Anda di halaman 1dari 15

Teknologi Isolasi DR.Ir.

Salama Manjang

KULIAH - 6 MATERIAL ISOLASI PADA TEKNOLOGI TEGANGAN TINGGI


Penentuan ukuran sistem isolasi membutuhkan pengetahuan yang akurat tentang jenis, besar dan lama terjadinya tekanan listrik (electric stress) pada kondisi lingkungan tertentu. Namun, di sisi lain, karakterisitik material isolasi harus pula diketahui sehingga dapat diperoleh rancangan sistem isolasi yang paling optimum atau ekonomis. Masalah yang timbul adalah penentuan karakteristik material isolasi dilakukan dengan sampel model pada kondisi standar, sehingga interpolasi nilai-nilai model ini terhadap sistem isolasi yang nyata seringkali tidak sesuai. Selain itu, banyak nilai dari karakteristik material isolasi diarahkan ke masalah statistik agar penentuan dimensi sistem isolasi harus dilakukan dengan batas keamanan yang sesuai. 6.1 Syarat material isolasi Fungsi yang paling penting dari material isolasi adalah untuk mengisolasi konduktor bertegangan satu sama lain dan terhadap bumi. Namun, selain itu, material isolasi harus memiliki fungsi mekanis dan mampu bertahan terhadap tekanan termal dan kimia. Tekanan-tekanan diketahui. Bergantung pada jenis aplikasiya, ada beberapa persyaratan yang ditentukan untuk karakteristik listrik dari material isolasi: Memiliki kekuatan elektrik yang tinggi, untuk mendapatkan ukuran yang kecil dan biaya rendah dengan volume material sesedikit mungkin. Memiliki dielektrik losses yang rendah, untuk mencegah terjadinya pemanasan lebih pada material isolasi tersebut seringkali terjadi secara simultan, sehingga efek bersama dari berbagai parameter tersebut dapat

Teknologi Isolasi DR.Ir. Salama Manjang Memiliki kekuatan tracking yang tinggi selama terjadinya

tekanan pada permukaan material, untuk mencegah terjadinya tracking atau erosi. Memiliki konstanta dielektrik yang sesuai Persyaratan mekanik diperlukan karena material isolasi

merupakan material konstruksi yang memiliki karakteristik beban tertentu. Beberapa sifat yang penting pada material isolasi adalah kekuatan tensil (misalnya pada isolator saluran udara), kekuatan tarik (post isolator pada gardu induk), kekuatan tekanan (isolator pedestal pada antena) atau kekuatan menahan tekanan (isolator CB dengan tekanan internal). Karakteristik mekanis seperti modulus elastisitas, kekerasan dan lain-lain merupakan karakteristik yang sangat berhubungan dengan tekanan dan perancangan yang sesuai. Peralatan listrik seringkali mengalami kenaikan temperatur pada operasi normal sebagaimana pada kondisi gangguan. Spesifikasi dari sifat termal seperti kekuatan bertahan terhadap panas yang tinggi, kekuatan bertahan yang baik terhadap panas, konduktivitas termal yang tinggi, koefisien ekspansi termal yang rendah, dan kekuatan bertahan terhadap busur api yang tinggi. Material isolasi juga harusnya tidak sensitif terhadap kondisi lingkungannya. Oleh karena itu material isolasi hendaknya memiliki beberapa sifat lain seperti: memiliki ketahanan terhadap ozone, impermeabilitas, bersifat higroskopik, daya serap air rendah, dan kestabilan radiasi. Sifat-sifat teknologi seperti kemampuan proses dan kerja yang tinggi, homogen, kestabilan ukuran dan lain-lain yang penting untuk produksi ekonomis harus pula diperhitungkan. Material isolasi yang diterapkan pada sistem tegangan tinggi harus memenuhi persyaratan yang seringkali bertentangan. Oleh karena itu, pemilihan material isolasi untuk aplikasi tertentu harus

Teknologi Isolasi DR.Ir. Salama Manjang melalui kompromi antara syarat-syarat dan sifat-sifat yang harus dipenuhi. 6.2 Sifat dan pengujian material isolasi 6.2.1 Sifat listrik a) Kuat medan tembus Kuat medan tembus merupakan sifat material yang sangat penting yang sangat berhubungan dengan ukuran material , meskipun tidak menggambarkan spesifikasi tetap dari material. Hal ini disebabkan adanya pengaruh parameter lain seperti jari-jari lekukan isolasi dan permukaan elektroda, ketebalan lapisan, jenis tegangan, lamanya tekanan, Untuk tekanan material udara, isolasi temperatur, dan frekuensi dan kelembaban. konfigurasi elektroda

tertentu, nilai-nilai yang berhubungan dengan hal-hal di atas telah tersedia (misalnya, untuk udara dan SF 6 pada kondisi standar dan konfigurasi yang berbeda). Pada kasus yang lain, tegangan tembus isolasi untuk aplikasi tertentu harus ditentukan secara pengujian. Untuk material isolasi padat, kriteria tertentu ters edia dari pengukuran tegangan tembus atau kuat medan tembus pada plat uji pada medan homogen atau kurang homogen. Material isolasi gas dan cair diuji di antara segmen-segmen sferis. Gambar 6.2.1 menunjukkan contoh pengaturan pengujian standar untuk sampai isolasi penentuan 3 mm. kuat Untuk medan tembus pada atau foil pelepasan muatan ketebalan dengan mencegah yang

permukaan pada plat, keseluruhan pengaturan dilakukan pada cairan konstanta dielektrik konstan. Pengaturan elektroda dari segmen sferis dapat dilihat pada gambar 6.2.2 dengan menggunakan material isolasi cair dan gas yang dapat diatur agar kegagalan (tegangan tembus) tercapai pada jarak celah 6.5 mm.

Teknologi Isolasi DR.Ir. Salama Manjang

Gambar 6.2.1 Pengaturan plat elektroda untuk pengukuran tegangan tembus material isolasi padat untuk ketebalan material sampai 3 mm.

Gambar 6.2.2 Pengaturan elektroda dengan segmen sferis ntuk pengukuran tegangan tembus untuk material isolasi cair.

Gambar 6.2.3 Elektroda plat dengan cincin untuk pengukuran tahanan volume material isolasi padat 1 plat 2 sampel material isolasi 3 elektroda pengukuran 4 cinci 5. bagian isolasi dan pemandu Pengujian tegangan tembus dilakukan dengan tegangan bolak-balik, yang dinaikkan dari tegangan nol sampai tegangan tembus dalam orde 10-20 detik. dari Nilai tengah dari tegangan tembus ditentukan 5 sampel; jika ada nilai yang melebihi 15% dari nilai tengah,

maka harus diuji lagi 5 sampel tambahan sehingga nilai tengah ditentukan dari 10 sampel uji. Kuat medan tembus dapat diuji dari tegangan tembus dan jarak elektroda terkecil. b) Tahanan isolasi Sistem isolasi di lapangan memiliki beberapa jenis dielektrik yang seringkali mengalami tekanan dalam susunan paralel. Oleh karena itu, tahanan isolasi dari isolator terdiri atas kombinasi paralel tahanan permukaan dan tahanan volume. Sementara, tahanan

Teknologi Isolasi DR.Ir. Salama Manjang volume sendiri yagn biasanya dinyatakan sebagai tahanan jenis dalam cm, tidak terpengaruh oleh medium sekelilingnya, sedangkan tahanan permukaan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti tekanan udara, temperatur, kelembaban, debu, dan lain-lain. Pengaturan pengukuran tahanan volume dari sampel material isolasi plat dapat dilihat pada gambar 6.2.3. Elektroda hidup yang juga menopang sampel plat, dipasang berlawanan dengan elektroda yang diukur. Tahanan volume diukur dari tegangan searah yang diberikan (100 V atau 1000 V) dan arus yang diambil dari elektroda terukur. Cincin yang diatur secara konsentris mengelilingi elektroda terukur dengan jarak celah 1 mm untuk kesalahan pengukuran yang disebabkan oleh arus permukaan. Pengaturan pengujian khusus tersedia untuk sampel material isolasi berbentuk tabung, untuk gabungan isolasi yang dapat dilebur, dan untuk material isolasi cair. Material isolasi yang umum menunjukkan tahana volume jenis 10 1 2 10 1 3 cm, sedangkan material superior dapat mencapai

tahanan sampai 10 1 7 cm atau lebih besar lagi. Untuk mengukur tahanan permukaan digunakan pinggir pisau logam, dengan jarak celah 1 cm pada posisi 10 cm di atas permukaan material isolasi pada pengujian dengan tegangan searah. Dari tegangan dan arus, maka besar tahanan permukaan, yang dinyatakan dalam ohm, dapat ditentukan.

c) Kekuatan tracking Pada saat sistem isolasi diberikan tekanan listrik, maka sebuah arus yang ditentukan oleh besarnya tahanan permukaan akan mengalir pada permukaan isolator yang mengarah pada terjadinya kebocoran atau arus jalar. Sangat mudah dipahami bahwa kondisi lingkungan seperti temperatur, tekanan udara, kelembaban dan

Teknologi Isolasi DR.Ir. Salama Manjang polusi akan sangat menentukan besar arus bocor tersebut. Material isolasi yang digunakan di lapangan seharusnya dapat melawan arus bocor tersebut sehingga tidak ada atau hanya sedikit sekali kerusakan yang terjadi pada permukaan isolator. Arus bocor akan menghasilkan tekanan termal dan kimia pada permukaan. Efek yang dapat dilihat akibat tekanan yang berlebih adalah munculnya jalur-jalur retak akibat dekomposisi material; kerusakan ini dapat muncul dalam bentuk jalur konduksi yang menghasilkan tekanan elektrik lanjutan atau erosi, yang akan meninggalkan jalur retak lagi sesudahnya. Meskipun sifat isolasi dipengaruhi oleh erosi, misalnya oleh deposisi debu, tetapi kemampuan tekanan elektrik tidak dipengaruhi. Erosi dapat terjadi baik pada plat maupun pit (gambar 6.2.4). Tracking tidak terbatas hanya pada permukaan isolasi di luar ruangan, melainkan juga dapat terjadi pada permukaan isolasi di dalam ruangan jika kondisi lingkungannya tidak mendukung, bahkan tracking dapat pula terjadi permukaan isolator yang di pasang di dalam peralatan. Hal ini dipengaruhi oleh karakteristik dari material isolasi itu sendiri, oleh bentuk dan penyelesaian elektroda dan permukaan, dan juga oleh kondisi eksternal. Tracking disebabkan oleh mekanisme yang sama yang telah dijelaskan pada bagian 1.6. mengenai isolator. Pengujian kekuatan tracking dari material isolasi dilakukan dengan menggunakan metode yang telah digambarkan di atas. Pada metode KA dengan pada mengacu pada VDE, isolasi elektroda dengan platinum ketebalan ditempatkan sampel material polusi flashover. Flashover dapat bermula dari bergabungnya beberapa jalur retak yang ada pada permukaan

minimum 3 mm dan tegangan bolak-balik 380 V pada pengaturan elektroda seperti yang ditunjukkan pada gambar 6.2.5. Pipet dengan satu tetesan campuran uji dengan konduktivitas tertentu dilakukan setiap 30 detik. Tetesan tersebut akan membasahi permukaan

Teknologi Isolasi DR.Ir. Salama Manjang material isolasi di antara kedua elektroda yang akan menyebabkan arus bocor. Setelah jumlah tetesan sampai waktu tertentu yang diset secara otomatis tercapai, maka hasil pengujian segera dievaluasi, atau lebar terbesar dari saluran yang terbentuk diukur.

Gambar 6.2.4 Erosi jenis plat (a) dan saluran (b) pada cetakan epoxy resin.

Gambar 6.2.5 Pengaturan penentuan kuat tracking 1 pipet

Teknologi Isolasi DR.Ir. Salama Manjang 2 elektroda platina 3 sampel material isolasi d) Tahanan busur Flashover yang terjadi sepanjang permukaan material isolasi dengan busur-daya yang berturut-turut sangat jarang terjadi, tapi pada dasarnya gangguan tersebut tidak dapat dihindari pada sistem isolasi di lapangan. Material isolasi yang memperlihatkan pengaruh busur memiliki sifat listrik dan mekanik yang bermacam-macam. Disebabkan oleh temperatur busur yang tinggi dan sebagai konsekuensi dari pembakaran tidak sempurna material isolasi, jalur konduksi dapat terjadi sehinggatidak boleh lagi mengalami tekanan listrik. Untuk menenukan tahanan busur, elektroda karbon yang disuplai tegangan searah 220V dipasang pada plat isolasi. Dengan adanya busur pada permukaan material isolasi, maka elektroda akan digerakkan menjauh dengan kecepatan 1 mm/dtk sampai jarak maksimum 20 mm. Enam level dari tahana bususr, L1 sampai L6, ditentukan berdasarkan tingkat kerusakan yang disebabkan oleh busur itu, digunakan sebagai gambaran sifat material.

e) Konstanta dielektrik dan faktor disipasi Konstanta dielektrik polarisasi polarisasi deformasi orientasi
r

disebabkan oleh efek polarisasi pada ion, dan polarisasi lapisan), isolasi

material isolasi. Untuk material isolasi di lapangan, yang jauh dari (elektronik, penting karena material-material

memiliki dipol-dipol permanen pada struktur molekulnya. Ini adalah penyebab utama terjadinya losses polarisasi dan berpengaruh pada kebebasan frekuensi dari aplikasi teknis. Karena mekanisme polarisasi
r r

dan tan , yang sangat penting pada memiliki waktu relaksasi

berbeda-beda, perubahan

sebagai fungsi frekuensi ditunjukkan

pada gambar 6.2.6. Waktu relaksasi yang berbeda menghasilkan 8

Teknologi Isolasi DR.Ir. Salama Manjang batasan frekuensi yang mana mekanisme berikutnya tidak ada lagi, karena perpindahan dipol yang berhubungan tidak terjadi. Inilah penyebab mengapa konstanta dielektrik pasti berkurang. Dengan adanya perubahan keadaan, variasi tahap perubahan mobilitas dipol. Pada setiap daerah transisi konstanta dielektrik, faktor disipasi tan memiliki nilai maksimum. Tapi hanya daerah transisi dari a ke b (gambar 6.2-6) yang penting untuk sistem isolasi di lapangan, yakni daerah frekuensi dimana polarisasi orientasi hilang.
a)
r

dapat terjadi akibat

b) c)

1 t

Gambar 6.2-6 Grafik konstanta dielektrik fungsi frekuensi a) polarisasi orientasi b) polarisasi ionik c) polarisasi elektronik

Hal penting tentang sifat material isolasi bergantung pada tegangan dan temperatur. Jika kurva tan pelepasan muatan sebagian. Peningkatan = f(U) menunjukkan losses polarisasi titik-lutut ionisasi, maka hal itu membuktikan terjadinya titik awal disebabkan adanya konduksi ionik yang diketahui dari kurva tan = f( ). Pengukuran tan dan penentuan
r

dilakukan dengan

menggunakan rangkaian jembatan. 6.2.2 Sifat termal Pada peralatan dan instalasi yang disuplai dengan listrik, panas dihasilkan oleh losses ohm pada konduktor, melalui losses dielektrik pada material isolasi dan melalui losses magnetisasi dan arus eddy pada besi. Karena material isolasi memiliki stabilitas termal yang sangat rendah, dibandingkan dengan logam, maka kenaikan temperatur yang diizinkan pada material isolasi seringkali 9

Teknologi Isolasi DR.Ir. Salama Manjang membatasi penggunaan dari peralatan. Oleh karena itu, pengetahuan tentang sifat termal material isolasi menjadi sangat penting dalam konstruksi dan perancangan peralatan. a) Panas jenis Disebabkan adanya inersia dari pemindahan panas, maka material isolasi harus memiliki kemampuan menyerap pulsa termal sesaat, disebabkan oleh variasi beban yang cepat, melalui kapasitasnsi termalnya beberapa akibat material
W c.m

peningkatan penting

temperatur. pada

Panas tabel

jenis A3.1.

dari Untuk

nampak

pemanasan adiabatik:
T =

dimana: m = massa W = energi yang disuplai b) Pemindahan panas Selama terjadinya tekanan kontinu pada kondisi operasi yang statis, panas yang muncul sebagai akibat losses harus dipindahkan ke udara sekelilingnya. Mekanisme pemindahannya adalah konduksi, konveksi dan radiasi termal. Pada konduksi termal, arus yang mengalir di antara plat datar dinyatakan dengan :
p= A . (T1 T2 ) s

dimana: A = luas plat s = ketebalan plat (T 1 T 2 ) = perubahan temperatur Faktor proporsional dapat diasumsikan konstan merupakan konduktivitas panas yang pada range temperatur tertentu;

daftarnya dapat dilihat pada tabel A.3.1.

10

Teknologi Isolasi DR.Ir. Salama Manjang Untuk memindahkan panas dengan cepat dari peralatan listrik dibutuhkan konduktivitas termal yang baik. Hal ini dapat dilakukan dengan sangat baik dengan menggunakan material isolasi kristal karena susunan atom-atomnya teratur dalam lapisan kristal dan jarak atonya yang kecil, sehingga terjadi pemindahan atom yang sangat baik. Berbeda dengan itu, material amorf memiliki konduktivitas termal yang jelek, seperti yang telah dijelaskan pada contoh kristal dan pasir kuarsa amorf. Untuk kristal kuarsa = 6 12 W/mK,

sedangkan untuk gelas kuarsa = 1.2 W/mK. Sifat konduksi termal yang baik pada kuarsa dapat meningkatkan nilai kuarsa digunakan sebagai material pengisi. Untuk pemindahan panas secara konveksi, arus termal P sebanding dengan luas batas A dan perbedaan temperatur antara medium disipasi dan absorpsi: P = . A (T 1 T 2 ) Jumlah transisi termal bukanlah sebuah konstanta material, melainkan bergantung pada beberapa parameter seperti kerapatan dan panas jenis medium, kecepatan aliran dan jenis aliran. Untuk perhitungan awal, dapat digunakan nilai-nilai berikut: dalam Objek tetap / udara stasioner Objek tetap / udara bergerak Objek tetap / zat cair W/m 2 K 3.4 35 12 600 250 - 6000 pada cetakan yang diisi, ketika kuarsa kristal dalam bentuk pasir atau bubuk

Karena nilai-nilai tersebut memiliki range yang besar, maka untuk penggunaan di lapangan, perlu dilakukan perhitungan lanjut untuk menentukan nilai yang eksak dengan menggunakan literatur.

11

Teknologi Isolasi DR.Ir. Salama Manjang Pemindahan panas dengan radiasi tidak dijelaskan secara detail di sini, sebab hanya penting untuk pemasangan CB dan SF 6 .

c) Ekspansi Termal Linier Material isolasi adalah material konstruksi yang seringkali digunakan bersam dengan logam. Pengganti dari ekspansi termal yang lebih besar dari material isolasi organik adalah timbulnya tekanan mekanis berlebih termal linier lebih yang berahaya yang dapat menimbulkan daripada logam; sehingga adanya retak pada elektroda. Untuk material isolasi inorganik ekspansi rendah peningkatan ekspansi termal dipengaruhi oleh jenis pengisi material organik dengan zat-zat inorganik misalnya epoxy resin dengan pasir kuarsa. Material yang mengandung kistal sangat sering memiliki ekspansi termal yang lebih besar daripada material amorf (tabel A.3.1Appendiks 3). 4 d) Kestabilan termal Sifat penting dari material isolasi adalah kemampuannya mempertahankan bentuknya (shape retention) dari pengaruh panas; ada dua metode untuk menentukannya. Menurut Martens, kemampuan mempertahankan bentuk panas dapat ditentukan dengan pengujian rod standar berukuran 10x15 mm 2 dan panjang 120 mm yang diberikan tekanan pembengkokan yang seragam (uniform) pada sepanjang rod tersebut temperatur lingkungan bentuk Vicat. sebesar 500 N/cm 2 . Pada saat yang sama, dinaikkan panas. dengan Untuk kecepatan material adalah 50 o C/jam.

Temperatur pada saat rod menjadi bengkok dinamakan kemampuan mempertahankan digunakan metode termoplastik temperatur Temperatur Vicat

dimana sebuah jarum tumpul berukuran 1 mm 2 yang diberikan gaya 10N atau 50N mampu menembus material isolasi sampai

12

Teknologi Isolasi DR.Ir. Salama Manjang

kedalaman 1 0.1 mm. Tabel berikut menunjukkan beberapa data yang berhubungan:

Material PVC PTFE Cetakan-EP PUR PE

Shape retention menurut Martens dalam o C 60 70 sampai 160 sampai 80 -

Pada panas menurut Vicat dalam o C 70 90 75 100 40 75

Pada material plastik, cetakan tersebut tidak hanya mengalami penurunan dalam kemampuan tegangan, kekuatan kompresi dan pembengkokan, melainkan juga mengalami perusakan sifat listrik dan dielektrik. Nilai shape tention yang besar pada terpaan panas merupakan kelebihan bagi material isolasi inorganik dibandingkan material organik. 6.2.3 Sifat Kimia Pada saat zat-zat asing berdifusi ke dalam material isolasi, maka material tersebut akan mengalami perubahan kimia. Hanya material inorganik seperti kaca dan keramik yang tidak dapat diotembus (impermeable). Pada material organik sintetis, difusi dapat terjadi pada molekuler polimer. Kecepatan difusi bergantung pada struktur material dan daya tarik-menarik antara material dan zat-zat asing. Contoh, semua material isolasi organik menyerap uap air lewat proses difusi. Hal terebut akan menimbulkan kerusakan sifat listrik dan dielektrik. Garam yang dihasilakn dari proses hidrolisis atau bahan pengotor akan meningkatkan konduktivitas dan menyebabkan faktor disipasi dan kuat medan tembus yang lebih

13

Teknologi Isolasi DR.Ir. Salama Manjang buruk. Konstanta dielektrik air yang besar akan mengubah konstanta dielektrik material dan menyebabkan perubahan pada distribusi tegangan pada tekanan dengan tegangan bolak-balik. Selain itu, air yang terserap dapat menyebabkan perubahan dimensi dan korosi pada elektroda. Material isolasi yang digunakan di luar ruangan memiliki permukaan dengan daya basah yang rendah, sehingga bagian yang dekat dengan air harus dihindari. Daya basah permukaan dinyatakan dengan karakteristik air pada permukaan kering seperti yang ditunjukkan pada gambar 6.2-7. Semakin besar sudut vmax yang searah dengan kecepatan tetesan (drop) air, maka semakin kecil daya basah permukaan material. Nilai-nilai hasil percobaan dapat dilihat pada tabel: Material isolasi Paraffin Silicon rubber Gelas, mika vmax 110 o 100 o 0o vmin 95 o 90 o 0o

Gambar 6.2-7 Sudut Kontak Material Isolasi a) dengan tetesan bergerak b) drop dengan sudut kontak > 90o (misalnya air pada PTEE)
v = arah gerak / kecepatan

Material-material

inorganik

seperti

porselin

dan

kaca,

memiliki resistansi terhadap alkali dan asam (kecuali terhadap asam hidrofluoric); sedangkan material organik sangat rentan terhadap asam oksida, alkali dan hidrokarbon. Untuk material isolasi yang digunakan di luar ruangan, lapisan-lapisan polusi basah dapat diuraikan dengan menggunakan tekanan elektrik dan panas sehingga

14

Teknologi Isolasi DR.Ir. Salama Manjang menghasilklanm zat kimia tertentu yang jika berinteraksi dengan cahaya, oksigen, ozon, panas dan radiasi UV, akan menyebabkan kerusakan pada material isolasi.

15