Anda di halaman 1dari 12

SUBKULTUR ANGGREK PADA MEDIA MS0

NURLAILA 3425083267

Nilai Laporan Awal Laporan Akhir

PROGRAM STUDI BIOLOGI JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2011

I. Judul: SUBKULTUR ANGGREK PADA MEDIA MS0

II. Tujuan
a. Mengetahui tahapan dan proses subkultur anggrek pada media MS0. b. Mengetahui tahapan perkembangan anggrek yang disubkultur pada

media MS0.
c. Mengetahui pengaruh unsur makro dan unsur mikro pada media MS 0

terhadap perkembangan anggrek yang disubkultur. d. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang harus diperhatikan dalam subkultur. III.Tinjauan Pustaka A. Kultur Jaringan pada Anggrek Kultur jaringan bila diartikan ke dalam bahasa Jerman disebut Gewebe kultur, dalam bahasa Inggris disebut tissue culture, sedangkan dalam bahasa Belanda disebut weefsel kweek atau weefsel cultuur. Kultur adalah budidaya dan jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. Maka, kultur jaringan berarti membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat seperti induknya (Suryowinoto, 1991 dalam Hendaryono dan Wijayani, 1994). Anggrek merupakan salah satu anggota family Orchidaceae yang dapat dijumpai hampir diseluruh belahan dunia terutama daerah tropis mulai dari dataran rendah hingga tinggi, bahkan sampai ke daerah perbatasan pegunungan bersalju. Bermacam variasi bentuk, warna, bau, dan ukuran dengan cirri-ciri yang unik menjadi daya tarik anggrek yang dikenal sebagai tanaman hias berbunga indah. Anggrek merupakan salah satu tanaman yang mempunyai kecepatan tumbuh lambat dan berbedabeda. Hal ini sangat berpengaruh jika yang menjadi tujuan pemeliharaan

adalah

memproduksi

bunga.

Tanaman

anggrek

mempunyai

pola

pertumbuhan yang berbeda dengan tanaman hias lainnya. Pertumbuhan anggrek, baik vegetatif (pertumbuhan tunas, batang, daun, dan akar) serta pertumbuhan generatif (pertumbuhan primordial bunga, buah, dan biji) tidak hanya ditentukan oleh faktor genetic, tetapi juga oleh faktor iklim dan faktor pemeliharaan. (Widiastoety, 2007 dalam Anonim, 2010) Pada dasarnya tanaman anggrek merupakan tanaman yang sulit untuk melakukan penyerbukan sendiri, sehingga perkembangbiakannya pun cukup sulit. Selain itu, biji yang kecil, tidak mengandung cadangan makanan dan kulit yang sangat keras serta tebal membuat tanaman anggrek sulit ditumbuhkan tanpa bantuan manusia, kecuali anggrek yang tumbuh liar di hutan. Untuk mengatasi hal tersebut dan menumbuhkan anggrek secara masal, maka tindakan yang bisa dilakukan adalah dengan mengawinkan anaman anggrek (dapat sekaligus memperoleh varietas persilangan yang baru). Perbanyakan anggrek pada umumnya dilakukan dengan cara perkecambahan biji secara in-vitro, sehingga hasil yang diperoleh tidak seragam dan menghasilkan warna bunga yang beragam. (Rianawati, dkk. 2009 dalam Anonim, 2010) Setelah membentuk buah dan berbiji, maka penumbuhan bijinya dilakukan secara in-vitro hingga menjadi tanaman yang siap ditanam di area terbuka untuk berproduksi atau dipasarkan. Berdasarakan pola pertumbuhannya, tanaman anggrek dibedakan menjadi dua tipe yaitu, simpodial dan monopodial. Anggrek tipe simpodial adalah anggrek yang tidak memiliki batang utama, bunga ke luar dari ujung batang dan berbunga kembali dari anak tanaman yang tumbuh. Kecuali pada anggrek jenis Dendrobium sp. yang dapat mengeluarkan tangkai bunga baru di sisi-sisi batangnya. Contoh dari anggrek tipe simpodial antara lain Dendrobium sp., Cattleya sp., Oncidium sp. dan Cymbidium sp. Anggrek tipe simpodial pada umumnya bersifat epifit. Anggrek tipe monopodial adalah anggrek yang dicirikan oleh titik tumbuh yang terdapat di ujung batang, pertumbuhannnya lurus ke atas pada satu

batang. Bunga ke luar dari sisi batang di antara dua ketiak daun. Contoh anggrek tipe monopodial antara lain Vanda sp., Arachnis sp., Renanthera sp., Phalaenopsis sp., dan Aranthera sp (Anonim, 2010). Habitat tanaman anggrek dibedakan menjadi 4 kelompok sebagai berikut :
Anggrek epifit, yaitu anggrek yang tumbuh menumpang pada pohon

lain tanpa merugikan tanaman inangnya dan membutuhkan naungan dari cahaya matahari, misalnya Cattleya sp. memerlukan cahaya +40%, Dendrobium sp. 5060%, Phalaenopsis sp. + 30%, dan Oncidium sp. 6075%.
Anggrek

terestrial, yaitu anggrek yang tumbuh di tanah dan sp., Vanda sp. dan Arachnis sp.

membutuhkan cahaya matahari langsung, misalnya Aranthera sp., Renanthera Tanaman anggrek terestrial membutuhkan cahaya matahari 70 100%, dengan suhu siang berkisar antara 19 380C, dan malam hari 18 210C. Sedangkan untuk anggrek jenis Vanda sp. yang berdaun lebar memerlukan sedikit naungan.
Anggrek litofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada batu-batuan, dan tahan

terhadap cahaya matahari penuh, misalnya Dendrobium phalaenopsis.


Anggrek saprofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada media yang

mengandung humus atau daun-daun kering, serta membutuhkan sedikit cahaya matahari, misalnya Goodyera sp. (Anonim, 2005). Anggrek merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Tanaman anggrek biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai tanaman hias. Pada zaman sekarang ini, perbanyakan anggrek lebih banyak dilakukan dengan kultur jaringan. Teknik kultur jaringan dapat untuk memperbanyak tanaman anggrek secara cepat. Apabila ada anggrek yang bunganya bagus tetapi jumlahnya sedikit, maka anggrek tersebut dapat diperbanyak dengan mengambil beberapa tunasnya. Dengan menggunakan hormon yang tepat, tunas tersebut dapat digandakan. Di samping itu, apabila telah didapatkan buah anggrek hasil

silangan di kebun, buah yang berisi puluhan ribu embrio di dalamnya dapat ditumbuhkan dengan kultur jaringan pula. Embrio atau biji-biji dalam buah itu apabila ditebar langsung di atas pot tidak akan tumbuh atau sulit sekali untuk tumbuh. Di tempat asalnya (hutan) mungkin anggrek tersebut dapat tumbuh, tetapi kemungkinannya kecil sekali. Tetapi melalui kultur jaringan dengan media yang cocok biji-biji tersebut dapat ditumbuhkan. Setiap jenis anggrek memiliki lama masak buah yang berbeda. Hal ini ditunjukkan dalam Tabel 1 dibawah ini. Tabel 1. Lamanya masak buah pada berbagai jenis anggrek Jenis Anggrek Dendrobium Phaleonopsis Vanda Cattleya Masak Buah (Bulan) 4 4 8 9-10 Buah dapat dipetik dan biji dapat ditabur (Bulan) 3 3 6 7-8

Sumber: Suryowinoto, 1991 dalam Hendaryono dan Wijayanti, 1994

B. Kendala-kendala dalam Penaburan Biji Anggrek Menurut hendaryono dan Wijayanti (1994), kendala-kendala dalam penaburan biji anggrek adalah sebagai berikut: 1. Kontaminasi oleh Jamur atau Bakteri Dalam satu buah anggrek terdapat beratus-ratus ribu biji anggrek. Apabila buah anggrek telah masak, maka dapat pecah dan bijinya keluar berhamburan. Tidak hanya pecahnya buah yang menjadi masalah, tetapi kontaminasi oleh jamur ataupun bakteri sering terjadi pada biji yang akan ditanam. Langkah-langkah untuk menghindari terjadinya kontaminasi adalah sebagai berikut: Sebelum buah pecah atau masak harus sudah dipetik, kemudian masukkan ke dalam spiritus dan dibakar di atas lampu spiritus.

Pemecahan biji dilakukan dalam ruang panabur agar semua biji dilakukan dalam keadaan steril. Kemudian biji ditabur dalam media tumbuh yang telah disediakan dengan menggunakan pinset.
Media tumbuh yang biasa digunakan adalah medium Knudson C,

namun akhir-akhir ini medium yang lebih banyak digunakan adalah Vacin and Went (VW). Zat-zat tambahan yang sering digunakan untuk jenis anggrek tertentu kerapkali akan menentukan keberhasilan penaburan biji. Pada Tabel 2 di bawah ini menunjukkan zat tambahan yang sering diberikan pada medium untuk menabur biji. Tabel 2. Zat tambahan pada medium biji anggrek Jenis Anggrek Anggrek umum Dendrobium sp. Cattleya sp. Paphiopedilum sp. Vanda sp. Phalenopsis sp. Zat Tambahan Air kelapa 150 ml/liter Pisang ambon 150 g/liter Pisang ambon 150 g/liter Pisang ambon 150 g/liter Polongan kapri/tauge 150 g/liter Charcoal aktif 1 sendok makan/liter

Sumber: Suryowinoto, 1991 dalam Hendaryono dan Wijayanti, 1994

2. Buah Telah Terlanjur Pecah

Pada silangan anggrek yang sangat langka, buah yang telah terlanjur pecah amsih dapat diselamatkan. Caranya ialah dengan disterilisasi menggunakan larutan kaporit (CaCO3) 10%. Biji anggrek dimasukkan ke dalam botol-botol kecil lalu masukkan larutan CaCO 3 yang telah disaring, kemudian digoyangkan selama 10 menit. Selanjutnya biji dicuci dengan air steril dan biji anggrek baru dapat ditanam pada media.

3. Biji Anggrek yang Tidak Pernah Masak

Jenis anggrek Vanda spathulata setelah disilangkan tidak pernah mencapai stadium buah masak (umur 6 bulan), dan umumnya setelah umur 3 bulan buahnya akan rontok. Apabila hal tersebut terjadi, maka langkah yang paling baik untuk menyelamatkan bijinya adalah dengan kultur embrio. Buah yang berumur 2,5 bulan dapat dipetik, biji nya dibersihkan dan baru dapat ditanam.
C. Overplanting (Subkultur) Anggrek

Menurut Herdaryono dan Wijayanti (1994), overplanting adalah pemindahan anggrek yang masih sangat kecil dari medium lama ke dalam medium baru yang dilakukan secara aseptis di dalam entkas atau ruang penabur (laminar air flow). Istilah lain yang digunakan adalah subkultur. Tujuan dilakukan overplanting adalah agar anggrek tetap mendapatkan unsur hara untuk pertumbuhannya. Bila media agar lebih dari tiga bulan tidak diganti, maka media akan tampak kecoklatan, menjadi semakin sedikit, dan mengering. Untuk anggrek hasil silangan, keadaan demikian akan sangat merugikan. Oleh karena itu, sebelum terlambat, anggrek botol harus segera disubkultur dengan media segar yang baru. Pada pelaksanaan kultur jaringan, dalam waktu satu sampai dua minggu, eksplan akan tumbuh menjadi kalus. Kalus adalah suatu massa sel yang terbentuk pada permukaan eksplan atau pada irisan eksplan. Kalus ini akan tumbuh pada eksplan di media padat, sedangkan pada eksplan di media cair akan tumbuh plb (protokormus). Oleh karena itu, sangat penting dilakukan subkultur agar kalus yang tumbuh tidak kehabisan nutrisi. Subkultur adalah usaha untuk mengganti media tanam kultur jaringan dengan media yang baru, sehingga kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan kalus atau protokormus dapat terpenuhi (Hendaryono dan Wijayanti, 1994). Dari sekian banyak jenis media dasar yang digunakan

dalam teknik kultur jaringan termasuk subkultur, tampaknya media MS (Murashige dan Skoog). Hal ini dikarenakan media MS mengandung jumlah hara organik yang layak untuk memenuhi kebutuhan banyak jenis sel tanaman dalam kultur (Gunawan, 1990 dalam Nisa dan Rodinah, 2005). Subkultur dilakukan karena beberapa alasan berikut: 1) Tanaman sudah memenuhi atau sudah setinggi botol 2) Tanaman sudah berada lama didalam botol sehingga pertumbuhannya berkurang 3) Tanaman mulai kekurangan hara
4) Media dalam botol sudah mengering

Kegiatan subkultur dilakukan sesuai dengan jenis tanaman yang dikulturkan. Setiap tanaman memiliki karakteristik dan kecepatan tumbuh yang berbeda-beda. Sehingga cara dan waktu subkultur juga berbeda-beda. Tanaman yang harus segera atau relatif cepat disubkultur adalah jenis pisang-pisangan, alokasia, dan caladium. Tanaman yang relatif lama adalah aglaonema. Untuk tanaman yang diperbanyak dengan multifikasi tunas, maka subkultur dapat dilakukan dengan memisahkan anakan tanaman dari koloninya atau melakukan penjarangan. Contoh tanamannya adalah anggrek, pisang, dan tanaman lain yang satu tipe pertumbuhan. Untuk tanaman yang tipe pertumbuhannya dengan pemanjangan batang maka subkultur bisa dilakukan dengan memotong tanaman perruas tanaman yang ada. Namun jika ada planlet yang masih terlalu kecil dan beresiko tinggi untuk dipotong, maka subkulturnya cukup dilakukan dengan dipisahkan dari induknya dan ditanam kembali sama. secara kita terpisah. dapat Contoh tanamannya adalah jati, krisan, dan tanaman lain yang memiliki karakteristik pertumbuhan yang menghitung kecepatan produksi tanaman dengan mengetahui kecepatan tanaman melakukan multifikasi hingga siap disubkultur. Menurut Anonim (2010), setiap individu yang dikultur dapat dipecah menjadi 5-6 subkultur dengan maksud dan tujuan:

a. Agar eksplan tidak tumbuh berdesakan b. Agar eksplan tidak kehabisan unsur hara pada media sebelumnya c. Agar pertumbuhan eksplan seragam.

Hasil subkultur ini dapat dikembangkan lagi ke dalam media MS yang baru sebanyak 5-6 generasi. Subkultur yang telah tumbuh akarnya dapat disebut bibit kecil (plantlet). Subkultur pada tanaman in vitro dapat dilakukan dalam berbagai kondisi, yaitu: 1. Kondisi Induksi Eksplan Subkultur pada kondisi induksi adalah subkultur yang dilakukan setelah tanaman diinduksi dan tumbuh menjadi tanaman utuh, atau baru pada tahap penginduksian artinya tanaman belum 100% dapat tumbuh optimal. Jadi harus disubkultur pada media lain untuk dapat melanjutkan pertumbuhannya karena jika tidak disubkultur maka tanaman akan tetap dan tidak berkembang atau lama berkembangnya dan lama kelamaan akan mati. Biasanya bagian utuh dari tanaman dapat disubkultur langsung atau hanya dipindah media baru. 2. Kondisi Multiplikasi Plantlet Subkultur dengan kondisi multiplikasi adalah subkultur yang dilakukan setelah tanaman mengalami pertumbuhan multiplikasi atau perbanyakan. jumlah besar. 3. Kondisi Elongasi Tanaman Subkultur dengan kondisi elongasi adalah subkultur yang dilakukan untuk memperpanjang nodus tanaman sehingga menjadi 4-5 nodus seperti yang diinginkan. Subkultur ini biasanya dilakukan dengan potongan nodus tanaman atau tanaman utuh yang masih kecil yang diharapkan dengan subkultur pada media elongasi dapat memperpanjang tanaman. Subkultur jenis ini biasanya digunakan untuk memperbanyak jumlah tanaman atau untuk produksi tanaman dalam

4. Kondisi Pengakaran Tanaman Subkultur kondisi ini adalah untuk mendapatkan pengakaran pada plantet yang ditanam. Jika plantlet sudah memasuki waktu untuk keluar (aklimatisasi) maka subkultur pada media pengakaran sangat dibutuhkan agar tanaman kokoh dan dapat beradaptasi nantinya dilingkungan luar. Menurut Hendaryono dan Wijayanti (1994), ada 2 teknik subkultur pada kultur jaringan tanaman yaitu: 1. Teknik subkultur tanaman pada media padat Teknik subkultur tanaman pada media padat lebih mudah dilakukan yaitu hanya dengan meletakkan kalus yang sudah terbentuk di atas cawan petri, kemudian membelah-belahnya menjadi bagianbagian kecil lagi dengan menggunakan pertolongan skalpel dan pinset. Setelah terjadi potongan-potongan kalus kecil-kecil, maka segera dimasukkan kembali ke dalam erlenmeyer baru yang berisi media dengan komposisi bahan kimia sama seperti media lama. Selanjutnya erlenmeyer ditutup dan diinkubasikan kembali. Semua pekerjaan harus dilakukan dalam suasana steril (Hendaryono dan Wijayanti, 1994). 2. Teknik subkultur pada media cair Teknik subkultur tanaman pada media cair penggantian media dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu: a) Pengambilan kalus atau bagian tanman yang tumbuh(dapat berupa protocorm, sel, atau protoplas) pada media yang lama dan menaruhnya pada media cair yang baru. b) Pengambilan media cair yang lama dengan cara memipetnya untuk kemudian ditambahkan media cair yang baru kedalam botol kultur yang lama. Media cair cepat sekali diserap oleh eksplan maupun

protokormus, maka setiap empat hari sekali harus diganti dengan

media cair yang baru dengan komponen kimia yang sama persis dengan media cair yang lama. Subkultur harus dilaksanakan dalam keadaan aseptik. Setelah pelaksanaan subkultur selesai, kemudian erlenmeyer berisi plb diletakkan kembali diatas shaker untuk digoyang kembali, begitu seterusnya sampai didapatkan protokormus yang banyak (Hendaryono dan Wijayanti, 1994). Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam subkultur anggrek adalah sebgai berikut:
1) Biji-biji anggrek yang sudah ditabur akan berkecambah menjadi

planlet

dalam

waktu

3-4

bulan.

Dalam

keadaan

demikian,

pertumbuhan anggrek sudah saling berdesakan dan saling berebut unsur hara yang semakin menipis, sehingga perlu untuk dipindah ke dalam medium baru.
2) Medium subkultur yang digunakan sama dengan medium lama, pada

umunya untuk kultur anggrek digunakan medium Vacin and wnt (VW). Dalam entkas atau ruang penabur, anggrek diambil satu per satu dengan menggunakan pinset panjang, kemudian langsung dipindahkan ke dalam medium baru. Untuk satu botol anggrek biasanya dapat dipindahkan ke dalam tiga botol anggrek baru. Selanjutnya botol yang berisi tanaman hasil subkultur disimoan dalam ruang inkubasi dengan temperatur 250 C.
3) Subkultur perlu dilakukan dua kali sebelum tanaman anggrek siap

dipindah ke dalam pot-pot.

IV. Alat dan Bahan Alat: 1. Pisau

2. Gunting 3. Cawan Petri 4. Lampu Spirtus 5. Laminar Air Flow


6. Pinset dan Skalpel

Bahan:
1. Media MS0 (Murashige dan

Skoog)
2. Planlet

anggrek

yang

siap

untuk di subkultur
3. Alkohol 70%

7. Botol Kultur V. Cara Kerja

Mengambil planlet secara aseptis Membersihkan planlet dari media MS0 lama Meletakkan pada cawan petri steril.

Menanam pada media MS0 yang baru (1 botol kultur berisi 4 planlet)

Menyimpan di ruang Kultur

Mengamati perkembangannya setiap hari