Anda di halaman 1dari 11

UJI TETRAZOLIUM

Laporan Pratikum Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Teknologi Benih

Disusun oleh :
Muhammad Fadli (150510100039) Suryo Nursyaid Santoso (150510100061) Putri Tria Santari (150510100062) Merisa Asrina (150510100063) Dimas Tri Rahadian (150510100072)

AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan kepada kehadirat tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia dan rahmat-Nya lah kami dapat membuat laporan hasil pratikum mengenai uji tetrazolium pada komoditas kubis. Adapun maksud dari pembuatan Laporan ini adalah untuk memberikan penjelasan tentang bagaimana cara uji tetrazolium dan pembuktiannya dalam penelitian. Kami berharap dengan adanya laporan ini, dapat bermanfaat bagi mahasiswa khususnya mahasiswa Falkutas Pertanian dalam mengembangan ilmu, serta dapat bermanfaat untuk pelajaran teknologi benih. Kami sadar bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan makalah ini, dan kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca.

Jatinangor, 25 Oktober 2011

Penyusun

Daftar isi

Kata pengantar.................. Daftar isi.................................. BAB I PENDAHULUAN............................ 1.1 Latar belakang.................. 1.2 Tujuan Penulisan..................................................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................. BAB III METODE.................................................................................................... 3.1 Waktu dan tempat................................................................................... 3.2 Alat dan Bahan ........................................................................................ 3.3 Prosedur kerja......................................................................................... BAB IV HASIL PENGAMATAN.......................................................................... 4.1 Hasil........................................................................................................ 4.2 Pembahasan............................................................................................ BAB V PENUTUP........ 5 .1 Kesimpulan......... 5.2 Saran......................................................................................................... Daftar Pustaka...........................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Uji Tetrazolium juga disebut uji biokhemis benih dan uji cepat viabilitas. Prinsip metode Uji Tetrazolium adalah bahwa setiap sel hidup akan berwarna merah oleh reduksi dari suatu pewarnaan garam tetrazolium dan membentuk endapan formazan merah, sedangkan sel-sel mati akan berwarna putih. Adanya pola-pola warna merah pada bagian-bagian penting pada embrio benih mengindikasikan benih mampu menumbuhkan embrio menjadi kecambah yang normal. Enzim yang mendorong terjadinya proses ini adalah dehidrogenase yang berkaitan dengan respirasi (Byrd, 1988). Kelebihan metode Uji Tetrazolium meliputi waktu pengujian yang singkat, sangat tepat diaplikasikan pada benih yang mengalami dormansi serta benih yang mengalami pemasakan lanjutan (after ripening), tingkat ketelitian tinggi, sedangkan kelemahannya memerlukan keahlian dan pelatihan yang intensif, bersifat laboratoris, tidak dapat mendeteksi kerusakan akibat fungi atau mikroba lainnya dan bersifat merusak.Pengujian Tetrazolium menggunakan zat indikator 2.3.5 Trifenil Chloride Tetrazolium. Kegunaan uji tetrazolium untuk mengetahui viabilitas benih yang segera akan ditanam, untuk mengetahui viabilitas benih dorman, untuk mengetahui hidup atau matinya benih segar tidak tumbuh dalam pengujian daya berkecambah benih. Uji tetrazolium sebagai uji vigor bisa dilakukan, dengan cara membuat penilaian benih lebih ketat untuk katagori benih vigor diantar benih viabel. 1.2 Tujuan

Tujuan dalam praktikum ini adalah untuk mengetahui a.Dapat memecahkan dormansi benih karena selaput benih keras b.Dapat membandingkan berbagai metode pemecahan dormansi pada benih yang mempunyai selaput benih keras.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian dan Penyebab Dormansi Dormansi adalah suatu keadaan dimana pertumbuhan tidak terjadi walaupun kondisi lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan. Pada beberapa jenis varietas tanaman tertentu, sebagian atau seluruh benih menjadi dorman sewaktu dipanen, sehingga masalah yang sering dihadapi oleh petani atau pemakai benih adalah bagaimana cara mengatasi dormansi tersebut. B. Penyebab Dormansi Benih yang mengalami dormansi biasanya disebabkan oleh : Rendahnya / tidak adanya proses imbibisi air yang disebabkan oleh struktur benih (kulit benih) yang keras, sehingga mempersulit keluar masuknya air ke dalam benih. Respirasi yang tertukar, karena adanya membran atau pericarp dalam kulit benih yang terlalu keras, sehingga pertukaran udara dalam benih menjadi terhambat dan menyebabkan rendahnya proses metabolisme dan mobilisasi cadangan makanan dalam benih. Resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio, karena kulit biji yang cukup kuat sehingga menghalangi pertumbuhan embrio. Pada tanaman pangan, dormansi sering dijumpai pada benih padi, sedangkan pada sayuran dormasni sering dijumpai pada benih timun putih, pare dan semangka non biji. C. Pemecahan Dormansi 1. Benih padi Pemecahan dormansi benih padi dilakukan dengan cara melakukan perendaman dalam air panas pada suhu kurang lebih 400 C selama 24 jam sampai 48 jam. 2. Benih Timun Putih

Pemecahan dormansi dilakukan dengan cara membuka sedikit bagian ujung pangkal benih dengan menggunakan penjepit / alat pemotong kuku.
3. Benih Pare

Pemecahan dormansi dilakukan dengan cara membuka sedikit bagian ujung pangkal benih dengan menggunakan penjepit / alat pemotong kuku. 4. Benih Semangka Non Biji Pemecahan dormansi dilakukan dengan membuka sedikit ujung pankal benih dengan menggunakan penjepit / alat pemotong kuku dan merendam dalam larutan fungisida selama kurang lebih 5 menit, kemudian diletakkan dalam kertas yang digulung dan dimasukkan dalam kotak karton tertutup yang disinari lampu 5 Watt berwarna hijau selama kurang lebih 2 hari.

BAB III BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, 21 Oeptember 2011 pukul 13.00 WIB, di labor jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran.

3.2 Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
1. Larutan 2.3.5 Trifenil chloride tetrazolium 2. Pinset

4. 10 Benih Buncis 5. Oven

3. Cutter

3.3 Prosedur kerja

Prosedur kerja praktikum ini adalah:


1. Siapkan 10 benih Buncis 2. Benih buncis direndamkan selama 24 jam.

3. Belah bagian embrio untuk mempercepat masuknya larutan tetrazolium ke dalam benih. 4. Rendam benih tersebut dengan larutan Tetrazolium secukupnya sampai benih terendam seluruhnya. Untuk mempercepat proses pewarnaan bisa dipakai suhu 40oC selama 50-60 menit 5. Evaluasi/Pengamatan. Pengamatan dilakukan dengan melihat plumulanya, apakah warnanya merah, merah muda atau putih. Jika merah atau merah muda, diperkirakan benih tersebut dapat tumbuh. Jika putih maka benih tersebut diperkirakan tidak dapat tumbuh.

BAB IV HASIL PENGAMATAN

4.1 Hasil Setelah dilakukan uji tetrazolium di dapatkan hasil sebagai berikut :

Bewarna merah ada 9 Bewarna putih ada 1

% yang hidup = benih merah x 100% 10 = 9/10 x 100% = 90%

Data keseluruhan: Kelompok Benih % yang hidup

1 2 3 4 5 6 7 8

Kacang Tanah Buncis Kacang Merah Jagung Kedelai Kacang Merah Buncis Kacang Tanah

90% 80% 100% 100% 100% 60% 90% 80%

4. 2 Pembahasan Dari data yang telah didapat, kita mengetahui bahwa sebagian besar benih dapat hidup atau berkecambah normal setelah direndam dengan larutan 2.3.5 triphenil chloride tetrazolium

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Setelah melakukan praktikum uji tetrazolium, dapat diambil beberapa kesimpulan, seperti : Uji tetrazolium menggunakan teknik pewarnaan untuk mendeteksi sel yang hidup maupun yang mati, sehingga dengan cepat akan diketahui tingkat vigor benih yang diuji. Benih yang vigor dicirikan struktur tumbuh benih yang meliputi plumula, radikula, kotiledon dan embrio berwarna merah cemerlang atau merah. Sedangkan benih yang tidak vigor tidak mengalami pewarnaan pada struktur tumbuhnya atau bewarna putih.

5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

http://www.bsn.go.id/files/348256349/Litbang%202009/Bab%205.pdf

. http://ditjenbun.deptan.go.id/bbp2tpsur/images/stories/perbenihan/uji
%20cepat.pdf