Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Terdapat berbagai macam proses penanganan produk hasil pertanian.

Salah satu contohnya adalah proses pengecilan ukuran. Proses ini dilakukan apabila diinginkan hasil produk yang berukuran kecil, sebagai contoh adalah tepung. Untuk menghasilkan tepung, bahan baku yang digunakan harus melalui proses penggilingan. Penggilingan tersebut akan menghasilkan partikel atau butiran yang ukurannya belum seragam. Apabila tepung digunakan dalam skala industri maka diperlukan proses lebih lanjut untuk menyeragamkan ukuran partikel atau butiran tepung tersebut. Proses tersebut dapat dilakukan dengan pengayakan. Salah satu contoh alat pengayakan adalah ayakan Tyler. Ayakan ini terdiri beberapa tingkatan mesh yang mempunyai ukuran diameter lubang tertentu. Bahan akan dipisahkan menurut ukuran dan bentuknya pada proses pengayakan. Bahan akan tertinggal pada mesh yang memiliki diameter lebih kecil daripada diameter bahan. Alat ini digunakan untuk mengukur kelembutan yang rentangan dimensi terkecilnya adalah kurang lebih antara 0,125 0,0029 in. Selain untuk menyeragamkan ukuran, proses pengayakan juga dapat digunakan untuk menggambarkan penyebaran ukuran halus dan kasar dalam bahan. Pada praktikum kali ini akan dilakukan pengamatan dan penentuan fineness modulus dan uniformity index. Praktikum ini sangat bermanfaat dikarenakan bidang ilmu Teknik Pertanian dan Biosistem seringkali menjumpai permasalahan mengenai pengecilan ukuran. Dengan adanya praktikum ini diharapkan praktikan dapat menetukan modulus kehalusan dan index keragaman bahan. Selain itu, praktikan juga dapat menyajikan data hasil pengecilan ukuran serta menganalisisnya. Pelaksanaan praktikum ini sangat penting karena sebagai seorang engineer mungkin bidang kerja kita nantinya berhubungan dengan alat pengecil ukuran. Sehingga, pengetahuan dan cara analisa data yang kita peroleh di praktikum ini dapat dijadikan dasar ilmu dalam menjalankan pekerjaan.

B. Tujuan
1.

Menentukan modulus kehalusan (fineness modulus) dan index keragaman bahan hasil pengecilan ukuran. Mengenal berbagi cara penyajian data analisa hasil pengecilan ukuran.

2.

BAB II DASAR TEORI Proses produksi sering disebut sebagai proses pengolahan bahan mentah menjadi bahan jadi atau setengah jadi sehingga mempunyai keunggulan tersendiri dalam karakteristik, spesifikasi maupun keunggulan dalam segi finansialnya. Suatu bahan yang akan diolah haruslah sudah diketahui karakteristiknya untuk disesuaikan dengan alat yang digunakan. Misalnya pengolahan bahan yang berserat akan berbeda dengan pengolahan bahan yang mempunyai kandungan air yang tinggi dan bersifat lunak (Charm, 1971). Pada bahan mentah seringkali terdapat ukuranukuran yang terlalu besar untuk digunakan dalam berbagai keperluan. Maka dari itu, harus dilakukan pengecilan ukuran bahan tersebut. Operasi pengecilan ukuran ini dapat dibagi menjadi dua kategori besar, yang berdasar pada kondisi bahan apakah berbentuk padatan ataukah berbentuk cairan. Jika bahannya padatan, operasi pengecilan ukuran disebut grinding atau penggilingan dan cutting atau pemotongan. Sedangkan untuk bahan cairan, operasi pengecilan ukuran disebut emulsifikasi atau atomisasi (Earle, 1969). Pengecilan merupakan proses atau cara dimana suatu partikel yang berukuran besar dipecah atau dipotong menjadi partikel yang berukuran lebih kecil. Pengecilan ukuran berlangsung secara mekanik tanpa disertai perubahan kimia dari bahan tersebut. Produk akhir diharapkan memiliki bentuk dan ukuran yang sesuai (Mulyohardjo, 1987). Adapun tujuan pengecilan ukuran adalah sebagai berikut: untuk memperoleh produk dengan bentuk dan ukuran seragam sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan, untuk memperoleh bentuk dan ukuran yang mudah diolah, untuk mempertinggi reaktivitas bahan sehingga proses pengolahan berjalan dengan baik. Tujuan yang lain adalah untuk memungkinkan pemisahan bahanbahan yang tidak dikehendaki. Selain itu untuk memberikan bentuk dan ukuran yang bersifat estetis sehingga memberikan kenampakan yang lebih menarik (Mahmudin, 2000).

Cara yang digunakan untuk menganalisa hasil pengecilan ukuran adalah dengan pengayakan. Pengayakan adalah metode pemisahan berdasarkan ukuran butiran. Macam-macam ayakan berdasarkan mekanisme gerakannya antara lain ayakan stationer, ayakan bolak-balik, ayakan osilasi, ayakan getar dan ayakan tromol putar. Partikel dari bahan yang diayak dapat lolos melewati lubang-lubang saringan karena pengaruh gaya gravitasi (Earle, 1969). Pengayakan dengan berbagai rancangan telah banyak digunakan dan dikembangkan secara luas pada proses pemisahan bahan-bahan pangan berdasarkan ukuran. Pengayakan yaitu pemisahan bahan berdasarkan ukuran mesin kawat ayakan, bahan yang mempunyai ukuran lebih kecil dari diameter mesin akan lolos dan bahan yang mempunyai ukuran lebih besar akan tertahan pada permukaan kawat ayakan. Bahan-bahan yang lolos melewati lubang ayakan mempunyai ukuran yang seragam dan bahan yang tertahan dikembalikan untuk dilakukan penggilingan ulang (Suharto, 1998). Salah satu cara penentuan kelembutan butir-butiran hasil penggilingan adalah dengan menggunakan ayakan Tyler. Alat ini digunakan untuk mengukur kelembutan yang rentangan dimensi terkecilnya adalah kurang lebih antara 0,1250,0029 inchi. Pada analisis dengan cara ini, bahan dimasukkan di atas susunan sederetan ayakan Tyler yang dipasang dan digoyangkan dengan vibrator, dengan gerakan yang teratur dan waktu operasinya dapat pula diatur. Kelembutan butirbutiran dinyatakan dengan modulus kehalusan (FM) yang diberi batasan sebagai jumlah berat bagian yang tertahan pada tiap-tiap saringan yang digunakan dibagi 100 (Suyitno, 1989). Analisis ayakan Tyler penting dilakukan untuk menentukan pengaruh penggilingan terhadap perubahan distribusi (%berat). Selain itu juga untuk menentukan pengaruh penggilingan terhadap ukuran partikel. Index keseragaman dan fineness modulus menunjukkan keseragaman hasil giling atau penyebaran fraksi kasar, sedang dan halus dalam bahan hasil penggilingan (Widyotomo, 2002). Kualitas tepung biasanya ditentukan oleh ukuran butiran (granula pati) dan komponen yang terkandung dalam pati tersebut. Ukuran butiran dinyatakan dalam

keseragaman butiran tepung (indeks keragaman) serta modulus kehalusan (fineness modulus). Keseragaman bentuk, jenis, ukuran, dan rasa sangat penting untuk keperluan industri baik industri pangan, industri farmasi, industri bangunan ataupun industri lainnya karena dapat mempengaruhi hasil akhir dari suatu produk (Purwantana, 2008).

BAB III METODE PRAKTIKUM

1. 1.

Alat dan Bahan Alat a.


b.

Ayakan standar Tyler Vibrator (penggetar) Stopwatch Timbangan digital Alat tulis Mangkuk untuk menimbang Kuas Kertas koran Tepung gaplek Makanan ternak (pelet)

c. d. e.
f.

g. h. 2. a. b. 2.

Bahan

Cara Kerja Pertama-tama, masing-masing contoh bahan (tepung gaplek dan pelet)

ditimbang 2 x 100 gram. Kemudian, ayakan dipasang menurut urutan yang telah ditetapkan. Setelah ayakan siap, sampel diletakkan pada ayakan teratas kemudian ayakan ditutup dan mur penekan tutup dikencangkan. Kabel dihubungkan pada stop kontak dan vibrator dinyalakan dan pengatur waktunya diputar pada 10 menit. Setelah 10 menit, vibrator dimatikan. Yang terakhir, sampel dalam setiap ayakan dikeluarkan dan diletakkan pada kertas koran kemudian ditimbang dan dicatat untuk masing-masing ukuran mesh. Untuk masing-masing sampel dilakukan 2 kali pengukuran.

Keterangan:
1. 2.

Mesh (ayakan) Tombol panel on/off Kabel Cara Analisa Data Dicari nilai rerata massa bahan tertinggal (Wi) untuk tiap mesh. Menentukan fraksi % bahan tertinggal (setiap mesh kecuali pan) Xi = W total x100 % Keterangan: Wi = massa bahan tertinggal tiap mesh (gram) Menentukan % bahan lolos (dicari untuk tiap mesh kecuali pan) % bahan lolos = 100 % bahan tertinggal kumulatif Wtotal = massa bahan awal sebelum diayak (gram)
W i

3.
3. 1. 2.

3.

4.

Menentukan Fineness Modulus (FM) FM =


Jumlah total % tertinggal kumulatif 100

5.

Diameter rata-rata D = 0,0041 (2)FM Diameter diubah ke ukuran milimeter

6.

Menentukan Geometric Mean Diameter (Dgw)


(Wi . log Di ) Dgw = log-1 Wi

Dimana: Dgw Wi Di
7.

= Geometric Mean Diameter (mm) = berat bahan tertinggal pada masing-masing ayakan (gram) = diameter lubang ayakan ke-I (mm)

Wi dijumlahkan tanpa pan Menentukan Geometric Standard Deviation (Sgw) Sgw = log-1
W [ log D log D ( i i gw i W

]) 1 / 2

Dimana: Sgw Wi Di 8. 9. = Geometric Standard Deviation (mm) = berat bahan tertinggal pada masing-masing ayakan (gram) = diameter lubang ayakan ke-I (mm)

Wi dijumlahkan tanpa pan Menentukan koreksi dengan rumus Ralat = Dgw Sgw Menyajikan hasil analisis data dalam bentuk tabel grafik
a. 10. Menunjukkan hubungan antar komponen hasil analisis data dalam bentuk

Log ukuran lubang ayakan (mm) vs % bahan yang tertinggal kumulatif

% bahan yang tertinggal komulatif

log ukuran lubang(mm)


b.

Ukuran lubang ayakan (mm) vs % bahan yang lewat

% bahan yang lewat

ukuran lubang (mm)

BAB IV HASIL DAN ANALISA A.


1.

Hasil Tabel Data Pengamatan Massa Bahan Tertinggal a. Bahan : tepung gaplek Massa : 100 gram Mesh No. 4 8 14 30 50 100 Pan Massa Bahan Tertinggal (Wi) (gram) Ulangan 1 Ulangan 2 0 0 0,1 0,1 0,2 0,4 7,5 7,2 27,2 25,3 16,7 16,4 13,6 14 24,2 26,9

b. Bahan : pakan ternak (pelet) Massa : 100 gram Mesh No. 4 8 14 30 50 100 Pan Massa Bahan Tertinggal (Wi) (gram) Ulangan 1 Ulangan 2 0 0 0 0 7,2 11,4 44,2 51,3 40,8 31,9 4,4 3 2,1 1,4 0,8 0,9

3.

Grafik a. Bahan : tepung gaplek Massa : 100 gram

Grafik log ukuran lubang ayakan (mm) vs % bahan yang tertinggal kumulatif

Grafik ukuran lubang ayakan (mm) vs % bahan yang lewat

b. Bahan : pakan ternak (pelet) Massa : 100 gram

Grafik log ukuran lubang ayakan (mm) vs % bahan yang tertinggal kumulatif

Grafik ukuran lubang ayakan (mm) vs % bahan yang lewat

B.

Analisa Data Contoh perhitungan pada mesh 14 dengan bahan gaplek

1.

Dicari nilai rerata massa bahan tertinggal (Wi) untuk tiap mesh. Ulangan 1 = 7,5 gram Ulangan 2 = 7,2 gram Rerata =
Ulangan 1 + Ulangan 2 2
7,5 gram + 7,2 gram 2

Re rata =

Rerata = 7,35 gram 2. Menentukan fraksi % bahan tertinggal Xi = W total x100 %


7,35 gram
W i

3.

= 100 gram x 100 % = 7,35% Menentukan % bahan lolos % bahan lolos = 100 - % bahan tertinggal kumulatif = 100 7,75% = 92,25%

4.

Menentukan Fineness Modulus (FM) FM = =


Jumlah total % tertinggal kumulatif 100

157 ,15 100

= 1,5715 5. Diameter rata-rata D = 0,0041 (2)FM = 0,0041 (2) 1,5715 = 0,01219 in = 0,30952 mm

6.

Menentukan Geometric Mean Diameter (Dgw) Dgw


(Wi . log Di ) = log-1 Wi

= log-1
7.

- 115,98769 64 ,35

= 0,01576 mm Menentukan Geometric Standard Deviation (Sgw) Sgw = log


-1

i lo D g D w W g i lo g i W

1/ 2

= log-1 8.

31,28779 64 ,35

= 0,32643 mm Menentukan koreksi dengan rumus Ralat = Dgw Sgw = (0,01576 0,32643) mm

Contoh perhitungan pada mesh 14 dengan bahan pakan ternak (pelet)


1.

Dicari nilai rerata massa bahan tertinggal (Wi) untuk tiap mesh. Ulangan 1 = 44,2 gram Ulangan 2 = 51,3 gram Rerata =
Ulangan 1 + Ulangan 2 2
44 ,2 gram + 51,3 gram 2

Re rata =

Rerata = 47,75 gram 2. Menentukan fraksi % bahan tertinggal Xi = W total x100 % = 100 gram = 47,75% 3.
47 ,75 gram x 100 %
W i

Menentukan % bahan lolos % bahan lolos = 100 - % bahan tertinggal kumulatif

= 100 57,05% = 42,95% 4. Menentukan Fineness Modulus (FM) FM = =


Jumlah total % tertinggal kumulatif 100
355 ,7 100

= 3,557 5. Diameter rata-rata D = 0,0041 (2)FM = 0,0041 (2) 3,557 = 0,04826 in = 1,22569 mm Menentukan Geometric Mean Diameter (Dgw) Dgw
(Wi . log Di ) = log-1 Wi

6.

= log-1
7.

- 143,75689 98 ,85

= 0,035132 mm Menentukan Geometric Standard Deviation (Sgw) Sgw = log-1


i lo D g D w W g i lo g i W
1/ 2

= log-1 8.

42,18983 98 ,85

= 0,37428 mm Menentukan koreksi dengan rumus Ralat = Dgw Sgw = (0,035132 0,37428) mm

BAB VI KESIMPULAN

1.

Pada tepung gaplek, diperoleh besarnya nilai hasil perhitungan:


a. b. c. d. e.

fineness modulus (FM) = 1,5715 ukuran rata-rata (D) = 0,30952 mm nilai Dgw = 0,01576 nilai Sgw = 0,32643 ralat = 0,01576 0,32643 fineness modulus (FM) = 3,557 ukuran rata-rata (D) = 1,22569 mm nilai Dgw = 0,035132 nilai Sgw = 0,37428 ralat = 0,035132 0,37428

2.

Pada pakan ternak (pelet), diperoleh besarnya nilai hasil perhitungan:


a. b. c. d. e.

3. 4.

Dari hasil di atas diperoleh kesimpulan bahwa tepung gaplek lebih halus daripada pakan ternak (pelet). Dari hasil di atas juga diperoleh kesimpulan bahwa ukuran diameter ratarata tepung gaplek lebih kecil daripada pakan ternak.

DAFTAR PUSTAKA

Charm, Stanley. 1971. The Fundamental Of Food Engineering. England: The Avi Publishing Company. Earle, R.L. 1969. Satuan Operasi dalam Pengolahan Pangan. Bogor: Sastra Hudaya. Mahmudin, 2000. Hand Out Satuan Operasi. Yogyakarta: FTP UGM. Mulyohardjo, Muchji. 1987. Dasardasar Pengolahan Hasil Pertanian I. Yogyakarta: PAU Pangan dan Gizi UGM. Purwantana, Bambang. 2008. Kajian Kinerja Mesin Ekstraksi Tipe Ulir Pada Proses Pembuatan Pati Aren (Arenga pinnata Merr.). Dalam http://ilib.ugm.ac.id/jurnal/detail.php?dataId=4774. Diakses tanggal 4 November 2011 Pukul 19.07. Suharto, Ign. 1998. Sanitasi, Keamanan, dan Kesehatan Pangan dan Alat Industri. Bandung: Penerbit ITB. Suyitno. 1989. Petunjuk Laboratotium Rekayasa Pangan. Yogyakarta: PAU Pangan dan Gizi UGM. Widyotomo, Sukrisno. 2002. Perubahan Distribusi Ukuran Partikel Tepung Ilesiles Hasil Pengolahan Dengan Metode Penggilingan Bertingkat. Dalam www.uniska-bjm.ac.id/?uniska=download&modul=jurnal&id=5. Diakses tanggal 4 November 2011 Pukul 19.12.