Anda di halaman 1dari 891

1

ANAK HARIMAU Oleh Siauw Siauw


KUBURAN KUNO DI TENGAH HUTAN Matahari bersinar cerah menyoroti telaga Huan-yang ou yang beriak karena hembusan angin, udara tampak cerah dan bersih, udara di musim gugur memang terasa lebih nyaman dan semilir. Sebuah perkampungan nelayan berdiri di tepi telaga, rumah bambu yang berjajar di antara sela-sela dedaunan nan hijau tampak berderet memanjang menampilkan suatu pemandangan yang indah. Sepanjang bendungan tampak jala yang dibentangkan di bawah terik matahari, nona-nona muda duduk berkumpul di bawah pohon yang rindang sambil menambal jala-jala yang robek. Kaum wanita dan ibu-ibu sedang mencuci pakaian di tepi telaga, sedang anak-anak saling berkejaran diiringi teriakan dan jeritan gembira. Saat itu, sekumpulan gadis nelayan sedang duduk berkerumun sambil membicarakan seorang tamu dari utara yang menginap di rumah Thio lopek, seorang kakek yang ramah bersama seorang gadis yang cantik dan se-orang anak lelaki berkulit hitam.... Tampaklah seorang gadis nelayan berbaju hijau yang berambut kepang, sambil menghentikan sulamannya memandang ke arah seorang gadis berbaju kembang-kembang di hadapannya sana, kemudian berseru: "Enci Ing cun, nampaknya sahabat dari Thio lopek adalah seorang yang berwajah hokki, coba lihat rambutnya yang putih, jenggotnya yang berwarna perak, kalau berjalan halus dan lembut, tidak seperti Thio lopek, mana matanya segede jengkol, alis matanya tebal, kumisnya malang melintang, hiiih, mengerikan ...." "Aaah, Ji-niu, masa kau tidak tahu? Thio Lopek kan seorang jago silat sedang tamu dari utara ia orang sekolahan, tentu saja berbeda," sela seorang nona bercelana hijau. Seorang nona berumur lima enam belas tahun lainnya ikut menimbrung dengan wajah serius. "Aku rasa tamu dari utara itupun seorang ahli silat, buktinya setiap kali ke tiga putra Thio lopek beradu silat dengan si bocah jaliteng dari utara itu, yang kalah selalu ke tiga putra Thio lopek " "Yaa.... yaa, betul, apa yang dikatakan adik Kim-hoa memang benar," gadis nelayan yang bernama Ing-cun itu berseru ce-pat: "apalagi si nona cantik dari utara itu, mana bajunya serba merah, cantik lagi, hakekatnya

seperti cabe merah. Sekali melompat ke atas, atap rumah orangpun dilalui. . ." Belum habis dia berbicara, mendadak dari arah dusun sana terdengar suara bentakan gusar. Diikuti sekumpulan anak-anak desa bersorak sorai dan berlarian menuju ke dalam hutan bambu di tepi dusun. Nona-nona nelayan itu segera melongok bersama ke arah hutan bambu, kemudian salah seorang diantaranya berseru sambil tertawa: "Nampaknya ke tiga orang putra Thio Lopek lagi-lagi menantang si Jaliteng untuk berduel!" Belum habis dia berbicara, sorak sorai anak-anak dusun itu kembali berkumandang dari balik hutan bambu. Mendengar sorakan itu, nona-nona nelayan itu saling berpandangan sambil tertawa, seakan akan mereka berkata: "Sudah pasti Thio Toa-keng anaknya Thio lopek kena dibanting lagi oleh si Jaliteng!" Mendadak mencorong sinar terang dari balik mata seorang nona nelayan, lalu jeritnya kaget: "Hei, coba kalian lihat!" Ketika semua orang berpaling, tampaklah dari atas tanggul telaga lebih kurang puluhan kaki di depan sana, muncul sesosok bayangan kecil yang mengenakan jubah panjang. Tapi oleh karena ilalang yang tumbuh di sekitar tanggul amat tinggi dan bergoyang terhembus angin, maka bayangan itu tidak nampak jelas, tapi mereka yakin kalau orang itu adalah seorang sekolahan dari kota, sebab di seluruh dusun nelayan itu tak pernah dijumpai ada orang yang mengenakan jubah panjang. Lambat laun bayangan itu makin mendekat, sekarang baru terlihat jelas, ternyata bayangan kecil itu adalah seorang bocah lelaki berbaju biru. Bocah lelaki itu berusia lima enam belas tahunan, berwajah tampan dan bergigi putih, tubuhnya tegap dan mukanya ganteng, sungguh nampak menarik hati. Terutama sekali sepasang biji matanya yang jeli, penuh dengan pancaran sinar kecerdasan. Ujung bajunya yang berwarna biru berkibar terhembus angin, sedang sorot matanya yang jeli memandang ke sana ke mari, agaknya dia sedang menikmati keindahan alam di sekitar telaga. Wajahnya yang tampan tampak berubah ubah, sementara keningnya kadangkala berkerut, kadangkala pula senyuman menghiasi bibirnya.

Dengan terkesima, kawanan gadis nelayan itu memperhatikan wajah pemuda itu, seakan akan mereka sedang menyaksikan sesuatu yang sangat indah. Sebaliknya pemuda itu seakan akan tak pernah melihat kalau di bawah pohon yang rindang, duduk sekelompok gadis nelayan yang sedang memperhatikannya. Karena waktu itu dia sedang melamun, ia sedang berpikir bagaimana dia harus melaporkan kisah perjumpaannya dengan bibi Wan kepada ayahnya sesudah tiba di dalam kuburan kuno di tengah hutan nanti, Teringat akan keagungan wajah Bibi Wan nya itu, kembali sepasang alis matanya berkerut. Ia tidak tahu kalau ayahnya masih mempunyai seorang adik perempuan yang sudah setengah umur namun berwajah cantik, bahkan ibunya yang telah meninggal lima tahun berselangpun tak pernah membicarakan tentang soal ini, hal mana membuatnya merasa bingung dan tak habis mengerti. Dia pun tak tahu apa isi kotak kecil yang diperintahkan oleh ayahnya untuk diserah-kan kepada Bibi Wan, tapi kalau dilihat dari sikap ayahnya ketika berpesan sebelum berangkat, dapat dipastikan isi kotak tersebut tentu barang berharga. Tapi kalau membayangkan sikap tegang dan gugup yang terpancar dari wajah Bibi Wan setelah menyaksikan isi kotak itu, dapat diduga pula kalau benda itu adalah sebuah benda yang luar biasa. Mendadak ia tertawa lagi, mukanya kembali berseri, hatinya menjadi riang gembira lagi. Sebab dia terbayang pula dengan Ciu Siau cian, putri tunggal Bibi Wan nya itu. Enci Cian berusia setengah tahun lebih tua, mukanya putih halus, wajahnya cantik jelita, dia adalah seorang gadis cantik, yang alim dan baik hati. Selama tiga hari dia berada di rumah bibi nya, gadis itu jarang tertawa atau berbicara tapi perhatian terhadap dirinya amat besar. Sekalipun ia jarang berbincang-bincang dengan Enci Cian, ketika ia sedang duduk di sisinya. duduk membungkam sambil menikmati kecantikan wajahnya dan keanggunan sikapnya. Terutama sekali sepasang mata Enci Cian yang jeli dengan alis mata yang lentik, membuat siapa saja yang memandangnya merasa amat nyaman--Sorak sorai serombongan anak dusun dengan cepat membuat pemuda berbaju biru itu mendusin kembali dari lamunannya.

Ia lantas mendongakkan kepalanya ke depan, dijumpai nya serombongan anak sebaya dengan usianya sedang berteriak, bersorak dan menggoyang-goyangkan tangannya di dalam hutan bambu... Rasa ingin tahu dan dorongan sifat ke kanak-kanakannya membuat pemuda itu berjalan, menuju ke hutan tanpa terasa. Tapi baru berapa langkah kembali dia menjadi ragu, karena pesan dari Bibi Wan kembali mendengung di sisi telinganya. "..langsung pulanglah ke rumah, jangan berhenti di tengah jalan lagi..." Maka dia hanya melirik sekejap ke arah hutan bambu, kemudian melanjutkan kembali perjalanannya Dia masih ingat, setelah melewati dusun nelayan itu, dia harus menelusuri sebuah jalan setapak di arah barat laut sana. Mendadak terdengar suara bentakan gusar menggema di dalam hutan, diikuti anak-anak dusun yang sedang bersorak sorai itu membuyarkan diri ke mana-mana. Tak tahan pemuda berbaju biru itu segera berpaling, dengan cepat ia menjumpai. seorang anak lelaki berkulit hitam dan berbaju hitam, berusia paling banyak empat belas tahun terlempar ke luar dari balik hutan bambu. Menyusul kemudian muncul tiga orang anak dusun yang berperawakan lebih besar dari anak berkulit hitam itu dengan mata melotot, mereka menyusul ke luar sambil mengepalkan tinjunya. Dasar pemuda berbaju biru ini memang berjiwa pendekar, hawa amarahnya segera berkobar sesudah menyaksikan kejadian itu, dia lupa dengan pesan bibi Wan, dengan suara lantang bentaknya: "Cepat berhenti, masa kalian bertiga mengerubuti satu orang? Huuh, tak tahu malu." Sambil membentak, ia turut menubruk ke muka. Serentak empat orang anak yang sedang berkelahi segera berhenti saling memukul, sedang anak-anak nakal yang berada di se-kitar hutan bambupun sama-sama mengalihkan sorot mata mereka yang terkejut ke arah pemuda baju biru itu. Menanti pemuda berbaju biru itu semakin mendekat, ia baru merasa kalau keadaan agak kurang beres, sebab empat orang anak yang berkelahi tadi kecuali seorang anak bertubuh agak besar yang sedang melotot gusar ke arahnya, tiga orang yang lain telah berdiri berjajar sambil tertawa. Tergerak hati pemuda baju biru itu dan ia segera menahan gerak terjangannya. "Aaah, jangan-jangan mereka sedang bermain-main?" demikian dia lantas berpikir.

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, anak yang melotot gusar telah maju menghampirinya dengan sepasang kepalannya dikepalkan kencang-kencang. Pemuda berbaju biru itu sangat menyesal, ia merasa tidak seharusnya mencampuri urusan orang lain, tapi hatinya mendongkol juga setelah melihat tampang anak desa yang jumawa itu. Setibanya satu kaki di hadapannya, anak dusun itu melotot gusar ke arah pemuda berbaju biru itu. kemudian tegurnya dengan suara dalam: "Hei, kau datang dari mana? Mau ikut-ikutan yaa?" Pemuda berbaju biru itu berdiri tenang, tapi melihat sepasang kaki lawan bersikap dalam bentuk kuda-kuda, sepasang tinjunya dikepal kencangkencang, jelas ia bermak-sud hendak berkelahi, amarahnya makin berkobar. Ia mencoba berpaling ke arah bocah dusun yang lain, dua orang anak yang terlibat dalam perkelahian tadi, seorang anak berbadan gemuk seperti babi kecil, dan seorang anak kurus seperti monyet sedang tertawa haha hihi sambil berbisik-bisik dengan anak berkulit hitam itu. Sementara dia masih mengamati anak-anak itu, si anak dusun yang menantangnya telah membentak keras: "Hai, aku bertanya kepadamu datang dari mana, mengapa kau tidak menjawab?" Pemuda berbaju biru itu menjawab de-ngan hati mendongkol. "Aku datang dari mana, apa urusannya denganmu?" Didamprat dengan pedas, anak dusun itu jadi terbelalak dengan wajah merah padam. Sedang anak-anak dusun lainnya yang berada di sekitar hutan segera tertawa terbahak-bahak mentertawakannya. Salah seorang di antaranya, seorang anak berbaju robek segera mengejek ke arah anak dusun itu. "Hmm, Thio Toa-keng, biasanya kau cuma berani menganiaya kami, coba rasain hari ini---" Dengan gemas Thio Toa-keng melotot sekejap ke arah anak berbaju robek itu, kemudian kepada si pemuda berbaju biru teriaknya lagi: "Kalau memang tak ada sangkut pautnya, mengapa pula kau datang mengacau permainan kami?" Agak memerah juga wajah si pemuda baju biru itu. tapi ia berteriak pula dengan mendongkol: "Belum pernah kujumpai orang yang tak tahu aturan seperti kau.. " Kemudian setelah melotot sinis ke arah Thio Toa-keng, dia membalikkan badan siap akan pergi.

Karena dia teringat lagi dengan pesan Bibi Wan nya, maka ia tak berani berada terlalu lama di situ. Suatu bentakan keras tiba-tiba menggema memecahkan kesunyian itu, angin menderu-deru dan sesosok bayangan manusia telah menghadang di depan lelaki berbaju biru itu. Dengan perasaan gusar pemuda berbaju biru itu mundur ke belakang, belum sempat ia menegur, anak-anak dusun lainnya telah bersorak sorai. "Hoooree--- hooooree-- Enci Soat telah datang, Enci Soat telah datang- -" Serta merta pemuda berbaju biru itu berpaling, dia saksikan sesosok bayangan merah berkelebat lewat dari balik hutan bambu, lalu di depan kawanan anak dusun itu telah berdiri seorang anak perempuan berbaju merah darah yang menyoren pedang pendek. Anak perempuan berbaju merah itu berumur empat lima belas tahun, mukanya yang putih berbentuk potongan kwaci, matanya jeli dan besar, hidungnya mancung, bibirnya tipis, di atas rambutnya yang panjang tampak sebuah pita berbentuk kupu-kupu. Sarung pedang di punggungnya berwarna merah menyala, sepatunya juga berwarna merah dengan sepasang bola merah di ujung sepatu tersebut. Dengan kening berkerut dan bertolak pinggang, nona cilik itu sedang mengawasi si pemuda berbaju biru dengan sorot mata tajam. Pemuda baju biru itupun sedang menatap ke arahnya, dia hanya merasa dari balik hutan bambu muncul sebuah bola api dan tahu-tahu di depan matanya telah bertambah dengan seorang gadis baju merah yang kelihatan binal dan sukar dihadapi. "Lebih baik aku cepat-cepat meninggalkan tempat ini---" demikian ia berpikir. Tapi baru saja ingatan itu sempat melintas dalam benaknya. dari arah belakang telah terdengar suara bentakan lagi. "Siauya sedang mengajakmu berbicara, mengapa kau tidak menggubris---?" Begitu selesai membentak. angin tajam sudah menyambar ke punggungnya. Dengan cekatan pemuda berbaju biru itu berpaling, ia saksikan Thio Toa-keng sedang mengayunkan tinjunya sambil melotot marah. Pemuda berbaju biru tertawa dingin, ia segera miringkan badannya ke samping sambil menjatuhkan diri, lalu secepat kilat dia cengkeram pergelangan tangan Toa-keng. Kawanan anak dusun di sekitar hutan bambu menjerit kaget hampir bersamaan waktunya dengan ditangkapnya pergelangan tangan Thio Toakeng oleh bocah itu.

Thio Ji keng yang gemuk seperti babi kecil segera melotot gusar melihat kakaknya ditangkap orang bentaknya keras-keras. "Cepat lepas tangan . . . . " Di tengah bentakan keras tubuhnya me-nu-bruk ke depan, kepalannya langsung di ayunkan ke muka memukul kepala pemuda berbaju biru itu keras-keras. Dengan kening berkerut pemuda berbaju biru itu mendengus gusar, tangan kanannya yang menggenggam tangan Thio Toa-keng segera digetarkan keras-keras . . . "Duuk, duuk, duuk . . . " di tengah suara langkah kaki yang mundur ke belakang Thio Toa-keng merintih sambil meringis menahan kesakitan, sementara sepasang tangannya diayunkan kesana ke mari berusaha untuk menjaga keseimbangan badannya. Angin berhembus lewat, kepalan kecil dari Thio Ji-keng si anak berbadan gemuk seperti babi telah meluncur datang. Pemuda berbaju biru itu tidak gugup atau panik, dia segera merendahkan kepala sambil membuang bahu ke samping, lalu sambil maju ke depan dia bacok pergelangan tangan kanan Thio Ji-keng yang bulat gemuk dengan jurus Si gou huang gwat ( badak melihat rembulan). Pada saat itulah . . "Duuk. . . ! diiringi dengusan kesakitan. Thio Toa-keng yang terlempar mundur tak sanggup menjaga keseimbangan badannya lagi, ia terjatuh ke tanah lalu roboh terlentang dengan gaya empat kaki menghadap atas. Suara bentakan gusar dan jeritan kaget kembali bergema, pergelangan tangan kanan Thio Ji keng telah terpapas telak oleh bacokan bocah berbaju biru itu, sambil menahan kesakitan Thio Ji keng yang gemuk segera menerjang maju lebih ke depan. Dengan cekatan anak berbaju biru itu membalikkan badannya lalu melayang dua kaki ke samping. "Blaammm!" lantaran tenaga terjangan Thio Ji-keng kelewat besar dan ia tak sang-gup menahan tubuhnya, tak ampun tubuhnya terjerembab ke tanah dengan gaya "harimau lapar menubruk domba." Suasana di seluruh arena menjadi sepi, tiada orang yang bersorak sorai lagi, semua anak dusun itu berdiri terbelalak dengan wajah ketakutan, mereka bersama sama mengawasi pemuda berbaju biru itu dengan sorot mata terperanjat. Thio Sam keng yang kurus seperti monyet berdiri bodoh. sedang si jaliteng berdiri dengan mata melotot ke luar, diapun ter-perana dibuatnya.

Hanya si nona cilik berbaju merah yang masih berdiri sambil bertolak pinggang, sekulum senyuman acuh menghiasi bibirnya, sedang sorot mata yang dingin mengawasi pemuda berbaju biru itu tanpa berkedip. Agaknya Thio Toa-keng tahu kalau telah bertemu dengan "musuh tangguh". tanpa berbicara dia segera merangkak bangun, lalu sambil meraba pantatnya yang sakit dia menghampiri Thio Ji keng dan menarik bangun adiknya dari tanah. Tiba-tiba pemuda berbaju biru itu me-nyaksikan matahari telah condong ke barat dengan wajah gelisah dia lantas membalik-kan badan dan berlalu dari situ dengan langkah lebar. "Berhenti!" Nona cilik berbaju merah itu membentak keras. Sekali lagi pemuda berbaju biru itu merasa jengkel setelah mendengar bentakan yang dingin dan bernada memerintah itu, dia segera berhenti dan menengok ke arah si nona . . . . Tampak olehnya nona cilik berbaju merah itu berdiri dengan wajah tanpa emosi, matanya yang jeli menatap dingin ke arahnya, sikap maupun lagaknya amat angkuh dan jumawa. Dasar dalam hatinya sudah mangkel, melihat tampang seperti itu lagi, ibaratnya api bertemu bensin, kontan saja hawa amarah pemuda yang berbaju biru itu membara. Tapi dia kuatir ayahnya marah karena dia pulang terlambat, maka sambil menahan sa-bar katanya dengan suara dalam: "Ada urusan apa kau memanggilku?" Nona kecil berbaju merah itu melengos ke arah lain, sekejappun ia tidak memandang ke arahnya, kepada si anak berkulit hitam, pekat itu serunya dengan nada memerintah: "Adik Gou, kau coba kekuatannya!" Begitu nona cilik itu berseru, kawanan anak dusun di sekitar sana segera bersorak sorai, seolah-olah sedang memberi duku-ngan kepada si hitam tersebut: "Thio Toa-keng, Ji-keng dan Sam-keng juga tertawa senang sorot mata mereka me-man-carkan sinar harapan, mereka berharap si hitam bisa menghajar pemuda berbaju biru itu sampai babak belur, atau paling ti-dak bisa membalaskan sakit hati mereka. Anak hitam itu mengencangkan dulu ikat pinggangnya, lalu setelah menatap sekejap ke arah lawannya dengan sepasang biji mata yang hitam pekat, ia maju ke muka dengan langkah lebar. Sementara itu, si pemuda berbaju biru itu sudah melihat awan gelap di langit sebelah barat-daya, hatinya semakin gelisah, sebab dia tahu awan mendung telah menyelimuti langit yang makin gelap.

Dengan langkah tegap anak berkulit hitam itu telah tiba di hadapannya, mula-mula dia menjura lebih dulu, kemudian dengan bibirnya yang merah dia menegur; "Saudara, tolong tanya siapa namamu? Aku Wu Thi-gou mendapat perintah dari enci Soat untuk mencoba berapa jurus ilmu silatmu." Meski dalam hati pemuda berbaju biru itu merasa gelisah dan tak sabar, tapi dia tahu jika hari ini tidak unjuk gigi dan menentukan menang kalah, jangan harap dia bisa meninggalkan tempat itu. Maka ketika dilihatnya si anak berkulit hitam Wu Thi-gou bersikap sopan dan nampaknya seperti berpendidikan, mungkin murid seorang jago kenamaan, diapun balas memberi hormat. Sekalipun kukatakan namaku belum tentu kalian tahu, lebih baik tak usah di utarakan saja---" katanya tak sabar. Belum habis dia berkata, mendadak terdengar nona cilik berbaju merah itu menukas dengan suara dalam: "Sebutkan saja namamu, setelah kau ucapkan, bukankah kami akan mengetahuinya ?" Merah jengah selembar wajah pemuda berbaju biru itu, dengan gusar dia melotot sekejap ke arah gadis cilik itu, kemudian katanya kepada Wu Thigou: "Aku bernama Lan See-giok, cepatlah lan-carkan seranganmu!" Siau Thi-gou tidak sungkan lagi, sambil membentak dia lepaskan sebuah pukulan keras. Lan See-giok tahu bahwa si bocah hitam ini tak boleh dianggap enteng, dengan cekatan dia berkelit ke samping, kemudian mengayunkan telapak tangannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut. Apa yang diduga ternyata benar juga. baru saja Lan See-giok menggerakkan tubuhnya. permainan jurus serangan Siau Thi-gou (si kerbau baja kecil) segera berubah weess. weess! segulung angin tajam menyapu ke depan. dalam waktu singkat dia telah melancarkan lima buah serangan dahsyat. Untung saja Lan See-giok telah mempersiapkan diri sebelumnya, buruburu ia tangkis ancaman itu lalu berebut melepaskan serangan balasan, meski begitu, ia toh kena terdesak juga sampai mundur beberapa langkah dari posisi semula. Thio Toa-keng bersaudara. segera ber-sorak sorai kegirangan. Sedang anak-anak nakal lainnya ikut berteriak teriak sambil memberi semangat kepada kedua belah pihak, seakan akan mereka sedang menonton pertunjukan adu jago saja.

10

Si Nona berbaju merah pun tampak tertawa puas, dari balik bibirnya yang kecil mungil terlihat dua baris giginya yang putih bersih. Agak memerah paras muka Lan See-giok karena kena didesak mundur, amarahnya segera berkobar, permainan jurus pukulannya pun berubah, sekarang dia mulai unjuk gigi, sambil menyerbu ke depan . . . Sreeet! Sreeet! Sreeet Secara beruntun dia lancarkan tiga buah pukulan berantai yang maha dahsyat. Siau Gou - cu segera merasakan empat penjuru sekeliling tubuhnya diliputi oleh bayangan telapak tangan yang membukit, dengan susah payah dia harus menangkis kesana ke mari berusaha untuk meloloskan diri dari ancaman, tak ampun dia menjadi kelabakan setengah mati. Sekarang Thio Toa-keng bertiga tak bisa berteriak lagi, kawanan anak nakal di sekitar arenapun berhenti berteriak, sedang senyuman yang menghiasi ujung bibir si nona kecil berbaju merahpun turut menjadi lenyap. Seluruh arena menjadi hening, semua orang mengawasi Siau Gou cu dengan mata terbelalak dan perasaan kuatir, mereka kuatir kalau sampai si hitam kecil itu di kalahkan. Pertarungan makin lama berkobar makin seru, baik Lan See-giok maupun Siau Thi-gou sama-sama tak mau mengalah, kedua belah pihak mengerahkan segenap kepandaian silat yang dimilikinya untuk kemenangan. Matahari semakin condong ke barat, senja pun telah menjelang tiba, angin yang ber-hembus kencang membawa kelembaban udara, tampaknya hujan sudah hampir tu-run. Lan See-giok bertambah gelisah setelah menyaksikan keadaan itu, jurus serangan yang dilancarkan makin lama semakin kalut, untung saja ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya jauh lebih hebat dari pada Siau Thigou, sehingga beberapa kali dia berhasil menghindarkan diri dari ancaman bahaya. Mendadak terdengar seseorang membentak merdu: "Adik Gou, mundur!" Siau Thi-gou segera melancarkan tiga buah serangan berantai untuk mendesak mundur lawannya, kemudian menggunakan kesempatan itu tubuhnya melompat mundur sejauh satu kaki lebih dari posisi semu-la. Lan See-giok segera mendongakkan kepalanya, dia saksikan si nona cilik berbaju merah itu sedang berjalan mendekat dengan sikap yang sangat angkuh. Tampaknya kegagalan Siau Thi-gou untuk merobohkan Lan See-giok membuat nona cilik berbaju merah itu segera tampil sendiri untuk menghabisi lawannya.

11

Setelah berada di hadapan Lan See-giok, dengan angkuh nona berbaju merah itu ber-kata: "Aku bernama Si Cay-soat, tampaknya le-bih kecil dua tahun darimu, tapi kami sudah bergilir mengerubuti dirimu, rasanya sekalipun memang juga tidak gagah, maka sekarang aku hendak menetapkan tiga puluh gebrakan saja, menang atau kalah kita selesaikan dalam batas waktu tersebut---" Lan See-giok sudah habis kesabarannya sedari tadi, maka sahutnya. dengan cepat; "Bagus sekali, silahkan kau segera lancarkan serangan!" Si Cay-soat tidak sungkan lagi, dia segera melompat ke depan sambil mengayunkan telapak tangannya menghantam wajah anak lelaki itu. Paras muka Lan See-giok berubah hebat, buru-buru dia memiringkan badannya sambil menghindar. Bentakan nyaring kembali berkumandang, bayangan merah berkelebat lewat, bagaikan bayangan setan saja Si Cay-coat telah memburu ke depan, telapak tangannya langsung menghantam pinggang lawan. Lan See-giok menjadi sangat terkejut, peluh dingin jatuh bercucuran, dia baru merasa kalau kepandaian silat nona cilik ini berapa kali lipat lebih dahsyat dari pada si anak hitam tadi. Serta merta dia menjejakkan ujung kakinya ke tanah dan melejit satu kaki dari posisi semula, nyaris dia termakan serangan tersebut, menyusul kemudian sambil membentak keras, dia mengayunkan kembali telapak tangannya melancarkan serangan balasan. Tiba-tiba dari arah tanggul berkumandang suara gelak tertawa orang serta suara pembicaraan gadis-gadis nelayan yang sedang pulang ke rumah. Lan See-giok yang mendengar hiruk pikuk itu bertambah panik, dia lihat awan mendung sudah makin menyelimuti angkasa. Si Cay-soat ternyata cukup cerdas, dari kegelisahan di wajah orang, dia lantas tahu kalau anak inipun buru-buru ingin pulang ke rumah. Maka menggunakan kesempatan dikala pikirannya bercabang, dengan cepat tubuh-nya berkelebat ke muka, jari tangan kanan nya langsung menusuk ke atas jalan darah dipinggang anak itu. Lan See-giok amat terperanjat, dia ingin menghindar tapi tak sempat lagi, tahu-tahu jari tangannya sudah mengancam di depan mata, Satu ingatan segera melintas dalam benak nya, dengan jurus Hud liu ti hoa (menyapu liu memetik bunga), telapak kanannya segera membacok ke bawah keras-keras. Si Cay-soat segera tersenyum, jari tangan-nya dengan cepat menotok di atas jalan da-rah siau-yau-hiat di tubuh Lan See-giok.

12

Akan tetapi Lan See-giok tidak merasa apa-apa, telapak tangan kanannya masih melanjutkan bacokannya menghajar pergelangan tangan lawan. Si Cay-soat amat terkejut, pucat pias paras mukanya, Sambil menjerit cepat-cepat dia melompat mundur sejauh dua kaki dari tempat semula. Sayang, walaupun dia sudah berkelit dengan gerakan cepat, toh kelima jari tangan kanannya kena tersambar juga oleh angin pukulan yang dilancarkan Lan See-giok, kontan dia merasa kesakitan setengah mati. Menanti dia berpaling ke arah lawannya, waktu itu Lan See-giok sudah membalikkan badannya dan kabur menuju ke utara dusun dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Thio Toa-keng dan Siau Thi-gou. segera membentak keras, mereka melompat ke muka siap melakukan pengejaran. "Kembali . . . " Si Cay-soat segera membentak keras. Thio Toa-keng dan Siau Thi-gou membatalkan langkahnya dan berpaling ke arah nona cilik itu dengan sinar mata keheranan. Si Cay-soat berkerut kening, bisiknya kemudian dengan wajah agak bingung dan kosong : "Dia yang menang!" Sambil berkata, sepasang matanya yang bulat besar segera dialihkan ke arah baya-ngan punggung Lan See-giok yang menjauh dengan pandangan aneh. Sampai sekarang dia masih saja tidak habis mengerti, mengapa totokan jalan darahnya yang bersarang telak tadi bisa tidak bermanfaat apa-apa? Bayangan tubuh Lan See-giok sudah lenyap di luar dusun sana, tapi dalam hati kecil Si Cay-soat masih tertera jelas bayangan tubuhnya. Setelah meninggalkan perkampungan nelayan itu Lan See-giok merasa menyesal sekali karena kelancangannya mencampuri urusan orang, dia berpikir, saat itu ayahnya pasti sudah menunggu dengan tak sabar di luar hutan. Menelusuri jalanan yang kecil, dia berpikir terus ke hal-hal yang beraneka ragam- hatinya makin gelisah dan dia ingin cepat-cepat sampai di rumah, Setelah habis menelusuri tanah persawahan, dia berjalan menembusi semak belukar yang lebat dan akhirnya menembusi hutan belantara yang lebat sekali. Baru satu li dia berjalan menembusi hutan, seluruh angkasa telah berubah menjadi gelap gulita, angin malam berhembus kencang dan membawa udara yang dingin. Titik-titik cahaya api berkedip di balik hutan yang gelap, sebentar bergerak mendekat sebentar lalu bergerak menjauh cahaya api itu menambah suasana seram di sekitar sana.

13

Lan See-giok tahu kalau sinar titik api itu bernama api setan, konon merupakan setan- setan yang berjalan ke luar dari dalam kuburan untuk mencari sukma-sukma yang lain Tapi Lan See-giok tidak takut, dia percaya ayahnya pasti sudah menanti di ujung hutan sana, menanti kedatangannya. Maka dia segera mempercepat perjalanan nya menembusi hutan tersebut . .. Tak lama kemudian ia sudah sampai di ujung hutan, tapi . . di mana ayahnya? Ia tidak menjumpai bayangan tubuh ayahnya berada di situ. Dia segera berhenti, ternyata tempat yang dituju memang tak salah, ayahnya telah berkata dengan jelas, dia akan menunggunya di bawah pohon besar ini. Mungkinkah ayahnya tertidur di atas po-hon? Berpikir demikian dia lantas mendehem-dehem, tapi kecuali bunyi jengkerik dan binatang kecil lainnya, tidak terdengar suara jawaban ayahnya. Dengan cepat dia mendongakkan kepala nya dan memandang ke arah depan, hutan belantara tampak sangat gelap, api setan berkedip-kedip dan bergoyang ke sana ke mari terhembus angin, dia seolah-olah menyaksikan api setan itu makin lama makin membesar dan akhirnya lambat-lambat seperti nampak munculnya sesosok ba-ya-ngan setan. Lan See-giok mulai ketakutan, dia segera berpikir: "Mengapa ayah tidak menjemputku?" Dia tahu dari sini sampai di kuburan kuno itu masih cukup jauh, dia harus melewati dua buah tebing tinggi, tiga buah tanah pekuburan dan sebuah sungai seluas satu kaki. Dia tidak takut ular beracun atau babi hutan, tapi dia takut dengan jeritan burung hantu, suaranya yang menggetarkan sukma cukup mendirikan bulu roma siapapun yang mendengarnya. Teringat jeritan burung hantu, bulu kuduk Lan See-giok segera pada berdiri, dalam keadaan begini betapa besarnya dia berharap ayahnya bisa datang menjemputnya. la maju beberapa langkah lagi ke depan, semak belukar sudah setinggi lutut, tak jauh di balik hutan sana adalah sebuah tanah pekuburan yang sudah porak poranda keadaannya. Hampir sebagian besar kuburan di situ sudah hancur, batu nisan berserakan. peti mati pada merekah, bahkan tulang belulang manusia yang tak terurus tergeletak di sana sini menimbulkan cahaya api setan yang menggidikkan hati....

14

Walaupun sejak kecil Lan See-giok telah belajar silat, bagaimanapun juga dia hanya seorang anak berusia lima enam belas tahun, sewaktu kecil dulu dia sering mendengar ibunya bercerita tentang setan. Membayangkan kembali cerita setan yang pernah didengarnya dulu, anak itu semakin ketakutan, tanpa terasa dia berteriak keras. "Ayah, anak Giok telah pulang!" Suasana amat hening, kecuali beberapa ekor ayam alas yang berlarian karena kaget, tak nampak sesosok bayangan manusiapun yang muncul di sana. Lan See-giok sangat kecewa, dia tahu dalam keadaan begini dia harus pulang sendiri ke kuburan kuno. Maka setelah menghimpun tenaganya dan memusatkan pikiran, dia segera mengerah kan ilmu meringankan tubuhnya bergerak menuju ke depan. Setelah melewati tanah pekuburan yang terbengkalai itu, keadaan mega semakin meninggi, hutan semakin rapat dan suasana pun semakin gelap gulita .... Sepanjang perjalanan, Lan See-giok menyaksikan burung-burung beterbangan karena takut, dua tiga babi hutan mengejar dengan kencang, diapun menyaksikan ular-ular beracun dengan sorot matanya yang buas muncul dari balik tulang kerangka manusia atau peti mati yang berserakan... Tapi anak itu tidak mengambil perduli, dia berlarian terus dengan kencangnya menuju ke tempat tujuan. "Beberapa saat kemudian ia telah melewati dua buah tebing dan sebuah sungai kecil, di depan sana terbentang hutan pohon siong, di dalam hutan itulah terletak kuburan kuno tempat tinggal ayahnya. Selama ini Lan See-giok selalu tidak habis mengerti apa sebabnya ayahnya pindah ke dalam kuburan kuno itu, berapa tahun setelah pindah ke sana, ibunya meninggal dunia, sejak saat itulah ayahnya menjadi seorang yang pemurung. Beberapa kali dia menyaksikan ayahnya duduk tepekur sambil bermuram durja, adakala ayahnya menjadi berangasan dan suka marah-marah, tapi ada kalanya pula dia nampak amat gelisah dan tidak tenang . . . Lan See-giok tahu kalau ayahnya pasti mempunyai suatu rahasia besar yang tak ingin diketahui orang lain, diapun menduga ibunya pasti mati karena merasa murung dan sedih karena persoalan ini. Dia ingin sekali mengetahui rahasia tersebut, dia bersedia membantu ayahnya untuk memikirkan persoalan itu, tapi dia tak berani bertanya,

15

diapun tahu sekalipun di tanyakan, belum tentu ayahnya bersedia menjawab. Mendadak dari atas pohon tak jauh di hadapannya sana, terdengar bunyi burung hantu yang memekakkan telinga. Lan See-giok merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri, dengan cepat dia men-dongakkan kepalanya ke depan, ternyata dia sudah berada dalam hutan siong, jarak nya dengan kuburan kuno itu sudah tak jauh lagi. Di depan matanya kini muncul sebuah tugu yang terbuat dari batu hijau, di atas permukaan tugu itu tertera dua huruf yang amat besar: "ONG LENG." Akhirnya sampai juga di tempat tujuan, Lan See-giok merasa girang sekali, ia mempercepat larinya menuju ke depan. Setelah melewati tugu itu muncullah sebuah jalanan beralas batu yang sangat lebar, panjangnya puluhan kaki, di kedua belah sisi jalan besar itu berjajar patung-patung kuda, patung kambing, patung orang dan lain sebagainya. Di ujung jalan tersebut adalah sebuah pintu bangunan yang sudah ambruk, yang tersisa tinggal tiang-tiang penyangganya saja. sedang bangunan itu sendiri telah porak poranda. Dalam bangunan yang porak poranda terdapat sebidang tanah pekuburan yang luasnya mencapai puluhan hektar, puluhan buah kuburan besar berserakan di sana sini. batu bong pay berdiri kekar di depan setiap kuburan itu, tapi tulisannya sudah buram. Terbayang kalau sebentar lagi bakal berjumpa dengan ayahnya, Lan Seegiok merasa amat gembira, ia telah mempersiapkan ucapannya yang pertama begitu bersua dengan ayahnya nanti, ia hendak mengatakan bahwa kotak kecil itu telah diserahkan kepada Bibi Wan yang anggun tersebut. Begitu besar keinginannya bertemu dengan ayahnya, dia tak ingin berjalan berputar lagi, dengan suatu lompatan cepat ia melewati tanah pekuburan itu langsung menuju ke depan sebuah kuburan yang paling besar. Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya paling hebat, ayahnya sering memuji akan kehebatannya, sedang kepandaian kedua yang paling ampuh adalah ilmu Gi-hiat kang, kepandaian untuk menggeserkan tempat kedudukan jalan darah. Tanpa terasa ia teringat kembali pertarungannya dengan Si Cay-soat belum lama berselang, kepandaian silat nona itu memang sangat hebat, coba kalau dia tak pandai memindahkan letak jalan darah, niscaya dia sudah dipecundangi orang.

16

Sementara masih melamun, dia telah melayang turun di depan kuburan ke depan yang menghadap ke arah timur laut. Tiba di depan kuburan itu, ia saksikan pintu rahasianya terbuka lebar, mungkin ayahnya lupa untuk menutup kembali. Tanpa sangsi lagi Lan See-giok melompat masuk ke dalam kuburan, menelusuri anak tangga dan berlarian menuju ke ruang dalam. Suasana di dalam kuburan itu gelap gulita hingga lima jari tangan sendiri pun susah dilihat, tapi Lan See-giok sudah banyak tahun berdiam di sini, sekalipun harus berjalan dengan mata meram pun dia dapat mencapai ruangan dalam. Sesudah melewati dua tikungan, akhir nya dari dalam ruangan bulat di depan sana nampak setitik cahaya lentera. Lan See-giok amat gembira, dia tahu ayah-nya belum tidur, dengan suara lantang segera teriaknya: "Ayah, anak Giok telah kembali!" Sambil berteriak gembira dia segera menubruk ke depan. Tapi dengan cepat anak itu berhenti dengan wajah tertegun, ternyata ia tidak menjumpai ayahnya berada di sana. Cahaya lentera memancar ke luar dari sebuah lampu minyak di atas meja, cahaya itu amat redup sehingga suasana di seluruh ruangan itu remangremang dan terasa menyeramkan. Pembaringan di sisi dinding ruangan nampak rapi, di atas meja besar dekat pembaringan terletak senjata gurdi emas "Cing kim-kong-luau-jui!" senjata andalan ayahnya. Gurdi emas itu berujung runcing dan amat tajam, bagian ekornya lebih kasar dan besar hingga bentuknya mirip jarum. Senjata itu kalau lemas bentuknya seperti seutas tali, tapi kalau sudah disaluri tenaga dalam bentuknya mirip gurdi, tanpa tenaga dalam yang sempurna jangan harap orang bisa memainkan senjata semacam itu. Begitu melihat senjata gurdi emas milik ayahnya masih tergeletak di atas meja, Lan See-giok segera tahu kalau ayahnya tidak pergi. Mendadak . . . Segulung bau amisnya darah berhembus lewat dan menusuk hidung anak itu. . . Lan See-giok merasa sangat terkejut, dengan cepat dia mengendusnya beberapa kali, benar juga, bau yang menusuk hidung itu adalah bau amisnya darah segar. Hatinya menjadi amat tercekat. tanpa terasa dia mundur dua langkah, sementara perasaan seram menyelimuti seluruh benaknya.

17

Pada saat itulah dari luar kuburan terdengar bunyi burung hantu berpekik keras, suaranya terdengar amat menyeramkan .... Lan See-giok segera bergidik, bulu kuduknya pada bangun berdiri, tanpa terasa dia berteriak dengan suara keras: "Ayah. . . ayah . . . ayah . . ." Teriakan anak itu kedengaran parau dan diselingi isak tangis yang gemetar. Tapi, kecuali suara dengungan keras dari balik lorong yang memantulkan suaranya, tidak terdengar suara jawaban dari ayahnya. Kembali terendus bau amis darah yang amat menusuk penciuman. Sekali lagi Lan See-giok terperanjat, dia berusaha mengumpulkan segenap kemampuannya untuk meneliti ruangan itu. Tiba-tiba mencorong sinar terang dari balik matanya, ia saksikan di sebelah kiri meja batu nampak sesosok bayangan hitam berada di sana. Dengan suatu kecepatan kilat dia menyambar lentera di meja dan menghampiri bayangan itu. Di bawah cahaya lentera yang redup, ia segera menyaksikan suatu pemandangan yang menyeramkan, peluh dingin segera jatuh bercucuran, sukmanya serasa melayang meninggalkan raganya. Lan See-giok betul-betul berdiri kaku bagaikan patung, mukanya pucat, matanya terbelalak lebar sedang mulutnya ternganga lebar. Sebab bayangan itu tak lain adalah tubuh ayahnya, tubuh ayahnya yang tergelepar di atas genangan darah. Cepat dia letakkan lentera itu ke meja, lalu sambil menjerit dan menangis dia menubruk ke atas tubuh ayahnya dan menangis tersedu sedu. Seketika itu juga dalam seluruh kuburan itu dipenuhi oleh suara isak tangis yang penuh kesedihan, keseraman dan kengerian. Lan See-giok menangis terus sampai air mata yang ke luar berubah menjadi darah sambil menangis tersedu sedu, dia mulai memeriksa jenazah ayahnya itu. Ia saksikan ayahnya tewas dengan mata melotot mulut ternganga, noda darah menyelimuti seluruh wajahnya, jenggot yang putih dan rambut yang putihpun penuh dengan darah, sekilas pandangan saja dapat diketahui kalau ayahnya tewas akibat suatu gempuran tenaga pukulan dahsyat yang menghancurkan isi perutnya. Ditinjau dari posisi ayahnya sewaktu jatuh setelah menyadari kehadiran musuh tak di undang, ayahnya buru-buru menyambar senjata gurdi emas yang tergeletak di meja sayang sebelum maksudnya tercapai, punggungnya sudah kena dihajar lebih dulu.

18

Tak terlukiskan rasa sedih yang menyelimuti perasaan Lan See-giok waktu itu melihat ayahnya mati secara begitu mengenaskan, dia menjerit keras lalu muntah darah segar, tubuhnya segera terkapar di atas tanah dan tak sadarkan diri. Isak tangis dalam kuburan itu segera terhenti, yang tersisa hanya suara dengungan keras yang memantul ke mana-mana. Di luar kuburan, angin malam berhembus kencang mengiringi suara hujan yang turun dengan deras, malam itu benar-benar suatu malam yang amat mengenaskan. Mendadak--Lan See-giok yang lambat-lambat mulai sadar kembali dari pingsannya merasa ada seseorang menotok jalan darah Hek ci hiat nya keras-keras. Menyusul kemudian sebuah tangan dengan gugup dan panik menggeledah seluruh tubuhnya, orang itu seperti sedang mencari sesuatu dari dalam saku dan bagian tubuh lainnya--Kejut, gusar dan takut segera menyelimuti seluruh perasaan Lan See-giok, ia tak tahu siapakah orang itu? Tapi ia yakin orang itu sudah pasti adalah pembunuh biadab yang telah membunuh ayah nya. Dia ingin membalikkan badan sambil me lancarkan serangan, kalau bisa dengan suatu gerakan secepat kilat untuk membinasakan orang yang sedang menggeledah sakunya itu. Tapi dia tahu, asal dia mengerahkan tenaga, pihak lawan pasti akan menyadari akan hal itu, dengan kepandaian silat ayahnya yang begitu lihai pun bukan tandingan lawan, bila dia sampai melakukan suatu gerakan, bukankah tindakan tersebut ibaratnya telur diadu dengan batu? Maka dia bermaksud untuk mengintip dulu siapa gerangan orang itu, asal wajahnya teringat, usaha membalas dendam bisa dilakukan di masa mendatang. Berpikir begitu, diam-diam ia membuka matanya dan mencoba untuk mengintip. . . "Blaam!" tiba-tiba orang itu menendang tubuhnya keras-keras sampai mencelat dan terbalik. Lan See-giok menggigit bibirnya kencang-kencang menahan rasa sakit, merintih pun tidak. la merangkak di tanah dan pelan-pelan membuka matanya lalu melirik ke arah orang itu. Kebetulan orang itu berdiri di belakang tubuhnya sehingga di atas dinding tertera sesosok bayangan manusia yang tinggi besar. Lan See-giok membuka matanya lebar-lebar, dia berharap bisa menyaksikan raut wajah orang itu dari bayangan badannya.

19

Orang itu berperawakan, tinggi besar, hidungnya mancung, kening dan dagunya sempit, jenggotnya tidak banyak, cuma beberapa gelintir, memakai baju pendek celana panjang. dia sedang berdiri di sana seperti lagi termenung memikirkan sesuatu. Mendadak terdengar orang itu berguman dengan perasaan keheranan. "Aneh, kenapa tidak ada juga?" Walaupun Lan See-giok tak berpengalaman dalam dunia persilatan hingga tak dapat membedakan dialek setiap propinsi, tapi dia yakin, orang ini pasti tinggal di sekitar telaga Huan-yang ou. Setelah berguman, orang itu sekali lagi membungkukkan badan dan menggeledah seluruh badan Lan See-giok .... "Tiba-tiba tangan itu berhenti menggeledah kalau dilihat dari bayangan yang tertera di atas dinding, tampaknya orang itu seperti memasang telinga dan memperhatikan sesuatu. Kemudian tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu orang itu sudah lenyap dari pandangan. Lan See-giok tak berani bergerak, tahu orang itu belum pergi, sebab menurut arah bergeraknya bayangan di atas dinding, nampaknya orang itu sedang menyembunyikan diri di sisi pembaringan. Tapi ia tak habis mengerti mengapa orang itu menyembunyikan diri secara tiba-tiba ? Pada saat itulah terdengar suara ujung baju terhembus angin berkumandang datang dari arah mulut lorong rahasia: Lan See-giok terperanjat, dia tahu kembali ada jago lihay berkunjung ke situ, bersamaan itu pula dia lantas paham kenapa orang itu secara tiba-tiba menyembunyikan diri ke belakang pembaringan. Tapi setelah dipikir lebih lanjut, sekali lagi hatinya merasa bergetar keras, syukur dia tidak jadi melancarkan serangan gelap terhadap orang itu, sebab menurut perasaan nya, kesempurnaan tenaga dalam yang di miliki orang ini benar-benar luar biasa. Sementara itu suara ujung baju yang terhembus angin kedengaran semakin jelas, bahkan ada kalanya diiringi pula suara benda berat yang menyentuh lantai. Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, kemudian terdengar seseorang tertawa terbahak-bahak. Lan See-giok yang tertelungkup di tanah merasa telinganya sakit sekali oleh getaran suara tertawa yang memekikkan te1inga itu, darah segar dalam rongga dadanya serasa bergelora keras, hampir saja dia mengeluarkan suara.

20

Terdengar pendatang itu menghentikan suara tertawanya, kemudian tanpa perasaan takut barang sedikitpun jua, dia berseru lantang: "Lan Khong-tay wahai Lan Khong-tay, sungguh tak disangka Kim cui gin tan (gurdi emas peluru perak) Lan tayhiap juga akan mengalami nasib seperti hari ini, hmmm .... bayangkan saja betapa gagahmu dimasa lalu, tapi... haaah.. haaah.. sekalipun mempunyai barang itu, apalah gunanya?" Selesai berkata, kembali dia tertawa terbahak-bahak, menyusul kemudian terdengar suara ketukan keras bergema semakin dekat. Lan See-giok tahu, pendatang adalah seseorang yang kenal dengan ayahnya, bahkan mempunyai ikatan dendam dengan ayahnya. Sementara dia masih termenung, orang itu sudah tiba di depan jenazah ayahnya, suara ketukan keras yang bergema kian bertambah keras, bahkan terasa pula getaran keras yang menggetarkan sukma. Kini Lan See-giok tidak merasa takut, karena dalam hatinya penuh diliputi kobaran api dendam yang membara, dia hanya ingin tahu siapakah pembunuh ayahnya. Ia merasa perlu untuk memperhatikan wajah orang ini, siapa tahu dari orang ini di kemudian hari dia bisa menyelidiki siapa gerangan orang berjenggot yang berhidung mancung itu? Baru saja Lan See-giok akan membuka matanya, orang itu sudah berjalan ke arah-nya, maka cepat-cepat dia memejamkan ma-tanya kembali, meski demikian ia sempat melihat kaki kiri orang itu sudah kutung, se-dang di bawah ketiaknya terdapat sebuah tongkat besi yang amat berat menyanggah tubuhnya. Kalau diamati dari suara tertawa serta nada pembicaraan orang itu, bisa diperkirakan kalau usianya di atas empat puluh tahunan. Setibanya di sisi tubuh Lan See-giok, orang itu mulai menyentuh badannya dengan ujung tongkat besi itu meski maksudnya untuk menggeledah namun hal itu dilakukan tidak serius. Karena pendatang itu sudah menduga bahwa pembunuh yang telah membinasakan si Gurdi emas peluru perak Lan Khong-tay tentu sudah menggeledah pula tubuh bocah itu, maka ia tidak menganggap serius akan hal itu. Lan See-giok yang tubuhnya ditusuk-tusuk oleh toya besi itu merasakan sekujur badannya kesakitan, tapi dia menggertak gigi sambil menahan diri, dalam hati dia bersumpah, suatu ketika sakit hati ini pasti akan dituntut balas. Mendadak orang itu menghentikan perbuatannya, kemudian sambil mendongak kan kepala dia membentak keras, "Siapa di situ?"

21

Di tengah bentakan tersebut, bayangan manusia nampak berkelebat lewat, tahu-tahu orang itu sudah lenyap dari pandangan. Lan See-giok merasa telinganya kembali mendengung keras oleh suara bentakan la-wan yang memekikkan telinga, saking kagetnya dia sampai bergidik dan lupa kalau dia sedang berlagak seakan akan tertotok jalan darahnya, buru-buru dia membalikkan badan sambil berpaling--Tampak olehnya di balik lorong di samping pembaringannya sana terdapat dua sosok bayangan manusia sedang berkelebat saling mengejar. Lan See-giok tahu bahwa orang yang berada di depan adalah orang yang telah membinasakan ayahnya, sedang yang berada di belakang adalah orang yang berkaki buntung. Sebelum dia sempat berbuat sesuatu, orang yang berkaki buntung telah membentak lagi dengan suara keras: "Sobat, sebelum meninggalkan barang itu, jangan harap kau bisa kabur dari sini?" Ditengah bentakan, dia mengayunkan tongkat besinya sambil menghantam tubuh orang itu. Orang yang berada di depan tidak mengeluarkan suara berang sedikitpun juga, dia masih berlarian terus ke depan, hanya secara tiba-tiba tangan kanannya diayunkan ke belakang... Serentetan cahaya tajam bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya segera meluncur ke arah orang yang berkaki buntung. Segera itu juga orang yang berkaki buntung itu tertawa terbahak-bahak, tongkat bajanya di angkat ke atas dan... "traaang!" terdengar suara benturan keras yang disertai percikan bunga api tersebar dalam lorong gelap tersebut. Kemudian terdengar pula suara senjata rahasia yang bergelinding ke sisi lorong, se-mentara kedua sosok bayangan manusia itu-pun lenyap dari pandangan mata. Dengan cepat Lan See-giok melompat bangun, dia merasakan sekujur badannya linu dan sakit, tapi sambil menahan rasa sakit dia mengejar ke luar, dia berharap dengan mengandalkan kehapalannya dengan daerah di sekitar tempat itu, dia sempat menyaksikan paras muka yang sebenarnya dari pembunuh keji tersebut. Siapa tahu belum sempat dia melangkah ke depan mendadak dari luar kuburan telah terdengar suara si pincang sedang mencaci maki dengan penuh kegusaran.

22

"Anak jadah. anak bangsat peliharaan anjing, kau anggap barang itu dapat kau telan seorang diri? Tidak begitu mudah, sekalipun kau kabur ke ujung langit, locu akan mengejarnya sampai dapat!" Lan See-giok tahu kedua orang itu sudah pergi amat jauh sekalipun hendak dikejar juga tak ada gunanya. Maka dia berjalan kembali ke samping jenazah ayahnya yang terkapar ditengah genangan darah, kemudian sambil berlutut dan mbenangis terseduj sedu, katanyag: "Ayah--- bsungguh kasihan kau--- tahukah kau anak Giok telah pulang--tahukah kau anak Giok telah menyelesaikan perintahmu dan menyerahkan kotak kecil tersebut ke pada bibi Wan- -" Lan See-giok makin menangis semakin sedih, makin menangis semakin tak ingin hidup. Dia memang ingin mati, dia ingin mati bersama ayah dan ibunya, tapi bila teringat akan dendam kesumatnya yang lebih dalam dari samudra, dia merasa tidak seharusnya mati sebelum sakit hati itu terbalas, dia harus membinasakan pembunuh berhidung mancung itu sebelum menyusul ayah dan ibunya di alam baqa. Maka sambil memandang wajah ayahnya yang penuh noda darah, diamdiam ia berdoa, dia berharap arwah ayahnya di alam baqa dapat melindunginya dan membantu nya untuk membalas dendam. Sementara itu tengah malam sudah menjelang tiba, di luar kuburan hanya terdengar suara rintikan hujan serta angin malam yang menderu-deru. Seorang diri Lan See-giok bersembunyi di dalam kuburan, duduk di samping jenazah ayahnya dan di bawah cahaya lentera dia membersihkan noda darah dari atas wajah ayahnya yang pucat. Titik-titik air mata jatuh bercucuran mem-basahi pipinya. pipi yang telah berubah menjadi merah karena dendam. Di luar kuburan kembali terdengar suara pekikan burung hantu yang menyeramkan, tapi dia tidak takut, dia tidak merasa ngeri, karena dia hanya memikirkan soal dendam kesumat. Dia berpikir, sekalipun badan harus hancur, sekalipun harus menjelajahi sampai ke ujung langit, pembunuh ayahnya akan di kejar terus dan dibunuh sampai mati.

23

BAB 2 BAYANGAN IBLIS MULAI BERMUNCULAN MALAM semakin kelam . . . Angin berhembus semakin kencang... Sambil melelehkan air mata, Lan See-giok masih memperhatikan wajah kelabu ayah-nya yang sudah membujur kaku di tanah. b Mendadak . . . terdengar suara pekikan panjang yang memekakkan telinga berkumandang datang dari luar kuburan. Suara pekikan itu amat tajam dan memekakkan telinga, membuat siapa saja yang mendengarnya merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri. Terutama sekali bagi Lan See-giok yang seorang diri berada dalam kuburan, di bawah sinar lentera yang redup serta didampingi jenazah ayahnya yang membujur kaku. Tapi sikap Lan See-giok masih tetap kaku tanpa perasaan, dia seolah-olah tidak mendengar suara pekikan itu. Waktu itu, hatinya sedang merasa amat pedih, karena dia tak tahu bagaimana caranya untuk menutup kembali sepasang mata ayahnya yang melotot besar penuh kemarahan itu. Pekikan seram makin lama semakin mendekat, di balik pekikan itu penuh diliputi perasaan gelisah bercampur gusar. Tapi Lan See-giok masih tidak berkutik, tangannya yang kecil masih saja mengelus mata ayahnya yang melotot besar. Lambat laun suara pekikan aneh itu makin keras dan menusuk pendengaran agaknya orang itu sudah tiba di luar kuburan. Tergerak hati Lan See-giok. . dia bertekad hendak melihat jelas paras muka pendatang itu, tapi. ada satu hal yang tidak dimengerti olehnya, mengapa kuburan yang sudah banyak tahun tak pernah dikunjungi orang, tahu-tahu kebanjiran pengunjung pada malam ini. Benda apa pula yang dimaksudkan si pincang tadi? Mendadak suara pekikan itu berhenti, lalu mendengar suara ujung baju terhembus angin menggema datang. "Sungguh cepat gerakan tubuh orang ini..." Dengan terkejut Lan See-giok segera ber-pikir, "kalau dilihat dari kecepatan gerak tubuhnya jelas dia adalah seorang jago kelas satu dalam dunia persilatan. . ." Belum habis dia berpikir, hembusan angin tersebut sudah kedengaran semakin jelas. Lan See-giok merasa makin terkejut lagi, sebab orang itu selain sempurna dalam ilmu meringankan tubruh, juga amat hapal dengan daerah dalam kuburan tersebut.

24

Buru-buru dia melompat bangun dan me-mandang sekejap sekeliling tempat itu, akhirnya dia merasa di belakang meja batu besar itu merupakan tempat persembunyian yang baik, tanpa berpikir panjang dia segera menerobos kedalamnya. . . Saat itulah bayangan manusia nampak berkelebat lewat, tahu-tahu orang itu muncul di dalam ruangan dan langsung menerjang ke depan pembaringan ayahnya. Lan See-giok merasa tegang bercampur cemas, peluh telah membasahi telapak ta-ngannya, dengan perasaan gusar bercampur berdebar dia mengintip ke luar . . Ternyata orang itu adalah seorang lelaki berjubah hitam, rambutnya sepanjang bahu berwarna kelabu, ia tidak bersenjata, wajahnya juga tak nampak karena sedang menghadap ke arah pembaringan. Dengan perasaan gusar, gelisah dan tak tenang orang itu nampak menggeledah seluruh pembaringan, selimut dan bantal ayahnya. Kemudian dengan marah dia melemparkan semua benda itu ke atas tanah, lalu dengan gugup ia mulai meraba empat kaki pembaringan di empat penjuru... Tergerak hati Lan See-giok setelah menyaksikan kejadian itu, dia merasa besar kemungkinan orang ini adalah orang yang menotok jalan darahnya serta menggeledek seluruh badannya tadi. Kalau dilihat dari tindak tanduk orang itu sewaktu ke dalam kuburan serta tingkah lakunya yang tergesa-gesa sewaktu melakukan penggeledahan atas seluruh isi ruangan itu, dapat diketahui orang itu belum sempat melakukan penggeledahan setelah berhasil melaksanakan perbuatan kejinya tadi. Makin dipikir Lan See-giok merasa apa yang diduga makin cocok, dia segera memutuskan kalau orang inilah pembunuh yang telah membinasakan ayahnya. Kemarahannya segera bergelora, diam-diam hawa murninya dihimpun ke dalam telapak tangannya, ia siap sedia menyergap orang itu dari belakang. Mendadak... orang berbaju hitam itu membalikkan badannya. Lan See-giok tersentak kaget, peluh di-ngin segera membasahi seluruh tubuhnya, sementara jantungnya seakan akan mau me-lompat ke luar dari dalam rongga dadanya. Apa yang dilihat? Ternyata orang itu berwajah hijau penuh dengan bekas bacokan yang dalam, gigi taringnya nampak panjang, matanya yang tinggal sebelah melotot besar seperti gundu. wajahnya benar-benar mengerikan sekali.

25

Mata sebelah kanannya yang buta ditutup dengan selembar kulit berwarna hitam, hal ini menambah seramnya tampang orang ini. Setelah membalikkan badan tadi, dengan mata tunggalnya yang tajam ia mulai memeriksa setiap sudut ruangan yang mencurigakan, sementara wajahnya nampak makin gelisah, peluh sebesar kacang ijo nampak bercucuran membasahi seluruh jidatnya. Berada dalam keadaan seperti ini, Lan See-giok tak berani berkutik, dia kuatir si mata tunggal itu menemukan tempat persembunyian nya. Ia tidak takut mati, tapi dia tak ingin mati sebelum dendam sakit hati ayahnya dibalas. Begitulah, setelah memeriksa seluruh ruangan itu, dengan nada gemas orang ber-mata satu itu berguman: "Aneh, disembunyikan di manakah barang itu...?" Begitu mendengar suara gumaman orang itu, sekali lagi Lan See-giok merasa kebingungan, dia dapat mengenali suara orang ini tidak sama dengan suara orang yang menggeledah tubuhnya tadi, sebab suara orang itu parau dan berat. Selain itu. diapun menyaksikan perawakan orang ini tidak sekekar orang yang menggeledah tubuhnya tadi, lagi pula orang ini mengenaskan pakaian pendek. Diam-diam Lan See-giok berkerut kening, ditatapnya orang bermata satu itu lekat-lekat, sementara di hati kecilnya dia bertanya: Siapakah orang bermata satu ini ? Benarkah ayahnya tewas di tangan orang ini . . . . ?. Belum habis dia berpikir, tampbak olehnya oranjg bermata satu gitu sudah mengubmbar hawa amarahnya, kakinya terlihat diayunkan ke sana kemari, semua barang yang berada di sekelilingnya segera beterbangan di angkasa. Dalam waktu singkat seluruh ruangan itu dipenuhi dengan suara hiruk pikuk serta pecahan barang yang tersebar ke mana-mana. Dengan penuh bernapsu, orang bermata satu itu menyepak dan menendang hancur barang-barang itu, dia berharap dari balik pecahan barang-barang tersebut bisa dite-mukan barang yang sedang dicari. Tapi akhirnya ia menghela napas dengan perasaan kecewa. Kini sorot matanya mulai dialihkan ke atas lubang bangunan di langit-langit kuburan, gigi taringnya yang panjang kedengaran bergemerutuk keras, hal ini membuat wajahnya nampak semakin mengerikan. Lan See-giok semakin tak berani berkutik, dia merasa hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri, tampang orang bermata satu itu betulbetul menggetarkan hatinya.

26

Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata tunggalnya, sekilas perasaan girang menghiasi wajahnya yang seram, dengan suatu kecepatan tinggi tiba-tiba ia melompat ke depan meja batu itu. Lan See-giok yang bersembunyi di belakangnya menjadi sangat terperanjat, begitu kagetnya dia sampai jantungnya seolah-olah terlepas. Untung saja meja batu itu tinggi lagi besar, jaraknya dengan dindingpun amat sempit, maka bila orang itu tidak memeriksa dengan teliti, sulit rasanya untuk menemukan tempat persembunyian itu. Ternyata orang bermata satu itu tidak bermaksud untuk menggeledah tempat itu, sebab setelah mengambil senjata gurdi emas yang terletak di meja, ia melayang kembali ke tempat semula. Diam-diam Lan See-giok menghembuskan napas lega, ia segera mengintip kembali ke luar. Ternyata orang bermata satu itu sedang mengorek setiap lubang angin yang berada di langit-langit kuburan dengan senjata gurdi emas milik ayahnya.. Tapi, akhirnya orang bermata satu itu kembali menghela napas dengan wajah kecewa, ia tidak berhasil menemukan sesuatu dari balik lubang angin itu.. Kekecewaan yanbg berulang kali kontan saja membuat orang itu bertambah marah, paras mukanya yang memang sudah mengerikan kini berubah semakin menggidikkan hati. "Sungguh menggemaskan?" gumamnya menahan geram. Dengan penuh perasaan mendongkol, akhirnya dia melemparkan senjata gurdi emas yang berada di tangannya itu ke depan keras-keras. Sekilas cahaya emas berkelebat lewat bagaikan serentetan cahaya bianglala, gurdi tersebut menyambar ke arah dinding sebelah kiri. Lan See-giok mengenali, di balik dinding itulah terletak kamar tidurnya. "Blaaammm!" diiringi suara nyaring senjata gurdi emas itu menancap di atas dinding dan tembus hingga ke belakang. Tiba-tiba --- terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang datang dari balik ruangan tersebut. Lan See-giok terkesiap, hampir saja ia menjerit keras saking kagetnya. Mimpipun dia tak menyangka kalau di dalam kamar tidurnyapun terdapat kawanan musuh yang sedang menyembunyikan diri. Orang bermata tunggal itu sendiri juga nampak agak tertegun, lalu dengan wajah berubah hebat dia menerjang masuk ke dalam ruangan sebelah. Tak lama kemudian ia mendengar orang bermata satu itu menjerit kaget: "Haaah, kau?"

27

Suara ujung baju yang terhembus angin segera berkumandang saling menyusul, makin lama suara itu makin lirih dan akhirnya lenyap di luar kuburan sana. Untuk sesaat suasana dalam kuburan kuno itu menjadi sepi, hening, tak kede-ngaran sedikit suarapun. Lan See giok juga duduk termangu mangu, dia tak tahu siapakah orang tadi? Masih hidupkah orang itu? Atau sudah mati? Tapi dia berharap orang itu sudah mati, karena dia menduga orang yang bersembunyi dalam kamar sebelah tentu sudah mendengar doanya kepada ayahnya tadi .. dia telah menyerahkan kotak kecil terrsebut kepada Bibi Wan... Sekawrang, Lan See giok sudah dapat men-duga, kemungkinan besar kehadiran orang-orang tak dikenal pada malam ini dikarena-kan kotak kecil tersebut, tapi apakah isi kotak kecil itu? Kepergian si orang bermata satu yang tergesa-gesa tadi membuat Lan See giok merasa amat gelisah, dia tidak berharap orang bermata satu itu menolong orang tadi, karena hidupnya orang itu berarti bencana besar bagi bibi Wan. Sekalipun mereka tak akan mengetahui nama dari bibi Wan, tapi jika mereka mau melakukan penyelidikan dengan seksama, tak sulit untuk menemukan tempat tinggal bibi Wan nya. Terbayang akan semua peristiwa tersebut, Lan See giok merasakan peluh dingin jatuh bercucuran, ia merasa bila kedatangan orang-orang itu benarbenar dikarenakan kotak kecil tersebut, dia harus segera melaporkan kejadian ini kepada bibi Wan, agar dia tahu kalau-kalau ayahnya sudah mati. Mendadak Lan See giok merasakan firasat tak enak, ia merasa dalam kuburan itu seakan akan bukan cuma dia seorang, ia seperti merasa ada sesosok tubuh manusia sedang berjalan mendekatinya dari belakang. Tanpa sadar dia segera membalikkan kepalanya ke belakang. . . . Tapi baru saja kepalanya digerakkan, mendadak tampak sesosok bayangan hitam menyambar tiba disertai segulung angin tajam yang maha dahsyat. Lan See giok amat terperanjat, tanpa sadar ia menjerit keras. "Blammm---!" sebuah benda yang mem-punyai daya pantul yang amat keras tahu-tahu sudah menghajar di belakang batok kepalanya. Kontan Lan See giok merasakan kepalanya seperti mau pecah. langit serasa menjadi gelap, seluruh bumi serasa berputar, panda-ngan matanya menjadi gelap dan tak ampun ia roboh tak sadarkan diri.

28

Sesaat sebelum jatuh pingsan, secara lamat-lamat dia masih sempat menyaksikan orang yang berada di belakang tubuhnya adalah seseorang yang berambut putih. la tak bisa membedakan apakah orang itu seorang kakek atau seorang nenek, tapi sudah pasti orang itu adalah seseorang yang telah berusia lanjut bahkan berperawakan tidak begitu tinggi. la tidak merasakan tubuhnya mencium tanah, mungkin orang yang berada di belakangnya keburu menyambar badannya dan membaringkan ke tanah, mungkin juga ia keburu tak sadarkan diri. . . Entah berapa saat sudah lewat. . . Pelan-pelan Lan See giok membuka matanya- - - pandangan pertama yang sempat terlihat olehnya adalah setitik cahaya len-tera, kemudian sesosok bayangan manusia berbaju kuning. . . Lan See giok merasakan kelopak matanya sangat berat, tak kuasa ia memejamkan matanya kembali, ia merasa tak bertenaga lagi, meski hanya untuk membuka kelopak matanya. Tiba-tiba terdengar seseorang menegur dengan suara yang lembut dan penuh perhatian: "Nak, kau telah sadar ? Bagaimanakah perasaanmu sekarang?" Tiba-tiba Lan See-giok teringat kembali kejadian yang belum lama menimpa dirinya, begitu mendengar teguran tersebut, mendadak dia melompat bangun kemudian melotot dengan mata besar, ternyata orang yang berada di hadapannya adalah seorang kakek berambut putih. Kemarahan yang mencekam dalam dada nya tak bisa ditahan lagi, sambil membentak keras, tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian dihimpun ke dalam tangan kanannya, kemudian . . . "Weess!" dihantamkan ke atas dada kakek itu keras-keras. Menghadapi perubahan yang terjadi amat mendadak, apa lagi dalam jarak sedemikian dekatnya, tak mungkin lagi buat kakek itu untuk menghindarkan diri. "Blammm!" pukulan dari Lan See giok itu secara telak bersarang di atas dada kakek itu. Betapa terkejutnya Lan See giok setelah melepaskan pukulan itu, secara beruntun dia mundur sejauh dua langkah, kepalan kanannya yang menghajar dada kakek itu serasa menghantam di atas gumpalan kapas, ternyata segenap kekuatannya serasa hilang lenyap tak berbekas. Sementara itu, kakek yang berada di hadapannya telah tertawa ramah, lalu tanya nya lembut: "Nak, kau lagi marah kepada sibapa? Mengapa kaju lampiaskan kemarahanmu itu kepadaku?"

29

Seraya berkata dia tertawa tergelak dengan penuh keramahan. Buru-buru Lan See giok memusatkan pikirannya sambil perhitungan, dia cukup tahu keterbatasan tenaga dalam yang dimilikinya, dibandingkan dengan kemampuan lawan, selisih tersebut ibarat langit dan bumi, diamdiam ia lantas memperingatkan diri sendiri agar jangan bertindak secara gegabah. Selain itu, diapun berpendapat hanya kakek bertenaga dalam selihai ini yang sanggup membunuh ayahnya di dalam sekali pukulan. Ia menggosok gosok matanya, kemudian melototi kakek ramah di hadapannya dengan pandangan penuh kebencian. Tampak kakek itu berambut putih, bermuka merah dan bermata tajam tapi penuh keramahan, ia memakai jubah berwarna kuning dan bersikap amat gagah sekali. Lan See giok segera merasa kalau kakek ini tidak mirip dengan orang jahat, diam-diam pikirnya. "Orang yang menghantam kepalaku tadi berhati kejam, tapi. . siapakah dia?" Diamatinya kakek berambut putih itu sekali lagi, kemudian pikirnya lebih jauh: "Sudah pasti dia" Tapi ia tidak habis mengerti, apa sebab-nya kakek berwajah ramah tapi berhati kejam ini tidak segera meninggalkan tempat itu setelah menghantam pingsan dirinya, malahan menunggu sampai ia mendusin kembali. Mendadak satu ingatan melintas kembali dalam benaknya, dengan cepat ia menyadari apa sebabnya kakek itu belum juga pergi. "Yaa, sudah pasti dia ingin menanyakan tempat tinggal Bibi Wan" demikian dia ber-pikir. Maka sambil mendengus dingin, pikiran nya lebih jauh. "Hmmm, jangan bermimpi di siang hari bolong, sekalipun badan harus hancur tak nanti aku akan memberitahukan hal ini kepadamu." Sementara itu, si kakek berjubah kuning kembali tertawa terbahak bahak setelah menyaksikan sinar mata Lan See giok berkedip dan wajahnya berubah, berulang kali tanpa menjawab pertanyaannya. dengan penuh pebrhatian kembalij dia bertanya: "Nak, siapakahb yang telah merobohkan dirimu?" Kemarahan dalam dada Lan See giok semakin membara, dia menganggap semakin ramah kakek itu, semakin menaruh perhatian kepadanya, berarti semakin berbahaya dan jahat orang itu. Setelah mendengus marah, serunya dengan suara dingin:

30

"Siapakah yang menghantamku sampai roboh? Heeehhh- heeehhh--heeehhh, mustahil kau tidak tahu!" Tertegun si kakek berjubah kuning itu setelah mendengar dampratan tersebut, di-tatapnya Lan See giok dengan termangu, lama-lama kemudian ia baru sadar seperti memahami sesuatu dan segera tertawa. "Nak!" katanya kemudian sambil menga-lahkan pembicaraan ke soal lain: "Apakah Lan Khong tay adalah ayahmu?" Api yang berkobar dalam dada Lan See -giok sekarang hanyalah dendam kesumat, ia su-dah bertekad tak akan melayani pembi-cara-an si kakek yang dianggapnya manusia munafik ini. Sambil tertawa dingin segera ejeknya sinis: "Huuuh, sudah tahu pura-pura bertanya lagi, benar- benar tak tahu malu . . . !" Kakek berjubah kuning itu kembali berk-erut kening, kekasaran serta kekurang ajaran bocah itu sangat di luar dugaannya. Sedangkan Lan See giok meski tahu kalau kepandaian silatnya tak mampu menandingi kepandaian kakek berjubah kuning itu, tapi diapun percaya bahwa musuhnya tak nanti akan membinasakannya meski berada dalam keadaan yang bagaimana gusarpun. Sebab dia menganggap kakek berjubah kuning itu ingin mengetahui tempat tinggal Bibi Wan nya serta jejak dari kotak kecil ter-sebut, karenanya bagaimanapun marahnya lawan tak nanti ia berani bersikap kasar. Benar juga, kakek berjubah kuning itu menghela napas panjang, lalu berkata lagi dengan ramah: "Nak, aku sudah mengetahui perasaanmu sekarang, aku tahu kau mendendam kepadaku karena mengira ayahmu mati di tanganku, aku tidak menyalahkan kau, sedang mengenai alasan ayahmu sampai dicelakai orang, mungkin akupun jauh lebih jelas dari pada dirimu..." Ucapan tersebutr semakin membuat Lan See giok percaya kalau orrang yang memukul nya sampai pingsan tadi adalah kakek berjubah kuning ini, diam-diam dia lantas mendengus dingin: "Tentu kau adalah seorang yang berkomplot untuk membunuh ayahku, tentu saja kau mengetahui jelas sebab kematian dari ayahku." demikian pikirnya lagi. "... yang membuat hatiku amat pedih adalah keterlambatanku datang ke mari malam ini, kalau tidak niscaya pembunuh ayahmu itu pasti akan berhasil kutangkap..-" terdengar kakek berjubah kuning itu melanjutkan kembali kata katanya.

31

"Bedebah, kakek sialan, manusia licik---" kontan saja Lan See giok menyumpah di hati. Dalam pada itu, si kakek berjubah kuning itu sudah berhenti sejenak sebelum kemu-dian melanjutkan kembali kata katanya: "Nak, coba ceritakanlah kisah pembunuhan yang telah menimpa ayahmu malam tadi, ceritakan pula bagaimana terjadinya Pertarungan, berapa orang yang datang serta manusia-manusia macam apa saja yang telah kemari, mungkin aku bisa membantumu untuk mengenali orang-orang itu serta merebut kembali kotak kecil tersebut." Lan See giok tertawa dingin: "Heeehhh.. heeehhh... heeehhh... buat apa kau mesti bertanya kepadaku? Aku yakin, kau sudah pasti jauh lebih mengerti dari pada diriku sendiri..." Merah padam selembar wajah kakek berju-bah kuning itu setelah mendengar ucapan tersebut, paras mukanya agak berubah, jenggotnya gemetar keras, jelas orang itu merasa agak tak senang hati, tapi hanya sejenak ke-mudian ia telah bersikap lembut kembali. Ditatapnya wajah Lan See giok lekat-lekat, kemudian katanya dengan serius: "Nak, aku tidak habis mengerti mengapa kau bersikap kasar, emosi dan tak menggunakan akal terhadap diriku? Ketahuilah perbuatan semacam ini akan memporak porandakan keadaan, tidak bermanfaat bagi masalah yang sebenarnya, kau harus mawas diri, dinginkan otakmu dan terutama sekali harus tahu kalau keselamatanmu sedang terancam bahaya..." Belum habis kakek berbaju kuning itu menyelesaikan kata katanya, Lan See giok telah tertawa keras penuh kegusaran, tukas-nya dengan perasaan benci yang me-luap. "Sudah sedari tadi aku tak pernah memikirkan soal mati hidupku, kenapa aku mesti takut mati? Hmmm, aku rasa justru ada orang yang kuatir bila aku sampai mati!" Sekali lagi kakek berbaju kuning itu mengerutkan dahinya rapat-rapat, berkilat sepasang matanya, kemudian seakan akan memahami sesuatu, dia manggut-manggut. "Ehmmm, benar, ketika aku mendengar suara jeritan tadi dan menerobos masuk ke dalam kuburan Ong-leng, kusaksikan ada sesosok bayangan manusia yang kurus pendek sedang kabur ke arah utara, gerakan tubuh nya secepat sambaran petir..." Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar ucapan itu, terutama sekali kata bayangan manusia kurus pendek, dengan cepat dia teringat kalau

32

orang yang menghantamnya sampai pingsan tadi memang seorang kakek yang berperawakan kurus lagi pendek. Maka dia segera mengamati tubuh kakek berbaju kuning itu sekali lagi, ia merasa meski perawakan orang ini tidak termasuk tinggi besar, tapi jika dia bersembunyi di belakang meja batu, niscaya jejaknya akan ditemukan olehnya. Berpikir sampai di sini, Lan See giok sema-kin kebingungan dibuatnya, dia lantas ber-pikir lagi: "Jangan-jangan bukan si kakek berjubah kuning ini yang menghantamku sampai pingsan tadi . . ?" Tapi ingatan lain dengan cepat melintas kembali di dalam benaknya, dia merasa walaupun bukan kakek ini, tapi ia sudah pasti termasuk salah seorang yang berniat jahat kepada ayahnya, kalau tidak, menga-pa dia bisa tahu kalau tujuan orang-orang itu adalah untuk mendapatkan kotak kecil milik ayahnya? Dari sini bisa disimpulkan kalau orang inipun bukan orang luar, ia bisa mencari sampai di sana, berarti diapun bukan manu-sia sembarangan. Karena berpendapat demikian, maka apa yang selanjutnya diucapkan kakek berjubah kuning itu sama sekali tak terdengar olehnya. Dalam pada itu, si kakek berbaju kuning tadi sudah berkata lagi: "Oleh karena itu, kau harus mengikuti aku untuk menyingkir dulu ke dusun kaum nela-yan Ho hi cun, kemudian baru berusaha untuk menemukan beberapa orang itu serta merampas kembali kotak kecil itu." Setelah mendengar ucapannya yang terakhir ini, Lan See giok dapat segera meng-am-bil kesimpulan kalau kakek ini belum lama datangnya, sebab jika ia sudah mendengar kalau kotak kecil tersebut telah di-serahkan kepada bibi Wan nya, niscaya dia tak akan berkata begitu. Tapi mengapa dia bisa datang terlambat? Maka tak tahan lagi dia lantas bertanya: "Dari mana kau bisa tahu kalau ayahku tinggal di sini?" "Aaaah kau ini . . kenapa bertanya lagi? Bukankah tadi sudah kukatakan kepada-mu?" "Apa yang kau ucapkan tadi? Tak sepatah katapun yang kudengar!" "Tujuh delapan tahun berselang, aku pernah berjumpa muka dengan ayahmu di bawah puncak Giok li-hong di bukit Hoa san, oleh karena ayahmu memberi kesan yang sangat mendalam bagiku, maka begitu masuk ke mari dan menyaksikan jenazah yang terkapar di atas genangan darah, aku segera mengenalinya sebagai Kim wi-gin tan Lan Khong tay yang termasyhur di kolong langit dimasa dulu..."

33

Mendengar sampai di situ, Lan See giok merasa amat sedih sekali sehingga tanpa terasa dia berpaling dan memandang seje-nak ke arah jenazah ayahnya, titik-titik air segera jatuh bercucuran membasahi wajahnya. Terdengar kakek berjubah kuning itu ber-kata lebih jauh: "Aku hanya tahu kalau ayahmu si gurdi emas peluru perak Lan Khong tay berdiam di sekitar telaga Huan-yang ou, tapi tidak kuketahui jika ia berdiam dalam kuburan Ong leng." "Setengah jam berselang, karena suatu persoalan secara kebetulan aku lewat di sini. mendadak kudengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema dari sini, dalam kagetnya aku bergerak berangkat ke mari. Baru tiba di depan pintu gerbang yang bo-brok itu, kujumpai dari belakang kuburan muncul sesosok bayangan kecil dan kurus sedang kabur ke arah utara, sebenarnya aku hendak mengejarnya, tapi setelah ku-temukan di belakang kuburan terdapat pintu yang ter-buka lebar, maka akupun masuk ke mari. Apba yang kulihat pertama kalinya adalah ayahmu yang terkapar di atas genangan darah bila kuperiksa ternyata mayatnya sudah kaku dan ia sudah meninggal cukup lama, itu berarti jeritan yang kudengar tadi bukan berasal dari ayahmu." Tanpa terasa Lan See giok mengangguk ia tahu jeritan ngeri yang didengar kakek berjubah kuning tadi sudah pasti orang yang kena ditembusi gurdi emas di balik dinding itu. Tanpa terasa dia lantas mengerling seke-jap ke arah senjata "gurdi emas" yang menembusi dinding ruangan itu. Terdengar kakek berjubah kuning itu ber-kata lebih jauh: "Waktu itu aku merasa keheranan, kemu-dian kusaksikan kau terkapar di balik meja sana, ketika kuperiksa ternyata kau belum mati." "Pertama tama kutarik dulu badanmu ke luar dari situ, baru kuketahui kau sedang pingsan, tapi ada satu hal yang tidak kupa-hami, mengapa orang yang telah membinasakan ayahmu telah melepaskan kau de-ngan begitu saja --" Tentu saja Lan See giok tahu apa sebab-nya dia tak mati, cuma dia enggan untuk meng-utarakannya. Terdengar kakek berjubah kuning itu ber-kata lebih jauh: "Sampai kini aku tidak tahu apa sebabnya orang itu tidak membunuhmu, tapi aku yakin orang itu pasti menganggap kau mem-punyai kegunaan yang amat berharga, namun bila apa yang berharga itu sudah dapat diraih, jelas kau pun akan dibunuh juga."

34

"Oleh sebab itu, sekarang kau harus pergi meninggalkan tempat ini, demi keselamatanmu kau harus pergi dari sini-- --" "Tidak" tukas Lan See giok dengan cepat: "aku tak akan meninggalkan tempat ini" Jawaban tersebut sama sekali di luar dugaan kakek berjubah kuning itu, tanpa terasa serunya dengan perasaan terperan-jat: "Mengapa?" "Aku hendak menunggu orang itu datang kembali, aku hendak membunuh orang itu untuk membalaskan dendam bagi ayahku" Kakek berjubah rkuning itu termenung se-bentar, akhirnya diaprun manggut-manggut. "Baiklah", katanya kemudian, "tunggu saja di sini, sekarang aku harus pergi dulu, semoga kau bisa baik-baik menjaga diri dan ber-hati-hati dalam setiap tindakan." Selesai berkata, dia lantas membalikkan badan dan bertalu dari tempat itu. Lan See giok hanya mengawasi kakek ber-baju kuning itu dengan pandangan di-ngin, ia tidak menahannya pun tidak menghantar kepergiannya, karena ia masih ragu terhadap apa yang telah diucapkan orang itu. Setelah berjalan beberapa langkah, men-da-dak kakek itu berhenti lagi, sambil ber-paling ke arah Lan See giok pesannya: "Nak, jika kau mempunyai kesulitan atau membutuhkan bantuanku, datang saja ke rumahnya Huan kang ciang liong (naga sakti pembalik sungai) di dusun Hong hi cun un-tuk mencari diriku, saat itulah aku akan memberitahukan kepadamu apa sebabnya orang--orang itu membunuh ayahmu." Selesai berkata, tidak menanti jawaban dari bocah itu lagi, dia segera berlalu dari situ, hanya dalam sekejap mata saja baya-ngan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. Lan See-giok agak terkejut pula me-nyaksi-kan kelihaian ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu. Setelah berpikir sejenak, diapun termenung: "Orang-orang itu semuanya berilmu tinggi, untuk membalas dendam ... aaai tampaknya sulit melebihi mendaki ke langit..." Dengan sedih dia memandang ke arah ayahnya sekali lagi, sementara air mata kembali jatuh bercucuran. Pelan-pelan dia berjalan ke sisi jenazah ayahnya, membungkukkan badannya dan bermaksud untuk membopong tubuh ayah-nya. Mendadak mencorong sinar tajam dari balik matanya, dengan cepat dia berjongkok untuk memeriksa dengan lebih seksama.

35

Ternyata ujung jari telunjuk jenazah si Gurdi emas peluru perak Lan Khong tay sedang menancap di atas tanah, sementara di atasnya telah terukir sebuah goresan, entah goresan lukisan atau tulisan . .. Dengan cepat Lan See giok menduga kalau goresan itu pasti dibuat oleh ayahnya menjelang ajal merenggut nyawanya. Sebagai bocah yang pintar, Lan See giok segera mengambil lampu lentera di meja dan didekatkan pada goresan tersebut. la tahu, besar kemungkinan goresan tersebut menyangkut soal nama pembunuh yang telah menghabisi jiwa ayahnya . . . Lama sekali Lan See giok mengamati go-re-san itu dengan seksama, akhirnya dia ber-hasil menarik kesimpulan kalau goresan tersebut adalah sebuah goresan tulisan. Tampaknya tulisan itu adalah sebuah hu-ruf "To" atau tunggal. Dengan termangu mangu dia mengawasi huruf tersebut sambil berpikir. "Apakah arti kata dari huruf To itu? Apakah julukan dari pembunuh ayahnya...? Ataukah menunjukkan nama marga orang itu?" Dengan cepat dia memeras otak berusaha untuk mencari diantara namanama tokoh persilatan yang pernah diberitahukan ayah-nya selama ini, apakah ada yang ber-julukan dengan huruf To "ataupun meng-gunakan nama marga To--. Tapi dia kecewa, tak seorangpun diantara jago-jago yang teringat olehnya memper-guna-kan-kan julukan itu, diapun tak tahu apakah di kolong langit terdapat orang yang menggu-na-kan nama marga To. Akhirnya dia meletakkan kembali lampu lentera itu ke atas meja, membopong jenazah ayahnya ke atas pembaringan, ke-mudian sambil duduk di sisinya dia menangis ter-sedu sedu. Sambil menangis dia berdoa kepada ayah-nya agar membantunya dalam pencarian orang yang menggunakan huruf "tunggal" pada julukan atau namanya . . . . Mata tunggal--Mendadak bayangan manusia berjubah hitam, berwajah seram dan bermata tunggal itu melintas kembali dalam benaknya. Lan See giok segera berhenti menangis, dengan kobaran api dendam segera gumam nya. "Betul, sudah pasti si manusia bermata tunggal itu--- sudah pasti keparat itu---" Tapi diapun teringat, pula dengan orang yang telah menggeledah sakunya ketika ia pingsan karena sedih tadi, siapa pula orang itu? Apakah dia bukan pembunuh ayahnya?

36

Satu ingatan segera melintas di dalam benaknya, dia merasa bila ingin mengetahui siapakah pembunuh ayahnya, dia harus mencari ke belakang dinding ruangan itu serta menemukan orang yang telah menghantamnya sampai pingsan itu. Mendadak dia melompat bangun dan segera lari menuju ke dalam kamar tidurnya. Setitik cahaya terarah mencorong masuk lewat lubang angin dalam kamarnya, ter-nyata fajar telah menyingsing. Selangkah demi selangkah dia berjalan menuju ke depan pembaringan, kemudian ber-jongkok ke bawah, di situ hanya dijum-pai segumpal darah, sedangkan orang yang bersembunyi di sana telah dilarikan si manu-sia bermata tunggal itu. Dalam sekejap mata saja dia lantas me-na-ruh curiga terhadap orang yang telah di-lari-kan si mata tunggal itu, dia curiga bukan saja orang itu telah menyimpan barang yang hendak didapatkannya, bahkan curiga kalau orang itu telah menyaksikan adegan sewaktu ayahnya terbunuh. Dengan termangu Lan See giok menga-wasi senjata gurdi emas yang menembusi dinding ruangan itu, baru pertama kali ini dia me-n-getahui betapa tajamnya senjata gurdi emas tersebut. Ia berjalan ke luar dari ruangan, mengerahkan segenap tenaganya untuk membetot keluar senjata gurdi tersebut, kemudian menggulungnya dan dimasukkan ke dalam saku, dia bertekad hendak mengguna-kan senjata gurdi emas milik ayahnya untuk membinasakan pembunuhan keji tersebut. Sekarang dia merasa kemungkinan si manusia bermata tunggal itulah pembunuh ayahnya yang terbesar, kemudian orang yang menggeledah tubuhnya merupakan orang kedua yang perlu dicurigai, sedang-kan orang yang bersembunyi di belakang dinding dan belakang meja serta si kakek tunggal paling kecil kemungkinannya. Walaupun begitu, dia masih tetap mena-ruh curiga terhadap kakek berjubah kuning yang berwajah ramah itu, dia tak tahu apakah orang itulah yang telah menghajar-nya sampai pingsan atau bukan. Selain itu, diapun tak habis mengerti sia-pakah orang yang kemungkinan besar sem-pat mengikuti adegan pembunuhan ter-ha-dap ayahnya. Dalam keadaan begini dia, lantas ber-pen-dapat bahwa ia harus pergi menuju ke dusun Hong hi cun mencari si kakek berju-bah kuning itu dan mencari keterangan darinya, lagi pula kakek itupun pernah ber-janji dia akan menerangkan sebab musabab terja-di-nya pembunuhan terhadap ayahnya itu. Setelah mengambil keputusan, buru-buru dia menuju ke sisi pembaringan di mana jenazah ayahnya berbaring, dia hendak membawa jenazah

37

ayahnya menuju ke ru-ang dalam dan membaringkannya bersama dengan jenazah ibunya. Belum lagi dia berbuat sesuatu mendadak terdengar lagi suara ujung baju yang ter-hem-bus angin berhembus tiba. Dengan perasaan terperanjat Lan See giok segera berpikir "Siapa lagi yang datang?" Mendadak . . . . . terdengar suara isak tangis yang amat keras berkumandang datang dari pintu masuk ruangan kuburan itu. Dengan perasaan terperanjat Lan See giok segera berpaling, ia saksikan sesosok baya-ngan manusia diiringi suara isak tangis yang parau bergema tiba dengan kecepatan luar biasa. Cepat sekali gerakan tubuh bayangan hi-tam itu, hanya di dalam waktu sekejap ia te-lah tiba di sana. Lan See-giok dibuat kalut juga pikiran-nya setelah menyaksikan kejadian itu, untuk menyembunyikan diri tak sempat lagi. Tampaklah bayangan hitam itu segera menubruk ke depan jenazah yang berada di atas pembaringan dan menangis tersedu sedu, sebuah benda tiba-tiba terjatuh ke tanah. Oleh kejadian yang berlangsung sangat mendadak dan di luar dugaan ini, Lan See giok hanya bisa berdiri termangu mangu dan untuk sesaat tak tahu apa yang mesti di-la-kukan. Ketika ia mencoba untuk mengamati benda yang terjatuh ke tanah, ternyata isi-nya adalah sebuah keranjang bambu yang penuh berisikan hio, lilin dan uang kertas. Ketika dia mengawasi pula orang yang se-dang menangis di depan jenazah ayahnya, ternyata orang itu adalah seorang kakek ku-rus kering yang berbaju abu-abu, berambut putih dan bertelinga tunggal. Waktu itu, dengan suara yang parau si kakek bertelinga tunggal itu menangis tiada hentinya. "Ooooh adik Khong-tay . . . sungguh me-ngenaskan kematianmu ini . . . oooh . . . betapa sengsaranya engkoh tua mencari dirimu . . ." Begitu mengetahui kalau orang itu adalah sahabat karib ayahnya, kontan saja Lan See -giok merasakan kesedihan yang tak ter-ken-dalikan, dia segera menubruk ke tubuh kakek itu dan turut menangis tersedu sedu. Dalam waktu singkat seluruh ruangan kuburan itu sudah dipenuhi oleh isak tangis yang mengenaskan, suasana begitu sedih dan penuh kepedihan membuat siapapun akan turut beriba hati bila melihatnya. Dalam isak tangisnya, Lan See giok me-rasa ada sebuah tangan yang kurus kering sedang membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang,

38

bersamaan itu pula terdengar kakek bertelinga tunggal itu berseru sambil menangis terisak: "Anak Giok, anak yang patut dikasihani..." Kata selanjutnya tak bisa dilanjutkan karena suaranya menjadi sesenggukan dan tersendat sendat. Mendengar panggilan "Anak Giok" yang mesra itu, isak tangis Lan See giok semakin menjadi. Walaupun dalam ingatannya dia belum pernah mendengar ayah ibunya pernah ber-bicara tentang seorang empek yang ber-telinga tunggal, namun sejak kehilangan ayahnya, inilah panggilan mesra pertama yang dide-ngar olehnya. Itulah sebabnya pula dalam hati kecilnya segera menaruh perasaan yang akrab terha-dap kakek ceking bertelinga tunggal ini. Terdengar kakek ceking itu berkata de-ngan penuh kasih sayang. "Anak Giok, jangan menangis, bangun-lah, biar empek tua melihat wajahmu.. . su-dah sepuluh tahun lebih kita berpisah, sungguh tak nyana kalau kau sudah tumbuh menjadi begini dewasa. .." Air mata Lan See giok ibaratnya anak su-ngai yang meluap, tanpa terasa lagi dia me-meluk tubuh kakek ceking bertelinga tung-gal itu semakin kencang. Kembali kakek itu menghela napas sedih lalu bisiknya agak gemetar : "Anak Giok, anak yang patut dikasi-hani...." Sambil berkata dia lantas membopong tubuh Lan See-giok dan membangunkan-nya. Lan See-giok masih saja menangis ter-sedu-sedu . . . . Dengan penuh kasih sayang kakek ber-telinga tunggal itu menyeka air mata yang membasahi pipinya. Lan See-giok belum sempat melihat raut wajah empek tuanya ini, ketika dia mendo-ngakkan kepalanya dan mengamati dengan seksama, tiba-tiba timbul suatu perasaan seram dalam hatinya, ternyata kakek ceking bertelinga tunggal ini mempunyai wajah ber-bentuk kuda, ber-alis botak, mata sesat, mu-lut, tipis tak ber-jenggot, tulang kening lancip serta hidung melengkung seperti pa-ruh elang. Tampang semacam ini seratus persen adalah tampang dari seorang manusia sesat. Setelah menangis sekian lama, walaupun di atas wajahnya yang penuh keriput tak nampak basah oleh air mata, namun sepasang mata sesatnya yang penuh kelici-kan telah berubah menjadi merah membara. Lan See giok benar-benar tidak percaya dengan pandangan matanya, dia tak me-ngira kalau seorang yang bersuara lembut, bersi-kap hangat dan

39

penuh kasih sayang itu ter-nyata memiliki raut wajah yang menye-ram-kan serta menggidikkan hati. Tapi bukankah di dunia ini tak sedikit manusia berwajah jelek dan menyeramkan yang justru berhati bajik dan mulia? Berpikir demikian, agak lega juga perasa-an hatinya. Menyaksikan Lan See giok hanya meng-a-matinya terus tanpa berkedip, dengan nada penuh kasih sayang kakek bertelinga tung-gal itu segera menegur: "Anak Giok, sudah tidak kenal lagi dengan empek tua?" Sambil berkata, tangannya yang kurus keying itu tiada hentinya meraba bahu mau-pun punggung Lan See giok. Anak itu menatap sekejap si kakek, lalu mengangguk jujur. Kakek bertelinga tunggal itu segera ter-tawa getir, katanya dengan sedih: "Yaa. ini memang tak dapat me-nyalahkan kau, sudah sepuluh tahun lebih kita tak per-nah bersua, waktu itu kau masih seorang anak cilik yang tak tahu apa-apa..." Berbicara sampai di situ, sepasang mata sesat nya segera melirik sekejap ke arah ma-yat Lan Khong tay, kemudian sambung-nya lebih jauh: "Anak Giok, apakah ayahmu belum per-nah membicarakan tentang diriku kepadamu?" Lan See giok merasa kurang leluasa untuk menjawab secara terus terang, maka sahut-nya: "Ayah memang seringkali membicarakan tentang nama dan empek yang banyak sekali jumlahnya, sayang anak Giok bodoh dan tak bisa mengingat terlalu banyak." Mendengar jawaban tersebut, si kakek bertelinga tunggal itu segera tertawa bangga. Tapi menyaksikan kening Lan See giok berkerut kencang, dia segera menarik kem-bali senyumnya dan berkata lagi dengan sedih: "Anak Giok, cepat kau pungut hio dan lilin itu, mari kita bersembahyang di depan jenazah ayahmu ...." Berbicara sampai di situ, dia lantas mem-bungkukkan badan dan memunguti lebih dulu kertas uang, hio dan lilin. Tergerak hati Lan See giok setelah me-nyak-sikan benda-benda itu, dengan cepat dia ber-seru: "Empek tua, sudah sepuluh tahun lebih kau berpisah dengan ayahku, darimana kau bisa tahu kalau ayah dan anak Giok tinggal di sini?" Dajri mana pula kagu bisa tahu kalbau ayahku tewas?" Kakek bertelinga tunggal itu sedikitpun tidak gugup, sahutnya dengan pelan:

40

"Anak Giok, sudah sepuluh tahun lebih empek mencari ayahmu, semalam ketika aku berada di kota sebelah depan sana, tiba-tiba kudengar di luar penginapan ada orang se-dang membentak-bentak, ketika empek lari ke luar, ternyata orang itu adalah To-kak-thi koay (Tongkat besi kaki tunggal) Gui Pak -ciang, seorang musuh bebuyutan ayahmu di masa lalu...." Tergerak kembali perasaan Lan See giok, cepat dia menimbrung: "Empek maksudkan seorang kakek ber-tongkat besi yang kehilangan kaki sebelah kiri nya?" Kakek bertelinga tunggal itu nampak agak tertegun, kemudian serunya tidak habis mengerti: "Apa? Jadi kau kenal dengan dia?" Menyinggung soal itu, Lan See giok segera teringat kembali akan perbuatan si Toya besi berkaki tunggal Gui Pak ciang yang te-lah menusuk tubuhnya dengan toya besi terse-but, dengan kening berkerut serunya penuh rasa dendam. "Dua jam berselang, dia telah datang ke mari!" Diam-diam kakek bertelinga tunggal itu melirik sekejap wajah Lan See giok yang dili-puti hawa amarah, kemudian dengan paras muka berubah hebat pikirnya: "Tebal amat hawa pembunuhan dari anak ini ..." Kemudian sambil menghela napas sedih katanya lebih jauh. "Benar, aku tahu kalau kalian tinggal di sini dan tahu juga kalau adik Khong tay te-lah tewas, aku tahu karena dia yang mem-berita-hukan hal itu kepada empek, waktu itu aku merasa sedih sekali, sehingga setelah mencari keterangan jalan kemari, akupun mem-beli hio dan lilin, langsung berangkat ke mari..." Kemarahan dan rasa dendam Lan See -giok segera berkobar lagi, tiba-tiba ia ber-paling ke arah kakek bertelinga tunggal itu, lalu ber-tanya dengan sedih: "Empek, apakah kau tidak bertanya ke-padanya siapa yang telah membinasakan ayahku?" Sekali lagi kakek bertelinga tunggal itu merasakan hatinya bergetar keras sesudah menyaksikan sorot mata Lan See-giok yang tajam bagaikan sembilu, ia merasa walau-pun usia Lan See giok hanya belasan tahun, tapi paling tidak ia sudah memiliki tenaga dalam sebesar sepuluh tahun hasil latihan, suatu kehebatan yang luar biasa. Maka sambil menunjukkan perasaan sedih dan pedih, dia menjawab: "Sebodoh-bodohnya empek, tak nanti aku akan lupa menanyakan persoalan yang maha penting ini, menurut dia, sewaktu ia mema-suki kuburan ini dibalik kegelapan tampak sesosok bayangan manusia yang

41

menyem-bunyikan diri, setelah dilakukan pengejaran sampai di dalam hutan, barulah diketahui kalau orang itu adalah To pit him (beruang berlengan tunggal) Kiong Tek cong..." Mendengar nama "Beruang berlengan tunggal', tergerak hati Lan See giok, dengan cepat ia menjadi sadar kembali apa sebab-nya orang itu setelah menotok jalan darah-nya, tetap meraba pula dengan tangan kanan, rupanya dia adalah seorang yang berlengan tunggal. Teringat akan "berlengan tunggal," dia lantas terbayang kembali dengan huruf "tunggal" yang digoreskan ayahnya di atas tanah. Tapi sekarang telah muncul seorang ber-kaki tunggal, seorang berlengan tunggal, dan seorang lagi bermata tunggal, siapakah yang dimaksudkan ayahnya sebagai "tunggal" tersebut? Dengan keterangan yang diperolehnya dari si kakek yang bertelinga tunggal ini, maka dia mulai merasa ragu lagi terhadap kesimpulan nya semula yang menduga si manusia ber-mata tunggal itulah pembunuh ayahnya. Karenanya dengan kening berkerut dia mulai memutar otak untuk melakukan analisa, sebenarnya pembunuh ayahnya itu si Beruang berlengan tunggal Kiong Tek ciong ataukah si manusia bermata tunggal? Tapi akhirnya dia menarik kesimpulan, kemungkinan yang paling besar adalah si Beruang berlengan tunggal. Tapi sewaktu si manusia bermata tunggal memasuki gua tadi, ia masuk dengan terburu-buru, bahkan melirik ke arah ayahnya pun tidak, sebaliknya langsung menuju ke pembaringan dan melakukan pemeriksaan, bu-kankah hal ini membuktikan kalau ia su-dah pernah datang satu kali di situ? Dalam pada itu si kakek bertelinga tunggal sedang memasang hio sambil diam-diam mengawasi Lan See giok yang sedang ber-diri termenung. . Tiba-tiba ia mendengar bocah itu sedang berguman. "Tapi. . . mengapa dia balik lagi untuk menggeledah pembaringan serta lubang angin?" Dengan perasaan tidak habis mengerti si kakek bertelinga tunggal itu segera menim-brung: "Anak Giok, siapakah yang kau maksud kan?'. Lan See giok berusaha menenangkan hati-nya, lalu berpaling sambil bertanya: "Empek tua, apakah kau kenal dengan se-orang manusia bermuka hijau, bergigi taring dan bermata tunggal?" Paras muka kakek bertelinga tunggal itu berubah hebat, tampaknya dia merasa ter-kejut sekali, kemudian serunya dengan ce-mas:

42

"Apa? Iblis keji itupun telah datang?" Dari mimik wajah kakek itu, Lan See giok segera tahu kalau manusia bermata tunggal itu adalah seorang manusia yang sangat lihay, dia lantas manggut-manggut. "Empek, siapakah orang itu?" serunya. "Dia adalah seorang iblis yang amat ter-masyhur namanya di dalam golongan putih maupun golongan hitam, orang menyebut nya sebagai To gan liau pok (setan buas ber-mata tunggal) Toan Ki tin". Sambil menjawab, dia lantas membawa hio dan berjalan ke depan pembaringan. Lan See giok masih saja berdiri termangu -mangu sambil membawa uang kertas ter-se-but, dia lupa menderita, tiada air mata dalam kelopak matanya, ia sudah dibikin kebi-ngungan oleh teka teki yang berada di hada-pannya. . . Diam-diam kakek bertelinga tunggal itu melirik sekejap ke arah Lan See giok ke-mudian serunya: "Anak giok, cepat kau bakar uabng kertas itu!"j Lan See giok gsegera tersadarb kembali dan maju mendekat, tapi apa yang kemudian tertera di hadapannya membuat ia menjadi terkejut sehingga paras mukanya berubah. Ternyata kakek bertelinga tunggal itu telah menancapkan hio tadi ke atas tiang kayu di ujung pembaringan, dilihat dari sini dapat diketahui kalau tenaga dalamnya benar-benar sangat lihay. Dengan air mata bercucuran Lan See giok segera berseru. "Oooh empek tua, mengapa kau tidak mau datang sehari lebih pagian, jika empek ada di sini, niscaya ayah tak sampai dicela-kai orang." "Aaai . . . anak Giok, inilah yang dina-makan takdir, kalau aku tidak bertemu de-ngan To kak- thi-koay Gui Pak ciang secara kebetulan, empek malah tidak tahu kalau kalian berdiam di dalam kuburan rahasia ini." Setelah hening sejenak, tiba-tiba Lan See- giok bertanya lagi: "Empek, tahukah kau, apa sebabnya ayah-ku pindah ke dalam kuburan kuno ini?" Kakek bertelinga tunggal itu nampak agak sangsi, kemudian sahutnya: "Keadaan yang sebenarnya tidak begitu kuketahui, tapi menurut sementara orang persilatan, mereka menduga ayahmu telah berhasil menemukan sejilid kitab Cinkeng ketika berada di bawah puncak Giok li hong di bukit Hoa san . . . ". Menyinggung soal puncak Giok li hong di bukit Hoa San, Lan See giok teringat kembali akan kakek berbaju kuning yang ber-wajah ramah itu, dia

43

mengatakan kalau telah ber-temu dengan ayahnya di bawah pun-cak Giok li hong. Sementara dia masih termenung, kakek bertelinga tunggal itu telah bertanya lagi de-ngan ramah. "Anak Giok apakah ayahmu pindah ke mari benar-benar dikarenakan persoalan tersebut? Dengan cepat bocah itu menggeleng. "Tidak, anak Giok tidak tahu, tapi belum pernah kusaksikan ayahku membaca kitab Cinkeng apapun . . ." Belum selesai Lan See-giok menjawab, dengan senyum ramah kakek bertelinga tunggal itu telah menukas, katanya: "Sekalipun namanya kitab Cinkeng, se-sungguhnjya tak lebih cuma sebuah kotak kecil .." Mendengar sampai di situ, Lan See-giok hampir saja tak sanggup menahan diri, jan-tungnya berdebar semakin keras. Mencorong sinar terang dari balik mata si kakek yang sesat, di atas wajahnya yang menyeramkan terpancar pula sinar kerakusan, tapi sejenak kemudian katanya lagi sam-bil tertawa ramah: "Anak Giok, pernahkah kau menyaksikan kotak kecil itu?" Lan See-giok merasakan jantungnya se-makin keras, dia merasa walaupun kakek bertelinga tunggal ini adalah sahabat karib ayahnya, tapi ia merasa tak baik untuk mengungkap persoalan tersebut sekarang. Maka setelah ragu-ragu sebentar, sahut-nya agak tergagap: "Anak Giok belum pernah menyaksikannya!" Selesai berkata dia lantas menundukkan kepalanya dengan perasaan malu dan me-nyesal. Sedang si kakek bertelinga tunggal itu nampak berubah hebat paras mukanya, keningnya berkerut dan mata sesatnya me-lotot besar, senyuman menyeringai segera menghiasi wajahnya, tampang yang pada dasarnya sudah menyeramkan, kini semakin menakutkan lagi. Tenaga dalamnya segera dihimpun ke dalam telapak tangan kanannya yang kurus kering, kelima jari tangannya yang di pentangkan bagaikan cakar pelan-pelan di ang-kat ke angkasa. Sedang Lan See-giok sendiri, waktu itu merasa menyesal sekali karena telah berbohong, saking malunya dia sampai tak berani mendongakkan kepalanya lagi, dia merasa tidak seharusnya berbohong terhadap se-orang empek sahabat karib ayahnya yang su-dah sepuluh tahun lebih mencari mereka.

44

Si kakek bertelinga tunggal itu sudah me-ngejangkan seluruh kulit mukanya, tangan kanannya yang ceking dan penuh disertai tenaga dalam itu sudah di angkat melampaui bahunya. Tapi kemudian berkilat sepasang mata-nya, wajah yang semula menyeringai serampun kini pulih kembali seperti sedia kala. se-nyuman licik menghiasi ujung bibirnya. ta-ngan kanannya yang sudah dipersiaprkan seperti cakar setanpun diturunkan kembalri ke bawah. Kemudian dengan suara yang tetap ramah dan lembut dia berkata: "Tentu saja, terhadap masalah sepenting ini, apalagi menyangkut benda mestika dari dunia persilatan, mana mungkin dia akan perlihatkan kepada seorang anak yang tak tahu urusan seperti kau..." Setelah berhenti sebentar, dia berkata le-bih jauh: "Apa lagi sekalipun kau tahu juga tak akan memahami betapa pentingnya benda terse-but." Lan See giok segera mengiakan berulang kali untuk menutup ketidak tenangan di dalam hatinya. Kakek bertelinga tunggal itu memandang sekejap ke arah jenazah yang berbaring di atas pembaringan, kemudian kembali dia berkata: "Anak Giok, orang bilang masuk ke tanah akan membuat yang tiada menjadi tenteram, kita harus segera mengebumikan jenazah ayahmu ini---" Lan See giok merasakan hatinya amat sa-kit bagaikan diiris-iris dengan pisau belati, ia mendongakkan kepalanya dan memandang jenazah ayahnya sekejap, kemudian kata-nya: "Anak Giok bermaksud untuk membaring-kan-kan jenazah ayahku di samping jenazah ibuku di dalam kuburan sana---" "Apakah kau tahu jalan menuju ke dalam kuburan sana?" tidak menunggu bocah itu menyelesaikan kata katanya, si kakek ber-telinga tunggal itu telah menukas lebih dulu. Tanpa ragu Lan See giok mengangguk, tapi sorot matanya masih tetap menatap jenazah ayahnya. "Setiap tahun disaat hari kematian ibuku, ayah pasti mengajak Giok ji masuk ke dalam untuk menengok wajah ibu." Berbicara sampai di situ, dua baris air mata segera jatuh bercucuran membasahi pipinya. Kejut dan girang segera menyelimuti wa-jah jelek kakek bertelinga tunggal itu, de-ngan tak sadar dia segera berseru. "Kalau memang begitu, mari kita segera turun tangan"

45

Tidak menunggu pendapat dari Lan See- giok lagi, buru-buru dia menuju ke depan pembaringan dan membopong bangun jenazah dari si Gurdi emas peluru perak Lan Khong tay, kemudian melanjutkan: "Giok ji, kau jalan di muka!" Lan See giok pun merasa ada baiknya un-tuk segera mengirim jenazah ayahnya ke dalam kuburan, maka sambil mengangguk dia berjalan lebih dulu menuju ke sebuah lorong. Kakek bertelinga tunggal itu hampir saja tak sanggup mengendalikan gejolak emosi dalam dadanya, sehingga wajahnya nampak berseri, sambil membopong jenazah Lan Khong-tay ia segera mengikuti di belakang Lan See giok kencang- kencang. Kedua orang itu dengan menelusuri lorong yang gelap segera berputar ke kiri berbelok ke kanan, berjalan terus tiada hentinya . . Akhirnya sampailah mereka di depan se-buah persimpangan jalan, di kedua belah samping lorong itu terdapat dinding yang berbentuk hampir sama, dan di sana terdapat pintu besi yang besarnya hampir sama tertutup rapat. Melihat hal itu, si kakek bertelinga tunggal itu nampak sangat gelisah, apa lagi setelah menyaksikan Lan See-giok berjalan dengan langkah yang amat berhati - hati, dengan ce-pat dia alihkan Lan Kong thay ke bawah ketiaknya. Maka setiap kali mereka melakukan belokan dia lantas mengerahkan tenaga dalam-nya ke ujung jari dan diam-diam membuat sebuah tanda di atas dinding gua tersebut. Tak selang berapa saat kemudian, mereka telah melalui tujuh buah ruangan batu ber-bentuk persegi serta tiga puluh ruang ku-buran kosong yang amat besar, akhirnya di depan sana muncul setitik cahaya yang amat redup dibalik kegelapan. Tergerak hati kakek bertelinga tunggal itu, dia tahu di depan sana adalah tempat yang mereka tuju, buru-buru jenazah Lan Khong tay dibopong dengan baik. Saat itulah Lan See giok telah berpaling sembari berkata. "Empek, di depan situlah terletak kuburan ibuku!" Kemudian, sewaktu dilihatnya kbakek itu membopjong jenazah ayahnya dengan amat hormat, dia menjadi terharu sekali. segera ujarnya lebih jauh. "Empek, tahukah kau bahwa kuburan raja ini berada dalam keadaan kosong? Hanya kuburan inilah baru benar-benar merupakan kuburan Leng ong-- -"

46

Tak terlukiskan rasa girang kakek ber-telinga tunggal itu setelah mendengar uca-pan tersebut, sampai lama kemudian ia baru ber-kata dengan suara gemetar. "Empek tahu . . . ." BAB 3 RAHASIA TERCURINYA PEDANG DENGAN wajah tertegun Lan See giok segera berpaling dan memandang sekejap ke arah kakek bertelinga tunggal itu. Dengan cepat kakek itu tahu kalau dia te-lah salah berbicara, satu ingatan dengan ce-pat melintas dalam benaknya, ujarnya de-ngan penuh kesedihan. "Sesudah sepuluh tahun lebih empek men-cari orang tuamu, meskipun tak bisa ber-temu dalam keadaan hidup, tapi asal aku bisa melihat wajah ibumu yang sudah lama tiada pun rasanya tidak sia-sia belaka per-jalananku selama puluhan tahun ini" Lan See giok segera mengucurkan kem-bali air matanya karena ia sedih. Sementara pembicaraan sedang berlangsung, mereka sudah tiba di suatu tempat yang bersinar itu. Sebuah pintu besi yang tinggi besar ber-diri angker di hadapan mereka, pintu itu tertutup rapat sementara di sebelah kiri dan kanannya masingmasing terdapat sebuah ruangan batu. Di atas pintu besi itu terdapat sebuah mu-tiara yang memancarkan cahaya berkilauan. Lan See giok segera menyeka air mata dan berjalan masuk ke dalam ruangan batu di sebelah kiri. Sementara itu kakek bertelinga tunggal se-dang mengawasi gerak gerik, bocah itu de-ngan seksama, paras mukanya yang jelek dan licikpun mengikuti setiap perubahan dari Lan See giok berubah ubah. Pelan-pelan Lan See giok berjalan menuju ke sudut ruangan sebelah dalam lalu me-nyingkapkannya ke atas. Batuan yang berada di sana palbing tidak mencapai dua tiga ratus kati beratnya, tapi nyatanya Lan See giok dengan sepasang tangannya dapat mengangkat batu itu secara mudah, hal ini kontan saja membuat kakek itu berubah wajah dan terperanjat sekali. Menurut penilaiannya secara diam-diam, paling tidak tenaga dalam yang dimiliki Lan See giok telah mencapai sepuluh tahun ke-sempurnaan. Selintas hawa napsu membunuh segera menghiasi wajah yang jelek, dengan cepat pikirnya:

47

"Jelas dia merupakan bibit bencana, manusia semacam ini tak boleh diampuni dengan begitu saja-" Ia menyaksikan pula sebuah gelang besar berwarna hitam yang berkilat berada di bawah batu itu dan menempel di atas tanah. Lan See giok segera menggenggam gelang itu, kemudian membentak keras sambil membetotnya ke atas, gelang itu dengan cepat terangkat ke atas menyusul muncul-nya seutas rantai besar. Mendadak... dari bawah tanah sana berkumandang suara gemerincing yang amat ramai. Menyusul kemudian pintu besi yang tinggi besar itu pelan-pelan bergeser kedua belah samping dengan menimbulkan suara gemericit yang berat. Kakek bertelinga tunggal itu segera merasakan ada segulung hawa dingin yang menusuk tulang memancar ke luar dari balik pintu tersebut, tanpa terasa sekujur badannya gemetar keras. Di balik pintu merupakan sebuah lorong yang panjangnya dua kaki, di ujung lorong sana merupakan sebuah dinding lagi, di bagian tengah dinding terdapat sebaris batu permata sebesar kepalan yang memancarkan cahaya berkilauan. Waktu itu pintu besi sudah terbuka lebar, Lan See-giok telah masuk pula ke dalam ru-angan, kepada kakek bertelinga tunggal itu segera serunya: "Empek tua, mari kita masuk!" Sembari berkata, dia lantas berjalan ma-suk lebih dulu ke dalam pintu besi tersebut. Kakek bertelinga tunggal itu manggut-manggut, dia segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan hawa dingin yang mencekam, kemudian mengikuti di belakang Lan See giok. Setibanya di ujrung lorong sana, terlihat-lah di kiri dan kanan lorong terdapat pula se-buah pintu besi. Lan See giok berjalan ke pintu sebelah kiri, kemudian mendorongnya dengan sepenuh tenaga, pintu besi itu pelan-pelan menggeser ke samping dan terbuka lebar. Hawa dingin yang mengalir ke luar dari gua tersebut terasa makin lama semakin tebal. Sekalipun kakek bertelinga tunggal itu sudah melawan dengan mengerahkan tenaga dalamnya, namun ia masih terasa kedinginan bagaikan berada dalam gudang es, tanpa terasa pikirnya: "Tak heran kalau jenazah yang disimpan di sini tidak membusuk, suhu udaranya saja sudah begini dinginnya." Setelah memasuki pintu besi, di hadapan mereka terbentang selapis kain tirai yang sangat tebal. Lan See giok segera menyingkap kain tirai itu lalu berbisik:

48

"Empek, masuklah lebih dulu!" Tanpa sangsi kakek itu membungkukkan badan dan sambil membopong jenazah Lan Khong-tay masuk ke dalam, cahaya di dalam kuburan itu sangat redup, ditengah langit-langit terdapat sebuah mutiara merah sebesar telur itik, untuk sesaat suasana di dalam sana masih terasa remangremang dan tidak jelas. Dinginnya udara dalam ruangan itu segera membuat kakek bertelinga tunggal itu merasakan tangan maupun wajahnya sakit bagaikan disayatsayat pisau, sebelum daya penglihatannya pulih kembali, dia tak berani masuk ke dalam secara gegabah. Dengan wajah serius Lan See-giok me-nu-runkan kembali tirai itu, lalu bisiknya: "Empek, sebentar lagi kau akan melihat dengan jelas." Kakek bertelinga tunggal itu memang su-dah lama mendengar kalau dalam kuburan raja terdapat banyak barang mestika yang tak ternilai harganya, hanya saja dikarenakan kuburan jebakan kelewat banyak, bahayanya juga besar, maka jarang sekali ada orang yang berani masuk ke sana. Dan kini, dia telah memasukinya, hal tersebut benar-benar merupakan suatu kejadian yang tak pernah diduga sebelum-nya. . . Lambat laun dari satu kaki di depannya muncul setitik cahaya bersilang yang aneh sekali. Ketika cahaya silang itu diperhatikan lagi dengan seksama, ternyata benda itu adalah sepasang pedang berkain kuning yang diletakkan bersilang. Kedua bilah pedang itu diletakkan di atas sebuah hiolo kecil terbuat dari tembaga yang diletakkan di atas meja batu, di kedua belah sisi hiolo kecil itu terletak sebuah ko-tak kecil yang terbuat dari emas. Memandang semua benda gemerlapan yang berada di sana, sekali lagi sepasang mata sesat dari kakek bertelinga tunggal itu me-mancarkan cahaya tajam, sifat kera-kusan-nya muncul kembali, seakan akan lupa dengan jenazah Lan Khong tay yang masih berada dalam pelukannya dia maju ke de-pan.. . Mendadak terdengar Lan See giok berbisik lirih. "Empek, dari peti tembaga ke tiga belok ke sebelah kanan." Selesai berkata ia maju ke depan lebih dulu Teguran itu segera menyadarkan kembali si kakek bertelinga tunggal dari kekhilafan-nya, cepat dia amati dengan lebih seksama lagi, sekarang baru terlihat olehnya kalau di se-belah kiri dan kanan meja batu di mana pedang tersebut terletak, masing-masing membujur beberapa buah peti mati tembaga.

49

Maka dia segera maju ke depan dan me-ngikuti di belakang Lan See- giok. Kini sepasang mata kakek bertelinga tung-gal itu sudah terbiasa melihat dalam kege-lapan ia saksikan pula sebuah peti mati rak-sasa yang terbuat dari kaca kristal. Diam-diam Lan See giok merasa agak tak senang hati juga melihat tindak tanduk kakek bertelinga tunggal itu setelah berada di sana dan celingukan ke sana kemari, sikap tersebut seakan akan sudah lupa de-ngan tujuan kedatangan yang sebenarnya di sana, tapi diapun tidak menegur ataupun mengu-apkan sesuatu. Sebab dia masih ingat, sewaktu ia masuk ke sana untuk pertama kalinya dulu, waktu itupun dia merasa keheranan dan ingin tahbu malah tidak bjerada di bawah gempek bertelingba tunggal ini. Maka tanpa banyak berbicara lagi dia menghampiri sebuah peti mati tembaga dan melongok sekejap wajah ibunya yang berbaring di dalam, lalu dengan air mata bercu-curan bisiknya: "Ibu, ayah telah datang untuk menemani mu ....". Kakek bertelinga tunggal itu segera me-narik kembali pandangannya dan menundukkan kepala, dia jumpai sebuah peti mati tembaga yang besar dan cukup memuat dua orang membujur di hadapannya. Peti mati tembaga itu terbuat dari batu kristal sehingga raut wajah seorang perempuan setengah umur yang berada di sebelah kanan peti mati itu dapat terlihat jelas. Sambil menangis tersedu sedu, pelan-pelan Lan See giok menggeser penutup peti mati itu ke samping, hingga dengan begitu wajah pe-rempuan setengah umur yang berada dalam peti mati itupun dapat terlihat se-makin jelas. Perempuan itu berhidung mancung dan berbibir kecil, meski matanya terpejam dan mukanya putih bagaikan kemala namun tak bisa disangkal lagi kalau perempuan itu adalah seorang perempuan cantik. Iapun menjumpai paras muka Lan See giok mirip sekali dengan wajah perempuan sete-ngah umur yang berbaring dalam peti mati itu. Lan See giok tak dapat mengendalikan rasa sedihnya lagi, dia segera menjerit ter-tahan: "Ibu!" Kemudian diapun memeluk kepala ayah-nya sambil menangis terisak sebelum akhirnya empek bertelinga tunggal mem-bopong jenazah ayahnya untuk dibaringkan di sisi jenazah ibunya. Tampaknya kakek bertelinga tunggal itu sangat bernapsu dengan sepasang pedang serta sepasang kotak kecil di meja batu, ketika Lan See-

50

giok sedang berlutut sambil menangis, diam-diam dia meninggalkan tempat itu dan mendekati meja batu terse-but. Ketika melewati sisi beberapa buah peti mati tembaga yang membujur di sana, ia saksikan pula banyak sekali ukiran-ukiran bocah lelaki dan perempuan dengan pakaian yang perlente tergeletak di situ, sekilas pabndangan saja djapat diketahui gkalau semua benbda itu terbuat dari bahan berharga. Barulah pada peti mati tembaga yang ke empat dia jumpai jenazah dari seorang pemuda dan gadis yang sesungguhnya. Kakek bertelinga tunggal itu segera ber-jalan mendekati peti mati kaca kristal itu. kemudian melongok ke dalamnya, ternyata di peti mati itu adalah Raja Leng ong serta permaisurinya. Sang raja mengenakan kopiah kebesaran dengan jubah kuning bersulamkan naga, jenggotnya yang hitam terurai sepanjang dada, ia nampak masih amat segar. Di sisinya berbaring permaisuri yang nam-pak masih amat muda, paling banter umurnya baru dua puluh enam-tujuh tahunan, wajahnya cantik dan senyuman dikulum, ia nampak sangat tenang, jelas perempuan ini dipaksa mati untuk menemani suaminya. Kakek bertelinga tunggal itu memandang sekejap ke arah jenazah Lengong yang berada dalam peti mati, kemudian sambil me-nyeringai seram pikirnya. "Hmm . . sekarang kau boleh berbaring nyaman di situ, tapi suatu saat bila lohu su-dah merasa ajalku hampir tiba, saat itulah kau harus ke luar dari situ karena tempatmu akan kugunakan . . . " Berpikir sampai di situ, dia lantas berjalan menuju ke depan kain kuning berisi sepasang pedang itu dan siap untuk me-ngambilnya. Mendadak di pihak sana kedengaran Lan See giok sedang berseru sambil menangis tersedu- sedu: "Ayah, ibu, beristirahatlah kalian dengan tenang, sekalipun badan Giok ji harus han-cur lebur, aku bersumpah akan mencincang tubuh manusia laknat itu untuk membalas-kan dendam bagimu. Ayah, lindungilah anak Giok, bila anak Giok berhasil mencincang tubuh musuh kita. pejamkanlah matamu yang melotot gusar itu . . ." Si kakek bertelinga tunggal yang mende-ngar gumaman tersebut diamdiam mendengus, sekulum senyuman sinis segera ter-sungging di atas wajahnya. Kemudian dia melanjutkan kembali per-buatannya untuk membuka kain kuning tersebut---

51

Begitu kain kuning itu terbuka... cahaya, berkilauan segera memancar ke empat pen-juru... Lan See giok merrasa amat terperanjat, buru-buwru dia lari mendekat sambil berte-riak: "Empek, jangan kau sentuh, ayah pernah bilang, jika sepasang pedang itu tergeser, dunia persilatan akan banjir darah, jangan kau sentuh sepasang pedang itu!" Kakek bertelinga tunggal itu kontan saja tertawa dingin, serunya sinis. "Aaah, omongan anak kecil." Sembari berkata dia lantas mengambil salah satu dari pedang itu. Lan See giok menyesal sekali setelah menyaksikan kenekatan kakek itu, dia merasa tidak seharusnya mengajak orang itu ke mari, andaikata ia bukan teman akrab ayah-nya, niscaya dia sudah mendorongnya keluar dari tempat itu. Pedang yang berada di tangan kakek ber-telinga tunggal itu bercahaya merah, di atas sarung pedangnya bertaburan batu permata yang sangat indah, di bagian tengahnya ter-dapat sebuah sulaman matahari merah dengan di sisinya terdapat sulaman awan. Pada kedua belah sisi sarung tadi bertatahkan batu permata kecil yang membentuk dua buah huruf kecil. Dengan kening berkerut kakek bertelinga, tunggal itu nampak membungkam dalam seribu bahasa, agaknya ia tidak mengenal apa arti dari kedua huruf kuno itu. Lan See-giok memang seorang bocah, walaupun dia tahu kalau pedang itu dilarang disentuh, tapi setelah diambil empek terse-but, diapun ikut maju ke depan untuk bisa melihat lebih jelas. Maka segera serunya setelah menyaksikan kakek bertelinga tunggal itu hanya mem-bungkam belaka. "Empek, apakah pedang itu adalah Jit hoa?" Berseri wajah kakek itu setelah mendengar ucapan tersebut, sahutnya dengan cepat: "Benar, pedang ini memang pedang Jit -hoa, Giok- ji, dari mana kau bisa tahu?" "Ayah yang mengatakan kepadaku!" Dengan gembira kakek itu segera menekan tombol rahasia di atas pedang itu, Klik!" lamat-lamat berkumandang suara pekikan naga. Menyusul kemudian tubuh, pedang itu melejit ke luar sepanjang beberapa inci, se-ketika itu juga cahaya berkilauan yang amat menusuk pandangan mata memancar ke em-pat penjuru.

52

Saking emosinya seluruh tubuh kakek bertelinga tunggal itu gemetar keras, kulit wajahnya mengejang keras . . . "Klik!" ia masukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya kemudian diletakkan kem-bali ke meja, setelah itu dia mengambil pedang yang lain. "Empek, jangan dilihat lagi." buru-buru Lan See giok mencegah, "kedua belah pedang ini sama bentuknya . . " Tentu saja kakek itu tidak menggubris per-kataan bocah tersebut, sebelum Lan See -giok menyelesaikan kata katanya, dia telah melo-loskan pedang yang lain. Bentuk pedang ini hampir serupa dengan pedang yang pertama tadi, hanya bedanya di tengah sarung pedang ini berukirkan sebuah rembulan. la mencoba untuk mengenali tulisan kuno di gagang pedang tersebut, tapi tak dikenal, akhirnya dengan wajah memerah dia pura--pura bertanya: "Giok ji, kau kenal dengan nama pedang ini?" "Pedang itu adalah Gwat hui kiam!" jawab Lan See giok tanpa sangsi. Kakek bertelinga tunggal itu segera manggut-manggut sambil memuji. "Ehmm, ucapanmu memang benar, kedua bilah pedang ini memang merupakan pedang Jit hoa dan Gwat hui kiam yang menjadi idaman dari setiap umat persilatan---" "Klik!" di tengah dentingan nyaring, segera memancar ke luar serentetan cahaya ber-warna emas yang menyilaukan mata. "Empek" dengan perasaan tak habis mengerti Lan See giok berseru, "menurut ayah, sepasang pedang ini adalah Jit gwat tong kong kiam. jarang diketahui umat per-silatan, meski sudah bersejarah ribuan ta-hun, namun jarang sekali muncul dalam dunia.." Seketika itu juga paras muka kakek itu berubah menjadi merah padam, sambil me-lotot besar teriaknya. "Ayahmu dengar pula dari siapa? " Sembari berkata dia menyarungkan kembali pedang itu. "Ayah pernah membaca risalah sejarah dalam kitab pusaka kedua pedang itu, maka ayah tahu dengan jelas." Mendengar perkataan itu, perasaan si kakek bertelinga tunggal itu kembali tergerak, sepasang matanya yang licik tanpa terasa melirik sekejap. ke atas kotak emas kecil di sisi hiolo tersebut. Lan See-giok masih teringat selalu dengan pesan ayahnya dulu, maka ketika dilihatnya kakek bertelinga tunggal itu belum juga mengembalikan pedang mestika itu ke tem-patnya semula, dengan gelisah dia lantas berseru: "Empek, cepat kembalikan pada tempatnya!"

53

Sekilas hawa amarah segera melintas di atas wajah kakek itu, tapi hanya sejenak ke-mudian dia telah bersikap tenang kembali, sambil manggutmanggut dia letakkan kem-bali ke dua bilah pedang itu di tempat semu-la. Lan See giok segera mengangguk puas, katanya kemudian: "Empek, mari kita tutup peti mati itu!". Sembari berkata dia berjalan lebih dulu menuju ke depan peti mati orang tuanya. Kakek bertelinga tunggal itu mengikuti di belakangnya, ketika ia memandang ke dalam peti mati tersebut. mendadak paras mukanya berubah, peluh dingin segera ber-cucuran. Rupanya sepasang mata si Gurdi emas peluru perak Lan Khong tay yang semula melotot besar, kini telah terpejam kembali. Dengan perasaan terkesiap buru-buru seru nya kepada Lan See giok: "Coba lihat, mata ayahmu telah memejam kembali, kapan mata ayahmu memejam kembali?" Ketika mengucapkan perkataan itu mata nya yang sesat menunjukkan perasaan kuatir wajahnyapun merasa ngeri, meski dia tidak percaya dengan setan, namun di dalam ku-buran yang sepi dan mengerikan ini, tak urung hatinya merasa bergidik juga. Lan See giok memandang sekejap wajah orang tuanya, lalu menjawab: "Sepasang mata ayahku terpejam kembali ketika aku bersumpah akan mencincang tubuh musuh besar pembunuhnya!" Agak berubah wajah kakek itu, sebelum senyuman menyeramkan segera menghiasi bibirnya, tapi dia tidak berkata apa-apa lagi, dengan cepat ia membantu bocah itu untuk menutup kembali peti mati tembaga tersebut, Setelah semua selesai, Lan See giok baru menyembah beberapa kali di depan peti mati itu, lalu sambil berdiri katanya: "Empek, mari kita berangkat." Dia lantas berjalan menuju ke arah luar. Kakek bertelinga tunggal itu mengikuti di belakangnya, sewaktu lewat di sini pedang Jit-hoa-gwat hui kiam, dia melirik sekejap dengan sinar mata rakus, kemudian baru ke luar dari sana. Setelah ke luar dari ruangan kuburan, Lan See giok segera menuju ke kamar sebelah kiri dan memutar kembali gelang besi di atas pintu besar itu, pelan-pelan pintu besi yang besar tadi merapat kembali. Kemudian mereka berjalan kembali ke ru-angan depan, Lan See giok mulai membenahi pakaian serta barang keperluan sehari -harinya. Kakek bertelinga tunggal itu nampak geli-sah sekali. beberapa kali dia nampak seperti kehabisan sabar tapi secara tiba-tiba wajah-nya berseri, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya.

54

Dengan suara ramah dan penuh kasih sayang diapun segera berkata: "Giok ji, ambilkan makanan untuk empek mengisi perut, aku pikir kau sendiri pun tentu sudah lapar bukan." Lan See giok memang lapar, maka dengan cepat dia mengambil makanan dari ruangan lain sekalian membawa serta sebotol arak ayahnya yang belum sempat diminum. Setelah meneguk secawan arak, kakek itu menghela napas panjang, kemudian katanya: "Giok ji, orang bilang perubahan cuaca su-kar diduga, nasib manusia sukar ditebak, seperti misalnya ayahmu, apakah kemarin dia akan menduga bakal terjadi peristiwa seperti hari ini? Seperti juga adik Wan, apakah dia akan menduga kalau engkohnya bakal tiada, secara mendadak ---" Terkesiap hati Lan See giok mendengar perkataan itu, tanpa terasa serunya; "Empek maksudkan bibi Wan?" "Benar,"" sahut kakek itu sambil mengang-guk tenang, "yang kumaksudkan adalah bibi Wanmu -itu!" Lan See giok segera termenung sebentar, kemudian katanya kembali: "Empek. benarkah bibi Wan adalah adik kandung ayahku?" "Untuk sesaat kakek bertelinga tunggal itu merenung sebentar, kemudian setelah me-mandang cawan arak di meja sekejap sahut-nya: "Mengapa secara tiba-tiba kau ajukan per-tanyaan ini? Apakah bibi Wan mu tidak me-nyayangi dirimu?" "Bukan, bukan begitu." seru bocah itu serius. "bibi Wan sangat baik kepadaku, cuma aku tidak habis mengerti kenapa ayah ibuku belum pernah membicarakan hal itu kepadaku? Mengapa mereka tak pernah memberitahukan kepadaku kalau mempu-nyai bibi Wan yang begitu cantik." Setelah berhenti sebentar, kembali dia melanjutkan: "Kalau dibilang bibi Wan adalah adik kandung ayahku, padahal ayahku she Lan sedang bibi Wan she Han, sedang suami bibi Wan she Ciu . . . " Kakek bertelinga tunggal itu hanya mendengarkan dengan seksama, dia lama sekali tidak memberi komentar apa-apa. Mendadak dengan kening berkerut Lan See-giok berseru "Empek, apakah kalian pernah bersua dengan bibi Wan?" Agak tertegun kakek bertelinga tunggal itu mendengar pertanyaan tersebut, agaknya dia tidak menduga akan menjumpai pertanyaan semacam itu, setelah berhasil menenangkan dia menyahut : "Tentu saja pernah berjumpa!"

55

Sambil berkata dia lantas mereguk arak-nya setegukan, agaknya dia hendak mengguna-kan kesempatan itu untuk menenangkan kembali hatinya. Berapa saat kemudian ia baru melanjut-kan, "Cuma waktu itu dia masih seorang gadis yang berusia lima enam belas ta-hunan." Tanpa terasa Lan See giok terbayang kem-bali dengan bayangan tubuh enci Cian nya, dia lantas berseru. "Putri bibi Wan sekarang telah berusia enam belas tahun!" Kakek bertelinga tunggal itu segera me-ng-iakan dengan mengandung sesuatu mak-sud, serunya sambil tersenyum. "Kalau begitu, kaupun sebaya dengan usia enci Cu mu" "Enci Cu? Enci Cu yang mana?" Lan See -giok tertegun. Kakek bertelinga tunggal itu segera tertawa terbahak-bahak. "Haaah . . haaah . . haaah . . . anak bodoh.. enci Cu. adalah Siau cu putri empek!" Merah padam selembar wajah Lan See -giok karena jengah, buru-buru dia menundukkan kepalanya rendah-rendah. Terdengar kakek bertelinga tunggal itu berkata lebih lanjut dengan gembira. "Anak dungu, mengapa harus malu? Di kemudian hari kau akan siang malam hidup bersama dengan enci Cu mu, berlatih ilmu silat bersama, bermain bersama ...." "Empek, jadi kau hendak mengajarkan Ilmu silat kepada Giok ji?" seru Lan See giok gembira. Sekali lagi kakek itu tertawa tergelak. "Tentu saja!" Dengan cepat Lan See giok menggebrak meja keras-keras, kemudian dengan mata melotot serunya: "Bila Giok ji telah berhasil memiliki ilmu silat selihai empek, aku tak akan takut lagi terhadap musuh besarku." Paras muka kakek bertelinga tunggal itu kembali mengejang keras, tapi ia segera men-dongakkan kepalanya sambil tertawa terge-lak, pujinya berulang kali: "Punya semangat, punya semangat, empek memang paling suka dengan orang yang bersemangat seperti kau." Lan See giok merasa perlu untuk memberi kabar kepada Bibi Wan nya tentang musibah yang menimpa ayahnya, maka dia berkata kembali: "Cuma, sekarang aku belum bisa ikut em-pek untuk belajar silat--"

56

"Kenapa?" tanya kakek bertelinga tunggal itu terkejut, senyuman yang semula me-nye-limuti wajahnya seketika lenyap tak ber-bekas. "Sebab Giok-ji merasa perlu untuk mem-beri kabar dulu kepada bibi Wan atas musi-bah yang telah menimpa ayahku---" Belubm lagi Lan See-jgiok menyelesaigkan kata-katanyba, sekilas perasaan kejut ber-campur girang telah menghiasi wajah si kakek yang jelek, tapi ia cukup waspada. Dengan cepat ujarnya lagi dengan suara dalam: "Yaa, betul! Kabar duka ini memang harus cepat-cepat disampaikan kepadanya " Setelah berhenti sebentar, ia seperti ter-ingat akan sesuatu dengan cepat dia melirik sekejap kearah bocah itu, lalu ujarnya lebih jauh. "Cuma, setelah bersantap nanti kita mesti beristirahat dulu sebelum berangkat . . . . "Tidak usah, Giok ji tidak lelah!" tukas Lin See giok sambil menggeleng. "Haaah . haaah . . haaah . . anak bodoh, empek bukan kuatir kau kecapaian, tapi aku hendak mewariskan ilmu silat dulu kepadamu. Maka selesai ber-santap nanti akan kuberi sebutir pil penam-bah tenaga lebih dulu untukmu, kemudian kau mesti duduk bersemedi sesaat sebelum khasiat obat itu dapat diserap oleh tubuh-mu." Setelah tahu kalau dia hendak diberi pela-jaran silat yang hebat, tentu saja Lan See giok tidak mengotot lagi. Selesai bersantap, kakek bertelinga tunggal itu mengeluarkan sebuah bulibuli hitam dari sakunya dan membuka penutupnya, Bau pedas yang menusuk hidung dengan cepat menyebar ke luar dari balik buli-buli tersebut. Diam-diam Lan See giok berkerut kening sesudah mengendus bau tersebut, segera pikirnya: "Huuuh, bau obat apaan ini?, busuknya bukan buatan ---" Sementara ia masih termenung, kakek bertelinga tunggal itu telah mengeluarkan se-butir pil kecil berwarna hitam dan mengang-surkan ke hadapan bocah itu, katanya ke-mudian sambil tersenyum ramah: "Giok ji, telanlah pil ini!" Lan See-giok bernapsu untuk cepat me-miliki ilmu silat tinggi, meski bau obat itu busuknya menusuk hidung, ternyata diteri-ma-nya juga tanpa sangsi, tapi sebelum dite-lan ia bertanya lagi. "Empek tua, pil apaan ini?" "Obat ini merupakan pil penguat badan penambah tenaga yang empek buat selama puluhan tahun lamanya dengan mengumpulb-kan pelbagai bjahan obat mestigka dari se-antebro jagad. Minum sebutir saja, tenaga

57

dalammu akan bertambah dengan berapa tahun hasil latihan, selain dapat mengusir hawa dingin, menawarkan racun juga mem-bersihkan darah. pokoknya obat mestika se-macam ini amat langka di dunia dewasa ini..." Mendengar kalau pil itu berkhasiat sangat banyak, tak sampai kakek bertelinga tunggal itu menyelesaikan katanya, mendadak Lan See giok jejalkan obat itu ke dalam mulut-nya, lalu ditelan ke dalam perut secara "paksa.." Bau busuk yang memualkan dan hawa panas yang menyengat badan segera menye-limuti seluruh isi perutnya, tapi demi mem-peroleh ilmu hebat, sekalipun obat racun dia juga tak ambil perduli. Bau busuk dari pil itu makin mengocok isi perutnya dengan makin menghebat, dia merasa semakin mual dan hampir saja muntah-muntah. Tapi sambil menggertak gigi bocah itu berusaha untuk mempertahankan diri. Selintas senyum yang licik, busuk dan pe-nuh perasaan bangga segera menghiasi wajah si kakek yang jelek, tapi di mulut ia masih berkata lagi dengan lemah lembut. "Anak Giok, jangan kau tumpahkan, keta-huilah betapa sulit dan sengsaranya empek untuk membuat pil tersebut, bahan-bahan obatnya langka dan susah ditemukan, kalau sudah tak tahan, cepat berbaring atau duduk di atas pembaringan." Sambil menggigit bibir dan menahan napas Lan See giok manggutmanggut, ia segera naik ke atas pembaringan dan duduk bersila di situ. "Kau harus ingat baik-baik," kata si kakek bertelinga tunggal lagi dengan wajah ber-sungguh sungguh, "mulai hari ini, setiap bulan kau harus minum sebutir, kalau tidak selain khasiat obatnya tak akan menghasil-kan apaapa, bahkan tiga hari setelah masa yang ditetapkan lewat, kau bisa muntah da-rah sampai mati!" Tak terlukiskan, rasa kaget Lan See giok setelah mendengar perkataan itu, sambil berusaha keras menekan perasaan sakit dan menderita yang mengocok isi perutnya, dia bertanya: "Berapa butir lagi yang harus kutelan?" "Dua belas butir, tepat setahun!" jawab kakek itu sambil tertawa bangga penuh keli-cikan. Lan See giok tidak berbicara lagi, ia segera mengangguk. Baginya, seoranrg lelaki hendak membalas dendawm, sepuluh tahurnpun belum terhitung lambat, apalagi cuma setahun. Sementara ingatan tersebut melintas dalam benaknya, seluruh tubuhnya terasa remuk dan sakitnya bukan kepalang, tulang belu-lang-nya seakan-

58

akan hancur berantakan, peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercu-curan membasahi sekujur badannya. Lan See-giok makin terkesiap, meski ia belum pernah minum pil penambah tenaga, tapi ia percaya bau sebutir pil mestika tak akan, sebusuk pil yang telah diminumnya barusan -Belum habis ingatan tersebut melintas le-wat, mendadak terdengar kakek itu ber-kata lagi. " "Giok-ji. jangan mencabangkan pikiran-mu, sekarang daya kerja obat itu baru me-nyebar cepat, kerahkan tenaga dalammu untuk membawa sari obat ke seluruh bagian tu-buhmu, kemudian seraplah khasiat obat itu dengan tenaga dalammu." Mendengar pesan itu, buru-buru Lan See- giok mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghisap sari obat yang dimaksudkan. Dalam penderitaan yang luar biasa, men-dadak ia merasa kepalanya amat pusing dan kelopak matanya makin lama terasa semakin berat. Tapi dia masih sempat mendengar kakek itu berpesan: " - - Kau harus tahu, orang bilang obat yang pahit justru merupakan obat paling mujarab untuk menyembuhkan penyakit" Dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, Lan See giok masih sempat mendengar sepatah dua patah kata lagi, tapi lambat laun kesadarannya makin pudar dan menghilang, sebelum ingatan terakhir lenyap dari benaknya, dia seakan akan mendengar kakek bertelinga tunggal itu tertawa terbahak- bahak dengan seramnya. Entah berapa saat kemudian . . . Pelan-pelan Lan See giok sadar kembali dari pingsannya, entah mengapa ternyata dalam mulutnya masih tersisa sedikit bau harum yang semerbak dan menyegarkan badan. Ia merasa amat keheranan mengapa pil yang busuk baunya bisa berubah menjadi harum dan segar setelah dipakai untuk me-ngatur pernapasan? Dengan cepat dia berpaling ke sekitar situ, namun empek bertelinga tunggal itu sudah tidak nampak lagi, segera pikirnya: "Heran, ke mana perginya empek tua?" Dengan cepat dia melompat turun dari atas pembaringan, baru saja menggunakan sedikit tenaga, mendadak lambungnya terasa mual sekali hingga tak tahan dia segera tumpah-tumpah. Sebenarnya dia masih ingat dengan pesan empeknya dan ia tak berani muntah, tapi rasa mual dalam perutnya sungguh tak ter-tahan lagi sehingga tak tahan lagi...

59

"Uaakk.." . . . gumpalan bau busuk ber-campur air berwarna hitam, segera berham-buran keluar dari mulutnya dan berceceran di atas tanah. Memandang gumpalan air hitam yang ber-ceceran di tanah, tanpa terasa timbul perasa-an curiga dalam hati Lan See giok, dengan cepat dia mencoba untuk mengatur perna-pasan, ternyata segala sesuatunya berjalan lancar, bahkan tidak terasa adanya ham-batan apa-apa. Maka sambil menghimpun tenaga dalam-nya ke dalam telapak tangan kanan, dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat ke arah mulut lorong... Hembusan angin puyuh yang dahsyat di-iringi suara desingan yang memekakkan telinga langsung menggulung ke dalam lorong itu dan membawa habis seluruh debu dan pasir yang berada di sekitar situ. Ketika angin pukulan itu sudah lewat, permukaan tanah kelihatan licin dan rata, malah di balik lorong sana kedengaran suara gemuruh yang memekakkan telinga. Kejut dan girang Lan See giok setelah men-yaksikan kejadian itu, ternyata tenaga dalamnya telah peroleh kemajuan pesat, se-hingga tanpa terasa dengan perasaan. Menyesal dan jengkel dia memandang se-kejap lagi ke arah gumpalan air hitam yang ditumpahkan ke luar tadi, pikirnya : "Coba kalau air hitam itu tidak muntah ke luar, oooh betapa beruntungnya aku, tentu tenaga dalam yang kumiliki akan jauh lebih dahsyat . . " Pada saat itulah . . . . Mendadak ia mendengar suara jebritan kaget yanjg parau dan memgekakkan telingab berkumandang datang dari arah kuburan raja-raja dalam lorong rahasia sana, suara jeritan itu penuh disertai perasaan ngeri. Menyusul kemudian kedengaran pula suara gemuruh yang dahsyat menggoncang kan seluruh permukaan bumi, banyak lapisan langit-langit kuburan yang bergu-guran ke tanah Lan See-giok terkejut sekali dia merasa amat kenal dengan jeritan kaget itu, sambil tampaknya sangat mirip dengan suara jeritan empeknya. Maka sambil menghimpun tenaga dalam-nya ke dalam telapak tangan, lalu mengerah-kan ilmu meringankan tubuhnya, dia ber-gerak menuju ke dalam lorong rahasia terse-but. Semakin ke dalam, dia merasakan getaran pada dinding gua makin keras, suaranya juga makin lama semakin mengerikan. Lan See giok gugup sekali, dengan cepat-nya dia lari menuju be depan pintu besi di muka kuburan raja-raja. Waktu itu suara aneh tadi sudah sirap, suasana dalam kuburan pun telah pulih kembali dalam keheningan, pintu gerbang besi tetap tertutup sedangkan mutiara itupun masih memancarkan sinar yang redup.

60

Lan See giok makin keheranan, dia tidak habis mengerti mengapa empek bertelinga satu itu belum juga ditemukan, terpaksa dengan suara pelan dia berseru. "Empek tua, empek tua - - -!" Namun kecuali suara yang mengandung dan memantul di empat penjuru tidak ke-de-ngaran suara lainnya. Terpaksa Lan See giok menghimpun tenaga dalamnya ke dalam sepasang tangan, yang satu dipakai untuk menutupi muka, yang lain dipakai melindungi dada, dengan sorot mata yang tajam pelan-pelan dia berjalan menuju ke depan . . . Dia tahu ada orang bersembunyi di dalam kuburan kuno itu, dan jelas apa yang telah dibicarakan dengan empeknya tadipun sudah didengar oleh orang yang "bersembunyi" di balik kegelapan tersebut. Makin dipikirkan pemuda itu merasa se-makin terkesiap, dengan kepandaian si em-pek bertelinga satu yang begitu libhaypun ia tak bjerhasil menemukgan orang yang mben-yembunyikan diri itu, bukankah hal ini menunjukkan kalau kepandaian yang dimili-ki orang itu sudah mencapai ke tingkatan yang luar biasa ? Sementara pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ia sudah tiba di kamar batu sebelah kiri, tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya terperanjat. Tombol rahasia untuk membuka pintu ger-bang kuburan raja-raja telah terbuka, sedang sesosok bayangan hitam terkapar di atas tanah. Ketika orang itu diperiksa dengan seksama, ternyata dia adalah si empek bertelinga satu. Buru dia memburu ke sisinya dan meme-riksa keadaan empeknya, tampak empek bertelinga satu terkapar dengan wajah pucat, wajah penuh air keringat dan napas membu-ru, dia kelihatan amat ketakutan selain merasa terperanjat sekali. Gejala ini menunjukkan gejala seseorang yang terkena totokan, maka Lan See giok segera berjongkok dan menepuk pelan di atas jalan darah Mia bun hiatnya. Kakek bertelinga satu itu menghembuskan napas panjang-panjang lalu mendusin. Mendadak dia melompat dari atas tanah sambil membentak keras, telapak tangan kanannya langsung dibabat ke atas tubuh Lan See giok. Dengan terperanjat bocah itu segera men-jerit. "Empek, aku. . ." Telapak tangan kanannya yang penuh dengan himpunan tenaga dalam itu segera diayunkan pula untuk menyongsong datang-nya ancaman tersebut.

61

"Blaaammm. ..!" di tengah benturan keras, hawa tajam segera memancar ke empat pen-juru, akibatnya Lan See giok dan kakek ber-telinga tunggal itu sama-sama mundur dengan sempoyongan dan. . . "Duuuk!" bahu masing-masing menumbuk di atas dinding. Mimpipun Lan See giok tidak menyangka kalau dia bisa menyambut serangan si empek bertelinga tunggal yang maha dahsyat itu, cepat dia mencoba untuk mengatur napas, ternyata tidak ditemukan sesuatu gejala yang menunjukkan ketidak beresan. Maka ditatapnya si empek yang sedang bersandar di atas dinding dengan wajah tertegun, kemudian teriaknya keras-keras: "Empek, aku yanrg datang, aku adalah Giok ji!" Dengan cepat rkakek itu menenangkan kembali pikirannya, dalam keadaan seperti ini dia tak sempat lagi untuk memikirkan mengapa Lan See giok bisa mendusin kem-bali, mengapa tenaga pukulannya masih be-gitu dahsyat dan hebat walaupun sudah mi-num pil hitam pemberiannya. Maka dengan mata melotot bentaknya keras-keras. "Apakah kau yang menyergapku barusan?" Lan See giok agak tertegun, kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali. "Bukan, bukan aku, aku baru memburu ke mari setelah mendengar teriakanmu tadi." Dengan cepat kakek itu membalikkan badannya lalu mencari ke arah ruang dalam dengan gugup, sesudah itu teriaknya gelisah: "Mana pedang dan kotak kecil itu?" Sekali lagi Lan See giok tertegun, menanti dia berpaling lagi, di jumpai batu di atas permukaan tanah telah terbuka, dia segera menjerit kaget: "Haaah, gelang besar pembuka pintu besi telah rusak!" Dengan cepat dia memburu ke depan dengan terburu-buru. Dalam pada itu kesadaran si kakek bertelinga tunggalpun telah pulih kembali seperti sedia kala, sekarang dia mengerti su-dah bahwa orang yang menotok jalan darah-nya barusan bukanlah Lan See giok. Diapun melihat gelang besi di permukaan batu itu sudah dihancurkan berkeping- ke-ping oleh seorang dengan ilmu Tay-lek-kim- kong ci, sedang rantainya juga telah pada menyusup masuk ke dalam lubang bagian bawah. Menyaksikan kesemuanya itu, paras muka si kakek berubah menjadi pucat pias, sinar matanya memancarkan rasa kaget dan cemas peluh sebesar kacang kedelai pun jatuh ber-cucuran dengan deras.

62

"Empek, kunci yang mengendalikan pintu gerbang menuju ke makam rajaraja telah putus, sejak kini tiada orang yang bisa me-masuki makam tersebut lagi, kata Lan See giok secara tiba-tiba dengan gelisah. Kakek itu tidak menjawab, dia hanya berdi-ri termangu-mangu, dia tahu hari ini telah berjumpa dengan seorang jago lihay. Setelah menutup kembali lapisan batu itu, sambil memandang si kakek dengan kehe-ranan Lan See giok bertanya. "Empek tua, sebenarnya apa yang telah terjadi?" Kakek bertelinga tunggal itu hanya me-na-tap wajah Lan See giok lekatlekat, sampai lama sekali tak mengucapkan se-patah kata-pun. Melihat empeknya tidak berbicara Lan See giok terpaksa harus berkata lagi: "Waktu Giok ji bangun, tiba-tiba kudengar empek berteriak, menyusul kemudian terdengar suara gemuruh nyaring, buru-buru Giok ji menyusul ke mari, ternyata jalan darah empek sudah ditotok orang." Sementara itu paras muka si kakek ber-telinga tunggal telah pulih kembali seperti sedia kala, meski dia masih kesal tapi ia ma-sih mempunyai pengharapan, maka kata-nya setelah menghela napas sedih. "Aaai, tampaknya kehendak takdirlah yang menentukan segala sesuatunya, sungguh tak nyana kedatangan empek terlambat selang-kah sehingga pedang Jit hoa gwat hui tong kong kiam serta kedua macam kotak kecil itu keburu dicuri orang." Lan See giok merasa terkejut sekali set-elah mendengar perkataan itu, buru-buru tanya-nya dengan gelisah. "Empek, siapakah orang itu?" "Entahlah, waktu itu empek sedang berse-medi, mendadak kudengar suara gemerincing, seperti pintu besi makam raja-raja dibuka orang. aku jadi curiga dan memburu ke situ. Kujumpai pintu makam sudah terbuka se-dang kedua bilah pedang dan kotak kecil itu sudah terletak di atas tanah, empek menjadi keheranan, baru saja akan masuk ke dalam pintu, tahu-tahu jalan darahku telah ditotok orang." Lan see giok tidak berpikir lebih jauh, ia menganggap kesemuanya itu benar, maka tanyanya lagi dengan keheranan: "Lantas di manakah orang itu sekarang?" Ketika mendengar pertanyaan itu, mencorong sinar tajam dari balik mata kakek bertelinga tunggal itu, dia seperti teringat akan sesuatu, mendadak ditariknya tangan Lan See giok dan diajak berlarian menuju ke luar makam tersebut. "Cepat lari!"

63

Lan See giok dibuat kebingungan oleh tin-dakan yang amat tiba-tiba itu, tapi me-lihat kegugupan kakek itu, dia tahu kalau keadaan pasti gawat, maka tanpa komentar, dia mengikuti di belakang nya. Ilmu meringankan tubuhnya memang lihay tapi sekarang anak itu merasa ilmunya se-makin lihay lagi, kenyataan tersebut mem-buatnya semakin berterima kasih atas pem-berian pil bau dan hitam dari si empek. Setibanya di ruang tengah, kakek itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Lan See giok untuk berhenti, tanpa berhenti dia menarik Lan See giok menuju ke luar makam. Dalam waktu singkat mereka sudah tiba di luar makam, waktu itu matahari sedang bersinar terang, pepohonan siong melambai lambai terhembus angin. Kakek bertelinga tunggal itu tidak menghi-raukan keadaan alam di sekitar sana, dengan cepat dia menghentikan gerakan tubuhnya sambil bertanya : "Di manakah letak kunci pengatur pintu masuk ke dalam makam?" "Di bawah meja altar dari batu itu," jawab si bocah gugup. Buru-buru mereka berdua menyelinap ke depan makam dan tiba di depan altar yang dimaksudkan. Lan See giok segera membungkukkan badan menyingkap rerumputan di balik ku-buran dan membuka sebuah batu, di bawah batu itu terdapat sebuah gelang besi kecil. Kakek itu nampak terkejut bercampur gi-rang, dengan mata berkedip dia mendorong Lan See giok ke samping. Karena tak diduga akan didorong, Lan See-giok jatuh terduduk di atas tanah, se-mentara sepasang matanya terbelalak lebar dengan wajah tidak habis mengerti. Dengan sikap tergesa-gesa, kakek itu segera menarik gelang besi itu keras-keras. Suara gemerincing terdengar, pintu bela-kang makam kosong itu segera menutup ra-pbat. Tiba-tiba kakek itu membentak keras, tela-pak tangan kirinya secepat kilat membabat rantai besi yang sedang dicengkeram dengan tangan kirinya itu-Tak terlukiskan rasa terperanjat Lan See giok menyaksikan kejadian itu, segera te-riak-nya terperanjat. "Empek, jangan----" Belum habis dia berkata, rantai di bawah gelang besi itu sudah terpapas kutung. "Blaaammm!" Pintu belakang makam segera merapat keras-keras, menyusul kemudian terdengar suara gemuruh dan goncangan yang amat dahsyat----

64

BAB 4 PERISTIWA DI TEPI TELAGA KAKEK bertelinga tunggal itu segera mem-buang gelang besi di tangannya dan men-do-ngakkan kepalanya sambil tertawa terba-hak bahak. Suara tertawanya keras dan mengerikan, membuat siapa pun yang mendengar merasakan bulu kuduknya pada bangun ber-diri. Lan See giok merasa terkejut sampai duduk termangu mangu, untuk sesaat lama-nya dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Menanti kakek itu telah berhenti tertawa, ia baru berseru agak tergagap: "Empek, kau. . . ." Sebelum habis Lan See giok berkata, si kakek bertelinga tunggal itu telah tertawa tergelak kembali. "Haaah . . . haaah . . . haaah . -aku hendak menggunakan cara ini untuk menunjukkan betapa lihainya aku Oh Tin san!" Sekarang Lan See giok baru mengerti, ru-panya kakek itu bertujuan untuk merusak pintu masuk makam raja tersebut, agar orang yang mencuri pedang tewas terkurung di dalam makam tersebut Berpikir sampair di situ, dia lantas berseru : "Tapi, bukankrah di dalam makam terdapat pula tombol rahasia untuk membuka pintu tersebut?" "Haaah--- haaah--- haaah... bocah bodoh, jika tombol di depan sudah putus, yang di dalam pun ikut rusak, sebab rantai itu kan saling berhubungan satu sama lain nya." sela Oh Tin san sambil tertawa seram. Lan See giok menjadi gugup, mendadak sambil melompat bangun serunya cemas: "Tapi empek. . . pakaianku masih berada dalam ruangan dalam!" "Aaah, apalah artinya pakaian? Biar lain kali enci Cu mu yang buatkan pakaian baru buat dirimu " "Tapi di sana masih ada pula senjata raha-sia andalan ayahku Khong sim liang gin tan, semuanya berada dalam buntalan." "Empek akan mewariskan segenap kepan-daianku kepadamu, kepandaian empek jus-tru jauh lebih hebat daripada kepandaian peluru perak ayahmu itu, sudahlah, kau tak usah memikirkan soal itu lagi." Selesai berkata dia lantas menarik tangan Lan See giok sambil menambahkan: "Hayo berangkat, kita bersama sama men-cari bibi Wan mu lebih dulu." Dia lantas menarik tangan bocah itu berlalu dari sana.

65

Walaupun Lan See giok merasa tak senang hati, tapi setelah pintu makam tertutup, -dia tahu gelisahpun percuma, terpaksa sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya ia mengikuti di samping kakek tersebut. Dalam hati kecilnya dia yakin kalau orang mencuri pedang dan kotak kecil itu sudah berhasil ke luar dari makam, itu berarti tin-dakan yang dilakukan empek bertelinga tunggal hanya sia-sia belaka. Sebaliknya berbeda dengan jalan pemikiran Oh Tin san. dia mengira pencuri itu masih bersembunyi dalam kuburan dan mencuri dengar pembicaraan Lan See giok, ter-utama tentang jejak kotak kecil tersebut. Begitulah, setelah ke luar dari kompleks makam raja-raja, mereka lantas menelusuri jalan-jalan kecil menuju ke depan. Sepanjang jalan, Lan See giok memper-hati-kan sekejap pemandangan di sekitar kom-pleks makam itu dengan pandangan sayu, ia merasa pemandangan di sekeliling tempat itu seakan akan telah berubah, berubah menjadi lebih mengenaskan dari pada kematian ibunya dulu. Sekarang, ayahnya yang dicintai pun telah tiada, suasana riang gembira yang masih mencekam perasaannya kemarin, kini telah berubah menjadi kesedihan yang luar biasa. Teringat akan kematian ayahnya, diapun teringat pula pada masalah siapakah musuh besar pembunuh ayahnya . . . Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan cepat tanyanya: "Empek, menurut pendapatmu, mungkinkah orang yang mencuri pedang itu adalah orang yang telah membunuh ayahku?" Agaknya Oh Tin san sendiripun sedang membayangkan kembali peristiwa yang baru dialaminya, mendengar pertanyaan tersebut ia ragu sejenak, kemudian sahutnya. "Yaa, kemungkinan saja benar, mungkin memang dia!" Mendengar itu Lan See giok segera berke-rut kening, pikirnya. "Andaikata orang yang membunuh ayah adalah orang yang mencuri pedang, berarti sekalipun, kupelajari segenap ilmu silat yang dimiliki empek juga percuma, toh empek sendiripun bukan tandingannya. . .?" Berpikir sampai di situ, dia lantas ber-tekad untuk mencari tokoh persilatan lain untuk belajar silat darinya- - Sementara dia masih termenung, menda-dak terdengar Oh Tin san menegur dengan suara dalam: "Giok ji, apa yang sedang kau pikirkan?" "Oooh- - - aku sedang berpikir, dengan kepandaian silat empek yang begitu lihai pun, kau tidak merasa ada orang menguntit di belakangmu, hal

66

ini menunjukkan kalau kepandaian silat yang dimiliki orang itu luar biasa sekali!" Merah padam selembar wajah Oh Tin san mendengar ucapan tersebut, ia segera ter-tawa dingin, lalu katanya. "Hmmm, kalau kerjanya hanya mabin kun-tit, maijn sergap secarag pengecut, meskbi ber-ilmu tinggi juga tidak terhitung seorang eng-hiong" Kemudian sambil mendengus marah dia percepat gerakan tubuhnya menuruni bukit tersebut. Lan See giok tahu kalau empeknya lagi marah, maka diapun tak berani banyak ber-bicara lagi, sambil memperketat larinya dia menyusul ke sisi tubuh kakek itu. Setelah turun dari bukit, sebuah sungai kecil terbentang di depan mata. di depan sungai merupakan sebuah kompleks tanah pekuburan yang telah terbengkalai. Ketika tiba di tepi sungai, Oh Tin san sama sekali tidak berhenti, melejit ke udara untuk menyeberanginya. Terpaksa Lan See-giok ikut mengenjotkan badannya dan menyusul pula dari belakang... Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Tin san, dia seperti teringat akan sesuatu, mendadak bentaknya keras-keras: "Giok -ji, berhenti!" Seraya berseru keras, dia segera meng-hen-tikan gerakan tubuhnya lebih dahulu. Lan See-giok segera menghentikan pula gerakan tubuhnya, tapi ia sudah terlanjur maju delapan depa dari pada empeknya. Dengan kening berkerut Oh Tin San segera mengawasi wajah Lan See giok yang putih segar itu lekat-lekat, sementara pe-rasaan tertegun bercampur keheranan menyelimuti wajahnya yang jelek. Dihampirinya bocah itu dengan langkah le-bar, kemudian diamatinya jalan darah Sim keng hiat diantara alis mata Lan See giok lekat-lekat, sampai lama kemudian ia baru bertanya "Giok ji, bagaimana rasamu sekarang?" Ditatap sedemikian tajam oleh empek nya, Lan See giok merasa jantungnya ber-debar keras, dia mengira empek bertelinga tunggal ini sudah tahu kalau obat busuk yang dimi-numnya telah muntah ke luar, maka dengan agak takut-takut sahutnya "Sekarang aku merasa baik sekali empek, benar-benar sangat baik, bahkan tenaga dalamku telah memperoleh kemajuan yang cukup pesat".

67

Sekali lagi Oh Tin sun mengamati kening Lan See giok dengan mata sesatnya, betul juga ia tidak menjumpai gejala keracunan diantara wajah bocah tersebut. Malah sebaliknyab dia nampak lebih cerah lebih bersemangat dan matanya lebih tajam, bahkan ilmu meringankan tubuhnya tidak kalah kalau dibandingkan dengan kemam-puan sendiri. Itu berarti di balik kesemuanya itu pasti ada hal-hal yang luar biasa sekali. Maka sambil manggut-manggut pura-pura menaruh perhatian khusus. dia menuding ke arah sebuah bongpay (batu nisan) yang ter-geletak tak jauh dari situ, lalu katanya dengan serius: "Coba bacoklah batu nisan ini!" Lan See giok merasa amat tegang, dia kuatir empeknya merasa tidak puas dengan hasil yang diperolehnya, maka setelah mengi-akan, sambil menghimpun tenaga sebesar sepuluh bagian, pelan-pelan dia berjalan mendekati batu nisan tersebut. Oh Tin san makin tercengang lagi ketika melihat jalan darah Thian teng hiat di tubuh Lan See giok tidak menunjukkan gejala hijau kehitam hitaman sewaktu menyalurkan tenaga, ia tidak habis mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi. Dalam pada itu, Lan See giok sudah ber-henti pada tujuh langkah di depan batu ni-san tersebut. Sambil mengawasi batu nisan itu lekat-lekat, tenaga dalam yang dihimpun ke dalam telapak tangan kanannya makin diperkuat, ia berharap batu nisan tersebut bisa di-hajarnya sampai hancur menjadi dua bagian. Maka diiringi bentakan nyaring, telapak tangan kanannya sekuat tenaga diayunkan ke bawah-"Blaaammm.. ." diantara ledakan keras yang terjadi, asap hijau mengepul diantara percikan batu dan pasir. Lan See giok menjadi tertegun, dia tak -tahu bagaimana caranya untuk menarik kembali telapak tangan kanannya yang telah dilon-tarkan ke depan tersebut. . . Paras muka Oh Tin san kontan saja berubah hebat, mimpipun dia tak menyangka kalau Lan See giok memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna, bahkan pengaruh racun keji Cui bean hwe khi ngo tok wan (pil panca bisa pembawa hawa ngantuk dan bodoh) kehilangan kemampuannya. Setelah berhasil menenangkan hatinya, Lan See giok merasa terkejut bercampur gembira, mendadak dia membalikkan badan nya dan menubruk ke arah Oh Tin san sam-bil bersorak sorai.

68

Melihat itu buru-buru Oh Tin san menun-jukkan sikap senyum dan ramahnya, bahkan menyambut kedatrangan bocah ituz dengan uluran wtangannya. Begritu menubruk masuk ke dalam pelukan kakek itu, Lan See giok segera berteriak me-manggil nama empeknya dengan penuh ke-gembiraan. "Empek--- oooh, empek---" Oh Tin san pura-pura turut tertawa gem-bira, katanya: "Giok ji, bakatmu bagus, tulangmu baik asal mau belajar dengan bersungguh hati, niscaya segenap kepandaian silat empek yang lihai dapat kau pelajari semua. Berbicara sampai di situ, tangannya meraba bahu, kepala dan punggung bocah itu, kemudian sambil tertawa dia baru ber-tanya. "Giok ji, apakah tenaga pukulanmu dulu dapat menghancurkan batu nisan ini?" Sambil mendongakkan kepalanya yang basah karena air mata kegirangan, Lan See giok menggelengkan kepalanya berulang kali. "Tidak, dulu aku hanya sanggup menghantam, batu nisan itu hingga terbelah menjadi dua, tapi selamanya tak pernah me-nimbulkan ledakan yang menghancur lumat kan batu nisan tersebut". Oh Tin san makin berkerut kening semen-tara dalam hatinya merasa terkejut, dia lantas menduga Lan See giok pasti sudah menjumpai sesuatu penemuan aneh ketika ia meninggalkan nya seorang diri tadi. Maka diapun kembali tertawa terbahak ba-hak pura-pura gembira. Belum sempat dia bertanya lagi, tiba-tiba berkumandang suara rintihan penuh rasa kesakitan dari sisi tempat itu. Lan See giok segera menangkap suara itu, dengan wajah terkejut bercampur heran ta-nyanya, kepada Oh Tin san: "Empek, suara apakah itu?" Oh Tin san tidak menjawab pertanyaan itu, hanya sepasang matanya yang tajam mem-perhatikan sekeliling tanah pekuburan itu dengan seksama dan amat berhati-hati. Sekali lagi terdengar suara rintihan, kali ini suara tersebut kedengaran berasal dari balik sebuah kuburan bobrok. Sambil membentak nyaring Lan See giok segera menubruk ke arah mana datangnya suara tersebut. Begitu sampai di tempat tujuan, paras mu-kanya Segera berubah hebat, ia tak me-n-yangka kalau di dalam kuburan yang ter-bengkalai dan peti mati, yang hancur bakal ditemukan sesosok tubuh manusia yang pe-nuh bermandikan darah segar.

69

Orang Itu mengenakan pakaian kasar dengan jenggot pendek di bawah dagunya, muka ceking yang berbentuk segi tiga pucat pias tak nampak warna darah, terutama sekali atas ubun ubunnya yang tumbuh se-buah bisul besar, membuat tampangnya ke-lihatan aneh sekali. Belum lagi Lan See giok mengajukan se-suatu pertanyaan. Tiba-tiba terasa bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Oh Tin San sudah melewati dari sisinya dan meng-hampiri orang itu. Paras muka Oh Tin san nampak pucat pias pula seperti mayat, sementara sepasang mata sesatnya berkedip kedip tanpa tujuan. Agaknya waktu itu orang yang terluka tersebut telah mendengar suara manusia, pelan-pelan diapun membuka kembali sepasang matanya dengan sayu dan lemah. Ketika orang itu berjumpa dengan Oh Tin san, sorot matanya semakin memancarkan rasa kaget dan gelisah, bibirnya yang pucat pias gemetar tiada hentinya, kulit mukanya mengejang terus. Dia seperti hendak mengucapkan sesuatu kepada 0h Tin san, tapi seperti pula merasa ketakutan setengah mati. Lan See giok sangat tidak mengerti menghadapi kejadian seperti itu, baru saja dia hendak berjongkok untuk mengajukan pertanyaan, mendadak terdengar Oh Tin san membentak keras: "Jangan kau sentuh dia. . ." Lan See giok amat terperanjat, serta merta dia melompat bangun dengan perasaan tak menentu. Paras muka Oh Tin san kelihatan berubah sangat aneh, matanya yang sesat ber-keliaran kesana ke mari dengan panik, akhirnya dengan suara rendah tapi tegang bisiknya: "Cepat kau lari ke tepi sungai dan ambil-kan sedikit air!" Lan See giok tak berani berayal, dia tahu empek bertelinga satu hendak me-nyelamat-kan orang itu, cepat-cepat dia lari menuju ke tepi sungai tersebut. Dengan cepat dia mengambil air dengan sepasang tangannya, kemudian cepat-cepat lari balik ke tempat semula. Tapi ketika ia tiba di situ, tampak oleh-nya Oh Tin san sedang memandang ke arah peti mati itu sambil menggelengkan kepala-nya berulang kali. "Lan See giok merasa amat terperanjat. dia tahu gelagat tidak beres, cepat-cepat diham-pirinya peti mati itu, ternyata orang tersebut sudah tewas dalam keadaan me-ngerikan. wajahnya masih diliputi oleh perasaan kaget dan marahnya, sementara sepasang matanya membalik ke atas. Ketika melihat pula wajah Oh Tin san, meski sikapnya jauh lebih tenang namun air keringat nampak membasahi jidat serta hidungnya.

70

Dengan perasaan tak habis mengerti Lan See giok segera bertanya: "Empek, mengapa orang itu mati?" Oh Tin san segera menghela napas pan-jang, katanya dengan sedih: "Luka yang dideritanya kelewat parah" Seraya berkata, tanpa terasa dia menyeka air keringat yang membasahi jidatnya, se-te-lah itu ujarnya lebih jauh. "Anak Giok, mari kita pergi!" Sampai di situ, dia lantas membalikkan badannya siap berlalu dari situ. "Empek. apakah kita tak akan mengubur nya lebih dulu?" seru Lan See giok dengan gelisah. Mendengar itu. Oh Tin san segera menghentikan langkahnya sambil membalik kan badan, kemudian setelah memandang ke arah Lan Seegiok, katanya: "Sungguh tak kusangka kau si bocah ber-jiwa ksatria dan penuh rasa kemuliaan, baiklah, pergilah kau untuk mencari bebe-rapa buah peti mati yang sudah rusak!" Lan See giok tidak menjawab, dia segera pergi mencari kayu. Melihat itu. Oh Tin-san segera mencibir-kan sekulum senyuman dingin yang meng-gidik-kan hati. Lan See giok merasa tidak habis mengerti, tapi dia lantas menduga mungkin empeknya menggerutu kepadanya karena banyak urusan, maka diapun tidak memikirkan per-soalan itu di dalam hati, papan peti mati yang berhasil dikumpulkan itu lantas dijajar-kan ke atas tanah. Mendadak.... Mencorong sinar mata Lan See-giok. dengan wajah berubah hebat ia membuang kayu peti mati yang masih dipegangnya tadi dan segera berjongkok. Ia menyaksikan gumpalan darah memba-sahi iga kiri orang itu, ternyata pada tulang iga ke tiga di bawah ketiak kirinya terdapat sebuah mulut luka sebesar buah tho. Dengan cepat Lan See giok menjadi sadar kembali, tampaknya orang inilah orang yang kena tertusuk oleh senjata gurdi emas dari balik dinding ruangan semalam, mungkin oleh si manusia bermata satu itu dia di buang di sana. Maka seraya mendongakkan kepalanya, dia berkata kepada On Tin san. "Empek tampaknya orang inilah yang tanpa sengaja dilukai oleh Si bayangan setan bermata tunggal dengan senjata gurdi emas se-malam. -" Oh Tin san berlagak seakan akan terkejut bercampur keheranan, kemudian sorot mata nya dialihkan ke tubuh mayat tersebut dan tidak berkata apa-apa lagi.

71

"Coba kalau empek berhasil menolong jiwa orang ini, keadaannya pasti akan lebih baikan!" seru Lan See giok kemudian sambil mengawasi mayat tersebut. "Mengapa?" tanya Oh Tin san seperti tak mengerti. "Sudah pasti orang ini mengetahui siapa-kah pembunuh terkutuk yang telah membi-nasakan ayahku!" Sembari menggumam dia lantas bekerja keras untuk mengebumikan jenazah orang itu, Dengan tenang Oh Tin-san memperhati-kan Lan See giok bekerja, dia tidak berbicara pun tidak berkutik, seakan-akan benaknya penuh dengan persoalan. Menanti Lan See-giok selesai bekerja, dia baru berkata lagi: "Mari kita pergi !" Sambil berkata, ia lantas berjalan paling dulu. Lan See-giok memandang sekejap ke arah peti mati yang sudah tertutup rapat itu, ke-mudian baru menyusul di belakang Oh Tin san. "Empek, apakah kau kenal dengan orang ini?" tanyanya kemudian dengan perasaan ingin tahu. Oh Tin san termenung dan berpikir bebe-rapa saat, kemudian baru sahutnya: "Aku tidak kenal dengan orang ini, tapi kalau dilihat dari ciri khas wajahnya yang berbentuk segi tiga, beralis lebar, kepalanya ada benjolan daging, tampaknya dia mirip sekali dengan To ciok-siu (binatang bertan-duk tunggal) Siau gi . . ." Hampir saja Lan See giok menjerit ter-tahan setelah mendengar nama orang itu, diam-diam dia merasa keheranan, kenapa gelar yang digunakan orang-orang itu semua nya menggunakan kata To ? Si mata tunggal, si lengan tunggal, si kaki tunggal, si tanduk tunggal, masih ada apa tunggal lagi? Tiada hentinya dia berpikir di dalam hati kecilnya . . Mendadak, berkedip sepasang mata Lan See giok, sekujur badannya menggigil keras, ketika ia mendongakkan kepala tampak olehnya Oh Tinsan sudah berada puluhan kaki jauhnya di depan sana. Sekarang dia telah dapat menenangkan kembali hatinya, maka tubuhnya segera ber-gerak lagi ke depan, sementara sepasang matanya yang jeli mengawasi terus telinga Oh Tin san yang tinggal satu itu. Lan See giok mempunyai persoalan di dalam hati, maka dia pun mengerahkan segenap kekuatannya untuk melakukan per-jalanan, tak selang berapa saat kemudian ia telah berhasil menyusul si kakek itu.

72

Sekali lagi dia mendongakkan kepalanya memperhatikan telinga Oh Tin san yang tinggal satu, kemudian bibirnya bergetar bebe-rapa kali seperti menggumamkan se-suatu. Tapi, bagaimanapun juga dia merasa tak punya keberanian untuk menanyakan julu-kan dari empeknya ini, tapi ingatan lain berkecamuk pula dalam benaknya untuk menyanggah jalan pemikiran yang pertama: "Aaaah- masa empek pun mempunyai ju-lukan yang mempergunakan julukan To-Sementara ingatan itu masih melintas di dalam benaknya, kedua orang itu sudah berjalan ke luar dari hutan, di depan mata sekarang terbentang persawahan dan hutan bambu. Oh Tin san mendongakkan kepalanya me-mandang sekejap matahari yang telah con-dong ke barat, lalu tanyanya dengan suara lembut: "Giok ji, kita harus menuju ke arah mana? Lan See giok mengamati sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sambil menunjuk ke arah tenggara. sahutnya: "Telusuri jalanan kecil itu menuju ke arah tenggara!" Dengan gembira Oh Tin san mengangguk, lalu serunya, dengan nada tak sabar: "Giok ji, mari kita lakukan perjalanan dengan sepenuh tenaga!" Sambil berkata die segera berangkat lebih dulu. Sambil berjalan cepat, tiada hentinya Lan See giok berpikir, setibanya di rumah bibi Wan nanti, bagaimanakah caranya ia me-ngi-sahkan peristiwa tragis yang telah me-nimpa ayahnya. Selain itu, diapun hendak memohon kepada bibi Wan untuk mengeluarkan kotak kecil itu, dia ingin memeriksa sendiri isinya apa-kah benar sejilid kitab Hud bun cinkeng yang diidamkan oleh setiap umat persilatan. Dia hendak menuturkan pula semua kisah kejadian yang dialaminya di makam kuno, dia akan menerangkan pula orang-orang yang mencurigakan itu satu per satu, agar bibi Wan nya bisa menganalisa dan menyim-pulkan siapa gerangan musuh besar yang telah membinasakan ayahnya. Kemudian, diapun membayangkan kembali si empek bertelinga tunggal itu... Mendongakkan kepalanya, ia saksikan em-pek bertelinga tunggal itu sudah berada pu-luhan kaki di depan sana, kalau dilihat dari bayangan punggungnya, tampak kalau em-peknya itupun sedang termenung. Dikejauhan sana sudah muncul sebuah dusun nelayan, di samping dusun merupa-kan sebuah telaga yang luas, itulah telaga Huan yang cu.

73

Lan See giok menyaksikan Oh Tin san ber-gerak makin lama semakin cepat, jarak mereka pun makin lama selisih semakin jauh.. Dia tak berniat untuk menyusulnya. karena pada detik itu pula dia sedang mem-pertimbangkan perlukah mengajak empeknya berkunjung ke rumah bibi Wannya. Sekalipun Oh Tin San telah membeli hio dan memeluk jenazah ayahnya sambil me-nangis tersedu sedu, bahkan membantunya sehingga ia memperoleh tenagga dalam yang hebat, tapi sekarang dia mulai merasakan banyak hal yang mencurigakan. Yaa, pada hakekatnya pukulan batin yang dirasakan Lan See giok akibat peristiwa yang terjadi semalaman ini terlalu berat, terlalu banyak, persoalan yang dihadapinya pun kelewat banyak. Benar, dia adalah seorang anak yang cer-das tapi sebelum hatinya menjadi tenang kembali rasanya mustahil baginya untuk memecahkan rentetan teka teki yang diha-dapinya sekarang. Mendadak ia mendengar Oh Tin San se-dang menegur dari depan sana: "Giok ji, apa yang sedang kau pikirkan?" Suaranya agak gemetar, seperti lagi mena-han rasa kaget yang luar biasa ..... Mendengar teguran itu, Lan See giok segera menghentikan gerakan tubuhnya sembari menengadah, entah sedari kapan, empek bertelinga tunggalnya telah berhenti di ping-gir jalan. Ia menjumpai paras muka kakek itu pucat pias seperti mayat, perasaan tegang dan ta-kutnya amat tebal menyelimuti wajahnya, dengan perasaan tidak habis mengerti dia lantas berkata: "Empek, ada urusan apa?" "Giok ji, dapatkah andaikata kita tak usah melewati kampung nelayan ini . . " tanya Oh Tin San sambil berusaha untuk menenang-kan hatinya. Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar ucapan tersebut, sinar matanya segera dialihkan ke depan. Ternyata mereka sudah tiba di kampung nelayan di mana dia berkelahi dengan si bo-cah hitam kemarin, maka tanyanya: "Kau maksudkan kampung nelayan ini?" "Yaa. apakah kita bisa tak usah melewati tempat ini?" Dengan cepat anak itu menggeleng. "Tidak mungkin, karena aku hanya kenal sebuah jalanan ini saja . . ." Belum habis anak itu berbicara, Oh Tin san kembali me-nukas dengan perasaan cemas: "Bibi Wan-mu itu sebetulnya tinggal di dusun apa?"

74

"Apa nama dusun itu aku kurang tahu, tapi aku tahu rumah yang didiami bibi Wan dalam dusun tersebut." Perasaan gelisah dan marah menbyelimuti wajah jOh Tin san, kengingnya yang kelimis bekernyit, lama kemudian dia baru ber-tanya lagi: "Dahulu, bagaimana caramu untuk pergi ke sana?" Lan See giok tidak begitu memperhatikan maksud dari pertanyaan itu, segera jawaban-nya . "Dulu, ayah melukiskan sebuah peta jalan untukku, dan akupun berjalan mengikuti peta tersebut" Mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Tin san setelah mendengar perkataan itu, selintas rasa kejut bercampur girang, meng-hiasi wajahnya yang jelek, serunya cepat: "Mana peta itu sekarang?" Tak sabar dia lantas mengulurkan tangan kanannya yang kurus kering. Sekali lagi Lan See giok menggelengkan kepalanya berulang kali. "Sayang peta itu sudah diminta oleh bibi Wan!" Paras muka Oh Tin san kembali berubah hebat, sekarang wajahnya yang jelek tampak menyeringai seram tangan kanannya yang kurus gemerutukan keras, seakan akan kalau bisa dia hendak mencekal Lan See giok sampai mampus. . "Empek mengapa kita tidak pergi ber-sama saja?" seru Lan See giok kemudian dengan perasaan tidak mengerti. Pelan-pelan air Muka Oh Tin san ber-ubah menjadi lembut kembali, senyumpun kembali menghiasi wajahnya, cuma diantara kerutan alis matanya masih nampak perasaan kaget dan gelisahnya. "Giok ji" kembali dia berkata setelah melirik sekejap ke arah dusun. "kau boleh melanjut-kan perjalanan lebih dulu, tunggu aku di de-pan dusun sana, sampai kita ber-temu lagi, tahu?" Walaupun Lan See giok tidak mengerti dengan maksud tujuan orang, tapi ia toh mengangguk juga. Oh Tin san segera menepuk bahu Lan See giok dengan hangat, lalu berkata lagi: "Giok ji, pergilah! Ingat, sampai kita bertemu lagi!" Lan See giok mengiakan, dengan perasaan bimbang dia melanjutkan kembali perjalanan nya memasuki dusun. Kini, dia sudah mulai menaruh curiga ter-hadap kakek bertelirnga tunggal itu, terutama sekali wajah jeleknya yang berubah ubah tak menentu, makin lama semakin menimbulkan perasaan muak di dalam hati kecilnya. Dia ingin sekali meninggalkan kakek itu, tapi diapun berharap bisa mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi, meski ilmu silat empek itu tidak

75

begitu lihay, paling tidak setiap bu-lan setelah menelan pil hitam yang busuk dan amis, tenaga dalamnya akan memperoleh kemajuan yang cukup pesat. Ia memang dapat merasakan manfaatnya, paling tidak tenaga dalam yang dimilikinya sekarang berapa tingkat lebih dahsyat dari pada kemarin. Berpikir sampai di situ, diam-diam ia merasa berterima kasih sekali terhadap jasa empeknya, maka rasa curiga dan muaknya pun turut lenyap tak berbekas. Hanya saja, dia masih tidak habis me-ngerti mengapa empeknya menunjukkan sikap yang begitu tegang dan gelisah, bahkan menampik untuk bersama sama melalui dusun nelayan itu--Sementara otaknya berputar. tanpa terasa ia sudah tiba di depan dusun, ketika men-dongakkan kepalanya. ia menjadi amat terpe-ranjat. Kurang lebih lima kaki di hadapannya, di bawah sebatang potion besar, duduklah si kakek berjubah kuning yang pernah di jum-painya semalam. Dengan wajah penuh senyuman kakek berjubah kuning itu duduk di atas sebuah batu hijau dan sedang mengawasinya dengan lembut, wajahnya yang merah dan penuh keramahan tampak berwarna merah ber-ca-haya di bawah sinar matahari sore. Lan see giok sama sekali tak menyangka kalau begitu masuk ke dusun nelayan itu, dia lantas berjumpa dengan kakek berjubah kuning tersebut. Sekalipun dia sedang membutuhkan kete-rangan dari kakek berjubah kuning itu ten-tang sebab musabab yang sebenarnya dari kematian ayahnya serta asal usul orang-orang yang julukannya dimulai dengan huruf "To" tersebut. Tapi sekarang ia tak dapat melakukannya, dia harus berangkat ke rumah kediaman bibi Wan-nya bersama empek bertelinga tungga1. Teringat akan empek bertelinga tunggal itu, kembali tergerak hatinya, jangan-jangan Oh Tin san kenal dengan kakek berjubah kuning itu? Atau mungkin di antara mereka terikat dendam kesumat? Berpikir sampai di situ, serta merta dia lantas berpaling ke arah belakang, tapi ba-yangan tubuh Oh Tin san sudah lenyap tak berbekas. Menanti dia berpaling lagi, kakek ber-jubah kuning itu telah berada di depan tubuhnya. Waktu itu dia sedang memandang Lan See-giok sambil tertawa terbahak bahak, lalu tegurnya dengan ramah: "Nak, apakah kau datang untuk mencari diriku?" Karena ditegur, mau tak mau Lan See -giok harus menghentikan langkahnya, dengan ce-pat dia menggeleng.

76

"Mengapa nak?" tanya kakek berjubah kuning itu sangat terkejut bercampur kehe-ranan. Sembari berkata, seperti sengaja tak se-ngaja dia melirik sekejap ke arah bawah di mana Lan See giok berasal. Waktu itu Lan See giok ingin buru-buru pergi ke tempat tinggal Bibi Wannya, diapun takut empek bertelinga tunggal itu menunggu kelewat lama di depan dusun sana ditambah pula dia memang mencurigai si kakek ber-jubah kuning sebagai salah seorang yang tu-rut ambil bagian dalam persekongkolan peristiwa pembunuhan terhadap ayahnya, maka dengan nada mendongkol dia berkata: "Mengapa? Apakah aku, harus memberi-ta-hukan kepadamu? Sekarang aku ada urusan dan tak bisa banyak berbicara denganmu." Seraya berkata dia lantas menghindari si kakek berjubah kuning itu dan berjalan menuju ke dalam dusun. Kakek berjubah kuning itu berkerut ke-ning, wajahnya kelihatan agak gelisah, sete-lah memandang sekejap ke arah dusun, mendadak ia bangkit berdiri kemudian mem-bentak keras: "Manusia jumawa, hari ini jika lohu tidak memjberi pelajaran kepadamu, kau pasti akan menganggap di dunia ini tiada hukum lagi." Sambil membalikkan badan, ujung bajunya segera dikebaskan ke depan, menggunakan kesempatan itu kelima jari tangannya segera diayunkan ke depan menghajar jalan darah Pay wi hiat di tubuh bocah tersebut. Lan See giok amat terkejut setelah mendengar seruan itu, ia tahu kalau bukan tandingan kakek berjubah kuning tersebut, terpaksa dia kabur mengambil langkah seribu. Sayang serangan itu datangnya lebih cepat, di mana angin serangan berkelebat lewat, jalan darah Pay wi hiat nya kena tertotok se-cara telak... Sepasang kakinya segera menjadi lemas dan "Bluuk!" tubuh Lan See giok segera ter-jungkal ke atas tanah. Lan See giok merasa terkejut bercampur kaget, terkejut karena ilmu silat si kakek berjubah kuning itu sangat lihay, ternyata ia dapat menotok jalan darahnya yang telah di geserkan letaknya, malah karena dengan perbuatan ini, maka tak disangkal lagi kakek berjubah kuning ini adalah salah seorang yang berkomplot untuk membunuh ayahnya. Semakin dipikirkan Lan See-giok merasa semakin gusar, sambil menggertak gigi dia mengawasi kakek berjubah kuning itu de-ngan penuh kegusaran. Semakin dipikir Lan See-giok, merasa makin gusar, akhirnya sambil menggertak gigi dan melotot besar pelan-pelan dia menghampiri kakek berjubah kuning itu.

77

Pada saat itu . . . . Dari dalam dusun sana melesat ke luar dua sosok bayangan manusia, satu berwarna hitam dan satu berwarna merah, dengan ke-cepatan bagaikan sambaran petir mereka meluncur tiba. Ketika Lan See-giok berpaling, dia segera mengenali kedua orang itu sebagai si nona berbaju merah Si Cay soat dan si bocah hi-tam Siau Thi gou adanya. Tampak Siau Thi gou berlari mendekat sambil berteriak teriak penuh kegembiraan: "Suhu...suhu, kenapa sampai sekarang kau baru kembali, semalam Thio lo koko ma-sih menunggu dirimu untuk minum arak!" Lan See giok segera mendengus bdingin, sepasang matanya yang gmerah karena mengawasi Si Cay soat dan siau Thi gou tanpa berkedip. Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu mereka berdua telah tiba di depan mata, tapi ketika kedua orang itu me-nyaksikan Lan See giok yang tergeletak di tanah, kontan saja mereka jadi tertegun. Si Cay soat membelalakkan sepasang ma-tanya lebar-lebar, paras mukanya ber-ubah beberapa kali, kejut dan girang me-nyelimuti wajahnya, segera teriaknya: "Suhu, dialah Lan See giok yang kumaksud kan sebagai bocah lelaki yang tidak roboh meski jalan darahnya tertotok!" Paras muka si kakek berjubah kuning itu bercampur aduk tak karuan, terhadap ucapan dari bocah perempuan berbaju merah itu dia hanya mengiakan belaka. Kemudian kepada Siau Thi gou katanya dengan suara dalam. "Thi gou, gusur dia pulang!" Siau Thi gou segera menenangkan hatinya lalu memburu ke depan Lan See giok, dengan kening berkerut dan menjura, katanya de-ngan suara lantang; "Saudara . . " "Tak usah banyak bicara, cepat gusur pergi!" bentak kakek berjubah kuning itu gusar. Siau Thi gou amat terperanjat, buru-buru dia membungkukkan badan dan membopong Lan See giok, kemudian cepat-cepat mem-balikkan badan dan berlalu dari situ. Jalan darah di tubuh Lan See giok sudah tertotok, seluruh badannya terasa lemas tak bertenaga, ia merasa seakan akan tubuh mulai dari pinggang sampai ke bawah seperti sudah bukan menjadi miliknya sendiri. Dalam keadaan seperti ini, selain gusar diapun merasa takut, dia kuatir kalau empek bertelinga tunggal itu tak berhasil menemu-kan tempat tinggal

78

bibi Wan nya sehingga tiada orang yang bisa menyampai kan berita tentang kematian ayahnya. Ia tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki kakek berjubah kuning itu sangat hebat, setelah tertotok sekarang, untuk kabur mungkin jauh lebih sukar daripada naik ke langit, maka semakin dipikirkan dia merasa semakin mendongkol dan gelisah. Siau Thi gou bernar-benar bertenaga besar bagawikan kerbau bajra persis seperti nama nya, sekalipun sedang membopong tubuh Lan See giok, ternyata ia masih bisa berjalan dengan langkah tegap. Dengan kening berkerut dan wajah serius kakek berjubah kuning itupun mengikuti di belakang Thi gou, dia seperti merasa murung sekali karena masalah Lan See giok. Si Cay soat, si gadis berbaju merah itu mengikuti di samping kakek berjubah kuning wajahnya yang cantik nampak pula diliputi perasaan amat gelisah dan cemas. Kini dia merasa menyesal, menyesal telah memberitahukan kepada gurunya bahwa Lan See giok tidak roboh meski jalan darahnya tertotok. Dia masih ingat, ketika gurunya men-de-ngar berita itu kemarin, paras mukanya segera berubah hebat, kemudian setelah mencari tahu arah yang dituju Lan See giok, dengan langkah tergesa-gesa dia menyusul ke luar dusun. Sungguh tak disangka, ternyata bocah itu berhasil disusul oleh gurunya. Tapi dia percaya keselamatan jiwa Lan See giok sudah pasti tak akan terancam, karena dia tahu gurunya adalah seorang kakek yang saleh dan sangat welas kasih terhadap siapa-pun. Dalam waktu singkat Siau Thi gou sudah membopong Lan See giok memasuki hutan bambu dan tiba di depan sebuah pekarangan rumah. Lan See giok mencoba untuk memandang ke depan, ternyata rumah bambu itu berderet dikelilingi sebuah halaman yang luas. "Lompat masuk!" bisik kakek berjubah kuning itu mendadak. Siau Thi gou mengiakan, dia segera melompat ke tengah udara dan melayang masuk, ke balik dinding pekarangan, sekali-pun di bahunya harus membopong tubuh Lan See giok, sewaktu kakinya mencapai permukaan tanah ternyata tidak menimbul-kan sedikit suarapun. Lan See giok tak dapat berbicara, tak dapat berkutik, tapi diam-diam ia merasa kagum sekali atas kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Siau Thi gou. Dengan membopong tubuh Lan See giok, Siau Thi gou mengitari sebuah rumah bambu dan memasuki sebuah halaman kecil.

79

Thi gou berpaling dan memandang sekejap kearah kakek berjubah kuning itu, kemudian dia berjalan masuk ke dalam ruangan sebe-lah timur. Sebelum Lan See giok sempat melihat jelas dekorasi yang berada dalam ruangan itu, tubuhnya sudah di baringkan oleh Siau Thi gou di atas pembaringan. Kakek berjubah kuning dan Si Cay soat segera menyusul pula ke dalam ruangan Saat itulah mendadak terdengar suara se-o-rang kakek yang tua dan serak bertanya: "Apakah Locianpwe telah kembali?". Sesosok bayangan tubuh yang tinggi besar telah muncul dari balik pintu ruangan. Lan See giok kembali memperhatikan orang itu, ia saksikan orang tersebut mempunyai perawakan badan yang tinggi besar dan be-rambut putih, alis matanya tebal, matanya besar, hidung singa dan mulut lebar, dia nampak gagah dan mentereng sekali. Kakek berjubah-kuning itu segera memba-likkan badan sambil menyongsong keda-tangan orang itu. Si Cay soat dan Siau Thi gou segera mem-beri hormat pula sambil memanggil: "Thio toako . . . . " Mendengar nama itu, Lan See giok segera tahu kalau orang yang masuk adalah ayah Thio Toa keng, yaitu orang yang dimaksud-kan kakek berjubah kuning itu sebagai Huan kang ciong liong ( naga sakti pembalik sungai ) Thio Lok heng . Gerak gerik Huan kang ciong liong Thio Lok heng terhadap kakek berbaju kuning itu sa-ngat hormat, tapi begitu menyaksikan Lan See giok, paras mukanya segera berubah he-bat, serunya dengan suara rendah: "Locianpwe, ternyata kau benar-benar telah menemukan si gurdi emas . - ." Belum habis Huan kang ciong liong me-nyelesaikan kata-katanya, kakek berjubah kuning itu telah memberi tanda agar dia ja-ngan berbicara lebih jauh. Tergerak hati Lan See giok, dia tahu yang dimaksudkan sebagai Huan kang-ciong liong adalah gelar ayahnya yaitu si Gurdi emas peluru perak. Kalau ditinjau dari hal ini, bisa ditarik ke-simpulan kalau Huan kang ciong liong dan kakek berjubah kuning adalah pembunuh ayahnya. Sementara itu, Huan kang-ciong liong Thio Lok-heng telah memburu ke tepi pemba-ringan dan menatap wajah Lan See giok lekat--lekat, setelah memperhatikan sekejap dengan gelisah, diapun bertanya lagi kepada kakek berjubah kuning itu dengan nada hormat:

80

"Locianpwe, bila jalan darah bocah ini ter-totok kelewat lama, apakah ia tak akan terluka?" Tampaknya kakek berjubah tuning itu mempunyai kesulitan untuk diutarakan, maka setelah termenung sebentar, katanya lembut kepada Si Cay soat, gadis berbaju merah itu: "Anak Soat, bebaskan totokan jalan darah-nya!" Dengan wajah merah dadu Si Cay soat mengiakan, lalu dengan kepala tertunduk mendekati pembaringan.. Melihat Si Cay soat berjalan mendekat. Lan See giok merasa kehormatannya seba-gai seorang lelaki merasa tersinggung, hawa amarahnya segera berkobar, dari balik sepasang matanya yang jeli segera terpancar ke luar cahaya dingin yang menggidikkan hati. Huan-kang-ciong liong yang menyaksikan kejadian itu, paras mukanya segera berubah hebat, setelah memandang sekejap ke arah kakek berjubah kuning itu dia seperti hendak mengatakan: "Tenaga dalam yang dimiliki bocah itu, tampaknya jauh melebihi tingkat usianya..." Sedang kakek berjubah kuning itu segera mengangkat bahu sambil manggut-manggut, agaknya banyak persoalan yang mencekam di dalam hatinya. Pada saat itulah, Si Cay soat telah ber-jalan ke depan pembaringan dan melepaskan lima buah pukulan berantai ke atas jalan darah Mia bun hiat di tubuh Lan See giok. Dua pukulan. yang pertama tidak menge-nai sasarannya, baru pada tepukan yang ke tiga Si Cay soat baru menghajar jalan darah-nya secara tepat. Setelah menarik kembali tangannya, d-ngan biji mata yang jeli Si Cay soat me-man-dang sekejap ke arah Lan See giok, lalu de-ngan jantung berdebar keras berjalan kem-bali. "Thi gou, temanilah dia bermain main, ingat, jangan tinggalkan tempat ini," pesan kakek berjubah kuning itu kemudian dbengan wajah serjius. Setiap organg pasti akan mengerti kalau kakek berjubah kuning itu sedang memperingatkan Siau Thi gou agar jangan membiar-kan Lan See giok lari. Siau Thi gou segera manggut-manggut dengan mata terbelalak lebar. Tampaknya kakek berjubah kuning itu ma-sih mempunyai banyak masalah lain yang hendak dirundingkan dengan Huan-kang -ciong-liong, begitu selesai meninggalkan pesannya, buru-buru dia berlalu. "Mari kita pergi!"

81

Selesai berkata bersama Huan kang ciong liong, buru-buru mereka tinggalkan ruangan itu. Si Cay soat yang menduga Lan See giok belum bersantap malampun buruburu ikut berlalu dari sana. Sepeninggal ke tiga orang itu, Siau Thi gou baru berpaling ke arah Lan See giok sambil tertawa, kemudian tegurnya: "Saudara, bagaimana perasaanmu seka-rang? Apakah ingin turun untuk berjalan jalan?" Sejak jalan darahnya bebas dari pengaruh totokan, diam-diam Lan Seegiok telah me-ngatur napasnya untuk memeriksa seluruh tubuhnya, merasa dirinya segar bugar, hati-nya segera tergerak, ia merasa bila ingin me-loloskan diri dari mulut harimau, maka ha-rus memperalat si bocah bermuka hitam ini. Maka dia duduk dan manggut-manggut, setelah itu turun dari pembaringan. Tiba-tiba Siau Thi gou merasa ruangan di tempat itu terlalu gelap, dia segera mendekati meja untuk membesarkan lampunya. Melihat itu, mencorong sinar tajam dari balik mata Lan See giok, dia merasa kesem-patan baik tak boleh di sia-sia kan dengan begitu saja, maka setelah maju be-berapa langkah, dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat dia menotok jalan darah tidur di tubuh Siau Thi gou. Waktu itu Siau Thi gou sedang menyulut lampu dan sama sekali tidak melakukan per-siapan apa-apa, mendadak dia merasakan datangnya ancaman, tahu-tahu jalan darah tidurnya sudah kena tertotok. "Bluuk---!" dia segera terjatuh ke tanah dan tertidur pulas. Berhasil denganr serangannya, Lan See giok merasa semakin gugup, pertama tama dia mengendalikan dulu debaran jantungnya kemudian baru secara diam-diam menyelinap ke luar dari kamar, lalu kabur ke belakang bangunan rumah itu. Waktu itu langit sudah gelap, bintang ber-taburan di angkasa, cahaya rembulan bersi-nar redup menerangi seluruh jagad. Tiba di tepi pagar bambu, Lan See giok menjejakkan kakinya melambung ke angkasa dan melayang turun di luar dinding. la tak berarti mengerahkan ilmu meri-ngankan tubuhnya untuk melarikan diri, se-bab hal ini akan memancing perhatian dari si kakek berjubah kuning serta si raga sakti pembalik sungai. Dengan langkah yang sangat berhati-hati dan penuh kewaspadaan, anak itu menentu-kan arah tujuannya kemudian bergerak menuju ke luar hutan bambu---

82

Suasana di dalam dusun sunyi senyap, selain suara air telaga yang menubruk tang-gul tiada kedengaran suara lain. Ke luar dari hutan bambu itu, Lan See giok merasakan matanya berkilat tajam, ternyata dia berada di luar hutan di mana Thio Toa keng sekalian berkelahi dengannya, sedang puluhan kaki lebih ke depan adalah jalan di tepi tanggul menuju ke tempat kediaman bibi Wan nya. Lan See giok merasa gembira sekali, dia tak menyangka kalau kali ini bisa kabur dengan lancar dan cepat. Setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu dan yakin kalau si kakek ber-jubah kuning maupun si Naga sakti pem-balik su-ngai tidak mengejarnya, bocah itu segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan melesat ke atas tanggul telaga Tiba di tepi telaga, dia segera menyembu-nyikan diri ke belakang sebatang pohon ke-mudian dengan sorot mata yang tajam mem-perhatikan sekejap sekeliling tempat itu. Tapi selain air telaga yang hening dengan angin yang berhembus lewat menggoyang-kan daun serta ranting, di situ tak nampak seso-sok bayangan manusia pun. Lan See giok merasa gelisah bercampur tegang, apalagi tidak menjumpai empek bertelinga satu itu berada di sana, hatinya semakin gugup dan kalut- Ia segera mendongakkan kepalanya me-meriksa setiap cabang pohon yang tumbuh di sana, dia berharap empek bertelinga satu itu menyembunyikan diri ditempat itu. Mendadak . . suatu bentakan gusar yang penuh bertenaga menggema datang dari ke-jauhan sana: "Thi gou si bocah ini kelewat jujur!" Lan See giok merasa terkejut sekali, karena suara itu berasal dari naga sakti pembalik sungai Thio Lok-heng. Dalam keadaan demikian ia tak sempat mencari si empek bertelinga tunggal lagi, ce-pat-cepat dia membalikkan badan sambil ka-bur ke atas tanggul telaga. Tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya. dia merasa kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya masih bukan tandingan kakek berjubah kuning, maupun si naga sakti pembalik sungai, bila sampai ditemukan jejaknya, belum sampai setengah li sudah pasti akan tersusul.

83

Berpaling ke arah lain, dia menyaksi-kan di bawah tanggul di tepi telaga tertambat bebe-rapa buah sampan kecil, ketika sampan-sampan itu saling bersentuhan segera me-nimbulkan suara benturan yang nyaring. Pada saat itulah . . . terdengar suara ujung baju tersampok angin berkumandang datang dari arah hutan bambu. Lan See-giok semakin tegang setelah mendengar suara itu, dia tahu mustahil baginya bisa kabur, maka diputuskan untuk menyembunyikan diri untuk sementara waktu di atas sampan. Berpikir sampai di situ, buru-buru dia menuruni tanggul itu dan melompat naik ke atas sampan yang penuh dengan tali jerami, kemudian menggunakan tali tersebut untuk menutupi badannya. Bau amis ikan yang menusuk hidung dengan cepat menyelimuti sekeliling tubuh-nya.... Dalam keadaan demikian Lan See giok ti-dak memikirkan hal semacam itu lagi, de-ngan kening berkerut dia membaringkan diri, pikirnya: "Hitunghitung masih mendingan bau amis ini dari pada bau busuk pil hitam pembebrian si empek bjertelinga tungggal." Ketika diba mencoba untuk memasang telinga, terdengarlah suara ujung baju ter-hembus angin itu sudah tiba di atas tanggul. Diam-diam Lan See giok merasa amat ter-peranjat, jantungnya berdebar semakin keras, dia tidak menyangka kalau gerakan tubuh dari kakek berjubah kuning itu jauh lebih cepat berapa kali lipat dibandingkan dengan apa yang dia bayangkan semula. Mendadak suara itu terhenti di atas tang-gul, menyusul kemudian kedengaran suara dari si Naga sakti pembalik sungai berkata dengan nada sangat gelisah: "Locianpwe, menurut pendapat boanpwe tak mungkin bocah itu lari ke arah telaga." "Tak bakal salah, aku mendengar jelas sekali, mungkin dia baru mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya setelah ke luar dari hutan bambu," sahut kakek berjubah kuning itu dengan nada pasti. Peluh dingin segera membasahi seluruh badan Lan See giok, diam-diam ia bersyukur tidak mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya sedari dalam halaman rumah itu. Kemudian terdengar kakek itu berkata lagi: "Waktu itu aku sama sekali tidak me-nyangka, tapi ia belum pergi jauh, kemung-kinan besar masih bersembunyi di sekitar tempat ini . ." Lan See giok semakin tegang lagi, saking takutnya dia sampai tak berani bernapas keras-keras, sementara jantungnya berdetak keras sekali, seakan akan hendak melompat ke luar dari rongga dadanya saja. Ia men-

84

coba mengintip dari balik celah-celah tali, dari situ ia dapat melihat si kakek berjubah kuning serta naga sakti pembalik sungai di atas tanggul. Waktu itu dengan wajah serius si kakek berjubah kuning itu sedang memperhatikan sekeliling tempat itu, tangan kanannya mengelus jenggot tiada hentinya, dia seperti me-rasa cemas dan murung sekali atas kaburnya Lan See giok. Sorot matanya yang semula ramah dan lembut, kini memancarkan sinar tajam yang menggidikkan hati. Naga Sakti pembalik sungai Thio Lok-heng juga melototkan sepasang matanya bulat-bulat dengan wajah gusar, dengan matanya yang tajam dia sedang celingukan ke sana ke mari, nampak pula dia sedang marah bercampur gelisah. Mendadak kakek berjubah kuningb itu ber-palingj ke arah muka dgusun sebelah debpan sana . . . Dengan perasaan terkesiap Lan See giok berpikir: "Jangan-jangan si empek bertelinga tunggal telah datang?" Dia mencoba untuk memasang telinga baik-baik, benar juga dia mendengar suara ujung baju yang terhembus angin. Waktu itu si Naga Sakti pembalik sungai juga telah mendengar suara tersebut, dengan cepat dia berpaling pula ke luar dusun. Tiba-tiba terdengar seseorang berseru de-ngan gelisah: "Suhu, apakah Lan See-giok berhasil dite-mukan?" Mendengar suara itu. Lan See-giok segera mengenalinya sebagai Si Caysoat atau gadis cilik berbaju merah itu. Kakek berbaju kuning dan naga Sakti pembalik sungai menggelengkan kepalanya berulang kali, sorot mata mereka tetap ber-alih ditempat kejauhan sana. Bayangan merah nampak berkelebat lewat, tahu-tahu Si Cay-soat telah berhenti di antara si kakek berjubah kuning, dengan si naga sakti pembalik sungai. Tampak paras muka Si Cay soat pucat pias, alis matanya bekernyit dan wajahnya penuh kegelisahan, sepasang mata yang jeli berkilat. Akhirnya sinar mata gadis itu dialihkan ke atas beberapa buah sampan kecil di bawah tanggul. Lan See-giok amat terkesiap, dia tahu bakal celaka bila jejaknya ketahuan, tanpa terasa peluh dingin jatuh bercucuran. Mendadak sepasang mata Si Cay soat ber-kilat, paras mukanya berubah hebat dan hampir saja ia menjerit, rupanya dia telah menemukan dua titik sinar mata tajam di balik tumpukan tali dalam sampan kecil se-belah tengah.

85

Melihat itu, Lan See giok merasa kepala-nya kontan menjadi pusing tujuh keliling, napas-nya, sesak dan jantungnya seperti melompat ke luar dari rongga dadanya. Sekarang dia baru menyesal kenapa me-nyembunyikan diri dalam sampan kecil itu sehingga jejaknya ketahuan. Berada dalam keradaan seperti ini, dia tak berani berkutik, juga tak berani lari, sebab bila sampai ketahuan maka ibaratnya katak masuk tempurung, jangan harap bisa me-lo-loskan diri lagi. Si Cay soat yang berada di atas tanggul juga membelalakkan matanya dengan wajah kaget serta tertegun, mulutnya ditutup de-ngan tangan sementara sorot, matanya nam-pak gugup bercampur panik. Peluh bercucuran dengan derasnya mem-basahi seluruh badan Lan See giok, ia tahu asal Si Cay soat menuding ke bawah sambil menjerit, niscaya dia akan dibekuk kembali. Suasana amat hening . . . beberapa saat kemudian Si Cay soat baru berhasil me-ne-nangkan hatinya seraya berpaling ke arah lain, sekalipun matanya celingukan kesana ke mari, tapi wajahnya yang gugup dan cemas kelihatan jelas sekali. Lan See giok turut tertegun, dia tidak habis mengerti apa sebabnya gadis itu tidak berte-riak? Mungkinkah dia tidak melihat jelas? Tapi setelah dipikirkan kembali, ia merasa hal ini mustahil . . . Atau mungkin gadis itu sengaja hendak melepaskan dirinya? Tapi mengapa pula dia berbuat demikian . . . Makin dipikir Lan See giok merasa makin kebingungan dan tidak habis mengerti, hati nya bergoyang seperti ayunan sampan, meski sudah diusahakan untuk ditenangkan kem-bali namun tak bisa. Sementara butiran air keringat bercucuran dengan derasnya dan membasahi kepala, rambut dan masuk ke dalam telinganya.... BAB 5 NONA CANTIK BERBAJU PUTIH DI TENGAH keheningan yang mencekam seluruh jagat, mendadak terdengar si Naga sakti pembalik sungai berkata dengan sedih: "Locianpwe, mungkin bocah itu sudah lari, lebih baik besok pagi kita langsung mencari Oh Tin san untuk minta orang ...." Kakek berbaju kuning itu menggelengkan kepalanya berulang kali, belum habis si naga Sakti pembalik sungai menyelesaikan kata katanya, ia te1ah berkata dengan gelisah:

86

"Tidak, besok pagi terlalu lambat, sekarang dan malam ini juga kita harus mencegah Lan See-giok agar jangan pergi ke tempat ke-di-aman Bibi Wan nya..." Si naga sakti pembalik sungai termenung sebentar, kemudian tanyanya dengan tidak habis mengerti: "Locianpwe, apakah kau menganggap kitab pusaka Hud bun cinkeng tersebut berada di rumah kediaman bibi Wan nya Lan See giok?" "Yaa, kemungkinan besar benar" "Tapi menurut analisa pada umumnya, mustahil kalau si Gurdi emas peluru perak Lan Khong-tai akan menyerahkan mestika yang amat berharga itu kepada seorang pe-rempuan, mungkin saja dia menyimpannya di dalam makam raja-raja . . ." "Aku telah melakukan pemeriksaan setiap sudut makam tersebut dengan seksama, bahkan setiap sudut ruangan yang mungkin bisa dipakai untuk menyimpan kotak kecil itupun sudah kuperiksa . . . " Mendengar sampai di situ, Lan See-giok yang bersembunyi di bawah tumpukan tali merasa gusar sekali, ia menduga pasti sekarang kalau kakek berjubah kuning yang berwajah ramah ini benar-benar, adalah sekomplotan dengan pembunuh-pembunuh ayahnya. Mungkin saja selama ini kakek berjubah kuning itu bersembunyi terus di dalam ku-buran, mungkin juga dialah pembunuh ayahnya, sebab hanya orang yang berilmu begitu tinggi baru bisa membunuh ayahnya dalam sekali pukulan . . . Makin dipikir Lan See giok merasa darah-nya makin mendidih, hawa amarahnya yang memuncak membuat rasa takutnya sama sekali lenyap tak berbekas. Tapi, bila teringat akan kelihaian ke-pan-daian silat yang dimiliki kakek berjubah kuning itu, ia merasa putus asa, tipis rasa-nya harapan baginya untuk membalas den-dam . . . . Sementara dia masih termenung, si Naga sakti pembalik sungai telah berkata lagi: "Menurut apa yang locianpwe saksikan se-malam, siapakah di antara Sam ou ngo to (lima tunggal dari tiga telaga) yang besar ke-mungkinannya sebagai pembunuh Lan Khong tay?" "Kelima limanya patut dicurigai semua . . " sahut kakek itu setelah termenung sebentar. Lan See giok menjadi mengerti sekarang, yang dimaksudkan sebagai Sam Ou ngo to oleh si Naga sakti pembalik sungai tentulah orang-orang yang menggunakan julukan "To" atau tunggal pada permulaan namanya.

87

Sambil memandang bintang yang berta-buran di angkasa, diam-diam ia mulai meng-hitung semua orang yang pernah di-jum-painya semalam.. . Orang pertama yang dijumpai adalah To pit him (beruang berlengan tunggal) Kiong Tek cong yang menggeledah seluruh badan-nya dengan tangan kanannya dikala ia jatuh pingsan. . . Kemudian adalah To tui thi koay (tongkat baja berkaki tunggal) Gui Pak cong yang menusuk tubuhnya dengan tongkat besinya. Orang ke tiga adalah si manusia bermuka hijau dan bergigi taring yang bernama To-gan liau pok (setan bengis bermata tunggal ) Toan Ki tin, besar kemungkinannya orang ini adalah pelaku pembunuhan atas diri ayah-nya. Kemudian adalah si manusia berbisul be-sar pada kepalanya yang tertembus oleh senjata gurdi emas, orang itu diketahui ber-nama To ciok siu (binatang bertanduk tung-gal) Si Yu gi, orang ini adalah satu satu-nya orang yang mengetahui siapa pembunuh ayahnya, tentu saja mungkin juga orang itu adalah si binatang bertanduk tunggal pribadi. Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya, mulai dari si kaki tunggal, si le-ngan tunggal, si mata tunggal dan si tanduk tunggal . . . Dari lima manusia tunggal ada empat di antaranya telah diketahui, lantas siapakah si tunggal yang kelima? Mungkinkah dia adalah kakek berambut perak yang telah menghajar dirinya hingga semaput itu . . . Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, kontan saja Lan gee giok merasa-kan hatinya bergidik. Bayangan tubuh seorang kakek bermata sesat, bertubuh kurus kering, bermuka kuda dan bertelinga tunggal dengan cepat melintas dalam benaknya. Dengan perasaan bimbang dia lantas ber-pikir: "Yaa, diapun bertelinga tunggal. . diapun kehilangan sebuah telinganya mungkinkah empek adalah salah seorang dari Sam ou ngo to tersebut . . .?" Sementara pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, mendadak terdengar si naga sakti pembalik sungai yang berada di atas tanggul berseru cemas: "Locianpwe, cepat lihat, di bawah tanggul sana tampak sesosok bayangan manusia se-dang berkelebat lewat!" Dengan perasaan tergerak Lan See giok ikut melirik, dia saksikan si naga sakti Thio Lok heng sedang menuding ke arah utara dengan cambang yang bergetar keras.

88

"Ehmm, aku sudah melihatnya!" sahut kakek berjubah kening itu sambil manggut- manggut. Si Cay soat segera mengerling sekejap ke arah Lan See giok, kemudian ujarnya kepada Si naga sakti Thio-Lok-heng: "Empek Thio, mungkin dia adalah Lan See giok?" "Bukan, dia adalah To oh cay jin(manusia buas bertelinga tunggal)!" tukas si kakek berjubah kuning sambil menggeleng. Sementara itu, meski Lan See giok yang bersembunyi di balik sampan sudah men-duga kalau empeknya yang bertelinga tunggal kemungkinan besar adalah salah seorang dari ngo to ( lima tunggal ), namun setelah mendengar julukan manusia buas bertelinga tunggal tersebut, hatinya toh merasa ter-ke-siap juga sehingga tubuhnya menggigil keras. Terdengar kakek berjubah kuning itu ber-kata lagi dengan suara murung bercampur kesal: "Sesungguhnya Lan See giok adalah se-orang bocah yang cerdik, sayang pukulan batin yang dialaminya kelewat hebat sehingga membuat hatinya tak dapat tenang dan menyumbat semua kecerdasan otaknya. Hal ini ditambah lagi dengan pancingan si Manu-sia buas bertelinga tunggal Oh Tin san yang menggunakan pelajaran ilmu silat se-bagai umpan, akibatnya mengurangi ke-curigaan Lan See-giok terhadap dirinya coba kalau bukan begitu, dengan kemampuan dari Manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san mana mungkin dia dapat mengelabuhi Lan See- giok?." "Locianpwe" si naga sakti Thio Lok heng segera berkata sambil tertawa, "jelek--jelek begini sudah setengah hidupku berkelana dalam dunia persilatan, berbicara soal luas-nya pengetahuanku, sesungguhnya boleh di-bilang lumayan juga, tapi setelah men-dengar pembicaraan dari locianpwe semalam, jangan toh Lan See giok yang masih bocah, bahkan boanpwe yang sudah jago kawakan pun dibi-kin kebingungan dan tak habis mengerti dibuatnya . . . " Kakek berjubah kuning itu menghela napas dan manggut-manggut, sahutnya: "Walaupun si Manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san termasyhur karena ke-buasan dan kekejamannya, diapun terhitung se-orang manusia licik, sayang cara kerjanya kurang mantap dan lagi tidak sabaran, lama kelamaan Lan See giok pasti dapat me-ngeta-hui belangnya tersebut- -" Belum habis ucapan tersebut diutarakan, dengan sorot mata berkilat si naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng telah menu-kas sembari berseru keras: "Locianpwe, coba kau lihat!" Sambil berkata dia lantas menuding ke arah depan dusun.

89

Kakek berjubah kuning itu berkerut kening sambil berpaling, tidak nampak bagaimana caranya menggerakkan badan, tahu-tahu dia sudah meluncur ke depan. Menyusul kemudian naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng dan Si Cay soat pun ikut berlalu dari situ. Waktu itu pikiran Lan See giok amat kacau, dia tak sempat memikirkan lagi apa yang berhasil dilihat Thio Lok heng, kenapa kakek berjubah kuning itu berlalu dan me-ngapa Si Cay soat tidak membocor-kan jejak-nya yang bersembunyi di bawah tumpukan tali. Yang dipikirkan sekarang adalah cepat-ce-pat menyusup ke rumah kediaman bibi Wan nya tanpa diketahui orang lain. Dia tahu, meski kakek berjubah kuning itu telah pergi, tapi kemungkinan besar dia akan balik lagi, sebab itu dia tidak berani naik ke atas tanggul telaga tersebut. Angin malam berhembus lewat membawa udara yang sangat dingin, pelan-pelan Lan See giok yang bersembunyi dibalik tumpukan tali dapat menenangkan kembali hatinya. . . Mendadak ia mendengar suara gelak ter-tawa yang amat keras berkumandang datang dari depan dusun sana. Lan See giok kenal suara tersebut se-bagai suara si Naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng. Tapi saat ini, dia sudah tidak menaruh minat lagi terhadap setiap perobahan yang telah terjadi di sekeliling tempat itu, karena dia sedang mempergunakan segala akal dan kecerdasannya untuk memecahkan kesulitan yang sedang dihadapinya. Pertama-tama, dia berpikir tentang kakek berjubah kuning yang berilmu tinggi itu. Ditinjau dari sikap hormat dan panggilan merendah dari Naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng, dapat diketahui kalau kakek berjubah kuning itu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam dunia persilatan. Sekalipun kakek itu mungkin bermaksud untuk mendapatkan kotak kecil milik ayah-nya dan telah menggeledah seluruh isi makam, namun belum tentu ia bersekongkol dengan sam ou ngo to. Dilihat dari sikap si kakek yang hingga kini masih belum tahu kalau kotak kecil tersebut sudah berada di rumah bibi Wan-nya, bisa disimpulkan pula kalau orang yang bersem-bunyi di belakang meja dan meng-hantam dirinya sampai pingsan itu bukanlah kakek ini.

90

Teringat akan kakek kurus berambut perak yang menghajarnya sampai semaput dari be-lakang itu, tanpa terasa Lan See giok mem-bayangkan kemba1i si Manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san. Terbayang sampai ke situ, dengan cepat dia pun menjadi sadar kembali, semua siasat busuk dari Manusia buas bertelinga tunggal pun kontan terungkap semua. Di samping itu dia membenci akan ketololan sendiri, di mana manusia buas berhati busuk yang amat berbahaya telah dianggap-nya sebagai sahabat karib ayahnya. Padahal gerak gerik maupun cara ber-bicara Manusia buas bertelinga tunggal semenjak masuk ke dalam makam sudah mencuriga-kan sekali, tapi dia justru ter-kecoh dan kena dikibuli habis habisan. Tentunya setelah menghajar dia sampai pingsan, Oh Tin san lantas menyusun rencana kejinya, dengan pergi membeli hio dan lilin, kemudian juntuk mencari tahu tempat tingbgal bibi Wan nya, mau tak mau diapun melaksanakan rencana kejinya dengan amat berhati hati. Masih untung dia tak sempat melihat jelas wajah aslinya sebelum dihantam pingsan dulu, kalau tidak mungkin selembar jiwa nya sudah melayang sekarang. Tentang pemberian obat untuk menambah kekuatan, bisa disimpulkan kalau tujuan yang sebenarnya dari tindakannya Itu adalah memberi kesempatan bagi dirinya untuk memasuki makam raja-raja dan mencuri pedang mestika dan kotak kecil yang tersim-pan di situ. Tapi segera muncul kembali pikiran lain, lantas siapakah orang yang telah menyergap Oh Tin san, merusak rantai penghubung pintu besi menuju makam raja-raja dan membawa lari pedang Jit hoa gwat hui kiam serta dua buah kotak emas tersebut? Mungkinkah orang itu sudah lama bersembunyi di dalam makam? Atau mung-kin kakek berjubah kuning yang tidak pernah meninggalkan makam? Atau bisa jadi juga si tongkat besi berkaki tunggal serta si beruang berlengan tunggal yang secara diam-diam balik kembali ke situ. Kemudian bocah itu teringat pula sikap kaget bercampur rasa tercengang dari manu-sia buas bertelinga tunggal ketika menyaksi-kan tenaga dalamnya peroleh kemajuan pesat, mengapa begitu? Dia tak dapat memecahkannya. . Tapi kematian dari si Binatang bertanduk tunggal, jelas kematian tersebut disebabkan oleh tindakan keji manusia buas bertelinga tunggal ketika ia disuruh pergi mengambil air Ia menduga, manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san sengaja membunuh orang itu, karena dia kuatir binatang bertanduk tunggal

91

membocorkan soal ter-simpannya kotak kecil itu di rumah bibi Wan kepada orang lain. Sebagaimana diketahui, hanya Si binatang bertanduk tunggal Si Yu gi dan Manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san saja yang me-ngetahui kabar berita tentang kotak kecil itu, tapi mungkin juga dikarenakan sebab-sebab lainnya. Makin dipikir dia merasa makin membenci akan kebodohan sendiri, tentu saja dia lebih-lebih membenci Manusia buas bertelinga tunggal itu. Demikianlah, sambil berbaring di atas sampan sambil memandang bintang yang bertaburan di angkasa, tiada hentinya bocah bitu membayangkajn tentang lima gmanusia tunggalb dari tiga telaga. Dia masih ingat dengan ucapan kakek berjubah kuning itu: "Kelima limanya mencu-rigakan," dari sini dapat ditarik kesimpulan kalau Manusia buas bertelinga tunggal pun merupakan salah seorang manusia yang patut untuk dicurigai. Berpikir sampai di situ, dia lantas bertekad untuk segera berangkat ke rumah kediaman bibi Wan nya mumpung malam masih kelam dan suasana di sekeliling tempat itu masih hening. Mendadak.... Pemuda itu merasakan hatinya bergetar keras, dia merasa sampan kecil, itu sedang bergerak pelan ke arah depan. Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok menghadapi kejadian tersebut, perasaan hatinya yang baru tenang kontan saja menja-di tegang kembali . . . Dengan gugup dia melompat bangun dari balik tumpukan tali temali dia memandang sekitar tempat itu, tapi hatinya makin terpe-ranjat lagi, ternyata bayangan dari tanggul sudah tidak nampak lagi. Sekeliling tempat itu hanya nampak air, sedang tujuh delapan kaki di depan sana adalah hutan gelaga yang luas dan amat le-bat. Bunga gelaga yang berwarna putih bergo-yang terhembus angin, sekilas pandangan mirip awan putih di angkasa. Begitu dia bergerak bangun, sampan yang mulai berjalan lambatpun mendadak melun-cur ke depan semakin cepat. Tak terlukiskan rasa gugup dari Lan See giok ketika itu, dia tahu di bawah sampan pasti ada jago lihay yang sedang mendorong sampan itu bergerak ke depan, tapi ia tidak tahu siapa gerangan orang tersebut dan mengapa membawanya menuju ke tengah telaga. Sementara itu sampan kecil itu bergerak makin cepat ke depan, kini sampan tadi se-dang melesat ke arah satu satunya jalan air yang bebas dari tumbuhan gelaga.

92

Dengan gugup Lan See-giok lari menuju ke buritan sampan, tapi di sana pun dia hanya bisa menyaksikan gelrembung air dan zbunga ombak yanwg memercik di artas permukaan. Dengan perasaan gelisah dia lantas ber-tanya kepada diri sendiri: "Siapakah orang ini.. . ? Siapakah dia. . .? Mengapa membawa aku ke mari . . . ?" Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, bayangan tubuh seorang kakek bercambang yang berperawakan tinggi besar segera melintas di dalam benaknya, tanpa terasa ia berbisik: "Aaaah, jangan-jangan si Naga sakti pem-balik sungai Thio Lok heng . . . " Sekali lagi dia melongok ke buritan sampan ke balik air yang bergelembung. "Yaa, sudah pasti perbuatan dari si Naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng, hanya dia yang memiliki ilmu menyelam di dalam air yang begini sempurna..." sekali lagi dia berguman. Dalam pada itu, sampan kecil itu sudah menembusi jalan air diantara tumbuhan jela-ga yang lebat dengan kecepatan yang makin lama semakin tinggi. Dengan gugup Lan See giok memperhati-kan sekitar tempat itu, dia lihat jalan air itu luasnya cuma delapan depa, sekeliling-nya penuh dengan tumbuhan gelaga setinggi satu kaki lebih, besarnya se lengan bayi dan bunga berwarna putih seperti awan me-nyeli-muti di atasnya. Cepat dia menenangkan hatinya dan ber-pikir lebih jauh: "Seandainya orang itu adalah si Naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng, niscaya aku akan dibawa kembali ke perkampung-an nela-yan tersebut, tapi sekarang aku di bawa ma-suk ke dalam hutan gelaga yang begini luas dan lebat. . . siapakah orang itu?" Satu ingatan segera melintas di dalam benaknya dan cepat anak muda itu sadar kembali. "Yaa...yaa, sudah pasti orang yang berada dalam air adalah perompak dari telaga Huan yang ou..." demikian dia berpikir. Teringat akan hal ini, api kemarahan segera berkobar dalam benak Lan See giok, sekali lagi dia menghimpun tenaga dalamnya ke dalam telapak tangan kanan, kemudian diangkatnya tangan tersebut ke udara siap melakukan penyerangan. Tapi, tatkala sorot matanya membentur dengan permukaan air di sekeliling sampan, telapak tangan kanannya yang sudah siap melancarkan serangan itu pelan-pelan di tu-runkan kembali..

93

Dengan kemampuan tenaga serangan yang dimilikinya sekarang, tidak sulit baginya untuk membinasakan orang yang berada di balik perahu akan tetapi dasar sampan itu pasti akan remuk dan diapun pasti akan ter-cebur ke dalam telaga dan mati tenggelam. Sementara itu, sampan kecil tadi sudah ber-belok ke kiri berputar ke kanan menembusi hutan gelaga yang luas, dalam waktu singkat Lan See giok sudah tak bisa membedakan lagi mana sebelah timur dan mana sebelah barat. Lan See giok benar-benar merasa sangat gelisah, dia tak ingin terjatuh kembali ke mulut serigala setelah lolos dari sarang hari-mau. Satu ingatan segera melintas dalam benak nya, cepat dia mengeluarkan senjata gurdi emas milik ayahnya. Seketika itu juga cahaya emas yang me-nyilaukan mata memancar ke empat penjuru. Sambil menggenggam gurdi emas itu, Lan See giok merasa tegang sekali, selembar nya-wa manusia dalam waktu singkat akan mus-nah di tangannya. Tapi demi keselamatan jiwa sendiri, mau tak mau terpaksa dia harus bertindak nekad. Cahaya emas berkelebat lewat, senjata gurdi emas yang panjangnya mencapai tiga depa itu tahu-tahu sudah menembus dasar sampan tersebut dan menusuk ke dalam air telaga. Menyusul tusukan itu, sampan kecil ter-se-but mengalami goncangan yang amat keras, ombak nampak menggelegar ke mana-mana, darah segarpun memancar ke luar dari dalam air dan menyebar ke sekeliling tempat itu. Lan See giok tahu kalau tusukannya ber-hasil melukai orang yang ada di dalam air, tapi dia tak berani segera mencabut ke luar senjata gurdi emasnya--Tak selang berapa saat kemudian gon-cangan di bawah sampan kecil itu telah ber-henti. Peluh dingin telah membasahi seluruh ji-dat, tubuh dan tangan kanannya yang meng-genggam senjata gurdi emas itu, dia merasa-kan seluruh badannya sedikit agak gemetar. Lambat laun sampan kecil itupun berhenti bergerak dan melintang di tengah jalan air tersebut. Setelah berhasil menenangkan hbatinya, Lan Seej giok menghembugskan napas panjbang dan mencabut ke luar senjata gurdi emas itu, darah segar tampak memancar ke luar me-ngikuti lubang pada dasar sampan itu. Dengan perasaan terkejut pemuda itu mencari kain dan menyumbat lubang pada dasar sampan tersebut.

94

Tiba-tiba terjadi lagi goncangan keras pada sampan kecil itu . . Lan See giok tahu, orang yang berada di dasar perahu itu belum putus nyawa, kemungkinan besar orang itu akan menggunakan sisa tenaga yang dimilikinya untuk menarik dia masuk ke dalam air. Teringat akan bahaya tersebut, dia merasa agak gugup, padahal di atas sampan itu se-lain setumpuk tali hanya terdapat sebuah bambu sepanjang lima depa. Dengan cepat Lan See giok menyelipkan senjata gurdi emasnya ke pinggang. kemu-dian dengan menggunakan bambu panjang itu dia mulai mendayung dengan sekuat tenaga . . . Dia mendayung tiada hentinya dan sampan itupun berputar, tiada hentinya pula . . . Bila bambu itu mendayung ke kiri maka sampan itupun berputar ke kiri, bila menda-yung ke kanan, sampan itupun berputar ke sebelah kanan, Melihat keadaan itu, Lan See giok menjadi gelisah sekali sampai mengucurkan keringat dingin, akhirnya dia berdiri termangu mangu dan tak tahu bagaimana caranya untuk bisa menggerakkan sampan tadi menembusi hu-tan gelaga tersebut. Sekarang permukaan air telaga telah tenang, warna merah pun sudah makin tawar, tapi air telaga yang bocor ke dalam sampan itu sudah mencapai beberapa inci. Lan See-giok yang berada dalam keadaan seperti ini merasa gelisah bercampur gusar, dia takut berjumpa lagi dengan perampok lain. Pada saat itulah, mendadak terdengar suara air memecah ke tepian bergema tiba dari kejauhan sana. Lan See giok amat terperanjat, dia tahu lagi-lagi muncul perompak di tempat itu. Makin lama suara itu bergerak makin mendekat, agaknya suara itu berasal dari jalan air di sebelah kiri. Dengan cepat dia mengalihkan sinar ma-tanya ke kiri, tampaklah pada ujung jalan air tersebut terdapat setitik bayangan abu-babu yang sedangj bergerak mendegkat, kemudian mbuncullah sebuah sampan kecil. Lan See giok kembali merasa gugup ber-campur panik, sekali lagi dia mencoba untuk mendayung dengan bambu panjang, tapi sampan tersebut masih saja berputar putar di tempat. Cepat sekali gerakan sampan kecil terse-but, hanya dalam waktu singkat sampan itu sudah berada tujuh kaki di hadapannya. . Sadarlah Lan See giok bahwa tiada ha-rapan lagi baginya untuk menyembunyikan diri, ia segera membuang bambu itu dan me-loloskan

95

senjata gurdi emasnya, kemudian sambil berdiri di ujung geladak, ia bersiap siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Lambat laun sampan itu makin dekat, sekarang dia dapat melihat seorang gadis bertubuh langsing, berambut panjang dan menyoren sebilah pedang berdiri di ujung sampan itu. Di buritan sampan duduk pula dua orang dayang berpakaian ringkas yang memegang dayung, di antara percikan air telaga, sam-pan kecil itu meluncur tiba dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya. Dalam waktu singkat sampan kecil itu sudah berada lebih kurang tiga kaki di hada-pannya. Mendadak terdengar suara bentakan nyaring: "Kawanan tikus dari mana yang berani mendatangi benteng Wi lim poo ditengah malam buta begini?" Berbareng dengan suara bentakan terse-but, gadis yang berada di sampan tersebut telah mengayunkan tangannya ke depan. Setitik cahaya bintang yang disertai dengan suara desingan angin tajam langsung melun-cur ke tengah udara dan mengancam tubuh Lan See giok. Agaknya Lan See giok tidak menyangka kalau gadis itu begitu tak tahu aturan, dia lantas menduga kalau gadis itupun seorang perompak. Serta merta dia melejit ke tengah udara dan meloloskan diri dari sambitan senjata rahasia tersebut. "Pluuung!" senjata rahasia tadi segera ter-cebur ke dalam air telaga beberapa kaki di belakang sampan. Kembali terdengrar suara bentakan nyaring sekali lagi muncul rbeberapa buah titik caha-ya tajam yang menyerang tiba. Lan See giok gusar sekali, dia menggetar-kan tangannya, senjata gurdi emas itu segera menciptakan selapis cahaya tajam yang melindungi seluruh badannya. "Traaang, traaang, traaang." benturan nyaring yang memekakkan telinga segera berkumandang tiada hentinya, seluruh an-caman senjata rahasia tersebut berhasil di-patahkan semua. Disaat Lan See giok sedang repot meng-ha-lau ancaman senjata rahasia itulah .... Mendadak sampan kecil itu menerjang ke hadapannya, kemudian tampak selapis ca-haya tajam menyambar ke pinggang Lan See giok. Tak terlukiskan rasa kaget anak muda itu menghadapi datangnya ancaman, cepat tubuhnya melejit dan menjatuhkan diri ke dalam sampan: Berbareng dengan menyambar lewatnya dari sisi sampan kecil tersebut dan meleset sejauh dua kaki lebih.

96

Lan See giok tak berani berayal, cepat dia menghantam pinggiran sampan lawan de-ngan ayunan telapak tangan kirinya, kemu-dian dengan cekatan dia melompat bangun, tapi tak urung bajunya basah kuyup juga oleh air telaga yang telah menggenangi sam-pan kecil tersebut. Dalam pada itu, kedua orang dayang terse-but telah memutar sampannya dengan ce-katan, kini sampan tersebut meluncur datang lagi dengan kecepatan tinggi me-ner-jang sampannya. Lan See giok merasa cemas dan gusar meng-hadapi kejadian seperti ini dengan sorot mata berkilat dia menunggu datangnya ter-jangan dari sampan lawan. Sekarang dia dapat melihat jelas kalau gadis itu berbaju putih, sedangkan dua orang dayangnya berwarna hijau pupus. Gadis berbaju putih itu berusia delapan sembilan belas tahunan, bermata besar ber-hidung mancung dan berbibir kecil ber-warna merah, mukanya berbentuk kwaci dan kulit badannya putih bersih . . . . Belum habis Lan See giok mengamati gadis itu, sampan lawan kembali telah menerjang tiba. Gadis itu segera membentak keras, pedangnya dengan jurus Gin-hoo-ci li ( menusuk ikan leihi di sungai ) langsung menusuk ke perut Lan See-giok, sementara sampan itu pun langsung menerjang perahu-nya. Lan See-giok amat terperanjat, dia tak be-rani menyambut datangnya ancaman terse-but, buru-buru tubuhnya melejit ke tengah udara . . . . . "Blaaammm. ..!" diantara suara benturan nyaring, air memercik ke empat penjuru, sampan tersebut sudah kena tertumbuk se-hingga terbalik. Setelah berhasil dengan terjangannya, sampan kecil itu meluncur lagi ke depan Lan See giok yang berada di tengah udara dengan cepat meluncur ke bawah dan me-layang turun di atas sampan yang terbalik itu. Sekarang dia baru mengetahui kalau pada ujung sampan lawan rupanya dilapisi dengan lempengan baja yang sangat kuat. Gadis yang berada di atas sampan itu pun nampak terkejut sekali, tampaknya dia tak mengira kalau lawannya yang paling banter baru berusia lima enam belas tahun itu su-dah memiliki ilmu meringankan tubuh yang begitu sempurna. Tapi dengan cepat sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya, agaknya baru sekarang dia dapat melihat kalau Lan See giok berwajah bersih dan menarik, setelah dewasa nanti niscaya merupakan se-orang pemuda tampan yang menawan hati.

97

Lan See giok juga agak tertegun, dia saksikan senyuman gadis itu amat mem-pesona-kan hati, terutama sepasang matanya serasa membetot sukma, penuh dengan pancaran sinar mempesona hati. Tampak gadis berbaju putih itu memberi tanda kepada kedua orang dayangnya dan sampan tersebut menerjang lagi dengan ke-cepatan yang luar biasa. Tergerak hati Lan See giok menghadapi keadaan seperti ini, dia bertekad hendak membereskan kedua orang dayang tersebut lebih dulu agar sampan itu tak ada yang mendayung, setelah itu dia baru berusaha untuk menaklukkan si nona baja putih dan berusaha melarikan diri . . . Belum habis dia berpikir, sampban kecil itu sekali lagi telah menerjang tibab. Lan See giok tidak berdiam diri belaka, se-belum sampan lawan mencapai sasaran, dia telah melejit dahulu ke tengah udara. Ternyata gadis itu hanya merentangkan pedangnya saja di depan dada, ia tidak nam-pak berniat untuk melancarkan tusukan. "Blaaammm---!" tubuh Lan See giok melun-cur ke bawah dengan kecepatan tinggi. dite-ngah percikan bunga air, ujung kakinya telah menginjak di buritan sampan. Kemudian sambil membentak keras dia lepaskan sebuah tendangan kilat menghajar pinggang seorang dayang berbaju hijau yang sedang mendayung perahu. Agaknya dayang berbaju hijau itu sama sekali tidak menyangka akan datangnya ten-dangan itu, saking kagetnya sambil mem-bentak keras dia segera menceburkan diri ke dalam air. Percikan bunga air memancar ke empat penjuru, dayang itu tahu-tahu sudah terce-bur ke air dan menjadi ikan duyung. Lan See giok menjadi agak tertegun me-lihat hal itu, dia tahu bakal celaka kali ini, dayang tersebut sudah pasti pandai menyelam di dalam air... Belum habis ingatan tersebut melintas, dayang berbaju hijau lainnya telah meng-ayunkan dayungnya untuk menghantam ke pinggangnya. Dengan jurus Kim ciam teng hay (jarum emas tenangkan samudra) Lan See-giok me-ngayunkan senjata gurdi emasnya ke bawah menyapu dayung kayu itu. "Blaaammm . .!" di tengah jeritan tertahan, dayung kayu di tangan dayang berbaju hijau itu terlepas dari genggaman dan mencelat ke tengah udara. Baru saja Lan See-giok akan melepaskan tendangan lagi, si gadis berbaju putih itu su-dah membentak nyaring, pedangnya secepat kilat menusuk datang. Bersamaan itu pula, dayang yang berada di dalam air mengayunkan pula senjata palu berantainya menyerang pinggang Lan See -giok.

98

Menghadapi kerubutan dari depan dan belakang, Lan See-giok tak sanggup me-laku-kan perlawanan lagi, dengan cepat dia melejit ke udara dan melayang kembali ke atas sam-pan yang telah terbalik itu. Melihat lawannya telah kjabur ke sampan gyang terbalik dbengan wajah girang gadis ber-baju putih itu segera berteriak keras: "Tangkap dia! Bawa pulang ke benteng menunggu keputusan dari pocu!" Baru saja perintah diberikan, dayang ber-baju hijau itu sudah menyelam ke dalam air. Dua orang dayang itu segera memisahkan diri ke kiri dan ke kanan, kemudian ber-gerak mendekati sampan yang terbalik itu dengan kecepatan luar biasa. Lan See giok menjadi gugup setelah me-nyaksikan kejadian ini, karena dia sama sekali tidak tahu akan ilmu berenang, asal sepasang kakinya menempel di air, niscaya badannya akan tenggelam. Dengan cepat otaknya berputar, dia me-rasa satu satunya jalan yang dimilikinya sekarang untuk kabur adalah secepatnya menakluk kan gadis berbaju putih yang berada di sam-pan itu, kemudian memaksa dua orang dayang tersebut untuk menghantarnya ke luar dari sana. Berpikir demikian, dia lantas melejit ke udara, dengan gerakan Hay yan keng sui (bu-rung manyar menyambar air) dia terjang ke arah sampan lawan, sementara senjata gurdi emasnya dengan jurus Kim coat sim (ular emas menjulurkan lidah) menusuk ke ulu hati lawan dengan disertai kilatan cahaya emas. Waktu itu, si nona berbaju putih itu se-dang melamun di ujung perahu, sebab itu dia tak mengira kalau Lan See giok bakal menerjang tiba sambil melancarkan serangan Menanti dia sadar akan datangnya bahaya untuk turun tangan sudah tak sempat lagi. Maka sambil membentak keras, cepat-ce-pat dia mengundurkan diri ke buritan sampan. Lan See giok amat gembira, sambil mem-bentak dia menerjang lebih ke depan, senjata gurdi emasnya diputar sedemikian rupa menciptakan beribu ribu bayangan gurdi emas yang langsung mengurung seluruh badan gadis tersebut--Padahal waktu itu ujung kaki si nona ber-baju putih tersebut baru saja mencapai tanah, melihat datangnya cahaya emas yang mengurung tubuhnya dengan membawa desingan angin dingin, ia menjerit keras karena kaget, lalu dengan jurus Jiau yan -huan-sin (walet lincah membalikkan badan) cepat-cepat dia kabur ke dalam air.

99

Sesungguhnya Lan See giok sama sekali tak berpengalaman dalam suatu perta-rungan, ditambah lagi pertarungan tersebut ber-langsung di atas sampan, pada rhakekat-nya dia tak pernah menduga kalau lawannya bakal kabur ke dalam air. Tahu-tahu pandangan matanya terasa ka-bur, dan bayangan tubuh dari gadis berbaju putih itupun sudah lenyap tak berbekas.. Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok menghadapi kejadian seperti ini, sambil membentak keras sepasang lengannya di putar kencang kemudian secepat kilat tubuhnya meluncur ke bawah . . . Meskipun gerakannya cukup cepat akibat-nya tubuh itu masih terlambat berapa depa untuk mencapai di atas sampan. Tak ampun lagi ia segera tercebur pula ke dalam telaga. "Byuuurrr---!" bunga air memercik setinggi beberapa depa, tubuhnya langsung tengge-lam ke dasar telaga yang dingin. Secara beruntun Lan See giok meneguk beberapa tegukan air telaga, cepat-cepat dia menutup pernapasannya sambil berusaha keras untuk mengendorkan badannya, tapi senjata gurdi emasnya dipegang kencangkencang. Sesaat sebelum tubuhnya tercebur ke dalam air tadi, telinganya secara lambat-lam-bat mendengar dua kali teriakan gembira dan sekali jeritan tertahan--Baru saja badannya tenggelam, sebuah lengan tahu-tahu sudah merangkul pinggang nya dan menyeretnya ke atas permukaan air. Tak selang berapa saat kemudian, tubuh-nya sudah terseret ke luar, belum lagi mem-buka matanya, anak muda itu sudah menghembuskan napas panjang-panjang. Mendadak terdengar seseorang menjerit keras "Nona, cepat ceburkan lagi, dia belum pingsan!" Lan See-giok merasa amat terkejut, dia merasa menyesal sekali setelah mendengar ucapan tersebut, dia menyesal tidak seha-rusnya menarik napas panjang-panjang. Tapi segera terdengar pula nona itu mem-bentak keras: "Hayo cepat sambut tubuhnya dan baring kan ke atas sampan" Lan See giok baru tahu sekarang kalau orang yang menyeretnya ke luar dari air adalah nona berbaju putih itu. Baru saja ia mengendus baru harum se-merbak, empat tangan dari dua orang dara tersebut telah menyambut tubuhnya. Kemudian diapun merasa jalan darah tidurnya ditotok oleh gadis berbaju putih itu.

100

Lan See giok mengetahui maksud hati dari nona itu. . maka dia pun segera berlagak, seakan-akan sudah tertidur pulas. Setelah ditegur oleh nonanya tadi, ter-nyata sikap kedua orang dayang tersebut terhadap Lan See giok menjadi lebih sungkan, dengan cepat kedua orang itu membaringkan tubuh pemuda itu ke dalam perahu. "Bluuk--!" Lan See giok merasa ping-gang-nya agak sakit karena membentur ujung sampan, tapi dia menggertak giginya keras-keras dan tidak membiarkan mulutnya mengeluarkan suara. Kembali terdengar seseorang membentak nyaring: "Budak sialan, apakah tidak bisa pelan sedikit?!" Tak berapa lama kemudian, sampan itu terasa bergoyang keras, Lan Seegiok tahu si gadis dan kedua orang dayangnya telah naik ke atas perahu itu. Tanpa terasa Lan See-giok membuka sedikit matanya dan mengintip ke depan. Kalau tidak melihat masih mendingan, begitu melirik, jantungnya kontan berdebar keras, mukanyapun turut berubah menjadi merah padam karena jengah. Rupanya seluruh tubuh si nona berbaju putih maupun kedua orang dayang itu sudah basah kuyup karena tercebur, dengan begitu pakaiannya menjadi melekat dengan badan dan terlihatlah seluruh lekukan badan mereka. Kedua orang dayang itu, yang seorang gemuk dan yang lain kurus, tapi payudara mereka kelihatan montok dan sudah matang. Sebaliknya gadis berbaju putih itu tampak memiliki potongan badan yang indah, selain payudaranya besar dan montok, bpinggangnya amajt ramping dengagn pinggul yang bbesar, potongan badannya benar-benar aduhai. Terutama puting susunya yang sudah matang di ujung payudara, dibawah pakaian berwarna putih yang basah kelihatan menonjol ke luar sangat menantang, diantara dengusan napasnya terlihat naik turun menantang, cukup bikin jantung orang berdebar keras. Lan See-giok hanya melirik sekejap kemudian memejamkan matanya rapat-rapat, jangankan melirik lagi, bahkan untuk bernapas lebih keraspun tidak berani. Mendadak terdengar gadis itu berseru kembali: "Cepat kembali ke benteng, saat ini mungkin Lo-pocu sudah kembali ke benteng!" Kemudian terdengar suara air memecah ke tepian dan perahu kecil itu bergerak cepat ke depan.

101

Lan See-giok berbaring di dalam sampan sambil memejamkan matanya rapat-rapat, kadangkala dia membuka sedikit matanya untuk mencuri lihat keadaan di luar sampan. Malam yang gelap mencekam seluruh jagat, bintang bertaburan di angkasa, tapi tidak nampak cahaya rembulan sehingga praktis suasana di sekitar sana gelap gulita. Kedua belah sisi jalan air penuh dengan tumbuhan gelaga yang bergoyang menimbul-kan suara gemerisik, kecuali itu hanya suara air yang memecah ke tepian saja yang ter-dengar memecahkan keheningan. Walaupun Lan See giok masih menggeng-gam senjata gurdi emasnya kencang-ken-cang, tapi ia tak berniat sama sekali untuk melompat bangun dan melancarkan serangan terhadap ke tiga orang gadis itu. Ia cukup sadar, seandainya serangannya tidak berhasil maka bukan mustahil jiwanya akan terancam. Padahal dia tak pandai mengemudikan sampan, diapun tak mengerti ilmu berenang, bahkan arah mata angin pun sudah dibikin kacau balau. Maka satu-satunya jalan yang bisa dilaku-kannya sekarang adalah bersabar untuk se-mentara waktu sambil menantikan peru-bahan selanjutnya . . . Mendadak terendus bau harum semerbak menusuk penciuman pemuda itu. Lan See giok merasakan hatinya berdebar keras, terasa olehnya bau harum itu aneh sekali dan cukup membuat jantung orang bebrdetak keras. j Baru saja diga akan melirik,b sebuah sapu tangan basah telah digunakan untuk me-nye-ka jidatnya, kemudian dengan lembut berge-ser ke bawah untuk menyeka air di atas wa-jahnya, selanjutnya dagunya, rambutnya, pipinya... Lan See giok pura-pura tertidur nyenyak, napasnyapun diatur sedemikian rupa agar gadis berbaju putih itu jangan sampai tahu kalau dia hanya purapura tidur, meski demikian dalam perasaan tegang bercampur gugup, diapun dapat merasakan sesuatu ke-hangatan yang nyaman. Menurut dugaannya, orang yang menyeka wajahnya sekarang tak lain adalah si nona berbaju putih itu. Jari tangan si nona yang lembut seringkali menyentuh pipinya yang halus, hal ini mem-buat Lan See-giok merasa gatal tapi nyaman. Tak lama kemudian terdengar gadis ber-baju putih itu berseru: "Siau lian, lepaskan tanda pengenal!" Sampan yang sedang bergerak majupun segera melambat dan akhirnya berhenti.

102

Lan See giok pun merasa gadis berbaju putih itu bangkit sambil maju ke depan, ta-hulah pemuda itu bahwa mereka telah mendekati Benteng Wi lim Poo seperti apa yang dikatakan si nona tadi. Maka diam-diam dia melirik kembali ke se-kitar sana, ternyata di sekitar sampan sudah tidak nampak tumbuhan gelaga lagi, mung-kin mereka sudah berada di tengah hutan gelaga yang mendekati benteng Wi lim poo. Tampak si dayang berbaju hijau itu mem-buat api lalu memasang empat buah lentera kecil berwarna merah dan digoyang goyang kan secara beraturan sekali. Lan See giok tak berani mendongakkan kepalanya, karena itu diapun tak dapat me-nyaksikan keadaan di depan sana serta berapa jauh lagi jaraknya dengan benteng Wi lim poo tersebut. Tapi setelah budak berbaju hijau itu meng-gerakkan lentera kecilnya, sampan kecil itu segera didayung kembali sehingga meluncur ke depan dengan cepat. Tak selang berapa saat kemudian, tiba--tiba Lan See giok merasakan matanya agak silau, ketika dia mencoba melirik tampaklah olehnya ada sebuah lampu lentera merah yang amat besar tergantung di tengah angkasa dan memancarkan cahaya ke empat pen-juru. Di atas lenterar itu tertera huzruf besar dari wkertas putih, trapi berhubung jaraknya kele-wat jauh, sehingga Lan See giok tak dapat melihat dengan jelas. Kurang lebih tujuh delapan depa dari len-tera merah yang pertama, terdapat pula lampu lentera yang kedua, di atas lentera inipun tertera huruf besar yang terbuat dari kertas putih. Tak lama kemudian, muncul pula lampu lentera merah yang ke tiga --Sebuah bangunan benteng yang tinggi dan kokoh muncul jauh di belakang lentera merah yang ke tiga, di samping itu Lan See giok juga dapat melihat jelas ke tiga huruf besar di atas lampu lentera merah tersebut yang berbunyi. WI LIM POO. Dengan suatu gerakan cepat, sampan kecil itu menembusi bayangan pintu gerbang ben-teng wi lim poo tersebut. Lamat lumat Lan See giok mendengar suara teriakan keras dari para penjaga di atas benteng, kemudian terdengar pula suara pintu benteng yang berat pelan-pelan dibuka. Sampan kecil itupun makin melamban, sekarang pemuda itu baru merasa kalau mereka sudah berada tak jauh dari benteng tersebut.

103

Pintu benteng yang lebarnya delapan depa dan tingginya satu kaki dua depa itu terbuat dari kayu besar, sewaktu dibuka pintu ter-angkat ke atas dan bila menutup pintu ber-gerak ke bawah. Dinding benteng maupun bangunan loteng terbuat dari batu-batu cadas yang besar dan kuat, selain kokoh juga mendatangkan sua-sana seram bagi yang melihatnya. Lan See giok yang mencoba melirik ke arah depan, segera merasa kagum sekali, dia tak habis mengerti bagaimana caranya memba-ngun benteng yang begitu kokoh di dalam telaga yang begitu luas. Sementara dia masih termenung, sampan kecil itu sudah meluncur ke bawah pintu gerbang benteng itu. Berpuluh-puluh orang lelaki kekar, dengan hormat berdiri di kedua belah sisi bangunan benteng, mereka rata-rata bermata besar, beralis tebal dan membawa senjata garpu yang memancarkan cahaya tajam. Menyaksikan kesemuanya itu, Lan See giok segera sadar bahwa dia yang baru lolos dari gua harimau kini sudah terjerumus lagi ke dalam sarang naga, untuk melarikan diri dari benteng sekokoh ini nampaknya tidak lebih mudah dari pada melarikan dari dusun nela-yan. Ketika puluhan lelaki kekar itu menyaksi-kan si nona den kedua orang dayangnya berada dalam keadaan basah kuyup, paras muka mereka segera berubah hebat, mereka tahu kalau ke tiga orang gadis itu telah men-jumpai jago lihai di tengah telaga. Padahal mereka tahu kalau ilmu silat yang dimiliki nonanya sangat lihay, bila nona yang lihay pun bisa dipaksa tercebur ke dalam air, dari sini dapat diketahui kalau kepandaian silat yang dimiliki orang itu pasti lihay sekali. Tapi setelah mereka saksikan Lan See giok yang tergeletak dalam sampan, puluhan orang lelaki kekar itu kembali dibuat tidak habis mengerti, tiada orang yang percaya kalau nona mereka telah dipaksa terjun ke dalam air oleh seorang bocah yang baru berusia lima enam belas tahun tersebut. Tiba-tiba terlihat nona berbaju putih itu memberi tanda, sampan kecil itu pun segera berhenti. Lan See giok sadar bahwa dia bakal celaka, setelah sampai di dalam benteng, niscaya dia akan diserahkan kepada kawanan lelaki kekar itu untuk dijebloskan ke dalam penjara air. Sambil bertolak pinggang gadis berbaju putih itu memandang sekejap sekeliling arena, puluhan orang lelaki itupun cepat-ce-pat menundukkan kepalanya dengan keta-kutan. ""Apakah Lo-pocu telah kembali?" gadis itu segera menegur dengan suara dalam.

104

Seorang lelaki bercambang segera me-nya-hut dengan kepala tertunduk dan sikap hor-mat: "Lapor nona, Lo pocu belum kembali!" Dengan perasaan kaget bercampur ke-heranan, gadis berbaju patih itu berkerut kening, kemudian tanyanya lebih jauh: "Tengah hari tadi, Be congkoan telah me-ngutus siapa untuk menyambut kedatang-an Lo pocu?" "Tui-keng-kui (setan pengejar ikan paus). Yau Huang, salah seorang diantara tiga se-tan!" kembali lelaki bercambang itu men-jawab dengan sikap yang sangat meng-hor-mat. Kemudian setelah memandang sekejap ke pintu belakang, lelaki itu menambahkan: "Barusan, Be congkoan telah mengirim pula dua setan lainnya untuk menyambut pocu!" Tampaknya nona berbaju putih itu merasa agak lega setelah mendengar ucapan itu, dia lantas mengangguk dan memerintahkan sampan untuk bergerak maju. Tiba-tiba terdengar lelaki bercambang itu bertanya dengan sikap hormat: "Nona, apakah mata-mata itu perlu di-tahan di sini untuk diperiksa?" Lan See giok merasa terkejut sekali, tanpa terasa dia menggenggam senjata gurdi emasnya kencang-kencang. "Tidak usah, aku masih ada persoalan yang hendak ditanyakan kepadanya!" tukas nona itu dengan suara dalam. Selesai berkata, sampan kecil itu sudah bergerak melewati pintu benteng tersebut. Lan See giok menjadi lega kembali setelah perahu itu meneruskan perjalanan. Entah berapa lama sampan kecil itu ber-gerak maju menembusi jalan air di dalam benteng, di sekeliling tempat itu penuh de-ngan bangunan rumah dan loteng yang ter-buat dari batu hijau, meski di tengah ke-ge-lapan namun suasana tetap terang benderang, sebab setiap berapa kaki tampak sebuah lampu lentera. Bangunan benteng Wi lim poo itu benar-benar luas sekali, setelah melalui jalan air yang menembusi berapa rumah besar, akhirnya mereka baru memasuki sebuah pintu air, menyeberangi jembatan berbentuk bulan dan berhenti di depan sebuah pintu gerbang berwarna merah. Apa yang terlihat di sepanjang perjalanan, membuat Lan See giok merasa putus asa. karena dia merasa harapannya untuk mela-rikan diri tipis sekali. Tempat apakah benteng Wi lim poo ini? sarang perampok kah? Atau suatu markas besar dari suatu perkumpulan besar dalam dunia persilatan? Atau

105

mungkin tempat per-tapaan seorang jago persilatan yang me-ngasingkan diri? selama ini, belum pernah ia mendengar ayahnya menyinggung tentang hal ini. Tapi ada satu hal yang bisa diduga olehnya, Lo pocu dari benteng wi lim poo ini sudah pasti adalah seorang kakek yang ber-ilmu silat sangat tinggi. Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, dia teringat kembali akan dendam sakit hati ayahnya, maka pikirnya lebih jauh: "Kalau toh lo-pocu dari benteng ini me-ru-pakan jago silat yang berilmu tinggi, mengapa aku tidak mengangkatnya menjadi guruku --?" Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya dia merasa tubuhnya telah digotong oleh dua orang dayang. Kemudian senjata gurdi emas itupun di ambil oleh si nona berbaju putih tersebut. Dengan cepat Lan See giok tersadar kem-bali dari lamunannya, kembali dia berpikir: "Jiwaku sendiripun belum tentu bisa di dipertahankan. buat apa aku mesti berkhayal yang bukan-bukan---?" Tiba-tiba ia mendengar gadis berbaju putih itu sedang menegur dengan suara nyaring: "Siau ci, apakah kau tak dapat meng-angkat kepala itu lebih ke atas sedikit?" Lan See giok merasa kepalanya segera ter-angkat lebih tinggi sehingga terasa nyaman sekali, tapi bersamaan itu pula Lan See giok merasa kebingungan, dia tak habis mengerti apa sebabnya nona itu ber-sikap begitu baik terhadap dirinya.. Tiba-tiba terdengar suara sorak sorai yang penuh kegembiraan berkumandang datang: "Nona telah datang, nona telah pulang!" Oleh karena nona berbaju putih itu ber-jalan di samping Lan See giok, maka bocah itu tak berani membuka matanya, secara lamat-lamat dia hanya merasa dirinya di bawa ma-suk ke dalam sebuah pintu berbentuk bulat. Suara langkah dan sorak gembira menda-dak terhenti, sekelompok pelayan yang datang menyambut segera berhenti dan menjadi hening, agaknya mereka sedang dibuat tercengang oleh kehadiran Lan See giok yang digotong Siau lian serta Siau ci. Kemudian ia mendengar pula nona berbaju putih itu berseru cepat: "Kalian segera menyiapkan air untuk membersihkan badan dan hidangan ma-lam..." Suara langkah yang ramai kembali terde-ngar, kali ini pelayan-pelayan tersebut pergi menjauh.

106

Kemudian ia merasa digotong masuk menaiki undak undakan dan memasuki se-buah ruangan. Kembali terdengar gadis itu berseru: "Letakkan dulu di atas tempat duduk ber-sulam!"" Lan See giok tidak tahu bagaimanakah bentuk tempat duduk bersulam itu, ia hanya merasakan badannya dibaringkan di atas tempat yang empuk dan nyaman di mana tangannya menyentuh terasa tempat itu em-puk sekali. Kemudian kedengaran nona itu berkata lagi dengan suara yang jauh lebih lembut: "Sekarang kalian berdua boleh pergi mem-bersihkan badan dan berganti pakaian!" Dua orang dayang itu mengiakan lalu ber-lalu dari situ. Cahaya lampu dalam ruangan itu terang benderang membuat Lan See giok merasa agak silau. Lambat-lambat diapun mende-ngar suara bisik bisikan lirih di kejauhan sana. Tapi Lan See giok tahu kalau tak jauh dari situ masih berdiri beberapa orang dan ia pun tahu kalau si nona berbaju putih itu telah pergi. Tak selang berapa saat kemudian, suara lirih tadi kedengaran makin mendekat, tam-paknya seperti berjalan ke arahnya. . ". . . kenapa dia masih tidur terus. . .?" "Mungkin jalan darahnya ditotok oleh nona. . ."" " . . oooh, tampan sekali wajahnya . ." "Siau-ho, jangan sentuh dia. hati-hati kalau kulitmu disayat oleh nona . . . " Serombongan pelayan mengerumuni tem-pat itu sambil berbincang tiada hentinya, Lan See giok segera merasakan seluruh badannya bagaikan ditusuk-tusuk dengan jarum. Mendadak suasana menjadi hening, lalu pelayan-pelayan itu membubarkan diri de-ngan cepat sesaat kemudian kedengaran lagi suara langkah manusia yang mendekat. Ditinjau dari sikap gugup dan tegang dari pelayan-pelayan itu, Lan See giok lantas menduga kalau nona berbaju putih itu telah balik kembali ke situ. Benar juga, segera terendus bau harum semerbak yang merangsang hati, disusul se-buah tangan menghantam pelan di atas jalan darah Mia-bunhiat di tubuhnya. Lan See-giok tahu kalau si nona sedang membebaskan jalan darahnya, maka dia berpura-pura menghembuskan napas panjang, menggeliat dan pelan-pelan membuka matanya.

107

Tapi sinar mata yang silau segera membuat sepasang matanya terpejam kembali... Ketika biji matanya berputar dia saksikan nona berbaju putih itu masih tetap mengenakan pakaiannya yang basah, sedang di tangannya membawa beberapa stel pakaian, dia sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum manis... Lan See-giok pura-pura terkejut, cepat-cepat dia melompat turun dari atas tempat duduk, lalu dengan tangan kiri melindungi muka, tangan kanan melindungi dada, dia bersikap dalam posisi siap siaga. Sementara sepasang matanya yang jeli berlagak memandang nona berbaju putih itu dengan tegang. Tindakan Lan See-giok yang sangat tiba-tiba ini, kontan saja membuat beberapa orang dayang tersebut menjadi tertegun dan gelagapan dibuatnya. Si nona berbaju putih itu sendiri masih tetap bersikap tenang, malah sekulum senyuman segera menghiasi bibirnya setelah menyaksikan ketegangan Lan See-giok, ini membuat sepasang payudaranya turut bergoncang keras mengikuti suara tertawa cekikikannya. ooo0ooo BAB 6 PEMILIK BENTENG WI-LIM-PO DENGAN sepasang matanya yang genit dan menggiurkan nona berbaju putih itu. me-mandang sekejap ke arah Lan See giok, ke-mudian katanya sambil tertawa cekikikan: "Bocah dungu, hayo cepat membersihkan badan dan tukar pakaian." Seraya berkata dia segera berjbalan lebih duluj di depan. gSekalipun Lan Sbee giok merasa kurang senang atas panggilan itu, tapi dia tak berani bersikap kelewat keras karena dia takut akan terbongkar rahasianya sehingga menyulitkan diri sendiri. Karena itulah setelah tertegun sejenak, dia pun mengikuti di belakang gadis tersebut. Menelusuri ruangan dalam, ia saksikan semua perabot yang ada di situ rata-rata in-dah dan mahal harganya, lantainya dilapisi permadani merah sedang lentera keraton menghiasi mana-mana, benar-benar suatu dekorasi yang indah sekali. Beberapa orang dayang yang berada di sana rata-rata berusia empat lima belas ta-hunan, mereka mengenakan pakaian ber-warna merah, kuning, hijau dan biru, saat itu mereka semua sedang berdiri di depan pintu berbentuk bulat dengan wajah ke-heranan.

108

Baru pertama kali ini Lan See giok me-nyaksikan dekorasi yang begini indahnya, setiap macam benda yang ada di sana me-nimbulkan rasa ingin tahunya, untung saja ia masih sanggup untuk mengendalikan ge-jolak perasaan dalam hatinya. Setelah menembusi ruangan dalam, akhir-nya gadis berbaju putih itu mengajaknya menuju ke depan sebuah pintu kecil di mana tampak ada dua orang dayang berbaju bunga berdiri di situ. Lan See giok tahu bahwa tempat itulah tempat untuk membersihkan badan ... Benar juga, nona berbaju putih itu segera berhenti dan katanya sambil tertawa: "Cepat masuk, setelah membersihkan badan gantilah dengan pakaian ini..." Sembari berkata dia lantas menyodorkan beberapa stel pakaian itu kepada Lan See giok. Si anak muda itupun tidak sungkan-sung-kan, dia segera menerima pakaian ter-sebut dan masuk ke dalam ruangan. Dua orang dayang yang berada di luar de-ngan cepat menutupkan pintu ruangan. Dengan wajah ingin tahu, Lan See giok memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu dia lihat di ujung ruangan terdapat sebuah rak pakaian, lalu di bagian tengah terdapat sebuah bak mandi terbuat dari kayu, isi bak itu setengah penuh dan mengepalkan uap panas, seluruh ruangan terasa harum se-merbak. Ia tahu kamar untuk membersihkban badan ini mujngkin merupakang kamar mandi prbibadi si nona berbaju putih itu, ia menjadi ber-pikir pikir, kenapa nona berbaju putih itu bersikap istimewa kepadanya. Selesai membersihkan badan, untuk se-mentara waktu dia terpaksa harus me-ngena-kan pakaian pemberian gadis itu. Ternyata pakaian itu terdiri dari jubah biru dengan celana hijau, pakaian dalam putih, sepatu model busa . . . . Semua bahan pakaian terbuat dari bahan sutera yang sangat halus don mahal harga nya, tanpa terasa Lan See giok berkerut kening. Meski usianya masih kecil, namun dia merasa tak terbiasa mengenakan pakaian yang berwarna warni seperti itu. "Aaaah, tak apalah" akhirnya dia berpikir "toh pakaian ini kupakai untuk sementara waktu . . ." Pakaian dalamnya persis, tapi celananya. kelewat panjang, sepatunya kelewat sempit, pakaian luarnya agak kedodoran, walaupun kurang necis, tapi dapat terlihat betapa tam-pannya pemuda itu.

109

Selesai berdandan, dia lantas celingukan lagi ke sana ke mari untuk mencari air guna mencuci pakaian sendiri . . . Pada saat itulah, pintu diketuk orang seca-ra tiba-tiba, kemudian terdengar pelayan itu bertanya: "Kongcu, sudah selesaikah mandimu?" Kongcu? Lan See-giok merasa asing sekali terhadap panggilan itu, tapi dia tahu pang-gilan tersebut ditujukan kepadanya. Maka diapun membalikkan badan sambil membuka pintu. kemudian melangkah ke luar dari ruangan itu. Dua orang dayang itu nampak tertegun untuk sesaat, agaknya baru pertama kali ini mereka jumpai seorang pemuda yang begitu tampan. Sedang Lan See giok mengira mereka se-dang mentertawakan pakaiannya yang kedo-doran, tanpa terasa dengan wajah berubah menjadi merah padam tanyanya sambil ter-tawa "Adik kecil berrdua, tolong carzikan air sedikiwt . . Sekarli lagi kedua orang dayang itu tertegun, tapi setelah berpikir sebentar mereka segera memahami jalan pemikiran pemuda itu, kontan saja mereka tertawa ce-kikikan. Salah seorang dayang yang berusia agak tua segera berkata sambil tersenyum ramah: "Kongcu, pakaianmu akan budak cucikan, silahkan kongcu bersantap malam lebih dulu!" Dengan sopan Lan See giok mengucapkan terima kasih, kemudian berjalan menuju ke ruang depan. Tiba di ruang muka sebuah meja per-jamuan telah disiapkan, mangkuk piring yang terbuat dari perak telah dihidangkan secara lengkap. Beberapa orang dayang berdiri penuh hor-mat di sudut ruangan, sedang nona ber-baju putih itu masih belum nampak. Lan See-giok memang merasa amat lapar, apalagi setelah menyaksikan hidangan ma-lam yang lezat, perutnya merasa semakin la-par. Di atas meja tersedia dua perangkat mang-kuk sumpit, itu berarti bukan disiapkan buat dia seorang saja, karena itu dengan sabar dia pun menantikan kemunculan si nona terse-but. Sambil menundukkan kepala dia pun ber-jalan kian kemari, sementara otaknya ber-putar terus untuk menemukan cara yang baik untuk meloloskan diri dari situ. Pemandangan malam di luar ruangan nampak sangat indah, bintangbintang ber-kerlipan di tengah angkasa yang gelap, selu-ruh benteng Wi lim poo berada dalam keadaan hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.

110

Beberapa orang pelayan berdiri mem-bung-kam di tempat, sementara sorot mata mereka yang jeli mengikuti gerak gerik Lan See giok berjalan kian kemari. Membayangkan kembali pengalamannya selama dua hari belakangan ini, Lan See giok merasa seakan akan sudah melewati waktu selama satu dua bulan, meski demikian dia merasa hatinya lega dan nyaman, sebab ia dapat lolos dari cengkeraman To oh cay jin (si manusia cacad telinga) Oh Tin san. Kini dia memutuskan untuk tidak ter-buru buru mengunjungi bibi Wan, dia harus menunggu sampai kelima manusia cacad dari tiga telaga berlalu dan meninggalkan tempat tersebut jauh-jauh karena merasa sadar bahwa harapan mereka amat tipis, kemudian barulah berusaha untuk pergi ke sana. Ia beranggapan bersembunyi di dalam benteng Wi lim poo merupakan tempat per-sembunyian yang paling rahasia, mimpipun ke lima manusia cacad serta kakek berjubah kuning itu tak akan menduga kalau dia berada di sini. Bila teringat kembali kejadian yang di-alami malam tadi, hingga sekarang jantung-nya ma-sih terasa berdebar keras, pertempuran-nya melawan si perompak yang mati tertusuk di air serta pertarungannya melawan gadisgadis itu hampir saja membinasakan dirinya di dalam air telaga. Membayangkan kembali kesemuanya itu, tanpa terasa Lan See giok terbayang kembali akan kepandaian sakti yang dimiliki si nona berbaju putih sewaktu berada dalam air, dia memutuskan untuk mempelajari kepandaian tersebut secara baik-baik. Siapa tahu dalam sepanjang sejarah hidupnya dia akan menjumpai bencana ban-jir? Atau mungkin akan bertemu perompak dan mengalami musibah kapalnya karam? Tanpa dibekali ilmu dalam air yang sempurna biarpun ilmu silat yang dimiliki cukup hebat-pun jangan harap bisa mempertahan kan hidupnya dengan baik--Sementara ia masih melamun sampai di situ, mendadak terdengar suara dentingan nyaring berkumandang datang. Lan See giok segera menghentikan langkah nya seraya berpaling, tampak dua orang dayang cilik lari masuk ke dalam ruangan dengan wajah tergopoh gopoh. Kemudian setibanya di depan pintu, ke dua orang dayang itu memisahkan diri dan berdiri di kiri dan kanan. Tak lama kemudian suara dentingan tadi makin mendekat dan akhirnya tirai di-singkap orang.

111

Agak berkilat sepasang mata Lan See giok setelah melihat apa yang tertera di depan mata, seorang gadis cantik rupawan dengan perawakan yang ramping dan indah tahu- tahu sudah muncul di depan mata. Rambbut si nona cantjik itu disanggugl tinggi denganb mutu manikam menghiasi mahkota nya, ia berwajah potongan kwaci, alis mata-nya indah dengan bibir yang mungil, gaun-nya berwarna putih dengan pakaian warna hijau pupus, suatu perpaduan yang mem-buat wajahnya nampak lebih cantik dan menawan hati. Setelah diamati beberapa saat, Lan See giok baru mengenali kalau si nona anggun yang berbadan indah ini ternyata tak lain adalah si nona berbaju putih tadi. Gadis cantik itu berdiri tertegun pula di depan pintu sepasang matanya yang jeli mengawasi juga wajah Lan See giok yang baru selesai membersihkan badan dengan termangu. Ia benar-benar terkejut sampai tertegun, tak terlukiskan rasa girang dan gembira yang berkecamuk di dalam dadanya. Lan See giok yang selesai membersihkan badan dan berganti pakaian, nampak begitu tampan dan gagah, wajahnya yang memerah tambah dilihat tambah menarik hati. Ia berdoa semoga Lan See giok bukan se-o-rang bocah berusia lima enam belas tahun, dia berharap pemuda itu sudah termasuk seorang pemuda dewasa, sebab tahun ini dia sendiri telah berumur sembilan belas tahun. Setelah termangu sesaat, sambil tertawa manis gadis, berbaju putih itu maju mendekat, katanya sambil menunjuk ke arah meja: "Ayo silahkan, jangan kau tunda lebih lama lagi" Lan See giok memang memutuskan untuk berdiam sementara waktu di dalam benteng Wi lim-poo sampai suasana menjadi aman kembali, maka sambil tertawa dia manggut-manggut, pertanda kalau dia tidak berniat bermusuhan. Sewaktu si nona mempersilahkan Lan See giok duduk di kursi utama, tanpa sungkan pemuda itu mengikutinya. Mendadak, dari luar pintu berkumandang suara langkah kaki manusia yang tergesa-gesa. Lan See giok segera berpaling, tampak se-o-rang dayang berbaju kuning sedang berla-rian masuk ke dalam ruangan dengan wajah gugup bercampur tegang. Dengan kening berkerut si nonab segera menegurj: "Apa yangg terjadi di tembpat hujin sana?" "Lapor nona" kata dayang itu cepat-cepat, "Lo pocu telah pulang, entah mengapa dia sedang marah-marah di ruang tamu....."

112

"Aaaah, tahukah kau apa yang menyebab-kan lo pocu marah-marah?" sela si nona sambil menjerit kaget. "Menurut laporan dari Be-congkoan kepada nyonya. Tui keng hi ( Setan pengejar ikan paus ) yang diutus untuk menjemput lo-pocu ditemukan tewas tertusuk dalam air telaga, mayatnya sudah terapung di atas permukaan air. Lan See giok amat terkejut setelah mendengar laporan itu sehingga tanpa terasa wajahnya berubah, pikirnya: "Jangan-jangan si setan pengejar ikan paus adalah orang yang mati kutusuk tadi?" Tapi ia segera merasa jalan pemikirannya tidak benar, bukankah si setan pengejar ikan paus ditugaskan untuk menjemput Lo pocu-nya, bukan orang yang ditugaskan mencari dia? "Aaaah, pasti orang itu hanya seorang perompak air . . . !" akhirnya dia menyimpul-kan. Berpikir sampai di situ, hatinya yang tak tenang pun segera menjadi tenang kembali. Maka sambil memandang si nona ber-baju putih yang termangu, selanya: "Tolong tanya nona, kecuali benteng kalian, apakah di sekitar telaga ini masih terdapat markas besar dari perkumpulan atau pergu-ruan lain-.-" Sekulum senyuman sinis dan angkuh segera melintas di wajah nona berbaju putih itu, sahutnya: "ikan dan udangpun tak berani berenang mendekati benteng Wi lim poo, apa lagi per-guruan atau perkumpulan lain, masa mereka berani mendirikan markasnya di sekitar ini?" Lan See giok memang bukan anak bodoh, dari sikap angkuh si nona berbaju putih itu, ia sudah menyimpulkan kalau tiada orang luar yang berani mendekati daerah telaga tersebut. Terdengar si nona berbaju putih itu berta-nya lagi kepada si dayang berbaju kuning: "Mayat si setan pengejar ikan paus di-temu-kan di daerah air sebelah mana?" Dayang itu segera menggelengkan kepala-nya berulang kali. "Budak tidak trahu, sewaktu huzjin ber-tanya lwo-pocu sendiri rtidak menjawab, maka budak lihat lebih baik nona saja yang men-coba membujuk lo pocu-- " Gadis berbaju putih itu segera mengerut-kan dahinya, seakan akan merasa segan untuk pergi, tapi setelah termenung sejenak akhirnya ia berkata. "Pergilah dulu, bilang saja aku akan segera menyusul !".

113

Dayang berbaju putih itu mengiakan de-ngan hormat, kemudian membalikkan badan dan terburu buru meninggalkan tempat tersebut. Sepeninggal si dayang, nona berbaju putih itu baru berpaling kearah Lan See giok sam-bil berkata: "Dalam benteng kami terdapat tiga orang jago yang disebut tiga setan, di antara ke tiga orang ini, si setan pengejar ikan paus terma-suk orang yang berilmu paling tinggi, ilmunya di dalam airpun paling sempurna, biarpun bertemu jago lihay, semestinya tak mungkin ia akan tertusuk mati di dalam air . . . . sete-lah berhenti sejenak, tergerak hatinya, cepat dia berguman lebih jauh: "Jangan-jangan sudah bertemu dengan Huan kang ciong liong ( naga sakti Pembalik sungai)?" Dari pembicaraan itu kembali Lan See -giok menyimpulkan bahwa antara pihak Wi lim Poo dengan si naga sakti pembalik sungai pasti terdapat perselisihan, cuma dia tak be-rani banyak bertanya. Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata nona berbaju putih itu, ia segera berpaling ke arah Lan See giok, kemudian tanyanya: "Mengapa kau mendatangi telaga Lu wi -tong kami malam ini? Di tengah jalan tadi apakah kau telah bersua dengan seorang le-laki setengah umur berbaju hitam, beralis tebal dengan mata yang jeli? Atau mungkin sudah terjadi pertarungan diantara kalian?" "Sejak memasuki telaga ini, tak sesosok bayangan manusiapun yang kujumpai, mana mungkin bisa terlibat dalam suasana perta-rungan?" sahut pemuda tanpa ragu. Gadis berbaju putih itu cukup memahami kalau Lan See-giok tidak mengerti ilmu dalam air, jadi mustahil ia dapat membunuh si se-tan pengejar ikan paus yang lihay dalam soal ilmu berenang di dalam air, maka dengan kening berkerut dan nada tak me-ngerti gumamnya lebih jauh: "Lantas, mengapa kau memasuki telaga Lu-wi tong?" Tak terkirakan rasa mendongkol Lan See- giok: tiba-tiba teriaknya dengan marah: "Kapan sih aku bilang mau datang ke mari? Semalam toh aku cuma bertidur di dalam perahu, sewaktu mendusin perahuku sudah terbawa arus hingga sampai di dalam wilayah Lu-wi tong, padahal aku tak mengerti ilmu berenang, aku pun tak pandai menda-yung...." Melihat kemarahan sang pemuda yang kian lama kian menjadi, nona berbaju putih itu semakin yakin kalau di balik kesemuanya ini masih terdapat hal-hal lain, namun tampak-nya diapun enggan untuk bertanya lebih jauh, maka sambil, tersenyum katanya:

114

"Arus dari telaga ini menang sering kali berubah ubah, ada kalanya angin telaga da-pat membawa sampan kecil menuju ke arah yang lain, kejadian semacam ini umum dan tiada sesuatu yang aneh, ayo cepat bersan-tap!" Sembari berkata dia mengambil sumpit perak. Melihat gadis berbaju putih itu tidak berta-nya lebih jauh dan kebetulan hal ini memang sesuai dengan keinginannya, maka diapun mulai bersantap. Baru saja hidangan akan dimasukkan ke mulut, mendadak tampak seorang dayang berlari masuk dengan tergesa gesa, lalu ber-bisik lirih: "Nona, lo-pocu datang!" Berubah wajah si nona berbaju putih itu. ia tahu pastilah si dayang berbaju kuning yang melaporkan kepada ayahnya kalau di situ hadir seorang pemuda tampan. Cepat-cepat dia bangkit dan lari ke luar untuk menyambut kedatangan ayahnya. Sementara itu dari ruang tengabh terdengar suajra langkah kakig manusia, yang bbergema semakin mendekat, lalu terdengar gadis ber-baju putih itu berseru memanggil: "Ayah. . ."" Meminjam cahaya lentera yang memancar ke luar dari ruangan Lan See giok ikut me-mandang ke depan, tapi dengan cepat selu-ruh badannya gemetar keras, wajahnya berubah hebat, hidangan yang baru saja di antar ke mulut pun segera terjatuh kembali ke atas tanah. Mimpipun dia tak pernah menyangka kalau lo pocu dari benteng Wi lim poo ter-nyata adalah si manusia cacad telinga Oh Tin san yang baru saja berhasil dihindari... Manusia cacad telinga Oh Tin san sendiri pun nampak terkejut bercampur gembira setelah mengetahui pemuda yang duduk di ruangan tak lain adalah Lan See giok. Cepat-cepat Lan See giok berusaha mene-nangkan hatinya, satu ingatan segera melin-tas dalam benaknya, segera dia melepaskan sumpitnya dan menangis tersedu sedu. Kemudian dengan suara keras teriaknya: "Empek- --" Ia lari ke depan menyongsong orang itu. Perubahan yang berlangsung secara tiba-tiba ini bukan saja membuat semua dayang menjadi tertegun. bahkan gadis berbaju putih sendiripun sampai berdiri melongo. Dengan cepat Lan See giok menubruk dan memeluk si manusia cacad telinga erat-erat lalu meledaklah isak tangisnya.

115

Hawa amarah yang semula berkobar dalam dada manusia cacad telinga Oh Tin san se-ketika lenyap tak berbekas, ia tak bisa me-ngendalikan rasa girangnya lagi dan men-dongakkan kepalanya sambil tertawa terba-hakbahak. Begitu keras, suara tertawanya sehingga menggetarkan seluruh benteng Wi lim poo. Setelah termangu beberapa saat, gadis berbaju putih itu segera berteriak keras. "Ayah, sebenarnya apa yang telah terjadi?" Manusia cacad telinga Oh Tin san menghen-tikan gelak tertawanya, sambil membelai tubuh Lan See giok dengan penuh rasa gem-bira ia berkata: "Anak bodoh, jangan menangis lagi, ini rumahmu, kau adalah satu satunya sau pocu dari benteng ini" Kemudian sambbil mendorong sajng bocah, tanyagnya lagi sambilb tertawa senang: "Anak bodoh, coba kau lihat siapakah bu-dak yang cantik itu?" Sembari berkata dia menunjuk ke arah si nona berbaju putih yang sementara itu dari rasa kaget dan tercengangnya telah berubah menjadi luapan kegembiraan. Lan See giok sendiripun segera me-nyadari akan masalah yang sedang dihadapi dengan berpura-pura terkejut bercampur gembira teriaknya keraskeras: "Kau adalah enci Cu!" Di tengah sorak gembiranya dia lari ke de-pan dan memeluk pinggang nona berbaju putih itu kencang-kencang kemudian seru-nya tiada hentinya: "Enci Cu, enci Cu. . . ."" Meskipun nona berbaju putih Oh Li cu ter-hitung seorang gadis jalang yang cabul, toh ia dibuat malu dan tersipu-sipu oleh pelukan Lan See giok tersebut, wajahnya segera berubah menjadi merah padam bagai kepi-ting rebus. Apalagi perawakan tubuh Lan See giok su-dah sejajar dengan ketinggian tubuhnya. Biarpun Oh Tin-san yang licik dan keji berakal bulus dan berpengalaman luas, tak urung semua kecurigaannya lenyap tak ber-bekas setelah menyaksikan sikap gembira dari Lan See giok. Pemuda Lan See-giok memang pintar sekali, setelah memeluk tubuh Oh Li cu yang bahenol erat-erat, mendadak dia berlagak tersipu-sipu dan buruburu melepaskan pe-lukannya, kemudian dengan wajah jengah menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Oh Tin san.

116

Biarpun Oh Tin san licik dan hebat, hilang lenyap semua kecurigaannya sekarang. malah tak tertahankan lagi ia tertawa terba-hak-bahak. "Bocah bodoh, mengapa malu?" tegurnya dengan gembira, "cepat, beritahu kepada em-pek, cantik kah enci Cu?" "Enci Cu amat cantik!" sahut pemuda itu dengan kepala tertunduk rendahrendah. Merah dadu selembar wajah Oh Li-cu karena jengah, napsu birahinya segera te-rangsang dan sinar matanya memancarkan napsu birahi yang amat tebal. Memandang Lan Sree giok yang bezrada di-hadapanwnya, manusia carcad telinga 0h Tin san merasa seolah-olah kotak kecil itu sudah berada di dalam genggamannya, tak terlukis kan rasa gembiranya waktu itu. Serunya kemudian sambil menepuk bahu Lan See giok dengan tangannya yang kurus kering: "Jika enci Cu memang cantik, bagaimana kalau empek jodohkan enci Cu untuk menja-di istrimu!" Ucapan tersebut kembali membuat 0h Li cu merasakan timbulnya aliran hawa panas dari antara pahanya terus meluncur ke atas, buru-buru serunya dengan manja: "Ayah, Cu ji tak bisa berbakti lagi kepadamu di kemudian hari. . ." Tergerak hati Lan See giok, dengan cepat ia berpaling ke arah Oh Tin san lalu sambil tertawa manggut tiada hentinya. Sekali lagi Oh Tin san mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahakbahak, pikirnya: "Asal aku si manusia cacad telinga mem-peroleh kotak kecil itu, sudah pasti dunia berada di bawah telapak kakiku!" Pada saat itulah.... Mendadak dari belakang beberapa orang itu berkumandang suara teguran seorang perempuan setengah umur dengan nada terkejut: "Tin san, persoalan apa sih yang membuat kau tertawa terbahak bahak . . . ?" Lan See giok turut berpaling, ia saksikan di depan pintu telah berdiri seorang nyonya tua bersanggul tinggi, berkeriput mukanya dan berbedak serta gincu amat tebal. Biarpun usianya sudah tua, namun nyonya itu masih tetap "hot" dengan anting-anting model dakocan yang amat besar menghiasi telinganya, ia memakai gaun hijau pupus dikombinasikan baju berwarna merah darah, sepatunya berwarna merah juga, ini menun-jukkan kalau perempuan ini biar sudah tua namun seorang yang suka pesolek.

117

Melihat tampang perempuan tua itu, Lan See giok segera menduga kalau dia adalah bininya si manusia cacad telinga. Benar juga, Oh Li cu segera lari menyong-song kedatangan perempuan itu sambil ber-seru manja: "Ibu, ayah menganiaya Cu ji!" Sambil berseru dia menjatuhkan diri ke dalam pelukan nyonya tua tersebut. Walaupun nyonya tua itu masih dihiasi dengan senyuman, agaknya diapun dibuat tidak habis mengerti oleh sikap Oh Tin san yang sebentar gusar sebentar tertawa senang itu. Manusia cacad telinga Oh Tin san men-do-rong tubuh Lan See giok ke depan nyonya tua itu, kemudian tanyanya dengan bangga: "Ci hoa, coba lihat siapakah dia?" Sambil berkata ia tertawa licik dan memu-tar biji matanya berulang kali, jelas ia sedang memberi tanda kepada nyonya tua tersebut: "Say nyoo-hui" atau Tandingan - nyoo-hui Ki Ci hoa adalah seorang perempuan yang sudah berpengalaman luas di dalam dunia persilatan, ia pandai sekali melihat gelagat dan menilai perasaan hati orang, begitu menyaksikan sorot mata Oh Tin san, dengan kening berkerut dia pun mengamati Lan See giok dari atas hingga ke bawah. Namun dia tak berani berbicara lebih lan-jut karena tidak memahami maksud tujuan suaminya, maka dengan nada tidak pasti katanya: "Ehmmm---rasanya sih seperti pernah di kenal..." Sejak memandang wajah nyonya tua pe-solek ini, dalam hati kecil Lan See giok sudah tumbuh perasaan muak dan bencinya, seka-lipun demikian dia toh memandang juga ke arah perempuan tersebut sambil berlagak seakan akan tidak mengerti. Oh Tin san segera tertawa terkekeh-kekeh buru-buru serunya: "Bocah ini adalah satu-satunya kongcu keturunan adik Khong-tay, coba lihat, sepu-luh tahun tak bersua, bocah ini sudah tum-buh menjadi begitu gagah dan tampan, makin dewasa pasti makin perkasa keadaannya---" Nyobnya tua itu berjkerut kening kegmudian berlagakb seakan akan baru memahami, ia berseru tertahan dan segera serunya sambil tertawa: "Yaa, betul, memang agak mirip adik Khong-tay---" Ucapan tersebut kembali membuat Oh Tin san menjadi gugup, sebab raut wajah Lan See giok lebih mirip ibunya dari pada ayah-nya, maka cepatcepat katanya lagi: "Jelek amat ketajaman matamu, bocah ini lebih mirip dengan istri adik Khong-tay!"

118

Sekali lagi nyonya tua itu memandang wa-jah Lan See giok sambil manggut-manggut memuji, kemudian setelah mendorong Oh Li cu, dia menghampiri pemuda itu sambil tegurnya ramah: "Nak, siapa namamu?" "Dia bernama, Lan See giok!" Oh Tin san menerangkan, sedang kepada sang bocah, katanya pula: "Dia adalah bibimu Ki Ci hoa, orang me-nyebutnya sebagai Tandingan Nyoo-hui, dulu dia termasuk seorang perempuan cantik yang termasyhur namanya " Lalu sambil tertawa terbahak bahak, ia menepuk bahu Lan See giok sembari berseru lagi: ""Ayo cepat memanggil bibi!"" Sambil menahan kobaran hawa amarahnya Lan See giok memanggil dengan hormat: "Bibi . . . . !"" Ki Ci hoa nampak semakin gembira lagi setelah mendengar panggilan itu, ia tertawa terkekeh tiada hentinya dengan mata sete-ngah terpejam. Oh Tin-san sendiripun tertawa terbahak bahak, kepada kawanan dayang di sisi rua-ngan serunya kemudian: "Cepat siapkan arak, mungkin sau poocu sudah lapar sedari tadi, malam ini aku akan minum arak sampai mabuk!" Orang menjadi sibuk untuk menyiapkan segala hidangan dan meja perjamuan. Kemudian dengan senyum dikulum, Ki Ci hoa menggandeng putrinya di tangan kiri, menarik Lan See-giok di tangan kanan ber-sama sama menuju ke luar ruangan. Oh Tin san sengaja berjalan dib paling be-lakajng, menggunakang kesempatan terbsebut dia menarik seorang dayang dan membisik-kan sesuatu ke sisi telinganya. lalu dengan cepat dia menyusul kembali istrinya bertiga. Setelah mendengar bisikan Oh Tin-san, dayang itu nampak agak gugup dan buru-buru lari pergi dari situ. Setelah masing-masing mengambil tempat duduk, Ki Ci hoa masih saja menggenggam tangan Lan See giok dengan hangat, kemu-dian menanyakan usianya, ilmu silat, ilmu sastra dan lain-lain dengan penuh perhatian. Oh Li cu berdiri di belakang ibunya dengan senyuman dikulum, matanya yang jeli meng-amati terus wajah Lan See giok yang tampan tanpa berkedip, rupanya ia benar-benar su-dah terpukau dibuatnya.

119

Oh Tin san duduk di bangku lain sambil mengawasi istrinya berusaha mengorek kete-rangan dari mulut pemuda itu dengan tak-tiknya, sedang otaknya berputar terus ber-usaha mencari akal bagaimana caranya menghadapi Lan See giok sehingga kotak kecil yang diincar bisa diperoleh kembali dan bagaimana pula caranya untuk menghindari perjumpaannya dengan Huan kang ciong liong serta kakek berjubah kuning. Tak selang berapa saat kemudian hidangan sudah disiapkan, maka perjamuanpun segera dilangsungkan. Sepanjang perjamuan dilangsungkan, Oh Tin san selalu merasa kuatir tentang keadaan Lan See giok setelah diajak menuju ke dusun nelayan tadi, dia ingin tahu apa saja yang telah dikatakan kakek tersebut kepada bocah itu, karena hal ini penting baginya di dalam usahanya untuk menguasai Lan See giok di kemudian hari.. Maka setelah menghabiskan tiga cawan arak, dengan suara yang lembut dan ramah tapi penuh nada perhatian Oh Tin san ber-tanya: "Giok ji, mengapa sih kakek berjubah kuning itu menangkapmu den membawanya ke dalam dusun?" Lan See giok memang sudah menduga Oh Tin san akan mengajukan pertanyaan terse-but, maka tak heran kalaur dia sudah mem-zpersiapkan jawawbannya sedari tradi. Dengan kening berkerut ujarnya kemudian: "Kakek berjubah kuning itu benar-benar tak tahu aturan, begitu berjumpa denganku, dia lantas, menegur mengapa kemarin aku menghajar muridnya Thi Gou..." Oh Tin san memang pernah melihat dari balik hutan muncul seorang bocah perem-puan berbaju merah serta seorang bocah le-laki berkulit hitam berbaju hitam, dia tahu Thi Gou yang dimaksudkan Lan See giok tentulah si bocah lelaki tersebut. Terdengar Lan See giok berkata lebih jauh: "...aku tahu empek sedang menungguku di luar dusun oleh sebab itu tanpa sungkan-sungkan kusahut kepadanya: "Tidak tahu," siapa sangka dia lantas membentak dan menotok jalan darahku." Walaupun si Manusia cacad telinga Oh Tin san dapat merasa kalau di balik masalah tersebut mustahil duduknya persoalan begitu sederhana, namun berhubung apa yang diu-capkan Lan See giok pada dasarnya memang sama seperti apa yang dilihatnya, terpaksa dia manggut-manggut sambil bertanya lebih jauh: "Bagaimana selanjutnya?" Secara ringkas Lan See giok mengisahkan kembali keadaannya setelah masuk ke dalam dusun nelayan tersebut dan akhirnya dia menyinggung

120

juga tentang tidak ditemukan nya si manusia cacad telinga di tanggul telaga. Dalam hal ini, dengan nada tak senang hati dia menegur. "Bukankah empek sendiri bilang sebelum bertemu tak akan bubar, namun ketika aku sampai di tepi telaga, tidak kujumpai dirimu berada di sekitar sana" Agak memerah paras muka Oh Tin san lantaran jengah, dia tertawa kering dan nam-paknya merasa puas dengan penuturan dari Lan See giok tersebut. Berdasarkan kisah yang amat singkat itu diapun dapat menyimpulkan bahwa kakek berjubah kuning itu tak nanti telah menyam-paikan sesuatu kepada Lan See giok. Di samping itu, dari kegelapan ia pun da-pat melihat betapa gugup dan gelisahnya Lan See giok ketika mencari jejaknya, hal tersebut membuat manusia licik ini menaruh percaya seratus persen. Maka setelah tertawa kering katanya: "Dari kejauhan sebetulnya empek melihat kedatanganmu, cuma berhubung aku kuatir kakek berjubah kuning itu datang menyusul, maka . . ." Tiba-tiba tergerak hati Lan See giok dengan nada tak mengerti dia bertanya. "Mengapa sih empek begitu takut terhadap si kakek berjubah kuning tersebut?" Berubah paras muka si Manusia cacad telinga Oh Tin san setelah mendengar ucapan mana, serunya gusar: "Omong kosong, empek sebagai seorang pemilik benteng yang menjagoi seputar telaga ini belum pernah takut kepada orang lain.." Ketika mengutarakan ucapan tersebut, alis matanya berkerut, matanya melotot wajah-nya menyeringai seram, agaknya ia benar--benar sedang diliputi hawa amarah. Selama ini Say nyoo-hui Ki Ci hoa cuma membungkam diri belaka, berhubung dia memang tak tahu duduknya persoalan di samping kuatir salah berbicara. Namun setelah melihat Oh Tin san men-jadi gusar karena jengah, buruburu selanya: "Tin san, bocah kecil tahu apa sih? Masa kata katanya kau masukan dalam hati hingga membuatnya menjadi marah?" Sembari berkata dia mengerling sekejap ke arah Oh Tin san. Oh Li cu pun merasa tidak puas dengan si-kap ayahnya, dengan nada tak senang hati serunya pula. "Ayah memang jelek dalam hal ini, sedikit-sedikit jadi marah!"

121

Sesungguhnya Oh Tin-san merupakan seo-rang manusia licik yang pandai mengen-dalikan perasaan sendiri, namun berhubung perkataan dari Lan See giok tadi telah me-nyinggung aib yang pernah dijumpainya dan justru mengena pada penyakit hatinya, tak heran kalau hawa amarahnya segera mele-dak. Namun setelah digerutui istrinya dan pu-trinya menunjukkan wajah tak senang hati, buru-buru dia mengendalikan emosinya dan tertawa terbahak bahak. "Haaah . . haaah . . haaah . . . . bayangkan saja aku Oh Tin san adalah seorang tokoh silat yang nama nya sangat menggetarkan telaga Phoan yang oh, dengan ilmu Hun sui ciang hoat (ilmu pukulan pemisah air) yang kumiliki puluhan tahun belum pernah ber-sua dengan musuh tangguh, manusia-manu-sia golongan putih maupun golongan hitam dari dunia persilatan pada jeri tiga bagian kepadaku, bayangkan saja betapa tidak marah aku setelah dituduh takut dengan kakek berjubah kuning ter-sebut". Kemudian setelah tertawa terbahak bahak kembali, katanya lebih jauh kepada Lan See giok. "Sebenarnya empek tidak menampakkan diri waktu itu karena aku tak ingin men-cari urusan yang tak berguna dalam keadaan be-gitu" Dalam hati kecilnya Lan See giok tert-awa dingin, ia tahu jawaban dari Oh Tin san ini tidak jujur, sedangkan mengenai keterangan Wi lim poo dalam dunia persilatan, ia pun masih tanda tanya besar sebab belum pernah hal ini di dengar dari ayahnya. Dalam hati kecilnya sekarang cuma ada satu masalah saja yang perlu diketahui sece-patnya, yakni asal usul dari si kakek berju-bah kuning tersebut. Maka dengan perasaan tak habis mengerti dia bertanya. "Empek, sebenarnya siapa sih kakek berju-bah kuning itu?" Oh Tin san mendengus dingin. "Hmmm! Empek cuma tahu kalau dia bu-kan orang baik-baik, sedangkan tentang siapa namanya dan dari mana asal usulnya, belum pernah kudengar tentang hal ini . . ."" Lan See giok pura-pura merasa kaget dan tercengang, katanya kemudian: "Aku lihat ilmu silat yang dimiliki kakek berjubah kuning itu lihay sekali, mestinya kedudukannya dalam dunia persilatanpun amat tinggi . . . " "Darimana kau tahu?" belum habis Lan See giok berkata, Oh Tin san telah menukas de-ngan perasaan dalam. Tanpa ragu-ragu sahut Lan See giok:

122

"Aku dengar kakek bercambang yang ber-nama naga sakti pembalik sungai itu selalu membahasai kakek berbaju kuning itu seba-gai locianpwe . . ." Tidak sampai Lan See giok menyelesaikan kata-katanya, Oh Tin san dengan mata me-lotot dan menggertak gigi telah berseru lebih dulu: "Thio-Lok-heng, manusia tak tahu malu, ia bermoral bejad, suka merendahkan derajat sendiri .. . " Lan See giok sama sekali tidak menggubris ocehan dari Manusia cacad telinga tersebut, dia berkata lebih jauh: "Kepandaian silat yang dimiliki kakek ber-jubah kuning itu memang amat lihay, se-waktu ia membentak kemarin, padahal tubuhnya masih berada berapa kaki dariku, tapi jalan darahku tahu-tahu sudah kena ditotok olehnya." Ketika selesai mendengar perkataan dari Lan See giok ini, Oh Tin san tak bisa me-ngendalikan hawa amarahnya lagi, ia segera berseru keras. "Bocah bodoh, ilmu silat itu tiada batas batasnya, dan beraneka ragam jenisnya, masing-masing kepandaian memiliki keisti-mewaan yang berbeda beda, masih mendi-ngan kalau kakek berbaju kuning itu tidak datang ke benteng Wi lim poo ku ini. bila ia sampai berani datang kemari, hmm. . . aku pasti akan menyuruh si anjing tua ini merasakan enaknya air Phoan yang oh!" Lan See giok segera merasakan semangat nya bangkit kembali, dengan nada gembira dia berseru. "Empek tua, kau sebagai seorang pocu yang namanya termasyhur di seantero dunia, ilmu dalam airmu tentu lihay sekali, mulai besok aku ingin menyuruh empek untuk mengajarku ilmu dalam air . ."" Mendapat pujian dari Lan See-giok, paras muka Oh Tin-san yang semula suram segera berubah menjadi cerah kembali, ia tertawa bangga dan menganggukkan kepalanya berulang kali: "Baik, baik, asal kau bersedia untuk mem-pelajarinya secara tekun, empek akan mewa-riskan segenap kepandaian yang empek miliki untukmu. . ." Lan See-giok berlagak kegirangan, dia melompat-lompat dan segera menjura dalam-dalam, serunya dengan girang: "Kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih lebih dulu kepada empek . . !" Oh Tin san yang licik den banyak tipu muslihatnya ini mengira rencana kejinya berhasil dengan sukses, tanpa terasa ia men-dongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak. Say-nyoo-hui yang selama ini cuma mem-bungkam, sekarang turut berseru pula de-ngan nada girang.

123

"Nak, asal kau bersedia untuk belajar, be-berapa jurus ilmu Cau hong jiu (ilmu sakti menggapai lebah) yang kumilikipun akan kuwariskan juga kepadamu!" .. Lan See giok sama sekali tidak bertanya apakah ilmu yang dimaksudkan sebagai Cau hong jiu tersebut, cepat-cepat dia membalik kan badan dan menjura dalam-dalam, lalu serunya dengan naga girang. "Terima kasih banyak bibi!" Kemudian dia membalikkan badan dan duduk kembali ke kursi semula . . . Waktu itu Oh Tin san sudah dibikin kegi-rangan sehingga sedikit tak dapat mengenda-likan diri, matanya yang jalang mengerling sekejap ke arah Oh Li cu yang sedang berseri, kemudian ujarnya sambil tersenyum. ""Mulai besok, biar enci Cu mu yang mewakiliku mengajarkan dasar ilmu di dalam air kepadamu, bila dasar dasarnya sudah kau ketahui baru aku yang mengajarkan langsung kepadamu!" Mendengar perkataan ini Lan See giok ter-tawa, kali ini suara tertawanya benar-benar timbul dari hati sanubarinya. Sebab diantara lima cacad dari tiga telaga, tak seorangpun yang paling dicurigai, berda-sarkan julukan yang mereka miliki paling ti-dak dari lima cacad ada tiga yang bercokol di atas air, oleh sebab itu kepandaian berenang boleh dibilang merupakan kepandaian yang paling penting baginya. Oh Li cu yang mendengar ayahnya meme-rintahkan kepadanya untuk mengajar kan ilmu berenang kepada Lan See giok, kontan saja hatinya menjadi kegirangan, sebab hal tersebut memang sesuai dengan kehendak hatinya, tak tahan lagi ia tersenyum genit. Pada saat itulah dari luar ruangan muncul seorang dayang berbaju hijau yang menghampiri Oh Tin san dengan langkah tergesa gesa, setelah memberi hormat kata-nya: "Lapor lo pocu, Be congkoan, Thio Gi si dan Li Tok cay datang mohon bertemu!" Mendengar laporan tersebut paras muka Say nyoo-hui dan 0h Li cu berubah hebat, dengan pandangan terkejut mereka berpaling ke arah Oh Tin San. Perlu diketahui, di hari-hari biasa kecuali Oh Tin San suami istri, orang lain belum pernah mengunjungi tempat kediaman dari Oh Li cu, tapi malam ini tiga orang kongkoan yang berkedudukan di bawah Oh Tin san te-lah datang, ini menunjukkan kalau di dalam benteng telah terjadi suatu peristiwa yang maha besar.

124

Menyaksikan keterkejutan Say nyoo-hui dan Oh Li cu, Lan See giok merasa terperan-jat sekali, apalagi saat ini menunjukkan kentongan ke empat, hal tersebut membuat-nya makin terkesiap. Oh Tin San memang sudah mengetahui hal ini, tapi di luar dia berlagak seolah-olah kaget dan tercengang, sambil mengerut-kan dahinya ia berseru. "Silahkan mereka masuk!" Dayang itu mengiakan dengan hormat ke-mudian membalikkan badan dan buru-buru berlalu dari situ. Say nyoo-hui maupun Oh Li cu meman-dang ke arah Oh Tin san dengan pandangan terkesiap, tanyanya kemudian dengan nada tak mengerti: "Ada apa sih? Masa hari begini juga datang menghadap?" Oh Tin san tidak menjawab dengan segera, hanya matanya yang sesat mengawasi depan pintu dengan termangu, seolah-olah sedang memikirkan persoalan tersebut. Tak selang berapa saat kemudian, terde-ngar suara langkah kaki manusia berkuman-dang memecahkan keheningan. Meminjam cahaya yang memancar ke luar dari balik ruangan, Lan See giok dapat meli-hat ada tiga sosok bayangan manusia sedang melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah tergesa-gesa. Orang yang berada ditengah berperawakan kecil dan pendek, dia adalah seorang kakek bungkuk bermata segi tiga, beralis tebbal dan memelihajra jenggot kambging, tampangnyba menunjukkan kelicikan, mengenakan jubah panjang warna putih yang kedodoran, sepasang matanya memancarkan cahaya ta-jam yang berkilauan, membuat kakek ini tampak mengerikan. Sedangkan orang yang berada di sebelah kanan berperawakan tinggi langsing, berusia antara tiga puluh tahunan, berjubah hitam dengan celana kombrang, tampangnya kurus macam monyet dengan hidung yang meleng-kung seperti hidung betet, matanya yang bulat memancarkan juga cahaya tajam. Orang yang berada di sebelah kiri adalah seorang pemuda berusia dua puluh lima-enam tahunan, tubuhnya kekar dengan alis mata yang tebal, tapi matanya kecil, hidungnya agak mancung dan bibirnya terasa amat tebal. Ia mengenakan topi model seorang busu, telinganya dihiasi anting-anting besar, pakaiannya ringkas dan ikat pinggangnya merah, diantara rekan rekannya dia memang kelihatan lebih tampan.

125

Di antara ke tiga orang ini, seorang ber-tampang licik, seorang lagi bertampang keji dan pemuda ini meski masih muda namun wajahnya memancarkan pula hawa sesat dan hawa kecabulan. Lan See giok segera menduga kalau ke tiga orang ini adalah para anggota penting dari benteng Wi-lim-poo. Dalam pada itu ke tiga orang tersebut su-dah memasuki ruangan, enam buah sorot mata mereka yang jeli mengawasi wajah Lan See giok yang sedang duduk dihadapan Oh Li cu itu dengan pandangan terkejut. Terutama sekali pemuda berpakaian ring-kas tersebut, ia nampak berkerut kening setelah menyaksikan ketampanan wajah Lan See giok serta kegagahannya. Biarpun Lan See giok hanya seorang bocah berusia lima enam belas tahunan, tapi dalam pandangannya bocah itu sudah terhitung se-orang pemuda yang amat ganteng. Oleh sebab itulah sebelum melangkah ke dalam ruangan, keningnya sudah berkerut dan wajahnya diliputi hawa napsu mem-bunuh. Menyaksikan wajah cemburu yang terpan-car dari wajah pemuda tersebut, senyuman yang semula menghiasi wajah Oh Li cbu kini telah bejrubah menjadi dgingin seperti ebs. Perubahan wajah Oh Li cu, kontan saja semakin mengobarkan api cemburu yang berkobar di dalam dada pemuda berpakaian ringkas tersebut. Manusia cacad telinga Oh Tin San maupun Say-nyoo-hui Ki-Ci-hoa menyaksikan per-u-bahan wajah ke dua orang itu dengan jelas, akan tetapi mereka berlagak seolah-olah ti-dak memperhatikan. Dalam pada itu ke tiga orang tersebut su-dah memasuki ke dalam ruangan, lalu de-ngan hormat mereka menjura seraya ber-kata: "Mengunjuk hormat buat Lo pocu, hujin dan nona!" Say nyoo-hui dan Oh Li cu segera memba-las hormat sambil tersenyum . . . Hanya Lan See giok seorang yang masih tetap duduk tak bergerak, karena dia me-mang tidak kenal dengan ke tiga orang ini, terhadap sorot mata permusuhan dari pemu-da berpakaian ringkas tersebut, diapun pada hakekatnya tidak memandang sebelah mata-pun. Setelah meletakkan cawan araknya, berla-gak tidak mengerti Oh Tin San segera berta-nya: "Malam-malam begini kalian bertiga datang ke sini, entah ada urusan apa?" Kakek bungkuk tersebut segera menjura, sahutnya dengan sikap yang sangat meng-hormat:

126

"Hamba sekalian mendengar Lo pocu marah-marah yang mungkin disebabkan peristiwa terbunuhnya si setan pengejar ikan paus, oleh sebab itu hamba sekalian khusus datang ke mari untuk melaporkan kejadian yang sebenarnya". Lelaki setengah umur berwajah monyet segera menyambung pula dengan hormat. "Setelah menerima laporan, hamba lang-sung memeriksa sendiri di tempat kejadian, di sekitar sana ditemukan sebuah sampan nelayan dalam keadaan terbalik, di dasar sampan dijumpai sebuah lubang yang persis sebesar luka mematikan di tubuh si setan pengejar ikan paus " Lan See giok yang mendengar perkataan tersebut menjadi sangat mendongkol, dia merasa kejadian tersebut perlu diterangkan sejelasjelasnya kepada semua orang . . . Belum habis ia berpikir, tiba-tiba pemuda berpakaian ringkas itu sudah berdiri dengan kening berkerut, tiba-tiba serunya dengan penuh kegusaran. "Menurut hasil rpenyelidikan atzas sumber dari wsampan tersebutr, diketahui perahu itu milik dusun nelayan setempat, hamba yakin perbuatan ini pasti hasil karya si naga sakti pembalik sungai, kini segenap saudara dari benteng sudah diliputi emosi dan gusar sekali, kami merasa belum puas sebelum da-pat mencuci dusun nelayan itu dengan darah . . . ." Ucapan itu menggusarkan Lan See giok, ia jadi lupa kalau dirinya berada di mulut hari-mau, dengan kening berkerut dia siap melompat bangun. Belum lagi hal tersebut dilakukan, Oh Tin San sudah mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak. Gelak tertawa ini langsung membungkam kan pemuda berpakaian ringkas itu, agak termangu ia mengawasi pocunya, sementara hatinya keheranan dan tidak habis mengerti apa sebabnya Oh Tin San tertawa tergelak... Lan See giok, Say-nyoo-hui serta Oh Li cu juga mengawasi Oh Tin San dengan perasaan tidak habis mengerti. Setelah menghentikan gelak tertawanya, Oh Tin san berkata dengan lantang: "Kukira ada kejadian besar apa, oooh. ru-panya hanya masalah sekecil ini, biarpun sampan tersebut milik dusun nelayan se-tem-pat, namun aku percaya si setan pengejar ikan paus bukan tewas di tangan si Naga Sakti pembalik sungai." Berbicara sampai di situ, matanya yang sesat memandang sekejap ke arah Lan See-giok, kemudian sambil berpura pura gembira katanya dengan suara lantang: "Persoalan ini tak usah kita bicarakan dulu untuk sementara waktu, ayo kuper-kenalkan dulu kalian bertiga dengan sau poocu kalian Lan See giok."

127

Seraya berkata dia menunjuk ke arah pe-muda Lan. Kecuali kakek bungkuk, dua orang lain-nya nampak tertegun, terutama sekali pemuda berpakaian ringkas tersebut, paras mukanya segera beruban hebat. Lan See giok masih tetap bersikap tenang, senyum hambar menghiasi ujung bibirnya, matanya bersinar tajam, oleh karena Oh Tin san telah bangkit berdiri, maka dia pun turut beranjak. la cukup tahu bahwa kesemuanya ini me-rupakan bagian dari perangkap Oh Tin san, tapi mengapa? ia kurang jelas, namun ada satu hal dia merasa yakin, bisa jadi hal ini akan semakin membantu usahanya untuk melarikan diri. Dalam pada itu si kakek bungkuk itu su-dah maju ke depan dengan senyuman di ku-lum, sembari menjura katanya dengan hor-mat: "Congkoan dari benteng Wi-lim-poo, Be-Siong-pak memberi hormat buat sau pocu." Buru-buru Lan See giok membalas hormat, sahutnya sambil tersenyum ringan: "Aku masih muda dan berpengetahuan rendah, untuk di kemudian hari masih ba-nyak membutuhkan petunjuk dari Be lo-enghiong" Betapa gembiranya Be Siong-pak ketika Mendengar Lan See giok membahasai diri sendiri sebagai Be lo-enghiong, buru-buru dia membungkukkan badan dan berkata sambil tersenyum: "Hamba tidak berani, hamba tidak berani" Sambil tersenyum Oh Tin san segera menimbrung dari samping. "Bocah bodoh, Be congkoan sudah amat berpengalaman di dalam dunia persilatan ke-cerdasan otaknya seperti Khong-Beng yang menjelma kembali, dialah otak dari empek mu, semua masalah dan pekerjaan merupa-kan hasil kerjanya, di kemudian hari kau memang perlu minta banyak petunjuk dari Be congkoan." Lan See giok menganggukkan kepalanya berulang kali sementara hatinya bergetar keras, ia tahu Be Siong pak merupakan pe-rintang utama bagi usahanya melarikan diri di kemudian hari. Umpakan dari Oh Tin san itu kontan mem-banggakan hati Be Siong-pak, saking senangnya dia sampai mendongakkan kepala nya dan tertawa terbahak bahak, katanya ber-ulang kali: "Aaah, lo-pocu terlalu memuji!"" Lelaki setengah umur berwajah seperti monyet itu segera maju pula ke depan, kata nya kepada Lan See giok dengan hormat: "Hamba Thio-Wi-kang, memberi hormat buat Sau pocu."

128

Sembari berkata dia membungkukkan badan sambil menjura dalamdalam . .... Melihat hal ini Oh Tin-san kembali berkata: ""Dia adalah Thio-Wi-kang, orang me-nye-butnya sebagai Sam-ou kau-ong (Raja monyet air dari tiga telaga), kepandaian dalam airnya tiada tandingan, saat ini dia termasuk se-orang tokoh yang amat menonjol namanya dalam dunia persilatan." "Selamat bersua, selamat bersuba!" seru Lan Seje giok berulangg kali sambil mebnjura. Pemuda berpakaian ringkas yang berada di belakang, dengan dahi berkerut dan mulut mencibir menunjukkan sikap angkuh tetap berdiri di tempat, hanya ujarnya ketus: "Lin Ci cun menjumpai sau pocu!" Tapi dikala menyaksikan senyuman seram menghiasi ujung bibir Oh Tin san, matanya berkilat tajam, kontan hatinya bergetar keras.. sehingga terburu buru ia membung-kukkan badannya memberi hormat. Agaknya Oh Tin san merasa tak senang hati terhadap sikap angkuh yang dipancar-kan Li Ci cun di hadapannya, maka diapun memberi penjelasan secara ringkas. "Dia adalah Li Ci cun, orang menyebut-nya Long Ii hu tiap (kupu-kupu di tengah ombak)." Lan See giok tidak menyangka kalau pen-jelasan Oh Tin san sedemikian ringkasnya, maka setelah termenung sejenak, ia baru berkata sambil tersenyum. "Selamat bersua, selamat bersua!" Kupu-kupu dibalik ombak Li-Ci-cun merasa sangat tidak puas, di samping itu diapun dapat menyadari kalau manusia ca-cad telinga yang termasyhur sebagai manusia licik yang berhati keji ini menaruh perasaan tak puas terhadapnya, kesemuanya itu mem-buat perasaannya dicekam rasa kaget. Akan tetapi setelah menyaksikan Oh Li cu, kekasihnya yang selama ini hidup bagaikan suami istri dengannya sama sekali tidak ber-paling ke arahnya, walaupun sudah sedari tadi ia muncul di situ, kontan saja api cem-burunya makin lama semakin ber-kobar. Dalam pada itu, Lan See-giok telah berkata kepada Oh Tin sari sambil tersenyum. ""Empek, persilahkan Be lo enghiong berti-ga turut menghadiri perjamuan ini !" Baru saja ucapan tersebut diutarakan, Oh Li cu segera menarik wajahnya sambil cem-berut.

129

Agaknya kakek bungkuk itu amat berke-nan dihati atas sebutan Be toenghiong dari Lan See giok tersebut, dengan wajah berseri ia berkata: "Tidak usah sau pocu, besok hamba masih ada urusan yang mesti diselesaikan se-hingga tak berkesempatan untuk menemani sau pocu bersantap, tapi untung saja waktu di kemudian hari masih panjang, toh tak usah tebrburu napsu bukjan?" Selesaig berkata kembalbi ia tertawa terbahak bahak, agaknya ia belum bisa menduga asal usul Lan See giok yang sesungguhnya. Sesungguhnya Oh Tin san memang berniat mempersilahkan ke tiga orang bawahannya untuk menghadiri perjamuan tersebut, na-mun setelah menyaksikan ketidak senangan putrinya, apalagi Be Siong pak juga telah beralasan masih ada urusan lain, maka sem-bari mengulapkan tangannya ia berkata: "Baiklah, lain waktu saja kita minum ber-sama sama!" Si kakek bungkuk, Thio-Wi-kang maupun Li Ci cun tahu bahwa mereka sudah seha-rusnya pergi, maka serentak ke tiga orang itu memberi hormat dan mohon diri. Baru ke luar dari pintu ruangan, menda-dak terdengar Oh Tin san berseru lagi dengan suara dalam dan bertenaga. "Be congkoan, sebelum fajar besok harap siapkan semua kapal perang yang kita miliki, kumpulkan segenap anggota kita di lapangan air, setiap pasukan harus berpakaian lengkap dan panji kebesaran kita kibarkan di setiap tiang perahu, nah pergilah!" Lan See-giok terkejut oleh ucapan tersebut, sementara Say nyoo-hui serta Oh Li cu di-buat tertegun. Kakek bungkuk, Thio-Wi-kang maupun Li Ci cun nampak agak tertegun pula, tapi ke-mudian dengan semangat berkobar serentak ia mengiakan dan berlalu dengan langkah ter-buru buru. Kejut dan gusar perasaan Lan See giok waktu itu, dia tahu bisa jadi Oh Tin san ber-niat membasmi kampung nelayan tersebut dengan kekerasan. Maka setelah merenung sejenak, dengan kening berkerut katanya dengan gusar: "Empek, si setan pengejar ikan paus . ." Setelah menurunkan perintah tadi tam-paknya Oh Tin san mulai berpikir kalau ta-ruhan yang dilakukan olehnya kali ini kele-wat besar, mendingan kalau berhasil meraih keuntungan, jika kalah, bukankah urusan bakal berabe? Perasaannya tiba-tiba saja menjadi gugup dan sangat tak tenang. Itulah sebabnya sebelum Lan See giok menyelesaikan perkataannya, dengan tak sa-dar ia menyela:

130

"Sirapa suruh si seztan pengejar ikwan paus mencarir kematian sendiri, waktu itu aku su-dah memperingatkan dia, dasar kepandaian silatnya masih jauh di bawah mu sekarang. . ." "Empek" tukas Lan See giok tak puas, "mengapa kau menitahkan kepadanya agar diam-diam mendorongku, bahkan sekalipun sudah di dorong sampai ke tengah telaga pun belum jua menampakkan diri untuk memberi penjelasan?" Agaknya Oh Tin san sudah dapat mene-nangkan hatinya sekarang, katanya sambil tertawa hambar: "Waktu itu aku mengira kau sudah semaput lantaran kaget, karena sejak ber-sembunyi di dalam sampan tak pernah menampakkan diri kembali, maka kuperintah kan kepada si setan pengejar ikan paus agar mendorongmu ke mari secara diam-diam, bila pembicaraan dilakukan waktu itu, niscaya hal mana akan menarik perhatian si kakek berjubah kuning---" Belum habis dia berkata, bayangan manu-sia nampak berkelebat lewat di depan pintu. Be Congkoan, si kakek bungkuk yang be-lum lama meninggalkan ruangan kini sudah melompat masuk kembali ke dalam ruangan dengan wajah gugup dan pucat pias. Kemunculannya yang sangat mendadak ini tentu saja sangat mengejutkan Lan See giok sekalian, serta merta mereka melompat ba-ngun. Para dayang yang berdiri berjajar di kedua belah pintu pun sama-sama memperdengar kan jeritan kaget yang melengking. Sebagai manusia yang berwatak licik dan pandai membawa diri, Oh Tin san cukup tahu bila Be Siong pak yang tersohor karena kecerdasan otaknya pun menunjukkan sikap kaget dan gugup seperti ini, berarti di dalam bentengnya sudah terjadi suatu peristiwa yang luar biasa sekali. Maka sambil berusaha untuk mengendali-kan perasaan gugup dan kalut dalam pikir-annya dia menegur. "Ada urusan apa?" Be Siong pak menunjukkan sikap kaget dan cemas, peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuh-nya, dengan tergesa gesa dia menghampiri majikannya kemudian membisikkan sesuatu di sisi telinganya. Mengikuti komat kamitnya mulut Be Siong pak, paras muka Oh Tin san pun turut berubah ubah juga, dari gugup, takut sampai pucat pias dan matanya memancarkan sinar ketakutan.

131

Begitu Be congkoan menyelesaikan kata katanya, tak tahan lagi dia bertanya dengan gelisah. "Sekarang --sekarang dia berada di mana?" Kakek bungkuk itu semakin tegang, sete-lah menghembuskan napas panjang sahut-nya: "Sekarang dia berada di ruang tamu!" Jawaban ini segera menggetarkan perasaan si manusia cacad telinga Oh Tin san seluruh tubuhnya gemetar keras, matanya terbelalak dan ia benarbenar tertegun saking kaget dan takutnya. Dari sikap tegang, takut dan gugup yang diperlihatkan Oh Tin san maupun kakek bungkuk tersebut, Lan See giok segera men-duga kalau di dalam benteng tersebut pasti sudah kedatangan seorang musuh yang sa-ngat lihay. Bukan saja kepandaian silat yang dimiliki pendatang tersebut hebat sekali, sudah pasti tangannya amat keji dan membunuh orang tanpa berkedip, kalau tidak mustahil Si manusia cacad telinga Oh Tin San akan menunjukkan rasa takut yang begitu hebat. Agaknya Say-nyoo-hui Ki-Ci-hoa juga dapat merasakan betapa seriusnya masalah terse-but. sambil menarik ujung baju Oh Tin San, bisiknya lirih: "Tin San siapa sih yang telah datang?" Seperti baru mendusin dari kagetnya Oh Tin San tak sempat lagi menjawab perta-nyaan dari Ki-Ci-hoa, buru-buru serunya kepada Be congkoan: "Ayo, kita segera berangkat." Buru-buru mereka berdua melompat ke luar dari ruangan tersebut dan melejit ke atas atap rumah, kemudian dalam beberapa kali lompatan saja bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata. Sepeninggalb ayahnya dan Bej Congkoan, Oh Lgi cu baru berpabling ke arah ibunya sambil bertanya dengan perasaan tak habis me-ngerti: "Ibu, menurut pendapatmu siapa sih yang telah datang?" ooo0ooo BAB 7 SAY-NY00-HUI Ki-Ci-hoa memandang se-kejap ke arah Lan See giok yang masih tetap duduk dengan tenang, kemudian sambil berkernyit dahi katanya seraya tertawa paksa: ""Ayahmu selalu dapat mengendalikan diri bila menjumpai sesuatu persoalan, padahal masalah nya bukan sesuatu yang luar biasa"" Oh Li cu tidak setuju dengan pendapat itu, ujarnya dengan wajah bersungguh sungguh.

132

"Be congkoan orangnya cerdik dan sangat pandai menghadapi masalah, dia pun ter-masyhur sebagai Khong-Beng yang menitis kembali, bila dilihat dari sikapnya yang gugup dan kelabakan..." Melihat putrinya tak tahu keadaan, dengan kening berkerut Say nyoo-hui segera mene-gur: "Betapa pun besarnya persoalan yang di hadapi, asal ayahmu sudah ke situ niscaya urusan akan beres dengan sendirinya, ber-dasarkan kelihaian ilmu silat dari ayahmu serta pamornya yang besar, siapa sih yang berani mencabut gigi dari mulut harimau?" Lalu setelah mengerling sekejap ke arah Oh Li cu penuh arti, sambungnya lebih jauh: "Lagi pula kita Wi-lim-poo sudah lama menjagoi di seputar telaga ini, sekeliling benteng dilingkari air telaga, di luar ada hu-tan gelaga yang lebat, di dalam ada ranjau air, jago lihay yang tinggal disinipun tak ter-hitung jumlahnya, bahkan hampir semua-nya pandai ilmu berenang, di dalam air ada pen-jaga, di atas benteng ada pengawal, jangan lagi perahu sampan, biar burungpun sukar untuk terbang lewat tanpa ketahuan, diban-dingkan dengan Lok ma oh dimasa lalu, benteng tersebut paling-paling cuma begitu saja ...." Makin berbicara Say nyoo-hui semakin bersemangat, sedangkan Lan See giok makin lama semakin terkejut, ia tak tahu benarkah benteng Wi-lim-poo mempunyai penjagaan sedemikian ketatnya, bisa juga perempuan tua itu sedang mengibul. Sementara dia masih termenung,b terdengar Say jnyoo-hui telah gberkata lebih jbauh. "Kalau dilihat dari kegugupan ayahmu tadi, bisa jadi mata-mata kita yang di tugaskan di luar telah pulang dengan membawa berita besar yang luar biasa, sebab seandainya ada orang luar yang masuk ke mari, mengapa dari pihak loteng penjaga tidak dikeluarkan tanda peringatan , . , ?" Ketika berbicara sampai di situ, nampak semangat Say nyoo-hui berkobar kembali, sikap angkuhnya menghiasi wajahnya. Mendengar ucapan dari ibunya, Oh Li cu segera merasakan semangatnya turut berko-bar, perasaan tak tenang yang semula mencekam perasaannya pun kini bilang le-nyap tak berbekas. Sebaliknya Lan See giok yang mendengar ucapan tersebut, kian lama hatinya kian bertambah berat, walaupun di luaran ia ma-sih tetap mempertahankan ketenangan nya. Sedangkan Say nyoo-hui sendiri, sesung-guhnya amat menguatirkan pula kesela-matan dari Oh Tin san, apalagi kalau dilihat dari sikap gugup dan

133

takut yang menghiasi wajah suaminya, namun sebisa nya ia beru-saha untuk mengendalikan diri. Kembali ujarnya sambil tertawa paksa: "Anak Cu.. sekarang aku sudah kenyang, temanilah adik Giok mu untuk minum be-berapa cawan lagi, aku hendak menengok dulu keadaan di sana." Sambil berkata ia beranjak dan menuju ke luar ruangan. Buru-buru Lan See giok berseru dengan hormat: "Silahkan bibi, akupun sudah kenyang.." Bersama Oh Li cu mereka bangkit berdiri dan menghantar Say nyoo-hui KiCi-hoa sampai di luar pintu. Pelayan pun segera membereskan hida-ngan dari atas meja perjamuan--Setibanya di depan pintu, Say nyoo-hui menitahkan kedua orang itu agar berhenti. Lan See giok dan Oh Li cu menurut perin-tah dan berhenti, mereka berdiri di situ hingga bayangan tubuh perempuan tua tersebut melangkah ke luar dari pintu hala-man. Mendadak berkilat sepasang mata Oh Li cu, seakan akan teringat akan sesuatu, buru baru serunya: "Ibru, tunggu dulu!z" Sambil berwseru dia memburru ke luar pintu dan menghampiri ibunya. Menyaksikan kejadian itu, tergeletik hati Lan See giok, cepat dia menarik napas pan-jang, berpaling sekejap memperhatikan seke-liling tempat itu kemudian melejit ke arah pintu dan menyembunyikan diri di balik pintu halaman. Sementara itu dari luar halaman terdengar Say nyoo-hui sedang bertanya dengan nada tak mengerti. "Ada apa anak CU?" Oh Li cu nampak agak sangsi dan sukar untuk menjawab, sampai lama kemudian ia baru menyahut agak tergagap. "Ibu, aku ingin meminjam sebentar bangau kecil Siau sian hok terbuat dari emas itu-" Belum habis Oh Li cu berkata, Say nyoo-hui telah menukas dengan nada terkejut: "Apa? Kau--kau menghendaki dupa lebah bermain di putik bunga---?" Lan See giok yang menyadap pembicaraan tersebut menjadi tak habis mengerti, dia tak tahu apa yang dinamakan "dupa lebah ber-main di putik bunga" itu? Maka pikirnya kemudian: "Aaah, mungkin dupa untuk mengharum-kan tubuh Oh Li cu ....?"

134

Tapi setelah dipikir kemudian ia merasa hal tersebut kurang begitu cocok .... Selanjutnya ia tidak mendengar jawaban dari Oh Li-cu, mungkin gadis itu sedang manggut-manggut. Terdengar kemudian Say nyoo-hui berkata lagi. "Terus terang kukatakan, sekarang dia ma-sih kecil, tak mungkin akan memberi ke-pu-asan kepadamu...."" Tapi sebelum Say nyoo-hui menyelesaikan kata-katanya, Oh Li cu telah berseru kembali agak ngotot. "Tidak, tidak..." Selang berapa saat, akhirnya dengan nada apa boleh buat Say nyoo-hui berkata lagi: "Baiklah, mari ikuti aku sekarang!" Menyusul kemudian terdengar suara lang-kah kaki manusia yang makin lama semakin menjauhi tempat tersebut. Lan See giok merasa sangat kebingungan oleh pembicaraan itu, dia mencoba untuk mengintip ke luar, dilihatnya Oh Li cu telah mengikuti ibunya berjalan sejauh beberapa puluh kaki dan menuju ke depan sebuah pintu halaman bercat merah. Ketika berpaling lagi ke ruang dalam, di li-hatnya para dayang masih sibuk bekerja, maka diapun berlagak seolah-olah tak ada urusan, sambil bergendong tangan balik kembali ke dalam ruangan. Kentongan ke empat sudah lewat, suasana waktu itu amat gelap, kecuali lentera merah yang tergantung di puncak loteng benteng, segala sesuatunya berada dalam keadaan gelap gulita dan sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. Lan See giok memandang lagi ke arah de-pan, di situ terbentang sebuah lorong air yang lebarnya beberapa kaki, di bawah un-dak undakan tetap tertambat sampan kecil yang ditumpangi Oh Li cu tadi. Di depan lorong air terdapat sederet ba-ngunan yang berupa pagoda air, sedang di sebelah kanan terbentang pula sebuah lorong air yang agak sempit dan tampaknya lang-sung menuju ke pintu gerbang benteng, tapi berhubung di sekitarnya berderet bangunan rumah maka pemandangan tak dapat ter-lihat lurus ke depan. Menelusuri tepi tanggul, pelan-pelan Lan See giok berjalan pula menuju ke arah Say nyoo-hui dan Oh Li cu berlalu. Dalam pada itu Say nyoo-hui serta Oh Li cu sudah masuk ke dalam bangunan bercat merah tersebut, namun ia tak berani mem-percepat langkahnya. kuatir gerak geriknya diawasi orang secara diam-diam . .

135

Setelah maju beberapa kaki, dib depan sana ditjemukan sebuah jgembatan bambu ybang le-barnya hanya dua depa dan melingkar ke arah kanan, di sebelah kanan bangunan tunggal tampak pula sebuah pagoda ber-bentuk bulat, dari balik jendela yang berada di empat penjuru nampak cahaya lentera mencorong ke luar. Tergerak hati Lan See-giok, pelan-pelan dia berjalan menelusuri jembatan bambu itu, agar tidak menarik perhatian, sambil berjalan ia berlagak seolah-olah sedang menikmati pemandangan di sekelilingnya. Tiba di mulut jembatan, dia saksikan jem-batan bambu itu membentang terus ke depan dan menghubungi sebuah bangunan tinggi yang besar dan luas di tengah telaga. Bangunan itu terdiri dari tiga tingkat, dasar bangunan hampir menempel pada permukaan air, daun-daun bunga teratai yang lebar dan berwarna hijau hampir menutupi seluruh permukaan telaga, ter-pantul cahaya lentera dari balik bangunan, tampak daun-daun itu memantul kan cahaya yang berkilauan. Memandang keadaan bangunan tersebut, Lan See giok segera tahu bisa jadi bangunan tinggi ini adalah tempat tidur dari si Manusia cacad telinga Oh Tin san. Sejak melihat kegugupan dan kebingungan dari Oh Tin san, Lan See giok memang sudah diliputi perasaan ingin tahu yang meluap luap, dia ingin tahu sebenarnya manusia li-hay macam apakah yang telah berkunjung ke situ sehingga membuat Oh Tin san yang keji dan licikpun dibuat ke-takutan setengah mati. Sementara otaknya masih berputar, tubuh-nya sudah menelusuri jembatan bambu kecil itu, secepat mungkin dia mempersiapkan diri sebaik baiknya untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, biarpun di luaran ia berusaha untuk berjalan se-santai mungkin. Baru saja hampir sampai di ujung jem-batan, mendadak ia mendengar suara Oh Tin san yang sedang menyahut dengan nada yang amat menaruh hormat. Dari nada suara itu, Lan See giok tahu. bahwa dugaannya tak salah . . malam ini benteng Wi-lim-poo betul-betul sudah ke-datangan seorang manusia yang berkedu-dukan amat tinggi di dalam dunia persilatan dewasa ini. Setelah maju lagi beberapa langkah, dari ujung tikungan jembatan kecil itu se-cara ke-betulan sekali dapat menyaksikan selurbuh keadaan di djalam pagoda tergsebut.

136

Seandbainya tidak melihat masih mendi-ngan, begitu menyaksikan keadaan yang ter-bentang di depan mata, rasa kaget yang di alami Lan See giok saat ini sama sekali tidak berada di bawah To oh cay-jin sendiri. Mimpipun dia tak menyangka kalau orang yang duduk di depan meja bundar dalam pa-goda tersebut ternyata tak lain adalah si kakek berjubah kuning tersebut. Kakek berjubah kuning itu masih tetap nampak ramah dan lembut, sorot matanya memancarkan pula cahaya tajam yang me-mikat sambil mengelus jenggotnya dia seperti lagi merenungkan sesuatu. Sedangkan Oh Tin san berdiri lima langkah di hadapannya dengan sikap yang munduk-munduk dan menghormat sekali, sepasang tangannya menjulur ke bawah sedangkan sepasang mata sesatnya hampir boleh dibilang tak berani saling beradu pandangan dengan kakek berjubah kuning itu. Be congkoan, si kakek bungkuk apakah tu-rut hadir dalam pagoda tersebut, sayang tak sempat dilihat oleh Lan See giok, setelah menyaksikan sikap munduk-munduk dari Oh Tin san tersebut, Lan See giok segera teringat kembali dengan ucapan se-sumbar yang di-katakan sewaktu ada dalam perjamuan tadi: "Masih mendingan kalau kakek berjubah kuning itu tidak datang ke benteng Wi-lim-poo kami, bila berani, hmm hmmm. . aku pasti akan menyuruh anjing tua itu men-cicipi rasanya air telaga Huan yang oh." Tapi kenyataannya sekarang? Tak sepatah katapun dari ucapan sesumbar Oh Tin san yang diwujudkan dengan tindakan, rupanya dia cuma pandai omong besar saja ketimbang melaksanakannya . . . Mendadak . . . Sepasang mata si kakek berjubah kuning yang tajam bagaikan sembilu itu diarahkan ke wajah See giok Seketika itu juga Lan See-giok merasakan tubuhnya gemetar keras, saking kagetnya sepasang kaki sampai terasa lemas tak ber-tenaga, cepat-cepat ia berpegangan tiang jembatan. Detak jantungnyra turut berdebazr keras karena wtegang, saking rngerinya nyaris dia membalikkan badan untuk melarikan diri. Sekarang ia merasa menyesal sekali, me-nyesal karena telah menelusuri jembatan kecil tersebut hingga tiba di situ . . . Mendadak terdengar kakek berjubah kuning itu bertanya kepada Oh Tinsan de-ngan suara dalam "Oh pocu. benarkah Lan See giok si bocah itu tidak berada dalam bentengmu?"

137

"Lapor locianpwe.." sahut Oh Tin-san mun-duk-munduk, Lan See-giok betul-betul tiada dalam benteng kami, masa boanpwe berani membohongi locianpwe?" Lan See giok menjadi mendongkol sekali, ia tidak menyangka kalau Oh Tin san begitu berani ngotot dengan mengatakan ia tidak berada dalam bentengnya. "Baiklah" demikian ia berpikir, "biar aku masuk ke dalam dan tunjukkan diriku di de-pan kakek berjubah kuning itu . . " Namun sebelum dia beranjak maju ke de-pan. kembali terdengar kakek berjubah kuning itu berkata. "Oh pocu, kau harus tahu, sudah hampir sepuluh tahun lamanya aku mencari Lan Khong-tay, lantaran apa pasti kau lebih mengerti dari pada diriku, dan sekarang soal kitab pusaka Tay loo hud bun pay yap-cinkeng hanya diketahui Lan See giok se-orang, akupun tak ingin kelewat mendesak dirimu, aku harap kau suka mengutus bebe-rapa orang untuk mencari jejaknya di empat penjuru, bila jejak Lan See giok telah ditemukan, kau harus mengantarnya ke rumah kediaman Huan kang ciong liong (naga sakti pembalik sungai) Thio-Lok-heng di dusun nelayan sana, aku akan menunggu di situ..." Betapa gusar dan mendongkolnya Lan See giok sehabis mendengar perkataan itu. dia mendengus gusar dan membalikkan badan berlalu dari sana, pikirnya: "Hmm, jangan harap kalian bisa peroleh kitab pusaka Tay lo hud bun cinkeng ter-se-but, biar aku matipun tak nanti akan ku serahkan kepada kalian manusia - manusia jahat". Baru saja ia berjalan turun dari jembatan kecil itu, kembali terdengar manusia ber-jubah kuning itu berkata lagi: "Baiklah kita tentukan dengan sepatah kata ini, sekarang aku hendak pergi dulu" Lan See giok amat terkejut di samping merasa keheranan. . padahal jarak antara pagoda tersebut dengan tepi kolam sudah mencapai puluhan kaki, namun kenyataan nya suara pembicaraan dari kakek jubah kuning itu masih dapat kedengaran dengan jelas. Ketika ia berpaling kembali, tampak olehnya 0h Tin san sedang berjalan ke luar dari pintu pagoda dan membungkukkan badannya memberi hormat seraya berkata: "Boanpwe Oh Tin san menghantar kebe-rangkatan locianpwe. . ." Lan See giok segera memandang sekejap sekeliling tempat itu, namun dengan cepat hatinya merasa terperanjat, sebab selain jembatan kecil tersebut tiada jalan lain yang menghubungkan pagoda air itu dengan da-

138

ratan, namun kenyataannya kakek ber-jubah kuning tersebut telah hilang lenyap dengan begitu saja dalam waktu singkat. Tampak Oh Tin san membungkukkan badannya beberapa saat. . kemudian baru menegakkan kembali tubuhnya. Lan See giok takut jejaknya ketahuan, de-ngan cepat dia menyelinap ke balik tempat kegelapan untuk menyembunyikan diri, ke-mudian dengan menelusuri jembatan batu dia balik kembali ke rumah kediaman Oh Li cu. Dengan sekuat tenaga pemuda ini ber-usa-ha mengendalikan gejolak perasaannya, ke-mudian dengan langkah sesantai mungkin maju ke depan, kini dia mulai merasa agak curiga, mengapa tidak nampak jejak pen-jaga di sekeliling tempat itu. Baru tiba di pintu gedung, kebetulan Oh Li cu sedang lari ke luar dengan wajah gugup dan terburu napsu. Lan See giok sangat terkejut, cepat dia menyingkir ke samping memberi jalan lewat buat Oh Li cu hampir saja mereka berdua saling bertumbukan. Dengan cepat Oh Li cu menghentikan gerakan tubuhnya, kemudian dengan pe-rasaan gelisah tanyanya: "Adik Giok. kau tidak boleh meninggalkan tempat ini secara sembarangan, ber-bahaya sekali bagimu!" Lan See giok tertawa hambar: "Aaah, aku tidak pergi terlalu jauh, hanya jalan-jalan mencari angin saja di sekitar sini!" Oh Li cu tidak berniat menanyakan ke mana pemuda itu telah pergi, dengan penuh perhatian kembali katanya. "Kau telah semalam suntuk tidak tidur, sekarang pasti lelah sekali, sekarang pergilah tidur dulu, besok kau mesti belajar ilmu berenang-- !" Sambil berkata dia lantas menarik tangan pemuda itu dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Lan See giok sama sekali tidak menampik, dia membiarkan dirinya ditarik Oh Li cu ma-suk ke dalam, sementara bau harum semer-bak yang aneh menerpa tiada hentinya di se-kitar tubuh pemuda itu. Mengendus bau harum mana, tanpa terasa Lan Se giok berkerut kening, ia mendongak kan kepalanya kembali, ternyata Oh Li cu telah berdandan kembali dengan rapi, sedang bau harum itu tak lain berasal dari bau tubuhnya. Setelah masuk ke dalam kamar, suasana di sana terasa gelap, sedang Oh Li-cu pun segera menutup kembali pintu kamar tersebut rapat-rapat. Lan See--giok sungguh tidak habis mengerti dengan keadaan ini, di pandangnya gadis itu penuh tanda tanya.

139

Oh Li-cu tertawa genit, sambil menghampiri anak muda tersebut, katanya kemudian dengan lembut: "Kamar tidur ini langsung berhubungan dengan kamar tidur cici, maka sengaja kukunci pintu kamar ini." Biarpun dari ayahnya Lan See-giok pernah mendapat pendidikan yang mengatakan bahwa muda mudi kaum persilatan tak perlu kelewat memperhatikan adat istadat, namun ia merasa tidak seharusnya adat istiadat dilanggar seperti ini, tanpa terasa timbul suatu kesan muak dalam hati kecilnya, dia merasa sebagai gadis yang baik, tidak sepantasnya kalau sikap Oh Li-cu kelewat jalang. Belum sempat melihat jelas keadaan di luar ruangan, ia telah diajak memasuki sebuah pintu kecil berbentuk bulat. Suasana di ruang dalam lebih redup lagi, disitupun dipenuhi oleh bau harum yang hampir sama dengan bau harum yang keluar dari tubuh Oh Licu. Cuma saja perabot yang dipersiapkan disini amat mewah dan indah, pembaringan gading dengan kelambu serta seprei yang putih bersih, di samping pembaringan terdapat sebuah meja kecil dengan sebuah lentera kecil berwarna merah. Pokoknya seluruh perabot dalam kamar itu terasa serasi dan penuh dengan suasana syahdu. Menyaksikan keadaan ruangan tersebut, tiba-tiba saja Lan See-giok merasakan timbulnya suatu perasaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata... "Adik Giok" tiba-tiba Oh Li-cu berkata sambil tertawa, "puaskah kau dengan suasana dalam kamar ini?" "Ehmmm, bagus sekali." Lan See-giok manggut-manggut dengan kening berkerut. Sambil menuding ke arah sebuah pintu bulat kecil di bagian dalam sana, kembali gadis itu berkata lembut. "Di balik pintu sana adalah kamar tidur cici, apakah kau ingin masuk untuk me-1ihatnya?" Tanpa ragu Lan See giok segera mengge-lengkan kepalanya berulang kali: "Tidak usah, hari ini sudah terlalu malam biar besok saja---" Jawaban tersebut segera menimbulkan setitik kekecewaan yang segera menghiasi wajah Oh Li cu, namun dengan cepat dia te-lah memutar biji matanya dan berkata lagi sambil tertawa riang: "Adikku, kalau begitu cepatlah tidur, kita berjumpa lagi besok pagi. . ." Kemudian setelah mengerling sekejap ke arah Lan See giok dengan penuh pancaran cinta, dia masuk ke dalam kamar sendiri.

140

Sepeninggal Oh Li cu, Lan See giok me-rasakan hatinya seperti dicekam beban yang sangat berat, entah mengapa semenjak ia tahu kalau Oh Li cu adalah putri Oh Tin san, kesan baik yang semula timbul dalam hati-nya segera berubah menjadi perasaan muak dan benci. Setelah melepaskan pakaian luarnya dia, menjatuhkan diri berbaring di atas ranjang, memandang langit-langit ruangan pikirannya kembali terombang ambing tidak menentu, kacaunya bukan buatan, dia tak tahu apa yang mesti dilakukannya sekarang. Terutama sekali bayangan tubuh Oh Li- cu yang terus menerus muncul di dalam benaknya, kesemuanya itu sungguh mem-buat dia semakin tak dapat tidur. Mendadak terdengar suara gemerisik dari kamar sebelah, agaknya Oh Li cu sedang melepaskan busananya. Menyusul kemudian, terendus bau harum yang amat menggairahkan napsu memenuhi seluruh ruangan. Menjumpai kesemuanya ini, pikiran dan perasaan Lan See giok semakin tak dapat tenang lagi. Namun akibatnya diapun semakin ter-ba-yang kembali kehidupannya yang tenang se-lama tiga hari di rumah bibinya tempo hari... Bibi Wan adalah seorang perempuan cantik yang anggun dan penuh kasih sayang, se-pintas lalu dia seperti baru berusia dua pu-luh tujuh delapan tahunan, namun ia telah mempunyai seorang putri yang telah me-nginjak usia enam belas tahun . . . Cui Siau cian namanya. Teringat akan Cui Siau cian, terbayang kembali wajah seorang gadis yang halus, lembut, penuh sopan santun dan daya tarik... Wajahnya yang cantik, alisnya yang lembut dengan mata yang jeli, hidung yang mancung dengan dua belah bibir yang kecil mungil, semuanya itu menciptakan suatu perpaduan yang menawan hati. Tanpa terasa pikiran dan perasaan Lan See giok terbuai kembali dalam lamunan, dia se-olah-olah merasakan dirinya terbawa kembali dalam sebuah rumah berpagar bambu yang terpencil letaknya . .. Rumah itu hanya rumah bambu yang se-derhana dengan tiga ruangan serta sebuah dapur kecil, ditengah halaman penuh tum-buh aneka bunga yang berwarna warni, se-dang pagar rumah terdiri dari susunan bambu yang diatur secara artistik sungguh menawan hati. Dari ke tiga ruang bambu itu, sebuah adalah kamar tidur enci Cian, sebuah adalah kamar tidur bibi Wan, sedang tengah adalah ruang tamu. Semua perabotannya sederhana tapi bersih dan teratur sehingga mudah menimbulkan suasana nyaman bagi siapapun yang meli-hatnya.

141

Tiga malam dia menginap di sana, tidur di kamar enci Cian nya, sedang enci Cian tidur sekamar dengan bibi Wan. Kamar enci Cian amat bersih dan teratur boleh dibilang tak setitik debupun yang me-nempel di situ, sepreinya selalu menimbul-kan bau harum yang aneh, bau harum yang jelas bukan berasal dari bau bedak. Sebab bau itu sangat lembut, bau yang khas dari tubuh enci Cian, seindah dan se-cantik wajahnya yang syahdu. Cui Siau cian jarang sekali bergurau de-ngannya, namun amat memperhatikan diri-nya, setiap malam dia pasti akan pergi me-meriksa selimutnya, apakah sudah dipakai secara baik atau tidak. Setiap kali dia memandang wajah, enci Ciannya yang cantik, dalam hati kecilnya se-lalu timbul suatu perasaan gembira dan nyaman yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Seringkali dia melamunkan gadis itu, membayangkan potongan badannya yang ramping, langkahnya yang ringan dan gerak gerik yang lembut . . . Setiap kali dia sedang mengawasi wajah enci Cian, tak pernah bibi Wan mengusiknya, dia seperti selalu memberi kesempatan ke-padanya untuk menikmati sampai puas. Setiap malam Cui Siau cian datang me-meriksa selimutnya, diapun selalu merasa kan suatu keinginan yang aneh serta suatu gejolak perasaan yang sukar dikendalikan, dia sangat ingin bisa memegang tangan enci Ciannya yang lembut dan halus serta me-re-masnya. Tapi setiap kali ia tak berani berbuat demikian karena kelembutan dan keang-gunan enci Cian menimbulkan suatu kewi-bawaan yang membuat orang lain tak berani mengusiknya secara kasar. Wajah Cui Siau cian selalu dihiasi dengan senyuman yang manis, belum pernah gadis itu menunjukkan sikap dingin atau ketus kepadanya. Kadangkala, ketika Ciu Siau ciban lewat di-hadjapannya, ia takg tahan ingin meb-manggil-nya, namun Cui Siau cian selalu membalas panggilannya dengan senyuman yang manis, kerdipan mata yang indah dan gerak gerik yang mempesona.. Kini, perasaan Lan See giok sudah terbuai, terbawa ke sisi tubuh enci Cian nya, dia se-olah-olah merasa lupa dimanakah ia berada sekarang. . . Sementara dia masih melamun, mendadak terdengar suara rintihan lirih berkumandang datang dari balik kelambu. Lan See giok segera tersadar kembali dari lamunannya dan kembali ke hadapan ke-nyataan. la merasa mendongkol sekali dengan suara rintihan dari Oh Li cu tadi, tanpa terasa di-tatapnya pintu kamar nona itu dengan penuh kegemasan.

142

Dengan terbayangnya kembali diri Cui Siau cian, tanpa terasa dia pun memperbandingkan gerak gerik maupun cara berbicara kedua orang gadis tersebut. Tapi dengan cepat dia telah menemukan perbedaan yang besar dan menyolok diantara kedua orang itu. Sekarang dia baru mengetahui bahwa Oh Li-cu adalah seorang gadis jalang yang genit dan pandai merayu kaum lelaki untuk terjatuh ke dalam pelukannya. Dia memiliki tubuh yang bahenol, memiliki payudara yang besar dan bundar, senyuman yang merangsang, kerlingan mata yang memikat dan tubuh yang montok serta matang... Mendadak... Napsu birahinya terasa bergelora di dalam tubuhnya, jantung terasa berdebar keras, suatu aliran hawa panas yang aneh muncul dari perut bagian bawahnya dan menyebar ke seluruh badan dengan cepat... Sekali lagi dia mendengar suara rintihan lirih berkumandang dari balik kamar Oh Li-cu. Perasaan Lan See-giok semakin tak karuan lagi, suatu keinginan yang aneh tiba-tiba saja menyelimuti perasaannya. Dengan perasaan terkejut dia melompat bangun, belum pernah dia rasakan gejolak perasaan yang demikian aneh seperti apa yang dialaminya hari ini. Dia merasa sepasang pipinya panas sekali, napasnya memburu dan hatinya berdebar semakin keras... Ia mencoba untuk menbgawasi keadaan jdi sekeliling tgempat itu, selabin cahaya lentera yang redup, semua benda dalam ruangan hanya terlihat secara lamat-lamat, semuanya itu menambah merangsangnya napsu di dalam tubuhnya. Akhirnya sepasang mata Lan See-giok berhenti di suatu tempat, mencorong sinar tajam dari balik matanya, karena dia menyaksikan sebuah benda berbentuk burung bangau kecil terbuat dari emas diletakkan di bawah lentera kecil tersebut. Selapis asap putih yang lembut dan sukar diketahui, menyembur keluar tiada hentinya dari ujung mulut burung bangau emas tersebut... Ia mencoba untuk mengendus beberapa kali, dengan cepat disadari bahwa bau harum aneh yang selama ini memenuhi ruangan tersebut tak lain berasal dari benda tersebut. Dan justru bau asap dupa yang harum inilah yang membuat hatinya gelisah, pikirannya kalut dan tak tenang...

143

Memandang burung bangau kecil tersebut mendadak tergerak hati Lan See-giok, dia seperti menyadari akan sesuatu, segera teringat olehnya akan semua pembicaraan antara Say Nyoo-hui dengan Oh Li-cu. Teringat akan kesemuanya itu, tanpa terasa lagi si anak muda tertawa dingin tiada hentinya. Rasa gusar yang kemudian muncul dan menguasai seluruh perasaannya membuat gejolak perasaan aneh yang semula sudah menguasai dirinya itu seketika menjadi tenang dan mereda kembali. Cepat-cepat dia menjatuhkan diri bersila dan mengatur napas, tak selang berapa saat kemudian pemuda itu sudah berada dalam keadaan lupa diri. Tak selang beberapa saat kemudian, tiba-tiba pemuda itu mendengar suara gemerisik lirih bergema dari depan pembaringannya. Lan See-giok segera terjaga kembali dari semedinya setelah mendengar suara tersebut, namun apa yang kemudian terlihat hampir saja membuatnya menjerit keras saking kagetnya. Oh Li-cu dengan pakaian sutera tipis berwarna merah telah berdiri di depan pembaringannya, begitu tipis kain sutera tersebut sehingga bukan cuma sepasang payudaranya yang montok, besar, padat darn berisi itu kezlihatan jelas, wbahkan pinggangrnya yang kecil, pinggulnya yang montok, kulit badannya yang putih serta bagian terahasia dari seorang gadis terlihat semua dengan nyata, pada hakekatnya gadis itu seperti lagi bugil saja di hadapannya. Waktu itu, Oh Li-cu sedang mengawasi wajah Lan See-giok dengan pandangan terkejut dan kening berkerut, mukanya penuh diliputi perasaan bingung dan tidak habis mengerti. Tampaknya gadis itu benar-benar sudah dibuat tertegun saking kagetnya atas ketenangan serta daya kemampuan pemuda tersebut untuk mengendalikan diri. Ia masih ingat dengan perkataan ibunya, setiap lelaki di dunia ini pasti akan men-jadi gila setelah mengendus bau harumnya dupa lebah bermain di kuncup bunga tersebut, bahkan akan menerkam setiap perempuan yang dijumpainya seperti seekor harimau kelaparan. Sekembalinya ke dalam kamarnya tadi, Oh Li cu benar-benar merasa tak sabar untuk menunggu lebih lama, yang lebih membuatnya keheranan adalah apa sebabnya Lan See giok tidak menerkam tubuhnya yang bugil itu seperti harimau kelaparan. Jangan-jangan dia masih berusia muda sehingga belum mengerti untuk merasakan sorga dunia tersebut? Tapi ingatan lain segera melintas di dalam benaknya, dia curiga benda yang diberikan ibunya Say nyoo-hui kepadanya itu bukan barang asli,

144

kalau tidak, seorang hwesio tua berusia seratus tahun yang mengendus bau dupa tersebut pun akan terangsang napsu birahinya, Lan See giok yang masih muda belia sama sekali tidak terpengaruh? Tak mungkin daya tahannya melebihi se-orang hwesio tua? Sementara berpikir, dia sudah tiba di de-pan pembaringan, ketika dilihatnya Lan See giok sedang mengawasinya dengan mata ter-belalak, dia tertawa jalang, lalu tegur-nya: "Adik Giok, mengapa kau belum tidur?" Sementara itu Lan See giok sudah berhasil mengendalikan perasaannya, dia sudah sa-dar kalau Oh Li cu memang sengaja menga-tur kesemuanya itu untuk menjebaknya, agar dia terangsang oleh napsu birahi sehingga melakukan perbuatan yang amoral. Bisa dibayangkan betapa gusar dan men-dongkolnya anak muda tersebut diperlaku-kan demikian, tapi dia tak berani mengumbar amarahnya, dia tahu keadaan seperti ini ha-rus dihadapi secara luwes dan halus, sebab dia sudah terjerumus ke mulut harimau. Pelan-pelan dia memejamkan matanya dengan cepat dalam hatinya mengambil suatu keputusan, yang penting dia harus bersikap wajar sehingga tidak sampai me-nimbulkan amarah Oh Li cu karena malunya: Maka sambil tersenyum ujarnya kemudian: "Aku sudah tertidur sedari tadi . ." Sewaktu berbicara, sikapnya amat biasa dan seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu apapun, kendatipun dia berusaha keras untuk meredakan detak jantungnya yang berdenyut keras. Terutama sekali terhadap tubuh bugil yang begitu merangsang dibalik kain sutera yang terpampang di depan matanya. Tertegun juga Oh Li-cu sesudah menyaksikan kemampuan Lan See-giok untuk mengendalikan perasaan, napsu birahi yang semula telah menguasai benaknya kini hilang lenyap tak berbekas, sambil duduk termenung di sisi pembaringan sambil mengawasi wajah Lan See-giok, sampai lama sekali dia taak mengucapkan sepatah katapun... Lan See-giok juga membungkam dalam seribu bahasa, karena dia mesti mengendalikan kobaran api birahinya, apalagi Oh Li-cu yang duduk disisinya selalu menghembuskan bau harum semerbak yang aneh dan mengilik-ilik hatinya. Yang terutama adalah sepasang payudaranya yang begitu montok, begitu besar dan putih di balik kain suteranya, yang tampak bergetar merangsang, lelaki mana yang tidak tergiur menyaksikan adegan seperti ini..?

145

Merah padam selembar wajah Lan See-giok, ia merasa darah yang mengalir di dalam tubuhnya bergolak kencang, perasaan anebh yang dirasakajn tadi kini mungcul kembali serbta menyebar ke seluruh badan, dia tak tahu bagaimana mesti menghadapi situasi demikian. Mencorong sinar terang dari balik mata Oh Li-cu setelah menyaksikan keadaan ini, ia segera tertawa genit, sementara tubuhnya bergeser semakin mendekati tubuh pemuda itu. Dengan selembar bibirnya yang merah membara seperti api dan nyaris menempel di atas bibir Lan See-giok, dia berbisik lembut: "Adikku, bagaimanakah perasaanmu sekarang?" Hampir meledak denyutan jantung Lan See-giok, untung saja kesadaran otaknya masih tetap ada, dia mengerti apa yang dibutuhkan olehnya sekarang. Suatu kobaran api napsu birahi kembali mengembang dalam tubuhnya, ia merasa begitu berharap dapat memeluk tubuh Oh Li-cu serta mencomot payudaranya, tapi diapun ingin menghajar perempuan jalang ini hingga mampus. Namun dia tidak berbuat apa-apa, kesadarannya belum lagi runtuh seluruhnya, ia masih sadar bahwa dirinya berada di depan mulut harimau, dia harus berusaha menahan segala siksaan dan penderitaan agar bisa membalaskan dendam bagi kematian ayahnya. Terbayang kembali kematian yang menimpa ayahnya, kobaran api birahi dalam dada Lan See-giok seketika menjadi padam bagaikan tercebur ke gudang salju, sekujur tubuhnya gemetar keras sementara sepasang matanya memancarkan sinar tajam yang menggidikkan hati.. "Sekarang aku merasa baik sekali." jawabnya dengan suara hambar. Oh Li-cu tertegun dan kaget setengah mati, tapi dia dapat mengendalikan diri dengan cepat, sedikit malu bercampur marah tanyanya: "Dahulu, pernahkah kau mengalami suatu peristiwa?" "Peristiwa? Peristiwa apa?" tanya Lan See-giok tidak habis mengerti. "Misalkan saja pil dewa, obat mustajab atau teratai salju, rumput lengci..." "Ooh itu yang kau maksudkan." kata Lan See-giok seperti menjadi paham kembali, ia tertawa geli. "Yaa, empek tua pernah memberi pil penguat badan, pelenyap racun dan penambah tenaga untukku, menurut si empek tua tersebut, dengan menelan sebutir pil itu berarti tenaga dalamku bertambah sebesar puluhan tahubn hasil latihanj." Kata "pelengyap racun" yangb diucapkan lebih nyaring itu kontan mengecewakan Oh Li-cu, ia menjadi masgul sekali: "Waaah... makanya kau bisa memiliki daya tahan yang begitu ampuh..."

146

Belum habis dia berkata, sekujur tubuhnya telah gemetar keras, wajahnya menjadi pucat pias dan tiba-tiba ia teringat kalau ayahnya belum pernah memiliki obat semacam ini. "Apakah pil yang kau makan adalah pil hitam sebesar kelereng baunya amis dan memuakkan?" buru-buru dia bertanya. Berkerut kening Lan See-giok menyaksikan kepanikan orang, ia manggutmanggut. "Betul, menurut empek tua, saban bulan mesti menelan sebutir, kalau tidak aku bisa muntah darah dan mati." Terbelalak lebar sepasang mata Oh Li cu karena kaget, mulutnya melongo lebar dan diawasinya Lan See giok tanpa berkedip, lama, lama kemudian ia baru berguman: "Ke . . kenapa begitu? . ke . . kenapa harus begitu . . ?" Sembari berkata dia mengawasi alis mata Lan See giok tanpa berkedip, sementara air matanya jatuh bercucuran dengan deras. Lan See giok semakin tak habis mengerti, tanyanya kemudian: "Enci Cu, adakah sesuatu yang kurang beres?" Bukan mereda keadaannya, Oh Li cu malah menangis semakin keras lagi, sambil lari masuk ke dalam kamarnya dia menangis dan menjerit-jerit. "Aku tidak mau begitu, aku tidak mau be-gitu..." Menyusul kemudian dengan suara penuh amarah dia berteriak: "Siau ci! Siau lan! cepat bantu aku me-ngenakan pakaian..." Berikutnya kedengaran suara orang yang berlarian mendekat dari luar ruangan dengan langkah gugup dan terburu buru. Lan See giok hanya bisa duduk sambil melongo, pandangannya yang kosong me-ngawasi kamar Oh Li cu tanpa berkedip, ia benar-benar dibuat bodoh, pada hakekatnya dia tidak habis mengerti apa gerangan yang sesungguhnya telah terjadi. Hanya satu kesirmpulan yang berzhasil diraihnyaw, yakni baik Ohr Li cu maupun Oh Tin san tempo hari, buru-buru mengawasi alis matanya setelah mendengar dia menelan pil berwarna hitam yang bau tersebut. Selang beberapa saat kemudian, hatinya bergetar keras, dengan perasaan terkejut dia berpikir: "Jangan-jangan pil hitam yang baunya amis itu adalah obat beracun atau sebangsa nya?" Sekuat tenaga dia mengendalikan hatinya yang gugup dan kalut, secara pelan-pelan semua kejadian yang pernah dialaminya ber-sama Oh Tin san dianalisa kembali. . . Tak lama kemudian ia pun menjadi faham, sudah pasti pil hitam itu adalah sejenis obat beracun yang lambat daya kerjanya.

147

Jelas Oh Tin san bermaksud untuk me-ngendalikannya dengan obat beracun, agar dia tak berani menghianatinya, selama hidup menjadi budak Oh Tin san menuruti perin-tahnya, bahkan bisa jadi dia akan mempergunakan keselamatan jiwanya untuk me-maksa dia memberitahukan tempat tinggal bibi Wan nya. Boleh jadi dia enggan menyebutkan alamat dari bibi Wan nya, namun akibat dari per-buatannya itu, dalam satu bulan kemudian ia tentu mati akibat keracunan, kecuali Oh Tin san, waktu itu pasti tiada orang ke dua yang mengetahui jejak kotak kecil tersebut lagi. Betul masih ada orang ke tiga yang me-ngetahui tentang jejak kotak kecil itu yakni si makhluk bertanduk tunggal Si Yu gi, namun orang tersebut akhirnya tewas di sergap oleh Oh Tin san. Ada satu hal yang belum dipahami juga oleh Lan See giok, yaitu bila pil hitam yang ditelan adalah obat beracun, apa sebabnya tenaga dalam yang diperoleh malah men-da-pat kemajuan yang sangat pesat? Mendadak satu ingatan melintas lewat, ia teringat kembali tatkala baru sadar dari se-medinya dulu, bukan bau amis yang di endus melainkan bau harum semerbak yang meng-gairahkan tubuhnya. Hal ini kembali menimbulkan rasa heran di dalam hatinya. Berdasarkan sikap Oh Tin san yang segera memeriksa alis matanya begitu memandang terkejut ke arahnya setelah mengetahui ke-majuan pesat yang diperolehnya di bidang tenaga dalam, tak bisa disangkal lagi pil berwarna hitam itu adalah sejenis obat racun yang mempunyai sifat lamban daya kerjanya. Tapi siapa pula yang telah menyelamat-kan jiwanya...? Pada saat itulah..... Tiba-tiba berkumandang suara tambur yang dibunyikan bertalu-talu dari tempat kejauhan sana. Diam-diam Lan See giok merasa terkejut ia segera teringat kembali akan perintah Oh Tin san untuk mempersiapkan segenap perahu perang yang ada untuk berkumpul. Buru-buru dia mengenakan sepatu dan membuka pintu kamarnya, ternyata hari su-dah terang tanah. Dua orang pelayan telah siap menanti di luar pintu, tatkala melihat Lan See giok membuka pintu, serentak mereka memper-siapkan air untuk cuci muka. Di dalam keadaan cemas, gelisah dan gusar tentu saja Lan See giok tidak berniat lagi untuk cuci muka, dia harus mencari Oh Tin san secepatnya dan mencegah mereka membantai orang-orang di dusun nelayan----

148

Tergesa-gesa dia membuka pintu dan lari ke luar dari halaman tersebut. Baru tiba di depan pintu, dia bertemu Oh Li cu yang sedang berlari masuk ke dalam halaman dengan mata merah dan bibir ter-tutup rapat, Berjumpa dengan Lan See giok, Oh Li cu segera menegur: "Mau ke mana kau?"" Biarpun Lan See giok sedang diliputi hawa amarah, namun dia tetap menjawab dengan suara dalam: "Aku hendak mencari ayahmu." "jangan, jangan pergi" seru Oh Li cu sambil menarik tangannya, "Ayah dan Be Congkoan bertiga sedang merundingkan masalah penting . . ." Lan See giok tidak dapat menahban kobaran amarjahnya lagi, diag segera berteribak keras. "Aku justru hendak mencari mereka ber-empat" Sekuat tenaga dia mengebaskan tangan Oh Li cu, kemudian melanjutkan perjalanan-nya dengan langkah lebar. Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Oh Li cu sudah menghadang kembali di depan Lan See giok sambil serunya dengan gugup. "Percuma kau kesana, segenap anggota benteng dan kapal perang, telah berkumpul dan bersiap sedia, kau harus mengerti ayahku berbuat demikian adalah demi ke-baikan dirimu-.." "Demi kebaikanku? Kebaikan apa?" Lan See giok tertegun dan mengawasi Oh Li cu dengan pandangan tak habis mengerti. Menyaksikan sikap anak muda tersebut, Oh Li cu tak dapat menahan rasa gelinya lagi, ia segera tertawa cekikikan. "Anak bodoh, ayah sengaja mengumpulkan semua anggota benteng dan kapal perang karena dia ingin menyelenggarakan suatu upacara perkenalan bagi Sau pocu nya kepada semua anggota." Lan See giok semakin berdiri bodoh lagi setelah mendengar perkataan itu. Oh Li cu tertawa cekikikan, katanya lagi sambil menarik tangan Lan See giok. "Ayo jalan, cepat kembali, cici masih ingin berbicara denganmu---" Seraya berkata dia menarik Lan See giok secara paksa menuju ke kamarnya. Lan See giok berjalan mengikuti di bela-kang Oh Li cu, ia tak habis mengerti apa se-babnya Oh Tin san menyelenggarakan perte-muan seperti itu, rencana busuk apa pula yang sedang disusun olehnya-- ? Oh Li cu membawa Lan See-giok menuju ke ruang kamarnya, kemudian memerintah-kan pemuda itu duduk dan bertanya dengan serius: "Adik Giok, bagaimana perasaanmu sekarang?"

149

Lan See giok tertegun, ia tidak mengerti apa maksud pertanyaan tersebut, terpaksa katanya sambil mengangguk : "Aku merasa baik sekali!" Obh Li cu mengertji kalau anak mugda ter-se-but tbidak memahami maksudnya, maka ta-nyanya lebih jelas: "Maksudku dikala sedang mengatur perna-pasan, apakah kau merasakan aliran tenaga dalammu tersumbat, dan tidak dapat menu-ruti kehendak hati?" Lan See giok baru paham setelah mende-ngar kata-kata ini, dengan cepat dia mengge-lengkan kepalanya berulang kali "Aku tidak merasakan gejala demikian, aku hanya merasa tenaga dalamku seperti mem-peroleh kemajuan yang sangat pesat setelah menelan pil hitam pemberian empek tua!" Mendengar perkataan mana. Oh Li cu mendengus gusar mulutnya sampai cemberut saking mendongkolnya, dia menganggap Lan See giok tidak cukup jujur terhadap dirinya. Melihat hal ini Lan See giok tertawa ham-bar, ia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi suara tambur yang memekakkan telinga te-lah berkumandang lagi, bahkan suaranya kali ini kedengaran lebih berat dan santar. Berubah paras muka Oh Li cu, sambil ber-seru tertahan dia bangkit berdiri, lalu ka-tanya cepat: "Tambur kedua telah dibunyikan, itu ber-arti semua kapal perang telah berkumpul di depan pintu benteng." Sambil berkata, cepat-cepat dia menge-luarkan sebuah botol kecil dari dalam saku-nya dan diserahkan kepada Lan See giok seraya ujarnya lagi: "Di dalam botol ini berisikan tiga butir pil Cing hiat ciat tok wan (pil pencuci darah pe-lenyap racun), bila kau rasakan aliran tenaga dalammu seperti tersumbat, cepatlah telan sebutir". Kemudian tergesa-gesa dia lari masuk ke dalam kamar sendiri. Memandang bayangan si nona yang men-jauh, tanpa terasa Lan See giok tertawa di-ngin, pikirnya. "Bapaknya licik, putrinya cabul, tak nanti aku Lan See giok akan terjebak oleh siasat kalian." Sambil tertawa dingin ia lantas membuka penutup botol itu dan memeriksa isinya. Dalam waktu singkat bau harum semerbak memancar ke mana-mana, seketika itu juga semangatnya terasa bangkit kembali.

150

Lan See giok mernjadi tertegun,z karena obat tewrsebut sama sekrali berbeda dengan pil hi-tam yang diberikan Oh Tin san ke-padanya tempo hari. TANPA terasa ia mengerling sekejap ke kamar nona itu sementara botol tadi di ma-sukkan kembali ke dalam sakunya, kini dia benar-benar tak habis mengerti, dia tak tahu mengapa Oh Li cu memberi obat pe-nawar racun kepadanya. Kenyataan ini tentu saja disambut gembira olehnya, perasaan simpatik yang semula memang tumbuh dalam hatinya terhadap Oh Li cu, kini mulai tumbuh kembali. Tak selang berapa saat kemudian, tampak Oh Li cu berjalan ke luar dari kamarnya de-ngan langkah tergesa gesa, di punggungnya bertambah dengan sebilah pedang, di ta-ngannya menggenggam senjata gurdi emas Cing kim kong luan cui milik Lan See giok. Tergerak hati Lan See giok setelah menyak-sikan kejadian itu, buru-buru dia bangkit berdiri, lalu memandang gurdi emas di ta-ngan Oh Li cu itu dengan termangu, dia tak habis mengerti apa sebab nya gadis itu menggembol senjata. Dengan cepat Oh Li cu sudah berjalan mendekat, katanya dengan wajah serius: 'Kau harus membawa serta senjata an-dalanmu ini, karena seusai upacara perke-nalan nanti, bisa jadi benda tersebut di per-lukan." "Mengapa?" tanya Lan See giok tidak mengerti. "Biasanya seusai upacara perkenalan, akan muncul orang-orang yang berwatak ingin menang sendiri untuk mencoba kepandaian dari anggota baru, mereka akan manfaat-kan kesempatan mana untuk memamerkan kepandaiannya di hadapan pocu dengan harapan bisa memperoleh pujian atau kedudukan yang jauh lebih baik." Lan See giok segera tertawa, memanfaat-kan peluang itu dia sambut senjata gurdi emasnya dan diselipkan di pinggang. Tampaknya Oh Li cu dipenuhi banyak pikiran, setelah memandang sekejap dan-danan Lan See giok yang mengenakan pakaian kedodoran, dia bertanya dengan kuatir: "Apakah kau perlu ikat pinggang untuk meringkaskan pakaianmu?" "Aaah tidak usah, masa benar-benar ada orang yang begitu berani hendak merebut kursi sau pocu ini dari tanganku?" Selesai berkata, dia berpura pura tertawa gembira. Melihat pemuda itu gembira, Oh Li cu turut gembira pula, katanya kemudian sambil ter-tawa: "Kalau begitu, mari kita segera berangkat!"

151

Sementara itu matahari sudah tinggi di angkasa, seluruh benteng Wi-limpoo dilapisi cahaya keemas emasan. Ketika Lan See giok dan Oh Li cu berjalan ke luar dari halaman, di tepi sungai telah parkir sebuah perahu naga yang agak nya dipersiapkan untuk menjemput Oh Tin san, Be congkoan dan lain lainnya. Perahu naga panjangnya empat kaki dan terdiri dari dua tingkat, seluruh tubuhnya berwarna kuning emas, bangunan perahunya pun sangat indah dan mempesona hati. Di ujung buritan perahu tampak beberapa orang lelaki berpakaian ringkas warna perak dengan tubuh yang tinggi tegap berdiri kekar di situ, wajah mereka rata-rata bengis, beralis tebal dan bermata besar, namun sikapnya munduk-munduk dan hormat. Ketika Oh Li cu berjalan mendekat, seren-tak semua lelaki kekar itu membungkuk kan badannya memberi hormat, tapi ketika men-dongakkan kepalanya kembali, mereka segera mengawasi Lan See giok dengan pandangan agak terkejut. "Adikku." kata Oh Li cu kemudian sambil tertawa angkuh. "inilah perahu naga emas milik ayah yang khusus untuk mengangkut ayah dan ibu saja." Lan See giok hanya tertawa hambar sambil manggut-manggut, melihat sikap sang pemu-da yang acuh tak acuh, Oh Li cu segera menambahkan lagi: "Kau adalah sau-pocu, tentu saja se-lanjut-nya kau boleh menumpang perahu ini juga, kau pun boleh memakai perahu ini untuk berpesiar ke mana-mana." Berkilat sepasang mata Lan See giok, se-ketika itu juga dia teringat untuk melarikan diri, tanpa terasa semangatnya berkobar kembali, katanya dengan gembira: "Sungguhkah itu? Aku benar-benbar boleh menumpjang perahu ini guntuk berpesiarb?" Melihat pemuda itu gembira, Oh Li cu turut tertawa cekikikan, sambungnya dengan ce-pat: "Aaah, masa enci bakal membohongi diri mu?" Belum habis tertawanya, dari balik pintu gedung berwarna merah telah bergema datang suara langkah kaki manusia. Ternyata mereka adalah si kakek bungkuk Be congkoan Thio-Wi-kang, Li Ci cun yang berjalan mengikuti di belakang Oh Tin san serta Say nyoo-hui. Kali ini Oh Tin san mengenakan pakaian perlente yang halus dan mahal harganya dengan mengenakan topi model hartawan. sepatunya indah, gayanya dibuat buat, persis seperti tampang seorang tuan tanah.

152

Say nyoo-hui Ki-Ci-hoa pun telah ber-ganti pakaian baru, wajahnya yang telah keriputan dihiasi dengan bedak yang tebal, agaknya jauh lebih tebal daripada kemarin. Ketika Oh Tin san dan Ki-Ci-hoa me-nyak-sikan Lan See giok berdiri berdampingan dengan putri mereka, ke dua orang itu segera tertawa gembira. Buru-buru Lan See giok dan Oh Li cu maju ke depan sambil memberi hormat. Sambil tertawa gembira Oh Tin san segera berkata: "Anak Giok, hari ini empek tua akan mem-perkenalkan kau kepada segenap komandan dan saudara-saudara kita yang ada di dalam benteng, mulai hari ini kau sudah kami ang-kat menjadi sau pocu -benteng Wi-limpoo." Say-nyoo-hui tertawa pula sambil menarik tangan Lan See-giok, sengaja ujarnya: "Anak Giok, kenapa kau tidak cepat-cepat berterima kasih kepada empek Oh mu?" Demi keberhasilannya melarikan diri, demi berhasil mempelajari ilmu berenang dan demi keberhasilannya mem-balaskan dendam ayahnya, terpaksa Lan See giok harus mengesampingkan semua masalah, biarpun harus menganggap bajingan sebagai ayah dia mau tak mau harus menahan diri. Maka kepada Oh Tin san katanya lagi sambil menjura: "Terima kasih banyak empek tua!" Oh Tin san segera tertawa terbbahak bahak dengjan bangganya. gBe congkoan danb Thio-Wi-kang pun secara beruntun maju ke depan untuk menyapa Lan See giok dan Oh Li cu. Lain halnya dengan si kupu-kupu ditengah ombak Li Ci cun, sejak menyaksikan sikap mesra Oh Li cu terhadap Lan See giok, dia sudah menarik mukanya, menunjukkan si-kap tak senang hati, apalagi setelah dilihat nya gadis itu tak pernah memandang sekejap matapun ke arahnya, api amarahnya sema-kin berkobar. Namun ia terpaksa harus mengekang rasa gusarnya setelah menyaksikan Be congkoan dan Thio-Wi-kang telah maju menyapa, dia segera maju pula ke depan sambil memberi hormat. Begitulah, dengan Oh Tin san berjalan di depan, Say nyoo-hui dan Oh Li cu mengapit Lan See giok di tengah, Be congkoan sekalian bertiga menyusul di belakang, mereka ber-sama sama naik ke atas perahu naga emas.

153

Sepanjang perjalanan, Oh Li cu tak pernah meninggalkan Lan See giok barang selang-kahpun, begitu mesra dan hangatnya hubu-ngan mereka tak ubahnya seperti sepasang pengantin baru. Oh Tin san dan Say nyoo-hui yang me-nyaksikan adegan itu menjadi amat gembira senyuman lebar tidak hentinya menghiasi bibir mereka--Benteng Wi-lim-poo memang luas sekali, mereka berlayar hampir seperti minum teh lamanya sebelum mencapai sebuah jalur air yang cukup lebar di depan pintu benteng yang tinggi dan kokoh. Waktu itu pintu benteng sudah terbentang lebar, aneka lentera menghiasi seluruh ba-ngunan benteng, ketika terhembus angin bola-bola lentera itu bergoyang tiada henti-nya. Enam orang lelaki bercelana biru berbaju merah, berdiri berjalan di atas loteng, di ta-ngan masing-masing orang tampak mem-bawa terompet panjang yang dihiasi bendera warna warni. Begitu perahu naga berlayar memasuki lorong benteng, serentak ke enam lelaki itu meniup terompetnya keras-keras. Menyusul kemudian suara tambur dan genderang dibunyikan bertalu talu, meng-i-ringi gerakan sang perahu yang semakin ce-pat. oooOooo BAB 8 Dengan wrajah serius pelzan-pelan Oh Tinw san bangkit berrdiri, kemudian didampingi Say nyoo-hui mereka beranjak ke luar dari ruangan perahu. Oh Li cu segera menarik tangan Lan See giok dan menyusul di belakang ke dua orang tuanya. Biarpun Lan See giok tahu kalau semua yang dipersiapkan oleh Oh Tin san termasuk bagian dari rencana busuknya, tak urung hatinya merasa tegang juga setelah menyak-sikan kesemuanya itu terutama sekali suara tambur yang dibunyi-kan bertalu talu, mem-bikin hatinya semakin tak tenang. Berpaling ke belakang, keningnya segera berkerut kencang, dia menyaksikan si kupu-kupu di tengah ombak Li Ci cun yang berdiri di belakangnya sedang menyeringai seram sambil melotot ke arahnya penuh kebencian. Lan See giok sungguh tak habis mengerti, dia tak mengerti apa sebabnya Li Ci cun menunjuk sikap yang begitu tak bersahabat dengan dirinya. Mendadak satu ingatan melintas lewat, ia lantas teringat kembali dengan peringatan dari Oh Li cu, pikirnya: "Waah, jangan-jangan sehabis upacara perkenalan nanti, Li Ci cun akan me-nan-tangku untuk bertarung?"

154

"Aaah, mustahil." demikian pikirnya kemu-dian, "hal ini tak masuk di akal, siapa yang berani merebut kedudukan sau-pocu de-nganku---?" Sementara dia masih melamun, perahu te-lah berlabuh di sisi kanan pintu gerbang, menyusul kemudian beberapa orang itu tu-run dari perahu dan menelusuri undak un-dakan batu yang besar menuju ke bangunan loteng di atas benteng. Sekarang Lan See giok baru berkesem-patan untuk melihat jelas lagi, dinding ben-teng itu luasnya mencapai delapan depa, se-lain tebal dan panjang, nampaknya amat kokoh. Setibanya di atas loteng, beberapa orang itu langsung menuju ke atas mimbar di de-pan loteng, di depan mimbar tersedia se-buah meja panjang beralas kain merah, mungkin disitulah terletak mimbar kehormatan. Dalam pada itu suara tambur telah ber-henti, kecuali suara ombak yang memecah di kaki benteng, sama sekali tak ke-dengaran sedikit suarapun. Lan See giok mengikuti di belakang Oh Tin san langsung menuju ke atas mimbar ke-hormatan. Sesampainya di depan meja kehormatan dan melongok ke bawah, pemuda itu kontan merasakan matanya silau, ia betul-betul dibuat terkejut sampai tertegun untuk se-saat. Rupanya pada permukaan telaga di luar dinding benteng, terlihat kapal perang berla-buh berderet deret, tiang perahu yang men-julang angkasa dengan aneka bendera yang berwarna warni, cahaya go1ok dan tameng yang gemerlapan, menimbulkan suasana yang amat mengerikan hati. Biarpun begitu banyak perahu berderet- deret di sana, ternyata suasana begitu hening dan sepi sehingga boleh dibilang tak kede-ngaran sedikit suarapun. Lan See-giok coba mengamati dengan lebih seksama, ternyata perahuperahu perang itu lebarnya beberapa kaki, waktu itu sepanjang anjungan perahu berderet deret lelaki kekar bergolok yang menyandang busur dan tameng. Jumlah kapal perang itu mencapai ratusan buah, sedang lelaki-lelaki kekar itu mencapai dua ribu orang lebih, namun mereka semua berdiri dengan tenang, sedemikian tenangnya sehingga tak kedengaran sedikit suarapun. Kapal perang itu terdiri dari empat pasu-kan dengan membentuk posisi empat persegi panjang, semuanya berlabuh di atas permu-kaan telaga di muka benteng dengan rapinya. Dengan cepat Lan See giok menjumpai kalau lambang dari setiap pasukan tersebut berbeda beda, pakaian seragam yang di ke-nakan masing-masing pasukan pun tidak sama satu dengan lainnya.

155

Pada pasukan yang berada di sebelah kiri, pada ujung perahunya terpancang sebuah panji bergambar kepala naga yang sedang mementangkan cakar, anggotanya bersera-gam warna hijau. Pasukan kedua mempunyai lambang hari-mau terbang, baju seragamnya kuning. Pasukan ke tiga berlambang seekor singa baju seragamnya abu-abu muda. Sedangkan pasukan ke empat berlambang macan kumbang hitam, semua anggotanya berseragam hitam. Di ujung tiang bendera masing masing-pasukan terpancang bendera dari masing-masing regu. Belum habis Lan See giok melihat, Oh Tin-san dan Say nyoo-hui telah berdiri berja-jar di depan panggung kehormatan tersebut. Menyusul kemudian dari arah belakang berkumandang suara terompet yang di bu-nyikan nyaring. Dua ribu orang lelaki kekar yang berada di sisi kapal perang, serentak mengangkat tom-bak masing-masing sambil bersorak sorai. Dengan wajah serius dan pancaran sinar sesat dari balik matanya, pelanpelan Oh Tin-san mengangkat tangan kanannya ke atas sambil memandang ke kiri dan kanan, bunyi terompet segera berhenti, sorak sorai turut berhenti, segenap lelaki kekar itu ber-sama sama menurunkan kembali tombak masing-masing. Diam-diam Lan See-giok merasa terkejut menyaksikan keadaan seperti ini, agaknya daya pengaruh dari Wi-lim-poo memang tak boleh dipandang enteng. Dengan suara nyaring pelan-pelan Oh Tin san berkata: "Saudara sekalian, hari ini aku sengaja mengumpulkan kalian semua di tempat ini karena aku ingin memperkenalkan se-orang warga baru dari benteng kita." Lalu sambil menuding Lan See-giok yang berdiri di sisinya, dia berkata lebih jauh: "Dia adalah keturunan satu satunya dari Kim lui gin tan (Gurdi emas peluru perak) Lan tayhiap yang sesungguhnya adalah sa-habat karibku, sejak hari ini dia Lan See-giok akan menjadi sau pocu kalian, dan dia pula yang akan menjadi satu satu-nya penerus kedudukanku ini." Begitu perkataan tersebut selesai diutara-kan, kembali suara tempik sorak yang gegap gempita berkumandang memecahkan ke-heningan. Bersama itu pula, tombak di angkat ke atas hingga berkilauan terpantul cahaya mentari, suasana betul-betul mengerikan.

156

Menyaksikan kesemuanya itu, Lan See-giok merasakan darah panas di dalam dadanya bergolak keras. tapi ia berusaha keras untuk mengendalikan gejolak perasaannya, pelan-pelan dia melambaikan tangannya untuk menyambut tempik sorak dari kawanan jago di ratusan perahu perang tersebut. Detik itu juga dia merasa semangatnya berkobar kembali, timbul tekadnya untuk memanfaatkan kekuatan yang ada untuk membalaskan dendam bagi kematian ayah-nya, dia pun hendak menggunakan kekuatan tersebut untuk memunahkan perompak dan perampok yang seringkali mengganggu kaum nelayan. Sementara itu, Oh Tin san telah mengang-kat tangannya kembali, suasana segera menjadi hening kembali, suara tempik sorak yang gegap gempita tadi kini menjadi sirap sama sekali. "Sekarang, aku hendak memperkenalkan setiap pasukan kepada sau pocu kalian yang baru, nah harap masing-masing pasukan memberi hormat kepada sau pocu." Kemudian sambil berpaling ke arah pasu-kan kapal perang pertama yang berlambang naga dia berseru: "Pasukan naga sakti ...." Menyusul teriakan itu, segenap lelaki kekar yang berada di atas kapal perang Naga sakti bersama sama mengangkat tongkatnya sam-bil menengok ke arah loteng benteng. Lan See giok segera mengangkat tangan kanannya dan dilambai lambaikan ke arah pasukan tersebut Oh Tin san beralih memandang ke arah pasukan kedua, teriaknya pula: "Pasukan harimau terbang.." Kembali semua anggota pasukan harimau terbang mengangkat tombaknya sambil me-nengok ke arah benteng. Sekarang Lan See giok baru menemukan bahwa di dalam setiap pasukan, tentu ter-dapat sebuah kapal perang yang berada di paling depan, di ujung geladak berdiri se-orang manusia yang mengenakan pakaian berwarna sama namun berbeda bahannya. di belakang orang itu masih berdiri pula bebe-rapa orang lelaki kekar, mungkin itulah ko-mandan dari masingmasing pasukan. Menyusul kemudian Oh Tin san memper-kenalkan pasukan singa jantan dan pasukan macan kumbang hitam. Sementara itu Say nyoo-hui, Oh Li cu serta Be congkoan sekalian mendapat kesan kalau Lan See giok seakan akan telah berubah jauh lebih matang hanya dalam sekejap saja, seakan akan berubah menjadi seorang lelaki dewasa yang berpengalaman.

157

Tampak pemuda itu berdiri tegap dengan mata berkilat . . . dan senyuman menghiasi ujung bibirnya, dalam keadaan demikian, ia kelihatan begitu gagah dan perkasa. Menyaksikan ketampanan serta kegagah-an anak muda tersebut, tanpa terasa Oh Li cu tertawa serta merta dia menyikut tubuh ibunya Say nyoohui. Say nyoo-hui sendiri hanya termenung dengan wajah serius, tampaknya dia sedang dibebani oleh suatu pemikiran yang men-dalam atau bisa jadi dia telah mengetahui asal usul Lan See-giok yang sesungguhnya. Kupu-kupu dibalik ombak Li Ci-cun me-ngawasi kesemuanya ini dari belakang, ketika menyaksikan Lan See-giok mem-peroleh kedudukan begitu tinggi tanpa ber-susah payah, tanpa sadar rasa bencinya terhadap pemuda itu merasuk sampai ke tulang sum-sum. Seandainya tiada kehadiran Lan See giok, sudah pasti ia telah menjadi suami istri de-ngan Oh Li cu, apalagi Oh Tin san dan Say nyoo-hui sudah lama menyetujui hubungan mereka, ini berarti kedudukan sau pocu dari benteng Wi-lim-poo tentu akan menjadi mi-liknya. Tapi kini dari tengah jalan muncul se-orang Lan See giok. bukan saja Oh Li cu menjadi berubah hati, bahkan Oh Tin-san mengu-mumkan di depan umum bahwa dia telah mengangkat Lan See giok sebagai ahli waris kedudukannya sebagai seorang pocu. Kini dia bukan hanya membenci Lan See giok dan Oh Li-cu, bahkan terhadap Oh Tin-san pun menaruh perasaan benci yang luar biasa. Diliriknya sekejap ke empat manusia yang berada di panggung kehormatan itu dengan penuh kebencian, lalu sekulum senyuman yang menggidikkan hati menyungging di ujung bibirnya, pikirnya kemudian: "Bocah keparat she Lan, kau jangan kebu-ru sombong dulu. sebentar aku pasti akan membuatmu tergeletak di tanah dengan ber-mandikan darah kental." Sementara itu upacara perkenalan telah selesai, suasana di seluruh arena masih tetap diliputi keheningan yang luar biasa. Tiba-tiba Oh Tin san berpaling dan me-mandang sekejap ke arah Lan See giok ke-mudian dengan sikapnya yang angkuh dan penuh rasa bangga ia berkata: "Bocah bodoh, sampaikanlah beberapa pesan kepada segenap saudara kita yang hadir di sini." Sebetulnya Lan See giok tak ingin banyak urusan, namun terdorong oleh ambisi di dalam hatinya, dia merasa berkewajiban un-tuk menyampaikan beberapa patah kata.

158

Maka dia maju ke depan, menghimpun hawa murninya dan memandang sekejap ke seluruh arena, kemudian dengan kening berkernyit ujarnya dengan lantang. "Saudara sekalian, setelah kusaksikan senjata kalian yang bergemerlapan, barisan kalian yang rapat, kapal perang yang perkasa serta semangat kalian yang berkobar, aku merasa benar-benar bangga dan gembira bisa berkumpul dengan kalian semua." Setelah berhenti sejenak dan sekali lagi memandang sekejap wajah orangorang itu, dia berkata lebih jauh: "Wi-lim-poo bisa menjagoi telaga Huan yang oh, menggetarkan sungai besar dan tersohor di seantero jagad, semua keberhasilan ini sesungguhnya berkat kemampuan dari toa pocu serta semangat saudara sekalian yang perkasa dan berani mati, itu berarti semua kejayaan dari Wilim-poo sesungguhnya adalah milik saudara sekalian . . ." Belum habis perkataan itu diutarakan suara tempik sorak yang gegap gempita telah berkumandang memecahkan keheningan, tampaknya perkataan dari si anak muda tersebut telah membangkitkan rasa gembira dari masing-masing orang, sebab selama banyak tahun ini, belum pernah mereka mendengar suatu nasehat dan anjuran yang bersemangat seperti ini. Melihat reaksi spontan dari semua anggota benteng, Lan Se giok merasa ter-kejut, dia kuatir Oh Tin san iri sehingga usahanya akan menemui kegagalan total, maka cepat-cepat dia mengangkat tangannya untuk meredakan suasana. Setelah suasana menjadi tenangb kembali, Lan Sjee-giok berkatag lebih jauh. "bLo-pocu kita adalah seorang manusia yang cerdas dan seorang angkatan tua yang ber-kedudukan tinggi, beliau dihormati dan disanjung semua umat persilatan, bayangkan saja kemajuan yang berhasil dicapai Wi-lim-poo kita sekarang, tanpa pimpinan dari Lo pocu, kecerdasan otak hujin dan bantuan perencanaan dari Be to-enghiong sekalian bertiga, mana mungkin bisa mencapai ke-adaan demikian?. Maka kuanjurkan kepada saudara sekalian agar lebih ketat menjaga peraturan benteng kita dan membangun ber-sama kejayaan benteng kita..." Sekali lagi tempik sorak yang gegap gem-pita berkumandang memenuhi angkasa, bahkan sorak sorai yang terdengar kali ini jauh lebih nyaring ketimbang tadi. Tak terlukiskan rasa gembira Oh Tin san setelah mendengar pujian dari Lan See giok itu, wajahnya segera berseri-seri, dia merasa taruhan yang dilakukan kali ini pasti akan menghasilkan kemenangan di pihaknya.

159

Menyusul kemudian Be Siong pak dan Thio-Wi-kang datang memberi selamat kepada Oh Tin san dan Lan See giok, sambil bersyukur karena pocu mereka berhasil mendapatkan ahli waris yang baik. Sebaliknya paras muka si kupu-kupu di balik ombak Li Ci cun berubah menjadi pucat pasi seperti mayat, hatinya gugup dan panik. dia tidak menyangka kalau Lan See giok de-ngan usianya yang begitu muda ternyata sanggup menarik simpatik dari segenap ang-gota benteng dengan beberapa patah kata-nya. Sadarlah dia sekarang bahwa kemampuan yang dimilikinya masih jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan kemampuan Lan See giok, ini berarti dia tak akan pernah bisa berebut kedudukan dengan pemuda ter-sebut. Berpikir demikian, diapun mengikuti di belakang Be congkoan den Thio-Wikang untuk menyampaikan selamat kepada Oh Tin san, tapi dia tidak berkata apa-apa kepada Lan See giok. Say nyoo-hui Ki-Ci-hoa yang jauh lebih licik ketimbang Oh Tin san segera merasakan pula betapa cerdik dan berbakatnya Lan See giok, bukannya merasa gembira, dia justru merasa hatinya makin lama semakin berat. Namun ketika melihat kegembiraan yang dialami Oh Tin san, maka diapun ikut ter-tawa lebar. Oh Li cu yang merasa paling gebmbira, sambil bjersandar di sisgi tubuh ibunya,b sorot matanya yang berkilat tak pernah bergeser dari tubuh Lan See giok, dalam anggapannya, Lan See giok adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, seorang calon suami yang paling ideal baginya. Dalam gembiranya, Oh Tin san segera menitahkan kepada Be congkoan untuk menyiapkan pesta di ruang Kit oh ting tengah hari nanti, semua komandan kapal perang diundang untuk menghadiri pesta, sedang-kan segenap anggota lainnya dipersilahkan minum arak di tempat masingmasing sepuasnya. Kupu-kupu dibalik ombak Li Ci-cun yang sebenarnya telah menyiapkan rencana busuk dengan menyuruh ji-kui (setan kedua) dari Po - tiong - sam kui untuk menantang Lan See giok sehabis upacara perkenalan ini menjadi kecewa sekali, sebab dengan terjadinya peru-bahan tersebut berarti semua rencananya akan mengalami kegagalan total--Tapi harapannya segera timbul kembali setelah mendengar akan diselenggarakan-nya pesta tengah hari nanti, suatu rencana keji kembali telah melintas di dalam benaknya. Ketika Oh Tin san sekalian sudah kembali ke dalam rumah, Say nyoo-hui yang cukup memahami jalan pemikiran putrinya segera, berkata kepada mereka berdua. "Kalian berdua boleh kembali ke kamar, untuk beristirahat!"

160

Oh Li cu menyambut seruan itu dengan penuh kegirangan ia segera menarik tangan Lan See giok kembali ke kamarnya. Sudah sedari tadi dia mesti menahan diri untuk mengekang gejolak napsu birahinya, semenjak masih berada di panggung kehor-matan tadi dia sudah tak tahan ingin meme-luk Lan See giok, sebab dalam anggapannya, kini Lan See giok sudah menjadi suaminya. Lan See giok sendiri tetap bersikap wajar, seakan akan tidak memahami jalan pemikiran orang, senyum manis tetap meng-hiasi ujung bibirnya, padahal dalam hati kecilnya dia merasa muak dan bosan, sebab gerak gerik dari Say-nyoo-hui tadi telah menimbulkan perasaan was-was bagi dirinya. Dalam perjalanan masuk ke ruangan dalam, tiba-tiba ia menyaksikan Li Ci cun sedang berdiri di luar pagar rumarh sambil mengawzasi ke arahnya wdengan pandangarn penuh kegusaran dan menggigit bibir me-na-han rasa dendam. Melihat hal ini Len See-giok menjadi paham kembali apa sebabnya Li Ci cun begitu mem-bencinya, ternyata hal ini disebabkan hubungannya yang terlampau mesra dengan Oh Li cu. Belum habis jalan pikiran tersebut me-lin-tasi lewat, tiba-tiba pemuda itu merasa tubuhnya telah dipeluk erat-erat oleh Oh Li cu, menyusul kemudian terdengar gadis itu berseru dengan lembut: "Ooh adikku, cici pingin sekali melalap kau si bocah bodoh dan menelannya ke dalam perut." Kemudian dia menghantar bibirnya yang merah merekah itu ke depan dan mendarat-kan beberapa kali ciuman mesra ke wajah dan bibir Lan Seegiok. Lan See-giok benar-benar tidak menyangka Oh Li cu akan bersikap begitu tak tahu malu, tapi dia pun tak berani menolak ciuman tersebut terlalu kasar, apalagi bau harum yang begitu tebal sudah membikin kepalanya terasa pusing tujuh keliling. Mendadak . . . Mencorong sinar tajam dari balik mata Lan See giok, rupanya dia telah menyaksikan munculnya sesosok bayangan hitam dari be-lakang jendela sana. Maka cepat-cepat dia mendorong tubuh Oh Li cu sambil menuding ke arah jendela sebe-lah belakang . . Waktu itu Oh Li cu sedang dipengaruhi oleh kobaran napsu birahi, ia sedang terbuai dalam suasana yang begitu hangat dan syah-du ketika tubuhnya didorong secara tiba-tiba oleh pemuda tersebut.

161

Dengan cepat dia berpaling ke arah yang ditunjuk, apa yang terlihat olehnya membuat gadis ini naik pitam, sambil membentak keras, tangan kanannya segera di-ayunkan ke depan melepaskan sebilah pisau terbang. Serentetan cahaya tajam segera berkelebat lewat menembusi jendela. . . Bayangan manusia di luar jendela itu le-nyap tak berbekas, tapi kemudian terdengar seseorang membentak secara kasar: "Manusia rendah yang tak tahu malu, kau berani memaksa menciumi nona.. .? serahkan nyawa anjingmu." Paras muka Oh Li cu kontan berubah menjadi merah membara, hawa napsu mem-bunuhnya dengan cepat menyelimuti seluruh benaknya, sebuah pukulan dahsyat dengan cepat meluncur ke depan menghajar jendela belakang itu sehingga hancur lebur. Bayangan manusia kembali berkelebat le-wat, kali ini menerobos ke luar dari jendela luar. Lan See giok yakin kalau orang yang bersembunyi di belakang jendela tadi pasti adalah si kupu-kupu di balik ombak Li Ci cun, tapi oleh sebab dia kuatir Oh Li cu men-dapat celaka, buru-buru dia menutul permu-kaan tanah dan secepat kilat berkelebat ke depan menyusul di belakang gadis tersebut. Tiba di tempat kejadian, pemuda itu melongo, ternyata Oh Li cu dengan muka hi-jau membesi, alis mata berkernyit dan pedang terhunus sedang berhadapan dengan seorang lelaki berbaju ungu, di sekitar sana sama sekali tidak nampak bayangan tubuh dari Li Ci cun. Lelaki berbaju ungu itu memiliki perawa-kan tubuh yang kekar, alis mata yang tebal, mata yang bulat penuh bercambang tapi berwajah pucat, matanya penuh diliputi sinar kaget dan melihat tanpa berkedip dia mengawasi ujung pedang Oh Li cu, sementara tubuhnya selangkah demi selangkah mundur terus. Sementara itu di ruang depan telah ber-datangan dua tiga puluhan sampan kecil yang mengangkut para komandan pasukan yang datang mengikuti perjamuan, malah ada yang sudah naik ke atas punggung mim-bar. Oh Li cu berdiri dengan hawa napsu mem-bunuh menyelimuti seluruh wajahnya, ia sama sekali tidak berpaling ke arah para ko-mandan pasukan yang sementara itu berda-tangan dengan penuh tanda tanya. sorot matanya mengawasi lelaki itu lekat-lekat, kemudian dengan nada penuh kebencian pelan-pelan ia berkata: "Say-li-kui (setan ikan leihi) siapa yang memerintahkan kau mengintip kami? Ayo cepat menjawab dengan sejujurnya. Aku ya-kin kalau kau sendiri tak akan mem-punyai keberanian sebesar ini. Hmm! Jika kau eng-

162

gan menjawab, jangan salahkan kalau keta-jaman pedang nonamu akan membacok tubuhmu mbenjadi dua bagijan---". Si setgan ikan leihi sbangat gugup dan keta-kutan, sekujur badannya gemetar keras, se-mentara butiran keringat sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran dengan amat derasnya, sambil mundur berulang kali rengeknya ketakutan. "Nona--- ti--- tidak ada yang memberi pe-rintah. hamba---- hamba tidak sengaja ...tidak sengaja--- tidak sengaja lewat di de-pan jendela..." Oh Li cu semakin naik darah, di dalam anggapannya si setan ikan leihi ini tak mau mengaku, kembali hardiknya: "Tutup mulut. . . . bila kau tetap mem-bungkam, nona akan membuat tubuh mu tercincang di tempat ini juga!" Setan ikan leihi semakin ketakutan, bibirnya sudah bergetar pucat, hatinya mulai goyah. Sementara itu, para komandan yang ikut dalam perjamuan telah berdatangan semua, hampir seluruhnya berkerumun di sekitar sana dan mengawasi Oh Li cu serta setan ikan leihi dengan pandangan kaget bercam-pur keheranan. Menyusul kemudian Be Siong pak dan Thio-Wi-kang berdatangan pula, walaupun kedua orang ini tidak mengerti masalah apakah yang telah terjadi, namun tak se-orangpun berani membuka suara. Oh Li cu sudah merasa kalau setan ikan leihi mulai goyah, hatinya dan bersedia me-ngaku, maka dengan memperhalus suara nya ia berkata. "Katakan saja, asal kau bersedia mengaku, nona tak akan membunuhmu---" Mendadak pada saat itulah dari kejauhan sana terdengar seseorang berseru keras: "Lo pocu dan hujin tiba---" Dengan bergemanya suara itu, serentak suasana di sekeliling tempat itu berubah menjadi hening, sepi dan amat serius. Lan See giok berpaling, ia lihat Oh Tin san bersama Say nyoo-hui datang bersama, wa-jah Oh Tin san yang kurus memanjang dili-puti hawa dingin dan kelicikan yang tebal. Dengan mata sesatnya Oh Tin san me-nya-pu sekejap sekeliling tempat itu, lalu kepada Oh Li cu ia bertanya: "Anak Cu, apa yang terjadi?" bDengan wajah mejrah bercampur hgijau membesi, Obh Li cu memandang ke arah Se-tan ikan leihi dengan pedangnya. lalu berseru penuh amarah: "Ia berani mengintip dari belakang jendela!"

163

Oh Tin san berkerut kening lalu manggut, sorot mata sesatnya memandang sekejap ke wajah setan ikan leihi, kemudian sekulum senyuman me-nyeringai menghiasi ujung bibirnya. Si Setan ikan leihi segera sadar kalau ben-cana besar telah berada di depan mata, de-ngan penuh ketakutan buru-buru dia mem-bela: "La--- lapor lo -- lo pocu--- hamba---hamba hanya tanpa sengaja melihat sau pocu men-cium nona dengan paksa. . . . ." Begitu ucapan tersebut diutarakan, sorot mata semua orang yang hadir bersama sama dialihkan ke wajah Lan See giok. Bisa dibayangkan betapa gusarnya Lan See giok, keningnya segera berkerut, matanya berkilat kilat dan sekujur tubuhnya gemetar keras, ia merasa percuma saja banyak mem-bantah dalam suasana begini. Oh Li cu sendiripun nampak sangat marah dengan wajah merah membara dia membentak nyaring lalu menusuk tubuh lelaki itu. Biarpun dalam keadaan kaget bercampur ketakutan, ilmu silat yang dimiliki setan ikan leihi memang cukup tangguh, dia segera mengigos ke samping. Begitu tusukan pedang dari Oh Li cu me-ngenai sasaran kosong, ia segera mundur dengan gugup, matanya terbelalak lebar dan menengok kesana kemari dengan terkejut, seakan akan sedang mencari se-seorang. Pada saat itulah--"Anak Cu, tunggu sebentar---" Oh Tin san berseru dengan suara dalam. Berada di depan umum, tentu saja Oh Li cu tak berani membangkang perintah ayah-nya, ia segera menarik kembali pedangnya sambil mundur setelah mendengar perkataan itu, cuma bibirnya yang semula merah kini telah berubah menjadi pucat. Suasana menjadi amat hening dan sepi, wajah semua orang diliputi ketegangan, bahkan banyak di antara mereka yang me-nyadari bahwa selembar nyawa si setan ikan leihi tak akan bisa melewati hari irni. Oh Tin sazn memandang ke warah setan ikanr leihi sambil tertawa dingin, seperti lagi berbi-cara terhadap dia seorang, seperti juga lagi berbicara terhadap para hadirin di situ, ujarnya dengan suara dingin: "Lan See giok adalah sau pocu, dia me-ru-pakan ahli waris dari benteng kita, ia adalah keponakanku, juga menantuku, soal cium mencium bagi mereka adalah urusan pribadi antara suami istri, soal tersebut tak ada sangkut pautnya dengan siapa saja. . . . ." Lan See giok tertegun, dia tidak me-nyangka kalau si manusia bertelinga tunggal Oh Tin san bakal mengumumkan di depan umum kalau dia adalah calon suami Oh Li cu.

164

Sementara itu Oh Li cu yang semula berdiri dengan wajah hijau membesi, sekarang berubah menjadi merah dadu dan tersenyum simpul, diam-diam ia mengerling sekejap ke arah Lan See giok. Ketika selesai berbicara, Oh Tin san kem-bali memandang sekejap seluruh arena de-ngan pandangan sesat, lalu teriaknya keras-keras: "Di mana pengawas Li?" "Hamba di sini!" diantara kerumunan orang banyak, kedengaran Li Ci cun menjawab dengan suara gemetar. Lan See giok terkejut, cepat ia berpaling ternyata Li Ci cun munculkan diri dari keru-munan orang banyak orang tak jauh di bela-kang tubuhnya dan sebelum ini ter-nyata ia tak melihat kehadiran orang ter-sebut. Li Ci cun munculkan diri dengan wajah hijau membesi. alis matanya yang tebal ber-kernyit, matanya yang kecil memancarkan sinar buas yang berapi api, setelah muncul dari kelompok manusia, ia melirik sekejap ke arah Lan See giok dengan penuh kebencian, kemudian baru meneruskan perjalanan-nya ke depan Oh Tin san. Oh Tin san memandang ke arah Li Ci cun lalu sambil menuding ke arah Setan ikan leihi, serunya dengan suara dalam: "Binasakan dia!" Li Ci cun seperti tertegun sesudah mendengar perintah itu, sedangkan si ikan leihi semakin amat ketakutan sampai wajah-nya turut berubah menjadi pucat pias. Mendadak--Sambil menggertak gigi Li Ci cun men-jejak-kan kakinya ke tanah, kemudian dengan gaya tubrukan yang buas dan nekad ia ter-jang tubuh Lan See-giok. Kejadian ini sama sekali di luar dugaan semua orang, kontan saja suasana menjadi gempar. Oh Li cu membelalakkan pula matanya le-bar-lebar, mulutnya melongo, saking terke-jutnya ia sampai termangu. Dalam pada itu Li Ci cun sudah tiba di ha-dapan Lan See giok, sambil membentak se-buah bacokan maut langsung dilontarkan olehnya ke wajah Lan See giok. Selama ini pandangan mata Lan See giok tak pernah beralih dari tubuh Li Ci cun sejak musuh menerjang tiba. ia telah mempersiap-kan diri dengan sebaik baiknya. Begitu musuh datang, ia melejit ke sam-ping dan mundur sejauh satu kaki lebih.

165

Kupu-kupu ditengah ombak Li Ci cun merasakan pandangan matanya menjadi si-lau, tahu-tahu ayunan telapak tangan kanannya telah mengenai sasaran kosong, agaknya dia tidak menyangka kalau se-rangannya bakal menemui kegagalan. "Tahan ..." mendadak Oh Tin san mem-bentak nyaring. Sejak si kupu-kupu ditengah ombak Li Ci cun mendengar Oh Tin san mengumumkan kepada umum bahwa Lan See giok adalah calon suami Oh Li cu, ia telah bertekad un-tuk beradu jiwa. Karena itu, sekalipun dia segera menghen-tikan gerak serangannya setelah mendengar bentakan tadi namun orangnya masih tetap berdiri garang di sana, berdiri sambil melototi Lan See giok dengan penuh kegusaran. . Lan See giok sendiri berdiri ditengah arena dengan senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya, ia memandang sinis ke arah musuhnya tersebut. Berbicara yang sebenarnya, Oh bTin san tahu dejngan jelas sebagb musabab yang bme-ngakibatkan Li Ci cun bersikap demikian, tapi ia toh menegur juga dengan suara dalam: "Li Ci cun, mau apa kau?" "Aku hendak menantang keparat she Lan itu untuk berduel. . ." jawab kupu-kupu di tengah ombak dengan kalap. Say nyoo-hui yang selama ini mem-bung-kam dalam seribu bahasa tibatiba memutar biji matanya, kemudian menyela. "Bila kau sanggup mengungguli Lan See giok, aku akan mengambilkan keputusan bagi anak Cu untuk dijodohkan denganmu!" Oh Li cu gusar sekali setelah mendengar perkataan itu, berkilat sepasang matanya, dengan marah ia berkata: "Tidak susah bila kau ingin kawin de-ngan-ku. tapi menangkan dulu pedang mes-tika di tanganku ini". Seraya berkata pedangnya segera di-ayun-kan ke tengah udara, di bawah cahaya mata-hari siang, terbias sekilas bayangan tajam yang berkilauan. Lan See giok hanya berdiri sambil tertawa sinis selama ini, sedang dalam hatinya: "Dasar sesarang manusia-manusia yang tak tahu malu." "Baiklah. . ." tiba-tiba terdengar Oh Tin san berkata sambil tertawa dingin, "kalau Lan See giok tidak diberi kesempatan untuk memper-lihatkan kelihaiannya kalian memang selalu tak mau takluk..!" Berbicara sampai di situ, dia menengok ke arah Li Ci cun sembari bertanya: "Kau ingin bertarung dalam tangan kosong atau ingin beradu senjata tajam?"

166

Kupu-kupu di tengah ombak Li Ci cun tahu bahwa ilmu silat Lan See giok cukup tangguh terutama dalam ilmu gurdi emas yang tiada tandingannya, karena itu dia tak berani beradu senjata tajam melainkan ber-harap bisa mencari kemenangan dengan an-dalkan tangan kosong, ditambah pula Say nyoo-hui telah mengutarakan dihadapan umum. bila ia sanggup mengungguli Lan See giok, maka Oh Li cu akan dikawinkan de-ngannya. Itulah sebabnya sesudah ragu se-jenak, dengan wajah hijau membesi tapi ber-sikap hormat dia menyahut: "Dalam suatu pertarungan, senjbata tak bermataj, hamba bersediga mempergunakanb sepasang tangan kosong untuk mencoba berapa ampuh dari Lan See giok!" Mendengar jawaban tersebut, sekulum senyuman menyeringai segera menghiasi ujung bibir Oh Tin san, katanya kemudian sambil manggutmanggut. "Baiklah, harap kau suka berhati hati" Selesai berkata, ia bersama Say nyoo-hui segera mundur beberapa langkah. Para komandan pasukan yang semula mengitari tempat tersebutpun serentak meng-undurkan diri. Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Oh Li cu, menggunakan kesempatan tersebut dia mengundurkan diri dan secara diam-diam mendekati si setan ikan leihi dari arah lain. Dalam pada itu Li Ci cun telah mengepal tinjunya sambil maju dengan dada di-bu-sungkan, ia berjalan ke hadapan Lan See giok dan berhenti enam tujuh langkah di ha-dapannya, setelah menjura, katanya dengan angkuh: "Sudah lama kudengar ilmu silat yang di miliki Lan Khong-tay sangat hebat dan na-manya termasyhur dalam dunia per-si1atan, lama sudah kukagumi namanya hanya sayang selama ini belum ada jodoh untuk menjumpainya. Lan siauhiap, kini masih muda lagi berbakat, aku yakin kau telah me-warisi kepandaian ayahmu. Mumpung hari ini ada kesempatan, ingin sekali kumanfaat-kannya untuk minta berapa petunjuk ilmu sakti dari siauhiap." Sementara berbicara dengan mata ber-kilat dia mengamati Lan See giok tiada hentinya, sikapnya begitu jumawa sehingga memuak-kan. Lan See giok merasa sikap maupun gerak gerik Li Ci can tak ubahnya seperti kalangan si1at kampungan, sejak tadi ia sudah habis kesabarannya, maka sambil tertawa dingin katanya: "Kalau ingin beradu silat, lebih baik beradu secepatnya, buat apa banyak ngebacot yang tidak-tidak!"

167

Li Ci cun yang sudah marah semakin naik darah lagi setelah melihat cara Lan See giok berdiri, seakan akan pemuda tersebut sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap dirinya. Begitu selesai mendengarkan perkataan Lan See giok, dengan amarah yang meledak ledak ia membentak keras kemudian me-ner-jang ke muka, tangan kirinya diayunkan ke muka mendorong tubuhr musuh, sementazra tangan kananwnya membacok warjah Lan See giok. Lan See giok sendiripun cukup sadar, se-andainya dia tak mampu mengalahkan Li Ci cun, jangan harap dia bisa angkat kepala di dalam benteng Wi-lim-poo, dihati kecilnya dia telah mengambil keputusan untuk menyam-but serangan lawan dengan kekerasan. Dengan senyuman hambar menghiasi ujung bibirnya secara diam-diam ia men-ghimpun hawa murninya, ketika musuh me-lancarkan bacokan, tibatiba kaki kanannya mundur setengah langkah, kemudian sambil miring-kan badan ia menangkis dengan le-ngan kirinya-"Cari mampus..." umpat Li Ci cun dengan gusar. Telapak tangan kanannya yang melepas-kan bacokan, segera ditambahi lagi dengan tenaga sebesar dua bagian. Ia bertekad akan mematahkan lengan kiri Lan See giok terse-but. "Blaammm!" "Ditengah benturan nyaring, suara de-ngusan tertahan bergema memecahkan ke-bisingan, dengan alis berkernyit dan meng-gigit bibirnya kencang. secara beruntun dia mundur sampai sejauh empat langkah lebih. Tempik sorak segera bergema memenuhi seluruh arena pertarungan . . . Sepasang bahu Lan See giok bergetar keras, diam-diam ia menggertak gigi mena-han diri, meskipun lengan kirinya amat sakit bagaikan disayat pisau, namun sepasang kakinya sama sekali tidak bergerak mundur barang setengah langkahpun. Li Ci cun memegangi pergelangan tangan kanannya yang kesakitan sambil me-nyeri-ngai, rasa malu bercampur gusar membuat wajahnya berubah menjadi merah padam, dengan sepasang mata yang melotot besar bagaikan gundu. dia pelototi wajah Lan See giok penuh kebuasan, sedang pernapasannya diatur secara diam-diam. Dalam pada itu, para komandan pasukan yang berkumpul di situ diamdiam pada ber-bisik membicarakan persoalan tersebut, se-dang sorot mata yang tertuju kearah Lan See giok pun penuh dengan pancaran sinar kekaguman, hampir semuanya tercengang oleh kelihaian anak muda tersebut.

168

Dalam pada itu, disaat perhatian semua orang sedang terpusat pada pertarungan antara Lan See giok melawan Li Ci cun, ujung pedang Oh Li cu secara diam-diam telah ditempelkan di belakang pinggang setan ikan leihi. Dengan cepat setan ikan leihi dapat me-rasakan hal tersebut, dengan cepat ia berpa-ling, tapi apa yang kemudian terlihat mem-buat ia merasa terkejut sekali, sukma serasa melayang meninggalkan raganya . . . Oh Li cu dengan kening berkerut dan mata melotot, sekulum senyuman dingin meng-hi-asi ujung bibirnya dan wajah diliputi hawa napsu membunuh telah berdiri tegak di bela-kangnya. Tak terlukiskan rasa kaget setan ikan leihi setelah menyaksikan kejadian tersebut, peluh dingin bercucuran deras. setengah merengek katanya: "Oooh nona, ampunilah hambamu!" Dengan diutarakannya rengekan tersebut, para komandan pasukan yang berada di se-kitar sana segera berpaling dan memandang ke arah mereka dengan pandangan terkejut. "Siapa? Siapa yang memerintahkan kepadamu untuk melakukan pengintipan?" bentak Oh Li cu segera dengan suara dalam. Setan ikan leihi merasa jiwanya jauh lebih berharga daripada masalah lain, dia sadar enggan berbicarapun tak ada gunanya, maka dengan suara gemetar sahutnya. "Li...Li Ci cun yang memerintahkan aku!" Oh Li cu memang sengaja berbuat demikian agar orang tuanya turut mendengar, sengaja ia mempertinggi suaranya sambil mem-bentak keras. "Siapa? Katakan dengan lantang!" Sambil berkata pedangnya ditekan lebih ke depan hingga masuk ke tubuh setan ikan leihi sedalam berapa inci, darah segar segera bercucuran ke luar dengan amat derasnya. Sementara itu, Oh Tin san, Say nyoo-hui, Be congkoan dan Thio-Wi-kang serta segenap komandan yang berada di sekitar sana telah mengalihkan pandangan mereka ke arah kedua orang tersebut. Lan See giok merasa perbuatan yang dila-kukan Oh Li cu itu sesungguhnya kelewat batas, karenanya dia melirik sekejap kearah nya dengan wajah muak, tapi tiada orang yang tahu dengan pasti sikap muak tadi sbe-benarnya tertjuju untuk Oh Lig cu ataukah terbhadap lelaki berbaju ungu itu. Li Ci cun berpaling, melihat apa yang terja-di wajahnya segera berubah hebat peluh di-ngin segera bercucuran saking kagetnya. dia tahu asal setan ikan leihi mengatakan hal yang sebenarnya, Oh Tin san pasti akan mencabut jiwanya seketika itu juga.

169

Kebetulan sekali disaat Li Ci cun berpaling tadi si setan ikan leihi sedang menuding ke arahnya dengan tangan gemetar. Kupu-kupu di tengah ombak Li ci cun segera mengerti bahwa riwayatnya sudah habis. Dalam keadaan demikian timbullah niat jahatnya, mendadak ia membalikkan badan secepat kilat, lalu sepasang telapak tangannya didorong ke muka sepenuh tenaga--Segulung angin pukulan yang sangat keras dengan membawa debu yang sangat tebal segera menyambar ke arah Lan See giok. Tindakan ini boleh dibilang sangat licik dan rendah, kontan saja para komandan pasukan yang berada di seputar arena berteriak teriak marah. Oh Li cu menjerit lengking. saking kaget-nya dia sendiripun turut, berdiri bodoh Pada saat itulah--Lan See giok berkerut kening, kemudian sambil membentak keras ia kerahkan tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian ke telapak tangan kanan, kemudian dengan sepenuh tenaga, diayunkan ke depan. Segulung angin puyuh yang sangat kuat langsung menggulung ke depan dan me-nyongsong datangnya angin pukulan dari Li Ci cun. "Blaammm!" Benturan keras menggelegar di angkasa, debu dan pasir segera menyambar ke mana-mana. Paras muka Li Ci cu berubah menjadi hijau membesi, keningnya berkerut kencang, de-ngan sempoyongan ia mundur sampai beru-lang kali . . Paras muka Lan See-giok sendiripun ber-ubah menjadi pucat pias. tubuhnya bergetar keras, tapi sambil menggertak gigi dia beru-saha keras agar tubuhnya tidak sampai mundur barang setengah langkah pun. Segenap komandan pasukan yang bberada di arenaj sama- sama tergtegun saking kabget-nya: Be congkoan, Thio-Wi-kang semuanya ge-metaran karena terperanjat, dalam anggapan mereka semula, Lan See-giok pasti akan ter-hajar hingga terluka parah, siapa sangka Li Ci cun sendiri yang dibikin sampai mengenaskan keadaannya. Oh Tin san berdiri dengan wajah dingin sinis dan pandangan tajam, sekali lagi ia teringat kembali akan pil hitam yang dice-kokkan ke dalam perut Lan See giok, dia tak habis mengerti mengapa pilnya malahan menambah tenaga dalam anak muda itu hingga peroleh kemajuan yang begitu pesat. Say nyoo-hui sendiripun berkerut kening, tanpa terasa dia melirik sekejap ke arah Oh Tin san, seakan akan dia sedang berkata be-gini: "Darimana datangnya tenaga dalam yang begitu sempurna dari bocah keparat ini?"

170

"Blaammm!" Akhirnya Li Ci cun tak sanggup berdiri tegak lagi, ia terperosok dan jatuh terduduk di atas tanah. Pada mulanya, Oh Li cu dibikin tertegun karena sergapan dari Li Ci cun tersebut menyusul kemudian ia berdiri termangu oleh tenaga pukulan Lan See giok yang -maha dahsyat, sampai Li Ci cun jatuh terduduk, ia baru mendusin kembali dari rasa kagetnya. Sewaktu menundukkan kepalanya, kebetu-l-an ia saksikan Li Ci can terduduk dihada-pannya, hal ini segera membangkitkan hawa napsu membunuhnya. Suatu bentakan keras tiba-tiba meng-gele-gar, pedangnya memancarkan sinar pelangi berwarna keperak perakan dan sekuat tenaga dibacokkan ke tubuh Li Ci cun yang sedang terduduk sambil terengah engah di hadapannya. Dimana cahaya perak berkelebat lewat, jeritan ngeri yang memilukan hati segera ber-gema memecahkan keheningan. Tubuh Li Ci cun sejak dari bahunya sam-pai ke arah iga telah terbabat menjadi dua bagian, percikan darah segar bersama isi pe-rut berhamburan ke mana-mana, se-ketika itu juga ia tewas. Peristiwa ini terjadi sangat tiba - tiba, lagi pula jarak mereka amat dekat, menanti Oh Tin San dan Say nyoo-hui mengetahui keja-dian tersebut dan ingin menghalanginya, keadaan sudah tidak mengijinkran . . . . Segzenap komandan pwasukan yang berrke-rumun di sekeliling arena menjadi pucat pias seperti mayat, semuanya membungkam dalam seribu bahasa... Be Siong pak maupun Thio-Wi-kang turut merasa amat terkejut, dengan pandangan kaku mereka hanya bisa memandang tubuh Li Ci -cun yang terkapar di atas genangan da-rah dengan mulut tertutup rapat-rapat. Lan See giok sendiripun turut berdiri bodoh, ia memandang kearah Oh Li cu de-ngan wajah kaget bercampur tercengang, sekarang ia baru tahu, rupanya gadis ini se-lain jalang dan cabul. hatinya kejam dan jauh lebih jahat daripada kalajengking. Atas terjadinya peristiwa ini, ia segera meningkatkan kewaspadaannya terhadap perempuan itu, dia tahu bila dirinya masih berada dalam benteng Wi-lim-poo, lebih baik jangan mencoba-coba untuk mengusik Oh Li cu. Pada saat itulah kembali terdengar jeritan kaget bergema memecahkan keheningan. Ketika Lan See giok mendongakkan kepalanya, ia saksikan si setan ikan leihi se-dang berlarian seperti orang kalap, ia mende-sak desak orang yang berkerumun di sekitar sana dan melarikan diri ke arah saluran air sungai.

171

Oh Li cu sangat gusar melihat hal ini, sam-bil membentak nyaring ia mengejar dari bela-kangnya. Para komandan pasukan yang berkerumun di sekitar sana kontan saja pada bubar, mereka berlarian mengundurkan diri sambil berseru kaget. "Byuuur. . .!" percikan bunga air memancar ke mana-mana, si setan ikan leihi tahu-tahu sudah terjun ke dalam air dan menyelam ke dasarnya. Ou Li cu tidak berpeluk tangan dengan be-gitu saja, dia mengejar sampai di tepi sungai lalu sambil mengangkat pedangnya, dia menangkap bayangan tubuh si setan ikan leihi yang menyelam dalam air serta siap untuk menimpuknya. "Anak Cu, biarkan dia pergi!" bentak Oh Tin San tiba-tiba. Sebenarnya Oh Li cu hendak mengatakan "tidak" tapi berhubung si setan ikan leihi su-dah berenang entah ke mana terpaksa dia menarik kembali senjatanya dan berjalan menuju ke depan ibunya. Oh Tin san memandang sekejap para ko-mandan pasukan yang masih berdiri dengan wajah kaget bercampur ngeri, lalu kepada Be Siong pak katanya. "Be congkoan, apakah perjamuan telah di-siapkan?" "Lapor lo-pocu, perjamuan telah siap silah-kan masuk ke dalam ruangan." "Baiklah, kita segera mulai dengan perja-muan!" Oh Tin san manggutmanggut. Be Siong pak segera mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap ke wajah semua orang, lalu serunya dengan lantang: "Silahkan saudara semua menempati meja perjamuan masing-masing. . . ." Dengan suasana yang hening para koman-dan pasukan memasuki ruangan serta me-nempati kursi masing-masing. Kembali Oh Tin san berkata kepada Thio-Wi-kang: "Thio-Wi-kang, kirim orang untuk member-sihkan jenazah tersebut dari situ!" Thio-Wi-kang mengiakan dengan hormat dan buru-buru berlalu dari sana. Sementara Lan See giok sendiri mengikuti di belakang Oh Tin san dengan mulut mem-bungkam, mereka langsung menuju ke ruang tengah. Dalam perjalanan itu dia sempat melirik sekejap ke arah Oh Li cu yang berjalan di samping Say nyoo-hui, ternyata gadis itu tetap tenang, wajahnya berseri, seakan akan terhadap peristiwa berdarah, yang baru saja dilakukannya itu sudah lupa. Oh Tin san sendiri sama sekali tidak mene-gur perbuatannya, Say nyoo-hui juga tidak mengumpat kekejamannya, seakan akan mereka semua beranggapan bahwa membu-nuh orang adalah suatu kejadian yang sangat wajar.

172

Sementara masih berpikir, mereka telah memasuki ruangan tengah, sementara para komandan pasukan juga telah menempati tempat masingmasing, semuanya terdiri dari puluhan meja perjamuan. Ketika Oh Tin san dan Lan See giok ber-lima masuk ke dalam ruangan, serentak para ko-mandan pasukan bangkit berdiri sambil hormat. Walaupun senyuman menghiasi wajah setiap arang, tapi jelas terlihat kalau se-nyu-man itu terlalu dipaksakan. Pada meja bagian tengah, duduk empat orang lelaki kekar berbaju ringkas warna hi-jau, kuning, abu-abu dan hitam, usianya rata-rata tiga puluh delapan sembilan tahu-nan. Lan See giok tahu ke empat orang tersebut pastilah komandan dari ke empat pasukan kapal perang. Setelah melangkah masuk ke dalam ru-angan, Oh Tin san memandang seluruh penjuru ruangan dengan mata berkilat dan tersenyum, tangan kanannya yang kurus diulapkan beberapa kali, suasana dalam ru-angan segera menjadi hening kembali. Say nyoo-hui duduk pada kursi ke dua, Oh Li cu berdiri di sini Lan See-giok sedang Be congkoan berdiri di sisi kiri Oh Tin san, di depan mereka adalah ke empat komandan pasukan kapal perang. Pertama-tama Oh Tin san menyilahkan semua orang duduk kembali, kemudian baru memperkenalkan Lan See giok kepada para hadirin. Diluar wajahnya Lan See giok tetap bersi-kap tenang dan tersenyum, padahal dalam hati kecilnya merasa amat mendongkol. Dia tidak berhasrat untuk mengingat ingat wajah serta nama dari ke empat komandan kapal perang itu, dia hanya meng-ingat baik-baik komandan pasukan naga adalah ko-mandan Ciang, komandan pasukan harimau dari marga Ong, komandan pasukan Singa jantan dari marga Seng sedang komandan pasukan macan kumbang dari marga Nyoo. Selesai upacara perkenalan, Thio-Wi-kang juga telah tiba kembali, ia duduk di sisi Be congkoan tanpa mengucapkan sepatah kata-pun. Tak lama kemudian perjamuanpun dimu-lai, arakpun dibagi bagikan secara berlimpah. Tak lama kemudian, berbondong bondong para komandan pasukan berdatangan untuk menghormati Oh Tin san serta Lan See- giok dengan secawan arak. Pada dasarnya takaran minum arak dari Lan See giok memang terbatas, ditambah pula hatinya lagi risau dan resah, tak lama kemudian ia sudah berada dalam keadaan setengah mabuk.

173

Oh Li cu yang menjumpai begitu banyak komandan datang menghormati Lan See giok dengan secawan arak, hatinya merasa girang bercampur gelisah, tanpa terasa dia meneguk beberapa cawan lebih banyak . . Perjamuan makin lama berlangsung makin ramai, guci arak pun satu demi satu di go-tong naik. Biarpun Lan See giok sudah mabuk, tapi dia berusaha keras untuk tetap memperta-hankan diri sebab perjamuan itu diselengga-rakan baginya, tentu saja ia tak boleh me-ngundurkan diri di tengah jalan . . . Oh Li cu dapat melihat kalau Lan See -giok sudah setengah mabuk, sedang dia sendiri pun mulai sadar merasakan kepalanya pe-ning, maka berulang kali dia minta ijin kepada Say nyoo-hui untuk mengundurkan diri, tapi keinginannya se-lalu ditampik oleh Lan See giok. Akhirnya perjamuan pun berakhir Lan See giok mengikuti di belakang Oh Tin San suami istri menumpang perahu naga emas untuk kembali ke rumah. Walaupun Oh Li cu sendiripun sedikit ter-pengaruh oleh arak, tapi ia masih ber-usaha keras untuk menjaga Lan See giok, mereka berdua duduk di kursi dan gadis tersebut membiarkan Lan See giok ber-baring di dalam pelukannya. Say nyoo-hui yang menyaksikan hal terse-but segera mengerling sekejap ke arah Oh Tin San, seolah-olah ia sedang berkata begini: "Hei rase tua, lihat sekarang, putri ke-sayanganmu sudah betul-betul terpikat oleh bocah tersebut." Sebaliknya Oh Tin San tertawa hambar, wajahnya kelihatan agak bangga, pikirnya pula dalam hati: "Asal kotak kecil itu berhasil kudapat-kan dan aku berhasil pula menguasai ilmu yang tercantum dalam kitab Tay lo hud bun cinkeng, apa artinya mengorban-kan seorang putri?" Lan See giok benar-benar mabuk ketika itu, berbaring dalam pelukan Oh Li cu de-ngan lemas, sementara kepalanya persis ber-baring di atas sepasang payudara yang mon-tok dan padat berisi, rasa hangat dan empuk membuat ia semakin terbuai. . . Perahu menentang ombak, angin silir se-milir berhembus lembut ditengah dentingan bunyi lonceng yang merdu, akhir nya Lan See giok tertidur nyenyak. Entah berapa lama sudah lewat. . . Tiba-tiba saja ia tersadar kembali dari tidurnya karena mendengar suara pem-bica-raan seseorang yang keras. "Anak Cu, apakah adik Giok mu belum sa-dar dari mabuknya?"

174

"Belum!" terdengar Oh Li cu menjawab de-ngan suara lirih, "tapi aku telah men-cekoki kuah Liam sim-tong kepadanya." Kemudian terdengar Say nyoo-hui berkata pula: "Bocah ini memang minum arak kelewat banyak, bagaimana mungkin ia dapat me-nandingi kawanan setan arak tua tersebut?" Lan See giok terkejut sekali setelah men-dengar pembicaraan itu, pikirnya dengan ce-pat. "Berada di mana aku sekarang?" Ketika membuka matanya, ia saksikan ru-angan penuh bermandikan cahaya, ter-nyata ia berada di dalam kamar sendiri, sedang Oh Tin san dan Say nyoo-hui duduk di sudut pembaringan. Oh Li cu duduk dengan kening berkerut dan wajah sangat gelisah, begitu melihat Lan See giok sudah mendusin, ia segera bertanya dengan penuh perhatian. "Adik Giok, bagaimana rasamu sekarang?" Lan See giok tidak menjawab, se-baliknya dia malah bertanya. "Sudah jam berapa sekarang?" "Sudah mendekati kentongan pertama, wah, nyenyak amat tidurmu kali ini!" seru Say nyoo-hui sambil tertawa. Lan See giok segera melompat bangun, lalu sambil menengok ke arah Oh Tin san tanyanya dengan nada terkejut. "Benarkah itu empek?" Oh Tin san tertawa riang, ia manggut-manggut dan sahutnya dengan lembut: "Anak bodoh, minum arak merupakan suatu kebiasaan yang mencerminkan se-orang pendekar sejati, di dalam bidang ini kau perlu banyak berlatih lagi di kemudian hari, bagaimana perasaanmu sekarang?" Lan See giok tahu perhatian yang berle-bihan dari Oh Tin san suami istri terhadap-nya disertai dengan maksud tertentu, hanya saat ini dia belum dapat menebak maksud tujuannya, maka dia berlagak sakit kepala. sambil memegangi kepala sendiri serunya penuh penderitaan. "ADUUUH, SAKIT KEPALAKU . . .." Tidak sampai Lan See giok selesai ber-bi-cara, dengan gelisah dan penuh perhatian Oh Li cu segera bertanya: "Kalau memang sakit kepala, kenapa harus duduk? Ayah dan ibu toh bukan orang luar." Sambil berkata, ia membaringkan kembali Lan See giok ke atas pembaringan.

175

Lan See giok tidak membantah, dengan kening berkerut dia menghembuskan napas panjang. "Anak bodoh." kata Oh Tin san kemudian sambil meraba jidat Lan See giok, tenang-kan hatimu dan beristirahatlah selama be-berapa hari ini. Toh berapa waktu belakangan ini kau tidak usah terbaru buru pergi ke bibi Wan mu." Mendengar ucapan mana, Lan See giok tertawa dingin di dalam hati, tapi di luar dia berlagak kaget bercampur tercengang, seru-nya dengan cepat. "Kenapa empek?"" "Anak bodoh, kau harus mengerti, kau pernah melukai Thi Gou murid dari si kakek berjubah kuning itu . . . "Aku sama sekali tidak melukai Thi Gou", bantah Lan See giok. "aku hanya menotok jalan darah Hek-ki-hiat nya . . . " Oh Tin san tidak membiarkan Lan See -giok menyelesaikan perkataannya, ia meng-go-yangkan tangannya mencegah pemuda itu melanjutkan kata katanya, setelah itu kata-nya. "Walaupun begitu, namun dengan per-buatanmu itu paling tidak sama artinya telah mempercundangi si kakek berjubah kuning serta si naga sakti pembalik sungai..." Padahal Lan See giok sudah tahu kalau Oh Tin san kuatir kakek berjubah kuning itu mengetahui dirinya berada dalam benteng Wi-lim-poo maka sengaja tidak memperke-nankan pergi, maka sengaja ia berlagak geli-sah sambil serunya. "Empek tua, aku kuatir si beruang berle-ngan tunggal dan si setan bermata tunggal akan sampai di rumah bibi Wan lebih du-luan..." Berkilat sepasang mata Oh Tin san, dengan wajah berubah hebat ia berseru kaget: "Kenapa? " Sekarang Lan See giok sudah memastikan bahwa 0h Tin san adalah orang yang menghajarnya sampai tak sadarkan diri tempob hari, itu berajrti disimpannyag kotak kecil dib rumah bibi Wannya sudah bukan menjadi rahasia lagi baginya. Maka setelah berpura-pura ragu-ragu seje-nak, ia baru sengaja menjawab. "Kotak kecil yang empek katakan sebagai mestika, dari dunia persilatan itu sudah dikirim ke rumah bibi Wan atas perintah ayah..." Oh Tin san mengiakan lirih, wajah yang semula menjadi tegangpun segera menjadi tenang kembali, katanya kemudian dengan sikap acuh tak acuh. "Aaah, aku pikir mereka tak bakal tahu.." Belum habis perkataan itu diutarakan, tiba-tiba dari luar jendela bergema suara tertawa dingin yang rendah dan menggidik-kan hati...

176

Lan See giok merasakan hatinya bergetar keras, suara tertawa dingin itu seperti guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, ia berseru tertahan sementara peluh dingin jatuh bercucuran. Oh Tin san sendiri sudah melompat ba-ngun sambil membentak nyaring, sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke jendela bagian belakang- "Blaammm!" Ditengah benturan yang sangat nyaring, debu dan pasir beterbangan ke mana-mana. dengan suatu gerakan secepat sambaran ki-lat Oh Tin san melompat ke luar dari jendela. Lan See giok segera memusatkan perhatian nya dengan menyilangkan telapak tangan kanannya di depan dada, kemudian dengan jurus burung walet menembusi tirai dia melompat ke luar dari ruangan tersebut me-lalui jendela. Udara amat bersih waktu itu, sinar rem-bulan memancarkan cahayanya ke empat penjuru, tapi suasana di sekeliling tempat itu amat hening dan tak kelihatan sesosok ba-yangan manusia pun. Dengan kening berkerut Lan See giok ber-pikir dihati. "Waah, cepat amat gerakan tubuh orang ini, agaknya Oh Tin san pun tak boleh di anggap enteng, dalam waktu sedemikian singkat ia sudah pergi hingga tak ber-bekas." BAB 9 MENDADAK dari arah belakang ter-dengar seseorang membentak dengan suara rendah. "Ayo cepat naik ke atap rumah bdan laku-kan pejncarian!" Di tgengah bentakan,b Say nyoo-hui serta Oh Li cu telah melompat ke luar dari jendela, kemudian tanpa berhenti mereka melambung ke tengah udara ... Lan See giok memutar badannya ditengah udara dan segera menyusul pula di belakang, lebih kurang belasan kaki di depan wuwu-ngan rumah sana ia saksikan Oh Tin San dengan sorot mata yang tajam sedang celingukan kian ke mari. Maka dengan mengikuti di belakang tubuh Say nyoo-hui berdua, mereka meluncur ke arah mana Oh Tin San berada. Tiba di situ, merekapun tetap mem-bung-kam dalam seribu bahasa, hanya sorot mata-nya yang gugup bercampur gelisah celingu-kan ke sana kemari tiada hentinya Paras muka Oh Tin san pucat pias, mata sesatnya berkilat kilat, bibirnya terkatup ra-pat dan tiada hentinya menggigit bibir, wa-jahnya nampak jelas sedang gemetar keras.

177

Siapa saja dapat melihat kalau Oh Tin san sedang diliputi gejolak emosi, dibalik kemas-gulannya terselip pula perasaan ngeri dan seram. Berapa saat kemudian, dengan kening berkerut Oh Tin san baru berbisik lirih. "Lebih baik kalian semua kembali untuk beristirahat!" Say nyoo-hui segera memberi tanda ke-pada Oh Li cu agar mengajak Lan See giok berlalu dari sana. Lan See giok membungkam pula, melihat kemasgulan Oh Tin san, ia merasa tidak lelu-asa untuk bertanya banyak, terpaksa bersa-ma Oh Li cu mereka kembali ke dalam ru-angan. Kendatipun demikian, agaknya Oh Tin san sudah mengetahui siapakah orang yang telah mencuri dengar dan tertawa dingin itu. Ketika mereka berdua tiba kembali di ru-ang sebelah timur, sekawanan pelayan se-dang membersihkan debu dan hancuran kaca yang berserakan di seputar sana. Begitu masuk ke dalam pintu, Lan See giok segera marah-marah: "Kalian menggambarkan benteng Wi-lim-poo kokoh bagaikan berdinding baja, siapa yang berani masuk kemari ibarat masuk ke dalam neraka, tapi kenyataannya sekarang orang lain bisa masuk dengan sekehendak hati sendiri, malah menyadap pembicaraan kita. . ."" Waktu itu 0h Li cu sendiripun sedang di li-puti perasaan terkejut bercampur men-dong-kol, amarahnya segerra meledak se-tezlah mendengar pwerkataan terserbut. Dengan kening berkerut dan tertawa dingin tiada hentinya ia berseru dengan suara dalam: "Berapa banyak lagi yang hendak kau ka-takan?" Walaupun Lan See giok telah melihat kalau Oh Li cu sedang marah, tapi bila teringat ba-gaimana rahasia tentang kotak kecil itu ber-hasil dicuri dengar orang lain, amarahnya semakin berkobar lagi, dengan alis mata berkernyit ia menggembor semakin keras. "Tentu saja aku harus berbicara!" Kawanan dayang yang sedang membersih-kan lantai di sana menjadi ketakutan sete-ngah mati, wajah mereka berubah dan ham-pir semuanya mandi keringat dingin mengu-atirkan keselamatan Lan See giok. Sebagaimana diketahui, sejak kecil Oh Li cu sudah terbiasa dimanja, watak-nya jelek dan amat berangasan, boleh dibilang belum pernah dia dihadapi dengan cara seperti ini Jangan lagi orang lain, Oh Tin san dan Say nyoo-hui sendiripun harus mengalah tiga bagian kepadanya, bisa dibayangkan bagai-mana

178

perasaannya setelah dibentak- bentak secara kasar oleh Lan See giok sekarang. Saking mendongkolnya, sekujur badan gadis tersebut sampai gemetar keras. Lan See giok segera sadar kalau perbu-atannya tidak menguntungkan posisi nya, ia sadar keadaan bakal celaka, tapi setelah ter-lanjur berbicara, diapun enggan tunduk kepada orang lain dengan begitu saja, aki-batnya ia semakin menarik wajahnya. Oh Li cu membelalakkan sepasang mata-nya yang jeli dan mengawasi Lan See giok dengan termangu, agaknya ia tak mengira kalau wajah tampan yang begitu memukau dari pujaan hatinya itu kini berubah men-jadi dingin dan hijau membesi. Dalam sekejap mata inilah ia benar-benar ditaklukkan oleh kegagahan serta kejantanan lawan, keangkuhan serta api amarahnya tiba-tiba memudar, ia men-jadi sedih sekali tak terbendung air matanya segera jatuh ber-cucuran. Semua pelayan berdiri melongo, mereka pun tidak percaya kalau si nona mereka yang di hari-hari biasa begitu tinggi hati, sedikit-dikit lantas turun tangan membunuh orang, sekarang bersikap begitu lemah dan mengenaskan, bahkan sempat menangis ter-sedu sedu. Lan See giok menyesal sekali dengan kece-robohan sendiri, ia kuatir garagara urusan kecil itu berakibat semua masalah besar menjadi terbengkalai. Begitu melihat Oh L! cu sudah me-nangis, ia menjadi tak tega, buru-buru dia mendekati nona tadi dan berbisik dengan wajah penuh rasa sesal. "Enci Cu, tak usah menangis . . " Hanya kata-kata tersebut yang sempat dia ucapkan, karena ia tak tahu apa lagi yang mesti dikatakan olehnya sekarang. Oh Li cu jarang sekali mendengar Lan See giok menyebutnya "cici" atau bahkan belum pernah sama sekali. Panggilan ini mengha-ngatkan kembali hatinya, seperti anak kecil yang diberi gula-gula, ia me-nubruk ke dalam pelukan anak muda itu kemudian menangis semakin menjadi. Lan See-giok kelabakan setengah mati, ia amat menyesal dengan perbuatannya tadi, perbuatan yang sama sekali tanpa perhitu-ngan, sekarang setelah nasi menjadi bubur, ia baru merasa bingung dan tak tahu apa yang mesti diperbuat. Kawanan pelayan yang menyaksikan ke-jadian tersebut sama-sama berubah wajah-nya, kemudian satu demi satu secara diam-diam mengundurkan diri sana

179

Oh Li cu menyandarkan diri di atas bahu Lan See-giok sambil menangis tersedu, de-ngan suara yang lemah ia berkata: "Orang toh tidak melarang kau berbicara, apa salahnya kalau berbicara setelah menunggu mereka pergi semua?" "Sudah, sudahlah" buru-buru Lan See-giok berseru, "mereka sudah pergi semua, sekarang kita boleh berbicara." Dengan wajah masih basah oleh air mata 0h Li cu melirik sekejap ke arah ruangan, betul juga semua pelayan yang berada dalam ruangan telah mengundurkan diri, maka ka-tanya kemudian dengan sedih. "Sekarang kau harus berbicara dulu!" Sambil berkata, dengan wajah tbak senang hati jia mendorong tugbuh Lan See giobk ke-mudian duduk sendiri di bangku, sementara sapu tangannya berulang kali digunakan untuk menyeka air mata. Lan See giok yang semula merasa gusar kini menjadi murung bercampur gelisah, untuk berapa saat dia tak tahu apa yang mesti dibicarakan, maka setelah memandang sekejap jendela belakang yang hancur, ujarnya murung. "Menurut penilaianku sendiri setelah me-nyaksi kan kekuatan kapal perang yang di miliki benteng ini, bukan pekerjaan yang gampang bagi orang luar untuk memasuki Wi-lim-poo ini, tapi kenyataannya orang tersebut dapat bersembunyi di luar jendela tanpa di ketahui jejaknya, dari sini dapat diketahui kalau penjagaan dalam benteng sangat mengendor, kurang disiplin dan ke-lewat ceroboh." Dengan suara tak puas Oh Li cu segera membantah: "Aaah, mana mungkin, benteng Wi-lim-poo dikelilingi air, setiap sepuluh langkah boleh dibilang terdapat satu pos pen-jagaan..." "Baik, baiklah, aku sudah tahu" tukas Lan See giok tidak sabar, "aku cuma ingin berta-nya, orang itu bisa memanjati tembok ben-teng dan masuk ke ruang dalam, untuk hal mana berapa lebarkah jalan air yang mesti ditempuh? Beberapa banyak pos pen-jagaan yang harus dilalui? dalam hal ini pernahkah kau bayangkan?" Oh Li cu yang dihadapkan dengan per-ta-nyaan tersebut menjadi tertegun, dia hanya bisa mengerdipkan sepasang matanya de-ngan mulut membungkam. Dengan kening berkerut Lan See giok ber-jalan bolak balik lagi di dalam ruangan, ka-tanya lebih jauh: "Kecuali kepandaian ilmu meringankan tubuh yang dimiliki oleh orang ini sudah mencapai tingkatan yang sempurna, kalau tidak, mustahil dia dapat melewati tempat-tempat yang berpenjagaan ketat semudah itu, bisa jadi dia sudah hapal sekali dengan keadaan di dalam ruangan benteng ini."

180

Baru selesai dia berkata, mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Li cu, dia segera berbisik: "Adik Giok, aku rasa bisa jadi orang terse-but adalah anggota benteng sendiri?" Mendengar ucapan tersebut, Lanb See giok segerja teringat kembgali akan Be Siobng pak serta Thio-Wi-kang, hanya saja ia tak berani sembarangan berbicara. "Bagaimana kau bisa berkata begitu?" ta-nyanya kemudian. Oh Li cu kembali termenung, agaknya ia sedang mempertimbangkan kembali pelbagai kemungkinan dari dugaannya tersebut, akhirnya ia berkata. "Aku rasa kecuali beberapa orang saja yang sering datang ke gedung bagian belakang ini, jarang ada yang tahu kalau gedung ini ko-song---" Tergerak hati Lan See giok setelah men-dengar perkataan itu, tanpa terasa ia ber-tanya: "Apa kau bilang? Gedung belakang ini tak berpenghuni?" Kembali nampak keraguan di wajah Oh Li cu, dia merasa rahasia ini kelewat awal un-tuk diberitahukan kepada Lan See giok sekarang- sebab itu dia hanya manggut-manggut. Dengan cepat Lan See giok menjadi paham, tak heran kalau tiada orang yang menegur di sekitar sana sewaktu ada orang menyusup ke tempat tersebut. Meskipun demikian, dia toh tak berani menuduh siapapun secara gegabah, tanyanya kemudian dengan nada tidak mengerti: "Di hari biasa siapa saja yang sering ke-mari, dan siapa pula yang mengetahui raha-sia dari gedung belakang ini?" Agaknya Oh Li cu masih tetap menaruh keraguan terhadap dugaan itu, karenanya sambil memperendah suaranya dia menya-hut. "Be congkoan, Thio-Wi-kang, tiga setan dari benteng..." "Kau mencurigai si setan ikan leihi?" Lan see giok segera memotong. "Oh Li cu segera mendengus menghina, katanya dengan bangga: "Nyali anjingnya sudah pecah sedari tadi, jangan kata berani memasuki ruang dalam, mendengar kata "nona" saja tubuhnya sudah gemetaran keras . . " " Paras muka Lan See giok segera berubah menjadi terkejut bercampur keheranan, bi-siknya kemudian. "Kau maksudkan Be . . . " "Ssst!" cepat-cepat Oh Li cu menempelkan ujung jarinya ke atas bibir memberi tanda agar tutup mulut, setelah rmengerling sekezjap ke ruang sewbelah belakang,r ia berbisik lagi:

181

"Aku rasa kecuali mereka berdua, tidak ada orang ke tiga yang berani memasuki daerah sekitar tempat ini." Tergerak hati Lan See giok sesudah mendengar perkataan itu, ia pun berbisik: "Apakah mereka tidak berdiam di tempat ini? Oh Li cu segera menggelengkan kepalanya berulang kali: "Tidak, mereka berdiam di gedung tunggal di seberang sana." Tanpa terasa Lan See-giok mendongakkan kepalanya memandang ke gedung seberang, suasana di sana sangat hening dan tak kedengaran sedikit suarapun, di bawah ca-haya rembulan, ia melihat jelas tiada penjaga di sekitar sana. "Sungguh aneh," serunya kemudian de-ngan nada tidak mengerti, "mengapa tidak kujumpai penjagaan di sekitar wilayah ini?" Oh Li cu kembali berkerut kening sambil menunjukkan keraguan, setelah itu baru ujarnya. "Memang di sekitar gedung ini dan gedung di seberang sana tidak disertai dengan penja-gaan." "Mengapa?", tanya Lan See giok lagi tidak habis mengerti. "Entahlah. . ." Oh Li cu menggelengkan kepalanya berulang kali, "ayah yang suruh demikian!" Lan See-giok tahu bahwa Oh Li cu enggan berbicara, tentu saja diapun merasa kurang leluasa untuk mengajukan pertanyaan, maka sambil memandang bangunan di seberang sana, pikirnya di dalam hati. "Aneh, masa benar-benar ada orang yang berani menyadap pembicaraan kami dari luar jendela" Tiba-tiba Oh Li cu bangkit berdiri, lalu bisiknya. "Biar aku menengok ke sana!" Lan See giok kembali merasakan hatinya tegang, dengan cepat ia berbisik. "Kau harus bersikap lebih berhati hati, paling baik kalau membawa serta Siau ci dan Siau lian berdua" Oh Li cu manggut-manggut. "Aku tahu, aku bisa menghadapi mereka dengan sebaik baiknya----" Seusai berkata, buru-buru dia masuk ke bilik pintu bulat, sekalipun Lan See giok ti-dak begitu menyukai Oh Li cu, bagaimana-pun juga ia toh menguatirkan juga ke sela-matan dari perempuan tersebut. karena tindakan yang diambil olehnya jelas merupakan suatu tindakan yang menyerempet bahaya.

182

Terutama sekali selama dia berada dalam benteng Wi-lim-poo, ia butuh sekali bantuan dari Oh Li cu, selama ia berada di sana ber-arti lebih menguntungkan bagi usahanya untuk melarikan diri. Dengan penuh kegelisahan dia berjalan mondar mandi dalam ruangan agar pihak lawan tak sampai mengawasi gerak gerik-nya secara jelas, diapun sengaja memadamkan semua lentera yang berada dalam ruangan tersebut. Suara dayung membelah air kedengaran berkumandang ditengah keheningan itu. Cepat-cepat Lan See giok menuju ke jendela belakang dan melongok ke luar, se-buah sampan kecil sedang meluncur ke luar dari tempat tersebut. Oh Li cu berdiri tegak di ujung sampan, sebilah pedang tersoren di punggungnya, se-dang Siau ci dan Siau lian membawa dayung duduk di belakang. Entah mengapa, Lan See giok merasakan hatinya berdebar keras, andaikata orang yang menyadap pembicaraan mereka tadi benar-benar adalah Be Siong pak serta Thio-Wi-kang, jelas kepergian Oh Li cu kali ini mengandung resiko yang amat berat. Sampan itu sudah hampir tiba di seberang sana, tiba-tiba ia saksikan Oh Li cu berpaling ke arahnya, sorot matanya berkilat seperti bintang timur. Lan See giok segera menggapai ke arahnya, sementara hatinya berdebar makin keras, dalam sekejap itulah ia seolah-olah men-da-patkan suatu firasat jelek. Dia ingin memanggil pulang Oh Li cu, tapi kuatir hal tersebut malah berakibat merugi-kan, sementara ia masih sangsi Oh Li cu serta Siau lian sudah naik ke daratan sebe-rang dan menuju ke jalan tembus, sementara Siau ci tetap menanti di atas sampan. Lan See giok berdiri di depan jendela de-ngan perasaan yang sangat kalut, sorot ma-tanya yang tajam mengawasi perkembangan situasi tanpa berkedip. Kurang lebih seperminuman teh blamanya sudah ljewat, akan tetagpi suasana di sbeberang sana masih tetap hening . . . Berapa waktu kemudian, belum juga nampak Oh Li cu menampakkan diri . . Lan See giok semakin gelisah, pikirnya: "Wah, jangan-jangan orang yang menyadap pembicaraan tadi benar-benar adalah Be Siong pak serta Thio-Wi-kang?" Ia tak berhasil menebak dengan pasti me-ngapa Be Siong pak dan ThioWi-kang me-nyadap pembicaraan pribadi pocu nya, ja-ngan-jangan Oh Tin san telah membongkar pula rahasia sekitar kotak kecil tersebut di hadapan mereka berdua?

183

Tentang rahasia mestika tersebut, kecuali terhadap Say nyoo-hui, Oh Tin san boleh di-bilang tak pernah membicarakannya kepada Oh Li cu, jadi seharusnya mustahil kalau dia membocorkan pula kepada kedua orang itu... Sementara dia masih termenung, tiba-tiba terdengar suara keleningan kecil ber-kuman-dang dari kejauhan sana. Tapi suara tersebut hanya bergema sing-kat, agaknya genta tersebut cepat-cepat dipegang orang hingga tak sampai bersuara. Suara keleningan tersebut mirip sekali dengan suara keleningan yang berkuman-dang dari perahu naga emas milik Oh Tin san. Tiba-tiba Siau ci yang berada di sampan seberang berpaling ke arah pintu air. Tergerak hati Lan See giok, dengan cepat dia melompat ke luar pula dari dalam ru-angan. Tiba di pintu halaman, benar juga ia lihat perahu naga emas telah berlabuh di depan pintu gedung persegi, semua cahaya lentera di atas perahu telah padam, beberapa orang lelaki berpakaian ringkas berdiri di buritan, salah seorang diantara-nya sedang menggeng-gam lonceng kecil itu. Sekali lagi Lan See giok berpikir dihati: "Dalam suasana begini, masa Oh Tin san akan ke luar benteng? Ke mana dia hendak pergi?" Belum habis ingatan tersebut melintas le-wat, Oh Tin san dan Say nyoo-hui sudah nampak muncul dari balik gedung dengan langkah tergesa gesa. Oh Tin san masih tetap mengenakan jubah abu - abunya, sedangkan Say nyoo-hui telah berganti dengan sebuah pakaian ringkas,b sepasang golokj burung hongnyag tersoren di-pubnggungnya tergantung sebuah kantung kulit. Setibanya di depan pintu, ke dua orang itu segera menjejakkan kakinya ke atas tanah dan melompat naik ke atas perahu naga emas. Setibanya di perahu, Oh Tin San cepat-ce-pat mengulapkan tangannya setelah itu ber-sama sama Say nyoo-hui masuk ke ruang perahu. Beberapa orang lelaki kekar yang sudah siap dengan cepat mendayung perahu itu berlalu dari sana, dalam waktu singkat perahu naga emas itu sudah melaju pergi. Lan See giok yang menyaksikan semua peristiwa tersebut menjadi bingung ber-cam-pur gelisah, ia tidak mengerti mengapa Oh Tin san suami istri pergi dengan langkah tergesa gesa, tapi yang pasti hal ini tentu ada sangkut pautnya dengan si penyadap pembi-caraan mereka tadi.

184

Dalam keadaan yang begini, ia mulai me-nguatirkan keselamatan dari bibi Wan serta enci Ciannya, kalau tadi berniat meninggal-kan benteng Wi-limpoo, maka sekarang dia bertekad akan berusaha me-larikan diri dari situ. Belum habis ingatan tersebut melintas le-wat, sampan kecil 0h Li cu telah didayung kembali. Oh Li cu yang berdiri di geladak se-dang mengawasi perahu naga emas yang berlalu tanpa berkedip. Cepat-cepat Lan See giok menenangkan hatinya kemudian maju menyongsong, lalu sambil menarik Oh Li cu naik ke atas darat ia berbisik lirih: "Bagaimana? Apakah mereka berada di situ`" Dengan wajah riang Oh Li cu menunjuk ke arah pintu halaman, sebagai pertanda masuk dulu kemudian baru berbicara, tapi dengan nada tak mengerti ia toh bertanya juga ke-pada Lan See giok: "Agaknya ayahku sekalian barusan pergi?" Dengan cepat Lan See giok berkerut ke-ning, karena ia mengendus bau arak dari mulut Oh Li cu, ini yang membuat nya tidak mengerti, maka diapun manggut-manggut sambil mengiakan belaka. Mereka berdua masuk ke ruang dalam, sambil memasang lampu lentera Lan See -giok segera bertanya: "Bagaimana dengan mereka?" "Mereka sedang membicarakan tentang diri mu!" ucap Oh Li cu dengan wajah berseri. Nada suaranyapurn kedengaran peznuh de-ngan kegwembiraan, Lan Sree giok merasa kan hatinya bergetar keras, tanyanya lagi dengan gelisah: "Apa yang sedang mereka bicarakan?" Setelah lentera disulut, ia pun dapat me-li-hat Oh Li cu berdiri sambil memandang arahnya dengan pandangan cinta, senyum manis menghiasi ujung bibirnya, pipinya semu merah. Oh Li cu tertawa genit, sahutnya merdu: "Mereka semua mengatakan kau tampan dan gagah, di kemudian hari pasti akan menjadi seorang pemimpin yang disegani setiap orang..." Alangkah kecewanya Lan See giok se-telah mendengar perkataan ini, tapi untuk berhasil melepaskan diri dari sana. Ia pura-pura ber-tanya lagi dengan wajah gembira. "Apa lagi yang mereka bicarakan tentang diriku?" Paras muka Oh Li cu berubah semakin merah membara, lama kemudian ia baru berkata tersipu sipu: "Mereka masih memuji ketajaman mata ayahku yang bisa mendapatkan seorang menantu gagah seperti kau, sudah pasti dia akan banyak rejeki di kemudian hari."

185

Berbicara sampai di situ, tidak tahan lagi dia tertawa cekikikan . . . "Aaah, mungkin aku yang tidak sesuai untuk enci?" Sengaja Lan see giok me-rendah. Paras muka Oh Li cu berubah semakin merah, cepat-cepat dia membantah. "Adik Giok terlalu sungkan, sesungguhnya enci lah yang merasa tidak sesuai untukmu, cuma Be congkoan toh sempat memuji kita berdua sebagai sepasang sejoli yang amat serasi, diapun berkata pula demikian". "Adik adalah pemuda gagah dan enci adalah gadis cantik, bila kita berdua berjalan bersama, entah berapa banyak manusia lain yang akan merasa kagum" Tergerak hati Lan See giok setelah men-dengar ucapan tersebut, dengan gembira ia segera berseru: "Sungguh? Enci Cu, mari kita bermain ke telaga Oh peng, aku ingin lihat bagaimana para nona-nona nelayan yang ber-muka beng-kak, berwajah kurus memandang kagum kepadamu. . ." Waktu itu Oh Li cu sedang merasa gembira sekali, ditambah pula rasa ingin menang-nya, terpengaruh pula oleh beberapa cawan arak, tanpa berpikir panjang ia menyahut: "Baik, besok kita pergi bersama!" Ketika Lan See giok menyaksikan paras muka Oh Li cu makin lama semakin ber-tam-bah merah, dengan penuh perhatian dia pun bertanya: "Cici, kau telah minum arak?" Oh Li cu tertawa, ditatapnya anak muda tersebut dengan pandangan penuh cinta kasih, kemudian katanya. "Sewaktu kesana, mereka berdua lagi mi-num arak demi merayakan cici yang berhasil mendapatkan kekasih tampan seperti kau, Be congkoan dan Thio-Wi-kang, masing-masing telah menghormati tiga cawan arak kepadaku." "Kalau begitu cici sudah mabuk. " seru Lan See giok gugup "cepatlah pergi tidur, besok kita hendak berpesiar. Dengan cepat 0h Li cu menggelengkan kepalanya berulang kali. "Cici tidak mabuk, pergilah tidur lebih du-luan, aku harus menitahkan Siau lian untuk memberitahukan kepada komandan pasukan harimau terbang agar menyiapkan sebuah kapal perang dan kuda untuk kita berdua." Terkejut Lan See giok mendengar ucapan ini, segera pikirnya. "Kalau aku mesti berpesiar dalam keadaan seperti ini, jelas hal tersebut akan sangat mempengaruhi usahaku untuk melarikan diri, wah--- rencana ini mesti kucegah."

186

Berpikir demikian.. cepat-cepat dia berseru "Urusan pribadi kita berdua mengapa ha-rus merepotkan orang lain . .?" Tidak sampai Lan See giok berbicara lagi, dengan nada meyakinkan Oh Licu berkata lebih jauh: "Besok kita harus menunggang kuda, ta-hukah betapa gagahnya kita berkuda!" Dia mengerling sekejap ke arahb si nona denganj pandangan penugh cinta kasih dban masuk ke dalam kamarnya dan berpesan lagi dengan mesra. "Cepatlah tidur, besok kita akan berangkat pagi-pagi!" Tiba-tiba satu ingatan melintasi kembali dalam benak Lan See giok, sambil berlagak resah ia berkata. "Tapi aku tak pandai menunggang kuda..." "Besok cici akan mengajar kepadamu, tanggung sekali belajar segera akan bisa" Selesai berkata, dia lantas beranjak pergi dari situ. Diam-diam Lan See giok mengeluh, hatinya amat gelisah, dalam keadaan begini ia tahu keadaan tak tertolong lagi, terpaksa dia harus bekerja menurut situasi besok. Berbaring di atas ranjang, bagaimanapun ia berusaha tidur, matanya terasa tak mau terpejam. Sekarang ia dapat memastikan kalau orang yang mencuri dengar rahasia kotak kecilnya adalah orang lain namun hal tersebut sema-kin memperbesar tekadnya untuk melarikan diri. Dengan seksama dan berhati hati sekali dia mulai merancang rencananya untuk melari-kan diri, ia telah persiapkan beberapa macam jawaban. Mempersiapkan bagaimana caranya menciptakan kesempatan, apa yang harus diperbuat untuk menghindari pe-ngejaran dari Oh Li cu serta bagaimana selanjutnya menyusup ke rumah kediaman bibi Wan nya Sampai dia beranggapan bahwa rencana nya betul-betul matang dan sempurna, ia baru terlelap tidur--Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya suara langkah kaki manusia menyadarkan Lan See giok dari tidurnya. Ketika membuka mata, sinar fajar telah mencorong masuk lewat jendela, seorang dayang kecil telah muncul sambil membawa keperluan membersihkan mulut dan muka. Lan See giok segera melompat bangun, ke-mudian bisiknya kepada pelayan itu: "Tolong ambilkan pakaian milikku sendiri!" Baru selesai ia berkata, dari kamar sebe-rang sudah kedengaran suara Oh Li cu lagi menegur:

187

"Adik giok, kau telah bangun?" "Benar cici!" sahut Lan See giok dengan perasaan terkejut. " Apakah kau merasa pakaian itbu kurang serasij dibadan?" tanyga Oh Li cu lagib dengan nada tidak mengerti. "Betul enci Cu, pakaian ini kelewat kedo-doran" "Aku masih mempunyai satu stel baju kongcu berwarna biru, tahun berselang baru selesai dibuat, biar kucarikan untukmu!" Untuk menghindari kecurigaan perempuan tersebut, Lan See giok tak berani bersikeras meminta kembali pakaian lama-nya, terpaksa dia hanya mengiakan. Tak lama kemudian, tirai kelambu tersing-kap dan Lan See giok merasakan pandangan matanya menjadi silau. Oh Li cu muncul dengan dandanan yang sangat mentereng, jauh berbeda dengan dan-danannya semalam, kali ini dia nampak ang-gun, cantik dan menawan hati. Sambil membawa sebuah jubah panjang, ia muncul kembali dengan wajah berseri. Memandang dandanan perempuan ini, diam-diam Lan See giok turut merasa gembi-ra, sebab sudah jelas tak mungkin akan mem-bawa senjata tajam atau senjata rahasia itu, berarti rencananya untuk melarikan diri sudah berhasil separuh. Karenanya dengan nada gembira dia berse-ru. "Aaah enci Cu, kalau kau berjalan jalan di tepi telaga dalam dandanan seperti ini, ja-ngan-jangan nona dusun akan mengira dewi sianggo turun dari rembulan ...." Oh Li cu merasa girang sekali dengan um-pakan tersebut, ia tertawa semakin bangga "Nah, ambillah dan cepat kenakan!"" Sambil berkata dia melemparkan jubah panjang tersebut ke arah Lan See giok. Lan See giok menyambut jubah panjang itu dan mengenakannya, ternyata potongan pakaian itu persis sekali dengan bentuk badannya. kalau tidak bisa dikatakan cocok sekali. Oh Li cu tertawa puas setelah melihat adik Giok nya nampak lebih tampan setelah me-ngenakan jubah biru itu, ia yakin hanya diri-nya yang pantas mendampingi seorang pe-muda ganteng macam dirinya. Ketika sarapan mereka berdua sama-sama membungkam dengan pikiran masing-masing Oh Li cu bersantap dengan lahap, dia se-dang mengkhayalkan bagaimana para gadis dusun mengagumi kecanrtikan dan keangz-gunannya.

188

Sebwaliknya Lan Seer giok tak sanggup me-nelan nasi yang disuapnya, pikirannya sa-ngat resah bila memikirkan rencana pe-lariannya nanti--Selesai bersantap, mereka berdua naik ke sampan, dan melaju menembusi aliran su-ngai dengan Siau ci serta Siau lian yang me-megang dayung. Setelah melewati benteng air yang tinggi dan menembusi dua buah saluran air, pintu gerbang telah berada di depan mata. Di kedua belah sisi pintu gerbang berdiri puluhan orang lelaki berbaju kuning, ada yang menyandang golok, ada yang mem-bawa busur, sewaktu melihat sampan yang ditum-pangi Lan See giok dan Oh Li cu lewat. bentakan nyaring menggelegar dan pintu gerbang segera dipentangkan lebarlebar. Tatkala sampan kecil itu lewat, puluhan orang lelaki kekar itu serentak memberi hor-mat dengan wajah serius, ketika memandang wajah Lan See giok, rata-rata mereka tunjuk-kan sikap menghormat. Sedangkan mereka yang melihat sikap alim dan lembut dari Oh Li cu, ratarata segera berpikir di dalam hati: "Waah, nona berubah seratus delapan pu-luh derajat." Ke luar dari pintu gerbang, Lan See giok merasakan matanya silau, rupanya di kiri pasukan harimau dan pasukan naga. Setiap kapal perang berlabuh rapi, panji berkibar terhembus angin dua puluhan lelaki kekar berbaju kuning dengan tombak dan tameng di tangan berdiri serius di atas gela-dak. Begitu sampan yang ditumpangi Lan See -giok sekalian muncul, terompet dibunyikan dan serentak semua lelaki-lelaki kekar itu menengok ke arah mereka. Komandan pasukan harimau serta koman-dan pasukan naga telah menantikan keda-tangan mereka di perahu pertama. Lan See giok segera berlagak sangat gem-bira, dengan wajah berseri dia mengulapkan tangannya ke arah kawanan pasukan yang berada di kiri kanannya Ketika menyaksikan wajah menghormat dan sorot mata kagum yang terpancar dari wajah orang-orang itu, Lan See-giok malu sendiri, dia yakin orang-orang itu tak ada yang tahu kalau sekarang ia sedang berusa-ha untuk melarikan diri. Sampan itu didayung langsung menuju ke kapal perang pertama, setelah mendekat, pemuda itu baru tahu kalau di situ tidak di sediakan tangga untuk naik, padahal tinggi perahu mencapai dua kaki lebih, apalagi tinggi geladak yang delapan depa lebih tinggi.

189

Kedengaran dua orang komandan pasukan itu berseru dari atas geladak dengan hormat: "Perahu dan kuda sudah dipersiapkan, si-lahkan sau pocu dan nona naik ke atas perahu". Karena tidak disediakan tangga, Lan See -giok tahu kalau dia diharuskan melompat naik dengan mengandalkan ilmu meringan-kan tubuh, maka sambil berpaling ke arah Oh Li cu yang berada di belakangnya, ia ber-kata seraya tertawa. "Nona, silahkan kau naik dulu!" Oh Li cu tersenyum dan manggut-manggut, ia melejit ke udara setinggi tiga kaki, lalu ditengah udara dia menggunakan jurus bu-rung Hong masuk sarang untuk melayang ke atas perahu. Tempik sorak bergema gegap gempita, se-mua anggota pasukan yang berada d di se-kitar sana berteriak memuji untuk menyam-but keindahan gerak tubuh nona mereka. Lan See giok segera berkerut kening, dia tahu Oh Li cu sengaja hendak memamer-kan kehebatannya dihadapannya. Maka sambil tertawa hambar dia melompat ke atas, tingginya tidak seberapa dimana sepasang kakinya persis menginjak di tepi perahu, hal ini membuat orang mengira dia tak bertenaga penuh, Disaat ujung kaki Lan See giok hampir me-nempel di sisi perahu itulah, tubuhnya nam-pak gontai dan bergetar keras, sementara tubuh bagian atasnya tahu-tahu terpelanting ke luar kapal. Jeritan kaget kontan saja berkumandang dari sana sini, beratus - ratus lelaki kekar itu sama - sama tertegun karena kaget, sedang kan Siau ci dan Siau lian yang berada di sampan kecil malah sempat men-jerit leng-king: Mendadak. . Lan See giok mengibaskan ujung baju kanannya, lalu badannya yang terlempar he luar perahu tadi berputar ke sebelah kiri, setelah itu dengan tubuh lurus seperti pena ia berdiri di ujung perahu dengan mantap. Menyaksikan demonstrasi ini, ke dua orang komandan kapal perang itu jadi melongo dan termangu beberapa saat, sementara suasana di sekitar situpun dicekam dalam keh-eningan. "Memalukan, sungguh memalukan!" akhir-nya Lan See giok memecahkan keheningan tersebut. Komandan pasukan harimau dengan cepat berhasil menguasai diri, serunya kemudian dengan suara lantang: "Saudara sekalian, demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang baru saja akan dipertunjukkan sau pocu adalah ilmu meri-ngankan tubuh yang

190

disedut "Angin menggo-yangkan pohon liu," pengetahuan kalian tentu akan semakin terbuka dengan diperli-hatkannya ilmu kepandaian itu" "Sesudah ucapan tersebut diutarakan, tempik sorak yang gegap gempita baru berkumandang memecahkan keheningan. Lan See giok segera mengulapkan tangan nya untuk menenangkan suasana, kemudian setelah menyampaikan rasa terima. kasih kepada ke dua orang komandan pasukan, ber-sama Oh Li cu yang dihiasi senyum di kulum mereka bersama sama masuk ke ru-ang kapal. Tak lama kemudian, perintah diturunkan dan perahu pun bergerak meninggalkan tem-pat tersebut. Makin lama perahu dijalankan semakin ce-pat, sepanjang jalan hanya suara ombak yang memecah kesepian memainkan suasa-na. Lan See giok duduk di ruang dalam, ia seperti tidak berniat untuk menyaksikan keadaan di luar perahu dan nampaknya hal ini justru amat cocok dengan keinginan Oh Li cu. Dalam ruang perahu, 0h Li cu dan Lan See giok duduk bersanding, gadis itu kelihatan sangat gembira, ia seringkali mengajak pe-muda itu membicarakan soa1 pemandangan alam, meski Lan See-giok dibebani pelbagai masalah, toh dia harus menghadapi dengan berhati hati . . Ketika kapal perang itu meninggalkan hu-tan gelugu, matahari telah muncul di ufuk timur, cahaya keemas-emasan memancar ke permukaan telaga dan memercikkan cahaya yang menyilaukan mata. Sekarang Lan See giok baru tahu bahwa perahu mereka diarahkan ke barat daya, ketika memandang jauh ke muka, lebih kurang tujuh delapan li di depan sana ke-li-hatan sebuah garis hijau, agaknya disitulah kampung nelayan itu berada. Sebagaimana diketahui, sewaktu datang ia sama sekali tidak tahu arah mata angin, tentu saja saat inipun ia tak tahu dimana-kah letak benteng Wilim-poo, apalagi masih berapa jauh jaraknya dengan kampung ne-layan itu. la juga takut kalau sampai bertemu dengan si naga sakti pembalik sungai, terutama sekali dengan si kakek berjubah kuning maka ia beranggapan setelah turun dari perahu nanti, ia harus berusaha secepatnya meninggalkan tempat itu. Semakin mendekati daratan, Lin See giok merasa hatinya semakin tegang. Akhirnya perahupun merapat dengan pantai, dua orang lelaki kekar segera menu-runkan papan dan menarik ke luar dua ekor kuda putih dari atas perahu. Menyaksikan kuda yang kurus dan lemah apalagi nampak begitu jinak tersebut.. kon-tan saja Lan See giok berkerut kening, "Kalau kudanya saja

191

begitu kurus dan lemah, ba-gaimana mungkin bisa berlari cepat?" demikian ia berpikir dengan perasaan geli-sah. Tiba-tiba terdengar Oh Li cu bertanya kepada si lelaki penghela kuda itu. "Apakah dua ekor kuda tua itu?" Kedua orang lelaki itu segera mengiakan dengan hormat. Lan See giok menjadi sangat mendongkol, dengan nada tak puas dia bertanya: "Mengapa kau memilih dua ekor kuda tua?" "Sebab kau tak pandai berkuda", jawab Oh Li cu sambil tertawa manja, "oleh sebab itu cici sengaja berpesan agar dipersiapkan dua ekor kuda tua yang tidak binal lagi!" Diam-diam Lan See giok mengeluh, tahu begini semalam dia tak akan beralasan tak -pandai menunggang kuda. Turun dari perahu, merekapun mendekati kedua ekor kuda tua tersebut. Lan See giok merasa sedikit gugup, sebab berbicara yang sesungguhnya, baru pertama kali ini ia menunggang kuda. Setelah diberi petunjuk ringkas oleh Oh Li cu, merekapun menunggang kuda dan men-jalankan nya menelusuri tanggul. Sepanjang jalan Lan See giok berlagak tegang, pandangannya selalu tertuju ke de-pan, seolah-olah kuatir kalau tubuhnya ter-jengkang ke belakang. Oh Li cu amat geli melihat sikap kaku nya, sambil tertawa getir ia berseru. "Hei, kalau menunggang kuda lebih baik angkat saja kepalamu, luruskan pandangan ke muka!" Lan See giok mengiakan sambil meman-dang ke muka, tapi apa yang terlihat mem-buat badannya gemetar keras, hampir saja ia terjerembab dari atas kuda. Diantara pepohonan siong yang terbentang di depan situ, berdiri sebuah bangunan rumah yang mungil, ternyata rumah itu bu-kan lain ada1ah rumah bibi Wan serta enci Ciannya. Oh Li cu yang melihat pemuda itu gemetar dan wajahnya berubah, disangkanya ia se-dang ketakutan, cepat serunya dengan kuatir. "Tak usah takut, bila perlu kempitkan kaki pada perut kuda, dengan demikian kau tak akan sampai jatuh, pegang tali les kuda erat-erat, asal tubuhmu tak sampai terlempar ke udara, niscaya jiwamu tak akan bahaya." Lan See giok merasa kalau ia telah khilaf, cepat-cepat perhatiannya dipusatkan jadi satu dan manggut- manggut kearah Oh Li cu dengan perasaan terima kasih. Sementara itu, kuda mereka sedang lewat di muka pintu rumah, Lan See giok sudah melihat jelas pintu ruangan bibi Wan nya.

192

Sekarang ia hanya bisa berdoa, semoga Thian melindunginya dan jangan sampai mempertemukan dia dengan bibinya. Ketika kuda mereka maju lebih ke depan semua pemandangan dalam halaman rumah itu dapat terlihat jelas. Tiba-tiba Lan See giok merasa hatinya ber-getar keras, jantungnya berdebar begitu keras sehingga hampir saja akan melompat ke luar dari mulutnya. Ternyata enci Cian nya sedang berdiri di dalam halaman dengan punggung meng-ha-dap ke luar, dalam keadaan begini ia kuatir sekali Ciu Siau cian atau enci Cian nya akan menyapa dia. Agaknya Oh Li cu juga telah melihat gadis tersebut, menurut penaksirannya kalau di tinjau dari rambut panjang dan perawakan tubuh gadis berbaju kuning itu. dia semesti-nya berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan. Api cemburu Oh Li cu seketika berkobar ketika ia saksikan Lan See giok tiada henti nya melirik kearah gadis dalam halaman tersebut, dengan rasa cemburu yang amat tebal ia lantas berseru: "Adik giok, apakah kau menganggap gadis yang berada di dalam halaman itu lebih can-tik dari pada cici?" Terkejut Lan See giok mendengar per-ta-nyaan ini. dia bukan takut Oh Li cu menjadi gusar, tapi yang jelas takut kalau jejak nya sampai ketahuan Ciu Siau cian. Betul juga, ketika mendengar ada suara pertanyaan bergema di situ, Ciu Siau cian segera berpaling. Betapa rikuh dan tersipu-sipunya Lan See giok waktu itu, andaikata sekitar sana ada lubang niscaya ia telah menyembunyikan diri di sana, baru saat ini dia dapat merasakan, bagaimanakah perasaan seseorang yang punya mulut namun tak dapat mengutara-kan kesulitan sendiri. Sementara itu Oh Li cu berdiri ter-tegun lantaran kaget, setelah melihat paras cantik lawan, tiba-tiba saja timbul perasaan rendah diri pada dirinya, dia memang tak berani per-caya kalau dalam dusun nelayan terdapat gadis yang berparas begitu cantik. Gadis berbaju kuning itu berkulit putih, bermata bening. hidung mancung dengan bibir yang kecil mungil, sekalipun dia hanya mengenakan pakaian yang amat sederhana, namun tidak mengurangi sikap anggun dan daya tariknya. Terutama sekali sepasang biji matanya yang jeli sungguh menawan hati.

193

Agak berubah wajah Oh Li cu setelah me-nyaksikan paras muka gadis berbaju itu, wajahnya menjadi murung dan timbu1 perasaan yang amat tak sedap di hati. Tanpa disadari akhirnya dia berseru: "Dia memang benar-benar sangat cantik!" "Aaah, dia kan gadis dusun yanbg tak tahu adatj, biar cantik, gbagaimana mungkbin bisa dibandingkan dengan cici yang berasal dari keluarga persilatan?" tukas Lan Se giok tiba-tiba. Setelah mendengar perkataan tersebut, rasa rendah diri yang semula menyelimuti perasaan Oh Li cu segera hilang lenyap tak berbekas. . . Apalagi setelah melihat gadis berbaju kuning itu segera tertunduk malu sehabis mendengar perkataan dari Lan See giok tadi, tanpa terasa ia tertawa bangga. Lan See giok tak berani memandang wajah Ciu Siau cian, hatinya tak terlukiskan geli-sahnya, ia tak tahu apakah enci Cian nya telah mendengar perkataan tersebut atau ti-dak. Dalam keadaan begini, dia cuma berharap selekasnya bisa meninggalkan tempat itu, apa mau dikata kuda tua tersebut larinya lamban sekali. Beberapa kali Lan See giok mencoba untuk melarikan kudanya, sayang kuda tersebut kelewat tua, setelah lari beberapa langkah kembali jalannya melamban. Nampaknya gerak gerik dari pemuda ter-se-but tak dapat membendung rasa geli Oh Li cu, tak tahan ia tertawa cekikikan. Merasa dirinya ditertawakan, Lan See giok amat gusar, saking mendongkolnya tiba-tiba saja ia menendang perut kuda itu keras-keras. Ringkikan panjang yang amat memekik-kan telinga segera berkumandang memecah kan keheningan, mungkin lantaran kesakitan, tiba-tiba saja kuda tersebut kabur se-cepat cepatnya ke muka. Bisa dibayangkan betapa kagetnya Lan See giok waktu itu, badannya menjadi gontai dan nyaris terjerembab ke tanah, dengan gugup ia memegang tali les kuda nya kencang-ken-cang. Oh Li cu terkejut juga melihat kejadian ini, dengan gelisah ia menjerit: "Aduh celaka, kudanya kaget, kudanya kaget---" Lan See giok semakin gugup, dia tahu ba-haya sehingga tanpa sadar kakinya me-ngem-pit, perut kuda itu semakin kencang, tangan-nya yang memegang tali les juga di perken-cang. Mimpi pun Oh Li cu tak pernah menyangka kalau kuda tua yang di hari-hari biasa sangat penurut dan jinak, mendadak saja menjadi sewot dan gila menyaksikan kegugupan Lan See giok di atas punggung kuda itu, ia men-

194

jadib gelisahnya bukjan kepalang, sagmpai- sampai teblapak tangannya menjadi basah oleh keringat dingin. Dalam keadaan begini, dia mencoba untuk melarikan kudanya untuk mengejar, apa mau dibilang kudanyapun sudah kelewat tua. setelah lari beberapa langkah, diapun melamban kembali. Dalam waktu singkat kuda sewot yang di tunggangi Lan See giok sudah kabur jauh ke depan, yang tersisa hanya debu dan pasir yang beterbangan menutupi pemandangan. Hampir menangis Oh Li cu menyaksikan kejadian itu, ia melihat jelas bagaimana Lan See giok menggenggam kencang tali les ku-danya dengan wajah tegang. "Adik Giok-adik Giok...cepat bungkuk-kan tubuhmu di atas pelana, cepat bungkuk-kan tubuhmu di atas pelana ...." jeritnya kemu-dian setengah menangis. Lan See giok yang gugup bercampur tegang, bisa mendengar jerit tangis Oh Li cu tersebut dengan jelas, tanpa berpikir panjang ia segera menuruti nasehat tersebut dengan membungkukkan badannya di atas pung-gung kuda. Hutan demi hutan, pepohonan demi pe-po-honan dilalui dengan cepat, Lan See giok ti-dak tahu berapa jauh ia sudah dibawa kabur, peluh telah membasahi tubuhnya maupun tubuh sang kuda, lambat laun lari si kuda sewotpun kian melamban. Di depan sana terbentang kini sebuah la-pangan rumput yang luas, karena kudapun sudah mulai melamban larinya, Lan See giok mulai dapat mengingat ingat kembali pela-jaran yang diberikan Oh Li cu kepada nya bila menjumpai bahaya. Cepat ia menekan kuda itu dengan telapak tangan kanannya, begitu tubuhnya melejit ke udara, ia berjumpalitan beberapa kali kemu-dian melayang turun ke atas tanah berum-put. Dengan lenyapnya daya beban dari kuda tua itu, binatang tadipun menghentikan larinya. Baru pertama kali Lan See giok mencoba naik kuda, namun akibatnya harus men-jum-pai pengalaman yang mendebarkan hati aki-batnya rasa tegang yang mencekam pe-rasaannya tidak juga bisa ditenangkan. Sambil duduk di tanah lapang dengan na-pas terengah, ia memandang kuda putih di kejauhan sana sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, pikirnya: "Menunggang kuda tua bangkotan saja su-dah mendebarkan hati, apalagi kalau menunggang kuda liar, bagarimana jadinya?"z

195

Mendadak satuw ingatan melintras dalam benaknya, kejut dan gembira ia segera melompat bangun dan mencak-mencak kegi-rangan, gumamnya seorang diri: "Kalau sekarang tidak kabur, harus ku-tunggu sampai kapan lagi? Yaa, inilah ke-sempatan paling baik yang belum tentu bisa kujumpai lagi---.! Berpikir begitu, cepat-cepat dia me-lompat naik lagi ke punggung kuda tua dan mencoba untuk meneruskan perjalanan sayang kuda tua itu sudah kelewat lelah, bagaimanapun ditarik, di-betot, kuda tadi tetap berdiri tegak di tempat semula. Lan See-giok gelisah sekali, dia kuatir Oh Li cu keburu menyusul ke mari, karenanya terpaksa ia melompat turun dari kuda tua itu dan melarikan diri menuju ke gundukan bukit kecil di depan situ. Tengah hari sudah lama lewat, Lan See -giok mulai merasa perutnya sangat lapar, tapi sejauh mata memandang hanya hutan belantara belaka, ke mana ia harus pergi untuk bersantap? Untung saja tak lama kemudian ia sudah tiba di sebuah pegunungan, di atas pegunu-ngan itu penuh pepohonan li yang buahnya mulai memasak. tidak sungkan-sungkan lagi Lan See giok memetik buah buahan tersebut dan melahapnya dengan rakus . . . Entah berapa saat kemudian. tiba-tiba ia mendengar suara derap langkah kuda yang amat ramai bergema secara lamat-lamat dari arah tanggul telaga sana. Lan See giok sangat terkejut, ia memasang telinganya baik-baik dan mendengarkan de-ngan penuh perhatian, betul juga derap kaki kuda itu sangat ramai.. tampaknya ada se-rombongan manusia berkuda sedang melalui tempat tersebut. Makin lama suara derap kaki kuda itu se-makin nyaring dan mendekat, suaranya ba-gaikan gemuruh yang menggelegar men-jelang datangnya hujan deras. Tergerak hati Lan See giok ia segera bang-kit berdiri dan lari ke depan sebuah pohon besar di puncak bukit. Dari sana ia memanjat ke pucuk pohon dan menyembunyikan diri di balik dedaunan yang lebat. Dikejauhan sana, pada wilayah antara tanggul dengan tanah padang berumput, ke-lihatan debu dan pasir beterbangan ke ang-kasa, tampak dua tiga puluhan ekor kuda sedang dilarikan mendekat dengan kecepatan luar biasa, Mendadak---

196

Rombongan itu memecahkan diri bagai-kan bunga api yang meletuk dengan berbentuk seperti kipas, rombongan kuda tadi menye-barkan diri serta mengepung lapangan rum-put tersebut rapat-rapat. Lan See giok sangat keheranan setelah menyaksikan kejadian itu, dengan perasaan tidak mengerti dia celingukan kian kemari, tapi selain padang rumput yang luas, pada hakekatnya tidak dijumpai sesuatu apapun yang mencurigakan. Ketika diamati dengan lebih seksama, pe-muda kita segera gemetar karena kaget, ter-nyata penunggang kedua tiga puluh ekor kuda itu adalah lelaki-lelaki kekar berpa-kaian ringkas warna kuning, kalau diperhati-kan baju seragamnya, jelas mereka adalah anggota benteng Wi-lim-poo. Tapi ingatan lain membuat pemuda ini menjadi ragu, seingatnya dalam kapal perang yang ditumpanginya hanya memuat dua ekor kuda tua, lantas darimana datang-nya kuda sebanyak itu? Walaupun Oh Li cu bisa kirim orang untuk memberi laporan ke benteng, itu pun paling cepat malam nanti pasukan mereka baru akan tiba di sini. Sementara itu, ke dua tiga puluh ekor kuda tadi sudah berdiri berjajar di sepanjang garis padang rumput. Tiba-tiba Lan See giok jadi melongo, ter-nyata orang yang berada di punggung kuda berwarna merah dimuka barisan adalah Oh Li cu sendiri. Tak terlukiskan rasa kaget yang men-cekam perasaan Lan See giok sekarang, ia tidak berminat untuk menyaksikan adegan terse-but lebih jauh, dengan cepat dia melompat turun dari atas pohon, kemudian kabur ke dalamb hutan dengan mjengerahkan ilmug meringankan tubbuh yang dimilikinya. Sambil melarikan diri, dihati kecilnya tiada hentinya merasa keheranan, ia benar--benar tak mengerti mengapa pasukan dari Wi-lim-poo bisa secepat itu tiba di tempat kejadian. Dalam beberapa saat saja hutan lebat su-dah ditembusi, kini dihadapannya terbentang padang rumput yang sangat luas. Lan See giok semakin gelisah, dia tahu berlarian di padang rumput berbahaya sekali, sebab tiada tempat untuk menyembunyikan diri, ia harus secepatnya memasuki daerah yang lebat dengan pepohonan yang luas. Matanya yang jeli segera mengamati seke-jap sekeliling tempat itu, pada jarak tiga em-pat li di sebelah kanan, ia jumpai sebuah dusun, dan tempat tersebut merupakan daerah yang terdekat dengan dirinya berada. BAB 10 IA tak berani berayal lebih jauh, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, ia segera kabur menuju kearah dusun tersebut, badannya meluncur bagai-kan segulung asap saja.

197

Ketika hampir mencapai di depan dusun. pemuda itu berpaling sekejap. Diam-diam ia menjadi gembira sebab pasukan dari Wi-lim-poo belum muncul dari hutan tadi. Tapi setelah ia berpaling kembali meman-dang ke depan, pemuda Itu segera menghen-tikan perjalanannya dan berdiri tertegun, ternyata di depannya terbentang sebuah su-ngai besar yang lebarnya mencapai sepuluh kaki lebih. Dengan gelisah ia berpaling kembali, un-tung pasukan dari Wi-lim-poo belum menyu-sul sampai di situ, ia pikir masih punya waktu untuk mencapai perahu, maka dengan cepat ditelusurinya sungai tersebut: Tapi dengan cepat ia menjadi putus asa, arus sungai kelewat deras, jangan lagi perahu, bayangannya saja tidak dijumpai. Dengan putus asa dia menelusuri tepi su-ngai, makin ke depan sungai tersebut me-ni-kung semakin ke dalam, daerah tikungan tadi merupakan sebuah tanah perbukitan. Mendadak ia mendengar suara ribngkikan kuda bejrkumandang datagng, Lan see giobk amat terperanjat dan cepat berpaling, apa yang kemudian terlihat segera membuat keringat dingin bercucuran. Rupanya beberapa ekor kuda sedang ber-larian menelusuri tepi sungai menuju kearah nya, sedang lelaki kekar yang berada di punggung kuda dengan sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu mengawasi tepi seberang sungai. Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok, ia membalikkan badan dan segera melarikan diri. Tapi belum berapa langkah, dari seputar hutan di tanah gundukan depan muncul pula beberapa puluh ekor kuda. Lan See giok tahu keadaan bakal runyam, ini berarti pantai sungai tak mungkin bisa dipakai untuk menyembunyikan diri lagi, se-cepatnya ia kembali ke pesisir dan menye-lusuri air, ia kabur ke sebelah kanan sungai tersebut. Dalam pelarian tersebut, tiba-tiba Lan see giok menemukan sebuah sampan kecil yang tergeletak di tepi pesisir, pemuda itu bagai-kan menemukan bintang penolong saja segera berlarian menuju kearah situ. Tapi, ia segera kecewa setelah dekat de-ngan perahu tadi, ternyata perahu yang nampak utuh dari luar, dasarnya sudah jebol dan berantakan. Pada saat itulah--Dari depan situ bergema lagi suara ringki-kan kuda. bersamaan itu juga dari ke jauhan situ berkumandang suara derap kaki kuda yang amat keras.

198

Lan See giok benar-benar amat gugup, bila ia sampai tersusul saat ini, jelas tiada alasan yang dapat digunakan, satu satunya jalan hanya bertarung sampai titik darah penghabisan: Menyaksikan arus sungai yang begitu deras, ia teringat kembali ilmu berenang yang belum sempat dipelajari, tak tahan lagi pikirnya setelah menghela napas: "Betapa senangnya bila ilmu berenang ku-kuasai, saat ini mungkin aku sudah tiba di dusun pantai seberang--." Belum habis ingatan tersebut melintas le-wat, sekali lagi terdengar suara ringkikan panjang yang bergema dari tempat tak jauh dari situ. Lan See giok amrat terkejut, taznpa disadari iaw meraba senjatar gurdi emas Cin kim kong luan jui yang melilit, di pinggangnya. Dalam pada itu suara ringkikan kuda su-dah semakin mendekat, suara tersebut ber-gema pula dari kiri dan kanan tubuhnya. Sekarang Lan See giok berada dalam posisi yang berbahaya sekali, tak terlukis-kan rasa gelisah hatinya, biar dia tahu perahu bobrok itu tak mungkin bisa di-pakai untuk bersem-bunyi, namun terdesak oleh keadaan mau tak mau dia menerobos juga ke dalam perahu bobrok itu. Pada saat Lan See giok baru saja melompat naik ke atas perahu bobrok dan menyem-bunyikan diri, suara derap kaki kuda yang amat gencar telah bergema datang dari sisi sebelah kanan. Menyusul kemudian beberapa ekor kuda berlarian mendekat bagaikan gemuruh angin puyuh. Lan See giok menahan napas sebisa mung-kin, hatinya berdebar keras, diam--diam ia bersyukur karena tempat persembunyian nya tidak sampai ketahuan. Suara bentakan-bentakan keras bergema kemudian, agaknya pasukan yang datang dari sebelah kiri telah berpapasan dengan pasukan yang telah datang dari sebelah kanan, kemudian berhenti tak jauh dari ka-pal bobrok itu berada . . . Mendadak terdengar seseorang menegur dengan suara yang serak dan tua. "Apakah kalian telah melihat sau pocu?" Diam-diam Lan See giok terkesiap, ia me-ngenali suara tersebut sebagai suaranya Be Siong pak, manusia yang mempunyai banyak akal muslihat. "Lapor congkoan" beberapa orang lelaki itu segera menjawab dengan hormat, "hamba sekalian tidak melihatnya" Diam-diam Lan See giok merasa keheran-an juga, pikirnya. "Aneh, mengapa Be Siong pak bisa me-mimpin pasukan untuk melakukan pengejar-an.

199

Karena dorongan rasa ingin tahunya, ia segera mengintip dari celah-celah perahu bo-brok itu. Be Siong pak yang duduk di punggung kuda tampak sedang berkerut kening dengan wajah resah, sorot matanya yang tiada henti-nya dialihkan ke pantai seberang sungai tersebut. Paras muka belasan lelaki berbaju kuning pun kelihatan amat serius, mereka meme-gang tali les kuda masing-masing dengan kencang, sementara peluh membasahi tubuh-tubuh mereka maupun tubuh kuda-kuda tersebut... Sementara itu dari arah pantai ber-kuman-dang kembali suara derap kaki kuda yang sangat ramai. Seorang lelaki yang berada di sisi Be Siong pak segera berpaling dan memandang seke-jap ke arah pantai, kemudian serunya de-ngan nada gelisah, "Congkoan, nona telah datang. . . !" MENDENGAR Oh Li cu telah tiba pula di tempat kejadian, Lan See giok merasakan hatinya semakin tegang. Be Siong-pak segera mencemplak kudanya dengan memimpin puluhan anak buahnya maju menyongsong ke tepi sungai. Derap kaki kuda dan suara ringkikan kuda yang ramai akhirnya berhenti di belakang perahu bobrok persis di sisi pesisir sungai, debu dan pasir tampak beterbangan meme-nuhi angkasa. Menyusul kemudian seekor kuda merah yang tinggi besar muncul pula di tempat tersebut . . . Lan See giok yang mengintip ke luar kem-bali merasakan tubuhnya gemetar keras, ternyata orang yang duduk di atas kuda merah yang tinggi besar itu tak lain adalah Oh Li cu. Paras muka Oh Li cu telah basah oleh air mata, matanya merah membengkak, rambut nya sedikit kusut dan cahaya mukanya ham-pir pudar . . . Dengan pandangan mata gelisah bercam-pur cemas dia menengok sekejap ke arah pantai seberang, lalu kepada Be Siong pak yang menyongsong kedatangannya, ia berta-nya cemas: "Apakah kalian tidak menemukannya?" "Di kedua belah pesisir sungai sama sekali tidak dijumpai bayangan tubuh dari sau pocu!" jawab Be Siong pak. Sekali lagi air mata 0h Li cu bjatuh ber-cu-cujran, ia menutupgi muka sendiri bdan berkata sambil menangis tersedu-sedu:

200

"Sebenarnya ia tak pandai menunggang kuda, akulah yang memaksanya naik, apa mau dikata kuda tua itu kaget!" Lelaki kekar berkuda hitam yang tampak nya komandan dari pasukan tersebut segera berkata dengan hormat: "Kuda tua itu sudah berhenti di tanah la-pang, sekujur badannya telah basah oleh keringat darah rupanya sudah kehabisan tenaga, ini menunjukkan kalau binatang tersebut telah berlari kencang sepanjang jalan, bila sau-pocu memang tak pandai menunggang kuda, bisa jadi ia sudah terja-tuh ditengah jalan!" Be Siong pak segera melototkan matanya bulat-bulat, serunya dengan suara dalam: "Tenaga dalam yang Sau pocu miliki amat sempurna, bagaimana mungkin ia bisa ter-jatuh dari kuda?" Tidak sampai Be Siong pak menyelesaikan kata katanya, sambil menangis Oh Li cu su-dah mengomel: "Semuanya ini kau lah yang salah, menga-pa sewaktu aku datang ke tempatmu sema-lam -kau tidak mengatakan kalau pocu sudah menurunkan perintah bahwa setiap orang dilarang ke luar benteng, bila di dalam ben-teng ada urusan harus dirundingkan dulu dengan Sau pocu---?" Sambil berkata, dia menangis tiada henti nya, seolah-olah seorang kanakkanak yang kehilangan mainan kesayangannya. Dengan wajah menyesal dan murung Be Siong pak menjawab: "Yaa. memang hambalah yang teledor serta tidak berpikir sempurna, tidak ku-sangka lo pocu sama sekali tidak memberi kabar kepada nona serta sau pocu ketika hendak berangkat, coba kalau hamba tidak mende-ngar suara tampik sorak pagi tadi sehingga segera mengutus orang untuk mencari berita, mungkin hingga sekarang pun belum kuketahui kalau nona dan Sau pocu telah berpesiar ke pantai telaga!" "Apa pula gunanya kau menyusul sampai di sini?" kembali Oh Li cu menangis ter-sedu sedu, coba kalau kau bertindak cepat semab-lam dengan menjurunkan perintagh itu kese-mua bpenjaga pintu benteng, hari ini kami tak akan bisa ke luar dan tak mungkin akan ter-jadi peristiwa di luar dugaan seperti ini." "Yaa, kesemuanya ini memang kesalahan hamba" Be Siong pak mengangguk berulang kali, "hamba memang pantas mati, hamba memang pantas mati, sekembalinya lo pocu nanti, hamba memang tentu akan minta hu-kuman sendiri!" Setelah berhenti sejenak, serta me-mandang sekejap semua orang yang berada di seputar tempat itu, dengan nada meng-hibur dia ber-kata lagi:

201

"Walaupun kita sudah mengerahkan keku-atan sedemikian besarpun belum berhasil juga menemukan kembali sau-pocu, itu ber-arti besar kemungkinannya sau-pocu telah diculik oleh si kakek berjubah kuning tapi nona tak usah kuatir, sau pocu ber-bakat ba-gus dan berwajah cerah, sekalipun mengha-dapi bencana, semua bencana akan berubah menjadi rejeki, biar sekarang agak tersiksa dan menderita, toh akhirnya akan kembali juga ke Wi-lim-poo dengan selamat---" Dalam suasana gelisah bercampur marah mana ada niat dari Oh Li cu untuk mende-ngarkan obrolannya, dengan cepat ia menu-runkan kembali tangannya dari atas wajah, lalu sambil melotot ke arah Be Siong pak bentaknya: "Obrolan busuk. siapa yang mau mende-ngarkan ucapanmu itu, Hmm! bencana bisa berubah jadi rejeki . . . orangnya di mana sekarang?" "Pokoknya bila tidak kau temukan kembali Lan See giok hari ini, kau sendiri pun tak usah kembali ke Wi-lim-poo" Sambil berkata ia segera mencemplak kembali kudanya dan melarikan binatang tersebut meninggalkan tempat tersebut. Be Siong pak termangu melihat kemarahan nonanya, tanpa terasa teriaknya keras-keras: "Nona. tunggu dulu, nona, tunggu dulu hati-hati kalau sampai terjatuh dari kuda!" Sembari berteriak, dengan gugup dia mela-rikan pula kudanya untuk menyusul dari belakang. Kawanan lelaki lainnya serentak mem-ben-tak dan melarikan kuda masingmasing dalam waktu singkat kedua tiga puluhan kuda tersebut telah berlalu semua mengikuti di belakang Oh Li cu. Lan See giok menghembuskan napas pan-jang, perasaan tegang yang sempat mencekam perasaannya kinripun berkurang,z diam-diam ia mwelompat ke luarr dari perahu! Sepanjang pesisir dijumpainya penuh de-ngan bekas kaki kuda, melihat itu dia baru mengerti apa sebabnya Oh Li cu tidak me-ngirim orang untuk memeriksa perahu bo-brok tersebut. Agaknya perahu itu kelewat bobrok dan mustahil bisa dipakai untuk bersembunyi, ditambah pula seputar pesisir sudah penuh dengan bekas telapak kaki kuda dia mengira pasukan sebelumnya telah melakukan peme-riksaan di sana. Apalagi Be Siong pak serta Oh Li cu pada hakekatnya tidak me-ngetahui kalau dia berniat melarikan diri .... Sedang maksud Oh Tin san suami istri pergi tanpa pamit semalam, di mana dia hanya memberitahukan kepada Be Siong-pak dan melarangnya memberitahukan kepada Oh Li cu. jelas hal ini untuk mencegah putri-nya

202

pergi ke luar, dan tentu saja takut kalau dia menggunakan kesempatan tersebut mela-rikan diri. Kalau didengar berdasarkan pembicaraan Be Siong pak dengan Oh Li cu, ia yakin kedua orang tersebut masih belum mengeta-hui asal usulnya yang sesungguhnya, diapun percaya Oh Tin san tak bakal membi-carakan rahasia tentang kotak kecil tersebut dengan mereka. Kelancaran yang diperolehnya dalam usaha melarikan diri kali ini benarbenar berkem-bang di luar dugaan, apa yang direncanakan semalam boleh dibilang semuanya tidak ber-guna, karena tak satupun yang terpakai saat ini.. Berpikir sampai ke situ, tanpa terasa ia menggelengkan kepalanya sambil tertawa, pikirnya: "Yaa, siapa yang bisa menduga perubahan yang bakal terjadi di dunia ini?" la berjalan menuju ke pantai depan sana dan mendongakkan kepalanya, udara amat bersih, di kejauhan sana hanya kedengaran suara derap kaki kuda yang makin menjauh. Dengan cepat pemuda itu menelusuri pantai menuju ke arah timur laut, sebelum malam tiba dia harus sudah tiba di rumah kediaman bibi Wannya. Sementara itu matahari sudah tenggelam di langit barat Lan See giok merasa lapar, da-haga, gelisah pula, kalau dapat dia ingin se-cepatnya tiba di rumah kediaman bibinya. Sesudah menembusi hutan dan mendaki sebuah bukit kecil, dari kejauhan sana mulai nampak tanggul telaga Huan yang oh. Lan See giok percepat langkahnya menuju ke muka . . . Dari puncak bukit kecil, ia saksikan di bawah lembah sana masih nampak puluhan ekor kuda mondar mandir melakukan penca-rian, pada dermaga telaga tiga buah kapal perang berlabuh di situ. Lan See giok tak berani meneruskan per-jalanannya, terpaksa dia harus berhenti di situ dan menunggu sampai kapal-kapal pe-rang dari Wi-lim-poo tersebut berlalu se-be-lum meneruskan perjalanannya, Senja lewat, malam haripun tiba, suasana remang-remang telah mulai menyelimuti se-luruh angkasa. Cahaya lentera mulai berkelap-kelip di arah dusun nelayan sana. Di atas ke tiga kapal perang pun telah dikerek naik sembilan buah lentera besar berwarna merah. Beberapa saat kemudian ditengah kege-la-pan yang mulai mencekam seluruh angka-sa, lamat-lamat kedengaran suara orang menghardik dan ringkikan kuda.

203

Lan See giok tahu, pihak Wi-lim-poo sudah mulai menarik pasukannya kembali ke kapal, oleh sebab itu dia pun membayangkan kem-bali keadaan Oh Li cu entah bagaimanakah perasaan perempuan itu kini? la teringat pula cinta kasih serta perhatian dari Oh Li cu ter-hadapnya selama berapa hari belakangan ini, terutama sekali usahanya untuk mencarikan obat penawar racun baginya, tentu saja ia tak dapat berpeluk tangan belaka terhadap cinta kasihnya itu. Ia terbayang pula bagaimana Oh Li cu menangis karena sedih dan gelisah, kesemuanya ini membuat hatinya terharu, betul ia tidak terlalu menyukainya, tapi per-hatian dan kasih sayangnya tak mungkin bisa dilupakan dengan begitu saja. Diam-diam ia bersumpah di dalam hati, bila di kemudian hari Oh Li cu membutuh-kan sesuatu kepadanya, ia bersedia menga-bulkan permintaan nya demi membayar se-mua ke-baikannya selama ini. Namun permintaan mana tidak tebrmasuk memperisjtri dirinya, segbab di kemudianb hari dia ingin mempersunting enci Ciannya seba-gai istri, sekalipun ia tidak tahu apakah enci Cian mencintainya atau tidak... Teringat kembali enci Ciannya, Lan See giok segera mengerahkan kembali ilmu meringankan tubuhnya dan menuruni bukit tersebut dengan cepat. Ia dapat melihat ke sembilan lentera merah diarah telaga sudah mulai bergerak pelan- pelan, agaknya kapal perang dari Wi-lim-poo tersebut sudah mulai berangkat pulang. Dengan perasaan lega Lan See giok mem-percepat langkahnya berlarian ditengah ke-gelapan. Berapa waktu kemudian, ia telah tiba di belakang dusun kecil tempat kediaman bibi Wan nya, suasana dalam dusun itu amat hening, cuma satu dua buah rumah saja yang masih bersinar. Sampai di situ, mau tak mau Lan See giok harus meningkatkan kewaspadaannya, lama sekali ia berdiri tegak sambil memperhatikan keadaan di sekitar situ adakah sesuatu yang mencurigakan, kemudian pelan-pelan ia baru menuju ke rumah kediaman bibi Wan nya Waktu itu udara sangat gelap, tiada rem-bulan, hanya beberapa biji bintang yang berkelipan, angin malam yang berhembus lewat membawa suara deburan ombak dari tanggul telaga. Dalam perjalanan, ia saksikan cahaya len-tera dalam kamar enci Cian nya masih terang benderang, dia keheranan, semalam ini me-ngapa enci Ciannya belum juga tidur Padahal biasanya sudah naik ke atas pem-ba-ringannya. Dengan meningkatkan kewaspadaannya dia maju terus ke depan, sementara telinga nya dipasang lebar-lebar, namun betapa terkejutnya dia

204

setelah mendengar suara isak tangis dari enci Ciannya yang lamat-lamat bergema datang dari kamar tidurnya. Dengan perasaan terkejut dia melejit ke udara dan segera melayang masuk ke dalam pekarangan. Baru saja kakinya menempel di atas tanah---Mendadak dari dalam kamar tak bersinar di sisi kamar enci Cian nya bergema suara teguran yang lembut. "Anak Giok kah yang datang?" Seperti anak yatim piatu yang btiba-tiba mendejngar suara pangggilan ibunya, abir mata segera bercucuran membasahi wajah Lan See giok, namun ia tetap menjaga kewaspadaan nya terhadap keadaan lingkungan, setelah memanggil "bibi" dengan lirih, ia menerjang masuk ke arah jendela. Jendela belakang terbuka dan wajah bibi-nya muncul dari balik tirai, dipandangnya Lan See giok dengan terkejut lalu bisiknya: "Ayo cepat masuk!" Sambil berusaha keras mengendalikan rasa pedih di dalam hatinya, Lan See giok melom-pat terus masuk ke dalam ruangan, sedang bibi Wan melirik sekejap ke sekeliling hala-man dengan seksama, kemudian cepatcepat menutup kembali daun jendelanya. "Anak Giok. apakah selama beberapa hari ini kau tidak kembali ke kuburan kuno?" Lan See giok segera menubruk ke dalam pangkuan bibinya dan menangis tersedu, tapi hanya sebentar saja. karena dengan cepat isak tangisnya berubah menjadi se-senggukan belaka Tampaknya bibi Wan sudah merasakan firasat jelek, dengan gelisah ia bertanya. "Anak Giok, dimana ayahmu?" Lama sekali Lan See giok sesenggukan se-belum sahutnya amat pedih. "Ayah telah dibunuh orang!" Untuk sesaat suasana dalam ruangan menjadi hening, dengan jelas Lan See giok dapat mendengar debaran jantung bibi Wan yang semakin bertambah kencang. Cahaya api berkilat, ruangan segera men-jadi terang benderang-Ketika Lan See giok berpaling, dilihatnya enci Cian sedang menyulut sebuah lentera dengan wajah gugup, di bawah sinar lentera, terlihat jelas wajah Ciu Siau cian basah oleh air mata, sepasang matanya merah membengkak, agaknya paling tidak ia sudah menangis setengah harian lamanya.

205

Ketika ia berpaling lagi ke arah bibi Wan, tampak wajah bibinya pucat pias, keningnya berkerut dan dua baris air mata mengalir ke luar membasahi bibirnya yang gemetar. Dengan pandangan kosong ia mengawasi sudut ruangan, agaknya sedang merenung-kan sesuatu . . . Lan Seer giok tahu bibiz Wan sedang amawt sedih saat itru, tanpa terasa serunya sambil menangis: "Oooh . . bibi. bibi . " Tiada hentinya dia menggoyang-goyangkan lengan bibi Wannya. Bibi Wan menyeka air matanya dengan ujung baju, kemudian berkata lagi agak se-senggukan: "Aku telah memperingatkan kepadanya, kalau toh barang tersebut tak berguna, lebih baik dikembalikan secepatnya daripada me-mancing datangnya bibit bencana!" Ketika berbicara, butiran air mata kembali jatuh bercucuran membasahi wajahnya. Mendengar perkataan tersebut, Lan See giok segera menarik kesimpulan kalau hubungan antara bibi Wan dengan ayahnya pasti luar biasa, Karena itu sekali lagi dia berseru: " Oooh. . . bibi!" "Anak Giok, duduklah," kata bibi Wan sambil mengawasi wajah Lan See giok yang basah oleh air mata, "beritahu kepada bibi, siapakah musuh besar kita?" "Ketika anak Giok pulang tempo hari ayah telah meninggal dunia. . ." Secara ringkas dia pun menceritakan kem-bali semua peristiwa yang disaksikan mau-pun dialaminya dalam kuburan kuno tempo hari... Bibi Wan serta enci Cian masing-masing duduk di kursi bulat dan mendengarkan pe-nuturan tersebut dengan seksama. Cerita Lan See giok sangat jelas, terutama mengenai dandanan, potongan wajah serta ciri khas dari lima manusia cacad dari tiga telaga. . . Sewaktu bercerita tentang si kakek ber-jubah kuning, bersinar terang sepasang mata bibi Wan, tanpa terasa ia berbisik lirih: "Apakah diantara alis mata kakek ber-jubah kuning itu terdapat sebuah tahi lalat merah?" Lan See giok termenung sebentar, kemu-dian menggeleng. "Anak giok tidak memperhatikan soal ini!" Bibi Wan berkerut kening lalu manggut-manggut, pertanda dia diminta melanjutkan ceritanya.

206

Sewaktu Lan See giok bercerita tentang si manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san menangisi jenazah lalu bagaimana mencuri pedang dan sebagainya, kembali bibi Wan menukas. "Menilai seseorang jangan berdasarkan wajah saja, tapi jangan pula dinilai dari si-kapnya dan caranya berbicara manis, biar-pun kaum laknat pandai ber-bicara, toh akhirnya bakal salah berbicara juga, asal kau bersedia memperhatikan dengan seksama, tidak sulit untuk me-ngetahui baik tidaknya seseorang, seperti manusia bangsa Oh Tin san, kenyataannya kau dapat dikibuli dengan begitu mudah.. hal ini membuktikan kalau pikiranmu ter-sumbat waktu itu karena kese-dihan yang berlebihan" Kemudian sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan: "Untung saja kau mudah dikibuli ketika itu. coba kalau tidak, mungkin kita tak akan bisa berjumpa muka lagi" Lan See giok mengiakan dengan wajah je-ngah, ia pun melanjutkan kembali cerita nya. Tatkala bibi Wan mendengar Lan See giok mencurigai si naga sakti pembalik sungai Thio Lok-heng sebagai otak dari ke lima manusia cacad, dengan nada tidak puas, ia segera berkata: "Si naga sakti pembalik sungai Thio-Lok-heng serta naga emas pengaduk samudra Li Ci-san dari telaga tong ting oh termasyhur dalam dunia persilatan karena ilmu dalam airnya, kedua orang itu dijuluki Sui sang siang hiong (sepasang jagoan dalam air) oleh umat persilatan, Thio-Lok--heng orangnya jujur dan polos, sedang Li Ci-san orangnya terbuka dan berjiwa besar, kedua orang tersebut merupakan pendekar yang dihormati umat persilatan baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam, jadi tak bisa dibanding kan mereka dengan kelima manu-sia cacad tersebut. Bila kau berjumpa lagi dengan mereka di kemudian hari, harus kau hormati kedua orang itu sebagai angkatan tua, jangan bersikap kasar atau kurang ajar sehingga merosotkan pamor dari mendiang ayahmu." Lan See giok mengiakan berulang kali, ke-mudian dia melanjutkan kisahnya bagai-mana memasuki benteng Wi-lim-poo, ketika berce-rita tentang On Li cu, Ciu Siau cian yang duduk di sampingnya segera nyelutuk de-ngan nada cemburu. "Apakah dia adalah gadis yang menung-gang kuda bersama-sama kau hari ini?" Selesai berkata dengan wajah bersemu merah karena jengah dia melirik sekejap ke arah ibunya, kemudian menundukkan kepalanya rendahrendah. Paras muka Lan See giok ikut berubah menjadi merah dadu. ia mengiakan cepat-ce-pat, setelah itu meneruskan ceritanya bagai-mana kudanya kaget,

207

kemudian bagaimana dia manfaatkan kesempatan itu untuk mela-rikan diri.. Sebagai akhir kata dia menambahkan. "Oh Tin-san pernah memerintahkan kepada putrinya memberi pelajaran berenang, kepada, anak Giok sejak hari ini, andaikata semalam tiada orang yang mencuri dengar tentang rahasia kotak kecil di luar jendela anak Giok berniat be)ajar ilmu berenang lebih dulu sebelum datang kemari menengok bibi dan enci Cian!" Tanpa terasa dia mencuri lihat sekejap lagi ke arah Ciu Siau cian. Mendengar perkataan tersebut sambil ter-tawa Ciu Siau cian segera berkata: "Ibu adalah Hu-yong siancu (dewi Hu-yong) yang amat termasyhur dalam dunia persilatan, ilmu berenang siapakah di kolong langit saat ini yang bisa me-nandingi Han Sin wan? Selain mengalah-kan naga sakti pemba-lik sungai pernah juga mengungguli si naga emas pengaduk samudra-- ada suhu lihay tak mau minta pelajaran, kau malahan---" Belum habis perkataan itu diutarakan, Han Sin wan telah menegur putrinya. "Anak Cian, lagi-lagi kau usil mulut!" Kejut dan girang Lan See giok setelah mendengar perkataan itu, ia menjadi ter-tegun, kemudian setelah berhasil menenang-kan pikiran nya dia berseru dengan gembira. "Ilmu berenang dari bibi rupanya hebat sekali dan ternyata anak Giok tidak me-nge-tahui sama sekali, bibi, kau harus mengajar-kan ilmu kepandaian tersebut kepada anak Giok, dari kelima manusia cacad, ada tiga diantaranya menjagoi telaga, bila anak Giok tidak menguasai ilmu dalam air, usahaku untuk membalas dendam bagi ayahku tak akan lancar." Berbicara soal membalas dendam, suasana dalam ruangan kembali dicekam keresahan. Setelah lewat berapa saat, Hu-yong siancu Han Sin Wan baru berkata lagi. "Anak Giok, kalau ditinjau dari penu-turanmu tadi, kelima manusia cacad tersebut memang mencurigakan semua, diantaranya meski si iblis buas bermata tunggal dan beruang berlengan tunggal yang mencuriga-kan, namun manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san terhitung manusia paling mencu-rigakan . . " "Atas dasar apa bibi mengatakan Oh Tin san paling mencurigakan?" sela Lan See -giok tidak mengerti. Hu-yong-siancu Han Sin wan menghela napas sedih. "Oh Tin san merupakan seorang manusia yang kejam dan berhati buas, yang paling mencurigakan dari perbuatannya adalah ia tidak membunuhmu

208

melainkan menghajar mu sampai pingsan, lalu menggunakan ke-sempatan tersebut membinasakan si bina-tang bertanduk tunggal....." "Yaa, bisa jadi dia takut si binatang ber-tanduk tunggal membocorkan rahasia kotak kecil itu, sebab sebelum peristiwa itu ber-langsung si binatang bertanduk tunggal me-mang bersembunyi pula di tempat kegelapan !" "Justru karena si binatang bertanduk tunggal bersembunyi dalam kegelapan itu-lah, Oh Tin San baru turun tangan mem-bunuhnya" ucap Han Sin wan dengan ber-sungguh sungguh, "siapa tahu hal ini dise-babkan dia kuatir si binatang bertanduk tunggal akan membocorkan rahasia kotak kecil, atau mungkin juga kuatir kalau si bi-natang bertanduk tunggal akan menuding Oh Tin San sebagai pembunuh sesungguhnya ...." Lan See giok berkerut kening, lalu dengan wajah tak mengerti ia bertanya: "Selama ini lima manusia cacad menguasai wilayah yang berbeda, mengapa mereka bisa muncul bersama sama dalam kuburan kuno pada malam itu ...." Sekilas perasaan sedih segera menghiasi wajah Hu-yong siancu, ujarnya sedih. "Sudah banyak tahun bibi bersembunyi di tepi telaga, sedikit sekali masalah dunia per-silatan yang kuketahui, sedang tokoh-tokoh lima manusia cacad pun baru muncul berapa tahun belakangan ini. seperti misalnya si tongkat besi berkaki tanggal Gui-Pak-ciang yang kau maksudkan, dulunya ia lebih dike-nal sebagai Kun lui koay (tongkat geledek) yang merajai wilayah Soa lam, apa sebabnya mereka bisa berkumpul pada malam yang sama, bibi sendiripun kurang jelas. Berbicara sampai di situ, dia melirik seke-jap ke arah putri kesayangannya, lalu sambil mengulumkan senyuman, lanjutnya: Sedangkan mengenai belajar ilmu be-renang, bibi sudah kelewat tua sehingga tak mungkin bisa mengajarkan sendiri kepadamu. . . ." "Apa? Bibi sudah tua?" Lan See giok melongo. Memandang wajah kaget yang menghiasi wajah Lan See giok, tanpa terasa Ciu Siau cian menutupi bibirnya sambil tertawa. Benar, di mata Lan See giok paling banter bibinya baru berusia dua puluh enam tujuh tahunan, dia masih nampak muda, cantik, anggun, halus dan lembut, bagaimana mungkin bisa dibilang telah tua? Tak heran kalau dia menjadi tertegun saking kagetnya. Hu-yong siancu tersenyum, dia tidak menanggapi pertanyaan Lan See giok terse-but, hanya terusnya: "Mulai besok, kau boleh minta kepada enci Cian mu agar mengajarkan ilmu berenang. . "

209

Lan See giok girang sekali, hal ini memang merupakan pucuk dicinta ulam tiba baginya. maka sambil melompat bangun dan menjura kepada Ciu Siau cian, katanya dengan gem-bira: "Kalau begitu siaute ucapkan banyak teri-ma kasih dulu kepada cici Cian." Siapa tahu Ciu Siau cian segera menghin-dar ke samping sambil berseru: "Aaah, aku tak lebih hanya gadis dusun yang tak tahu soal adat, bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan enci Cu yang pan-dai, ilmu berenang lagi pula terhitung ketu-runan keluarga persilatan yang terhormat ... Lan See giok menjadi gugup, dia memang tidak menyangka kalau enci Cian nya yang lemah lembut ternyata mempunyai rasa cem-buru yang begitu besar. Sambil tertawa paksa, katanya kemudian dengan gugup. "Oooh, cici! Mengapa kau masih meng-ingat ingat kata lelucon tersebut? Dalam situasi dan kondisi siaute waktu itu, mau tak mau harus kusanjung dirinya agar tidak curiga, harap cici jangan mengingatnya terus dihati" Sambil berkata, sekali lagi dia menjura dalam-dalam, kali ini dia menjura dalam sekali hingga sepasang tangannya hampir menempel di atas tanah. Ciu Siau cian yang terbayang kembali ba-gaimana ia merasa kecewa, menderita dan malu serta pelbagai perasaan lain yang ber-campur aduk, tak tahan lagi katanya dengan hambar "Aku tahu kalau diriku ini rendah dan tak mungkin bisa menandingi si nona terhormat dari keturunan keluarga ternama, oleh sebab itulah aku tak berani menerima permintaan dari ibu untuk mem-beri pelajaran kepadamu.. ." Memandang wajah Lan See giok yang merah membara karena gelisah. Hu-yong siancu tersenyum, segera ujarnya: "Siau cian, bagaimanakah posisi adik Giok mu waktu itu tentunya sudah kau ketahui, buat apa sih mesti menyiksa dia. . ." Mendengar bibinya membelai dia, dari mu-rung Lan See giok menjadi gembira, meman-faatkan kesempatan itu ujarnya sambil ter-tawa: "Siaute berani bersumpah kepada langit, selama hidup aku tak berani lagi membuat cici marah, bila cici sampai dibuat marah, siaute bersedia untuk berlutut di depan cici dan menerima hukuman." Mendengar perkataan itu, tanpa terasa Han Sin wan melirik sekejap ke arah putrinya sambil tertawa riang, wajahnya bersinar cerah ujarnya kemudian sambil tersenyum. Nah, anak Cian, apa lagi yang hendak kau katakan sekarang?"

210

Ciu Siau cian malu sekali, mukanya merah sampai ke telinga, sambil menghentak-hen-takkan kakinya dengan manja serunya: "Sungguh mendongkolkan, sungguh men-dongkol kan---" Sekali lagi Lan See giok berdiri melongo si-kap enci Cian dan sikap bibinya boleh dibi-lang merupakan dua reaksi yang berbeda, sambil memandang ke arah bibinya ia pun berkata agak tersipu sipu: "Aku tidak tahu apakah kembali salah ber-bicara, dulu kalau anak Giok telah me-laku-kan kesalahan, ayah selalu menyuruh anak Giok berlutut sebagai hukuman." "Anak Giok, itukan menghadapi orang tua atau angkatan yang lebih tua---" seru bibi Wan sambil tertawa geli. Belum habis perkataan tersebutb, dengan wajah jbersemu merah Cgiu Sian cian sebgera menimbrung: "Ibu, anak Cian bukan enggan memberi pelajaran kepada adik Giok, cuma kurasa disini terlalu banyak mata-mata, kalau orang melihat gerak gerikku, mereka bisa salah sangka..."" Hu-yong siancu segera memahami maksud putrinya, sambil tertawa ujarnya lagi. "Tentu saja pelajaran tak boleh diberikan disiang hari, sebab dengan begitu akan menarik perhatian orang banyak, tempat persembunyian kita di tempat inipun akan segera tersebar luas pula dalam dunia persi-latan, apalagi dengan kaburnya adik Giok mu, pihak Wi-lim-poo pasti tak akan mele-paskan pengejarannya. apalagi si manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san bertekad akan mendapatkan kotak kecil itu..." Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan itu, tanyanya tanpa terasa: "Bibi, mereka bilang kotak kecil itu berisi-kan kitab pusaka Tay lo hud bun tiap yap cinkeng, benarkah itu?" Bibi Wan tidak langsung menjawab, tiba- tiba saja dia memasang telinga dan mende-ngarkan dulu keadaan di sekeliling tempat tersebut . . . Suasana di luar halaman amat hening, se-lain angin malam yang berhembus lewat menggoyangkan dedaunan serta ranting dan suara ombak telaga yang memecah di tepian tanggul, tak kedengaran suara yang lain. Dengan wajah serius diapun manggut-manggut, sahutnya dengan suara lirih: "Betul, kitab pusaka tersebut benar-benar merupakan mestika dunia persilatan yang diidam idamkan setiap umat persilatan, tapi sedikit sekali yang tahu dimanakah ilmu sakti tersebut tercatat, oleh sebab itu mereka

211

yang tidak mengetahui rahasianya, mendapat kan benda tersebut sama artinya dengan memperoleh benda rongsokan!" Lan See giok sendiripun sangat berharap bisa mempelajari kepandaian sakti yang ter-cantum dalam kitab pusaka itu, tanpa terasa tanyanya dengan gelisah. --"Apakah bibi mengetahui bagaimana cara nya membaca kitab pusaka tersebut?" Hu-yong siancu menghela napas sedih: "Aai, seperti juga ayahmu, bibi bukan orang yang berjodoh dengan Buddha, tak mampu kupahami arti dari pelajaran tber-se-but" Betjapa kecewanya Lgan See giok setbelah mengetahui hal ini, bukankah kejadian tersebut sama artinya dengan ayahnya telah mengorbankan selembar jiwanya demi suatu benda "rongsokan"? Apakah hal ini tidak kelewat tidak berharga? Sementara dia masih termenung, ter-dengar bibi Wan kembali berkata: "Bibi pernah menasehati ayahmu, kalau toh tak dipahami rahasia dari kitab pusaka tersebut, lebih baik segera dikirim kembali saja......" Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan itu. buru-buru ia ber-tanya: "Bibi, darimanakah ayah peroleh kotak kecil itu?" Sorot mata bibi Wan menjadi redup, seakan akan terbayang kembali kisah dimasa silam, lama kemudian dia baru berkata: "Bibi hanya tahu, ayahmu telah berjumpa dengan kekasihnya yang telah menikah di bawah puncak Giok-li-hong di bukit Hoa san dan secara kebetulan juga mendapatkan ko-tak kecil itu, sedang keadaan yang sebenar-nya tidak bibi ketahui." Lan See giok hanya ingin cepat-cepat men-getahui kisah ayahnya sampai mendapatkan kotak kecil itu, karenanya ia tidak ter-lalu memperhatikan perubahan wajah bibi-nya. Saat ini satu ingatan tiba-tiba melintas di dalam benaknya, dengan nada memohon segera ujarnya: "Bibi, bersediakah kau mengeluarkan ko-tak kecil itu agar giok ji periksa? Sekarang hari sudah malam, siapa tahu dengan tenaga pikiran giok ji, bibi dan enci Cian kita akan berhasil memahami rahasia kitab pusaka tersebut?" "Baiklah," sahut Hu-yong siancu tanpa ragu-ragu, "malam ini, mari kita lihat sampai di manakah rejekimu?" Ia beranjak menuju ke jendela belakang dan mengintip sekejap keadaan di sekitar sana dengan cekatan, kemudian tubuhnya melompat ke luar dan sekejap kemudian su-dah lenyap dari pandangan.

212

Ketika Lan See giok turut menengok ke de-pan, rembulan nampak bersinar cerah, daun dan ranting bergoyang lembut, sedang bin-tang berkedip kedip memancarkan cahaya nya, tengah malam sudah lewrat. Bayangan mzanusia kembali wberkelebat le-wrat, bibi Wan dengan jurus walet lincah menerobos tirai sudah melayang masuk kembali ke ruangan, gerakan tubuhnya ri-ngan dan sama sekali tidak menimbulkan suara. Lan See giok menutup jendela dengan ce-pat kemudian berpaling, ternyata di tangan bibi Wan telah bertambah dengan sebuah kotak kecil berwarna kuning yang empat inci lebarnya. Berhubung Lan See giok sudah tahu kalau isi kotak tersebut berisikan sejilid kitab pusaka, maka dalam hati kecilnya timbul perasaan hormat. Biarpun bibi Wan nya terhitung seorang pendekar wanita yang namanya menggetar kan dunia persilatan, setelah memegang ko-tak kecil berisi kitab pusaka itu, toh terpe-ngaruh juga oleh emosi, wajahnya ber-ubah menjadi serius dan sepasang tangannya turut gemetar. Dengan hormat sekali Lan See giok mene-rima kotak kecil itu kemudian setelah mele-paskan kain kuningnya, pelan-pelan ia mem-buka penutup kotak itu. Di dalam kotak itu berisikan tiga buah daun emas yang panjangnya beberapa inci, sinar gemerlapan segera memancar ke mana-mana. Lama sekali Lan See giok memperhatikan benda tersebut namun gagal untuk menemu-kan sesuatu yang mencurigakan, apalagi ke tiga lembar daun emas itu tidak beraksara tidak pula bergambar, polos dan halus sekali.-Hu-yong siancu serta Ciu Siau cian berdiri membungkam di belakang Lan See giok, mereka pun berusaha memusatkan segenap perhatiannya untuk turut memeriksa ke tiga lembar daun emas tadi, namun apa yang ditemukan tak lebih cuma daun emas biasa. Untuk beberapa saat lamanya, suasana di sekeliling tempat itu dicekam dalam keheni-ngan yang luar biasa. sedemikian hening nya sampai masing-masing dapat mendengar de-tak jantung lawannya... Mendadak.... Dari arah tepi telaga sana, lamat-lamat kedengaran suara yang amat lirih. Pertama tama Hu-yong siancu yang me-rasakan lebih dulu, dengan cepat dia menge-baskan tangannya untuk memadamkan len-tera, seketika itu juga suasana dalam ru-angan dicekam kegelapan. Lan See giok sangat terkejut, cepat-cepat dia menutup kembali kotak tersebut dan menyerahkannya kembali kepada bibi Wan.

213

Sedangkan Ciu Siau cian memasang telinga baik-baik sembari mengerdipkan ma-tanya, lalu dengan nada kaget ia berbisik: "Ibu, seperti ada perahu yang merapat di tepi telaga!" Dengan langkah terburu buru dia me-nuju ke luar, membuka pintu rumahnya sedikit lalu mengintip ke luar segulung angin dingin berhembus masuk, udara terasa sedikit di-ngin. Lan See giok menyusul di belakang Ciu Siau cian, mereka bersama sama berdiri di belakang pintu. Ketika Ciu Siau cian mengetahui adik Gioknya menyusul, dengan cepat ia mem-beri tanda, lalu menarik tangan pemuda itu dan diajaknya menuju ke pintu pekarangan. Ketika Lan See giok merasa tangannya di-genggam oleh tangan enci Cian nya yang ha-lus dan lembut seakan akan tak bertulang, segulung hawa panas yang segar dengan ce-pat menyusup ke dalam lubuk hatinya. Mengikuti di belakang gadis tersebut sekarang, dia seperti sudah melupakan segala ketegangan yang dirasakan hanya se-macam perasaan aneh yang tak terlukiskan dengan kata-kata, dan perasaan ini dapat membikin jantungnya berdebar keras dan wajahnya bersemu merah, tubuhnya, seolah-olah melayang di atas awan. Tanpa terasa ia bersama Ciu Siau cian te-lah berjongkok di bawah pagar pekarangan, bau harum semerbak yang berhembus lewat membuat hatinya berdebar semakin keras. Diantara bau harum itu, terselip pula bau harum khas dari enci Ciannya, dan bau tadi membuat ia merasa gembira dan sangat nyaman. Sudah lama dia mimpikan menggenggam tangan enci Ciannya yang lembut, dan kini harapannya telah menjadi kenyataan, tanpab disadari ia mejnggenggam tangagn Ciu Siau cianb semakin kencang. Ciu Siau cian tidak menolak sebab ia se-dang memusatkan semua perhatiannya un-tuk mengintip melalui celah-celah pagar pekarangan, sebaliknya Lan See giok malah termangu - mangu oleh kecantikan wajah kekasih hatinya ini. Dalam keadaan begini, dia tidak ber-hasrat untuk memikirkan hal lain lagi, dia cuma berharap bisa bersama dengan enci Ciannya untuk selama lamanya . . . Mendadak Ciu Siau cian menyikutnya pe-lan, Lan See giok segera tersadar kembali dan mengalihkan pandangannya ke arah telaga. Dari bawah tanggul telaga tampak ada tiga sosok bayangan manusia sedang ber-gerak mendekat, di bawah cahaya rembulan mereka hanya sempat melihat potongan badannya saja.

214

Mendingan kalau Lan See giok tidak meli-hat. begitu diintip dia menjadi kagetnya setengah mati, bahkan hampir saja men-jerit tertahan, rupanya ke tiga sosok manusia yang baru saja melompat turun dari tanggul telaga itu adalah si manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san, Say nyoo-hui KiCi-hoa serta Oh Li cu yang cantik tapi genit itu. Tanpa terasa dia lantas menggenggam ta-ngan Ciu Siau cian kencangkencang. Ciu Siau cian segera merasakan akan hal itu, dengan cepat dia berbisik. "Siapakah mereka? Apakah perempuan yang bernama Oh Li cu?" Suara yang halus, udara yang hangat dan harum, sungguh merupakan suatu rangsa-ngan yang luar biasa, hanya sayang Lan See giok yang tegang sehingga dia sama sekali tidak merasakan akan hal tersebut. Lan See giok mengangguk dengan gelisah sahutnya dengan nada gelisah. "Bukan hanya 0h Li cu seorang, kedua orang lainnya adalah orang tua mereka, Oh Tin san serta Say nyoo-hui." Sewaktu Ciu Siau cian mendengar perka-taan itu dia seperti agak terkejut pula, cepat-cepat dia mengangguk dan kemudian meng-alihkan kembali sorot matanya ke arah tepi telaga. Dalam pada itu Oh Tin San dan Say nyoo-hui sedang memberi gerakan tangan kepada Oh Li cu, agaknya dia sedang menanyakan bkejadian yang djialaminya hari gini kalau di tibnjau dari wajah Oh Tin san tampaknya dia amat gusar. Tiba-tiba Oh Li cu menuding ke muka, mengikuti tudingan itu, Oh Tin san dan Say nyoo-hui segera mengalihkan sorot mata mereka yang tajam bagaikan sembilu ke arah depan. Menyaksikan sorot mata mereka, Lan See giok merasakan tubuhnya gemetar keras, tak tahan dia berpaling ke arah pintu rumah mohon bantuan. Baru berpaling, dia telah menyaksikan bibi Wan berdiri di belakang pintu pagar dengan wajah tenang, agaknya dia pun sedang me-ngawasi gerak gerik Oh Tin san bertiga. Betapa leganya Lan See giok setelah meli-hat bibinya munculkan diri, meski demikian rasa tegang toh belum mereda, tanpa terasa bisiknya lirih: "Bibi, Oh Tin san...." "Ssst--!" Hu-yong siancu menempelkan jari tangannya ke atas ujung bibir me-lakukan gerakan melarang berbicara, setelah itu dia menuding ke tepi telaga. Lan See-giok memahami maksudnya dan berpaling kembali, ternyata Oh Tin san berti-ga sedang berbisik bisik seperti merunding-kan sesuatu, ke enam mata mereka yang ta-jam dialihkan kemari tiada hentinya.

215

Mendadak . . . Ke tiga orang itu bersama sama memberi tanda, kemudian berjalan mendekati ba-ngunan rumah mereka. Peluh dingin dengan cepat bercucuran membasahi tubuh Lan See-giok, cepat dia berpaling, bibi Wan nya memberi tanda kepadanya agar kabur secepatnya, maka dia menarik tangan Ciu Siau cian dan bersama sama kembali ke dalam kamar. Hu-yong siancu mengikuti di belakang mereka dengan sikap yang tenang, pintu rumah sekalian ditutup rapat, lalu memberi tanda kepada Lan See giok agar bersembunyi di ruang dalam, diperingatkan sebelum di-panggil agar jangan munculkan diri. Lan See giok mengangguk dengan gugup kemudian berjalan masuk ke dalam kamar tidur bibinya, disaat dia hendak melangkah ke dalam kamar dilihatnya enci Cian sedang dibisiki sesuatu oleh ibrunya. Dalam suzasana begini, dwia tidak berhasrrat lagi untuk mendengarkan apa yang dibicara-kan bibi Wan nya, dengan gugup dia me-nyandarkan diri dekat jendela depan, lalu membuat sebuah lubang kecil pada kertas jendela tadi. Dari situ kembali dia mengintip ke muka, kali ini Oh Tin san suami istri serta Oh Li cu telah berdiri di luar pagar sambil menengok ke dalam rumah, waktu itu mereka sedang berbisik bisik sambil menuding ke sana ke mari. Sorot mata sesat kelihatan mencorong ke luar dari balik mata Oh Tin San, dengan wa-jah penuh amarah dia mengawasi Oh Li cu, sementara tangannya yang kurus kering menuding kesana ke mari seperti lagi me-nanyakan sesuatu. Rambut Oh Li cu sangat kusut, keningnya berkerut dan bibirnya cemberut, sementara sepasang matanya telah merah membengkak karena kebanyakan menangis. Saat ini dia mengenakan pakaian ringkas berwarna merah, sebilah pedang tersoren di punggungnya. Say nyoo-hui Ki-Ci-hoa berkerut kening juga, sekalipun dia sayang anak tapi berhu-bung masalahnya menyangkut suatu urusan besar, maka dia seakan-akan tak sanggup lagi untuk membendung amarah 0h Tin San terhadap putrinya. Sementara itu, Oh Li cu telah mengangguk dengan pasti, dia menuding ke arah pepo-honan ditengah halaman. Tanpa banyak membuang waktu, Oh Tin san segera melejit ke udara dan melayang turun ke dalam halaman, sedangkan Say nyoo-hui serta Oh Li cu mengikuti di bela-kangnya. Baru saja mereka bertiga menginjakkan kakinya ke atas tanah.

216

"Kraak. . .!" Tahu-tahu pintu depan terbuka lebar. Hu-yong siancu dengan wajah yang anggun dan tenang telah berdiri angker di depan pintu. Kemunculan tuan rumah yang amat tiba-tiba ini sangat mengejutkan Oh Tin San suami istri, agaknya kejadian tersebut sama sekali di luar dugaan, tapi hanya sebentar saja paras muka mereka segera pulih kembali seperti sedia kala dan menunjukkan sikap angkuh. Hu-yong siancu tidak menunjukkan sikap apapun, malah dengan senyum dikulum dia melangkah ke luar dari dalam ruangan. Paras muka Oh Tin san suami istri berubah hebat, setelah berseru tertahan mereka mundur setengah langkah, tapi dalam waktu singkat mereka berhasil me-nguasai kembali keadaan, senyum dingin segera menghiasi lagi ujung bibir mereka. Setelah berdiri tegak, sambil tertawa ham-bar Hu-yong siancu berkata: "Selama ini kalian menjagoi dunia per-si-la-tan dengan bercokol di benteng Wi-lim-poo, nama besarnya sudah termasyhur sampai di seantero dunia. kami ibu dan anak ber-un-tung sekali bisa hidup bertetangga dengan kalian dengan mendirikan gubuk reyot di tepi telaga" Kemudian setelah memandang seke-jap kearah Oh Li cu, dia melanjutkan. "Kini, malam sudah larut, entah ada perso-alan apa kalian suami istri bersama putri kalian berkunjung ke mari? Gubuk kami reyot. bila tidak keberatan silahkan masuk ke ruangan untuk minum teh dulu. ." Merah padam selembar wajah Oh Tin san dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak, sahutnya sambil tertawa nyaring: "Hu-yong siancu adalah seorang pendekar wanita yang namanya sudah menggemparkan lima telaga dan sekarang hidup menyendiri di tepi telaga untuk mencari kehidupan yang aman damai, kami suami istri berdua tak lebih hanya manusia kasar. bila lihiap tidak berbohong, tentunya sudah kau ketahui bu-kan apa maksud kunjungan kami pada ma-lam ini" Hu-yong siancu berkerut kening, kemudian gelengkan kepalanya dengan tidak me-ngerti, ujarnya hambar. "Entah apa maksudmu?" Paras muka Oh Tin san berubah, setelah tertawa dingin katanya dengan suara dalam. "Bila kau mengaku tak tahu, tak ada salahnya aku berbicara secara blakblakan. malam ini sengaja kami datang untuk me-ngambil kembali kitab pusaka Tay lo tiap yap cinkeng, sebagai manusia yang berpengala-man, tentunya kau tahu bukan sepasang tangan susah melawan empat tangan,

217

biar-pun kami bertiga sadar bukan tandingan lihiap, tapi untuk mem-bela diri, terpaksa kami akan mengerubutib lihiap" Dengajn wajah berlagagk kaget bercampbur keheranan Hu-yong siancu segera berseru. "Kotak kuning itu diserahkan oleh Gurdi emas peluru perak Lan tayhiap kepadaku agar disampaikan kepada seorang cianpwe, aku seperti tak pernah mendengar harus menyerahkannya kepada mu" Berubah paras muka Oh Tin san setelah mendengar ucapan itu, tak sampai Hu-yong siancu menyelesaikan kata katanya, ia sudah bertanya dengan wajah kaget. "Siapakah ciancu itu?" Hu-yong siancu menggelengkan kepala nya berulang kali: "Di dalam suratnya Lan tayhiap tidak menjelaskan siapakah manusia tersebut, hanya diterangkan ia memakai jubah kuning, berambut perak dan berjenggot panjang, se-lain itu dia pun mempunyai sebuah ciri yang sangat khas . ."" Setelah berhenti sejenak dia memandang sekejap ke arah Oh Tin san yang wajahnya mulai memucat serta Say nyoo-hui yang berkerut kering, setelah itu melanjutkan: "Adapun ciri khas dari manusia berjubah kuning itu adalah pada keningnya terdapat sebuah tahi lalat yang berwarna merah!" Sekujur badan Oh Tin san gemetar keras, peluh dingin jatuh bercucuran dengan amat deras, tapi toh bertanya juga dengan nada tidak mengerti. "Lan Khong-tay memerintahkan kepada-mu harus menyerahkan kotak kecil itu ke-pada si manusia aneh tersebut pada saat kapan?" "Tengah hari tadi!" jawab Hu-yong siancu tanpa ragu. Oh Tin san suami istri serta Oh Li cu ber-tiga merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa mereka saling berpandangan sekejap, sebab mereka serentak teringat kembali de-ngan Lan See giok yang hilang lenyap. Say nyoo-hui memutar biji matanya, ke-mudian menimbrung. "Di tempat mana?" Hu-yong siancu menggerakkan alis mata nya, lalu sambil menuding ke belakang rumah sahutnya, "Di atas bukit sana. . . ." Ketika mendengar perkataan terbsebut, Say nyooj-hui mendongakkgan kepalanya dabn ter-tawa seram, suaranya tinggi melengking per-sis seperti suara kucing kawin. Selain Hu-yong siancu sendiri yang di bikin tak mengerti oleh suara tertawa lengking itu, sekalipun Oh Tin san serta On Li cu sendiri-pun dibuat keheranan.

218

Selesai tertawa, Say nyoo-hui kembali ber-kata dengan suara dingin: "Kau siluman rase cilik yang tak tahu diri, kendatipun kau cerdas dan lihay, toh tampak juga kecerobohan mu itu, aku tidak percaya dengan segala obrolanmu tersebut". "Kemudian dengan mata melotot dan ter-tawa seram, ia menghardik: "Siapa yang berada di dalam ruangan?" Sambil membentak dia menuding kearah pintu kamar. Agaknya Hu-yong siancu tidak menyangka kalau Say nyoo-hui bakal berubah sikap sedemikian cepatnya, meski begitu dia tetap bersikap tenang, ditatapnya wajah Say nyoo-hui yang sedang menyeringai itu lembut, ke-mudian jawabnya dingin: "Dia adalah putriku Siau cian!" Say nyoo-hui melototkan matanya, makin besar, mencorong sinar tajam dari balik ma-tanya, kemudian setelah tertawa seram dia berkata: "Aku tidak percaya." "Jika tidak percaya lantas kau mau apa!" Hu-yong siancu segera menarik mukanya dengan gusar. "Lonio akan menggeledah!" Sembari berkata, tiba-tiba sepasang ta-ngannya berputar dan sepasang goloknya sudah diloloskan dari sarung. Sementara itu keberanian Oh Tin san pun nampaknya semakin menjadi, tenaga dalam-nya dihimpun ke dalam telapak tangan, lalu dia bersiap siap untuk menerkam ke muka. "Criing!" cahaya tajam berkilauan, Oh Li cu telah meloloskan pula pedangnya. Berubah hebat paras muka Lan See giok yang mengintip dari balik jendela, dia benar-benar tak menduga kalau situasi di dalam halaman akan mengalami perubahan sedemikian cepatnya. Karena kaget dan cemas, dan gugup anak muda itu melompat turun dari pembaringan lalu melompat ke jendela belakang dan mem-bukanya dengan cepat. Tapi...seperti rdisambar gunturz disiang hari bwolong, Lan See rgiok tertegun lalu melongo, sekalipun dia ternganga karena kagetnya, untung tiada suara yang terpancar ke luar. Si kakek berjubah kuning yang berwarna halus dan lembut itu tahu-tahu sudah mun-cul di luar jendela dengan senyuman diku-lum. Memandang si kakek berjubah kuning yang berdiri di luar jendela itu, Lan See giok termangu mangu, kepalanya terasa pusing tujuh keliling, hampir saja ia roboh tak sa-darkan diri karena terkejutnya.

219

Mimpi pun ia tak pernah mengira bakal menjumpai kakek berjubah kuning itu di rumah bibi Wan nya. Sementara dia masih termangu, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, kakek berjubah kuning itu sudah melompat masuk ke dalam ruangan dengan enteng tanpa menimbulkan sedikit suarapun, Diam-diam Lan See giok amat terkejut, kendatipun dia sudah tahu kalau si kakek berjubah kuning itu memiliki kepandaian si-lat yang sangat lihay, tapi ilmu meringankan tubuh yang demikian sempurnanya ini pada hakekatnya belum pernah di dengar atau dilihat olehnya. Sementara ia masih termenung, kakek berjubah kuning itu telah menepuk nepuk bahunya dengan lembut wajahnya sangat ramah penuh senyuman, sesudah memberi tanda agar jangan berisik, dia berjalan menuju ke pintu gerbang. Dalam pada itu suara bentakan gusar dari Hu-yong siancu telah berkumandang lagi dari tengah halaman. "Oh Tin-san, kuanjurkan segera kau ajak istri dan putri mu untuk pergi meninggalkan tempat ini, jangan mencari penyakit di tem-pat ini, jangan lagi Lan See giok telah diajak tokoh silat itu belajar silat di pegunungan terpencil, sekalipun ia berada dalam rumah, bayangkan saja, apakah kalian sanggup me-lewati diriku sebelum dapat me-masuki ru-angan ini?" Oh Tin san termasuk manusia licik yang banyak curiga. betul juga, kecurigaannya segera timbul setelah mendengar perkataan itu. terutama setelah mendengar kalau Lan See giok telah diterima tokoh silat itu sebagai muridnya, dia merasa kepalanya seperti di-pukul dengan tongkat besar. Dengan buas penuh kebencian Say nyoo-hui melotot sekejap kearah Huyong siancu, lalu setelah tertawa dingin katanya. "Hmm, sekalipun kau sudah bercerita yang aneh-aneh, sayang sekali aku tidak percaya kalau dalam dunia ini terdapat kejadian yang begitu kebetulan, Hu-yong siancu memang termasyhur sebagai perempuan cantik, tapi sekalipun kepandaian silatmu lebih hebatpun jangan harap bisa me-nandingi kami bertiga . . . " Tergetar juga perasaan Hu-yong siancu, ti-dak sampai Say nyoo-hui menyelesaikan kata katanya, dia telah menyela dengan dingin. "Ki-Ci-hoa, kau tak usah bersilat lidah, kalau toh kau yakin gabungan tenaga kalian bertiga sanggup mengatasi diriku, silahkan dicoba, asal satu diantara kalian bertiga sanggup melewati diriku dan memasuki ru-angan, bukan saja aku Han Sin wan akan serahkan Lan See giok kepada kalian,

220

kitab pusaka Tay loo hud bun-pwee yap cinkeng-pun akan kupersembahkan ke pada kalian bertiga!. BAB 11 PARAS muka Oh Tin san suami istri sama-sama berubah, di hati kecil mereka merasa amat terkejut, sebab ucapan tersebut kelewat tekebur, dengan pamor Hu-yong siancu di dalam dunia persilatan, tentu saja ia bukan hanya gertak sambal belaka. Oleh sebab itu tanpa sadar mereka berdua menghubungkan kejadian tersebut dengan kepandaian sakti yang tercantum-dalam ki-tab cinkeng, jangan-jangan Hu-yong siancu telah berhasil mempelajari berapa diantara nya? Kalau tidak, masa ia berani berbicara membual .? Begitu terbayang kemungkinan besar kepandaian silat Hu-yong siancu telah me-ningkat lebih hebat. rasa iri dan marah kem-bali berkobar di dalam dada Say nyoo-hui, sambil menggertak gigi menahan dendam ia berseru kembali: "Terus terang kuucapkan kedatabngan kami pada jmalam ini adalagh bertujuan untbuk merebut kitab Tay lo-pwee yap cinkeng, se-dang soal Lan See giok, bagi kami bukan menjadi masalah yang serius, bila kau bersedia serahkan pula kepada kami, tentu saja kami akan membawanya pula " Baru saja perkataan itu sudah diucapkan dengan wajah berubah Oh Li cu telah me-nimbrung. "Ibu, kau tak boleh berkata begini . ." Api amarah dan rasa iri sedang membara di dalam dada Say nyoo-hui, begitu mende-ngar perkataan dari Oh Li cu amarah yang semula tak terlampiaskan kontan saja mele-tus dengan mata melotot besar, bentaknya penuh amarah. "Tutup mulut, urusan jadi kacau gara--gara ulahmu, sekarang kau masih punya muka untuk banyak ngebacot lagi di sini? Bila Lan See giok benarbenar berada di sini, mungkin bapak ibumu sendiri juga tak akan kau akui!" Baru selesai perkataan itu diutarakan, Oh Li cu sudah melejit ke tengah udara dan ka-bur menuju ke luar halaman . . . Oh Tin san menjadi gugup, teriaknya tanpa terasa: "Anak Cu, balik!" Tapi suasana di luar halaman sangat he-ning, yang terdengar hanya ujung baju ter-hembus angin yang makin menjauh. Oh Tin san memandang sekejap ke arah Say nyoo-hui yang tampaknya mulai menye-sal dengan pandangan gelisah, seolah-olah dia sedang bertanya: Bagaimana sekarang? Tergerak hati Hu-yong siancu, dia merasa kesempatan baik ini tak boleh disia-siakan dengan begitu saja, segera ujarnya dengan suara hambar:

221

"Kepergian putri kalian dalam gusar, bisa jadi akan mengambil jalan pendek, lebih baik kalian berdua cepat-cepat menyusul putri kesayangan kalian saja. sedang masalah ki-tab pusaka Tay lo hud bun pwee tiap cinkeng telah kuserahkan kepada kakek berjubah kuning, bila kalian masih saja bersikeras akan menggeledah rumah, terpaksa aku akan mencoba pula ilmu baru yang baru kupelajari dari kitab Hud bun cinkeng tersebut." Dalam keadaan demikian ini, posisi Oh Tin san serta Say nyoo-hui benarbenar serba salah, mereka berdua segera saling bebrpan-dangan sekjejap, agaknya mgereka sudah berbtekad hendak menyerbu ke dalam ru-angan. Tapi sewaktu mereka berdua mendongak-kan kembali kepalanya, wajah mereka ber-ubah hebat, sambil menjerit kaget mereka mundur tiga langkah sorot matanya penuh rasa kaget dan ngeri, selangkah demi selang-kah mereka mundur terus ke belakang.. Hu-yong Siancu yang menyaksikan peristiwa ini tentu saja menjadi tertegun, keningnya berkerut sedang hati kecilnya ke-heranan, tapi kemudian dia seperti mema-hami sesuatu, dengan cepat dia berpaling pula ke ruangan. Tapi, pintu rumah masih terbuka lebar, keadaan di situ tiada perubahan, tanpa terasa dia melirik pula ke depan jendela pu-trinya, di jumpai putri kesayangannya masih ber-sembunyi pula di situ. Maka dia berpaling lagi, ternyata Oh Tin san suami istri sudah melarikan diri ter-birit birit. Sadarlah Hu-yong siancu, pasti ada se-suatu yang tak beres, dia berlari masuk ke rumah, Ciu Siau cian telah menyongsong pula dari kamarnya, serunya kemudian de-ngan gembira. "Ibu, Cian ji kagum sekali kepadamu, coba lihat, mereka telah dibikin kabur oleh perka-taanmu." Hu-yong siancu datang amat gelisah, dia tak berniat menjawab perkataan dari putri-nya, ketika tidak dijumpai Lan See giok turut ke luar, buru-buru ia menegur: "Mana adik Giokmu?" Sambil bertanya cepat-cepat dia masuk ke kamar sendiri, tapi jendela sudah terbuka Lan See giok juga lenyap tak berbekas. "Celaka.." pekik Hu-yong siancu panik, ia melompat ke luar jendela dan naik ke atap rumah. Suasana amat hening, hanya rembulan bersinar di langit barat, tak sesosok baya-ngan manusia pun yang nampak. Dari gerak gerik ibunya yang gugup, Ciu Siau cian tahu kalau gelagat tidak beres, ce-pat-cepat dia menyusul ke luar jendela, baru saja akan menyusup ke atas atap rumah, Hu-yong siancu telah melayang turun

222

Cepat-cepat Ciu Siau cian menyusulnya sambil bertanya: "Ibu, apa yang telah terjadi? Mana adik Giok?" Dengan wajah pucat pias Hu-yong siancu menuding ke jendela bagian belakang kemu-dian mereka berdua brersama - sama kzembali ke dalamw ruangan. Ciu rSiau cian menutup daun jendelanya rapat-rapat, ia saksikan ibunya sedang mengeluarkan sebuah kotak kecil berkain kuning dari bawah pembaringan. Agak lega perasaan Hu-yong siancu setelah melihat kotak itu masih tetap utuh, ketika penutupnya dibuka tampak daun emas tersebut masih tetap seperti sedia kala. rasa cemas yang semula mencekam perasaannya kini men-jadi lega kembali. Kendatipun demikian, kedua orang terse-but tetap merasa tak habis mengerti, kenapa Lan See giok bisa lenyap dari situ? Sementara itu, Lan See giok telah dibawa si kakek berjubah kuning itu berlarian di tengah tanah pegunungan, gerakan tubuh kakek itu cepat, sekali bagaikan sambaran kilat, mereka langsung menuju ke sebuah puncak bukit. Lan See giok yang berlarian mengikuti kakek, tersebut dapat merasakan angin ta-jam menderu deru di sisi telinganya, dia merasa kakinya seolaholah tidak menginjak tanah. melainkan melayang diantara awan. Berhubung kemunculan kakek berjubah kuning itu berhasil membuat Oh Tin san 1ari ketakutan, ditambah pula dia tidak menun-tut kotak kecil itu, perasaan gelisah dan ce-mas yang semula menyelimuti perasaan Lan See giok, kini sudah mereda kembali Ia pernah berpikir, jangan - jangan hal tersebut hanya merupakan sebuah taktik merebut hati dari kakek berjubah kuning tersebut, tapi setelah berpikir lebih jauh, dia merasa pemikiran tersebut tidak benar, de-ngan kepandaian sakti yang di miliki kakek berjubah kuning itu, bila dia ingin melarikan kocak kecil tersebut, hal tersebut seharusnya bisa dia lakukan se-mudah merogoh barang dalam saku sendiri. Apalagi masalah ke lima manusia cacad serta siapa gerangan pembunuh sebenarnya. yang telah menghabisi nyawa ayahnya perlu diketahui dan di tanyakan pula dari kakek berjubah kuning ini---Sementara dia masih termenung, tubuhnya terasa sudah melambung ke atas puncak te-bing itu. Ketika kakek berjubah kuning itu menge-baskan ujung bajunya, tubuh merekapun berhenti bergerak. Lan See giok segera berpaling, ia saksikan kakek berjubah kuning itu dengan senyuman ramah dikulum dan sorot mata yang berkilat kilat

223

sedang memandang ke arahnya penuh belas kasih, dia hanya tersenyum tanpa me-ngucapkan sepatah katapun. Sikap yang begitu belas kasih dan ramah ini dengan cepat menggetarkan perasaan pe-muda kita, apalagi bila terbayang sikap hor-mat dari si naga sakti pembalik sungai terha-dap orang itu. Tanpa terasa diapun menjura seraya ber-kata dengan hormat: "Boanpwe Lan See-giok menyampaikan salam untuk locianpwe" Seraya berkata dia lantas jatuhkan diri berlutut dan memberi hormat... Kakek berjubah kuning itu mengangkat kepalanya dan tertawa terbahak bahak, suaranya nyaring bagaikan pekikan burung hong, nadanya penuh kegembiraan. Kemu-dian dengan suara lembut dia ber-kata: "Nak, waktu yang tersedia bagi kita tidak banyak, ayo cepat bangun dan duduk. kita harus berbicara banyak." SAMBIL berkata dia lantas membangun-kan pemuda tersebut dari atas tanah. Lan See giok mengiakan dengan hormat, setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, dijumpainya bukit itu sangat datar, rum-put tumbuh amat subur, puluhan kaki di seputar sana tidak dijumpai pepohonan pinus ataupun bambu, juga tiada batuan cadas. Boleh dibilang tempat semacam ini me-ru-pakan sebuah tempat yang ideal sekali untuk bercakap-cakap. Dengan kepandaian maha sakti yang di miliki kakek berjubah kuning itu, jatuhnya bunga atau daun pada jarak sepuluh kaki di seputar sana pun bisa ditangkap olehnya dengan nyata, jelas tak mungkin ada orang yang bisa menyadap pembicaraan mereka tanpa ketahuan jejaknya. Mereka berduapun duduk di atas tanah berumput, tanah yang amat lembut bagai-kan busa. Kemudian kakek berjubah kuning itu ber-tanya dengan ramah: "Nak, tidakkah kau merasa keheranan, mengapa aku datang mencarimu malam-malam begini?" Lan See giok memang berperasaan demikian, maka dia mengiakan dengan hor-mat. Kakek berjubah kuning itu kembali ter-tawa terbahak bahak. "Haaahhh--- haaahhh... haaahhh, terus terang kukatakan kepadamu nak, sejak aku masuk ke dalam benteng Wi-lim-poo, selama ini aku, tak pernah meninggalkan Oh Tin san, oleh sebab itu mereka dapat menemu-kan kau, akupun dapat pula me-nemukan dirimu- -" "Locianpwe" tanya Lan See giok tidak habis mengerti, "dari mana Oh Tin san bisa me-ngetahui tempat tinggal dari bibi Wan---?"

224

"Kalau dibicarakan sebenarnya hanya seca-ra kebetulan saja, ketika Oh Tin san suami istri kembali ke benteng, Oh Li cu menangis sambil mengadukan peristiwa lenyapnya kau kepada orang tua mereka. Say nyoo-hui segera menuduh kau berusaha melarikan diri, tapi Oh Li-cu berusaha-keras membe-laimu." Berbicara sampai di situ ia berhenti seje-nak seakan akan sedang memikirkan se-suatu lalu dengan tidak mengerti ia ber-tanya. "Pernahkah kau bercerita kepada Oh Tin san bahwa bibi Wan mu mempunyai seorang putri berusia enam tujuh belas tahunan?" Mendengar pertanyaan itu Lan See giok segera menjadi menyesal sekali, dia manggut-manggut. Kakek berjubah kuning itupun melanjut-kan kembali ceritanya. "Tatkala Oh Li cu bercerita ada seorang gadis berbaju kuning yang berusia enam tu-juh belas tahunan menunjukkan perubahan wajah dan nampak amat sedih sekali setelah bertemu kau, Oh Tin san segera menaruh curiga kalau rumah ini bisa jadi adalah tem-pat kediaman bibi Wan mu, akhirnya mereka putuskan untuk melakukan penyelidikan, ketika mereka ketahui bibi Wan mu ternyata adalah Hu-yong siancu Han Sin -wan yang sudah lama mengasingkan diri, maka semua duduknya persoalanpun menjadi jelas." Lan See giok pernah menaruh curiga, kepergian Oh Tin san ditengah malam buta tanpa pamit tempo hari adalah untuk pergi mencari bibi Wan nya, maka kembali ia ber-tanya: "Tahukah locianpwe, apa sebabnya Oh Tin san suami istri meninggalkan rumah secara tergesa gesa ditengah malam buta?" "Walaupun Oh Tin san orangnya buas dan kejam, namun ia tak bisa menguasai diri bila menghadapi suatu persoalan, malam berse-lang kalian membicarakan lagi soal kotak kecil itu- -" Mendengar sampai disini, Lan See giok pun menjadi paham kembali, tanpa terasa seru-nya cemas. "Anak Giok tahu sekarang, orang berdiri di luar jendela semalam itu adalah locianpwe?" Sambil tertawa ramah kakek berjubah kuning itu manggut-manggut. "Nak, seharusnya kau bisa menduga akan diriku, Di dalam benteng Wi-limpoo banyak terdapat kapal perang yang berlabuh, di luar dikelilingi telaga yang luas, penjagaan dan pengintaian tersebar di mana-mana, memang tidak gampang bagi orang luar untuk me-n-yelundup masuk, untung saja penjagaan di dalam benteng tidak ketat sehingga banyak memberi keleluasaan bagiku..."

225

Lan See giok segera teringat akan sesuatu rahasia yang tidak diketahui olehnya, dengan nada tak mengerti kembali dia bertanya: "Tahukah locianpwe di dalam gedung bagian pusat benteng Wi-lim-poo kenapa ti-dak diberi penjagaan?" Kembali kakek berjubah kuning itu ter-menung sebentar, lalu sahutnya: "Oh Tin-san adalah seorang manusia yang gampang menaruh curiga, bisa jadi dia me-nganggap penjagaan di luar benteng-nya su-dah sekokoh dinding baja lantai tembaga dan mustahil ada orang menyusup ke dalam, maka kuatir rahasia pribadi dalam ru-angannya ketahuan orang lain, maka dia sengaja tidak mengatur penjagaan di seputar sana, hal ini bisa dibuktikan pula dengan tiadanya orang yang berdiam di seputar situ." Tergerak hati Lan See giok setelah men-dengar perkataan tersebut, seakan akan me-mahami sesuatu, dia bertanya kembali. "Locianpwe bilang malam berselang kau berdiri di luar jendela, kemudian Oh Tin san ke luar dari ruangan setelah mendengar suara, tapi nyatanya tidak ditemukan seso-sok bayangan manusiapun, waktu itu apakah locianpwe sudah masuk ke ruang belakang?" Kakek berjubah kuning itu tertawa terba-hak bahak: "Haah . . haah . . haaahhh . . . justru keba-likannya, aku cuma bersembunyi di bawah lantai batu di depan jendela pagoda air, se-waktu kau ke luar dari jendela, asal kau tun-dukkan kepalamu, niscaya akan kau jumpai jejakku. tapi kenyataannya kalian semua malah naik ke atap rumah." Mendengar penjelasan tersebut, diam-diam Lan See giok memuji akan keberanian kakek berjubah kuning tersebut, dia merasa tinda-kan semacam ini sungguh kelewat me-nye-rempet bahaya. Terdengar kakek berjubah kuning itu melanjutkan kembali ceritanya: "Waktu itu Oh Tin san pun berpendapat akulah yang telah menyadap pembicaraan tentang rahasia kotak kecil tersebut, karena nya ia menjadi gugup dan ketakutan. akhirnya diputuskan untuk berangkat pada malam itu juga mencari si naga sakti pemba-lik sungai dan menjelaskan masalah kotak kecil itu kepadaku..." "Tapi locianpwe toh tidak berada di kam-pung nelayan itu..." tukas Lan See giok kuatir. Kakek berjubah kuning itu tertawa ramah. "Sekalipun aku berada di situpun, si naga sakti pembalik sungai akan mengatakan aku telah pergi!" Lan See giok semakin tidak mengerti, baru saja dia hendak minta penjelasan lebih jauh, dari kejauhan sana kedengaran suara ayam jago mulai berkokok---

226

Kakek berjubah kuning itu segera me-rasa waktu sudah siang, setelah memandang se-kejap keadaan langit, diapun berkata. "Nak. sekarang sudah mendekati kento-ngan ke lima, kau harus kembali se-belum fajar menyingsing kalau tidak, bibi Wan mu pasti akan sangat gelisah dan tidak tenang, apakah kau masih ada urusan lain yang hendak ditanyakan kepadaku?" Menghadapi pertanyaan tersebut, Lan See giok menjadi sangsi, karena pertanyaan yang akan diajukan kelewat banyak, sehingga untuk sesaat dia tak tahu pertanyaan mana-kah yang hendak diajukan lebih dahulu--Tampaknya kakek berjubah kuning itu bisa menduga jalan pemikiran Lan See giok, maka dia berkata kemudian. "Sekarang, apakah kau sudah memahami sebab musabab yang mengakibatkan kema-tian ayahmu?" Lan See giok mengangguk, katanya dengan perasaan sedih. "Hanya sampai kini anak Giok belum me-ngetahui siapakah pembunuh sebenarnya dari ayahku." Sambil mengelus jenggotnya dan terme-nung sejenak, kakek berjubah kuning itu berkata kemudian. "Kalau ditinjau dari segi-segi yang ada sekarang, kelima manusia cacad itu sama-sama mencurigakan, kita harus menyelidiki secara seksama lebih dulu sebelum bisa me-nentukan siapakah pembunuh yang sebenar-nya. Teringat akan julukan-julukan yang isti-mewa dari kelima manusia cacad itu, Lan See giok segera memohon: "Dapatkah locianpwe menjelaskan asa1 usul dari kelima manusia cacad dari tiga te-laga itu? Mengapa kelima orang itu sama-sama memiliki julukan yang mengandung kata "tunggal"? Darimana mereka bisa tahu kalau ayahku berdiam di kuburan kuno serta apa sebabnya ke lima manusia cacad yang berdiam di pelbagai wilayah bisa berkumpul di tempat yang sama pada malam yang sama-" 'Tidak sampai Lan See giok menyelesaikan kata katanya. kakek berjubah kuning itu te-lah menggoyangkan tangannya men-cegah pemuda itu melanjutkan kembali kata kata-nya, dia menimbrung. "Pertanyaan mu yang beruntun tersebut bila kujawab dengan memerlukan waktu yang amat panjang, mustahil semua masalah bisa dijelaskan dalam waktu singkat, sekarang aku hanya bisa memberitahukan kepadamu, sebenarnya julukan semula dari ke lima orang tersebut tidak disertai kata "tunggal", pada mulanya mereka pun bukan manusia yang cacad telinga, mata atau kaki, sedang soal dari mana mereka bisa tahu ayahmu berdiam dalam kuburan kuno itu. hal tersebut baru dapat diketahui setelah kita

227

datangi kelima manusia tersebut, nah hari ini aku hanya bisa menjelaskan sampai di sini, lain kali tentu akan kujelaskan lebih jauh! Selesai berkata diapun beranjak siap-siap meninggalkan tempat tersebut. Lan See giok memandang sekejapb ke ufuk timur jdi mana matahargi telah memancabrkan sinarnya yang keemas emasan, dia tahu kakek berjubah kuning itu hendak pergi se-belum fajar menyingsing. Buru-buru ia bertanya lagi: "Locianpwe, tahukah kau darimana ayahku bisa mendapatkan kotak kecil itu?" "Dia mendapatkan secara kebetulan di bawah Giok li hong bukit Hoa san." Lan See giok ingin sekali mempelajari ilmu silat maha sakti yang tercantum dalam cinkeng itu, maka kembali die bertanya. "Konon tiga lembar daun emas yang berada dalam kotak kecil itu berisikan se-macam ki-tab pusaka ilmu silat yang memuat kepan-daian silat maha sakti, benarkah perkataan tersebut?" Tanpa ragu barang sedikit pun jua kakek berjubah kuning itu mengangguk. "Benar, cuma orang yang tidak mengetahui rahasianya, meskipun mendapatkan pusaka tersebut pun sama artinya dengan men-da-patkan benda rongsokan." Sekali lagi tergerak hati Lan See giok, sela-nya. "Pernah locianpwe membaca isi kitab tersebut?" Kakek berjubah kuning itu segera mem-perlihatkan paras serba salah, katanya ke-mudian. "Meskipun aku tahu bagaimana cara mem-bacanya, tapi hanya aku seorang diri tak mungkin bisa membacanya" Lan See giok sangat tidak mengerti atas perkataan itu, keningnya berkerut, kemudian tanyanya bimbang: "Kalau toh locianpwe sudah mengetahui cara untuk membaca rahasia kepandaian si-lat tersebut mengapa kau tidak membaca nya seorang diri?" Kakek berjubah kuning itu memandang sekejap kearah Lan See giok, lalu tertawa pe-nuh arti. "Untuk membaca isi kitab pusaka ter-sebut, harus ada seorang yang bertenaga dalam sempurna menggenggam daun emas tadi ke-mudian mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya ke dalam daun emas tadi sedang si pembaca harus berlutut di hada-pannya sambil baca, cuma orang inipun ha-rus memiliki bakat yang sangat bagus dan memiliki daya ingat yang tajam, dengan be-gitu kepandaian tersebut biru dapat dikuasai olehnya. Menjadi termangu Lan See giok bsehabis mendengjar perkataan itgu, lama kemudiabn ia baru bertanya:

228

"Locianpwe siapakah yang memiliki tenaga dalam sedemikian sempurnanya se-hingga dapat memaksa daun emas tersebut memperlihatkan catatannya?" Hanya si pemilik semula dari kotak ter-se-but" jawab kakek berjubah kuning itu tanpa ragu. Lan See giok menjadi amat gembira, ta-nya-nya cepat: "Locianpwe, anak Giok tidak becus tapi percaya memiliki daya ingat yang cukup baik, dimanakah pemilik kotak tersebut sekarang? Dapatkah anak Giok pergi men-carinya de-ngan membawa kotak kecil ter-sebut?" "Menurut apa yang kuketahui, orang itu berdiam di bawah kaki puncak giok Ii hong di bukit Hoa san, kaki bukit yang mana tidak kuketahui, tapi menurut cerita orang, banyak yang ingin me-nyambanginya tapi sebagian besar harus pulang dengan kecewa, tapi ada pula yang memasuki lembah tersebut sambil menyebutkan namanya serta berhasil men-jumpai wajah asli orang tersebut. Tentang apakah kau berhasil menjumpainya, hal ini tergantung papa tekad, kesungguhan mu serta rejekimu... Walaupun Lan See giok merasa sulit tapi ia bersedia untuk mencobanya, dengan cepat ia bertanya; "Locianpwe, siapakah tokoh sakti terse-but?" Kakek berjubah kuning itu termenung se-jenak. kemudian dengan nada tidak pasti katanya. "Konon orang itu bernama To seng-cu!" Gemetar keras sekujur badan Lan See -giok, paras mukanya berubah hebat, serunya tanpa sadar. "To . . to. . . to-seng cu? Dia. . . diapun me-makai gelar kata "tunggal" . . ?" , Tanpa terasa dia menjadi terbayang kem-bali keadaan ayahnya yang terkapar di atas genangan darah, waktu itu tangan kanannya dengan menggunakan sisa tenaga yang dimi-likinya hanya sempat mengukir kata. "To" atau tunggal di atas tanah... Satu ingatan segera melintas dalam benak nya. Jangan-jangan orang yang membunuh ayahnya adalah To seng cu ini? Siapa tahu To sreng cu menaruh zdendam kepada wayahnya karena rkotak kecil tersebut tidak dikembalikan kepadanya, maka se-telah menelusuri jejak ayahnya selama banyak ta-hun, akhirnya tempat kediaman ayahnya ditemukan? Semakin dipikir Lan See giok merasa se-makin masuk diakal, sebab hanya manusia berkepandaian sangat lihay seperti To seng cu saja yang mampu menghabisi nyawa ayahnya di dalam sekali pukulan.

229

Membayangkan kesemuanya ini, berko-barlah api marah dalam dadanya, hawa napsu membunuh pun segera menyelimuti seluruh wajahnya yang tampan. Sambil mengangkat kepalanya dan mena-tap wajah kakek berjubah kuning itu lekat-lekat, dia bertanya. "Locianpwe, dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang dapatkah kau menampilkan tulisan di atas daun emas tersebut?" Kembali kakek berjubah kuning itu menunjukkan sikap serba salah, lama kemu-dian dia baru menjawab: "Kecuali To seng cu seorang, mungkin dalam dunia persilatan dewasa ini sudah tiada orang kedua yang memiliki tenaga dalam seperti dia lagi." Kemudian setelah berhenti sejenak dan menghela napas, katanya lebih jauh: "Terus terang saja anak Giok, aku sudah banyak tahun mencari ayahmu di mana-mana, setiap orang mempunyai kepentingan pribadi masing-masing, tentu saja akupun berharap bisa membawa kotak kecil itu pergi menghadap To seng cu serta menjadi orang yang paling tangguh dalam dunia persilatan. tapi sejak aku bertemu dengan kau dan me-nemukan kau adalah manusia yang berbakat bagus untuk belajar ilmu silat, apalagi jika kau berhasil mempelajari kepandaian sakti dalam pusaka Pwee yapCinkeng tersebut sudah pasti kau bisa menjadi tangguh dan keadilan serta kebenaran di dunia ini bisa ditegakkan, itulah sebabnya kuberikan kesempatan yang sangat baik ini kepadamu, biarpun aku mengetahui kotak kecil itu di-sembunyikan di bibi Wan mu dikolong ran-jang, tapi aku tidak mengambilnya. Nah anak Giok, semoga kau tidak sampai menyia-nyiakan harapanku!" Betapa terharunya Lan See giok setelah mendengar perkataan itu, dia semakin me-naruh hormat kepada kakek berjubah kuning itu, katanya dengan hormat: "Locianpwe tak usah kuatir, anak Giok bertekad tak akan menyia nyiakan harapan kau orang tua, bila aku menyangkal dari ucapanku, biar langit menghukumku!" Dengan penuh kegembiraan kakek berj-u-bah kuning itu tertawa terbahak bahak, ke-mudian serunya: "Kau memang anak yang penurut dan bisa diberi pelajaran..." Setelah mengebaskan ujung bajunya, diapun beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut. Lan See giok tahu bahwa kakek berjubah kuning itu hendak pergi, cepat dia turut melompat bangun sambil berseru dengan cemas.

230

"Locianpwe, anak giok masih ada satu per-soalan yang tidak mengerti!" "Bila ada persoalan, katakan saja berterus terang" `Bila anak Giok berhasil menjumpai To seng cu serta mempelajari kepandaian silat maha sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Pwee yap cinkeng tersebut. apakah tenaga dalamku bisa melampaui To seng cu ? Dengan wajah bersungguh sungguh kakek berjubah kuning itu segera berkata. "Hal ini tergantung dirimu sendiri, apakah kau berniat sungguh-sungguh serta bersedia tekun mempelajari kepandaian itu, jika kau rajin berlatih, sekalipun To seng cu terhitung jagoan nomor satu dikolong langit dewasa ini, mungkin kemampuannya waktu itu masih di bawah kemampuanmu" Mendengar sampai di sini, Lan See giok segera menjatuhkan diri berlutut di atas tanah, lalu katanya dengan hormat. "Harap locianpwe suka menjaga diri baik-baik, anak Giok akan pergi dulu, bila aku su-dah kembali dengan belajar ilmu, pasti akan kubalas budi kebaikan dari kau orang tua!" Kembali kakek berjubah kuning itu tertawa terbahak bahak. Setelah membangunkan Lan See giok dari atas tanah, katanya dengan amat ramah: "Anak Giok, dalam perjalananmu kali ini, sepanjang jalan kau mesti berhatihati karena membawa mestika, jangan kelewabt memamerkan dijri, dan yang pagling penting tabk boleh mencari gara-gara, fajar sudah hampir menyingsing cepatlah pergi!" Lan See giok mengiakan dengan hormat, lalu ditatapnya kakek itu sekejap titik air mata hampir saja jatuh berlinang, setelah berpamitan lagi dengan kakek itu, dia baru membalikkan badan dan turun dari bukit tersebut. Sementara itu fajar mulai menyingsing di langit timur kabut tipis menyelimuti permu-kaan tanah, kecuali suara ayam berkokok dari arah kampung nelayan itupun sudah mulai kedengaran suara manusia. Membayangkan betapa cemas dan gelisah nya bibi Wan serta enci Cian nya waktu itu, dia mempercepat langkahnya menuju ke de-pan. Ketika tiba di dusun, langit sudah terang, kabut pagi pun terasa semakin tebal, setelah melewati pepohonan siong yang lebat, dalam waktu singkat dia telah tiba di halaman bela-kang rumah bibi Wan nya. Dari kejauhan ia sudah melihat enci Cian duduk di belakang jendela dengan wajah mu-rung. sepasang matanya memandang seba-tang pohon di hadapannya dengan termangu, seakan akan ia sedang melamun. Dengan cepat Lan see giok melompati pa-gar dan melayang turun di depan jendela, segera serunya lirih. "Enci Cian! Enci Cian!"

231

Ciu Siau cian sadar kembali dari lamunan, melihat pemuda itu sudah muncul di hada-pannya, mencorong sinar terang dari balik matanya, kejut dan girang ia berseru lirih: "Ayo cepat masuk!" Dengan cepat dia menarik tangan pemuda itu. Meminjam tenaga tarikan tadi, Lan See giok melayang, masuk ke dalam ruangan. Ciu Siau cian memperhatikan sekejap keadaan sekelilingnya. lalu merapatkan pula daun jendelanya, setelah itu sambil meng-genggam tangan pemuda itu, omelnya dengan penuh rasa kuatir: "Bagaimana sih kau ini? Mengapa pergi selama ini? Bikin hati orang gelisah saja." Sambil berkata dia mengangguk bpemuda itu dudujk di depan pembgaringan, sementbara sepasang matanya yang jeli dengan perasaan tak tenang dan gelisah mengawasi pemuda itu tiada hentinya. Tak terlukiskan rasa haru, berterima kasih dan hangatnya perasaan Lan See giok meli-hat perhatian enci Cian terhadapnya, kata-nya kemudian sambil ter-tawa: "Cici jangan marah, aku diajak kakek ber-jubah kuning itu untuk bercakap cakap." "Kakek berjubah kuning yang mana?" tanya Ciu siau cian tidak mengerti. Menghadapi pertanyaan tersebut, Lan See giok baru teringat kalau tadi ia lupa me-na-nyakan nama kakek tersebut, dengan wajah memerah terpaksa ujarnya. "Yaa kakek berjubah kuning itu!" Meski Ciu Siau cian bisa memahami, tak urung dia toh tertawa cekikikan juga. "Enci Cian, mana bibi?" tiba-tiba pemuda itu teringat akan Hu-yong siancu. Ciu Siau cian menarik kembali senyuman nya, lalu sambil sengaja menarik muka dia berkata: "Ke mana lagi? Tentu saja pergi mencari mu, siapa suruh kau tidak meninggalkan pesan ketika pergi." "Bukan siaute tidak ingin memberi pesan, aku takut Oh Tin san dan Say nyoo-hui mendengar suara panggilanku sehingga menambah kesulitan, aku memang berniat menghindar untuk sementara waktu ke luar dusun sana " Ciu Siau cian menganggap perkataan itu ada benarnya juga, maka diapun meng-ang-guk. kemudian setelah melihat sekejap matahari di luar jendela, katanya dengan pe-nuh perhatian.

232

"Kau sudah bergadang semalaman suntuk, sekarang beristirahatlah sebentar." Setelah beberapa malam tak tidur, Lan See giok memang merasa agak lelah, tapi dia kuatir dengan keselamatan bibinya, segera serunya: "Enci Cian aku tidak lelah, aku hendak menunggu sampai bibi kembali." "Coba kau lihat, fajar telah menyingsing sekarang, ibupun segera akan pulang" kata Ciu Siau cian sambil menuding ke luar jendela, tidurlah dulu. bila ibu pulang, aku akan memanggilmu lagi!" Sambil berkata ia menekan bahu pemuda itu agar membaringkan diri. Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Lan See giok membaringkan diri sambil me-mejamkan mata, namun baur harum semer-bazk yang terpancawr dari pem-barirngan terse-but semakin membuat pemuda ini tak dapat tidur. Oleh karena itu meski kelopak matanya telah dipejamkan, namun masih bergetar tiada hentinya. Tersenyum Ciu Siau cian setelah melihat kejadian ini, tiba-tiba ia menotok jalan darah Hek-si-hiat di tubuh pemuda itu, hanya menotok dengan pelan kemudian beranjak ke luar dari ruangan. Lan See giok membuka matanya melirik sekejap ke arah enci Cian nya yang ter-senyum dengan muka merah, melihat jalan darah tidurnya ditotok hampir saja ia ter-tawa geli. Pada saat itulah dari luar jendela ke-de-ngaran suara pintu pekarangan dibuka orang. Menyusul kemudian kedengaran suara enci Cian nya berseru: "Ibu, adik Giok telah pulang!" "Oya? Di mana ia sekarang?" tanya Hu-yong siancu kejut bercampur gembira. Mendengar perkataan itu Lan See giok segera melompat bangun dan siap ke luar- Tapi tiba-tiba saja terdengar Ciu Siau cian berkata. "Adik Giok sudah tertidur ibu, dia hendak menunggumu sampai pulang, akulah yang telah menotok jalan darahnya sebelum ia tertidur ---" Lan See giok yang mendengar perkataan Itu segera teringat kalau jalan darahnya su-dah tertotok, cepat-cepat dia membaringkan kembali badannya ke atas ranjang. Untuk sesaat suasana dalam halaman menjadi hening, lalu terdengar bibi Wan nya tertawa geli. Lan See giok segera tahu keadaan runyam, pasti bibinya tahu kalau dia telah belajar ilmu menggeser jalan darah kepada enci Ciannya.

233

Benar juga. terasa ada angin berdesir le-wat, bayangan manusia muncul di depan mata, Ciu Siau clan dengan wajah cemberut telah berdiri di depan pembaringan. Dengan perasaan terkejut Lan See giok melompat bangun, lalu tanyanya sambil ter-tawa. "Cici, apakah bibi telah pulang?" Melihat Lan See giok sudah tahu masih pura-pura bertanya, Ciu Siau cian merasa makin mendongkol ia bersiap siap meng-um-bar hawa amarahnya. Tiba-tiba terdengar Hu-yong siancu ber-tanya: "Anak Giok, kau belum tertidur?" Menyusul kemudian dari luar muncul se-seorang yang masih basah oleh embun pagi, Lan See giok segera melompat turun dari pembaringan, lalu katanya dengan hormat. "Sebelum bibi pulang, anak Giok merasa tak tenang untuk memejamkan mata". Sambil berkata dia mengerling sekejap ke arah enci Ciannya yang masih tersipu sipu, kontan saja sikapnya menjadi sangat tak tenang . . . Menyaksikan keadaan adik Gioknya yang mengenaskan, tanpa terasa Ciu Siau cian tertawa cekikikan. Dengan tertawanya gadis itu, perasaan ti-dak tenang yang semula mencekam perasaan Lan See giok pun segera menjadi lega kem-bali, ia pun turut tertawa. Memandang sepasang muda mudi yang amat lucu itu, Hu-yong siancu turut merasa gembira, segera ujarnya dengan ramah: "Anak Giok, duduklah, coba kau cerita-kan kisah perjumpaanmu dengan kakek berjubah kuning itu." Setelah semua orang mengambil tempat duduk masing-masing, Lan See giok mulai menceritakan bagaimana pengalamannya bertemu dengan kakek berjubah kuning itu sampai dia pulang kembali. Akhirnya pemuda itu menambahkan. "Bibi, anak Giok bertekad akan mencari To-seng cu, aku rasa bisa jadi dialah pem-bunuh yang sebenarnya dari ayahku." Paras muka Hu-yong siansu amatb serius, ia tidjak segera menjagwab, sampai lamba kemu-dian baru tanyanya. "Anak Giok, apakah kau berhasil melihat tahi lalat besar di kening kakek tersebut pada perjumpaan kali ini?" Bergetar keras perasaan Lan See giok mendengar pertanyaan itu, mukanya men-jadi merah padam karena jengah, sambil menun-dukkan kepalanya ia menjawab:

234

"Berhubung waktu yang amat singkat, anak Giok cuma teringat persoalanpersoalan yang dihadapi, karenanya aku lupa untuk memeriksanya dengan teliti." Hu-yong siancu tidak menegur pemuda itu, sorot matanya dialihkan ke luar jendela me-mandang matahari yang memancarkan sinar keemas emasan, ia seperti sedang melamun-kan sesuatu. Lama-lama kemudian ia baru berkata agak tergagap: "Jangan-jangan dia adalah si kakek yang dijumpai Khong-tay tempo hari- -" Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan itu, selanya tibatiba. "Bibi, siapakah yang telah berjumpa de-ngan ayahku?" Hu-yong siancu segera sadar atas kekhi-lafan sendiri, katanya kemudian sambil ter-tawa hambar. "Kalian masih kanak-kanak, sekarang be-lum saatnya untuk mengetahui persoalan-persoalan tersebut" Dengan cepat paras mukanya telah pulih kembali seperti sedia kala, lalu dengan nada penuh perhatian dia berkata. "Anak Giok, bibi tak akan menghalangi niatmu untuk mengunjungi bukit giok li -hong, tapi mesti kau ketahui, perjalanan semacam ini jelas merupakan suatu perja-lanan menyerempet bahaya, andaikan To- seng cu benar-benar adalah musuh besar yang membinasakan ayahmu," perjalanan mu kali ini lebih banyak bahayanya dari pada selamat, bahkan bisa jadi akan mengorban-kan selembar jiwamu" Lan See giok sama sekali tidak gentar oleh perkataan tersebut, katanya malah dengan gagah. "Dendam sakit hati anakku lebih dalam dari pada samudra, sekalipun harus naik ke bukit golok atau terjun ke kuali berisi minyak mendidih, anak giok tak akan mundur barang setapak pun" Mendadak ia saksikan Cu Siau cbian menunduk dejngan wajah sedigh, tanpa terasab ia turut beriba hati, katanya kemudian de-ngan nada menghibur. "Apalagi bencana atau rejeki bukan di tentukan manusia. sampai sekarang pun belum kita ketahui To seng cu sebenarnya musuh besar pembunuh ayahku atau bukan seandainya bukan, anak Giokpun karena bencana peroleh rejeki, selain bisa mem-pela-jari ilmu silat yang hebat akupun dapat membalaskan dendam bagi kematian ayah-ku"" Dengan sorot mata gembira Hu-yong siancu memandang sekejap ke arah Lan See giok lalu ujarnya sambil manggut-manggut. "Berbicara soal ilmu silat, To seng cu ter-hitung manusia paling kosen di dunia persi-latan dewasa ini, sampai sekarang belum pernah ada orang

235

yang mengetahui nama dan usia yang sebenarnya, konon dia telah berumur di atas seratus tahun, kepandaian silatnya boleh dibilang sudah mencapai ting-katan yang luar biasa...! Dengan sedih Ciu Siau cian mendongakkan kepalanya, seperti memahami sesuatu dia menyela: "Ibu, bukankah kau pernah berkata kau pun pernah bersua dengan To seng cu? Coba kau bayangkan, persiskah dia dengan kakek berjubah kuning yang diceritakan adik Giok tadi? " Hu-yong siancu berkerut kening, sekilas perubahan aneh menghiasi wajahnya, lalu ujarnya sambil manggut-manggut: "Peristiwa ini sudah terjadi sepuluh tahun berselang, waktu itu To seng cu mengenakan jubah panjang berwarna putih, membawa kipas dan amat berwibawa sehingga siapa-pun akan berkesan mendalam bila menjumpainya." Melihat sikap bibinya begitu menaruh hormat, dimana hal tersebut justru berla-wanan sekali dengan pandangan nya, maka dengan perasaan tak puas katanya. "Bibi, anak Giok berpendapat gelar To-seng cu ini kurang sedap didengar, seperti nama-nama Siau yau-cu, Lui cengcu, Sian kicu dan lain sebagainya, nama tersebut ke-banyakan adalah kaum tosu...." Hu-yong siancu tertawa hambar, katanya dengan lembut: "Anak Giok, hal ini hanya disebabkan kau sudah terlanjur menaruh perasaan benci ter-hadap julukan yang mernggunakan kata zper-mulaan "To"w atau tunggal, ritulah sebabnya To seng cu memberi kesan kurang baik kepadamu, padahal arti sebenarnya dari To seng-cu atau aku yang telah sadar!" Berada dihadapan bibinya, Lan See giok tak berani memperlihatkan perasaan tak senang hati. namun dihati kecilnya dia terta-wa dingin, katanya kemudian: "Anak Giok tetap berpendapat, julukan To seng cu itu kelewat jumawa dan tekebur, anak Giok rasa arti dari julukan itu bukan aku yang telah sadar. mungkin saja dia ber-anggapan akulah yang dipertuan . . . " Hu-yong siancu segera berkerut kening agaknya ia telah melihat perasaan benci Lan See giok terhadap To Seng cu, maka katanya kemudian sambil manggut-manggut dan ter-tawa: "Penjelasan secara demikian pun boleh juga. namun kelewat memaksakan pendapat sendiri dalam perjalananmu menuju ke bukit Hoa san kali ini, bila berjodoh dan dapat menjumpai To seng cu, kau harus mengata-kan yang sebenarnya yakni men-dapat pe-tunjuk dari seorang kakek berjubah kuning untuk datang minta belajar ilmu. kau tidak boleh sekali kali menyinggung

236

masalah den-dam sakit hati, dari pada me-nimbulkan kecurigaan To seng cu dan mempengaruhi kemajuanmu dalam menuntut ilmu. " Kemudian setelah memandang sekejap ke arah putrinya yang sedang murung, dia melanjutkan. "Bisa jadi di sekeliling tempat ini masih pe-nuh dengan mata-mata dari Wilim-poo un-tuk menghindari segala sesuatu yang tak di-inginkan, lebih baik kau berangkat se-telah malam nanti, sampai waktunya biar enci Cian yang melindungimu sampai di keresi-denan Tek an. ." "Tidak usah merepotkan enci Cian." Tampik Lan See giok cepat, anak Giok ya-kin masih dapat menjaga diri sebaik baiknya, dengan menempuh perjalanan seorang diri, hal tersebut lebih mudah bagiku untuk me-loloskan diri dari kepungan bila menjumpai kawan jago lihay dari Wi-lim-poo" Hu-yong siancu segera menganggap uca-pan ini masuk diakal, diapun mengangguk. "Baiklah, semoga kau berhati hati di sepanjang jalan, jarak dari sini hingga kota Tek an sekitar seratus li, bila menggunakan ilmu meringankan tubuh paling banter sele-watnya tengah malam kau sudah tiba di sana, beristirahat di luar kota semalam. Keesokan harinya kau boleh meneruskan perjalanan menuju ke wilayah Kui ciu lewat Sui ciang, dari sana kau boleh langsung ber-angkat ke bukit Hoa san. ." Dengan perasaan amat berat Lan See giok mengangguk berulang kali sambil mengia-kan. Terdengar Hu-yong siancu berkata lebih jauh. "Anak Giok, semalam kau belum tidur, malam nantipun harus melanjutkan perja-lanan, sekarang beristirahatlah dulu di pem-baringan enci Cian mu." Selesai berkata, dia lantas berjalan menuju ke luar. Ciu Siau cian memandang sekejap ke arah Lan See giok dengan pedih, kemudian dengan kepala tertunduk mengikuti di belakang ibunya menuju ke kamar tidur ibunya. Lan See giok termangu mangu, wajah pedih enci Cian nya sekarang pada hakekat nya berbeda sekali dengan wajah riang ketika menotok jalan tidurnya tadi.. Benar hubungan mereka belum lama, tapi setelah diberi kesempatan untuk menjalin hubungan lebih mendalam, sikap Ciu Sian cian saat ini sudah jauh lebih terbuka.

237

Kini ia harus berpisah lagi, dia harus ber-angkat ke Hoa san dengan membawa nasib yang sukar diketahui, bisa jadi per-pisahan kali ini merupakan perpisahan untuk sela-manya. Pikir punya pikir, masalah demi masalah pun berdatangan secara beruntun, sampai lama sekali dia baru dapat tertidur... Ketika mendusin, matahari sore sudah di jendela belakang, dengan kaget dia me-lompat bangun melihat bibinya berada di luar, cepat dia ke luar dari ruangan sambil bertanya. "Bibi, sudah jam berapa sekarang, agaknya aku sudah tertidur cukup lama?" Melihat wajah Lan See giok cerah kembali dia sedikitpun tidak memperlihatkan tanda keletihan, dengan girang Hu-yong siancu berkata. "Selama berapa hari belakangan ini kau belum tertidur baik, tidurmu hari ini boleh dibilang sudah lebih dari cukup." Kemubdian setelah mejlirik sekejap mgatahari senja dbi luar pagar. terusnya. "Sekarang, mungkin sudah mendekati pu-kul lima sore." Sambil tertawa Lan See giok menggeleng-kan kepalanya berulang kali. "Waah, tidur anak Giok kali ini memang betul-betul nyenyak sekali." Ketika tidak menjumpai Siau cian di ru-angan, kembali ia bertanya dengan perasa-an tak mengerti. "Bibi, mana enci Cian?" "Ia sedang menyiapkan santapan malam untukmu" sahut Hu-yong siancu sambil melirik sekejap ke dapur. Baru saja dia menyelesaikan kata kata-nya, Ciu Siau cian telah masuk sambil menghi-dangkan santapan malam. Lan See giok melihat sepasang mata enci nya sudah merah membengkak, wajahnya sedih dan murung, ia tahu gadis itu baru saja habis menangis, hal mana membuat perasaannya amat resah. Hidangan pada malam itu sangat lezat, sayangnya ke tiga orang itu merasa tak enak untuk makan. Akhirnya Hu-yong siancu mengambil kotak kuning itu dari dalam kamarnya serta se-bungkus uang perak, kemudian dengan pe-nuh perhatian ia berkata. "Anak Giok, simpanlah kotak kecil ini baik- baik, sepanjang jalan kau tak boleh kelewat menonjolkan diri, guna-kan uang perak terse-but sehemat mungkin, dengan begitu kau akan bisa tiba di Hoa san dengan tak usah takut kehabisan beaya.." Sambil berkata, dia serahkan kotak dan kantung uang tersebut kepada Lan See giok.

238

Buru-buru pemuda itu bangkit berdiri sambil menerimanya, tak terlukiskan rasa haru dalam hatinya hingga tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran, ujarnya sedih: "Bila anak Giok berhasil mempelajari ilmu silat dalam kepergian kali ini serta membalas dendam sakit hati, anak Giok pasti akan pu-lang dengan secepatnya, lalu anak Giok akan mendampingi bibi dan tak akan terjun lagi ke dunia persilatan untuk selamanya, cuma kuatir kepergian anak giok kali ini lebih ba-nyak bahayanya daripada keberuntungan, kalau sampai nasibku jelek dan tewas, ter-paksa budi kebaikanb bibi dan enci jCian akan kubaygar dalam penitibsan mendatang." Sambil berkata seka1i lagi dia menjura, dalam-dalam. Hu-yong siancu tersenyum, dua baris air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya. Siau cian yang paling sedih, dia menutupi wajahnya dengan sepasang tangan dan menangis tersedu sedu. Sambil membangunkan Lan See giok dari tanah, Hu-yong siancu berkata lagi dengan air mata bercucuran: "Bangkitlah anak Giok, bibi mempunyai firasat kita pasti akan bersua kembali, To seng cu adalah seorang tokoh persilatan yang berkedudukan sangat tinggi, ia disegani dan dihormati setiap orang, sekali pun ia bisa jadi telah membunuh ayahmu, namun tak akan melancarkan serangan keji terhadap seorang anak muda seperti kau" Sementara itu Lan See giok telah me-nyimpan baik-baik kotak kecil serta kantung berisi uang itu, kemudian dengan air mata bercucuran namun sikap tegas ia menjawab. "Walaupun dia tak akan turun tangan keji kepadaku, tapi aku tak akan melepaskan dia dengan begitu saja." Hu-yong siancu menghela napas sedih, kata nya kemudian dengan mengandung arti dalam. "Anak giok, bibi harap kau bersikap cerdik dalam menghadapi setiap persoalan, berpi-kirlah yang cermat, jangan emosi dan jangan kelewat kolot, terutama sekali melakukan tindakan "mengadu telur dengan batu." walaupun kau sendiri tidak menyayangi ji-wamu, namun kau harus memikirkan juga mereka--mereka yang selalu menguatirkan keselamatanmu" Lan See giok amat terkejut, dengan air mata bercucuran dia segera berpaling dan memandang sekejap Ciu Siau cian yang se-dang menangis tersedu sedu. Dengan kening berkerut Hu-yong siancu berkata lebih jauh: "Bukan cuma bibi yang mengharapkan kepadamu, enci Cian mu juga berharap kau bisa berjaya dalam dunia persilatan di kemu-dian hari..."

239

Lan See giok sangat terharu, ujarnya de-ngan wajah penuh rasa menyesal. "Anak giok menerrima semua nasezhat, pasti tak wakan kusia siakran harapan bibi dan cici". Hu-yong siancu manggut-manggut dengan sedih, setelah memandang suasana gelap di luar halaman, katanya lebih jauh. "Kehidupan orang di kampung nelayan amat sederhana dan bersahaja, sekarang ke-banyakan orang dusun telah pergi tidur, nah, kau boleh berangkat sekarang." Ciu Siau cian yang masih menangis terisak pun segera mengangkat kepalanya dan me-mandang Wajah Lan See giok dengan mu-rung, beribu ribu patah kata semuanya di-tumpukkan dalam balik sorot matanya itu. Lan See giok sendiri meski merasa berat hati, namun dia toh menjura juga seraya berkata: "Harap bibi baik-baik menjaga diri, anak Giok akan segera berangkat.!" Lalu kepada Siau cian ujarnya pula: "Enci Cian, baik baiklah menjaga diri, kepergian siaute kali ini paling banter cuma satu tahun, sampai waktunya aku pasti akan balik kembali, tak akan kulupakan pengharapan dari cici." Ciu Siau cian memandang Lan See giok dengan wajah sayu, kemudian manggut-manggut, butiran air mata sekali lagi jatuh bercucuran. Walaupun Hu-yong siancu merasakan hatinya sakit bagaikan diiris iris dengan pisau, namun wajahnya masih tetap tenang, dia memang tidak mempunyai keyakinan apakah kepergian Lan See giok kali ini benar bisa pulang kembali dengan selamat. Maka sekali lagi dia berkata dengan wajah bersungguh sungguh: "Anak giok, tujuan kepergianmu ke bukit Hoa san adalah untuk belajar ilmu silat. se-andainya terjadi sesuatu ditengah jalan kau tak boleh berdiam diri terlalu lama, sekarang berangkatlah lewat halaman belakang, lalu larilah menuju barat laut, tidak sampai sepuluh li kau akan tiba di jalan raya menuju ke kota Tek-an." Seusai berkata. dia lantas membalikkan badan dan masuk kembali ke ruang dalam Melihat bibinya telah masuk, Lan See giok segera menggenggam tangan Siau cian dan berkata dengan lembut. "Cici tak usah bersedih hati, aku pasti da-pat kembali dengan aman dan selamat." BAB 12 CIU Siau cian manggut-manggut, sahut nya dengan air mata bercucuran. "Adikku cici akan selalu menantikan ke-datanganmu..."

240

Belum habis perkataan tersebut diucap-kan, dua baris air mata sudah meleleh ke luar bagaikan air bah yang menjebolkan bendungan. Buru-buru Lan See giok menggunakan ujung bajunya untuk menyeka air mata di wajah encinya, setelah itu mereka berdua baru masuk ke ruang dalam. Sementara itu bibi Wan telah membuka jendela belakang secara hati-hati, kemudian dengan cekatan dia menengok sekeliling jendela luar. Ketika Lan See giok menyusul sampai di situ, ia lihat langit nan biru, beribu bintang bertebaran diangkasa. suasana kegelapan menyelimuti seluruh dusun. Tiba-tiba Hu-yong siancu berpaling dan bisiknya lirih: "Anak giok, berangkatlah sekarang, tam-paknya belakang dusun tidak ada se-orang manusiapun!" Lan See giok memandang ke arah bibinya airmata bercucuran amat deras, bibirnya bergetar seperti ingin mengucapkan sesuatu. namun tak sepatah katapun yang dikeluar-kan. Hu-yong siancu segera tertawa, sambil pura-pura gembira, katanya dengan suara rendah. "Anak giok, mumpung saat ini tiada orang cepatlah berangkat, semoga kau selamat dan sukses sepanjang jalan" Kemudian dengan penuh keramahan dia menepuk bahu pemuda itu, sementara air matanya tak tahan jatuh bercucuran. Lan See giok manggut-manggut, sekali lagi dia menengok sekejap ke arah encinya, ke-mudian baru melompat ke luar dari jendela dan secepat kilat meluncur ke luar dari pagar rumah. Setelah celingukan sekejap ke sekeliling tempat itu, dengan menyembunyikan diri di-balik pepohonan dia meneruskan perjala-nannya ke depan. Setelah sampai di belakang sebatang pohon yang rimbun, ia berhenti sebentar seraya berpaling, jendela rumah bibinya telah di tutup, namun dari celah-celah jendela, ia da-pat merasakan ada empat buah sorot mata yang tak tenang dan gelisah sedang menga-wasi dirinya. Dengan cekatan sekali lagi dia mengawasi sekeliling tempat itu, kemudian mengulap-kan tangannya ke arah jendela belakang, setelah itu baru membalikkan badan dan melanjut-kan perjalanannya. Tiba-tiba . . . Pada saat dia membalikkan badan itu-lah, dari bawah pohon yang ke tiga dijumpai ada sesosok bayangan manusia sedang berjong-kok di situ. Tak terlukiskan rasa kaget Lan See giok, saking terkejutnya ia membentak seraya menerjang ke muka dengan sebuah pukulan siap dilontarkan.

241

Tapi setelah berhasil mendekati dihadapan nya, ia baru tertegun karena kaget, ternyata orang itu tak lain adalah Oh Li cu yang telah ditotok jalan darahnya. Lan See giok segera berusaha mengen-dalikan diri, kemudian berjongkok dan me-meluk Oh Li cu ke dalam rangkulannya. Waktu itu Oh Li cu sudah tertidur dengan nyenyak sekali. napasnya sangat teratur, je-las ia sudah ditotok jalan darah tidurnya. Dalam keadaan begini Lan See giok sudah tak bisa memikirkan lagi bagaimana akibat nya bila dia menyadarkan kembali Oh Li -cu. telapak tangannya segera di angkat siap membebaskan totokannya. Pada saat itulah... Mendadak terdengar ujung baju terhembus angin berkumandang datang . . . Dengan perasaan terkejut Lan See giok mengangkat kepalanya, dari antara pepo-honan ia saksikan ada dua sosok bayangan manusia sedang meluncur datang dengan kecepatan luar biasa ternyata mereka adalah bibi Wan serta enci Cian yang mungkin mendengar suara bentakannya tadi. Belum habis Ingatan tersebut melintas le-wat, Hu-yong siancu dan Ciu Siau cian de-ngan wajah pucat dan gerak gerik gugup te-lah meluncur tiba. Ketika kedua orang itu melihat Oh Li cu dalam rangkulan Lan See giok, sekali lagi paras muka mereka berubah hebat. Dengan nada gelisah Hu-yong siancu segera menegur: "Anak giok, kau tak boleh membunuhnya." Seraya berkata ia berjongkok dengan gugup. "Bibi, bantah Lan See giok, ia sudah dito-tok lebih dulu jalan darah tidurnya oleh orang lain. aku menemukannya bersandar di tempat ini!" Sekarang Hu-yong siancu sudah merasa-kan kalau gelagat kurang beres, ia segera me-nerima 0h Li cu dari rangkulan Lan See-giok dan secara beruntun melepaskan tiga buah tepukan, akan tetapi Oh Li cu masih tetap tidur amat nyenyak. Dengan perasaan tegang Lan See giok segera berbisik "Bibi, agaknya jalan darah tidurnya telah ditotok serangan dengan se-macam ilmu totokan khusus!" Hu-yong siancu manggut-manggut, menyusul kemudian dia periksa keadaan di sekeliling tempat itu dengan seksama, se-telah itu bisiknya lirih: "Anak Giok, cepat pergi, persoalan di sini biar aku yang hadapi, bila ada orang menghalangimu, tak usah dilayani." Lan See giok mengangguk berulang kali, kemudian, dengan cekatan dia awasi sekeli-ling tempat itu, lalu bisiknya: "Bibi, anak giok berangkat dulu!"

242

Sekali lagi dia menengok ke arah encinya yang berwajah pucat pias itu kemudian membalikkan badan segera berangkat me-ninggalkan tempat itu. Dengan menghimpun tenaga dalamnya ke dalam telapak tangan untuk berjaga jaga atas segala kemungkinan yang tak diingin-kan, Lan See giok percepat langkahnya mening-galkan tempat itu, sorot matanya yang tajam memperhatikan keadaan di sekitarnya de-ngan seksama, beberapa lompatan kemudian ia telah tiba di luar dusun. Dalam keadaan begini, dia sudah tak ber-minat lagi untuk memikirkan soal Oh Li cu yang ditotok orang, apa yang dipikirkan sekarang adalah secepatnya meninggalkan daerah pesisir telaga. Sekeluarnya dari dusun, dia membenarkan arah tujuannya, kemudian meneruskan per-jalanan ke depan. Tanah persawahan yang dilewati, berada dalam kegelapan yang luar biasa, di sana sini hanya terdengar suara jengkerik serta kunang-kunang yang terbang kian kemari. Dikejauhan sana nampak tanah perbu-kitan secara lamat-lamat serta hutan lebat yang gelap gulita, Lan See giok tidak merubah arah, dia meneruskan perjalanannya menembusi hu-tan melewati bukit langsung ke arah barat laut, dalam waktu singkat tujuh delapan li telah dilalui. Perasaan tegang dan panik yang semula mencekam perasaannya, lambat laun dapat ditenangkan kembali. Setelah melalui sebuah tanah perbukitan, lamat-lamat di kejauhan sana sudah terlihat jalan raya menuju ke kota Tek an. Pada saat itulah.. Serentetan suara gelak tertawa yang sangat keras dan nyaring berkumandang datang dari arah utara sana. Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera menyembunyikan diri di belakang se-batang pohon besar, kemudian baru mene-ngok kearah utara. Satu dua li dari tempat persembunyian nya merupakan sebuah hutan pohon siong yang lebat, dari tempat itulah gelak tertawa nya-ring tadi berasal. Kembali terdengar suara bentakan penuh kegusaran: "Hei orang she Gui, kau jangan kelewat memojokkan orang, aku To pit him (beruang berlengan tunggal) Kiong-Tek-ciong selalu mengalah kepadamu, bukan berarti aku ta-kut kepadamu, kau harus tahu hanya mereka yang berjodoh dan punya rejeki besar yang akan mendapatkan benda mestika, bila kau memang punya kepandaian, ayolah ma-suk sendiri, aku tak nanti akan mengincar dirimu."

243

Mendengar pembicaraan tersebut, Lan See giok segera memastikan kalau suara tertawa itu berasal dari To tui thi koay (tongkat ber-kaki tunggal) Gui Pak ciang, hanya tidak di-pahami olehnya masalah yang membuat kedua orang itu ribut sendiri. Dari balik hutan kembali kedengaran suara Gui Pak ciang yang kasar. "Beruang berlengan tunggal, kau tidak usah bermain kembangan dihadapanku, kita boleh dibilang musuh bebuyutan yang merasa jalan kelewat sempit, bila kau tidak serahkan benda tersebut pada malam ini, jangan harap kau bisa pulang ke bukit Tay ang-san mu dalam keadaan hidup!" Tergerak hati Lan See giok, sekarang dia baru mengerti bahwa markas besar si beru-ang berlengan tunggal berada di bukit Tay ang san. "Orang she Gui!" bentakan nyaring kembali berkumandang, "aku akan beradu jiwa de-nganmu, hari ini kaupun jangan harap bisa kembali ke benteng Pek-hoo-cay!" Diiringi suara gelak tertawa yang nyaring, menyusul kemudian bergema suara desingan suara tajam dan deruan angin pukulan. Lan See giok tahu bahwa kedua orang itu sudah mulai melibatkan diri dalam pertaru-ngan sengit, tergerak hatinya, cepat-cepat dia lari turun dari bukit dan kabur menuju ke-gelapan di arah utara. Dalam perjalanan tersebut, ia dapat meli-hat kalau tempat kegelapan di depan sana memang sebuah hutan pohon siong. Tapi setelah maju lebih ke muka, dengan perasaan terkejut pemuda itu segera berhen-ti, ia jumpai dibalik hutan pohon siong terse-but ternyata bukan lain adalah puncak ku-buran Ong-leng yang sangat dikenal olehnya. Sekarang Lan See giok baru mengerti, ter-nyata hutan pohon siong di depan sana tak lain adalah kuburan Ong-leng yang didia-minya selama banyak tahun. Ketika ia mencoba untuk memasang telinga kembali, ternyata suasana dalam hutan tersebut sudah pulih kembali dalam ketena-ngan. agaknya pertarungan yang semula berlangsung kini telah mereda. "Aduh celaka" pekik Lan See giok dalam bad. Dengan cepat dia menyembunyikan diri ke belakang bantuan cadas yang berada tak jauh dari sana. Rupanya pemuda itu segera menyadari karena agaknya pertarungan dari si tongkat besi berkaki tunggal dan Beruang berlengan tunggal segera di akhiri ber-hubung mereka telah menangkap suara ujung bajunya yang terhembus angin.

244

Benar juga, dari balik hutan pohon siong di depan sana segera muncul dua sosok baya-ngan manusia, ke empat buah sorot mata mereka yang tajam bagaikan sembilu segera dialihkan ke arah tanah persawahan sana. Buru-buru Lan See giok menundubkkan kepalanya jsambil menyembugnyikan diri, habtinya sangat gelisah selain menyesal, di samping itu diapun lantas teringat kembali pesan bibinya sebelum berpisah tadi. Sewaktu mengangkat kepalanya kembali, dia jadi gemetar karena ketakutan, ternyata si tongkat besi kaki tunggal serta si beruang berlengan tunggal dengan senjata disiapkan sedang melakukan pencarian ke arahnya. Dalam keadaan begini, di samping Lan See giok menyesali kecerobohan sendiri, diapun hanya bisa menunggu sampai kedua orang itu mencari sampai ke arahnya. Untuk kabur, jelas hal ini tak mungkin akan berhasil, mau bertarung diapun sadar bahwa kemampuannya belum mampu untuk menghadapi kedua orang tersebut, terpaksa satu satunya jalan adalah beradu jiwa . . . Di dalam waktu yang amat singkat itu, rasa menyesal, malu, gelisah berkecamuk di dalam benaknya kalau bisa dia ingin segera menghabisi nyawa sendiri.. Teringat bibi Wan serta enci Cian nya. mereka berdua tentu tak akan menyangka kalau dia sudah terperosok ke dalam keadaan yang sangat berbahaya kini. Tanpa terasa dia meraba kotak kecil dalam sakunya, ia tahu benda tersebut tentu akan sukar dipertahankan lagi, dari pada benda mestika itu terjatuh ke tangan dua orang penjahat itu. lebih baik ia hancurkan kitab pusaka tersebut. Berpikir demikian, diam-diam ia merogoh ke dalam sakunya, ia merasa telapak tangan nya sudah mulai basah oleh keringat dingin. Pada saat tangan kanan Lan See giok ham-pir menyentuh kotak kecil tersebut, menda-dak terdengar suara tertawa dingin seseorang yang sangat rendah berkumandang datang dari arah hutan pohon siong sana. Beruang berlengan tunggal berdua merasa sangat terkejut, dengan cepat dia membalik-kan badan seraya membentak: "Siapa di situ?" Tapi suasana dalam hutan sangat hening dan tak kedengaran sedikit suarapun. Mendadak terdengar si tongkat baja kaki tunggal membentak nyaring: "Manusia sialan mana yang tak berani bertemu orang, kalau tidak segera ke luar..."

245

Belum habis umpatan tersebut dbiutarakan, darij balik hutan teglah meluncur keb luar dua titik bayangan hitam yang langsung me-n-yambar ke hadapan tongkat baja kaki tunggal berdua dengan membawa desingan suara tajam. Berhubung gerakannya sangat cepat dan luar biasa, kedua orang itu tak sempat lagi untuk menghindarkan diri. "Plaaakkk, plaaakkk!" Debu bertebaran ke angkasa, tahu-tahu saja kedua titik hitam tadi sudah menghajar di atas kening si Tongkat baja kaki tunggal dan si beruang berlengan tunggal secara te-lak. Kedua orang tersebut menjadi tertegun kemudian berteriak kesakitan, mereka meraba pipinya, ternyata senjata rahasia yang bersarang di atas pipi mereka berdua tak lebih hanya dua gumpal lumpur belaka. Kontan saja si Tongkat baja kaki tunggal serta si Beruang berlengan tunggal jadi gusar sekali, sambil membentak nyaring serentak mereka menyerbu ke dalam hutan. Lan See giok segera memperoleh peluang yang baik sekali, pekiknya dalam hati: "Kalau sekarang tidak angkat kaki, masa aku harus menunggu sampai datangnya saat kematian?" Berpikir demikian, dengan cepat dia melompat bangun dan segera kabur menuju ke arah barat laut.. . Belum sampai lima kaki Lan See giok mela-rikan diri, tiba-tiba saja dari arah hutan, po-hon siong telah berkumandang dua kali jeri-tan kaget yang tinggi melengking serta penuh mengandung nada seram den ngeri. Gemetar sekujur badan Lan See giok, ia tak berani berpaling lagi, larinya semakin diper-cepat, bagaikan segulung asap ringan dia langsung melarikan diri menuju ke arah jalan raya. Pemuda itu dapat menduga, si Tongkat baja kaki tunggal serta Beruang berlengan tunggal tentu sudah bertemu dengan gem-bong-gembong iblis yang kejam dan buas, kalau ditinjau dari jeritan kagetnya yang menyeramkan tadi. bisa diketahui kalau kedua orang tersebut tentu ketakutan sekali menjumpai lawannya. Sementara masih termenung, ia sudah tiba dijalan raya, ketika berpaling kecuali pepo-honan rendah yang tersebar di belakang sana, ia tidak melihat ada manusia yang mengejar ke arahnya. Dalam hati kecirlnya Lan See gizok tiada hentinwya bersyukur. dria tak menyangka dalam bahayanya tadi ternyata muncul seo-rang bintang penolong yang tak sempat di-jumpai wajahnya.

246

Sekalipun orang yang berada di belakang itu tidak mengejarnya, tapi pemuda kita ber-larian terus dengan kencang, ia tak berani melambatkan gerakan tubuhnya barang se-bentarpun karena sekarang dia baru mengingatkan diri atas pesan dari bibinya, jangan mencampuri urusan yang bukan masalah sendiri. Waktu berlangsung amat cepat, tak lama kemudian tengah malam pun telah tiba. Dalam kegelapan di kejauhan sana lamat-lamat dia melihat munculnya sebuah kota besar dengan beberapa titik lentera merah digantungkan ke tengah angkasa, meski hanya setitik cahaya namun cukup menda-tangkan semangat bagi Lan See giok yang sedang -berlarian ditengah kegelapan. Dia tahu, cahaya lentera tersebut berasal dari kota Tek-an, karenanya tanpa terasa semangatnya kembali berkobar. Berhubung pada siang harinya dia sudah tidur cukup, saat ini semangatnya terasa berkobar-kobar, apalagi semenjak dia me-ne-lan pil racun pemberian dari manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san, selain tenaga dalamnya telah peroleh kemajuan yang pesat, diapun sama sekali tidak merasa lelah, me-ngapa bisa demikian, hingga sekarang ma-salah tersebut masih merupakan sebuah tanda tanya besar. Sementara masih termenung dia telah tiba di kota Tek-an, tapi oleh sebab dia tidak merasa lelah, diputuskan untuk melanjutkan perjalanannya lebih jauh. Maka dengan melingkari kota, dia langsung berangkat menuju ke kota Toan cong. Malam semakin kelam, suasana di sekeli-ling tempat itupun sangat hening, di bawah cahaya rembulan yang amat redup Lan See giok berlarian seorang diri ditengah jalan raya yang lenggang. Satu kentongan sudah lewat, entah berapa jauh perjalanan telah ditempuh, dari keja-uhan sana ia mulai mendengar suara ayam jago berkokok, angin malam terasa makin dingin, kegelapan malam yang mencekam makin terasa gelap. Lan See giok tahu, sesaat lagi fajar akan menyingsing, akan tetapi bayangan kota Toan-cong belum juga nampak. Sementara itu rasa lapar, dahaga, lelah dan gelisah telah menyerang datang bersama sama. air peluh sudah mulai membasahi se-luruh jidatnya. Tiba-tiba--Bau harum semerbak yang sangat aneh muncul secara mendadak dari dalam tenggo-rokannya.

247

Berbareng itu juga, dia merasakan mun-culnya cairan harum yang amat luar biasa dari bawah lidah dan kerongkongan nya. Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera memperlambat gerakan tubuhnya. Dia merasa cairan harum itu berasal dari dalam tubuhnya sendiri, persis seperti bau harum yang dirasakan setelah menelan pil berwarna hitam pemberian dari Oh Tin san sewaktu berada di dalam kuburan kuno tempo hari. Dalam keadaan begini dia merasa tak bisa melanjutkan perjalanannya lagi, dia harus bersemedi lebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Maka dengan sorot mata yang tajam dia mulai mengawasi keadaan di sekeliling tem-pat itu, akhirnya ia duduk bersila di bawah sebatang pohon yang rindang, enam tujuh kaki di sebelah kiri jalan. Entah sedari kapan, bau harum tersebut makin lama terasa semakin menebal, dengan cepat pula rasa lapar yang semula merong-rong dirinya kini hilang lenyap tak berbekas, kerongkongannya juga tidak terasa dahaga lagi, malah rasa lelah yang semula mencekam tubuhnya kini sudah jauh berkurang. Ia tidak berniat untuk berpikir lebih jauh, tapi ia percaya, hal ini pasti bukan ditimbul-kan oleh cairan racun pil pemberian Oh Tin san tempo hari. Lan See giok memejamkan matanya sambil mengatur pernapasan, dalam waktu singkat timbul hawa panas yang sangat hangat dari pusarnya yang dalam waktu singkat telah menyebar ke seluruh tubuhnya, rasa lapar, bdahaga dan lelajh yang semula mgenghantui dirinbya. sekarang telah hilang lenyap tak ber-bekas. ENTAH berapa lama sudah lewat, dari ke-jauhan sana mulai terdengar suara anjing menggonggong, ketika Lan See giok membuka matanya, dia lihat fajar mulai menyingsing, dusun di kejauhan sana pun lamat-lamat sudah mulai kelihatan. Lan See giok segera melompat bangun, ia merasakan tubuhnya telah segar bugar kem-bali, penuh semangat dan tenaga, pada hakekatnya bagaikan dua manusia yang ber-beda bila dibandingkan sebelum bersemedi tadi. Dengan perasaan girang dia meneruskan perjalanannya, sekali melompat tahu-tahu saja sepasang kakinya sudah melayang turun ditengah jalan raya, kejadian tersebut kem-bali membuat anak muda tersebut ter-mangumangu karena kaget. Padahal jarak antara pepohonan dimana ia bersemedi tadi dengan jalan raya men-capai enam tujuh kaki lebih, sebelum ia bersemedi tadi, jelas hal semacam ini tak mungkin bisa dilakukannya, tapi sekarang selesai ia

248

bersemedi, ternyata hal mana bisa dilakukan olehnya dengan begitu mudah. Rasa terkejut. gembira, girang membuat semangatnya semakin berkobarkobar, dia meneruskan perjalanannya juga lebih cepat lagi. Langit baru saja terang tanah, namun jalan raya itu sudah banyak manusia yang berlalu lalang, kota Toan-cong pun kini sudah mun-cul di depan mata, maka dengan langkah le-bar dia segera berjalan menuju ke depan. Ketika Lan See-giok masuk ke jalan Lam-kwan, matahari baru saja muncul, saat para pedagang mulai meninggalkan rumah penginapan untuk melanjutkan per-jalanan. Ia segera memilih sebuah rumah pengina-pan yang agak besar untuk beristirahat. Para pelayan rumah penginapan kebanya-kan adalah orang-orang yang sudah berpe-ngalaman, dalam sekilas pandangan saja, mereka sudah tahu kalau Lan See giok adalah anggota persilatan yang baru saja menempuh perjalanan semalam suntuk. Apalagi kalau melihat usianya yang paling banter baru lima enam belas tahunan, orang yang berani menempuh perjalanan malam dalam usia seperti ini jelas sudah kalau kepandaian silat yang dimiliki nya pasti amat hbebat. Beberapaj orang pelayan gtersebut tak bebrani berayal, cepat-cepat mereka maju menyam-but kedatangannya, lalu dengan senyuman di wajah sapanya: "Siauya, silahkan masuk ke dalam, di sana tersedia kamar tunggal yang dikelilingi ke-bun, ada kacung ada pelayan, semua persediaan lengkap, tanggung siauya akan puas" Lan See giok tidak ingin melakukan pem-borosan, jangan lagi bekalnya amat sedikit, kendati pun dia membawa sejumlah uang yang lebih besar pun tak nanti dia akan boros seperti itu. Karenanya dengan kening berkerut dia awasi beberapa orang pelayan itu, kemudian berkata dengan hambar: "Aku hanya ingin beristirahat sebentar saja, seusai bersantap nanti aku masih melanjutkan perjalanan kembali." Kemudian sambil menuding sebuah kamar tunggal di depannya, dia melanjutkan: "Biar aku menyewa kamar itu saja!" Pelayan segera mengiakan berulang kali dan mengajak Lan See giok menuju ke ru-angan.

249

Ruangan tersebut sangat sederhana, selain sebuah meja dua bangku dan sebuah pem-baringan kayu, tidak nampak perabot yang lain, tapi biar sederhana namun segalanya bersih. Maka pemuda itu pun memesan sejumlah makanan yang sederhana untuk mengisi pe-rut. Beberapa orang pelayan itu saling ber-pan-dangan sekejap lalu samasama mengundur-kan diri, diam-diam mereka memuji akan kesederhanaan pemuda itu, biarpun berasal dari keluarga kaya namun hidupnya bersa-haja. selain tidak sombong, orangnya selalu merendah. Seusai bersantap, Lan See giok segera membaringkan diri untuk beristirahat, per-tama tama dia teringat akan enci Cian serta bibi Wannya. Ditinjau dari kejadian berkumpul dan berpisah dengan encinya, dia tahu kalau enci Cian amat mencintainya. maka ia bertekad dihati, apabila kepergiannya ke bukit Hoa--san kali ini berhasil mempelajari kepandai-an silat sehingga dendamnya bisa terbalas, dia akan hidup selamanya bersama enci Cian serta bibi Wannya. Dari pembicaraan Oh Tin san suami istri, diapun tahu kalau bibinya dahulu terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang ber-nama Hu-yong siancu, kemudian berdasar-kan pembicaraan kemarin, diapun menjum-pai kalau antara bibi Wan dengan ayahnya tentu pernah mempunyai suatu hubungan ryang luar biasaz. Lantas dia pwun terbayang kermbali Oh Li cu yang jalan darah tidurnya ditotok orang, en-tah bagaimana keadaannya sekarang? Dia pikir, bibi Wan dan enci Cian pasti akan baik-baik merawat dirinya. Setelah itu diapun membayangkan si Tongkat baja kaki tunggal serta Beruang berlengan tunggal, dua jeritan kagetnya yang memekikkan telinga tadi entah merupakan jerit kesakitan ataukah jeritan ngeri men-je-lang saat ajalnya tiba? Bila kedua orang itu sudah tewas, berarti dia tak akan bisa me-nyelidiki lagi sebab musabab mereka bisa mendatangi kediaman ayahnya pada malam itu. Cairan harum itu yang muncul dari kerongkongannya pagi tadi serta bertambah-nya tenaga dalam yang dimiliki, semuanya membuat dia bingung dan tidak bebas mengerti, sekarang dia berani memastikan kalau selama berada dalam kuburan kuno tempo hari, ia memang telah memperoleh penemuan luar biasa. Akhirnya diapun membayangkan kembali soal To seng-cu, dari nasehat dan teguran dari bibinya, ia tidak terlalu yakin sekarang bahwa To seng cu adalah musuh besar pem-bunuh ayahnya, namun ia tetap menaruh curiga kepadanya.

250

Teringat akan To seng cu, dia jadi ingin sekali tiba di bukit Hoa san secepatnya. Maka dia segera melompat bangun, lalu duduk bersila, menutup mata dan mengatur pernapasan, dalam waktu singkat ia telah berada dalam keadaan tenang' Entah berapa saat kemudian, ketika mem-buka matanya, waktu sudah mendekati pu-kul sembilan, dengan cepat dia mem-benahi diri, membayar rekening dan meneruskan perjalanan. Lewat tengah hari, dia sudah memasuki wilayah propinsi Ou pak. Sepanjang perja-lanan Lan See giok selalu menuruti nasehat dari bibinya, dia selalu menempuh perjalanan dengan berhati hati dan hemat. Dalam satu bulan perjalanan, walaupun beberapa kali ia menjumpai hujan salju yang lebat, namun sama sekali tidak mem-penga-ruhi perjalanannya. Dalam sepanjang perjalanan, Lan See giok pun telah memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman, ia menjadi jauh lebih ma-tang daripada ketika berada di benteng Wi-lim-poo. Hanya saja, selama ini dia tak pernah da-pat melupakan dendam sakit hatinya, dalam benaknya juga sering muncul bayangan wa-jah dari enci Cian nya yang cantik dan lem-but serta bibi Wan nya yang anggun dan ramah. Diapun amat berterima kasih kepada kakek berjubah kuning itu, bukan saja tidak melarikan kitab pusaka Tay lo hud bun pwee tiap cinkeng. malah dia sempat memberita-hukan kepadanya bagaimana caranya mem-pelajari kitab pusaka tersebut. Kadangkala diapun teringat Oh Li cu, ter-utama rasa terima kasihnya atas pemberian beberapa butir pil pemunah racun untuknya. Dia juga berterima kasih kepada gadis ber-baju merah Si Cay-soat, hanya sewaktu ter-ingat Siau thi-gou yang polos dia selalu merasa agak menyesal. Hari ini ia menyeberangi Han sui, bukit Hoa san yang tinggi dan angkerpun sudah muncul di kejauhan sana. Dari jauh memandang, bukit itu nampak angker dan bersambungan dengan awan di angkasa, begitu angker, gagah tak malu di sebut bukit kenamaan di daratan Tionggoan Baru pertama kali ini dia berkunjung Ke bukit Hoa san, boleh dibilang dia sama sekali tidak mengenal dengan keadaan situasi di sekitar situ, akhirnya pemuda itu memutus-kan untuk menginap di sebuah kota kecil yang jaraknya hanya sepuluh li dari kaki bukit.

251

Seorang diri pemuda itu duduk di loteng rumah makan sambil memandang bukit yang menjulang tinggi ke angkasa dengan panda-ngan termangu, ia tak tahu bukit manakah yang dinamakan Giok li hong, dan dia pun tak tahu harus masuk melalui jalan bukit yang mana. Seorang pelayan yang sudah sejak lama mengamati tamunya ini, segera datang menghampiri sambil menegur: "Tuan, araknya sudah mulai dingin rupa-nya, apakah perlu hamba hangatkan dulu?" Melihat pelayan tersebut, tergerak hati Lan See giok, dia tertawa ramah kemudian meng-geleng, setelah itu menunjuk ke tanah per-bukitan di depan sana, ia bertanya: "Tolong tanya, diantara sekianb banyak bukit dji bukit Hoa sang, puncak manakabh yang paling indah?" Menghadapi pertanyaan itu, sang pelayan segera merasakan semangatnya bangkit kembali, dia menunjuk kearah deretan pe-gunungan itu lalu, menerangkan: "Tiga puncak bukit Hoa san sukar di beda-kan satu dengan lainnya, puncak di bagian tengah yang paling tinggi disebut puncak Lian hoa hong, di sebelah timur adalah Sian jin hong, sedangkan Lok-eng-hong terletak di sebelah selatan, di atas puncak terdapat kuil Pek tee bio, gardu Nyoo kong teng, kolam Lok eng ti, tugu Jian jip pit masih ada lagi tem-pat-tempat kenamaan lain.." Melihat si pelayan sama sekali tidak me-nyinggung soal puncak Giok li hong, Lan See giok segera berkerut kening, kemudian ta-nyanya dengan nada tidak mengerti: "Masa di atas bukit Hoa san hanya ter-da-pat tiga buah puncak kenamaan saja . .?" "Aaah, tentu saja banyak sekali," jawab pelayan itu bersungguh sungguh, "seperti Im tay hong, Kun cu hong, Giok li hong.. " "Giok li hong . ." mencorong sinar terang dari balik mata Lan See giok. Tidak menanti sampai pemuda itu me-nye-lesaikan kata katanya, sang pelayan kembali telah menimbrung: "Giok li hong amat tinggi bukitnya dan se-lalu tertutup awan putih, pohon siong, tum-buhan bambu, batuan air kolam penuh ber-serakan dimana mana, semua tempat indah seperti gadis cantik yang tinggi semampai. Menyaksikan pelayan itu bercerita dengan penuh semangat sampai mukanya turut menjadi merah, lama kelamaan ia menjadi tak tega, segera selanya: "Tolong beri petunjuk kepadaku Giok-li--hong adalah puncak yang mana?"

252

Pelayan itu segera menggelengkan kepala nya berulang kali, katanya sambil tertawa paksa: "Maaf tuan, puncak Giok li hong tertutup oleh puncak Lok eng hong, jadi tidak ter-lihat dari tempat ini." Sambil berkata dia lantas mengalihkan pandangannya kearah Lok eng hong, kemu-dian sambit menuding katanya lagi. "Tuan, bila kau ingin berkunjung ke Giok- li-hong. masuklah ke gunung lewat mulut lembah sempit, setibanya pada puncak bke tujuh Tiau yjang hong, langsgung pergilah keb Lok eng hong. dari situ akan kau jumpai Giok li hong." Mengikuti arah yang ditunjuk Lan See- giok mengangkat kepalanya, awan putih nampak menyelimuti puncak-puncak bukit itu se-hingga kelihatan seperti bersambungan satu dengan lainnya, sukar diketahui berapa jauh jaraknya dari tempat itu. "Kau pernah berkunjung ke Giok li hong?" tanyanya kemudian dengan kening berkerut. Merah padam selembar wajah pelayan itu, sambil tertawa paksa ia menggelengkan kepalanya berulang kali. "Hamba hanya manusia kasar yang tidak berkependidikan, aku tidak memiliki jiwa seni yang begitu tinggi. apalagi dari sini sam-pai di Giok li hong memakan waktu perja-la-nan selama dua hari lebih, di atas gunung pun banyak harimau, ular besar, binatang buas dan lain lainnya, salahsalah aku bisa kehilangan nyawa" Lan See giok tersenyum saja mendengar cerita itu, dia pun manggutmanggut. Dengan dilangsungkannya pembicaraan tersebut, banyak manfaat yang berhasil di-raih olehnya, menurut cerita pelayan itu, orang biasa dapat mencapai tujuan dalam dua hari perjalanan, andaikata dia menggu-nakan ilmu meringankan tubuh, berarti hanya setengah harian saja dia akan tiba di tempat tujuan. "Begitulah, keesokan harinya ketika fajar baru menyingsing, Lan See giok telah me-ninggalkan kota kecil itu langsung menuju ke jalan raya yang berhubungan dengan kaki bukit bagian selatan dari bukit Hoa-san. Waktu itu udara sangat cerah, bintang bertaburan diangkasa, terhembus angin pagi yang segar tubuh terasa lebih bersemangat- dan segar bugar. Memandang jauh ke depan, meski kabut pagi masih menyelimuti angkasa, namun pegunungan Hoa san dapat terlihat secara lamat-lamat. Lan See giok menempuh perjalanannya dengan cepat, ketika matahari belum muncul dia sudah tiba di kaki selatan bukit Hoa san.

253

Setelah membenarkan arah menuju ke puncak Tiau yang hong sesuai dengan pe-tunjuk pelayan.. Lan See giok meninggalkan jalan raya menuju ke sebuah mulut bukit. Setelah memasukri daerah pegunuzngan, suasananywa segera berubarh, kabut masih menyelimuti angkasa, tumbuhan, akar rotan tumbuh dimana mana, batuan cadas berse-rakan, jauh berbeda dengan apa yang semula dibayangkan. Baru pertama kali ini Lan See giok mema-suki sebuah bukit besar yang begitu angker, jauh memandang ke atas, hanya awan putih yang menyelimuti dimana mana. Setelah membenarkan arah, dia meneruskan perjalanannya bagaikan terbang, makin lama makin sesukar medan yang ha-rus di lewatinya... Dua jam kemudian, kakinya sudah mulai menginjak lapisan salju, awan putih yang berkuntum kuntum lewat di sisi tubuhnya membuat pemuda itu kadangkala tak bisa membedakan lagi arah mata angin. Sewaktu tiba di sebuah sudut bukit, dia sudah tak tahu dimanakah dirinya berada, mendongakkan kepalanya dia hanya melihat pantulan sinar matahari yang amat menyi-laukan mata. Tapi pemuda itu tidak putus asa, selang-kah demi selangkah dia melanjutkan perja-lanannya ke atas, akhirnya pandangan ma-tanya menjadi terang dan ia sudah menem-busi lapisan awan. Sejauh mata memandang hanya lautan mega yang tak bertepian, puncak bukit ber-munculan seperti hutan. puncak Tiau yang- hong yang berjejer dengan puncak Lok eng hong ternyata masih berada dua tiga puluh li jauhnya. Mendongkol dan gelisah segera menye-li-muti perasaan Lan See giok, ia mencoba un-tuk mendongakkan kepalanya, puncak terse-but masih ada ratusan kaki tingginya, pada-hal tengah hari sudah tiba. Dalam keadaan begini dia mulai merasa gugup, sebab bila keadaan seperti ini ber-langsung terus, biarpun berlarian sampai be-sok tengah haripun belum tentu dia akan menemukan puncak Giok li hong. Segera diamatinya suasana di sekeliling tempat itu dengan seksama, dengan cepat ia temukan antara puncak dengan puncak lain boleh dibilang semuanya berhubungan, di samping itu diapun berhasil menemukan kilauan cahaya dinding kuil di punggung bukit di kejauhan sana. Pemuda itu segera mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan, dalam angga-pannya setelah mencapai puncak bukit itu, tidak akan sulit untuk menemu-kan Giok li hong.

254

Maka dia membuka perbekalannya untuk menangsal perut, kemudian baru meneruskan perjalanannya ke depan. Benar juga, setelah melewati beberapa buah puncak bukit, puncak Lok eng hong makin lama semakin dekat, semangatnya segera berkobar kembali, gerakan tubuhnya juga dipercepat. Tak lama kemudian dia telah tiba di pun-cak Tiau yang hong. Pemandangan di atas puncak ini sangat indah, pohon siong tumbuh berjajar jajar, lautan awan yang tak bertepian menyelimuti empat penjuru, kabut melayang dekat per-mukaan sementara suara air terjun bergema entah dari mana. Lan See giok sangat gembira, tanpa terasa lagi ia berteriak keras-keras. Suara teriakannya segera menggema di seluruh angkasa dan mengalun sampai di tempat kejauhan sana, lama sekali belum juga mereda. Lan Se giok benar-benar amat kegirangan, walaupun dia merasa dirinya sangat kecil ditengah bukit yang luas namun perasaan-nya sangat lega dan membuat orang merasa se-gar, tanpa terasa sekali lagi dia berpekik panjang... Suara pekikannya mengalun di seluruh angkasa dan membumbung tinggi ke angka-sa. Dengan pekikan itu, semua perasaan kesal, marah, resah, gelisah hampir terlampiaskan ke luar, dadanya terasa lega sekali. Mendadak.... Ia menangkap suara ujung baju yang ter-hembus angin berkumandang datang dari belakang tubuhnya. Dengan perasaan terkejut Lan See giok membalikkan badan, dia saksikan seorang pemuda berbaju abu-abu dan berusia dua puluh satu dua tahunan sedang berlarian datang dari balik hutan pohon siong dengan langkah tergesa gesa. Pemuda berbaju abu-abu itu, berwajah tampan dan menyoren sebilah pedang di punggungnya, pita kuning tergantung pada gagang pedangnya dan bergoyang tiada hen-tinya sewaktu terhembus angin. Memandang wajah gusar yang menbyelimuti pemudaj berbaju abu-abgu itu, Lan See bgiok segera mengerti, kedatangan orang itu pasti hendak menyelidiki sumber dari pekikan-nya tadi. Benar jaga, setibanya di situ pemuda ber-baju abu-abu itu langsung menghampirinya, lalu dengan sorot mata yang tajam meng-awa-si Lan See giok dari atas hingga ke bawah, kemudian seperti menahan amarah yang meluap-luap, dia menegur dengan suara dalam. "Apakah kau baru pertama kali ini tiba di sini?"

255

Mendongkol juga Lan See giok melihat kesombongan pemuda berbaju abu-abu itu, terutama sikapnya yang sangat tidak ber-sa-habat itu. "namun dia manggut- manggut juga sambil menjawab: "Benar. baru pertama kali ini aku tiba di sini!" "Ada urusan apa kau datang ke mari? Mengapa berpekik panjang disini? "Sudah kau bertanya kepada para pendeta dan tosu dari pelbagai kuil...?" kembali pemuda ber-baju abu-abu itu menegur: Usia pemuda berbaju abu-abu itu paling banter hanya berapa tahun lebih tua ketim-bang Lan See giok, tapi kesombongan nya luar biasa, selain memojokkan orang lagi pula bernada menegur. . Karena itu dengan perasaan mendongkol dan sikap yang lebih angkuh pemuda kita menggelengkan kepalanya berulang kali, jawabnya dengan suara hambar. "Aku ke mari bukan untuk memasang hio menyembah Buddha, buat apa mesti ber-kunjung ke kuil?" Amarah yang semula sudah sukar terken-dali, kontan saja meledak dengan hebatnya, pemuda berbaju abu-abu itu segera berkerut kening, lalu bentaknya dengan penuh kegusaran: "Apakah kau tidak mengetahui pantangan dan larangan kami?" Lan See giok segera tertawa dingin. "Hmmm, aku hanya tahu, datang kemari untuk berpesiar, soal-soal semacam itu mah tidak mengerti!" "Tutup bacotmu" hardik pemuda berbaju abu-abu itu semakin gusar. "masih muda sudah bicara sengak, hmmm! kalau tidak di-kasih sedikit pelajaran, kau pasti tak akan menyesal!" Sembari berkata ia menerjang kbe muka, lalu dejngan jurus Lik gpit hoa san (mebm-bacok runtuh Hoa san) dia langsung meng-hajar batok kepala Lan See giok dengan kekuatan besar. Lan See giok cukup sadar, biasanya pegunungan yang terpencil merupakan daerah pertapaan tokoh-tokoh persilatan yang ber-ilmu tinggi, oleh sebab itu melihat datang-nya bacokan maut dari pemuda ber-baju abu-abu itu, dia tak berani menyambut dengan kekerasan, ujung kakinya segera menjejak tanah dan melayang mundur se-jauh dua kaki lebih. Pemuda berbaju abu-abu itu tertawa di-ngin, tubuhnya berkelit ke samping kemu-dian mengejar lebih ke depan. . . Belum lagi Lan See giok dapat berdiri tegak, pemuda berbaju abu-abu itu sudah menubruk datang, dalam kejutnya dia mem-bentak keras, sebuah bacokan tangan kanan segera dilontarkan ke luar. Gulungan angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepatnya menerjang ke dada lawan.

256

Pemuda berbaju abu-abu itu mendengus dingin, tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu sudah lenyap tak berbekas. "Blaammm!" Benturan nyaring menggelegar memeca-h-kan keheningan, pasir dan debu beterbangan ke mana-mana, ternyata serangan dari Lan See giok menghajar permukaan tanah. Menyaksikan kejadian tersebut Lan See giok merasa gelagat tidak menguntung-kan, dengan perasaan terkejut dia segera memba-likkan badan: Pada saat dia sedang membalikkan badan secara tiba-tiba itulah, jalan darah Pay tui hiat dipinggang belakangnya sudah kena di totok oleh pemuda berbaju abu-abu itu. Lan See giok berlagak seolah-olah tidak merasa, sambil membentak telapak tangan kanannya sekali lagi didorong ke muka... Tak terlukiskan rasa terkejut pemuda ber-baju abu-abu itu, saking kagetnya dia menje-rit keras. sepasang telapak tangannya segera disilangkan untuk melindungi dada, disam-butnya serangan tersebut dengan kekuatan penuh. "Blaammm!" benturan keras menggelegar lalu terdengar suara dengusan tertahan, di antara suara langkah kaki yang mundur dengan berat, Lan See giok serta pemuda baju abu-abu itu saling berpisahr dengan sempoyozngan. Secara bweruntun Lan Seer giok mundur se-jauh lima langkah lebih, sebaliknya pemuda berbaju abu-abu itu terjatuh hingga pantat-nya beradu keras dengan tanah. Akibatnya ke dua orang itu sama-sama membelalakkan matanya lebarlebar dan tertegun. Pemuda berbaju abu-abu itu membuka mulutnya dengan napas terengah engah, dia tak tahu kepandaian silat apakah yang telah dipelajari bocah berbaju perlente itu sehingga totokan jalan darahnya sama sekali tak mempan. Lan See giok merasakan juga lengan kanannya linu dan kaku bahkan secara lamat-lamat terasa sakit, dia tahu pemuda berbaju abu-abu itu tentu anak murid se-orang jago yang lihay yang menetap di atas bukit tersebut. Gerakan tubuh dari pemuda berbaju abu--abu itu selain indah dan cekatan, tenaga dalamnya masih jauh melebihi dirinya, justru pemuda itu bisa roboh lantaran dia sedang tertegun karena totokan jalan darah nya tak mempan. Padahal dalam keadaan tak siap saja lawan sanggup membuat dirinya terdorong mundur sejauh lima langkah, bisa dibayangkan sam-pai dimanakah taraf tenaga dalam yang dimi-liki orang ini.

257

Sementara dia masih berpikir. Pemuda berbaju abu-abu itu sudah bangkit berdiri, keningnya berkerut kencang, kemudian per-gelangan tangan kanannya diputar dan... "Criing!" dia telah meloloskan pedangnya yang tersoren di punggung. Mimpi pun Lan See giok tidak me-nyangka kalau gara-gara pekikan nyaringnya tadi bakal mendatangkan kerepotan bagi-nya, melihat pemuda berbaju abu - abu itu sudah meloloskan pedangnya, tanpa terasa dia berpaling memandang matahari senja yang mu-lai tenggelam di langit barat. Ia sadar gerakan tubuhnya mungkin tidak selincah dan seenteng lawan, akan tetapi dalam permainan senjata belum tentu dia sampai kalah, cuma saja senja telah hampir lewat, padahal dia belum mengetahui di ma-nakah letak puncak Giok li hong. hal inilah yang membuat hatinya merasa sangat geli-sah. Sementara itu pemuda berbaju abu-abu itu sudah mengejar datang sambil tertawa di-ngin, kemudian tegurnya: dengan suara dalam: "Bagaimana? Kau masih ingin kabur?" Lan See giok yang didesak terus menerus akhirnya menjadi naik darah juga, segera bentaknya dengan gusar: "Kau jangan kelewat memojokkan orang, Hoa san adalah tempat umum yang boleh di datangi setiap orang, bukan daerah khusus yang menjadi milikmu. Hamm, jarang sekali kujumpai manusia yang tak tahu sopan santun seperti kau. Aku bukan bermaksud melarikan diri, tapi langit sudah malam, aku takut urusanku jadi tertunda, maka aku tak ingin melayanimu lebih jauh, Tapi jika kau bersikeras juga hendak menjajal senjata ta-jamku, baik, akupun ingin melihat sampai dimana kah kehebatan ilmu pedang yang kau miliki itu" Seraya berkata dia lantas merogoh ke dalam pinggangnya dan meloloskan senjata andalannya. Tampak cahaya keemas emasan yang amat menyilaukan mata memancar ke empat pen-juru, tahu-tahu senjata gurdi emas Kang luan tui milik Lan See giok sudah diloloskan bagaikan seekor ular emas hidup. Pemuda berbaju abu-abu itu segera ter-tegun dan serentak menghentikan langkah-nya, dengan pandangan termangu serta ke-heranan dia awasi senjata gurdi emas di ta-ngan Lan See giok tanpa berkedip, sesaat kemudian dia baru menegur dengan perasaan tak habis mengerti: "Senjata aneh apa sih yang kau perguna-kan itu?" Lan See giok tertawa dingin, sebelum dia sempat menjawab, dari balik pohon siong te-lah muncul kembali seseorang, gerakan tubuh orang ini terasa satu kali lipat lebih cepat daripada pemuda berbaju abu-abu itu.

258

Pemuda berbaju abu-abu tadi segera mem-balikkan tubuhnya, kemudian berseru keras. "Khu suheng, barusan dialah yang ber-pekik keras!" Sambil berkata dia lantas menuding ke arah Lan See giok. Ketika Lan See giok berpaling, dia saksi-kan pendatang itu baru berusia tiga puluh tahu-nan, kulit mukanya kuning dan tubuh-nya kurus ceking tinggal kulit pembungkus tu-lang, namun sepasang matanya berkilat kilat dan gerak geriknya amat tinggi hati, orang inipun mengenakan baju berwarna abu-abu. Lelaki setengah umur itu berjalan men-dekat kemudian memperhatikan Lan See giok sekejap dengan pandangan tanpa emosi, ke-mudian dia baru menegur dingin. "Mengapa kau sembarangan berpekik di tempat ini dan tak suka mengindahkan nasehat?" " Sembari berkata, dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke hadapan Lan See giok. Pemuda berbaju abu-abu itu terkejut, mendadak cegahnya. "Khu suheng, jangan terlampau dekat, dia memiliki semacam kepandaian aneh, biar jalan darah nya sudah tertotok namun tubuhnya sama sekali tidak roboh." Tertegun lelaki setengah umur itu, setelah berseru tertahan dia lantas menghentikan langkahnya, sementara sepasang matanya yang tajam mengawasi Lan See giok dengan pandangan terkejut bercampur keheranan. Dalam anggapan Lan See giok semula, dengan datangnya kakak seperguruan dari pemuda tersebut maka urusan akan bisa di-bereskan dengan segera, siapa tahu suheng nya ini lebih tak tahu aturan, maka setelah mendengus katanya sinis. "Hmmm, berpengetahuan picik sok kehe-ranan saja? Namun lelaki setengah umur itu seakan- akan tidak mendengar apa yang dikatakan Lan See giok, dengan kening berkerut ter-de-ngar ia berguman seorang diri: "Aku merasa sedikit tidak percaya!" Tiba-tiba saja dia menubruk ke muka, jari tangan kanannya langsung menotok jalan darah Cong hiat-hiatnya. Tak terlukiskan amarah Lan See giok me-nyaksikan datangnya ancaman tersebut, se-bagaimana diketahui, jalan darah Cong--hiat merupakan salah satu jalan darah penting di tubuh manusia, bila sampai ter-totok, sekali-pun tak sampai mati juga bakal terluka, itu-lah sebabnya hawa napsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya.

259

"Bagus sekali" ia membentak. "bila kau ti-dak percaya, silahkan saja dicoba sendiri." Sambil membentak, gurdi emasnya menusuk ke muka secepat sambaran petir dengan jurus Pau hou pay wi ( harimau ga-nas mengebaskan ekor ), dengan gerakan ilmu cambuk dia menyambar pinggang lelaki setengah umur itu. Menganggap kepandaian silat yang dimili-kinya cukup tinggi tentu saja lelaki setengah umur itu tidak memandang sebelah matapun terhadap Lan See giok, sambil ter-tawa dingin tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu lenyap dari pandangan. Sebelum itu, Lan See giok sudah pernah menyaksikan gerakan aneh dari pemuda ber-baju abu-abu itu.. dia tahu musuhnya telah menyelinap ke belakang punggungnya. Maka tanpa menggerakkan badan, gurdi emasnya segera menyerang lagi dengan jurus wi ceng pat hong (menggemparkan delapan penjuru)... Serentetan suara desingan tajam segera menderu deru, cahaya tajam berkilauan me-mancar ke empat penjuru, dalam waktu singkat muncul beribu ribu bayangan gurdi emas yang melindungi seluruh badan Lan Seegiok. Agaknya lelaki setengah umur itu tidak menyangka kalau Lan See giok begitu hebat dalam perubahan - jurus tangan kanannya yang baru saja melepaskan totokan nyaris tersapu oleh gurdi emas tersebut, dia segera menjerit kaget lalu mundur sejauh delapan depa lebih. Lan See giok sudah diliputi oleh hawa napsu membunuh, sudah barang tentu ia tak akan membiarkan lelaki setengah umur itu pergi dengan begitu saja, sambil membentak keras hawa murninya disalurkan ke dalam gurdi itu, kemudian dengan jurus Kim coa toh sim (Ular emas menjulurkan lidah) ia lepaskan sebuah tusukan dengan gerakan pedang--Sebelum lelaki setengah umur itu berhasil berdiri tegak, gurdi emas dari Lan See giok telah menusuk tiba, sekali lagi dia menjerit keras lalu mundur ke belakang dengan ce-pat--Mencorong sinar tajam dari balik mata Lan See giok, tanpa menghentikan tubuhnya dia meneruskan terjangannya ke muka, gurdi emasnya melepaskan tiga jurus serangan se-cara beruntun, ditengah deruan angin sera-ngan, cahaya emas berkilauan, bagaikan hujan badai menyambar tiada hentinya, sungguh mengerikan sekali keadaannya. Dengan cekatan lelaki setengah umur itu berkelit ke kiri dan menghindar ke kanan. karena didesak oleh Lan See giok sehingga kalang kabut dengan gugup ia mundur.

260

Pemuda berbaju abu-abu itu menjadi ter-tegun saking kagetnya, dia sampai lupa un-tuk turun tangan membantu kakak sepergu-ruan-nya melepaskan diri dari bahaya. Pads saat itulah . . . "Tiba-tiba ia mendengar bentakan keras berkumandang memecahkan keheningan. "Cepat tahan . . . . " Suaranya sangat nyaring seperti suara genta amat menusuk pendengaran, men-de-ngar itu Lan See giok segera menghentikan gerak serangannya. Sewaktu ia berpaling, lebih kurang dua kaki di tepi arena tampak orang kakek berju-bah panjang warna abu-abu dan berjenggot panjang berdiri tegak di sana. Kakek itu berwajah amat ramah tapi me-mancarkan sinar kewibawaan amat tinggi, di antara bayangan manusia yang berkelebat lewat, lelaki setengah umur dan pemuda ber-baju abu-abu sudah melompat ke hadapan kakek tadi dengan wajah tersipu -sipu, setelah memberi hormat, mereka ber-bisik lirih: "Suhu!" Dalam pada itu, Lan See giok sedang ber-pikir pula dihati. "Dengan murid yang begitu berpikiran picik dan berdada sempit, gurunya pasti seorang manusia latah yang berjiwa sempit pula" Oleh karena berpendapat demikian, maka dia hanya berdiri tegak di situ tanpa memberi hormat. Dengan wajah penuh kegusaran lelaki berjubah panjang itu memandang sekejap ke arah kedua orang muridnya, kemudian kata nya dengan suara dalam. "Mundur kalian!" Lelaki setengah umur dan pemuda itu segera mengiakan dengan hormat dan me-ngundurkan diri ke sisi tubuh gurunya, di atas wajah kedua orang itu sama sekali tidak dijumpai sinar keangkuhan lagi. Sambil mengelus jenggotnya yang panjang kakek berjubah panjang itu memandang wa-jah Lan See giok, kemudian tanyanya sambil tersenyum: "Siauhiap membawa gurdi emas, apakah kau adalah keturunan dari Lan tay-hiap?" Menyinggung soal ayahnya, paras muka Lan See giok segera berubah menjadi serius kembali, cepat-cepat dia menjura seraya menjawab dengan hormat.. "Lan Khong-tay adalah guruku, boleh aku tahu siapa nama cianpwe dan dari mana kau bisa mengenali senjata tajam andalan dari guruku ini-- ?"

261

Manusia berjubah panjang itu mendongak kan kepalanya lalu tertawa terbahak bahak: "Aaah -- haaahhh - haaahhh.. ayahmu Lan Khong-tay sangat termasyhur dikolong langit, senjata gurdi emasnya merajai dunia persi-latan, sembilan butir peluru peraknya selalu tepat dan tak pernah meleset, dan aku per-nah berjumpa dengan ayahmu, sudah barang tentu kenal juga dengan senjata kenamaan-nya" Mengetahui kalau dia kenal dengan ayah-nya Lan See giok segera berkata dengan serius: "Oooh rupanya Ban locianpwe, apabila boanpwe Lan See giok berbuat ceroboh dan mengganggu ketenangan locianpwe, harap locianpwe sudi memaafkan," Selesai berkata, kembali dia menjura dalam-dalam, Sekali lagi Ban peng cuan ter-tawa tergelak. "Tiada induk harimau yang melahirkan an-jing, ayah ibumu selalu hidup bagaikan dewa dewi, sedang ibumu Hu-yong siancu juga su-dah banyak tahun tak menampakkan diri, apakah selama ini dia selalu berada dalam keadaan baik-baik?" Lan See giok segera merasakan hatinya bergetar keras, dia sangat kebingungan, de-ngan kening berkerut dan nada tidak me-ngerti tanyanya. "Ibuku adalah Ki lu lihiap Ong Si hoa, bu-kan Hu-yong siancu bibi wan, pertanyaan dari locianpwe ini sungguh membuat boan-pwe tidak habis mengerti!" Merah padam selembar wajah Ban peng coan. dia tahu kalau dirinya khilaf, dengan nada minta maaf katanya kemudian: "Oh betul, aku memang sudah tua dan ingatanku tidak tajam lagi. andaikata kau tidak mengingatkan kembali, hampir saja aku lupa dengan Ong lihiap." Setelah berhenti sejenak, seakan akan se-ngaja mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, dia bertanya lebih jauh dengan nada tidak mengerti. "Apakah kedatangan hiantit kemari hanya untuk berpesiar saja?" Sejak semula Lau See giok sudah merasa kalau hubungan bibi Wan dengan ayahnya tidak biasa. apabila setelah mendengar per-kataan dari Ban Peng cuan, kecurigaannya semakin berlipat ganda. Namun bila teringat kembali tujuan ke-datangannya ke bukit Hoa san kali ini, ter-paksa kecurigaannya terhadap bibi Wabn ha-rus ditundja sampai lain wgaktu. Sahutnyab kemudian dengan hormat:

262

"Boanpwe ingin buru-buru menjumpai To seng cu, karena itu khusus aku berangkat dari kota Tek an kemari, tapi tak kuketahui di manakah letak puncak Giok-li--hong, karena itu . . . " Belum habis ia bercerita, pemuda berbaju abu-abu itu sudah tertawa geli. Lan See giok menjadi tertegun, tanpa terasa dia memandang ke arah pemuda ber-baju abu-abu itu dengan termangu. Ban Peng cuan sendiripun tak dapat me-nahan rasa gelinya, sambil tersenyum ia segera berkata. "Agaknya baru pertama kali ini kau datang kemari, disinilah letak puncak Giok-li- hong!" Sambil berkata, dia lantas menuding ke arah sebuah puncak bukit yang berada pulu-han kaki jauhnya. Sementara itu matahari senja telah ter-benam, maghrib pun menjelang tiba, kegela-pan mulai menyelimuti seluruh bukit Hoa san, ketika Lan See giok mengangkat kepala nya, didapati puncak Giok li hong memang jauh berbeda dengan bukit-bukit lainnya. Terdengar Ban Peng cuan bertanya lagi dengan ragu. "Apakah kau sudah mengetahui tempat kediaman dari To seng-cu locianpwe?" Lan See giok segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Boanpwe tidak tahu, tapi konon berada di bawah puncak Giok li hong-.." "Keponakanku" ujar Ban Peng cuan dengan bersungguh sungguh, "bukan aku sengaja hendak menghilangkan kegembiraanmu. kami guru dan murid bertiga sudah banyak tahun berdiam di puncak ini, tapi belum per-nah bertemu dengan "To seng cu" locianpwe barang satu kalipun, cerita tentang berdiam-nya dia orang tua di bawah puncak Giok li hong sudah mulai beredar semenjak sepuluh tahun berselang" Mendengar perkataan tersebut, Lan See giok segera merasakan kepalanya seperti diguyur dengan sebaskom air dingin, tapi ia percaya kakek berjubah kuning yang ramah itu tidak bakal membohonginya. "Setelah boanpwe datang kemari, boanpwe tetap akan mencarinya, kalau toh akhirnya tidak kutemukan tentu saja aku akan pulang ke rumah" ucapnya pelan. Ban Peng coan berpikir sebentabr, kemudian menjgangguk. "Baikglah kalau begitbu, memang tak ada salahnya untuk dicoba, namun kuharap kau jangan membawa pengharapan yang kelewat besar." "Terima kasih atas petunjuk locian-pwe, boanpwe ingin mohon diri lebih dulu" Setelah memberi hormat, pemuda itu mem-balikkan badan dan melompat turun dari puncak itu.

263

Suasana di bawah puncak gelap gulita, pemandangan yang berada tujuh delapan kaki dihadapannya sukar untuk dilihat Seca-ra jelas. Tempat dimana Lan See- giok berhenti sekarang tak lain adalah lembah yang meng-hubungkan puncak Tiau yang-hong dengan puncak Giok- lihong...Udara dalam lembah tersebut ternyata hangat lagi nyaman, aneka bunga tumbuh dengan suburnya, pohon siong tumbuh me-rata, air mengalir sangat tenang, pemanda-ngan alam di situ sungguh mempesonakan- Dengan penuh perhatian Lan See giok mengawasi sekejap keadaan di sekitar sana, di situ tidak nampak bangunan rumah, tidak pula gua atau tempat lain yang bisa di-pakai sebagai tempat berteduh, sudah barang tentu To seng cu tak mungkin ber-diam di sana. Maka dengan mengerahkan ilmu meri-ngankan tubuhnya, dia berjalan lebih ke de-pan. Lambat laun pepohonan siong tumbuh se-makin rapat, tumbuhan bambu menghutan, makin ke dalam suasananya semakin ber-tambah gelap. Akhirnya pemuda itu merasa percuma untuk berlarian secara membuta tanpa arah tujuan tertentu, karena dengan cara demikian tak mungkin dia bisa menemukan tempat kediaman To seng cu, tanpa terasa ia lantas teringat kembali dengan pesan dari kakek berjubah kuning itu, dia bertekad hendak mencobanya. Berpikir demikian. pemuda itu segera melompat naik ke atas sebuah batu cadas, kemudian setelah menghimpun tenaga dalamnya, dia berseru dengan lantang: "Boanpwe Lan See giok datang dari tempat jauh untuk menyambangi To seng-cu locian-pwe, bila diperkenankan mohon diberi pe-tunjuk untuk menemui beliau!" Selesai berteriak, dia lantas memusatkan semua perhatiannya untuk mengawasi dan mendengarkan suasana di sekelilingnya. biarpun dihati kecilnya dia tidak mempunyai harapan yang terlalu bersar. Mendadak-z----Dari balwik kegelapan lerbih kurang seratus kaki dihadapannya sana muncul setitik ca-haya lentera, ternyata cahaya itu berasal dari sebuah lentera merah yang bergoyang goyang karena terhembus angin gunung. Lan See giok amat terperanjat setelah meli-hat cahaya lentera itu, hatinya terkejut ber-campur gembira. pikirnya kemudian: "jangan-jangan To seng cu memang benar-benar berdiam dalam lembah ini?" BAB 13

264

LAN SEE GIOK mengawasi lentera merah yang muncul di balik kegelapan sana dengan perasaan kejut bercampur girang di samping perasaan tak habis me-ngerti, dia tak tahu mengapa kejadian bisa berlangsung begitu kebetulan, baru saja dia berteriak, cahaya lentera lantas muncul kan diri? Tanpa terasa, ia teringat kembali akan perkataan dari Ban Peng coan, sudah banyak tahun mereka berdiam di situ namun belum pernah berjumpa dengan To seng cu, mung-kinkah kemunculan lentera merah tersebut hanya suatu kejadian secara kebetulan saja? Menyusul kemudian dia berpikir lebih jauh: "Jangan-jangan di situ terdapat rumah pemburu" Atau mungkin si penebang kayu yang sesat jalan?" Akhirnya dia memutuskan untuk meme-riksa sendiri, andaikata di situ menang ber-diam penduduk, dia berniat untuk menyeli-diki tempat tinggal To seng cu dari mereka. Berpikir demikian, diapun berangkat me-nuju ke arah lentera merah yang muncul pada seratus kaki di hadapannya itu. la telah berlarian amat cepat, paling tidak seratus kaki sudah dilalui, akan tetapi lente-ra merah tersebut masih kelihatan berada di tempat yang begitu jauh. Dengan cepat dia melompat naik ke atas sebuah pohon besar, betul juga, ternyata lentera merah yang berada di depan sana tampaknya sedang berlarian ke depan. Tergerak hatinya setelah menjumpai hal itu, kembali dia berpikir di hati, "Yaa, jangan-jangan lentera merah itu memang bermaksud membawanya un-tuk menjumpai To seng cu?" karena berpendapat demikian, dia me-mu-tuskan untuk membuktikan sendiri, agar ti-dak sampai terjerumus ke dalam perangkap lawan.. Dengan menghimpun tenaga dalamnya dia berseru lantang: "Wahai lentera merah yang berada di depan apakah, kau sedang memberi petunjuk jalan kepadaku untuk berjumpa dengan To seng cu locianpwe? Kalau memang demikian. harap gerakkan lentera merahmu ke kiri dan ke kanan ...... Baru selesai dia berseru, lentera merah tersebut benar-benar bergerak ke kiri dan ke kanan. Melihat hal ini Lan See giok malah men-jadi sangsi, entah mengapa, dalam saat itu-lah dalam hati kecilnya timbul suatu firasat yang tidak menguntungkan. Di samping itu diapun terbayang kembali wajah bibi Wan serta enci Cian nya yang sedih dan murung ketika berpisah tempo hari.

265

Dalam pada itu, lentera merah yang berada ditengah kegelapan itu masih digoyangkan tiada hentinya, seakan akan sedang mende-saknya agar melanjutkan perjalanan. Lan See giok segera teringat kembali akan tujuan kedatangannya, harapan dari enci Cian serta bibi Wannya, kemudian dendam berdarah dari ayahnya " . . akhirnya dia menggigit bibir dan membulatkan tekadnya untuk mengejar lebih jauh. Lentera merah yang berada di depan itu memang aneh sekali, seakan akan dia memiliki beribu ribu mata, begitu Lan See giok maju, diapun turut maju, ketika Lan See giok berhenti, diapun turut berhenti biarpun Lan See giok sudah mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, namun dia belum berhasil juga menyusul lentera merah terse-but. Begitulah dengan berlarian mengejar lente-ra merah itu, tanpa terasa dia telah melewati puncak Giok li hong dan tiba di sebuah lem-bah lain. Perasaan mendongkol dan curigab berkeca-muk dij dalam benak Lagn See giok, di btak tahu permainan setan apakah yang sedang diperbuat lentera merah tersebut. Lambat laun dia mulai menangkap suara yang amat keras diantara pepohonan siong yang bergoyang terhembus angin, di samping itu memandang alam dalam lembah itu sa-ngat indah, jauh berbeda dengan keadaan ditempati lain. Lan See giok tidak berniat untuk memper-hatikan kesemuanya itu, dia masih melan-jutkan pengejarannya terhadap lentera merah tersebut". . Mendadak-----Dari balik kegelapan puluhan kaki dihada-pannya, muncul kembali sebuah lentera merah lain yang menyongsong kedatangan lentera merah yang pertama. Tapi lentera kedua yang menyongsong tadi lebih sampai dua kaki itu tahutahu saja padam dengan begitu saja. Lan See giok merasa sungguh tak habis mengerti dia mengalihkan kembali panda-ngan matanya, ternyata lentera merah yang pertama masih tetap tak berkutik di tempat semula. Dia tahu, bisa jadi di tempat inilah meru-pakan tempat kediaman dari To seng cu, karenanya tanpa ragu-ragu lagi dia menyusul kearah mana lentera merah tersebut berada. Dalam perjalanan majunya, lambat laun dia dapat melihat sebuah tebing yang tinggi-nya ratusan kaki menghadang jalan perginya, sedang lentera merah itu agaknya berada di tangan seorang manusia yang tinggi besar. Setelah dekat dengan tempat itu baru dia ketahui bayangan tinggi besar itu bukan orang melainkan sebatang pohon yang telah mengering, lentera

266

tersebut tergantung di atas pohon tadi dan bergoyang tiada hentinya ketika terhembus angin. Lan See giok merasa sangat keheranan, pikirnya: "Kalau toh dia adalah penunjuk jalan, mengapa tidak ditunjukkan sampai ke pintu depan?" Tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya, mungkin saja To sengcu berdiam di dalam hutan itu. Ia mendongakkan kepalanya, hutan pohon yang mulai mengering itu, dalamnya menca-pai dua tiga puluh kaki sebelum tiba di de-pan dinding tebing tersebut, di dalam hutan tidak dijumpai rumah gubuk ataupun rumah batub, ia bertekad ajkan menuju ke dginding tebing tbersebut untuk melakukan pemerik-saan. Berhubung timbulnya firasat yang kurang enak tadi, di dalam langkah majunya kali ini, ia bertindak dengan berhati-hati sekali. Setelah ke luar dari hutan dan mencapai jarak berapa kaki dari tebing, tibatiba saja ia merasakan pandangan matanya menjadi te-rang... Pada sisi kanan tebing curam itu dijumpa sebuah gua, sebatang pohon siong persis tumbuh didepannya sehingga menutup mu-lut gua tadi, jika tidak diperhatikan dengan seksama, mulut gua tersebut memang sukar ditemukan. Dengan perasaan gembira ia segera menu-bruk ke depan gua, itu dengan cepat dia sak-sikan mulut gua penuh ditumbuhi lumut hi-jau serta sarang laba-laba, suasana gua itu gelap gulita, seolah-olah tidak ada yang menetap di situ. Lan See giok segera berkerut kening, dia percaya tokoh nomor satu seperti To seng cu tak mungkin akan mendiami gua yang begitu suram dan kotor seperti itu. Baru saja dia akan beranjak pergi" men-dadak di atas dinding gua yang sudah dipe-nuhi lumut hijau itu ia saksikan ada gura-tan-guratan aneh yang sangat mirip dengan tulisan. Sekali lagi tergerak hatinya, cepat-cepat dia menghampiri dinding tebing dan memeriksa dengan seksama, betul juga, garis-garis itu merupakan serangkaian kata yang diukir dengan pisau, tapi berhubung lumut nya amat tebal, sulit untuk membaca kata-kata tersebut. Terdorong oleh perasaan ingin tahunya lalu dia mengambil sekeping batu, kemudian menghapus lumut hijau yang menempel diatasnya, dalam waktu singkat dia dapat membaca gaya tulisan yang indah, jelas tuli-san seorang wanita. Lan See giok mundur dua langkah, kemu-dian membaca huruf-huruf tersebut dengan pelan.

267

"Musim gugur pergi musim dingin lewat, musim semipun tiba. Rindu dan kangen menyerang setiap malam.. Air mata bercucuran bagaikan mutiara. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. . Wajah telah basah entah oleh air mata atau embun. Thian tidak menrgasihi aku. . zSepasang merpatwi harus terbangr berpisah. Kemesraan di masa lalu. Kini tinggal kepedihan dan air mata. 0h Thian... Oh Thian, betapa buruknya na-sibku." Membaca sampai di sini, Lan See giok se-makin bimbang, dipandangnya sekejap mulut gua yang gelap gulita itu, dia percaya dalam gua tersebut tentu berdiam seorang perem-puan yang menderita karena cinta, atau mungkin juga tersebut merupakan kuburan dari perempuan yang bernasib buruk itu. Sebenarnya anak muda ini sudah tak ber-niat untuk memasuki gua, tapi sekarang tanpa disadari dia telah melakukan masuk ke dalam gua tersebut. " Gua itu dalam sekali, keadaannya gelap gulita sehingga sukar melihat kelima jari ta-ngan sendiri, biarpun dia telah mengerahkan tenaga dalamnya ke mata, apa yang bisa dili-hatpun hanya mencapai sejauh lima depa. Pelan-pelan dia maju ke depan, segera ditemukan gua itu miring ke sebelah kanan, ketika berpaling, ia sudah tidak melihat mu-lut gua tersebut lagi. Suasana dalam gua amat hening dan sepi, kecuali langkah kakinya, tak kedengaran Lagi suara yang lain. Mendadak lima depa di depan sana, telah merupakan ujung jalan, setelah pemuda itu maju lagi dua tiga langkah, baru diketahui di depan sana terbentang sebuah pintu batu yang sangat berat. Dia mencoba untuk meraba, pintu batu itu sangat licin seperti cermin, ketika di-dorong dengan sekuat tenaga, pintu tersebut segera terbuka dengan sendiri, cahaya terang yang menusuk mata segera mencorong ke luar dari balik pintu. Dengan perasaan terkejut Lan See giok mundur dua langkah, ternyata dibalik pintu itu yang terbentang sebuah undak undakan batu yang sangat lebar dan menjurus ke atas. Untuk sesaat dia berdiri ragu di depan pintu, tak diketahui harus melanjutkan per-jalanan atau mundur dengan begitu saja, tapi dorongan

268

rasa ingin tahu yang kuat mengki-lik hatinya, membuat pemuda tersebut se-makin bertekad untuk menyelidiki apa gerangan yang terdapat dalam ruangan tersebut. Akhirnya dia putuskan untuk masuk ke dalam dan menyelidiki sendiri sebab ia merasa nasib perempuan itu kelewat menge-naskan, bila dia masih berada di dalam mungkin dia akan mengetahui tempat tinggal dari To seng cu. Berpikir demikian diapun berjalan masuk ke dalam ruangan, ternyata cahaya tajam tadi berasal dari sebutir mutiara yang di pasang di atas pintu masuk. Undak undakan batu itu menjurus naik ke atas, setiap tikungan selalu diberi sebutir mutiara kecil sebagai penerangan, sehingga keadaan di dalam gua bisa terlihat secara lamat-lamat. Itulah sebabnya dia dapat meneruskan -perjalanannya dengan cepat, dalam waktu singkat puluhan kaki telah dilewati. Setelah membelok pada sebuah tikungan, sepasang matanya kembali terasa silau, ca-haya terang memancar ke empat penjuru dari depan sana, pada ujung undak undakan batu kembali muncul sebuah pintu batu raksasa yang tingginya satu kaki dan lebarnya dela-pan depa, pintu tersebut tertutup rapat-ra-pat. Tujuh butir batu mulia yang sangat indah berserakan di atas pintu, sinarnya tajam dan sangat menyilaukan mata. Ketika diamati lebih seksama di atas pintu tersebut tergantung pula sebuah lian dengan huruf-huruf yang amat besar. Pada kanan pintu tertuliskan kata-kata. "Hati di langit barat, tubuh di alam se-mesta, melatih ilmu membenahi watak menanti datangnya saat gembira," Sedangkan di sebelah kiri pintu bertulis-kan. "Seratus tahun menghadap dindibng lepas tulangj jadi dewa, takg akan tergo-da boleh gadis dan cinta!" Lan See giok menjadi melongo setelah sele-sai membaca tulisan itu, walaupun ia tak bisa memahami arti sari tulisan tersebut se-cara tepat, tapi ia percaya nada tulisan dari sepasang Lian tersebut tidak cocok satu, sama lainnya: Kalau berbicara dari tulisan yang terukir dimuka gua, gua tersebut seharusnya didiami oleh seorang perempuan yang hidup sengsara karena cinta, tapi bila dilihat dari arti sepasang lian tersebut agak nya penghu-ni gua tersebut adalah seorang pertapa. Bila ada orang bertapa di dalam gua ini waktunya pasti cukup lama, bisa jadi orang ini adalah To seng cu sendiri maka pemuda ini bertekad untuk

269

masuk lebih ke dalam, kepada pintu batu tersebut diapun menjura, kemudian berkata dengan lantang: "Boanpwe Lan See giok tertarik oleh syair di luar gua sehingga masuk kemari dengan ceroboh, kini boanpwe merasa tidak habis mengerti, mohon locianpwe sudi memberi petunjuk" Ucapan mana diutarakan dengan suara nyaring sehingga nada suaranya menggema di seluruh ruangan gua. Lan See giok berdiri menanti di luar gua dengan tenang, tapi lama sekali belum juga kedengaran suara jawaban, lantas mengambil kesimpulan gua itu kosong tak berpenghuni. Maka dia maju ke depan dan menempelkan telapak tangannya di atas pintu, ketika dido-rong dengan sepenuh tenaga, terdengarlah suara gemerutuk yang amat berat--Pintu batu yang sangat besar itu pelan-pe-lan terbuka sebuah celah lebar, segulung bau harum yang semerbak pun segera berhembus ke luar dari balik pintu, Lan See giok melo-ngok ke dalam, ternyata dibalik pintu terbentang sebuah ruangan gua yang meman-jang, dalamnya mencapai lima kaki, di sisi kiri dan kanan masing-masing terdapat se-buah ruangan. kedua ruangan itu tanpa pintu semua, se-dang di ujung gua terdapat pula sebutir batu manikam yang besar berwarna kuning, caha-ya yang terpancar ke luar sangat lembut. Lan See giok menyelinap masuk ke balik pintu, ia merasakan kakinya menginjak tem-pat yang lembut, ketika diperiksa, ternyata lantai gua dilapisi oleh permadani kuning te-bal. Sewaktu masuk ke dalam kedua ruangan ia jumpai di situ terdapat masingmasing se-buah kasur untuk duduk, namun tak nam-pakb seorang manusija pun. Di bawagh mutiara kuninbg di ujung gua ter-dapat sebuah meja pendek yang panjang diatasnya dilapisi kain kuning sampai ter-ku-lai ke atas lantai. Di muka meja pendek terletak pula se-buah kasur duduk yang besar dan tebal, selain itu, dalam gua tersebut tidak di jumpai benda apapun. Menyaksikan kesemuanya ini, Lan See giok tahu bahwa dalam goa ini paling tidak terda-pat tiga orang yang bertapa di situ, tapi sekarang sudah tak ada lagi, mungkin sudah menjadi dewa semua. Sewaktu sorot matanya terbentur dengan benda di atas kain kuning di meja rendah itu tergerak hati Lan See giok, dengan langkah cepat dia menghampirinya. Apa yang kemudian terlihat segera mem-buat paras mukanya berubah hebat, saking kagetnya dia sampai mundur dua langkah sembari berseru kaget.

270

Ternyata di atas kain kuning pada meja rendah itu tertera sembilan huruf besar yang terbuat dari emas, tulisan itu berbunyi demikian. "TAY-LO PWE CIN-KENG." Lan See giok berdiri termangu mangu, sekarang dia baru tahu kalau gua tersebut adalah tempat To seng cu bertapa. Mendadak terdengar suara tertawa cekiki-kan berkumandang dari belakang tubuhnya. Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera membalikkan badan, ia saksikan dari sisi pintu ruangan sebelah kiri, lebih kurang tiga kaki dihadapannya seperti ada bayangan hitam berkelebat lewat, tanpa sangsi dia segera menubruk ke sana. Ketika tiba diantara kedua belah pintu, ia celingukan sekejap ke kiri kanan, dalam ru-angan masih terletak dua buah kasur duduk yang kosong, namun tak nampak se-sosok bayangan manusiapun. Diam-diam Lan See giok terkesiap, tapi ia segera berpikir, kemungkinan besar orang itu bersembunyi di sisi kiri atau kanan pintu. maka diapun siap beranjak ..... Pada saat itulah, tiba-tiba dari depan ger-bang melayang masuk se sosok bayangan kuning. Mula-mula Lan See giok agak terperanjat ketika melihat kemunculan orang itu, me-nyusul kemudian denganr perasaan terkezjut bercampur gwirang, seolah-orlah bertemu kem-bali dengan sanak keluarga sendiri, teriaknya keras-keras. "Locianpwe- - " Sambil berseru dia segera menubruk ke muka. Ternyata orang yang melayang masuk ke dalam gua saat ini bukan lain adalah kakek berjubah kuning yang berwajah ramah itu. Kakek berjubah kuning itu masuk sambil membawa banyak sekali buah anggur yang segar, ketika melihat pemuda itu menubruk tiba dia segera mengangkat ke dua belah ta-ngannya dan tertawa terbahak bahak, sikapnya nampak gembira sekali. Lan See giok memeluk kakek berjubah kuning itu erat-erat, saking gembiranya air mata sampai jatuh bercucuran, tiada henti-nya dia memanggil: "Locianpwe . . locianpwe . . . " Tiba-tiba kakek berjubah kuning itu menghentikan gelak tertawanya, kemudian dengan penuh kasih sayang dia berkata. Kalian berdua sudah berani bermain setan, melanggar perintah guru, ayo cepat kau teri-ma buah buahan ini!"

271

Lan See giok yang mendengar perkataan itu menjadi, kebingungan setengah mati, ketika berpaling tampak olehnya si nona ber-baju merah Si Cay soat dengan wajah ter-sipu-sipu dan senyum dikulum sedang melompat mendekat. Siau thi gou yang berkulit hitam sedang melototkan sepasang biji matanya yang be-sar. "Suhu, Thi gou tak berani, semuanya ini merupakan ide enci Soat seorang, dia bilang kita takut takuti Lan See giok agar bisa membalaskan rasa mendongkol Gou ji!" Sembari berkata, dia tetap berdiri tak ber-gerak di depan pintu ruangan. "Hmmm!" kakek berjubah kuning itu mendengus marah, "siapa suruh kau berdiam diri saja? Ayo cepat memasang lentera." Setelah menyerahkan buah buahan itu kepada Si Cay soat yang berdiri dengan wajah gembira tapi agak tersipu sipu itu, dia mem-belai rambut Lan See giok sambil ujarnya dengan ramah. "Nak, ternyata kau benar-benar datang, ayo jalan mari kita berbicara di dalam." Ditariknya tangan pemuda itu dan diajak menuju ke bantal duduk di depan meja ren-dah. Sekarang Lan See giok baru mengerti, rupa kakek berjubah kuning ini adalah To seng cu, anehnya perasaan benci yang semula mencekam perasaannya kini sudah lenyap tak berbekas, entah mengapa ia sudah tak percaya sekarang kalau To seng cu adalah orang yang mencelakai ayahnya. Dalam perjalanan itu, Lan See giok dapat melihat pula kalau di antara alis mata sebe-lah kiri kakek berjubah kuning itu benar-benar terdapat sebuah tahi lalat merah, tahi lalat tersebut hampir tertutup oleh alis mata yang tebal, hal ini semakin membuktikan kalau kakek berjubah kuning ini memang To--seng-cu. Tiba di depan meja rendah, To seng cu segera menunjuk ke sisi kasur duduk itu sambil berkata dengan gembira. "Duduklah anak giok!" Sembari berkata ia sendiri duduk bersila pula di atas kasur duduk tersebut. Lan See giok mengiakan dengan hormat dan segera duduk bersila di sebelah kanan To seng cu, ia merasa kasur duduk itu empuk sekali sehingga sangat nyaman untuk ditempati. SI CAY SOAT telah meletakkan pula buah buahan segar itu di depan kasur duduk ke-mudian ia sendiri duduk di sebelah kiri To seng-cu, dengan wajah

272

bersemu merah dan mata yang jeli tiada hentinya dia mengawasi Lan See giok. Siau thi gou berjalan ke depan kasur tanpa berbicara, kemudian sambil mengambil sepuluh biji anggur besar yang disodorkan ke hadapan Lan See giok, katanya dengar ber-sungguh hati: "Kau sudah menempuh perjalanan selama seharian suntuk, sekarang tentu merasa amat dahaga, cepatlah makan anggur ini, tapi ingat, setiap kali makan buah anggur seperti ini, kau hanya boleh makan sepuluh biji." Berjumpa dengan Siau thi gou, Lan See giok segera teringat pula dengan peristiwa di dusun nelayan tempo hari, dimana ia btelah menotok jjalan darahnya, gtanpa terasa tibmbul perasaan menyesal di dalam hatinya. Ketika ia saksikan Siau thi gou sama sekali tidak mendendam kepadanya, malah menghadiahkan buah anggur, segera ujarnya sambil menjura. "Terima kasih banyak, adik Thi gou!" Siau thi gou tertawa lebar, dia segera duduk pula di samping Si Cay soat. Sementara itu To seng cu telah berkerut kening, kemudian sambil memandang ke arah Siau Thi gou dengan wajah tak mengerti, ia bertanya cepat: "Thi gou, siapa yang bilang kalau setiap kali makan hanya boleh makan sepuluh biji buah anggur?" Mendengar pertanyaan itu, paras muka Si Cay soat segera berubah menjadi merah padam. Siau thi gou segera menuding ke arah Si Cay soat, dengan melototkan sepasang mata nya dia menjawab: "Enci soat yang berkata demikian, ia bilang kalau makan sebelas biji perutnya akan sa-kit, bila makan dua belas biji akan mencret-mencret, bila makan tiga betas biji maka se-lama hidup akan selalu kontet (cebol)!". Belum habis perkataan itu diutarakan, To seng cu sudah tak dapat menahan rasa ge-linya lagi, dia tertawa terbahak bahak. Agaknya Lan See giok juga dapat mende-ngar kalau ucapan semacam itu hanya ulah Si Cay soat untuk mempermainkan Siau thi gou, tanpa terasa diapun jadi ter-ingat kem-bali bagaimana dia sendiripun di permainkan ketika baru datang ke sana. Dengan wajah merah padam Si Cay soat tertawa terkekeh kekeh, dengan cepat ia menjelaskan: "Adik Gou paling suka makan buah ang-gur, setiap kali makan dia bisa menghabis-kan empat lima biji tanpa dikunyah lagi, kalau ditanya bagaimana rasanya, diapun tidak tahu. Belum habis perkataan itu diselesaikan. To seng cu telah menghentikan tertawanya dan berkata dengan suara dalam tapi ramah.

273

"Hei si binal, kau kan enci masa senang mempermainkan adik? Sekarang anak giok telah datang. dia adalah kakakmu, akan kulihbat apakah dia ajkan menganiaya gkau si adik atabu tidak." Siau thi gou mencibirkan bibir tanpa berbi-cara, sedangkan Si Cay-soat melirik sekejap ke arah Lan See giok kemudian menunduk-kan kepalanya rendah-rendah. Paras muka Lan See giok juga berubah menjadi merah padam, sekarang dia baru tahu rupanya dia menjadi kakak bukan se-bagai adik seperti apa yang diduganya se-mula. Ketika dilihatnya hubungan To-seng cu dengan murid muridnya tidak disertai dengan peraturan yang ketat, bahkan kasih sayangnya bagaikan seorang ayah terhadap putra putrinya, kesemuanya ini membuat rasa hormatnya terhadap To seng cu makin bertambah. Terbayang kembali maksud tujuannya datang ke situ, diapun mengeluarkan kotak kecil bungkus kuning itu dari sakunya dan dipersembahkan ke hadapan To seng cu sambil ujarnya dengan hormat: "Anak giok telah menuruti perintah dengan membawa cinkeng tersebut datang ke mari." Memandang kotak kecil itu, terlintas perasaan sedih di atas wajah To seng cu, diterimanya kotak itu serta diperhatikan se-kejap kemudian ia berkata: "Kitab pusaka ini sudah menemani aku setengah hidupku, sepuluh tahun berselang, kotak ini tercuri di luar dugaan, sungguh tak disangka hari ini bisa bertemu kembali." Sembari berkata dia lantas meletakkan kotak kecil itu di depan kasur duduknya. Mendengar kata "dicuri," paras muka Lan See giok segera berubah menjadi merah padam karena malu, saking tak tahannya dia sampai menundukkan kepalanya rendah-rendah. Melihat hal tersebut, To seng cu segera tahu kalau pemuda itu telah salah paham, sambil tertawa ramah dia lantas menjelas-kan: "Segala sesuatu yang ada di dunia ini su-dah di atur oleh takdir, yang tak ada masalah yang dapat dipaksakan, waktu itu Oh Tin san dan komplotannya berhasil mencuri cinkeng tersebut, dari tempatku tapi kemudian karena ketahuan olehnya sehingga melarikan diri, di dalam gugupnya kotak tersebut telah terjatuh ditengah jalan tanpa mereka sadari . .. " Mendengar penjelasan tersebut. Lan See -giok segera mengangkat kepalanya sambil bertanya: "Locianpwe, bagraimana ceritanyza sampai ayahkuw berhasil mendarpatkan kotak kecil ini?"

274

"Menurut apa yang kuketahui, dia me-ne-mukan benda itu dalam keadaan yang sangat kebetulan, duduk persoalan yang sebenarnya bibi Wan mu yang mengetahui paling jelas" Lan See giok segera merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa ia bertanya de-ngan gelisah. "Kalau toh bibi Wan tahu, mengapa dia ti-dak menerangkannya kepada anak giok?" To seng cu segera tertawa riang. "Seperti apa yang diucapkan bibimu, kalian masih kanak-kanak dan tak perlu mengeta-hui semua kejadian itu" "Jadi locianpwe telah berkunjung ke rumah kediaman bibi Wan pada malam itu?" seru Lan See giok terkejut. To seng cu manggut-manggut. "Oleh karena kulihat kau sudah berangkat maka aku tidak jadi masuk. Sekarang Lan See giok baru mengerti, diapun segera teringat apa yang menyebab-kan jalan darah tidur Oh Li cu tertotok, menyusul kemudian hatinya tergerak, de-ngan nada menyelidik dia segera bertanya: "Apakah locianpwe juga yang tertawa di-ngin di kuburan Ong leng serta memancing kepergian si Tongkat baja kaki tunggal serta Beruang tunggal?" To seng cu memandang anak muda itu sambil tersenyum, dia hanya manggut saja tanpa menjawab. Menyusul kemudian Lan See giok teringat kembali dua kali jeritan kaget yang mengeri-kan itu, dengan nada tak mengerti kembali dia bertanya: Apakah dalam gusarnya locianpwe telah menghabisi nyawa kedua orang itu?" To seng cu segera tertawa terbahak bahak: "Sudah puluhan tahun lamanya aku tak pernah melakukan pembunuhan, masa kedua orang itu kubunuh? Waktu itu aku hanya menotok jalan darah kaku mereka se-cara diam-diam, mungkin karena kaget mereka baru berteriak keras!" "Locianpwe, kalau toh kau selalu mengikuti di sisi anak giok, mengapa tidak munculkan diri untuk menempuh perjalanan bersama-sama ku?" Sekali lagi To seng cu tertawa terbahak ba-hak. "Anak giok, bukan aku sengaja bermain setan denganmu. berhubung ayahmu mati terbunuh orang, dihati kecilmu pasti mena-ruh banyak prasangka serta kecurigaan, bila tidak berbuat begini kau belum tentu akan menyusul ke mari." Kemudian setelah memandang sekejap ke arah Si Cay soat serta Siau thi gou yang mendengarkan dengan seksama, dia melan-jutkan:

275

"Aku pernah berpesan kepada Soat ji dan Thi gou berdua agar menyambut kedata-nganmu di mulut lembah, selain itu memberi penjelasan, kepadamu apa yang sesung-guhnya terjadi, sungguh tak disangka mereka berdua begitu binal." Mendengar perkataan itu Si Cay soat segera tertawa geli, mukanya nampak sangat binal, sebaliknya Siau thi gou hanya duduk tenang tanpa mengucapkan sepatah katapun, seolah-olah persoalan ini sama sekali tiada hubungan dengan dirinya. Lan See giok segera terbayang kembali perjumpaan mereka yang pertama kali di dusun nelayan, sejak waktu itu dia sudah merasa kalau Si Cay soat adalah seorang nona cilik yang sukar dilayani, selanjutnya dia berjanji akan bertindak lebih berhati -hati. Sewaktu To seng cu melihat sepasang mata Siau thi gou berputar tiada hentinya di atas buah anggur tersebut, sambit tertawa, kem-bali ujarnya kepada Lan See giok. "Anak giok, ayo cicipi buah buahan ter-se-but!" Sambil berkata dia mengambil seuntai buah anggur dan diberikan kepada Lan See giok kemudian mengambil seuntai lagi untuk siau thi gou. Setelah menerima buah anggur itu Lan See giok teringat kembali akan peristiwa lima ca-cad dari tiga telaga yang datang mencuri ki-tab, dengan nada tidak mengerti kembali dia bertanya: "Locianpwe. dengan cara apa Oh Tin san sekalian berhasil mencuri kitab pusaka tersebut pada sepuluh tahun berselang?" To seng cu tertawa dan manggut-manggut: "Persoalan ini panjang sekali untuk di ceritakan, apalagi malam sudah semakin la-rut, biar kita bicarakan di kemudian hari saja. Melihat To seng cu enggan berbicara, su-dah barang tentu Lan See giok sungkan un-tuk bertanya lebih jauh, untung saja masa mendatang masih panjang, dia masih mem-punyai banyak kesempatan untuk membica-rakan persoalan itu lagi. Begitulah, ke empat orang itupun sambil makan buah anggur membicarakan serba serbi dunia persilatan, suasana dilalui de-ngan penuh riang gembira. Akhirnya To seng cu berkata: "Anak giok sudah menempuh perjalanan cukup jauh, malam ini beristirahatlah de-ngan cepat, anak giok kau boleh tidur bersa-ma Siau thi gou" Mendengar perkataan itu, ke tiga orang muda mudi itu segera minta diri kepada To seng cu dan berjalan menuju ke depan pintu ruangan batu itu.

276

Lan See giok mengikuti Siau thi gou menuju ke pintu ruangan sebelah kiri, se-dang kan Si Cay soat seorang diri menuju ke pintu ruangan sebelah kanan, baru saja Lan See giok ingin mengucapkan sesuatu kepada gadis itu, tahu-tahu bayangan merah berkelebat lewat, Si Cay soat sudah lenyap dari pandangan. Sementara itu terdengar Siau thi gou telah berseru: "Engkoh giok, aku akan naik lebih dulu" Mendengar seruan tersebut Lan See giok segera berpaling, tampak bayangan hitam berkelebat lewat, tubuh Siau thi gou telah melayang ke atas langit-langit ruangan. Ketika dia mendongakkan kepalanya, ter-nyata di atas langit-langit ruangan itu ter-da-pat sebuah gua yang luasnya tiga depa dan tinggi dua kaki dari permukaan tanah diataspun terpancar sinar yang terang. Terdengar Siau thi gou berseru dari atas: "Engkoh Giok, cepat naik!" Lan See giok mengiakan dan segera melompat naik ke atas ruangan itu, ketika hampir mencapai ujung langit-langit, Siau thi gou mengulurkan tangannya dan menarik tangannya sehingga melayang tiga depa ke samping. Ternyata di situ terdapat sebuah ruangan berbentuk bulat, di langit-langit ruangan tertera tiga butir mutiara, sekeliling dinding ruangan terdapat enam buah lubang sebesar kepalan yang berfungsi sebagai ventilasi udara, Pada permukaan lantainya dilapisi perma-dani yang sama tebalnya dengan permadani yang berada di bawah, di sisi kiri bertumpuk selimut tebal yang pada satu bagian merupa-kan lapisan kain sutera sedang pada lapisan yang lain adalah bulu kambing yang berwar-na putih, nampaknya sangat lembut dan halus. Sambil menjatuhkan diri berbaring di atas lantai, Siau thi gou segera berseru. "Engkoh giok, tidurlah!" Sambil berkata dia melemparkan selembar selimut kulit kepada Lan See giok. Melihat gerak gerik yang polos dan lincah dari Siau thi gou, Lan See giok merasa bocah itu memang rada mirip seperti kerbau kecil, karena itu setelah menerima selimut pembe-riannya dia bertanya sambil tertawa: "Adik Thi gou, mengapa sih namamu Thi gou atau kerbau baja? Mengapa tidak ber-nama Kim gou (kerbau emas) saja?" Siau thi gou melototkan matanya bulat- bulat dan menggelengkan kepalanya ber-ulang kali, jawabnya dengan wajah ber-sungguh sungguh: "Tidak boleh, tidak boleh." Kemudian sambil menunjuk pada jari ta-ngannya, dia melanjutkan:

277

"Kongcou ku bernama Kim liong (naga emas), engkongku bernama Gin hou (harimau perak), sedang ayah bernama Tong kou (kuda tembaga) maka aku bernama Thi gou (kerbau baja)" Lan See giok segera menjadi tertarik se-kali dengan susunan keluarga tersebut, cepat dia bertanya: "Adik Thi gou, seandainya kau punya anak di kemudian hari, akan kau namakan siapa anakmu itu?"! "Akan kunamakan Sikou (anjing platina)," Lan See giok yang mendengar jawaban tersebut menjadi tertegun, sepasang alis matanya segera berkerut, kemudian berkata: "Adik Thi gou, aku rasa urutan ini kurang sesuai, masa dari emas perak merosot terus menjadi tembaga, besi dan platina, dari naga dan harimau merosot menjadi kuda kerbau lantas anjing, bukankah dengan demikian satu generasi lebih jelek dari generasi beri-kutnya?" Baru selesai dia berkata, tiba-tiba dari balik sebuah lubang bulat di atas dinding terdengar suara seseorang sedang tertawa cekikikan: Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera berpaling, namun dari balik tutup lubang itu gelap tak bersinar sehingga sulit baginya untuk menentukan dari liang yang manakah suara tertawa tersebut, berasal. Melihat Lan See giok tertegun, Siau thi gou segera tertawa terbahak bahak sambil ber-kata:. "Kau jangan bingung, enci Soat yang se-dang tertawa dia seringkali membicara-kan soal kau dengan diriku---" Belum selesai dia berkata, dari balik liang tersebut, kembali terdengar Si Cay soat ber-seru: "Adik Thi gou, bila kau cerewet terus, hati-hati besok!" Mendengar teguran tersebut, Sian thi gou segera menjulurkan lidahnya yang kecil dan segera memejamkan matanya rapat-rapat. Lan See Giok sendiri hanya bisa meman-dang lubang-lubang angin di atas dinding tersebut dengan wajah tertegun, sebenarnya dia ingin bertanya kepada Siau thi gou, apa saja yang telah diperintahkan To seng cu locianpwe kepada Si Cay soat mengapa pula gadis itu tidak menuruti perintah gurunya malahan mempermainkan dia. tapi setelah mendengar ancaman dari gadis tersebut. diapun tak berani bertanya lebih jauh. Sementara dia masih termenung, tiba-tiba dari sisi tubuhnya bergema suara orang mendengkur, ketika berpaling. ternyata Siau thi gou sudah tertidur nyenyak. Dengan perasaan apa boleh buat Lan See -giok segera menggelengkan kepalanya beru-lang ulang kali, dengan cepat dia menarik selimut dan ditutupkan ke atas tubuh sendiri.

278

Walaupun sudah berbaring, namun se-pasang mata yang belum juga mau terpejam, termangu mangu ditatapnya ke tiga butir mutiara di atas langitlangit ruangan tanpa berkedip, sementara dalam benaknya dipe-nuhi berbagai kejadian yang dialaminya se-lama ini, termasuk kejadian-kejadian yang sama sekali tak pernah diduga sebelumnya... Kini, segala sesuatunya berjalan dengan lancar, ternyata dia telah mengalami banyak kejadian yang semula dianggap bahaya tahu-tahu berubah menjadi rejeki. Dari pikiran yang bergolak, pelan-pelan perasaannya berhasil ditenangkan kembali. ditambah pula Siau Thi gou yang berbaring di sisinya telah mendengkur sedari tadi, tanpa terasa diapun tertidur nyenyak. Perjalanan jauh selama berbulan bulan membuat pemuda ini tak pernah beristirahat dengan perasaan tenang, dia selalu kuatir kotak kecilnya dicuri orang. Kini setelah beban pikirannya hilang, diapun tertidur dengan nyenyak sekali. Ketika sadar kembali, Siau thi gou yang semula tidur di sisinya kini sudah tak nam-pak lagi batang hidungnya. Cepat-cepat dia melompat bangun, ditemu-kan pada dinding ruangan di sisinya bertam-bah dengan sebuah pintu batu yang lebarnya dua depa dan tingginya mencapai langit-langit ruangan. Lan See giok sungguh tak habis mengerti mengapa setelah mendusin diri tidurnya di sana telah bertambah lagi dengan sebuah pintu batu?" Setelah melompat bangun dan diperiksa ternyata dinding ruangan telah digeserkan orang, pada bagian tengah pintu batu itu ter-dapat pula sebuah lubang angin yang sama besarnya dengan lubang angin di sisi lain. Ke luar di pintu dia temukan sebuah un-dak undakan batu menuju ke atas yang en-tah menghubungkan ke tempat mana sedang pada bagian lain terdapat pula sebuah pintu yang lebarnya lebih kurang dua depa. Dengan perasaan tak habis mengerti dia segera menuju ke pintu yang lain serta melongok ke dalam.. Ternyata ruangan itu hanya berisikan per-madani merah, selimut bulu serta sebuah cermin tembaga putih, bau harum semerbak yang sangat aneh memancar ke luar dari sana. Tak terlukiskan rasa kaget Lan See giok dengan cepat dia mundur beberapa langkah sepasang matanya dengan cekatan menengok ke kiri dan kanan, sementara wajahnya segera memperlihatkan perasaan menyesal, jantungnya berdebar keras.

279

Selain itu diapun mengerti, ruangan ter-se-but sudah pasti merupakan kamar tidur Si Cay soat, bila sampai ketahuan gadis itub bahwa dia telajh memasuki kamagrnya, nisca-ya bmartabatnya akan dinilai sangat rendah. Sebenarnya dia hendak menelusuri undak undakan batu itu untuk melongok ke atas, tapi sekarang ia sudah tak berani sembara-ngan bergerak lagi. Baru saja dia akan berjalan balik, men-dadak ia mendengar suara teriakan Siau thi gou yang bergema datang secara lambat-lam-bat. "Enci Soat, cepat kemari, disini terdapat seekor kelinci liar yang amat besar" Mendengar teriakan itu, Lan See giok tahu Siau thi gou serta, Si Cay soat sedang berada di atas, maka ia segera menelusuri undak undakan batu itu dia berlari ke atas. Sesudah berbelok ke kiri menikung ke kanan dan bergerak naik terus ke atas, akhirnya sampailah pemuda itu di ujung un-dak -undakan tersebut. Pada ujung undak undakan itu, dia men-jumpai mulut ke luar berada di belakang se buah meja batu ruangan batu, di dalam ru-ang batu Itu tersedia pula meja bambu dan bangku kayu. namun semua perabot diatur dengan amat rapi. Lan See giok lari ke luar pintu, dia melihat cahaya matahari telah memancarkan cahaya keemas-emasannya ke empat penjuru, aneka bunga tumbuh subur dimana mana, peman-dangan alam sangat indah dan me-nawan hati. Rumah batu itu dikelilingi pepohonan siong yang mengitarinya pada jarak tujuh delapan kaki, segalanya kelihatan rapi dan teratur, sedikitpun tidak kelihatan acak-acakan. Ketika pandangan matanya dialihkan ke sekitar sana, tampak tiga buah puncak bukit menjulang ke angkasa, ternyata di mana ia berada sekarang tak lain adalah dinding te-bing yang terlihatnya se-malam, punggung puncak Giok li hong. Puncak Giok Ii hong tingginya mencapai ratusan kaki, di sisi kirinya terdapat sebuah air terjun, pemandangan indah sekali. Menyaksikan kesemuanya itu. tiba-tiba saja Lan See giok merasakan dadanya men-jadi terbuka dan nyaman sekali. Pada saat itulah, dari balik hutan ber-ku-mandang lagi suara teriakan dari Siau thi gou. "Enci Soat, disini terdapat seekor kijang kecil--." Belum habis Siau thi gou berteriak, terde-ngar suara Si Cay soat telah menukas: "Jangan kita usik dia, mari kibts menangkap ikjan saja di telagga Cui oh?

280

Menbdengar suara pembicaraan mereka. Lan See giok segera berlarian menuju ke hu-tan itu sambil berteriak. "Adik Thi gou, tunggu aku---" Sambil berseru di segera berlarian masuk menuju ke dalam hutan yang terbentang di hadapannya. Berpuluh puluh kaki dia telah menembusi hutan tersebut, tapi anehnya belum juga pe-muda tersebut berhasil ke luar dari lingku-ngan hutan tadi, kejadian tersebut dengan cepat menimbulkan perasaan-perasaan tak habis mengerti baginya. Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar Siau thi gou sedang memohon dari tempat yang tak jauh darinya. "Enci Soat, cepat beritahu kepada engkoh Giok, bila guru tahu, kau pasti akan dimaki sebagai si binal lagi!" Mendengar perkataan tersebut, Lan See giok segera menyadari kalau keadaan di situ kurang beres dengan cepat dia menghentikan gerakan tubuhnya. Tiba-tiba terdengar Si Cay soat men-dengus dingin, lalu berseru dengan nada tak senang hati: "Yang dia panggil kan adik Thi gou, Siapa sih yang memanggil aku" Sekali lagi Lan See giok berpekik di dalam hati: "Aduh celaka, yaa, mengapa aku lupa me-manggil Si Cay soat? Tidak heran kalau dia menjadi tak senang hati---" Berpikir demikian, dengan nada minta maaf dia segera berseru. "Adik Soat, Ih--heng segera datang!" Baru selesai dia berseru, tiba-tiba terde-ngar Siau thi gou sudah berteriak sambil tertawa: "Engkoh Giok, turuti perkataanku, belok tiga kali ke kiri, belok lima kali ke kanan melihat tujuh jalan serong, berjumpa delapan maju ke depan-" Lan See giok bukan anak bodoh, begitu peroleh petunjuk dia segera menjadi paham. Sementara Siau thi gou masih berteriak te-riak dengan suara lantang, Lan See giok su-dah menerobos ke luar dari hutan tersebut. Waktu itu Siau thi gou sedang berdiri sam-bil memegang seekor kelinci besar, melihat Lan See giok munculkan rdiri, sambil tezrtawa terbahak wbahak ia segerar berseru: "Nah, itulah dia telah munculkan diri!" Lan See giok segera berlari mendekat, menarik tangan Siau thi gou dan berterima kasih kepadanya, tapi oleh karena tidak di jumpai Si Cay soat, pemuda itu jadi celingu-kan----

281

Akhirnya dari jarak tujuh delapan kaki di depan sana, ia saksikan ada sesosok baya-ngan merah sedang berlarian menuju ke arah air terjun dengan kecepatan tinggi. Sambil menuding ke arah bayangan Si Cay soat, Siau thi gou segera berseru: "Engkoh giok ayo berangkat, mari kita lihat enci Soat menangkap ikan!" Mereka berdua segera menyusul dari bela-kangnya dengan gerakan cepat. Setelah berlarian sekian waktu, Si Cay soat yang sedang berlarian di depan telah menghentikan langkahnya. Lan See giok tahu, tempat dimana Si Cay soat berdiri sekarang bisa jadi adalah telaga Cui oh, waktu itu si nona sedang membung-kus rambutnya dengan kain merah. Ketika maju beberapa puluh kaki, lagi dia dapat melihat permukaan telaga yang luas-nya mencapai beberapa bau, airnya berwarna hijau dan beriak terhembus angin, peman-dangan alam di situpun amat indah. Setelah berjalan mendekat, Lan See giok baru menjumpai tempat dimana Si Cay soat berdiri sekarang adalah sebuah tebing yang tinggi, jarak antara tempat itu dengan per-mukaan telaga paling tidak masih mencapai enam tujuh kaki. Walaupun dalam hati kecilnya merasa terkejut, namun dia tak lupa menyampaikan salam untuk Si Cay soat, sekarang ia dapat melihat pakaian yang dikenakan Si Cay soat adalah sebangsa pakaian renang yang kulit bukan kulit sutera, namun terbuat dari seje-nis bahan istimewa. Setelah mengenakan pakaian renang ini, perawakan tubuh Si Cay soat nampak lebih indah, semua lekukan tubuhnya tertera amat jelas, payudaranya yang montok nampak menonjol besar dibagian dada, pinggangnya amat ramping, pahanya berbentuk manis se-dang kakinya terbungkus sepatu kulit ber-warna merah, rambutnya yang panjang juga telah dibungkus kain merah. Lan See giok benar-benar merasa ter-tegun, ia merasakan pandangan matanya menjadi silau, hatinya berdebar keras dan seolah-olah sedang dihadapkan dengan segumpal api. Waktu itu Siau Thi gou hanya berharap enci Soat nya bisa menangkap seekor ikan besar, pada hakekatnya dia tidak memper-hatikan mimik wajah Lan See giok, sepasang matanya yang terbelalak lebar di arahkan terus ke permukaan telaga. Melihat Si Cay soat sama sekali tidak menggubris dirinya. bahkan hanya berdiri di tepi tebing dengan mulut membungkam sa-darlah Lan See giok bahwa gadis itu sedang marah kepadanya.

282

Setelah tersenyum, dengan suara yang amat ramah pemuda itu kembali menyapa. "Selamat pagi adik Soat!" Mendengar sapaan tersebut, Si Cay soat mengerling sekejap ke arahnya dengan pan-dangan indah, kemudian tersenyum. Pada saat itulah... Tiba-tiba terdengar Siau thi gou berteriak keras. "Aaah, seekor ikan Cui oh li (ikan leihi tela-ga cu).. ! " Baru saja dia berteriak, bayangan merah telah berkelebat lewat, Si Cay soat dengan gaya Hay yan si sui (walet air bermain air) telah menubruk ke arah permukaan telaga. Gemetar sekujur badan Lan See giok me-li-hat gerakan tubuh gadis itu, tanpa di-sadari dia menjerit kaget: "Adik Soat, Hati-hati !" Tampak Si Cay soat menekuk pinggang, sepasang lengannya didayungkan bersama lalu sepasang tangannya ditempelkan satu lama lainnya dan .... "Byuuur!". menceburkan diri ke dalam telaga. Percikan air segera memancar ke empat penjuru... Secepat ikan terbang bayangan merah itu meluncur dan menyelam ke dalam air telaga yang berwarna hijau tadi. Lan See giok harus memasang telinga baik-baik sebelum dapat melihat bahwa kurang lebih dua kaki di depan Si Coy soat benar- benar terdapat seekor ikan besar yang sedang berenang menjauhi dengan gerak gerik yang amat gugup. Kejar mengejar pun segera terjadi, ombak menggulung kian ke mari, biarpun sedang berenang, ternyata gerak-gerik Si Cay sobat terlihat indjah sekali. Lang See giok selaibn merasa kagum juga sangat memuji, dia tak menyangka ilmu berenang yang dimiliki gadis itu demikian indah dan sempurna. Dalam hati kecilnya ia segera memutuskan untuk memohon kepada To Seng-cu locian-pwe selain mempelajari ilmu silat yang ter-cantum- dalam kitab pusaka Pwee yap cin keng, diapun hendak mempelajari ilmu berenang, Tiba-tiba Si -Cay soat yang berada, dalam air memutar badannya, kemudian pergela-ngan tangannya diayunkan ke depan seren-tetan cahaya perak langsung me-nyambar ke arah ikan besar itu. Siau thi gou yang menyaksikan kejadian tersebut segera tertawa lebar. Dengan cepat Lan See giok mengalihkan kembali sorot matanya ke arah telaga, waktu itu cahaya perak telah lenyap. sedangkan ikan besar tersebut

283

sudah berguling di atas air kemudian terapung dengan bagian perut nya menghadap ke atas. Si Cay soat segera berenang mendekati-nya, lalu sambil mengempit bangkai ikan besar tadi ia berenang ke tepian. Siau thi gou juga berpaling kearah Lan See giok sambil ujarnya dengan senyum dikulum: "Ilmu peluru pembelah air dari enci Soat amat tepat dan lihay sekali, betapa pun be-sarnya ikan yang diburu dan betapa cepat nya ikan itu berenang, jangan harap bisa lolos dari tangannya." Lan See giok mengangguk berulang kali. namun sorot matanya masih ditujukan ke arah Si Cay soat yang sedang menaiki pantai. Bayangan merah berkelebat lewat dengan menutulkan ujung kakinya di atas tonjolan batu karang, tahu-tahu Si Cay soat telah melompat naik ke atas tebing. Sambil bersorak kegirangan Siau thi gou segera menyerbu ke depan untuk memeluk ikan besar itu. Sambil tersenyum manis Si Cay soat me-ngerling sekejap ke arah Lan See giok yang sedang memandangnya dengan perasaan kagum, pelan-pelan dia membuka pengikat rambutnya, rambut yang panjangpun segera terurai ke bawah. Lan See giok yang menyaksikan kejadian itu segera merasakan hatinya berdebar keras, gerak gerik Si Cay soat memang sungguh terlampau indah. Tanpa terasa diapun memuji sambbil ter-senyum.j "Adik Soat, iglmu berenangmu bsungguh amat indah, bila suatu ketika Ihheng- pun dapat menguasai ilmu tersebut sesempurna kau, tentu akan merasa sangat puas." Sekali lagi Si Cay soat tertawa manis, tiba-tiba ia menegur: "Apa sih Ih-heng... Ih-heng terus terusan? Masa lagakmu selalu sok sungkan?" Merah padam selembar wajah Lan See giok, buru-buru dia mengiakan berulang kali, walaupun kena disemprot. . anehnya dia sama sekali tidak mendongkol. Dalam pada itu Siau thi gou telah selesai mengikatkan ikan besar dan kelinci besar itu, dengan gembira ia berteriak keras: "Ayo berangkat, kita harus siapkan san-tapan siang yang paling lezat" Maka berangkatlah ke tiga orang itu menuju ke hutan. Setibanya di depan hutan, Lan See giok berjalan mengikuti di belakang Si Cay soat.

284

Hutan tersebut dalamnya hanya sepuluh kaki, dalam beberapa kali lompatan saja mereka telah menembusi hutan tersebut. Lan See giok mengikuti di belakang Si Cay soat menuju ke sebuah ruang kecil yang ter-letak di belakang ruangan batu. Tiba di depan ruangan itu, ternyata di situ letak dapur, semua peralatan dapur tersedia komplit di situ. Si Cay soat segera membalikkan tubuhnya, lalu kepada Lan See giok dan Siau thi gou ujarnya. "Engkoh giok menguliti kelinci. Adik Thi gou memotong ikan. aku akan pulang dulu untuk berganti pakaian" Sembari berkata. dia membalikkan badan menuju ke dalam ruang batu. Siau thi gou segera mengambil pisau dan mulai membersihkan sisik ikan dan mem-ber-sihkan isi perutnya, cara kerjanya cekatan dan amat terlatih. Selama Lan See giok mengikuti ayahnya hidup dalam kuburan kuno, diapun sering kali berburu, maka soal menguliti kelinci juga bukan sesuatu pekerjaan yang asing baginya. Sambil membersihkan ikan, tiba-tiba Siau thi gou bertanya: "Engkoh Giok, apakah kau datang kemari khusus untuk belajar ilmu dari suhu?" Lan See giok mengangguk, jawabnya de-ngan bersungguh hati: "Benar, aku datrang kemari atasz petunjuk dari wlocianpwe . . "r "Sungguh aneh" kembali Siau thi gou me-nukas, "kalau toh tujuanmu belajar ilmu, mengapa kau masih saja memanggil suhu sebagai locianpwe?" Lan See giok menjadi tertegun menghadapi pertanyaan tersebut, ia segera berhenti bekerja dan bisiknya: "Adik thi gou, aku belum pernah meng-ang-kat guru, konon kalau hendak melakukan upacara pengangkatan, maka kita mesti menyembah empat kali, apa yang kau laku-kan dulu?"! "Tanpa ragu Siau thi gou segera menjawab: "Aku merangkak di atas tanah dan me-nyembah berulang kali . .. " Belum selesai dia berkata, bayangan merah berkelebat lewat, Si Cay soat yang selesai berganti pakaian telah muncul kembali di situ. agaknya diapun sempat mendengar pembicaraan kedua orang itu, kepada Lan See giok segera ujarnya: "Engkoh Giok, suhu orangnya ramah dan pengasih, dia tidak terlalu memperhatikan soal tetek bengek, selesai bersantap siang nanti, kau cukup menyembah empat kali di-hadapannya sambil memanggil suhu, aku pikir itu sudah cukup."

285

Lan See giok memandang ke arah Si Cay soat dengan penuh rasa terima kasih, setelah mengiakan diapun melanjutkan pekerjaan-nya menguliti kelinci. Mendekati tengah hari pekerjaan memasak pun telah selesai, hidangan segera disajikan, selain ang sio hi, panggang daging kelinci, sayur sayuran, kuah tahu, masih tersedia pula seguci besar arak wangi. Ketika semuanya sudah siap, Siau thi gou baru berteriak ke arah gua: "Suhu, silahkan bersantap." Tak lama kemudian, To seng cu dengan jubah kuningnya telah muncul dari balik gua, senyum ramah masih menghiasi wajah-nya. Dalam pada itu Si Cay soat telah menuang empat cawan arak, isi cawan bagi dirinya ke-lihatan paling sedikit. Lan See giok menunggu sampai To-seng-cu sudah duduk, dia baru menjatuhkan diri berlutut dan menyembah empat kali sambil katanya dengan serius. "Suhu berada di atas, terimalah penghor-matan dari tecu Lan See giok..." Sambil mengelus jenggotnya To seng cu tertawa terbahak bahak, ditatapnya pemuda itu dengan ramah, lalu ujarnya tersenyum. "Anak giok, ayo cepat bangun!" Walaupun Siau thi gou kelihatan agak bodoh, akan tetapi diapun dapat melihat kalau gurunya sedang amat gembira pada hari ini. Lan See giok segera bangkit dan duduk di samping Siau thi gou, sedang Si Cay soat yang hendak membuat gembira gurunya mengambil cawan arak dan berseru kepada To seng cu sambil tertawa. "Suhu, Soat-ji menghormati secawan arak untukmu, kionghi kau orang tua telah me-nerima seorang murid baru." `To seng-cu tertawa terbahak bahak. Haaahhh...haaahhh...haaahhh....budak binal, bukankah kau pun termasuk murid suhu yang baik?" Diangkatnya cawan arak dan diteguk de-ngan lahap. Siau thi gou turut mengangkat cawan araknya, suasana riang gembira segera me-nyelimuti seluruh ruangan. Ketika To seng cu mencicipi Ang sio hi, dia memuji tiada hentinya atas kelezatan hida-ngan tersebut. Tergerak hati Lan See giok, dia segera teri-ngat kembali dengan ilmu berenang yang di-miliki Si Cay soat, maka menggunakan ke-bsempatan tersebjut segera ujarngya dengan hormabt. "Suhu diantara lima cacad dari tiga telaga, tecu sudah mendapat tahu kalau si Tongkat besi berkaki tunggal berdiam di benteng Pek hoo cay, si

286

beruang berlengan tunggal ber-diam di bukit Tay ang san, sedang si manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san bercokol di benteng Wi-limpoo yang dikitari telaga phoa yang oh, tecu rasa dua manusia cacad lainnya pasti berdiam pula di atas telaga. . ."" Sebelum Lan See giok menyelesaikan kata katanya, sambil mengelus jenggot To seng cu segera menyela. "Benar, si Setan ganas bermata tunggal yang terhitung paling garang, ia berdiam di Lim lo pah, orang ini termasuk yang memiliki daya pengaruh terbesar antara rekan-rekannya, sedang si binatang bertanduk tunggal yang berilmu silat paling lemah tapi berotak paling cerdas itu, berdi-am di telaga Pek toh oh, ia telah ditotok mati oleh serga-pan Oh tin san sehingga tak perlu dikuatir-kan lagi, diantaranya aku kira yang patut diperhitungkan kekuatan nya adalah si raja ganas dari telaga Tong Ting oh, si Setan ganas bermata tunggal Toan Ci tin tersebut. Lan See giok berkerut kening, lalu berkata dengan sedih. "Dari lima manusia cacad di tiga telaga, tiga diantaranya menjagoi di atas telaga, padahal anak Giok tidak mengerti ilmu berenang, bila hendak menyelidiki jejak mereka rasanya sukar sekali, mohon suhu bersedia mewariskan pula ilmu berenang kepada anak giok". To seng cu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak, sa-hutnya dengan gembira: "Berbicara soal ilmu berenang, dalam dunia persilatan tiada orang yang bisa menandingi kehebatan Hu-yong siancu, se-balik nya berbicara dari tingkat muda, orang yang berilmu berenang paling tinggi adalah enci Cian mu, sedangkan ilmu berenang dari adik Soat mu berasal dari ajaran si naga sakti pembalik sungai, suhu sendiri sama sekali tidak menguasai kepandaian tersebut. Setelah berhenti sejenak, dia memandang kearah Si Cay soat yang sedang cemberut dan tidak senang hati itu, kemudian me-lan-jutkan sambil tertawa: "Namun, bila kau memang berniat untuk mempelajari kepandaian tersebut, tak ada salahnya untuk minta kepada adik Soat mbu untuk mengajajrkan dasar dasagrnya, sampai sib naga Sakti pembalik sungai datang ke Hoa San, barulah kau minta pelajaran secara langsung kepadanya---" Lan See giok yang mendengar perkataan tersebut menjadi sangat gembira, ia segera bangkit meninggalkan tempat duduknya dan menjura kepada Si Cay soat sambil serunya: "Adik soat, kalau begitu Ih-heng meng-u-capkan banyak terima kasih dulu kepadamu,"

287

Dalam hati kecilnya Si Cay soat me-rasa kegirangan, dia segera bangkit dan balas memberi hormat, pikirnya: "Hmm, mulai hari ini pasti akan seperti Siau thi gou, selalu menuruti petunjukku." Sebaliknya diluaran dia berkata dengan tenang: "Engkoh giok, harap kau jangan berbuat demikian, siau moay tak berani menerima-nya." Kemudian sengaja dia menengok ke arah To-seng-cu dan berkata kembali: "Suhu, engkoh Giok kan sudah mempunyai enci Cian yang sangat lihay dalam ilmu berenang. bila soat ji memberi pelajaran dulu kepada engkoh giok, jangan-jangan ada orang yang merasa tak senang hati..." To seng cu cukup mengetahui akan kebi-nalan muridnya ini, sekalipun demikian dia ,juga tahu kalau sesungguhnya gadis ini amat ramah dan berhati mulia, diapun sadar bahwa gadis ini diam-diam merasa tak puas dengan ilmu berenang yang dimiliki Ciu Siau cian, maka setelah tertawa geli katanya: "Tidak mungkin, tidak mungkin, bila Ciu Siau-cian merasa tak puas kau dan anak giok bisa minta pelajaran bersama dengan-nya!" Si Cay soat adalah seorang gadis yang pintar dan cekatan, walaupun ia tahu bahwa gurunya sengaja menggoda, tapi diapun mengerti, andaikata ilmu berenang yang di-miliki Ciu Siau-cian tidak lebih sempurna daripada kepandaiannya, tak mungkin guru nya akan berkata demikian: Oleh sebab itu dengan nada tak percaya dia berkata dengan bersungguh sungguh: "Suhu, benarkah ilmu berenang yang di-miliki enci Ciannya engkoh giok masih jauh lebih hebat daripada si naga tua pembalik sungai?" To seng cu tahu kalau Si Cay soat telah memahami maksudnya, sambil tersenyum ia segera menjawab: "Kalrau Thio loko muz mengandalkan twenaga dalamnya ryang sempurna, maka enci Cian- mu lebih mengandalkan gerakan tubuhnya yang lihay dan luar biasa, terutama sekali ilmu pedang di dalam airnya, sungguh cepat nya luar biasa, bahkan tidak kalah sempurna nya dari ilmu berenang yang dimiliki ibu nya. Berbicara sampai di situ, dia memandang sekejap ke tiga orang muda mudi dengan pandangan penuh kasih sayang . . . Kejut dan girang menyelimuti seluruh wa-jah Lan See giok, dia seperti tidak percaya kalau enci Ciannya yang begitu lembut, tenang dan cantik jelita bak bidadari dari kah-yangan, ternyata memiliki ilmu berenang yang jauh lebih hebat dari pada si naga pem-balik sungai.

288

Si Cay soat sendiri tentu saja percaya seratus persen atas perkataan dari gurunya, suatu perubahan aneh segera menghiasi paras mukanya, dia seperti ingin secepatnya dapat bertemu dengan Ciu Siau cian. Hanya Siau thi gou seorang yang tidak menaruh perhatian khusus atas persoalan ini namun perkataan dari gurunya juga tak be-rani tidak didengarkan, dengan membelalak-kan sepasang matanya dia awasi gurunya tanpa berkedip, meski begitu dia pun tidak lupa untuk melalap daging dan ikan yang di-hidangkan dihadapannya. To seng cu memandang sekejap ke tiga murid kesayangannya, ia merasa amat gem-bira terutama setelah menerima Lan See giok, dia merasa kepandaian silatnya bakal ada yang mewarisi. Maka sambil menengok ke arah Si Cay soat, katanya lebih lanjut dengan mengan-dung arti mendalam: Soat ji, bila kau bertemu dengan Ciu Siau cian lain waktu, panggillah lebih banyak enci kepadanya, suhu jamin pasti ada keuntu-ngan bagimu." Si Cay soat mengangguk berulang kali, senyum kegirangan kembali menghiasi wa-jahnya, sifat ke kanak kanaknya juga sangat menonjol dimukanya. Sementara itu, Lan See giok merasa gem-bira sekali karena gurunya To seng cu me-muji kehebatan enci Cian nya. di dalam hati kecilnya dia lantas berjanji, bila ia berhasil mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam kitab Hud bun pwe-yap cinkeng tersebut, dia akan mewariskan kembali kepandaian terse-but kepada encinya agar gadis itu menjadi seorang pendekar wanita yang tiada keduanya di dunia ini. Membayangkan kesemuanya itu, tanpa terasa dia tertawa. sinar matanya turut ber-kilat-kilat, To seng cu adalah seorang jagoan nomor wahid yang amat disegani orang di dalam dunia persilatan dewasa ini, walaupun usianya sudah mencapai seratus tahun, na-mun hatinya ramah dari orangnya saleh, setiap orang yang berhubungan dengannya pasti akan menaruh hormat dan sayang kepadanya. Ketika ia menangkap sinar berkilat dari balik mata Lan See giok, orang tua itu segera mengetahui kalau si bocah lagi memikirkan suatu kejadian yang meng-gembirakan hati-nya. Maka setelah meneguk araknya, dia ber-tanya sambil tertawa. "Anak giok, persoalan apa sih yang sedang kau bayangkan? Mengapa kau nampak kegi-rangan?" Lan See giok tidak menduga kalau guru-nya akan mengajukan pertanyaan seperti itu, dia menjadi tergagap, mukanya memerah dan segera memperlihatkan perasaan tidak tenang.

289

Melihat pemuda itu tidak berusaha untuk membohonginya, senyum gembira sekali lagi menghiasi wajah To Seng cu. Si Cay soat memang gadis yang pintar, ia segera cemberut dan sambil mendengus kalanya agak cemburu: "Apa lagi? Tentu sedang membayangkan enci Cian nya yang lihay dalam ilmu berenang!" BAB 14 LAN See giok tidak menyangka kalau Si Cay soat bakal membongkar rahasia hatinya secara blak blakan, ia terkejut dan wajahnya segera berubah, buru-buru seru-nya kepada To seng cu: "Anak giok tidak becus, dihadapan suhu memang masih teringat enci Cian, harap suhu sudi memaafkan ketidak tahuan anak giok!" Si Cay soat maupun Siau thi gobu jadi melongo,j mereka tidak hgabis mengerti abpa sebabnya Lan See giok menunjukkan wajah gugup, dengan sorot mata yang bimbang tiada hentinya mereka awasi Lan See giok dan To seng cu secara bergantian, agaknya mereka berusaha mencari tahu masalah apakah yang membuat pemuda itu demikian gugupnya? To seng cu juga tidak berkata kata. Ia me-neguk habis isi cawannya. lalu sambil me-nyodorkan mangkuk kosong itu ke hadapan Sian thi gou yang masih tertegun. kata-nya dengan suara rendah dan berat, "Gou- ji. penuhi cawanku ini! " Sementara itu, walaupun Si Cay soat juga dibuat kebingungan, namun dia dapat meli-hat bahwa suhunya sedikit tak bisa mengen-dalikan rasa gembiranya, sudah jelas guru-nya sedang merasa kegirangan setengah mati. Siau thi-gou segera memenuhi cawan gu-runya dengan arak dan mengangsurkan kembali ke atas meja To seng cu, kembali ke hadapan gurunya. Setelah menerima cawan dan meletakkan kembali ke atas meja, To seng cu kembali berkata dengan wajah serius: "Selama berada dihadapan guru, berpikir-an cabang dan menjawab secara ngawur perta-nyaan guru, hal ini merupakan pantangan terbesar bagi dunia persilatan, yang ringan, pelanggarannya akan peroleh hukuman, yang berat akan dikeluarkan dari perguruan, anak giok, kau masih muda tapi setia dan seder-hana, sungguh tidak kecewa kuterima dirimu sebagai murid!" Selesai berkata, dia meneguk araknya sampai habis. Lan See giok terharu sekali oleh perkataan itu, sekali lagi dia memberi hormat sambil berkata:

290

"Anak giok bodoh, mungkin hanya akan menyia nyiakan harapan suhu saja! To seng cu meneguk setengah cawan arak lagi, kini gejolak emosinya telah mereda, melihat di atas wajah pemuda itu tidak ter-lintas perasaan bangga, katanya kemudian lengan ramah: "Anak giok, duduklah suhu tidak akan menyalahkan dirimu lagi- - -" Sambil berkata, dia membuat gerakan de-ngan mempersilahkan pemuda itu duduk. Lan See giok segera mengiakan dengan hormat dan duduk, Si Cay soat pun merasa gugup dan panik. ia benar-benar tak me-nyangka kalau perbuatannya bakal segawat itu, terbayang kembali ketika ia membongkar rahasia hbati Lan See giojk, saking menyegsal-nya dia sambpai menundukkan kepalanya rendah--rendah. Namun dia bisa menduga, dengan tenaga dalam gurunya yang begitu sempurna serta ketebalan imannya yang mengagumkan, toh tak mampu mengendalikan gejolak emosi-nya, hal ini menandakan betapa gembira nya orang tua itu setelah mendapatkan Lan. See giok sebagai muridnya. Siau thi gou orangnya ramah den polos, meski ia tidak mengerti apa gerangan yang terjadi, namun dapat terasa olehnya kalau enci Soat maupun engkoh giok nya sama-sama telah melakukan kesalahan besar. To seng cu sangat gembira, setelah me-mandang sekejap ketiga orang bocah itu un-tuk mengurangi perasaan tak tenang dalam hati mereka, maka ujarnya kemudian sambil tersenyum. "Sekarang, aku akan mengisahkan kembali peristiwa pada sepuluh tahun berselang ketika kitab cinkeng itu lenyap, agar kisah tadi bisa menambah pengetahuan kalian se-mua." Mendengar perkataan itu, muda mudi ber-tiga itu segera meletakkan kembali sumpit nya dan bersama sama memandang ke arah guru mereka> Sambil tertawa ramah To seng cu segera berkata: "Kalian boleh mendengarkan sambil makan dan minum." Kemudian setelah meneguk seteguk arak dan termenung beberapa saat, dia pun mulai bercerita. "Sepuluh tahun berselang, di dalam kala-ngan hitam terdapat lima orang jago lihay, mereka adalah lima cacad dari tiga telaga yang termasyhur sekarang, entah dari mana mereka peroleh kabar ternyata orang- orang itu mendapat tahu kalau aku memiliki sejilid kitab pusaka ilmu silat yang amat hebat." "Kemudian, berkumpullah mereka me-rundingkan bagaimana cara mencuri kitab tadi dan kemudian mempelajarinya ber-sama sama.

291

"Dasar bangsa kurcaci, walaupun mereka telah memutuskan bersama, toh dihati kecil masing-masing masih saja saling curiga men-curigai. namun untuk menghindari perhatian orang, secara terpisah mereka datang ke Hoa San dan berkumpul di bawah bukit sambil berunding bagaimana caranya mengamati gerak gerikku. "Justru persoalran menjadi berazntakan aki-bat wsuatu kebetulanr, pada waktu itu aku se-dang bersemedi di dalam gua, mendadak kudengar suara golok sedang mengukir batu di depan dinding gua . . . " Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan itu, dia tahu yang di maksudkan gurunya, sudah pasti bait-bait syair yang terpampang di atas dinding di mulut gua tersebut, hanya saja ia tidak habis mengerti siapakah perempuan tersebut. Setelah meneguk araknya setegukan, To seng cu berkata lebih jauh: "Tergerak hatiku waktu itu sehingga segera munculkan diri, namun untuk menghindar mulut guaku ketahuan orang luar, aku tidak membuka pintu secara langsung, sampai orang itu sudah pergi jauh, barulah kubuka pintu gua dan ke luar. . ." Lan See giok kembali merasa tidak habis mengerti, mengapa ia tidak menjumpai "pintu gua" ketika memasukinya semalam, tapi kalau menurut pembicaraan suhu pintu gua tersebut pasti tersembunyi di balik dinding gua sehingga tidak terlihat sama sekali. Dalam pada itu, To seng cu telah berkata lebih jauh: "Menanti suhu sampai di pintu depan, orang itu sudah pergi hingga tak terlihat lagi, kubaca sebentar bait syair di dinding gua itu lalu menembusi hutan tho dan me-ngejar ke luar lembah, tak lama kemudian kusaksikan seseorang sedang berlarian dengan cepat, menanti kususul lebih dekat, baru kuketahui kalau orang itu adalah Hu-yong siancu Han sin wan . . . Tergetar perasaan Lan See giok, tanpa terasa serunya kaget: "Aaah . . dia . . . dia adalah bibi Wan . . . . ?" "Benar, orang yang mengukir tulisan di de-pan gua tak lain adalah bibi Wanmu." "Suhu, masalah pedih apakah yang dialami bibi Wan sehingga dia merasa begitu sedih?" tanya Lan See giok dengan perasaan tidak habis mengerti. Tong seng cu berkerut kening seakan -akan enggan menjawab pertanyaan itu, kemudian katanya sambil tersenyum. "Masalah ini menyangkut hubungan antara orang tuamu dengan bibi Wan, aku sendiri juga kurang tahu sehingga lebih baik tak usah kuterangkan di sini, tak ada salahnya bila kau tanyakan sendiri kepada bibimu di kemudian hari, mungkin dia akan mencerita-kan pengalamannya kepada mu. "

292

Melihat gurunya enggan menjawab, sudah barang tentu Lan See giok tak berani ber-tanya lebih jauh, terpaksa dia mengiakan berulang kali. Tampaknya Siau thi gou memperhatikan sekali masalah tercurinya kitab cinkeng itu, dengan gelisah tiba-tiba dia menyela: ""Suhu, ketika kau ke luar dari gua, sudah pasti pintu depan lupa kau tutup kembali?" "Benar"! To seng cu segera mengangguk, waktu itu aku memang kelewat gegabah, menanti aku tiba kembali di gua, baru ku-jumpai kotak kecil di atas meja telah lenyap. segera aku sadar bahwa kotak itu tercuri, dengan perasaan gelisah akupun segera menyusul ke luar lembah." Berbicara sampai di situ dia, memandang sekejap ke arah Lan See giok yang sedang mendengarkan dengan seksama, kemudian baru lanjutnya lebih jauh. "Sewaktu aku mengejar sampai di luar hutan tho, Hu-yong siancu belum pergi, tapi di sisinya telah bertambah seseorang, orang itu tak lain adalah ayahmu. si peluru perak gurdi emas Lan Khong-tay." Berhubung To seng cu bercerita sambil menengok ke arahnya, Lan See giok sudah memahami maksud gurunya, itulah sebab-nya ia tidak merasa keheranan ketika ayah-nya disinggung: "Waktu itu aku paling mencurigai ayahmu, tapi setelah mendengar perkenalan dari Hu-yong siancu, barulah kuketahui kalau ayahmu adalah Lan tayhiap yang termasyhur namanya dalam dunia persilatan, karena itu rasa curigaku segera lenyap. Atas perta-nyaanku, baru kuketahui ayahmu telah ber-jumpa dengan Pek-ho-caycu si toya guntur Gui Pak-cian, serta Wi-lim pocu Oh Tin-san di mulut lembah. "Kedua orang itu merupakan pentolan kaum hitam yang termasyhur sekali." "Kemunculan mereka di bukit Hoa San segera menimbulkan kecurigaanku, segera kukejar mereka ke luar lembah, sedang ayahmu serta Hu-yong siancu juga menyusul di belakangku. Setelah mengejar melampaui dua buah puncak bukit, diantara hutan bambu dan pohon siong kulihat ada lima sosok bayang-an manusia sedang kabur ke luar bukit. Aku pun segera mengeluarkan ilmu berjalan ter-bang menempel angin untuk menyusul di belakang mereka. "Sampai aku sudah berada di belakangnya, kelima orang itu baru merasakan kehadiran-ku, saat itu juga mereka kabur terbirit -birit ke empat penjuru. "Dalam keadaan begini, mustahil bagiku untuk mengejar mereka satu persatu, maka di dalam gelisahnya dicampur gusar dan mendongkol, terpaksa aku turun tangan keji."

293

"Mula pertama kukutungi dulu kaki kiri dari Gui Pak ciang, Caycu dari Pekho cay, kemudian Pek toh oh cu si binatang bertan-duk tunggal Si Yu gi menjadi ketakutan dan berlutut minta ampun sambil menerangkan kalau cinkeng tersebut berada di tangan Kiong Tek ciong, Cong Caycu dari bukit Tay ang san, "Waktu itu aku tidak tahu siapa yang ber-nama Kiong Tek ciong, karena itu ku kejar Toan Ci tin dari telaga Tong Ong oh sambil melepaskan sebiji biji cemara untuk menghalangi niatnya melarikan diri, siapa tahu ketika biji cemara itu hampir mengenai tubuhnya, kebetulan Toan Ci tin sedang menengok ke belakang, tak ampun lagi biji ce-mara itu bersarang telak di mata sebelah kirinya. "Atas pertanyaanku baru kuketahui arah Kiong Tek ciong melarikan diri, waktu itu Oh Tin San sedang kabur membuntuti Kiong Tek ciong, walaupun alasannya hendak me-lindungi padahal tujuannya yang utama adalah mengawasi gerak gerik rekannya. "Ketika aku mengejar mereka lebih jauh dalam keadaan terpojok ternyata ke dua orang itu melakukan perlawanan, maka dalam gusarnya kubacok kutung lengan kiri Kiong Tek ciong sedangkan Oh Tin san segera berlutut minta ampun, berhubung aku tahu kalau dia orangnya keji dan berbahaya maka segera kupotong sebuah telinga kirinya seba-gai hukuman. "Setelah kuperiksa kedua orang itu, baru-lah diketahui kalau kotak kecil tadi sudah terjatuh dalam perjalanan, tapi ketika kemu-dian kucari, kotak tersebut sama sekali tak berhasil kutemukan kembali, biar begitu aku percaya kalau Kiong Tek ciong dan Oh Tin san tidak berbohong. "Menanti pikiran dan perasaanku sudah mulai mereda kembali, baru kusesalkan per-buatan berdarah yang telah kulakukan, itu-lah sebabnya kubebaskan Oh Tin san ber-lima. "Waktu itu meski akupun sedikit menaruh curiga kepada ayahmu dan Huyong siancu yang tidak menyusul datang, tapi aku perca-ya bila kotak cinkeng itu berhasil mereka te-mukan niscaya akan dikembalikan kepadaku, tapi sampai matahari tenggelam di langit barat aku belum juga melihat ayah-mu datang, akhirnya baru kuketahui apa sebab-nya ayahmu tidak datang mencariku: "Pertama mereka tidak tahu siapakah aku, mengapa mengejar Oh Tin san sekalian dan kedua mereka tahu kalau kotak kecil itu milikku, namun tidak mengetahui bagai-mana caranya untuk mengembalikan, sebab ketika Huyong siancu mengukir syair di depan gua. pintu gua berada dalam keadaan tertutup, menanti aku membukanya. dia telah berada di luar hutan tho. "Berhubung orang tuamu dan Hu-yong siancu kemudian lenyap secara tiba-tiba dari dunia persilatan. Oh Tin san sekalian-pun mulai menelusuri

294

jejak ayahmu, itulah se-babnya mereka dapat membuktikan pula kalau kitab Cinkeng tersebut memang berha-sil ditemukan oleh ayahmu serta bibi Wan mu . . . Si Cay soat yang membungkam selama ini, tiba-tiba menimbrung: "Suhu, Hu-yong siancu yang sudah mem-buat tulisan di atas dinding gua saja tidak menemukan mulut gua tersebut, mengapa Oh Tin san sekalian bisa tahu kalau suhu berdiam di dalam gua tersebut? To seng cu segera menghela napas panjang "Aai, peristiwa ini sesungguhnya bersum-ber pada perbuatan Hu-yong siancu ketika mengukir syair di atas dinding gua sana, se-bagaimana diketahui Hu-yong siancu adalah seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, entah berapa ba-nyak lelaki yang pernah jatuh hati kepadanya dimasa lalu. Ketika Oh Tin san sekalian menjumpai kemunculan Hu-yong siancu di bawah puncak giok li hong mereka pun menjadi tertarik dan diam-diam menguntit dari belakang. "Tatkala Hu-yong siancu selesai mengukir tulisan kemudian berlalu, Oh Tin san sekalian dengan perasaan ingin tahu segera munculkan diri untuk melihat tulisan apakah yang diukir Hu-yong siancu di atas dinding, siapa sangka pada saat itulah secara kebe-tulan aku membuka pintu gua.!" Siau thi gou yang mendengar sampai di situ segera menyela pula dengan suara lan-tang: "Waah, itu namanya sudah takdir!" Dengan ramah dan penuh kasih sayang To-seng cu memandang sekejap kearah Siau thi gou, lalu manggut-manggut seraya men-jawab: "Benar, akupun berpendapat demikian, oleh sebab itu aku segera kembali ke gua dan minta ampun kepada sucou kalian. bahkan bersumpah selama hayat masih dikandung badan pasti akan mendapatkan kembali kitab cinkeng tersebut.. "Suhu, cousu yaa berada di mana? Menga-pa Gou ji tidak tahu?" Siau thi gou segera bertanya dengan nada tidak mengerti. "Gua ini merupakan hasil pembangunan dari cousu di masa lalu, beliau merubahnya dari sebuah gua alam menjadi sebuah tempat tinggal yang indah. Ketika itu akupun cuma berusia sebelas dua belas tahunan, masih lebih kecil daripada kalian, sebelum sucou kalian kembali ke alam baka. dia khusus membuat sepasang "lian" di kedua belah pintu gua yang terbuat dari tatahan mutu manikam serta intan permata yang tak ter-nilai harga nya, itulah sebabnya setiap kali aku peroleh kesulitan, pasti akan berlutut di depan pintu itu sambil berdoa dan minta pengarahan." Tergerak hati Lan See giok sesudah men-dengar perkataan itu, segera ujarnya kemu-dian dengan hormat.

295

"Tatkala anak giok membaca sepasang "lian" yang berada di depan pintu gua sudah terasa olehku bahwa tulisan mana merupa-kan hasil karya seorang Bulim Cianpwe yang amat saleh dan hebat. Kini anak giok telah masuk perguruan dan membonceng ketena-ran suhu dan sucou, apakah suhu bersedia menerangkan nama sucou kami agar anak giok sekalianpun mendapat tahu siapa nama sebenarnya sucou kami yang mulia itu."" Paras muka To seng cu segera berubah menjadi amat serius, dipandangnya aneka bunga di luar ruangan dengan ter-mangu, sampai lama kemudian pelan-pelan ia baru berkata: "Sucou kalian Thian ih siu telah berusia dua ratusan tahun, beliau merupakan se-o-rang dewa pedang yang paling hebat pada seratus lima puluh tahun berselang, beliau sudah bertapa hampir seratus tahun di dalam gua ini. Sebelum kembali ke alam baka, sucou kalian khusus mencatatkan segenap ilmu silatnya di atas Hud bun- pwee yap cinkeng tersebut dan diwariskan kepadaku, kemudian dengan membawa pedangnya beliaupun berangkat ke alam baka untuk menjadi dewa abadi--Ketika menyelesaikan perkataan itu, paras muka To seng cu nampak berubah menjadi merah segar dan penuh dengan perasaan kagum. Biarpun ketiga orang muda mudi itu masih kecil, mereka pun dapat melihat pancaran sinar hormat dan perasaan kagum .yang tak terhingga dari suhu mereka ter-hadap sucou-nya. Siau thi gou merasa sedih sekali tiba-tiba ia bertanya: "Suhu, semenjak sucou menjadi dewa, per-nah beliau pulang untuk menengokmu?" "Tidak pernah" To Seng cu menggelengkan kepalanya dengan sedih, "semenjak dia orang tua menjadi dewa, beliau hidup bebas di alam sana dan tak pernah akan kembali ke dunia yang fana lagi" Lan See giok serta Si Cay soat yang melihat kemurungan suhunya. kini jadi menyesal karena sudah menanyakan soal sucou mereka sehingga memancing rasa murung bagi gurunya, karena itu mereka semua merasa turut tak tenang. Siau thi gou yang melihat gurunya sedih, kembali bertanya dengan tidak habis mengerti: "Suhu, baikkah bila sucou menjadi dewa?"" To seng-cu tertegun dibuatnya, tapi sahut nya juga meski tidak memahami maksud muridnya" "Tentu saja amat baik, dia orang tua telah berhasil memperoleh apa yang di kehendaki-nya, kita sebagai angkatan muda tentu saja harus ikut bergembira."

296

"Lantas apa sebabnya kau orang tua nam-pak tak senang hati?" seru Siau thi--gou polos. Kontan saja To seng-cu dibuat tersumbat mulutnya oleh ucapan Siau thi gou, tak tahan lagi ia segera mendongakkan kepala-nya dan tertawa terbahak-bahak. Melihat Siau thi gou berhasil memancing gelak tertawa guru mereka, Lan See giok serta Si Cay soat juga ikut tertawa, mereka sama-sama menengok ke arah Thi gou de-ngan sorot mata kagum. Sambil mengelus jenggotnya dan me-man-dang ketiga orang bocah itu dengan riang To seng cu berkata: "Tengah malam nanti. aku akan mewaris-kan ilmu silat maha sakti yang tercantum dalam Hud bun pwee yap cin keng kepada engkoh giok kalian, Soat-ji serta Thi gou ha-rus menjadi pelindung pada saatnya nanti, bselewat malam njanti kalian bergtiga harus su-dbah mempersiapkan diri baik-baik dan menunggu perintah dihadapanku," Kejut dan gembira Lan See giok mendengar perkataan itu, sedangkan Si Cay soat, dan Siau thi gou segera mengiakan dengan hor-mat. Santapan siang itu dilewatkan dalam sua-sana riang gembira, guru dan murid empat orangpun nampak sedikit agak mabuk.. Matahari senja sudah mulai tenggelam di balik awan, senja yang gelap mulai menyeli-muti Giok-li-hong... Lan See giok dan Siau thi gou sedang mengeringkan pakaian dengan asap dupa. Lan See giok tidak mempunyai banyak pakaian untuk berganti, karena itu dia hanya mengeringkan jubahnya yang berwarna biru saja serta pakaian dalamnya. Tiba-tiba Siau thi gou bertanya dengan nada tak mengerti: "Engkoh Giok, kau tidak membawa bunta-lan pakaian?" Lan See giok menggelengkan kepalanya bertulang kali. "Berhubung aku datang dengan tergesa gesa, bibi Wan tak sempat mempersiapkan segala sesuatunya bagiku, apalagi pakaianku kebanyakan masih tertinggal di dalam kubu-ran kuno" Mencorong sinar tajam dari balik mata Siau thi gou, seakan akan teringat akan se-suatu, ia segera melompat bangun sambil berkata. "Aaah, teringat aku sekarang, buntalanmu itu berada dalam kamar enci Soat, bahkan masih terdapat pula Sembilan butir peluru perak yang berkilauan" Lan See giok segera merasakan hatinya bergetar keras setelah mendengar perkataan itu, paras mukanya berubah, serunya tak tertahan lagi.

297

"Apa kau bilang?" Siau thi gou segera meletakkan pakaian nya ke atas lantai, kemudian bisiknya: "Enci Soat sedang mandi di atas, ia tidak berada di kamarnya, ayo biar kuambilkan untukmu" Sambil berkata, ia segera menarik Lan See giok menuju ke kamar tidur Si Cay soat. Lan See giok merasa amat gelisah bercam-pur bimbang, saat ini dia seolah-olah lupa kalau tidak patut seorang lelaki memasuki bkamar tidur seojrang dara, menggikuti Siau thi bgou mereka langsung menuju ke arah kamar tersebut. Tiba dalam kamar tidur Si Cay soat, teren-dus bau harum semerbak yang menyegar-kan badan, saat itulah Lan See giok baru mendu-sin dari kekhilafannya dan segera berhenti di pintu luar. Siau thi gou masih polos kekanak- kanakan, apalagi usianya dua tiga tahun lebih muda dari pada Lan See giok, dia langsung memasuki kamar tidur enci Soat-nya tanpa canggung. Tapi Siau thi gou sendiripun tidak me-nyangka kalau di atas permadani ruangan tergeletak pakaian luar serta pakaian dalam Si Cay soat yang baru dilepas. Lan See giok segera merasakan hati-nya berdebar keras dan wajahnya merah padam, dengan perasaan kaget dia mundur dua langkah dari posisi semula. Berbeda sekali dengan Siau thi gou, de-ngan acuh tak acuh dia melanjutkan lang-kahnya melewati celana dalam, pakaian dalam dan gaun gadis tersebut sambil mema-suki ruang dalam. Lan See giok segera mengalihkan kembali pandangan matanya ke dalam ruangan, kali ini paras mukanya berubah, rupanya pedang Jit hoa kiam beserta kotak kecil emas itu diletakkan menjadi satu dengan buntalan-nya, hanya pedang Jit hui kiam serta kotak kecil itu yang lain tidak diketahui berada di mana? Waktu, Siau thi gou sudah bermaksud mengembalikan bungkusan kecil itu, bahkan bisiknya dengan girang. "Coba kau lihat engkoh giok, bukankah bungkusan ini milikmu?" Lan See giok segera mengenali bungkusan itu sebagai miliknya yang tertinggal di dalam kuburan kuno, namun diapun mengerti bahwa bungkusan itu tidak boleh diambil sekarang, oleh sebab itu dengan gelisah ia lantas berseru: "Adik Thi gou, cepat kembalikan ke tempat asalnya, ayo cepat ke luar-.-!"

298

Melihat wajah tegang dan peluh bercu-curan yang membasahi muka Lan See giok yang gelisah, Siau thi gou segera tahu kalau persoalannya tidak semudah itu, dengan terkejut ia meletakkan kembali bungkusan tersebut ke tempat semula, kemudian melompat ke luar dari dalam ruangan. Lan See giok lebih-lebih tak berani berayal lagi, sambil menarik tangan Siau thi gou mereka segera mengundurrkan diri dari zsitu. Siau thiw gou sungguh dirbuat bingung dan tak habis mengerti, setibanya di kamar sendiri ia baru bertanya dengan suara tak mengerti: "Engkoh giok, apa yang terjadi?" Setelah berusaha menenangkan hatinya, Lan See giok baru berkata dengan ber-sung-guh sungguh. "Adik Thi-gou, sebentar bila adik Soat datang, kau tak boleh mengatakan telah mengajakku pergi ke kamarnya untuk me-ngambil bungkusan kecil itu mengerti?" Berhubung Lan See giok berbicara dengan wajah serius dan bersungguh sungguh, Siau thi gou segera mengangguk berulang kali, meski demikian ia toh bertanya lagi dengan nada tak mengerti. "Pakaian itu kan milikmu? Mengapa tak boleh diambil?" Tentu saja Lan See giok merasa kurang le-luasa untuk menerangkan alasannya, ter-paksa sahutnya. Kalau hendak diambil pun harus bertanya dulu kepada suhu mengerti?" Siau thi gou segera manggut-manggut berulang kali dan melanjutkan pekerjaannya menggarang pakaian. Sekarang Lan See giok sudah memahami segala sesuatunya, rupanya To seng cu sama sekali tidak meninggalkan kuburan kuno tersebut pada malam itu, melainkan selalu menyembunyikan diri di seputar sana. Ia pun berani menyimpulkan bahwa tujuan suhunya menyembunyikan diri tak lain adalah berharap bisa mengamati gerak gerik-nya secara diamdiam sehingga dapat me-ngetahui dimana kotak kecil tersebut disim-pan, sampai kemudian On Tin san muncul di situ dia baru mengganti kedudukannya seba-gai pelindung keselamatan jiwanya, "Teringat bau harum semerbak yang terasa di mulut, sekarang ia baru mengerti tentang bau harum itu berasal dari obat mestika pemberian gurunya yang segera memaksa ke luar sari racun dalam tubuhnya di samping menambah tenaga dalamnya. Sekarang, hanya ada satu hal yang belum dipahami yakni ke mana perginya pedang Gwat-hui kiam tersebut?"

299

Berpikir sampai di situ, tanpa terasa dia-mati ruangan dimana ia berada sekarang namun kecuali dua lembar selimut kulit serta bungkusan berisi pakaian milik Siau thi-gou, di sana tidak ditemukan sesuatu apapun. Pada saat itulah mendadak terdengar Siau Thi gou berbisik: "Engkoh giok, enci Soat datang"" Lan See giok segera pasang, telinga, benar juga ia mendengar suara langkah kaki manu-sia berjalan mendekat, angin lembut terasa berhembus lewat. bayangan merah berkelebat di depan mata, tahu-tahu Si Cay soat telah muncul di depan pintu ruangan. Lan See giok segera menengok ke arahnya, tampak olehnya Si Cay soat yang habis mandi kelihatan lebih segar, lebih cantik jelita dan menawan hati. Siau thi gou segera berseru: "Enci Soat, engkoh giok tak punya pakaian untuk ganti!" "Mengapa kami tidak mengambilnya di kamarku?" omel Si Cay soat setelah mende-ngar perkataan itu. Siau thi-gou memandang sekejap ke arah Lan See giok yang duduk dengan wajah merah padam, kemudian jawabnya: "Engkoh giok bilang, mau menunggu sam-pai kedatanganmu!" Si Cay soat melirik sekejap ke arah Lan See giok, kemudian serunya kembali kepada Siau thi gou: "Mari, ikut cici untuk mengambilnya!" Sambil berkata dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ. Siau thi gou mengiakan dengan bgembira dia segjera melompat bagngun dan siap mbe-nuju ke luar kamar. Tapi baru berjalan beberapa langkah, ba-yangan merah kembali berkelebat lewat. de-ngan gugup dan panik Si Cay soat telah muncul kembali di situ. Tampak paras muka Si Cay soat merah padam seperti kepiting rebus, wajahnya gugup bercampur gelagapan, bahkan dengan wajah tersipu sipu dia menggoyangkan ta-ngannya berulang kali sambil mencegah: "Adik Thi gou, kau tak usah kemari, biar cici saja yang segera mengambilkan untuk mu." Selesai berkata kembali dia melayang pergi. Tentu saja Siau thi gou jadi melongo dan berdiri tertegun di tempat, hari ini dia benar-benar dibikin kebingungan setengah mati dan tak tahu apa gerangan yang telah terjadi. Hanya Lan See giok yang mengerti apa yang telah menyebabkan Si Cay soat gelisah serta gelagapan setengah mati.

300

Sesaat kemudian, Si Cay soat telah muncul kembali dengan membawa sebuah bungku-san kecil, tak sampai Lan See giok mengu-capkan terima kasih, ia telah mengundurkan diri lagi dengan kepala tertunduk rendah-rendah. Lan See giok merasa sangat emosi setelah melihat bungkusan kain miliknya itu, ketika dibuka ternyata Si Cay soat telah memban-tunya mencucikan semua pakaian tersebut, bahkan dilipat dengan rapi dan rajin. tanpa terasa ia sangat berterima kasih sekali kepada gadis itu. Sekarang sambil melanjutkan peker-jaan-nya menggarang pakaian, dia mulai memutar otak memikirkan bagaimana caranya untuk mempelajari rahasia ilmu silat yang ter-can-tum dalam kitab Cinkeng. Dalam kesibukan masing-masing itulah, tanpa terasa malampun menjelang tiba ..... Lan See giok, Si Cay soat serta Siau thi gou segera melayang turun dari kamar masing-masing menuju ke istana gua. Tampak kitab Hud bun pwe yap cin keng terletak di atas meja rendah, asap dupa menyiarkan bau harum ke seluruh ruangan, dua batang lilin tersulut rapi di meja, mem-buat suasana di situ terasa diliputi oleh ke-seriusan. To seng cu dengan jubah kuningbnya duduk bersijla di atas kasugr duduknya dengban mata terpejam, wajahnya amat serius. Setibanya dihadapan guru mereka, Lan See giok sekalian bertiga segera menyapa sambil menjatuhkan diri berlutut. Pelan-pelan To seng cu membuka matanya dan menitahkan mereka bertiga agar duduk. Si Cay soat, duduk di sebelah kiri, sedang Lan See giok dan Siau thi gou duduk di se-belah kanan, perasaan mereka amat tenang, wajah merekapun diliputi keseriusan. Menanti ke tiga orang muda mudi itu duduk, To seng cu baru berkata dengan wa-jah bersungguh-sungguh: "Aku akan melaksanakan peringatan dari sucou kalian dengan hanya mewariskan ke-pandaian silat yang tercantum dalam kitab Cinkeng kepada seorang murid yang paling berbakat, biar terhadap istri maupun putra putri sendiri, kepandaian silat ini dilarang untuk diwariskan kepada sembarangan orang." Lan See giok merasakan hatinya bergetar keras, kepalannya seperti dihantam kayu keras-keras, impiannya untuk mewariskan kembali ilmu silat yang dipelajari dari kitab Cinkeng kepada enci Ciannya segera buyar tak berbekas. Sementara itu To seng cu telah berkata le-bih jauh:

301

"Hampir sepuluh tahun belakangan ini, aku selalu membawa Soat ji dan Gou ji ber-kelana ke mana-mana tanpa tujuan, maksud ku tak lain adalah hendak mencari kembali Cinkeng tersebut serta menemukan seorang manusia yang berbakat sangat baik untuk mempelajari ilmu silat tersebut." Kemudian setelah memandang sekejap muda mudi bertiga yang duduk dengan wa-jah serius itu, dia melanjutkan. "Soat ji maupun putri kesayangan Hu-yong siancu, Siau cian merupakan orang-orang yang berbakat baik, hanya sayang sifat keibuan mereka terlalu besar. untuk meng-hindari pelanggaran peraturan di kemudian hari dengan mewariskan ilmu tersebut kepada suami atau putra putri sendiri, maka kepada mereka berdua tak akan diwarisi kepandaian silat tersebut". Kata-kata terserbut diutarakan zsecara tegas dawn sama sekali trak bisa dibantah kembali. Pada hakekatnya Si Cay soat memang ti-dak berniat mempelajari isi kitab cinkeng tersebut, baginya asal engkoh giok bisa mempelajarinya hal tersebut sudah cukup memuaskan hatinya, maka setelah men-de-ngar perkataan dari gurunya, cepat dia bang-kit berdiri dan mengiakan dengan hormat. Dengan wajah gembira To Seng cu meman-dang sekejap ke arah Si Cay soat, kemudian melanjutkan: "Gou ji polos, jujur dan sederhana, kese-tiaan dan kejujurannya bisa dipertanggung jawabkan, sayang kecerdasannya kurang, maka ilmu silat ini pun tak akan diwaris-kan kepadanya." Jangan lagi soal ilmu silat tersebut, bahkan memikirkan masalah itupun tak per-nah, maka Siau thi gou segera mengiakan dengan sikap tulus. Dari pembicaraan dan perkataan To -Seng cu yang begitu serius, Lan See giok pun mu-lai sadar bahwa tidak gampang untuk mem-pelajari ilmu silat dari Hud bun pwee yap cinkeng tersebut, namun semakin sulit untuk dipelajari, dia pun semakin bertekad untuk tidak menyia nyiakan harapan, guru- dan tak akan melanggar peraturan yang telah ditetapkan perguruan. Sementara itu To Seng cu telah berkata lagi setelah berhenti sejenak: "Ketika masih berada dalam kuburan kuno, aku pernah memeriksa seluruh urat dan tulang belulang anak Giok, dia memang manusia yang berbakat bagus untuk mempe-lajari segala isi cinkeng tersebut, karena itu aku telah mengambil keputusan untuk me-wariskan kepandaian silat maha sakti terse-but kepadanya. Meskipun demikian, namun aku merasa wajib untuk mengamati dulu segala gerak gerik, sikap maupun perangai-nya. Itulah sebabnya aku selalu membun-tutinya secara diam-diam, berdasarkan pengamatanku secara diam-diam selama satu bulan lebih, anak giok memang benar-benar seorang anak baik yang dapat dipercaya . . . "

302

Setelah berhenti sejenak, dengan wajah gembira yang terpancar dari balik keserius-an mukanya, dia melanjutkan: "Dalam santapan siang tadi, anak giok mendengarkan pembicaraanku dengan sek-sama, melihat wajahnya gembira dia turut gembira, melihat aku murung dia menjadi tak tenang, mendengar pembicaraan orang lantas menghubungkannya dengan orang lain bahkan kemudian berani meng-aku salah dan minta hukuman. kesemuanya ini menambah keyakinanku bahwa pilihanku memang tak salah, itulah sebabnya aku pun mempercepat waktunya setahun lebih awal untuk mewa-riskan ilmu silat tersebut ke-pada anak giok." Setelah berhenti sebentar dan menatap wajah Lan See giok dengan penuh kasih sayang, ia bertanya lebih jauh: "Anak. giok. bagaimanakah perasaanmu setelah mendengar perkataanku ini?" "Pujian dari suhu membuat anak giok me-rasa malu." buru-buru Lan See giok men-jawab dengan hormat, "selanjutnya anak giok bersumpah akan mengutamakan kejujuran serta berlatih dengan tekun, mentaati pera-turan perguruan dan tidak akan menyia-nyiakan harapan suhu terhadap anak giok." Dengan gembira To Seng cu manggut- manggut, katanya kemudian dengan serius: "Sekarang, ikutilah suhu menjumpai sucou mu!.." la lantas bangkit berdiri dan maju ke balik pintu gerbang istana gua. Tiba di depan pintu, To Seng cu melaku-kan suatu gerakan dengan telapak tangannya, pintu segera terbuka sebuah celah selebar dua depa, cahaya tajam pun segera meman-car ke luar dari balik ruangan tersebut. To Seng cu, Lan See giok, Si Cay soat dan Siau thi gou, segera bersamasama me-nuju ke luar pintu. Cahaya terang benderang mencorong di luar pintu, sedemikian terangnya sampai debu di lantai pun dapat terlihat jelas. To Seng cu berdiri serius di depan pintu gerbang yang tinggi besar itu sambil me-ngangkat kepalanya, memandang sepasang "lian" yang tergantung di sisi pintu. Lan See giok bertiga berdiri berjajar di be-lakang To Seng cu, sikap mereka pun amat serius. Malam sudah kelam, suasana amat hening Lan See giok yang berdiri di belakang To Seng cu memandang ke arah pintu dan mebnde-ngarkan hemjbusan angin dalgam gua, tiba-tibba saja merasakan pikiran dan perasaannya menjadi sangat kalut.

303

Ia teringat kembali akan dendam kesumat ayahnya, pengharapan dari bibi Wan serta enci Cian serta penghargaan yang begitu tinggi dari gurunya terhadap dirinya. Kesemuanya itulah yang memantapkan ke-sempatan baginya untuk mempelajari ilmu silat maha dahsyat pada malam ini dan peristiwa tersebut membuatnya amat terha-ru. Sementara ia masih termenung, tiba-tiba terdengar To Seng cu telah berkata dengan suara rendah tapi hormat. "Arwah, suhu di alam baka mohon tahu. tecu Cia Cing wan telah menuruti perintah dengan menemukan seorang ahli waris untuk mempelajari isi cinkeng, hari ini murid ang-katan ketiga Lan See giok khusus datang untuk menyampaikan sumpah serta rasa terima kasihnya." Selesai berkata, dia lantas jatuhkan diri berlutut dan menyembah beberapa kali. Lan See giok, Si Cay soat serta Thi-gou se-rentak berlutut pula ke atas tanah. Setelah menyembah sebanyak empat kali. To Seng-cu bangkit berdiri. Sedangkan Lan See giok sekalian bertiga setelah memberi hormat beberapa kali baru ikut berdiri pula. Kemudian To Seng-cu pun berkata kepada Lan See giok dengan wajah serius. "Anak giok, cepat berlutut dan mengangkat sumpah dihadapan sucoumu, kau harus me-nyatakan kesetiaanmu untuk selama hidup melaksanakan perintah sucou serta menaati peraturannya." Lan See giok mengiakan dengan hormat, dia maju beberapa langkah ke depan dan menjatuhkan diri berlutut, kemudian sambil memandang sepasang "lian" di sisi pintu, ujar-nya dengan wajah bersungguh sungguh: "Murid angkatan ke tiga Lan See giok de-ngan hormat melaporkan kepada arwah Su-cou dialam baka, tecu bertekad akan meneruskan kejayaan sucou dan bersumpah akan menaati setiap peraturan yang ditetap-kan perguruan serta menegakkan keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan, bila tecu sampai melanggar sumpah ini, biar Thian melimpahkan kutukannya kepadaku." Selesai bersumpah, dia menyembbah lagi beberapja kali. Tatkalga Lan See giok bmengucapkan sum-pah nya tadi, dengan sorot mata yang tajam To Seng-cu mengamati terus gerak gerik Lan See giok, tapi akhirnya dia manggut--manggut sambil tersenyum girang. Setelah bangkit berdiri Lan See giok ber-sama gurunya, Si Cay soat dan Siau thi gou menutup kembali pintu gua.

304

Tiba di ujung ruangan, To seng cu duduk bersila kembali dikasur duduknya, kemudian memerintahkan Lan See giok berlutut di ha-dapannya dan menitahkan Si Cay soat serta Siau thi gou berdiri di sisinya. Dengan sorot mata yang lembut To Seng cu mengamati wajah Lan See giok, lalu ujarnya dengan lembut: "Anak giok, sebelum mempelajari kitab cinkeng, terlebih dulu hendak kusampaikan beberapa pesan kepadamu, harap kau suka mengingatnya dihati." Lan See giok mengiakan berulang kali dan manggut-manggut pelan-pelan To Seng cu melanjutkan kata katanya: "Ke satu, untuk mempelajari ilmu silat maha sakti yang tercantum dalam kitab cinkeng, selain tergantung pada bakat, ke-cerdasan serta daya ingat seseorang, juga tergantung besar tidaknya rejekimu, tulisan di atas Pwee yap tersebut hanya akan mun-cul sekali setiap enam puluh tahun hurufnya amat banyak dan ilmu silatnya beraneka ragam, kau harus menggunakan segenap daya ingatmu untuk menghapalkan semua catatan tersebut." "Ke dua, sebelum mempelajari isi cinkeng itu, kau harus berusaha menenangkan pikiran serta membuang jauh-jauh semua pikiran yang tak berguna, tak boleh dicekam perasaan panik, ingat waktu sangat berharga bagimu, kau harus menggunakan saat yang amat singkat dimana aku akan memperta-hankannya dengan seluruh tenaga untuk membaca dan menghapalkan secara teliti. "Selain dari pada itu, gangguan macam apapun yang datangnya dari luar tidak akan mengganggu konsentrasiku, biar ada golok diayunkan ke leherku juga percuma, dalam hal ini kau harus ingat baik-baik, sekali pikiranmu bercabang. bukan hanya kau bakal tewas, akupun akan mengalami jalan api menujru neraka sehingzga ber-akibat cwacad seumur hidrup--!" Si Cay soat yang mendengarkan perkataan itu segera berkerut kening, wajahnya berubah hebat diam-diam ia berdoa semoga engkoh gioknya bisa berhasil dengan sukses. Sebaliknya Siau thi gou berdiri bodoh di situ, ia benar-benar tak pernah menyangka kalau untuk mempelajari kitab cinkeng pun bakal menghadapi ancaman yang begitu serius, karenanya saking gelisahnya peluh sampai jatuh bercucuran. Sambil berlutut dihadapan To Seng cu, diam-diam Lan See giok mengatur per-na-pasan dan berusaha keras untuk menenang-kan pikiran dan perasaannya yang bergolak.

305

Menyaksikan wajah tegang dan panik yang mewarnai wajah Lan See giok sudah lenyap tak berbekas, To Seng cu merasa gembira sekali, ia segera berkata lebih jauh: "Sewaktu berada di kuburan kuno, aku memberi beberapa tetes sari susu batu ke-mala kepadamu sehingga tenaga dalam yang kau miliki sekarang telah melipat ganda, ketajaman matamu bisa melebihi sinar sang surya, oleh sebab itu aku tidak kuatir kau tak bisa membaca tulisan di atas pwee yap ini." Sambil berkata dia membuka kotak kecil itu, mengeluarkan ke tiga biji pwee yap tadi dan diletakkan di atas telapak tangan. Dengan bersungguh hati dan serius Lan See giok mengatur napas, dia tak berani menyabangkan pikirannya, oleh sebab itu ia pun tak sempat memikirkan apa yang di-se-but sari susu batu pualam itu. Dalam pada itu To seng cu telah merang-kapkan tangannya menjadi satu dengan menjepit ke tiga pwee yap tadi dalam telapak tangannya, setelah menitahkan kepada Lan See giok agar berlutut di depan sepasang lututnya. dia berpesan lagi; "Anak giok, kau harus tahu, rejeki setiap orang berbeda, pe-ngalaman yang dijumpai pun tidak sama, bahkan nasibpun berbeda, kau harus mem-bawa tekad menyerahkan segalanya kepada yang kuasa. Pasrah sepenuhnya kepada Thian sambil membaca kitab itu, mengerti?" Lan See-giok segera memahami maksud-nya, seketika itu juga pikirannya terasa ter-buka, dengan cepat dia mengangguk: Akhirnya To Seng cu memandang sekejap lagi kearah Lan See giok kemudian baru me-mejamkan mata rapat-rapat, sepasang ta-ngannya menggenggam ke tiga biji Pwee yap itu lekat-lekat dan meletakkannya di atas lutut di depan dada. Lan See giok sendiripun berhasil men-e-nangkan pikirannya bagaikan air. sorot" ma-tanya memandang lurus ke depan dan tenang bagaikan pendeta tua. Pikirannya bersih dan perasaannya kosong, Si Cay soat serta Siau thi gou berdiri serius di sampingnya, mereka memusatkan seluruh perhatiannya sambil mengawasi gurunya serta Lan See giok dengan serius. Suasana dalam ruangan itu sangat hening, sedemikian sepinya sehingga tak kedengaran sedikit suarapun. Paras muka To Seng-cu berubah menjadi merah membara, lambat laun peluh mulai bercucuran membasahi jidatnya, uap putih menguap dari ubun-ubunnya dan membaur dengan bau dupa yang memenuhi seluruh ruangan.

306

Lan See giok berlutut di depan To Seng-cu, ia merasa udara sangat panas bagaikan ko-baran api, bahkan menerpa tubuhnya beru-lang-ulang, namun terhadap perubahan mimik muka dari To Seng cu itu, dia berlagak seakan akan tidak melihatnya: Si Cay soat serta Siau thi gou juga ikut merasakan meningkatnya suhu udara di se-kitar mereka. perasaan tegang pun semakin bertambah, tanpa terasa peluh- bercucuran deras, hatipun ikut berdebar Mendadak -To Seng-cu merentangkan kedua ibu jari tangannya ke samping, segulung cahaya ta-jam segera memancar ke luar ke atas langit-langit gua, seketika itu juga suasana di dalam gua menjadi terang benderang-Lan See giok tak berani berayal, sambil membungkukkan badan, sepasang matanya mengawasi kedua ibu jari To seng cu lekat-lekat, seluruh tenaga dalamnya telah di him-pun dan perhatiannya dipusatkan ke atabs telapak tangajn gurunya. Dargi balik telapakb tangan gurunya, ia merasa datangnya pancaran sinar tajam yang amat menusuk pandangan membuat mata-nya terasa sakit seperti ditusuk-tusuk pisau. Sambil berusaha menahan rasa sakit Lan See giok mengerahkan tenaga dalam nya untuk bertahan, biarpun sepasang matanya seakan akan melihat sinar matahari, tapi sekarang dia tidak merasa semenderita tadi lagi. Menyusul kemudian segulung bau harum muncul dari tenggorokannya, dan sepasang matapun terasa segar kembali. Lambat laun cahaya tajam yang menusuk pandangan itu mulai hilang, menyusul ke-mudian muncul huruf-huruf dari emas..Lan See giok sangat girang, secara ber-urutan diapun membaca terus. Hud kong sin kang (Hawa sakti cahaya Buddha ), - . Yu-hong-hui heng ( Menunggang angin ter-bang melayang ) . . . Pwee-yap sam-ciang ( tiga pukulan Pwee-yap) ..... Thi siu-yau-kong ( ujung baju baja menge-bas udara ). . . . Setelah membaca ke empat nama ilmu silat -tersebut, Lan See giok segera membaca pula isi pelajarannya dengan seksama . . . Dalam pada itu, Si Cay soat dan Thi- gou yang berdiri di kedua belah sisinya merasa amat tegang, peluh dingin jatuh bercucuran, mereka tak tahu apakah Lan See giok dapat membaca isi pelajaran dalam pwee yap itu atau tidak? Suasana dalam gua amat sepi, sedemikian sepinya sampai dapat terdengar suara detak jantung masing-masing. - Pada saat itulah- - -

307

Sreeet--Suara desingan besi bergema datang disu-sul suara pekikan nyaring yang berkuman-dang datang secara lamat-lamat. Si Cay soat serta Siau Thi gou sangat terkejut, dengan wajah berubah hebat mereka segera memasang telinga baik-baik dan mendengarkan dengan seksama. Kalau diamati secara teliti, sbuara pekikan nyjaring itu seakagn akan berasal bdiri kamar tidur Si Cay soat. Tergerak hati Si Cay soat, dia seperti me-mahami akan sesuatu, setelah menuding kearah gurunya dan Lan See giok yang se-dang berlutut membaca kitab cinkeng itu kepada Siau thi gou. di mana ia minta Siau thi gou melindungi keselamatan mereka, diam-diam ia melompat mundur sejauh tiga kaki dan menuju ke ruang batu. Setelah berada di pintu ruangan. ia dapat menangkap suara pekikan nyaring itu ber-gema semakin nyaring. Dengan cepat Si Cay soat melompat naik ke ruang tidurnya, tapi apa yang kemudian terlihat membuat sekujur tubuhnya gemetar keras, mukanya berubah hebat, hampir saja ia menjerit kaget. Ternyata pedang Jit hui kiam tersebut te-lah lolos sendiri dari sarungnya sebanyak be-berapa inci, cahaya yang tajam dan pekikan yang amat nyaring tak lain ber-asal dari pedang tersebut. Si Cay soat segera manggut-manggut mengerti, gumamnya kemudian dengan suara gagap: "Orang kuno bilang: Pedang antik yang berjiwa, akan memberi tanda bahaya bila ada musibah mengancam, Jangan-jangan ada orang yang hendak menyatroni kami?" Berpikir demikian, hatinya menjadi amat gelisah dengan cepat dia menyambar pedang Jit-hoa-kiam dan menaiki anak tangga batu menuju ke rumah batu di atas tebing. Karena teringat olehnya bisa jadi ada orang telah menyusup masuk ke dalam barisan po-hon bambu. Setibanya di ujung jalan, ia tak berani langsung membuka tombol rahasia, mula-mula diintipnya dulu lewat celah-celah pintu dan memasang telinga baik-baik, setelah ya-kin kalau tiada orang, dia baru menekan tombol dan masuk ke dalam rumah. Suasana dalam rumah batu gelap gulita, pintu dan jendela masih tertutup rapat maka ia berjalan menuju ke depan jendela. Belum pernah Si Cay soat merasakan perasaan gugup dan panik seperti apa yang dialaminya pada hari ini. karena dia tahu bila dalam keadaan seperti ini benar-benar

308

ada orang menyerang datang, maka bukan saja engkoh gioknya bakal tewas, gurunya juga akan mengalami rjalan api menujzu neraka. . Diw samping itu dirapun bisa menduga yang berani menyerang ke tempat kediaman mereka sudah pasti merupakan gembong ib-lis dari kalangan hitam yang berilmu silat sangat tinggi. Berpikir sampai di situ, tanpa terasa ta-ngan kanannya meraba pedang Jit hoa kiam. Tiba di depan jendela, dia mengintip ke luar lewat celah-celah jendela. tampak malam gelap mencekam seluruh jagad, bintang ber-taburan dimana mana, suasana amat hening. Tapi perasaan Si Cay soat waktu itu- dicekam oleh perasaan tegang bercampur ngeri. Dia memusatkan seluruh perhatiannya untuk melihat dan mendengarkan keadaan di seputar sana dengan seksama diperiksanya barisan bambu lebih kurang tujuh delapan kaki dihadapannya .... Mendadak.... Suara pekikan nyaring yang menggidikkan hati berkumandang dari atas puncak giok-li-hong di belakang bangunan rumah itu. Pekikan aneh tadi memanjang dan sangat menggetarkan perasaan, dalam sekilas pan-dangan saja orang sudah tahu kalau penda-tang memiliki tenaga dalam yang amat sem-purna. Si Cay soat amat terkejut, dengan cepat dia melompat ke jendela belakang, apa yang ter-lihat segera membuat sekujur badannya ge-metar keras. Sesosok bayangan hitam yang tinggi besar sedang melayang turun dari puncak bukit, sepasang matanya memancarkan cahaya ta-jam, lengannya direntangkan lebar-lebar ketika meluncur turun sehingga keadaannya tak jauh berbeda seperti seekor burung raja-wali raksasa. Begitu kagetnya Si Cay soat, dia sampai terjongkok sambil mengintip, sorot matanya yang tajam mengawasi bayangan hitam yang meluncur datang itu tanpa berkedip, saat itu dia tak tahu apakah gurunya telah selesai mengerahkan tenaganya atau belum, diapun tak tahu apakah Siau thi gou bisa mengen-dalikan diri atau tidak. Tidak meleset dari dugaan Si Cay soat. Siau thi gou yang melihat enci Soatnya lama juga belum kembali, hatinya menjadi amat gelisah. apalagi setelah mendengar suara pekikan aneh yang menggidik-kan hati itu, saking cemasnya dia sampai mandi keringat. Ia tahu, pendatang itu sudah pasti sese-orang yang memiliki ilmu silat amat tinggi, bagaimana mungkin enci Soatnya seorang dapat menghadapi pendatang tersebut.

309

Maka dia memutuskan untuk memba-ngunkan gurunya. Begitu mengambil keputusan dalam hati-nya, Siau thi gou dengan wajah gugup dan gelisah segera berjalan menghampiri To Seng cu yang berada dalam keadaan kritis. Pepatah kuno mengatakan. Setiap persoa-lan telah diatur oleh Thian Yaa, mana mung-kin To Seng cu akan menduga datang nya lawan tangguh dalam keadaan seperti ini? Dengan perasaan gelisah dan gugup Siau thi gou berjalan menuju ke hadapan To Seng cu, baru saja dia akan membuka suara, tiba-tiba dilihatnya To Seng cu berkerut kening, paras mukanya berubah menjadi pucat, pe-luh membasahi seluruh jidatnya. Ketika memandang pula Lan See giok yang berlutut di atas tanah, di jumpai sepasang tangannya basah oleh keringat. se-pasang matanya seolah-olah menempel di atas ta-ngan gurunya dan berada dalam keadaan tak sadar. Siau thi gou yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi terbelalak dengan mulut melongo saking kagetnya. ia berdiri terma-ngu. Ia tak habis mengerti mengapa suhu dan engkoh giok nya bisa berada dalam keadaan seperti ini, dia pun tak tahu harus memanggil mereka atau jangan. Sementara itu, Lan See giok yang berlutut di atas tanah dan baru saja selesai membaca empat macam rahasia ilmu silat, secara lamat-lamat dia telah menangkap pekikan suara aneh tersebut, namun untung nya dia tak sampai terpengaruh oleh suara itu. Dalam keadaan demikian, si anak muda tersebut segera melanjutkan usahanya mem-baca dua macam ilmu silat yang terakhir yakni, Hud lek kim kong sin ci (jari sakti tenaga Buddha ) serta Tay l o kiu thian kiam hoat, Pada saat dia selesai membaca jurus ter-ak-hir dari ilmu pedang Tay lo kiu thian kiam hoat tersebut, mendadak cahaya tajam yang semula terpancar ke luar dari ke tiga biji Pwee yap tersebut menjadi suram dan selu-ruh tulisan turut hilang lenyap tak berbekas. Lan See giok tak ingin gurunya terlalu ba-nyak kehilangan tenaga, ia segera mengang-kat kepala sambil bangkit berdiri. Paras muka To seng cu pucat pias, peluh bercucuran deras, pelan-pelan dia mem-buka mata dan memandang sekejap kearah Siau thi gou, kemudian setelah menghela napas katanya: "Segala sesuatunya sudah diatur oleh tak-dir, hal ini tak bisa salahkan Thi gou- tak mampu melindungi kita, apa lagi aku pun sebelumnya lupa berpesan dengan jelas kepadanya sehingga ketidak tahuan Thi gou telah membuyarkan segenap hawa murniku yang telah terhimpun."

310

Setelah berhenti sebentar, dengan wajah penuh perasaan menyesal dia menengok ke arah Lan See giok dan katanya lebih jauh. "Anak giok, bukan saja aku telah me-nyia nyiakan pesan sucou mu, aku pun merasa amat menyesal kepadamu---" Lan See giok merasa sangat tidak me-ngerti dengan perkataan gurunya itu, dengan hor-mat dia segera berkata: "Suhu, anak giok telah selesai membaca seluruh isi kitab Pwee yap cinkeng tersebut serta menghapalkan ke enam macam ilmu silat yang tercantum di dalamnya, mengapa suhu malah berkata begitu---"! Tiba-tiba To Seng cu membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar, wajahnya berubah dan ia bertanya dengan perasaan amat terkejut: "Anak giok, apa kau bilang!" "Anak giok telah selesai membaca ke enam macam ilmu silat yang tercantum dalam ki-tab tersebut" sahut pemuda itu dengan hor-mat. To seng cu benar-benar tidak percaya de-ngan pendengaran sendiri, tak tahan lagi ia bertanya agak emosi. "Anak giok, kau bilang berapa macam?" Menyaksikan gurunya terkejut, Lan See giok tahu kalau sesuatu keajaiban pasti telah menimpa dirinya. maka dengan penuh ke-gembiraan dia berkata: "Seluruhnya enam macam." "Coba kau sebutkan satu persatu." "Dua macam pada bagian permulaan adalah ilmu Hud kong sin kang serta Yu hong hui heng, pada bagian ke dua adalah ilmu pwee yap sam ciang serta Thi siu you khong. sedangkan pada bagian yang ter-akhir adalah ilmu jari Hud lek kim kong sin ci serta Tay lo kiu thian kiam hoat" "Anak giok, apakah kau dapat menghapal-kan ke enam macam ilmu tersebut tanpa melupakan sepatah kata saja?" tampaknya To seng-cu masih saja tidak percaya. Tanpa ragu Lan See-giok segera meng-ang-guk: "Anak giok yakin tidak bakal salah!" To Seng-cu segera mengawasi wajah Lan See-giok lekat-lekat, sampai lama kemudian ia baru menghela napas sambit katanya: ""Anak giok, rejekimu selain lebih tebal .daripada diriku, kecerdasanmu juga jauh melebihi aku. Dahulu aku mesti membuang waktu selama dua setengah jam, dari tengah malam sampai mendekati fajar untuk menyelesaikan ke lima macam ilmu silat terse-but, tapi kenyataan nya sekarang kau berha-sil mempelajari enam macam ilmu silat dalam satu jam, kemampuanmu ini sungguh mem-buat aku kurang percaya...! "Anak giok tidak berani membohongi suhu." .

311

To Seng cu segera tertawa ramah, kata.. yaa dengan gembira: "Nak, aku percaya kepadamu, hanya saja kejadian semacam ini sungguh membuat aku merasa terkejut, tercengang dan sangat gem-bira..." Setelah berhenti sejenak dan memandang sekejap Siau-thi-gou yang masih berdiri de-ngan tertegun, dia berkata lebih jauh: "Biasanya Thi gou bodoh, setiap meng-ha-dapi peristiwa tak tahu untung ruginya, mungkin dia mendengar suara pekikan aneh tersebut sehingga dia telah memasuki daerah sekitarku yang telah kupancari hawa Hud-kong-sinkang, justru karena hatiku tergerak maka huruf-huruf pada Pwee-yap tersebut segera hilang lenyap tak berbekas..." Belum selesai dia berkata, suara gelak ter-tawa yang amat nyaring telah ber-kumandang datang dari atas tebing. Mendengar gelak tertawa tersebut, To Seng-cu kelihatan agak berubah wajahnya, dia seakan-akan telah teringat akan se-suatu... Tak lama kemudian, terdengar seseorang telah berseru lantang diiringi gelak tertawa keras: "Haaahhh . . . haaahhh . . . haaahhh . . . budak cilik, kau kira setelah bersembunyi di belakang jendela maka aku tidak dapat meli-hatmu? Ayo cepat suruh gurumu ke luar untuk menyambut kedatangan aku si mak-hluk tua . . . " Mendengar seruan itu, To Seng cu segera berseru kepada Thi gou yang masih berdiri termangu: "Thi gou, cepat, beritahu kepada enci Soat mu, buka pintu dan sambut dia masuk kalian suguhkan semangkuk arak dulu kepada orang itu. . katakan kalau aku akan segera datang." Siau thi gou segera menenangkan hatinya dan mengiakan dengan hormat, kemudian membalikkan badan dan berlalu dari situ: To Seng cu seperti teringat lagi akan se-suatu, dengan cepat dia berpesan kepada bo-cah itu: "Gou ji, ingat! Kau jangan bilang kalau aku sedang mewariskan ilmu silat kepada engkoh giok mu!" Siau thi gou berhenti sebentar seraya manggut-manggut, kemudian ia menuju ke ruang sebelah kanan dan melompat naik ke atas Lan See giok yang menyaksikan kesemua nya itu menjadi bimbang dan tidak habis mengerti, kalau didengar dari nada pembica-raannya, agaknya orang itu sering berkun-jung ke sana, tapi kalau dilihat dari sikap gurunya, seakan akan dia menaruh prasangka jelek serta kewaspadaan terhadap orang ini. Sementara ia masih termenung, tiba-tiba To Seng cu berkata lagi dengan gelisah:

312

"Anak giok, cepat kau bacakan lagi pela-jaran dari ilmu pukulan Pwe yap sam ciang." Memandang sikap gurunya. Lan See giok tahu sudah pasti gurunya tak sempat mem-baca rahasia ilmu silat ini hingga selesai di masa lalu, maka setelah manggut-manggut dia bangkit berdiri. Menyusul kemudian dia melompat mundur sejauh dua kaki, berdiri dihadapan To Seng cu dan berkata dengan suara rendah: "Himpun tenaga pada sepasang tangan, se-bar hawa murni ke seluruh tubuh, keras, ga-nas, buas, tepat sekali serang sekali kena. lambat, lamban, melayang, mengapung, salurkan tenaga murni menembusi ujung jari - " Berbicara sampai di situ, dia menghimpun hawa murninya dan berbisik lebih jauh: "Jurus pertama Siang-yap-biau- khong (daun salju terbang melayang---)" Tubuhnya melambung ke udara secara tiba-tiba, nampaknya saja lamban namun kenyataannya sangat cepat, dalam waktu singkat ia telah mencapai langit-langit gua. Menyusul kemudian tubuhnya melejit sambil berputar, secepat kilat sepasang ta-ngannya direntangkan sambil menyambar ke bawah-Tatkala hampir menyentuh tanah, badannya berputar satu lingkaran sambil melayang dengan kepala di bawah kaki di atas pelan-pelan dia melambung kembali ke atas--.-. Tatkala mencapai tengah angkasa, sepasang telapak tangannya segera dirapat-kan, tubuhnya meluncur ke bawah dengan cepat, secepat kilat telapak tangan kanannya melepaskan bacokan.... Menyusul kemudian badannya berputar dan melayang kembali ke atas tanah. To Seng cu duduk bersila dengan wajah serius, diperhatikannya setiap gerakan dan perubahan jurus Lan See-giok dengan sek-sama, dalam perasaannya, selain beberapa orang tokoh yang maha sakti dalam dunia persilatan dewasa ini, rasanya jarang sekali ada yang mampu menerima ancaman itu. Sedangkan mengenai jurus yang ke dua, mungkin dia sendiripun tak mampu untuk menghadapinya. Melihat gurunya hanya duduk sambil mendengarkan dengan seksama, Lan See giok pun berkata lebih jauh: "Jurus ke dua, Hong- ki-yap-yang (angin berhembus daun berguguran)" Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, bayangan tangan segera menyelimuti se-luruh angkasa, menyusul kemudian deruan angin serangan

313

yang sangat mengerikan melanda kemana-mana, seluruh ruang gua seolah-olah sudah diliputi oleh angin puku-lan itu. Mendadak dibalik bayangan tangan yang menyelimuti angkasa itu berkumandang suara bentakan rendah, bayangan tangan segera lenyap tak berbekas, sedangkan Lan See giok dengan tangan sebelah di muka. tangan yang lain berada di belakang secepat kilat membabat kearah permukaan tanah, menyusul kemudian sepasang telbapak ta-ngannyaj bergerak aneh.g babatan yang lbang-sung membacok ke tanah itu disertai dengan suatu sodokan yang luar biasa sekali. Selama muridnya melakukan demonstrasi, To Seng-cu memperhatikan terus dengan seksama, sampai muridnya sudah berhenti, sambil mengelus jenggotnya dia baru mang-gut-manggut berulang kali: Melihat hal itu, Lan See-giok segera ber-kata lagi dengan suara hormat: "Jurus ke tiga, Ban yap- kui tiong(selaksa daun sumbernya satu)---"" Kembali tubuhnya melejit ke tengah udara hingga mencapai langit-langit gua tersebut. diiringi bentakan keras seluruh gua diliputi oleh bayangan tangan yang amat menyilau-kan mata-Mendadak --Kabut serangan memenuhi seluruh gua dan menggulung ke bawah, dari tebal lambat laun menjadi tipis, dari besar kian mengecil, dalam waktu singkat tinggal bentuk setitik. Dalam gulungan angin serangan mana, Lan See-giok menyentilkan ke sepuluh jari tangannya ke depan, desingan tajam menderu deru, kabut tipis menyelimuti ang-kasa dan berhamburan ke tanah seperti hu-jan deras. Awan pukulan begitu mereda, desingan tajam seketika berhenti, bayangan manusia berkelebat dan Lan See-giok tahu- tahu su-dah berdiri di tengah arena. Disaat Lan See-giok baru saja menghenti-kan gerakan tangannya. mendadak ia me-nangkap bayangan manusia berkelebat dari luar pintu ruangan sebelah kiri kemudian menyusul munculnya seorang kakek yang tinggi besar. Si Cay soat serta Siau thi gou mengikuti di belakang kakek itu dengan wajah gugup ber-campur gelisah. Lan See-giok tak berani membalikkan badan untuk mengamati dengan sesama wa-jah pendatang itu, dia berlagak tidak melihat, kepada To Seng cu katanya kemudian dengan hormat: "Tolong tanya suhu, apakah kali ini anak Giok telah melakukan kesalahan lagi?"

314

Sebenarnya To Seng cu juga telah melihat akan kedatangan dari kakek yang tinggi be-sar itu, namun dia juga berlagak seakan ak-an tidak melihat, malah sambil manggut-manggut dan mengelus jenggotnya ia me-nya-hut: "Ehmm, bagus sekali, kali ini bkau telah peroljeh kemajuan yangg lebih pesat kbetim-bang tempo hari, cuma kau mesti berlatih lagi de-ngan tekun bila ingin mendapatkan kesuk-sesan di kemudian hari." Sebelum Lan See-giok sempat menjawab, dari belakang tubuhnya sudah berkuman-dang suara gelak tertawa keras yang meng-getar-kan seluruh ruang gua menyusul kemu-dian seseorang berkata dengan suara yang kasar: "Aku kira ada urusan apa sehingga me-la-rang diriku masuk, rupanya kau sedang me-wariskan ilmu pukulan kepada murid ke-sayanganmu! Sementara berbicara, dia telah melangkah masuk ke dalam ruang gua... Tergerak hati Lan See-giok, dia kuatir orang itu datang dengan maksud tak baik cepat-cepat ia bangkit berdiri seraya berpa-ling. Seorang kakek berambut kusut yang memiliki perawakan tubuh tinggi besar kini sudah muncul di sana. Kakek tersebut beralis mata tebal dan mata besar, wajahnya lebar, hidungnya besar dan mulutnya lebar, jenggot putihnya ter-urai sepanjang dada, pakaian panjangnya terbuat dari bahan belacu dan panjangnya mencapai setinggi lutut. Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu kakek itu berjalan ke hadapan Lan See-giok serta mengamatinya dari atas hingga ke bawah. kemudian kepada To Seng cu yang baru saja bangkit untuk menyambut keda-tangannya, ia bertanya dengan perasaan kaget bercampur tercengang: "Ciu tua, sungguh heran, selama ini belum pernah kujumpai seorang bocah dengan bakat yang begini bagus, sebaliknya kau jus-tru telah mendapatkannya." Seraya berkata tiada hentinya dia membe-lai tubuh Lan See giok dengan telapak ta-ngannya yang besar, sementara wajahnya memperlihatkan perasaan iri, kagum dan sayang: To Seng-cu mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-babak: "Haaahhh-- -haaahhh ---haaahhh saudara The kelewat memuji, biarpun bocah ini ber-bakat bagus, namun kebebalan otaknya jus-tru membuat orang hampir tak percaya, un-tuk mempelajari satu jurus ilmu pukulan saja, aku mesti mengajarkan sampai belasan kali sebelum berhasil!" "Aarah, masa iya?" zsekali lagi kakwek itu mengawasri wajah Lan See-giok dengan pan-dangan kurang percaya, "biarpun ilmu pu-kulan tadi hanya sempat kulihat buntut nya saja, tapi aku tahu jurus tersebut benar-benar

315

sangat hebat dan luar biasa jika ada orang yang bisa menguasai ilmu pukulan seperti itu dalam sekali pandangan saja, wah, itu baru manusia super namanya: Sekali lagi To Seng-cu tertawa terbahak bahak: "Haaahhh ----haaahhh--- -haaahhh---- dari mana saudara The bisa menyangka kalau ilmu pukulan tadi sudah memeras pikiran dan tenaga siaute selama setengah tahun?" Sementara berbicara, ketika dilihatnya Si Cay soat sedang menyimpan kembali kotak kecil itu, maka kepada Siau-thi gou yang ma-sih berdiri termangu mangu dia berseru: "Gou ji. mengapa kau tidak segera me-ngambil arak untuk menyambut kedatangan The locianpwe!" Siau-thi-gou segera mengiakan dengan hormat, membalikkan badan dan buru-buru berlalu dari situ. Kemudian kepada Lan See-giok, To Seng-cu juga berkata: "Anak Giok, cianpwe ini adalah Lam hay koay-kiat (pendekar aneh dari Lam-hay) The cianpwe yang seringkali kuperbincangkan denganmu, bersama Wan-san-popo dan Si-to cinjin, mereka disebut Hay gwaa-sam khi (tiga manusia aneh dari luar lautan), ayo ce-pat kau jumpainya----" Sesudah mendengar pembicaraan antara gurunya dengan si kakek berambut kusut tersebut, dengan cepat Lam See giok dapat menyimpulkan kalau kedua orang itu bukan sahabat karib yang sebenarnya, tapi berhubung si pendekar aneh dari Lam hay menye-but Cia tua kepada gurunya, hal ini mem-buktikan pula kalau diapun seorang cianpwe yang telah berusia di atas seratus tahun. Berpikir demikian, diapun menjura dalam-dalam seraya berkata dengan hormat: "Boanpwe Lan See-giok menjumpai The cianpwe!" "Haaahhh...haaahhh ...haaahhh.. cukup, tak usah banyak adat!" seru kakek berambut kusut itu kasar diiringi gelak tertawa keras. Sementara itu, Siau. thi-gou telah meng-hi-dangkan sayur dan arak secara tergopoh- gopoh. To Seng - cu segera menuju ke atas perma-dani dihadapannya sambil berseru: "Gou-ji, hidangkan saja di tempat ini!" Pendekar aneh dari Lam-hay yang se-sung-guhnya bernama The Bu-ho itu cepat mencegah:

316

"Cia tua, aku datang karena ada urusan penting, aku tak berminat untuk minum arak, kalau tidak akupun tak bakal mener-jang masuk kemari secara tergesa gesa." "Aaah, rupanya begitu"! To Seng cu berke-rut kening sambil berseru kaget. Menggunakan kesempatan tersebut, kata-nya kemudian kepada Lan Seegiok bertiga. "Kalian pergilah dulu, aku hendak ber-bin-cang-bincang dengan The cianpwee." Lan See-giok bertiga mengiakan dengan hormat lalu beranjak pergi dari situ, sepe-ninggal ketiga orang itu. The Bu-ho baru ber-kata dengan nada kurang puas: "Cia tua, mengapa, kau suruh mereka ke luar dari sini? Urusan ini toh tak ada salah nya diketahui mereka." To Seng-cu tertawa hambar: "Urusan besar dalam dunia persilatan lebih baik jangan sampai diketahui oleh anak-anak muda." Sebenarnya Lan See giok enggan beranjak pergi dari ruangan tersebut, karena dia kuatir kakek berambut kusut itu datang de-ngan membawa maksud jahat, namun sete-lah mendengar ucapan gurunya, terpaksa dia harus mengikuti di belakang Si Cay-soat dan Siau-thi-gou untuk masuk ke ruang dalam. Setelah tiba di ruang atas, mereka bertiga menelusuri anak tangga menuju ke ruang batu di atas permukaan. Waktu itu ruang batu diterangi sebuah lentera, di atas mejapun terletak secawan be-sar arak. Lan See giok segera berbisik lirih. "Adik Soat, siapa sih kakek bebrambut ku-sut ijtu? Mengapa kaug ijinkan orang bitu menerobos masuk ke dalam gua?" Dengan perasaan agak mendongkol di samping rasa takut masih mencekam perasaannya Si Cay-soat menjawab lirih: "Orang itu adalah makhluk tua dari Lam hay The Bu-ho, orangnya kasar, hatinya ke-jam dan semua orang baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam sama-sama jeri kepadanya, dia termasuk seorang makhluk tua yang berdiri antara kaum sesat dan lurus. Kemungkinan besar kedatangan nya kali ini bermaksud untuk adu kepan-daian dengan suhu guna memperebutkan kedudukan manusia nomor wahid di kolong langit.. ." Lan See giok segera berkerut kening, ke-mudian serunya dengan nada tak setuju:

317

"Kalau ditinjau dari nada pembicaraan makhluk tua itu, rasanya dia bukan kemari untuk mengajak beradu kepandaian, bisa jadi dia mempunyai tujuan lain." Siau thi gou membelalakkan matanya le-bar-lebar, lalu katanya pula: "Makhluk tua itu sangat tak sabaran, baru saja enci Soat membukakan pintu, dia sudah bertanya dengan kasar: "Dimana suhu mu." waktu kuhidangkan secawan arak dan me-ngatakan suhu segera akan muncul, dia seperti tak sabar lagi untuk menanti!" Pelan-pelan Lan See giok mengangguk, seakan-akan memahami sesuatu dia berkata: "Kalau begitu. hal ini semakin membukti-kan kalau dia bukan datang kemari untuk beradu kepandaian." "Yaa, sayang suhu tidak mengijinkan kita turut mendengarkan pembicaraan tersebut, kalau tidak kita tentu akan mengetahui pembicaraan apa saja yang dilangsungkan di situ." omel Si Cay soat. Tiba-tiba Siau thi gou membuka mata nya lebar-lebar, kemudian bisiknya: "Ayo berangkat, kita sadap saja pembi-ca-raan mereka, coba lihat apa saja yang dibica-rakan makhluk tua itu." "Jangan adik Gou," dengan cepat Lee See giok mencegah. "setelah makhluk tua itu pergi, suhu tentu akan memberitahukan kepada kita . . . Belum habis dia berkata, mendadak dari balik gua terdengar suara gelak tertawa mak-hluk tua dari Lam hay yang amat keras dbisu-sul, seruanjnya dengan nadag lantang: "Kalbau begitu, aku The-tua akan berangkat selangkah lebih duluan . , . " Buru-buru Lan See giok berbisik kepada Si Cay soat dan Siau thi gou: "Si makhluk tua itu akan pergi!" Betul juga, dari bawah sana segera ter-de-ngar suara ujung baju yang terhembus angin bergema datang. Menyusul kemudian bayangan manusia berkelebat lewat, makhluk tua, dari Lam hay serta To Seng cu secara beruntun sudah muncul dari gua dan langsung menuju ke luar ruang batu. Terdengar si makhluk tua dari Lam-hay berseru kembali. "Cia tua, kita berjumpa lagi di tempat kediaman Wan-san popo..." "Haaahhh......haaahhh....haaahhh. ..", si-lahkan saudara The berangkat dulu, maaf aku tak dapat menghantar lebih jauh" sahut To Seng- cu sambil tertawa terbahak-bahak. Menanti Lan See giok bertiga menyusul ke luar dari ruangan, ternyata Lam-hay lokoay sudah berada tujuh delapan kaki jauhnya dan tiba di ujung hutan sana, kemudian dalam waktu singkat bayangan tubuhnya su-dah lenyap dari pandangan mata.

318

Diam-diam Lan See-giok merasa amat terkejut, dia tak mengira kalau ilmu meri-ngankan tubuh yang dimiliki makhluk tua ter-sebut benar-benar sudah mencapai pun-cak kesempurnaan. Sementara itu fajar sudah mulai me-nying-sing di ufuk timur, kabut tipis masih menye-limuti permukaan tanah, namun udara sa-ngat segar, membikin bergairahnya semangat hidup setiap orang. Dengan kening berkerut dan mengelus jenggotnya, To Seng-cu mengawasi ujung hutan dimana bayangan tubuh Lam-hay Lo-koay melenyapkan diri tanpa berkedip, lama-lama kemudian ia baru berguman lirih: "Badai dunia persilatan sudah tiba, kawa-nan iblis mulai bermunculan, tampaknya kata- kata yang menyebutkan, bila sepasang pedang bergeser tempat, badai darah melanda bumi. sungguh cocok sekali dengan kenyataan. Lan See giok segera merasakan hatinya bergetar keras, ucapan itu pernah didengar olehnya dari ayahnya, jika ditinjau dari nada pembicaraan gurunya sekarang, bukankah dunia persilatan bakal dilanda oleh suratu bencana yanzg sangat besar?w Mendadak To Sreng-cu seperti teringat akan sesuatu, mendadak ia berkata: "Aaah. Ayo kita masuk, dia telah pergi jauh" Sambil membalikkan badan dia masuk ke ruang dalam dan duduk di depan meja. Sedang Lan See-giok bertiga masuk me-ngi-kuti di belakang gurunya kemudian berdiri hormat di sampingnya. Dengan cepat Lan See-giok menjumpai kerutan kening gurunya, seolaholah ada suatu masalah yang terpendam dalam hati-nya dan menjadi beban pikiran, kendatipun senyuma-n masih tetap menghiasi ujung bibirnya. Berapa saat kemudian, To Seng-cu baru berpaling kearah Lan See - giok bertiga sam-bil berkata lembut: "Berhubung ada suatu urusan yang penting, aku bermaksud hendak pergi ke luar lautan-" Berubah air muka, Lan See-giok bertiga se-sudah mendengar perkataan ini. Melihat perubahan wajah murid muridnya, To Seng cu berkata lagi sambil tertawa ramah: "Kalian bertiga tak usah takut, dalam kepergianku ini. paling banter setengah ta-hun kemudian tentu sudah pulang kembali ke rumah!"

319

"Apakah suhu tak akan mengajak Gou ji?" buru-buru Siau thi-gou bertanya dengan wajah tak mengerti: To Seng cu menggelengkan kepalanya berulang kali. "Tidak. masalah yang kuhadapi kali ini kelewat-berat. karena itu kalian bertiga tak boleh ikut dan mesti tetap tinggal dalam gua untuk berlatih ilmu silat secara rajin, ingat jangan mencari gara-gara dengan orang luar" Kemudian setelah memandang sekejap kearah Lan See-giok dan Siau-thigou dengan kening berkerut, dia melanjutkan, "Thi-gou orangnya jujur dan polos, jalan pemikirannya kelewat sederhana, Giok-ji, kau sebagai kakaknya harus baik-baik menjaga adikmu ini." Dengan perasaan berat Lan See giok segera mengiakan. Kembali To Seng-cu berpaling kearah Si Cay-soat sambil melanjutkan: "Soat ji, selama ini kau selalu ingin menang sendiri. tak mau kalah kepada siapapun, dalam kepergianku kali ini kau mesti mem-perdalam ilmu pedang dan jangan sampai mencari gara-gara terus, bila kepandaianmu sampai ketinggalan, menyesal kemudian tak ada gunanya maka kuanjurkan kepadamu berlatihlah diri dengan tekun." Tergerak hati Lan See-giok mendengar ucapan tersebut, dia tahu yang dimaksud gurunya sebagai ilmu pedang adalah kitab pusaka dalam kotak emas kecil yang berada di sisi pedang Jit-hoa- kiam. Di samping itu. diapun tahu gurunya -se-dang memperingatkan. kepada adik Soat-nya, bila tidak tekun berlatih, di kemudian hari dia tentu akan kalah dengan orang yang membawa pedang Gwat-hui-kiam. Ternyata dugaannya memang betul, sambil tersenyum Si Cay-soat segera berkata: "Silahkan suhu pergi dengan hati lega, setengah tahun kemudian Soat-ji tentu telah berhasil menguasai ilmu Tong kong kiam-hoat tersebut. jika suhu telah pulang nanti, Soat- ji pasti akan mempergunakannya un-tuk memohon petunjuk dari suhu." Dengan wajah gembira To Seng cu mang-gut-manggut, ketika dilihatnya fajar telah menyingsing, diapun bangkit berdiri seraya berkata lagi: "Sekarang hari sudah terang tanah, aku akan segera berangkat, ingat sebelum aku pulang, janganlah membuat gara-gara dari pada memancing perhatian orang.! Seusai berkata, diapun melangkah ke luar dari ruangan. Selama-ini Lan See-giok mengamati terus perubahan wajah gurunya, ia menjumpai disaat To Seng cu bangkit berdiri tadi sekilas rasa sedih sempat melintas di atas wajahnya yang ramah.

320

Kembali hatinya tergerak, cepat-cepat dia memburu maju ke muka sambil serunya: "Suhu . . . " Mendengar panggilan itu To Seng-cu ber-henti lalu berpaling dan memandang sekejap ke arah Lan See-giok sambil tertawa paksa mendadak seperti memahami sesuatu diapun berkata: "ANAK Giok kau mempunyai bebanb den-dam kesumajt di atas pundagkmu, aku tahu kbau ingin secepatnya melacaki jejak musuh-mu itu, asal tenaga sinkangmu telah berhasil dilatih, kau boleh turun gunung dan tak usah menunggu aku sampai kembali." Lan See-giok buru-buru memberi hormat, cuma diapun segera menjelaskan. "Tidak, anak Giok ingin turut suhu. selain menambah pengetahuan juga peroleh banyak pengalaman yang berharga` Sekali lagi To Seng-cu menghela napas sedih. "Anak Giok. seandainya pertemuan kita terjadi pada setahun berselang atau peristiwa yang terjadi hari ini berlangsung setahun kemudian, tanpa permintaanmu, aku pasti akan mengutus kau seorang untuk pergi menyelesaikan tugas ini...." "Suhu, sekarang anak Giok telah berhasil mendapatkan ilmu silat tersebut." tukas Lan See-giok cepat, "sudah sepantasnya bila anak Giok mengikuti perjalanan suhu, ditengah jalan selain bisa melatih diri pun setiap saat bisa minta petunjuk dari suhu, sudah dapat dipastikan kemajuan yang ku-capai akan luar biasa ....... To Seng cu tidak membiarkan Lan See giok menyelesaikan kata katanya. dia segera memberi tanda untuk mencegahnya berbi-cara lebih jauh, kemudian setelah tersenyum sedih, dia berkata: "Anak Giok, dasar utama dari ilmu silat yang tercantum dalam cinkeng adalah Hud kong-sinkang, dengan dasar tenaga dalam mu sekarang, bila melatih diri selama sete-ngah tahun akan terpupuk dasar yang kuat, berlatih sepuluh tahun akan muncul sinar dalam tubuh, dan bila sudah melatih diri se-lama seratus tahun, cahaya Buddha akan melindungi seluruh tubuhmu. Dasar sinkang yang kau miliki sekarang baru mencapai taraf permulaan, jika kau meng-ikuti aku melaku-kan perjalanan jauh, yang pasti hanya kerugian yang akan kau peroleh bagi kema-juan ilmu silatmu, itulah sebabnya tinggallah kalian bertiga di dalam gua sambil berlatih diri dengan tekun, biar pun aku berada jauh di luar lautan, namun tak akan sedih memikirkan masa depan kalian, tentunya ucapan ini kalian pahami bukan?"

321

Selesai berkata kembali dia awasi Lan See-giok bertiga dengan sorot matanya yang penuh kasih sayang. Lan See-giok, Si Cay-soat dan bSiau-thi-gou bejrtiga serentak gmengiakan dengabn hormat. To Seng-cu tersenyum dan manggut-mang-gut, kembali katanya. "Sekarang aku hendak pergi dulu, kalian harus menjaga diri baik-baik." Sambil mengebaskan ujung bajunya, dia-pun melayang ke luar dari ruangan. Buru-buru Lan See-giok bertiga menjatuh-kan diri berlutut sambil berseru: "Moga-moga suhu selamat dalam per-jalanan dan cepat pulang kembali ke rumah." Menanti mereka bertiga mendongakkan kepalanya kembali, gurunya sudah lenyap dari pandangan mata, Pertama tama Lan See-giok yang bangkit berdiri lebih dulu sambil berkata: "Sebelum pergi wajah suhu menunjukkan rasa sedih, bisa kita duga perjalanan suhu kali ini tentu banyak rintangan dan kesu-li-tan." Tampaknya Si Cay soat tidak menemukan sesuatu yang aneh pada gurunya, ketika menjumpai kemurungan Lan See-giok, dia lantas berkata sambil tertawa: "Engkoh Giok, kau memang kebangetan, suhu yang ingin berpisah dengan kita sudah tentu menunjukkan rasa berat hati, jangan lagi kedatangan lam hay lo koay bukan untuk beradu kepandaian, sekalipun benar dengan kepandaian sakti yang dimiliki suhu, apa yang mesti di kuatirkan lagi ?" "Tadi aku toh sudah bilang, mau menyadap pembicaraan si makhluk tua itu, kenapa kalian berdua melarangku?" gerutu Siau-thi gou pula dengan cepat. "sekarang suhu telah pergi, apa yang hendak dilakukan ternyata tidak diberitahukan kepada kita..." "Suhu tidak memberitahukan masalahnya berhubung beliau kuatir kita turut mengua-tirkan keselamatannya sehingga hal ini akan mempengaruhi kemajuan yang bakal kita ca-pai di dalam ilmu silat," ujar Lan See -giok dengan perasaan berat. Mendengar ucapan tersebut, tanpa terasa Si Cay-soat tertawa cekikikan sambil menu-kas. "Kalau sudah tahu, semestinya kita semua harus menenangkan dulu pikiran agar bisa memusatkan pikiran untuk berlatih diri, de-ngan demikian harapan suhu pun tak sampai tersia siakan. Lagi purla selama tujuhz delapan tahun wbelakangan ini rsiau moay selalu men-dampingi suhu, pernah pula kusaksikan dua kali pertarungan suhu melawan makhluk tua tersebut dan sekali pertarungan melawan si nenek setan, namun selalu saja kepandaian suhu lebih tinggi setingkat.

322

Suhu selalu hidup terbuka dan jujur, ia disegani setiap orang, biar menjumpai mara bahaya aku yakin akan berubah menjadi se-lamat. Pendapatku, bila kita ingin mere-but hati suhu, turutlah nasehat dan pesan suhu sebelum berangkat tadi" Lan See giok menganggap perkataan terse-but memang betul juga, dia manggut beru-langkali, perasaannya juga semakin terbuka, sedang Siau thi gou segera melototkan sepasang matanya sambil berkata dengan sungguh-sungguh: "Aku Thi-gou bersumpah, di saat suhu kembali nanti. tujuh jurus ilmu naga dan ha-rimau sudah berhasil kugunakan secara baik, agar suhu tahu bahwa Gou - ji bukan gentong nasi yang tak berguna." Mendengar ucapan tersebut, Lan See-giok dan Si Cay soat tak bisa menahan rasa geli-nya lagi, mereka tertawa terbahak bahak. Sejak itu, Lan See giok dengan tekun mempelajari ilmu Hud kong sin kang, Si Cay soat menekuni ilmu pedang Tong kong-kiam hoat dan Siau-thi-gou melatih diri dengan ilmu pukulan Liong hou jit si. Beberapa hari lagi tahun baru akan tiba... Bunga salju yang turun sepanjang hari membuat seluruh bukit Hoa-san diliputi warna putih keperak-perakan yang sangat menyilaukan mata. Orang bilang, tambah tahun tambah usia. Kini usia Lan See-giok, Si Caysoat dan Siau-thi-gou telah bertambah setahun lagi. Lan See giok telah mencapai usia tujuh belas tahun. Tahun baru lewat. musim semipun tiba, dalam waktu singkat bulan tiga yang nyaman pun telah menjelang. Lan See giok yang menekuni ilmu silat nya telah peroleh kemajuan yang sangat pesat, kenyataan tersebut membuat anak muda tersebut sangat gembira sebab dia tahu harapannya untuk membalas dendam sema-kin besar. Ilmu pedang Tong- kong-kiam-hoat yang dilatih Si Cay-soat pun sudah mencapai ke-berhasilan, kini tinggal meningkatkan kema-tangannya. Hanya Siau thi gou yang pada dasarnya memang bebal otaknya, ditambah pula Liong hou jit si merupakan sejenis ilmu pukulan yang dahsyat, maka walaupun sudah melatih diri hampir tiga bulan lamanya, hasil yang diperoleh kecil sekali. Biarpun begitu. Siau thi gou yang bodoh justru memiliki ciri kebodohannya, setiap hari dia melatih diri terus tanpa berhenti, istirahatnya sangat jarang, akibatnya soal berburu dan membuat nasi harus dikerjakan oleh engkoh Giok dan enci Soatnya.

323

Lan See giok yang mendapat tugas dari gu-runya untuk memperhatikan adik Gou--nya, di samping melatih diri dengan tekun sering-kali dia membangkitkan semangat saudara-nya itu agar melatih diri lebih tekun lagi. Dengan pengamatan yang seksama selama tiga bulan terakhir ini, dapat disimpulkan kan olehnya bahwa ilmu Liong hou jit si me-mang sangat hebat, begitu dikembangkan angin pukulan yang dihasilkan sungguh luar biasa. Si Cay-soat yang menganggap dirinya pin-tar boleh dibilang sudah banyak tahun mem-perhatikan perubahan jurus serangan Liong-hou jitsi itu, namun dia tak pernah bisa mengetahui kelihaian dan kelebihan dari kepandaian tersebut. Maka setelah menyaksikan kemampuan engkoh Giok nya yang bisa menguasai ilmu pukulan tersebut hanya dalam mengamati berapa bulan saja, sadarlah dia bahwa kecer-dasan engkohnya memang jauh lebih hebat dari pada dirinya. Walaupun demikian ia sama sekali tidak merasa dengki ataupun iri hati, malah seba-liknya dia sangat berharap engkoh Giok nya bisa mempelajari pula ilmu pedang Tong- kong-kiam-hoat. Oleh sebab itu dia seringkali bminta pada Lan jSee-giok agar mgemberi petunjukb kepada nya, padahal seringkali secara sengaja tak sengaja dia membeberkan rahasia ilmu pedangnya. Sebagai seorang pemuda yang cerdas, su-dah barang tentu Lan See-giok mengetahui akan maksud adiknya ini, hal tersebut mem-buatnya sangat berterima kasih sekali kepada adik seperguruannya ini. Bulan lima kini menjelang, musim panas pun tiba. Ilmu Hud-kong sin- kang yang dilatih Lan See-giok telah mencapai puncaknya. Dengan ayunan ujung baju ia sanggup menghancur-kan batu dengan sentilan jari, mampu me-matahkan bambu, dengan ayunan tangan mampu membunuh harimau, boleh dibilang tenaga sakti itu bisa dipergunakan sekehen-dak hatinya. Ilmu pedang Tong-kong-kiam-hoat dari Si Cay-soat juga mendapat kemajuan yang pesat, pedangnya bisa dipergunakan secepat terbang, cahaya pedang yang menyilaukan mata, hawa serangan yang menyayat badan, betul-betul merupakan suatu ancaman yang berbahaya. Sebaliknya Siau thi-gou di bawah bimbi-ngan serta petunjuk dari Lan Seegiok, akhir nya juga menguasai ilmu pukulan Liong hou-jit-si yang sangat hebat itu.

324

Keberhasilan yang dicapai membuat ke tiga orang itu semakin getol berlatih, mereka se-mua berharap dapat menunjukkan kebo-le-hannya dihadapan gurunya sehingga mem-buat gurunya gembira. Hari ini matahari sudah bersinar ditengah angkasa. udara bersih dan angin berhembus semilir. biarpun di musim panas namun sua-sana terasa segar dan nyaman. Si Cay soat dengan pakaian serba merah, rambut terurai sebahu sedang berdiri tenang dimuka ruangan batu, agaknya baru saja ia selesai-melatih ilmu pedangnya. Lan See giok dengan jubah birunya dan senyum dikulum sedang mengawasi Siau thi gou berlatih ilmu pukulan. Pada saat itulah, Si Cay soat yang sedang mengawasi air terjun dikejauhan sana se-olah-olah teringat akan sesuatu, mendadak ia berseru keras: "Engkoh Giok, udara pada hari bini sangat indajh, ayo kuajarkagn ilmu berenangb kepada-mu!" Lan See giok yang mendengar tawaran tersebut menjadi sangat gembira, serunya dengan cepat: "Baik, aku akan melepaskan jubah panjang dan berganti celana dulu . . Sambil berkata, buru-buru dia lari masuk ke dalam ruangan. St Cay soat segera tertawa cekikikan mendengar seruan mana. demikian juga Siau thi gou segera tertawa terbahak-bahak sambil serunya: "Engkoh Giok. kau toh bukan bermaksud menangkap ikan di selokan, buat apa kau lepaskan baju ganti celana? Kau kan hendak belajar ilmu berenang di telaga?" Lan See giok segera menghentikan langkah nya sesudah mendengar perkataan tersebut, merah jengah selembar wajahnya, sambil memandang ke arah Si Cay soat dan Siau thi gou yang sedang menertawakan dirinya, dia berkata kemudian agak tersipu-sipu: "Tapi sayang ih-heng tidak punya pakaian untuk berenang . . ." "Aku punya sebuah pakaian renang yang terbuat dari kulit ikan hiu, pinjamlah. .." seru Siau thi gou cepat. "Oooh, kau sangat baik, terima kasih ba-nyak adik Thi-gou!" "Tak usah sungkan, ayo ikutlah aku." Dengan terburu buru mereka masuk ke dalam ruang batu. Si Cay soat sendiri hanya tersenyum sam-bil membungkam diri, diapun mengikuti di belakang kedua orang tersebut. Setibanya di dalam kamar, Siau-thi-gou mengambil sebuah bungkusan kecil dari tempat pakaiannya dan diserahkan kepada Lan See-giok sambil serunya:

325

"Ayo kenakan, tanpa benda ini jangan harap bisa mempelajari ilmu berenang de-ngan baik!" Lan See-giok tidak berniat untuk men-de-ngarkan obrolannya itu, cepatcepat dia me-mungut bungkusan kecil itu dan membuka nya, ternyata isinya adalah pakaian renang yang terbuat dari kulit ikan hiu. Dengan perasaan gembira, dia berterima kasih kepada Thi gou. kemudian buru-buru melepaskan jubah panjangnyra dan mengena-kzan pakaian renawng itu. Tapi arpa yang kemudian terlihat mem-buat senyuman yang semula menghiasi wajah Siau-thi gou hilang lenyap tak berbekas, malah sepasang matanya ikut melotot ke luar. Selama setengah tahun belakangan ini, Lan See giok sudah tumbuh lebih dewasa, rupanya celana pakaian renang itu hanya berhenti di sebatas paha dan tak mampu diteruskan lagi... Pada saat itulah dari depan pintu terdengar gelak tertawa yang amat merdu bergema memenuhi ruangan. Sewaktu Lan See giok dan Thi-gou berpa-ling mereka jumpai Si Cay scat telah berganti dengan sebuah pakaian renang berwarna merah, dalam genggamannya , membawa se-buah bungkusan kecil dan sedang berdiri memandang kearah mereka sambil tertawa terpingkal-pingkal. Terdengar gadis itu berseru: "Pakaian renang itu sudah tiga tahun la-manya, Thi-gou sendiri jarang mengena-kannya karena dia sendiripun merasa kekecilan, bagaimana mungkin kau bisa me-makainya?" Lan See giok yang mendengar perkataan tersebut diam-diam menjadi sangat men-dongkol, ia merasa dalam hal apapun adik seperguruannya jauh di bawahnya, tapi setelah menjumpai kejadian macam begini, dia selalu terperangkap. Bahkan kalau dilihat dari sikap gadis itu, sudah jelas dia telah menduga sebelumnya. Tiba-tiba Si Cay soat berkata sambil tersenyum. "Ehmmm, ambil dan cepat kenakan, ku-tunggu kalian di tepi telaga . ." Sambil berkata, dia lantas melemparkan buntalan kecil ke tangan Lan See giok .. Biarpun Lan See giok tidak habis mengerti, namun dia seperti sudah memahami akan sesuatu, buru-buru dibukanya bungkusan itu. Apa yang terlihat membuatnya amat gem-bira. ternyata bungkusan kecil itu berisikan sebuah pakaian renang yang memancarkan sinar keemasemasan. Dengan perasaan ingin tahu Siau-thi-gou turut melihat, ternyata pakaian renang itu berwarna hitam dan putih dengan bentuk yang sangat lunak,

326

bagian yang hitam ber-warna keemas emasan, sedang bagian yang putih berwarna keperak perakan, rupanya baju renang ini terbuat dari dua tiga puluh ekor kulit ikan Cui oh li yang dikumpulkan selama ini. Lan See-giok merasa berterima kasih sekali setelah menyaksikan kejadian ini, perasaan mendongkol yang semula menyelimuti pe-rasaannya, kini hilang lenyap tak berbekas. Sedangkan Siau thi gou seakan akan me-mahami sesuatu, ia lantas berseru: "Haaahhh...haaahhh ..haaahhh...tak tahu sekarang, tak aneh kalau saban kali kita makan ikan selalu tak dijumpai kulitnya, dan setiap kali cici selalu berebut untuk memo-tong ikan, rupanya disinilah letak rahasia-nya." Kemudian sambil mendorong Lan See giok yang masih termangu mangu. kembali dia mengomel. "Engkoh Giok, semuanya ini gara-gara kau yang melarang aku memasuki kamar cici, coba kalau tidak hari ini dia tak akan mem-buat kejutan untuk kita." Lan See giok sendiripun tidak pernah men-yangka bahwa di samping berlatih ilmu pedang dan menanak nasi, Si Cay soat masih meluangkan waktu untuk membuatkan pakaian renang baginya. Dia mencoba untuk meraba pakaian renang itu, semuanya halus dan lunak, bisa dibayangkan betapa susah payahnya Si Cay soat untuk menyelesaikan pekerjaan terse-but. Berpikir sampai di situ, timbul perasaan sayang di hati kecilnya, ini membuat pemuda tersebut merasa tak tega untuk mempergu-nakannya,... Siau thi gou yang menyaksikan hal terse-but, tanpa terasa bertanya dengan nada tak mengerti: "Hei, jangan diraba melulu, ayo cepat di kenakan, hati-hati kalau dia sampai me-ngambek gara-gara kau datang terlambat!" Lan See giok segera sadar kembali dari la-munannya, buru-buru ia bertukar pakaian renang itu. Ternyata pakaian tersebut sangat persis, tahulah pemuda kita, Si Cay soat tentu su-dah mengukur pakaiannya secara diam-diam. Selesai bertukar pakaian. kedua orang itu buru-buru ke luar ruangan, ternyata Si Cay soat sudah tak ada di situ, maka mereka ber-dua pun berangkat ke telaga Cui oh. Waktu itu, Si Cay soat kelihatan sedang berdiri di tepi telaga sambil tiada hentinya menengok kemari dengan wajah tak sabaran. Siau thi gou yang menyaksikan kejadian ini dengan cepat dia peringatkan: "Engkoh Giok, sudah pasti enci Soat se-dang marah"

327

Mendengar itu Lan See giok segera mem-percepat larinya dan secepat kilat meluncur ke tepi telaga dengan begitu Siau thi gou pun tertinggal jauh di belakang. Begitu tiba di tempat tujuan. Lan See giok segera berseru kepada Si Cay soat dengan senyum dikulum. "Adik Soat, terima kasih banyak pakai-an renang buatanmu sungguh indah, pas lagi!" Sesungguhnya Si Cay soat sedang menanti dengan perasaan gelisah, namun setelah mendengar pujian dari Lan See giok, apalagi menyaksikan pakaian renang bikinannya persis sekali di tubuh engkoh Giok nya, perasaan tak senang yang semula mencekam perasaannya seketika lenyap tak berbekas. Sepasang pipinya berubah menjadi merah, dipandangnya wajah Lan See giok sekejap dengan gembira, dia seperti hendak meng-ucapkan sesuatu, tapi bayangan manusia berkelebat lewat, Siau thi gou telah muncul pula di situ sambil berseru: "Enci Soat, bikinanmu sangat bagus. aku juga minta satu" Si Cay soat kuatir bocah itu ribut, cepat-cepat dia mengangguk sambil tertawa: "Asal kau bersedia menuruti perkataan-ku, enci pasti akan buatkan sebuah untuk-mu. "Baik, mulai hari ini aku pasti akan menu-ruti perkataanmu!" Menggunakan kesempatan sewaktu Si Cay- soat sedang berbicara dengan Siau thi gou, Lan See giok mengamati adik sepergu-ruannya yang memakai pakaian renang itu. Ia merasa gadis ini lebih matang lagi dalam setengah tahun belakangan, tubuhnya keli-hatan lebih matang dan montok. payudaranya nampak lebih besar, pinggang nya ramping, pinggulnya bulat dan pahanya mulus, boleh dibilang gadis tersebut memiliki potongan badan yang sangat menarik hati... Sementara dia masih mengamati dengan seksama, mendadak terdengar Si Cay soat berkata. "Engkoh Giok, air di telaga ini terlalu dalam." mari kita belajar di telaga yang agak dangkal saja." Buru-buru Lan See giok menenangkan kembali hatinya. "Baik. baik, makin dangkal airnya makin baik" Si Cay soat kembali tertawa cekikikan mendengar ucapan itu! Mereka bertiga pun menelusuri telaga menuju ke sebuah pantai dengan air yang dangkal, mula-mula Si Cay soat mengajarkan dulu rahasia

328

mengambang, menyelam dan mengapung, kemudian baru mengajak pemuda itu masuk ke air. Sesungguhnya Lan See giok adalah seorang pemuda yang sangat cerdas dengan daya tangkap yang mengagumkan, begitu diberi tahu, semua tehnik berenang telah dikuasai nya. Sayang sekali di air dan di darat keadaannya sama sekali berbeda, setelah menceburkan diri ke dalam telaga, dimana permukaan air mencapai dadanya, ia menjadi tegang, napasnya sesak dan langkahnya se-olah-olah menjadi enteng. ini semua mem-buat anak muda tersebut buru-buru menggunakan ilmu bobot seribunya. Melihat pemuda itu gugup bercampur kaget, Si Cay soat menghentikan langkah nya dan berkata sambil tertawa: "Bagaimana kalau di tempat ini saja? Ke-dalaman air sudah cukup untuk taraf per-mulaan belajar berenang" Lan See giok mengangguk berulang kali sambil mengiakan. Sekali lagi Si Cay-soat mengulangi tehnik ilmu berenang. kemudian ia baru berkata: "Sekarang kita berlatih dulu ilmu menga-pungkan diri, letakkan tanganmu di atas le-nganku." Lan See-giok menurut dan mengikuti teori yang diperoleh, dia menarik nafas sambil meluruskan kakinya ke belakang- serta merta badannya terapung ke atas permukaan air. Kenyataan ini membuat anak muda itu kegirangan, pikirannya dengan cepat: "Oooh rupanya tidak terlalu sulit untuk belajar ilmu berenang ...." Melihat wajah Lan See-giok berseri Si Cay soat turut bergembira hati. katanya kemu-dian: "Sekarang kita belajar berenang. salurkan semua tenaga ke seluruh badan, utamakan keringanan tubuh, Kemudian dayunglah sepasang tangan dari depan ke belakang, dii-kuti gerakan kaki..." Sambil memberi keterangan dia memberi contoh di depan pemuda itu sambil bergerak ke depan. Lan see-giok mengikuti cara tersebut, betul juga tubuhnya bisa bergerak ke muka pe-lan-pelan, bisa dibayangkan betapa gembira-nya pemuda kita. Mendadak.... Bayangan merah berkelebat lewat. Si Cay soat yang semula berada di sisinya mendadak lenyap tak berbekas. Lan see giok menjadi gugup, dia lupa de-ngan teorinya dan tak ampun lagi bunga air memercik ke mana-mana, anak muda menja-di gelagapan sendiri.

329

Sementara itu Si Cay soat yang baru mun-culkan diri pada dua kaki dari situ, menjadi amat terperanjat setelah menyaksi kan keja-dian ini. cepatcepat teriaknya. "Pusatkan pikiran, atur pernapasan dan berenang ke muka dengan tenang ....." Lan See giok baru merasa lega setelah melihat adik seperguruannya muncul di de-pan sana dalam keadaan selamat dengan ce-pat dia menaati seruan tersebut. Dalam waktu singkat dia berhasil mem-pertahankan keseimbangan tubuhnya dan berenang lagi ke depan. Sekarang dia berharap bisa naik ke darat untuk beristirahat sebentar. Berbeda sekali dengan jalan pemikiran Si Cay soat, sewaktu melihat pemuda itu lambat laun dapat mengendalikan diri, dia berharap pemuda itu bisa berenang lebih lama." Maka sambil munculkan diri di atas per-mukaan air dia berseru keras. "Engkoh giok kemarilah cepat, di bawah sini terdapat sebuah batu besar" Lan See giok merasa ini memang cocok dengan pikirannya, maka tubuhnya" bergerak ke depan Si Cay soat kemudian berusaha untuk berdiri di situ ..... Si Cay soat tidak menyangka Lan See giok akan berhenti secara tiba-tiba, saking kaget-nya dia menjerit keras dan segera berusaha untuk menariknya. Siau thi gou yang berdiri di tepi telaga juga sangat terperanjat sehingga berteriak keras. Rupanya sepasang kaki Lan See giok me-nginjak tempat yang kosong. ini membuat badannya segera tenggelam. dalam waktu singkat air telaga menggenangi kepalanya. Bisa dibayangkan betapa terperanjatnya pemuda tersebut, serta merta tangannya mendayung dengan sepenuh tenaga, semen-tara tubuhnya menubruk ke atas ...... Kebetulan sekali si Cay soat yang gagal menyambar tangan pemuda itu sedang berge-rak ke muka, tak ampun lagi dia lantas dipeluk anak muda tersebut erat-erat. Lan See giok yang berhasil memeluk adik seperguruannya, bagaikan menangkap tuan penolong saja, pelukannya makin diperken-cang lagi.... . Dalam keadaan begini, Si Cay-soat menjadi yaa malu, gelisah selain gugup. namun ia cu-kup memahami perasaan engkoh Giok nya waktu itu, maka dia memutar pinggul, mem-balikkan badannya dan membiarkan Lan See giok berada di atas dadanya.

330

Sementara itu, Lan See giok telah pulih kembali kesadarannya setelah ia berhasil menarik napas panjang, sewaktu mengetahui bagaimana dia sedang memeluk pinggang adik seperguruannya dan mukanya menem-pel diantara sepasang payudaranya yang em-puk, hatinya menjadi terkejut dan pegangan-nya segera dilepaskan. Si Cay soat bertindak cepat, segera dia membalikkan badan begitu tekanan di atas tubuhnya hilang, lalu sambil memeluk tubuh See giok, pelan-pelan ia berenang menuju ke tepi pantai. Siau thi gou yang semula dicekam perasaan terkejut dan gugup sekarang dapat merasa kan betapa lucunya kejadian ini, tak tahan dia bertepuk tangan sambil tertawa terbahak bahak. Tak terlukiskan rasa malu Lan See giok se-sudah mendengar gelak tertawa Siau thi gou, seandainya bisa dia ingin menyelam ke dasar telaga dan menyembunyikan diri di sana. Si Cay soat sendiripun merasa amat malu, pipinya berubah menjadi merah jengah. apalagi membayangkan kembali kejadian yang baru saja berlangsung, hatinya berdebar keras sekali Tapi ia bertekad untuk berenang ke darat dan menghajar Siau thi gou untuk melam-piaskan rasa malu dan gemasnya, karenanya bagaikan seekor ikan duyung, dia melesat ke darat dengan cepatnya. Siau thi gou segera merasakan bahwa gela-gat tidak menguntungkan, ia tahu sudah membuat gara-gara maka tanpa membuang waktu lagi, dia memutar badan dan me-ngambil langkah seribu. Pada saat itulah, mendadak .... Dari kejauhan sana terdengar seseorang sedang berteriak teriak dengan suara yang lantang. "Thi gou, Thi gou ..... Berkilat sepasang mata Siau thi gou mendengar suara panggilan itu, soraknya gembira: "Aku berada disini, kami semua berada sini!" Ditengah teriakan itu, dia berblarian cepat mejnuju ke arah magna berasalnya sbuara tadi. Sementara itu Si Cay soat dan Lan So giok sudah tiba pula di daratan. sementara Lan See giok tertegun melihat wajah gembira Siau thi gou yang sedang berlari menjauh. Si Cay soat yang sudah tahu suara teriakan siapakah tadi segera berkata dengan gembira: "Ayo cepat berangkat, si naga sakti pemba-lik sungai Thio loko telah datang" Lan See giok amat girang, dia berharap bisa peroleh sedikit kabar tentang bibi Wan dan enci Cian nya dari mulut si naga sakti tersebut.

331

BAB 16 DENGAN wajah gembira, pemuda itu segera berseru pula. "Mari kita pun segera berangkat!" Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh, berangkatlah muda mudi dua orang tersebut mengejar Siau thi gou. Setelah melewati batuan cadas, di depan sana terlihat si naga sakti pembalik sungai yang bertubuh tegap dan berambut putih se-dang mendekat dengan langkah tegap. di bawah ketiaknya seperti tergantung sebuah buntalan kecil. Melihat buntalan itu, Si Cay soat segera bersorak gembira. "Thio loko, kali ini hidangan lezat apa yang kau bawakan untuk kami semua?" Waktu-itu si naga sakti pembalik sungai sudah menggenggam tangan Siau thi gou, mendapat pertanyaan itu diapun menjawab sambil tertawa terbahak-bahak: "Haaahhh . . haaahhh . . haaahhh kali ini, aku si engkoh tua harus meminta maaf, ber-hubung kedatanganku terlalu tergesa-gesa, maka tidak sempat kubawakan se suatu untuk kalian." Kemudian kepada Lan See-giok yang mendekat, dia berkata pula sambil tertawa: "Saudara cilik, tujuh bulan kita tak bersua, nampaknya kau lebih dewasa!! Berhubung Si Cay soat dan Siau thi gou menyebut engkoh tua kepada si naga sakti pembalik sungai, maka Lan See giok segera menjura sambil menyapa pula: "Siaute Lan See giok menjumpaib engkoh tua !" j Naga sakti pemgbalik sungai tebrtawa terge-lak penuh kegembiraan. "Haaahhh...haah tidak usah... tidak usah, aku si engkoh tua juga tidak membawa hadiah apa-apa sebagai tanda mata untuk perjumpaan kali ini" "Nah terimalah bungkusan ini, semua barang yang berada di dalamnya menjadi milikmu semua." Sambil berkata dia lepaskan buntalan kecil dan diserahkan kepada Lan See giok. Tentu saja Lan See giok merasa sungkan untuk menerimanya, namun juga tak enak untuk menolak, setelah ragu-ragu sejenak akhirnya dia terima juga buntalan itu. Siau thi gou tidak tahan untuk mengulur-kan lidahnya sambil menelan air liur beru-lang kali, nampaknya dia sedang mengira-ngira hidangan lezat apakah yang berada di dalam buntalan tersebut. Menanti Lan See giok menitipkan buntalan tersebut ke tangan Siau thi gou, bocah itu baru tertawa senang.

332

Dalam pada itu si naga sakti pembalik sungai sudah bertanya sambil tersenyum setelah menyaksikan Lan See giok berdua. masih mengenakan pakaian berenang ?" "Ooh, rupanya hari ini kalian sedang berla-tih ilmu berenang?" "Siaute baru pertama kali mempelajari ilmu ini, khusus siaute minta pelajaran dari adik Soat" sahut Lan See-giok cepat. Dengan wajah semu merah, cepat-cepat Si Cay soat membantah: "Suhu menugaskan kepada siaumoay un-tuk mengajarkan dasar-dasar ilmu berenang kepada engkoh Giok, sekarang engkoh tua sudah datang, siau-moay mah tak akan uru-san lagi." "Waah, sayang sekali engkoh tua masih ada urusan penting yang mesti diselesaikan, paling lama hanya setengah hari aku berada di sini, sebelum malam tiba nanti harus su-dah turun gunung..." "Kenapa? Kenapa tidak berdiam beberapa hari lagi?" tanya Lan See-giok bertiga cemas. Naga sakti pembalik sungai sangsi sejenak akhirnya dia berkata: "Mari kita pulang dulu sebelum membicarakan lebih jauh!" Maka berangkatlah ke empat orang itu menaiki bukit. Setelah berada rdi ruang batu, znaga sakti pembwalik sungai barru berkata kepada Lan See giok dan Si Cay-soat. "Sekarang adik Giok dan adik Soat berganti pakaian dulu, biar engkoh tua menunggu kalian di sini." See giok dan Cay soat mengiakan, mereka berdua cepat-cepat berlalu untuk bertukar pakaian. Membayangkan kembali peristiwa dalam air tadi, kedua orang itu merasa amat malu di samping perasaan manis dan hangat yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. Selesai bertukar pakaian, mereka berdua muncul kembali dari kamar masing-masing, tapi Si Cay soat yang berjumpa kembali de-ngan See giok segera merasakan pipinya menjadi merah dan tertunduk malu-malu, ia menunjukkan sikap jengah seorang gadis yang bertemu dengan pemuda asing saja... Lan See giok turut merasakan hatinya ber-debar keras, pipinya turut berubah menjadi merah, sedang perasaan yang mencekam hatinya sekarang sungguh tak bisa dilukis-kan dengan kata-kata. Si Cay soat segera tersenyum jengah meli-hat sikap tertegun pemuda itu, cepat-cepat dia lari naik ke atas tangga. Lan See giok mengikuti di belakangnya, saat itulah dia baru merasakan bahwa adik seperguruannya telah tumbuh menjadi se-orang gadis remaja, sedangkan ia sendiripun sudah mendekati seorang pemuda dewasa.

333

Tiba kembali di ruang batu, Siau. thi gou telah mengeluarkan hidangan serta empat mangkuk arak. Dari sikap dan wajah Lan See giok serta Si Cay soat yang memerah, si naga sakti pem-balik sungai memandang sekejap wajah kedua orang itu, dengan cepat dia tahu bahwa benih cinta rupanya sudah tumbuh dalam hati mereka. Namun bila teringat kembali tujuan keda-tangannya ke sana, keningnya segera berke-rut, selapis kemurungan segera menyelimuti wajahnya yang berkeriput. Lan See giok dan Si Cay soat cepat--cepat menundukkan kepalanya rendah-rendah, sewaktu sorot mata si naga sakti Pembalik sungai yang tajam diarahkan kepada mereka oleh sebab itu mereka pun tidak melihat pe-rubahan wajah dari engkoh tuanya itu.. Tiba-tiba terdengar Siau thi you berseru dengan nada tidak senang hati: "Thio loko, mengapa sih kau terburu -buru ingin pulang? Siapa tahu tiga atau lima hari lagi suhu sudah pulang . . ." Mendengar ucapan tersebut, si naga sakti pembalik sungai seakan akan teringat akan sesuatu, dia segera berpura - pura gembira dan tertawa tergelak. "Haaahhh . . . haaahhh . . . haaahhh ... sekarang aku si engkoh tua hendak membe-ritahukan kepada kalian, berhubung cia cianpwe masih ada urusan lain yang belum selesai dikerjakan, mungkin beberapa bulan lagi beliau baru bisa pulang" Lan See giok bertiga menjadi sangat terke-jut, hampir bersamaan waktunya mereka berseru: "Darimana engkoh bisa tahu?" Naga sakti pembalik sungai tertawa, de-ngan sikap sewajar wajarnya ia men-jawab: "Engkoh tua telah menerima surat yang ditulis Cia locianpwe dan dikirim dari luar lautan!" Sambil berkata, dia mengambil sepucuk surat dari sakunya dan diserahkan kepada Lan See giok. Dengan gugup pemuda itu membukanya dan membaca isinya. Si Cay soat segera mendekati anak muda itu sambil menumpang membaca isi surat tersebut. Garis besarnya dalam surat itu dijelaskan bahwa guru mereka harus pergi ke luar lau-tan demi keselamatan dunia persilatan, se-bab masalah tersebut menyangkut nasib pel-bagai perguruan besar di dunia persilatan, maka urusan tak bisa diselesaikan dalam waktu singkat, di samping itu

334

guru mereka berpesan agar Lan See giok bertiga melatih diri lebih tekun serta tak usah memecahkan perhatian ke masalah lain. . . Ketika selesai membaca surat itu, Si Cay soat yang pertama-tama berguman dengan nada tak habis mengerti: "Thio loko, mengapa suhu tidak menjelas-kan kapan baru akan pulang . .?" Naga sakti pembalik sungai membandang sekejap jkearah Lan See ggiok yang sedanbg termenung, kemudian jawabnya sambil ter-tawa: "Engkoh tua menitipkan pesan tersebut se-cara lisan kepada si pembawa surat. jadi akupun tak tahu kapan pulangnya." "Thio loko, siapakah si pembawa surat itu?" tiba-tiba Siau thi gou bertanya dengan wajah tak mengerti: Agaknya si naga sakti pembalik sungai ti-dak menduga Siau thi gou bakal mengajukan pertanyaan tersebut, dengan kening berkerut dia segera tersenyum. "Berbicara soal orang ini, kalianpun belum tentu tahu." "Coba sebutkan agar kami tahu" timbrung Si Cay soat. Agaknya si naga sakti Pembalik sungai se-dang memperhatikan dengan seksama sikap Lan See giok yang masih meneliti surat terse-but, namun ia toh menjawab juga. Orang itu adalah tianglo angkatan yang lampau dari Bu-tong-pay, orang menyebut nya Keng-hiang sian-tiang!" Si Cay soat kembali berkerut kening, lalu tanyanya dengan nada tidak mengerti: `Bukankah Keng hiang sian-tiang dari Bu tong-pay sudah lama tidak muncul kembali di dalam dunia persilatan?! Dengan wajah bersungguh-sungguh si naga sakti pembalik sungai berkata: "Masalahnya kali ini menyangkut suatu keadaan yang besar. jadi tak bisa dibanding-kan dengan kejadian biasa, dengan unda-ngan khusus dari Lam-hay-lo koay, bahkan Cia locianpwe saja harus berangkat sendiri apalagi persoalan ini menyangkut Bu-tong -pay secara langsung, memangnya dia tak akan berangkat? Baru selesai dia berkata Lan see Giok yang masih memegang surat itu berseru kepada, si nags sakti pembalik sungai: "Thio loko, siaute jumpai tinta bak di atas surat tersebut nampaknya sudah lama sekali ..... Berubah hebat paras muka si naga sakti pembalik sungai setelah mendengar ucapan tersebut. tapi cepat-cepat ia mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak bahak, menyusul kemudian ia menjelaskan lebih bjauh: "Saudaraj cilik, pernahkgah kau bayangkabn berapa ribu li jarak dari sini sampai ke luar lautan? Apalagi Keng hian sian-tiang meng-gembolnya

335

dalam saku, dimana kena keri-ngat dan air hujan. masa surat tersebut dapat utuh seratus persen?" Berbicara sampai disini, diapun sengaja mengalihkan pembicaraan ke soal lain, sam-bil menunjuk ke arah bungkusan kecil itu katanya lagi: "Sewaktu menerima surat ini, kebetulan Hu-yong siancu Han lihiap juga berada di rumahku. ketika ia tahu aku hendak kemari, dia telah menitipkan bungkusan baju itu untukmu." Siau thi gou menjadi amat kecewa setelah mendengar perkataan itu, serta merta dia mengangkat buntalan kecil itu dan dilihat sekejap... Berbeda dengan Lan See giok, mencorong sinar tajam dari balik matanya setelah mendengar perkataan itu, cepat tanyanya dengan gembira.. "Apakah bibi Wan dan enci Cian berada dalam keadaan sehat-sehat semua?" Sewaktu berbicara, wajahnya memancar-kan sinar kerinduan yang amat tebal. Si Cay soat yang melihat kesemuanya ini segera merasakan segulung hawa amarah yang entah darimana datangnya membara di dalam dadanya dan ingin dimuntahkan ke luar, namun diapun tak berani melampiaskannya ke luar . Naga sakti pembalik sungai yang melihat tujuannya berhasil, ia segera tertawa setelah meneguk arak sahutnya: "Mereka semua berada dalam keadaan baik-baik. mereka menduga kau pasti sudah makin tinggi, maka khusus membuatkan be-berapa stel pakaian untukmu." Lalu sambil mengambil buntalan kecil itu, dari tangan Siau thi gou, dia bertanya sambil tertawa penuh arti: "Saudara cilik, apakah kau hendak mem-bukanya sekarang juga ...."" Berkilat sepasang mata Lan See giok, bisa dilihat hatinya diliputi emosi, bibirnya berge-rak seperti ingin mengucapkan sesuatu, na-mun akhirnya dia menggeleng kan kepalanya berulang kali, sahutnya sambil tertawa: Oooh, tidak usarh, tidak usah!"z Tapi, setiap worang bisa melirhat betapa inginnya Lan See giok membuka bungkusan itu dengan segera dan ingin melihat pakai-an apa saja yang telah dibuatkan untuknya. Ia percaya setiap jahitan dan setiap lipatan pakaian tersebut, terkandung kasih sayang dari bibinya dan cinta suci dari enci Cian nya. Si Cay soat tak bisa menahan rasa gusar di dalam hatinya lagi, dia tertawa paksa namun setiap orang bisa mendengar betapa kecutnya suara tertawa itu. kemudian terdengar ia berkata:

336

"Sudah tentu jahitannya pas sekali diba-dan, secantik enci Cian yang membuatnya!" Lan See giok yang polos masih mengira adik Soatnya benar-benar memuji kecantikan enci Ciannya, tanpa terasa wajahnya nampak le-bih bersinar terang. Berbeda sekali dengan Naga sakti pem-balik sungai yang berpengalaman, dengan cepat dia dapat menangkap gelagat yang tidak baik, cepat-cepat dia meletakkan kembali bungku-san kecil itu ke atas meja, kemudian setelah tertawa tergelak dengan cepat dia mengalih-kan pokok pembicaraan ke soal lain, uca-pannya: "Di dalam surat Cia locianpwe tadi di pesankan agar kalian melatih diri dengan te-kun, entah bagaimanakah kemajuan yang berhasil kalian capai dalam setengah tahun ini?" Siau thi gou segera melebarkan matanya, semangatnya berkobar kembali dengan pe-nuh bersemangat katanya: "Aku telah berhasil mempelajari ilmu Hou-liong-jit-si, bila suhu pulang, tanggung dia akan gembira." Lan See giok bertiga yang menyaksikan semangat Siau-thi gou. tak tahan lagi mereka tertawa tergelak. Berhubung penjelasan dari naga sakti pembalik sungai tentang huruf yang luntur cocok dengan keadaan, ditambah pula Hu-yong-siancu hadir sebagai saksi , maka Lan See giok pun mempercayai keaslian surat itu seratus persen. Setelah melihat ketiga orang itu tidak ragu lagi, Naga sakti membalik sungai baru me-ngajarkan teori dan tehnik bertempur dalam air kepada Lan See-giok di samping ketera-ngan-keterangan lain yang berharga sekali. " Tak heran kalau Lan See giok bertiga memperoleh pengetahuan dan faedah yang besar sekali. Tanpa terasa matahari pun tenggelam di langit barat. Naga sakti pembalik sungai segera minta diri, sebelum berpisah ia berpesan kembali agar mereka bertiga tetap menjaga gua sem-bari berlatih ilmu silat dengan tekun sampai kembalinya guru mereka. Lan See-giok, Si Cay-soat dan Siau-thi gou menghantar engkoh tua mereka sampai di luar barisan pohon bambu, hingga bayangan tubuh naga sakti pembalik sungai lenyap dari pandangan, mereka baru kembali ke ruangan. Dalam perjalanan kembalinya, Lan See giok ingin secepatnya membuka bungkusan kecil itu dan melihat isinya, tanpa disadari lang-kahnya menjadi

337

terburu buru sehingga Si Cay soat serta Siau thi gou tertinggal jauh di belakang. Siau thi gou yang polos dan terbuka masih tidak merasakan apa-apa. berbeda sekali dengan Si Cay soat yang setiap hari bersama sama engkoh Gioknya, ia segera merasa diri-nya seperti dikesampingkan pemuda itu. Saking pedih hatinya, hampir saja air ma-tanya jatuh bercucuran.... Gadis yang semenjak kecil sudah terbiasa dimanja gurunya ini, untuk pertama kalinya merasakan hatinya sedih dan pedih. mau marah tak bisa dilampiaskan, mau menangis malu, bisa dibayangkan bagaimana perasaan hatinya waktu itu. Ia jadi mendongkol sekali kepada engkoh Gioknya . . . . terlalu banyak masalah yang membuatnya mendongkol, dia merasa pemu-da tersebut seolah-olah mempunyai banyak dosa dan kesalahan yang tak bisa diampuni lagi, maka dalam hati kecilnya dia mengambil sebuah keputusan...selamanya tidak akan menggubrisnya lagi. 0leh sebab itu, ketika Lan See giok me-ngambil bungkusan kecil dan kembali ke kamar nya, sambil menahan air mata diapunb cepat-cepat kejmbali ke kamar gtidur sendiri. b Sian thi gou yang terdorong perasaan ingin tahu segera membuntuti engkoh Giok nya dengan ketat, dia ingin tahu apakah dalam bungkusan tersebut terdapat makanan yang enak atau tidak. Karenanya sambil melototkan matanya bulat-bulat, dia awasi terus engkoh Giok nya membuka bungkusan kecil itu. Begitu bungkusan dibuka, dibaliknya tem-pat sebuah kertas minyak pembungkus, bau harum semerbak terhembus ke luar dari balik bungkusan itu. Dengan cepat Siau thi gou mengendus bau itu berulang kali, sekulum senyuman lebar segera menghiasi bibirnya. Begitu bungkusan kertas itu dibuka, woouw isinya adalah ayam panggang, daging kecap, telur asin serta makanan yang lain yang banyak sekali jumlahnya. Diam-diam Lan see giok berterima kasih sekali atas pemikiran bibinya yang menga-turkan semuanya itu dengan sempurna, meski makanan itu biasa, namun di tengah pegunungan yang terpencil begini betul--betul merupakan hidangan lezat yang punya uang pun tak bisa dibeli, maka dia singkirkan bungkusan makanan itu serta membuka bungkusan kain putih yang berada di bawahnya. Pada bagian atas adalah jubah biru kege-marannya, baju itu terbuat dari kain halus, potongan indah dan menawan, entah hasil karya bibinya atau enci Cian nya!

338

Ketika diendus, tercium bau harum yang sangat khas baginya, dengan cepat dia men-jadi paham kembali, rasa gembira yang me-luap membuatnya tanpa sadar memanggil nama enci Cian dengan mesra. Di bawah jubah itu adalah kain pengikat kepala berwarna biru, celana biru serta dua stel pakaian dalam berwarna putih, ketika dicoba dibandingkan ke tubuhnya, meski sedikit agak kebesaran namun bisa dipakai. Baju yang kedua berwarna merah cerah, apa yang terlihat segera membuat pemuda itu tertegun dan mencorongkan sinar tajam dari matanya. Rupanya pakaian merah dengan sbepasang sepatu jberwarna merah,g sarung pedang bmerah dan pita pedang berwarna merah. `Dengan cepat Lan See giok paham kem-bali, rupanya semuanya ini disiapkan enci Cian untuk adik Soatnya, dengan perasaan segera ia segera mendongakkan kepalanya: Namun adik Soat sudah tak nampak, bahkan adik Gou pun tidak kelihatan, ketika berpaling lagi, hidangan semeja yang baru saja diletakkan disanapun turut lenyap tak berbekas. Lan See giok segera tertawa tergelak de-ngan rasa gembira, sambil membawa bung-kusan berisi baju itu cepat dia lari naik ke tangga. Sebelum tiba di kamar tidur, pemuda itu sudah tidak tahan untuk berteriak keras. "Adik Soat, adik Soat ..." Tiba-tiba bayangan hitam berkelebat lewat. Siau thi gou sudah muncul dari balik kamar Si Cay soat, di tangannya masih menggeng-gam bungkusan berisi makanan lezat tadi. Begitu berjumpa dengan Lan See giok, dia lantas berseru dengan wajah murung. "Engkoh Giok, enci Scat telah jatuh sakit!" Lan See-giok terkejut sekali, ia berseru kaget sambil teriaknya. "Sakit apa? Barusan toh ia nampak sangat gembira dan segar bugar ....?" "Aku rasa dia sakit kepala!" Oooh.... Dengan langkah terburu-buru Lan See giok lari masuk ke dalam kamar tidur si nona, ia jumpai gadis tersebut sedang membaringkan diri di atas permadani merah sambil me-nyembunyikan kepalanya dibalik selimut, tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Dari keadaan tersebut, pemuda itu mendu-ga gadis itu memang sakit kepala, cepat-ce-pat ia letakkan bungkusan berisi pakaian itu ke lantai, kemudian tanyanya dengan penuh perhatian: "Adik soat.. adik soat, kenapa kau? Apa yang kau rasakan sakit---?"

339

Si Cay soat tetap tak bergerak, menjawab pun tidak. Lan See giok segera mendekati dan beru-saha untuk memeriksa denyutan nadinya-"Plaaakkk!" tahu-tahu tangannya sudah di pukul gadis itu keras-keras-Dengan perasaanr terkejut Lan Szee giok menarikw kembali tanganrnya lalu memandang sekejap ke arah Siau thi gou dengan mata terbelalak, tertegun. Namun sebagai pemuda yang pintar, de-ngan cepat Lan See giok menyadari apa gerangan yang telah terjadi, rupanya gadis itu bukan sakit kepala melainkan lagi mengam-bek. Siau thi gou juga merasa lega setelah me-ngetahui enci Soatnya lagi mengambek, sam-bil tertawa dia mulai menyambar paha ayam dan melahapnya dengan rakus. Sedangkan Lan See-giok duduk termenung di sampingnya, betapapun dia telah memeras otak belum juga diketahui apa kesalahannya. Mendadak ia melihat pedang Jit-hoa kiam yang terletak tak jauh di atas permadani, satu ingatan segera melintas di dalam benak nya, ia mengambil keputusan untuk mem-buat kejutan bagi si nona tersebut. Diambilnya pedang Jit hoa kiam tersebut, mula-mula pita pedang diikatkan dahulu pada gagangnya, kemudian melapisinya de-ngan sarung pedang yang halus dan lembut itu. Disaat ia sedang mengikatkan tali sarung itulah, suatu ketidak sengajaan membuat jari tangannya menyentuh tombol rahasia... "Criing...l" Cahaya tajam segera memancar kemana mana, tubuh pedang melejit berapa inci lebih ke muka dan seketika menyiarkan suara dentingan yang amat memekikkan telinga. Lan See giok terkejut, sedang Si Cay soat juga melompat bangun dengan cepat, tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya tertegun dan melongo. Hanya Siau thi you seorang yang mengu-nyah paha ayam, sambil tertawa terbahak -bahak. Melihat sarung pedang yang begitu mena-wan hati, Si Cay soat segera jatuh hati, ber-samaan itu pula diapun menjadi sadar, ten-tunya sarung pedang yang indah tersebut merupakan hadiah dari Ciu Siau cian yang selalu dipuji puji oleh gurunya itu. Dalam pada itu Lan See giok telah mem-betulkan letak pedang itu dan sambil tertawa tersipu sipu dia mengembalikan senjata tersebut kepada si nona.

340

Si Cay soat sendiri berhubung ia sudah terlanjur jatuh hati pada keindahan sarung pedang tadi, ditambah pula perasaan ingin tahunnya untuk memeriksa hasil karya Ciu Siau cian, membuatnya tanpa banyak bicara segera menerima angsuran tadi. Setelah diperiksa dengan seksama, mau tak mau gadis itu harus menyatakan kekagumannya, dia sadar bahwa hasil kera-jinan tangan dari Ciu Siau cian memang betul-betul sangat indah. Sebagai seorang pemuda yang cerdik Lan See giok segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerahkan pula sepatu kecil berwarna merah kepada si nona, kemudian katanya pula dengan hati-hati. "Adik Soat, coba kau lihat. inilah tanda mata dari enci Cian untukmu!" Si Cay soat segera mendongakkan kepalanya, apa yang terlihat membuatnya segera menjerit gembira. "Oooh, sangat indah! persis seperti apa yang kuidam-idamkan selama ini." Cepat-cepat dia letakkan pedangnya ke lantai serta menerima sepatu baru itu. ke-mudian dengan tergesa-gesa sekali dia mele-paskan sepatu lamanya hingga tampak sepasang kaki mungilnya yang putih bersih... Lan See giok menjadi tertegun melihat hal itu. sepasang kaki milik adik Soat memang indah dan sangat menawan hati. Dalam gembiranya Si Cay soat pun me-lu-pakan semua kekesalan dan kemasgulan yang dialaminya tadi, selesai mengenakan sepatu baru, dia segera melompat bangun dan berjalan bolak balik dengan penuh keriangan Ia dengan suara bernada kegembi-raan yang tak terlukiskan dengan kata, ia berseru: ""Aaah. sungguh indah, persis dengan kakiku, enci Cian memang orangnya baik sekali, baik sekali . . . Melihat adik Soatnya gembira, tentu saja Lan See giok turut tertawa riang. Tiba-tiba Si Cay soat melihat jubah biru yang terletak di sisi anak muda tersebut, berkilat sepasang matanya, dengan perasaan terkejut serunya tanpa terasa: "Engkoh Giok, apakah baju itupbun bikinan encij Cian untukmu?"g Sambil berkatba, ia memungut pakaian tersebut dengan gugup. Lan See giok mengira Si Cay soat terkejut atas hasil karya enci Cian," karenanya dia mengangguk dengan bangga. Si Cay soat meraba jubah baru itu, kemu-dian serunya lagi dengan perasaan terkejut: "Engkoh Giok, pakaian ini dibuat dari serat ulat langit, oooh! Banyak sekali khasiat dari pakaian tersebut, begitu banyaknya sampai siaumoay tak dapat menerangkannya satu per satu, tapi yang pokok, masuk ke air tak bakal tenggelam, masuk api tak akan terba-kar, bisa menahan senjata

341

rahasia, dapat menahan bacokan senjata, engkoh Giok, dengan pakaian tersebut maka selanjutnya kau tak usah mengenakan pakaian renang lagi bola ingin masuk ke dalam air." Mengetahui kalau jubah itu memiliki kha-siat yang begitu banyak, Lan See giok betul-betul dibikin terkejut sampai berdiri melongo-longo . . . Sebaliknya sepasang mata Siau thi gou segera terbelalak lebar-lebar, mendadak ia letakkan bungkusan berisi makanan itu ke lantai, setelah itu sambil mengangkat ta-ngannya tinggi-tinggi ia, bersorak sorai de-ngan riang gembira: "Hooore . . . hooore . . . kalau begitu aku Thi-gou akan memperoleh pakaian renang baru! Sambil berteriak ia lari ke luar dari ru-angan tersebut dan kembali ke kamar sendiri. Lan See giok dan Si Cay soat jadi ter-tegun menyaksikan ulah bocah tersebut, dengan pandangan tak mengerti mereka awasi baya-ngan punggung Siau thi gou hingga lenyap dari pandangan mata. Tak lama kemudian, Siau thi gou telah muncul kembali sambil membawa pakaian renang baru, katanya lagi sambil tertawa ter-bahak-bahak: "Haaahhh . . .haaahhh . . haaahhh . . . setelah engkoh Giok memiliki pakaian mesti-ka, pakaian renang jahitan enci Soat pun tanpa sungkansungkan akan menjadi milik aku si Thi gou. Baru sekarang Lan See giok dan Si Cay soat memahami apa yang dimaksudkan, se-rentak mereka ikut tertawa terbahak-bahak. Setelah saling berpandangan sekejap de-ngan perasaan cinta yang semakin menda-lam, kata mereka dengan riang: "Selama ini suhu mengatjakan adik Gou bodoh, padahal....." "Padahal aku tidak blo"on!" sambung Siau thi gou dengan cepat sambil tertawa lebar. Semenjak hari itu, muda mudi tiga orang itu melanjutkan latihan mereka dengan lebih tekun, Lan See giok di samping belajar ilmu berenang dari Si Cay soat, dia pun meng-kombinasikan ilmu gurdi emas ajaran ayah-nya dengan ilmu pedang Tong kong kiam hoat sehingga terciptalah suatu ilmu baru yang dinamakan ilmu gurdi pengejut langit. Musim panas lewat dan musim gugur kini sudah menjelang tiba. Lan See giok, Si Cay soat serta Siau thi gou merasa murung dan masgul sepanjang hari, sebab guru mereka To Seng cu belum juga kembali. kendatipun tenaga dalam mereka bertiga peroleh kemajuan yang sangat pesat namun perasaan gembiranya tidak seperti semula lagi. Yang membuat mereka bertiga merasa geli-sah adalah si naga sakti pembalik sungai pun tidak muncul lagi. mereka tidak mendapat berita dari

342

dunia luar sehingga praktis sela-ma satu tahun penuh mereka tidak mengeta-hui bagaimanakah perubahan dalam dunia persilatan. Si Cay soat mulai menguatirkan kesela-matan dari gurunya, Siau thi gou juga saban hari bermuram durja, sedangkan Lan See giok sering kali melamun sambil memandang pegunungan dikejauhan sana. Sekali lagi dia mulai mencurigai isi surat yang pernah dibawa si naga sakti pembalik sungai tempo hari, terutama bila memba-yangkan kembali gumaman gurunya sebelum berpisah, dia yakin dunia persilatan tentu sudah diliputi kekacauan dan kekalutan, bahkan bisa jadi darah telah menggenangi permukaan tanah. Cuma pemuda itu hanya berani memba-yangkan namun tak berani menyampaikan jalan pemikirannya kepada Si Cay soat serta Siau thi gou... Dihati kecilnya dia seperti memperoleh suatu firasat, kepergian gurunya tempo hari meski sampai mengancam keselamatan jiwa-nya, paling tidak gurunya sudah ditawan dan disekap atau terperangkap dalam jebakan musuh hingga terkurung di suatu tempat. Membayangkan musuh-musuh tersebut, dia pun teringat kembali -kan Lam hay lo koay, Wan San popo serta rSi to cinjin. Dzi samping itu dwiapun membayangrkan pula be-tapa lihainya ilmu silat yang dimiliki orang-orang tersebut Bilamana dugaannya tak meleset, di atas bahunya sekarang tertanam dua macam be-ban yang sangat berat.....Dendam orang tua dan musibah dari gurunya. Berbicara soal kemampuan yang dimiliki nya sekarang, membalas dendam bukan pekerjaan yang terlampau sulit baginya, tapi untuk menghadapi tiga manusia aneh dari luar lautan, dia tak mempunyai suatu keya-kinan pun berhubung dia sendiri juga tak tahu sampai dimanakah kekuatan mereka yang sesungguhnya. Pepatah kuno berkata, satu hari menjadi guru, budi bagaikan orang tua sendiri. Seandainya, gurunya benar-benar, men-jumpai musibah, sekalipun tubuh harus hancur, lautan api mesti diterjang, dia tak akan menampik untuk melakukannya. Semakin membayangkan apa yang telah terjadi, anak muda itu semakin ketakutan, saking gelisahnya peluh sampai jatuh bercu-curan membasahi seluruh tubuhnya, ia bertekat untuk membakar semangat sendiri dan adikadik seperguruannya agar lebih te-kun melatih ilmu silat masing-masing. Dengan kepergian To Seng cu yang tak pernah kembali lagi, kedudukan Lan See giok dihati Si Cay soat dan Siau thi gou pun ber-tambah penting,

343

Saban hari mereka bertiga selalu hidup berdampingan, dan tak pernah berpisah barang sejengkalpun. Sikap Si Cay soat berubah menjadi lebih lembut dan hangat, dalam suasana murung dan sedih, dia semakin menyayangi engkoh Giok nya dan memperhatikan adik Gou nya. Siau thi gou yang polos dan lugu, sejak itu tak pernah menampilkan senyuman blo"on-nya yang menggiurkan di atas wajah bulat-nya yang hitam berkilat lagi. waktu berlalu sangat cepat, kini musim dingin telah tiba, bunga salju turun dengan derasnya menyelimuti seluruh permukaan tanah. Permukaan bukit Hoa-san dengan be-berapa buah bukitnya yang tinggi, kini telah berubah menjadi serba putih. To Seng-cu, tokoh persilatan nomor wahid dikolong langit sudah setahun meninggalkan gunung, namun hingga saat itu belum juga ada kabar beritanya tentang mereka. Lan See giok dan Si-Cay soat sudah tak dapat menenangkan hatinya lagi, setiap kali Siau Thi-gou sedang menanak nasi di dapur, mereka berdua selalu memanfaatkan kesem-patan tersebut untuk berunding bagaimana caranya mencari berita tentang guru mereka. Hasil dari perundingan mereka menyim-pulkan bahwa si naga sakti pembalik sungai sudah tidak berada di tepi telaga Phoa yang lagi bisa juga dia telah menyusul ke luar lautan untuk mencari jejak suhu, kalau ti-dak, dia pasti akan mengunjungi bukit Hoa-san untuk mengetahui apakah guru mereka sudah pulang atau belum. Akhirnya kedua orang itu memutuskan akan menunggu sampai setengah bulan lagi, jika selewatnya tahun baru guru mereka be-lum juga kembali, maka See-giok eng ambil keputusan untuk turun gunung dan mencari berita tentang gurunya. Sebagaimana diketahui, dalam gua mereka tersimpan kitab pusaka cinkeng warisan su-cou mereka, apalagi guru mereka pun berpesan agar tidak meninggalkan gua terse-but itulah sebabnya mereka bertiga tak berani turun gunung bersama-sama. Lan See giok memang sebelumnya telah memperoleh ijin dari gurunya untuk turun gunung mencari balas, dengan diutusnya pemuda tersebut, selain tidak melanggar pesan guru mereka. hal inipun merupakan pilihan yang paling tepat, tak heran kalau kedua orang itu terpaksa mengambil jalan tersebut. Meski keputusan ini disambut Si Cay soat dengan perasaan berat, namun berhubung dendam berdarah engkoh Giok nya belum terbalas, jejak

344

gurunyapun merupakan se-buah tanda tanya besar, kesemuanya ini membuat si nona tak berani banyak berbi-cara. Pikiran dan perasaan seorang gadis me-mang selalu lebih sempit dan cupat, tidak terkecuali Si Cay soat, semenjak mengambil keputusan tersebut, hampir setiap saat ia selalu berdoa agar gurunya bisa cepatcepat kembali ke rumah. Tekanan jiwa yang dialaminya membuat gadis itu sukar tidur dan tak enak bersantap tidak sampai berapa hari, tubuhnya menjadi kurus dan mukanya pucat. Baru sekarang dia menyadari bahwa diri nya sudah tak mungkin lagi berpisah dengan engkoh Gioknya. DALAM setahun belakangan ini, boleh di bilang mereka bertiga selalu berkumpul ber-sama, tak sedetikpun berpisah, entah berla-rian di tanah perbukitan ditengah malam, atau bermain air di telaga Cui-oh, mereka selalu berduaan dan bermesraan, dan biasa-nya dalam keadaan begini Siau thi gou yang blo"on selalu menghindar jauh-jauh. Lewat beberapa hari lagi Lan See-giok akan genap berusia delapan belas tahun, selama dua tahun ini, dari seorang bocah tanggung yang binal Seegiok berubah menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa, tidak heran kalau Si Cay soat menjadi begitu tergiur dan kesemsem kepadanya, ia sering-kali melamun. kalau bisa dia ingin bersama engkoh Giok nya hidup sepanjang tahun di tempat yang terpencil ini dan tak akan me-ngadakan hubungan lagi dengan dunia luar. Tapi Lan See giok harus turun gunung untuk menelusuri gurunya, sebelum hal ini benar-benar terjadi, dia berusaha untuk menjauhkan diri dengannya, tapi alhasil malah kebalikannya yang diperoleh. Sekarang dia mulai sadar, jika See giok su-dah turun gunung, maka kehidupannya akan menjadi kering, kosong, sepi dan layu, keadaan yang harus dialaminya selama ber-tahun lamanya mungkin. Betul di sisinya masih ada Siau thi gou yang polos dan lugu. diapun sangat menya-yangi adiknya yang menawan tersebut, tapi bagaimanapun juga perasaan kasih sayang sebagai kakak terhadap adik tentu saja ber-beda sekali dengan kasih sayang terhadap pujaan hatinya... Selain itu, masih ada satu hal lagi yang membuat perasaannya tidak tenang, yaitu si gadis cantik lainnya yang sering dipuja oleh gurunya. Ciu Siau cian. Setiap kali ia membicarakan soal Ciu Siau cian, di atas wajah engkoh Giok nya tentu terlintas setitik cahaya tajam, selain rasa hormat terselip juga perasaan cinta.

345

Selama setahun ini, diapun menyaksikan bahwa engkoh Giok nya tak pernah sedikit pun melupakan Ciu Siau cian, kejadian ini membuatnya lebih cemburu, lebih mendong-kol dan tak tenang. Pernah terbayang olehnya bagaimana eng-koh Giok dan Ciu Siau cian bertemu kembali, apa yang mereka lakukan setelah perjum-paan itu? Sudah pasti--la tak berani berpikir lebih jauh, sebab sa-ban kali membayangkan hal tersebut, hati nya pasti berdebar keras, wajahnya berubah merah dan sepanjang malam tak bisa tidur nyenyak--Lan See giok pun merasa sangat tak tenang melihat keadaan adik Soat nya yang makin lama semakin kurus dan murung. Seringkali dia menghibur nona tersebut selain berpesan kepada Siau-thi gou agar se-lalu memperhatikannya. Ia juga tahu, dalam perjalanannya turun gunung nanti, mungkin sekali banyak kesu-litan dan percobaan yang bakal dialaminya. Diapun berharap gurunya bisa kembali dengan selamat, hal ini berarti bisa membe-baskannya untuk berangkat ke luar lautan. Meski diapun pernah memikirkan bibi Wan dan enci Cian nya, namun masalah dendam orang tua dan musibah gurunya jauh lebih memenuhi jalan pemikirannya. Tahun baru kedua semenjak See-giok tiba di bukit Hoa-san, akhirnya menjelang tiba, salju masih menyelimuti seluruh permukaan tanah. Biarpun suasana tahun baru merupakan hari-hari yang paling bahagia, namun Lan See giok, Si Cay soat dan Siau thi gou nam-pak lebih masgul dan murung. Akhirnya tanggal tiga bulan pertama, Lan See-giok mengambil keputusan untuk turun gunung. Si Cay soat sibuk di dapur untuk menyiap-kan hidangan bagi perjamuan perpisahan-nya dengan Lan See giok. Siau-thi-gou membantu See giok membe-reskan perbekalannya. Lan See-giok telah bertukar pakaian de-ngan baju baru pemberian bibi Wan serta enci Cian, gurdi emasnya disembunyikan di-balik pinggang dan senjata rahasia andalan ayah nya peluru cahaya perak, digantungkan di balik jubahnya. Perjamuan perpisahan berlangsung cukup meriah, meskipun masingmasing pihak berusaha untuk menyembunyikan perasaan dukanya di dalam hati. Malam semakin kelam, akhirnya Lan See giok harus membesarkan hati untuk bangkit berdiri.

346

"Adik Soat, Adik Gou, aku harus berangkat sekarang!" ujarnya kemudian dengan suara tenang. Si Cay-soat dan Siau- thi-gou manggut-manggut pedih, serentak mereka bangkit untuk mengantar ke luar ruangan: Barisan bambu dan pohon siong mereka lewati dengan perasaan yang sangat berat dan masgul.. Sepanjang perjalanan, Siau-thi-gou diam-diam berdoa bagi keberhasilan engkoh Giok-nya dan menemukan kembali jejak guru mereka serta berhasil membalas sakit hati. Sedangkan Si Cay coat harus mengucur-kan air mata sambil menahan isak tangis-nya, selain berharap engkoh Gioknya bisa berhasil dengan sukses, di hati kecilnya pun dipenuhi oleh pelbagai kemurungan yang serasa menyumbat hatinya. Lan See giok pun merasakan hatinya berat dan murung, untuk kesekian kalinya dia ha-rus merasakan kembali betapa berat nya saat-saat perpisahan dengan orang-orang yang dicintainya. Namun ia tak berani banyak berbicara, ia berusaha untuk menjaga ketenangan hatinya serta mencari akal bagaimana mesti bertin-dak untuk menyelidiki jejak gurunya sesudah turun gunung nanti. Karena itulah meski wajahnya nampak -sangat tenang, sesungguhnya dia merasa amat murung dan kesal. Akhirnya hutan bambu sudah dilewati, se-jauh mata memandang, lapisan salju nan putih menyelimuti seluruh jagad. Tiba-tiba Lan See giok menghentikan lang-kahnya, kemudian sambil menengok adik Gou dan adik Soatnya yang tampak sangat murung, ia berkata sedih: "Adik Soat, adik Gou, kalian harus menjaga diri baik-baik, begitu selesai pekerjaanku, secepatnya aku akan pulang kembali." Siau thi gou membuka matanya lebar-lebar sambil mengangguk, matanya berkaca kaca dan hampir saja air matanya jatuh bercu-curan: Si Cay-soat juga berusaha untuk me-ngen-dalikan gejolak perasaannya, namun dia tak mampu mengendalikan diri untuk mem-bungkam terus, dengan wajah yang basah oleh air mata dan wajah yang amat layu, dia menengok pemuda itu sambil bisiknya de-ngan suara gemetar: "Engkoh Giok ......" Namun hanya sebutan itu yang sempat meluncur ke luar, tubuhnya segera gemetar keras, sambil menutupi wajah sendiri dengan kedua belah tangan, dia menangis tersedu sedu.

347

Sedih nian perasaan Lan See giok me-nyak-sikan kejadian seperti ini, namun bila teri-ngat dia tugas berat yang berada dibahunya, pemuda tersebut tak berani berpikir lebih jauh. Dengan lemah lembut dipegangnya lengan gadis itu kemudian dengan perasaan pedih dia berkata: "Adik Soat. bila akan ingin mengucapkan sesuatu, katakanlah sekarang juga..." Dalam keadaan begini Si Cay soat tidak memperdulikan lagi kehadiran Siau thi gou di tempat tersebut, sambil menangis tersedu dia menubruk ke dalam pelukan See giok lalu bisiknya. "Apa yang hendak kukatakan, telah kau ketahui semua-Sebagai seorang yang pintar, sudah barang tentu pemuda itu cukup mengetahui bagai-manakah perasaan gadis tersebut sekarang. Dengan perasaan sedih dan terharu, pe-muda itu segera menghibur. "Adik Soat, kau jangan kelewat menyiksa diri, seusai bertugas aku pasti akan kembali lagi!" Si Cay soat pun cukup tahu bahwa anak muda tersebut tak mungkin bisa kembali sedemikian cepatnya, sebab di samping me-nyelidiki musuhmusuh besar pembunuh ayahnya. diapun harus menelusuri jejak gu-runya, bahkan bisa jadi perjalanannya didampingi Ciu Siau cian, mungkinkah pemuda itu akan kembali secepatnya?" Melihat gadis itu membungkam diri dalam seribu bahasa. Lan See-giok mengerti, tak mungkin ia bisa menghibur perasaannya yang duka dengan sepatah dua patah kata saja, akhirnya sambil membulatkan tekad ia berkata: "Adik Soat, adik Gou, jagalah diri kalian baik-baik, aku akan berangkat dulu!" Si Cay-soat mengangkat kepalanya me-mandang pemuda itu sedih, lalu mengangguk lirih. "Berangkatlah engkoh Giok, semoga kau jangan terlalu memikirkan siaumoay berdua sehingga mengganggu pikiranmu..." Lan See giok mengerti apa yang dimaksud-kan, dia menghela napas sedih seraya men-jawab: "Perasaanku hanya Thian yang mbaha tahu, moga-jmoga adik Soat gbisa menjaga dibri baik-baik dan merawat adik Gou semestinya. "Jangan sampai membuat kau sendiri jatuh sakit!" Kata-kata tersebut amat menghibur perasaan Si Cay-soat, ia segera menyeka air matanya dan mengangguk.

348

Sekali lagi Lan See giok memandang wajah ke arah Si Cay-soat serta Siau-thi gou, ke-mudian diiringi ucapan selamat tinggal ia membalikkan badan dan berlalu dari situ. Dalam waktu singkat bayangan tubuh Lan See giok sudah lenyap di balik pepohonan sana. Perasaan sedih, kosong. sepi dengan cepat menyelimuti seluruh perasaan Si Cay-soat, tak tahan lagi air matanya sekali lagi jatuh bercucuran dengan derasnya. "Sudahlah enci Soat" Siau-thi-gou segera menghibur. "mari kita masuk, engkoh Giok telah pergi jauh." Namun Si Cay soat tidak memberikan reaksi apapun, dia masih berdiri termangu sambil memandang ke muka dimana baya-ngan tubuh Lan Seegiok melenyapkan diri tadi. Lan See giok mengerahkan segenap tena-ganya untuk berlari kencang. begitu pesatnya dia berkelebat membuat pemuda itu terce-ngang sendiri atas kemajuan yang telah dica-painya selama ini. Sawah dan gunung sudah dilalui, dengan menelusuri jalan raya yang ramai dia berge-rak terus menuju ke arah tenggara. Langit mulai terang, matahari mulai mun-cul dari ufuk timur, namun Lan See giok ma-sih meneruskan perjalanannya dengan cepat. Ketika tiba di sebuah kota besar, Lan See giok mendapat tahu kalau tempat itu terletak paling dekat dengan benteng Pek hoo cay milik si toya besi berkaki tanggal Gui Pak ciang ketimbang bukit Tay ang san dari beruang berlengan tunggal. Mengetahui hal tersebut, ia mengambil keputusan untuk berangkat ke Benteng Pek hoo cay mencari si toya baja berkaki tunggal, meski Gui Pak ciang tidak termasuk orang yang paling mencurigakan, namun siapa tahu kalau dari mulutnya akan diperoleh sedikit informasi yang menguntungkan? Malam itu, dia tiba di sebuah bkota yang jarakjnya tinggal sepguluh li dari bebnteng Pek hoo cay. Setelah menempuh perjalanan jauh, Lan See giok merasa perutnya lapar, dia pun me-masuki sebuah rumah makan yang berada tak jauh dari situ. Suasana dalam rumah makan ramai sekali, hampir semua tempat dipenuhi dengan tamu yang minum arak sambil bermain dadu. Lan See giok memilih sebuah tempat yang dekat dengan jendela, sesudah memesan hi-dangan, dia bersantap sambil tiada hentinya menyusun rencana bagaimana meng-hadapi Gui Pak ciang nanti. Sementara masih melamun, tiba-tiba dari luar jendela berkumandang suara derap kaki kuda yang ramai sekali.

349

Menyusul kemudian terdengar suara orang yang berteriak-teriak kaget dari arah jalan raya. Serentak semua keramaian dalam rumah makan terhenti sama sekali, orang berhenti bermain dadu, yang semula berkaok-kaok kini pun membungkam diri dalam seribu ba-hasa, suasana menjadi hening sekali. Hal tersebut tentu saja mengherankan Lan See giok, tanpa terasa dia membuka daun jendela sambil menengok ke depan. Pada saat itulah seorang pelayan telah membuka jendela sambil mengintip ke luar, tapi paras mukanya segera berubah hebat serunya tiba-tiba: "Aduh celaka, ji-hujin dari benteng Pek hoo cay. Tok nio cu (wanita beracun) telah datang!" Berkilat sepasang mata Lan See giok mendengar ucapan itu, dengan cepat dia bangkit berdiri dan melongok ke luar. Sementara itu dari ujung jalan sana terli-hat ada enam ekor kuda jempolan sedang dilarikan kencang- kencang, orang yang se-mula berlalu lalang, kini kelihatan lari kian kemari mencari perlindungan, suasana amat kalut dan panik. Dibagian paling depan nampak seekor kuda putih ditunggangi seorang nyonya can-tik bermantel hitam yang nampaknya baru berusia dua puluh enam tujuh tahunan. Sedangkan lima rekor lainnya diztunggangi oleh wlima lelaki kekrar yang semuanya menyo-ren senjata, ketika Lan see giok menengok ke luar, kebetulan sekali nyonya cantik itupun sedang menengok ke arahnya. Tiba-tiba saja mencorong sinar tajam dari balik mata nyonya cantik bermantel hitam itu, ia berseru kaget dan segera menarik tali les kudanya kencang-kencang. Diiringi suara ringkikan panjang, kuda putih itu segera mengangkat kakinya ke atas meski begitu, nampaknya nyonya muda itu mahir sekali menunggang kuda, ia sama sekali tidak terjatuh dari kudanya. Kelima ekor kuda lainnya serentak mena-han pula kuda masing-masing secara men-dadak, hal ini membuat suasana ber-tambah kalut, para pejalan kaki yang sudah me-nyingkir ke samping. sama-sama menjerit kaget sambil membubarkan diri ke empat penjuru .... Lan See giok, sendiri meski tidak pandai menunggang kuda, tapi setahun telah ber-selang, ketika ia sedang kabur dari benteng Wi-lim-poo, pemuda itu pernah mengalami suatu pengalaman yang cukup mengagetkan di tepi telaga Phoa-yang -oh. Tak heran kalau dia segera bersorak me-muji setelah menyaksikan kemahiran Tok -nio-cu dalam ilmu menunggang kudanya.

350

Tapi perasaan tak puas segera muncul pula sesudah menyaksikan para rakyat jelata pada membubarkan diri dalam keadaan panik dan kalut karena ketakutan. Dilihat dari cara orang-orang Pek hoa cay yang berani melarikan kudanya kencang-kencang ditengah jalan yang ramai, bisa diketahui bagaimanakah sepak terjang mereka diwaktu waktu biasa. Sekalipun demikian, ia tak ingin banyak menimbulkan urusan daripada belum-belum sudah mengejutkan lawannya, bila hal terse-but sampai terjadi, berarti dia telah memberi kesempatan kepada si Toya baja berkaki tunggal Gui Pak ciang untuk mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya. Sementara ingatan tersebut masih melintas di dalam benaknya, nyonya cantik berbaju hitam itu sudah melejit ke tengah udara de-ngan suatu gerakan yang sangat enteng.... Mantel hitamnya yang lebar segera ber-ki-bar pula ketika terhembus angin, bagaikan sekuntum awan hitam, dia melayang turun di depan pintu rumah makan. Kelima orang lelaki lainnya yang me-nyaksi-kan kejadian tersebut, serentak me-ninggal-kan kuda kudanya dan berlarian menuju ke depan rumah makan itu. BAB 17 LAN SEE-GIOK segera berkerut kening, dengan perasaan tak habis mengerti ia ber-paling, dilihatnya para tamu yang semula berada dalam ruang rumah makan, kini se-dang membereskan uang dan gundu mereka dengan wajah panik dan peluh dingin bercu-curan deras. Tak selang berapa saat kemudian, dua orang lelaki berwajah penuh amarah telah muncul di atas loteng. Menyusul kemudian bayangan hitam ber-kelebat lewat, Tok Nio-cu si perempuan can-tik berbaju hitam itu diiringi ketiga orang le-laki lainnya telah muncul pula di ruang loteng dengan langkah tergesa gesa... "Blaammm !" Serentak para tamu bangkit berdiri seraya membungkukkan badan memberi hormat. semuanya menahan napas sambil mengawasi Tok Niocu yang cantik dengan senyuman dikulum itu dengan perasaan panik bercam-pur tegang. kebetulan sekali pada waktu itu hanya Lan See giok seorang yang duduk di kursinya, sebab dia sedang mengawasi Tok Nio-cu yang menampakkan diri sehingga tidak terlalu memperhatikan gerak gerik para tamu lain-nya. Sejak muncul dalam dunia persilatan hingga kini sudah ada beberapa orang gadis cantik yang pernah dijumpainya.

351

...Orang pertama yang masuk ke dalam lembaran hidupnya adalah enci Cian yang lembut, kemudian adik seperguruannya Si Cay-soat yang lincah dan ketiga adalah Oh Li cu yang genit. Dan kini, Tok Nio-cu yang usianya sudah mencapai dua puluh enam-tujuh tahunan ini ternyata dirasakan berwajah mirip sekalbi dengan Oh Li jcu, seolah-olahg mereka berdua badalah saudara sekandung saja. Rambutnya yang lembut, wajahnya ber-bentuk bulat telur dengan biji mata yang bening, hidung mancung dan bibir kecil mungil. dia memang seorang perempuan cantik yang sangat menawan hati. Sementara dia masih melamun. mendadak seorang lelaki kekar berjalan mendekatinya. kemudian dengan mats melotot besar har-diknya keraskeras: "Bocah keparat, kau benar-benar tak tahu adat, setelah bertemu dengan hujin, mengapa tidak bangkit berdiri untuk memberi hor-mat?" Di tengah bentakan keras, tubuhnya menerjang ke muka dan telapak tangan kanannya siap dibacokkan ke atas tubuh Lan See giok. Sesungguhnya Lan See giok tidak berniat mencari urusan. tapi setelah menyaksikan sikap kasar lawan yang jelas hendak mencari gara-gara itu, keningnya langsung berkerut, api amarah pun berkobar. "Koan-ki, kembali!" mendadak Tok- Nio-cu membentak keras. Sayang bentakan itu sudah terlambat, te-lapak tangan kanan Koan-ki sudah diayun-kan ke muka membacok tubuh Lan See giok yang masih duduk dengan tenang itu. Lan See giok tertawa dingin, sambil menarik muka dia membalikkan pergelangan tangannya sambil mengayun ke atas, jurus tiang sakti penahan langit segera diperguna-kan. Tidak terlihat secara jelas gerakan apakah yang dipergunakan olehnya, tahu-tahu saja pergelangan tangan lelaki itu sudah kena dicengkeram olehnya, menyusul kemudian sekali bentakan saja. dia telah melemparkan tubuh lelaki itu ke belakang. "Blaammm!" Diiringi suara benturan yang sangat keras. debu dan pasir beterbangan kemana mana, diiringi jerit kesakitan lelaki itu terlempar ke luar dari jendela -Melihat hasil dari gerakannya itu, Lan See giok merasa amat terkejut. Dia jadi teringat kalau di belakang jendela merupakan jalan raya, namun sayang keadaan sudah terlam-bat baginya untuk menarik kembali serangan tersebut. Jeritan kaget dan teriakan panbik dengan cepatj berkumandang dgari luar jendelba.

352

Lan See-giok mencoba untuk melongok ke bawah, di jumpainya orangorang yang se-mula berkerumun melihat keramaian di bawah loteng situ kini sedang saling berde-sak-desakan saja, suasana kalut sekali. "Duuk!" Tak ampun tubuh koan-ki yang kekar mencium di atas tanah keras-keras, begitu kerasnya bantingan tersebut, membuat un-tuk sementara hanya bisa mengaduh-aduh lemah. Bersamaan waktunya ketika Lan See-giok melongok ke bawah, dari belakang tubuh nya telah bergema lagi dua kali bentakan keras yang memekikkan telinga. "Dengan kehadiran nyonya di sini, kau si keparat berani turun tangan dengan semau-nya sendiri?" Angin pukulan yang sangat kencang men-dadak meluncur kearah belakang kepalanya. Ucapan yang tersebut tadi kembali mem-bangkitkan amarah dalam dada Lan See-giok Dengan cepat dia memutar badannya sem-bari membentak nyaring. "Kawanan tikus, pingin mampus rupanya kalian!" Kedua belah tangannya dipergunakan ber-sama dengan suatu gerakan cepat ia mencengkeram lengan kedua orang lelaki tersebut kemudian mengayunkan ke bela-kang. Diiringi jeritan kesakitan. kedua orang -le-laki itu kembali terlempar ke luar dari luar jendela. Meski pun suasana di atas jalan raya amat ramai dengan jeritan kaget, namun di ruang loteng dengan berpuluh orang tamunya jus-tru dicekam dalam keheningan yang luar bia-sa, semua orang hanya bisa membelalakkan matanya dengan perasaan terkejut. Semula Tok Nio-cu sebetulnya hanya terta-rik oleh ketampanan wajah Lan See giok dia merasa pemuda tampan dengan pakaian tipis yang dikenakan di musim dingin ini sudah pasti mempunyai asal usul yang luar biasa. Apa mau dikata Koan-ki, lelaki kekar tadi kelewat sombong dan tak mau memandang sebelah mata kepada orang lalu, bukan saja serangannya mengalami kegagalan, bahkan nyaris terbanting mampus di bawah loteng. Akibat dari perristiwa tersebutz, Tok Nio-cu ikwut kehilangan mruka sehingga mustahil lagi baginya untuk berdiam diri belaka. Apalagi sekarang, bertambah dua orang anak buahnya lagi terlempar ke bawah loteng, posisinya boleh dibilang semakin ter-desak. Selama berkelana di dalam dunia per-sila-tan, belum pernah Tok Nio-cu diperlakukan orang semacam ini, tak heran kalau paras mukanya segera berubah menjadi hijau membesi dan tubuhnya gemetar keras.

353

Sambil tertawa dingin, katanya kemudian dengan suara berat dan dalam: "Masih muda sudah tak tahu diri, berani amat melukai anak buahku? Hmm, kau pasti seorang anak ayam yang baru muncul dalam dunia persilatan sehingga tak tahu tinggi nya langit dan tebalnya bumi!" Kemudian setelah mengamati wajah Lan See giok sekali lagi, dia berkata lebih lanjut, hanya kali ini suaranya jauh lebih lembut. "Jika kulihat dari gerak serangan-mu yang hebat, semestinya kau berasal dari pergu-ruan kenamaan, ayo cepat kau sebut kan nama gurumu dan asal perguruanmu, bila ada hubungannya dengan kami, me-mandang di atas hubungan kita dimasa lalu aku bersedia melepaskan dirimu dan menyudahi persoalan sampai disini saja. kalau tidak. hmmm . . ." "Kalau tidak mau apa kau?" jengek Lan See giok dengan nada yang amat sinis. Sebetulnya Tok Nio-cu berniat mengalah dengan harapan Lan See giok bisa mencari alasan untuk menyudahi persoalan tersebut. Siapa tahu, anak muda itu justru lebih berani lagi, bahkan mengejek pula. bisa di bayangkan betapa amarahnya perempuan itu. Sepasang matanya segera melotot besar, keningnya berkerut kencang, dengan suara keras bentaknya: "Bagus. kalau toh kau tekebur terus dan tak tahu diri, akan kusuruh kau rasakan sampai di manakah kelihaian dari aku Tok nio-cu!" "Haah...haah...haah.." Lan See-giok tertawa tergelak, "biar aku masih muda, belum per-nah kujumpai manusia tekebur yang begitu jumawa macam kau..." "Anak muda yang tak tahu diri, tampak nya sebelum kuberi sedikit pelajaran, kau tak akan mengetahui kelihaian orang teriak Tok Nio-cu bertambah gusar. Tiba-tiba dia mengayunkan telapak tangan nya ke muka..." Segulung bola api kecil yang memancar kan cahaya hijau, diiringi suara mendesis yang keras dan memancarkan asap merah kehitam hitaman, langsung menerjang ke arah Lan See-giok. Anak muda itu sangat terkejut, ia cukup tahu akan kelihaian dari peluru api beracun tersebut, namun diapun dapat melihat de-ngan jelas bahwa peluru api beracun itu bu-kan ditujukan ke arahnya, itulah sebabnya ia tetap tidak berkutik. Tok Nio-cu sendiri yang menjadi pucat melihat sikap lawannya. tiba-tiba ia menjerit. "Eeeh, Cepat menyingkir ke samping!"

354

Belum habis dia berseru, Peluru beracun itu sudah melesat lewat duri samping Lan See giok dan langsung me-nerjang ke atas daun jendela. "Blaammm!" Asap belerang dan gulungan api segera muncrat ke mana-mana dan memercik ke atas tubuh Lan See-giok. Anak muda tersebut sangat terkejut, cepat-cepat din melompat mundur ke belakang, bersamaan itu pula dia mengangkat ujung bajunya untuk melindungi muka. Sekalipun begitu, beberapa puluh percikan bunga api toh sempat memercik ke atas jubah birunya. Suatu kejadian aneh tiba-tiba saja berlang-sung di depan mata, percikan bunga api yang jatuh di baju birunya itu tabu-tahu saja ron-tok semua ke atas tanah, sedang pakaiannya tidak mengalami cedera barang sedikibtpun juga. Daljam hati kecilnyga See-giok tahub apa yang telah terjadi, sementara dia bermaksud un-tuk turun tangan memberi hukuman pada Tok Nio-cu, tibatiba suasana dalam ruang loteng itu menjadi kalut, jeritan kaget berge-ma dari mana-mana. Cepat-cepat pemuda itu mendongakkan kepalanya, apa yang terlihat membuatnya amat terkejut, ternyata jilatan api telah membakar daun jendela yang dengan segera menjalar ke mana-mana, kebakaran besar mengancam gedung tersebut. Tanpa berpikir panjang lagi, pemuda itu menghimpun tenaga Hud -kongsin-kangnya lalu diiringi bentakan keras. ujung baju kanannya dikebutkan ke arah jendela dengan ilmu ujung baju baja menggapai angkasa semacam ilmu kebasan yang sangat hebat "Weess!" Asap tebal berputar di angkasa, percikan api yang menjilat gedung seketika padam se-mua. Pucat pias Tok Nio-cu melihat kejadian ini, saking terkejutnya untuk sesaat dia sampai berdiri tertegun, sedangkan dua orang lelaki kekar lainnya semenjak tadi sudah berdiri bodoh. Rupanya dalam suasana gugup tadi, Lan See-giok telah mendemonstrasikan kelihaian ilmu silatnya, setelah kejadian. pemuda itu merasa menyesal sekali, otomatis niatnya untuk memberi pelajaran kepada Tok Nio-cu pun ikut lenyap. Sambil menatap wajah perempuan itu, ka-tanya kemudian dengan suara dalam. "Mengingat kau adalah seorang wanita, hari ini aku bersedia memberi sebuah ke-sempatan kepadamu untuk menyesali ulah dan tingkah lakumu

355

selama ini. ayo cepat keluarkan uang untuk membayar kerugian yang diderita rumah makan ini. kemudian cepat pulang ke Pek ho cay dan sampaikan kepada Toya baja berkaki tunggul Gui Pak ciang, bahwa aku ada urusan khusus datang kemari untuk minta petunjuknya, Kalian bo-leh berangkat dulu. aku akan segera me-nyu-sul Air muka Tok Nio-cu sekali lagi berubah hebat. dia sama sekali tidak mengira kalau pemuda tampan berilmu silat tinggi ini me-mang khusus datang ke Pek ho cay untuk mencari gara-gara. Bila ditinjau dari kemampuan yang di-miliki semula tersebut, agaknya hasil jerih payah Gui Pak-ciang selama banyak tahun sudah terancam kebangkrutan. Namun sebagai seorang jagoan ybang sudah berpejngalaman dalam gdunia persilatabn, de-ngan cepat wanita tersebut berhasil mengen-dalikan perasaan sendiri, jawabnya kemu-dian dengan suara dingin. "Pesan dari siauhiap tentu akan siauli lak-sanakan dengan baik, kalau toh siauhiap akan segera berkunjung ke benteng kami, baiklah siauli berangkat selangkah lebih dulu. . Buru-buru dia membalikkan badan dan melayang turun dari ruang loteng itu. Dua orang lelaki kekar lainnya cepat-cepat merogoh kantung mengeluarkan empat tahil perak. setelah dibuang ke atas meja, mereka segera mengikuti di belakang Tok Nio cu dan berlalu dari situ. Mendadak satu ingatan melintas di dalam benak Lan See giok sepeninggal Tok Nio-cu sekalian. "Aaah, bodoh amat aku ini, mengapa kubiarkan mereka pulang ke Pek ho cay lebih dulu? Bila Gui Pak ciang berusaha menghin-darkan diri dari pertemuannya denganku, bukankah hal tersebut akan menghambat usahaku untuk menyelidiki pembunuh ayah-ku yang sesungguhnya---" Kemudian dia pun berpikir lebih jauh. "Yaa, aku harus berangkat sekarang juga, kalau bisa tiba di tempat tujuan sebelum Tok Nio-cu tiba di situ. dengan demikian aku pasti dapat mengawasi gerak gerik Gui Pak ciang--." Belum habis dia berpikir, para pelayan, pemilik rumah makan dan para tamu lainnya sudah berbondong bondong menghampiri nya sembari menyatakan terima kasih. Lan See giok sama sekali tidak berniat untuk melayani orang-orang tersebut, segera tanyanya. "Boleh aku tahu berapa jauh letak Pek hoo cay dari sini? Dan aku harus lewat mana?" Mendapat pertanyaan itu, semua orang segera berebut menjawab.

356

"Pek-hoo-cay terletak diarah barat, kurang lebih sembilan li dari sini, dimuka benteng terdapat sebuah hutan siong yang sangat luas, sedang di sisi kiri, kanan dan belakang-nya di batasi oleh tanggul sungai. bagaimana keadaan di dalamnya jarang sekali diketahui oleh orang luar!" Dalam keadaan demikian, Lan See giok ingin sekali secepatnya berangkat ke situ, cepat dia mengeluarkan sekeping uang perak diletakkan di meja, kemudian dengan lang-kah cepat berjalan menuju ke belakang jendela. Dalam sekali kelebatan saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. Setelah meninggralkan rumah makzan Lan See-giokw menentukan ararhnya kemudian sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya bergerak menuju ke barat. Setelah ke luar dari kota, sawah dan ladang terbentang luas, di tepi jalan masih tersisa pula tumpukan salju yang belum melumer. Sepanjang jalan Lan See-giok beberapa kali berpaling, namun ia tak nampak Tok Nio-cu berenam menyusul dirinya, bisa jadi mereka sedang mencari kuda-kuda mereka yang lari ketakutan serta merawat setiap anak buah-nya yang terluka. Setelah menempuh perjalanan beberapa li, ia mulai menangkap beberapa titik cahaya lentera di kejauhan sana, bahkan lama lamat terdengar juga suara pohon siong yang di hembus angin serta suara air yang mengalir di selokan. Lan See giok tahu cahaya lampu yang muncul di depan sana sudah pasti benteng Pek-hoo cay. maka tanpa terasa dia percepat larinya menuju ke depan. Jarak sejauh tujuh-delapan li ditempuh dalam waktu yang amat singkat, kini Lan See-giok sudah berada dalam hutan pohon siong yang cukup lebat. Suasana dalam hutan itu cukup hening lagi gelap gulita, yang terdengar hanya suara ranting yang terhembus angin serta suara air yang mengalir, kesemuanya itu mendatang-kan perasaan tak tenang bagi siapa pun yang mendengarnya. Lan See-giok tak berani bertindak gegabah. dengan pandangan mata yang cermat dan pendengaran yang tajam diperiksa dulu sekeliling tempat itu, setelah tidak menjum-pai sesuatu yang mencurigakan. Dia baru meneruskan perjalanannya memasuki hutan tersebut. Hutan pohon siong itu mencapai ratusan kaki, di ujung hutan adalah sebuah gundu-kan tanah serta sebuah jalan beralas batu yang menanjak ke atas, pada ujung jalan itulah terletak pintu gerbang benteng yang tingginya mencapai puluhan kaki:

357

Batas pagar benteng terbentuk dari batang pohon yang besar lagi tinggi, sedemikian tingginya sehingga seseorang dengan ilmu meringankan tubuh yang sempurna pun ja-ngan harap dapat melampauinya. Lan See-giok tidak ingin kehadiran di situ diketahui musuh kelewat dini, dengan ber-hati hati sekali dia meninggalkan jalan raya yang lebar dan menyusup ke sisi kanan dinding benteng: Disaat tubuhnya sedang menerjang ke muka dengan kecepatan bagaikan kilat itu lah--"Sreeet!" Mendadak sebatang anak panah dibidikkan ke arahnya disertai tenaga sam-baran yang sangat kuat. Lan See giok sangat terkejut, dia tidak menyangka kalau jejaknya telah diketahui musuh dengan begitu cepat, serta merta dia percepat gerakan tubuhnya untuk lewat ke muka. Anak panah tersebut dengan cepat me-nyambar lewat dari atas kepalanya dan ron-tok beberapa kaki di belakangnya. Menyusul kemudian beberapa kali desiran angin tajam berhamburan dari arah benteng menuju ke arahnya, Dalam keadaan begini, Lan See giok tak berani bertindak secara gegabah, bagaikan segulung asap ringan dia meluncur ke muka, sebelum anak panah tersebut mencapai sasa-ran, dia telah meluncur ke muka dan tanpa menghentikan gerakannya ia langsung melejit ke tengah udara--Baru saja badannya hampir mencapai dinding benteng, seorang pemanah yang ber-diri tak jauh dari situ telah membentak keras, kemudian dengan busurnya orang itu menyerang secara ganas dan bengis .... Tujuan dari kedatangan Lan See-giok kali ini adalah menemukan si toya besi berkaki tunggal secepatnya, tentu saja ia tak ber-mi-nat sama sekali untuk -melayani orang-orang tersebut. Tidak membuang banyak waktu, tubuhnya kembali-melejit ke muka dan meluncur se-jauh beberapa kaki ke depan... Dengan gerakannya itu. sapuan dari lelaki berbusur itu menjadi mengenai sasaran ko-song, mungkin karena menggunakan tenaga kelewat keras, hampir saja ia ter-jerumus ke bawah benteng. Rekan rekannya yang menjumpai bhal itu serentajk membentak margah dan bersama bsama datang memberi bantuan, sayang sekali kedatangan mereka terlambat, tatkala orang-orang itu sampai di tempat kejadian, bayangan musuh telah hilang lenyap tak berbe-kas. Tak heran kalau suasana di sekeliling tem-pat itu segera berubah menjadi amat kacau.

358

Sementara itu, Lan See-giok yang berada ditengah udara sama sekali tidak menghenti-kan gerakan tubuhnya, dengan gerakan naga bermain ditengah angkasa, ia meluncur lebih ke atas wuwungan rumah. beberapa kaki dari posisi semula. kemudian ujung kakinya kem-bali menjejak tanah dengan cepat ia melun-cur lebih ke depan. Sepanjang jalan yang terlihat hanya ba-ngunan rumah yang berlapis, semuanya teratur rapi dan bersih sekali Puluhan kaki kemudian, pemuda itu menangkap cahaya lentera yang amat terang muncul dari sebuah gedung di depan situ, bangunan itu sangat besar dan paling megah, bentuknya mirip sekali dengan sebuah balai pertemuan. Dengan langkah tubuh yang berhati hati Lan See giok mendekati bangunan itu. dari atas wuwungan rumah ia dapat melihat ba-nyak orang sedang berkumpul di dalam ru-angan tersebut. Sebagai tuan rumah yang duduk dikursi utama adalah seorang kakek berambut putih, beralis tebal, bermata besar dan membawa sebuah toya besi yang berat sekali, orang itu tak lain adalah Gui Pak-ciang... Tanpa membuang waktu lagi. anak muda itu segera melayang turun ke tengah ruangan tersebut. Kehadirannya yang sangat tiba-tiba dan di luar dugaan tersebut segera membuat para hadirin tertegun, kemudian kecuali Gui Pak ciang beserta seorang kakek berjubah hijau dan seorang nenek berbaju abu-abu, air muka mereka hebat sekali. Lan See giok mengawasi semua orang yang berada dalam ruangan dengan cepat, menu-rut perkiraannya, jumlah mereka semua hampir mencapai dua tiga puluhan orang. Sementara itu, si toya baja berkaki tunggal Gui Pak-ciang telah berhasil menguasai perasaan sendiri, apalagi se-telah mengetahui bahwa pendatang cuma seorang pemuda baju biru yang berwajah tampan, ia semakin tidak memikirkannya di dalam hati. Kakek berjubah hijau yang berdbiri di sisi Guij Pak-ciang memigliki wajah yangb bengis, mata ikan dan alis mata tumpul. dari sorot matanya yang tajam sewaktu mengawasi Lan See-giok. bisa diduga kalau, ia seorang manusia berhati licik. Sebaliknya si nenek berbaju hijau yang telah ubanan rambutnya, bermuka persegi beralis tebal dan sepasang mata yang bagaikan mata seekor ayam jago. dari kilatan matanya yang menggidikkan serta tongkat digenggamnya, dapat diduga orang ini merupakan seorang nenek yang su-kar dihadapi.

359

Sementara Lan See giok baru selesai me-ngawasi orang-orang yang berada di situ. Tongkat besi berkaki tunggal Gui Pak ciang dengan wajah hijau membesi telah menegur. "Saudara cilik, siapa namamu, datang dari mana? Ada urusan apa kau berkunjung ke mari ditengah malam begini? Silahkan kau utarakan saja secara terus terang." Bertemu dengan Gui Pak-ciang, Lan See giok lantas teringat kembali akan perlakuan orang itu terhadap dirinya ketika masih berada dalam kuburan kuno, ditambah pula dengan sikap sombongnya sekarang, tiba-tiba saja hawa amarahnya berkobar. Namun Pemuda itu segera mengendalikan hawa amarahnya. dia ingin berusaha mencari keterangan yang banyak dari orang ini, maka ujarnya kemudian dengan suara tenang. "Aku Lan See giok ingin mencari tahu suatu persoalan yang amat penting dari caycu, bila kedatanganku sangat di luar dugaan, harap lo-caycu jangan marah!" Gui Pak-ciang semakin tak senang hati terutama melihat sikap musuhnya yang ang-kuh dan sama sekali tidak memberi hormat kepadanya, namun dia sendiripun tak berani bertindak gegabah. sebab ia tahu bila pemu-da ini tidak memiliki pegangan yang kuat, tak mungkin ia berani bertindak begini. Setelah tertawa terbahak-bahak, katanya kemudian: "Kalau toh ada urusan penting yang hen-dak disampaikan, mari silahkan masuk ke dalam ruangan untuk berbincang-bincang!" Sambil berkata, dengan cepat dia meng-u-lapkan tangannya dan menitahkan semua orang untuk menyingkir ke samping dan memberi jalan lewat kepadanya. Lan See-giok memandang sekejap ke dalam ruangan. di situ sudah tersedia meja perja-muan yang lengkap derngan hidangan lzezat namun perjwamuan belum dimrulai, bisa jadi orang-orang, itu sedang menanti kedatangan Tok Nio-cu. Setelah termenung sejenak, pemuda itu pun berkata seraya menggelengkan kepala nya berulang kali: "Tidak usah, aku hanya ingin bertanya be-berapa patah kata saja, lebih baik ku ajukan dari sini." Dari sikap pemuda tersebut, sebagai jago-jago yang berpengalaman dalam dunia persi-latan, Gui Pak-ciang sekalian segera merasa bahwa kedatangan pemuda berbaju biru itu nampaknya tidak berniat baik. Berkilat sepasang mata nenek berbaju abu-abu itu, mendadak ujarnya kepada Gui Pak ciang:

360

"Pak ciang, kalau begitu suruh saja ia ber-bicara secepatnya, To Siok adalah tamu agung kita dari tempat jauh. ia sudah cukup lama menantikan kedatangan Tok Nio-cu, masa kau ingin mempertontonkan kejelekan ini dihadapannya lagi?" Lan See giok segera tertawa dingin, berda-sarkan panggilan si nenek atas Gui Pak ciang, bisa jadi nenek tersebut adalah istri tuanya, sedangkan yang disebut sebagai To Siok mungkin sekali adalah kakek berjubah hijau itu. Gui Pak ciang segera manggut-manggut kepada Lan See giok ujarnya kemudian de-ngan tidak sabar: "Kalau toh kau ingin mengucapkan bebe-rapa patah kata saja, nah katakan sekarang juga." Lan See giok mengerutkan dahinya rapat-rapat, kemudian dengan suara dalam tegur nya: "Aku hanya ingin tahu, sebetulnya men-diang ayahku Lan Kong tay terbunuh di ta-ngan siapa? Siapakah diantara kalian lima manusia cacad yang telah melakukan per-buatan keji itu- -" Belum selesai ucapan tersebut diutarakan, Gui Pak ciang serta To Siok si kakek berju-bah hijau itu sudah berubah muka. Gui Pak ciang nampak agak tertegun, se-baliknya, To Siok segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram. Tergerak hati Lan See-giok menyaksikan hal tersebut. bila dugaannya tak keliru, bisa jadi antara kakek berjubah hijau itu dengan ayahnya pernah terjalin hubungan permu-suhan yang sangat mendalam sekali. Betul juga dugaannya, setelah berhenti tertawa seram, kakek berjubah hijau itu segera berseru dengan penuh kebencian. "Aku, si pukulan pasir merah To Siok se-dang kecewa karena dendam sakit hati yang kuterima tiga belas tahun berselang tak mungkin bisa menuntut balas kembali, hmm ----rupanya Thian memang memberi kesempatan kepadaku untuk melampiaskan-nya, atas kesempatan ini aku pasti berterima kasih kepada Lo thian ya!" Lan See-giok tertawa dingin, ia merasa si pukulan pasir merah To Siok pandai sekali bersandiwara, ini menunjukkan pula bahwa orangnya licik dan sangat berbahaya. Sementara Lan See-giok masih termenung, si pukulan pasir merah To Siok telah me-lom-pat ke depannya, kemudian sambil menga-wasi pemuda itu dengan sorot mata benci, ia menegur keras. ""Kau benar-benar adalah putra dari gurdi emas peluru perak Lan Khongtay ?"

361

"Sekarang aku tak punya banyak waktu untuk berbicara denganmu, jika kau memang berniat membalas dendam atas sakit hati yang pernah kau terima dari ayahku dulu, silahkan saja kau menuntutnya kepadaku...." Sekali lagi si pukulan pasir merah To Siok mendongakkan kepalanya sambil tertawa seram. "Heeehhh.. heeehhh... heeehhh.... bocah keparat, kau tak usah sombong dulu, lihat saja nanti apakah kau masih mampu me-ninggalkan Pek hoo cay ini dalam keadaan hidup?! Sambil berkata, hawa murninya segera di-salurkan ke dalam telapak tangannya, warna kulit yang semula putih seketika berubah menjadi merah membara. Lan See-giok gusar sekali, namun sebelum ia sempat berkata sesuatu, tiba-tiba Gui Pak-clang telah berkata pula dengan suara yang berat dan dalam. "Saudara To, buat apa kau mesti terburu napsu? Untuk membunuh ayam mengapa mesti memakai pisau pembunuh kerbau? Biar siaute utus orang untuk membekuk bangsat tersebut, kemudian baru diserahkan kepada saudara To untuk menghukumnya." Sebagai tamu yang datang dari jauh. pu-kulan pasir merah To Siok merasa kurang leluasa untuk menampik maksud baik Gui Pak ciang, setelah tertawa angkuh, pelan-pe-lan dia mengundurkan diri dari situ. Lan See-giok berkerut kening. wajahnya berubah menjadi hijau membesi, sambil mengawasi si toya besi berkaki tunggal segera bentaknya keraskeras. Gui Pak ciang, kau tidak berani mengata-kan siapa yang telah membunuh ayahku?" Toya baja berkaki tunggal Gui Pak ciang sama sekali tidak menggubris pertanyaan Lan See giok, kepada seorang lelaki cebol berwajah kuning yang berdiri di belakangnya, ia berseru keras: "Harimau berkaki cebol, cepat kau ringkus bocah keparat she Lan itu!" Pemuda cebol itu mengiakan, tanpa banyak bicara dia menerjang ke muka Lan See giok, tangan kirinya menggapai semen-tara kepalan kanannya langsung menjotos ulu hati lawan. Lan See giok mendengus marah, dengan cekatan dia mengegos ke samping, gagal de-ngan serangannya. pemuda cebol itu mende-sak maju lebih jauh, kembali dia melancar-kan pukulan. Lan See giok mendengus, tiba-tiba dia ber-putar kencang dan menyelinap ke belakang pemuda cebol itu, diiringi bentakan, keras sebuah tendangan kilat dilancarkan menghantam belakang pinggang musuh . . . . "Blaammm!"

362

Diiringi suara benturan keras, jerit kesa-kitan yang menyayat hati seperti babi mau disembelih, bergema di seluruh ruangan tubuhnya yang cebol tahu-tahu sudah mencelat ke luar dari ruangan dan meluncur ke dinding bangunan seberang. peristiwa ini berlangsung amat cepat untuk sesaat Gui Pak-ciang, si nenek dan To Siok sampai tertegun dibuatnya, wajah mereka berubah hebat. "Blaammm...! " Debu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa, rupanya pemuda cebol itu sudah menumbuk di atas dinding bangunan sebe-rang menyebabkan sebagian dindingnya am-brol, tentu saja pemuda cebol itu sendiri segera jatuh tak sadarkan diri Lan See-giok cukup mengerti keadaan situasi yang dihadapinya sekarang, mustahil masalah yang dihadapi bisa diselesaikan se-cara damai, karenanya kepada si pukulan pasir merah To Siok, kembali dia menantang. "Hei, kalau ingin membalas dendam, ayo cepat turun tangan, aku sendiri memang ingin selekasnya menyelesaikan persengke-taanmu dengan mendiang ayahku dulu" Sebagai seorang jago kawakan yang cukup termasyhur namanya di dalam dunia persi-latan, tentu saja si pukulan pasir merah To Siok tidak memandang sebelah matapun ter-hadap Lan See giok, mendengar tantangan itu. dia segera berteriak keras dan langsung menerjang ke muka. "Saudara To. tunggu dulu! Biar aku saja yang mematahkan kaki anjing bajingan cilik ini!" tiba-tiba nenek berbaju abu-abu itu menjerit marah. Ditengah bentakan. dia turut menerjang pula ke arah Lan See giok. -Tergerak hati si pukulan pasir merah To Siok mendengar ucapan itu, mendadak tim-bul niat jahat dihati kecilnya. Dengan suara dalam sahutnya kemudian: "Enso, kau mesti berhati hati!" Kemudian dia sendiri menyelinap ke bela-kang tubuh Lan See giok. Sementara itu, si nenek berbaju abu-abu itu sudah memutar toyanya menciptakan selapis bayang-an toya yang langsung mengurung batok kepala anak muda tersebut. Betapa gusarnya Lan See-giok melihat tingkah laku nenek berbaju abu-abu itu, se-mentara ia bersiap sedia melancarkan sera-ngan, tiba-tiba dari atas rumah terdengar se-seorang berseru merdu. ""Lan siauhiap, harap tahan dulu!" Dengan wajah tertegun Lan See giok ber-paling, tapi pada saat itulah desingan angin tajam menyambar dari belakang kepalanya, bersamaan waktunya si nenek berbaju abu--abu itu juga membentak keras, toya

363

bajanya mendadak berubah arah menyapu lutut musuh dengan gerakan secepat kilat. Keadaan menjadi kritis dan berbahaya sekali... Untung saja Lan See-giok tidak menjadi panik, sambil membentak keras ia keluarkan gerakan naga sakti melambung ke udara, suatu gerakan sakti dari tujuh gerakan naga harimau, dengan gerakan secepat sambaran petir dia melejit ke atas atap rumah, Tiba-tiba saja terdengar suara bentrokan yang amat keras disusul suara jerit kesakitan yang sangat memilukan hati. Ketika Lan See-giok berpaling, ternyata sepasang kaki si pukulan pasir merah To Siok yang sedang melancarkan sergapan licik dari belakang itu, sudah terhajar oleh sapuan toya baja si nenek berbaju abu-abu sehingga hancur tak karuan. Sedangkan Gui Pak-ciang sekalian yang menyaksikan peristiwa tersebut menjadi panik dan buru turun semua ke gelanggang. Pada saat itulah dari atas atap rumah me-layang turun sesosok bayangan manusia, dia tak lain adalah Tok Nio-cu yang baru saja menyusul pulang. Tatkala sadar bahwa serangannya me-n-genai sasaran yang keliru, si nenek berbaju abu-abu itu nampak tertegun dan berdiri mematung, kemudian sambil menjerit kaget ia buang toya nya ke atas tanah. Dengan wajah pucat pias dan peluh dingin jatuh bercucuran, cepat-cepat ia berusaha membantu si pukulan pasir merah To Sio! untuk bangkit dari genangan darah ..... Mendadak.... Berkilat sinar bengis dari balik mata pu-kulan pasir merah To Siok, sambil memben-tak keras tiba-tiba saja telapak tangan kanannya yang berwarna merah darah itu dibacokkan ke atas thian-leng hiat di ubun-ubun si nenek berbaju abu-abu. Peristiwa ini berlangsung sangat tiba-tiba dan sama sekali di luar dugaan, d tambah lagi jarak diantara mereka begitu dekat, Gui Pak-ciang dan Tok Nio-cu sekalian yang berusaha menolongpun jadi terlambat se-langkah. "Plaaakkk!" Suara retakan yang sangat keras bergema diangkasa, lalu isi benak nampak berceceran dimana mana, tulang dan darah berham-buran menyelimuti seluruh permukaan tanah. Diiringi jeritan lengking yang memilukan hati, nenek berbaju abu-abu itu tewas se-ketika. Berhasil membunuh nenek tersebut, tiba-tiba saja si pukulan pasir merah To Siok me-lejit ke udara dan menumbukkan kepala nya ke atas lantai, tak

364

ampun kepalanya hancur seketika dan jiwanya turut melayang meninggalkan raganya. Gui Pak ciang serta Tok Nio-cu hanya bisa berdiri melongo menghadapi perubahan yang berlangsung secara tiba-tiba itu. Ujung baju terhembus angin bergema me-mecahkan keheningan, dengan suatu gera-kan yang ringan Lan See giok melayang turun ke atas tanah... Gui Pak ciang yang melihat hat tersebut segera membentak keras. "Bocah keparat, aku akan beradu jiwa denganmu!" Bagaikan seekor harimau gila, dia men-dorong beberapa orang yang berdiri di seki-tarnya dan sambil mengayunkan toya me-nyerbu ke hadapan Lan See giok... Tok Nio-cu sangat terkejut melihat ke kala-pan orang, cegahnya tanpa terasa: "Pak ciang, jangan..."" Belum habis ia berseru, tubuhnya telah menubruk ke muka dan mencengkeram per-gelangan tangan Gui Pak ciang. Seketika gerak maju Gui Pak ciang terhen-ti, dengan pandangan tak habis mengerti ia menengok kearah gundik kesayangannya itu, sementara sorot matanya penuh dengan tanda tanya: Lan See giok sendiripun turut tertegun melihat tindak tanduk dari Tok Niocu itu. "Pak ciang!" terdengar Tok Nio-cu berkata dengan gelisah, "tenangkan dahulu pikiran-mu, kau bukan tandingan dari Lan siauhiap. Sementara berbicara, dia masih tetap menggenggam pergelangan tangan kanan Gui Pak ciang erat-erat. Di hari-hari biasa Gui Pak ciang memang paling menyayangi Tok Nio-cu serta menuruti semua perkataannya, saat tersebut tanpa terasa ia berseru tertahan dan mengalihkan pandangannya yang kaget ke wajah Lan See giok dua kaki dihadapannya. Sambil melepaskan cekalannya pada per-gelangan tangan Gui Pak-ciang, kembali Tok nio-cu berkata. "Pak-ciang, kalau dihitung-hitung kau, toh masih termasuk seorang jago kawakan dalam dunia persilatan, masa kau tidak da-pat melihat bahwa ilmu si1at Lan siauhiap telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa, dimana panas dingin tak akan mempengaruhi tubuhnya menyerang dengan menurut kemauban pikirannya?"j Menggigil kergas sekujur badabn Gui Pak -ciang setelah mendengar ucapan itu, tanpa terasa dia mengalihkan pandangan matanya ke atas

365

pakaian tipis yang dikenakan pemuda itu, sementara toya besinya pelanpelan di turunkan kembali ke bawah: Tok Nio-cu mengerling sekejap ke arah Lan See giok, kemudian katanya lebih jauh: "Lan siauhiap ada urusan yang khusus hendak ditanyakan kepadamu, mengapa kau tidak mempersilahkan Lan siauhiap masuk ke dalam ruangan ." Dengan cepat Gui Pak ciang berhasil me-ngendalikan perasaan cepat dia mengangguk berulang kali kemudian sambil menjura ka-tanya: "Lan siauhiap, silahkan masuk dan me-ngambil tempat duduk!" "Maksud baik caycu dan hujin biar kute-rima di dalam hati saja ...." tampik Lan See giok cepat, sebelum pemuda itu menyelesai-kan kata katanya, Tok nio-cu kembali me-nyela: "Mana mungkin masalah besar yang penting artinya bisa di selesaikan dengan dua tiga patah kata saja? Apalagi pembicaraan secara tergesagesa, akan menyebabkan ba-nyak masalah yang tertinggal. bila sampai hal tersebut menyebabkan hal yang tidak di-inginkan, bukankah berabe jadinya? Aku rasa lebih baik kita bicarakan secara seksa-ma dan mendalam saja!" Lan See giok menganggap perkataan tersebut memang ada benarnya juga, mesti tidak diketahui olehnya apakah Tok Nio-cu mempunyai rencana lain dibalik kesemuanya ini, namun demi sakit hati ayahnya dia tak ingin memperdulikan hal-hal semacam itu. "Perkataan hujin memang benar." katanya kemudian, "cuma dengan berbuat begitu ke-hadiranku t