Anda di halaman 1dari 11

Teori Akuntansi Positif

Akuntansi Positif dan Akuntansi Normatif

BAB I
PENDAHULUAN

Latarbelakang
Teori merupakan hasil dari kristalisasi fenomena empiris, yang diambil dari berbagai
riset, dan pada suatu kesimpulan yang bersifat universal, logis, konsisten, prediktif, dan objektif.
Tujuan utama dari teori akuntansi adalah memberikan seperangkat prinsip yang logis, saling
terkait, yang membentuk kerangka umum,dan dapat dipakai sebagai acuan untuk menilai dan
mengembangkan praktik akuntansi
Teori positif mulai berkembang sekitar tahun 1960-an yang dipelopori oleh Watt &
Zimmerman menitik beratkan pada pendekatan ekonomi dan perilaku dengan munculnya
hipotesis pasar efisien dan teori agensi.
Teori akuntansi positif berupaya menjelaskan sebuah proses, yang menggunakan
kemampuan, pemahaman, dan pengetahuan akuntansi serta penggunaan kebijakan akuntansi
yang paling sesuai untuk menghadapi kondisi tertentu dimasa mendatang. Teori akuntansi positif
pada prinsipnya beranggapan bahwa tujuan dari teori akuntansi adalah untuk menjelaskan dan
memprediksi praktik-praktik akuntansi.
Sedangkan teori normatif dianggap merupakan pendapat pribadi yang subjektif, sehingga
tidak dapat diterima begitu saja dan harus dapat diuji secara empiris agar memiliki dasar teori
yang kuat. Dalam praktik, para profesional dalam bidang akuntansi telah menyadari sepenuhnya
bahwa teori akuntansi positif lebih cendrung diterapkan dibanding teori akuntansi normatif
Dalam makalah ini akan dijelasan lebih rinci tentang akuntansi positif dan juga akuntansi
normatif, baik itu sejarah awal mula, perkembangannya perbedaan ataupun perbandingan antara
keduannya serta hal-hal yang berhubungan dengan akuntansi positif maupun normatif.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Sifat Teori Akuntansi


Teori merupakan hasil dari kristalisasi fenomena empiris, yang diambil dari berbagai
riset, dan pada suatu kesimpulan yang bersifat universal, logis, konsisten, prediktif, dan objektif.
Teori akan berguna apabila rumusan teori tersebut dapat dijadikan sebagai alat untuk
memprediksi sesuatu yang mungkin terjadi dimasa mendatang. Teori akuntansi dapat
dirumuskan sebagai suatu susunan konsep, defenisi, dan dalil yang menyajikan secara sistematis
gambaran fenomena akuntansi, serta menjelaskan hubungan antar variabel dalam struktur
akuntansi, dengan maksud untuk dapat memprediksi fenomena yang muncul (fenomena sosial
dan ekonomi).
Fungsi teori akuntansi adalah:
1. Sebagai pedoman bagi lembaga penyusun standar akuntansi,
2. Memberikan kerangka acuan dalam menyelesaikan masalah akuntansi yang tidak ada standar
resminya,
3. Meningkatkan pemahaman dan keyakinan pembaca terhadap informasi yang disajikan dalam
laporan keuangan,
4. Agar laporan keuangan dapat diperbandingkan, dan
5. Memberikan kerangka acuan dalam menilai prosedur dan praktik akuntansi.
Menurut Vernon Kam (1986), teori adalah suatu sistem yang menyeluruh, dimana
meliputi asumsi dasar, defenisi, tujuan, prinsip atau standar, dan prosedur atau metode. Oleh
sebab itu, teori adalah penjelasan, tetapi tidak semua penjelasan dapat dikategorikan sebagai
teori. Teori akuntansi memiliki tiga dimensi, yaitu:
1. Reductionism
Teori di mulai dari asumsi-asumsi, di mana tidak langsung merujuk ke objek yang diobservasi,
dan bukan merupakan pernyataan yang dapat diuji kebenarannya. Tetapi teori merupakan bahan
rujukan untuk mengamati fenomena.
2. Instrumentalism
Teori merupakan alat yang dapat digunakan untuk menilai pernyataan tentang hasil dari suatu
observasi. Di sini, teori berperan untuk menjelaskan untuk memprediksi.
3. Realism
Teori adalah sekumpulan proposisi atau dalil yang merupakan pernyataan kebenaran atau
ketidakbenaran tentang dunia nyata, fenomena, atau suatu objek.
Tujuan utama dari teori akuntansi adalah memberikan seperangkat prinsip yang logis,
saling terkait, yang membentuk kerangka umum,dan dapat dipakai sebagai acuan untuk menilai
dan mengembangkan praktik akuntansi.
Periodisasi Teori Akuntansi
Periodisasi teori akuntansi dapat digolongkan menjadi:
1. Pre-Theory Period (1492-1800)
Dalam periode ini belum ada teori akuntansi yang dirumuskan, melainkan hanya sebatas
pada saran-saran atau pernyataan-pernyataan yang tidak dapat dianggap sebagai teori.
2. General Scientific Period (1800-1955)
Dalam periode ini sudah ada pengembangan teori, namun hanya berupa penjelasan
terhadap praktik akuntansi. Di sini, juga sudah ada kerangka kerja untuk menjelaskan dan
mengembangkan prakti akuntansi. Akuntansi dikembangkan berdasarkan metode empiris yang
menekankan pada hasil observasi atas peristiwa yang terjadi sehari-hari (realitas), bukan
berdasarkan pada logika.
3. Normative Period (1956-1970)
Dalam periode ini, perumusan teori mulai mendefenisikan norma-norma atau praktik
akuntansi yang baik, dan pengembangan teori akuntansi lebih menekankan pada “apa yang
seharusnya”. Akuntansi dianggap sebagai norma peraturan yang harus diikuti. Di sini, mulai
muncul berbagai kritikan terhadap konsep biaya historis (historical cost). Informasi yang
disajikan berdasarkan nilai pasar wajar ternyata lebih relevan bagi pengguna laporan keuangan
dibandingkan dengan biaya historis. Pengukuran dengan menggunakan nilai wajar, menyediakan
gambaran yang lebih baik tentang nilai aktiva dan kewajiban perusahaan serta menyediakan
dasar lainnya untuk menilai prospek arus kas di masa mendatang.
4. Spesific Scientific Period (1970-sekarang)
Periode ini disebut juga sebagai era positif, di mana teori akuntansi tidak cukup hanya
dengan berdasarkan pada normatif saja (“apa yang seharusnya”), tetapi juga harus dapat diuji
kebenarannya. Perumusan atau pendefenisian norma yang terjadi dalam periode sebelumnya
dianggap terlalu subjektif, sehingga harus dapat di uji terlebih dahulu keabsahannya secara
positif. Pendekatan normatif telah banyak mendatangkan kritikan karena teori normatif ini tidak
melibatkan pengujian hipotesa, melainkan hanya berdasarkan peda pertimbanga subjektif
semata. Ditahun 1970-an, data empiris sudah mulai tersedia, demikian juga hal nya dengan
teknik-teknik statistik yang memungkinkan untuk dilakukannya pengujian.

B. Defenisi Teori Akuntansi positif

Teori akuntansi positif berupaya menjelaskan sebuah proses, yang menggunakan


kemampuan, pemahaman, dan pengetahuan akuntansi serta penggunaan kebijakan akuntansi
yang paling sesuai untuk menghadapi kondisi tertentu dimasa mendatang. Teori akuntansi positif
pada prinsipnya beranggapan bahwa tujuan dari teori akuntansi adalah untuk menjelaskan dan
memprediksi praktik-praktik akuntansi. Teori akuntansi positif merupakan studi lanjut dari teori
akuntansi normatif karena kegagalan normatif dalam menjelaskan fenomena praktik yang terjadi
secara nyata. Teori akuntansi positif mempunyai peranan sangat penting dalam perkembangan
teori akuntansi. Teori akuntansi positif dapat memberikan pedoman bagi para pembuat kebijakan
akuntansi dalam menentukan konsekuensi dari kebijakan tersebut. Teori akuntansi positif
berkembang seiring kebutuhan untuk menjelaskan dan memprediksi realitas praktik akuntansi
yang ada dalam masyarakat sedangkan akuntansi normatif lebih menjelaskan praktik akuntansi
yang seharusnya berlaku.
Pendekatan positif melihat pada “mengapa” praktik akuntansi dan/atau teori akuntansi
berkembang sebagaimana adanya dengan tujuan untuk menjelaskan dan/atau meramalkan
peristiwa akuntansi. Karenanya, pendekatan positif berusaha untuk menentukan berbagai faktor
yang mungkin memengaruhi faktor rasional dalam bidang akuntansi. Pada dasarnya ia berusaha
untuk menentukan suatu teori yang menjelaskan fenomena yang diamati.
Teori yang dikemukakan Friedman (1953) ini merupakan sekumpulan proposisi
(penjelasan sifat dan realita) yang terdiri dari konstruk yang didifinisikan secara luas dan
menghubungkan berbagai unsur yang terdapat dalam proposisi tersebut. Teori ekonomi positif,
menurut Friedman (1953), pada`hakekatnya terbebas dari ikatan berbagai aspek etika—
sebagaimana dikemukakan Keynes. Dia lebih mengacu ke istilah “apa adanya” (what it is)
daripada ke istilah “seharusnya demikian” (it should be). Dengan demikian, fungsinya harus
dinilai berdasarkan ketepatan (precision), bidang kajian (scope), dan kesesuaian peramalan
berdasarkan pada pengalaman. Ringkasnya, ekonomi positif adalah, atau dapat dikategorikan
sebagai ilmu pengetahuan yang objektif (objective science), seperti halnya ilmu fisika.
C. Teori Akuntansi Normatif vs Teori Akuntansi Positif
Teori normatif dianggap merupakan pendapat pribadi yang subjektif, sehingga tidak
dapat diterima begitu saja dan harus dapat diuji secara empiris agar memiliki dasar teori yang
kuat. Dalam praktik, para profesional dalam bidang akuntansi telah menyadari sepenuhnya
bahwa teori akuntansi positif lebih cendrung diterapkan dibanding teori akuntansi normatif.
Teori akuntansi positif memiliki ciri pemecahan masalah yang disesuaikan dengan realitas
praktek akuntansi. Pendekatan yang digunakan dalam teori akuntansi positif adalah pendekatan
ekonomi dan prilaku.
Tujuan dari pendekatan teori akuntansi positif adalah untuk menjelaskan dan
memprediksi praktik akuntansi. Salah satu contoh dalam penggunaan teori positif adalah
hipotesa mengenai program pemberian bonus. Hipotesa ini menunjukkan bahwa manajemen
yang remunerasinya didasarkan pada bonus, akan berusaha memaksimalisasi bonusnya melalui
penggunaan metode akuntansi yang dapat menaikkan laba dan pada akhirnya memperbesar
bonus. Teori ini akan dapat menjelaskan atau memprediksi prilaku manajemen dalam hal
program pemberian bonus.
Pandangan sains akan menghasilkan teori akuntansi positif dan pandangan tekhnologi
akan menghsilkan teori akuntansi normative. Klasifikasi ini terjadi karena sasaran yang berbeda-
beda yang ingin dicapai atau dihasilkan oleh teori akuntansi.
Penjelasan positif berisi pernyataan tentang sesuatu (kejadian, tindakan atau perbuatan)
seperti apa adanya sesuai dengan fakta atau apa yang terjadi atas dasar pengamatan empiris.
Penjelasan positif diarahkan untuk memberikan jawaban apakah sesuatu pernyataan itu benar
atau salah atas dasar kriteria ilmiah. Penjelasan normativ berisi pernyataan dan penalaran untuk
menilai apakah sesuatu itu baik atau buruk atau relevan atau tak relevan dalam kaitannya dengan
kebijakan ekonomi atau sosial tertentu. Penjelasan normativ diarahkan untuk mendukung atau
menghasilkan kebijakan politik sehingga bersifat pembuatan kebijakan.
Dengan pemikiran diatas Blaug (1992) menjelaskan bahwa teori positif berkepentingan
dengan masalah fakta sedangkan teori normative berkepentingan dengan masalah nilai .
Aspek Sasaran Teori
Unsur pembeda masalah fakta masalah nilai
Sasaran pemaparan positif normative
Bentuk pernyataan is ought/should
Bahan pertimbangan facts values
Dasar penyimpulan objective subjective
Nada pernyataan descriptif prescriptif
Metode pengujian validasi science art
Kriteria penerimaan teori true/false good/bad
Atas dasar perbedaan aspek diatas, sasaran teori akuntansi positif adalah menghasilkan
penjelasan tentang apa nyatanya terjadi secara objektif tanpa dilandasi oleh pertimbangan nilai.
Teori akuntansi positif mengajukan proposisi atau hipotesis bahwa perusahaan manufakturan
FIFO sedangkan perusahaan perdagangan cendrung memilih LIFO. Teori akuntansi positif
berusaha menentukan apakah hipotesis tersebut benar atau salah dengan menggunakan metode
ilmiah atas dasar pengamatan data yang nyatanya terjadi. Bila hipotesis terbukti, penjelasan
dijelaskan dalam bentuk pernyataan misalnya bahwa perusahaan yang memilih FIFO adalah
perusahaan manufakturan. Karena tujuan teori positif adalah untuk mendeskripsi (membuat
pertimbangan nilai) apakah metode FIFO lebih baik atau lebih bermanfaat dari metode LIFO.
Dilain pihak, sasaran teori akuntansi normatif adalah menjelaskan penjelasan atau
penalaran mengapa perlakuan akuntansi tertentu lebih baik tau lebih efektif dari pada perlakuan
akuntansi alternative karena tujuan akuntansi tertentu harus dicapai. Hasil akhir teori akuntansi
normative adalah suatu pernyataan atau proposal yang menganjurkan tindakan tertentu.
Misalnya, teori akuntansi akan menghasilkan pernyataan yang berbunyi bahwa asset tetap harus
dinilai dan dicantumkan dalam neraca atas dasar kos historis. Teori akuntansi positif dan
normative timbul karena perbedaan sasaran teori dan bidang masalah yang menjadi perhatian
masing-masing teori. Bila dikaitkan dengan dikotomi sains dan tekhnologi, teori akuntansi
positif lebih erat kaitannya dengan akuntansi sebagai sains sedangkan teori akuntansi normative
lebih erat kaitannya dengan akuntansi sebagai tekhnologi.
D. Contoh Teori Akuntansi Positif
Berikut adalah contoh teori akuntansi, antara lain creative accounting, earning management, big
bath, income minimization, income maximization, timing revenue and expense recognition.
- Creative Accounting adalah semua proses dimana beberapa pihak menggunakan kemampuan
pemahaman pengetahuan akuntansi (termasuk di dalamnya standar, teknik, dll) dan
menggunakannya untuk memanipulasi pelaporan keuangan (Amat, Blake dan Dowd, 1999).
Pihak-pihak yang terlibat di dalam proses creative accounting, seperti manajer, akuntan
(sepengetahuan saya jarang sekali ditemukan kasus yang melibatkan akuntan dalam proses
creative accounting karena profesi ini terikat dengan aturan-aturan profesi), pemerintah, asosiasi
industri, dll.
- Earning management dibagi dalam dua definisi, yaitu:
a. Definisi sempit
Earning management dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi. Earning
management dalam arti sempit ini didefinisikan sebagai perilaku manajer untuk “bermain”
dengan komponen discretionary accruals dalam menentukan besarnya earnings.
b. Definisi luas
Earning management merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi) laba yang
dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan
peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut.
Jika Sugiri (1998) memberikan definisi earning management secara teknis, maka Surifah (1999)
memberikan pendapatnya mengenai dampak earning management terhadap kredibilitas laporan
keuangan. Menurut Surifah (1999) earning management dapat mengurangi kredibilitas laporan
keuangan apabila digunakan untuk pengambilan keputusan, karena earning management
merupakan suatu bentuk manipulasi atas laporan keuangan yang menjadi sasaran komunikasi
antara manajer dan pihak eksternal perusahaan.
Konsep earning management menurut Salno dan Baridwan (2000:19):
menggunakan pendekatan teori keagenan (agency theory) yang menyatakan bahwa ”praktek
earning management dipengaruhi oleh konflik antara kepentingan manajemen (agent) dan
pemilik (principal) yang timbul karena setiap pihak berusaha untuk mencapai atau
mempertimbangkan tingkat kemakmuran yang dikehendakinya”.
- Taking Bath, atau disebut juga ‘big bath’. Pola ini dapat terjadi selama ada tekanan
organisasional pada saat pergantian manajemen baru yaitu dengan mengakui adanya kegagalan
atau defisit dikarenakan manajemen lama dan manajemen baru ingin menghindari kegagalan
tersebut. Teknik ini juga dapat mengakui adanya biaya-biaya pada periode mendatang dan
kerugian periode berjalan ketika keadaan buruk yang tidak menguntungkan yang tidak bisa
dihindari pada periode berjalan. Konsekuensinya, manajemen melakukan ‘pembersihan diri’
dengan membebankan perkiraan-perkiraan biaya mendatang dan melakukan ‘clear the decks’.
Akibatnya laba periode berikutnya akan lebih tinggi dari seharusnya.
- Income minimization. Cara ini mirip dengan ‘taking bath’ tetapi kurang ekstrem. Pola ini
dilakukan pada saat profitabilitas perusahaan sangat tinggi dengan maksud agar tidak
mendapatkan perhatian oleh pihak-pihak yang berkepentingan (aspek political-cost). Kebijakan
yang diambil dapat berupa write-off atas barang modal dan aktiva tak berwujud, pembebanan
biaya iklan, biaya riset dan pengembangan, atas barang modal dan aktiva tak berwujud,
pembebanan biaya iklan, biaya riset dan pengembangan, metode successfull-efforts untuk
perusahaan minyak bumi dan sebagainya. Penghapusan tersebut dilakukan bila dengan teknik
yang lain masih menunjukkan hasil operasi yang kelihatan masih menarik minat pihak-pihak
yang berkepentingan. Tujuan dari penghapusan ini adalah untuk mencapai suatu tingkat return
on assets yang dikehendaki.
- Income maximization. Maksimalisasi laba dimaksudkan untuk memperoleh bonus yang lebih
besar, dimana laba yang dilaporkan tetap dibawah batas atas yang ditetapkan.
- Income smoothing. Perataan laba merupakan cara yang paling populer dan sering dilakukan.
Perusahaan-perusahaan melakukannya untuk mengurangi volatilitas laba bersih. Perusahaan
mungkin juga meratakan laba bersihnya untuk pelaporan eksternal dengan maksud sebagai
penyampaian informasi internal perusahaan kepada pasar dalam meramalkan pertumbuhan laba
jangka panjang perusahaan.
- Timing revenue and expense recognition. Teknik ini dapat dilakukan dengan membuat
kebijakan tertentu berkenaan dengan saat atau timing suatu transaksi seperti adanya pengakuan
yang prematus atas penjualan.

E. Politik Biaya
Konsisten dengan karya awal Watt dan Zimmerman (1978) telah berpendapat bahwa
untuk mengurangi kemungkinan perhatian politik yang merugikan dan biaya yang terkait
perhatian ini (Misalnya, biaya yang terkait dengan pajak meningkat, peningkatan jumlah upah,
atau boikot produk), perusahaan politik yang sensitif (biasanya perusahaan besar) harus
mengadopsi metode akuntansi yang mengarah pada pengurangan keuntungan. Bagaimana
melaporkan, pandangan bahwa yang lebih rendah melaporkan laba akan mengakibatkan
menurunkan pengawasan politik (dan akhirnya untuk transfer kekayaan yang lebih rendah dari
perusahaan) mengasumsikan bahwa pihak yang terlibat dalam proses politik tidak dapat atau
tidak siap untuk "mengungkap" implikasi dari pilihan manajer. Akuntansi manajer adalah entah
bagaimana bisa menipu mereka yang terlibat dalam proses politik dengan hanya mengadopsi satu
metode akuntansi (penurunan pendapatan) dalam preferensi untuk yang lain. Tapi, mengapa ini
menjadi kasus ketika di tempat lain telah diasumsikan (konsisten dengan EMH) bahwa individu
dalam pasar lainnya seperti pasar modal, seperti pasar modal, efisien dapat mengungkap pilihan
manajemen metode akuntansi.
Dari perspektif ekonomi ada pandangan bahwa di pasar politik yang terbatas diharapkan
"membayar - off".. yang dapat hasil dari tindakan individu (Downs, 1957) misalnya, jika seorang
individu berusaha untuk mengetahui alasan sebenarnya mengapa pemerintah terpilih untuk
mengadopsi tindakan tertentu dari antara tindakan yang mungkin banyak, maka pertemuan
informasi tersebut akan mahal. Namun bahwa suara individu akan memiliki kemungkinan sangat
sedikit mempengaruhi keberadaan pemerintah. Hence, individu akan memilih untuk tetap
rasional kurang informasi. Namun, harus membentuk kelompok kepentingan tertentu, maka
biaya informasi tersebut dapat dibagi dan kemampuan untuk menyelidiki tindakan pemerintah
dapat meningkat. Sebuah perspektif yang sama diambil dengan kelompok lain dari pemerintah,
misalnya, perwakilan serikat buruh, lembaga konsumen dan sebagainya. Pejabat badan-badan
respresent berbagai kelompok orang, dengan konstituen secara individu lagi memiliki insentif
yang terbatas untuk diberi informasi yang lengkap tentang kegiatan kantor - pembawa.
Karena PAT mengasumsikan bahwa semua tindakan oleh semua orang (termasuk pejabat
dari kelompok kepentingan, politisi, dan sebagainya) didorong oleh kepentingan pribadi,
perwakilan kelompok kepentingan ditautkan untuk mengadopsi strategi yang memaksimalkan
kesejahteraan mereka sendiri dalam pengetahuan bahwa konstituen mereka akan memiliki
motivasi terbatas untuk diberi informasi yang lengkap tentang kegiatan mereka.
Dengan argumen di atas dalam pikiran, kita dapat mempertimbangkan tindakan politisi,
politisi karena tahu bahwa perusahaan-perusahaan yang sangat menguntungkan bisa menjadi
tidak populer dengan sejumlah besar konstituen mereka, politisi bisa "menang" suara dengan
mengambil tindakan terhadap perusahaan tersebut. Namun, watt dan Zimmerman (1979)
berpendapat bahwa politisi akan mengklaim bahwa tindakan mereka telah mengambil berada di
"kepentingan umum" sebagai jelas mereka harus menyembunyikan fakta bahwa tindakan
tersebut baik dilayani para politisi sendiri interests. Watt dan Zimmerman (1979 ) berpendapat:
Dalam beberapa tahun terakhir ekonom mempertanyakan apakahasumsi kepentingan
umum konsisten dengan penomena yang diamati .merekatelah mengusulkan asumsi bahwa
individu-alternatif yang terlibat dalam tindakan proses politik di sendiri kepentingan
diri mereka (asumsi egoisme).Asumsi ini menghasilkan implikasi yang lebih konsisten
dengan fenomenayang diamati daripada yang didasarkan pada asumsi kepentingan umum.

Untuk membenarkan tindakan mereka sendiri, politisi mungkin hanya mengandalkan


keuntungan dilaporkan perusahaan untuk memberikan alasan atas tindakan mereka, mengetahui
bahwa konstituen secara individu tidak mungkin menghadapi biaya menyelidiki motif politisi,
atau biaya menyelidiki bagaimana keuntungan korporasi adalah ditentukan (yaitu apakah laba
yang dihasilkan karena metode akuntansi tertentu digunakan dalam kurang dari secara objektif).

F. Tinjauan Kritis Teori Akuntansi Positif


Peneliti Topik Kritikan

Ball dan Foster (1982) Review atas penelitian a.ukuran perusahaan dan
akuntansi secara perencanaan
Empiris bonus dapat sebagai proksi
untuk
melupakan variabel —
variabel lainnya.
b.kelemahan teori yang
mendukung
konstruksi pondasi untuk
besaran biaya
politik
c.Sampel yang digunakan
tidak dapat
dipertahankan
Tinker et.al. 1982 Teori Positif vs teori a.Teori positif merupakan
normatif nilai muatan
dan pelindung untuk
mencegah adanya
bias.
b.Mengabaikan penekanan
kelas yang
diperebutan
Christenson (1983) Metodologi dari teori a .Logikal positif
positif menggunakan
metodologi yang sudah
usang.
b.Pendekatan dalarn ''
Sosiologi
Akuntansi "di dalam teori
akuntansi.
c.Mengenalkan standar
pengujian suatu
argumentasi tentang
perkecualian
pembatalan pada teori.
d.Tidak layaknya metode
yang digunakan
untuk menjelaskan
konstruksi teori.
Holthausen & Leftwich (1983) Review konsekuensi a.Keterbatasan interpretasi
literatur ekonomi. yang
dihasilkan, disebabkan
oleh :
b.Tidak lengkapnya teori
politik dan
kontrak.
c.Problem khusus dalam
dependen dan
independen variabel.
Lowe et.al (1983) W & Z (1979) a.Kerangka ekonomi tidak
bisa
dijustifikasi.
b.Pendekatan positif
membuka suatu
perselisihan.
c.Kesepakatan alami
bukan merupakan
suatu ilmu pengetahuan.
d.Adanya perbedaan bukti
yang disajikan.
McKee et.al (1984) Replicasi dari W &.Z a.Hasilnya tidak dapat
(1978) diterapkan pada
sampel yang bani.
b.Diluar sampel itu tidak
dapat digunakan.
c.Pengetahuan kedepan
dari proporsi
sampel bias pada estimasi
parameter.
Whittington (1987) Review W & Z (1986) a.Antara argumentasi dan
bukti yang
disajikan tidak seimbang.
b.Metodologinya ekstrim
c.Teori positif berrnuatan
nilai.
d.Pendekatan " sosiologi
akuntansi
didalam teori akuntansi.
Hines (1988) Christenson (1983) dan Kelayakan evaluasi yang
metodologi ditunjukkan
tidak dapat dipraktekkan
dalam penelitian
akuntansi empiris.

G. Kontrak Antara Pemilik Dan Manager


Jika manajer yang dimiliki perusahaan, maka manajer yang akanmenanggung biaya yang
berkaitan dengan konsumsi penghasilan tambahan milikmereka. konsumsi penghasilan
tambahan bisa mencakup konsumsi sumber dayaperusahaan untuk kepentingan
pribadi (misalnya, manajer dapat memperolehperawatan perusahaan terlalu mahal,
memperoleh kantor terlalu mewah, tinggal diakomodasi hotel terlalu mahal) atau generasi yang
berlebihan dan digunakan waktu siaga. sebagai persentase kepemilikan dipegang
oleh manajer menurun, manajeryang mulai menanggung kurang dari biaya /
nya konsumsi penghasilan tambahannyasendiri. biaya mulai diserap oleh pemilik perusahaan.
seperti disebutkan sebelumnya, PAT mengadopsi sebagai asumsi sentral bahwa
semua tindakan oleh individu didorong oleh kepentingan diri, dan bahwa kepentingan utama
dari individu adalah memaksimalkan kekayaan mereka sendiri.asumsi ini sering
disebut sebagai seorang ekonomi rasional asumsi. jika semuaindividu diasumsikan untuk
bertindak sendiri kepentingan diri mereka, maka pemilikakan mengharapkan manajer
(agen) untuk melakukan kegiatan yang mungkin tidak selalu berada dalam kepentingan
pemilik (prinsipal). lebih jauh, karena posisi mereka dalam perusahaan, para manajer akan
memiliki akses ke informasi tidak tersedia bagi kepala sekolah (masalah ini sering
disebut sebagai information asimetri) dan ini dapat makin meningkatkan kemampuan manajer
untuk melakukan tindakanbermanfaat bagi diri mereka di biaya pemilik. biaya dari perilaku yang
berbeda yang timbul sebagai akibat dari agen biaya (Jensen dan Meckling, 1976)
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Teori positif berkembang karena ketidakpuasan terhadap teori normatif :


1. Ketidakmampuan normatif untuk menguji secara empiris,
2. Normatif lebih banyak berfokus pada kemakmuran investor secara individu dari pada
kemakmuran secara luas,
3. Normatif tidak mendorong atau memungkinkan terjadinya alokasi sumber daya ekonomi
secara optimal di pasar modal.
Teori positif mulai berkembang sekitar tahun 1960-an yang dipelopori oleh Watt &
Zimmerman menitik beratkan pada pendekatan ekonomi dan perilaku dengan munculnya
hipotesis pasar efisien dan teori agensi. Hipotesa yang digunakan oleh Watt & Zimmerman
ada 3, yaitu :
1. Perencanaan bonus,
2. Perjanjian hutang
3. Biaya proses politik.
Teori positif lebih mengacu pada penelitian empiris yang memaksimalkan keuntungan
(baik investor, manajer maupun masyarakat luas) dalam memilih metode akuntansi yang ada.
Teori Positif dikritik oleh beberapa peneliti yang dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok,
yaitu :
1. Kritik terhadap filosofi, positif menganut bahwa peneliti berada di luar area penelitian serta
memakasimalkan utilitynya. Hal ini tidak mungkin terjadi karena peneliti selalu berada pada area
yang ditelitinya dan maksimalitas utility tidak mungkin dicapai hanya sebatas pada kepuasan
(Hebert Simons).
2. Kritik terhadap metodologi, teori positif menganut pendekatan bahwa maksimalisasi
keuntungan dapat diperoleh melalui harga keseimbangan pasar. Hal ini tidak mungkin karena
penelitian dengan harga keseimbangan pasar sangat sedikit pengaruhnya terhadap kontribusi
penelitian akuntansi.
3. Kritik terhadap penelitian dengan pendekatan ekonomi, yaitu pemaksimalisasi individu yang
tidak mungkin atau tidak mudah untuk menghitungnya.

DAFTAR PUSTAKA

Belkaoui, Ahmed Riahi. 2000. Accounting Theory,Ed. Fourth: Thomson Learning.


Chairi, Anis dan Imam Gozali. 2003. Teori Akuntansi. Semarang. BP UNDIP.
Deegan, Craig. 1960. Financial Accounting Theory. Australia: McGraw-Hill Companies.
Simamora, Henry. 2000. Teori Akuntansi. Jakarta: Salemba empat
Suwardjono. 2000. Teori Akuntansi, Yogyakarta: BPFE UGM
http://sangmerdeka.blogspot.com/2009/04/hubungan-antara-teori-akuntansi-positif.html
http://candrabayupp.blogspot.com/2011/11/teori-akuntansi-positif.html
http://irma-yuni.blogspot.com/2012/06/akuntansi-positif-dan-akuntansi.html
http://intermeshow.blogspot.com/2010/01/teori-ekonomi-positif.html

Anda mungkin juga menyukai