Anda di halaman 1dari 13

1

PRAKTIKUM FARMAKOLOGI TOKSIKOLOGI I


PERCOBAAN VI
OBAT YANG MEMPENGARUHI SISTEM RESPIRASI
(AKTIVITAS MUKOLITIK)






Tanggal Praktikum : 31 Oktober 2011
ShiI : B
Kelompok : 6
Mauliddya Nuryatin (10060309067)
Leonard Azdarisha (10060309068)
Prima Ekawati Wahyuni (10060309069)
Afaf Abdul Hamid (10060309070)
Irwan Setiawan (10060309071)
Asisten : Nita Lukitawati, S.Farm
LABORATORIUM FARMAKOLOGI TOKSIKOLOGI I UNIT D
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1432H - 2011M






PERCOBAAN VI

OBAT YANG MEMPENGARUHI SISTEM RESPIRASI
(AKTIVITAS MUKOLITIK)

I. PENDAHULUAN
Respirasi adalah pertukaran gas, yaitu oksigen (O) yang dibutuhkan tubuh
untuk metabolisme seldan karbondioksida (CO) yang dihasilkan dari metabolisme
tersebut dikeluarkan dari tubuh melalui paru. Respirasi berIungsi untuk menyiapkan
permukaan yang luas untuk pertukaran gas antara udara dan peredaran darah,
menggerakan lalulintas pertukaran udara dari dalam ke permukaan paru-paru,
melindungi permukaan membran respirasi dari dehidrasi/perubahan temperatur dan
perubahan lingkungan lainnya, memberikan sensasi olIaktori ke sistem saraI pusat.
Mekanisme protektiI dalam sistem respirasi ini dilaksanakan oleh sel-sel mukus,
makroIag alveolar, rambu-rambut sillia, immunoglobulin, pembuluh limIatik, kapiler-
kapiler darah dan mekanisme reIleks protektiI seperti batuk dan bersin.
mukolitik adalah obat yang bekerja dengan cara memecah rantai panjang komponen
organik pembentuk mukus menjadi molekul yang lebih kecil, sehingga visositasnya lebih
encer dan mudah dikeluarkan. dahulu dikenal sejumlah senyawa kimia yang dilaporkan
memiliki eIek mukolitik seperti gliserol, propilen glikol, ensim proteolitik tripsin dan
kemotripsin yang dalam perkembangannya ternyata tidak bermanIaat. yang termasuk
mukolitik antara lain adalah bromheksin, N-asetilsistein, S-karboksimetilsistein, ambroksol.
beberapa preparat herbal juga digunakan sebagai mukolitik untuk penyakit saluran
respiratorik seperti: hedera helix (Ivy leaI extract), ramuan rumex acetosa, verbena
oIIicinalis, primula veris, sambucus nigra, dan gentiana lutea dan beberapa ramuan lain.
Aktivitas mukolitik suatu sediaan uji dievaluasi dengan cara mengamati pengaruh perasan
buah jeruk nipis terhadap viskositas dahak buatan secara in vitro. Viskositas dahak buatan
dalam setiap sistem uji ditentukan berdasarkan penentuan kecepatan bola jatuh melalui
cairan sistem uji dalam tabung viskometer pada temperatur tetap. Adanya aktivitas
mukolitik dapat ditentukan apabila terjadi penurunan bermakna secara statistik dari
viskositas dahak pada cairan sistem uji yang berisi sediaan uji dibandingkan dengan
viskositas kontrol (cairan sistem uji tanpa sediaan uji).


Batuk adalah reIleks normal tubuh dan cabang tenggorokan, yang bertujuan untuk
membersihkan saluran pernaIasan dari zat-zat asing yang mengganggu. Batuk juga
merupakan suatu mekanisme perlindungan tubuh.
Batuk dibedakan menjadi dua jenis, batuk kering dan batuk berdahak. Batuk kering
merupakan mekanisme pengeluaran zat asing, dan merupakan bagian dari penyakit lain.
Oleh sebab itu obat-obat yang bekerja menekan rangsang batuk adalah antitusiI. Beberapa
obat yang termasuk jenis ini dan sering digunakan adalah dekstrometorIan, noskapin, dan
kodein.
Sebaliknya, batuk berdahak adalah mekanisme tubuh untuk mengeluarkan zat-zat
asing dari saluran naIas. Obat-obat yang bisa membantu pengeluaran dahak disebut
ekspektoran.
Ekspektoran digunakan untuk merangsang produksi lendir dari saluran
respiratorik dan menjadikan sekret mudak dibatukkan. bekerja melalui stimulasi pada
nervus vagus. ekspektoran yang sering digunakan yaitu guanaIenesin. ekspektoran
lain yang biasa digunakan seperti amonium klorida, kalsium iodida, gliserol iodinasi,
ipekak, kalium guaikolsuIonat, kalium yodida dan natrium sitrat berum berbukti
eIektiI. eIek samping yang sering terjadi berupa iritasi pada mukosa lambung, nausea,
vomiting, erupsi kulit, angioedema. apabila dosisnya ditingkatan, maka ekspektoran
dapat mengakibatkan mual dan muntah. sebaliknya obat perangsang muntah sperti
sirup ipecac, apabila diberikan dalam dosis rendah dapat berIungisi sebagia
ekspektoran.
AntitusiI bersiIat menekan/ meredakan batuk. antitusiI terdiri dari golongan
narkotik (kodein, dihirokodein, hidrokodon, hidromorIon) dan golongan non-narkotik
(karbetapentan, karamiIen, dekstrometorIan). berdasarkan mekanisme kerjanya
dikenal antitusiI yang beraktiIitas di periIer, di luar sistem saraI pusat, menghambat
batuk dengan menekan saraI sensoris yang menimbulkan batuk dan antitisiI sentral,
menekan respons reIleks batuk. antitusiI periIer antara lain opioid dan opioid-like-
drugs, anestesi lokal, antagonis takikinin, disodium kromoglikat. penggunaan antitusiI
pada batuk tergantung pada etiologi batuk dan derajat beratnya penyakit yang
menyebabkan batuk serta usia dari anak. penggunaan antitusiI pada batuk kronik yang
spesiIik memiliki eIektiIitas yang tinggi apabila penyebab batuk tidak diketahui
(idiopatik), batuk yang sangat berat sehingga memerlukan penekanan langsung pada
pusat batuk seperti pada pertusis. antitusiI juga dapat digunakan pada batuk kronik


yang penyebabnya telah diketahui namun dengan terapi tidak membaik seperti batuk
pada kanker paru dan Iibrosis paru.
Antihistamin sering dipakai untuk mengatasi gejala pilek. antihistamin bekerja
pada histamine H1 receptor antagonist dan menghambat sistem saraI pusat sehingga
obat ini juga memiliki eIek antiItusiI. antihistamin yang sering digunakan ialah
dipenhidramin, clemastin, dan clorpeniramin. antihistamin juga mempunyai eIek
antikolinergik, menyebabkan sensasi kering di tenggorokkan dan saluran napas,
sehingga terjadi pengentalan sekret pada bronkus. antihistamin mempunyai eIek
samping iritabel, insomnia, tremor dan eIek sentral yang dapat berupa apnea,
glaukoma.

PENENTUAN VISKOSITAS SEDIAAN U1I MUKOLITIK
a. Bromhexin
Bromheksin ialah derivat sintetik dari vasicinine, suatu zat aktiI dari
athoda vasica. Bromhexin diakui sebagai obat yang punya khasiat spesiIik
terhadap sputum dan bermanIaat dalam klinik. Kini obat ini banyak dipakai
untuk berbagai penyakit saluran pernaIasan (-5). Sebagai mukolitik, obat ini
membuat produksi mukus menjadi serous pada saluran naIas. Selain Iungsinya
sebagai mukolitik, bromheksin memberikan eIek sekretomotorik, yang
membantu silia dalam transportasi mukus dari paru-paru.
O Struktur Kimia
N-cyclohexyl-N--methyl--(--amino,dibromobenzyl)--amonium
chloride.






Struktur kimia Bromhexin




5

O Mekanisme Kerja
Tingginya kekentalan sputum, pada penderita asma atau
bronkhitis kronis misalnya, disebabkan oleh dua jenis jaringan benang
dalam sputum, yaitu: benang-benang DNA (deoxyribonucleic acid)
dan benang mukopolisakrida.
Benang DNA hanya ada dalam sputum yang purulen, karena ini
berasal dari inti sel-sel mukosa yang hancur. Sedangkan benang-
benang mukopolisakarida banyak ditemukan pada sputum yang
mukoid. Benang jenis kedua ini sedikit ditemukan dalam sputum yang
purulen karena telah dihancurkan oleh enzim-enzim bakteri. Dengan
terapi antibiotika yang eIektiI, kerusakan mukosa dapat dicegah;
sehingga benang-benang DNA akan makin sedikit. Tapi ternyata saat
itu sputum masih kental karena benang-benang mukopolisakarida
muncul kembali. Bromhexin bekerja dengan cara menghancurkan
benang-benang mukopolisakarida itu menjadi Iragmen-Iragmen kecil,
sehingga sputum menjadi encer. Selain itu, dengan penyelidikan
mikroskop elektron diketahui bahwa bromhexin juga menyebabkan
perubahan pada granula pada kelenjar-kelenjar penghasil mukus di
mukosa bronkhial dan hidung.

b. Ambroksol
Ambroksol, suatu metabolit aktiI bromheksin diduga sama cara kerja
dan penggunaannya. Ambroksol bekerja dengan cara menurunkan viskositas
sekresi mukus dengan cara memecah rantai mukopolisakarida. Ambroksol
sedang diteliti tentang kemungkinan manIaatnya pada keratokonjungtivitis
sika dan sebagai perangsang produksi surIaktan pada anak lahir prematur
dengan sindrom pernapasan.
O Struktur Kimia
N-cyclohexyl-N--methyl--(--amino--,dibromobenzyl)--amonium
chloride


Struktur kimia Ambroxol


O Mekanisme Kerja
Ambroksol mempunyai siIat mukokinetik dan sekretolitik.
Ambroksol meningkatkan pembersihan sekresi yang tertahan pada
saluran pernapasan dan menghilangkan mukus statis, memudahkan
pengenceran dahak. Ambroksol dilaporkan mempunyai aktivitas
penghambatan sitokin proinIlamasi, menurunkan inIlamasi paru dan
mempercepat proses penyembuhan paru.

.. Dextromethorphan
Dextromethorphan (d--metoksi-N-metilmorIina) adalah derivat
morIin sintetik yang bekerja sentral dengan meningkatkan ambang rangsang
reIleks batuk seperti kodein. Potensi antitusiInya lebih kurang sama dengan
kodein. Berbeda dengan kodein I-metorIan, dextromethorphan tidak memiliki
eIek analgesik, eIek sedasi, eIek pada saluran cerna, dan tidak mendatangkan
adikasi atau ketergantungan. Dextromethorphan eIektiI untuk mengontrol
batuk eksperimen dan batuk patologik baik akut maupun kronis.
Dextromethorphan dilaporkan juga memiliki eIek pengurangan sekret dan eIek
antiinIlamasi ringan. Stimulasiringan pernaIasan kadang-kadang dilaporkan
dalam batas dosis lazim antitusiI.
O eIek samping dan toksisitas
eIek penekanan aktivitas silis bronkhus hanya terjadi pada dosis tinggi.
Toksisitasnya rendah sekali. Dosis berlebihan menimbulkan pusing,
diplopia, sakit kepala, mual, dan muntah. Dalam dosis sangat besar
ditemukan depresi pernapsan secara bermakna, dan dapat terjadi
kematian.
O Metabolisme
Absoprsi per oral cepat, kadar puncak plasma dicapai - menit
setelah pemberian. BioatransIormasi terjadi di hepar, dan metabolit
diekskresikan oleh ginjal. Metabolisme terutama terjadi di hepar dan
ekskresi melalui ginjal.





d. Gliseril Guaiakolat
GuaiIenesin (gliseril guaiakolat, *Toplexil) adalah derivat guaiakol
yang banyak digunakan sebagai ekspektoran dalam berbagai jenis sediaan
batuk. Pada dosiss tinggi bekerja merelaksasi otot (Tjay, ).
Penggunaan obat ini hanya didasarkan tradisi dan kesan subjektiI
pasien dan dokter. Belum ada bukti bahwa obat bermanIaat pada dosis yang
diberikan. EIek samping yang mungkin timbul dengan dosis besar, berupa
kantuk, mual, dan muntah.

e. Amonium klorida
O Mekanisme kerja
Obat ini menghasilkan diuresis dan suatu pengasman (asidiIikasi)
urine. Amonium klorida akan terurai menjadi NH

, ion H, dan Cl. Ion


H akan berinteraksi dengan ion bikarbonat membentuk asam karbonat
yang langsung terurai lagi menjadi H

O dan CO

. Hasil akhir
pemberian amonium klorida adalah asidosis metabolik karena terjadi
penambahan ion klorida ke dalam plasma. Bikarbonat direabsorpsi
lengkap di tubuli proksimal, sedangkan amonia dimetabolisme menjadi
urea.
O Penggunaan klinis
Amonium klorida dulu digunakan untuk memperbaiki alkalosis yang
disebabkan oleh diuretika merkurial yang sekarang sudah tidak
digunakan lagi. Ketika diuretika yang disebutkan terakhir, yaitu
diuretika golongan xantin, diuretika osmotik, dan amonium klorida
merupakan diuretika yang pemakaiannya terbatas.

f. Karboksimetil selulosa
Karboksimetil selulosa merupakan merupakan eter polimer selulosa
linear dan berupa senyawa anion, yang bersiIat biodegradable, tidak berwarna,
tidak berbau, tidak beracun, butiran atau bubuk yang larut dalam air namun
tidak larut dalam larutan organik, memiliki rentang pH sebesar .5 sampai 8.,
stabil pada rentang pH 1, bereaksi dengan garam logam berat membentuk
Iilm yang tidak larut dalam air, transparan, serta tidak bereaksi dengan
8

senyawa organik. Karboksimetil selulosa berasal dari selulosa kayu dan kapas
yang diperoleh dari reaksi antara selulosa dengan asam monokloroasetat,
dengan katalis berupa senyawa alkali. Karboksimetil selulosa juga merupakan
senyawa serbaguna yang memiliki siIat penting seperti kelarutan, reologi, dan
adsorpsi di permukaan. Selain siIat-siIat itu, viskositas dan derajat substitusi
merupakan dua Iaktor terpenting dari karboksimetil selulosa.

II. TU1UAN
1. Praktikan dapat mengerti dan memahami mekanisme kerja obat yang
mempengaruhi sistem respirasi.
. Praktikan dapat memahami cara menguji dahak/lendir untuk mengetahui
penyebab munculnya dahak tersebut.
. Praktikan dapat mengetahui perbedaan dan cara menanggulangi/mengobati
batuk-batuk berdasarkan jenisnya.

III. ALAT DAN BAHAN
Bahan : - putih telur ayam kampung
- air suling
- amonium klorida
- ambroksol
- bromheksin
- gliseril guaiokolat
- dekstrometorIan
- karboksimetilselulosa
Alat : - Viskometer Hoeppler
- stop watch
- alat-alat gelas yang biasa dipergunakan di laboratorium kimia dan
Iarmakologi








IV. PROSEDUR
a. Pembuatan Dahak Buatan
Dahak buata dibuat dari putih telur ayam kampung. Telur ayam
kampung dipilih untuk pembuatan dahak buatan ini karena putih telurnya lebih
kental dibandingkan telur ayam negeri.
b. Pengamatan aktivitas mukolitik
Penentuan viskositas kontrol, uji 1 (amonium klorida), uji (ambroksol), uji
(bromheksin), uji (gliseril guaiakolat) dan uji 5 (dekstrometorIan)
O Sistem kontrol : putih telur dan air suling
O Sistem uji 1 : campuran putih telur dan amonium klorida
O Sistem uji : campuran putih telur dan amroksol
O Sistem uji : campuran putih telur dan bromheksin

Volume semua sistem disamakan disesuaikan daya tampung tabung
viscometer dengan sediaan uji masing-masing 5 ml

Tabung viskometer diisi dengan komponen sistem sampai penuh

Selanjutnya bola dimasukkan ke dalam tabung viskometer yang berisi
cairan sistem uji

Cairan sistem uji ditambahkan sampai tabung penuh dan ditutup
sehingga tidak terdapat gelembung udara

Jika bola sudah turun melampaui garis awal, bola dikembalikan ke
posisi semula dengan membalikan tabung

Viskositas dihitung, dilakukan pengukuran waktu bola jatuh di dalam
viskometer seret bobot jenis cairan sistem uji

Waktu yang diperlukan oleh bola melalui tabung mulai dari garis awal
sampai akhir dalam detik

1

Bobot jenis cairan sistem uji ditentukan dengan menggunakan
piknometer

Semua cairan sistem uji dihitung dengan menggunakan persamaan
q B (p
1
-p

)

V. DATA PENGAMATAN
O No spindel
O Speed 1 rpm

No Sediaan uji t
0
t
10
t
20
t
30
t
40

1 Ambroxol 15 1 1 5
Gliserin guaiakolat 15 5 8
Bromheksin 11 8 1 5 8
DekstrometorIan 18 1
5 OBH 5
Kontrol 8 15 5


0
30
100
130
200
230
300
330
o menlL 10 menlL20 menlL30 menlL40 menlL
V
|
s
k
o
s
|
t
a
s
Waktu
Ambroxol
Cllserln gualakolaL
8romheksln
uekLromeLorfan
C8P
konLrol
11

VI. PEMBAHASAN
Percobaan mengenai aktivitas mukolitik ini bertujuan untuk melihat seberapa
eIektiI suatu zat yang bersiIat sebagai antitusiI dan ekpektoran dalam menurunkan
viskositas suatu lendir. Dalam percobaan ini yang dipilih adalah putih telur ayam
bebek karena menurut suatu penelitian viskositas nya sama dengan lendir yang
dihasilkan manusia. Putih telur bebek diberikan suatu zat dan dilihat viskositas nya
sebelum dan sesudah secara in vitro. Obat diberikan dalam macam sediaan uji yaitu
ambroxol, gliseril guaiakolat, dekstrometorphan, bromheksin, OBH (mengandung
ammonium klorida) dan kontrol. Kontrol harus tetap ada karena untuk menguji
viskositas tanpa diberikan sediaan uji dan memgukur keberhasilan sediaan uji dalam
menurunkan viskositas lendir.
Pada ambroxol dan bromheksin terjadi penurunan secara bertahap dari t

sampai t

karena ambroxol merupakan golongan ekspektoransia yang mekanisme
kerjanya sebagai mukolitik (mengubah siIat Iisiko kimia, terutamas viskositasnya
diturunkan), bekerja menguraikan mukopolisakarida asam sehingga serabut lendir
bronkus akan terurai. Ini dilakukannya dengan memperbanyak produksi lisosom dan
mengaktiIkan enzim hidrolitik. Pada saat yamg sama sel kelenjar serosa di
stimulasi.dengan pertambahan jumlah sekret, viskositas lendir akan turun.
Kemungkinan ambroxol mempunyai kerja lain, yaitu menurunkantegangan
permukaan dengan menstimulasi pembentukan zat aktiI permukaan (surIaktan)
sehingga adhesi pada lendir pada epitel bronkus akan berkurang. Ambroxol adalah
metabolit bromheksin yang aktiI secara biologik.
Pada gliseril guaikolat dan ammonium klorida (didapat dalam OBH)
penurunan viskositas tidak telalu drastis, namun pada hasil akhir hampi sama hasilnya
pada zat mukolitik diatas. Karena gliseril guaiakolat dan ammonium klorida termasuk
golongan ekspektoransia yang mekanisme kerjanya sebagai sekretolitik (meninggikan
sekresi bronkus dan dengan demikian mengencerkan lendir), gliseril guaikol bekerja
secara reIlektoris. Sedangkan ammonium klorida bekerja baik secara reIlektorik
maupun secara langsung.





1



nervus vagus Jalur parasimpatis aIeren



Stimulasi reIlektorik melalui lambung pada sekresi bronkus.
Pada dekstrometorIan yang terjadi viskositan tetap kostan, karena zat ini
merupakan antitusiI buak ekspektoran yang berarti digunakan untuk batuk kering
bukan untuk batuk berdahak yang mengeluarkan lendir. Dekstrometorphan
menghentikan rangsang batuk menurunkan Irekuensi dan intensitas doronhan batuk
dengan menekan reIleks batuk akibat penghambatan pusat batuk dalam batang otak
dan/ melalui blokade reseptor sensorik (reseptor batuk) dalam saluran bronkus. Obat
ini hanya digunakan pada rangsang batuk kering, yang melalui penghentian reIleks
batuk tak ada bahaya terjadinya bendungan sekret.

VII. KESIMPULAN

Batuk merupakan merupakan respon tubuh secara spontan terhada gangguan
saluran naIas sebagai upaya untuk mengeluarkan penyebab gangguan
termasuk dahak berlebih atau inIektor.
Dahak adalah bahan yang dikeluarkan dari paru-paru,bronchus,trakhea melalui
mulut,biasanya juga disebut
Obat yang termasuk antitusiv (untuk batuk kering) : dekstrometophan, codein
HCl
Obat yang termasuk ekpektoransia (untuk batuk berdahak) :
Sekretolitik : gliseril guaiakolat, ammonium klorida
Mukolitik : ambroxol, bromheksin
Sekretomotorik : minyak atsiri



9DA1 MD-1AP
kLLL-A8
88C-kD
LAM8D-C
1

VIII. DAFTAR PUSTAKA

1. Pediatri - Laman 1 (M.William Schwartz) penerbit buku kedokteran.
. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Dgn Gangguan Sistem Pernapasan - Laman
18(AriI Muttaqin)
. Bijak Mengonsumsi Obat Flu - Laman 18(dr. Bahar Azwar, Sp B Onk)
. Gawat Darurat di Bidang Penyakit Dalam - Laman (buku kedokteran EGC)