Anda di halaman 1dari 14

KOMPAS - Minggu, 4 Mei 01997 Semarang "Kaline" Banjir, Semarang "Laute" Banjir...

Semarang kaline banjir jo sumelang, yen ra dipikir... TEMBANG langgam Jawa yang pernah dinyanyikan pesinden ternama dari Solo, Waljinah, itu mendekati kenyataan. Kota Semarang, Ibu Kota Jawa Tengah, terkenal sering dilanda banjir. Dahulu karena sungai (kali) yang meluap. Kini, meskipun telah "dibuatkan" dua sungai besar penampungan dan pembuangan air bah yang dinamakan Kali Banjir Kanal, banjir itu tetap melanda. Tak cuma sungai di Semarang yang banjir. Bahkan laut turut banjir. "Jadi kini Semarang laute banjir. Tak sekadar kaline banjir," ujar Wakil Ketua DPRD I Jateng, HA Karmani. Omongan Karmani bukan kelakar. Tengoklah Kota Lama di dekat Pasar Djohar yang ternama atau di sekitar Stasiun Tawang dan Pelabuhan Tanjung Emas. Pasti ada air yang menggenang. Itu bukan sisa hujan semalam serta banjir yang belum surut. Itu genangan air yang disebut rob, banjir yang disebabkan pasangsurut air laut yang tertinggal di daratan. Karena itu, air banjir rob terasa payau dan lebih berdaya merusak dibanding air banjir kiriman atau lokal. Lokakarya pengendalian banjir dan rob yang diagendakan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro dan Pemda Kodya Semarang menyimpulkan, banjir rob terjadi karena permukaan tanah yang lebih rendah daripada muka air laut dan penurunan permukaan tanah. *** AIR rob lebih merusak dibanding banjir biasa. Ini diakui warga perumahan Tanah Mas, satu kompleks elite di wilayah utara Semarang. Perumahan yang dihuni awal tahun 1979 itu sekitar sepuluh tahun terakhir ini menjadi wilayah langganan banjir rob. Rob telah menjadikan keadaan berubah. Berkeliling di kawasan perumahan yang terdiri sekitar 5.000 unit rumah itu tak sulit mencari rumah yang rusak, porak-poranda. Dindingnya yang kumuh tidak terawat, pecah-pecah, bahkan nyaris runtuh. Rumah yang dulunya mewah terbengkalai, ditinggalkan penghuni begitu saja. Rumah-rumah yang masih dihuni memang lebih banyak. Bahkan tutur Ny Hj Munira Suharto, Lurah Panggung Lor, yang membawahi semua daerah perumahan Tanah Mas, sekitar 95 persen rumah di kompleks itu sekarang masih dihuni, namun wajah rumah lama sudah tak tampak lagi. Pemiliknya mesti merenovasi agar rumah itu layak dihuni. Sebagian besar rumah di perumahan Tanah Mas berubah menjadi lebih rendah dibanding jalan yang ada di sekitarnya. Bahkan ada yang sampai setengah meter lebih rendah dari jalan. Ini tidak cuma terjadi pada sebuah bagian kompleks, tetapi merata di setiap wilayah Tanah Mas. Ini terjadi, kata Ny Munira, karena air rob sering menggenangi jalanan. Karena itu, warga

meninggikan jalan yang ada. Namun banjir rob tetap datang juga, sehingga jalanannya juga semakin meninggi. Hal ini berlangsung selama beberapa tahun sejak tahun 1988-an. Akibatnya rumah-rumah di kawasan Tanah Mas mirip rumah di bawah tanah. *** BANJIR rob yang melanda Tanah Mas hampir tiap hari memang telah merusak jalanan. Namun itu belum seberapa dibanding penderitaan yang dialami penghuninya. Surya (60), seorang warga yang menghuni Jl Tambak Mas menyatakan telah dua kali menaikkan dinding rumahnya. Ini dilakukan, karena dinding rumah itu amblas, masuk ke dalam tanah. "Jika rumah di sini kelihatan lebih rendah dibanding jalan bukan hanya karena jalannya ditinggikan. Tetapi juga karena rumahnya ambles. Dulu waktu saya mulai tinggal di perumahan ini, sekitar lima tahun lalu, pipa PAM masih kelihatan di permukaan tanah. Kini pipa itu sudah terbenam sedalam 1,5 meter." Ny Sugi (45), penghuni Jl Tambak Mas pun mengaku terpaksa harus meninggikan dinding rumahnya agar tetap bisa ditinggali. Dua kali ia harus meninggikan dinding rumah itu, sekitar satu meter, sebab rumah yang ditinggalinya sejak sepuluh tahun lalu tiba-tiba terasa teramat rendah. Selain dilanda rob, kompleks itu juga mengalami masalah penurunan permukaan tanah. Setiap tahunnya, tanah di wilayah Tanah Mas amblas sekitar 7,5 cm. Sebab itu, bukan mustahil warga meninggikan dinding rumahnya sampai satu meter agar tetap bisa dihuni. "Tanah di perumahan Tanah Mas semula berupa rawa-rawa yang diuruk (ditimbun tanah). Barangkali karena kurang padat menimbunnya, tanah di sini turun lagi. Diduga pada kedalaman tertentu penurunan itu akan berakhir," jelas Bu Lurah. *** NY Munira menuturkan, untuk mengatasi banjir rob semula tak ada upaya terkoordinasi yang dilakukan warga. Mereka secara sendiri-sendiri "membuang" air rob dari halaman rumahnya, meninggikan tanah pekarangan, membuat "bendungan" pelindung rumahnya serta meninggikan dinding rumah. Warga yang mampu, sekitar 70 persen penguni perumahan Tanah Mas adalah WNI (Warga Negara Indonesia) keturunan, dapat mudah "menghalau" air rob dari rumahnya dengan berbagai upaya. Warga yang kurang mampu menjadi korban. Akibatnya, sering terjadi cekcok antar warga. Untuk mereka yang tidak betah, ya meninggalkan rumahnya begitu saja. Apalagi rumah itu masih kredit dari bank. Baru pada awal tahun 1996 muncul kesadaran baru penghuni Tanah Mas. Setelah hampir sepuluh tahun dilanda banjir rob dan penurunan permukaan tanah, warga berswadaya membangun pompa pengendali banjir. Sepuluh pompa pengendali dipasang di seluruh penjuru Kompleks Tanah Mas. Pompa-pompa itu secara otomatis membuang air bila ada rumah warga yang tergenang. "Untuk mendirikan pompa pengendali banjir ini dibutuhkan biaya sekitar Rp 355 juta. Hampir seluruh biaya itu ditanggung warga Tanah Mas secara swadaya. Developer PT Tanah Mas membantu pem-buatan rumah untuk pompa. Sedangkan bantuan

pemda seperti yang dijanjikan, sampai saat ini belum turun juga," ungkap Lurah Panggung Lor. Pembangunan pompa pengendali banjir di perumahan Tanah Mas menerapkan betul prinsip pemerataan. Warga yang mampu menyumbang Rp 87.500 per KK (Kepala Keluarga), sedang yang menghuni rumah tipe kecil, paling rendah memberi kontribusi Rp 20.000 per KK. Setiap bulan mereka masih ditarik lagi untuk biaya perawatan pompa serta mengupah pegawai yang menjaganya, antara Rp 1.000 - Rp 1.500 per KK. Sekarang tak tampak lagi genangan air rob di kompleks itu. Warga yang dulu meninggalkan rumahnya, kini kembali meninggalinya. *** PROBLEMA rob dan penurunan permukaan tanah di Semarang bukanlah masalah warga setempat saja. Subdirektorat Hidrogeologi Geologi Tata Lingkungan (Bandung) tahun 1994 telah melakukan penelitian soal itu. Terungkap, penurunan permukaan tanah di Semarang Utara dalam beberapa tahun ini mencapai sekitar 20 cm. Penurunan permukaan tanah, antara lain terlihat di Muara Kali Garang serta pesisir utara Semarang, telah menyebabkan lantai bangunan retak-retak. Hal ini diperburuk adanya intrusi air laut. Penelitian yang dilaksanakan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Undip bekerjasama dengan Bapedalda Kodya Semarang tahun 1995 menunjukkan, intrusi air laut telah sampai di wilayah Simpang Lima, Jrakah atau Pasar Djohar yang terletak tak kurang dari 10 kilometer dari pantai. Dari hasil ini dapat dibayangkan apa yang terjadi pada kompleks Tanah Mas yang berada kurang satu kilometer dari pantai. Terjadinya penurunan permukaan tanah di Semarang, genangan air rob dan instrusi air laut sebenarnya tak terlepas dari sejarah kota ini sendiri. Sejarawan Semarang, Amen Budiman dalam bukunya Semarang Riwayatmu Dulu yang mengutip pendapat pakar Geologi Belanda, Prof Dr Ir RW van Bemmelen mengungkapkan, jalur pantai yang berupa tanah muda di Semarang berkembang cepat: dua kilometer selama 2,5 abad. Lima abad lalu diperkirakan "kota bawah" Semarang -termasuk kawasan Simpanglima- masih berupa lautan. (xjb/tra) ___________________________________________________________________________ IAI-NET hosted by UniINTERNET send "unsubscribe iai" in body-text to majordomo@kopyor.ub.net.id for unsub _________________________________________________________________________ Tabloid-Arsitek ub.net.id send "unsubscribe Tabloid-Arsitek" to majordomo@kopyor.ub.net.id to unsub

Banjir rob memerlukan pencegahan dan penanganan yang serius


9 November 2009 Banjir rob kembali menggenangi pantai Jakarta utara Kamis (5/11). Kali ini permukiman nelayan di kawasan Marunda terendam banjir rob setinggi 60-80 sentimeter dan merendam 500 rumah. Banjir ini telah berlangsung sejak 2007 dan hingga saat ini penanganan yang dilakukan oleh pemerintah masih kurang. Menanggapi fenomena ini, Abdul Halim selaku koordinator program KIARA menuturkan bahwa pemerintah perlu lebih berpihak kepada nelayan. Menurut Abdul, selama ini pengelolaan wilayah pesisir Jakarta utara diprioritaskan bagi pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dinilai kurang berpihak pada perlindungan dan penyelamatan nelayan dan masyarakat pesisir. Pemerintah perlu melakukan langkah-langkah yang tepat untuk mencegah dan menanggulangi dampak banjir rob. Penanganan dan pencegahan yang lebih mendasar antara lain adalah mengevaluasi tata ruang wilayah DKI Jakarta dengan pembuatan rencana tata ruang wilayah yang lebih mengedepankan prinsip perbaikan lingkungan hidup dan tanggap atas pelbagai potensi bencana yang bakal terjadi, tutur Abdul. Untuk saat ini, langkah darurat yang perlu dilakukan adalah dengan bertindak langsung kepada korban banjir rob. Langkah tersebut yakni memberikan bantuan terhadap korban banjir seperti penyediaan tempat pengungsian yang layak, makanan, air bersih, dan obatobatan. Pemerintah DKI Jakarta juga harus meninjau-kembali Rencana Induk Penanggulangan Banjir Jakarta agar lebih akomodatif terhadap kepentingan nelayan tradisional dan masyarakat pesisir. Jika tak segera dilakukan, kenaikan paras muka laut akan membanjiri daerah Jakarta seluas lebih kurang 160,4 kilometer persegi atau 24,3 persen dari luas Jakarta pada 2050. Pada tahun itu akan terjadi akumulasi banjir akibat curah hujan dan kenaikan paras muka laut. Lima kecamatan di Jakarta Utara bakal terendam banjir, yakni Cilincing, Koja, Tanjung Priok, Pademangan, dan Penjaringan. Dua obyek penting yang ikut terendam adalah Bandar Udara Soekarno-Hatta dan Pelabuhan Tanjung Priok, tutur Halim Menurut Abdul ketika terjadi banjir rob tahun 2008, Pemerintah DKI Jakarta berencana memperbaiki tanggul yang jebol, namun hingga saat ini belum selesai. Selain tanggul, Pemerintah juga pernah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 54 /2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jabodetabek-Puncur pasca banjir yang menenggelamkan Tol Sedyatmo pada Februari 2008. Senada dengan Abdul Halim, Selamet Daroyni dari Institut Hijau Indonesia menuturkan bahwa PP Nomor 54 / 2008 bisa menjadi acuan menata wilayah pembangunan agar lebih ramah lingkungan bagi Pemerintah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Sayangnya, seperti diutarakan sebelumnya, pembangunan yang dilakukan adalah pendirian Kawasan Ekonomi Khusus bukannya penyelamatan lingkungan dan masyarakat pesisir.

Untuk mengatasi hal ini, adaptasi yang paling efisien untuk menanggulangi banjir ini adalah dengan menyelesaikan pembangunan tanggul di wilayah tersebut yang hingga sekarang belum selesai. Sehingga apa yang dialami oleh nelayan tidak akan lagi dialami di kemudian hari. Banjir rob sudah terjadi sejak 2007 dan mengakibatkan banyak kerugian bagi nelayan dan masyarakat pesisir utara Jakarta. Badai rob terjadi karena pengaruh pengaruh bulan baru dan bulan purnama, gelombang laut, serta kecepatan dan arah angin. Berdasarkan pengamatan nelayan, rob selalu terjadi pada November, Desember, dan Januari. Sayangnya, hingga saat ini pemerintah masih belum terlihat serius membantu masyarakat sekitar untuk beradaptasi dengan fenomena ini. (RR)

Strategi Pemkot Pekalongan Atasi Rob Rabu, 28 April 2010 09:31 WIB Penulis : Akhmad Safuan CETAK KIRIM FACEBOOK Buzz up! PEKALONGAN--MI: Banjir air laut pasangan (rob) masih menjadi ancaman bagi daerah pantura. Bahkan, setiap tahun ketinggian terus meningkat. Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan, Jawa Tengah, mulai mengatasi banjir dari laut tersebut dengan membangun perangkat pengamanan seperti membangun tanggul, kolam penampungan, dan pintu air. Pemantauan Media Indonesia di Pekalongan, Rabu (28/4), banjir akibat air laut pasang (rob) hingga saat ini terus menggenangi. Kondisinya semakin memprihatinkan. Jika sebelumnya ketinggian air berkisar 10 - 20 sentimeter pada saat rob datang, kini telah mencapai di atas 40 sentimeter. Bahkan, radius rob juga meluas dari tahun sebelumnya yang hanya berkisar satu kilometer dari bibir pantai kini telah mencapai hingga 2 - 3 kilometer. "Banyak rumah di sini sudah ditinggal pemiliknya pindah ke wilayah lain, karena rob telah mencapai ketinggian 50 sentimeter menggenangi jalan dan masuk ke dalam rumah setiap harinya," kata Riyanto, warga perumahan panjang, Kota Pekalongan. Kondisi ini juga terjadi di kelurahan lain, seperti Tirto, Panjang Baru, Bandengan, dan Krapyak Lor yang sebelumnya tak pernah tersentuh rob. Karena itu, pada saat banjir air laut pasang tersebut datang pada siang hingga petang hari, selain mengganggu aktivitas warga, juga menimbulkan aroma tak sedap dan mengganggu kesehatan. "Biasanya penyakit gatal akan muncul jika banjir mulai datang," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan Dwi Heri Wibowo. Wali Kota Pekalongan Basyir Achmad mengatakan untuk mengatasi banjir rob Pemkot Pekalongan telah melakukan kerja sama dan mendatangkan tim ahli dari Swedia dan Belanda. Hasil kajian tersebut dalam wqaktu dekat akan diterapkan setelah melakukan inventarisasi luasan wilayah terjangan rob. Selain menggenangi perkampungan penduduk, rob bahkan telah mengganggu kerja pemerintah. Soalnya, beberapa kantor juga tergenang seperti kantor Dinas Kelautan dan Perikanan yang berada di radius dua kilometer dari bibir pantai. Selain itu, kantor pelayanan warga seperti puskesmas, kantor kecamatan, dan kantor kelurahan. "Berdasarkan analisa, setiap tahun genangan air meningfkat sebanyak 0,85 sentimeter. Dapat dibayangkan jika 10 tahun ke depan ketinggian air di daerah pantai ini," kata Basyir. Disinggung mengenai upaya dilakukan, Basyir mengatakan Pemkot Pekalongan telah menganggarkan puluhan miliar rupiah untuk mengatasi rob tersebut. Dalam waktu dekat akan 0 Komentar 0 0

dibangun tiga kolam penampungan air (folder) di tiga tempat yaitu Panjang Baru, Bandengan, dan Krapyak Lor. Selain itu, penanaman hutan mangrove juga terus dilakukan sebagai sabuk pengaman pantai, dibangun tanggul di sepanjang pesisir, serta dibuatkan pintu air dengan kanal khusus yang dapat dibuka dan ditutup. "Kalau banjir datang, maka pintu air langsung ditutup dan dibuka setelah air pasang

Modul Pelatihan Pembangunan Pintu Air


PANDUAN PEMBANGUNAN INSTALASI TATA AIR UPT LAMUNTI download lengkap dengan foto disini Disusun oleh : SLUICES Team Kata Pengantar Dalam pemanfaatan lahan usaha di lokasi UPT Lamunti, masyarakat mengalami kendala dalam pengelolaan air. Puluhan bangunan yang telah dibangun pada saat pembukaan awal lokasi PLG didesain dengan perencanaan yang tidak site specific, sehingga tidak dapat dimanfaatkan. Bekerja sama dengan LPPM IPB, SLUICES Project dan masyarakat telah melakukan studi di lokasi UPT Lamunti dan telah menghasilkan rekomendasi desain yang akan dibangun bersama-sama dengan masyarakat. Besar harapan kita akan adanya sebuah pengelolaan lahan usaha yang memaksimalkan fungsi kanal yang telah ada yang tentunya akan membuat hasil usaha akan menjadi lebih optimal. Lima Jenis Rekomendasi Desain 1. Desain pintu tipe I Bangunan kontrol Tipe 1 merupakan bangunan kontrol yang telah ada (eksisting) di lapangan akan tetapi menggunakan jenis pintu sorong sehingga menghasilkan tipe aliran underflow. Rancangan perbaikan untuk pintu Tipe 1 dengan penggantian pintu airnya kemudian memasangkan pelat precast segmental satu persatu pada alur stop log sampai pada elevasi muka air rencana. 2. Desain pintu tipe II Bangunan kontrol Tipe 2 merupakan bangunan kontrol yang telah ada (eksisting) di lapangan menggunakan jenis pintu sorong akan tetapi badan bangunan terbentuk dari pelat pracetak eksisting dan tidak tersedia alur stop log. Perbaikan untuk rancangan pada Tipe 2 meliputi penggantian pintu air tipe sorong tersebut, memasang klos kayu 5/7 sebagai alur yang dibaut pada pelat, setelah itu memasang pelat precast segmental satu persatu sampai pada elevasi muka air rencana. 3. Desain pintu tipe III Bangunan kontrol Tipe 3 merupakan bangunan kontrol baru di lokasi bangunan lama yang sudah rusak parah atau di lokasi dengan yang memang belum pernah dibangun pintu air. Bangunan ini juga menggunakan pintu stop log overflow dengan menggunakan pelat pre-cast segmental. 4. Desain pintu tipe IV Bangunan kontrol tipe 4 yaitu bangunan kontrol dengan stop log precast dan ditambah pintu ayun (flap gate). di desa A3 dan C1. Pintu ayun merupakan pintu dengan sistem klep dimana daun pintu bersifat fleksible. Pada saat muka air di hulu (upstream) lebih tinggi daripada muka air di hilir (downstream) maka secara otomatis pintu membuka. Pintu ini baik untuk

digunakan daerah pasang surut cukup besar yang berpotensi mengganggu pencucian air masam pada musim hujan. 5. Desain pintu tipe V Bangunan kontrol tipe 5 merupakan bangunan pintu air lama lengkap dengan stop log nya sehingga rekonstruksi pintu air mengacu kepada bangunan kontrol tipe 1 akan tetapi pada bangunan kontrol tipe 5 dilengkapi dengan pintu ayun sedangkan pada bangunan kontrol tipe 1 tidak. Tipe pintu ayun untuk bangunan kontrol tipe 5 sama dengan desain pintu ayun bangunan kontrol tipe 4. Melihat kondisi dilapangan, maka perlu dibangun tambahan badan bangunan dari material kayu galam untuk penempatan pintu ayun beserta rangkanya. PELAT PRE CAST SEGMENTAL Pelat precast segmental merupakan pelat beton pracetak yang berfungsi sebagai pintu air untuk menghasilkan tipe aliran over flow yang disusun secara bertumpuk sesuai dengan rencana elevasi muka air Ukuran 80 cm x 30 cm x 5 cm = 28.8 kg/segmen (ukuran besar) Ukuran 80 cm x 20 cm x 5 cm = 19.2 kg/segmen (ukuran sedang) Ukuran 80 cm x 15 cm x 5 c m = 14.4 kg/segmen (ukuran kecil) (Sebagai asumsi berat volume beton = 2 400 kg/m3 dan lebar saluran 80 cm) Keterangan: 1 = Precast uk. 80 cm x 30 cm x 5 cm (ukuran Besar) 2 = Precast uk. 80 cm x 20 cm x 5 cm (ukuran Sedang) 3 = Precast uk. 80 cm x 15 cm x 5 cm (ukuran Kecil) Penjelasan tahapan kerja umum Cetakan beton (fomrwork) Cetakan beton (formwork) adalah suatu sarana pembantu struktur beton untuk mencetak beton sesuai ukuran, bentuk, rupa, ataupun posisi serta alinyemen yang dikehendaki. Cetakan beton harus sesuai dengan ukuran teknis dari gambar rencana guna menghasilkan pelat precast yang seragam. Pada pekerjaan pembangunan instalasi tata air Lamunti, material pembentuk cetakan berupa multiplex dan kayu kaso 5/7. Di bawah ini menggambarkan model desain cetakan beton tersebut (Gambar 6.21). Pada bangunan pintu air eksisting memilki lebar saluran yang bervariasi. Oleh karena itu cetakan didesain fleksibel, sehingga dapat digunakan dalam berbagai ukuran lebar saluran. Untuk sisi 1, 2 dan 3 (Gambar 6.21) dibuat statis dengan memaku batang kaso ke multiplex. Sedangkan pada sisi 4 dibuat fleksibel sehingga dapat digeser sesuai kebutuhan lebar saluran di lapangan. Arah pergeseran keluar untuk lebar saluran lebih besar dan sebaliknya pergeseran ke dalam untuk lebar saluran lebih kecil. Pembesian Adalah penyiapan rangka bangunan sebelum dilakukan pengecoran, rangka yang dimaksud adalah tulangan baja. Pembuatan rangka ini disesuaikan dengan kebutuhan kekuatan bangunan. Pada umumnya tulangan mencapai luas 10 % dari luas penampang struktur. Sementara pada pekerjaan di Lamunti, pekerjaan pembesian menggunakan besi polos 10 mm, yang dirangkai dengan jarak rata rata (10 cm x 10 cm) yang luasannya disesuaikan dengan ukuran lebar pintu. Setelah rangkaian besi selesai, kemudian besi diletakkan di atas cetakan beton yang telah dilapisi plastik PE kemudian untuk mempertahankan posisi tulangan

di tengah-tengah badan cetakan maka dipasang beton decking dengan ukuran 2 cm x 2 cm x 2 cm. Pengecoran Pengecoran berarti memasukkan campuran semen ke dalam cetakan yang telah disediakan. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : Pengecoran dilakukan setelah besi terpasang dan cetakan dikunci. Mutu beton yang digunakan (fc) 22.5 Mpa (K.225) Pada saat pengecoran perlu dilakukan penusukan pada beton agar tidak terdapat rongga-rongga beton. Setelah pekerjaan pengecoran, kemudian dilakukan perawatan beton dengan selalu membasahi permukaan beton yang terbuka. Apabila beton mencapai umur kering (7 hari) maka cetakan dibuka dengan mengendurkan kunci baut pada sisi 4 (sisi fleksibel) kemudian pelat precast dikeluarkan secara perlahan. Tahapan produksi tersebut diulang terus menerus sampai jumlah precast yang dibutuhkan terpenuhi. Penjelasan mengenai bahan Mutu beton Beton merupakan campuran semen portland, air, agregat kasar, dan agregat halus. Mutu beton yang digunakan adalah 22.5 Mpa (K.225) untuk pelat precast segmental yang didapat dengan takaran campuran adalah 1 PC : 2 Pasir : 3 Krikil : 0.5 air. Selain itu, beton yang digunakan harus merupakan beton yang sejenis untuk menjaga kualitas beton yang merata. Air Air yang dipergunakan untuk mencampur semen dengan agregat adalah air yang bersih dari kotoran, seperti: lemak, minyak, garam, lumpur, dan bahan organik lainnya yang dapat berpengaruh terhadap mutu dan stabilitas beton. Air yang akan digunakan harus mendapat persetujuan dari pengawas. Agregat halus Agregat halus yang akan digunakan harus bersih, bergradasi baik, dan berasal dari pasir alam. Agregat halus harus disetujui oleh konsultan pengawas sebelum digunakan. Agregat kasar Agregat kasar merupakan material alam yang diproduksi melalui proses pemecahan menggunakan mesin pecah sehingga menghasilkan kerikil bergradasi merata. Butiran harus bersih dan tajam sehingga menghasilkan pengikatan yang lebih kuat dengan semen. Agregat kasar harus bersih dari bahan organik dan non organik seperti potongan kayu, sampah plastik, dan kotoran lain yang dapat mengganggu. Kontraktor harus mendapat persetujuan konsultan pengawas mengenai agregat kasar yang akan digunakan. Penyimpanan material Penyimpanan material semen harus di tempat yang terlindung dari pengaruh faktor cuaca. Hal ini bertujuan menjaga semen agar tetap pada kondisi normal sebelum digunakan. Penyimpanan semen di gudang dengan kondisi suhu tidak lembab. Penyimpanan semen tidak boleh terlalu lama, maksimal penyimpanan adalah 30 hari dan harus disetujui oleh konsultan pengawas. Semen tidak boleh ditumpuk lebih dari 10 tumpuk. Penyimpanan agregat kasar dan halus harus terpisah dan tidak boleh tercampur dengan material lainnya Mixer Beton harus diaduk dengan alat pengaduk (mixer) atau dengan metoda manual (cangkul dan sekop). Pekerjaan mencampur beton dilakukan di lokasi produksi pelat precast segmental hal ini dikarenakan metoda konstruksi yang diaplikasikan adalah metode beton pracetak. Mixer yang digunakan dapat berupa mixer manual dengan pengoperasian menggunakan tenaga kerja (diputar secara manual). Cetakan (formwork)

Cetakan/formwork yang digunakan adalah berbahan kayu kaso 5/7 dan multiplex tebal 12 mm. Cetakan harus sesuai dengan gambar teknis rencana cetakan mengenai garis, dimensi, dan bentuk. Sebelum digunakan, cetakan harus dilapisi plastik PE pada bagian yang akan kontak langsung dengan beton. Jumlah cetakan disesuaikan dengan kebutuhan untuk dapat memproduksi pelat precast segmental secara massal. Selain itu cetakan dapat digunakan kembali dalam jangka waktu tertentu, oleh karena itu setelah digunakan agar dibersihkan dan disimpan pada tempat yang aman dari pengaruh cuaca. Konsultan pengawas harus mengecek ulang dan menyetujui, mengenai bentuk, dimensi, dan hal lain yang dianggap penting dalam menjamin ketepatan hasil pelat precast segmental. Pelaksanaan pekerjaan pelat precast segmental Pelaksanaan pekerjaan produksi pelat precast segmental dilakukan sebelum pekerjaan konstruksi bangunan kontrol/pintu air dilaksanakan. Tahapan pekerjaan sebagai berikut: - Produksi cetakan (formwork) - Pemotongan besi dan perangkaian besi tulangan - Produksi decking ukuran 2 cm x 2 cm x 2 cm - Mencampur material menjadi beton - Melapisi cetakan dengan plastik PE - Memasang besi ke dalam cetakan, kemudian pasang decking di bawah tulangan besi. - Kunci cetakan sesuai dengan kebutuhan lebar saluran - Pengecoran, tusuk-tusuk adukan agar beton merata - Perawatan beton basah menjadi kering. Produksi pelat precast dilakukan dalam jumlah banyak, sesuai kebutuhan di lapangan. Pekerjaan Besi Tulangan Lingkup kerja Pekerjaan besi tulangan merupakan seluruh pekerjaan pembesian untuk betun bertulang. Pekerjaan pembesian dilakukan sesuai dengan spesifikasi dan gambar teknis desain. Besi tulangan merupakan elemen penahan tarik yang bekerja sama dengan beton membentuk struktur beton bertulang. Besi tulangan yang digunakan adalah 10 mm polos mutu U-24 dengan kekuatan tarik ijin = 1400 kg/cm2 (fy = 140 Mpa).. Hubungan antar besi diikat dengan kawat tali diameter 0.9 mm. Penyimpanan material Material besi tulangan yang belum digunakan harus disimpan ditempat yang terlindung oleh pengaruh cuaca. Bantalan penyimpanan besi dari balok kayu dengan tinggi 30 cm diatas muka tanah. Besi harus terhindar dari lumpur atau kotoran lainnya yang dapat menyebabkan korosi. Pelaksanaan pekerjaan Pelaksanaan pekerjaan besi tulangan adalah meliputi pemotongan besi sesuai dengan gambar teknis desain. Kemudian perangkaian besi tulangan dengan pengikatan kawat tali diameter 0.9 mm. Apabila besi telah siap maka besi tulangan tersebut diletakan pada cetakan beton (formwork) dan diberi ganjalan dari beton decking ukuran 2 cm x 2 cm x 2 cm dengan mutu beton sama. Pekerjaan Pemancangan Lingkup kerja Pekerjaan pemancangan meliputi pekerjaan pemancangan kayu gelam 10 cm ke dalam tanah sesuai gambar rencana. Pekerjaan pemancangan hanya termasuk dalam pekerjaan bangunan kontrol tipe 3 atau bangunan baru. Sehingga perlu dibangun badan bangunan kontrol yang belum ada dengan material kayu gelam. Material yang digunakan untuk

pembangunan badan bangunan kontrol tipe 3 adalah kayu gelam 10 cm. Pelaksanaan pekerjaan Pelaksanaan pekerjaan badan bangunan kontrol adalah dengan memancangkan kayu gelam 10 cm sesuai dengan gambar rencana. Kemudian bagian dalam bangunan dilapisi dengan plastik PE untuk mencegah tanah urug keluar badan bangunan. Setelah itu pekerjaan dilanjutkan dengan mengurug tanah sampai bagian kosong badan bangunan tertutupi dan rata terhadap muka tanah. Metode Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Kontrol Tipe 1 - Pengangkutan pelat precast segmental ke lokasi pintu air - Pembersihan area bangunan kontrol - Pemotongan tiang besi pintu sorong - Pengangkatan pintu sorong - Pembuatan cover dam (dari material plastik PE dan bambu) untuk pengeringan sementara saluran selama proses pekerjaan plesteran lantai saluran dan pekerjaan cut off saluran (Gambar 6.22). - Pekerjaan beton lantai saluran dari material beton tidak bertulang campuran 1 Portland Cement : 2 Pasir : 3 Kerikil : 0.5 Air ( tebal lantai saluran = 20 cm ) - Pemancangan kayu gelam berbaris melintang di dasar saluran sedalam 1 meter rata pemukaan lantai saluran sebagai cut off - Pemasangan pelat precast segmental - Selesai Bangunan Kontrol Tipe 2 - Pengangkutan pelat precast segmental ke lokasi pintu air - Pembersihan area bangunan kontrol - Pemotongan tiang besi pintu sorong - Pengangkatan pintu sorong - Bor pelat precast eksisting untuk pemasangan klos kaso 5/7 - Pemasangan klos kaso 5/7 dengan baut - Pembuatan cover dam (dari material plastik PE dan bambu) untuk pengeringan sementara saluran selama proses pekerjaan plesteran lantai saluran dan pekerjaan cut off saluran - Pekerjaan beton lantai saluran dari material beton tidak bertulang campuran 1 Portland Cement : 2 Pasir : 3 Kerikil : 0.5 Air, tebal 20 cm - Pemancangan kayu gelam berbaris melintang di dasar saluran sedalam 1 meter rata pemukaan lantai saluran sebagai cut off - Pemasangan pelat precast segmental - Selesai Bangunan Kontrol Tipe 3 - Pengangkutan pelat precast segmental ke lokasi yang direncanakan - Pembersihan lokasi - Pemasangan bambu-bambu melintang di saluran untuk jembatan sementara - Pemasangan bowplank - Pemancangan kayu gelam 10 cm - Bracing antar kayu - Pemasangan plastik PE atau terpal - Urugan tanah di bagian badan bangunan

- Pemadatan dan perataan - Pembuatan cover dam (dari material plastik PE dan bambu) untuk pengeringan sementara saluran selama proses pekerjaan plesteran lantai saluran dan pekerjaan cut off saluran - Pekerjaan beton lantai saluran dari material beton tidak bertulang campuran 1 Portland Cement : 2 Pasir : 3 Kerikil : 0.5 Air, tebal lantai saluran 20 cm - Pemancangan kayu gelam berbaris melintang di dasar saluran sedalam 1 meter rata pemukaan lantai saluran sebagai cut off - Pemasangan pelat precast segmental - Pembuatan jembatan pelayanan dari bambu - Selesai Bangunan Kontrol Tipe 4 - Pengangkutan panel pintu ayun, rangka pintu ayun, dan pelat precast segmental ke lokasi yang direncanakan - Pembersihan lokasi - Pemasangan bambu-bambu melintang di saluran untuk jembatan sementara - Pemasangan bowplank - Pemancangan kayu gelam 10 cm untuk badan bangunan - Bracing antar kayu gelam - Pemasangan plastik PE atau terpal - Urugan badan bangunan - Pemadatan dan perataan. Pekerjaan badan bangunan kontrol selesai, kemudian dilanjutkan ke pekerjaan saluran - Pembuatan cover dam (dari material plastik PE dan bambu) untuk pengeringan sementara saluran selama proses pekerjaan plesteran lantai saluran dan pekerjaan cut off saluran - Pekerjaan plesteran lantai saluran dari material beton tidak bertulang campuran 1 Portland Cement : 2 Pasir : 3 Kerikil : 0.5 Air, tebal lantai saluran 20 cm - Pemancangan kayu gelam berbaris melintang di dasar saluran sedalam 1 meter rata pemukaan lantai saluran sebagai cut off - Pemasangan rangka pintu ayun - Bracing rangka pintu ayun dengan badan bangunan - Pemasangan panel pintu ayun - Pemasangan pelat precast segmental - Pembuatan jembatan pelayanan dari bambu - Selesai Bangunan Kontrol Tipe 5 - Pengangkutan panel pintu ayun, rangka pintu ayun, dan pelat precast segmental ke lokasi - Pembersihan lokasi - Pemotongan tiang besi pintu sorong - Pengangkatan pintu sorong - Pemancangan kayu galam 10 cm untuk badan bangunan tambahan - Bracing antar kayu galam - Pemasangan plastik PE atau terpal - Urugan badan bangunan - Pemadatan dan perataan. Pekerjaan badan bangunan kontrol selesai, kemudian dilanjutkan ke pekerjaan saluran - Pembuatan cover dam (dari material plastik PE dan bambu) untuk pengeringan sementara saluran selama proses pekerjaan beton lantai saluran dan pekerjaan cut off saluran - Pekerjaan beton lantai saluran dari material beton tidak bertulang campuran 1 Portland Cement : 2 Pasir : 3 Kerikil : 0.5 Air ( tebal lantai saluran = 20 cm ) - Pemancangan kayu gelam berbaris melintang di dasar saluran sedalam 1 meter rata

pemukaan lantai saluran sebagai cut off - Pemasangan rangka pintu ayun - Bracing rangka pintu ayun dengan badan bangunan sistem angkur Dynabolt - Pemasangan panel pintu ayun - Pemasangan pelat precast segmental - Selesai