Anda di halaman 1dari 17

TINJAUAN PUSTAKA I.

DEFINISI ABORTUS Abortus adalah keluarnya hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan, sebelum janin mencapai berat 500gram atau kurang dari 20 minggu (Sarwono, 1981) Cara terjadinya abortus: 1. Abortus spontan, yaitu abortus yang berlangsung tanpa tindakan tertentu 2. Abortus provokatus, yaitu abortus yang berlangsung akibat tindakan tertentu. Ada 2 macam abortus provokatus yaitu: a. Abortus provokatus medicinalis, yaitu abortus yang berlangsung atas indikasi medis b. Abortus provokatus kriminalis, yaitu abortus yang berlangsung tanpa indikasi medis. II. ETIOLOGI Mekanisme pasti penyebab abortus tidak selalu jelas, tetapi pada bulanbulan awal kehamilan, ekspulsi ovum secara spontan hampir selalu didahului oleh kematian mudigah atau janin (Wiliam, 2006). Hal-hal yang menyebabkan abortus dapat dibagi sebagai berikut: 1. Faktor Janin
a. Perkembangan zigot abnormal. Temuan morfologis tersering pada

abortus spontan dini adalah kelainan perkembangan zigot, mudigah, janin bentuk awal, atau kadang-kadang plasenta. Dalam satu analisis terhadap 1000 abortus spontan, Hertig dan Sheldon (1943) cit William (2006) menjumpai uvom patologis (blighted) yang pada separuhnya mudigah mengalami degenerasi atau tidak sama sekali. a.1. Trisomi autosom merupakan kelainan kromosom yang tersering dijumpai pada abortus trimester pertama. Trisomi dapat disebabkan oleh nondisjunction tersendiri, translokasi seimbang maternal atau

parenal, atau inversi kromosom seimbang. Trisomi autosom yang sering dijumpai yaitu autosom 13, 16, 18, 21 dan 22. a.2. Monosomi X (45, X) adalah kelainan kromosom tersering berikutnya dan memungkinkan lahirnya bayi perempuan hidup (sindrom turner)
b. Abortus aneuploidi. Kaji dkk (1980) cit William (2006), melaporkan

bahwa

dari abortus aneuploidi terjadi sebelum minggu ke-8.

Kelainan kromosom sering dijumpai pada mudigah dan janin awal yang mengalami abortus spontan, sekitar 50-60% abortus spontan dini diserati dengan kelainan kromosom pada awal konseptus.
c. Abortus euploidi. Kaji dkk (1980) cit William (2006), abortus euploidi

memuncak pada usia gestasi sekitar 13 minggu. Stein dkk (1980) cit William (2006), bahwa insidensi abortus euploidi meningkat drastis setelah usia ibu 35 tahun. 2. Faktor Ibu a. Faktor-faktor endokrin Beberapa gangguan endokrin telah terlibat dalam abotus spontan berulang, termasuk diantaranya adalah diabetes mellitus tak terkontrol, hipo dan hipertiroid, hipersekresi luteinezing hormone, insufisiensi korpus luteum atau disfungsi fase lutealdan penyakit polikistik ovarium . Pada perkembangan terbaru peranan hiperandrogenemiadan hiperprolaktinemia telah dihubungkan dengan terjadinya abortus yang berulang. b. Faktor-faktor anatomi Anomali uterus termasuk malformasi kongenital, defek uterus yang didapat (Asthermans syndrome dan defek sekunder terhadap dietilestilbestrol), leiomyoma, dan inkompentensia serviks . Meskipun anomali-anomali ini sering dihubungkan dengan abortus spontan, insiden, klasifikasi dan peranannya dalam etiologi masih belum diketahui secara pasti . Abnormalitas uterus terjadi pada 1,9% dalam populasi wanita, dan 13 sampai 30% wanita dengan abortus spontan berulang . Penelitian lain menunjukkan bahwa wanita dengan anomali didapat seperti Ashermans
2

syndrome, adhesi uterus, dan anomali didapat melalui paparan dietilestilbestrol memiliki angka kemungkinan hidup fetus yang lebih rendahdan meningkatnya angka kejadian abortus spontan . c. Faktor-faktor immunologi Pada kehamilan normal, sistem imun maternal tidak bereaksi terhadap spermatozoa atau embrio. Namun 40% pada abortus berulang diperkirakan secara immunologis kehadiran fetus tidak dapat diterima . Respon imun dapat dipicu oleh beragam faktor endogen dan eksogen, termasuk pembentukan antibodi antiparental, gangguan autoimun yang mengarah pada pembentukan antibodi autoimun (antibodi antifosfolipid, antibodi antinuclear, aktivasi sel B poliklonal), infeksi, bahan-bahan toksik, dan stress . d. Trombofilia Trombofilia merupakan keadaan hiperkoagulasi yang berhubungan dengan predisposisi terhadap trombolitik. Kehamilan akan mengawali keadaan hiperkoagulasi dan melibatkan keseimbangan antara jalur prekoagulan dan antikoagulan . Trombofilia dapat merupakan kelainan yang herediter atau didapat. Terdapat hubungan antara antibodi antifosfolipid yang didapat dan abortus berulangdan semacam terapi dan kombinasi persalinan. abortus terapi Pada yang melibatkan heparin dan aspirin telah direkomendasikan untuk menyokong pemeliharaan kehamilan sampai sindrom antifosfolipid, Namun, antibodi mekanisme antifosfolipid pasti yang mempunyai hubungan dengan kejadian trombosis vena, trombosis arteri, atau trombositopenia. menyebabkan antibodi antifosfolipid mengarah ke trombosis masih belum diketahui. Pada perkembangan terbaru, beberapa gangguan trombolitik yang herediter atau didapat telah dihubungkan dengan abortus berulang termasuk faktor V Leiden, defisiensi protein antikoagulan dan antitrombin, hiperhomosistinemia, mutasi genetik protrombin, dan mutasi homozigot pada gen metileneterhidrofolat reduktase . e. Infeksi
3

Infeksi-infeksi maternal yang memperlihatkan hubungan yang jelas dengan abortus spontan termasuk sifilis, parvovirus B19, HIV, dan malaria. Brusellosis, suatu penyakit zoonosis yang paling sering menginfeksi manusia melalui produk susu yang tidak dipasteurisasi juga dapat menyebabkan abortus spontan . Suatu penelitian retrospektif terbaru di Saudi Arabia menemukan bahwa hampir separuh (43%) wanita hamil yang didiagnosa menderita brusellosis akut pada awal kehamilannya mengalami abortus spontan pada trimester pertama atau kedua kehamilannya . f. Faktor-faktor eksogen, meliputi: Bahan-bahan kimia: f.1. Gas anestesi Nitrat oksida dan gas-gas anestesi lain diyakini sebagai faktor resiko untuk terjadinya abortus spontan . Pada suatu tinjauan oleh Tannenbaum dkk , wanita yang bekerja di kamar operasi sebelum dan selama kehamilan mempunyai kecenderungan 1,5 sampai 2 kali untuk mengalami abortus spontan. Pada suatu penelitian meta analisis yang lebih baru, hubungan antara pekerjaan maternal yang terpapar gas anestesi dan resiko abortus spontan digambarkan adalah 1,48 kali daripada yang tidak terpapar. f.2. Air yang tercermar Beberapa penelitian epidemiologi telah mendapatkan data dari fasilitas-fasilitas air di daerah perkotaan untuk mengetahui paparan lingkungan . Suatu penelitian prospektif fi California menemukan hubungan bermakna antara resiko abortus spontan pada wanita yang terpapar trihalometana dan terhadap salah satu turunannya, bromodikhlorometana. Demikian juga wanita yang tinggal di daerah Santa Clara, daerah yang dengan kadar bromida pada air permukaan paling tinggi tersebut, memiliki resiko 4 kali lebih tinggi untuk mengalami abortus spontan. f.3 Dioxin
4

Dioxin telah terbukti menyebabkan kanker pada manusia dan binatang, dan menyebabkan anomali reproduksi pada binatang . Beberapa penelitian pada manusia menunjukkan hubungan antara dioxin dan abortus spontan. Pada akhir tahun 1990, dioxin ditemukan di dalam air, tanah, air minum, di kota Chapaevsk Rusia. Kadar dioxin dalam air minum pada kota itu merupakan kadar dioxin tertinggi yang ditemukan di Rusia, dan ternyata frekuensi rata-rata abortus spontan pada kota tersebut didapatkan lebih tinggi dari kota-kota yang lain. f.4. Pestisida Resiko abortus spontan telah diteliti pada sejumlah kelompok pekerja yang menggunakan pestisida. Suatu peningkatan prevalensi abortus spontan terlihat pada istri-istri pekerja yang menggunakan pestisida di Italia, India, dan Amerika Serikat, pekerja rumah hijau di Kolombiadan Spanyol, pekerja kebun di Argentina, petani tebu di Ukraina, dan wanita yang terlibat di bidang agrikultural di Amerika Serikatdan Finlandia. Suatu peningkatan prevalensi abortus yang terlambat telah diamati juga di antara wanita peternakan di Norwegia, dan pekerja agrikultural atau hortikultural di Kanada . g. Gaya hidup seperti merokok dan alkoholisme. Penelitian epidemiologi mengenai merokok tembakau dan abortus spontan menemukan bahwa merokok tembakau dapat sedikit meningkatkan resiko untuk terjadinya abortus spontan. Namun, hubungan antara merokok dan abortus spontan tergantung pada faktorfaktor lain termasuk konsumsi alkohol, perjalanan reproduksi, waktu gestasi untuk abortus spontan, kariotipe fetal, dan status sosioekonomi . Peningkatan angka kejadian abortus spontan pada wanita alkoholik mungkin berhubungan dengan akibat tak langsung dari gangguan terkait alkoholisme . h. Radiasi Radiasi ionisasi dikenal menyebabkan gangguan hasil reproduksi, termasuk malformasi kongenital, restriksi pertumbuhan intrauterine,
5

dan kematian embrio . Pada tahun 1990, Komisi Internasional Terhadap Perlindungan Radiasi menyerankan untuk wanita dengan konsepsi tidak terpapar lebih dari 5mSv selama kehamilan . Penelitianpenelitian mengenai kontaminasi radioaktif memperlihatkan akibat Chernobyl yang meningkatkan angka kejadian abortus spontan di Finlandia dan Norwegia . III. PATOLOGI Pada awal abortus terjadilah perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan disekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan <8 minggu biasanya hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua lebih dalam. Pada kehamilan 8-14 minggu villi koriales menembus desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan >14 minggu umumnya dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin, disusul beberapa kemudian plasenta. IV. DIAGNOSIS Abortus harus diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh perdarahan pervaginam setelah mengalami haid terlambat, sering terdapat pula rasa mules. Harus diperhatikan macam dan banyaknya perdarahan; pembukaan serviks dan adanya jaringan dalam kavum uteri atau vagina. Differential diagnosis yang harus difikirkan adalah 1). Kehamilan ektopik terganggu; 2). Mola hidatidosa; 3). Kehamilan dengan kelainan pada serviks. Kehamilan ektopik terganggu terdapat keluhan nyeri yang lebih hebat dari pada abortus, pasien kadang merasa lemas dan pingsan. Pada Mola hidatidosa, uterus biasanya lebih besar daripada lamanya amenore dan muntah lebih sering.
6

Secara klinik abortus spontan dibedakan menjadi 5 subkelompok yaitu Abortus imminens Abortus imminens ialah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus dan tanpa adanya dilatasi serviks. Diagnosis abortus imminens ditentukan karena pada wanita hamil terjadi perdarahan melalui ostium uteri eksternum, disertai mules sedikit atau tidak sama sekali, uterus membesar sesuai usia kehamilan, serviks belum membuka dan tes kehamilan positif. Pada beberapa wanita hamil dapat terjadi perdarahan sedikit pada saat haid yang semestinya datang jika tidak terjadi pembuahan. Hal ini disebabkan oleh penebusan villi koriales kedalam desidua, pada saat implantasi ovum. Perdarahan implantasi biasanya sedikit, warnanya merah, cepat berhenti dan tidak disertai mules-mules. Penanganan abortus imminens terdiri atas: 1. Istirahat tirah baring, hal ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsangan mekanik. 2. Pemberian hormon progesteron 3. Pemeriksaan USG untuk memastikan apakah janin masih hidup. Abortus insipiens Abortus insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules lebih sering dan kuat, perdarahan bertambah. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vacum atau dengan cunam ovum disusul dengan kerokan. Pada kehamilan lebih dari 12 minggu biasanya perdarahan tidak banyak dan bahaya perforasi pada kerokan lebih besar, maka sebaiknya proses abortus dipercepat dengan pemberian infus oksitosin. Apabila janin sudah keluar tetapi plasenta masih tertinggal, sebaiknya pengeluaran plasenta dengan digital yang dapat disusul dengan kerokan bila masih ada sisa plasenta yang tertinggal. Bahaya perforasi pada hal terakhir ini tidak seberapa
7

besar karena dinding uterus menjadi tebal disebabkan sebagian hasil konsepsi telah keluar. Abortus inkompletus Abortus inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada tertinggal dalam uterus. Pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang-kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum. Perdarahan pada abortus inkompletus banyak, sehingga menyebabkan syok dan perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa hasil konsepsi dikeluarkan. Dalam penanganannya, apabila abortus inkompletus disertai syok karena perdarahan, segera harus diberikan infus cairan NaCl fisiologik atau cairan Ringer yang disusul dengan transfusi. Setelah syok diatasi, dilakukan kerokan. Pasca tindakan disuntikan IM, 1A metilergometrin untuk mempertahankan kontraksi uterus. Abortus Kompletus Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan, pada penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup dan uterus sudah mengecil. Tidak diperlukan pengobatan khusus karena hasil konsepsi sudah keluar semua. Missed Abortion Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin mati tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Etiologi belum diketahui secara pasti. Abortus habitualis Abortus habitualis adalah abortus spontanyang terjadi 3x atau lebih berturut-turut. Diagnosis abortus habitualis memberikan gambaran yang khas kehamilan triwulan kedua terjadi pembukaan serviks tanpa disertai mules.
8

Etiologi abortus habitualis sebagian besar tidak diketahui, sehingga penanganannya terdiri atas memperbaiki keadaan umum, pemberian makan yang sempurna, istirahat yang cukup, larangan koitus dan olah raga. Abortus infeksius, abortus septik Abortus infeksius adalah abortus yang disertai infeksi pada genitalia, sedang abortus septik adalah abortus infeksius berat disertai penyebaran kuman atau toksin kedalam peredaran darah atau peritonium. Diagnosis abortus infeksius ditentukan dengan adanya abortus yang disertai gejala dan infeksi alat genital, seperti panas, takikardi, perdarahan pervaginam yang berbau, uterus yang membesar, lembek, serta nyeri tekan dan leukositosis.apabila terdapat sepsis, penderita tampak sakit berat, kadangkadang menggigil, demam tinggi dan tekanan darah menurun. Untuk menghetahui kuman penyebab perlu diadakan pembiakan darah dan getah pada serviks uteri. Penanganan. Pada penderita dengan abortus infeksius yang telah mengalami banyak perdarahan hendaknya diberikan infus dan transfusi darah. Pasien segera diberi antibiotik (pilihan) a. Gentamicin 3x80mg dan penicillin 4x1,2jt; b. Chloromicetin 4x500mg; c. Cephalosporin 3x1gr; d. Sulbenicillin 3x1-2gr. Kuretase dilakukan dalam 6jam dan penanganan demikian dapat dipertanggungjawabkan karena pengeluaran sisa-sisa abortus mencegah perdarahan dan menghilangkan jaringan nekrotis, yang bertindak sebagai medium pembiakan bagi jasad renik. Pemberian antibiotika diteruskan sampai febris tidak ada lagi selama 2 hari atau ditukar bila tak ada perubahan dalam 2 hari. V. KOMPLIKASI ABORTUS 1. Perdarahan, perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
9

2. Perforasi, perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, perlu dicernati. Jika ada tanda bahaya segera dilakukan laparotomi. 3. Infeksi 4. Syok, syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (syok endoseptik).

10

PRESENTASI KASUS I. IDENTITAS PASIEN Nama Usia Paritas Alamat Tanggal Nomor RM II. ANAMNESIS a. Keluhan Utama Perdarahan hari ke 1, sehari 2x ganti pembalut. b. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dari IGD dengan keterangan Abortus Imminens. Pasien merasa hamil 2 bulan lebih, dengan keluhan perdarahan dr jalan lahir sehari yl (19,5 jam), mules (+), lemes(+) sehari 2x ganti pembalut, warna darah merah segar dan kehitaman, bau amis (-), Pusing (+). Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat penyakit jantung, DM, asma, alergi obat dan hipertensi disangkal. c. Riwayat Menstruasi Riwayat menstruasi teratur, siklus 35 hari, lama 5-7 hari. d. Riwayat Obstetri Anak I: Anak II: Anak III: Laki-laki, 10 tahun, lahir spontan dibantu bidan, BBL: 3200 gr, sehat. Laki-laki, 15 bulan, lahir spontan dibantu dokter, RSPS BBL: 3100gr, sehat. Hamil ini. Riwayat Kehamilan Sekarang Riwayat ANC di bidan.
11

: Ny. Sayekti Handayani : 32 Tahun : G3P2A0 : Palemadu, Sriharjo, Imogiri, Bantul : 14 Februari 2011 : 221141

Hari Pertama Menstruasi terakhir Hari Perkiraan Lahir Umur Kehamilan III. PEMERIKSAAN FISIK a. Keadaan Umum

: 14 Desember 2010 : 21 September 2011 : 9-1 minggu.

sedang, Compos Mentis, Tidak tampak anemis Tinggi Badan Berat Badan b. Vital Sign Tekanan Darah Nadi Respirasi Suhu c. Status Generalis Kepala Leher Dada Abdomen Ekstremitas Inspeksi Mata Dada Abdomen Ekstremitas Palpasi
12

: 153 cm : 66 kg

Lengkar Lengan Atas: 25cm : 130/90 mmHg : 82x/m : 20x/m : 36,40C : Konjunctiva tidak anemis, pupil isokor, lidah tidak kering. : Tidak ada pembesaran kelenjar limfonodi dan tiroid. : pernafasan kanan kiri simetris, tidak ada retraksi, tidak terdengar ronkhi maupun wheezing. : supel, NT(-), TFU belum teraba : Tidak ada oedema, dan penurunan turgor kulit.

d. Status Obstetrik : Konjunctiva tidak anemis : Hiperpigmentasi papila dan aerola mammae, kelenjar mammae membesar. : Perut terlihat membesar sesuai umur kehamilan, terlihat striae gravidanum, tidak terlihat luka bekas oprasi. : tidak terlihat oedema

Supel, NT (-), TFU belum teraba Pemeriksaan Dalam Vulva/uretra tenang, dinding vagina licin, portio mencucu, teraba jaringan (-), STLD (+). IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG HB : 11,3 gr% Angka Leokosit : 9,5 ribu/ul Angka Trombosit : 301 ribu/ul Hematokrit PPT APTT Control PPT Control APTT HbsAg : 34,5 % : 15,3 detik : 34,5 detik : 14,6 detik : 34,6 detik : Negatif Golongan Darah : O

DIAGNOSIS: Abortus Imminens Terapi : Pertahankan kehamilan Premaston 3x1tab Asam Mefenamat 3x500mg Asam folat 1x1 Awasi tanda-tanda perdarahan Tanggal 15 Februari 2011 Jam 5.00 Ax: Px: perdarahan pervaginam (+) mulai berkurang, Pusing (-), mules (+), lemes (-) KU: sedang, CM, tidak tampak anemis TD: 110/80 R:20x/m T:360C N:84x/m
13

Dx: Tx:

Abortus Imminens Pertahankan kehamilan Premaston 3x1tab Asam Mefenamat 3x500mg Asam folat 1x1 Awasi tanda-tanda perdarahan

Tanggal 16 februari 2011 Jam 05.40 Ax: Px: perdarahan pervaginam (+) mulai berkurang, Pusing (-), lemes (-) KU: sedang, CM, tidak tampak anemis TD: 110/80 R:22x/m T:36,40C N:84x/m Dx: Tx: Abortus Imminens Pertahankan kehamilan Premaston 3x1tab Asam Mefenamat 3x500mg Asam folat 1x1 Awasi tanda-tanda perdarahan BLPL

PEMBAHASAN
14

Pasien G3P2A0 datang dari IGD dengan keterangan Abortus Imminens. Pasien merasa hamil 2 bulan lebih, dengan keluhan perdarahan dr jalan lahir sehari yl (19,5 jam), mules (+), lemes(+) sehari 2x ganti pembalut, warna darah merah segar dan kehitaman, bau amis (-), Pusing (+). Hari Pertama Menstruasi terakhir 14 Desember 2010, dengan umur kehamilan 9-1 minggu. Riwayat menstruasi teratur, siklus 35 hari, lama 5-7 hari. Riwayat penyakit jantung, DM, asma, alergi obat dan hipertensi disangkal.Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sedang, compos menti dan tidak tampak anemis. Pada pemeriksaan ginekologi, Palpasi abdomen: Supel, NT (-), TFU belum teraba; Pemeriksaan Dalam:Vulva/uretra tenang, dinding vagina licin, portio mencucu, teraba jaringan (-), STLD (+). Dari periksaan diatas disimpulkan bahwa pasien didiagnosis Abortus imminens, hal ini disebabkan perdarahan pervaginam <20 minggu dan belum adanya dilatasi serviks serta janin masih ada didalam cavum uteri. Penanganan pada abortus imminens pada pasien yaitu Pertahankan kehamilan, Premaston 3x1tab, Asam Mefenamat 3x500mg, Asam folat 1x1, Awasi tanda-tanda perdarahan. Mempertahankan kehamilan dengan cara istirahat tirah baring, hal ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangna rangsangan mekanik. Pemberian premaston merupakan Allylestrenol yang akan meningkatkan kadar hormon plasenta seperti estrogen, progesteron, HCG (Human Chorionic Gonadotropin) dan HPL (Human Placental Lactogen), sehingga berguna untuk memelihara lapisan trofoblas pada plasenta. Pemberian asam mefenamat berguna untuk anti prostaglandin yang akan menghambat kontraksi di otot miometrium, sehingga pasien tidak merasa mulas. Asam folat diberikan karena pada trimester I merupakan pembentukan organik terutama organ otak, sehingga pemberian asam folat untuk mencegah defect neural tube dan mencegah terjadinya anemia. Penanganan pada pasien diatas sudah benar.

PR

15

KEGUNAAN DAN DOSIS ASAM FOLAT DALAM KEHAMILAN TRIMESTER I Asam folat pada masa kehamilan bermanfaat buat ibu hamil dan janin yang dikandung. Pada ibu hamil asam folat bermanfaat dalam mencegah timbulnya anemia megaloblastik, memperbaiki metabolisme tubuh dan mengurangi risiko terjadinya preeklampsia/eklampsia (tekanan darah tinggi dan kejang saat hamil). Pada janin kecukupan asam folat berperan dalam mengurangi risiko terjadinya kecacatan pada sistem saraf pusat (gangguan pada bumbung saraf/Neural Tube Defects (NTD) dan cacat lahir lainnya (bibir sumbing). Juga berperan mencegah terjadinya keguguran, sindroma down, solusio plasentae (plasenta yang copot dari tempat menempel di rahim), berat bayi lahir rendah. NTD yang terjadi bisa berupa anensefali/akraia (janin tanpa batok kepala), spina bifida (kelainan tulang belakang yang tidak menutup), meningo-ensefalokel (tidak menutupnya tulang kepala). Kelainan-kelainan tersebut disebabkan karena gagalnya tabung saraf tulang belakang untuk tertutup sebagaimana mestinya pada hari ke-28 pasca-konsepsi. Dosis asam folar untuk ibu hamil 400g/hari. Folat terutama terdapat dalam sayuran hijau (istilah folat berasal dari kata latin folium, yang berarti daun hijau), hati, daging tanpa lemak, serealia utuh, biji-bijian, kacang-kacangan, dan jeruk. Vitamin C yang ada dalam jeruk menghambat kerusakan folat. Bahan yang tidak banyak mengandung folat adalah susu, umbi-umbian, dan buah kecuali jeruk.

DAFTAR PUSTAKA
16

Cunningham, dkk, 2006. Obstetri William volume 2. EGC. Jakarta. Muray, dkk. 2009. Biokimia Harper. EGC. Jakarta Prawirohardjo, Sarwono. 2006. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka sarwono Prawirohardjo. Jakarta.

17