Anda di halaman 1dari 14

PERDARAHAN ANTEPARTUM

Posted on Juli 17, 2008 by kuliahbidan Oleh : dr. Neni Moerniaeni & dr. John Rambulangi, Sp.OG. Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada jalan lahir setelah kehamilan 20 minggu.(1) Klasifikasi perdarahan antepartum yaitu 2) 1. Plasenta previa 2. Solusio plasenta 3. Perdarahan antepartum yang tidak jelas sumbernya (idiopatik) Ciri-ciri plasenta previa : (2) 1. Perdarahan tanpa nyeri 2. Perdarahan berulang 3. Warna perdarahan merah segar 4. Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah 5. Timbulnya perlahan-lahan 6. Waktu terjadinya saat hamil 7. His biasanya tidak ada 8. Rasa tidak tegang (biasa) saat palpasi 9. Denyut jantung janin ada 10. Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina 11. Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul 12. Presentasi mungkin abnormal. Ciri-ciri solusio plasenta : (2) 1. Perdarahan dengan nyeri 2. Perdarahan tidak berulang 3. Warna perdarahan merah coklat 4. Adanya anemia dan renjatan yang tidak sesuai dengan keluarnya darah 5. Timbulnya tiba-tiba 6. Waktu terjadinya saat hamil inpartu 7. His ada 8. Rasa tegang saat palpasi 9. Denyut jantung janin biasanya tidak ada 10. Teraba ketuban yang tegang pada periksa dalam vagina 11. Penurunan kepala dapat masuk pintu atas panggul 12. Tidak berhubungan dengan presentasi Plasenta Previa _______________ Plasenta previa merupakan plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internum). (2)

Klasifikasi plasenta previa berdasarkan terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu : (2) 1. Plasenta previa totalis : bila seluruh pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta. 2. Plasenta previa lateralis : bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta. 3. Plasenta previa marginalis : bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan jalan lahir. 4. Plasenta previa letak rendah : bila plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir pembukaan jalan lahir. Etiologi plasenta previa belum jelas. (2) Diagnosis plasenta previa : (2) 1. Anamnesis : adanya perdarahan per vaginam pada kehamilan lebih 20 minggu dan berlangsung tanpa sebab. 2. Pemeriksaan luar : sering ditemukan kelainan letak. Bila letak kepala maka kepala belum masuk pintu atas panggul. 3. Inspekulo : adanya darah dari ostium uteri eksternum. 4. USG untuk menentukan letak plasenta. 5. Penentuan letak plasenta secara langsung dengan perabaan langsung melalui kanalis servikalis tetapi pemeriksaan ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan perdarahan yang banyak. Oleh karena itu cara ini hanya dilakukan diatas meja operasi. Penatalaksanaan plasenta previa : (2) 1. Konservatif bila : a. Kehamilan kurang 37 minggu. b. Perdarahan tidak ada atau tidak banyak (Hb masih dalam batas normal). c. Tempat tinggal pasien dekat dengan rumah sakit (dapat menempuh perjalanan selama 15 menit). 2. Penanganan aktif bila : a. Perdarahan banyak tanpa memandang usia kehamilan. b. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih. c. Anak mati Perawatan konservatif berupa : - Istirahat. - Memberikan hematinik dan spasmolitik unntuk mengatasi anemia. - Memberikan antibiotik bila ada indikasii. - Pemeriksaan USG, Hb, dan hematokrit. Bila selama 3 hari tidak terjadi perdarahan setelah melakukan perawatan konservatif maka lakukan mobilisasi bertahap. Pasien dipulangkan bila tetap tidak ada perdarahan. Bila timbul perdarahan segera bawa ke rumah sakit dan tidak boleh melakukan senggama.

Penanganan aktif berupa : - Persalinan per vaginam. - Persalinan per abdominal. Penderita disiapkan untuk pemeriksaan dalam di atas meja operasi (double set up) yakni dalam keadaan siap operasi. Bila pada pemeriksaan dalam didapatkan : 1. Plasenta previa marginalis 2. Plasenta previa letak rendah 3. Plasenta lateralis atau marginalis dimana janin mati dan serviks sudah matang, kepala sudah masuk pintu atas panggul dan tidak ada perdarahan atau hanya sedikit perdarahan maka lakukan amniotomi yang diikuti dengan drips oksitosin pada partus per vaginam bila gagal drips (sesuai dengan protap terminasi kehamilan). Bila terjadi perdarahan banyak, lakukan seksio sesar. Indikasi melakukan seksio sesar : - Plasenta previa totalis - Perdarahan banyak tanpa henti. - Presentase abnormal. - Panggul sempit. - Keadaan serviks tidak menguntungkan (beelum matang). - Gawat janin Pada keadaan dimana tidak memungkinkan dilakukan seksio sesar maka lakukan pemasangan cunam Willet atau versi Braxton Hicks. Solusio Plasenta ________________ Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau seluruh plasenta pada implantasi normal sebelum janin lahir. (2) Klasifikasi solusio plasenta berdasarkan tanda klinis dan derajat pelepasan plasenta yaitu : 1. Ringan : Perdarahan kurang 100-200 cc, uterus tidak tegang, belum ada tanda renjatan, janin hidup, pelepasan plasenta kurang 1/6 bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma lebih 120 mg%. 2. Sedang : Perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda pre renjatan, gawat janin atau janin telah mati, pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%. 3. Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan, janin mati, pelepasan plasenta bisa terjadi lebih 2/3 bagian atau keseluruhan. Etiologi solusio plasenta belum jelas. (2) Penatalaksanaan solusio plasenta : (2)

Tergantung dari berat ringannya kasus. Pada solusio plasenta ringan dilakukan istirahat, pemberian sedatif lalu tentukan apakah gejala semakin progresif atau akan berhenti. Bila proses berhenti secara berangsur, penderita dimobilisasi. Selama perawatan dilakukan pemeriksaan Hb, fibrinogen, hematokrit dan trombosit. Pada solusio plasenta sedang dan berat maka penanganan bertujuan untuk mengatasi renjatan, memperbaiki anemia, menghentikan perdarahan dan mengosongkan uterus secepat mungkin. Penatalaksanaannya meliputi : 1. Pemberian transfusi darah 2. Pemecahan ketuban (amniotomi) 3. Pemberian infus oksitosin 4. Kalau perlu dilakukan seksio sesar. Bila diagnosa solusio plasenta secara klinis sudah dapat ditegakkan, berarti perdarahan yang terjadi minimal 1000 cc sehingga transfusi darah harus diberikan minimal 1000 cc. Ketuban segera dipecahkan dengan maksud untuk mengurangi regangan dinding uterus dan untuk mempercepat persalinan diberikan infus oksitosin 5 UI dalam 500 cc dekstrose 5 %. Seksio sesar dilakukan bila : 1. Persalinan tidak selesai atau diharapkan tidak selesai dalam 6 jam. 2. Perdarahan banyak. 3. Pembukaan tidak ada atau kurang 4 cm. 4. Panggul sempit. 5. Letak lintang. 6. Pre eklampsia berat. 7. Pelvik score kurang 5. Vasa Previa ___________ Vasa previa merupakan keadaan dimana pembuluh darah umbilikalis janin berinsersi dengan vilamentosa yakni pada selaput ketuban. (2) Etiologi vasa previa belum jelas. (2) Diagnosis vasa previa : (2) Pada pemeriksaan dalam vagina diraba pembuluh darah pada selaput ketuban. Pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan inspekulo atau amnioskopi. Bila sudah terjadi perdarahan maka akan diikuti dengan denyut jantung janin yang tidak beraturan, deselerasi atau bradikardi, khususnya bila perdahan terjadi ketika atau beberapa saat setelah selaput ketuban pecah. Darah ini berasal dari janin dan untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan tes Apt dan tes Kleihauer-Betke serta hapusan darah tepi. Penatalaksanaan vasa previa : (2)

Sangat bergantung pada status janin. Bila ada keraguan tentang viabilitas janin, tentukan lebih dahulu umur kehamilan, ukuran janin, maturitas paru dan pemantauan kesejahteraan janin dengan USG dan kardiotokografi. Bila janin hidup dan cukup matur dapat dilakukan seksio sesar segera namun bila janin sudah meninggal atau imatur, dilakukan persalinan pervaginam. Daftar Pustaka ______________ 1. Pengurus Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Perdarahan Antepartum. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi Bag. I. Jakarta. 1991 : 9-13. 2. Gasong MS, Hartono E, Moerniaeni N, Rambulangi J. Penatalaksanaan Perdarahan Antepartum. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNHAS, Ujung Pandang, 1997. Update : 21 Februari 2006 Sumber : Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi, dr. I.M.S. Murah Manoe, Sp.OG., dr. Syahrul Rauf, Sp.OG., dr. Hendrie Usmany, Sp.OG. (editors). Bagian / SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Rumah Sakit Umum Pusat, dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, 1999.

PERDARAHAN ANTEPARTUM PENDAHULUAN Perdarahan obstetri merupakan penyebab utama kematian ibu.hamil atau bersalin. Dinegara berkembang, kematian ibu bersalin akibat perdarahan antepartum mencapai 50% dari seluruh kematian ibu bersalin. Angka kejadian perdarahan antepartum terjadi pada 5 10% kehamilan. Penyebab kematian ibu akibat perdarahan dapat dilihat pada tabel 1: Tabel 1: Penyebab dari 763 kematian dalam kehamilan akibat perdarahan

Dari : Chichakli LO, Atrash HK, Mackay AP, et al : Pregnancy-related mortality in the United States due to hemorrhage:1979-1992, Obstet Gynecol 94:721, 1999

Perdarahan antepartum perlu dibedakan menjadi perdarahan obstetrik dan perdarahan non-obstetrik serta terlihat pada tabel 2 Perdarahan non-obstetrik umumnya tidak menyebabkan perdarahan yang terlampau banyak kecuali karsinoma servik uteri invasif. Perdarahan obstetrik yang sering menyebabkan perdarahan hebat adalah PLASENTA PREVIA dan SOLUSIO PLASENTA Tabel 2 : Penyebab utama perdarahan trimester III

Dari : Claydon CS, Greenspon JS: Emergency management of third-trimester vaginal bleeding. Postgrad Obstet Gynecol 21:8, 2001

PENATALAKSANAAN AWAL Prinsip penatalaksanaan : 1. Penanganan semua pasien perdarahan pervaginam pada trimester ketiga dilakukan di Rumah Sakit yang mampu merawat pasien perdarahan antepartum dan perawatan perinatal dengan baik 2. Pemeriksaan vaginal atau rektal tak boleh dikerjakan kecuali bila kemungkinan placenta previa sudah dapat disingkirkan dan persiapan penanganan perdarahan masif serta komplikasi perinatal sudah selesai dilakukan.

PERDARAHAN EMERGENSI (Perdarahan hebat yang bersifat LifeThreatening berkaitan


dengan renjatan hipovolemik ) Sangat diperlukan pengenalan hipovolemia secara dini. Gejala dan tanda dari renjatan hipovolemik pada kasus obstetri adalah :

Pucat Kulit lembab Sinkope Rasa haus Dispnea Letih Agitasi cemas bingung Penurunan tekanan darah Takikardia Nadi cepat Oliguria Detik jantung Janin abnormal

Tabel 3 : Gambaran klinik pada renjatan hipovolemik dan respon yang diharapkan dari pemberian cairan pengganti volume

Dari : American College Of Obstetricians and Gynecologist: Hemorrhagic shock ACOG Educational Bulletin No,235, 1997

Bila perdarahan yang terjadi < 1500 ml (25%), maka hemodinamika pada sebagian besar wanita hamil yang sehat masih tetap stabil. Bila tak diatasi, maka perdarahan lebih lanjut akan menyebabkan pasien jatuh kedalam status dekompensasi. Pada kondisi hemodinamika yang tidak stabil, tindakan resusitasi baku ABCD harus segera dimulai. 1. Bebaskan jalan nafas. 2. Baringkan pasien dalam posisi Trendelenburg dan miring kiri untuk membuat aliran balik vena (venous return) maksimal dengan mencegah penekanan uterus yang gravid pada Vena Cava Inferior 3. Pasang 2 buah infuse besar (# no 16) dan berikan cairan kristaloid ( Normal Saline atau Ringer Laktate). Bila perlu, berikan plasma ekspander sambil menunggu tranfusi darah 4. Lakukan pengamatan pada Detik Jantung Janin A.TRANFUSI DARAH Pada awal perdarahan, nilai hematokrit masih dalam batas normal sampai terjadi hemodilusi. Sehingga penilaian klinis merupakan dasar utama dari penanganan pasien perdarahan. Bila sudah ada indikasi, tranfusi diberikan dalam bentuk darah segar atau PRC- Pack Red Cell. Pada penggunaan PRC harus diingat adanya gangguan proses koagulasi akibat berkurangnya faktor pembekuan darah. Pada setiap pemberian 4 unit PRC, harus dilakukan pemeriksaan faal koagulasi dan pengukuran kadar calcium dan kalium.

B. OBAT VASOAKTIF Obat vasoaktif digunakan hanya bila :


Menghendaki adanya efek farmakologi khusus (misalnya untuk meningkatkan kontraktilitas miokard) Tidak tersedia volume expander Usaha-usaha untuk mengatasi renjatan tidak efektif Keuntungan dan kerugian sudah dipertimbangkan dengan baik

Obat yang sering digunakan adalah Dopamin ( campuran dari alpha dan beta adrenergik stimulan ) dengan dosis : 200 mg dalam 500 ml NaCl i.v diawali dengan 2 5 g/kg/menit dan ditingkatkan secara bertahap dengan dosis 5- 10 g/kg/menit sampai 20 50 g/Kg/menit

PERDARAHAN NON EMERGENSI

A. Anamnesa dan Pemeriksaan Abdomen Bila kondisi hemodinamika pasien stabil, lakukan anamnesa ringkas untuk mengetahui apa yang terjadi. Dilakukan pemeriksaan abdomen untuk mengetahui :

Keadaan dinding abdomen , nyeri abdomen, tinggi fundus uteri Besar dan letak janin Penurunan bagian terendah janin Detik jantung janin

B. Pemeriksaan laboratorium

Golongan darah Reaksi silang untuk persiapan tranfusi Darah lengkap termasuk trombosit Faal hemostasis ( Waktu perdarahan dan pembekuan)

C. Pemeriksaan Vaginal Bila kemungkinan plasenta previa sudah disingkirkan, untuk menentukan penyebab terjadinya perdarahan pervaginam lakukan

Pemeriksaan inspekulo Pemeriksaan vaginal toucher

D. Pemeriksaan Ultrasonografi Cara paling akurat untuk menentukan plasenta previa adalah dengan menentukan lokasi plasenta dengan pemeriksaan USG. Pemeriksaan USG transvaginal lebih akurat dalam menentukan lokasi plasenta, sensitivitas pemeriksaan

ini semakin bertambah dengan penggunaan color flow Doppler. Namun harus diingat bahwa tindakan ini dapat menyebabkan bertambahnya perdarahan. Pemeriksaan USG transvaginal harus dikerjakan di Kamar Bersalin dan disertai dengan pemeriksaan detik jantung janin. Pemeriksaan USG meliputi :

Presentasi janin Jumlah cairan amnion Konfirmasi usia kehamilan

Pemeriksaan USG juga diperlukan sebagai pemandu pada tindakan amniosentesis untuk melihat tingkat kematangan paru. E. Penatalaksanaan Perdarahan Penatalaksaan kasus tergantung pada : 1. 2. 3. 4. Keadaan ibu dan anak Usia kehamilan Lokasi plasenta Tahapan persalinan

Garis besar pilihan penatalaksaan : 1. Segera mengakhiri kehamilan (aktif) 2. Melanjutkan persalinan 3. Mempertahankan kehamilan (ekspektatif) Bila janin masih imature, penatalaksanaan pada umumnya adalah ekspektatif kecuali terdapat kondisi medis yang tidak memungkinkan :

Perdarahan terus berlangsung dan semakin bertambah banyak Gawat janin Selaput ketuban pecah spontan

Pada 90% kasus, perdarahan antepartum mereda dalam waktu 24 jam. Bila hasil pemeriksaan menunjukkan lokasi plasenta yang jauh dari ostium uteri internum (high implantation) perdarahan berhenti atau cenderung berhenti maka lakukan pemeriksaan vagina untuk menentukan sumber perdarahan. Bila pemeriksaan dengan ultrasonografi tak dapat dilakukan (atau diluar jam kerja) , maka penatalaksanaan double setup (tindakan vaginal toucher dilakukan di kamar bedah yang sudah diperisapkan untuk melakukan seksio sesar ) boleh dikerjakan untuk menentukan penatalaksanaan lebih lanjut. Diposkan oleh Bambang Widjanarko di 05:46

Label: Komplikasi Antepartum, Obstetri, Perdarahan Antepartum 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom)

Mengenai Saya

Bambang Widjanarko Lihat profil lengkapku

CUACA JAKARTA
Weather in Jakarta - Indonesia

32C Sunny Humidity is 34% Wind is NNW 8 m/s Visibility is 17 km Pressure is 34063 mbar

Followers

Recent Posts

Arsip Blog

2011 (88) o Oktober (15) KANDIDIASIS VULVOVAGINAL KONTRASEPSI STERILISASI METODE KONTRASEPSI LAIN KONTRASEPSI DARURAT METODE PENGHALANG MEKANIS ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM IMPLAN KONTRASEPSI HORMONAL PARENTERAL KONTRASEPSI ORAL SELAYANG PANDANG PENGAMATAN JANIN INTRAPARTUM POSISIO OKSIPITALIS POSTERIOR PERSISTEN LETAK LINTANG PRESENTASI DAHI PRESENTASI MUKA o September (34) GANGGUAN VOLUME CAIRAN AMNION INDUKSI dan AKSELERASI PERSALINAN DIABETES MELITUS dalam KEHAMILAN RUPTURA UTERI dalam KEHAMILAN VASA PREVIA PERDARAHAN ANTEPARTUM TROMBOSITOPENIA dalam KEHAMILAN ANEMIA DEFISIENSI ASAM FOLAT ANEMIA dalam KEHAMILAN INKOMPATIBILITAS RHESUS dan KEHAMILAN HIDROP FETALIS PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT PENYAKIT RESPIRASI KEHAMILAN KEMBAR PRESENTASI SUNGSANG DISTOSIA AKIBAT GANGGUAN pada JALAN LAHIR DISTOSIA AKIBAT GANGGUAN pada TENAGA PERSALINAN TRIKOMONIASIS VAGINOSIS BAKTERIAL DISMENOREA NYERI PANGGUL KEHAMILAN EKTOPIK

KARSINOMA SERVIK UTERI DISPLASIA dan KOLPOSKOPI ABORTUS HABITUALIS SINDROMA OVARIUM POLIKISTIK AMENOREA PERDARAHAN UTERUS ABNORMAL TEKNOLOGI REPRODUKSI DENGAN BANTUAN INDUKSI OVULASI PASANGAN INFERTILITAS FISIOLOGI dan MIKROEKOLOGI VAGINA INKONTINENSIA URINE PROLAPSUS ORGAN PANGGUL Agustus (39) OBAT DAN MEDIKASI SELAMA KEHAMILAN

2010 (4) o Agustus (1) o Januari (3) 2009 (94) o Desember (3) o November (3) o Oktober (8) o September (45) o Agustus (35)

BILA ANDA INGIN MENGIRIM PESAN EMAIL

Free Calendar & Clock

Frekuensi Kunjungan

Peta Pengunjung Blog

SLIDE PRESENTASI