Anda di halaman 1dari 11

Seminar Bahasa Liturgi

yang mempertanyakan kesesuaian antara tata adat pemakaian bahasa liturgi dan tata adat komunikasi sehari-hari

Pembicara:

Prof. Dr. Anton M. Moeliono Prof. Dr. Bambang Kaswanti Purwo


Diselenggarakan dalam rangka ulang tahun ke-33,

Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Unika Atma Jaya


Jumat, 3 Desember 2010, pukul 9:0012:00 Ruang Seminar Arinze, Gedung G Lt.2 Kampus Unika Atma Jaya Jl. Jend. Sudirman 51, Jakarta 12930

Seminar Bahasa Liturgi dalam rangka Ulang Tahun PKBB ke-33

KESEPADANAN DINAMIS DAN TATA ADAB BERBAHASA DALAM TERJEMAHAN LITURGIS Anton M. Moeliono Tiada tradisi terjemahan yang lebih mengesankan dari pada penerjemahan Alkitab (Mundy 2001). Alkitab diterjemahkan ke dalam segala macam bahasa, baik dalam keseluruhannya maupun untuk sebagainya saja. Usaha penerjemahan ini meliputi kurang lebih seribu bahasa di dunia yang tidak saja berbeda dalam kuantitasnya, tetapi juga dalam kualitasnya. Dengan mengesampingkan pembagian yang lebih cermat dan teliti, kita dapat menggolongkan terjemahan itu ke dalam dua kelompok yang besar. yang pertama ialah terjemahan yang dilakukan kata demi kata, agar supaya tidak menyimpang dari keaslian bahasa sumber. Terjemahan itu boleh dianggap yang paling konsekuen dalam pemilihan kata-kata terjemahan. terjemahan macam ini biasa disebut terjemahan harfiah atau terjemahan berdasarkan kesepadanan bentuk. Golongan yang kedua ialah terjemahan yang didasarkan pada ekuivalensi budaya antara naskah sumber dan naskah terjemahan. Terjemahan macam itu tidak termasuk golongan yang disebut harfiah, karena tidak serta merta menerapkan kata Indonesia yang sama bagi kata bahasa sumber yang sama. Di pihak yang lain juga tak bisa disebut terjemahan yang bebas, karena masih terikat pada unsur kalimat naskah sumber. Terjemahan macam itu disebut terjemahan idiomatik atau terjemahan berdasarkan kesepadanan dinamis. Tujuan terjemahan yang idiomatik ialah agar dalam usaha pewartaan firman dan sabda ilahi, terjemahan itu memang harus menggambarkan kebudayaan biblika yang lama itu. Terjemahan itu tidak bermaksud menggambarkan kisah Alkitab sebagai cerita modern dalam situasi modern, tetapi di pihak lain hal itu juga tidak menuntut supaya orang yang mendengarkan atau membaca Alkitab itu, hanya akan mengerti maknanya, jika ia dapat mengerti bahasa sumbernya. Bahasa dalam terjemahan yang idiomatik ialah bahasa yang secara wajar dipergunakan orang di luar lingkungan gereja (Cotterell dan Turner 1989). Orientasi sosiolinguistik dengan sadar membandingkan perbedaan kebudayaan yang dilambangkan oleh bahasa sumber dan bahasa sasaran dalam pengungkapan hakikat Allah. Perbedaan itu tidak saja terbatas pada lingkungan ilmu bumi, tetapi juga pada lingkungan zaman. Yang perlu diperhatikan ialah kerangka budaya yang menjadi lokus (budaya) terjadinya komunikasi atau informasi. Faktor antarbahasa dan antarbudaya ini, yang akan diperikan, harus juga dipertimbangkan perbedaan masa. Karena umat Sang Kristus di Indonesia pada umumnya tidak mengerti bahasa Ibrani, Yunani atau Latin; maka terjemahan yang idiomatik memperoleh kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan ibadat. Kita tidak dapat menuntut agar orang, termasuk yang cendekiawan, mencari tafsiran yang sebenarnya dalam naskah asli. Dasar adaptasi dalam terjemahan itu ialah korespondensi leksikal yang seerat-eratnya, dalam hal ini satuan kata atau kombinasinya. Tetapi korespondensi saja tidak cukup. Korespondensi formal yang terdapat dalam katakata Alkitab harus ditinjau dari sudut fungsi budayanya pula. Kesamaan bentuk tidak selalu berarti kesamaan fungsi juga. Ambillah kata permandian misalnya. Cukupkah kata itu menyatakan pengkhususan arti dalam bahasa kita? Soalnya ialah bahwa arti kata-kata itu tidak bergantung pada keinginan seorang penerjemah, tetapi pada tanggapan umum yang berlaku dalam masyarakat bahasa. Kata permandian dapat juga mengacu ke tempat orang bersimbah atau berenang. Bandingkanlah lagi pemakaian kata terang dalam Matius 5:14 Kamu adalah terang dunia dan Matius 5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya... Di dalam bahasa Belanda dan Inggris yang merupakan sumber yang paling dekat, kata licht dan light termasuk kategori nomina (n), adjektiva (a), adverbia (ad), dan verba (v). Padanan kata itu masing-masing tidak sama dan seragam dalam bahasa Melayu-Indonesia: cahaya, nur, pendar (n) siang (n) pelita, lampu (n) terang, rembang (a), (ad) (merah) muda (a), mata bular (a) menyala(kan), bernyala (v) Bahkan di dalam bahasa Melayu ada bentuk majemuk nurul aini, nurul alam, dan nurani.
1

Seminar Bahasa Liturgi dalam rangka Ulang Tahun PKBB ke-33

Pelatihan antropologi budaya bagi seorang penerjemah di samping keahlian teologi dan ilmu biblika agaknya, dengan contoh di atas itu, sudah jelas merupakan syarat yang penting. Kita tidak bermaksud untuk menceritakan kembali kisah Alkitab seakan-akan baru terjadi kemarin, tetapi sebaliknya kita juga hendaknya berusaha agar supaya jangan timbul kesan, cerita itu suatu khayalan yang mustahil terjadi. Suatu rekaan yang berlaku di zaman bahari yang tidak dapat dicocokkan lagi kebenarannya secara historis. Seorang penerjemah harus belajar memahami makna fungsional tentang beberapa kebiasaan budaya, dibandingkan dengan gejala dalam Alkitab. Pengetahuannya tentang alam kepercayaan orang Indonesia akan meyakinkannya bahwa roh tidak selalu sama dengan spiritus atau pneuma. Menurut konteksnya ada roh, ruh, arwah, nyawa, jiwa, sukma, semangat; hantu, mambang, jin, malaikat; akal (budi), cita, dan hati. Manusia mempunyai jiwa, ia tidak mempunyai roh. Kata pax tidak selalu berarti damai. Latar belakang akan menjelaskan idiom bahasa yang bermacam ragam. Mengapa dalam bahasa Inggris kambing untuk kurban penghapus dosa dan dilepas ke padang gurun (Imamat 16: 8-10) disebut scapegoat, dalam bahasa Belanda zondebok, dan dalam bahasa Indonesia kambing hitam. Ketepatan suatu terjemahan banyak bergantung pada kemampuan seorang penerjemah untuk memahami gejala-gejala dalam budaya yang diselidikinya. Pendidikan linguistik bagi seorang penerjemah yang terlatih dalam dalam tata bahasa India-Eropa dan Sami, akan dapat menghindari kesalahan untuk memaksakan jalan bahasa yang dikenalnya itu ke bahasa yang sama sekali tidak termasuk rumpun bahasa yang sama. Maka kita tidak akan lagi berpendapat bahwa bahasa sasaran itu kurang teliti dalam pengungkapannya jika dibandingkan dengan bahasa Yunani atau Latin, ataupun dengan bahasa Eropa Barat lain yang modern. Bahasa sasaran itu hanyalah lain sifatnya. Secara ideal seorang penerjemah harus paham bahasa sumber dengan sebaik-baiknya dan menguasai bahasa sasaran dengan sempurna. Hal itu biasanya tidak mudah tercapai, karena kebanyakan orang sekarang yang melakukan penerjemahan tidak atau kurang ahli dalam bahasa Ibrani atau Yunani. Andaikata kita harus memilih antara orang yang hanya menguasai salah satu bahasa dengan baik yang diperlukan untuk penerjemah itu, maka pada hemat saya, kita harus memilih orang yang menguasai bahasa sasaran dengan sempurna dalam segala seginya. Dalam situasi Indonesia, pekerjaan terjemahan barangkali dapat dilakukan dengan bertahap. Mula-mula oleh orang yang mahir bahasa sumber, yang menerjemahkan naskah Alkitab ke dalam bahasa perantara. Hasil itu kemudian diolah oleh suatu tim penerjemah yang ahli dalam bahasa sasaran, sehingga hasil yang akan diterbitkan sungguh berbahasa umat yang idiomatik. Syarat yang tidak kalah penting ialah minat, empati, Einfhlung, yang harus dilmiliki oleh seorang yang ingin turut serta dengan bagian kerja liturgi ini. Barang siapa tidak tertarik pada isi Alkitab tidak akan menghasilkan pekerjaan yang bermutu, sebab terjemahan yang baik bukan pekerjaan borongan. Penerjemahan Alkitab seharusnya didahului oleh penyelidikan yang seksama tentang medan makna kata dalam bahasa Indonesia yang berhubungan dengan paham-paham sentral dalam Alkitab. Perlu diadakan dahulu penyelidikan kata ditinjau dari sudut pertentangan arti pusat dan arti majasi. Contohnya, arti pusat kata kepada ialah anggota badan manusia yang teratas. Arti majasi ialah arti yang dijabarkan dari arti, kedudukannya yang teratas itu. Jadi ada kepala kantor, kepala surat, dan guru kepala. Tambahan pula perlu diselidiki denotasi dan konotasi yang lekat pada kata-kata itu masing-masing. Sekalipun denotasinya sama, kita dapat merasakan perbedaan konotasi kata kelompok dan kawanan. Medan makna kata kelompok dan kawanan tidak tutup-menutupi. Konotasi kata kelompok bersifat netral, sedangkan kata kawanan menimbulkan asosiasi pada kelompok hewan atau perampok. Menyamakan umat Sang Kristus dengan suatu kawanan dalam masyarakat bahasa Indonesia tidak ekuivalen dengan flock dalam bahasa Inggris. Soalnya ialah bahwa medan makna kata flock tidak pernah dihubungkan dengan kata robber atau bandit. Secara khusus hendaknya kita jaga agar dalam cita-cita kita menerjemahkan kalimat dengan sejelas-jelasnya, jangan memilih kata yang vulgar atau yang dapat menimbulkan kesan vulgar. Perhatikanlah kalimat berikut. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging (Efesus 5:32). Daging yang dipilih jadi padanan sarx (Yunani) dan caro, carn-(Latin) yang juga secara harfiah diterjemahkan jadi vlees (Belanda) dan flesh (Inggris) dalam ungkapan satu daging, een vlees dan one flesh mengilatkan persetubuhan, yang memang ada di dalam perkawinan, tetapi yang tidak dimaksudkan Rasul Paulus. Yang dimaksudkannya sehingga keduanya itu ibarat menjadi satu pribadi, atau satu orang.
2

Seminar Bahasa Liturgi dalam rangka Ulang Tahun PKBB ke-33

Hendaknya kita ingat bahwa kesalahan yang dibuat oleh seorang penerjemah itu, diwariskan kepada generasi yang berturut-turut, sehingga mengaburkan pengertian kebenaran Alkitab. Konsistensi dalam penggunaan kata terjemahan itu sendiri, tidak perlu merupakan kebajikan. Orang dapat memakai kata yang tepat secara konsisten; maka jika demikian, kita dapat bersyukur. Tetapi orang dapat memakai kata yang salah secara konsisten pula seperti dalam pemakaian kata damai, terang, roh, dan daging. Dalam hal ini kita hanya dapat menggeleng dan menundukkan kepala. Bahkan dengan tiada ragu-ragu kita dapat mengajukan suatu dalil, bahwa adanya konsistensi yang mutlak dalam naskah kita, justru jadi bukti bahwa terjemahan itu tidak baik. Nida (1961, 1964) dan Larson (1984) dua orang linguis Amerika yang terkemuka, dan yang sampai sekarang terlibat dalam usaha penerjemahan American Bible Society, mengarang dua buku pegangan yang sangat berharga, yakni: Bible Translating, dan Meaning Based Translation. Menurut kedua sarjana itu haruslah diadakan penelitian pendahuluan sebelum kita menyelenggarakan suatu terjemahan yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena sabda Allah harus dibawa kepada angkatan manusia yang turun-temurun dalam proses sejarah dengan kejelasan yang tidak berkurang, maka tidak ada terjemahan yang final atau tetap. Janganlah dilupakan bahwa kumpulan Injil pun selama abad-abad yang pertama berubah-ubah naskahnya dalam penyalinan karena pengurangan atau penambahan oleh para pengutip dahulu. Oleh karena itu, pekerjaan revisi itu, lekat pada usaha penerjemahan Alkitab. Cepat lambatnya revisi itu diperlukan bergantung pada laju perubahan masyarakat dan bahasanya. Untuk bahasa yang baru berfungsi sebagai alat komunikasi yang melingkupi seluruh masyarakat bahasa, seperti bahasa Indonesia dengan proses perubahannya yang lebih cepat dari pada bahasa yang sudah stabil, maka revisi harus dilakukan setiap 10 sampai 15 tahun sekali. Patut ditambahkan di sini bahwa revisi hanya dapat dipertanggungjawabkan, jika benar-benar membawa perbaikan dalam naskah Alkitab baik ditinjau dari sudut eksegesis maupun dari sudut penuturan bahasa. Perbedaan struktur bahasa mengakibatkan adanya keperluan contextual explanation of meaning (Nida 1964). Kita tidak dapat memakai kata terjemahan yatim jika anak itu, ibunya yang meninggal dunia misalnya. Atau ambillah contoh dalam Lukas (7:50), frasa: Vade in pace ucapan Sri Yesus terhadap Maria Magdalena. Dengan senang kita lihat terjemahan dalam Alkitab LAI yang berbunyi: Pergilah dengan selamat. Kata damai dalam konteks ini sungguh tidak tepat karena kita tidak habis berperang. Kesalahan kita dalam pemakaian bahasa kegerejaan ialah kurangnya perhatian kita terhadap kata dan kombinasinya sebagai lambang sosial. Ditinjau dari sudut itu maka kata benedictio mungkin saja berarti: memuji, memintakan berkat atas seseorang, menahbiskan sesuatu, dan merestui. Kita dapat menyangkal suatu tuduhan, akan tetapi benarkah Petrus menyangkal Sang Kristus seperti seorang yang dibaptis menyangkal setan? Petrus akan tidak mengaku kenal Sang Kristus tiga kali sebelum ayam berkokok (Matius 26:75 dan Markus 14:72). Perbedaan struktur bahasa antara lain dapat diperinci sebagai berikut. (1) Perbedaan dalam kelas kata. Dalam bahasa Latin, adjektiva karena infleksinya termasuk golongan nomina. Dalam bahasa Indonesia apa yang kita sebut sampai sekarang kata adjektiva seturut perilaku sintaksisnya lebih mirip pada kata verba taktransitif, dan sebaiknya digolongkan pula ke dalam kelas itu. Perbedaan dalam kategori gramatikal. Tidak semua kategori makna seperti waktu, jenis kelamin, dan jumlah dalam bahasa Indonesia dijadikan kategori gramatikal. Pemakai bahasa indonesia tentu mengenal perbedaan waktu antara yang lampau, yang kini, dan yang mendatang. Akan tetapi, perbedaan itu tidak terungkap dalam bentuk verbal dalam kalimat. Dengan kata lain, kategori makna (semantik) itu tidak digramatikalkan. Perbedaan itu dapat diungkapkan dengan satuan leksikal seperti kata, dengan kata lain dapat dileksikalkan. Bahasa Indonesia tidak mengenal kala (tense) atau tempus. Suatu peristiwa lebih banyak dilihat dari sudut perkembangan prosesnya. Kata telah (Jawa; telas) artinya habis, selesai, bukan waktu yang lampau. Perbedaan pemakaian pronomina. Pronomina menyulih nomina bila sudah jelas siapa atau apa yang dibicarakan pada peristiwa bahasa. Jenis pronomina yang bertalian dengan tema seminar ini ialah pronomina persona. Setiap bahasa memiliki sistem pronomina persona yang khas yang tidak selalu sama.
3

(2)

(3)

Seminar Bahasa Liturgi dalam rangka Ulang Tahun PKBB ke-33

Bahasa Arab, misalnya, mengenal sistem yang berikut. 1 an (mask + fem) sing 2 anta (mask. sing) 2 antum (m + f) dualis 2 anti (fem. sing) 3 huwa (mask. sing) 3 hum (m + f) dualis 3 hiya (fem. sing) Bahasa Belanda 1 ik 2 jij, je (akrab) u (santun) gij, ge (klasik) 3 hij, ie (m. sing) zij, ze (f. sing) her, t (netral. sing) Bahasa Latin 1 ego (n) 2 tu (n) 3 is (n) ea (n) mei (g) tai tai eius 1 mijn 2 je, jouw uw 3 zijn haar ons jullie hun haar

1 nahnu (m + f plur) 2 antum (m. plur) 2 antunna (f. plur) 3 hum (m. plur) 3 hunna (f. plur)

1 wij, we (plur) 2 jullie, je (akrab plur) - u (santun) - gij, ge (klasik) 3 zij, ze (m + f. plur) 3 zij, ze (m + f. plur)

mihi (d) tibi tibi ei kukau-

me (ak) te eum eam -ku -mu -nya

1 nos (n) 2 vas 3 eae ea 1 kami (plur. ekskl) kita (plur. inkl) 2 kalian (plur.akrab) 3 mereka (plus. netr)

Bahasa Melayu/Indonesia 1 aku (akrab) saya (santun) 2 engkau, kau (akrab) kamu (akrab) anda (formal) 3 ia, dia beliau (hormat)

Dalam bahasa Arab yang berstandar, pronomina persona kedua mengenal bentuk: anta (mask. sing.), anti (fem. sing), antuma (dual), antum (mask. pl.), dan antunna (fem. pl.). Jadi ternyata bahwa perbedaan bentuk ditentukan oleh kelainan jenis kelamin lawan bicara. Perbedaan status tidak mempengaruhi pilihan pronomina Arab. Maka terhadap Allah pun digunakan kata anta. Itulah kebebasan yang diberikan oleh struktur bahasa Arab. Kebebasan itu kemudian diterapkan dalam terjemahan al-Quran dan kitab keagamaan Melayu dengan mengganti secara konsekuen tiap kata anta dengan engkau. Karena hubungan seorang Muslim dengan Tuhan, bukan hubungan seorang anak dengan bapaknya, Allah dalam agama Islam tidak pernah disapa dengan Bapa. Maka dalam terjemahan Melayu bahasa kitab keagamaan Islam tidak pernah kedapatan penggunaan kata Bapa, Engkau, dan Mu, dalam satu deretan, seperti lazimnya kita lihat dalam bahasa kegerejaan. Dalam pada itu ungkapan: et benedictus fructus ventris tui Jesus, dalam gereja Katolik yang berbahasa Arab diterjemahkan: wa mubaraku thamaratu batniki: Sayidun Isa al Masihu. Bagian kedua kalimat terjemahan itu, kata demi kata berarti Junjungan kami Is al Masih. Di sini kita lihat, bahwa umat Katolik yang berbahasa Arab itu, tidak sampai hati menyebut anak Bunda Maria secara langsung dengan Isa, sesuai dengan kata-kata kalimat Latinyya. Dalam bahasa Prancis orang menyapa Tuhan dengan Tu, atau Toi, tetapi jangan kita lupa bahwa anak Prancis menyapa orang tuanya juga dengan tu dan toi. Jadi ditinjau dari sudut pemakaian bahasa Prancis, penderetan kata Pre dengan tu dan toi tidaklah janggal. Karena sistem Melayu/Indonesia memperlihatkan rumpang (gap) dalam sistem pronomina personanya, muncullah penyulih (substitute) yang berasal dari nama pribadi dan istilah kekerabatan untuk mengisi rumpang itu. Pengisi rumpang itu dipakai sebagai bentuk yang santun, formal, atau hormat. Istilah bapak dan ibu dapat mengacu ke persona pertama, kedua, dan ketiga. Tuan, Nyonya, dan Nona masih juga dipakai di ranah profesi, seperti di bidang hukum dan kedokteran. Secara umum dapat disimpulkan bahwa frasa nominal yang dipakai sebagai sapaan (term of address) memiliki fungsi vokatif.
4

Seminar Bahasa Liturgi dalam rangka Ulang Tahun PKBB ke-33

Perhatikan contoh yang berikut. Lin, Bapak berangkat ke kantor, ya. (pers. pertama) Pak, Bapak dari mana? (pers. kedua) Lin, ke mana Bapak tadi? tanya Ibu. (pers. ketiga) Lin mau ikut, Pak! kata anaknya. Jika terjadi keraguan bagaimana orang harus disapa dalam bahasa Indonesia ada beberapa strategi untuk menghindari tuduhan bersikap kurang adab atau kurang hormat. Strategi yang pertama ialah penggunaan subtitut yang lebih hormat daripada yang disyaratkan. Cara yang kedua ialah tidak memilih sapaan apapun, sedangkan strategi ketiga berupa penggunaan pronomen nya. Misalnya, Tinggal di mana? dan Di mana rumahnya? Kami bersyukur (padamu) ya, Tuhan. Kata pronomina Indonesia lebih terbatas distribusi pemakaiannya dari kata nomina. Dalam terjemahan sekarang, kita lihat bahwa tiap kata ganti dalam bahasa sumber, dengan serta merta diterjemahkan dengan pronomina Indonesia. Dalam bahasa Inggris atau Belanda pemakaian kata pronomina jauh lebih tinggi frekuensinya. Dalam pengacuan sebuah kata nomina, kita tidak mengulanginya, karena hukum stilistik kedua bahasa itu berbeda. Bandingkanlah dengan kebiasaan bahasa Indonesia seperti: Buku ini, buku saya, sedangkan seorang Inggris lebih condong memakai This book is mine. Agar supaya kalimat jadi lancar sesuai dengan pemakaian yang tepat, maka ada kalanya kata pronomina dalam sebuah teks harus disalin dengan kata nomina yang sudah disebut sebelumnya. (4) Adanya kata penggolong yang menentukan golongan kata nomina Indonesia dalam beberapa genus yang berlainan dasarnya dari bahasa klasik Barat. Ada kata penggolong orang, ekor, buah. Lagi pula perlu kita sertakan kata kota di muka Yerusalem, kata sungai di muka kata Yordan, kata bunga di muka mawar, kata bukit di muka kata Golgota. Kategori penggolong itu, yang sebenarnya menjadi ciri khas yang elok, karena pengaruh bahasa Eropa Barat dewasa ini sudah mulai menghilang. Kata orang demi ekonomi kata. Perbedaan urutan kata dan sintaksis. Dalam dialog kita sehari-hari, kita tidak pernah akan memakai frasa berkata kepada atau bersabda kepada, ataupun berkata, mengatakan, atau dikatakan. Jadi kalimat seperti, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak berbuat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak masuk ke dalam kerajaan surga. (Matius 18:3) tidak terlalu mirip dengan bahasa Indonesia yang hidup. Di dalam sapaan, bahkan dalam doksologi terhadap Tuhan, kawan bicara tidak perlu diungkapkan. Jika ingin tahu tamu kita sudah makan atau belum, cukup ditanyakan, (Saudara/kamu) sudah makan? dan tidak pernah Saya bertanya kepadamu, apakah kamu sudah makan? Kami berterima kasih atas hadiah ini, dan tidak perlu Tuhan, kami bersyukur kepada Mu. Lagi pula ada perbedaan makna sekarang antara sesungguhnya, dengan sesungguhnya, dan sunguh-sungguh Apa yang secara umum masih disebut kalimat pasif dalam bahasa Indonesia, secara struktural sebenarnya tidak lain dari pada variasi kalimat, tetapi yang tempatnya tidak pada awal suatu pernyataan atau pemberitaan. Jadi di sini soalnya bukanlah masalah aktif pasif, melainkan soal pengacuan atau reference. Bandingkanlah kalimat ini: Kubeli buku, bukan kalimat yang baik. Kalimat itu baru akan muncul jika berbentuk Kubeli buku itu, dengan pengacuan ke pokok yang sudah disebut lebih dahulu. Perhatikanlah kalimat yang berikut ini: "Kerajaan surga itu ibarat seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar hendak mengupah buruh untuk kebun anggurnya. Setelah diadakannya persetujuan dengan buruh itu sedinar sehari maka disuruhnya mereka itu masuk ke kebunnya." Perbedaan konstruksi kalimat dalam bahasa sumber dan bahasa Indonesia. " Dalam bahasa Indonesia terdapat gejala parataksis dengan frekuensi yang tinggi, yang menghindari struktur kalimat yang berbelit-belit. Sering kali kalimat Rasul Paulus yang panjangnya bisa sampai satu pasal, perlu dipotong-potong jadi beberapa kalimat.

(5)

(6)

Seminar Bahasa Liturgi dalam rangka Ulang Tahun PKBB ke-33

(7)

Perbedaan pemakaian frasa yang berpreposisi. Mungkinkah kata in Latin di muka sebuah kata nomina selalu diterjemahkan dengan dalam? Padahal sebagai penutur bahasa di luar gereja, kita tidak mengalami kesukaran dengan preposisi lokatif ini yang dapat berarti "di, pada, di dalam, demi, atas, atau dengan". Apa pula makna ucapan "Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus." Orang Indonesia mengenal ungkapan atas nama dan dengan nama, tetapi dalam nama diartikan tidak sungguhsungguh. Orang Sunda Katolik akan mulai berdoa dengan Kalayan asmana Rama sareng Putra sareng Roh Suci. Hamin. Di Jawa Tengah tanda salib diiringi doa Konjuk ing asma Dalem Hyang Rama, saha Hyang Putra, tuwin Hyang Roh Suci. Amin. Orang Katolik di negeri Arab akan mulai berdoa: Bismi Abi wa Ibni wa rhil kudsi, Allahu whid. Tata adab berbahasa yang berbeda. Bahasa Indonesia seperti beberapa bahasa Timur yang lain mengenal sistem ketakziman yang cermat. Dalam pemakaian kata pronomina orang harus memperhatikan "jarak psikologis" yang ada di antara pembicara, lawan bicara, dan pokok pembicaraan. Yang dianggap jauh jaraknya ialah orang yang lebih tua, yang lebih dihormati di masyarakat dan yang tidak akrab hubungannya dengan pembicara. Maka dalam Alkitab haruslah diperhatikan bahwa misalnya kaum Farisi dan Saduki dalam masyarakat Yahudi, menempati kedudukan yang jauh lebih tinggi daripada Sri Yesus, seorang anak tukang kayu, yang bersahabat dengan para nelayan. Selanjutnya kisah Injil itu berlaku pada masa Sang Kristus boleh dikatakan masih muda usianya. Lagi pula kaum Farisi dan Saduki itu tidak begitu kenal dengan Sri Yesus. Semua faktor itu menentukan pilihan kata terjemahan kita. Seorang penerjemah yang ingin menyatukan faktor budaya dan linguistik sebaiknya memprojeksi situasi budaya bahasa sasaran ke dalam kisah Alkitab dan mencari pasangan yang sepadan. Dalam pergaulan umum atau pergaulan yang sopan, kata aku, engkau, kamu, jarang dipakai, karena dipandang kurang takzim. Pemakaiannya terbatas pada bahasa dalam susastra, doa, dan percakapan di antara orang yang akrab hubungannya seperti anak-anak, teman, orang tua dengan anaknya (tetapi tidak seba!iknya). Kata kamu, yang dahulu dipakai di samping engkau sekalian, sekarang di beberapa wilayah Indonesia dirasakan kurang hormat. Maka dalam bahasa Indonesia janggallah ucapan Sang Kristus terhadap para alim ulama dan wali negeri Ponsius Pilatus, seperti berikut ini: (Markus 14:62) jawab Yesus, "Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit." Lalu (Matius 27: 11) Dan wali negeri bertanya kepadanya, "Engkaulah raja orang Yahudi? Jawab Yesus, "Engkau sendiri mengatakannya". Bagaimana mungkin seorang terdakwa berbahasa begitu. Walaupun kita yakin bahwa Yesus itu Tuhan, orang yang menginterogasinya beranggapan Ia seorang pemberontak atau seorang durhaka. Maka lebih wajar jika Yesus memberi jawaban seperti, "Memang begitu seperti kata Tuan, dan Tuan akan melihat anak manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan ia akan datang di tengah awan di langit. Selanjutnya, atas pertanyaan Ponsius Pilatus jawab Yesus, 'Apakah Tuan mengatakan hal itu dari hati Tuan sendiri atau ada orang lain yang mengatakannya tentang saya?" Bagaimanakah orang Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia sekarang mengadakan dialog dengan bapaknya atau dengan orang yang dituakannya? Dapatkah kita dengar pertanyaan seperti: "Bapak, boleh saya pakai mobilmu?" atau "Bapak, engkau sedang ditunggu orang. Begitukah orang bercakap dengan ayahnya? Demikian pula tidak dapat dibayangkan bahwa Yesus seorang anak, akan berengkau atau berkamu dengan orang tuanya dalam bahasa Indonesia. Perhatikanlah kaIimat yang berikllt ini: Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu? (Lukas 2:49). Tidakkah lebih wajar jika jawaban Yesus itu begini: "Mengapa Bapak dan Ibu mencari saya? Tidakkah Bapak dan Ibu tahu, bahwa saya harus hadir dalam hal ihwal ayah saya?" Contoh-contoh yang terkutip di atas menunjukkan bahwa penambahan dan pengurangan yang dapat dipertanggungjawabkan hanyalah menyangkut satuan bahasa yang diharuskan oleh kaidah bahasa Indonesia.

(8)

Seminar Bahasa Liturgi dalam rangka Ulang Tahun PKBB ke-33

Setakat ini bahasa Indonesia formal untuk banyak orang Indonesia masih merupakan bahasa kedua. Dalam rangka penerjemahan doa harian dan Alkitab, hal ini membawa juga persoalan perbedaan ragam dalam bahasa Indonesia, sebagai akibat pengaruh bahasa daerah masing-masing. Istilah ragam di sini tidak berkonotasi buruk, tetapi sekadar menunjukkan pada varietas bahasa. Masalah yang kita hadapi ialah dalam ragam bahasa Indonesia' manakah harus diselenggarakan terjemahan Alkitab? Dapatkah dipertanggungjawabkan jika kita mengeluarkan beberapa terjemahan berdasarkan dialek yang dipakai dalam wilayah Indonesia yang tertentu. Misalnya satu terjemahan untuk wilayah Sumatera, satu untuk wilayah Jawa, satu untuk Nusa Tenggara, dan satu untuk Indonesia bagian Timur? Ataukah harus diusahakan suatu terjemahan berdasarkan prinsip, bahwa semua ragam bahasa Indonesia yang penting harus dicerminkan dengan cara pengintegrasian unsur-unsur ragam itu masingmasing dalam naskah itu? Ataukah kita pilih jalan ketiga, dengan mempergunakan satu dialek yang dominant sehingga terjemahan itu, sekalipun tidak merupakan bahasa yang dipakai semua golongan Indonesia, masih merupakan bahasa yang benar-benar terpakai dalam kenyataan? Terjemahan dalam beberapa ragam pada masa ini agaknya merupakan suatu kemewahan. Baik ditinjau dari sudut tenaga maupun dari sudut biaya. Terjemahan yang sifatnya komposit, hasil ramuan beberapa dialek, yang tidak menggambarkan suatu dialek yang hidup dan yang benar-benar dipakai orang, mempunyai keberatan tidak didukung oleh suatu masyarakat bahasa. Sebagai bahan bandingan disertakan contoh bahasa Jawa, Sunda, Arab, Melayu, dan Indonesia untuk menunjukkan perbedaan sikap penerjemah ketika berhadapan dengan penerapan tata adab berbahasa. R. K. Rama kawula ing swarga, Asma Dalem kaluhurna Kraton Dalem mugi rawuha. Karsa Dalem kalampah ana wonten in donya kados ing swarga. Kawula nyuwun rejeki kanggo sapunika. Sekathahing lepat nyuwun pangapunten Dalem, kadosdene anggen kawula ugi ngapunten dhateng sesami. Kawula nyuwun tinebihna saking panggodha. Saha linuwarna saking piawon. Amin S. B. Sembah bekti kawula, Dewi Maria, kekasihing Allah Pangeran nunggil ing panjenengan Dalem. Sami-sami wanita Sang Dewi pinuji piyambak, saha pinuju ugi wohing salira Dalem, Sri Yesus. Dewi Maria, Ibuning Allah, kawula tiyang dosa sami nyuwun pangestu Dalem, samangke tuwin benjing dumugining pejah. Amin (Padupan Kencana, 1986) Kanjeng Rama nu jumeneng di suwarga, mugi dimulyakeun jenengan Gusti, mugi sumping kerajaan Gusti, mugi kalaksanakeun pangersa Gusti, di dunya sapertos di sawarga mugi gusti maparim rejeki ka abdi sadaya dina dinten ieu. Sareng mugi Gusti ngahapunten kalepatan abdi sadaya sapertos abdi sadaya oge ngahapunten kanu garaduh kalepatan ka abdi. Sareng mugi Gusti ulah ngalabetkeun abdi sadaya kana panggoda. nanging mugi Gusti ngalepaskeun abdi sadaya tina kaawonan. Hamin

Seminar Bahasa Liturgi dalam rangka Ulang Tahun PKBB ke-33

Sembah bektos kaula Maria, pinuh ku sih kurnia. Pangeran nyarengan anjeun Diberkahan anjeun tiantawis para istri, sareng diberkahan buah kandungan anjeun, Gusti Yesus, Santa Maria, Ibu Gusti Allah, abdi sadaya jalmi dosa, nyuhunkeun pidoana, ayeuna sareng engke dina waktos abdi sadaya maraot. Hamin (Rm. Th. M. Suharman, o.s.c. 1992) Bismi A:bi wa ibni wa ru:hil kudsi, Allahu wa:hid Aba:nal adhi fis sama:wa:ti Li yataqaddasa ismuka. Li ta'ti malakatuka, Li taku:na masyi'atuka kama: Fis sama:'i kadzalika 'ala:l ardi A:tina khubzana: kifa:yata yaumina: Waghfir lana: dhunu:bana:, wa khatha:ya:na:, kama: nahnu Naghfiru liman asa:a 'alaina. Wa la: yudkhilna: fi: tajarribina:, la:kin najjina: min syarrin. Amin As-sala:mu 'alaiki ya: maryamu Ya mumtali'atan-nimati. Ar-rabbu ma 'aki Muba:rakatun anti fin-nisa:i, wa muba:rakatun tsamara:tu batniki sayyiduna 'i:sa al-masi:h, ya qadda:sata maryama, ya wa:lidata ila:hi shalli: li ajlina nahnul khatta 'u:na, al-a:na wa fi: saati; mautina:. Amin (Berkat bantuan transkripsi oleh Dr. Abdul Tharik Wastono) Bappa kita, jang berdudok kadalam surga bermumin menjadi akan nama-mu. Radjat-mu mendatang Kahendak-mu menjadi Di atas bumi seperti di dalam surga Berila kita makananku sedekala hari. Makka berampunla pada kita doosa kita, Seperti kita ber-ampun akan simpa ber-sala kapada kita. Djang-an hentar kita kapada setana seitan. tetapi muhoon-la kita dari pada iblis. (Terjemahan A.C. Ruyl, 1629) Bapa kami yang di surga Dipermuliakanlah Nama Bapa Datanglah kerajaan Bapa Jadilah kehendak Bapa Seperti di surga, demikian juga di dunia Berilah kami pada hari ini rezeki kami yang secukupnya Dan ampunilah kiranya kesalahan kami Seperti kamipun mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Janganlah kami dibawa ke penggodaan tetapi lepaskan kami dari yang jahat (usulan Kristo Muliono)

Seminar Bahasa Liturgi dalam rangka Ulang Tahun PKBB ke-33

Mat.6:9-13 Our Father in heaven Help us to honor your name Come and set up your kingdom so that everyone on earth will obey you as you are obeyed in heaven Give us our food for today Forgive us for doing wrong as we forgive others. Keep us from being tempted and protect us from evil (Comtemporary English version of the Bible, LAI, 1998) Seharusnya kita mengadakan penelitian tentang adanya berbagai pusat geografis dan pusat budaya yang menduduki tempat terkemuka dalam pemakaian bahasa Indonesia. Ragam bahasa Indonesia yang dipergunakan oleh kalangan yang berkuasa akan lebih mudah menempati kedudukan yang dominan dan mempunyai gengsi untuk seluruh masyarakat bahasa Indonesia. Dialek inilah yang akan disebut bahasa Indonesia umum yang baku. Dalam hal ini faktor numerik lebih menentukan dari faktor penyebaran geografis. Pemakaian bahasa Indonesia umum, yang juga dipakai oleh masyarakat di luar gereja Kristen, mensyaratkan, bahwa kita harus selalu waspada terhadap perbedaan antara bahasa kegerejaan dan bahasa Indonesia umum itu. Akibat dari perbedaan yang terlalu besar akan menghasilkan gangguan komunikasi yang fundamental antara umat Kristen dan yang bukan. Agama Kristen akan mudah dianggap sebagai suatu corak ibadat yang asing, karena pengungkapannya yang asing. Dialog kita akan lebih sulit, lebih-lebih bagi orang yang masuk golongan yang terpelajar. Pada hal kita tahu bahwasanya sabda Allah itu harus diantarkan kepada orang Indonesia yang justru tidak dan belum mengenal kebenaran ajaran dan kasih sayang Sang Kristus. Pustaka Acuan Alkitab. Cetakan ke-156. 1996. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia. Cotterell, P dan M. Turner. 1989. Linguistics and Biblical Interpretation. Downers Grove: Intervarsity Press. Gentzler, E. 1993. Contemporary Translation Theories. London: Routledge. Larson M.L. 1984. Meaning-based Translation: A Guide to Cross-Language Equivalence. Lanham, MD: University Press of America. Mundy, J. 2001. Introducing Translation Studies: Theories and Applications. London: Routledge. Nida, E.A. 1961. Bible Translating: An Analysis of Principles and Procedures, with Special Reference to Aboriginal languages. sec. edn. London: United Bible Society. Nida, E.A. 1964. Toward a Science of Translating, with Special Reference to Principles and Procedures Involved in Bible Translating. Leiden; EJ. Brill.

Seminar Bahasa Liturgi dalam rangka Ulang Tahun PKBB ke-33

PRESENTASI

RIWAYAT HIDUP Anton M. Moeliono dilahirkan 21 Februari 1929 di Bandung. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya pada Fakultas Sastra, Universitas Indonesia (1958); meraih gelar MA (linguistik umum) pada Universitas Cornell, AS (1965); pernah belajar di Universitas Leiden (1971--1972), di East-West Center dan Universitas Hawaii (1977), di Universitas Nasional Australia (1980) dan memperoleh gelar doktor ilmu sastranya pada Universitas Indonesia (1981). Tahun 1982-1994, ia menjadi guru besar bahasa Indonesia dan linguistik, memangku jabatan Ketua Program Studi Pascasarjana Ilmu Sastra (1982--1983) serta jabatan Ketua Jurusan Sastra Germania (1983--1984) pada Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Pada tahun (1984--1989) ia menjadi Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dia kembali mengajar di U.I. dan mengasuh Program Magister dan Doktor Linguistik (1990--2000) di samping menjadi Ketua Program Studi Belanda (1992--1995). Pada tahun 1993 ia mulai mengajar di Program Magister Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Universitas Atma Jaya dan jadi ketua programnya tahun 2000---004. Antara 1990 dan 1993 ia menjadi professor tamu di Universitas Goethe, Frankfurt, dan penguji luar di Universitas Leiden dan Brabant. Pada tahun 1995 ia menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Melbourne. Beberapa terbitan yang penting : Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Ancangan Alternatif dalam Perencanaan Bahasa (1985), Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (editor) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988), Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan Tersebar (1989).

10