ukuran yang lebih kecil memberi hasil biji yang lebih rendah 10 45%. Gardner et al. (1991) menunjukkan adanya pengaruh positif ukuran biji terhadap ukuran

54

Ramlah Arief, Elkawakib Syamun & Sania Saenong

ISSN 1411-4674

kotiledon. Biji yang lebih besar menghasilkan luas kotiledon dua kali lipat dan potensi fotosintetiknya lebih tinggi dibandingkan dengan biji kecil. Hussaini et al. (1984) menyatakan bahwa ukuran benih jagung yang lebih besar setelah mengalami penderaan mempunyai kemampuan berkecambah dan vigor yang lebih baik daripada benih yang lebih kecil. Selanjutnya Abd- El-Rahman dan Bourdu (1986) mengemukakan bahwa laju pertumbuhan kecambah jagung meningkat dengan semakin besarnya ukuran biji dan benih yang berbentuk bulat lebih tinggi laju pertumbuhannya daripada yang berbentuk pipih. Biji yang berbentuk bulat besar biasanya terdapat di dasar tongkol dan bulat kecil pada ujung tongkol. Sekitar 75% dari biji di antara kedua tipe tersebut di atas berbentuk pipih. Biji yang berbentuk pipih ini berbedabeda ukurannya dari kecil sampai besar. Menurut Beck (2002), terdapat enam kategori ukuran / bentuk yaitu bulat besar, pipih besar, bulat sedang, pipih sedang, bulat kecil, dan pipih kecil. Di tingkat petani/penangkar benih jagung, masih jarang dilakukan pemilahan benih berdasarkan ukuran bijinya. Hal ini tentunya dengan pertimbangan waktu dan biaya. Di samping itu belum diperhatikan pengaruhnya terhadap perbedaan hasil. Namun penggunaan benih yang telah disimpan harus memperhatikan aspek-aspek fisiologis benih sehubungan dengan kekuatan tumbuh semai di lapangan. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi mutu fisik dan fisiologis benih jagung cv. Lamuru dari ukuran biji dan umur simpan yang berbeda.

METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di laboratorium dan rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Serealia mulai bulan Agustus 2002 sampai Maret 2004 Bahan yang digunakan dalam penelitian ini ialah benih jagung varietas bersari bebas Lamuru yang telah disimpan pada suhu kamar ( 28 32C) di Maros selama 0, 6, 12 dan 18 bulan. Benih berasal dari lot yang sama dan untuk mengatur perlakuan umur simpan dalam suhu kamar 0, 6, 12, 18 bulan maka benih tersebut di-simpan pada suhu dingin ( 4 - 6C) masingmasing selama 18, 12, 6, 0 bulan untuk perlakuan umur simpan 0, 6, 12, 18 bulan dalam suhu kamar. Kriteria benih ukuran besar ialah biji-biji yang tidak dapat melewati saringan dan mempunyai ukuran lebar > 8 mm, sedangkan benih ukuran kecil ialah biji-biji yang lolos saringan dan mempunyai ukuran lebar 8 mm. Uji mutu benih di laboratorium dan rumah kaca menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dilakukan dengan pola faktorial dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama ialah ukuran benih (B) yang terdiri dari dua taraf yaitu; (1) Benih ukuran besar (b1), dan (2) Benih ukuran kecil (b2). Faktor kedua ialah lama penyimpanan (P) dalam suhu kamar yang terdiri dari 4 periode simpan, yaitu : (1) 0 bulan (p1), (2) simpan 6 bulan (p2), (2) (3) simpan 12 bulan (p3), dan simpan 18 bulan (p4). Pengambilan sampel benih untuk uji di laboratorium dan di rumah kaca mengikuti standar ISTA (AOSA, 1983).

55

Seed size, storage, quality & physiology

ISSN 1411-4674

Parameter yang Diamati: Berat jenis biji Pengukuran berat jenis dilakukan dengan cara menimbang 50 g biji lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 105C selama tiga kali dua puluh empat jam. Seratus mililiter aquades dimasukkan ke dalam gelas ukur kemudian masukkan benih yang telah dikeringkan tadi, lalu hitung peningkatan volume air. Bobot 1000 butir biji Pengukuran bobot 1000 butir biji dilakukan dengan menggunakan alat tim-bangan elektronik. Daya berkecambah benih Sebanyak 100 butir benih dari setiap ulangan ditanam pada substrat pasir halus. Pengamatan dilakukan pada hari ke tiga, empat dan lima setelah tanam. Selain untuk pengujian daya berkecambah benih, perla-kuan ini juga digunakan untuk substrat indikator kecepatan tumbuh benih. Pengamatan dilakukan atas dasar kriteria kecambah normal, abnormal dan mati. Kecambah normal dikelompokkan menjadi dua yaitu kecambah normal kuat dan normal lemah. Jumlah kecambah normal kuat pada hari ke-4, merupakan data keserempakan tumbuh benih. Kecepatan tumbuh benih Data yang diperoleh dari substrat pengujian daya berkecambah benih. Setiap kali pengamatan, jumlah persentase kecam-bah normal dibagi dengan etmal (24 jam). Nilai etmal kumulatif diperoleh dari saat benih

ditanam sampai dengan waktu pengamatan. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
( Xi X i l ) Ti KT = Kecepatan tumbuh (%/etmal) Xi = Persentase kecambah normal pada etmal ke i Ti = Waktu pengamatan (etmal) KT =

Bobot kering kecambah Kecambah yang diperoleh pada uji daya tumbuh benih dikeringkan dalam oven pada suhu 60C selama 3 x 24 jam, setelah itu dimasukkan ke dalam desikator dan setelah dingin ditimbang. Panjang akar primer kecambah Diambil 10 kecambah dari setiap pot pengujian di rumah kaca. Hasil peng-ukuran diambil nilai rata-ratanya. Dilakukan dengan 3 (tiga) ulangan. Daya hantar listrik (DHL) DHL diperoleh dengan alat konduktomerer tipe Methron E 38. Benih sebanyak 5 g diambil secara acak, masing-masing direndam pada air bebas ion selama 24 jam dengan volume air 50 ml di dalam botol gelas, kemudian diukur pada alat konduktometer. Sebagai blanko digunakan air bebas ion yang juga telah disimpan di dalam botol-botol gelas selama 24 jam. Bocoran Kalium Lima puluh butir benih diambil secara acak dari setiap lot benih direndam di dalam 75 ml air bebas ion pada suhu 25C selama 30 menit, lalu kadar kalium yang terdapat dalam bocoran ini diukur dengan menggunakan flame photometer.

56

Ramlah Arief, Elkawakib Syamun & Sania Saenong

ISSN 1411-4674

Kadar asam lemak bebas Kadar asam lemak bebas dianalisis dengan menggunakan metode Mehlenbacher. Benih sebanyak 5 g ditimbang, lalu digiling, kemudian dimasukkan ke dalam erlemeyer, ditambahkan 50 ml alkohol yang panas dan 2 ml indikator pp. Setelah itu dititrasi dengan larutan 0.1 N NaOH yang telah distandarisasi sampai berubah warna merah jambu dan tidak hilang selama 30 menit. HASIL DAN PEMBAHASAN Benih yang digunakan sebagai bahan penelitian baik yang berukuran besar maupun kecil secara umum menunjukkan adanya perbedaan mutu. Benih dengan periode simpan 18 bulan

menunjukkan mutu fisiologis paling rendah baik pada biji ukuran besar maupun kecil. Dengan mem-perhatikan indikator biokimia seperti bocor-an kalium, daya hantar listrik air rendaman benih, dan kandungan asam lemak bebas, terlihat bahwa data-data hasil pengamatan di laboratorium sejalan dengan pengamatan di rumah kaca dalam uji daya berkecambah benih. Berat Jenis dan Bobot 1000 Butir Biji Hasil pengamatan terhadap berat jenis dan bobot 1000 butir biji menunjukkan bahwa secara umum, ukuran benih yang lebih besar (b1) mempunyai berat jenis dan bobot 1000 butir yang lebih tinggi dibandingkan ukuran kecil (b2) (Gambar 1).

Berat Jenis benih (g cm-3)

1,50 1,20 0,90 0,60 0,30 0,00

a
1,23 1,19 1,18 1,18 1,11 1,10 1,10 1,10

p1 p2 p3 p4

b1

b2

350 300 250 200 150 100 50 0

b
298,83 298,67293,77 283,87 231,17 233,17 223,27 219,2

Bobot 1000 butir (g)

p1 p2 p3 p4

b1

b2

Gambar 1. Berat jenis benih (a) dan bobot 1000 butir (b) jagung varitas Lamuru dari benih ukuran besar (b1) dan kecil (b2) pada beberapa umur simpan (p)

57

Seed size, storage, quality & physiology

ISSN 1411-4674

Benih berukuran besar dari empat umur simpan mempunyai berat jenis yang berbeda nyata dengan benih berukuran kecil. Parameter berat jenis benih telah lama digunakan dalam proses seleksi. Benih dengan berat jenis rendah dan telah mengalami deteriorasi tidak mempunyai kemampuan berkecambah (Priestley, 1986). Rendahnya berat jenis ini dapat timbul dari penurunan respirasi akibat penurunan ukuran biji (Priestley, 1986). Data bobot 1000 butir menunjukkan bahwa benih dengan ukuran besar mempunyai bobot 1000 butir yang lebih tinggi yaitu 283,87 298,83 g dibandingkan dengan benih yang berukuran kecil yaitu 219,20 239,17 g. Hasil penelitian Sudaryono et al. (1990) terhadap benih padi, menunjukkan bahwa daya berkecambah dan vigor benih padi lebih tinggi pada kelompok benih dengan berat jenis lebih besar dari 1,125 g cm-3. Daya Berkecambah, Keserempakan Tumbuh, Kecepatan Tumbuh, Bobot Kering Kecambah dan Panjang Akar Primer Pengamatan terhadap mutu fisiologis benih menunjukkan perbedaan yang nyata secara statistik pada beberapa parameter yang diamati (Gambar 2a, b, c dan Gambar 3a, b).

Data uji perkecambahan di rumah kaca menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara perlakuan, terutama untuk parameter daya berkecambah menunjukkan bahwa benih yang telah disimpan selama 18 bulan baik yang berukuran kecil maupun yang berukuran besar mempunyai daya berkecambah yang lebih rendah dibandingkan dengan benih yang baru dipanen, disimpan 6 dan 12 bulan (Gambar 2a). Dari beberapa parameter yang diamati dalam uji perkecambahan ini (daya berkecambah, keserempakan tumbuh, kecepatan tumbuh, bobot kering kecambah, dan panjang akar primer kecambah), terlihat adanya penurunan mutu fisiologis benih dalam penyimpanan. Suhu udara yang berkisar 28 - 32C serta fluktuasi kelembaban nisbi udara yang cukup tinggi mendorong terjadinya deteriorasi benih lebih cepat pada benih yang disimpan lebih lama. Sejauh ini belum terlihat adanya perbedaan mutu fisiologis yang nyata antara benih yang berukuran besar dan kecil pada hasil pengamatan di rumah kaca.

Daya berkecambah (%)

120 100 80 60 40 20 0

a
99,33 98 97,33 74 98,67 98,67 97,33 74

p1 p2 p3 p4

b1

b2

58

Ramlah Arief, Elkawakib Syamun & Sania Saenong

ISSN 1411-4674

b
Keserempakan Tumbuh (%)

120 100 80 60 40 20 0

96,67 94,67 76 50,67

96,67 96,67 76 49,33

p1 p2 p3 p4

b1

b2

c
Kecepatan tumbuh (% etmal-1)

35,00 28,00 21,00 14,00 7,00 0,00

31,09 30,89 30,60 30,39

30,91 30,90

27,61 21,06

p1 p2 p3 p4

b1

b2

Gambar 2.

Daya berkecambah (a), keserempakan tumbuh (b), kecepatan tumbuh (c) jagung varitas Lamuru dari benih ukuran besar (b1) dan kecil (b2) pada beberapa umur simpan.

Bobot kering kecambah (mg kecambah-1)

a
240 210 180 150 120 90 60 30 0 199,82 169,61 140,96 123,08 187,05 149,3 126,36 71,66

p1 p2 p3 p4

b1

b2

Panjang akar primer (cm)

b
20 16 12 8 4 0 b1 b2 10,53 17,33 16,67 16,30 16,90 16,40 15,07 10,33

p1 p2 p3 p4

Gambar 3.

Bobot kering kecambah (a), panjang akar primer (b) jagung varitas Lamuru dari benih ukuran besar (b1) dan kecil (b2) pada beberapa umur simpan.

59

Seed size, storage, quality & physiology

ISSN 1411-4674

Walaupun kecepatan tumbuh benih tidak berbeda nyata antar perlakuan, namun benih yang berukuran kecil dan telah disimpan 18 bulan (b2p4) mempunyai kecepatan tumbuh paling rendah yaitu 21,06% etmal-1. Kecepatan tumbuh yang lebih rendah menunjukkan lambatnya pertumbuhan kecambah yang mengindikasikan lemahnya vigor kekuatan tumbuh. Hal ini berkaitan dengan daya berkecambah yang rendah, yaitu 74% atau 25,5% lebih rendah dari daya berkecambah benih berukuran besar yang baru disimpan (Gambar 2a). Penurunan beberapa parameter perkecambahan pada benih dengan umur simpan 18 bulan ini mungkin terjadi akibat hilangnya kekuatan yang disebabkan oleh pemecahan struktur-struktur pelindung terhadap mikroorganisme yang dapat melemahkan atau merusak biji . Lamanya penyimpanan atau kondisi yang tidak cocok mungkin menyebabkan hilangnya sifat selektif dari metabolit membran biji selama perkecambahan yang selanjutnya dapat mengundang serangan mikroba. Menurut Gardner et al. (1991), laju fotofosforilasi dari tanaman yang berasal dari benih dengan umur simpan yang lama hanya sekitar 40-70% dari laju pada tanaman yang berasal dari benih baru persatuan O2 yang dipakai. Benih dari umur simpan yang lama mempunyai mitokondria yang lebih sedikit per satuan berat dibandingkan mitokondria benih baru. Proses perkecambahan dimulai dengan penyerapan air oleh benih dan hidrasi dari protoplasma. Selanjutnya terjadi pengaktifan enzim dan pencernaan, transpor molekul yang terhidrolis ke poros embrio, peningkatan respirasi dan asimilasi, inisiasi pembelahan pembesaran sel, dan munculnya embrio (Gardner et al. 1991). Sementara daun belum dapat berfungsi se-

bagai organ untuk fotosintesis maka pertumbuhan kecambah sangat tergantung pada persediaan makanan yang ada dalam biji. Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa kecepatan tumbuh menurun dengan cepat sejalan dengan lamanya penyimpanan benih, terutama untuk benih yang telah disimpan 18 bulan. Hal yang serupa juga terjadi pada bobot kering kecambah dan panjang akar primer kecambah (Gambar 3a, b). Bobot kering kecambah yang rendah menunjukkan rendahnya persediaan makanan yang ada dalam biji yang seharusnya mendukung pertumbuhan awal kecambah sebelum daun berfungsi sebagai organ fotosintesis. Perubahan respirasi pada benih yang telah disimpan juga dapat menyebabkan penurunan berat kering. Dalam penelitian ini tidak terlihat perbedaan yang nyata antara ukuran biji besar dan kecil pada beberapa parameter dalam uji pengecambahan ini, namun terlihat pada gambar 2b, c dan 3a biji besar cenderung lebih baik dalam parameter keserempakan tumbuh, kecepatan tumbuh, bobot kering kecambah dibandingkan biji kecil. Di dalam jaringan penyimpanannya benih memiliki karbohidrat, protein, lemak, dan mineral yang diperlukan sebagai energi bagi embrio saat perkecambahan. Beberapa peneliti menduga bahwa benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan lebih banyak dibandingkan benih yang kecil dan mungkin embrionya lebih besar (Gardner et al. 1991). Daya Hantar Listrik dan Bocoran Kalium Air Rendaman Benih Hasil pengamatan di laboratorium terhadap beberapa parameter lainnya seperti daya hantar listrik air rendaman benih dan bocoran Kalium (K) menunjukkan adanya

60

Ramlah Arief, Elkawakib Syamun & Sania Saenong

ISSN 1411-4674

perbedaan nyata dengan benih yang disimpan lebih lama, pada periode simpan 18 bulan mempunyai konduktivitas listrik yang tinggi. Demikian pula halnya dengan data bocoran K, mempunyai kecenderungan yang sama dengan daya hantar listrik air rendaman benih (Gambar 4a, b). Dari hasil pengamatan terhadap daya hantar listrik (DHL) air rendaman benih terlihat bahwa benih yang berukuran besar dan baru dipanen mempunyai daya hantar listrik terendah, yaitu 16,78 mhos cm-2g-1. Nilai ini menggambarkan bocoran membran sel dimana semakin besar nilai daya hantar listrik berarti bocoran membran semakin tinggi yang berarti makin rendahnya mutu fisiologis benih itu. Nilai bocoran membran tertinggi pada benih berukuran kecil dan

telah disimpan 18 bulan. Menurut Mc Donald dan Nelson (1986), air rendaman benih mengandung beberapa eksudat organik dan inorganik. Dalam penelitian ini, pengamatan terhadap eksudat inorganik air rendaman benih dilakukan terhadap unsur kalium. Kalium merupakan ion-ion utama yang terdapat dalam bocoran selama proses imbibisi, diikuti oleh Natrium dan Kalsium dan dapat digunakan sebagai indikator dari integritas membran sel. (Miguel dan Filho, 2002). Dari hasil pengamatan dalam penelitian ini, data bocoran K mempunyai kecenderungan yang sama dengan data DHL yaitu terjadi peningkatan nilai bocoran dengan semakin lamanya periode simpan benih yaitu 94,90 ppm pada benih yang telah disimpan selama 18 bulan.

40 35 30 25 20 15 10 5 0

a
27,59 16,78 18,80 19,65 22,60 30,93 33,94 24,80

Daya hantar listrik (mhos cm-2g-1)

p1 p2 p3 p4

b1

b2

Bocoran Kalim (ppm)

120 100 80 60 40 20 0 60,34 40,8

b 86,55 71,59 62,26 75,75 81,79 94,9

p1 p2 p3 p4

b1

b2

Gambar 4. Daya hantar listrik (a), bocoran kalium (b) jagung varitas Lamuru dari benih ukuran besar (b1) dan kecil (b2) pada beberapa umur simpan.

61

Seed size, storage, quality & physiology

ISSN 1411-4674

Lama perendaman untuk pengamatan bocoran K ini hanya 30 menit, berbeda dengan lama perendaman untuk pengamatan DHL air rendaman benih. Dalam pelaksanaan pengamatan terhadap bocoran K, kami mengacu pada hasil penelitian terdahulu oleh Miguel dan Filho (2002), yang mendapatkan bahwa lama perendaman 30 menit untuk pengukuran bocoran K berkorelasi paling tinggi dengan vigor pertumbuhan tanaman jagung di lapangan. Selama vigor benih menurun dengan penderaan, maka kemampuan benih untuk menahan larutan juga menurun. Rusaknya retensi larutan telah ditunjukkan sebagai bukti dari kekurang efektifan membran sel semipermeabel. Kebocoran larutan dari benih meningkat setelah benih mengalami penderaan yang dipercepat (40C, RH 100%). Oleh karena itu, rusaknya membran semipermea

bel telah disimpulkan sebagai luka kritis yang disebabkan oleh penderaan yang dipercepat dalam benih (Parish dan Leopold, 1978). Dalam penelitian ini, perlakuan benih yang disimpan pada suhu kamar dengan fluktuasi kelembaban nisbi udara yang cukup tinggi merupakan suatu proses penderaan bagi benih. Kadar Asam Lemak Bebas Asam lemak bebas dari perlakuan benih yang berukuran kecil dengan periode simpan paling lama 18 bulan (b2p4) menunjukkan nilai yang tertinggi, yaitu 3,67%. Dari hasil pengamatan ini terlihat bahwa kadar asam lemak bebas semakin tinggi dengan semakin lama periode simpan (Gambar 5).

Kadar asam lemak bebas (%)

5 4 3 2 1 0 b1 b2 3,01 3,13 2,57 2,77 2,68 2,87 3,3 3,67

c
p1 p2 p3 p4

Gambar 5. Kadar asam lemak bebas benih jagung varitas Lamuru dari ukuran benih besar (b1) dan kecil (b2) pada beberapa umur simpan (p) Peningkatan konsentrasi asam lemak bebas dijumpai banyak pada benihbenih yang mengalami deteriosasi. Peningkatan ini terjadi akibat hidrolisis trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak bebas oleh lipase. Beberapa mikroorganisme dalam penyimpanan dan dilapangan menghasilkan lipase secara eksoselular. Selanjutnya Mc. Donald dan Nelson (1986) menyatakan bahwa peningkatan asam lemak bebas berkaitan dengan peningkatan kadar air dan kandungan jamur benih.

62

Ramlah Arief, Elkawakib Syamun & Sania Saenong

ISSN 1411-4674

Peningkatan suhu dan kadar air benih dalam ruang simpan memicu peningkatan keasaman lemak, namun masih menjadi perdebatan, hidrolisis ini timbul akibat benih itu atau aktivitas lipase dari jamur dalam ruang simpan (Priestley, 1986). Dari hasil penelitian terhadap tanaman kapas, ditemukan benih kapas tidak dapat berkecambah jika kandungan asam lemak bebas lebih besar dari 3% dari total fraksi minyak (Priestley, 1986). Asam lemak bebas mempunyai pengaruh yang merusak terhadap membran, terutama karena kemampuannya bertindak sebagai bahan pembersih. Mitokondria tanaman yang diisolasi menunjukkan penurunan dan ketidak seimbangan reaksi fosforilasi oksidatif dengan adanya asam lemak bebas enzim-enzim yang terlarut dapat terdenaturasi yang mengakibatkan penurunan aktivitasnya. Sebagian besar asam-asam lemak di dalam biji mempunyai rantai yang relatif panjang (C14 C22), tetapi asamasam rantai pendek ada menyebar dan dapat berpengaruh secara fisiologis. Beberapa hasil penelitian mengindikasikan bahwa asam-asam lemak rantai pendek (C5 C11) menghambat metabolisme dan pengecambahan benih. Dari penelitian ini terlihat bahwa benih yang mempunyai umur simpan 12 dan 18 bulan pada biji ukuran besar (b1) dan kecil (b2) mempunyai kadar asam lemak bebas lebih besar 3% (Gambar 5). KESIMPULAN Penurunan daya berkecambah, keserempakan tumbuh, bobot kering kecambah, dan panjang akar primer pada benih ukuran besar dengan umur simpan 0 dan 18 bulan masing-masing sebesar 25,50; 47,60; 38,40; 36,83; dan pada benih ukuran kecil masing-masing sebesar 25,00; 48,97; 61,69; dan 38,88%.

Penurunan mutu fisiologis benih berkaitan dengan peningkatan DHL air rendaman benih, bocoran K, dan kadar asam lemak bebas. Benih ukuran besar dengan umur simpan 0 dan 18 bulan terjadi peningkatan DHL, bocoran K, dan kadar asam lemak bebas masing-masing 64,42; 112,13; 17,89%, sedangkan untuk benih ukuran kecil dengan umur simpan 0 dan 18 bulan masing-masing 50,18; 25,28; dan 36,94%. Tidak terjadi pengaruh interaksi yang nyata antara ukuran biji dan umur simpan pada seluruh parameter yang diamati. Penggunaan benih yang telah disimpan lama (18 bulan) pada suhu kamar, perlu memperhatikan cara-cara penyimpanan yang tepat agar tetap diperoleh benih dengan vigor awal yang tinggi. DAFTAR PUSTAKA Abd El Rahman, N., dan Bourdu, R. 1986. The effect of grain size and shape on some characteristics of early maize development. Agronomie 6(2): 181-186. AOSA. 1983. Seed vigor testing handbook. association of official seed analysts. Contribution No. 32. Beck, D. 2002. Maize seed size. (http://www.cimmyt.org/qpm/seed/s eedk1.htm), diakses 24 2 2003. Elliot, B & O. Olfert. 2003. Vigor tests, seed storage and seed production. Gardner, F.P., R.B. Pearce, & R.L. Mitchell. 1991. Physiology of crop plants. (Terjemahan Susilo, H. dan Subiyanto). UI Press. Gaspar, S., A. Bus & J. Banyai. 1981. Relation between 1000 seed weight and germination capacity

63

Seed size, storage, quality & physiology

ISSN 1411-4674

and seed longevity in small seeded fabaceace. Seed Sci. Techno. 9 : 457 67. Gusta, L.V., E.N. Johnson, N.T. Nesbitt, & K.J. Kirkland, 2003. Effect of seeding date on canola seed vigor. Can. J. Plant Sci. 45:32-39. Hussaini, S.H., P. Sarada, P., & B. M.Reddy 1984. Effect of seed size on germination and vigour in maize. Seed Res. 12 (2) : 98 101 Miguel, M.V.C. & M. Filho. 2002. Potassium leakage and maize seed physiological potential. Scientia Agricola, Vol. 59 No.2: 315-319. (http://www.scielo.br/pdf/sa/v59n2/ 8927.pdf, diakses 24-2-2003).

Parish, D.J., &A.C. Leopold. 1978. On the mechanism of aging in soybean seeds. Plant Physiol. 61: 365-368 Priestley, D.A. 1986. Seed aging. Comstock publishing associates. A Division of Cornell Univ. Press. Sudaryono, U.S. Nugraha & D.S. Damardjati. 1990. Hubungan antara berat jenis dengan viabilitas dan vigor benih. Keluarga Benih 1: 9 20. Vaughan, C.E., & R.P. Moore. 1970. Tetrazolium evaluation of the nature and progress of deterioration of peanut (Arachis hypogeae L.) Seed in storage. Proc. Assoc. off. Seed Anal. 60:104-117.

64