Anda di halaman 1dari 10

A.

Sumber-Sumber Daya Saing Teori perdagangan hingga saat ini selalu terfokus pada produk yang tidak terdeferensiasiyang diproduksi oleh suatu perusahaan yang memiliki teknologi yang identik dan tidak memiliki skala ekonomi, sedangkan dalam kenyataannya sangat berbeda dengan yang digambarkan oleh teori perdagangan yang ada. Dalam kenyataannya perusahaan terus-menerus mengubah produknya untuk mendapatkan konsumen baru. Tenaga kerja dengan keahlian yang lebih spesifik pun menjadi suatu kebutuhan perusahaan untuk mencapai kemajuan yang pesat dalam perusahaan. Factor yang menentukan daya saing suatu bangsa adalah produktivitas dari sumberdaya yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri(tenaga kerja, modal dan input), terutama dalam hal produktivitas kerja dari masyarakatnya. Produktivitas tenaga kerja yang tinggi merupakan suatu investasi yang menguntungkan suatu perusahaan yang akan meningkatkan penerimaan perusahaan. Penerimaan perusahaan yang tinggi akan berdamp[ak positif pada pendapatan nasional. Perusahaan yang meniliki daya saing tinggi ini akan mampu membayar pekerja yang produktif ini dengan biaya yang sepadan dengan kinerja mereka. Agar menguntungkan bagi pembangunan, dalam suatu negara seharusnya ada perusahaan industry yang terus memperluas produksinya dan terus melakukan ekspor karena hal ini akan menarik investasi, namun disisi lain hal ini akan menyebabkan industry lain dalm negara itu akan menjadi kurang kompetitif dan tidak berkembang. Dalam menghadapi hal ini satu-satunya cara agar baik perusahaan maupun industry dapat terus berkembang adalah dengan memindahkan sumberdaya yang ada ke industry yang lebih produktif dan memindahkan sumberdaya dari industry yang kurang produktif ke negara lain. Menurut Vernon, pemindahan lokasi sumber daya keluar negeri dapat dijelaskan melalui siklus hidup produk yang terdiri dari 4 tahap, yaitu : I. Pengembangan produk baru oleh perusahaan dan menjualnya di pasar dalam negeri.

II.

Produk tersebut dibuat oleh perusahaan asing dengan adanya pembatasan pasar(seperti difusi informasi dan teknologi) dan pembaharuan perusahaan

III.

Adanya perusahaan internasional dengan biaya rendah yang membuat perusahaan domestic tidak mampu mengekspor produk sama sekali.

IV.

Perusahaan domestic yang tidak bisa menghasilkan produk di negara asalnya tidak dapat berkompetisi dengan produk impor yang biayanya rendah.

Suatu perusahaan yang sudah terbiasa menghadapi persaingan di negara asalnya akan siap menghadapi persaingan di pasar internasional. Persaingan domestic yang ada akan menimbulkan kesulitan tersendiri bagi individu perusahaan untuk tetap bertahan, namun hal ini akan melatih mental perusahaanperusahaan domestic untuk menghadapi persaingan dari dunia internasional. Menurut porter, keberhasilan suatu perusahaan dalam menghadapi persaingan bisa tercapai dengan 2 cara, yaitu :

Dengan menyuplai produk yang harganya rendah, dengan menghasilkan produk yang biayanya rendah dibandingkan pesaing maka perusahaan akan tetap tumbuh dan dapat berkompetisi. Namun, strategi harga yang rendah ini sangt sulit untuk terus dipertahankan karena hal ini tergantung dari biaya input yang dikeluarkan untuk produksi produk itu sendiri. Dalam era globalisasi selalu ada negara yang biaya tenaga kerjanya lebih rendah sehingga harga produk yang dihasilkan pun lebih rendah.

Dengan adanya diferensiasi produk. Dengan adanya diferensiasi produk, maka perusahaan dapat membedakan output produk yang dihasilkan perusahaannya dengan produk yang dihasilkan oleh perusahaan lain. Ketidak-identikan suatu produk dengan produk lain akan menurunkan kompetisi dalam hal harga dan akan

memberikan lebih banyak cara untuk mempertahankan konsumen yang ada dan meraih konsumen yang baru. B. Porters four Diamonds Porter mengklasifikasikan lingkungan keberhasilan menjadi empat, yaitu kondisi faktor, kondisi permintaan, industri terkait dan industri pendukung, serta strategi, struktur dan pesaing perusahaan. Setiap faktor ini memiliki aspek yang relevan dengan industri tertentu di negara tertentu pula. Adakalanya salah satu faktor tersebut lebih penting daripada faktor lain, akan tetapi perusahaan yang berhasil biasanya memiliki aspek positif yang berhubungan dengan keseluruhan faktor tersebut. 1. Kondisi Faktor Paradigma daya saing mengakiu bahwa faktor yang melimpah dan alamiah sangatlah penting, akan tetapi paradiigma tersebut memandang faktor ini dalam berbagai gradasi dan keadaan yang lebih baik bahwa faktor-faktor tersebut bukanlah benar-benar alamiah tetapi dibuat. Pengembangan keahlian tenaga kerja yang lebih tinggi dalam hal tertentu merupakan elemen kunci dari daya saing. Porter mengklasifikasikan faktor-faktor menjadi faktor basis (basic factors) dan faktor ungggul (advanced factors). Faktor basis adalah kelimpahan sunber daya alam, iklim, lokasi, dan sejumlah tenaga kerja yang tidak terlatih dan semi terlatih dimana hanya dengan sedikit investasi dapat merubah faktor tersebut. Sedangkan faktor unggul adalah faktor yang biasanya memerlukan investasi yang besar dan berkelanjutan untuk pembangunan. Faktor-faktor unggul mencakup antara lain infrastruktur transportasi, sistem komunikasi, jumlah lulusan sekolah menengah, jumlah ilmuwan, jumlah teknisi dan ilmuwan komputer, pekerja lain yang memiliki keahlian tinggi. Faktor unggul dapat digunakan untuk mengatasi gangguan dari faktor basis. Faktor-faktor basis dan faktor-faktor unggul tertentu yang ada di suatu negara sangat krusial bagi keberhasilan perekonomian secara umum. Faktor-

faktor tersebut menentukan tingkat keberhasilan pengembangan industri yang akan menghasilkan nilai tambah dan kesejahteraan yang besar sehingga perusahaan dapat membayar upah yang tinggi kepada para pekerjanya. Namun faktor basis dan unggul ini umumnya tidak berkaitan dengan industri secara individual. Faktor tersebut ada karena investasi pemerintah atau perorangan yang selanjutnya dapat digunakan oleh industri untuk memproduksi barang dan jasa. Dlaam beberapa hal, ada faktor-faktor generik yang kemudian dapat dibentuk menjadi faktor-faktor yang spesifik yang digunakan dalam perusahaan dan industri kompetitif. Cara lain dalam mengelompokkan faktor-faktor adalah membadakan antara faktor-faktor yang tergeneralisasi dan yang terspesialisasi. Faktor yang tergeneralisasi dapat digunakan pada berbagai macam industri, namun menjadi faktor penting bagi keberhasilan. Sistem komunikasi yang telah berkembang dan infrastruktur lainnya, besarnya persentase lulusan sekolah menengah, dan sistem finansial yang berfungsi dengan baik sangat penting untuk membuat suatu industri menjadi lebih produktif. Namun faktor ini sangat mudah untuk diakses bagi semua industri tanpa terkecuali. Faktor yang dibentuk untuk industri tertentu disebut faktor yang terspesialisasi. Faktorfaktor ini meliputi tenaga kerja trampil yang terbatas, infrastruktur yang spesifik, atau kemampuan spesifik lain yang berhubungan dengan industri secara individual. 2. Kondisi Permintaan Perusahaan yang kompetitif harus memiliki beragam cara untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan manusia pada saat ini, akan tetapi juga penting untuk memiliki keahlian dalam memprediksi keinginan konsumen di masa yang akan datang. Pembeli yang berpengalaman menjadi pemimpin yang menginginkan banyak produk yang sangat terdiferensiasi dan memberikan keuntungan yang dinamis bagi industri di pasar domestik. Cara penting bagi perusahaan atau industri untuk mengantisipasi kebutuhan konsumen di masa yang akan datang adalah mendapatkan

konsumen yang selalu dinamis dan selalu memberikan feedback atas produkproduk yang ada. Jika suatu perusahaan menjual di pasar yang menghendaki perbaikan terus-menerus dalam kualitas atau fitur-fitur produk yang baru, maka perusahaan di pasat tersebut akan dituntut untuk memenuhi permintaan konsumen dengan mengubah fitur produk secara terus-menerus. Bila perusahaan tersebut menjual di pasar internasional dimana konsumen tidak melakukan diskriminasi sehingga perusahaan tersebut tidak terbiasa untuk melakukan perbaikan produk terus-menerus maka produk baru ini akan cepat terjual. Dinamika konsumen yang melakukan diskriminasi dimpasar domestik memungkinkan perusahaan untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi di seluruh dunia di masa yang akan datang. Tidak diragukan lagi bahwa konsumen seperti itu akan memberikan keunggulan bagi perusahaan domestik di atas pesaing internasional, dengan asumsi bahwa mereka memperhatikan konsumen. 3. Industri Terkait dan Pendukung Perusahaan biasanya kurang terintegrasi secara penuh mulai dari bahan baku sampai distribusi eceran terakhir. Dalam situasi dunia seperti ini, perusahaan harus bergantung terhadaap industri lain guna mendukung aktivitasnya dengan memasok input berkualitas tinggi dan menjaga atau mempertahankan kualitas output. Jika perusahaan tersebut berhubungan dengan industri hulu dan hilir yang bersifat terpisah, maka lhal itu akan membuat perusahaan menjadi kurang kompetitif. Situasi yang paling baik bagi perusahaan adalah menciptakaan kerjasama dengan pemasok input dunia yang terbaik. Pemasok harus mau bekerja sama dengan perusahaan untuk mengembangkan proses dan produk yang akan memperbaiki kualitas produk sehingga membedakan output perushaan tersebut dari produk lainnya. Komunikasi harus mengalir diantara perusahaan dan pemasoknya untuk memperbaiki proses inovasi produksi.

4. Strategi Perusahaan, Struktur dan Pesaingnya Bagian dari paradigma daya saing ini berhubungan dengan bagaimana suatu perusahaan didirikan, diorganisasikan dan dikelola, serta bagaimana persaingan antar perusahaan di negara asal mempengaruhi daya saing. Tujuan, strategi, organisasi, manajemen, dan karakteristik di tingkat perusahaan lainnya sangat beragam antarnegara dan variasi ini dapat memberikan pemahaman industri mana yang kompetitif dalam suatu negara. Ada beberapa pandangan daya saing yang berbeda menurut Porter, yaitu bahwa persaingan di pasar domestik di beberapa dekade terakhir, terutama di Amerika serikat, sebagai hasil dari penggabungan dan akuisisi. Konsolidasi ini mengarah pada perusahaan yang lebih besar lyang memiliki tekanan yang lebih sedikit dari pesaingnya. Tidak diragukan laagi bahwa struktur dan strategi perusahaan bervariasi antarnegara yang dapat berdampak pada daya saing perusahaan dan industri. Perusahaan Cina dan Italia cenderung berskala kecil dimana perusahaan dijalankan oleh keluarga yang mengandalkan hubungan kekerabatan yang erat diantara individu. Hanya sedikit komunikasi tentang perusahaan di luar hubungan keluarga dan semua keputusan dilakukan secara tertutup. Komunikasi dengan partner dan perusahaan terkait tentang sistem pemasaran lebih dibutuhkan daripada menentukan spesifikasi produk.

Biaya dan Manfaat FDI Keuntungan FDI yang didapat oleh negara tuan rumah dapat dilihat dari keuntungan yang didapat oleh negara asal. Saat suatu perusahaan multinasional mendirikan perusahaan di negara tuan rumah, hal ini akan memberikan dampak positif bagi negara tuan rumah karena dengan adanya perusahaan tersebut, maka terbukalah lapangan kerja baru untuk masyarakat negara tuan rumah dan

didapatkannya pendapatan dari proses produksi yang dilakukan. Keuntungankeuntungan lainnya adalah adanya teknologi dan ide-ide baru, manajemen dan persaingan yang dibawa oleh perusahaan multinasional tersebut.

Untuk negara pengirim, manfaat FDI adalah dengan adanya FDI, maka ada kemungkinan bahwa perusahaan indukbelajar banyak dari perusahaan cabang usahanya di negara tuan rumah yang mana ilmu itu akan di transfer kembali ke system perusahaan induk dan membuat produksi lebih efisien.

D. Analisis Daya Saing Industri Makanan dan Pertanian Reed dan Marchant menganalisis daya saing internasional dari industri makanan Amerika Serikat relatif terhadap tiga belas industri manufaktur lainnya. Mereka menemukan bahwa industri manufaktur makanan memiliki persentase terendah atas output yang diekspor dan berada diurutan tertinggi kedua dalam rasio penjualan di luar negeri untuk ekspor Amerika Serikat. Oleh karena itu perusahaan Amerika Serikat lebih suka mengelolah makanan pada cabang mereka di luar negeri daripada mengekspornya dari pabrik yang ada di Amerika Serikat. Selanjutnya, hampir seluruh investasi luar negeri atas fasilitas manufaktur makanan bersifat horizontal. Di Indonesia Kinerja pembangunan pertanian dapat ditunjukkan oleh pertumbuhan sektor pertanian mulai tahun 1996 sekitar 3,1%; lalu pada tahun 1997 menjadi sekitar 0,7%; tahun 1998 sekitar 0,2%; dan tahun 1999 sekitar 0,9%. Konstribusi pertanian terhadap GDP justru mengalami peningkatan seiring dengan daya tahan sektor ini terhadap gejolak krisis moneter. Konstribusinya yang terus meningkat sejak tahun 1996 sampai 1999 masing-masing ditunjukkan oleh angka berikut: 16,53% pada tahun 1996; 16,07% pada tahun 1997; 16,64% pada tahun 1998; dan 19,41% pada tahun 1999. Peningkatan daya saing dan nilai tambah produk juga akan dilakukan pada komoditas hortikultura dan pangan penghasil devisa. Kebijakan ini dimaksudkan

untuk meningkatkan surplus neraca ekspor impor subsektor hortikultura. Peningkatan produksi dan produktivitas hortikultura diupayakan dengan enam cara, yaitu:

Pengembangan kawasan hortikultura Penerapan suppy chain management Penerapan good agriculture practices (GAP)/standard operating procedure (SOP)

Pengembangan kelembagaan usaha Peningkatan konsumsi dan akselerasi ekspor Fasilitiasi terpadu investasi hortikultura DAFTAR PUSTAKA

Anindita, R. 2008. Bisnis Dan Perdagangan Internasional. CV. Andi. Yogyakarta Anonim, 1997. Pembangunan Pertanian Berkebudayaan Industri. Bappenas-IPB. Jakarta Iriana, Dadang W. 2009. Saatnya Menuai Hasil Investasi. http :// google.com. diakses 23 Mei 2010

Tugas Perdagangan dan Bisnis Internasional Daya Saing Industri Pangan dalam Industri Global
Oleh : Magdalena Debora F Manullang 0710440024 0710440064

Fitria Ratnasari Shandi (edit yah nama kalian..) Andi (edit yah nama kalian..)

0710440079

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2009