1

ANAK HARIMAU Oleh Siauw Siauw
KUBURAN KUNO DI TENGAH HUTAN Matahari bersinar cerah menyoroti telaga Huan-yang ou yang beriak karena hembusan angin, udara tampak cerah dan bersih, udara di musim gugur memang terasa lebih nyaman dan semilir. Sebuah perkampungan nelayan berdiri di tepi telaga, rumah bambu yang berjajar di antara sela-sela dedaunan nan hijau tampak berderet memanjang menampilkan suatu pemandangan yang indah. Sepanjang bendungan tampak jala yang dibentangkan di bawah terik matahari, nona-nona muda duduk berkumpul di bawah pohon yang rindang sambil menambal jala-jala yang robek. Kaum wanita dan ibu-ibu sedang mencuci pakaian di tepi telaga, sedang anak-anak saling berkejaran diiringi teriakan dan jeritan gembira. Saat itu, sekumpulan gadis nelayan sedang duduk berkerumun sambil membicarakan seorang tamu dari utara yang menginap di rumah Thio lopek, seorang kakek yang ramah bersama seorang gadis yang cantik dan se-orang anak lelaki berkulit hitam.... Tampaklah seorang gadis nelayan berbaju hijau yang berambut kepang, sambil menghentikan sulamannya memandang ke arah seorang gadis berbaju kembang-kembang di hadapannya sana, kemudian berseru: "Enci Ing cun, nampaknya sahabat dari Thio lopek adalah seorang yang berwajah hokki, coba lihat rambutnya yang putih, jenggotnya yang berwarna perak, kalau berjalan halus dan lembut, tidak seperti Thio lopek, mana matanya segede jengkol, alis matanya tebal, kumisnya malang melintang, hiiih, mengerikan ...." "Aaah, Ji-niu, masa kau tidak tahu? Thio Lopek kan seorang jago silat sedang tamu dari utara ia orang sekolahan, tentu saja berbeda," sela seorang nona bercelana hijau. Seorang nona berumur lima enam belas tahun lainnya ikut menimbrung dengan wajah serius. "Aku rasa tamu dari utara itupun seorang ahli silat, buktinya setiap kali ke tiga putra Thio lopek beradu silat dengan si bocah jaliteng dari utara itu, yang kalah selalu ke tiga putra Thio lopek " "Yaa.... yaa, betul, apa yang dikatakan adik Kim-hoa memang benar," gadis nelayan yang bernama Ing-cun itu berseru ce-pat: "apalagi si nona cantik dari utara itu, mana bajunya serba merah, cantik lagi, hakekatnya

2

seperti cabe merah. Sekali melompat ke atas, atap rumah orangpun dilalui. . ." Belum habis dia berbicara, mendadak dari arah dusun sana terdengar suara bentakan gusar. Diikuti sekumpulan anak-anak desa bersorak sorai dan berlarian menuju ke dalam hutan bambu di tepi dusun. Nona-nona nelayan itu segera melongok bersama ke arah hutan bambu, kemudian salah seorang diantaranya berseru sambil tertawa: "Nampaknya ke tiga orang putra Thio Lopek lagi-lagi menantang si Jaliteng untuk berduel!" Belum habis dia berbicara, sorak sorai anak-anak dusun itu kembali berkumandang dari balik hutan bambu. Mendengar sorakan itu, nona-nona nelayan itu saling berpandangan sambil tertawa, seakan akan mereka berkata: "Sudah pasti Thio Toa-keng anaknya Thio lopek kena dibanting lagi oleh si Jaliteng!" Mendadak mencorong sinar terang dari balik mata seorang nona nelayan, lalu jeritnya kaget: "Hei, coba kalian lihat!" Ketika semua orang berpaling, tampaklah dari atas tanggul telaga lebih kurang puluhan kaki di depan sana, muncul sesosok bayangan kecil yang mengenakan jubah panjang. Tapi oleh karena ilalang yang tumbuh di sekitar tanggul amat tinggi dan bergoyang terhembus angin, maka bayangan itu tidak nampak jelas, tapi mereka yakin kalau orang itu adalah seorang sekolahan dari kota, sebab di seluruh dusun nelayan itu tak pernah dijumpai ada orang yang mengenakan jubah panjang. Lambat laun bayangan itu makin mendekat, sekarang baru terlihat jelas, ternyata bayangan kecil itu adalah seorang bocah lelaki berbaju biru. Bocah lelaki itu berusia lima enam belas tahunan, berwajah tampan dan bergigi putih, tubuhnya tegap dan mukanya ganteng, sungguh nampak menarik hati. Terutama sekali sepasang biji matanya yang jeli, penuh dengan pancaran sinar kecerdasan. Ujung bajunya yang berwarna biru berkibar terhembus angin, sedang sorot matanya yang jeli memandang ke sana ke mari, agaknya dia sedang menikmati keindahan alam di sekitar telaga. Wajahnya yang tampan tampak berubah ubah, sementara keningnya kadangkala berkerut, kadangkala pula senyuman menghiasi bibirnya.

3

Dengan terkesima, kawanan gadis nelayan itu memperhatikan wajah pemuda itu, seakan akan mereka sedang menyaksikan sesuatu yang sangat indah. Sebaliknya pemuda itu seakan akan tak pernah melihat kalau di bawah pohon yang rindang, duduk sekelompok gadis nelayan yang sedang memperhatikannya. Karena waktu itu dia sedang melamun, ia sedang berpikir bagaimana dia harus melaporkan kisah perjumpaannya dengan bibi Wan kepada ayahnya sesudah tiba di dalam kuburan kuno di tengah hutan nanti, Teringat akan keagungan wajah Bibi Wan nya itu, kembali sepasang alis matanya berkerut. Ia tidak tahu kalau ayahnya masih mempunyai seorang adik perempuan yang sudah setengah umur namun berwajah cantik, bahkan ibunya yang telah meninggal lima tahun berselangpun tak pernah membicarakan tentang soal ini, hal mana membuatnya merasa bingung dan tak habis mengerti. Dia pun tak tahu apa isi kotak kecil yang diperintahkan oleh ayahnya untuk diserah-kan kepada Bibi Wan, tapi kalau dilihat dari sikap ayahnya ketika berpesan sebelum berangkat, dapat dipastikan isi kotak tersebut tentu barang berharga. Tapi kalau membayangkan sikap tegang dan gugup yang terpancar dari wajah Bibi Wan setelah menyaksikan isi kotak itu, dapat diduga pula kalau benda itu adalah sebuah benda yang luar biasa. Mendadak ia tertawa lagi, mukanya kembali berseri, hatinya menjadi riang gembira lagi. Sebab dia terbayang pula dengan Ciu Siau cian, putri tunggal Bibi Wan nya itu. Enci Cian berusia setengah tahun lebih tua, mukanya putih halus, wajahnya cantik jelita, dia adalah seorang gadis cantik, yang alim dan baik hati. Selama tiga hari dia berada di rumah bibi nya, gadis itu jarang tertawa atau berbicara tapi perhatian terhadap dirinya amat besar. Sekalipun ia jarang berbincang-bincang dengan Enci Cian, ketika ia sedang duduk di sisinya. duduk membungkam sambil menikmati kecantikan wajahnya dan keanggunan sikapnya. Terutama sekali sepasang mata Enci Cian yang jeli dengan alis mata yang lentik, membuat siapa saja yang memandangnya merasa amat nyaman--Sorak sorai serombongan anak dusun dengan cepat membuat pemuda berbaju biru itu mendusin kembali dari lamunannya.

4

Ia lantas mendongakkan kepalanya ke depan, dijumpai nya serombongan anak sebaya dengan usianya sedang berteriak, bersorak dan menggoyang-goyangkan tangannya di dalam hutan bambu... Rasa ingin tahu dan dorongan sifat ke kanak-kanakannya membuat pemuda itu berjalan, menuju ke hutan tanpa terasa. Tapi baru berapa langkah kembali dia menjadi ragu, karena pesan dari Bibi Wan kembali mendengung di sisi telinganya. "..langsung pulanglah ke rumah, jangan berhenti di tengah jalan lagi..." Maka dia hanya melirik sekejap ke arah hutan bambu, kemudian melanjutkan kembali perjalanannya Dia masih ingat, setelah melewati dusun nelayan itu, dia harus menelusuri sebuah jalan setapak di arah barat laut sana. Mendadak terdengar suara bentakan gusar menggema di dalam hutan, diikuti anak-anak dusun yang sedang bersorak sorai itu membuyarkan diri ke mana-mana. Tak tahan pemuda berbaju biru itu segera berpaling, dengan cepat ia menjumpai. seorang anak lelaki berkulit hitam dan berbaju hitam, berusia paling banyak empat belas tahun terlempar ke luar dari balik hutan bambu. Menyusul kemudian muncul tiga orang anak dusun yang berperawakan lebih besar dari anak berkulit hitam itu dengan mata melotot, mereka menyusul ke luar sambil mengepalkan tinjunya. Dasar pemuda berbaju biru ini memang berjiwa pendekar, hawa amarahnya segera berkobar sesudah menyaksikan kejadian itu, dia lupa dengan pesan bibi Wan, dengan suara lantang bentaknya: "Cepat berhenti, masa kalian bertiga mengerubuti satu orang? Huuh, tak tahu malu." Sambil membentak, ia turut menubruk ke muka. Serentak empat orang anak yang sedang berkelahi segera berhenti saling memukul, sedang anak-anak nakal yang berada di se-kitar hutan bambupun sama-sama mengalihkan sorot mata mereka yang terkejut ke arah pemuda baju biru itu. Menanti pemuda berbaju biru itu semakin mendekat, ia baru merasa kalau keadaan agak kurang beres, sebab empat orang anak yang berkelahi tadi kecuali seorang anak bertubuh agak besar yang sedang melotot gusar ke arahnya, tiga orang yang lain telah berdiri berjajar sambil tertawa. Tergerak hati pemuda baju biru itu dan ia segera menahan gerak terjangannya. "Aaah, jangan-jangan mereka sedang bermain-main?" demikian dia lantas berpikir.

5

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, anak yang melotot gusar telah maju menghampirinya dengan sepasang kepalannya dikepalkan kencang-kencang. Pemuda berbaju biru itu sangat menyesal, ia merasa tidak seharusnya mencampuri urusan orang lain, tapi hatinya mendongkol juga setelah melihat tampang anak desa yang jumawa itu. Setibanya satu kaki di hadapannya, anak dusun itu melotot gusar ke arah pemuda berbaju biru itu. kemudian tegurnya dengan suara dalam: "Hei, kau datang dari mana? Mau ikut-ikutan yaa?" Pemuda berbaju biru itu berdiri tenang, tapi melihat sepasang kaki lawan bersikap dalam bentuk kuda-kuda, sepasang tinjunya dikepal kencangkencang, jelas ia bermak-sud hendak berkelahi, amarahnya makin berkobar. Ia mencoba berpaling ke arah bocah dusun yang lain, dua orang anak yang terlibat dalam perkelahian tadi, seorang anak berbadan gemuk seperti babi kecil, dan seorang anak kurus seperti monyet sedang tertawa haha hihi sambil berbisik-bisik dengan anak berkulit hitam itu. Sementara dia masih mengamati anak-anak itu, si anak dusun yang menantangnya telah membentak keras: "Hai, aku bertanya kepadamu datang dari mana, mengapa kau tidak menjawab?" Pemuda berbaju biru itu menjawab de-ngan hati mendongkol. "Aku datang dari mana, apa urusannya denganmu?" Didamprat dengan pedas, anak dusun itu jadi terbelalak dengan wajah merah padam. Sedang anak-anak dusun lainnya yang berada di sekitar hutan segera tertawa terbahak-bahak mentertawakannya. Salah seorang di antaranya, seorang anak berbaju robek segera mengejek ke arah anak dusun itu. "Hmm, Thio Toa-keng, biasanya kau cuma berani menganiaya kami, coba rasain hari ini---" Dengan gemas Thio Toa-keng melotot sekejap ke arah anak berbaju robek itu, kemudian kepada si pemuda berbaju biru teriaknya lagi: "Kalau memang tak ada sangkut pautnya, mengapa pula kau datang mengacau permainan kami?" Agak memerah juga wajah si pemuda baju biru itu. tapi ia berteriak pula dengan mendongkol: "Belum pernah kujumpai orang yang tak tahu aturan seperti kau.. " Kemudian setelah melotot sinis ke arah Thio Toa-keng, dia membalikkan badan siap akan pergi.

6

Karena dia teringat lagi dengan pesan Bibi Wan nya, maka ia tak berani berada terlalu lama di situ. Suatu bentakan keras tiba-tiba menggema memecahkan kesunyian itu, angin menderu-deru dan sesosok bayangan manusia telah menghadang di depan lelaki berbaju biru itu. Dengan perasaan gusar pemuda berbaju biru itu mundur ke belakang, belum sempat ia menegur, anak-anak dusun lainnya telah bersorak sorai. "Hoooree--- hooooree-- Enci Soat telah datang, Enci Soat telah datang- -" Serta merta pemuda berbaju biru itu berpaling, dia saksikan sesosok bayangan merah berkelebat lewat dari balik hutan bambu, lalu di depan kawanan anak dusun itu telah berdiri seorang anak perempuan berbaju merah darah yang menyoren pedang pendek. Anak perempuan berbaju merah itu berumur empat lima belas tahun, mukanya yang putih berbentuk potongan kwaci, matanya jeli dan besar, hidungnya mancung, bibirnya tipis, di atas rambutnya yang panjang tampak sebuah pita berbentuk kupu-kupu. Sarung pedang di punggungnya berwarna merah menyala, sepatunya juga berwarna merah dengan sepasang bola merah di ujung sepatu tersebut. Dengan kening berkerut dan bertolak pinggang, nona cilik itu sedang mengawasi si pemuda berbaju biru dengan sorot mata tajam. Pemuda baju biru itupun sedang menatap ke arahnya, dia hanya merasa dari balik hutan bambu muncul sebuah bola api dan tahu-tahu di depan matanya telah bertambah dengan seorang gadis baju merah yang kelihatan binal dan sukar dihadapi. "Lebih baik aku cepat-cepat meninggalkan tempat ini---" demikian ia berpikir. Tapi baru saja ingatan itu sempat melintas dalam benaknya. dari arah belakang telah terdengar suara bentakan lagi. "Siauya sedang mengajakmu berbicara, mengapa kau tidak menggubris---?" Begitu selesai membentak. angin tajam sudah menyambar ke punggungnya. Dengan cekatan pemuda berbaju biru itu berpaling, ia saksikan Thio Toa-keng sedang mengayunkan tinjunya sambil melotot marah. Pemuda berbaju biru tertawa dingin, ia segera miringkan badannya ke samping sambil menjatuhkan diri, lalu secepat kilat dia cengkeram pergelangan tangan Toa-keng. Kawanan anak dusun di sekitar hutan bambu menjerit kaget hampir bersamaan waktunya dengan ditangkapnya pergelangan tangan Thio Toakeng oleh bocah itu.

7

Thio Ji keng yang gemuk seperti babi kecil segera melotot gusar melihat kakaknya ditangkap orang bentaknya keras-keras. "Cepat lepas tangan . . . . " Di tengah bentakan keras tubuhnya me-nu-bruk ke depan, kepalannya langsung di ayunkan ke muka memukul kepala pemuda berbaju biru itu keras-keras. Dengan kening berkerut pemuda berbaju biru itu mendengus gusar, tangan kanannya yang menggenggam tangan Thio Toa-keng segera digetarkan keras-keras . . . "Duuk, duuk, duuk . . . " di tengah suara langkah kaki yang mundur ke belakang Thio Toa-keng merintih sambil meringis menahan kesakitan, sementara sepasang tangannya diayunkan kesana ke mari berusaha untuk menjaga keseimbangan badannya. Angin berhembus lewat, kepalan kecil dari Thio Ji-keng si anak berbadan gemuk seperti babi telah meluncur datang. Pemuda berbaju biru itu tidak gugup atau panik, dia segera merendahkan kepala sambil membuang bahu ke samping, lalu sambil maju ke depan dia bacok pergelangan tangan kanan Thio Ji-keng yang bulat gemuk dengan jurus Si gou huang gwat ( badak melihat rembulan). Pada saat itulah . . "Duuk. . . ! diiringi dengusan kesakitan. Thio Toa-keng yang terlempar mundur tak sanggup menjaga keseimbangan badannya lagi, ia terjatuh ke tanah lalu roboh terlentang dengan gaya empat kaki menghadap atas. Suara bentakan gusar dan jeritan kaget kembali bergema, pergelangan tangan kanan Thio Ji keng telah terpapas telak oleh bacokan bocah berbaju biru itu, sambil menahan kesakitan Thio Ji keng yang gemuk segera menerjang maju lebih ke depan. Dengan cekatan anak berbaju biru itu membalikkan badannya lalu melayang dua kaki ke samping. "Blaammm!" lantaran tenaga terjangan Thio Ji-keng kelewat besar dan ia tak sang-gup menahan tubuhnya, tak ampun tubuhnya terjerembab ke tanah dengan gaya "harimau lapar menubruk domba." Suasana di seluruh arena menjadi sepi, tiada orang yang bersorak sorai lagi, semua anak dusun itu berdiri terbelalak dengan wajah ketakutan, mereka bersama sama mengawasi pemuda berbaju biru itu dengan sorot mata terperanjat. Thio Sam keng yang kurus seperti monyet berdiri bodoh. sedang si jaliteng berdiri dengan mata melotot ke luar, diapun ter-perana dibuatnya.

8

Hanya si nona cilik berbaju merah yang masih berdiri sambil bertolak pinggang, sekulum senyuman acuh menghiasi bibirnya, sedang sorot mata yang dingin mengawasi pemuda berbaju biru itu tanpa berkedip. Agaknya Thio Toa-keng tahu kalau telah bertemu dengan "musuh tangguh". tanpa berbicara dia segera merangkak bangun, lalu sambil meraba pantatnya yang sakit dia menghampiri Thio Ji keng dan menarik bangun adiknya dari tanah. Tiba-tiba pemuda berbaju biru itu me-nyaksikan matahari telah condong ke barat dengan wajah gelisah dia lantas membalik-kan badan dan berlalu dari situ dengan langkah lebar. "Berhenti!" Nona cilik berbaju merah itu membentak keras. Sekali lagi pemuda berbaju biru itu merasa jengkel setelah mendengar bentakan yang dingin dan bernada memerintah itu, dia segera berhenti dan menengok ke arah si nona . . . . Tampak olehnya nona cilik berbaju merah itu berdiri dengan wajah tanpa emosi, matanya yang jeli menatap dingin ke arahnya, sikap maupun lagaknya amat angkuh dan jumawa. Dasar dalam hatinya sudah mangkel, melihat tampang seperti itu lagi, ibaratnya api bertemu bensin, kontan saja hawa amarah pemuda yang berbaju biru itu membara. Tapi dia kuatir ayahnya marah karena dia pulang terlambat, maka sambil menahan sa-bar katanya dengan suara dalam: "Ada urusan apa kau memanggilku?" Nona kecil berbaju merah itu melengos ke arah lain, sekejappun ia tidak memandang ke arahnya, kepada si anak berkulit hitam, pekat itu serunya dengan nada memerintah: "Adik Gou, kau coba kekuatannya!" Begitu nona cilik itu berseru, kawanan anak dusun di sekitar sana segera bersorak sorai, seolah-olah sedang memberi duku-ngan kepada si hitam tersebut: "Thio Toa-keng, Ji-keng dan Sam-keng juga tertawa senang sorot mata mereka me-man-carkan sinar harapan, mereka berharap si hitam bisa menghajar pemuda berbaju biru itu sampai babak belur, atau paling ti-dak bisa membalaskan sakit hati mereka. Anak hitam itu mengencangkan dulu ikat pinggangnya, lalu setelah menatap sekejap ke arah lawannya dengan sepasang biji mata yang hitam pekat, ia maju ke muka dengan langkah lebar. Sementara itu, si pemuda berbaju biru itu sudah melihat awan gelap di langit sebelah barat-daya, hatinya semakin gelisah, sebab dia tahu awan mendung telah menyelimuti langit yang makin gelap.

9

Dengan langkah tegap anak berkulit hitam itu telah tiba di hadapannya, mula-mula dia menjura lebih dulu, kemudian dengan bibirnya yang merah dia menegur; "Saudara, tolong tanya siapa namamu? Aku Wu Thi-gou mendapat perintah dari enci Soat untuk mencoba berapa jurus ilmu silatmu." Meski dalam hati pemuda berbaju biru itu merasa gelisah dan tak sabar, tapi dia tahu jika hari ini tidak unjuk gigi dan menentukan menang kalah, jangan harap dia bisa meninggalkan tempat itu. Maka ketika dilihatnya si anak berkulit hitam Wu Thi-gou bersikap sopan dan nampaknya seperti berpendidikan, mungkin murid seorang jago kenamaan, diapun balas memberi hormat. Sekalipun kukatakan namaku belum tentu kalian tahu, lebih baik tak usah di utarakan saja---" katanya tak sabar. Belum habis dia berkata, mendadak terdengar nona cilik berbaju merah itu menukas dengan suara dalam: "Sebutkan saja namamu, setelah kau ucapkan, bukankah kami akan mengetahuinya ?" Merah jengah selembar wajah pemuda berbaju biru itu, dengan gusar dia melotot sekejap ke arah gadis cilik itu, kemudian katanya kepada Wu Thigou: "Aku bernama Lan See-giok, cepatlah lan-carkan seranganmu!" Siau Thi-gou tidak sungkan lagi, sambil membentak dia lepaskan sebuah pukulan keras. Lan See-giok tahu bahwa si bocah hitam ini tak boleh dianggap enteng, dengan cekatan dia berkelit ke samping, kemudian mengayunkan telapak tangannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut. Apa yang diduga ternyata benar juga. baru saja Lan See-giok menggerakkan tubuhnya. permainan jurus serangan Siau Thi-gou (si kerbau baja kecil) segera berubah weess. weess! segulung angin tajam menyapu ke depan. dalam waktu singkat dia telah melancarkan lima buah serangan dahsyat. Untung saja Lan See-giok telah mempersiapkan diri sebelumnya, buruburu ia tangkis ancaman itu lalu berebut melepaskan serangan balasan, meski begitu, ia toh kena terdesak juga sampai mundur beberapa langkah dari posisi semula. Thio Toa-keng bersaudara. segera ber-sorak sorai kegirangan. Sedang anak-anak nakal lainnya ikut berteriak teriak sambil memberi semangat kepada kedua belah pihak, seakan akan mereka sedang menonton pertunjukan adu jago saja.

10

Si Nona berbaju merah pun tampak tertawa puas, dari balik bibirnya yang kecil mungil terlihat dua baris giginya yang putih bersih. Agak memerah paras muka Lan See-giok karena kena didesak mundur, amarahnya segera berkobar, permainan jurus pukulannya pun berubah, sekarang dia mulai unjuk gigi, sambil menyerbu ke depan . . . Sreeet! Sreeet! Sreeet Secara beruntun dia lancarkan tiga buah pukulan berantai yang maha dahsyat. Siau Gou - cu segera merasakan empat penjuru sekeliling tubuhnya diliputi oleh bayangan telapak tangan yang membukit, dengan susah payah dia harus menangkis kesana ke mari berusaha untuk meloloskan diri dari ancaman, tak ampun dia menjadi kelabakan setengah mati. Sekarang Thio Toa-keng bertiga tak bisa berteriak lagi, kawanan anak nakal di sekitar arenapun berhenti berteriak, sedang senyuman yang menghiasi ujung bibir si nona kecil berbaju merahpun turut menjadi lenyap. Seluruh arena menjadi hening, semua orang mengawasi Siau Gou cu dengan mata terbelalak dan perasaan kuatir, mereka kuatir kalau sampai si hitam kecil itu di kalahkan. Pertarungan makin lama berkobar makin seru, baik Lan See-giok maupun Siau Thi-gou sama-sama tak mau mengalah, kedua belah pihak mengerahkan segenap kepandaian silat yang dimilikinya untuk kemenangan. Matahari semakin condong ke barat, senja pun telah menjelang tiba, angin yang ber-hembus kencang membawa kelembaban udara, tampaknya hujan sudah hampir tu-run. Lan See-giok bertambah gelisah setelah menyaksikan keadaan itu, jurus serangan yang dilancarkan makin lama semakin kalut, untung saja ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya jauh lebih hebat dari pada Siau Thigou, sehingga beberapa kali dia berhasil menghindarkan diri dari ancaman bahaya. Mendadak terdengar seseorang membentak merdu: "Adik Gou, mundur!" Siau Thi-gou segera melancarkan tiga buah serangan berantai untuk mendesak mundur lawannya, kemudian menggunakan kesempatan itu tubuhnya melompat mundur sejauh satu kaki lebih dari posisi semu-la. Lan See-giok segera mendongakkan kepalanya, dia saksikan si nona cilik berbaju merah itu sedang berjalan mendekat dengan sikap yang sangat angkuh. Tampaknya kegagalan Siau Thi-gou untuk merobohkan Lan See-giok membuat nona cilik berbaju merah itu segera tampil sendiri untuk menghabisi lawannya.

11

Setelah berada di hadapan Lan See-giok, dengan angkuh nona berbaju merah itu ber-kata: "Aku bernama Si Cay-soat, tampaknya le-bih kecil dua tahun darimu, tapi kami sudah bergilir mengerubuti dirimu, rasanya sekalipun memang juga tidak gagah, maka sekarang aku hendak menetapkan tiga puluh gebrakan saja, menang atau kalah kita selesaikan dalam batas waktu tersebut---" Lan See-giok sudah habis kesabarannya sedari tadi, maka sahutnya. dengan cepat; "Bagus sekali, silahkan kau segera lancarkan serangan!" Si Cay-soat tidak sungkan lagi, dia segera melompat ke depan sambil mengayunkan telapak tangannya menghantam wajah anak lelaki itu. Paras muka Lan See-giok berubah hebat, buru-buru dia memiringkan badannya sambil menghindar. Bentakan nyaring kembali berkumandang, bayangan merah berkelebat lewat, bagaikan bayangan setan saja Si Cay-coat telah memburu ke depan, telapak tangannya langsung menghantam pinggang lawan. Lan See-giok menjadi sangat terkejut, peluh dingin jatuh bercucuran, dia baru merasa kalau kepandaian silat nona cilik ini berapa kali lipat lebih dahsyat dari pada si anak hitam tadi. Serta merta dia menjejakkan ujung kakinya ke tanah dan melejit satu kaki dari posisi semula, nyaris dia termakan serangan tersebut, menyusul kemudian sambil membentak keras, dia mengayunkan kembali telapak tangannya melancarkan serangan balasan. Tiba-tiba dari arah tanggul berkumandang suara gelak tertawa orang serta suara pembicaraan gadis-gadis nelayan yang sedang pulang ke rumah. Lan See-giok yang mendengar hiruk pikuk itu bertambah panik, dia lihat awan mendung sudah makin menyelimuti angkasa. Si Cay-soat ternyata cukup cerdas, dari kegelisahan di wajah orang, dia lantas tahu kalau anak inipun buru-buru ingin pulang ke rumah. Maka menggunakan kesempatan dikala pikirannya bercabang, dengan cepat tubuh-nya berkelebat ke muka, jari tangan kanan nya langsung menusuk ke atas jalan darah dipinggang anak itu. Lan See-giok amat terperanjat, dia ingin menghindar tapi tak sempat lagi, tahu-tahu jari tangannya sudah mengancam di depan mata, Satu ingatan segera melintas dalam benak nya, dengan jurus Hud liu ti hoa (menyapu liu memetik bunga), telapak kanannya segera membacok ke bawah keras-keras. Si Cay-soat segera tersenyum, jari tangan-nya dengan cepat menotok di atas jalan da-rah siau-yau-hiat di tubuh Lan See-giok.

12

Akan tetapi Lan See-giok tidak merasa apa-apa, telapak tangan kanannya masih melanjutkan bacokannya menghajar pergelangan tangan lawan. Si Cay-soat amat terkejut, pucat pias paras mukanya, Sambil menjerit cepat-cepat dia melompat mundur sejauh dua kaki dari tempat semula. Sayang, walaupun dia sudah berkelit dengan gerakan cepat, toh kelima jari tangan kanannya kena tersambar juga oleh angin pukulan yang dilancarkan Lan See-giok, kontan dia merasa kesakitan setengah mati. Menanti dia berpaling ke arah lawannya, waktu itu Lan See-giok sudah membalikkan badannya dan kabur menuju ke utara dusun dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Thio Toa-keng dan Siau Thi-gou. segera membentak keras, mereka melompat ke muka siap melakukan pengejaran. "Kembali . . . " Si Cay-soat segera membentak keras. Thio Toa-keng dan Siau Thi-gou membatalkan langkahnya dan berpaling ke arah nona cilik itu dengan sinar mata keheranan. Si Cay-soat berkerut kening, bisiknya kemudian dengan wajah agak bingung dan kosong : "Dia yang menang!" Sambil berkata, sepasang matanya yang bulat besar segera dialihkan ke arah baya-ngan punggung Lan See-giok yang menjauh dengan pandangan aneh. Sampai sekarang dia masih saja tidak habis mengerti, mengapa totokan jalan darahnya yang bersarang telak tadi bisa tidak bermanfaat apa-apa? Bayangan tubuh Lan See-giok sudah lenyap di luar dusun sana, tapi dalam hati kecil Si Cay-soat masih tertera jelas bayangan tubuhnya. Setelah meninggalkan perkampungan nelayan itu Lan See-giok merasa menyesal sekali karena kelancangannya mencampuri urusan orang, dia berpikir, saat itu ayahnya pasti sudah menunggu dengan tak sabar di luar hutan. Menelusuri jalanan yang kecil, dia berpikir terus ke hal-hal yang beraneka ragam- hatinya makin gelisah dan dia ingin cepat-cepat sampai di rumah, Setelah habis menelusuri tanah persawahan, dia berjalan menembusi semak belukar yang lebat dan akhirnya menembusi hutan belantara yang lebat sekali. Baru satu li dia berjalan menembusi hutan, seluruh angkasa telah berubah menjadi gelap gulita, angin malam berhembus kencang dan membawa udara yang dingin. Titik-titik cahaya api berkedip di balik hutan yang gelap, sebentar bergerak mendekat sebentar lalu bergerak menjauh cahaya api itu menambah suasana seram di sekitar sana.

13

Lan See-giok tahu kalau sinar titik api itu bernama api setan, konon merupakan setan- setan yang berjalan ke luar dari dalam kuburan untuk mencari sukma-sukma yang lain Tapi Lan See-giok tidak takut, dia percaya ayahnya pasti sudah menanti di ujung hutan sana, menanti kedatangannya. Maka dia segera mempercepat perjalanan nya menembusi hutan tersebut . .. Tak lama kemudian ia sudah sampai di ujung hutan, tapi . . di mana ayahnya? Ia tidak menjumpai bayangan tubuh ayahnya berada di situ. Dia segera berhenti, ternyata tempat yang dituju memang tak salah, ayahnya telah berkata dengan jelas, dia akan menunggunya di bawah pohon besar ini. Mungkinkah ayahnya tertidur di atas po-hon? Berpikir demikian dia lantas mendehem-dehem, tapi kecuali bunyi jengkerik dan binatang kecil lainnya, tidak terdengar suara jawaban ayahnya. Dengan cepat dia mendongakkan kepala nya dan memandang ke arah depan, hutan belantara tampak sangat gelap, api setan berkedip-kedip dan bergoyang ke sana ke mari terhembus angin, dia seolah-olah menyaksikan api setan itu makin lama makin membesar dan akhirnya lambat-lambat seperti nampak munculnya sesosok ba-ya-ngan setan. Lan See-giok mulai ketakutan, dia segera berpikir: "Mengapa ayah tidak menjemputku?" Dia tahu dari sini sampai di kuburan kuno itu masih cukup jauh, dia harus melewati dua buah tebing tinggi, tiga buah tanah pekuburan dan sebuah sungai seluas satu kaki. Dia tidak takut ular beracun atau babi hutan, tapi dia takut dengan jeritan burung hantu, suaranya yang menggetarkan sukma cukup mendirikan bulu roma siapapun yang mendengarnya. Teringat jeritan burung hantu, bulu kuduk Lan See-giok segera pada berdiri, dalam keadaan begini betapa besarnya dia berharap ayahnya bisa datang menjemputnya. la maju beberapa langkah lagi ke depan, semak belukar sudah setinggi lutut, tak jauh di balik hutan sana adalah sebuah tanah pekuburan yang sudah porak poranda keadaannya. Hampir sebagian besar kuburan di situ sudah hancur, batu nisan berserakan. peti mati pada merekah, bahkan tulang belulang manusia yang tak terurus tergeletak di sana sini menimbulkan cahaya api setan yang menggidikkan hati....

14

Walaupun sejak kecil Lan See-giok telah belajar silat, bagaimanapun juga dia hanya seorang anak berusia lima enam belas tahun, sewaktu kecil dulu dia sering mendengar ibunya bercerita tentang setan. Membayangkan kembali cerita setan yang pernah didengarnya dulu, anak itu semakin ketakutan, tanpa terasa dia berteriak keras. "Ayah, anak Giok telah pulang!" Suasana amat hening, kecuali beberapa ekor ayam alas yang berlarian karena kaget, tak nampak sesosok bayangan manusiapun yang muncul di sana. Lan See-giok sangat kecewa, dia tahu dalam keadaan begini dia harus pulang sendiri ke kuburan kuno. Maka setelah menghimpun tenaganya dan memusatkan pikiran, dia segera mengerah kan ilmu meringankan tubuhnya bergerak menuju ke depan. Setelah melewati tanah pekuburan yang terbengkalai itu, keadaan mega semakin meninggi, hutan semakin rapat dan suasana pun semakin gelap gulita .... Sepanjang perjalanan, Lan See-giok menyaksikan burung-burung beterbangan karena takut, dua tiga babi hutan mengejar dengan kencang, diapun menyaksikan ular-ular beracun dengan sorot matanya yang buas muncul dari balik tulang kerangka manusia atau peti mati yang berserakan... Tapi anak itu tidak mengambil perduli, dia berlarian terus dengan kencangnya menuju ke tempat tujuan. "Beberapa saat kemudian ia telah melewati dua buah tebing dan sebuah sungai kecil, di depan sana terbentang hutan pohon siong, di dalam hutan itulah terletak kuburan kuno tempat tinggal ayahnya. Selama ini Lan See-giok selalu tidak habis mengerti apa sebabnya ayahnya pindah ke dalam kuburan kuno itu, berapa tahun setelah pindah ke sana, ibunya meninggal dunia, sejak saat itulah ayahnya menjadi seorang yang pemurung. Beberapa kali dia menyaksikan ayahnya duduk tepekur sambil bermuram durja, adakala ayahnya menjadi berangasan dan suka marah-marah, tapi ada kalanya pula dia nampak amat gelisah dan tidak tenang . . . Lan See-giok tahu kalau ayahnya pasti mempunyai suatu rahasia besar yang tak ingin diketahui orang lain, diapun menduga ibunya pasti mati karena merasa murung dan sedih karena persoalan ini. Dia ingin sekali mengetahui rahasia tersebut, dia bersedia membantu ayahnya untuk memikirkan persoalan itu, tapi dia tak berani bertanya,

15

diapun tahu sekalipun di tanyakan, belum tentu ayahnya bersedia menjawab. Mendadak dari atas pohon tak jauh di hadapannya sana, terdengar bunyi burung hantu yang memekakkan telinga. Lan See-giok merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri, dengan cepat dia men-dongakkan kepalanya ke depan, ternyata dia sudah berada dalam hutan siong, jarak nya dengan kuburan kuno itu sudah tak jauh lagi. Di depan matanya kini muncul sebuah tugu yang terbuat dari batu hijau, di atas permukaan tugu itu tertera dua huruf yang amat besar: "ONG LENG." Akhirnya sampai juga di tempat tujuan, Lan See-giok merasa girang sekali, ia mempercepat larinya menuju ke depan. Setelah melewati tugu itu muncullah sebuah jalanan beralas batu yang sangat lebar, panjangnya puluhan kaki, di kedua belah sisi jalan besar itu berjajar patung-patung kuda, patung kambing, patung orang dan lain sebagainya. Di ujung jalan tersebut adalah sebuah pintu bangunan yang sudah ambruk, yang tersisa tinggal tiang-tiang penyangganya saja. sedang bangunan itu sendiri telah porak poranda. Dalam bangunan yang porak poranda terdapat sebidang tanah pekuburan yang luasnya mencapai puluhan hektar, puluhan buah kuburan besar berserakan di sana sini. batu bong pay berdiri kekar di depan setiap kuburan itu, tapi tulisannya sudah buram. Terbayang kalau sebentar lagi bakal berjumpa dengan ayahnya, Lan Seegiok merasa amat gembira, ia telah mempersiapkan ucapannya yang pertama begitu bersua dengan ayahnya nanti, ia hendak mengatakan bahwa kotak kecil itu telah diserahkan kepada Bibi Wan yang anggun tersebut. Begitu besar keinginannya bertemu dengan ayahnya, dia tak ingin berjalan berputar lagi, dengan suatu lompatan cepat ia melewati tanah pekuburan itu langsung menuju ke depan sebuah kuburan yang paling besar. Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya paling hebat, ayahnya sering memuji akan kehebatannya, sedang kepandaian kedua yang paling ampuh adalah ilmu Gi-hiat kang, kepandaian untuk menggeserkan tempat kedudukan jalan darah. Tanpa terasa ia teringat kembali pertarungannya dengan Si Cay-soat belum lama berselang, kepandaian silat nona itu memang sangat hebat, coba kalau dia tak pandai memindahkan letak jalan darah, niscaya dia sudah dipecundangi orang.

16

Sementara masih melamun, dia telah melayang turun di depan kuburan ke depan yang menghadap ke arah timur laut. Tiba di depan kuburan itu, ia saksikan pintu rahasianya terbuka lebar, mungkin ayahnya lupa untuk menutup kembali. Tanpa sangsi lagi Lan See-giok melompat masuk ke dalam kuburan, menelusuri anak tangga dan berlarian menuju ke ruang dalam. Suasana di dalam kuburan itu gelap gulita hingga lima jari tangan sendiri pun susah dilihat, tapi Lan See-giok sudah banyak tahun berdiam di sini, sekalipun harus berjalan dengan mata meram pun dia dapat mencapai ruangan dalam. Sesudah melewati dua tikungan, akhir nya dari dalam ruangan bulat di depan sana nampak setitik cahaya lentera. Lan See-giok amat gembira, dia tahu ayah-nya belum tidur, dengan suara lantang segera teriaknya: "Ayah, anak Giok telah kembali!" Sambil berteriak gembira dia segera menubruk ke depan. Tapi dengan cepat anak itu berhenti dengan wajah tertegun, ternyata ia tidak menjumpai ayahnya berada di sana. Cahaya lentera memancar ke luar dari sebuah lampu minyak di atas meja, cahaya itu amat redup sehingga suasana di seluruh ruangan itu remangremang dan terasa menyeramkan. Pembaringan di sisi dinding ruangan nampak rapi, di atas meja besar dekat pembaringan terletak senjata gurdi emas "Cing kim-kong-luau-jui!" senjata andalan ayahnya. Gurdi emas itu berujung runcing dan amat tajam, bagian ekornya lebih kasar dan besar hingga bentuknya mirip jarum. Senjata itu kalau lemas bentuknya seperti seutas tali, tapi kalau sudah disaluri tenaga dalam bentuknya mirip gurdi, tanpa tenaga dalam yang sempurna jangan harap orang bisa memainkan senjata semacam itu. Begitu melihat senjata gurdi emas milik ayahnya masih tergeletak di atas meja, Lan See-giok segera tahu kalau ayahnya tidak pergi. Mendadak . . . Segulung bau amisnya darah berhembus lewat dan menusuk hidung anak itu. . . Lan See-giok merasa sangat terkejut, dengan cepat dia mengendusnya beberapa kali, benar juga, bau yang menusuk hidung itu adalah bau amisnya darah segar. Hatinya menjadi amat tercekat. tanpa terasa dia mundur dua langkah, sementara perasaan seram menyelimuti seluruh benaknya.

17

Pada saat itulah dari luar kuburan terdengar bunyi burung hantu berpekik keras, suaranya terdengar amat menyeramkan .... Lan See-giok segera bergidik, bulu kuduknya pada bangun berdiri, tanpa terasa dia berteriak dengan suara keras: "Ayah. . . ayah . . . ayah . . ." Teriakan anak itu kedengaran parau dan diselingi isak tangis yang gemetar. Tapi, kecuali suara dengungan keras dari balik lorong yang memantulkan suaranya, tidak terdengar suara jawaban dari ayahnya. Kembali terendus bau amis darah yang amat menusuk penciuman. Sekali lagi Lan See-giok terperanjat, dia berusaha mengumpulkan segenap kemampuannya untuk meneliti ruangan itu. Tiba-tiba mencorong sinar terang dari balik matanya, ia saksikan di sebelah kiri meja batu nampak sesosok bayangan hitam berada di sana. Dengan suatu kecepatan kilat dia menyambar lentera di meja dan menghampiri bayangan itu. Di bawah cahaya lentera yang redup, ia segera menyaksikan suatu pemandangan yang menyeramkan, peluh dingin segera jatuh bercucuran, sukmanya serasa melayang meninggalkan raganya. Lan See-giok betul-betul berdiri kaku bagaikan patung, mukanya pucat, matanya terbelalak lebar sedang mulutnya ternganga lebar. Sebab bayangan itu tak lain adalah tubuh ayahnya, tubuh ayahnya yang tergelepar di atas genangan darah. Cepat dia letakkan lentera itu ke meja, lalu sambil menjerit dan menangis dia menubruk ke atas tubuh ayahnya dan menangis tersedu sedu. Seketika itu juga dalam seluruh kuburan itu dipenuhi oleh suara isak tangis yang penuh kesedihan, keseraman dan kengerian. Lan See-giok menangis terus sampai air mata yang ke luar berubah menjadi darah sambil menangis tersedu sedu, dia mulai memeriksa jenazah ayahnya itu. Ia saksikan ayahnya tewas dengan mata melotot mulut ternganga, noda darah menyelimuti seluruh wajahnya, jenggot yang putih dan rambut yang putihpun penuh dengan darah, sekilas pandangan saja dapat diketahui kalau ayahnya tewas akibat suatu gempuran tenaga pukulan dahsyat yang menghancurkan isi perutnya. Ditinjau dari posisi ayahnya sewaktu jatuh setelah menyadari kehadiran musuh tak di undang, ayahnya buru-buru menyambar senjata gurdi emas yang tergeletak di meja sayang sebelum maksudnya tercapai, punggungnya sudah kena dihajar lebih dulu.

. angin malam berhembus kencang mengiringi suara hujan yang turun dengan deras. bila dia sampai melakukan suatu gerakan. Tapi dia tahu. la merangkak di tanah dan pelan-pelan membuka matanya lalu melirik ke arah orang itu. merintih pun tidak. yang tersisa hanya suara dengungan keras yang memantul ke mana-mana. usaha membalas dendam bisa dilakukan di masa mendatang. dengan kepandaian silat ayahnya yang begitu lihai pun bukan tandingan lawan. dia menjerit keras lalu muntah darah segar. Kebetulan orang itu berdiri di belakang tubuhnya sehingga di atas dinding tertera sesosok bayangan manusia yang tinggi besar. kalau bisa dengan suatu gerakan secepat kilat untuk membinasakan orang yang sedang menggeledah sakunya itu. ia tak tahu siapakah orang itu? Tapi ia yakin orang itu sudah pasti adalah pembunuh biadab yang telah membunuh ayah nya. gusar dan takut segera menyelimuti seluruh perasaan Lan See-giok. pihak lawan pasti akan menyadari akan hal itu. . Lan See-giok menggigit bibirnya kencang-kencang menahan rasa sakit. malam itu benar-benar suatu malam yang amat mengenaskan. Dia ingin membalikkan badan sambil me lancarkan serangan. Isak tangis dalam kuburan itu segera terhenti. tubuhnya segera terkapar di atas tanah dan tak sadarkan diri. Di luar kuburan.18 Tak terlukiskan rasa sedih yang menyelimuti perasaan Lan See-giok waktu itu melihat ayahnya mati secara begitu mengenaskan. Mendadak--Lan See-giok yang lambat-lambat mulai sadar kembali dari pingsannya merasa ada seseorang menotok jalan darah Hek ci hiat nya keras-keras. dia berharap bisa menyaksikan raut wajah orang itu dari bayangan badannya. asal dia mengerahkan tenaga. . asal wajahnya teringat. orang itu seperti sedang mencari sesuatu dari dalam saku dan bagian tubuh lainnya--Kejut. Menyusul kemudian sebuah tangan dengan gugup dan panik menggeledah seluruh tubuhnya. Lan See-giok membuka matanya lebar-lebar. "Blaam!" tiba-tiba orang itu menendang tubuhnya keras-keras sampai mencelat dan terbalik. bukankah tindakan tersebut ibaratnya telur diadu dengan batu? Maka dia bermaksud untuk mengintip dulu siapa gerangan orang itu. diam-diam ia membuka matanya dan mencoba untuk mengintip. Berpikir begitu.

syukur dia tidak jadi melancarkan serangan gelap terhadap orang itu. tahu orang itu belum pergi. sebab menurut perasaan nya. jenggotnya tidak banyak. tapi dia yakin.. bahkan ada kalanya diiringi pula suara benda berat yang menyentuh lantai. Lan See-giok tak berani bergerak. Mendadak terdengar orang itu berguman dengan perasaan keheranan. sekali lagi hatinya merasa bergetar keras. kemudian terdengar seseorang tertawa terbahak-bahak. Tapi ia tak habis mengerti mengapa orang itu menyembunyikan diri secara tiba-tiba ? Pada saat itulah terdengar suara ujung baju terhembus angin berkumandang datang dari arah mulut lorong rahasia: Lan See-giok terperanjat. hampir saja dia mengeluarkan suara. . Setelah berguman. Tampak bayangan manusia berkelebat lewat. hidungnya mancung. dia sedang berdiri di sana seperti lagi termenung memikirkan sesuatu. dia tahu kembali ada jago lihay berkunjung ke situ. darah segar dalam rongga dadanya serasa bergelora keras. "Tiba-tiba tangan itu berhenti menggeledah kalau dilihat dari bayangan yang tertera di atas dinding. Lan See-giok yang tertelungkup di tanah merasa telinganya sakit sekali oleh getaran suara tertawa yang memekikkan te1inga itu. Tapi setelah dipikir lebih lanjut. tampaknya orang itu seperti memasang telinga dan memperhatikan sesuatu. bersamaan itu pula dia lantas paham kenapa orang itu secara tiba-tiba menyembunyikan diri ke belakang pembaringan. tahu-tahu orang itu sudah lenyap dari pandangan. kesempurnaan tenaga dalam yang di miliki orang ini benar-benar luar biasa. kening dan dagunya sempit. Sementara itu suara ujung baju yang terhembus angin kedengaran semakin jelas. orang itu sekali lagi membungkukkan badan dan menggeledah seluruh badan Lan See-giok . tinggi besar. orang ini pasti tinggal di sekitar telaga Huan-yang ou. memakai baju pendek celana panjang.19 Orang itu berperawakan. nampaknya orang itu sedang menyembunyikan diri di sisi pembaringan. kenapa tidak ada juga?" Walaupun Lan See-giok tak berpengalaman dalam dunia persilatan hingga tak dapat membedakan dialek setiap propinsi. "Aneh. sebab menurut arah bergeraknya bayangan di atas dinding. cuma beberapa gelintir. Kemudian tampak bayangan manusia berkelebat lewat...

haaah. Setibanya di sisi tubuh Lan See-giok. Lan See-giok yang tubuhnya ditusuk-tusuk oleh toya besi itu merasakan sekujur badannya kesakitan. orang itu sudah tiba di depan jenazah ayahnya. maka ia tidak menganggap serius akan hal itu.. sungguh tak disangka Kim cui gin tan (gurdi emas peluru perak) Lan tayhiap juga akan mengalami nasib seperti hari ini. dia berseru lantang: "Lan Khong-tay wahai Lan Khong-tay.. Sementara dia masih termenung. tapi. Mendadak orang itu menghentikan perbuatannya. Kalau diamati dari suara tertawa serta nada pembicaraan orang itu. kembali dia tertawa terbahak-bahak. hmmm . dia hanya ingin tahu siapakah pembunuh ayahnya. karena dalam hatinya penuh diliputi kobaran api dendam yang membara.. meski demikian ia sempat melihat kaki kiri orang itu sudah kutung. bisa diperkirakan kalau usianya di atas empat puluh tahunan.20 Terdengar pendatang itu menghentikan suara tertawanya. menyusul kemudian terdengar suara ketukan keras bergema semakin dekat. suatu ketika sakit hati ini pasti akan dituntut balas. Ia merasa perlu untuk memperhatikan wajah orang ini. orang itu mulai menyentuh badannya dengan ujung tongkat besi itu meski maksudnya untuk menggeledah namun hal itu dilakukan tidak serius.. bahkan terasa pula getaran keras yang menggetarkan sukma... Lan See-giok tahu. orang itu sudah berjalan ke arah-nya. apalah gunanya?" Selesai berkata. kemudian tanpa perasaan takut barang sedikitpun jua. sekalipun mempunyai barang itu. pendatang adalah seseorang yang kenal dengan ayahnya.. bahkan mempunyai ikatan dendam dengan ayahnya. se-dang di bawah ketiaknya terdapat sebuah tongkat besi yang amat berat menyanggah tubuhnya. bayangkan saja betapa gagahmu dimasa lalu. Kini Lan See-giok tidak merasa takut. "Siapa di situ?" . maka cepat-cepat dia memejamkan ma-tanya kembali. Karena pendatang itu sudah menduga bahwa pembunuh yang telah membinasakan si Gurdi emas peluru perak Lan Khong-tay tentu sudah menggeledah pula tubuh bocah itu. dalam hati dia bersumpah. haaah. siapa tahu dari orang ini di kemudian hari dia bisa menyelidiki siapa gerangan orang berjenggot yang berhidung mancung itu? Baru saja Lan See-giok akan membuka matanya. kemudian sambil mendongak kan kepala dia membentak keras. suara ketukan keras yang bergema kian bertambah keras. tapi dia menggertak gigi sambil menahan diri.

saking kagetnya dia sampai bergidik dan lupa kalau dia sedang berlagak seakan akan tertotok jalan darahnya. Siapa tahu belum sempat dia melangkah ke depan mendadak dari luar kuburan telah terdengar suara si pincang sedang mencaci maki dengan penuh kegusaran... dia mengayunkan tongkat besinya sambil menghantam tubuh orang itu. Orang yang berada di depan tidak mengeluarkan suara berang sedikitpun juga. hanya secara tiba-tiba tangan kanannya diayunkan ke belakang. dia sempat menyaksikan paras muka yang sebenarnya dari pembunuh keji tersebut. Lan See-giok tahu bahwa orang yang berada di depan adalah orang yang telah membinasakan ayahnya. buru-buru dia membalikkan badan sambil berpaling--Tampak olehnya di balik lorong di samping pembaringannya sana terdapat dua sosok bayangan manusia sedang berkelebat saling mengejar. Serentetan cahaya tajam bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya segera meluncur ke arah orang yang berkaki buntung.. Segera itu juga orang yang berkaki buntung itu tertawa terbahak-bahak. sedang yang berada di belakang adalah orang yang berkaki buntung. se-mentara kedua sosok bayangan manusia itu-pun lenyap dari pandangan mata. Kemudian terdengar pula suara senjata rahasia yang bergelinding ke sisi lorong. bayangan manusia nampak berkelebat lewat. tongkat bajanya di angkat ke atas dan. orang yang berkaki buntung telah membentak lagi dengan suara keras: "Sobat. . Dengan cepat Lan See-giok melompat bangun. jangan harap kau bisa kabur dari sini?" Ditengah bentakan. tahu-tahu orang itu sudah lenyap dari pandangan. dia masih berlarian terus ke depan. dia berharap dengan mengandalkan kehapalannya dengan daerah di sekitar tempat itu. Lan See-giok merasa telinganya kembali mendengung keras oleh suara bentakan la-wan yang memekikkan telinga. dia merasakan sekujur badannya linu dan sakit.. Sebelum dia sempat berbuat sesuatu. "traaang!" terdengar suara benturan keras yang disertai percikan bunga api tersebar dalam lorong gelap tersebut. tapi sambil menahan rasa sakit dia mengejar ke luar. sebelum meninggalkan barang itu.21 Di tengah bentakan tersebut.

pembunuh ayahnya akan di kejar terus dan dibunuh sampai mati.22 "Anak jadah. dia harus membinasakan pembunuh berhidung mancung itu sebelum menyusul ayah dan ibunya di alam baqa. sekalipun kau kabur ke ujung langit. anak bangsat peliharaan anjing. di luar kuburan hanya terdengar suara rintikan hujan serta angin malam yang menderu-deru.bsungguh kasihan kau--.-" Lan See-giok makin menangis semakin sedih. Seorang diri Lan See-giok bersembunyi di dalam kuburan. diamdiam ia berdoa. Sementara itu tengah malam sudah menjelang tiba. Di luar kuburan kembali terdengar suara pekikan burung hantu yang menyeramkan. dia berharap arwah ayahnya di alam baqa dapat melindunginya dan membantu nya untuk membalas dendam. Maka dia berjalan kembali ke samping jenazah ayahnya yang terkapar ditengah genangan darah. kemudian sambil berlutut dan mbenangis terseduj sedu. Dia berpikir. dia ingin mati bersama ayah dan ibunya. tapi dia tidak takut. Dia memang ingin mati. locu akan mengejarnya sampai dapat!" Lan See-giok tahu kedua orang itu sudah pergi amat jauh sekalipun hendak dikejar juga tak ada gunanya. Maka sambil memandang wajah ayahnya yang penuh noda darah. dia merasa tidak seharusnya mati sebelum sakit hati itu terbalas. tapi bila teringat akan dendam kesumatnya yang lebih dalam dari samudra. sekalipun harus menjelajahi sampai ke ujung langit. sekalipun badan harus hancur. kau anggap barang itu dapat kau telan seorang diri? Tidak begitu mudah. karena dia hanya memikirkan soal dendam kesumat. duduk di samping jenazah ayahnya dan di bawah cahaya lentera dia membersihkan noda darah dari atas wajah ayahnya yang pucat. pipi yang telah berubah menjadi merah karena dendam. Titik-titik air mata jatuh bercucuran mem-basahi pipinya. . dia tidak merasa ngeri. makin menangis semakin tak ingin hidup.tahukah kau anak Giok telah pulang--tahukah kau anak Giok telah menyelesaikan perintahmu dan menyerahkan kotak kecil tersebut ke pada bibi Wan. katanyag: "Ayah--.

juga amat hapal dengan daerah dalam kuburan tersebut. Sambil melelehkan air mata. tahu-tahu kebanjiran pengunjung pada malam ini. . b Mendadak . membuat siapa saja yang mendengarnya merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri. tapi." Dengan terkejut Lan See-giok segera ber-pikir. . karena dia tak tahu bagaimana caranya untuk menutup kembali sepasang mata ayahnya yang melotot besar penuh kemarahan itu. di balik pekikan itu penuh diliputi perasaan gelisah bercampur gusar. dia bertekad hendak melihat jelas paras muka pendatang itu.23 BAB 2 BAYANGAN IBLIS MULAI BERMUNCULAN MALAM semakin kelam . Suara pekikan itu amat tajam dan memekakkan telinga. . mengapa kuburan yang sudah banyak tahun tak pernah dikunjungi orang. Angin berhembus semakin kencang. lalu mendengar suara ujung baju terhembus angin menggema datang. . tangannya yang kecil masih saja mengelus mata ayahnya yang melotot besar. Tergerak hati Lan See-giok. Benda apa pula yang dimaksudkan si pincang tadi? Mendadak suara pekikan itu berhenti. Pekikan seram makin lama semakin mendekat. . . Tapi Lan See-giok masih tidak berkutik." Belum habis dia berpikir.. dia seolah-olah tidak mendengar suara pekikan itu. "Sungguh cepat gerakan tubuh orang ini.. Waktu itu. . "kalau dilihat dari kecepatan gerak tubuhnya jelas dia adalah seorang jago kelas satu dalam dunia persilatan. . sebab orang itu selain sempurna dalam ilmu meringankan tubruh. Lambat laun suara pekikan aneh itu makin keras dan menusuk pendengaran agaknya orang itu sudah tiba di luar kuburan.. Lan See-giok merasa makin terkejut lagi. hembusan angin tersebut sudah kedengaran semakin jelas. di bawah sinar lentera yang redup serta didampingi jenazah ayahnya yang membujur kaku. hatinya sedang merasa amat pedih. Lan See-giok masih memperhatikan wajah kelabu ayah-nya yang sudah membujur kaku di tanah. Terutama sekali bagi Lan See-giok yang seorang diri berada dalam kuburan. terdengar suara pekikan panjang yang memekakkan telinga berkumandang datang dari luar kuburan. Tapi sikap Lan See-giok masih tetap kaku tanpa perasaan. ada satu hal yang tidak dimengerti olehnya..

dapat diketahui orang itu belum sempat melakukan penggeledahan setelah berhasil melaksanakan perbuatan kejinya tadi. tanpa berpikir panjang dia segera menerobos kedalamnya. dia merasa besar kemungkinan orang ini adalah orang yang menotok jalan darahnya serta menggeledek seluruh badannya tadi. Kalau dilihat dari tindak tanduk orang itu sewaktu ke dalam kuburan serta tingkah lakunya yang tergesa-gesa sewaktu melakukan penggeledahan atas seluruh isi ruangan itu. wajahnya benar-benar mengerikan sekali. peluh di-ngin segera membasahi seluruh tubuhnya. Saat itulah bayangan manusia nampak berkelebat lewat. lalu dengan gugup ia mulai meraba empat kaki pembaringan di empat penjuru. matanya yang tinggal sebelah melotot besar seperti gundu. . Dengan perasaan gusar. Ternyata orang itu adalah seorang lelaki berjubah hitam. Mendadak. dia segera memutuskan kalau orang inilah pembunuh yang telah membinasakan ayahnya. Tergerak hati Lan See-giok setelah menyaksikan kejadian itu. Makin dipikir Lan See-giok merasa apa yang diduga makin cocok. tahu-tahu orang itu muncul di dalam ruangan dan langsung menerjang ke depan pembaringan ayahnya. Kemarahannya segera bergelora. Kemudian dengan marah dia melemparkan semua benda itu ke atas tanah. gigi taringnya nampak panjang.. dengan perasaan gusar bercampur berdebar dia mengintip ke luar . orang berbaju hitam itu membalikkan badannya.. . gelisah dan tak tenang orang itu nampak menggeledah seluruh pembaringan. Apa yang dilihat? Ternyata orang itu berwajah hijau penuh dengan bekas bacokan yang dalam. . . wajahnya juga tak nampak karena sedang menghadap ke arah pembaringan.. selimut dan bantal ayahnya. rambutnya sepanjang bahu berwarna kelabu. ia tidak bersenjata. Lan See-giok merasa tegang bercampur cemas. sementara jantungnya seakan akan mau me-lompat ke luar dari dalam rongga dadanya. Lan See-giok tersentak kaget. akhirnya dia merasa di belakang meja batu besar itu merupakan tempat persembunyian yang baik. ia siap sedia menyergap orang itu dari belakang.24 Buru-buru dia melompat bangun dan me-mandang sekejap sekeliling tempat itu. peluh telah membasahi telapak ta-ngannya.. diam-diam hawa murninya dihimpun ke dalam telapak tangannya.

hal ini membuat wajahnya nampak semakin mengerikan.. Setelah membalikkan badan tadi. Diam-diam Lan See-giok berkerut kening. tampang orang bermata satu itu betulbetul menggetarkan hatinya. tampbak olehnya oranjg bermata satu gitu sudah mengubmbar hawa amarahnya. dia berharap dari balik pecahan barang-barang tersebut bisa dite-mukan barang yang sedang dicari. dia kuatir si mata tunggal itu menemukan tempat persembunyian nya. Ia tidak takut mati.?" Begitu mendengar suara gumaman orang itu. sekali lagi Lan See-giok merasa kebingungan. . sebab suara orang itu parau dan berat. disembunyikan di manakah barang itu. lagi pula orang ini mengenaskan pakaian pendek. Lan See-giok semakin tak berani berkutik. Selain itu. Berada dalam keadaan seperti ini. . dia merasa hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri. sementara di hati kecilnya dia bertanya: Siapakah orang bermata satu ini ? Benarkah ayahnya tewas di tangan orang ini . . dia dapat mengenali suara orang ini tidak sama dengan suara orang yang menggeledah tubuhnya tadi. ditatapnya orang bermata satu itu lekat-lekat. hal ini menambah seramnya tampang orang ini. Belum habis dia berpikir. kakinya terlihat diayunkan ke sana kemari. Begitulah. tapi dia tak ingin mati sebelum dendam sakit hati ayahnya dibalas. Tapi akhirnya ia menghela napas dengan perasaan kecewa. diapun menyaksikan perawakan orang ini tidak sekekar orang yang menggeledah tubuhnya tadi. Kini sorot matanya mulai dialihkan ke atas lubang bangunan di langit-langit kuburan. sementara wajahnya nampak makin gelisah. . dengan mata tunggalnya yang tajam ia mulai memeriksa setiap sudut ruangan yang mencurigakan. ?. setelah memeriksa seluruh ruangan itu. semua barang yang berada di sekelilingnya segera beterbangan di angkasa. Lan See-giok tak berani berkutik. Dalam waktu singkat seluruh ruangan itu dipenuhi dengan suara hiruk pikuk serta pecahan barang yang tersebar ke mana-mana.. dengan nada gemas orang ber-mata satu itu berguman: "Aneh. peluh sebesar kacang ijo nampak bercucuran membasahi seluruh jidatnya.25 Mata sebelah kanannya yang buta ditutup dengan selembar kulit berwarna hitam. orang bermata satu itu menyepak dan menendang hancur barang-barang itu. Dengan penuh bernapsu. gigi taringnya yang panjang kedengaran bergemerutuk keras.

Diam-diam Lan See-giok menghembuskan napas lega. lalu dengan wajah berubah hebat dia menerjang masuk ke dalam ruangan sebelah.terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang datang dari balik ruangan tersebut. kau?" . Kekecewaan yanbg berulang kali kontan saja membuat orang itu bertambah marah. "Blaaammm!" diiringi suara nyaring senjata gurdi emas itu menancap di atas dinding dan tembus hingga ke belakang. Tak lama kemudian ia mendengar orang bermata satu itu menjerit kaget: "Haaah. Untung saja meja batu itu tinggi lagi besar. Tapi.. dengan suatu kecepatan tinggi tiba-tiba ia melompat ke depan meja batu itu. Mimpipun dia tak menyangka kalau di dalam kamar tidurnyapun terdapat kawanan musuh yang sedang menyembunyikan diri. begitu kagetnya dia sampai jantungnya seolah-olah terlepas. Tiba-tiba --. hampir saja ia menjerit keras saking kagetnya. ia melayang kembali ke tempat semula. ia tidak berhasil menemukan sesuatu dari balik lubang angin itu. Ternyata orang bermata satu itu sedang mengorek setiap lubang angin yang berada di langit-langit kuburan dengan senjata gurdi emas milik ayahnya. Lan See-giok terkesiap. sulit rasanya untuk menemukan tempat persembunyian itu. Ternyata orang bermata satu itu tidak bermaksud untuk menggeledah tempat itu. akhirnya dia melemparkan senjata gurdi emas yang berada di tangannya itu ke depan keras-keras.. Orang bermata tunggal itu sendiri juga nampak agak tertegun. Lan See-giok mengenali. maka bila orang itu tidak memeriksa dengan teliti. paras mukanya yang memang sudah mengerikan kini berubah semakin menggidikkan hati. gurdi tersebut menyambar ke arah dinding sebelah kiri. Dengan penuh perasaan mendongkol. ia segera mengintip kembali ke luar. sekilas perasaan girang menghiasi wajahnya yang seram.26 Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata tunggalnya. Lan See-giok yang bersembunyi di belakangnya menjadi sangat terperanjat. sebab setelah mengambil senjata gurdi emas yang terletak di meja. "Sungguh menggemaskan?" gumamnya menahan geram. Sekilas cahaya emas berkelebat lewat bagaikan serentetan cahaya bianglala. di balik dinding itulah terletak kamar tidurnya. jaraknya dengan dindingpun amat sempit. akhirnya orang bermata satu itu kembali menghela napas dengan wajah kecewa.

karena dia menduga orang yang bersembunyi dalam kamar sebelah tentu sudah mendengar doanya kepada ayahnya tadi . kemungkinan besar kehadiran orang-orang tak dikenal pada malam ini dikarena-kan kotak kecil tersebut. mendadak tampak sesosok bayangan hitam menyambar tiba disertai segulung angin tajam yang maha dahsyat. langit serasa menjadi gelap. tanpa sadar ia menjerit keras.. . tapi jika mereka mau melakukan penyelidikan dengan seksama.. "Blammm---!" sebuah benda yang mem-punyai daya pantul yang amat keras tahu-tahu sudah menghajar di belakang batok kepalanya. seluruh bumi serasa berputar. Tapi baru saja kepalanya digerakkan. Untuk sesaat suasana dalam kuburan kuno itu menjadi sepi. ia merasa dalam kuburan itu seakan akan bukan cuma dia seorang. dia tak tahu siapakah orang tadi? Masih hidupkah orang itu? Atau sudah mati? Tapi dia berharap orang itu sudah mati. panda-ngan matanya menjadi gelap dan tak ampun ia roboh tak sadarkan diri. Lan See giok merasakan peluh dingin jatuh bercucuran. tapi apakah isi kotak kecil itu? Kepergian si orang bermata satu yang tergesa-gesa tadi membuat Lan See giok merasa amat gelisah. ia seperti merasa ada sesosok tubuh manusia sedang berjalan mendekatinya dari belakang. dia tidak berharap orang bermata satu itu menolong orang tadi. Lan See giok sudah dapat men-duga. Lan See giok amat terperanjat. Lan See giok juga duduk termangu mangu. Kontan Lan See giok merasakan kepalanya seperti mau pecah. dia telah menyerahkan kotak kecil terrsebut kepada Bibi Wan. tak kede-ngaran sedikit suarapun. ia merasa bila kedatangan orang-orang itu benarbenar dikarenakan kotak kecil tersebut. tak sulit untuk menemukan tempat tinggal bibi Wan nya. Terbayang akan semua peristiwa tersebut.. Sekawrang. dia harus segera melaporkan kejadian ini kepada bibi Wan. . . hening. . makin lama suara itu makin lirih dan akhirnya lenyap di luar kuburan sana. Tanpa sadar dia segera membalikkan kepalanya ke belakang. Sekalipun mereka tak akan mengetahui nama dari bibi Wan. Mendadak Lan See giok merasakan firasat tak enak.27 Suara ujung baju yang terhembus angin segera berkumandang saling menyusul. karena hidupnya orang itu berarti bencana besar bagi bibi Wan. agar dia tahu kalau-kalau ayahnya sudah mati.

la tidak merasakan tubuhnya mencium tanah. Sementara itu. "Weess!" dihantamkan ke atas dada kakek itu keras-keras. secara beruntun dia mundur sejauh dua langkah. . Pelan-pelan Lan See giok membuka matanya. kakek yang berada di hadapannya telah tertawa ramah. Menghadapi perubahan yang terjadi amat mendadak. mendadak dia melompat bangun kemudian melotot dengan mata besar. Tiba-tiba terdengar seseorang menegur dengan suara yang lembut dan penuh perhatian: "Nak. . begitu mendengar teguran tersebut. ternyata orang yang berada di hadapannya adalah seorang kakek berambut putih. tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian dihimpun ke dalam tangan kanannya. . kau telah sadar ? Bagaimanakah perasaanmu sekarang?" Tiba-tiba Lan See-giok teringat kembali kejadian yang belum lama menimpa dirinya. . . ternyata segenap kekuatannya serasa hilang lenyap tak berbekas. kemudian sesosok bayangan manusia berbaju kuning. tak mungkin lagi buat kakek itu untuk menghindarkan diri. kau lagi marah kepada sibapa? Mengapa kaju lampiaskan kemarahanmu itu kepadaku?" . . sambil membentak keras. ia merasa tak bertenaga lagi. kemudian . . meski hanya untuk membuka kelopak matanya. tapi sudah pasti orang itu adalah seseorang yang telah berusia lanjut bahkan berperawakan tidak begitu tinggi. Lan See giok merasakan kelopak matanya sangat berat.pandangan pertama yang sempat terlihat olehnya adalah setitik cahaya len-tera.28 Sesaat sebelum jatuh pingsan. lalu tanya nya lembut: "Nak. Entah berapa saat sudah lewat. kepalan kanannya yang menghajar dada kakek itu serasa menghantam di atas gumpalan kapas. mungkin orang yang berada di belakangnya keburu menyambar badannya dan membaringkan ke tanah. . tak kuasa ia memejamkan matanya kembali. Kemarahan yang mencekam dalam dada nya tak bisa ditahan lagi. mungkin juga ia keburu tak sadarkan diri.. "Blammm!" pukulan dari Lan See giok itu secara telak bersarang di atas dada kakek itu. secara lamat-lamat dia masih sempat menyaksikan orang yang berada di belakang tubuhnya adalah seseorang yang berambut putih. Betapa terkejutnya Lan See giok setelah melepaskan pukulan itu.. la tak bisa membedakan apakah orang itu seorang kakek atau seorang nenek. apa lagi dalam jarak sedemikian dekatnya.

ia memakai jubah berwarna kuning dan bersikap amat gagah sekali. serunya dengan suara dingin: . . siapakah dia?" Diamatinya kakek berambut putih itu sekali lagi. dibandingkan dengan kemampuan lawan. berulang kali tanpa menjawab pertanyaannya. si kakek berjubah kuning kembali tertawa terbahak bahak setelah menyaksikan sinar mata Lan See giok berkedip dan wajahnya berubah. "Hmmm. tapi. dia menganggap semakin ramah kakek itu. dengan penuh pebrhatian kembalij dia bertanya: "Nak. Ia menggosok gosok matanya. Lan See giok segera merasa kalau kakek ini tidak mirip dengan orang jahat. dengan cepat ia menyadari apa sebabnya kakek itu belum juga pergi.29 Seraya berkata dia tertawa tergelak dengan penuh keramahan. "Yaa. jangan bermimpi di siang hari bolong. pikiran nya lebih jauh. Selain itu. sekalipun badan harus hancur tak nanti aku akan memberitahukan hal ini kepadamu. apa sebab-nya kakek berwajah ramah tapi berhati kejam ini tidak segera meninggalkan tempat itu setelah menghantam pingsan dirinya. diamdiam ia lantas memperingatkan diri sendiri agar jangan bertindak secara gegabah. selisih tersebut ibarat langit dan bumi. Setelah mendengus marah. dia cukup tahu keterbatasan tenaga dalam yang dimilikinya. bermuka merah dan bermata tajam tapi penuh keramahan. semakin menaruh perhatian kepadanya. kemudian pikirnya lebih jauh: "Sudah pasti dia" Tapi ia tidak habis mengerti. berarti semakin berbahaya dan jahat orang itu. sudah pasti dia ingin menanyakan tempat tinggal Bibi Wan" demikian dia ber-pikir." Sementara itu. malahan menunggu sampai ia mendusin kembali. Mendadak satu ingatan melintas kembali dalam benaknya. Tampak kakek itu berambut putih. siapakahb yang telah merobohkan dirimu?" Kemarahan dalam dada Lan See giok semakin membara. diam-diam pikirnya. "Orang yang menghantam kepalaku tadi berhati kejam. Maka sambil mendengus dingin. Buru-buru Lan See giok memusatkan pikirannya sambil perhitungan. kemudian melototi kakek ramah di hadapannya dengan pandangan penuh kebencian. diapun berpendapat hanya kakek bertenaga dalam selihai ini yang sanggup membunuh ayahnya di dalam sekali pukulan.

tapi diapun percaya bahwa musuhnya tak nanti akan membinasakannya meski berada dalam keadaan yang bagaimana gusarpun. diam-diam dia lantas mendengus dingin: "Tentu kau adalah seorang yang berkomplot untuk membunuh ayahku. Benar juga... di-tatapnya Lan See giok dengan termangu. benar. Sambil tertawa dingin segera ejeknya sinis: "Huuuh. mustahil kau tidak tahu!" Tertegun si kakek berjubah kuning itu setelah mendengar dampratan tersebut.." demikian pikirnya lagi. kekasaran serta kekurang ajaran bocah itu sangat di luar dugaannya. yang membuat hatiku amat pedih adalah keterlambatanku datang ke mari malam ini. karenanya bagaimanapun marahnya lawan tak nanti ia berani bersikap kasar. .-" terdengar kakek berjubah kuning itu melanjutkan kembali kata katanya." Ucapan tersebutr semakin membuat Lan See giok percaya kalau orrang yang memukul nya sampai pingsan tadi adalah kakek berjubah kuning ini. kalau tidak niscaya pembunuh ayahmu itu pasti akan berhasil kutangkap.benar tak tahu malu .heeehhh--heeehhh.. sedang mengenai alasan ayahmu sampai dicelakai orang. tentu saja kau mengetahui jelas sebab kematian dari ayahku. mungkin akupun jauh lebih jelas dari pada dirimu. . kakek berjubah kuning itu menghela napas panjang. lama-lama kemudian ia baru sadar seperti memahami sesuatu dan segera tertawa. Sebab dia menganggap kakek berjubah kuning itu ingin mengetahui tempat tinggal Bibi Wan nya serta jejak dari kotak kecil ter-sebut. lalu berkata lagi dengan ramah: "Nak. ia su-dah bertekad tak akan melayani pembi-cara-an si kakek yang dianggapnya manusia munafik ini. "Nak!" katanya kemudian sambil menga-lahkan pembicaraan ke soal lain: "Apakah Lan Khong tay adalah ayahmu?" Api yang berkobar dalam dada Lan See -giok sekarang hanyalah dendam kesumat. !" Kakek berjubah kuning itu kembali berk-erut kening. Sedangkan Lan See giok meski tahu kalau kepandaian silatnya tak mampu menandingi kepandaian kakek berjubah kuning itu. .30 "Siapakah yang menghantamku sampai roboh? Heeehhh.. aku sudah mengetahui perasaanmu sekarang. aku tahu kau mendendam kepadaku karena mengira ayahmu mati di tanganku. sudah tahu pura-pura bertanya lagi. ". aku tidak menyalahkan kau.

kakek sialan.." Lan See giok tertawa dingin: "Heeehhh. kemudian seakan akan memahami sesuatu." Belum habis kakek berbaju kuning itu menyelesaikan kata katanya. berkilat sepasang matanya. dia manggut-manggut. si kakek berjubah kuning itu sudah berhenti sejenak sebelum kemu-dian melanjutkan kembali kata katanya: "Nak.. tidak bermanfaat bagi masalah yang sebenarnya.. ceritakan pula bagaimana terjadinya Pertarungan. "Sudah sedari tadi aku tak pernah memikirkan soal mati hidupku.. tapi hanya sejenak ke-mudian ia telah bersikap lembut kembali. heeehhh. aku tidak habis mengerti mengapa kau bersikap kasar. gerakan tubuh nya secepat sambaran petir.. ketika aku mendengar suara jeritan tadi dan menerobos masuk ke dalam kuburan Ong-leng.. Dalam pada itu... terutama sekali kata bayangan manusia kurus pendek.31 "Bedebah. emosi dan tak menggunakan akal terhadap diriku? Ketahuilah perbuatan semacam ini akan memporak porandakan keadaan. benar. "Ehmmm. mungkin aku bisa membantumu untuk mengenali orang-orang itu serta merebut kembali kotak kecil tersebut." Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar ucapan itu. buat apa kau mesti bertanya kepadaku? Aku yakin. kenapa aku mesti takut mati? Hmmm." Merah padam selembar wajah kakek berju-bah kuning itu setelah mendengar ucapan tersebut. heeehhh. paras mukanya agak berubah.. coba ceritakanlah kisah pembunuhan yang telah menimpa ayahmu malam tadi. berapa orang yang datang serta manusia-manusia macam apa saja yang telah kemari. kau sudah pasti jauh lebih mengerti dari pada diriku sendiri. kau harus mawas diri. dinginkan otakmu dan terutama sekali harus tahu kalau keselamatanmu sedang terancam bahaya. kemudian katanya dengan serius: "Nak.. tukas-nya dengan perasaan benci yang me-luap. manusia licik---" kontan saja Lan See giok menyumpah di hati. jenggotnya gemetar keras. aku rasa justru ada orang yang kuatir bila aku sampai mati!" Sekali lagi kakek berbaju kuning itu mengerutkan dahinya rapat-rapat. kusaksikan ada sesosok bayangan manusia yang kurus pendek sedang kabur ke arah utara. jelas orang itu merasa agak tak senang hati.. Lan See giok telah tertawa keras penuh kegusaran. dengan cepat dia teringat kalau . Ditatapnya wajah Lan See giok lekat-lekat.

maka apa yang selanjutnya diucapkan kakek berjubah kuning itu sama sekali tak terdengar olehnya. Tapi mengapa dia bisa datang terlambat? Maka tak tahan lagi dia lantas bertanya: "Dari mana kau bisa tahu kalau ayahku tinggal di sini?" "Aaaah kau ini . tapi jika dia bersembunyi di belakang meja batu. niscaya jejaknya akan ditemukan olehnya. maka begitu masuk ke mari dan menyaksikan jenazah yang terkapar di atas genangan darah. oleh karena ayahmu memberi kesan yang sangat mendalam bagiku. sebab jika ia sudah mendengar kalau kotak kecil tersebut telah di-serahkan kepada bibi Wan nya. ia bisa mencari sampai di sana.32 orang yang menghantamnya sampai pingsan tadi memang seorang kakek yang berperawakan kurus lagi pendek. . dia merasa walaupun bukan kakek ini.." . tapi ia sudah pasti termasuk salah seorang yang berniat jahat kepada ayahnya. Lan See giok dapat segera meng-am-bil kesimpulan kalau kakek ini belum lama datangnya. ?" Tapi ingatan lain dengan cepat melintas kembali di dalam benaknya. berarti diapun bukan manu-sia sembarangan." Setelah mendengar ucapannya yang terakhir ini.. aku segera mengenalinya sebagai Kim wi-gin tan Lan Khong tay yang termasyhur di kolong langit dimasa dulu. aku pernah berjumpa muka dengan ayahmu di bawah puncak Giok li-hong di bukit Hoa san. ia merasa meski perawakan orang ini tidak termasuk tinggi besar. Berpikir sampai di sini. si kakek berbaju kuning tadi sudah berkata lagi: "Oleh karena itu. Karena berpendapat demikian. kemudian baru berusaha untuk menemukan beberapa orang itu serta merampas kembali kotak kecil itu. . Dalam pada itu. kalau tidak. dia lantas ber-pikir lagi: "Jangan-jangan bukan si kakek berjubah kuning ini yang menghantamku sampai pingsan tadi . menga-pa dia bisa tahu kalau tujuan orang-orang itu adalah untuk mendapatkan kotak kecil milik ayahnya? Dari sini bisa disimpulkan kalau orang inipun bukan orang luar. kau harus mengikuti aku untuk menyingkir dulu ke dusun kaum nela-yan Ho hi cun. niscaya dia tak akan berkata begitu. Lan See giok sema-kin kebingungan dibuatnya. kenapa bertanya lagi? Bukankah tadi sudah kukatakan kepada-mu?" "Apa yang kau ucapkan tadi? Tak sepatah katapun yang kudengar!" "Tujuh delapan tahun berselang. Maka dia segera mengamati tubuh kakek berbaju kuning itu sekali lagi.

maka akupun masuk ke mari. Terdengar kakek berjubah kuning itu ber-kata lebih jauh: "Waktu itu aku merasa keheranan. kemu-dian kusaksikan kau terkapar di balik meja sana." "Setengah jam berselang. namun bila apa yang berharga itu sudah dapat diraih. karena suatu persoalan secara kebetulan aku lewat di sini. baru kuketahui kau sedang pingsan. tapi tidak kuketahui jika ia berdiam dalam kuburan Ong leng. Apba yang kulihat pertama kalinya adalah ayahmu yang terkapar di atas genangan darah bila kuperiksa ternyata mayatnya sudah kaku dan ia sudah meninggal cukup lama. dalam kagetnya aku bergerak berangkat ke mari." Tanpa terasa Lan See giok mengangguk ia tahu jeritan ngeri yang didengar kakek berjubah kuning tadi sudah pasti orang yang kena ditembusi gurdi emas di balik dinding itu. ketika kuperiksa ternyata kau belum mati. tapi setelah ku-temukan di belakang kuburan terdapat pintu yang ter-buka lebar. tapi aku yakin orang itu pasti menganggap kau mem-punyai kegunaan yang amat berharga. mengapa orang yang telah membinasakan ayahmu telah melepaskan kau de-ngan begitu saja --" Tentu saja Lan See giok tahu apa sebab-nya dia tak mati. mendadak kudengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema dari sini. itu berarti jeritan yang kudengar tadi bukan berasal dari ayahmu. Baru tiba di depan pintu gerbang yang bo-brok itu. kujumpai dari belakang kuburan muncul sesosok bayangan kecil dan kurus sedang kabur ke arah utara. cuma dia enggan untuk meng-utarakannya. Terdengar kakek berjubah kuning itu ber-kata lebih jauh: "Sampai kini aku tidak tahu apa sebabnya orang itu tidak membunuhmu. sebenarnya aku hendak mengejarnya." . titik-titik air segera jatuh bercucuran membasahi wajahnya." "Pertama tama kutarik dulu badanmu ke luar dari situ. Tanpa terasa dia lantas mengerling seke-jap ke arah senjata "gurdi emas" yang menembusi dinding ruangan itu.33 Mendengar sampai di situ. Lan See giok merasa amat sedih sekali sehingga tanpa terasa dia berpaling dan memandang seje-nak ke arah jenazah ayahnya. tapi ada satu hal yang tidak kupa-hami. jelas kau pun akan dibunuh juga. Terdengar kakek berjubah kuning itu ber-kata lebih jauh: "Aku hanya tahu kalau ayahmu si gurdi emas peluru perak Lan Khong tay berdiam di sekitar telaga Huan-yang ou.

membungkukkan badannya dan bermaksud untuk membopong tubuh ayah-nya. "tunggu saja di sini. saat itulah aku akan memberitahukan kepadamu apa sebabnya orang--orang itu membunuh ayahmu. akhirnya diaprun manggut-manggut. diapun termenung: "Orang-orang itu semuanya berilmu tinggi. hanya dalam sekejap mata saja baya-ngan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. datang saja ke rumahnya Huan kang ciang liong (naga sakti pembalik sungai) di dusun Hong hi cun un-tuk mencari diriku. "Baiklah". aaai tampaknya sulit melebihi mendaki ke langit. dia lantas membalikkan badan dan bertalu dari tempat itu.34 "Oleh sebab itu. katanya kemudian." Dengan sedih dia memandang ke arah ayahnya sekali lagi.. men-da-dak kakek itu berhenti lagi. demi keselamatanmu kau harus pergi dari sini-. tidak menanti jawaban dari bocah itu lagi. Lan See-giok agak terkejut pula me-nyaksi-kan kelihaian ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu.. aku hendak membunuh orang itu untuk membalaskan dendam bagi ayahku" Kakek berjubah rkuning itu termenung se-bentar. tanpa terasa serunya dengan perasaan terperan-jat: "Mengapa?" "Aku hendak menunggu orang itu datang kembali. semoga kau bisa baik-baik menjaga diri dan ber-hati-hati dalam setiap tindakan. sementara air mata kembali jatuh bercucuran. untuk membalas dendam . Pelan-pelan dia berjalan ke sisi jenazah ayahnya. ia tidak menahannya pun tidak menghantar kepergiannya. sekarang aku harus pergi dulu... Setelah berpikir sejenak. dia segera berlalu dari situ. jika kau mempunyai kesulitan atau membutuhkan bantuanku. dengan cepat dia berjongkok untuk memeriksa dengan lebih seksama. sekarang kau harus pergi meninggalkan tempat ini. karena ia masih ragu terhadap apa yang telah diucapkan orang itu." Selesai berkata. Lan See giok hanya mengawasi kakek ber-baju kuning itu dengan pandangan di-ngin.--" "Tidak" tukas Lan See giok dengan cepat: "aku tak akan meninggalkan tempat ini" Jawaban tersebut sama sekali di luar dugaan kakek berjubah kuning itu." Selesai berkata. Mendadak mencorong sinar tajam dari balik matanya. . Setelah berjalan beberapa langkah. sambil ber-paling ke arah Lan See giok pesannya: "Nak.

Dengan termangu mangu dia mengawasi huruf tersebut sambil berpikir. pula dengan orang yang telah menggeledah sakunya ketika ia pingsan karena sedih tadi. dengan kobaran api dendam segera gumam nya. . siapa pula orang itu? Apakah dia bukan pembunuh ayahnya? .. Tapi dia kecewa.. apakah ada yang ber-julukan dengan huruf To "ataupun meng-gunakan nama marga To--. . ke-mudian sambil duduk di sisinya dia menangis ter-sedu sedu. . sudah pasti si manusia bermata tunggal itu--. Tampaknya tulisan itu adalah sebuah hu-ruf "To" atau tunggal.? Ataukah menunjukkan nama marga orang itu?" Dengan cepat dia memeras otak berusaha untuk mencari diantara namanama tokoh persilatan yang pernah diberitahukan ayah-nya selama ini. Dengan cepat Lan See giok menduga kalau goresan itu pasti dibuat oleh ayahnya menjelang ajal merenggut nyawanya. "Betul. la tahu. . Mata tunggal--Mendadak bayangan manusia berjubah hitam. Sebagai bocah yang pintar. Akhirnya dia meletakkan kembali lampu lentera itu ke atas meja.35 Ternyata ujung jari telunjuk jenazah si Gurdi emas peluru perak Lan Khong tay sedang menancap di atas tanah.sudah pasti keparat itu---" Tapi diapun teringat. "Apakah arti kata dari huruf To itu? Apakah julukan dari pembunuh ayahnya. Sambil menangis dia berdoa kepada ayah-nya agar membantunya dalam pencarian orang yang menggunakan huruf "tunggal" pada julukan atau namanya . . akhirnya dia ber-hasil menarik kesimpulan kalau goresan tersebut adalah sebuah goresan tulisan. diapun tak tahu apakah di kolong langit terdapat orang yang menggu-na-kan nama marga To. Lama sekali Lan See giok mengamati go-re-san itu dengan seksama. Lan See giok segera berhenti menangis. tak seorangpun diantara jago-jago yang teringat olehnya memper-guna-kan-kan julukan itu. berwajah seram dan bermata tunggal itu melintas kembali dalam benaknya. membopong jenazah ayahnya ke atas pembaringan. . Lan See giok segera mengambil lampu lentera di meja dan didekatkan pada goresan tersebut.. besar kemungkinan goresan tersebut menyangkut soal nama pembunuh yang telah menghabisi jiwa ayahnya . entah goresan lukisan atau tulisan . sementara di atasnya telah terukir sebuah goresan.

diapun tak habis mengerti sia-pakah orang yang kemungkinan besar sem-pat mengikuti adegan pembunuhan ter-ha-dap ayahnya. Setitik cahaya terarah mencorong masuk lewat lubang angin dalam kamarnya. di situ hanya dijum-pai segumpal darah. bahkan curiga kalau orang itu telah menyaksikan adegan sewaktu ayahnya terbunuh. Mendadak dia melompat bangun dan segera lari menuju ke dalam kamar tidurnya. Dengan termangu Lan See giok menga-wasi senjata gurdi emas yang menembusi dinding ruangan itu. Sekarang dia merasa kemungkinan si manusia bermata tunggal itulah pembunuh ayahnya yang terbesar. sedangkan orang yang bersembunyi di sana telah dilarikan si manu-sia bermata tunggal itu. dia hendak membawa jenazah . dia merasa bila ingin mengetahui siapakah pembunuh ayahnya. dia masih tetap mena-ruh curiga terhadap kakek berjubah kuning yang berwajah ramah itu. buru-buru dia menuju ke sisi pembaringan di mana jenazah ayahnya berbaring.36 Satu ingatan segera melintas di dalam benaknya. dia tak tahu apakah orang itulah yang telah menghajar-nya sampai pingsan atau bukan. Ia berjalan ke luar dari ruangan. kemudian ber-jongkok ke bawah. sedang-kan orang yang bersembunyi di belakang dinding dan belakang meja serta si kakek tunggal paling kecil kemungkinannya. kemudian orang yang menggeledah tubuhnya merupakan orang kedua yang perlu dicurigai. dia harus mencari ke belakang dinding ruangan itu serta menemukan orang yang telah menghantamnya sampai pingsan itu. Dalam sekejap mata saja dia lantas me-na-ruh curiga terhadap orang yang telah di-lari-kan si mata tunggal itu. Setelah mengambil keputusan. lagi pula kakek itupun pernah ber-janji dia akan menerangkan sebab musabab terja-di-nya pembunuhan terhadap ayahnya itu. dia bertekad hendak mengguna-kan senjata gurdi emas milik ayahnya untuk membinasakan pembunuhan keji tersebut. ter-nyata fajar telah menyingsing. kemudian menggulungnya dan dimasukkan ke dalam saku. dia curiga bukan saja orang itu telah menyimpan barang yang hendak didapatkannya. baru pertama kali ini dia me-n-getahui betapa tajamnya senjata gurdi emas tersebut. Selangkah demi selangkah dia berjalan menuju ke depan pembaringan. Dalam keadaan begini dia. Walaupun begitu. mengerahkan segenap tenaganya untuk membetot keluar senjata gurdi tersebut. lantas ber-pen-dapat bahwa ia harus pergi menuju ke dusun Hong hi cun mencari si kakek berju-bah kuning itu dan mencari keterangan darinya. Selain itu.

Waktu itu. ia saksikan sesosok baya-ngan manusia diiringi suara isak tangis yang parau bergema tiba dengan kecepatan luar biasa. sebuah benda tiba-tiba terjatuh ke tanah. . . betapa sengsaranya engkoh tua mencari dirimu . kontan saja Lan See -giok merasakan kesedihan yang tak ter-ken-dalikan. "Ooooh adik Khong-tay . dia segera menubruk ke tubuh kakek itu dan turut menangis tersedu sedu. Ketika dia mengawasi pula orang yang se-dang menangis di depan jenazah ayahnya. Dalam isak tangisnya. . . ternyata orang itu adalah seorang kakek ku-rus kering yang berbaju abu-abu. . Lan See giok hanya bisa berdiri termangu mangu dan untuk sesaat tak tahu apa yang mesti di-la-kukan. . Dengan perasaan terperanjat Lan See giok segera berpikir "Siapa lagi yang datang?" Mendadak .37 ayahnya menuju ke ru-ang dalam dan membaringkannya bersama dengan jenazah ibunya. . lilin dan uang kertas. dengan suara yang parau si kakek bertelinga tunggal itu menangis tiada hentinya. Lan See-giok dibuat kalut juga pikiran-nya setelah menyaksikan kejadian itu. ternyata isi-nya adalah sebuah keranjang bambu yang penuh berisikan hio. Belum lagi dia berbuat sesuatu mendadak terdengar lagi suara ujung baju yang ter-hem-bus angin berhembus tiba. untuk menyembunyikan diri tak sempat lagi." Begitu mengetahui kalau orang itu adalah sahabat karib ayahnya. . Tampaklah bayangan hitam itu segera menubruk ke depan jenazah yang berada di atas pembaringan dan menangis tersedu sedu. . berambut putih dan bertelinga tunggal. suasana begitu sedih dan penuh kepedihan membuat siapapun akan turut beriba hati bila melihatnya. terdengar suara isak tangis yang amat keras berkumandang datang dari pintu masuk ruangan kuburan itu. Lan See giok me-rasa ada sebuah tangan yang kurus kering sedang membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang. Oleh kejadian yang berlangsung sangat mendadak dan di luar dugaan ini. sungguh me-ngenaskan kematianmu ini . Ketika ia mencoba untuk mengamati benda yang terjatuh ke tanah. hanya di dalam waktu sekejap ia te-lah tiba di sana. Cepat sekali gerakan tubuh bayangan hi-tam itu. . . Dalam waktu singkat seluruh ruangan kuburan itu sudah dipenuhi oleh isak tangis yang mengenaskan. Dengan perasaan terperanjat Lan See giok segera berpaling. oooh . . .

ber-alis botak. mu-lut. namun sejak kehilangan ayahnya.... Walaupun dalam ingatannya dia belum pernah mendengar ayah ibunya pernah ber-bicara tentang seorang empek yang ber-telinga tunggal. dia tak me-ngira kalau seorang yang bersuara lembut. tiba-tiba timbul suatu perasaan seram dalam hatinya. Mendengar panggilan "Anak Giok" yang mesra itu. bersi-kap hangat dan .. biar empek tua melihat wajahmu. . . sungguh tak nyana kalau kau sudah tumbuh menjadi begini dewasa. Lan See giok benar-benar tidak percaya dengan pandangan matanya." Air mata Lan See giok ibaratnya anak su-ngai yang meluap.. tulang kening lancip serta hidung melengkung seperti pa-ruh elang. walaupun di atas wajahnya yang penuh keriput tak nampak basah oleh air mata. Lan See-giok masih saja menangis ter-sedu-sedu . tanpa terasa lagi dia me-meluk tubuh kakek ceking bertelinga tung-gal itu semakin kencang. Tampang semacam ini seratus persen adalah tampang dari seorang manusia sesat. isak tangis Lan See giok semakin menjadi. su-dah sepuluh tahun lebih kita berpisah. Itulah sebabnya pula dalam hati kecilnya segera menaruh perasaan yang akrab terha-dap kakek ceking bertelinga tunggal ini.. Lan See-giok belum sempat melihat raut wajah empek tuanya ini. mata sesat. Dengan penuh kasih sayang kakek ber-telinga tunggal itu menyeka air mata yang membasahi pipinya. bangun-lah. "Anak Giok. ternyata kakek ceking bertelinga tunggal ini mempunyai wajah ber-bentuk kuda. . tipis tak ber-jenggot. . ketika dia mendo-ngakkan kepalanya dan mengamati dengan seksama. anak yang patut dikasihani. inilah panggilan mesra pertama yang dide-ngar olehnya. Setelah menangis sekian lama. namun sepasang mata sesatnya yang penuh kelici-kan telah berubah menjadi merah membara. Kembali kakek itu menghela napas sedih lalu bisiknya agak gemetar : "Anak Giok.38 bersamaan itu pula terdengar kakek bertelinga tunggal itu berseru sambil menangis terisak: "Anak Giok. jangan menangis." Sambil berkata dia lantas membopong tubuh Lan See-giok dan membangunkan-nya." Kata selanjutnya tak bisa dilanjutkan karena suaranya menjadi sesenggukan dan tersendat sendat. anak yang patut dikasi-hani. . Terdengar kakek ceking itu berkata de-ngan penuh kasih sayang..

tangannya yang kurus keying itu tiada hentinya meraba bahu mau-pun punggung Lan See giok. dia segera menarik kem-bali senyumnya dan berkata lagi dengan sedih: "Anak Giok. darimana kau bisa tahu kalau ayah dan anak Giok tinggal di sini?" Dajri mana pula kagu bisa tahu kalbau ayahku tewas?" Kakek bertelinga tunggal itu sedikitpun tidak gugup. katanya dengan sedih: "Yaa... cepat kau pungut hio dan lilin itu.. dengan nada penuh kasih sayang kakek bertelinga tung-gal itu segera menegur: "Anak Giok. waktu itu kau masih seorang anak cilik yang tak tahu apa-apa. Tapi bukankah di dunia ini tak sedikit manusia berwajah jelek dan menyeramkan yang justru berhati bajik dan mulia? Berpikir demikian. sahutnya dengan pelan: . dia lantas mem-bungkukkan badan dan memunguti lebih dulu kertas uang. dengan cepat dia ber-seru: "Empek tua. mari kita bersembahyang di depan jenazah ayahmu . ini memang tak dapat me-nyalahkan kau. kemudian sambung-nya lebih jauh: "Anak Giok. apakah ayahmu belum per-nah membicarakan tentang diriku kepadamu?" Lan See giok merasa kurang leluasa untuk menjawab secara terus terang.39 penuh kasih sayang itu ter-nyata memiliki raut wajah yang menye-ram-kan serta menggidikkan hati. lalu mengangguk jujur." Berbicara sampai di situ. sepasang mata sesat nya segera melirik sekejap ke arah ma-yat Lan Khong tay. Anak itu menatap sekejap si kakek. sayang anak Giok bodoh dan tak bisa mengingat terlalu banyak." Berbicara sampai di situ." Mendengar jawaban tersebut. sudah sepuluh tahun lebih kita tak per-nah bersua. sudah sepuluh tahun lebih kau berpisah dengan ayahku. agak lega juga perasa-an hatinya. Menyaksikan Lan See giok hanya meng-a-matinya terus tanpa berkedip. maka sahut-nya: "Ayah memang seringkali membicarakan tentang nama dan empek yang banyak sekali jumlahnya. Tergerak hati Lan See giok setelah me-nyak-sikan benda-benda itu. sudah tidak kenal lagi dengan empek tua?" Sambil berkata... Tapi menyaksikan kening Lan See giok berkerut kencang. si kakek bertelinga tunggal itu segera tertawa bangga. Kakek bertelinga tunggal itu segera ter-tawa getir. hio dan lilin.

dengan kening berkerut serunya penuh rasa dendam. lalu ber-tanya dengan sedih: "Empek." Kemarahan dan rasa dendam Lan See -giok segera berkobar lagi. dia menjawab: "Sebodoh-bodohnya empek.." Tergerak kembali perasaan Lan See giok. tak nanti aku akan lupa menanyakan persoalan yang maha penting ini. tiba-tiba kudengar di luar penginapan ada orang se-dang membentak-bentak.. ketika empek lari ke luar. seorang musuh bebuyutan ayahmu di masa lalu. Maka sambil menunjukkan perasaan sedih dan pedih.. tiba-tiba ia ber-paling ke arah kakek bertelinga tunggal itu. suatu kehebatan yang luar biasa. aku tahu kalau kalian tinggal di sini dan tahu juga kalau adik Khong tay te-lah tewas. aku tahu karena dia yang mem-berita-hukan hal itu kepada empek.40 "Anak Giok. menurut dia." Kemudian sambil menghela napas sedih katanya lebih jauh. langsung berangkat ke mari. "Dua jam berselang.. "Benar. akupun mem-beli hio dan lilin.. dia telah datang ke mari!" Diam-diam kakek bertelinga tunggal itu melirik sekejap wajah Lan See giok yang dili-puti hawa amarah. cepat dia menimbrung: "Empek maksudkan seorang kakek ber-tongkat besi yang kehilangan kaki sebelah kiri nya?" Kakek bertelinga tunggal itu nampak agak tertegun.. Lan See giok segera teringat kembali akan perbuatan si Toya besi berkaki tunggal Gui Pak ciang yang te-lah menusuk tubuhnya dengan toya besi terse-but. tapi paling tidak ia sudah memiliki tenaga dalam sebesar sepuluh tahun hasil latihan. kemudian serunya tidak habis mengerti: "Apa? Jadi kau kenal dengan dia?" Menyinggung soal itu. ia merasa walau-pun usia Lan See giok hanya belasan tahun. sudah sepuluh tahun lebih empek mencari ayahmu.. waktu itu aku merasa sedih sekali. sehingga setelah mencari keterangan jalan kemari. ternyata orang itu adalah To-kak-thi koay (Tongkat besi kaki tunggal) Gui Pak -ciang. semalam ketika aku berada di kota sebelah depan sana. kemudian dengan paras muka berubah hebat pikirnya: "Tebal amat hawa pembunuhan dari anak ini . sewaktu ia mema-suki kuburan ini dibalik kegelapan tampak sesosok bayangan manusia yang . apakah kau tidak bertanya ke-padanya siapa yang telah membinasakan ayahku?" Sekali lagi kakek bertelinga tunggal itu merasakan hatinya bergetar keras sesudah menyaksikan sorot mata Lan See-giok yang tajam bagaikan sembilu.

. seorang berlengan tunggal. bu-kankah hal ini membuktikan kalau ia su-dah pernah datang satu kali di situ? Dalam pada itu si kakek bertelinga tunggal sedang memasang hio sambil diam-diam mengawasi Lan See giok yang sedang ber-diri termenung.41 menyem-bunyikan diri.. . "Tapi. Tapi sewaktu si manusia bermata tunggal memasuki gua tadi." dia lantas terbayang kembali dengan huruf "tunggal" yang digoreskan ayahnya di atas tanah." Mendengar nama "Beruang berlengan tunggal'. siapakah yang kau maksud kan?'. Karenanya dengan kening berkerut dia mulai memutar otak untuk melakukan analisa. ia masuk dengan terburu-buru. setelah dilakukan pengejaran sampai di dalam hutan. maka dia mulai merasa ragu lagi terhadap kesimpulan nya semula yang menduga si manusia ber-mata tunggal itulah pembunuh ayahnya. lalu berpaling sambil bertanya: "Empek tua. kemungkinan yang paling besar adalah si Beruang berlengan tunggal. Tapi sekarang telah muncul seorang ber-kaki tunggal. bahkan melirik ke arah ayahnya pun tidak. dan seorang lagi bermata tunggal. apakah kau kenal dengan se-orang manusia bermuka hijau. Teringat akan "berlengan tunggal. barulah diketahui kalau orang itu adalah To pit him (beruang berlengan tunggal) Kiong Tek cong. Tiba-tiba ia mendengar bocah itu sedang berguman. kemudian serunya dengan ce-mas: . Lan See giok berusaha menenangkan hati-nya. tampaknya dia merasa ter-kejut sekali. sebaliknya langsung menuju ke pembaringan dan melakukan pemeriksaan. dengan cepat ia menjadi sadar kembali apa sebab-nya orang itu setelah menotok jalan darah-nya. . rupanya dia adalah seorang yang berlengan tunggal. . mengapa dia balik lagi untuk menggeledah pembaringan serta lubang angin?" Dengan perasaan tidak habis mengerti si kakek bertelinga tunggal itu segera menim-brung: "Anak Giok. siapakah yang dimaksudkan ayahnya sebagai "tunggal" tersebut? Dengan keterangan yang diperolehnya dari si kakek yang bertelinga tunggal ini. bergigi taring dan bermata tunggal?" Paras muka kakek bertelinga tunggal itu berubah hebat. tergerak hati Lan See giok. sebenarnya pembunuh ayahnya itu si Beruang berlengan tunggal Kiong Tek ciong ataukah si manusia bermata tunggal? Tapi akhirnya dia menarik kesimpulan. tetap meraba pula dengan tangan kanan.

Lan See giok segera tahu kalau manusia bermata tunggal itu adalah seorang manusia yang sangat lihay. kemudian sahutnya: "Keadaan yang sebenarnya tidak begitu kuketahui. mengapa kau tidak mau datang sehari lebih pagian.thi-koay Gui Pak ciang secara kebetulan. niscaya ayah tak sampai dicela-kai orang. kalau aku tidak bertemu de-ngan To kak. Sambil menjawab. tiba-tiba Lan See. Dengan air mata bercucuran Lan See giok segera berseru. dia lantas membawa hio dan berjalan ke depan pembaringan.42 "Apa? Iblis keji itupun telah datang?" Dari mimik wajah kakek itu. dilihat dari sini dapat diketahui kalau tenaga dalamnya benar-benar sangat lihay. cepat kau bakar uabng kertas itu!"j Lan See giok gsegera tersadarb kembali dan maju mendekat. tapi menurut sementara orang persilatan. dia lantas manggut-manggut. ". mereka menduga ayahmu telah berhasil menemukan sejilid kitab Cinkeng ketika berada di bawah puncak Giok li hong di bukit Hoa san . orang menyebut nya sebagai To gan liau pok (setan buas ber-mata tunggal) Toan Ki tin". . . jika empek ada di sini. tahukah kau. . . inilah yang dina-makan takdir. "Empek. "Oooh empek tua. anak Giok.giok bertanya lagi: "Empek. . tiada air mata dalam kelopak matanya. Diam-diam kakek bertelinga tunggal itu melirik sekejap ke arah Lan See giok ke-mudian serunya: "Anak giok. apa sebabnya ayah-ku pindah ke dalam kuburan kuno ini?" Kakek bertelinga tunggal itu nampak agak sangsi. Ternyata kakek bertelinga tunggal itu telah menancapkan hio tadi ke atas tiang kayu di ujung pembaringan. dia lupa menderita. Lan See giok teringat kembali akan kakek berbaju kuning yang ber-wajah ramah itu. . empek malah tidak tahu kalau kalian berdiam di dalam kuburan rahasia ini. Menyinggung soal puncak Giok li hong di bukit Hoa San. Lan See giok masih saja berdiri termangu -mangu sambil membawa uang kertas ter-se-but. siapakah orang itu?" serunya. tapi apa yang kemudian tertera di hadapannya membuat ia menjadi terkejut sehingga paras mukanya berubah. ia sudah dibikin kebi-ngungan oleh teka teki yang berada di hada-pannya." "Aaai . dia . "Dia adalah seorang iblis yang amat ter-masyhur namanya di dalam golongan putih maupun golongan hitam." Setelah hening sejenak.

se-sungguhnjya tak lebih cuma sebuah kotak kecil . dengan senyum ramah kakek bertelinga tunggal itu telah menukas. dia merasa tidak seharusnya berbohong terhadap se-orang empek sahabat karib ayahnya yang su-dah sepuluh tahun lebih mencari mereka. Sedang si kakek bertelinga tunggal itu nampak berubah hebat paras mukanya. keningnya berkerut dan mata sesatnya me-lotot besar. . "Anak Giok apakah ayahmu pindah ke mari benar-benar dikarenakan persoalan tersebut? Dengan cepat bocah itu menggeleng. Mencorong sinar terang dari balik mata si kakek yang sesat. tampang yang pada dasarnya sudah menyeramkan. jan-tungnya berdebar semakin keras. kakek bertelinga tunggal itu telah bertanya lagi de-ngan ramah. kelima jari tangannya yang di pentangkan bagaikan cakar pelan-pelan di ang-kat ke angkasa. tapi sejenak kemudian katanya lagi sam-bil tertawa ramah: "Anak Giok. Sementara dia masih termenung. Sedang Lan See-giok sendiri. . Lan See-giok hampir saja tak sanggup menahan diri." Belum selesai Lan See-giok menjawab." Mendengar sampai di situ. "Tidak.. di atas wajahnya yang menyeramkan terpancar pula sinar kerakusan. . sahut-nya agak tergagap: "Anak Giok belum pernah menyaksikannya!" Selesai berkata dia lantas menundukkan kepalanya dengan perasaan malu dan me-nyesal. waktu itu merasa menyesal sekali karena telah berbohong. pernahkah kau menyaksikan kotak kecil itu?" Lan See-giok merasakan jantungnya se-makin keras. kini semakin menakutkan lagi. saking malunya dia sampai tak berani mendongakkan kepalanya lagi.43 mengatakan kalau telah ber-temu dengan ayahnya di bawah pun-cak Giok li hong. anak Giok tidak tahu. tapi belum pernah kusaksikan ayahku membaca kitab Cinkeng apapun . dia merasa walaupun kakek bertelinga tunggal ini adalah sahabat karib ayahnya. katanya: "Sekalipun namanya kitab Cinkeng. Tenaga dalamnya segera dihimpun ke dalam telapak tangan kanannya yang kurus kering. tapi ia merasa tak baik untuk mengungkap persoalan tersebut sekarang. senyuman menyeringai segera menghiasi wajahnya. Maka setelah ragu-ragu sebentar.

Kakek bertelinga tunggal itu memandang sekejap ke arah jenazah yang berbaring di atas pembaringan. apalagi menyangkut benda mestika dari dunia persilatan. se-nyuman licik menghiasi ujung bibirnya. tangan kanannya yang ceking dan penuh disertai tenaga dalam itu sudah di angkat melampaui bahunya. "Setiap tahun disaat hari kematian ibuku.. kemudian kembali dia berkata: "Anak Giok. terhadap masalah sepenting ini.44 Si kakek bertelinga tunggal itu sudah me-ngejangkan seluruh kulit mukanya. dua baris air mata segera jatuh bercucuran membasahi pipinya. tapi sorot matanya masih tetap menatap jenazah ayahnya. kita harus segera mengebumikan jenazah ayahmu ini---" Lan See giok merasakan hatinya amat sa-kit bagaikan diiris-iris dengan pisau belati. dia berkata le-bih jauh: "Apa lagi sekalipun kau tahu juga tak akan memahami betapa pentingnya benda terse-but. "Kalau memang begitu." Lan See giok segera mengiakan berulang kali untuk menutup ketidak tenangan di dalam hatinya. Kemudian dengan suara yang tetap ramah dan lembut dia berkata: "Tentu saja. ayah pasti mengajak Giok ji masuk ke dalam untuk menengok wajah ibu. mari kita segera turun tangan" . de-ngan tak sadar dia segera berseru. kemudian kata-nya: "Anak Giok bermaksud untuk membaring-kan-kan jenazah ayahku di samping jenazah ibuku di dalam kuburan sana---" "Apakah kau tahu jalan menuju ke dalam kuburan sana?" tidak menunggu bocah itu menyelesaikan kata katanya. wajah yang semula menyeringai serampun kini pulih kembali seperti sedia kala. Tanpa ragu Lan See giok mengangguk. ta-ngan kanannya yang sudah dipersiaprkan seperti cakar setanpun diturunkan kembalri ke bawah." Berbicara sampai di situ." Setelah berhenti sebentar. ia mendongakkan kepalanya dan memandang jenazah ayahnya sekejap. Tapi kemudian berkilat sepasang mata-nya. mana mungkin dia akan perlihatkan kepada seorang anak yang tak tahu urusan seperti kau. si kakek ber-telinga tunggal itu telah menukas lebih dulu. Kejut dan girang segera menyelimuti wa-jah jelek kakek bertelinga tunggal itu.. orang bilang masuk ke tanah akan membuat yang tiada menjadi tenteram.

-" . tahukah kau bahwa kuburan raja ini berada dalam keadaan kosong? Hanya kuburan inilah baru benar-benar merupakan kuburan Leng ong-. maka sambil mengangguk dia berjalan lebih dulu menuju ke sebuah lorong. kau jalan di muka!" Lan See giok pun merasa ada baiknya un-tuk segera mengirim jenazah ayahnya ke dalam kuburan. dengan ce-pat dia alihkan Lan Kong thay ke bawah ketiaknya. dia menjadi terharu sekali. sewaktu dilihatnya kbakek itu membopjong jenazah ayahnya dengan amat hormat. Melihat hal itu. dan di sana terdapat pintu besi yang besarnya hampir sama tertutup rapat. "Empek. Kedua orang itu dengan menelusuri lorong yang gelap segera berputar ke kiri berbelok ke kanan. dia tahu di depan sana adalah tempat yang mereka tuju. Maka setiap kali mereka melakukan belokan dia lantas mengerahkan tenaga dalam-nya ke ujung jari dan diam-diam membuat sebuah tanda di atas dinding gua tersebut. sambil membopong jenazah Lan Khong-tay ia segera mengikuti di belakang Lan See giok kencang. apa lagi setelah menyaksikan Lan See-giok berjalan dengan langkah yang amat berhati . Tergerak hati kakek bertelinga tunggal itu. "Empek. berjalan terus tiada hentinya . buru-buru jenazah Lan Khong tay dibopong dengan baik. di kedua belah samping lorong itu terdapat dinding yang berbentuk hampir sama.giok lagi. Akhirnya sampailah mereka di depan se-buah persimpangan jalan. segera ujarnya lebih jauh. sehingga wajahnya nampak berseri. kemudian melanjutkan: "Giok ji. akhirnya di depan sana muncul setitik cahaya yang amat redup dibalik kegelapan. Tak selang berapa saat kemudian.hati.kencang. di depan situlah terletak kuburan ibuku!" Kemudian. si kakek bertelinga tunggal itu nampak sangat gelisah. Kakek bertelinga tunggal itu hampir saja tak sanggup mengendalikan gejolak emosi dalam dadanya. mereka telah melalui tujuh buah ruangan batu ber-bentuk persegi serta tiga puluh ruang ku-buran kosong yang amat besar. buru-buru dia menuju ke depan pembaringan dan membopong bangun jenazah dari si Gurdi emas peluru perak Lan Khong tay.45 Tidak menunggu pendapat dari Lan See. Saat itulah Lan See giok telah berpaling sembari berkata. .

Sementara itu kakek bertelinga tunggal se-dang mengawasi gerak gerik. Batuan yang berada di sana palbing tidak mencapai dua tiga ratus kati beratnya. Sementara pembicaraan sedang berlangsung. Lan See giok segera menyeka air mata dan berjalan masuk ke dalam ruangan batu di sebelah kiri. Dengan cepat kakek itu tahu kalau dia te-lah salah berbicara. bocah itu de-ngan seksama. Sebuah pintu besi yang tinggi besar ber-diri angker di hadapan mereka. paling tidak tenaga dalam yang dimiliki Lan See giok telah mencapai sepuluh tahun ke-sempurnaan. dengan cepat pikirnya: . . satu ingatan dengan ce-pat melintas dalam benaknya. paras mukanya yang jelek dan licikpun mengikuti setiap perubahan dari Lan See giok berubah ubah. hal ini kontan saja membuat kakek itu berubah wajah dan terperanjat sekali." BAB 3 RAHASIA TERCURINYA PEDANG DENGAN wajah tertegun Lan See giok segera berpaling dan memandang sekejap ke arah kakek bertelinga tunggal itu. Pelan-pelan Lan See giok berjalan menuju ke sudut ruangan sebelah dalam lalu me-nyingkapkannya ke atas. tapi asal aku bisa melihat wajah ibumu yang sudah lama tiada pun rasanya tidak sia-sia belaka per-jalananku selama puluhan tahun ini" Lan See giok segera mengucurkan kem-bali air matanya karena ia sedih.46 Tak terlukiskan rasa girang kakek ber-telinga tunggal itu setelah mendengar uca-pan tersebut. sampai lama kemudian ia baru ber-kata dengan suara gemetar. . tapi nyatanya Lan See giok dengan sepasang tangannya dapat mengangkat batu itu secara mudah. ujarnya de-ngan penuh kesedihan. meskipun tak bisa ber-temu dalam keadaan hidup. Selintas hawa napsu membunuh segera menghiasi wajah yang jelek. "Sesudah sepuluh tahun lebih empek men-cari orang tuamu. Di atas pintu besi itu terdapat sebuah mu-tiara yang memancarkan cahaya berkilauan. Menurut penilaiannya secara diam-diam. mereka sudah tiba di suatu tempat yang bersinar itu. pintu itu tertutup rapat sementara di sebelah kiri dan kanannya masingmasing terdapat sebuah ruangan batu. . "Empek tahu .

. Kakek bertelinga tunggal itu segera merasakan ada segulung hawa dingin yang menusuk tulang memancar ke luar dari balik pintu tersebut. dari bawah tanah sana berkumandang suara gemerincing yang amat ramai. kemudian membentak keras sambil membetotnya ke atas. manusia semacam ini tak boleh diampuni dengan begitu saja-" Ia menyaksikan pula sebuah gelang besar berwarna hitam yang berkilat berada di bawah batu itu dan menempel di atas tanah. Menyusul kemudian pintu besi yang tinggi besar itu pelan-pelan bergeser kedua belah samping dengan menimbulkan suara gemericit yang berat. gelang itu dengan cepat terangkat ke atas menyusul muncul-nya seutas rantai besar. Setibanya di ujrung lorong sana. Lan See giok segera menyingkap kain tirai itu lalu berbisik: . dia lantas berjalan ma-suk lebih dulu ke dalam pintu besi tersebut. Sekalipun kakek bertelinga tunggal itu sudah melawan dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Lan See-giok telah masuk pula ke dalam ru-angan.47 "Jelas dia merupakan bibit bencana. pintu besi itu pelan-pelan menggeser ke samping dan terbuka lebar. Waktu itu pintu besi sudah terbuka lebar. di ujung lorong sana merupakan sebuah dinding lagi. mari kita masuk!" Sembari berkata. suhu udaranya saja sudah begini dinginnya. dia segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan hawa dingin yang mencekam. tanpa terasa pikirnya: "Tak heran kalau jenazah yang disimpan di sini tidak membusuk. kepada kakek bertelinga tunggal itu segera serunya: "Empek tua. kemudian mendorongnya dengan sepenuh tenaga. Lan See giok berjalan ke pintu sebelah kiri. terlihat-lah di kiri dan kanan lorong terdapat pula se-buah pintu besi. tanpa terasa sekujur badannya gemetar keras.. Hawa dingin yang mengalir ke luar dari gua tersebut terasa makin lama semakin tebal. namun ia masih terasa kedinginan bagaikan berada dalam gudang es. Di balik pintu merupakan sebuah lorong yang panjangnya dua kaki. Kakek bertelinga tunggal itu manggut-manggut. kemudian mengikuti di belakang Lan See giok. Mendadak. di bagian tengah dinding terdapat sebaris batu permata sebesar kepalan yang memancarkan cahaya berkilauan. di hadapan mereka terbentang selapis kain tirai yang sangat tebal. Lan See giok segera menggenggam gelang itu." Setelah memasuki pintu besi.

cahaya di dalam kuburan itu sangat redup. dia telah memasukinya. . sebentar lagi kau akan melihat dengan jelas. "Empek. Ketika cahaya silang itu diperhatikan lagi dengan seksama. dari peti tembaga ke tiga belok ke sebelah kanan. hanya saja dikarenakan kuburan jebakan kelewat banyak.48 "Empek. untuk sesaat suasana di dalam sana masih terasa remangremang dan tidak jelas. cepat dia amati dengan lebih seksama lagi. Dan kini.." Kakek bertelinga tunggal itu memang su-dah lama mendengar kalau dalam kuburan raja terdapat banyak barang mestika yang tak ternilai harganya. Lambat laun dari satu kaki di depannya muncul setitik cahaya bersilang yang aneh sekali. sifat kera-kusan-nya muncul kembali. sekali lagi sepasang mata sesat dari kakek bertelinga tunggal itu me-mancarkan cahaya tajam. . sebelum daya penglihatannya pulih kembali. ditengah langit-langit terdapat sebuah mutiara merah sebesar telur itik. sekarang baru terlihat olehnya kalau di se-belah kiri dan kanan meja batu di mana pedang tersebut terletak. bahayanya juga besar. Dinginnya udara dalam ruangan itu segera membuat kakek bertelinga tunggal itu merasakan tangan maupun wajahnya sakit bagaikan disayatsayat pisau. hal tersebut benar-benar merupakan suatu kejadian yang tak pernah diduga sebelum-nya. lalu bisiknya: "Empek. seakan akan lupa dengan jenazah Lan Khong tay yang masih berada dalam pelukannya dia maju ke de-pan. dia tak berani masuk ke dalam secara gegabah. ternyata benda itu adalah sepasang pedang berkain kuning yang diletakkan bersilang. Mendadak terdengar Lan See giok berbisik lirih. Kedua bilah pedang itu diletakkan di atas sebuah hiolo kecil terbuat dari tembaga yang diletakkan di atas meja batu. Memandang semua benda gemerlapan yang berada di sana." Selesai berkata ia maju ke depan lebih dulu Teguran itu segera menyadarkan kembali si kakek bertelinga tunggal dari kekhilafan-nya. maka jarang sekali ada orang yang berani masuk ke sana. . . masuklah lebih dulu!" Tanpa sangsi kakek itu membungkukkan badan dan sambil membopong jenazah Lan Khong-tay masuk ke dalam. Dengan wajah serius Lan See-giok me-nu-runkan kembali tirai itu. masing-masing membujur beberapa buah peti mati tembaga. di kedua belah sisi hiolo kecil itu terletak sebuah ko-tak kecil yang terbuat dari emas.

sewaktu ia masuk ke sana untuk pertama kalinya dulu. Lan See giok tak dapat mengendalikan rasa sedihnya lagi. pelan-pelan Lan See giok menggeser penutup peti mati itu ke samping. Peti mati tembaga itu terbuat dari batu kristal sehingga raut wajah seorang perempuan setengah umur yang berada di sebelah kanan peti mati itu dapat terlihat jelas. Iapun menjumpai paras muka Lan See giok mirip sekali dengan wajah perempuan sete-ngah umur yang berbaring dalam peti mati itu. Diam-diam Lan See giok merasa agak tak senang hati juga melihat tindak tanduk kakek bertelinga tunggal itu setelah berada di sana dan celingukan ke sana kemari. sikap tersebut seakan akan sudah lupa de-ngan tujuan kedatangan yang sebenarnya di sana. Sebab dia masih ingat. lalu dengan air mata bercu-curan bisiknya: "Ibu. waktu itupun dia merasa keheranan dan ingin tahbu malah tidak bjerada di bawah gempek bertelingba tunggal ini.49 Maka dia segera maju ke depan dan me-ngikuti di belakang Lan See. hingga dengan begitu wajah pe-rempuan setengah umur yang berada dalam peti mati itupun dapat terlihat se-makin jelas. Perempuan itu berhidung mancung dan berbibir kecil.. dia jumpai sebuah peti mati tembaga yang besar dan cukup memuat dua orang membujur di hadapannya. Maka tanpa banyak berbicara lagi dia menghampiri sebuah peti mati tembaga dan melongok sekejap wajah ibunya yang berbaring di dalam. Tampaknya kakek bertelinga tunggal itu sangat bernapsu dengan sepasang pedang serta sepasang kotak kecil di meja batu. ayah telah datang untuk menemani mu . tapi diapun tidak menegur ataupun mengu-apkan sesuatu...". Sambil menangis tersedu sedu. dia segera menjerit ter-tahan: "Ibu!" Kemudian diapun memeluk kepala ayah-nya sambil menangis terisak sebelum akhirnya empek bertelinga tunggal mem-bopong jenazah ayahnya untuk dibaringkan di sisi jenazah ibunya. Kini sepasang mata kakek bertelinga tung-gal itu sudah terbiasa melihat dalam kege-lapan ia saksikan pula sebuah peti mati rak-sasa yang terbuat dari kaca kristal. ketika Lan See- . meski matanya terpejam dan mukanya putih bagaikan kemala namun tak bisa disangkal lagi kalau perempuan itu adalah seorang perempuan cantik.giok. Kakek bertelinga tunggal itu segera me-narik kembali pandangannya dan menundukkan kepala.

tapi suatu saat bila lohu su-dah merasa ajalku hampir tiba. sekalipun badan Giok ji harus han-cur lebur. . Ketika melewati sisi beberapa buah peti mati tembaga yang membujur di sana. ia nampak sangat tenang. ibu." Si kakek bertelinga tunggal yang mende-ngar gumaman tersebut diamdiam mendengus. saat itulah kau harus ke luar dari situ karena tempatmu akan kugunakan . Kakek bertelinga tunggal itu segera ber-jalan mendekati peti mati kaca kristal itu. jelas perempuan ini dipaksa mati untuk menemani suaminya. bila anak Giok berhasil mencincang tubuh musuh kita. kemudian sambil me-nyeringai seram pikirnya. sekulum senyuman sinis segera ter-sungging di atas wajahnya. ia nampak masih amat segar. " Berpikir sampai di situ. ia saksikan pula banyak sekali ukiran-ukiran bocah lelaki dan perempuan dengan pakaian yang perlente tergeletak di situ. Ayah. dia lantas berjalan menuju ke depan kain kuning berisi sepasang pedang itu dan siap untuk me-ngambilnya. Kemudian dia melanjutkan kembali per-buatannya untuk membuka kain kuning tersebut--- . sekilas pabndangan saja djapat diketahui gkalau semua benbda itu terbuat dari bahan berharga. Di sisinya berbaring permaisuri yang nam-pak masih amat muda. aku bersumpah akan mencincang tubuh manusia laknat itu untuk membalas-kan dendam bagimu. diam-diam dia meninggalkan tempat itu dan mendekati meja batu terse-but.50 giok sedang berlutut sambil menangis. pejamkanlah matamu yang melotot gusar itu . Kakek bertelinga tunggal itu memandang sekejap ke arah jenazah Lengong yang berada dalam peti mati. lindungilah anak Giok. .sedu: "Ayah. . paling banter umurnya baru dua puluh enam-tujuh tahunan. Sang raja mengenakan kopiah kebesaran dengan jubah kuning bersulamkan naga. beristirahatlah kalian dengan tenang. . ternyata di peti mati itu adalah Raja Leng ong serta permaisurinya. jenggotnya yang hitam terurai sepanjang dada. sekarang kau boleh berbaring nyaman di situ. "Hmm . wajahnya cantik dan senyuman dikulum. . Mendadak di pihak sana kedengaran Lan See giok sedang berseru sambil menangis tersedu. kemudian melongok ke dalamnya. Barulah pada peti mati tembaga yang ke empat dia jumpai jenazah dari seorang pemuda dan gadis yang sesungguhnya.

tapi setelah diambil empek terse-but. Lan See giok merrasa amat terperanjat. Pada kedua belah sisi sarung tadi bertatahkan batu permata kecil yang membentuk dua buah huruf kecil. jangan kau sentuh sepasang pedang itu!" Kakek bertelinga tunggal itu kontan saja tertawa dingin. niscaya dia sudah mendorongnya keluar dari tempat itu. pedang itu melejit ke luar sepanjang beberapa inci. walaupun dia tahu kalau pedang itu dilarang disentuh. pedang ini memang pedang Jit -hoa. apakah pedang itu adalah Jit hoa?" Berseri wajah kakek itu setelah mendengar ucapan tersebut.. jika sepasang pedang itu tergeser.. "Aaah.. dari mana kau bisa tahu?" "Ayah yang mengatakan kepadaku!" Dengan gembira kakek itu segera menekan tombol rahasia di atas pedang itu. Klik!" lamat-lamat berkumandang suara pekikan naga. jangan kau sentuh. Giok. diapun ikut maju ke depan untuk bisa melihat lebih jelas. Menyusul kemudian tubuh. "Empek. agaknya ia tidak mengenal apa arti dari kedua huruf kuno itu. se-ketika itu juga cahaya berkilauan yang amat menusuk pandangan mata memancar ke em-pat penjuru. berkilauan segera memancar ke empat pen-juru. di atas sarung pedangnya bertaburan batu permata yang sangat indah. Lan See-giok memang seorang bocah. dunia persilatan akan banjir darah. sahutnya dengan cepat: "Benar. dia merasa tidak seharusnya mengajak orang itu ke mari. Lan See giok menyesal sekali setelah menyaksikan kenekatan kakek itu. Pedang yang berada di tangan kakek ber-telinga tunggal itu bercahaya merah. Maka segera serunya setelah menyaksikan kakek bertelinga tunggal itu hanya mem-bungkam belaka. serunya sinis.51 Begitu kain kuning itu terbuka. cahaya.ji. ayah pernah bilang. Dengan kening berkerut kakek bertelinga. andaikata ia bukan teman akrab ayah-nya. di bagian tengahnya ter-dapat sebuah sulaman matahari merah dengan di sisinya terdapat sulaman awan. ." Sembari berkata dia lantas mengambil salah satu dari pedang itu. omongan anak kecil. tunggal itu nampak membungkam dalam seribu bahasa.. buru-buwru dia lari mendekat sambil berte-riak: "Empek.

namun jarang sekali muncul dalam dunia. kedua bilah pedang ini memang merupakan pedang Jit hoa dan Gwat hui kiam yang menjadi idaman dari setiap umat persilatan---" "Klik!" di tengah dentingan nyaring." Seketika itu juga paras muka kakek itu berubah menjadi merah padam. sambil me-lotot besar teriaknya." Mendengar perkataan itu. cepat kembalikan pada tempatnya!" . maka ketika dilihatnya kakek bertelinga tunggal itu belum juga mengembalikan pedang mestika itu ke tem-patnya semula. setelah itu dia mengambil pedang yang lain." buru-buru Lan See giok mencegah. "Ayah pernah membaca risalah sejarah dalam kitab pusaka kedua pedang itu. dia telah melo-loskan pedang yang lain. "Empek. .52 Saking emosinya seluruh tubuh kakek bertelinga tunggal itu gemetar keras. "Klik!" ia masukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya kemudian diletakkan kem-bali ke meja. Lan See-giok masih teringat selalu dengan pesan ayahnya dulu.. dengan gelisah dia lantas berseru: "Empek. "Ayahmu dengar pula dari siapa? " Sembari berkata dia menyarungkan kembali pedang itu. kulit wajahnya mengejang keras . sebelum Lan See -giok menyelesaikan kata katanya. . segera memancar ke luar serentetan cahaya ber-warna emas yang menyilaukan mata. ucapanmu memang benar. "Empek" dengan perasaan tak habis mengerti Lan See giok berseru. jarang diketahui umat per-silatan. tapi tak dikenal. sepasang pedang ini adalah Jit gwat tong kong kiam. " Tentu saja kakek itu tidak menggubris per-kataan bocah tersebut. akhirnya dengan wajah memerah dia pura--pura bertanya: "Giok ji. "kedua belah pedang ini sama bentuknya . meski sudah bersejarah ribuan ta-hun. Bentuk pedang ini hampir serupa dengan pedang yang pertama tadi. Kakek bertelinga tunggal itu segera manggut-manggut sambil memuji. sepasang matanya yang licik tanpa terasa melirik sekejap. perasaan si kakek bertelinga tunggal itu kembali tergerak. "Ehmm. . jangan dilihat lagi. kau kenal dengan nama pedang ini?" "Pedang itu adalah Gwat hui kiam!" jawab Lan See giok tanpa sangsi. "menurut ayah. la mencoba untuk mengenali tulisan kuno di gagang pedang tersebut. ke atas kotak emas kecil di sisi hiolo tersebut. maka ayah tahu dengan jelas. hanya bedanya di tengah sarung pedang ini berukirkan sebuah rembulan.

sewaktu lewat di sini pedang Jit-hoa-gwat hui kiam. Kakek bertelinga tunggal itu nampak geli-sah sekali. mari kita tutup peti mati itu!". mari kita berangkat. Sembari berkata dia berjalan lebih dulu menuju ke depan peti mati orang tuanya. Lan See giok segera mengangguk puas. sebelum senyuman menyeramkan segera menghiasi bibirnya. Kakek bertelinga tunggal itu mengikuti di belakangnya. beberapa kali dia nampak seperti kehabisan sabar tapi secara tiba-tiba wajah-nya berseri. sambil manggutmanggut dia letakkan kem-bali ke dua bilah pedang itu di tempat semu-la. Dengan perasaan terkesiap buru-buru seru nya kepada Lan See giok: "Coba lihat." Dia lantas berjalan menuju ke arah luar. Kemudian mereka berjalan kembali ke ru-angan depan. Setelah ke luar dari ruangan kuburan. mendadak paras mukanya berubah. pelan-pelan pintu besi yang besar tadi merapat kembali. lalu menjawab: "Sepasang mata ayahku terpejam kembali ketika aku bersumpah akan mencincang tubuh musuh besar pembunuhnya!" Agak berubah wajah kakek itu. tak urung hatinya merasa bergidik juga. Lan See giok segera menuju ke kamar sebelah kiri dan memutar kembali gelang besi di atas pintu besar itu.53 Sekilas hawa amarah segera melintas di atas wajah kakek itu. Setelah semua selesai. katanya kemudian: "Empek. meski dia tidak percaya dengan setan. tapi dia tidak berkata apa-apa lagi. tapi hanya sejenak ke-mudian dia telah bersikap tenang kembali. dengan cepat ia membantu bocah itu untuk menutup kembali peti mati tembaga tersebut. Lan See giok mulai membenahi pakaian serta barang keperluan sehari -harinya. dia melirik sekejap dengan sinar mata rakus. namun di dalam ku-buran yang sepi dan mengerikan ini. Rupanya sepasang mata si Gurdi emas peluru perak Lan Khong tay yang semula melotot besar. kemudian baru ke luar dari sana. . mata ayahmu telah memejam kembali. Kakek bertelinga tunggal itu mengikuti di belakangnya. satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya. lalu sambil berdiri katanya: "Empek. Lan See giok memandang sekejap wajah orang tuanya. kini telah terpejam kembali. peluh dingin segera ber-cucuran. kapan mata ayahmu memejam kembali?" Ketika mengucapkan perkataan itu mata nya yang sesat menunjukkan perasaan kuatir wajahnyapun merasa ngeri. Lan See giok baru menyembah beberapa kali di depan peti mati itu. ketika ia memandang ke dalam peti mati tersebut.

" seru bocah itu serius. dia lama sekali tidak memberi komentar apa-apa. apakah kalian pernah bersua dengan bibi Wan?" Agak tertegun kakek bertelinga tunggal itu mendengar pertanyaan tersebut. . kemudian katanya: "Giok ji. bukan begitu. Setelah meneguk secawan arak. kemudian katanya kembali: "Empek. kembali dia melanjutkan: "Kalau dibilang bibi Wan adalah adik kandung ayahku. kemudian setelah me-mandang cawan arak di meja sekejap sahut-nya: "Mengapa secara tiba-tiba kau ajukan per-tanyaan ini? Apakah bibi Wan mu tidak me-nyayangi dirimu?" "Bukan. sedang suami bibi Wan she Ciu . orang bilang perubahan cuaca su-kar diduga."" sahut kakek itu sambil mengang-guk tenang. padahal ayahku she Lan sedang bibi Wan she Han. tanpa terasa serunya." Setelah berhenti sebentar. agaknya dia tidak menduga akan menjumpai pertanyaan semacam itu. "bibi Wan sangat baik kepadaku. aku pikir kau sendiri pun tentu sudah lapar bukan. apakah dia akan menduga kalau engkohnya bakal tiada. seperti misalnya ayahmu. "yang kumaksudkan adalah bibi Wanmu -itu!" Lan See giok segera termenung sebentar. nasib manusia sukar ditebak. Mendadak dengan kening berkerut Lan See-giok berseru "Empek. secara mendadak ---" Terkesiap hati Lan See giok mendengar perkataan itu. setelah berhasil menenangkan dia menyahut : "Tentu saja pernah berjumpa!" . . benarkah bibi Wan adalah adik kandung ayahku?" "Untuk sesaat kakek bertelinga tunggal itu merenung sebentar. maka dengan cepat dia mengambil makanan dari ruangan lain sekalian membawa serta sebotol arak ayahnya yang belum sempat diminum. kakek itu menghela napas panjang. ambilkan makanan untuk empek mengisi perut. "Empek maksudkan bibi Wan?" "Benar. cuma aku tidak habis mengerti kenapa ayah ibuku belum pernah membicarakan hal itu kepadaku? Mengapa mereka tak pernah memberitahukan kepadaku kalau mempu-nyai bibi Wan yang begitu cantik. apakah kemarin dia akan menduga bakal terjadi peristiwa seperti hari ini? Seperti juga adik Wan. " Kakek bertelinga tunggal itu hanya mendengarkan dengan seksama." Lan See giok memang lapar.54 Dengan suara ramah dan penuh kasih sayang diapun segera berkata: "Giok ji.

55 Sambil berkata dia lantas mereguk arak-nya setegukan." Lan See giok merasa perlu untuk memberi kabar kepada Bibi Wan nya tentang musibah yang menimpa ayahnya. agaknya dia hendak mengguna-kan kesempatan itu untuk menenangkan kembali hatinya. dia lantas berseru. "Cuma waktu itu dia masih seorang gadis yang berusia lima enam belas ta-hunan. bermain bersama ." "Empek. kaupun sebaya dengan usia enci Cu mu" "Enci Cu? Enci Cu yang mana?" Lan See -giok tertegun.. Terdengar kakek bertelinga tunggal itu berkata lebih lanjut dengan gembira. Kakek bertelinga tunggal itu segera tertawa terbahak-bahak. Sekali lagi kakek itu tertawa tergelak. maka dia berkata kembali: "Cuma. "Anak dungu. haaah . punya semangat. . . empek memang paling suka dengan orang yang bersemangat seperti kau. Berapa saat kemudian ia baru melanjut-kan.. enci Cu. tapi ia segera men-dongakkan kepalanya sambil tertawa terge-lak. mengapa harus malu? Di kemudian hari kau akan siang malam hidup bersama dengan enci Cu mu. "Putri bibi Wan sekarang telah berusia enam belas tahun!" Kakek bertelinga tunggal itu segera me-ng-iakan dengan mengandung sesuatu mak-sud. "Tentu saja!" Dengan cepat Lan See giok menggebrak meja keras-keras. anak bodoh.. serunya sambil tersenyum. ." Tanpa terasa Lan See giok terbayang kem-bali dengan bayangan tubuh enci Cian nya. kemudian dengan mata melotot serunya: "Bila Giok ji telah berhasil memiliki ilmu silat selihai empek." Paras muka kakek bertelinga tunggal itu kembali mengejang keras. "Haaah . adalah Siau cu putri empek!" Merah padam selembar wajah Lan See -giok karena jengah. . jadi kau hendak mengajarkan Ilmu silat kepada Giok ji?" seru Lan See giok gembira. sekarang aku belum bisa ikut em-pek untuk belajar silat--" . haaah .. berlatih ilmu silat bersama. aku tak akan takut lagi terhadap musuh besarku. "Kalau begitu. pujinya berulang kali: "Punya semangat. buru-buru dia menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Sebab Giok-ji merasa perlu untuk mem-beri kabar dulu kepada bibi Wan atas musi-bah yang telah menimpa ayahku---" Belubm lagi Lan See-jgiok menyelesaigkan kata-katanyba. ternyata diteri-ma-nya juga tanpa sangsi. tapi ia cukup waspada. . betul! Kabar duka ini memang harus cepat-cepat disampaikan kepadanya " Setelah berhenti sebentar.56 "Kenapa?" tanya kakek bertelinga tunggal itu terkejut." Setelah tahu kalau dia hendak diberi pela-jaran silat yang hebat. kakek bertelinga tunggal itu mengeluarkan sebuah bulibuli hitam dari sakunya dan membuka penutupnya. Diam-diam Lan See giok berkerut kening sesudah mengendus bau tersebut. ia seperti ter-ingat akan sesuatu dengan cepat dia melirik sekejap kearah bocah itu. senyuman yang semula me-nye-limuti wajahnya seketika lenyap tak ber-bekas. "Tidak usah. Maka selesai ber-santap nanti akan kuberi sebutir pil penam-bah tenaga lebih dulu untukmu. empek bukan kuatir kau kecapaian. lalu ujarnya lebih jauh. tapi aku hendak mewariskan ilmu silat dulu kepadamu. Minum sebutir saja. kemudian kau mesti duduk bersemedi sesaat sebelum khasiat obat itu dapat diserap oleh tubuh-mu. Dengan cepat ujarnya lagi dengan suara dalam: "Yaa. haaah . tentu saja Lan See giok tidak mengotot lagi. pil apaan ini?" "Obat ini merupakan pil penguat badan penambah tenaga yang empek buat selama puluhan tahun lamanya dengan mengumpulb-kan pelbagai bjahan obat mestigka dari se-antebro jagad. "Cuma. meski bau obat itu busuknya menusuk hidung. . . "Haaah . haaah . tenaga . segera pikirnya: "Huuuh. . bau obat apaan ini?. setelah bersantap nanti kita mesti beristirahat dulu sebelum berangkat . sekilas perasaan kejut ber-campur girang telah menghiasi wajah si kakek yang jelek. anak bodoh. katanya ke-mudian sambil tersenyum ramah: "Giok ji. busuknya bukan buatan ---" Sementara ia masih termenung. "Empek tua. tapi sebelum dite-lan ia bertanya lagi. Selesai bersantap. Bau pedas yang menusuk hidung dengan cepat menyebar ke luar dari balik buli-buli tersebut. Giok ji tidak lelah!" tukas Lin See giok sambil menggeleng. . telanlah pil ini!" Lan See-giok bernapsu untuk cepat me-miliki ilmu silat tinggi. kakek bertelinga tunggal itu telah mengeluarkan se-butir pil kecil berwarna hitam dan mengang-surkan ke hadapan bocah itu.

dia merasa semakin mual dan hampir saja muntah-muntah. "Kau harus ingat baik-baik. Sementara ingatan tersebut melintas dalam benaknya. pokoknya obat mestika se-macam ini amat langka di dunia dewasa ini. kalau sudah tak tahan. tapi di mulut ia masih berkata lagi dengan lemah lembut. sekalipun obat racun dia juga tak ambil perduli. menawarkan racun juga mem-bersihkan darah. Bau busuk dari pil itu makin mengocok isi perutnya dengan makin menghebat. tapi demi mem-peroleh ilmu hebat. Tapi sambil menggertak gigi bocah itu berusaha untuk mempertahankan diri. "Anak Giok. sepuluh tahurnpun belum terhitung lambat. rasa kaget Lan See giok setelah mendengar perkataan itu. tepat setahun!" jawab kakek itu sambil tertawa bangga penuh keli-cikan. bahan-bahan obatnya langka dan susah ditemukan. tulang belu-lang-nya seakan- . "mulai hari ini. cepat berbaring atau duduk di atas pembaringan. apalagi cuma setahun." Bau busuk yang memualkan dan hawa panas yang menyengat badan segera menye-limuti seluruh isi perutnya. sambil berusaha keras menekan perasaan sakit dan menderita yang mengocok isi perutnya. dia bertanya: "Berapa butir lagi yang harus kutelan?" "Dua belas butir. ia segera mengangguk. setiap bulan kau harus minum sebutir. keta-huilah betapa sulit dan sengsaranya empek untuk membuat pil tersebut. ia segera naik ke atas pembaringan dan duduk bersila di situ. tak sampai kakek bertelinga tunggal itu menyelesaikan katanya. selain dapat mengusir hawa dingin. seoranrg lelaki hendak membalas dendawm. bahkan tiga hari setelah masa yang ditetapkan lewat.. Selintas senyum yang licik. kau bisa muntah da-rah sampai mati!" Tak terlukiskan.. Lan See giok tidak berbicara lagi." Sambil menggigit bibir dan menahan napas Lan See giok manggutmanggut. jangan kau tumpahkan. seluruh tubuhnya terasa remuk dan sakitnya bukan kepalang. lalu ditelan ke dalam perut secara "paksa." kata si kakek bertelinga tunggal lagi dengan wajah ber-sungguh sungguh.. Baginya. busuk dan pe-nuh perasaan bangga segera menghiasi wajah si kakek yang jelek.57 dalammu akan bertambah dengan berapa tahun hasil latihan." Mendengar kalau pil itu berkhasiat sangat banyak. kalau tidak selain khasiat obatnya tak akan menghasil-kan apaapa. mendadak Lan See giok jejalkan obat itu ke dalam mulut-nya.

." Mendengar pesan itu. jangan mencabangkan pikiran-mu... " "Giok-ji. Entah berapa saat kemudian . peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercu-curan membasahi sekujur badannya. ke mana perginya empek tua?" Dengan cepat dia melompat turun dari atas pembaringan. segera pikirnya: "Heran.bahak dengan seramnya. buru-buru Lan See. Dalam penderitaan yang luar biasa. entah mengapa ternyata dalam mulutnya masih tersisa sedikit bau harum yang semerbak dan menyegarkan badan. . Ia merasa amat keheranan mengapa pil yang busuk baunya bisa berubah menjadi harum dan segar setelah dipakai untuk me-ngatur pernapasan? Dengan cepat dia berpaling ke sekitar situ.58 akan hancur berantakan. dia seakan akan mendengar kakek bertelinga tunggal itu tertawa terbahak. mendadak terdengar kakek itu ber-kata lagi. sebusuk pil yang telah diminumnya barusan -Belum habis ingatan tersebut melintas le-wat. baru saja menggunakan sedikit tenaga. namun empek bertelinga tunggal itu sudah tidak nampak lagi. tapi lambat laun kesadarannya makin pudar dan menghilang. meski ia belum pernah minum pil penambah tenaga.giok mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghisap sari obat yang dimaksudkan. men-dadak ia merasa kepalanya amat pusing dan kelopak matanya makin lama terasa semakin berat. sekarang daya kerja obat itu baru me-nyebar cepat. Sebenarnya dia masih ingat dengan pesan empeknya dan ia tak berani muntah. tapi ia percaya bau sebutir pil mestika tak akan. Lan See-giok makin terkesiap. sebelum ingatan terakhir lenyap dari benaknya. . Tapi dia masih sempat mendengar kakek itu berpesan: " . . kerahkan tenaga dalammu untuk membawa sari obat ke seluruh bagian tu-buhmu. tapi rasa mual dalam perutnya sungguh tak ter-tahan lagi sehingga tak tahan lagi. Lan See giok masih sempat mendengar sepatah dua patah kata lagi.Kau harus tahu. Pelan-pelan Lan See giok sadar kembali dari pingsannya. orang bilang obat yang pahit justru merupakan obat paling mujarab untuk menyembuhkan penyakit" Dalam keadaan setengah sadar setengah tidak. kemudian seraplah khasiat obat itu dengan tenaga dalammu. mendadak lambungnya terasa mual sekali hingga tak tahan dia segera tumpah-tumpah.

. " Pada saat itulah . Maka sambil menghimpun tenaga dalam-nya ke dalam telapak tangan kanan. Memandang gumpalan air hitam yang ber-ceceran di tanah. Menyusul kemudian kedengaran pula suara gemuruh yang dahsyat menggoncang kan seluruh permukaan bumi. . sambil tampaknya sangat mirip dengan suara jeritan empeknya. . dengan cepat-nya dia lari menuju be depan pintu besi di muka kuburan raja-raja. . dia merasakan getaran pada dinding gua makin keras. pintu gerbang besi tetap tertutup sedangkan mutiara itupun masih memancarkan sinar yang redup. Ketika angin pukulan itu sudah lewat. pikirnya : "Coba kalau air hitam itu tidak muntah ke luar. dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat ke arah mulut lorong. Maka sambil menghimpun tenaga dalam-nya ke dalam telapak tangan. malah di balik lorong sana kedengaran suara gemuruh yang memekakkan telinga. Semakin ke dalam. Lan See giok gugup sekali. suasana dalam kuburan pun telah pulih kembali dalam keheningan. . lalu mengerah-kan ilmu meringankan tubuhnya.. suara jeritan itu penuh disertai perasaan ngeri. banyak lapisan langit-langit kuburan yang bergu-guran ke tanah Lan See-giok terkejut sekali dia merasa amat kenal dengan jeritan kaget itu. . Waktu itu suara aneh tadi sudah sirap. ternyata tenaga dalamnya telah peroleh kemajuan pesat. permukaan tanah kelihatan licin dan rata. ternyata segala sesuatunya berjalan lancar. tanpa terasa timbul perasa-an curiga dalam hati Lan See giok. oooh betapa beruntungnya aku. Mendadak ia mendengar suara jebritan kaget yanjg parau dan memgekakkan telingab berkumandang datang dari arah kuburan raja-raja dalam lorong rahasia sana. .59 "Uaakk. segera berham-buran keluar dari mulutnya dan berceceran di atas tanah. Hembusan angin puyuh yang dahsyat di-iringi suara desingan yang memekakkan telinga langsung menggulung ke dalam lorong itu dan membawa habis seluruh debu dan pasir yang berada di sekitar situ. bahkan tidak terasa adanya ham-batan apa-apa.. tentu tenaga dalam yang kumiliki akan jauh lebih dahsyat . dia ber-gerak menuju ke dalam lorong rahasia terse-but. gumpalan bau busuk ber-campur air berwarna hitam. suaranya juga makin lama semakin mengerikan.." . dengan cepat dia mencoba untuk mengatur perna-pasan. Menyesal dan jengkel dia memandang se-kejap lagi ke arah gumpalan air hitam yang ditumpahkan ke luar tadi. se-hingga tanpa terasa dengan perasaan. Kejut dan girang Lan See giok setelah men-yaksikan kejadian itu.

tampak empek bertelinga satu terkapar dengan wajah pucat. Gejala ini menunjukkan gejala seseorang yang terkena totokan. . Mendadak dia melompat dari atas tanah sambil membentak keras. Dengan terperanjat bocah itu segera men-jerit. Dia tahu ada orang bersembunyi di dalam kuburan kuno itu. . sedang sesosok bayangan hitam terkapar di atas tanah. dia kelihatan amat ketakutan selain merasa terperanjat sekali. dengan sorot mata yang tajam pelan-pelan dia berjalan menuju ke depan . ternyata dia adalah si empek bertelinga satu.. telapak tangan kanannya langsung dibabat ke atas tubuh Lan See giok. yang lain dipakai melindungi dada. bukankah hal ini menunjukkan kalau kepandaian yang dimili-ki orang itu sudah mencapai ke tingkatan yang luar biasa ? Sementara pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya. empek tua .60 Lan See giok makin keheranan. Buru dia memburu ke sisinya dan meme-riksa keadaan empeknya. Ketika orang itu diperiksa dengan seksama. "Empek tua.-!" Namun kecuali suara yang mengandung dan memantul di empat penjuru tidak ke-de-ngaran suara lainnya. Makin dipikirkan pemuda itu merasa se-makin terkesiap. ia sudah tiba di kamar batu sebelah kiri. tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya terperanjat. Tombol rahasia untuk membuka pintu ger-bang kuburan raja-raja telah terbuka. dengan kepandaian si em-pek bertelinga satu yang begitu libhaypun ia tak bjerhasil menemukgan orang yang mben-yembunyikan diri itu. terpaksa dengan suara pelan dia berseru. . dia tidak habis mengerti mengapa empek bertelinga satu itu belum juga ditemukan." Telapak tangan kanannya yang penuh dengan himpunan tenaga dalam itu segera diayunkan pula untuk menyongsong datang-nya ancaman tersebut. Terpaksa Lan See giok menghimpun tenaga dalamnya ke dalam sepasang tangan. . Kakek bertelinga satu itu menghembuskan napas panjang-panjang lalu mendusin. wajah penuh air keringat dan napas membu-ru. . "Empek. dan jelas apa yang telah dibicarakan dengan empeknya tadipun sudah didengar oleh orang yang "bersembunyi" di balik kegelapan tersebut. aku. yang satu dipakai untuk menutupi muka. maka Lan See giok segera berjongkok dan menepuk pelan di atas jalan darah Mia bun hiatnya.

Diapun melihat gelang besi di permukaan batu itu sudah dihancurkan berkeping. sekarang dia mengerti su-dah bahwa orang yang menotok jalan darah-nya barusan bukanlah Lan See giok. hawa tajam segera memancar ke empat pen-juru. bukan aku. Mimpipun Lan See giok tidak menyangka kalau dia bisa menyambut serangan si empek bertelinga tunggal yang maha dahsyat itu. . aku baru memburu ke mari setelah mendengar teriakanmu tadi. dalam keadaan seperti ini dia tak sempat lagi untuk memikirkan mengapa Lan See giok bisa mendusin kem-bali. "Bukan. Maka ditatapnya si empek yang sedang bersandar di atas dinding dengan wajah tertegun. di jumpai batu di atas permukaan tanah telah terbuka. paras muka si kakek berubah menjadi pucat pias.kong ci. cepat dia mencoba untuk mengatur napas. gelang besar pembuka pintu besi telah rusak!" Dengan cepat dia memburu ke depan dengan terburu-buru. aku adalah Giok ji!" Dengan cepat rkakek itu menenangkan kembali pikirannya. menanti dia berpaling lagi. sedang rantainya juga telah pada menyusup masuk ke dalam lubang bagian bawah. Dalam pada itu kesadaran si kakek bertelinga tunggalpun telah pulih kembali seperti sedia kala.61 "Blaaammm. akibatnya Lan See giok dan kakek ber-telinga tunggal itu sama-sama mundur dengan sempoyongan dan. dia segera menjerit kaget: "Haaah. Menyaksikan kesemuanya itu.ke-ping oleh seorang dengan ilmu Tay-lek-kim.. mengapa tenaga pukulannya masih be-gitu dahsyat dan hebat walaupun sudah mi-num pil hitam pemberiannya. "Apakah kau yang menyergapku barusan?" Lan See giok agak tertegun. . . aku yanrg datang. kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali. sesudah itu teriaknya gelisah: "Mana pedang dan kotak kecil itu?" Sekali lagi Lan See giok tertegun.!" di tengah benturan keras. ternyata tidak ditemukan sesuatu gejala yang menunjukkan ketidak beresan. "Duuuk!" bahu masing-masing menumbuk di atas dinding. Maka dengan mata melotot bentaknya keras-keras. kemudian teriaknya keras-keras: "Empek." Dengan cepat kakek itu membalikkan badannya lalu mencari ke arah ruang dalam dengan gugup. sinar matanya memancarkan rasa kaget dan cemas peluh sebesar kacang kedelai pun jatuh ber-cucuran dengan deras. .

tiba-tiba kudengar empek berteriak. Kujumpai pintu makam sudah terbuka se-dang kedua bilah pedang dan kotak kecil itu sudah terletak di atas tanah. meski dia masih kesal tapi ia ma-sih mempunyai pengharapan. "Aaai. siapakah orang itu?" "Entahlah. Setelah menutup kembali lapisan batu itu. aku jadi curiga dan memburu ke situ.62 "Empek. mencorong sinar tajam dari balik mata kakek bertelinga tunggal itu. tahu-tahu jalan darahku telah ditotok orang." Sementara itu paras muka si kakek ber-telinga tunggal telah pulih kembali seperti sedia kala. buru-buru tanya-nya dengan gelisah. buru-buru Giok ji menyusul ke mari. "Empek tua. empek menjadi keheranan. dia seperti teringat akan sesuatu. Kakek itu tidak menjawab. "Empek. Melihat empeknya tidak berbicara Lan See giok terpaksa harus berkata lagi: "Waktu Giok ji bangun. kunci yang mengendalikan pintu gerbang menuju ke makam rajaraja telah putus. sungguh tak nyana kedatangan empek terlambat selang-kah sehingga pedang Jit hoa gwat hui tong kong kiam serta kedua macam kotak kecil itu keburu dicuri orang. dia hanya berdi-ri termangu-mangu. sejak kini tiada orang yang bisa me-masuki makam tersebut lagi. mendadak kudengar suara gemerincing. maka kata-nya setelah menghela napas sedih. kata Lan See giok secara tiba-tiba dengan gelisah. "Cepat lari!" . baru saja akan masuk ke dalam pintu. menyusul kemudian terdengar suara gemuruh nyaring. ia menganggap kesemuanya itu benar. tampaknya kehendak takdirlah yang menentukan segala sesuatunya. mendadak ditariknya tangan Lan See giok dan diajak berlarian menuju ke luar makam tersebut. seperti pintu besi makam raja-raja dibuka orang. ternyata jalan darah empek sudah ditotok orang." Lan see giok tidak berpikir lebih jauh. sebenarnya apa yang telah terjadi?" Kakek bertelinga tunggal itu hanya me-na-tap wajah Lan See giok lekatlekat. sambil memandang si kakek dengan kehe-ranan Lan See giok bertanya." Lan See giok merasa terkejut sekali set-elah mendengar perkataan itu. waktu itu empek sedang berse-medi. maka tanyanya lagi dengan keheranan: "Lantas di manakah orang itu sekarang?" Ketika mendengar pertanyaan itu. dia tahu hari ini telah berjumpa dengan seorang jago lihay. sampai lama sekali tak mengucapkan se-patah kata-pun.

Karena tak diduga akan didorong. Dalam waktu singkat mereka sudah tiba di luar makam. Tiba-tiba kakek itu membentak keras. "Empek. dia tahu kalau keadaan pasti gawat. Setibanya di ruang tengah. pintu bela-kang makam kosong itu segera menutup ra-pbat. dengan cepat dia menghentikan gerakan tubuhnya sambil bertanya : "Di manakah letak kunci pengatur pintu masuk ke dalam makam?" "Di bawah meja altar dari batu itu. Lan See giok segera membungkukkan badan menyingkap rerumputan di balik ku-buran dan membuka sebuah batu. dengan mata berkedip dia mendorong Lan See giok ke samping. Lan See-giok jatuh terduduk di atas tanah." jawab si bocah gugup. Buru-buru mereka berdua menyelinap ke depan makam dan tiba di depan altar yang dimaksudkan.63 Lan See giok dibuat kebingungan oleh tin-dakan yang amat tiba-tiba itu. kakek itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Lan See giok untuk berhenti. maka tanpa komentar. pepohonan siong melambai lambai terhembus angin. "Blaaammm!" Pintu belakang makam segera merapat keras-keras. Ilmu meringankan tubuhnya memang lihay tapi sekarang anak itu merasa ilmunya se-makin lihay lagi. Suara gemerincing terdengar. tapi me-lihat kegugupan kakek itu. dia mengikuti di belakang nya. jangan----" Belum habis dia berkata. waktu itu matahari sedang bersinar terang. rantai di bawah gelang besi itu sudah terpapas kutung. kakek itu segera menarik gelang besi itu keras-keras. menyusul kemudian terdengar suara gemuruh dan goncangan yang amat dahsyat---- . kenyataan tersebut mem-buatnya semakin berterima kasih atas pem-berian pil bau dan hitam dari si empek. Kakek bertelinga tunggal itu tidak menghi-raukan keadaan alam di sekitar sana. di bawah batu itu terdapat sebuah gelang besi kecil. tela-pak tangan kirinya secepat kilat membabat rantai besi yang sedang dicengkeram dengan tangan kirinya itu-Tak terlukiskan rasa terperanjat Lan See giok menyaksikan kejadian itu. Dengan sikap tergesa-gesa. Kakek itu nampak terkejut bercampur gi-rang. segera te-riak-nya terperanjat. se-mentara sepasang matanya terbelalak lebar dengan wajah tidak habis mengerti. tanpa berhenti dia menarik Lan See giok menuju ke luar makam.

.haaah--. mendadak sambil melompat bangun serunya cemas: "Tapi empek." "Empek akan mewariskan segenap kepan-daianku kepadamu.64 BAB 4 PERISTIWA DI TEPI TELAGA KAKEK bertelinga tunggal itu segera mem-buang gelang besi di tangannya dan men-do-ngakkan kepalanya sambil tertawa terba-hak bahak. jika tombol di depan sudah putus. Suara tertawanya keras dan mengerikan. sebab rantai itu kan saling berhubungan satu sama lain nya.. membuat siapa pun yang mendengar merasakan bulu kuduknya pada bangun ber-diri. haaah . . . "Haaah . sudahlah. agar orang yang mencuri pedang tewas terkurung di dalam makam tersebut Berpikir sampair di situ." Selesai berkata dia lantas menarik tangan Lan See giok sambil menambahkan: "Hayo berangkat. bocah bodoh. pakaianku masih berada dalam ruangan dalam!" "Aaah. ." Sebelum habis Lan See giok berkata. yang di dalam pun ikut rusak. ." sela Oh Tin san sambil tertawa seram. . untuk sesaat lama-nya dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Lan See giok menjadi gugup.haaah. kau. kita bersama sama men-cari bibi Wan mu lebih dulu. -aku hendak menggunakan cara ini untuk menunjukkan betapa lihainya aku Oh Tin san!" Sekarang Lan See giok baru mengerti. ia baru berseru agak tergagap: "Empek. apalah artinya pakaian? Biar lain kali enci Cu mu yang buatkan pakaian baru buat dirimu " "Tapi di sana masih ada pula senjata raha-sia andalan ayahku Khong sim liang gin tan. ru-panya kakek itu bertujuan untuk merusak pintu masuk makam raja tersebut. si kakek bertelinga tunggal itu telah tertawa tergelak kembali. bukankrah di dalam makam terdapat pula tombol rahasia untuk membuka pintu tersebut?" "Haaah--. Menanti kakek itu telah berhenti tertawa. kau tak usah memikirkan soal itu lagi. semuanya berada dalam buntalan. . dia lantas berseru : "Tapi. kepandaian empek jus-tru jauh lebih hebat daripada kepandaian peluru perak ayahmu itu. . .. Lan See giok merasa terkejut sampai duduk termangu mangu. ." Dia lantas menarik tangan bocah itu berlalu dari sana. haaah .

"Yaa. Teringat akan kematian ayahnya. kau tidak merasa ada orang menguntit di belakangmu. kemudian sahutnya. kemungkinan saja benar. diapun teringat pula pada masalah siapakah musuh besar pembunuh ayahnya . hal .. suasana riang gembira yang masih mencekam perasaannya kemarin. Sekarang. kini telah berubah menjadi kesedihan yang luar biasa. ia merasa pemandangan di sekeliling tempat itu seakan akan telah berubah. -dia tahu gelisahpun percuma. terpaksa sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya ia mengikuti di samping kakek tersebut. . "Andaikata orang yang membunuh ayah adalah orang yang mencuri pedang. ter-utama tentang jejak kotak kecil tersebut. .. itu berarti tin-dakan yang dilakukan empek bertelinga tunggal hanya sia-sia belaka. berubah menjadi lebih mengenaskan dari pada kematian ibunya dulu. dengan kepandaian silat empek yang begitu lihai pun. Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya.aku sedang berpikir. pikirnya. menurut pendapatmu. Begitulah. dia mengira pencuri itu masih bersembunyi dalam kuburan dan mencuri dengar pembicaraan Lan See giok. apa yang sedang kau pikirkan?" "Oooh. berarti sekalipun. toh empek sendiripun bukan tandingannya. mungkinkah orang yang mencuri pedang itu adalah orang yang telah membunuh ayahku?" Agaknya Oh Tin san sendiripun sedang membayangkan kembali peristiwa yang baru dialaminya. . dengan cepat tanyanya: "Empek. mereka lantas menelusuri jalan-jalan kecil menuju ke depan. kupelajari segenap ilmu silat yang dimiliki empek juga percuma. dia lantas ber-tekad untuk mencari tokoh persilatan lain untuk belajar silat darinya.?" Berpikir sampai di situ. Sepanjang jalan. tapi setelah pintu makam tertutup.Sementara dia masih termenung. Dalam hati kecilnya dia yakin kalau orang mencuri pedang dan kotak kecil itu sudah berhasil ke luar dari makam. ayahnya yang dicintai pun telah tiada. menda-dak terdengar Oh Tin san menegur dengan suara dalam: "Giok ji.65 Walaupun Lan See giok merasa tak senang hati. . setelah ke luar dari kompleks makam raja-raja. Sebaliknya berbeda dengan jalan pemikiran Oh Tin san.. mendengar pertanyaan tersebut ia ragu sejenak. mungkin memang dia!" Mendengar itu Lan See giok segera berke-rut kening. Lan See giok memper-hati-kan sekejap pemandangan di sekitar kom-pleks makam itu dengan pandangan sayu.

Lan See giok merasa jantungnya ber-debar keras. Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Tin san. ia segera ter-tawa dingin. bahkan tenaga dalamku telah memperoleh kemajuan yang cukup pesat". "Hmmm.. kemudian diamatinya jalan darah Sim keng hiat diantara alis mata Lan See giok lekat-lekat.66 ini menunjukkan kalau kepandaian silat yang dimiliki orang itu luar biasa sekali!" Merah padam selembar wajah Oh Tin san mendengar ucapan tersebut. Lan See giok tahu kalau empeknya lagi marah. Terpaksa Lan See-giok ikut mengenjotkan badannya dan menyusul pula dari belakang. dia segera meng-hen-tikan gerakan tubuhnya lebih dahulu. meskbi ber-ilmu tinggi juga tidak terhitung seorang eng-hiong" Kemudian sambil mendengus marah dia percepat gerakan tubuhnya menuruni bukit tersebut. kalau kerjanya hanya mabin kun-tit. lalu katanya. melejit ke udara untuk menyeberanginya. bagaimana rasamu sekarang?" Ditatap sedemikian tajam oleh empek nya. sebuah sungai kecil terbentang di depan mata. maka dengan agak takut-takut sahutnya "Sekarang aku merasa baik sekali empek. maijn sergap secarag pengecut. dia mengira empek bertelinga tunggal ini sudah tahu kalau obat busuk yang dimi-numnya telah muntah ke luar. benar-benar sangat baik.. Ketika tiba di tepi sungai. maka diapun tak berani banyak ber-bicara lagi. tapi ia sudah terlanjur maju delapan depa dari pada empeknya. . berhenti!" Seraya berseru keras. Setelah turun dari bukit. Dihampirinya bocah itu dengan langkah le-bar. sementara pe-rasaan tertegun bercampur keheranan menyelimuti wajahnya yang jelek. mendadak bentaknya keras-keras: "Giok -ji. di depan sungai merupakan sebuah kompleks tanah pekuburan yang telah terbengkalai. sampai lama kemudian ia baru bertanya "Giok ji. sambil memperketat larinya dia menyusul ke sisi tubuh kakek itu. Oh Tin san sama sekali tidak berhenti. Dengan kening berkerut Oh Tin San segera mengawasi wajah Lan See giok yang putih segar itu lekat-lekat. dia seperti teringat akan sesuatu. Lan See-giok segera menghentikan pula gerakan tubuhnya.

Lan See giok merasa terkejut bercampur gembira. Malah sebaliknyab dia nampak lebih cerah lebih bersemangat dan matanya lebih tajam. Lan See giok sudah ber-henti pada tujuh langkah di depan batu ni-san tersebut. tenaga dalam yang dihimpun ke dalam telapak tangan kanannya makin diperkuat.. mendadak dia membalikkan badan nya dan menubruk ke arah Oh Tin san sam-bil bersorak sorai. Sambil mengawasi batu nisan itu lekat-lekat. dia menuding ke arah sebuah bongpay (batu nisan) yang ter-geletak tak jauh dari situ. dia tak -tahu bagaimana caranya untuk menarik kembali telapak tangan kanannya yang telah dilon-tarkan ke depan tersebut. ia tidak habis mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi. . bahkan ilmu meringankan tubuhnya tidak kalah kalau dibandingkan dengan kemam-puan sendiri. dia kuatir empeknya merasa tidak puas dengan hasil yang diperolehnya. asap hijau mengepul diantara percikan batu dan pasir. . lalu katanya dengan serius: "Coba bacoklah batu nisan ini!" Lan See giok merasa amat tegang. Itu berarti di balik kesemuanya itu pasti ada hal-hal yang luar biasa sekali.67 Sekali lagi Oh Tin sun mengamati kening Lan See giok dengan mata sesatnya. pelan-pelan dia berjalan mendekati batu nisan tersebut. . betul juga ia tidak menjumpai gejala keracunan diantara wajah bocah tersebut. sambil menghimpun tenaga sebesar sepuluh bagian. ia berharap batu nisan tersebut bisa di-hajarnya sampai hancur menjadi dua bagian. Oh Tin san makin tercengang lagi ketika melihat jalan darah Thian teng hiat di tubuh Lan See giok tidak menunjukkan gejala hijau kehitam hitaman sewaktu menyalurkan tenaga. Paras muka Oh Tin san kontan saja berubah hebat. Dalam pada itu. bahkan pengaruh racun keji Cui bean hwe khi ngo tok wan (pil panca bisa pembawa hawa ngantuk dan bodoh) kehilangan kemampuannya. Lan See giok menjadi tertegun. . mimpipun dia tak menyangka kalau Lan See giok memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna." diantara ledakan keras yang terjadi. Maka sambil manggut-manggut pura-pura menaruh perhatian khusus. telapak tangan kanannya sekuat tenaga diayunkan ke bawah-"Blaaammm. Maka diiringi bentakan nyaring. Setelah berhasil menenangkan hatinya. maka setelah mengi-akan.

68 Melihat itu buru-buru Oh Tin san menun-jukkan sikap senyum dan ramahnya. "Giok ji.oooh. dengan wajah terkejut bercampur heran ta-nyanya. . batu nisan itu hingga terbelah menjadi dua. Berbicara sampai di situ. kali ini suara tersebut kedengaran berasal dari balik sebuah kuburan bobrok. suara apakah itu?" Oh Tin san tidak menjawab pertanyaan itu. katanya: "Giok ji. kepada Oh Tin san: "Empek. Sambil membentak nyaring Lan See giok segera menubruk ke arah mana datangnya suara tersebut. Maka diapun kembali tertawa terbahak ba-hak pura-pura gembira. empek---" Oh Tin san pura-pura turut tertawa gem-bira. Begitu sampai di tempat tujuan. tapi selamanya tak pernah me-nimbulkan ledakan yang menghancur lumat kan batu nisan tersebut". Belum sempat dia bertanya lagi. Begritu menubruk masuk ke dalam pelukan kakek itu. "Empek--. tangannya meraba bahu. dia lantas menduga Lan See giok pasti sudah menjumpai sesuatu penemuan aneh ketika ia meninggalkan nya seorang diri tadi. Sekali lagi terdengar suara rintihan. bahkan menyambut kedatrangan bocah ituz dengan uluran wtangannya. yang hancur bakal ditemukan sesosok tubuh manusia yang pe-nuh bermandikan darah segar. ia tak me-n-yangka kalau di dalam kuburan yang ter-bengkalai dan peti mati. niscaya segenap kepandaian silat empek yang lihai dapat kau pelajari semua. hanya sepasang matanya yang tajam mem-perhatikan sekeliling tanah pekuburan itu dengan seksama dan amat berhati-hati. Lan See giok segera menangkap suara itu. Lan See giok menggelengkan kepalanya berulang kali. Oh Tin san makin berkerut kening semen-tara dalam hatinya merasa terkejut. dulu aku hanya sanggup menghantam. Lan See giok segera berteriak me-manggil nama empeknya dengan penuh ke-gembiraan. apakah tenaga pukulanmu dulu dapat menghancurkan batu nisan ini?" Sambil mendongakkan kepalanya yang basah karena air mata kegirangan. kemudian sambil tertawa dia baru ber-tanya. kepala dan punggung bocah itu. bakatmu bagus. "Tidak. paras mu-kanya Segera berubah hebat. tulangmu baik asal mau belajar dengan bersungguh hati. tiba-tiba berkumandang suara rintihan penuh rasa kesakitan dari sisi tempat itu.

Dengan cepat dia mengambil air dengan sepasang tangannya. Ketika melihat pula wajah Oh Tin san. Belum lagi Lan See giok mengajukan se-suatu pertanyaan. "Lan See giok merasa amat terperanjat. wajahnya masih diliputi oleh perasaan kaget dan marahnya. matanya yang sesat ber-keliaran kesana ke mari dengan panik. Lan See giok sangat tidak mengerti menghadapi kejadian seperti itu. sementara sepasang matanya membalik ke atas. Tapi ketika ia tiba di situ." Lan See giok amat terperanjat.69 Orang Itu mengenakan pakaian kasar dengan jenggot pendek di bawah dagunya. muka ceking yang berbentuk segi tiga pucat pias tak nampak warna darah. dia tahu empek bertelinga satu hendak me-nyelamat-kan orang itu. akhirnya dengan suara rendah tapi tegang bisiknya: "Cepat kau lari ke tepi sungai dan ambil-kan sedikit air!" Lan See giok tak berani berayal. sementara sepasang mata sesatnya berkedip kedip tanpa tujuan. cepat-cepat dia lari menuju ke tepi sungai tersebut. . kulit mukanya mengejang terus. tampak oleh-nya Oh Tin san sedang memandang ke arah peti mati itu sambil menggelengkan kepala-nya berulang kali. serta merta dia melompat bangun dengan perasaan tak menentu. bibirnya yang pucat pias gemetar tiada hentinya. ternyata orang tersebut sudah tewas dalam keadaan me-ngerikan. Tiba-tiba terasa bayangan manusia berkelebat lewat. Dia seperti hendak mengucapkan sesuatu kepada 0h Tin san. membuat tampangnya ke-lihatan aneh sekali. sorot matanya semakin memancarkan rasa kaget dan gelisah. Paras muka Oh Tin san kelihatan berubah sangat aneh. terutama sekali atas ubun ubunnya yang tumbuh se-buah bisul besar. Paras muka Oh Tin san nampak pucat pias pula seperti mayat. mendadak terdengar Oh Tin san membentak keras: "Jangan kau sentuh dia. baru saja dia hendak berjongkok untuk mengajukan pertanyaan. meski sikapnya jauh lebih tenang namun air keringat nampak membasahi jidat serta hidungnya. tahu-tahu Oh Tin San sudah melewati dari sisinya dan meng-hampiri orang itu. kemudian cepat-cepat lari balik ke tempat semula. . tapi seperti pula merasa ketakutan setengah mati. pelan-pelan diapun membuka kembali sepasang matanya dengan sayu dan lemah. Agaknya waktu itu orang yang terluka tersebut telah mendengar suara manusia. . dia tahu gelagat tidak beres. cepat-cepat diham-pirinya peti mati itu. Ketika orang itu berjumpa dengan Oh Tin san.

maka diapun tidak memikirkan per-soalan itu di dalam hati. "Empek. papan peti mati yang berhasil dikumpulkan itu lantas dijajar-kan ke atas tanah. Melihat itu.. mari kita pergi!" Sampai di situ. -" Oh Tin san berlagak seakan akan terkejut bercampur keheranan. dia lantas membalikkan badannya siap berlalu dari situ. Oh Tin san segera menghentikan langkahnya sambil membalik kan badan. Lan See giok merasa tidak habis mengerti. Mencorong sinar mata Lan See-giok. "Empek tampaknya orang inilah yang tanpa sengaja dilukai oleh Si bayangan setan bermata tunggal dengan senjata gurdi emas se-malam. Maka seraya mendongakkan kepalanya. tapi dia lantas menduga mungkin empeknya menggerutu kepadanya karena banyak urusan. mengapa orang itu mati?" Oh Tin san segera menghela napas pan-jang. dengan wajah berubah hebat ia membuang kayu peti mati yang masih dipegangnya tadi dan segera berjongkok.. kemudian setelah memandang ke arah Lan Seegiok. . katanya dengan sedih: "Luka yang dideritanya kelewat parah" Seraya berkata. "Anak Giok. kemudian sorot mata nya dialihkan ke tubuh mayat tersebut dan tidak berkata apa-apa lagi. tanpa terasa dia menyeka air keringat yang membasahi jidatnya. ternyata pada tulang iga ke tiga di bawah ketiak kirinya terdapat sebuah mulut luka sebesar buah tho. dia berkata kepada On Tin san. se-te-lah itu ujarnya lebih jauh. dia segera pergi mencari kayu. baiklah. apakah kita tak akan mengubur nya lebih dulu?" seru Lan See giok dengan gelisah. Ia menyaksikan gumpalan darah memba-sahi iga kiri orang itu. pergilah kau untuk mencari bebe-rapa buah peti mati yang sudah rusak!" Lan See giok tidak menjawab. Oh Tin-san segera mencibir-kan sekulum senyuman dingin yang meng-gidik-kan hati. Mendadak. tampaknya orang inilah orang yang kena tertusuk oleh senjata gurdi emas dari balik dinding ruangan semalam. mungkin oleh si manusia bermata satu itu dia di buang di sana. Dengan cepat Lan See giok menjadi sadar kembali.. Mendengar itu. katanya: "Sungguh tak kusangka kau si bocah ber-jiwa ksatria dan penuh rasa kemuliaan.70 Dengan perasaan tak habis mengerti Lan See giok segera bertanya: "Empek.

. Mendadak." Hampir saja Lan See giok menjerit ter-tahan setelah mendengar nama orang itu.71 "Coba kalau empek berhasil menolong jiwa orang ini. . berkedip sepasang mata Lan See giok. keadaannya pasti akan lebih baikan!" seru Lan See giok kemudian sambil mengawasi mayat tersebut. si lengan tunggal. masih ada apa tunggal lagi? Tiada hentinya dia berpikir di dalam hati kecilnya . tampaknya dia mirip sekali dengan To ciok-siu (binatang bertan-duk tunggal) Siau gi . ketika ia mendongakkan kepala tampak olehnya Oh Tinsan sudah berada puluhan kaki jauhnya di depan sana. tak selang berapa saat kemudian ia telah berhasil menyusul si kakek itu. si tanduk tunggal. sementara sepasang matanya yang jeli mengawasi terus telinga Oh Tin san yang tinggal satu itu. Dengan tenang Oh Tin-san memperhati-kan Lan See giok bekerja. sekujur badannya menggigil keras. . ia lantas berjalan paling dulu. apakah kau kenal dengan orang ini?" tanyanya kemudian dengan perasaan ingin tahu. Sekarang dia telah dapat menenangkan kembali hatinya. Oh Tin san termenung dan berpikir bebe-rapa saat. dia tidak berbicara pun tidak berkutik. diam-diam dia merasa keheranan. "Mengapa?" tanya Oh Tin san seperti tak mengerti. Menanti Lan See-giok selesai bekerja. si kaki tunggal. kenapa gelar yang digunakan orang-orang itu semua nya menggunakan kata To ? Si mata tunggal. tapi kalau dilihat dari ciri khas wajahnya yang berbentuk segi tiga. maka tubuhnya segera ber-gerak lagi ke depan. ke-mudian baru menyusul di belakang Oh Tin san. Lan See-giok memandang sekejap ke arah peti mati yang sudah tertutup rapat itu. kemudian baru sahutnya: "Aku tidak kenal dengan orang ini. . kepalanya ada benjolan daging. "Sudah pasti orang ini mengetahui siapa-kah pembunuh terkutuk yang telah membi-nasakan ayahku!" Sembari menggumam dia lantas bekerja keras untuk mengebumikan jenazah orang itu. beralis lebar. Lan See giok mempunyai persoalan di dalam hati. dia baru berkata lagi: "Mari kita pergi !" Sambil berkata. "Empek. seakan-akan benaknya penuh dengan persoalan. maka dia pun mengerahkan segenap kekuatannya untuk melakukan per-jalanan.

itulah telaga Huan yang cu. setibanya di rumah bibi Wan nanti. ia saksikan em-pek bertelinga tunggal itu sudah berada pu-luhan kaki di depan sana. Selain itu. Kemudian.72 Sekali lagi dia mendongakkan kepalanya memperhatikan telinga Oh Tin san yang tinggal satu.masa empek pun mempunyai ju-lukan yang mempergunakan julukan To-Sementara ingatan itu masih melintas di dalam benaknya. Oh Tin san mendongakkan kepalanya me-mandang sekejap matahari yang telah con-dong ke barat. Dia hendak menuturkan pula semua kisah kejadian yang dialaminya di makam kuno. bagaimanapun juga dia merasa tak punya keberanian untuk menanyakan julu-kan dari empeknya ini. di samping dusun merupa-kan sebuah telaga yang luas. bagaimanakah caranya ia me-ngi-sahkan peristiwa tragis yang telah me-nimpa ayahnya. lalu tanyanya dengan suara lembut: "Giok ji.. tampak kalau em-peknya itupun sedang termenung. mari kita lakukan perjalanan dengan sepenuh tenaga!" Sambil berkata die segera berangkat lebih dulu. sahutnya: "Telusuri jalanan kecil itu menuju ke arah tenggara!" Dengan gembira Oh Tin san mengangguk. . dia ingin memeriksa sendiri isinya apa-kah benar sejilid kitab Hud bun cinkeng yang diidamkan oleh setiap umat persilatan. dia akan menerangkan pula orang-orang yang mencurigakan itu satu per satu. kemudian sambil menunjuk ke arah tenggara. kedua orang itu sudah berjalan ke luar dari hutan. di depan mata sekarang terbentang persawahan dan hutan bambu. kalau dilihat dari bayangan punggungnya. kita harus menuju ke arah mana?� Lan See giok mengamati sekejap sekeliling tempat itu. agar bibi Wan nya bisa menganalisa dan menyim-pulkan siapa gerangan musuh besar yang telah membinasakan ayahnya. diapun membayangkan kembali si empek bertelinga tunggal itu. diapun hendak memohon kepada bibi Wan untuk mengeluarkan kotak kecil itu. lalu serunya. Mendongakkan kepalanya. Dikejauhan sana sudah muncul sebuah dusun nelayan. dengan nada tak sabar: "Giok ji. tiada hentinya Lan See giok berpikir. kemudian bibirnya bergetar bebe-rapa kali seperti menggumamkan se-suatu.. Tapi. Sambil berjalan cepat. tapi ingatan lain berkecamuk pula dalam benaknya untuk menyanggah jalan pemikiran yang pertama: "Aaaah.

Dia tak berniat untuk menyusulnya. empek bertelinga tunggalnya telah berhenti di ping-gir jalan.. Oh Tin san kembali me-nukas dengan perasaan cemas: "Bibi Wan-mu itu sebetulnya tinggal di dusun apa?" .. perasaan tegang dan ta-kutnya amat tebal menyelimuti wajahnya. karena aku hanya kenal sebuah jalanan ini saja .. Ternyata mereka sudah tiba di kampung nelayan di mana dia berkelahi dengan si bo-cah hitam kemarin. . entah sedari kapan. karena pada detik itu pula dia sedang mem-pertimbangkan perlukah mengajak empeknya berkunjung ke rumah bibi Wannya. seperti lagi mena-han rasa kaget yang luar biasa .73 Lan See giok menyaksikan Oh Tin san ber-gerak makin lama semakin cepat. maka tanyanya: "Kau maksudkan kampung nelayan ini?" "Yaa. ada urusan apa?" "Giok ji. Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar ucapan tersebut. Sekalipun Oh Tin San telah membeli hio dan memeluk jenazah ayahnya sambil me-nangis tersedu sedu. Mendengar teguran itu. dia adalah seorang anak yang cer-das tapi sebelum hatinya menjadi tenang kembali rasanya mustahil baginya untuk memecahkan rentetan teka teki yang diha-dapinya sekarang. dengan perasaan tidak habis mengerti dia lantas berkata: "Empek.. persoalan yang dihadapinya pun kelewat banyak. apa yang sedang kau pikirkan?" Suaranya agak gemetar. . Lan See giok segera menghentikan gerakan tubuhnya sembari menengadah. sinar matanya segera dialihkan ke depan. " tanya Oh Tin San sambil berusaha untuk menenang-kan hatinya. pada hakekatnya pukulan batin yang dirasakan Lan See giok akibat peristiwa yang terjadi semalaman ini terlalu berat. tapi sekarang dia mulai merasakan banyak hal yang mencurigakan. Ia menjumpai paras muka kakek itu pucat pias seperti mayat. terlalu banyak. apakah kita bisa tak usah melewati tempat ini?" Dengan cepat anak itu menggeleng.. jarak mereka pun makin lama selisih semakin jauh. bahkan membantunya sehingga ia memperoleh tenagga dalam yang hebat. Yaa. . dapatkah andaikata kita tak usah melewati kampung nelayan ini . "Tidak mungkin. Benar. Mendadak ia mendengar Oh Tin San se-dang menegur dari depan sana: "Giok ji." Belum habis anak itu berbicara.

Pelan-pelan air Muka Oh Tin san ber-ubah menjadi lembut kembali. . Sekali lagi Lan See giok menggelengkan kepalanya berulang kali. senyumpun kembali menghiasi wajahnya. kengingnya yang kelimis bekernyit. meng-hiasi wajahnya yang jelek. bagaimana caramu untuk pergi ke sana?" Lan See giok tidak begitu memperhatikan maksud dari pertanyaan itu. Kini. dan akupun berjalan mengikuti peta tersebut" Mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Tin san setelah mendengar perkataan itu. ayah melukiskan sebuah peta jalan untukku. sampai kita ber-temu lagi. pergilah! Ingat. "Sayang peta itu sudah diminta oleh bibi Wan!" Paras muka Oh Tin san kembali berubah hebat. tapi aku tahu rumah yang didiami bibi Wan dalam dusun tersebut. "Empek mengapa kita tidak pergi ber-sama saja?" seru Lan See giok kemudian dengan perasaan tidak mengerti. lalu berkata lagi: "Giok ji. lama kemudian dia baru ber-tanya lagi: "Dahulu. "Dulu. "Giok ji" kembali dia berkata setelah melirik sekejap ke arah dusun. sampai kita bertemu lagi!" Lan See giok mengiakan. Dia ingin sekali meninggalkan kakek itu. segera jawaban-nya . meski ilmu silat empek itu tidak . serunya cepat: "Mana peta itu sekarang?" Tak sabar dia lantas mengulurkan tangan kanannya yang kurus kering." Perasaan gelisah dan marah menbyelimuti wajah jOh Tin san. dengan perasaan bimbang dia melanjutkan kembali perjalanan nya memasuki dusun.74 "Apa nama dusun itu aku kurang tahu. tapi ia toh mengangguk juga. Oh Tin san segera menepuk bahu Lan See giok dengan hangat. tahu?" Walaupun Lan See giok tidak mengerti dengan maksud tujuan orang. dia sudah mulai menaruh curiga ter-hadap kakek bertelirnga tunggal itu. terutama sekali wajah jeleknya yang berubah ubah tak menentu. tunggu aku di de-pan dusun sana. makin lama semakin menimbulkan perasaan muak di dalam hati kecilnya. tapi diapun berharap bisa mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi. "kau boleh melanjut-kan perjalanan lebih dulu. selintas rasa kejut bercampur girang. cuma diantara kerutan alis matanya masih nampak perasaan kaget dan gelisahnya. sekarang wajahnya yang jelek tampak menyeringai seram tangan kanannya yang kurus gemerutukan keras. seakan akan kalau bisa dia hendak mencekal Lan See giok sampai mampus.

Menanti dia berpaling lagi. Hanya saja. lalu tegurnya dengan ramah: "Nak. kembali tergerak hatinya. ketika men-dongakkan kepalanya. Teringat akan empek bertelinga tunggal itu. tenaga dalamnya akan memperoleh kemajuan yang cukup pesat. duduklah si kakek berjubah kuning yang pernah di jum-painya semalam. maka rasa curiga dan muaknya pun turut lenyap tak berbekas.75 begitu lihay. mau tak mau Lan See -giok harus menghentikan langkahnya. dia masih tidak habis me-ngerti mengapa empeknya menunjukkan sikap yang begitu tegang dan gelisah. Lan see giok sama sekali tak menyangka kalau begitu masuk ke dusun nelayan itu. bahkan menampik untuk bersama sama melalui dusun nelayan itu--Sementara otaknya berputar. Sekalipun dia sedang membutuhkan kete-rangan dari kakek berjubah kuning itu ten-tang sebab musabab yang sebenarnya dari kematian ayahnya serta asal usul orang-orang yang julukannya dimulai dengan huruf "To" tersebut. apakah kau datang untuk mencari diriku?" Karena ditegur. serta merta dia lantas berpaling ke arah belakang. Kurang lebih lima kaki di hadapannya. dengan ce-pat dia menggeleng. dia lantas berjumpa dengan kakek berjubah kuning tersebut. Tapi sekarang ia tak dapat melakukannya. paling tidak tenaga dalam yang dimilikinya sekarang berapa tingkat lebih dahsyat dari pada kemarin. Waktu itu dia sedang memandang Lan See-giok sambil tertawa terbahak bahak. tapi ba-yangan tubuh Oh Tin san sudah lenyap tak berbekas. . tanpa terasa ia sudah tiba di depan dusun. dia harus berangkat ke rumah kediaman bibi Wan-nya bersama empek bertelinga tungga1. Dengan wajah penuh senyuman kakek berjubah kuning itu duduk di atas sebuah batu hijau dan sedang mengawasinya dengan lembut. ia menjadi amat terpe-ranjat. paling tidak setiap bu-lan setelah menelan pil hitam yang busuk dan amis. wajahnya yang merah dan penuh keramahan tampak berwarna merah ber-ca-haya di bawah sinar matahari sore. diam-diam ia merasa berterima kasih sekali terhadap jasa empeknya. kakek ber-jubah kuning itu telah berada di depan tubuhnya. Berpikir sampai di situ. di bawah sebatang potion besar. jangan-jangan Oh Tin san kenal dengan kakek berjubah kuning itu? Atau mungkin di antara mereka terikat dendam kesumat? Berpikir sampai di situ. Ia memang dapat merasakan manfaatnya.

ia tahu kalau bukan tandingan kakek berjubah kuning tersebut.76 "Mengapa nak?" tanya kakek berjubah kuning itu sangat terkejut bercampur kehe-ranan. Kakek berjubah kuning itu berkerut ke-ning. malah karena dengan perbuatan ini. Sayang serangan itu datangnya lebih cepat. menggunakan kesempatan itu kelima jari tangannya segera diayunkan ke depan menghajar jalan darah Pay wi hiat di tubuh bocah tersebut.. wajahnya kelihatan agak gelisah. . Lan See giok amat terkejut setelah mendengar seruan itu." Sambil membalikkan badan. Sembari berkata. sambil menggertak gigi dia mengawasi kakek berjubah kuning itu de-ngan penuh kegusaran. maka dengan nada mendongkol dia berkata: "Mengapa? Apakah aku. hari ini jika lohu tidak memjberi pelajaran kepadamu. jalan darah Pay wi hiat nya kena tertotok se-cara telak. maka tak disangkal lagi kakek berjubah kuning ini adalah salah seorang yang berkomplot untuk membunuh ayahnya. sete-lah memandang sekejap ke arah dusun. Semakin dipikir Lan See-giok. akhirnya sambil menggertak gigi dan melotot besar pelan-pelan dia menghampiri kakek berjubah kuning itu. di mana angin serangan berkelebat lewat. terkejut karena ilmu silat si kakek berjubah kuning itu sangat lihay. Waktu itu Lan See giok ingin buru-buru pergi ke tempat tinggal Bibi Wannya." Seraya berkata dia lantas menghindari si kakek berjubah kuning itu dan berjalan menuju ke dalam dusun. mendadak ia bangkit berdiri kemudian mem-bentak keras: "Manusia jumawa. ujung bajunya segera dikebaskan ke depan. seperti sengaja tak se-ngaja dia melirik sekejap ke arah bawah di mana Lan See giok berasal. terpaksa dia kabur mengambil langkah seribu. kau pasti akan menganggap di dunia ini tiada hukum lagi. harus memberi-ta-hukan kepadamu? Sekarang aku ada urusan dan tak bisa banyak berbicara denganmu. Lan See giok merasa terkejut bercampur kaget. Semakin dipikirkan Lan See-giok merasa semakin gusar. Sepasang kakinya segera menjadi lemas dan "Bluuk!" tubuh Lan See giok segera ter-jungkal ke atas tanah. diapun takut empek bertelinga tunggal itu menunggu kelewat lama di depan dusun sana ditambah pula dia memang mencurigai si kakek ber-jubah kuning sebagai salah seorang yang tu-rut ambil bagian dalam persekongkolan peristiwa pembunuhan terhadap ayahnya. merasa makin gusar. ternyata ia dapat menotok jalan darahnya yang telah di geserkan letaknya..

kenapa sampai sekarang kau baru kembali. kejut dan girang me-nyelimuti wajahnya. "Saudara . dengan kening berkerut dan menjura. " "Tak usah banyak bicara. Dalam keadaan seperti ini. . Tampak Siau Thi gou berlari mendekat sambil berteriak teriak penuh kegembiraan: "Suhu. cepat gusur pergi!" bentak kakek berjubah kuning itu gusar. Bayangan manusia berkelebat lewat. . paras mukanya ber-ubah beberapa kali. Siau Thi gou amat terperanjat.suhu.77 Pada saat itu . dengan ke-cepatan bagaikan sambaran petir mereka meluncur tiba. Si Cay soat membelalakkan sepasang ma-tanya lebar-lebar. terhadap ucapan dari bocah perempuan berbaju merah itu dia hanya mengiakan belaka. dia segera mengenali kedua orang itu sebagai si nona berbaju merah Si Cay soat dan si bocah hi-tam Siau Thi gou adanya. gusur dia pulang!" Siau Thi gou segera menenangkan hatinya lalu memburu ke depan Lan See giok. kemudian cepat-cepat mem-balikkan badan dan berlalu dari situ. . dialah Lan See giok yang kumaksud kan sebagai bocah lelaki yang tidak roboh meski jalan darahnya tertotok!" Paras muka si kakek berjubah kuning itu bercampur aduk tak karuan. dia kuatir kalau empek bertelinga tunggal itu tak berhasil menemu-kan tempat tinggal . kontan saja mereka jadi tertegun. satu berwarna hitam dan satu berwarna merah. Dari dalam dusun sana melesat ke luar dua sosok bayangan manusia. katanya de-ngan suara lantang.. .. tahu-tahu mereka berdua telah tiba di depan mata. semalam Thio lo koko ma-sih menunggu dirimu untuk minum arak!" Lan See giok segera mendengus bdingin. Jalan darah di tubuh Lan See giok sudah tertotok. Kemudian kepada Siau Thi gou katanya dengan suara dalam. segera teriaknya: "Suhu. buru-buru dia membungkukkan badan dan membopong Lan See giok. "Thi gou. selain gusar diapun merasa takut. tapi ketika kedua orang itu me-nyaksikan Lan See giok yang tergeletak di tanah. ia merasa seakan akan tubuh mulai dari pinggang sampai ke bawah seperti sudah bukan menjadi miliknya sendiri. sepasang matanya yang gmerah karena mengawasi Si Cay soat dan siau Thi gou tanpa berkedip. seluruh badannya terasa lemas tak bertenaga. Ketika Lan See-giok berpaling.

dengan langkah tergesa-gesa dia menyusul ke luar dusun. Siau Thi gou bernar-benar bertenaga besar bagawikan kerbau bajra persis seperti nama nya. Siau Thi gou mengiakan. kemudian setelah mencari tahu arah yang dituju Lan See giok. ketika gurunya men-de-ngar berita itu kemarin. ternyata ia masih bisa berjalan dengan langkah tegap. paras mukanya segera berubah hebat. Tapi dia percaya keselamatan jiwa Lan See giok sudah pasti tak akan terancam. menyesal telah memberitahukan kepada gurunya bahwa Lan See giok tidak roboh meski jalan darahnya tertotok. Dengan membopong tubuh Lan See giok. karena dia tahu gurunya adalah seorang kakek yang saleh dan sangat welas kasih terhadap siapa-pun. dia segera melompat ke tengah udara dan melayang masuk. setelah tertotok sekarang. sekali-pun di bahunya harus membopong tubuh Lan See giok. Kini dia merasa menyesal. si gadis berbaju merah itu mengikuti di samping kakek berjubah kuning wajahnya yang cantik nampak pula diliputi perasaan amat gelisah dan cemas. Sungguh tak disangka. Ia tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki kakek berjubah kuning itu sangat hebat. sekalipun sedang membopong tubuh Lan See giok. Lan See giok mencoba untuk memandang ke depan.78 bibi Wan nya sehingga tiada orang yang bisa menyampai kan berita tentang kematian ayahnya. "Lompat masuk!" bisik kakek berjubah kuning itu mendadak. untuk kabur mungkin jauh lebih sukar daripada naik ke langit. Lan See giok tak dapat berbicara. Si Cay soat. tak dapat berkutik. Dia masih ingat. . tapi diam-diam ia merasa kagum sekali atas kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Siau Thi gou. ternyata bocah itu berhasil disusul oleh gurunya. dia seperti merasa murung sekali karena masalah Lan See giok. Dalam waktu singkat Siau Thi gou sudah membopong Lan See giok memasuki hutan bambu dan tiba di depan sebuah pekarangan rumah. ke balik dinding pekarangan. Siau Thi gou mengitari sebuah rumah bambu dan memasuki sebuah halaman kecil. ternyata rumah bambu itu berderet dikelilingi sebuah halaman yang luas. Dengan kening berkerut dan wajah serius kakek berjubah kuning itupun mengikuti di belakang Thi gou. sewaktu kakinya mencapai permukaan tanah ternyata tidak menimbul-kan sedikit suarapun. maka semakin dipikirkan dia merasa semakin mendongkol dan gelisah.

Gerak gerik Huan kang ciong liong Thio Lok heng terhadap kakek berbaju kuning itu sa-ngat hormat. setelah memperhatikan sekejap dengan gelisah. . . serunya dengan suara rendah: "Locianpwe. bisa ditarik ke-simpulan kalau Huan kang ciong liong dan kakek berjubah kuning adalah pembunuh ayahnya. .79 Thi gou berpaling dan memandang sekejap kearah kakek berjubah kuning itu. diapun bertanya lagi kepada kakek berjubah kuning itu dengan nada hormat: . Kakek berjubah kuning dan Si Cay soat segera menyusul pula ke dalam ruangan Saat itulah mendadak terdengar suara se-o-rang kakek yang tua dan serak bertanya: "Apakah Locianpwe telah kembali?". . hidung singa dan mulut lebar. yaitu orang yang dimaksud-kan kakek berjubah kuning itu sebagai Huan kang ciong liong ( naga sakti pembalik sungai ) Thio Lok heng .. Sesosok bayangan tubuh yang tinggi besar telah muncul dari balik pintu ruangan. ternyata kau benar-benar telah menemukan si gurdi emas . tapi begitu menyaksikan Lan See giok. Huan kang-ciong liong Thio Lok-heng telah memburu ke tepi pemba-ringan dan menatap wajah Lan See giok lekat--lekat. paras mukanya segera berubah he-bat. kemudian dia berjalan masuk ke dalam ruangan sebe-lah timur. ia saksikan orang tersebut mempunyai perawakan badan yang tinggi besar dan be-rambut putih. Kalau ditinjau dari hal ini. Si Cay soat dan Siau Thi gou segera mem-beri hormat pula sambil memanggil: "Thio toako . Tergerak hati Lan See giok. Lan See giok segera tahu kalau orang yang masuk adalah ayah Thio Toa keng. " Mendengar nama itu. Sebelum Lan See giok sempat melihat jelas dekorasi yang berada dalam ruangan itu. alis matanya tebal." Belum habis Huan kang ciong liong me-nyelesaikan kata-katanya. Sementara itu. dia tahu yang dimaksudkan sebagai Huan kang-ciong liong adalah gelar ayahnya yaitu si Gurdi emas peluru perak. kakek berjubah kuning itu telah memberi tanda agar dia ja-ngan berbicara lebih jauh. Kakek berjubah-kuning itu segera memba-likkan badan sambil menyongsong keda-tangan orang itu. matanya besar. Lan See giok kembali memperhatikan orang itu. dia nampak gagah dan mentereng sekali. tubuhnya sudah di baringkan oleh Siau Thi gou di atas pembaringan.

Huan-kang-ciong liong yang menyaksikan kejadian itu. Si Cay soat telah ber-jalan ke depan pembaringan dan melepaskan lima buah pukulan berantai ke atas jalan darah Mia bun hiat di tubuh Lan See giok. maka setelah termenung sebentar.. paras mukanya segera berubah hebat. temanilah dia bermain main. jangan tinggalkan tempat ini.. apakah ia tak akan terluka?" Tampaknya kakek berjubah tuning itu mempunyai kesulitan untuk diutarakan. Melihat Si Cay soat berjalan mendekat. agaknya banyak persoalan yang mencekam di dalam hatinya. dari balik sepasang matanya yang jeli segera terpancar ke luar cahaya dingin yang menggidikkan hati. ingat. bebaskan totokan jalan darah-nya!" Dengan wajah merah dadu Si Cay soat mengiakan. tampaknya jauh melebihi tingkat usianya. Tampaknya kakek berjubah kuning itu ma-sih mempunyai banyak masalah lain yang hendak dirundingkan dengan Huan-kang -ciong-liong. lalu de-ngan jantung berdebar keras berjalan kem-bali." pesan kakek berjubah kuning itu kemudian dbengan wajah serjius. Pada saat itulah. Dua pukulan. bila jalan darah bocah ini ter-totok kelewat lama.. begitu selesai meninggalkan pesannya. setelah memandang sekejap ke arah kakek berjubah kuning itu dia seperti hendak mengatakan: "Tenaga dalam yang dimiliki bocah itu. d-ngan biji mata yang jeli Si Cay soat me-man-dang sekejap ke arah Lan See giok. buru-buru dia berlalu. baru pada tepukan yang ke tiga Si Cay soat baru menghajar jalan darah-nya secara tepat. Lan See giok merasa kehormatannya seba-gai seorang lelaki merasa tersinggung. gadis berbaju merah itu: "Anak Soat. lalu dengan kepala tertunduk mendekati pembaringan. Siau Thi gou segera manggut-manggut dengan mata terbelalak lebar.80 "Locianpwe. Setiap organg pasti akan mengerti kalau kakek berjubah kuning itu sedang memperingatkan Siau Thi gou agar jangan membiar-kan Lan See giok lari." Sedang kakek berjubah kuning itu segera mengangkat bahu sambil manggut-manggut. yang pertama tidak menge-nai sasarannya. katanya lembut kepada Si Cay soat. hawa amarahnya segera berkobar. Setelah menarik kembali tangannya. "Mari kita pergi!" . "Thi gou.

dia segera mendekati meja untuk membesarkan lampunya. Tiba-tiba Siau Thi gou merasa ruangan di tempat itu terlalu gelap.81 Selesai berkata bersama Huan kang ciong liong. ia merasa bila ingin me-loloskan diri dari mulut harimau. maka ha-rus memperalat si bocah bermuka hitam ini. Siau Thi gou baru berpaling ke arah Lan See giok sambil tertawa. Waktu itu Siau Thi gou sedang menyulut lampu dan sama sekali tidak melakukan per-siapan apa-apa. dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat dia menotok jalan darah tidur di tubuh Siau Thi gou. Sepeninggal ke tiga orang itu. lalu kabur ke belakang bangunan rumah itu. mencorong sinar tajam dari balik mata Lan See giok. Melihat itu. pertama tama dia mengendalikan dulu debaran jantungnya kemudian baru secara diam-diam menyelinap ke luar dari kamar. cahaya rembulan bersi-nar redup menerangi seluruh jagad. hati-nya segera tergerak. buru-buru mereka tinggalkan ruangan itu. maka setelah maju be-berapa langkah. Lan See giok merasa semakin gugup. bagaimana perasaanmu seka-rang? Apakah ingin turun untuk berjalan jalan?" Sejak jalan darahnya bebas dari pengaruh totokan. mendadak dia merasakan datangnya ancaman. Lan See giok menjejakkan kakinya melambung ke angkasa dan melayang turun di luar dinding. Tiba di tepi pagar bambu. kemudian tegurnya: "Saudara. se-bab hal ini akan memancing perhatian dari si kakek berjubah kuning serta si raga sakti pembalik sungai. setelah itu turun dari pembaringan. Dengan langkah yang sangat berhati-hati dan penuh kewaspadaan. dia merasa kesem-patan baik tak boleh di sia-sia kan dengan begitu saja. diam-diam Lan Seegiok telah me-ngatur napasnya untuk memeriksa seluruh tubuhnya. merasa dirinya segar bugar. Berhasil denganr serangannya. Maka dia duduk dan manggut-manggut. bintang ber-taburan di angkasa. Waktu itu langit sudah gelap. la tak berarti mengerahkan ilmu meri-ngankan tubuhnya untuk melarikan diri. "Bluuk---!" dia segera terjatuh ke tanah dan tertidur pulas. anak itu menentu-kan arah tujuannya kemudian bergerak menuju ke luar hutan bambu--- . Si Cay soat yang menduga Lan See giok belum bersantap malampun buruburu ikut berlalu dari sana. tahu-tahu jalan darah tidurnya sudah kena tertotok.

belum sampai setengah li sudah pasti akan tersusul. Lan See giok merasakan matanya berkilat tajam. Dalam keadaan demikian ia tak sempat mencari si empek bertelinga tunggal lagi.82 Suasana di dalam dusun sunyi senyap. Setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu dan yakin kalau si kakek ber-jubah kuning maupun si Naga sakti pem-balik su-ngai tidak mengejarnya. Lan See giok merasa gelisah bercampur tegang. dia merasa kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya masih bukan tandingan kakek berjubah kuning. dia segera menyembu-nyikan diri ke belakang sebatang pohon ke-mudian dengan sorot mata yang tajam mem-perhatikan sekejap sekeliling tempat itu. suatu bentakan gusar yang penuh bertenaga menggema datang dari ke-jauhan sana: "Thi gou si bocah ini kelewat jujur!" Lan See giok merasa terkejut sekali. ce-pat-cepat dia membalikkan badan sambil ka-bur ke atas tanggul telaga. maupun si naga sakti pembalik sungai. apalagi tidak menjumpai empek bertelinga satu itu berada di sana. dia berharap empek bertelinga satu itu menyembunyikan diri ditempat itu. di situ tak nampak seso-sok bayangan manusia pun. hatinya semakin gugup dan kalut. karena suara itu berasal dari naga sakti pembalik sungai Thio Lok-heng. bila sampai ditemukan jejaknya. . bocah itu segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan melesat ke atas tanggul telaga Tiba di tepi telaga. dia tak menyangka kalau kali ini bisa kabur dengan lancar dan cepat.Ia segera mendongakkan kepalanya me-meriksa setiap cabang pohon yang tumbuh di sana. Tapi selain air telaga yang hening dengan angin yang berhembus lewat menggoyang-kan daun serta ranting. ternyata dia berada di luar hutan di mana Thio Toa keng sekalian berkelahi dengannya. Ke luar dari hutan bambu itu. Mendadak . . Tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya. selain suara air telaga yang menubruk tang-gul tiada kedengaran suara lain. sedang puluhan kaki lebih ke depan adalah jalan di tepi tanggul menuju ke tempat kediaman bibi Wan nya. Lan See giok merasa gembira sekali.

" "Tak bakal salah. menyusul kemudian kedengaran suara dari si Naga sakti pembalik sungai berkata dengan nada sangat gelisah: "Locianpwe. kemung-kinan besar masih bersembunyi di sekitar tempat ini . maka diputuskan untuk menyembunyikan diri untuk sementara waktu di atas sampan. jantungnya berdebar semakin keras. Kemudian terdengar kakek itu berkata lagi: "Waktu itu aku sama sekali tidak me-nyangka. seakan akan hendak melompat ke luar dari rongga dadanya saja." sahut kakek berjubah kuning itu dengan nada pasti. Peluh dingin segera membasahi seluruh badan Lan See giok. Pada saat itulah . ketika sampan-sampan itu saling bersentuhan segera me-nimbulkan suara benturan yang nyaring. kemudian menggunakan tali tersebut untuk menutupi badannya. dia tahu mustahil baginya bisa kabur. aku mendengar jelas sekali. Lan See-giok semakin tegang setelah mendengar suara itu. . menurut pendapat boanpwe tak mungkin bocah itu lari ke arah telaga. Berpikir sampai di situ. terdengarlah suara ujung baju ter-hembus angin itu sudah tiba di atas tanggul. buru-buru dia menuruni tanggul itu dan melompat naik ke atas sampan yang penuh dengan tali jerami. tapi ia belum pergi jauh. pikirnya: "Hitunghitung masih mendingan bau amis ini dari pada bau busuk pil hitam pembebrian si empek bjertelinga tungggal.. . saking takutnya dia sampai tak berani bernapas keras-keras. Diam-diam Lan See giok merasa amat ter-peranjat. Dalam keadaan demikian Lan See giok ti-dak memikirkan hal semacam itu lagi. Ia men- . . mungkin dia baru mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya setelah ke luar dari hutan bambu. dia menyaksi-kan di bawah tanggul di tepi telaga tertambat bebe-rapa buah sampan kecil. sementara jantungnya berdetak keras sekali. terdengar suara ujung baju tersampok angin berkumandang datang dari arah hutan bambu. Mendadak suara itu terhenti di atas tang-gul." Ketika diba mencoba untuk memasang telinga.. de-ngan kening berkerut dia membaringkan diri. diam-diam ia bersyukur tidak mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya sedari dalam halaman rumah itu.83 Berpaling ke arah lain.." Lan See giok semakin tegang lagi. dia tidak menyangka kalau gerakan tubuh dari kakek berjubah kuning itu jauh lebih cepat berapa kali lipat dibandingkan dengan apa yang dia bayangkan semula. Bau amis ikan yang menusuk hidung dengan cepat menyelimuti sekeliling tubuh-nya.

tahu-tahu Si Cay-soat telah berhenti di antara si kakek berjubah kuning. dengan matanya yang tajam dia sedang celingukan ke sana ke mari. Bayangan merah nampak berkelebat lewat. Tiba-tiba terdengar seseorang berseru de-ngan gelisah: "Suhu. dari situ ia dapat melihat si kakek berjubah kuning serta naga sakti pembalik sungai di atas tanggul. dengan cepat dia berpaling pula ke luar dusun. tanpa terasa peluh dingin jatuh bercucuran. apakah Lan See-giok berhasil dite-mukan?" Mendengar suara itu. Sorot matanya yang semula ramah dan lembut. sorot mata mereka tetap ber-alih ditempat kejauhan sana. . . Mendadak kakek berjubah kuningb itu ber-palingj ke arah muka dgusun sebelah debpan sana . kini memancarkan sinar tajam yang menggidikkan hati. dia seperti me-rasa cemas dan murung sekali atas kaburnya Lan See giok. Lan See-giok segera mengenalinya sebagai Si Caysoat atau gadis cilik berbaju merah itu. Dengan perasaan terkesiap Lan See giok berpikir: "Jangan-jangan si empek bertelinga tunggal telah datang?" Dia mencoba untuk memasang telinga baik-baik. dia tahu bakal celaka bila jejaknya ketahuan. dengan si naga sakti pembalik sungai.84 coba mengintip dari balik celah-celah tali. Mendadak sepasang mata Si Cay soat ber-kilat. nampak pula dia sedang marah bercampur gelisah. Naga Sakti pembalik sungai Thio Lok-heng juga melototkan sepasang matanya bulat-bulat dengan wajah gusar. Waktu itu si Naga Sakti pembalik sungai juga telah mendengar suara tersebut. paras mukanya berubah hebat dan hampir saja ia menjerit. rupanya dia telah menemukan dua titik sinar mata tajam di balik tumpukan tali dalam sampan kecil se-belah tengah. . Lan See-giok amat terkesiap. tangan kanannya mengelus jenggot tiada hentinya. Waktu itu dengan wajah serius si kakek berjubah kuning itu sedang memperhatikan sekeliling tempat itu. Kakek berbaju kuning dan naga Sakti pembalik sungai menggelengkan kepalanya berulang kali. sepasang mata yang jeli berkilat. Tampak paras muka Si Cay soat pucat pias. alis matanya bekernyit dan wajahnya penuh kegelisahan. Akhirnya sinar mata gadis itu dialihkan ke atas beberapa buah sampan kecil di bawah tanggul. benar juga dia mendengar suara ujung baju yang terhembus angin.

dia tak berani berkutik. ia tahu asal Si Cay soat menuding ke bawah sambil menjerit. mendadak terdengar si Naga sakti pembalik sungai berkata dengan sedih: "Locianpwe... dia tidak habis mengerti apa sebabnya gadis itu tidak berte-riak? Mungkinkah dia tidak melihat jelas? Tapi setelah dipikirkan kembali. . . Si Cay soat yang berada di atas tanggul juga membelalakkan matanya dengan wajah kaget serta tertegun. . mungkin bocah itu sudah lari." Kakek berbaju kuning itu menggelengkan kepalanya berulang kali. napas-nya. sesak dan jantungnya seperti melompat ke luar dari rongga dadanya. . hati nya bergoyang seperti ayunan sampan. BAB 5 NONA CANTIK BERBAJU PUTIH DI TENGAH keheningan yang mencekam seluruh jagat. Sekarang dia baru menyesal kenapa me-nyembunyikan diri dalam sampan kecil itu sehingga jejaknya ketahuan. sebab bila sampai ketahuan maka ibaratnya katak masuk tempurung. . Peluh bercucuran dengan derasnya mem-basahi seluruh badan Lan See giok. lebih baik besok pagi kita langsung mencari Oh Tin san untuk minta orang . Lan See giok turut tertegun. belum habis si naga Sakti pembalik sungai menyelesaikan kata katanya. Suasana amat hening . ia te1ah berkata dengan gelisah: . jangan harap bisa me-lo-loskan diri lagi. mulutnya ditutup de-ngan tangan sementara sorot. ia merasa hal ini mustahil .85 Melihat itu. Lan See giok merasa kepala-nya kontan menjadi pusing tujuh keliling... sekalipun matanya celingukan kesana ke mari. meski sudah diusahakan untuk ditenangkan kem-bali namun tak bisa. Makin dipikir Lan See giok merasa makin kebingungan dan tidak habis mengerti.. . beberapa saat kemudian Si Cay soat baru berhasil me-ne-nangkan hatinya seraya berpaling ke arah lain.. Berada dalam keradaan seperti ini. juga tak berani lari. tapi wajahnya yang gugup dan cemas kelihatan jelas sekali. rambut dan masuk ke dalam telinganya. Sementara butiran air keringat bercucuran dengan derasnya dan membasahi kepala. matanya nam-pak gugup bercampur panik. Atau mungkin gadis itu sengaja hendak melepaskan dirinya? Tapi mengapa pula dia berbuat demikian . niscaya dia akan dibekuk kembali.

. sebab hanya orang yang berilmu begitu tinggi baru bisa membunuh ayahnya dalam sekali pukulan . sekarang dan malam ini juga kita harus mencegah Lan See-giok agar jangan pergi ke tempat ke-di-aman Bibi Wan nya. . ia merasa putus asa.. hawa amarahnya yang memuncak membuat rasa takutnya sama sekali lenyap tak berbekas. bahkan setiap sudut ruangan yang mungkin bisa dipakai untuk menyimpan kotak kecil itupun sudah kuperiksa . . . ia menduga pasti sekarang kalau kakek berjubah kuning yang berwajah ramah ini benar-benar. . apakah kau menganggap kitab pusaka Hud bun cinkeng tersebut berada di rumah kediaman bibi Wan nya Lan See giok?" "Yaa.." Si naga sakti pembalik sungai termenung sebentar. kemungkinan besar benar" "Tapi menurut analisa pada umumnya. mungkin saja dia menyimpannya di dalam makam raja-raja . tipis rasa-nya harapan baginya untuk membalas den-dam . Sementara dia masih termenung. " Mendengar sampai di situ. bila teringat akan kelihaian ke-pan-daian silat yang dimiliki kakek berjubah kuning itu. kemudian tanyanya dengan tidak habis mengerti: "Locianpwe. Tapi. adalah sekomplotan dengan pembunuh-pembunuh ayahnya. . . Mungkin saja selama ini kakek berjubah kuning itu bersembunyi terus di dalam ku-buran. . Lan See-giok yang bersembunyi di bawah tumpukan tali merasa gusar sekali. si Naga sakti pembalik sungai telah berkata lagi: "Menurut apa yang locianpwe saksikan se-malam. Lan See giok menjadi mengerti sekarang.86 "Tidak. siapakah di antara Sam ou ngo to (lima tunggal dari tiga telaga) yang besar ke-mungkinannya sebagai pembunuh Lan Khong tay?" "Kelima limanya patut dicurigai semua . Makin dipikir Lan See giok merasa darah-nya makin mendidih. mungkin juga dialah pembunuh ayahnya. " sahut kakek itu setelah termenung sebentar. mustahil kalau si Gurdi emas peluru perak Lan Khong-tai akan menyerahkan mestika yang amat berharga itu kepada seorang pe-rempuan. . besok pagi terlalu lambat. yang dimaksudkan sebagai Sam Ou ngo to oleh si Naga sakti pembalik sungai tentulah orang-orang yang menggunakan julukan "To" atau tunggal pada permulaan namanya. ." "Aku telah melakukan pemeriksaan setiap sudut makam tersebut dengan seksama. .

. . dia saksikan si naga sakti Thio Lok heng sedang menuding ke arah utara dengan cambang yang bergetar keras. Orang ke tiga adalah si manusia bermuka hijau dan bergigi taring yang bernama To-gan liau pok (setan bengis bermata tunggal ) Toan Ki tin. bertubuh kurus kering. kontan saja Lan gee giok merasa-kan hatinya bergidik. . cepat lihat. mulai dari si kaki tunggal. . .87 Sambil memandang bintang yang berta-buran di angkasa. di bawah tanggul sana tampak sesosok bayangan manusia se-dang berkelebat lewat!" Dengan perasaan tergerak Lan See giok ikut melirik. Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya. lantas siapakah si tunggal yang kelima? Mungkinkah dia adalah kakek berambut perak yang telah menghajar dirinya hingga semaput itu . Bayangan tubuh seorang kakek bermata sesat. si mata tunggal dan si tanduk tunggal . mendadak terdengar si naga sakti pembalik sungai yang berada di atas tanggul berseru cemas: "Locianpwe. diam-diam ia mulai meng-hitung semua orang yang pernah di-jum-painya semalam. diapun bertelinga tunggal. . Kemudian adalah To tui thi koay (tongkat baja berkaki tunggal) Gui Pak cong yang menusuk tubuhnya dengan tongkat besinya. diapun kehilangan sebuah telinganya mungkinkah empek adalah salah seorang dari Sam ou ngo to tersebut . Orang pertama yang dijumpai adalah To pit him (beruang berlengan tunggal) Kiong Tek cong yang menggeledah seluruh badan-nya dengan tangan kanannya dikala ia jatuh pingsan. . bermuka kuda dan bertelinga tunggal dengan cepat melintas dalam benaknya. Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya. . orang itu diketahui ber-nama To ciok siu (binatang bertanduk tung-gal) Si Yu gi. tentu saja mungkin juga orang itu adalah si binatang bertanduk tunggal pribadi. si le-ngan tunggal. . orang ini adalah satu satu-nya orang yang mengetahui siapa pembunuh ayahnya.. . Dari lima manusia tunggal ada empat di antaranya telah diketahui. Kemudian adalah si manusia berbisul be-sar pada kepalanya yang tertembus oleh senjata gurdi emas. besar kemungkinannya orang ini adalah pelaku pembunuhan atas diri ayah-nya. Dengan perasaan bimbang dia lantas ber-pikir: "Yaa. .?" Sementara pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya.

Hal ini ditambah lagi dengan pancingan si Manu-sia buas bertelinga tunggal Oh Tin san yang menggunakan pelajaran ilmu silat se-bagai umpan.-" Belum habis ucapan tersebut diutarakan. hatinya toh merasa ter-ke-siap juga sehingga tubuhnya menggigil keras.manggut.88 "Ehmm. lama kelamaan Lan See giok pasti dapat me-ngeta-hui belangnya tersebut. berbicara soal luas-nya pengetahuanku. tapi setelah men-dengar pembicaraan dari locianpwe semalam. kemudian ujarnya kepada Si naga sakti Thio-Lok-heng: "Empek Thio. Si Cay soat segera mengerling sekejap ke arah Lan See giok. .giok?. aku sudah melihatnya!" sahut kakek berjubah kening itu sambil manggut. sayang cara kerjanya kurang mantap dan lagi tidak sabaran. dia adalah To oh cay jin(manusia buas bertelinga tunggal)!" tukas si kakek berjubah kuning sambil menggeleng. . . "jelek--jelek begini sudah setengah hidupku berkelana dalam dunia persilatan." "Locianpwe" si naga sakti Thio Lok heng segera berkata sambil tertawa. sahutnya: "Walaupun si Manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san termasyhur karena ke-buasan dan kekejamannya. jangan toh Lan See giok yang masih bocah. sayang pukulan batin yang dialaminya kelewat hebat sehingga membuat hatinya tak dapat tenang dan menyumbat semua kecerdasan otaknya. bahkan boanpwe yang sudah jago kawakan pun dibi-kin kebingungan dan tak habis mengerti dibuatnya . Terdengar kakek berjubah kuning itu ber-kata lagi dengan suara murung bercampur kesal: "Sesungguhnya Lan See giok adalah se-orang bocah yang cerdik. dengan sorot mata berkilat si naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng telah menu-kas sembari berseru keras: "Locianpwe. sesungguhnya boleh di-bilang lumayan juga. akibatnya mengurangi ke-curigaan Lan See-giok terhadap dirinya coba kalau bukan begitu. Sementara itu. dengan kemampuan dari Manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san mana mungkin dia dapat mengelabuhi Lan See. namun setelah mendengar julukan manusia buas bertelinga tunggal tersebut. mungkin dia adalah Lan See giok?" "Bukan. coba kau lihat!" Sambil berkata dia lantas menuding ke arah depan dusun. " Kakek berjubah kuning itu menghela napas dan manggut-manggut. meski Lan See giok yang bersembunyi di balik sampan sudah men-duga kalau empeknya yang bertelinga tunggal kemungkinan besar adalah salah seorang dari ngo to ( lima tunggal ). diapun terhitung se-orang manusia licik.

dia tak sempat memikirkan lagi apa yang berhasil dilihat Thio Lok heng. dia berpikir tentang kakek berjubah kuning yang berilmu tinggi itu.89 Kakek berjubah kuning itu berkerut kening sambil berpaling. Angin malam berhembus lewat membawa udara yang sangat dingin. Yang dipikirkan sekarang adalah cepat-ce-pat menyusup ke rumah kediaman bibi Wan nya tanpa diketahui orang lain. Mendadak ia mendengar suara gelak ter-tawa yang amat keras berkumandang datang dari depan dusun sana. . Tapi saat ini. Sekalipun kakek itu mungkin bermaksud untuk mendapatkan kotak kecil milik ayah-nya dan telah menggeledah seluruh isi makam. dapat diketahui kalau kakek berjubah kuning itu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam dunia persilatan. pelan-pelan Lan See giok yang bersembunyi dibalik tumpukan tali dapat menenangkan kembali hatinya. Dilihat dari sikap si kakek yang hingga kini masih belum tahu kalau kotak kecil tersebut sudah berada di rumah bibi Wan-nya. namun belum tentu ia bersekongkol dengan sam ou ngo to. . Ditinjau dari sikap hormat dan panggilan merendah dari Naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng. Menyusul kemudian naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng dan Si Cay soat pun ikut berlalu dari situ. meski kakek berjubah kuning itu telah pergi. Pertama-tama. kenapa kakek berjubah kuning itu berlalu dan me-ngapa Si Cay soat tidak membocor-kan jejak-nya yang bersembunyi di bawah tumpukan tali. dia sudah tidak menaruh minat lagi terhadap setiap perobahan yang telah terjadi di sekeliling tempat itu. Waktu itu pikiran Lan See giok amat kacau. Lan See giok kenal suara tersebut se-bagai suara si Naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng. karena dia sedang mempergunakan segala akal dan kecerdasannya untuk memecahkan kesulitan yang sedang dihadapinya. sebab itu dia tidak berani naik ke atas tanggul telaga tersebut. tahu-tahu dia sudah meluncur ke depan. Dia tahu. tapi kemungkinan besar dia akan balik lagi. bisa disimpulkan pula kalau orang yang bersem-bunyi di belakang meja dan meng-hantam dirinya sampai pingsan itu bukanlah kakek ini. . tidak nampak bagaimana caranya menggerakkan badan.

Di samping itu dia membenci akan ketololan sendiri.90 Teringat akan kakek kurus berambut perak yang menghajarnya sampai semaput dari be-lakang itu. Padahal gerak gerik maupun cara ber-bicara Manusia buas bertelinga tunggal semenjak masuk ke dalam makam sudah mencuriga-kan sekali. lantas siapakah orang yang telah menyergap Oh Tin san. . Oh Tin san lantas menyusun rencana kejinya. karena dia kuatir binatang bertanduk tunggal . dengan pergi membeli hio dan lilin. Terbayang sampai ke situ. Tapi segera muncul kembali pikiran lain. Tentang pemberian obat untuk menambah kekuatan. mau tak mau diapun melaksanakan rencana kejinya dengan amat berhati hati. dengan cepat dia pun menjadi sadar kembali. Kemudian bocah itu teringat pula sikap kaget bercampur rasa tercengang dari manu-sia buas bertelinga tunggal ketika menyaksi-kan tenaga dalamnya peroleh kemajuan pesat. kalau tidak mungkin selembar jiwa nya sudah melayang sekarang. Tentunya setelah menghajar dia sampai pingsan. merusak rantai penghubung pintu besi menuju makam raja-raja dan membawa lari pedang Jit hoa gwat hui kiam serta dua buah kotak emas tersebut? Mungkinkah orang itu sudah lama bersembunyi di dalam makam? Atau mung-kin kakek berjubah kuning yang tidak pernah meninggalkan makam? Atau bisa jadi juga si tongkat besi berkaki tunggal serta si beruang berlengan tunggal yang secara diam-diam balik kembali ke situ. manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san sengaja membunuh orang itu. semua siasat busuk dari Manusia buas bertelinga tunggal pun kontan terungkap semua. jelas kematian tersebut disebabkan oleh tindakan keji manusia buas bertelinga tunggal ketika ia disuruh pergi mengambil air Ia menduga. Tapi kematian dari si Binatang bertanduk tunggal. di mana manusia buas berhati busuk yang amat berbahaya telah dianggap-nya sebagai sahabat karib ayahnya. tanpa terasa Lan See giok mem-bayangkan kemba1i si Manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san. tapi dia justru ter-kecoh dan kena dikibuli habis habisan. mengapa begitu? Dia tak dapat memecahkannya. bisa disimpulkan kalau tujuan yang sebenarnya dari tindakannya Itu adalah memberi kesempatan bagi dirinya untuk memasuki makam raja-raja dan mencuri pedang mestika dan kotak kecil yang tersim-pan di situ. Masih untung dia tak sempat melihat jelas wajah aslinya sebelum dihantam pingsan dulu. kemudian juntuk mencari tahu tempat tingbgal bibi Wan nya.

Dengan gugup dia melompat bangun dari balik tumpukan tali temali dia memandang sekitar tempat itu. tiada hentinya bocah bitu membayangkajn tentang lima gmanusia tunggalb dari tiga telaga. Dia masih ingat dengan ucapan kakek berjubah kuning itu: "Kelima limanya mencu-rigakan.. Berpikir sampai di situ. itu sedang bergerak pelan ke arah depan. dia tahu di bawah sampan pasti ada jago lihay yang sedang mendorong sampan itu bergerak ke depan. tapi mungkin juga dikarenakan sebab-sebab lainnya. tapi hatinya makin terpe-ranjat lagi. ternyata bayangan dari tanggul sudah tidak nampak lagi. Sementara itu sampan kecil itu bergerak makin cepat ke depan. perasaan hatinya yang baru tenang kontan saja menja-di tegang kembali . sedang tujuh delapan kaki di depan sana adalah hutan gelaga yang luas dan amat le-bat. Tak terlukiskan rasa gugup dari Lan See giok ketika itu.91 membocorkan soal ter-simpannya kotak kecil itu di rumah bibi Wan kepada orang lain. hanya Si binatang bertanduk tunggal Si Yu gi dan Manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san saja yang me-ngetahui kabar berita tentang kotak kecil itu. Sebagaimana diketahui. Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok menghadapi kejadian tersebut. . Begitu dia bergerak bangun. sampan yang mulai berjalan lambatpun mendadak melun-cur ke depan semakin cepat.. Makin dipikir dia merasa makin membenci akan kebodohan sendiri. Sekeliling tempat itu hanya nampak air. dia lantas bertekad untuk segera berangkat ke rumah kediaman bibi Wan nya mumpung malam masih kelam dan suasana di sekeliling tempat itu masih hening. . kini sampan tadi se-dang melesat ke arah satu satunya jalan air yang bebas dari tumbuhan gelaga. Bunga gelaga yang berwarna putih bergo-yang terhembus angin. sekilas pandangan mirip awan putih di angkasa.. tapi ia tidak tahu siapa gerangan orang tersebut dan mengapa membawanya menuju ke tengah telaga. sambil berbaring di atas sampan sambil memandang bintang yang bertaburan di angkasa. tentu saja dia lebih-lebih membenci Manusia buas bertelinga tunggal itu. dia merasa sampan kecil. Demikianlah. Mendadak. Pemuda itu merasakan hatinya bergetar keras. ." dari sini dapat ditarik kesimpulan kalau Manusia buas bertelinga tunggal pun merupakan salah seorang manusia yang patut untuk dicurigai.

. Dengan gugup Lan See giok memperhati-kan sekitar tempat itu. tanpa terasa ia berbisik: "Aaaah. .. ?" Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya. telapak tangan kanannya yang sudah siap melancarkan serangan itu pelan-pelan di tu-runkan kembali. api kemarahan segera berkobar dalam benak Lan See giok. . besarnya se lengan bayi dan bunga berwarna putih seperti awan me-nyeli-muti di atasnya.. sekali lagi dia menghimpun tenaga dalamnya ke dalam telapak tangan kanan. niscaya aku akan dibawa kembali ke perkampung-an nela-yan tersebut. hanya dia yang memiliki ilmu menyelam di dalam air yang begini sempurna. . . "Yaa." sekali lagi dia berguman.yaa. jangan-jangan si Naga sakti pem-balik sungai Thio Lok heng . . ? Siapakah dia. Cepat dia menenangkan hatinya dan ber-pikir lebih jauh: "Seandainya orang itu adalah si Naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng. sudah pasti perbuatan dari si Naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng. siapakah orang itu?" Satu ingatan segera melintas di dalam benaknya dan cepat anak muda itu sadar kembali." demikian dia berpikir. Dengan perasaan gelisah dia lantas ber-tanya kepada diri sendiri: "Siapakah orang ini.. sampan kecil itu sudah menembusi jalan air diantara tumbuhan jela-ga yang lebat dengan kecepatan yang makin lama semakin tinggi. tapi di sana pun dia hanya bisa menyaksikan gelrembung air dan zbunga ombak yanwg memercik di artas permukaan. .. Tapi..? Mengapa membawa aku ke mari . .. " Sekali lagi dia melongok ke buritan sampan ke balik air yang bergelembung. tapi sekarang aku di bawa ma-suk ke dalam hutan gelaga yang begini luas dan lebat.. bayangan tubuh seorang kakek bercambang yang berperawakan tinggi besar segera melintas di dalam benaknya. sekeliling-nya penuh dengan tumbuhan gelaga setinggi satu kaki lebih. kemudian diangkatnya tangan tersebut ke udara siap melakukan penyerangan. .92 Dengan gugup Lan See-giok lari menuju ke buritan sampan. . Dalam pada itu. Teringat akan hal ini. "Yaa. . tatkala sorot matanya membentur dengan permukaan air di sekeliling sampan. dia lihat jalan air itu luasnya cuma delapan depa. sudah pasti orang yang berada dalam air adalah perompak dari telaga Huan yang ou.

senjata gurdi emas yang panjangnya mencapai tiga depa itu tahu-tahu sudah menembus dasar sampan tersebut dan menusuk ke dalam air telaga. sampan kecil ter-se-but mengalami goncangan yang amat keras. darah segarpun memancar ke luar dari dalam air dan menyebar ke sekeliling tempat itu. dia merasa-kan seluruh badannya sedikit agak gemetar. Sementara itu. sampan kecil tadi sudah ber-belok ke kiri berputar ke kanan menembusi hutan gelaga yang luas. Menyusul tusukan itu. Seketika itu juga cahaya emas yang me-nyilaukan mata memancar ke empat penjuru. Lan See giok tahu kalau tusukannya ber-hasil melukai orang yang ada di dalam air. tubuh dan tangan kanannya yang meng-genggam senjata gurdi emas itu. Dengan perasaan terkejut pemuda itu mencari kain dan menyumbat lubang pada dasar sampan tersebut. cepat dia mengeluarkan senjata gurdi emas milik ayahnya. mau tak mau terpaksa dia harus bertindak nekad.93 Dengan kemampuan tenaga serangan yang dimilikinya sekarang. Satu ingatan segera melintas dalam benak nya. Sambil menggenggam gurdi emas itu. tidak sulit baginya untuk membinasakan orang yang berada di balik perahu akan tetapi dasar sampan itu pasti akan remuk dan diapun pasti akan ter-cebur ke dalam telaga dan mati tenggelam. tapi dia tak berani segera mencabut ke luar senjata gurdi emasnya--Tak selang berapa saat kemudian gon-cangan di bawah sampan kecil itu telah ber-henti. ombak nampak menggelegar ke mana-mana. Setelah berhasil menenangkan hbatinya. selembar nya-wa manusia dalam waktu singkat akan mus-nah di tangannya. Lan See giok benar-benar merasa sangat gelisah. dia tak ingin terjatuh kembali ke mulut serigala setelah lolos dari sarang hari-mau. darah segar tampak memancar ke luar me-ngikuti lubang pada dasar sampan itu. Tapi demi keselamatan jiwa sendiri. Lan See giok merasa tegang sekali. Cahaya emas berkelebat lewat. Peluh dingin telah membasahi seluruh ji-dat. Lambat laun sampan kecil itupun berhenti bergerak dan melintang di tengah jalan air tersebut. . dalam waktu singkat Lan See giok sudah tak bisa membedakan lagi mana sebelah timur dan mana sebelah barat. Lan Seej giok menghembugskan napas panjbang dan mencabut ke luar senjata gurdi emas itu.

Lan See giok menjadi gelisah sekali sampai mengucurkan keringat dingin. dia tahu lagi-lagi muncul perompak di tempat itu. . . tampaklah pada ujung jalan air tersebut terdapat setitik bayangan abu-babu yang sedangj bergerak mendegkat. . akhirnya dia berdiri termangu mangu dan tak tahu bagaimana caranya untuk bisa menggerakkan sampan tadi menembusi hu-tan gelaga tersebut. kemungkinan besar orang itu akan menggunakan sisa tenaga yang dimilikinya untuk menarik dia masuk ke dalam air. ia segera membuang bambu itu dan me-loloskan . bila menda-yung ke kanan. agaknya suara itu berasal dari jalan air di sebelah kiri. Sekarang permukaan air telaga telah tenang. Dia mendayung tiada hentinya dan sampan itupun berputar. . Makin lama suara itu bergerak makin mendekat. Pada saat itulah. Sadarlah Lan See giok bahwa tiada ha-rapan lagi baginya untuk menyembunyikan diri. . dia merasa agak gugup. dia takut berjumpa lagi dengan perampok lain. sampan itupun berputar ke sebelah kanan. kemudian mbuncullah sebuah sampan kecil. warna merah pun sudah makin tawar. Bila bambu itu mendayung ke kiri maka sampan itupun berputar ke kiri. tapi air telaga yang bocor ke dalam sampan itu sudah mencapai beberapa inci. hanya dalam waktu singkat sampan itu sudah berada tujuh kaki di hadapannya.94 Tiba-tiba terjadi lagi goncangan keras pada sampan kecil itu . Lan See giok amat terperanjat. Teringat akan bahaya tersebut. orang yang berada di dasar perahu itu belum putus nyawa. . sekali lagi dia mencoba untuk mendayung dengan bambu panjang. Cepat sekali gerakan sampan kecil terse-but. Lan See giok tahu. Lan See-giok yang berada dalam keadaan seperti ini merasa gelisah bercampur gusar. mendadak terdengar suara air memecah ke tepian bergema tiba dari kejauhan sana. Dengan cepat Lan See giok menyelipkan senjata gurdi emasnya ke pinggang. Dengan cepat dia mengalihkan sinar ma-tanya ke kiri. tiada hentinya pula . Melihat keadaan itu. padahal di atas sampan itu se-lain setumpuk tali hanya terdapat sebuah bambu sepanjang lima depa. tapi sampan tersebut masih saja berputar putar di tempat. Lan See giok kembali merasa gugup ber-campur panik. kemu-dian dengan menggunakan bambu panjang itu dia mulai mendayung dengan sekuat tenaga .

" benturan nyaring yang memekakkan telinga segera berkumandang tiada hentinya. seluruh an-caman senjata rahasia tersebut berhasil di-patahkan semua. Agaknya Lan See giok tidak menyangka kalau gadis itu begitu tak tahu aturan. di antara percikan air telaga. . Setitik cahaya bintang yang disertai dengan suara desingan angin tajam langsung melun-cur ke tengah udara dan mengancam tubuh Lan See giok. berambut panjang dan menyoren sebilah pedang berdiri di ujung sampan itu. Disaat Lan See giok sedang repot meng-ha-lau ancaman senjata rahasia itulah . Kembali terdengrar suara bentakan nyaring sekali lagi muncul rbeberapa buah titik caha-ya tajam yang menyerang tiba.. "Traaang.. "Pluuung!" senjata rahasia tadi segera ter-cebur ke dalam air telaga beberapa kaki di belakang sampan. dia lantas menduga kalau gadis itupun seorang perompak. sekarang dia dapat melihat seorang gadis bertubuh langsing. Lan See giok gusar sekali. ia bersiap siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. senjata gurdi emas itu segera menciptakan selapis cahaya tajam yang melindungi seluruh badannya. kemudian sambil berdiri di ujung geladak. sam-pan kecil itu meluncur tiba dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya. Mendadak sampan kecil itu menerjang ke hadapannya. Mendadak terdengar suara bentakan nyaring: "Kawanan tikus dari mana yang berani mendatangi benteng Wi lim poo ditengah malam buta begini?" Berbareng dengan suara bentakan terse-but. Di buritan sampan duduk pula dua orang dayang berpakaian ringkas yang memegang dayung.95 senjata gurdi emasnya.. traaang. Serta merta dia melejit ke tengah udara dan meloloskan diri dari sambitan senjata rahasia tersebut. Lambat laun sampan itu makin dekat. traaang. cepat tubuhnya melejit dan menjatuhkan diri ke dalam sampan: Berbareng dengan menyambar lewatnya dari sisi sampan kecil tersebut dan meleset sejauh dua kaki lebih. Tak terlukiskan rasa kaget anak muda itu menghadapi datangnya ancaman. kemudian tampak selapis ca-haya tajam menyambar ke pinggang Lan See giok. gadis yang berada di sampan tersebut telah mengayunkan tangannya ke depan. dia menggetar-kan tangannya. Dalam waktu singkat sampan kecil itu sudah berada lebih kurang tiga kaki di hada-pannya.

cepat dia menghantam pinggiran sampan lawan de-ngan ayunan telapak tangan kirinya. Lan See giok merasa cemas dan gusar meng-hadapi kejadian seperti ini dengan sorot mata berkilat dia menunggu datangnya ter-jangan dari sampan lawan. sementara sampan itu pun langsung menerjang perahu-nya. air memercik ke empat penjuru. . sedangkan dua orang dayangnya berwarna hijau pupus. pedangnya dengan jurus Gin-hoo-ci li ( menusuk ikan leihi di sungai ) langsung menusuk ke perut Lan See-giok.96 Lan See giok tak berani berayal. kedua orang dayang terse-but telah memutar sampannya dengan ce-katan. . kini sampan tersebut meluncur datang lagi dengan kecepatan tinggi me-ner-jang sampannya. . dia tak be-rani menyambut datangnya ancaman terse-but. setelah dewasa nanti niscaya merupakan se-orang pemuda tampan yang menawan hati.!" diantara suara benturan nyaring. sampan lawan kembali telah menerjang tiba. tapi tak urung bajunya basah kuyup juga oleh air telaga yang telah menggenangi sam-pan kecil tersebut. buru-buru tubuhnya melejit ke tengah udara . . Lan See-giok amat terperanjat. sampan kecil itu meluncur lagi ke depan Lan See giok yang berada di tengah udara dengan cepat meluncur ke bawah dan me-layang turun di atas sampan yang terbalik itu. . mukanya berbentuk kwaci dan kulit badannya putih bersih . agaknya baru sekarang dia dapat melihat kalau Lan See giok berwajah bersih dan menarik. bermata besar ber-hidung mancung dan berbibir kecil ber-warna merah. Setelah berhasil dengan terjangannya. Gadis yang berada di atas sampan itu pun nampak terkejut sekali. tampaknya dia tak mengira kalau lawannya yang paling banter baru berusia lima enam belas tahun itu su-dah memiliki ilmu meringankan tubuh yang begitu sempurna. Sekarang dia dapat melihat jelas kalau gadis itu berbaju putih. . sampan tersebut sudah kena tertumbuk se-hingga terbalik. kemu-dian dengan cekatan dia melompat bangun. Dalam pada itu. Tapi dengan cepat sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya. Sekarang dia baru mengetahui kalau pada ujung sampan lawan rupanya dilapisi dengan lempengan baja yang sangat kuat. . Gadis berbaju putih itu berusia delapan sembilan belas tahunan. Gadis itu segera membentak keras. Belum habis Lan See giok mengamati gadis itu. . .. "Blaaammm.

penuh dengan pancaran sinar mempesona hati. "Blaaammm---!" tubuh Lan See giok melun-cur ke bawah dengan kecepatan tinggi. dite-ngah percikan bunga air. dayang itu tahu-tahu sudah terce-bur ke air dan menjadi ikan duyung. . Ternyata gadis itu hanya merentangkan pedangnya saja di depan dada. Bersamaan itu pula.97 Lan See giok juga agak tertegun. Tampak gadis berbaju putih itu memberi tanda kepada kedua orang dayangnya dan sampan tersebut menerjang lagi dengan ke-cepatan yang luar biasa. dayang berbaju hijau lainnya telah meng-ayunkan dayungnya untuk menghantam ke pinggangnya. ujung kakinya telah menginjak di buritan sampan. dia telah melejit dahulu ke tengah udara. Percikan bunga air memancar ke empat penjuru. .. dayang yang berada di dalam air mengayunkan pula senjata palu berantainya menyerang pinggang Lan See -giok. Agaknya dayang berbaju hijau itu sama sekali tidak menyangka akan datangnya ten-dangan itu. si gadis berbaju putih itu su-dah membentak nyaring. saking kagetnya sambil mem-bentak keras dia segera menceburkan diri ke dalam air. Belum habis dia berpikir. Kemudian sambil membentak keras dia lepaskan sebuah tendangan kilat menghajar pinggang seorang dayang berbaju hijau yang sedang mendayung perahu. Tergerak hati Lan See giok menghadapi keadaan seperti ini.!" di tengah jeritan tertahan. .. dayung kayu di tangan dayang berbaju hijau itu terlepas dari genggaman dan mencelat ke tengah udara. sampban kecil itu sekali lagi telah menerjang tibab. dayang tersebut sudah pasti pandai menyelam di dalam air. Dengan jurus Kim ciam teng hay (jarum emas tenangkan samudra) Lan See-giok me-ngayunkan senjata gurdi emasnya ke bawah menyapu dayung kayu itu. Lan See giok menjadi agak tertegun me-lihat hal itu. ia tidak nam-pak berniat untuk melancarkan tusukan. "Blaaammm . . Belum habis ingatan tersebut melintas. dia bertekad hendak membereskan kedua orang dayang tersebut lebih dulu agar sampan itu tak ada yang mendayung. dia saksikan senyuman gadis itu amat mem-pesona-kan hati. Baru saja Lan See-giok akan melepaskan tendangan lagi. dia tahu bakal celaka kali ini. Lan See giok tidak berdiam diri belaka. se-belum sampan lawan mencapai sasaran. pedangnya secepat kilat menusuk datang. setelah itu dia baru berusaha untuk menaklukkan si nona baja putih dan berusaha melarikan diri . terutama sepasang matanya serasa membetot sukma.

niscaya badannya akan tenggelam. ia menjerit keras karena kaget. melihat datangnya cahaya emas yang mengurung tubuhnya dengan membawa desingan angin dingin. Dengan cepat otaknya berputar. Maka sambil membentak keras. Lan See giok amat gembira. kemudian memaksa dua orang dayang tersebut untuk menghantarnya ke luar dari sana. dia me-rasa satu satunya jalan yang dimilikinya sekarang untuk kabur adalah secepatnya menakluk kan gadis berbaju putih yang berada di sam-pan itu. dayang ber-baju hijau itu sudah menyelam ke dalam air. cepat-ce-pat dia mengundurkan diri ke buritan sampan. Lan See giok menjadi gugup setelah me-nyaksikan kejadian ini. asal sepasang kakinya menempel di air. dengan cepat dia melejit ke udara dan melayang kembali ke atas sam-pan yang telah terbalik itu. sementara senjata gurdi emasnya dengan jurus Kim coat sim (ular emas menjulurkan lidah) menusuk ke ulu hati lawan dengan disertai kilatan cahaya emas. Berpikir demikian. dia lantas melejit ke udara. Dua orang dayang itu segera memisahkan diri ke kiri dan ke kanan. senjata gurdi emasnya diputar sedemikian rupa menciptakan beribu ribu bayangan gurdi emas yang langsung mengurung seluruh badan gadis tersebut--Padahal waktu itu ujung kaki si nona ber-baju putih tersebut baru saja mencapai tanah. Lan See-giok tak sanggup me-laku-kan perlawanan lagi. kemudian ber-gerak mendekati sampan yang terbalik itu dengan kecepatan luar biasa. sebab itu dia tak mengira kalau Lan See giok bakal menerjang tiba sambil melancarkan serangan Menanti dia sadar akan datangnya bahaya untuk turun tangan sudah tak sempat lagi. lalu dengan jurus Jiau yan -huan-sin (walet lincah membalikkan badan) cepat-cepat dia kabur ke dalam air. si nona berbaju putih itu se-dang melamun di ujung perahu. karena dia sama sekali tidak tahu akan ilmu berenang. sambil mem-bentak dia menerjang lebih ke depan. Waktu itu. Melihat lawannya telah kjabur ke sampan gyang terbalik dbengan wajah girang gadis ber-baju putih itu segera berteriak keras: "Tangkap dia! Bawa pulang ke benteng menunggu keputusan dari pocu!" Baru saja perintah diberikan. . dengan gerakan Hay yan keng sui (bu-rung manyar menyambar air) dia terjang ke arah sampan lawan.98 Menghadapi kerubutan dari depan dan belakang.

99 Sesungguhnya Lan See giok sama sekali tak berpengalaman dalam suatu perta-rungan. . cepat-cepat dia menutup pernapasannya sambil berusaha keras untuk mengendorkan badannya. dia belum pingsan!" Lan See-giok merasa amat terkejut. empat tangan dari dua orang dara tersebut telah menyambut tubuhnya. Kemudian diapun merasa jalan darah tidurnya ditotok oleh gadis berbaju putih itu. sebuah lengan tahu-tahu sudah merangkul pinggang nya dan menyeretnya ke atas permukaan air.. Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok menghadapi kejadian seperti ini. Mendadak terdengar seseorang menjerit keras "Nona. Sesaat sebelum tubuhnya tercebur ke dalam air tadi. Secara beruntun Lan See giok meneguk beberapa tegukan air telaga. Meskipun gerakannya cukup cepat akibat-nya tubuh itu masih terlambat berapa depa untuk mencapai di atas sampan. cepat ceburkan lagi. Baru saja ia mengendus baru harum se-merbak. tubuhnya langsung tengge-lam ke dasar telaga yang dingin. Tapi segera terdengar pula nona itu mem-bentak keras: "Hayo cepat sambut tubuhnya dan baring kan ke atas sampan" Lan See giok baru tahu sekarang kalau orang yang menyeretnya ke luar dari air adalah nona berbaju putih itu. belum lagi mem-buka matanya. "Byuuurrr---!" bunga air memercik setinggi beberapa depa. tubuh-nya sudah terseret ke luar. . dia menyesal tidak seha-rusnya menarik napas panjang-panjang. Tahu-tahu pandangan matanya terasa ka-bur. ditambah lagi pertarungan tersebut ber-langsung di atas sampan. telinganya secara lambat-lam-bat mendengar dua kali teriakan gembira dan sekali jeritan tertahan--Baru saja badannya tenggelam. tapi senjata gurdi emasnya dipegang kencangkencang. Tak selang berapa saat kemudian. dia merasa menyesal sekali setelah mendengar ucapan tersebut. . pada rhakekat-nya dia tak pernah menduga kalau lawannya bakal kabur ke dalam air. anak muda itu sudah menghembuskan napas panjang-panjang. sambil membentak keras sepasang lengannya di putar kencang kemudian secepat kilat tubuhnya meluncur ke bawah . dan bayangan tubuh dari gadis berbaju putih itupun sudah lenyap tak berbekas. Tak ampun lagi ia segera tercebur pula ke dalam telaga.

jangankan melirik lagi. tapi payudara mereka kelihatan montok dan sudah matang. saat ini mungkin Lo-pocu sudah kembali ke benteng!" Kemudian terdengar suara air memecah ke tepian dan perahu kecil itu bergerak cepat ke depan. ter-nyata sikap kedua orang dayang tersebut terhadap Lan See giok menjadi lebih sungkan. diantara dengusan napasnya terlihat naik turun menantang.100 Lan See giok mengetahui maksud hati dari nona itu. seakan-akan sudah tertidur pulas. tapi dia menggertak giginya keras-keras dan tidak membiarkan mulutnya mengeluarkan suara. Kalau tidak melihat masih mendingan. dibawah pakaian berwarna putih yang basah kelihatan menonjol ke luar sangat menantang. selain payudaranya besar dan montok. Rupanya seluruh tubuh si nona berbaju putih maupun kedua orang dayang itu sudah basah kuyup karena tercebur. yang seorang gemuk dan yang lain kurus. sampan itu terasa bergoyang keras. "Bluuk--!" Lan See giok merasa ping-gang-nya agak sakit karena membentur ujung sampan. mukanyapun turut berubah menjadi merah padam karena jengah. begitu melirik. Mendadak terdengar gadis itu berseru kembali: "Cepat kembali ke benteng. Lan See-giok hanya melirik sekejap kemudian memejamkan matanya rapat-rapat. bahkan untuk bernapas lebih keraspun tidak berani. Setelah ditegur oleh nonanya tadi. dengan cepat kedua orang itu membaringkan tubuh pemuda itu ke dalam perahu. Tanpa terasa Lan See-giok membuka sedikit matanya dan mengintip ke depan. jantungnya kontan berdebar keras. Kembali terdengar seseorang membentak nyaring: "Budak sialan. . Kedua orang dayang itu. . Sebaliknya gadis berbaju putih itu tampak memiliki potongan badan yang indah. Terutama puting susunya yang sudah matang di ujung payudara. cukup bikin jantung orang berdebar keras. potongan badannya benar-benar aduhai. maka dia pun segera berlagak. Lan Seegiok tahu si gadis dan kedua orang dayangnya telah naik ke atas perahu itu. apakah tidak bisa pelan sedikit?!" Tak berapa lama kemudian. dengan begitu pakaiannya menjadi melekat dengan badan dan terlihatlah seluruh lekukan badan mereka. bpinggangnya amajt ramping dengagn pinggul yang bbesar.

Mendadak terendus bau harum semerbak menusuk penciuman pemuda itu. orang yang menyeka wajahnya sekarang tak lain adalah si nona berbaju putih itu. j Baru saja diga akan melirik.. Lan See giok merasakan hatinya berdebar keras. kadangkala dia membuka sedikit matanya untuk mencuri lihat keadaan di luar sampan. kemudian dengan lembut berge-ser ke bawah untuk menyeka air di atas wa-jahnya. . diapun tak mengerti ilmu berenang. terasa olehnya bau harum itu aneh sekali dan cukup membuat jantung orang bebrdetak keras.b sebuah sapu tangan basah telah digunakan untuk me-nye-ka jidatnya. Lan See giok pura-pura tertidur nyenyak. Malam yang gelap mencekam seluruh jagat. rambutnya. selanjutnya dagunya. Walaupun Lan See giok masih menggeng-gam senjata gurdi emasnya kencang-ken-cang. bahkan arah mata angin pun sudah dibikin kacau balau. diapun dapat merasakan sesuatu ke-hangatan yang nyaman. Maka satu-satunya jalan yang bisa dilaku-kannya sekarang adalah bersabar untuk se-mentara waktu sambil menantikan peru-bahan selanjutnya . Ia cukup sadar. tapi tidak nampak cahaya rembulan sehingga praktis suasana di sekitar sana gelap gulita. . meski demikian dalam perasaan tegang bercampur gugup. Menurut dugaannya. lepaskan tanda pengenal!" Sampan yang sedang bergerak majupun segera melambat dan akhirnya berhenti. Tak lama kemudian terdengar gadis ber-baju putih itu berseru: "Siau lian.101 Lan See-giok berbaring di dalam sampan sambil memejamkan matanya rapat-rapat.. Jari tangan si nona yang lembut seringkali menyentuh pipinya yang halus. pipinya. bintang bertaburan di angkasa. . Kedua belah sisi jalan air penuh dengan tumbuhan gelaga yang bergoyang menimbul-kan suara gemerisik. tapi ia tak berniat sama sekali untuk melompat bangun dan melancarkan serangan terhadap ke tiga orang gadis itu. seandainya serangannya tidak berhasil maka bukan mustahil jiwanya akan terancam. Padahal dia tak pandai mengemudikan sampan. napasnyapun diatur sedemikian rupa agar gadis berbaju putih itu jangan sampai tahu kalau dia hanya purapura tidur. kecuali itu hanya suara air yang memecah ke tepian saja yang ter-dengar memecahkan keheningan. hal ini mem-buat Lan See-giok merasa gatal tapi nyaman.

di samping itu Lan See giok juga dapat melihat jelas ke tiga huruf besar di atas lampu lentera merah tersebut yang berbunyi. Tak lama kemudian. Tampak si dayang berbaju hijau itu mem-buat api lalu memasang empat buah lentera kecil berwarna merah dan digoyang goyang kan secara beraturan sekali. sampan kecil itu menembusi bayangan pintu gerbang ben-teng wi lim poo tersebut. sampan kecil itu segera didayung kembali sehingga meluncur ke depan dengan cepat. Lan See giok tak berani mendongakkan kepalanya. Tapi setelah budak berbaju hijau itu meng-gerakkan lentera kecilnya. . Di atas lenterar itu tertera huzruf besar dari wkertas putih. karena itu diapun tak dapat me-nyaksikan keadaan di depan sana serta berapa jauh lagi jaraknya dengan benteng Wi lim poo tersebut. WI LIM POO. ternyata di sekitar sampan sudah tidak nampak tumbuhan gelaga lagi. kemudian terdengar pula suara pintu benteng yang berat pelan-pelan dibuka. trapi berhubung jaraknya kele-wat jauh.102 Lan See giok pun merasa gadis berbaju putih itu bangkit sambil maju ke depan. ta-hulah pemuda itu bahwa mereka telah mendekati Benteng Wi lim Poo seperti apa yang dikatakan si nona tadi. ketika dia mencoba melirik tampaklah olehnya ada sebuah lampu lentera merah yang amat besar tergantung di tengah angkasa dan memancarkan cahaya ke empat pen-juru. tiba--tiba Lan See giok merasakan matanya agak silau. sekarang pemuda itu baru merasa kalau mereka sudah berada tak jauh dari benteng tersebut. muncul pula lampu lentera merah yang ke tiga --Sebuah bangunan benteng yang tinggi dan kokoh muncul jauh di belakang lentera merah yang ke tiga. sehingga Lan See giok tak dapat melihat dengan jelas. di atas lentera inipun tertera huruf besar yang terbuat dari kertas putih. Kurang lebih tujuh delapan depa dari len-tera merah yang pertama. Maka diam-diam dia melirik kembali ke se-kitar sana. terdapat pula lampu lentera yang kedua. Tak selang berapa saat kemudian. Dengan suatu gerakan cepat. mung-kin mereka sudah berada di tengah hutan gelaga yang mendekati benteng Wi lim poo. Lamat lumat Lan See giok mendengar suara teriakan keras dari para penjaga di atas benteng. Sampan kecil itupun makin melamban.

Lan See giok segera sadar bahwa dia yang baru lolos dari gua harimau kini sudah terjerumus lagi ke dalam sarang naga. Ketika puluhan lelaki kekar itu menyaksi-kan si nona den kedua orang dayangnya berada dalam keadaan basah kuyup. puluhan orang lelaki kekar itu kembali dibuat tidak habis mengerti. Sementara dia masih termenung. mereka tahu kalau ke tiga orang gadis itu telah men-jumpai jago lihai di tengah telaga. bila nona yang lihay pun bisa dipaksa tercebur ke dalam air. sampan kecil itu pun segera berhenti. sewaktu dibuka pintu ter-angkat ke atas dan bila menutup pintu ber-gerak ke bawah. mereka rata-rata bermata besar. beralis tebal dan membawa senjata garpu yang memancarkan cahaya tajam. Padahal mereka tahu kalau ilmu silat yang dimiliki nonanya sangat lihay. Sambil bertolak pinggang gadis berbaju putih itu memandang sekejap sekeliling arena. selain kokoh juga mendatangkan sua-sana seram bagi yang melihatnya. dari sini dapat diketahui kalau kepandaian silat yang dimiliki orang itu pasti lihay sekali. Lan See giok yang mencoba melirik ke arah depan. Tiba-tiba terlihat nona berbaju putih itu memberi tanda. paras muka mereka segera berubah hebat. segera merasa kagum sekali. Berpuluh-puluh orang lelaki kekar. dia tak habis mengerti bagaimana caranya memba-ngun benteng yang begitu kokoh di dalam telaga yang begitu luas. .103 Pintu benteng yang lebarnya delapan depa dan tingginya satu kaki dua depa itu terbuat dari kayu besar. niscaya dia akan diserahkan kepada kawanan lelaki kekar itu untuk dijebloskan ke dalam penjara air. dengan hormat berdiri di kedua belah sisi bangunan benteng. Dinding benteng maupun bangunan loteng terbuat dari batu-batu cadas yang besar dan kuat. ""Apakah Lo-pocu telah kembali?" gadis itu segera menegur dengan suara dalam. sampan kecil itu sudah meluncur ke bawah pintu gerbang benteng itu. puluhan orang lelaki itupun cepat-ce-pat menundukkan kepalanya dengan keta-kutan. tiada orang yang percaya kalau nona mereka telah dipaksa terjun ke dalam air oleh seorang bocah yang baru berusia lima enam belas tahun tersebut. Tapi setelah mereka saksikan Lan See giok yang tergeletak dalam sampan. untuk melarikan diri dari benteng sekokoh ini nampaknya tidak lebih mudah dari pada melarikan dari dusun nela-yan. Menyaksikan kesemuanya itu. Lan See giok sadar bahwa dia bakal celaka. setelah sampai di dalam benteng.

"Tidak usah. membuat Lan See giok merasa putus asa. di sekeliling tempat itu penuh de-ngan bangunan rumah dan loteng yang ter-buat dari batu hijau. salah seorang diantara tiga se-tan!" kembali lelaki bercambang itu men-jawab dengan sikap yang sangat meng-hor-mat. Be congkoan telah me-ngutus siapa untuk menyambut kedatang-an Lo pocu?" "Tui-keng-kui (setan pengejar ikan paus). apakah mata-mata itu perlu di-tahan di sini untuk diperiksa?" Lan See giok merasa terkejut sekali. kemudian tanyanya lebih jauh: "Tengah hari tadi. Lan See giok menjadi lega kembali setelah perahu itu meneruskan perjalanan. Tiba-tiba terdengar lelaki bercambang itu bertanya dengan sikap hormat: "Nona. Entah berapa lama sampan kecil itu ber-gerak maju menembusi jalan air di dalam benteng. Be congkoan telah mengirim pula dua setan lainnya untuk menyambut pocu!" Tampaknya nona berbaju putih itu merasa agak lega setelah mendengar ucapan itu. karena dia merasa harapannya untuk mela-rikan diri tipis sekali. sampan kecil itu sudah bergerak melewati pintu benteng tersebut. Selesai berkata. Apa yang terlihat di sepanjang perjalanan. dia lantas mengangguk dan memerintahkan sampan untuk bergerak maju. Kemudian setelah memandang sekejap ke pintu belakang. sebab setiap berapa kaki tampak sebuah lampu lentera. akhirnya mereka baru memasuki sebuah pintu air. setelah melalui jalan air yang menembusi berapa rumah besar. menyeberangi jembatan berbentuk bulan dan berhenti di depan sebuah pintu gerbang berwarna merah. Yau Huang. meski di tengah ke-ge-lapan namun suasana tetap terang benderang.104 Seorang lelaki bercambang segera me-nya-hut dengan kepala tertunduk dan sikap hor-mat: "Lapor nona. aku masih ada persoalan yang hendak ditanyakan kepadanya!" tukas nona itu dengan suara dalam. tanpa terasa dia menggenggam senjata gurdi emasnya kencang-kencang. gadis berbaju patih itu berkerut kening. lelaki itu menambahkan: "Barusan. Bangunan benteng Wi lim poo itu benar-benar luas sekali. Lo pocu belum kembali!" Dengan perasaan kaget bercampur ke-heranan. Tempat apakah benteng Wi lim poo ini? sarang perampok kah? Atau suatu markas besar dari suatu perkumpulan besar dalam dunia persilatan? Atau .

Tiba-tiba terdengar suara sorak sorai yang penuh kegembiraan berkumandang datang: "Nona telah datang. dia teringat kembali akan dendam sakit hati ayahnya. dia tak habis mengerti apa sebabnya nona itu ber-sikap begitu baik terhadap dirinya. secara lamat-lamat dia hanya merasa dirinya di bawa ma-suk ke dalam sebuah pintu berbentuk bulat. sekelompok pelayan yang datang menyambut segera berhenti dan menjadi hening. Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya. Kemudian ia mendengar pula nona berbaju putih itu berseru cepat: "Kalian segera menyiapkan air untuk membersihkan badan dan hidangan ma-lam. ." Suara langkah yang ramai kembali terde-ngar. Tapi ada satu hal yang bisa diduga olehnya. agaknya mereka sedang dibuat tercengang oleh kehadiran Lan See giok yang digotong Siau lian serta Siau ci. kembali dia berpikir: "Jiwaku sendiripun belum tentu bisa di dipertahankan. tapi bersamaan itu pula Lan See giok merasa kebingungan. maka bocah itu tak berani membuka matanya. nona telah pulang!" Oleh karena nona berbaju putih itu ber-jalan di samping Lan See giok. belum pernah ia mendengar ayahnya menyinggung tentang hal ini. maka pikirnya lebih jauh: "Kalau toh lo-pocu dari benteng ini me-ru-pakan jago silat yang berilmu tinggi. Dengan cepat Lan See giok tersadar kem-bali dari lamunannya.. Kemudian senjata gurdi emas itupun di ambil oleh si nona berbaju putih tersebut.. buat apa aku mesti berkhayal yang bukan-bukan---?" Tiba-tiba ia mendengar gadis berbaju putih itu sedang menegur dengan suara nyaring: "Siau ci. Lo pocu dari benteng wi lim poo ini sudah pasti adalah seorang kakek yang ber-ilmu silat sangat tinggi. kali ini pelayan-pelayan tersebut pergi menjauh. Suara langkah dan sorak gembira menda-dak terhenti. mengapa aku tidak mengangkatnya menjadi guruku --?" Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya dia merasa tubuhnya telah digotong oleh dua orang dayang.. apakah kau tak dapat meng-angkat kepala itu lebih ke atas sedikit?" Lan See giok merasa kepalanya segera ter-angkat lebih tinggi sehingga terasa nyaman sekali.105 mungkin tempat per-tapaan seorang jago persilatan yang me-ngasingkan diri? selama ini.

kenapa dia masih tidur terus. tam-paknya seperti berjalan ke arahnya. Kembali terdengar gadis itu berseru: "Letakkan dulu di atas tempat duduk ber-sulam!"" Lan See giok tidak tahu bagaimanakah bentuk tempat duduk bersulam itu. Ditinjau dari sikap gugup dan tegang dari pelayan-pelayan itu. segera terendus bau harum semerbak yang merangsang hati. Lan See giok segera merasakan seluruh badannya bagaikan ditusuk-tusuk dengan jarum. oooh. disusul se-buah tangan menghantam pelan di atas jalan darah Mia-bunhiat di tubuhnya. maka dia berpura-pura menghembuskan napas panjang. . . tampan sekali wajahnya . .106 Kemudian ia merasa digotong masuk menaiki undak undakan dan memasuki se-buah ruangan. Mendadak suasana menjadi hening. Cahaya lampu dalam ruangan itu terang benderang membuat Lan See giok merasa agak silau. . Tapi Lan See giok tahu kalau tak jauh dari situ masih berdiri beberapa orang dan ia pun tahu kalau si nona berbaju putih itu telah pergi. . Tak selang berapa saat kemudian. . . suara lirih tadi kedengaran makin mendekat. . ia hanya merasakan badannya dibaringkan di atas tempat yang empuk dan nyaman di mana tangannya menyentuh terasa tempat itu em-puk sekali. . Lambat-lambat diapun mende-ngar suara bisik bisikan lirih di kejauhan sana. Kemudian kedengaran nona itu berkata lagi dengan suara yang jauh lebih lembut: "Sekarang kalian berdua boleh pergi mem-bersihkan badan dan berganti pakaian!" Dua orang dayang itu mengiakan lalu ber-lalu dari situ. Benar juga. . hati-hati kalau kulitmu disayat oleh nona . . " Serombongan pelayan mengerumuni tem-pat itu sambil berbincang tiada hentinya. ."" " . jangan sentuh dia. ". menggeliat dan pelan-pelan membuka matanya. Lan See-giok tahu kalau si nona sedang membebaskan jalan darahnya. Lan See giok lantas menduga kalau nona berbaju putih itu telah balik kembali ke situ.?" "Mungkin jalan darahnya ditotok oleh nona. lalu pelayan-pelayan itu membubarkan diri de-ngan cepat sesaat kemudian kedengaran lagi suara langkah manusia yang mendekat." "Siau-ho.

. benar-benar suatu dekorasi yang indah sekali. cepat-cepat dia melompat turun dari atas tempat duduk. dia pun mengikuti di belakang gadis tersebut.. Lan See-giok pura-pura terkejut. .107 Tapi sinar mata yang silau segera membuat sepasang matanya terpejam kembali. hayo cepat membersihkan badan dan tukar pakaian. Menelusuri ruangan dalam. saat itu mereka semua sedang berdiri di depan pintu berbentuk bulat dengan wajah ke-heranan. malah sekulum senyuman segera menghiasi bibirnya setelah menyaksikan ketegangan Lan See-giok. sedang di tangannya membawa beberapa stel pakaian. ke-mudian katanya sambil tertawa cekikikan: "Bocah dungu.. tapi dia tak berani bersikap kelewat keras karena dia takut akan terbongkar rahasianya sehingga menyulitkan diri sendiri. kontan saja membuat beberapa orang dayang tersebut menjadi tertegun dan gelagapan dibuatnya. lantainya dilapisi permadani merah sedang lentera keraton menghiasi mana-mana. dia sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum manis. Karena itulah setelah tertegun sejenak. kuning. ini membuat sepasang payudaranya turut bergoncang keras mengikuti suara tertawa cekikikannya. ooo0ooo BAB 6 PEMILIK BENTENG WI-LIM-PO DENGAN sepasang matanya yang genit dan menggiurkan nona berbaju putih itu. hijau dan biru. me-mandang sekejap ke arah Lan See giok. Sementara sepasang matanya yang jeli berlagak memandang nona berbaju putih itu dengan tegang." Seraya berkata dia segera berjbalan lebih duluj di depan. Si nona berbaju putih itu sendiri masih tetap bersikap tenang. lalu dengan tangan kiri melindungi muka. tangan kanan melindungi dada. dia bersikap dalam posisi siap siaga. Ketika biji matanya berputar dia saksikan nona berbaju putih itu masih tetap mengenakan pakaiannya yang basah. ia saksikan semua perabot yang ada di situ rata-rata in-dah dan mahal harganya. Beberapa orang dayang yang berada di sana rata-rata berusia empat lima belas ta-hunan.. gSekalipun Lan Sbee giok merasa kurang senang atas panggilan itu. Tindakan Lan See-giok yang sangat tiba-tiba ini. mereka mengenakan pakaian ber-warna merah.

nona berbaju putih itu segera berhenti dan katanya sambil tertawa: "Cepat masuk. Lan See giok memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu dia lihat di ujung ruangan terdapat sebuah rak pakaian. Meski usianya masih kecil. Setelah menembusi ruangan dalam. sepatunya kelewat sempit. pakaian luarnya agak kedodoran. setiap macam benda yang ada di sana me-nimbulkan rasa ingin tahunya.. tapi celananya. kenapa nona berbaju putih itu bersikap istimewa kepadanya.. Semua bahan pakaian terbuat dari bahan sutera yang sangat halus don mahal harga nya. lalu di bagian tengah terdapat sebuah bak mandi terbuat dari kayu. Benar juga. ia menjadi ber-pikir pikir. isi bak itu setengah penuh dan mengepalkan uap panas." Pakaian dalamnya persis. seluruh ruangan terasa harum se-merbak. walaupun kurang necis. dia segera menerima pakaian ter-sebut dan masuk ke dalam ruangan. tak apalah" akhirnya dia berpikir "toh pakaian ini kupakai untuk sementara waktu . Dengan wajah ingin tahu. tanpa terasa Lan See giok berkerut kening. namun dia merasa tak terbiasa mengenakan pakaian yang berwarna warni seperti itu. ." Sembari berkata dia lantas menyodorkan beberapa stel pakaian itu kepada Lan See giok. sepatu model busa . untuk se-mentara waktu dia terpaksa harus me-ngena-kan pakaian pemberian gadis itu. "Aaaah.. setelah membersihkan badan gantilah dengan pakaian ini. pakaian dalam putih.108 Baru pertama kali ini Lan See giok me-nyaksikan dekorasi yang begini indahnya. . Dua orang dayang yang berada di luar de-ngan cepat menutupkan pintu ruangan. . tapi dapat terlihat betapa tam-pannya pemuda itu. Selesai membersihkan badan. Si anak muda itupun tidak sungkan-sung-kan. akhir-nya gadis berbaju putih itu mengajaknya menuju ke depan sebuah pintu kecil di mana tampak ada dua orang dayang berbaju bunga berdiri di situ. Ia tahu kamar untuk membersihkban badan ini mujngkin merupakang kamar mandi prbibadi si nona berbaju putih itu. kelewat panjang.. . Ternyata pakaian itu terdiri dari jubah biru dengan celana hijau. . untung saja ia masih sanggup untuk mengendalikan ge-jolak perasaan dalam hatinya. Lan See giok tahu bahwa tempat itulah tempat untuk membersihkan badan . .

Lan See-giok memang merasa amat lapar. Sambil menundukkan kepala dia pun ber-jalan kian kemari. Sekarli lagi kedua orang dayang itu tertegun. dia lantas celingukan lagi ke sana ke mari untuk mencari air guna mencuci pakaian sendiri . Dua orang dayang itu nampak tertegun untuk sesaat. Maka diapun membalikkan badan sambil membuka pintu. tapi dia tahu pang-gilan tersebut ditujukan kepadanya. Tiba di ruang muka sebuah meja per-jamuan telah disiapkan. agaknya baru pertama kali ini mereka jumpai seorang pemuda yang begitu tampan. tapi setelah berpikir sebentar mereka segera memahami jalan pemikiran pemuda itu. Sedang Lan See giok mengira mereka se-dang mentertawakan pakaiannya yang kedo-doran. Salah seorang dayang yang berusia agak tua segera berkata sambil tersenyum ramah: "Kongcu. mangkuk piring yang terbuat dari perak telah dihidangkan secara lengkap. kontan saja mereka tertawa ce-kikikan. sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun. selu-ruh benteng Wi lim poo berada dalam keadaan hening. apalagi setelah menyaksikan hidangan ma-lam yang lezat.109 Selesai berdandan. . kemudian terdengar pelayan itu bertanya: "Kongcu. silahkan kongcu bersantap malam lebih dulu!" Dengan sopan Lan See giok mengucapkan terima kasih. sudah selesaikah mandimu?" Kongcu? Lan See-giok merasa asing sekali terhadap panggilan itu. . pintu diketuk orang seca-ra tiba-tiba. perutnya merasa semakin la-par. . karena itu dengan sabar dia pun menantikan kemunculan si nona terse-but. tanpa terasa dengan wajah berubah menjadi merah padam tanyanya sambil ter-tawa "Adik kecil berrdua. pakaianmu akan budak cucikan. kemudian melangkah ke luar dari ruangan itu. itu berarti bukan disiapkan buat dia seorang saja. sementara otaknya ber-putar terus untuk menemukan cara yang baik untuk meloloskan diri dari situ. sedang nona ber-baju putih itu masih belum nampak. Beberapa orang dayang berdiri penuh hor-mat di sudut ruangan. kemudian berjalan menuju ke ruang depan. . tolong carzikan air sedikiwt . Di atas meja tersedia dua perangkat mang-kuk sumpit. Pemandangan malam di luar ruangan nampak sangat indah. Pada saat itulah. bintangbintang ber-kerlipan di tengah angkasa yang gelap.

Tak lama kemudian suara dentingan tadi makin mendekat dan akhirnya tirai di-singkap orang. sebab ia dapat lolos dari cengkeraman To oh cay jin (si manusia cacad telinga) Oh Tin san. Lan See giok segera menghentikan langkah nya seraya berpaling. tanpa terasa Lan See giok terbayang kembali akan kepandaian sakti yang dimiliki si nona berbaju putih sewaktu berada dalam air. sementara sorot mata mereka yang jeli mengikuti gerak gerik Lan See giok berjalan kian kemari. kemudian barulah berusaha untuk pergi ke sana. pertempuran-nya melawan si perompak yang mati tertusuk di air serta pertarungannya melawan gadisgadis itu hampir saja membinasakan dirinya di dalam air telaga. . Kemudian setibanya di depan pintu. Bila teringat kembali kejadian yang di-alami malam tadi. hingga sekarang jantung-nya ma-sih terasa berdebar keras. mendadak terdengar suara dentingan nyaring berkumandang datang. Siapa tahu dalam sepanjang sejarah hidupnya dia akan menjumpai bencana ban-jir? Atau mungkin akan bertemu perompak dan mengalami musibah kapalnya karam? Tanpa dibekali ilmu dalam air yang sempurna biarpun ilmu silat yang dimiliki cukup hebat-pun jangan harap bisa mempertahan kan hidupnya dengan baik--Sementara ia masih melamun sampai di situ. Ia beranggapan bersembunyi di dalam benteng Wi lim poo merupakan tempat per-sembunyian yang paling rahasia. Membayangkan kembali kesemuanya itu. mimpipun ke lima manusia cacad serta kakek berjubah kuning itu tak akan menduga kalau dia berada di sini. Lan See giok merasa seakan akan sudah melewati waktu selama satu dua bulan. Membayangkan kembali pengalamannya selama dua hari belakangan ini. meski demikian dia merasa hatinya lega dan nyaman. tampak dua orang dayang cilik lari masuk ke dalam ruangan dengan wajah tergopoh gopoh.110 Beberapa orang pelayan berdiri mem-bung-kam di tempat. ke dua orang dayang itu memisahkan diri dan berdiri di kiri dan kanan. Kini dia memutuskan untuk tidak ter-buru buru mengunjungi bibi Wan. dia memutuskan untuk mempelajari kepandaian tersebut secara baik-baik. dia harus menunggu sampai kelima manusia cacad dari tiga telaga berlalu dan meninggalkan tempat tersebut jauh-jauh karena merasa sadar bahwa harapan mereka amat tipis.

Sewaktu si nona mempersilahkan Lan See giok duduk di kursi utama. tak terlukiskan rasa girang dan gembira yang berkecamuk di dalam dadanya. dari luar pintu berkumandang suara langkah kaki manusia yang tergesa-gesa. nampak begitu tampan dan gagah.. entah mengapa dia sedang marah-marah di ruang tamu. Setelah termangu sesaat. Mendadak.tahu sudah muncul di depan mata.. Lan See giok baru mengenali kalau si nona anggun yang berbadan indah ini ternyata tak lain adalah si nona berbaju putih tadi. ia berwajah potongan kwaci.. pertanda kalau dia tidak berniat bermusuhan. seorang gadis cantik rupawan dengan perawakan yang ramping dan indah tahu." . suatu perpaduan yang mem-buat wajahnya nampak lebih cantik dan menawan hati.111 Agak berkilat sepasang mata Lan See giok setelah melihat apa yang tertera di depan mata. sebab tahun ini dia sendiri telah berumur sembilan belas tahun. Ia berdoa semoga Lan See giok bukan se-o-rang bocah berusia lima enam belas tahun. berbaju putih itu maju mendekat. Lan See giok segera berpaling. dia berharap pemuda itu sudah termasuk seorang pemuda dewasa. katanya sambil menunjuk ke arah meja: "Ayo silahkan. sambil tertawa manis gadis. Lan See giok yang selesai membersihkan badan dan berganti pakaian. gaun-nya berwarna putih dengan pakaian warna hijau pupus. maka sambil tertawa dia manggut-manggut. Dengan kening berkerut si nonab segera menegurj: "Apa yangg terjadi di tembpat hujin sana?" "Lapor nona" kata dayang itu cepat-cepat. tanpa sungkan pemuda itu mengikutinya. alis mata-nya indah dengan bibir yang mungil. jangan kau tunda lebih lama lagi" Lan See giok memang memutuskan untuk berdiam sementara waktu di dalam benteng Wi lim-poo sampai suasana menjadi aman kembali. Gadis cantik itu berdiri tertegun pula di depan pintu sepasang matanya yang jeli mengawasi juga wajah Lan See giok yang baru selesai membersihkan badan dengan termangu. Rambbut si nona cantjik itu disanggugl tinggi denganb mutu manikam menghiasi mahkota nya. wajahnya yang memerah tambah dilihat tambah menarik hati. tampak se-o-rang dayang berbaju kuning sedang berla-rian masuk ke dalam ruangan dengan wajah gugup bercampur tegang. "Lo pocu telah pulang.. Ia benar-benar terkejut sampai tertegun. Setelah diamati beberapa saat.

!" akhirnya dia menyimpul-kan. apakah di sekitar telaga ini masih terdapat markas besar dari perkumpulan atau pergu-ruan lain-. . mayatnya sudah terapung di atas permukaan air. sewaktu huzjin ber-tanya lwo-pocu sendiri rtidak menjawab. "Budak tidak trahu. Terdengar si nona berbaju putih itu berta-nya lagi kepada si dayang berbaju kuning: "Mayat si setan pengejar ikan paus di-temu-kan di daerah air sebelah mana?" Dayang itu segera menggelengkan kepala-nya berulang kali.112 "Aaaah. apa lagi per-guruan atau perkumpulan lain. seakan akan merasa segan untuk pergi. Maka sambil memandang si nona ber-baju putih yang termangu. pikirnya: "Jangan-jangan si setan pengejar ikan paus adalah orang yang mati kutusuk tadi?" Tapi ia segera merasa jalan pemikirannya tidak benar.-" Sekulum senyuman sinis dan angkuh segera melintas di wajah nona berbaju putih itu. tahukah kau apa yang menyebab-kan lo pocu marah-marah?" sela si nona sambil menjerit kaget. sahutnya: "ikan dan udangpun tak berani berenang mendekati benteng Wi lim poo. Tui keng hi ( Setan pengejar ikan paus ) yang diutus untuk menjemput lo-pocu ditemukan tewas tertusuk dalam air telaga. maka budak lihat lebih baik nona saja yang men-coba membujuk lo pocu-. masa mereka berani mendirikan markasnya di sekitar ini?" Lan See giok memang bukan anak bodoh. bukankah si setan pengejar ikan paus ditugaskan untuk menjemput Lo pocu-nya. selanya: "Tolong tanya nona. bilang saja aku akan segera menyusul !". kecuali benteng kalian. . bukan orang yang ditugaskan mencari dia? "Aaaah. "Menurut laporan dari Be-congkoan kepada nyonya. . Lan See giok amat terkejut setelah mendengar laporan itu sehingga tanpa terasa wajahnya berubah. pasti orang itu hanya seorang perompak air . ia sudah menyimpulkan kalau tiada orang luar yang berani mendekati daerah telaga tersebut. Berpikir sampai di situ." Gadis berbaju putih itu segera mengerut-kan dahinya. hatinya yang tak tenang pun segera menjadi tenang kembali. tapi setelah termenung sejenak akhirnya ia berkata. dari sikap angkuh si nona berbaju putih itu. "Pergilah dulu.

mana mungkin bisa terlibat dalam suasana perta-rungan?" sahut pemuda tanpa ragu. maka sambil.. maka dengan kening berkerut dan nada tak me-ngerti gumamnya lebih jauh: "Lantas. tersenyum katanya: . Gadis berbaju putih itu cukup memahami kalau Lan See-giok tidak mengerti ilmu dalam air. padahal aku tak mengerti ilmu berenang. kemudian membalikkan badan dan terburu buru meninggalkan tempat tersebut. ilmunya di dalam airpun paling sempurna. Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata nona berbaju putih itu. nona berbaju putih itu semakin yakin kalau di balik kesemuanya ini masih terdapat hal-hal lain. . tergerak hatinya. cuma dia tak be-rani banyak bertanya. sete-lah berhenti sejenak. cepat dia berguman lebih jauh: "Jangan-jangan sudah bertemu dengan Huan kang ciong liong ( naga sakti Pembalik sungai)?" Dari pembicaraan itu kembali Lan See -giok menyimpulkan bahwa antara pihak Wi lim Poo dengan si naga sakti pembalik sungai pasti terdapat perselisihan. aku pun tak pandai menda-yung. sewaktu mendusin perahuku sudah terbawa arus hingga sampai di dalam wilayah Lu-wi tong. nona berbaju putih itu baru berpaling kearah Lan See giok sam-bil berkata: "Dalam benteng kami terdapat tiga orang jago yang disebut tiga setan. si setan pengejar ikan paus terma-suk orang yang berilmu paling tinggi. jadi mustahil ia dapat membunuh si se-tan pengejar ikan paus yang lihay dalam soal ilmu berenang di dalam air. beralis tebal dengan mata yang jeli? Atau mungkin sudah terjadi pertarungan diantara kalian?" "Sejak memasuki telaga ini.. ia segera berpaling ke arah Lan See giok. namun tampak-nya diapun enggan untuk bertanya lebih jauh. di antara ke tiga orang ini. Sepeninggal si dayang. . kemudian tanyanya: "Mengapa kau mendatangi telaga Lu wi -tong kami malam ini? Di tengah jalan tadi apakah kau telah bersua dengan seorang le-laki setengah umur berbaju hitam. biarpun bertemu jago lihay. mengapa kau memasuki telaga Lu-wi tong?" Tak terkirakan rasa mendongkol Lan See." Melihat kemarahan sang pemuda yang kian lama kian menjadi.113 Dayang berbaju putih itu mengiakan de-ngan hormat. . semestinya tak mungkin ia akan tertusuk mati di dalam air . tak sesosok bayangan manusiapun yang kujumpai.giok: tiba-tiba teriaknya dengan marah: "Kapan sih aku bilang mau datang ke mari? Semalam toh aku cuma bertidur di dalam perahu..

. .114 "Arus dari telaga ini menang sering kali berubah ubah. lo-pocu datang!" Berubah wajah si nona berbaju putih itu. Mimpipun dia tak pernah menyangka kalau lo pocu dari benteng Wi lim poo ter-nyata adalah si manusia cacad telinga Oh Tin san yang baru saja berhasil dihindari. ayo cepat bersan-tap!" Sembari berkata dia mengambil sumpit perak. ada kalanya angin telaga da-pat membawa sampan kecil menuju ke arah yang lain. maka diapun mulai bersantap. Kemudian dengan suara keras teriaknya: "Empek. bahkan gadis berbaju putih sendiripun sampai berdiri melongo. mendadak tampak seorang dayang berlari masuk dengan tergesa gesa. ia tahu pastilah si dayang berbaju kuning yang melaporkan kepada ayahnya kalau di situ hadir seorang pemuda tampan.--" Ia lari ke depan menyongsong orang itu. Melihat gadis berbaju putih itu tidak berta-nya lebih jauh dan kebetulan hal ini memang sesuai dengan keinginannya. Baru saja hidangan akan dimasukkan ke mulut."" Meminjam cahaya lentera yang memancar ke luar dari ruangan Lan See giok ikut me-mandang ke depan. Sementara itu dari ruang tengabh terdengar suajra langkah kakig manusia.. segera dia melepaskan sumpitnya dan menangis tersedu sedu. satu ingatan segera melin-tas dalam benaknya. lalu ber-bisik lirih: "Nona. wajahnya berubah hebat. . hidangan yang baru saja di antar ke mulut pun segera terjatuh kembali ke atas tanah. Cepat-cepat Lan See giok berusaha mene-nangkan hatinya. yang bbergema semakin mendekat. tapi dengan cepat selu-ruh badannya gemetar keras. lalu terdengar gadis ber-baju putih itu berseru memanggil: "Ayah. kejadian semacam ini umum dan tiada sesuatu yang aneh. Manusia cacad telinga Oh Tin san sendiri pun nampak terkejut bercampur gembira setelah mengetahui pemuda yang duduk di ruangan tak lain adalah Lan See giok. Perubahan yang berlangsung secara tiba-tiba ini bukan saja membuat semua dayang menjadi tertegun. Dengan cepat Lan See giok menubruk dan memeluk si manusia cacad telinga erat-erat lalu meledaklah isak tangisnya. . Cepat-cepat dia bangkit dan lari ke luar untuk menyambut kedatangan ayahnya.

sebenarnya apa yang telah terjadi?" Manusia cacad telinga Oh Tin san menghen-tikan gelak tertawanya. sambil membelai tubuh Lan See giok dengan penuh rasa gem-bira ia berkata: "Anak bodoh. . gadis berbaju putih itu segera berteriak keras. Pemuda Lan See-giok memang pintar sekali. wajahnya segera berubah menjadi merah padam bagai kepi-ting rebus. "Ayah.115 Hawa amarah yang semula berkobar dalam dada manusia cacad telinga Oh Tin san se-ketika lenyap tak berbekas. kau adalah satu satunya sau pocu dari benteng ini" Kemudian sambbil mendorong sajng bocah. Lan See giok sendiripun segera me-nyadari akan masalah yang sedang dihadapi dengan berpura-pura terkejut bercampur gembira teriaknya keraskeras: "Kau adalah enci Cu!" Di tengah sorak gembiranya dia lari ke de-pan dan memeluk pinggang nona berbaju putih itu kencang-kencang kemudian seru-nya tiada hentinya: "Enci Cu. kemudian dengan wajah jengah menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Oh Tin san. enci Cu. tak urung semua kecurigaannya lenyap tak ber-bekas setelah menyaksikan sikap gembira dari Lan See giok. . . Begitu keras. suara tertawanya sehingga menggetarkan seluruh benteng Wi lim poo. setelah memeluk tubuh Oh Li cu yang bahenol erat-erat. toh ia dibuat malu dan tersipu-sipu oleh pelukan Lan See giok tersebut. Apalagi perawakan tubuh Lan See giok su-dah sejajar dengan ketinggian tubuhnya."" Meskipun nona berbaju putih Oh Li cu ter-hitung seorang gadis jalang yang cabul. mendadak dia berlagak tersipu-sipu dan buruburu melepaskan pe-lukannya. ia tak bisa me-ngendalikan rasa girangnya lagi dan men-dongakkan kepalanya sambil tertawa terba-hakbahak. . jangan menangis lagi. ini rumahmu. tanyagnya lagi sambilb tertawa senang: "Anak bodoh. coba kau lihat siapakah bu-dak yang cantik itu?" Sembari berkata dia menunjuk ke arah si nona berbaju putih yang sementara itu dari rasa kaget dan tercengangnya telah berubah menjadi luapan kegembiraan. Setelah termangu beberapa saat. Biarpun Oh Tin-san yang licik dan keji berakal bulus dan berpengalaman luas.

namun nyonya itu masih tetap "hot" dengan anting-anting model dakocan yang amat besar menghiasi telinganya. Biarpun usianya sudah tua. sudah pasti dunia berada di bawah telapak kakiku!" Pada saat itulah. beritahu kepada em-pek. . hilang lenyap semua kecurigaannya sekarang. sepatunya berwarna merah juga. Sekali lagi Oh Tin san mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahakbahak. manusia carcad telinga 0h Tin san merasa seolah-olah kotak kecil itu sudah berada di dalam genggamannya. . . napsu birahinya segera te-rangsang dan sinar matanya memancarkan napsu birahi yang amat tebal. Memandang Lan Sree giok yang bezrada di-hadapanwnya. dengan cepat ia berpaling ke arah Oh Tin san lalu sambil tertawa manggut tiada hentinya. "cepat. buru-buru serunya dengan manja: "Ayah." Tergerak hati Lan See giok. Serunya kemudian sambil menepuk bahu Lan See giok dengan tangannya yang kurus kering: "Jika enci Cu memang cantik. malah tak tertahankan lagi ia tertawa terba-hak-bahak.... Cu ji tak bisa berbakti lagi kepadamu di kemudian hari. Mendadak dari belakang beberapa orang itu berkumandang suara teguran seorang perempuan setengah umur dengan nada terkejut: "Tin san. cantik kah enci Cu?" "Enci Cu amat cantik!" sahut pemuda itu dengan kepala tertunduk rendahrendah.116 Biarpun Oh Tin san licik dan hebat. ia saksikan di depan pintu telah berdiri seorang nyonya tua bersanggul tinggi. tak terlukis kan rasa gembiranya waktu itu. . berkeriput mukanya dan berbedak serta gincu amat tebal. persoalan apa sih yang membuat kau tertawa terbahak bahak . ia memakai gaun hijau pupus dikombinasikan baju berwarna merah darah. "Bocah bodoh. Merah dadu selembar wajah Oh Li-cu karena jengah. ?" Lan See giok turut berpaling. . bagaimana kalau empek jodohkan enci Cu untuk menja-di istrimu!" Ucapan tersebut kembali membuat 0h Li cu merasakan timbulnya aliran hawa panas dari antara pahanya terus meluncur ke atas. mengapa malu?" tegurnya dengan gembira. ini menun-jukkan kalau perempuan ini biar sudah tua namun seorang yang suka pesolek. pikirnya: "Asal aku si manusia cacad telinga mem-peroleh kotak kecil itu.

bocah ini lebih mirip dengan istri adik Khong-tay!" . ayah menganiaya Cu ji!" Sambil berseru dia menjatuhkan diri ke dalam pelukan nyonya tua tersebut. sebab raut wajah Lan See giok lebih mirip ibunya dari pada ayah-nya. Walaupun nyonya tua itu masih dihiasi dengan senyuman. sepu-luh tahun tak bersua. makin dewasa pasti makin perkasa keadaannya---" Nyobnya tua itu berjkerut kening kegmudian berlagakb seakan akan baru memahami. Namun dia tak berani berbicara lebih lan-jut karena tidak memahami maksud tujuan suaminya.. Oh Tin san segera tertawa terkekeh-kekeh buru-buru serunya: "Bocah ini adalah satu-satunya kongcu keturunan adik Khong-tay. maka dengan nada tidak pasti katanya: "Ehmmm---rasanya sih seperti pernah di kenal. kemudian tanyanya dengan bangga: "Ci hoa. betul. Oh Li cu segera lari menyong-song kedatangan perempuan itu sambil ber-seru manja: "Ibu. Lan See giok segera menduga kalau dia adalah bininya si manusia cacad telinga. ia pandai sekali melihat gelagat dan menilai perasaan hati orang. begitu menyaksikan sorot mata Oh Tin san. dengan kening berkerut dia pun mengamati Lan See giok dari atas hingga ke bawah." Sejak memandang wajah nyonya tua pe-solek ini. seka-lipun demikian dia toh memandang juga ke arah perempuan tersebut sambil berlagak seakan akan tidak mengerti. Manusia cacad telinga Oh Tin san men-do-rong tubuh Lan See giok ke depan nyonya tua itu. dalam hati kecil Lan See giok sudah tumbuh perasaan muak dan bencinya.nyoo-hui Ki Ci hoa adalah seorang perempuan yang sudah berpengalaman luas di dalam dunia persilatan. Benar juga. ia berseru tertahan dan segera serunya sambil tertawa: "Yaa. memang agak mirip adik Khong-tay---" Ucapan tersebut kembali membuat Oh Tin san menjadi gugup. coba lihat.117 Melihat tampang perempuan tua itu. coba lihat siapakah dia?" Sambil berkata ia tertawa licik dan memu-tar biji matanya berulang kali. bocah ini sudah tum-buh menjadi begitu gagah dan tampan. maka cepatcepat katanya lagi: "Jelek amat ketajaman matamu. jelas ia sedang memberi tanda kepada nyonya tua tersebut: "Say nyoo-hui" atau Tandingan .. agaknya diapun dibuat tidak habis mengerti oleh sikap Oh Tin san yang sebentar gusar sebentar tertawa senang itu.

ilmu sastra dan lain-lain dengan penuh perhatian. Oh Li cu berdiri di belakang ibunya dengan senyuman dikulum. Oh Tin-san sendiripun tertawa terbahak bahak. ilmu silat. malam ini aku akan minum arak sampai mabuk!" Orang menjadi sibuk untuk menyiapkan segala hidangan dan meja perjamuan. Ki Ci hoa masih saja menggenggam tangan Lan See giok dengan hangat. . .118 Sekali lagi nyonya tua itu memandang wa-jah Lan See giok sambil manggut-manggut memuji. kepada kawanan dayang di sisi rua-ngan serunya kemudian: "Cepat siapkan arak. !"" Ki Ci hoa nampak semakin gembira lagi setelah mendengar panggilan itu. menggunakang kesempatan terbsebut dia menarik seorang dayang dan membisik-kan sesuatu ke sisi telinganya. dia menghampiri pemuda itu sambil tegurnya ramah: "Nak. ia menepuk bahu Lan See giok sembari berseru lagi: ""Ayo cepat memanggil bibi!"" Sambil menahan kobaran hawa amarahnya Lan See giok memanggil dengan hormat: "Bibi . Lan See giok!" Oh Tin san menerangkan. kemu-dian menanyakan usianya. katanya pula: "Dia adalah bibimu Ki Ci hoa. Setelah masing-masing mengambil tempat duduk. matanya yang jeli meng-amati terus wajah Lan See giok yang tampan tanpa berkedip. dayang itu nampak agak gugup dan buru-buru lari pergi dari situ. sedang kepada sang bocah. siapa namamu?" "Dia bernama. lalu dengan cepat dia menyusul kembali istrinya bertiga. dulu dia termasuk seorang perempuan cantik yang termasyhur namanya " Lalu sambil tertawa terbahak bahak. Kemudian dengan senyum dikulum. Setelah mendengar bisikan Oh Tin-san. kemudian setelah mendorong Oh Li cu. mungkin sau poocu sudah lapar sedari tadi. . Ki Ci hoa menggandeng putrinya di tangan kiri. orang me-nyebutnya sebagai Tandingan Nyoo-hui. . rupanya ia benar-benar su-dah terpukau dibuatnya. menarik Lan See-giok di tangan kanan ber-sama sama menuju ke luar ruangan. ia tertawa terkekeh tiada hentinya dengan mata sete-ngah terpejam. Oh Tin san sengaja berjalan dib paling be-lakajng.

dengan suara yang lembut dan ramah tapi penuh nada perhatian Oh Tin san ber-tanya: "Giok ji. begitu berjumpa denganku.. sedang otaknya berputar terus ber-usaha mencari akal bagaimana caranya menghadapi Lan See giok sehingga kotak kecil yang diincar bisa diperoleh kembali dan bagaimana pula caranya untuk menghindari perjumpaannya dengan Huan kang ciong liong serta kakek berjubah kuning. menegur mengapa kemarin aku menghajar muridnya Thi Gou. terpaksa dia manggut-manggut sambil bertanya lebih jauh: "Bagaimana selanjutnya?" Secara ringkas Lan See giok mengisahkan kembali keadaannya setelah masuk ke dalam dusun nelayan tersebut dan akhirnya dia menyinggung . dia tahu Thi Gou yang dimaksudkan Lan See giok tentulah si bocah lelaki tersebut.. Tak selang berapa saat kemudian hidangan sudah disiapkan. maka tak heran kalaur dia sudah mem-zpersiapkan jawawbannya sedari tradi.119 Oh Tin san duduk di bangku lain sambil mengawasi istrinya berusaha mengorek kete-rangan dari mulut pemuda itu dengan tak-tiknya. karena hal ini penting baginya di dalam usahanya untuk menguasai Lan See giok di kemudian hari.. dia ingin tahu apa saja yang telah dikatakan kakek tersebut kepada bocah itu." siapa sangka dia lantas membentak dan menotok jalan darahku. namun berhubung apa yang diu-capkan Lan See giok pada dasarnya memang sama seperti apa yang dilihatnya. Maka setelah menghabiskan tiga cawan arak." Oh Tin san memang pernah melihat dari balik hutan muncul seorang bocah perem-puan berbaju merah serta seorang bocah le-laki berkulit hitam berbaju hitam. mengapa sih kakek berjubah kuning itu menangkapmu den membawanya ke dalam dusun?" Lan See giok memang sudah menduga Oh Tin san akan mengajukan pertanyaan terse-but. Oh Tin san selalu merasa kuatir tentang keadaan Lan See giok setelah diajak menuju ke dusun nelayan tadi. Terdengar Lan See giok berkata lebih jauh: ". dia lantas.." Walaupun si Manusia cacad telinga Oh Tin san dapat merasa kalau di balik masalah tersebut mustahil duduknya persoalan begitu sederhana. Dengan kening berkerut ujarnya kemudian: "Kakek berjubah kuning itu benar-benar tak tahu aturan. maka perjamuanpun segera dilangsungkan. Sepanjang perjamuan dilangsungkan..aku tahu empek sedang menungguku di luar dusun oleh sebab itu tanpa sungkan-sungkan kusahut kepadanya: "Tidak tahu.

Maka setelah tertawa kering katanya: "Dari kejauhan sebetulnya empek melihat kedatanganmu. bocah kecil tahu apa sih? Masa kata katanya kau masukan dalam hati hingga membuatnya menjadi marah?" Sembari berkata dia mengerling sekejap ke arah Oh Tin san. maka . dari kegelapan ia pun da-pat melihat betapa gugup dan gelisahnya Lan See giok ketika mencari jejaknya. Berdasarkan kisah yang amat singkat itu diapun dapat menyimpulkan bahwa kakek berjubah kuning itu tak nanti telah menyam-paikan sesuatu kepada Lan See giok. agaknya ia benar--benar sedang diliputi hawa amarah. Namun setelah melihat Oh Tin san men-jadi gusar karena jengah.120 juga tentang tidak ditemukan nya si manusia cacad telinga di tanggul telaga. serunya gusar: "Omong kosong. namun ketika aku sampai di tepi telaga. "Ayah memang jelek dalam hal ini. hal tersebut membuat manusia licik ini menaruh percaya seratus persen. buruburu selanya: "Tin san. Oh Li cu pun merasa tidak puas dengan si-kap ayahnya." Ketika mengutarakan ucapan tersebut." Tiba-tiba tergerak hati Lan See giok dengan nada tak mengerti dia bertanya. cuma berhubung aku kuatir kakek berjubah kuning itu datang menyusul. tidak kujumpai dirimu berada di sekitar sana" Agak memerah paras muka Oh Tin san lantaran jengah. . matanya melotot wajah-nya menyeringai seram. empek sebagai seorang pemilik benteng yang menjagoi seputar telaga ini belum pernah takut kepada orang lain. dengan nada tak senang hati dia menegur. Dalam hal ini.. alis matanya berkerut. dia tertawa kering dan nam-paknya merasa puas dengan penuturan dari Lan See giok tersebut. "Mengapa sih empek begitu takut terhadap si kakek berjubah kuning tersebut?" Berubah paras muka si Manusia cacad telinga Oh Tin san setelah mendengar ucapan mana. sedikit-sedikit jadi marah!" . berhubung dia memang tak tahu duduknya persoalan di samping kuatir salah berbicara. dengan nada tak senang hati serunya pula. Selama ini Say nyoo-hui Ki Ci hoa cuma membungkam diri belaka. Di samping itu. . "Bukankah empek sendiri bilang sebelum bertemu tak akan bubar.

"Haaah . katanya lebih jauh kepada Lan See giok. . katanya kemudian: "Aku lihat ilmu silat yang dimiliki kakek berjubah kuning itu lihay sekali. . ia tahu jawaban dari Oh Tin san ini tidak jujur. haaah . Oh Tin san telah menukas de-ngan perasaan dalam. Kemudian setelah tertawa terbahak bahak kembali. . dengan ilmu Hun sui ciang hoat (ilmu pukulan pemisah air) yang kumiliki puluhan tahun belum pernah ber-sua dengan musuh tangguh.121 Sesungguhnya Oh Tin-san merupakan seo-rang manusia licik yang pandai mengen-dalikan perasaan sendiri. buru-buru dia mengendalikan emosinya dan tertawa terbahak bahak."" Lan See giok pura-pura merasa kaget dan tercengang. namun berhubung perkataan dari Lan See giok tadi telah me-nyinggung aib yang pernah dijumpainya dan justru mengena pada penyakit hatinya. bayangkan saja betapa tidak marah aku setelah dituduh takut dengan kakek berjubah kuning ter-sebut". "Hmmm! Empek cuma tahu kalau dia bu-kan orang baik-baik. Namun setelah digerutui istrinya dan pu-trinya menunjukkan wajah tak senang hati. ia pun masih tanda tanya besar sebab belum pernah hal ini di dengar dari ayahnya. . Maka dengan perasaan tak habis mengerti dia bertanya. mestinya kedudukannya dalam dunia persilatanpun amat tinggi . bayangkan saja aku Oh Tin san adalah seorang tokoh silat yang nama nya sangat menggetarkan telaga Phoan yang oh. Tanpa ragu-ragu sahut Lan See giok: . Dalam hati kecilnya sekarang cuma ada satu masalah saja yang perlu diketahui sece-patnya. sebenarnya siapa sih kakek berju-bah kuning itu?" Oh Tin san mendengus dingin. belum pernah kudengar tentang hal ini . . "Empek. sedangkan tentang siapa namanya dan dari mana asal usulnya. . manusia-manu-sia golongan putih maupun golongan hitam dari dunia persilatan pada jeri tiga bagian kepadaku. . tak heran kalau hawa amarahnya segera mele-dak. haaah . " "Darimana kau tahu?" belum habis Lan See giok berkata. . "Sebenarnya empek tidak menampakkan diri waktu itu karena aku tak ingin men-cari urusan yang tak berguna dalam keadaan be-gitu" Dalam hati kecilnya Lan See giok tert-awa dingin. . sedangkan mengenai keterangan Wi lim poo dalam dunia persilatan. yakni asal usul dari si kakek berju-bah kuning tersebut.

" Tidak sampai Lan See giok menyelesaikan kata-katanya. ia segera berseru keras. . masing-masing kepandaian memiliki keisti-mewaan yang berbeda beda. sekarang turut berseru pula de-ngan nada girang. Say-nyoo-hui yang selama ini cuma mem-bungkam. empek akan mewa-riskan segenap kepandaian yang empek miliki untukmu. ia bermoral bejad. dia berkata lebih jauh: "Kepandaian silat yang dimiliki kakek ber-jubah kuning itu memang amat lihay. serunya dengan girang: "Kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih lebih dulu kepada empek . . aku pasti akan menyuruh si anjing tua ini merasakan enaknya air Phoan yang oh!" Lan See giok segera merasakan semangat nya bangkit kembali. . ilmu dalam airmu tentu lihay sekali. dengan nada gembira dia berseru. "Empek tua. manusia tak tahu malu. paras muka Oh Tin-san yang semula suram segera berubah menjadi cerah kembali. masih mendi-ngan kalau kakek berbaju kuning itu tidak datang ke benteng Wi lim poo ku ini. Oh Tin san tak bisa me-ngendalikan hawa amarahnya lagi. ilmu silat itu tiada batas batasnya. dan beraneka ragam jenisnya. mulai besok aku ingin menyuruh empek untuk mengajarku ilmu dalam air . dia melompat-lompat dan segera menjura dalam-dalam. baik. . "Bocah bodoh. tanpa terasa ia men-dongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak. . ia tertawa bangga dan menganggukkan kepalanya berulang kali: "Baik. . Oh Tin san dengan mata me-lotot dan menggertak gigi telah berseru lebih dulu: "Thio-Lok-heng. padahal tubuhnya masih berada berapa kaki dariku." Lan See-giok berlagak kegirangan. .122 "Aku dengar kakek bercambang yang ber-nama naga sakti pembalik sungai itu selalu membahasai kakek berbaju kuning itu seba-gai locianpwe . suka merendahkan derajat sendiri . " Lan See giok sama sekali tidak menggubris ocehan dari Manusia cacad telinga tersebut. se-waktu ia membentak kemarin. tapi jalan darahku tahu-tahu sudah kena ditotok olehnya. . hmm. !" Oh Tin san yang licik den banyak tipu muslihatnya ini mengira rencana kejinya berhasil dengan sukses." Ketika selesai mendengar perkataan dari Lan See giok ini. . kau sebagai seorang pocu yang namanya termasyhur di seantero dunia."" Mendapat pujian dari Lan See-giok.. bila ia sampai berani datang kemari. asal kau bersedia untuk mem-pelajarinya secara tekun. .

oleh sebab itu kepandaian berenang boleh dibilang merupakan kepandaian yang paling penting baginya.123 "Nak. Perlu diketahui. Thio Gi si dan Li Tok cay datang mohon bertemu!" Mendengar laporan tersebut paras muka Say nyoo-hui dan 0h Li cu berubah hebat. cepat-cepat dia membalik kan badan dan menjura dalam-dalam. dengan pandangan terkejut mereka berpaling ke arah Oh Tin San. . Waktu itu Oh Tin san sudah dibikin kegi-rangan sehingga sedikit tak dapat mengenda-likan diri. kemudian ujarnya sambil tersenyum. Pada saat itulah dari luar ruangan muncul seorang dayang berbaju hijau yang menghampiri Oh Tin san dengan langkah tergesa gesa. be-berapa jurus ilmu Cau hong jiu (ilmu sakti menggapai lebah) yang kumilikipun akan kuwariskan juga kepadamu!" . di hari-hari biasa kecuali Oh Tin San suami istri. sebab hal tersebut memang sesuai dengan kehendak hatinya. kontan saja hatinya menjadi kegirangan. berda-sarkan julukan yang mereka miliki paling ti-dak dari lima cacad ada tiga yang bercokol di atas air. . Oh Li cu yang mendengar ayahnya meme-rintahkan kepadanya untuk mengajar kan ilmu berenang kepada Lan See giok. tak tahan lagi ia tersenyum genit. tak seorangpun yang paling dicurigai. ""Mulai besok. kali ini suara tertawanya benar-benar timbul dari hati sanubarinya. setelah memberi hormat kata-nya: "Lapor lo pocu. biar enci Cu mu yang mewakiliku mengajarkan dasar ilmu di dalam air kepadamu. bila dasar dasarnya sudah kau ketahui baru aku yang mengajarkan langsung kepadamu!" Mendengar perkataan ini Lan See giok ter-tawa. orang lain belum pernah mengunjungi tempat kediaman dari Oh Li cu. lalu serunya dengan naga girang. asal kau bersedia untuk belajar.. . "Terima kasih banyak bibi!" Kemudian dia membalikkan badan dan duduk kembali ke kursi semula . Lan See giok sama sekali tidak bertanya apakah ilmu yang dimaksudkan sebagai Cau hong jiu tersebut. tapi malam ini tiga orang kongkoan yang berkedudukan di bawah Oh Tin san te-lah datang. Sebab diantara lima cacad dari tiga telaga. ini menunjukkan kalau di dalam benteng telah terjadi suatu peristiwa yang maha besar. matanya yang jalang mengerling sekejap ke arah Oh Li cu yang sedang berseri. Be congkoan.

pakaiannya ringkas dan ikat pinggangnya merah.124 Menyaksikan keterkejutan Say nyoo-hui dan Oh Li cu. dia adalah seorang kakek bungkuk bermata segi tiga. tampangnya kurus macam monyet dengan hidung yang meleng-kung seperti hidung betet. matanya yang bulat memancarkan juga cahaya tajam. berjubah hitam dengan celana kombrang. tapi matanya kecil. tampangnyba menunjukkan kelicikan. sambil mengerut-kan dahinya ia berseru. sepasang matanya memancarkan cahaya ta-jam yang berkilauan. hal tersebut membuat-nya makin terkesiap. diantara rekan rekannya dia memang kelihatan lebih tampan. berusia antara tiga puluh tahunan. beralis tebbal dan memelihajra jenggot kambging. Meminjam cahaya yang memancar ke luar dari balik ruangan. Oh Tin San memang sudah mengetahui hal ini. hanya matanya yang sesat mengawasi depan pintu dengan termangu. Tak selang berapa saat kemudian. telinganya dihiasi anting-anting besar. terde-ngar suara langkah kaki manusia berkuman-dang memecahkan keheningan. seolah-olah sedang memikirkan persoalan tersebut. . Lan See giok merasa terperan-jat sekali. Orang yang berada di sebelah kiri adalah seorang pemuda berusia dua puluh lima-enam tahunan. Lan See giok dapat meli-hat ada tiga sosok bayangan manusia sedang melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah tergesa-gesa. Orang yang berada ditengah berperawakan kecil dan pendek. Ia mengenakan topi model seorang busu. apalagi saat ini menunjukkan kentongan ke empat. Say nyoo-hui maupun Oh Li cu meman-dang ke arah Oh Tin san dengan pandangan terkesiap. mengenakan jubah panjang warna putih yang kedodoran. hidungnya agak mancung dan bibirnya terasa amat tebal. membuat kakek ini tampak mengerikan. tapi di luar dia berlagak seolah-olah kaget dan tercengang. Sedangkan orang yang berada di sebelah kanan berperawakan tinggi langsing. "Silahkan mereka masuk!" Dayang itu mengiakan dengan hormat ke-mudian membalikkan badan dan buru-buru berlalu dari situ. tubuhnya kekar dengan alis mata yang tebal. tanyanya kemudian dengan nada tak mengerti: "Ada apa sih? Masa hari begini juga datang menghadap?" Oh Tin san tidak menjawab dengan segera.

sahutnya dengan sikap yang sangat meng-hormat: . Hanya Lan See giok seorang yang masih tetap duduk tak bergerak. berla-gak tidak mengerti Oh Tin San segera berta-nya: "Malam-malam begini kalian bertiga datang ke sini. seorang lagi bertampang keji dan pemuda ini meski masih muda namun wajahnya memancarkan pula hawa sesat dan hawa kecabulan. akan tetapi mereka berlagak seolah-olah ti-dak memperhatikan. Oleh sebab itulah sebelum melangkah ke dalam ruangan. Dalam pada itu ke tiga orang tersebut su-dah memasuki ke dalam ruangan. Terutama sekali pemuda berpakaian ring-kas tersebut. Biarpun Lan See giok hanya seorang bocah berusia lima enam belas tahunan. entah ada urusan apa?" Kakek bungkuk tersebut segera menjura. Dalam pada itu ke tiga orang tersebut su-dah memasuki ruangan.125 Di antara ke tiga orang ini. enam buah sorot mata mereka yang jeli mengawasi wajah Lan See giok yang sedang duduk dihadapan Oh Li cu itu dengan pandangan terkejut. Perubahan wajah Oh Li cu. ia nampak berkerut kening setelah menyaksikan ketampanan wajah Lan See giok serta kegagahannya. Manusia cacad telinga Oh Tin San maupun Say-nyoo-hui Ki-Ci-hoa menyaksikan per-u-bahan wajah ke dua orang itu dengan jelas. seorang ber-tampang licik. Lan See giok segera menduga kalau ke tiga orang ini adalah para anggota penting dari benteng Wi-lim-poo. Setelah meletakkan cawan araknya. terhadap sorot mata permusuhan dari pemu-da berpakaian ringkas tersebut. hujin dan nona!" Say nyoo-hui dan Oh Li cu segera memba-las hormat sambil tersenyum . tapi dalam pandangannya bocah itu sudah terhitung se-orang pemuda yang amat ganteng. kontan saja semakin mengobarkan api cemburu yang berkobar di dalam dada pemuda berpakaian ringkas tersebut. . lalu de-ngan hormat mereka menjura seraya ber-kata: "Mengunjuk hormat buat Lo pocu. keningnya sudah berkerut dan wajahnya diliputi hawa napsu mem-bunuh. diapun pada hakekatnya tidak memandang sebelah mata-pun. senyuman yang semula menghiasi wajah Oh Li cbu kini telah bejrubah menjadi dgingin seperti ebs. . karena dia me-mang tidak kenal dengan ke tiga orang ini. Menyaksikan wajah cemburu yang terpan-car dari wajah pemuda tersebut.

matanya yang sesat memandang sekejap ke arah Lan See-giok." Ucapan itu menggusarkan Lan See giok. ia jadi lupa kalau dirinya berada di mulut hari-mau. Belum lagi hal tersebut dilakukan. kemudian sambil berpura pura gembira katanya dengan suara lantang: "Persoalan ini tak usah kita bicarakan dulu untuk sementara waktu. hamba lang-sung memeriksa sendiri di tempat kejadian. agak termangu ia mengawasi pocunya. Say-nyoo-hui serta Oh Li cu juga mengawasi Oh Tin San dengan perasaan tidak habis mengerti. sementara hatinya keheranan dan tidak habis mengerti apa sebabnya Oh Tin San tertawa tergelak. kami merasa belum puas sebelum da-pat mencuci dusun nelayan itu dengan darah . tiba-tiba pemuda berpakaian ringkas itu sudah berdiri dengan kening berkerut. . . di dasar sampan dijumpai sebuah lubang yang persis sebesar luka mematikan di tubuh si setan pengejar ikan paus " Lan See giok yang mendengar perkataan tersebut menjadi sangat mendongkol. kini segenap saudara dari benteng sudah diliputi emosi dan gusar sekali. Lan See giok. oooh.126 "Hamba sekalian mendengar Lo pocu marah-marah yang mungkin disebabkan peristiwa terbunuhnya si setan pengejar ikan paus. biarpun sampan tersebut milik dusun nelayan se-tem-pat.. "Menurut hasil rpenyelidikan atzas sumber dari wsampan tersebutr. tiba-tiba serunya dengan penuh kegusaran. diketahui perahu itu milik dusun nelayan setempat. Oh Tin san berkata dengan lantang: "Kukira ada kejadian besar apa. . dengan kening berkerut dia siap melompat bangun. Belum habis ia berpikir. Setelah menghentikan gelak tertawanya. "Setelah menerima laporan. Gelak tertawa ini langsung membungkam kan pemuda berpakaian ringkas itu. ayo kuper-kenalkan dulu kalian bertiga dengan sau poocu kalian Lan See giok. dia merasa kejadian tersebut perlu diterangkan sejelasjelasnya kepada semua orang . oleh sebab itu hamba sekalian khusus datang ke mari untuk melaporkan kejadian yang sebenarnya". . Oh Tin San sudah mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak. di sekitar sana ditemukan sebuah sampan nelayan dalam keadaan terbalik. namun aku percaya si setan pengejar ikan paus bukan tewas di tangan si Naga Sakti pembalik sungai.." Berbicara sampai di situ. ." . Lelaki setengah umur berwajah monyet segera menyambung pula dengan hormat. hamba yakin perbuatan ini pasti hasil karya si naga sakti pembalik sungai. ru-panya hanya masalah sekecil ini.

sahutnya sambil tersenyum ringan: "Aku masih muda dan berpengetahuan rendah. namun ada satu hal dia merasa yakin. Be-Siong-pak memberi hormat buat sau pocu. oleh karena Oh Tin san telah bangkit berdiri. saking senangnya dia sampai mendongakkan kepala nya dan tertawa terbahak bahak. sembari menjura katanya dengan hor-mat: "Congkoan dari benteng Wi-lim-poo. paras mukanya segera beruban hebat. memberi hormat buat Sau pocu. la cukup tahu bahwa kesemuanya ini me-rupakan bagian dari perangkap Oh Tin san." . Kecuali kakek bungkuk. "Bocah bodoh. dialah otak dari empek mu. Dalam pada itu si kakek bungkuk itu su-dah maju ke depan dengan senyuman di ku-lum. ia tahu Be Siong pak merupakan pe-rintang utama bagi usahanya melarikan diri di kemudian hari. Umpakan dari Oh Tin san itu kontan mem-banggakan hati Be Siong-pak. semua masalah dan pekerjaan merupa-kan hasil kerjanya. untuk di kemudian hari masih ba-nyak membutuhkan petunjuk dari Be lo-enghiong" Betapa gembiranya Be Siong-pak ketika Mendengar Lan See giok membahasai diri sendiri sebagai Be lo-enghiong. matanya bersinar tajam. maka dia pun turut beranjak. terutama sekali pemuda berpakaian ringkas tersebut." Buru-buru Lan See giok membalas hormat. Lan See giok masih tetap bersikap tenang. tapi mengapa? ia kurang jelas. Be congkoan sudah amat berpengalaman di dalam dunia persilatan ke-cerdasan otaknya seperti Khong-Beng yang menjelma kembali." Lan See giok menganggukkan kepalanya berulang kali sementara hatinya bergetar keras. buru-buru dia membungkukkan badan dan berkata sambil tersenyum: "Hamba tidak berani. senyum hambar menghiasi ujung bibirnya. lo-pocu terlalu memuji!"" Lelaki setengah umur berwajah seperti monyet itu segera maju pula ke depan. bisa jadi hal ini akan semakin membantu usahanya untuk melarikan diri. di kemudian hari kau memang perlu minta banyak petunjuk dari Be congkoan. katanya ber-ulang kali: "Aaah. hamba tidak berani" Sambil tersenyum Oh Tin san segera menimbrung dari samping. kata nya kepada Lan See giok dengan hormat: "Hamba Thio-Wi-kang.127 Seraya berkata dia menunjuk ke arah pe-muda Lan. dua orang lain-nya nampak tertegun.

sehingga terburu buru ia membung-kukkan badannya memberi hormat. persilahkan Be lo enghiong berti-ga turut menghadiri perjamuan ini !" Baru saja ucapan tersebut diutarakan. Lan See-giok telah berkata kepada Oh Tin sari sambil tersenyum. hanya ujarnya ketus: "Lin Ci cun menjumpai sau pocu!" Tapi dikala menyaksikan senyuman seram menghiasi ujung bibir Oh Tin san. orang me-nye-butnya sebagai Sam-ou kau-ong (Raja monyet air dari tiga telaga). maka setelah termenung sejenak. "Dia adalah Li Ci cun. selamat bersua!" Kupu-kupu dibalik ombak Li-Ci-cun merasa sangat tidak puas. orang menyebut-nya Long Ii hu tiap (kupu-kupu di tengah ombak). maka diapun memberi penjelasan secara ringkas. matanya berkilat tajam.128 Sembari berkata dia membungkukkan badan sambil menjura dalamdalam .. Dalam pada itu. Pemuda berpakaian ringkas yang berada di belakang. Oh Li cu segera menarik wajahnya sambil cem-berut.. "Selamat bersua. Akan tetapi setelah menyaksikan Oh Li cu. . kontan hatinya bergetar keras.. di samping itu diapun dapat menyadari kalau manusia ca-cad telinga yang termasyhur sebagai manusia licik yang berhati keji ini menaruh perasaan tak puas terhadapnya. saat ini dia termasuk se-orang tokoh yang amat menonjol namanya dalam dunia persilatan." "Selamat bersua. Melihat hal ini Oh Tin-san kembali berkata: ""Dia adalah Thio-Wi-kang. kepandaian dalam airnya tiada tandingan. kontan saja api cem-burunya makin lama semakin ber-kobar. dengan dahi berkerut dan mulut mencibir menunjukkan sikap angkuh tetap berdiri di tempat.." Lan See giok tidak menyangka kalau pen-jelasan Oh Tin san sedemikian ringkasnya. kekasihnya yang selama ini hidup bagaikan suami istri dengannya sama sekali tidak ber-paling ke arahnya. ia baru berkata sambil tersenyum. Agaknya Oh Tin san merasa tak senang hati terhadap sikap angkuh yang dipancar-kan Li Ci cun di hadapannya. walaupun sudah sedari tadi ia muncul di situ. . ""Empek. selamat bersuba!" seru Lan Seje giok berulangg kali sambil mebnjura. kesemuanya itu mem-buat perasaannya dicekam rasa kaget.

setiap pasukan harus berpakaian lengkap dan panji kebesaran kita kibarkan di setiap tiang perahu. dengan tak sa-dar ia menyela: . dengan wajah berseri ia berkata: "Tidak usah sau pocu. si setan pengejar ikan paus . toh tak usah tebrburu napsu bukjan?" Selesaig berkata kembalbi ia tertawa terbahak bahak. Thio-Wi-kang maupun Li Ci cun nampak agak tertegun pula. agaknya ia belum bisa menduga asal usul Lan See giok yang sesungguhnya. maka serentak ke tiga orang itu memberi hormat dan mohon diri. tapi ke-mudian dengan semangat berkobar serentak ia mengiakan dan berlalu dengan langkah ter-buru buru. tapi untung saja waktu di kemudian hari masih panjang. jika kalah. Kakek bungkuk. Thio-Wi-kang maupun Li Ci cun tahu bahwa mereka sudah seha-rusnya pergi. mendingan kalau berhasil meraih keuntungan. maka sem-bari mengulapkan tangannya ia berkata: "Baiklah. sementara Say nyoo-hui serta Oh Li cu di-buat tertegun. menda-dak terdengar Oh Tin san berseru lagi dengan suara dalam dan bertenaga. bukankah urusan bakal berabe? Perasaannya tiba-tiba saja menjadi gugup dan sangat tak tenang. besok hamba masih ada urusan yang mesti diselesaikan se-hingga tak berkesempatan untuk menemani sau pocu bersantap. Maka setelah merenung sejenak. dia tahu bisa jadi Oh Tin san ber-niat membasmi kampung nelayan tersebut dengan kekerasan.129 Agaknya kakek bungkuk itu amat berke-nan dihati atas sebutan Be toenghiong dari Lan See giok tersebut. nah pergilah!" Lan See-giok terkejut oleh ucapan tersebut. Itulah sebabnya sebelum Lan See giok menyelesaikan perkataannya." Setelah menurunkan perintah tadi tam-paknya Oh Tin san mulai berpikir kalau ta-ruhan yang dilakukan olehnya kali ini kele-wat besar. sebelum fajar besok harap siapkan semua kapal perang yang kita miliki. Sesungguhnya Oh Tin san memang berniat mempersilahkan ke tiga orang bawahannya untuk menghadiri perjamuan tersebut. lain waktu saja kita minum ber-sama sama!" Si kakek bungkuk. kumpulkan segenap anggota kita di lapangan air. na-mun setelah menyaksikan ketidak senangan putrinya. dengan kening berkerut katanya dengan gusar: "Empek. . Baru ke luar dari pintu ruangan. Kejut dan gusar perasaan Lan See giok waktu itu. apalagi Be Siong pak juga telah beralasan masih ada urusan lain. "Be congkoan.

berarti di dalam bentengnya sudah terjadi suatu peristiwa yang luar biasa sekali. Maka sambil berusaha untuk mengendali-kan perasaan gugup dan kalut dalam pikir-annya dia menegur. "mengapa kau menitahkan kepadanya agar diam-diam mendorongku. "Ada urusan apa?" Be Siong pak menunjukkan sikap kaget dan cemas. niscaya hal mana akan menarik perhatian si kakek berjubah kuning---" Belum habis dia berkata. bila pembicaraan dilakukan waktu itu. bayangan manu-sia nampak berkelebat lewat di depan pintu. dasar kepandaian silatnya masih jauh di bawah mu sekarang. dari gugup. si kakek bungkuk yang be-lum lama meninggalkan ruangan kini sudah melompat masuk kembali ke dalam ruangan dengan wajah gugup dan pucat pias. bahkan sekalipun sudah di dorong sampai ke tengah telaga pun belum jua menampakkan diri untuk memberi penjelasan?" Agaknya Oh Tin san sudah dapat mene-nangkan hatinya sekarang. waktu itu aku su-dah memperingatkan dia. dengan tergesa gesa dia menghampiri majikannya kemudian membisikkan sesuatu di sisi telinganya. . paras muka Oh Tin san pun turut berubah ubah juga. Para dayang yang berdiri berjajar di kedua belah pintu pun sama-sama memperdengar kan jeritan kaget yang melengking. Sebagai manusia yang berwatak licik dan pandai membawa diri. Be Congkoan. karena sejak ber-sembunyi di dalam sampan tak pernah menampakkan diri kembali. . maka kuperintah kan kepada si setan pengejar ikan paus agar mendorongmu ke mari secara diam-diam. katanya sambil tertawa hambar: "Waktu itu aku mengira kau sudah semaput lantaran kaget. Mengikuti komat kamitnya mulut Be Siong pak." "Empek" tukas Lan See giok tak puas. serta merta mereka melompat ba-ngun. Oh Tin san cukup tahu bila Be Siong pak yang tersohor karena kecerdasan otaknya pun menunjukkan sikap kaget dan gugup seperti ini. peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuh-nya. . takut sampai pucat pias dan matanya memancarkan sinar ketakutan. Kemunculannya yang sangat mendadak ini tentu saja sangat mengejutkan Lan See giok sekalian.130 "Sirapa suruh si seztan pengejar ikwan paus mencarir kematian sendiri.

sambil menarik ujung baju Oh Tin San. . Lan See giok segera men-duga kalau di dalam benteng tersebut pasti sudah kedatangan seorang musuh yang sa-ngat lihay." Buru-buru mereka berdua melompat ke luar dari ruangan tersebut dan melejit ke atas atap rumah. ujarnya dengan wajah bersungguh sungguh.131 Begitu Be congkoan menyelesaikan kata katanya. Sepeninggalb ayahnya dan Bej Congkoan. kemudian sambil berkernyit dahi katanya seraya tertawa paksa: ""Ayahmu selalu dapat mengendalikan diri bila menjumpai sesuatu persoalan. menurut pendapatmu siapa sih yang telah datang?" ooo0ooo BAB 7 SAY-NY00-HUI Ki-Ci-hoa memandang se-kejap ke arah Lan See giok yang masih tetap duduk dengan tenang. Oh Lgi cu baru berpabling ke arah ibunya sambil bertanya dengan perasaan tak habis me-ngerti: "Ibu. matanya terbelalak dan ia benarbenar tertegun saking kaget dan takutnya. padahal masalah nya bukan sesuatu yang luar biasa"" Oh Li cu tidak setuju dengan pendapat itu. buru-buru serunya kepada Be congkoan: "Ayo. takut dan gugup yang diperlihatkan Oh Tin san maupun kakek bungkuk tersebut. sudah pasti tangannya amat keji dan membunuh orang tanpa berkedip. Agaknya Say-nyoo-hui Ki-Ci-hoa juga dapat merasakan betapa seriusnya masalah terse-but. Dari sikap tegang. sete-lah menghembuskan napas panjang sahut-nya: "Sekarang dia berada di ruang tamu!" Jawaban ini segera menggetarkan perasaan si manusia cacad telinga Oh Tin san seluruh tubuhnya gemetar keras. kita segera berangkat. "Sekarang --sekarang dia berada di mana?" Kakek bungkuk itu semakin tegang. tak tahan lagi dia bertanya dengan gelisah. kemudian dalam beberapa kali lompatan saja bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata. kalau tidak mustahil Si manusia cacad telinga Oh Tin San akan menunjukkan rasa takut yang begitu hebat. Bukan saja kepandaian silat yang dimiliki pendatang tersebut hebat sekali. bisiknya lirih: "Tin San siapa sih yang telah datang?" Seperti baru mendusin dari kagetnya Oh Tin San tak sempat lagi menjawab perta-nyaan dari Ki-Ci-hoa.

sesung-guhnya amat menguatirkan pula kesela-matan dari Oh Tin san.. asal ayahmu sudah ke situ niscaya urusan akan beres dengan sendirinya. biar burungpun sukar untuk terbang lewat tanpa ketahuan. bisa juga perempuan tua itu sedang mengibul. apalagi kalau dilihat dari sikap gugup dan . nampak semangat Say nyoo-hui berkobar kembali.. walaupun di luaran ia ma-sih tetap mempertahankan ketenangan nya. perasaan tak tenang yang semula mencekam perasaannya pun kini bilang le-nyap tak berbekas. di atas benteng ada pengawal. jago lihay yang tinggal disinipun tak ter-hitung jumlahnya.. . bila dilihat dari sikapnya yang gugup dan kelabakan. Sementara dia masih termenung. sekeliling benteng dilingkari air telaga. sebab seandainya ada orang luar yang masuk ke mari. jangan lagi perahu sampan. di dalam air ada pen-jaga.b terdengar Say jnyoo-hui telah gberkata lebih jbauh. ?" Ketika berbicara sampai di situ. benteng tersebut paling-paling cuma begitu saja . dia pun ter-masyhur sebagai Khong-Beng yang menitis kembali. Mendengar ucapan dari ibunya. di luar ada hu-tan gelaga yang lebat. diban-dingkan dengan Lok ma oh dimasa lalu. di dalam ada ranjau air. sedangkan Lan See giok makin lama semakin terkejut. dengan kening berkerut Say nyoo-hui segera mene-gur: "Betapa pun besarnya persoalan yang di hadapi.. bisa jadi mata-mata kita yang di tugaskan di luar telah pulang dengan membawa berita besar yang luar biasa.. "Kalau dilihat dari kegugupan ayahmu tadi. sambungnya lebih jauh: "Lagi pula kita Wi-lim-poo sudah lama menjagoi di seputar telaga ini. ber-dasarkan kelihaian ilmu silat dari ayahmu serta pamornya yang besar. siapa sih yang berani mencabut gigi dari mulut harimau?" Lalu setelah mengerling sekejap ke arah Oh Li cu penuh arti." Melihat putrinya tak tahu keadaan." Makin berbicara Say nyoo-hui semakin bersemangat. . Sebaliknya Lan See giok yang mendengar ucapan tersebut. mengapa dari pihak loteng penjaga tidak dikeluarkan tanda peringatan . bahkan hampir semua-nya pandai ilmu berenang. kian lama hatinya kian bertambah berat. ia tak tahu benarkah benteng Wi-lim-poo mempunyai penjagaan sedemikian ketatnya.132 "Be congkoan orangnya cerdik dan sangat pandai menghadapi masalah. Sedangkan Say nyoo-hui sendiri. Oh Li cu segera merasakan semangatnya turut berko-bar. sikap angkuhnya menghiasi wajahnya.

Sementara itu dari luar halaman terdengar Say nyoo-hui sedang bertanya dengan nada tak mengerti.. tergeletik hati Lan See giok. Menyaksikan kejadian itu. berpaling sekejap memperhatikan seke-liling tempat itu kemudian melejit ke arah pintu dan menyembunyikan diri di balik pintu halaman.. aku hendak menengok dulu keadaan di sana. "Ibu. akupun sudah kenyang. Mendadak berkilat sepasang mata Oh Li cu.. temanilah adik Giok mu untuk minum be-berapa cawan lagi. mungkin dupa untuk mengharum-kan tubuh Oh Li cu . Say nyoo-hui telah menukas dengan nada terkejut: "Apa? Kau--kau menghendaki dupa lebah bermain di putik bunga---?" Lan See giok yang menyadap pembicaraan tersebut menjadi tak habis mengerti. Pelayan pun segera membereskan hida-ngan dari atas meja perjamuan--Setibanya di depan pintu.133 takut yang menghiasi wajah suaminya. buru baru serunya: "Ibru.." Bersama Oh Li cu mereka bangkit berdiri dan menghantar Say nyoo-hui KiCi-hoa sampai di luar pintu. "Ada apa anak CU?" Oh Li cu nampak agak sangsi dan sukar untuk menjawab. seakan akan teringat akan sesuatu. tunggu dulu!z" Sambil berwseru dia memburru ke luar pintu dan menghampiri ibunya. Lan See giok dan Oh Li cu menurut perin-tah dan berhenti. dia tak tahu apa yang dinamakan "dupa lebah ber-main di putik bunga" itu? Maka pikirnya kemudian: "Aaah. aku ingin meminjam sebentar bangau kecil Siau sian hok terbuat dari emas itu-" Belum habis Oh Li cu berkata.?" .. cepat dia menarik napas pan-jang. sekarang aku sudah kenyang. Say nyoo-hui menitahkan kedua orang itu agar berhenti." Sambil berkata ia beranjak dan menuju ke luar ruangan. Kembali ujarnya sambil tertawa paksa: "Anak Cu. namun sebisa nya ia beru-saha untuk mengendalikan diri. mereka berdiri di situ hingga bayangan tubuh perempuan tua tersebut melangkah ke luar dari pintu hala-man. Buru-buru Lan See giok berseru dengan hormat: "Silahkan bibi. sampai lama kemudian ia baru menyahut agak tergagap.

"Tidak.. sambil bergendong tangan balik kembali ke dalam ruangan. akhirnya dengan nada apa boleh buat Say nyoo-hui berkata lagi: "Baiklah. Kentongan ke empat sudah lewat. maka diapun berlagak seolah-olah tak ada urusan. suasana waktu itu amat gelap. sedang di sebelah kanan terbentang pula sebuah lorong air yang agak sempit dan tampaknya lang-sung menuju ke pintu gerbang benteng.. Lan See giok merasa sangat kebingungan oleh pembicaraan itu.. Dalam pada itu Say nyoo-hui serta Oh Li cu sudah masuk ke dalam bangunan bercat merah tersebut. Lan See giok memandang lagi ke arah de-pan. mungkin gadis itu sedang manggut-manggut. kuatir gerak geriknya diawasi orang secara diam-diam . dilihatnya Oh Li cu telah mengikuti ibunya berjalan sejauh beberapa puluh kaki dan menuju ke depan sebuah pintu halaman bercat merah. kecuali lentera merah yang tergantung di puncak loteng benteng. di li-hatnya para dayang masih sibuk bekerja. sekarang dia ma-sih kecil. "Terus terang kukatakan. dia mencoba untuk mengintip ke luar.. tidak. Oh Li cu telah berseru kembali agak ngotot. Selanjutnya ia tidak mendengar jawaban dari Oh Li-cu."" Tapi sebelum Say nyoo-hui menyelesaikan kata-katanya. Menelusuri tepi tanggul." Selang berapa saat. di bawah un-dak undakan tetap tertambat sampan kecil yang ditumpangi Oh Li cu tadi... segala sesuatunya berada dalam keadaan gelap gulita dan sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. Di depan lorong air terdapat sederet ba-ngunan yang berupa pagoda air. di situ terbentang sebuah lorong air yang lebarnya beberapa kaki. .134 Tapi setelah dipikir kemudian ia merasa hal tersebut kurang begitu cocok . pelan-pelan Lan See giok berjalan pula menuju ke arah Say nyoo-hui dan Oh Li cu berlalu. Ketika berpaling lagi ke ruang dalam.. Terdengar kemudian Say nyoo-hui berkata lagi. tapi berhubung di sekitarnya berderet bangunan rumah maka pemandangan tak dapat ter-lihat lurus ke depan.. . namun ia tak berani mem-percepat langkahnya. mari ikuti aku sekarang!" Menyusul kemudian terdengar suara lang-kah kaki manusia yang makin lama semakin menjauhi tempat tersebut. tak mungkin akan memberi ke-pu-asan kepadamu.

dia ingin tahu sebenarnya manusia li-hay macam apakah yang telah berkunjung ke situ sehingga membuat Oh Tin san yang keji dan licikpun dibuat ke-takutan setengah mati. Lan See giok tahu. . dari balik jendela yang berada di empat penjuru nampak cahaya lentera mencorong ke luar. sambil berjalan ia berlagak seolah-olah sedang menikmati pemandangan di sekelilingnya. Setelah maju lagi beberapa langkah. secepat mungkin dia mempersiapkan diri sebaik baiknya untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan. bahwa dugaannya tak salah . di sebelah kanan bangunan tunggal tampak pula sebuah pagoda ber-bentuk bulat. Sejak melihat kegugupan dan kebingungan dari Oh Tin san. pelan-pelan dia berjalan menelusuri jembatan bambu itu. dia saksikan jem-batan bambu itu membentang terus ke depan dan menghubungi sebuah bangunan tinggi yang besar dan luas di tengah telaga. Tergerak hati Lan See-giok. Dari nada suara itu.135 Setelah maju beberapa kaki. malam ini benteng Wi-lim-poo betul-betul sudah ke-datangan seorang manusia yang berkedu-dukan amat tinggi di dalam dunia persilatan dewasa ini. dib depan sana ditjemukan sebuah jgembatan bambu ybang le-barnya hanya dua depa dan melingkar ke arah kanan. Lan See giok segera tahu bisa jadi bangunan tinggi ini adalah tempat tidur dari si Manusia cacad telinga Oh Tin san. . Baru saja hampir sampai di ujung jem-batan. dari ujung tikungan jembatan kecil itu se-cara ke-betulan sekali dapat menyaksikan selurbuh keadaan di djalam pagoda tergsebut. agar tidak menarik perhatian. Sementara otaknya masih berputar. Memandang keadaan bangunan tersebut. tubuh-nya sudah menelusuri jembatan bambu kecil itu. Bangunan itu terdiri dari tiga tingkat. tampak daun-daun itu memantul kan cahaya yang berkilauan. mendadak ia mendengar suara Oh Tin san yang sedang menyahut dengan nada yang amat menaruh hormat. ter-pantul cahaya lentera dari balik bangunan. Lan See giok memang sudah diliputi perasaan ingin tahu yang meluap luap. Tiba di mulut jembatan. dasar bangunan hampir menempel pada permukaan air. biarpun di luaran ia berusaha untuk berjalan se-santai mungkin. daun-daun bunga teratai yang lebar dan berwarna hijau hampir menutupi seluruh permukaan telaga.

. sepasang tangannya menjulur ke bawah sedangkan sepasang mata sesatnya hampir boleh dibilang tak berani saling beradu pandangan dengan kakek berjubah kuning itu. Be congkoan. sayang tak sempat dilihat oleh Lan See giok. Mendadak . si kakek bungkuk apakah tu-rut hadir dalam pagoda tersebut. . sorot matanya memancarkan pula cahaya tajam yang me-mikat sambil mengelus jenggotnya dia seperti lagi merenungkan sesuatu. Lan See giok segera teringat kembali dengan ucapan se-sumbar yang di-katakan sewaktu ada dalam perjamuan tadi: "Masih mendingan kalau kakek berjubah kuning itu tidak datang ke benteng Wi-lim-poo kami. aku pasti akan menyuruh anjing tua itu men-cicipi rasanya air telaga Huan yang oh. me-nyesal karena telah menelusuri jembatan kecil tersebut hingga tiba di situ . rasa kaget yang di alami Lan See giok saat ini sama sekali tidak berada di bawah To oh cay-jin sendiri. saking kagetnya sepasang kaki sampai terasa lemas tak ber-tenaga. Sepasang mata si kakek berjubah kuning yang tajam bagaikan sembilu itu diarahkan ke wajah See giok Seketika itu juga Lan See-giok merasakan tubuhnya gemetar keras. Detak jantungnyra turut berdebazr keras karena wtegang. setelah menyaksikan sikap munduk-munduk dari Oh Tin san tersebut. benarkah Lan See giok si bocah itu tidak berada dalam bentengmu?" . Sedangkan Oh Tin san berdiri lima langkah di hadapannya dengan sikap yang munduk-munduk dan menghormat sekali. bila berani.136 Seandbainya tidak melihat masih mendi-ngan. Kakek berjubah kuning itu masih tetap nampak ramah dan lembut. . . Mendadak terdengar kakek berjubah kuning itu bertanya kepada Oh Tinsan de-ngan suara dalam "Oh pocu. . hmm hmmm. Sekarang ia merasa menyesal sekali. saking rngerinya nyaris dia membalikkan badan untuk melarikan diri. ." Tapi kenyataannya sekarang? Tak sepatah katapun dari ucapan sesumbar Oh Tin san yang diwujudkan dengan tindakan. begitu menyaksikan keadaan yang ter-bentang di depan mata. rupanya dia cuma pandai omong besar saja ketimbang melaksanakannya . cepat-cepat ia berpegangan tiang jembatan. . Mimpipun dia tak menyangka kalau orang yang duduk di depan meja bundar dalam pa-goda tersebut ternyata tak lain adalah si kakek berjubah kuning tersebut.

pikirnya: "Hmm.. . jangan harap kalian bisa peroleh kitab pusaka Tay lo hud bun cinkeng ter-se-but. "Oh pocu. "biar aku masuk ke dalam dan tunjukkan diriku di de-pan kakek berjubah kuning itu .137 "Lapor locianpwe. sekarang aku hendak pergi dulu" Lan See giok amat terkejut di samping merasa keheranan. . " Namun sebelum dia beranjak maju ke de-pan. . aku harap kau suka mengutus bebe-rapa orang untuk mencari jejaknya di empat penjuru." sahut Oh Tin-san mun-duk-munduk. kau harus tahu. biar aku matipun tak nanti akan ku serahkan kepada kalian manusia . aku akan menunggu di situ. kembali terdengar kakek berjubah kuning itu berkata.. kembali terdengar manusia ber-jubah kuning itu berkata lagi: "Baiklah kita tentukan dengan sepatah kata ini. bila jejak Lan See giok telah ditemukan. lantaran apa pasti kau lebih mengerti dari pada diriku.. padahal jarak antara pagoda tersebut dengan tepi kolam sudah mencapai puluhan kaki. Ketika ia berpaling kembali. ." Lan See giok segera memandang sekejap sekeliling tempat itu. Baru saja ia berjalan turun dari jembatan kecil itu." Betapa gusar dan mendongkolnya Lan See giok sehabis mendengar perkataan itu. dan sekarang soal kitab pusaka Tay loo hud bun pay yap-cinkeng hanya diketahui Lan See giok se-orang. kau harus mengantarnya ke rumah kediaman Huan kang ciong liong (naga sakti pembalik sungai) Thio-Lok-heng di dusun nelayan sana. akupun tak ingin kelewat mendesak dirimu. ia tidak menyangka kalau Oh Tin san begitu berani ngotot dengan mengatakan ia tidak berada dalam bentengnya. sebab selain jembatan kecil tersebut tiada jalan lain yang menghubungkan pagoda air itu dengan da- .manusia jahat". tampak olehnya 0h Tin san sedang berjalan ke luar dari pintu pagoda dan membungkukkan badannya memberi hormat seraya berkata: "Boanpwe Oh Tin san menghantar kebe-rangkatan locianpwe. dia mendengus gusar dan membalikkan badan berlalu dari sana. Lan See-giok betul-betul tiada dalam benteng kami. "Baiklah" demikian ia berpikir. masa boanpwe berani membohongi locianpwe?" Lan See giok menjadi mendongkol sekali. sudah hampir sepuluh tahun lamanya aku mencari Lan Khong-tay. namun kenyataan nya suara pembicaraan dari kakek jubah kuning itu masih dapat kedengaran dengan jelas. namun dengan cepat hatinya merasa terperanjat.

138

ratan, namun kenyataannya kakek ber-jubah kuning tersebut telah hilang lenyap dengan begitu saja dalam waktu singkat. Tampak Oh Tin san membungkukkan badannya beberapa saat. . kemudian baru menegakkan kembali tubuhnya. Lan See giok takut jejaknya ketahuan, de-ngan cepat dia menyelinap ke balik tempat kegelapan untuk menyembunyikan diri, ke-mudian dengan menelusuri jembatan batu dia balik kembali ke rumah kediaman Oh Li cu. Dengan sekuat tenaga pemuda ini ber-usa-ha mengendalikan gejolak perasaannya, ke-mudian dengan langkah sesantai mungkin maju ke depan, kini dia mulai merasa agak curiga, mengapa tidak nampak jejak pen-jaga di sekeliling tempat itu. Baru tiba di pintu gedung, kebetulan Oh Li cu sedang lari ke luar dengan wajah gugup dan terburu napsu. Lan See giok sangat terkejut, cepat dia menyingkir ke samping memberi jalan lewat buat Oh Li cu hampir saja mereka berdua saling bertumbukan. Dengan cepat Oh Li cu menghentikan gerakan tubuhnya, kemudian dengan pe-rasaan gelisah tanyanya: "Adik Giok. kau tidak boleh meninggalkan tempat ini secara sembarangan, ber-bahaya sekali bagimu!" Lan See giok tertawa hambar: "Aaah, aku tidak pergi terlalu jauh, hanya jalan-jalan mencari angin saja di sekitar sini!" Oh Li cu tidak berniat menanyakan ke mana pemuda itu telah pergi, dengan penuh perhatian kembali katanya. "Kau telah semalam suntuk tidak tidur, sekarang pasti lelah sekali, sekarang pergilah tidur dulu, besok kau mesti belajar ilmu berenang-- !" Sambil berkata dia lantas menarik tangan pemuda itu dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Lan See giok sama sekali tidak menampik, dia membiarkan dirinya ditarik Oh Li cu ma-suk ke dalam, sementara bau harum semer-bak yang aneh menerpa tiada hentinya di se-kitar tubuh pemuda itu. Mengendus bau harum mana, tanpa terasa Lan Se giok berkerut kening, ia mendongak kan kepalanya kembali, ternyata Oh Li cu telah berdandan kembali dengan rapi, sedang bau harum itu tak lain berasal dari bau tubuhnya. Setelah masuk ke dalam kamar, suasana di sana terasa gelap, sedang Oh Li-cu pun segera menutup kembali pintu kamar tersebut rapat-rapat. Lan See--giok sungguh tidak habis mengerti dengan keadaan ini, di pandangnya gadis itu penuh tanda tanya.

139

Oh Li-cu tertawa genit, sambil menghampiri anak muda tersebut, katanya kemudian dengan lembut: "Kamar tidur ini langsung berhubungan dengan kamar tidur cici, maka sengaja kukunci pintu kamar ini." Biarpun dari ayahnya Lan See-giok pernah mendapat pendidikan yang mengatakan bahwa muda mudi kaum persilatan tak perlu kelewat memperhatikan adat istadat, namun ia merasa tidak seharusnya adat istiadat dilanggar seperti ini, tanpa terasa timbul suatu kesan muak dalam hati kecilnya, dia merasa sebagai gadis yang baik, tidak sepantasnya kalau sikap Oh Li-cu kelewat jalang. Belum sempat melihat jelas keadaan di luar ruangan, ia telah diajak memasuki sebuah pintu kecil berbentuk bulat. Suasana di ruang dalam lebih redup lagi, disitupun dipenuhi oleh bau harum yang hampir sama dengan bau harum yang keluar dari tubuh Oh Licu. Cuma saja perabot yang dipersiapkan disini amat mewah dan indah, pembaringan gading dengan kelambu serta seprei yang putih bersih, di samping pembaringan terdapat sebuah meja kecil dengan sebuah lentera kecil berwarna merah. Pokoknya seluruh perabot dalam kamar itu terasa serasi dan penuh dengan suasana syahdu. Menyaksikan keadaan ruangan tersebut, tiba-tiba saja Lan See-giok merasakan timbulnya suatu perasaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata... "Adik Giok" tiba-tiba Oh Li-cu berkata sambil tertawa, "puaskah kau dengan suasana dalam kamar ini?" "Ehmmm, bagus sekali." Lan See-giok manggut-manggut dengan kening berkerut. Sambil menuding ke arah sebuah pintu bulat kecil di bagian dalam sana, kembali gadis itu berkata lembut. "Di balik pintu sana adalah kamar tidur cici, apakah kau ingin masuk untuk me-1ihatnya?" Tanpa ragu Lan See giok segera mengge-lengkan kepalanya berulang kali: "Tidak usah, hari ini sudah terlalu malam biar besok saja---" Jawaban tersebut segera menimbulkan setitik kekecewaan yang segera menghiasi wajah Oh Li cu, namun dengan cepat dia te-lah memutar biji matanya dan berkata lagi sambil tertawa riang: "Adikku, kalau begitu cepatlah tidur, kita berjumpa lagi besok pagi. . ." Kemudian setelah mengerling sekejap ke arah Lan See giok dengan penuh pancaran cinta, dia masuk ke dalam kamar sendiri.

140

Sepeninggal Oh Li cu, Lan See giok me-rasakan hatinya seperti dicekam beban yang sangat berat, entah mengapa semenjak ia tahu kalau Oh Li cu adalah putri Oh Tin san, kesan baik yang semula timbul dalam hati-nya segera berubah menjadi perasaan muak dan benci. Setelah melepaskan pakaian luarnya dia, menjatuhkan diri berbaring di atas ranjang, memandang langit-langit ruangan pikirannya kembali terombang ambing tidak menentu, kacaunya bukan buatan, dia tak tahu apa yang mesti dilakukannya sekarang. Terutama sekali bayangan tubuh Oh Li- cu yang terus menerus muncul di dalam benaknya, kesemuanya itu sungguh mem-buat dia semakin tak dapat tidur. Mendadak terdengar suara gemerisik dari kamar sebelah, agaknya Oh Li cu sedang melepaskan busananya. Menyusul kemudian, terendus bau harum yang amat menggairahkan napsu memenuhi seluruh ruangan. Menjumpai kesemuanya ini, pikiran dan perasaan Lan See giok semakin tak dapat tenang lagi. Namun akibatnya diapun semakin ter-ba-yang kembali kehidupannya yang tenang se-lama tiga hari di rumah bibinya tempo hari... Bibi Wan adalah seorang perempuan cantik yang anggun dan penuh kasih sayang, se-pintas lalu dia seperti baru berusia dua pu-luh tujuh delapan tahunan, namun ia telah mempunyai seorang putri yang telah me-nginjak usia enam belas tahun . . . Cui Siau cian namanya. Teringat akan Cui Siau cian, terbayang kembali wajah seorang gadis yang halus, lembut, penuh sopan santun dan daya tarik... Wajahnya yang cantik, alisnya yang lembut dengan mata yang jeli, hidung yang mancung dengan dua belah bibir yang kecil mungil, semuanya itu menciptakan suatu perpaduan yang menawan hati. Tanpa terasa pikiran dan perasaan Lan See giok terbuai kembali dalam lamunan, dia se-olah-olah merasakan dirinya terbawa kembali dalam sebuah rumah berpagar bambu yang terpencil letaknya . .. Rumah itu hanya rumah bambu yang se-derhana dengan tiga ruangan serta sebuah dapur kecil, ditengah halaman penuh tum-buh aneka bunga yang berwarna warni, se-dang pagar rumah terdiri dari susunan bambu yang diatur secara artistik sungguh menawan hati. Dari ke tiga ruang bambu itu, sebuah adalah kamar tidur enci Cian, sebuah adalah kamar tidur bibi Wan, sedang tengah adalah ruang tamu. Semua perabotannya sederhana tapi bersih dan teratur sehingga mudah menimbulkan suasana nyaman bagi siapapun yang meli-hatnya.

141

Tiga malam dia menginap di sana, tidur di kamar enci Cian nya, sedang enci Cian tidur sekamar dengan bibi Wan. Kamar enci Cian amat bersih dan teratur boleh dibilang tak setitik debupun yang me-nempel di situ, sepreinya selalu menimbul-kan bau harum yang aneh, bau harum yang jelas bukan berasal dari bau bedak. Sebab bau itu sangat lembut, bau yang khas dari tubuh enci Cian, seindah dan se-cantik wajahnya yang syahdu. Cui Siau cian jarang sekali bergurau de-ngannya, namun amat memperhatikan diri-nya, setiap malam dia pasti akan pergi me-meriksa selimutnya, apakah sudah dipakai secara baik atau tidak. Setiap kali dia memandang wajah, enci Ciannya yang cantik, dalam hati kecilnya se-lalu timbul suatu perasaan gembira dan nyaman yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Seringkali dia melamunkan gadis itu, membayangkan potongan badannya yang ramping, langkahnya yang ringan dan gerak gerik yang lembut . . . Setiap kali dia sedang mengawasi wajah enci Cian, tak pernah bibi Wan mengusiknya, dia seperti selalu memberi kesempatan ke-padanya untuk menikmati sampai puas. Setiap malam Cui Siau cian datang me-meriksa selimutnya, diapun selalu merasa kan suatu keinginan yang aneh serta suatu gejolak perasaan yang sukar dikendalikan, dia sangat ingin bisa memegang tangan enci Ciannya yang lembut dan halus serta me-re-masnya. Tapi setiap kali ia tak berani berbuat demikian karena kelembutan dan keang-gunan enci Cian menimbulkan suatu kewi-bawaan yang membuat orang lain tak berani mengusiknya secara kasar. Wajah Cui Siau cian selalu dihiasi dengan senyuman yang manis, belum pernah gadis itu menunjukkan sikap dingin atau ketus kepadanya. Kadangkala, ketika Ciu Siau ciban lewat di-hadjapannya, ia takg tahan ingin meb-manggil-nya, namun Cui Siau cian selalu membalas panggilannya dengan senyuman yang manis, kerdipan mata yang indah dan gerak gerik yang mempesona.. Kini, perasaan Lan See giok sudah terbuai, terbawa ke sisi tubuh enci Cian nya, dia se-olah-olah merasa lupa dimanakah ia berada sekarang. . . Sementara dia masih melamun, mendadak terdengar suara rintihan lirih berkumandang datang dari balik kelambu. Lan See giok segera tersadar kembali dari lamunannya dan kembali ke hadapan ke-nyataan. la merasa mendongkol sekali dengan suara rintihan dari Oh Li cu tadi, tanpa terasa di-tatapnya pintu kamar nona itu dengan penuh kegemasan.

142

Dengan terbayangnya kembali diri Cui Siau cian, tanpa terasa dia pun memperbandingkan gerak gerik maupun cara berbicara kedua orang gadis tersebut. Tapi dengan cepat dia telah menemukan perbedaan yang besar dan menyolok diantara kedua orang itu. Sekarang dia baru mengetahui bahwa Oh Li-cu adalah seorang gadis jalang yang genit dan pandai merayu kaum lelaki untuk terjatuh ke dalam pelukannya. Dia memiliki tubuh yang bahenol, memiliki payudara yang besar dan bundar, senyuman yang merangsang, kerlingan mata yang memikat dan tubuh yang montok serta matang... Mendadak... Napsu birahinya terasa bergelora di dalam tubuhnya, jantung terasa berdebar keras, suatu aliran hawa panas yang aneh muncul dari perut bagian bawahnya dan menyebar ke seluruh badan dengan cepat... Sekali lagi dia mendengar suara rintihan lirih berkumandang dari balik kamar Oh Li-cu. Perasaan Lan See-giok semakin tak karuan lagi, suatu keinginan yang aneh tiba-tiba saja menyelimuti perasaannya. Dengan perasaan terkejut dia melompat bangun, belum pernah dia rasakan gejolak perasaan yang demikian aneh seperti apa yang dialaminya hari ini. Dia merasa sepasang pipinya panas sekali, napasnya memburu dan hatinya berdebar semakin keras... Ia mencoba untuk menbgawasi keadaan jdi sekeliling tgempat itu, selabin cahaya lentera yang redup, semua benda dalam ruangan hanya terlihat secara lamat-lamat, semuanya itu menambah merangsangnya napsu di dalam tubuhnya. Akhirnya sepasang mata Lan See-giok berhenti di suatu tempat, mencorong sinar tajam dari balik matanya, karena dia menyaksikan sebuah benda berbentuk burung bangau kecil terbuat dari emas diletakkan di bawah lentera kecil tersebut. Selapis asap putih yang lembut dan sukar diketahui, menyembur keluar tiada hentinya dari ujung mulut burung bangau emas tersebut... Ia mencoba untuk mengendus beberapa kali, dengan cepat disadari bahwa bau harum aneh yang selama ini memenuhi ruangan tersebut tak lain berasal dari benda tersebut. Dan justru bau asap dupa yang harum inilah yang membuat hatinya gelisah, pikirannya kalut dan tak tenang...

143

Memandang burung bangau kecil tersebut mendadak tergerak hati Lan See-giok, dia seperti menyadari akan sesuatu, segera teringat olehnya akan semua pembicaraan antara Say Nyoo-hui dengan Oh Li-cu. Teringat akan kesemuanya itu, tanpa terasa lagi si anak muda tertawa dingin tiada hentinya. Rasa gusar yang kemudian muncul dan menguasai seluruh perasaannya membuat gejolak perasaan aneh yang semula sudah menguasai dirinya itu seketika menjadi tenang dan mereda kembali. Cepat-cepat dia menjatuhkan diri bersila dan mengatur napas, tak selang berapa saat kemudian pemuda itu sudah berada dalam keadaan lupa diri. Tak selang beberapa saat kemudian, tiba-tiba pemuda itu mendengar suara gemerisik lirih bergema dari depan pembaringannya. Lan See-giok segera terjaga kembali dari semedinya setelah mendengar suara tersebut, namun apa yang kemudian terlihat hampir saja membuatnya menjerit keras saking kagetnya. Oh Li-cu dengan pakaian sutera tipis berwarna merah telah berdiri di depan pembaringannya, begitu tipis kain sutera tersebut sehingga bukan cuma sepasang payudaranya yang montok, besar, padat darn berisi itu kezlihatan jelas, wbahkan pinggangrnya yang kecil, pinggulnya yang montok, kulit badannya yang putih serta bagian terahasia dari seorang gadis terlihat semua dengan nyata, pada hakekatnya gadis itu seperti lagi bugil saja di hadapannya. Waktu itu, Oh Li-cu sedang mengawasi wajah Lan See-giok dengan pandangan terkejut dan kening berkerut, mukanya penuh diliputi perasaan bingung dan tidak habis mengerti. Tampaknya gadis itu benar-benar sudah dibuat tertegun saking kagetnya atas ketenangan serta daya kemampuan pemuda tersebut untuk mengendalikan diri. Ia masih ingat dengan perkataan ibunya, setiap lelaki di dunia ini pasti akan men-jadi gila setelah mengendus bau harumnya dupa lebah bermain di kuncup bunga tersebut, bahkan akan menerkam setiap perempuan yang dijumpainya seperti seekor harimau kelaparan. Sekembalinya ke dalam kamarnya tadi, Oh Li cu benar-benar merasa tak sabar untuk menunggu lebih lama, yang lebih membuatnya keheranan adalah apa sebabnya Lan See giok tidak menerkam tubuhnya yang bugil itu seperti harimau kelaparan. Jangan-jangan dia masih berusia muda sehingga belum mengerti untuk merasakan sorga dunia tersebut? Tapi ingatan lain segera melintas di dalam benaknya, dia curiga benda yang diberikan ibunya Say nyoo-hui kepadanya itu bukan barang asli,

144

kalau tidak, seorang hwesio tua berusia seratus tahun yang mengendus bau dupa tersebut pun akan terangsang napsu birahinya, Lan See giok yang masih muda belia sama sekali tidak terpengaruh? Tak mungkin daya tahannya melebihi se-orang hwesio tua? Sementara berpikir, dia sudah tiba di de-pan pembaringan, ketika dilihatnya Lan See giok sedang mengawasinya dengan mata ter-belalak, dia tertawa jalang, lalu tegur-nya: "Adik Giok, mengapa kau belum tidur?" Sementara itu Lan See giok sudah berhasil mengendalikan perasaannya, dia sudah sa-dar kalau Oh Li cu memang sengaja menga-tur kesemuanya itu untuk menjebaknya, agar dia terangsang oleh napsu birahi sehingga melakukan perbuatan yang amoral. Bisa dibayangkan betapa gusar dan men-dongkolnya anak muda tersebut diperlaku-kan demikian, tapi dia tak berani mengumbar amarahnya, dia tahu keadaan seperti ini ha-rus dihadapi secara luwes dan halus, sebab dia sudah terjerumus ke mulut harimau. Pelan-pelan dia memejamkan matanya dengan cepat dalam hatinya mengambil suatu keputusan, yang penting dia harus bersikap wajar sehingga tidak sampai me-nimbulkan amarah Oh Li cu karena malunya: Maka sambil tersenyum ujarnya kemudian: "Aku sudah tertidur sedari tadi . ." Sewaktu berbicara, sikapnya amat biasa dan seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu apapun, kendatipun dia berusaha keras untuk meredakan detak jantungnya yang berdenyut keras. Terutama sekali terhadap tubuh bugil yang begitu merangsang dibalik kain sutera yang terpampang di depan matanya. Tertegun juga Oh Li-cu sesudah menyaksikan kemampuan Lan See-giok untuk mengendalikan perasaan, napsu birahi yang semula telah menguasai benaknya kini hilang lenyap tak berbekas, sambil duduk termenung di sisi pembaringan sambil mengawasi wajah Lan See-giok, sampai lama sekali dia taak mengucapkan sepatah katapun... Lan See-giok juga membungkam dalam seribu bahasa, karena dia mesti mengendalikan kobaran api birahinya, apalagi Oh Li-cu yang duduk disisinya selalu menghembuskan bau harum semerbak yang aneh dan mengilik-ilik hatinya. Yang terutama adalah sepasang payudaranya yang begitu montok, begitu besar dan putih di balik kain suteranya, yang tampak bergetar merangsang, lelaki mana yang tidak tergiur menyaksikan adegan seperti ini..?

145

Merah padam selembar wajah Lan See-giok, ia merasa darah yang mengalir di dalam tubuhnya bergolak kencang, perasaan anebh yang dirasakajn tadi kini mungcul kembali serbta menyebar ke seluruh badan, dia tak tahu bagaimana mesti menghadapi situasi demikian. Mencorong sinar terang dari balik mata Oh Li-cu setelah menyaksikan keadaan ini, ia segera tertawa genit, sementara tubuhnya bergeser semakin mendekati tubuh pemuda itu. Dengan selembar bibirnya yang merah membara seperti api dan nyaris menempel di atas bibir Lan See-giok, dia berbisik lembut: "Adikku, bagaimanakah perasaanmu sekarang?" Hampir meledak denyutan jantung Lan See-giok, untung saja kesadaran otaknya masih tetap ada, dia mengerti apa yang dibutuhkan olehnya sekarang. Suatu kobaran api napsu birahi kembali mengembang dalam tubuhnya, ia merasa begitu berharap dapat memeluk tubuh Oh Li-cu serta mencomot payudaranya, tapi diapun ingin menghajar perempuan jalang ini hingga mampus. Namun dia tidak berbuat apa-apa, kesadarannya belum lagi runtuh seluruhnya, ia masih sadar bahwa dirinya berada di depan mulut harimau, dia harus berusaha menahan segala siksaan dan penderitaan agar bisa membalaskan dendam bagi kematian ayahnya. Terbayang kembali kematian yang menimpa ayahnya, kobaran api birahi dalam dada Lan See-giok seketika menjadi padam bagaikan tercebur ke gudang salju, sekujur tubuhnya gemetar keras sementara sepasang matanya memancarkan sinar tajam yang menggidikkan hati.. "Sekarang aku merasa baik sekali." jawabnya dengan suara hambar. Oh Li-cu tertegun dan kaget setengah mati, tapi dia dapat mengendalikan diri dengan cepat, sedikit malu bercampur marah tanyanya: "Dahulu, pernahkah kau mengalami suatu peristiwa?" "Peristiwa? Peristiwa apa?" tanya Lan See-giok tidak habis mengerti. "Misalkan saja pil dewa, obat mustajab atau teratai salju, rumput lengci..." "Ooh itu yang kau maksudkan." kata Lan See-giok seperti menjadi paham kembali, ia tertawa geli. "Yaa, empek tua pernah memberi pil penguat badan, pelenyap racun dan penambah tenaga untukku, menurut si empek tua tersebut, dengan menelan sebutir pil itu berarti tenaga dalamku bertambah sebesar puluhan tahubn hasil latihanj." Kata "pelengyap racun" yangb diucapkan lebih nyaring itu kontan mengecewakan Oh Li-cu, ia menjadi masgul sekali: "Waaah... makanya kau bisa memiliki daya tahan yang begitu ampuh..."

146

Belum habis dia berkata, sekujur tubuhnya telah gemetar keras, wajahnya menjadi pucat pias dan tiba-tiba ia teringat kalau ayahnya belum pernah memiliki obat semacam ini. "Apakah pil yang kau makan adalah pil hitam sebesar kelereng baunya amis dan memuakkan?" buru-buru dia bertanya. Berkerut kening Lan See-giok menyaksikan kepanikan orang, ia manggutmanggut. "Betul, menurut empek tua, saban bulan mesti menelan sebutir, kalau tidak aku bisa muntah darah dan mati." Terbelalak lebar sepasang mata Oh Li cu karena kaget, mulutnya melongo lebar dan diawasinya Lan See giok tanpa berkedip, lama, lama kemudian ia baru berguman: "Ke . . kenapa begitu? . ke . . kenapa harus begitu . . ?" Sembari berkata dia mengawasi alis mata Lan See giok tanpa berkedip, sementara air matanya jatuh bercucuran dengan deras. Lan See giok semakin tak habis mengerti, tanyanya kemudian: "Enci Cu, adakah sesuatu yang kurang beres?" Bukan mereda keadaannya, Oh Li cu malah menangis semakin keras lagi, sambil lari masuk ke dalam kamarnya dia menangis dan menjerit-jerit. "Aku tidak mau begitu, aku tidak mau be-gitu..." Menyusul kemudian dengan suara penuh amarah dia berteriak: "Siau ci! Siau lan! cepat bantu aku me-ngenakan pakaian..." Berikutnya kedengaran suara orang yang berlarian mendekat dari luar ruangan dengan langkah gugup dan terburu buru. Lan See giok hanya bisa duduk sambil melongo, pandangannya yang kosong me-ngawasi kamar Oh Li cu tanpa berkedip, ia benar-benar dibuat bodoh, pada hakekatnya dia tidak habis mengerti apa gerangan yang sesungguhnya telah terjadi. Hanya satu kesirmpulan yang berzhasil diraihnyaw, yakni baik Ohr Li cu maupun Oh Tin san tempo hari, buru-buru mengawasi alis matanya setelah mendengar dia menelan pil berwarna hitam yang bau tersebut. Selang beberapa saat kemudian, hatinya bergetar keras, dengan perasaan terkejut dia berpikir: "Jangan-jangan pil hitam yang baunya amis itu adalah obat beracun atau sebangsa nya?" Sekuat tenaga dia mengendalikan hatinya yang gugup dan kalut, secara pelan-pelan semua kejadian yang pernah dialaminya ber-sama Oh Tin san dianalisa kembali. . . Tak lama kemudian ia pun menjadi faham, sudah pasti pil hitam itu adalah sejenis obat beracun yang lambat daya kerjanya.

147

Jelas Oh Tin san bermaksud untuk me-ngendalikannya dengan obat beracun, agar dia tak berani menghianatinya, selama hidup menjadi budak Oh Tin san menuruti perin-tahnya, bahkan bisa jadi dia akan mempergunakan keselamatan jiwanya untuk me-maksa dia memberitahukan tempat tinggal bibi Wan nya. Boleh jadi dia enggan menyebutkan alamat dari bibi Wan nya, namun akibat dari per-buatannya itu, dalam satu bulan kemudian ia tentu mati akibat keracunan, kecuali Oh Tin san, waktu itu pasti tiada orang ke dua yang mengetahui jejak kotak kecil tersebut lagi. Betul masih ada orang ke tiga yang me-ngetahui tentang jejak kotak kecil itu yakni si makhluk bertanduk tunggal Si Yu gi, namun orang tersebut akhirnya tewas di sergap oleh Oh Tin san. Ada satu hal yang belum dipahami juga oleh Lan See giok, yaitu bila pil hitam yang ditelan adalah obat beracun, apa sebabnya tenaga dalam yang diperoleh malah men-da-pat kemajuan yang sangat pesat? Mendadak satu ingatan melintas lewat, ia teringat kembali tatkala baru sadar dari se-medinya dulu, bukan bau amis yang di endus melainkan bau harum semerbak yang meng-gairahkan tubuhnya. Hal ini kembali menimbulkan rasa heran di dalam hatinya. Berdasarkan sikap Oh Tin san yang segera memeriksa alis matanya begitu memandang terkejut ke arahnya setelah mengetahui ke-majuan pesat yang diperolehnya di bidang tenaga dalam, tak bisa disangkal lagi pil berwarna hitam itu adalah sejenis obat racun yang mempunyai sifat lamban daya kerjanya. Tapi siapa pula yang telah menyelamat-kan jiwanya...? Pada saat itulah..... Tiba-tiba berkumandang suara tambur yang dibunyikan bertalu-talu dari tempat kejauhan sana. Diam-diam Lan See giok merasa terkejut ia segera teringat kembali akan perintah Oh Tin san untuk mempersiapkan segenap perahu perang yang ada untuk berkumpul. Buru-buru dia mengenakan sepatu dan membuka pintu kamarnya, ternyata hari su-dah terang tanah. Dua orang pelayan telah siap menanti di luar pintu, tatkala melihat Lan See giok membuka pintu, serentak mereka memper-siapkan air untuk cuci muka. Di dalam keadaan cemas, gelisah dan gusar tentu saja Lan See giok tidak berniat lagi untuk cuci muka, dia harus mencari Oh Tin san secepatnya dan mencegah mereka membantai orang-orang di dusun nelayan----

148

Tergesa-gesa dia membuka pintu dan lari ke luar dari halaman tersebut. Baru tiba di depan pintu, dia bertemu Oh Li cu yang sedang berlari masuk ke dalam halaman dengan mata merah dan bibir ter-tutup rapat, Berjumpa dengan Lan See giok, Oh Li cu segera menegur: "Mau ke mana kau?"" Biarpun Lan See giok sedang diliputi hawa amarah, namun dia tetap menjawab dengan suara dalam: "Aku hendak mencari ayahmu." "jangan, jangan pergi" seru Oh Li cu sambil menarik tangannya, "Ayah dan Be Congkoan bertiga sedang merundingkan masalah penting . . ." Lan See giok tidak dapat menahban kobaran amarjahnya lagi, diag segera berteribak keras. "Aku justru hendak mencari mereka ber-empat" Sekuat tenaga dia mengebaskan tangan Oh Li cu, kemudian melanjutkan perjalanan-nya dengan langkah lebar. Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Oh Li cu sudah menghadang kembali di depan Lan See giok sambil serunya dengan gugup. "Percuma kau kesana, segenap anggota benteng dan kapal perang, telah berkumpul dan bersiap sedia, kau harus mengerti ayahku berbuat demikian adalah demi ke-baikan dirimu-.." "Demi kebaikanku? Kebaikan apa?" Lan See giok tertegun dan mengawasi Oh Li cu dengan pandangan tak habis mengerti. Menyaksikan sikap anak muda tersebut, Oh Li cu tak dapat menahan rasa gelinya lagi, ia segera tertawa cekikikan. "Anak bodoh, ayah sengaja mengumpulkan semua anggota benteng dan kapal perang karena dia ingin menyelenggarakan suatu upacara perkenalan bagi Sau pocu nya kepada semua anggota." Lan See giok semakin berdiri bodoh lagi setelah mendengar perkataan itu. Oh Li cu tertawa cekikikan, katanya lagi sambil menarik tangan Lan See giok. "Ayo jalan, cepat kembali, cici masih ingin berbicara denganmu---" Seraya berkata dia menarik Lan See giok secara paksa menuju ke kamarnya. Lan See giok berjalan mengikuti di bela-kang Oh Li cu, ia tak habis mengerti apa se-babnya Oh Tin san menyelenggarakan perte-muan seperti itu, rencana busuk apa pula yang sedang disusun olehnya-- ? Oh Li cu membawa Lan See-giok menuju ke ruang kamarnya, kemudian memerintah-kan pemuda itu duduk dan bertanya dengan serius: "Adik Giok, bagaimana perasaanmu sekarang?"

149

Lan See giok tertegun, ia tidak mengerti apa maksud pertanyaan tersebut, terpaksa katanya sambil mengangguk : "Aku merasa baik sekali!" Obh Li cu mengertji kalau anak mugda ter-se-but tbidak memahami maksudnya, maka ta-nyanya lebih jelas: "Maksudku dikala sedang mengatur perna-pasan, apakah kau merasakan aliran tenaga dalammu tersumbat, dan tidak dapat menu-ruti kehendak hati?" Lan See giok baru paham setelah mende-ngar kata-kata ini, dengan cepat dia mengge-lengkan kepalanya berulang kali "Aku tidak merasakan gejala demikian, aku hanya merasa tenaga dalamku seperti mem-peroleh kemajuan yang sangat pesat setelah menelan pil hitam pemberian empek tua!" Mendengar perkataan mana. Oh Li cu mendengus gusar mulutnya sampai cemberut saking mendongkolnya, dia menganggap Lan See giok tidak cukup jujur terhadap dirinya. Melihat hal ini Lan See giok tertawa ham-bar, ia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi suara tambur yang memekakkan telinga te-lah berkumandang lagi, bahkan suaranya kali ini kedengaran lebih berat dan santar. Berubah paras muka Oh Li cu, sambil ber-seru tertahan dia bangkit berdiri, lalu ka-tanya cepat: "Tambur kedua telah dibunyikan, itu ber-arti semua kapal perang telah berkumpul di depan pintu benteng." Sambil berkata, cepat-cepat dia menge-luarkan sebuah botol kecil dari dalam saku-nya dan diserahkan kepada Lan See giok seraya ujarnya lagi: "Di dalam botol ini berisikan tiga butir pil Cing hiat ciat tok wan (pil pencuci darah pe-lenyap racun), bila kau rasakan aliran tenaga dalammu seperti tersumbat, cepatlah telan sebutir". Kemudian tergesa-gesa dia lari masuk ke dalam kamar sendiri. Memandang bayangan si nona yang men-jauh, tanpa terasa Lan See giok tertawa di-ngin, pikirnya. "Bapaknya licik, putrinya cabul, tak nanti aku Lan See giok akan terjebak oleh siasat kalian." Sambil tertawa dingin ia lantas membuka penutup botol itu dan memeriksa isinya. Dalam waktu singkat bau harum semerbak memancar ke mana-mana, seketika itu juga semangatnya terasa bangkit kembali.

150

Lan See giok mernjadi tertegun,z karena obat tewrsebut sama sekrali berbeda dengan pil hi-tam yang diberikan Oh Tin san ke-padanya tempo hari. TANPA terasa ia mengerling sekejap ke kamar nona itu sementara botol tadi di ma-sukkan kembali ke dalam sakunya, kini dia benar-benar tak habis mengerti, dia tak tahu mengapa Oh Li cu memberi obat pe-nawar racun kepadanya. Kenyataan ini tentu saja disambut gembira olehnya, perasaan simpatik yang semula memang tumbuh dalam hatinya terhadap Oh Li cu, kini mulai tumbuh kembali. Tak selang berapa saat kemudian, tampak Oh Li cu berjalan ke luar dari kamarnya de-ngan langkah tergesa gesa, di punggungnya bertambah dengan sebilah pedang, di ta-ngannya menggenggam senjata gurdi emas Cing kim kong luan cui milik Lan See giok. Tergerak hati Lan See giok setelah menyak-sikan kejadian itu, buru-buru dia bangkit berdiri, lalu memandang gurdi emas di ta-ngan Oh Li cu itu dengan termangu, dia tak habis mengerti apa sebab nya gadis itu menggembol senjata. Dengan cepat Oh Li cu sudah berjalan mendekat, katanya dengan wajah serius: 'Kau harus membawa serta senjata an-dalanmu ini, karena seusai upacara perke-nalan nanti, bisa jadi benda tersebut di per-lukan." "Mengapa?" tanya Lan See giok tidak mengerti. "Biasanya seusai upacara perkenalan, akan muncul orang-orang yang berwatak ingin menang sendiri untuk mencoba kepandaian dari anggota baru, mereka akan manfaat-kan kesempatan mana untuk memamerkan kepandaiannya di hadapan pocu dengan harapan bisa memperoleh pujian atau kedudukan yang jauh lebih baik." Lan See giok segera tertawa, memanfaat-kan peluang itu dia sambut senjata gurdi emasnya dan diselipkan di pinggang. Tampaknya Oh Li cu dipenuhi banyak pikiran, setelah memandang sekejap dan-danan Lan See giok yang mengenakan pakaian kedodoran, dia bertanya dengan kuatir: "Apakah kau perlu ikat pinggang untuk meringkaskan pakaianmu?" "Aaah tidak usah, masa benar-benar ada orang yang begitu berani hendak merebut kursi sau pocu ini dari tanganku?" Selesai berkata, dia berpura pura tertawa gembira. Melihat pemuda itu gembira, Oh Li cu turut gembira pula, katanya kemudian sambil ter-tawa: "Kalau begitu, mari kita segera berangkat!"

151

Sementara itu matahari sudah tinggi di angkasa, seluruh benteng Wi-limpoo dilapisi cahaya keemas emasan. Ketika Lan See giok dan Oh Li cu berjalan ke luar dari halaman, di tepi sungai telah parkir sebuah perahu naga yang agak nya dipersiapkan untuk menjemput Oh Tin san, Be congkoan dan lain lainnya. Perahu naga panjangnya empat kaki dan terdiri dari dua tingkat, seluruh tubuhnya berwarna kuning emas, bangunan perahunya pun sangat indah dan mempesona hati. Di ujung buritan perahu tampak beberapa orang lelaki berpakaian ringkas warna perak dengan tubuh yang tinggi tegap berdiri kekar di situ, wajah mereka rata-rata bengis, beralis tebal dan bermata besar, namun sikapnya munduk-munduk dan hormat. Ketika Oh Li cu berjalan mendekat, seren-tak semua lelaki kekar itu membungkuk kan badannya memberi hormat, tapi ketika men-dongakkan kepalanya kembali, mereka segera mengawasi Lan See giok dengan pandangan agak terkejut. "Adikku." kata Oh Li cu kemudian sambil tertawa angkuh. "inilah perahu naga emas milik ayah yang khusus untuk mengangkut ayah dan ibu saja." Lan See giok hanya tertawa hambar sambil manggut-manggut, melihat sikap sang pemu-da yang acuh tak acuh, Oh Li cu segera menambahkan lagi: "Kau adalah sau-pocu, tentu saja se-lanjut-nya kau boleh menumpang perahu ini juga, kau pun boleh memakai perahu ini untuk berpesiar ke mana-mana." Berkilat sepasang mata Lan See giok, se-ketika itu juga dia teringat untuk melarikan diri, tanpa terasa semangatnya berkobar kembali, katanya dengan gembira: "Sungguhkah itu? Aku benar-benbar boleh menumpjang perahu ini guntuk berpesiarb?" Melihat pemuda itu gembira, Oh Li cu turut tertawa cekikikan, sambungnya dengan ce-pat: "Aaah, masa enci bakal membohongi diri mu?" Belum habis tertawanya, dari balik pintu gedung berwarna merah telah bergema datang suara langkah kaki manusia. Ternyata mereka adalah si kakek bungkuk Be congkoan Thio-Wi-kang, Li Ci cun yang berjalan mengikuti di belakang Oh Tin san serta Say nyoo-hui. Kali ini Oh Tin san mengenakan pakaian perlente yang halus dan mahal harganya dengan mengenakan topi model hartawan. sepatunya indah, gayanya dibuat buat, persis seperti tampang seorang tuan tanah.

152

Say nyoo-hui Ki-Ci-hoa pun telah ber-ganti pakaian baru, wajahnya yang telah keriputan dihiasi dengan bedak yang tebal, agaknya jauh lebih tebal daripada kemarin. Ketika Oh Tin san dan Ki-Ci-hoa me-nyak-sikan Lan See giok berdiri berdampingan dengan putri mereka, ke dua orang itu segera tertawa gembira. Buru-buru Lan See giok dan Oh Li cu maju ke depan sambil memberi hormat. Sambil tertawa gembira Oh Tin san segera berkata: "Anak Giok, hari ini empek tua akan mem-perkenalkan kau kepada segenap komandan dan saudara-saudara kita yang ada di dalam benteng, mulai hari ini kau sudah kami ang-kat menjadi sau pocu -benteng Wi-limpoo." Say-nyoo-hui tertawa pula sambil menarik tangan Lan See-giok, sengaja ujarnya: "Anak Giok, kenapa kau tidak cepat-cepat berterima kasih kepada empek Oh mu?" Demi keberhasilannya melarikan diri, demi berhasil mempelajari ilmu berenang dan demi keberhasilannya mem-balaskan dendam ayahnya, terpaksa Lan See giok harus mengesampingkan semua masalah, biarpun harus menganggap bajingan sebagai ayah dia mau tak mau harus menahan diri. Maka kepada Oh Tin san katanya lagi sambil menjura: "Terima kasih banyak empek tua!" Oh Tin san segera tertawa terbbahak bahak dengjan bangganya. gBe congkoan danb Thio-Wi-kang pun secara beruntun maju ke depan untuk menyapa Lan See giok dan Oh Li cu. Lain halnya dengan si kupu-kupu ditengah ombak Li Ci cun, sejak menyaksikan sikap mesra Oh Li cu terhadap Lan See giok, dia sudah menarik mukanya, menunjukkan si-kap tak senang hati, apalagi setelah dilihat nya gadis itu tak pernah memandang sekejap matapun ke arahnya, api amarahnya sema-kin berkobar. Namun ia terpaksa harus mengekang rasa gusarnya setelah menyaksikan Be congkoan dan Thio-Wi-kang telah maju menyapa, dia segera maju pula ke depan sambil memberi hormat. Begitulah, dengan Oh Tin san berjalan di depan, Say nyoo-hui dan Oh Li cu mengapit Lan See giok di tengah, Be congkoan sekalian bertiga menyusul di belakang, mereka ber-sama sama naik ke atas perahu naga emas.

153

Sepanjang perjalanan, Oh Li cu tak pernah meninggalkan Lan See giok barang selang-kahpun, begitu mesra dan hangatnya hubu-ngan mereka tak ubahnya seperti sepasang pengantin baru. Oh Tin san dan Say nyoo-hui yang me-nyaksikan adegan itu menjadi amat gembira senyuman lebar tidak hentinya menghiasi bibir mereka--Benteng Wi-lim-poo memang luas sekali, mereka berlayar hampir seperti minum teh lamanya sebelum mencapai sebuah jalur air yang cukup lebar di depan pintu benteng yang tinggi dan kokoh. Waktu itu pintu benteng sudah terbentang lebar, aneka lentera menghiasi seluruh ba-ngunan benteng, ketika terhembus angin bola-bola lentera itu bergoyang tiada henti-nya. Enam orang lelaki bercelana biru berbaju merah, berdiri berjalan di atas loteng, di ta-ngan masing-masing orang tampak mem-bawa terompet panjang yang dihiasi bendera warna warni. Begitu perahu naga berlayar memasuki lorong benteng, serentak ke enam lelaki itu meniup terompetnya keras-keras. Menyusul kemudian suara tambur dan genderang dibunyikan bertalu talu, meng-i-ringi gerakan sang perahu yang semakin ce-pat. oooOooo BAB 8 Dengan wrajah serius pelzan-pelan Oh Tinw san bangkit berrdiri, kemudian didampingi Say nyoo-hui mereka beranjak ke luar dari ruangan perahu. Oh Li cu segera menarik tangan Lan See giok dan menyusul di belakang ke dua orang tuanya. Biarpun Lan See giok tahu kalau semua yang dipersiapkan oleh Oh Tin san termasuk bagian dari rencana busuknya, tak urung hatinya merasa tegang juga setelah menyak-sikan kesemuanya itu terutama sekali suara tambur yang dibunyi-kan bertalu talu, mem-bikin hatinya semakin tak tenang. Berpaling ke belakang, keningnya segera berkerut kencang, dia menyaksikan si kupu-kupu di tengah ombak Li Ci cun yang berdiri di belakangnya sedang menyeringai seram sambil melotot ke arahnya penuh kebencian. Lan See giok sungguh tak habis mengerti, dia tak mengerti apa sebabnya Li Ci cun menunjuk sikap yang begitu tak bersahabat dengan dirinya. Mendadak satu ingatan melintas lewat, ia lantas teringat kembali dengan peringatan dari Oh Li cu, pikirnya: "Waah, jangan-jangan sehabis upacara perkenalan nanti, Li Ci cun akan me-nan-tangku untuk bertarung?"

154

"Aaah, mustahil." demikian pikirnya kemu-dian, "hal ini tak masuk di akal, siapa yang berani merebut kedudukan sau-pocu de-nganku---?" Sementara dia masih melamun, perahu te-lah berlabuh di sisi kanan pintu gerbang, menyusul kemudian beberapa orang itu tu-run dari perahu dan menelusuri undak un-dakan batu yang besar menuju ke bangunan loteng di atas benteng. Sekarang Lan See giok baru berkesem-patan untuk melihat jelas lagi, dinding ben-teng itu luasnya mencapai delapan depa, se-lain tebal dan panjang, nampaknya amat kokoh. Setibanya di atas loteng, beberapa orang itu langsung menuju ke atas mimbar di de-pan loteng, di depan mimbar tersedia se-buah meja panjang beralas kain merah, mungkin disitulah terletak mimbar kehormatan. Dalam pada itu suara tambur telah ber-henti, kecuali suara ombak yang memecah di kaki benteng, sama sekali tak ke-dengaran sedikit suarapun. Lan See giok mengikuti di belakang Oh Tin san langsung menuju ke atas mimbar ke-hormatan. Sesampainya di depan meja kehormatan dan melongok ke bawah, pemuda itu kontan merasakan matanya silau, ia betul-betul dibuat terkejut sampai tertegun untuk se-saat. Rupanya pada permukaan telaga di luar dinding benteng, terlihat kapal perang berla-buh berderet deret, tiang perahu yang men-julang angkasa dengan aneka bendera yang berwarna warni, cahaya go1ok dan tameng yang gemerlapan, menimbulkan suasana yang amat mengerikan hati. Biarpun begitu banyak perahu berderet- deret di sana, ternyata suasana begitu hening dan sepi sehingga boleh dibilang tak kede-ngaran sedikit suarapun. Lan See-giok coba mengamati dengan lebih seksama, ternyata perahuperahu perang itu lebarnya beberapa kaki, waktu itu sepanjang anjungan perahu berderet deret lelaki kekar bergolok yang menyandang busur dan tameng. Jumlah kapal perang itu mencapai ratusan buah, sedang lelaki-lelaki kekar itu mencapai dua ribu orang lebih, namun mereka semua berdiri dengan tenang, sedemikian tenangnya sehingga tak kedengaran sedikit suarapun. Kapal perang itu terdiri dari empat pasu-kan dengan membentuk posisi empat persegi panjang, semuanya berlabuh di atas permu-kaan telaga di muka benteng dengan rapinya. Dengan cepat Lan See giok menjumpai kalau lambang dari setiap pasukan tersebut berbeda beda, pakaian seragam yang di ke-nakan masing-masing pasukan pun tidak sama satu dengan lainnya.

Dengan wajah serius dan pancaran sinar sesat dari balik matanya. Pasukan ke tiga berlambang seekor singa baju seragamnya abu-abu muda. dia berkata lebih jauh: "Dia adalah keturunan satu satunya dari Kim lui gin tan (Gurdi emas peluru perak) Lan tayhiap yang sesungguhnya adalah sa-habat karibku. suasana betul-betul mengerikan. kembali suara tempik sorak yang gegap gempita berkumandang memecahkan ke-heningan. segenap lelaki kekar itu ber-sama sama menurunkan kembali tombak masing-masing. sorak sorai turut berhenti. Dua ribu orang lelaki kekar yang berada di sisi kapal perang. Pasukan kedua mempunyai lambang hari-mau terbang. . pada ujung perahunya terpancang sebuah panji bergambar kepala naga yang sedang mementangkan cakar." Lalu sambil menuding Lan See-giok yang berdiri di sisinya. Menyusul kemudian dari arah belakang berkumandang suara terompet yang di bu-nyikan nyaring. sejak hari ini dia Lan See-giok akan menjadi sau pocu kalian. dan dia pula yang akan menjadi satu satu-nya penerus kedudukanku ini. Diam-diam Lan See-giok merasa terkejut menyaksikan keadaan seperti ini. bunyi terompet segera berhenti. Dengan suara nyaring pelan-pelan Oh Tin san berkata: "Saudara sekalian. hari ini aku sengaja mengumpulkan kalian semua di tempat ini karena aku ingin memperkenalkan se-orang warga baru dari benteng kita. Oh Tin-san dan Say nyoo-hui telah berdiri berja-jar di depan panggung kehormatan tersebut. pelanpelan Oh Tin-san mengangkat tangan kanannya ke atas sambil memandang ke kiri dan kanan. Belum habis Lan See giok melihat. semua anggotanya berseragam hitam." Begitu perkataan tersebut selesai diutara-kan. tombak di angkat ke atas hingga berkilauan terpantul cahaya mentari. Di ujung tiang bendera masing masing-pasukan terpancang bendera dari masing-masing regu.155 Pada pasukan yang berada di sebelah kiri. baju seragamnya kuning. serentak mengangkat tom-bak masing-masing sambil bersorak sorai. Sedangkan pasukan ke empat berlambang macan kumbang hitam. Bersama itu pula. anggotanya bersera-gam warna hijau. agaknya daya pengaruh dari Wi-lim-poo memang tak boleh dipandang enteng.

teriaknya pula: "Pasukan harimau terbang. tapi ia berusaha keras untuk mengendalikan gejolak perasaannya. timbul tekadnya untuk memanfaatkan kekuatan yang ada untuk membalaskan dendam bagi kematian ayah-nya. suasana segera menjadi hening kembali. aku hendak memperkenalkan setiap pasukan kepada sau pocu kalian yang baru.. pelan-pelan dia melambaikan tangannya untuk menyambut tempik sorak dari kawanan jago di ratusan perahu perang tersebut. dia pun hendak menggunakan kekuatan tersebut untuk memunahkan perompak dan perampok yang seringkali mengganggu kaum nelayan." Menyusul teriakan itu." Kembali semua anggota pasukan harimau terbang mengangkat tombaknya sambil me-nengok ke arah benteng. mungkin itulah ko-mandan dari masingmasing pasukan.. di belakang orang itu masih berdiri pula bebe-rapa orang lelaki kekar. nah harap masing-masing pasukan memberi hormat kepada sau pocu. "Sekarang.156 Menyaksikan kesemuanya itu. segenap lelaki kekar yang berada di atas kapal perang Naga sakti bersama sama mengangkat tongkatnya sam-bil menengok ke arah loteng benteng. Sementara itu. tentu ter-dapat sebuah kapal perang yang berada di paling depan. di ujung geladak berdiri se-orang manusia yang mengenakan pakaian berwarna sama namun berbeda bahannya. Detik itu juga dia merasa semangatnya berkobar kembali.." Kemudian sambil berpaling ke arah pasu-kan kapal perang pertama yang berlambang naga dia berseru: "Pasukan naga sakti . suara tempik sorak yang gegap gempita tadi kini menjadi sirap sama sekali. Oh Li cu serta Be congkoan sekalian mendapat kesan kalau Lan See giok seakan akan telah berubah jauh lebih matang hanya dalam sekejap saja. Menyusul kemudian Oh Tin san memper-kenalkan pasukan singa jantan dan pasukan macan kumbang hitam. Sekarang Lan See giok baru menemukan bahwa di dalam setiap pasukan. Lan See giok segera mengangkat tangan kanannya dan dilambai lambaikan ke arah pasukan tersebut Oh Tin san beralih memandang ke arah pasukan kedua. Sementara itu Say nyoo-hui. Lan See-giok merasakan darah panas di dalam dadanya bergolak keras. seakan akan berubah menjadi seorang lelaki dewasa yang berpengalaman. .. Oh Tin san telah mengang-kat tangannya kembali.

" Sebetulnya Lan See giok tak ingin banyak urusan. tampaknya dia sedang dibebani oleh suatu pemikiran yang men-dalam atau bisa jadi dia telah mengetahui asal usul Lan See-giok yang sesungguhnya. ia kelihatan begitu gagah dan perkasa. dan senyuman menghiasi ujung bibirnya. sebentar aku pasti akan membuatmu tergeletak di tanah dengan ber-mandikan darah kental. . Say nyoo-hui sendiri hanya termenung dengan wajah serius. Seandainya tiada kehadiran Lan See giok. sampaikanlah beberapa pesan kepada segenap saudara kita yang hadir di sini. sudah pasti ia telah menjadi suami istri de-ngan Oh Li cu. Tapi kini dari tengah jalan muncul se-orang Lan See giok. namun terdorong oleh ambisi di dalam hatinya. kau jangan kebu-ru sombong dulu. ini berarti kedudukan sau pocu dari benteng Wi-lim-poo tentu akan menjadi mi-liknya. . dia merasa berkewajiban un-tuk menyampaikan beberapa patah kata. Kupu-kupu dibalik ombak Li Ci-cun me-ngawasi kesemuanya ini dari belakang.157 Tampak pemuda itu berdiri tegap dengan mata berkilat . Diliriknya sekejap ke empat manusia yang berada di panggung kehormatan itu dengan penuh kebencian. Tiba-tiba Oh Tin san berpaling dan me-mandang sekejap ke arah Lan See giok ke-mudian dengan sikapnya yang angkuh dan penuh rasa bangga ia berkata: "Bocah bodoh. bukan saja Oh Li cu menjadi berubah hati. Menyaksikan ketampanan serta kegagah-an anak muda tersebut. lalu sekulum senyuman yang menggidikkan hati menyungging di ujung bibirnya. apalagi Oh Tin san dan Say nyoo-hui sudah lama menyetujui hubungan mereka. dalam keadaan demikian. tanpa terasa Oh Li cu tertawa serta merta dia menyikut tubuh ibunya Say nyoohui. tanpa sadar rasa bencinya terhadap pemuda itu merasuk sampai ke tulang sum-sum." Sementara itu upacara perkenalan telah selesai. bahkan Oh Tin-san mengu-mumkan di depan umum bahwa dia telah mengangkat Lan See giok sebagai ahli waris kedudukannya sebagai seorang pocu. ketika menyaksikan Lan See-giok mem-peroleh kedudukan begitu tinggi tanpa ber-susah payah. bahkan terhadap Oh Tin-san pun menaruh perasaan benci yang luar biasa. . Kini dia bukan hanya membenci Lan See giok dan Oh Li-cu. pikirnya kemudian: "Bocah keparat she Lan. suasana di seluruh arena masih tetap diliputi keheningan yang luar biasa.

"Saudara sekalian. tanpa pimpinan dari Lo pocu. dia berkata lebih jauh: "Wi-lim-poo bisa menjagoi telaga Huan yang oh. dia merasa taruhan yang dilakukan kali ini pasti akan menghasilkan kemenangan di pihaknya. mana mungkin bisa mencapai ke-adaan demikian?. kemudian dengan kening berkernyit ujarnya dengan lantang. setelah kusaksikan senjata kalian yang bergemerlapan." Belum habis perkataan itu diutarakan suara tempik sorak yang gegap gempita telah berkumandang memecahkan keheningan. menghimpun hawa murninya dan memandang sekejap ke seluruh arena.158 Maka dia maju ke depan. belum pernah mereka mendengar suatu nasehat dan anjuran yang bersemangat seperti ini. Lan Se giok merasa ter-kejut. maka cepat-cepat dia mengangkat tangannya untuk meredakan suasana. Melihat reaksi spontan dari semua anggota benteng. wajahnya segera berseri-seri. . itu berarti semua kejayaan dari Wilim-poo sesungguhnya adalah milik saudara sekalian . bayangkan saja kemajuan yang berhasil dicapai Wi-lim-poo kita sekarang. sebab selama banyak tahun ini." Sekali lagi tempik sorak yang gegap gem-pita berkumandang memenuhi angkasa. tampaknya perkataan dari si anak muda tersebut telah membangkitkan rasa gembira dari masing-masing orang. Maka kuanjurkan kepada saudara sekalian agar lebih ketat menjaga peraturan benteng kita dan membangun ber-sama kejayaan benteng kita. . beliau dihormati dan disanjung semua umat persilatan. kecerdasan otak hujin dan bantuan perencanaan dari Be to-enghiong sekalian bertiga.. aku merasa benar-benar bangga dan gembira bisa berkumpul dengan kalian semua. semua keberhasilan ini sesungguhnya berkat kemampuan dari toa pocu serta semangat saudara sekalian yang perkasa dan berani mati." Setelah berhenti sejenak dan sekali lagi memandang sekejap wajah orangorang itu. bahkan sorak sorai yang terdengar kali ini jauh lebih nyaring ketimbang tadi. Tak terlukiskan rasa gembira Oh Tin san setelah mendengar pujian dari Lan See giok itu. barisan kalian yang rapat. "bLo-pocu kita adalah seorang manusia yang cerdas dan seorang angkatan tua yang ber-kedudukan tinggi. Setelah suasana menjadi tenangb kembali.. kapal perang yang perkasa serta semangat kalian yang berkobar. . dia kuatir Oh Tin san iri sehingga usahanya akan menemui kegagalan total. Lan Sjee-giok berkatag lebih jauh. menggetarkan sungai besar dan tersohor di seantero jagad.

berkata kepada mereka berdua. sambil bersyukur karena pocu mereka berhasil mendapatkan ahli waris yang baik. Dalam gembiranya. Berpikir demikian.b sorot matanya yang berkilat tak pernah bergeser dari tubuh Lan See giok. sebab dengan terjadinya peru-bahan tersebut berarti semua rencananya akan mengalami kegagalan total--Tapi harapannya segera timbul kembali setelah mendengar akan diselenggarakan-nya pesta tengah hari nanti. ini berarti dia tak akan pernah bisa berebut kedudukan dengan pemuda ter-sebut. dia justru merasa hatinya makin lama semakin berat. Oh Tin san segera menitahkan kepada Be congkoan untuk menyiapkan pesta di ruang Kit oh ting tengah hari nanti. semua komandan kapal perang diundang untuk menghadiri pesta. Sebaliknya paras muka si kupu-kupu di balik ombak Li Ci cun berubah menjadi pucat pasi seperti mayat. Oh Li cu yang merasa paling gebmbira. hatinya gugup dan panik. Lan See giok adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah.sam kui untuk menantang Lan See giok sehabis upacara perkenalan ini menjadi kecewa sekali. "Kalian berdua boleh kembali ke kamar. Say nyoo-hui Ki-Ci-hoa yang jauh lebih licik ketimbang Oh Tin san segera merasakan pula betapa cerdik dan berbakatnya Lan See giok. suatu rencana keji kembali telah melintas di dalam benaknya. dia tidak menyangka kalau Lan See giok de-ngan usianya yang begitu muda ternyata sanggup menarik simpatik dari segenap ang-gota benteng dengan beberapa patah kata-nya. Say nyoo-hui yang cukup memahami jalan pemikiran putrinya segera. Sadarlah dia sekarang bahwa kemampuan yang dimilikinya masih jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan kemampuan Lan See giok. sambil bjersandar di sisgi tubuh ibunya. tapi dia tidak berkata apa-apa kepada Lan See giok. Namun ketika melihat kegembiraan yang dialami Oh Tin san. Kupu-kupu dibalik ombak Li Ci-cun yang sebenarnya telah menyiapkan rencana busuk dengan menyuruh ji-kui (setan kedua) dari Po . bukannya merasa gembira. Ketika Oh Tin san sekalian sudah kembali ke dalam rumah. maka diapun ikut ter-tawa lebar.tiong .159 Menyusul kemudian Be Siong pak dan Thio-Wi-kang datang memberi selamat kepada Oh Tin san dan Lan See giok. untuk beristirahat!" . diapun mengikuti di belakang Be congkoan den Thio-Wikang untuk menyampaikan selamat kepada Oh Tin san. seorang calon suami yang paling ideal baginya. sedang-kan segenap anggota lainnya dipersilahkan minum arak di tempat masingmasing sepuasnya. dalam anggapannya.

cici pingin sekali melalap kau si bocah bodoh dan menelannya ke dalam perut. sebab gerak gerik dari Say-nyoo-hui tadi telah menimbulkan perasaan was-was bagi dirinya. Melihat hal ini Len See-giok menjadi paham kembali apa sebabnya Li Ci cun begitu mem-bencinya. Mendadak . semenjak masih berada di panggung kehor-matan tadi dia sudah tak tahan ingin meme-luk Lan See giok. Belum habis jalan pikiran tersebut me-lin-tasi lewat. Maka cepat-cepat dia mendorong tubuh Oh Li cu sambil menuding ke arah jendela sebe-lah belakang . . menyusul kemudian terdengar gadis itu berseru dengan lembut: "Ooh adikku. seakan akan tidak memahami jalan pemikiran orang. sebab dalam anggapannya. Mencorong sinar tajam dari balik mata Lan See giok. . padahal dalam hati kecilnya dia merasa muak dan bosan. rupanya dia telah menyaksikan munculnya sesosok bayangan hitam dari be-lakang jendela sana." Kemudian dia menghantar bibirnya yang merah merekah itu ke depan dan mendarat-kan beberapa kali ciuman mesra ke wajah dan bibir Lan Seegiok. Sudah sedari tadi dia mesti menahan diri untuk mengekang gejolak napsu birahinya. Lan See-giok benar-benar tidak menyangka Oh Li cu akan bersikap begitu tak tahu malu. ternyata hal ini disebabkan hubungannya yang terlampau mesra dengan Oh Li cu. tiba-tiba pemuda itu merasa tubuhnya telah dipeluk erat-erat oleh Oh Li cu. senyum manis tetap meng-hiasi ujung bibirnya. . tapi dia pun tak berani menolak ciuman tersebut terlalu kasar. kini Lan See giok sudah menjadi suaminya.160 Oh Li cu menyambut seruan itu dengan penuh kegirangan ia segera menarik tangan Lan See giok kembali ke kamarnya. Lan See giok sendiri tetap bersikap wajar. Dalam perjalanan masuk ke ruangan dalam. . ia sedang terbuai dalam suasana yang begitu hangat dan syah-du ketika tubuhnya didorong secara tiba-tiba oleh pemuda tersebut. tiba-tiba ia menyaksikan Li Ci cun sedang berdiri di luar pagar rumarh sambil mengawzasi ke arahnya wdengan pandangarn penuh kegusaran dan menggigit bibir me-na-han rasa dendam. Waktu itu Oh Li cu sedang dipengaruhi oleh kobaran napsu birahi. apalagi bau harum yang begitu tebal sudah membikin kepalanya terasa pusing tujuh keliling.

Serentetan cahaya tajam segera berkelebat lewat menembusi jendela. sorot matanya mengawasi lelaki itu lekat-lekat. matanya penuh diliputi sinar kaget dan melihat tanpa berkedip dia mengawasi ujung pedang Oh Li cu. . kemudian dengan nada penuh kebencian pelan-pelan ia berkata: "Say-li-kui (setan ikan leihi) siapa yang memerintahkan kau mengintip kami? Ayo cepat menjawab dengan sejujurnya. ia sama sekali tidak berpaling ke arah para ko-mandan pasukan yang sementara itu berda-tangan dengan penuh tanda tanya. . tapi oleh sebab dia kuatir Oh Li cu men-dapat celaka.? serahkan nyawa anjingmu." Paras muka Oh Li cu kontan berubah menjadi merah membara. apa yang terlihat olehnya membuat gadis ini naik pitam.161 Dengan cepat dia berpaling ke arah yang ditunjuk. tangan kanannya segera di-ayunkan ke depan melepaskan sebilah pisau terbang. mata yang bulat penuh bercambang tapi berwajah pucat. Tiba di tempat kejadian. alis mata yang tebal. Bayangan manusia di luar jendela itu le-nyap tak berbekas. Sementara itu di ruang depan telah ber-datangan dua tiga puluhan sampan kecil yang mengangkut para komandan pasukan yang datang mengikuti perjamuan. ternyata Oh Li cu dengan muka hi-jau membesi. Lan See giok yakin kalau orang yang bersembunyi di belakang jendela tadi pasti adalah si kupu-kupu di balik ombak Li Ci cun. di sekitar sana sama sekali tidak nampak bayangan tubuh dari Li Ci cun. buru-buru dia menutul permu-kaan tanah dan secepat kilat berkelebat ke depan menyusul di belakang gadis tersebut. kali ini menerobos ke luar dari jendela luar. Bayangan manusia kembali berkelebat le-wat. pemuda itu melongo.. Oh Li cu berdiri dengan hawa napsu mem-bunuh menyelimuti seluruh wajahnya. Hmm! Jika kau eng- . Lelaki berbaju ungu itu memiliki perawa-kan tubuh yang kekar. kau berani memaksa menciumi nona. Aku ya-kin kalau kau sendiri tak akan mem-punyai keberanian sebesar ini. malah ada yang sudah naik ke atas punggung mim-bar. alis mata berkernyit dan pedang terhunus sedang berhadapan dengan seorang lelaki berbaju ungu. . sambil membentak keras. hawa napsu mem-bunuhnya dengan cepat menyelimuti seluruh benaknya. sementara tubuhnya selangkah demi selangkah mundur terus. tapi kemudian terdengar seseorang membentak secara kasar: "Manusia rendah yang tak tahu malu. sebuah pukulan dahsyat dengan cepat meluncur ke depan menghajar jendela belakang itu sehingga hancur lebur.

Oh Li cu sudah merasa kalau setan ikan leihi mulai goyah.162 gan menjawab." Oh Li cu semakin naik darah. ia lihat Oh Tin san bersama Say nyoo-hui datang bersama. hatinya mulai goyah. se-mentara butiran keringat sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran dengan amat derasnya. walaupun kedua orang ini tidak mengerti masalah apakah yang telah terjadi. hamba---. Sementara itu. lalu berseru penuh amarah: "Ia berani mengintip dari belakang jendela!" . kembali hardiknya: "Tutup mulut. . nona tak akan membunuhmu---" Mendadak pada saat itulah dari kejauhan sana terdengar seseorang berseru keras: "Lo pocu dan hujin tiba---" Dengan bergemanya suara itu. . jangan salahkan kalau keta-jaman pedang nonamu akan membacok tubuhmu mbenjadi dua bagijan---". sambil mundur berulang kali rengeknya ketakutan.tidak ada yang memberi pe-rintah. di dalam anggapannya si setan ikan leihi ini tak mau mengaku. asal kau bersedia mengaku. lalu kepada Oh Li cu ia bertanya: "Anak Cu. "Nona--.ti--.. sekujur badannya gemetar keras. namun tak se-orangpun berani membuka suara. serentak suasana di sekeliling tempat itu berubah menjadi hening.. sepi dan amat serius. maka dengan memperhalus suara nya ia berkata. bibirnya sudah bergetar pucat. Dengan mata sesatnya Oh Tin san me-nya-pu sekejap sekeliling tempat itu. hatinya dan bersedia me-ngaku. Lan See giok berpaling. Menyusul kemudian Be Siong pak dan Thio-Wi-kang berdatangan pula. para komandan yang ikut dalam perjamuan telah berdatangan semua. nona akan membuat tubuh mu tercincang di tempat ini juga!" Setan ikan leihi semakin ketakutan. hampir seluruhnya berkerumun di sekitar sana dan mengawasi Oh Li cu serta setan ikan leihi dengan pandangan kaget bercam-pur keheranan. Obh Li cu memandang ke arah Se-tan ikan leihi dengan pedangnya... apa yang terjadi?" bDengan wajah mejrah bercampur hgijau membesi. wa-jah Oh Tin san yang kurus memanjang dili-puti hawa dingin dan kelicikan yang tebal.hamba tidak sengaja .tidak sengaja--.tidak sengaja lewat di de-pan jendela. . bila kau tetap mem-bungkam. Si setgan ikan leihi sbangat gugup dan keta-kutan. "Katakan saja.

Biarpun dalam keadaan kaget bercampur ketakutan. ia segera mundur dengan gugup. matanya berkilat kilat dan sekujur tubuhnya gemetar keras. . ia adalah keponakanku.163 Oh Tin san berkerut kening lalu manggut." Lan See giok tertegun. Si Setan ikan leihi segera sadar kalau ben-cana besar telah berada di depan mata. wajah semua orang diliputi ketegangan. kemudian sekulum senyuman me-nyeringai menghiasi ujung bibirnya. sorot mata semua orang yang hadir bersama sama dialihkan ke wajah Lan See giok. . Berada di depan umum. de-ngan penuh ketakutan buru-buru dia mem-bela: "La--. .lo pocu--. . Bisa dibayangkan betapa gusarnya Lan See giok. Pada saat itulah--"Anak Cu. seperti lagi berbi-cara terhadap dia seorang. . soal tersebut tak ada sangkut pautnya dengan siapa saja. . ia segera menarik kembali pedangnya sambil mundur setelah mendengar perkataan itu. dia me-ru-pakan ahli waris dari benteng kita. keningnya segera berkerut. . ujarnya dengan suara dingin: "Lan See giok adalah sau pocu. sorot mata sesatnya memandang sekejap ke wajah setan ikan leihi. seperti juga lagi berbicara terhadap para hadirin di situ. dia tidak me-nyangka kalau si manusia bertelinga tunggal Oh Tin san bakal mengumumkan di depan umum kalau dia adalah calon suami Oh Li cu.lapor lo -. tunggu sebentar---" Oh Tin san berseru dengan suara dalam. Oh Tin sazn memandang ke warah setan ikanr leihi sambil tertawa dingin. ia merasa percuma saja banyak mem-bantah dalam suasana begini. dia segera mengigos ke samping. juga menantuku. . . cuma bibirnya yang semula merah kini telah berubah menjadi pucat. seakan akan sedang mencari se-seorang. soal cium mencium bagi mereka adalah urusan pribadi antara suami istri.hamba---hamba hanya tanpa sengaja melihat sau pocu men-cium nona dengan paksa. Suasana menjadi amat hening dan sepi. ilmu silat yang dimiliki setan ikan leihi memang cukup tangguh. bahkan banyak di antara mereka yang me-nyadari bahwa selembar nyawa si setan ikan leihi tak akan bisa melewati hari irni. Begitu tusukan pedang dari Oh Li cu me-ngenai sasaran kosong." Begitu ucapan tersebut diutarakan. matanya terbelalak lebar dan menengok kesana kemari dengan terkejut. Oh Li cu sendiripun nampak sangat marah dengan wajah merah membara dia membentak nyaring lalu menusuk tubuh lelaki itu. tentu saja Oh Li cu tak berani membangkang perintah ayah-nya.

Mendadak--Sambil menggertak gigi Li Ci cun men-jejak-kan kakinya ke tanah. diam-diam ia mengerling sekejap ke arah Lan See giok. ia telah mempersiap-kan diri dengan sebaik baiknya. mulutnya melongo. matanya yang kecil memancarkan sinar buas yang berapi api. alis matanya yang tebal ber-kernyit. . lalu teriaknya keras-keras: "Di mana pengawas Li?" "Hamba di sini!" diantara kerumunan orang banyak. cepat ia berpaling ternyata Li Ci cun munculkan diri dari keru-munan orang banyak orang tak jauh di bela-kang tubuhnya dan sebelum ini ter-nyata ia tak melihat kehadiran orang ter-sebut. saking terke-jutnya ia sampai termangu. Kejadian ini sama sekali di luar dugaan semua orang. Selama ini pandangan mata Lan See giok tak pernah beralih dari tubuh Li Ci cun sejak musuh menerjang tiba. sekarang berubah menjadi merah dadu dan tersenyum simpul. setelah muncul dari kelompok manusia. Oh Li cu membelalakkan pula matanya le-bar-lebar. Li Ci cun munculkan diri dengan wajah hijau membesi. sambil membentak se-buah bacokan maut langsung dilontarkan olehnya ke wajah Lan See giok. serunya dengan suara dalam: "Binasakan dia!" Li Ci cun seperti tertegun sesudah mendengar perintah itu. Lan See giok terkejut. kedengaran Li Ci cun menjawab dengan suara gemetar. ia melejit ke sam-ping dan mundur sejauh satu kaki lebih. Oh Tin san memandang ke arah Li Ci cun lalu sambil menuding ke arah Setan ikan leihi. sedangkan si ikan leihi semakin amat ketakutan sampai wajah-nya turut berubah menjadi pucat pias. Oh Tin san kem-bali memandang sekejap seluruh arena de-ngan pandangan sesat. Ketika selesai berbicara. Begitu musuh datang.164 Sementara itu Oh Li cu yang semula berdiri dengan wajah hijau membesi. kemudian dengan gaya tubrukan yang buas dan nekad ia ter-jang tubuh Lan See-giok. kontan saja suasana menjadi gempar. kemudian baru meneruskan perjalanan-nya ke depan Oh Tin san. ia melirik sekejap ke arah Lan See giok dengan penuh kebencian. Dalam pada itu Li Ci cun sudah tiba di ha-dapan Lan See giok.

di bawah cahaya mata-hari siang." jawab kupu-kupu di tengah ombak dengan kalap. Lan See giok sendiri berdiri ditengah arena dengan senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya. Say nyoo-hui yang selama ini mem-bung-kam dalam seribu bahasa tibatiba memutar biji matanya. berkilat sepasang matanya. . ia memandang sinis ke arah musuhnya tersebut. Lan See giok hanya berdiri sambil tertawa sinis selama ini.. Karena itu.!" Berbicara sampai di situ. agaknya dia tidak menyangka kalau se-rangannya bakal menemui kegagalan. kemudian menyela. Oh bTin san tahu dejngan jelas sebagb musabab yang bme-ngakibatkan Li Ci cun bersikap demikian. "Bila kau sanggup mengungguli Lan See giok. . mau apa kau?" "Aku hendak menantang keparat she Lan itu untuk berduel. sedang dalam hatinya: "Dasar sesarang manusia-manusia yang tak tahu malu. aku akan mengambilkan keputusan bagi anak Cu untuk dijodohkan denganmu!" Oh Li cu gusar sekali setelah mendengar perkataan itu." tiba-tiba terdengar Oh Tin san berkata sambil tertawa dingin." "Baiklah. sekalipun dia segera menghen-tikan gerak serangannya setelah mendengar bentakan tadi namun orangnya masih tetap berdiri garang di sana. terbias sekilas bayangan tajam yang berkilauan. tapi ia toh menegur juga dengan suara dalam: "Li Ci cun. ia telah bertekad un-tuk beradu jiwa. Seraya berkata pedangnya segera di-ayun-kan ke tengah udara. Sejak si kupu-kupu ditengah ombak Li Ci cun mendengar Oh Tin san mengumumkan kepada umum bahwa Lan See giok adalah calon suami Oh Li cu. "Tahan .. . .. "kalau Lan See giok tidak diberi kesempatan untuk memper-lihatkan kelihaiannya kalian memang selalu tak mau takluk. tahu-tahu ayunan telapak tangan kanannya telah mengenai sasaran kosong. berdiri sambil melototi Lan See giok dengan penuh kegusaran. tapi menangkan dulu pedang mes-tika di tanganku ini". dengan marah ia berkata: "Tidak susah bila kau ingin kawin de-ngan-ku. dia menengok ke arah Li Ci cun sembari bertanya: "Kau ingin bertarung dalam tangan kosong atau ingin beradu senjata tajam?" .165 Kupu-kupu ditengah ombak Li Ci cun merasakan pandangan matanya menjadi si-lau. ." mendadak Oh Tin san mem-bentak nyaring. Berbicara yang sebenarnya.

dengan wajah hijau membesi tapi ber-sikap hormat dia menyahut: "Dalam suatu pertarungan. katanya kemudian sambil manggutmanggut. menggunakan kesempatan tersebut dia mengundurkan diri dan secara diam-diam mendekati si setan ikan leihi dari arah lain. ditambah pula Say nyoo-hui telah mengutarakan dihadapan umum. ingin sekali kumanfaat-kannya untuk minta berapa petunjuk ilmu sakti dari siauhiap. Mumpung hari ini ada kesempatan. buat apa banyak ngebacot yang tidak-tidak!" . sikapnya begitu jumawa sehingga memuak-kan. maka sambil tertawa dingin katanya: "Kalau ingin beradu silat. bila ia sanggup mengungguli Lan See giok." Sementara berbicara dengan mata ber-kilat dia mengamati Lan See giok tiada hentinya.166 Kupu-kupu di tengah ombak Li Ci cun tahu bahwa ilmu silat Lan See giok cukup tangguh terutama dalam ilmu gurdi emas yang tiada tandingannya. harap kau suka berhati hati" Selesai berkata. aku yakin kau telah me-warisi kepandaian ayahmu. sejak tadi ia sudah habis kesabarannya. lama sudah kukagumi namanya hanya sayang selama ini belum ada jodoh untuk menjumpainya. Dalam pada itu Li Ci cun telah mengepal tinjunya sambil maju dengan dada di-bu-sungkan. Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Oh Li cu. Itulah sebabnya sesudah ragu se-jenak. senjbata tak bermataj. Lan See giok merasa sikap maupun gerak gerik Li Ci can tak ubahnya seperti kalangan si1at kampungan. hamba bersediga mempergunakanb sepasang tangan kosong untuk mencoba berapa ampuh dari Lan See giok!" Mendengar jawaban tersebut. sekulum senyuman menyeringai segera menghiasi ujung bibir Oh Tin san. katanya dengan angkuh: "Sudah lama kudengar ilmu silat yang di miliki Lan Khong-tay sangat hebat dan na-manya termasyhur dalam dunia per-si1atan. kini masih muda lagi berbakat. karena itu dia tak berani beradu senjata tajam melainkan ber-harap bisa mencari kemenangan dengan an-dalkan tangan kosong. maka Oh Li cu akan dikawinkan de-ngannya. Lan siauhiap. lebih baik beradu secepatnya. ia berjalan ke hadapan Lan See giok dan berhenti enam tujuh langkah di ha-dapannya. Para komandan pasukan yang semula mengitari tempat tersebutpun serentak meng-undurkan diri. ia bersama Say nyoo-hui segera mundur beberapa langkah. setelah menjura. "Baiklah.

rasa malu bercampur gusar membuat wajahnya berubah menjadi merah padam. seakan akan pemuda tersebut sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap dirinya. segera ditambahi lagi dengan tenaga sebesar dua bagian. Tempik sorak segera bergema memenuhi seluruh arena pertarungan . Ia bertekad akan mematahkan lengan kiri Lan See giok terse-but. dihati kecilnya dia telah mengambil keputusan untuk menyam-but serangan lawan dengan kekerasan. "Blaammm!" "Ditengah benturan nyaring. ketika musuh me-lancarkan bacokan. diam-diam ia menggertak gigi mena-han diri. Lan See giok sendiripun cukup sadar. Telapak tangan kanannya yang melepas-kan bacokan. kemudian sambil miring-kan badan ia menangkis dengan le-ngan kirinya-"Cari mampus. tibatiba kaki kanannya mundur setengah langkah. se-andainya dia tak mampu mengalahkan Li Ci cun. meskipun lengan kirinya amat sakit bagaikan disayat pisau. . secara beruntun dia mundur sampai sejauh empat langkah lebih. dengan amarah yang meledak ledak ia membentak keras kemudian me-ner-jang ke muka. sementazra tangan kananwnya membacok warjah Lan See giok. Li Ci cun memegangi pergelangan tangan kanannya yang kesakitan sambil me-nyeri-ngai..167 Li Ci cun yang sudah marah semakin naik darah lagi setelah melihat cara Lan See giok berdiri. se-dang sorot mata yang tertuju kearah Lan See giok pun penuh dengan pancaran sinar kekaguman. . suara de-ngusan tertahan bergema memecahkan ke-bisingan." umpat Li Ci cun dengan gusar. Dengan senyuman hambar menghiasi ujung bibirnya secara diam-diam ia men-ghimpun hawa murninya. sedang pernapasannya diatur secara diam-diam. Begitu selesai mendengarkan perkataan Lan See giok. Dalam pada itu. jangan harap dia bisa angkat kepala di dalam benteng Wi-lim-poo.. tangan kirinya diayunkan ke muka mendorong tubuhr musuh. dia pelototi wajah Lan See giok penuh kebuasan. namun sepasang kakinya sama sekali tidak bergerak mundur barang setengah langkahpun. hampir semuanya tercengang oleh kelihaian anak muda tersebut. para komandan pasukan yang berkumpul di situ diamdiam pada ber-bisik membicarakan persoalan tersebut. dengan alis berkernyit dan meng-gigit bibirnya kencang. dengan sepasang mata yang melotot besar bagaikan gundu. . Sepasang bahu Lan See giok bergetar keras.

Li Ci cun berpaling. Oh Tin san pasti akan mencabut jiwanya seketika itu juga. Say nyoo-hui. tapi apa yang kemudian terlihat mem-buat ia merasa terkejut sekali. . Lan See giok merasa perbuatan yang dila-kukan Oh Li cu itu sesungguhnya kelewat batas. sekulum senyuman dingin meng-hi-asi ujung bibirnya dan wajah diliputi hawa napsu membunuh telah berdiri tegak di bela-kangnya. setengah merengek katanya: "Oooh nona. para komandan pasukan yang berada di se-kitar sana segera berpaling dan memandang ke arah mereka dengan pandangan terkejut. Tak terlukiskan rasa kaget setan ikan leihi setelah menyaksikan kejadian tersebut. "Siapa? Katakan dengan lantang!" Sambil berkata pedangnya ditekan lebih ke depan hingga masuk ke tubuh setan ikan leihi sedalam berapa inci. "Siapa? Siapa yang memerintahkan kepadamu untuk melakukan pengintipan?" bentak Oh Li cu segera dengan suara dalam. Oh Tin san. melihat apa yang terja-di wajahnya segera berubah hebat peluh di-ngin segera bercucuran saking kagetnya. sukma serasa melayang meninggalkan raganya . Dengan cepat setan ikan leihi dapat me-rasakan hal tersebut. dia tahu asal setan ikan leihi mengatakan hal yang sebenarnya. ujung pedang Oh Li cu secara diam-diam telah ditempelkan di belakang pinggang setan ikan leihi.. sengaja ia mempertinggi suaranya sambil mem-bentak keras. . dia sadar enggan berbicarapun tak ada gunanya. ampunilah hambamu!" Dengan diutarakannya rengekan tersebut.Li Ci cun yang memerintahkan aku!" Oh Li cu memang sengaja berbuat demikian agar orang tuanya turut mendengar. "Li. darah segar segera bercucuran ke luar dengan amat derasnya. . Sementara itu. karenanya dia melirik sekejap kearah nya dengan wajah muak. tapi tiada orang yang tahu dengan pasti sikap muak tadi sbe-benarnya tertjuju untuk Oh Lig cu ataukah terbhadap lelaki berbaju ungu itu. disaat perhatian semua orang sedang terpusat pada pertarungan antara Lan See giok melawan Li Ci cun.. dengan cepat ia berpa-ling. peluh dingin bercucuran deras. maka dengan suara gemetar sahutnya. Be congkoan dan Thio-Wi-kang serta segenap komandan yang berada di sekitar sana telah mengalihkan pandangan mereka ke arah kedua orang tersebut. Oh Li cu dengan kening berkerut dan mata melotot.168 Dalam pada itu. Setan ikan leihi merasa jiwanya jauh lebih berharga daripada masalah lain.

Oh Li cu menjerit lengking. Lan See-giok pasti akan ter-hajar hingga terluka parah.sama tergtegun saking kabget-nya: Be congkoan. tubuhnya bergetar keras. siapa sangka Li Ci cun sendiri yang dibikin sampai mengenaskan keadaannya. Oh Tin san berdiri dengan wajah dingin sinis dan pandangan tajam. keningnya berkerut kencang. Paras muka Li Ci cu berubah menjadi hijau membesi. tapi sambil menggertak gigi dia beru-saha keras agar tubuhnya tidak sampai mundur barang setengah langkah pun. Tindakan ini boleh dibilang sangat licik dan rendah. dia tak habis mengerti mengapa pilnya malahan menambah tenaga dalam anak muda itu hingga peroleh kemajuan yang begitu pesat. dalam anggapan mereka semula. Kupu-kupu di tengah ombak Li ci cun segera mengerti bahwa riwayatnya sudah habis. Thio-Wi-kang semuanya ge-metaran karena terperanjat. Say nyoo-hui sendiripun berkerut kening. Segulung angin puyuh yang sangat kuat langsung menggulung ke depan dan me-nyongsong datangnya angin pukulan dari Li Ci cun. . kemudian dengan sepenuh tenaga. berdiri bodoh Pada saat itulah--Lan See giok berkerut kening. Segenap komandan pasukan yang bberada di arenaj sama. debu dan pasir segera menyambar ke mana-mana. kemudian sambil membentak keras ia kerahkan tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian ke telapak tangan kanan. de-ngan sempoyongan ia mundur sampai beru-lang kali . Dalam keadaan demikian timbullah niat jahatnya. lalu sepasang telapak tangannya didorong ke muka sepenuh tenaga--Segulung angin pukulan yang sangat keras dengan membawa debu yang sangat tebal segera menyambar ke arah Lan See giok. mendadak ia membalikkan badan secepat kilat.169 Kebetulan sekali disaat Li Ci cun berpaling tadi si setan ikan leihi sedang menuding ke arahnya dengan tangan gemetar. saking kaget-nya dia sendiripun turut. seakan akan dia sedang berkata be-gini: "Darimana datangnya tenaga dalam yang begitu sempurna dari bocah keparat ini?" . tanpa terasa dia melirik sekejap ke arah Oh Tin san. Paras muka Lan See-giok sendiripun ber-ubah menjadi pucat pias. "Blaammm!" Benturan keras menggelegar di angkasa. sekali lagi ia teringat kembali akan pil hitam yang dice-kokkan ke dalam perut Lan See giok. diayunkan ke depan. kontan saja para komandan pasukan yang berada di seputar arena berteriak teriak marah.

rupanya gadis ini se-lain jalang dan cabul. ia baru mendusin kembali dari rasa kagetnya. se-ketika itu juga ia tewas. Pada mulanya. ia memandang kearah Oh Li cu de-ngan wajah kaget bercampur tercengang. . dengan pandangan kaku mereka hanya bisa memandang tubuh Li Ci -cun yang terkapar di atas genangan da-rah dengan mulut tertutup rapat-rapat. . pedangnya memancarkan sinar pelangi berwarna keperak perakan dan sekuat tenaga dibacokkan ke tubuh Li Ci cun yang sedang terduduk sambil terengah engah di hadapannya. Lan See giok sendiripun turut berdiri bodoh. Sewaktu menundukkan kepalanya. menanti Oh Tin San dan Say nyoo-hui mengetahui keja-dian tersebut dan ingin menghalanginya. jeritan ngeri yang memilukan hati segera ber-gema memecahkan keheningan.. Segzenap komandan pwasukan yang berrke-rumun di sekeliling arena menjadi pucat pias seperti mayat.. semuanya membungkam dalam seribu bahasa. Ketika Lan See giok mendongakkan kepalanya.tiba. percikan darah segar bersama isi pe-rut berhamburan ke mana-mana.170 "Blaammm!" Akhirnya Li Ci cun tak sanggup berdiri tegak lagi. hatinya kejam dan jauh lebih jahat daripada kalajengking. ia mende-sak desak orang yang berkerumun di sekitar sana dan melarikan diri ke arah saluran air sungai. lebih baik jangan mencoba-coba untuk mengusik Oh Li cu. Be Siong pak maupun Thio-Wi-kang turut merasa amat terkejut. Peristiwa ini terjadi sangat tiba . Dimana cahaya perak berkelebat lewat. sekarang ia baru tahu. . hal ini segera membangkitkan hawa napsu membunuhnya. kebetu-l-an ia saksikan Li Ci can terduduk dihada-pannya. Oh Li cu dibikin tertegun karena sergapan dari Li Ci cun tersebut menyusul kemudian ia berdiri termangu oleh tenaga pukulan Lan See giok yang -maha dahsyat. Suatu bentakan keras tiba-tiba meng-gele-gar. ia saksikan si setan ikan leihi se-dang berlarian seperti orang kalap. Atas terjadinya peristiwa ini. lagi pula jarak mereka amat dekat. Pada saat itulah kembali terdengar jeritan kaget bergema memecahkan keheningan. ia terperosok dan jatuh terduduk di atas tanah. . Tubuh Li Ci cun sejak dari bahunya sam-pai ke arah iga telah terbabat menjadi dua bagian. dia tahu bila dirinya masih berada dalam benteng Wi-lim-poo. keadaan sudah tidak mengijinkran . ia segera meningkatkan kewaspadaannya terhadap perempuan itu. sampai Li Ci cun jatuh terduduk.

. yang baru saja dilakukannya itu sudah lupa. lalu kepada Be Siong pak katanya. Be Siong pak segera mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap ke wajah semua orang. seakan akan mereka semua beranggapan bahwa membu-nuh orang adalah suatu kejadian yang sangat wajar. . dia menangkap bayangan tubuh si setan ikan leihi yang menyelam dalam air serta siap untuk menimpuknya." "Baiklah. .171 Oh Li cu sangat gusar melihat hal ini. dia mengejar sampai di tepi sungai lalu sambil mengangkat pedangnya. kirim orang untuk member-sihkan jenazah tersebut dari situ!" Thio-Wi-kang mengiakan dengan hormat dan buru-buru berlalu dari sana. perjamuan telah siap silah-kan masuk ke dalam ruangan. mereka langsung menuju ke ruang tengah. . . seakan akan terhadap peristiwa berdarah. Say nyoo-hui juga tidak mengumpat kekejamannya. ternyata gadis itu tetap tenang. wajahnya berseri. si setan ikan leihi tahu-tahu sudah terjun ke dalam air dan menyelam ke dasarnya. kita segera mulai dengan perja-muan!" Oh Tin san manggutmanggut. apakah perjamuan telah di-siapkan?" "Lapor lo-pocu. Oh Tin san sendiri sama sekali tidak mene-gur perbuatannya. Para komandan pasukan yang berkerumun di sekitar sana kontan saja pada bubar. . Kembali Oh Tin san berkata kepada Thio-Wi-kang: "Thio-Wi-kang. Oh Tin san memandang sekejap para ko-mandan pasukan yang masih berdiri dengan wajah kaget bercampur ngeri. "Be congkoan. Sementara Lan See giok sendiri mengikuti di belakang Oh Tin san dengan mulut mem-bungkam." Dengan suasana yang hening para koman-dan pasukan memasuki ruangan serta me-nempati kursi masing-masing. sam-bil membentak nyaring ia mengejar dari bela-kangnya. "Byuuur.!" percikan bunga air memancar ke mana-mana. mereka berlarian mengundurkan diri sambil berseru kaget. Sebenarnya Oh Li cu hendak mengatakan "tidak" tapi berhubung si setan ikan leihi su-dah berenang entah ke mana terpaksa dia menarik kembali senjatanya dan berjalan menuju ke depan ibunya. Ou Li cu tidak berpeluk tangan dengan be-gitu saja. "Anak Cu. lalu serunya dengan lantang: "Silahkan saudara semua menempati meja perjamuan masing-masing. Dalam perjalanan itu dia sempat melirik sekejap ke arah Oh Li cu yang berjalan di samping Say nyoo-hui. biarkan dia pergi!" bentak Oh Tin San tiba-tiba.

abu-abu dan hitam. ia duduk di sisi Be congkoan tanpa mengucapkan sepatah kata-pun. semuanya terdiri dari puluhan meja perjamuan. Pada dasarnya takaran minum arak dari Lan See giok memang terbatas. tangan kanannya yang kurus diulapkan beberapa kali. suasana dalam ru-angan segera menjadi hening kembali. Say nyoo-hui duduk pada kursi ke dua. sementara para komandan pasukan juga telah menempati tempat masingmasing. Walaupun senyuman menghiasi wajah setiap arang. di depan mereka adalah ke empat komandan pasukan kapal perang. ditambah pula hatinya lagi risau dan resah. usianya rata-rata tiga puluh delapan sembilan tahu-nan. Tak lama kemudian. padahal dalam hati kecilnya merasa amat mendongkol.giok dengan secawan arak. komandan pasukan harimau dari marga Ong. dia hanya meng-ingat baik-baik komandan pasukan naga adalah ko-mandan Ciang. Diluar wajahnya Lan See giok tetap bersi-kap tenang dan tersenyum.172 Sementara masih berpikir. komandan pasukan Singa jantan dari marga Seng sedang komandan pasukan macan kumbang dari marga Nyoo. Oh Li cu berdiri di sini Lan See-giok sedang Be congkoan berdiri di sisi kiri Oh Tin san. . Tak lama kemudian perjamuanpun dimu-lai. serentak para ko-mandan pasukan bangkit berdiri sambil hormat. Oh Tin san memandang seluruh penjuru ruangan dengan mata berkilat dan tersenyum. kemudian baru memperkenalkan Lan See giok kepada para hadirin. Dia tidak berhasrat untuk mengingat ingat wajah serta nama dari ke empat komandan kapal perang itu. Selesai upacara perkenalan. tapi jelas terlihat kalau se-nyu-man itu terlalu dipaksakan. Setelah melangkah masuk ke dalam ru-angan. tak lama kemudian ia sudah berada dalam keadaan setengah mabuk. Pertama-tama Oh Tin san menyilahkan semua orang duduk kembali. Ketika Oh Tin san dan Lan See giok ber-lima masuk ke dalam ruangan. mereka telah memasuki ruangan tengah. kuning. berbondong bondong para komandan pasukan berdatangan untuk menghormati Oh Tin san serta Lan See. Lan See giok tahu ke empat orang tersebut pastilah komandan dari ke empat pasukan kapal perang. Pada meja bagian tengah. arakpun dibagi bagikan secara berlimpah. Thio-Wi-kang juga telah tiba kembali. duduk empat orang lelaki kekar berbaju ringkas warna hi-jau.

sementara kepalanya persis ber-baring di atas sepasang payudara yang mon-tok dan padat berisi. . tapi dia berusaha keras untuk tetap memperta-hankan diri sebab perjamuan itu diselengga-rakan baginya. Akhirnya perjamuan pun berakhir Lan See giok mengikuti di belakang Oh Tin San suami istri menumpang perahu naga emas untuk kembali ke rumah. pikirnya pula dalam hati: "Asal kotak kecil itu berhasil kudapat-kan dan aku berhasil pula menguasai ilmu yang tercantum dalam kitab Tay lo hud bun cinkeng. . guci arak pun satu demi satu di go-tong naik. hatinya merasa girang bercampur gelisah. berbaring dalam pelukan Oh Li cu de-ngan lemas. apakah adik Giok mu belum sa-dar dari mabuknya?" . maka berulang kali dia minta ijin kepada Say nyoo-hui untuk mengundurkan diri. . tentu saja ia tak boleh me-ngundurkan diri di tengah jalan . .173 Oh Li cu yang menjumpai begitu banyak komandan datang menghormati Lan See giok dengan secawan arak. Perjamuan makin lama berlangsung makin ramai. apa artinya mengorban-kan seorang putri?" Lan See giok benar-benar mabuk ketika itu. rasa hangat dan empuk membuat ia semakin terbuai. Entah berapa lama sudah lewat. putri ke-sayanganmu sudah betul-betul terpikat oleh bocah tersebut. angin silir se-milir berhembus lembut ditengah dentingan bunyi lonceng yang merdu. tanpa terasa dia meneguk beberapa cawan lebih banyak . Say nyoo-hui yang menyaksikan hal terse-but segera mengerling sekejap ke arah Oh Tin San. Oh Li cu dapat melihat kalau Lan See -giok sudah setengah mabuk. akhir nya Lan See giok tertidur nyenyak. lihat sekarang. Walaupun Oh Li cu sendiripun sedikit ter-pengaruh oleh arak. . seolah-olah ia sedang berkata begini: "Hei rase tua. Biarpun Lan See giok sudah mabuk. sedang dia sendiri pun mulai sadar merasakan kepalanya pe-ning." Sebaliknya Oh Tin San tertawa hambar. . . Perahu menentang ombak. tapi ia masih ber-usaha keras untuk menjaga Lan See giok. Tiba-tiba saja ia tersadar kembali dari tidurnya karena mendengar suara pem-bica-raan seseorang yang keras. "Anak Cu. mereka berdua duduk di kursi dan gadis tersebut membiarkan Lan See giok ber-baring di dalam pelukannya. wajahnya kelihatan agak bangga. tapi keinginannya se-lalu ditampik oleh Lan See giok.

ter-nyata ia berada di dalam kamar sendiri. "ADUUUH. dengan gelisah dan penuh perhatian Oh Li cu segera bertanya: "Kalau memang sakit kepala.. begitu melihat Lan See giok sudah mendusin. bagaimana rasamu sekarang?" Lan See giok tidak menjawab. se-baliknya dia malah bertanya. di dalam bidang ini kau perlu banyak berlatih lagi di kemudian hari. sambil memegangi kepala sendiri serunya penuh penderitaan. "Sudah jam berapa sekarang?" "Sudah mendekati kentongan pertama. bagaimana perasaanmu sekarang?" Lan See giok tahu perhatian yang berle-bihan dari Oh Tin san suami istri terhadap-nya disertai dengan maksud tertentu.174 "Belum!" terdengar Oh Li cu menjawab de-ngan suara lirih. "Berada di mana aku sekarang?" Ketika membuka matanya. SAKIT KEPALAKU . "Benarkah itu empek?" Oh Tin san tertawa riang. nyenyak amat tidurmu kali ini!" seru Say nyoo-hui sambil tertawa. minum arak merupakan suatu kebiasaan yang mencerminkan se-orang pendekar sejati. . maka dia berlagak sakit kepala. "Adik Giok." Sambil berkata. ia membaringkan kembali Lan See giok ke atas pembaringan." Tidak sampai Lan See giok selesai ber-bi-cara. Lan See giok segera melompat bangun. ia segera bertanya dengan penuh perhatian. ia manggut-manggut dan sahutnya dengan lembut: "Anak bodoh." Kemudian terdengar Say nyoo-hui berkata pula: "Bocah ini memang minum arak kelewat banyak. pikirnya dengan ce-pat. . sedang Oh Tin san dan Say nyoo-hui duduk di sudut pembaringan. ia saksikan ru-angan penuh bermandikan cahaya. hanya saat ini dia belum dapat menebak maksud tujuannya. wah. bagaimana mungkin ia dapat me-nandingi kawanan setan arak tua tersebut?" Lan See giok terkejut sekali setelah men-dengar pembicaraan itu. Oh Li cu duduk dengan kening berkerut dan wajah sangat gelisah. kenapa harus duduk? Ayah dan ibu toh bukan orang luar. "tapi aku telah men-cekoki kuah Liam sim-tong kepadanya. . lalu sambil menengok ke arah Oh Tin san tanyanya dengan nada terkejut.

. maka sengaja ia berlagak geli-sah sambil serunya. katanya kemudian dengan sikap acuh tak acuh. aku kuatir si beruang berle-ngan tunggal dan si setan bermata tunggal akan sampai di rumah bibi Wan lebih du-luan. tenang-kan hatimu dan beristirahatlah selama be-berapa hari ini. namun dengan per-buatanmu itu paling tidak sama artinya telah mempercundangi si kakek berjubah kuning serta si naga sakti pembalik sungai. Maka setelah berpura-pura ragu-ragu seje-nak. . "Aaah. Toh berapa waktu belakangan ini kau tidak usah terbaru buru pergi ke bibi Wan mu. dari dunia persilatan itu sudah dikirim ke rumah bibi Wan atas perintah ayah. seru-nya dengan cepat." Oh Tin san mengiakan lirih. itu berajrti disimpannyag kotak kecil dib rumah bibi Wannya sudah bukan menjadi rahasia lagi baginya. .. "Empek tua. "Anak bodoh." Belum habis perkataan itu diutarakan. "Walaupun begitu.. aku pikir mereka tak bakal tahu. tapi di luar dia berlagak kaget bercampur tercengang.. setelah itu kata-nya. Lan See giok tertawa dingin di dalam hati. bantah Lan See giok. "Aku sama sekali tidak melukai Thi Gou". . tiba-tiba dari luar jendela bergema suara tertawa dingin yang rendah dan menggidik-kan hati." Padahal Lan See giok sudah tahu kalau Oh Tin san kuatir kakek berjubah kuning itu mengetahui dirinya berada dalam benteng Wi-lim-poo maka sengaja tidak memperke-nankan pergi. kau harus mengerti.. "Kotak kecil yang empek katakan sebagai mestika. ia meng-go-yangkan tangannya mencegah pemuda itu melanjutkan kata katanya. dengan kening berkerut dia menghembuskan napas panjang." kata Oh Tin san kemudian sambil meraba jidat Lan See giok.... kau pernah melukai Thi Gou murid dari si kakek berjubah kuning itu . " Oh Tin san tidak membiarkan Lan See -giok menyelesaikan perkataannya. ia baru sengaja menjawab.. . wajah yang semula menjadi tegangpun segera menjadi tenang kembali." Berkilat sepasang mata Oh Tin san.175 Lan See giok tidak membantah. . "aku hanya menotok jalan darah Hek-ki-hiat nya . dengan wajah berubah hebat ia berseru kaget: "Kenapa? " Sekarang Lan See giok sudah memastikan bahwa 0h Tin san adalah orang yang menghajarnya sampai tak sadarkan diri tempob hari. "Kenapa empek?"" "Anak bodoh." Mendengar ucapan mana.

agaknya Oh Tin san pun tak boleh di anggap enteng. Oh Tin san sendiri sudah melompat ba-ngun sambil membentak nyaring. sinar rem-bulan memancarkan cahayanya ke empat penjuru.176 Lan See giok merasakan hatinya bergetar keras. mata sesatnya berkilat kilat. Dengan kening berkerut Lan See giok ber-pikir dihati. Udara amat bersih waktu itu. kemudian dengan jurus burung walet menembusi tirai dia melompat ke luar dari ruangan tersebut me-lalui jendela. suara tertawa dingin itu seperti guntur yang membelah bumi disiang hari bolong.. dalam waktu sedemikian singkat ia sudah pergi hingga tak ber-bekas. cepat amat gerakan tubuh orang ini. ia berseru tertahan sementara peluh dingin jatuh bercucuran. Maka dengan mengikuti di belakang tubuh Say nyoo-hui berdua. "Ayo cepat naik ke atap rumah bdan laku-kan pejncarian!" Di tgengah bentakan. tapi suasana di sekeliling tempat itu amat hening dan tak kelihatan sesosok ba-yangan manusia pun. sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke jendela bagian belakang. mereka meluncur ke arah mana Oh Tin San berada. kemudian tanpa berhenti mereka melambung ke tengah udara . merekapun tetap mem-bung-kam dalam seribu bahasa. dengan suatu gerakan secepat sambaran ki-lat Oh Tin san melompat ke luar dari jendela. wa-jahnya nampak jelas sedang gemetar keras.. Lan See giok memutar badannya ditengah udara dan segera menyusul pula di belakang. Lan See giok segera memusatkan perhatian nya dengan menyilangkan telapak tangan kanannya di depan dada." BAB 9 MENDADAK dari arah belakang ter-dengar seseorang membentak dengan suara rendah."Blaammm!" Ditengah benturan yang sangat nyaring. debu dan pasir beterbangan ke mana-mana. lebih kurang belasan kaki di depan wuwu-ngan rumah sana ia saksikan Oh Tin San dengan sorot mata yang tajam sedang celingukan kian ke mari. Tiba di situ. "Waah.b Say nyoo-hui serta Oh Li cu telah melompat ke luar dari jendela. hanya sorot mata-nya yang gugup bercampur gelisah celingu-kan ke sana kemari tiada hentinya Paras muka Oh Tin san pucat pias. . bibirnya terkatup ra-pat dan tiada hentinya menggigit bibir.

amarahnya semakin berkobar lagi. wajah mereka berubah dan ham-pir semuanya mandi keringat dingin mengu-atirkan keselamatan Lan See giok. Sebagaimana diketahui. . Oh Tin san dan Say nyoo-hui sendiripun harus mengalah tiga bagian kepadanya. "Lebih baik kalian semua kembali untuk beristirahat!" Say nyoo-hui segera memberi tanda ke-pada Oh Li cu agar mengajak Lan See giok berlalu dari sana. sejak kecil Oh Li cu sudah terbiasa dimanja. Begitu masuk ke dalam pintu. Ketika mereka berdua tiba kembali di ru-ang sebelah timur. watak-nya jelek dan amat berangasan. tapi bila teringat ba-gaimana rahasia tentang kotak kecil itu ber-hasil dicuri dengar orang lain. boleh dibilang belum pernah dia dihadapi dengan cara seperti ini Jangan lagi orang lain. Lan See giok membungkam pula. ia merasa tidak lelu-asa untuk bertanya banyak. Dengan kening berkerut dan tertawa dingin tiada hentinya ia berseru dengan suara dalam: "Berapa banyak lagi yang hendak kau ka-takan?" Walaupun Lan See giok telah melihat kalau Oh Li cu sedang marah. Kendatipun demikian. siapa yang berani masuk kemari ibarat masuk ke dalam neraka. agaknya Oh Tin san sudah mengetahui siapakah orang yang telah mencuri dengar dan tertawa dingin itu. melihat kemasgulan Oh Tin san. Lan See giok segera marah-marah: "Kalian menggambarkan benteng Wi-lim-poo kokoh bagaikan berdinding baja. .177 Siapa saja dapat melihat kalau Oh Tin san sedang diliputi gejolak emosi. tapi kenyataannya sekarang orang lain bisa masuk dengan sekehendak hati sendiri. Berapa saat kemudian. sekawanan pelayan se-dang membersihkan debu dan hancuran kaca yang berserakan di seputar sana. dengan alis mata berkernyit ia menggembor semakin keras. terpaksa bersa-ma Oh Li cu mereka kembali ke dalam ru-angan. malah menyadap pembicaraan kita. bisa dibayangkan bagai-mana . amarahnya segerra meledak se-tezlah mendengar pwerkataan terserbut. "Tentu saja aku harus berbicara!" Kawanan dayang yang sedang membersih-kan lantai di sana menjadi ketakutan sete-ngah mati. dibalik kemas-gulannya terselip pula perasaan ngeri dan seram. dengan kening berkerut Oh Tin san baru berbisik lirih."" Waktu itu 0h Li cu sendiripun sedang di li-puti perasaan terkejut bercampur men-dong-kol.

sekarang setelah nasi menjadi bubur.178 perasaannya setelah dibentak. sedikit-dikit lantas turun tangan membunuh orang. ia amat menyesal dengan perbuatannya tadi. aki-batnya ia semakin menarik wajahnya. ia sadar keadaan bakal celaka. Lan See giok menyesal sekali dengan kece-robohan sendiri. Saking mendongkolnya. Dalam sekejap mata inilah ia benar-benar ditaklukkan oleh kegagahan serta kejantanan lawan. Lan See giok segera sadar kalau perbu-atannya tidak menguntungkan posisi nya. Begitu melihat Oh L! cu sudah me-nangis. kemudian satu demi satu secara diam-diam mengundurkan diri sana . mereka pun tidak percaya kalau si nona mereka yang di hari-hari biasa begitu tinggi hati. sekarang bersikap begitu lemah dan mengenaskan. bahkan sempat menangis ter-sedu sedu. seperti anak kecil yang diberi gula-gula. tapi setelah ter-lanjur berbicara. ia kuatir garagara urusan kecil itu berakibat semua masalah besar menjadi terbengkalai. karena ia tak tahu apa lagi yang mesti dikatakan olehnya sekarang.bentak secara kasar oleh Lan See giok sekarang. Oh Li cu membelalakkan sepasang mata-nya yang jeli dan mengawasi Lan See giok dengan termangu. Semua pelayan berdiri melongo. Kawanan pelayan yang menyaksikan ke-jadian tersebut sama-sama berubah wajah-nya. sekujur badan gadis tersebut sampai gemetar keras. Panggilan ini mengha-ngatkan kembali hatinya. agaknya ia tak mengira kalau wajah tampan yang begitu memukau dari pujaan hatinya itu kini berubah men-jadi dingin dan hijau membesi. ia baru merasa bingung dan tak tahu apa yang mesti diperbuat. ia me-nubruk ke dalam pelukan anak muda itu kemudian menangis semakin menjadi. ia men-jadi sedih sekali tak terbendung air matanya segera jatuh ber-cucuran. buru-buru dia mendekati nona tadi dan berbisik dengan wajah penuh rasa sesal. tak usah menangis . ia menjadi tak tega. keangkuhan serta api amarahnya tiba-tiba memudar. " Hanya kata-kata tersebut yang sempat dia ucapkan. Oh Li cu jarang sekali mendengar Lan See giok menyebutnya "cici" atau bahkan belum pernah sama sekali. . diapun enggan tunduk kepada orang lain dengan begitu saja. "Enci Cu. perbuatan yang sama sekali tanpa perhitu-ngan. Lan See-giok kelabakan setengah mati.

baiklah. sudahlah" buru-buru Lan See-giok berseru. orang itu bisa memanjati tembok ben-teng dan masuk ke ruang dalam. kalau tidak. Dengan kening berkerut Lan See giok ber-jalan bolak balik lagi di dalam ruangan. benteng Wi-lim-poo dikelilingi air. mana mungkin. dia hanya bisa mengerdipkan sepasang matanya de-ngan mulut membungkam. de-ngan suara yang lemah ia berkata: "Orang toh tidak melarang kau berbicara. ujarnya murung. maka setelah memandang sekejap jendela belakang yang hancur. "mereka sudah pergi semua. "Menurut penilaianku sendiri setelah me-nyaksi kan kekuatan kapal perang yang di miliki benteng ini. tapi kenyataannya orang tersebut dapat bersembunyi di luar jendela tanpa di ketahui jejaknya. sementara sapu tangannya berulang kali digunakan untuk menyeka air mata. aku sudah tahu" tukas Lan See giok tidak sabar. bukan pekerjaan yang gampang bagi orang luar untuk memasuki Wi-lim-poo ini. setiap sepuluh langkah boleh dibilang terdapat satu pos pen-jagaan. kurang disiplin dan ke-lewat ceroboh.. "aku cuma ingin berta-nya." "Baik." Dengan wajah masih basah oleh air mata 0h Li cu melirik sekejap ke arah ruangan. Lan See giok yang semula merasa gusar kini menjadi murung bercampur gelisah. untuk berapa saat dia tak tahu apa yang mesti dibicarakan.179 Oh Li cu menyandarkan diri di atas bahu Lan See-giok sambil menangis tersedu. ka-tanya lebih jauh: "Kecuali kepandaian ilmu meringankan tubuh yang dimiliki oleh orang ini sudah mencapai tingkatan yang sempurna. apa salahnya kalau berbicara setelah menunggu mereka pergi semua?" "Sudah. dari sini dapat diketahui kalau penjagaan dalam benteng sangat mengendor. "Sekarang kau harus berbicara dulu!" Sambil berkata. sekarang kita boleh berbicara. dengan wajah tbak senang hati jia mendorong tugbuh Lan See giobk ke-mudian duduk sendiri di bangku. bisa jadi dia sudah hapal sekali dengan keadaan di dalam ruangan benteng ini." Dengan suara tak puas Oh Li cu segera membantah: "Aaah.. betul juga semua pelayan yang berada dalam ruangan telah mengundurkan diri. untuk hal mana berapa lebarkah jalan air yang mesti ditempuh? Beberapa banyak pos pen-jagaan yang harus dilalui? dalam hal ini pernahkah kau bayangkan?" Oh Li cu yang dihadapkan dengan per-ta-nyaan tersebut menjadi tertegun. mustahil dia dapat melewati tempat-tempat yang berpenjagaan ketat semudah itu. maka ka-tanya kemudian dengan sedih." .

r ia berbisik lagi: .. akhirnya ia berkata. "Kau maksudkan Be . " "Ssst!" cepat-cepat Oh Li cu menempelkan ujung jarinya ke atas bibir memberi tanda agar tutup mulut. " " Paras muka Lan See giok segera berubah menjadi terkejut bercampur keheranan. Lanb See giok segerja teringat kembgali akan Be Siobng pak serta Thio-Wi-kang. "Be congkoan. agaknya ia sedang mempertimbangkan kembali pelbagai kemungkinan dari dugaannya tersebut." "Kau mencurigai si setan ikan leihi?" Lan see giok segera memotong. dia segera berbisik: "Adik Giok. tanpa terasa ia ber-tanya: "Apa kau bilang? Gedung belakang ini tak berpenghuni?" Kembali nampak keraguan di wajah Oh Li cu. .. . Dengan cepat Lan See giok menjadi paham.sebab itu dia hanya manggut-manggut. tiga setan dari benteng. jangan kata berani memasuki ruang dalam. Oh Li cu kembali termenung. tanyanya kemudian dengan nada tidak mengerti: "Di hari biasa siapa saja yang sering ke-mari. aku rasa bisa jadi orang terse-but adalah anggota benteng sendiri?" Mendengar ucapan tersebut. setelah rmengerling sekezjap ke ruang sewbelah belakang. "Aku rasa kecuali beberapa orang saja yang sering datang ke gedung bagian belakang ini. Thio-Wi-kang. . dia toh tak berani menuduh siapapun secara gegabah. "Oh Li cu segera mendengus menghina. katanya dengan bangga: "Nyali anjingnya sudah pecah sedari tadi. Meskipun demikian. "Bagaimana kau bisa berkata begitu?" ta-nyanya kemudian. jarang ada yang tahu kalau gedung ini ko-song---" Tergerak hati Lan See giok setelah men-dengar perkataan itu. mendengar kata "nona" saja tubuhnya sudah gemetaran keras . mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Li cu. karenanya sambil memperendah suaranya dia menya-hut. hanya saja ia tak berani sembarangan berbicara. bi-siknya kemudian. tak heran kalau tiada orang yang menegur di sekitar sana sewaktu ada orang menyusup ke tempat tersebut.180 Baru selesai dia berkata. dan siapa pula yang mengetahui raha-sia dari gedung belakang ini?" Agaknya Oh Li cu masih tetap menaruh keraguan terhadap dugaan itu. dia merasa rahasia ini kelewat awal un-tuk diberitahukan kepada Lan See giok sekarang.

suasana di sana sangat hening dan tak kedengaran sedikit suarapun." serunya kemudian de-ngan nada tidak mengerti." Tergerak hati Lan See giok sesudah mendengar perkataan itu. tentu saja diapun merasa kurang leluasa untuk mengajukan pertanyaan. mereka berdiam di gedung tunggal di seberang sana. tidak ada orang ke tiga yang berani memasuki daerah sekitar tempat ini. ia pun berbisik: "Apakah mereka tidak berdiam di tempat ini? Oh Li cu segera menggelengkan kepalanya berulang kali: "Tidak. bagaimana-pun juga ia toh menguatirkan juga ke sela-matan dari perempuan tersebut. pikirnya di dalam hati. buru-buru dia masuk ke bilik pintu bulat. "Kau harus bersikap lebih berhati hati. tanya Lan See giok lagi tidak habis mengerti. maka sambil memandang bangunan di seberang sana. di bawah ca-haya rembulan. . "Aneh. aku bisa menghadapi mereka dengan sebaik baiknya----" Seusai berkata. "Entahlah. "Biar aku menengok ke sana!" Lan See giok kembali merasakan hatinya tegang. . ia melihat jelas tiada penjaga di sekitar sana." Tanpa terasa Lan See-giok mendongakkan kepalanya memandang ke gedung seberang. "Memang di sekitar gedung ini dan gedung di seberang sana tidak disertai dengan penja-gaan. setelah itu baru ujarnya. "ayah yang suruh demikian!" Lan See-giok tahu bahwa Oh Li cu enggan berbicara.181 "Aku rasa kecuali mereka berdua. . lalu bisiknya. paling baik kalau membawa serta Siau ci dan Siau lian berdua" Oh Li cu manggut-manggut. karena tindakan yang diambil olehnya jelas merupakan suatu tindakan yang menyerempet bahaya. dengan cepat ia berbisik. "Sungguh aneh. masa benar-benar ada orang yang berani menyadap pembicaraan kami dari luar jendela" Tiba-tiba Oh Li cu bangkit berdiri. sekalipun Lan See giok ti-dak begitu menyukai Oh Li cu." Oh Li cu menggelengkan kepalanya berulang kali. "mengapa tidak kujumpai penjagaan di sekitar wilayah ini?" Oh Li cu kembali berkerut kening sambil menunjukkan keraguan." "Mengapa?". "Aku tahu.

Berapa waktu kemudian. . pikirnya: "Wah. diapun sengaja memadamkan semua lentera yang berada dalam ruangan tersebut. Suara dayung membelah air kedengaran berkumandang ditengah keheningan itu. sebilah pedang tersoren di punggungnya. jangan-jangan orang yang menyadap pembicaraan tadi benar-benar adalah Be Siong pak serta Thio-Wi-kang?" Ia tak berhasil menebak dengan pasti me-ngapa Be Siong pak dan ThioWi-kang me-nyadap pembicaraan pribadi pocu nya. akan tetagpi suasana di sbeberang sana masih tetap hening . Lan See giok semakin gelisah. Lan See giok segera menggapai ke arahnya. Kurang lebih seperminuman teh blamanya sudah ljewat. ia butuh sekali bantuan dari Oh Li cu. jelas kepergian Oh Li cu kali ini mengandung resiko yang amat berat. selama ia berada di sana ber-arti lebih menguntungkan bagi usahanya untuk melarikan diri. Cepat-cepat Lan See giok menuju ke jendela belakang dan melongok ke luar. sementara ia masih sangsi Oh Li cu serta Siau lian sudah naik ke daratan sebe-rang dan menuju ke jalan tembus. sementara Siau ci tetap menanti di atas sampan. Oh Li cu berdiri tegak di ujung sampan. Lan See giok berdiri di depan jendela de-ngan perasaan yang sangat kalut. Entah mengapa. tiba-tiba ia saksikan Oh Li cu berpaling ke arahnya. Dengan penuh kegelisahan dia berjalan mondar mandi dalam ruangan agar pihak lawan tak sampai mengawasi gerak gerik-nya secara jelas. Dia ingin memanggil pulang Oh Li cu.182 Terutama sekali selama dia berada dalam benteng Wi-lim-poo. dalam sekejap itulah ia seolah-olah men-da-patkan suatu firasat jelek. se-buah sampan kecil sedang meluncur ke luar dari tempat tersebut. Sampan itu sudah hampir tiba di seberang sana. sorot matanya berkilat seperti bintang timur. ja-ngan-jangan Oh Tin san telah membongkar pula rahasia sekitar kotak kecil tersebut di hadapan mereka berdua? . . sementara hatinya berdebar makin keras. sorot ma-tanya yang tajam mengawasi perkembangan situasi tanpa berkedip. belum juga nampak Oh Li cu menampakkan diri . tapi kuatir hal tersebut malah berakibat merugi-kan. se-dang Siau ci dan Siau lian membawa dayung duduk di belakang. andaikata orang yang menyadap pembicaraan mereka tadi benar-benar adalah Be Siong pak serta Thio-Wi-kang. . Lan See giok merasakan hatinya berdebar keras.

Setibanya di depan pintu. Tergerak hati Lan See giok. tapi yang pasti hal ini tentu ada sangkut pautnya dengan si penyadap pembi-caraan mereka tadi. salah seorang diantara-nya sedang menggeng-gam lonceng kecil itu. Sekali lagi Lan See giok berpikir dihati: "Dalam suasana begini.183 Tentang rahasia mestika tersebut. tiba-tiba terdengar suara keleningan kecil ber-kuman-dang dari kejauhan sana. Suara keleningan tersebut mirip sekali dengan suara keleningan yang berkuman-dang dari perahu naga emas milik Oh Tin san. agaknya genta tersebut cepat-cepat dipegang orang hingga tak sampai bersuara. kecuali terhadap Say nyoo-hui...b sepasang golokj burung hongnyag tersoren di-pubnggungnya tergantung sebuah kantung kulit. . Oh Tin san boleh di-bilang tak pernah membicarakannya kepada Oh Li cu. semua cahaya lentera di atas perahu telah padam. ia tidak mengerti mengapa Oh Tin san suami istri pergi dengan langkah tergesa gesa. benar juga ia lihat perahu naga emas telah berlabuh di depan pintu gedung persegi.abunya. Oh Tin san masih tetap mengenakan jubah abu . Beberapa orang lelaki kekar yang sudah siap dengan cepat mendayung perahu itu berlalu dari sana. Setibanya di perahu. beberapa orang lelaki berpakaian ringkas berdiri di buritan. jadi seharusnya mustahil kalau dia membocorkan pula kepada kedua orang itu. dengan cepat dia melompat ke luar pula dari dalam ru-angan. sedangkan Say nyoo-hui telah berganti dengan sebuah pakaian ringkas. ke dua orang itu segera menjejakkan kakinya ke atas tanah dan melompat naik ke atas perahu naga emas. Oh Tin San cepat-ce-pat mengulapkan tangannya setelah itu ber-sama sama Say nyoo-hui masuk ke ruang perahu. Tiba-tiba Siau ci yang berada di sampan seberang berpaling ke arah pintu air. Tapi suara tersebut hanya bergema sing-kat. masa Oh Tin san akan ke luar benteng? Ke mana dia hendak pergi?" Belum habis ingatan tersebut melintas le-wat. Lan See giok yang menyaksikan semua peristiwa tersebut menjadi bingung ber-cam-pur gelisah. Oh Tin san dan Say nyoo-hui sudah nampak muncul dari balik gedung dengan langkah tergesa gesa. Sementara dia masih termenung. Tiba di pintu halaman. dalam waktu singkat perahu naga emas itu sudah melaju pergi.

tanyanya lagi dengan gelisah: "Apa yang sedang mereka bicarakan?" Setelah lentera disulut. sahutnya merdu: "Mereka semua mengatakan kau tampan dan gagah.184 Dalam keadaan yang begini. Mereka berdua masuk ke ruang dalam. tapi dengan nada tak mengerti ia toh bertanya juga ke-pada Lan See giok: "Agaknya ayahku sekalian barusan pergi?" Dengan cepat Lan See giok berkerut ke-ning. pipinya semu merah. sebagai pertanda masuk dulu kemudian baru berbicara. lalu sambil menarik Oh Li cu naik ke atas darat ia berbisik lirih: "Bagaimana? Apakah mereka berada di situ`" Dengan wajah riang Oh Li cu menunjuk ke arah pintu halaman." Alangkah kecewanya Lan See giok se-telah mendengar perkataan ini. senyum manis menghiasi ujung bibirnya. Cepat-cepat Lan See giok menenangkan hatinya kemudian maju menyongsong. tapi untuk berhasil melepaskan diri dari sana. maka sekarang dia bertekad akan berusaha me-larikan diri dari situ. Nada suaranyapurn kedengaran peznuh de-ngan kegwembiraan. sudah pasti dia akan banyak rejeki di kemudian hari. maka diapun manggut-manggut sambil mengiakan belaka. ini yang membuat nya tidak mengerti. ia mulai me-nguatirkan keselamatan dari bibi Wan serta enci Ciannya. kalau tadi berniat meninggal-kan benteng Wi-limpoo. Lan Sree giok merasa kan hatinya bergetar keras. "Apa lagi yang mereka bicarakan tentang diriku?" Paras muka Oh Li cu berubah semakin merah membara. Oh Li cu tertawa genit." . sambil memasang lampu lentera Lan See -giok segera bertanya: "Bagaimana dengan mereka?" "Mereka sedang membicarakan tentang diri mu!" ucap Oh Li cu dengan wajah berseri. Oh Li cu yang berdiri di geladak se-dang mengawasi perahu naga emas yang berlalu tanpa berkedip.. di kemudian hari pasti akan menjadi seorang pemimpin yang disegani setiap orang. sampan kecil 0h Li cu telah didayung kembali. ia pun dapat me-li-hat Oh Li cu berdiri sambil memandang arahnya dengan pandangan cinta. Ia pura-pura ber-tanya lagi dengan wajah gembira. Belum habis ingatan tersebut melintas le-wat.. lama kemudian ia baru berkata tersipu sipu: "Mereka masih memuji ketajaman mata ayahku yang bisa mendapatkan seorang menantu gagah seperti kau. karena ia mengendus bau arak dari mulut Oh Li cu.

jelas hal tersebut akan sangat mempengaruhi usahaku untuk melarikan diri. pergilah tidur lebih du-luan. terpengaruh pula oleh beberapa cawan arak. "Sewaktu kesana. "Adik Giok terlalu sungkan. "Cici tidak mabuk. segera pikirnya." . aku ingin lihat bagaimana para nona-nona nelayan yang ber-muka beng-kak. cepat-cepat dia membantah." "Kalau begitu cici sudah mabuk. . tidak tahan lagi dia tertawa cekikikan . berwajah kurus memandang kagum kepadamu. entah berapa banyak manusia lain yang akan merasa kagum" Tergerak hati Lan See giok setelah men-dengar ucapan tersebut. mereka berdua lagi mi-num arak demi merayakan cici yang berhasil mendapatkan kekasih tampan seperti kau. masing-masing telah menghormati tiga cawan arak kepadaku. "Aaah. "Adik adalah pemuda gagah dan enci adalah gadis cantik. Be congkoan dan Thio-Wi-kang. ." Waktu itu Oh Li cu sedang merasa gembira sekali. dengan penuh perhatian dia pun bertanya: "Cici. aku harus menitahkan Siau lian untuk memberitahukan kepada komandan pasukan harimau terbang agar menyiapkan sebuah kapal perang dan kuda untuk kita berdua. wah--. " seru Lan See giok gugup "cepatlah pergi tidur. dengan gembira ia segera berseru: "Sungguh? Enci Cu. besok kita hendak berpesiar." Terkejut Lan See giok mendengar ucapan ini. sesungguhnya enci lah yang merasa tidak sesuai untukmu. diapun berkata pula demikian". Paras muka Oh Li cu berubah semakin merah. . besok kita pergi bersama!" Ketika Lan See giok menyaksikan paras muka Oh Li cu makin lama semakin ber-tam-bah merah. kau telah minum arak?" Oh Li cu tertawa.rencana ini mesti kucegah. cuma Be congkoan toh sempat memuji kita berdua sebagai sepasang sejoli yang amat serasi. . Dengan cepat 0h Li cu menggelengkan kepalanya berulang kali. tanpa berpikir panjang ia menyahut: "Baik. mungkin aku yang tidak sesuai untuk enci?" Sengaja Lan see giok me-rendah. bila kita berdua berjalan bersama. "Kalau aku mesti berpesiar dalam keadaan seperti ini. kemudian katanya.185 Berbicara sampai di situ. mari kita bermain ke telaga Oh peng. ditatapnya anak muda tersebut dengan pandangan penuh cinta kasih. ditambah pula rasa ingin menang-nya.

.. "Tapi aku tak pandai menunggang kuda. ia baru terlelap tidur--Entah berapa saat sudah lewat. Lan See giok segera melompat bangun.. dengan nada meyakinkan Oh Licu berkata lebih jauh: "Besok kita harus menunggang kuda. ke-mudian bisiknya kepada pelayan itu: "Tolong ambilkan pakaian milikku sendiri!" Baru selesai ia berkata. sinar fajar telah mencorong masuk lewat jendela. ia telah persiapkan beberapa macam jawaban. matanya terasa tak mau terpejam.?" Tidak sampai Lan See giok berbicara lagi." "Besok cici akan mengajar kepadamu. dari kamar sebe-rang sudah kedengaran suara Oh Li cu lagi menegur: . Diam-diam Lan See giok mengeluh. Dengan seksama dan berhati hati sekali dia mulai merancang rencananya untuk melari-kan diri. dalam keadaan begini ia tahu keadaan tak tertolong lagi. tanggung sekali belajar segera akan bisa" Selesai berkata. besok kita akan berangkat pagi-pagi!" Tiba-tiba satu ingatan melintasi kembali dalam benak Lan See giok. hatinya amat gelisah. ta-hukah betapa gagahnya kita berkuda!" Dia mengerling sekejap ke arahb si nona denganj pandangan penugh cinta kasih dban masuk ke dalam kamarnya dan berpesan lagi dengan mesra. akhirnya suara langkah kaki manusia menyadarkan Lan See giok dari tidurnya. Berbaring di atas ranjang. bagaimanapun ia berusaha tidur. Sekarang ia dapat memastikan kalau orang yang mencuri dengar rahasia kotak kecilnya adalah orang lain namun hal tersebut sema-kin memperbesar tekadnya untuk melarikan diri. sambil berlagak resah ia berkata. . terpaksa dia harus bekerja menurut situasi besok. "Cepatlah tidur. dia lantas beranjak pergi dari situ. cepat-cepat dia berseru "Urusan pribadi kita berdua mengapa ha-rus merepotkan orang lain . Ketika membuka mata.186 Berpikir demikian. seorang dayang kecil telah muncul sambil membawa keperluan membersihkan mulut dan muka. apa yang harus diperbuat untuk menghindari pe-ngejaran dari Oh Li cu serta bagaimana selanjutnya menyusup ke rumah kediaman bibi Wan nya Sampai dia beranggapan bahwa rencana nya betul-betul matang dan sempurna. Mempersiapkan bagaimana caranya menciptakan kesempatan.

"Aaah enci Cu. jauh berbeda dengan dan-danannya semalam. kali ini dia nampak ang-gun. ternyata potongan pakaian itu persis sekali dengan bentuk badannya. . Tak lama kemudian. ia muncul kembali dengan wajah berseri. berarti rencananya untuk melarikan diri sudah berhasil separuh.. Lan See giok menyambut jubah panjang itu dan mengenakannya. Sambil membawa sebuah jubah panjang. tahun berselang baru selesai dibuat. Lan See giok tak berani bersikeras meminta kembali pakaian lama-nya. Memandang dandanan perempuan ini. ambillah dan cepat kenakan!"" Sambil berkata dia melemparkan jubah panjang tersebut ke arah Lan See giok. ia tertawa semakin bangga "Nah.. kalau kau berjalan jalan di tepi telaga dalam dandanan seperti ini. sebab sudah jelas tak mungkin akan mem-bawa senjata tajam atau senjata rahasia itu. pakaian ini kelewat kedo-doran" "Aku masih mempunyai satu stel baju kongcu berwarna biru." Oh Li cu merasa girang sekali dengan um-pakan tersebut. tirai kelambu tersing-kap dan Lan See giok merasakan pandangan matanya menjadi silau. " Apakah kau merasa pakaian itbu kurang serasij dibadan?" tanyga Oh Li cu lagib dengan nada tidak mengerti. kalau tidak bisa dikatakan cocok sekali. Karenanya dengan nada gembira dia berse-ru. ia yakin hanya diri-nya yang pantas mendampingi seorang pe-muda ganteng macam dirinya. dia se-dang mengkhayalkan bagaimana para gadis dusun mengagumi kecanrtikan dan keangz-gunannya.. Oh Li cu tertawa puas setelah melihat adik Giok nya nampak lebih tampan setelah me-ngenakan jubah biru itu. diam-diam Lan See giok turut merasa gembi-ra. biar kucarikan untukmu!" Untuk menghindari kecurigaan perempuan tersebut. Oh Li cu muncul dengan dandanan yang sangat mentereng. kau telah bangun?" "Benar cici!" sahut Lan See giok dengan perasaan terkejut. cantik dan menawan hati. Ketika sarapan mereka berdua sama-sama membungkam dengan pikiran masing-masing Oh Li cu bersantap dengan lahap. terpaksa dia hanya mengiakan. "Betul enci Cu. ja-ngan-jangan nona dusun akan mengira dewi sianggo turun dari rembulan .187 "Adik giok.

apalagi tinggi geladak yang delapan depa lebih tinggi." Ke luar dari pintu gerbang. pintu gerbang telah berada di depan mata. bentakan nyaring menggelegar dan pintu gerbang segera dipentangkan lebarlebar. ketika memandang wajah Lan See giok. Setelah melewati benteng air yang tinggi dan menembusi dua buah saluran air.188 Sebwaliknya Lan Seer giok tak sanggup me-nelan nasi yang disuapnya. Lan See-giok malu sendiri. ada yang mem-bawa busur. ratarata segera berpikir di dalam hati: "Waah. panji berkibar terhembus angin dua puluhan lelaki kekar berbaju kuning dengan tombak dan tameng di tangan berdiri serius di atas gela-dak. nona berubah seratus delapan pu-luh derajat. Tatkala sampan kecil itu lewat. dengan wajah berseri dia mengulapkan tangannya ke arah kawanan pasukan yang berada di kiri kanannya Ketika menyaksikan wajah menghormat dan sorot mata kagum yang terpancar dari wajah orang-orang itu. dia yakin orang-orang itu tak ada yang tahu kalau sekarang ia sedang berusa-ha untuk melarikan diri. Sedangkan mereka yang melihat sikap alim dan lembut dari Oh Li cu. dan melaju menembusi aliran su-ngai dengan Siau ci serta Siau lian yang me-megang dayung. . rata-rata mereka tunjuk-kan sikap menghormat. setelah mendekat. Sampan itu didayung langsung menuju ke kapal perang pertama. rupanya di kiri pasukan harimau dan pasukan naga. Begitu sampan yang ditumpangi Lan See -giok sekalian muncul. pikirannya sa-ngat resah bila memikirkan rencana pe-lariannya nanti--Selesai bersantap. Lan See giok segera berlagak sangat gem-bira. padahal tinggi perahu mencapai dua kaki lebih. pemuda itu baru tahu kalau di situ tidak di sediakan tangga untuk naik. terompet dibunyikan dan serentak semua lelaki-lelaki kekar itu menengok ke arah mereka. ada yang menyandang golok. Setiap kapal perang berlabuh rapi. Lan See giok merasakan matanya silau. sewaktu melihat sampan yang ditum-pangi Lan See giok dan Oh Li cu lewat. mereka berdua naik ke sampan. Di kedua belah sisi pintu gerbang berdiri puluhan orang lelaki berbaju kuning. puluhan orang lelaki kekar itu serentak memberi hor-mat dengan wajah serius. Komandan pasukan harimau serta koman-dan pasukan naga telah menantikan keda-tangan mereka di perahu pertama.

Karena tidak disediakan tangga. lalu badannya yang terlempar he luar perahu tadi berputar ke sebelah kiri. Maka sambil tertawa hambar dia melompat ke atas. silahkan kau naik dulu!" Oh Li cu tersenyum dan manggut-manggut. maka sambil berpaling ke arah Oh Li cu yang berada di belakangnya. dia tahu Oh Li cu sengaja hendak memamer-kan kehebatannya dihadapannya. Menyaksikan demonstrasi ini. demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang baru saja akan dipertunjukkan sau pocu adalah ilmu meri-ngankan tubuh yang . sementara tubuh bagian atasnya tahu-tahu terpelanting ke luar kapal. setelah itu dengan tubuh lurus seperti pena ia berdiri di ujung perahu dengan mantap. Lan See giok segera berkerut kening. Lan See giok mengibaskan ujung baju kanannya. ke dua orang komandan kapal perang itu jadi melongo dan termangu beberapa saat. lalu ditengah udara dia menggunakan jurus bu-rung Hong masuk sarang untuk melayang ke atas perahu. Disaat ujung kaki Lan See giok hampir me-nempel di sisi perahu itulah. Lan See -giok tahu kalau dia diharuskan melompat naik dengan mengandalkan ilmu meringan-kan tubuh. Jeritan kaget kontan saja berkumandang dari sana sini. sementara suasana di sekitar situpun dicekam dalam keh-eningan. ia ber-kata seraya tertawa.ratus lelaki kekar itu sama . "Memalukan. si-lahkan sau pocu dan nona naik ke atas perahu". beratus . hal ini membuat orang mengira dia tak bertenaga penuh. Tempik sorak bergema gegap gempita. sungguh memalukan!" akhir-nya Lan See giok memecahkan keheningan tersebut. se-mua anggota pasukan yang berada d di se-kitar sana berteriak memuji untuk menyam-but keindahan gerak tubuh nona mereka. sedang kan Siau ci dan Siau lian yang berada di sampan kecil malah sempat men-jerit leng-king: Mendadak. tubuhnya nam-pak gontai dan bergetar keras. serunya kemudian dengan suara lantang: "Saudara sekalian. "Nona. tingginya tidak seberapa dimana sepasang kakinya persis menginjak di tepi perahu.189 Kedengaran dua orang komandan pasukan itu berseru dari atas geladak dengan hormat: "Perahu dan kuda sudah dipersiapkan. ia melejit ke udara setinggi tiga kaki.sama tertegun karena kaget. . Komandan pasukan harimau dengan cepat berhasil menguasai diri.

sewaktu datang ia sama sekali tidak tahu arah mata angin. matahari telah muncul di ufuk timur. terutama sekali dengan si kakek berjubah kuning maka ia beranggapan setelah turun dari perahu nanti.190 disedut "Angin menggo-yangkan pohon liu. ia seperti tidak berniat untuk menyaksikan keadaan di luar perahu dan nampaknya hal ini justru amat cocok dengan keinginan Oh Li cu. Sebagaimana diketahui. "Kalau kudanya saja . Lin See giok merasa hatinya semakin tegang. ia harus berusaha secepatnya meninggalkan tempat itu. meski Lan See-giok dibebani pelbagai masalah. ia seringkali mengajak pe-muda itu membicarakan soa1 pemandangan alam. Menyaksikan kuda yang kurus dan lemah apalagi nampak begitu jinak tersebut. la juga takut kalau sampai bertemu dengan si naga sakti pembalik sungai. lebih kurang tujuh delapan li di depan sana ke-li-hatan sebuah garis hijau. kemudian setelah menyampaikan rasa terima. . tentu saja saat inipun ia tak tahu dimana-kah letak benteng Wilim-poo. gadis itu kelihatan sangat gembira. kasih kepada ke dua orang komandan pasukan. Sekarang Lan See giok baru tahu bahwa perahu mereka diarahkan ke barat daya. tempik sorak yang gegap gempita baru berkumandang memecahkan keheningan. agaknya disitulah kampung nelayan itu berada. Akhirnya perahupun merapat dengan pantai. ketika memandang jauh ke muka. ber-sama Oh Li cu yang dihiasi senyum di kulum mereka bersama sama masuk ke ru-ang kapal. sepanjang jalan hanya suara ombak yang memecah kesepian memainkan suasa-na. kon-tan saja Lan See giok berkerut kening. Semakin mendekati daratan. Tak lama kemudian.. dua orang lelaki kekar segera menu-runkan papan dan menarik ke luar dua ekor kuda putih dari atas perahu. Makin lama perahu dijalankan semakin ce-pat. Lan See giok segera mengulapkan tangan nya untuk menenangkan suasana. perintah diturunkan dan perahu pun bergerak meninggalkan tem-pat tersebut. apalagi masih berapa jauh jaraknya dengan kampung ne-layan itu. toh dia harus menghadapi dengan berhati hati . Ketika kapal perang itu meninggalkan hu-tan gelugu. Lan See giok duduk di ruang dalam. cahaya keemas-emasan memancar ke permukaan telaga dan memercikkan cahaya yang menyilaukan mata." pengetahuan kalian tentu akan semakin terbuka dengan diperli-hatkannya ilmu kepandaian itu" "Sesudah ucapan tersebut diutarakan. Dalam ruang perahu. 0h Li cu dan Lan See giok duduk bersanding.

asal tubuhmu tak sampai terlempar ke udara. Lan See giok merasa sedikit gugup. luruskan pandangan ke muka!" Lan See giok mengiakan sambil meman-dang ke muka. niscaya jiwamu tak akan bahaya. Lan See giok menjadi sangat mendongkol. cepat-cepat perhatiannya dipusatkan jadi satu dan manggut. pandangannya selalu tertuju ke de-pan. merekapun menunggang kuda dan men-jalankan nya menelusuri tanggul. "Tak usah takut. kalau menunggang kuda lebih baik angkat saja kepalamu. Oh Li cu amat geli melihat sikap kaku nya. tahu begini semalam dia tak akan beralasan tak -pandai menunggang kuda. Lan See giok sudah melihat jelas pintu ruangan bibi Wan nya. Diantara pepohonan siong yang terbentang di depan situ. pegang tali les kuda erat-erat. berdiri sebuah bangunan rumah yang mungil. tapi apa yang terlihat mem-buat badannya gemetar keras. disangkanya ia se-dang ketakutan. baru pertama kali ini ia menunggang kuda. kuda mereka sedang lewat di muka pintu rumah. dengan demikian kau tak akan sampai jatuh. seolah-olah kuatir kalau tubuhnya ter-jengkang ke belakang. dengan nada tak puas dia bertanya: "Mengapa kau memilih dua ekor kuda tua?" "Sebab kau tak pandai berkuda". merekapun mendekati kedua ekor kuda tua tersebut. sambil tertawa getir ia berseru. hampir saja ia terjerembab dari atas kuda. bila perlu kempitkan kaki pada perut kuda.191 begitu kurus dan lemah. cepat serunya dengan kuatir.manggut kearah Oh Li cu dengan perasaan terima kasih. . Turun dari perahu. jawab Oh Li cu sambil tertawa manja. Sepanjang jalan Lan See giok berlagak tegang. Sementara itu. "oleh sebab itu cici sengaja berpesan agar dipersiapkan dua ekor kuda tua yang tidak binal lagi!" Diam-diam Lan See giok mengeluh. sebab berbicara yang sesungguhnya." Lan See giok merasa kalau ia telah khilaf. ternyata rumah itu bu-kan lain ada1ah rumah bibi Wan serta enci Ciannya. Oh Li cu yang melihat pemuda itu gemetar dan wajahnya berubah. Setelah diberi petunjuk ringkas oleh Oh Li cu. "Apakah dua ekor kuda tua itu?" Kedua orang lelaki itu segera mengiakan dengan hormat. ba-gaimana mungkin bisa berlari cepat?" demikian ia berpikir dengan perasaan geli-sah. "Hei. Tiba-tiba terdengar Oh Li cu bertanya kepada si lelaki penghela kuda itu.

192 Sekarang ia hanya bisa berdoa. sekalipun dia hanya mengenakan pakaian yang amat sederhana. setelah melihat paras cantik lawan. Tiba-tiba Lan See giok merasa hatinya ber-getar keras. Gadis berbaju kuning itu berkulit putih. semoga Thian melindunginya dan jangan sampai mempertemukan dia dengan bibinya. namun tidak mengurangi sikap anggun dan daya tariknya. . menurut penaksirannya kalau di tinjau dari rambut panjang dan perawakan tubuh gadis berbaju kuning itu. Ketika kuda mereka maju lebih ke depan semua pemandangan dalam halaman rumah itu dapat terlihat jelas. andaikata sekitar sana ada lubang niscaya ia telah menyembunyikan diri di sana. ketika mendengar ada suara pertanyaan bergema di situ. dia memang tak berani per-caya kalau dalam dusun nelayan terdapat gadis yang berparas begitu cantik. Betapa rikuh dan tersipu-sipunya Lan See giok waktu itu. dalam keadaan begini ia kuatir sekali Ciu Siau cian atau enci Cian nya akan menyapa dia. Ciu Siau cian segera berpaling. baru saat ini dia dapat merasakan. Betul juga. tiba-tiba saja timbul perasaan rendah diri pada dirinya. dengan rasa cemburu yang amat tebal ia lantas berseru: "Adik giok. bermata bening. tapi yang jelas takut kalau jejak nya sampai ketahuan Ciu Siau cian. jantungnya berdebar begitu keras sehingga hampir saja akan melompat ke luar dari mulutnya. Ternyata enci Cian nya sedang berdiri di dalam halaman dengan punggung meng-ha-dap ke luar. apakah kau menganggap gadis yang berada di dalam halaman itu lebih can-tik dari pada cici?" Terkejut Lan See giok mendengar per-ta-nyaan ini. Agaknya Oh Li cu juga telah melihat gadis tersebut. Terutama sekali sepasang biji matanya yang jeli sungguh menawan hati. Sementara itu Oh Li cu berdiri ter-tegun lantaran kaget. Api cemburu Oh Li cu seketika berkobar ketika ia saksikan Lan See giok tiada henti nya melirik kearah gadis dalam halaman tersebut. dia semesti-nya berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan. dia bukan takut Oh Li cu menjadi gusar. hidung mancung dengan bibir yang kecil mungil. bagaimanakah perasaan seseorang yang punya mulut namun tak dapat mengutara-kan kesulitan sendiri.

Beberapa kali Lan See giok mencoba untuk melarikan kudanya. biar cantik. apa mau dikata kuda tua tersebut larinya lamban sekali. gbagaimana mungkbin bisa dibandingkan dengan cici yang berasal dari keluarga persilatan?" tukas Lan Se giok tiba-tiba. mungkin lantaran kesakitan. Dalam keadaan begini. tiba-tiba saja kuda tersebut kabur se-cepat cepatnya ke muka. Bisa dibayangkan betapa kagetnya Lan See giok waktu itu.193 Agak berubah wajah Oh Li cu setelah me-nyaksikan paras muka gadis berbaju itu. badannya menjadi gontai dan nyaris terjerembab ke tanah. perut kuda itu semakin kencang. tak tahan ia tertawa cekikikan. Lan See giok amat gusar. . dengan gugup ia memegang tali les kuda nya kencang-ken-cang. ia tak tahu apakah enci Cian nya telah mendengar perkataan tersebut atau ti-dak. dia cuma berharap selekasnya bisa meninggalkan tempat itu. Merasa dirinya ditertawakan. tanpa terasa ia tertawa bangga. rasa rendah diri yang semula menyelimuti perasaan Oh Li cu segera hilang lenyap tak berbekas. sayang kuda tersebut kelewat tua. . setelah lari beberapa langkah kembali jalannya melamban. Oh Li cu terkejut juga melihat kejadian ini. kudanya kaget---" Lan See giok semakin gugup. Apalagi setelah melihat gadis berbaju kuning itu segera tertunduk malu sehabis mendengar perkataan dari Lan See giok tadi. Tanpa disadari akhirnya dia berseru: "Dia memang benar-benar sangat cantik!" "Aaah. dia kan gadis dusun yanbg tak tahu adatj. tangan-nya yang memegang tali les juga di perken-cang. Lan See giok tak berani memandang wajah Ciu Siau cian. Setelah mendengar perkataan tersebut. dia tahu ba-haya sehingga tanpa sadar kakinya me-ngem-pit. dengan gelisah ia menjerit: "Aduh celaka. Nampaknya gerak gerik dari pemuda ter-se-but tak dapat membendung rasa geli Oh Li cu. mendadak saja menjadi sewot dan gila menyaksikan kegugupan Lan See giok di atas punggung kuda itu. hatinya tak terlukiskan geli-sahnya. wajahnya menjadi murung dan timbu1 perasaan yang amat tak sedap di hati. ia men- . Ringkikan panjang yang amat memekik-kan telinga segera berkumandang memecah kan keheningan. kudanya kaget. saking mendongkolnya tiba-tiba saja ia menendang perut kuda itu keras-keras. Mimpi pun Oh Li cu tak pernah menyangka kalau kuda tua yang di hari-hari biasa sangat penurut dan jinak.

dia mencoba untuk melarikan kudanya untuk mengejar. Lan See giok yang gugup bercampur tegang. tanpa berpikir panjang ia segera menuruti nasehat tersebut dengan membungkukkan badannya di atas pung-gung kuda. apa mau dibilang kudanyapun sudah kelewat tua.sampai teblapak tangannya menjadi basah oleh keringat dingin.cepat bungkuk-kan tubuhmu di atas pelana. Hampir menangis Oh Li cu menyaksikan kejadian itu. namun akibatnya harus men-jum-pai pengalaman yang mendebarkan hati aki-batnya rasa tegang yang mencekam pe-rasaannya tidak juga bisa ditenangkan.. begitu tubuhnya melejit ke udara.. yang tersisa hanya debu dan pasir yang beterbangan menutupi pemandangan. Hutan demi hutan. setelah lari beberapa langkah. ia memandang kuda putih di kejauhan sana sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. diapun melamban kembali. Dalam keadaan begini. pepohonan demi pe-po-honan dilalui dengan cepat. Dengan lenyapnya daya beban dari kuda tua itu..194 jadib gelisahnya bukjan kepalang. bagarimana jadinya?"z . Lan See giok mulai dapat mengingat ingat kembali pela-jaran yang diberikan Oh Li cu kepada nya bila menjumpai bahaya. ia melihat jelas bagaimana Lan See giok menggenggam kencang tali les ku-danya dengan wajah tegang. karena kudapun sudah mulai melamban larinya. sagmpai." jeritnya kemu-dian setengah menangis. Cepat ia menekan kuda itu dengan telapak tangan kanannya. ia berjumpalitan beberapa kali kemu-dian melayang turun ke atas tanah berum-put.. Baru pertama kali Lan See giok mencoba naik kuda. Di depan sana terbentang kini sebuah la-pangan rumput yang luas. bisa mendengar jerit tangis Oh Li cu tersebut dengan jelas. peluh telah membasahi tubuhnya maupun tubuh sang kuda. Dalam waktu singkat kuda sewot yang di tunggangi Lan See giok sudah kabur jauh ke depan. Sambil duduk di tanah lapang dengan na-pas terengah. Lan See giok ti-dak tahu berapa jauh ia sudah dibawa kabur. apalagi kalau menunggang kuda liar. binatang tadipun menghentikan larinya. cepat bungkuk-kan tubuhmu di atas pelana . lambat laun lari si kuda sewotpun kian melamban. "Adik Giok-adik Giok. pikirnya: "Menunggang kuda tua bangkotan saja su-dah mendebarkan hati..

suaranya ba-gaikan gemuruh yang menggelegar men-jelang datangnya hujan deras. Mendadak--- . Lan See giok sangat terkejut. . harus ku-tunggu sampai kapan lagi? Yaa. tapi sejauh mata memandang hanya hutan belantara belaka. Dari sana ia memanjat ke pucuk pohon dan menyembunyikan diri di balik dedaunan yang lebat. Lan See-giok gelisah sekali. .. Tengah hari sudah lama lewat. Tergerak hati Lan See giok ia segera bang-kit berdiri dan lari ke depan sebuah pohon besar di puncak bukit. Entah berapa saat kemudian. Lan See -giok mulai merasa perutnya sangat lapar. bagaimanapun ditarik. gumamnya seorang diri: "Kalau sekarang tidak kabur. Makin lama suara derap kaki kuda itu se-makin nyaring dan mendekat. betul juga derap kaki kuda itu sangat ramai. ke mana ia harus pergi untuk bersantap? Untung saja tak lama kemudian ia sudah tiba di sebuah pegunungan. inilah ke-sempatan paling baik yang belum tentu bisa kujumpai lagi---.195 Mendadak satuw ingatan melintras dalam benaknya. Dikejauhan sana. tiba-tiba ia mendengar suara derap langkah kuda yang amat ramai bergema secara lamat-lamat dari arah tanggul telaga sana.! Berpikir begitu. tampak dua tiga puluhan ekor kuda sedang dilarikan mendekat dengan kecepatan luar biasa. tidak sungkan-sungkan lagi Lan See giok memetik buah buahan tersebut dan melahapnya dengan rakus . karenanya terpaksa ia melompat turun dari kuda tua itu dan melarikan diri menuju ke gundukan bukit kecil di depan situ. di-betot. tampaknya ada se-rombongan manusia berkuda sedang melalui tempat tersebut. kuda tadi tetap berdiri tegak di tempat semula. ke-lihatan debu dan pasir beterbangan ke ang-kasa. ia memasang telinganya baik-baik dan mendengarkan de-ngan penuh perhatian. cepat-cepat dia me-lompat naik lagi ke punggung kuda tua dan mencoba untuk meneruskan perjalanan sayang kuda tua itu sudah kelewat lelah. di atas pegunu-ngan itu penuh pepohonan li yang buahnya mulai memasak. kejut dan gembira ia segera melompat bangun dan mencak-mencak kegi-rangan. dia kuatir Oh Li cu keburu menyusul ke mari. pada wilayah antara tanggul dengan tanah padang berumput.

itu pun paling cepat malam nanti pasukan mereka baru akan tiba di sini. dihati kecilnya tiada hentinya merasa keheranan. ia segera kabur menuju kearah dusun tersebut. ia benar--benar tak mengerti mengapa pasukan dari Wi-lim-poo bisa secepat itu tiba di tempat kejadian. pada hakekatnya tidak dijumpai sesuatu apapun yang mencurigakan. Ketika diamati dengan lebih seksama. Lan See giok sangat keheranan setelah menyaksikan kejadian itu. tapi selain padang rumput yang luas. Tapi ingatan lain membuat pemuda ini menjadi ragu. Sementara itu. rombongan kuda tadi menye-barkan diri serta mengepung lapangan rum-put tersebut rapat-rapat. ia tidak berminat untuk menyaksikan adegan terse-but lebih jauh. jelas mereka adalah anggota benteng Wi-lim-poo.196 Rombongan itu memecahkan diri bagai-kan bunga api yang meletuk dengan berbentuk seperti kipas. Matanya yang jeli segera mengamati seke-jap sekeliling tempat itu. ter-nyata penunggang kedua tiga puluh ekor kuda itu adalah lelaki-lelaki kekar berpa-kaian ringkas warna kuning. kemudian kabur ke dalamb hutan dengan mjengerahkan ilmug meringankan tubbuh yang dimilikinya. pada jarak tiga em-pat li di sebelah kanan. seingatnya dalam kapal perang yang ditumpanginya hanya memuat dua ekor kuda tua. Dalam beberapa saat saja hutan lebat su-dah ditembusi. ia jumpai sebuah dusun. lantas darimana datang-nya kuda sebanyak itu? Walaupun Oh Li cu bisa kirim orang untuk memberi laporan ke benteng. . Tak terlukiskan rasa kaget yang men-cekam perasaan Lan See giok sekarang. badannya meluncur bagai-kan segulung asap saja. Lan See giok semakin gelisah. dengan cepat dia melompat turun dari atas pohon. dan tempat tersebut merupakan daerah yang terdekat dengan dirinya berada. dia tahu berlarian di padang rumput berbahaya sekali. Tiba-tiba Lan See giok jadi melongo. ia harus secepatnya memasuki daerah yang lebat dengan pepohonan yang luas. kini dihadapannya terbentang padang rumput yang sangat luas. dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya. pe-muda kita segera gemetar karena kaget. ke dua tiga puluh ekor kuda tadi sudah berdiri berjajar di sepanjang garis padang rumput. BAB 10 IA tak berani berayal lebih jauh. ter-nyata orang yang berada di punggung kuda berwarna merah dimuka barisan adalah Oh Li cu sendiri. dengan perasaan tidak mengerti dia celingukan kian kemari. sebab tiada tempat untuk menyembunyikan diri. kalau diperhati-kan baju seragamnya. Sambil melarikan diri.

Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok. ternyata perahu yang nampak utuh dari luar. daerah tikungan tadi merupakan sebuah tanah perbukitan. pemuda itu berpaling sekejap. ia pikir masih punya waktu untuk mencapai perahu. maka dengan cepat ditelusurinya sungai tersebut: Tapi dengan cepat ia menjadi putus asa. ia segera kecewa setelah dekat de-ngan perahu tadi. dari seputar hutan di tanah gundukan depan muncul pula beberapa puluh ekor kuda. Diam-diam ia menjadi gembira sebab pasukan dari Wi-lim-poo belum muncul dari hutan tadi. Pada saat itulah--Dari depan situ bergema lagi suara ringki-kan kuda. pemuda itu bagai-kan menemukan bintang penolong saja segera berlarian menuju kearah situ. Mendadak ia mendengar suara ribngkikan kuda bejrkumandang datagng. bersamaan itu juga dari ke jauhan situ berkumandang suara derap kaki kuda yang amat keras. Dengan gelisah ia berpaling kembali. un-tung pasukan dari Wi-lim-poo belum menyu-sul sampai di situ. makin ke depan sungai tersebut me-ni-kung semakin ke dalam. ternyata di depannya terbentang sebuah su-ngai besar yang lebarnya mencapai sepuluh kaki lebih. dasarnya sudah jebol dan berantakan. Rupanya beberapa ekor kuda sedang ber-larian menelusuri tepi sungai menuju kearah nya.197 Ketika hampir mencapai di depan dusun. Lan See giok tahu keadaan bakal runyam. sedang lelaki kekar yang berada di punggung kuda dengan sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu mengawasi tepi seberang sungai. arus sungai kelewat deras. apa yang kemudian terlihat segera membuat keringat dingin bercucuran. Tapi setelah ia berpaling kembali meman-dang ke depan. ia kabur ke sebelah kanan sungai tersebut. Tapi. pemuda Itu segera menghen-tikan perjalanannya dan berdiri tertegun. jangan lagi perahu. Dengan putus asa dia menelusuri tepi su-ngai. ini berarti pantai sungai tak mungkin bisa dipakai untuk menyembunyikan diri lagi. Lan see giobk amat terperanjat dan cepat berpaling. . bayangannya saja tidak dijumpai. Dalam pelarian tersebut. se-cepatnya ia kembali ke pesisir dan menye-lusuri air. tiba-tiba Lan see giok menemukan sebuah sampan kecil yang tergeletak di tepi pesisir. ia membalikkan badan dan segera melarikan diri. Tapi belum berapa langkah.

Mendadak terdengar seseorang menegur dengan suara yang serak dan tua. "hamba sekalian tidak melihatnya" Diam-diam Lan See giok merasa keheran-an juga. ia me-ngenali suara tersebut sebagai suaranya Be Siong pak. diam--diam ia bersyukur karena tempat persembunyian nya tidak sampai ketahuan. pikirnya. "Aneh. suara derap kaki kuda yang amat gencar telah bergema datang dari sisi sebelah kanan. bila ia sampai tersusul saat ini. taznpa disadari iaw meraba senjatar gurdi emas Cin kim kong luan jui yang melilit." Belum habis ingatan tersebut melintas le-wat. namun terdesak oleh keadaan mau tak mau dia menerobos juga ke dalam perahu bobrok itu. manusia yang mempunyai banyak akal muslihat. suara tersebut ber-gema pula dari kiri dan kanan tubuhnya. . tak tahan lagi pikirnya setelah menghela napas: "Betapa senangnya bila ilmu berenang ku-kuasai. sekali lagi terdengar suara ringkikan panjang yang bergema dari tempat tak jauh dari situ. . jelas tiada alasan yang dapat digunakan.198 Lan See giok benar-benar amat gugup. mengapa Be Siong pak bisa me-mimpin pasukan untuk melakukan pengejar-an. ia teringat kembali ilmu berenang yang belum sempat dipelajari. biar dia tahu perahu bobrok itu tak mungkin bisa di-pakai untuk bersem-bunyi. satu satunya jalan hanya bertarung sampai titik darah penghabisan: Menyaksikan arus sungai yang begitu deras. Lan See giok amrat terkejut. "Apakah kalian telah melihat sau pocu?" Diam-diam Lan See giok terkesiap. Dalam pada itu suara ringkikan kuda su-dah semakin mendekat. . agaknya pasukan yang datang dari sebelah kiri telah berpapasan dengan pasukan yang telah datang dari sebelah kanan. "Lapor congkoan" beberapa orang lelaki itu segera menjawab dengan hormat. tak terlukis-kan rasa gelisah hatinya. Pada saat Lan See giok baru saja melompat naik ke atas perahu bobrok dan menyem-bunyikan diri. Suara bentakan-bentakan keras bergema kemudian. di pinggangnya. hatinya berdebar keras. Lan See giok menahan napas sebisa mung-kin. kemudian berhenti tak jauh dari ka-pal bobrok itu berada . Menyusul kemudian beberapa ekor kuda berlarian mendekat bagaikan gemuruh angin puyuh. Sekarang Lan See giok berada dalam posisi yang berbahaya sekali. saat ini mungkin aku sudah tiba di dusun pantai seberang--.

ia berta-nya cemas: "Apakah kalian tidak menemukannya?" "Di kedua belah pesisir sungai sama sekali tidak dijumpai bayangan tubuh dari sau pocu!" jawab Be Siong pak. . Paras muka belasan lelaki berbaju kuning pun kelihatan amat serius. Dengan pandangan mata gelisah bercam-pur cemas dia menengok sekejap ke arah pantai seberang. lalu kepada Be Siong pak yang menyongsong kedatangannya.. ia segera mengintip dari celah-celah perahu bo-brok itu. !" MENDENGAR Oh Li cu telah tiba pula di tempat kejadian. Derap kaki kuda dan suara ringkikan kuda yang ramai akhirnya berhenti di belakang perahu bobrok persis di sisi pesisir sungai. Be Siong pak yang duduk di punggung kuda tampak sedang berkerut kening dengan wajah resah. rambut nya sedikit kusut dan cahaya mukanya ham-pir pudar . . Paras muka Oh Li cu telah basah oleh air mata. sorot matanya yang tiada henti-nya dialihkan ke pantai seberang sungai tersebut. Lan See giok yang mengintip ke luar kem-bali merasakan tubuhnya gemetar keras. . mereka meme-gang tali les kuda masing-masing dengan kencang. nona telah datang. Lan See giok merasakan hatinya semakin tegang. . ternyata orang yang duduk di atas kuda merah yang tinggi besar itu tak lain adalah Oh Li cu. sementara peluh membasahi tubuh-tubuh mereka maupun tubuh kuda-kuda tersebut. Sekali lagi air mata 0h Li cu bjatuh ber-cu-cujran. debu dan pasir tampak beterbangan meme-nuhi angkasa. matanya merah membengkak. "Congkoan. ia menutupgi muka sendiri bdan berkata sambil menangis tersedu-sedu: . . Be Siong-pak segera mencemplak kudanya dengan memimpin puluhan anak buahnya maju menyongsong ke tepi sungai. . kemudian serunya de-ngan nada gelisah.199 Karena dorongan rasa ingin tahunya. Menyusul kemudian seekor kuda merah yang tinggi besar muncul pula di tempat tersebut .. Sementara itu dari arah pantai ber-kuman-dang kembali suara derap kaki kuda yang sangat ramai. Seorang lelaki yang berada di sisi Be Siong pak segera berpaling dan memandang seke-jap ke arah pantai.

dengan nada meng-hibur dia ber-kata lagi: . coba kalau hamba tidak mende-ngar suara tampik sorak pagi tadi sehingga segera mengutus orang untuk mencari berita. Dengan wajah menyesal dan murung Be Siong pak menjawab: "Yaa. hamba memang pantas mati. apa mau dikata kuda tua itu kaget!" Lelaki kekar berkuda hitam yang tampak nya komandan dari pasukan tersebut segera berkata dengan hormat: "Kuda tua itu sudah berhenti di tanah la-pang. "hamba memang pantas mati. bagaimana mungkin ia bisa ter-jatuh dari kuda?" Tidak sampai Be Siong pak menyelesaikan kata katanya. akulah yang memaksanya naik. sekembalinya lo pocu nanti.200 "Sebenarnya ia tak pandai menunggang kuda. hari ini kami tak akan bisa ke luar dan tak mungkin akan ter-jadi peristiwa di luar dugaan seperti ini. serunya dengan suara dalam: "Tenaga dalam yang Sau pocu miliki amat sempurna. serta me-mandang sekejap semua orang yang berada di seputar tempat itu. bisa jadi ia sudah terja-tuh ditengah jalan!" Be Siong pak segera melototkan matanya bulat-bulat. mungkin hingga sekarang pun belum kuketahui kalau nona dan Sau pocu telah berpesiar ke pantai telaga!" "Apa pula gunanya kau menyusul sampai di sini?" kembali Oh Li cu menangis ter-sedu sedu. hamba memang tentu akan minta hu-kuman sendiri!" Setelah berhenti sejenak. coba kalau kau bertindak cepat semab-lam dengan menjurunkan perintagh itu kese-mua bpenjaga pintu benteng. tidak ku-sangka lo pocu sama sekali tidak memberi kabar kepada nona serta sau pocu ketika hendak berangkat. bila di dalam ben-teng ada urusan harus dirundingkan dulu dengan Sau pocu---?" Sambil berkata. bila sau-pocu memang tak pandai menunggang kuda. sambil menangis Oh Li cu su-dah mengomel: "Semuanya ini kau lah yang salah. memang hambalah yang teledor serta tidak berpikir sempurna. ini menunjukkan kalau binatang tersebut telah berlari kencang sepanjang jalan. dia menangis tiada henti nya. menga-pa sewaktu aku datang ke tempatmu sema-lam -kau tidak mengatakan kalau pocu sudah menurunkan perintah bahwa setiap orang dilarang ke luar benteng. kesemuanya ini memang kesalahan hamba" Be Siong pak mengangguk berulang kali." "Yaa. sekujur badannya telah basah oleh keringat darah rupanya sudah kehabisan tenaga. seolah-olah seorang kanakkanak yang kehilangan mainan kesayangannya.

dengan gugup dia mela-rikan pula kudanya untuk menyusul dari belakang. toh akhirnya akan kembali juga ke Wi-lim-poo dengan selamat---" Dalam suasana gelisah bercampur marah mana ada niat dari Oh Li cu untuk mende-ngarkan obrolannya. kau sendiri pun tak usah kembali ke Wi-lim-poo" Sambil berkata ia segera mencemplak kembali kudanya dan melarikan binatang tersebut meninggalkan tempat tersebut. Hmm! bencana bisa berubah jadi rejeki . tanpa terasa teriaknya keras-keras: "Nona. nona. lalu sambil melotot ke arah Be Siong pak bentaknya: "Obrolan busuk. Agaknya perahu itu kelewat bobrok dan mustahil bisa dipakai untuk bersembunyi. jelas hal ini untuk mencegah putri-nya .201 "Walaupun kita sudah mengerahkan keku-atan sedemikian besarpun belum berhasil juga menemukan kembali sau-pocu. dengan cepat ia menu-runkan kembali tangannya dari atas wajah. Be Siong pak termangu melihat kemarahan nonanya.z diam-diam ia mwelompat ke luarr dari perahu! Sepanjang pesisir dijumpainya penuh de-ngan bekas kaki kuda. orangnya di mana sekarang?" "Pokoknya bila tidak kau temukan kembali Lan See giok hari ini. melihat itu dia baru mengerti apa sebabnya Oh Li cu tidak me-ngirim orang untuk memeriksa perahu bo-brok tersebut. semua bencana akan berubah menjadi rejeki.. perasaan tegang yang sempat mencekam perasaannya kinripun berkurang. siapa yang mau mende-ngarkan ucapanmu itu. di mana dia hanya memberitahukan kepada Be Siong-pak dan melarangnya memberitahukan kepada Oh Li cu. Kawanan lelaki lainnya serentak mem-ben-tak dan melarikan kuda masingmasing dalam waktu singkat kedua tiga puluhan kuda tersebut telah berlalu semua mengikuti di belakang Oh Li cu. ditambah pula seputar pesisir sudah penuh dengan bekas telapak kaki kuda dia mengira pasukan sebelumnya telah melakukan peme-riksaan di sana. .. Sedang maksud Oh Tin san suami istri pergi tanpa pamit semalam. biar sekarang agak tersiksa dan menderita. tunggu dulu. Apalagi Be Siong pak serta Oh Li cu pada hakekatnya tidak me-ngetahui kalau dia berniat melarikan diri . tunggu dulu hati-hati kalau sampai terjatuh dari kuda!" Sembari berteriak. Lan See giok menghembuskan napas pan-jang.. sau pocu ber-bakat ba-gus dan berwajah cerah. itu ber-arti besar kemungkinannya sau-pocu telah diculik oleh si kakek berjubah kuning tapi nona tak usah kuatir. sekalipun mengha-dapi bencana. .

pikirnya: "Yaa. gelisah pula. Senja lewat. Sesudah menembusi hutan dan mendaki sebuah bukit kecil. kalau dapat dia ingin se-cepatnya tiba di rumah kediaman bibinya. suasana remang-remang telah mulai menyelimuti se-luruh angkasa. . tanpa terasa ia menggelengkan kepalanya sambil tertawa. Beberapa saat kemudian ditengah kege-la-pan yang mulai mencekam seluruh angka-sa. Kelancaran yang diperolehnya dalam usaha melarikan diri kali ini benarbenar berkem-bang di luar dugaan. ia yakin kedua orang tersebut masih belum mengeta-hui asal usulnya yang sesungguhnya. malam haripun tiba. sebelum malam tiba dia harus sudah tiba di rumah kediaman bibi Wannya. Berpikir sampai ke situ. dan tentu saja takut kalau dia menggunakan kesempatan tersebut mela-rikan diri.202 pergi ke luar. terpaksa dia harus berhenti di situ dan menunggu sampai kapal-kapal pe-rang dari Wi-lim-poo tersebut berlalu se-be-lum meneruskan perjalanannya. ia saksikan di bawah lembah sana masih nampak puluhan ekor kuda mondar mandir melakukan penca-rian. Cahaya lentera mulai berkelap-kelip di arah dusun nelayan sana.. . di kejauhan sana hanya kedengaran suara derap kaki kuda yang makin menjauh. dari kejauhan sana mulai nampak tanggul telaga Huan yang oh. Lan See giok tak berani meneruskan per-jalanannya. diapun percaya Oh Tin san tak bakal membi-carakan rahasia tentang kotak kecil tersebut dengan mereka. lamat-lamat kedengaran suara orang menghardik dan ringkikan kuda. da-haga. Di atas ke tiga kapal perang pun telah dikerek naik sembilan buah lentera besar berwarna merah. Dengan cepat pemuda itu menelusuri pantai menuju ke arah timur laut. Dari puncak bukit kecil. . udara amat bersih. Sementara itu matahari sudah tenggelam di langit barat Lan See giok merasa lapar. Lan See giok percepat langkahnya menuju ke muka . pada dermaga telaga tiga buah kapal perang berlabuh di situ. siapa yang bisa menduga perubahan yang bakal terjadi di dunia ini?" la berjalan menuju ke pantai depan sana dan mendongakkan kepalanya. karena tak satupun yang terpakai saat ini. apa yang direncanakan semalam boleh dibilang semuanya tidak ber-guna. Kalau didengar berdasarkan pembicaraan Be Siong pak dengan Oh Li cu.

oleh sebab itu dia pun membayangkan kem-bali keadaan Oh Li cu entah bagaimanakah perasaan perempuan itu kini? la teringat pula cinta kasih serta perhatian dari Oh Li cu ter-hadapnya selama berapa hari belakangan ini. angin malam yang berhembus lewat membawa suara deburan ombak dari tanggul telaga. Teringat kembali enci Ciannya. Dengan meningkatkan kewaspadaannya dia maju terus ke depan. Diam-diam ia bersumpah di dalam hati. tentu saja ia tak dapat berpeluk tangan belaka terhadap cinta kasihnya itu. dia keheranan. Sampai di situ. semalam ini me-ngapa enci Ciannya belum juga tidur Padahal biasanya sudah naik ke atas pem-ba-ringannya. namun betapa terkejutnya dia . sekalipun ia tidak tahu apakah enci Cian mencintainya atau tidak. Berapa waktu kemudian. Dalam perjalanan. ia saksikan cahaya len-tera dalam kamar enci Cian nya masih terang benderang. ia bersedia menga-bulkan permintaan nya demi membayar se-mua ke-baikannya selama ini. tiada rem-bulan. cuma satu dua buah rumah saja yang masih bersinar. suasana dalam dusun itu amat hening. Ia terbayang pula bagaimana Oh Li cu menangis karena sedih dan gelisah. bila di kemudian hari Oh Li cu membutuh-kan sesuatu kepadanya. Namun permintaan mana tidak tebrmasuk memperisjtri dirinya. mau tak mau Lan See giok harus meningkatkan kewaspadaannya. terutama sekali usahanya untuk mencarikan obat penawar racun baginya.. Ia dapat melihat ke sembilan lentera merah diarah telaga sudah mulai bergerak pelan. tapi per-hatian dan kasih sayangnya tak mungkin bisa dilupakan dengan begitu saja. pihak Wi-lim-poo sudah mulai menarik pasukannya kembali ke kapal. kemudian pelan-pelan ia baru menuju ke rumah kediaman bibi Wan nya Waktu itu udara sangat gelap.203 Lan See giok tahu. segbab di kemudianb hari dia ingin mempersunting enci Ciannya seba-gai istri. Lan See giok segera mengerahkan kembali ilmu meringankan tubuhnya dan menuruni bukit tersebut dengan cepat. betul ia tidak terlalu menyukainya. ia telah tiba di belakang dusun kecil tempat kediaman bibi Wan nya. agaknya kapal perang dari Wi-lim-poo tersebut sudah mulai berangkat pulang. hanya beberapa biji bintang yang berkelipan.pelan. kesemuanya ini membuat hatinya terharu. sementara telinga nya dipasang lebar-lebar. lama sekali ia berdiri tegak sambil memperhatikan keadaan di sekitar situ adakah sesuatu yang mencurigakan.. Dengan perasaan lega Lan See giok mem-percepat langkahnya berlarian ditengah ke-gelapan.

ia menerjang masuk ke arah jendela. Lan See giok melom-pat terus masuk ke dalam ruangan. Dengan perasaan terkejut dia melejit ke udara dan segera melayang masuk ke dalam pekarangan. ruangan segera men-jadi terang benderang-Ketika Lan See giok berpaling. abir mata segera bercucuran membasahi wajah Lan See giok. apakah selama beberapa hari ini kau tidak kembali ke kuburan kuno?" Lan See giok segera menubruk ke dalam pangkuan bibinya dan menangis tersedu. "Anak Giok kah yang datang?" Seperti anak yatim piatu yang btiba-tiba mendejngar suara pangggilan ibunya. . kemudian cepatcepat menutup kembali daun jendelanya. "Anak Giok. dengan jelas Lan See giok dapat mendengar debaran jantung bibi Wan yang semakin bertambah kencang. tapi hanya sebentar saja. karena dengan cepat isak tangisnya berubah menjadi se-senggukan belaka Tampaknya bibi Wan sudah merasakan firasat jelek. dilihatnya enci Cian sedang menyulut sebuah lentera dengan wajah gugup. "Anak Giok. Baru saja kakinya menempel di atas tanah---Mendadak dari dalam kamar tak bersinar di sisi kamar enci Cian nya bergema suara teguran yang lembut. sedang bibi Wan melirik sekejap ke sekeliling hala-man dengan seksama. dengan gelisah ia bertanya. dimana ayahmu?" Lama sekali Lan See giok sesenggukan se-belum sahutnya amat pedih.204 setelah mendengar suara isak tangis dari enci Ciannya yang lamat-lamat bergema datang dari kamar tidurnya. sepasang matanya merah membengkak. Jendela belakang terbuka dan wajah bibi-nya muncul dari balik tirai. setelah memanggil "bibi" dengan lirih. namun ia tetap menjaga kewaspadaan nya terhadap keadaan lingkungan. agaknya paling tidak ia sudah menangis setengah harian lamanya. dipandangnya Lan See giok dengan terkejut lalu bisiknya: "Ayo cepat masuk!" Sambil berusaha keras mengendalikan rasa pedih di dalam hatinya. Cahaya api berkilat. "Ayah telah dibunuh orang!" Untuk sesaat suasana dalam ruangan menjadi hening. terlihat jelas wajah Ciu Siau cian basah oleh air mata. di bawah sinar lentera.

"beritahu kepada bibi. tanpa terasa ia berbisik lirih: "Apakah diantara alis mata kakek ber-jubah kuning itu terdapat sebuah tahi lalat merah?" Lan See giok termenung sebentar. potongan wajah serta ciri khas dari lima manusia cacad dari tiga telaga. kemu-dian menggeleng. . bibi!" "Anak Giok. tampak wajah bibinya pucat pias. butiran air mata kembali jatuh bercucuran membasahi wajahnya. Cerita Lan See giok sangat jelas. . duduklah. terutama mengenai dandanan. agaknya sedang merenung-kan sesuatu . . bibi. keningnya berkerut dan dua baris air mata mengalir ke luar membasahi bibirnya yang gemetar. . Bibi Wan menyeka air matanya dengan ujung baju." kata bibi Wan sambil mengawasi wajah Lan See giok yang basah oleh air mata. " Tiada hentinya dia menggoyang-goyangkan lengan bibi Wannya. Dengan pandangan kosong ia mengawasi sudut ruangan. . Lan Seer giok tahu bibiz Wan sedang amawt sedih saat itru. bersinar terang sepasang mata bibi Wan. ." Secara ringkas dia pun menceritakan kem-bali semua peristiwa yang disaksikan mau-pun dialaminya dalam kuburan kuno tempo hari. pertanda dia diminta melanjutkan ceritanya.. bibi . tanpa terasa serunya sambil menangis: "Oooh .. kalau toh barang tersebut tak berguna. Mendengar perkataan tersebut. Sewaktu bercerita tentang si kakek ber-jubah kuning. . Lan See giok segera menarik kesimpulan kalau hubungan antara bibi Wan dengan ayahnya pasti luar biasa. "Anak giok tidak memperhatikan soal ini!" Bibi Wan berkerut kening lalu manggut-manggut. Bibi Wan serta enci Cian masing-masing duduk di kursi bulat dan mendengarkan pe-nuturan tersebut dengan seksama.205 Ketika ia berpaling lagi ke arah bibi Wan. Karena itu sekali lagi dia berseru: " Oooh. . kemudian berkata lagi agak se-senggukan: "Aku telah memperingatkan kepadanya. lebih baik dikembalikan secepatnya daripada me-mancing datangnya bibit bencana!" Ketika berbicara. . siapakah musuh besar kita?" "Ketika anak Giok pulang tempo hari ayah telah meninggal dunia. .

biar-pun kaum laknat pandai ber-bicara. tidak sulit untuk me-ngetahui baik tidaknya seseorang. kemudian menundukkan kepalanya rendahrendah. mungkin kita tak akan bisa berjumpa muka lagi" Lan See giok mengiakan dengan wajah je-ngah. hal ini membuktikan kalau pikiranmu ter-sumbat waktu itu karena kese-dihan yang berlebihan" Kemudian sesudah berhenti sebentar. asal kau bersedia memperhatikan dengan seksama. "Apakah dia adalah gadis yang menung-gang kuda bersama-sama kau hari ini?" Selesai berkata dengan wajah bersemu merah karena jengah dia melirik sekejap ke arah ibunya. ketika berce-rita tentang On Li cu. ia segera berkata: "Si naga sakti pembalik sungai Thio-Lok-heng serta naga emas pengaduk samudra Li Ci-san dari telaga tong ting oh termasyhur dalam dunia persilatan karena ilmu dalam airnya.. Tatkala bibi Wan mendengar Lan See giok mencurigai si naga sakti pembalik sungai Thio Lok-heng sebagai otak dari ke lima manusia cacad. dengan nada tidak puas. kembali bibi Wan menukas. kedua orang tersebut merupakan pendekar yang dihormati umat persilatan baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam. setelah itu meneruskan ceritanya bagai-mana kudanya kaget. ke-mudian dia melanjutkan kisahnya bagai-mana memasuki benteng Wi-lim-poo. Paras muka Lan See giok ikut berubah menjadi merah dadu. coba kalau tidak. "Menilai seseorang jangan berdasarkan wajah saja. jangan bersikap kasar atau kurang ajar sehingga merosotkan pamor dari mendiang ayahmu." Lan See giok mengiakan berulang kali. . ia pun melanjutkan kembali cerita nya. ia mengiakan cepat-ce-pat.206 Sewaktu Lan See giok bercerita tentang si manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san menangisi jenazah lalu bagaimana mencuri pedang dan sebagainya. Bila kau berjumpa lagi dengan mereka di kemudian hari. sedang Li Ci-san orangnya terbuka dan berjiwa besar. Thio-Lok--heng orangnya jujur dan polos. Ciu Siau cian yang duduk di sampingnya segera nyelutuk de-ngan nada cemburu. harus kau hormati kedua orang itu sebagai angkatan tua. dia melanjutkan: "Untung saja kau mudah dikibuli ketika itu. seperti manusia bangsa Oh Tin san. toh akhirnya bakal salah berbicara juga. kenyataannya kau dapat dikibuli dengan begitu mudah. jadi tak bisa dibanding kan mereka dengan kelima manu-sia cacad tersebut. kedua orang itu dijuluki Sui sang siang hiong (sepasang jagoan dalam air) oleh umat persilatan. tapi jangan pula dinilai dari si-kapnya dan caranya berbicara manis.

" Berbicara soal membalas dendam. Hu-yong siancu Han Sin Wan baru berkata lagi. kemudian setelah berhasil menenang-kan pikiran nya dia berseru dengan gembira. kepada. kalau ditinjau dari penu-turanmu tadi. Han Sin wan telah menegur putrinya. "Oh Tin san merupakan seorang manusia yang kejam dan berhati buas.207 kemudian bagaimana dia manfaatkan kesempatan itu untuk mela-rikan diri. suasana dalam ruangan kembali dicekam keresahan. Hu-yong-siancu Han Sin wan menghela napas sedih. namun manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san terhitung manusia paling mencu-rigakan . anak Giok sejak hari ini. "Anak Cian. Mendengar perkataan tersebut sambil ter-tawa Ciu Siau cian segera berkata: "Ibu adalah Hu-yong siancu (dewi Hu-yong) yang amat termasyhur dalam dunia persilatan. diantaranya meski si iblis buas bermata tunggal dan beruang berlengan tunggal yang mencuriga-kan. ilmu berenang siapakah di kolong langit saat ini yang bisa me-nandingi Han Sin wan? Selain mengalah-kan naga sakti pemba-lik sungai pernah juga mengungguli si naga emas pengaduk samudra-. "Anak Giok. bila anak Giok tidak menguasai ilmu dalam air. kau harus mengajar-kan ilmu kepandaian tersebut kepada anak Giok. . andaikata semalam tiada orang yang mencuri dengar tentang rahasia kotak kecil di luar jendela anak Giok berniat be)ajar ilmu berenang lebih dulu sebelum datang kemari menengok bibi dan enci Cian!" Tanpa terasa dia mencuri lihat sekejap lagi ke arah Ciu Siau cian.ada suhu lihay tak mau minta pelajaran. " "Atas dasar apa bibi mengatakan Oh Tin san paling mencurigakan?" sela Lan See -giok tidak mengerti. kelima manusia cacad tersebut memang mencurigakan semua. yang paling mencurigakan dari perbuatannya adalah ia tidak membunuhmu . Setelah lewat berapa saat. ada tiga diantaranya menjagoi telaga. usahaku untuk membalas dendam bagi ayahku tak akan lancar.. "Ilmu berenang dari bibi rupanya hebat sekali dan ternyata anak Giok tidak me-nge-tahui sama sekali. Sebagai akhir kata dia menambahkan. lagi-lagi kau usil mulut!" Kejut dan girang Lan See giok setelah mendengar perkataan itu. ia menjadi ter-tegun. dari kelima manusia cacad. bibi. "Oh Tin-san pernah memerintahkan kepada putrinya memberi pelajaran berenang. kau malahan---" Belum habis perkataan itu diutarakan.

lalu dengan wajah tak mengerti ia bertanya: "Selama ini lima manusia cacad menguasai wilayah yang berbeda. Benar. bagaimana mungkin bisa dibilang telah tua? Tak heran kalau dia menjadi tertegun saking kagetnya.. dia melirik seke-jap ke arah putri kesayangannya. halus dan lembut. kau boleh minta kepada enci Cian mu agar mengajarkan ilmu berenang. sedikit sekali masalah dunia per-silatan yang kuketahui. lalu menggunakan ke-sempatan tersebut membinasakan si bina-tang bertanduk tunggal. . "siapa tahu hal ini dise-babkan dia kuatir si binatang bertanduk tunggal akan membocorkan rahasia kotak kecil. lanjutnya: Sedangkan mengenai belajar ilmu be-renang. bibi sudah kelewat tua sehingga tak mungkin bisa mengajarkan sendiri kepadamu." "Apa? Bibi sudah tua?" Lan See giok melongo. . atau mungkin juga kuatir kalau si bi-natang bertanduk tunggal akan menuding Oh Tin San sebagai pembunuh sesungguhnya . " . ." Sekilas perasaan sedih segera menghiasi wajah Hu-yong siancu. anggun.. lalu sambil mengulumkan senyuman." "Yaa. sedang tokoh-tokoh lima manusia cacad pun baru muncul berapa tahun belakangan ini." Lan See giok berkerut kening. seperti misalnya si tongkat besi berkaki tanggal Gui-Pak-ciang yang kau maksudkan. Memandang wajah kaget yang menghiasi wajah Lan See giok. dulunya ia lebih dike-nal sebagai Kun lui koay (tongkat geledek) yang merajai wilayah Soa lam.. Hu-yong siancu tersenyum. dia masih nampak muda.... sebab sebelum peristiwa itu ber-langsung si binatang bertanduk tunggal me-mang bersembunyi pula di tempat kegelapan !" "Justru karena si binatang bertanduk tunggal bersembunyi dalam kegelapan itu-lah. Berbicara sampai di situ. dia tidak menanggapi pertanyaan Lan See giok terse-but. hanya terusnya: "Mulai besok. di mata Lan See giok paling banter bibinya baru berusia dua puluh enam tujuh tahunan. mengapa mereka bisa muncul bersama sama dalam kuburan kuno pada malam itu . tanpa terasa Ciu Siau cian menutupi bibirnya sambil tertawa. . apa sebabnya mereka bisa berkumpul pada malam yang sama. cantik. bisa jadi dia takut si binatang ber-tanduk tunggal membocorkan rahasia kotak kecil itu. "Sudah banyak tahun bibi bersembunyi di tepi telaga.208 melainkan menghajar mu sampai pingsan. bibi sendiripun kurang jelas.. Oh Tin San baru turun tangan mem-bunuhnya" ucap Han Sin wan dengan ber-sungguh sungguh.. ujarnya sedih...

harap cici jangan mengingatnya terus dihati" Sambil berkata. Nah. oleh sebab itulah aku tak berani menerima permintaan dari ibu untuk mem-beri pelajaran kepadamu. bila cici sampai dibuat marah. bagaimanakah posisi adik Giok mu waktu itu tentunya sudah kau ketahui.. wajahnya bersinar cerah ujarnya kemudian sambil tersenyum. dia memang tidak menyangka kalau enci Cian nya yang lemah lembut ternyata mempunyai rasa cem-buru yang begitu besar." Siapa tahu Ciu Siau cian segera menghin-dar ke samping sambil berseru: "Aaah. menderita dan malu serta pelbagai perasaan lain yang ber-campur aduk. Lan See giok menjadi gugup." Memandang wajah Lan See giok yang merah membara karena gelisah. apa lagi yang hendak kau katakan sekarang?" . maka sambil melompat bangun dan menjura kepada Ciu Siau cian. kali ini dia menjura dalam sekali hingga sepasang tangannya hampir menempel di atas tanah. "Oooh.. aku tak lebih hanya gadis dusun yang tak tahu soal adat. . bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan enci Cu yang pan-dai. dari mu-rung Lan See giok menjadi gembira. anak Cian.209 Lan See giok girang sekali. . katanya kemudian dengan gugup." Mendengar bibinya membelai dia. tak tahan lagi katanya dengan hambar "Aku tahu kalau diriku ini rendah dan tak mungkin bisa menandingi si nona terhormat dari keturunan keluarga ternama. segera ujarnya: "Siau cian.. mau tak mau harus kusanjung dirinya agar tidak curiga. Sambil tertawa paksa. Ciu Siau cian yang terbayang kembali ba-gaimana ia merasa kecewa. selama hidup aku tak berani lagi membuat cici marah. siaute bersedia untuk berlutut di depan cici dan menerima hukuman. hal ini memang merupakan pucuk dicinta ulam tiba baginya. tanpa terasa Han Sin wan melirik sekejap ke arah putrinya sambil tertawa riang. sekali lagi dia menjura dalam-dalam. cici! Mengapa kau masih meng-ingat ingat kata lelucon tersebut? Dalam situasi dan kondisi siaute waktu itu. meman-faatkan kesempatan itu ujarnya sambil ter-tawa: "Siaute berani bersumpah kepada langit. . ilmu berenang lagi pula terhitung ketu-runan keluarga persilatan yang terhormat . katanya dengan gem-bira: "Kalau begitu siaute ucapkan banyak teri-ma kasih dulu kepada cici Cian. buat apa sih mesti menyiksa dia." Mendengar perkataan itu. Hu-yong siancu tersenyum.

. dengan wajah jbersemu merah Cgiu Sian cian sebgera menimbrung: "Ibu. tapi sedikit sekali yang tahu dimanakah ilmu sakti tersebut tercatat."" Hu-yong siancu segera memahami maksud putrinya. pihak Wi-lim-poo pasti tak akan mele-paskan pengejarannya. tiba. sambil tertawa ujarnya lagi. tempat persembunyian kita di tempat inipun akan segera tersebar luas pula dalam dunia persi-latan. cuma kurasa disini terlalu banyak mata-mata... tanyanya tanpa terasa: "Bibi.tiba saja dia memasang telinga dan mende-ngarkan dulu keadaan di sekeliling tempat tersebut . sungguh men-dongkol kan---" Sekali lagi Lan See giok berdiri melongo si-kap enci Cian dan sikap bibinya boleh dibi-lang merupakan dua reaksi yang berbeda. mereka bilang kotak kecil itu berisi-kan kitab pusaka Tay lo hud bun tiap yap cinkeng. oleh sebab itu mereka . se-lain angin malam yang berhembus lewat menggoyangkan dedaunan serta ranting dan suara ombak telaga yang memecah di tepian tanggul. benarkah itu?" Bibi Wan tidak langsung menjawab. apalagi si manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san bertekad akan mendapatkan kotak kecil itu. .210 Ciu Siau cian malu sekali. Suasana di luar halaman amat hening. "Tentu saja pelajaran tak boleh diberikan disiang hari. Belum habis perkataan tersebutb. mukanya merah sampai ke telinga. kalau orang melihat gerak gerikku. anak Cian bukan enggan memberi pelajaran kepada adik Giok. ayah selalu menyuruh anak Giok berlutut sebagai hukuman. sambil menghentak-hen-takkan kakinya dengan manja serunya: "Sungguh mendongkolkan. itukan menghadapi orang tua atau angkatan yang lebih tua---" seru bibi Wan sambil tertawa geli. dulu kalau anak Giok telah me-laku-kan kesalahan." "Anak Giok. mereka bisa salah sangka. kitab pusaka tersebut benar-benar merupakan mestika dunia persilatan yang diidam idamkan setiap umat persilatan." Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan itu. sambil memandang ke arah bibinya ia pun berkata agak tersipu sipu: "Aku tidak tahu apakah kembali salah ber-bicara. sahutnya dengan suara lirih: "Betul. tak kedengaran suara yang lain. apalagi dengan kaburnya adik Giok mu. . Dengan wajah serius diapun manggut-manggut.. sebab dengan begitu akan menarik perhatian orang banyak.

sedang keadaan yang sebenar-nya tidak bibi ketahui. mari kita lihat sampai di manakah rejekimu?" Ia beranjak menuju ke jendela belakang dan mengintip sekejap keadaan di sekitar sana dengan cekatan. ter-dengar bibi Wan kembali berkata: "Bibi pernah menasehati ayahmu. darimanakah ayah peroleh kotak kecil itu?" Sorot mata bibi Wan menjadi redup. Saat ini satu ingatan tiba-tiba melintas di dalam benaknya. lama kemudian dia baru berkata: "Bibi hanya tahu... --"Apakah bibi mengetahui bagaimana cara nya membaca kitab pusaka tersebut?" Hu-yong siancu menghela napas sedih: "Aai. "malam ini. bibi dan enci Cian kita akan berhasil memahami rahasia kitab pusaka tersebut?" "Baiklah.. siapa tahu dengan tenaga pikiran giok ji.211 yang tidak mengetahui rahasianya. mendapat kan benda tersebut sama artinya dengan memperoleh benda rongsokan!" Lan See giok sendiripun sangat berharap bisa mempelajari kepandaian sakti yang ter-cantum dalam kitab pusaka itu. ayahmu telah berjumpa dengan kekasihnya yang telah menikah di bawah puncak Giok-li-hong di bukit Hoa san dan secara kebetulan juga mendapatkan ko-tak kecil itu. tanpa terasa tanyanya dengan gelisah.. kalau toh tak dipahami rahasia dari kitab pusaka tersebut." sahut Hu-yong siancu tanpa ragu-ragu. tak mampu kupahami arti dari pelajaran tber-se-but" Betjapa kecewanya Lgan See giok setbelah mengetahui hal ini." Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan itu. bukankah kejadian tersebut sama artinya dengan ayahnya telah mengorbankan selembar jiwanya demi suatu benda "rongsokan"? Apakah hal ini tidak kelewat tidak berharga? Sementara dia masih termenung. . buru-buru ia ber-tanya: "Bibi." Lan See giok hanya ingin cepat-cepat men-getahui kisah ayahnya sampai mendapatkan kotak kecil itu.. dengan nada memohon segera ujarnya: "Bibi. karenanya ia tidak ter-lalu memperhatikan perubahan wajah bibi-nya. seakan akan terbayang kembali kisah dimasa silam. bibi bukan orang yang berjodoh dengan Buddha. lebih baik segera dikirim kembali saja. seperti juga ayahmu. bersediakah kau mengeluarkan ko-tak kecil itu agar giok ji periksa? Sekarang hari sudah malam. kemudian tubuhnya melompat ke luar dan sekejap kemudian su-dah lenyap dari pandangan.

apalagi ke tiga lembar daun emas itu tidak beraksara tidak pula bergambar.212 Ketika Lan See giok turut menengok ke de-pan. setelah memegang ko-tak kecil berisi kitab pusaka itu. dengan cepat dia menge-baskan tangannya untuk memadamkan len-tera..-Hu-yong siancu serta Ciu Siau cian berdiri membungkam di belakang Lan See giok. suasana di sekeliling tempat itu dicekam dalam keheni-ngan yang luar biasa. Lan See giok menutup jendela dengan ce-pat kemudian berpaling. ternyata di tangan bibi Wan telah bertambah dengan sebuah kotak kecil berwarna kuning yang empat inci lebarnya.. daun dan ranting bergoyang lembut. gerakan tubuhnya ri-ngan dan sama sekali tidak menimbulkan suara. Untuk beberapa saat lamanya... Biarpun bibi Wan nya terhitung seorang pendekar wanita yang namanya menggetar kan dunia persilatan. Lama sekali Lan See giok memperhatikan benda tersebut namun gagal untuk menemu-kan sesuatu yang mencurigakan. sinar gemerlapan segera memancar ke mana-mana. seketika itu juga suasana dalam ru-angan dicekam kegelapan. wajahnya ber-ubah menjadi serius dan sepasang tangannya turut gemetar. tengah malam sudah lewrat. cepat-cepat dia menutup kembali kotak tersebut dan menyerahkannya kembali kepada bibi Wan. . Dari arah tepi telaga sana. pelan-pelan ia mem-buka penutup kotak itu. Dengan hormat sekali Lan See giok mene-rima kotak kecil itu kemudian setelah mele-paskan kain kuningnya. Bayangan mzanusia kembali wberkelebat le-wrat. mereka pun berusaha memusatkan segenap perhatiannya untuk turut memeriksa ke tiga lembar daun emas tadi. toh terpe-ngaruh juga oleh emosi. sedang bin-tang berkedip kedip memancarkan cahaya nya. lamat-lamat kedengaran suara yang amat lirih. Mendadak. Pertama tama Hu-yong siancu yang me-rasakan lebih dulu. Berhubung Lan See giok sudah tahu kalau isi kotak tersebut berisikan sejilid kitab pusaka. maka dalam hati kecilnya timbul perasaan hormat. bibi Wan dengan jurus walet lincah menerobos tirai sudah melayang masuk kembali ke ruangan. Lan See giok sangat terkejut. sedemikian hening nya sampai masing-masing dapat mendengar de-tak jantung lawannya.. namun apa yang ditemukan tak lebih cuma daun emas biasa. Di dalam kotak itu berisikan tiga buah daun emas yang panjangnya beberapa inci. polos dan halus sekali. rembulan nampak bersinar cerah.

seolah-olah melayang di atas awan. dan bau tadi membuat ia merasa gembira dan sangat nyaman. dia cuma berharap bisa bersama dengan enci Ciannya untuk selama lamanya . segulung hawa panas yang segar dengan ce-pat menyusup ke dalam lubuk hatinya. dengan cepat ia mem-beri tanda. lalu dengan nada kaget ia berbisik: "Ibu. Lan See giok segera tersadar kembali dan mengalihkan pandangannya ke arah telaga. Sudah lama dia mimpikan menggenggam tangan enci Ciannya yang lembut. lalu menarik tangan pemuda itu dan diajaknya menuju ke pintu pekarangan. Tanpa terasa ia bersama Ciu Siau cian te-lah berjongkok di bawah pagar pekarangan. dan kini harapannya telah menjadi kenyataan. Lan See giok menyusul di belakang Ciu Siau cian. Dari bawah tanggul telaga tampak ada tiga sosok bayangan manusia sedang ber-gerak mendekat. Ketika Lan See giok merasa tangannya di-genggam oleh tangan enci Cian nya yang ha-lus dan lembut seakan akan tak bertulang. sebaliknya Lan See giok malah termangu . Mengikuti di belakang gadis tersebut sekarang. . bau harum semerbak yang berhembus lewat membuat hatinya berdebar semakin keras. membuka pintu rumahnya sedikit lalu mengintip ke luar segulung angin dingin berhembus masuk. Ciu Siau cian tidak menolak sebab ia se-dang memusatkan semua perhatiannya un-tuk mengintip melalui celah-celah pagar pekarangan. mereka bersama sama berdiri di belakang pintu.mangu oleh kecantikan wajah kekasih hatinya ini. dia tidak ber-hasrat untuk memikirkan hal lain lagi. terselip pula bau harum khas dari enci Ciannya. Dalam keadaan begini. . udara terasa sedikit di-ngin. Ketika Ciu Siau cian mengetahui adik Gioknya menyusul.213 Sedangkan Ciu Siau cian memasang telinga baik-baik sembari mengerdipkan ma-tanya. dia seperti sudah melupakan segala ketegangan yang dirasakan hanya se-macam perasaan aneh yang tak terlukiskan dengan kata-kata. di bawah cahaya rembulan mereka hanya sempat melihat potongan badannya saja. . Mendadak Ciu Siau cian menyikutnya pe-lan. tubuhnya. tanpab disadari ia mejnggenggam tangagn Ciu Siau cianb semakin kencang. dan perasaan ini dapat membikin jantungnya berdebar keras dan wajahnya bersemu merah. seperti ada perahu yang merapat di tepi telaga!" Dengan langkah terburu buru dia me-nuju ke luar. Diantara bau harum itu.

Lan See giok mengangguk dengan gelisah sahutnya dengan nada gelisah. ternyata Oh Tin san berti-ga sedang berbisik bisik seperti merunding-kan sesuatu. Tanpa terasa dia lantas menggenggam ta-ngan Ciu Siau cian kencangkencang. udara yang hangat dan harum. mengikuti tudingan itu.. Oh Tin san dan Say nyoo-hui segera mengalihkan sorot mata mereka yang tajam bagaikan sembilu ke arah depan. Betapa leganya Lan See giok setelah meli-hat bibinya munculkan diri. Dalam pada itu Oh Tin San dan Say nyoo-hui sedang memberi gerakan tangan kepada Oh Li cu." "Ssst--!" Hu-yong siancu menempelkan jari tangannya ke atas ujung bibir me-lakukan gerakan melarang berbicara. Lan See giok merasakan tubuhnya gemetar keras. agaknya dia pun sedang me-ngawasi gerak gerik Oh Tin san bertiga. Menyaksikan sorot mata mereka. tak tahan dia berpaling ke arah pintu rumah mohon bantuan. bahkan hampir saja men-jerit tertahan.214 Mendingan kalau Lan See giok tidak meli-hat. sungguh merupakan suatu rangsa-ngan yang luar biasa." Sewaktu Ciu Siau cian mendengar perka-taan itu dia seperti agak terkejut pula. dia telah menyaksikan bibi Wan berdiri di belakang pintu pagar dengan wajah tenang. hanya sayang Lan See giok yang tegang sehingga dia sama sekali tidak merasakan akan hal tersebut. Tiba-tiba Oh Li cu menuding ke muka. rupanya ke tiga sosok manusia yang baru saja melompat turun dari tanggul telaga itu adalah si manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san. . Oh Tin san. agaknya dia sedang menanyakan bkejadian yang djialaminya hari gini kalau di tibnjau dari wajah Oh Tin san tampaknya dia amat gusar.. begitu diintip dia menjadi kagetnya setengah mati. kedua orang lainnya adalah orang tua mereka. Say nyoo-hui KiCi-hoa serta Oh Li cu yang cantik tapi genit itu. cepat-cepat dia mengangguk dan kemudian meng-alihkan kembali sorot matanya ke arah tepi telaga. tanpa terasa bisiknya lirih: "Bibi. meski demikian rasa tegang toh belum mereda. "Siapakah mereka? Apakah perempuan yang bernama Oh Li cu?" Suara yang halus. Oh Tin san serta Say nyoo-hui. dengan cepat dia berbisik. "Bukan hanya 0h Li cu seorang. ke enam mata mereka yang ta-jam dialihkan kemari tiada hentinya. Ciu Siau cian segera merasakan akan hal itu. Lan See-giok memahami maksudnya dan berpaling kembali. setelah itu dia menuding ke tepi telaga.. Baru berpaling.

dengan gugup dia me-nyandarkan diri dekat jendela depan. sementara sepasang matanya telah merah membengkak karena kebanyakan menangis. cepat dia berpaling.215 Mendadak . Hu-yong siancu mengikuti di belakang mereka dengan sikap yang tenang. sementara tangannya yang kurus kering menuding kesana ke mari seperti lagi me-nanyakan sesuatu. sekalipun dia sayang anak tapi berhu-bung masalahnya menyangkut suatu urusan besar. keningnya berkerut dan bibirnya cemberut. Baru saja mereka bertiga menginjakkan kakinya ke atas tanah. Peluh dingin dengan cepat bercucuran membasahi tubuh Lan See-giok. bibi Wan nya memberi tanda kepadanya agar kabur secepatnya. Dari situ kembali dia mengintip ke muka. lalu membuat sebuah lubang kecil pada kertas jendela tadi. maka dia menarik tangan Ciu Siau cian dan bersama sama kembali ke dalam kamar. disaat dia hendak melangkah ke dalam kamar dilihatnya enci Cian sedang dibisiki sesuatu oleh ibrunya. Rambut Oh Li cu sangat kusut. Tanpa banyak membuang waktu. Oh Tin san segera melejit ke udara dan melayang turun ke dalam halaman. diperingatkan sebelum di-panggil agar jangan munculkan diri. . Lan See giok mengangguk dengan gugup kemudian berjalan masuk ke dalam kamar tidur bibinya. dengan wa-jah penuh amarah dia mengawasi Oh Li cu. Saat ini dia mengenakan pakaian ringkas berwarna merah. sebilah pedang tersoren di punggungnya. waktu itu mereka sedang berbisik bisik sambil menuding ke sana ke mari. kemudian berjalan mendekati ba-ngunan rumah mereka. Sorot mata sesat kelihatan mencorong ke luar dari balik mata Oh Tin San. Dalam suzasana begini. maka dia seakan-akan tak sanggup lagi untuk membendung amarah 0h Tin San terhadap putrinya. Oh Li cu telah mengangguk dengan pasti. kali ini Oh Tin san suami istri serta Oh Li cu telah berdiri di luar pagar sambil menengok ke dalam rumah. Sementara itu. lalu memberi tanda kepada Lan See giok agar bersembunyi di ruang dalam. dia menuding ke arah pepo-honan ditengah halaman. . dwia tidak berhasrrat lagi untuk mendengarkan apa yang dibicara-kan bibi Wan nya. pintu rumah sekalian ditutup rapat. Ke tiga orang itu bersama sama memberi tanda. Say nyoo-hui Ki-Ci-hoa berkerut kening juga. . sedangkan Say nyoo-hui serta Oh Li cu mengikuti di bela-kangnya.

.!" Tahu-tahu pintu depan terbuka lebar. "Bila kau mengaku tak tahu. kemudian gelengkan kepalanya dengan tidak me-ngerti. Setelah berdiri tegak. . entah ada perso-alan apa kalian suami istri bersama putri kalian berkunjung ke mari? Gubuk kami reyot. dia melanjutkan. sahutnya sambil tertawa nyaring: "Hu-yong siancu adalah seorang pendekar wanita yang namanya sudah menggemparkan lima telaga dan sekarang hidup menyendiri di tepi telaga untuk mencari kehidupan yang aman damai. bila lihiap tidak berbohong. Hu-yong siancu dengan wajah yang anggun dan tenang telah berdiri angker di depan pintu. senyum dingin segera menghiasi lagi ujung bibir mereka. . tak ada salahnya aku berbicara secara blakblakan. sambil tertawa ham-bar Hu-yong siancu berkata: "Selama ini kalian menjagoi dunia per-si-la-tan dengan bercokol di benteng Wi-lim-poo. nama besarnya sudah termasyhur sampai di seantero dunia. tentunya sudah kau ketahui bu-kan apa maksud kunjungan kami pada ma-lam ini" Hu-yong siancu berkerut kening. ujarnya hambar. malah dengan senyum dikulum dia melangkah ke luar dari dalam ruangan. kami suami istri berdua tak lebih hanya manusia kasar." Merah padam selembar wajah Oh Tin san dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak. "Entah apa maksudmu?" Paras muka Oh Tin san berubah.216 "Kraak. tentunya kau tahu bukan sepasang tangan susah melawan empat tangan. kami ibu dan anak ber-un-tung sekali bisa hidup bertetangga dengan kalian dengan mendirikan gubuk reyot di tepi telaga" Kemudian setelah memandang seke-jap kearah Oh Li cu. bila tidak keberatan silahkan masuk ke ruangan untuk minum teh dulu. tapi hanya sebentar saja paras muka mereka segera pulih kembali seperti sedia kala dan menunjukkan sikap angkuh. Hu-yong siancu tidak menunjukkan sikap apapun. sebagai manusia yang berpengala-man. malam ini sengaja kami datang untuk me-ngambil kembali kitab pusaka Tay lo tiap yap cinkeng. setelah berseru tertahan mereka mundur setengah langkah. malam sudah larut. . setelah tertawa dingin katanya dengan suara dalam. "Kini. agaknya kejadian tersebut sama sekali di luar dugaan. Paras muka Oh Tin san suami istri berubah hebat. tapi dalam waktu singkat mereka berhasil me-nguasai kembali keadaan. Kemunculan tuan rumah yang amat tiba-tiba ini sangat mengejutkan Oh Tin San suami istri.

217 biar-pun kami bertiga sadar bukan tandingan lihiap. "Lan Khong-tay memerintahkan kepada-mu harus menyerahkan kotak kecil itu ke-pada si manusia aneh tersebut pada saat kapan?" "Tengah hari tadi!" jawab Hu-yong siancu tanpa ragu. Say nyoo-hui memutar biji matanya. ia sudah bertanya dengan wajah kaget." Ketika mendengar perkataan terbsebut. se-lain itu dia pun mempunyai sebuah ciri yang sangat khas . terpaksa kami akan mengerubutib lihiap" Dengajn wajah berlagagk kaget bercampbur keheranan Hu-yong siancu segera berseru. hanya diterangkan ia memakai jubah kuning. tapi untuk mem-bela diri. sekalipun Oh Tin san serta On Li cu sendiri-pun dibuat keheranan. "Di atas bukit sana. peluh dingin jatuh bercucuran dengan amat deras."" Setelah berhenti sejenak dia memandang sekejap ke arah Oh Tin san yang wajahnya mulai memucat serta Say nyoo-hui yang berkerut kering. Say nyooj-hui mendongakkgan kepalanya dabn ter-tawa seram. ke-mudian menimbrung. "Siapakah ciancu itu?" Hu-yong siancu menggelengkan kepala nya berulang kali: "Di dalam suratnya Lan tayhiap tidak menjelaskan siapakah manusia tersebut. . "Kotak kuning itu diserahkan oleh Gurdi emas peluru perak Lan tayhiap kepadaku agar disampaikan kepada seorang cianpwe. "Di tempat mana?" Hu-yong siancu menggerakkan alis mata nya. setelah itu melanjutkan: "Adapun ciri khas dari manusia berjubah kuning itu adalah pada keningnya terdapat sebuah tahi lalat yang berwarna merah!" Sekujur badan Oh Tin san gemetar keras. . tanpa terasa mereka saling berpandangan sekejap. . aku seperti tak pernah mendengar harus menyerahkannya kepada mu" Berubah paras muka Oh Tin san setelah mendengar ucapan itu. berambut perak dan berjenggot panjang. . sebab mereka serentak teringat kembali de-ngan Lan See giok yang hilang lenyap. lalu sambil menuding ke belakang rumah sahutnya. tak sampai Hu-yong siancu menyelesaikan kata katanya. Oh Tin san suami istri serta Oh Li cu ber-tiga merasakan hatinya bergetar keras. . suaranya tinggi melengking per-sis seperti suara kucing kawin. Selain Hu-yong siancu sendiri yang di bikin tak mengerti oleh suara tertawa lengking itu. tapi toh bertanya juga dengan nada tidak mengerti.

aku tidak percaya dengan segala obrolanmu tersebut". dia benar-benar tak menduga kalau situasi di dalam halaman akan mengalami perubahan sedemikian cepatnya. Lan See giok termangu mangu. Tapi. ia menghardik: "Siapa yang berada di dalam ruangan?" Sambil membentak dia menuding kearah pintu kamar.seperti rdisambar gunturz disiang hari bwolong. kemudian setelah tertawa seram dia berkata: "Aku tidak percaya." "Jika tidak percaya lantas kau mau apa!" Hu-yong siancu segera menarik mukanya dengan gusar. "Lonio akan menggeledah!" Sembari berkata. dan gugup anak muda itu melompat turun dari pembaringan lalu melompat ke jendela belakang dan mem-bukanya dengan cepat. meski begitu dia tetap bersikap tenang. sekalipun dia ternganga karena kagetnya.218 Selesai tertawa. toh tampak juga kecerobohan mu itu. untung tiada suara yang terpancar ke luar. Memandang si kakek berjubah kuning yang berdiri di luar jendela itu. "Criing!" cahaya tajam berkilauan. kepalanya terasa pusing tujuh keliling. Karena kaget dan cemas. Si kakek berjubah kuning yang berwarna halus dan lembut itu tahu-tahu sudah mun-cul di luar jendela dengan senyuman diku-lum. tenaga dalam-nya dihimpun ke dalam telapak tangan. Lan See rgiok tertegun lalu melongo. Berubah hebat paras muka Lan See giok yang mengintip dari balik jendela. Agaknya Hu-yong siancu tidak menyangka kalau Say nyoo-hui bakal berubah sikap sedemikian cepatnya.. ke-mudian jawabnya dingin: "Dia adalah putriku Siau cian!" Say nyoo-hui melototkan matanya. ditatapnya wajah Say nyoo-hui yang sedang menyeringai itu lembut. hampir saja ia roboh tak sa-darkan diri karena terkejutnya. Oh Li cu telah meloloskan pula pedangnya. Say nyoo-hui kembali ber-kata dengan suara dingin: "Kau siluman rase cilik yang tak tahu diri. "Kemudian dengan mata melotot dan ter-tawa seram. tiba-tiba sepasang ta-ngannya berputar dan sepasang goloknya sudah diloloskan dari sarung. Sementara itu keberanian Oh Tin san pun nampaknya semakin menjadi. .. makin besar. kendatipun kau cerdas dan lihay. lalu dia bersiap siap untuk menerkam ke muka. mencorong sinar tajam dari balik ma-tanya.

"Ki-Ci-hoa. " Tergetar juga perasaan Hu-yong siancu. sekalipun ia berada dalam rumah. Hu-yong siancu memang termasyhur sebagai perempuan cantik. bayangkan saja. tampak bayangan manusia berkelebat lewat. apakah kalian sanggup me-lewati diriku sebelum dapat me-masuki ru-angan ini?" Oh Tin san termasuk manusia licik yang banyak curiga. kecurigaannya segera timbul setelah mendengar perkataan itu. dia berjalan menuju ke pintu gerbang. Diam-diam Lan See giok amat terkejut. dia merasa kepalanya seperti di-pukul dengan tongkat besar. betul juga. Dalam pada itu suara bentakan gusar dari Hu-yong siancu telah berkumandang lagi dari tengah halaman. lalu setelah tertawa dingin katanya. silahkan dicoba. kendatipun dia sudah tahu kalau si kakek berjubah kuning itu memiliki kepandaian si-lat yang sangat lihay. . Sementara dia masih termangu. "Hmm. jangan lagi Lan See giok telah diajak tokoh silat itu belajar silat di pegunungan terpencil. kakek berjubah kuning itu sudah melompat masuk ke dalam ruangan dengan enteng tanpa menimbulkan sedikit suarapun. kau tak usah bersilat lidah. "Oh Tin-san. ti-dak sampai Say nyoo-hui menyelesaikan kata katanya. tapi ilmu meringankan tubuh yang demikian sempurnanya ini pada hakekatnya belum pernah di dengar atau dilihat olehnya. . jangan mencari penyakit di tem-pat ini. tapi sekalipun kepandaian silatmu lebih hebatpun jangan harap bisa me-nandingi kami bertiga . sayang sekali aku tidak percaya kalau dalam dunia ini terdapat kejadian yang begitu kebetulan. kakek berjubah kuning itu telah menepuk nepuk bahunya dengan lembut wajahnya sangat ramah penuh senyuman. Sementara ia masih termenung. sesudah memberi tanda agar jangan berisik. sekalipun kau sudah bercerita yang aneh-aneh. Dengan buas penuh kebencian Say nyoo-hui melotot sekejap kearah Huyong siancu. bukan saja aku Han Sin wan akan serahkan Lan See giok kepada kalian. kuanjurkan segera kau ajak istri dan putri mu untuk pergi meninggalkan tempat ini. kalau toh kau yakin gabungan tenaga kalian bertiga sanggup mengatasi diriku. dia telah menyela dengan dingin.219 Mimpi pun ia tak pernah mengira bakal menjumpai kakek berjubah kuning itu di rumah bibi Wan nya. . terutama setelah mendengar kalau Lan See giok telah diterima tokoh silat itu sebagai muridnya. asal satu diantara kalian bertiga sanggup melewati diriku dan memasuki ru-angan.

. masa ia berani berbicara membual . balik!" Tapi suasana di luar halaman sangat he-ning. "Ibu. bagi kami bukan menjadi masalah yang serius. sekarang kau masih punya muka untuk banyak ngebacot lagi di sini? Bila Lan See giok benarbenar berada di sini. BAB 11 PARAS muka Oh Tin san suami istri sama-sama berubah. Oleh sebab itu tanpa sadar mereka berdua menghubungkan kejadian tersebut dengan kepandaian sakti yang tercantum-dalam ki-tab cinkeng. segera ujarnya dengan suara hambar: . jangan-jangan Hu-yong siancu telah berhasil mempelajari berapa diantara nya? Kalau tidak. Oh Li cu sudah melejit ke tengah udara dan ka-bur menuju ke luar halaman . tentu saja ia bukan hanya gertak sambal belaka. . mungkin bapak ibumu sendiri juga tak akan kau akui!" Baru selesai perkataan itu diutarakan. dengan pamor Hu-yong siancu di dalam dunia persilatan. "Tutup mulut.? Begitu terbayang kemungkinan besar kepandaian silat Hu-yong siancu telah me-ningkat lebih hebat. seolah-olah dia sedang bertanya: Bagaimana sekarang? Tergerak hati Hu-yong siancu. urusan jadi kacau gara--gara ulahmu. rasa iri dan marah kem-bali berkobar di dalam dada Say nyoo-hui. bila kau bersedia serahkan pula kepada kami. Oh Tin san menjadi gugup. . Oh Tin san memandang sekejap ke arah Say nyoo-hui yang tampaknya mulai menye-sal dengan pandangan gelisah." Api amarah dan rasa iri sedang membara di dalam dada Say nyoo-hui.220 kitab pusaka Tay loo hud bun-pwee yap cinkeng-pun akan kupersembahkan ke pada kalian bertiga!. se-dang soal Lan See giok. sambil menggertak gigi menahan dendam ia berseru kembali: "Terus terang kuucapkan kedatabngan kami pada jmalam ini adalagh bertujuan untbuk merebut kitab Tay lo-pwee yap cinkeng. tentu saja kami akan membawanya pula " Baru saja perkataan itu sudah diucapkan dengan wajah berubah Oh Li cu telah me-nimbrung. kau tak boleh berkata begini . sebab ucapan tersebut kelewat tekebur. dia merasa kesempatan baik ini tak boleh disia-siakan dengan begitu saja. di hati kecil mereka merasa amat terkejut. begitu mende-ngar perkataan dari Oh Li cu amarah yang semula tak terlampiaskan kontan saja mele-tus dengan mata melotot besar. bentaknya penuh amarah. teriaknya tanpa terasa: "Anak Cu. yang terdengar hanya ujung baju ter-hembus angin yang makin menjauh.

"Celaka. mereka telah dibikin kabur oleh perka-taanmu." Hu-yong siancu datang amat gelisah. dengan cepat dia berpaling pula ke ruangan. ce-pat-cepat dia menyusul ke luar jendela. Tapi sewaktu mereka berdua mendongak-kan kembali kepalanya. posisi Oh Tin san serta Say nyoo-hui benarbenar serba salah. ternyata Oh Tin san suami istri sudah melarikan diri ter-birit birit. dia berlari masuk ke rumah. sedang masalah ki-tab pusaka Tay lo hud bun pwee tiap cinkeng telah kuserahkan kepada kakek berjubah kuning. keadaan di situ tiada perubahan.." Dalam keadaan demikian ini. tak sesosok baya-ngan manusia pun yang nampak. selangkah demi selang-kah mereka mundur terus ke belakang. terpaksa aku akan mencoba pula ilmu baru yang baru kupelajari dari kitab Hud bun cinkeng tersebut.. ketika tidak dijumpai Lan See giok turut ke luar. tapi kemudian dia seperti mema-hami sesuatu. sambil menjerit kaget mereka mundur tiga langkah sorot matanya penuh rasa kaget dan ngeri. Maka dia berpaling lagi. ia melompat ke luar jendela dan naik ke atap rumah. Hu-yong Siancu yang menyaksikan peristiwa ini tentu saja menjadi tertegun. wajah mereka ber-ubah hebat. di jumpai putri kesayangannya masih ber-sembunyi pula di situ. bila kalian masih saja bersikeras akan menggeledah rumah. Tapi. Hu-yong siancu telah melayang turun . Ciu Siau cian tahu kalau gelagat tidak beres." pekik Hu-yong siancu panik. Ciu Siau cian telah menyongsong pula dari kamarnya. hanya rembulan bersinar di langit barat. tapi jendela sudah terbuka Lan See giok juga lenyap tak berbekas.221 "Kepergian putri kalian dalam gusar. serunya kemudian de-ngan gembira. bisa jadi akan mengambil jalan pendek. pasti ada se-suatu yang tak beres. Cian ji kagum sekali kepadamu. buru-buru ia menegur: "Mana adik Giokmu?" Sambil bertanya cepat-cepat dia masuk ke kamar sendiri. lebih baik kalian berdua cepat-cepat menyusul putri kesayangan kalian saja. pintu rumah masih terbuka lebar. keningnya berkerut sedang hati kecilnya ke-heranan. Dari gerak gerik ibunya yang gugup. Sadarlah Hu-yong siancu. coba lihat. Suasana amat hening. baru saja akan menyusup ke atas atap rumah. mereka berdua segera saling bebrpan-dangan sekjejap. dia tak berniat menjawab perkataan dari putri-nya. "Ibu. agaknya mgereka sudah berbtekad hendak menyerbu ke dalam ru-angan. tanpa terasa dia melirik pula ke depan jendela pu-trinya.

kenapa Lan See giok bisa lenyap dari situ? Sementara itu. Kendatipun demikian. gerakan tubuh kakek itu cepat. tubuh merekapun berhenti bergerak. Ciu rSiau cian menutup daun jendelanya rapat-rapat. tapi setelah berpikir lebih jauh. yang telah menghabisi nyawa ayahnya perlu diketahui dan di tanyakan pula dari kakek berjubah kuning ini---Sementara dia masih termenung. Ketika kakek berjubah kuning itu menge-baskan ujung bajunya. dia merasa kakinya seolaholah tidak menginjak tanah. apa yang telah terjadi? Mana adik Giok?" Dengan wajah pucat pias Hu-yong siancu menuding ke jendela bagian belakang kemu-dian mereka berdua brersama . mereka langsung menuju ke sebuah puncak bukit. ia saksikan ibunya sedang mengeluarkan sebuah kotak kecil berkain kuning dari bawah pembaringan. kedua orang terse-but tetap merasa tak habis mengerti. ditambah pula dia tidak menun-tut kotak kecil itu. Lan See giok telah dibawa si kakek berjubah kuning itu berlarian di tengah tanah pegunungan. kini sudah mereda kembali Ia pernah berpikir. hal tersebut seharusnya bisa dia lakukan se-mudah merogoh barang dalam saku sendiri. tubuhnya terasa sudah melambung ke atas puncak te-bing itu. sekali bagaikan sambaran kilat. Agak lega perasaan Hu-yong siancu setelah melihat kotak itu masih tetap utuh. perasaan gelisah dan ce-mas yang semula menyelimuti perasaan Lan See giok.sama kzembali ke dalamw ruangan.jangan hal tersebut hanya merupakan sebuah taktik merebut hati dari kakek berjubah kuning tersebut. de-ngan kepandaian sakti yang di miliki kakek berjubah kuning itu. Apalagi masalah ke lima manusia cacad serta siapa gerangan pembunuh sebenarnya. Lan See giok segera berpaling. ia saksikan kakek berjubah kuning itu dengan senyuman ramah dikulum dan sorot mata yang berkilat kilat . melainkan melayang diantara awan. bila dia ingin melarikan kocak kecil tersebut. tersebut dapat merasakan angin ta-jam menderu deru di sisi telinganya. Lan See giok yang berlarian mengikuti kakek. rasa cemas yang semula mencekam perasaannya kini men-jadi lega kembali.222 Cepat-cepat Ciu Siau cian menyusulnya sambil bertanya: "Ibu. ketika penutupnya dibuka tampak daun emas tersebut masih tetap seperti sedia kala. jangan . dia merasa pemikiran tersebut tidak benar. Berhubung kemunculan kakek berjubah kuning itu berhasil membuat Oh Tin san 1ari ketakutan.

"dari mana Oh Tin san bisa me-ngetahui tempat tinggal dari bibi Wan---?" . waktu yang tersedia bagi kita tidak banyak. nadanya penuh kegembiraan. juga tiada batuan cadas. Mereka berduapun duduk di atas tanah berumput. mengapa aku datang mencarimu malam-malam begini?" Lan See giok memang berperasaan demikian. selama ini aku... Kakek berjubah kuning itu kembali ter-tawa terbahak bahak. Kemu-dian dengan suara lembut dia ber-kata: "Nak. tanah yang amat lembut bagai-kan busa. Tanpa terasa diapun menjura seraya ber-kata dengan hormat: "Boanpwe Lan See-giok menyampaikan salam untuk locianpwe" Seraya berkata dia lantas jatuhkan diri berlutut dan memberi hormat. dijumpainya bukit itu sangat datar. akupun dapat pula me-nemukan dirimu. puluhan kaki di seputar sana tidak dijumpai pepohonan pinus ataupun bambu.haaahhh. "Haaahhh--. Kakek berjubah kuning itu mengangkat kepalanya dan tertawa terbahak bahak. maka dia mengiakan dengan hor-mat. dia hanya tersenyum tanpa me-ngucapkan sepatah katapun. suaranya nyaring bagaikan pekikan burung hong. ayo cepat bangun dan duduk. kita harus berbicara banyak. haaahhh. Boleh dibilang tempat semacam ini me-ru-pakan sebuah tempat yang ideal sekali untuk bercakap-cakap. jatuhnya bunga atau daun pada jarak sepuluh kaki di seputar sana pun bisa ditangkap olehnya dengan nyata. sejak aku masuk ke dalam benteng Wi-lim-poo. Dengan kepandaian maha sakti yang di miliki kakek berjubah kuning itu." SAMBIL berkata dia lantas membangun-kan pemuda tersebut dari atas tanah. apalagi bila terbayang sikap hor-mat dari si naga sakti pembalik sungai terha-dap orang itu. oleh sebab itu mereka dapat menemu-kan kau.. terus terang kukatakan kepadamu nak. setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu.-" "Locianpwe" tanya Lan See giok tidak habis mengerti.. tidakkah kau merasa keheranan. rum-put tumbuh amat subur. Sikap yang begitu belas kasih dan ramah ini dengan cepat menggetarkan perasaan pe-muda kita. tak pernah meninggalkan Oh Tin san.223 sedang memandang ke arahnya penuh belas kasih. Lan See giok mengiakan dengan hormat. jelas tak mungkin ada orang yang bisa menyadap pembicaraan mereka tanpa ketahuan jejaknya. Kemudian kakek berjubah kuning itu ber-tanya dengan ramah: "Nak.

224 "Kalau dibicarakan sebenarnya hanya seca-ra kebetulan saja. seharusnya kau bisa menduga akan diriku. "Pernahkah kau bercerita kepada Oh Tin san bahwa bibi Wan mu mempunyai seorang putri berusia enam tujuh belas tahunan?" Mendengar pertanyaan itu Lan See giok segera menjadi menyesal sekali. akhirnya mereka putuskan untuk melakukan penyelidikan. ketika Oh Tin san suami istri kembali ke benteng.-" Mendengar sampai disini. namun ia tak bisa menguasai diri bila menghadapi suatu persoalan. maka kembali ia ber-tanya: "Tahukah locianpwe. Lan See giok pun menjadi paham kembali." Lan See giok pernah menaruh curiga. "Nak." . Oh Tin san segera menaruh curiga kalau rumah ini bisa jadi adalah tem-pat kediaman bibi Wan mu.. Di dalam benteng Wi-limpoo banyak terdapat kapal perang yang berlabuh." Berbicara sampai di situ ia berhenti seje-nak seakan akan sedang memikirkan se-suatu lalu dengan tidak mengerti ia ber-tanya. maka semua duduknya persoalanpun menjadi jelas. penjagaan dan pengintaian tersebar di mana-mana. tapi Oh Li-cu berusaha-keras membe-laimu. untung saja penjagaan di dalam benteng tidak ketat sehingga banyak memberi keleluasaan bagiku.. memang tidak gampang bagi orang luar untuk me-n-yelundup masuk. "Tatkala Oh Li cu bercerita ada seorang gadis berbaju kuning yang berusia enam tu-juh belas tahunan menunjukkan perubahan wajah dan nampak amat sedih sekali setelah bertemu kau. Say nyoo-hui segera menuduh kau berusaha melarikan diri. dia manggut-manggut. ketika mereka ketahui bibi Wan mu ternyata adalah Hu-yong siancu Han Sin -wan yang sudah lama mengasingkan diri. "Anak Giok tahu sekarang. Oh Li cu menangis sambil mengadukan peristiwa lenyapnya kau kepada orang tua mereka. tanpa terasa seru-nya cemas. di luar dikelilingi telaga yang luas. Kakek berjubah kuning itupun melanjut-kan kembali ceritanya. kepergian Oh Tin san ditengah malam buta tanpa pamit tempo hari adalah untuk pergi mencari bibi Wan nya. orang berdiri di luar jendela semalam itu adalah locianpwe?" Sambil tertawa ramah kakek berjubah kuning itu manggut-manggut. malam berse-lang kalian membicarakan lagi soal kotak kecil itu. apa sebabnya Oh Tin san suami istri meninggalkan rumah secara tergesa gesa ditengah malam buta?" "Walaupun Oh Tin san orangnya buas dan kejam.

tapi kenyataannya kalian semua malah naik ke atap rumah. .. dia bertanya kembali. seakan akan me-mahami sesuatu.225 Lan See giok segera teringat akan sesuatu rahasia yang tidak diketahui olehnya. bisa jadi dia me-nganggap penjagaan di luar benteng-nya su-dah sekokoh dinding baja lantai tembaga dan mustahil ada orang menyusup ke dalam. si naga sakti pembalik sungai akan mengatakan aku telah pergi!" Lan See giok semakin tidak mengerti. dengan nada tak mengerti kembali dia bertanya: "Tahukah locianpwe di dalam gedung bagian pusat benteng Wi-lim-poo kenapa ti-dak diberi penjagaan?" Kembali kakek berjubah kuning itu ter-menung sebentar." Tergerak hati Lan See giok setelah men-dengar perkataan tersebut. justru keba-likannya. . Kakek berjubah kuning itu tertawa ramah. "Sekalipun aku berada di situpun.. dari kejauhan sana kedengaran suara ayam jago mulai berkokok--- . haaahhh . maka kuatir rahasia pribadi dalam ru-angannya ketahuan orang lain. Terdengar kakek berjubah kuning itu melanjutkan kembali ceritanya: "Waktu itu Oh Tin san pun berpendapat akulah yang telah menyadap pembicaraan tentang rahasia kotak kecil tersebut. karena nya ia menjadi gugup dan ketakutan. lalu sahutnya: "Oh Tin-san adalah seorang manusia yang gampang menaruh curiga. akhirnya diputuskan untuk berangkat pada malam itu juga mencari si naga sakti pemba-lik sungai dan menjelaskan masalah kotak kecil itu kepadaku. hal ini bisa dibuktikan pula dengan tiadanya orang yang berdiam di seputar situ. kemudian Oh Tin san ke luar dari ruangan setelah mendengar suara. baru saja dia hendak minta penjelasan lebih jauh. haah . . diam-diam Lan See giok memuji akan keberanian kakek berjubah kuning tersebut. . asal kau tun-dukkan kepalamu." "Tapi locianpwe toh tidak berada di kam-pung nelayan itu. "Locianpwe bilang malam berselang kau berdiri di luar jendela. niscaya akan kau jumpai jejakku. aku cuma bersembunyi di bawah lantai batu di depan jendela pagoda air.." Mendengar penjelasan tersebut. waktu itu apakah locianpwe sudah masuk ke ruang belakang?" Kakek berjubah kuning itu tertawa terba-hak bahak: "Haah . maka dia sengaja tidak mengatur penjagaan di seputar sana.. tapi nyatanya tidak ditemukan seso-sok bayangan manusiapun. dia merasa tinda-kan semacam ini sungguh kelewat me-nye-rempet bahaya." tukas Lan See giok kuatir. se-waktu kau ke luar dari jendela.

sekarang sudah mendekati kento-ngan ke lima. maka dia berkata kemudian. katanya dengan perasaan sedih. kita harus menyelidiki secara seksama lebih dulu sebelum bisa me-nentukan siapakah pembunuh yang sebenar-nya. kakek berjubah kuning itu berkata kemudian. Lan See giok segera memohon: "Dapatkah locianpwe menjelaskan asa1 usul dari kelima manusia cacad dari tiga te-laga itu? Mengapa kelima orang itu sama-sama memiliki julukan yang mengandung kata "tunggal"? Darimana mereka bisa tahu kalau ayahku berdiam di kuburan kuno serta apa sebabnya ke lima manusia cacad yang berdiam di pelbagai wilayah bisa berkumpul di tempat yang sama pada malam yang sama-" 'Tidak sampai Lan See giok menyelesaikan kata katanya. bibi Wan mu pasti akan sangat gelisah dan tidak tenang. mata atau kaki. apakah kau masih ada urusan lain yang hendak ditanyakan kepadaku?" Menghadapi pertanyaan tersebut. "Pertanyaan mu yang beruntun tersebut bila kujawab dengan memerlukan waktu yang amat panjang. kau harus kembali se-belum fajar menyingsing kalau tidak. apakah kau sudah memahami sebab musabab yang mengakibatkan kema-tian ayahmu?" Lan See giok mengangguk. mustahil semua masalah bisa dijelaskan dalam waktu singkat. sedang soal dari mana mereka bisa tahu ayahmu berdiam dalam kuburan kuno itu. karena pertanyaan yang akan diajukan kelewat banyak. "Sekarang. Lan See giok menjadi sangsi. setelah memandang se-kejap keadaan langit. dia menimbrung. "Hanya sampai kini anak Giok belum me-ngetahui siapakah pembunuh sebenarnya dari ayahku." Sambil mengelus jenggotnya dan terme-nung sejenak. Teringat akan julukan-julukan yang isti-mewa dari kelima manusia cacad itu. kakek berjubah kuning itu te-lah menggoyangkan tangannya men-cegah pemuda itu melanjutkan kembali kata kata-nya. sehingga untuk sesaat dia tak tahu pertanyaan mana-kah yang hendak diajukan lebih dahulu--Tampaknya kakek berjubah kuning itu bisa menduga jalan pemikiran Lan See giok. sebenarnya julukan semula dari ke lima orang tersebut tidak disertai kata "tunggal". "Nak. sekarang aku hanya bisa memberitahukan kepadamu. "Kalau ditinjau dari segi-segi yang ada sekarang. kelima manusia cacad itu sama-sama mencurigakan. hal tersebut baru dapat diketahui setelah kita .226 Kakek berjubah kuning itu segera me-rasa waktu sudah siang. diapun berkata. pada mulanya mereka pun bukan manusia yang cacad telinga.

lain kali tentu akan kujelaskan lebih jauh! Selesai berkata diapun beranjak siap-siap meninggalkan tempat tersebut. tapi hanya aku seorang diri tak mungkin bisa membacanya" Lan See giok sangat tidak mengerti atas perkataan itu. meskipun mendapatkan pusaka tersebut pun sama artinya dengan men-da-patkan benda rongsokan. "Benar. dengan be-gitu kepandaian tersebut biru dapat dikuasai olehnya. harus ada seorang yang bertenaga dalam sempurna menggenggam daun emas tadi ke-mudian mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya ke dalam daun emas tadi sedang si pembaca harus berlutut di hada-pannya sambil baca. "Untuk membaca isi kitab pusaka ter-sebut. lama kemudiabn ia baru bertanya: . Menjadi termangu Lan See giok bsehabis mendengjar perkataan itgu. "�Pernah locianpwe membaca isi kitab tersebut?" Kakek berjubah kuning itu segera mem-perlihatkan paras serba salah. "Konon tiga lembar daun emas yang berada dalam kotak kecil itu berisikan se-macam ki-tab pusaka ilmu silat yang memuat kepan-daian silat maha sakti. benarkah perkataan tersebut?" Tanpa ragu barang sedikit pun jua kakek berjubah kuning itu mengangguk.227 datangi kelima manusia tersebut. lalu tertawa pe-nuh arti. maka kembali die bertanya. dia tahu kakek berjubah kuning itu hendak pergi se-belum fajar menyingsing. tahukah kau darimana ayahku bisa mendapatkan kotak kecil itu?" "Dia mendapatkan secara kebetulan di bawah Giok li hong bukit Hoa san. keningnya berkerut." Sekali lagi tergerak hati Lan See giok. nah hari ini aku hanya bisa menjelaskan sampai di sini. katanya ke-mudian. cuma orang yang tidak mengetahui rahasianya. Buru-buru ia bertanya lagi: "Locianpwe." Lan See giok ingin sekali mempelajari ilmu silat maha sakti yang tercantum dalam cinkeng itu. sela-nya. kemudian tanyanya bimbang: "Kalau toh locianpwe sudah mengetahui cara untuk membaca rahasia kepandaian si-lat tersebut mengapa kau tidak membaca nya seorang diri?" Kakek berjubah kuning itu memandang sekejap kearah Lan See giok. cuma orang inipun ha-rus memiliki bakat yang sangat bagus dan memiliki daya ingat yang tajam. Lan See giok memandang sekejapb ke ufuk timur jdi mana matahargi telah memancabrkan sinarnya yang keemas emasan. "Meskipun aku tahu bagaimana cara mem-bacanya.

. kesungguhan mu serta rejekimu. Tanpa terasa dia menjadi terbayang kem-bali keadaan ayahnya yang terkapar di atas genangan darah. to-seng cu? Dia.. tapi ada pula yang memasuki lembah tersebut sambil menyebutkan namanya serta berhasil men-jumpai wajah asli orang tersebut. Satu ingatan segera melintas dalam benak nya. . orang itu berdiam di bawah kaki puncak giok Ii hong di bukit Hoa san. banyak yang ingin me-nyambanginya tapi sebagian besar harus pulang dengan kecewa. Lan See giok menjadi amat gembira. siapakah tokoh sakti terse-but?" Kakek berjubah kuning itu termenung se-jenak. kaki bukit yang mana tidak kuketahui. kemudian dengan nada tidak pasti katanya. Walaupun Lan See giok merasa sulit tapi ia bersedia untuk mencobanya. "Konon orang itu bernama To seng-cu!" Gemetar keras sekujur badan Lan See -giok. sebab hanya manusia berkepandaian sangat lihay seperti To seng cu saja yang mampu menghabisi nyawa ayahnya di dalam sekali pukulan. diapun me-makai gelar kata "tunggal" . "To" atau tunggal di atas tanah. . "Locianpwe. . serunya tanpa sadar. ta-nya-nya cepat: "Locianpwe. tapi menurut cerita orang.. waktu itu tangan kanannya dengan menggunakan sisa tenaga yang dimi-likinya hanya sempat mengukir kata. . Tentang apakah kau berhasil menjumpainya. to. dengan cepat ia bertanya.228 "Locianpwe siapakah yang memiliki tenaga dalam sedemikian sempurnanya se-hingga dapat memaksa daun emas tersebut memperlihatkan catatannya?" Hanya si pemilik semula dari kotak ter-se-but" jawab kakek berjubah kuning itu tanpa ragu. maka se-telah menelusuri jejak ayahnya selama banyak ta-hun. anak Giok tidak becus tapi percaya memiliki daya ingat yang cukup baik. .. hal ini tergantung papa tekad. "To . dimanakah pemilik kotak tersebut sekarang? Dapatkah anak Giok pergi men-carinya de-ngan membawa kotak kecil ter-sebut?" "Menurut apa yang kuketahui. Jangan-jangan orang yang membunuh ayahnya adalah To seng cu ini? Siapa tahu To sreng cu menaruh zdendam kepada wayahnya karena rkotak kecil tersebut tidak dikembalikan kepadanya. akhirnya tempat kediaman ayahnya ditemukan? Semakin dipikir Lan See giok merasa se-makin masuk diakal. paras mukanya berubah hebat. . . ?" .

dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang dapatkah kau menampilkan tulisan di atas daun emas tersebut?" Kembali kakek berjubah kuning itu menunjukkan sikap serba salah. biarpun aku mengetahui kotak kecil itu di-sembunyikan di bibi Wan mu dikolong ran-jang. biar langit menghukumku!" Dengan penuh kegembiraan kakek berj-u-bah kuning itu tertawa terbahak bahak. dia semakin me-naruh hormat kepada kakek berjubah kuning itu.. itulah sebabnya kuberikan kesempatan yang sangat baik ini kepadamu. tapi sejak aku bertemu dengan kau dan me-nemukan kau adalah manusia yang berbakat bagus untuk belajar ilmu silat. katanya dengan hormat: "Locianpwe tak usah kuatir. semoga kau tidak sampai menyia-nyiakan harapanku!" Betapa terharunya Lan See giok setelah mendengar perkataan itu." Kemudian setelah berhenti sejenak dan menghela napas. Lan See giok tahu bahwa kakek berjubah kuning itu hendak pergi. aku sudah banyak tahun mencari ayahmu di mana-mana. bila aku menyangkal dari ucapanku." Setelah mengebaskan ujung bajunya. diapun beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut. Sambil mengangkat kepalanya dan mena-tap wajah kakek berjubah kuning itu lekat-lekat. "Locianpwe. anak Giok bertekad tak akan menyia nyiakan harapan kau orang tua. Nah anak Giok. cepat dia turut melompat bangun sambil berseru dengan cemas. katanya lebih jauh: "Terus terang saja anak Giok. dia bertanya. berko-barlah api marah dalam dadanya. ke-mudian serunya: "Kau memang anak yang penurut dan bisa diberi pelajaran. .. apalagi jika kau berhasil mempelajari kepandaian sakti dalam pusaka Pwee yapCinkeng tersebut sudah pasti kau bisa menjadi tangguh dan keadilan serta kebenaran di dunia ini bisa ditegakkan. setiap orang mempunyai kepentingan pribadi masing-masing. hawa napsu membunuh pun segera menyelimuti seluruh wajahnya yang tampan.229 Membayangkan kesemuanya ini. tapi aku tidak mengambilnya. tentu saja akupun berharap bisa membawa kotak kecil itu pergi menghadap To seng cu serta menjadi orang yang paling tangguh dalam dunia persilatan. lama kemu-dian dia baru menjawab: "Kecuali To seng cu seorang. mungkin dalam dunia persilatan dewasa ini sudah tiada orang kedua yang memiliki tenaga dalam seperti dia lagi.

pasti akan kubalas budi kebaikan dari kau orang tua!" Kembali kakek berjubah kuning itu tertawa terbahak bahak. lalu ditatapnya kakek itu sekejap titik air mata hampir saja jatuh berlinang. Sementara itu fajar mulai menyingsing di langit timur kabut tipis menyelimuti permu-kaan tanah. fajar sudah hampir menyingsing cepatlah pergi!" Lan See giok mengiakan dengan hormat. dan yang pagling penting tabk boleh mencari gara-gara. mungkin kemampuannya waktu itu masih di bawah kemampuanmu" Mendengar sampai di sini. seakan akan ia sedang melamun. katanya dengan amat ramah: "Anak Giok.230 "Locianpwe. langit sudah terang. katakan saja berterus terang" `Bila anak Giok berhasil menjumpai To seng cu serta mempelajari kepandaian silat maha sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Pwee yap cinkeng tersebut. dia mempercepat langkahnya menuju ke de-pan. anak giok masih ada satu per-soalan yang tidak mengerti!" "Bila ada persoalan. setelah melewati pepohonan siong yang lebat. setelah berpamitan lagi dengan kakek itu. "Enci Cian! Enci Cian!" . "Hal ini tergantung dirimu sendiri. jika kau rajin berlatih. Dengan cepat Lan see giok melompati pa-gar dan melayang turun di depan jendela. anak Giok akan pergi dulu. dalam perjalananmu kali ini. kabut pagi pun terasa semakin tebal. kecuali suara ayam berkokok dari arah kampung nelayan itupun sudah mulai kedengaran suara manusia. sekalipun To seng cu terhitung jagoan nomor satu dikolong langit dewasa ini. segera serunya lirih. apakah kau berniat sungguh-sungguh serta bersedia tekun mempelajari kepandaian itu. sepasang matanya memandang seba-tang pohon di hadapannya dengan termangu. sepanjang jalan kau mesti berhatihati karena membawa mestika. lalu katanya dengan hormat. Membayangkan betapa cemas dan gelisah nya bibi Wan serta enci Cian nya waktu itu. dalam waktu singkat dia telah tiba di halaman bela-kang rumah bibi Wan nya. Dari kejauhan ia sudah melihat enci Cian duduk di belakang jendela dengan wajah mu-rung. Setelah membangunkan Lan See giok dari atas tanah. Lan See giok segera menjatuhkan diri berlutut di atas tanah. Ketika tiba di dusun. jangan kelewabt memamerkan dijri. "Harap locianpwe suka menjaga diri baik-baik. dia baru membalikkan badan dan turun dari bukit tersebut. bila aku su-dah kembali dengan belajar ilmu. apakah tenaga dalamku bisa melampaui To seng cu ? Dengan wajah bersungguh sungguh kakek berjubah kuning itu segera berkata.

aku memang berniat menghindar untuk sementara waktu ke luar dusun sana " Ciu Siau cian menganggap perkataan itu ada benarnya juga. omelnya dengan penuh rasa kuatir: "Bagaimana sih kau ini? Mengapa pergi selama ini? Bikin hati orang gelisah saja. sementbara sepasang matanya yang jeli dengan perasaan tak tenang dan gelisah mengawasi pemuda itu tiada hentinya. Ciu Siau cian menarik kembali senyuman nya.231 Ciu Siau cian sadar kembali dari lamunan. Lan See giok melayang. aku takut Oh Tin san dan Say nyoo-hui mendengar suara panggilanku sehingga menambah kesulitan. Tak terlukiskan rasa haru. Meminjam tenaga tarikan tadi. mana bibi?" tiba-tiba pemuda itu teringat akan Hu-yong siancu. katanya dengan pe-nuh perhatian. kejut dan girang ia berseru lirih: "Ayo cepat masuk!" Dengan cepat dia menarik tangan pemuda itu." Sambil berkata dia mengangguk bpemuda itu dudujk di depan pembgaringan. Lan See giok baru teringat kalau tadi ia lupa me-na-nyakan nama kakek tersebut. aku diajak kakek ber-jubah kuning itu untuk bercakap cakap. mencorong sinar terang dari balik matanya. maka diapun meng-ang-guk." "Bukan siaute tidak ingin memberi pesan. . dengan wajah memerah terpaksa ujarnya. lalu sambil sengaja menarik muka dia berkata: "Ke mana lagi? Tentu saja pergi mencari mu. masuk ke dalam ruangan. "Yaa kakek berjubah kuning itu!" Meski Ciu Siau cian bisa memahami. "Enci Cian." "Kakek berjubah kuning yang mana?" tanya Ciu siau cian tidak mengerti. Ciu Siau cian memperhatikan sekejap keadaan sekelilingnya. tak urung dia toh tertawa cekikikan juga. berterima kasih dan hangatnya perasaan Lan See giok meli-hat perhatian enci Cian terhadapnya. lalu merapatkan pula daun jendelanya. melihat pemuda itu sudah muncul di hada-pannya. Menghadapi pertanyaan tersebut. kata-nya kemudian sambil ter-tawa: "Cici jangan marah. setelah itu sambil meng-genggam tangan pemuda itu. siapa suruh kau tidak meninggalkan pesan ketika pergi. kemudian setelah melihat sekejap matahari di luar jendela.

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Lan See giok membaringkan diri sambil me-mejamkan mata. Untuk sesaat suasana dalam halaman menjadi hening. sekarang beristirahatlah sebentar. . Lan See giok membuka matanya melirik sekejap ke arah enci Cian nya yang ter-senyum dengan muka merah.Tapi tiba-tiba saja terdengar Ciu Siau cian berkata. tidurlah dulu. Pada saat itulah dari luar jendela ke-de-ngaran suara pintu pekarangan dibuka orang. segera serunya: "Enci Cian aku tidak lelah. hanya menotok dengan pelan kemudian beranjak ke luar dari ruangan. pasti bibinya tahu kalau dia telah belajar ilmu menggeser jalan darah kepada enci Ciannya. Tersenyum Ciu Siau cian setelah melihat kejadian ini. ibupun segera akan pulang" kata Ciu Siau cian sambil menuding ke luar jendela. dia hendak menunggumu sampai pulang. aku hendak menunggu sampai bibi kembali. adik Giok telah pulang!" "Oya? Di mana ia sekarang?" tanya Hu-yong siancu kejut bercampur gembira.232 "Kau sudah bergadang semalaman suntuk. Oleh karena itu meski kelopak matanya telah dipejamkan. tapi dia kuatir dengan keselamatan bibinya. aku akan memanggilmu lagi!" Sambil berkata ia menekan bahu pemuda itu agar membaringkan diri. Mendengar perkataan itu Lan See giok segera melompat bangun dan siap ke luar. tiba-tiba ia menotok jalan darah Hek-si-hiat di tubuh pemuda itu. cepat-cepat dia membaringkan kembali badannya ke atas ranjang. akulah yang telah menotok jalan darahnya sebelum ia tertidur ---" Lan See giok yang mendengar perkataan Itu segera teringat kalau jalan darahnya su-dah tertotok." Setelah beberapa malam tak tidur. Menyusul kemudian kedengaran suara enci Cian nya berseru: "Ibu. Lan See giok memang merasa agak lelah. fajar telah menyingsing sekarang." "Coba kau lihat. lalu terdengar bibi Wan nya tertawa geli. namun masih bergetar tiada hentinya. Lan See giok segera tahu keadaan runyam. "Adik Giok sudah tertidur ibu. melihat jalan darah tidurnya ditotok hampir saja ia ter-tawa geli. bila ibu pulang. namun baur harum semer-bazk yang terpancawr dari pem-barirngan terse-but semakin membuat pemuda ini tak dapat tidur.

apakah bibi telah pulang?" Melihat Lan See giok sudah tahu masih pura-pura bertanya. anak Giok merasa tak tenang untuk memejamkan mata". . perasaan ti-dak tenang yang semula mencekam perasaan Lan See giok pun segera menjadi lega kem-bali. Menyaksikan keadaan adik Gioknya yang mengenaskan. Dengan tertawanya gadis itu. terasa ada angin berdesir le-wat. anak Giok bertekad akan mencari To-seng cu. Lan See giok segera melompat turun dari pembaringan. Tiba-tiba terdengar Hu-yong siancu ber-tanya: "Anak Giok. aku rasa bisa jadi dialah pem-bunuh yang sebenarnya dari ayahku. mukanya men-jadi merah padam karena jengah. Memandang sepasang muda mudi yang amat lucu itu. Dengan perasaan terkejut Lan See giok melompat bangun." Setelah semua orang mengambil tempat duduk masing-masing." Paras muka Hu-yong siansu amatb serius. Ciu Siau clan dengan wajah cemberut telah berdiri di depan pembaringan. lalu katanya dengan hormat. kau belum tertidur?" Menyusul kemudian dari luar muncul se-seorang yang masih basah oleh embun pagi. "Cici. sambil menun-dukkan kepalanya ia menjawab: . "Bibi. apakah kau berhasil melihat tahi lalat besar di kening kakek tersebut pada perjumpaan kali ini?" Bergetar keras perasaan Lan See giok mendengar pertanyaan itu. kontan saja sikapnya menjadi sangat tak tenang . ia tidjak segera menjagwab. Akhirnya pemuda itu menambahkan. sampai lamba kemu-dian baru tanyanya. Hu-yong siancu turut merasa gembira. duduklah. Ciu Siau cian merasa makin mendongkol ia bersiap siap meng-um-bar hawa amarahnya. bayangan manusia muncul di depan mata.233 Benar juga. . "Sebelum bibi pulang. lalu tanyanya sambil ter-tawa. ia pun turut tertawa. Sambil berkata dia mengerling sekejap ke arah enci Ciannya yang masih tersipu sipu. "Anak Giok. segera ujarnya dengan ramah: "Anak Giok. Lan See giok mulai menceritakan bagaimana pengalamannya bertemu dengan kakek berjubah kuning itu sampai dia pulang kembali. tanpa terasa Ciu Siau cian tertawa cekikikan. coba kau cerita-kan kisah perjumpaanmu dengan kakek berjubah kuning itu.

" perjalanan mu kali ini lebih banyak bahayanya dari pada selamat. katanya kemudian de-ngan nada menghibur. sekarang be-lum saatnya untuk mengetahui persoalan-persoalan tersebut" Dengan cepat paras mukanya telah pulih kembali seperti sedia kala. selanya tibatiba. anak Giok cuma teringat persoalanpersoalan yang dihadapi. "Kalian masih kanak-kanak. sorot matanya dialihkan ke luar jendela me-mandang matahari yang memancarkan sinar keemas emasan. tanpa terasab ia turut beriba hati. katanya kemudian sambil ter-tawa hambar. perjalanan semacam ini jelas merupakan suatu perja-lanan menyerempet bahaya. katanya malah dengan gagah. bibi tak akan menghalangi niatmu untuk mengunjungi bukit giok li -hong. sampai sekarang belum pernah ada orang . Lama-lama kemudian ia baru berkata agak tergagap: "Jangan-jangan dia adalah si kakek yang dijumpai Khong-tay tempo hari. bahkan bisa jadi akan mengorban-kan selembar jiwamu" Lan See giok sama sekali tidak gentar oleh perkataan tersebut. anak giok tak akan mundur barang setapak pun" Mendadak ia saksikan Cu Siau cbian menunduk dejngan wajah sedigh. lalu dengan nada penuh perhatian dia berkata. tapi mesti kau ketahui. "Dendam sakit hati anakku lebih dalam dari pada samudra. siapakah yang telah berjumpa de-ngan ayahku?" Hu-yong siancu segera sadar atas kekhi-lafan sendiri. andaikan To.-" Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan itu. "Anak Giok. selain bisa mem-pela-jari ilmu silat yang hebat akupun dapat membalaskan dendam bagi kematian ayah-ku"" Dengan sorot mata gembira Hu-yong siancu memandang sekejap ke arah Lan See giok lalu ujarnya sambil manggut-manggut. sekalipun harus naik ke bukit golok atau terjun ke kuali berisi minyak mendidih. anak Giokpun karena bencana peroleh rejeki.seng cu benar-benar adalah musuh besar yang membinasakan ayahmu. "Bibi. "Apalagi bencana atau rejeki bukan di tentukan manusia. karenanya aku lupa untuk memeriksanya dengan teliti. "Berbicara soal ilmu silat." Hu-yong siancu tidak menegur pemuda itu. ia seperti sedang melamun-kan sesuatu. sampai sekarang pun belum kita ketahui To seng cu sebenarnya musuh besar pembunuh ayahku atau bukan seandainya bukan.234 "Berhubung waktu yang amat singkat. To seng cu ter-hitung manusia paling kosen di dunia persi-latan dewasa ini.

hal ini hanya disebabkan kau sudah terlanjur menaruh perasaan benci ter-hadap julukan yang mernggunakan kata zper-mulaan "To"w atau tunggal. padahal arti sebenarnya dari To seng-cu atau aku yang telah sadar!" Berada dihadapan bibinya. anak Giok rasa arti dari julukan itu bukan aku yang telah sadar. . bukankah kau pernah berkata kau pun pernah bersua dengan To seng cu? Coba kau bayangkan... bila berjodoh dan dapat menjumpai To seng cu. waktu itu To seng cu mengenakan jubah panjang berwarna putih. namun dihati kecilnya dia terta-wa dingin. julukan To seng cu itu kelewat jumawa dan tekebur. Lan See giok tak berani memperlihatkan perasaan tak senang hati. " Hu-yong siancu segera berkerut kening agaknya ia telah melihat perasaan benci Lan See giok terhadap To Seng cu.. anak Giok berpendapat gelar To-seng cu ini kurang sedap didengar. dimana hal tersebut justru berla-wanan sekali dengan pandangan nya. sekilas perubahan aneh menghiasi wajahnya. kau harus mengata-kan yang sebenarnya yakni men-dapat pe-tunjuk dari seorang kakek berjubah kuning untuk datang minta belajar ilmu.. maka dengan perasaan tak puas katanya. seperti nama-nama Siau yau-cu. kau tidak boleh sekali kali menyinggung ." Melihat sikap bibinya begitu menaruh hormat. Sian kicu dan lain sebagainya. membawa kipas dan amat berwibawa sehingga siapa-pun akan berkesan mendalam bila menjumpainya. lalu ujarnya sambil manggut-manggut: "Peristiwa ini sudah terjadi sepuluh tahun berselang. seperti memahami sesuatu dia menyela: "Ibu. konon dia telah berumur di atas seratus tahun. .! Dengan sedih Ciu Siau cian mendongakkan kepalanya. ritulah sebabnya To seng cu memberi kesan kurang baik kepadamu. katanya dengan lembut: "Anak Giok. maka katanya kemudian sambil manggut-manggut dan ter-tawa: "Penjelasan secara demikian pun boleh juga. namun kelewat memaksakan pendapat sendiri dalam perjalananmu menuju ke bukit Hoa san kali ini.. persiskah dia dengan kakek berjubah kuning yang diceritakan adik Giok tadi? " Hu-yong siancu berkerut kening.235 yang mengetahui nama dan usia yang sebenarnya. katanya kemudian: "Anak Giok tetap berpendapat. kepandaian silatnya boleh dibilang sudah mencapai ting-katan yang luar biasa. "Bibi." Hu-yong siancu tertawa hambar. Lui cengcu. mungkin saja dia ber-anggapan akulah yang dipertuan . nama tersebut ke-banyakan adalah kaum tosu.

kemudian dengan kepala tertunduk mengikuti di belakang ibunya menuju ke kamar tidur ibunya. malam nantipun harus melanjutkan perja-lanan. tapi setelah diberi kesempatan untuk menjalin hubungan lebih mendalam. "Baiklah. Terdengar Hu-yong siancu berkata lebih jauh. dia melanjutkan. jarak dari sini hingga kota Tek an sekitar seratus li. Keesokan harinya kau boleh meneruskan perjalanan menuju ke wilayah Kui ciu lewat Sui ciang. ." Selesai berkata. dia lantas berjalan menuju ke luar. hal tersebut lebih mudah bagiku untuk me-loloskan diri dari kepungan bila menjumpai kawan jago lihay dari Wi-lim-poo" Hu-yong siancu segera menganggap uca-pan ini masuk diakal." Dengan perasaan amat berat Lan See giok mengangguk berulang kali sambil mengia-kan. sekarang beristirahatlah dulu di pem-baringan enci Cian mu. beristirahat di luar kota semalam. diapun mengangguk. . semalam kau belum tidur. "Anak Giok. sikap Ciu Sian cian saat ini sudah jauh lebih terbuka.236 masalah den-dam sakit hati. Benar hubungan mereka belum lama. Lan See giok termangu mangu. anak Giok ya-kin masih dapat menjaga diri sebaik baiknya. "Bisa jadi di sekeliling tempat ini masih pe-nuh dengan mata-mata dari Wilim-poo un-tuk menghindari segala sesuatu yang tak di-inginkan." Tampik Lan See giok cepat. " Kemudian setelah memandang sekejap ke arah putrinya yang sedang murung. dari sana kau boleh langsung ber-angkat ke bukit Hoa san. wajah pedih enci Cian nya sekarang pada hakekat nya berbeda sekali dengan wajah riang ketika menotok jalan tidurnya tadi. lebih baik kau berangkat se-telah malam nanti. Ciu Siau cian memandang sekejap ke arah Lan See giok dengan pedih. dengan menempuh perjalanan seorang diri. dari pada me-nimbulkan kecurigaan To seng cu dan mempengaruhi kemajuanmu dalam menuntut ilmu. bila menggunakan ilmu meringankan tubuh paling banter sele-watnya tengah malam kau sudah tiba di sana. semoga kau berhati hati di sepanjang jalan. sampai waktunya biar enci Cian yang melindungimu sampai di keresi-denan Tek an." "Tidak usah merepotkan enci Cian. ..

Ciu Siau cian telah masuk sambil menghi-dangkan santapan malam.. Akhirnya Hu-yong siancu mengambil kotak kuning itu dari dalam kamarnya serta se-bungkus uang perak. "Bibi. sepanjang jalan kau tak boleh kelewat menonjolkan diri. sampai lama sekali dia baru dapat tertidur. mana enci Cian?" "Ia sedang menyiapkan santapan malam untukmu" sahut Hu-yong siancu sambil melirik sekejap ke dapur. kembali ia bertanya dengan perasa-an tak mengerti.baik. tidurmu hari ini boleh dibilang sudah lebih dari cukup.. "Waah. cepat dia ke luar dari ruangan sambil bertanya. . sayangnya ke tiga orang itu merasa tak enak untuk makan. tidur anak Giok kali ini memang betul-betul nyenyak sekali. Hidangan pada malam itu sangat lezat. agaknya aku sudah tertidur cukup lama?" Melihat wajah Lan See giok cerah kembali dia sedikitpun tidak memperlihatkan tanda keletihan. hal mana membuat perasaannya amat resah. mungkin sudah mendekati pu-kul lima sore. Pikir punya pikir." Ketika tidak menjumpai Siau cian di ru-angan." Sambil tertawa Lan See giok menggeleng-kan kepalanya berulang kali. "Bibi." Sambil berkata. masalah demi masalah pun berdatangan secara beruntun. dia harus ber-angkat ke Hoa san dengan membawa nasib yang sukar diketahui. guna-kan uang perak terse-but sehemat mungkin. dengan kaget dia me-lompat bangun melihat bibinya berada di luar. dia serahkan kotak dan kantung uang tersebut kepada Lan See giok. sudah jam berapa sekarang. Lan See giok melihat sepasang mata enci nya sudah merah membengkak. matahari sore sudah di jendela belakang. "Selama berapa hari belakangan ini kau belum tertidur baik. wajahnya sedih dan murung. dengan girang Hu-yong siancu berkata. "Sekarang." Kemubdian setelah mejlirik sekejap mgatahari senja dbi luar pagar. terusnya.. simpanlah kotak kecil ini baik. Ketika mendusin. "Anak Giok. bisa jadi per-pisahan kali ini merupakan perpisahan untuk sela-manya. dengan begitu kau akan bisa tiba di Hoa san dengan tak usah takut kehabisan beaya. ia tahu gadis itu baru saja habis menangis. Baru saja dia menyelesaikan kata kata-nya. kemudian dengan pe-nuh perhatian ia berkata.237 Kini ia harus berpisah lagi.

anak Giok pasti akan pu-lang dengan secepatnya. bibi harap kau bersikap cerdik dalam menghadapi setiap persoalan. kalau sampai nasibku jelek dan tewas." walaupun kau sendiri tidak menyayangi ji-wamu. bibi mempunyai firasat kita pasti akan bersua kembali. dalam-dalam. namun kau harus memikirkan juga mereka--mereka yang selalu menguatirkan keselamatanmu" Lan See giok amat terkejut. Hu-yong siancu tersenyum. berpi-kirlah yang cermat. "Walaupun dia tak akan turun tangan keji kepadaku. ter-paksa budi kebaikanb bibi dan enci jCian akan kubaygar dalam penitibsan mendatang.. "Anak giok.. dua baris air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya. Hu-yong siancu berkata lagi dengan air mata bercucuran: "Bangkitlah anak Giok. lalu anak Giok akan mendampingi bibi dan tak akan terjun lagi ke dunia persilatan untuk selamanya." Sambil berkata seka1i lagi dia menjura. Dengan kening berkerut Hu-yong siancu berkata lebih jauh: "Bukan cuma bibi yang mengharapkan kepadamu. namun tak akan melancarkan serangan keji terhadap seorang anak muda seperti kau" Sementara itu Lan See giok telah me-nyimpan baik-baik kotak kecil serta kantung berisi uang itu. tak terlukiskan rasa haru dalam hatinya hingga tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran. tapi aku tak akan melepaskan dia dengan begitu saja. sekali pun ia bisa jadi telah membunuh ayahmu. jangan emosi dan jangan kelewat kolot. ia disegani dan dihormati setiap orang. dengan air mata bercucuran dia segera berpaling dan memandang sekejap Ciu Siau cian yang se-dang menangis tersedu sedu.238 Buru-buru pemuda itu bangkit berdiri sambil menerimanya. ujarnya sedih: "Bila anak Giok berhasil mempelajari ilmu silat dalam kepergian kali ini serta membalas dendam sakit hati." . Sambil membangunkan Lan See giok dari tanah. kata nya kemudian dengan mengandung arti dalam. enci Cian mu juga berharap kau bisa berjaya dalam dunia persilatan di kemu-dian hari. Siau cian yang paling sedih." Hu-yong siancu menghela napas sedih. kemudian dengan air mata bercucuran namun sikap tegas ia menjawab. terutama sekali melakukan tindakan "mengadu telur dengan batu. To seng cu adalah seorang tokoh persilatan yang berkedudukan sangat tinggi. cuma kuatir kepergian anak giok kali ini lebih ba-nyak bahayanya daripada keberuntungan. dia menutupi wajahnya dengan sepasang tangan dan menangis tersedu sedu.

"Kehidupan orang di kampung nelayan amat sederhana dan bersahaja. tak akan kulupakan pengharapan dari cici.!" Lalu kepada Siau cian ujarnya pula: "Enci Cian. baik baiklah menjaga diri. "Cici tak usah bersedih hati. lalu larilah menuju barat laut. "Anak giok menerrima semua nasezhat. butiran air mata sekali lagi jatuh bercucuran. kepergian siaute kali ini paling banter cuma satu tahun. Hu-yong siancu manggut-manggut dengan sedih. "Adikku cici akan selalu menantikan ke-datanganmu. kemudian manggut-manggut. Lan See giok segera menggenggam tangan Siau cian dan berkata dengan lembut. setelah memandang suasana gelap di luar halaman.. namun wajahnya masih tetap tenang. Lan See giok sendiri meski merasa berat hati. sampai waktunya aku pasti akan balik kembali. tidak sampai sepuluh li kau akan tiba di jalan raya menuju ke kota Tek-an. tujuan kepergianmu ke bukit Hoa san adalah untuk belajar ilmu silat.. dia lantas membalikkan badan dan masuk kembali ke ruang dalam Melihat bibinya telah masuk. namun dia toh menjura juga seraya berkata: "Harap bibi baik-baik menjaga diri. Maka sekali lagi dia berkata dengan wajah bersungguh sungguh: "Anak giok. katanya lebih jauh. aku pasti da-pat kembali dengan aman dan selamat. Walaupun Hu-yong siancu merasakan hatinya sakit bagaikan diiris iris dengan pisau." BAB 12 CIU Siau cian manggut-manggut. ujarnya de-ngan wajah penuh rasa menyesal." Ciu Siau cian yang masih menangis terisak pun segera mengangkat kepalanya dan me-mandang Wajah Lan See giok dengan mu-rung. beribu ribu patah kata semuanya di-tumpukkan dalam balik sorot matanya itu. kau boleh berangkat sekarang. sekarang berangkatlah lewat halaman belakang. dia memang tidak mempunyai keyakinan apakah kepergian Lan See giok kali ini benar bisa pulang kembali dengan selamat. nah.239 Lan See giok sangat terharu. sahut nya dengan air mata bercucuran." Seusai berkata." . pasti tak wakan kusia siakran harapan bibi dan cici". se-andainya terjadi sesuatu ditengah jalan kau tak boleh berdiam diri terlalu lama. anak Giok akan segera berangkat. sekarang ke-banyakan orang dusun telah pergi tidur." Ciu Siau cian memandang Lan See giok dengan wajah sayu.

katanya dengan suara rendah. Ketika Lan See giok menyusul sampai di situ. suasana kegelapan menyelimuti seluruh dusun. dua baris air mata sudah meleleh ke luar bagaikan air bah yang menjebolkan bendungan.240 Belum habis perkataan tersebut diucap-kan. ia berhenti sebentar seraya berpaling. dari bawah pohon yang ke tiga dijumpai ada sesosok bayangan manusia sedang berjong-kok di situ. tam-paknya belakang dusun tidak ada se-orang manusiapun!" Lan See giok memandang ke arah bibinya airmata bercucuran amat deras. setelah itu mereka berdua baru masuk ke ruang dalam. namun dari celah-celah jendela. jendela rumah bibinya telah di tutup. setelah itu baru membalikkan badan dan melanjut-kan perjalanannya. saking terkejutnya ia membentak seraya menerjang ke muka dengan sebuah pukulan siap dilontarkan. berangkatlah sekarang. semoga kau selamat dan sukses sepanjang jalan" Kemudian dengan penuh keramahan dia menepuk bahu pemuda itu. "Anak giok. kemudian mengulap-kan tangannya ke arah jendela belakang. Dengan cekatan sekali lagi dia mengawasi sekeliling tempat itu. sekali lagi dia menengok sekejap ke arah encinya. Setelah sampai di belakang sebatang pohon yang rimbun. Tiba-tiba Hu-yong siancu berpaling dan bisiknya lirih: "Anak giok. dengan menyembunyikan diri di-balik pepohonan dia meneruskan perjala-nannya ke depan. kemudian dengan cekatan dia menengok sekeliling jendela luar. ia da-pat merasakan ada empat buah sorot mata yang tak tenang dan gelisah sedang menga-wasi dirinya. sementara air matanya tak tahan jatuh bercucuran. Hu-yong siancu segera tertawa. . . beribu bintang bertebaran diangkasa. Setelah celingukan sekejap ke sekeliling tempat itu. ia lihat langit nan biru. bibirnya bergetar seperti ingin mengucapkan sesuatu. . namun tak sepatah katapun yang dikeluar-kan. ke-mudian baru melompat ke luar dari jendela dan secepat kilat meluncur ke luar dari pagar rumah. mumpung saat ini tiada orang cepatlah berangkat. Sementara itu bibi Wan telah membuka jendela belakang secara hati-hati. Lan See giok manggut-manggut. sambil pura-pura gembira. Tiba-tiba . Buru-buru Lan See giok menggunakan ujung bajunya untuk menyeka air mata di wajah encinya. Pada saat dia membalikkan badan itu-lah. Tak terlukiskan rasa kaget Lan See giok.

napasnya sangat teratur. Lan See giok segera berusaha mengen-dalikan diri.. Pada saat itulah. ternyata orang itu tak lain adalah Oh Li cu yang telah ditotok jalan darahnya. tak usah dilayani. Dalam keadaan begini Lan See giok sudah tak bisa memikirkan lagi bagaimana akibat nya bila dia menyadarkan kembali Oh Li -cu. menyusul kemudian dia periksa keadaan di sekeliling tempat itu dengan seksama. Waktu itu Oh Li cu sudah tertidur dengan nyenyak sekali.. cepat pergi. dari antara pepo-honan ia saksikan ada dua sosok bayangan manusia sedang meluncur datang dengan kecepatan luar biasa ternyata mereka adalah bibi Wan serta enci Cian yang mungkin mendengar suara bentakannya tadi. akan tetapi Oh Li cu masih tetap tidur amat nyenyak. je-las ia sudah ditotok jalan darah tidurnya. ia baru tertegun karena kaget. Dengan nada gelisah Hu-yong siancu segera menegur: "Anak giok. kemudian. sekali lagi paras muka mereka berubah hebat. bila ada orang menghalangimu. kemudian berjongkok dan me-meluk Oh Li cu ke dalam rangkulannya. anak giok berangkat dulu!" . persoalan di sini biar aku yang hadapi." Lan See giok mengangguk berulang kali. Hu-yong siancu dan Ciu Siau cian de-ngan wajah pucat dan gerak gerik gugup te-lah meluncur tiba. Mendadak terdengar ujung baju terhembus angin berkumandang datang . Dengan perasaan tegang Lan See giok segera berbisik "Bibi. ia segera me-nerima 0h Li cu dari rangkulan Lan See-giok dan secara beruntun melepaskan tiga buah tepukan. dengan cekatan dia awasi sekeli-ling tempat itu. kau tak boleh membunuhnya. se-telah itu bisiknya lirih: "Anak Giok. aku menemukannya bersandar di tempat ini!" Sekarang Hu-yong siancu sudah merasa-kan kalau gelagat kurang beres. Belum habis Ingatan tersebut melintas le-wat. Ketika kedua orang itu melihat Oh Li cu dalam rangkulan Lan See giok. "Bibi. agaknya jalan darah tidurnya telah ditotok serangan dengan se-macam ilmu totokan khusus!" Hu-yong siancu manggut-manggut. lalu bisiknya: "Bibi. telapak tangannya segera di angkat siap membebaskan totokannya.241 Tapi setelah berhasil mendekati dihadapan nya." Seraya berkata ia berjongkok dengan gugup. ia sudah dito-tok lebih dulu jalan darah tidurnya oleh orang lain. . . bantah Lan See giok. Dengan perasaan terkejut Lan See giok mengangkat kepalanya.

" . bila kau memang punya kepandaian. beberapa lompatan kemudian ia telah tiba di luar dusun. dalam waktu singkat tujuh delapan li telah dilalui. dia membenarkan arah tujuannya. dia sudah tak ber-minat lagi untuk memikirkan soal Oh Li cu yang ditotok orang.242 Sekali lagi dia menengok ke arah encinya yang berwajah pucat pias itu kemudian membalikkan badan segera berangkat me-ninggalkan tempat itu. sorot matanya yang tajam memperhatikan keadaan di sekitarnya de-ngan seksama. Sekeluarnya dari dusun. Lan See giok percepat langkahnya mening-galkan tempat itu. Dalam keadaan begini. Kembali terdengar suara bentakan penuh kegusaran: "Hei orang she Gui. kemudian meneruskan per-jalanan ke depan. dia meneruskan perjalanannya menembusi hu-tan melewati bukit langsung ke arah barat laut. Dengan menghimpun tenaga dalamnya ke dalam telapak tangan untuk berjaga jaga atas segala kemungkinan yang tak diingin-kan. Perasaan tegang dan panik yang semula mencekam perasaannya. Dikejauhan sana nampak tanah perbu-kitan secara lamat-lamat serta hutan lebat yang gelap gulita. Tanah persawahan yang dilewati. bukan berarti aku ta-kut kepadamu. Pada saat itulah. dari tempat itulah gelak tertawa nya-ring tadi berasal. kau jangan kelewat memojokkan orang. kemudian baru mene-ngok kearah utara. Serentetan suara gelak tertawa yang sangat keras dan nyaring berkumandang datang dari arah utara sana. berada dalam kegelapan yang luar biasa. Lan See giok tidak merubah arah. aku To pit him (beruang berlengan tunggal) Kiong-Tek-ciong selalu mengalah kepadamu. Setelah melalui sebuah tanah perbukitan. di sana sini hanya terdengar suara jengkerik serta kunang-kunang yang terbang kian kemari.. kau harus tahu hanya mereka yang berjodoh dan punya rejeki besar yang akan mendapatkan benda mestika. Satu dua li dari tempat persembunyian nya merupakan sebuah hutan pohon siong yang lebat. Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera menyembunyikan diri di belakang se-batang pohon besar. lamat-lamat di kejauhan sana sudah terlihat jalan raya menuju ke kota Tek an. ayolah ma-suk sendiri. aku tak nanti akan mengincar dirimu. lambat laun dapat ditenangkan kembali. apa yang dipikirkan sekarang adalah secepatnya meninggalkan daerah pesisir telaga.

"Beruang berlengan tunggal. Rupanya pemuda itu segera menyadari karena agaknya pertarungan dari si tongkat besi berkaki tunggal dan Beruang berlengan tunggal segera di akhiri ber-hubung mereka telah menangkap suara ujung bajunya yang terhembus angin. cepat-cepat dia lari turun dari bukit dan kabur menuju ke-gelapan di arah utara. ternyata suasana dalam hutan tersebut sudah pulih kembali dalam ketena-ngan. ia jumpai dibalik hutan pohon siong terse-but ternyata bukan lain adalah puncak ku-buran Ong-leng yang sangat dikenal olehnya. Dengan cepat dia menyembunyikan diri ke belakang bantuan cadas yang berada tak jauh dari sana. menyusul kemudian bergema suara desingan suara tajam dan deruan angin pukulan. dengan perasaan terkejut pemuda itu segera berhen-ti. Sekarang Lan See giok baru mengerti. ter-nyata hutan pohon siong di depan sana tak lain adalah kuburan Ong-leng yang didia-minya selama banyak tahun. Dari balik hutan kembali kedengaran suara Gui Pak ciang yang kasar. . hanya tidak di-pahami olehnya masalah yang membuat kedua orang itu ribut sendiri. kita boleh dibilang musuh bebuyutan yang merasa jalan kelewat sempit. Lan See giok tahu bahwa kedua orang itu sudah mulai melibatkan diri dalam pertaru-ngan sengit. sekarang dia baru mengerti bahwa markas besar si beru-ang berlengan tunggal berada di bukit Tay ang san. "aku akan beradu jiwa de-nganmu. tergerak hatinya. kau tidak usah bermain kembangan dihadapanku. Tapi setelah maju lebih ke muka. Lan See giok segera memastikan kalau suara tertawa itu berasal dari To tui thi koay (tongkat ber-kaki tunggal) Gui Pak ciang. ia dapat meli-hat kalau tempat kegelapan di depan sana memang sebuah hutan pohon siong. "Orang she Gui!" bentakan nyaring kembali berkumandang. hari ini kaupun jangan harap bisa kembali ke benteng Pek-hoo-cay!" Diiringi suara gelak tertawa yang nyaring. jangan harap kau bisa pulang ke bukit Tay ang-san mu dalam keadaan hidup!" Tergerak hati Lan See giok. bila kau tidak serahkan benda tersebut pada malam ini.243 Mendengar pembicaraan tersebut. Ketika ia mencoba untuk memasang telinga kembali. agaknya pertarungan yang semula berlangsung kini telah mereda. "Aduh celaka" pekik Lan See giok dalam bad. Dalam perjalanan tersebut.

habtinya sangat gelisah selain menyesal. diapun hanya bisa menunggu sampai kedua orang itu mencari sampai ke arahnya. dari pada benda mestika itu terjatuh ke tangan dua orang penjahat itu. Tanpa terasa dia meraba kotak kecil dalam sakunya.. Pada saat tangan kanan Lan See giok ham-pir menyentuh kotak kecil tersebut. Mendadak terdengar si tongkat baja kaki tunggal membentak nyaring: "Manusia sialan mana yang tak berani bertemu orang. menda-dak terdengar suara tertawa dingin seseorang yang sangat rendah berkumandang datang dari arah hutan pohon siong sana. malu. Teringat bibi Wan serta enci Cian nya. diam-diam ia merogoh ke dalam sakunya. ia tahu benda tersebut tentu akan sukar dipertahankan lagi.244 Benar juga. ternyata si tongkat besi kaki tunggal serta si beruang berlengan tunggal dengan senjata disiapkan sedang melakukan pencarian ke arahnya.. Dalam keadaan begini. mau bertarung diapun sadar bahwa kemampuannya belum mampu untuk menghadapi kedua orang tersebut. di samping itu diapun lantas teringat kembali pesan bibinya sebelum berpisah tadi. . terpaksa satu satunya jalan adalah beradu jiwa . jelas hal ini tak mungkin akan berhasil. Berpikir demikian. dari balik hutan pohon siong di depan sana segera muncul dua sosok baya-ngan manusia. gelisah berkecamuk di dalam benaknya kalau bisa dia ingin segera menghabisi nyawa sendiri. mereka berdua tentu tak akan menyangka kalau dia sudah terperosok ke dalam keadaan yang sangat berbahaya kini. Buru-buru Lan See giok menundubkkan kepalanya jsambil menyembugnyikan diri. Di dalam waktu yang amat singkat itu. kalau tidak segera ke luar. dia jadi gemetar karena ketakutan. ke empat buah sorot mata mereka yang tajam bagaikan sembilu segera dialihkan ke arah tanah persawahan sana.. Untuk kabur. ia merasa telapak tangan nya sudah mulai basah oleh keringat dingin. Sewaktu mengangkat kepalanya kembali. lebih baik ia hancurkan kitab pusaka tersebut. di samping Lan See giok menyesali kecerobohan sendiri. rasa menyesal. dengan cepat dia membalik-kan badan seraya membentak: "Siapa di situ?" Tapi suasana dalam hutan sangat hening dan tak kedengaran sedikit suarapun. . Beruang berlengan tunggal berdua merasa sangat terkejut." .

ia sudah tiba dijalan raya. sambil membentak nyaring serentak mereka menyerbu ke dalam hutan. Pemuda itu dapat menduga.. dria tak menyangka dalam bahayanya tadi ternyata muncul seo-rang bintang penolong yang tak sempat di-jumpai wajahnya. ketika berpaling kecuali pepo-honan rendah yang tersebar di belakang sana. si Tongkat baja kaki tunggal serta Beruang berlengan tunggal tentu sudah bertemu dengan gem-bong-gembong iblis yang kejam dan buas. Berhubung gerakannya sangat cepat dan luar biasa. Lan See giok segera memperoleh peluang yang baik sekali. tahu-tahu saja kedua titik hitam tadi sudah menghajar di atas kening si Tongkat baja kaki tunggal dan si beruang berlengan tunggal secara te-lak. mereka meraba pipinya. Kontan saja si Tongkat baja kaki tunggal serta si Beruang berlengan tunggal jadi gusar sekali. bisa diketahui kalau kedua orang tersebut tentu ketakutan sekali menjumpai lawannya. larinya semakin diper-cepat. bagaikan segulung asap ringan dia langsung melarikan diri menuju ke arah jalan raya. darij balik hutan teglah meluncur keb luar dua titik bayangan hitam yang langsung me-n-yambar ke hadapan tongkat baja kaki tunggal berdua dengan membawa desingan suara tajam. kalau ditinjau dari jeritan kagetnya yang menyeramkan tadi. ia tidak melihat ada manusia yang mengejar ke arahnya. ia tak berani berpaling lagi. Kedua orang tersebut menjadi tertegun kemudian berteriak kesakitan. "Plaaakkk. kedua orang itu tak sempat lagi untuk menghindarkan diri. . Belum sampai lima kaki Lan See giok mela-rikan diri. Gemetar sekujur badan Lan See giok. po-hon siong telah berkumandang dua kali jeri-tan kaget yang tinggi melengking serta penuh mengandung nada seram den ngeri. pekiknya dalam hati: "Kalau sekarang tidak angkat kaki. . plaaakkk!" Debu bertebaran ke angkasa. tiba-tiba saja dari arah hutan. ternyata senjata rahasia yang bersarang di atas pipi mereka berdua tak lebih hanya dua gumpal lumpur belaka. Dalam hati kecirlnya Lan See gizok tiada hentinwya bersyukur. dengan cepat dia melompat bangun dan segera kabur menuju ke arah barat laut. Sementara masih termenung.245 Belum habis umpatan tersebut dbiutarakan. masa aku harus menunggu sampai datangnya saat kematian?" Berpikir demikian.

tapi oleh sebab dia tidak merasa lelah. dahaga. ia tak berani melambatkan gerakan tubuhnya barang se-bentarpun karena sekarang dia baru mengingatkan diri atas pesan dari bibinya. Tiba-tiba--Bau harum semerbak yang sangat aneh muncul secara mendadak dari dalam tenggo-rokannya.246 Sekalipun orang yang berada di belakang itu tidak mengejarnya. . meski hanya setitik cahaya namun cukup menda-tangkan semangat bagi Lan See giok yang sedang -berlarian ditengah kegelapan. saat ini semangatnya terasa berkobar-kobar. entah berapa jauh perjalanan telah ditempuh. Satu kentongan sudah lewat. cahaya lentera tersebut berasal dari kota Tek-an. Dia tahu. di bawah cahaya rembulan yang amat redup Lan See giok berlarian seorang diri ditengah jalan raya yang lenggang. air peluh sudah mulai membasahi se-luruh jidatnya. suasana di sekeli-ling tempat itupun sangat hening. jangan mencampuri urusan yang bukan masalah sendiri. akan tetapi bayangan kota Toan-cong belum juga nampak. Sementara itu rasa lapar. angin malam terasa makin dingin. diputuskan untuk melanjutkan perjalanannya lebih jauh. Lan See giok tahu. Berhubung pada siang harinya dia sudah tidur cukup. hingga sekarang ma-salah tersebut masih merupakan sebuah tanda tanya besar. tak lama kemudian tengah malam pun telah tiba. tapi pemuda kita ber-larian terus dengan kencang. apalagi semenjak dia me-ne-lan pil racun pemberian dari manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san. dari keja-uhan sana ia mulai mendengar suara ayam jago berkokok. Waktu berlangsung amat cepat. Maka dengan melingkari kota. selain tenaga dalamnya telah peroleh kemajuan yang pesat. Sementara masih termenung dia telah tiba di kota Tek-an. me-ngapa bisa demikian. Malam semakin kelam. kegelapan malam yang mencekam makin terasa gelap. dia langsung berangkat menuju ke kota Toan cong. karenanya tanpa terasa semangatnya kembali berkobar. diapun sama sekali tidak merasa lelah. lelah dan gelisah telah menyerang datang bersama sama. sesaat lagi fajar akan menyingsing. Dalam kegelapan di kejauhan sana lamat-lamat dia melihat munculnya sebuah kota besar dengan beberapa titik lentera merah digantungkan ke tengah angkasa.

dusun di kejauhan sana pun lamat-lamat sudah mulai kelihatan. Ia tidak berniat untuk berpikir lebih jauh. dalam waktu singkat timbul hawa panas yang sangat hangat dari pusarnya yang dalam waktu singkat telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Maka dengan sorot mata yang tajam dia mulai mengawasi keadaan di sekeliling tem-pat itu. sekali melompat tahu-tahu saja sepasang kakinya sudah melayang turun ditengah jalan raya. dari ke-jauhan sana mulai terdengar suara anjing menggonggong. hal ini pasti bukan ditimbul-kan oleh cairan racun pil pemberian Oh Tin san tempo hari. dia merasakan mun-culnya cairan harum yang amat luar biasa dari bawah lidah dan kerongkongan nya. rasa lapar. persis seperti bau harum yang dirasakan setelah menelan pil berwarna hitam pemberian dari Oh Tin san sewaktu berada di dalam kuburan kuno tempo hari.247 Berbareng itu juga. dia harus bersemedi lebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan. tapi sekarang selesai ia . sebelum ia bersemedi tadi. ENTAH berapa lama sudah lewat. bdahaga dan lelajh yang semula mgenghantui dirinbya. tapi ia percaya. Dengan perasaan girang dia meneruskan perjalanannya. jelas hal semacam ini tak mungkin bisa dilakukannya. ketika Lan See giok membuka matanya. malah rasa lelah yang semula mencekam tubuhnya kini sudah jauh berkurang. ia merasakan tubuhnya telah segar bugar kem-bali. Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera memperlambat gerakan tubuhnya. Padahal jarak antara pepohonan dimana ia bersemedi tadi dengan jalan raya men-capai enam tujuh kaki lebih. Lan See giok segera melompat bangun. dia lihat fajar mulai menyingsing. akhirnya ia duduk bersila di bawah sebatang pohon yang rindang. kejadian tersebut kem-bali membuat anak muda tersebut ter-mangumangu karena kaget. Lan See giok memejamkan matanya sambil mengatur pernapasan. kerongkongannya juga tidak terasa dahaga lagi. penuh semangat dan tenaga. Dalam keadaan begini dia merasa tak bisa melanjutkan perjalanannya lagi. dengan cepat pula rasa lapar yang semula merong-rong dirinya kini hilang lenyap tak berbekas. bau harum tersebut makin lama terasa semakin menebal. sekarang telah hilang lenyap tak ber-bekas. enam tujuh kaki di sebelah kiri jalan. Entah sedari kapan. Dia merasa cairan harum itu berasal dari dalam tubuhnya sendiri. pada hakekatnya bagaikan dua manusia yang ber-beda bila dibandingkan sebelum bersemedi tadi.

248 bersemedi. girang membuat semangatnya semakin berkobarkobar. ternyata hal mana bisa dilakukan olehnya dengan begitu mudah. silahkan masuk ke dalam. Beberapaj orang pelayan gtersebut tak bebrani berayal. mereka sudah tahu kalau Lan See giok adalah anggota persilatan yang baru saja menempuh perjalanan semalam suntuk. dalam sekilas pandangan saja. di sana tersedia kamar tunggal yang dikelilingi ke-bun. maka dengan langkah le-bar dia segera berjalan menuju ke depan. semua persediaan lengkap. lalu dengan senyuman di wajah sapanya: "Siauya. namun jalan raya itu sudah banyak manusia yang berlalu lalang. kota Toan-cong pun kini sudah mun-cul di depan mata. Ketika Lan See-giok masuk ke jalan Lam-kwan. gembira. dia meneruskan perjalanannya juga lebih cepat lagi. . kendati pun dia membawa sejumlah uang yang lebih besar pun tak nanti dia akan boros seperti itu. ada kacung ada pelayan. Langit baru saja terang tanah. jangan lagi bekalnya amat sedikit. cepat-cepat mereka maju menyam-but kedatangannya. Ia segera memilih sebuah rumah pengina-pan yang agak besar untuk beristirahat. Rasa terkejut. orang yang berani menempuh perjalanan malam dalam usia seperti ini jelas sudah kalau kepandaian silat yang dimiliki nya pasti amat hbebat. Para pelayan rumah penginapan kebanya-kan adalah orang-orang yang sudah berpe-ngalaman. dia melanjutkan: "Biar aku menyewa kamar itu saja!" Pelayan segera mengiakan berulang kali dan mengajak Lan See giok menuju ke ru-angan. Apalagi kalau melihat usianya yang paling banter baru lima enam belas tahunan. matahari baru saja muncul. tanggung siauya akan puas" Lan See giok tidak ingin melakukan pem-borosan." Kemudian sambil menuding sebuah kamar tunggal di depannya. saat para pedagang mulai meninggalkan rumah penginapan untuk melanjutkan per-jalanan. seusai bersantap nanti aku masih melanjutkan perjalanan kembali. Karenanya dengan kening berkerut dia awasi beberapa orang pelayan itu. kemudian berkata dengan hambar: "Aku hanya ingin beristirahat sebentar saja.

semuanya membuat dia bingung dan tidak bebas mengerti. sekarang dia berani memastikan kalau selama berada dalam kuburan kuno tempo hari. Cairan harum itu yang muncul dari kerongkongannya pagi tadi serta bertambah-nya tenaga dalam yang dimiliki. selain tidak sombong. tidak nampak perabot yang lain. per-tama tama dia teringat akan enci Cian serta bibi Wannya. berarti dia tak akan bisa me-nyelidiki lagi sebab musabab mereka bisa mendatangi kediaman ayahnya pada malam itu. bibi Wan dan enci Cian pasti akan baik-baik merawat dirinya. apabila kepergiannya ke bukit Hoa--san kali ini berhasil mempelajari kepandai-an silat sehingga dendamnya bisa terbalas. Lan See giok segera membaringkan diri untuk beristirahat. Dari pembicaraan Oh Tin san suami istri. diapun menjum-pai kalau antara bibi Wan dengan ayahnya tentu pernah mempunyai suatu hubungan ryang luar biasaz. Ditinjau dari kejadian berkumpul dan berpisah dengan encinya. ia tidak terlalu yakin sekarang bahwa To seng cu adalah musuh besar pem-bunuh ayahnya. Lantas dia pwun terbayang kermbali Oh Li cu yang jalan darah tidurnya ditotok orang. Seusai bersantap. selain sebuah meja dua bangku dan sebuah pem-baringan kayu. orangnya selalu merendah. Akhirnya diapun membayangkan kembali soal To seng-cu. dua jeritan kagetnya yang memekikkan telinga tadi entah merupakan jerit kesakitan ataukah jeritan ngeri men-je-lang saat ajalnya tiba? Bila kedua orang itu sudah tewas. maka ia bertekad dihati. en-tah bagaimana keadaannya sekarang? Dia pikir. Maka pemuda itu pun memesan sejumlah makanan yang sederhana untuk mengisi pe-rut. diam-diam mereka memuji akan kesederhanaan pemuda itu. diapun tahu kalau bibinya dahulu terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang ber-nama Hu-yong siancu. biarpun berasal dari keluarga kaya namun hidupnya bersa-haja. Beberapa orang pelayan itu saling ber-pan-dangan sekejap lalu samasama mengundur-kan diri. kemudian berdasar-kan pembicaraan kemarin. Setelah itu diapun membayangkan si Tongkat baja kaki tunggal serta Beruang berlengan tunggal. dari nasehat dan teguran dari bibinya.249 Ruangan tersebut sangat sederhana. dia akan hidup selamanya bersama enci Cian serta bibi Wannya. . ia memang telah memperoleh penemuan luar biasa. dia tahu kalau enci Cian amat mencintainya. tapi biar sederhana namun segalanya bersih. namun ia tetap menaruh curiga kepadanya.

begitu angker. bukan saja tidak melarikan kitab pusaka Tay lo hud bun pwee tiap cinkeng. bukit Hoa san yang tinggi dan angkerpun sudah muncul di kejauhan sana. dalam benaknya juga sering muncul bayangan wa-jah dari enci Cian nya yang cantik dan lem-but serta bibi Wan nya yang anggun dan ramah. Diapun amat berterima kasih kepada kakek berjubah kuning itu. Dari jauh memandang. membayar rekening dan meneruskan perjalanan. dia jadi ingin sekali tiba di bukit Hoa san secepatnya. lalu duduk bersila. bukit itu nampak angker dan bersambungan dengan awan di angkasa. Dalam satu bulan perjalanan. menutup mata dan mengatur pernapasan. gagah tak malu di sebut bukit kenamaan di daratan Tionggoan Baru pertama kali ini dia berkunjung Ke bukit Hoa san. Hari ini ia menyeberangi Han sui. ter-utama rasa terima kasihnya atas pemberian beberapa butir pil pemunah racun untuknya. boleh dibilang dia sama sekali tidak mengenal dengan keadaan situasi di sekitar situ. dia sudah memasuki wilayah propinsi Ou pak. namun sama sekali tidak mem-penga-ruhi perjalanannya. dalam waktu singkat ia telah berada dalam keadaan tenang' Entah berapa saat kemudian. Kadangkala diapun teringat Oh Li cu. waktu sudah mendekati pu-kul sembilan. Hanya saja. hanya sewaktu ter-ingat Siau thi-gou yang polos dia selalu merasa agak menyesal. Lewat tengah hari. akhirnya pemuda itu memutus-kan untuk menginap di sebuah kota kecil yang jaraknya hanya sepuluh li dari kaki bukit. ia menjadi jauh lebih ma-tang daripada ketika berada di benteng Wi-lim-poo. selama ini dia tak pernah da-pat melupakan dendam sakit hatinya. Sepanjang perja-lanan Lan See giok selalu menuruti nasehat dari bibinya. ketika mem-buka matanya. . Lan See giok pun telah memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman. Dia juga berterima kasih kepada gadis ber-baju merah Si Cay-soat. dengan cepat dia mem-benahi diri. walaupun beberapa kali ia menjumpai hujan salju yang lebat.250 Teringat akan To seng cu. dia selalu menempuh perjalanan dengan berhati hati dan hemat. malah dia sempat memberita-hukan kepadanya bagaimana caranya mem-pelajari kitab pusaka tersebut. Dalam sepanjang perjalanan. Maka dia segera melompat bangun.

segera datang menghampiri sambil menegur: "Tuan. gardu Nyoo kong teng. diantara sekianb banyak bukit dji bukit Hoa sang. Seorang pelayan yang sudah sejak lama mengamati tamunya ini. di atas puncak terdapat kuil Pek tee bio. sang pelayan segera merasakan semangatnya bangkit kembali. ia bertanya: "Tolong tanya. tentu saja banyak sekali. tum-buhan bambu. kemudian ta-nyanya dengan nada tidak mengerti: "Masa di atas bukit Hoa san hanya ter-da-pat tiga buah puncak kenamaan saja . segera selanya: "Tolong beri petunjuk kepadaku Giok-li--hong adalah puncak yang mana?" . . semua tempat indah seperti gadis cantik yang tinggi semampai. araknya sudah mulai dingin rupa-nya. kolam Lok eng ti. Tidak menanti sampai pemuda itu me-nye-lesaikan kata katanya. di sebelah timur adalah Sian jin hong. dia menunjuk kearah deretan pe-gunungan itu lalu.251 Seorang diri pemuda itu duduk di loteng rumah makan sambil memandang bukit yang menjulang tinggi ke angkasa dengan panda-ngan termangu.?" "Aaah." Melihat si pelayan sama sekali tidak me-nyinggung soal puncak Giok li hong. batuan air kolam penuh ber-serakan dimana mana. puncak manakabh yang paling indah?" Menghadapi pertanyaan itu. " "Giok li hong . setelah itu menunjuk ke tanah per-bukitan di depan sana. . tugu Jian jip pit masih ada lagi tem-pat-tempat kenamaan lain. tergerak hati Lan See giok. dia tertawa ramah kemudian meng-geleng. "seperti Im tay hong. apakah perlu hamba hangatkan dulu?" Melihat pelayan tersebut." mencorong sinar terang dari balik mata Lan See giok. sedangkan Lok-eng-hong terletak di sebelah selatan. lama kelamaan ia menjadi tak tega. puncak di bagian tengah yang paling tinggi disebut puncak Lian hoa hong. Kun cu hong. ia tak tahu bukit manakah yang dinamakan Giok li hong.. Giok li hong. menerangkan: "Tiga puncak bukit Hoa san sukar di beda-kan satu dengan lainnya. dan dia pun tak tahu harus masuk melalui jalan bukit yang mana. Menyaksikan pelayan itu bercerita dengan penuh semangat sampai mukanya turut menjadi merah. sang pelayan kembali telah menimbrung: "Giok li hong amat tinggi bukitnya dan se-lalu tertutup awan putih." jawab pelayan itu bersungguh sungguh.. Lan See giok segera berkerut kening. pohon siong.

Memandang jauh ke depan. "Tuan. terhembus angin pagi yang segar tubuh terasa lebih bersemangat. katanya sambil tertawa paksa: "Maaf tuan. Lan See giok telah me-ninggalkan kota kecil itu langsung menuju ke jalan raya yang berhubungan dengan kaki bukit bagian selatan dari bukit Hoa-san. "Begitulah. setibanya pada puncak bke tujuh Tiau yjang hong. ular besar. berarti hanya setengah harian saja dia akan tiba di tempat tujuan. aku tidak memiliki jiwa seni yang begitu tinggi. keesokan harinya ketika fajar baru menyingsing. banyak manfaat yang berhasil di-raih olehnya. sambil tertawa paksa ia menggelengkan kepalanya berulang kali. bintang bertaburan diangkasa. orang biasa dapat mencapai tujuan dalam dua hari perjalanan. kemu-dian sambit menuding katanya lagi. puncak Giok li hong tertutup oleh puncak Lok eng hong.giok mengangkat kepalanya. awan putih nampak menyelimuti puncak-puncak bukit itu se-hingga kelihatan seperti bersambungan satu dengan lainnya.li-hong. apalagi dari sini sam-pai di Giok li hong memakan waktu perja-la-nan selama dua hari lebih. sukar diketahui berapa jauh jaraknya dari tempat itu. binatang buas dan lain lainnya. ketika matahari belum muncul dia sudah tiba di kaki selatan bukit Hoa san." Sambil berkata dia lantas mengalihkan pandangannya kearah Lok eng hong. dari situ akan kau jumpai Giok li hong.dan segar bugar. salahsalah aku bisa kehilangan nyawa" Lan See giok tersenyum saja mendengar cerita itu." Mengikuti arah yang ditunjuk Lan See. di atas gunung pun banyak harimau. Merah padam selembar wajah pelayan itu. menurut cerita pelayan itu. langsgung pergilah keb Lok eng hong. Dengan dilangsungkannya pembicaraan tersebut. namun pegunungan Hoa san dapat terlihat secara lamat-lamat. "Kau pernah berkunjung ke Giok li hong?" tanyanya kemudian dengan kening berkerut.252 Pelayan itu segera menggelengkan kepala nya berulang kali. dia pun manggutmanggut. . meski kabut pagi masih menyelimuti angkasa. Waktu itu udara sangat cerah. "Hamba hanya manusia kasar yang tidak berkependidikan. jadi tidak ter-lihat dari tempat ini. Lan See giok menempuh perjalanannya dengan cepat. andaikata dia menggu-nakan ilmu meringankan tubuh. bila kau ingin berkunjung ke Giok. masuklah ke gunung lewat mulut lembah sempit.

mendongakkan kepalanya dia hanya melihat pantulan sinar matahari yang amat menyi-laukan mata. pada-hal tengah hari sudah tiba. Pemuda itu segera mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan. makin lama makin sesukar medan yang ha-rus di lewatinya. Setelah membenarkan arah. jauh berbeda dengan apa yang semula dibayangkan. dia meneruskan perjalanannya bagaikan terbang. suasananywa segera berubarh. dalam angga-pannya setelah mencapai puncak bukit itu. di samping itu diapun berhasil menemukan kilauan cahaya dinding kuil di punggung bukit di kejauhan sana. Dalam keadaan begini dia mulai merasa gugup. hanya awan putih yang menyelimuti dimana mana. awan putih yang berkuntum kuntum lewat di sisi tubuhnya membuat pemuda itu kadangkala tak bisa membedakan lagi arah mata angin. ia mencoba un-tuk mendongakkan kepalanya.. sebab bila keadaan seperti ini ber-langsung terus.. akar rotan tumbuh dimana mana. jauh memandang ke atas. Baru pertama kali ini Lan See giok mema-suki sebuah bukit besar yang begitu angker. puncak Tiau yang. dia sudah tak tahu dimanakah dirinya berada. Setelah memasukri daerah pegunuzngan. batuan cadas berse-rakan. Lan See giok meninggalkan jalan raya menuju ke sebuah mulut bukit. kakinya sudah mulai menginjak lapisan salju.. tidak akan sulit untuk menemu-kan Giok li hong. puncak terse-but masih ada ratusan kaki tingginya. kabut masih menyelimuti angkasa. biarpun berlarian sampai be-sok tengah haripun belum tentu dia akan menemukan puncak Giok li hong.253 Setelah membenarkan arah menuju ke puncak Tiau yang hong sesuai dengan pe-tunjuk pelayan. Sejauh mata memandang hanya lautan mega yang tak bertepian. dengan cepat ia temukan antara puncak dengan puncak lain boleh dibilang semuanya berhubungan. Sewaktu tiba di sebuah sudut bukit. Segera diamatinya suasana di sekeliling tempat itu dengan seksama. Dua jam kemudian. selang-kah demi selangkah dia melanjutkan perja-lanannya ke atas. puncak bukit ber-munculan seperti hutan. tumbuhan. Mendongkol dan gelisah segera menye-li-muti perasaan Lan See giok. akhirnya pandangan ma-tanya menjadi terang dan ia sudah menem-busi lapisan awan. . Tapi pemuda itu tidak putus asa.hong yang berjejer dengan puncak Lok eng hong ternyata masih berada dua tiga puluh li jauhnya.

Pemuda berbaju abu-abu itu.. Mendadak. dadanya terasa lega sekali. kedatangan orang itu pasti hendak menyelidiki sumber dari pekikan-nya tadi. lautan awan yang tak bertepian menyelimuti empat penjuru. berwajah tampan dan menyoren sebilah pedang di punggungnya. walaupun dia merasa dirinya sangat kecil ditengah bukit yang luas namun perasaan-nya sangat lega dan membuat orang merasa se-gar. kabut melayang dekat per-mukaan sementara suara air terjun bergema entah dari mana. Lan Se giok benar-benar amat kegirangan. Benar juga. Tak lama kemudian dia telah tiba di pun-cak Tiau yang hong. setibanya di situ pemuda ber-baju abu-abu itu langsung menghampirinya. marah. dia menegur dengan suara dalam.. semua perasaan kesal. "Apakah kau baru pertama kali ini tiba di sini?" . dia saksikan seorang pemuda berbaju abu-abu dan berusia dua puluh satu dua tahunan sedang berlarian datang dari balik hutan pohon siong dengan langkah tergesa gesa. Pemandangan di atas puncak ini sangat indah. tanpa terasa lagi ia berteriak keras-keras. Ia menangkap suara ujung baju yang ter-hembus angin berkumandang datang dari belakang tubuhnya. pohon siong tumbuh berjajar jajar. gerakan tubuhnya juga dipercepat. tanpa terasa sekali lagi dia berpekik panjang. kemudian seperti menahan amarah yang meluap-luap. Lan See bgiok segera mengerti... Dengan pekikan itu. lama sekali belum juga mereda. semangatnya segera berkobar kembali.. Suara teriakannya segera menggema di seluruh angkasa dan mengalun sampai di tempat kejauhan sana. Lan See giok sangat gembira. Dengan perasaan terkejut Lan See giok membalikkan badan. pita kuning tergantung pada gagang pedangnya dan bergoyang tiada hen-tinya sewaktu terhembus angin. puncak Lok eng hong makin lama semakin dekat. kemudian baru meneruskan perjalanannya ke depan. lalu dengan sorot mata yang tajam meng-awa-si Lan See giok dari atas hingga ke bawah. gelisah hampir terlampiaskan ke luar. Memandang wajah gusar yang menbyelimuti pemudaj berbaju abu-abgu itu. Benar jaga.254 Maka dia membuka perbekalannya untuk menangsal perut. Suara pekikannya mengalun di seluruh angkasa dan membumbung tinggi ke angka-sa. resah. setelah melewati beberapa buah puncak bukit.

lalu bentaknya dengan penuh kegusaran: "Apakah kau tidak mengetahui pantangan dan larangan kami?" Lan See giok segera tertawa dingin. kontan saja meledak dengan hebatnya. aku hanya tahu. jawabnya dengan suara hambar. terutama sikapnya yang sangat tidak ber-sa-habat itu. Karena itu dengan perasaan mendongkol dan sikap yang lebih angkuh pemuda kita menggelengkan kepalanya berulang kali. pemuda berbaju abu-abu itu segera berkerut kening. baru pertama kali ini aku tiba di sini!" "Ada urusan apa kau datang ke mari? Mengapa berpekik panjang disini? "Sudah kau bertanya kepada para pendeta dan tosu dari pelbagai kuil.255 Mendongkol juga Lan See giok melihat kesombongan pemuda berbaju abu-abu itu. hmmm! kalau tidak di-kasih sedikit pelajaran. Gulungan angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepatnya menerjang ke dada lawan. "Hmmm. dalam kejutnya dia mem-bentak keras. pemuda berbaju abu-abu itu sudah menubruk datang. datang kemari untuk berpesiar. lalu dejngan jurus Lik gpit hoa san (mebm-bacok runtuh Hoa san) dia langsung meng-hajar batok kepala Lan See giok dengan kekuatan besar. . Belum lagi Lan See giok dapat berdiri tegak. tapi kesombongan nya luar biasa.. buat apa mesti ber-kunjung ke kuil?" Amarah yang semula sudah sukar terken-dali. .?" kembali pemuda ber-baju abu-abu itu menegur: Usia pemuda berbaju abu-abu itu paling banter hanya berapa tahun lebih tua ketim-bang Lan See giok. Lan See giok cukup sadar. "Aku ke mari bukan untuk memasang hio menyembah Buddha. oleh sebab itu melihat datang-nya bacokan maut dari pemuda ber-baju abu-abu itu. Pemuda berbaju abu-abu itu tertawa di-ngin. dia tak berani menyambut dengan kekerasan. . sebuah bacokan tangan kanan segera dilontarkan ke luar.manggut juga sambil menjawab: "Benar. selain memojokkan orang lagi pula bernada menegur. ujung kakinya segera menjejak tanah dan melayang mundur se-jauh dua kaki lebih. biasanya pegunungan yang terpencil merupakan daerah pertapaan tokoh-tokoh persilatan yang ber-ilmu tinggi. "namun dia manggut. "masih muda sudah bicara sengak. tubuhnya berkelit ke samping kemu-dian mengejar lebih ke depan. soal-soal semacam itu mah tidak mengerti!" "Tutup bacotmu" hardik pemuda berbaju abu-abu itu semakin gusar.. . kau pasti tak akan menyesal!" Sembari berkata ia menerjang kbe muka.

"Blaammm!" Benturan nyaring menggelegar memeca-h-kan keheningan. Lan See giok merasakan juga lengan kanannya linu dan kaku bahkan secara lamat-lamat terasa sakit..256 Pemuda berbaju abu-abu itu mendengus dingin. sebaliknya pemuda berbaju abu-abu itu terjatuh hingga pantat-nya beradu keras dengan tanah. sepasang telapak tangannya segera disilangkan untuk melindungi dada. bisa dibayangkan sam-pai dimanakah taraf tenaga dalam yang dimi-liki orang ini. saking kagetnya dia menje-rit keras. Menyaksikan kejadian tersebut Lan See giok merasa gelagat tidak menguntung-kan. Pemuda berbaju abu-abu itu membuka mulutnya dengan napas terengah engah. Akibatnya ke dua orang itu sama-sama membelalakkan matanya lebarlebar dan tertegun. jalan darah Pay tui hiat dipinggang belakangnya sudah kena di totok oleh pemuda berbaju abu-abu itu. di antara suara langkah kaki yang mundur dengan berat. pasir dan debu beterbangan ke mana-mana. Padahal dalam keadaan tak siap saja lawan sanggup membuat dirinya terdorong mundur sejauh lima langkah. Secara bweruntun Lan Seer giok mundur se-jauh lima langkah lebih. "Blaammm!" benturan keras menggelegar lalu terdengar suara dengusan tertahan. Tak terlukiskan rasa terkejut pemuda ber-baju abu-abu itu. dengan perasaan terkejut dia segera memba-likkan badan: Pada saat dia sedang membalikkan badan secara tiba-tiba itulah. dia tak tahu kepandaian silat apakah yang telah dipelajari bocah berbaju perlente itu sehingga totokan jalan darahnya sama sekali tak mempan. tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu sudah lenyap tak berbekas. ternyata serangan dari Lan See giok menghajar permukaan tanah. disam-butnya serangan tersebut dengan kekuatan penuh. tenaga dalamnya masih jauh melebihi dirinya. dia tahu pemuda berbaju abu-abu itu tentu anak murid se-orang jago yang lihay yang menetap di atas bukit tersebut. Lan See giok serta pemuda baju abu-abu itu saling berpisahr dengan sempoyozngan. Gerakan tubuh dari pemuda berbaju abu--abu itu selain indah dan cekatan. . sambil membentak telapak tangan kanannya sekali lagi didorong ke muka. Lan See giok berlagak seolah-olah tidak merasa. justru pemuda itu bisa roboh lantaran dia sedang tertegun karena totokan jalan darah nya tak mempan..

aku takut urusanku jadi tertunda. segera bentaknya dengan gusar: "Kau jangan kelewat memojokkan orang. Tapi jika kau bersikeras juga hendak menjajal senjata ta-jamku. maka aku tak ingin melayanimu lebih jauh. kemudian per-gelangan tangan kanannya diputar dan. hal inilah yang membuat hatinya merasa sangat geli-sah. akupun ingin melihat sampai dimana kah kehebatan ilmu pedang yang kau miliki itu" Seraya berkata dia lantas merogoh ke dalam pinggangnya dan meloloskan senjata andalannya. baik. dari balik pohon siong te-lah muncul kembali seseorang.. . gerakan tubuh orang ini terasa satu kali lipat lebih cepat daripada pemuda berbaju abu-abu itu. Mimpi pun Lan See giok tidak me-nyangka kalau gara-gara pekikan nyaringnya tadi bakal mendatangkan kerepotan bagi-nya. dengan pandangan termangu serta ke-heranan dia awasi senjata gurdi emas di ta-ngan Lan See giok tanpa berkedip. keningnya berkerut kencang. "Criing!" dia telah meloloskan pedangnya yang tersoren di punggung. sebelum dia sempat menjawab. tanpa terasa dia berpaling memandang matahari senja yang mu-lai tenggelam di langit barat.abu itu sudah meloloskan pedangnya. Ia sadar gerakan tubuhnya mungkin tidak selincah dan seenteng lawan. Sementara itu pemuda berbaju abu-abu itu sudah mengejar datang sambil tertawa di-ngin. tahu-tahu senjata gurdi emas Kang luan tui milik Lan See giok sudah diloloskan bagaikan seekor ular emas hidup. tapi langit sudah malam. Hamm. Pemuda berbaju abu-abu itu segera ter-tegun dan serentak menghentikan langkah-nya. akan tetapi dalam permainan senjata belum tentu dia sampai kalah. padahal dia belum mengetahui di ma-nakah letak puncak Giok li hong. Pemuda berbaju abu-abu itu sudah bangkit berdiri. cuma saja senja telah hampir lewat. Hoa san adalah tempat umum yang boleh di datangi setiap orang. jarang sekali kujumpai manusia yang tak tahu sopan santun seperti kau. sesaat kemudian dia baru menegur dengan perasaan tak habis mengerti: "Senjata aneh apa sih yang kau perguna-kan itu?" Lan See giok tertawa dingin. bukan daerah khusus yang menjadi milikmu. melihat pemuda berbaju abu . Tampak cahaya keemas emasan yang amat menyilaukan mata memancar ke empat pen-juru. kemudian tegurnya: dengan suara dalam: "Bagaimana? Kau masih ingin kabur?" Lan See giok yang didesak terus menerus akhirnya menjadi naik darah juga..257 Sementara dia masih berpikir. Aku bukan bermaksud melarikan diri.

sementara sepasang matanya yang tajam mengawasi Lan See giok dengan pandangan terkejut bercampur keheranan. barusan dialah yang ber-pekik keras!" Sambil berkata dia lantas menuding ke arah Lan See giok. setelah berseru tertahan dia lantas menghentikan langkahnya.akan tidak mendengar apa yang dikatakan Lan See giok. jangan terlampau dekat. orang inipun mengenakan baju berwarna abu-abu. berpengetahuan picik sok kehe-ranan saja? Namun lelaki setengah umur itu seakan. biar jalan darah nya sudah tertotok namun tubuhnya sama sekali tidak roboh. jari tangan kanannya langsung menotok jalan darah Cong hiat-hiatnya. siapa tahu suheng nya ini lebih tak tahu aturan. sekali-pun tak sampai mati juga bakal terluka. kemudian berseru keras. mendadak cegahnya. Dalam anggapan Lan See giok semula. ke-mudian dia baru menegur dingin. bila sampai ter-totok. dia memiliki semacam kepandaian aneh. dengan kening berkerut ter-de-ngar ia berguman seorang diri: "Aku merasa sedikit tidak percaya!" Tiba-tiba saja dia menubruk ke muka. Ketika Lan See giok berpaling. . maka setelah mendengus katanya sinis. kulit mukanya kuning dan tubuh-nya kurus ceking tinggal kulit pembungkus tu-lang. "Hmmm. Tak terlukiskan amarah Lan See giok me-nyaksikan datangnya ancaman tersebut. Pemuda berbaju abu-abu itu terkejut." Tertegun lelaki setengah umur itu. itu-lah sebabnya hawa napsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya. Lelaki setengah umur itu berjalan men-dekat kemudian memperhatikan Lan See giok sekejap dengan pandangan tanpa emosi. "Khu suheng. dia saksi-kan pendatang itu baru berusia tiga puluh tahu-nan. dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke hadapan Lan See giok. jalan darah Cong--hiat merupakan salah satu jalan darah penting di tubuh manusia. dengan datangnya kakak seperguruan dari pemuda tersebut maka urusan akan bisa di-bereskan dengan segera. "Khu suheng. namun sepasang matanya berkilat kilat dan gerak geriknya amat tinggi hati. se-bagaimana diketahui.258 Pemuda berbaju abu-abu tadi segera mem-balikkan tubuhnya. "Mengapa kau sembarangan berpekik di tempat ini dan tak suka mengindahkan nasehat?" " Sembari berkata.

Dengan cekatan lelaki setengah umur itu berkelit ke kiri dan menghindar ke kanan. dengan gerakan ilmu cambuk dia menyambar pinggang lelaki setengah umur itu. sambil membentak keras hawa murninya disalurkan ke dalam gurdi itu.. "bila kau ti-dak percaya.. sungguh mengerikan sekali keadaannya. tanpa menghentikan tubuhnya dia meneruskan terjangannya ke muka. sudah barang tentu ia tak akan membiarkan lelaki setengah umur itu pergi dengan begitu saja. Sebelum itu. Lan See giok sudah diliputi oleh hawa napsu membunuh. gurdi emasnya menusuk ke muka secepat sambaran petir dengan jurus Pau hou pay wi ( harimau ga-nas mengebaskan ekor ). bagaikan hujan badai menyambar tiada hentinya. Menganggap kepandaian silat yang dimili-kinya cukup tinggi tentu saja lelaki setengah umur itu tidak memandang sebelah matapun terhadap Lan See giok. cahaya tajam berkilauan me-mancar ke empat penjuru. ditengah deruan angin sera-ngan.jurus tangan kanannya yang baru saja melepaskan totokan nyaris tersapu oleh gurdi emas tersebut. Lan See giok sudah pernah menyaksikan gerakan aneh dari pemuda ber-baju abu-abu itu. cahaya emas berkilauan. gurdi emasnya melepaskan tiga jurus serangan se-cara beruntun. dalam waktu singkat muncul beribu ribu bayangan gurdi emas yang melindungi seluruh badan Lan Seegiok." Sambil membentak.. sambil ter-tawa dingin tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu lenyap dari pandangan.259 "Bagus sekali" ia membentak. sekali lagi dia menjerit keras lalu mundur ke belakang dengan ce-pat--Mencorong sinar tajam dari balik mata Lan See giok. dia tahu musuhnya telah menyelinap ke belakang punggungnya. kemudian dengan jurus Kim coa toh sim (Ular emas menjulurkan lidah) ia lepaskan sebuah tusukan dengan gerakan pedang--Sebelum lelaki setengah umur itu berhasil berdiri tegak. . karena didesak oleh Lan See giok sehingga kalang kabut dengan gugup ia mundur. silahkan saja dicoba sendiri. Maka tanpa menggerakkan badan. gurdi emasnya segera menyerang lagi dengan jurus wi ceng pat hong (menggemparkan delapan penjuru). Serentetan suara desingan tajam segera menderu deru. dia segera menjerit kaget lalu mundur sejauh delapan depa lebih. Agaknya lelaki setengah umur itu tidak menyangka kalau Lan See giok begitu hebat dalam perubahan . gurdi emas dari Lan See giok telah menusuk tiba.

Lan See giok sedang ber-pikir pula dihati. "Cepat tahan . men-de-ngar itu Lan See giok segera menghentikan gerak serangannya. . . .. . paras muka Lan See giok segera berubah menjadi serius kembali. di antara bayangan manusia yang berkelebat lewat. apakah kau adalah keturunan dari Lan tay-hiap?" Menyinggung soal ayahnya.?" . di atas wajah kedua orang itu sama sekali tidak dijumpai sinar keangkuhan lagi. "Lan Khong-tay adalah guruku. "Dengan murid yang begitu berpikiran picik dan berdada sempit. Sambil mengelus jenggotnya yang panjang kakek berjubah panjang itu memandang wa-jah Lan See giok. Sewaktu ia berpaling. "Tiba-tiba ia mendengar bentakan keras berkumandang memecahkan keheningan. . gurunya pasti seorang manusia latah yang berjiwa sempit pula" Oleh karena berpendapat demikian. " Suaranya sangat nyaring seperti suara genta amat menusuk pendengaran. boleh aku tahu siapa nama cianpwe dan dari mana kau bisa mengenali senjata tajam andalan dari guruku ini-. dia sampai lupa un-tuk turun tangan membantu kakak sepergu-ruan-nya melepaskan diri dari bahaya.260 Pemuda berbaju abu-abu itu menjadi ter-tegun saking kagetnya. Pads saat itulah . Dengan wajah penuh kegusaran lelaki berjubah panjang itu memandang sekejap ke arah kedua orang muridnya. cepat-cepat dia menjura seraya menjawab dengan hormat. mereka ber-bisik lirih: "Suhu!" Dalam pada itu. "Mundur kalian!" Lelaki setengah umur dan pemuda itu segera mengiakan dengan hormat dan me-ngundurkan diri ke sisi tubuh gurunya. setelah memberi hormat. Kakek itu berwajah amat ramah tapi me-mancarkan sinar kewibawaan amat tinggi. maka dia hanya berdiri tegak di situ tanpa memberi hormat. kemudian tanyanya sambil tersenyum: "Siauhiap membawa gurdi emas. kemudian kata nya dengan suara dalam. lelaki setengah umur dan pemuda ber-baju abu-abu sudah melompat ke hadapan kakek tadi dengan wajah tersipu -sipu. lebih kurang dua kaki di tepi arena tampak orang kakek berju-bah panjang warna abu-abu dan berjenggot panjang berdiri tegak di sana.

dia sangat kebingungan. "Ibuku adalah Ki lu lihiap Ong Si hoa.. senjata gurdi emasnya merajai dunia persi-latan.haaahhh. seakan akan se-ngaja mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain. apabila boanpwe Lan See giok berbuat ceroboh dan mengganggu ketenangan locianpwe. kecurigaannya semakin berlipat ganda. bu-kan Hu-yong siancu bibi wan.261 Manusia berjubah panjang itu mendongak kan kepalanya lalu tertawa terbahak bahak: "Aaah -. dan aku per-nah berjumpa dengan ayahmu. dia bertanya lebih jauh dengan nada tidak mengerti. kembali dia menjura dalam-dalam. apabila setelah mendengar per-kataan dari Ban Peng cuan." Selesai berkata.haaahhh . "Apakah kedatangan hiantit kemari hanya untuk berpesiar saja?" Sejak semula Lau See giok sudah merasa kalau hubungan bibi Wan dengan ayahnya tidak biasa. hampir saja aku lupa dengan Ong lihiap. andaikata kau tidak mengingatkan kembali. aku memang sudah tua dan ingatanku tidak tajam lagi. Sahutnyab kemudian dengan hormat: . "Tiada induk harimau yang melahirkan an-jing. dia tahu kalau dirinya khilaf. ter-paksa kecurigaannya terhadap bibi Wabn ha-rus ditundja sampai lain wgaktu. ayah ibumu selalu hidup bagaikan dewa dewi. Namun bila teringat kembali tujuan ke-datangannya ke bukit Hoa san kali ini. de-ngan kening berkerut dan nada tidak me-ngerti tanyanya. apakah selama ini dia selalu berada dalam keadaan baik-baik?" Lan See giok segera merasakan hatinya bergetar keras. sudah barang tentu kenal juga dengan senjata kenamaan-nya" Mengetahui kalau dia kenal dengan ayah-nya Lan See giok segera berkata dengan serius: "Oooh rupanya Ban locianpwe. sedang ibumu Hu-yong siancu juga su-dah banyak tahun tak menampakkan diri. ayahmu Lan Khong-tay sangat termasyhur dikolong langit. sembilan butir peluru peraknya selalu tepat dan tak pernah meleset. Sekali lagi Ban peng cuan ter-tawa tergelak. harap locianpwe sudi memaafkan. pertanyaan dari locianpwe ini sungguh membuat boan-pwe tidak habis mengerti!" Merah padam selembar wajah Ban peng coan." Setelah berhenti sejenak. dengan nada minta maaf katanya kemudian: "Oh betul.

tapi belum per-nah bertemu dengan "To seng cu" locianpwe barang satu kalipun.. dia lantas menuding ke arah sebuah puncak bukit yang berada pulu-han kaki jauhnya. kalau toh akhirnya tidak kutemukan tentu saja aku akan pulang ke rumah" ucapnya pelan. sambil tersenyum ia segera berkata. tanpa terasa dia memandang ke arah pemuda ber-baju abu-abu itu dengan termangu. cerita tentang berdiam-nya dia orang tua di bawah puncak Giok li hong sudah mulai beredar semenjak sepuluh tahun berselang" Mendengar perkataan tersebut. "Setelah boanpwe datang kemari. "bukan aku sengaja hendak menghilangkan kegembiraanmu. "Apakah kau sudah mengetahui tempat kediaman dari To seng-cu locianpwe?" Lan See giok segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Baikglah kalau begitbu. . karena itu khusus aku berangkat dari kota Tek an kemari. Terdengar Ban Peng cuan bertanya lagi dengan ragu. didapati puncak Giok li hong memang jauh berbeda dengan bukit-bukit lainnya. boanpwe ingin mohon diri lebih dulu" Setelah memberi hormat. Sementara itu matahari senja telah ter-benam. Ban Peng coan berpikir sebentabr. tapi ia percaya kakek berjubah kuning yang ramah itu tidak bakal membohonginya. kami guru dan murid bertiga sudah banyak tahun berdiam di puncak ini. Lan See giok menjadi tertegun. boanpwe tetap akan mencarinya. memang tak ada salahnya untuk dicoba." "Terima kasih atas petunjuk locian-pwe. Ban Peng cuan sendiripun tak dapat me-nahan rasa gelinya. " Belum habis ia bercerita. "Agaknya baru pertama kali ini kau datang kemari.hong!" Sambil berkata." "Keponakanku" ujar Ban Peng cuan dengan bersungguh sungguh. . disinilah letak puncak Giok-li.262 "Boanpwe ingin buru-buru menjumpai To seng cu. namun kuharap kau jangan membawa pengharapan yang kelewat besar. "Boanpwe tidak tahu. karena itu . ketika Lan See giok mengangkat kepala nya. . tapi tak kuketahui di manakah letak puncak Giok-li--hong. tapi konon berada di bawah puncak Giok li hong-. Lan See giok segera merasakan kepalanya seperti diguyur dengan sebaskom air dingin. maghrib pun menjelang tiba. kemudian menjgangguk. kegela-pan mulai menyelimuti seluruh bukit Hoa san. pemuda berbaju abu-abu itu sudah tertawa geli. pemuda itu mem-balikkan badan dan melompat turun dari puncak itu.

dia lantas memusatkan semua perhatiannya untuk mengawasi dan mendengarkan suasana di sekelilingnya. dia bertekad hendak mencobanya. tumbuhan bambu menghutan. sudah barang tentu To seng cu tak mungkin ber-diam di sana. biarpun dihati kecilnya dia tidak mempunyai harapan yang terlalu bersar. pikirnya kemudian: "jangan-jangan To seng cu memang benar-benar berdiam dalam lembah ini?" BAB 13 . dia berjalan lebih ke de-pan. Berpikir demikian.Dengan penuh perhatian Lan See giok mengawasi sekejap keadaan di sekitar sana. pemuda itu segera melompat naik ke atas sebuah batu cadas. Lambat laun pepohonan siong tumbuh se-makin rapat. makin ke dalam suasananya semakin ber-tambah gelap. di situ tidak nampak bangunan rumah. bila diperkenankan mohon diberi pe-tunjuk untuk menemui beliau!" Selesai berteriak. pemandangan yang berada tujuh delapan kaki dihadapannya sukar untuk dilihat Seca-ra jelas. tidak pula gua atau tempat lain yang bisa di-pakai sebagai tempat berteduh. tanpa terasa ia lantas teringat kembali dengan pesan dari kakek berjubah kuning itu.. pemanda-ngan alam di situ sungguh mempesonakan. karena dengan cara demikian tak mungkin dia bisa menemukan tempat kediaman To seng cu. ternyata cahaya itu berasal dari sebuah lentera merah yang bergoyang goyang karena terhembus angin gunung.giok berhenti sekarang tak lain adalah lembah yang meng-hubungkan puncak Tiau yang-hong dengan puncak Giok.lihong. Lan See giok amat terperanjat setelah meli-hat cahaya lentera itu. Mendadak-z----Dari balwik kegelapan lerbih kurang seratus kaki dihadapannya sana muncul setitik ca-haya lentera. air mengalir sangat tenang. Maka dengan mengerahkan ilmu meri-ngankan tubuhnya. kemudian setelah menghimpun tenaga dalamnya. pohon siong tumbuh me-rata. aneka bunga tumbuh dengan suburnya. Tempat dimana Lan See. hatinya terkejut ber-campur gembira. dia berseru dengan lantang: "Boanpwe Lan See giok datang dari tempat jauh untuk menyambangi To seng-cu locian-pwe.263 Suasana di bawah puncak gelap gulita.. Akhirnya pemuda itu merasa percuma untuk berlarian secara membuta tanpa arah tujuan tertentu.Udara dalam lembah tersebut ternyata hangat lagi nyaman.

cahaya lentera lantas muncul kan diri? �Tanpa terasa. Baru selesai dia berseru. dia me-mu-tuskan untuk membuktikan sendiri. akan tetapi lente-ra merah tersebut masih kelihatan berada di tempat yang begitu jauh.264 LAN SEE GIOK mengawasi lentera merah yang muncul di balik kegelapan sana dengan perasaan kejut bercampur girang di samping perasaan tak habis me-ngerti.. lentera merah tersebut benar-benar bergerak ke kiri dan ke kanan. Tergerak hatinya setelah menjumpai hal itu. andaikata di situ menang ber-diam penduduk. Dengan cepat dia melompat naik ke atas sebuah pohon besar.. paling tidak seratus kaki sudah dilalui. Di samping itu diapun terbayang kembali wajah bibi Wan serta enci Cian nya yang sedih dan murung ketika berpisah tempo hari. dalam saat itu-lah dalam hati kecilnya timbul suatu firasat yang tidak menguntungkan. ternyata lentera merah yang berada di depan sana tampaknya sedang berlarian ke depan. . "Yaa. la telah berlarian amat cepat. Melihat hal ini Lan See giok malah men-jadi sangsi. mung-kinkah kemunculan lentera merah tersebut hanya suatu kejadian secara kebetulan saja? Menyusul kemudian dia berpikir lebih jauh: "Jangan-jangan di situ terdapat rumah pemburu" Atau mungkin si penebang kayu yang sesat jalan?" Akhirnya dia memutuskan untuk meme-riksa sendiri.. kembali dia berpikir di hati. diapun berangkat me-nuju ke arah lentera merah yang muncul pada seratus kaki di hadapannya itu. Dengan menghimpun tenaga dalamnya dia berseru lantang: "Wahai lentera merah yang berada di depan apakah. ia teringat kembali akan perkataan dari Ban Peng coan. baru saja dia berteriak. entah mengapa. Berpikir demikian. harap gerakkan lentera merahmu ke kiri dan ke kanan . dia berniat untuk menyeli-diki tempat tinggal To seng cu dari mereka. betul juga. jangan-jangan lentera merah itu memang bermaksud membawanya un-tuk menjumpai To seng cu?" karena berpendapat demikian.. sudah banyak tahun mereka berdiam di situ namun belum pernah berjumpa dengan To seng cu. agar ti-dak sampai terjerumus ke dalam perangkap lawan. dia tak tahu mengapa kejadian bisa berlangsung begitu kebetulan... kau sedang memberi petunjuk jalan kepadaku untuk berjumpa dengan To seng cu locianpwe? Kalau memang demikian.

Tapi lentera kedua yang menyongsong tadi lebih sampai dua kaki itu tahutahu saja padam dengan begitu saja. kemudian dendam berdarah dari ayahnya " . Dalam perjalanan majunya. karenanya tanpa ragu-ragu lagi dia menyusul kearah mana lentera merah tersebut berada. namun dia belum berhasil juga menyusul lentera merah terse-but. diapun turut maju. . Lentera merah yang berada di depan itu memang aneh sekali. ketika Lan See giok berhenti. jauh berbeda dengan keadaan ditempati lain. Lan See giok tidak berniat untuk memper-hatikan kesemuanya itu. Dia tahu. seakan akan sedang mende-saknya agar melanjutkan perjalanan. begitu Lan See giok maju. Perasaan mendongkol dan curigab berkeca-muk dij dalam benak Lagn See giok. harapan dari enci Cian serta bibi Wannya. lentera . dia masih melan-jutkan pengejarannya terhadap lentera merah tersebut". seakan akan dia memiliki beribu ribu mata.265 Dalam pada itu. bisa jadi di tempat inilah meru-pakan tempat kediaman dari To seng cu. ternyata lentera merah yang pertama masih tetap tak berkutik di tempat semula. . Begitulah dengan berlarian mengejar lente-ra merah itu. akhirnya dia menggigit bibir dan membulatkan tekadnya untuk mengejar lebih jauh. lentera merah yang berada ditengah kegelapan itu masih digoyangkan tiada hentinya. Setelah dekat dengan tempat itu baru dia ketahui bayangan tinggi besar itu bukan orang melainkan sebatang pohon yang telah mengering. Lambat laun dia mulai menangkap suara yang amat keras diantara pepohonan siong yang bergoyang terhembus angin. di samping itu memandang alam dalam lembah itu sa-ngat indah. lambat laun dia dapat melihat sebuah tebing yang tinggi-nya ratusan kaki menghadang jalan perginya. Lan See giok segera teringat kembali akan tujuan kedatangannya. tanpa terasa dia telah melewati puncak Giok li hong dan tiba di sebuah lem-bah lain. di btak tahu permainan setan apakah yang sedang diperbuat lentera merah tersebut. muncul kembali sebuah lentera merah lain yang menyongsong kedatangan lentera merah yang pertama. diapun turut berhenti biarpun Lan See giok sudah mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. sedang lentera merah itu agaknya berada di tangan seorang manusia yang tinggi besar. Mendadak-----Dari balik kegelapan puluhan kaki dihada-pannya. Lan See giok merasa sungguh tak habis mengerti dia mengalihkan kembali panda-ngan matanya.

mulut gua tersebut memang sukar ditemukan. di dalam langkah majunya kali ini. Dengan perasaan gembira ia segera menu-bruk ke depan gua. di dalam hutan tidak dijumpai rumah gubuk ataupun rumah batub. suasana gua itu gelap gulita. Pada sisi kanan tebing curam itu dijumpa sebuah gua. sebatang pohon siong persis tumbuh didepannya sehingga menutup mu-lut gua tadi. cepat-cepat dia menghampiri dinding tebing dan memeriksa dengan seksama. . jika tidak diperhatikan dengan seksama.. Lan See giok mundur dua langkah. Setelah ke luar dari hutan dan mencapai jarak berapa kaki dari tebing. kemudian menghapus lumut hijau yang menempel diatasnya. sulit untuk membaca kata-kata tersebut. Terdorong oleh perasaan ingin tahunya lalu dia mengambil sekeping batu. tapi berhubung lumut nya amat tebal. Sekali lagi tergerak hatinya. Lan See giok segera berkerut kening. mungkin saja To sengcu berdiam di dalam hutan itu. Berhubung timbulnya firasat yang kurang enak tadi.266 tersebut tergantung di atas pohon tadi dan bergoyang tiada hentinya ketika terhembus angin. tibatiba saja ia merasakan pandangan matanya menjadi te-rang. itu dengan cepat dia sak-sikan mulut gua penuh ditumbuhi lumut hi-jau serta sarang laba-laba. jelas tuli-san seorang wanita. garis-garis itu merupakan serangkaian kata yang diukir dengan pisau. mengapa tidak ditunjukkan sampai ke pintu depan?" Tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya.. ia bertindak dengan berhati-hati sekali. kemu-dian membaca huruf-huruf tersebut dengan pelan. hutan pohon yang mulai mengering itu. dalam waktu singkat dia dapat membaca gaya tulisan yang indah. seolah-olah tidak ada yang menetap di situ. ia bertekad ajkan menuju ke dginding tebing tbersebut untuk melakukan pemerik-saan. Ia mendongakkan kepalanya. dalamnya menca-pai dua tiga puluh kaki sebelum tiba di de-pan dinding tebing tersebut. dia percaya tokoh nomor satu seperti To seng cu tak mungkin akan mendiami gua yang begitu suram dan kotor seperti itu. pikirnya: "Kalau toh dia adalah penunjuk jalan. Lan See giok merasa sangat keheranan. betul juga. Baru saja dia akan beranjak pergi" men-dadak di atas dinding gua yang sudah dipe-nuhi lumut hijau itu ia saksikan ada gura-tan-guratan aneh yang sangat mirip dengan tulisan.

dipandangnya sekejap mulut gua yang gelap gulita itu. apa yang bisa dili-hatpun hanya mencapai sejauh lima depa. Kemesraan di masa lalu. biarpun dia telah mengerahkan tenaga dalamnya ke mata. . Pelan-pelan dia maju ke depan. segera ditemukan gua itu miring ke sebelah kanan. 0h Thian. " Gua itu dalam sekali. Suasana dalam gua amat hening dan sepi. Hari berganti hari." Membaca sampai di sini. dia percaya dalam gua tersebut tentu berdiam seorang perem-puan yang menderita karena cinta. Dengan perasaan terkejut Lan See giok mundur dua langkah. baru diketahui di depan sana terbentang sebuah pintu batu yang sangat berat. betapa buruknya na-sibku. . keadaannya gelap gulita sehingga sukar melihat kelima jari ta-ngan sendiri. Mendadak lima depa di depan sana. Air mata bercucuran bagaikan mutiara. ia sudah tidak melihat mu-lut gua tersebut lagi. musim semipun tiba. Thian tidak menrgasihi aku. setelah pemuda itu maju lagi dua tiga langkah... tapi dorongan . ketika di-dorong dengan sekuat tenaga.. pintu tersebut segera terbuka dengan sendiri. kecuali langkah kakinya. zSepasang merpatwi harus terbangr berpisah. atau mungkin juga tersebut merupakan kuburan dari perempuan yang bernasib buruk itu. Kini tinggal kepedihan dan air mata. ketika berpaling. pintu batu itu sangat licin seperti cermin. Wajah telah basah entah oleh air mata atau embun.267 "Musim gugur pergi musim dingin lewat. telah merupakan ujung jalan. tak diketahui harus melanjutkan per-jalanan atau mundur dengan begitu saja. bulan berganti bulan. Untuk sesaat dia berdiri ragu di depan pintu. Lan See giok se-makin bimbang. tak kedengaran Lagi suara yang lain. Sebenarnya anak muda ini sudah tak ber-niat untuk memasuki gua. Rindu dan kangen menyerang setiap malam. cahaya terang yang menusuk mata segera mencorong ke luar dari balik pintu. Dia mencoba untuk meraba. ternyata dibalik pintu itu yang terbentang sebuah undak undakan batu yang sangat lebar dan menjurus ke atas. tapi sekarang tanpa disadari dia telah melakukan masuk ke dalam gua tersebut. Oh Thian.

sama lainnya: Kalau berbicara dari tulisan yang terukir dimuka gua. bisa jadi orang ini adalah To seng cu sendiri maka pemuda ini bertekad untuk . sepasang matanya kembali terasa silau. "Hati di langit barat. Akhirnya dia putuskan untuk masuk ke dalam dan menyelidiki sendiri sebab ia merasa nasib perempuan itu kelewat menge-naskan. tapi bila dilihat dari arti sepasang lian tersebut agak nya penghu-ni gua tersebut adalah seorang pertapa. Pada kanan pintu tertuliskan kata-kata. sehingga keadaan di dalam gua bisa terlihat secara lamat-lamat. ternyata cahaya tajam tadi berasal dari sebutir mutiara yang di pasang di atas pintu masuk. "Seratus tahun menghadap dindibng lepas tulangj jadi dewa." Sedangkan di sebelah kiri pintu bertulis-kan. Setelah membelok pada sebuah tikungan. melatih ilmu membenahi watak menanti datangnya saat gembira. pintu tersebut tertutup rapat-ra-pat. pada ujung undak undakan batu kembali muncul sebuah pintu batu raksasa yang tingginya satu kaki dan lebarnya dela-pan depa. sinarnya tajam dan sangat menyilaukan mata. Tujuh butir batu mulia yang sangat indah berserakan di atas pintu. bila dia masih berada di dalam mungkin dia akan mengetahui tempat tinggal dari To seng cu. Ketika diamati lebih seksama di atas pintu tersebut tergantung pula sebuah lian dengan huruf-huruf yang amat besar. Undak undakan batu itu menjurus naik ke atas. ca-haya terang memancar ke empat penjuru dari depan sana. tubuh di alam se-mesta. Bila ada orang bertapa di dalam gua ini waktunya pasti cukup lama. gua tersebut seharusnya didiami oleh seorang perempuan yang hidup sengsara karena cinta. membuat pemuda tersebut se-makin bertekad untuk menyelidiki apa gerangan yang terdapat dalam ruangan tersebut. takg akan tergo-da boleh gadis dan cinta!" Lan See giok menjadi melongo setelah sele-sai membaca tulisan itu.268 rasa ingin tahu yang kuat mengki-lik hatinya. dalam waktu singkat puluhan kaki telah dilewati. setiap tikungan selalu diberi sebutir mutiara kecil sebagai penerangan. tapi ia percaya nada tulisan dari sepasang Lian tersebut tidak cocok satu. walaupun ia tak bisa memahami arti sari tulisan tersebut se-cara tepat. Itulah sebabnya dia dapat meneruskan -perjalanannya dengan cepat. Berpikir demikian diapun berjalan masuk ke dalam ruangan.

kini boanpwe merasa tidak habis mengerti. namun tak nam-pakb seorang manusija pun. mungkin sudah menjadi dewa semua. kemudian berkata dengan lantang: "Boanpwe Lan See giok tertarik oleh syair di luar gua sehingga masuk kemari dengan ceroboh. Apa yang kemudian terlihat segera mem-buat paras mukanya berubah hebat. Di bawagh mutiara kuninbg di ujung gua ter-dapat sebuah meja pendek yang panjang diatasnya dilapisi kain kuning sampai ter-ku-lai ke atas lantai. dengan langkah cepat dia menghampirinya. . lantas mengambil kesimpulan gua itu kosong tak berpenghuni. Lan See giok berdiri menanti di luar gua dengan tenang. Menyaksikan kesemuanya ini. tapi lama sekali belum juga kedengaran suara jawaban. dalam gua tersebut tidak di jumpai benda apapun. ia merasakan kakinya menginjak tem-pat yang lembut. Lan See giok melo-ngok ke dalam. segulung bau harum yang semerbak pun segera berhembus ke luar dari balik pintu. Maka dia maju ke depan dan menempelkan telapak tangannya di atas pintu. ternyata lantai gua dilapisi oleh permadani kuning te-bal. caha-ya yang terpancar ke luar sangat lembut. kepada pintu batu tersebut diapun menjura. ternyata dibalik pintu terbentang sebuah ruangan gua yang meman-jang. ketika diperiksa. di sisi kiri dan kanan masing-masing terdapat se-buah ruangan. Sewaktu sorot matanya terbentur dengan benda di atas kain kuning di meja rendah itu tergerak hati Lan See giok. se-dang di ujung gua terdapat pula sebutir batu manikam yang besar berwarna kuning. Sewaktu masuk ke dalam kedua ruangan ia jumpai di situ terdapat masingmasing se-buah kasur untuk duduk. mohon locianpwe sudi memberi petunjuk" Ucapan mana diutarakan dengan suara nyaring sehingga nada suaranya menggema di seluruh ruangan gua. tapi sekarang sudah tak ada lagi. saking kagetnya dia sampai mundur dua langkah sembari berseru kaget. terdengarlah suara gemerutuk yang amat berat--Pintu batu yang sangat besar itu pelan-pe-lan terbuka sebuah celah lebar. ketika dido-rong dengan sepenuh tenaga. Di muka meja pendek terletak pula se-buah kasur duduk yang besar dan tebal. kedua ruangan itu tanpa pintu semua. dalamnya mencapai lima kaki. Lan See giok menyelinap masuk ke balik pintu. Lan See giok tahu bahwa dalam goa ini paling tidak terda-pat tiga orang yang bertapa di situ.269 masuk lebih ke dalam. selain itu.

" Sambil berseru dia segera menubruk ke muka. lebih kurang tiga kaki dihadapannya seperti ada bayangan hitam berkelebat lewat. sikapnya nampak gembira sekali. ia celingukan sekejap ke kiri kanan.. kemungkinan besar orang itu bersembunyi di sisi kiri atau kanan pintu. Diam-diam Lan See giok terkesiap. maka diapun siap beranjak . namun tak nampak se-sosok bayangan manusiapun. "Locianpwe. Pada saat itulah. tiba-tiba dari depan ger-bang melayang masuk se sosok bayangan kuning. tapi ia segera berpikir. " Tiba-tiba kakek berjubah kuning itu menghentikan gelak tertawanya. tanpa sangsi dia segera menubruk ke sana. ketika melihat pemuda itu menubruk tiba dia segera mengangkat ke dua belah ta-ngannya dan tertawa terbahak bahak.. ayo cepat kau teri-ma buah buahan ini!" .. Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera membalikkan badan." Lan See giok berdiri termangu mangu.. melanggar perintah guru. sekarang dia baru tahu kalau gua tersebut adalah tempat To seng cu bertapa. Ternyata orang yang melayang masuk ke dalam gua saat ini bukan lain adalah kakek berjubah kuning yang berwajah ramah itu. seolah-orlah bertemu kem-bali dengan sanak keluarga sendiri. Mula-mula Lan See giok agak terperanjat ketika melihat kemunculan orang itu. tulisan itu berbunyi demikian. ia saksikan dari sisi pintu ruangan sebelah kiri. Lan See giok memeluk kakek berjubah kuning itu erat-erat. teriaknya keras-keras. me-nyusul kemudian denganr perasaan terkezjut bercampur gwirang. Kakek berjubah kuning itu masuk sambil membawa banyak sekali buah anggur yang segar. . saking gembiranya air mata sampai jatuh bercucuran. kemudian dengan penuh kasih sayang dia berkata. Ketika tiba diantara kedua belah pintu. . locianpwe . .270 Ternyata di atas kain kuning pada meja rendah itu tertera sembilan huruf besar yang terbuat dari emas. Kalian berdua sudah berani bermain setan.. dalam ru-angan masih terletak dua buah kasur duduk yang kosong. tiada henti-nya dia memanggil: "Locianpwe . Mendadak terdengar suara tertawa cekiki-kan berkumandang dari belakang tubuhnya. "TAY-LO PWE CIN-KENG.

ayo jalan mari kita berbicara di dalam. "siapa suruh kau berdiam diri saja? Ayo cepat memasang lentera. Lan See giok mengiakan dengan hormat dan segera duduk bersila di sebelah kanan To seng cu. Tiba di depan meja rendah. "Suhu. Lan See giok dapat melihat pula kalau di antara alis mata sebe-lah kiri kakek berjubah kuning itu benar-benar terdapat sebuah tahi lalat merah. dengan wajah . dia mem-belai rambut Lan See giok sambil ujarnya dengan ramah. rupa kakek berjubah kuning ini adalah To seng cu. Thi gou tak berani. SI CAY SOAT telah meletakkan pula buah buahan segar itu di depan kasur duduk ke-mudian ia sendiri duduk di sebelah kiri To seng-cu. dia bilang kita takut takuti Lan See giok agar bisa membalaskan rasa mendongkol Gou ji!" Sembari berkata." Setelah menyerahkan buah buahan itu kepada Si Cay soat yang berdiri dengan wajah gembira tapi agak tersipu sipu itu. Sekarang Lan See giok baru mengerti. semuanya ini merupakan ide enci Soat seorang. To seng cu segera menunjuk ke sisi kasur duduk itu sambil berkata dengan gembira. kebingungan setengah mati. hal ini semakin membuktikan kalau kakek berjubah kuning ini memang To--seng-cu. ia merasa kasur duduk itu empuk sekali sehingga sangat nyaman untuk ditempati. tahi lalat tersebut hampir tertutup oleh alis mata yang tebal. ketika berpaling tampak olehnya si nona ber-baju merah Si Cay soat dengan wajah ter-sipu-sipu dan senyum dikulum sedang melompat mendekat. Dalam perjalanan itu. "Nak.271 Lan See giok yang mendengar perkataan itu menjadi. anehnya perasaan benci yang semula mencekam perasaannya kini sudah lenyap tak berbekas. ternyata kau benar-benar datang. �"Hmmm!" kakek berjubah kuning itu mendengus marah. "Duduklah anak giok!" Sembari berkata ia sendiri duduk bersila pula di atas kasur duduk tersebut. entah mengapa ia sudah tak percaya sekarang kalau To seng cu adalah orang yang mencelakai ayahnya. Siau thi gou yang berkulit hitam sedang melototkan sepasang biji matanya yang be-sar. dia tetap berdiri tak ber-gerak di depan pintu ruangan." Ditariknya tangan pemuda itu dan diajak menuju ke bantal duduk di depan meja ren-dah.

. dia tertawa terbahak bahak. ia bertanya cepat: "Thi gou. kemudian sambil mengambil sepuluh biji anggur besar yang disodorkan ke hadapan Lan See giok. sekarang tentu merasa amat dahaga. Agaknya Lan See giok juga dapat mende-ngar kalau ucapan semacam itu hanya ulah Si Cay soat untuk mempermainkan Siau thi gou. To seng cu telah menghentikan tertawanya dan berkata dengan suara dalam tapi ramah. dimana ia btelah menotok jjalan darahnya. Belum habis perkataan itu diselesaikan. paras muka Si Cay soat segera berubah menjadi merah padam. gtanpa terasa tibmbul perasaan menyesal di dalam hatinya. Dengan wajah merah padam Si Cay soat tertawa terkekeh kekeh. Sementara itu To seng cu telah berkerut kening.272 bersemu merah dan mata yang jeli tiada hentinya dia mengawasi Lan See giok. ia bilang kalau makan sebelas biji perutnya akan sa-kit. kalau ditanya bagaimana rasanya. "Terima kasih banyak. cepatlah makan anggur ini. Lan See giok segera teringat pula dengan peristiwa di dusun nelayan tempo hari. Siau thi gou berjalan ke depan kasur tanpa berbicara. diapun tidak tahu. Ketika ia saksikan Siau thi gou sama sekali tidak mendendam kepadanya. malah menghadiahkan buah anggur. bila makan tiga betas biji maka se-lama hidup akan selalu kontet (cebol)!". katanya dengar ber-sungguh hati: "Kau sudah menempuh perjalanan selama seharian suntuk. adik Thi gou!" Siau thi gou tertawa lebar. dengan cepat ia menjelaskan: "Adik Gou paling suka makan buah ang-gur. tanpa terasa diapun jadi ter-ingat kem-bali bagaimana dia sendiripun di permainkan ketika baru datang ke sana. kemudian sambil memandang ke arah Siau Thi gou dengan wajah tak mengerti. Siau thi gou segera menuding ke arah Si Cay soat. siapa yang bilang kalau setiap kali makan hanya boleh makan sepuluh biji buah anggur?" Mendengar pertanyaan itu. dia segera duduk pula di samping Si Cay soat. bila makan dua belas biji akan mencret-mencret." Berjumpa dengan Siau thi gou. Belum habis perkataan itu diutarakan. kau hanya boleh makan sepuluh biji. dengan melototkan sepasang mata nya dia menjawab: "Enci soat yang berkata demikian. tapi ingat. setiap kali makan dia bisa menghabis-kan empat lima biji tanpa dikunyah lagi. segera ujarnya sambil menjura. To seng cu sudah tak dapat menahan rasa ge-linya lagi. setiap kali makan buah anggur seperti ini.

sekarang dia baru tahu rupanya dia menjadi kakak bukan se-bagai adik seperti apa yang diduganya se-mula. sambil tertawa ramah dia lantas menjelas-kan: "Segala sesuatu yang ada di dunia ini su-dah di atur oleh takdir." Siau thi gou mencibirkan bibir tanpa berbi-cara.273 "Hei si binal. . Terbayang kembali maksud tujuannya datang ke situ." Sembari berkata dia lantas meletakkan kotak kecil itu di depan kasur duduknya. Melihat hal tersebut. Ketika dilihatnya hubungan To-seng cu dengan murid muridnya tidak disertai dengan peraturan yang ketat.. kau kan enci masa senang mempermainkan adik? Sekarang anak giok telah datang." paras muka Lan See giok segera berubah menjadi merah padam karena malu. akan kulihbat apakah dia ajkan menganiaya gkau si adik atabu tidak. saking tak tahannya dia sampai menundukkan kepalanya rendah-rendah. diterimanya kotak itu serta diperhatikan se-kejap kemudian ia berkata: "Kitab pusaka ini sudah menemani aku setengah hidupku. sepuluh tahun berselang. bahkan kasih sayangnya bagaikan seorang ayah terhadap putra putrinya. kesemuanya ini membuat rasa hormatnya terhadap To seng cu makin bertambah. diapun mengeluarkan kotak kecil bungkus kuning itu dari sakunya dan dipersembahkan ke hadapan To seng cu sambil ujarnya dengan hormat: "Anak giok telah menuruti perintah dengan membawa cinkeng tersebut datang ke mari. dia adalah kakakmu. terlintas perasaan sedih di atas wajah To seng cu. sungguh tak disangka hari ini bisa bertemu kembali. yang tak ada masalah yang dapat dipaksakan. Paras muka Lan See giok juga berubah menjadi merah padam. sedangkan Si Cay-soat melirik sekejap ke arah Lan See giok kemudian menunduk-kan kepalanya rendah-rendah. kotak ini tercuri di luar dugaan. dari tempatku tapi kemudian karena ketahuan olehnya sehingga melarikan diri. Mendengar kata "dicuri. " Mendengar penjelasan tersebut. Lan See -giok segera mengangkat kepalanya sambil bertanya: "Locianpwe. waktu itu Oh Tin san dan komplotannya berhasil mencuri cinkeng tersebut. To seng cu segera tahu kalau pemuda itu telah salah paham." Memandang kotak kecil itu. bagraimana ceritanyza sampai ayahkuw berhasil mendarpatkan kotak kecil ini?" . di dalam gugupnya kotak tersebut telah terjatuh ditengah jalan tanpa mereka sadari .

Menyusul kemudian Lan See giok teringat kembali dua kali jeritan kaget yang mengeri-kan itu. kalau toh kau selalu mengikuti di sisi anak giok. "Kalau toh bibi Wan tahu. bila tidak berbuat begini kau belum tentu akan menyusul ke mari. mungkin karena kaget mereka baru berteriak keras!" "Locianpwe. mengapa dia ti-dak menerangkannya kepada anak giok?" To seng cu segera tertawa riang. To seng cu manggut-manggut. dia hanya manggut saja tanpa menjawab.274 "Menurut apa yang kuketahui. bukan aku sengaja bermain setan denganmu. dia melan-jutkan: . tanpa terasa ia bertanya de-ngan gelisah. diapun segera teringat apa yang menyebab-kan jalan darah tidur Oh Li cu tertotok. dengan nada tak mengerti kembali dia bertanya: �Apakah dalam gusarnya locianpwe telah menghabisi nyawa kedua orang itu?" To seng cu segera tertawa terbahak bahak: "Sudah puluhan tahun lamanya aku tak pernah melakukan pembunuhan. dia me-ne-mukan benda itu dalam keadaan yang sangat kebetulan. masa kedua orang itu kubunuh? Waktu itu aku hanya menotok jalan darah kaku mereka se-cara diam-diam. dihati kecilmu pasti mena-ruh banyak prasangka serta kecurigaan. mengapa tidak munculkan diri untuk menempuh perjalanan bersama-sama ku?" Sekali lagi To seng cu tertawa terbahak ba-hak." Kemudian setelah memandang sekejap ke arah Si Cay soat serta Siau thi gou yang mendengarkan dengan seksama. menyusul kemudian hatinya tergerak. Sekarang Lan See giok baru mengerti. "Oleh karena kulihat kau sudah berangkat maka aku tidak jadi masuk. kalian masih kanak-kanak dan tak perlu mengeta-hui semua kejadian itu" "Jadi locianpwe telah berkunjung ke rumah kediaman bibi Wan pada malam itu?" seru Lan See giok terkejut. berhubung ayahmu mati terbunuh orang. de-ngan nada menyelidik dia segera bertanya: "Apakah locianpwe juga yang tertawa di-ngin di kuburan Ong leng serta memancing kepergian si Tongkat baja kaki tunggal serta Beruang tunggal?" To seng cu memandang anak muda itu sambil tersenyum. "Anak giok. "Seperti apa yang diucapkan bibimu. duduk persoalan yang sebenarnya bibi Wan mu yang mengetahui paling jelas" Lan See giok segera merasakan hatinya bergetar keras.

sungguh tak disangka mereka berdua begitu binal. kem-bali ujarnya kepada Lan See giok. seolah-olah persoalan ini sama sekali tiada hubungan dengan dirinya. Sewaktu To seng cu melihat sepasang mata Siau thi gou berputar tiada hentinya di atas buah anggur tersebut. untung saja masa mendatang masih panjang.275 "Aku pernah berpesan kepada Soat ji dan Thi gou berdua agar menyambut kedata-nganmu di mulut lembah. Lan See giok segera terbayang kembali perjumpaan mereka yang pertama kali di dusun nelayan. dengan nada tidak mengerti kembali dia bertanya: "Locianpwe. sejak waktu itu dia sudah merasa kalau Si Cay soat adalah seorang nona cilik yang sukar dilayani. Melihat To seng cu enggan berbicara. Setelah menerima buah anggur itu Lan See giok teringat kembali akan peristiwa lima ca-cad dari tiga telaga yang datang mencuri ki-tab. selain itu memberi penjelasan. biar kita bicarakan di kemudian hari saja. . suasana dilalui de-ngan penuh riang gembira. anak giok kau boleh tidur bersa-ma Siau thi gou" Mendengar perkataan itu. sambit tertawa. apalagi malam sudah semakin la-rut. ayo cicipi buah buahan ter-se-but!" Sambil berkata dia mengambil seuntai buah anggur dan diberikan kepada Lan See giok kemudian mengambil seuntai lagi untuk siau thi gou. su-dah barang tentu Lan See giok sungkan un-tuk bertanya lebih jauh. dengan cara apa Oh Tin san sekalian berhasil mencuri kitab pusaka tersebut pada sepuluh tahun berselang?" To seng cu tertawa dan manggut-manggut: "Persoalan ini panjang sekali untuk di ceritakan. Akhirnya To seng cu berkata: "Anak giok sudah menempuh perjalanan cukup jauh. selanjutnya dia berjanji akan bertindak lebih berhati -hati. ke tiga orang muda mudi itu segera minta diri kepada To seng cu dan berjalan menuju ke depan pintu ruangan batu itu. ke empat orang itupun sambil makan buah anggur membicarakan serba serbi dunia persilatan. "Anak giok. Begitulah. kepadamu apa yang sesung-guhnya terjadi. sebaliknya Siau thi gou hanya duduk tenang tanpa mengucapkan sepatah katapun. mukanya nampak sangat binal." Mendengar perkataan itu Si Cay soat segera tertawa geli. dia masih mem-punyai banyak kesempatan untuk membica-rakan persoalan itu lagi. malam ini beristirahatlah de-ngan cepat.

"Engkoh giok. aku akan naik lebih dulu" Mendengar seruan tersebut Lan See giok segera berpaling. Pada permukaan lantainya dilapisi perma-dani yang sama tebalnya dengan permadani yang berada di bawah. ter-nyata di atas langit-langit ruangan itu ter-da-pat sebuah gua yang luasnya tiga depa dan tinggi dua kaki dari permukaan tanah diataspun terpancar sinar yang terang. Sambil menjatuhkan diri berbaring di atas lantai. tahu-tahu bayangan merah berkelebat lewat. se-dang kan Si Cay soat seorang diri menuju ke pintu ruangan sebelah kanan. tidak boleh. Melihat gerak gerik yang polos dan lincah dari Siau thi gou. tidurlah!" Sambil berkata dia melemparkan selembar selimut kulit kepada Lan See giok. di langit-langit ruangan tertera tiga butir mutiara. tubuh Siau thi gou telah melayang ke atas langit-langit ruangan. Sementara itu terdengar Siau thi gou telah berseru: "Engkoh giok. nampaknya sangat lembut dan halus. sekeliling dinding ruangan terdapat enam buah lubang sebesar kepalan yang berfungsi sebagai ventilasi udara. dia melanjutkan: . tampak bayangan hitam berkelebat lewat. baru saja Lan See giok ingin mengucapkan sesuatu kepada gadis itu. Siau thi gou segera berseru. karena itu setelah menerima selimut pembe-riannya dia bertanya sambil tertawa: "Adik Thi gou. Lan See giok merasa bocah itu memang rada mirip seperti kerbau kecil." Kemudian sambil menunjuk pada jari ta-ngannya.bulat dan menggelengkan kepalanya ber-ulang kali. Terdengar Siau thi gou berseru dari atas: "Engkoh Giok. Ketika dia mendongakkan kepalanya. jawabnya dengan wajah ber-sungguh sungguh: "Tidak boleh. cepat naik!" Lan See giok mengiakan dan segera melompat naik ke atas ruangan itu. ketika hampir mencapai ujung langit-langit. di sisi kiri bertumpuk selimut tebal yang pada satu bagian merupa-kan lapisan kain sutera sedang pada lapisan yang lain adalah bulu kambing yang berwar-na putih.276 Lan See giok mengikuti Siau thi gou menuju ke pintu ruangan sebelah kiri. Si Cay soat sudah lenyap dari pandangan. Siau thi gou mengulurkan tangannya dan menarik tangannya sehingga melayang tiga depa ke samping. Ternyata di situ terdapat sebuah ruangan berbentuk bulat. mengapa sih namamu Thi gou atau kerbau baja? Mengapa tidak ber-nama Kim gou (kerbau emas) saja?" Siau thi gou melototkan matanya bulat.

Sian thi gou segera menjulurkan lidahnya yang kecil dan segera memejamkan matanya rapat-rapat. masa dari emas perak merosot terus menjadi tembaga. Melihat Lan See giok tertegun. Sementara dia masih termenung. Siau thi gou segera tertawa terbahak bahak sambil ber-kata:. "Kau jangan bingung. dengan cepat dia menarik selimut dan ditutupkan ke atas tubuh sendiri. cepat dia bertanya: "Adik Thi gou. tapi setelah mendengar ancaman dari gadis tersebut. tiba-tiba dari sisi tubuhnya bergema suara orang mendengkur.277 "Kongcou ku bernama Kim liong (naga emas)." Lan See giok yang mendengar jawaban tersebut menjadi tertegun. namun dari balik tutup lubang itu gelap tak bersinar sehingga sulit baginya untuk menentukan dari liang yang manakah suara tertawa tersebut. Lan See Giok sendiri hanya bisa meman-dang lubang-lubang angin di atas dinding tersebut dengan wajah tertegun. besi dan platina. kembali terdengar Si Cay soat ber-seru: "Adik Thi gou. tiba-tiba dari balik sebuah lubang bulat di atas dinding terdengar suara seseorang sedang tertawa cekikikan: Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera berpaling. hati-hati besok!" Mendengar teguran tersebut. dari naga dan harimau merosot menjadi kuda kerbau lantas anjing. . diapun tak berani bertanya lebih jauh. sedang ayah bernama Tong kou (kuda tembaga) maka aku bernama Thi gou (kerbau baja)" Lan See giok segera menjadi tertarik se-kali dengan susunan keluarga tersebut. bila kau cerewet terus. apa saja yang telah diperintahkan To seng cu locianpwe kepada Si Cay soat mengapa pula gadis itu tidak menuruti perintah gurunya malahan mempermainkan dia. sebenarnya dia ingin bertanya kepada Siau thi gou. kemudian berkata: "Adik Thi gou. berasal. aku rasa urutan ini kurang sesuai. dari balik liang tersebut. akan kau namakan siapa anakmu itu?"! "Akan kunamakan Sikou (anjing platina). engkongku bernama Gin hou (harimau perak). seandainya kau punya anak di kemudian hari. sepasang alis matanya segera berkerut. ketika berpaling. Dengan perasaan apa boleh buat Lan See -giok segera menggelengkan kepalanya beru-lang ulang kali. ternyata Siau thi gou sudah tertidur nyenyak. enci Soat yang se-dang tertawa dia seringkali membicara-kan soal kau dengan diriku---" Belum selesai dia berkata. bukankah dengan demikian satu generasi lebih jelek dari generasi beri-kutnya?" Baru selesai dia berkata.

dia selalu kuatir kotak kecilnya dicuri orang. Kini. Perjalanan jauh selama berbulan bulan membuat pemuda ini tak pernah beristirahat dengan perasaan tenang. ditambah pula Siau Thi gou yang berbaring di sisinya telah mendengkur sedari tadi. segala sesuatunya berjalan dengan lancar. Siau thi gou yang semula tidur di sisinya kini sudah tak nam-pak lagi batang hidungnya. Dari pikiran yang bergolak. termasuk kejadian-kejadian yang sama sekali tak pernah diduga sebelumnya. Tak terlukiskan rasa kaget Lan See giok dengan cepat dia mundur beberapa langkah sepasang matanya dengan cekatan menengok ke kiri dan kanan. sementara wajahnya segera memperlihatkan perasaan menyesal. selimut bulu serta sebuah cermin tembaga putih. ditemu-kan pada dinding ruangan di sisinya bertam-bah dengan sebuah pintu batu yang lebarnya dua depa dan tingginya mencapai langit-langit ruangan. Lan See giok sungguh tak habis mengerti mengapa setelah mendusin diri tidurnya di sana telah bertambah lagi dengan sebuah pintu batu?" Setelah melompat bangun dan diperiksa ternyata dinding ruangan telah digeserkan orang.. Dengan perasaan tak habis mengerti dia segera menuju ke pintu yang lain serta melongok ke dalam. Ke luar di pintu dia temukan sebuah un-dak undakan batu menuju ke atas yang en-tah menghubungkan ke tempat mana sedang pada bagian lain terdapat pula sebuah pintu yang lebarnya lebih kurang dua depa. Cepat-cepat dia melompat bangun. diapun tertidur dengan nyenyak sekali.278 Walaupun sudah berbaring. jantungnya berdebar keras. Kini setelah beban pikirannya hilang. namun se-pasang mata yang belum juga mau terpejam. termangu mangu ditatapnya ke tiga butir mutiara di atas langitlangit ruangan tanpa berkedip. Ketika sadar kembali... sementara dalam benaknya dipe-nuhi berbagai kejadian yang dialaminya se-lama ini. . pelan-pelan perasaannya berhasil ditenangkan kembali. tanpa terasa diapun tertidur nyenyak. Ternyata ruangan itu hanya berisikan per-madani merah. ternyata dia telah mengalami banyak kejadian yang semula dianggap bahaya tahu-tahu berubah menjadi rejeki. pada bagian tengah pintu batu itu ter-dapat pula sebuah lubang angin yang sama besarnya dengan lubang angin di sisi lain. bau harum semerbak yang sangat aneh memancar ke luar dari sana.

peman-dangan alam sangat indah dan me-nawan hati. ruangan ter-se-but sudah pasti merupakan kamar tidur Si Cay soat. punggung puncak Giok li hong. sedikitpun tidak kelihatan acak-acakan. Menyaksikan kesemuanya itu. segalanya kelihatan rapi dan teratur. tapi sekarang ia sudah tak berani sembara-ngan bergerak lagi. di sisi kirinya terdapat sebuah air terjun. dari balik hutan ber-ku-mandang lagi suara teriakan dari Siau thi gou. Sesudah berbelok ke kiri menikung ke kanan dan bergerak naik terus ke atas. Pada saat itulah. tiba-tiba saja Lan See giok merasakan dadanya men-jadi terbuka dan nyaman sekali.279 Selain itu diapun mengerti. tampak tiga buah puncak bukit menjulang ke angkasa. Lan See giok lari ke luar pintu. Sebenarnya dia hendak menelusuri undak undakan batu itu untuk melongok ke atas. namun semua perabot diatur dengan amat rapi. nisca-ya bmartabatnya akan dinilai sangat rendah. ternyata di mana ia berada sekarang tak lain adalah dinding te-bing yang terlihatnya se-malam. pemandangan indah sekali. "Enci Soat. Baru saja dia akan berjalan balik. "Enci Soat. Si Cay soat sedang berada di atas. terde-ngar suara Si Cay soat telah menukas: "Jangan kita usik dia." Belum habis Siau thi gou berteriak. maka ia segera menelusuri undak undakan batu itu dia berlari ke atas. di dalam ru-ang batu Itu tersedia pula meja bambu dan bangku kayu. Lan See giok tahu Siau thi gou serta. dia men-jumpai mulut ke luar berada di belakang se buah meja batu ruangan batu. men-dadak ia mendengar suara teriakan Siau thi gou yang bergema datang secara lambat-lam-bat. mari kibts menangkap ikjan saja di telagga Cui oh? . Rumah batu itu dikelilingi pepohonan siong yang mengitarinya pada jarak tujuh delapan kaki. cepat kemari. Puncak Giok Ii hong tingginya mencapai ratusan kaki. bila sampai ketahuan gadis itub bahwa dia telajh memasuki kamagrnya. Pada ujung undak undakan itu. akhirnya sampailah pemuda itu di ujung un-dak -undakan tersebut. aneka bunga tumbuh subur dimana mana. dia melihat cahaya matahari telah memancarkan cahaya keemas-emasannya ke empat penjuru. disini terdapat seekor kelinci liar yang amat besar" Mendengar teriakan itu. disini terdapat seekor kijang kecil--. Ketika pandangan matanya dialihkan ke sekitar sana.

bila guru tahu. Ih--heng segera datang!" Baru selesai dia berseru. "Adik Thi gou. Berpuluh puluh kaki dia telah menembusi hutan tersebut. kau pasti akan dimaki sebagai si binal lagi!" Mendengar perkataan tersebut. Pada saat itulah. Lan See giok segera berlarian menuju ke hu-tan itu sambil berteriak. belok lima kali ke kanan melihat tujuh jalan serong. turuti perkataanku. Sementara Siau thi gou masih berteriak te-riak dengan suara lantang. Tiba-tiba terdengar Si Cay soat men-dengus dingin. berjumpa delapan maju ke depan-" Lan See giok bukan anak bodoh. "Adik Soat. cepat beritahu kepada engkoh Giok. tiba-tiba terdengar Siau thi gou sedang memohon dari tempat yang tak jauh darinya. Lan See giok segera menyadari kalau keadaan di situ kurang beres dengan cepat dia menghentikan gerakan tubuhnya. melihat Lan See giok munculkan rdiri. belok tiga kali ke kiri. pemuda itu jadi celingu-kan---- . kejadian tersebut dengan cepat menimbulkan perasaan-perasaan tak habis mengerti baginya.280 Menbdengar suara pembicaraan mereka. menarik tangan Siau thi gou dan berterima kasih kepadanya. Waktu itu Siau thi gou sedang berdiri sam-bil memegang seekor kelinci besar. tiba-tiba terde-ngar Siau thi gou sudah berteriak sambil tertawa: "Engkoh Giok. tunggu aku---" Sambil berseru di segera berlarian masuk menuju ke dalam hutan yang terbentang di hadapannya. dengan nada minta maaf dia segera berseru. Siapa sih yang memanggil aku" Sekali lagi Lan See giok berpekik di dalam hati: "Aduh celaka. "Enci Soat. yaa. begitu peroleh petunjuk dia segera menjadi paham. itulah dia telah munculkan diri!" Lan See giok segera berlari mendekat. lalu berseru dengan nada tak senang hati: "Yang dia panggil kan adik Thi gou. Lan See giok su-dah menerobos ke luar dari hutan tersebut. sambil tezrtawa terbahak wbahak ia segerar berseru: "Nah. mengapa aku lupa me-manggil Si Cay soat? Tidak heran kalau dia menjadi tak senang hati---" Berpikir demikian. tapi anehnya belum juga pe-muda tersebut berhasil ke luar dari lingku-ngan hutan tadi. tapi oleh karena tidak di jumpai Si Cay soat.

ia saksikan ada sesosok baya-ngan merah sedang berlarian menuju ke arah air terjun dengan kecepatan tinggi. namun terbuat dari seje-nis bahan istimewa. Lan See giok tahu. Setelah berjalan mendekat. payudaranya yang montok nampak menonjol besar dibagian dada. rambutnya yang panjang juga telah dibungkus kain merah. Si Cay soat yang sedang berlarian di depan telah menghentikan langkahnya. Melihat Si Cay soat sama sekali tidak menggubris dirinya. Setelah mengenakan pakaian renang ini. Lan See giok baru menjumpai tempat dimana Si Cay soat berdiri sekarang adalah sebuah tebing yang tinggi. peman-dangan alam di situpun amat indah. Setelah berlarian sekian waktu. Sambil menuding ke arah bayangan Si Cay soat. sepasang matanya yang terbelalak lebar di arahkan terus ke permukaan telaga. ia merasakan pandangan matanya menjadi silau. Ketika maju beberapa puluh kaki. Waktu itu Siau Thi gou hanya berharap enci Soat nya bisa menangkap seekor ikan besar. Siau thi gou segera berseru: "Engkoh giok ayo berangkat.281 Akhirnya dari jarak tujuh delapan kaki di depan sana. airnya berwarna hijau dan beriak terhembus angin. pada hakekatnya dia tidak memper-hatikan mimik wajah Lan See giok. jarak antara tempat itu dengan per-mukaan telaga paling tidak masih mencapai enam tujuh kaki. lagi dia dapat melihat permukaan telaga yang luas-nya mencapai beberapa bau. Lan See giok benar-benar merasa ter-tegun. semua lekukan tubuhnya tertera amat jelas. hatinya berdebar keras dan seolah-olah sedang dihadapkan dengan segumpal api. . Walaupun dalam hati kecilnya merasa terkejut. bahkan hanya berdiri di tepi tebing dengan mulut membungkam sa-darlah Lan See giok bahwa gadis itu sedang marah kepadanya. pinggangnya amat ramping. tempat dimana Si Cay soat berdiri sekarang bisa jadi adalah telaga Cui oh. perawakan tubuh Si Cay soat nampak lebih indah. sekarang ia dapat melihat pakaian yang dikenakan Si Cay soat adalah sebangsa pakaian renang yang kulit bukan kulit sutera. mari kita lihat enci Soat menangkap ikan!" Mereka berdua segera menyusul dari bela-kangnya dengan gerakan cepat. pahanya berbentuk manis se-dang kakinya terbungkus sepatu kulit ber-warna merah. waktu itu si nona sedang membung-kus rambutnya dengan kain merah. namun dia tak lupa menyampaikan salam untuk Si Cay soat.

Tiba-tiba terdengar Siau thi gou berteriak keras. Si Cay soat dengan gaya Hay yan si sui (walet air bermain air) telah menubruk ke arah permukaan telaga. menceburkan diri ke dalam telaga.. Secepat ikan terbang bayangan merah itu meluncur dan menyelam ke dalam air telaga yang berwarna hijau tadi. ! " Baru saja dia berteriak. biarpun sedang berenang. Hati-hati !" Tampak Si Cay soat menekuk pinggang. dalam air memutar badannya. ternyata gerak-gerik Si Cay sobat terlihat indjah sekali. dia tak menyangka ilmu berenang yang dimiliki gadis itu demikian indah dan sempurna.. "Aaah. Lang See giok selaibn merasa kagum juga sangat memuji.. waktu itu cahaya perak telah lenyap. kemudian pergela-ngan tangannya diayunkan ke depan seren-tetan cahaya perak langsung me-nyambar ke arah ikan besar itu. Tiba-tiba Si -Cay soat yang berada.282 Setelah tersenyum. diapun hendak mempelajari ilmu berenang. Lan See giok harus memasang telinga baik-baik sebelum dapat melihat bahwa kurang lebih dua kaki di depan Si Coy soat benar.. Pada saat itulah. Siau thi gou yang menyaksikan kejadian tersebut segera tertawa lebar.dalam kitab pusaka Pwee yap cin keng.. Dalam hati kecilnya ia segera memutuskan untuk memohon kepada To Seng-cu locian-pwe selain mempelajari ilmu silat yang ter-cantum. sedangkan ikan besar tersebut .. kemudian tersenyum. sepasang lengannya didayungkan bersama lalu sepasang tangannya ditempelkan satu lama lainnya dan . "Selamat pagi adik Soat!" Mendengar sapaan tersebut.benar terdapat seekor ikan besar yang sedang berenang menjauhi dengan gerak gerik yang amat gugup. Kejar mengejar pun segera terjadi. Percikan air segera memancar ke empat penjuru. seekor ikan Cui oh li (ikan leihi tela-ga cu). Si Cay soat mengerling sekejap ke arahnya dengan pan-dangan indah. Gemetar sekujur badan Lan See giok me-li-hat gerakan tubuh gadis itu. "Byuuur!".. tanpa di-sadari dia menjerit kaget: "Adik Soat. ombak menggulung kian ke mari. Dengan cepat Lan See giok mengalihkan kembali sorot matanya ke arah telaga. dengan suara yang amat ramah pemuda itu kembali menyapa. bayangan merah telah berkelebat lewat..

kita harus siapkan san-tapan siang yang paling lezat" Maka berangkatlah ke tiga orang itu menuju ke hutan. gerak gerik Si Cay soat memang sungguh terlampau indah.. . Lan See giok yang menyaksikan kejadian itu segera merasakan hatinya berdebar keras. bila suatu ketika Ihheng. anehnya dia sama sekali tidak mendongkol. Tanpa terasa diapun memuji sambbil ter-senyum. lalu sambil mengempit bangkai ikan besar tadi ia berenang ke tepian. Siau thi gou juga berpaling kearah Lan See giok sambil ujarnya dengan senyum dikulum: "Ilmu peluru pembelah air dari enci Soat amat tepat dan lihay sekali. Sambil bersorak kegirangan Siau thi gou segera menyerbu ke depan untuk memeluk ikan besar itu. . jangan harap bisa lolos dari tangannya. tahu-tahu Si Cay soat telah melompat naik ke atas tebing. rambut yang panjangpun segera terurai ke bawah. betapa pun be-sarnya ikan yang diburu dan betapa cepat nya ikan itu berenang. buru-buru dia mengiakan berulang kali. dengan gembira ia berteriak keras: "Ayo berangkat. Ih-heng terus terusan? Masa lagakmu selalu sok sungkan?" Merah padam selembar wajah Lan See giok. tentu akan merasa sangat puas.pun dapat menguasai ilmu tersebut sesempurna kau." Lan See giok mengangguk berulang kali. iglmu berenangmu bsungguh amat indah.283 sudah berguling di atas air kemudian terapung dengan bagian perut nya menghadap ke atas. Lan See giok berjalan mengikuti di belakang Si Cay soat. Sambil tersenyum manis Si Cay soat me-ngerling sekejap ke arah Lan See giok yang sedang memandangnya dengan perasaan kagum. pelan-pelan dia membuka pengikat rambutnya.. Si Cay soat segera berenang mendekati-nya. tiba-tiba ia menegur: "Apa sih Ih-heng. Setibanya di depan hutan. namun sorot matanya masih ditujukan ke arah Si Cay soat yang sedang menaiki pantai. Bayangan merah berkelebat lewat dengan menutulkan ujung kakinya di atas tonjolan batu karang.j "Adik Soat. walaupun kena disemprot." Sekali lagi Si Cay soat tertawa manis. Dalam pada itu Siau thi gou telah selesai mengikatkan ikan besar dan kelinci besar itu.

diapun sering kali berburu. tiba-tiba Siau thi gou bertanya: "Engkoh Giok. maka soal menguliti kelinci juga bukan sesuatu pekerjaan yang asing baginya. kepada Lan See giok segera ujarnya: "Engkoh Giok. Siau thi gou segera mengambil pisau dan mulai membersihkan sisik ikan dan mem-ber-sihkan isi perutnya. ia segera berhenti bekerja dan bisiknya: "Adik thi gou. kau cukup menyembah empat kali di-hadapannya sambil memanggil suhu. aku datrang kemari atasz petunjuk dari wlocianpwe . . apa yang kau laku-kan dulu?"! "Tanpa ragu Siau thi gou segera menjawab: "Aku merangkak di atas tanah dan me-nyembah berulang kali . apakah kau datang kemari khusus untuk belajar ilmu dari suhu?" Lan See giok mengangguk. ternyata di situ letak dapur. dalam beberapa kali lompatan saja mereka telah menembusi hutan tersebut. Selama Lan See giok mengikuti ayahnya hidup dalam kuburan kuno. . dia tidak terlalu memperhatikan soal tetek bengek. cara kerjanya cekatan dan amat terlatih." . Si Cay soat yang selesai berganti pakaian telah muncul kembali di situ. mengapa kau masih saja memanggil suhu sebagai locianpwe?" Lan See giok menjadi tertegun menghadapi pertanyaan tersebut. maka kita mesti menyembah empat kali. semua peralatan dapur tersedia komplit di situ. lalu kepada Lan See giok dan Siau thi gou ujarnya. Lan See giok mengikuti di belakang Si Cay soat menuju ke sebuah ruang kecil yang ter-letak di belakang ruangan batu. jawabnya de-ngan bersungguh hati: "Benar. suhu orangnya ramah dan pengasih. dia membalikkan badan menuju ke dalam ruang batu. aku belum pernah meng-ang-kat guru. bayangan merah berkelebat lewat..284 Hutan tersebut dalamnya hanya sepuluh kaki. "Engkoh giok menguliti kelinci. " Belum selesai dia berkata. selesai bersantap siang nanti. "kalau toh tujuanmu belajar ilmu. aku pikir itu sudah cukup. Sambil membersihkan ikan. "r "Sungguh aneh" kembali Siau thi gou me-nukas. Tiba di depan ruangan itu. Si Cay soat segera membalikkan tubuhnya. Adik Thi gou memotong ikan. konon kalau hendak melakukan upacara pengangkatan. agaknya diapun sempat mendengar pembicaraan kedua orang itu. aku akan pulang dulu untuk berganti pakaian" Sembari berkata.

hidangan segera disajikan. "Suhu diantara lima cacad dari tiga telaga.budak binal.. masih tersedia pula seguci besar arak wangi. sedang Si Cay soat yang hendak membuat gembira gurunya mengambil cawan arak dan berseru kepada To seng cu sambil tertawa. senyum ramah masih menghiasi wajah-nya." `To seng-cu tertawa terbahak bahak. To seng cu dengan jubah kuningnya telah muncul dari balik gua. Siau thi gou turut mengangkat cawan araknya.. suasana riang gembira segera me-nyelimuti seluruh ruangan... Tergerak hati Lan See giok. Ketika semuanya sudah siap. maka menggunakan ke-bsempatan tersebjut segera ujarngya dengan hormabt.. bukankah kau pun termasuk murid suhu yang baik?" Diangkatnya cawan arak dan diteguk de-ngan lahap. panggang daging kelinci.. isi cawan bagi dirinya ke-lihatan paling sedikit. Lan See giok segera bangkit dan duduk di samping Siau thi gou. silahkan bersantap. setelah mengiakan diapun melanjutkan pekerjaan-nya menguliti kelinci. ditatapnya pemuda itu dengan ramah. ayo cepat bangun!" Walaupun Siau thi gou kelihatan agak bodoh. akan tetapi diapun dapat melihat kalau gurunya sedang amat gembira pada hari ini.285 Lan See giok memandang ke arah Si Cay soat dengan penuh rasa terima kasih. sayur sayuran. tecu sudah mendapat tahu kalau si Tongkat besi berkaki tunggal berdiam di benteng Pek hoo cay. lalu ujarnya tersenyum. kionghi kau orang tua telah me-nerima seorang murid baru..haaahhh. Ketika To seng cu mencicipi Ang sio hi. dia memuji tiada hentinya atas kelezatan hida-ngan tersebut.haaahhh. "Suhu berada di atas." Tak lama kemudian.. si . "Anak giok." Sambil mengelus jenggotnya To seng cu tertawa terbahak bahak. kuah tahu. selain ang sio hi.. Siau thi gou baru berteriak ke arah gua: "Suhu. "Suhu. Mendekati tengah hari pekerjaan memasak pun telah selesai. Soat-ji menghormati secawan arak untukmu. Dalam pada itu Si Cay soat telah menuang empat cawan arak. Lan See giok menunggu sampai To-seng-cu sudah duduk. dia segera teri-ngat kembali dengan ilmu berenang yang di-miliki Si Cay soat. dia baru menjatuhkan diri berlutut dan menyembah empat kali sambil katanya dengan serius. terimalah penghor-matan dari tecu Lan See giok. Haaahhh.

se-balik nya berbicara dari tingkat muda. barulah kau minta pelajaran secara langsung kepadanya---" Lan See giok yang mendengar perkataan tersebut menjadi sangat gembira. dia memandang kearah Si Cay soat yang sedang cemberut dan tidak senang hati itu."" Sebelum Lan See giok menyelesaikan kata katanya.286 beruang berlengan tunggal ber-diam di bukit Tay ang san. "Benar. sedang si binatang bertanduk tunggal yang berilmu silat paling lemah tapi berotak paling cerdas itu. Lan See giok berkerut kening. sedangkan ilmu berenang dari adik Soat mu berasal dari ajaran si naga sakti pembalik sungai. tecu rasa dua manusia cacad lainnya pasti berdiam pula di atas telaga. si Setan ganas bermata tunggal yang terhitung paling garang. orang ini termasuk yang memiliki daya pengaruh terbesar antara rekan-rekannya. sa-hutnya dengan gembira: "Berbicara soal ilmu berenang. "Dari lima manusia cacad di tiga telaga. berdi-am di telaga Pek toh oh." . padahal anak Giok tidak mengerti ilmu berenang. bila kau memang berniat untuk mempelajari kepandaian tersebut. diantaranya aku kira yang patut diperhitungkan kekuatan nya adalah si raja ganas dari telaga Tong Ting oh. . To seng cu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak. ia telah ditotok mati oleh serga-pan Oh tin san sehingga tak perlu dikuatir-kan lagi. bila hendak menyelidiki jejak mereka rasanya sukar sekali. sedang si manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san bercokol di benteng Wi-limpoo yang dikitari telaga phoa yang oh. suhu sendiri sama sekali tidak menguasai kepandaian tersebut. ia berdiam di Lim lo pah. kalau begitu Ih-heng meng-u-capkan banyak terima kasih dulu kepadamu. sambil mengelus jenggot To seng cu segera menyela. dalam dunia persilatan tiada orang yang bisa menandingi kehebatan Hu-yong siancu. sampai sib naga Sakti pembalik sungai datang ke Hoa San. tak ada salahnya untuk minta kepada adik Soat mbu untuk mengajajrkan dasar dasagrnya. orang yang berilmu berenang paling tinggi adalah enci Cian mu. . mohon suhu bersedia mewariskan pula ilmu berenang kepada anak giok". lalu berkata dengan sedih. ia segera bangkit meninggalkan tempat duduknya dan menjura kepada Si Cay soat sambil serunya: "Adik soat. kemudian me-lan-jutkan sambil tertawa: "Namun. si Setan ganas bermata tunggal Toan Ci tin tersebut. Setelah berhenti sejenak. tiga diantaranya menjagoi di atas telaga.

" Kemudian sengaja dia menengok ke arah To-seng-cu dan berkata kembali: "Suhu.mu lebih mengandalkan gerakan tubuhnya yang lihay dan luar biasa. selalu menuruti petunjukku. mulai hari ini pasti akan seperti Siau thi gou. Berbicara sampai di situ. maka enci Cian. harap kau jangan berbuat demikian. dia seperti tidak percaya kalau enci Ciannya yang begitu lembut. ." To seng cu cukup mengetahui akan kebi-nalan muridnya ini. . diapun sadar bahwa gadis ini diam-diam merasa tak puas dengan ilmu berenang yang dimiliki Ciu Siau cian. maka setelah tertawa geli katanya: "Tidak mungkin. ternyata memiliki ilmu berenang yang jauh lebih hebat dari pada si naga pem-balik sungai. walaupun ia tahu bahwa gurunya sengaja menggoda. sambil tersenyum ia segera menjawab: "Kalrau Thio loko muz mengandalkan twenaga dalamnya ryang sempurna.juga tahu kalau sesungguhnya gadis ini amat ramah dan berhati mulia. jangan-jangan ada orang yang merasa tak senang hati. dia segera bangkit dan balas memberi hormat. terutama sekali ilmu pedang di dalam airnya. andaikata ilmu berenang yang di-miliki Ciu Siau-cian tidak lebih sempurna daripada kepandaiannya. tenang dan cantik jelita bak bidadari dari kah-yangan. tak mungkin guru nya akan berkata demikian: Oleh sebab itu dengan nada tak percaya dia berkata dengan bersungguh sungguh: "Suhu. tidak mungkin. bila soat ji memberi pelajaran dulu kepada engkoh giok. benarkah ilmu berenang yang di-miliki enci Ciannya engkoh giok masih jauh lebih hebat daripada si naga tua pembalik sungai?" To seng cu tahu kalau Si Cay soat telah memahami maksudnya.. dia memandang sekejap ke tiga orang muda mudi dengan pandangan penuh kasih sayang . Kejut dan girang menyelimuti seluruh wa-jah Lan See giok. siau moay tak berani menerima-nya. bahkan tidak kalah sempurna nya dari ilmu berenang yang dimiliki ibu nya.287 Dalam hati kecilnya Si Cay soat me-rasa kegirangan. tapi diapun mengerti. . sungguh cepat nya luar biasa." Sebaliknya diluaran dia berkata dengan tenang: "Engkoh giok. bila Ciu Siau-cian merasa tak puas kau dan anak giok bisa minta pelajaran bersama dengan-nya!" Si Cay soat adalah seorang gadis yang pintar dan cekatan. engkoh Giok kan sudah mempunyai enci Cian yang sangat lihay dalam ilmu berenang.. pikirnya: "Hmm. sekalipun demikian dia .

ia merasa amat gem-bira terutama setelah menerima Lan See giok. dia ber-tanya sambil tertawa. walaupun usianya sudah mencapai seratus tahun. Ketika ia menangkap sinar berkilat dari balik mata Lan See giok. dia merasa kepandaian silatnya bakal ada yang mewarisi. dia seperti ingin secepatnya dapat bertemu dengan Ciu Siau cian. meski begitu dia pun tidak lupa untuk melalap daging dan ikan yang di-hidangkan dihadapannya. di dalam hati kecilnya dia lantas berjanji. mukanya memerah dan segera memperlihatkan perasaan tidak tenang. sinar matanya turut ber-kilat-kilat. Hanya Siau thi gou seorang yang tidak menaruh perhatian khusus atas persoalan ini namun perkataan dari gurunya juga tak be-rani tidak didengarkan." Si Cay soat mengangguk berulang kali. . suhu jamin pasti ada keuntu-ngan bagimu. "Anak giok. na-mun hatinya ramah dari orangnya saleh. katanya lebih lanjut dengan mengan-dung arti mendalam: Soat ji. tanpa terasa dia tertawa. Sementara itu. dengan membelalak-kan sepasang matanya dia awasi gurunya tanpa berkedip. dia akan mewariskan kembali kepandaian terse-but kepada encinya agar gadis itu menjadi seorang pendekar wanita yang tiada keduanya di dunia ini. To seng cu adalah seorang jagoan nomor wahid yang amat disegani orang di dalam dunia persilatan dewasa ini. Lan See giok merasa gem-bira sekali karena gurunya To seng cu me-muji kehebatan enci Cian nya. bila ia berhasil mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam kitab Hud bun pwe-yap cinkeng tersebut. suatu perubahan aneh segera menghiasi paras mukanya. panggillah lebih banyak enci kepadanya. dia menjadi tergagap. Maka setelah meneguk araknya. Membayangkan kesemuanya itu. senyum kegirangan kembali menghiasi wa-jahnya. To seng cu memandang sekejap ke tiga murid kesayangannya. orang tua itu segera mengetahui kalau si bocah lagi memikirkan suatu kejadian yang meng-gembirakan hati-nya. Maka sambil menengok ke arah Si Cay soat. bila kau bertemu dengan Ciu Siau cian lain waktu. setiap orang yang berhubungan dengannya pasti akan menaruh hormat dan sayang kepadanya.288 Si Cay soat sendiri tentu saja percaya seratus persen atas perkataan dari gurunya. persoalan apa sih yang sedang kau bayangkan? Mengapa kau nampak kegi-rangan?" Lan See giok tidak menduga kalau guru-nya akan mengajukan pertanyaan seperti itu. sifat ke kanak kanaknya juga sangat menonjol dimukanya.

agaknya mereka berusaha mencari tahu masalah apakah yang membuat pemuda itu demikian gugupnya? To seng cu juga tidak berkata kata. sungguh tidak kecewa kuterima dirimu sebagai murid!" Selesai berkata. kau masih muda tapi setia dan seder-hana. harap suhu sudi memaafkan ketidak tahuan anak giok!" Si Cay soat maupun Siau thi gobu jadi melongo. ia terkejut dan wajahnya segera berubah.ji. dia meneguk araknya sampai habis. dihadapan suhu memang masih teringat enci Cian. senyum gembira sekali lagi menghiasi wajah To Seng cu. To seng cu kembali berkata dengan wajah serius: "Selama berada dihadapan guru. penuhi cawanku ini! " Sementara itu. berpikir-an cabang dan menjawab secara ngawur perta-nyaan guru. namun dia dapat meli-hat bahwa suhunya sedikit tak bisa mengen-dalikan rasa gembiranya. yang ringan. kembali ke hadapan gurunya. yang berat akan dikeluarkan dari perguruan. kata-nya dengan suara rendah dan berat. "Gou.j mereka tidak hgabis mengerti abpa sebabnya Lan See giok menunjukkan wajah gugup. sekali lagi dia memberi hormat sambil berkata: . ia segera cemberut dan sambil mendengus kalanya agak cemburu: "Apa lagi? Tentu sedang membayangkan enci Cian nya yang lihay dalam ilmu berenang!" BAB 14 LAN See giok tidak menyangka kalau Si Cay soat bakal membongkar rahasia hatinya secara blak blakan. lalu sambil me-nyodorkan mangkuk kosong itu ke hadapan Sian thi gou yang masih tertegun. sudah jelas guru-nya sedang merasa kegirangan setengah mati. anak giok. Ia me-neguk habis isi cawannya. Lan See giok terharu sekali oleh perkataan itu. buru-buru seru-nya kepada To seng cu: "Anak giok tidak becus. hal ini merupakan pantangan terbesar bagi dunia persilatan. pelanggarannya akan peroleh hukuman. Si Cay soat memang gadis yang pintar. walaupun Si Cay soat juga dibuat kebingungan. Setelah menerima cawan dan meletakkan kembali ke atas meja.289 Melihat pemuda itu tidak berusaha untuk membohonginya. Siau thi-gou segera memenuhi cawan gu-runya dengan arak dan mengangsurkan kembali ke atas meja To seng cu. dengan sorot mata yang bimbang tiada hentinya mereka awasi Lan See giok dan To seng cu secara bergantian.

aku akan mengisahkan kembali peristiwa pada sepuluh tahun berselang ketika kitab cinkeng itu lenyap. mungkin hanya akan menyia nyiakan harapan suhu saja! To seng cu meneguk setengah cawan arak lagi. duduklah suhu tidak akan menyalahkan dirimu lagi. di dalam kala-ngan hitam terdapat lima orang jago lihay." "Kemudian. saking menyegsal-nya dia sambpai menundukkan kepalanya rendah--rendah. dia membuat gerakan de-ngan mempersilahkan pemuda itu duduk. .orang itu mendapat tahu kalau aku memiliki sejilid kitab pusaka ilmu silat yang amat hebat. To seng cu sangat gembira. muda mudi ber-tiga itu segera meletakkan kembali sumpit nya dan bersama sama memandang ke arah guru mereka> Sambil tertawa ramah To seng cu segera berkata: "Kalian boleh mendengarkan sambil makan dan minum." Mendengar perkataan itu. entah dari mana mereka peroleh kabar ternyata orang. meski ia tidak mengerti apa gerangan yang terjadi." Kemudian setelah meneguk seteguk arak dan termenung beberapa saat. mereka adalah lima cacad dari tiga telaga yang termasyhur sekarang. Siau thi gou orangnya ramah den polos. dia pun mulai bercerita. "Sepuluh tahun berselang. Si Cay soat pun merasa gugup dan panik. See giok sebagai muridnya. dengan tenaga dalam gurunya yang begitu sempurna serta ketebalan imannya yang mengagumkan. "Sekarang. agar kisah tadi bisa menambah pengetahuan kalian se-mua. toh tak mampu mengendalikan gejolak emosi-nya. terbayang kembali ketika ia membongkar rahasia hbati Lan See giojk. kini gejolak emosinya telah mereda. maka ujarnya kemudian sambil tersenyum. katanya kemudian lengan ramah: "Anak giok. setelah me-mandang sekejap ketiga orang bocah itu un-tuk mengurangi perasaan tak tenang dalam hati mereka.-" Sambil berkata. melihat di atas wajah pemuda itu tidak ter-lintas perasaan bangga. berkumpullah mereka me-rundingkan bagaimana cara mencuri kitab tadi dan kemudian mempelajarinya ber-sama sama.. Namun dia bisa menduga. Lan See giok segera mengiakan dengan hormat dan duduk.290 "Anak giok bodoh. namun dapat terasa olehnya kalau enci Soat maupun engkoh giok nya sama-sama telah melakukan kesalahan besar. ia benar-benar tak me-nyangka kalau perbuatannya bakal segawat itu. hal ini menandakan betapa gembira nya orang tua itu setelah mendapatkan Lan.

mengapa ia tidak menjumpai "pintu gua" ketika memasukinya semalam. mungkin dia akan mencerita-kan pengalamannya kepada mu. dia adalah bibi Wan . . Setelah meneguk araknya setegukan. . sudah pasti bait-bait syair yang terpampang di atas dinding di mulut gua tersebut. baru kuketahui kalau orang itu adalah Hu-yong siancu Han sin wan . masalah pedih apakah yang dialami bibi Wan sehingga dia merasa begitu sedih?" tanya Lan See giok dengan perasaan tidak habis mengerti. dia tahu yang di maksudkan gurunya. Dalam pada itu. orang yang mengukir tulisan di de-pan gua tak lain adalah bibi Wanmu." Lan See giok kembali merasa tidak habis mengerti. toh dihati kecil masing-masing masih saja saling curiga men-curigai. sampai orang itu sudah pergi jauh. mendadak kudengar suara golok sedang mengukir batu di depan dinding gua . menanti kususul lebih dekat. . . tak ada salahnya bila kau tanyakan sendiri kepada bibimu di kemudian hari. ." "Suhu. tanpa terasa serunya kaget: "Aaah . . . "Justru persoalran menjadi berazntakan aki-bat wsuatu kebetulanr. " . To seng cu telah berkata lebih jauh: "Menanti suhu sampai di pintu depan. hanya saja ia tidak habis mengerti siapakah perempuan tersebut. tapi kalau menurut pembicaraan suhu pintu gua tersebut pasti tersembunyi di balik dinding gua sehingga tidak terlihat sama sekali. namun untuk menghindar mulut guaku ketahuan orang luar. pada waktu itu aku se-dang bersemedi di dalam gua. ?" "Benar. secara terpisah mereka datang ke Hoa San dan berkumpul di bawah bukit sambil berunding bagaimana caranya mengamati gerak gerikku. . To seng cu berkata lebih jauh: "Tergerak hatiku waktu itu sehingga segera munculkan diri.291 "Dasar bangsa kurcaci. barulah kubuka pintu gua dan ke luar. walaupun mereka telah memutuskan bersama. . orang itu sudah pergi hingga tak terlihat lagi. Tergetar perasaan Lan See giok. . aku tidak membuka pintu secara langsung. namun untuk menghindari perhatian orang. tak lama kemudian kusaksikan seseorang sedang berlarian dengan cepat. kubaca sebentar bait syair di dinding gua itu lalu menembusi hutan tho dan me-ngejar ke luar lembah. aku sendiri juga kurang tahu sehingga lebih baik tak usah kuterangkan di sini. dia . . . "Masalah ini menyangkut hubungan antara orang tuamu dengan bibi Wan. kemudian katanya sambil tersenyum. " Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan itu. Tong seng cu berkerut kening seakan -akan enggan menjawab pertanyaan itu.

tapi di sisinya telah bertambah seseorang." "Kemunculan mereka di bukit Hoa San segera menimbulkan kecurigaanku. barulah kuketahui kalau ayahmu adalah Lan tayhiap yang termasyhur namanya dalam dunia persilatan. menanti aku tiba kembali di gua. tapi setelah mendengar perkenalan dari Hu-yong siancu. memandang sekejap ke arah Lan See giok yang sedang mendengarkan dengan seksama. ketika kau ke luar dari gua." Berhubung To seng cu bercerita sambil menengok ke arahnya. segera kukejar mereka ke luar lembah. Lan See giok sudah memahami maksud gurunya. "Sampai aku sudah berada di belakangnya. waktu itu aku memang kelewat gegabah. dengan perasaan gelisah akupun segera menyusul ke luar lembah. sudah barang tentu Lan See giok tak berani ber-tanya lebih jauh. karena itu rasa curigaku segera lenyap. Aku pun segera mengeluarkan ilmu berjalan ter-bang menempel angin untuk menyusul di belakang mereka.292 Melihat gurunya enggan menjawab. diantara hutan bambu dan pohon siong kulihat ada lima sosok bayang-an manusia sedang kabur ke luar bukit. kemudian baru lanjutnya lebih jauh. Atas perta-nyaanku. "Kedua orang itu merupakan pentolan kaum hitam yang termasyhur sekali. serta Wi-lim pocu Oh Tin-san di mulut lembah. segera aku sadar bahwa kotak itu tercuri. sudah pasti pintu depan lupa kau tutup kembali?" "Benar"! To seng cu segera mengangguk. baru ku-jumpai kotak kecil di atas meja telah lenyap. baru kuketahui ayahmu telah ber-jumpa dengan Pek-ho-caycu si toya guntur Gui Pak-cian. itulah sebab-nya ia tidak merasa keheranan ketika ayah-nya disinggung: "Waktu itu aku paling mencurigai ayahmu." . si peluru perak gurdi emas Lan Khong-tay. "Dalam keadaan begini." Berbicara sampai di situ dia. dengan gelisah tiba-tiba dia menyela: ""Suhu. Hu-yong siancu belum pergi. orang itu tak lain adalah ayahmu. terpaksa aku turun tangan keji. kelima orang itu baru merasakan kehadiran-ku. saat itu juga mereka kabur terbirit -birit ke empat penjuru. Setelah mengejar melampaui dua buah puncak bukit. maka di dalam gelisahnya dicampur gusar dan mendongkol. Tampaknya Siau thi gou memperhatikan sekali masalah tercurinya kitab cinkeng itu. mustahil bagiku untuk mengejar mereka satu persatu. sedang ayahmu serta Hu-yong siancu juga menyusul di belakangku. "Sewaktu aku mengejar sampai di luar hutan tho. terpaksa dia mengiakan berulang kali.

Caycu dari Pekho cay. dia telah berada di luar hutan tho. Cong Caycu dari bukit Tay ang san. itu-lah sebabnya kubebaskan Oh Tin san ber-lima. "Menanti pikiran dan perasaanku sudah mulai mereda kembali. "Waktu itu aku tidak tahu siapa yang ber-nama Kiong Tek ciong. karena itu ku kejar Toan Ci tin dari telaga Tong Ong oh sambil melepaskan sebiji biji cemara untuk menghalangi niatnya melarikan diri. namun tidak mengetahui bagai-mana caranya untuk mengembalikan. tak ampun lagi biji ce-mara itu bersarang telak di mata sebelah kirinya. maka dalam gusarnya kubacok kutung lengan kiri Kiong Tek ciong sedangkan Oh Tin san segera berlutut minta ampun. "Atas pertanyaanku baru kuketahui arah Kiong Tek ciong melarikan diri. "Berhubung orang tuamu dan Hu-yong siancu kemudian lenyap secara tiba-tiba dari dunia persilatan. sebab ketika Huyong siancu mengukir syair di depan gua. berhubung aku tahu kalau dia orangnya keji dan berbahaya maka segera kupotong sebuah telinga kirinya seba-gai hukuman. "Setelah kuperiksa kedua orang itu. kebetulan Toan Ci tin sedang menengok ke belakang.293 "Mula pertama kukutungi dulu kaki kiri dari Gui Pak ciang. biar begitu aku percaya kalau Kiong Tek ciong dan Oh Tin san tidak berbohong. kemudian Pek toh oh cu si binatang bertan-duk tunggal Si Yu gi menjadi ketakutan dan berlutut minta ampun sambil menerangkan kalau cinkeng tersebut berada di tangan Kiong Tek ciong. pintu gua berada dalam keadaan tertutup. walaupun alasannya hendak me-lindungi padahal tujuannya yang utama adalah mengawasi gerak gerik rekannya. siapa tahu ketika biji cemara itu hampir mengenai tubuhnya. waktu itu Oh Tin San sedang kabur membuntuti Kiong Tek ciong. baru kusesalkan per-buatan berdarah yang telah kulakukan. kotak tersebut sama sekali tak berhasil kutemukan kembali. tapi ketika kemu-dian kucari. mengapa mengejar Oh Tin san sekalian dan kedua mereka tahu kalau kotak kecil itu milikku. "Ketika aku mengejar mereka lebih jauh dalam keadaan terpojok ternyata ke dua orang itu melakukan perlawanan. akhirnya baru kuketahui apa sebab-nya ayahmu tidak datang mencariku: "Pertama mereka tidak tahu siapakah aku. tapi sampai matahari tenggelam di langit barat aku belum juga melihat ayah-mu datang. tapi aku perca-ya bila kotak cinkeng itu berhasil mereka te-mukan niscaya akan dikembalikan kepadaku. baru-lah diketahui kalau kotak kecil tadi sudah terjatuh dalam perjalanan. "Waktu itu meski akupun sedikit menaruh curiga kepada ayahmu dan Huyong siancu yang tidak menyusul datang. menanti aku membukanya. Oh Tin san sekalian-pun mulai menelusuri .

dia khusus membuat sepasang "lian" di kedua belah pintu gua yang terbuat dari tatahan mutu manikam serta intan permata yang tak ter-nilai harga nya. Ketika Oh Tin san sekalian menjumpai kemunculan Hu-yong siancu di bawah puncak giok li hong mereka pun menjadi tertarik dan diam-diam menguntit dari belakang. akupun berpendapat demikian.294 jejak ayahmu. Oh Tin san sekalian dengan perasaan ingin tahu segera munculkan diri untuk melihat tulisan apakah yang diukir Hu-yong siancu di atas dinding. itulah sebabnya setiap kali aku peroleh kesulitan. Ketika itu akupun cuma berusia sebelas dua belas tahunan. se-bagaimana diketahui Hu-yong siancu adalah seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan. sebelum sucou kalian kembali ke alam baka. siapa sangka pada saat itulah secara kebe-tulan aku membuka pintu gua. . peristiwa ini sesungguhnya bersum-ber pada perbuatan Hu-yong siancu ketika mengukir syair di atas dinding gua sana. segera ujarnya kemu-dian dengan hormat. itu namanya sudah takdir!" Dengan ramah dan penuh kasih sayang To-seng cu memandang sekejap kearah Siau thi gou. entah berapa ba-nyak lelaki yang pernah jatuh hati kepadanya dimasa lalu. oleh sebab itu aku segera kembali ke gua dan minta ampun kepada sucou kalian.." Tergerak hati Lan See giok sesudah men-dengar perkataan itu. pasti akan berlutut di depan pintu itu sambil berdoa dan minta pengarahan. tiba-tiba menimbrung: "Suhu. "Suhu. cousu yaa berada di mana? Menga-pa Gou ji tidak tahu?" Siau thi gou segera bertanya dengan nada tidak mengerti. bahkan bersumpah selama hayat masih dikandung badan pasti akan mendapatkan kembali kitab cinkeng tersebut. Hu-yong siancu yang sudah mem-buat tulisan di atas dinding gua saja tidak menemukan mulut gua tersebut. mengapa Oh Tin san sekalian bisa tahu kalau suhu berdiam di dalam gua tersebut? To seng cu segera menghela napas panjang "Aai. masih lebih kecil daripada kalian. "Tatkala Hu-yong siancu selesai mengukir tulisan kemudian berlalu. "Gua ini merupakan hasil pembangunan dari cousu di masa lalu. beliau merubahnya dari sebuah gua alam menjadi sebuah tempat tinggal yang indah. Si Cay soat yang membungkam selama ini.!" Siau thi gou yang mendengar sampai di situ segera menyela pula dengan suara lan-tang: "Waah. . . lalu manggut-manggut seraya men-jawab: "Benar. itulah se-babnya mereka dapat membuktikan pula kalau kitab Cinkeng tersebut memang berha-sil ditemukan oleh ayahmu serta bibi Wan mu .

295 "Tatkala anak giok membaca sepasang "lian" yang berada di depan pintu gua sudah terasa olehku bahwa tulisan mana merupa-kan hasil karya seorang Bulim Cianpwe yang amat saleh dan hebat. sucou kalian khusus mencatatkan segenap ilmu silatnya di atas Hud bun. apakah suhu bersedia menerangkan nama sucou kami agar anak giok sekalianpun mendapat tahu siapa nama sebenarnya sucou kami yang mulia itu. beliau hidup bebas di alam sana dan tak pernah akan kembali ke dunia yang fana lagi" Lan See giok serta Si Cay soat yang melihat kemurungan suhunya. dia orang tua telah berhasil memperoleh apa yang di kehendaki-nya. dipandangnya aneka bunga di luar ruangan dengan ter-mangu.yang tak terhingga dari suhu mereka ter-hadap sucou-nya. Siau thi gou merasa sedih sekali tiba-tiba ia bertanya: "Suhu. kemudian dengan membawa pedangnya beliaupun berangkat ke alam baka untuk menjadi dewa abadi--Ketika menyelesaikan perkataan itu. Sebelum kembali ke alam baka. Biarpun ketiga orang muda mudi itu masih kecil. kembali bertanya dengan tidak habis mengerti: "Suhu. semenjak sucou menjadi dewa. beliau merupakan se-o-rang dewa pedang yang paling hebat pada seratus lima puluh tahun berselang. karena itu mereka semua merasa turut tak tenang."" Paras muka To seng cu segera berubah menjadi amat serius. mereka pun dapat melihat pancaran sinar hormat dan perasaan kagum . paras muka To seng cu nampak berubah menjadi merah segar dan penuh dengan perasaan kagum." . tapi sahut nya juga meski tidak memahami maksud muridnya" "Tentu saja amat baik. baikkah bila sucou menjadi dewa?"" To seng-cu tertegun dibuatnya. kini jadi menyesal karena sudah menanyakan soal sucou mereka sehingga memancing rasa murung bagi gurunya.pwee yap cinkeng tersebut dan diwariskan kepadaku. "semenjak dia orang tua menjadi dewa. per-nah beliau pulang untuk menengokmu?" "Tidak pernah" To Seng cu menggelengkan kepalanya dengan sedih. sampai lama kemudian pelan-pelan ia baru berkata: "Sucou kalian Thian ih siu telah berusia dua ratusan tahun. kita sebagai angkatan muda tentu saja harus ikut bergembira. Siau thi gou yang melihat gurunya sedih. beliau sudah bertapa hampir seratus tahun di dalam gua ini. Kini anak giok telah masuk perguruan dan membonceng ketena-ran suhu dan sucou.

"Berhubung aku datang dengan tergesa gesa. serunya tak tertahan lagi. tak tahan lagi ia segera mendongakkan kepala-nya dan tertawa terbahak-bahak.. karena itu dia hanya mengeringkan jubahnya yang berwarna biru saja serta pakaian dalamnya. guru dan murid empat orangpun nampak sedikit agak mabuk. seakan akan teringat akan se-suatu. aku akan mewaris-kan ilmu silat maha sakti yang tercantum dalam Hud bun pwee yap cin keng kepada engkoh giok kalian.. Lan See giok tidak mempunyai banyak pakaian untuk berganti. sedangkan Si Cay soat. Santapan siang itu dilewatkan dalam sua-sana riang gembira. buntalanmu itu berada dalam kamar enci Soat. Kontan saja To seng-cu dibuat tersumbat mulutnya oleh ucapan Siau thi gou. senja yang gelap mulai menyeli-muti Giok-li-hong. Sambil mengelus jenggotnya dan me-man-dang ketiga orang bocah itu dengan riang To seng cu berkata: "Tengah malam nanti. Melihat Siau thi gou berhasil memancing gelak tertawa guru mereka. mereka sama-sama menengok ke arah Thi gou de-ngan sorot mata kagum. Soat-ji serta Thi gou ha-rus menjadi pelindung pada saatnya nanti. Lan See giok dan Siau thi gou sedang mengeringkan pakaian dengan asap dupa.. bahkan masih terdapat pula Sembilan butir peluru perak yang berkilauan" Lan See giok segera merasakan hatinya bergetar keras setelah mendengar perkataan itu." Kejut dan gembira Lan See giok mendengar perkataan itu. paras mukanya berubah. Lan See giok serta Si Cay soat juga ikut tertawa. dan Siau thi gou segera mengiakan dengan hor-mat. .296 "Lantas apa sebabnya kau orang tua nam-pak tak senang hati?" seru Siau thi--gou polos. Matahari senja sudah mulai tenggelam di balik awan. kau tidak membawa bunta-lan pakaian?" Lan See giok menggelengkan kepalanya bertulang kali. "Aaah. ia segera melompat bangun sambil berkata. Tiba-tiba Siau thi gou bertanya dengan nada tak mengerti: "Engkoh Giok. bibi Wan tak sempat mempersiapkan segala sesuatunya bagiku. teringat aku sekarang. apalagi pakaianku kebanyakan masih tertinggal di dalam kubu-ran kuno" Mencorong sinar tajam dari balik mata Siau thi gou. bselewat malam njanti kalian bergtiga harus su-dbah mempersiapkan diri baik-baik dan menunggu perintah dihadapanku.

bukankah bungkusan ini milikmu?" Lan See giok segera mengenali bungkusan itu sebagai miliknya yang tertinggal di dalam kuburan kuno. Siau thi gou sudah bermaksud mengembalikan bungkusan kecil itu. menggikuti Siau thi bgou mereka langsung menuju ke arah kamar tersebut. Lan See giok merasa amat gelisah bercam-pur bimbang. oleh sebab itu dengan gelisah ia lantas berseru: "Adik Thi gou. kemudian bisiknya: "Enci Soat sedang mandi di atas.-!" . kali ini paras mukanya berubah. pakaian dalam dan gaun gadis tersebut sambil mema-suki ruang dalam. ia segera menarik Lan See giok menuju ke kamar tidur Si Cay soat. ia tidak berada di kamarnya. Berbeda sekali dengan Siau thi gou.297 "Apa kau bilang?" Siau thi gou segera meletakkan pakaian nya ke atas lantai. hanya pedang Jit hui kiam serta kotak kecil itu yang lain tidak diketahui berada di mana? Waktu. cepat kembalikan ke tempat asalnya.kanakan. de-ngan acuh tak acuh dia melanjutkan lang-kahnya melewati celana dalam. Tapi Siau thi gou sendiripun tidak me-nyangka kalau di atas permadani ruangan tergeletak pakaian luar serta pakaian dalam Si Cay soat yang baru dilepas. Lan See giok segera merasakan hati-nya berdebar keras dan wajahnya merah padam. bahkan bisiknya dengan girang. dia langsung memasuki kamar tidur enci Soat-nya tanpa canggung. saat itulah Lan See giok baru mendu-sin dari kekhilafannya dan segera berhenti di pintu luar. "Coba kau lihat engkoh giok. Tiba dalam kamar tidur Si Cay soat. teren-dus bau harum semerbak yang menyegar-kan badan. ayo biar kuambilkan untukmu" Sambil berkata. Lan See giok segera mengalihkan kembali pandangan matanya ke dalam ruangan. rupanya pedang Jit hoa kiam beserta kotak kecil emas itu diletakkan menjadi satu dengan buntalan-nya. saat ini dia seolah-olah lupa kalau tidak patut seorang lelaki memasuki bkamar tidur seojrang dara. apalagi usianya dua tiga tahun lebih muda dari pada Lan See giok. namun diapun mengerti bahwa bungkusan itu tidak boleh diambil sekarang. ayo cepat ke luar-. Siau thi gou masih polos kekanak. dengan perasaan kaget dia mundur dua langkah dari posisi semula.

Sekarang. kemudian melompat ke luar dari dalam ruangan. sambil menarik tangan Siau thi gou mereka segera mengundurrkan diri dari zsitu. Kalau hendak diambil pun harus bertanya dulu kepada suhu mengerti?" Siau thi gou segera manggut-manggut berulang kali dan melanjutkan pekerjaannya menggarang pakaian. ter-paksa sahutnya. melainkan selalu menyembunyikan diri di seputar sana. rupanya To seng cu sama sekali tidak meninggalkan kuburan kuno tersebut pada malam itu. dengan terkejut ia meletakkan kembali bungkusan tersebut ke tempat semula. "Teringat bau harum semerbak yang terasa di mulut.298 Melihat wajah tegang dan peluh bercu-curan yang membasahi muka Lan See giok yang gelisah. Siau thi gou segera mengangguk berulang kali. kau tak boleh mengatakan telah mengajakku pergi ke kamarnya untuk me-ngambil bungkusan kecil itu mengerti?" Berhubung Lan See giok berbicara dengan wajah serius dan bersungguh sungguh. hanya ada satu hal yang belum dipahami yakni ke mana perginya pedang Gwat-hui kiam tersebut?" . "Adik Thi-gou. sampai kemudian On Tin san muncul di situ dia baru mengganti kedudukannya seba-gai pelindung keselamatan jiwanya. Sekarang Lan See giok sudah memahami segala sesuatunya. setibanya di kamar sendiri ia baru bertanya dengan suara tak mengerti: "Engkoh giok. Ia pun berani menyimpulkan bahwa tujuan suhunya menyembunyikan diri tak lain adalah berharap bisa mengamati gerak gerik-nya secara diamdiam sehingga dapat me-ngetahui dimana kotak kecil tersebut disim-pan. Lan See giok baru berkata dengan ber-sung-guh sungguh. "Pakaian itu kan milikmu? Mengapa tak boleh diambil?" Tentu saja Lan See giok merasa kurang le-luasa untuk menerangkan alasannya. Siau thi gou segera tahu kalau persoalannya tidak semudah itu. Lan See giok lebih-lebih tak berani berayal lagi. sebentar bila adik Soat datang. sekarang ia baru mengerti tentang bau harum itu berasal dari obat mestika pemberian gurunya yang segera memaksa ke luar sari racun dalam tubuhnya di samping menambah tenaga dalamnya. Siau thiw gou sungguh dirbuat bingung dan tak habis mengerti. meski demikian ia toh bertanya lagi dengan nada tak mengerti. apa yang terjadi?" Setelah berusaha menenangkan hatinya.

Siau thi gou segera berseru: "Enci Soat. kemudian jawabnya: "Engkoh giok bilang. angin lembut terasa berhembus lewat. Tampak paras muka Si Cay soat merah padam seperti kepiting rebus. ikut cici untuk mengambilnya!" Sambil berkata dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ. Siau thi-gou memandang sekejap ke arah Lan See giok yang duduk dengan wajah merah padam. bahkan dengan wajah tersipu sipu dia menggoyangkan ta-ngannya berulang kali sambil mencegah: "Adik Thi gou. Tentu saja Siau thi gou jadi melongo dan berdiri tertegun di tempat. Lan See giok segera menengok ke arahnya. engkoh giok tak punya pakaian untuk ganti!" "Mengapa kami tidak mengambilnya di kamarku?" omel Si Cay soat setelah mende-ngar perkataan itu. kemudian serunya kembali kepada Siau thi gou: "Mari. biar cici saja yang segera mengambilkan untuk mu. tampak olehnya Si Cay soat yang habis mandi kelihatan lebih segar. benar juga ia mendengar suara langkah kaki manu-sia berjalan mendekat. Siau thi gou mengiakan dengan bgembira dia segjera melompat bagngun dan siap mbe-nuju ke luar kamar. Hanya Lan See giok yang mengerti apa yang telah menyebabkan Si Cay soat gelisah serta gelagapan setengah mati. enci Soat datang"" Lan See giok segera pasang. hari ini dia benar-benar dibikin kebingungan setengah mati dan tak tahu apa gerangan yang telah terjadi. mau menunggu sam-pai kedatanganmu!" Si Cay soat melirik sekejap ke arah Lan See giok. Pada saat itulah mendadak terdengar Siau Thi gou berbisik: "Engkoh giok." Selesai berkata kembali dia melayang pergi. bayangan merah berkelebat di depan mata. . de-ngan gugup dan panik Si Cay soat telah muncul kembali di situ.299 Berpikir sampai di situ. di sana tidak ditemukan sesuatu apapun. lebih cantik jelita dan menawan hati. kau tak usah kemari. tahu-tahu Si Cay soat telah muncul di depan pintu ruangan. tanpa terasa dia-mati ruangan dimana ia berada sekarang namun kecuali dua lembar selimut kulit serta bungkusan berisi pakaian milik Siau thi-gou. ba-yangan merah kembali berkelebat lewat. Tapi baru berjalan beberapa langkah. telinga. wajahnya gugup bercampur gelagapan.

Lan See giok. To seng cu dengan jubah kuningbnya duduk bersijla di atas kasugr duduknya dengban mata terpejam. kepandaian silat ini dilarang untuk diwariskan kepada sembarangan orang. Dalam kesibukan masing-masing itulah. Menanti ke tiga orang muda mudi itu duduk. wajahnya amat serius. tanpa terasa malampun menjelang tiba . tanpa terasa ia sangat berterima kasih sekali kepada gadis itu. Sekarang sambil melanjutkan peker-jaan-nya menggarang pakaian. Si Cay soat. ketika dibuka ternyata Si Cay soat telah memban-tunya mencucikan semua pakaian tersebut. sedang Lan See giok dan Siau thi gou duduk di se-belah kanan. mem-buat suasana di situ terasa diliputi oleh ke-seriusan. Lan See giok merasa sangat emosi setelah melihat bungkusan kain miliknya itu.. Pelan-pelan To seng cu membuka matanya dan menitahkan mereka bertiga agar duduk. duduk di sebelah kiri.. bahkan dilipat dengan rapi dan rajin.. impiannya untuk mewariskan kembali ilmu silat yang dipelajari dari kitab Cinkeng kepada enci Ciannya segera buyar tak berbekas. Tampak kitab Hud bun pwe yap cin keng terletak di atas meja rendah. perasaan mereka amat tenang." Lan See giok merasakan hatinya bergetar keras. Setibanya dihadapan guru mereka. tak sampai Lan See giok mengu-capkan terima kasih. Si Cay soat serta Siau thi gou segera melayang turun dari kamar masing-masing menuju ke istana gua. To seng cu baru berkata dengan wa-jah bersungguh-sungguh: "Aku akan melaksanakan peringatan dari sucou kalian dengan hanya mewariskan ke-pandaian silat yang tercantum dalam kitab Cinkeng kepada seorang murid yang paling berbakat. Si Cay soat telah muncul kembali dengan membawa sebuah bungku-san kecil. kepalannya seperti dihantam kayu keras-keras.. ia telah mengundurkan diri lagi dengan kepala tertunduk rendah-rendah.300 Sesaat kemudian. biar terhadap istri maupun putra putri sendiri. dua batang lilin tersulut rapi di meja. asap dupa menyiarkan bau harum ke seluruh ruangan. Sementara itu To seng cu telah berkata le-bih jauh: . dia mulai memutar otak memikirkan bagaimana caranya untuk mempelajari rahasia ilmu silat yang ter-can-tum dalam kitab Cinkeng. wajah merekapun diliputi keseriusan. Lan See giok sekalian bertiga segera menyapa sambil menjatuhkan diri berlutut.

karena itu aku telah mengambil keputusan untuk me-wariskan kepandaian silat maha sakti terse-but kepadanya. kese-tiaan dan kejujurannya bisa dipertanggung jawabkan. Dari pembicaraan dan perkataan To -Seng cu yang begitu serius. Sementara itu To Seng cu telah berkata lagi setelah berhenti sejenak: "Ketika masih berada dalam kuburan kuno. dia melanjutkan. bahkan memikirkan masalah itupun tak per-nah. jujur dan sederhana. "Soat ji maupun putri kesayangan Hu-yong siancu. namun semakin sulit untuk dipelajari. untuk meng-hindari pelanggaran peraturan di kemudian hari dengan mewariskan ilmu tersebut kepada suami atau putra putri sendiri. Itulah sebabnya aku selalu membun-tutinya secara diam-diam. maka ilmu silat ini pun tak akan diwaris-kan kepadanya. maka Siau thi gou segera mengiakan dengan sikap tulus. berdasarkan pengamatanku secara diam-diam selama satu bulan lebih. maksud ku tak lain adalah hendak mencari kembali Cinkeng tersebut serta menemukan seorang manusia yang berbakat sangat baik untuk mempelajari ilmu silat tersebut. aku selalu membawa Soat ji dan Gou ji ber-kelana ke mana-mana tanpa tujuan. cepat dia bang-kit berdiri dan mengiakan dengan hormat. anak giok memang benar-benar seorang anak baik yang dapat dipercaya . hanya sayang sifat keibuan mereka terlalu besar." Jangan lagi soal ilmu silat tersebut. namun aku merasa wajib untuk mengamati dulu segala gerak gerik. Meskipun demikian." Kemudian setelah memandang sekejap muda mudi bertiga yang duduk dengan wa-jah serius itu. " . sikap maupun perangai-nya. baginya asal engkoh giok bisa mempelajarinya hal tersebut sudah cukup memuaskan hatinya. . kemudian melanjutkan: "Gou ji polos. sayang kecerdasannya kurang. maka setelah men-de-ngar perkataan dari gurunya. dia pun semakin bertekad untuk tidak menyia nyiakan harapan.301 "Hampir sepuluh tahun belakangan ini. guru. Lan See giok pun mu-lai sadar bahwa tidak gampang untuk mem-pelajari ilmu silat dari Hud bun pwee yap cinkeng tersebut. dia memang manusia yang berbakat bagus untuk mempe-lajari segala isi cinkeng tersebut. Kata-kata terserbut diutarakan zsecara tegas dawn sama sekali trak bisa dibantah kembali. Pada hakekatnya Si Cay soat memang ti-dak berniat mempelajari isi kitab cinkeng tersebut. Siau cian merupakan orang-orang yang berbakat baik. . Dengan wajah gembira To Seng cu meman-dang sekejap ke arah Si Cay soat.dan tak akan melanggar peraturan yang telah ditetapkan perguruan. aku pernah memeriksa seluruh urat dan tulang belulang anak Giok. maka kepada mereka berdua tak akan diwarisi kepandaian silat tersebut".

melihat wajahnya gembira dia turut gembira. Cahaya terang benderang mencorong di luar pintu. anak giok mendengarkan pembicaraanku dengan sek-sama." la lantas bangkit berdiri dan maju ke balik pintu gerbang istana gua. suasana amat hening Lan See giok yang berdiri di belakang To Seng cu memandang ke arah pintu dan mebnde-ngarkan hemjbusan angin dalgam gua. Lan See giok. "selanjutnya anak giok bersumpah akan mengutamakan kejujuran serta berlatih dengan tekun. mentaati pera-turan perguruan dan tidak akan menyia-nyiakan harapan suhu terhadap anak giok. dia melanjutkan: "Dalam santapan siang tadi." Setelah berhenti sebentar dan menatap wajah Lan See giok dengan penuh kasih sayang. pintu segera terbuka sebuah celah selebar dua depa. Si Cay soat dan Siau thi gou. To Seng cu melaku-kan suatu gerakan dengan telapak tangannya. memandang sepasang "lian" yang tergantung di sisi pintu. To Seng cu berdiri serius di depan pintu gerbang yang tinggi besar itu sambil me-ngangkat kepalanya." buru-buru Lan See giok men-jawab dengan hormat. ikutilah suhu menjumpai sucou mu!. To Seng cu. . kesemuanya ini menambah keyakinanku bahwa pilihanku memang tak salah. Tiba di depan pintu.302 Setelah berhenti sejenak. segera bersamasama me-nuju ke luar pintu. Malam sudah kelam. itulah sebabnya aku pun mempercepat waktunya setahun lebih awal untuk mewa-riskan ilmu silat tersebut ke-pada anak giok. cahaya tajam pun segera meman-car ke luar dari balik ruangan tersebut. melihat aku murung dia menjadi tak tenang.manggut.. katanya kemudian dengan serius: "Sekarang. tiba-tibba saja merasakan pikiran dan perasaannya menjadi sangat kalut. Lan See giok bertiga berdiri berjajar di be-lakang To Seng cu. ia bertanya lebih jauh: "Anak. sikap mereka pun amat serius. giok." Dengan gembira To Seng cu manggut. sedemikian terangnya sampai debu di lantai pun dapat terlihat jelas. dengan wajah gembira yang terpancar dari balik keserius-an mukanya. bagaimanakah perasaanmu setelah mendengar perkataanku ini?" "Pujian dari suhu membuat anak giok me-rasa malu. mendengar pembicaraan orang lantas menghubungkannya dengan orang lain bahkan kemudian berani meng-aku salah dan minta hukuman.

pengharapan dari bibi Wan serta enci Cian serta penghargaan yang begitu tinggi dari gurunya terhadap dirinya. ujar-nya dengan wajah bersungguh sungguh: "Murid angkatan ke tiga Lan See giok de-ngan hormat melaporkan kepada arwah Su-cou dialam baka. Sedangkan Lan See giok sekalian bertiga setelah memberi hormat beberapa kali baru ikut berdiri pula. tiba-tiba terdengar To Seng cu telah berkata dengan suara rendah tapi hormat." Selesai berkata. dengan sorot mata yang tajam To Seng-cu mengamati terus gerak gerik Lan See giok. Tatkalga Lan See giok bmengucapkan sum-pah nya tadi. Sementara ia masih termenung. biar Thian melimpahkan kutukannya kepadaku. Kesemuanya itulah yang memantapkan ke-sempatan baginya untuk mempelajari ilmu silat maha dahsyat pada malam ini dan peristiwa tersebut membuatnya amat terha-ru." Lan See giok mengiakan dengan hormat. cepat berlutut dan mengangkat sumpah dihadapan sucoumu." Selesai bersumpah. Setelah bangkit berdiri Lan See giok ber-sama gurunya. To Seng-cu bangkit berdiri. dia menyembbah lagi beberapja kali. Si Cay soat serta Thi-gou se-rentak berlutut pula ke atas tanah. . "Anak giok. "Arwah.303 Ia teringat kembali akan dendam kesumat ayahnya. Si Cay soat dan Siau thi gou menutup kembali pintu gua. tecu bertekad akan meneruskan kejayaan sucou dan bersumpah akan menaati setiap peraturan yang ditetap-kan perguruan serta menegakkan keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan. dia lantas jatuhkan diri berlutut dan menyembah beberapa kali. bila tecu sampai melanggar sumpah ini. tapi akhirnya dia manggut--manggut sambil tersenyum girang. suhu di alam baka mohon tahu. kemudian sambil memandang sepasang "lian" di sisi pintu. hari ini murid ang-katan ketiga Lan See giok khusus datang untuk menyampaikan sumpah serta rasa terima kasihnya. Lan See giok. dia maju beberapa langkah ke depan dan menjatuhkan diri berlutut. Kemudian To Seng-cu pun berkata kepada Lan See giok dengan wajah serius. Setelah menyembah sebanyak empat kali. kau harus me-nyatakan kesetiaanmu untuk selama hidup melaksanakan perintah sucou serta menaati peraturannya. tecu Cia Cing wan telah menuruti perintah dengan menemukan seorang ahli waris untuk mempelajari isi cinkeng.

wajahnya berubah hebat diam-diam ia berdoa semoga engkoh gioknya bisa berhasil dengan sukses. sekali pikiranmu bercabang. biar ada golok diayunkan ke leherku juga percuma. ingat waktu sangat berharga bagimu. ia benar-benar tak pernah menyangka kalau untuk mempelajari kitab cinkeng pun bakal menghadapi ancaman yang begitu serius. akupun akan mengalami jalan api menujru neraka sehingzga ber-akibat cwacad seumur hidrup--!" Si Cay soat yang mendengarkan perkataan itu segera berkerut kening. karenanya saking gelisahnya peluh sampai jatuh bercucuran.304 Tiba di ujung ruangan. dalam hal ini kau harus ingat baik-baik." Lan See giok mengiakan berulang kali dan manggut-manggut pelan-pelan To Seng cu melanjutkan kata katanya: "Ke satu. diam-diam Lan See giok mengatur per-na-pasan dan berusaha keras untuk menenang-kan pikiran dan perasaannya yang bergolak. . Sambil berlutut dihadapan To Seng cu. To seng cu duduk bersila kembali dikasur duduknya. kau harus menggunakan segenap daya ingatmu untuk menghapalkan semua catatan tersebut. sebelum mempelajari isi cinkeng itu. selain tergantung pada bakat. sebelum mempelajari kitab cinkeng. untuk mempelajari ilmu silat maha sakti yang tercantum dalam kitab cinkeng. tulisan di atas Pwee yap tersebut hanya akan mun-cul sekali setiap enam puluh tahun hurufnya amat banyak dan ilmu silatnya beraneka ragam. tak boleh dicekam perasaan panik. kau harus menggunakan saat yang amat singkat dimana aku akan memperta-hankannya dengan seluruh tenaga untuk membaca dan menghapalkan secara teliti. harap kau suka mengingatnya dihati. lalu ujarnya dengan lembut: "Anak giok." "Ke dua. juga tergantung besar tidaknya rejekimu. ke-cerdasan serta daya ingat seseorang. Sebaliknya Siau thi gou berdiri bodoh di situ. bukan hanya kau bakal tewas. terlebih dulu hendak kusampaikan beberapa pesan kepadamu. gangguan macam apapun yang datangnya dari luar tidak akan mengganggu konsentrasiku. kau harus berusaha menenangkan pikiran serta membuang jauh-jauh semua pikiran yang tak berguna. Dengan sorot mata yang lembut To Seng cu mengamati wajah Lan See giok. kemudian memerintahkan Lan See giok berlutut di ha-dapannya dan menitahkan Si Cay soat serta Siau thi gou berdiri di sisinya. "Selain dari pada itu.

mengeluarkan ke tiga biji pwee yap tadi dan diletakkan di atas telapak tangan. . pe-ngalaman yang dijumpai pun tidak sama. Suasana dalam ruangan itu sangat hening. Dalam pada itu To seng cu telah merang-kapkan tangannya menjadi satu dengan menjepit ke tiga pwee yap tadi dalam telapak tangannya. sorot" ma-tanya memandang lurus ke depan dan tenang bagaikan pendeta tua. dengan cepat dia mengangguk: Akhirnya To Seng cu memandang sekejap lagi kearah Lan See giok kemudian baru me-mejamkan mata rapat-rapat. Lan See giok sendiripun berhasil men-e-nangkan pikirannya bagaikan air. sepasang ta-ngannya menggenggam ke tiga biji Pwee yap itu lekat-lekat dan meletakkannya di atas lutut di depan dada. Pasrah sepenuhnya kepada Thian sambil membaca kitab itu. "Anak giok.305 Menyaksikan wajah tegang dan panik yang mewarnai wajah Lan See giok sudah lenyap tak berbekas. Paras muka To Seng-cu berubah menjadi merah membara. lambat laun peluh mulai bercucuran membasahi jidatnya. seketika itu juga pikirannya terasa ter-buka. oleh sebab itu aku tidak kuatir kau tak bisa membaca tulisan di atas pwee yap ini. Si Cay soat serta Siau thi gou berdiri serius di sampingnya. bahkan nasibpun berbeda. mengerti?" Lan See-giok segera memahami maksud-nya. kau harus mem-bawa tekad menyerahkan segalanya kepada yang kuasa. Dengan bersungguh hati dan serius Lan See giok mengatur napas. oleh sebab itu ia pun tak sempat memikirkan apa yang di-se-but sari susu batu pualam itu. ia segera berkata lebih jauh: "Sewaktu berada di kuburan kuno. sedemikian sepinya sehingga tak kedengaran sedikit suarapun. uap putih menguap dari ubun-ubunnya dan membaur dengan bau dupa yang memenuhi seluruh ruangan. aku memberi beberapa tetes sari susu batu ke-mala kepadamu sehingga tenaga dalam yang kau miliki sekarang telah melipat ganda. dia tak berani menyabangkan pikirannya. mereka memusatkan seluruh perhatiannya sambil mengawasi gurunya serta Lan See giok dengan serius. kau harus tahu. setelah menitahkan kepada Lan See giok agar berlutut di depan sepasang lututnya. dia berpesan lagi. To Seng cu merasa gembira sekali. ketajaman matamu bisa melebihi sinar sang surya. Pikirannya bersih dan perasaannya kosong. rejeki setiap orang berbeda." Sambil berkata dia membuka kotak kecil itu.

. . dan sepasang matapun terasa segar kembali. .. ia merasa datangnya pancaran sinar tajam yang amat menusuk pandangan membuat mata-nya terasa sakit seperti ditusuk-tusuk pisau. . . menyusul ke-mudian muncul huruf-huruf dari emas. ia merasa udara sangat panas bagaikan ko-baran api. dia berlagak seakan akan tidak melihatnya: Si Cay soat serta Siau thi gou juga ikut merasakan meningkatnya suhu udara di se-kitar mereka. Setelah membaca ke empat nama ilmu silat -tersebut. peluh dingin jatuh bercucuran. hatipun ikut berdebar Mendadak -To Seng-cu merentangkan kedua ibu jari tangannya ke samping. Lan See giok segera membaca pula isi pelajarannya dengan seksama . Dalam pada itu. seluruh tenaga dalamnya telah di him-pun dan perhatiannya dipusatkan ke atabs telapak tangajn gurunya. seketika itu juga suasana di dalam gua menjadi terang benderang-Lan See giok tak berani berayal. Si Cay soat dan Thi. Menyusul kemudian segulung bau harum muncul dari tenggorokannya. sepasang matanya mengawasi kedua ibu jari To seng cu lekat-lekat. Hud kong sin kang (Hawa sakti cahaya Buddha ).bercucuran deras.Pada saat itulah. perasaan tegang pun semakin bertambah. segulung cahaya ta-jam segera memancar ke luar ke atas langit-langit gua. biarpun sepasang matanya seakan akan melihat sinar matahari. .- . ..Lan See giok sangat girang. Yu-hong-hui heng ( Menunggang angin ter-bang melayang ) .. Sambil berusaha menahan rasa sakit Lan See giok mengerahkan tenaga dalam nya untuk bertahan. . mereka tak tahu apakah Lan See giok dapat membaca isi pelajaran dalam pwee yap itu atau tidak? Suasana dalam gua amat sepi. .gou yang berdiri di kedua belah sisinya merasa amat tegang. Dargi balik telapakb tangan gurunya.. namun terhadap perubahan mimik muka dari To Seng cu itu.. sambil membungkukkan badan. tapi sekarang dia tidak merasa semenderita tadi lagi. tanpa terasa peluh.. Pwee-yap sam-ciang ( tiga pukulan Pwee-yap) . bahkan menerpa tubuhnya beru-lang-ulang.. sedemikian sepinya sampai dapat terdengar suara detak jantung masing-masing. secara ber-urutan diapun membaca terus. Thi siu-yau-kong ( ujung baju baja menge-bas udara ).306 Lan See giok berlutut di depan To Seng-cu. Lambat laun cahaya tajam yang menusuk pandangan itu mulai hilang.

Belum pernah Si Cay soat merasakan perasaan gugup dan panik seperti apa yang dialaminya pada hari ini. dengan wajah berubah hebat mereka segera memasang telinga baik-baik dan mendengarkan dengan seksama. Dengan cepat Si Cay soat melompat naik ke ruang tidurnya. pintu dan jendela masih tertutup rapat maka ia berjalan menuju ke depan jendela. Tergerak hati Si Cay soat. di mana ia minta Siau thi gou melindungi keselamatan mereka. karena dia tahu bila dalam keadaan seperti ini benar-benar . hatinya menjadi amat gelisah dengan cepat dia menyambar pedang Jit-hoa-kiam dan menaiki anak tangga batu menuju ke rumah batu di atas tebing.307 Sreeet--Suara desingan besi bergema datang disu-sul suara pekikan nyaring yang berkuman-dang datang secara lamat-lamat. Jangan-jangan ada orang yang hendak menyatroni kami?" Berpikir demikian. sbuara pekikan nyjaring itu seakagn akan berasal bdiri kamar tidur Si Cay soat. gumamnya kemudian dengan suara gagap: "Orang kuno bilang: Pedang antik yang berjiwa. ia dapat menangkap suara pekikan nyaring itu ber-gema semakin nyaring. hampir saja ia menjerit kaget. Karena teringat olehnya bisa jadi ada orang telah menyusup masuk ke dalam barisan po-hon bambu. Si Cay soat segera manggut-manggut mengerti. setelah ya-kin kalau tiada orang. Suasana dalam rumah batu gelap gulita. ia tak berani langsung membuka tombol rahasia. Setelah berada di pintu ruangan. Si Cay soat serta Siau Thi gou sangat terkejut. Setibanya di ujung jalan. diam-diam ia melompat mundur sejauh tiga kaki dan menuju ke ruang batu. tapi apa yang kemudian terlihat membuat sekujur tubuhnya gemetar keras. Ternyata pedang Jit hui kiam tersebut te-lah lolos sendiri dari sarungnya sebanyak be-berapa inci. mukanya berubah hebat. cahaya yang tajam dan pekikan yang amat nyaring tak lain ber-asal dari pedang tersebut. akan memberi tanda bahaya bila ada musibah mengancam. Kalau diamati secara teliti. dia seperti me-mahami akan sesuatu. dia baru menekan tombol dan masuk ke dalam rumah. setelah menuding kearah gurunya dan Lan See giok yang se-dang berlutut membaca kitab cinkeng itu kepada Siau thi gou. mula-mula diintipnya dulu lewat celah-celah pintu dan memasang telinga baik-baik.

Tidak meleset dari dugaan Si Cay soat. apa yang ter-lihat segera membuat sekujur badannya ge-metar keras. hatinya menjadi amat gelisah. maka bukan saja engkoh gioknya bakal tewas. dia sampai terjongkok sambil mengintip. tampak malam gelap mencekam seluruh jagad.. pendatang itu sudah pasti sese-orang yang memiliki ilmu silat amat tinggi. lengannya direntangkan lebar-lebar ketika meluncur turun sehingga keadaannya tak jauh berbeda seperti seekor burung raja-wali raksasa..dicekam oleh perasaan tegang bercampur ngeri. Tiba di depan jendela. sorot matanya yang tajam mengawasi bayangan hitam yang meluncur datang itu tanpa berkedip. saking cemasnya dia sampai mandi keringat. saat itu dia tak tahu apakah gurunya telah selesai mengerahkan tenaganya atau belum. . Begitu kagetnya Si Cay soat.. Berpikir sampai di situ. Mendadak.. Tapi perasaan Si Cay soat waktu itu. Siau thi gou yang melihat enci Soatnya lama juga belum kembali. bagaimana mungkin enci Soatnya seorang dapat menghadapi pendatang tersebut.308 ada orang menyerang datang. suasana amat hening. gurunya juga akan mengalami rjalan api menujzu neraka. bintang ber-taburan dimana mana. tanpa terasa ta-ngan kanannya meraba pedang Jit hoa kiam. Suara pekikan nyaring yang menggidikkan hati berkumandang dari atas puncak giok-li-hong di belakang bangunan rumah itu. Ia tahu. Dia memusatkan seluruh perhatiannya untuk melihat dan mendengarkan keadaan di seputar sana dengan seksama diperiksanya barisan bambu lebih kurang tujuh delapan kaki dihadapannya . Diw samping itu dirapun bisa menduga yang berani menyerang ke tempat kediaman mereka sudah pasti merupakan gembong ib-lis dari kalangan hitam yang berilmu silat sangat tinggi. Si Cay soat amat terkejut. apalagi setelah mendengar suara pekikan aneh yang menggidik-kan hati itu.. dengan cepat dia melompat ke jendela belakang. dalam sekilas pan-dangan saja orang sudah tahu kalau penda-tang memiliki tenaga dalam yang amat sem-purna. Sesosok bayangan hitam yang tinggi besar sedang melayang turun dari puncak bukit. . sepasang matanya memancarkan cahaya ta-jam.. dia mengintip ke luar lewat celah-celah jendela. Pekikan aneh tadi memanjang dan sangat menggetarkan perasaan. diapun tak tahu apakah Siau thi gou bisa mengen-dalikan diri atau tidak.

dia pun tak tahu harus memanggil mereka atau jangan. kemudian setelah menghela napas katanya: "Segala sesuatunya sudah diatur oleh tak-dir. namun untung nya dia tak sampai terpengaruh oleh suara itu. baru saja dia akan membuka suara. si anak muda tersebut segera melanjutkan usahanya mem-baca dua macam ilmu silat yang terakhir yakni. secara lamat-lamat dia telah menangkap pekikan suara aneh tersebut. apa lagi aku pun sebelumnya lupa berpesan dengan jelas kepadanya sehingga ketidak tahuan Thi gou telah membuyarkan segenap hawa murniku yang telah terhimpun. se-pasang matanya seolah-olah menempel di atas ta-ngan gurunya dan berada dalam keadaan tak sadar. Paras muka To seng cu pucat pias. tiba-tiba dilihatnya To Seng cu berkerut kening. Siau thi gou yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi terbelalak dengan mulut melongo saking kagetnya. peluh bercucuran deras. Dalam keadaan demikian.309 Maka dia memutuskan untuk memba-ngunkan gurunya." . mana mung-kin To Seng cu akan menduga datang nya lawan tangguh dalam keadaan seperti ini? Dengan perasaan gelisah dan gugup Siau thi gou berjalan menuju ke hadapan To Seng cu. Setiap persoa-lan telah diatur oleh Thian Yaa. ia berdiri terma-ngu. Siau thi gou dengan wajah gugup dan gelisah segera berjalan menghampiri To Seng cu yang berada dalam keadaan kritis. Pada saat dia selesai membaca jurus ter-ak-hir dari ilmu pedang Tay lo kiu thian kiam hoat tersebut. Ketika memandang pula Lan See giok yang berlutut di atas tanah. Lan See giok yang berlutut di atas tanah dan baru saja selesai membaca empat macam rahasia ilmu silat. mendadak cahaya tajam yang semula terpancar ke luar dari ke tiga biji Pwee yap tersebut menjadi suram dan selu-ruh tulisan turut hilang lenyap tak berbekas. Pepatah kuno mengatakan. pe-luh membasahi seluruh jidatnya. Hud lek kim kong sin ci (jari sakti tenaga Buddha ) serta Tay l o kiu thian kiam hoat. paras mukanya berubah menjadi pucat.tak mampu melindungi kita. ia segera mengang-kat kepala sambil bangkit berdiri. pelan-pelan dia mem-buka mata dan memandang sekejap kearah Siau thi gou. di jumpai sepasang tangannya basah oleh keringat. Sementara itu. Begitu mengambil keputusan dalam hati-nya. Lan See giok tak ingin gurunya terlalu ba-nyak kehilangan tenaga. hal ini tak bisa salahkan Thi gou. Ia tak habis mengerti mengapa suhu dan engkoh giok nya bisa berada dalam keadaan seperti ini.

mengapa suhu malah berkata begitu---"! Tiba-tiba To Seng cu membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar. rejekimu selain lebih tebal . pada bagian ke dua adalah ilmu pwee yap sam ciang serta Thi siu you khong. apa kau bilang!" "Anak giok telah selesai membaca ke enam macam ilmu silat yang tercantum dalam ki-tab tersebut" sahut pemuda itu dengan hor-mat. Lan See giok tahu kalau sesuatu keajaiban pasti telah menimpa dirinya. dengan hor-mat dia segera berkata: "Suhu. Dahulu aku mesti membuang waktu selama dua setengah jam. dari tengah malam sampai mendekati fajar untuk menyelesaikan ke lima macam ilmu silat terse-but. tak tahan lagi ia bertanya agak emosi. tapi kenyataan nya sekarang kau berha-sil mempelajari enam macam ilmu silat dalam satu jam. apakah kau dapat menghapal-kan ke enam macam ilmu tersebut tanpa melupakan sepatah kata saja?" tampaknya To seng-cu masih saja tidak percaya. kau bilang berapa macam?" Menyaksikan gurunya terkejut. sampai lama kemudian ia baru menghela napas sambit katanya: ""Anak giok." . dengan wajah penuh perasaan menyesal dia menengok ke arah Lan See giok dan katanya lebih jauh. sedangkan pada bagian yang ter-akhir adalah ilmu jari Hud lek kim kong sin ci serta Tay lo kiu thian kiam hoat" "Anak giok. bukan saja aku telah me-nyia nyiakan pesan sucou mu.. . "Anak giok. wajahnya berubah dan ia bertanya dengan perasaan amat terkejut: "Anak giok. To seng cu benar-benar tidak percaya de-ngan pendengaran sendiri.daripada diriku. anak giok telah selesai membaca seluruh isi kitab Pwee yap cinkeng tersebut serta menghapalkan ke enam macam ilmu silat yang tercantum di dalamnya.310 Setelah berhenti sebentar. "Anak giok. kemampuanmu ini sungguh mem-buat aku kurang percaya." "Dua macam pada bagian permulaan adalah ilmu Hud kong sin kang serta Yu hong hui heng. Tanpa ragu Lan See-giok segera meng-ang-guk: "Anak giok yakin tidak bakal salah!" To Seng-cu segera mengawasi wajah Lan See-giok lekat-lekat." "Coba kau sebutkan satu persatu. maka dengan penuh ke-gembiraan dia berkata: "Seluruhnya enam macam.! "Anak giok tidak berani membohongi suhu.. kecerdasanmu juga jauh melebihi aku. aku pun merasa amat menyesal kepadamu---" Lan See giok merasa sangat tidak me-ngerti dengan perkataan gurunya itu.

. buka pintu dan sambut dia masuk kalian suguhkan semangkuk arak dulu kepada orang itu." Setelah berhenti sejenak dan memandang sekejap Siau-thi-gou yang masih berdiri de-ngan tertegun.. . haaahhh .. suara gelak ter-tawa yang amat nyaring telah ber-kumandang datang dari atas tebing. " Mendengar seruan itu. budak cilik. seakan akan dia menaruh prasangka jelek serta kewaspadaan terhadap orang ini." Siau thi gou segera menenangkan hatinya dan mengiakan dengan hormat.. Tak lama kemudian..311 To Seng cu segera tertawa ramah. . beritahu kepada enci Soat mu. tercengang dan sangat gem-bira. justru karena hatiku tergerak maka huruf-huruf pada Pwee-yap tersebut segera hilang lenyap tak berbekas. haaahhh . hanya saja kejadian semacam ini sungguh membuat aku merasa terkejut. kata. katakan kalau aku akan segera datang. . dengan cepat dia berpesan kepada bo-cah itu: "�Gou ji.. . To Seng-cu kelihatan agak berubah wajahnya.. kau kira setelah bersembunyi di belakang jendela maka aku tidak dapat meli-hatmu? Ayo cepat suruh gurumu ke luar untuk menyambut kedatangan aku si mak-hluk tua . . dia berkata lebih jauh: "Biasanya Thi gou bodoh. cepat. yaa dengan gembira: "Nak. mungkin dia mendengar suara pekikan aneh tersebut sehingga dia telah memasuki daerah sekitarku yang telah kupancari hawa Hud-kong-sinkang. dia seakan-akan telah teringat akan se-suatu. tiba-tiba To Seng cu berkata lagi dengan gelisah: . . kalau didengar dari nada pembica-raannya. Sementara ia masih termenung. agaknya orang itu sering berkun-jung ke sana. To Seng cu segera berseru kepada Thi gou yang masih berdiri termangu: "Thi gou. . ." Belum selesai dia berkata. terdengar seseorang telah berseru lantang diiringi gelak tertawa keras: "Haaahhh . kemudian membalikkan badan dan berlalu dari situ: To Seng cu seperti teringat lagi akan se-suatu. aku percaya kepadamu. Mendengar gelak tertawa tersebut. tapi kalau dilihat dari sikap gurunya. setiap meng-ha-dapi peristiwa tak tahu untung ruginya. ingat! Kau jangan bilang kalau aku sedang mewariskan ilmu silat kepada engkoh giok mu!" Siau thi gou berhenti sebentar seraya manggut-manggut.. kemudian ia menuju ke ruang sebelah kanan dan melompat naik ke atas Lan See giok yang menyaksikan kesemua nya itu menjadi bimbang dan tidak habis mengerti.

berdiri dihadapan To Seng cu dan berkata dengan suara rendah: "Himpun tenaga pada sepasang tangan.. tepat sekali serang sekali kena. Menyusul kemudian badannya berputar dan melayang kembali ke atas tanah. keras. bayangan tangan segera menyelimuti se-luruh angkasa. diperhatikannya setiap gerakan dan perubahan jurus Lan See-giok dengan sek-sama. secepat kilat telapak tangan kanannya melepaskan bacokan. Hong. To Seng cu duduk bersila dengan wajah serius. Lan See giok tahu sudah pasti gurunya tak sempat mem-baca rahasia ilmu silat ini hingga selesai di masa lalu. tubuhnya meluncur ke bawah dengan cepat. se-bar hawa murni ke seluruh tubuh. nampaknya saja lamban namun kenyataannya sangat cepat. salurkan tenaga murni menembusi ujung jari . maka setelah manggut-manggut dia bangkit berdiri.khong (daun salju terbang melayang---)" Tubuhnya melambung ke udara secara tiba-tiba. lamban. Sedangkan mengenai jurus yang ke dua.. mengapung. dia menghimpun hawa murninya dan berbisik lebih jauh: "Jurus pertama Siang-yap-biau.. selain beberapa orang tokoh yang maha sakti dalam dunia persilatan dewasa ini. Menyusul kemudian tubuhnya melejit sambil berputar.312 "Anak giok. Menyusul kemudian dia melompat mundur sejauh dua kaki. sepasang telapak tangannya segera dirapat-kan. dalam waktu singkat ia telah mencapai langit-langit gua. Melihat gurunya hanya duduk sambil mendengarkan dengan seksama. lambat. mungkin dia sendiripun tak mampu untuk menghadapinya. rasanya jarang sekali ada yang mampu menerima ancaman itu. Lan See giok pun berkata lebih jauh: "Jurus ke dua." Berbicara sampai di situ. cepat kau bacakan lagi pela-jaran dari ilmu pukulan Pwe yap sam ciang. Tatkala mencapai tengah angkasa.ki-yap-yang (angin berhembus daun berguguran)" Bersamaan dengan selesainya perkataan itu. menyusul kemudian deruan angin serangan . melayang. dalam perasaannya. ga-nas. secepat kilat sepasang ta-ngannya direntangkan sambil menyambar ke bawah-Tatkala hampir menyentuh tanah. buas. badannya berputar satu lingkaran sambil melayang dengan kepala di bawah kaki di atas pelan-pelan dia melambung kembali ke atas--." Memandang sikap gurunya.-.

sampai muridnya sudah berhenti.kui tiong(selaksa daun sumbernya satu)---"" Kembali tubuhnya melejit ke tengah udara hingga mencapai langit-langit gua tersebut. sedangkan Lan See giok dengan tangan sebelah di muka. Mendadak dibalik bayangan tangan yang menyelimuti angkasa itu berkumandang suara bentakan rendah. diiringi bentakan keras seluruh gua diliputi oleh bayangan tangan yang amat menyilau-kan mata-Mendadak --Kabut serangan memenuhi seluruh gua dan menggulung ke bawah. Lan See-giok segera ber-kata lagi dengan suara hormat: "Jurus ke tiga. dari tebal lambat laun menjadi tipis. Ban yap. kabut tipis menyelimuti ang-kasa dan berhamburan ke tanah seperti hu-jan deras. kepada To Seng cu katanya kemudian dengan hormat: "Tolong tanya suhu.g babatan yang lbang-sung membacok ke tanah itu disertai dengan suatu sodokan yang luar biasa sekali. mendadak ia me-nangkap bayangan manusia berkelebat dari luar pintu ruangan sebelah kiri kemudian menyusul munculnya seorang kakek yang tinggi besar. dari besar kian mengecil. Lan See-giok tak berani membalikkan badan untuk mengamati dengan sesama wa-jah pendatang itu. seluruh ruang gua seolah-olah sudah diliputi oleh angin puku-lan itu. bayangan manusia berkelebat dan Lan See-giok tahu. desingan tajam seketika berhenti. Si Cay soat serta Siau thi gou mengikuti di belakang kakek itu dengan wajah gugup ber-campur gelisah. menyusul kemudian sepasang telbapak ta-ngannyaj bergerak aneh. Awan pukulan begitu mereda. dalam waktu singkat tinggal bentuk setitik.tahu su-dah berdiri di tengah arena. bayangan tangan segera lenyap tak berbekas. tangan yang lain berada di belakang secepat kilat membabat kearah permukaan tanah.313 yang sangat mengerikan melanda kemana-mana. desingan tajam menderu deru. Selama muridnya melakukan demonstrasi. apakah kali ini anak Giok telah melakukan kesalahan lagi?" . Lan See-giok menyentilkan ke sepuluh jari tangannya ke depan. Disaat Lan See-giok baru saja menghenti-kan gerakan tangannya. To Seng-cu memperhatikan terus dengan seksama. Dalam gulungan angin serangan mana. dia berlagak tidak melihat. sambil mengelus jenggotnya dia baru mang-gut-manggut berulang kali: Melihat hal itu.

bagus sekali. selama ini belum pernah kujumpai seorang bocah dengan bakat yang begini bagus.314 Sebenarnya To Seng cu juga telah melihat akan kedatangan dari kakek yang tinggi be-sar itu. masa iya?" zsekali lagi kakwek itu mengawasri wajah Lan See-giok dengan pan-dangan kurang percaya. dari belakang tubuhnya sudah berkuman-dang suara gelak tertawa keras yang meng-getar-kan seluruh ruang gua menyusul kemu-dian seseorang berkata dengan suara yang kasar: "Aku kira ada urusan apa sehingga me-la-rang diriku masuk. Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu kakek itu berjalan ke hadapan Lan See-giok serta mengamatinya dari atas hingga ke bawah..-haaahhh ---haaahhh saudara The kelewat memuji. biarpun bocah ini ber-bakat bagus. un-tuk mempelajari satu jurus ilmu pukulan saja." Sebelum Lan See-giok sempat menjawab. dia kuatir orang itu datang dengan maksud tak baik cepat-cepat ia bangkit berdiri seraya berpa-ling. Tergerak hati Lan See-giok. namun dia juga berlagak seakan ak-an tidak melihat. wajahnya lebar. malah sambil manggut-manggut dan mengelus jenggotnya ia me-nya-hut: "Ehmm. Seorang kakek berambut kusut yang memiliki perawakan tubuh tinggi besar kini sudah muncul di sana. dia telah melangkah masuk ke dalam ruang gua. Kakek tersebut beralis mata tebal dan mata besar. rupanya kau sedang me-wariskan ilmu pukulan kepada murid ke-sayanganmu! Sementara berbicara. namun kebebalan otaknya jus-tru membuat orang hampir tak percaya. kagum dan sayang: To Seng-cu mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-babak: "Haaahhh-. cuma kau mesti berlatih lagi de-ngan tekun bila ingin mendapatkan kesuk-sesan di kemudian hari. tapi aku tahu jurus tersebut benar-benar . pakaian panjangnya terbuat dari bahan belacu dan panjangnya mencapai setinggi lutut. sebaliknya kau jus-tru telah mendapatkannya. "biarpun ilmu pu-kulan tadi hanya sempat kulihat buntut nya saja. sementara wajahnya memperlihatkan perasaan iri. sungguh heran." Seraya berkata tiada hentinya dia membe-lai tubuh Lan See giok dengan telapak ta-ngannya yang besar. ia bertanya dengan perasaan kaget bercampur tercengang: "Ciu tua. jenggot putihnya ter-urai sepanjang dada. kemudian kepada To Seng cu yang baru saja bangkit untuk menyambut keda-tangannya.. kali ini bkau telah peroljeh kemajuan yangg lebih pesat kbetim-bang tempo hari. hidungnya besar dan mulutnya lebar. aku mesti mengajarkan sampai belasan kali sebelum berhasil!" "Aarah.

mereka disebut Hay gwaa-sam khi (tiga manusia aneh dari luar lautan). ketika dilihatnya Si Cay soat sedang menyimpan kembali kotak kecil itu.315 sangat hebat dan luar biasa jika ada orang yang bisa menguasai ilmu pukulan seperti itu dalam sekali pandangan saja. hal ini mem-buktikan pula kalau diapun seorang cianpwe yang telah berusia di atas seratus tahun..dari mana saudara The bisa menyangka kalau ilmu pukulan tadi sudah memeras pikiran dan tenaga siaute selama setengah tahun?" Sementara berbicara. tapi berhubung si pendekar aneh dari Lam hay menye-but Cia tua kepada gurunya.cu segera menuju ke atas perma-dani dihadapannya sambil berseru: "Gou-ji. wah. tak usah banyak adat!" seru kakek berambut kusut itu kasar diiringi gelak tertawa keras. cianpwe ini adalah Lam hay koay-kiat (pendekar aneh dari Lam-hay) The cianpwe yang seringkali kuperbincangkan denganmu.. To Seng . maka kepada Siau-thi gou yang ma-sih berdiri termangu mangu dia berseru: "Gou ji. mengapa kau tidak segera me-ngambil arak untuk menyambut kedatangan The locianpwe!" Siau-thi-gou segera mengiakan dengan hormat. ayo ce-pat kau jumpainya----" Sesudah mendengar pembicaraan antara gurunya dengan si kakek berambut kusut tersebut.. membalikkan badan dan buru-buru berlalu dari situ. To Seng-cu juga berkata: "Anak Giok. thi-gou telah meng-hi-dangkan sayur dan arak secara tergopoh.haaahhh.haaahhh .. Kemudian kepada Lan See-giok.gopoh. Berpikir demikian. dengan cepat Lam See giok dapat menyimpulkan kalau kedua orang itu bukan sahabat karib yang sebenarnya. Siau. diapun menjura dalam-dalam seraya berkata dengan hormat: "Boanpwe Lan See-giok menjumpai The cianpwe!" "Haaahhh. Sementara itu. itu baru manusia super namanya: Sekali lagi To Seng-cu tertawa terbahak bahak: "Haaahhh ----haaahhh--. cukup. bersama Wan-san-popo dan Si-to cinjin.-haaahhh---.. hidangkan saja di tempat ini!" Pendekar aneh dari Lam-hay yang se-sung-guhnya bernama The Bu-ho itu cepat mencegah: .

. karena dia kuatir kakek berambut kusut itu datang de-ngan membawa maksud jahat. aku datang karena ada urusan penting.316 "Cia tua. Waktu itu ruang batu diterangi sebuah lentera. kau suruh mereka ke luar dari sini? Urusan ini toh tak ada salah nya diketahui mereka. Kemungkinan besar kedatangan nya kali ini bermaksud untuk adu kepan-daian dengan suhu guna memperebutkan kedudukan manusia nomor wahid di kolong langit. sepe-ninggal ketiga orang itu." Lan See-giok bertiga mengiakan dengan hormat lalu beranjak pergi dari situ. namun sete-lah mendengar ucapan gurunya. aku hendak ber-bin-cang-bincang dengan The cianpwee. kalau tidak akupun tak bakal mener-jang masuk kemari secara tergesa gesa. dia termasuk seorang makhluk tua yang berdiri antara kaum sesat dan lurus. rupanya begitu"! To Seng cu berke-rut kening sambil berseru kaget. mereka bertiga menelusuri anak tangga menuju ke ruang batu di atas permukaan." To Seng-cu tertawa hambar: "Urusan besar dalam dunia persilatan lebih baik jangan sampai diketahui oleh anak-anak muda. orangnya kasar. Lan See giok segera berbisik lirih." "Aaah. mengapa. The Bu-ho baru ber-kata dengan nada kurang puas: "Cia tua. hatinya ke-jam dan semua orang baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam sama-sama jeri kepadanya. ." Sebenarnya Lan See giok enggan beranjak pergi dari ruangan tersebut. "Kalian pergilah dulu. di atas mejapun terletak secawan be-sar arak. aku tak berminat untuk minum arak. Menggunakan kesempatan tersebut. terpaksa dia harus mengikuti di belakang Si Cay-soat dan Siau-thi-gou untuk masuk ke ruang dalam. ke-mudian serunya dengan nada tak setuju: . Setelah tiba di ruang atas. kata-nya kemudian kepada Lan Seegiok bertiga. "Adik Soat." Lan See giok segera berkerut kening. siapa sih kakek bebrambut ku-sut ijtu? Mengapa kaug ijinkan orang bitu menerobos masuk ke dalam gua?" Dengan perasaan agak mendongkol di samping rasa takut masih mencekam perasaannya Si Cay-soat menjawab lirih: "Orang itu adalah makhluk tua dari Lam hay The Bu-ho.

.317 "Kalau ditinjau dari nada pembicaraan makhluk tua itu. .." Siau thi gou membelalakkan matanya le-bar-lebar. baru saja enci Soat membukakan pintu. mendadak dari balik gua terdengar suara gelak tertawa mak-hluk tua dari Lam hay yang amat keras dbisu-sul. maaf aku tak dapat menghantar lebih jauh" sahut To Seng.." "Yaa.haaahhh. dari bawah sana segera ter-de-ngar suara ujung baju yang terhembus angin bergema datang.cu sambil tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba Siau thi gou membuka mata nya lebar-lebar. seakan-akan memahami sesuatu dia berkata: "Kalau begitu. aku The-tua akan berangkat selangkah lebih duluan . dia seperti tak sabar lagi untuk menanti!" Pelan-pelan Lan See giok mengangguk. hal ini semakin membukti-kan kalau dia bukan datang kemari untuk beradu kepandaian." "Jangan adik Gou." omel Si Cay soat." waktu kuhidangkan secawan arak dan me-ngatakan suhu segera akan muncul.".. Belum habis dia berkata. kita sadap saja pembi-ca-raan mereka. Menanti Lan See giok bertiga menyusul ke luar dari ruangan. makhluk tua. "setelah makhluk tua itu pergi. lalu katanya pula: "Makhluk tua itu sangat tak sabaran.haaahhh. kemudian bisiknya: "Ayo berangkat." "Haaahhh. kita berjumpa lagi di tempat kediaman Wan-san popo. kemudian dalam waktu singkat bayangan tubuhnya su-dah lenyap dari pandangan mata. Terdengar si makhluk tua dari Lam-hay berseru kembali. " Buru-buru Lan See giok berbisik kepada Si Cay soat dan Siau thi gou: "Si makhluk tua itu akan pergi!" Betul juga. dari Lam hay serta To Seng cu secara beruntun sudah muncul dari gua dan langsung menuju ke luar ruang batu. .. "Cia tua.. seruanjnya dengan nadag lantang: "Kalbau begitu.. kalau tidak kita tentu akan mengetahui pembicaraan apa saja yang dilangsungkan di situ. suhu tentu akan memberitahukan kepada kita . dia sudah bertanya dengan kasar: "Dimana suhu mu. Menyusul kemudian bayangan manusia berkelebat lewat. si-lahkan saudara The berangkat dulu." dengan cepat Lee See giok mencegah. coba lihat apa saja yang dibica-rakan makhluk tua itu. rasanya dia bukan kemari untuk mengajak beradu kepandaian. bisa jadi dia mempunyai tujuan lain. ternyata Lam-hay lokoay sudah berada tujuh delapan kaki jauhnya dan tiba di ujung hutan sana. . sayang suhu tidak mengijinkan kita turut mendengarkan pembicaraan tersebut... .. . ..

kawa-nan iblis mulai bermunculan. bukankah dunia persilatan bakal dilanda oleh suratu bencana yanzg sangat besar?w Mendadak To Sreng-cu seperti teringat akan sesuatu. kendatipun senyuma-n masih tetap menghiasi ujung bibirnya. Sementara itu fajar sudah mulai me-nying-sing di ufuk timur. Ayo kita masuk. Melihat perubahan wajah murid muridnya. paling banter setengah ta-hun kemudian tentu sudah pulang kembali ke rumah!" . kabut tipis masih menye-limuti permukaan tanah. To Seng-cu baru berpaling kearah Lan See . namun udara sa-ngat segar. Dengan cepat Lan See-giok menjumpai kerutan kening gurunya. mendadak ia berkata: "Aaah.kata yang menyebutkan. Dengan kening berkerut dan mengelus jenggotnya. dalam kepergianku ini. sungguh cocok sekali dengan kenyataan. Lan See-giok bertiga se-sudah mendengar perkataan ini. membikin bergairahnya semangat hidup setiap orang. bila sepasang pedang bergeser tempat. dia tak mengira kalau ilmu meri-ngankan tubuh yang dimiliki makhluk tua ter-sebut benar-benar sudah mencapai pun-cak kesempurnaan. To Seng cu berkata lagi sambil tertawa ramah: "Kalian bertiga tak usah takut. Sedang Lan See-giok bertiga masuk me-ngi-kuti di belakang gurunya kemudian berdiri hormat di sampingnya. dia telah pergi jauh" Sambil membalikkan badan dia masuk ke ruang dalam dan duduk di depan meja. To Seng-cu mengawasi ujung hutan dimana bayangan tubuh Lam-hay Lo-koay melenyapkan diri tanpa berkedip. lama-lama kemudian ia baru berguman lirih: "Badai dunia persilatan sudah tiba.giok bertiga sam-bil berkata lembut: "Berhubung ada suatu urusan yang penting. badai darah melanda bumi. seolaholah ada suatu masalah yang terpendam dalam hati-nya dan menjadi beban pikiran.318 Diam-diam Lan See-giok merasa amat terkejut. Lan See giok segera merasakan hatinya bergetar keras. Berapa saat kemudian. ucapan itu pernah didengar olehnya dari ayahnya. aku bermaksud hendak pergi ke luar lautan-" Berubah air muka. jika ditinjau dari nada pembicaraan gurunya sekarang. tampaknya kata.

dalam kepergianku kali ini kau mesti mem-perdalam ilmu pedang dan jangan sampai mencari gara-gara terus. Di samping itu. dia tahu yang dimaksud gurunya sebagai ilmu pedang adalah kitab pusaka dalam kotak emas kecil yang berada di sisi pedang Jit-hoa." Tergerak hati Lan See-giok mendengar ucapan tersebut. kepada adik Soat-nya. . setengah tahun kemudian Soat-ji tentu telah berhasil menguasai ilmu Tong kong kiam-hoat tersebut. Giok-ji. kau sebagai kakaknya harus baik-baik menjaga adikmu ini. ia menjumpai disaat To Seng cu bangkit berdiri tadi sekilas rasa sedih sempat melintas di atas wajahnya yang ramah. bila kepandaianmu sampai ketinggalan. menyesal kemudian tak ada gunanya maka kuanjurkan kepadamu berlatihlah diri dengan tekun. Kembali To Seng-cu berpaling kearah Si Cay-soat sambil melanjutkan: "Soat ji. Selama-ini Lan See-giok mengamati terus perubahan wajah gurunya. "Tidak. jalan pemikirannya kelewat sederhana. diapun bangkit berdiri seraya berkata lagi: "Sekarang hari sudah terang tanah.319 "Apakah suhu tak akan mengajak Gou ji?" buru-buru Siau thi-gou bertanya dengan wajah tak mengerti: To Seng cu menggelengkan kepalanya berulang kali. selama ini kau selalu ingin menang sendiri. ingat sebelum aku pulang.ji pasti akan mempergunakannya un-tuk memohon petunjuk dari suhu. masalah yang kuhadapi kali ini kelewat-berat. ingat jangan mencari gara-gara dengan orang luar" Kemudian setelah memandang sekejap kearah Lan See-giok dan Siau-thigou dengan kening berkerut. diapun tahu gurunya -se-dang memperingatkan. tak mau kalah kepada siapapun. janganlah membuat gara-gara dari pada memancing perhatian orang. jika suhu telah pulang nanti. Ternyata dugaannya memang betul." Dengan wajah gembira To Seng cu mang-gut-manggut. bila tidak tekun berlatih.! Seusai berkata.kiam. diapun melangkah ke luar dari ruangan." Dengan perasaan berat Lan See giok segera mengiakan. karena itu kalian bertiga tak boleh ikut dan mesti tetap tinggal dalam gua untuk berlatih ilmu silat secara rajin. aku akan segera berangkat. dia melanjutkan. sambil tersenyum Si Cay-soat segera berkata: "Silahkan suhu pergi dengan hati lega. Soat. ketika dilihatnya fajar telah menyingsing. "Thi-gou orangnya jujur dan polos. di kemudian hari dia tentu akan kalah dengan orang yang membawa pedang Gwat-hui-kiam.

namun tak akan sedih memikirkan masa depan kalian.. " Mendengar panggilan itu To Seng-cu ber-henti lalu berpaling dan memandang sekejap ke arah Lan See-giok sambil tertawa paksa mendadak seperti memahami sesuatu diapun berkata: "ANAK Giok kau mempunyai bebanb den-dam kesumajt di atas pundagkmu. anak Giok ingin turut suhu. aku tahu kbau ingin secepatnya melacaki jejak musuh-mu itu. biar pun aku berada jauh di luar lautan..." "Suhu. . dan bila sudah melatih diri se-lama seratus tahun. "sudah sepantasnya bila anak Giok mengikuti perjalanan suhu.. seandainya pertemuan kita terjadi pada setahun berselang atau peristiwa yang terjadi hari ini berlangsung setahun kemudian. asal tenaga sinkangmu telah berhasil dilatih. sekarang anak Giok telah berhasil mendapatkan ilmu silat tersebut. cuma diapun segera menjelaskan. kau boleh turun gunung dan tak usah menunggu aku sampai kembali.. . berlatih sepuluh tahun akan muncul sinar dalam tubuh. bila melatih diri selama sete-ngah tahun akan terpupuk dasar yang kuat. aku pasti akan mengutus kau seorang untuk pergi menyelesaikan tugas ini. "Anak Giok. dasar utama dari ilmu silat yang tercantum dalam cinkeng adalah Hud kong-sinkang. tentunya ucapan ini kalian pahami bukan?" . sudah dapat dipastikan kemajuan yang ku-capai akan luar biasa .. jika kau meng-ikuti aku melaku-kan perjalanan jauh. itulah sebabnya tinggallah kalian bertiga di dalam gua sambil berlatih diri dengan tekun. cepat-cepat dia memburu maju ke muka sambil serunya: "Suhu . cahaya Buddha akan melindungi seluruh tubuhmu. yang pasti hanya kerugian yang akan kau peroleh bagi kema-juan ilmu silatmu. ditengah jalan selain bisa melatih diri pun setiap saat bisa minta petunjuk dari suhu. kemudian setelah tersenyum sedih. To Seng cu tidak membiarkan Lan See giok menyelesaikan kata katanya. dia berkata: "Anak Giok..320 Kembali hatinya tergerak. dengan dasar tenaga dalam mu sekarang." Lan See-giok buru-buru memberi hormat. tanpa permintaanmu." tukas Lan See-giok cepat. Dasar sinkang yang kau miliki sekarang baru mencapai taraf permulaan... "Tidak. selain menambah pengetahuan juga peroleh banyak pengalaman yang berharga` Sekali lagi To Seng-cu menghela napas sedih. dia segera memberi tanda untuk mencegahnya berbi-cara lebih jauh.

. Mendengar ucapan tersebut. Lan See-giok." "Suhu tidak memberitahukan masalahnya berhubung beliau kuatir kita turut mengua-tirkan keselamatannya sehingga hal ini akan mempengaruhi kemajuan yang bakal kita ca-pai di dalam ilmu silat. ketika menjumpai kemurungan Lan See-giok. namun selalu saja kepandaian suhu lebih tinggi setingkat." Tampaknya Si Cay soat tidak menemukan sesuatu yang aneh pada gurunya. dia-pun melayang ke luar dari ruangan. "Sekarang aku hendak pergi dulu. "sekarang suhu telah pergi." Sambil mengebaskan ujung bajunya. bisa kita duga perjalanan suhu kali ini tentu banyak rintangan dan kesu-li-tan. Pertama tama Lan See-giok yang bangkit berdiri lebih dulu sambil berkata: "Sebelum pergi wajah suhu menunjukkan rasa sedih. de-ngan demikian harapan suhu pun tak sampai tersia siakan." Menanti mereka bertiga mendongakkan kepalanya kembali. "Kalau sudah tahu. pernah pula kusaksikan dua kali pertarungan suhu melawan makhluk tua tersebut dan sekali pertarungan melawan si nenek setan. kalian harus menjaga diri baik-baik. kenapa kalian berdua melarangku?" gerutu Siau-thi gou pula dengan cepat.321 Selesai berkata kembali dia awasi Lan See-giok bertiga dengan sorot matanya yang penuh kasih sayang. suhu yang ingin berpisah dengan kita sudah tentu menunjukkan rasa berat hati." ujar Lan See -giok dengan perasaan berat. sekalipun benar dengan kepandaian sakti yang dimiliki suhu. mau menyadap pembicaraan si makhluk tua itu. Buru-buru Lan See-giok bertiga menjatuh-kan diri berlutut sambil berseru: "Moga-moga suhu selamat dalam per-jalanan dan cepat pulang kembali ke rumah. gurunya sudah lenyap dari pandangan mata. To Seng-cu tersenyum dan manggut-mang-gut. semestinya kita semua harus menenangkan dulu pikiran agar bisa memusatkan pikiran untuk berlatih diri. kau memang kebangetan. . Si Cay-soat dan bSiau-thi-gou bejrtiga serentak gmengiakan dengabn hormat. Lagi purla selama tujuhz delapan tahun wbelakangan ini rsiau moay selalu men-dampingi suhu. apa yang hendak dilakukan ternyata tidak diberitahukan kepada kita.. jangan lagi kedatangan lam hay lo koay bukan untuk beradu kepandaian. kembali katanya. tanpa terasa Si Cay-soat tertawa cekikikan sambil menu-kas. dia lantas berkata sambil tertawa: "Engkoh Giok. apa yang mesti di kuatirkan lagi ?" "Tadi aku toh sudah bilang.

Si Caysoat dan Siau-thi-gou telah bertambah setahun lagi. tambah tahun tambah usia. sedang Siau thi gou segera melototkan sepasang matanya sambil berkata dengan sungguh-sungguh: "Aku Thi-gou bersumpah. Si Cay soat menekuni ilmu pedang Tong kong-kiam hoat dan Siau-thi-gou melatih diri dengan ilmu pukulan Liong hou jit si. mereka tertawa terbahak bahak. Pendapatku. Hanya Siau thi gou yang pada dasarnya memang bebal otaknya. dalam waktu singkat bulan tiga yang nyaman pun telah menjelang. ia disegani setiap orang.. ditambah pula Liong hou jit si merupakan sejenis ilmu pukulan yang dahsyat. istirahatnya sangat jarang. di saat suhu kembali nanti. Lan See giok telah mencapai usia tujuh belas tahun. perasaannya juga semakin terbuka. musim semipun tiba. biar menjumpai mara bahaya aku yakin akan berubah menjadi se-lamat.322 Suhu selalu hidup terbuka dan jujur. maka walaupun sudah melatih diri hampir tiga bulan lamanya. dia manggut beru-langkali. Lan See giok dengan tekun mempelajari ilmu Hud kong sin kang." Mendengar ucapan tersebut. Kini usia Lan See-giok. Tahun baru lewat. bila kita ingin mere-but hati suhu. setiap hari dia melatih diri terus tanpa berhenti. Lan See giok yang menekuni ilmu silat nya telah peroleh kemajuan yang sangat pesat. Sejak itu. Bunga salju yang turun sepanjang hari membuat seluruh bukit Hoa-san diliputi warna putih keperak-perakan yang sangat menyilaukan mata. agar suhu tahu bahwa Gou . Beberapa hari lagi tahun baru akan tiba.. turutlah nasehat dan pesan suhu sebelum berangkat tadi" Lan See giok menganggap perkataan terse-but memang betul juga. kenyataan tersebut membuat anak muda tersebut sangat gembira sebab dia tahu harapannya untuk membalas dendam sema-kin besar.kong-kiam-hoat yang dilatih Si Cay-soat pun sudah mencapai ke-berhasilan. kini tinggal meningkatkan kema-tangannya. Siau thi gou yang bodoh justru memiliki ciri kebodohannya. Ilmu pedang Tong.ji bukan gentong nasi yang tak berguna. hasil yang diperoleh kecil sekali. . Orang bilang. akibatnya soal berburu dan membuat nasi harus dikerjakan oleh engkoh Giok dan enci Soatnya. tujuh jurus ilmu naga dan ha-rimau sudah berhasil kugunakan secara baik. Biarpun begitu. Lan See-giok dan Si Cay soat tak bisa menahan rasa geli-nya lagi.

Oleh sebab itu dia seringkali bminta pada Lan jSee-giok agar mgemberi petunjukb kepada nya.323 Lan See giok yang mendapat tugas dari gu-runya untuk memperhatikan adik Gou--nya. Walaupun demikian ia sama sekali tidak merasa dengki ataupun iri hati. hawa serangan yang menyayat badan. . cahaya pedang yang menyilaukan mata. malah seba-liknya dia sangat berharap engkoh Giok nya bisa mempelajari pula ilmu pedang Tong. Dengan ayunan ujung baju ia sanggup menghancur-kan batu dengan sentilan jari. hal tersebut mem-buatnya sangat berterima kasih sekali kepada adik seperguruannya ini. Ilmu Hud-kong sin. Sebagai seorang pemuda yang cerdas. Sebaliknya Siau thi-gou di bawah bimbi-ngan serta petunjuk dari Lan Seegiok. dengan ayunan tangan mampu membunuh harimau. begitu dikembangkan angin pukulan yang dihasilkan sungguh luar biasa. sadarlah dia bahwa kecer-dasan engkohnya memang jauh lebih hebat dari pada dirinya. Si Cay-soat yang menganggap dirinya pin-tar boleh dibilang sudah banyak tahun mem-perhatikan perubahan jurus serangan Liong-hou jitsi itu. mampu me-matahkan bambu. Maka setelah menyaksikan kemampuan engkoh Giok nya yang bisa menguasai ilmu pukulan tersebut hanya dalam mengamati berapa bulan saja.kang yang dilatih Lan See-giok telah mencapai puncaknya. Bulan lima kini menjelang. betul-betul merupakan suatu ancaman yang berbahaya.kong-kiam-hoat. musim panas pun tiba. boleh dibilang tenaga sakti itu bisa dipergunakan sekehen-dak hatinya. Ilmu pedang Tong-kong-kiam-hoat dari Si Cay-soat juga mendapat kemajuan yang pesat. su-dah barang tentu Lan See-giok mengetahui akan maksud adiknya ini. namun dia tak pernah bisa mengetahui kelihaian dan kelebihan dari kepandaian tersebut. akhir nya juga menguasai ilmu pukulan Liong hou-jit-si yang sangat hebat itu. di samping melatih diri dengan tekun sering-kali dia membangkitkan semangat saudara-nya itu agar melatih diri lebih tekun lagi. pedangnya bisa dipergunakan secepat terbang. Dengan pengamatan yang seksama selama tiga bulan terakhir ini. padahal seringkali secara sengaja tak sengaja dia membeberkan rahasia ilmu pedangnya. dapat disimpulkan kan olehnya bahwa ilmu Liong hou jit si me-mang sangat hebat.

Lan See giok dengan jubah birunya dan senyum dikulum sedang mengawasi Siau thi gou berlatih ilmu pukulan.. diapun mengikuti di belakang kedua orang tersebut. . Pada saat itulah. pinjamlah. Si Cay soat sendiri hanya tersenyum sam-bil membungkam diri. sambil memandang ke arah Si Cay soat dan Siau thi gou yang sedang menertawakan dirinya. Setibanya di dalam kamar. udara bersih dan angin berhembus semilir. udara pada hari bini sangat indajh. ayo kuajarkagn ilmu berenangb kepada-mu!" Lan See giok yang mendengar tawaran tersebut menjadi sangat gembira." "Aku punya sebuah pakaian renang yang terbuat dari kulit ikan hiu. . aku akan melepaskan jubah panjang dan berganti celana dulu . mereka se-mua berharap dapat menunjukkan kebo-le-hannya dihadapan gurunya sehingga mem-buat gurunya gembira. rambut terurai sebahu sedang berdiri tenang dimuka ruangan batu. kau sangat baik. mendadak ia berseru keras: "Engkoh Giok." seru Siau thi gou cepat. buat apa kau lepaskan baju ganti celana? Kau kan hendak belajar ilmu berenang di telaga?" Lan See giok segera menghentikan langkah nya sesudah mendengar perkataan tersebut. buru-buru dia lari masuk ke dalam ruangan." Dengan terburu buru mereka masuk ke dalam ruang batu. "Oooh. kau toh bukan bermaksud menangkap ikan di selokan. Hari ini matahari sudah bersinar ditengah angkasa. terima kasih ba-nyak adik Thi-gou!" "Tak usah sungkan.324 Keberhasilan yang dicapai membuat ke tiga orang itu semakin getol berlatih. serunya dengan cepat: "Baik. St Cay soat segera tertawa cekikikan mendengar seruan mana. . demikian juga Siau thi gou segera tertawa terbahak-bahak sambil serunya: "Engkoh Giok. Si Cay soat dengan pakaian serba merah. biarpun di musim panas namun sua-sana terasa segar dan nyaman. . Siau-thi-gou mengambil sebuah bungkusan kecil dari tempat pakaiannya dan diserahkan kepada Lan See-giok sambil serunya: . agaknya baru saja ia selesai-melatih ilmu pedangnya. dia berkata kemudian agak tersipu-sipu: "Tapi sayang ih-heng tidak punya pakaian untuk berenang . merah jengah selembar wajahnya. Si Cay soat yang sedang mengawasi air terjun dikejauhan sana se-olah-olah teringat akan sesuatu. Sambil berkata. ayo ikutlah aku.

Pada saat itulah dari depan pintu terdengar gelak tertawa yang amat merdu bergema memenuhi ruangan. . buru-buru dibukanya bungkusan itu. ia merasa dalam hal apapun adik seperguruannya jauh di bawahnya. ternyata bungkusan kecil itu berisikan sebuah pakaian renang yang memancarkan sinar keemasemasan. ternyata pakaian renang itu berwarna hitam dan putih dengan bentuk yang sangat lunak. Dengan perasaan gembira. cepatcepat dia me-mungut bungkusan kecil itu dan membuka nya. Tapi arpa yang kemudian terlihat mem-buat senyuman yang semula menghiasi wajah Siau-thi gou hilang lenyap tak berbekas. Lan See giok sudah tumbuh lebih dewasa. Biarpun Lan See giok tidak habis mengerti. dia berterima kasih kepada Thi gou. tapi setelah menjumpai kejadian macam begini. sudah jelas dia telah menduga sebelumnya. "Ehmmm. . ternyata isinya adalah pakaian renang yang terbuat dari kulit ikan hiu. membawa se-buah bungkusan kecil dan sedang berdiri memandang kearah mereka sambil tertawa terpingkal-pingkal. dia selalu terperangkap. dalam genggamannya .. Apa yang terlihat membuatnya amat gem-bira. Dengan perasaan ingin tahu Siau-thi-gou turut melihat. rupanya celana pakaian renang itu hanya berhenti di sebatas paha dan tak mampu diteruskan lagi.325 "Ayo kenakan. bagaimana mungkin kau bisa me-makainya?" Lan See giok yang mendengar perkataan tersebut diam-diam menjadi sangat men-dongkol." Sambil berkata.. ku-tunggu kalian di tepi telaga . Bahkan kalau dilihat dari sikap gadis itu.. kemudian buru-buru melepaskan jubah panjangnyra dan mengena-kzan pakaian renawng itu. Selama setengah tahun belakangan ini. Terdengar gadis itu berseru: "Pakaian renang itu sudah tiga tahun la-manya. Sewaktu Lan See giok dan Thi-gou berpa-ling mereka jumpai Si Cay scat telah berganti dengan sebuah pakaian renang berwarna merah. malah sepasang matanya ikut melotot ke luar. dia lantas melemparkan buntalan kecil ke tangan Lan See giok . Tiba-tiba Si Cay soat berkata sambil tersenyum. tanpa benda ini jangan harap bisa mempelajari ilmu berenang de-ngan baik!" Lan See-giok tidak berniat untuk men-de-ngarkan obrolannya itu. namun dia seperti sudah memahami akan sesuatu. Thi-gou sendiri jarang mengena-kannya karena dia sendiripun merasa kekecilan. ambil dan cepat kenakan.

buru-buru ia bertukar pakaian renang itu. maka mereka ber-dua pun berangkat ke telaga Cui oh. Selesai bertukar pakaian. kini hilang lenyap tak berbekas. Si Cay soat kelihatan sedang berdiri di tepi telaga sambil tiada hentinya menengok kemari dengan wajah tak sabaran. Berpikir sampai di situ. Siau thi gou yang menyaksikan kejadian ini dengan cepat dia peringatkan: "Engkoh Giok. rupanya disinilah letak rahasia-nya. Lan See-giok merasa berterima kasih sekali setelah menyaksikan kejadian ini. Si Cay soat masih meluangkan waktu untuk membuatkan pakaian renang baginya.haaahhh. Si Cay soat tentu su-dah mengukur pakaiannya secara diam-diam." Lan See giok sendiripun tidak pernah men-yangka bahwa di samping berlatih ilmu pedang dan menanak nasi.. kedua orang itu buru-buru ke luar ruangan. tak aneh kalau saban kali kita makan ikan selalu tak dijumpai kulitnya. dan setiap kali cici selalu berebut untuk memo-tong ikan. semuanya ini gara-gara kau yang melarang aku memasuki kamar cici.. kembali dia mengomel. "Engkoh Giok.tak tahu sekarang... ia lantas berseru: "Haaahhh. Siau thi gou yang menyaksikan hal terse-but." Kemudian sambil mendorong Lan See giok yang masih termangu mangu. ayo cepat di kenakan.. semuanya halus dan lunak. Ternyata pakaian tersebut sangat persis. hati-hati kalau dia sampai me-ngambek gara-gara kau datang terlambat!" Lan See giok segera sadar kembali dari la-munannya. perasaan mendongkol yang semula menyelimuti pe-rasaannya. sedang bagian yang putih berwarna keperak perakan.. Waktu itu. timbul perasaan sayang di hati kecilnya.haaahhh . tahulah pemuda kita. tanpa terasa bertanya dengan nada tak mengerti: "Hei. rupanya baju renang ini terbuat dari dua tiga puluh ekor kulit ikan Cui oh li yang dikumpulkan selama ini. sudah pasti enci Soat se-dang marah" . ini membuat pemuda tersebut merasa tak tega untuk mempergu-nakannya...326 bagian yang hitam ber-warna keemas emasan. ternyata Si Cay soat sudah tak ada di situ. jangan diraba melulu. Sedangkan Siau thi gou seakan akan me-mahami sesuatu. bisa dibayangkan betapa susah payahnya Si Cay soat untuk menyelesaikan pekerjaan terse-but. coba kalau tidak hari ini dia tak akan mem-buat kejutan untuk kita. Dia mencoba untuk meraba pakaian renang itu.

enci pasti akan buatkan sebuah untuk-mu. Siau thi gou telah muncul pula di situ sambil berseru: "Enci Soat." mari kita belajar di telaga yang agak dangkal saja.soat sedang berbicara dengan Siau thi gou. dipandangnya wajah Lan See giok sekejap dengan gembira. "Engkoh Giok. "Baik.327 Mendengar itu Lan See giok segera mem-percepat larinya dan secepat kilat meluncur ke tepi telaga dengan begitu Siau thi gou pun tertinggal jauh di belakang. mula-mula Si Cay soat mengajarkan dulu rahasia . Lan See giok mengamati adik sepergu-ruannya yang memakai pakaian renang itu. perasaan tak senang yang semula mencekam perasaannya seketika lenyap tak berbekas. namun setelah mendengar pujian dari Lan See giok. dia seperti hendak meng-ucapkan sesuatu. Sementara dia masih mengamati dengan seksama. apalagi menyaksikan pakaian renang bikinannya persis sekali di tubuh engkoh Giok nya. cepat-cepat dia mengangguk sambil tertawa: "Asal kau bersedia menuruti perkataan-ku. "Adik Soat. "Baik. terima kasih banyak pakai-an renang buatanmu sungguh indah. mendadak terdengar Si Cay soat berkata. pas lagi!" Sesungguhnya Si Cay soat sedang menanti dengan perasaan gelisah. bikinanmu sangat bagus. makin dangkal airnya makin baik" Si Cay soat kembali tertawa cekikikan mendengar ucapan itu! Mereka bertiga pun menelusuri telaga menuju ke sebuah pantai dengan air yang dangkal. tapi bayangan manusia berkelebat lewat.." Buru-buru Lan See giok menenangkan kembali hatinya. Lan See giok segera berseru kepada Si Cay soat dengan senyum dikulum. Ia merasa gadis ini lebih matang lagi dalam setengah tahun belakangan. payudaranya nampak lebih besar. Begitu tiba di tempat tujuan. mulai hari ini aku pasti akan menu-ruti perkataanmu!" Menggunakan kesempatan sewaktu Si Cay.. pinggang nya ramping. aku juga minta satu" Si Cay soat kuatir bocah itu ribut. tubuhnya keli-hatan lebih matang dan montok. boleh dibilang gadis tersebut memiliki potongan badan yang sangat menarik hati. air di telaga ini terlalu dalam. Sepasang pipinya berubah menjadi merah. pinggulnya bulat dan pahanya mulus. baik.

. Bayangan merah berkelebat lewat. Kemudian dayunglah sepasang tangan dari depan ke belakang.. napasnya sesak dan langkahnya se-olah-olah menjadi enteng. Lan see giok menjadi gugup. ini semua mem-buat anak muda tersebut buru-buru menggunakan ilmu bobot seribunya. anak muda menja-di gelagapan sendiri. utamakan keringanan tubuh. letakkan tanganmu di atas le-nganku." Lan See-giok menurut dan mengikuti teori yang diperoleh.. dimana permukaan air mencapai dadanya. Sekali lagi Si Cay-soat mengulangi tehnik ilmu berenang. Melihat pemuda itu gugup bercampur kaget. kemudian baru mengajak pemuda itu masuk ke air. salurkan semua tenaga ke seluruh badan.. katanya kemu-dian: "Sekarang kita belajar berenang. bisa dibayangkan betapa gembira-nya pemuda kita.. ia menjadi tegang. begitu diberi tahu. pikirannya dengan cepat: "Oooh rupanya tidak terlalu sulit untuk belajar ilmu berenang .serta merta badannya terapung ke atas permukaan air. Sayang sekali di air dan di darat keadaannya sama sekali berbeda. Lan see-giok mengikuti cara tersebut." Sambil memberi keterangan dia memberi contoh di depan pemuda itu sambil bergerak ke depan. Si Cay soat menghentikan langkah nya dan berkata sambil tertawa: "Bagaimana kalau di tempat ini saja? Ke-dalaman air sudah cukup untuk taraf per-mulaan belajar berenang" Lan See giok mengangguk berulang kali sambil mengiakan.. setelah menceburkan diri ke dalam telaga.328 mengambang. betul juga tubuhnya bisa bergerak ke muka pe-lan-pelan. Kenyataan ini membuat anak muda itu kegirangan. menyelam dan mengapung. kemudian ia baru berkata: "Sekarang kita berlatih dulu ilmu menga-pungkan diri. dia lupa de-ngan teorinya dan tak ampun lagi bunga air memercik ke mana-mana. dii-kuti gerakan kaki.. semua tehnik berenang telah dikuasai nya.. dia menarik nafas sambil meluruskan kakinya ke belakang. Sesungguhnya Lan See giok adalah seorang pemuda yang sangat cerdas dengan daya tangkap yang mengagumkan. Mendadak. Si Cay soat yang semula berada di sisinya mendadak lenyap tak berbekas. ." Melihat wajah Lan See-giok berseri Si Cay soat turut bergembira hati.

bagaikan menangkap tuan penolong saja. Dalam waktu singkat dia berhasil mem-pertahankan keseimbangan tubuhnya dan berenang lagi ke depan.. di bawah sini terdapat sebuah batu besar" Lan See giok merasa ini memang cocok dengan pikirannya. ini membuat badannya segera tenggelam. Bisa dibayangkan betapa terperanjatnya pemuda tersebut. tak ampun lagi dia lantas dipeluk anak muda tersebut erat-erat.. Siau thi gou yang berdiri di tepi telaga juga sangat terperanjat sehingga berteriak keras. Berbeda sekali dengan jalan pemikiran Si Cay soat.329 Sementara itu Si Cay soat yang baru mun-culkan diri pada dua kaki dari situ. cepatcepat teriaknya. Sekarang dia berharap bisa naik ke darat untuk beristirahat sebentar.. Kebetulan sekali si Cay soat yang gagal menyambar tangan pemuda itu sedang berge-rak ke muka." Maka sambil munculkan diri di atas per-mukaan air dia berseru keras. saking kaget-nya dia menjerit keras dan segera berusaha untuk menariknya.. "Pusatkan pikiran... Si Cay-soat menjadi yaa malu. gelisah selain gugup. . Dalam keadaan begini. maka dia memutar pinggul. Rupanya sepasang kaki Lan See giok me-nginjak tempat yang kosong. "Engkoh giok kemarilah cepat...... Lan See giok yang berhasil memeluk adik seperguruannya. maka tubuhnya" bergerak ke depan Si Cay soat kemudian berusaha untuk berdiri di situ . atur pernapasan dan berenang ke muka dengan tenang . semen-tara tubuhnya menubruk ke atas . Si Cay soat tidak menyangka Lan See giok akan berhenti secara tiba-tiba. dalam waktu singkat air telaga menggenangi kepalanya.... mem-balikkan badannya dan membiarkan Lan See giok berada di atas dadanya. menjadi amat terperanjat setelah menyaksi kan keja-dian ini." Lan See giok baru merasa lega setelah melihat adik seperguruannya muncul di de-pan sana dalam keadaan selamat dengan ce-pat dia menaati seruan tersebut. serta merta tangannya mendayung dengan sepenuh tenaga.. . sewaktu melihat pemuda itu lambat laun dapat mengendalikan diri. pelukannya makin diperken-cang lagi. namun ia cu-kup memahami perasaan engkoh Giok nya waktu itu. dia berharap pemuda itu bisa berenang lebih lama..

Si Cay soat bertindak cepat. ia tahu sudah membuat gara-gara maka tanpa membuang waktu lagi. karenanya bagaikan seekor ikan duyung.. pipinya berubah menjadi merah jengah. .. sementara Lan See giok tertegun melihat wajah gembira Siau thi gou yang sedang berlari menjauh. Lan See giok telah pulih kembali kesadarannya setelah ia berhasil menarik napas panjang. Si Cay soat yang sudah tahu suara teriakan siapakah tadi segera berkata dengan gembira: "Ayo cepat berangkat. pelan-pelan ia berenang menuju ke tepi pantai. dia memutar badan dan me-ngambil langkah seribu. Si Cay soat sendiripun merasa amat malu. Thi gou .. "Thi gou.. Siau thi gou yang semula dicekam perasaan terkejut dan gugup sekarang dapat merasa kan betapa lucunya kejadian ini. Siau thi gou segera merasakan bahwa gela-gat tidak menguntungkan... lalu sambil memeluk tubuh See giok. dia berharap bisa peroleh sedikit kabar tentang bibi Wan dan enci Cian nya dari mulut si naga sakti tersebut. Sementara itu Si Cay soat dan Lan So giok sudah tiba pula di daratan.. mendadak . hatinya menjadi terkejut dan pegangan-nya segera dilepaskan. hatinya berdebar keras sekali Tapi ia bertekad untuk berenang ke darat dan menghajar Siau thi gou untuk melam-piaskan rasa malu dan gemasnya. dia berblarian cepat mejnuju ke arah magna berasalnya sbuara tadi. sewaktu mengetahui bagaimana dia sedang memeluk pinggang adik seperguruannya dan mukanya menem-pel diantara sepasang payudaranya yang em-puk. Berkilat sepasang mata Siau thi gou mendengar suara panggilan itu. segera dia membalikkan badan begitu tekanan di atas tubuhnya hilang. tak tahan dia bertepuk tangan sambil tertawa terbahak bahak. soraknya gembira: "Aku berada disini. Tak terlukiskan rasa malu Lan See giok se-sudah mendengar gelak tertawa Siau thi gou. Pada saat itulah. kami semua berada sini!" Ditengah teriakan itu. apalagi membayangkan kembali kejadian yang baru saja berlangsung. si naga sakti pemba-lik sungai Thio loko telah datang" Lan See giok amat girang. seandainya bisa dia ingin menyelam ke dasar telaga dan menyembunyikan diri di sana. Dari kejauhan sana terdengar seseorang sedang berteriak teriak dengan suara yang lantang.330 Sementara itu. dia melesat ke darat dengan cepatnya.

bocah itu baru tertawa senang. haaahhh kali ini. tujuh bulan kita tak bersua. maka Lan See giok segera menjura sambil menyapa pula: "Siaute Lan See giok menjumpaib engkoh tua !" j Naga sakti pemgbalik sungai tebrtawa terge-lak penuh kegembiraan..331 BAB 16 DENGAN wajah gembira. Siau thi gou tidak tahan untuk mengulur-kan lidahnya sambil menelan air liur beru-lang kali.haah tidak usah. pemuda itu segera berseru pula. dia berkata pula sambil tertawa: "Saudara cilik. nampaknya kau lebih dewasa!! Berhubung Si Cay soat dan Siau thi gou menyebut engkoh tua kepada si naga sakti pembalik sungai. Si Cay soat segera bersorak gembira. setelah ragu-ragu sejenak akhirnya dia terima juga buntalan itu. semua barang yang berada di dalamnya menjadi milikmu semua. maka tidak sempat kubawakan se suatu untuk kalian. . di depan sana terlihat si naga sakti pembalik sungai yang bertubuh tegap dan berambut putih se-dang mendekat dengan langkah tegap. Melihat buntalan itu. "Haaahhh. .. mendapat pertanyaan itu diapun menjawab sambil tertawa terbahak-bahak: "Haaahhh . ber-hubung kedatanganku terlalu tergesa-gesa. "Mari kita pun segera berangkat!" Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh. ... Menanti Lan See giok menitipkan buntalan tersebut ke tangan Siau thi gou. namun juga tak enak untuk menolak." Sambil berkata dia lepaskan buntalan kecil dan diserahkan kepada Lan See giok. kali ini hidangan lezat apa yang kau bawakan untuk kami semua?" Waktu-itu si naga sakti pembalik sungai sudah menggenggam tangan Siau thi gou. aku si engkoh tua harus meminta maaf. haaahhh . Tentu saja Lan See giok merasa sungkan untuk menerimanya. nampaknya dia sedang mengira-ngira hidangan lezat apakah yang berada di dalam buntalan tersebut. Setelah melewati batuan cadas. berangkatlah muda mudi dua orang tersebut mengejar Siau thi gou. tidak usah. "Thio loko." Kemudian kepada Lan See-giok yang mendekat. di bawah ketiaknya seperti tergantung sebuah buntalan kecil. aku si engkoh tua juga tidak membawa hadiah apa-apa sebagai tanda mata untuk perjumpaan kali ini" "Nah terimalah bungkusan ini.

sedangkan ia sendiripun sudah mendekati seorang pemuda dewasa. kedua orang itu merasa amat malu di samping perasaan manis dan hangat yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.. Setelah berada rdi ruang batu. rupanya hari ini kalian sedang berla-tih ilmu berenang?" "Siaute baru pertama kali mempelajari ilmu ini. masih mengenakan pakaian berenang ?" "Ooh. siau-moay mah tak akan uru-san lagi. tapi Si Cay soat yang berjumpa kembali de-ngan See giok segera merasakan pipinya menjadi merah dan tertunduk malu-malu. sayang sekali engkoh tua masih ada urusan penting yang mesti diselesaikan. . cepat-cepat Si Cay soat membantah: "Suhu menugaskan kepada siaumoay un-tuk mengajarkan dasar-dasar ilmu berenang kepada engkoh Giok.. sekarang engkoh tua sudah datang. ia menunjukkan sikap jengah seorang gadis yang bertemu dengan pemuda asing saja. Membayangkan kembali peristiwa dalam air tadi." See giok dan Cay soat mengiakan.332 Dalam pada itu si naga sakti pembalik sungai sudah bertanya sambil tersenyum setelah menyaksikan Lan See giok berdua. Selesai bertukar pakaian. Lan See giok mengikuti di belakangnya. Naga sakti pembalik sungai sangsi sejenak akhirnya dia berkata: "Mari kita pulang dulu sebelum membicarakan lebih jauh!" Maka berangkatlah ke empat orang itu menaiki bukit. biar engkoh tua menunggu kalian di sini. cepat-cepat dia lari naik ke atas tangga. mereka berdua muncul kembali dari kamar masing-masing." "Kenapa? Kenapa tidak berdiam beberapa hari lagi?" tanya Lan See-giok bertiga cemas. "Sekarang adik Giok dan adik Soat berganti pakaian dulu. znaga sakti pembwalik sungai barru berkata kepada Lan See giok dan Si Cay-soat. pipinya turut berubah menjadi merah. Si Cay soat segera tersenyum jengah meli-hat sikap tertegun pemuda itu. mereka berdua cepat-cepat berlalu untuk bertukar pakaian. saat itulah dia baru merasakan bahwa adik seperguruannya telah tumbuh menjadi se-orang gadis remaja. khusus siaute minta pelajaran dari adik Soat" sahut Lan See-giok cepat. sedang perasaan yang mencekam hatinya sekarang sungguh tak bisa dilukis-kan dengan kata-kata." "Waah. Lan See giok turut merasakan hatinya ber-debar keras. sebelum malam tiba nanti harus su-dah turun gunung. paling lama hanya setengah hari aku berada di sini.. Dengan wajah semu merah..

. Dari sikap dan wajah Lan See giok serta Si Cay soat yang memerah.. Si Cay soat segera mendekati anak muda itu sambil menumpang membaca isi surat tersebut. de-ngan sikap sewajar wajarnya ia men-jawab: "Engkoh tua telah menerima surat yang ditulis Cia locianpwe dan dikirim dari luar lautan!" Sambil berkata. selapis kemurungan segera menyelimuti wajahnya yang berkeriput. Lan See giok dan Si Cay soat cepat--cepat menundukkan kepalanya rendah-rendah." Mendengar ucapan tersebut. dengan cepat dia tahu bahwa benih cinta rupanya sudah tumbuh dalam hati mereka. Siau. sewaktu sorot mata si naga sakti Pembalik sungai yang tajam diarahkan kepada mereka oleh sebab itu mereka pun tidak melihat pe-rubahan wajah dari engkoh tuanya itu. si naga sakti pembalik sungai seakan akan teringat akan sesuatu.333 Tiba kembali di ruang batu. thi gou telah mengeluarkan hidangan serta empat mangkuk arak. Namun bila teringat kembali tujuan keda-tangannya ke sana. maka urusan tak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. . haaahhh .. . "Haaahhh . di samping itu . si naga sakti pem-balik sungai memandang sekejap wajah kedua orang itu. Garis besarnya dalam surat itu dijelaskan bahwa guru mereka harus pergi ke luar lau-tan demi keselamatan dunia persilatan. . dia mengambil sepucuk surat dari sakunya dan diserahkan kepada Lan See giok. mengapa sih kau terburu -buru ingin pulang? Siapa tahu tiga atau lima hari lagi suhu sudah pulang . . .pura gembira dan tertawa tergelak. sekarang aku si engkoh tua hendak membe-ritahukan kepada kalian. keningnya segera berke-rut. haaahhh . berhubung cia cianpwe masih ada urusan lain yang belum selesai dikerjakan. mungkin beberapa bulan lagi beliau baru bisa pulang" Lan See giok bertiga menjadi sangat terke-jut. se-bab masalah tersebut menyangkut nasib pel-bagai perguruan besar di dunia persilatan. Tiba-tiba terdengar Siau thi you berseru dengan nada tidak senang hati: "Thio loko. hampir bersamaan waktunya mereka berseru: "Darimana engkoh bisa tahu?" Naga sakti pembalik sungai tertawa. Dengan gugup pemuda itu membukanya dan membaca isinya. dia segera berpura ..

tapi cepat-cepat ia mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak bahak. Ketika selesai membaca surat itu. siaute jumpai tinta bak di atas surat tersebut nampaknya sudah lama sekali . .?" Naga sakti pembalik sungai membandang sekejap jkearah Lan See ggiok yang sedanbg termenung. orang menyebut nya Keng-hiang sian-tiang!" Si Cay soat kembali berkerut kening. Berubah hebat paras muka si naga sakti pembalik sungai setelah mendengar ucapan tersebut. jadi akupun tak tahu kapan pulangnya. siapakah si pembawa surat itu?" tiba-tiba Siau thi gou bertanya dengan wajah tak mengerti: Agaknya si naga sakti pembalik sungai ti-dak menduga Siau thi gou bakal mengajukan pertanyaan tersebut. kalianpun belum tentu tahu. menyusul kemudian ia menjelaskan lebih bjauh: "Saudaraj cilik. Si Cay soat yang pertama-tama berguman dengan nada tak habis mengerti: "Thio loko. .. lalu tanyanya dengan nada tidak mengerti: `Bukankah Keng hiang sian-tiang dari Bu tong-pay sudah lama tidak muncul kembali di dalam dunia persilatan?! Dengan wajah bersungguh-sungguh si naga sakti pembalik sungai berkata: "Masalahnya kali ini menyangkut suatu keadaan yang besar. si nags sakti pembalik sungai: "Thio loko. pernahkgah kau bayangkabn berapa ribu li jarak dari sini sampai ke luar lautan? Apalagi Keng hian sian-tiang meng-gembolnya . . namun ia toh menjawab juga. bahkan Cia locianpwe saja harus berangkat sendiri apalagi persoalan ini menyangkut Bu-tong -pay secara langsung.. mengapa suhu tidak menjelas-kan kapan baru akan pulang ." "Coba sebutkan agar kami tahu" timbrung Si Cay soat.. kemudian jawabnya sambil ter-tawa: "Engkoh tua menitipkan pesan tersebut se-cara lisan kepada si pembawa surat. dengan kening berkerut dia segera tersenyum. jadi tak bisa dibanding-kan dengan kejadian biasa. dengan unda-ngan khusus dari Lam-hay-lo koay. "Berbicara soal orang ini. Agaknya si naga sakti Pembalik sungai se-dang memperhatikan dengan seksama sikap Lan See giok yang masih meneliti surat terse-but. memangnya dia tak akan berangkat? Baru selesai dia berkata Lan see Giok yang masih memegang surat itu berseru kepada. Orang itu adalah tianglo angkatan yang lampau dari Bu-tong-pay.." "Thio loko.334 guru mereka berpesan agar Lan See giok bertiga melatih diri lebih tekun serta tak usah memecahkan perhatian ke masalah lain.

masa surat tersebut dapat utuh seratus persen?" Berbicara sampai disini. Ia percaya setiap jahitan dan setiap lipatan pakaian tersebut.. bibirnya berge-rak seperti ingin mengucapkan sesuatu. tidak usah!"z Tapi. dia telah menitipkan bungkusan baju itu untukmu. maka khusus membuatkan be-berapa stel pakaian untukmu. dia tertawa paksa namun setiap orang bisa mendengar betapa kecutnya suara tertawa itu." Siau thi gou menjadi amat kecewa setelah mendengar perkataan itu. Si Cay soat yang melihat kesemuanya ini segera merasakan segulung hawa amarah yang entah darimana datangnya membara di dalam dadanya dan ingin dimuntahkan ke luar. mereka menduga kau pasti sudah makin tinggi. tidak usarh. cepat tanyanya dengan gembira." Lalu sambil mengambil buntalan kecil itu. kemudian terdengar ia berkata: . diapun sengaja mengalihkan pembicaraan ke soal lain. "Apakah bibi Wan dan enci Cian berada dalam keadaan sehat-sehat semua?" Sewaktu berbicara. Naga sakti pembalik sungai yang melihat tujuannya berhasil. wajahnya memancar-kan sinar kerinduan yang amat tebal. ketika ia tahu aku hendak kemari.."" Berkilat sepasang mata Lan See giok. kebetulan Hu-yong siancu Han lihiap juga berada di rumahku. mencorong sinar tajam dari balik matanya setelah mendengar perkataan itu. apakah kau hendak mem-bukanya sekarang juga . dari tangan Siau thi gou. terkandung kasih sayang dari bibinya dan cinta suci dari enci Cian nya..335 dalam saku. sahutnya sambil tertawa: Oooh. dia bertanya sambil tertawa penuh arti: "Saudara cilik. namun diapun tak berani melampiaskannya ke luar . Si Cay soat tak bisa menahan rasa gusar di dalam hatinya lagi. serta merta dia mengangkat buntalan kecil itu dan dilihat sekejap.. setiap worang bisa melirhat betapa inginnya Lan See giok membuka bungkusan itu dengan segera dan ingin melihat pakai-an apa saja yang telah dibuatkan untuknya. Berbeda dengan Lan See giok. na-mun akhirnya dia menggeleng kan kepalanya berulang kali. bisa dilihat hatinya diliputi emosi.. dimana kena keri-ngat dan air hujan. sam-bil menunjuk ke arah bungkusan kecil itu katanya lagi: "Sewaktu menerima surat ini.. ia segera tertawa setelah meneguk arak sahutnya: "Mereka semua berada dalam keadaan baik-baik.

Dalam perjalanan kembalinya. kemudian setelah tertawa tergelak dengan cepat dia mengalih-kan pokok pembicaraan ke soal lain. dengan cepat dia dapat menangkap gelagat yang tidak baik. semangatnya berkobar kembali dengan pe-nuh bersemangat katanya: "Aku telah berhasil mempelajari ilmu Hou-liong-jit-si. Berbeda sekali dengan Naga sakti pem-balik sungai yang berpengalaman. tak tahan lagi mereka tertawa tergelak. Setelah melihat ketiga orang itu tidak ragu lagi. Naga sakti membalik sungai baru me-ngajarkan teori dan tehnik bertempur dalam air kepada Lan See-giok di samping ketera-ngan-keterangan lain yang berharga sekali. bila suhu pulang. maka Lan See giok pun mempercayai keaslian surat itu seratus persen. tanggung dia akan gembira. Naga sakti pembalik sungai segera minta diri. Lan See-giok. Berhubung penjelasan dari naga sakti pembalik sungai tentang huruf yang luntur cocok dengan keadaan. entah bagaimanakah kemajuan yang berhasil kalian capai dalam setengah tahun ini?" Siau thi gou segera melebarkan matanya.336 "Sudah tentu jahitannya pas sekali diba-dan." Lan See giok bertiga yang menyaksikan semangat Siau-thi gou. tanpa terasa wajahnya nampak le-bih bersinar terang. " Tak heran kalau Lan See giok bertiga memperoleh pengetahuan dan faedah yang besar sekali. tanpa disadari lang-kahnya menjadi . ditambah pula Hu-yong-siancu �hadir sebagai saksi . Lan See giok ingin secepatnya membuka bungkusan kecil itu dan melihat isinya. mereka baru kembali ke ruangan. cepat-cepat dia meletakkan kembali bungku-san kecil itu ke atas meja. secantik enci Cian yang membuatnya!" Lan See giok yang polos masih mengira adik Soatnya benar-benar memuji kecantikan enci Ciannya. sebelum berpisah ia berpesan kembali agar mereka bertiga tetap menjaga gua sem-bari berlatih ilmu silat dengan tekun sampai kembalinya guru mereka. Tanpa terasa matahari pun tenggelam di langit barat. uca-pannya: "Di dalam surat Cia locianpwe tadi di pesankan agar kalian melatih diri dengan te-kun. Si Cay-soat dan Siau-thi gou menghantar engkoh tua mereka sampai di luar barisan pohon bambu. hingga bayangan tubuh naga sakti pembalik sungai lenyap dari pandangan.

telur asin serta makanan yang lain yang banyak sekali jumlahnya. Siau thi gou yang polos dan terbuka masih tidak merasakan apa-apa. entah hasil karya bibinya atau enci Cian nya! . .337 terburu buru sehingga Si Cay soat serta Siau thi gou tertinggal jauh di belakang. terlalu banyak masalah yang membuatnya mendongkol. berbeda sekali dengan Si Cay soat yang setiap hari bersama sama engkoh Gioknya. Diam-diam Lan see giok berterima kasih sekali atas pemikiran bibinya yang menga-turkan semuanya itu dengan sempurna. baju itu terbuat dari kain halus. daging kecap. maka dalam hati kecilnya dia mengambil sebuah keputusan. maka dia singkirkan bungkusan makanan itu serta membuka bungkusan kain putih yang berada di bawahnya. Karenanya sambil melototkan matanya bulat-bulat. ketika Lan See giok me-ngambil bungkusan kecil dan kembali ke kamar nya. untuk pertama kalinya merasakan hatinya sedih dan pedih. sekulum senyuman lebar segera menghiasi bibirnya. Begitu bungkusan kertas itu dibuka. b Sian thi gou yang terdorong perasaan ingin tahu segera membuntuti engkoh Giok nya dengan ketat. . mau menangis malu. namun di tengah pegunungan yang terpencil begini betul--betul merupakan hidangan lezat yang punya uang pun tak bisa dibeli. 0leh sebab itu. . mau marah tak bisa dilampiaskan.. Dengan cepat Siau thi gou mengendus bau itu berulang kali. Begitu bungkusan dibuka. dia merasa pemu-da tersebut seolah-olah mempunyai banyak dosa dan kesalahan yang tak bisa diampuni lagi.selamanya tidak akan menggubrisnya lagi.. bisa dibayangkan bagaimana perasaan hatinya waktu itu. sambil menahan air mata diapunb cepat-cepat kejmbali ke kamar gtidur sendiri. ia segera merasa diri-nya seperti dikesampingkan pemuda itu. Pada bagian atas adalah jubah biru kege-marannya. potongan indah dan menawan. dia awasi terus engkoh Giok nya membuka bungkusan kecil itu.. Ia jadi mendongkol sekali kepada engkoh Gioknya . meski makanan itu biasa. bau harum semerbak terhembus ke luar dari balik bungkusan itu. dibaliknya tem-pat sebuah kertas minyak pembungkus. hampir saja air ma-tanya jatuh bercucuran.. Gadis yang semenjak kecil sudah terbiasa dimanja gurunya ini.. Saking pedih hatinya. woouw isinya adalah ayam panggang. dia ingin tahu apakah dalam bungkusan tersebut terdapat makanan yang enak atau tidak.

Begitu berjumpa dengan Lan See giok. dia lantas berseru dengan wajah murung.. ia jumpai gadis tersebut sedang membaringkan diri di atas permadani merah sambil me-nyembunyikan kepalanya dibalik selimut. Lan See giok segera tertawa tergelak de-ngan rasa gembira. pemuda itu sudah tidak tahan untuk berteriak keras. apa yang terlihat segera membuat pemuda itu tertegun dan mencorongkan sinar tajam dari matanya. `Dengan cepat Lan See giok paham kem-bali... enci Scat telah jatuh sakit!" Lan See-giok terkejut sekali. meski sedikit agak kebesaran namun bisa dipakai. sambil membawa bung-kusan berisi baju itu cepat dia lari naik ke tangga. adik Soat ..338 Ketika diendus.. Rupanya pakaian merah dengan sbepasang sepatu jberwarna merah. celana biru serta dua stel pakaian dalam berwarna putih. bahkan adik Gou pun tidak kelihatan. di tangannya masih menggeng-gam bungkusan berisi makanan lezat tadi. Dari keadaan tersebut.g sarung pedang bmerah dan pita pedang berwarna merah. Sebelum tiba di kamar tidur. Baju yang kedua berwarna merah cerah. Siau thi gou sudah muncul dari balik kamar Si Cay soat. pemuda itu mendu-ga gadis itu memang sakit kepala. Dengan langkah terburu-buru Lan See giok lari masuk ke dalam kamar tidur si nona. kenapa kau? Apa yang kau rasakan sakit---?" . rasa gembira yang me-luap membuatnya tanpa sadar memanggil nama enci Cian dengan mesra... "Adik Soat. adik soat." Tiba-tiba bayangan hitam berkelebat lewat. tubuhnya sama sekali tidak bergerak. "Sakit apa? Barusan toh ia nampak sangat gembira dan segar bugar . rupanya semuanya ini disiapkan enci Cian untuk adik Soatnya.?" "Aku rasa dia sakit kepala!" Oooh. "Engkoh Giok.. kemudian tanyanya dengan penuh perhatian: "Adik soat. dengan cepat dia men-jadi paham kembali. dengan perasaan segera ia segera mendongakkan kepalanya: Namun adik Soat sudah tak nampak.. tercium bau harum yang sangat khas baginya. Di bawah jubah itu adalah kain pengikat kepala berwarna biru. ketika berpaling lagi. cepat-ce-pat ia letakkan bungkusan berisi pakaian itu ke lantai. ketika dicoba dibandingkan ke tubuhnya. ia berseru kaget sambil teriaknya. hidangan semeja yang baru saja diletakkan disanapun turut lenyap tak berbekas.

Siau thi gou juga merasa lega setelah me-ngetahui enci Soatnya lagi mengambek. sedang Si Cay soat juga melompat bangun dengan cepat. . Si Cay soat segera jatuh hati. rupanya gadis itu bukan sakit kepala melainkan lagi mengam-bek. betapapun dia telah memeras otak belum juga diketahui apa kesalahannya.l" Cahaya tajam segera memancar kemana mana. tubuh pedang melejit berapa inci lebih ke muka dan seketika menyiarkan suara dentingan yang amat memekikkan telinga. tertegun. Disaat ia sedang mengikatkan tali sarung itulah. de-ngan cepat Lan See giok menyadari apa gerangan yang telah terjadi. Sedangkan Lan See-giok duduk termenung di sampingnya. Mendadak ia melihat pedang Jit-hoa kiam yang terletak tak jauh di atas permadani. Hanya Siau thi you seorang yang mengu-nyah paha ayam. suatu ketidak sengajaan membuat jari tangannya menyentuh tombol rahasia.339 Si Cay soat tetap tak bergerak. ia mengambil keputusan untuk mem-buat kejutan bagi si nona tersebut. ber-samaan itu pula diapun menjadi sadar. tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya tertegun dan melongo.. sam-bil tertawa dia mulai menyambar paha ayam dan melahapnya dengan rakus. Melihat sarung pedang yang begitu mena-wan hati. satu ingatan segera melintas di dalam benak nya.. kemudian melapisinya de-ngan sarung pedang yang halus dan lembut itu. Namun sebagai pemuda yang pintar. "Criing. mula-mula pita pedang diikatkan dahulu pada gagangnya. sambil tertawa terbahak -bahak. Lan See giok segera mendekati dan beru-saha untuk memeriksa denyutan nadinya-"Plaaakkk!" tahu-tahu tangannya sudah di pukul gadis itu keras-keras-Dengan perasaanr terkejut Lan Szee giok menarikw kembali tanganrnya lalu memandang sekejap ke arah Siau thi gou dengan mata terbelalak. Diambilnya pedang Jit hoa kiam tersebut. Lan See giok terkejut. menjawab pun tidak.. ten-tunya sarung pedang yang indah tersebut merupakan hadiah dari Ciu Siau cian yang selalu dipuji puji oleh gurunya itu.. Dalam pada itu Lan See giok telah mem-betulkan letak pedang itu dan sambil tertawa tersipu sipu dia mengembalikan senjata tersebut kepada si nona.

coba kau lihat. persis dengan kakiku. Sebagai seorang pemuda yang cerdik Lan See giok segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerahkan pula sepatu kecil berwarna merah kepada si nona. berkilat sepasang matanya. sepasang kaki milik adik Soat memang indah dan sangat menawan hati. ia memungut pakaian tersebut dengan gugup. inilah tanda mata dari enci Cian untukmu!" Si Cay soat segera mendongakkan kepalanya. Lan See giok menjadi tertegun melihat hal itu. pakaian ini dibuat dari serat ulat langit. selesai mengenakan sepatu baru. ia berseru: ""Aaah. tentu saja Lan See giok turut tertawa riang. masuk api tak akan terba-kar.340 Si Cay soat sendiri berhubung ia sudah terlanjur jatuh hati pada keindahan sarung pedang tadi. . "Adik Soat.. dengan perasaan terkejut serunya tanpa terasa: "Engkoh Giok. dia sadar bahwa hasil kera-jinan tangan dari Ciu Siau cian memang betul-betul sangat indah. Dalam gembiranya Si Cay soat pun me-lu-pakan semua kekesalan dan kemasgulan yang dialaminya tadi. . ke-mudian dengan tergesa-gesa sekali dia mele-paskan sepatu lamanya hingga tampak sepasang kaki mungilnya yang putih bersih. bisa menahan senjata ." karenanya dia mengangguk dengan bangga.. Si Cay soat meraba jubah baru itu." Cepat-cepat dia letakkan pedangnya ke lantai serta menerima sepatu baru itu. sungguh indah. Tiba-tiba Si Cay soat melihat jubah biru yang terletak di sisi anak muda tersebut. "Oooh. enci Cian memang orangnya baik sekali. Melihat adik Soatnya gembira. Setelah diperiksa dengan seksama. Lan See giok mengira Si Cay soat terkejut atas hasil karya enci Cian. baik sekali . begitu banyaknya sampai siaumoay tak dapat menerangkannya satu per satu. kemu-dian serunya lagi dengan perasaan terkejut: "Engkoh Giok. oooh! Banyak sekali khasiat dari pakaian tersebut. dia segera melompat bangun dan berjalan bolak balik dengan penuh keriangan Ia dengan suara bernada kegembi-raan yang tak terlukiskan dengan kata. mau tak mau gadis itu harus menyatakan kekagumannya. tapi yang pokok. kemudian katanya pula dengan hati-hati. membuatnya tanpa banyak bicara segera menerima angsuran tadi. masuk ke air tak bakal tenggelam. apakah baju itupbun bikinan encij Cian untukmu?"g Sambil berkatba. sangat indah! persis seperti apa yang kuidam-idamkan selama ini. apa yang terlihat membuatnya segera menjerit gembira. ditambah pula perasaan ingin tahunnya untuk memeriksa hasil karya Ciu Siau cian.

setelah itu sambil mengangkat ta-ngannya tinggi-tinggi ia. . . kalau begitu aku Thi-gou akan memperoleh pakaian renang baru! Sambil berteriak ia lari ke luar dari ru-angan tersebut dan kembali ke kamar sendiri." Mengetahui kalau jubah itu memiliki kha-siat yang begitu banyak. . . haaahhh . se-rentak mereka ikut tertawa terbahak-bahak. . kata mereka dengan riang: "Selama ini suhu mengatjakan adik Gou bodoh. setelah engkoh Giok memiliki pakaian mesti-ka. mereka tidak mendapat berita dari . Baru sekarang Lan See giok dan Si Cay soat memahami apa yang dimaksudkan. Si Cay soat serta Siau thi gou merasa murung dan masgul sepanjang hari. dengan pandangan tak mengerti mereka awasi baya-ngan punggung Siau thi gou hingga lenyap dari pandangan mata. Setelah saling berpandangan sekejap de-ngan perasaan cinta yang semakin menda-lam..341 rahasia.. dengan pakaian tersebut maka selanjutnya kau tak usah mengenakan pakaian renang lagi bola ingin masuk ke dalam air. Lan See giok betul-betul dibikin terkejut sampai berdiri melongo-longo . padahal. sebab guru mereka To Seng cu belum juga kembali. muda mudi tiga orang itu melanjutkan latihan mereka dengan lebih tekun. . katanya lagi sambil tertawa ter-bahak-bahak: "Haaahhh . . Semenjak hari itu.. pakaian renang jahitan enci Soat pun tanpa sungkansungkan akan menjadi milik aku si Thi gou.. Lan See giok. Yang membuat mereka bertiga merasa geli-sah adalah si naga sakti pembalik sungai pun tidak muncul lagi. Sebaliknya sepasang mata Siau thi gou segera terbelalak lebar-lebar. . engkoh Giok.haaahhh . bersorak sorai de-ngan riang gembira: "Hooore . Lan See giok dan Si Cay soat jadi ter-tegun menyaksikan ulah bocah tersebut. dia pun meng-kombinasikan ilmu gurdi emas ajaran ayah-nya dengan ilmu pedang Tong kong kiam hoat sehingga terciptalah suatu ilmu baru yang dinamakan ilmu gurdi pengejut langit. Lan See giok di samping belajar ilmu berenang dari Si Cay soat. . Siau thi gou telah muncul kembali sambil membawa pakaian renang baru. mendadak ia letakkan bungkusan berisi makanan itu ke lantai. dapat menahan bacokan senjata. . kendatipun tenaga dalam mereka bertiga peroleh kemajuan yang sangat pesat namun perasaan gembiranya tidak seperti semula lagi. Musim panas lewat dan musim gugur kini sudah menjelang tiba. . hooore . Tak lama kemudian." "Padahal aku tidak blo"on!" sambung Siau thi gou dengan cepat sambil tertawa lebar.

Pepatah kuno berkata. men-jumpai musibah. anak muda itu semakin ketakutan. satu hari menjadi guru. paling tidak gurunya sudah ditawan dan disekap atau terperangkap dalam jebakan musuh hingga terkurung di suatu tempat.. membalas dendam bukan pekerjaan yang terlampau sulit baginya..342 dunia luar sehingga praktis sela-ma satu tahun penuh mereka tidak mengeta-hui bagaimanakah perubahan dalam dunia persilatan. Cuma pemuda itu hanya berani memba-yangkan namun tak berani menyampaikan jalan pemikirannya kepada Si Cay soat serta Siau thi gou. sekalipun tubuh harus hancur. terutama bila memba-yangkan kembali gumaman gurunya sebelum berpisah. ia bertekat untuk membakar semangat sendiri dan adikadik seperguruannya agar lebih te-kun melatih ilmu silat masing-masing.. Siau thi gou juga saban hari bermuram durja.. gurunya benar-benar. kepergian gurunya tempo hari meski sampai mengancam keselamatan jiwa-nya. kedudukan Lan See giok dihati Si Cay soat dan Siau thi gou pun ber-tambah penting. bahkan bisa jadi darah telah menggenangi permukaan tanah.. Sekali lagi dia mulai mencurigai isi surat yang pernah dibawa si naga sakti pembalik sungai tempo hari. Berbicara soal kemampuan yang dimiliki nya sekarang. saking gelisahnya peluh sampai jatuh bercu-curan membasahi seluruh tubuhnya. Wan San popo serta rSi to cinjin. di atas bahunya sekarang tertanam dua macam be-ban yang sangat berat. dia tak mempunyai suatu keya-kinan pun berhubung dia sendiri juga tak tahu sampai dimanakah kekuatan mereka yang sesungguhnya. lautan api mesti diterjang. tapi untuk menghadapi tiga manusia aneh dari luar lautan. Si Cay soat mulai menguatirkan kesela-matan dari gurunya. dia tak akan menampik untuk melakukannya. Dihati kecilnya dia seperti memperoleh suatu firasat. Dengan kepergian To Seng cu yang tak pernah kembali lagi. dia yakin dunia persilatan tentu sudah diliputi kekacauan dan kekalutan. Seandainya. Semakin membayangkan apa yang telah terjadi. Dzi samping itu dwiapun membayangrkan pula be-tapa lihainya ilmu silat yang dimiliki orang-orang tersebut Bilamana dugaannya tak meleset.. dia pun teringat kembali -kan Lam hay lo koay.Dendam orang tua dan musibah dari gurunya. sedangkan Lan See giok sering kali melamun sambil memandang pegunungan dikejauhan sana. . Membayangkan musuh-musuh tersebut. budi bagaikan orang tua sendiri.

hal inipun merupakan pilihan yang paling tepat. Hasil dari perundingan mereka menyim-pulkan bahwa si naga sakti pembalik sungai sudah tidak berada di tepi telaga Phoa yang lagi bisa juga dia telah menyusul ke luar lautan untuk mencari jejak suhu. dan tak pernah berpisah barang sejengkalpun. sejak itu tak pernah menampilkan senyuman blo"on-nya yang menggiurkan di atas wajah bulat-nya yang hitam berkilat lagi. maka See-giok eng ambil keputusan untuk turun gunung dan mencari berita tentang gurunya. To Seng-cu. kini musim dingin telah tiba. dalam gua mereka tersimpan kitab pusaka cinkeng warisan su-cou mereka. Siau thi gou yang polos dan lugu. Lan See giok memang sebelumnya telah memperoleh ijin dari gurunya untuk turun gunung mencari balas. waktu berlalu sangat cepat.343 Saban hari mereka bertiga selalu hidup berdampingan. Sikap Si Cay soat berubah menjadi lebih lembut dan hangat. kini telah berubah menjadi serba putih. tokoh persilatan nomor wahid dikolong langit sudah setahun meninggalkan gunung. Meski keputusan ini disambut Si Cay soat dengan perasaan berat. Lan See giok dan Si-Cay soat sudah tak dapat menenangkan hatinya lagi. bunga salju turun dengan derasnya menyelimuti seluruh permukaan tanah. Akhirnya kedua orang itu memutuskan akan menunggu sampai setengah bulan lagi. apalagi guru mereka pun berpesan agar tidak meninggalkan gua terse-but itulah sebabnya mereka bertiga tak berani turun gunung bersama-sama. kalau ti-dak. setiap kali Siau Thi-gou sedang menanak nasi di dapur. Permukaan bukit Hoa-san dengan be-berapa buah bukitnya yang tinggi. jejak . namun berhubung dendam berdarah engkoh Giok nya belum terbalas. jika selewatnya tahun baru guru mereka be-lum juga kembali. mereka berdua selalu memanfaatkan kesem-patan tersebut untuk berunding bagaimana caranya mencari berita tentang guru mereka. dalam suasana murung dan sedih. tak heran kalau kedua orang itu terpaksa mengambil jalan tersebut. dengan diutusnya pemuda tersebut. dia semakin menyayangi engkoh Giok nya dan memperhatikan adik Gou nya. Sebagaimana diketahui. dia pasti akan mengunjungi bukit Hoa-san untuk mengetahui apakah guru mereka sudah pulang atau belum. selain tidak melanggar pesan guru mereka. namun hingga saat itu belum juga ada kabar beritanya tentang mereka.

masih ada satu hal lagi yang membuat perasaannya tidak tenang. Ciu Siau cian. tapi bagaimanapun juga perasaan kasih sayang sebagai kakak terhadap adik tentu saja ber-beda sekali dengan kasih sayang terhadap pujaan hatinya. diapun sangat menya-yangi adiknya yang menawan tersebut. maka kehidupannya akan menjadi kering. sebelum hal ini benar-benar terjadi. di atas wajah engkoh Giok nya tentu terlintas setitik cahaya tajam. dan biasa-nya dalam keadaan begini Siau thi gou yang blo"on selalu menghindar jauh-jauh. Betul di sisinya masih ada Siau thi gou yang polos dan lugu. selama dua tahun ini. dia berusaha untuk menjauhkan diri dengannya. kalau bisa dia ingin bersama engkoh Giok nya hidup sepanjang tahun di tempat yang terpencil ini dan tak akan me-ngadakan hubungan lagi dengan dunia luar. tapi alhasil malah kebalikannya yang diperoleh. Lewat beberapa hari lagi Lan See-giok akan genap berusia delapan belas tahun. Baru sekarang dia menyadari bahwa diri nya sudah tak mungkin lagi berpisah dengan engkoh Gioknya. yaitu si gadis cantik lainnya yang sering dipuja oleh gurunya. Tekanan jiwa yang dialaminya membuat gadis itu sukar tidur dan tak enak bersantap tidak sampai berapa hari. tidak heran kalau Si Cay soat menjadi begitu tergiur dan kesemsem kepadanya. kosong. ia sering-kali melamun. atau bermain air di telaga Cui-oh. sepi dan layu. boleh di bilang mereka bertiga selalu berkumpul ber-sama. . jika See giok su-dah turun gunung. keadaan yang harus dialaminya selama ber-tahun lamanya mungkin. tak sedetikpun berpisah. DALAM setahun belakangan ini. dari seorang bocah tanggung yang binal Seegiok berubah menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa. tidak terkecuali Si Cay soat. kesemuanya ini membuat si nona tak berani banyak berbi-cara. tubuhnya menjadi kurus dan mukanya pucat. selain rasa hormat terselip juga perasaan cinta. Pikiran dan perasaan seorang gadis me-mang selalu lebih sempit dan cupat.344 gurunyapun merupakan se-buah tanda tanya besar.. Selain itu. mereka selalu berduaan dan bermesraan. semenjak mengambil keputusan tersebut. hampir setiap saat ia selalu berdoa agar gurunya bisa cepatcepat kembali ke rumah. entah berla-rian di tanah perbukitan ditengah malam. Setiap kali ia membicarakan soal Ciu Siau cian. Sekarang dia mulai sadar. Tapi Lan See giok harus turun gunung untuk menelusuri gurunya..

apa yang mereka lakukan setelah perjum-paan itu? Sudah pasti--la tak berani berpikir lebih jauh. Biarpun suasana tahun baru merupakan hari-hari yang paling bahagia. namun Lan See giok. Pernah terbayang olehnya bagaimana eng-koh Giok dan Ciu Siau cian bertemu kembali. namun masalah dendam orang tua dan musibah gurunya jauh lebih memenuhi jalan pemikirannya. Lan See-giok mengambil keputusan untuk turun gunung. gurdi emasnya disembunyikan di-balik pinggang dan senjata rahasia andalan ayah nya peluru cahaya perak. Tahun baru kedua semenjak See-giok tiba di bukit Hoa-san. dalam perjalanannya turun gunung nanti. salju masih menyelimuti seluruh permukaan tanah. Si Cay soat sibuk di dapur untuk menyiap-kan hidangan bagi perjamuan perpisahan-nya dengan Lan See giok. Meski diapun pernah memikirkan bibi Wan dan enci Cian nya.345 Selama setahun ini. hati nya pasti berdebar keras. Si Cay soat dan Siau thi gou nam-pak lebih masgul dan murung. Diapun berharap gurunya bisa kembali dengan selamat. sebab sa-ban kali membayangkan hal tersebut. Malam semakin kelam. diapun menyaksikan bahwa engkoh Giok nya tak pernah sedikit pun melupakan Ciu Siau cian. hal ini berarti bisa membe-baskannya untuk berangkat ke luar lautan. akhirnya Lan See giok harus membesarkan hati untuk bangkit berdiri. lebih mendong-kol dan tak tenang. Ia juga tahu. wajahnya berubah merah dan sepanjang malam tak bisa tidur nyenyak--Lan See giok pun merasa sangat tak tenang melihat keadaan adik Soat nya yang makin lama semakin kurus dan murung. Akhirnya tanggal tiga bulan pertama. Seringkali dia menghibur nona tersebut selain berpesan kepada Siau-thi gou agar se-lalu memperhatikannya. kejadian ini membuatnya lebih cemburu. akhirnya menjelang tiba. mungkin sekali banyak kesu-litan dan percobaan yang bakal dialaminya. meskipun masingmasing pihak berusaha untuk menyembunyikan perasaan dukanya di dalam hati. . Siau-thi-gou membantu See giok membe-reskan perbekalannya. digantungkan di balik jubahnya. Perjamuan perpisahan berlangsung cukup meriah. Lan See-giok telah bertukar pakaian de-ngan baju baru pemberian bibi Wan serta enci Cian.

dia menengok pemuda itu sambil bisiknya de-ngan suara gemetar: "Engkoh Giok . matanya berkaca kaca dan hampir saja air matanya jatuh bercu-curan: Si Cay-soat juga berusaha untuk me-ngen-dalikan gejolak perasaannya." Siau thi gou membuka matanya lebar-lebar sambil mengangguk. Sedangkan Si Cay coat harus mengucur-kan air mata sambil menahan isak tangis-nya. Lan See giok pun merasakan hatinya berat dan murung. selain berharap engkoh Gioknya bisa berhasil dengan sukses.." Namun hanya sebutan itu yang sempat meluncur ke luar. Sepanjang perjalanan. Akhirnya hutan bambu sudah dilewati. di hati kecilnya pun dipenuhi oleh pelbagai kemurungan yang serasa menyumbat hatinya. Namun ia tak berani banyak berbicara. kemudian sambil menengok adik Gou dan adik Soatnya yang tampak sangat murung. namun dia tak mampu mengendalikan diri untuk mem-bungkam terus.. sesungguhnya dia merasa amat murung dan kesal. kalian harus menjaga diri baik-baik. ia berusaha untuk menjaga ketenangan hatinya serta mencari akal bagaimana mesti bertin-dak untuk menyelidiki jejak gurunya sesudah turun gunung nanti.. tubuhnya segera gemetar keras.thi-gou manggut-manggut pedih. untuk kesekian kalinya dia ha-rus merasakan kembali betapa berat nya saat-saat perpisahan dengan orang-orang yang dicintainya. Siau-thi-gou diam-diam berdoa bagi keberhasilan engkoh Giok-nya dan menemukan kembali jejak guru mereka serta berhasil membalas sakit hati. sambil menutupi wajah sendiri dengan kedua belah tangan. serentak mereka bangkit untuk mengantar ke luar ruangan: Barisan bambu dan pohon siong mereka lewati dengan perasaan yang sangat berat dan masgul.346 "Adik Soat. Karena itulah meski wajahnya nampak -sangat tenang. ia berkata sedih: "Adik Soat.. se-jauh mata memandang. Adik Gou. . aku harus berangkat sekarang!" ujarnya kemudian dengan suara tenang. lapisan salju nan putih menyelimuti seluruh jagad. Tiba-tiba Lan See giok menghentikan lang-kahnya. dia menangis tersedu sedu. Si Cay-soat dan Siau.. secepatnya aku akan pulang kembali. dengan wajah yang basah oleh air mata dan wajah yang amat layu. begitu selesai pekerjaanku. adik Gou..

sambil menangis tersedu dia menubruk ke dalam pelukan See giok lalu bisiknya. sebab di samping me-nyelidiki musuhmusuh besar pembunuh ayahnya.. ia segera menyeka air matanya dan mengangguk. "Jangan sampai membuat kau sendiri jatuh sakit!" Kata-kata tersebut amat menghibur perasaan Si Cay-soat. namun bila teri-ngat dia tugas berat yang berada dibahunya. Lan See-giok mengerti. dia menghela napas sedih seraya men-jawab: "Perasaanku hanya Thian yang mbaha tahu. pemuda tersebut tak berani berpikir lebih jauh. semoga kau jangan terlalu memikirkan siaumoay berdua sehingga mengganggu pikiranmu. .. akhirnya sambil membulatkan tekad ia berkata: "Adik Soat.. moga-jmoga adik Soat gbisa menjaga dibri baik-baik dan merawat adik Gou semestinya. adik Gou. sudah barang tentu pemuda itu cukup mengetahui bagai-manakah perasaan gadis tersebut sekarang. Dengan lemah lembut dipegangnya lengan gadis itu kemudian dengan perasaan pedih dia berkata: "Adik Soat. "Apa yang hendak kukatakan. telah kau ketahui semua-Sebagai seorang yang pintar. bahkan bisa jadi perjalanannya didampingi Ciu Siau cian. Dengan perasaan sedih dan terharu.." Lan See giok mengerti apa yang dimaksud-kan. mungkinkah pemuda itu akan kembali secepatnya?" Melihat gadis itu membungkam diri dalam seribu bahasa. aku akan berangkat dulu!" Si Cay-soat mengangkat kepalanya me-mandang pemuda itu sedih. jagalah diri kalian baik-baik.347 Sedih nian perasaan Lan See giok me-nyak-sikan kejadian seperti ini. tak mungkin ia bisa menghibur perasaannya yang duka dengan sepatah dua patah kata saja. diapun harus menelusuri jejak gu-runya. lalu mengangguk lirih. pe-muda itu segera menghibur. bila akan ingin mengucapkan sesuatu." Dalam keadaan begini Si Cay soat tidak memperdulikan lagi kehadiran Siau thi gou di tempat tersebut. seusai bertugas aku pasti akan kembali lagi!" Si Cay soat pun cukup tahu bahwa anak muda tersebut tak mungkin bisa kembali sedemikian cepatnya. "Adik Soat. kau jangan kelewat menyiksa diri. katakanlah sekarang juga. "Berangkatlah engkoh Giok.

hampir semua tempat dipenuhi dengan tamu yang minum arak sambil bermain dadu. Dalam waktu singkat bayangan tubuh Lan See giok sudah lenyap di balik pepohonan sana. ia mengambil keputusan untuk berangkat ke Benteng Pek hoo cay mencari si toya baja berkaki tunggal. namun Lan See giok ma-sih meneruskan perjalanannya dengan cepat. Lan See giok merasa perutnya lapar. dia tiba di sebuah bkota yang jarakjnya tinggal sepguluh li dari bebnteng Pek hoo cay. meski Gui Pak ciang tidak termasuk orang yang paling mencurigakan. namun siapa tahu kalau dari mulutnya akan diperoleh sedikit informasi yang menguntungkan? Malam itu." Namun Si Cay soat tidak memberikan reaksi apapun. dia pun me-masuki sebuah rumah makan yang berada tak jauh dari situ. dia masih berdiri termangu sambil memandang ke muka dimana baya-ngan tubuh Lan Seegiok melenyapkan diri tadi. kosong. Sawah dan gunung sudah dilalui. "Sudahlah enci Soat" Siau-thi-gou segera menghibur. Mengetahui hal tersebut. Lan See giok memilih sebuah tempat yang dekat dengan jendela. engkoh Giok telah pergi jauh. tiba-tiba dari luar jendela berkumandang suara derap kaki kuda yang ramai sekali. Perasaan sedih. Setelah menempuh perjalanan jauh. sesudah memesan hi-dangan. Lan See giok mengerahkan segenap tena-ganya untuk berlari kencang. dengan menelusuri jalan raya yang ramai dia berge-rak terus menuju ke arah tenggara. Sementara masih melamun. "mari kita masuk. Ketika tiba di sebuah kota besar. dia bersantap sambil tiada hentinya menyusun rencana bagaimana meng-hadapi Gui Pak ciang nanti. . Langit mulai terang.348 Sekali lagi Lan See giok memandang wajah ke arah Si Cay-soat serta Siau-thi gou. matahari mulai mun-cul dari ufuk timur. begitu pesatnya dia berkelebat membuat pemuda itu terce-ngang sendiri atas kemajuan yang telah dica-painya selama ini. tak tahan lagi air matanya sekali lagi jatuh bercucuran dengan derasnya. Lan See giok mendapat tahu kalau tempat itu terletak paling dekat dengan benteng Pek hoo cay milik si toya besi berkaki tanggal Gui Pak ciang ketimbang bukit Tay ang san dari beruang berlengan tunggal. ke-mudian diiringi ucapan selamat tinggal ia membalikkan badan dan berlalu dari situ. Suasana dalam rumah makan ramai sekali. sepi dengan cepat menyelimuti seluruh perasaan Si Cay-soat.

Serentak semua keramaian dalam rumah makan terhenti sama sekali.349 Menyusul kemudian terdengar suara orang yang berteriak-teriak kaget dari arah jalan raya. tapi setahun telah ber-selang. ketika Lan see giok menengok ke luar. Dibagian paling depan nampak seekor kuda putih ditunggangi seorang nyonya can-tik bermantel hitam yang nampaknya baru berusia dua puluh enam tujuh tahunan. ji-hujin dari benteng Pek hoo cay. sama-sama menjerit kaget sambil membubarkan diri ke empat penjuru . Pada saat itulah seorang pelayan telah membuka jendela sambil mengintip ke luar. ia berseru kaget dan segera menarik tali les kudanya kencang-kencang. yang semula berkaok-kaok kini pun membungkam diri dalam seribu ba-hasa. tanpa terasa dia membuka daun jendela sambil menengok ke depan. ketika ia sedang kabur dari benteng Wi-lim-poo. suasana menjadi hening sekali. ia sama sekali tidak terjatuh dari kudanya. Sementara itu dari ujung jalan sana terli-hat ada enam ekor kuda jempolan sedang dilarikan kencang.. kuda putih itu segera mengangkat kakinya ke atas meski begitu. Tok nio cu (wanita beracun) telah datang!" Berkilat sepasang mata Lan See giok mendengar ucapan itu...kencang. orang yang se-mula berlalu lalang. sendiri meski tidak pandai menunggang kuda. Tiba-tiba saja mencorong sinar tajam dari balik mata nyonya cantik bermantel hitam itu. hal ini membuat suasana ber-tambah kalut. kini kelihatan lari kian kemari mencari perlindungan. . nampaknya nyonya muda itu mahir sekali menunggang kuda. Hal tersebut tentu saja mengherankan Lan See giok. tapi paras mukanya segera berubah hebat serunya tiba-tiba: "Aduh celaka. para pejalan kaki yang sudah me-nyingkir ke samping. kebetulan sekali nyonya cantik itupun sedang menengok ke arahnya. Kelima ekor kuda lainnya serentak mena-han pula kuda masing-masing secara men-dadak. suasana amat kalut dan panik. Sedangkan lima rekor lainnya diztunggangi oleh wlima lelaki kekrar yang semuanya menyo-ren senjata. pemuda itu pernah mengalami suatu pengalaman yang cukup mengagetkan di tepi telaga Phoa-yang -oh. Diiringi suara ringkikan panjang. orang berhenti bermain dadu. dengan cepat dia bangkit berdiri dan melongok ke luar. Lan See giok. Tak heran kalau dia segera bersorak me-muji setelah menyaksikan kemahiran Tok -nio-cu dalam ilmu menunggang kudanya.

serentak me-ninggal-kan kuda kudanya dan berlarian menuju ke depan rumah makan itu.. kebetulan sekali pada waktu itu hanya Lan See giok seorang yang duduk di kursinya. Sementara ingatan tersebut masih melintas di dalam benaknya. Kelima orang lelaki lainnya yang me-nyaksi-kan kejadian tersebut.350 Tapi perasaan tak puas segera muncul pula sesudah menyaksikan para rakyat jelata pada membubarkan diri dalam keadaan panik dan kalut karena ketakutan.. dua orang lelaki berwajah penuh amarah telah muncul di atas loteng. ia tak ingin banyak menimbulkan urusan daripada belum-belum sudah mengejutkan lawannya. . dia melayang turun di depan pintu rumah makan. dengan perasaan tak habis mengerti ia ber-paling. Menyusul kemudian bayangan hitam ber-kelebat lewat. dilihatnya para tamu yang semula berada dalam ruang rumah makan... bagaikan sekuntum awan hitam. "Blaammm !" Serentak para tamu bangkit berdiri seraya membungkukkan badan memberi hormat. Tok Nio-cu si perempuan can-tik berbaju hitam itu diiringi ketiga orang le-laki lainnya telah muncul pula di ruang loteng dengan langkah tergesa gesa. BAB 17 LAN SEE-GIOK segera berkerut kening. kini se-dang membereskan uang dan gundu mereka dengan wajah panik dan peluh dingin bercu-curan deras. semuanya menahan napas sambil mengawasi Tok Niocu yang cantik dengan senyuman dikulum itu dengan perasaan panik bercam-pur tegang. bisa diketahui bagaimanakah sepak terjang mereka diwaktu waktu biasa. Tak selang berapa saat kemudian. sebab dia sedang mengawasi Tok Nio-cu yang menampakkan diri sehingga tidak terlalu memperhatikan gerak gerik para tamu lain-nya. nyonya cantik berbaju hitam itu sudah melejit ke tengah udara de-ngan suatu gerakan yang sangat enteng.. Sejak muncul dalam dunia persilatan hingga kini sudah ada beberapa orang gadis cantik yang pernah dijumpainya. Mantel hitamnya yang lebar segera ber-ki-bar pula ketika terhembus angin. bila hal terse-but sampai terjadi. berarti dia telah memberi kesempatan kepada si Toya baja berkaki tunggal Gui Pak ciang untuk mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya. Dilihat dari cara orang-orang Pek hoa cay yang berani melarikan kudanya kencang-kencang ditengah jalan yang ramai. Sekalipun demikian.

Rambutnya yang lembut. Dan kini. Sementara dia masih melamun.351 .. kembali!" mendadak Tok. diiringi jerit kesakitan lelaki itu terlempar ke luar dari jendela -Melihat hasil dari gerakannya itu. te-lapak tangan kanan Koan-ki sudah diayun-kan ke muka membacok tubuh Lan See giok yang masih duduk dengan tenang itu.Orang pertama yang masuk ke dalam lembaran hidupnya adalah enci Cian yang lembut. tahu-tahu saja pergelangan tangan lelaki itu sudah kena dicengkeram olehnya. hidung mancung dan bibir kecil mungil. menyusul kemudian sekali bentakan saja. Sesungguhnya Lan See giok tidak berniat mencari urusan. kemudian dengan mats melotot besar har-diknya keraskeras: "Bocah keparat. keningnya langsung berkerut. tapi setelah menyaksikan sikap kasar lawan yang jelas hendak mencari gara-gara itu. Sayang bentakan itu sudah terlambat. "Blaammm!" Diiringi suara benturan yang sangat keras. wajahnya ber-bentuk bulat telur dengan biji mata yang bening. namun sayang keadaan sudah terlam-bat baginya untuk menarik kembali serangan tersebut. api amarah pun berkobar. seolah-olahg mereka berdua badalah saudara sekandung saja. sambil menarik muka dia membalikkan pergelangan tangannya sambil mengayun ke atas. mendadak seorang lelaki kekar berjalan mendekatinya. debu dan pasir beterbangan kemana mana. Tok Nio-cu yang usianya sudah mencapai dua puluh enam-tujuh tahunan ini ternyata dirasakan berwajah mirip sekalbi dengan Oh Li jcu. Jeritan kaget dan teriakan panbik dengan cepatj berkumandang dgari luar jendelba.. tubuhnya menerjang ke muka dan telapak tangan kanannya siap dibacokkan ke atas tubuh Lan See giok. Tidak terlihat secara jelas gerakan apakah yang dipergunakan olehnya. . setelah bertemu dengan hujin. dia memang seorang perempuan cantik yang sangat menawan hati. dia telah melemparkan tubuh lelaki itu ke belakang. kau benar-benar tak tahu adat. mengapa tidak bangkit berdiri untuk memberi hor-mat?" Di tengah bentakan keras. Lan See giok merasa amat terkejut. Dia jadi teringat kalau di belakang jendela merupakan jalan raya. jurus tiang sakti penahan langit segera diperguna-kan.Nio-cu membentak keras. kemudian adik seperguruannya Si Cay-soat yang lincah dan ketiga adalah Oh Li cu yang genit. "Koan-ki. Lan See giok tertawa dingin.

kedua orang -le-laki itu kembali terlempar ke luar dari luar jendela. di jumpainya orangorang yang se-mula berkerumun melihat keramaian di bawah loteng situ kini sedang saling berde-sak-desakan saja. Apa mau dikata Koan-ki. Diiringi jeritan kesakitan. kau si keparat berani turun tangan dengan semau-nya sendiri?" Angin pukulan yang sangat kencang men-dadak meluncur kearah belakang kepalanya. Bersamaan waktunya ketika Lan See-giok melongok ke bawah. membuat un-tuk sementara hanya bisa mengaduh-aduh lemah. pingin mampus rupanya kalian!" Kedua belah tangannya dipergunakan ber-sama dengan suatu gerakan cepat ia mencengkeram lengan kedua orang lelaki tersebut kemudian mengayunkan ke bela-kang. posisinya boleh dibilang semakin ter-desak. "Kawanan tikus. "Dengan kehadiran nyonya di sini. Selama berkelana di dalam dunia per-sila-tan.352 Lan See-giok mencoba untuk melongok ke bawah. semua orang hanya bisa membelalakkan matanya dengan perasaan terkejut. "Duuk!" Tak ampun tubuh koan-ki yang kekar mencium di atas tanah keras-keras. dari belakang tubuh nya telah bergema lagi dua kali bentakan keras yang memekikkan telinga. namun di ruang loteng dengan berpuluh orang tamunya jus-tru dicekam dalam keheningan yang luar bia-sa. suasana kalut sekali. bukan saja serangannya mengalami kegagalan. begitu kerasnya bantingan tersebut. bahkan nyaris terbanting mampus di bawah loteng. Tok Nio-cu ikwut kehilangan mruka sehingga mustahil lagi baginya untuk berdiam diri belaka. Apalagi sekarang. tak heran kalau paras mukanya segera berubah menjadi hijau membesi dan tubuhnya gemetar keras. lelaki kekar tadi kelewat sombong dan tak mau memandang sebelah mata kepada orang lalu. Semula Tok Nio-cu sebetulnya hanya terta-rik oleh ketampanan wajah Lan See giok dia merasa pemuda tampan dengan pakaian tipis yang dikenakan di musim dingin ini sudah pasti mempunyai asal usul yang luar biasa. Meski pun suasana di atas jalan raya amat ramai dengan jeritan kaget. Ucapan yang tersebut tadi kembali mem-bangkitkan amarah dalam dada Lan See-giok Dengan cepat dia memutar badannya sem-bari membentak nyaring. bertambah dua orang anak buahnya lagi terlempar ke bawah loteng. Akibat dari perristiwa tersebutz. belum pernah Tok Nio-cu diperlakukan orang semacam ini. .

Tok Nio-cu sendiri yang menjadi pucat melihat sikap lawannya. berani amat melukai anak buahku? Hmm.. akan kusuruh kau rasakan sampai di manakah kelihaian dari aku Tok nio-cu!" "Haah. ayo cepat kau sebut kan nama gurumu dan asal perguruanmu. me-mandang di atas hubungan kita dimasa lalu aku bersedia melepaskan dirimu dan menyudahi persoalan sampai disini saja." "Kalau tidak mau apa kau?" jengek Lan See giok dengan nada yang amat sinis.haah. dia berkata lebih lanjut." Lan See-giok tertawa tergelak. "biar aku masih muda. semestinya kau berasal dari pergu-ruan kenamaan.. Sepasang matanya segera melotot besar. Tiba-tiba dia mengayunkan telapak tangan nya ke muka. kau tak akan mengetahui kelihaian orang teriak Tok Nio-cu bertambah gusar. katanya kemudian dengan suara berat dan dalam: "Masih muda sudah tak tahu diri.. ia cukup tahu akan kelihaian dari peluru api beracun tersebut. Anak muda itu sangat terkejut. . tiba-tiba ia menjerit. "Jika kulihat dari gerak serangan-mu yang hebat. langsung menerjang ke arah Lan See-giok. bila ada hubungannya dengan kami. anak muda itu justru lebih berani lagi.. hanya kali ini suaranya jauh lebih lembut. bahkan mengejek pula. itulah sebabnya ia tetap tidak berkutik. Cepat menyingkir ke samping!" . bisa di bayangkan betapa amarahnya perempuan itu. "Eeeh. kalau toh kau tekebur terus dan tak tahu diri. keningnya berkerut kencang.. Siapa tahu. kau pasti seorang anak ayam yang baru muncul dalam dunia persilatan sehingga tak tahu tinggi nya langit dan tebalnya bumi!" Kemudian setelah mengamati wajah Lan See giok sekali lagi.353 Sambil tertawa dingin.. kalau tidak. belum per-nah kujumpai manusia tekebur yang begitu jumawa macam kau. tampak nya sebelum kuberi sedikit pelajaran.. Sebetulnya Tok Nio-cu berniat mengalah dengan harapan Lan See giok bisa mencari alasan untuk menyudahi persoalan tersebut.haah.. hmmm .." "Anak muda yang tak tahu diri. dengan suara keras bentaknya: "Bagus. namun diapun dapat melihat de-ngan jelas bahwa peluru api beracun itu bu-kan ditujukan ke arahnya. diiringi suara mendesis yang keras dan memancarkan asap merah kehitam hitaman. ." Segulung bola api kecil yang memancar kan cahaya hijau.

"Mengingat kau adalah seorang wanita. bersamaan itu pula dia mengangkat ujung bajunya untuk melindungi muka. percikan bunga api yang jatuh di baju birunya itu tabu-tahu saja ron-tok semua ke atas tanah. saking terkejutnya untuk sesaat dia sampai berdiri tertegun. sementara dia bermaksud un-tuk turun tangan memberi hukuman pada Tok Nio-cu. Daljam hati kecilnyga See-giok tahub apa yang telah terjadi. percikan api yang menjilat gedung seketika padam se-mua. ujung baju kanannya dikebutkan ke arah jendela dengan ilmu ujung baju baja menggapai angkasa semacam ilmu kebasan yang sangat hebat "Weess!" Asap tebal berputar di angkasa. Tanpa berpikir panjang lagi. sedangkan dua orang lelaki kekar lainnya semenjak tadi sudah berdiri bodoh. pemuda itu merasa menyesal sekali. Suatu kejadian aneh tiba-tiba saja berlang-sung di depan mata. Sekalipun begitu. beberapa puluh percikan bunga api toh sempat memercik ke atas jubah birunya. tibatiba suasana dalam ruang loteng itu menjadi kalut.354 Belum habis dia berseru. Rupanya dalam suasana gugup tadi. Pucat pias Tok Nio-cu melihat kejadian ini. cepat-cepat din melompat mundur ke belakang. "Blaammm!" Asap belerang dan gulungan api segera muncrat ke mana-mana dan memercik ke atas tubuh Lan See-giok. pemuda itu menghimpun tenaga Hud -kongsin-kangnya lalu diiringi bentakan keras. apa yang terlihat membuatnya amat terkejut. ternyata jilatan api telah membakar daun jendela yang dengan segera menjalar ke mana-mana. Sambil menatap wajah perempuan itu. hari ini aku bersedia memberi sebuah ke-sempatan kepadamu untuk menyesali ulah dan tingkah lakumu . sedang pakaiannya tidak mengalami cedera barang sedikibtpun juga. kebakaran besar mengancam gedung tersebut. Cepat-cepat pemuda itu mendongakkan kepalanya. Lan See-giok telah mendemonstrasikan kelihaian ilmu silatnya. Anak muda tersebut sangat terkejut. jeritan kaget berge-ma dari mana-mana. otomatis niatnya untuk memberi pelajaran kepada Tok Nio-cu pun ikut lenyap. setelah kejadian. Peluru beracun itu sudah melesat lewat duri samping Lan See giok dan langsung me-nerjang ke atas daun jendela. ka-tanya kemudian dengan suara dalam.

Namun sebagai seorang jagoan ybang sudah berpejngalaman dalam gdunia persilatabn. de-ngan cepat wanita tersebut berhasil mengen-dalikan perasaan sendiri. Kalian bo-leh berangkat dulu. kemudian cepat pulang ke Pek ho cay dan sampaikan kepada Toya baja berkaki tunggul Gui Pak ciang.355 selama ini. baiklah siauli berangkat selangkah lebih dulu. aku harus berangkat sekarang juga. semua orang segera berebut menjawab. Mendadak satu ingatan melintas di dalam benak Lan See giok sepeninggal Tok Nio-cu sekalian. bahwa aku ada urusan khusus datang kemari untuk minta petunjuknya. mengapa kubiarkan mereka pulang ke Pek ho cay lebih dulu? Bila Gui Pak ciang berusaha menghin-darkan diri dari pertemuannya denganku. dengan demikian aku pasti dapat mengawasi gerak gerik Gui Pak ciang--. para pelayan. setelah dibuang ke atas meja. ayo cepat keluarkan uang untuk membayar kerugian yang diderita rumah makan ini. kalau toh siauhiap akan segera berkunjung ke benteng kami. kalau bisa tiba di tempat tujuan sebelum Tok Nio-cu tiba di situ. pemilik rumah makan dan para tamu lainnya sudah berbondong bondong menghampiri nya sembari menyatakan terima kasih. dia sama sekali tidak mengira kalau pemuda tampan berilmu silat tinggi ini me-mang khusus datang ke Pek ho cay untuk mencari gara-gara. segera tanyanya. mereka segera mengikuti di belakang Tok Nio cu dan berlalu dari situ. jawabnya kemu-dian dengan suara dingin. Dua orang lelaki kekar lainnya cepat-cepat merogoh kantung mengeluarkan empat tahil perak. bodoh amat aku ini. "Yaa. "Pesan dari siauhiap tentu akan siauli lak-sanakan dengan baik." Belum habis dia berpikir. Buru-buru dia membalikkan badan dan melayang turun dari ruang loteng itu. "Boleh aku tahu berapa jauh letak Pek hoo cay dari sini? Dan aku harus lewat mana?" Mendapat pertanyaan itu. . agaknya hasil jerih payah Gui Pak-ciang selama banyak tahun sudah terancam kebangkrutan. . aku akan segera me-nyu-sul Air muka Tok Nio-cu sekali lagi berubah hebat. Lan See giok sama sekali tidak berniat untuk melayani orang-orang tersebut. bukankah hal tersebut akan menghambat usahaku untuk menyelidiki pembunuh ayah-ku yang sesungguhnya---" Kemudian dia pun berpikir lebih jauh. Bila ditinjau dari kemampuan yang di-miliki semula tersebut. "Aaah.

setelah tidak menjum-pai sesuatu yang mencurigakan. di tepi jalan masih tersisa pula tumpukan salju yang belum melumer. Dia baru meneruskan perjalanannya memasuki hutan tersebut. bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. cepat dia mengeluarkan sekeping uang perak diletakkan di meja. Suasana dalam hutan itu cukup hening lagi gelap gulita. Setelah ke luar dari kota. Jarak sejauh tujuh-delapan li ditempuh dalam waktu yang amat singkat. kurang lebih sembilan li dari sini. Dalam sekali kelebatan saja. Setelah meninggralkan rumah makzan Lan See-giokw menentukan ararhnya kemudian sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya bergerak menuju ke barat. bahkan lama lamat terdengar juga suara pohon siong yang di hembus angin serta suara air yang mengalir di selokan. bisa jadi mereka sedang mencari kuda-kuda mereka yang lari ketakutan serta merawat setiap anak buah-nya yang terluka. Sepanjang jalan Lan See-giok beberapa kali berpaling. Setelah menempuh perjalanan beberapa li. namun ia tak nampak Tok Nio-cu berenam menyusul dirinya. ia mulai menangkap beberapa titik cahaya lentera di kejauhan sana. dimuka benteng terdapat sebuah hutan siong yang sangat luas. Lan See giok tahu cahaya lampu yang muncul di depan sana sudah pasti benteng Pek-hoo cay. dengan pandangan mata yang cermat dan pendengaran yang tajam diperiksa dulu sekeliling tempat itu. di ujung hutan adalah sebuah gundu-kan tanah serta sebuah jalan beralas batu yang menanjak ke atas. kemudian dengan lang-kah cepat berjalan menuju ke belakang jendela. pada ujung jalan itulah terletak pintu gerbang benteng yang tingginya mencapai puluhan kaki: . kanan dan belakang-nya di batasi oleh tanggul sungai. yang terdengar hanya suara ranting yang terhembus angin serta suara air yang mengalir. sedang di sisi kiri. kesemuanya itu mendatang-kan perasaan tak tenang bagi siapa pun yang mendengarnya. Lan See-giok tak berani bertindak gegabah. bagaimana keadaan di dalamnya jarang sekali diketahui oleh orang luar!" Dalam keadaan demikian. Lan See giok ingin sekali secepatnya berangkat ke situ. kini Lan See-giok sudah berada dalam hutan pohon siong yang cukup lebat. sawah dan ladang terbentang luas. maka tanpa terasa dia percepat larinya menuju ke depan.356 "Pek-hoo-cay terletak diarah barat. Hutan pohon siong itu mencapai ratusan kaki.

dia tidak menyangka kalau jejaknya telah diketahui musuh dengan begitu cepat. kemudian dengan busurnya orang itu menyerang secara ganas dan bengis . tentu saja ia tak ber-mi-nat sama sekali untuk -melayani orang-orang tersebut. dia telah meluncur ke muka dan tanpa menghentikan gerakannya ia langsung melejit ke tengah udara--Baru saja badannya hampir mencapai dinding benteng. Anak panah tersebut dengan cepat me-nyambar lewat dari atas kepalanya dan ron-tok beberapa kaki di belakangnya. sedemikian tingginya sehingga seseorang dengan ilmu meringankan tubuh yang sempurna pun ja-ngan harap dapat melampauinya.357 Batas pagar benteng terbentuk dari batang pohon yang besar lagi tinggi. Dengan gerakannya itu. bayangan musuh telah hilang lenyap tak berbe-kas. Lan See-giok tidak ingin kehadiran di situ diketahui musuh kelewat dini. Tujuan dari kedatangan Lan See-giok kali ini adalah menemukan si toya besi berkaki tunggal secepatnya. sebelum anak panah tersebut mencapai sasa-ran.. hampir saja ia ter-jerumus ke bawah benteng. Tidak membuang banyak waktu. sapuan dari lelaki berbusur itu menjadi mengenai sasaran ko-song. tatkala orang-orang itu sampai di tempat kejadian. mungkin karena menggunakan tenaga kelewat keras. sayang sekali kedatangan mereka terlambat. bagaikan segulung asap ringan dia meluncur ke muka. Rekan rekannya yang menjumpai bhal itu serentajk membentak margah dan bersama bsama datang memberi bantuan.. Lan See giok sangat terkejut.. Menyusul kemudian beberapa kali desiran angin tajam berhamburan dari arah benteng menuju ke arahnya. serta merta dia percepat gerakan tubuhnya untuk lewat ke muka. dengan ber-hati hati sekali dia meninggalkan jalan raya yang lebar dan menyusup ke sisi kanan dinding benteng: Disaat tubuhnya sedang menerjang ke muka dengan kecepatan bagaikan kilat itu lah--"Sreeet!" Mendadak sebatang anak panah dibidikkan ke arahnya disertai tenaga sam-baran yang sangat kuat. Lan See giok tak berani bertindak secara gegabah. .. Tak heran kalau suasana di sekeliling tem-pat itu segera berubah menjadi amat kacau. Dalam keadaan begini.. tubuhnya kembali-melejit ke muka dan meluncur se-jauh beberapa kaki ke depan. seorang pemanah yang ber-diri tak jauh dari situ telah membentak keras.

semuanya teratur rapi dan bersih sekali Puluhan kaki kemudian. mata ikan dan alis mata tumpul. air muka mereka hebat sekali. bermata besar dan membawa sebuah toya besi yang berat sekali. dengan gerakan naga bermain ditengah angkasa. bisa diduga kalau. . dari sorot matanya yang tajam sewaktu mengawasi Lan See-giok. dari atas wuwungan rumah ia dapat melihat ba-nyak orang sedang berkumpul di dalam ru-angan tersebut. kemudian kecuali Gui Pak ciang beserta seorang kakek berjubah hijau dan seorang nenek berbaju abu-abu. Lan See giok mengawasi semua orang yang berada dalam ruangan dengan cepat. pemuda itu menangkap cahaya lentera yang amat terang muncul dari sebuah gedung di depan situ. Sepanjang jalan yang terlihat hanya ba-ngunan rumah yang berlapis. jumlah mereka semua hampir mencapai dua tiga puluhan orang. dapat diduga orang ini merupakan seorang nenek yang su-kar dihadapi. beberapa kaki dari posisi semula. ia semakin tidak memikirkannya di dalam hati. bentuknya mirip sekali dengan sebuah balai pertemuan. ia meluncur lebih ke atas wuwungan rumah. beralis tebal. Sebagai tuan rumah yang duduk dikursi utama adalah seorang kakek berambut putih. menu-rut perkiraannya. kemudian ujung kakinya kem-bali menjejak tanah dengan cepat ia melun-cur lebih ke depan.. si toya baja berkaki tunggal Gui Pak-ciang telah berhasil menguasai perasaan sendiri. Kehadirannya yang sangat tiba-tiba dan di luar dugaan tersebut segera membuat para hadirin tertegun. Kakek berjubah hijau yang berdbiri di sisi Guij Pak-ciang memigliki wajah yangb bengis. ia seorang manusia berhati licik. Sementara itu. Sebaliknya si nenek berbaju hijau yang telah ubanan rambutnya. orang itu tak lain adalah Gui Pak-ciang.. Dengan langkah tubuh yang berhati hati Lan See giok mendekati bangunan itu. dari kilatan matanya yang menggidikkan serta tongkat digenggamnya. Tanpa membuang waktu lagi. apalagi se-telah mengetahui bahwa pendatang cuma seorang pemuda baju biru yang berwajah tampan. Lan See-giok yang berada ditengah udara sama sekali tidak menghenti-kan gerakan tubuhnya.358 Sementara itu. anak muda itu segera melayang turun ke tengah ruangan tersebut. bermuka persegi beralis tebal dan sepasang mata yang bagaikan mata seekor ayam jago. bangunan itu sangat besar dan paling megah.

Setelah tertawa terbahak-bahak. Lan See-giok memandang sekejap ke dalam ruangan. datang dari mana? Ada urusan apa kau berkunjung ke mari ditengah malam begini? Silahkan kau utarakan saja secara terus terang. "Aku Lan See giok ingin mencari tahu suatu persoalan yang amat penting dari caycu. dengan cepat dia meng-u-lapkan tangannya dan menitahkan semua orang untuk menyingkir ke samping dan memberi jalan lewat kepadanya." Dari sikap pemuda tersebut. Lan See giok lantas teringat kembali akan perlakuan orang itu terhadap dirinya ketika masih berada dalam kuburan kuno. aku hanya ingin bertanya be-berapa patah kata saja. Tongkat besi berkaki tunggal Gui Pak ciang dengan wajah hijau membesi telah menegur. lebih baik ku ajukan dari sini. di situ sudah tersedia meja perja-muan yang lengkap derngan hidangan lzezat namun perjwamuan belum dimrulai. sebab ia tahu bila pemu-da ini tidak memiliki pegangan yang kuat.359 Sementara Lan See giok baru selesai me-ngawasi orang-orang yang berada di situ. katanya kemudian: "Kalau toh ada urusan penting yang hen-dak disampaikan. siapa namamu. pemuda itu pun berkata seraya menggelengkan kepala nya berulang kali: "Tidak usah. mari silahkan masuk ke dalam ruangan untuk berbincang-bincang!" Sambil berkata. itu sedang menanti kedatangan Tok Nio-cu. Namun Pemuda itu segera mengendalikan hawa amarahnya. "Saudara cilik. bila kedatanganku sangat di luar dugaan. ditambah pula dengan sikap sombongnya sekarang. sebagai jago-jago yang berpengalaman dalam dunia persi-latan." Bertemu dengan Gui Pak-ciang. dia ingin berusaha mencari keterangan yang banyak dari orang ini. Gui Pak-ciang sekalian segera merasa bahwa kedatangan pemuda berbaju biru itu nampaknya tidak berniat baik. Berkilat sepasang mata nenek berbaju abu-abu itu. Setelah termenung sejenak. bisa jadi orang-orang. maka ujarnya kemudian dengan suara tenang. namun dia sendiripun tak berani bertindak gegabah. harap lo-caycu jangan marah!" Gui Pak-ciang semakin tak senang hati terutama melihat sikap musuhnya yang ang-kuh dan sama sekali tidak memberi hormat kepadanya. tiba-tiba saja hawa amarahnya berkobar. tak mungkin ia berani bertindak begini. mendadak ujarnya kepada Gui Pak ciang: .

masa kau ingin mempertontonkan kejelekan ini dihadapannya lagi?" Lan See giok segera tertawa dingin. berda-sarkan panggilan si nenek atas Gui Pak ciang. bila dugaannya tak keliru. setelah berhenti tertawa seram. se-baliknya. kakek berjubah hijau itu segera berseru dengan penuh kebencian. bisa jadi antara kakek berjubah hijau itu dengan ayahnya pernah terjalin hubungan permu-suhan yang sangat mendalam sekali. si pukulan pasir merah To Siok se-dang kecewa karena dendam sakit hati yang kuterima tiga belas tahun berselang tak mungkin bisa menuntut balas kembali.-" Belum selesai ucapan tersebut diutarakan. ia merasa si pukulan pasir merah To Siok pandai sekali bersandiwara. Sementara Lan See-giok masih termenung. hmm ----rupanya Thian memang memberi kesempatan kepadaku untuk melampiaskan-nya. Tergerak hati Lan See-giok menyaksikan hal tersebut. To Siok adalah tamu agung kita dari tempat jauh. ia sudah cukup lama menantikan kedatangan Tok Nio-cu. Betul juga dugaannya. kemudian sambil menga-wasi pemuda itu dengan sorot mata benci. Gui Pak ciang segera manggut-manggut kepada Lan See giok ujarnya kemudian de-ngan tidak sabar: "Kalau toh kau ingin mengucapkan bebe-rapa patah kata saja. ini menunjukkan pula bahwa orangnya licik dan sangat berbahaya. atas kesempatan ini aku pasti berterima kasih kepada Lo thian ya!" Lan See-giok tertawa dingin. Gui Pak ciang serta To Siok si kakek berju-bah hijau itu sudah berubah muka. bisa jadi nenek tersebut adalah istri tuanya. kalau begitu suruh saja ia ber-bicara secepatnya. ia menegur keras. Gui Pak ciang nampak agak tertegun. sedangkan yang disebut sebagai To Siok mungkin sekali adalah kakek berjubah hijau itu. "Aku. si pukulan pasir merah To Siok telah me-lom-pat ke depannya." Lan See giok mengerutkan dahinya rapat-rapat.360 "Pak ciang. ""Kau benar-benar adalah putra dari gurdi emas peluru perak Lan Khongtay ?" . To Siok segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram. sebetulnya men-diang ayahku Lan Kong tay terbunuh di ta-ngan siapa? Siapakah diantara kalian lima manusia cacad yang telah melakukan per-buatan keji itu. kemudian dengan suara dalam tegur nya: "Aku hanya ingin tahu. nah katakan sekarang juga.

Lan See-giok gusar sekali. cepat kau ringkus bocah keparat she Lan itu!" Pemuda cebol itu mengiakan." Sebagai tamu yang datang dari jauh.. hawa murninya segera di-salurkan ke dalam telapak tangannya. tanpa banyak bicara dia menerjang ke muka Lan See giok. tiba-tiba dia ber-putar kencang dan menyelinap ke belakang pemuda cebol itu. wajahnya berubah menjadi hijau membesi. sambil mengawasi si toya besi berkaki tunggal segera bentaknya keraskeras. keras sebuah tendangan kilat dilancarkan menghantam belakang pinggang musuh .. kau tidak berani mengata-kan siapa yang telah membunuh ayahku?" Toya baja berkaki tunggal Gui Pak ciang sama sekali tidak menggubris pertanyaan Lan See giok.. lihat saja nanti apakah kau masih mampu me-ninggalkan Pek hoo cay ini dalam keadaan hidup?! Sambil berkata. "Heeehhh. silahkan saja kau menuntutnya kepadaku. kemudian baru diserahkan kepada saudara To untuk menghukumnya. . gagal de-ngan serangannya. diiringi bentakan.. Lan See-giok berkerut kening. dengan cekatan dia mengegos ke samping. pu-kulan pasir merah To Siok merasa kurang leluasa untuk menampik maksud baik Gui Pak ciang. . warna kulit yang semula putih seketika berubah menjadi merah membara.. setelah tertawa angkuh. Lan See giok mendengus marah. "Saudara To. bocah keparat.... jika kau memang berniat membalas dendam atas sakit hati yang pernah kau terima dari ayahku dulu. kau tak usah sombong dulu. pemuda cebol itu mende-sak maju lebih jauh. heeehhh. kepada seorang lelaki cebol berwajah kuning yang berdiri di belakangnya. heeehhh. tangan kirinya menggapai semen-tara kepalan kanannya langsung menjotos ulu hati lawan. namun sebelum ia sempat berkata sesuatu.. Gui Pak ciang. kembali dia melancar-kan pukulan." Sekali lagi si pukulan pasir merah To Siok mendongakkan kepalanya sambil tertawa seram. tiba-tiba Gui Pak-clang telah berkata pula dengan suara yang berat dan dalam. "Blaammm!" . ia berseru keras: "Harimau berkaki cebol. pelan-pe-lan dia mengundurkan diri dari situ. Lan See giok mendengus. .361 "Sekarang aku tak punya banyak waktu untuk berbicara denganmu. buat apa kau mesti terburu napsu? Untuk membunuh ayam mengapa mesti memakai pisau pembunuh kerbau? Biar siaute utus orang untuk membekuk bangsat tersebut.

toya . "Blaammm. Betapa gusarnya Lan See-giok melihat tingkah laku nenek berbaju abu-abu itu. tentu saja si pukulan pasir merah To Siok tidak memandang sebelah matapun ter-hadap Lan See giok. tentu saja pemuda cebol itu sendiri segera jatuh tak sadarkan diri Lan See-giok cukup mengerti keadaan situasi yang dihadapinya sekarang. tunggu dulu! Biar aku saja yang mematahkan kaki anjing bajingan cilik ini!" tiba-tiba nenek berbaju abu-abu itu menjerit marah. "Saudara To..! " Debu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa. tiba-tiba dari atas rumah terdengar se-seorang berseru merdu. aku sendiri memang ingin selekasnya menyelesaikan persengke-taanmu dengan mendiang ayahku dulu" Sebagai seorang jago kawakan yang cukup termasyhur namanya di dalam dunia persi-latan. se-mentara ia bersiap sedia melancarkan sera-ngan. peristiwa ini berlangsung amat cepat untuk sesaat Gui Pak-ciang. dia turut menerjang pula ke arah Lan See giok. si nenek dan To Siok sampai tertegun dibuatnya.. kalau ingin membalas dendam. harap tahan dulu!" Dengan wajah tertegun Lan See giok ber-paling. dia segera berteriak keras dan langsung menerjang ke muka. Dengan suara dalam sahutnya kemudian: "Enso. si nenek berbaju abu-abu itu sudah memutar toyanya menciptakan selapis bayang-an toya yang langsung mengurung batok kepala anak muda tersebut. mendadak tim-bul niat jahat dihati kecilnya. Sementara itu.362 Diiringi suara benturan keras. ""Lan siauhiap. karenanya kepada si pukulan pasir merah To Siok. "Hei. wajah mereka berubah hebat. tapi pada saat itulah desingan angin tajam menyambar dari belakang kepalanya. mendengar tantangan itu. ayo cepat turun tangan. kau mesti berhati hati!" Kemudian dia sendiri menyelinap ke bela-kang tubuh Lan See giok. bergema di seluruh ruangan tubuhnya yang cebol tahu-tahu sudah mencelat ke luar dari ruangan dan meluncur ke dinding bangunan seberang. mustahil masalah yang dihadapi bisa diselesaikan se-cara damai. Ditengah bentakan. -Tergerak hati si pukulan pasir merah To Siok mendengar ucapan itu. rupanya pemuda cebol itu sudah menumbuk di atas dinding bangunan sebe-rang menyebabkan sebagian dindingnya am-brol. jerit kesa-kitan yang menyayat hati seperti babi mau disembelih. kembali dia menantang. bersamaan waktunya si nenek berbaju abu--abu itu juga membentak keras.

. d tambah lagi jarak diantara mereka begitu dekat.. lalu isi benak nampak berceceran dimana mana. Berhasil membunuh nenek tersebut. nenek berbaju abu-abu itu tewas se-ketika. Tiba-tiba saja terdengar suara bentrokan yang amat keras disusul suara jerit kesakitan yang sangat memilukan hati. tak .. ternyata sepasang kaki si pukulan pasir merah To Siok yang sedang melancarkan sergapan licik dari belakang itu. dengan gerakan secepat sambaran petir dia melejit ke atas atap rumah.. Ketika Lan See-giok berpaling. Untung saja Lan See-giok tidak menjadi panik. tiba-tiba saja si pukulan pasir merah To Siok me-lejit ke udara dan menumbukkan kepala nya ke atas lantai. sudah terhajar oleh sapuan toya baja si nenek berbaju abu-abu sehingga hancur tak karuan. si nenek berbaju abu-abu itu nampak tertegun dan berdiri mematung. sambil memben-tak keras tiba-tiba saja telapak tangan kanannya yang berwarna merah darah itu dibacokkan ke atas thian-leng hiat di ubun-ubun si nenek berbaju abu-abu.. sambil membentak keras ia keluarkan gerakan naga sakti melambung ke udara. Keadaan menjadi kritis dan berbahaya sekali. Sedangkan Gui Pak-ciang sekalian yang menyaksikan peristiwa tersebut menjadi panik dan buru turun semua ke gelanggang.. dia tak lain adalah Tok Nio-cu yang baru saja menyusul pulang. Tatkala sadar bahwa serangannya me-n-genai sasaran yang keliru. kemudian sambil menjerit kaget ia buang toya nya ke atas tanah. Dengan wajah pucat pias dan peluh dingin jatuh bercucuran. Peristiwa ini berlangsung sangat tiba-tiba dan sama sekali di luar dugaan. Mendadak. Diiringi jeritan lengking yang memilukan hati.363 bajanya mendadak berubah arah menyapu lutut musuh dengan gerakan secepat kilat. tulang dan darah berham-buran menyelimuti seluruh permukaan tanah.. cepat-cepat ia berusaha membantu si pukulan pasir merah To Sio! untuk bangkit dari genangan darah . Gui Pak-ciang dan Tok Nio-cu sekalian yang berusaha menolongpun jadi terlambat se-langkah. Berkilat sinar bengis dari balik mata pu-kulan pasir merah To Siok. "Plaaakkk!" Suara retakan yang sangat keras bergema diangkasa. Pada saat itulah dari atas atap rumah me-layang turun sesosok bayangan manusia. suatu gerakan sakti dari tujuh gerakan naga harimau...

"" Belum habis ia berseru... "Pak ciang!" terdengar Tok Nio-cu berkata dengan gelisah. "Bocah keparat. kalau dihitung-hitung kau. Ujung baju terhembus angin bergema me-mecahkan keheningan. kau bukan tandingan dari Lan siauhiap.. Sambil melepaskan cekalannya pada per-gelangan tangan Gui Pak-ciang. aku akan beradu jiwa denganmu!" Bagaikan seekor harimau gila.364 ampun kepalanya hancur seketika dan jiwanya turut melayang meninggalkan raganya. dengan suatu gera-kan yang ringan Lan See giok melayang turun ke atas tanah. saat tersebut tanpa terasa ia berseru tertahan dan mengalihkan pandangannya yang kaget ke wajah Lan See giok dua kaki dihadapannya.. Gui Pak ciang yang melihat hat tersebut segera membentak keras. Seketika gerak maju Gui Pak ciang terhen-ti.. dimana panas dingin tak akan mempengaruhi tubuhnya menyerang dengan menurut kemauban pikirannya?"j Menggigil kergas sekujur badabn Gui Pak -ciang setelah mendengar ucapan itu. "tenangkan dahulu pikiran-mu. toh masih termasuk seorang jago kawakan dalam dunia persilatan. jangan. dengan pandangan tak habis mengerti ia menengok kearah gundik kesayangannya itu. sementara sorot matanya penuh dengan tanda tanya: Lan See giok sendiripun turut tertegun melihat tindak tanduk dari Tok Niocu itu.. "Pak-ciang. dia men-dorong beberapa orang yang berdiri di seki-tarnya dan sambil mengayunkan toya me-nyerbu ke hadapan Lan See giok. Di hari-hari biasa Gui Pak ciang memang paling menyayangi Tok Nio-cu serta menuruti semua perkataannya. tanpa terasa dia mengalihkan pandangan matanya ke atas . Gui Pak ciang serta Tok Nio-cu hanya bisa berdiri melongo menghadapi perubahan yang berlangsung secara tiba-tiba itu. Sementara berbicara. dia masih tetap menggenggam pergelangan tangan kanan Gui Pak ciang erat-erat. kembali Tok nio-cu berkata. Tok Nio-cu sangat terkejut melihat ke kala-pan orang. masa kau tidak da-pat melihat bahwa ilmu si1at Lan siauhiap telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa. tubuhnya telah menubruk ke muka dan mencengkeram per-gelangan tangan Gui Pak ciang. cegahnya tanpa terasa: "Pak ciang.

Dalam pada itu. kemudian katanya lebih jauh: "Lan siauhiap ada urusan yang khusus hendak ditanyakan kepadamu." tampik Lan See giok cepat." katanya kemudian. mesti tidak diketahui olehnya apakah Tok Nio-cu mempunyai rencana lain dibalik kesemuanya ini.. sementara toya besinya pelanpelan di turunkan kembali ke bawah: Tok Nio-cu mengerling sekejap ke arah Lan See giok.. ada diantara mereka yang justru berdiri di depan jenazah pukulan pasir merah dan si nenek berbaju abu-abu guna menghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan. "cuma dengan berbuat begitu ke-hadiranku tentu akan mengganggu kalian berdua. dengan diiringi kata-kata me-rendah. mengapa kau tidak mempersilahkan Lan siauhiap masuk ke dalam ruangan ." Begitulah. ke tujuh-delapan orang dayang sudah menyembunyikan diri ke balik ruangan dengan ketakutan. Setelah perjamuan diselenggarakan.365 pakaian tipis yang dikenakan pemuda itu. bukankah berabe jadinya? Aku rasa lebih baik kita bicarakan secara seksa-ma dan mendalam saja!" Lan See giok menganggap perkataan tersebut memang ada benarnya juga. bila sampai hal tersebut menyebabkan hal yang tidak di-inginkan. sekarang kuharap bkau suka menjeljaskan kepadaku gsiapakah pembunbuh sebenarnya yang telah menghabisi nyawa mendiang ayahku? Dengan bantuanmu. sedangkan kedua puluhan lelaki kekar itu sama-sama berkum-pul di sekitar arena.." . namun demi sakit hati ayahnya dia tak ingin memperdulikan hal-hal semacam itu. de-ngan tak sabar Lan See giok segera berkata: "Lo cay-cu. Gui Pak-ciang dan Tok Nio-cu mengi-ringi Lan See-giok masuk ke dalam ruangan." Dengan cepat Gui Pak ciang berhasil me-ngendalikan perasaan cepat dia mengangguk berulang kali kemudian sambil menjura ka-tanya: "Lan siauhiap. "Perkataan hujin memang benar. sebelum pemuda itu menyelesai-kan kata katanya. akan menyebabkan ba-nyak masalah yang tertinggal. silahkan masuk dan me-ngambil tempat duduk!" "Maksud baik caycu dan hujin biar kute-rima di dalam hati saja . Tok nio-cu kembali me-nyela: "Mana mungkin masalah besar yang penting artinya bisa di selesaikan dengan dua tiga patah kata saja? Apalagi pembicaraan secara tergesagesa. aku harap bisa selekasnya membalaskan dendam bagi kematian ayahku sehingga arwah nya di alam baka pun bisa secepatnya memperoleh ketenangan.

perasaan tak puas yang su-dah lama tersimpan dalam benak Lan See-giok pun segera hilang lenyap tak berbe-kas. air mata segera mengembang dalam kelopak matanya. mendiang ibuku hanya melahirkan aku seorang" Perasaan tak tenang segera menyelimuti perasaan Gui Pak ciang." Secara diam-diam Lan See giok mengamati wajah Gui Pak ciang dengan seksama kemu-dian dikombinasikan pula dengan dugaan sendiri. maka katanya kemudian sambil manggut-manggut: "Yaa. itulah sebabnya aku sampai melakukarn perbuatan bodzoh yang sangat wmenggelikan. aku memang tak pernah mencurigai lo caycu sebagai pembunuh ayahku. Menghadapi pertanyaan tersebut. kurharap siauhiap sudi melupakan kesalahanku dima-sa lampau. sekalipun begitu aku berani bersum-pah kepada langit bahwa kematian ayahmu bukan disebabkan oleh perbuatanku. tanyanya kemudian dengan nada tak habis mengerti: "Jadi si bocah yang menggeletak mati di lantai adalah adik kandungmu?" "Tidak. "Waktu itu aku benar-benar tidak tahu kalau Lan siauhiap belum mati." Melihat rasa menyesal yang meliputi wajah Gui Pak-ciang. si toya besi berkaki tunggal Gui Pak ciang hanya termangu-mangu untuk beberapa saat lama nya.366 Ketika mengucapkan kata-kata tersebut ia seperti tak bisa menahan rasa pedih dalam hatinya lagi. itulah sebabnya aku sengaja datang kemari untuk mohon petunjuk dari Lo caycu. bu-kan cuma arwah ayah dialam baka akan ber-gembira akupun tak akan pernah melupakan budi kebaikan lo caycu " . meski kau hanya sebagai manusia kedua!" Berubah hebat paras muka Gui Pak ciang setelah mendengar ucapan tersebut tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan mengawasi wajah Lan See giok dengan perasaan terkejut. "Dendam sakit hati terbunuhnya ayahku jauh lebih berat ketimbang sedikit siksaan dan penderitaan dibadan" katanya kemudian "bila lo-caycu bersedia menerangkan kepadaku siapa pembunuh sebetulnya. dalam geli-sah dan gusarku. aku sangat berharap bisa muncul suatu keajaiban didepanku. kemudian setelah menghela napas sedih ia berkata: "Walaupun aku merupakan salah satu di antara lima orang yang menguntit ayahmu namun sesungguhnya aku sendiripun tak tahu sebetulnya ayahmu tewas di tangan siapa. katanya kemudian dengan wajah menyesal. sebab pada malam itu lo-caycu juga pernah menggeledah seluruh tubuhku dengan toya besimu.

. Itu pula sebagai alasanku me-ngapa datang kemari hari ini.. entah bagaimana penda-pat Siauhiap?" "Lan See giok cukup mengetahui watak umat persilatan yang sangat memegang janji. asal aku tahu pasti akan ku-jawab seluruhnya. bagi mereka kepala boleh dipenggal. begitu ku jumpai men-diang ayahku tewas. tanpa terasa dia melirik sekejap ke arahnya dengan pandangan berterima kasih.. Karenanya pemuda itu lantas mengangguk sambil ujarnya: Baiklah kalau begitu aku ingin lo-caycu menjelaskan apa sebabnya kalian. sesungguhnya ia ber-hati baik dan pandai memahami perasaan orang. tapi bila Lan siauhiap ingin meng-ajukan suatu pertanyaan. "Pak-ciang. dia menjadi ragu dan tampaknya seperti ada se-suatu masalah yang tak bisa dijelaskan olehnya. apakah sebelum kejadian kalian telah berhasil mendapat tahu alamat ayahku?! . kebetulan sekali aku baru pu-lang dari berpergian.. terus terang saja kukatakan bahwa banyak persoalan yang tak mungkin bisa ku jelaskan secara leluasa. ia seperti teringat akan sesuatu. Gui Pak-ciang termenung beberapa saat lamanya. Tok Nio-cu yang melihat kesulitan suaminya segera menimbrung dengan cepat. daripada orang lain menaruh curiga terus kepadamu. bila dendam ini bisa kubalas budi kebaikanmu tak akan pernah kulupakan .367 Gui Pak ciang berkerut kening."! Lan See-giok segera mendapatkan kesan bahwa Tok Nio-cu meski berwajah genit dan berjulukan tak sedap. kuharap lo-caycu bersedia memberi penjelasan. sudahsepantas-nya bila kau memberi tahukan hal yang se-benarnya kepada Lan Siauhiap. silahkan saja di sampaikan. berlima yang masing-masing menjagoi wilayah yang berbeda. kemudian katanya pelan: "Untuk tetap memegang janji. kemudian tanyanya dengan perasaan tak mengerti. itulah sebab nya tidak kuketahui siapakah pembunuh sebenarnya. darah boleh mengalir. "Bukankah waktu itu siauhiap hadir di arena? Masa kau tidak tahu siapa pembunuh sebenarnya?" "Waktu itu. kalau toh kau berada di luar garis dalam persoalan itu. ternyata pada malam yang sama telah muncul semua di tepi telaga Phoa-yang--oh. saking sedihnya aku lantas jatuh pingsan." Di atas wajah Gui Pak-ciang segera menunjukkan perasaan serba salah. namun janji tetap janji dan sekali berjanji tak pernah akan diingkari kembali.

Tok Nio-cu dengan wajah merah jengah telah berta-nya lagi..masing sepuluh tahun kami tak pernah beristirahat namun kamipun tak pernah berhasil me-ne-mukan sesuatu jejakpun.. mengapa aku tak pernah mengetahuinya selama ini? Gui Pak ciang segera tertawa terbahak ba-hak. pada hakekatnya sama ter-masyhurnya dengan kecantikan wajahnya. biajr si makhluk begr-tanduk tunggabl yang kesohor karena kecer-dasannyapun belum tentu bisa menguntit di belakang Huyong siancu serta menyelidiki tempat tinggalnya. "HAAAAAAHHHHH. menurut pandangannya bibi wan paling banter baru berusia dua puluh enam tujuh tahunan dan tak bakal melewati tiga puluh tahun. "Menjelang tahun ke sembilan. bukankah bibi wan nya sudah mendekati usia empat puluh tahun? Sementara dia masih termenung. haaahhh. ia berkata lebih jauh." Tiba-tiba ia menatap wajah Tok Nio-cu dan Lan See-giok sekalian. bukankah saat ini semua rambut Hu-yong siancu telah berubah menjadi putih?" . lalu serunya dengan nada serius: "Kelihaian ilmu silat Hu-yong siancu dan kecekatannya dalam menghadapi setiap per-soalan. tapi kalau mendengar dari perkataan Gui Pak ciang.. "Kalau menurut keteranganmu. jangan lagi orang yang melihatnya cuma se-orang mata-bmata biasa. haaahhh. untuk itu kami telah mencari jejak ayahmu dan Hu-yong siancu di mana-mana. Tok Nio-cu menjadi sangat cemburu sete-lah mendengar suaminya memuji muji ke-cantikan wajah Hu-yong siancu.. aku sengaja hendak mengu-capkan kata-kata yang tidak menyenangkan hatimu.. ada orang yang secara diam-diam telah melihat Hu--yong siancu muncul ditengah sebuah hutan lebih kurang dua puluh li di sebelah barat telaga phoa-yang-oh. waktu itu kau masih seorang budak ingusan yang tak tahu urusan!" Diam-diam Lan See giok terkejut. lalu setelah memandang ke tempat kejauhan sana." Kembali dia meneguk habis secawan arak untuk melampiaskan gejolak emosi di dalam hatinya. sesungguhnya disaat kecantikan Hu-yong siancu termasyhur dalam dunia persi-latan.. kemudian ia baru menjawab lirih: "Kami berlima dari tiga telaga telah berte-kad untuk mencari barang yang hilang terse-but sampai ketemu. selain itu kamipun berjanji setiap tahun bertemu dua kali untuk mela-porkan hasil penyelidikan masing. Cui-peng bukan. segera dia bertanya: "Kalau toh Hu-yong siancu amat cantik hingga termasyhur dikolong langit.368 Gui Pak ciang meneguk habis secawan arak.

Gui Pak ciang menghela napas panjang. dia pun segera berkata lagi: "Apakah orang yang pertama kali men-jum-pai jejak Hu-yong siancu tersebut ber-hasil menguntit sampai di tempat kediaman Han lihiap?" Sampai sekarang Gui Pak ciang masih be-lum mengetahui apakah hubungan dari Lan See giok dengan Hu-yong siancu.369 "Bagi mereka yang memiliki tenaga dalam sempurna.. Lan See giok sendiripun ingin sekali mengetahui sampai dimanakah hubungan dari ayahnya dengan Hu-yong siancu dimasa lampau. Minggu pertama gagal. Tok Nio-cu yangb melihat si-narj mata Lan See ggiok yang begitub tajam seperti sembilu. ia jadi terbungkam dalam seribu bahasa karena terkejut. kemudian berkata: . karena kuatir duduknya persoalan akan kabur dari maksud tujuan kedatangannya juga gagal total. Namun sekarang.. "Setelah kejadian. Melihat semua orang terbungkam untuk sesaat.. empat puluh tahunan . diapun segera menjawab dengan wajah bersungguh sungguh. minggu berikut-nya kembali gagal-. tapi mungkin juga sudah tiga puluh sem-bi-lan. Dengan cepat Gui Pak ciang menyadari akan kekhilafan sendiri sambil tertawa ter-gelak dan wajah memerah katanya kemu-dian. kebanyakan mereka masih dapat mempertahankan kecantikan wajahnya tetap awet muda... Berbicara yang sebenarnya. "Apa kau anggap gampang untuk mengejar perempuan itu? Tampaknya Hu-yong siancu sendiripun sudah merasa kalau jejaknya se-dang di ikuti orang.." Lan See giok merasakan hatinya bergetar keras. tiba-tiba saja matanya memancarkan sinar berkilat.. . maka hasil perundingan memutuskan akan mengadakan pencarian secara besar besaran di wilayah hutan dan bukit kecil di seputar barat telaga Phoa yang Oh. berbicara ketika Hu-yong siancu termasyhur dan sedang hangat hangatnya ber-main asmara dengan Lan Khong tay. haaahhh. .. haaahhh . dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dia lantas menerobos masuk ke dalam hutan dan le-nyap dalam waktu singkat." Sementara itu. "Pokoknya usia. kami semua memperoleh laporan tersebut. Hu-yong siancu saat ini paling tidak sudah mencapai tiga puluh tujuh delapan tahun. dia tak ingin mem-bong-kar masalah tersebut lebih jauh.. mendengar pertanyaan itu.. "Lalu dengan cara apa Lo caycu sekalian berhasil menemukan kuburan tempat tinggal ayahku?" tanya pemuda itu tak habis mengerti.

aku segera menerjang masuk!" . kalau di tanah peku-buran yang sudah terbengkalai itu terdapat rumah tinggal manusia hidup. "Menanti aku menyusul ke kuburan Leng ong bong orang itupun tak kutemukan lagi. . ini membuat hatiku bertambah curiga. Sebaliknya Tok Nio-cu seperti tidak tertarik sama sekali atas persoalan tersebut namun ia toh berlagak seakan-akan ikut mendengar-kan dengan seksama meski matanya yang jeli tiada hentinya mengawasi wajah Lan See-giok dengan lembut. Terdengar Gui Pak-ciang bercerita lebih jauh: "Aku tidak percaya. "Waktu itu tergerak hatiku dan segera me-lakukan pengejaran. ia berkata lebih jauh. waktu itu kentongan per-tama baru menjelang. maka tanpa memperdulikan ancaman bahaya 1agi. sampailah dimuka kuburan Leng ong-bong. tanpa sengaja telah melihat ada sesosok bayangan manusia yang bergerak cepat ke depan. udara gelap dan awan sangat tebal. tapi aku segera menemukan pintu belakang sebuah kuburan besar terbuka lebar. ketika aku mengejar lebih ke utara. namun aku toh mengejarnya juga. hal ini merupakan suatu kejadian yang sangat kebetulan sekali. wajahnya selain nam-pak murung juga mendongkol. karena itu kulanjutkan pengejaran ke utara." Ia berhenti sejenak. mungkin ia kesal karena tak berhasil mendapatkan kotak kecil itu atau mungkin juga merasa menyesal karena datang terlambat. Ini se-mua membuat aku sadar bahwa sesuatu ke-jadian pasti berlangsung di sana. sewaktu aku melewati daerah yang berhutan lebat itu. bayangan itu sering kali berhenti sebentar sambil celingukran ke-sana kemazri." Melihat Gui Pak -ciang telah berbicara sampai ke masalah yang amat diperhatikan olehnya. akhirnya baru kuketahui kalau orang itu bukan orang yang pertama kali tadi. Setelah menarik napas panjang. puluhan li kemudian kusaksikan di arah barat laut muncul kembali sesosok bayangan manusia yang bergerak cepat. menanti aku menyusul ke situ. bayangan tadi tahu-tahu sudah hilang lenyap. akupun berhenti sambil mengamati orang tadi lebih seksama.. ia pun memasang telinga sambil mendengarkan dengan seksama. bila dilihat dari arah tujuannya. hanya saja berhubung jaraknya amat jauh hingga tidak kuketahui siapakah dia. alhasil kulihat orang itu memasuki sebuah hutan yang lebat. orang itu seperti lagi bergerak menuju ke kuburan-Leng ong bong. keadaannya wamat mencuriga-rkan.370 "Kalau dibicarakan yang sebenarnya. kuatir kalau pintu itu akan tutup dengan segera.

dia harus melalui kuburan kosong di mana mendiang ayahku berdiam...tiba dia menimbrung: "Lo caycu.371 Berbicara sampai di situ." . hingga kinipun aku masih curiga. tiba . sepasang matanya segera berkaca. ketika kalian saling berkejaran ke luar dari kuburan ma-lam itu. dia sudah tak dapat menahan rasa sedih di dalam hati-nya lagi. apakah kau tidak bertanya kepadanya dengan kesempatan yang bagaimanakah dia turun tangan terhadap mendiang ayahku. Ketika berbicara sampai disini. setelah kususul sampai di luar kuburan barulah kuketahui bahwa orang itu adalah Kiong Tek ciong. usah bercerita lebih jauh" Lan See giok yang melihat si toya besi ber-kaki tunggal Gui Pak ciang meski sudah ber-bicara sekian lama. jadi aku pun tak. dapat kulihat bahwa pintu ke luar di bawah batu nisan kuburan tersebut masih baru sekali . siapa gerangan yang telah membuka pintu ke luar itu?" Lan See giok terkejut sekali. dia seperti teringat akan sesuatu. "Ya. hatinya menjadi gelisah. Ya. tanpa terasa tanyanya dengan cemas: "Lo caycu. ketika jejaknya berhasil kau temukan. ditambah pula ada pantulan sinar lentera di atas meja. Keadaan selanjutnya telah. katanya penuh rasa menyesal. bukankah si beruang berlengan tunggal Kiong Tek ciong telah bersembunyi dalam lorong jauh sebelum peristiwa itu ter-jadi." Lan See-giok merasakan tubuhnya bergetar keras. rasanya tidak melalui tempat di mana aku roboh?" Gui Pak ciang pun merasa terkejut. dia menengok kearah Lan See giok dengan permintaan maaf. ada orabng yang telah mjembuka pintu magsuk baru sebelubm peristiwa itu terjadi?" `Benar" Gui Pak-ciang mengangguk beru-lang kali..kaca. kuketa-hui kuburan tersebut hanya terdapat sebuah pintu masuk. barang siapa hendak memasu-ki kuburan itu. Gui Pak ciang segera berkata: "Pada mulanya aku tidak mengetahui kalau dia adalah si beruang berlengan tunggal. cepat-cepat ia bertanya kemudian: "Jadi maksud Lo-caycu. namun belum juga men-jelaskan siapa pembunuh ayahnya. . . siauhiap alami sendiri.. karena suasana dalam lorong sangat gelap. dan katakata selanjutnya tak mampu dilanjutkan lagi. sebenarnya kalian masuk ke dalam kuburan lewat mana? Sudah banyak tahun aku berdiam di kuburan itu. sekarang aku baru ingat.. "setelah aku mengejar si beruang berlengan tunggal malam itu.

"Yaa. Tok Nio-cu telah mendengus sembari menukas. "Mengapa sih makin tua kau seperti se-makin pikun? Beruang berlengan tunggal bisa menyusup masuk secara diam-diam dan bersembunyi di . "Seharusnya hal ini sudah tak perlu dira-gukan lagi.372 Sekarang Lan See-giok baru merasa terke-jut sekali. "Bila Kiong Tek-ciong tahu kalau dia bisa kabur melalui tempat tersebut.katanya." Berpikir sampai disini. "Menurut keterangan tersebut. sehingga segala sesuatunya dia lak-sanakan dengan rencana yang sangat rapi dan matang. menurut pandangan pada umum nya Kiong Tek-ciong bisa mempersiapkan pintu baru untuk memasuki lorong kuburan ini berarti dia sudah mempunyai rencana sebelumnya. ia lantas berpaling ke arah Gui Pak ciang dan bertanya dengan nada menyelidik. sebab ketika si Setan iblis ber-mata tunggal Toan ki tin memasuki kuburan terse-but dan kemudian ke luar lagi dari situ sam-bil membawa si makhluk bertanduk tunggal si Yu-ih dia tidak melalui pintu baru terse-but. pembunuh ayahku yang sesungguhnya tentulah si beru-ang berlengan tunggal?" Sebelum Gui Pak-ciang sempat menjawab. mestinya dia bukan tandingnya Lan tay-hiap. tapi kalau dinilai dari kemampuan ilmu silat yang dimilikinya. akupun berpendapat demikian" Gui Pak ciang mengangguk tanda menyetujui pendapat tersebut..b aku rasa bayanjgan yang di lihgat Pak-ciang mablam itu pun bisa jadi adalah Kiong Tek ciong. " Sementara itu Tok Nio-cu ikut menimbrung pula." Gui Pak ciang mengangguk berulang kali sambil berguman. ini menunjukkan bahwa Toan ki-tin pun tidak mengetahui letak pintu baru tersebut .. Lan See-giok sangat setuju dengan penda-pat ini. dia merasa semakin yakin kalau si beruang berlengan tunggal lah si pembunuh ayahnya tapi ia pun teringat kembali akan tingkah laku si setan bermata tunggal yang sama sekali tidak menggeledah jenazah ayahnya. Sebelum Gui Pak-ciang menyelesaikan kata. malahan membongkar pembaringan dan almari yang ada. kejadian ini kembali membuatnya bingung dan merasa tidak habis mengerti.. dengan nada meyakinkan Tok Nio-cu menim-brung. Berpikir demikian... . dia yakin orang yang membunuh ayahnya pasti sudah lama mengetahui jejak ayahnya. kalau dilihat dari segala bukti yang ada. semestinya pembunuhan itu merupakan hasil karya Kiong tua. berarti mulut masuk itu dibuka olehnya!" "Aaah.

berarti dia dapat pula menyerang Lan tayhiap secara tiba-tiba. tapi diapun tak ingin menyingkirkan rasa curiganya terhadap tingkah laku Setan bermata tunggal yang menggeledah pemba-ringan serta barang-barang miliknya." Gui Pak ciang menggelengkan kepalanya berulang kali. . . bagaimana menurut pendapat-mu tentang perkataanku barusan?" Lan See giok segera memusatkan kembali pikirannya seraya menjawab.. masa hal seperti ini tak mungkin ia lakukan?" Gui Pang ciang segera terbungkam oleh perkataan itu. gurunya pasti marah dan bila sampai tersiar luas dalam dunia persilatan. sebab hanya akan mengalutkan keadaan saja hingga merugikan diri sendiri. akibatnya aku tidak menegur. Dari penuturan Gui Pak ciang tentang di buatnya pintu baru oleh beruang berlengan tunggal untuk melarikanr diri. tapi diapun percaya orang yang membunuh ayahnya pasti orang lain. "Hal ini ter-gantung bagaimana penjelasan si beruang berlengan tunggal setelah berhasil disusul oleh Lo caycu. dia pun tidak bertanya. kecurigazannya terhadap wKiong Tek ciongr memang bertambah besar. Betul lima manusia cacad dari tiga telaga terlibat semua dalam usaha melacaki jejak ayahnya. bukan cuma dirinya akan dikucilkan orang. Sebagai seorang pemuda yang saleh. jadi berbicara yang se-sungguhnya aku sama sekali tidak tahu de-ngan cara bagaimana si beruang berlengan tunggal bisa mendapat tahu alamat ayahmu dan bagaimana mungkin ia bisa membuka lorong rahasia tersebut. . segeramenegur sam-bil tertawa genit: "Siauhiap. dia tak ingin mengandalkan kepandaian silatnya untuk sembarangan membunuh hingga aki-bat nya mereka yang tak bersalahpun ikut me-ngorbankan selembar jiwanya.373 tempat kegelapan.. Bila hal ini sampai dilakukan. bukan saja bibi Wan nya tak akan senang hati. arwah ayahnya yang berada dialam baka pun akan turut menang-gung malu.. Apalagi berbincang soal jalan . Oleh sebab itu pemuda tersebut bertekad hendak menyelidiki dulu persoalan tersebut sampai jelas sebelum melakukan tindakan pembalasan. Sebenarnya Lan See giok ingin mencerita-kan semua pengalamannya. Tok Nio-cu yang menjumpai pemuda itu hanya termenung saja. dari pembica-raannya dengan Gui Pak ciang. tapi kemudian ia merasa hal ini tak perlu. "Kami berdua segera bertarung begitu ber-jumpa. Lagi pula tujuan kedatangannya ke Pek hoo cay juga tak lain hanya ingin menyerap lebih banyak hal-hal yang mencurigakan dari beruang berlengan tunggal.

" Tok Nio-cu segera bangkit berdiri sambil berseru cepat: "Siauhiap. saat ini tengah malam sudah lewat. Lan See giok menganggap pertanyaannya sudah cukup. . cuma dalam perjalanan siauhiap untuk menelusuri jejak musuh besarmu kali ini . maka katanya kemu-dian: "Bila siauhiap masih ada urusan penting. maka sebelum perempuan itu menyelesaikan kata-katanya. tentu saja kami tak berani menahannya lebih jauh. tapi kalau dilihat dari keberhasilannya mendapat tahu bahwa si beruang berlengan tunggal menge-tahui pintu rahasia tersebut. besok baru melanjutkan per-jalanan lagi. Walaupun hasil pembicaraan kali ini tidak berhasil baginya untuk mendapat tahu siapa gerangan pembunuh sebenarnya. masalah-masalah demikian sama sekali tidak penting bagiku" Lan See-giok merasa perkataan dari Gui Pak ciang ada benarnya juga. aku pikir pasti membutuhkan seekor kuda jempolan. Lan See-giok sangat terharu. Namun Lan See giok menampik dengan tegar. sehingga masalah-masalah demikian memang sama sekali tidak penting baginya. bila siauhiap tidak menampik aku bersedia menghadiahkan kuda Pek liang kou milikku untuk siauhiap . maksud baik Lo caycu dan nyonya biar kuterima dalam hati saja. aku bermaksud un-tuk mohon diri lebih dulu. namun die pun enggan menerima hadiah orang dengan begitu saja. Tok Nio-cu tahu kalau percuma saja ia mencoba menahannya. mengapa kau harus meninggalkan tempat ini? Apa salahnya kalau beristirahat dulu semalam. "Sekarang aku masih mempunyai urusan penting lainnya sehingga tak berani ber-diam kelewat lama. boleh di bilang perjalanannya ke Pek ho cay kali ini tidak sia-sia belaka. . dia telah men-jura sambil tukasnya: . sebab waktu itu apa yang terpikir olehnya hanya bagai-mana cara merebut kotak kecil itu.374 pemikiranku waktu itu." Seusai berkata dia lantas meninggalkan meja perjamuan. Melihat maksud hati sang pemuda yang teguh. maka ia segera bangkit berdiri dan ujarnya seraya menjura: "Aku berterima kasih sekali atas sambutan dan jamuan yang diselenggarakan Lo-caycu bagi kehadiranku ini. mumpung waktu belum terlampau larut malam. Gui Pak ciang serta ke enam orang lainnya serentak bangkit berdiri dan berusaha pula menahan pemuda itu.

� "Bersama si toya baja berkaki tunggal Gui Pak-ciang sekalian. padahal cepat-nya bukan alang kepalang.? Gui Pak ciang tertawa terbahak-bahak ber-sama Tok Nio-cu katanya.. katanya kemudian sambil tersenyum: "Lan siauhiap. tanpa banyak berbicara dia segera me-lejit ke atas atap rumah dan melayang ke bangunan seberang.. dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah berada dimuka hutan. meski kagum dan memuji dihati. mereka sama sekali tidak tercengang." Dengan mengerahkan ilmu Hud kong sin kang untuk menunjang gerakan tubuh menunggang angin terbang melayang. begitu sampai di luar ruangan. tapi sebagai tuan rumah paling tidak kami harus menghantar mu sampai di atas benteng .. maksud baik nyonya biar ku terima di hati saja. Ketika menyaksikan kemunculan pemim-pin benteng beserta istri di situ. dia telah mempergunakan tehnik "melayang" untuk meluncur ke bawah bukit. . sementara sorot mata pe-nuh rasa terkejut dialihkan ke wajah sang pemuda. serentak para penjaga membungkukkan badan nya memberi hormat.. Berhubung Gui Pak-ciang dan Tok Nio-cu sudah mengetahui kalau Lan See giok memiliki kepandaian silat yang tinggi. pemu-da itu meluncur ke bawah secepat sambaran kilat dan langsung meluncur ke arah hutan pohon siong yang lebat itu. mereka menghantar pe-muda itu sampai di luar ruangan� Dalamb keadaan beginij. . Dalam waktu singkat mereka telah tiba di depan pintu gerbang benteng. aku akan mohon diri lebih dulu. Lan See-giok ghanya ingin secbepatnya meneruskan per-jalanan. Tampaknya Lan See giok memang ada maksud untuk mendemonstrasikan kehe-batannya. serentak kedua orang itu menyusul dari belakang. meski kelihatannya lamban. "Jalan pemikiran siauhiap memang amat sempurna. Selesai berkata kembali dia melangkah ke luar dari ruangan. Lan See-giok menghentikan lang-kahnya sambil berkata lagi. aku pikir ingin memohon diri disini saja. kau terlampau merendah saja.375 "Aku tak pandai menunggang kuda dan lagi sama sekali tak berpengalaman me-rawat kuda. tidak usah merepotkan orang lain untuk membuka pintu benteng lagi.. . Lan See-giok tak ingin menampik lebih jauh. kini tengah malam sudah lewat.. "Harap kalian menjaga diri baik-baik. Tok Nio-cu tentu saja tak ingin memaksa kan kehendaknya. dia lantas menjura kepada Gui Pak-ciang dan Tok Nio-cu sambil katanya: "Harap Kalian berdua menghantar sampai di sini saja..

diapunz lantas ber-penwdapat bahwa ketrerangan yang diberikan Gui Pak-ciang kepadanya. Dalam perjalanan. bagaimana mungkin perbuatan orang tersebut sampai tak di ketahui olehnya. memang sebelum peristiwa mereka tak pernah meng-adakan kontak satu sama lainnya.. maka sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna dia melaju menuju ke bukit Tay ang san. harap kau menjaga diri baik-baik. berkumpulnya lima manusia cacad di pekuburan raja hanya merupakan suatu ke-jadian yang kebetulan saja. "Lan siauhiap. dengan ilmu meringankan tubuh yang begini hebatnya.. bila ada jodoh kita akan berjumpa kembali lain kesem-patan.376 Gui Pak-ciang maupun Tok Nio-cu dan para penjaga lainnya untuk sesaat dibikin tertegun saking kagetnya. sudah jelas pekerjaan tersebut tak akan selesai di kerjakan selama satu hari. menunggang kuda justru malah akan merepotkan" Dia lantas membalikkan badan dan kem-bali dulu ke dalam ruangan. belum pernah mereka bdengar tentang jilmu meringankagn tubuh yang bebgini hebatnya.. Tapi benarkah peristiwa itu hanya suatu kebetulan? Jika dipikirkan dengan lebih mendalam dia dapat merasa bahwa di antara kelima orang tersebut tampaknya sudah mempunyai per-janjian secara diam-diam... sebab bukankah dia berkata akan tetap memegang janji? . belum tentu betul semuanya. Lan See giok ingin secepatnya menempuh perjalanan. ba-yangan tubuh Lan See giok telah lenyap di-balik hutan sana.. Berdasarkan keterangan dari Gui Pak ciang.? Darimana si beruang berlengan tunggal mendapat tahu kalau ayahnya bersembunyi dalam kuburan." Dari kejauhan sana segera berkumandang suara Jawaban dari Lan See giok: "Silahkan kalian kembali. maaf bila kami tak bisa meng-antar lebih jauh. Segera Gui Pak ciang dan Tok Nio-cu ber-seru lantang." Menyaksikan kehebatan pemuda itu. Padahal seingatnya ayahnya adalah si orang yang sangat cekatan.. Sementara mereka masih melamun. Teringat persoarlan ini. otaknya berputar tiada hentinya memikirkan soal perbuatan si Beru-ang berlengan tunggal yang membuka pintu masuk baru secara diam-diam. tanpa terasa Gui Pak-ciang menggelengkan kepalanya berulang kali sambil berguman: "Ya..

Aneka bunga yang indah tumbuh di dalam lembah tersebut.. tiga empat batang pohon siong raksasa tumbuh di sana sini.377 Setelah memikirkan masalah tersebut berulang kali. ia tak berani menubruk secara sembarangan. Setelah mendaki sebuah dinding tebing dan melalui sebuah bukit curam..ranting pohon siong yang rindang. rasa kaget bercampur gembira menyelimuti seluruh wajahnya . karenanya dia memutuskan untuk menyeberangi bukit Bu-tong-san dan lang-sung menuju ke kota Siang yang.. dia hanya ingin secepatnya sampai di bukit Tay-ang-san dan meng-ung-kap misteri yang menyelimuti pikirannya se-lama ini. Tanpa terasa hari sudah terang tanah. Kedua ekor burung bangau itu memang kelihatan aneh. rumput bagaikan permadani hijau. akhirnya dia merasa persoalan baru akan menjadi terang bila ia sudah tiba Tay-ang-san dan mengorek keterangan dari mulut si beruang berlengan tunggal Kiong Tekciang. hawa udara terasa hangat bagaikan di musim semi. Semakin jauh dia menempuh perjalanan dirasakan semakin sukar dan berbahaya. menghadapi Lan See giok yang berjalan mendekat sambil tersenyum itu. betul-betul sebuah tempat pengasingan yang amat romantis dan indah. takut kalau burung-burung bangau itu terbang ketakutan. Dibalik kabut pagi yang lamat-lamat men-yelimuti permukaan tanah. bukan begitu saja bahkan kabut makin lama semakin menebal sehingga untuk beberapa saat dia kehilangan arah mata angin. kepalanya malah berulang kali berpaling mengawasi orang asing tersebut. Lan See giok merasa tertarik sekali. tampak seekor bangau kecil sedang memandang ke arahnya dengan sek-sama.. Di bawah ranting . tampak bayangan bukit menjulang jauh di depan sana. tiba-tiba berkilat sepasang matanya.. mereka tidak nampak takut atau berniat untuk kabur. pelan-pelan dia berjalan menghampirinya. Lan see-giok tidak berniat sama sekali un-tuk berpesiar. . binatang tersebut sama sekali tidak menunjukkan rasa takut terhadap kehadiran orang asing. dia melesat ke de-pan memasuki bukit Bu-tong-san melalui kaki bukit sebelah barat. dihadapan nya sekarang terbentang sebuah lembah hi-jau yang luasnya mencapai puluhan hektar. Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna.. di situ-lah terletak bukit Bu-tong-san.. Lan See giok memperhatikan sekitar tem-pat itu beberapa saat.

mungkinkah sepasang bu-rung bangau itu peliharaan orang? Kalau benar berarti si pemelihara tersebut adalah se-orang tokoh persilatan yang sedang hidup mengasingkan diri di sini. Pemuda itu lantas menduga.. Sementara pemuda itu masih termenung.378 Lan See giok mendekati tepi kolam.. Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok menghadapi kejadian ini. anehnya burung bangau tersebut tiada menyantap ikan-ikan tersebut. sayap kanan ba-ngau itu sudah menyerang dengan membawa deruan angin pukulan yang amat dahsyat. itulah sebabnya ketika sang bangau menyerang. bisa jadi bu-rung bangau besar ini adalah sang induk dari sepasang burung bangau kecil itu. tiba-tiba dari tengah udara berkumandang suara pekikan bangau yang sangat keras. Tampak seekor burung bangau besar se-dang meluncur datang dari arah utara dan menukik ke bawah sambil menyambar sang pemuda yang berdiri di tepi kolam itu. mereka justru mematuki pohon siong dengan paruh paruhnya. Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera menjejakkan kakinya ke atas tanah dan melayang mundur sejauh lima kaki le-bih. baru saja Lan See giok menggerakkan tubuhnya. dia menjumpai air kolam amat jernih dengan aneka ikan berenang kian kemari. kini dia me-nyerang dengan paruhnya. serta merta dia melompat mundur sejauh dua kaki lebih untuk meloloskan diri. Dengan perasaan "terkejut "Lan See-giok mendongakkan kepalanya . begitu dahsyatnya kebasan tadi membuat anak muda itu tertegun. disaat Lan See giok sedang melompat ke belakang itulah. sepasang cakarnya secepat kilat mencengkeram jalan darah cian keng hiat dibahu pe-muda itu. . Siapa sangka. karena menganggap sebagai kewa-jiban sang induk untuk melindungi anak anaknya. Peristiwa ini membuat Lan See-giok tidak habis mengerti. Bangau raksasa tersebut memang sangat hebat. Bangau raksasa tersebut sungguh hebat. sekarang dia yakin kalau burung bangau itu merupakan bina-tang peliharaan orang. Bangau raksasa itu memang luar biasa sambil menyingkap sayapnya. sebab sudah jelas mengerti gerakan ilmu silat.. sambil menukik ke bawah dengan paruhnya yang panjang itu menyerang ubun-ubun Lan See giok. mendadak ia rentangkan sayapnya sambil menyerang ke depan. Karenanya anak muda itu mengebaskan kembali ujung bajunya dan melesat mundur ke belakang.. Pemuda itu sama sekali tak berniat melu-kainya.

.. dia mengulapkan ta-ngannya berulangkali memberi tanda agar pemuda itu pergi secepatnya. "Hmmm. juga nampak polos. lincah dan amat menyenangkan.. dia merasa gadis cilik ini memang menarik sekali. sambil tersenyum katanya kemu-dian. ayo cepat pergi dari sini!" Sembari berkata. sambil berpekik keras ia lantas melayang ke tengah udara untuk menghindarkan diri. tanpa terasa semua rasa kesal hilang lenyap dari benaknya. cilik. kulit badan yang halus dan muka berbentuk buah apel. Lan See giok tak ingin melukai burung itu. Bentakan gusar yang amat keras menda-dak berkumandang dari balik pepohonan siong. Lan See giok segera tertawa. sehingga tidak kuketahui ba-gaimana caranya ke luar dari sini! Nona cilik itu seperti tak percaya. akupun tak ingin menyalahkan kau. juga tak ingin memukulmu.. waktu itu dia sedang meluncur datang dengan kecepatan tinggi. Kedua ekor burung bangau kecil itupun segera turut terbang pula ke atas tebing. Agaknya burung bangau itu cukup me-ngetahui akan kelihaian serangan mana. selain cantik. Segulung angin pukulan yang lembut tapi sangat kuat dengan cepat menyambar bu-rung bangau tersebut. bohong! Kau sudah dewasa. aku betul-betul tersesat!" katanya sambil berlagak kebingungan. dii-ringi bentakan keras dia mengeluarkan tehnik lembek dari ilmu kebasan baju me-nyapu angkasa. hmm! Baiklah. . ia mendengus. dia mengenakan baju hijau dan menyoren pedang pendek di punggung.?" Lan See giok amat gusar pada mulanya setelah mendengar tuduhan itu namun sete-lah mengetahui orangnya. tak tahan dia ter-tawa geli: Ternyata pendatang adalah seorang gadis cilik berumur sebelas dua belas tahunan. sementara dia masih mengamati nona cilik itu. aku hanya tersesat dan kehi-langan arah. Gadis itu mengenakan baju hijau. hilang lenyap se-mua amarah dalam dadanya. Pada saat itulah . Gadis cilik itu segera menuding ke empat penjuru seraya berseru keras.. "Tak tahu malu. si nona telah berada dihadapannya sam-bil berteriak marah: "Baru saja ia pergi dari sini. masa tidak tahu jalan?" Dengan cepat Lan See giok menggelengkan kepalanya berulang kali. ingin mencuri bangau kecil milikku rupanya. untuk menghantam burung itu . kau sudah datang mencuri bangau ku. mempu-nyai sepasang mata yang besar. "Adik.379 Sebagai pemuda yang berjiwa luhur. "Sungguh. .

paman guru punya jenggot aku sih tak senang bermain dengan-nya!" "Kalau begitu dengan suhumu?" desak See giok lagi. aku mah tak sudi memberitahu-kan kepadamu!" Timbul kegembiraan Lan See giok setelah melihat kelincahan dan kepolosan gadis cilik itu.. serunya tiba-tiba: "Kau memang goblok. tanyanya kemudian sambil tersenyum: "Kalau begitu kau senang bermain dengan siapa?. sudah begini besar masa tak bisa menebaknya dengan tepat!" "Oooh. sana selatan dan sini barat --" Lan See giok mencoba untuk mengamati sekeliling situ. orang itu adalah Tek lim siau suheng. . Siapa tahu nona cilik berbaju hijau itu justru menganggap Lan See giok sebagai ma-nusia yang paling bodoh.! "Hmm. dengan suara keras ia berteriak tibatiba: "Kau memang goblok sekali. segera terasa olehnya arah utara dan selatan sukar dilewati. hanya te-bing di sebelah timur yang nampaknya paling mudah dilalui. keningnya dikerutkan kemudian dan ber-la-gak seakan akan tak mampu menebaknya. ditambah pula dia memang berniat me-nyelidiki asal usul nona itu. "Huuh. "Hmmm. tapi ia jus-tru tak mau menanyakan hal itu. Nona cilik itu menjadi mendongkol sekali melihat Lan See-giok tak bisa menebaknya secara jitu.. sana utara. tahu aku sekarang. Kali ini nona cilik itu hanya mengerutkan hidungnya sebagai pertanda tidak benar Lan See giok tahu kalau gadis cilik itu senang bermain dengan burung bangau. aku tak senang bermain dengan-mu! Lan See giok merasa gadis ini menarik sekali. siapa sih yang sudi bertemu lagi dengan mu?" nona cilik itu mencibir dengan sinis.. kepada nona cilik berbaju hijau itu kata nya kemudian sambil tersenyum: "Adik cilik. semoga kita berjodoh dan bisa berjumpa kembali. maka sambil berpura pura menebak katanya kemudian setelah termenung sebentar. selamat tinggal kalau begitu. mengerti? . "kau orang dewasa sedang aku cuma anak kecil.380 "Di situ adalah timur. tentunya si bu-rung bangau raksasa itu bukan ?" pemuda itu segera berlagak seakan akan baru mengerti. "Apakah paman gurumu?" None cilik berbaju hijau itu segera mendengus.

setelah kemari aku baru akan memberitahukan kepadamu. cepat dia bergerak mengejar sambil berteriak keras.. di bawah tebing di bela-kang deretan pepohonan ia saksikan sebuah mulut gua secara lamat-lamat. selamat tinggal kalau begitu. cepat dia menghenti-kan langkahnya. harap kau jangan marah-marah!" Dengan cepat dia melompat ke muka dan bergerak menuju ke bawah tebing sebelah timur. kemudian bertanya dengan nada tak habis mengerti.. yaa aku memang goblok sekali... Tiba-tiba paras muka nona berbaju hijau itu berubah hebat. dengan cemas nona cilik berbaju hijau itu mendepak depakkan kaki-nya berulang kali sambil berseru. masa hal seperti inipun. dia me-mutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut secepatnya.. Kenapa adik cilik?" "Sucou sedang bersemedi disini." Lan See giok sudah menduga bahwa nona cilik ini binal dan banyak akal muslihat-nya tentu saja dia tak ingin dipecundangi orang dengan begitu saja.. kejadian semacam ini memang lumrah.. .381 "Haaahhh.sumoay suka dengan suheng.. Sekali lagi ia tertawa terbahak bahak. "Adik cilik.. siapa sih sucoumu itu?"! Berhubung Lan See-giok masih saja berdiri tak bergerak di situ." Dengan perasaan kaget Lan See giok ber-paling. "Hei. Pada dasarnya Lau See giok tidak berminat sama sekali untuk bertarung dengan nona cilik itu. betul juga." Merah padam selembar pipi si nona karena jengah. kau tak boleh kesana!" Lan See giok tahu pasti ada hal yang tak beres diarah tersebut. kemarilah dulu. aku harus menghajarmu !" Tubuhnya menubruk ke depan. ya.. tanyanya kemu-dian. begitu usahanya menyelidiki asal usul nona itu menemui kegagalan. siapapun dilarang mengusik ketenangannya!" "Oooh .. `Adik cilik.haaahhh. Tergerak hatinya untuk sekali lagi menyeli-diki asal usul nona cilik itu. tak dapat kuduga. "Berhenti-berhenti. sepasang tangannya yang kecil direntangkan dan segera menyerang dada pemuda itu. buru-buru dia berseru: "Kau jahat. haaahhh.

Lan See giok kembali bertanya dengan nada penuh-perhatian. ia menjadi gugup sekali. saking kagetnya dia sampai termangu mangu.382 Maka katanya kemudian sambil tetap tak bergerak dari posisinya semula. baik . Dia seperti merasa bahwa kepergian. Cepat pemuda itu melayang ke hadapan si nona. pemuda itu me-mutuskan untuk berlalu secepatnya dari situ. Berubah hebat paras muka Lan See giok. apakah tahun berselang Keng hian sian tiang pernah meninggalkan daratan Tionggoan menuju ke luar lautan?" Nona cilik itu menjadi tak senang hati ber-hubung Lan See-giok bertanya terus tiada hentinya." Paras muka nona cilik berbaju hijau itu berubah hebat. mengapa kau belum juga pergi?" Lan See-giok berusaha mengendalikan perasaan sendiri dengan cepat. mendengar pertanyaan itu dengan cepat dia mengangguk. tianglo angkatan yang tua dari Bu-tong-pay. Suatu firasat tak enak cepat menyelimuti hatinya. "Kau enggan memberitahukan kepadaku juga tak mengapa. "Sudah berapa lama dia orang tua menutup diri?" "Sudah hampir tiga tahun" jawab si nona cilik itu tanpa ragu-ragu. aku akan memberitahukan kepadamu.To Seng-cu menuju ke luar lautan nampak-nya lebih banyak bahayanya dari pada sela-mat. ia tak menyangka kalau penghuni lembah hijau ini adalah keng-hian sian tiang. kemudian dengan membawa suatu pengharapan ia bertanya lagi. Sadar kalau dia bsudah melanggarj panta-ngan besgar umat persilabtan." "Adik cilik. Pada saat dia hendak melangkah pergi. satu ingatan kembali melintasi di dalam benaknya. kau jangan ke situ sucou ku adalah Keng-hian sian tiang!" Lan See-giok terkejut sekali sesudah mendengar nama tersebut. dia teringat kembali dengan surat gurunya To Seng cu yang konon dititipkan kepada Keng hian Sian tiang dari luar lautan. dari pada menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. peluh ber-cucuran dan sinar matanya mendelong. bentaknya kemudian: "He!. maksudmu sucou mu Keng hian sian tiang sedang menutup diri"" Nona cilik berbaju hijau itu nampak lega sekali setelah melihat Lan See giok menghampirinya. se-runya kemudian dengan gelisah: "Baik. aku kan bisa masuk dan menanyakan sendiri kepada sucou mu. Nona cilik itu mengira Lan See-giok di buat ketakutan oleh nama besar sucounya sehing-ga mukanya berubah jadi pucat. sedikit agak marah dia berseru: . kemudian tanyanya lirih. "Adik cilik.

tapi. . sambil mengendalikan gejolak perasaannya yang panik dan tak tenang. sambil membentak keras ia berusaha untuk mengejar dari belakang. Diapun masih ingat perkataan dari si naga sakti pembalik sungai yang mengatakan di saat menerima surat tersebut dari gurunya. buat apa dia mesti bersusah payah pergi ke luar lautan?" bHabis sudah semjua pengharapan gLan See giok.383 "Kau ini memang aneh sekali. Perasaan Lan See-giok saat itu amat kalut dengan membawa perasaanperasaan pedih bercampur gusar dia menembusi hutan men-daki bukit. maaf kalau aku telah mengganggu ketenanganmu!" Tiba-tiba saja dia meluncur kearah tebing sebelah muka. Sekali lagi paras muka bocah perempuan itu berubah hebat. menurut Si Cay-soat. Dalam keadaan begini. semua perjalanan ditempuh de-ngan ilmu Liat-hong-hui-heng yang hebat se-hingga gerakannya cepat bagaikan kilat. bila dipikirkan kembali. kejadian semacam ini belum per-nah dialaminya. diapun tidak membenci si Naga sakti pembalik sungai sebab ia tahu si naga sakti pembalik sungai sampai berbuat demikian pasti diperuntungkan maksud baik. aku kan su-dah bilang sucou telah tiga tahun menutup diri? Itu berarti dia tak pernah meninggalkan guanya barang selangkahpun. bibi Wan juga kebetulan hadir di situ. baya-ngan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. Lan See-giok sudah mencapai tebing sebelah muka dan melambung ke tengah udara. Dari sini bisa dibuktikan pula bahwa si naga sakti pembalik sungai bisa jadi sudah tidak berada di perkampungan nelayan lagi. Kemudian diapun membayangkan kembali bagaimana si naga sakti pembalik sungai su-dah setengah tahun lamanya tak pernah berkunjung ke bukit Hoa-san. baru saja dia menggerakkan badannya. Belum pernah nona cilik berbaju hijau itu menyaksikan ilmu meringankan tubuh seperti ini. bisa jradi itupun meruzpakan tipuan swi naga sakti permbalik sungai. dia hanya ingin se-cepatnya kembali ke telaga Phoa yang-oh dan mencari si naga sakti pembalik sungai untuk menanyakan apa maksudnya dengan per-mainan surat palsu tersebut: Walaupun begitu. dalam waktu singkat ia sudah mencapai puncak tebing dan sekali berkelebat. kbini dia sudah tidak berminat untuk bertanya lebih lanjut. tanpa sadar dia hentikan gerak majunya dan membelalakkan matanya le-bar-lebar sambil menyaksikan bayangan tubuh Lan See-giok lenyap dari pandangan mata. kepada bocah perempuan itu kata nya kemudian: "Selamat tinggal adik cilik.

bau harum semerbak yang memancar ke luar dari tubuhnya.penat yang di ala-minya selama beberapa hari." Dengan perasaan terkejut Lan See-Giok berpaling. ketika matahari sudah tenggelam di langit barat. sementara rasa . "Mari kita masuk kota sebelum berbincang!" "Baik mari kita berangkat." Sambil menuntun kudanya Tok Nio-cu ma-suk ke kota bersama-sama Lan See-giok.384 Ke luar dari wilayah Bu tong-pay.. Makin ke kota. berba-gai ingatan melintas dalam benaknya dia tak habis mengerti mengapa perempuan itu menyusulnya? Belum habis dia berpikir.. sampailah pemuda itu di depan kota Siang-yang. namun diluar-nya dengan senyuman dikulum dia segera menyapa: "Nyonya. Pemuda itu segera berkerut kening. bisa jadi ia tidak memba-wa maksud jahat.. ada urusan apa kau buru-buru datang ke kota Siang yang. apalagi sepasang payudaranya yang . pemuda itu mengisi perutnya secara tergesa-gesa di sebuah kota kecil bawah bukit.. kehadiran yang secara tiba-tiba dari Tok Nio-cu dengan cepat meningkatkan kewaspa-daan dalam hati Lan See giok... menyusul kemudian terdengar seseorang berseru dengan nada terkejut bercampur kegirangan." Tok Nio-cu tersenyum. senyuman manis selalu menghiasi ujung bibirnya. Pada hari ketiga.. "Adik Giok-adik Giok. kini mereka harus jalan berdesak-desakan.. ia tak tahu apa maksud dan tujuan Tok-Nio-cu menyusulnya sampai di situ.. tapi bila ditinjau dari kehadirannya yang cuma seorang diri. Sepanjang jalan boleh dibilang Tok Nio-cu selalu menempel di sisi badan See giok. Sebaliknya Lan See-giok penuh diliputi perasaan curiga. orang yang berlalu lalang dijalananpun semakin ramai. akhirnya aku berha-sil juga menyusulmu ... hari su-dah mendekati malam. kemudian meneruskan kembali perjalanannya menuju kota Kou-sia. nampaknya su-dah ikut lenyap tak berbekas. Sementara dia masih melamun tak karuan tiba-tiba dari belakang tubuhnya berku-man-dang suara derap kaki kuda yang amat ra-mai. Suasana di dalam kota ramai sekali. malah tubuhnya sudah melompat turun dari atas kuda. Tok Nio-cu telan menghampirinya sambil tersenyum. apalagi malam itu adalah malam Cap go--meh tidak heran kalau banyak orang yang berlalu lalang ditengah jalan. selalu masuk hidung pemuda itu. ternyata Tok Nio-cu dengan mantel dan pakaian ringkasnya berwarna hitam se-dang menggapai ke arahnya dari atas kuda-nya yang berwarna putih.

namun ia tak setuju me-nyewa sebuah pavilliun secara tersendiri. Tapi sebelum ia kemukakan pikiran ter-se-but kepada Tok Nio-cu. otomatis pembicaraan akan semakin tak leluasa. Tok Nio-cu segera minta sebuah pavilliun dengan perabot lengkap dan pelayan. selain dua kamar yang mewah. . melihat bangunan rumah itu memang megah. karenanya pemuda itu pun mengurungkan niatnya untuk berbicara lebih jauh . Sementara perjalanan ditempuh. diapun manggut-manggut menyetujui. di tambah lagi dia belum mengetahui secara pasti akan maksud kedatangan Tok Nio-cu. . Walaupun Lan See giok menganggap pem-bicaraan mereka membutuhkan suatu tem-pat yang tenang. pelayan telah mem-bawa mereka ke depan sebuah pavilliun yang indah sekali. seorang mene-rima kuda sedang yang lain membawa Lan See giok berdua memasuki ruangan. apalagi dengan kehadiran pelayan. Namun sayang pikiran dan perasaan Lan See-giok waktu itu diliputi kekalutan. pemuda itu sama sekali tidak merasakan ataupun menggubris terha-dap senggolan-senggolan payudara yang montok dari perempuan tersebut. badannya boleh dibilang sudah matang dan menyiarkan api birahi yang membara. penampilannya itu tentu saja sangat me-mancing perhatian orang banyak. bagaimana kalau kita me-ngi-nap di rumah penginapan yang merangkap dengan rumah makan ini?" Lan See giok memang berharap bisa sele-kasnya mengetahui sebab musabab Tok Nio cu menyusulnya sampai ke situ. dua oragng pelayan segebra me-nyambut kedatangan mereka. Ketika mereka berdua tiba di pbintu rumah pengjinapan. Pavilliun itu sa-ngat indah dengan perabot yang mewah dan dekorasi yang menawan hati. tiba--tiba Tok Nio-cu menjawil tangan pemuda itu sam-bil berbisik lembut: "Adik Giok. Tok Nio-cu adalah seorang nyonya muda yang berusia dua puluh limaenam tahunan. setiap kali seperti sengaja tak sengaja di gesekgesekan pada lengan pemuda itu. Itulah sebabnya.385 montok dan padat berisi. dilengkapi juga dengan sebuah ruang tamu. dia hanya tahu menempuh perjalanan cepat. "Tuan. . Pelayan segera mengetuk pintu. silahkan masuk !" seru me-reka hampir bersama sama. nona. empat dayang membuka pintu dan menyambut ke-datangan mereka. hal mana membuat hatinya kesal dan mu-rung.

sebetulnya ada urusan apa sih kau menyusulku sampai disini?" Tok Nio-cu melirik sekejap wajah Lan See giok yang gelisah. kepada perempuan itu dia segera bertanya: "Nyonya. silahkan makan Goan siau dulu. mak-lum karena banyak orang" "Aaah. silahkan duduk. sudah sepantasnya kau yang duduk di kursi utamanya. katanya kemudian penuh rasa gembira. Lain dengan Tok Nio cu. nyonya tak perlu memikirkannya di hati" Tanpa sungkan dia lantas mengambil tem-pat duduk. kemudian tertawa genit: .386 Setelah masuk ke dalam ruangan. Untuk sesaat ia dibikin mendongkol se-lain geli. "Siauhiap adalah tamu. tentu saja pemuda itu pun merasa kurang leluasa untuk mencegah pelayan-pelayan tersebut menggantikan se-butan demikian. Biarpun demikian. Lan See--giok baru menjura sambil katanya: "Nyonya." Dengan hormat sekali mereka letakkan mangkuk ke atas meja sambil membuka pe-nutupnya. nyonya. namun diapun tak bisa berbuat banyak. nampak ronde yang hangat di atas mangkuk tersebut. bagiku sama saja. cuma aku takut sebutan ini justru akan menodai nama adik" Sebenarnya Lan See-giok bermaksud untuk bersungkan sungkan saja. Lan See giok sama sekali tak berniat makan ronde sebelum mengetahui maksud kedatangan Tok Nio-cu." Tok Nio-cu tertawa genit. Merah jengah selembar wajah Lan See giok mendengar sebutan yang digunakan pelayan-pelayan itu. sebutan siauhiap atau adik. "Kalau memang begitu. Paras muka Tok Nio-cu berseri. tapi jika digabungkan dengan Tok Nio cu. maka akan menimbulkan makna yang lain. meski sebutan itu memang tak ada salahnya. ia segera menger-ling sekejap ke arah Lan See giok sambil tersenyum jengah. ia tak menyangka kalau Tok Nio-cu justru menunggangi ke-sempatan tersebut. biar aku memba-hasa diri sebagai enci saja. kemudian muncul dua orang dayang meng-hidangkan sebuah mangkuk besar yang diberikan kepada Lan See giok dan Tok Nio-cu seraya berkata: "Tuan. maaf-kan sebutan adik Giok yang kupakai tadi. Sementara itu dua orang dayangb telah menghidajngkan makanan kgecil dan air tebh.

lalu tanyanya lagi.. terrpaksa dia habiskan semangkuk wedang ronde tersebut.387 "Sebenarnya urusan itu penting sekali.. ternyata pertanyaan pertama adalah bertanya apakah dia akan ke bukit Tay-ang san. tiba-tiba saja timbul perasaan muak dihati kecil arak muda itu.-� Menyaksikan tingkah laku Tok Nio-cu. Hampir tertawa geli Tok Nio-cu melihat si-kap Lan See-giok yang seolaholah dibuat apa boleh buat. "Aku bisa menelusuri jalan raya menuju ke sana. maka Tok Nio-cu justru meneguk wedangnya amat lamban. cici tentu akan memberitahukan kepadamu. saking gemasnya dia mengangguk seraya menjawab singkat: "Benar!" Sekali lagi Tok Nio cu memandang wajah sang pemuda dengan lembut. "Tahukah kau. Tapi untuk melerpaskan diri seczepatnya dari pewrempuan itu. Jangan dilihat sikap Tok Nio cu yang genit dan jalang. tak usah kuatir. penjaganya ter-diri dari jagoan-jagoan tangguh. pos pen-jagaan berada dimana mana. jangan panik dulu. mari kita habiskan wedang ronde ini lebih dulu. tentu saja yang bisa dilakukan olehnya hanya menahan diri belaka. apalagi jika dihubungkan dengan julukannya yang tak sedap. rasa tak senang hati pun segera menyelimuti wajahnya: Tok Nio cu tertawa cekikikan. ia merasa perempuan ini bagaikan duplikat dari Oh Li-cu. di samping . sembilan puncak serta dua belas benteng merupakan daerah yang rawan dan berbahaya. Lan See-giok jadi teringat kembali dengan Oh Li-cu dari Wi-lim-poo. sewaktu bersantap caranya halus lagi anggun." Tok Nio cu tertawa tenang. tapi ia ma-sih berusaha untuk menahan diri. selesai makan wedang. urusan men-jadi tak penting lagi" Lan See giok segera berkerut kening de-ngan perasaan tak mengerti. dalam hal ini nyonya tak perlu mengu-atirkan. " Kalau pemuda Itu menghabiskan wedang nya secara tergesa gesa. Setelah itu semua dia baru memandang sekejap kearah Lan See giok yang sudah marah sambil tertawa dan tanyanya hambar: "Bukankah kau hendak pergi ke bukit Tay-ang-san?" Sudah setengah harian Lan See giok me-nunggu. sahut nya dingin. ini membuat pemuda itu semakin mendongkol. dia mengeluarkan secarik sapu tangan untuk menyeka bibirnya yang merah. "Sudahlah. tapi sesudah berhasil menyusulmu. bagaimana caranya menuju ke sana?" Pertanyaan itu segera mengobarkan hawa amarah dalam dada Lan Seegiok. kembali dia bertanya: "Tay ang san dengan tiga tebing.

sembilan puncak lain merobohkan kedua belas pemimpin benteng. dengan cepat dia menyela lagi. ter-dapat pula perangkapperangkap serta jeba-kan-jebakan yang berbahaya. pada hakekatnya ia tak akan mampu menandingi kemampuanmu. Tok Nio-cu kembali tertawa ringan. apalagi orang--orang tersebut merupakan kawanan manusia nekad yang tak takut mati. ia pergi ke puncak Ti seng hong. Terus-nya: "Berbicara soal kepandaian silatnya. "Tapi ia didukung dan dilindungi oleh be-gini banyak pemimpin benteng serta jago-jago berilmu tinggi. "Biarpun Tay ang san terdiri dari bukit golok dan hutan pedang. . maka si beruang berlengan tunggal dapat ditemukan secara mudah?" Lan See-giok tertegun. belum tentu" Lan See giok segera mendengus. bila kau datang ke tebing Bong thian nia. keadaannya masih mendingan jika kau ter-masuk manusia kejam. Apakah kau sudah tahu tentang keadaan-keadaan tersebut?" Lan See giok cukup sadar bahwa persoa-lan-persoalan tersebut merupakan masalah yang besar dari penting. jadi maksudmu asal kau labrak ke tiga tebing. jangan lagi manusia. kau tak akan tega untuk mem-bunuhnya . biar kau hendak membantai merekapun tak bakal habis dibantai. " "Aaah. Oooh. apa yang mesti ku-takuti--" Tok Nio cu tidak memberi kesempatan kepada Lan See giok untuk menyelesaikan kata katanya. bila kau pergi ke benteng Gi sim . ditatapnya Tok Nio-cu yang tampaknya sudah mempunyai persiapan matang itu lekat-lekat. apalagi dia memang tak pernah menyangka kalau Tay ang san memiliki kekuasaan dan pengaruh sebegitu besarnya. namun ia sadar apa yang diu-capkan Tok Nio-cu memang merupakan titik kelemahannya. "Misalkan si Beruang berlengan tunggal selalu berusaha menghindarkan diri dan eng-gan berjumpa dengan dirimu. "bila keadaan memang me-maksa. kecuali terha-dap seseorang manusia yang sangat jahat dan berdosa. . si Beruang berlengan tunggal memang hanya bisa dibandingkan dengan kawasan jago lihay biasa. burungpun sulit terbang melewati nya. sementara mulutnya terbungkam dalam seribu bahasa. tapi aku tahu kau saleh dan penuh welas kasih. aku tidak akan memperdulikan hal--hal semacam itu" Kembali Tok Nio-cu tertawa. maka katanya kemudian lantang. Namun ia masih mendongkol sekali terha-dap perempuan itu.388 anak buahnya mencapai puluhan ribu.

bagaimana tindakanmu. Lan See--giok merasa bertambah gelisah. tapi dia toh berkata lagi. Bagaimana kalau sebelum. tiada henti nya ia berusaha untuk bertanya kepada diri sendiri. aku yakin dia tak bakal bisa ka-bur lagi!" Tok Nio-cu mengerling sekejap ke arah Lan See-giok. kedatanganmu sudah ada orang lain tiba dulu di bukit Tay ang san dan melaporkan kejadian ini kepada si Beruang berlengan tunggal? Bila ia sudah mendapat kabar bahwa di dalam waktu sing-kat kau hendak mencari balas kepadanya. masa akan terjadi peristiwa se-macam ini?" Tok Nio co tertawa dingin.389 cay.. lalu manggutmanggut memuji. akibatnya dia bakal mati konyol di tangan musuh. Ji long sgeng atau Na chab si pangeran ketiga yang mampu merubah diri. Membayangkan kesemuanya itu. adik Giok ku!b Kau toh bukan jdewa. . na-mun dia toh masih juga tak mau mengaku kalah. ia segera berseru tertahan: "Apakah Lo caycu sudah berangkat ke Tay ang san?" . dengan suatu sergapan mendadak. paras mukanya berubah hebat dan tanpa sadar ia berseru. kembali katanya: "Aku toh bisa menyusup ditengah malam buta. dengan wila-yah yang begitu luas di bukit Tay ang san. ?" Dengan cepat si anak muda tersebut me-rasakan betapa gawatnya masalah yang se-dang dihadapi. dan secara langsung menuju ke puncak utama. tujuannya cuma ingin membohongi diri-mu saja . Apalagi di seputar wilayah tersebut me-mang telah dipersiapkan pelbagai macam je-bakan dan alat perangkap. akhirnya kau sendirilah yang bakal kehabisan tenaga dan mati lelah di bukit Tay ang san" Diam-diam Lan See giok gelisah sekali. dia pergi ke benteng Ka cu cay . selangkah saja kurang berhati hati. seandainya ada orang telah menyampaikan kabar tersebut.. memang menjadi kesulitan yang besar bagi nya untuk menemukan si Beruang berlengan tunggal bila yang bersangkutan berniat menghindarkan diri. apakah dia bakal menantikan kedatangan-mu?. "Kau anggap dengan susah payah aku me-nempuh perjalanan ratusan li untuk menyu-sulmu. siapa gerangan orang yang menyam-paikan berita tersebut kepada musuhnya? Tibba-tiba satu ingjatan melintas dgi dalam benaknyba. dan asalkan si Beruang berlengan tunggal sudah kutemukan. Lan See-giok merasa terkejut sekali. "Aaah. aku yakin musuh pasti akan kelabakan. Ooh. . setelah mendengar keterangan tersebut.

"Ya. lagi pula dia telah bertekad untuk sampai di tempat tujuan mendahuluimu. si harimau berkaki cebol! " "Oooh. peristiwa se-macam ini benar- .heeehhh. budi kebaikanmu pasti akan kubalas di kemudian hari. siang malam ia menempuh perjalanan tiada hentinya. dia hanya mendengus dingin: "Hmm! Mereka adalah musuh bebuyutan. betul. mana mungkin ia berkesudian hati untuk mem-beri kabar kepada Beruang berlengan tunggal?" "Lantas siapakah orang itu?" tanya Lan See giok berkerut kening. wajahnya gelisah ber-campur tak habis mengerti. sa-ban tempat pem-berhentian ia pasti menukar kuda.an tian dan mu-lai memasuki wilayah bukit Tayang-san. alis matanya berkerut sepasang matanya berapi-api.. "Heeehhh.... dialah orangnya!" "Sejak kapan ia meningggalkan Pek-ho cay!" "Setengah jam setelah kau meninggalkan benteng Pek hoo cay!" Diam-diam Lan See giok memperhitung-kan waktunya. szi hari-mau berkwaki cebol itu mrembawa bekal ba-nyak. kau maksudkan manusia yang ku-tendang sampai mencelat pada malam itu?" Lan See giok seperti baru memahami. aku rasa hari ini sudah tiba di Tiang.390 Sementara itu Tok Nio-cu sedang men-dongkol karena maksud baiknya tidak di-tanggapi sebagaimana yang diharapkan se-mula. ditatapnya Lan See--giok kemudian katanya sambil ter-tawa di-ngin. nah aku hendak memohon diri lebih dulu.. mendadak berkilat sepasang ma-tanya. "Kau anggap bila berangkat ke Tang ang san sekarang juga." Lan See-giok benar-benar merasakan hati nya gelisah sekali.. setiap kali bertemu pasti saling gebuk--gebu-kan sampai muncrat darah. Sekali lagi Nio-cu tertawa dingin. cepat ia bangkit berdiri dun ber-seru kepada Tok Niocu sambil menjura.. "Aku mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian nyonya.. mendengar pertanyaan itu. maka kau sudah dapat mendahului si Harimau berkaki cebol sampai di tempat tujuan?" Tanpa ragu-ragu Lan See giok mengang-guk.heeehrhh. selang beberapa hari berse-lang ia telah menyeberangi Han-sui.. kata nya Kemudian lirih: "Orang itu tak lain adalah pelindung ben-teng kami." Namun Tok Nio-cu masih tetap duduk tak bergerak sama sekali. Tok Nio-cu menjadi tak tega sendiri melihat kegelisahan si pemuda tersebut.

lagi pun Tok Nio-cu berani berkata demikian. "aku mah tak berhasrat sama sekali untuk merayakan hari cap go meh ini!" . minumlah arakmu dengan hati tenang. tak sesuappun yang tega ditelan. Lama kelamaan habis sudah kesabaran Lan See giok. Tok Nio cu turun tangan sendiri memenuhi cawan Lan See giok dengan arak. hal ini memang perlu diatasi dengan pemikiran yang masak."! Dengan perasaan tidak habis mengerti Lan See-giok menengok kearah Tok Nio-cu. pokoknya enci jamin akan memberi-kan seorang Beruang berlengan tunggal yang utuh kepadamu untuk diperiksa dan mem-balas dendam. katanya kemudian angkuh: "Bukankah sudah kujelaskan tadi? Sebe-tulnya persoalan ini penting sekali. mari kita berdua berjalan jalan melihat keramaian dulu di jalan raya. hal ini sudah mempunyai keyakinan untuk berhasi1. Walaupun demikian. tidak tahan kembali dia berta-nya.391 benar merupakan suatu peristiwa yang mimpipun tak pernah diba-yangkan olehnya.--" "Kalau kau ingin pergi. berhubung pikirannya sedang kalut." Lan See giok pun sadar bahwa gelisah terus tidak ada gunanya. seakan akan dia sedang merayakan hari cap-go-meh tersebut bersama sama kekasihnya.tapi setelah berhasil menyusulmu menjadi sama sekali tak berarti lagi. apa yang harus kulakukan?" Tok Nio-cu tertawa cekikikan penuh perasaan bangga. Tanpa terasa ia bertanya dengan suara mendongkol: "Menurut pendapatmu. biarpun hidangan yang berada dihadapannya rata-rata sangat lezat. "Sekarang. pergilah sendiri" tampik Lin See giok agak marah. "Selesai bersantap nanti. "Nyonya mempunyai akal bagus apa sih yang bisa memaksa Beruang berlengan tung-gal untuk munculkan diri menjumpai aku?" "Tok Nio cu tertawa misterius. Tok Nio cu memandang sekejap hidangan-hidangan yang lezat itu. lalu tertawa gesit. ke-mudian tanyanya pula dengan gelisah. sikapnya wajar senyuman manis dikulum. Kebetulan sekali para pelayan datang menghidangkan sayur dan arak sehingga pembicaraanpun terhenti sejenak. `Mengapa demikian?".

392 Sekali lagi Tok Nio tertawa cekikikan. "Adik Giok!" Tok Nio-cu yang sedang kabur menjadi tertegun. Lan See giok tidak bisa berbicara lagi. dia seperti teringat akan sesuatu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dengan cepat Lan See-giok menjadi sadar kembali. ia segera menyikutnya pe-lan. Suasana di jalan raya sangat rbamai. padahal yang sebetulnya kita pergi mencari mereka. "Setelah mendapat laporan bahwa Harimau berkaki cebol melarikan diri pada malam itu. Begitu selesai bersantap. Maka selesai bersantap nanti kita memakai alasan melihat keramaian di dalam kata. seru-nya cepat. namun dengan anggota benteng yang begitu banyak di bukit Tay ang san. de-ngan cepat dia memberi penjelasan. dia menyusul ke dalam ruangan. manu-sia jyang berlalu laglang sangat banbyak sehing-ga mereka harus saling berdesak -desakan. Tertegun Tok Nio-cu melihat hal ini. namun apa yang terlihat membuatnya tertegun. Sementara Lan See giok dan Tok Nio-cu masih berdiri di depan pintu menyaksikan manusia yang berdesakan di tengah jalan. "Adik Giok!" Sambil membalikkan tubuh. selain telah kujanjikan pula agar malam ini berkumpul semua di kota Siang-yang. sedang menyeberangi jalan mengejar ke arahnya. rasanya memang bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk ber-jumpa dengan si beruang berlengan tunggal. mereka harus bertindak menurut keadaan. Rupanya seorang gadis berwajah cantik dengan pakaian ringkas warna putih dan menyoren pedang di punggungnya. dia mengerti biarpun si harimau berkaki cebol berhasil disusul olehnya. segera kukirim dua puluh ekor kuda cepat untuk mengejarnya dengan pesan entah dibunuh atau ditawan hidup-hidup. ter-gopoh-gopoh membalikkan badan dan lari masuk ke dalam ruangan. tiba-tiba berkilat sepasang mata pemuda itu sekujur tubuhnya gemetar keras dan sorot matanya ditujukan ke arah sebuah jendela dengan pandangan tertegun: Tok Nio-cu segera merasakan keanehan dari pemuda itu. dari arah jendela rumah makan seberang berkuman-dang pula suara teriakan keras yang penuh mengandung nada terkejut bercampur gem-bira. . segera ia berhenti seraya berpaling. kedua orang itu segera meninggalkan rumah penginapan. Pada saat yang bersamaan.

bibirnya yang mungil serta wajah berbentuk kwaci yang diliputi kegelisahan. ia tertawa dingin: . BAB 19 YANG lebih aneh lagi.b hei! Mau mencajri siapa kau?" g Sambil membentbak gusar. lalu dengan kening berkerut bentaknya keras-keras: "Hei. sambil membentak ia melejit ke te-ngah udara dan langsung melayang turun di hadapan gadis tersebut. si nona berbaju putih itu sudah mengeluarkan jurus burung hong kembali ke sarang dan langsung menyusup ke dalam pavilliun. dia memben-tak pula dengan suara keras. Meledak amarah Tok Nio cu melihat tindakan lawan. ternyata gadis itu ber-wajah mirip sekali dengan wajah sendiri. Ketika dilihatnya Tok Nio-cu menghadang di depan mata sambil membentak-bentak. . Sementara dia masih mengawasi gadis terse-but dengan seksama. sekujur badannya gemetar keras menahan emosi. Tok Nio-cu malu bercampur gelisah. Kali ini dia berhasil menghadang persis di hadapan gadis berbaju putih itu. matanya yang jeli. dia masih melanjutkan penge-jarannya ke ruang dalam. pucat pias wajahnya dan titik air mata jatuh bercucuran. dia menerjang ke arah gadis tersebut--Nona berbaju putih itu sama sekali tidak menggubris. "Siapa kau? Siapa suruh kau mencampuri urusanku?" Sebagai seseorang yang sudah lama berkecimpungan dalam dunia persilatan dan memiliki pengalaman yang matang. dengan cepat dia nyusul di belakangnya. Tok Nio-cu tahu kalau antara si nona dengan Lan See -giok pasti mempunyai hubungan yang luar biasa itulah sebabnya sambil menahan hawa amarahnya. segera bentaknya penuh amarah: "Hei. Gagal dengan hadangannya. amarahnya segera memuncak. si nona berbaju putih itu sudah sampai dihadapannya dan lang-sung mengejar ke ruang dalam--Dengan cepat Tok Nio-cu berhasil mempe-roleh kembali ketenangan pikirannya.393 Tok Nio cu merasa wajah gadis itu seperti sangat dikenal olehnya seakan akan pernah bersua di suatu tempat. Disaat tubuhnya sedang melayang turun itulah. hidungnya yang mancung. siapakah kau? Mengapa berniat mengejar adik Giok?" Sementara itu si nona berbaju putih itu merasa gelisah bercampur mendongkol karena melihat Lan See-giok berusaha menghindari dirinya.

Tok Nio-cu semakin berani setelah mengeta-hui Lan See giok sama sekali tidak menggu-bris Oh Li cu. belum saja berjumpa. Sementara ke empat dayang yang berada dalam ruangan menjadi kaget dan ketakutan. Teringat akan hal yang sangat menyedihkan hati ini. seakan akan ia telah melihat kalajengking yang sangat berbisa saja. kalau memang kau adalah bininya. apa mau dikata. telapak tangannya dibalik mencengkeram urat nadi Oh Li cu. dia pingin menangis saja -jadinya. su-dah hampir setahun lamanya aku mencari-mu!" Namun ruang pavilliun berada dalam keadaan sunyi dan hening. sambil memandang ke ruang pavilliun. sambil tertawa dingin jengeknya kemudian: "Hei. sambil membentak dia berte-kuk pinggang lalu melejit ke depan. aku adalah istrinya Oh Li cu. ia berhasil juga menemukan adik Giok yang di cintainya. Akhirnya setelah bersusah payah. . telapak tangan nya secepat kilat menyapu wajah Tok Nio cu de-ngan jurus menyapu rata bukit mega. dia seperti memahami sesuatu. aku adalah Li cu. keningnya berkerut dan bentaknya keras-keras. dia berkelana ke seantero jagad dengan tujuan mencari Lan See-giok. sedangkan aku adalah encinya. telapak tangannya yang sedang menyapu ke muka mendadak berubah menjadi bacokan langsung membabat dada lawan. heran mengapa ia justru sama sekali tidak menggubrismu ?" Oh Li cu naik darah.394 "Dia adalah adik Giok ku. boleh di-biwlang Oh Li cu srudah banyak menderita. dia tertawa dingin. tak terdengar jawaban dari Lan See giok. mengapa aku tak boleh men-campuri urusannya?" Nona berbaju putih itu semakin gusar: "Dia adalah suamiku. adik Giok nya sudah lari terbirit birit karena keta-kutan. mengapa pula aku tidak boleh menge-jarnya?" Tok Nio cu melongo kemudian berdiri tertegun. siapa suruh kau banyak bertanya?" Ditengah bentakan keras. "Minggir kau se jauh jauhnya dari sini. Tok Nio cu telah berhasil menenangkan hatinya. Dalam pada itu. adik Giok. ilmu silat yang dimiliki Oh Li cu memang luar biasa sekali. seru-nya berulang kali dengan suara gemetar: "Adik Giok. Sebagai ahli waris dari Oh Tin san serta Say nyoo-hui. Selama berapa trahun terakhir izni.

nonamu lebih suka menggorok leher dan menghabisi nyawa sendiri!" Sembari berbicara. Oh Li cu sama sekali tidak meng-gubris lawannya lagi. sebilah pedang ta-jam tahu-tahu sudah berada dalam geng-gamannya . Ketika tubuhnya kena didesak oleh serangan gencar Tok Nio cu sehingga terpaksa harus mundur dari ruangan. cahaya ta-jam berkilauan di udara. Serta merta tubuh bagian atasnya di-buang ke belakang. Setelah berhasil mendesak mundur Tok Nio-cu. Tok Nio-cu tertawa dingin. begitu tega mengurung diri dan menghin-darinya... dia mengawasi Tok Nio cu lekat-lekat. Sejak melihat Lan See giok memasuki ruang pavilliun.. kemudian menjumpai pemuda itu. hari ini. !" Diiringi desingan suara nyaring. berarti kau sendiri yang tidak memiliki kepandaian.. di atas wajah nya sama sekali tidak terlintas rasa takut. meskipun Tok Nio cu agak terkejut menghadapi ancaman tersebut. Oh li cu lantas berpendapat bahwa pemuda tersebut sudah pasti telah dipenga-ruhi perempuan muda yang genit itu. dia langsung menerjang ma-suk ke ruang dalam. bila kau tidak menggo-rok lehermu sendiri. Kemudian sambil mengawasi Tok Nio cu de-ngan sorot mata penuh kebencian dan hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wa-jahnya dia berkata sambil menggigit bibir: "Sudah pasti kau. Semua kekesalan dan amarahnya segera berubah menjadi api cemburu yang entah dari mana datangnya. bila hari ini nonamu tak bisa mencincang tubuhmu sehingga hancur menjadi perkedel.. ia menjadi nekad dan tangannya diputar kencang. Ke empat dayang yang berdiri didekat-nya menjerit kaget karena ketakutan. ujung kakinya menjejak permu-kaan tanah dan melompat mundur ke bela-kang.. sahut-nya: "Bila kau tak mampu memikat adik Giok mu.. dengan wajah pucat pias serentak melarikan diri mencari selamat. pasti kau siluman rase yang telah mempengaruhi adik Giok. Amarah Tok Nio-cu segera meledak ledak sambil membentak keras telapak tangannya diputar menciptakan selapis bayangan te-la-pak tangan yang diiringi desingan angin ta-jam mendesak mundur tubuh Oh Li cu . sementara pedangnya disiapkan di depan dada dan selangkah demi selangkah maju mendekati ke muka.395 Dengan pengalamannya yang cukup luas dalam dunia persilatan. . "Criing . namun dia tak sampai menjadi gugup atau panik. jangan harap dapat meninggalkan tempat ini dalam keadaan se-lamat!" .

. kemudian berseru keras: "Hei. karena itu dia enggan bertemu de-ngan putrinya. Berbicara yang sebenarnya. Tok Nio-cu dengan peluru api beracunnya sedang mengawasi pedang ditangan Oh Li--cu lekat-lekat. Oh Li cu mempunyai budi pertolo-ngan dan membantunya kabur dari Wi-lim-poo. kejadian terse-but hanya merupakan keputusan sepihak.leng tan . Tapi sekarang. cepat-cepat dia menampakkan diri dari tempat persembunyiannya.. Sedangkan Tok Nio-cu. Asal pedang Oh-Li-cu digerakkan.. baginya hal tersebut tak pernah diakui. terutama sekali ren-cananya untuk memancing Beruang berle-ngan tunggal ke luar dari tempat persembu-nyiannya. Selain itu. Lan See giok dapat melihat betapa gawatnya situasi yang terbentang dihadapannya sekarang. Di samping itu . perempuan ini le-bih-lebih tak boleh sampai terluka.. ia tahu bagaimanapun juga harus munculkan diri guna mengatasi masalah tersebut." Lan See giok yang melihat kejadian tersebut dari tempat persembunyiannya men-jadi kaget. orang-orang Pek-ho-cay te-lah berjanji akan berkumpul di kota ini ma-lam nanti. tiba-tiba wajahnya berubah. ia masih mengharap kan petunjuk jalan darinya. Sementara dia masih berpikir. Perempuan itu diperlukan untuk mengadakan kontak dengan mereka. niscaya ketiga butir peluru api beracunnya akan di sambit ke luar. Oh-li-cu de-ngan pedang di depan dada telah meng-him-pun tenaganya siap melancarkan serangan. kalian ja-ngan salah paham dulu. entah siapa yang akhirnya menjadi korban... besok dia masih harus berangkat ke Tay ang san dan segala sesuatunya.!" .. Sedang mengenai pengumuman Oh-Tin san tentang perkawinan mereka. kalian jangan salah paham.396 Tangannya segera merogoh ke dalam saku kulit kecil yang tergantung di pinggangnya dan mengeluarkan tiga butir peluru Tok. dia bukannya takut bertemu dengan Oh Li cu yang benar adalah dia merasa tak bisa memberi penjela-san kepada gadis itu atas usahanya melari-kan diri waktu dulu. tampaknya dia hendak mengatasi serangan dengan ketenangan. yang jelas kejadian semacam ini sama sekali tak diharapkan olehnya. diapun menaruh curiga kepada Oh Tin-san sebagai salah seorang pem-bunuh keji ayahnya. Oh li-cu dan Tok Nio-cu telah saling berhadapan dengan senjata terhunus. karena itu kehadiran perempuan tersebut amat diharapkan. Baginya.

dengan nada minta maaf sekali lagi dia berkata: "Enci Cu. tadi. silahkan duduk di dalam ruangan!" Panggilan "enci" itu segera mengobati jerih payah Oh Li cu yang telah merantau dan berusaha mencarinya hampir setahun lama-nya. harap kau sudi memaafkan siaute yang mempunyai kesulitan untuk memberi keterangan kepadamu. yaa anggaplah nasibku memang jelek. kemu-dian memasukkan kembali peluru api beracunnya ke dalam saku. Sebagai seorang pemuda yang berhati baik apa lagi Oh Li cu selalu menunjukkan sikap yang amat memperhatikan diri nya. Tok Nio cu memandang sekejap ke arah Oh Li-cu sambil tertawa dingin. tapi teringat kejadian tadi rasa sedih dalam hatinya belum juga hilang. dan cici bersedia membantu untuk mengungkap latar belakang kejadian itu sampai tuntas. namun biarpun hatinya sedikit agak terhibur. Melihat si anak muda itu telah menampak-kan diri." . anak muda itu tak bisa melukai hatinya lebih jauh. atas kesalahan tadi biar siaute minta maaf. tapi aku berbuat demikian disebabkan keadaan yang terpaksa. seandainya pembunuh ayahmu Lan tayhiap benar-benar adalah ayahku.397 Sambil berseri. Menyaksikan keadaan si nona yang masih saja berdiri termangu seolaholah tidak mendengar sama sekali apa yang dikatakan barusan. Namun bila teringat kembali sikap Lan See-giok yang melarikan diri serta berusaha menghindari pertemuan dengannya tadi. Sembari menjura katanya kemudian: "Enci Cu. kini ia sudah menjadi seorang pemuda yang matang sekali. sesungguh nya aku bukan bermaksud menghindarimu." Sembari berkata. ia betul-betul menj-ura dalam-dalam kepala gadis tersebut.. kembali ia merasakan hatinya bagaikan ditembusi beratus batang anak panah. Oh Li-cu pun memperlihatkan rasa gembira yang tak terlukiskan dengan kata-kata sete-lah menyaksikan kemunculan pemuda itu ia menjumpai Lan See giok lebih tampan dan lebih dewasa. air matanya tak terbendung lagi dan segera ber-cucuran seperti air bah yang menjebol kan tanggul. dia menya-rungkan kembali pedangnya lalu berkata dengan air mata bercucuran: "Semua duduknya persoalan telah dl jelaskan Hu-yong siancu Han lihiap kepadaku.. cici akan mengakui sendiri bahwa nasibku memang buruk. harap cici jangan marah lagi. kau tak usah berkata apapun. Oh Li cu menghela napas sedih. dia melompat ke tengah ru-angan.

selamat berjumpa" seru Tok Nio-cu kemudian sambil tertawa nyaring. selama ini dia tidak berpaling ke arah Tok Nio-cu. kian lama ia kian bertambah kebingungan. nona Oh Li cu. bahkan memandang sekejappun tidak. Sebaliknya Tok Nio-cu yang melihat Lau See giok menyebut "cici" kepada Oh Li cu. Tok Nio-cu tertawa genit. Setelah mempersilahkan Oh Li cu. Tok Nio-cu yang mendengar itu segera menyambung dengan cepat: "Aku adalah Tok Nio cu Be Cui peng. maka dia segera memberi penjelasan. Setelah semua orang duduk. Sementara itu. rupanya putri kesayangan dari Oh Pocu selamat berjumpa. hubungan persahabatan mereka amat akrab dan sekarang kalian berdua telah berjumpa. dia mengangguk pelan terhadap Tok Nio-cu." "Oooh. seolah kuatir perempuan itu mengejek lebih jauh. Oh Li cu melangkah masuk ke dalam ru-angan.398 Lan See giok manggut-manggut sedih. ini menandakan bahwa pemuda tersebut telah mengakui Oh Li cu sebagai bininya tiba-tiba saja ia merasa sedih bercampur cemburu. Lan See giok segera mempersilahkan juga Tok Nio cu untuk masuk. ia langsung menuju ke ruang dalam." Kemudian Lan See giok segera memperkenal-kan Oh Li cu kepada perempuan itu: "Dan dia adalah putri kesayangan dari Oh Po cu dari Wi-lim-poo. Ketika Lan See giok melihat di atas wajah On Li cu masih diliputi hawa amarahnya. sekarang telah bekerja kembali menghidang kan air teh. ia segera mempersilahkan gadis itu untuk me-masuki ruangan. Tok Nio-cu yang turut mendengarkan pembicaraan mana. Lan See giok baru menuding ke arah Tok Nio-cu dan memperkenalkan kepada Oh Li cu. ia merasa gembira sekali dengan sikap pemuda itu. jadi untuk beberapa saat diapun tak habis mengerti. ke-sempatan untuk berkumpul pun akan ber-tambah banyak. dengan pengalaman Gui hujin yang luas dan pengetahuan yang . "Gui caycu dari benteng Pak ho cay adalah sahabat karib dari Oh lo pocu. dari benteng Pek hoo cay. maka sambil membalikkan badan bersama pemuda itu masuk ke dalam ruangan" Ke empat dayang yang semula ketakutan. apalagi Lan See giok memang tak pernah membicarakan soal Oh Tin san kepadanya. "Dia adalah Gui hujin.

Walaupun begitu. dit-ambah pula dia kuatir orang-orang Pek ho cay belum berkumpul semua. selesai mendengarkan penuturan itu. seakan akan sama sekali tidak menaruh perhatian atas hal mana.." Sembari berkata. Karena pemuda itu bangkit berdiri. Tok Nio-cu sebagai seseorang ybang berpe-ngalajman luas. diapun enggan menyusahkan pemuda pujaan hatinya. tiba-tiba saja sepasang mata Oh Li cu berubah menjadi merah.399 ba-nyak. karena itu dengan memaksakan diri dia ha-rus mengucapkan beberapa patah kata me-rendah untuk perempuan tersebut. dia toh masih rada curiga. maka sambil bangkit berdiri katanya kemudian: "Silahkan adik Giok dan nona Oh ber-bin-cang-bincang dulu. sekarang ia su-dah dapat menilai bahwa hubungan antara adik Giok dengan Tok Nio-cu ters-ebut ter-nyata masih jauh di bawah apa yang diduganya semula.. dia lantas beranjak ke luar dari ruangan. Secara ringkas dia hanya bercerita tentang kepergiannya ke Pek ho cay untuk menuntut balas terhadap Gui Pak ciang .. malah mengucapkan pula rasa terima kasihnya. Melihat perkataan dari Oh Li cu diutarakan amat terpaksa. Oh Li cu segera bertanya dengan perasaan tak mengerti. karena itu dia-pun tak berani menceritakan pengalaman nya belajar silat di bukit Hoa san. sebaliknya Tok Nio-cu me-nunjukkan sikap acuh tak acuh... Kendatipun demikian. itulah yang menye-babkan timbul perasaan cemburu dalam hatinya. aku hendak pergi ke pekan raya dulu untuk melihat apakah sau-dara-saudara ku sudah berkumpul semua." Buru-buru Lan See giok bangkit berdiri sam-bil mengantar. terpaksa On Li cu turut bangkit pula. ujarnya kemudian kepada Oh Li-cu: "Enci Cu. tentug saja enggan mebnde-ngarkan urusan pribadi kedua orang itu. ma-tanya berkaca kaca. baik-baiklah kau selama satu tahun belakangan ini?" Sebelum menjawab. bagaimana sih ceritanya sehingga kau dapat bergaul dengan orang--orang dari Pek-ho-cay?" Sampai sekarang Lan See-giok masih belum tahu apa saja yang telah dibicarakan Hu-yong siancu kepadanya. buru-buru Lan See giok me-ngalihkan pembicaraan ke soal lain. karenanya sepeninggal Tok Nio-cu ia segera bertanya dengan perasaan tidak habis mengerti: "Adik Giok.. . sudah sepantasnya bila enci Cu se-ringkali memohon petunjuk dari Gui hujin " Selama ini Oh Li cu selalu menaruh curiga kepada Tok Nio cu bahwasanya perempuan itu mempunyai hubungan yang luar biasa dengan adik Giok nya. semenjak berpisah di pesisir telaga tempo hari.

. rasa terima kasih memenuhi dadanya. ia berseru tertahan: ""Bukit Tay ang san? Aku dengar Tay ang san meliputi daerah seluas berapa ratus li. Setelah tertawa hambar. setahun terakhir ini aku telah banyak menderita bagimu. Dengan perasaan terharu dan gelisah. dengan cepat Lan See giok mendapat tahu kalau keterangan dari Tok Nio cu tadi. dia dapat merasa-kan perubahan dari Oh Li-cu." Lan See-giok benar-benar terharu sekali oleh ucapan mana... kau hari ini. sudah pasti siaute akan menyesal sepanjang jaman " Sebelum anak muda itu menyelesaikan kata katanya. air mata bercucuran dengan deras dan meledaklah isak tangisnya yang memilukan hati.400 "Lantas ke mana kau hendak pergi dalam langkah kedua ini?" "Bukit Tay ang San!" jawab Lan See giok tanpa ragu-ragu. dengan air mata bercucuran dan sekujur badan gemetar keras. se-muanya terdiri dari tiga bukit. bila sampai menderita cedera atau sesuatu yang tak diinginkan. "Gara-gara kau. "Dendam sakit hati ayahku lebih dalam dari samudra. sekalipun aku tahu jalan tersebut merupakan sebuah jalan kematian bagiku. sembilan pun-cak dan dua belas benteng. sungguh tak kusangka. memutuskan hubungan dengan orang tua. bila aku bisa mati bersamamu.. mau tak mau aku toh harus menda-tanginya juga!" "Baiklah" akhirnya Oh Li cu menghela napas. cepat-cepat ia berseru: . Oh Li-cu telah menyela. sukar makan tak nyenyak tidur memikirkan kau. Cici kau adalah seorang putri seorang kenamaan.. semuanya di jaga oleh jago-jago kenamaan dari golongan hitam dan konon ilmu silat mereka luar biasa sekali. kau amat bernilai tinggi. cici telah meninggalkan rumah.. katanya kemudian dengan nada sedih: "Dendam sakit hati ayahku lebih dalam dari-pada samudra. memang tidak bbohong selain ijtu dia juga mengdapat tahu kalabu Oh Li cu belum tahu jika ia telah belajar silat di bukit Hoa san. hatiku pun rela . akan tetapi diapun enggan membiarkan gadis tersebut mengorbankan jiwa demi dirinya. jangan lagi cuma kau seorang biar kami bertiga pergi bersama pun masih meru-pakan masalah besar--" Ditinjau dari peru-bahan sikap Oh Li cu. "cici akan mengiringi kepergianmu ini. kembali kata katanya. menembusi angin dan salju untuk mencari jejakmu.. setiap hari aku melakukan perja-lanan." Gadis itu tak sanggup melanjutkan. Berubah hebat paras muka 0h Li cu mende-ngar nama tersebut. Lan See giok turut merasa sedih. aku tak ingin musuh besarku itu mampus ditangan orang lain. dengan perasaan berterima kasih katanya kemudian. teru-tama se-lama setahun belakangan ini.

Lan See.. kuda tua tadipun segera berhenti berlari. jangan berbicara lagi. masih ada pula Hu-yong siancu bibi Wan!" . hanya saja." teriak Oh Li-cu sambil menutupi wajahnya dengan kedua belah ta-ngan lalu menangis tersedu." "Apakah kau ditolong oleh kakek berjubah kuning?" tanya Oh Li cu tak sabar. Lan See giok tark ingin Oh Li czu bersedih hatiw. mungkin aku sudah terbanting mam-pus oleh kuda putih tua itu.. agaknya memang berniat untuk melari-kan diri rupanya. tiba-tiba saja terhembus segulung angin kuat yang menerpa datang. akhirnya isak tangis dari Oh Li-cu pun mulai mereda.. Sewaktu mendekam di punggung kuda waktu itu aku dilarikan ke atas sebuah bukit kecil.. Cepat-cepat Lan See-giok mengangguk.. Entah berapa saat sudah lewat.. bukan menjawab dia malah berbalik bertanya: "Ketika kau menunggang kuda putih tempo hari.." Terhadap pertanyaan tersebut. jangan dibica-rakan lagi. ia terbungkamr untuk sesaat dan cuma bisa mendengarkan isak tangis nona itu dengan wajah melongo.." "Sudah. "Ya. Untuk sesaat suasana dalam ruang pavilliun itu hanya dipenuhi oleh suara sedu sedan yang memilukan hati. Lan See giok segera manfaatkan kesempatan itu untuk mengalihkan pembicaraan ke soal lain..giok memang telah mempersiapkan diri semenjak tadi.401 "Budi kebaikan cici tak pernah akan siaute lupakan. maka tanpa sangsi barang sedikitpun jua dia menjawab: "Kalau menurut pandanganmu waktu itu. bukankah kau telah bersua dengan Hu-yong siancu bibi Wan? Apa saja yang te-lah ia katakan kepadamu?" Dengan sapu tangannya Oh Li cu menyeka air mata yang berlinang. "Tapi mengapa aku tak berhasil menemukan jejakmu meski seluruh bukit dan hutan telah kucari?" "Kalau dibicarakan sesungguhnya merupa-kan suatu kebetulan saja. katanya: "Enci Cu. apakah siaute memang mempunyai rencana untuk melarikan diri?" Oh Li-cu seperti belum juga mau percaya. "kalau tidak. kembali tanyanya dengan nada tak mengerti." Lan See-giok menjelaskan dengan kening berkerut.

" Meninjau dari mimik muka anak muda itu Oh Li-cu menyimpulkan bahwa kemajuan yang dicapai pemuda tersebut dalam ilmu silatnya tidak begitu pesat. ia menjelaskan lebih jauh. nama besar guru ku tak bisa disebut sebut.402 Oh Li cu segera mengangguk berulang kali. cuma saja sampai di manakah ke-majuan yang berhasi1 kucapai itu. tahu-tahu Tok Nio-cu sudah berjalan masuk dengan langkah tergesa gesa: Lan See giok menjumpai Tok Nio cu berkerut kening." Sekali lagi Oh Li-cu menganggukkan kepalanya. wajahnya nampak berat dan serius. kau selalu mengikuti tokoh sakti itu belajar silat?" Lan See giok mengiakan sambil mengangguk "Bagaimana dengan taraf kepandaian silat mu sekarang? Apakah telah memperoleh ke-majuan yang pesat? gadis itu bertanya lebih jauh. "Apakah selama setahun belakangan ini.?" "Maafkanlah daku cici. maka tanyanya lebih jauh dengan perasaan tak mengerti: "Apakah kau segera dibawa pergi oleh kakek berjubah kuning itu?" Lan See giok segera teringat kembali bagai-mana gurunya To Seng-cu masih sempat menampakkan diri dihadapan Oh Tin san suami istri dari balik rumah bibi Wan hingga membuat gembong iblis itu kabur ketakutan. Karenanya dia menggelengkan kepalanya. baru malam berikutnya aku meninggalkan rumah kediaman bibi Wan. perguruankupun me-rupakan rahasia orang luar. "Tidak. karenanya dia bertanya lagi: "Adik Giok. asal cici bertanya kepadanya. "Tentu saja ada kemajuan yang telah ku peroleh. bukankah akan segera kau keta-hui?" Oh Li cu sangat tidak puas denbgan jawaban darji Lan See giok gsebelum ia bertbanya lebih lanjut. ""Cuma ayahmu mengetahui dengan jelas akan asal usul guruku itu." Kemudian sewaktu dilihatnya Oh Li cu menunjukkan perasaan tak senang hati. kami pulang dulu ke rumah kedia-man bibi Wan. bayangan manusia telah berke-lebat lewat di depan pintu. ia merasa penjelasan anak muda tersebut mirip sekali dengan penjelasan dari Hu-yong siancu. kau belajar silat dimana. hal ini membuatnya berkesimpulan bahwa orang-orang dari Pek ho cay tidak berhasil menyusul si harimau berkaki cebol" Sambil menyambut kedatangan perempuan itu. maka diapun bertanya dengan perasaan kuatir. siaute sendiri juga tidak tahu.? Siapa pula kakek berjubah kuning Itu. Lan See giok segera menegur: .

sejak perjumpaan di Pek ho cay tempo hari dia su-dah menduga kalau si harimau berkaki cebol adalah seorang manusia yang pandai bekerja. kau toh tidak sampai dl banting oleh kuda tua itu hingga terluka? Apa sih yang mesti kau takuti? Dengan kepandaian silat yang kau miliki. je-jaknya baru ketahuan." "Sayang sekali biar adu kudapun. Dengan cara bagaimana ia dapat berlalu dari situ?" "Menurut dugaan dari para pengejar." jarak dari tempat itu sampai di Pek hoo cay hampir mencapai ratusan li diantaranya terpisah oleh perbukitan Bu -tong san. na-mun diapun merasa kagum sekali. menanti para pengejar sudah lewat. "Aku telah memilihkan seekor kuda Wu--wi dari antara dua puluhan "ekor kuda jempo-lan." .. laporan dari setiap pos mengatakan bahwa mereka tidak melihat orang itu berganti kuda di tempat mereka. Dengan sedih Tok-Nio-cu menggelengkan kepalanya berulang kali: "Dia sudah lewat semenjak dua hari berse-lang.?" Dengan kening berkerut Tok Nio-cu menghela napas panjang. Oh Li cu yang selama ini mendebngarkan pembicajraan tersebut. bisa jadi dia menelusuri Pek hoo cay. aku tak mau menaikinya!" tukas pemuda itu sedih.. "Apakah sudah berhasil dikejar?" tanya Lan See giok gelisah. gtiba-tiba mencobrong sinar tajam dari balik matanya. "Aai.. asal kau bertindak lebih hati-hati saja. tanggung tak bakal ada persoalan. melalui Tin -siang langsung menuju ke Kong-hua dan tiba di kota huan sia." Diam-diam Lan See-giok merasa gelisah. Bisa jadi pada hari pertama ia telah menduga akan datangnya pengejar dari pihak benteng. si harimau berkaki cebol memang se-orang setan alas yang licin. ia segera bertanya dengan gelisah: "Adik giok.403 "Apakah mereka telah berhasil menyusul si harimau berkaki cebol.." "Aneh betul" seru Lan See giok kemudian makin gelisah. Dengan gemas Oh Li cu segera berseru: "Tempo hari. Tok Nio cu telah menyela lebih dulu. dia baru mulai melakukan perjalanan menuju kota Han sia dan sekarang bisa jadi telah memasuki wilayah Tay-ang san di bawah pengaruh si Beruang berlengan tunggal. kau mempunyai kuda?" Sebelum pemuda itu menjawab. karena itu dia menyem-bunyikan diri di tempat kegelapan. setelah sampai di kota Huan-sia. dalam keadaan demikian sekalipun para jago dari Pek-ho cay berhasil menyusulnyapun belum tentu berani menangkapmya.

burung-burung merpati pos milik Tay ang san sudah pasti telah tiba lebih dulu di tempat tujuan. air dalam mangkuk tak bakalan tumpah. Tok Nio cu menjawab: "Kalau toh masalahnya sudah tak mungkin ditolong lagi. kita boleh menem-puhnya di dalam lima hari .. asal kita berangkat pada malam ini. adik Giok. kuda kesayangan Kwan Kong dimasa lampau. "Nah. dengan cepat dia menimbrung dari samping. kembali dia berkata. dia bisa lari cepat tapi tenang. bukankah hal tersebut berarti kita akan memberi kesempatan yang lebih banyak bagi Beruang berlengan tunggal un-tuk mempersiapkan diri?" seru Oh Li cu tidak setuju.. sewaktu berlari biar kita menaruh semang-kuk air di atas pelannya pun. tanggung ada orang yang segera akan menguntit perjalanan kita. Tok Nio-cu tertawa dingin: "Kecepatan orang-orang Tay ang san mene-rima berita sangat mengejutkan hati. memanfaatkan kesempatan tersebut katanya kemudian.. bila kau tak percaya lihat saja besok." Waktu itu Lan See gook sudah dibuat keha-bisan akal oleh pembicaraan kedua orang itu. lebih baik kita bertindak secara tenang saja. kuda itupun bisa lari tenang... biarpun tak bisa menempuh seribu li dalam sehari.. esok juga. delapan ratus li mah masih bisa dicapai.404 Tampaknya Tok Nio cu sudah mengambil keputusan untuk menyerahkan kuda kesa-yangannya untuk Lan See giok." "Sayang sudah tak sempat lagi" cegah Tok Nio cu. sedang adik giok boleh memakai kuda pek liong kou milikku. perjalanan yang seharusnya bisa dicapai dalam dua hari. biar aku yang menunggang Wu wi. tanpa terasa tanyanyar kemudian dengazn perasaan sangwat gelisah: Larntas apa yang mesti kita lakukan menurut pendapat nyonya?" Dengan rencana yang matang. kita bersama-sama ke luar dari Siang-yang. Pek liong kou me-mang salah satu kuda jempolan yang sangat langka dalam dunia ini. sekarang kau tak perlu kuatir untuk menungganginya lagi" Kemudian sambil berpaling kearah Tok Nio cu. "Kalau memang begitu. "Bagaimana kalau kita berangkat sekarang juga? Kuda Ci hwee kou milikku adalah ketu-runan dari Ci toh-kou. itu lebih bagus lagi.." . sekalipun si harimau berkaki cebol belum tiba di tempat tujuan. Oh Li cu tahu kalau kata-kata semacam itu hanya bermaksud untuk memuji kehebatan kudanya saja. "Kalau begitu. kita sudah pasti telah-sampai di bukit Tay-ang san. bukan cuma cepat.

. Sementara dia berniat untuk membujuk Lan See giok agar segera berangkat.. Oh Li-cu selalu berkesimpulan bahwa Tok Nio-cu mempunyai maksud tu-juan yang kurang baik atas adik Giok nya. tapi se-betulnya aku belum memesan kamar. "Meskipun aku telah menitipkan kudaku di dalam rumah penginapan seberang. toh mereka tetap tidak begitu percaya. sampai waktunya meski kita tak usah mendobrak kedua belas benteng mereka. kita berangkat besok pagi saja!" Tok Nio-cu tertawa renyah." "Itu mah gampang sekali" sambung Tok Nio cu penuh keramahan. Tiba. suatu pemborosan belaka.. namun setelah memasuki puncak Keng thian hong. "Saat ini kita harus menghimpun tenaga se-baik baiknya sambil menjaga kondisi badan tetap prima. si anak muda itu telah memutuskan secara tegas. mari kita pergi beristirahat saja . aku yakin para caycu yang lain akan berdatangan untuk memberi ban-tuan kepada rekannya. bila adik Giok memutuskan akan berangkat pada malam ini juga... sedang aku sendiri cu-kup bersemedi di ruang tengah saja" Napsu birahi yang semula menyelimuti wajah Tok Nio-cu seketika hilang lenyap tak mem-bekas.tiba satu ingatan melintas dalam benak Oh Li cu. tapi ia masih memaksakan diri untuk berkata sambil tersenyum: . sekarang aku akan perintah kan para pelayan untuk menghubungi kasir agar rekening dihitung dan kuda dipersiap-kan!" Selama ini. "Walaupun sekarang waktu masih pagi. dan saat itu perta-rungan berdarah tak akan bisa dihindari lagi!" Kemudian ia mengerling sekejap ke arah Lan See giok dengan sorot mata yang lembut dan genit.. "satu dua jam" akan lewat dengan cepat.. biar kuperintahkan kepada pelayan untuk menyediakan sebuah kamar lagi untukmu -" Tidak usah" cegah Lan See giok. ia merasa tindakan semacam itu hanya merupakan. biar nyonya tinggal di kamar sebelah timur sedang enci Cu di kamar sebelah barat.405 Walaupun Lan See giok dan Oh Li cu me-ngangguk berulang kali.". kepada Oh Li cu katanya kemudian. "Kalau memang begitu. Terdengar Tok Nio cu berkata lebih jauh. sambil berpaling kearah Lan See giok segera ujarnya. dengan nada suara yang memikat terusnya: "Tentu saja semuanya ini tergan-tung keputusan dari adik Giok sendiri. namun besok kita harus menempuh perjalanan pagi-pagi sekali. ini dilihat dari sorot matanya yang jalang serta nada suaranya yang memikat hati.

menawan hati.toh men-jelaskan juga.. sedikit-sedikit lantas turun tangan melakukan pembunuhan. dia membalikkan badan dan beranjak ke luar dari ruangan. masih berada disakuku!" Bagaikan seorang istri yang sangat memper-hatikan suaminya. jalang keji dan buas. cuma hal ini akan menyiksa adik Giok. . Lan See giok termangu mangu untuk bebe-rapa saat lamanya. Dua orang dayang segera mengikuti pula di belakangnya untuk melayani keperluan pe-rempuan itu. "Ayo cepat kau telan sebutir!" Lan See giok sungguh dibuat kebingungan oleh sikap gadis tersebut tapi dia. dua orang dayang mengikuti di belakangnya untuk melayani keperluan nyonya tersebut. "Aku pernah minum cairan kemala Leng. Oh Li cu mengawasi sampai Tok bNio-cu ma-suk kje ruang timur. maaf kalau aku akan mengundurkan diri le-bih dulu" Lan See giok dan Oh Li cu serentak bangkit berdiri sambil berseru: "Selamat malam!" Dengan senyum dikulum Tok Nio cu me-ngundurkan diri dari ruangan dan langsung menuju ke ruang timur. karena itu dia cukup mempercayai perkataan anak muda tersebut. "Yaa. lalu mengangguk de-ngan perasaan tak mengerti. Kini si nona berubah menjadi begitu cantik. Oh Li cu kembali berbisik. maka sambil tertawa genit ujarnya lembut: "Tidurlah sampai berjumpa esok pagi!" Setelah melemparkan sekulum senyuman manis.sik-giok-ji. secara otomatis di dalam cairan darahku sudah terkandung hawa sakti yang dapat melawan pengaruh racun " Oh Li cu sudah pernah mengalami kegagalan. terutama setelah perpisahannya dalam setahun ini. ia merasa Oh Li cu telah berubah sama sekali. terutama kesombongannya. waktu itu dia benar-benar termasuk seorang perempuan berhati sejahat bisa ular beracun.406 "Begitu pun ada baiknya. g kemudian dengabn cekatan dia berpaling ke arah sang pemuda sambil bisiknya lirih: "Hei. pil pemunah racun Ban leng ciat tok wan pemberianku dulu apakah masih berada disakumu?" Lan See giok tertegun. lembut dan memberikan ke-san yang indah bagi siapapun yang meman-dangnya. dia begitu cabul. Besok kita bersua lagi. Bila membayangkan kembali sikapnya ketika masih berada di Benteng Wilim-poo tempo hari.

. ia segera teringat akan Tok Nio cu. mengempit segulung selimut di bawah ketiak nya. tanpa terasa kentongan ketiga sudah lewat. akhirnya hanya begini hasil yang diperolehnya. . mem-bayangkan kesulitan. 0h Liu cu terkejut. Sepeninggal kedua orang perempuan itu Lan See-giok duduk bersila di atas kursi dan bersemedi untuk melatih ilmu Hud-kong sinkangnya. tak terlukiskan rasa gusar Oh Li cu menyak-sikan hal ini. penderitaan dan jerih payahnya selama setahun terakhir. pikiran nya kalut dan hatinya tak pernah tenang. tiba-tiba terdengar pula pintu dibuka orang dari ruang sebelah. tapi persoalan apakah yang membuatnya berubah? Waktu? Cinta? Atau pebngalaman? Atau jmungkin kasih sgayang membuat hbatinya berubah selembut kapas -Y Membayangkan kesemuanya itu. berpikir sampai di sini ia segera teringat kembali dengan Lan See-giok yang tidur di ruang tengah. lambat laun sudah berubah menjadi lengang kembali. Waktu berlalu sangat cepat." Baru saja dia hrendak melompat zke luar dari jewndela. namun bagaimana kah nasibnya kemudian? Apakah semuanya bisa diramalkan mulai sekarang? Dia hanya bisa berdoa. moga-moga saja ia dapat mendampingi adik Gioknya se-panjang jaman. akhirnya adik Giok berhasil ditemukan kembali. Tok Nio-cu dengan langkah yang berhati hati sekali sedang membuka pintu kamar. mendadakr dilihatnya Tok Nio-cu. dia ingin tahu ba-gaimana keadaan adik Gioknya sekarang Bersamaan waktunya melompat turun dari ranjang. ternyata siluman rase itu memang mempunyai tujuan yang amat jahat.. Betul juga.. maka sambil menahan napas.. Kota Siang-yang yang selalu sibuk dan ramai. dia seperti telah berubah sama sekali.407 Tapi sekarang. diam-diam dia mengumpat di-hati kecilnya "Keparat. Oh Li cu merasa sangat gundah. tanpa terasa dua titik air mata jatuh berlinang. Pelan-pelan dia turun dari ranjang dan menuju ke ruang tengah. Tiba di depan jendela. dia hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil terta-wa. . pelan-pelan dia menuju ke depan jendela. Membayangkan kesemuanya itu. dengan jari tangannya dia melubangi kertas jendela kemudian me-ngintip ke luar. dan perlambat langkahnya. Berkat doa restu.

tapi sebelum melompat ke luar dari ruangan. andaikata per-buatannya sampai ditampik oleh adik Giok. bukankah hal ini akan ditertawakan oleh Tok Nio cu? Setelah berbaring kembali di atas pem-ba-ringan. diam-diam Oh Li cu mendengus dingin. dia seakan akan dibuat terkesiap oleh pemandangan yang terbentang dihada-pannya. maka ia melompat ke arah pintu dan mengintip dari situ. kembali nona ini dibuat tidak habis mengerti. Suasana di ruang tengah terang benderang bermandikan cahaya. ke-mudian pikirnya lagi. Dalam keadaan begini meskipun Oh Li cu tidak habis mengerti. satu ingatan telah melintas dalam benaknya. dia membayangkan kembali guma-man memuji dari Tok Nio cu tadi. Untung saja Tok Nio cu yang sudah berpe-ngalaman luas yang melihat kejadian ini. Sementara ia bermaksud untuk menyelinap ke luar. . namun dia sendiri pun mengurungkan niatnya untuk mengantar selimut buat sang pemuda. Niatnya semula segera diurungkan. coba kalau ke empat orang dayang tersebut. Sudah barang tentu dia tak pernah akan menyangka kalau Tok Nio-cu telah menyak-sikan lingkaran cahaya di atas kedua belah bahu dan ubunubun Lan See giok yang se-dang duduk bersemedi. yakni gerak gerik mereka berdua ternyata tak sebuahpun yang lolos dari pengamatan Lan See giok dengan Hud kong sinkangnya. "Siapa yang suruh kau memperhatikan suamiku?" Dengan cepat dia melompat ke depan pemba-ringan sambil menyambar sebuah selimut. Sulit baginya untuk memandang keadaan di ruang tengah.408 Hawa amarah kontan berubah menjadi ko-baran api cemburu setelah melihat hal ini. Tok Nio-cu berdiri ditengah halaman dan memandang ke ruang tengah dengan wajah termangu. Tapi setibanya di depan jendela dan menyak-sikan apa yang terbentang di depan mata. dia ma-suk kembali ke dalam kamarnya. agaknya ia telah menjumpai suatu keajaiban pada diri adik Giok. niscaya mereka sudah berteriak teriak panik. tiada sesuatu gejala yang aneh hanya saja dia tak dapat melihat tempat dimana adik Giok berada sekarang. Dari posisi Oh Li cu berada saat ini. dia ingin menyelidiki perbuatan apakah yang hendak dilakukan Tok Nio cu. Ada satu hal yang mungkin tak pernah disangka oleh Tok Nio-cu serta Oh Li-cu. mendadak dilihatnya Tok Nio-cu se-dang menggelengkan kepalanya berulang kali kemudian setelah berguman memuji.

dia merasakan kuda putih itu memang bisa lari dengan cepat tapi mantap. otomatis Lan See giok pun berlagak pilon. namun ia tidak berkata apa-apa." Tergerak hati Lan See giok menbdengar per-katajan itu. terjatuh kecil sekali. mereka bertiga ke luar dari rumah penginapan. melarikan kudanya menguntit mereka. Pada mulanya Lan See giok masih ragu de-ngan kemampuan kudanya yang dikatakan sangat hebat itu. Oh Li cu juga ti-dak mengungkapnya.409 Cuma dia enggan membuyarkan tenaga. . dengan kening berkerut seru nya.. "Adik Giok." Lan See giok sendiri meski agak men-dongkol. Tanpa terasa dua belas li sudah dilewat-kan dengan cepat. Selesai sarapan. kuda Ci hwee kou milik Oh Li cu juga telah dipersiap-kan. sama sekali tidak menderita dan kemung-kinan.. Kentongan kelima sudah berbunyi. Lebih kurang puluhan kaki di belakangnya terlihat ada lima ekor kuda dengan lima lelaki kekar. cepat ber-paling. "Kawanan tikus itu betul-betul tak tahu diri. Berhubung Tok Nio cu tidak membicarakan tentang peristiwa semalam. Pek liong kou adalah seekor kuda berwarna putih mulus dengan pelana emas dan alas perak. berpakaian ringkas sedang. lati-hannya hanya untuk menangkap per-buatan mereka berdua. sebaliknya Ci hwee kou berbulu serba merah. orang kelima di belakangmu sudah lama sekali menguntit perjalanan kita. dengan gcepat ia berpalbing. Sedangkan kuda Wu-wi kou berbulu hitam pekat. suatu senyu-man yang penuh mengandung arti. tinggi kekar dan gagah. Lan See giok bertiga mulai merencanakan perjalanan mereka. Oh Li-cu sangat gusar setelah melihat ke-jadian tersebut. Mendadak terdengar Tok Nio-cu berbisik dengan suara rendah. rupanya mereka sudah bosan hidup se-mua... Dengan menunggang kuda. "Kalau begitu mari kita percepat lari kuda kita untuk meninggalkan mereka jauh-jauh!" Tok Nio-cu tersenyum hambar. namun dia enggan mencari banyak urusan. namun setelah perjalanan sekian lama. berangkatlah ketiga orang itu menuju kearah timur kota. segera katanya. Selesai membayar rekening. fajar pun mulai menyingsing.

. mereka berdua juga segera mengerti apa sebabnya Tok. perjalanan sesuai jadwal. jarak ketinggian dari permukaan tanah paling banter cuma enam kaki. Tetapi pada saat itulah--Terdengar suara sayap yang berkebas me-nembusi angkasa melintasi di atas kepala ke tiga orang itu--Tok Nio cu mendongakkan kepalanya sambil menengok sekejap. Ketika mereka bertiga berpaling. Dalam waktu singkat bayangan tersebut su-dah berada ratusan kaki jauhnya dari tempat semula. dalam waktu singkat mereka telah menem-puh perjalanan sejauh sepuluh li lebih. Menanti Lan See giok berpaling kembali di belakang tubuhnya hanya nampak debu yang mengepul di angkasa..410 Lan See giok yang menyaksikan hal tersebut menjadi tidak habis mengerti. Tentu saja Lan See giok dan Oh Ii cu tidak habis mengerti. tampak setitik bayangan abu-abu melintas ditengah angkasa dan meluncur ke arah timur dengan kecepatan bagaikan sambaran petir. bahkan sama sekali sudah tak nampak lagi. Lan See giok. Berpikir sampai disini. Menempuhg perjalanan le-bbih cepatpun percuma. Dengan cepat mereka berdua menjadi sadar. Nio-cu tertawa bangga tadi. Tiba-tiba -Dari arah belakang kembali berkumandang suara burung yang terbang melintasi di ang-kasa. . Dengan kemampuan ketiga ekor kuda itu. kemudian ia tertawa senang. sementara ke lima orang penunggang kuda tadi sudah tertinggal jauh di belakang. Tok Nio cu serta Oh Li cu sama-sama tergerak hatinya. mereka ikut mendongakkan kepalannya.. lebih baik melanjut-kan. rupanya bayangan abu-abu itu adalah bu-rung merpati pos yang di lepaskan ke lima orang penguntit tersebut. Lan See giok segera memperlambat lari kudanya. otomatis Oh Li cu dan Tok Nio cu pun ikut mengurangi ke-cepatan lari kudanya. tentunya dia seperti henbdak berkata demjikian. namun dia pun tidak banyak bertanya dan segera melarikan kudanya meninggalkan tempat itu . ". mereka tahu kelima orang yang berada di belakang kem-bali telah melepaskan burung merpati pos. Di samping itu. benar juga seekor burung merpati pos sedang terbang melintas.

dia baru turut menyusul ke bawah. diam-diam ia menghimpun hawa murninya yang disalurkan ke dalam lima jari tangannya. kemudian segera menyentil nya ke udara. Lan See giok memperhatikan sekejap keadaan di sekeliling tempat itu. serentak mereka menjerit kaget.411 Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Lan See giok. disaat Tok Niocu dan Oh Li cu sedang mengamati burung merpati tersebut. ketika tiba dimuka jembatan. tentu saja ia tak percaya ada kejadian yang begini kebe-tulan. Melihat cara kerja perempuan itu. Tok Nio cu serta Oh Li cu tertegun untuk sesaat. Tidak sampai lima li.. ini namaznya kemauan takwdir. Sementara dia mendekat. sungguh tark nyana merpati pos ini bisa terserang angin duduk sehingga mam-pus secara mendadak" Dengan cepat dia melompat naik ke atas ku-danya dan menyembunyikan bangkai merpati itu ke dalam kantung senjata rahasia. Tok Nio cu telah melayang turun ke bawah dan memungut bangkai burung merpati itu. di depan situ muncul sebuah jembatan batu.. Suara desingan angin tajam langsung melun-cur ke tengah udara dan persis menghantam burung merpati yang kebetulan sedang ter-bang melintas. setelah sa-dar kalau di sekitar situ tiada orang lain. Lan See giok yang melihat hal tersebut cuma membungkam diri mesti hati kecilnya tertawa geli. Oh Li cu merasa agak bimbang. Tergerak hati Tok Nio cu. diam-diam Lan See giok dan Oh Li cu memuji ketelitian cara kerjanya. tampak air yang mengalir di sungai itu deras sekali. Dengan cepat mereka bertiga melanjutkan perjalanan lagi menuju ke depan. dia mengeluarkan bangkai merpati itu. kemudian mereka melarikan kudanya menghampiri bangkai merpati tadi. . Tok Nio cu maupun On Li cu sama-sama ter-peranjat setelah menyaksikan kejadian itu. "Prakkk!" Burung merpati itu terguling guling di tengah udara kemudian meluncur ke muka dan akhirnya menukik ke arah persawahan bebe-rapa puluh kaki di depan sana. Burung merpati itu menukik langsung ke arah persawahan dan menggeletak mampus. melepaskan tabung kecil yang terikat di kakinya kemudian membuang bangkai tersebut ke dalam sungai. Maka kepada Lan See giok serta Oh Li cu ujarnya kemudian: "Ayo cepat berarngkat. ternyata sudah mampus.

namun berhubung Lan See giok hadir di situ. ia pun berkata sambil tertawa. setelah diamati seke-jap. Ia merasa terkejut bercampur kagum atas kecepatan pihak Tay ang san untuk me-nyampaikan berita. ternyata berbunyi demikian: "Sasaran ada tiga. "Mengapa di tengah jalan kita tak perlu kuatir` dikuntit orang lagi. Tok Nio cu merasa sangat tak senang hati melihat Oh Li cu tidak menyebut sesuatu kepadanya. mengagumi cara kerja Tok Nio cu yang begitu cekatan dan seksama dalam melaksana kan pekerjaannya. "Sekarang kita boleh melanjutkan per-jalanan dengan berlega hati. di samping itu diapun. . apalagi setelah . Sambil berkata ia menggulung kertas itu. . sahutnya dingin: "Berhubung burung merpati ini tak mencapai kota Pang kang tin. Karena itu setelah tertawa hambar. maka para ketua cabang di kota berikutnya jadi ke-hilangan berita. otomatis mereka tak akan mengetahui siapa-kah sasaran yang sebetul nya. sepan-jang jalan tak bakal ada orang yang akan menguntit kita lagi. diantara nya Tok Nio cu. dengan ter-putusnya berita itu mereka pun akan kehi-langan jejak "Tapi. Sementara itu Oh Li cu telah berpaling kearah Tok Nio cu sambil bertanya dengan nada tak habis mengerti. Tertanda ketua cabang kota Kang tin. Lan See giok menyerahkannya ke tangan Oh Li cu. Tok Nio-cu melanjutkan perjalanannya kembali sambil mengeluarkan selembar kertas dari dalam tabung kecil itu. tentu saja ia tak dapat mem-bungkam diri terus menerus. Lan See-giok menerima surat tersebut dan dibaca isinya." Selesai membaca surat itu. meremasnya lalu disentilkan ke dalam semak belukar di sisi jalan." Dia melarikan kudanya mendekati Lan See giok dan menyerahkan surat tersebut kepadanya. bukankah sudah dikirim burung mer-pati yang pertama?" tanya On Li cu tidak habis mengerti.. "Merpati yang pertama tadi sudah barang tentu dikirimkan kepada si Beruang berle-ngan tunggal Kiong Tek ciong yang berada di bukit Tay ang san . tak usah kuatir. " Lan See giok segera mengangguk me-muji setelah mendengar perkataan itu.412 Selesai membuang bangkai burung itu. Pada dasarnya Oh Li cu memang tak puas melihat Tok Nio-cu turut serta dalam perja-lanan mereka menuju ke bukit Tay ang san..

aku lihat Gui hujin tidak usah berangkat ke situ lagi. Dalam keadaan demikian. "Aku pergi ke Tay ang san tujuannya tak lain untuk menyeret pulang Harimau berkaki ce-bol si penghianat itu. berkaki ce-bol dari benteng kalian yang me-nyampaikan berita kepadanya ? Buat apa orang-orang itu mesti memberi kabar lagi kepada pemimpin mereka di Tay ang san? "" Tok Nio-cu tidak menjadi marah oleh ejekan. tiada orang yang menguntit mereka lagi. walaupun sepanjang ja1an mereka jumpai satu dua orang lelaki berpakaian ringkas yang mirip orang-orang dari kantor cabang Pek kang tin. maka de-ngan nada menyindir diapun berkata ketus: "Bukankah di pihak Kiong-ciong situ sudah mendapat kabar dari si harimau. Ini berarti dia pun sudah mengetahui sebab-sebab utama dari perselisihan antara Tok Nio-cu dengan Oh Li cu. jika dia tidak beru-saha melerai. agak mendongkol dia berseru. namun orangorang itu sama sekali tidak menaruh perhatian khusus terhadap Lan See giok ber-tiga. Tengah hari itu mereka bertiga bersantap di kota peng kang tin. satu ingatan segera melintas di dalam benaknya dengan perasaan tak sabar serunya. kebetulan saja aku ber-sua dengan adik Giok ditengah jalan se-hingga akhirnya kami putuskan untuk be-rangkat bersama" Dengan cepat Lan See giok menjumpai situasi yang semakin tak beres." Tok Nio cu segera berkerut kening. sebab terdapat aku Tok Nio-cu yang men-dampingi adik Giok !" " Berubah hebat paras muka Oh Li cu saking mendongkolnya namun ia masih berusaha untuk menahan amarahnya dengan berkata ketus: "Jarak dari Pek hoo cay sampai di Tay ang san mencapai ribuan li jauhnya. malah bisa jadi suatu pertarungan tak terelakkan. sudah pasti percekcokan antara Tok Nio cu dengan Oh Li cu akan se-makin bertambah sengit. "Kalian berdua tak usah cekcok terus biar siaute berangkat ke sana seorang diri saja! Dengan diutarakannya perkataan tersebut. Setelah meninggalkan kota Peng kang tin. seperti apa yang diduga Tok Nio-cu.413 menjumpai sikap me-ngejek dan menghina yang menghiasi wajahnya. Tok Nio cu dan Oh Li cu segera terbungkam dalam seribut bahasa. betul juga. sahut sambil tertawa bangga." "Tujuan mereka melepaskan burung merpati itu tak lain adalah memberi tahu kepada Kiong Tek ciong agar berhati hati. . Lan See giok segera merasa bahwa cara tersebut sangat manjur sekali. sekarang hatinya semakin panas.

Berhubung Tok Nio-cu berusia paling tua di-antara ketiga orang itu. Tiang siu tian adalah sebuah kota keresi-denan yang cukup banyak penduduknya.ang-san dengan tiga puncak sembilan tebing dua belas benteng. Seorang kacung yang melayani pavilliun itu cepat ke luar dari ruangan. Setibanya lima langkah di depan meja. kacung itu mengangkat kartu merah itu tinggi-tinggi.414 Hal ini membuat Lan See giok. ternyata pelayan itu membawa se-lembar kartu merah. Liang Si-gwan. si lengan tunggal peng-getar langit Kiong Tek-ciong khusus datang . Ketua cabang kota Tiang-siu tian. dia tetap merasa tak puas terhadap kesombongan serta sikap tinggi hati Tok Nio-cu. Lan See-giok tidak begitu memahami atas semua peraturan dunia persilatan. banyak orang berdagang di situ. sedangkan Oh Li cu dengan gembira berjalan bersama pemuda itu di belakang nya. kemudian berseru dengan suara nyaring. Setelah memasuki kota. dia merasa perlu sekali mengajak se seorang yang amat berpengalaman semacam Tok Nio cu di dalam perjalanannya menuju ke Tay ang san kali ini. Sementara mereka bertiga masih duduk ber-gurau. Lan See-giok tahu. namun ia yakin kartu merah itu dikirim oleh pihak orang-orang Tay ang san. kendatipun demikian. pelayan itupun menyerahkan kartu merah itu ke tangan si kacung sambil meninggalkan pesan dengan suara lirih. Kemudian terlihat kacung itu manggut-manggut dan masuk kembali-ke dalam ru-angan. sebuah kota di kaki selatan bukit Tay ang san. Sesuai dengan rencana dari Tok Nio cu. Lan See giok bertiga turun dari kudanya di depan sebuah rumah penginapan yang paling besar di kota itu. Deretan tanah perbukitan Tay ang san yang terjal dan berbahaya terletak di sebelah utara kota. merasa sema-kin kagum terhadap kemampuan Tok Nio cu. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di sebuah pavilliun yang letaknya di ujung be-lakang rumah penginapan. menjelang maghrib hari ke dua mereka ber-tiga telah tiba di Tiang siu tian. anak buah ketua benteng dari Tay. mendadak seorang pelayan muncul dalam ruangan itu dengan wajah panik dun langkah terburu-buru. tentu ada sesuatu yang tak beres. secara otomatis Lan See giok membiarkan ia berjalan di muka. Sebaiknya Oh Li-cu merasa kagum juga ter-hadap kecerdasan dan pengalaman Tok Nio cu. sehingga tak heran kalau suasana kota ramai sekali.

kecerdasan dan kelicikan mereka pun luar biasa. "Tiang siu kian merupakan pintu gerbang Tay ang san. Di samping itu diapun tahu akan julukan Kiong Tek-ciong di bukit Tay-angsan sebagai si lengan tunggal penggetar langit. tunggu dulu sebentar. dia termasuk satu . kemudian ujarnya dengan suara yang amat lirih. dilepaskan lawan tak lain karena kehadiran Tok Nio cu. "Tolong sampaikan kepada Liang toucu. Tok Nio cu memperhatikan sekejap keadaan di sekeliling tempat itu. kami baru bersantap sampai di tengah jalan sehingga kurang leluasa untuk menyambutnya." Pelayan yang berdiri ditengah halaman itu mengiakan dengan hormat.415 menghadap setelah mendengar akan kehadir-an Gui hujin dari Pek-hocay!" Berubah paras muka Lan See giok mende-ngar perkataan itu. hal ini membuat rasa tak puas yang semula menyelimuti wajahnya seketika hilang lenyap tak berbekas. kepada sang pelayan yang masih berdiri di depan halaman. selain ilmu silatnya sangat hebat. Setibanya di halaman belakang. Seorang dayang segera maju untuk menerima kartu merah itu kemudian diangsurkan ke hadapan Tok Nio cu dengan sikap yang amat menaruh hormat. katanya kemudian dengan suara dalam. seusai bersantap akan kuutus seorang pelayan untuk mengundang kehadiran Liang toucu . BAB 20 OH LI-CU yang melihat kejadian ini segera menjadi percaya kalau burung merpati per-tama yang terlihat mereka tempo hari. dia tak mengira kalau Tok Nio cu mempunyai nama yang begitu termasyhur dalam dunia persilatan. ketua cabang yang berada di sini merupakan seorang jagoan yang setaraf kedudukannya dengan para caycu di atas gunung. Lan See giok berdua memahami maksud tersebut dan mengikuti dari belakang. Tok Nio cu sama sekali tidak memandang se-kejap pun. Tok Nio-cu tahu bahwa Lan See giok serta Oh Li-cu sudah tak bernapsu lagi untuk ber-santap. ia memberi tanda kepada Lan See giok serta Oh Li-cu kemudian me-ngundurkan diri dari ruangan. maka kepada pelayan sekalian yang berdiri di situ ia menitahkan: "Bersihkan semua sisa hidangan!" Selesai berkata. kemudian burn-buru meninggalkan halaman.

dengan perasaan tak puas kembali dia bertanya. terutama sekali antara Kiong Tek ciong dengan ayahmu agaknya seperti mem-punyai suatu dendam kesumat yang dalam. harap nona Oh jangan marah. serunya kemudian dengan cepat. "Kali ini. dia menja-di marah." Berubahlah paras muka Oh Li cu. "Dalam soal ini. Tok Nio cu tertawa hambar. halus dan seorang seniman. cici rasanya jauh lebih jelas daripadamu. kau harus menjawab seadanya saja dan tidak usah membicarakan masalah orang tuamu serta masalah Wi-lim-poo dengannya "Mengapa?" tanya Oh Li cu sambil ber-kerut kening dengan wajah tidak mengerti. akalnya tajam otaknya cerdas. kau lupa rupanya bahwa Tay-ang-san bukan Phoa yang oh. "Jika Liang Si gwan menanyakan soal asal usul nona Oh. bila Liang Si gwan telah datang nanti. Liang si gwan orangnya se-derhana. Tok Nio cu segera berpaling pula kearah Oh Li cu sambil menambahkan. sesungguhnya kedua belas orang caycu dari Tay ang oan seperti tak per-nah memandang sebelah matapun ter-hadap Wi-lim-poo. sedangkan masalah lain lakukan menurut kode mataku" `Lan See giok segera mengangguk sambil mengiakan berulang kali. berbicara soal kekuatan. kapal perang nya mencapai ratusan buah. adik Giok boleh mengutarakan maksud tujuanmu seca-ra berterus terang. dengan cepat dia memberi penjelasan. dia disebut orang Say go yong (Tandingan Go Yong)." Merah jengah selembar wajah Lan See giok. "Setelah ku utarakan nanti. sekarang dia baru teringat. anggota benteng pun semuanya kekar dan berdisiplin tinggi. na-mun memang tak berdaya sama sekali untuk menghadapi pihak Tay ang san.416 satunya jagoan ke-percayaan si beruang berlengan tunggal yang paling tangguh."Gembira nian perasaan Oh Li cu oleh karena Lan See-giok membelai Wilim-poo tanpa terasa dia memandang sekejap kearah pbemu-da itu dengjan pandangan megsra. Tok Nio-cbu tertawa hambar. Oh Li cu tertawa dingin. . "Wi-lim-poo mempunyai kekuatan yang besar di telaga Phoa yang oh. belum tentu mereka berada di bawah kekuatan Tay ang san. akan kusuruh mereka rasakan keli-haian dari anggota Wi-lim-poo!" Lan See giok sendiripun segera merasa bahwa Tok Nio cu kelewat memandang ren-dah pihak Wi-lim-poo. biarpun Wi--lim-poo memiliki angkatan laut yang kuat.

mengapa adik Giok bisa mema-suki benteng kalian secara mudah?" Tok Nio-cu mengerling sekejap ke arah Lan See giok." Tok Nio-cu berkerut kening. sekujur badannya gemetar keras. cepat ujarnyga kepada Tok Nibo-cu. kemudian men-jawab dengan angkuh: "Walaupun Pek ho cay bukan terdiri dari dinding baja tembok besi. PUCAT pias selembar wajah Oh Li cu sete-lah mendengar perkataan itu. lalu tertawa menggiurkan: "Berapa banyak sih manusia di dunia ini yang memiliki kepandaian silat sehebat adik Giok?" Ucapan tersebut kontan membuat Oh LI cu tertegun. "Undang kehadiran Liang toucu!" . bahkan mungkin jauh le-bih sukar ketimbang memasuki Tay ang san apalagi biarpun pihak Tay ong san memiliki jago-jago yang tak terhitung jumlahnya. namun penjagaan serta pertahanan kami kuat sekali. Kepada seorang kacung yang berdiri di luar ruangan. Tok Nio-cu segera berseru dengan suara dalam. na-mun belum tentu ada yang mampu menandingi kami suami istri berdua. karena itu dia lebih mempercayai perkataan perempuan itu. jangan harap bisa memasuki Pek ho cay secara mudah.417 "Apa kau anggap keadaan medan dari ben-tengmu itu jauh melebihi ketiga tebing sem-bilan puncak dari Tay ang san. dan anggota-nya jauh lebih banyak daripada kedua belas caycu dari Tay ang san . "Sisa hidangan di meja sudah dibersihkan aku rasa kau harus mengirim orang untuk mengundang kehadiran Liang toucu!" Tok Nio-cu tertawa seraya mengangguk. seketika itu juga dia melupakan kegenitan Tok Nio-cu. tiga cawan teh telah dihidangkan." Lau See giok pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana si Beruang berlengan tunggal didesak oleh Gui Pak ciang dari Pek ho cay sehingga mati kutunya. kalau bu-kan seorang jago yang benar-benar sangat hebat. . dengan perasaan yang amat mendongkol katanya: "Kalau toh benteng kalian begitu tangguh dan hebat. Lan See-giok kuatir kedua oranbg itu ribut lagji. dia tidak tahu perka-taan dari perempuan itu adalah kenyataan ataukah hanya sengaja menyanjung adik Giok nya. mereka bertiga segera kembali ke ruang te-ngah. Sementara Itu meja di tengah ruangan te-lah diatur kembali dengan rapi.

dari ke-seder-hanaannya bisa diketahui bahwa orang ini sangat berbahaya." "Silahkan!" jawab Tok Nio-cu tersenyum. dia mengenakan pakaian model sastra-wan dengan wajah yang bersih. kacung itu sudah muncul kembali dengan langkah tergesa gesa. . Beberapa saat kemudian. Kacung itu segera membalikkan badan dan berseru kembali dengan lantang: "Hujin mempersilahkan Liang toucu ma-suk!" Dari depan pintu halaman segera ber-jalan masuk sesosok bayangan manusia. Liang Si gwan buru-buru masuk ke ruang tamu dan memberi hormat sambil katanya: "Liang Si-gwan.418 Kacung itu mengiakan dengan cepat ke-mudian buru-buru berjalan ke luar dari! ha-laman. begitu sampai di depan pintu. Terutama sekali sepasang matanya yang memancarkan sinar tajam dan wajahnya yang memancarkan keseriusan. kemudian baru duduk di sisi sebelah kanan. Begitu bersua dengan Tok Nio-cu. dia segera berseru keras. se-lain itu juga dikarenakan orang itu agak se-gan terhadap ilmu silatnya yang hebat: Tapi jika dilihat dari kemampuan Tok Nio-cu sewaktu bertempur melawan Oh Li cu di kota Siang-yang tempo hari rasanya perem-puan tersebut tidak memiliki ilmu silat yang kelewat tangguh. Tok Nio-cu bangkit berdiri dari kursinya. dia melirik se-kejap ke arah Lan See giok dan Oh Li cu yang duduk bersanding. Lan See-giok dapat merasakan bahwa si-kap hormat Liang Si-gwan terhadap Tok Nio-cu sebagian disebabkan karena baik Tok Nio-cu maupun si beruang berlengan tunggal sama-sama merupakan jagoan yang mempunyai kedudukan dalam dunia persilatan. . Lan See giok dan Oh Li-cu serentak turut bangkit berdiri pula . Dengan senyuman dikulum dan mata me-mancarkan cahaya berkilat. Yang dinamakan Liang Si gwan adalah se-orang sastrawan berusia tiga puluh tahunan. ketua cabang Tiang-lu-tian dari Tay ang san khusus datang men-jumpai nyonya Gui!" Tok Nio-rcu tertawa hambzar. . silah-kan duduk berbincang-bincang!" Liang Si gwan mengiakan. kemudian mewnjawab nyaring:r "Liang toucu tak usah banyak adat. ini menun-jukkan bahwa diapun seorang yang cerdas. "Liang toucu tiba.

sengaja aku datang kemari sekarang untuk memohon maaf atas kekhilafan tersebut" Lan See giok merasa sangat tidak tenang sesudah mendengar Liang Si gwan salah mengira dia dan Oh Li cu sebagai suami istri. ia berkata: "Berhubung berita kami terputus ditengah jalan sehingga tak bisa menyambut kedata-ngan nyonya serta Lan siauhiap suami istri di luar kota. kemudian sahutnya lembut. ada kalanya melalui jalan sam-ping. dihati kecilnya dia tahu.419 Dalam pada itu. bila mereka sampai datang ke pesanggrahan penyambut tamu agung itu. adapun kedatangan Kami kemari ada kalanya melalui jalan raya. aku telah peroleh pemberi-tahuan secara langsung dari markas pusat." ." "Tidak usah. se-telah itu dia baru berkata lebih jauh. Atas pertanyaan tersebut. Liang Si gwan telah me-mandang sekejap kearah Lan See giok serta Oh Li cu. Tok Nio-cu memandang sekejap ke arah Liang Si gwan.* "Nyonya telah datang dari jauh untuk menjenguk kami." tampik Tok Nio-cu tanpa ragu-ragu. "Liang toucu kelewat merendah. sudah pasti hal tersebut terjadi karena percek-cokan Oh Li cu dengan Tok Nio-cu di Siang yang tempo hari. Sebaiknya Oh Li cu kelihatan agak tersipu sipu. apa lagi kamarpun sudah dipesan. "sekarang hari sudah malam. namun diapun merasa kurang leluasa untuk membantahnya. mungkin soal inilah yang membuat kalian tidak peroleh berita kami secara pasti. niscaya gerak-geriknya menjadi kurang leluasa. kemudian sambil menjura sekali lagi kepada Tok Niocu. paling tidak sebagai pene-bus bagi kekhilafan kami yang tidak me-nyambut dari kejauhan" cepat--cepat Liang Si gwan mendesak lagi. sehingga segala persiapan telah dilakukan secara baik. perjamuan dari Liang Toucu biar kuhadiri di kemudian hari saja. sudi me-ngunjungi pesanggrahan Eng pia kek kami agar dapat dilayani lebih baik. ""Kami sudah kenyang bersantap maupun minum arak. Kini aku khusus datang kemari untuk mengundang kalian bertiga. Liang Si gwan cuma dapat mengangguk seadanya saja. tapi sebelum ia sempat me-ngucapkan sesuatu. tak usah mengganggu ketenangan kalian lagi. Tok Nio-cu telah berkata sambil tertawa merdu. namun dihati kecilnya menunjukkan senyuman penuh kepuasan. "Untuk kehadiran Nyonya serta Lan siau-hiap suami istri. sudah sewajarnya bila kami sambut kedatangan nyonya dengan suatu perjamuan besar. Lan See-giok sadar.

begitu meli-hat tanda rahasia dari Tok Nio-cu. Buru-buru serunya berulang kali.gesa. sedang paras muka Tok Nio-cu telah berubah menjadi hi-jau membesi mengerikan sekali . ke dua orang tersebut menjadi melongo don tidak habis mengerti. ia men-jumpai senyuman yang begitu cerah di wajah perem-puan tersebut. . aku tak akan mengganggu lebih lama lagi. . maaf bila aku tidak menghantarmu?. Berkerut kening Tok Nio-cu melihat sikap lawan.!" . katanya lem-but: "Nyonya dan Lan siauhiap telah menempuh perjalanan selama berharihari. . itu Lan See Giok don Oh Li cu sedang merasa geli atas sikap Liang Si Gwan yang begitu sopan santun dan mau mengun-durkan diri dengan begitu saja. menggunakban ke-sempatan jdisaat Liang Sig gwan sedang mebm-beri hormat. keningnya berkerut dan mata-nya cerah. Sebaliknya Liong Si gwan yang mende-ngar ucapan Tok Nio-cu yang merdu dan nyaring tersebut menjadi menggigil karena terkejut. tak tahu apa gerangan yang sesungguhnya telah terjadi? Dalam pada itu Liang Si gwan telah me-ngundurkan diri dari ruangan. sekarang tubuh pasti penat dan perlu beristirahat." Lan See giok sebagai seorang pemuda yang saleh dan penuh cinta kasih. sekulum senyuman halus dengan cepat menghiasi bibirnya yang merah. sementara tubuhnya mengundurkan diri dengan ter-gesa. !" Sembari berkata." Melihat hal ini Tok Nio-cu seperti teringat akan sesuatu. Paras muka Liang Si gwan segera me-nun-jukkan perubahan yang semakin ngeri dan takut. nyonya -tak perlu menghantar lagi . Tiba. Pada waktu. sementara gerakan tubuhnya yang mundur pun semakin bertambah cepat. toh ia dibuat tertegun juga oleh peristiwa itu.420 Liang Si gwan sedikit mengerutkan dahi nya lalu berdiri dengan sopan. "Nyonya tak usah menghantar lagi. "Selamat jalan Liong toucu. wajahnya kontan ber-ubah he-bat. matanya mengawasi tubuh Tok Nio-cu lekat-lekat. Cepat dia bangkit berdiri lalu menjawab dengan riang. dengan cekatan sekali dia mem-beri tanda kepada Lan See giok dan Oh Li cu yang berdiri di sisinya. meski belum mempunyai pikiran yang kelewat mendalam. sepasang matanya memancarkan ca-haya berkilat dan tanpa terasa ia perdengar-kan suara tertawa dingin yang penuh me-ngandung hawa napsu membunuh. . Sementara berbicara. . tiba . apalagi setelah menjura. biar memohon diri sampai di sini saja. .

kau berarti kurang ajar . yaitu apa sebabnya Tok Nio-cu hen-dak membunuh Liang-Si gwan?" Ketika ia menunduk kembali.b tangan kanannyja sudah merogohg ke dalam saku bdan cahaya biru berkilauan. dia cengkeram pergelangan tangan Tok Nio-cu. ben-taknya secara tiba-tiba. kemudian berpaling pula ke arah Liang Si gwan. kemudian melejit ke tengah udara. ke-mudian ujarnya dingin. Oh Li cu yang berdiri di sampingnya me-muji sekali atas kecerdasan dan kecekatan Liang Si gwan bertindak. "Kawanan tikus.w . kemudian melepas-kan genggamannya atas tangan lawan. Pemuda itu tertegun. "Bila kau membiarkan dia kabur sekarang akhirnya pasti akan menyesal sekali" Lan See giok tertawa hambar. jelas "pisau-pisau terbang tersebut su-dah diberi racun yang amat jahat. Akhirnya dia bertanya keheranan. "Apakah kau beranggapan dengan mem-bunuh Liang Si gwan. dia siap melepaskan serangan ke muka. asal kita tidak terlepas dari arah dan rel yang sebenarnya. nampak nya orang itu kuatir sekali bila Tok Nio-cu melepaskan serangannya yang keji. maka hal ini akan bermanfaat sekali dengan ursaha kita menujzu Tay ang san . terlihat olehnya cahaya biru berkilauan diantara jari-jari tangan Tok-Nio-cu yang lembut. Dengan sorot mata tajam Tok Nio-cu me-ngamati wajah Lan See giok lekat-lekat.421 Secepat sambaran petir Liang Si gwan membalikkan tubuhnya. Lan See giok yang awas dengan cepat maju setindak. Hanya ada satu hal yang tidak dipahami olehnya. Berkilat sepasang mata Tok Nio-cu. ada tiga bilah pisau terbang liu yap hui to ber-warna biru yang berada dalam genggaman-nya. Baru sekarang Lan See giok mengerti apa sebabnya Liong Si gwan mengundurkan diri dari ruangan secara tergesa . ?" . . ternyata orang itu sudah tak nampak lagi bayangan tubuhnya. bahkan jauh di atas kekejaman sendiri. Belum habis bentakan tersebut. Namun begitu. sahutnya serius: "Biarkan saja perbuatan mereka mencuri-gakan." Merah padam selembar wajah Tok Nio-cu ucapan anak muda tersebut membuatnya terbungkam dalam seribu bahasa. .gesa. dia pun tidak habis mengerti mengapa Tok Nio-cu hendak turun tangan membunuh Liang Si gwan. di samping itu diapun merasa kan betapa kejamnya Tok Nio-cu.

aku kuatir su-dah agak terlambat. Oh Li-cu segera mendengus sambil segera me-ngalihkan pokok pembicaraan. ." Mendengar penjelasan tersebut. dan hal tersebut membuatnya merasa-kan betapa gawatnya situasi. ! �` Tok Nio-cu merasa sangat tak senang karena selama ini Lan See giok selalu me-manggil dirinya dengan sebutan "nyonya". kau dan aku ja-ngan harap bisa kembali dalam keadaan hidup. mengangguk berulang kali sembari me-muji. dia sudah memastikan rupanya bahwa malam ini kita akan berangkat ke Tay ang san. "aku berani memastikan Kiong Tek ciong dari Tay ang san hingga kini masih be-lum tahu kalau kita bertiga sudah berada di Tiang siu tian." Mendengar betapa seriusnya persoalan yang mereka hadapi Lan See giok menyela. karena itulah tawarannya ku tam-pik." kata Tok Niocu sambil memandang sekejap pemuda tersebut dengan pandangan apa boleh buat. namun dia sendiripun tak bisa memaksa pe-muda tersebut untuk memanggilnya dengan sebutan cici. Liang Si gwan mengundang kita agar menginap di pesanggrahan penerima tamu. "Kalau dia menduga kita naik gunung tadi malam ini. Melihat pemuda itu memuji Tok Nio-cu." "Atas dasar apa kau berkata begini?". tanya oh Li cu tidak puas. "Kalau memang begitu mari kita be-rangkat sekarang juga!" "Bila berangkat .422 "Tentur saja.sekarang. Lan See giok. hal tersebut tak lain bertujuan untuk mengurangi gerak gerik kita." jawab Tok Nio-cu tanpa ragu-ragu. aku yakin kecuali adik Giok seorang. . dapat dibuktikan kalau kehadiran kita disini telah memberikan rasa kaget yang luar biasa baginya. Niocu ter-tawa ang-kuh. dari situ pula terbukti kalau pihak Tay ang san masih be-lum mengetahui gerak gerik kita. Tok. karena itu dia buru-buru minta diri agar ada waktu cukup untuk melaporkan kejadian ini ke markas besar dan membuat persiapan seperlunya. "Pandangan nyonya memang tepat sekali aku merasa sangat kagum . . lebih baik kita sengaja berangkat esok pagi saja" Waktu itu Tok Nio-cu sedang merasa tak senang hati. "Jika besok baru berangkat. mendengar ucapan mana dia segera tertawa dingin. "Ditinjau dari kedatangan Liang Si gwan yang tergesa-gesa.

Lan See giok bertiga segera melejit dan melompat naik ke atas atap rumah.. Waktu itu langit masih agak terang karena cahaya rembulan. bukit yang terjal dan bayangan hitam yang me-nye-limuti seluruh tanah perbukitan mendatang-kan suasana.423 Oh Li-cu menganggap sikap tersebut me-rupakan kesengajaan Tok Nio-cu bersikap sok tegang. perkiraan baru mendekati kentongan kedua. berangkatlah mereka bertiga menuju ke ruangbelakang. Tiba di halaman belakang. Sementara mereka sedang menempuh per jalanan cepat menuju ke arah tanah perbu-kitan itu... agaknya mereka masih belum melakukan suatu per-siapan yang ketat . ... Memandang tanah perbukitan itu.. bukit Tay-ang san yang angker berdiri di depan mata. Tok. Berbicara sampai di situ.. Memandang jauh ke muka. ketbiga orang itu sjegera mengerahkgan ilmu meringabnkan tubuh masing-masing dan berangkat menuju ke kaki bukit sebelah selatan. tiba-tiba . dan burung-burung merpati itu semuanya terbang menuju kearah bukit.Nio-cu berkata kemudian kepada sang pemuda" "Kalau dilihat dari keadaan. Dalam pada itu para pelayan dan kacung yang melayani pesanggrahan tersebut sudah pada ketakutan dan menyembunyikan diri di sudut ruangan. : " "Hmm.. Lan See-giok segera menghentikan lang-kahnya sambil mendongakkan kepala-nya. di tengah kegelapan tampak ads selapis titik hitam sedang terbang melintas dengan gera-kan yang cepat sekali. ujarnya cepat. yang menggidikkan hati bagi yang melihat . "Aku tidak percaya kalau Tay ang san be-gitu hebat dan menakutkan sehingga jauh lebih mengerikan dari pada akherat . jumlahnya mencapai puluhan. mari kita be-rangkat sekarang juga:" Tidak membuang waktu lagi.. Ditengah udara bergema suara burung yang terbang melintas dari atas kepala mereka. tak seorangpun diantara mereka yang berani bersuara. ... jika kau tak percaya mengapa kita tidak segera berangkat untuk membuktikan sendiri?". Habis kesabaran Lan See giok setelah me-mandang bukit Tay-ang san yang berada di depan mata.. segera ujarnya dingin.. "Kalau toh memang begitu.

"Bila bersikap lemah terhadap kaum dur-jana. Kini keningnya berkerut setelah meman-dang keadaan sekitar situ dan wajahnya memperlihatkan perasaan serba salah. coba kalau Liang-Si-gwan kita bunuh. sesudah melihat keadaan medan dibukitbukit Tay ang-san ini. tidak bakal kita jumpai kesulitan macam begini. Berkobar amarah di dalam dada Oh Li-cu melihat sikap lawannya. namun setiap kali bersama Gui Pak ciang diundang sebagai tamu. ia seperti hendak mengucapkan sesuatu. keningnya segera berkerut. jika kita serbu tebing tersebut secepatnya. namun secara tiba-tiba ia lihat diantara rombongan burung merpati itu ada satu titik bayangan hitam yang menukik ke bawah dan meluncur ke arah tanah tebing bersinar lentera di depan situ. Tok Nio-cu sendiri walaupun sudah dua kali mengunjungi bukit Tay ang san. Lan See giok memandang sekejap sekitar sana. segera serunya keraskeras. Berbeda sekali dengan Oh li-cu. dia baru sadar bahwa keadaan Wi-lim-poo dimana ia berdiam me-mang tidak sebahaya dan seterjal keadaan medan di tempat ini. ketuanya adalah si hakim paku hati. angin malam terasa berhembus kencang. mereka bertiga meneruskan perjalanannya ke atas. Lan Seegiok dan Oh li-cu yang tidak begitu mengenal keadaan medan hanya bisa mengikuti di belakang pe-rempuan itu. bukit.424 Berkerut kening Tok Nio-cu menyaksikan kesemuanya itu. akibatnya diri sendiri yang rugi. Mencorong sinar terang dari balik mata Tok Nio-cu." Sembari berkata. lalu ujarnya agak mendongkol. Memasuki mulut. "Adik giok. Selesai berkata dia lantas meluncur ke arah bukit itu lebih dulu. . diam-diam ia mencoba untuk melihat kembali kearah manakah mereka harus meneruskan perjalanannya. dia memandang sekejap ke arah Lan See giok yang sedang memperhati-kan burungburung merpati itu. sinar matanya yang di-ngin seperti es kembali dialihkan ke wajah Oh li-cu. Mendekati tempat bersinar lentera itu. diab merasa keadaanj medan di atas gbukit Tay ang-sban ini tidak sebahaya apa yang dilukiskan Tok Niocu sebelumnya. aku rasa para bukit lainnya pasti akan kelabakan dibuatnya. menggunakan batuan karang dan pohon siong yang tumbuh di situ sebagai perlindungan. di depan sana rupanya adalah Tebing mayat menggelapar.

dilihatnya perempuan itu pun bisa berge-rak dengan enteng dan cekatan. Dalam keadaan was-was dan prihatin. dalam sekali lompatan saja beberapa kaki bisa melampaui secara mudah. Agak tertegun Oh li-cu sesudah menyaksi-kan gerakan tubuh Lan See-giok ketika melompat naik. "Bila keadaan medan sudah curam dan berbahaya. .. maka kedua orang itu segera mengangguk. Baru sekarang dia membuktikan ucapan dari Tok Nio-cu. mari kita turun ke bawah melalui dinding tebing itu saja" Tok Nio-cu dan Oh li-cu menjumpai din-ding tebing yang dimaksud tingginya menca-pai ratusan kaki. dan bila hal ini sampai terjadi. kebanyakan penjagaan yang mereka lakukan tidak terlalu ketat.. Mungkin saking kagetnya. Sedikit saja mereka bertindak kurang hati-hati. tanpa terasa dia sampai menghentikan langkahnya di atas sebatang pohon Menengok ke bawah. satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya lalu ia berbisik. . kenyataan menunjukkan bahwa-ilmu meringankan tubuh yang dimiliki nya masih kalah setring-kat jika dizbandingkan dengwan perempuan terrsebut. Di samping itu diapun amat terkejut atas kepesatan ilmu silat yang diperoleh pemuda tersebut dalam setahun belakangan ini. gadis tersebut turut melompat naik dengan menghimpun seluruh kekuatannya. baru sekarang ia merasakan betapa berbahayanya keadaan di sekitar situ. di jumpainya Tok Nio-cu serta Oh li-cu masih berada puluhan kaki di bawahnya. Sementara itu Lan See-giok telah berubah wajahnya setelah memandang keadaan di seputar sana. rupanya di sepanjang tebing itu ditemukan banyak sekali balok kayu dan batu-batu cadas yang digulingkan ke bawah. jadi rupanya perempuan itu bukan mengumpak atau menyanjung kehe-batan adik giok nya. Ketika memandang pula kearah Tok Nio-cu. karena yakin mereka masih sanggup untuk melewatinya. batu besar dan kayu raksasa yang dipersiapkan di tepi tebing niscaya akan mengguling ke bawah. tiba di situ Lan See-giok segera memimpin dengan melompat naik lebih dahulu. di atas ditebingpun seperti dipenuhi batuan cadas dan semak belukar. Mereka bertiga tidak ragu lagi dan lang-sung menuju ke tebing curam tersebut.425 Sementara itu Lan See-giok telah melihat sebuah terjalan dinding tebing pada puluhan kaki diarah barat daya mereka. gerakan begitu cepat seperti burung elang. niscaya mereka bertiga akan mati dengan tubuh hancur berantakan.

tubuhnya segera menggigil karena ketakutan. Berbeda sekali dengan keadaan Tok Nio-cu dia tetap bersikap acuh tak acuh terhadap batuan besar dan balok kayu di sekitarnya tebing tersebut. Tok Nio-cu dan Oh Li-cu segera menangkap tanda tersebut.. Setibanya di atas pohon. nyaris dia jatuh tertelung-kup ke bawah.426 Dalam keadaan begini. berada sekarang merupakan suatu tempat yang begitu berbahaya sehing-ga setiap saat besar kemungkinannya akan merenggut jiwa mereka. ia pun mendongkol kepadanya karena perempuan itu pandai memanfaatkan kesempatan untuk bermesraan dengan kekasihnya. malah sambil tertawa ham-bar. api cemburu yang semula berkobar pun seketika menjadi padam. tapi berhubung pohon itu pendek lagi kecil me-manfaatkan kesempatan tersebut dia berpe-gangan pada lengan kanan sang pemuda sambil menempelkan tubuhnya ke depan payudaranya yang montok dan empuk otomatis menempel sebagian di atas lengan kanan si anak muda tersebut. Lan See-giok telah menunjuk ke atas tebing di depan sana. aku ingin tahu dengan cara apakah engkau menyelamatkan kami sekarang? Oh li-cu yang melihat kesemuanya ini. Oh li cu baru menjumpai bagaimana Tok Nio-cu bersandar di atas tubuh kekasihnya. Sedemikian mendongkolnya dan mangkel-nya dia. . Nio-cu bersama Oh li cu justru merupakan suatu beban baginya. dia manfaatkan kesempatan tersebut untuk menempelkan bibirnya di sisi telinga sang pemuda sembari berbisik lirih: "Adik Giok keselamatanku dan nona Oh sudah mencapai titik yang kritis dan ke-mungkinan besar akan hilang setiap saat. Mimpi pun dia tak menyangka bahwa tem-pat dimana ia. hampir saja dia tak tahan untuk berteriak-teriak agar pihak atas tebing mele-paskan batu dan balok kayunya sehingga mereka bertiga mampus bersama. di dalam beberapa kali lom-patan saja mereka sudah menghampiri-nya. Tapi sebelum ia sempat mengumpatkan kata katanya. Tok Nio-cu tiba pada sasaran lebih dulu. dia segera bertindak pula menarik tangan Oh li-cu. api cemburu segera membara dan api amarahpun berko-bar. Apa yang terlihat hampir saja membuat Oh li-cu menjerit. tiba-tiba saja pe-muda itu merasakan bahwa kehadiran Tok. Sayang sekali Lan See-giok yang berada dalam keadaan berbahaya sama sekali tidak berminat untuk memperhatikan kesemuanya itu. di samping merasa kagum atas ketenangan Tok Nio-cu di dalam menghadapi masalah. karena itu dia mengu-lapkan tangannya berulang kali memberi tanda agar mereka berdua mendekati ke arahnya.

"Siapa di situ?" Sebilah anak panah tiba-tiba dibidikkan ke arahnya. keadaan berbahaya sekali. gunakanlah kesempatan disaat ku terjang para penjaganya. pertama tama Lan See giok memberi tanda dulu kepada Tok bNio-cu serta Ohj Li cu. . Disaat sepasang kaki Lan See giok menca-pai permukaan tebing dan belum sempat melihat pemandangan di sekitarnya. Setelah itu dia baru melihat seorang lelaki kekar sedang mengangkat goloknya dengan gugup untuk siap dibacokkan k e atas tali pengendali jebakan. sebisa mungkin mereka mencoba untuk mengurangi suara yang di timbulkan dari baju mereka" Setibanya dibawa tumpukan batu cadas dan balok kayu tersebut. Jeritan ngeri yang memilukan hati segera bergema memecahkan keheningan. lelaki bergolok itu melejit lalu roboh terkapar di atas tanah. saking kaget-nya hampir saja mereka menjerit tertahan. anak panah itu segera melesat melalui sisi telinga nya. Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok menyaksikan kejadian tersebut.427 Merah padam selembar wajah Lan See -giok atas pertanyaan tadi.. goloknya yang besar ke-betulan sekali terjatuh di sisi tali tersebut dan tak ampun tali tadi menjadi putus. kemudian dalam satu jumpalitan ia sudah melenting ke atas. dengan hati terkejut ia meluncur ke bawah secepat kilat. agak tersipu-sipu sa-hutnya: "Mari kalian ikuti aku naik ke atas tebing setibanya di situ. Lan See giok sangat terkejut. kalian berdua menggunakan tali untuk melompat naik. Apa mau dikata." Tok Nio-cu dan Oh li cu mengangguk ber-sama dan mengikuti di belakang Lan See -giok untuk melanjutkan gerakannya menuju ke atas tebing. menda-dak dari tebing itu kedengaran seseorang membentak keras. Tiba-tiba mereka saksikan Lan See giok menyambar tali sambil berayunan ditengah udara.. kemudiagn tubuhnya meleb-jit ke atas dan menerjang ke arah tali yang mengendalikan tumpukan batu karang serta balok kayu tersebut Pucat pias selembar wajah Tok Nio-cu serta Oh Li cu melihat kejadian itu. tubuhnya melejit ke udara dan ke-lima jari tangan kanannya memancarkan lima gulung desingan angin jari yang tajam menyambar tubuh lelaki itu. ia memben-tak keras. dia rendah-kan bahunya sambil menghindar. dengan bentakan kaki kanannya dia injak tali yang putus itu agar berhenti. Melihat hal ini Lan See giok membentak keras.

. hentikan seranganmu!" Belum habis ia berseru. Tok Nio-cu telah melompat naik ke atas puncak tebing. dia lepaskan sebuah bacokan kilat ke arah dua bilah . mereka masing . Dalam waktu singkat suasana menjadi sangat ramai dan gaduh. dua kali desingan tajam telah meluncur tiba. dua batang anak panah menyambar ke tubuhnya disertai desingan angin tajam. segenap lelaki penjaga tebing te-lah mengayunkan goloknya untuk membacok putus tali pengendali alat jebakan itu. menyusul kemudian Oh Li-cu dengan pedang terhunus mengikuti di belakangnya.bentakan keras ber-gema dari empat penjuru. kedua batang anak pariah tersebut segera disapunya se-hingga mencelat. Mendadak ia membentak dengan suara keras. Suara gemuruh yang memekikkan telinga pun bergema memecahkan keheningan. Berkilat sepasang mata Oh Li cu diiringi senyuman dingin yang menggidikkan hati.Bentakan . puluhan orang le-laki kekar itu sudah menerjang tiba. Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring ber-gema di udara. Dalam pada itu Lan See-giok beranggapan kalau tujuannya datang ke sana adalah me-nemukan Beruang berlengan tunggal Kiong Tek ciong secepatnya. Oh Li-cu berkerut kening.masing mengayunkan sen-jatanya mengancam tubuh Oh Li cu. diantara cahaya tajam yang berkilauan. wajahnya dingin seperti es.. dengan menghimpun tenaga dalamnya ke ujung baju kanan ia mengebaskannya ke muka.. Lan See-giok sama sekali tidak bergeser dari posisi semula.. sambil membentak dia menerjang ke muka. bayangan manusia ber-kelebat lewat. kawanan penjaga di situ bersama-sama mengayunkan senjata-nya sambil menerkam ke arah muka. keadaanpun terasa bertambah tegang. "Enci Cu. Sementara itu di atas tebing tbadi sudah berkujmandang suara tgeriakanteriakabn yang gegap gempita. ber-hubung tali pengendali alat jebakan itu terle-pas. maka secara otomatis batu cadas dan balok kayu raksasa yang telah dipersiapkan pun berhamburan memuntah ke bawah te-bing sana .428 Disaat ujung kaki Lan See-giok menginjak tali yang putus itu. dia merasa tidak ada perlunya untuk melibatkan diri dalam pem-bantaian di situ. Bagaikan melepaskan beban yang berat Lan See-giok mengangkat kaki kanannya. pedangnya diayun kian kemari melepaskan bacokan-bacokan maut..

diiringi bentakan-bentakan nyaring serangan dilancarkan bertubi tubi. kawanan lelaki bersenjata yang sedang menerjang tiba serentak menghentikan langkahnya. puluhan orang lelaki lainnya serentak menyerbu ke depan dan mengepung Oh Li cu ketat-ketat. dia harus melakukan pembantaian secara besar besaran atas orang-orang yang berada di tiga tebing sembilan puncak dan dua belas benteng sebelum bisa bertemu dengan sasa-ran utamanya. ia ciptakan lapisan cahaya pedang yang membukit dan mende-sak kawanan lelaki itu. bila keadaan semacam ini dibiarkan berlangsung terus. bila hal sampai terjadi. sebagaimana yang dikatakan Tok Nio-cu. kalian semua cepat hentikan pertarungan--" Mendengar nama "Tok Nio-cu". mendadak Tok Nio-cu yang berdiri angkuh di arena telah membentak nyaring. Lan See giok serta Oh Li cu yang menjum-pai hal tersebut menjadi tertegun. meznyu-sul bentakawn keras. cahayar tajam menyam-bar lewat dan dua jeritan ngeri yang memilu-kan hati segera bergema memecah kan kehe-ningan. "Tok Nio-cu berada disini. dua bilah golok besar itu ter-sampok hingga mencelatr ke samping. . Baru saja dia hendak membentak 0h Li cu agar menghentikan pertarungan. " Letupan bunga api segera memancar ke empat penjuru. nisca-ya dia sudah akan mati kelelahan lebih dulu dibukit Tay ang-san. Sementara itu dari kejauhan sana tampak cahaya api memancar ke udara. mereka berdua sama sekali tak menduga kalau Tok Nio-cu memiliki daya pengaruh yang begitu besar. puluhan orang lelaki yang berada di sekitar tempat Itu menjadi celingukan kian kemari tak lama kemudian dari . sedang-kan puluhan orang lelaki yang mengepung Oh Li cu juga serentak mengundurkan diri. Tentu saja oh Li cu tak akan memandang se-belah matapun terhadap kawanan manusia tersebut. pedangnya dengan jurus Hujan angin di delapan penjuru. Dengan cepat Lan See giok dapat melihat bagaimana kawanan lelaki yang memenuhi itu kian lama kian bertambah banyak. beratus ratus pasang mata yang kaget dan ngeri bersama sama dialihkan ke wajah Tok Nio-cu. ke dua orang lelaki itu ter-gele-tak mampus di atas tanah. . Kembali terdengar Tok Nio-cu membentak dengan suara dingin: "Mana hiangcu kalian yang bertanggung jawab di tempat ini?" Mendapat pertanyaan tersebut. Diantara darah segar yang memancar ke mana-mana.429 golok yang berada di hadapannya dengan jurus serangan menyikap awan meli-hat sang surya: "Trriiing traang . nampaknya sebatang anak panah berapi telah dibidik-kan ke tengah udara.

"Ho hiangcu telah datang!".. Sedangkan dua orang lainnya berbaju abu-abu dengan menyoren golok dipunggungnya mungkin para komandan regu di bawah pimpinannya.. siapa namamu? Ada urusan apa kau datang membunuh orang ditengah ma-lam buta?" "Hmm!" Oh Li cu mendengus menghina. "Akulah yang membunuh mereka. sorot matanya yang ta-jam memandang sekejap kearah Oh Li cu yang membawa pedang terhunus serta Lan See-giok yang berdiri tak jauh darinya. �"siapakah namamu. tampak kawanan lelaki lainnya sama-sama menyingkir ke samping untuk memberi jalan lewat. akulah Ho hiangcu. selain Kiong Tek-ciong sendiri. ada urusan apa nyonya datang membunuh orang ditengah malam buta begi-ni?" Sambil berbicara. Lelaki berpakaian ringkas yang berada ditengah itu segera maju ke muka dengan dada dibusungkan dan langkah lebar. dengan suara dalam ia lantas menegur: "Apakah kau adalah Ho hiangcu yang ber-tanggung jawab atas tebing sebelah timur ini ?" Lelaki itu berhenti melangkah lalu men-jawab dengan suara tajam: "Betul. Lan See-giok segera menengok ke muka. tegurnya ke-mudian. Sebelum Tok Nio-cu menjawab pertanyaan itu. alis matanya tebal matanya besar dan ber-perawakan tinggi besar lagi kekar. Tatkala ketiga orang itu sudah mencapai lima kaki dari mereka. ternyata ketiga sosok bayangan manusia yang sedang bergerak mendekat itu adalah tiga orang lelaki yang berusia diantara tiga puluh tahunan. Tok Nio-cu tidak menunggu sampai lelaki tadi berdiri tegak.serentak pulu-han orang lelaki itu berseru bersama. "Nona.430 kejauhan sana tampak tiga sosok bayangan manusia sedang bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi. sepasang matanya yang bulat besar dan ber-cahaya mula-mula memandang sekejap ke arah dua sosok mayat yang terkapar di atas genangan darah itu. siapa saja tidak berhak untuk me-ngetahuinya. Salah seorang diantaranya mengenakan baju merah dengan senjata tombak pendek.. tiba-tiba terdengar Oh Li-cu me-nimbrung sambil tertawa dingin." . urusan sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dia!" Ho Hiangcu segera berpaling dan menatap wajah Oh Li-cu penuh amarah..

tidak heran kalau dia manfaatkan kesempatan tersebut untuk mengajak Oh Li-cu bertarung. menyambar pinggang Oh Li cu. yaitu bagian tenggorokan. pedangnya meluncur ke muka menusuk lambung Ho hiangcu. dia hendak melepaskan sentilan jarinya untuk merobohkan lawan. alis mata nya berkernyit lalu bentaknya keras-keras. mimpi pun dia tidak mengira kalau kekejaman Oh Lieu sebetulnya jauh melebihi kekejaman Tok Nio-cu sendiri. dengan begitu sapuan senjata lawan mengenai sasaran kosong. karenanya sambil tertawa dingin tubuhnya bergerak secepat kilat. cahaya tajam telah menyambar tiba. diiringi bentakan keras. Sesungguhnya Ho Hiangcu datang ke situ dengan tugas untuk berusaha mengulur waktu selama lamanya. ia menjejak-kan kakinya ke atas tanah dan melakukan pe-ngejaran dari belakang.431 Ho hiangcu seketika naik darah.. tapi sebelum ia bertindak. . "Kawanan tikus. dalam kaget nya dia segera melompat mundur ke belakang Sudah barang tentu Oh Li-cu tak sudi membiarkan musuhnya kabur. Belum sempat sepasang kaki Ho hiangcu menginjak tanah. dada serta lambung. dua orang lelaki berbaju abu-abu lainnya segera membentak keras. "Biarpun aku tidak berhak untuk mena-nyakan namamu. Baru saja serangannya gagal. Kendatipun demikian. sambil mengayunkan golok mereka membacok Oh Li cu. Menyusul kemudian ia membentak nyaring pedangnya dilancarkan secara bertubi tubi melepaskan tiga serangan berantai yang mengancam atas tengah dan bawah tubuh lawan. dalam sekilas berkelebat tahu-tahu sudah tiba di sasaran. Tok Nio-cu telah membentak lebih dulu. tahu-tahu Oh Li cu sudah menyusul tiba. pingin mampus rupanya kau!" Dua titik cahaya biru diiringi desingan angin tajam menyambar ke wajah ke dua orang lelaki tersebut. Tampaknya Tok Nio-cu ada maksud untuk menilai ilmu silat "yang dimiliki Oh Li cu. Lan See giok sangat gusar atas kejadian ini. senjata tombak pendeknya disapu ke muka. Melihat pemimpin mereka diserang. kecepatannya luar biasa sekali. namun aku berhak untuk membunuhmu guna membalaskan dendam bagi kematian kedua orang anak buahku" Sambil membentak tubuhnya menerjang ke muka. se-baliknya Oh Li cu sendiripun berhasrat un-tuk menunjukkan kehebatan Wi-lim-poo.

cepat berhenti!" Lan See-giok tahu tentu ada sesuatu hal yang tak beres.jerit. ca-haya lentera yang terang benderang dimuka situ tinggal sepuluh kaki lagi. yang penting terus menemukan si Beruang berlengan tunggal secepatnya!" Oh li cu manggut berulang kali tanpa menjawab. namun tak seorang pun di antara mereka yang berani mendekati lawannya. Puluhan orang lelaki itu sama . sementara ka-wanan lelaki yang mengejar dari belakang makin lama semakin mendekat. Tok Nio-cu segera melihat bahwa kesem-patan baik ini tak boleh dibuang dengan be-gitu saja. dua orang ko-mandan pasukan itu membuang senjatanya sambil menutupi wajah sendiri dengan kedua belah tangan.sama memutar senjata sambil membentak. dada dan lambungnya tersayat hingga robek. tiba-tiba saja dia hentikan gerakan tubuhnya. Bersamaan waktunya dengan berhentinya ketiga orang itu. isi perut-nya berhamburan ke luar semua. "Hei. tubuhnya segera terjungkal ke tanah. Ditengah gerakannya meluncur ke depan tiba-tiba Lan See giok berpaling dan ujarnya kepada Tok Nio-cu serta Oh Li-cu. serentak mereka lakukan pengejaran.432 Tiga kali jeritan ngeri yang memilukan hati bergema memenuhi angkasa. Ho Hiangcu pun berteriak keras. lalu secara tiba-tiba ." Sementara pembicaraan berlangsung. sedangkan Tok Nio-cu segera menjelaskan: "Tanpa melalui sembilan puncak dengan tiga tebingnya mustahil kita dapat memasuki puncak Keng thian hong dimana markas be-sar Kiong Tek ciong terletak. Suasana dalam arena menjadi amat kalut dan kacau tidak karuan. kepada Lan See giok serunya: "Ayo berangkat!" Mereka bertiga segera berangkat menuju kearah mana cahaya lentera bersumber. dari atas dinding benteng kedengaran suara teriakan keras. tentu saja selembar jiwanya turut melayang meninggal-kan raganya. membuat tubuhnya tetap maju sejauh tujuh depa sebelum bisa berhenti. Oh Li cu juga berusaha untuk menghenti-kan gerakan tubuhnya. namun berhubung peringatan tersebut datangnya terlalu men-dadak. "Kita tak usah membuang waktu percuma di tempat-tempat semacam itu. mendadak ia menjerit kaget. Tatkala Tok Nio-cu melihat cahaya api itu berasal dari obor-obor yang disulut di atas dinding benteng. berpuluh puluh orang lelaki bersenjata golok itu sama-sama mengayunkan senjatanya sambil menjerit. Melihat musuhnya beranjak pergi.

Lan See giok sudah berada tiga depa dari Oh Li cu. Sekali lagi Tok. Gusar sekali Lan See giok melihat kejadian ini. "Adik Giok.. serta merta ia meraba pinggangnya sam-bil melepaskan senjata gurdinya. suara gendewa dipentang orangpun bergema.Nio-cu berseru. Tok Nio-cu tahu. panah-panah berapi berhamburan ke arah mereka seperti sambaran petir. biar-pun api sudah padam tapi masih mengepul-kan asap tebal. apa yang terlihat membuatnya sangat kaget.433 muncul puluhan sosok bayangan. secepat sambaran petir dia memutar senjata gurdi emasnya sambil buru-buru bergeser mendekati Oh Li cu. panah itu menancap di tubuh sang gadis karena terpental oleh puta-ran senjata Lan See-giok sendiri. Mendadak terdengar jeritan lengking ber-gema di udara. cepat mundur. luka dari nona Oh perlu diobati dengan segera. puluhan orang lelaki yang semula mengejar mereka. Tok Nio-cu sadar bahwa keadaan tidak me-nguntungkan. .. semenjak tadi telan menghentikan diri di luar jangkauan anak-anak panah beracun itu. Ketika mendengar jeritan dari Oh Li cu. bayangan gurdi membukit dan se-mua panah berapi yang menyambar datang kena dipukul sampai terpental ke mana--mana. tiada orang pula yang berteriak.. Sebaliknya Oh Li cu masih memutar pedangnya ke sana kemari tanpa berhenti. anak panah yang menancap dibahu belakang Oh Li cu pun segera rontok ke tanah." Lan See giok merasa sangat tidak tenang apalagi setelah mendengar panah berapi itu beracun. tiada seorangpun yang maju ke depan. Tok Nio-cu berkelebat maju ke muka lalu menyembunyikan diri di belakang tubuh Lan See-giok. cahaya emas dengan cepat. panah berapi itu mengandung racun belerang yang sangat jahat. manusia. apalagi setelah menengok ke samping. ujung baju kirinya segera dikebaskan ke muka. ia bertambah kaget. hilang niatnya untuk melanjutkan perjalanan. dengan perasaan terkejut ia segera berteriak keras "Ayo cepat kembali!" Sementara berbicara. dia memutar senjata gurdi emasnya sambil me-ngundurkan diri. Dengan perasaan terperanjat Lan See-giok berpaling. memancar ke empat penjuru. Ternyata bahu bagian belakang gadis itu sudah tertancap sebatang anak panah. Dalam pada itu. Setelah mengangguk berulang kali.

dengan cepat mereka mencari batu besar sebagai tempat perlin-dungan. kemudian bertanya. "Apakah kau maksudkan ketiga butir pil mestika yang kau berikan kepadaku tempo hari?" Berkilat sepasang mata Oh Li-cu. tidak heran jika Lan See giok menjadi amat gusar. tiba-tiba terdengar Tok Nio-cu membentak sambil menggertak gigi: . merasakan kehe-batanku. tentu saja Tok Nio-cu segan-menjawab kata-kata cabul dari si Hakim paku hati tersebut. ayo cepat keluarkan dan berikan kepadaku adik Giok---" Lan See giok tak berani berayal lagi. sayang aku tidak membawanya. "Haaahhh . haaahhh . Dengan cepat dia memeriksa keadaan luka yang diderita On Li-cu." Tergerak perasaan Lan See giok mendengar perkataan itu. Dengan nada susah Tok Nio-cu kembali berkata. Pada saat inilah mendadak dari atas din-ding benteng berkumandang suara gelak tertawa seseorang yang penuh kegembiraan. Sebaliknya paras muka Oh Li cu dan Tok Nio-cu berubah menjadi merah membara. tapi dia tak bisa menghukum manusia jahanam tersebut pada detik itu juga. serentak mereka membubarkan diri untuk mencari selamat. tanyanya kemudian tak mengerti. "Nona Oh. tapi sayang setelah dibubuhkan akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. hawa napsu membunuhnya segera timbul. Tok Nio-cu dan Oh Li-cu mengundurkan diri sampai di luar jangkauan anak panah berapi. haaahhh.. apakah kau mempunyai obat penawar racun yang lebih mustajab?" Oh Li cu hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab. kejut dan girang dia menganggukkan kepalanya beru-lang kali." Oh Li cu menjadi sangat mendongkol.434 Sewaktu menyaksikan Lan See giok dan Tok Nio-cu bertiga muncul kembali. dari sakunya dia mengeluarkan sebuah botol porselen kecil lalu diserahkan kepada Oh Li cu-.Pada saat itulah. Lan See giok." Ucapan itu sudah jelas mengandung nada yang cabul lagi kotor. "Benar. "Walaupun aku mempunyai bubuk penawar racun. jmalam ini aku sgi Hakim paku habti pasti akan menyuruh kau menggoyang pinggul kian kemari sebelum. "Walaupun ayahku mempunyai pil penawar racun yang bagus.b . Tok Nio-cu. benar.

Akibat dari ledakan tersebut. suasana mengerikan dan mengenaskan sekali. Apakah kalian ingin pergi dengan begitu saja?" Kembali tangannya diayunkan ke depan. ke empat gumpalan api biru tadi segera berubah men-jadi beratus ratus api bintang yang meluruk ke empat penjuru dan berhamburan kemana mana. mereka jadi ketakutan setengah mati hingga sukma serasa melayang meninggalkan raganya. Bagaimana pun juga Tok Nio-cu memang pantas diberi julukan perempuan beracun. Sesungguhnya Tok Nio-cu bisa disebut orang sebagai perempuan beracun karena konon dia memiliki enam macam senjata ra-hasia yang beracun itu. Dua gulung bola api yang memanbcarkan sinar bijru. "Blaammm! Blaammm!" Sewaktu ke empat butir peluru api beracun itu saling bertumbukan di tengah udara ter-jadilah ledakan yang gegap gempita. di antara mereka yang sudah terpercik api tersebut. Melihat bunga api yang beterbangan itu. tanpa terasa ia menggeleng-kan kepalanya berulang kali.435 "Manusia-manusia bodoh. Berubah hebat wajah Lan See giok melihat kesemuanya itu. tak ampun mereka bergulingan di atas tanah sambil menjerit jerit kesakitan. diiringi sugara desingan dabn mengepulkan kabut hijau yang tebal segera meluncur ke tubuh puluhan orang lelaki tersebut. tangannya disambit ke depan melepaskan dua butir peluru api beracun. pucat pias wajah puluhan lelaki kekar itu. sebab dari kekejamannya hal ini. Sambil tertawa dingin sekali lagi. "Sebelum meninggal-kan nyawa. Tiba-tiba Tok Nio-cu membentak keras. nampaknya kalian benar-benar ingin mencari mampus!" Lan See giok segera berpaling. memang sesuai dengan keadaan tersebut. . Tok Nio-cu membentak keras. ternyata puluhan orang lelaki berpakaian ringkas itu dengan langkah berhati hati dan senjata ter-hunus sedang mendekati tempat mereka berada. Suasana jadi panik. semua orang berdesak desakan agar bisa kabur lebih cepat lagi. segulung api. Dalam waktu singkat sembilan orang. Berubah hebat paras muka puluhan lelaki itu. biru secepat kilat meluncur ke depan menubruk ke dua butir peluru api beracun pertama yang sedang meluncur ke bawah. suasana menjadi kalut dan serentak semua orang membubarkan diri dengan perasaan panik ketakutan setengah mati.

nyaris akwupun ikut hendark bergulingan di atas tanah. Kemudian dari tangan si nona dia me-ngambil secarik sapu tangan. cepat dia meremasnya menjadi bubuk lalu ditebarkan di atas mulut luka Oh Li-cu. mendadak dia memeluk tubuh Oh Li-cu kencang-kencang sambil menangis tersedu sedu penuh kesedihan. Setelah menerima pil kecil itu. ia berseru beru-lang kali. "Adikku. . mengapa kau tidak merasa sakit hati dan sedih? Mengapa kau tidak mengeluh sambil memeriksa keadaan lukaku?" Sambil berkata dia melemparkan sebutir pil berwarna merah yang diserahkan kepada Tok Nio-cu. mengapa kau.kau adalah adik ku yang patut dikasihani. . sedih itu de-ngan perasaan tak habis mengerti. . kemudian mengembalikan botol kecil itu ke tangan sang pemuda. Lan See giok segera me-negur: "Nyonya."! Tentu saja sikap Tok Nio-cu yang sangat tiba-tiba ini sama sekali di luar dugaan Lan See giok serta Oh Li cu.436 di samping itu entah masih terdapat beberapa macam lagi benda-benda beracun yang digembolnya. .. menyingkap pakaiannya dan menyeka air darah berwarna hitam itu . Menanti Tok Nio-cu peroleh kesadarannya kembali.?" Oh Li-cu juga merasakan keanehan lawan.. mengapa . ooh. "Sewaktu terkenra panah berapi ztadi. sorot matanya yang jeli mengawasi mulut luka Oh Li-cu tanpa berkedip. Oh Li cu segera berkata dingin. waktu itu. . ia seolah-olah tertegun dibuatnya. Ditengah suasana penuh jerit kesakitan yang memilukan hati. sikap Tok Nio-cu masih tetap acuh tak acuh seolah-olah sama sekali tidak terpengaruh oleh suasana di hadapan-nya. Sambil menangis terisak. wajahnya berubah hebat. Dengan perasaan terkejut bercampur tidak habis mengerti.. . cepat ia berpaling lalu mengawasi Tok Nio-cu yang masih termangu mangu. Merah jengah selembar wajah Lan See giok. "Di atas bahu bagian belakangnya yang putih dan halus.. . Menjumpai Lan See-giok menggeleng sam-bil menghela napas. . setelah menerima botol tadi diapun segera memeriksa keadaan luka dari Oh Li-cu. tidak heran kalau mereka dibuat . darah hitam yang busuk ma-sih ke luar tiada hentinya. sekarang telah bertambah dengan sebuah jalur panjang mulut luka yang berdarah. Mendadak sekujur badan Tok Nio-cu ge-metar keras.

"Benar. " . "Itu mah gampang sekali.. . tentu saja mereka tak sempat lagi memperdulikan jerit tangis Tok Nio-cu yang mendadak itu Memang semenjak pandangan pertama tempo hari. sembari menyeka air matanya. cepat ia memperingat kan kepada Tok Nio-cu: "Nyonya. Sambil menjerit kaget katanya kemudian. Lan See-giok sudah merasa bahwa wajah Tok Nio-cu agak mirip dengan wajah Oh Li cu. "Apa? Kau maksudkan enci Cu adalah adik kandungmu"" sambil menemukan Oh Li cu dan menangis tersedu sedu. Puluhan lelaki yang sudah kabur di kejau-han sana. seakan akan dia berharap dari guncangan tersebut bisa membuat Oh Li cu teringat kembali dengan masa. lama sekali mereka berdua hanya bisa memandang perempuan itu tanpa memahami apa gera-ngan yang sebenarnya telah terjadi. . keadaan yang terpentang di depan mata sekarang membuatnya segera mengerti. kau tak akan ter-ingat dengan keadaan kita yang amat tragis . dia menggoyangkan badan Oh Li cu tiada hentinya. dia adalah adik Cui lan ku!" Kemudian sambil memandang Oh Li cu yang masih berdiri melongo. apalagi diapun merasa raut wajahnya memang mirip sekali dengan wajah perem-puan itu.437 tertegun dan kelabakan. sekarang juga menoleh dengan perasaan kaget." Bagaikan orang gila. j Lan See giok sgeperti dapat mebrasakan bahwa Oh Li cu enggan mengakui hal ter-se-but secara gegabah. "Aku telah melihat tahi lalat tiga bunga yang berada dibahu adikku. lalunya: Dalam pada itu Oh Li cu seperti tak bisa menyambut perubahan yang datangnya seca-ra tiba-tiba ini setelah melihat sikap gila Tok Nio-cu. dari mana kau bisa tahu kalau enci Cu adalah adik kandungmu?" Tok Nio-cu menjadi sadar kembali. Sebaliknya ke sembilan lelaki yang tubuhnya terjilat api beracun itu sudah mela-rikan diri kalang kabut. tahi lalat terse-but dibuat oleh ibu kami. .. . nyonya kan boleh mempersilahkan enci Cu untuk me-lihat pula tahi lalat di atas bahumu . maka selanya kemudian. namun air matanya tak urung toh jatuh bebrcucuran juga. Tok Nio-cu me-ngangguk berulang kali. betul masih ada keraguan di hati kecilnya. "Kau adalah Cui-lan. Lan See giok bisa menyimpulkan kalau di atas bahu Tok Nio-cu pun pasti terdapat juga sebuah tahi lalat.. ia menunjuk ke bahu Oh Li-cu sambil berkata. dia melanjutkan sambil menangis terisak.

hawa napsu membunuh kini sudah membara di dadanya. cepat lihat!" . Oh Li-cu dapat melihat kejadian tersebut dengan jelas ia membentak keras dan pedang nya segera diayunkan ke depan. maka tanda tahi lalat tersebut akan turut menjadi hilang. Sementara ke tiga orang itu berada dalam keadaan serba salah. namun seperti sukar untuk di-utarakan. anak panah itupun rontok seketika. bibirnya bergerak seperti hendak mengucap-kan sesuatu. dia membalikkan badan lalu mundur kembali secepat kilat. tahu-tahu dua batang anak panah sudah meluncur datang . paras muka Tok Nio-cu telah berubah menjadi merah dadu. Lan See giok tahu ada sesuatu yang tak beres. malah merahnya sampai ke telinga. Oh li-cu segera menuding ke muka sambil seru-nya: "Adik Giok. mendadak terdengar lagi dengan dua kali desingan angin tajam. "Dari atas dinding benteng berkumandang suara gelak tertawa keras. ternyata gadis itupun menunjukkan wajah semu merah. "Lepaskan panah berapi!" Mengiringi bentakan itu. . tentu saja persoalan semacam ini sulit bagi Tok Nio-cu yang sudah kawin itu untuk menerangkan. namun ia be-lum tahu bahwa seorang gadis yang sudah ke-hilangan keperawanannya. Lan See giok menjadi tertegun. . Lan See giok yang pertama tama me-nyadari hal tersebut. Lan See giok ikut naik pitam sambil mem-bentak keras dia menerjang ke arah mana berasalnya bidikan anak panah itu. diantara kejengahan terselip pula perasaan bangga. sambil memutar senjata gurdi emasnya dia menerkam kembali ke arah puluhan pemanah tersebut secara kalap.438 Belum habis ia berkata. terdengar teriakan keras bergema memecah-kan keheningan lalu hujan panah pun ber-hamburan ke seluruh udara. Lan See giok memang sudah berusia delapan belas tahun. cepat kem-bali. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Tok Nio-cu menjerit kaget. Disaabt tubuh Lan Seej giok sedang meg-ner-jang ke lubar dari tempat persembunyiannya. Lan See giok menghentikan sebentar gera-kan tubuhnya. Tahun ini. ketika ia berpaling pula ke arah Oh Li-cu. "Adik Giok. panah berani ba-gaikan ular meluncur ke tubuh Lan See giok secara gencar. . menyusul kemudi an terdengar seseorang membentak nyaring. Tidak sampai pemuda itu berdiri tegak.

apalagi dari teriakan "kebakaran" yang bergema di mana-mana. tampak asap tebal mengepul diangkasa agaknya ada beberapa buah bangunan rumah yang sudah terjilat api. sesosok bayangan manusia melompat ke luar. Lan See giok merasa sangat terkejut. Gerakan tubuh Lan See giok cepat bagai-kan sambaran petir. BAB 21 DALAM pada itu.. Gemetar keras seluruh badan Lan See giok mendengar suara tersebut. ia telah menerjang ke depan benteng. sewaktu panah berapi dibi-dikkan. "Lepaskan panah api !" Jeritan yang kalut kembali berubah menja-di teriakan ramai. jangan ke situ . Waktu itu Lan See-giok sedang meroboh kan beberapa orang lelaki kekar dengan sen-jata gurdi emasnya. Lan See giok baru teringat kalau jalan di depan sana buntu. baru selesai si Hakim paku hati berbicara. ternyata dari atas sebuah puncak bukit di sebelah depan situ.. Mendadak terdengar si Hakim paku hati berteriak. "Sungguh aneh. siapakah orang ini?" Belum habis ingatan tersebut melintas le-wat." Sesudah mendengar teriakan dari Tok Nio-cu. dapat diduga bahwa kebakaran besar telah melanda bangunan rumah mereka. serentak ia mengalihkan gerakan tubuhnya dengan menerjang kearah dinding benteng. dua kali jeritan ngeri yang memilukan hati mengi-ringi robohnya dua orang lelaki ber-busur dari pagar benteng.. Tok Nio-cu berbisik tiba-tiba. siapa lagi yang mendatangi Tay ang. tubuhnya telah melayang ke tengah udara: Cahaya emas segera menyambar lewat. sambil membentak keras se-cepat kilat ia menerjang ke depan. suasana di atas dinding benteng telah terjadi kekalutan. Pucat pias selermbar wajah Tok zNio-cu melihat whal ini.san pada malam ini?" Lan See giok sendiripun tidak habis mengerti... terdengar benta-kan keras bergema memecahkan keheningan. buru-bruru teriaknya keras "Adik Giok. Pada saat itulah ditengah kekalutan yang melanda kawanan lelaki itu. suara bentakan merdu yang amat di-ke-nal olehnya tiba-tiba berkumandang dari puncak tebing itu. Bagaikan sedang berguman. ia sedang tiada hentinya bertanya kepada diri sendiri. wajahnya berubah hebat. merasa datangnya ter-jangan cepat ia mendongakkan kepalanya . panah--panah berapi mulai berhamburan kemana-mana.439 Mengikuti arah yang ditunjuk.

ta-ngannya segera diayunkan ke depan. lalu sambil berteriak aneh dia menerjang ke muka. dalam waktu singkat jiwanya turut melayang meninggalkan raga nya. suasana menjadi kacau dan semua orang berusaha untuk menyela-matkan diri... Bertemu dengan Lan See-giok.440 Ternyata orang yang sedang menerjang datang itu adalah seorang lelaki berusia em-pat puluh tahunan yang berjubah merah. Kematian dari si Hakim paku hati tersebut segera membuat paniknya kawanan lelaki di atas dinding benteng. dia melompat naik ke atap rumah dan melarikan diri terbirit-birit . di tambah pula dia ingin selekasnya tiba di puncak se-berang. Pada saat itulah.. tinggalkan dulu jiwa mu. Hakim paku hati jadi ketakutan setengah mati. Belum habis ingatan tersebut melintas le-wat. segum-pal jarum lembut seperti bulu kerbau. se-rangan datang tanpa menimbulkan suara bahkan seseorang yang berilmu tinggi jangan harap bisa menghindari secara mudah. "Hakim paku hati. tangannya di-getarkan ke muka dan tahu-tahu senjata poan-koan-pit tersebut sudah terlepas dari cekalan. si Hakim Paku hati melotot besar. beralis segi tiga mata bulat hidung paruh betet dan berjenggot hitam.. . Tampaknya orang inilah yang menamakan dirinya sebagai si Hakim paku hati. dia serang ubun-ubun lawan. cahaya apib membum-bung tijnggi ke .. sukmanya merasa melayang Mening-galkan raganya. dari atas puncak bukit di seberang yang terjadi ledakanledakan yang memekikkan telinga. Berubah hebat paras muka Lan See-giok ia cukup mengetahui akan kelihaian jarum lembut tersebut. maka tubuhnya begitu berkelebat lewat. selain cepat dan hebat. membawa senjata poan-koan pit. Bersamaan dengan bentakan tersebut. senjata gurdi emasnya di ayunkan ke muka dan mengikat senjata poan-koan-pit lawan. Lan See-giok benci kepada si Hakim Paku hati karena mulutnya cabul sekali. sambil membentak dia melompat mundur dengan sepenuh tenaga.. Lan See-giok tertawa dingin. Hakim paku hati sangat terkejut. sambil menjerit aneh." Tok Nio-cu tahu membentak keras. si Hakim Paku hati telah menjerit kesa-kitan lalu roboh dari atas atap rumah dan jatuh berguling. diiringi percikan cahaya tajam Langsung menyambar kearah si Hakim paku hati yang sedang mela-rikan diri itu. senjata poan-koan-pit nya dengan jurus bintang timur menubruk bintang.

. selintas wajah benci dan dendam menghiasi wajah Tok Nio-cu. walaupun dia belum berani me-mas-tikan. hawa napsu membunuh segera menyelimuti wajahnya. asap tebal mebnyeli-muti pandangan. tapi mau tak mau dia harus menguatirkan kebahagiaan adiknya itu. memandang bayangan punggung Lan See-giok yang menjauh.. ditatapnya bayangan punggung Lan See-giok tanpa berkedip.441 angkasag..-. sahutnya singkat: "Dia adalah sumoay ku. kemudian ter-tawa dingin tiada hentinya.. siapa sih perempuan itu?. .. tubuhnya bagaikan segulung asap telah meluncur ke utara.. lalu dengan kening berkerut segera tanyanya lagi: ""Adik Giok. sambil menggigit bibir ia segera berseru." Tok Nio-cu amat menyayangi adiknya. dia segera melompat naik ke atas dinding benteng. paras mukanya berubah hebat. apakah harus lewat situ me-nuju ke utara ?" Tangan kirinya yang menuding ke arah de-pan kelihatan agak gemetar. . Dari sikap Lan See giok yang gelisah dan cemas setelah mendengar suara bentakan merdu tadi. tapi sesudah mendengar kata "sumoay". Dalam pada itu Lan See giok hanya me-mikirkan soal teriakan merdu yang didengar-nya tadi. Biarpun saat ini dia sudah tak ingin ber-saingan lagi dengan adiknya. tapi suara yang amat dikenalnya itu cukup menimbulkan kecurigaan dalam hati-nya. Oh Li-cu sangat mendendam karena bahu-nya termakan bidikan panah." Belum selesai berkata." Menjumpai Tok Nio-cu mengangguk. Lan See-giok sama sekali tak berminat untuk berbicara lagi dengannya. terutama sekali ia dapat melihat bahwa Lan See-giok sebenarnya tidak berniat sama sekali untuk memperistri Oh Li-cu . Ia manggut-manggut. tanyanya kemudian dengan gelisah. Dengan jawaban ini. Pada mulanya Oh Li cu menyangkba benta-kan terjsebut berasal dgari Huyong siabncu atau Ciu Siau-cian. Maka sambil menengok kearah Tok Nio-cu... "Nyonya. diambilnya obor-obor di situ kemudian di-sambitkan kearah bangunan benteng".. titik air mata tanpa terasa jatuh bercucuran. Di bawah cahaya api yang membara sua-sana di seputar situpun dapat terlihat de-ngan jelas.. kobaran api yang menggila seakan-akan menyambar benda apa saja yang di jumpainya... Tok Nio-cu tahu bahwa orang tersebut sudah pasti mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan Lan See-giok.

sebaliknya tu-run gunung dan berkelana dalam dunia per-silatan? Dalam gerakan larinya. dia takut encinya Tok Nio-cu benar-benar akan turun tangan keji terhadap Lan See giok. tapi ia tak habis mengerti apa sebabnya gadis itu bukan berdiam di dalam gua..442 "Ayo kita kejar. "dia ber-sikap dingin kepadaku. tanpa terasa dia memperlambat gerakan tubuhnya. dengan cepat ia menubruk ke muka dan menarik pergelangan tangan Tok Nio-cu sambil pintanya dengan air mata ber-cucuran. Lan rSee giok denganz mengerah-kan iwlmu meringankanr tubuhnya sedang bergerak menuju ke utara. kemudian melakukan pengejaran lebih dulu. setelah mendengus marah segera serunya: "Bila Lan See-giok tidak mencintaimu de-ngan sesungguh hati.. kau tak boleh membunuhnya!" Dengan cekatan Tok Nio-cu mengigos ke samping sehingga goloknya tidak sampai terampas. dia lantas membungkuk kan badan dan memungut sebilah golok dari sisi sesosok mayat.?" "Dia tentu akan mencintaiku. buat apa kita mesti biarkan ia tetap hidup bagi keuntungan orang lain. Oh Li cu sangat gelisah... hanya lamat-lamat masih kedengaran suara air yang sedang mengalir... ternyata jurang itu le-barnya mencapai sepuluh kaki dasarnya sama sekali tak nampak.. BERUBAH paras muka Oh Li-cu menyaksi-kan hal ini. hal ini dikarenakan ia mencurigai Oh Tin san sebagai pembunuh ayahnya.. Ketika mendekat. Beberapa buah obor yang dilemparkan Oh Li cu ke dalam bangunan rumah tadi kini mulai membara besar dan menimbul-kan asap hitam yang amat tebal. ia tidak melihat bayangan tubuh si anak muda itu lagi. Sementara itu. tiba-tiba ia melihat lebih kurang puluhan kaki didepannya ter-bentang sebuah jurang yang dalam sekali. tapi setelah ia mengetahui asal usulku sekarang" Perkataan itu terpaksa terhenti sampai separuh jalan karena gadis itu melihat Tok Nio-cu semakin mengejar semakin cepat. Waktu itu. asal cici masih hidup selain kau. . "Cici." pinta Oh Li cu lagi dengan air mata bercucuran. ketika men-do-ngakkan kembali kepalanya. dia yakin suara bentakan merdu yang didengar berasal dari adik seperguruannya Si Cay soat. dengan begitu tak nampak sesosok ba-yangan manusia pun di situ.. aku tak akan membiarkan siapa pun berbaik dengan Lan See-giok!" Sambil berkata. semua orang yang berada di benteng tersebut telah kabur menyelamatkan diri.

. ini semua membuatnya tidak mendengar suara peringatannya. Kejut dan gembira membuat pemuda itu segera berteriak keras: "Adik Soat.. Si Cay soat tentu se-dang terpengaruh emosi yang menggelora. cepat hentikan lang-kahmu adik Soat." teriak Lan See giok lagi memperingatkan. cepat ia meluncur ke depan. ujung tali tersebut justru tepat pada puncak pohon setinggi delapan sembi-lan kaki. Dalam kejutnya peluh dingin sempat ber-cucuran membasahi seluruh tubuhnya. Lan See giok yakin. Agaknya Si Cay soat yang sedang meluncur ke bawah itu sempat pula menangkap teria-kan Lan See giok. keadaannya bagaikan sebutir bintang yang sedang meluncur. Tergerak hatinya melihat hal itu. perasaannya segera bergetar keras." Tubuhnya yang telah mendekati pohon be-sar itu cepat menyambar tali tersebut. begitu kakinya mencapai tanah. Dengan cepat dia memandang sekejap seki-tar itu. cepat-cepat teriak-nya lagi dengan keras: "Berhenti adik Soat. sementara cahaya pedang yang terpantul cahaya api memekikkan sekuntum awan merah yang menyilaukan mata. Bersamaan waktunya..443 Disaat itulah dari puncak bukit seberang berkelebat cahaya tajam yang meluncur dari atas ke bawah. ditambah lagi letusan-letusan keras sedang menggelegar dari arah puncak. Tatkala Lan See giok mengamati lebih sek-sama lagi. tiba-tiba ia melihat ada seutas tali yang terikat pada sebatang pohon besar di sisi jurang. . ternyata bayangan manusia yang se-dang meluncur ke bawah itu tak lain adalah Si Cay soat yang membawa pedang Jit hoa kiam. aku berada disini!" Di tengah seruan mana. "Tunggu dulu adik Soat. ia lantas menubruk datang. dia lari menuju ke kanan dengan menelusuri sisi jurang. "di sini terbentang jurang yang lebar!" Tapi Si Cay soat yang sedang meluncur ke bawah seolah-olah tidak mendengar peri-ngatan tersebut. ia pun menjumpai Si Cay soat sudah berada cuma dua puluh kaki dari tepi jurang. se-mentara gurdi emas yang berada ditangan kanannya diayunkan ke depan memutuskan ujung tali yang terikat pada pohon di ujung seberang. tanpa mengurangi kece-patan tubuhnya yang sedang meluncur. adik Soat. dia bergerak terus menuju ke bawah.

. pedang Jit hoa kiam yang berada di ta-ngannya ikut meluncur ke dasar jurang .. ujung baju kirinya dikebaskan ke muka dengan sepenuh tenaga.444 Sesudah itu dia menjejakkan kakinya ke tanah dan tubuhnya berayun menggunakan tali tadi menuju ke pantai seberang. sambil menjerit ia langsung menubruk ke tubuh anak muda tersebut. aku telah datang. "Engkoh Giok. kini jarak nya tinggal satu kaki." Si Cay-soat yang terkejut bercampur gem-bira bahkan seperti agak tertegun itu masih saja berlarian menuju ke tepi jurang. "Aaah... "Kraas!" tali itu putus secara tiba-tiba. padahal selisihnya dengan tepi jurang hanya tinggal tiga depa saja Si Cay soat memeluk tubuh si anak muda itu kencang-kencang.. masih kedengaran dengan jelas suara teriakan dan isak tangis Oh Li cu yang memilukan hati . Dari pantai seberang. se-bilah golok berkelebat lewat sambil meman-carkan cahaya tajam. men-dadak sepasang matanya menangkap se-batang pohon yang tumbuh di sisi jurang . Dengan lenyapnya keseimbangan badan maka tidak ampun lagi tubuhnya segera meluncur ke bawah.!" Tubuhnya mengikuti sisa tenaga yang ter-pantul dari tali yang terputus meluncur lagi sejauh enam depa ke arah pantai seberang.. dengan cepat tubuhnya meluncur ke bawah. baru saja dia bermaksud menghalangi perbuatan gadis itu. mendadak dari tepi seberang kedengaran suara dari 0h Li-cu sedang menjerit kaget. "Weess.. Sementara tubuhnya masih meluncur ke dasar jurang dengan kecepatan tinggi... Waktu itu Lan Sbee giok sedang jbersiap -siap ugntuk menyambar bpinggang Si Cay soat. masih untung dia tak sampai panik atau gelagapan. cepat berhenti. jangan . sambil mem-bentak keras. ia jatuh tak sadarkan diri. Lan See giok mendengus tertahan. Lan See-giok sangat terkejut. namun tubuh Si Cay soat yang menubruk tiba telah menerjang di atas badannya." Tapi. Pemuda itu terkejut sekali..... sambil berayunan sekali lagi ia berteriak: "Adik Soat. Lan See giok benar-benar berada dalam keadaan yang amat kritis.... ia tak menduga kalau tali yang digunakan un-tuk berayun mendadak putus menjadi dua"." Si Cay-soat tidak mampu menahan diri lagi.

matanya terpejam ra-pat-rapat sementara alis matanya yang lem-but berkernyit menjadi satu..445 Serta merta ia membentak keras. . baru sekarang pemuda itu merasakan amat penat memandang adik Soat dalam pelukannya tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang---Air muka Si Cay soat pucat pias bagaikan mayat. setelah melepaskan tangan kiri nya. pemuda itu baru mengangkat tubuh Si Cay soat ke atas.. tubuhnya bergoyang kian kemari tiada hentinya . Sekuat tenaga pemuda itu berusaha untuk menenangkan hatinya. berhubung si nona berada dalam keadaan tak sadar. Bibirnya yang pucat sedikit terbuka hingga kelihatan dua baris giginya yang putih dian-tara bulu matanya masih tampak basah oleh air mata. . tiba di atas pohon. Lan See giok sedih sekali setelah melihat kesemuanya ini. sepasang tangan Si Cay soat yang memeluknya. dia membaringkan tubuh si nona diantara dahan dengan ranting pohon yang kuat. tangan kiri di pakai untuk memeluk Si Cay soat. tapi sayang ia tak dapat menunduk-kan kepalanya untuk memeriksa keadaan gadis tersebut.. membiarkan pikiran-nya yang kalut menjadi jernih kembali. Segenap tenaga dalamnya telah disalurkan ke luar dengan menyelimuti badan. sung-guh tak disangka adiknya menjadi begitu layu dan lemas bagaikan baru sembuh dari penyakit parah. dengan demikian tubuhnya yang sedang meluncur ke bawahpun terhenti secara mendadak. senjata gurdi emas di tangan kanannya secepat kilat diayunkan ke muka. Dengan tangan kanan berpegangan pada senjata gurdi emasnya. Lan See giok sangat terkejut.. Namun dengan terhentinya gerakan me-luncur itu. Kini dia tahu bahwa Si Cay soat telah jatuh ping-san. gerakan merangkaknya dilakukan amat berhati-hati. hanya berpisah setengah bulan. juga turut mengendor lepas.. air mata terasa jatuh bercu-curan. lalu menggigit pakaian bagian dadanya kuat-kuat. Mula-mula dia mengikat diri di atas dahan pohon dengan senjata gurdi emasnya. Begitu tubuhnya yang bergelantungan di tengah udara sudah menjadi tenang. kemu-dian baru membaringkan Si Cay soat dalam pelukannya. bergelantungan di udara. wajahnya sayu. dengan tangan yang lengkap dia baru merangkak naik ke atas pohon. "Sreeet!" Senjata gurdi emas itu persis melingkar pada batang pohon yang besar itu.. bdengan cepat iaj memeluk tubuh gsi nona kencangb-kencang.

niscaya gadis tersebut akan nampak segar kembali.. dalam keadaan demikian." sapa nya kemudian sambil menyeka air mata si nona dengan penuh kasih sayang. Padahal asal dia tepuk jalan darah Mia bun-hiatnya. Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya. dia hanya bisa memeluk tubuhnya sambil bercu-curan air mata.. . Dia tak ingin mencari tahu lagi mengapa adik Soatnya bisa muncul di bukit Tay ang san. Pipi kanannya ditempelkan di atas payu-dara sebelah kiri si nona. diapun tak menggubris apa sebabnya tali yang digunakan berayun tadi bisa putus secara tiba-tiba? Mendadak suara panggilan yang lemah tak bertenaga bergema di sisi telinganya"Eeeh . setelah mengetahui bahwa dirinya sedang berbaring dalam pangkuan kekasih hatinya. Isak tangis yang memedihkan hati mem-buat seluruh kemurungan dan kemasgulan dalam hatinya terlampiaskan ke luar. ia tak tahu bahwa Si Cay-soat bisa demikian lantaran gejolak emosi yang melampaui batas membuat darahnya tersumbat. ia benar-benar tak tahu bagaimana mesti mengutarakan rasa kuatir dan sayangnya terhadap gadis itu. "Adik Soat.. Seperti diketahui. yang dipikirkan olehnya saat ini hanya pengorba-nan dan cinta kasih si nona kepadanya. ia dapat mendengar detak jantungnya yangr lemah." Cepat-cepat Lan See-giok mendongakkan kepalanya. dia melihat Si Cay soat sedang membuka matanya dengan sayu. kau telah mendusin... sementara tangannya memeluk gadis itu makin kencang. melihat kondisi Si Cay soat yang makin melemah.engkoh Giok.. napasnya yang lirih.446 Teringat akan kejadian yang memedihkan hati.. gadis itu memejamkan kembali ma-tanya. hal terzsebut membuat awir matanya bercrucuran semakin deras. butiran air mata nampak bercucuran sangat deras. Tak terlukiskan rasa kalut dan bingung yang menghantui pikiran Lan Seegiok sekarang. Si Cay Soat hanya menggerakkan matanya yang sayu. wajahnya ditatap lekat-lekat seakan-akan raut wajah yang cantik itu tak bakal dijumpai lagi. tanpa terasa dia menyusupkan kepala-nya di atas dada Si Cay soat dan menangis. tanpa terasa dia mulai menciumi seluruh wajah Si Cay soat yang sayu. Lan See-giok adalah se-orang pemuda yang sama sekali belum ber-pengalaman.. dalam anggapannya gadis itu baru sembuh dari penyakit parah hingga kondisi tubuhnya masih lemah.

. adik Giok.. " Setelah mendengar seruan itu. Lan See giok baru mendusin.. wajahnya ber-ubah semakin merah membara. bibirnya bergetar dan memanggil namanya tiada hentinya.uuh. la mencoba untuk memeriksa keadaan ju-rang tersebut. uuh . dia hendak mempergunakan tenaganya untuk menghangatkan hatinya. tubuhnya yang ramping justru gemetar semakin keras. "Engkoh Giok. cepat-cepat dia mene-puk jalan darah Mia bun hiat di tubuh gadis tersebut. akhirnya tak tahan lagi dia berbisik lirih. dia ingin men-ciumnya sampai menjadi merah segar kem-bali seperti sedia kala. Si Cay soat menarik napas panjang lalu membenamkan kepalanya makin dalam ke dalam pelukan pemuda itu. ternyata jaraknya dari permu-kaan masih dua puluh kaki lebih. . ia menjumpai paras muka Si Cay soat mulai memerah." Lan See-giok masih mengenali suara isak tangis tersebut dari Oh Li-cu. Betul juga... dengan perasaan terkejut dipeluk si nona semakin kencang . tanyanya tiba-tiba dengan perasaan kuatir: "Adik Soat. api kebakaran di atas ju-rang telah merubah langit menjadi merah membara. Memandang butiran air mata yang bercu-curan dari balik matanya yang lentik. Lan See giok terkejut. namun ia justru merasa malu sampai tak berani membuka matanya. bagaimana rasanya sekarang7" Walaupun pikiran Si Cay soat telah jernih sekarang. jalan darah Mia bun hiat. Dalam pada itu. dia hendak mencium air matanya sampai mengering. bibirnya mulai membara bagaikan api.. se-mentara dadanya terasa sesak sukar ber-na-pas.. Sementara tubuhnya dipeluk semakin ken-cang... Di samping itu dia pun menjumpai tangan si nona memeluknya kencangkencang sam-bil menggosokkan dadanya di atas dada sendiri. Kemudian dia pula mencium bibir Si Cay soat yang pucat tak berdarah. tak tahan dia mencium matanya. "Adik Giok.. Dengan perasaan kaget bercampur kehe-ranan. uuh. ia segera teringat kembali dengan Oh Li-cu serta Tok Nio-cu. . ditengah jeritan dan teriakan yang amat ramai lamatlamat ia pun mendengar suara seorang gadis sedang menangis ter-sedu sedu.447 Ketika dirasakan badan gadis itu mulai gemetar... di bawah sinar merah yang ... Pemuda Itu segera menghentikan ciuman-nya lalu mengawasi wajah Si Cay soat yang kini merah membara hingga telinganya. uuh.

baru sekarang terpikir olehnya mengapa tali yang diikatkan pada pohon tersebut dapat putus secara tiba-tiba. Melihat tali yang putus itu. maksudmu kita lolos dari musibah maka di kemudian hari tentu ba-nyak rejeki? " . lalu bertanya keheranan. "Engkoh Giok. agar kita berdua bersama sama terjatuh ke dalam jurang!" Si Cay soat tidak memahami maksud per-kataan dari Lan See giok.!" Teriakan itu begitu bergema. ia mengerdipkan matanya berulang kali sambil mengawasi engkoh Gioknya yang masih tersenyum. Ketika didengarnya suara tangisan Oh Li cu makin lama semakin memedihkan hati. "Thian lah yang mengatur kesemuanya itu untuk kita. . tentu saja mimpi pun dia tak pernah akan menyangka kalau orang yang memutuskan tali tersebut. tak lain tak bukan adalah Tok Nio-cu yang bersedia untuk berbakti kepadanya. tali itu baru putus setelah mendengar Oh Li-cu berteriak kaget. setelah itu kembali dia bertanya. mungkin juga tertegun.. tapi siapakah dia? Mungkinkah para jagoan dari Tay ang san? Biarpun Lan See giok cerdik. aku belum lagi mampus. tanyanya ketakutan. "Hei. dia pun melihat pula ujung tali yang ter-putus di atas pohon tersebut. tanyanya lagi sambil tersenyum: "Engkoh Giok. dengan wajah tersipu sipu karena malu.448 membara. kalian tak usah menangis lagi. mengapa --. hal ini membuktikan bahwa tali itu memang sengaja diputus oleh seseorang. "sebab Thian telah mengatur kita berdua tidak mati di sini --" Dengan cepat Si Cay soat memahami apa yang dimaksud itu. Sementara Si Cay soat yang berada dalam pelukannya tiba-tiba bangun dan duduk. mungkin mereka kaget. isak tangis di atas jurang pun segera terhenti.? Dia pun masih ingat. sambil memeluk tubuh Lan See giok kencang-kencang. pemuda itu mengangguk sam-bil tertawa misterius. satu ingatan segera melintas di dalam benak pemuda tersebut. "Thian yang mengatur kesemuanya ini?" "Tentu saja. kemudian ia menjerit lengking dengan perasaan kaget. ia masih dapat melihat pohon besar di tepi jurang tersebut.. "Siapa sih mereka itu?" Sementara berbicara matanya mengawasi sekeliling tempat itu dengan mata terbelalak.?" Lan See giok tertawa riang. tak tahan lagi pemuda itu segera mendongak-kan kepalanya dan berteriak keras.mengapa kita bisa berada disini--.

ia tahu yang dimaksudkan adalah mencium-nya. jangan-jangan pedang itu tidak sampai ter-jatuh ke dasar jurang? Pada saat itulah dari atas permukaan ju-rang kedengaran Oh Li cu sedang berteriak dengan rasa terkejut bercampur gembira. di bawah sinar api yang membara dia melihat bayangan tubuh Oh Li cu dan Tok Nio-cu yang berdiri di tepi jurang.tiba---Si Cay soat menghentikan perbuatannya. apakah kau terluka?" Dalam gelisahnya Lan See-giok menengok ke atas. "Engkoh Giok jahat. "Aku tidak terluka dan kalian tak usah tu-run.. tapi matanya mengawasi bibir si nona yang mungil sambil menunjukkan senyuman ha-ngat: Dengan cepat Si Cay soat menjadi paham. . "Engkoh Giok. Menjumpai hal ini. tangannya segera memu-kul dada pemuda itu dengan gemas. ia sama sekali tak berniat lagi untuk mencari tahu siapakah yang berbicara di atas. mana pedangku. Lan See giok tersenyum tanpa menjawab. Lan See-giok sendiripun merasa terkejut. Lan See-giok cukup mengetahui akan asal usul pedang Jit-hoa-kiam tersebut. aku bisa berusaha untuk naik ke atas" Waktu itu. Tiba. "Aaah. kau jahat---" Sambil berseru. dia mencoba untuk memeriksa di sekitar sana. kepada Lan See-giok kembali katanya dengan gelisah. buru-buru dia berteriak lagi dengan perasaan gelisah. tentu saja senjata tersebut tak boleh sampai hilang. tapi dia tahu pedang mestika itu tentu sudah terjatuh ke dalam jurang biar begitu. tampak nya dia seperti hendak menyusulnya ke bawah.449 "Tidak!" sengaja Lan See giok menggeleng dengan serius "Thian telah memberi kebera-nian kepadaku!" "Keberanian apa?" gadis itu tertegun. air mukanya berubah hebat lalu serunya dengan kaget... Si Cay-soat sudah dicekam perasaan gugup dan kalut. peluh dingin bercucuran deras dengan perasaan gelisah dia celingukan kesana ke-mari.-? Mana Jit hoa kiam itu?! Wajahnya berubah menjadi pucat pasi. aku hendak turun ke bawah untuk mencari pedang . apalagi merupakan pemberian gurunya. "Adik Giok. tak heran mukanya berubah menjadi merah karena jengah. dia pun melihat bagaimana Oh Li-cu berjalan mondar mandir di sekeliling jurang. segera serunya manja.

hanya secara tibatiba saja dia merubah posisi badannya sambil mengebas-kan kembali ujung bajunya ke arah batu tonjolan tersebut.450 "Baik. Tiba di atas batu tonjolan yang dimaksud. Tatkala melalui batu tonjolan dimana Si Cay soat sekarang berdiri. dengan gerakan tubuh yang sa-ngat cepat Lan See-giok tiba lebih dulu di tepi jurang berisi air tadi: Dengan berdiri di atas batuan karang. dia toh berkata juga de-ngan penuh kekuatiran. pe-muda itu mencoba untuk memeriksa keadaan di sekitar sana. tentu saja mereka dapat melihat keadaan di sekitar situ bagai kan ditengah hari saja" Kedalaman jurang itu mencapai ratusan kaki lebih. Berhubung kobaran api di atas tebing sa-ngat besar sehingga langitpun menjadi merah membara..berdua memiliki ketajaman mata yang jauh melebihi orang biasa. kau mesti berhati hati. ia melayang turun di atas sebuah batu tonjolan berapa kaki di bawah sana. kemudian melanjut-kan luncurannya menuju ke atas batu tonjo-lan lain yang berada di bawah. apalagi Lan See-giok dan Si Cay soat. hawa dingin yang mencekam . kutemani kau turun ke bawah sana ayo berangkat" sahutnya manggut-manggut. kakinya kembali berada di bawah de-ngan kepalanya di atas. dengan jurus naga sakti masuk ke samudra. lamat-lamat pemandangan di dasar jurang itu dapat terlihat dengan jelas. Biarpun begitu. biar lebih berbahaya pun keadaan medannya tak bakal akan menyulit-kan dirinya. lalu sambil mengebas-kan sepasang ujung bajunya. pemuda tersebut menjejakkan lagi kakinya dan melanjutkan gerakan meluncurnya menuju ke bawah. Lan See giok memang mempercayai ke-bo-lehan ilmu meringankan tubuh yang di-miliki adik Soatnya. airpun mengalir sangat deras. Suara gemuruhnya air di dasar jurang mulai kedengaran sangat memekikkan telinga. dia meluncur ke dasar jurang. Dengan cepat dia melepaskan senjata gurdi emasnya lalu dililitkan pada pinggang nya. hawa dingin yang merasuk tulang dan menyayat kulit mulai menyerang seluruh tubuhnya. Dengan demikian posisinya sekarang ter-balik. Hampir semua permukaan dasar jurang itu dipenuhi aneka batuan karang yang besar lagi tajam.. Lan See giok sama sekali tidak menghentikan gerakan tubuhnya. biar aku saja yang turun lebih dulu!` Tenaga sakti Hud Kong sin kang yang di-milikinya dengan cepat disalurkan me-ngeli-lingi seluruh badan. Sementara itu Si Cay-soat sudah melayang turun ke bawah. dengan kaki di atas kepala di bawah. "Adik Soat. sedemikian derasnya sampai bunga air mun-crat setinggi satu kaki.

ia mulai berenang mengikuti arus menuju ke tepian. karena kegegabahannya. Lan See-giok menjadi terkejut. Si Cay soat telah melayang turun pula ke atas sebuah batuan karang di tepi jurang tersebut. tidak diketahui bendakah atau ikankah? Pads saat itulah bayangan merah berkele-bat lewat. Beruntung sekali ketika pemuda itu berha-sil mencapai di tempat kejadian. Si Cay. terasa juga betapa di-nginnya sehingga sakit bagaikan disayat sayat pisau dengan cepat dia menjadi paham apa sebabnya Si Cay soat hanya membung-kam diri sambil berenang dengan sekuat tenaga menuju ke tepian. Kedalam