Anda di halaman 1dari 76

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.

com

PENILITIAN EPIDEMIOLOGI
1awahir Bin Madeaming
Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
1l. Arjuna Utara No 6 1akarta Barat, 11510
Ukrida.ac.id

BAB I
Pendahuluan

1.1Latar Belakang

Dari catatan sejarah yang terkumpul menunjukkan bahwa epidemiologi merupakan ilmu
yang telah dikenal sejak zaman dahulu bahkan berkembang bersamaan dengan ilmu
kedokteran karena kedua disiplin ilmu ini berkaitan satu dengan yang lain. Hasil yang
diperoleh dari studi epidemiologi dapat digunakan untuk menentukan pengobatan suatu
penyakit, melakukan pencegahan, atau meramalkan hasil pengobatan.

Pada dasarnya, semua jenis penelitian dilakukan karena adanya masalah. Demikian pula
demgan penelitian epidemiologis, tetapi karena jumlah masalah epidemiologi sangat
banyak dan tidak semua masalah memerlukan penelitian, masalah-masalah tersebut harus
diidentiIikasi untuk menentukan masalah-masalah yang perlu dan dapat dilakukan
penelitian.

Setelah mengidentiIikasi dan menentukan masalah yang akan diteliti, masalah tersebut
dirumuskan dengan jelas kemudian ditentukan tujuan penelitian secara jelas. Sebelum
tujuan dapat dirumuskan dengan jelas, sebaiknya tidak melakukan kegiatan tahap
selanjutnya karena tujuan ini akan menentukan latar belakang masalah dan metodologi
yang akan digunakan, menentukan kriteria subjek studi, populasi studi, sampel, variabel
yang dicari, jadwal kegiatan dan lain-lainnya. Model penelitian harus dirinci dengan jelas
karena bila hal ini tidak dilakukan akan menyulitkan ilmuan untuk mengadakan evaluasi
hasil penelitian serupa atau untuk digunakan sebagai bahan perbandingan.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

BAB II
Isi/Pembahasan

2.1Penelitian epidemiologi

2.1.1 Kerangka konsep
ang dimaksud dengan kerangka konsep adalah suatu hubungan atau kaitan antara
konsep satu dengan konsep yang lain dari masalah yang akan diteliti artinya kerangka
konsep berisi semua variabel (variabel independen dan dependen) yang diteliti dan dapat
diukur dan dapat dioprasionalkan.

Contoh :
Herediter
Umur
Jenis kelamin
Obestitas
Perokok
Konsumsi garam
Macam pekerjaan
(variable independen) (variabel dependen)

Variabel-variabel yang akan diamati/diukur berdasarkan contoh diatas adalah : variabel-
variabel : herediter, umur, jenis kelamin, obesitas, perokok, konsumsi garam dan
pekerjaan.




P l L 8 1 L n S l
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

2.1.2 Definisi operasional variabel
Untuk membatasi ruang lingkup atau penelitian variabel diamati/diteliti, perlu sekali
variabel-variabel tersebut diberi batasan atau deIinisi operasional. DeIinisi operasional
ini juga bermanIaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap
variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen (alat ukur).

2.1.3 tujuan penelitian
Tujuan adalah suatu indikasi kearah mana, atau data (inIormasi) apa saja yang akan
dicari melalui penelitian itu. Tujuan penelitian dirumuskan dalam bentuk pernyataan dan
konkrit dapat diamati (observabel) dan dapat diukur (measurable) misalnya :
a) Memperoleh inIormasi (data) tentang jumlah pemeriksaan kehamilan ibu-ibu di
kecamatan 'X selama kehamilan.
b) Memperoleh inIormasi tentang hubungan antara Irekuensi pemeriksaan kehamilan
dengan BBL (Berat Badan Lahir).

Biasanya tujuan penelitian ini dibedakan menjadi dua, yakni tujuan umum dan tujuan
khusus. Tujuan khusus pada hakikatnyaa adalah penjabaran dari tujuan umum. Apabila
tujuan umum suatu penelitian tidak dapat atau tidak perlu dispesiIikasikan lagi maka
adanya tujuan umum dan tujuan khusus, cukup dibuat 'Tujuan Penelitian saja.
Tujuan penelitian kesehatan atau kedokteran erat hubungannya dengan jenis penelitian
yang akan dilakukan. Tujuan penelitian penelahan lain dengan penelitian pengembangan,
lain pula dengan tujuan verikatiI. Demikian pula penelitian dasar, akan lain tujuannya
dengan penelitian terapan, penelitian tindakan akan berbeda pula dengan penelitian
evaluasi, tetapi secara umum tujuan penelitian kesehatan/ kedokteran antara lain :
1. Menemukan atau menguji Iakta baru maupun Iakta lama sehubungan dengan bidang
kesehatan dan kedokteran.
2. Mengadakan analisis terhadap hubungan atau interelasi antara Iakta-Iakta yang
ditemukan dalam bidang kesehatan atau kedokteran.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

. Menjelaskan Iakta yang ditemukan serta hubungannya dengan teori-teori yang telah
ada.
4. Mengembangkan alat, teori atau konsep baru dalam bidang kesehatan/kedokteran
yang memberi kemungkinan bagi peningkatan kesehatan masyarakat pada khususnya
dan peningkatan kesejahteraan umat manusia pada umumnya.

Secara garis besar tujuan penelitian kesehatan/kedokteran itu dikelompokan menjadi
yakni :
1. Untuk menemukan teori, konsep dalil atau generasi baru tentang kesehatan dan
kedokteran.
2. Untuk memperbaiki atau modiIikasi teori, sistem atau program pelayanan kesehatan.
. Untuk memperkokoh teori, konsep, sistem atau generalisasi yang sudah ada.

2.2Desain penelitian

2.2.1 Penelitian Deskriptif
Metode penelitian deskriptiI adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan
tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara
obyektiI. Metode penelitian deskriptiI digunakan untuk memecahkan atau menjawab
permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Penelitian ini dilakukan
dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan data, klasiIikasi, penggolahan/analisis
data dari membuat kesimpulan dari laporan.

Pemilihan suatu strategi penelitian merupakan inti rancangan penelitian yang mungkin
merupakan suatu keputusan yang paling penting yang harus dibuat peneliti. Strategi
tersebut harus mencakup misalnya deIinisi operasional dan hubungan antara suatu
variabel dengan variabel lainnya. Dalam menguji hipotesis sebagai contoh : seorang
peneliti mungkin dapat menunjukkan variabel bebas (variabel independen) atau
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

paparannya (exposure pada sebuah subyek dalam studi dan mengendalikan variabel-
variabel yang berasal dari luar (variabel ekstranous atau varibel rancu (couIounding).
Strategi ini menentukkan suatu percobaan atau mencakup hipotesis melalui suatu
tindakan (intervensi).

Struktur suatu studi epidemiologi secara Iormal tidak dibentuk sebagai suatu studi
analitik atau percobaan misalnya ketika studi tidak ditunjukan, secara spesiIik untuk
menguji suatu hipotesis etiologik, maka studi tersebut sebagai studi deskriptiI dan
termasuk dalam kategori studi pengamatan (observasional). Bahan-bahan yang diperoleh
dalam hampir semua studi deskriptiI memungkinkan timbulnya hipotesis, yang kemudian
dapat diuji dengan rancangan analitik atau eksperimen. Suatu survei, misalnya survei
prevalens, dapat juga dideIinisikan sebagai studi deskriptiI bila ini mencakup unsur-
unsur studi deskriptiI.

Metode penelitian deskriptiI sering digunakan dalam program pelayanan kesehatan,
terutama dalam rangka mengadakan perbaikan dan peningkatan program-program
pelayanan kesehatan tersebut. Penelitian mengenai masalah metode pemberantasan
penyakit menular misalnya, dapat mengungkapkan berbagai aspek terutama dari segi
eIisiensi dan eIektiIitas cara tersebut. Selanjutnya dapat untuk menentukkan langkah-
langkah selanjutnya tentang penggunaan metode yang bersangkutan, serta mencari
alternatiI lain apabila ternyata cara tersebut tidak atau kurang eIektiI dan eIisien.

Masalah yang diteliti dengan menggunakan metode deskriptiI adalah masalah yang
dewasa ini sedang dihadapi, khususnya di bidang pelayanan kesehatan. Masalah-masalah
ini baik yang berkaitan dengan penelaan terhadap masalah yang mencakup aspek yang
cukup banyak, penelaan suatu kasus tunggal, menggadakan perbandingan antara suatu
hal dengan hal yang lain, ataupun untuk melihat hubungan antara suatu variabel dengan
gejala lain, dan hubungan antara suatu gejala dengan peristiwa yang mungkin akan
timbul dengan munculnya gejala tersebut.

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

2.2.1.1Langkah-langkah Penelitian Deskriptif
Secara umum langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian deskriptiI ini tidak
berbeda dengan metode-metode penelitian yang lain, yakni :
Memilih langkah yang akan diteliti
Merumuskan dan mengadakan pembatasan masalah, kemudian berdasarkan masalah
tersebut diadakan studi pendahuluan untuk menghimpun inIormasi dan teori-teori
sebagai dasar menyususn kerangka konsep penelitian.
Membuat asumsi atau anggapan-anggapan yang menjadi dasar perumusan hipotesis
penelitian.
Perumusan hipotesis penelitian.

Merumuskan dan memilih teknik pengumpulan data.

Menentukan kriteria atau kategori untuk mengadakan klasiIikasi data.

Menentukkan teknik dann alat pengumpul data yang digunakan.

Melaksanakan penelitian atau pengumpulan data untuk menguji hipotesis

Melakukan pengolahan dan analisis data.

Menarik kesimpulan dan generalisasi.

Menyusun dan mempublikasikan laporan penelitian.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

2.2.1.2variabel-variabel penelitian deskriptif
Penjelasan (deskripsi) epidemiologi mempunyai arti penjelasan dan perbandingan
terjadinya penyakit dan penyebarannya dalam kelompok populasi menurut :
1. Ciri-ciri khas orang.
2. Ciri-ciri khas tempat.
. Ciri-ciri khas waktu.
4. Ciri-ciri khas keluarga.
Tabel 1
'ariabel Orang Tempat Waktu Keluarga
Umur
tejadinya
Tingkat
pendapatan
Internasional Epidemik Kelahiran
Jenis kelamin Status
perkawinan
Regional Kecenderungan
waktu
Paritas
(parity)
Ras /
kelompok
etnik
Status
kesehatan
Nasional Sekuler Ukuran
keluarga
Agama Status
merokok
Institusional Mengikuti
lingkaran/siklik
Ukuran
keluarga
Tingkat
sosial
Kepribbadian Daerah/lokal Musiman/seasonal Jarak
kelahiran
(birth
interval)
Variabel-variabel utama orang, tempat, waktu, dan Iormasi keluarga dalam penjelasan
epidemiologi.
Studi epidemiologi deskriptiI umumnya dilaksankan jika hanya sedikit inIormasi yang
diketahui mengenai kejadian, riwayat alamiah serta 'determinant dari suatu penyakit
atau masalah.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com 8


Cara yang termudah untuk menjelaskan kejadian serta distribusi suatu penyakit atau
masalah pada suatu populasi adalah dengan mengajukan pertanyaan siapa terkena
inIeksi, dimana dan kapan terjadinya penyakit tersebut dengan kata lain
mengemukakan berdasarkan tiga variabel yaitu : orang, waktu dan tempat. Beberapa
kriteria dari variabel tersebut dapat menggambarkan pola penyakit/masalah yang
spesiIik pada suatu populasi yang kemudian dapat merupakan petunjuk untuk mencari
etiologi dari penyakit/masalah tersebut.
Tabel 2
Epidemiologi deskriptiI Epidemiologi analitik
Studi yang mempelajari keadaan
kesehatan.
Studi yang mempelajari determinant
atau Iaktor-Iaktor yang menyebabkan
terjadinya masalah kesehatan.
Hanya sedikit inIormasi yang
diketahui.
Banyak inIormasi yang diketahui.
Epidemiologi deskriptiI dan analitik
2.2.1.3tipe penelitian deskriptif
Dalam epidemiologi penelitian deskriptiI digolongkan menjadi tipe, yaitu :
2.2.1.3.1 $tudi korelasi.
Data yang digunakan pada studi korelasi adalah data populasi secara keseluruhan,
unit analisis untuk studi korelasi adalah suatu agregat bukan data individu dan
biasanya data yang digunakan adalah datta yang telah tersedia, misalnya ingin
mengetahui hubungan antara pola konsumsi protein dengan prevalensi gizi kurang
pada suatu provinsi. Data mengenai konsumsi protein dapat diambil dari biro
pusat statistik, sedangkan data mengenai prevalensi gizi diambil dari data
pemantauan status gizi (PSG).

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com 9

Studi korelasi ini pada hakekatnya merupakan penelitian atau penelaan hubungan
antara dua variabel pada suatu situasi atau sekelompok subyek. Hal ini dilakukan
untuk melihat hubungan antara gejala satu dengan gejala lain, atau variabel satu
dengan variabel lain. Untuk mngetahui korelasi antara satu variabel dengan
variabel lain tersebut diusahakan dengan mengidentiIikasi variabel yang ada pada
suatu obyek yang sama dan dilihat apakah ada hubungan antara keduanya.

Dalam uji statistik biasanya menggunakan analisis korelasi, secara sederhana
dapat dilakukan dengan cara melihat score atau nilai rata-rata dari variabel lain.
KoeIisien korelasi yang diperoleh selanjutnya dapat dijadikan untuk menguji
hipotesis penelitian yang dikemukakan terhadap masalah tersebut, dengan
membuktikan apakah ada hubungan kedua variabel tersebut dan sejauh mana
hubungan antara keduanya. Misalnya penelitian untuk mengetahui apakah ada
hubungan antara berat badan bayi waktu lahir dengan jumlah paritas dari ibu,
hubungan antara pendidikan ibu dengan status gizi anak balita, hubungan antara
angka kematian anak balita dengan kelengkapan imunisasi dan lain sebagainya.

Kelemahan studi korelasi
Studi korelasi tidak dapat untuk melihat hubungan antara exposure dan penyakit
pada level individu.
Misalnya studi korelasi antara korelasi pap smear dengan kematian karena kanker
servix. Presentasi kematian karena kanker servix menurun bersamaan dengan
meningkatnya presentasi wanita yang melaksanakan pemeriksaan pap smear. Tapi
studi ini tidak dapat membuktikan apakah seorang wanita yang sudah
melaksankan pap smear memiliki resiko kematian oleh karena kanker servix lebih
rendah.
Tidak dapat mengontrol dari efek 'confounding`
Pada tahun 194-1965 dilakukan studi korelasi pada 28 negara, dari studi ini
didapatkan bahwa ada korelasi positiI yang sangat kuat antara rata-rata intake
makan babi perkapita dengan kematian karena kanker payudara.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com


Meningkatnya konsumsi babi sebenarnya merupakan tanda dari
meningkatnya Iaktor-Iaktor lain yang ada hubungannya dengan resiko
kematian karena kanker payudara. Faktor-Iaktor lain tersebut misalnya:
meningkatnya intake diet makan makanan lunak, menurunnya intake makan
sayur-sayuran dan status sosial ekonimo tinggi. Faktor-Iaktor lain ini
diperkirakan merupakan Iaktor conIounding terhadap hubungan antara makan
babi dan kematian karena kanker payudara. Dengan menggunakan data dari
korelasi ini, kita tidak mungkin menghilangkan eIek dari Iaktor conIounding
tersebut.
!ada studi korelasi adanya korelasi tidak selalu menggambarkan hubungan
asosiasi yang valid secara statistik.
Pada suatu studi korelasi, didapatkan hubungan korelasi positiI kuat antara
pemilihhan televisi berwarna perkapita dengan kematian penyakit
kardiovaskuler pada beberapa negara.
Pemilihan televisi berwarna tentunya berhubungan dengan gaya hidup (liIe
style), kolestrol dalam darah, merokok, kegiatan Iisik yang inaktiI, tekanan
darah yang tinggi. Variabel-variabel ini semuanya jelas diketahui
meningkatnya Iaktor kematian oleh karena penyakit kardiovaskuler, dengan
demikian adanya hubungan korelasi positiI yang sangat kuat, tidak selalu
disertai dengan hubungan asosiasi yang valid secara statistik.
!ada studi korelasi, data exposure hanya menggambarkan angka rata-rata
populasi bukan nilai individu itu sendiri.
Pada studi korelasi, antara konsumsi alkohol perkapita dengan kematian oleh
karena penyakit kardiovaskuler dinyatakan bahwa yang konsumsi alkohol
tertinggi mempunyai resiko kematiian tertinggi. Kemudian dilakukan studi
analitik yaitu studi kohort dengan mengikuti 182 laki-laki kulit putih dari
tahun 1957-1975. Hasilnya menunjukkan bahwa makin banyak minum
alkohol makin rendah resiko kematian, tapi tidak demikian dengan intake
alkohol lebih dari 6 kali per hari mempunyai resiko tertinggi, resiko kematian
hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang minum
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

alkohol kurang dari satu kali per hari dan tidak lebih tinggi dari merek yang
digolongkan memminum alkohol yang moderate.

Dengan demikian dari studi korelasi sukar dapat menidentiIikasi hubungan
nonlinier dimana intake alkohol pada studo korelasi adalah angka rata-rata
konsumsi alkohol pada populasi bukan alkohol yang sebenarnya pada suatu
individu.

Keuntungan studi korelasi
a) Murah
b) Cepat
c) Menggunakan data/inIormasi yang tersedia.
ang dimaksud dengan data yang tersedia adalah data yang secara rutin selalu
dikumpulkan misalnya: dat-data mengenai demograIi, data mengenai pola
konsumsi yang kemudian dapat dikorelasikan dengan data insiden suatu
penyakit atau kematian.
Dengan demikian pula pola data yang berasal dari data program survailans
yang dikumpulkan secara rutine dapat digunakan untuk membandingkan data
kesakitan.

2.2.1.3.2 $tudi kasus (case report/ case series)
Studi kasus berbeda dengan studi korelasi. Studi kasus menggambarkan
pengalaman 1 kasus pasien sedangkan case series menggambarkan sekelompok
kasus dengan diagnosis yang sama. Studi kasus dilakukan dengan cara meneliti
suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal. Untuk
tunggal disini dapat berarti satu orang, sekelompok penduduk yang terkena suatu
masalah misalnya keracunan atau sekeloompok masyarakat suatu daerah. Unit
yang harus menjadi kasus secara menadalam dianalisis baik dari segi yang
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

berhubungan dengan keadaan kasus itu sendiri, Iaktor-Iaktor yang mempengaruhi
kejadian khusus yang muncul sehubungan dengan kasus, maupun tindakan dan
reaksi kasus terhadap suatu perlakuan atau pemaparan tertentu. Misalnya didalam
studi kasus ini yang diteliti hanya beberapa unit tunggal, namun dianalisis secara
mendalam, meliputi berbagai aspek cukup luas, serta penggunaan berbagai teknik
secara integratiI.

Kegunaan studi kasus
a) Dapat sebagai petunjuk pertama dalam mengidentiIikasi suatu penyakit baru.
b) Dapat untuk memIormulasikan suatu hipotesis.
Diantara Oktober 1980 dan Mei 1981 dilaporkan 4 kasus pneumocitis carini pada
anak laki-laki muda dan homosex di Los Angeles. Ini adalah suatu kasus yang
tidak biasanya, tipe pneumonia seperti ini biasanya ditemukan pada orang yang
lebih tua, penderita penyakit kanker dimana imune sistem tertekan akibat
kemoterapi. Kemudian pada permulaan tahun 1981 dilaporkan beberapa kasus
dengan Kapposis sarcoma pada laki-laki homoseksual dan penyakit biasanya
ditemukan pada orangtua.

Laporan dari case ini memerlukan dasar bagi centers Ior disease control
melakukan suatu survailans untuk melihat besarnya masalah dan untuk melihat
dan untuk mengembangkan kriteria diagnosis. Dari program survailans ini
dinyatakan bahwa kaum laki-laki homoseksual mempunyai resiko tinggi untuk
menderita penyakit tersebut.
Kelemahan studi kasus
Case report dan case series tidak dapat digunkan untuk mengetes hipotesis karena
tidak ada kelompok pembanding. Case report hanya terdiri dari suatu kasus tetapi
tidak ada kelompok pembanding yang valid secara statistik.

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

2.2.1.3.3 $tudi cross sectional.
Studi cross sectional kadang juga disebut suatu survei prevalence. Pada studi cross
sectional exposure dan outcome dinilai pada waktu bersamaan. Hasil dari suatu
prevalen penyakit dan keadaan kesehatan lainnya pada suatu populasi tertentu.
Dan dengan demikian dapat diIormulasikan suatu hipotesis. Karena exposure dan
outcome dinilai pada suatu waktu maka tidak mungkin untuk menentukan
exposure benar mendahului outcome.

Penelitian cross sectioanal adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika
korelasi antara Iakktor-Iaktor resiko dengan eIek dengan cara pendekatan,
observasi, atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach),
artinya setiap subyek penelitian hanya observasi seklaigus saja dan pengukuran
dilakukan terhadap status karakter atau variabel subyek pada saat pemeriksaan.
Hal ini tidak berarti bahwa semua subyek penelitian diamati pada waktu yang
sama. Penelitian cross sectional ini sering disebut juga penelitian transversal dan
digunakan juga pada penelitian epidemiologi namun demikian penelitian ini tidak
bisa mengungkapkan hubungan sebab akibat.

Merupakan penelitian epidemiologi yang paling sering dikerjakan dibidang
kedokteran, walaupun sebenarnya penelitian ini yang paling lemah diantara
penelitian epidemiologi. Hal ini disebabkan karena penelitian cross sectional
secara metodologi merupakan penelitian yang paling mudah dan paling sedrehana.
Pada penelitian cross sectional tidak dijumpai hambatan yang merupakan
pembatasan-pembatasan tertentu, terutama yang berkaitan dengan subyek
penelitian, sebagaimana halnya pada penelitian epidemiologi yang lain.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa penelitian cross sectional adalah suatu
penelitian dimana variabel-variabel yang termasuk variabel independen dan
variabel dependen diobservasi sekaligus pada waktu yang sama.

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Langkah-langkah penelitian cross sectional adalah sebagai berikut :
a) MengidetiIikasi variabel-variabel penelitian dan mengidentiIikasi Iaktor
resiko dan Iaktor eIek.
b) Menetapkan subyek penelitian.
c) Melakukan observasi atau pengukuran variabel-variabel yang merupakan
Iaktor resiko dan eIek sehingga berdasarkan status keadaan variabel pada saat
itu (pengumpulan data).
d) Melakukan analisis korelasi dengan cara membandingkan proporsi antara
korelasi dengan cara membandingkan proporsi antara kelompok-kelompok
hasil observasi (pengukuran).

2.2.2 Penelitian Analitik
Penelitian anilitik adalah suatu survai atau penelitian yang mencoba menggali
bagaimana dan mengapa Ienomena kesehataan itu terjadi. Kemudian melakukan
analisis dinamika korelasi antara Ienomena baik antara Iaktor resiko maupun eIek,
antar Iaktor resiko, maupun antara eIek, sedangkan Iaktor resiko adalah suatu
Ienomena yang mengakibatkan terjadinya eIek (pengaruh). Merokok adalah suatu
Iaktor resiko untuk terjadinya penyakit kanker paru-paru. Hipertensi merupakan salah
satu Iaktor resiko dari pada penyakit jantung (eIek).

Dalam penelitian analitik, dari analisis korelasi dapat diketahui seberapa jauh
kontribusi Iaktor reiko tertentu terhadap adanya suatu kejadian tertentu (eIek). Secara
garis besar survai (penelitian analitik) dibedakan atas penelitian :
2.2.2.1Penelitian kasus kontrol (retrospektif)
Studi kasus kontrol adalah rancangan studi analitik yang mempelajari hubungan
antara pemaparan (Iaktor penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan
kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status pemaparannya. Ciri-
ciri kasus kontrol adalah penelitian subyek berdasarkan status penyakit untuk
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

kemudian dilakukan pengamatan apakah subyek mempunyai riwayat terpapar
Iaktor penelitian atau tidak. Subyek yang didiagnosis menderita penyakit disebut
kasus, berupa insiden (kasus baru) yang muncul dari populasi. Sedangkan
subyek yang tidak menderita penyakit disebut kontrol, yang dicuplik secara acak
dari populasi yang berbeda dengan populasi asal kasus. Tetapi untuk keperluan
intervensi kasus, kedua populasi tersebut harus dipastikan setara.

Dalam mengamati dan mencatat riwayat paparan Iaktor penelitian pada kasus
maupun pada kontrol, peneliti harus menjaga untuk tidak terpengaruh status
penyakit subyek. Dalam penyelidikan ini, orang-orang yang menderita penyakit
yang hendak diselidiki penyebabnya (kasus) dibandingkan dengan orang-orang
yang tidak menderita penyakit tersebut (kontrol). Inilah sebabnya juga
dinamakan kasus kontrol.

Maksud penyelidikan ini menentukan berapa presentasi dari kontrol yang telah
dipaparkan pada Iator atau Iaktor-Iaktor terteentu yang dihipotesiskan sebagai
penyebab penyakit yang sedang kita selidiki dikalangan kasus sebagai perkiraan
Odds ratio OR. OR adalah ratio antara kedua presentasi tersebut
menggambarkan perkiraan resiko relatiI akibat pemaparan.

Keuntungan-keuntungan penelitian kasus kontrol
a) Pada umumnya lebih mudah untuk mendapatkan kasus dan kontrol (kecuali
dalam hal penyakit-penyakit yang jarang).\
b) Keterangan mengenai pengalaman 'terkena lebih mudah didaptkan dengan
cepat.
c) Hasil analisisnya lebih cepat didapat.
d) Lebih murah.

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Kekurangan-kekurangan penelitian kasus kontrol
a) Kekurangan-kekurangan dalam metodanya sendiri :
a. Penderita-penderita yang dipilih dapat mempunyai tingkat kesakitan
yang berbeda-beda.
b. Penggunaan pasien dengan penyakit lain sebagai kontrol dapat
mengakibatkan 'overestimation dari adanya pemaparan terhadap
Iaktor etiologis Iaktor resiko oleh karena penyakit pada kontrol dapat
juga mempunyai hubungan dengan Iaktor etiologis tersebut.
c. Kesalahan-kesalahan dalam bias dalam mengingat.
d. Kekurangan-kekurangan dalam pencatatan pengalaman-pengalaman
lampau.
e. Kekurangan-kekurangan dalam wawancara.
I. Insiden dari penyakir yang sedang diselidiki dikalangan mereka yang
berpengalaman 'terkena dan dikalangan mereka yang tidak
berpengalaman 'terkena oleh Iaktor etiologis tidak dapat dihitung
sehingga kita tidak dapat menghitung resiko relatiI.
b) Didalam menghitung odds ratio (OR) estimate relative risk diadakan
asumsi :
a. Kontrol mewakilii seluruh populasi.
b. Kasus yang dikumpulkan adalah mewakili dari semua kasus yang ada.
c) Jumlah penyakit jarang
Bila asumsi ini dipenuhi dapat dihitung odds ratio yang merupakan estimate
relative risk (RR). Melihat asumsi ini perhitungan relative risk ini tidak
dapat diterapkan pada penyakit-penyakit yang sering didapat.
2.2.2.2Penelitian kohort studi (prospektif)
Penelitian kohort merupakan suatu bentuk penelitian epidemiologis
(observasional) yang penting untuk menguji hipotesis tentang sebab penyakit.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Untuk yang membdekan penelitian kohort dengan penelitian lain adalah sebagai
berikut :
1) Kelompok orang yang akan diselidiki (kohort) dideIinisikan berdasarkan
karakteristik tertentu sebelum terjadi penyakit yang akan diteliti.
2) Krlompok penelitian diobservasi pada waktu periode tertentu untuk
menentukan penyakit yang terjadi.

Dua hal yang menjadi karakteristik adalah sebagi berikut :
1) Seleksi individu dalam pembentukan kelompok ditentukan berdasarkan
status pemaparan yaitu terpapar atau tidak terpapar, atau pun berdasarkan
perbedaan kategori misalnya tidak terpapar, pemaparan yang rendah dan
paparan yang tinggi.
2) Adanya periode observesi yaitu kelompok tersebut diikuti untuk diketahui
Irekuensi penyakit/kelainan yang terjadi selama periode observasi.

Dalam praktek, kohort terdiri atas dua kelompok, yakni kelompo yang terpapar
(terhadap Iaktor yang diduga sebagai Iaktor etiologis) dan kelompok yang tidak
terpapar.
Keuntugan-keuntungan
1) Terjadinya penyakit dapat dinyatakan dalam insiden rate.
2) Perbedaan dalam insiden rate antara kelompok terpapar dari tidak terpapar
merupakan ukuran yang langsung dari pada kemungkinan didaptnya
penyakit akibat beradanya sesorang dibawah pengaruh Iaktor etiologis, pada
studi retrospektiI hal ini didapat secara tidak langsung.
) Apabila kriteria dan prosedur-prosedur penyelidikan telah disusun dengan
baik terlebih dahulu maka studi retrospektiI mengurangi kemungkinan-
kemingkinan bias didalam mendapatkan keterangan-keterangan yang
dibutuhkan.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com 8

4) Keterangan mengenai pemaparan didapat secara lebih jelas dibandingkan
dengan studi retrospektiI.
5) Kita dapat memperoleh keterangan mengenai hubungan antara Iaktor
etiologis dalam penyakit-penyakit lain, didalam studi retrospektiI kita hanya
memperhatikan suatu penyakit sedangkan dalam studi prospektiI seluruh
spektrum moralitas dapat diselidiki.
6) Dapat meneliti pemaparan yang jarang.
7) Dapat meneliti beberaopa 'outcome yang disebabkan oleh satu Iaktor
pemaparan.
8) Memperkecil bias dalam penentuan Iaktor pemaparan.
9) Adanya hubungan waktu (temporal relationship) antara pemaparan dan
terjadinya penyakit.
10)Dapat menentukan hubungan sebab akibat antara variabel independen dan
variabel dependen.

Kekurangan-kekurangan
1) aktu serta biaya yang dibutuhkan besar.
2) Tidak eIisien untuk mengevaluasi outcoe yang jarang
) Kesukaran dalam kontrol yaitu kelompok yang tidak terpapar.
4) Apabila penyakit yang akan diselidiki itu jarang maka studi prospektiI tidak
eIisien bahkan tidak mungkin.
5) Studi prospektiI adalah penyelidikan yang relatiI mahal.
6) Setelah penyelidikan dimulai dapat terjadi bahwa sejumlah anggota kohort
9sample yang dibutuhkan) menolak untuk ikut terus dalam penyelidikan,
menghlang, tidak tahu kemana, meninggal karena penyakit lain dan
sebagainya.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com 9

2.2.2.3Penelitian eksperimen
Rancangan penelitian ekperimental (disebut juga rancangan percobaan,
rancangan sebab akibat) ialah penelitian yang dikembangkan untuk mempelajari
Ienomena dalam rangka korelasi sebab akibat. Korelasi sebab akibat ini
dipelajari dengan memberikan perlakuan atau manipulasi pada subyek
penelitian, untuk kemudian dipelajari eIek perlakuan tersebut.

Dibandingkan dengan rancangan penelitian analitik non eksperimental,
rancangan penelitian eksperimen ini mempunyai 'kapasitas uji korelasi yang
paling tinggi. Pada penelitian-penelitian cross sectional, case control dan kohort,
pengujian hanya sampai pada tingkat ada tidaknya korelasi antara Ienomena
kausa (Iaktor resiko) dengan Ienomena eIek (penyakit) sementara kedalaman
korelasi sebab akibat tidak dapat diuji secara empirik. Kesimpulan adanya
mekanisme sebab akibat tidak dapat diuji secara empirik. Kesimpulan adanya
mekanisme sebab akibat pada penelitian-penelitian non eksperimental hanya
sebagai pada tingkat dugaan atau dugaan keras, berdasarkan atas landasan
teoritik atau penelaan logik yang dilakukan peneliti.

plikasi penelitian eksperimen dalam kesehatan
Secara garis besar penerapan metode penelitian eksperimen dibidang kesehatan
ini ada dua bentuk, yaitu :
2.2.2.3.1 Penelitian intervensi
Lain halnya dengan penelitian klinis yang digunakan dikalangan klinik
medis. Penelitian intervensi ini digunakan dalam bidang kesehatan
masyarakat (public health), dengan perkataan lain penelitian intervensi
adalah penelitian eksperimental yang dikenakan pada masyarakat sebagi
kesatuan himpunan subyek. Peneliti melakukan manipulasi atau
memberikan perlakuan bukan dengan pendekatan subyek secara individual
seperti pada penelitian klinik, melainkan dengan kelompok.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com


Perlakuan diberikan dengan wujud paket yang dikenakan pada subyek
secara kolektiI dalam komunitas eIek perlakuan diamati dengan
menggunakan satuan analisis individual maupun kelompok.

Nama lain penelitian intervensi ini adalah penelitian operasional
(operasional research). Disebut penelitian operasional karena penelitian itu
dilakukan sekaligus untuk memperbaiki suatu sistem atau program yang
sedang berjalan. Beberapa peneliti menamakan penelitian ini sebagai 'action
research atau penelitian tindakan yakni intervensi atau manipulasi salah
satu eIek variabel.

Pada dasarnya ada 2 tipe penelitian intervensi ini, yakni intervensi di bidang
preventiI ini dan penelitian intervensi di bidang kuratiI.
2.2.2.3.1.1Penelitian intervensi preventif
Penelitian ini mencoba mempelajari hubungan Iaktor-Iaktor resiko
dengan kejadian suatu penyakit dengan memberikan perlakuan atau
manipulasi terhadap Iaktor resiko tersebut pada subyek. alaupun eIek
perlakuan diberikan secara kolektiI pada individu dalam masyarakat
tersebut dapat diamat dengan pendekatan kelompok. Contoh : perlakuan
atau intervensi berupa penyuluhan imunisasi untuk ibu-ibu disuatu
komunitas, eIeknya akan dilihat dengan meningkatnya cakupan imunisasi
anak balita; perlakuan yang berupa 'PSN (pemberantasan sarang
nyamuk) disuatu desa eIek akan dilihat dengan menurunnya kasus
demam berdarah di desa tersebut.
2.2.2.3.1.2Penelitian intervensi kuratif
Penelitian eksperimen/intervensi ini mencoba memberikan pelakuan
terhadap perkembangan suatu penyakit. Dengan perkataan lain penelitian
ini akan mengungkapkan apakah riwayat alamiah suatu penyakit dapat
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

dimanipulasi atau diintervensi secara spesiIik. Perlakuan dalam penelitian
ini dapat berubah pemberian pelaksanaan tindakan kuratiI pada
masyarakat untuk menanggulangi penyakit endemik masyarakat.
Perlakuan bisa berupa penyuluhan kepada masyarakat dalam menghadapi
menanggulangi penyakit dan dapat dalam bentuk pengobatan masal.
Contoh engobatan masal cacingan pada anak balita dalam rangka
menurunkan prevalensi penyakit cacing perut; penyuluhan untuk berobat
secara teratur ke klinik TBC paru dalam rangka untuk menurunkan
prevalensi penyakit TBC paru

2.2.3.2Penelitian klinik atau ~clinical trial

2.3 Populasi dan sampel penelitian

2.3.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan obyek (unit) penelitian atau obyek yang diteliti.
Populasi inIinit adalah populasi yang tidak diketahui jumlahnya mengalami
perubahan setiap waktu contoh : jumlah penduduk. Populasi Iinit adalah
populasi yang diketahui jumlahnya secara pasti.

Dalam penelitian kita kenal 2 macam populasi yaitu :
O Populasi tak terhingga
Disebut populasi tak terhingga, bila populasi sedemikian besarnya
hingga tidak dapat atau sukar diketahui jumlahnya, atau bila dalam
populasi diambil sampel dan sampel yang dihasilkan dikembalikan lagi
dalam populasi, hingga dengan demikian akan diperoleh jumlah sampel
yang tak terhingga banyaknya.
O Populasi terbatas
Disebut populasi terbatas, bila jumlah populasi tidak besar, dan mudah
dihitung. Batas yang digunakan untuk populasi terbatas tidak mutlak.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com


Populasi sering disebut juga universe atau keseluruhan. Anggota
populasi dapat berupa benda hidup atau benda mati, dimana siIat-
siIatnya yang ada padanya mungkin untuk diukur atau diamati.

2.3.2 $ampel
Dalam penelitian, yang disebut sampel ialah pemelihan sekelompok obyek atau
penduduk dari populasi. Besarnya sampel ini tidak tertentu, dan tergantung pada
ketetapan yang diinginkan, namun sebaiknya sampel tersebut dapat mewakili
populasinya hingga hasilnya dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan
populasi. Cara pengambilan sampel disebut : 'sampling

Kesalahan sampling :
ang dimaksud dengan kesalah sampling ialah perbedaan antara hasil sampling dan
kesalahan sensus yang dilakukan dengan cara yang sama, pada populasi kesalahan
tersebut yang sama, pewawancara maupun peneliti yang sama. Jadi kesalahan tersebut
berhubungan dengan masalah pengambilan sampel.

Kesalahan tak langsung :
ang dimaksud dengan kesalah tak langsung ialah kesalahan yang tidak ada
hubungannya dengan sampling, jadi dilakukan sampling maupun sensus akan terdapat
kesalahan yang yang sama. Sebab timbulnya kesalahan tak langsung ini adalah
sebagai berikut :
a) Perencanaan dan batasan yang salah terhadap unit sampel.
b) Jawaban yang salah (respons error) yang dapat ditimbulkan oleh beberapa hal :
O Secara tidak sengaja.
O Dilakukan respons dengan maksud tertentu.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

O Kekurangan inIormasi responden.
O Pertanyaan pada responden dengan mengingat masa lampau.
c) Kesalahan terhadap liputan yang disebabkan karena kesalahan dalam batas atau
lokasi
d) Kesalahan dalam membuat klasiIikasi dan batasan-batasan dari data yang
dinginkan.
e) Kesalahan dalam pengeolahan data.
I) Kesalahan alat ukur yang digunakan.
g) Kesalahan pertanyan, pencatatan dan lain-lain.

Kegunaan sampling didalam penelitian ini antara lain sebagai berikut .
a) Menhemat biaya
b) Mempercepat pelaksanaan penelitian
c) Menghemat tenaga
d) Memperluas ruang lingkup penelitian
e) Memperoleh hasil yang lebih akurat

2.3.3 Teknik $ampling
Pada garis besarnya hanya ada dua jenis sampel, yakni sampel-sampe probabilitas
(probability samples) atau sering disebut dengan random sampel (sampel acak) dan
sampel-sampel non probabilitas (non probability sampel). Tiap-tiap sampel ini
terdiri dari berbagai macam pula.


}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

2.4 kuesioner

Alat pengumpulan data yang sering digunakan adalah kuesioner yang biasanya dipakai
dalam wawancara (sebagai contoh pedoman wawancara berstuktur) dan angket.
Kuesioner ini diartikan sebagai daItar pertanyaan yang sudah tersusun dengan baik,
sudah matang dimana, responden (dalam hal ini angket) dan interviewer (dalam hal
wawancara) tinggal memberikan jawaban atau dengan memberi tanda-tanda tertentu.
Dengan demikian kuesioner sering juga disebut daItar pertanyaan (Iormulir).

Pentingnya kuesiner sebagai alat pengumpul data yang sesuai dengan tujuan penelitian
tersebut. Oleh karena itu isi dari kuesioner adalah bentuk penjabaran daripada hipotesis.

Oleh karena itu suatu kuesioner harus mempunyai beberapa persyaratan antara lain :
1. Mencakup tujuan penelitian.
2. Mudah ditanyakan
. Mudah dijawab.
4. Data yang diperoleh mudah diolah (diproses) dan sebagainya.

enis daftar pertanyaan
Di dalam pengumpulan data yang sering digunakan macam kuesioner (Iormulir)
yakni :
1. Kuesioner atau (Iormulir) untuk keperluan administrasi. Dimana Iormulir ini
digunakan untuk mengumpulkan data melalui saluran-saluran administrasi. Oleh
karena itu jenis Iormulir ini lebih dikaitkan dengan keperluan-keperluan
administrasi, pengisian kuesioner ini sepenuhnya oleh pihak responden tetapi
biasanya ada petunjuk pengisisan. Misalnya Iormulir masuk, kartu klinik, dan
sebaginya.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

2. Kuesioner untuk observasi (Iorm Ior observation). Agar observasi terarah dan
dapat memperoleh data benar-benar diperlukan daItar pertanyaan yang disiapkan
terlebih dahulu kuesioner ini mencakup hal-hal yang diselidiki/observasi.
. Kuesioner untuk wawancara (Iorm Ior quetioning). Jenis kuesioner ini digunakan
untuk mengumpulkan data melalui wawancara (interview). Alat ini lebih
memperoleh jawaban yang akurat dari responden.
awancara dapat dilakukan dengan :
1. Personal interview (door to door)
2. Telepon interview

!rinsip dasar perancangan kuesioner
Sebelum kita mendesain suatu kuesioner lebih dahulu kita harus mempertimbangkan
kesulitan-kesulitan umum yang sering dijumpai di dalam interview antara lain :
1. Responden sering tidak/kurang mengerti maksud pertanyaan sehingga jawaban
yang diberikan tidak ada hubungan dengan yang diajukan atau tidak memperoleh
data yang relevan.
2. Responden mengerti pertanyaan dan mungkin mempunyai inIormasinya, tetapi
responden kurang tepat mengingatnya atau lupa. Contoh : apakah ada anggota
keluarga disini yang sakit pada tahun ini ?, untuk menjawab pertanyaan ini sudah
pasti sulit mengingatnya, maka pertanyaan perlu disederhanakan. Misalnya :
selama bulan terakhir ini siapa saja di dalam rumah ini yang sakit.
. Responden kadang-kadang tidak bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
sangat bersiIat pribadi, misalnya tentang jumlah pendapatan/gaji, jumlah
perkawinan.
4. Responden kadang-kadang mengerti pertanyaan, tetapi ia tidak mampu
memberikan jawaban atau menguraikan jawaban. Misalnya: apa maksud ibu
menjadi akseptor KB ?
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

5. Responden mengerti pertanyaan dan tahu jawaban, tetapi pertanyaan kurang tepat
diajukan pada responden. Misalnya responden tidak/belum mempunyai anak,
ditanyakan tempat melahirkan.

Dalam mendesain suatu kuesioner, sebaiknya mengingat persyaratan sebagai berikut :
1. Pertanyaan hendaknya jelas maksudnya
a. Menggunakan kata-kata yang tepat dan jelas artinya.
b. Pertanyaan tidak terlalu luas dan indiIinit.
c. Pertanyaan tidak terlalu panjang atau menggabungkan beberapa pertanyaan.
d. Pertanyaan tidak boleh memimpin.
e. Hindari pertanyaan yang double negative.
2. Pertanyaan hendaknya membantu ingatan responden
. Pertanyaan itu menjamin responden untutk dengan mudah mengutarakan
jawabannya.
4. Pertanyaan hendaknya menghindari 'bias
5. Pertanyaan hendaknya memotivasi responden untuk menjawab.
6. Pertanyaan hendaknya menyaring responden.
7. Pertanyaan hendaknya sesederhana mungkin.

Selain itu harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Pertanyaan itu dapat dijawab oleh responden dan jawaban itu kemungkinan besar
benar. (Berapa lama anak itu kejang ? salah, responden tidak selalu mengukur
lamanya kejang).
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

2. Pertanyaan itu tdak boleh bersiIat hipotesis. (Seandainya anak ibu sakit demam
berdarah, apa yang akan ibu lakukan ? salah, suatu keadaan hipotesis dan tidak
semua orang tahu apa demam berdarah).
. Pertanyaan itu tidak menyinggung perasaan responden. (Bagaimana ibu tahu
makan yang diberikan untuk anak ibu cukup kadar gizinya ? salah,
menyinggung perasaan)
4. Pertanyaan itu interpretasi tidak boleh lebih dari satu. (Rumah itu terbuat dari apa
? salah, interpretasi masing-masing yaitu ada bahan semennya, pasirnya,
kayunya, cat dan sebagainya)
5. Pertanyaan itu dapat dimengerti oleh sebagian besar responden. (apakah anak ibu
pernah menderita morbili ? salah, tidak semua orang tahu arti morbili)
6. Pertanyaan itu ada jawabannya. (Apakah penderita itu mempunyai kelainan darah
? salah tidak semua survai walaupun dilakukan di puskesmas melakukan
pemeriksaan darah)
7. Hati-hati menggunakan lebih dari satu kata tidak. (apakah anada sependapat
bahwa pemerintah tidak perlu memperhatikan penduduk yang tidak dapat
memasuki sekolah ? ada dua kata tidak, sebaiknya kata-kata tersebut digaris
bawahi untuk memaksa responden untuk berusaha memahami benar maksud
pertanyaan).
8. Hati-hati memakasi kata siIat atau kata keterangan yang maknanya belum
disepakati. Kata-kata sering, kadang-kadang dan jarang tidak memilih kesamaan
makna bagi orang yang berbeda. Responden X menganggap kadangg-kadang
sebagai sinonim jarang, cara mengaatasi hal ini adalah dengan menanyakan
Irekuensi seperti berapa kali seminggu, berapa kali sehari dan sebagainy.
9. Hindari pertanyaan yang bercabang. Apakah ada pendapat bahwa penderita
tersebut perlu pula dikelompokan didalam ruangan perawatan tersendiri dan diberi
makanan khusus ? jelas pertanyaan tersebut bercabang responden mungkin
menyetujui pertanyaan pertama (penderita tersebut dikelompokkan di dalam
ruangan perawatan khusus) tetapi tidak menyetujui pertanyaan berikutnya (yaitu
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com 8

bahwa mereka perlu diberikan makanan khusus). Sebaiknya pertanyaan tersebut
dipecah dua.

Setelah Iormulir tersusun perlu ditelaah kembali mengenai :
1. Kejelasan dan ketegasan tiap pertanyaan.
2. Kejelasan dan ketegasan jawaban yang diharapkan
. Ketepatan dan kebenaran hasil jawaban.
4. Dapat tidaknya dimasukkan dalam 'dummy tables

2.5Pengumpulan data
Dalam studi epidemiologi, seerti pengukuran morbiditas dan mortalitas, mengukur indeks
kesehatan, spidemiologi deskriptiI, analitis, maupun eksperimen, selalu dibutuhkan data
untuk diolah, dianalisis, dan ditarik kesimpulan untuk dilaporkan. Oleh karena itu, data
yang dibutuhkan harus dikumpulkan dengan cara yang terbaik agar kesimpulan yang
diambil tidak bias. Dalam melakukan pengumpulan data, hendaknya diketahui hal-hal
sebagai berikut:
1. Sumber data
2. Metode
. Teknik

2.5.1 $umber data
Data epidemiologi dapat berasal dari berbagai sumber tergantung dari tujuan
yang ingin dicapai dan setiap sumber mempunyai keuntungan dan kerugian.
Pengetahuan tentang sumber data merupakan hal yang sangat penting untuk
diketahui karena data yang dikumpulkan harus sesuai dengan tujuannya sebab
bila terjadi kesalahan dalam sumber data maka akan terjadi kesalahan dalam
penarikan kesimpulan. Misalnya dilakukan penelitian untuk mengetahui
permanIaatan sarana pelayanan kesehatan yang terdapat di suatu daerah dan
sebagai sumber data digunakan pelayanan kesehatan tersebut. Hal ini tidak
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com 9

tepat karena sumber data yang sesuai dengan tujuan terletak di masyarakat.
Bila hal ini dilakukan, akan menimbulkan kesalahan dalam menarik
kesimpulan hasil penelitian.

Data yang dikumpulkan dapat berupa data primer atau data sekunder. Dari
sumber data, kita dapat mengetahui apakah data yang dikumpulkan dari sumber
primer atau sekunder. Untuk pengumpulan data primer, sumber data terletak di
mayarakat yang dapat dilakukan dengan cara:
1. Survei epidemiologi
2. Pengamatan epidemiologi
. Penyaringan
Untuk pengumpulan data sekunder, sumber data dapat berupa:
1. sarana pelayanan kesehatan misalnya:
a. Rumah sakit
b. Puskesmas
c. Balai pengobatan

2. Instansi yang berhubungan dengan kesehatan, misalnya:
a. Departernen kesehatan
b. Dinas kesehatan,
c. Biro Pusat Statistik

. Absensi:
a. sekolah
b. industri
c. perusahaan

4. secara internasional, data epidemiologi dapat diperoleh dan HO,
seperti
a. !opulation and vital Statistics report.
b. !opulaion bulletin,
c. pideiniological report.

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

2.5.2 Metode pengumpulan data

Setelah ditentukan sumber data yang digunakan kemudian dilakukan
pengumpulan data. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai metode
berikut.
1. Mengumpulkan data dan catatan medik di sarana pelayanan kesehatan
atau instansi yang berhubungan dengan kesehatan.Cara ini mempunyai
keuntungan, yaitu mudah dilakukan, membutuhkan waktu dan biaya
yang relatiI kecil, tetapi data yang dibutuhkan sering tidak ada atau tidak
lengkap.
2. Pengumpulan data dapat juga dilakukan dengan survei. Dengan cara ini,
data yang diperoleh merupakan data primer dan dapat disesuaikan
dengan kebutuhan kita, tetapi cara ini membutuhkan tenaga, waktu, dan
biaya yang cukup besar.
Cara mana yang akan ditempuh tergantung dari tujuan dan kebutuhan akan
data tersebut serta tersedianya waktu, tenaga, dan biaya. Bila data yang
dibutuhkan sangat penting seperti pada kejadian luar biasa. sebaiknya
dilakukan pengumpulan data primer.
Di samping pengumpulan data kuantitatiI seperti yang telah diuraikan di atas,
dapat pula dilakukan pengumpulan data kualitatiI yang dilakukan dengan
metode:
1. Diskusi kelompok terarah dan
2. wawancara mendalam.

2.5.3 Teknik pengumpulan data
Secara garis besar. pengumpulan data dapat dilakukan dengan teknik:
1. awancara,
2. Angket,
. Observasi, dan
4. Pemeriksaan.

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

2.5.3.1Wawancara
awancara merupakan proses interaksi atau komunikasi secara langsung
antara pewawancara dengan responden. Data yang dikumpulkan dapat
bersiIat:
1. Fakta, misalnya umur, pendidikan, pekerjaan, penyakit yang pernab
diderita;
2. Sikap, misalnya sikap terhadap pembuatan janiban keluarga,
penyuluhan kesehatan;
. Pendapat, misalnya pendapat tenlang pelayanan kesehatan yang
dilakukan oleh bidan di desa;
4. Keinginan, misalnya pelayanan kesehatan yang diinginkan;
5. Pengalaman, misalnya pengalaman waktu terjadi wabah kolera yang
melanda daerah mereka.
Pengumpulan data dengan teknik wawancara mempunyai beberapa
keuntungan dan kerugian
Keuntungan
Beberapa keuntungan yang diperoleh dan pengumpulan data dengan teknik
wawancara adalah:
a. Jawaban yang dilakukan oleh responden secara spontan hingga
jawaban lebih dapat dipercaya
b. Dapat digunakan untuk menilai kebenaran dan keyakinan terhadap
jawaban yang diberikan
c. Dapat membantu responden untuk mengingat kembali hal-hal yang
lupa
d. Data yang diperoleh berupa data primer.
Kerugian
Di samping keuntungan pengurnpulan data dengan teknik wawancara yang
telah disebutkan, terdapat pula beberapa kerugian yaitu:
1. membutuhkan waktu yang larna dengan biaya yang relatiI besar;
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

2. mudah timbul bias yang disebabkan oleh:
a. Pewawancara, bila pewawancara kurang menghayati
permasalahan dan kurang memahami teknik wawancara
b. Responden, dalam menjawab pertanyaan, responden sering
menyembunyikan hal yang sebenarnya terutama pertanyaan yang
bersiIat pribadi, misalnya Irekuensi hubungan seks per minggu
atau dapat juga jawaban yang siIatnya hanya untuk
menyenangkan pewawancara. Bila kedua hal tersebut terjadi
akan menimbulkan bias;
c. Pertanyaan yang diajukan pada responden. Pertanyaan yang
kurang jelas atau yang mempunyai arti ganda hingga
membingungkan maka jawaban yang diberikan tidak tepat.
d. Pertanyaan yang mengharuskan responden mengingat kembali
masa lalu yang cukup lama maka jawaban yang diberikan
kernungkinan besar bias.

2.5.3.1.1 Pedoman pelaksanaan wawancara
alaupun tugas pewawancara ialah untuk memperoleh data yang sebaik-
baiknya, tetapi responden mempunyai hak untuk menolak memberikan
jawaban dan pewawancara tidak dapat memaksa. ang dapat dilakukan
oleh pewawancara adalah menarik minat responden agar bersedia
menjawab pertanyaan yang diajukan. Agar pewawancara dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik, dibutuhkan suatu pedoman. Secara
garis besar, pedoman dalam melaksanakan wawancara dapat diuraikan
sebagai berikut.
1. Pewawancara harus bersikap sopan santun, sabar, dan dengan gaya
bahasa yang menarik, tetapi jelas dan sederhana agar dapat
dimengerti oleh responden.
2. Dalam melakukan wawancara hendaknya menggunakan bahasa
responden karena dengan demikian pewawancara tidak dianggap
sebagai orang asing dan responden tidak merasa canggung atau
malu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

. Harus diciptakan suatu suasana psikologis yang sedemikian rupa
sehingga terjalin suatu kerja sama yang baik dan saling
mempercayai antara responden dan pewawancara. Suasana
demikian disebut #apport.
4. Suasana wawancara harus santai.
5. awancara diawali dengan pertanyaan yang mudah dijawab
karena biasanya pada awal wawancara, responden merasa agak
tegang.
6. Keadaan responden pada waktu akan diwawancarai harus
diperhatikan, misalnya bila responden sedang sibuk atau mendapat
musibah sebaiknya tidak dilakukan wawancara, tetapi ditunda pada
hari yang lain.
7. Jangan terkesan tergesa-gesa.

Keberhasilan wawancara dapat dicapai bila:
1. Pewawancara terampil dalam melakukan wawancara;
2. Pertanyaan yang diajukan sesuai dengan minat responden,
responden memahami pertanyaan dan percaya pada
pewawancara;
. #apport dapat tercapai;
4. Suasana santai.

2.5.3.1.2 Daftar pertanyaan
Lampiran daItar pertanyaan merupakan instrumen penting dalam
pengumpulan data. Lampiran ini berisi pertanyaan yang akan diajukan
pada responden dan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan
pembuatan daItar pertanyaan adalah agar tidak terdapat pertanyaan
penting yang terlewatkan. Oleh karena itu, sebelum digunakan,
hendaknya dilakukan uji coba untuk mengetahui apakah pertanyaan yang
diajukan dapat dimengerti oleh responden dan pada pewawancara
dilakukan pelatihan secukupnya.

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

2.5.3.1.3 Pedomaan penyusunan daftar pertanyaan
Sebelum daItar pertanyaan disusun, hendaknya ditentukan dahulu
variabel-variabel yang hendak dicari kemudian variabel tersebut
dijabarkan dalam bentuk pertanyaan yang dapat diukur. Misalnya,
variabel yang hendak dicari adalah pengetahuan respoden tentang
kesehatan maka diukur melalui tingkat pendidikun.
Penyusunan daItar pertanyaan diawali dengan identitas responden
kemudian baru masuk ke dalam materi yang akan dicari. Dalam
penyusunan ini harus diawali dengan pertanyaan yang sederhana hingga
rnudah dijawab oleh respoden.
Untuk menuliskan pertanyaan yang diajukan hendaknya memperhatikan
hal- hal berikut.
1. Pertanyaan harus singkat, jelas dan sederhana hingga mudah
dimengerti oleh pewawancara maupun respoden.
2. Pertanyaan jangan menyinggung perasaan responden. Misalnya,
pertanyaan tentang kehamilan tanpa didahului pertanyaan tentang
status marital.
. Pertanyaan jangan menjurus pada suatu jawaban yang dapat ditebak
sebelumnya, misalnya, apakah bapak bersedia datang bila mendapat
penggilan dari kepala desa?
4. Pertanyaan hendaknya sesedikit mungkin mengharuskan responden
untuk mengingat masa lalu karena mempunyai potensi untuk
menimbulkan bias. Untuk mengatasi hal demikian, hendaknya
pewawancara membantu untuk mengingatkan dengan mernberikan
contoh tentang peristiwa yang terjadi di daerah tersebut atau peristiwa
nasional seperti zarnan pendudukan Jepang atau Revolusi
Kemerdekaan.
5. Pertanyaan sedapat mungkin tidak mengharuskan responden untuk
menghitung, misalnya, berapa selisih umur ibu dengan puteri ibu yang
kedua?
6. Pertanyaan harus mudah diingat oleh pewawancara.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

7. Bila perlu, berikan pertanyaan tambahan, misalnya pertanyaan tentang
kehamilan ditambahkan pertanyaan tentang status marital.
8. Pertanyaan jangan rancu. Misalnya, apakah ibu dan keluarga
menggunakan sarana pelayanan kesehatan di Puskesmas ? Pertanyaan
ini akan sulit dijawab jita tidak semua anggota keluarga menggunakan
Iasilitas kesehatan Puskesmas. Untuk mengatasinya. hendaknya
pertanyaan dipisah-pisahkan menjadi beberapa pertanyaan.


2.5.3.1.4 Tipe pertanyaan
Dalam mengumpulan data, pentanyaan yang diajukan dapat berupa:
1. pertanyaan tertutup,
2. pertanyaan terbuka, dan
. kombinasi.
Pertanyaan Tertutup
Pada pertanyaan tertutup, jawaban respoden dibatasi dan hanya
memilih jawaban yang sesuai. Untuk pertanyaan tertutup dapat berupa:
1. Dikhotom dan
2. Pilihanganda.
Pada pertanyaan tertutup dapat ditambahkan dengan pertanyaan
terbuka, misalnya ditambahkan 'lain-lain yang bersiIat terbuka.
Pertanyaan demikian sering disebut kombinasi atau terbuka terbatas.
Pada pertanyaan yang hersiIat dikhotom, responden hanya diberi dua
pilihan 'ya atau 'tidak. Misalnya: Pada saat terjadi wabah diare di
daerah ini, apakah Anda terkena? Jawaban yang diberikan adalah 'ya
atau 'tidak Pertanyaan bersiIat dikhotom ini mempunyai keuntungan,
yaitu rnudah dijawab dan mudah diolah. Di samping keuntungan itu,
terdapat pula kerugiannya, yaitu data yang diperoleh tidak mendalam
dan sering kali jawaban dipaksakan karena tidak ada pilihan lain.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Untuk mengatasi kelemahan tersebut, sering ditambahkan butir lain dalam
pertanyaan (pilihan ganda) seperti:
a. Tidak tahu,
b. Ragu,
c. Tidak ingat,
d. Tidak mengerti,
e. Sering,
I. Kadang-kadang,
g. Lain-lain (terbuka). Misalnya:
1. Apakah putera ibu telah mendapat imunisasi Iengkap?
a. a
b. Tidak
c. Tidak ingat
2. Apakah sumber air yang digunakan untuk minum dan rnemasak?
a. PAM
b. Sumur gali
c. Sumur bor
d. Mata air
e. Lainlain, .sebutkan
. Apakah air dimasak dahulu sebelum diminum?
a. Selalu
b. Sering
c. Kadang-kadang
d. Tidak pernah
Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan pertanyaan pilihan ganda.

Keuntungan
Pertanyaan pilih ganda mempunyai keuntungan sebagai berikut:.
1. Data yang diperoleh lebih luas.
2. Respoden mempuriyai kesempatan untuk memilih yang lebih luas.
. Pengolahan data tidak sulit.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Kerugian
Di samping keuntungan, pertanyaan pilihan ganda juga mempunyai
kelemahan yaitu:
1. Bila butir pertanyaan terlalu banyak akan membingungkan responden dan
2. Jawaban dapat lebih dan satu,
Untuk niengatasi kelemahan itu dapat dilakukan hal-hal berikut.
1. Butir pertanyaan jangan terlalu banyak.
2. Pertanyaan ditujukan pada yang 'utama atau 'biasanya. Misalnya,
pertanyaan tentang sumber air minum diubah menjadi. Apakah surnbar air
minum yang biasa Anda gunakan?
Pertanyaan Terbuka
Pada pertanyaan terbuka, jawaban responden harus dicatat kata demi kata
untuk menghindarkan bias yang dilakukan oleh pewawancara. Oleh karena itu,
jawaban responden harus direkam.
Pertanyaan terbuka bisanya digunakan untuk memperoleh data tentang,
1. Pendapat
2. Saran
. Persepsi, dan
4. Proses, misalnya:
a. Bagaimana pendapat ibu tentang keberadaan bidan di desa?
Mengapa?
b. Apakah saran Ibu untuk memperbaiki lingkungan di desa ini?
Mengapa?
c. Dapatkah Anda menceriterakan awal terjadinya wabah diare di
daerah ini?
Keuntungan
1. Responden dapat dengan leluasa mengemukakan hal yang ditanyakan.
2. InIormasi yang diperoleh banyak dan mendalam.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com 8

Kerugian
1. Pengolahan data membutuhkan keahlian khusus.
2. Tidak dapat dilakukan pada sampel yang besar.
Kini timbul pertanyaan, kapan digunakan pertanyaan tertutup dan kapan
pertanyaan terbuka? Pertanyaan tertutup biasanya digunakan bila tujuan
penelitian dapat dinyatakan dengan jelas, rnisalnya:
1. Penelitian deskriptiI atau
2. Penelitian analitik;
Sedangkan pertanyaan terbuka biasanya digunakan pada penelitian eksploratiI.
Untuk pengumpulan data kualitatiI.

2.5.3.2Angket
Teknik lain yang digunakan untuk pengumpulan data ialah angket. Pada angket,
jawaban diisi oleh responden sesuai dengan daItar pertanyaan yang diterima.
Sedangkan pada wawancara, jawaban responden diisi oleh pewawancara.

Untuk pengembalian daItar isian dapat dilakukan dengan dua cara sebagai berikut.
1. Canvasser yaitu daItar yang telah diisi, ditunggu oleh petugas yang
menyerahkan.
2. Householder yaitu jawaban responden dikirirnkan pada alamat yang
telah ditentukan,
Keuntungan
Pengumpulan data dengan cara angket mempunyai beberapa keuntungan,
yaitu:
1. RelatiI murah,
2. Tidak membutuhkan banyak tenaga, dan
. Dapat diulang.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com 9

Kerugian
Di samping beberapa keuntungan yang telah disebutkan, pengumpulan data
dengan cara angket tidak luput dari beberapa kerugian, yaitu:
1. Jawaban tidak spontan,
2. Banyak terjadi nonrespons,
. Pertanyaan harus jelas dan disertai petunjuk yang jelas.,
4. Pengembalian lembar jawaban sering terlambat,
5. Jawaban sering tidak lengkap terutama bila kalimat pertanyaan kurang
dimengerti responden,
6. Sering tidak diisi oleh responden, tetapi diisi oleh orang lain, dan
7. Tidak dapat digunakan untuk responden yang buta aksara.

Untuk mengatasi kerugian dalam angket dapat dilakukan dengan:
1. Kunjungan dan dilakukan wawancara pada nonrespons,
2. Untuk jawaban yang terlambat harus dikeluarkan dan tidak dianalisis,
dan
. Bila nonrespons terlalu banyak, dilakukan pengiriman ulang daItar
isian.

2.5.3.3Observasi
Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang menggunakan
pertolongan indra mata. Teknik ini bemanIaat untuk:
1. Mengurangi jumlah pertanyaan, misalnya pertanyaan tentang kebersihan
rumah tidak perlu ditanyakan, tetapi cukup dilakukan observasi oleh
pewawancara;
2. Mengukur kebenaran jawaban pada wawancara, misalnya, pertanyaan tentang
kualitas air minum yang digunakan oleh responden dapat dinilai dengan
melakukan observasi langsung pada sumber air yang dimaksud;
. Untuk memperoleh data yang tidak dapat diperoleh dengan cara wawancara
atau angket. Misalnya, pengamatan terhadap prosedur tetap dalarn suatu
pelayarian kesehatan.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Macam-macam observasi
1. Observasi partisipasi lengkap, yaitu mengadakan observasi dengan cara
mengikuti seluruh kehidupan responden. Cara ini banyak digunakan dalam
penelitian antropologis.
2. Observasi partisipasi sebagian yaitu mengadakan observasi dengan cara
mengikuti sebagian dan kehidupan responden sesuai dengan data yang
dinginkan. Misalnya, penelitian tentang gizi dan ingin rnengetahui menu
makanan sehari-hari yang dimakan responden dilakukan dengan makan
bersama dan mengadakan observasi untuk menilai menu makanan yang
disajikan.
. Observasi tanpa partisipasi, yaitu mengadakan observasi tanpa ikut dalam
kehidupan responden. Misalnya, untuk mengamati prosedur tetap pemasangan
IUD yang dilakukan oleh bidan.
Dalam pengumpulan data dengan teknik observasi terdapat beberapa kelemahan
yaitu:
1. Keterbatasan kemampuan indra mata,
2. Hal-hal yang sering dilihat, perhatian akan berkurang hingga adanya kelainan
kecil tidak terdeteksi.
Untuk mengatasi kelemahan tersebut dapat dilakukan cara-cara berikut.
1. Mengadakan pengamatan berulang-ulang.
2. Pengamatan dilakukan oleh beherapa orang.


2.5.3.4Pemeriksaan
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan teknik pemeriksaan. Pemeriksaan yang
dilakukan dapat berupa:
1. Pemeriksaan laboratorium.
2. Pemeriksaan Iisik, dan
. Pemeriksaan radiologis.

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Pemeriksaan dapat dilakukan:
1. Hanya sekali atau
2. Berulang-ulang tergantung pada tujuan penelitian.
Misalnya, pada penelitian cross-sectional, pemeriksaan dilakukan hanya sekali;
sedangkan pada penelitian prospektiI, pemeriksaan dilakukan berulang-ulang untuk
menemukan insidensi penyakit yang diteliti.

aktu dan Irekuensi pemeriksaan ini harus ditentukan pada waktu perencanaan sesuai
dengan perkiraan timbulnya insidensi. Tempat pemeriksaan:
1. Dapat dilakukan dilapangan atau
2. Sarana pelayanan kesehatan.

Organ yang diperiksa dapat berupa:
1. Seluruh organ.
2. Organ tertentu seperti paru-paru,jantung, limpa, kadar kolesterol, kadargula
darah, dan
. Beberapa organ sekaligus seperti pemeriksaan jantung dan paru-paru

2.5.4 Pengumpulan data kualitatif

Untuk pengumpulan data kualitatiI digunakan pertanyaan terbuka. Cara ini
biasanya digunakan pada penelitian eksploratiI yang tujuannya belum dapat
dinyatakan dengan jelas. Dalam bidang epidemiologi digunakan untuk meneliti
penyakit baru yang belum pernah ada sebelumnya dan belum diketahui
sebabnya. Dalam bidang kesehatan, cara mi digunakan untuk meneliti sikap,
pendapat atau penerimaan program pelayanan kesehatan. Teknik yang
digunakan adalah:

1. awancara mendalam
2. Diskusi kelompok terarah.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Pengumpulan data kualitatiI dilakukan untuk mengetahui:
1. Pendapat,
2. Persepsi,
. Kepercayaan, dan
4. Penerimaan.

2.5.4.1Wawancara mendalam

awancara mendalam merupakan salah satu cara untuk pengumpulan data
pada studi kualitatiI dengan tujuan memperoleh inIormasi yang mendalam
tentang persepsi, pendapat, kepercayaan, dan sikap terhadap hal-hal yang
berkaitan dengan epidemiologi.
Hasil dari wawancara mendalam dapat digunakan dalam hal-hal berikut.
1. Untuk mengetahui secara mendalam program yang telah atau akan
dijalankan.
2. Untuk memperoleh hipotesis sebelum dilakukan penelitian kuantitatiI.
. untuk menyusun rencana pelayanan kesehatan.
Kegiatan ini dilakukan dengan beberapa tahapan berikut.
1. Persiapan
Untuk melakukan wawancara mendalam dibutuhkan persiapan berikut.
a. Tentukan kriteria sasaran yang akan diwawancarai.
b. Menyusun pedoman wawancara sebagai instrumen wawancara.
c. Tentukan pewawancara.
d. Tentukan jadwal waktu wawancara.
e. Rekrutmen responden yang sesuai kriteria.

2. Pelaksanaan
a. Adakan perjanjian dengan responden tentang waktu yang tepat.
b. Siapkan ruangan agar wawancara dapat dilakukan dalam suasana yang
tenang
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

c. awancara diawali dengan memperkenalkan diri dan mengajukan
pertanyaan yang mudah dijawab tentang hal-hal yang menjadi minat
responden kemudian baru masuk dalam topik yang hendak dicari
d. Berilah kesempatan yang seluas-luasnya pada responden untuk
menceritakan atau menjawab pertanyaan yang diajukan.
Keuntungan
1. awancara mendalam dilakukan untuk memperoleh inIormasi yang
mendalam tentang penerimaan, kepercayaan, sikap dan pendapat
tentang program pelayanan kesehatan yang akan dilaksanakan atau
program pelayanan yang telah ada.
2. Memperjelas suatu konsep untuk menghasilkan hipotesis.
. Sebagai data tambahan untuk memperoleh penjelasan yang lebih
mendalam.
Keterbatasan
Di samping kelebihan yang telah disebutkan, pengumpulan data dengan
wawancara mendalam tidak luput dari keterbatasan. Keterbatasan tersebut
sebagai berikut:
1. Pengumpulan data dengan teknik wawancara mendalam hanya
dapat dilakukan pada jumlah responden yang sedikit. Misalnya
10-20 responden. Hal ini disebabkan, untuk melakukan
wawancara mendalam dibutuhkan waktu yang cukup lama.
2. Untuk melaksanakan wawancara mendalam. Dibutuhkan keahlian
khusus yang jumlahnya terbatas.
. Hasil wawancara tidak dapat dikuantiIikasi dan kesimpulan yang
ditarik hanya berupa kesan yang bersiIat subjektiI.

2.5.4.2Diskusi kelompok terarah
Untuk mengatasi keterbatasan tenaga dalam melakukan wawancara
mendalam, dilakukan wawancara secara kelompok yang biasanya dalam satu
kelompok terdiri dan antara 8-12 orang.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Salah satu bentuk wawancara dalanm kelompok yaitu setiap anggota
kelompok berperan aktiI dalam memberikan pendapat, persepsi, dan
kepercayaan disebut diskusi kelornpok terarah atau Iocus group discussion
(FGD). Pada prinsipnya, Kegiatan FGD terdiri dan tiga tahap berikut.
1. Persiapan
2. Pelaksanaan
. Analisis serta penulisan laporan
Kegiatan ini dilakukan dengan beberapa tahapan berikut:
1. Tahap persiapan
a. Pada tahap persiapan dilakukan kegiatan-kegiatan berikut.
Menentukan lokasi FGD
b. Menentukan kriteria sasaran dan jumlah peserta dalarn satu
kelompok dan banyaknya kelompok yang disesuaikan dengan
kebutuhan. Misalnya, diskusi kelompok terarah untuk mengetahui
pendapat mesyarakat tentang keberadaan bidan desa di Jawa Barat
yang terdiri dan kelompok ibu-ibu pasangan usia subur, ibu-ibu yang
mempunyai balita, tokoh masyarakat, dan kelompok ibu hamil (Eko
Budiarto, 1992).
c. Mencari responden yang sesuai dengan krtieria yang telah
ditentukan. Dalam satu kelompok diusahakan sehomogen rnungkin
dalam hal umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan tingkat sosial.
Hal ini dimaksudkan agar setiap peserta dapat berperan aktiI dalam
diskusi. Namun, beberapa ahli berpendapat hahwa homogenitas
dalam satu kelompok tidak mutlak asalkan antar-peserta diskusi tidak
terdapat perbedaan yang besar terutama dalam tingkat sosial
ekonomi, umur dan tingkat pendidikan, dan semuanya berkaitan
dengan materi pokok diskusi yang sama.
d. Menentukan Iasilitator yang akan memimpin diskusi. Dalarn FGD,
Iasilitator diusahakan mernpunyai jenis kelamin yang sama dengan
peserta diskusi, tapi hal ini tidak mutlak. Fasilitator harus memahami
masalah yang didiskusikan,
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

e. Mempersiapkan pencatat (transkriper) dan sarana lain yang
dibutuhkan, seperti tempat diskusi yang nyaman, tape recorder, dan
dokumentasi.

2. Tahap pelaksanaan
Diskusi kelompok terarah dilakukan dengan teknik berikut.
a. Fasilitator membimbing diskusi dan tidak bersiIat menggurui, tetapi
harus memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta
untuk menceritakan pendapatnya atau pengalamannya.
b. Fasilitator hendaknya tidak mengemukakan pendapatnya tentang
masalah yang dibahas sebelum diskusi selesai. Bila terdapat peserta
yang menanyakan pendapat Iasilitator, hendaknya dialihkan pada
peserta yang lain, katakan hahwa pendapat anda akan diuraikan
setelah diskusi selesai dan saat ini silakan pendapat peserta yang
lain lebih dahulu.
c. Bila dalam satu kelompok terdapat peserta yang mendominasi dan
kurang memberi kesempatan pada peserta yang lain untuk
mengemukakan pendapatnya, hal ini dapat diatasi dengan cara
berikut:
1. Pendapat pertama menyatakan bahwa biarkan saja dia
berbicara dan jangan dipotong perbicaraannya karena bila
yang bersangkutan tersinggung, kemungkinan besar orang
tersebut segan untuk berhicara.
2. Pendapat yang kedua menyatakan bahwa Iasilitator harus
menginterupsi pembicaraannya dan menyatakan bahwa
kekhawatiran akan tersinggung tidak beralasan karena hal
tersebut sudah merupakan siIat orang yang bersangkutan
dalam pergaulan hingga ia telah biasa pembicaraannya
diinterupsi.
Pendapat yang mana yang akan diikuti terserah Iasilitator yang memimpin
diskusi

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

3. Tahap analisis
Analisis hasil diskusi dan penarikan kesimpulan hendaknya dilakukan oleh
Iasilitator dengan saksama dan hati-hati. Di samping itu, terdapat pendapat
lain dalam analisis yaitu analisis dilakukan oleh beberapa orang kemudian
hasil analisis diakurkan dan bila terdapat hal-hal yang tidak sesuai maka
dilakukan diskusi untuk diambil kesepakatan. Hal mi dimaksudkan untuk
mengurangi Iaktor subjektiI Iasilitator.
Pengumpulan data dengan FGD mempunyai beberapa keuntungan dan
kerugian yaitu: dengan FGD dapat diperoleh inIormasi mendalam yang tidak
dapat diperoleh dengan wawancara atau angket, sedangkan kerugian yang
diderita dengan FGD adalah terbatasnya jumlah Iasilitator yang andal dan
kesimpulan yang ditarik bersiIat subjektiI.

2.5.5 $kala ukuran

Dalam pengumpulan data melalui wawancara atau angket, jawaban responden
berbeda-beda dalam intensitas, misalnya program pelayanan kesehatan yang
dilaksanakan di puskesmas atau rumah sakit, akan kita temukan jawaban dari
yang sangat setuju sampai yang sangat tidak setuju. Untuk menempatkan
jawaban yang sesuai dengan posisinya, disusun jenjang ukuran atau skala.
Untuk skala ukuran ini, kita mengenal 4 macam skala, yaitu:
1. Skala nominal,
2. Skala ordinal,
. Skala interval, dan
4. Skala rasio.
Masing-masing skala akan diuraikan secara singkat di bawah mi.
$kala nominal
alaupun dimasukkan dalam ukuran skala, data dengan skala nominal pada
hakikatnya tidak memiliki jenjang dan perbedaan yang dicantumkan hanya
menunjukkan perbedaan dalam subkategori secara kualitatiI. Ini berarti bahwa
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

posisi pada data dengan skala nominal tidak mempunyai arti kuantitatiI. Data
nominal diperoleh pada pertanyaan dengan jawaban 'ya atau 'tidak atau
pertanyaan yang bersiIat kategori, seperti jenis kelamin, agama, dan suku
bangsa
Pada data dengan skala nominal, semua siIat yang sama disatukan dalam
subkategori kemudian Irekuensinya dijumlahkan dan dihitung persentase dan
masing-masing subkategori. Dengan kata lain, data dengan skala nominal
hanya dapat dihitung distribusi Irekuensinya, baik absolut maupun relatiI dan
kumulatiI. Misalnya, apakah anda menggunakan sarana pelayanan kesehatan
yang terdapat di daerah anda? Jawaban berupa:
1. a
2. Tidak
Pengumpulan data dengan skala nominal mempunyai heberapa keuntungan,
yaitu:
1. Mudah dijawab,
2. Mudah diolah, dan
. Hasilnya dapat digunakan untuk membandingkan dengan
daerah lain.
Di samping keuntungan, terdapat pula kerugian pada skala nominal yaitu:
1. InIormasi yang diperoleh tidak mendalam,
2. Jawaban sering dipaksakan karena tidak terdapat pilihan
yang lain, dan
. Tidak dapat membedakan antar-data secara kuantitatiI

$kala ordinal
Data dengan skala ordinal digunakan untuk mengklasiIikasikan jawaban
responden seperti pada data dengan skala nominal, tetapi pada data dengan
skala ordinal telah terdapat jenjang walaupun hanya bersiIat kualitatiI yang
berarti bahwa meskipun urutan antar-subkategori mempunyai perbedaan atau
jenjang, letapi jarak antara subkaegori tidak sama dan tidak tetap.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com 8

Jadi, dari data dengan skala ordinal hanya dapat diketahui bahwa satu
subkategori berbeda dengan subkategori yang lain dan satu subkategori
mempunyai jenjang yang lebih tinggi dibandingkan dengan subkategori yang
lain. Misalnya, insidensi penyakit diare yang terjadi selama satu tahun di
daerah A sebesar 0 kasus; daerah B, 7 kasus; dan daerah C, 5 kasus. Dan
hasil tersebut dapat dikatakan bahwa di daerah A kasus diare terbanyak dan
diikuti daerah B dan daerah C. Perbedaan antar jenjang terhadap tingginya
insidensi kasus diare tidak sama dan tidak tetap.

$kala interval
Data dengan skala inierval memiliki ciri-ciri data dengan skala nominal dan
ordinal. Dan data dengan skala nominal dapat kita ketahui hahwa satu
subkategori berbeda dengan subkategori yang lain, sedangkan pada data
dengan skala ordinal, kita dapat membedakan satu subkategori lebih tinggi
daripada subkategori yang lain.
Dengan data yang berskala interval, kita dapat menyatakan kelebihan atau
kekurangan satu subkategori terhadap suhkatagori lain secara kuantitatiI
dengan angka. Misalnya. Suhu badan penderita A 8,5C dan penderita B
9,5C. Dapat dikatakan bahwa suhu penderita B berbeda dengan suhu
penderita A dan penderita B memiliki suhu yang lebih tinggi 1 C daripada A

$kala rasio
Pada data dengan skala rasio, selain memiliki ciri-ciri ketiga skala yang telah
dibahas di atas juga memiliki titik nol yang absolut. Misalnya, umur A 15
tahun dan umur B 0 tahun. Dapat dikatakan bahwa umur B dua kali umur A.



}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com 9

2.6Pengolahan data

Pengolahan data ialah proses penataan, karena data hasil pengumpulan merupakan data
kasar. Seorang peneliti, sewaktu merencanakan penelitiannya seharusnya sudah
mempunyai rencana pengolahannya, apakah akan diolah dengan menggunakan tangan
(manual) atau akan diolah secara elektronik dengan komputer, begitu pula tabel-tabel
yang dihasilkan. Pertanyaan-pertanyaan, dalam kuesioner harus sudah mencerminkan
apa yang akan ditabelkan sesuai dengan rencana tabulasi tadi.
Pengolahan yang baik, tangan (manual) atau elektronik akan menghasilkan keluaran
yang dapat berbentuk tabel, graIik atau ringkasan seperti jumlah, angka rata-rata,
presentasi, proporsi, ratio, angka indeks, koeIisien korelasi dan regresi. Bila jumlah
sampel sangat besar dan jumlah variabel sangat banyak, maka pengolahan data manual
kurang eIektiI karena keterbatasannya, yaitu dalam hal ketelitian, kecermatan dan
kecepatan. Dalam keadaan demikian pengolahan data elektronik dengan komputer
dapat memecahkan keterbatasan tersebut.
Namun demikian perlu diperhatikan bahwa apapun cara pengolahan data yang dipakai,
baik manual maupun elektronik langkah-langkah pokok sama saja. Langkah-langkah
pokok pengolahan data adalah sebagai berikut:
1. Editing (memeriksa data)
2. Coding (memberi kode)
. Tabulating data (tabulating)
Ketiga proses tersebut diatas disebut edisi

A. Memeriksa data (Editing)
ang dimaksud proses editing ialah memeriksa data yang dikumpulkan yang berupa
daItar pertanyaan, kartu buku register dan lain-lain.
Pemeriksaan data meliputi:
1. Menjumlah:
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

ang dimaksud menjumlah ialah menghitung banyaknva lembaran daItar
pertanyaan, yang telah diisi untuk mengetahui apakah sesuai dengan jumlah
yang ditentukan. Bila terdapat kekurangan, dapat segera dicari sebabnya dan
diatasi, sebaliknya bila terdapat jumlah yang berlebih, yang mungkin terjadi
karena pencatatan unit yang tidak termasuk dalam sampel, dapat segera
diketahui dan diambil tindakan

Selain diatas, termasuk pula dalam jumlah pendapatan perkapita pertahun,
dilakukan dengan menanyakan jumlah pengeluaran per hari per keluarga,
maka perhitungan pengeluaran perhari menjadi pendapatan perkapita per
tahun dilakukan dalam prose pengolahan ini.

2. Korelasi
ang dimaksud dengan proses korelasi ialah proses membenarkan atau
menyelesaikan bila terdapat hal-hal yang salah atau tidak jelas, misalnya:
a. Memeriksa apakah semua pertanyaan telah diisi
b. Apakah ada jawaban sesuai dengan pertanyaan
c. Terdapat tulisan yang kurang jelas
d. Terdapat kesalahan dalam pengisian, misalnya berat badan anak balita
diisi dengan 45 kg.
Terdapat keadaan diatas dapat diselesaikan dengan cara menanyakan kembali
pada responden, atau pewawancara dan bila hal tersebut tidak dapat dilakukan
maka peneliti yang memutuskan.

B. Pemberian Kode (Coding)
Pemberian kode ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam pengolahan data,
terutama data dengan klasiIikasi, Misalnya : jenis kelamin, untuk laki-laki diberi kode
1 untuk wanita diberi kode II. Untuk tingkat pendidikan kode yang biasa digunakan
adalah sebagai berikut:
O Tidak sekolah kode 0
O SD kode l
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

O SLTP kode 2
O SLTA kode
O Perguruan tinggi kode 4
O Lain-lain kode 6
Selain terdapat keuntungan, yaitu memudahkan proses pengolahan, terdapat juga
kerugian, yaitu seringnya terjadi kesalahan dalam menulis kode, misalnya kode
untuk SLTP dan sebagainya. Hal ini dapat menimbulkan kesalahan. Untuk
meniadakan atau memperkecil kesalahan ini pengisian harus dilakukan dengan teliti.
Pemberian kode ini dapat dilakukan sebelum atau sesudah penelitian dilaksanakan.
Dalam pengolahan selanjutnya kode-kode tersebut harus diterjemahkan kembali
kedalam variabel aslinya

C. Menyusun data (Tabulating)

ang dimaksud dengan menyusun data ialah mengorganisir data sedemikian rupa
hingga mudah dijumlah, disusun dan disajikan dalam bentuk tabel atau graIik
Pelaksaaan tabulasi: Dibutuhkan alat-alat seperti : pensil, kertas, kartu, penggaris,
kalkulator, mesin tik
a. Metoda Tally
ang dimaksud dengan metoda Tally ialah menghitung variabel dengan cara
membuat coretan berupa garis-garis tegak sebanyak 4 buah, diikuti dengan
garis melintang yang memotong keempat garis tadi. Cara ini juga dikenal
dengan 'cross Iive. Cara ini hanya digunakan pada data yang variabelnya
tidak banyak dan jumlah observasi yang tidak banyak, karena sering terjadi
kesalahan. Bila hal ini terjadi maka seluruh perhitungan harus diulang kembali
dan awal

Cara pelaksanaan:
1. Buatlah semacam tabel
2. Tulislah variabel yang diinginkan
. Jumlahkan semua garis-garis tally sesuai dengan variabel
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Contoh: proses tabulasi dalam satu wilayah

b. Dengan menggunakan kartu
Ada dua macam kartu yang digunakan
. Kartu tanpa lubang. Prinsip perhitungan dengan menggunakan kartu ini ialah
menuliskan semua kode dan daItar pertanyaan kedalam kartu, kemudian kode
yang sama disatukan dan dijumlah
. Kartu dimana tepinya lubang diberi kode, untuk kode yang sesuai dengan
daItar pertanyaan lubangnya digunting, setelah semua kartu dikerjakan, kartu-
kartu tersebut ditumpuk dan pada lubang digunting ditusuk dengan kawat,
maka kartu dengan lubang yang digunting akan jatuh dan dihitung jumlahnya.
Hal-hal yang serupa dilakukan pada kode-kode yang lain. Setelah jumlah
semua variabel dihitung lalu dibuat tabel.
Keuntungan dan kerugian penggunaan kartu.
Pengolahan dengan menggunakan kartu tanpa lubang atau dengan lubang mempunyai
keuntungan dan kerugian sebagai berikut:
Keuntungan:
1. Perhitungan lebih cepat daripada metoda tally
2. Dapat digunakan untuk jumlah dan variabel yang banyak terutama pada kartu
tanpa lubang
. Data dapat disimpan dan digunakan kembali bila perlu
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Kerugian:
1. Menggunakan kartu membutuhkan biaya yang lebih besar daripada metoda
tally.
2. Sering terjadi kesalahan dalam memindahkan data dan daItar pertanyaan
kedalam kartu
Pengolahan data diatas (Metoda Tally, menggunakan kartu) sering digunakan pada
penelitian deskriptiI yang analisisnya ditampilkan dengan univariat atau bivariat
dalam bentuk presentasi atau proporsi.

EDP (Electronik Data Processing)
Metoda ini dilakukan dengan menggunakan komputer, untuk itu diperlukan
pengetahuan dasar komputer serta beberapa program aplikasi. Program-program
komputer ini sering dilakukan pada penelitian analitik (Kasus kantrol, kohort studi,
eksperimen), ataupun disain penelitian Cross sectional

2.7Penyajian data

Setelah data dikumpulkan dan diolah, tindakan selanjutnya penyajian data agar orang
dapat memahami hasil penelitian, karena itu penyajian ini harus bersiIat sederhana.
Penyajian data adalah pemaparan data hasil penelitian yang disusun secara teratur.

Penyajian data berguna agar orang lain dengan mudah memperoleh gambaran,
mengadakan perbandingan atau meramalkan hasil penelitian Cara penyajian data
penelitian dilakukan melalui berbagai bentuk. Pada umumnya dikelompokkan menjadi
tiga, yakni:
1. Penyajian data dalam bentuk teks (textuler)
2. Penyajian data dalam bentuk tabel
. Penyajian data dalam bentuk graIik


}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

1. Penyajian data dalam bentuk teks (tekstuler)

Secara umum penggunaan ketiga bentuk penyajian itu berbeda. Penyajian data
dalam bentuk textuler biasanya digunakan dalam penelitian atau data kualitatiI.
Penyajian dalam bentuk tabel digunakan untuk data yang sudah diklasiIikasi dan
ditabulasi. Tetapi apabila akan diperlihatkan atau dibandingkan secara kuantitatiI,
maka disajikan dalam bentuk graIik, meskipun demikian pada praktek, ketiga
bentuk penyajian data dipakai secara bersamaan, karena memang saling melengkapi
Penyajian data dalam bentuk textuler adalah penyajian data hasil penelitian dalam
bentuk kalimat. Misalnya penyebaran malaria didaerah pedesaan pantai lebih tinggi
bila dibandingkan dengan penduduk pedesaan pedalaman. Penyajian data dalam
bentuk tabel adalah penyajian data dalam sistematik dan pada data numerik yang
tersusun dalam kolom dan jajarannya. Sedangkan penyajian data dalam bentuk
graIik adalah suatu penyajian data secara visual. Penyajian data dalam bentuk
kuantitatiI sering menggunakan tabel dan graIik.

2. Penyajian data dalam bentuk tabel (table presentation)

Penyajian data dalam bentuk tabel adalah penyajian data dalam bentik angka yang
disusun secara teratur dalam kolom-kolom dan baris. Untuk membuat tabel perlu
diupayakan agar tabel dapat mudah dimengerti, mudah dibaca, dan cara menulis
tabel betul. Sebagai patokan/acuan dalam menulis tabel adalah sebagai berikut:

a. Judul : harus jelas, singkat, dan lengkap dan mengenai sasaran (selI
explanation). Menjelaskan apa, kapan, dan dimana, bukan menerangkan
tujuan tabel
b. Stup : memberi penjelasan rinci tentang isi dan badan tabel
c. Box head : termasuk semua kepala kolom, memberi keterangan tentang
tiap kolom dan badan tabel
d. Body : terdiri atas kolom-kolom dan hanya berisi angka.

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Bagian lain dari tabel:
a. Total atau jumlah
b. No.tabel
c. Sumber tabel
d. Keterangan simbol
Judul tabel:
------- Box head ----- Total




Total Grand total
atatan kaki .
Sumber :

Jenis-jenis label:
1. Tabel umum disini adalah suatu tabel yang berisi seluruh atau variabel hasil
penelitan. Pentingnya tabel ini adalah:
O Menyajikan data aslinya, sehingga dapat dipakai untuk rujukan tabel
khusus
O Menjadi sumber keterangan untuk data asli
O Sebagai penyusun tebel khusus

Oleh karena itu tabel umum ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
O Berisi keterangan beraneka ragam tentang subyek yang sama atau
berisi semua variabel yang diteliti (data yang dikumpulkan)
O Berisi keterangan yang mudah dipakai untuk rujukan
O Nilai yang dimaksud adalah nilai asli dan belum dibulatkan


Stub Body
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Tabel 2

Contoh: Jumlah kelahiran hidup menurut ras ibu dan yang menolong di kota X tahun 1994

2. Tabel khusus
Tabel khusus adalah merupakan pejabaran atau bagian dan tabel umum, ciri
utama tabel khusus ialah angka-angka dapat dibulatkan dan hanya berisi
beberapa variabel saja Gunanya tabel khusus antara lain untuk menggambarkan
adanya hubungan atau asosiasi khusus, dan menyajikan data terpilih (selective)
dan dalam bentuk sederhana. Tabel ini bentuknya bermacam-macam antara lain:
a. Tabel univariat
Adalah suatu tabel yang menggambarkan penyajian data untuk satu
variabel saja.
Tabel


Contoh: Distribusi umur periode, Jakarta 1987


}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

b. Tabel Bivariat
Adalah suatu tabel yang menyajikan data dari dua variabel secara silang,
oleh sebab itu tabel ini sering disebut tabel silang (Cross tabel). Tabel
bivariat ini mempunyai banyak modiIikasi, disamping menyajikan nilai-
nilai dua presentasi, kadang-kadang masing variabel terdiri atas sub
variabel misalnya, pendapatan rendah, menengah dan tinggi.

Tabel 4.

Contoh: Distibusi jenis kelamin terhadap pengetahuan dan sikap terhadap
AIDS di kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa barat.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tabel khusus:
1. Tabel khusus harus sesederhana mungkin, artinya lebih baik membuat 2
tabel atau lebih dan pada satu tabel khusus yang padat dan rumit.
2. Tabel khusus harus jelas sehingga mudah dimengerti, artinya tiap kolom
dan baris harus ada judul yang jelas, judul harus dapat menjawab
pertanyaan apa itu, kapan terjadi dan dimana.
. Apabila tabel tersebut diambil dan sumber lain (bukan hasil penelitian
sendiri) haruss disebutkan sumber atau rujukannya.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com 8


c. Tabel Irekuensi distribusi
O Terdiri dan dua kolom yaitu kelas interval dan kolom Irekuensi
O Dapat digunakan untuk menyajikan data kualitatiI dan kuantitatiI
O Dalam stub terdapat kelas-kelas dan data yang telah
dikelompokkan, pada kolom kedua berisi Irekuensi
Tabel 5

Contoh: Distribusi berat badan bayi yang mengunjungi Puskesmas X
dalam bulan Juni 1974

d. Tabel multi variat, adalah tabel yang menyajikan data lebih dari dua
variabel atau banyak variabel artinya variabel-variabel yang dianalisis
menggunakan program komputer tertentu misalnya Program Epi-inIo
version, Stata Egreet, (Penelitian analitik)

3. Penyajian data dalam bentuk grafik (gambar)

Tujuan:
O Untuk meramalkan siIat-siIat suatu agregat
O Untuk membandingkan siIat-siIat yang ada dalam tabel
Jenis-jenis graIik.
1. GraIik Batang
a. Histogram
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com 9

Untuk menyajikan distribusi Irekuensi dan data kontinue. Hal yang perlu
diperhatikan adalah:


b. Bar Diagram
O Untuk menyajikan Irekuensi dan data diskrit
O Horizontal bar dan vertikal Bar yang dibuat tergantung ruang
yang tersedia
ang termasuk Bar diagram adalah;
Single bar diagram

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com


ultiple Bar

2. GraIik garis
a. Poligon
Untuk membandingkan graIik tersebut dengan beberapa agregat

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com



b. Dalam bentuk graIik atau diagram


c. Pie diagram

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

d. Pictogram



e. GraIik tebar (seater diagram)

Digunakan untuk membandingkan atau mengetahui hubungan dua variabel
yang berpasangan sehingga dapat diketahui kecendrungan atau
korelasinya.



2.8Analisis pembahasan

Setelah penyajian data dilakukan, data tersebut selanjutnya dianalisis atau dibahas.
Pembahasan data tersebut didasari atas tiga aspek yaitu data tersebut dibahas atas
dasar:
1. Penelitian-penelitian terdahulu.
2. Substansi (buku-buku teks).
. Logika (narasi)
Dalam tahap ini data diolah dan dianalisis dengan tehnik-tehnik tertentu. Data
kualitatiI diolah dengan tehnik analisis kualitatiI, sedangkan data kuantitatiI dengan
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

mengunakan tehnik analisis kuantitatiI Untuk mengolah tehnik dilakukan dengan
manual (tangan) atau dengan komputerisasi. Dalam pengolahan ini dilakukan tabulasi
data dan perhitungan-perhitungan statistik.
Analisis dapat dibedakan tiga macam:
1. nalisis Univariat
Analisis ini dilakukan terhadap tiap-tiap variabel (satu variabel) penelitian.
Pada umumnya dalam analisis itu hanya menghasilkan distribusi dan
presentasi dari tiap vaniabel, misalnya distribusi penyakit yang ada didaerah
tertentu, distribusi umur responden dan sebagainya.

2. nalisis bivariat.
Analisis yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau
korelasi:, misalnya variabel umur dengan variabel penyakit Jantung, variabel
jenis kelamin dengan variabel yang diderita dan sebagainya, dalam analisis
bivariat dapat dilakukan uji statistik, Chi square (X)2, t test, Z test dan
sebagainya (penelitian analitik). Ataupun hanya dianalisis dengan melihat
besarnya proporsi antara satu variabel dengan variabel yang lain (penelitian
deskriptiI

. Analisis Multivariat
Analisis multivariat yang dilakukan terhadap lebih dan dua variabel. Biasanya
hubungan antara satu variabel terikat atau dependen, dengan variabel bebas atau
independen.

Berdasarkan siIat data, tehnik, analisis data dapat dibedakan menjadi dua yakni:
1. Tehnik analisis kualitatI
Seperti disebut diatas bahwa untuk data kualitatiI dilakukan dengan tehnik
analisis kualitatiI. Dan tehnik ini digunakan proses berpikir induktiI artinya
artinya dalam pengujian hipotesis-hipotesis bertitik tolak dari data yang
terkumpul. Proses berpikir induktiI dimulai dan keputusan-keputusan khusus
(data yang terkumpul) kemudian diambil kesimpulan secara umum. Tehnik ini
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

biasanya digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari metode
observasi, wawancara tak terstruktur (wawancara mendalam) dan diskusi
kelompok.

2. Tehnik analisis kuantitatI
Tehnik ini juga disebut tehnik Statisitik, yang digunakan untuk mengolah data
yang berbentuk angka, baik sebagai hasil pengukuran maupun hasil konversi
dari data kualitatiI. Tehnik analisis ini lebih banyak digunakan dalam
penelitian, karena lebih tepat dibandingkan dengan tehnik analisis kualitatiI.

Pengujian hipotesis

Dalam penelitian kuantitatiI, untuk menguji hipotesis-hipotesisnya digunakan
rumusan hipotesis nol atau hipotesis statistik. Dalam metode statistik pengujian ini
dilakukan dengan berbagai uji statistik atau rumus sesuai dengan masalah atau metode
yang digunakan. Berdasarkan hasil pengujian (perhitungan statistik) tersebut hipotesis
diterima atau ditolak. Hipotesis nol dirumuskan, dalam kalimat 'tidak ada perbedaan
atau tidak ada hubungan misalnya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita
dalam menderita penyakit jantung. Apabila hipotesis ini diterima, memang jumlah
kasus penyakit jantung pada kaum pria dan wanita sama saja, tetapi apabila hipotesis
ditolak berarti jumlah penderita penyakit jantung pada kaum pria dan wanita berbeda.

Penafsiran dan penyimpulan

PenaIsiran hasil penelitian dilakukan hanya untuk mencari penaIsiran terhadap hasil
pengolahan data sehingga membentuk hasil penemuan ilmiah (scientific finding).
Dalam menaIsirkan hasil penelitian, peneliti boleh menggunakan asumsi-asumsi atau
pemikiran sendiri. Misalnya dari suatu penelitian ditemukan bahwa umur rata-rata
orang 1aki-1aki dan pada umur wanita lebih kecil.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Peneliti dapat menaIsirkan sebab-sebab terjadinya perbedaan-perbedaan tersebut
karena orang laki-laki lebih terpapar dengan dunia luar, bekerja lebih berat dari kaum
wanita (Iisik), dan sebagainya. Sedangkan kesimpulan adalah hasil dan proses berIikir
induktiI dan penemuan penelitian tersebut dan sebagai hasil dari pembuktian
hipotesis. Kesimpulan dibuat dengan rnemperlihatkan beberapa kriteria sebagai
berikut:
1. Harus disebut secara jelas dan tepat.
2. Kesimpulan merupakan hasil pengujian hipotesis dengan didukung oleh
data.
. Dapat mencerminkan batas-batas berlakunya (apakah dapat berlaku
seluruh, populasi atau hanya hanya terbatas pada bagian populasi saja)
4. Merupakan rekapitulasi berbagai inIormasi yang diberikan sebelumnya
atau pembuktiannya.
5. Dapat memberikan penjelasan tentang masalah yang diteliti.
6. Mencerminkan adanya penerimaan atau penolakan hipotesis yang diuji
dengan data.
7. Dapat menentukan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap
masalah yang lain berhubungan dengan hasil penelitian tersebut.

2.9Ukuran morbiditas dan mortalitas

Rasio, proporsi, dan angka
Data yang terkumpul masih merupakan data kasar yang perlu diolah untuk dianalisis
dan ditarik kesimpulan. Hasil pengolahan berupa nilai absolut dengan ciri-ciri berikut:
1. Berupa jumlah
2. Diperoleh dengan cepat
. Tidak dapat digunakan untuk membandingkan
Agar data morbiditas dan mortalilas dapat digunakan unuk membandingkan maka
data absolut diubah menjadi data relatiI. Dalam epidemiologi, ukuran yang banyak
digunakan dalam menentuan morbiditas dan mortalitas adalah angka, rasio, dan
proporsi.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Rasio
Rasio merupakan nilai relatiI yang dihasilkan dari perbandingan dua nilai kuantitatiI
yang pembilangnya tidak merupakan bagian dari penyebut. Misalnya, sebuah nilai
kuantitatiI A dan nilai kuantitatiI lain adalah B maka rasio kedua nilai tersebut adalah
A/B.
Contoh: Pada suatu kejadian luar biasa keracunan makanan terdapat 2 orang
penderita dan 12 diantaranya adalah anak-anak maka rasio anak terhadap orang
dewasa adalah:
12/20 0,6

Proporsi
Proporsi ialah perbandingan dua nilai kuantitatiI yang pembilangnya merupakan
bagian dari penyebut. Pada proporsi, perbandingan menjadi: A/(A B). Pada contoh
di atas proporsi menjadi:
12 / (12 20) 0,75
Bila proporsi dikalikan 100 disebut persen () sehingga persentase pada contoh di
atas menjadi 7,5.

Angka
Angka merupakan proporsi dalam bentuk khusus-perbandingan antara pembilang dan
penyebut dinyatakan dalam batas waktu tertentu.
Insidensi merupakan kasus baru suatu penyakit yang terjadi dalam kurun waktu
tertentu. Ini merupakan cara terbaik untuk menentukan risiko timbulnya penyakit.
Angka insidensi
Batasan untuk angka insidensi ialah proporsi kelompok individu yang terdapat dalam
penduduk suatu wilayah atau negara yang semula tidak sakit dan menjadi sakit dalam
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

kurun waktu tertentu dan pembilang pada poporsi tersebut adalah kasus baru.
Rumusnya sebagai berikut.
p (d/n) x k
p estimasi angka insidensi
d jumlah kasus haru
n jumlah individu yang awalnya tidak sakit
k konstanta
atau jumlah kejadian dalam kurun waktu tertentu dibagi penduduk yang mempunyai
risiko (population at risk) terhadap kejadian tersebut dalam kurun waktu tertentu
dikalikan dengan konstanta 'k
Angka insidensi Jumlah kejadian dalam waktu tertentu x k
Jumlah populalion at risk waktu tertentu

Misalnya, angka insidensi kematian penduduk negara A karena penyakit jantung pada
tahun 1990 adalah 247 per 100.000 penduduk. Angka tersebut merupakan hasil
perhitungan menggunakan rumus berikut
Jumlah kematian karena penyakit jantung di negara A pada tahun 1990 x 100.000
Jumlah penduduk di negara A pada tahun 1990
.
Angka insidensi dalam epidemiologi merupakan ukuran yang penting dan banyak
digunakan hingga terdapat beberapa istilah yang digunakan oleh berbagai ahli
epidemiologi. Misalnya, incidence rate atau cumulative incidence rate (Miettenen,
1976) atau attack rate (LilienIeld A.M.and D.E.. LilienIeld, 1980).

Beberapa pertimbangan
Untuk memperoleh insidensi harus dilakukan dengan melakukan pengamatan
kelompok penduduk yang rnempunyai risiko terkena penyakit yang ingin dicari
dengan cara mengikuti secara prospektiI untuk menentukan insidensi kasus baru.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com 8

Untuk menghitung angka insidensi hendaknya mempertimbangkan beberapa hal
berikut.
1. !engetahuan tentang status kesehatan populasi studi. Kelompok individu
dalam populasi harus ditentukan status kesehatannya diklasiIikasikan menjadi
'sakit atau 'tidak sakit. Penentuan ini dapat dilakukan melalui catatan yang
ada atau melalui penyaringan atau pemeriksaan lain. Hal ini penting untuk
menentukan keadaan awal bahwa penyakit yang diteliti pada kelompok
individu belum terjadi. Selain itu, penentuan keadaan tersebut juga penting
bila hasilnya akan dibandingkan dengan kelompok lain karena kedua
kelompok yang akan dibandingkan angka insidensinya harus komaparabel
dengan variabel-variabel penting yang sama antara kedua kelompok.

2. enentukan waktu awal penyakit. Menentukan kriteria diagnostik saat mulai
timbulnya penyakit bagi kelompok penduduk yang akan dicari insidensinya
merupakan hal yang sangat penting. Dalam beberapa hal, penentuan ini relatiI
mudah ditentukan dengan timbulnya gejala, misalnya:
a. inIluenza,
b. gastroenteritis,
c. inIark miokard akut atau
d. serebral haemoragi

alaupun demikian, kadang-kadang kita mengalami kesulitan menentukan awal
dari penyakit terutama penyakit-penyakit kronis yang awalnya tidak menunjukkan
gejala yang khas. Dalam hal demikian hendaknya digunakan tanda-tanda sedini
mungkin yang dapat ditentukan secara objektiI. Misalnya, penyakit kanker
ditentukan saat terdiagnosis secara pasti sebagai awal terjadinya penyakit dan
bukannya ditentukan berdasarkan keluhan yang dirasakan oleh penderita atau
adanya kecurigaan dokter yang memeriksanya.

. Spesifikasi penyebut Bila penelitian epidemiologis untuk mencari insidensi
penyakit dilakukan dalam jangka waktu lama, tidak semua subjek studi dapat
mengikuti sepenuhnya sampai penelitian berakhir dan hal ini disebabkan
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com 9

sebagian ada yang meninggal karena penyakit lain, pindah atau mengundurkan
diri. Dengan alasan lain dan hanya mengikuti pengamatan sebagian waktu
maka batasan atau rumus angka insidensi yang telah dibahas sebelumnya
harus dilakukan perbaikan yaitu pada penyebut digunakan person time hingga
incidence rate disebut person years incidence rate. (Greenland 1981) atau
incidence density (Miettinen 1976) atau ha:ard (Gross & Clark 1975) atau
cummulative insidence rate, Perhitungannya dapat menggunakan rumus
berikut:
p d
(n w)

p estimasi cumulative incidence rate
d jumlah kasus baru
n jumlah person at risk
w jumlah yang mengundurkan diri
Bila diasumsikan bahwa semua yang mengundurkan diri terjadi pada pertengahan
tahun pengamatan maka jumlah yang mengundurkan diri menjadi w.
4. Spesifikasi pembilang yaitu fumlah orang vs fumlah kefadian. Contohnya,
dalam hal tertentu seseorang dapat mengalami sakit yang sama beberapa kali
dalam kurun waktu tertentu, misalnya inIluenza. Hal mi mengakibatkan
timbulnya dua angka insidensi dan data yang sama, yaitu angka insidensi
berdasarkan orang yang menderita dan angka insidensi berdasarkan kejadian
penyakitnya. Angka insidensi berdasarkan orang yang menderita dapat ditulis
dalam rumus berikut:
Angka insidensi jumlah orang yang menderita Ilu periode 1 tahun
Penduduk yang mempunyai resiko

Untuk Angka insidensi berdasarkan kejadian penyakitnya dinyatakan dalam rumus
berikut. Misalnya, untuk penyakit Ilu.
Angka insidensi jumlah Ilu periode 1 tahun
Penduduk yang mempunyai resiko

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Angka insidensi berdasarkan penyakit dapat lebih besar dibandingkan dengan angka
insidensi berdasarkan penderita karena dalam periode tertentu seseorang dapat
menderita penyakit yang sama lebih dari satu kali, terutama penyakit-penyakit yang
akut yang cepat semhuh dan sering relaps seperti common cold yang secara umum
dikenal sebagai penyakit Ilu.
5. !eriode pengamatan. Angka insidensi harus dinyatakan dalam kurun waktu
tertentu, biasanya satu tahun, tetapi dapat juga dalam periode waktu lain
asalkan cukup panjang. Misalnya, pada penyakit dengan Irekuensi yang sangat
sedikit membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Pada populasi besar, penyebut hendaknya menggunakan penduduk hasil sensus,
misalnya pada pengamatan insidensi penyakit TBC suatu kota. Pada populasi kecil
atau terbatas seperti sekolah atau industri, untuk penyebut digunakan individu yang
benar-benar tidak menderita sakit pada saat dilakukan pengamatan. Untuk penyakit
dengan insidensi yang terjadi dalam waktu yang pendek digunakan istilah ttack #ate
(LilienIeld and LilienIeld, 1980).
Angka prevalensi
Untuk prevalensi terdapat dua ukuran, yaitu point prevelence (prevalensi sesaat) dan
periode prevalence (prevalensi periode).
Point prevalence Jumlah semua kasus yang dicatat pada saat tertentu
Jumlah penduduk
Periode prevalence Jumlah semua kasus yang dicatat selama satu periode
Jumlah penduduk

Manfaat insedensi dan prevalensi
Angka insidensi dapat digunakan untuk mengukur angka kejadian penyakit.
Perubahan angka insidensi menunjukkan adanya perubahan Iaktor-Iaktor penyebab
penyakit, yaitu:
1. Fluktuasi alamiah dan
2. Prograrn pencegahan.

}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Bila Iluktuasi alamiah dapat diabaikan maka penurunan insidensi menujukkan
keberhasilan program pencegahan. ManIaat lain dari pengukuran insidensi ialah:
1. Ukuran insidensi banyak digunakan dalam penelitian epidemiologi
untuk mencari adanya asosiasi sebab-akibat;
2. Ukuran insidensi dapat pula digunakan untuk mengadakan
perbandingan antara berbagai populasi dengan pemaparan yang
berbeda;
. Ukuran insidensi dapat digunakan untuk mengukur besarnya risiko
yang ditimbulkan oleh determinan tertentu.

Ukuran prevalensi suatu penyakit dapat digunakan untuk:
1. Menggambarkan tingkat keberhasilan program pemberantasan
penyakit;
2. Penyusun perencanaan pelayanan kesehatan, misalnya penyediaan
sarana obat-obatan, tenaga, dan ruangan;
. Menyatakan banyaknya kasus yang dapat didiagnosis.

ubungan antara insidensi dan prevalensi
Angka prevalensi dipengaruhi oleh tingginya insidensi dan lamanya sakit. Lamanya
sakit ialah periode mulai didiagnosanya penyakit sampai berakhirnya penyakit
tersebut yaitu sembuh, mati, atau kronis.
Hubungan antara prevalensi, insidensi dan lamanya sakit dapat dinyatakan dalam
rumus berikut.
P I x D
P Prevalensi
I Insidensi
D Lamanya sakit
Hubungan tersebut akan tampak nyata pada penyakit kronis dan stabil.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Bila karena kemajuan teknologi bidang pengobatan suatu penyakit hanya dapat
menghindarkan kematian, tetapi tidak menyembuhkan maka pada keadaan ini
prevalensi akan meningkat meskipun tidak terjadi peningkatan insidensi. Sebaliknya,
adanya kemajuan teknologi kedokteran hingga suatu penyakit dengan cepat dapat
disembuhkan atau suatu penyakit yang dengan cepat menimbulkan kematian maka
prevalensi akan tetap, bahkan mungkin menurun meskipun terjadi kenaikan insidensi.
Penurunan prevalensi dipengaruhi oleh,
1. Menurunnya insidensi,
2. Lamanya sakit yang menjadi pendek, dan
. Perbaikan pelayanan kesehatan.
Gambar 1

Hubungan prevalensi, insidensi, dan lamanya penyakit.Sumber: orton R & Hebel, A
Study Guide to Epidemiology and Biostatislics, Epson Publisher lnc.1 984
Oleh karena itu, bila kita membandingkan prevalensi suatu penyakit antara beberapa
wilayah, harus diperhatikan ketiga Iaktor di atas agar tidak menimbulkan kesan yang
salah. Misalnya, bila kita membandingkan prevalensi suatu penyakit antara desa
dengan kota tanpa memperhatikan ketiga Iaktor tersebut maka kesimpulan yang
ditarik akan bias. Hal ini disebabkan Iasilitas pelayanan kesehatan yang terdapat di
kota jauh lebih baik dibandingkan di desa dengan akibat lama sakit di kota lebih
pendek hingga prevalensi penyakit serupa di kota lebih rendah daripada di desa.
Morbiditas merupakan masalah yang kompleks hingga HO Expert Commitee on
Health Statistics menganjurkan untuk mencantumkan hal-hal herikut.
1. Tujuan dan batasan yang digunakan.
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

2. Apakah insidensi, prevalensi sesaat, atau prevalensi periode yang digunakan.
. Berhubungan dengan satu atau beberapa penyakit.
4. aktu atau periode yang digunakan untuk pengamatan.
5. Penyebut yang digunakan.
Hal di atas dimaksudkan agar laporan dapat dibandingkan dengan laporan lain karena
bila tujuannya berbeda atau batasan yang digunakan berbeda atau ukuran yang
digunakan berbeda dan penyebut yang digunakan pun berbeda maka hasilnya akan
berbeda dan dalam hal ini tidak dapat dibandingkan dengan daerah atau negara lain.

Indeks mortalitas dan morbiditas
Angka kematian dan kesakitan merupakan indeks kesehatan yang penting dalam
mempelajari epidemiologi untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. Indeks
mortalitas dan morbiditas yang banyak digunakan dalam bidang epidemiologi adalah:
1. Angka kematian kasar (Crude death Rate CDR)
2. Angka kematian berhubungan dengan umur
a. Angka kematian menurut golongan umur
b. Angka kematian bayi
c. Angka kematian balita
d. Angka kematian neonatal
e. Angka kematian perinatal
I. Proporsi kematian balita
. Angka kematian berhubungan dengan sebab tertentu
a. Angka kematian karena sebab tertentu
b. Case Iatality rate
c. Angka kematian ibu
4. Angka morbiditas
}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com

Angka kematian kasar (Crude death Rate CDR)
Angka kematian kasar adalah jumlah kematian yang dicatat selama satu tahun per
1000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama. Angka ini disebut kasar karena
perhitungan kematian dilakukan secara menyeluruh tanpa memperhatikan kelompok-
kelompok tertentu di dalam populasi dengan tingkat kematian yang berbeda-beda.
Angka kematian kasar dapat ditulis dalam rumus berikut:
AKK jumlah kematian yang dicatat selama setahun x 1000
Jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama

Angka morbiditas
Angka morbiditas ialah jumlah penderita yang dicatat selama setahun per 1000
penduduk pertengahan tahun pada tahun yang sama. Rumusnya sebagai berikut

Angka morbiditas jumlah penderita yang dicatat selama setahun x 1000
Jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama

Angka ini dapat digunakan untuk:
a. Menggambarkan keadaan kesehatan secara umum
b. Mengetahui keberhasilan program pemberantasan penyakit
c. Mengetahui keadaan sanitasi lingkungan
d. Memperoleh gambaran pengetahuan penduduk terhadap pelayanan kesehatan







}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com



BAB 111
Penutup
Untuk melakukan satu penelitian epidemiologi diperlukan perencanaan yang betul dan tepat
agar penelitian yang dilaksanakan akan mendapatkan hasil akhir yang maksimal dan bisa
digunakan untuk dunia kesehatan. Daripada menentukan tujuan penelitian dan hipotesa
hinggalah pengumpulan, pengolahan, penyajian, dan analisis data semuanya harus dilakukan
dengan teliti. Pemelihan desain peneilitian yang tepat, sampel yang tepat, dan tehnik untuk
mendapatkan data yag tepat merupakan hal yang sangat penting untuk menentukan
keberhasilan penelitian epidemiologi.














}awahii Bin Naueaming 88 A manjukpaiisyahoo.com


Daftar pustaka

1. Sigarlaki H.J.O F. Metodologi penelitian kedokteran dan kesehatan. Cv.InIormedika,
Jakarta 200; hal 42-172, 194-257

2. Budiarto E, Anggraeni D. Pengatntar Epidemiologi ed2. Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta 200; 1-11,8-74,107-140

. Azwar.A. Pengantar epidemiologi ed1. Binapura Aksara, Jakarta 1997;9-71,11-140

4. Pramono.D. Rancangan penelitian di bidang kesehatan. Magister Epidemiologi
Lapangan, Universitas Gadjah Mada. Diunduh dari
http://www.kmpk.ugm.ac.id/images/Semester1/Epidemiologi/RancanganPenelitian
Epidemiologi.pdI. 11 Juli 2011.

5. Overview oI epidemiologi study designs. Diunduh dari
http://publichealth.jbpub.com/aschengrau/Aschengrau06.pdI. 11 Juli 2011

6. Mandil A. Study designs in epidemiology. High institute OI Public Health University
OI Alexandria.