Anda di halaman 1dari 90

SYW

LAPORAN PRAKERIN
LAPORAN PEMANTAUAN & LAPORAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
KOTA BATAM
TAHUN 2011

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Persyratan
Mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS) dan Ujian Akhir Nasional (UAN)

DISUSUN OLEH :
SAMBA AGUNG PERMANA
NIS : 0416
SEKOLAH MENENGAH KE1URUAN NEGERI 4 BATAM (SMKN 4)
PROGRAM KEAHLIAN KIMIA INDUSTRI
TAHUN PELA1ARAN 2011/2012
BATAM

SYW

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PRAKERIN


LEMBAR PENGESAHAN SEKOLAH

LAPORAN PEMANTAUAN & LAPORAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP KOTA
BATAM
TAHUN 2011
Nama : SAMBA AGUNG PERMANA
Nis : 0416
Program Keahlian : KIMIA INDUSTRI

Batam, OKTOBER 2011
Kepala Program Keahlian KI Pembimbing Laporan


Fahmiati ,S.Pd Dessy Irianti,S.Si
NIP. 19670909200701 2021 NIP. 1980021220101 2004
Mengetahui,
Kepala SMK Negeri 4 Batam


Baharuddin Sitepu, S. Pd
NIP. 197202251999031006

SYW

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PRAKERIN


BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN
LAPORAN PEMANTAUAN & LAPORAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
KOTA BATAM
TAHUN 2011
Nama : SAMBA AGUNG PERMANA
NIS : 0416
Program Keahlian : KIMIA INDUSTRI
Batam, Oktober 2011
Menyetujui,
Sekretaris, Pembimbing Industri



Ir.Husnaini Endra Rika, ST
NIP :19620819 199203 1 005 NIP :19780606 200604 1 009



Mengetahui,
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Kota Batam




Ir. A Dendi N Purnomo
NIP. 19631123 199203 1 002


SYW

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan
laporan Praktek Kerja Industri (Prakerin)/ Pendidikan sistem Ganda (PSG) di Pemerintahan
Kota Batam.
Penyusunan dari laporan Prakter Kerja Industri (Prakerin) adalah sebagai bentuk laporan
akhir penulis selama mengikuti kegiatan Praktek Kerja Industri (Prakerin) di Pemerintahan Kota
dan penulis di tempatakan di bagian Analisa Penanggulangan Dampak Lingkungan Kota Batam,
yang mana Praktek kerja Industri (Prakerin) merupakan salah satu program yang dianjurkan oleh
Dinas Pendidikan Nasional sebagai upaya untuk menigkatkan mutu program produktiI dalam
tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Batam
Penulis melaksanakan Praktek Kerja Industri (Prakerin) di Pemerintah Kota Batam dan
ditempatkan di bagian Badan Pengendalian Dampak LIngkungan Kota Batam beralamat di JL.
EngkuPutri No. 1 Batam Center Batam. Penulis ditempatkan di Badan pengendalian Dampak
Lingkungan Kota Batam selama 3 (Tiga) Bulan yaitu mulai tanggal 18 (Delapan Belas) Juli
sampai pada tanggal 26 Oktober 2011..
Banyak sekali ilmu dan pelajaran baru yang penulis dapatkan dalam melaksanakan Praktek
Kerja Industri (Prakerin) di Pemerintah Kota Batam., Adapun dalam penyusunan karya tulis,
penulis menemukan beberapa hambatan seperti pembagian waktu dalam penyusunan laporan
Praktek Kerja Industri (Prakerin), sedangkan judul karya tulis yang penulis ambil berdasarkan
jurusan dan kegiatan penulis di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan dimana penulis di
tempatkan.Meskipun begitu penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini dengan baik.



SYW

Dalam menyelesaikan laporan Praktek Kerja Industri (Prakerin) ini, penulis mendapat bantuan
dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis Mengucapkan banyak terima kasih yang
sebesar besarnya kepada pihak industri tempat penulis melaksanakan Praktek Kerja Industri
(Prakerin), yaitu :

1. Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan hidayah-Nya sehingga laporan ini bisa
terselesaikan .
2. Ayah dan Ibu Tercinta yang telah memotivasi penulis untuk melakukan yang terbaik.
3. Bapak Ir. Dendi N Purnomo, selaku Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Kota batam.
4. Ibu Ir. Husnaini, selaku Sekretaris Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kota
batam.
5. Ibu Ir.Mince Sihotang, selaku Kepala Bidang Analisis Pengendalian Dampak
Lingkungan
6. Ibu Hamidah Saragi, SH, selaku Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan.
7. Bapak Saprial, S.PI, MT, selaku Kepala Bidang Penegakan Hukum Lingkungan.
8. Bapak Ir.H.kiagus Rozali, selaku Kepala Bidang Pelestarian Lingkungan.
9. Bapak Moh Zani,S.SI, selaku Kepala Sub Bidang Pengendalian Lingkungan
10. Bapak Endra Rika, ST, selaku Kepala Sub Bidang Teknis Amdal
11. Bapak Adiyanto, ST, selaku Kepala Sub Bidang Pengendalian Usaha
12. Bapak Didi Wahyudi, selaku Pembimbing Industri di Badan Pengendalian Dampak
Lingkungan Kota batam.
13. Seluruh Pegawai yang ada di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Batam





SYW

Penulis Juga mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah SMK Negeri 4 Batam yaitu :
1. Bapak Baharuddin Sitepu, S. Pd, selaku Kepala SMK Negeri 4 Batam
2. Ibu Rismawati Sihotang, selaku Ketua Humas SMK N 4 Batam
3. Bapak Rudais Hazkim,Selaku Wakil Humas SMK N 4 Batam
4. Ibu Fahmiati,S.Pdselaku Kapro Keahlian Kimia Industri
5. Ibu Dessy Irianti, S.Si , Selaku Pembimbing Laporan
6. Seluruh Majelis Guru di SMK Negeri 4 Batam
7. Seluruh Sahabat serta teman teman di SMK Negeri 4 Batam khususnya XI Kimia
Industri 1 yang telah memberikan dukungan beserta saransarannya kepada penulis.
8. Seluruh pihak yang telah membantu penulis secara langsung maupun tidak langsung

Penulis juga menyadari selama melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Indsutri (prakerin) di
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Pemerintah Kota Batam dan selama belajar di
sekolah, penulis banyak sekali melakukan kesalahan dan kekhilaIan baik dalam tindakan dan
perbuatan yang disengaja maupun tidak disegaja. Untuk itu penulis mohon maaI kepada StaI dan
Pegawai Di Pengendalian Dampak Lingkungan dan juga kepada guru-guru penulis beserta
seluruh karyawan yang ada di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Batam.
Dalam pembuatan karya tulis ini terdapat banyak sekali kesalahan-kesalahan. Oleh sebab
itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersiIat membangun
sebagai bahan masukan penulis di masa yang akan datang.
Akhir kata, penulis mengharapkan semoga laporan ini bermanIaat bagi penulis dan bagi
pembaca pada umumnya, khususnya bagi adik-adik kelas yang juga akan menyusun karya
tulis, cukup sekian dan terima kasih atas perhatianya.
Batam, Oktober 2011
Penulis

Samba Agung. P
NIS : 0416
SYW

DAFTAR ISI
Halaman Judul
Lembaran Pengesahan ................................... 2-3
Kata Pengantar .................................. 4-6
DaItar Isi ........................................ 7-8
Bab I PENDAHULUAN .................................. 9
1.1.Pengertian Prakerin .................................
1.2.Latar Belakang Prakerin .............................
1.3.Tujuan Prakerin .................................
1.4.Perumusan Masalah ..............................
Bab II ISI .......................................
2.1. Sejarah Perusahaan .................................
2.2. Fasilitas / Kegiatan Usaha / Bagian .......................
2.3. Kegiatan yang dilakukan selama Prakerin .....................
2.4 Laporan prakerin.............................
2.4.1 Pengertian lingkungan hidup........................
Bab III SPPL ..................................
2.4.2 Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan..................
Bab IV UKL - UPL.............................
2.4.3 Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup
(UKL & UPL)..................................
Bab V AMDAL...............................
2.4.4 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan....................

SYW%

Bab VI DPLH...............................
2.4.5 DokumenPengelolaanLingkunganHidup(DPLH)...............
Bab VII PENUTUP
3.1. Kesimpulan .................................
3.2. Saran .....................................
Daftar Pustaka...........................
Lampiran

SYW%

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 PENGERTIAN PRAKTEK KER1A LAPANGAN (PKL)
Praktek Kerja Lapangan adalah salah satu bentuk emplementasi secara sistematis dan
sinkron antara program pendidikan di sekolah dengan program penguasaan keahlian yang
diperoleh melalui kegiatan kerja secara langsung didunia kerja untuk mencapai tingkat keahlian
tertentu.
Disamping dunia usaha,Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) Dapat memberikan keuntungan
pada pelaksanaan itu sendiri yaitu sekolah, karena keahlian yang tidak diajarkan di sekolahan
bisa di dapat di dunia usaha , sehingga dengan adanya Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) dapat
meningkatkan mutu dan relevensi Pendidikan Menengah Atas yang dapat diarahkan
mengembangkan untuk suatu sistem yang mantap antara dunia pendidikan dan dunia usaha.

1.2 LATAR BELAKANG PRAKERIN.
Pelaksanaan kegiatan Praktek Industri di SMK Negeri 4 Batam adalah bagian dari PSG
(Pendidikan Sistem Ganda) yang mana merupakan sebagian dari kebijaksanaan dari 'Link and
Match, dimana dalam melaksanakan proses belajar dilaksanakan pada dua tempat yaitu di
sekolah dan di dunia industri, baik besar, sedang, ataupun kecil atau industri rumah tangga.
Upaya ini dilaksanakan untuk meningkatkan kualiatas lulusan pelajar SMK, agar lebih sesuai
dengan tuntutan pembangunan nasional pada umumnya dan kebutuhan tenaga kerja pada
SYW

khususnya. Harapan utama dari kegiatan penyelenggaraan praktek di dunia usaha atau industri
ini disamping keahlian proIessional siswa meningkat sesuai kebutuhan Dunis Usaha atau
Industri, siswa juga akan memiliki etos kerja, kualitas, disiplin waktu dan kerajinan kerja dalam
bekerja, serta memiliki wawasan yang luas tentang dunia usaha atau industri.
Untuk meninjau perkembangan para siswa di dunia usaha atau industri, diperlukan suatu
perangkat yang dapat memberikan inIormasi tentang kualiIikasi dan jenis kegiatan praktek
siswa. Perangkat tersebut adalah jurnal kegiatan praktek siswa dalam bentuk laporan kegiatan
praktek siswa selama berada di dunia usaha atau industri.

1.3 MAKSUD & TU1UAN PRAKTEK KER1A LAPANGAN (PKL)
Maksud dilaksanakannya Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) yang diwujudkan dalam kerja
disuatu perusahaan. Selain sebagai salah satu syarat tugas akhir Praktek Kerja Lapangan ( PKL
),Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) juga sebagai kegiatan Siswa untuk mencari pengalaman kerja
sebelum memasuki dunia kerja yang sesungguhnya,
yang tercermin dalam Pendidikan Nasional yang berdasarkan Pancasila yang bertujuan
meningkatkan kecerdasan, kreativitas, dan ketrampilan agar dapat menumbuhkan manusia yang
dapat membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas Pembangunan Bangsa dan
Negara dalam pencapaian perekonomian meningkat dan kehidupan yang makmur.
SYW

Karena pertumbuhan perekonomian yang meningkat, didukung pula oleh tumbuhnya


persaingan dibidang industri dan teknologi yang memaksa kita untuk ikut terjun kedalam dunia
industri, bisnis, dan perdagangan .
Adapun tujuan diadakan pelaksanakan Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) antara lain :
O Untuk memperkenalkan siswa pada dunia usaha,
O Menumbuhkan & meningkatkan sikap proIosional yang diperlukan siswa untuk memasuki
dunia usaha,
O Meningkatkan daya kreasi dan produktiIitas tehadap siswa sebagai persiapan dalam
menghadapi atau memasuki dunia usaha yang sesungguhnya,
O Meluaskan wawasan dan Pandangan Siswa terhadap jenis-jenis pekerjaan pada tempat
dimana Siswa melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL)

1.4 PERUMUSAN MASALAH
Di Kota Batam merupakan suatu daerah industri yang menghasilkan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun. Limbah B3 yang berbahaya dan bisa berdampak pada kesehatan dan
lingkungan, Oleh karena itu limbah B3 perlu penanganan khusus. Sebagaimana di jelaskan
dalam undang-undang RI.32 tahun 2009 yaitu tentang perlindungan pengelolaan lingkungan
hidup dan juga di jelaskan dalam undang-undang PP RI.Nomor 18 Tahun 1999 yaitu peraturan
pemerintahan tentang pengelolaan Limbah Bahan berbahaya dan Beracun. Dan PP.RI Nomor
85 Tahun 1999.Perubahan atas peraturan pemerintahan No.18/1999 tentang pengelolaaan
limbah bahan berbahaya dan beracun.
SYW


BAB II

2.1. SE1ARAH PERUSAHAAN
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Kota Batam mulai terbentuk
berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau Nomor : 225 Tahun 1999
tanggal 28 Oktober 1999 seiring dengan terbentuknya daerah otonom Kota Batam berdasarkan
Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999. Susunan organisasi saat itu hanya terbagi menjadi
Sekretariat dan dua seksi bidang yaitu pengawasan & pengendalian serta pemantauan &
pemulihan.
Selanjutnya susunan organisasi Bapedal Kota Batam diatur dalam Peraturan Daerah
Nomor 11 tahun 2007 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis
Daerah Kota Batam dan Peraturan Walikota Batam Nomor 09 tahun 2008 tentang Uraian Tugas
dan Fungsi Lembaga Teknis Daerah Kota Batam, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Kota Batam terdiri dari seorang Kepala Badan serta membawahi Sekretaris dan 4 (empat)
Kepala Bidang, seperti tergambar pada gambar di samping.







SYW


Visi dan Misi Bapedal Kota Batam
VISI
' Menuju Batam Sadar Lingkungan
MISI
1. Meningkatkan kemampuan aparatur yang proIesional
2. Mewujudkan kesadaran lingkungan dan penegakan hukum lingkungan
3. Pengembangan kajian dampak lingkungan, pengendalian kerusakan dan pencemaran

Tugas Dan Fungsi Bapedal Kota Batam
TUGAS
Berdasarkan Peraturan Walikota Batam Nomor 9 Tahun 2008 tentang Uraian Tugas dan
Fungsi Lembaga Teknis Daerah Kota Batam, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup
Kota Batam mempunyai tugas pelaksanaan, pengkoordinasian dan penyusunan kebijakan daerah
di bidang pengendalian dampak lingkungan dan tugas lain yang diberikan Walikota sesuai
dengan lingkup tugas dan Iungsinya.
FUNGSI
1. Penyusunan program dan kegiatan badan dalam jangka pendek, menengah dan jangka
panjang;
2. Penyelenggaraan urusan tata usaha perkantoran yang meliputi urusan perencanaan dan
evaluasi, urusan keuangan serta urusan umum dan kepegawaian;
3. Perumusan kebijakan teknis di bidang pengendalian dampak lingkungan;
SYW

4. Penyelenggaraan kegiatan teknis operasional yang meliputi bidang analisis pencegahan


dampak lingkungan, bidang pelestarian lingkungan, bidang pengendalian lingkungan dan
bidang penegakan hukum lingkungan;
5. Pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintah daerah di bidang pengendalian dampak
lingkungan;
6. Penyelenggaraan administrasi dan pelayanan umum kepada masyarakat dalam lingkup
tugasnya;
7. Pembinaan terhadap unit pelaksana teknis dalam lingkup tugasnya;
8. Fasilitasi kegiatan instansi terkait dalam hal pengendalian dampak lingkungan;
9. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan Walikota sesuai dengan lingkup tugas dan Iungsinya.

KEWENANGAN
SEKRETARIAT
1. Penghimpunan, pengkoordinasian, perencanaan dan pelaksanaan program ketatausahaan dan
urusan rumah tangga Bapedal;
2. Pengkoordinasian pelaksanaan pembinaan organisasi tata laksana Bapedal;
3. Penyelenggaraan, pengkoordinasian dan pengelolaan administrasi kepegawaian, keuangan,
kearsipan dan inventarisasi rumah tangga, serta tata persuratan;
4. Penyiapan data, inIormasi, hubungan masyarakat dan penyelenggaraan penyusunan
dokumentasi dan perpustakaan;
5. Pemantauan dan evaluasi terhadap rencana-rencana program dan kegiatan tahunan maupun
lima tahunan Bapedal;
SYW

6. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bapedal sesuai dengan lingkup tugas dan
Iungsinya.

BIDANG ANALISIS PENCEGAHAN DAMPAK LINGKUNGAN (APDL)
Sub Bidang Teknis AMDAL
1. Penyelenggaraan bimbingan teknis tata cara penyusunan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL), Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan (UPL);
2. Pelaksanaan pekerjaan kegiatan penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
(AMDAL), Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan
(UPL) keperluan pemerintah kota;
3. Penyiapan, pengkajian, dan pelaksanaan penilaian terhadap AMDAL, UKL dan UPL;
Sub Bidang Evaluasi AMDAL
1. Pemetaan kondisi eksisting lingkungan hidup serta upaya untuk melakukan pemantauan dan
pelestarian lingkungan hidup;
2. Pengembangan perangkat ekonomi lingkungan dalam rangka pelestarian lingkungan hidup;

BIDANG PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP (PL)
Sub Bidang Pelestarian Ekosistem Darat, Pesisir dan Laut
1. Penyelenggaraan bimbingan teknis tata cara pelestarian lingkungan hidup di darat, pesisir dan
laut;
2. Pelaksanaan program pencegahan kerusakan lingkungan dan kegiatan yang berhubungan
dengan pelestarian ekosistem darat, pesisir dan laut;
SYW

3. Pelaksanaan pemetaan terhadap kondisi eksisting lingkungan hidup, pembuatan langkah


antisipatiI untuk pelestarian ekosistem darat, pesisir dan laut serta pengembangan perangkat
ekonomi lingkungan dalam rangka pelestarian lingkungan hidup;
4. Pelaksanaan Iasilitasi dan koordinasi upaya pelestarian ekoisistem darat, pesisir dan laut.
Sub Bidang Pemantauan Lingkungan
1. Koordinasi, pembinaan, bimbingan teknis dan evaluasi terhadap pelaksanaan pemantauan
lingkungan;
2. Penghimpunan data, pengkajian dan pengembangan kapasitas peran serta masyarakat di
bidang pemantauan lingkungan hidup.

BIDANG PENGENDALIAN LINGKUNGAN (PLH)
Sub Bidang Pengendalian Lingkungan
1. Koordinasi, pembinaan dan pengendallian terhadap pencemaran air, udara, kebisingan dan
limbah bahan berbahaya dan beracun (LB3);
2. Pengendallian usaha lingkungan serta pembuangan limbah cair, emisi udara, B3 serta LB3.
3. Rekomendasi bagi pengelolaan B3 serta LB3.
4. Penyelenggaraan ijin TPS limbah B3 dan ijin pengumpulan LB3 dan ijin lokasi pengolahan
LB3

Sub bidang Pengendalian Usaha Lingkungan
1. Penyelenggaraan ijin pembuangan limbah cair;
2. Penyelenggaraan ijin undang-undang gangguan (hinder ordonansi/HO)
SYW

3. Pengumpulan dan penyiapan bahan kebijakan teknis pelaksanaan pengendalian usaha


lingkungan;
4. Pelaksanaan Iasilitasi dan koordinasi pengendalian usaha lingkungan

BIDANG PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN (PHL)
Sub Bidang Penataan Lingkungan
1. Penerimaan, Pencarian inIormas dari masyarakat yang terkena kasus lingkungan;
2. Pengumpulan bahan keterangan dan penyidikan kasus dan tindak pidana lingkungan;
3. Pembinaan, penyuluhan dan konsultasi kepada masyarakat;
4. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis dan pedoman penyelesaian sengketa lingkungan,
kasus pelanggaran dan tindak pidana lingkungan.

Sub Bidang Pemulihan Lingkungan
1. Pemantauan, analisis, evaluasi dan laporan pelaksanaan koordinasi administrasi gugatan ganti
kerugian lingkungan dan pemulihan lingkungan;
2. Koordinasi dan perhitungan terhadap ganti rugi ekonomi dan lingkungan akibat terjadinya
pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup;
3. Analisis, laporan dan evaluasi pelaksanaan pengajuan gugatan ganti kerugian lingkungan;
4. Pelaksanaan kebijakan teknis pemulihan lingkungan.




SYW%

KEBIJAKAN
Untuk melaksanakan visi dilakukan dengan kebijakan yang meliputi :
1. Peningkatan SDM Badan Pengendalian Dampak Lingkungan dalam pengelolaan lingkungan
hidup.
2. Pengembangan akses inIormasi, komunikasi dan sistim inIormasi.
3. Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup.
4. Peningkatan pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.
5. Penegakan hukum di bidang lingkungan.

PROGRAM DAN KEGIATAN
Untuk mendukung visi dan misi dilakukan beberapa program sebagai berikut:
1. Program Peningkatan Sumber Daya Manusia
2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana
3. Program Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup
4. Program Pembinaan dan Pelestarian Lingkungan Hidup
5. Program Penaatan dan Penegakan Hukum di Bidang Lingkungan
2.2. Fasilitas Instansi / Kegiatan Usaha / Struktur Instansi
1. Fasilitas Perusahaan
Bapedal Kota Batam menyediakan beberapa Iasilitas yang mendukung jalanya
kegiatan. Beberapa Iasilitas yang membantu tersebut ialah :
a. Computer;
b. Printer;
c. Ruang Rapat;
d. Pentry;
e. Gudang;
I. Pos Pengaduan;
SYW%

2. Kegiatan Usaha
Bapedal Kota Batam mempunyai kegiatan masing-masing di setiap bidang, sebagai
berikut :
a. Sub Bidang Teknis AMDAL
O Penyelenggaraan bimbingan teknis tata cara penyusunan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan (AMDAL), Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan
Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL).
b. Sub Bidang Pelestarian Ekosistem Darat, Pesisir dan Laut
O Penyelenggaraan bimbingan teknis tata cara pelestarian lingkungan hidup di
darat, pesisir dan laut.
.. Sub Bidang Pengendalian Lingkungan
O Koordinasi, pembinaan dan pengendallian terhadap pencemaran air, udara,
kebisingan dan limbah bahan berbahaya dan beracun (LB3).
d. Sub Bidang Penataan Lingkungan
O Penerimaan, Pencarian inIormas dari masyarakat yang terkena kasus
lingkungan.







SYW

KEPALA
BAPEDAL
BDANG
ANALSS
PENCEGAHAN
DAMPAK LNGKUNGAN
SUBBD.
TEKNS AMDAL
SUBBD.
EVALUAS AMDAL
BDANG PELESTARAN
LNGKUNGAN
SUBBD
PELESTARAN
EKOSSTEM DARAT,
PESSR & LAUT
SUBBD
PEMANTAUAN
KUALTAS
LNGKUNGAN
BDANG
PENGENDALAN
LNGKUNGAN
SUBBD
PENGENDALAN
USAHA LNGKUNGAN
SUBBD
PENGENDALAN
LNGKUNGAN
BIDANG PENEGAKAN
HUKUM LINGKUNGAN
SUBBD
OPERAS PENTAATAN
SUBBD
PEMULHAN
LNGKUNGAN
KELOMPOK JABATAN
FUNGSIONAL
SEKRETARIAT
SUBBAG. UMUM
DAN KEPEGAWAIAN
SUBBAG.
KEUANGAN
SUBBAG.
PERENCANAAN DAN
EVALUASI
3. Bagian Instansi / Struktur Instansi






















SYW

2.3. Kegiatan yang dilakukan selama Prakerin


Praktek Kerja Industri (prakerind) dimulai pada tanggal 18 juli sampai dengan 26
Oktober 2011. Penulis Praktek Kerja Industri di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
(BAPEDAL) yang ditempatkan di bidang Analisis Penanggulangan Dampak Lingkungan
(APDL)
Kegiatannya antara lain : Register Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL),
Merekom Dok. DPLH, UKL UPL, DPPL, KA ANDAL, Mengikuti Sidang dok. KA
ANDAL, Tinjauan Lapangan Untuk Pengurusan SPPL.













SYW

2.4. Laporan Prakerin


Judul : ' Lingkungan Hidup '

2.4.1 Lingkungan Hidup
Definsi dan pengertian
Berdasarkan kamus lingkungan hidup yang disusun Michael Allaby,lingkungan hidup
diartikan sebagai: The Physical,chemical,and biotic condition surrounding.
ProI. Dr. Ir. Otto soemarwoto, seorang ahli ilmu lingkungan (ekologi) terkemuka
mendeIinisikan sebagai berikut: lingkungan adalah jumlah semua benda dan kondisi yang ada
dalam ruang yang kita tempati yang mempengaruhi kehidupan kita.
Berdasarkan Undang-undang RI No.23 Tahun 1997 sebagai berikut: 'Lingkungan hidup
adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, mahliuk hidup, termasuk manusia
dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia
serta mahluk hidup lain.
'Ekosistem adalah tatanan unsure lingkunagn hidup yang merupakan kesatuan utuh
menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan
produktiIitas lingkungan hidup.




SYW

Bab III
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan

SPPL
Merupakan PERNYATAAN KESANGGUPAN dari penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan untuk melakukan PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN
lingkungan hidup atas dampak lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatannya.

Berikut ini adalah salah satu contoh Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan :


SYW

KOP RESMI PERUSAHAAN/PEMRAKARSA





SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN
LINGKUNGAN HIDUP (SPPL)

Kami yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : ............................................................................
Jabatan : ............................................................................
Alamat : ............................................................................
Nomor Telp./Iax : ............................................................................

Selaku penanggung jawab atas pengelolaan lingkungan dari:
Nama perusahaan/Usaha : .........................................................
Alamat perusahaan/usaha : .........................................................
Nomor telp. Perusahaan : .........................................................
Jenis Usaha/siIat usaha : .........................................................
Kapasitas Produksi : .........................................................
Perizinan yang dimiliki

NO. JENIS PERIJINAN YANG
DIMILIKI
NOMOR SURAT
IJIN
TANGGAL
SURAT IJIN
1.
2.
3.
Keperluan : .........................................................
Besarnya modal : .........................................................


SYW

Dengan ini menyatakan bahwa kami sanggup untuk:


1. Melaksanakan ketertiban umum dan senantiasa membina hubungan baik dengan tetangga
sekitar.
2. Menjaga kesehatan, kebersihan dan keindahan di lingkungan usaha.
3. Bertanggung jawab terhadap kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan yang diakibatkan
oleh usaha dan/atau kegiatan tersebut.
4. Bersedia dipantau dampak lingkungan dari usaha dan/atau kegiatannya oleh pejabat yang
berwenang.
5. Menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup di lokasi dan disekitar tempat
usaha dan/atau kegiatan.
6. Apabila kami lalai untuk melaksanakan pernyataan pada angka 1 sampai angka 5 di atas,
kami bersedia bertanggung jawab sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

SPPL ini berlaku sejak tanggal ditetapkan sampai dengan berakhirnya usaha dan/atau kegiatan
atau mengalami perubahan lokasi, desain, proses, bahan baku dan/atau bahan penolong.






Batam, ..................................... 2011

Yang menyatakan,
Perusahaan/Pemrakarsa




(..................................................)


Maicrai F. 6.000,-
Tanda iangan
Ca crusaIaan
Menyetujui,
A/n Kepala Bapedal Kota Batam
Kabid APDL,



SYW

Lampiran I

FORM ISIAN
SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN
LINGKUNGAN HIDUP (SPPL)


Kami yang bertanda tangan di bawah ini:

I. IDENTITAS PEMRAKARSA

1. Nama perusahaan :
2. Nama penanggungjawab pengelolaan
lingkungan
:

3. Alamat kantor

:

4. Nomor telepon/Iax :

II. RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN

1. Nama rencana usaha
dan/atau kegiatan
:



2.


3.
Lokasi rencana usaha dan/atau
kegiatan

Skala usaha dan/atau Kegiatan
:


:



(Satuan)
SYW




Keterangan.

Tuliskan ukuran luasan dan atau panfang dan/atau volume dan/atau kapasitas atau
besaran lain yang dapat digunakan untuk memberikan gambaran tentang skala
kegiatan. Sebagai contoh antara lain.
1. Bidang Industri. fenis dan kapasitas produksi, fumlah bahan baku dan penolong,
fumlah penggunaan energi dan fumlah penggunaan air
2. Bidang Pertambangan. luas lahan, cadangan dan kualitas bahan tambang,
panfang dan luas lintasan ufi seismik dan fumlah bahan peledak
3. Bidang Perhubungan. luas, panfang dan volume fasilitas perhubungan yang
akan dibangun, kedalaman tambatan dan bobot kapal sandar dan ukuran-
ukuran lain yang sesuai dengan bidang perhubungan
4. Pertanian. luas rencana usaha dan/atau kegiatan, kapasitas unit pengolahan,
fumlah bahan baku dan penolong, fumlah penggunaan energi dan fumlah
penggunaan air
5. Bidang Pariwisata. luas lahan yang digunakan, luas fasiltas pariwisata yang
akan dibangun, fumlah kamar, fumlah mesin laundry, fumlah hole, kapasitas
tempat duduk tempat hiburan dan fumlah kursi restoran

SYW%

4. Garis Besar Komponen Rencana Usaha dan/atau Kegiatan




Tahap Prakonstruksi :
a. ..............................
b. ..........................................................................................

Tahap Konstruksi:
a. .........................................................................................
b. ...............................
c. .........................................................................................

Tahap Operasi:
a. .........................................................................................
b. .........................................................................................
c. .........................................................................................



III. DAMPAK LINGKUNGAN YANG AKAN TERJADI.

SUMBER DAMPAK JENIS DAMPAK
BESARAN
DAMPAK
KETERANGAN

ontoh:

1. Limbah cair






2. Limbah padat




Terjadinya penurunan
kualitas air Sungai
XYZ akibat
pembuangan limbah
cair


Terjadinya penurunan



Limbah cair yang
dihasilkan adalah 50
liter/hari.




Limbah padat yang



(Tuliskan
informasi lain
yang perlu
disampaikan
untuk
menfelaskan
dampak
lingkungan yang
SYW%






3. Limbah gas
kualitas air Sungai
XYZ akibat
pembuangan limbah
padat


Penurunan kualitas
udara akibat
pembakaran
dihasilkan adalah
1,2 m
3
/minggu.






akan terfadi)

IV. PROGRAM PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


1. ..................................................................................................
2. ..................................................................................................
3. ..................................................................................................
4. ..................................................................................................
5. ..................................................................................................
6. dst.
Uraikan secara singkat dan jelas:
i. Langkah-langkah yang dilakukan untuk mencegah dan mengelola dampak termasuk
upaya untuk menangani dan menanggulangi keadaan darurat;
ii. Kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk mengetahui eIektiIitas pengelolaan dampak
dan ketaatan terhadap peraturan di bidang lingkungan hidup;
iii. Tolok ukur yang digunakan untuk mengukur eIektiIitas pengelolaan lingkungan hidup
dan ketaatan terhadap peraturan di bidang lingkungan hidup.

SYW

Dengan ini menyatakan bahwa:



1. Data yang diberikan diatas (Poin I, II, III dan IV) diisi dengan sebenar-benarnya dan kami
bersedia diambil tindakan jika terdapat ketidaksesuaian data antara data yang diisi dengan
data yang sebenarnya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Kami berjanji untuk menghindari, menanggulangi terjadinya pencemaran dan gangguan
terhadap lingkungan hidup yang mungkin ditimbulkan oleh perusahaan/kegiatan kami
seperti yang disebutkan pada poin (III) dan (IV).
3. Apabila kami lalai untuk melaksanakan pernyataan kami pada butir 2 (dua) diatas, kami
bersedia bertanggung jawab sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.






Batam, ..................................... 2010

Yang menyatakan,
Perusahaan/Pemrakarsa







(..................................................)

Maicrai F. 6.000,-
Tanda iangan
Ca crusaIaan
SYW

Adapun Peraturan Pemerintah Yang Menjelaskan Tentang Surat


Pernyataan Pengelolaan Lingkugan adalah sebagai berikut.

1
SALINAN
PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
NOMOR 13 TAHUN 2010
TENTANG
UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA
PEMANTAUAN
LINGKUNGAN HIDUP DAN SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN
PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP
MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 35 ayat (3)
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, perlu menetapkan
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Upaya
Pengelolaan Lingkungan Hidup Dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup Dan Surat Pernyataan Kesanggupan
Pengelolaan Dan Pemantauan Lingkungan Hidup;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5059);
2. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang
Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
TENTANG UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP DAN
SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN PENGELOLAAN
DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP.

Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan
lingkungan hidup, yang selanjutnya disebut UKL-UPL, adalah
pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha dan/atau kegiatan yang
tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan
bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha
dan/atau kegiatan.
2. Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan

SYW


Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disebut SPPL, adalah pernyataan
kesanggupan dari penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk

2
melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup atas dampak
lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatannya di luar usaha
dan/atau kegiatan yang wajib amdal atau UKL-UPL.
3. Pemrakarsa adalah penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan.
4. Kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota adalah kepala
instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup kabupaten/kota.
5. Kepala instansi lingkungan hidup provinsi adalah instansi yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup provinsi.
6. Deputi Menteri adalah Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup yang
tugas dan tanggungjawabnya di bidang amdal.
7. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Pasal 2
(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam kriteria
wajib amdal wajib memiliki UKL-UPL.
(2) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi UKL-UPL
wajib membuat SPPL.
Pasal 3
(1) Jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib UKL-UPL atau SPPL
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ditetapkan oleh gubernur atau
bupati/walikota berdasarkan hasil penapisan.
(2) Penapisan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai
dengan pedoman penapisan sebagaimana tercantum dalam Lampiran I
yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri
ini.
Pasal 4
(1) UKL-UPL disusun oleh pemrakarsa sesuai dengan Iormat penyusunan
sebagaimana tercantum dalam Lampiran II.
(2) SPPL disusun oleh pemrakarsa sesuai dengan Iormat penyusunan
sebagaimana tercatum dalam Lampiran III.
(3) Lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 5
Pemrakarsa mengajukan UKL-UPL atau SPPL kepada:
a. kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, apabila usaha
dan/atau kegiatan berlokasi pada 1 (satu) wilayah kabupaten/kota;



SYW

3
b. kepala instansi lingkungan hidup provinsi, apabila usaha dan/atau
kegiatan berlokasi:
1. lebih dari 1 (satu) wilayah kabupaten/kota;
2. di lintas kabupaten/kota; dan/atau
3. di wilayah laut paling jauh 12 (dua belas) mil dari garis pantai ke
arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk provinsi
dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi untuk
kabupaten/kota; atau
c. Deputi Menteri, apabila usaha dan/atau kegiatan berlokasi:
1. lebih dari 1 (satu) wilayah provinsi;
2. di wilayah sengketa dengan negara lain;
3. di wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis
pantai ke arah laut lepas; dan/atau
4. di lintas batas Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan negara
lain.
Pasal 6
(1) Pemrakarsa mengajukan UKL-UPL atau SPPL kepada kepala instansi
lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi lingkungan hidup
provinsi, atau Deputi Menteri sesuai dengan kewenangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5.
(2) Kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi
lingkungan hidup provinsi, atau Deputi Menteri memberikan tanda bukti
penerimaan UKL-UPL atau SPPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
kepada pemrakarsa yang telah memenuhi Iormat penyusunan UKL-UPL
atau SPPL.
(3) Kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi
lingkungan hidup provinsi, atau Deputi Menteri setelah menerima UKLUPL
atau SPPL yang memenuhi Iormat sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) melakukan pemeriksaan UKL-UPL atau pemeriksaan SPPL yang
dalam pelaksanaannya dilakukan oleh unit kerja yang menangani
pemeriksaan UKL-UPL atau pemeriksaan SPPL.
Pasal 7
(1) Kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi
lingkungan hidup provinsi, atau Deputi Menteri wajib:
a. melakukan pemeriksaan UKL-UPL berkoordinasi dengan instansi
yang membidangi usaha dan/atau kegiatan dan menerbitkan
rekomendasi UKL-UPL paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak
diterimanya UKL-UPL; atau
b. melakukan pemeriksaan SPPL dan memberikan persetujuan SPPL
paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya SPPL.

4
(2) Dalam hal terdapat kekurangan data dan/atau inIormasi dalam UKLUPL
atau SPPL serta memerlukan tambahan dan/atau perbaikan,
pemrakarsa wajib menyempurnakan dan/atau melengkapinya sesuai
SYW

hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).


(3) Kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi
lingkungan hidup provinsi, atau Deputi Menteri wajib:
a. menerbitkan rekomendasi UKL-UPL paling lama 7 (tujuh) hari kerja
sejak diterimanya UKL-UPL yang telah disempurnakan oleh
pemrakarsa; atau
b. memberikan persetujuan SPPL paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak
diterimanya SPPL yang telah disempurnakan oleh pemrakarsa.
(4) Dalam hal kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala
instansi lingkungan hidup provinsi, atau Deputi Menteri tidak
melakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau tidak
menerbitkan rekomendasi UKL-UPL atau persetujuan SPPL dalam
jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3), UKL-UPL atau SPPL
yang diajukan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dianggap
telah diperiksa dan disahkan oleh kepala instansi lingkungan hidup
kabupaten/kota, kepala instansi lingkungan hidup provinsi, atau Deputi
Menteri.
(5) Rekomendasi UKL-UPL sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruI a
diterbitkan sesuai dengan Iormat sebagaimana tercantum dalam
Lampiran IV yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.
Pasal 8
(1) Rekomendasi UKL-UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3)
huruI a digunakan sebagai dasar untuk:
a. memperoleh izin lingkungan; dan
b. melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.
(2) Pejabat pemberi izin wajib mencantumkan persyaratan dan kewajiban
dalam rekomendasi UKL-UPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ke
dalam izin lingkungan.
Pasal 9
(1) Biaya penyusunan dan pemeriksaan UKL-UPL atau SPPL dibebankan
kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan.
(2) Biaya administrasi dan persuratan, pengadaaan peralatan kantor untuk
menunjang proses pelaksanaan pemeriksaan UKL-UPL atau SPPL,
penerbitan rekomendasi UKL-UPL atau persetujuan SPPL, pelaksanaan
pembinaan dan pengawasan, dibebankan kepada:
a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk pemeriksaan UKLUPL
atau persetujuan SPPL yang dilakukan di Kementerian
Lingkungan Hidup; atau
5
b. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk pemeriksaan UKLUPL
atau persetujuan SPPL yang dilakukan di instansi lingkungan
hidup provinsi atau instansi lingkungan hidup kabupaten/kota.
Pasal 10
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan
SYW

Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan


Hidup dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 11
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara
Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 7 Mei 2010
MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
PROF. DR. IR. GUSTI MUHAMMAD HATTA, MS
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 7 Mei 2010
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
PATRIALIS AKBAR
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 231
Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,
ttd
Ilyas Asaad

1
Lampiran I
Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup
Nomor : 13 Tahun 2010
Tanggal : 7 Mei 2010
PANDUAN PENAPISAN JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU
KEGIATAN
YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN UPAYA PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN
HIDUP
DAN SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN PENGELOLAAN DAN
PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP

I. Pendahuluan
Penapisan terhadap jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib
dilengkapi dengan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya
pemantauan lingkungan hidup (UKL-UPL) perlu dilakukan mengingat
besarnya rentang jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib
dilengkapi UKL-UPL.
SYW

Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang


Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mengatur bahwa
setiap usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam kriteria
wajib amdal, wajib memiliki UKL-UPL.
Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mengatur pula
bahwa usaha dan/atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi UKLUPL,
wajib membuat surat pernyataan kesanggupan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup (SPPL).
Pasal 36 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mengatur bahwa
ketentuan lebih lanjut mengenai UKL-UPL dan SPPL diatur dengan
peraturan Menteri.
Secara skematik, pembagian tersebut dapat digambarkan sebagai
berikut:

2
Gambar 1. Skema pembagian amdal, UKL-UPL dan SPPL
Skema tersebut di atas dalam pelaksanaannya berbeda-beda untuk
setiap daerah sehingga menimbulkan perbedaan pembebanan
tanggung jawab bagi pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan untuk
daerah yang berbeda walaupun jenis usaha dan/atau kegiatannya
adalah sama. Untuk menjamin bahwa UKL-UPL dilakukan secara
tepat, maka perlu dilakukan penapisan untuk menetapkan jenis
rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan UKLUPL.
Adapun usaha dan/atau kegiatan di luar daItar jenis rencana usaha
dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan UKL-UPL dapat
langsung diperintahkan melakukan upaya pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup sesuai prosedur operasional standar
(POS) yang tersedia bagi usaha dan/atau kegiatan yang
bersangkutan, dan melengkapi diri dengan surat pernyataan
kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (SPPL).
Disamping itu, mekanisme perizinan telah berkembang ke arah lebih
sempurna, sehingga dengan kondisi tersebut beban kajian
lingkungan dapat didorong untuk dapat menjadi bagian langsung
dari mekanisme penerbitan izin.
Sebagai contoh, dalam setiap pemberian izin mendirikan bangunan
(IMB) telah termaktub kewajiban pemrakarsa untuk melakukan
upaya pengelolaan lingkungan hidup antara lain: wajib membuat
USAHA DAN/ATAU
KEGIATAN
WAJIB AMDAL
USAHA DAN/ATAU
KEGIATAN
WAJIB UKL-UPL
SPPL
SYW

Batas amdal
Batas UKL-UPL

3
sumur resapan, berjarak tertentu dari batas daerah milik jalan
(DAMIJA), dan lain-lain.
UKL-UPL merupakan salah satu persyaratan yang wajib dipenuhi
dalam pelaksanaan penerbitan izin lingkungan, sehingga bagi usaha
dan/atau kegiatan yang UKL-UPLnya ditolak maka pejabat pemberi
izin wajib menolak penerbitan izin bagi usaha dan/atau kegiatan
bersangkutan. UKL-UPL dinyatakan berlaku sepanjang usaha
dan/atau kegiatan tidak melakukan perubahan lokasi, desain,
proses, bahan baku dan/atau bahan penolong. Bagi UKL-UPL yang
telah dinyatakan sesuai dengan isian Iormulir atau layak, maka UKLUPL
tersebut dinyatakan kadaluarsa apabila usaha dan/atau
kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak
rekomendasi atas UKL-UPL diterbitkan.
II. Langkah dan kriteria penapisan jenis rencana usaha dan/atau
kegiatan yang wajib dilengkapi dengan UKL-UPL
Penapisan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib
dilengkapi dengan UKL-UPL dilakukan dengan langkah berikut:
1. Pastikan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan
tersebut tidak termasuk dalam jenis usaha
dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi amdal.
a. Pastikan bahwa rencana usaha dan/atau
kegiatan tersebut tidak termasuk dalam daItar
jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib
dilengkapi amdal, baik yang ditetapkan dalam
peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
atau keputusan bupati/walikota sesuai kaidah
penetapan wajib amdal;
Catatan: Bupati/walikota atau Gubernur DKI
Jakarta atas pertimbangan ilmiah dapat
menetapkan suatu jenis usaha dan/atau
kegiatan menjadi wajib amdal atas
pertimbangan daya dukung, daya tampung dan
serta tipologi ekosistem setempat menjadi lebih
ketat dari daItar jenis usaha dan/atau kegiatan
yang wajib dilengkapi amdal dalam peraturan
Menteri.
b. Pastikan bahwa rencana usaha dan/atau
kegiatan tersebut tidak berlokasi di kawasan
lindung;
LANGKAH
PERTAMA

SYW%

4
Catatan: Usaha dan/atau kegiatan yang
berbatasan dan/atau berlokasi di kawasan
lindung wajib dilengkapi amdal.
c. Pastikan bahwa rencana usaha dan/atau
kegiatan tersebut tidak berlokasi di lokasi yang
tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah
(RTRW) dan/atau rencana tata ruang kawasan
setempat.
Catatan: Usaha dan/atau kegiatan yang
berlokasi tidak sesuai tata ruang wajib ditolak.
2. Pastikan bahwa potensi dampak dari rencana
usaha dan/atau kegiatan telah tersedia teknologi
untuk menanggulangi dampak tersebut.
Catatan: Jika tidak tersedia teknologi penanganan
dampak dari suatu rencana usaha dan/atau
kegiatan, maka kemungkinan rencana usaha
dan/atau kegiatan tersebut wajib dilengkapi amdal.
3. Periksa peraturan yang ditetapkan oleh menteri
departemen sektoral atau kepala lembaga
pemerintah non departemen (LPND) tentang jenis
usaha dan/atau kegiatan wajib UKL-UPL untuk
ditetapkan menjadi usaha dan/atau kegiatan yang
wajib dilengkapi dengan UKL-UPL.
Catatan:
Dalam hal menteri departemen sektoral atau
kepala lembaga pemerintah non departemen
(LPND) belum menetapkan jenis usaha
dan/atau kegiatan wajib UKL-UPL, maka
lakukan penetapan jenis usaha dan/atau
kegiatan wajib UKL-UPL sebagaimana langkah
keempat dan langkah kelima.
Dalam hal menteri departemen sektoral atau
kepala lembaga pemerintah non departemen
(LPND) telah menetapkan jenis usaha dan/atau
kegiatan wajib UKL-UPL tetapi tidak dilengkapi
dengan skala/besaran, atau skala/besarannya
ditentukan tetapi tidak ditentukan batas
bawahnya, maka lakukan penetapan jenis
LANGKAH
KEDUA
LANGKAH
KETIGA

5
usaha dan/atau kegiatan wajib UKL-UPL
SYW%

sebagaimana langkah keempat dan langkah


kelima.
Dalam hal terjadi perubahan terhadap
peraturan yang ditetapkan oleh menteri
departemen sektoral atau kepala lembaga
pemerintah non departemen (LPND) tentang
jenis usaha dan/atau kegiatan wajib UKL-UPL,
maka ketentuan dalam langkah ketiga ini wajib
mengikuti peraturan yang mengalami
perubahan tersebut.
4. Lakukan penapisan rencana usaha dan/atau
kegiatan tersebut untuk memastikan bahwa
dampak dari rencana usaha dan/atau kegiatan
tersebut memerlukan UKL-UPL atau SPPL dengan
menjawab pertanyaan berikut:
Apakah rencana usaha dan/atau
kegiatan tersebut akan
memberikan dampak terhadap
lingkungan hidup dan memerlukan
UKL-UPL berdasarkan kriteria
berikut:
Ya/Tidak
Jelaskan!
Jenis kegiatan
Skala/besaran/ukuran
k
Kapasitas produksi
Luasan lahan yang
dimanIaatkan
Limbah dan/atau cemaran
dan/atau dampak lingkungan
Teknologi yang tersedia
dan/atau digunakan
Jumlah komponen lingkungan
hidup terkena dampak
Besaran investasi
Terkonsentrasi atau tidaknya
kegiatan
Jumlah tenaga kerja
Aspek sosial kegiatan
Apabila diberikan jawaban Ya pada salah satu
LANGKAH
KEEMPAT

6
kriteria tersebut, maka diindikasikan kegiatan
SYW

tersebut wajib dilengkapi dengan UKL-UPL.


5. Tetapkan jenis dan skala/besaran rencana usaha
dan/atau kegiatan tersebut wajib dilengkapi
dengan UKL-UPL atau surat pernyataan
kesanggupan pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup (SPPL).
Catatan:
Pemerintah daerah dapat menetapkan jenis
rencana usaha dan/atau kegiatan wajib UKL-UPL
di luar jenis usaha dan/atau kegiatan wajib UKLUPL
yang ditetapkan oleh menteri departemen
sektoral atau kepala lembaga pemerintah non
departemen (LPND).
MENTERI NEGARA
LINGKUNGAN HIDUP,
ttd
PROF. DR. IR. GUSTI MUHAMMAD HATTA, MS
Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,
ttd
Ilyas Asaad
LANGKAH
KELIMA

1
Lampiran II
Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup
Nomor : 13 Tahun 2010
Tanggal : 7 Mei 2010
FORMAT PENYUSUNAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
DAN
UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (UKL-UPL)
UKL-UPL minimal berisi hal-hal sebagai berikut:
I. IDENTITAS PEMRAKARSA
1. Nama perusahaan :
2. Nama pemrakarsa :
3. Alamat kantor,
nomor telepon/Iax
:
II. RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN
1. Nama rencana usaha
dan/atau kegiatan
:
2. Lokasi rencana usaha
SYW

dan/atau kegiatan
:
Keterangan.
Tuliskan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan, seperti antara lain.
nama falan, desa, kecamatan, kabupaten/kota dan propinsi tempat
akan dilakukannya rencana usahan dan/atau kegiatan. Untuk
kegiatan-kegiatan yang mempunyai skala usaha dan/atau kegiatan
besar, seperti kegiatan pertambangan, perlu dilengkapi dengan peta
lokasi kegiatan dengan skala yang memadai (1.50.000 bila ada) dan
letak lokasi berdasarkan Garis Lintang dan Garis Bufur.
3. Skala usaha dan/atau Kegiatan : (satuan)
Keterangan.
Tuliskan ukuran luasan dan atau panfang dan/atau volume dan/atau
kapasitas atau besaran lain yang dapat digunakan untuk memberikan
gambaran tentang skala kegiatan. Sebagai contoh antara lain.
1. Bidang Industri. fenis dan kapasitas produksi, fumlah bahan baku
dan penolong, fumlah penggunaan energi dan fumlah penggunaan air
2
2. Bidang Pertambangan. luas lahan, cadangan dan kualitas bahan
tambang, panfang dan luas lintasan ufi seismik dan fumlah bahan
peledak
3. Bidang Perhubungan. luas, panfang dan volume fasilitas
perhubungan yang akan dibangun, kedalaman tambatan dan bobot
kapal sandar dan ukuran-ukuran lain yang sesuai dengan bidang
perhubungan
4. Pertanian. luas rencana usaha dan/atau kegiatan, kapasitas unit
pengolahan, fumlah bahan baku dan penolong, fumlah penggunaan
energi dan fumlah penggunaan air
5. Bidang Pariwisata. luas lahan yang digunakan, luas fasiltas
pariwisata yang akan dibangun, fumlah kamar, fumlah mesin
laundry, fumlah hole, kapasitas tempat duduk tempat hiburan dan
fumlah kursi restoran
4. Garis Besar Komponen Rencana Usaha dan/atau Kegiatan
Tuliskan komponen-komponen rencana usaha dan/atau kegiatan
yang diyakini akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.
Teknik penulisan dapat menggunakan uraian kegiatan pada setiap
tahap pelaksanaan proyek, yakni tahap prakonstruksi, konstruksi,
operasi dan pasca operasi atau dengan menguraikan komponen
kegiatan berdasarkan proses mulai dari penanganan bahan baku,
proses produksi, sampai dengan penanganan pasca produksi.
Contoh: Kegiatan Peternakan
Tahap Prakonstruksi :
a. Pembebasan lahan (jelaskan secara singkat luasan lahan yang
dibebaskan dan status tanah).
b. dan lain lain..
Tahap Konstruksi:
SYW

a. Pembukaan lahan (jelaskan secara singkat luasan lahan, dan


tehnik pembukaan lahan).
b. Pembangunan kandang, kantor dan mess karyawan (jelaskan
luasan bangunan).
c. dan lain-lain...
Tahap Operasi:
a. Pemasukan ternak (tuliskan jumlah ternak yang akan
dimasukkan).
b. Pemeliharaan ternak (jelaskan tahap-tahap pemeliharaan ternak
yang menimbulkan limbah, atau dampak terhadap lingkungan
3
hidup).
c. dan lain-lain.
(atatan. Khusus untuk usaha dan/atau kegiatan yang berskala
besar, seperti antara lain. industri kertas, tekstil dan sebagainya,
lampirkan pula diagram alir proses yang disertai dengan keterangan
keseimbangan bahan dan air (mass balance dan water balance))
III. DAMPAK LINGKUNGAN YANG AKAN TERJADI.
Uraikan secara singkat dan jelas mengenai:
1. kegiatan yang menjadi sumber dampak terhadap lingkungan hidup;
2. jenis dampak lingkungan hidup yang terjadi;
3. ukuran yang menyatakan besaran dampak; dan
4. hal-hal lain yang perlu disampaikan untuk menjelaskan dampak
lingkungan yang akan terjadi terhadap lingkungan hidup.
5. ringkasan dampak dalam bentuk tabulasi seperti di bawah ini:
SUMBER DAMPAK JENIS DAMPAK BESARAN DAMPAK KETERANGAN
(Tuliskan kegiatan yang
menghasilkan dampak
terhadap lingkungan)
Contoh:
Kegiatan Peternakan pada
tahap operasi
Pemeliharaan ternak
menimbulkan limbah
berupa :
1. Limbah cair
2. Limbah padat (kotoran)
3. Limbah gas akibat
pembakaran sisa
makanan ternak
(Tuliskan dampak yang
mungkin terfadi)
Contoh:
Terjadinya penurunan
kualitas air Sungai XYZ
akibat pembuangan
SYW

limbah cair
Terjadinya penurunan
kualitas air Sungai XYZ
akibat pembuangan
limbah padat
Penurunan kualitas
udara akibat
pembakaran
(Tuliskan ukuran yang
dapat menyatakan
besaran dampak)
Contoh:
Limbah cair yang
dihasilkan adalah 50
liter/hari.
Limbah padat yang
dihasilkan adalah 1,2
m3/minggu.
(Tuliskan
informasi lain
yang perlu
disampaikan
untuk
menfelaskan
dampak
lingkungan yang
akan terfadi)
4
IV. PROGRAM PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN
HIDUP
Uraikan secara singkat dan jelas:
1. Langkah-langkah yang dilakukan untuk mencegah dan mengelola
dampak termasuk upaya untuk menangani dan menanggulangi keadaan
darurat;
2. Kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk mengetahui eIektiIitas
pengelolaan dampak dan ketaatan terhadap peraturan di bidang
lingkungan hidup;
3. Tolok ukur yang digunakan untuk mengukur eIektiIitas pengelolaan
lingkungan hidup dan ketaatan terhadap peraturan di bidang
lingkungan hidup.
V. TANDA TANGAN DAN CAP
Setelah UKL-UPL disusun dengan lengkap, pemrakarsa wajib
menandatangani dan membubuhkan cap usaha dan/atau kegiatan yang
bersangkutan.
MENTERI NEGARA
LINGKUNGAN HIDUP,
SYW

ttd
PROF. DR. IR. GUSTI MUHAMMAD HATTA, MS
Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,
ttd
Ilyas Asaad
1
Lampiran III
Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup
Nomor : 13 Tahun 2010
Tanggal : 7 Mei 2010

FORMAT SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN PENGELOLAAN DAN
PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (SPPL)

Kami yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : ............................................................................
Jabatan : ............................................................................
Alamat : ............................................................................
Nomor Telp. : ............................................................................
Selaku penanggung jawab atas pengelolaan lingkungan dari:
Nama perusahaan/Usaha : .........................................................
Alamat perusahaan/usaha : .........................................................
Nomor telp. Perusahaan : .........................................................
Jenis Usaha/siIat usaha : .........................................................
Kapasitas Produksi : .........................................................
Perizinan yang dimiliki : .........................................................
Keperluan : .........................................................
Besarnya modal : .........................................................
Dengan ini menyatakan bahwa kami sanggup untuk:
1. Melaksanakan ketertiban umum dan senantiasa membina
hubungan baik dengan tetangga sekitar.
2. Menjaga kesehatan, kebersihan dan keindahan di lingkungan
usaha.
3. Bertanggung jawab terhadap kerusakan dan/atau pencemaran
lingkungan yang diakibatkan oleh usaha dan/atau kegiatan
tersebut.
4. Bersedia dipantau dampak lingkungan dari usaha dan/atau
kegiatannya oleh pejabat yang berwenang.
5. Menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup di
lokasi dan disekitar tempat usaha dan/atau kegiatan.
6. Apabila kami lalai untuk melaksanakan pernyataan pada angka 1
sampai angka 5 di atas, kami bersedia bertanggung jawab sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
SYW

Keterangan:
a. Dampak lingkungan yang terjadi:
1.
2.
3.
4.
5. dst.
2
b. Pengelolaan dampak lingkungan yang dilakukan:



1.
2.
3.
4.
5. dst.
SPPL ini berlaku sejak tanggal ditetapkan sampai dengan berakhirnya
usaha dan/atau kegiatan atau mengalami perubahan lokasi, desain,
proses, bahan baku dan/atau bahan penolong.
Menyetujui,
Kepala Instansi Lingkungan
Hidup Provinsi/Kabupaten/Kota
N A M A
(..................................................)
NIP.
Tanggal, Bulan, Tahun
Yang menyatakan,
N A M A
(..................................................)





Catatan:
Contoh Iormat di atas merupakan Iormat minimum dan dapat
dikembangkan.
MENTERI NEGARA
LINGKUNGAN HIDUP,
ttd
PROF. DR. IR. GUSTI MUHAMMAD HATTA, MS
Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi MENLH Bidang
SYW

Penaatan Lingkungan,
ttd
Ilyas Asaad
Materai Rp. 6.000,-
Tanda tangan
Cap perusahaan
1
Lampiran IV
Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup
Nomor : 13 Tahun 2010
Tanggal : 7 Mei 2010
FORMAT SURAT REKOMENDASI UPAYA PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
































SYW

Bab IV
Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup
Dan
Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup

UKL - UPL
Merupakan PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN terhadap usaha
dan/atau kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan
hidup yang diperlukan bagi PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN
tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
Upaya Pengelolaan lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan (UPL) adalah salah satu instrument pengelolaan lingkungan
yang merupakan salah satu persyaratan perijinan bagi pemrakarsa yang
akan melaksanakan suatu usaha/kegiatan di berbagai sektor.











SYW%

Adapun sistematika UKL UPL adalah sebagai berikut :



Sistematika UKL-UPL :
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
1.2 Dasar Hukum
1.3 Tujuan dan kegunaan UKL dan UPL


BAB II. RENCANA USAHA DAN / ATAU KEGIATAN
2.1 Identitas pemrakarsa dan penyusunan UKL dan UPL
2.2 Tujuan rencana usaha dan / atau kegiatan
2.3 Tata letak rencana usaha dan / atau kegiatan
2.4 Tahap pelaksanaan usaha dan / atau kegiatan tahap pra-konstruksi, konstruksi, dan pasca
operasi.
(1) Tahap pra-konstruksi / persiapan
(2) Tahap konstruksi
(3) Tahap Operasi
(4) Tahap Pasca Operasi
2.5 Rencana Penggunaan / Neraca Bahan dan Air.
2.6 Limbah dan Cemaran.


BAB III. INFORMASI LINGKUNGAN
SYW%

3.1 Fisik Kimia


(1) Kualitas udara dan kebisingan
(2) FisiograIi
(3) Hidrologi
(4) HidrooseanograIi
(5) Tata Ruang
Inventarisasi tata guna lahan dan sumber daya lainnya dan kemungkinan potensi
pengembangannya di masa datang.

3.2 Biologi
(1) Flora
(2) Fauna
3.3 Sosial
(1) DemograIi
(2) Ekonomi
(3) Budaya
3.4 Kesehatan Masyarakat
(1) Parameter lingkungan yang diperkiran terkena dampak terhadap kesehatan
(2) Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit (angka kesakitan dan kematian);
(3) Kondisi sanitasi lingkungan


BAB IV. DAMPAK LINGKUNGAN YANG AKAN TERJADI
Uraikan secara singkat dan jelas :
SYW

1. Kegiatan yang menjadi sumber dampak terhadap lingkungan hidup;


2. Jenis dampak lingkungan hidup yang terjadi
3. Ukuran yang menyatakan besaran dampak dan
4. Hal-hal lain yang perlu disampaikan untuk menjelaskan dampak lingkungan yang akan
terjadi terhadap lingkungan hidup




BAB V. PROGRAM PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP
Uraikan secara singkat dan jelas :

1. Langkah-langkah yang dilakukan untuk mencegah dan mengelola dampak termasuk
upaya untuk menangani dan menanggulangai keadaan darurat;
2. Kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk mengetahui eIektiIitas pengelolaan
dampak dan ketaatan terhadap peraturan di bidang lingkungan hidup;
3. Tolok ukur yang digunakan untuk mengukur eIektiIitas pengelolaan lingkungan hidup
dan ketaatan terhadap peraturan di bidang lingkungan hidup.


BAB VI. SURAT PERNYATAAN
Pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan UKL dan UPL yang ditandatangani diatas kertas
bermaterai.
LAMPIRAN
Pada bagian ini dilampirkan berbagai keputusan perijinan yang berkaitan usaha dan / atau
kegiatan.
SYW

4. Jelaskan mengenai keterlibatan masyarakat dalam proses pembuatan AMDAL


Masyarakat merupakan Iocus dalam studi AMDAL sehingga AMDAL bersifat terbuka untuk
umum. BAPEDAL/BAPEDALDA dan pemrakarsa wajib mengumumkan secara luas suatu
rencana usaha dan/atau kegiatan yang membutuhkan studi AMDAL agar masyarakat luas dapat
memberikan tanggapan yang disalurkan lewat Komisi, terutama bagi masyarakat yang
berkepentingan langsung dengan keberadaan rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut.


1. Dengan melibatkan diri dalam proses AMDAL, Anda ikut menentukan masa depan
wilayah Anda sendiri. Dengan memberi tanggapan, masukan, saran, dan inIormasi, pemrakarsa
rencana kegiatan (pemilik proyek) dapat membuat:

rencana kegiatan dan pengelolaan dampak yang lebih baik
studi AMDAL yang lebih baik
rencana program hubungan masyarakat yang lebih baik.
Proses AMDAL terdiri dari beberapa tahapan. Anda tidak harus menguasai seluruh proses
AMDAL, tapi pelajari tahapan apa saja yang memberi peluang bagi masyarakat untuk
melibatkan diri.
Dari keterlibatan Anda, hasil yang dapat Anda harapkan adalah bahwa tanggapan, saran dan
masukan yang telah Anda berikan wajib dipertimbangkan oleh :
pemrakarsa atau tenaga ahlinya dalam penyusunan studi AMDAL,
Komisi Penilai AMDAL dalam memberikan rekomendasi tentang kelayakan
lingkungan suatu rencana kegiatan.
Tindak lanjut dari tanggapan, saran, dan masukan Anda mungkin baru terlaksana setelah proses
AMDAL selesai. Namun, pertahankanlah jalur komunikasi yang baik dengan pemrakarsa

ambar 1. ekanisme pelaksanaan proses keterlibatan masyarakat
dalam ADAL di Indonesia
2. KA-ANDAL
SYW

Kerangka Acuan ANDAL menurut Permeneg LH No 08 Th 2006


Tujuan:
Merumuskan lingkup dan kedalaman
Utk menghasilkan studi yg eIektiI dan eIisien
Fungsi:
Rujukan pemrakarsa, institusi dan penyusun ttg lingkup dan kedalaman
Bahan rujukan penilai dokumen ANDAL
Pemrakarsa
Instansi yang bertanggung jawab
Penyusun
Pakar
Masyarakat
Proses pelingkupan
Merupakan proses awal untuk menentukan lingkup masalah dan mengidentiIikasi dampak
penting hipotetik
Dari proses pelingkupan dihasilkan:
Dampak penting hipotetik
Lingkup wilayah studi
Batas waktu kajian
Kedalaman studi
Pelingkupan dampak penting
IdentiIikasi dampak potensial
Evaluasi dampak potensial
KlasiIikasi dan prioritas dampak penting
SYW

IdentiIikasi dampak potensial


Hanya diinventarisir dampak potensial
InIormasi diperoleh dari:
Konsultasi pakar-pemrakarsa-institusi pemerintah-masyarakat-observasi lapangan
Studi pustaka, analisis isi, interaksi kelompok dan dg menggunakan berbagai
metoda identiIikasi dampak.
Evaluasi dampak potensial
Bertujuan utk mengeliminir dampak potensial yang tidak penting
Disusun berdasarkan masukan dari masy, instansi pemerintah dan pakar
Metodologi yg digunakan: Interaksi kelompok
Terutama dilakukan oleh pemrakarsa/penyusun
KlasiIikasi dan prioritas dampak penting Terdiri dari 2 tahap, yaitu:
Dikelompokan menurut keterkaitan satu sama lain, spt lingkungan air, lingkungan
udara dll.
Diurut menurut tingkat kepentingannya
Pelingkupan wilayah studi dan batas waktu kajian Batas ruang:
Batas proyek
Batas ekologis
Batas sosial
Batas administratiI
Batas ruang lingkup wilayah
Batas waktu:
Minimal selama umur r u/k berlangsung
Sistematika Penyusunan Kerangka Acuan
SYW

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan dan ManIaat
1.3.Peraturan
BAB II RUANG LINGKUP STUDI
2.1 Status dan Lingkup Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Akan Ditelaah dan AlternatiI
Komponen Usaha dan/atau Kegiatan
a. Status dan Lingkup Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Akan Ditelaah
b. AlternatiI-alternatiI Yang Akan Dikaji Dalam ANDAL
2.2 Lingkup Rona Lingkungan Hidup Awal
2.3 Pelingkupan
a. Proses pelingkupan
b. Hasil proses pelingkupan
1. Dampak penting hipotetik
2. Lingkup wilayah studi dan batas
BAB III METODE STUDI
3.1 Metode Pengumpulan dan Analisis Data
3.2 Metode Prakiraan Dampak Penting
3.3 Metode Evaluasi Dampak Penting
BAB IV PELAKSANAAN STUDI
4.1 Pemrakarsa
4.2 Penyusun Studi AMDAL
4.3 Biaya Studi
4.4 Waktu Studi
SYW

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Pada bagian ini dilampirkan berbagai keputusan perijinan yang berkaitan usaha dan / atau
kegiatan.





















SYW

Bab V
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
AMDAL
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, yang sering disingkat AMDAL, merupakan reaksi
terhadap kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia yang semakin meningkat. Reaksi ini
mencapai keadaan ekstrem sampai menimbulkan sikap yang menentang pembangunan dan
penggunaan teknologi tinggi. Dengan ini timbullah citra bahwa gerakan lingkungan adalah anti
pembangunan dan anti teknologi tinggi serta menempatkan aktivis lingkungan sebagai lawan
pelaksana dan perencana pembangunan. Karena itu banyak pula yang mencurigai AMDAL
sebagai suatu alat untuk menentang dan menghambat pembangunan.
Dengan diundangkannya undang-undang tentang lingkungan hidup di Amerika Serikat, yaitu
ational Environmental Policy Act (EPA) pada tahun 1969. NEPA mulai berlaku pada tanggal
1 Januari 1970. Dalam NEPA pasal 102 (2) (C) menyatakan,
'Semua usulan legilasi dan aktivitas pemerintah Iederal yang besar yang akan diperkirakan akan
mempunyai dampak penting terhadap lingkungan diharuskan disertai laporan Environmental
Impact Assessment (Analsis Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut.
AMDAL mulai berlaku di Indonesia tahun 1986 dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah
No. 29 Tahun 1086. Karena pelaksanaan PP No. 29 Tahun 1986 mengalami beberapa hambatan
yang bersiIat birokratis maupun metodologis, maka sejak tanggal 23 Oktober 1993 pemerintah
mencabut PP No. 29 Tahun 1986 dan menggantikannya dengan PP No. 51 Tahun 1993 tentang
AMDAL dalam rangka eIektivitas dan eIisiensi pelaksanaan AMDAL. Dengan diterbitkannya
Undang-undang No. 23 Tahun 1997, maka PP No. 51 Tahun 1993 perlu disesuaikan. Oleh
karena itu, pada tanggal 7 Mei 1999, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 27
Tahun 1999. Melalui PP No. 27 Tahun 1999 ini diharapkan pengelolaan lingkungan hidup dapat
lebih optimal.
Pembangunan yang tidak mengorbankan lingkungan dan/atau merusak lingkungan hidup adalah
pembangunan yang memperhatikan dampak yang dapat diakibatkan oleh beroperasinya
pembangunan tersebut. Untuk menjamin bahwa suatu pembangunan dapat beroperasi atau layak
dari segi lingkungan, perlu dilakukan analisis atau studi kelayakan pembangunan tentang
dampak dan akibat yang akan muncul bila suatu rencana kegiatan/usaha akan dilakukan.
AMDAL adalah singkatan dari analisis mengenai dampak lingkungan. Dalam peraturan
pemerintah no. 27 tahun 1999 tentang analisis mengenai dampak lingkungan disebutkan bahwa
AMDAL merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan
suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi
proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Kriteria
mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup
antara lain:

SYW

a. jumlah manusia yang terkena dampak


b. luas wilayah persebaran dampak
c. intensitas dan lamanya dampak berlangsung
d. banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak
e. siIat kumulatiI dampak
I. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak
Sejarah AMDAL
O ational Environmental Protection Act (NEPA USA), 1969
O UU RI No 4 thn 1982 : AMDAL menjadi kewajiban bagi investor
O PP RI No 51 thn 1993 : Pedoman Umum Pelaksanaan AMDAL
O Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 14/3/1994 :
Pedoman Umum Penyusunan AMDAL, yang terdiri dari 4 bagian :
1. Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA ANDAL)
2. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)
3. Rencana Pengelolaan Lingkungan
4. Rencana Pemantauan Lingkungan
Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah:
Upaya terpadu untuk melestarikan Iungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan
penataan, pemanIaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan
pengendalian lingkungan hidup.
Asas-Asas Pengelolaan:
1. Asas Kesejahteraan Sosial
2. Asas Keuntungan Ekonomi
3. Asas Kelestarian Lingkungan
Dampak Pembangunan terhadap Lingkungan dapat berarti:
O Perbedaan antara kondisi lingkungan sebelum ada pembangunan dan yang diprakirakan
akan ada setelah pembangunan
O Perbedaan antara kondisi lingkungan yang diprakirakan akan ada tanpa adanya
pembangunan dan yang diprakirakan akan ada dengan adanya pembangunan
SYW%

O Tahap Pelaksanaan Andal


1. Memahami rona lingkungan awal sebelum terkena dampak: biofisik-kimia & sosial-
ekonomi-budaya
2. Memahami bentuk kegiatan yang diusulkan: kegiatan pembangunan itu sendiri &
kegiatan lainnya yang terkait
3. Memproyeksikan (meramalkan) kemungkinan dampak pada kondisi/ciri-ciri lingkungan
hidup pada tempat dan sekitar kegiatan pembangunan
4. Menyusun hasil analisis dampak lingkungan (ANDAL), sehingga perkiraan
akibat/dampak usulan kegiatan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan
keputusan
Metodologi ANDAL:
1 IDENTIFIKASI:
O Kondisi lingkungan hidup awal
O Komponen/unsur kegiatan yang diusulkan
O Komponen/unsur lingkungan yang mungkin terkena dampak
2 PRAKIRAAN (PERAMALAN):
O Akibat nyata dari suatu usulan kegiatan manusia
O Dampak kegiatan manusia terhadap lingkungan hidup
3 PENILAIAN:
O Rugi/laba usulan kegiatan pembangunan tersebut bagi kelompok masyarakat yang akan
menikmati hasil dan akan terkena dampaknya
O Keuntungan/kerugian terhadap kelestarian sumber daya alam dan kualitas lingkungan
hidup dalam jangka pendek dan panjang
O Penentuan alternatiI selain dari kegiatan pembangunan yang diusulkan
AEA 21 IESIA
I. PELAYANAN MASYARAKAT
O Pengentasan Kemiskinan
O Perubahan Pola Konsumsi
O Dinamika Kependudukan
O Pengelolaan dan Peningkatan Kesehatan
O Pengembangan Perumahan dan Permukiman
O Sistem Perdagangan Global, Instrumen Ekonomi, dan Neraca Ekonomi dan Lingkungan
Terpadu

SYW%

II. PENGELOLAAN LIMBAH


O Perlindungan Atmosfer
O Pengelolaan Bahan Bera.un dan Berbahaya
O Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya & Bera.un
O Pengelolaan Limbah Radioaktif
O Pengelolaan Limbah Padat dan air
III. PENGELOLAAN SUMBERDAYA TANAH
O Perencanaan Sumberdaya Tanah
O Pengelolaan Hutan
O Pengelolaan Pertanian dan Pedesaan
O Pengelolaan Sumberdaya Air
IV. PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM
O Konservasi Keanekaragaman Hayati
O Pengembangan Bioteknologi
O Pengelolaan Terpadu Wilayah Pesisir dan Lautan
O Tahun 1972 : UN ConIerence on the Human Environment, di Stockholm, Swedia.
O Tahun 1992 : KonIerensi Tingkat Tinggi Bumi (The Earth Summit) di Rio de Janeiro,
Brazil.
Kebijakan Lingkungan Global
Hasil-hasil utama :
1. 'earth .ara.ter ; pernyataan tidak mengikat mengenai prinsip-prinsip umum guna
memberi arah kebijakan lingkungan agar negara-negara melakukan pembangunan
berkelanjutan dan menghapus kemiskinan.
2. AGENDA 21; tidak mengikat, berisi rencana kerja terperinci yang mengarahkan negara-
negara di dunia untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan dan melindungi
lingkungan global selama abad ke 21.
3. Kesepakatan kehutanan; pernyataan tidak mengikat mengenai prinsip-prinsip pengelolaan
dan perlindungan hutan.
4. Konvensi perubahan iklim; menghimbau negara-negara di dunia untuk mengurangi emisi
gas-gas rumah kaca.
5. Konvensi perlindungan keanekaragaman hayati; menghimbau negara-negara di dunia
untuk mengembangkan strategi konservasi dan menggunakan keanekaragaman hayati
secara berkelanjutan.
6. Pendirian komisi PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan, yang terdiri dari perwakilan
tingkat tinggi dari Pemerintahan dengan tugas untuk melaksanakan dan mengawasi
implementasi perjanjian tersebut.

SYW


Bab VI
Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup

DPLH
DeIinisi DPLH: Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang selanjutnya
disingkat DPLH, adalah dokumen yang memuat pengelolaan dan pemantauan lingkungan
hidup yang dikenakan bagi usaha dan/atau kegiatan yang sudah memiliki izin usaha dan/atau
kegiatan tetapi belum memiliki
UKL-UPL.

DPLH juga diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2010

1
SALINAN
PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
NOMOR 14 TAHUN 2010
TENTANG
DOKUMEN LINGKUNGAN HIDUP BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN
YANG TELAH MEMILIKI IZIN USAHA DAN/ATAU KEGIATAN TETAPI
BELUM MEMILIKI DOKUMEN LINGKUNGAN HIDUP
MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,
Menimbang : a. bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 121 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, usaha
dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin usaha
dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki dokumen amdal
wajib menyelesaikan audit lingkungan hidup dalam waktu
paling lama 2 (dua) tahun;
b. bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 121 ayat (2)
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, usaha
dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin usaha
dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki UKL-UPL wajib
membuat dokumen pengelolaan lingkungan hidup dalam
waktu paling lama 2 (dua) tahun;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruI a dan huruI b, perlu menetapkan Peraturan
Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Dokumen
Lingkungan Hidup Bagi Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang
Telah Memiliki Izin Usaha Dan/Atau Kegiatan Tetapi
Belum Memiliki Dokumen Lingkungan Hidup;
SYW

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang


Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana
telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua
Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor
2
140 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5059);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4737);
4. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang
Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
TENTANG DOKUMEN LINGKUNGAN HIDUP BAGI USAHA
DAN/ATAU KEGIATAN YANG TELAH MEMILIKI IZIN USAHA
DAN/ATAU KEGIATAN TETAPI BELUM MEMILIKI
DOKUMEN LINGKUNGAN HIDUP.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Audit Lingkungan Hidup adalah evaluasi yang dilakukan untuk menilai
ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap
persyaratan hukum dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah.
2. Dokumen lingkungan hidup adalah dokumen yang memuat pengelolaan
dan pemantauan lingkungan hidup yang terdiri atas analisis mengenai
dampak lingkungan hidup (amdal), upaya pengelolaan lingkungan hidup
dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UKL-UPL), surat pernyataan
kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (SPPL),
dokumen pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (DPPL), studi
evaluasi mengenai dampak lingkungan hidup (SEMDAL), studi evaluasi
lingkungan hidup (SEL), penyajian inIormasi lingkungan (PIL), penyajian
SYW

evaluasi lingkungan (PEL), dokumen pengelolaan lingkungan hidup


(DPL), rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan
lingkungan (RKL-RPL), dokumen evaluasi lingkungan hidup (DELH),
dokumen pengelolaan lingkungan hidup (DPLH), dan Audit Lingkungan.
3. Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disingkat
DELH, adalah dokumen yang memuat pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup yang merupakan bagian dari proses audit lingkungan
hidup yang dikenakan bagi usaha dan/atau kegiatan yang sudah
memiliki izin usaha dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki dokumen
amdal.
3
4. Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disingkat
DPLH, adalah dokumen yang memuat pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup yang dikenakan bagi usaha dan/atau kegiatan yang
sudah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki
UKL-UPL.
5. Kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota adalah kepala
instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup kabupaten/kota.
6. Kepala instansi lingkungan hidup provinsi adalah instansi yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup provinsi.
7. Deputi Menteri adalah Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup yang
tugas dan tanggungjawabnya di bidang amdal.
8. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
BAB II
TATA LAKSANA
DOKUMEN EVALUASI LINGKUNGAN HIDUP DAN DOKUMEN
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
Bagian Pertama
Kriteria

Pasal 2
(1) DELH atau DPLH wajib disusun oleh penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan terhadap usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria:
a. telah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan sebelum
diundangkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
b. telah melakukan kegiatan tahap konstruksi sebelum diundangkannya
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
c. lokasi usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan; dan
d. tidak memiliki dokumen lingkungan hidup atau memiliki dokumen
lingkungan hidup tetapi tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan.
SYW

(2) DELH atau DPLH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disusun
paling lama tanggal 3 Oktober 2011.
(3) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat meminta bantuan kepada konsultan dalam
penyusunan DELH atau DPLH.
4
(4) Penyusunan DELH atau DPLH sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan sesuai dengan tata laksana sebagaimana tercantum dalam
Lampiran I yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.
Bagian Kedua
Persyaratan Penyusunan Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup

Pasal 3
(1) Penyusun DELH harus memenuhi persyaratan:
a. memiliki sertiIikat pelatihan penyusun dokumen amdal, sertiIikat
kompetensi penyusun dokumen amdal, dan/atau sertiIikat auditor
lingkungan hidup bagi penyusunan DELH yang dilakukan sejak
Peraturan Menteri ini ditetapkan sampai dengan tanggal 3 Oktober
2010; atau
b. memiliki sertiIikat kompetensi auditor lingkungan hidup yang
teregistrasi bagi penyusunan DELH yang dilakukan antara tanggal 4
Oktober 2010 sampai 3 Oktober 2011.
(2) Penyusunan DELH menggunakan Iormat sebagaimana tercantum dalam
Lampiran II yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.
Bagian Ketiga
Mekanisme Penetapan Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup

Pasal 4
Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 ayat (1) mengajukan permohonan penyusunan DELH kepada:
a. kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota;
b. kepala instansi lingkungan hidup provinsi; atau
c. Menteri melalui Deputi Menteri
sesuai dengan kewenangan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri
yang mengatur mengenai tata kerja komisi penilai amdal.

Pasal 5
(1) Kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota melakukan veriIikasi
permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruI a dan
menyampaikan usulan penyusunan DELH yang memenuhi syarat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) kepada kepala instansi
lingkungan hidup provinsi dalam waktu paling lama 14 (empat belas)
hari kerja sejak diterimanya permohonan.
(2) Kepala instansi lingkungan hidup provinsi melakukan veriIikasi usulan
SYW

penyusunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan menyampaikan


usulan penetapan DELH yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud
5
dalam Pasal 2 ayat (1) kepada Menteri melalui Deputi Menteri dalam
waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya usulan
penyusunan.

Pasal 6
Kepala instansi lingkungan hidup provinsi melakukan veriIikasi
permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruI b dan
menyampaikan usulan penyusunan DELH yang memenuhi syarat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) kepada Menteri melalui
Deputi Menteri dengan tembusan kepada kepala instansi lingkungan hidup
kabupaten/kota dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak
diterimanya permohonan.

Pasal 7
Menteri melakukan veriIikasi permohonan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 huruI c dan menetapkan permohonan penyusunan DELH yang
memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dalam
waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya
permohonan dengan tembusan kepada kepala instansi lingkungan hidup
kabupaten/kota dan kepala instansi lingkungan hidup provinsi.

Pasal 8
Dalam hal terjadi keberatan terhadap usulan permohonan dan/atau
penetapan DELH, Menteri melakukan koordinasi dengan instansi
lingkungan hidup kabupaten/kota dan/atau instansi lingkungan hidup
provinsi untuk menyelesaikan keberatan yang diajukan.

Pasal 9
(1) Berdasarkan usulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2),
Pasal 6 dan hasil veriIikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7,
Deputi Menteri menetapkan usaha dan/atau kegiatan yang wajib
menyusun DELH.
(2) Penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam bentuk surat
perintah penyusunan DELH.
Bagian Keempat
Mekanisme Penetapan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pasal 10
Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 ayat (1) mengajukan permohonan penyusunan DPLH kepada:
a. kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota;
b. kepala instansi lingkungan hidup provinsi; atau
c. Deputi Menteri
SYW

6
sesuai dengan kewenangan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri
yang mengatur mengenai UKL-UPL.

Pasal 11
(1) Kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi
lingkungan hidup provinsi, atau Deputi Menteri melakukan veriIikasi
permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dalam waktu paling
lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya permohonan.
(2) Dalam hal veriIikasi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (1), kepala instansi lingkungan hidup
kabupaten/kota, kepala instansi lingkungan hidup provinsi, atau Deputi
Menteri menetapkan permohonan DPLH dalam bentuk surat perintah
penyusunan DPLH.
(3) Penyusunan DPLH menggunakan Iormat sebagaimana tercantum dalam
Lampiran III yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.
Bagian Kelima
Penilaian Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup dan Dokumen Pengelolaan
Lingkungan Hidup

Pasal 12
(1) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan mengajukan permohonan
penilaian DELH kepada kepala instansi lingkungan hidup
kabupaten/kota, kepala instansi lingkungan hidup provinsi, atau Deputi
Menteri sesuai dengan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
4.
(2) Kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi
lingkungan hidup provinsi, atau Deputi Menteri memberikan tanda bukti
penerimaan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang telah memenuhi
Iormat penyusunan DELH.
(3) Kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi
lingkungan hidup provinsi, atau Deputi Menteri setelah menerima DELH
yang memenuhi Iormat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) melakukan
penilaian terhadap DELH yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh
unit kerja yang menangani penilaian dokumen amdal.

Pasal 13
(1) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan mengajukan permohonan
penilaian DPLH kepada kepala instansi lingkungan hidup
kabupaten/kota, kepala instansi lingkungan hidup provinsi, atau Deputi
Menteri sesuai dengan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
10.
(2) Kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi
lingkungan hidup provinsi, atau Deputi Menteri memberikan tanda bukti
SYW

7
penerimaan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang telah memenuhi
Iormat penyusunan DPLH.
(3) Kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi
lingkungan hidup provinsi, atau Deputi Menteri setelah menerima DPLH
yang memenuhi Iormat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) melakukan
penilaian terhadap DPLH yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh
unit kerja yang menangani penilaian UKL-UPL.

Pasal 14
(1) Penilaian, pengambilan keputusan, dan penerbitan surat keputusan
terhadap DELH dan DPLH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dan
Pasal 13, dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung
sejak tanggal tanda bukti penerimaan.
(2) Dalam hal kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala
instansi lingkungan hidup provinsi, atau Deputi Menteri tidak
menerbitkan surat keputusan DELH atau DPLH dalam jangka waktu
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DELH atau DPLH yang diajukan
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dianggap telah dinilai dan
disahkan oleh kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala
instansi lingkungan hidup provinsi, atau Deputi Menteri.

Pasal 15
Prosedur operasional standar untuk proses DELH atau DPLH sebagaimana
tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Bagian Keenam
Keputusan Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup dan Dokumen
Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pasal 16
Keputusan DELH atau DPLH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat
(1) atau DELH atau DPLH yang dianggap telah dinilai dan disahkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) digunakan sebagai dasar
bagi penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan
pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.

BAB III
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 17
(1) Menteri melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan
penilaian DELH dan DPLH yang dilakukan oleh instansi lingkungan
hidup provinsi dan/atau kabupaten/kota.
8
(2) Gubernur melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan
SYW

penilaian DELH dan DPLH yang dilakukan oleh instansi lingkungan hidup
kabupaten/kota.
Pasal 18
Penyusunan DELH atau DPLH tidak membebaskan penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan dari sanksi hukum sesuai dengan peraturan perundangundangan.

BAB IV
PEMBIAYAAN
Pasal 19
(1) Biaya penyusunan dan penyelenggaraan rapat penilaian DELH atau DPLH
dibebankan kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan.
(2) Biaya administrasi dan persuratan, pengadaan peralatan kantor untuk
menunjang proses pelaksanaan penilaian DELH atau DPLH, penerbitan
penetapan DELH atau DPLH, penerbitan keputusan DELH atau DPLH,
pelaksanaan pembinaan dan pengawasan, sosialisasi DELH atau DPLH,
dibebankan kepada:
a. APBN untuk DELH atau DPLH yang penilaiannya dilakukan di Kementerian
Lingkungan Hidup; atau
b. APBD untuk DELH atau DPLH yang penilaiannya dilakukan di instansi
lingkungan hidup provinsi atau instansi lingkungan hidup kabupaten/kota.
(3) Biaya pelaksanaan koordinasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
dibebankan kepada APBN dan/atau APBD.

Pasal 20
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 7 Mei 2010
MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
PROF. DR. IR. GUSTI MUHAMMAD HATTA, MS
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 7 Mei 2010
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
PATRIALIS AKBAR
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 232
Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,
ttd
Ilyas Asaad
1
SYW%

Lampiran I
Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup
Nomor : 14 Tahun 2010
Tanggal : 7 Mei 2010
TATA LAKSANA PENYUSUNAN DOKUMEN EVALUASI LINGKUNGAN HIDUP
(DELH) DAN DOKUMEN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (DPLH)
1. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan mengajukan permohonan
penyusunan DELH atau DPLH kepada kepala instansi lingkungan hidup
kabupaten/kota, kepala instansi lingkungan hidup provinsi, atau
Deputi Menteri sesuai kewenangan penilaiannya atas DELH atau DPLH
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
2. Kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi
lingkungan hidup provinsi, atau Deputi Menteri melakukan veriIikasi
terhadap permohonan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
menggunakan kriteria:
a. telah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan sebelum
diundangkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
b. telah melakukan kegiatan tahap konstruksi sebelum
diundangkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
c. lokasi usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan; dan
d. tidak memiliki dokumen lingkungan hidup atau memiliki dokumen
lingkungan hidup tetapi tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan.
Dalam hal usaha dan/atau kegiatan tidak memenuhi kriteria tersebut di
atas, maka usaha dan/atau kegiatan dimaksud tidak dapat diproses
melalui mekanisme DELH atau DPLH.
3. Kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi
lingkungan hidup provinsi, atau Deputi Menteri menggolongkan usaha
dan/atau kegiatan wajib melakukan penyusunan DELH atau DPLH
mengacu pada Peraturan Menteri yang mengatur tentang jenis rencana
usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan amdal. Apabila
tergolong sebagai usaha dan/atau kegiatan wajib amdal, maka wajib
DELH, atau apabila tergolong sebagai usaha dan/atau kegiatan wajib
UKL-UPL, maka wajib DPLH.
4. Bagi usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan DELH,
maka:
a. untuk usaha dan/atau kegiatan yang menjadi kewenangan
kabupaten/kota,
(1) kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota melakukan
veriIikasi permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dan
2
menyampaikan usulan penyusunan DELH yang memenuhi syarat
sebagaimana dimaksud dalam angka 2 kepada kepala instansi
SYW%

lingkungan hidup provinsi dalam waktu paling lama 14 (empat


belas) hari kerja sejak diterimanya permohonan.
(2) kepala instansi lingkungan hidup provinsi melakukan veriIikasi
usulan penyusunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
menyampaikan usulan penetapan DELH yang memenuhi syarat
sebagaimana dimaksud dalam angka 2 kepada Menteri melalui
Deputi Menteri dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari
kerja sejak diterimanya usulan penyusunan.
b. untuk usaha dan/atau kegiatan yang menjadi kewenangan provinsi,
kepala instansi lingkungan hidup provinsi melakukan veriIikasi
permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dan
menyampaikan usulan penyusunan DELH yang memenuhi syarat
sebagaimana dimaksud dalam angka 2 kepada Menteri melalui
Deputi Menteri dengan tembusan kepada kepala instansi lingkungan
hidup kabupaten/kota dalam waktu paling lama 14 (empat belas)
hari kerja sejak diterimanya permohonan.
c. untuk usaha dan/atau kegiatan yang menjadi kewenangan Pusat,
Menteri melakukan veriIikasi permohonan sebagaimana dimaksud
dalam angka 1 dan menetapkan permohonan penyusunan DELH
yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam angka 2 dalam
waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya
permohonan dengan tembusan kepada kepala instansi lingkungan
hidup kabupaten/kota dan kepala instansi lingkungan hidup
provinsi.
5. Dalam hal terjadi keberatan terhadap usulan permohonan dan/atau
penetapan DELH, Menteri melakukan koordinasi dengan instansi
lingkungan hidup kabupaten/kota dan/atau instansi lingkungan hidup
provinsi untuk menyelesaikan keberatan yang diajukan.
6. Dalam hal tidak ada keberatan sebagaimana dimaksud pada angka 5,
maka berdasarkan usulan penyusunan DELH dan hasil veriIikasi
sebagaimana dimaksud pada angka 4 huruI c, Deputi Menteri
menetapkan usaha dan/atau kegiatan yang wajib menyusun DELH.
Penetapan dimaksud diterbitkan dalam bentuk surat perintah
penyusunan DELH.
7. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang diperintahkan untuk
menyusun DELH melakukan penyusunan DELH sesuai dengan Iormat
pada Lampiran II Peraturan Menteri ini.
8. Bagi usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan DPLH,
maka:
a. kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi
lingkungan hidup provinsi atau Deputi Menteri melakukan veriIikasi
permohonan sebagaimana dimaksud pada angka 1 dalam waktu
paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya
permohonan.
3
b. dalam hal veriIikasi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud
SYW

pada angka 2, kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota,


kepala instansi lingkungan hidup provinsi atau Deputi Menteri
menetapkan permohonan DPLH dalam bentuk surat perintah
penyusunan DPLH.
9. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang diperintahkan untuk
menyusun DPLH melakukan penyusunan DPLH sesuai dengan Iormat
pada Lampiran III Peraturan Menteri ini.
10. Dalam hal DELH telah selesai disusun oleh penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan, maka:
a. penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan mengajukan
permohonan penilaian DELH kepada kepala instansi lingkungan
hidup kabupaten/kota, kepala instansi lingkungan hidup provinsi
atau Deputi Menteri sesuai dengan kewenangannya.
b. kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi
lingkungan hidup provinsi atau Deputi Menteri memberikan tanda
bukti penerimaan permohonan sebagaimana dimaksud pada huruI a
di atas kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang
telah memenuhi Iormat penyusunan DELH.
c. kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi
lingkungan hidup provinsi atau Deputi Menteri setelah menerima
DELH yang memenuhi Iormat sebagaimana dimaksud pada huruI b
di atas melakukan penilaian terhadap DELH yang dalam
pelaksanaannya dilakukan oleh unit kerja yang menangani penilaian
dokumen amdal. Mekanisme penilaian dimaksud dilakukan dalam
bentuk rapat dengan mengundang wakil dari pihak-pihak yang
terkait langsung dengan usaha dan/atau kegiatan tersebut.
11. Dalam hal DPLH telah selesai disusun oleh penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan, maka:
a. penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan mengajukan
permohonan penilaian DPLH kepada kepala instansi lingkungan
hidup kabupaten/kota, kepala instansi lingkungan hidup provinsi,
atau Deputi Menteri sesuai dengan kewenangannya.
b. kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi
lingkungan hidup provinsi atau Deputi Menteri memberikan tanda
bukti penerimaan permohonan sebagaimana dimaksud pada huruI a
di atas kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang
telah memenuhi Iormat penyusunan DPLH.
c. kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala instansi
lingkungan hidup provinsi atau Deputi Menteri setelah menerima
DPLH yang memenuhi Iormat sebagaimana dimaksud pada huruI b
di atas melakukan penilaian terhadap DPLH yang dalam
pelaksanaannya dilakukan oleh unit kerja yang menangani penilaian
UKL-UPL.
4
usaha dan/atau
kegiatan
SYW

kewenangan
kabupaten/kota
Deputi Menteri
memberitahukan
usaha dan/atau
kegiatan yang
akan
diperintahkan
menyusun DELH
Penilaian DELH
Ada keberatan dari kepala
instansi LH provinsi/
kabupaten/kota?
kepala instansi LH
kabupaten/kota
Mengusulkan yang
akan diperintahkan
menyusun DELH
Surat Keputusan (SK)
atas hasil kajian DELH
SK dijadikan dasar pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup
kepala instansi LH
prov. menetapkan
perintah
menyusun DPLH
Deputi Menteri
menetapkan
perintah
menyusun DPLH
kepala instansi LH
kabupaten/kota
menetapkan
perintah
menyusun DPLH
Penilaian DPLH
Surat Keputusan (SK)
atas hasil kajian DPLH
usaha dan/atau
kegiatan
kewenangan
provinsi
usaha dan/atau
kegiatan
kewenangan
Pusat
SYW

kepala instansi LH
provinsi
Mengusulkan yang
akan diperintahkan
menyusun DELH
usaha dan/atau
kegiatan
kewenangan
kabupaten/kota
usaha dan/atau
kegiatan
kewenangan
provinsi
usaha dan/atau
kegiatan
kewenangan
Pusat
Pemberitahuan
Pemberitahuan
Deputi Menteri menetapkan usaha
dan/atau kegiatan yang akan
diperintahkan menyusun DELH
DELH DPLH
Apakah usaha dan/atau
kegiatan memenuhi kriteria
wajib DELH dan DPLH?
Apakah usaha dan/atau
kegiatan tergolong wajib
amdal?
Penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan mengajukan permohonan
penyusunan DELH/DPLH kepada:
kepala instansi LH kabupaten/kota
kepala instansi LH provinsi
Deputi Menteri
sesuai dengan kewenangannya
Tidak dapat diproses
melalui mekanisme
DELH atau DPLH
Gunakan kriteria wajib
DELH dan DPLH
dalam Pasal 2 ayat (1)
Gunakan Peraturan Menteri
tentang Jenis Rencana Usaha
dan/atau Kegiatan yang Wajib
Dilengkapi Dengan Amdal
SYW

YA
TIDAK
YA TIDAK
TIDAK
Gambar Bagan alir proses DELH dan DPLH
Menteri
berkoordinasi
dengan instansi
LH prov/kab/kota
YA
5
12. Penilaian, pengambilan keputusan, dan penerbitan surat keputusan
terhadap DELH dan DPLH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dan
Pasal 13, dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung
sejak tanggal tanda bukti penerimaan.
13. Dalam hal kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, kepala
instansi lingkungan hidup provinsi, atau Deputi Menteri tidak
menerbitkan surat keputusan DELH atau DPLH dalam jangka waktu
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DELH atau DPLH yang diajukan
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dianggap telah dinilai dan
disahkan oleh kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota,
kepala instansi lingkungan hidup provinsi, atau Deputi Menteri.
14. Keputusan DELH atau DPLH sebagaimana dimaksud dalam angka 12
atau DELH atau DPLH yang dianggap telah dinilai dan disahkan
sebagaimana dimaksud dalam angka 13 digunakan sebagai dasar bagi
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan
pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.
15. Semua langkah-langkah pengelolaan dan pemantauan lingkungan
hidup yang tercantum dalam DELH diperlakukan setara dengan RKLRPL
hasil proses AMDAL, dan semua langkah-langkah pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup yang tercantum dalam DPLH
diperlakukan setara dengan UKL-UPL.
16. Seluruh kewajiban yang tercantum dalam DELH dan DPLH wajib
dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dan
dilaporkan secara berkala kepada instansi lingkungan hidup Pusat,
provinsi dan/atau kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
17. Peraturan Menteri ini wajib disampaikan kepada penanggung jawab
usaha dan/atau kegiatan dan/atau pihak terkait lainnya antara lain
dalam bentuk sosialisasi.
MENTERI NEGARA
LINGKUNGAN HIDUP,
ttd
PROF. DR. IR. GUSTI MUHAMMAD HATTA, MS
Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,
SYW

ttd
Ilyas Asaad
1
Lampiran II
Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup
Nomor : 14 Tahun 2010
Tanggal : 7 Mei 2010
FORMAT DOKUMEN EVALUASI LINGKUNGAN HIDUP (DELH)
Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup (DELH) paling sedikit berisi hal-hal
sebagai berikut:
1. Pendahuluan
Pada bab ini diinIormasikan identitas perusahaan, perizinan yang telah
dimiliki dan latar belakang kegiatan.
2. Ruang Lingkup
Pada bab ini diinIormasikan deskripsi kegiatan utama dan kegiatan
pendukung yang meliputi:
a. Kegiatan yang telah berjalan;
b. Pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang pernah dilakukan
(apabila tidak pernah melakukan pengelolaan lingkungan, hal ini
agar diinIormasikan di dalam bagian ini).
3. Kajian evaluasi terhadap kegiatan yang berjalan
Pada bagian ini beberapa komponen yang perlu disajikan sebagai dasar
untuk melakukan kajian evaluasi dampak, adalah sebagai berikut:
a. Komponen kegiatan-kegiatan yang menimbulkan dampak atau
sebagai sumber dampak,
b. Data-data jenis, parameter, siIat, dan jumlah bahan
pencemar/buangan/limbah yang dihasilkan oleh masing-masing
sumber dampak,
c. Data-data kondisi rona lingkungan atau kondisi eksisting lingkungan
yang berpotensi terkena dampak,
d. Baku mutu yang telah ditetapkan oleh peraturan perundangundangan,
e. Upaya pengelolaan dan pemantauan yang telah dilakukan apabila
telah ada upaya-upaya tersebut,
I. InIormasi kegiatan dan kondisi lingkungan sekitar.
Kajian Evaluasi seharusnya dapat menjawab keterkaitan antara
komponen-komponen tersebut di atas, sehingga dapat dianalisis dan
diambil kesimpulan mengenai dampak-dampak yang dihasilkan,
pengaruhnya terhadap lingkungan serta upaya pengelolaan yang
seharusnya dilakukan sehingga tidak mencemari lingkungan.
Hasil evaluasi dan kesimpulan dijadikan arahan-arahan pengelolaan dan
pemantauan yang kemudian digunakan sebagai dasar penetapan RKLRPL.
2
4. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan
Lingkungan Hidup.
Pada Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup diuraikan dan dilengkapi
SYW

matrik yang berisi:


a. Dampak yang ditimbulkan dari kegiatan yang mencakup dampak dan
sumber dampak;
b. Tolok ukur dampak, untuk mengukur komponen yang terkena
dampak berdasarkan baku mutu standar;
c. Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup;
d. Upaya pengelolaan lingkungan hidup;
e. Lokasi kegiatan pengelolaan lingkungan (peta, sketsa, gambar);
I. Periode pengelolaan lingkungan yang memuat kapan dan berapa lama
kegiatan pengelolaan dilaksanakan;
g. Institusi pengelolaan lingkungan hidup, yang memuat:
i. Pelaksana yang bertanggungjawab melaksanakan pengelolaan
lingkungan;
ii. Pengawas pengelolaan lingkungan.
Pada Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup diuraikan dan dilengkapi
matrik yang berisi:
a. Dampak yang ditimbulkan dari kegiatan yang mencakup dampak dan
sumber dampak,
b. Parameter lingkungan hidup yang dipantau
c. Tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup
d. Metode pemantauan lingkungan hidup, yang memuat:
i. Metode pengumpulan dan analisis data;
ii. Lokasi pemantauan lingkungan hidup;
iii. Jangka waktu dan Irekuensi pemantauan.
e. Institusi pemantauan lingkungan hidup, yang memuat:
i. Pelaksana yang bertanggungjawab melaksanakan pemantauan
lingkungan;
ii. Pengawas pemantauan lingkungan.
MENTERI NEGARA
LINGKUNGAN HIDUP,
ttd
PROF. DR. IR. GUSTI MUHAMMAD HATTA, MS
Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,
ttd
Ilyas Asaad
1
Lampiran III
Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup
Nomor : 14 Tahun 2010
Tanggal : 7 Mei 2010
FORMAT DOKUMEN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (DPLH)
1. Penanggung jawab kegiatan
Nama Perusahaan :
SYW

Alamat :
2. Lokasi Kegiatan
Wilayah administrasi
pemerintahan :
Koordinat:0`BT/BB sampai0`BT/BB
0`LU/LS sampai0`LU/LS
Lain-lain:
3. Bidang Usaha dan/atau Kegiatan
Pertahanan dan Keamanan :
Perindustrian :
Pertanian :
Pertambangan dan Energi :
Kehutanan dan Perkebunan :
2
Pekerjaan Umum :
Perhubungan :
Pariwisata, Seni dan Budaya :
Transmigrasi dan Pemukiman:
Perambah Hutan
Kesehatan :
Dan lain-lain (tuliskan) :
4. Mulai beroperasi: // (tanggal/bulan/tahun)
5. Deskripsi usaha dan/atauKegiatan :
a) Kegiatan utama:
b) Kegiatan pendukung:
3
c) Kapasitas:
d) Sarana penunjang:
Catatan:
Berbagai inIormasi pendukung deksripsi kegiatan dapat disampaikan, baik
berupa peta, gambar, Ioto, sketsa, tata letak, dll.
4
DOKUMEN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
USAHA DAN/ATAU KEGIATAN
..................................
MATRIKS PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
NO
DAMPAK LINGKUNGAN
YANG HARUS DIKELOLA
SERTA PARAMETERNYA
SUMBER
DAMPAK
TOLOK
UKUR
UPAYA PENGELOLAAN
CARA/TEKNIK
SYW

MENGELOLA
LOKASI
PENGELOLAAN
HASIL YANG
DICAPAI
TINDAKAN
PERBAIKAN
PENGELOLAAN*
(jika diperlukan)
6.a) 6.b) 7 8.a) 8.b) 8.c) 8.d)
*) Kolom tindakan perbaikan pengelolaan lingkungan hidup ini wajib diisi apabila upaya
pengelolaan lingkungan
hidup yang dilaksanakan saat ini masih belum memadai untuk memenuhi persyaratan
sebagaimana diatur
dalam peraturan perundangan yang berlaku (baku mutu, baku kerusakan dan lain-lain)
5
DOKUMEN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
USAHA DAN/ATAU KEGIATAN
..................................
MATRIKS PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP
NO
DAMPAK LINGKUNGAN
YANG HARUS DIPANTAU
SERTA PARAMETERNYA
SUMBER
DAMPAK
TOLOK
UKUR
UPAYA PEMANTAUAN
CARA/TEKNIK
MEMANTAU
LOKASI
PEMANTAUAN
HASIL YANG
DICAPAI
TINDAKAN
PERBAIKAN
PEMANTAUAN*
(jika diperlukan)
6.a) 6.b) 7 8.a) 8.b) 8.c) 8.d)
*) Kolom tindakan perbaikan pemantauan lingkungan hidup ini wajib diisi apabila upaya
pemantauan
lingkungan hidup yang dilaksanakan saat ini masih belum memadai untuk memenuhi persyaratan
sebagaimana diatur dalam peraturan perundangan yang berlaku (baku mutu, baku kerusakan dan
lain-lain).
6
SYW%

Catatan:
Format tersebut di atas merupakan muatan minimum yang wajib
dilengkapi dalam DPLH.
MENTERI NEGARA
LINGKUNGAN HIDUP,
ttd
PROF. DR. IR. GUSTI MUHAMMAD HATTA, MS
Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,
ttd
Ilyas Asaad
1
Lampiran IV
Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup
Nomor : 14 Tahun 2010
Tanggal : 7 Mei 2010
PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR PELAKSANAAN DOKUMEN
EVALUASI LINGKUNGAN HIDUP (DELH) DAN DOKUMEN
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (DPLH)
Prosedur operasional standar ini terdiri dari beberapa contoh Iormat
atau lembar kerja yang dapat digunakan dalam pelaksanaan DELH
atau DPLH yang meliputi:
1. FORMAT PERMOHONAN PENYUSUNAN DELH ATAU DPLH DARI
PENANGGUNG JAWAB USAHA DAN/ATAU KEGIATAN
2. FORMAT SURAT USULAN USAHA DAN/ATAU KEGIATAN WAJIB
DELH DARI PROVINSI BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN WAJIB
DELH YANG MENJADI KEWENANGAN PROVINSI
3. FORMAT LAMPIRAN SURAT USULAN USAHA DAN/ATAU KEGIATAN
WAJIB DELH DARI KABUPATEN/KOTA
4. FORMAT SURAT PEMBERITAHUAN/PERMINTAAN TANGGAPAN
ATAS USULAN DELH DARI PROVINSI KEPADA KABUPATEN
5. FORMAT SURAT TANGGAPAN DARI KABUPATEN/KOTA KEPADA
PROVINSI DAN PUSAT ATAS USULAN USAHA DAN/ATAU
KEGIATAN WAJIB DELH DARI PROVINSI
6. FORMAT SURAT KEPUTUSAN DELH OLEH KEPALA INSTANSI
LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA
7. FORMAT SURAT REKOMENDASI DPLH OLEH KEPALA INSTANSI
LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA
Contoh Iormat di atas dapat disesuaikan dengan kebutuhan
kabupaten/kota, provinsi atau Pusat.
2
1. FORMAT PERMOHONAN PENYUSUNAN DELH ATAU DPLH DARI
PENANGGUNG JAWAB USAHA DAN/ATAU KEGIATAN
Kami yang bertandatangan di bawah ini:
SYW%

1. Nama :
2. Jabatan :
3. Alamat Kantor :
Selaku penanggung jawab atas kegiatan:
1. Nama Kegiatan :
2. Lokasi Tapak Kegiatan :
3. Skala/besaran kegiatan : ...........(ton/hari, dll), *) amdal/UKL-UPL
4. Kewenangan Penilaian : *) Kabupaten/Kota / Provinsi / KLH
5. Perizinan yang dimiliki :
(sebutkan)
6. Kesesuai dengan RTRW :
7. Status kegiatan : tanggal....... bulan........tahun.........
(dimulainya tahap konstruksi)
Dengan ini mengusulkan kegiatan kami (data kegiatan terlampir) untuk
ditetapkan sebagai kegiatan *) DELH atau DPLH.
Demikian pernyataan ini kami buat dengan sebenar-benarnya sesuai
dengan jenis kegiatan yang kami lakukan.
kota, hari, tanggal bulan tahun
Nama Kegiatan
ttd. dan Cap Perusahaan
Nama penanggung jawab kegiatan
Jabatan
Keterangan: *) Coret yang tidak perlu
3
2. FORMAT SURAT USULAN USAHA DAN/ATAU KEGIATAN WAJIB
DELH DARI PROVINSI BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN WAJIB
DELH YANG MENJADI KEWENANGAN PROVINSI
kota, tanggal, bulan, tahun
Nomor : Kepada Yth.
Lampiran : ...lembar usulan usaha dan/ Deputi Menteri Negara
atau kegiatan wajib DELH Lingkungan Hidup Bidang
Perihal : Usulan Penetapan Usaha ................................
dan/atau kegiatan wajib di
DELH .....................
Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor...tahun.. tentang Dokumen Lingkungan Hidup
Bagi Usaha dan/atau Kegiatan yang telah Memiliki Izin
Usaha dan/atau Kegiatan tetapi Belum Memiliki
Dokumen Lingkungan Hidup, bersama ini kami usulkan
usaha dan/atau kegiatan yang telah memenuhi kriteria
sebagaimana dimaksud dalam peraturan di atas, yaitu:
1. telah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan sebelum
ditetapkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup;
2. telah melakukan kegiatan tahap konstruksi sebelum
SYW%

ditetapkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009


tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup;
3. lokasi usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan rencana
tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang
kawasan; dan
4. tidak memiliki dokumen lingkungan hidup atau
memiliki dokumen lingkungan hidup tetapi tidak
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Adapun daItar usulan usaha dan/atau kegiatan
dimaksud, adalah sebagaimana terlampir.
Demikian disampaikan, dan atas perhatian serta kerja
sama yang baik, diucapkan terima kasih.
Kepala Badan Lingkungan
Hidup Provinsi ....................,
Nama...................
NIP. ....................
Tembusan Yth. :
1. Deputi MENLH Bidang ......... Kementerian Lingkungan Hidup,
2. Kepala Instansi Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota .............,
3. Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional ...........
4
3. FORMAT LAMPIRAN SURAT USULAN USAHA DAN/ATAU KEGIATAN
WAJIB DELH DARI KABUPATEN/KOTA
Kabupaten/Kota : .......................................
Provinsi : .......................................
No Nama
perusahaan Alamat Jenis
kegiatan
Skala/
besaran
kegiatan
Perizinan Kesesuaian
Tata Ruang
Waktu
dimulainya
kegiatan
5
4. FORMAT SURAT PEMBERITAHUAN/PERMINTAAN TANGGAPAN
ATAS USULAN DELH DARI PROVINSI KEPADA KABUPATEN
kota, tanggal, bulan, tahun
Nomor : Kepada Yth.
Lampiran : ...lembar usulan usaha dan/ Kepala Instansi Lingkungan
atau kegiatan wajib DELH Hidup Kabupaten/Kota
Perihal : Permintaan VeriIikasi atas ................................
usulan usaha dan/atau di
SYW%

kegiatan wajib DELH .....................


Menindaklanjuti Surat kami Nomor..., tanggal ...,
perihal Usulan Penetapan Usaha dan/atau Kegiatan Wajib
DELH yang telah kami sampaikan kepada Deputi Menteri
Negara Lingkungan Hidup Bidang ....., bersama ini
kami mohon tanggapan/klariIikasi atas usulan daItar
usaha dan/atau kegiatan wajib DELH, daItar terlampir.
Tanggapan/klariIikasi terhadap daItar usaha dan/atau
kegiatan dimaksud, agar disampaikan paling lambat 14
(empat belas) hari kerja kepada kami dan Deputi Menteri
Negara Lingkungan Hidup Bidang ............
Demikian disampaikan, dan atas perhatian serta kerja
sama yang baik, diucapkan terima kasih.
Kepala Badan Lingkungan
Hidup Provinsi ...............,
Nama...................
NIP. ....................
Tembusan Yth. :
1. Deputi MENLH Bidang ......... Kementerian Lingkungan Hidup,
2. Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional ....................
6
5. FORMAT SURAT TANGGAPAN DARI KABUPATEN/KOTA KEPADA
PROVINSI DAN PUSAT ATAS USULAN USAHA DAN/ATAU
KEGIATAN WAJIB DELH DARI PROVINSI
kota, tanggal, bulan, tahun
Nomor : Kepada Yth.
Lampiran : ... lembar usaha dan/atau 1. Deputi Menteri Negara
kegiatan wajib DELH Lingkungan Hidup Bidang
Perihal : Tanggapan atas usulan .............................
usaha dan/atau kegiatan 2. Kepala Badan Lingkungan
wajib DELH Hidup Provinsi ..........
di
Tempat
Menanggapi Surat Saudara Nomor..., tanggal ...,
perihal Permohonan VeriIikasi terhadap Usulan Usaha
dan/atau Kegiatan Wajib DELH, bersama ini disampaikan
bahwa pada prinsipnya kami menyatakan tidak
berkeberatan atas usulan usaha dan/atau kegiatan wajib
DELH yang telah diusulkan, sebagaimana terlampir.
(Apabila terdapat hal keberatan, maka dapat disampaikan
alasan-alasan dasar pertimbangan keberatan-keberatan
dimaksud)
Beberapa dasar pertimbangan keberatan atas usulan
DELH dimaksud, adalah sebagai berikut:
1. ...............
2. ............... dst
SYW%

Demikian disampaikan, dan atas perhatian serta kerja


sama yang baik, diucapkan terima kasih.
Kepala Badan Lingkungan
Hidup Kabupaten/Kota
...............,
Nama...................
NIP. ....................
Tembusan Yth. :
1. Bupati/Walikota ....... (daerah yang bersangkutan),
2. Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional ....................
7
6. FORMAT SURAT KEPUTUSAN DELH OLEH KEPALA INSTANSI
LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA
KEPUTUSAN
......................................................
NOMOR:........... TAHUN .........
TENTANG
DOKUMEN EVALUASI LINGKUNGAN HIDUP
KEGIATAN ............................ DI ..............................
OLEH PT. ..............................
Menimbang: a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 121
Ketentuan Peralihan Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup, setiap usaha dan/atau kegiatan
yang telah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan
tetapi belum memiliki dokumen amdal wajib
menyelesaikan audit lingkungan hidup dan setiap
usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin
usaha dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki
UKL-UPL wajib membuat dokumen pengelolaan
lingkungan hidup.
b. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat (1)
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999
tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Hidup, amdal adalah kajian mengenai dampak besar
dan penting suatu usaha dan atau kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang
diperlukan bagi proses pengambilan keputusan
tentang penyelenggaraan usaha dan atau kegiatan;
c. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal ..... Peraturan
Menteri Negara Lingkungan Hidup Dokumen
Lingkungan Hidup Bagi Usaha dan/atau Kegiatan
yang telah Memiliki Izin Usaha dan/atau Kegiatan
tetapi Belum Memiliki Dokumen Lingkungan Hidup;
d. bahwa berdasarkan ketentuan ........................;
e. bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas,
SYW%

perlu menetapkan Keputusan ............... tentang


Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup Kegiatan
.................... di............................ oleh PT. ...............
Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor ........................................);
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5059);
8
3. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
4. Peraturan Pemerintah Nomor ...............................;
5. Peraturan Daerah Nomor .....................................;
Memperhatikan: Hasil Rapat Pembahasan DELH kegiatan ....... di
Kabupaten ....... oleh PT. .......... pada tanggal
............bulan.....tahun......;
MEMUTUSKAN
Menetapkan: KEPUTUSAN ............... TENTANG DOKUMEN
EVALUASI LINGKUNGAN HIDUP KEGIATAN ............ DI
................. OLEH PT. .............................
PERTAMA: Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup Kegiatan ........ di
............... oleh PT............ dengan kegiatan antara lain:
1. ............................;
2. ............................;
3. ............................;
KEDUA: Penanggung jawab PT. ............. dalam melakukan
kegiatannya berkewajiban:
1. melakukan pengelolaan terhadap sumber dampak
...................;
2. melakukan pengelolaan terhadap ............................;
3. memiliki, melaksanakan, dan mengevaluasi secara
periodik sistem tanggap darurat (emergency
response) untuk menanggulangi kecelakaan,
pencemaran, dan/atau perusakan lingkungan
hidup;
4. mengembangkan teknologi dan metode pengelolaan
dan pemantauan lingkungan hidup yang tercantum
dalam dokumen RKL dan RPL sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di
bidang pengelolaan lingkungan hidup;
5. meningkatkan kinerja pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup (continuous improvement) sejalan
dengan perkembangan teknologi di bidang
SYW%

pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.


KETIGA: Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup Kegiatan ........ di
............ oleh Penanggung jawab PT. ...........
sebagaimana dimaksud dalam diktum ........ digunakan
sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan
lingkungan hidup dan pemantauan lingkungan hidup.
9
KEEMPAT: Penanggung jawab PT. ............ wajib melaporkan hasil
pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dan
pemantauan lingkungan hidup setiap 6 (enam) bulan
sekali kepada .................., Badan Pengelolaan
Lingkungan Hidup ..................., Dinas ..............dsb.
KELIMA: Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di: ..............
pada tanggal:
Kepala Instansi
Lingkungan Hidup
Kabupaten .........,
....................................
Disampaikan kepada Yth.:
1. Menteri Negara Lingkungan Hidup,
2. Gubernur Provinsi ...................;
3. Bupati ....................................;
4. Kepala Dinas .........................;
5. Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional ....................;
6. dsb;
10
7. FORMAT SURAT REKOMENDASI DPLH OLEH KEPALA INSTANSI
LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA
kota, tanggal, bulan, tahun
Nomor :
Lampiran : 1 (satu) berkas dokumen
Perihal : Rekomendasi atas DPLH
Kegiatan .......................
oleh PT. ........................
di .................................
Kepada Yth.
Direktur/Manager/Lainnya
PT. ................
di
Tempat
Menindaklanjuti surat Saudara Nomor ...........................
tertanggal ..... perihal penyampaian Dokumen Pengelolaan
Lingkungan Hidup (DPLH) untuk kegiatan ...................,
bersama ini diberitahukan bahwa berdasarkan hasil
evaluasi teknis yang telah dilakukan, maka terhadap DPLH
SYW%

untuk kegiatan ................ tersebut secara teknis dapat


disetujui.
DPLH yang telah disetujui merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari surat rekomendasi ini dan menjadi acuan
bagi penanggung jawab kegiatan dalam menjalankan
kegiatannya dengan tetap berpedoman pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Apabila terjadi pemindahan lokasi kegiatan, desain
dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan
baku dan/atau bahan penolong atas usaha dan/atau
kegiatan, terjadi bencana alam dan/atau lainnya yang
menyebabkan perubahan lingkungan yang sangat
mendasar baik sebelum maupun saat pelaksanaan
kegiatan, maka penanggung jawab kegiatan wajib
menyusun UKL-UPL atau amdal baru sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Penanggung jawab PT........... wajib melakukan seluruh
ketentuan yang termaktub dalam DPLH dan
bertanggungjawab sepenuhnya atas pengelolaan dan
pemantauan dampak lingkungan dari kegiatan
....................
Penanggung jawab PT.......... wajib melaporkan
pelaksanaan upaya pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup yang tercantum dalam DPLH tersebut
kepada Badan Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota
............... dan instansi-instansi sektor terkait (termasuk
11
instansi pemberi i:in) setiap ..... bulan sekali terhitung
sejak tanggal diterbitkannya surat rekomendasi ini.
Selanjutnya Bupati/Walikota ..................., Kepala Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota ......................., Kepala
Instansi Sektor A .........., Kepala Instansi Sektor B, Kepala
Instansi Sektor dst...... melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan ketentuan-ketentuan yang wajib dilakukan
oleh penanggung jawab kegiatan yang tercantum dalam
perizinan sebagaimana dimaksud.
Demikian disampaikan, atas perhatiannya diucapkan
terimakasih.
Kepala Instansi Lingkungan Hidup
Kabupaten .........................
....................................................
Tembusan Yth.:
1. Bupati .........;
2. Kepala Dinas A;
3. Kepala Dinas B;
4. Kepala Dinas C;
SYW%

5. Kepala Instansi dsb;


6. dst.
MENTERI NEGARA
LINGKUNGAN HIDUP,
ttd
PROF. DR. IR. GUSTI MUHAMMAD HATTA, MS
Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,
ttd
Ilyas Asaad














SYW%

BAB VII

3.1. Kesimpulan
Demikianlah atas tersusunnya laporan Praktek Kerja Industri (Prakerin) ini di Badan
Pengendalian Dampak Lingkungan selama 3 bulan untuk dapat diperhatikan dan
dipertimbangkan oleh pelaksanaan program Praktek Kerja Industri (Prakerin).
Berdasarkan pengalaman, pengamatan dan inIormasi yang penulis dapatkan selama
melaksanakan Praktek Kerja Industri (Prakerin) di Badan Pengendalian Dampak LIngkungan,
maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Bahwa Badan Pengendalian Dampak Lingkungan adalah Instansi yang bergerak
dibidang Limbah B3;
2. Bahwa Badan Pengendalian Dampak Lingkungan mempunyai sistem kerja yang bagus
dan sangat cepat dan tegas pada saat pengambilan keputusan;
3. Bahwa Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tidak akan membiarkan sebuah
Perusahaan di Kota Batam untuk melakukan pembuanagan limbah B3 di sembarangan
tempat.







SYW%%

3.2. Saran
Setelah penulis melakukan prakerin selama 3 bulan penulis memberi beberapa saran baik
kepada pihak perusahaan maupun pihak sekolah agar lebih diperhatikan dan ditingkatkan
pelaksanaan Praktek Kerja Industri (Prakerin) dan menjadi lebih sempurna atau lebih baik lagi
dimasa yang akan datang.
Saran-saran yang dapat penulis kemukakan yaitu sebagai berikut :
A. Bagi Pihak Perusahaan.
1. Pembimbing dunia usaha diharapkan lebih banyak memberi bimbingan atau ilmu
yang bermanIaat agar dapat membantu dan meningkatkan keahlian atau
keterampilan siswa-siswi, lebih memperhatikan dan menanyakan kepada siswa-
siswi yang melaksanakan Praktek Kerja Industri (Prakerin) tentang bkesulitan yang
dihadapi dalam menjalankan tugas yang diberikan.
2. Hubungan antara atasan dengan bawahan dan siswa-siswi dengan pembimbing
harus dipelihara dan ditingkatkan lagi, sehingga menciptakan rasa kekeluargaan
dan keharmonisan.
3. Penulis berharap agar pihak perusahaan atau dunia Industri bersedia menerima
siswa-siswi untuk melaksanakan Praktek Kerja Industri (Prakerin) baik dimasa
sekarang maupun dimasa yang akan datang.





SYW%%

B. Bagi Pihak Sekolah


1. Guru pembimbing diharapkan lebih memperhatikan dan menanyakan kesulitan
yang dihadapi siswa-siswi dalam melaksanakan Praktek Kerja Industri (Prakerin)
didunia industry serta dalam pembuatan laporan atau paper.
2. Bagi pihak sekolah agar dapat meningkatkan mutu pendidikan siswa-siswi untuk
siap terjun kedunia Industri baik mental, kualitas, kedisiplinan, serta dapat
bertanggung jawab dalam menerima tugas yang diberikan.
3. Penulis berharap adanya kerjasama yang baik antara pihak sekolah dengan pihak
perusahaan atau dunia industry dalam pelaksanaan Praktek Kerja Industri
(Prakerin) dan dapat berlangsung secara terus-menerus dan dapat dikembangkan
lagi.













SYW%

Beri Nilai