Anda di halaman 1dari 40

EVALUASI AIR ASAM TAMBANG PADA LAHAN BEKAS TAMBANG YANG DITINGGALKAN

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI............................................................................................................. 2 DAFTAR GAMBAR...................................................................................................3 KATA PENGANTAR..................................................................................................4 BAB I

PENDAHULUAN...................................................................................................... 6 1. LATAR BELAKANG...........................................................................................6 a. Dasar Hukum...............................................................................................6 b. Gambaran Umum Singkat...........................................................................7 c. Alasan Kegiatan Dilaksanakan.....................................................................8 2. Maksud dan Tujuan.........................................................................................8 a. Maksud Kegiatan.........................................................................................8 b. Tujuan Kegiatan...........................................................................................8 3. Sasaran dan Indikator Keluaran .....................................................................9 a. Sasaran........................................................................................................9 b Indikator Keluaran (output)..........................................................................9 BAB II

METODOLOGI.......................................................................................................10 1. PELAKSANAAN KEGIATAN.............................................................................10 2. Identifikasi Referensi, Kebutuhan Data Primer Dan Data Lainnya................15 a. Bahasan yang berkaitan dengan regulasi..................................................16 b. Bahasan Yang Berkaitan Dengan Kajian Ilmiah.........................................19 c. Isu AAT Yang Berkembang Di Masyarakat.................................................31 3. Lokasi Kegiatan dan Parameter Survey .......................................................33 a. Lokasi Survey............................................................................................33 b. Parameter survey dan pengambilan data lapangan .................................34 c. Rencana Jadwal Kegiatan Lapangan..........................................................36 DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 38 2

DAFTAR GAMBAR

gambar 1 TABULASI PERSONIL PELAKSANA.........................................................14 gambar 2 STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANA...................................................14 gambar 3 TABULASI JADWAL DAN KEGIATAN......................................................15 gambar 4 PENGARUH PENAMBANGAN PADA PEMBENTUKAN AAT.......................21 gambar 5 DIAGRAM PH : UKURAN KEASAMAN MENURUT PH...............................22 gambar 6 AIR ASAM TAMBANG DI SUATU LOKASI INSITU....................................23 gambar 7 REAKSI PEMBENTUKAN AIR ASAM TAMBANG.......................................24 gambar 8 INDIKATOR VISUAL AAT.......................................................................27 gambar 9 Persamaan 1........................................................................................29 gambar 10 Persamaan 2a....................................................................................29 gambar 11 Persamaan 2b....................................................................................29 gambar 12 Daftar Kebutuhan Data Lapangan.....................................................35 gambar 13 Jadwal Lapangan................................................................................37

KATA PENGANTAR

Tulisan ini merupakan laporan pendahuluan dari Evaluasi Air Asam Tambang pada Lahan Bekas Tambang Yang Ditinggalkan sesuai dengan KAK (Kerangka Acuan Kerja) yang disusun berdasarkan USTEK (Usulan Teknis) dari dan telah disetujui oleh Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral, Batubara dan Panas Bumi, Satuan Kerja Direktorat Jenderal Mineral, Batubara dan Panas Bumi, Departeman Energi dan Sumber Daya Mineral RI. Metode yang digunakan dalam kajian ini dilakukan melalui pendekatan teoritisnormatif dan pendekatan empirik . Rancangan kajian disusun dengan memperhatikan teori-teori, hasil studi dan penelitian tentang AAT yang sudah pernah dilakukan di berbagai daerah, kebijakan instansi sektor ESDM dan Lingkungan Hidup di pusat maupun di daerah (propinsi/ kabupaten), serta ketentuan-ketentuan hukum yang berkaitan dengan Air Asam Tambang, Air Limbah, Baku Mutu Air, Reklamasi, Pascatambang, dan sebagainya. Rancangan kajian juga menyusun kerangka sistematis yang akan digunakan dalam pengambilan sampel secara langsung di lapangan. Secara garis besar isi yang disajikan dalam laporan ini merupakan Persiapan Pelaksanaan Pekerjaan yang meliputi: Koordinasi dan pemantapan tim dalam pelaksanaan kegiatan terutama terkait dengan survai lapangan; Identifikasi referensi, kebutuhan data primer dan data sekunder; Penentuan rencana kerja secara detil dan lengkap mencakup metode, pelaksanaan dan jadwal survei serta jadwal kegiatan lain sampai kegiatan ini berakhir; Rancangan dan persiapan instrumen survey seperti wawancara, surat-surat izin turun ke lapangan dari instansi terkait dalam hal ini Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral, Batubara dan Panas Bumi Satuan Kerja Direktorat Jenderal Mineral, batubara dan Panas Bumi Kementerian Energi Sumberdaya Mineral; serta 4

Studi pustaka yang berkaitan dengan wilayah studi, termasuk hasilhasil survai terdahulu maupun berbagai laporan dari berbagai pihak terkait dengan evaluasi air asam tambang pada lahan bekas tambang.

Materi yang disajikan dalam tulisan ini adalah bahan diskusi presentasi yang akan diajukan dihadapan Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral, Batubara dan Panas Bumi Satuan Kerja Direktorat Jenderal Mineral, batubara dan Panas Bumi Kementerian Energi Sumberdaya Mineral, sebagai pemberi kerja. Laporan pendahuluan ini merupakan sarana untuk menyamakan persepsi sekaligus untuk meminta masukan jika ada hal yang kurang sesuai dengan tujuan seperti yang telah ditetapkan oleh pemberi pekerjaan. Hasil presentasi tersebut selanjutnya dijadikan dasar untuk melakukan perbaikan dan pelaksanaan survey.

BAB I PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
a. Dasar Hukum UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. PP No 46 Tahun 2008 tentang Dewan Nasional Perubahan Iklim Peraturan Pemerintah No. 85 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Peraturan pemerintah No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 Tentang Reklamasi Dan Pascatambang Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor: 18
Tahun2008 Tentang Reklamasi Dan Penutupan Tambang.

Keputusan

Menteri

Pertambangan

dan

Energi

No.

1211.K/008/M.PE/1995 Pertambangan Umum. Keputusan Menteri

tentang Pencegahan dan Penanggulangan

Perusakan dan Pencemaran Lingkungan Pada Kegiatan Usaha

Energi

dan

Sumber

Daya

Mineral

No.

1453.K/29/MEM/2000 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Tugas Pemerintahan di Bidang Pertambangan Umum.

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 04 tahun 2006 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Bijih Timah

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 09 tahun 2006 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Bijih Nikel

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 113 tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Batubara

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 202 tahun 2004 tentang Baku Mutu air Limbah Bagi Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Bijih Emas dan atau Tembaga

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor. 0030 tahun 2005 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Pasal 446 huruf (i), Subdirektorat Lindungan Lingkungan Mineral, Batubara dan Panas Bumi menyelenggarakan bumi. fungsi: evaluasi pelaksanaan pembinaan

lindungan lingkungan di bidang usaha mineral, batubara dan panas

b. Gambaran Umum Singkat Air Asam Tambang (AAT), adalah air tambang yang mengandung sulfat bebas, terdapat sebagai air lindian, air rembesan, atau air penirisan yang telah tercemar/terpengaruh oleh proses oksidasi mineral-mineral sulfides yang terdapat pada batuan, sebagai akibat kegiatan eksploitasi dan atau eksplorasi bahan galian tambang baik mineral maupun batubara, sehingga air tersebut mempunyai nilai pH rendah (lebih kecil dari 6). Adanya air asam tambang dan besarnya AAT yang terjadi harus diketahui, hal ini terkait dengan tata cara dan pola penambangan yang dilakukan, dan bagaimana RKL- RPL atau UKL - UPL dilaksanakan. Karena itu mekanisme terjadinya AAT dan banyaknya AAT mutlak untuk diketahui. Seperti diketahui bahwa pembentukan AAT terjadi jika mineral sulfide terpapar pada kondisi teroksidasi. Sebagian besar permasalahan AAT berhubungan 7

dengan penambangan batubara dan bijih primer, karena pada kedua sumber ala mini terkandung banyak mineral sulfide (terutama pirit), baik pada badan bijih maupun batuan sampingnya. Kegiatan pertambangan khususnya pertambangan batubara dan mineral sebagai salah satu unsur sektor pertambangan yang memberikan kontribusi terhadap AAT tersebut. Oleh karena itu besaran kontribusinya perlu diukur dan digambarkan dengan secara konkret melalui evaluasi air asam tambang yang ditinggalkan. c. Alasan Kegiatan Dilaksanakan Saat ini belum ada data yang dapat dijadikan sebagai referensi nasional pada saat muncul berbagai isu air asam tambang (AAT) yang melibatkan sektor pertambangan mineral dan batubara. Evaluasi ini dapat menjadi dasar pertimbangan supaya pertambangan dapat berjalan dengan aman dengan memantau air asam tambang yang dihasilkan, serta untuk menetapkan kebijakan yang bertujuan untuk mengurangi air asam tambang pada kegiatan pertambangan mineral dan batubara.

2. Maksud dan Tujuan


a. Maksud Kegiatan Pelaksanaan kegiatan dimaksudkan untuk melakukan evaluasi air asam tambang pada lahan bekas tambang yang ditinggalkan yang berkaitan dengan kegiatan pertambangan mineral dan batubara. b. Tujuan Kegiatan Tujuan kegiatan ini untuk mendapatkan gambaran yang lengkapdan nyata dari besaran air asam tambang pada lahan bekas tambang yang ditinggalkan pada kegiatan pertambangan mineral dan batubara dan evaluasinya guna pengambilan kebijakan untuk mengurangi/meniadakan air asam tambang pada lahan bekas tambang yang ditinggalkan.

3. Sasaran dan Indikator Keluaran


a. Sasaran Memperoleh gambaran dan pola pembentukan air asam tambang (AAT) pada lahan bekas tambang yang ditinggalkan serta pengelolaannya. b Indikator Keluaran (output) Dokumen tentang hasil evaluasi air asam tambang pada lahan bekas tambang yang ditinggalkan.

BAB II METODOLOGI

1. PELAKSANAAN KEGIATAN
Kegiatan ini dimulai dengan perencanaan dan pembentukan tim. Tim kerja sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang telah disusun terdiri dari 1 (satu) orang Ketua Tim adalah Sarjana Teknik Lingkungan/Ilmu Lingkungan, tenaga ahli 3 (tiga) pertambangan, 3 (tiga) ahli geologi, 3 (tiga) ahli kimia dan 3 (tiga) ahli lingkungan. Selain tenaga ahli tim juga didukung seorang tenaga administrasi, operator kantor, dan surveyor seorang diploma (D3) dengan pengalaman kerja sedikitnya 2 (dua) tahun. Ketua Tim adalah seorang Sarjana Teknik Strata 2 (S2) Teknik Lingkungan/ Ilmu Lingkungan pengalaman dalam kegiatan pengelolaan lingkungan pertambangan mineral dan batubara minimal 5 (lima) tahun. Untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan, setiap personel yang terlibat dalam tugas kegiatan tersebut diberikan pemahaman dan terikat dalam disiplin sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab jabatan dalam tim. Hal tersebut penting dilaksanakan agar tidak terjadi konflik dalam tim akibat ketidak-jelasan tugas dan tanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan. Deskripsi tugas dan tanggung jawab setiap personil tim dirumuskan sebagai berikut: Ketua Tim/Ahli Pertambangan, memiliki tugas dan wewenang: Mengkoordinasikan seluruh kegiatan anggota tim kerja dalam pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan tata waktu pelaksanaan kegiatan. Melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan tenaga ahli dalam pelaksanaan pekerjaan, termasuk pembagian tugas dan tanggung jawab masing-masing personil.

10

Mengkoordinasikan pelaksanaan penelusuran data dan informasi awal yang diperlukan

Mengkoordinasikan penyusunan research design, termasuk rencana kerja dan kelengkapan survey (kuisioner) bersama-sama dengan tenaga ahli

Mengkoordinasikan

pelaksanaan

survey

lapangan

untuk

mendapatkan data dan informasi, baik primer maupun sekunder, khususnya terkait dengan Evaluasi Air Asam Tambang Pada Lahan Bekas Tambang Yang Ditinggalkan, intangible asset, dan SDM Mengkoordinasikan pelaksanaan analisis yang mencakup

ketersediaan sarana dan prasarana pendukung, kelembagaan, kebijakan, kondisi sosial masyarakat di daerah kajian untuk mendukung Evaluasi Air Asam Tambang Tambang Yang Ditinggalkan Mengkoordinasikan pelaksanaan konsultasi publik guna Pada Lahan Bekas

menganalisis faktor-faktor berpengaruh terhadap Evaluasi Air Asam Tambang Pada Lahan Bekas Tambang Yang Ditinggalkan, menjaring gagasan/pemikiran, isu-isu terkait, strategi dan kebijakan pemda; termasuk aktifitas sinkronisasi, verifikasi dan validasi atas hasil kegiatan yang telah dilaksanakan pada masing-masing daerah Mengkoordinasikan penyusunan Evaluasi Air Asam Tambang Pada Lahan Bekas Tambang Yang Ditinggalkan secara lengkap pada masing-masing daerah. Mengkoordinasikan dan menyusun laporan kegiatan secara berkala sesuai dengan persyaratan kontrak (SPK) dan mempertanggungjawabkan kepada pemberi kerja. Ahli Tambang, memiliki tugas dan wewenang: Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan tata waktu pelaksanaan kegiatan dan ruang lingkup yang ditetapkan Melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan ahli lainnya dalam pelaksanaan pekerjaan 11

Melaksanakan diperlukan

penelusuran

data

dan

informasi

awal

yang

Menyusun

research

design,

termasuk

rencana

kerja

dan

kelengkapan survey (kuisioner) Melaksanakan survey lapangan untuk mendapatkan data dan informasi, baik primer maupun sekunder, khususnya terkait dengan aspek geologi evaluasi air asam tambang pada lahan bekas tambang yang ditinggalkan Melaksanakan penyusunan dokumen dan rekomendasi evaluasi air asam tambang pada lahan bekas tambang yang ditinggalkan Menyusun laporan kegiatan secara berkala sesuai dengan

persyaratan kontrak (SPK). Ahli Geologi, memiliki tugas dan wewenang: Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan tata waktu pelaksanaan kegiatan dan ruang lingkup yang ditetapkan Melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan ahli lainnya dalam pelaksanaan pekerjaan Melaksanakan diperlukan Menyusun research design, termasuk rencana kerja dan penelusuran data dan informasi awal yang

kelengkapan survey (kuisioner) Melaksanakan survey lapangan untuk mendapatkan data dan informasi, baik primer maupun sekunder, khususnya terkait dengan aspek geologi evaluasi air asam tambang pada lahan bekas tambang yang ditinggalkan Melaksanakan penyusunan dokumen dan rekomendasi evaluasi air asam tambang pada lahan bekas tambang yang ditinggalkan Menyusun laporan kegiatan secara berkala sesuai dengan

persyaratan kontrak (SPK) 12

Ahli Kimia, memiliki tugas dan wewenang: Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan tata waktu pelaksanaan kegiatan dan ruang lingkup yang ditetapkan Melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan ahli lainnya dalam pelaksanaan pekerjaan Melaksanakan diperlukan Menyusun research design, termasuk rencana kerja dan penelusuran data dan informasi awal yang

kelengkapan survey (kuisioner) Melaksanakan survey lapangan untuk mendapatkan data dan informasi, baik primer maupun sekunder, khususnya terkait dengan aspek kimia evaluasi air asam tambang pada lahan bekas tambang yang ditinggalkan Melaksanakan penyusunan dokumen dan rekomendasi evaluasi air asam tambang pada lahan bekas tambang yang ditinggalkan Menyusun laporan kegiatan secara berkala sesuai dengan

persyaratan kontrak (SPK) Ahli Lingkungan, memiliki tugas dan wewenang: Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan tata waktu pelaksanaan kegiatan dan ruang lingkup yang ditetapkan Melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan ahli lainnya dalam pelaksanaan pekerjaan Melaksanakan diperlukan Menyusun laporan kegiatan secara berkala sesuai dengan penelusuran data dan informasi awal yang

persyaratan kontrak (SPK) Tim yang telah disusun telah melakukan koordinasi merumuskan tugas dan tanggungjawab masing-masing berdasarkan tahapan kegiatan, dan jadwal waktu yang telah diusulkan. Berikut adalah daftar anggota tim dan jadwal penugasan 13

personil kegiatan evaluasi air asam tambang pada lahan bekas tambang yang ditinggalkan:

gambar 1 TABULASI PERSONIL PELAKSANA

Secara umum struktur organisasi dalam kegiatan ini secara koordinatif tidak terlepas dengan Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral, Batubara dan Panas Bumi Satuan Kerja Direktorat Jenderal Mineral, batubara dan Panas Bumi Kementerian Energi Sumberdaya Mineral. Struktur Organisasi pelaksana kegiatan adalah:
PM I A I PN N P A l Ski T. uia a t I t r ai n l nen so a

D JE M E B IT N IN R A

KT ATM EU I A L LN K N A HI I G U G N

A LT M A G HI A B N (3 O A G ) RN

A L G OO I HI E L G (3 O A G ) RN

A L KMA HI I I (3 O A G ) RN

A L LN K N A HI I G U G N (3 O A G ) RN

S F P N U U G TA F E D K N S K E A IS E R T R OE AO K MU R P R T R O P TE

gambar 2 STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANA

14

Jadwal kegiatan yang diusulkan sampai dengan tahap akhir kegiatan adalah sebagai berikut:

gambar 3 TABULASI JADWAL DAN KEGIATAN

2. Identifikasi Referensi, Kebutuhan Data Primer Dan Data Lainnya


Studi literatur yang merupakan informasi awal dari kegiatan ini akan menjadi acuan penting untuk melakukan Studi lapangan dan menentukan lokasi bekas tambang yang dipilih sebagai lokasi studi untuk melakukan pengambilan sampel dan mengumpulkan data yang berkaitan dengan AAT secara langsung di lapangan. Sampel yang diperoleh dari lapangan kemudian di analisis di laboratorium untuk mendapatkan data yang diperlukan seperti kualitas air, tanah, dan batuan sekitar lokasi kegiatan, dan data lainnya yang diperlukan. Literatur bahan kajian yang dikumpulkan bisa dalam bentuk buku maupun artikel dalam bentuk hard copy maupun soft copy yang diperoleh melalui internet maupun institusi terkait yang disajikan secara tertulis. Hasil kajian literatur tersebut akan memperoleh gambaran secara umum tentang kegiatan pertambangan mineral dan batubara yang dilakukan selama ini dalam kaitannya dengan AAT. Dari hasil telaah literatur akan diperoleh indikator keluaran yang diharapkan dalam kegiatan ini, yaitu korelasi antara Air Asam Tambang, Tata Kegiatan Penambangan yang baik, dan Keseimbangan ekosistem yang terjaga baik. Melalui korelasi tersebut akan didapat asumsi dan hipotesis sebagai rumusan 15

masalah yang akan memberi arah bagaimana dan mengapa evaluasi ini akan dilakukan. Rumusan masalah yang telah dibuat akan menentukan jenis data dan parameter yang perlu diambil di lapangan. Identifikasi referensi, kebutuhan data primer dan data sekunder dilakukan secara sistematis dengan mengelompokkan bahan literatur menjadi bahasan yang berkaitan dengan regulasi, kajian ilmiah, dan isu yang berkembang di masyarakat. dasar Secara Tata sistematis kegiatan telaah literatur akan dibahas dengan menggunakan kelompok bahasan tersebut dan keluaran kajian ini mengacu pada pemikiran Penambangan yang baik, Keseimbangan Ekosistem, dan Air Asam Tambang. a. Bahasan yang berkaitan dengan regulasi Kegiatan pertambangan mineral dan batubara di Indonesia diatur dalam UU no 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Usaha Pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstrultsi, penambangan, pengolahan: dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta pascatambang. Kegiatan pascatambang, yang selanjutnya disebut pascatambang, adalah kegiatan terencana, sistematis, dan berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan. Pada pasal 140 UU no 4 tahun 2009 menyatakan bahwa Menteri yaitu menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertambangan mineral dan batubara, melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan kepada yang dilaksanakan untuk oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya. Menteri dapat melimpahkan gubernur melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan kewenangan pengelolaan di bidang usaha pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota. Pada pasal ini juga disebutkan bahwa dalam rangka terciptanya pembangunan berkelanjutan, kegiatan usaha pertambangan harus dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip lingkungan hidup, transparansi, dan partisipasi masyarakat. Kegiatan pengelolaan lingkungan hidup meliputi pencegahan dan penanggulangan pencemaran serta pemulihan fungsi lingkungan hidup, termasuk reklamasi lahan bekas tambang. 16

Mengacu pada ketentuan undang undang maka seharusnya dapat dipastikan bahwa seluruh lahan bekas tambang berkaitan dengan Tata kegiatan Penambangan yang Baik sudah dilakukan kegiatan pascatambang termasuk reklamasi. Kegiatan reklamasi dan pascatambang oleh pemerintah diatur dalam peraturan pemerintah (PP) nomor 78 tahun 2010 tentang reklamasi dan pascatambang. Pelaksanaan reklamasi dan pasca tambang yang diwajibkan kepada pemegang ijin pertambangan harus memenuhi prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pertambangan, keselamatan dan kesehatan kerja, dan konservasi mineral dan batubara. Pengelolaan Air Asam Tambang (AAT) adalah bagian dari kegiatan yang berkaitan dengan reklamasi dan pasca tambang, oleh karena dalam regulasi tersebut rencana reklamasi maupun pascatambang termasuk di dalamnya adalah penatagunaan lahan, revegetasi, pencegahan dan penanggulangan air asam tambang, pekerjaan sipil sesuai peruntukan lahan pascatambang. Para pemegang ijin pertambangan sebelum melakukan kegiatan operasi produksi wajib menyusun rencana reklamasi berdasarkan dokumen lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (RKL/RPL atau UKL/UPL). Rencana reklamasi masuk dalam rencana kerja dan anggaran biaya eksplorasi. Setelah menyelesaikan Dalam kegiatan studi kelayakan rencana rencana pemegang ijin harus mengajukan permohonan persetujuan reklamasi reklamasi dan dan rencana rencana

pascatambang.

ketentuannya

pascatambang diajukan bersamaan dengan pengajuan permohonan ijin Operasi Produksi. Rencana reklamasi dan rencana pascatambang sebagaimana disusun berdasarkan dokumen lingkungan hidup (RKL/RPL atau UKL/UPL) yang telah disetujui. Rencana reklamasi paling sedikit memuat tentang tata guna lahan sebelum dan sesudah ditambang; rencana pembukaan lahan; program reklamasi terhadap lahan terganggu yang meliputi lahan bekas tambang dan lahan di luar bekas tambang yang bersifat sementara atau termasuk yang permanen. Dalam rencana reklamasi perlu juga dicantumkan kriteria keberhasilan yang meliputi standar keberhasilan penataan lahan, revegetasi, pekerjaan sipil, dan penyelesaian akhir; dan termasuk juga rencana biaya reklamasi secara langsung dan maupun tidak langsung.

17

Keterkaitan kegiatan reklamasi dan pascatambang dengan AAT secara tidak langsung terkait dengan ketentuan pada pasal 4 PP no 78 tahun 2010 yang menyebutkan: Prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a dan ayat (2) huruf a dan Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan rencana dan kriteria keberhasilan pascatambang diatur dengan Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor: 18 Tahun2008 tentang Reklamasi Dan Penutupan Tambang. Regulasi itu mewajibkan perusahaan daiam melaksanakan Reklamasi dan Penutupan Tambang wajib memenuhi prinsip-prinsip Iingkungan hidup, keselamatan dan kesehatan kerja, serta konservasi bahan galian. Prinsipprinsip Iingkungan hidup meliputi: perlindungan terhadap kualitas air permukaan, air tanah, air laut, dan tanah serta udara berdasarkan standar baku mutu atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup sesuai dengan dan ketentuan pemulihan peraturan keanekaragaman dan dan perundang-undangan; hayati; Penjaminan lainnya; dan Perlindungan tailing, lahan

terhadap stabilitas dan keamanan timbunan batuan penutup, kolam bekas tambang, sosial struktur budaya buatan Pemanfaatan lahan bekas tambang sesuai dengan peruntukannya; Memperhatikan nilai-nilai setempat; Perlindungan terhadap kuantitas air tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Berkaitan dengan Evaluasi Air Asam Tambang pada Lahan Bekas Tambang yang ditinggalkan maka perhatian kegiatan akan diutamakan pada: Kualitas air permukaan, air tanah, dan perairan lainnya di sekitar lahan bekas tambang. Kualitas air tanah. Pemulihan keanekaragaman hayati (flora dan fauna) di sekitar lahan bekas tambang. Stabilitas dan keamanan timbunan batuan penutup, kolam tailing, lahan bekas tambang, dan struktur batuan lainnya Kegiatan pemanfaatan lahan bekas tambang sesuai dengan

peruntukan.

18

Tanggapan masyarakat terhadap kawasan di sekitar lahan bekas tambang.

Pengematan akan dilakukan secara langsung di lapangan di beberapa tempat yang sudah pernah dilakukan penambangan. b. Bahasan Yang Berkaitan Dengan Kajian Ilmiah Kajian ilmiah yang berkaitan dengan AAT sudah banyak dilakukan oleh berbagai kalangan. Dalam kegiatan pertambangan pada umumnya termasuk pertambangan batubara, kendala besar yang sering kali ditemui dalam kegiatan reklamasi dan pasca tambang adalah dalam mengatasi air asam tambang yang dihasilkan dari kegiatan pertambangan, baik dari pertambangan yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif atau bekas tambang. Air Asam Tambang (AAT) atau Acid Mine Drainage (AMD), adalah air tambang dengan pH rendah yang berasal dari oksidasi pirit yang mengandung sulfida dengan air dan udara sehingga menghasilkan asam sulfida (H2SO4) yang mengandung sulfat bebas. Batuan atau tanah yang banyak mengandung pirit dan menjadi sumber AAT disebut dengan Acid Rock Drainage (ARD). Jika material ARD terus-menerus dibiarkan terbuka dan mengalami oksidasi maka produksi AAT akan terus berlangsung bahkan dapat bertahan hingga ratusan tahun (hasil studi Nordstrom dan Alpers (1999) dan Kalin et al. (2006)). AAT dalam kegiatan pertambangan dapat berupa sebagai air lindi, air rembesan, atau air penirisan dari batuan atau tanah yang mengandung pirit yang mengalami proses oksidasi mineral sulfida, sebagai akibat dari kegiatan eksploitasi atau eksplorasi bahan galian tambang mineral maupun batubara. Karakteristik AAT sangat berbeda dengan keasaman yang umumnya terdapat pada kawasan perairan rawa gambut yang terbentuk dari tumbuhan dan dalam bentuk senyawa COOH. AAT yang terbentuk dari proses oksidasi sulfida bukan saja mempunyai nilai pH rendah atau lebih kecil dari 6. AAT juga mampu untuk melarutkan logam berat. AAT yang terlepas mengalir ke perairan bebas memiliki kemampuan untuk melarutkan logam berat dari material yang dilewatinya, seperti material tanah atau batuan penutup pada operasi pertambangan terbuka. Jenis logam berat yang bisa terlarut antara lain arsenik (As), cadmium (Cd), tembaga Cu), perak (Ag), dan seng (Zn). Seluruh logam berat ini jika konsentrasinya dalam air lebih besar dari nilai ambang batas, akan sangat berbahaya pada lingkungan karena mampu mematikan tumbuhan dan hewan 19

yang hidup di perairan. Ciri lain dari AAT adalah memiliki total acidity sangat tinggi. Selain itu, karakteristik lain yang berbeda antara AAT dan air gambut atau rawa meski memiliki pH sama rendah adalah tingkat konduktivitas atau daya hantar listrik (DHL). Pada AAT memiliki DHL yang tinggi dan pada air gambut atau rawa memiliki DHL yang normal. Daya Hantar Listrik atau konduktivitas terkait dengan kemampuan AAT untuk melarutkan logam berat. Dalam kegiatan pertambangan seperti batubara dan mineral lainnya dampak negatif yang terjadi antara lain adalah lingkungan sekitar kehilangan kesuburan tanah oleh karena top soil dan vegetasi hilang. Kemampuan tanah dalam mengikat air berkurang sehingga tanah mudah erosi. Faktor pembentukan AAT dapat dibedakan menjadi 3 yaitu : 1. Faktor primer 2. Faktor sekunder 3. Faktor tersier Faktor primer adalah faktor yang secara langsung berpengaruh pada

pembentukan oksidan mineral sulfida yang meliputi; karakteristik fisik material, ketersediaan air untuk oksidasi dan transport, dan ketersediaan oksigen. Selain itu juga adalah temperatur, pH, kesetimbangan besi-feri dan besi-fero, dan aktivitas mikroba lingkungan.

20

gambar 4 PENGARUH PENAMBANGAN PADA PEMBENTUKAN AAT

Faktor sekunder akan mengalterasi produk oksidasi mineral sulfida. Faktor ini antara lain adalah kehadiran mineral yang dapat menetralisir asam. Sampai saat ini, karbonat merupakan satu-satunya mineral alkali yang secara efektif dianggap dapat mengontrol dan mencegah pembentukan air asam. Meskipun mineral silica seperti mica juga memiliki kemampuan menyerap asam tetapi dalam kapasitas yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan karbonat.

21

gambar 5 DIAGRAM PH : UKURAN KEASAMAN MENURUT PH

Faktor tersier adalah kondisi fisik (material, topografi wilayah, iklim dll) yang yang secara signifikan mempengaruhi proses oksidasi mineral sulfide sehingga memiliki potensi penyebaran ke wilayah yang lebih luas. Pada faktor tersier ini, hujan dan temperatur merupakan faktor yang paling signifikan pengaruhnya. Seperti diketahui bahwa kecepatan oksidasi mineral sulfida yang terjadi dalam air jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan kecepatan oksidasi mineral sulfida yang terjadi pada udara bebas. Oleh sebab itu kejenuhan mineral sulfida menjadi strategi utama untuk mengontrol laju oksidasi.

22

gambar 6 AIR ASAM TAMBANG DI SUATU LOKASI INSITU

Oksidasi mineral sulfida merupakan proses yang terjadi secara alamiah sebagai akibat kontak dengan udara bebas. Pada areal pertambangan proses tersebut akan dipercepat dengan meningkatnya volume mineral sulfide yang kontak langsung dengan udara bebas. Mineral sulfide yang berpotensi membentuk AAT antara lain adalah: Pirit (FeS2) Markasit (FeS2) Arsenopirit (FeAsA) Kalkosit (Cu2S) Kovelit (CuS) Kalkopirit (CuFeS2) Molibdenit (MoS2) Sinabar (HgS) Galena (PbS) Spalerit (ZnS)

Reaksi yang terjadi pada kontak mineral sulfide tersebut dengan air dan O2 terdapat beberapa tahap sebagai berikut: 23

gambar 7 REAKSI PEMBENTUKAN AIR ASAM TAMBANG

Pembentukan AAT berdasarkan reaksi tersebut di atas dipengaruhi beberapa faktor yang melibatkan proses-proses fisika, kimia dan biologi yang sangat spesifik. AAT yang terbentuk di lokasi yang terbuka akan dengan cepat tersebar ke perairan umum saat hujan sehingga terjadi polusi di perairan yang ditandai dengan pH yang rendah dan melarutkan berbagai logam berat. Dampak negatif dari AAT terhadap lingkungan dapat secara langsung dilihat antara lain banyak organisme perairan yang mati sehingga keanekaragaman hayati di lingkungan itu menurun. Oleh karena kadar keasaman perairan yang bersal dari sulfat di sekitar lokasi yang rendah maka indikator lainnya adalah banyak bangunan di sekitar lokasi yang terbuat dari logam seperti pipa, jembatan besi, atau atap seng menjadi rusak. Secara geologi, terdapat empat proses geologi utama yang berpengaruh pada variabilitas endapan mineral dan batubara serta komposisi kimia/mineralogi batuan disekitarnya. Dua diantaranya adalah iklim purba (paleoclimate) dan lingkungan pengendapan purba (paleodepositional environment), dan 2 lainnya adalah pelapukan di permukaan dan glasial (Brady dkk, 1988). Cekungan batubara secara geologi dapat dikategorikan sebagai: Lingkungan NAF : Non Acid Forming PAF : Potential Acid Forming NAPP : Net Acid Producing Potential pengendapan purba merupakan pengontrol penting pada

penyebaran pirit dan karbonat. Batuan yang terendapkan pada lingkungan air payau umumnya memiliki potensi pembentukan air asam yang besar karena lingkungan payau memberikan kondisi optimum untuk pembentukan pirit yang terbentuk dari sulfat pada air payau dan besi dari wilayah sekitarnya. Selain itu kandungan mineral calcareousnya biasanya rendah. Lingkungan pengendapan 24

air tawar biasanya tidak menghasilkan air asam. Sedangkan batuan yang diendapkan pada lingkungan laut menghasilkan kualitas air yang bervariasi. Akan tetapi cebakan pada suatu areal tambang mempunyai kemungkinan memiliki variasi lingkungan pengendapan baik vertikal maupun lateral dan dipengaruhi oleh distribusi inherent (bawaan) dari pirit dan karbonat yang akan menghasilkan pembentukan air asam yang berbeda. Pembentukan endapan batubara yang terdapat di Indonesia umumnya terjadi dalam Jaman Tersier dan diantaranya dapat dibedakan menjadi 2 kelompok yang menonjol, yaitu batubara yang berasal dari Jaman Eosen ( 50 juta tahun) umumnya bermutu lebih tinggi dan tergolong subbituminous serta bituminous dan yang berasal dari Jaman Miosen (40 juta tahun) umumnya terdiri dari lignit atau sub bituminous dengan nilai kalor rendah dan kadar air cenderung tinggi. Salah satu faktor geologi yang penting yang menentukan keberadaan mineral sulfida sebagai pembentuk utama air asam tambang adalah lingkungan pengendapan. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan pada beberapa

Cekungan di luar negeri menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kandungan mineral dengan lingkungan pengendapan pada saat pembentukan formasinya. Kecenderungan yang sama tampaknya ditunjukkan pada beberapa endapan mineral dan cekungan batubara di Indonesia. Dalam penelitian ini gambaran sebaran mineral sulfida seperti Arsenopirit (FeAsA), Kalkosit (Cu2S), Kovelit (CuS), Kalkopirit (CuFeS2), Molibdenit (MoS2), Sinabar (HgS), Galena (PbS), Spalerit (ZnS) juga penting dilihat dan dapat digunakan sebagai indikator pembentuk asam utama pada pertambangan mineral dan batubara sehingga prediksi awal mengenai potensi pembentukan air asam dapat dilakukan. Informasi ini penting terutama bagi perusahaanperusahaan baru yang akan melakukan aktifitas penambangan sehingga antisipasi terhadap pembentukan AAT dapat dipersiapkan lebih baik. Hal ini dapat dilakukan oleh perusahaan tambang dengan melakukan karakterisasi batuan di wilayah masing-masing. Sehingga dapat digambarkan pola sebaran mineral sulfida di wilayah tersebut dan mengatur lokasi penempatan timbunan (overburden) di formasi yang benar. Dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 113 Tahun 2003 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Dan Atau Kegiatan Pertambangan 25

Batubara. Parameter perairan yang dipersaratkan adalah nilai pH, residu tersuspensi, kadar Fe dan Mn, dan pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 202 tahun 2004 tentang Baku Mutu air Limbah Bagi Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Bijih Emas dan atau Tembaga, parameter yag disaratkan adaah pH, TSS, Cu, Cd, Zn, Pb, As, Ni, Cr, Cn, dan Hg. Oleh karena kemampuan asam sulfide yang memiliki kemapuan sebagai pelarut logam yang sangat kuat, maka kandungan beberapa jenis logam berat di perairan yang bisa terlarut antara lain arsenik (As), cadmium (Cd), tembaga Cu), perak (Ag), dan seng (Zn). Seluruh logam berat ini jika konsentrasinya dalam air lebih besar dari nilai ambang batas, akan sangat berbahaya pada lingkungan karena mampu mematikan tumbuhan dan hewan yang hidup di perairan. Jenis-jenis Air Asam Tambang (AAT) Air Asam Tambang secara tradisional biasa dirujuk sebagai acid mine drainage (drainase tambang masam atau air tambang masam) atau acid rock drainage (drainase batuan masam). Dalam kajian ini istilah AAT mengenali bahwa tidak semua drainase bermasalah yang terkait dengan oksidasi sulfida bersifat masam (lihat di bawah). Di beberapa lokasi, drainase yang bersifat hampir-netral namun mengandung logam dapat sama sulitnya untuk dikelola seperti halnya air masam. Ada beberapa lokasi di mana pembentukan asam secara memadai dinetralkan oleh kelompok mineral alami, yang secara efektif mengeluarkan logam-logam beracun dari air, namun meninggalkan cairan lindi (leachate) yang tinggi kandungan garam-garam kimianya (higly saline). AAT dapat menampilkan satu atau beberapa karakteristik kimia sebagai berikut: pH rendah (nilainya berkisar antara 1,5 hingga 4) konsentrasi logam dapat larut yang tinggi (seperti besi, alumunium, mangan, kadmium, tembaga, timah, seng, arsenik dan merkuri) nilai kemasaman yang meningkat (seperti misalnya setara 5015.000 mg/L CaCO3) salinitas (sulfat) yang tinggi (konsentrasi sulfat umumnya antara 50010.000 mg/L; salinitas umumnya antara 100020.000 S/cm) konsentrasi yang rendah dari oksigen terlarut (seperti kurang dari 6 mg/L) 26

tingkat kekeruhan (turbiditas) atau total padatan tersuspensi yang rendah (dikombinasikandengan satu atau lebih karakteristik di atas).

Indikator-indikator utama kehadiran AAT termasuk (lihat Gambar 6): air berwarna merah atau jernih tidak alami endapan-endapan oksida besi oranye-coklat pada saluran-saluran drainase matinya ikan atau organisme-organisme air lainnya terbentuknya lapisan endapan di campuran DAL dan air latar belakang (penerima), atau pada pertemuan-pertemuan aliran produktivitas yang buruk dari areal-areal yang terganggu (seperti pada tutupan-tutupan dari tumpukan batuan sisa tambang) vegetasi yang mengalami mati ranting (dieback) atau tanah-tanah seperti bekas terbakar (seperti tanah-tanah bera) korosi pada struktur beton atau baja.

gambar 8 INDIKATOR VISUAL AAT

Satu indikator utama dari risiko AAT adalah banyaknya mineral-mineral sulfida yang terpapar ke udara dan air. Mineral-mineral sulfida penghasil asam yang paling umum di antaranya adalah pirit (FeS2), pirotit(FeS), markasit (FeS2), kalkopirit (CuFeS2) dan arsenopirit (FeAsS). Tidak semua mineral sulfida

27

menghasilkan asam selama oksidasi, namun sebagian besar memiliki kapasitas untuk melepaskan logam bila terpapar air yang masam. Situasi-situasi di mana sulfida-sulfida reaktif dapat terpapar ke udara dan air secara rutin antara lain adalah timbunan batuan sisa (waste rocks), timbunan bijih tambang (ores), fasilitas-fasilitas penyimpanan tailing, lubang-lubang tambang (pits), tambang-tambang bawah tanah, timbunan-timbunan pelindian bijih tambang (heap and dump leach) (lihat Bagian 2.5). Praktek unggulan dalam pengelolaan DAL melibatkan strategi-strategi untuk meminimalkan interaksi antara sulfida reaktif dengan udara, air atau keduanya. Asam dan Kandungan Kemasaman Asam adalah satu ukuran konsentrasi ion hidrogen (H+) yang umumnya diekspresikan sebagai pH, sementara kemasaman adalah satu ukuran baik konsentrasi ion hidrogen maupun kemasaman mineral (atau laten/tersembunyi). Kemasaman mineral atau laten mempertimbangkan konsentrasi potensial dari ion-ion hidrogen yang dapat dihasilkan oleh pengendapan berbagai logam hidroksida melalui oksidasi, pengenceran atau netralisasi. Umumnya, kemasaman meningkat seiring menurunnya pH, namun tidak selalu ada hubungan langsung antara kemasaman dan pH. Berdasarkan keterangan sebelumnya mengenai drainase logam, mungkin saja memiliki AAT dengan kemasaman yang meningkat namun dengan nilai-nilai pH yang netral. Karena itulah penting untuk mengukur kontribusi konsentrasi ion hidrogen (asam) sekaligus kontribusi mineral (kemasaman laten), untuk menentukan total kemasaman (asam + kemasaman laten) dari sungai atau badan air. Kemasaman umumnya diekspresikan sebagai massa setara kalsium karbonat (CaCO3) per unit volume (misalnya, mg CaCO3 / liter). Asam dapat dengan mudah diukur di lapangan dengan menggunakan alat pengukur pH yang telah dikalibrasi. Estimasi kemasaman dapat diukur di laboratorium atau diestimasikan dari data kualitas air dengan menggunakan formula seperti Persamaan 1, yang sesuai untuk drainase tambang batubara . Jika tersedia data kualitas air yang lebih terperinci, ada beberapa peranti lunak (shareware) seperti AMDTreat atau ABATES bisa digunakan untuk mendapatkan estimasi kemasaman yang akurat Persamaan 1

28

gambar 9 Persamaan 1

Kandungan atau

muatan kemasaman

mengacu ke hasil kali dari total

kemasaman (asam + kemasaman laten) dan laju aliran (atau volume) dan diekspresikan sebagai massa setara CaCO3 per unit waktu (atau massa setara CaCO3 untuk volume tertentu air). Jika laju aliran atau data volume tersedia, maka nilai-nilai kemasaman yang terukur atau terestimasi dapat dikonversikan menjadi kandungan kemasaman seperti yang ditunjukkan dalam Persamaan 2.

gambar 10 Persamaan 2a

atau

gambar 11 Persamaan 2b

Kandungan kemasaman adalah ukuran utama dari potensi dampak DAL di suatu lokasi tambang. Oleh karena itu, biaya dan perencanaan pengelolaan DAL harus berfokus pada daerah-daerah di suatu lokasi tambang yang berpotensi dapat melepaskan kandungan kemasaman yang paling besar. Faktor Penentu AAT Banyak faktor yang akan mempengaruhi pembentukan dan perpindahan AAT dan karena itu menentukan pula konsentrasi dan kandungan polutan-polutan di satu titik di bagian hilir dari suatu sumber. Faktor utama yang mempengaruhi pembentukan DAL adalah oksidasi dari mineral-mineral sulfida. Perilaku kimia 29

DAL akan berubah seiring bergeraknya larutan melalui sistem dan berinteraksi dengan bahan-bahan geologis lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi oksidasi sulfida antara lain: konsentrasi, distribusi, mineralogi dan bentuk fisik dari sulfidasulfida logam laju pasokan oksigen dari atmosfer ke lokasi-lokasi reaksi melalui adveksi dan/atau difusi komposisi kimia dari air pori-pori yang terkena kontak dengan lokasi-lokasi reaksi, termasuk pH dan rasio besi ferus/ferik suhu udara di lokasi-lokasi reaksi kandungan air di lokasi-lokasi reaksi ekologi mikroba dari permukaan-permukaan mineral.

Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi-interaksi sekunder antara lain: konsentrasi, distribusi, mineralogi dan bentuk fisik dari mineralmineral penetral dan lainnya laju aliran dan lintasan-lintasan air komposisi kimia air pori-pori.

Sumber sumber AAT Dalam menilai neraca kandungan kemasaman di suatu lokasi adalah penting untuk memiliki pemahaman yang baik mengenai geologi, mineralogi dan geokimia setempat - mengkarakterisasikan semua bahan yang terpapar, ditangani atau diproses selama operasi-operasi penambangan. Pemaparan bahan-bahan yang tidak terkonsolidasi (seperti batuan sisa dan tailing) atau batuan dasar (seperti dinding pit atau konstruksi bawah tanah) terhadap udara dan air memiliki potensi untuk membentuk DAL. Karbonat adalah satu-satunya mineral alkalin yang tersedia secara alami dalam jumlah yang dianggap mencukupi untuk secara efektif menetralkan kemasaman dan menurunkan konsentrasi logam. Mineral-mineral silikat dan aluminosilikat (misalnya, biotit dan klorit) memiliki kapasitas netralisasi yang signifikan, namun kinetikakinetika 30

reaksi membuat mereka tidak efektif di hampir semua situasi. Namun demikian, tidak semua mineral sulfida memproduksi drainase asam, dan tidak pula semua mineral karbonat menetralkan kemasaman. Drainase berkualitas rendah mungkin bertahan pada pH hampir netral karena konsentrasi logam besi yang terangkat. Pengkajian litologi dan aliran-aliran proses penting bagi pengembangan strategi-strategi pengelolaan didalam menangani limbah-limbah pertambangan. Mungkin saja, misalnya, untuk mengimplementasikan strategi-strategi seperti pemisahan, penempatan selektif, pembuangan bersama (co-disposal) atau pencampuran dan/atau enkapsulasi (penutupan) berdasarkan hasil pengkajian. Tujuan keseluruhan dari strategistrategi pengelolaan, bagaimanapun juga hendaknya adalah untuk meminimalkan, atau bila memungkinkan menghilangkan jejak dari bahan yang berpotensi membentuk asam. Ini hanya dapat dicapai bila para perencana dan manajer lokasi memiliki pemahaman mendalam mengenai karakter geokimia dari bahan bahan yang terganggu (atau terpapar udara) sebagai hasil penambangan, dan pengetahuan mengenai neraca menyeluruh kandungan asam dari bahan-bahan tersebut. Sumber sumber AAT antara lain berasal dari: Timbunan batuan sisa tambang Timbunan bijih tambang Fasilitas penyimpanan tailing dan bendungan tailing Pit atau tambang terbuka Tambang bawah tanah Tempat penimbunan (stockpile) atau pelindian

c. Isu AAT Yang Berkembang Di Masyarakat Air asam tambang terbentuk pada saat kegiatan tambang seperti pada saat kegiatan di sekitar coal processing plant (CPP). Untuk menanggulangi dampak negatif tersebut perlu dilakukan usaha-usaha seperti, revegetasi untuk. Di sekitar kawasan pertambangan batubara biasanya dibuat saluran air dan kolam untuk menampung dan mengolah air hasil pembersihan crusher batubara. Hasil akhir dari pengolahan air limbah dari coal processing plant (CPP) harus 31

memenuhi baku mutu air yang telah

ditetapkan. Pada proses pengiriman

batubara ke konsumen, batubara yang berasal dari tambang sebelum masuk ke kapal dilakukan penghancuran/crushing. Batubara yang berasal dari tambang dihancurkan menjadi ukuran yang lebih kecil. Dalam proses penghancuran tersebut sebelum batubara masuk ke crusher maka batubara tersebut disiram dengan air, yang bertujuan untuk mengurangi debu yang dihasilkan ketika proses penghancuran. Air limpasan dari crusher inilah yang berpotensi merusak lingkungan karena melarutkan partikel mengandung bahan B3 dan terbawa ke badan air sungai yang juga diakses masyarakat sekitar. Seringkali di lapangan dijumpai pembuatan kolam pengolahan air limbah yang ada dibuat hanya dengan menggali tanah. Beberapa usaha yang dilakukan ada juga yang menggunakan pengolahan dengan cara pengendapan menggunakan koagulan. Dari berbagai kajian antara lain ditemukan bahwa pembuatan kolam dan penggunaan koagulan yang dilakukan kurang efektif karena dilakukan tidak dengan benar. Masyarakat seringkali menilai bahwa kegiatan pertambangan di lapangan kurang mendapat pengawasan dari aparat yang berwenang. Jika terjadi masalah yang berkaitan dengan pertanian, perikanan, dan kegiatan masyarakat lainnya secara spontan masyarakat secara langsung akan mengkaitkan dengan kegiatan pertambangan di sekitarnya. Dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 113 Tahun 2003 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Dan Atau Kegiatan Pertambangan Batubara yang berkaitan dengan keasaman perairan tidak dijelaskan secara detail tentang keasaman AAT dan keasaman yang memang secara alamiah terjadi. Nilai pH yang dicantumkan dalam peraturan itu dapat menghasilkan kesimpulan yang salah, yakni menganggap pH rendah sebagai sesuatu yang buruk. Kesimpulan salah ini ternyata masih dipercaya kebenarannya bahkan oleh pelaku pertambangan. Nilai pH memang berhubungan erat dengan keasaman (acidity) namun pH hanyalah indikator konsentrasi ion-ion hidrogen dalam air dan bukanlah indikator utama adanya AAT. Dalam penelitian ini perlu mendengar pendapat dari berbagai pihak mengenai tata laksana kegiatan pertambangan yang sudah berjalan dari proses perijinan hingga proses penutupan seperti yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara, dan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi Dan Pascatambang. Salah 32

isu yang berkembang adalah pertanyaan tentang sejauh mana kewenangan dalam pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan pascatambang sudah dilakukan. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 tahun 2010 juga disebutkan dalam regulasi tersebut sangat jelas dicantumkan bahwa dalam menyusun rencana pascatambang harus berkonsultasi dengan instansi pemerintah yang membidangi pertambangan mineral dan batubara, instansi terkait lainnya, dan masyarakat. Rencana reklamasi dan pascatambang harus mendapat persetujuan dari tingkat menteri hingga tingkat kabupaten sesuai dengan kewenangan dan lokasi pertambangan. Hal yang tidak kalah penting dalam penelitian ini juga perlu mendalami pada masalah pemahaman dari para pelaku pertambangan yang ada di lapangan tentang masalah AAT secara konseptual teoritis hingga permasalahannya di lapangan. Selain dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan, metode untuk mengumpulkan pendapat para pelaku pertambangan dan masyarakat sekitar bekas tambang dilakukan dengan wawancara dan diskusi terbuka secara langsung mengenai: Pelaksanaan kegiatan yang sudah dilakukan dan berkaitan dengan AAT pada bekas tambang. Isu, masalah, dan potensi penanganan AAT pada bekas tambang. Informasi lain yang dapat dipergunakan sebagai bahan masukan evaluasi kegiatan pertambangan yang berkaitan dengan AAT, reklamasi, dan pascatambang. Kegiatan wawancara dilakukan di lokasi pada saat kunjungan lapangan secara langsung atau di kantor.

3. Lokasi Kegiatan dan Parameter Survey


a. Lokasi Survey Dari rumusan masalah dan telaah sementara beberapa literatur awal dapat ditarik kesimpulan bahwa lokasi pengamatan akan dilakukan di Kalimantan, yaitu di Kalimantan Timur, Tengah dan Selatan.. Pulau Kalimantan memiliki ciri geologi yang khas dan saat ini banyak memiliki bahan tambang dan sedang aktif

33

beroperasi. Beberapa lokasi misalnya tambang batubara ada beberapa sudah tidak ditambang lagi. Rencana lokasi survey akan dilakukan di: Lokasi penambangan emas PT Indo Muro Kencana, Kalimantan Tengah. Lokasi Penambangan Batubara Jurong Kalimantan Selatan. Lokasi Penambangan Batubara Trubaindo Kutai Barat kaltim

b. Parameter survey dan pengambilan data lapangan Studi lapangan dilakukan dengan mengunjungi beberapa lokasi bekas tambang untuk melakukan pengambilan sampel dan mengumpulkan data yang berkaitan dengan AAT secara langsung di lapangan. Sampel yang diperoleh dari lapangan kemudian di analisis di laboratorium untuk mendapatkan data yang diperlukan seperti kualitas air dan parameter lainnya , kandungan logam berat secara kuantitatif, dan data lainnya yang diperlukan, seperti foto-foto lokasi dan informasi lainnya yang diperoleh dari masyarakat atau sumber-sumber yang dapat dipercaya. Pada kawasan sekitar bekas tambang akan dilakukan pengambilan data berkaitan dengan kualitas air permukaan dan air tanah, kondisi keanekaragan hayati di sekitar lokasi bekas tambang, keamanan batuan timbunan dan struktur batuan yang tertinggal pada sekitar lahan bekas tambang dan kolam pengendapan. Pengamatan juga melihat kegiatan pemanfaatan pada daerah tersebut. Panduan pengamatan sepenuhnya mengikuti regulasi yaitu Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor: 18 Tahun2008 Tentang Reklamasi Dan Penutupan Tambang. Dalam regulasi tersebut antara lain mewajibkan bagi para pemegang ijin untuk membuat renana reklamasi dan rencana pasca tambang. Dalam penelitian ini selain mengamati secara langsung kegiatan yang sudah dilakukan juga akan mengkaji rencana reklamasi dan/atau pascatambang yang sudah dibuat oleh perusahaan. Data tentang kualitas air tambang pada Lahan bekas tambang yang ditinggalkan menggunakan standar baku mutu seperti yang diatur dalam Keputusan Menteri

34

Negara Lingkungan Hidup Nomor 113 Tahun 2003 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Dan Atau Kegiatan Pertambangan Batubara dengan parameter perairan yang dipersyaratkan dalam peraturan tersebut adalah nilai pH, residu tersuspensi (TSS), kadar Fe dan Mn. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 202 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Dan Atau Kegiatan Pertambangan Bijih Emas Dan Atau Tembaga, dengan parameter kualitas air yang meliputi pH, TSS, Cu, Cd, Zn, Pb, As, Ni, Cr, CN, dan Hg. Pengambilan sampel di lapangan dalam penelitian ini secara khusus akan mengamati beberapa hal yang hanya bisa diambil di lapangan, yaitu:

gambar 12 Daftar Kebutuhan Data Lapangan

Metode analisa yang digunakan dalam kegiatan evaluasi AAT pada bekas tambang dilakukan dengan menggunakan metodologi deskriptif analisis, artinya tidak hanya menjabarkan fakta temuan yang ada, tapi juga menganalisis data temuan dan menarik korelasi sebab akibat dari temuan yang ada. Rumusan

35

masalah yang diperoleh dari kajian literatur digunakan sebagai hipotesa yang akan diuji dengan data temuan lapangan. Dalam kunjungan lapangan sekaligus akan dilakukan pengambilan sampel air di sekitar lingkungan tambang yang ditinggalkan beberapa parameter seperti pH, DHL, dan parameter kualitas air yang dapat diambil secara langsung dilakukan dengan menggunakan peralatan analisa air portable. Analisa kualitas air seperti kandungan logam dan garam-garam sulfide akan dilakukan di laboratorium lokal. Data-data lainnya seperti rona lingkungan dicatat secara langsung di lapangan dengan menggunakan metode observasi langsung dengan menggunakan pengamatan dan kamera digital. Bahan dokumen RKL RPL perusahaan pengelola, peta kawasan, data geologis lokasi, dan data pendukung lainnya diambil dari kantor Dinas Pertambangan dan Energi setempat. Sebelum pengambilan sampel akan dilakukan penentuan titik-titik lokasi sampel diambil. Setiap lokasi sampel akan diambil minimal 3 sampel. Titik lokasi sampel disesuaikan dengan kondisi lapangan dengan lokasi utama meliputi: Wawancara Lokasi penambangan (pit) Lokasi penimbunan overburden Lokasi reklamasi Lokasi perairan terdekat Lokasi pemukiman terdekat. dengan nara sumber dilakukan secara terbuka dan hanya

mengambil pendapat dari nara sumber. Beberapa pertanyaan utama antara lain adalah apakah kegiatan pertambangan sejak mulai beroperasi hingga tambang ditutup tidak berdampak buruk bagi masyarakat, Pertanyaan-pertanyaan lain dapat berkembang sesuai dengan kondisi di lapangan. c. Rencana Jadwal Kegiatan Lapangan Lokasi Pengamatan Lapangan Kaltim Tanggal 20 24 Oktober Lokasi PT Trubaindo Kutai Barat

36

2011 Kalsel 27 31 Oktober 2011 3 7 Nopember 2011 Nopember 2011 Nopember 2011

Kaltim Jurong Kalsel PT Indomuro Kencana (Kalteng)

Kalteng Analisa Kualitas Air dan data lapangan Laporan Akhir

gambar 13 Jadwal Lapangan

37

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2007, Air Asam Tambang (Acid Mine Drainage-AMD), Tanjung Redeb Berau-Kalt im. Anonim, Acid Mine Drainage. (Online, accesed 27 November 2007) URL:http ://www.wikip edia.urg Brady, K, Hornberger, R., Chisholm, W., Sames, G., Chapter 2 :How Geology Affects mine Drainage Prediction, in Skousen, J.,1998, Handbook of Technologies for Avoidance and Remediation of Acid Mine Drainage, ADTI, National Mine Land Reclamation Center, West Virginia, USA. Dhata, 2007, Pidato Guru Besar ITB: Pengelolaan Air Tambang: Aspek Penting Dalam Pertambangan yang berwawasan Lingkungan. (Online accesed 27 November 2007) URL:http ://www.google.com Gautama, R. S. & Ginting, J. K., Kajian Awal Potensi Air Asam Tambang Dengan Cekungan Pengendapan Batubara, ITB. Hadiyan, 1997, Air Asam Tambang, Dikt at Kuliah Teknik Pertambangan, Jurusan Teknik Pert ambangan, Fakultas Teknik Mineral UPN Veteran, Yogyakarta, tidak diterbitkan. Harsa, E., 1976, Some Of The Factors Which Influence Oil rd Occurrence In The South Sumatra And Central Sumatra Basins paper presented at the regional Conf. on the geologi and mineral resources of S. E. Asia, August 1975. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 1453.K/29/MEM/2000 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Tugas Pemerintahan di Bidang Pertambangan Umum. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 1211.K/008/M.PE/1995

tentang Pencegahan dan Penanggulangan Perusakan dan Pencemaran Lingkungan Pada Kegiatan Usaha Pertambangan Umum. Koesoemadinata, R., P., 1978, Tertiary coal basin of Indonesia, United Nation ESCAP, CCOP Technical bulletin. 38

Lestari, D., I., 2007, Air Asam Tambang Produk Penambangan Batubara dan Cara Penanganannya, Universitas Diponegoro Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor. 0030 tahun 2005 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Pasal 446 huruf (i), Subdirektorat Lindungan Lingkungan Mineral, Batubara dan Panas Bumi menyelenggarakan fungsi: evaluasi pelaksanaan pembinaan lindungan lingkungan di bidang usaha mineral, batubara dan panas bumi. Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Reklamasi Dan Penutupan Tambang. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 113 tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Batubara Peraturan pemerintah No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Peraturan Pemerintah No. 85 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Peraturan Pemerintah No 46 Tahun 2008 tentang Dewan Nasional Perubahan Iklim Peraturan Pemerintah No 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pasca Tambang. Sengupta, M, 1993., Environmental Impacts of Mining : Monitoring, Restoration and Control, Lewis Publisher. Skousen, J.G., and P.F. Ziemkiewicz . 1996. Acid mine drainage control and treatment . 2nd ed. National Mine Land Reclamation Center and West Virginia University , Morgantown, WV. 254 pp. Suhartono, 2007, Bahaya Limbah Cair Pertambangan Batubara. (Online accesed 20 November 2007) URL:http ://www.google.com Sukandarrumidi, 2005, Batubara dan Pemanfaatannya, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

39

Suryandaru, N., 2006, Air Asam Tambang, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral, Batubara dan Panas Bumi, Jakarta. UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara

40