Anda di halaman 1dari 114

DAFTAR USUL PENETAPAN ANGKA KREDIT JABATAN FUNGSIONAL DOSEN

Nama NIP Naik Pangkat dari / ke Pangkat dan Gol.Ruang/TMT Jabatan Fungsional / TMT Unit Kerja

: Asty Samiaty Setiawan, drg, M.Kes : 132 257 882 : Asisten Ahli ke Lektor : Penata Muda Tk.I / Gol. III/b, 01-10-2002 : Asisten Ahli, 01-10-2001 : Universitas Padjadjaran

DAFTAR ISI Judul Halaman Upaya Peningkatan Derajat Kesehatan Gigi dan Mulut pada 3 Masyarakat di Kecamatan Parompong Kabupaten Bandung melalui Pemanfaatan Tanaman Obat Tradisional (Anggota). Dimuat pada Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Unpad, Vol.10, No.4 / Maret 2002. II. Upaya Pencegahan dan Peningkatan Kesehatan Gigi pada Anak 9 Usia Sekolah di Wilayah Jatinangor (Anggota). Dimuat pada Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Unpad, Vol.11, No.5 / Juni 2003. III. Hasil Observasi terhadap Lembaga Pengelola Upaya Kesehatan 15 Gigi dan Mulut Model DKG Kota Bandung (Anggota). Dimuat pada Jurnal Kedokteran Gigi Unpad Vol. 12, No. 3-4, Oktober 2000. IV. Penelitian : Pengaruh Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut 21 terhadap Tingkat Kepuasan Pasien di Balai Pengobatan Gigi Pasundan (Anggota). Dibiayai dari Dana DIKS Unpad tahun 2004. V. Penelitian : Kemampuan Manajerial Dokter Gigi dalam 37 Peranannya sebagai Kepala Puskesmas di Kota Sukabumi Tahun 2003 (Anggota). Dibiayai dari Dana DIK Unpad tahun 2003. 59 VI. Penelitian : Hubungan antara Fasilitas Kesehatan terhadap Kepuasan Pasien yang Berobat ke Poliklinik Rawat Jalan RSHS Bandung (Ketua). Dibiayai dari Dana DIK Unpad tahun 2005. 73 VII. Penilaian Status Risiko Karies Gigi pada Murid Kelas I dan V di SDN. Cinunuk Bandung (Anggota). Dimuat pada Jurnal Kesehatan Gigi Masyarakat FKG Unhas Edisi Suplemen No.1, Agustus 2007. 81 VIII. Pengaruh Pelatihan Kesehatan Gigi dan Mulut terhadap Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Guru-guru Sekolah Dasar di Wilayah Jatinangor (Ketua). Dimuat pada Jurnal Kesehatan Gigi Masyarakat FKG Unhas Edisi Suplemen No.1, Agustus 2007. IX. Peningkatan PAD melalui Pemanfaatan Fasilitas Pelayanan 89 Kesehatan Gigi oleh Masyarakat di Kotamadya Bandung sebagai Implementasi Otonomi Daerah (Anggota). Dibiayai oleh Dana DIKS Universitas Padjadjaran tahun 2002 No. I.

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

LAPORAN PENELITIAN

PENGARUH PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT TERHADAP TINGKAT KEPUASAN PASIEN DI BALAI PENGOBATAN GIGI PASUNDAN

Oleh : Cucu Zubaedah, dra., Mkes H. Dede Sutardjo, drg, SKM Asty Samiaty Setiawan, drg

Dibiayai oleh Dana DIKS Universitas Padjadjaran Tahun Anggaran 2004 Berdasarkan SPK No. 121 / JOB. 14 / LP / PL / 2004 Tanggal 28 Februari 2004

LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI November 2004

21

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Ditinjau dari sistem pelayanan kesehatan di Indonesia, peranan Puskesmas adalah sebagai ujung tombak sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena peranan dan kedudukan Puskesmas di Indonesia adalah unik. Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan terdepan di Indonesia, selain bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat, juga bertanggung jawab dalam meyelenggarakan pelayanan kedokteran. Pengelolaan Puskesmas berdasarkan pada asas-asas, yaitu (Azwar, 1996) : 1. Asas pertanggungjawaban wilayah, artinya Puskesmas harus bertanggung jawab atas semua masalah kesehatan yang terjadi di wilayah kerjanya 2. Asas peran serta masyarakat, artinya berupaya melibatkan masyarakat dalam meyelenggarakan program kerja 3. Asas keterpaduan, artinya berupaya memadukan kegiatan bukan saja dengan program kesehatan lain, tetapi juga dengan program dari sektor lain 4. Asas rujukan, artinya jika tidak mampu menangani sutu masalah kesehatan harus merujuknya ke sarana kesehatan yang lebih mampu Adanya Asean Free Trade Area (AFTA) mengakibatkan masuknya tenaga-tenaga kesehatan secara bebas dari negara-negara ASEAN. Indonesia dalam Asean Free Trade Area (AFTA). Pelayanan kesehatan yang Sehingga Puskesmas sebagai berkualitas merupakan modal dasar untuk bersaing dengan tenaga kesehatan dari luar organisasi penyedia jasa pelayanan kesehatan terdepan dituntut untuk mempunyai kemampuan bersaing dengan organisasi penyedia jasa pelayanan kesehatan yang datang dari luar Indonesia. Penilaian (evaluation) dapat dilakukan pada saat merencakan program, sedang dilaksanakan atau saat program telah selesai dilaksanakan. Penilaian sebaiknya bersifat objektif, yaitu penilaian tidak dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan lain, kecuali atas dasar fakta yang ada. perbandingan. Penelitian yang dilakukan oleh Robert dan Prevost (1987) telah berhasil membuktikan adanya perbedaan dimensi bagi pemakai jasa pelayanan kesehatan, penyelenggara pelayanan kesehatan dan penyandang dana pelayanan kesehatan. 22 Dalam menjaga keobjektifannya diperlukan standar sebagai

Penelitian lain yang dilakukan oleh Smith dan Metzer (1970) juga mencatat adanya perbedaan dimensi untuk para dokter sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan dan untuk pasien sebagai pemakai jasa pelayanan kesehatan (Azwar, 1996). Mengatasi perbedaan dimensi ini diperoleh kesepakatan dalam membicarakan masalah mutu pelayanan kesehatan, seyogyanya pedoman yang dipakai adalah hakekat dasar yang dimaksud tidak lain adalah untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan para pemakai jasa pelayanan keehatan (health needs and demand), yang apabila berhasil dipenuhi akan dapat menimbulkan rasa puas (client satisfaction) terhadap pelayanan kesehatan yang diselenggarakan. tersebut ternyata subjektif. Masalah pokok yang ditemukan karena kepuasan Selain itu sering ditemukan pelayanan kesehatan yang

sekalipun dinilai telah memuaskan pasien, namun jika ditinjau dari kode etik serta standar pelayanan profesi, tidaklah terpenuhi (Azwar, 1996). Balai Pengobatan Gigi merupakan salah satu bentuk pelayanan Puskesmas untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan gigi dan mulut masyarakat. Dokter gigi serta tenaga para medis lainnya dituntut tidak hanya menyelenggarakan pelayanan kedokteran (medicus practicus) tetapi juga memberikan manajemen pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat. Masyarakat saat ini lebih menyadari akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut. Oleh sebab itu, kebutuhan masyarakat akan kesehatan gigj dan mulut tidak hanya mengobati (curative) dab mnyembuhkan (rehabilitative) tetapi sudah meliputi pencegahan (preventive). Salah satu cara untuk menilai upaya-upaya kesehatan yang diselenggarakan Balai Pengobatan Gigi sebagai organisasi pelayanan kesehatan gigi dan mulut sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat adalah dengan mengukur tingkat kepuasan pasien. Kepuasan pasien yang datang ke Balai Pengobatan Gigi dapat mencerminkan kemampuan dokter gigi dan tenaga para medis yang bekerja di Balai Pengobatan Gigi dalam memberikan pelayanan kesehatan. Puskesmas Pasundan merupakan salah satu Puskesmas yang terletak di tengah kota Bandung, dimana masyarakat yang heterogen berasal dari berbagai macam status sosial yang mempunyai latar belakang dan kepentingan berbeda-beda. Arus informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi mengenai kesehatan saat ini semakin banyak beredar masyarakat. Puskesmas Pasundan adalah Puskesmas Terpadu Perkotaan, fasilitas disebut demikian karena Puskesmas Pasundan memiliki dan macam pelayanan

dokter yang lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas pada umumnya.

23

1.2. Perumusan Masalah Tingkat pendidikan dan keadaan sosial ekonomi masyarakat yang meningkat menyebabkan kebutuhan dan tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang berkualitas ikut menngkat. Puskesmas sebagai penyedia pelayanan kesehatan yang terdepan, tidak hanya dituntut untuk menyelenggarakan pelayanan kedokteran, tetapi juga memahami ilmu manajemen pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, dapat dididentifikasikan masalahnya adalah bagaimana pengaruh pelayanan kesehatan gigi dan mulut terhadap tingkat kepuasan pasien di Balai Pengobatan Gigi Pasundan.

24

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pelayanan Kesehatan Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat (Azwar, 1996). Syarat pokok pelayanan kesehatan itu adalah (Azwar, 1996) : 1) Tersedia dan berkesinambungan, artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat tidak sulit ditemukan, serta keberadaannya dalam masyarakat adalah ada pada setiap saat dibutuhkan. 2) Dapat diterima dan wajar, artinya pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan masyarakat. 3) Mudah dicapai, artinya tercapai dari sudut lokasi, pengaturan distribusi saranan kesehatan tidak terlalu terkonsentrasi di daerah perkotaan saja. 4) Mudah dijangkau, artinya terjangkau dari sudut biaya, disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat 5) Bermutu, artinya menunjukkan pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan, dapat memuaskan para pemakai jasa dan tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik serta standar yang telah ditetapkan 2.2. Pelayanan Kesehatan yang Bermutu Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk, serta penyelenggaraannya sesuai dengan standar dan kode etik profesi yang telah ditetapkan (Azwar,1996). Menurut Pardede (2003) pelayanan yang bermutu adalah pelayanan yang profesional. Pelayanan bermutu adalah hak pasien. Memberikan pelayanan yang Pelayanan yang Pelayanan yang bermutu berarti memberikan yang terbaik bagi pasien / pelanggan. bermutu memberikan peluang untuk memenangkan persaingan. pemenuhannya perlu kepuasan pelanggan.

diberikan melibatkan berbagai pihak (lintas fungsi) dan pelayanan yang bermutu itu

25

Peningkatan mutu pelayanan kesehatan adalah bagaimana pasien dilayanai sebaikbaiknya, sehingga merasa puas dan penyakit yang diderita bisa sembuh mulai dari pasien mendaftar, sistem medical record, sampai bertemu dokter tidak terlalu lama dan juga waktu pemerikasaan dokter dan perawat bersikap cukup ramah. baik an cukup cepat (Adikoesoema, 1995). Dalam melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan yang bermutu, ada beberapa karateristik yang harus diperhatikan, yaitu (Azwar, 1996) : 1) Berkesinambungan, artinya pelaksanaan program menjaga mutu tidak hanya satu kali, tetapi harus terus-menerus 2) Sisitematis, artinya pelaksanaan program menjaga mutu harus mengikuti alur kegiatan serta sasaran yang baku. 3) Objektif, artinya pelaksanaan program menjaga mutu, terutama pada waktu pemantauan dan penilaian, tidak dipengaruhi oleh pertimbangan lain, kecuali atas dasar yang ditemukan 4) Terpadu, artinya pelaksanaan program menjaga mutu harus terpadu dengan pelayanan kesehatan masyarakat. 2.3. Penilaian Pelayanan Kesehatan Evaluasi adalah penilaian, secara kritis yang dilakukan dengan seobjektif mungkin, terhadap pencapaian kebijakan, tujuan, strategi, program dan kegiatan. Evaluasi dari pemanfaatan sumber daya, terutama milik masyarakat, adalah salah satu dari aspek manajemen yang terpenting sekaligus merupakan kewajiban moral (Soejitni, dkk, 1999). Menurut Parasurman, Zethaml dan Berry dalam Lovelock, komponen kualitas suatu jasa pelayanan berdaarkan konsep ServQual adalah (Irawan, 2002) 1) Tangible (bukti nyata yang kasat mata) Karena suatu service tidak bisa dilihat, tidak bisa dicium, dan tidak bisa diraba, maka aspek tangible menjadi penting sebagai ukuran terhadap pelayanan. Pelanggan akan menggunakan indera penglihatan untuk menilai suatu kualitas pelayanan. Peralatan canggih, bangunan, seragam, penampilan fisik, kerapihan, pelayanan yang cepat dan keramahan dapat mempengaruhi penilaian pelanggan untuk suatu kualitas pelayanan. Demikian juga pemerikasaan penunjang, baik laboratorium, Rontgen dan sebagainya berjalan dengan

26

2) Reliability (keandalan) Kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan seperti yang dijanjikan dan seberapa jauh suatu perusahaan mampu memberikan pelayanan yang akurat atau tidak ada error (kesalahan). Seorang pasien mengeluh karena rumah sakitnya sangat ceroboh. Ternyata hasil uji laboratorium yang dikirimkan adalah milik orang lain. 3) Responsiveness (daya tanggap) Salah satu nilai tambah yang ditawarkan adalah kecepatan pelanggan. Harapan pelanggan terhadap kecepatan pelayanan hampir dapat dipastikan akan berubah dan kecenderungan naik dari waktu ke waktu. Harga suatu waktu adalah berbeda antara setiap pelanggan dengan pelanggan lain. 4) Assurance (jaminan) Dimensi kualitas yang berhubungan dengan kemampuan perusahaan dan perilaku front line-staff (karyawan garis depan) dalam menanamkan rasa percaya dan keyakinan kepada para pelanggannya. Berdasarkan banyak riset yang dilakukan, ada 4 aspek, yaitu keramahan, kompetensi, kredibilitas dan kemanan. 5) Empathy (empati) Dimensi yang memberikan peluang besar untuk memberikan pelayanan yang bersifat surprise (tanpa pemberitahuan). Sesuatu yang tidak diharapkan pelanggan, ternyata diberikan oleh penyedia. 2.4. Kepuasan Pelanggan (Pasien) Kepuasan pelanggan adalah bila sebuah produk atau jasa memenuhi atau melampaui harapan pelanggan, biasanya pelanggan merasa puas (Gerson, 2002). Dalam konteks teori consumers behavior (tingkah laku konsumen), kepuasan lebih banyak didefinisikan dari perspektif pengalaman konsumen setelah mengkonsumsi atau menggunakan suatu produk atau jasa. Salah satu definisinya, seperti yang dikemukanan oleh Richard Oliver : "kepuasan adalah respon pemenuhan dari konsumen, kepuasan adalah hasil penilaian dari konsumen bahwa produk atau pelayanan telah memberikan tingkat kenikmatan dimana tingkat pemenuhan ini bisa lebih atau kurang" (Irawan, 2002). Seorang pelanggan yang puas adalah pelanggan yang merasa mendapatkan value (nilai) dari pemasok, produsen atau penyedia jasa. Value ini bisa berasal dari Kalau pelanggan produk, pelayanan, sisitem atau sesuatu yang bersifat emosi.

mengatakan bahwa value adalah produk yang berkualitas, maka kepuasan terjadi apabila 27

pelanggan mendapatkan produk yang berkualitas. Pelanggan yang puas adalah pelanggan yang akan berbagi kepuasan dengan produsen atau penyedia jasa. Bahkan pelanggan yang puas, akan berbagi rasa dan pengalaman dengan pelanggan lain. Ini akan menjadi referensi bagi perusahaan yang bersangkutan. Oleh karena itu, baik pelanggan maupun produsen akan sama-sama diuntungkan apabila kepuasan terjadi. dari setiap perusahaan (Irawan, 2002). 2.5. Dimensi Kepuasan Pelanggan Secara umum dimensi kepuasan pasien dapat dibedakan atas dua macam (Azwar, 1996) : 1. Kepuasan yang mengacu hanya pada penerapan standar dan kode etik profesi, meliputi hubungan dokter-pasien (doctor-patient relationship), kenyamanan pelayanan (amenities), kebebasan melakukan plihan (choice), pengetahuan dan kompetensi teknis (scientific knowledge and technicall skill), efektiftas pelayanan (effectives) dan keamanan tindakan (safety). 2. Kepuasan yang mengacu pada semua persyaratan pelayanan kesehatan, meliputi ketersediaan pelayanan kesehatan (available), kewajaran pelayanan kesehatan (appropiate), kesinambungan pelayanan kesehatan (continue), penerimaan pelayanan kesehatan (acceptable), ketercapaian pelayanan kesehatan (accesible), keterjangkauan pelayanan kesehatan (affordable), efisiensi pelayanan kesehatan (efficient) dan mutu pelayanan kesehatan (quality). 2.6. Manfaat Mengukur Kepuasan Manfaat pengukuran mutu dan kepuasan pelanggan, yaitu (Gerson, 2002) : a) Pengukuran menyebabkan orang memiliki rasa berhasil dan berprestasi, yang kemudian diterjemahkan menjadi pelayanan yang prima kepada pelanggan b) Pengukuran bisa dijadikan dasar menentukan standar kinerja dan standar prestasi yang harus dicapai, yang akan mengarahkan mereka menuju mutu yang semakin baik dan kepuasan pelanggan yang meningkat c) Pengukuran memberikan umpan balik segera kepada pelaksananya, terutama bila pelanggan sendiri yang mengukur kinerja pelaksana atau perusahaan yang member pelayanan 28 Dengan melihat hubungan ini, maka jelaslah bahwa kepuasan pelanggan harus menjadi salah satu tujuan

d) Pengukuran memberi tahu anda apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki mutu dan kepuasan pelanggan serta bagaimana harus melaukannya e) Pengukuran memotivasi orang untuk melakukan dan mencapai tingkat produktivitas yang lebih tinggi

29

BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 3.1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat seberapa besar pengaruh pelayanan kesehatan gigi dan mulut terhadap tingkat kepuasan pasien di Balai Pengobatan Gigi Pasundan Bandung. 3.2. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah : 1. Dapat menambah ilmu pengetahuan dalam suatu proses belajar mengenai pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang diselenggarakan di Balai Pengobatan Gigi Pasundan, serta cara mengukur tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan gigi dan mulut 2. Dapat dipakai sebagai evaluasi bagi perbaikan-perbaikab manajemen pelayanan kesehatan terhadap suatu masalah yang sudah ada atau yang secara potensial terjadi

30

BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional yang bersifat survei. 4.2. Populasi dan Sampel Populasi adalah pasien yang datang berkunjung ke Balai Pengobatan Gigi Pasundan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, termasuk pelayanan pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi. 4.3. Prosedur Penelitian Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini adalah : 1. Penelitian pendahuluan lapangan 2. Penyusunan proposal 3. Penyusunan kuisioner 4. Pengurusan izin 5. Persiapan lapangan 6. Pengambilan dan pengumpulan data 7. Analisis data 8. Penyusunan laporan 4.4. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan pengisian kuisioner. Sedangkan alat pengumpul data yang dipergunakan adalah kuisioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai pelayanan kesehatan gigi dan mulut, serta kepuasan pasien dengan kriteria jawaban : Sangat Puas Puas Cukup puas Tidak puas Sangat tidak puas =5 =4 =3 =2 =1

31

4.5. Pengolahan dan Analisis data Statistik yang digunakan dalam analisisi ini adalah Uji Korelasi Sperman dan Regresi Logistik.

32

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian Pelayanan Skor 10,5 31 37 36 40 39 19 15 31 23 12,5 27 10,5 17,5 23 20 27 3 1 3 12 21 Kepuasan Skor 8 13 34,5 40 42 38,5 16,5 16,5 38,5 32 24,5 32 10 24,5 34,5 27 30 41 1 7 13 29

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

No 23 24 25 26 27 2 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 -

Skor 4 6 22 29 34 7 8,5 41 12,5 8,5 23 33 31 25 15 15 35 2 17,5 5 27

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

No 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 -

Skor 41 1 7 13 29 2,5 4 1 20 36,5 5,5 22,5 32 27 13 20 2,5 36,5 9 27 15

Tabel 1. Penilaian Responden Dari hasil uji Spearman diperoleh r = 0,819 dan Z = 5,308. Berarti ada pengaruh yang kuat antara varibel pelayanan kesehatan dengan variabel kepuasan pasien dimana batas kepercayaan 95% dan p = 0,000.

33

5.2. Pembahasan Dari 43 responden yang terjaring, didapatkan usia pasien terbanyak adalah 29-36 tahun sebanyak 42,5%. Usia responden adalah usia produktif-kerja. Jenis pekerjaan mayoritas responden adalah pegawai swasta. Hal ini dapat dipahami sebab sekitar Puskesmas Pasundan banyak terdapat pertokoan, bengkel, perkantoran, dan usaha swasta lainnya, terminal. Ada hubungan antara perusahaan swasta yang bekerja sama dengan Puskesmas Pasundan dalam hal pembiayaan kesehatan bagi karyawannya. Hal itu menunjang karena biaya relatif murah dan tidak mengganggu waktu kerja. Khusus mengenai pelayanan yang meliputi pelayanan administrasi, keterampilan, perhatian, penjelasan, kepedulian, keramahan, penampilan, kemampuan, kecepatan, dan kecekatan tenaga dokter beserta tenaga kesehatan lainnya dalam menangani pasien yang datang ke balai pengobatan Pasundan. Dalam hal pelayanan kesehatan ini, 73% responden mengatakan kategori baik. Sejalan dengan masalah pelayanan kesehatan yang dinilai respondenbaik, maka dalam hal kepuasan pasien secara teori harus pula sejalan. Kepuasan pasien meliputi fasilitas yang disediakan berupa tempat duduk di rung tunggu, tempat sampah, toilet, poster (gambar dan alat peraga), kebersihan, ketersediaan air minum, peralatan kedokteran dan kedokteran gigi, obat, dan tempat parkir. Dari hasil penelitian dalam hal kepuasan pasien, 65% responden menyatakan kategori cukup baik. Berdasarkan analisa statistik diperoleh hasil ada pengaruh yang kuat antara variabel pelayanan kesehatan dengan variabel kepuasan pasien dengan p = 0,00, hal ini menunjukkan bahwa faktor pelayanan kesehatan secara keseluruhan di lingkungan balai Pengobatan Pasundan dinilai sudah cukup baik.

34

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan 1) Pelayanan kesehatan di Balai Kesehatan Pasundan Bandung dinilai responden dalam kategori baik. 2) Responden memberikan penilaian cukup baik untuk variabel kepuasan pasien. 3) Ada pengaruh yang kuat antara variabel pelayanan kesehatan dengan kepuasan pasien. 4) Pelayanan dan fasilitas yang ada di sekitar Balai Pengobatan Kesehatan Bandung yang dinilai oleh responden sudah memenuhi syarat sebagai balai pengobatan masyarakat umum yang layak. 6.2. Saran Perlu peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan monitoring yang terus menerus dari tim manajemen Balai Pengobatan Kesehatan Pasundan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap pasien khususnya dan masyarakat pada umumnya.

35

DAFTAR PUSTAKA --------, 1996. Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan. Ed.2. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan -------- dan Prihartono, J. 2003. Metodologi Penelitian : Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta. Binarupa Aksara. Azwar, A. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi 3. Jakarta. Binarupa Aksara Darma, Elida. 2001. Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di SMF Gigi dan Mulut Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin. Skripsi. Bandung : FKG UNPAD Muninjaya, A.A.G. 1999. Manajemen Kesehatan. Jakarta. EGC. Moleong, Lexy. J. 1990. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung. PT Remaja Rosdakarya. Singarimbun, M. 1989. Metode Penelitian Survei. Jakarta. LP3ES. Pardede, D. 2003. Penerapan Standart Pelayanan Medis untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan Dokter Keluarga. http://www.jpkm-online.net/kolomdokel.php.

36

LAPORAN PENELITIAN

KEMAMPUAN MANAJERIAL DOKTER GIGI DALAM PERANANNYA SEBAGAI KEPALA PUSKESMAS DI KOTA SUKABUMI TAHUN 2003

Oleh : Cucu Zubaedah, dra., MKes H. Dede Sutardjo, drg.,SKM Asty Samiaty Setiawan, drg

Dibiayai oleh Dana DIK Universitas Padjadjaran Tahun Anggaran 2003 Berdasarkan DIP no. 060 / 23 / 2003 Tanggal 1 Januari 2003

LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI 2003

37

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pembangunan Kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal dengan menyelenggarakan upaya kesehatan. Upaya kesehatan dilakukan melalui pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan kesehatan (preventif), penyembuhan kesehatan (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh (UU RI No. 23 tahun 1992). Adanya globalisasi dab liberalisasi perdagangan dunia (AFTA tahun 2003 dan APEC 2010 - 2020) akan mempengaruhi kebijakan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia termasuk pelayanan kesehatan Puskesmas. Kualitas pelayanan kesehatan masyarakat melalui Puskesmas baik pelayanan profesi (quality of care) maupun pelayanan manajemen (quality of services) perlu terus diupayakan dengan meningkatkan efisiensi, efektifitas dan produktivitas kerja Puskesmas. Sebagai konsekuensinya maka kepala Puskesmas yang berperan sebagai manajer harus mampu memimpin dan mengelola Puskesmas dengan menerapkan prinsip-prinsip managemen yang tepat dalam proses pemecahan masalah. Penerapan manajemen pada program kesehatan di Puskesmas akan lebih menjamin kegiatan pelayanan kesehatan yang lebih produktif, efisien, efektif dan rasional (Munijaya, 1999). Penelitian ini dilakukan di wilayah Kota Sukabumi karena tertarik dengan visi Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, yaitu mewujudkan visi pemerintah Kota Sukabumi melalui aliansi startegi layanan kesehatan prima terpadu 2000 - 2004. Artinya pada tahun 2004 diharapkan setiap penduduk di Kota Sukabumi sedah memiliki aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu serta keterjangkauan terhadapa upaya pengembangan hidup sehat. Bergulirnya otonomi daerah berdasarakn UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No.25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, maka beralih pula sistem pemerintahan yang sentralistik menjadi desentralistik secara menyeluruh di wilayah Indonesia termasuk Kota Sukabumi. Kewenangan daerah di era otonomi daerah ini menjadi semakin berat, demikian pula di bidang kesehatan telah terjadi perubahan paradigma pelayanan dan pembiayaan kesehatan. Puskesmas saat ini telah menjadi Puskesmas swadana / UPTD (Unit 38

Pelayanan Teknis Dinas) pada Dinas Kesehatan yang berada di bawah Kepala Dinas Kesehatan dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Kesehatan. Program Puskesmas. Struktur di Puskesmas akan mengikuti kebutuhan suatu unit teknis dan tidak lagi mengikuti model 18 Hal ini memungkinkan Puskesmas untuk berinovasi mengenai Dilihat dari hal ini program apa yang menjadi unggulan disamping program rutin. Puskesmas swadana / UPTD. Sebagian besar Puskesmas di Indonesia dikepalai oleh dokter umum. Tetapi Puskesmas di Kota Sukabumi sebanyak 66,7 % dikepalai oleh dokter gigi. Dari 15 Puskesmas yang ada, 10 Puskesmas dikepalai oleh dokter gigi, 4 Puskesmas dikepalai oleh dokter umum dan 1 Puskesmas dikepalai oleh sarjana kesehatan masyarakat (Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, 2000). Dengan adanya peraturan tersebut diatas maka Kepala Puskesmas memikul beban yang lebih berat. Oleh karena itu kemampuan manajerial tenaga kesehatan dalam peranannya sebagai Kepala Puskesmas merupakan hal yang menarik untuk diteliti mengingat fungsi Puskesmas yang kompleks, terutama setelah terjadi perubahan paradigma pelayanan dan pembiayaan kesehatan setelah adanya otonomi daerah. Keterbatasan ilmu dan pengalaman yang dimilki tenaga kesehatan dapat menjadi hambatan dalam melaksanakan fungsi dan perannya sebagai Kepala Puskesmas. 1.2. Perumusan Masalah Fungsi Puskesmas yang kompleks serta perubahan asas perbantuan menjadi swadana setelah otonomi daerah menjadikan tugas ynag dibebankan kepada Kepala Puskesmas sebagai penanggung jawab Puskesmas menjadi lebih berat. Kepala Puskesmas tidak hanya melaksanakan dan melakukanevaluasi program saja tetapi juga memiliki peran sebagai perencana program Puskesmas, sehingga Kepala Puskesmas dituntut untuk memiliki kreativitas yang tinggi. Keterbatasan Ilmi Manajemen Kesehatan dan Ilmu Kesehatan Masyarakat yang dimiliki dapat mempersulit Kepala Puskesmas dalam menangani manajemen Puskesmas. Sehubungan dengan hal tersebut perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana kemampuan manajerial Dokter Gigi dalam peranannya sebagai Kepala Puskesmas di Kota Sukabumi. 2. Hambatan dan permasalahan apa yang dihadapi oleh Dokter Gigi dalam menjalankan tugasnya sebagai Kepala Puskesmas. 39

Puskesmas membutuhkan seorang manajer yang berwawasan luas dan siap menjalankan

1.3. Kerangka Pemikiran Manajer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan dan pengendalian (Koontz dan O'Donnel, 1996). Pendapat ini menunjukkan bahwa manajer memegang peranan penting dalam proses manajemen. Puskesmas merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia. Bentuk pelayanan kesehatan yang diberikan di Puskesmas bersifat menyeluruh (comprehensive health care service) yaitu pelayanan kesehatan yang meliputi aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif (Munijaya, 1999). Kepala Puskesmas bertugas untuk menerapkan prinsip koordinasi dan integrasi baik di dalam lingkungan Puskesmas maupun dengan instansi lain. Kepala Puskesmas perlu mnerapkan prinsip-prinsip manajemen di Puskesmas agar usaha Puskesmas dapat berjalan secara efektif, efisien, produktif dan berkualitas (Munijaya, 1999). Berdasarkan pokok pemikiran tersebut, Kepala Puskesmas yang berperan sebagai manajer memegang peranan penting dalam proses manajemen Puskesmas. melaksanakan proses manajemen di Puskesmas secara optimal. Kepala Puskesmas dituntut untuk memiliki kemempuan manajerial yang memadai agar dapat

40

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum Manajemen dan Manajemen Kesehatan Manajemen adalah ilmu terapan yang dapat dimanfaatkan untuk membantu manager memecahkan masalah organisasi. Menurut Koontz dan ODonnel (1996), managemen adalah usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. Manager mengadakan koordinisai atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan dan pengendalian. Atas dasar pemikiran tersebut manajemen dapat diterapkan di bidang kesehatan untuk memecahkan masalah program dan masalah kesehatan masyarakat. Unsur-unsur managemen yang banyak dikenal di masyarakat disebut 4 M, yaitu manusia (man), uang (money), sarana (material) dan metoda (method) untuk organisasi yang tidak mencari keuntungan, serta 6 M, yaitu manusia (man), uang (money), sarana (material), metoda (method), pasar (market) dan mesin (mechine) untuk organisasi yang mencari keuntungan (Anwar, 1996). Dalam manajemen terjadi suatu rangkaian kegiatan yang sistematis. Masingmasing bentuk kegiatan tersebut merupakan fungsi manajemen dan diatur oleh manajer untuk merealisasikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Munijaya (1999), di dalam sebuah oraganisasi yang besar (mempunyai banyak staf dan divisi) keduduakn manajer dibedakab ke dalam tigatingkatan yaitu manajer tingkat tinggi (top level manager), manajer tingkat menengah (middle level manager) dan manajer tingkat bawah (low level manager). Atas dasar tiga tingkatan tersebut dapat dibedakan tiga jenis keterampilan manajerial (managerial skill), yaitu : 1. Keterampilan yang bersifat teknis (Technical Skill) Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk menggunakan pengetahuan, metoda, teknik atau peralatan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas organisasi. Manajer tingkat bawah dituntut untuk lebih menguasai keterampilan ini dibandingkan dengan conseptual skill karena manajer ini langsung berhubungan dengan para pekerja atau memberi pelayanan langsung kepada konsumen (manajer operasional). 2. Keterampilan hubungan antar manusia (Human Relation Skill) Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain, termasuk memotivasi dan menerapkan kepemimpinan yang efektif. Semua tingkatan

41

manajer perlu mengembangkan keterampilan ini karena sumber daya manusia adalah sumber daya utama organisasi. 3. Keterampilan yang bersifat konsepsual (Conceptual Skill) Keterampilan ini membutuhkan pengetahuan tentang keseluruhan organisasi yang dipimpinnya. Seorang manjer harus memahami kebijaksanaan pimpinan yang lebih Manajer puncak dituntut untuk menguasai tinggi dan yang bersifat strategis.

keterampilan ini lebih banyak dibandingkan dengan manajer dibawahnya. Manajer mempunayi tugas-tugas tertentu dalam melakukan pekerjaannya. Menurut James A.F Stoner ada 8 macam tugas pokok yang harus dikerjakan oleh setiap manajer (Wahjosumidjo, 1994). Tugas-tugas pokok tersebut meliputi : 1) Tiap manajer mempunyai tanggung jawab untuk bekerja sama dengan orang lain 2) Manajer bertanggung jawab atas tugas-tugas serta kewajiban untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut sampai berhasil 3) Manajer harus berusaha menyesuaikan antara macam-macam tujuan dan kebutuhan dengan sumber-sumber yang terbatas oleh karena itu manajer harus mampu mengatur skala prioritas 4) Manajer harus berfikir secara analitis dan konseptual 5) Menajer adalah seorang penengah (mediator) 6) Manajer adalah seorang politisi 7) Manajer adalah diplomat 8) Manajer membuat berbagai macam keputusan Untuk memudahkan pelaksanaannya fungsi manajemen sering disederhanakan menjadi empat macam yaitu : (Anwar, 1996) 1. Perencanaan (planning) yang didalamnya termasuk penyusunan anggaran belanja. 2. Pengorganisasian (organizing) yang didalamnya termasuk penyusunan staf. 3. Pelaksanaan (implementing) yang didalamnya termasuk pengarahan, pengkoordinasian, bimbingan, penggerakan dan pengawasan. 4. Penilaian (evaluation) yang didalamnya termasuk penyusunan laporan. Tujuan umum manajemen kesehatan adalah untuk mencapai suatu keadaan sehat bagi individu dan kelompok masyarakat. Tujuan sehat yang ingin dicapai oleh organisasi kesehatan adalah peningkatan derajat kesehatan setinggi-tingginya. Administrasi kesehatan lebih tepat digolongkan ke dalam administrasi umum karena organisasi kesehatan lebih mementingkan pencapaian kesejahteraan masyarakat umum.

42

Penerapan manajemen kesehatan dilakukan di masing-masing jajaran organisasi kesehatan , salah satunya adalah Puskesmas. Puskesmas adalah suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan, serta pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah tertentu (Azwar, 1996). 2.2. Manajemen Puskesmas Puskesmas adalah suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangun kesehatan, pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah tertentu (Azwar, 1996). Puskesmas merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang amat penting di Indonesia dan ujung tombak sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Bentuk pelayanan kesehatan yang diberikan di Puskesmas bersifat menyeluruh (comprehensive health care service), yaitu pelayanan kesehatan yang meliputi aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Prioritas pelayanan yang dikembangkan oleh Puskesmas lebih diarahkan ke bentuk pelayanan kesehatan dasar (basic health care services) yang lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif (Muninjaya, 1999). Meurut Azwar (1996), pengelolaan program kerja Puskesmas berpedoman pada empat asas pokok, yaitu : 1. Asas pertanggungjawaban wilayah, artinya Puskesmas harus bertanggungjawab atas semua masalah kesehatan yang terjadi di wilayah kerjanya. 2. Asas peran serta masyarakat, artinya dalam menyelenggarakan program kerjanya Puskesmas harus berupaya melibatkan masyarakat. 3. Asas keterpaduan, artinya Puskesmas berupaya memadukan kegiatan bukan saja dengan progtam kesehatan lain (lintas program) tetapi dengan program dari sektor lain (lintas sektoral). 4. Asas rujukan, artinya jika tidak mampu menangani masalah kesehatan harus merujuknya ke sarana kesehatan yang lebih mampu. Dokter di Puskesmas mempunyai 3 peranan, yaitu sebagai manajer yang bertugas untuk melaksanakan fungsi manajemen, sebagai medicus practicus dan petugas kesehatan masyarakat (public health woker) (Muninjaya, 1999). Sebagai seoarang manajer, Kepala 43

Puskesmas perlu melakukan pembagian tugas bersama stafnya sesuai dengan jenis dan jumlah tenaga kerja, serta kegiatan yang perlu dilakukan, sehingga terjadi pembagian tugas yang merata antara tenaga-tenaga Puskesmas. Di bidang ketenagaan ini masalah yang sering dihadapi oleh Puskesmas menurut Muninjaya (1999) adalah jumla tenaga yang terbatas, keterampilan yang masih rendah dan kualifikasi staf yang tersedia juga tidak sesuai. Puskesmas dengan jumlah tenaga yang masih terbatas menganut sistem kerja integratif, dimana masing-masing staf paramedis diberikan satu tugas pokok dan tugas tambahan lain. Pimpinan Puskesmas perlu menerapkan prinsip-prinsip manajemen di Puskesmas agar usha pokok Puskesmas dapat berjalan secara efisien, efektif, produktif dan berkualitas. Manajemen bermanfaat untuk membantu para pelaksana program agar programnya dapat dilaksanakan lebih efektif dan efisien. 2.3. Tinjauan Puskesmas di Wilayah Kota Sukabumi Jumlah Puskesmas yang ada di Kota Sukabumi sebanyak 15 Puskesmas dengan 15 Puskesmas Pembantu. Sebanyak 10 Puskesmas dikepalai oleh dokter gigi, 4 Puskesmas dikepalai oleh dokter umum dan 1 Puskesmas dikepali oleh sarjana kesehatan masyarakat. Sebelum berlakunya Undang-undang No. 22 tahun 1999 mengenai otonomi daerah, Puskesmas menganut azas perbantuan. Puskesmas saat ini menjadi Puskesmas swadana / UPTD (Unit Pelayanan Teknis Dinas) pada Dinas Kesehatan yang berada di bawah Kepala Dinas Kesehatan dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Kesehatan (Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, 2000). Pelayanan kesehatan di UPTD Puskesmas meliputi : 1) Pelayanan kesehatan umum dan KIA 2) Pemeriksaan kesehatan anak sekolah 3) Imunisasi calon pengantin 4) Pemeriksaan dan pengobatan gigi 5) Pelayanan laboratorium di UPTD Puskesmas 6) Tindakan persalinan 7) Pelayanan KB 8) Pengobatan luka termasuk pelayanan darurat karena kecelakaan 9) Pelayanan khitanan 10) Pelayanan kesehatan kerja 11) Pelayanan kesehatan tahap I untuk calon jemaah haji 44

Program pelayanan kesehatan yang dilaksanakan Puskesmas cukup kompleks, sehingga diperlukan sistem manajemen yang baik. Hal ini sejalan dengan kebijakan Dinas Kesehatan Kota Sukabumi yang menitikberatkan perbaikan terhadap sistem manajemen kesehatan.

45

BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 3.1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah : 1) Mengetahui kemampuan manajerial Dokter Gigi dalam peranannya sebagai Kepala Puskesmas. 2) Memperoleh gambaran mengenai hambatan dan permasalahan yang dihadapi oleh Dokter Gigi dalam mengelola Puskesmas. 3.2. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah : 1) Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi tenaga kesehatan dalm upaya peningkatan kemampuan manajerual tenaga kesehatan. 2) Menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa FKG mengenai hambatan dan permasalahan yang dihadapi dalam mengelola Puskesmas. 3) Menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti menegani kemampuan manajerial tenaga kesehatan. 4) Menjadi sumbangan saran bagi Dinas Kesehatan Kota Sukabumi atau instansi terkait lainya dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat

46

BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah campuran antara penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang didasarkan atai perhitungan persentasi rata-rata, chi kuadran dan perhitungan statistik lainnya. Sedangkan penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Aspek kuantitatif yaitu menilai kemampuan manajerial Kepala Puskesmas di Kota Sukabumi, sedangkan aspek kualitatif adalah penilaian para informan mengenai kemampuan manajerial Kepala Puskesmas. sensus. 4.2. Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah 9 orang dokter gigi yang menjabat sebagai Kepala Puskesmas di Kota Sukabumi. 1) Karakteristik dalam berpikir 2) Kebiasaan kerja 3) Motivasi 4) Kemampuan diri sendiri dalam hubungan interpersonal dengan orang lain 5) Penilaian informan 4.3. Prosedur Penelitian Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini adalah : 1) Penelitian pendahuluan lapangan 2) Penyusunan proposal 3) Penyusunan kuisioner 4) Pengurusan izin 5) Persiapan lapangan 6) Pengambilan dan pengumpulan data 7) Analisis data 8) Penyusunan laporan 47 Variabel yang digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan manajerial responden yaitu : Metoda yang digunakan adalah metoda

4.4. Pengumpulan Data Data yang diperoleh terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari responden yaitu para Kepala Puskesmas melalui wawancara serta pengisian kuisioner langsung oleh responden dan dari informan melalui wawancara. Data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Sukabumi yaitu berupa laporan kegiatan Dinas Kesehatan Kota Sukabumi tahun 2000. dipergunakan adalah kuisioner dan wawancara. 4.5. Pengolahan dan Analisis data Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diklasifikasikan dalam urutannya berdasarkan kemampuan manajerial responden. Skala pengukuran yang dipakai adalah skala ordinal yaitu skal bertingkat, menggolonggolongkan subjek menurut tingkatan tanpa memperhatikan jarak / golongan yang satu dengan yang lain (Tjokronegoro, 1981). Data kuantitatif kemudian diolah dalam bentuk distribusi frekuensi dan disajikan dalam bentuk tabulasi, sedangkan data kualitatif dari informan disajikan dalam bentuk kutipan kalimat apa adanya. 4.6. Parameter Kemampuan Manajerial Tingkat kemampuan manajerial diukur atas dasar variabel karateristik dalam berfikir, kebiasaan kerja, motivasi dan kemampuan diri sendiri dalam hubungan interpersonal dengan orang lain. Instrumen ini dikembangkan dari sumber yang disusun oleh M. Clugston dan J. Zemdegs dalam Canadian Business, Edisi Juni 1986. Instrumen ini terdiri dari 40 buah pertanyaan yang masing-masing mempunyai 5 macam pilihan jawaban. Pilihan jawaban tersebut adalah : A : Tidak setuju sama sekali B : Tidak setuju C : Tidak berpendapat D : Setuju E :: Sangat setuju Sedangkan alat pengumpul data yang

48

Setiap penilaian dikelompokkan secara acak dan masing-masing memiliki kriteria penilaian tersendiri untuk setiap kelompok, kemudian jumlah nilai tersebut dirata-ratakan untuk memperoleh nilai total dari seluruh kemampuan manajerial yang diujikan. Nilai persentil ideal untuk setiap kelompok penilaian dapat dilihat dari tabel di bawah ini : Kelompok Penilaian Kemampuan berfikir Kebiasaan kerja Motivasi Diri sendiri dan hubungan interpersonal
Tabel 4.1. Nilai Persentil Ideal Kelompok Penilaian

Nilai Ideal 75 65 75 70

Setelah didapat nilai persentil untuk setiap kelompok penilaian, hasil persentil tersebut dijumlahkan dan kemudian dibagi empat, sehingga didapat nilai persentil total. Interpretasi untuk nilai persentil total adalah : 75 - 100 70 - 75 65 - 69 50 - 64 0 - 49 : Penampilan luar biasa : Penampilan super : Penampilan di atas rata-rata : Penampilan rata-rata : Penampilan di bawah rata-rata

Kuesioner untuk informan (Lampiran 3) terdiri dari 5 buah pertanyaan. Kuisioner ini dimaksudkan untuk mendapatkan data kualitatif berupa pendapat informan mengenai kinerja Kepala Puskesmas. Data Kualitatif merupakan variabel kelima dalam penelitian ini yaitu variabel penilaian informan.

49

50

51

52

53

54

55

56

57

DAFTAR PUSTAKA Azwar, A. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi 3. Jakarta. Binarupa Aksara Depkes RI. 1992. Pedoman Kerja Puskesmas jlid I. Jakarta. Departemen Kesehatan RI Dinas Kesehatan Kota Sukabumi. 2000. Laporan Kegiatan Dinas Kesehatan Kota Sukabumi tahun 2000. Sukabumi. Dinas Kesehatan Kota Sukabumi. Koontz, Harold. ODonnel, Cyril. 1984. Management. Dalam Sirait, A. Manajemen. Jakarta. Erlangga. Muninjaya, A.A.G. 1999. Manajemen Kesehatan. Jakarta. EGC. Moleong, Lexy. J. 1990. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung. PT Remaja Rosdakarya. Singarimbun, M. 1989. Metode Penelitian Survei. Jakarta. LP3ES. Thoha, M. 1995. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.

58

LAPORAN PENELITIAN HUBUNGAN ANTARA FASILITAS KESEHATAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN YANG BEROBAT KE POLIKLINIK RAWAT JALAN RUMAH SAKIT Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG

Oleh : Asty Samiaty Setiawan, drg Cucu Zubaedah, dra., MKes H. Netty Suryani, drg, MARS

Dibiayai oleh Dana DIKS Universitas Padjadjaran Tahun Anggaran 2005 Berdasarkan SK No. 138 / J06.14 / LP / PL / 2005 Tanggal 4 Maret 2005

LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI Oktober 2005

59

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Terwujudnya keadaan sehat merupakan kehendak dari semua pihak, untuk dapat mewujudkan keadaan sehat tersebut banyak hal yang perlu dilakukan. diantaranya yang dinilai mempunyai peranan yang cukup Salah satu adalah penting

menyelenggarakan pelayanan kesehatan (Blum, 1974). Dalam rangka menyelenggarakan pelayanan kesehatan, rumah sakit mempunyai peranan yang penting. Akan tetapi rumah sakit yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan telah mengalami proses perubahan orientasi moral dan pemikiran. Fungsi rumah sakit yang tadinya hanya sebagai tempat untuk pengobatan penyakit, kini telah berkembang kearah kesatuan upaya pelayanan untuk seluruh masyarakat yang mencakup aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatatif. Selain itu sesuai dengan definisi sehat yang mencakup segi fisik, mental dan sosial, maka rumah sakit tidak hanya sebagai pusat pelayanan kesehatan secara teknis yang memandang manusia sebagai organo-biologis, tetapi dapat memandang dan melayaninya sebagai totalitas kemanusiaan, jasmani, rohani dan sosial. Fasilitas yang memadai mempunyai peranan yang sangat penting untuk mencapai visi dan misi tersebtu. Sesuai dengan strategi pembangunan Rumah Sakit Indonesia menghadapi era globalisasi 1997 - 2003, bahwa organisasi rumah sakit dikembangkan menjadi customer oriented organizations dengan peningkatan kualitas medis dan non medis , untuk memenuhi tuntunan dan kepuasan konsumennya. Salah satu faktor yang paling mempengaruhi kepuasan pelanggan dan persepsi pelanggan terhadap mutu pelayanan adalah bagaimana menangani keluhan pelanggan (Gerson, 2002). Untuk mengetahui keluhan pelanggan atau pasien dan agar keinginan, harapan paien terhadap pelayanan sesuai, maka persepsi pasien terhadap pelayanan penting diketahui dengan mengadakan serangkaian pengamatan yang dilakukan secara terus menerus. Divisi rawat jalan merupakan pintu masuk dan kontak pertama pasien dengan pelayanan di rumah sakit, sehingga Divisi Rawat Jalan dapat mempengaruhi citra di rumah sakit. Dengan citra pelayanan Divisi Rawat Jalan yang baik, maka akan berdampak positif kedalam seluruh proses pelayanan di Rumah Sakit (Kusnandi, 2000). Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai tingkat kepuasan pasien yang berobat di Poliklinik Divisi Rawat Jalan yang merupakan indikator keberhasilan penyelenggaraan kesehatan yang dilakukan oleh Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung.

60

1.2. Perumusan Masalah 1. Bagaimana hubungan fasilitas kesehatan terhadap kepuasan pasien yang berobat di Poloklinik Divisi Rawat Jalan Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung? 2. Bagaimana upaya peningkatan fasilitas kesehatan yang telah dilaksanakan oleh Poloklinik Divisi Rawat Jalan Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ? 3. Bagaimana tingkat kepuasan masing-masing Poloklinik Divisi Rawat Jalan Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ?

61

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Fasilitas adalah sarana untuk melancarkan pelaksanaan fungsi dan untuk kemudahan (Depdikbud, 1995). Fasilitas kesehatan adalah sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam rangka penyelenggaraan kesehatan. Fasilitas kesehatan dikelompokkan ke dalam dua bagian (Tambunan, 1982) : 1. Prasarana, yaitu fasulitas yang dibuthkan agar sarana di rumah sakit dapat dimanfaatkan secara optimal, terdiri dari : air, listrik, uap, incenerator (pembakaran sampah), lapangan parkir, gas medik, air conditioning (AC). 2. Sarana, yaitu fasilitas atau peralatan yang dimiliki atau digunakan dalam melaksanakan kegiatan, terdiri dari : gedung rawat jalan, rawat inap, penunjang. Aktifitas pembangunan rumah sakit mempunyai korelasi tinggi dengan peralatan dan perlengkapan yang dimiliki. Ketepatan dalam perencanaan, pengadaan, pemanfaatan dan pemeliharaannya akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan yang sedang dan akan dilaksanakan. Selaras dengan semakin meningkatnya aktivitas pembangunan, dewasa ini peralatan dan perlengkapan bukan saja bertambah dalam jumlah yang semakin banyak, tapi juga bertambah dalam macam ragamnya bahkan menngkat dalam kecanggihan teknologinya. Fasilitas berhubungan erat dengan masalah logistik. Istilah logistik sudah banyak dikenal di dalam masyarakat, terutama melalui lembaga atau instansi yang mempunyai urusan logistik tersebut. Logistik merupakan suatu ilmu pengetahuan dan atau seni serta proses mengenai perencanaan dan penentuan kebututhan pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan pemeliharaan serta penghapusan material / alat-alat. Kegiatan logistik secara umum mempunyai tiga tujuan. Tujuan operasional adalah agar tersedia barang , serta bahan dalam jumlah yang tepat dan mutu yang memadai. Tujuan keuangan meliputi pengertian bahwa upaya tujuan operasional dapay terlaksana dengan biaya yang serendah-rendahnya. Sementara itu , tujuan pengamanan dimaksudkan agar persediaan tidak terganggu oleh kerusakan, pemborosan, pengguaan tanpa hak, pencurian dan penyusutan yang tidak wajar lainnya (Aditama, 2000). Fungsi manajemen fasilitas merupakan suatu proses yang terdiri dari : 1. Fungsi perencanaan dan penentuan kebutuhan 2. Fungsi penganggaran 3. Fungsi pengadaan 4. Fungsi penyimpanan dan penyaluran 5. Fungsi pemeliharaan 6. Fungsi penghapusan 7. Fungsi penegndalian 62

Pengadaan fasilitas dan logistik ini disediakan oleh suatu instalasi yaitu instalasi pelayanan penunjang medik. Menurut Griffith dalam bukunya The Well Managed Community Hospital (1987) menyebutkan bahwa jenis pelayanan penunjang medik di rumah sakit meliputi pelayanan diagnostik, terapeutik dan kegiatan di masyarakat umum. 1) Fasilitas pelayanan penunjang medik diagnostik a) Laboratorium : kimiawi, hematologi, histopatologi, bakteriologi, virologi, otopsi dan kamar jenazah. b) Diagnostik imaging : radiografi, tomografi, radioisotope, iltra sonografi dan ct-scan c) Laboratorium kardiopulmoner : elektrokardiografi, tes fungsi paru dan katerasisasi jantung d) Lain-lain : elektroensefalografi, elektromiografi dan audiologi 2) Fasilitas pelayanan penunjang medik terapeutik a) Farmasi b) Ruang operasi : anestesi, ruang bedah, ruang pulih c) Ruang melahirkan dan persalinan d) Unit gawat darurat e) Bank darah f) Rehabilitasi medik : terapi fisik, terapi respirasi, terapi wicara dan terapi okupasi g) Pelayanan sosial h) Radioterapi i) Psikologi klinik Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator keberhasilan penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Kepuasan pasien merupakan kesesuaian antara harapan dan kenyataan yang dialami pasien terhadap pelayanan kesehatan. Harapan pasien dibentuk oleh pengalaman terdahulu, komemtar teman dan kenalannya, serta janji dan informasi pemasar serta saingannya. Kepuasan pasien dapat dilihat dari sikap / respon pasien terhadap pelayanan yang diterima. Sikap (attitude) sebaga i suatu evaluasi menyeluruh yangmemungkinkan seseorang berespons dengan cara mengeuntungkan atau tidak menguntungkan secara konsisiten berkenaan dengan objek / alternatif yang diberikan. Pasien atau konsumen menunjukkan perilaku (Peter, 2000) : 1) Konsumen adalah raja. Ia memilki kemampuan penuh untuk menyaring upaya untuk mempengaruhi, dengan hasil bahwa semua yang dilakukan oleh perusahaan harus disesuaikan dengan motivasi dan perilaku konsumen.

63

2) Motivasi dan perilaku konsumen dapat dimengeti melalui penelitian. Prediksi yang sempurna tidak dimungkinkan, tapi hasil strategis sangat meningkat melalui penelitian yang dijalankan dan dimanfaatkan dengan benar. 3) Perilaku konsumen dapat dipengaruhi melalui kegiatan persuasif yang menanggapi konsumen secara serius sebagai pihak yang berkuasa dan dengan maksud tertentu. 4) Bujukan dan pengarauh konsumen memiliki hasi l yang menguntungkan secara sosial asalkan pengamanan hukum, etik dan moral berada pada tempatnya untuk mengekang upaya manipulasi. Dalam konteks teori consumer bahavior, kepuasan lebih banyak didefinisikan dari perspektif pengalaman konsumen setelah mengkonsumsi atau menggunakan suatu produk atau jasa. Kepuasan adalah respon pemenuhan dari konsumen. Kepuasan adalah hasil dari penilaian konsumen bahwa produk atau pelayanan telah memberikan tingkat kenikmatan, dimana tingkat pemenuhan ini bisa lebih atau kurang (Richard, 2002). Sedangkan menurut Philip Kotler, kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dia rasakan dengan harapannya. Jadi tingkat kepuasan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Pelanggan dapat mengalami salah satu dari tingkat kepuasan yang umum. Kalau kinerja di bawah harapan, pelanggan puas. Kalau kinerja melebihi harapan, pelanggan sangat puas, senang dan gembira. Untuk mngetahui berapa jumlah pelanggan yang puas, apakah tingkat kepuasan pelanggan naik atau turun, apakah kepuasan pelanggan lebih tinggi dibandingkan kepuasan pelanggan pesaing dan berapakah target kepuaan pelanggan di masa mendatang, maka perlu dilakukan pengukuran tingkat kepuasan pelanggan, yang harus dilakukan secara periodik (Irawan, 2002). Ada 2 tujuan besar dalam melakukan pengukuran kepuasan pelanggan. Pertama adalah mendapatkan indeks kepuasan pelanggan. Indeks inii memberikan informasi kepada perusahaan mengenai tingkat kepuasan pelanggan. Kedua adalah mendapatkan informasi yang berhubungan dengan prioritas perbaikan dalam hal kepuasan pelanggan. Disamping itu tujuan dilakukannya pengukuran kepuasan meurut Gerson adalah : 1) Untuk mempelajari persepsi pelanggan 2) Untuk menentukan kebutuhan, keinginan, persyaratan dan harapan pelanggan 3) Untuk menutupi kesenjangan antara persepsi perusahaan dan pelanggan 4) Untuk memeriksa apakah peningkatan mutu pelayanan dan kepuasan pelanggan sesuai harapan atau tidak 5) Karena peningkatan kinerja membawa peningkatan laba 6) Untuk mempelajari bagaimana perusahaan melakukannya dan apa yang harus dilakukan kemudian 7) Untuk menerapkan proses perbaikan berkesinambungan

64

BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 3.1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran sejauh mana hubungan peranan fasilitas kesehatan terhadap kepuasan pasien yang berobat di Poliklinik Divisi Rawat Jalan Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. 3.2. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapakan : 1) Dapat dijadikan sumber informasi mengenai permasalahan fasilitas kesehatan rumah sakit, khususnya di Divisi Rawat Jalan Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung terhadap jajaran manajemen RSHS maupun bagian yang ada di lingkungan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin. 2) Dapat dijadikan masukan didalam usaha meningkatkan kepuasan pasien, serta sebagai bahan informasi bagi penelitian lanjutan mengenai pengukuran kepuasan pasein. 3) Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai fasilitas kesehatan yang diselenggarakan Divisi Rawat Jalan Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

65

BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian survai crossectional, yaitu peneltian yang bertujuan untuk mengumpulkan data mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat suatu populasi atau daerah tertentu, dengan menggunakan kuisioner yang berisi daftar pertanyaan sebagai alat pengumpul data, kemudian dicari nilai hubungannya. 4.2. Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah pasien atau pengantar pasien yang berkunjung ke Poliklinik Divisi Rawat Jalan Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, yang telah mendapat pelayanan kesehatan. 4.3. Prosedur Penelitian Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini adalah : 1) Penelitian pendahuluan lapangan 2) Penyusunan proposal 3) Penyusunan kuisioner 4) Pengurusan izin 5) Persiapan lapangan 6) Pengambilan dan pengumpulan data 7) Analisis data 8) Penyusunan laporan 4.4. Variabel Penelitian Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah penilaian pasien terhadap fasilitas kesehatan dan kepuasan pasien setelah memperoleh pelayanan kesehatan di Poliklinik Divisi Rawat Jalan Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung.

4.5. Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dengan cara pengisian kuisioner, hasil wawancara dan observasi. 4.6. Pengolahan dan Analisis data

66

Analisis data yang digunakan adalah skala likert. Pada penelitian ini responden dihadapkan pada empat pilihan jawaban. Jawaban dikalikan empat bagi responden yang menjawab sangat setuju, dikalikan tiga bagi responden yang menjawab setuju, dikalikan dua bagi responden yang menjawab kurang setuju dan dikalikan satu bagi responden yang menjawab tidak setuju, statistik yang digunakan adalah uji spearman.

67

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Poliklinik rawat jalan mempunyai fungsi dalam penyelenggaraan fasilitas kesehatan, diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Menyiapkan fasilitas penyelenggaraan pelayanan medik rawat jalan yang meliputi poliklinik-poliklinik : a) Penyakit Dalam b) Bedah c) Gigi dan Mulut d) Saraf e) Bedah Saraf f) Jiwa g) THT h) Penyakit Kulit dan Kelamin i) Kebidanan dan Kandungan j) Orthopedi k) Tim Kanker l) Thalasemia m) Gizi n) Kesehatan Anak o) Pegawai dan TPKP 2. Menyiapkan fasilitas penyelenggaraan pelyanan penunjang medis rawat jalan yang meliputi : a) Apotik / farmasi b) Konsultasi psikologi c) Konsultasi gizi d) Renal unit e) Pemeliharaan sarana DRJ 3. Menyiapkan fasilitas penyelenggaraan pelayanan non medis rawat jalan, meliputi a) Bagian penerimaan / pendaftaran pasien (loket) b) Bagian pencatat medis (medrec) dan bagian pengendalian ASKES 68

c) Penerangan / Humas d) Perparkiran e) Kebersihan f) Kemanan 4. Menyiapkan fasilitas penyelenggaraan pelayanan poliklinik khusus a) Poli Pegawai b) Medical check up dan TPKP c) Poliklinik Konsultasi Spesialistik 5. Menyiapkan fasilitas penyelenggaraan pelayanan dan asuhan keperawatan rawat jalan 6. Menyiapkan fasilitas penyelenggaraan rujukan rawat jalan 7. Menyiapkan fasilitas pendidikan dan latihan tenaga medis, paramedis dan tenaga lainnya di unit rawat jalan 8. Menyiapkan fasilitas penyelenggaraan kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu dan teknologi kesehatan 9. Menyiapkan fasilitas penyelenggaraan kegiatan PKMRS Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 173 pasien yang mengisi kuisioner secara lengkap, diperoleh penilaian untuk fasilitas kesehatan sebesar 71,22 %. Hal ini menunjukkan bahwa untuk fasilitas kesehatan Poklinik Rawat Jalan RSHS dalam kategori baik. Sedangkan untuk variabel kepuasan, 173 pasien menyatakan penilaian kepuasan pelayanan sebesar 73,53 %. Untuk kategori ini pasien menyatakan bahwa pelayanan yang diberikan oleh Poliklinik Rawat Jalan RSHS dalam kategori puas. Untuk melihat hubungan antara variabel fasilitas kesehatan dan kepuasan pelayanan kesehatan Poliklinik Rawat Jalan RSHS, maka di uji dengan menggunakan uji korelasi Spearman, didapat hasil sebagai berikut :

69

Nonparametric Correlations Correlation PELAYANAN Spearmans Correlation rho Coefficient Sig (1-tailed) N PELAYANAN KEPUASAN PELAYANAN KEPUASAN PELAYANAN KEPUASAN ** Correlation is significant at the .01 level (1-tailed) Terlihat bahwa nilai korelasi spearman = 0,781 yang menunjukkan bahwa .000 173 173 173 173 1.000 .781 KEPUASAN .781 1.000 .000

hubungan antara variabel fasilitas kesehatan dan kepuasan pasien termasuk kategori kuat, hal ini diperkuat dengan nilai p = 0,000 korelasi hubungan antara variabel fasilitas kesehatan dan kepuasan pasien yang berobat ke Poliklinik Rawat Jalan RSHS Bandung menunjukkan hasil yang sangat signifikan. Dengan demikian RSHS sebagai Rumah Sakit Pemerintah tipe B dan Rumah Sakit Pendidikan yang merupakan tumpuan masyarakat Bandung khususnya dan Jawa Barat umumnya yang sebelumnya untuk masalah kepuasan pelayanan pasien banyak terdengar komentar yang kurang baik, maka dengan kebijakan pimpinan dan sistem managemen RSHS yang baik telah memberikan nilai lebih pada masyarakat pengguna jasa fasilitas kesehatan di Poliklinik Rawat Jalan. Hal ini dapat dilihat dari penilaian masyarakat pada fasilitas kesehatan terhadap kepuasan pasien

70

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan 1. Penilaian responden terhadap fasilitas kesehatan yang terdapat di Poliklinik Rawat Jalan sudah baik, dengan tingkat kepuasan responden sebesar 73,52 %. 2. Secara umum penyelenggaraan fasilitas kesehatan yang ada di Poliklinik Rawat Jalan saat ini sudah baik 3. Hubungan antara variabel fasilitas kesehatan dan kepuasan pasien menunjukkan korelasi yang tinggi 6.2. Saran 1. Diperlukan peningkatan dan perbaikan fasilitas kesehatan yang kurang memadai. 2. Fasilitas kesehatan yang sudah baik perlu dijaga dan terus ditingkatkan agar lebih baik lagi, sehingga pasien akan lebih puas menggunakan fasilitas dan jasa Rumah Sakit. 3. Perlunya suatu badan atau bagian penanganan keluhan pasien yang tugasnya khusus untuk meneliti dan mengukur penilaian pasien terhadapa penyelenggaran kesehatan yang dilakukan oleh Rumah Sakit.

71

DAFTAR PUSTAKA Aditama CY. 2000. Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Jakarta. Universitas Indonesia Press. Azwar, A. 1996. Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan. --------. 1996. Menuju Pelayanan Kesehatan yang Lebih Bermutu. Jakarta. Yayasan Penerbitan Ikatan Dokter Indonesia. Brown, M. 1997. Manajemen Perawatan Kesehatan. Strategi, Struktur dan Proses. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran ECG Dep Kes RI. 1996. Standar Pelayanan Rumah Sakit. Jakarta. Direktorat Rumah Sakit Dirjen Pelayanan Medik. --------. 1999. Prosedur Tetap Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Dr.Hasan Sadikin Bandung. Bandung. Dirjen Pelayanan Medik. Gerson, R F. 2002. Mengukur Kepuasan Pelanggan. Jakarta. PPM. Irawan D., Handi. 2002. 10 Prinsip Kepuasan Pelanggan. Jakarta. PT Elex Media Komptindo kelompok Gramedia Jakarta. Peter, P. 2000. Consumer Behaviour. Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran. Jilid 1. Ed 4. Jakarta. Penerbit Erlangga. Singarimbun, E. 1995. Metode Penelitian Survai. Jakarta. Lp3ES. Tjiptono, F. 1996. Manajemen Jasa. Ed 1. Yogyakarta. Penerbit Andi.

72

Penilaian Status Risiko Karies Gigi pada Murid Kelas I dan V di SDN Cinunuk Bandung Sri Susilawati, Asty Samiaty, Sjazili Muhibat Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat FKG Unpad ABSTRAK Status risiko karies gigi dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang berisiko tinggi terhadap karies gigi dan kelompok yang berisiko rendah terhadap karies gigi. Suatu penelitian potong lintang dengan menggunakan metode kariogram telah dilakukan pada anak-anak sekolah di Sekolah Dasar Negeri Cinunuk Bandung kelas 1 dan kelas 5. Tujuan penelitian adalah mendapatkan gambaran status risiko karies gigi pada anak sekolah. Hasil penelitian akan menjadi dasar perencanaan program pencegahan karies gigi serta promosi kesehatan gigi dan mulut pada anak-anak sekolah di SDN Cinunuk Bandung. Kata kunci : status risiko karies gigi, metode kariogram ABSTRACT The caries risk status can be categorized into two categories : high and low caries risk group. A cross sectional study by using cariogram method had been done to assess caries risk status among first and fifth level of school children in Cinunuk Primary School, Bandung. The aim of this study is to describe the caries risk-status of school children. The information about the caries-risk status of school children is needed to plan caries prevention and oral health promotion program in Cinunuk Primary School, Bandung Key words : Caries risk status, cariogram method

1. Pendahuluan Informasi tentang status risiko karies gigi merupakan salah satu hal yang dibutuhkan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi upaya pencegahan karies gigi. Saat ini telah dikembangkan metode kariogram untuk melakukan penilaian status risiko seseorang terhadap karies gigi. Metode kariogram yang diperkenalkan 73

oleh Bratthall (1995) merupakan salah satu metoda penilaian status risiko seseorang terhadap karies yang sederhana dan mudah dilakukan1. Dengan diketahuinya tingkat risiko seseorang terhadap karies gigi maka program pencegahan dapat dirancang sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu. Untuk menentukan apakah seseorang memiliki risiko karies yang tinggi atau rendah, perlu dilakukan serangkaian pemeriksaan atau evaluasi guna mengidentifikasi faktor risiko apa saja yang berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya karies gigi. Faktor-faktor risiko karies dapat diketahui berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan riwayat kesehatan umum, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium. Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan riwayat kesehatan umum dapat diketahui status sosial ekonomi, ras dan budaya, kebiasaan buruk, pola diet, penyakit yang telah diderita, perawatan gigi serta jenis obat-obatan yang dikonsumsi. Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis dan laboratoris dapat diketahui sejumlah faktor risiko diantaranya adalah susunan dan morfologi gigi, tingkat keparahan karies, banyaknya restorasi serta kualitas restorasi yang ada, pemakaian alat ortodonsi, kadar Streptokokus mutans, Laktobasil kecepatan sekresi saliva, kapasitas dapar saliva) 2,3 Dari hasil evaluasi terhadap faktor risiko dapat diperoleh 2 kelompok yaitu kelompok yang berisiko tinggi dan kelompok yang berisiko rendah terhadap karies gigi3 Dengan diketahuinya status risiko karies, seorang tenaga kesehatan gigi dapat mengembangkan suatu model promosi kesehatan dan pencegahan karies melalui pengendalian faktor risiko karies. Menurut Sundoro (2000), pengendalian terhadap faktor risiko karies gigi merupakan salah satu bagian dari upaya pencegahan dalam menanggulangi karies gigi seperti yang dianjurkan oleh WHO. 4 Untuk memperoleh data dasar mengenai status risiko karies pada anak sekolah yang diperlukan dalam perencanaan pengembangan model promosi kesehatan gigi dan pencegahan karies gigi di sekolah dasar, maka dilakukan suatu penelitian pada murid kelas I dan kelas V Sekolah Dasar Negeri Cinunuk Kota Bandung. Tujuan 74 serta kondisi saliva (pH,

penelitian ini adalah mendapatkan gambaran status risiko karies gigi pada muridmurid kelas I dan kelas V SDN Cinunuk Kota Bandung. Adapun kerangka pemikiran dari penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut :
Faktor Risiko : Umur Riwayat penyakit Pola diet Penggunaan Fluor Penilaian Klinis : (tingkat keparahan karies, plak, Risiko Tinggi

Status Risiko Terhadap Karies Gigi

Risiko Rendah

Model Promosi Kesehatan dan Pencegahan Karies Gigi

Analisis dengan Metode Kariogram

Gbr 1. Kerangka Pemikiran Penilaian Status Risiko Karies Gigi

2. Bahan dan Cara Kerja Penelitian dilakukan pada murid kelas I dan kelas V SDN Cinunuk Kota Bandung, dari tiap kelas diambil 10 murid sebagai sampel secara random sehingga terkumpul sejumlah 20 murid. Sejumlah pertanyaan diajukan kepada sampel untuk mengetahui riwayat penyakit yang pernah diderita, kebiasaan makan dan asupan fluor. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui pengalaman karies, banyaknya plak, volume saliva dan kapasitas dapar saliva sesuai dengan metoda pemeriksaan kariogram. 75

Dalam penelitian ini digunakan alat berupa instrumen dasar, saliva testing dan formulir kariogram. Hasil analisis faktor risiko berdasarkan modifikasi metode kariogram akan menghasilkan 2 kelompok yaitu kelompok dengan tingkat risiko tinggi dan kelompok dengan tingkat risiko rendah dengan kriteria sebagai berikut : Kelompok dengan status risiko tinggi sangat tinggi : peluang untuk menghindari terjadinya karies baru < 40 % Kelompok dengan status risiko sedang agak rendah : peluang untuk menghindari terjadinya karies baru > 40 % 3. Hasil Jumlah murid kelas I yang diperiksa sebanyak 10 orang terdiri dari 5 orang murid perempuan dan 5 orang murid laki-laki. Jumlah murid kelas V yang diperiksa sebanyak 10 orang terdiri dari 5 murid perempuan dan 5 murid laki-laki. Dengan demikian jumlah murid yang diperiksa sebagai sampel sebanyak 20 orang. Hasil pemeriksaan terhadap pengalaman karies dan banyaknya plak pada murid kelas I dan kelas V dengan menggunakan metoda kariogram dapat dilihat pada tabel 1 berikut Tabel 1. Skor Pengalaman Karies dan Penilaian Plak
Faktor Risiko Kelas

Skor Pengalaman Karies 0 0 7 6 1 3 4 2 3 -

Skore Penilaian Plak 0 5 1 5 8 2 2 3

Kelas I Kelas V

Hasil pemeriksaan terhadap volume dan kapasitas dapar saliva pada murid kelas I dan kelas V dapat dilihat pada tabel berikut :

76

Tabel 2. Volume dan Kapasitas Dapar Saliva


Kelas Faktor Risiko Volume saliva Normal Kapasitas Dapar Saliva 2 Kelas I Rendah 2 5 Sangat Rendah 8 3 Normal 1 1 Kelas V Rendah 4 6 Sangat Rendah 5 3

Tabel 3 berikut menunjukkan tingkat risiko karies tinggi pada murid kelas I sebesar 70% dan tingkat risiko rendah sebesar 30 %. Tingkat risiko karies tinggi pada murid kelas V sebesar 80 % dan tingkat risiko karies rendah pada murid kelas I sebesar 20 %. Data ini menunjukkan bahwa aktivitas karies meningkat sejalan dengan meningkatnya umur. Tabel 3. Tingkat Risiko Karies Gigi pada Murid Kelas I dan Kelas V
Risiko Tinggi Kelas I Kelas V 70 % 80% Risiko Rendah 30 % 20 %

4. Pembahasan Dari hasil penelitian terlihat bahwa persentase murid dengan status risiko karies tinggi pada murid-murid sekolah dasar di SDN Cinunuk jumlahnya cukup besar. Salah satu faktor risiko yang diperkirakan menjadi penyebab tingginya risiko

77

karies tersebut adalah karena latar belakang sosial ekonomi. Hasil studi epidemiologis di berbagai negara menunjukkan adanya keterkaitan antara tingginya angka kerusakan gigi dengan latar belakang sosial ekonomi. Dominique-Rojas (1993) seperti yang dikutip Sumawinata (2000) menyebukan bahwa status sosial ekonomi, tidak adanya perawatan gigi dalam 12 bulan terakhir serta kurang teratur menyikat gigi sebagai faktor risiko untuk anak-anak antara umur 6 12 tahun5 Pola makan murid murid di SDN Cinunuk juga merupakan salah satu faktor risiko penyebab karies gigi yang perlu dikendalikan. Peran sukrosa dalam meningkatkan risiko karies bukan dari jumlahnya namun karena kekerapan mengkonsumsinya. Secara klinis terdapat berbagai faktor risiko karies gigi yang ditemukan pada murid-murid SDN Cinunuk. Rata-rata volume saliva dan kapasitas dapar saliva murid-murid SDN Cinunuk yang diukur dengan saliva testing adalah rendah. Kejadian karies sangat tergantung pada kapasitas dapar saliva yang dapat naik dan turun bergantung pada kecepatan sekresi dan diet. Menurunnya kapasitas dapar dan sekresi saliva menunjukkan kariogenisitas yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada satupun murid kelas I yang bebas karies dan angka kerusakan karies bertambah semakin meningkatnya umur. Hal ini sangat memprihatinkan, karena jika hal ini tidak ditangani maka akan sangat sulit mencapai target sesuai indikator gigi sehat 2010 yaitu indeks DMF < 1. Salah satu komponen penilaian faktor risiko lainnya menurut kariogram adalah banyaknya plak. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata indeks plak muridmurid SDN Cinunuk berada pada kategori sedang. Kondisi ini menggambarkan bahwa salah satu penyebab tingginya tingkat risiko karies gigi adalah karena perilaku murid-murid yang masih belum optimal dalam memelihara kebersihan gigi dan mulutnya. Dengan diketahuinya status risiko karies gigi pada murid-murid sekolah di SDN Cinunuk maka dapat disusun program promosi kesehatan gigi dan mulut dan pencegahan karies gigi yang sesuai dengan kebutuhan. Program UKGS yang selama 78

ini berjalan dapat dilaksanakan untuk murid-murid sekolah dengan status risiko karies gigi yang rendah. Namun untuk murid-murid sekolah dengan status risiko tinggi perlu ditambahkan tindakan intervensi untuk mengendalikan faktor penyebab karies gigi dan modulatornya , misalnya dengan cara : Aplikasi cairan anti mikroba atau varnish yang mengandung khlorheksidin Aplikasi fluor varnish atau gel Aplikasi bahan yang mengandung Casein Phosphopeptide-Amorphous Calcium Phosphate (CPP-APP) untuk mengendalikan keseimbangan saliva Pengaturan pola makan Eliminasi plak Pengendalian faktor risiko karies gigi membutuhkan usaha bersama antara individu itu sendiri, masyarakat serta tenaga kesehatan gigi dan mulut. Keberhasilan pengendalian faktor risiko karies gigi sangat bergantung pada individu itu sendiri, dalam hal ini dokter gigi hanya berperan sebagai edukator dan motivator. Pengendalian faktor risiko karies gigi sebagai bagian dari upaya pencegahan karies gigi di sekolah perlu dibarengi dengan penerapan strategi promosi kesehatan gigi dan mulut di sekolah yaitu dengan cara : mengadvokasi stakeholder dalam hal ini kepala sekolah, guru, dewan sekolah dan orang tua murid untuk bersama sama menciptakan kebijakan kebijakan dan lingkungan yang kondusif untuk menunjang tercapainya status kesehatan gigi dan mulut yang optimal (healthy public policy and create supportive environment) Meningkatkan sinergitas dan kemitraan dengan stakeholder lainnya seperti dinas/instansi terkait, tokoh masyarakat setempat dan swasta untuk bersamasama mengembangkan program UKGS Meningkatkan kemampuan murid-murid dalam memelihara kebersihan gigi dan mulutnya (personal skill)

79

Dengan diterapkannya strategi promosi kesehatan dalam pencegahan karies gigi di sekolah dasar diharapkan dapat tercapainya upaya pemberdayaan komunitas sekolah yaitu tercapainya segala upaya fasilitasi guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan komunitas sekolah agar mampu mengidentifikasikan masalah kesehatan gigi dan mulut , merencanakan dan melakukan penyelesaian dengan memanfaatkan potensi sekolah yang ada termasuk sumber pembiayaan dan fasilitas yang ada. 5. Kesimpulan 1. Sebagian besar status risiko karies gigi pada murid-murid kelas I dan kelas V SDN Cinunuk Kota Bandung adalah risiko tinggi (high risk). 2. Upaya yang dapat dilakukan untuk murid-murid dengan status risiko tinggi adalah menerapkan strategi promosi kesehatan dalam pelaksanaan pengendalian faktor risiko karies gigi. Daftar Pustaka 1. Bratthall D. 1996. Dental caries : Intervend Interrupted Interpreted. Eur J Oral Sci. Number 4, Part II, August. Dikutip dari http : // www. db.od.mah.se/car/cariogram/cariograminfo.html 2. Reich, E. Lussi, A and E. Newburn. 1999. Caries risk assessment. International Dental Journal. FDI/World Dental Press 3. Murray & Nune. 2003. Prevention of Oral Disease. Oxford University Press. 4. Sundoro. 2000. Pendekatan Preventif dalam Penanggulangan Karies. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia No.7 (Edisi Khusus). Jakarta 5. Sumawinata. 2000. Evaluasi dan Pengendalian Faktor Risiko Karies. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia No. 7 (Edisi Khusus). Jakarta 6. Walsh. 2002. Saliva testing. Good practice, good sense. Australia : University of Queensland

80

PENGARUH PELATIHAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT TERHADAP PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT GURU-GURU SEKOLAH DASAR DI WILAYAH JATINANGOR
ABSTRAK Dalam rangka upaya meningkatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut khususnya di sekolah dasar terdapat beberapa kendala dan hambatan. Salah satu kendala yang dihadapi diantaranya keterbatasan jangkauan tenaga kesehatan gigi untuk melaksanakan pembinaan upaya promotif-preventif di sekolah dasar. Pendayagunaan guru sekolah dasar sangat potensial untuk melaksanakan pembinaan kesehatan gigi dan mulut secara terintegrasi dan berkesinambungan. Oleh karena itu, perlu dilaksanakannya Pelatihan Kesehatan Gigi dan Mulut kepada guru-guru sekolah dasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sampai dimana pengaruh pelatihan kesehatan gigi dan mulut terhadap pengetahuan kesehatan gigi dan mulut guru-guru SD di Wilayah Jatinangor Kabupaten Sumedang. Penelitian ini bersifat deskriptif. Analisa data dilakukan dengan menggunakan Wilcoxon, hasil yang diperoleh signifikan dengan batas kepercayaan 95% dan p=0,0000. Dengan pelatihan kesehatan gigi dan mulut terdapat peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada guru-guru sekolah dasar. Tetapi pengetahuan yang diperoleh masih dalam taraf aplikasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan pelatihan dan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut secara berkesinambungan, sehingga terbiasa berperilaku sehat di bidang kesehatn gigi. ABSTRACT Promotion of the dental and mouth services, especially in the elementary school, usually found several problems and threat. One the most important threat is the service area limitation. This limitation impact to the dental health practitioners in reaching those areas to provide a promotive-preventive program in the elementary school. Therefore, the elementary school teacher improvement could become a potential aspect to make dental and mouth promotion sustainable and integrated. It is necessary to do training in dental and mouth health for the elementary school teachers. The purpose of this research is to have an understanding regarding the impact from the dental and mouth health training to the elementary school teacher. This research will focus on the elementary school teacher which has an activity in Jatinangor Area, Sumedang district, West Java. This research have a descriptive

81

quality and the data analysis done by using Wilcoxon. The research result have shown the trust ability level in 95% and p=0,0000. As a conclusion, dental and mouth training have improved the understanding and elementary school teacher knowledge. However, most of the knowledge is in the implementation area. Therefore, it is necessary to address the program continuity by applying several trainings continuosly to put dental and mouth health as their habitual.

PENDAHULUAN Keadaan kesehatan gigi dan mulut pada tahun 1995 menunjukkan bahwa status kesehatan gigi pada usia muda (5-6 tahun) dan kelompok usia lanjut (65 +) masih di bawah sasaran tahun 2000, sedangkan pada usia sekolah (12 tahun) dan usia dewasa (35-44 tahun) sudah lebih baik. Survey Susenas tahun 1998 menunujukkan bahwa 77,2 % penduduk telah menyikat gigi, tetapi yang menyikat gigi sesuai dengan anjuran (setelah sarapan dan sebelum tidur) hanya 8,1 %. Hal ini menunjukkan masih rendahnya perilaku masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulutnya. 1 Perilaku masyarakat Indonesia Sehat 2010 yang diharapkan adalah yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Selain itu kemampuan masyarakat di masa depan diharapkan mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu tanpa adanya hambatan, baik yang bersifat ekonomi maupun non ekonomi. Kelompok masyarakat yang perlu diperhatikan adalah anak-anak.

Pemeliharaan kesehatan bagi anak-anak khususnya kesehatan gigi dan mulut sangat penting dalam kehidupan sehari-hari untuk membentuk generasi bangsa yang sehat. Tingkat kebersihan gigi dan mulut ikut berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang sehat. Salah satu penunjang agar kesehatan anak-anak dapat tercapai adalah dengan pembinaan kesehatan di lingkungan sekolah melalui program kesehatan yang

82

meliputi pelayanan kesehatan, penyuluhan kesehatan dan lingkungan sekolah yang sehat. Anak-anak di lingkungan sekolah merupakan kelompok masyarakat yang Anak-anak sekolah berada dalam taraf dapat dicapai dengan mudah.

perkembangan dan pertumbuhan yang mudah dibimbing dan dibina, serta berada dalam masa yang tepat untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat 2 Pelayanan kesehatan gigi pada anak sekolah biasanya dilaksanakan melalui kegiatan pokok kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas yang diselenggarakan secara terpadu dalam bentuk program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS). Strategi kegiatan UKGS ditekankan pada upaya promotif dan preventif dengan perluasan jangkauan dapat didelegasikan kepada tenaga non dental (guru, dokter kecil, tenaga kesehatan lain). Dari hasil survey penyakit karies gigi di Indonesia tahun 1988 terdapat angka rata-rata DMF-T pada usia 12 tahun lebih kecil dari 3, tetapi dari tahun ketahun cenderung meningkat. Target UKGS pada pelita V adalah 80 % SD/MI, tetapi pencapaian rata-rata baru 61,54 % SD/MI. Dalam rangka upaya meningkatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut khususnya di sekolah dasar beberapa kendala dan hambatan yang dijumpai di lapangan tentunya memerlukan penanganan. Salah satu kendala yang dihadapi diantaranya keterbatasan jangkauan tenaga kesehatan gigi untuk melaksanakan pembinaan upaya promotif-preventif di sekolah dasar. Oleh karena itu diperlukan pemantapan integrasi secara lintas program dan lintas sektoral. Pendayagunaan tenaga perawat UKS, guru SD dan peranan dokter kecil pada kegiatan UKGS merupakan alternatif yang dipilih. Tenaga non dental yang salah satunya guru sekolah dasar, sangat potensial untuk melaksanakan pembinaan kemampuan kemampuan pelihara diri di bidang kesehatan kepada anak-anak secara teritegrasi dan berkesinambungan. Untuk menunjang hal tersebut perlu dilaksanakan Pelatihan Kesehatan Gigi dan Mulut kepada guru-guru sekolah dasar. Tetapi para guru sekolah dasar tersebut

83

mempunyai tugas pokok yang sangat padat, sehingga kegiatan upaya promotifpreventif yang ingin dititipkan kepada guru sekolah dasar harus dikemas lebih sederhana, praktis dan dapat dilaksanakan oleh guru SD tesebut serta diterima oleh sasaran yang diberi penyuluhan. Perilaku merupakan hasil segala macam pengalaman dan interaksi manusia dengan lingkungannya. Wujudnya berupa pengetahuan, sikap da tindakan. Pendapat lain mengatakan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat berupa pasif tanpa tindakan (berpikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif berupa tindakan. 3 Penyelenggaraan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh dan terpadu dilaksanakan melalui penyuluhan kesehatan berupa upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan disertai dengan upaya penunjang yang diperlukan. Usaha penyuluhan dan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut harus dimulai sedini mungkin karena anak-anak lebih mudah menerima dan mempelajari keterampilan yang baru. Disamping itu anak-anak lebih berani dalam mencoba sesuatu hal yang baru diajarkan, sehingga akan lebih mudah memotivasi anak-anak tersebut. 4 Berdasarkan hal-hal di atas, dapat diidentifikasi : 1. Bagaimana pengaruh pelatihan kesehatan gigi dan mulut guru-guru sekolah dasar terhadap kesehatan gigi dan mulut yang dilaksanakan sehari-hari untuk mencegah penyakit gigi dan mulut. 2. Bagaimana guru-guru sekolah dasar dapat melaksanakan upaya promotifpreventif secara berkesinambungan di bidang kesehatan gigi secara praktis dan sederhana, sehingga anak-anak terbiasa berperilaku sehat di bidang kesehatan gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sampai dimana pengaruh pelatihan kesehatan gigi dan mulut terhadap pengetahuan kesehatan gigi dan mulut guru-guru SD di Wilayah Jatinangor Kabupaten Sumedang. Manfaat penelitian ini adalah : 84

3. Dapat menanamkan kebiasaan memelihara kebersihan gigi dan mulut pada anak anak sekolah sehingga anak - anak terbiasa berperilaku sehat di bidang kesehatan gigi. 4. Dapat membantu tenaga kesehatan gigi Puskesmas dalam melaksanakan program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah. BAHAN DAN METODE Sifat penelitian ini adalah prospektif, karena penelitian ini melihat hasil ke depan. Populasi adalah guru-guru sekolah dasar yang ada di wilayah Jatinangor, sedangkan sampelnya adalah guru-guru sekolah dasar yang diberi tugas oleh Dinas Pendidikan dan terpilih menjadi subjek penelitian. Variabel penelitian ini terdiri dari : 1. Variabel bebas, yaitu pelatihan kesehatan gigi dan mulut 2. Variabel terikat, yaitu pengetahuan pasca pelatihan Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuisioner dan demonstrasi guru-guru mengenai jenis makanan yang menyehatkan dan merusak gigi. Alat pengumpul data yang dipergunakan adalah kuisioner yang berisi pertanyaanpertanyaan mengenai pengetahuan kesehatan gigi dan mulut, serta pengamatan hasil demonstrasi guru mengenai jenis makanan yang menyehatakan dan merusak gigi. Analisa data untuk melihat gambaran hasil demonstrasi guru mengenai jenis makanan yang menyehatakan dan merusak gigi menggunakan analisa statistik deskriptif, sedangkan untuk melihat pengaruh pelatihan kesehatan gigi dan mulut terhadap pengetahuan kesehatan gigi dan mulut guru-guru dilakukan uji statistika dengan menggunakan Wilcoxon. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN No. Skor Pengetahuan

85

Sebelum Sesudah Pelatihan Pelatihan 1 19 10 2 16 12 3 17 8 4 19 11 5 17 9 6 15 10 7 17 9 8 18 11 9 17 12 10 15 12 11 16 9 12 12 9 13 17 9 14 19 10 15 19 10 16 17 10 17 18 6 18 13 6 19 15 7 20 18 12 21 18 12 22 12 5 23 20 8 24 20 12 25 20 8 26 15 12 27 14 6 28 20 10 29 17 12 Tabel 1. Nilai Pengetahuan Guru-guru SD Dari hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai dengan batas kepercayaan 95 % dan p = 0,0000 maka hasilnya signifikan. Jadi ada perbedaan pengetahuan kesehatan gigi guru-guru SD sebelum dan sesudah pelatihan kesehatan gigi dan mulut. Dari hasil penelitian terhadap peserta pelatihan kesehatan gigi dan mulut didapatkan bahwa seluruh responden mengalami peningkatan pengetahuan kesehatan

86

gigi dan mulut. Hal ini berkaitan dengan profesi responden yaitu guru-guru sekolah dasar yang notabene mempunyai kewajiban untuk selalu belajar dan meningkatkan ilmu pengetahuan supaya kemampuan mereka lebih tinggi dari murid-muridnya. Dari pantauan di lapangan responden mempunyai itikad baik untuk belajar supaya bisa mengajarkan dan menularkan ilmu pengetahuannya dalam hal ini pengetahuan kesehatan gigi dan mulut kepada murid-murid sekolah dasar dan masyarakat sekitarnya. Hal ini ditunjang dengan hasil pengamatan demonstrasi guru mengenai jenis makanan yang menyehatakan dan merusak gigi sebanyak 67 % guruguru dapat menunjukkan dengan benar. Hasil dari penelitian dan pangamatan di lapangan taraf pengetahuan responden setelah pelatihan kesehatan gigi dan mulut masih dalam taraf aplikasi. Taraf aplikasi yaitu kemampuan untuk menggunakan materi pelatihan yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya, misalnya responden dapat menentukan jenis makanan yang baik dan benar untuk kesehatan giginya, setelah diberi penjelasan makanan apa yang merusak gigi. 3 Konsep tersebut sesuai dengan konsep Budiharto (1998) yang menekankan pentingnya masyarakat mempunyai pengetahuan kesehatan gigi dan mulut yang benar dan terus meningkat karena hal tersebut merupakan salah satu penunjang perilaku kesehatan gigi yang baik dengan sendirinya akan tercipta suatu kondisi kesehatanan gigi dan mulut masyarakat yang baik khususnya anak-anak sekolah dasar yang merupakan cikal bakal penerus generasi bangsa. 5 KESIMPULAN 1. Terdapat peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada guru-guru sekolah dasar sebagai peserta pelatihan. 2. Pengetahuan guru-guru sekolah dasar peserta pelatihan gigi dan mulut masih dalam taraf aplikasi. SARAN

87

Perlu dilakukan pelatihan dan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut secara terus menerus pada guru-guru sekolah dasar karena kelompok tersebut merupakan ujung tombak pendidikan selain orang tua untuk mentransfer pengetahuannya kepada anak didik.

DAFTAR PUSTAKA 1. Direktorat Kesehatan Gigi. 1999. Upaya Kesehatan Gigi Masyarakat (UKGM). Depkes RI. Dir. Pelayanan Medik. 2. Direktorat Kesehatan Gigi. 2000. Pedoman Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut. Depkes RI. Dir. Pelayanan Medik. 3. Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. 4. Hurlock B. Elizabeth. 1978. Perkembangan Anak. Penerbit Erlangga Jakarta, edisi 6. 5. Budiharto. 1998. Faktor-Faktor Yang Memberi Kontribusi Pada Perilaku Ibu Terhadap Kesehatan Gigi Anak. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

88

LAPORAN PENELITIAN

PENINGKATAN PAD MELALUI PEMANFAATAN FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN GIGI OLEH MASYARAKAT DI KOTAMADYA BANDUNG SEBAGAI IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH

Oleh : H. Dede Sutardjo, drg.,SKM Sri Susilawati, drg Asty Samiaty Setiawan, drg

Dibiayai oleh Dana DIKS Universitas Padjadjaran Tahun Anggaran Berdasarkan DIP No. 060/23/2002 Tanggal 1 Januari 2002

LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI NOVEMBER 2002 89

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Untuk meningkatkan derajat kesehatan gigi masyarakat, pemerintah telah membangun berbagai fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Selain itu peran serta swasta dalam penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut turut membantu masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Pada kenyataannya fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Dari hasil SUSENAS 1990 dan tahun 1995 diketahui persentase masyarakat yang mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan formal, baik milik swasta maupun pemerintah menurun dari 64,4 % menjadi 53 % (Soejitno, 1999). Hal ini menunjukkan bahwa hampir 50 % masyarakat yang mempunyai keluhan sakit sama sekali tidak memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan formal yang tersedia. Hasil penelitian status kesehatan gigi dan mulut (Soewondo S, 1995) menyebutkan bahwa di daerah perkotaan, rata-rata jumlah gigi yang memerlukan perawatan penambalan adalah 1,67 sedangkan persentase orang yang membutuhkan perawatan dalam bentuk instruksi kebersihan mulut sekitar 81,5 %, dan persentase orang yang membutuhkan perawatan periodontal yang bersifat kompleks sekitar 2,3 % dengan rata-rata sextant 0,03. Dari data di atas dapat terlihat bahwa tingkat kesehatan gigi dan mulut masyarakat perkotaan masih sangat rendah, sehingga kebutuhan terhadap perawatan gigi masih sangat tinggi. Dalam hal ini seharusnya masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang ada untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan gigi dan mulut. Untuk mencukupi kebutuhan perawatan terhadap kesehatan gigi dan mulut masyarakat, pemerintah telah menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut berupa Balai Pengobatan Gigi yang ada di Puskesmas dengan biaya yang

90

cukup terjangkau. Bahkan untuk masyarakat yang tidak mampu telah disediakan kartu sehat sehingga masyarakat dapat mendapat pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Jumlah Balai Pengobatan Gigi yang ada di Kota Bandung adalah sebanyak 49 buah dan tersebar di seluruh 6 wilayah Kota Bandung. Pada umumnya lokasi Balai Pengobatan Gigi cukup strategis sehingga memudahkan masyarakat menjangkaunya Dengan perkembangan otonomi daerah di bidang kesehatan, khususnya kesehatan gigi, pemerintah menyerahkan sebagian urusan tersebut kepada daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 49, 50, 51 tahun 1992, kemudian disempurnakan dengan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1987 tentang penyerahan sebagian urusan pemerintah dalam bidang kesehatan kepada daerah. kesehatan sebagai tempat penyelenggaraan urusan kesehatan. Pada umumnya masyarakat masih menganggap penyakit gigi dan mulut bukanlah suatu penyakit yang serius. Kesehatan umum dianggap lebih penting dan dinilai lebih tinggi daripada kesehatan gigi dan mulut. Meskipun mempunyai keluhan pada gigi dan mulut, sebagian besar masyarakat menunda kunjungannya ke fasilitas pelayanan kesehatan gigi. Adapun faktor lain yang menyebabkan masih rendahnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan gigi adalah terdapatnya perbedaan konsep masyarakat tentang sakit gigi dengan konsep sakit gigi menurut tenaga kesehatan. Masyarakat memiliki konsep sehat-sakit tersendiri yang tidak sejalan dengan konsep sehat sakit yang dimiliki tenaga kesehatan. Selama masih ada perbedaan konsep masyarakat tentang sehat-sakit dan selama belum ada perubahan konsepkonsep yang salah ini, maka peningkatan penggunaan fasilitas kesehatan akan berjalan lambat. Di era otonomi daerah ini pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan gigi oleh masyarakat diharapkan dapat membantu pendapatan asli daerah Kota Bandung. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan gigi oleh masyarakat, perlu dilakukan suatu penelitian mengenai 91 Selain itu Pemerintah daerah juga bertangung jawab untuk mendirikan dan memelihara saranan

hal tersebut. Peneliti merasa tertarik untuk mengetahui sejauhmana pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut oleh masyarakat dapat meningkatkan pendapatan asli daerah Kota Bandung. Melalui penelitian ini ingin diketahui juga faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi masyarakat Kota Bandung telah atau belum memanfaatkan Balai Pengobatan Gigi tersebut. 1.2. Perumusan Masalah 1. Sampai sejauh mana fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut dapat ditingkatkan dan telah dimanfaatkan oleh masyarakat di Kotamadya Bandung sehingga dapat menunjang pendapatan asli daerah ? 2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut oleh masyarakat di Kotamadya Bandung ? 1.3. Kerangka Pemikiran Kerangka pemikiran dalam penelitian ini berdasarkan uraian di atas adalah sebagai berikut :

92

Meningkatkan Derajat Kesehatan Gigi Masyarakat

Peningkatan Upaya Pemanfaatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Gigi oleh Masyarakat di Kota Bandung

Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut peneliti merasa tertarik untuk mengetahui bagaimana dengan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat Kota Bandung dalam memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang ada.

93

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Pelayananan kesehatan gigi dan mulut adalah setiap bentuk pelayanan atau program kesehatan gigi dan mulut yang ditujukan pada perorangan atau bersamasama dalam suatu organisai dengan tujuan untuk memelihara maupun meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut. Dalam pelaksanaannnya pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan oleh Rumah Sakit, Puskesmas dengan Balai Pengobatan Gigi atau praktek dokter gigi swasta. Penyelenggaraan upaya kesehatan gigi sebagai salah satu kegiatan pokok Puskesmas dilaksanakan sesuai dengan pola pelayanan Puskesmas tersebut. Pola pelayanan kesehatan gigi dan mulut sesuai dengan kebijaksanaan WHO, dirancang berdasarkan pendekatan Primary Oral Health Care dan sistem rujukan berjenjang. Sistem rujukan berjenjang yaitu suatu model pelayanan berupa pelayanan berlapis (level of care) sesuai dengan sumber daya yang ada. Tujuan pelayanan berlapis adalah untuk memberikan pelayanan yang menyeluruh dengan tingkat pelayanan yang diakitkan dengan sumber daya yang ada di masyarakat dan institusi pelayanan. Pola pelayanan kesehatan gigi ini harus dapat menjangkau masyarakat yang memerlukannya dengan sifat pelayanan berupa Basic Emergency Care, Preventive Care dan Self Care. Pada jenjang lebih tinggi kemampuan pelayanan berupa Simple Care, Moderate Care dan Complex Care yang akan ditingkatkan sejalan dengan kemampuan sumber daya yang ada berupa sarana dan tenaga kesehatan. Secara lengkap Level of Care adalah sebagai berikut (Lazuardy, 2000) : 1. Basic Emergerncy Care, yaitu pelayanan darurat yang harus melayani siapa saja dan dimana saja. Uapay menghilangkan atau mengurangi rasa sakit dapat diberikan oleh kader kesehatam.

94

2. Preventive Care, yaitu pelayanan yang bersifat pencegahan, dapat diberikan oleh tenaga perawat gigi. masyarakat. 3. Self Care, yaitu pelayanan pelihara diri yang dapat dilakukan perorangan dalam masyarakat, misalnya pemeriksaan diri sendiri dan mencari pengobatan yang tepat sedini mungkin. Pelayanan ini dapat dilkukan oleh semua lapisan masyarakat. 4. Simple Care, yaitu suatu pelayanan profesional sederhana atau pelayanan medik gigi dasar umum (PMGD), seperti scaling, ekstraksi tanpa komplikasi, tumpatan gigi. Pelayanan ini diberikan pada tingkat Puskesmas oleh dokter gigi atau perawat gigi yang telah mendapat wewenang dari atasan. 5. Moderate Care, yaitu pelayanan medik gigi khusus seperti tingkat spesialistik kedokteran gigi. Pelayanan ini hanya dapat dilakukan pada tingkat Rumah Sakit kelas D dan C oleh tenagadokter gigi yang telah mendapat pendidikan tambahan dalam bidang kedokteran gigi. 6. Complex Care, yaitu suatu pelayanan profesional oleh tenaga spesialis baik sendiri mamupun melalui sebuah tim. Pelayanan ini dilakukan di Rumah Sakit tipe A dan B. 2.2. Pemanfaatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut adalah tindakan yang dilakukan seseorang untuk mendayagunakan fasilitas kesehatan gigi dengan tujuan mendapatkan pelayanan kesehatan gigi baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif (Budiharto, 1998). Fasilitas kesehatan gigi adalah sarana dan prasarana yang disediakan atau diselenggarakan baik oleh institusi pemerintah maupun swasta untuk tujuan peningkatan, perawatan dan pemulihan kesehatan gigi. Menurut jenis pelayanan ada 2 jenis fasilitas kesehatan gigi yaitu yang bersifat umum seperti Balai Pengobatan Gigi yang ada di Puskesmas dan yang bersifat khusus Perawatan ini ditujukan kepada individu dan

95

untuk melayanai kelompok masyarakat khusus misalnya klinik gigi di suatu departemen hanya melayani pegawai dan keluarga dari departemen tersebut. Fasilitas kesehatan gigi di Kotamadya Bandung terdiri dari Balai Pengobatan Gigi yang ada di Puskesmas. Selain itu terdapat pula poliklinik gigi baik milik instansi pemerintah maupun swasta, dokter gigi praktek swasta perorangan maupun kelompok, polikilinik gigi yang ada di Rumah Sakit baik Rumah Sakit Pemerintah maupun Rumah Sakit swasta serta klinik gigi yang dikelola oleh Fakultas Kedokteran Gigi. Berbagai pendapat menyatakan bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan gigi. Menurut sarjana Zola ada 4 macam dorongan yang menyebabkan seseorang mencari dan memanfaatkan fasilitas kesehatan gigi yaitu (Jong, A. 1981) : Dorongan yang berhubungan dengan persepsi seseorang 1. Dorongan yang berhubungan dengan waktu, dimana seseorang memutuskan untuk mencari pelayanan kesehatan jika gejala yang dikeluhkan tidak mereda atau berkurang dalam periode waktu tertentu 2. Dorongan akibat hubungan sosial 3. Dorongan akibat ketegangan antara perorangan yang menyebabkan seseorang sadar terhadap gejala dari gangguan kesehatannya. Sedangkan Snehandu B.Kar (1983) yang dikutip dari Soekidjo (1995) mengatakan bahwa yang menyebabkan seseorang itu memanfaatkan fasilitas kesehatan gigi adalah karena alasan sebagai berikut : 1. Minat seseorang sehubungan dengan kepentingan pribadinya 2. Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya 3. Ada atau tidak adanya informasi 4. Otonomi pribadi orang yang bersangkutan tersebut dalam hal mengambil tindakan atau keputusan 5. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak

96

Pemanfaatan fasilitas kesehatan gigi berdasarkan model Andersen dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Faktor - faktor yang memudahkan (predisposing factor), yang termasuk katagori ini adalah : a) Faktor demografi yang dapat mempengaruhi pemanfaatan fasilitas kesehatan gigi contohnya faktor jarak yang harus ditempuh dan kemudahan pencapaian untuk mencapai fasilitas tersebut. b) Struktur sosial yang dapat mempengaruhi pemanfaatan fasilitas kesehatan gigi contohnya adalah pada masyarakat tradisional untuk menerima sistem pengobatan modern memerlukan proses yang relatif lama, oleh karena ikatan tradisi yang begitu kuat mereka lebih memanfaatkan pengobatan tradisional. Sebagian masyarakat memandang masalah kesehatan gigi bukan sebagai masalah yang serius, karena tidak akan mengganggu jiwanya, sehingga prioritasnya rendah. Selama kesehatan gigi oleh masyarakat tersebut belum ditempatkan pada masalah yang diprioritaskan maka pemanfaatan fasilitas kesehatan gigi akan rendah. 2. Faktor-faktor yang memungkinkan (enabling factors) untuk pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi terdiri dari : a) Sumber daya keluarga yaitu kemampuan keluarga untuk membiayai masalah kesehatan gigi keluarga b) Sumber daya masyarakat merupakan kemampuan menyelenggarakan fasilitas kesehatan gigi yang diperlukan 3. Faktor-faktor penguat (Reinforcing factors) akan kebutuhan kesehatan gigi Kesadaran akan adanya masalah kesehatan gigi, merupakan dorongan untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan gigi. Pada kenyataannya didalam masyarakat itu sendiri terdapat beraneka ragam konsep sehat sakit yang bahkan tidak sejalan dengan konsep sehat sakit yang diberikan oleh pihak penyelenggara pelayanan kesehatan. Konsep yang berbeda ini masyarakat untuk

97

tidak jarang menyebabkan kurang dimanfaatkannya sarana-sarana kesehatan yang telah ada. Didalam masyarakat sendiri sering ditemukan konsep yang salah tentang sakit. Banyak anggota masyarakat mengganggap sakit apabila mereka sudah tidak dapat bekerja atau sudah tidak dapat bangkit dari tempat tidur. Masyarakat yang terkena penyakit tapi tidak merasakan sakit (disease but no illness) tidak akan bertindak apa-apa terhadap penyakit tersebut. Tetapi bila mereka terkena penyakit dan juga merasakan sakit, maka timbul bermacam-macam tingkah laku dan usaha. Berbagai tingkah laku dan usaha yang dilakukan untuk mengatasi sakit tersebut adalah sebagai berikut : (Soekidjo,1993) 1) Tidak bertindak (no action) . Alasannya antara lain bahwa kondisi yang demikian tidak mengganggu kegiatan/kerja mereka sehari-hari. Mungkin mereka beranggapan bahwa tanpa bertindak apa-apapun gejala yang dideritanya akan lenyap dengan sendirinya. Tidak jarang pula masyarakat memprioritaskan tugastugas lain yang dianggap lebih penting daripada mengobati penyakitnya. Hal ini merupakan suatu bukti bahwa kesehatan belum merupakan prioritas didalam kehidupannya. 2) Bertindak mengobati sendiri (self treatment) dengan alasan-alasan yang sama seperti di atas. Alasan tambahan dari tindakan ini adalah karena orang atau masyarakat tersebut sudah percaya kepada diri sendiri, dan sudah merasa bahwa berdasarkan pengalaman-pengalaman yang lalu usaha-usaha pengobatan sendiri sudah dapat mendatangkan kesembuhan. Hal ini mengakibatkan pencarian pengobatan keluar tidak diperlukan. 3) Mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan tradisional (traditional remedy). Untuk masyarakat pedesaan khususnya pengobatan tradisional ini masih banyak dilakukan.

98

4) Mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan modern yang diadakan oleh pemerintah atau lembaga-lembaga kesehatan swasta, yang dikatagorikan ke dalam balai pengobatan, puskesmas dan rumah sakit. 5) Mencari pengobatan ke fasilitas pengobatan modern yang diselenggarakan oleh praktek dokter (private medicine). Dari uraian di atas tampak jelas bahwa konsep masyarakat terhadap sehat sakit erat hubungannya dengan tingkah laku pencarian pengobatan. Bila konsep sehat sakit masyarakat belum sama dengan konsep sehat sakit menurut tenaga kesehatan maka masyarakat belum tentu atau tidak mau menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yang telah disediakan.

99

BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 1) Untuk mengetahui tujuan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut oleh masyarakat Kota Bandung (apakah untuk tujuan promotif, preventif, kuratif, atau rehabilitatif ) 2) Untuk mengetahui pola pencarian pengobatan masyarakat Kota Bandung bila menderita sakit gigi 3) Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat dalam memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut.

100

BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian adalah penelitian survei yang bersifat deskriptif analitik, yaitu penelitian yang bertujuan untuk membuat penjabaran atau gambaran mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut oleh masyarakat Kota Bandung. 4.2. Populasi dan Sampel Populasi penelitian adalah semua rumah tangga yang ada di 6 wilayah Kota Bandung. Dengan kriteria sebagai berikut : 1) Pria dan wanita 2) Usia di atas 17 tahun 3) Tidak buta huruf 4) Bersedia untuk mengisi kuisioner 4.3. Teknik Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan secara Stratified Random Sampling yaitu teknik pengambilan sampel dimana populasi digolong-golongkan ke dalam strata dengan kriteria tertentu, kemudian diambil persentase seimbang dari golongan tersebut yang kemudian memiliki kemungkinan yang sama untuk dijadikan sampel penelitian. Sampel adalah rumah tangga terpilih dari 6 wilayah Kota berdasarkan peta BPS. Jumlah sampel dihitung dengan pendekatan : n dimana : n = jumlah sampel p = proporsi populasi dengan atribut masyarakat tergolong mampu q = proporsi tanpa atribut ( 1 - p )

>

p.q.z d2

101

z = deviasi normal standar d = tingkat ketepatan yang digunakan Bila proporsi (p) ditentukan 0,5 dan tingkat ketepatan yang diinginkan 5 % dengan tingkat kepercayaan95 % maka jumlah sampel ( n ) adalah : A. N = 0,5 x 0,5 x 1,96 (0,05)2 Dengan pembulatan jumlah sampel yang diteliti adalah 400 rumah tangga atau lebih. Selanjutnya mengambil individual untuk sampel yang dilakukan dengan stratified random sampling. 4.4. Cara penelitian Penelitian dilakukan dengan cara pengisian kuesioner. Kuesioner terdiri dari 4 bagian yaitu : I. II. III. IV. Keterangan tempat Keterangan pencacahan Identitas responden Keterangan perilaku masyarakat dalam memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan gigi 4.5.Analisis data Data yang diperoleh secara deskriptif sehingga dapat menghasilkan gambaran mengenai pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut oleh masyarakat Kota Bandung. Data disajikan dalam bentuk tabel.

102

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian Data tersebut merupakan jawaban kuisioner dari 402 responden di 6 kecamatan, yaitu kecamatan Cicendo, Sumur Bandung, Arcamanik, Margacinta, Lengkong dan Bojongloa Kidul. Enam kecamatan tersebut mewakili 6 wilayah yang terdapat di kota Bandung, yaitu wilayah Bojonegara, Cibeunying, Ujungberung, Gedebage, Karees dan Tegalega. Dari 402 responden dapat diidentifikasi berdasarkan jenis kelamin, yaitu lakilaki 133 (33,08 %) dan perempuan 269 (66,92 %). Umur responden dimulai dari usia 17 tahun sampai diatas 60 tahun dengan kelompok umur sebagai berikut : Kelompok Umur (th) 17 - 27 28 - 38 39 - 49 50 - 60 > 60 Jumlah f 86 114 110 63 29 402 % 21,39 28,36 27,36 15,67 7,21 100

Tabel 5.1 Distribusi Responden Menurut Umur

Tabel 5.1 menunjukkan sebagian besar responden berusia 29 - 38 tahun sebanyak 114 orang (28,36 %) dan 39 - 49 tahun sebanyak 110 orang (27,36 %).

103

Tingkat pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMU Perguruan tinggi Jumlah

f 2 15 123 66 149 47 402

% 0,5 3,73 30,6 16,42 37,06 11,69 100

Tabel 5.2 Distribusi Responden Menurut Pendidikan

Tabel 5.2 menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah berpendidikan tamat SMU sebanyak 149 orang (37,06 %) dan berpendidikan tamat SD sebanyak 123 orang (30,6 %). Pada penelitian ini dilihat juga pengetahuan masyarakat mengenai penyebab dari sakit gigi / gigi berlubang yang diurakan dalam tabel sebagai berikut : Penyebab Sakit Gigi a) Keturunan b) Tidak memelihara kebersihan gigi dan mulut c) Banyak makan mengandung gula d) Keturunan dan tidak memelihara kesehatan gigi dan mulut e) Banyak makan mengandung gula dan tidak memelihara kesehatan gigi dan mulut f) Keturunan, makan mengandung gula dan tidak memelihara kebersihan gigi dan mulut g) Tidak tahu Jumlah 2 402 0,5 100 37 9,20 4 1,00 f 12 127 173 47 % 2,99 31,59 43,03 11,69

Tabel 5.3 Pengetahuan mengenai Penyebab Sakit Gigi / Gigi Berlubang

104

Tabel 5.3 memperlihatkan hanya 4 orang ( 1 %) yang mengatakan dengan benar bahwa yang menyebabkan sakit gigi / gigi berlubang adalah banyak makan mengandung gula dan disertai dengan tidak memelihara keberihan gigi. Sebagian responden (43,03 %) menyatakan penyebab sakit gigi karena tidak memelihara kebersihan gigi dan mulut. Sikap yang dilakukan oleh masyarakat apabila giginya sakit / berlubang diuraikan dalam tabel sebagai berikut : Upaya yang Dilakukan a) Diobati sendiri dengan obat dari orang b) Kumur air garam c) Dibawa ke dukun d) Didiamkan sampai sembuh sendiri e) Dibawa ke Puskesmas / Dokter Gigi f) Diobati sendiri dan kumur air garam g) Diobati sendiri, dibawa ke Puskesmas / Dokter Gigi h) Kumur air garam kemudian dibawa ke Puskesmas / Dokter Gigi i) Diobati sendiri, kumur air garam atau dibawa ke dukun Jumlah 402 100
Tabel 5.4 Upaya yang Dilakukan jika Sakit Gigi / Gigi Berlubang

f 61 23 1 3 276 5 21 10 2

% 15,17 5,72 0,25 0,75 68,66 1,24 5,22 2,49 0,50

Tabel 5.4 menunjukkan mayoritas responden pergi ke Puskesmas atau Dokter Gigi apabila giginya sakit / berlubang sebanyak 276 orang (68,66 %). garam atau pergi ke dukun. 105 Sisanya mempunyai sikap untuk mengobati sendiri dengan obat dari orang lain, berkumur air

Tempat Mengobati a) Mengobati sendiri / beli obat di warung b) Ke Puskesmas / BPG c) Ke Puskesmas Pembantu d) Ke Rumah Sakit Pemerintah e) Ke Rumah Sakit Swasta f) Ke Dokter Gigi Praktek Swasta g) Ke Dukun h) Ke Tukang Gigi i) Lain-lain (mantri) j) Mengobati sendiri / beli obat di warung lalu ke Puskesmas / BPG k) Mengobati sendiri / beli obat di warung lalu ke Dokter Gigi Praktek Swasta l) Ke RS Swasta / Dokter Gigi Praktek Swasta m) Ke Puskesmas / BPG / Dokter Gigi Praktek Swasta Jumlah

f 57 169 6 28 13 73 2 21 9 4 14 396

% 14,39 42,68 1,52 7,07 3,28 18,43 0 0 0,51 5,30 2,27 1,01 3,54 100

Tabel 5.5 Tempat Mengobati Sakit Gigi / Gigi Berlubang

Tabel 5.5 menunjukkan responden ketika sakit gigi pergi mengobati ke Puskesmas / BPG sebanyak 169 orang (42,68 %). Dan sebanyak 73 orang (18,83 %) memilih mengobati ke dokter gigi praktek swasta.

106

Alasan Jarak dekat Transportasi mudah Biaya terjangkau Pelayanan memuaskan Jarak dekat dan biaya terjangkau Jarak dekat dan pelayanan memuaskan Biaya terjangkau dan pelayanan memuaskan Alasan lain Jumlah

F 97 14 115 88 39 10 9 24 396

% 24,49 3,54 29,04 22,22 9,85 2,53 2,27 6,06 100


17

Tabel 5.6 Alasan Memilih Tempat Mengobati

Tabel 5.6 menunkukkan 115 orang (29,04 %) responden memilih tempat berobatnya dengan alasan biaya yang terjangkau. Mudah dijangkau Ya Tidak Jumlah f 388 14 402 % 96,52 3,48 100

Tabel 5.7 Kemudahan Menjangkau Tempat Pelayanan Kesehatan Gigi

Tabel 5.7 menunjukkan mayoritas responden sebanyak 388 orang (96,52 %) merasa mudah menjangkau tempat pelayanan kesehatan gigi dan sisanya sebanyak 14 orang (3,48 %) menyatakan tidak mudah menjangkau tempat pelayanan kesehatan gigi.

107

Jarak ke tempat berobat < 1 km 1 - 2 km > 2 km Jumlah

f 115 151 136 402

% 28,61 37,56 33,83 100

Tabel 5.8 Jarak ke tempat berobat dari tempat tinggal

Tabel 5.8 menunjukkan jarak dari tempat tinggal ke tempat berobat yang paling sering dikunjungi responden ditempuh antara 1 - 2 km sebanyak 151 orang (37,56 %). 5.2. Pembahasan Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi melalui Balai Pengobatan Gigi oleh masyarakat Kota Bandung tidak bisa terlepas dari individu itu sendiri. Faktor pelayanan kesehatan tidak mempunyai pengaruh yang besar terhadap derajat kesehatan. perilaku, terakhir faktor Blume HL (1974) menyatakan bahwa derajat kesehatan. Untuk itu perlu diketahui kesehatan yang paling besar dipengaruhi oleh lingkungan, kemudian faktor sikap dan pelayanan terlebih dahulu pengetahuan, sikap dan perolaku masyarakat Kota Bandung akan kesehatan gigi dan mulut. Pada tabel 5.2 dapat dilihat bahwa dari 402 responden sebagian besar merupakan golongan masyarakat dengan tingkat pendidikan menengah ke bawah. Yang paling tinggi persentasenya adalah tamat SMU sebanyak 37,06 % dan masih ada juga yang tidak sekolah sebanyak 0,5 %. Hal ini menunjukkan masih banyak responden yang berpendidikan rendah. Tingkat pendidikan ini dapat menjadi dasar pengetahuan mereka mengenai masalah kesehatan gigi dan mulut. Rendahnya tingkat pendidikan keluarga menimbulkan keterbatasan daya serap pengetahuan dan perilaku sehat (Suprijanto, 1989).

108

Pada tabel 5.3 dapat dilihat umumnya responden menyatakan bahwa penyebab sakit gigi / gigi berlubang adalah banyak makan mengandung gula sebanyak 43,03 %, serta tidak memelihara kesehatan gigi dan mulut sebanyak 31,59 %. Menurut Chang (1981), terjadinya karies gigi melibatkan 4 komponen, yaitu gigi (host), mikroorganisme, subrat (gula) dan waktu. Tarigan (1989) menyatakan bahwa faktor keturunan dapat mempengaruhi terjadinya kareis gigi. Orang tua yang mempunyai gigi geligi kuat dan tidak Namun berlubang, kemungkinan anak-anaknya juga mengalami hal yang sama. keadaan ini tidak selalu terjadi, tetapi hanya merupakan kecenderungan saja. Selain pengetahuan, faktor dari individu yang mempengaruhi tingkat pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut adalah sikap masyarakat. Dari hasil peneleitian dapat dilihat bahwa sikap yang dilakukan oleh masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan gigi sudah baik. Dari tabel 5.4 sebanyak 68,66 % responden mempunyai sikap untuk pergi ke Puskesmas / Dokter Gigi apabila giginya sakit / berlubang dan 15,17 % diobati sendiri dengan membeli obat dari warung. Sikap seseorang terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan mereka terhadap kesehatan gigi dan mulut. Sikap mereka yang baik dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut akan membuat mereka untuk lebih memperhatikan kesehatan gigi dan mulut. Sikap merupakan faktor yang menentukan perilaku seseorang, tetapi sikap hanyalah sebagian dari perilaku manusia. Perilaku ini berbeda pada tiap kelompok masyarakat dan umumnya mengalami perkembangan (Notoatmodjo, 1988). Dari jumlah 396 responden yang berupaya mengobati sakit gigi 42,68 % memilih untuk memanfaatkan Puskesmas atau Balai Pengobatan Gigi, 18,43 % mengobati ke dokter gigi praktek swasta dan 14,39 % berupaya mengobati sendiri atau membeli obat di warung. Data selengkapnya terdapat pada tabel 5.5. Beberpa alasan responden memilih memanfaatkan temapt atau cara pengobatan tersebut diatas, diantaranya adalah karena biaya terjangkau (29,04 %), jarak yang dekat 109

(24,49%), pelayanan memuaskan (22,22 %) dan lain-lain seprti tercantum pada tabel 5.6. Menurut Notoatmodjo (1988), masyarakat atau individu yang mendapat penyakit dan tidak dirasakan sakit, tidak akan bertindak apa-apa. Namun apabila mereka mendapat penyakit dan merasakan sakit akan menimbulkan berbagai macam perilku dan usaha sebagai berikut : 1) Tidak bertindak apa-apa (no action) 2) Bertindak mengobati sendiri (self treatment) 3) Mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan tradisional (tradisonal remedy) 4) Mencari pengobatan dengan membeli obat di warung / toko obat (chemist shop) 5) Mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan modern yang diadakan oleh pemerintah / lembaga-lembaga kesehatan swasta 6) Mencari pengobatan ke fasilitas pengobatan modern yang diselenggarakan oleh dokter praktek (private modern medicine) Perilaku masyarakat mengenai kesehatan selain ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan dan tradisi, juga dipengaruhi oleh faktor ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan. Keterjangkauan atau akses ditentukan oleh ketersediaan tersebut, serta kemudahan dalam memenuhi kebutuhan dan permintaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Keterjangkauan pelayanan kesehatan dibedakan atas dua macam, yaitu dari sudut pembiayaan kesehatan dan dari sudut lokasi sarana pelayanan kesehatan yang didirikan (Anwar, 1990). Jarak merupakan faktor Pada tabel 5.7 eksternal dari masyarakat yang mempengaruhi masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi di Puskesmas (Soegiyono, 1986). sebanyak 96,52 % responden menyatakan mudah menjangkau tempat pelayanan kesehatan gigi dan mulut, serta sebanyak 3,48 % menyatakan tidak mudah menjangkaunya. Pada tabel 5.8 dapat dilihat jarak dari tempat tinggal ke tempat berobat yang paling dekat adalah 1 - 2 km (37,56 %). Sisanya harus menempuh jarak lebih dari 2 110

km (33,83 %) dan sebanyak 28,62 % mempunyai tempat tinggal berjarak kurang dari 1 km dari tempat berobat. Farida (1985) menyatakan dekatnya tempat tinggal masyarakat terhadap tempat pelayanan kesehatan tidak diukur dari kilometer, tetapi dari usaha mereka untuk mencapainya. Semakin kecil jarak jangkau masyarakat terhadap tempat pelayanan kesehatan, seharusnya tingkat pemanfaatan pelayanan kesehatan bertambah. Dari uraian di atas diketahui kebutuhan masyarakat akan kesehatan gigi bermacam-macam dan kenudahan keterjangkauan fasilitas pelayanan kesehatan memegang peran yang mendorong masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Dalam hal ini, pemerintah daerah harus selalu faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat memperhatikan dan mengevaluasi

agar selalu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan gigi yang ada. Data-data diatas memeperlihatkan bahwa masyarakat Kota Bandung telah banyak memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan gigi yang tersedia. Di era otonomi daerah ini, pendapatan asli daerah (PAD) dapat terus ditingkatkan apabila setiap masyarakat Kota Bandung dapat memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan gigi sesuai dengan kebutuhannya.

111

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan 1) Mayoritas masyarakat Kota Bandung sebanyak 68,66 % telah memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan gigi yang disediakan oleh pemerintah yaitu Balai Pengobatan Gigi yang ada di Puskesmas apabila giginya sakit / berlubang. 2) Dengan meningkatnya kunjungan masyarakat Kota Bandung untuk memanfaatkan Balai Pengobatan Gigi yang disediakan oleh pemerintah, maka pendapatan asli daerah (PAD) di era otonomi daerah ini juga meningkat. 3) Masyarakat Kota Bandung memilih memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan gigi karena melihat faktor keterjangkauan dari sudut pembiayaan sebanyak 29,04 % dan sudut lokasi sebanyak 24,49 %. 6.2. Saran 1) Pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat lebih ditingkatkan dengan mendukung faktor keterjangkauan fasilitas tersebut baik dari sudut lokasi dan pembiayaan pelayanan kesehatan. 2) Peran serta masyarakat lebih dikembagkan dalam meningkatkan upaya penyuluhan dan pencegahan penyakit gigi dan mulut. 3) Balai Pengobatan Gigi diharapkan lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat dengan memberikan pelayanan prima yang lebih berorientasi kepada kualitas pelayanan kesehatan gigi.

112

DAFTAR PUSTAKA Budiharto. 1998. Kontribusi Pemanfaatan Fasilitas Kesehatan Gigi terhadap Radang Gusi Anak. Jurnal Kedokteran Gigi.Vol. 5 No.3. Universitas Indonesia Jong, A. 1981. Dental Public Health and Community Dentistry. St. Louis : The C.V. Mosby Co. Soekidjo, N. 1993. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Yogyakarta : Andi Offset. Suwondo, S. 1995. Satus Kesehatan Gigi dan Mulut serta Kebutuhan Perawatan Masyarakat pada 7 Wilayah Pembangunan daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat. FKG UNPAD

113

114