Anda di halaman 1dari 57

Penyaluran air buangan

Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Perwujudan kondisi lingkungan yang sehat sangat erat kaitannya dengan penanganan
dan pengelolaan air buangan. Penanganan air buangan yang baik akan menghasilkan
lingkungan yang sehat, demikian sebaliknya penanganan air buangan yang salah akan
menimbulkan kondisi lingkungan yang tidak sehat.
Pengelolaan air buangan adalah upaya penyaluran dan pengolahan air buangan
sebelum dibuang ke badan air seperti sungai, danau, laut dan sebagainya. Air buangan yang
ditimbulkan tergantung pada pemakaian air untuk keperluan sehari-hari, sedangkan
pemakaian air besarnya selalu meningkat sesuai dengan pertambahan penduduk, kemajuan
teknologi, dan tingkat sosial. Oleh karena itu, perencanaan sistem penyaluran dan
pengelolaan air buangan mengacu pada konsumsi air minum.

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH
Seperti dikemukakan sebelumnya bahwa penyaluran air buangan berkaitan dengan
perwujudan kondisi lingkungan yang sehat, belum didukung sepenuhnya oleh kondisi
masyarakat sekarang ini. Sampai sekarang masih banyak penduduk yang kurang peduli
dengan air buangan yang mereka hasilkan.
Air buangan dapat berupa air buangan domestik yang berasal dari limbah rumah tangga
dan air buangan dari industri. Air buangan industri biasanya telah melewati instalasi
pengolahan air limbah sehingga ketika dibuang tidak mengganggu lingkungan. Sementara itu,
masalah terletak pada air buangan domestik yang dapat berupa buangan dari dapur maupun
kamar mandi.
Dalam dasar perencanaan sistem penyaluran air buangan seharusnya air buangan
dialirkan dalam saluran tertutup agar tidak terlalu mengganggu kesehatan masyarakatnya,
lingkungan, dan estetika kota.
Seperti diketahui bahwa sebagian besar masyarakat di Indonesia menggunakan sistem
tercampur dalam menyalurkan air buangan. Dimana air buangan dialirkan dalam satu saluran
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

drainase bersama air hujan. Saluran yang digunakan kebanyakan berupa saluran terbuka. Hal
ini mendorong terjadinya pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan, dan mengurangi
keindahan lingkungan, karena air buangan jika tidak mengalir secara lancar (menggenang)
dapat menimbulkan bau dan menjadi tempat berkembangnya vektor-vektor penyakit.
Sementara itu kondisi dari sistem drainase yang selama ini ada masih belum optimal
pemanfaatannya di beberapa lokasi. Kebiasaan-kebiasaan negatif masyarakat seperti
menjadikan saluran sebagai tempat pembuangan sampah dan sebagai tempat untuk berjualan
mengakibatkan aliran air menjadi terhambat hal ini disebabkan karena mayarakat tidak mau
membersihkan endapan lumpur di dasar saluran sehingga akhirnya menimbulkan masalah
baru bagi masyarakat itu sendiri. Tumpukan sampah dapat mengganggu aliran air buangan
sehingga sangat besar kemungkinan untuk terjadi genangan. Genangan-genangan ini,
akhirnya menimbulkan bau dan menjadi sarang nyamuk sehingga mengganggu kesehatan
masyarakat, lingkungan, maupun estetika.
Desain dari saluran yang telah ada juga dapat menimbulkan masalah. Beberapa saluran
yang melayani masyarakat di daerah dengan topografi rendah kadang tidak dibuat sesuai
aturan, misalnya tidak ada perbesaran dimensi saluran ketika aliran semakin ke hilir atau
dapat juga air tidak mengalir karena badan air penerima kondisi topografinya lebih tinggi
daripada salurannya. Kondisi saluran seperti ini sebenarnya memerlukan perlengkapan
penunjang, yaitu pompa. Akan tetapi pada kenyataannya di lapangan hal ini tidak terlaksana
karena keterbatasan dana dan perlu pemeliharaan yang optimal.

1.3 Pembatasan Masalah
Dari identifikasi masalah yang telah dilakukan sebelumnya, kami membatasi masalah
yang akan kami susun. Adapun yang akan menjadi bahasan dalam laporan ini adalah
bagaimana membuat suatu desain penyaluran air buangan menurut kondisi kawasan terpilih,
yaitu Kecamatan Wadaslintang, menentukan cara operasi dan pemeliharaan sistem
penyaluran air buangan yang telah didesain beserta bangunan-bangunan penunjangnya.

1.4 Rumusan Masalah
Perumusan masalah yang dapat dikemukakan sehubungan dengan perancangan sistem
penyaluran air buangan Kecamatan Wadaslintang adalah:
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

1. Bagaimana cara menghitung timbulan air buangan yang harus dialirkan dalam suatu
kawasan?
2. Teknologi seperti apa yang dapat dipilih dalam menangani penyaluran air buangan?
3. Bagaimana menentukan jalur perpipaan untuk menyalurkan air buangan dalam suatu
kawasan?
4. Bagaimana cara menentukan debit air buangan dalam pipa persil, pipa service, dan pipa
lateral?
5. Bagaimana cara menentukan dimensi maupun slope saluran air buangan agar air
buangan dapat mengalir dengan kecepatan yang ideal?
6. Bangunan-bangunan pelengkap apa saja yang diperlukan untuk menunjang penyaluran
air buangan di kawasan tersebut?
7. Bagaimana cara pengoperasian dan pemeliharaan sistem penyaluran air buangan beserta
bangunan-bangunan penunjangnya?

1.5 Rumusan Tujuan
Tujuan perancangan sistem penyaluran air buangan di Kelurahan Purwoyoso adalah
sebagai berikut:
1. Mengetahui timbulan air buangan di Kecamatan Wadaslintang.
2. Menentukan teknologi yang dapat digunakan dalam penyaluran air buangan.
3. Menentukan debit air buangan dalam pipa persil, pipa service, dan ipa lateral.
4. Menentukan dimensi saluran, slope saluran, dan kecepatan air buangan yang sesuai.
5. Menentukan bangunan-bangunan pelengkap yang diperlukan untuk menunjang
penyaluran air buangan di Kecamatan Wadaslintang.
6. Membandingkan kondisi sistem penyaluran air buangan di lapangan dengan kondisi
perancangan.
7. Menentukan alternatif-alternatif dalam pemeliharaan saluran air buangan.
1.6 Rumusan Manfaat
Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari perencanaan sistem air buangan di
Kecamatan Wadaslintang antara lain:
a Bagi masyarakat
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Perencanaan ini berguna sebagai bahan masukan dan pertimbangan kepada
masyarakat terhadap sistem penyaluran air bersih sebagai bagian dari perwujudan
lingkungan sehat, disamping penyediaan air bersih maupun pengelolaan sampah.
b Bagi penulis
Menambah wawasan dan pengetahuan tentang perencanaan sistem penyaluran air
buangan sebagai aplikasi dari materi yang didapat dalam perkuliahan.

























Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 METODE PROYEKSI PENDUDUK
Dalam perancangan sistem penyediaan air buangan di Kecamatan Ngaliyan ini masalah
jumlah penduduk yang ada di daerah perencanaan adalah hal yang utama. Jumlah penduduk
ini akan berpengaruh pada jumlah air buangan yang dihasilkan dan perencanaan dimensi
jaringan perpipaan saluran air buangan. Jumlah penduduk ini perlu diproyeksikan untuk
mengetahui jumlah penduduk sampai akhir periode perancangan.
Dalam analisis proyeksi penduduk digunakan beberapa metode, diantaranya metode
aritmatik, geometrik, least square, grafik, dan eksponensial. Dalam penyusunan tugas ini
penulis menggunakan metode aritmatik, geometrik, dan eksponensial.
1. Metode Aritmatik
Pn = Po + rn
Dimana : Pn : jumlah penduduk pada tahun n
Po : jumlah penduduk pada awal perhitungan
n : periode perhitungan
r : rasio pertambahan penduduk/tahun
Apabila rumus di atas diubah dalam bentuk regresi menjadi :
Pn = Po + m
y = b + ax
Dimana : Pn = y : jumlah penduduk pada tahun n
Po = b : koefisien
n = x : tahun dimana jumlah penduduk akan dihitung
r = a : koefisien x
2. Metode Geometrik
Pn = Po (1+r)
n

Dimana :Pn = Jumlah penduduk pada tahun n
Po = Jumlah penduduk pada awal
n = Periode perhitungan
r = Rasio pertambahan penduduk pertahun
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Rumus diatas dipindah dalam bentuk menjadi :
Log Pn = log Po + r log n
Log y = log b + a log x

Dimana : Log Pn = y = Jumlah penduduk pada tahun n
Log Po = b = Koefisien
Log n = x = Tahun penduduk yang akan dihitung
r = a = Koefisien x
3. Metode Eksponensial
Pn = e
m
+ Po
Dimana : Pn : jumlah penduduk pada tahun x
Po : jumlah penduduk pada awal perhitungan
n : periode perhitungan
r : rasio pertambahan penduduk/tahun
Apabila rumus di atas diubah dalam bentuk regresi menjadi :
ln Pn = m + ln Po
y = ax + b
Dimana : ln P = y : jumlah penduduk pada tahun n
ln Po = b : koefisien
n = x : tahun dimana jumlah penduduk akan dihitung
r = a : koefisien x

2.2 KARAKTERISTIK AIR LIMBAH
1. Jenis air limbah
Menurut Darmasetiawan, Martin, 2004 secara umum air limbah dibagi menjadi dua,
yaitu air limbah domestik (rumah tangga) dan air limbah industri. Sedangkan air limbah
rumah tangga terdiri dari dua jenis yaitu, air kotor dan air bekas
a. Air Kotor
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Air kotor adalah air limbah yang mengandung kotoran, yang pada umumnya adalah
dari jamban dengan kloset jongkok maupun kloset dudukan yang dialirkan dari cubluk
atau tangki septik.
b. Air Bekas
Air bekas adalah air limbah dari aktivitas dapur, mandi, cuci dan sejenisnya. Air
limbah ini mengandung banyak benda-benda organik misalnya sisa makanan, lemak,
detergen dan lain-lain.
c. Air Limbah Industri
Penggunaan air untuk industri digunakan pada proses pendinginan, pemanasan dan
penguapan. Disamping itu air dapat menjadi komponen material untuk produksinya
sendiri, seperti industri makanan, farmasi, kimia, sehingga air menjadi tercemar dengan
kotoran-kotoran yang komposisinya tergantung dari proses produksinya.
Air limbah industri yang mengandung limbah cair beracun dan yang mengandung
logam berat sebaiknya dilakukan pengolahan pendahuluan sebelum masuk ke sistem
terpusat supaya tidak mengganggu fungsi pengolahan terpusat.
2. Karakteristik kimia, fisika, dan biologi
Karakteristik kimia, fisika, dan biologi dari air limbah rumah tangga yang belum diolah
secara tipikal adalah seperti diperlihatkan pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Karakteristik Air Limbah Rumah Tangga
Komponen Satuan Konsentrasi
Total solid
Total solid terlarut
Suspended solid
Settleable solid
BOD
5

Total organic karbon
COD
Nitrogen
- Organik
- Amonia
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
350-1200
250-850
100-350
5-20
110-400
80-290
250-1000
20-85
8-35
12-50
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Fosfor
- Organik
- Anorganik
Klorida
Alkanitas
Lemak
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
4-15
1-5
3-10
30-100
50-200
50-150
Sumber: Darmasetiawan, Martin. Sarana Sanitasi Perkotaan. Ekamitra Engineering.
Jakarta. 2004

2.3 DASAR PERENCANAAN
Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam perencanaan desain suatu
sistem penyaluran air buangan adalah :
Sistem perpipaan merupakan saluran yang tertutup, sehingga terhindar dari gangguan
terhadap lingkungan di sekitarnya dan saluran tidak terganggu oleh kegiatan di sekitarnya
Air bekas dibuang dari pemukiman penduduk agar tidak mengganggu keindahan dan
kesehatan lingkungan yang ditimbulkan oleh proses penguraian maupun lalat dan
binatang lain yang mungkin hidup sehingga harus disalurkan ke pengolahan.
Waktu pengaliran air buangan dari titik terjauh ke lokasi pengolahan tidak boleh lebih
dari 18 jam untuk menghindari terjadinya proses penguraian dalam saluran
Penyaluran air buangan dilakukan dengan cara gravitasi dalam saluran tidak bertekanan
Jaringan sistem pengumpul harus melayani semua daerah pelayanan
Menurut Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah,2003 supaya saluran tetap
berfungsi baik dalam keadaan debit maksimum maupun minimum, ada beberapa faktor
seperti:
- Luas penampang saluran
- Kemiringan saluran serta kekasarannya
- Kondisi pengaliran
- Belokan atau rintangan lain
- Karakteristik efluen

Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

2.4 SISTEM PENGUMPULAN AIR BUANGAN
Menurut Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah,2003 ada tiga sistem
pelayanan penyaluran air buangan yaitu sistem off site, sistem on site, dan small bore.
1. Sistem terpusat (off site) yaitu sistem dimana air limbah dari seluruh daerah pelayanan
dikumpulkan dalam saluran riol pengumpul, kemudian dialirkan dalam riol kota menuju
ke tempat pembuangannya yang aman. Sistem off site dapat diterapkan pada daerah yang
memiliki lebar jalan > 2m.
+ Kriteria perencanaan meliputi:
a. Kemampuan ekonomi untuk mendanai tinggi
b. Pemakaian air lebih dari 150 l/o/hari
c. Jumlah penduduk yang dilayani lebih dari 200 jiwa/ha
d. Pendapatan ekonomi penduduk lebih dari 80 % menengah ke atas
+ Kelebihan sistem off site adalah:
a. Menyediakan pelayanan yang terbaik
b. Sesuai untuk daerah dengan kepadatan tinggi
c. Dapat menampung semua limbah
d. Memiliki masa guna lebih lama
+ Kekurangan sistem off site meliput :
a. Memerlukan biaya investasi, operasi dan pemeliharaan yang tinggi
b. Menggunakan teknologi tinggi
c. Tidak dapat dilakukan perseorangan
d. Memerlukan pengelolaan, operasi dan pemeliharaan yang baik
2. Sistem setempat (on site) yaitu sistem dimana pada daerah itu tidak ada riol kota. Air
limbah ditangani setempat dengan bangunan cubluk atau tanki septic. Sistem on site
dapat diterapkan pada daerah yang memiliki lebar jalan < 2m.
+ Kriteria perencanaan meliputi:
a. Kemampuan ekonomi untuk mendanai rendah
b. Pemakaian air kurang dari 120 l/o/hari
c. Jumlah pendudukyang dilayani kurang dari 200 jiwa/ha
d. Pendapatan ekonomi penduduk rendah
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

e. Persyaratan badan air penerima effluent rendah
+ Kelebihan sistem on site adalah:
a. Menggunakan teknologi sederhana
b. Memerlukan biaya rendah
c. Pengoperasian dan pemeliharaan oleh masyarakat
d. menfaat dapat dirasakan secara langsung
+ Kekurangan sistem on site meliputi:
a. Tidak dapat diterapkan pada semua daerah
b. Fungsi terbatas hanya dari buangan kotoran manusia
c. Tidak melayani air limbah bekas kamar mandi dan bekas mencuci
d. Operasi dan pemeliharaan sulit dilaksanakan
3. Sistem saluran small bore, merupakan sistem terpisah yang direncanakan untuk
menyalurkan hanya buangan cair. Bagian yang dapat mengendap dipisahkan dahulu di
tangki interseptor sebagai tangki septic. Tangki ini diletakkan dibagian hulu sambungan
ke saluran air buangan. Sistem small bore dapat diterapkan pada daerah yang memiliki
lebar jalan + 4 m atau jika pada daerah tersebut terdapat saluran drainase.

2.5 SISTEM PENYALURAN AIR BUANGAN
Kriteria yang dipergunakan pada perencanaan jaringan penyaluran air limbah domestik
untuk daerah yang akan direncanakan, didasarkan dan disesuaikan dengan keadaan dan
kondisi daerahnya, yang merupakan batasan serta parameter dalam perencanaan teknis cara
pengaliran air limbah domestik dan perhitungan lainnya. Ada beberapa sistem penyaluran air
buangan, yaitu:
1. Sistem konvensional (Conventional Sewerage)
Sistem pengelolaan air limbah dengan perpipaan untuk menampung dan
mengalirkan air limbah ke suatu lokasi untuk selanjutnya diolah di lokasi tersebut. Sistem
ini diperuntukkan untuk daerah dengan kriteria sebagai berikut:
a. Disarankan untuk tipe perumahan dengan golongan pendapatan menengah dan tinggi,
dimana mereka mampu membayar retribusi
b.Ketersediaan air bersih tidak menjadi faktor yang menentukan
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

c. Tingkat kepadatan penduduk lebih dari 300 jiwa/Ha, permeabilitas tanah tidak
memenuhi syarat, angka permeabilitas tanah terlalu tinggi > 4,2. 10
-3
L/m
2
/det atau
terlalu rendah < 2,7.10
-4
L/m
2
/det
d.Kemiringan tanah lebih besar dari 2%
e. Muka air tanah kurang dari 2 m dan telah tercemar
2. Sistem Shallow Sewer
Sistem sewerage yang dipasang secara dangkal, dengan kemiringan yang lebih
landai dibandingkan dengan sistem sewerage konvensional. Sistem ini mengandalkan air
pembilas, sedangkan sistem sewerage konvensional mengandalkan kecepatan untuk
membersihkan sendiri. Sistem ini diperuntukkan untuk daerah dengan kriteria sebagai
berikut:
a. Disarankan untuk tipe perumahan teratur dan permanen dalam suatu lingkungan yang
terbatas
b. Ketersediaan air bersih merupakan faktor yang penting, disyaratkan telah terlayani
oleh PDAM atau dapat bersumber dari sumur/air tanah dengan debit yang mencukupi
c. Tingkat kepadatan penduduk lebih dari 300 jiwa/Ha, sebab pada tingkat kepadatan
seperti ini tidak disarankan untuk pembangunan tangki septik
d. Fasilitas sanitasi setempat tidak merupakan faktor yang berpengaruh, sebab Shallow
Sewer merupakan perpipaan yang menerima buangan langsung dari WC berupa
cairan dan padatan
e. Permeabilitas tanah tidak memenuhi syarat, angka permeabilitas tanah terlalu tinggi >
4,2. 10
-3
L/m
2
/det atau terlalu rendah < 2,7.10
-4
L/m
2
/det
f. Dapat diterapkan pada berbagai kemiringan tanah
g. Muka air tanah kurang dari 2 m
Sistem shallow sewer yaitu sistem riol dengan pembenaman pipa relatif dangkal.
Luas satu unit pelayanan sistem riol dangkal maksimum sekitar 4 unit luas daerah
pelayanan retikulasi yang tersusun dalam orde sama (tidak seri). Setiap unit daerah
retikulasi sambungan rumah maksimum sekitar 800 rumah dengan ukuran riol terbesar
225 mm. Jadi ada 4 lajur pipa dengan D = 225 mm dari 4 x 800 sambungan rumah yang
masuk BPAB. Daerah pelayanan shallow sewer mempunyai luas maksimum 4 x 25 Ha =
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

100 Ha, dengan kepadatan penduduk rerata 160 jiwa/Ha. Dalam sistem riol konvensional,
shallow sewer identik dengan tributary area (Hardjosuprapto, 2000).
3. Sistem Small Bore Sewer
Adalah sistem penyaluran air Efluen Tangki Septik (ETS) dan/atau dari air limbah
cucian (grey water). Keadaan pengaliran bertekanan, tetapi gradien hidrolisnya masih
dibawah elevasi tangki septik dan alat-alat saniter daerah pelayanannya, sehingga tidak
terjadi aliran balik (back water). Dengan aliran bertekanan itu, maka diameter salurannya
relatif kecil.
Sistem ini diterapkan pada daerah dimana semula sistem pembuangan air
limbahnya dengan sistem setempat, yaitu dengan sarana tangki septik dan bidang
rembesan. Tetapi, kemudian karena kepadatan bangunannya meningkat, dimana tidak
mungkin lagi membuat bidang rembesan air efluen tangki septik, maka air efluen tangki
septik itu kemudian disalurkan melalui riol ukuran kecil ini.
Efluen Tangki Septik (ETS) ini dialirkan ke BPAB khusus untuk ETS (BPAETS),
atau dimasukkan ke dalam riol konvensional terdekat (rioll konvensional yaitu dengan
pengaliran tidak penuh). Agar ETS tidak menjadi septik, sebaiknya waktu tempuh (td)
aliran bertekanan ini sebesar
s
10 menit. Kalau tidak, biasanya diperlukan injeksi udara
sebesar q
udara
= 1 L/ (menit. mm dia)
Karakteristik ETS dan Filtrat bidang rembesan saringan pasir (FETS) dapat dilihat
dalam tabel di bawah ini:
Tabel 2.2 Tipikal Karakteristik ETS dan FETS
Kontaminan Satuan ETS
b)
FETS
b)
Efisiensi
c)
(%)
Bakteri per ml, Agar no/ml 76.10
6
127.10
3
99,5
35
0
C, 24 jam
Grup Coliform MPN 110.10
6
150.10
3
99,6
Warna
a)
mg/L 3,5 2
Kekeruhan mg/L 50 5
Bau
a)
mg/L 4,5 1
Padatan suspensi
a)
mg/L 3 1
pH mg/L 7,4 7,4
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

BOD
5
mg/L 140 4 97
DO mg/L 0 5,2
DO jenuh % 0 52
Nitrogen, total mg/L 36 21 42
- Ammonia bebas mg/L 12 0,7 94
- Organik mg/L 12 3,4 72
- Nitrit mg/L 0,001 0,02
- Nitrat mg/L 0,12 17
Konsumsi Oksigen mg/L 80 20 75
Khlorida mg/L 80 65
Alkalinitas mg/L 400 300
Padatan total (TS) mg/L 820 810
Padatan tersuspensi (SS) mg/L 101 12 88
a) 1 = sangat kecil, 2 = sedikit, 3 = jelas, 4 = diperhitungkan, 5 = ekstrem
b) hasil rerata dari 51 tangki septik dan 56 filter sampel
c) harga tipikal
Isi tangki septik (septage) secara periodik perlu dikuras dan perlu diolah dalam
Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) atau BPAETS yang didesain mampu mengolah
septage dengan karakteristik seperti yang tercantum dalam tabel (Hardjosuprapto, 2000).
Sistem ini merupakan saluran air limbah dengan diameter kecil untuk menerima
limbah cair buangan tangki septik yang bebas benda padat. Sistem ini tidak bergantung
pada banyaknya air untuk pembilas, tetapi sarana air bersih harus dipikirkan sebagai
sarana sanitasi yang harus disediakan sebelumnya. Perpipaan air bersih umumnya akan
dipasang di daerah dimana sistem small bore sewer dipertimbangkan. Sistem ini
diperuntukkan untuk daerah dengan kriteria sebagai berikut:
a. Disarankan untuk tipe perumahan teratur dan permanen
b.Ketersediaan air bersih tidak menjadi faktor yang menentukan
c. Tingkat kepadatan penduduk tidak lebih dari 500 jiwa/Ha
d.Permeabilitas tanah tidak memenuhi syarat, angka permeabilitas tanah terlalu tinggi >
4,2. 10
-3
L/m
2
/det atau terlalu rendah < 2,7.10
-4
L/m
2
/det
e. Dapat diterapkan pada berbagai kemiringan tanah
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

f. Keharusan adanya bangunan tangki septik, sebab small bore sewer direncanakan
sebagai perpipaan yang menerima beban buangan yang berupa efluen dari tangki
septik dan tidak memungkinkan dibangun bidang resapan
g.Muka air tanah tidak menentukan, tetapi disarankan permukaan air tanah yang dalam
untuk efektifitas tangki septik

2.6 PEMILIHAN SISTEM PENGOLAHAN AIR LIMBAH
Menurut Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2003 hal-hal yang harus
diperhatikan dalam pemilihan sistem pengolahan air limbah adalah:
2.6.1 Kepadatan penduduk
Kepadatan penduduk sangat menentukan dalam penyediaan lahan untuk
pembangunan fasilitas pengolahan air limbah baik dalam sistem terpusat maupun setempat.
Semakin tinggi angka kepadatan penduduk maka semakin mahal investasi, operasi dan
pemeliharaannya begitu juga sebaliknya. Pengklasifikasian tingkat kepadatan penduduk
sebagai berikut :
- Tingkat kepadatan sangat tinggi : 500 jiwa/Ha
- Tingkat kepadatan tinggi : 300 500 jiwa/Ha
- Tingkat kepadatan sedang : 150 300 jiwa/Ha
- Tingkat kepadatan rendah : < 150 jiwa/Ha
2.6.2 Sumber Air
Sumber air merupakan faktor penting dalam perencanaan pemakaian sewerage
terutama yang direncanakan untuk membawa buangan padat selain limbah cairnya.
Pemakaian sewerage disarankan untuk daerah yang telah mempunyai jaringan air bersih
dengan pemakaian > 60 L/org/hari.
2.6.3 Permeabilitas tanah
Permeabilitas tanah penting untuk keefektifan dalam pemakaian bangunan
pembuangan limbah seperti tangki septik. Kisaran permeabilitas tanah yaitu, 2.7 x 10
-4

L/m
2
/dtk - 4.2 x 10
-3
L/m
2
/dtk.
2.6.4 Kedalaman muka air tanah
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Kedalaman air tanah dipertimbangkan untuk menghindari kemungkinan pencemaran
air tanah oleh fasilitas sanitasi yang digunakan.
2.6.5 Kemiringan tanah
Kondisi tanah permukaan/topografi/kemiringan tanah, dimana daerah dengan
kemiringan 1% lebih memberikan biaya ekonomis dalam pembangunannya dibanding daerah
datar.
2.6.6 Kemampuan membiayai
Merupakan potensi peran serta masyarakat dalam pembiayaan operasi dan
pemeliharaan.

2.7 PRINSIP DASAR PENYALURAN AIR BUANGAN
Prinsip yang mendasari dalam penyaluran air buangan adalah tidak berbeda dengan
prinsip dalam penyaluran air bersih, prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan adalah
perhitungan debit air buangan dan aspek hidrolika.
I.1.1 2.7.1 Perhitungan Debit Air Buangan
Debit air limbah meliputi sisa penggunaan air bersih, infiltrasi dari tanah, dan run off
aliran air permukaan (inflow). Menurut beberapa sumber, prosentase air limbah adalah:
- 60-130 % dari jumlah total pemakaian air bersih

(Supeno, 1987)
- 60-80 % dari jumlah total pemakaian air bersih (Okun dan Ponghis, 1975)
- 50-80 % dari jumlah total pemakaian air bersih (Moduto, 2000)
- 60-70 % dari jumlah total pemakaian air bersih (Fair, 1996)
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam penyaluran air buangan, yaitu :
Sumber atau asal air buangan
Besar atau prosentase air buangan dari air minimum
Langkah-langkah untuk memperkirakan debit air limbah adalah sebagai berikut :
1. Menentukan jumlah penduduk yang dilayani
2. Berdasarkan jumlah penduduk yang ada maka dapat diketahui jumlah pemakaian air
bersih.
3. Debit air limbah rata-rata diperoleh dari debit pemakaian air. Jumlah pemakaian air bersih
berbeda dengan air limbah yang dihasilkan. Hal ini karena kegiatan pemakaian air seperti
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

mencuci, mengepel lantai, dan menyiram tanaman tidak dapat dihitung sebagai debit air
limbah. Debit satuan air limbah dapat dirumuskan sebagai berikut: (Moduto, 2000)
q
ab
= F
ab
. q
am

Keterangan:
q
ab :
debit satuan air limbah (L/dt)
F
ab :
faktor air limbah (60-80)% 1-10
q
am :
debit satuan air bersih (L/dt)

4. Jumlah penduduk total adalah jumlah penduduk domestik dan penduduk ekivalen dari
non domestik. Jumlah penduduk domestik adalah nyata sedangkan jumlah penduduk non
domestik , dinyatakan sebagai jumlah penduduk ekivalen. (Moduto, 2000)
P = P
d
+ P
e
P
e
= Q
nd
/q
ab

Keterangan:
P : jumlah penduduk total (jiwa)
Pd : jumlah penduduk domestik (jiwa)
Pe : jumlah penduduk non domestik (jiwa)
Qnd : debit kebutuhan air non domestik (L/dt)
qab : debit satuan air limbah (L/dt)

Sehingga debit rata-rata air limbah dapat dirumuskan sebagai berikut:
Q
r
= P . q
ab

Keterangan:
P : jumlah penduduk total (jiwa)
Qr : debit rata-rata air limbah (L/dt)
qab : debit satuan air limbah (L/dt)
5. Penentuan faktor puncak, debit maksimum, dan debit minimum air limbah. Debit
maksimum dan minimum terjadi karena fluktuasi pemakaian air, yaitu:
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

- Pemakaian air hari maksimum. Menurut studi Nihon Suido

diperoleh angka untuk
faktor puncak harian yaitu 1,1-1,25. namun dalam desain yang sering digunakan
adalah 1,25
- Faktor pemakaian hari minimum biasanya diambil 0,8. Angka ini digunakan dalam
perhitungan debit minimum dalam pipa.
Debit jam puncak (Q
p
) terjadi pada dua kondisi, yaitu debit jam puncak pada musim
kering tanpa terjadi hujan (Q
pk
) dan debit puncak musim basah bersamaan dengan
terjadinya hujan (Q
pb
). Debit jam puncak yang dipakai dalam perencanaan dimensi pipa
adalah pada saat pemakaian air hari maksimum dan terjadi hujan.
a. Untuk pipa lateral
Q
pk
=
Keterangan:
Qpk : debit puncak musim kering (L/dt)
m : jumlah lajur pipa servis
x : angka perbandingan populasi total yang dilayani oleh pi
pa lateral dan populasi rata-rata yang dilayani oleh 1 pipa
pa sevis dalam pipa lateral tersebut
: total populasi pipa lateral/populasi rata-rata pipa servis
Qpsr : debit puncak rata-rata pipa sevis
Q
psr
= 0,5 . n . Q
pp

Q
pp
= 0,5 . p
0,5
. q
md

Keterangan:
n : jumlah rumah/persil
Qpp : debit puncak persil
Qpsr : debit puncak servis
P : populasi rata-rata tiap rumah/1000
psr
xQ
1 x m . 2
x . m . 4
+ +
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

qmd : debit maksimum harian untuk 1000 orang

b. Pipa cabang dan pipa induk
Q
p
= 5 p
0,8
. Q
md
+ 0,2 Q
r
+ (L/1000) . Q
inf

Keterangan:
p : jumlah populasi/1000
Qmd : debit harian maksimum
L : panjang pipa
Qinf : debit aliran infiltrasi
c. Debit aliran minimum
Debit aliran minimum terjadi pada saat pemakaian air minimum, sehingga jumlah
air limbah yang dihasilkan juga minimum

Q
min
= 0,2 . p
1/6
. Q
r
Keterangan:
p : jumlah populasi/1000
Qr : debit rata-rata air limbah (L/dt)
2.7.2 Debit Air Buangan
Dalam air buangan dikenal beberapa istilah debit, yaitu:
1. Debit Rata-rata Air Buangan ( Qr )
Debit rata-rata air buangan adalah debit air buangan yang berasal dari rumah tangga,
bangunan umum, bangunan komersial, dan bangunan industri. Dari berbagai sarana
tersebut, tidak semua air yang diperlukan untuk kegiatan sehari-hari terbuang ke saluran
pengumpul, hal ini disebabkan beragamnya kegiatan. Berkurangnya jumlah air yang
terbuang sebagai air buangan disebabkan kegiatan-kegiatan seperti mencuci kendaraan,
mengepel lantai, menyiram tanaman dan lain-lain.
Debit rata-rata air buangan berdasarkan konsumsi air bersih:
Qr ab = 70 80 % Qr air bersih
2. Debit Hari Maksimum ( Qmd )
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Debit hari maksimum adalah debit air buangan pada keadaan pemakaian air
maksimum. Besar debit hari maksimum merupakan perkalian faktor peak dengan debit air
buangan rata-rata. Harga faktor peak merupakan rasio debit maksimum dan minimum
terhadap debit rata-rata. Harga faktor peak bervariasi tergantung jumlah penduduk kota yang
dilayani, dan dirumuskan sebagai berikut:
fp =
5 . 0
5 . 0
4
18
p
p
+
+

Sedangkan debit maksimum dirumuskan sebagai :
Qmd = fp . Qr ab
Dimana :
Qmd : debit hari maksimum ( l/det )
fp : faktor peak
Qr ab : debit air buangan rata-rata ( l/det )
p : jumlah penduduk dalam ribuan ( jiwa )
3. Debit Minimum ( Qmin )
Debit minimum adalah debit air buangan pada saat minimum, debit minimum ini
berguna dalam penentuan kedalaman minimum, untuk menentukan apakah saluran harus
digelontor atau tidak. Persamaan untuk menghitung debit minimum adalah
Q min = 0,2 . p
0,2
.Qr ab ( 1 < p < 1000 )
Dimana :
Qr ab : debit rata-rata air buangan
p : jumlah penduduk dalam ribuan (jiwa)
4. Debit Inflow / Infiltrasi Air Tanah (Q inf)
Debit infiltrasi adalah debit air yang masuk saluran air buangan yang berasal dari air
hujan, infiltrasi air tanah, dan air permukaan. Infiltrasi air dari sumber-sumber di atas
biasanya masuk melalui jalur pipa dan sambungan rumah. Infiltrasi dari sumber-sumber
yang disebutkan di atas tidak dapat dihindari, hal ini disebabkan oleh :
- Pekerjaan sambungan pipa yang kurang sempurna
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

- Jenis bahan saluran dan sambungan yang dipergunakan
- Kondisi tanah dan air tanah
- Adanya celah-celah pada tutup manhole
Besar debit infiltrasi / inflow ditentukan berdasarkan :
- Luas daerah pelayanan
- Panjang saluran
- Panjang saluran dan diameter
Besarnya debit infiltrasi tidak berdasarkan panjang dan diameter pipa tetapi berdasarkan
luas daerah pelayanan, besarnya debit inflow menurut ASCE dan WPCP adalah 400
200000 gpd/acre.
Infiltrasi air tanah yang masuk dalam jaringan air buangan :
Qinf = (10-20 %). Qr ab
5. Debit Puncak ( Qpeak )
Debit puncak adalah debit air buangan yang dipergunakan dalam menghitung
dimensi saluran. Debit puncak merupakan penjumlahan dari debit maksimum dan debit
infiltrasi / inflow.
Qp = 5p
8 , 0
. qmd + Cr.p.qr + L/1000. Qinf ( l/det )
= 5p
8 , 0
.qmd + q inflow
Dimana :
Qp : debit puncak ( l/det )
p : jumlah penduduk dalam ribuan
qmd : debit satuan harian maksimum ( l/det.1000 jiwa )
Cr : koefisien infiltrasi di daerah persil
qr : debit satuan harian rata-rata ( l/det.1000 jiwa )
L : panjang pipa ( m )
Q inf : debit infiltrasi saluran ( l/det.km )
6. Debit Air Buangan Non Domestik ( Qx )
Debit air buangan non domestik adalah debit air buangan yang berasal dari
bangunan komersial, bangunan industri, bangunan umum/ institusi, dan bangunan
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

pemerintahan. Debit air buangan non domestik bergantung dari jumlah pemakaian air dan
jumlah penghuni bangunan-bangunan tersebut.
Kecuali air buangan yang berasal dari bangunan industri, semua air buangan yang
berasal dari non domestik dilayani sistem penyaluran air buangan, dengan alasan karakteristik
air buangannya mempunyai kesamaan dengan air buangan domestik.
Dalam perhitungan debit puncak, debit air buangan yang berasal dari bangunan non
domestik diekivalenkan dengan jumlah penduduk yang dilayani pada daerah domestik.
Perhitungan ekivalen debit air buangan non domestik adalah :

pek =
qr
qx

Dimana :
pek : jumlah penduduk ekivalen
qx : total debit air minum non domestik ( l/det )
qr : pemakaian air rata-rata ( l/org/hari )


2.7.3 Aspek-Aspek Hidrolika Air Buangan
1. Jenis aliran
Terdapat dua jenis pengaliran di dalam sistem penyaluran air limbah, yaitu
pengaliran bertekanan (under pressure flow) dan aliran tidak bertekanan. Aliran
bertekanan disebabkan oleh gaya luar, seperti tekanan hidraulik atau pemompaan,
sedangkan pengaliran tidak bertekanan dilakukan secara gravitasi, dengan tekanan dalam
sama dengan tekanan luar. Dalam aliran air buangan kondisi bertekanan hanya dijumpai
pada instalasi pemompaan dan siphon, sedangkan dalam perpipaan disyaratkan yang
tidak bertekanan.
Kondisi aliran pada sistem penyaluran air buangan dibedakan atas aliran tunak
(steady), yaitu bila debit tetap konstan dengan waktu; dan aliran tak tunak (unsteady), bila
debit berubah dengan waktu. Walaupun aliran dalam riol umumnya tidak tunak, analisa
hidrolis alirannya disederhanakan dengan asumsi keadaan aliran tunak. Tetapi dalam
desain stasiun pompa, aliran dalam pipanya jelas aliran tidak tunak, khusus dalam hal ini
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

tidak boleh diabaikan. Aliran saluran terbuka, tunak, merupakan aliran dalam pipa riol.
Aliran seragam bila kecepatan dan kedalamannya tetap sama dari titik ke titik sepanjang
pipa. Sebaliknya, aliran tidak seragam bila kecepatan dan kedalamannya berubah. Aliran
dalam pipa riol, sering tidak seragam, namun diasumsikan seragam.
Perhitungan rinci aliran tidak seragam dalam pipa riol, biasanya hanya dilakukan
untuk transisi mayor, outfalls, dan mungkin pipa utama dalam stasiun pompa
(Hardjosuprapto, 2000).
2. Kedalaman air dalam pipa
Kedalaman aliran air sangat berpengaruh terhadap kelancaran aliran, oleh karena itu
ditetapkan kedalaman mimimum yang harus dipenuhi dalam penyaluran air buangan.
Kedalaman air buangan ini disamakan dengan kedalaman berenangnya tinja. Di Indonesia
kedalaman berenang ditetapkan 5 cm pada pipa halus dan 7,5 cm pada pipa kasar. Jika
kedalaman kedalaman minimum kurang dari kedalaman berenang maka saluran tersebut
harus digelontor.
Kedalaman aliran air limbah dalam saluran tidak boleh terlalu kecil, karena dapat
mengakibatkan materi air limbah yang berbentuk padat akan tertahan, sehingga akan
menyumbat aliran. Untuk menghindari hal ini, maka:
- Pada pipa cabang dan pipa induk, kedalaman aliran di awal saluran diperhitungkan
sebesar 60% dari diameter pipa atau d/D = 0.6
- Pada saat debit puncak, di akhir saluran d/D maks = 0.8
- Kedalaman 7.5-10 cm untuk pipa beton, > 5 cm untuk pipa yang lebih halus (PVC,
fiberglass, dll). Kedalaman berenang adalah kedalaman yang dianggap masih membawa
partikel berenang mengikuti aliran pada saat kecepatan minimum
- Pada saat debit minimum, tidak tercapai kedalaman berenang, maka saluran harus
digelontor.
3. Kecepatan Pengaliran
a. Kecepatan yang Dianjurkan
Kriteria pengaliran dalam desain jalur pipa adalah dengan Kecepatan Swa-Bersih
(self cleaning velocity), yaitu pada waktu debit maksimum, Q
pb,
kecepatannya v
pb
ditetapkan
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

antara 0.60-0.75 m/det atau lebih (menurut WHO, pada daerah beriklim panas, dianjurkan v
pb

> 0.90 m/det). Penetapan kecepatan v
pb
itu harus dicek sewaktu kedalaman air mencapai
kedalaman berenang, d
b
(swimming depth), dimana kecepatan alirannya v
b
, harus masih
dapat menghanyutkan pasir dan kricak (grit), sehingga pasir dan kricak tidak mengendap.
Dianjurkan v
b
> 0.30 m/det. Jika setelah ditetapkan pada Q
pb
, kecepatan v
pb
, misal 0.60 m/det,
tetapi setelah dicek ternyata kecepatan v
b
nya < 0.30 m/det, maka penetapan v
pb
= 0.60
m/det itu harus diperbesar, misal v
pb
diubah menjadi = 0.75 m/det, dan seterusnya,
sedemikian rupa sehingga setelah dicek lagi pada kedalaman d
b
, harga v
b
sedikit > 0.30
m/det, misal 0.35 m/det. Sebaliknya, jika setelah dicek pada kedalaman d
b
v
b
>> 0.30
m/det, penetapan v
pb
di atas dapat diperkecil (Hardjosuprapto, 2000).
b. Kecepatan pengaliran maksimum
Kecepatan pengaliran maksimum ditetapkan sebagai berikut:
- Untuk aliran yang mengandung pasir, kecepatan maksimum 2.0 2.4 m/dtk
- Untuk aliran yang tidak mengandung pasir, kecepatan maksimum 3.0 m/dtk
Batas kecepatan pengaliran di atas ditetapkan berdasarkan pertimbangan:
- Saluran harus dapat mengantarkan air limbah secepatnya menuju instalasi pengolahan air
limbah
- Pada kecepatan tersebut penggerusan terhadap pipa belum terjadi, sehingga ketahanan
pipa dapat dijaga
c. Kecepatan pengaliran minimum
Kecepatan pengaliran minimum yang diijinkan adalah sebesar 60 cm/dtk, dan
diharapkan pada kecepatan ini aliran mampu untuk membersihkan diri sendiri.
Pertimbangan lain adalah untuk mencegah aliran limbah terlalu lama dalam pipa,
sehingga dapat terjadi pengendapan dan penguraian air buangan yang akan menaikkan
konsentrasi sulfur. Konsentrasi sulfur yang tinggi merupakan media yang baik untuk
berkembang biaknya bakteri dan dapat mengubah sulfur menjadi sulfida. Sulfida akan
membentuk Hidrogen Sulfida, yang jika konsentrasinya tinggi melampaui kejenuhan
dalam larutan, akan keluar dari larutan dan membentuk gas H
2
S yang sangat berbau dan
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

berbahaya bagi kesehatan. Jika gas ini, dalam pipa mengalami oksidasi, maka akan
terbentuk asam sulfat yang sangat korosif terhadap pipa.
d. Kecepatan penuh
Kecepatan penuh adalah kecepatan dalam keadaan pipa penuh tetapi tanpa tekanan.
Dalam penyaluran tidak boleh terjadi aliran penuh, sehingga istilah kecepatan penuh hanya
untuk media perhitungan. Perhitungan kecepatan penuh (V
f
) ini berguna untuk menentukan
diameter pipa, kemiringan lajur pipa, dan kedalaman air pipa. Persaman untuk kecepatan
penuh adalah (Moduto, 2000):

v
f
= 1,364 . D
0,5

Keterangan :
v
f
: kecepatan penuh (m/dt)
D : diameter pipa (m)
4. Kemiringan saluran air limbah
Untuk mendapatkan kecepatan yang dapat membersihkan sendiri itu kemiringan saluran
harus dihitung berdasarkan kontrol sulfida dan kontrol endapan.
a. Kontrol Sulfida
Kontrol sulfida dilakukan untuk mendapatkan kemiringan saluran yang dapat mengikis
lendir yang timbul akibat adanya bakteri sulfida yang menempel di dinding saluran (Supeno,
1987). Formula yang digunakan dalam perhitungan kemiringan saluran (slope) adalah:


Keterangan:
S : kemiringan saluran (m/m)
E
BOD
: BOD efektif (mg/l)
: dirumuskan sebagai BOD (5,20) = 1,07
T-20

P : keliling basah saluran pada debit total (m)
b : lebar saluran bagian atas pada debit total
Z : indeks Pameroy, menunjukkan besarnya aliran yang terjadi
Z = 10.000 : banyak lendir
( )
2
3 / 1
BOD
b . Qp . Z
P . E . 3
S
(

=
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Z = 7.500 : cukup (biasa dipakai dalam perencanaan)
Z = 5.000 : bersih sekali
Q
p
: debit aliran pada kondisi puncak (L/dt)
b. Kontrol Endapan
Kontrol endapan dilakukan untuk mendapatkan kemiringan yang memberikan
kecepatan pembersihan sendiri, yang dapat membersihkan endapan dari dasar saluran
(Supeno, 1987). Kemiringan saluran berdasarkan kontrol endapan diformulasikan sebagai
berikut:

( )
13
16
8
3
1094 , 0
|
|
|
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
=
Qr
Rf
Rm
S
t

Keterangan:
S : kemiringan saluran (/m)
: gaya geser kritis ( 0,33 < < 0,38 kg/m
2
)
Rm : jari-jari hidrolis saluran opada kedalaman minimum (m)
Rf : jari-jari hidrolis saluran pada aliran penuh (m)
Q
p
: debit aliran pada kondisi puncak (L/dt)
2.8 PERHITUNGAN HIDROLIS
Metode dasar analisa aliran dalam pipa riol meliputi pengertian kontinuitas dan
energi.
1. Persamaan Kontinuitas
Prinsip kontinuitas menyatakan bahwa debit pada suatu penampang saluran
merupakan perkalian antara luas penampang saluran dengan kecepatan pada penampang
saluran tersebut dan besarnya sama di setiap titik pada satu saluran. Persamaan kontinuitas
pada aliran tunak tak bertekanan diformulasikan dalam bentuk matematik sebagai :
Q = A
1
. V
1
= A
2
. V
2
= konstan
dengan :
Q = debit aliran (m
3
/det)
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

A = luas penampang saluran (m
2
)
V = kecepatan aliran (m/det)
2. Persamaan Energi
Konsep energi meliputi seluruh pengertian hidrolika. Energi mekanis air adalah akibat
tinggi tempat atau potensi, kecepatan, dan tekanannya. Persamaan umum energi adalah
sebagai berikut :
(V
2
/2g + P/g + z)
1
+ Ha = (V
2
/2g + P/g + z)
2
+ Hl
dengan :
V
2
/2g = head kecepatan (m)
P/g = head tekanan (m)
Z = ketinggian saluran dari datum (m)
Ha = energi tambahan (m)
Hl = kehilangan tekanan (m)
3. Persamaan Aliran Manning
Persamaan Manning dapat dipergunakan baik dalam aliran penuh maupun aliran tidak
penuh. Manning menampilkan formulasi sebagai berikut :
V =
n
1
R
2/3
S
1/2

dengan:
V = kecepatan aliran rata-rata (m/det)
R = jari-jari hidraulis saluran (m)
S = slope saluran (m/m)
n = koefisien kekasaran Manning
Penggunaan persaman Manning dalam perhitungan disederhanakan dalam bentuk
nomogram. Nomogram hanya dipakai dalam mengecek hasil perhitungan atau
memperkirakan dimensi.
4. Persamaan Geser Aliran
Air yang mengalir dalam pipa atau saluran dipengaruhi oleh gaya gravitasi atau
pompa. Kehilangan energi akibat gesekan sepanjang pipa disebut kehilangan energi mayor
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

sedangkan perubahan bentuk dan arah mengakibatkan kehilangan energi minor (Moduto,
2000). Beberapa persamaan yang sering digunakan dalam pipa air limbah yaitu:

a. Persamaan Darcy-Weisbach
h = f
D
.

R = A
c
/P
Keterangan:
h : kehilangan tekanan (m)
f
D
: faktor gesekan Darcy-Weisbach
v : kecepatan rerata (m/dt)
L : panjang pipa (m)
D : diameter pipa (m)
R : jari-jari hidrolis (m)
A
c
: luas penampang basah (m
2
)
P : keliling basah (m)
b. Persamaan Chezy
V = C (R.s)
0,5
Keterangan:
V : kecepatan (m/dt)
C : koefisien geser chezy, untuk pipa penuh C = (8g/fD)0,5
R : jari-jari hidrolis (m)
s : kemiringan gradien hidrolis/kemiringan permukaan air
c. Persamaan Hazen-William
v = 1,318 . C
hw .
R
0,63
. S
0,54

Keterangan:
V : kecepatan (m/dt)
C : koefisien Hazen-William
R : jari-jari hidrolis (m)
s : kemiringan gradien hidrolis/kemiringan permukaan air
d. Persamaan Manning
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
R 4
L
g 2
v
2
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

V = R
2/3
S
1/2

Keterangan:
V : kecepatan aliran rata-rata (m/det)
R : jari-jari hidraulis saluran (m)
S : slope saluran (m/m)
n : koefisien kekasaran Manning

Tabel 2.3 Angka Kekasaran Manning, Hazen-William dan Darcy-Weisbach

Bahan saluran Kekasaran Absolut
(Darcy-Weisbach)
(ft)
Manning
(ft)
Hazen-William
(ft)
Pipa asbestos semen
Pipa cast iron tanpa lapisan
Pipa cast iron cement-Line
Pipa beton
Pipa PVC
Vitrified Clay
0.001-0.01

0.00055
0.001-0.01
0.001-0.01
0.01
0.001-0.01
0.011-0.015
-

0.011-0.015
0.011-0.015
0.011-0.015
0.011-0.015
100-140
-

100-140
100-140
100-140
100-140
Sumber: Supeno, 1987










n
1
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Hubungan antar elemen hidrolika diatas dapat dicari dengan bantuan grafik seperti
dibawah ini














Gambar 2.1 Hubungan Antar Elemen Hidrolika
Sumber: Metcalf dan Eddy, 1981
Dari gambar diatas dapat dibuat dalam persamaan untuk mendapatkan nilai yang lebih
tepat. Persamaan tersebut adalah:





2 1
1
1
cos
1
| |
t
|
t
=

full
A
A
|
t
1
cos
1

=
full
P
P
1
|
|
.
|

\
|
=
full full full
P
P
A
A
R
R
3 / 2
|
|
.
|

\
|
=
full full
R
R
V
V
full full full
V
V
A
A
Q
Q
=
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Keterangan:
A = potongan melintang area dari aliran (m
2
)
A
full
= potongan melintang area dari aliran pada saat pipa penuh (m
2
)
= 1-2 (d/D)
d = kedalaman berenang (m)
D = diameter pipa (m)
P = keliling basah (m)
P
full =
keliling basah pada saat pipa penuh (m)
R = jari-jari hidrolik (m)
R
full =
jari-jari hidrolik pada saat pipa penuh (m)
V = kecepatan (m/dt)
V
full
= kecepatan pada saat pipa penuh (m)
Q = debit (m
3
/dt)
Q
full
= debit pada saat pipa penuh (m
2
/dt)
Penampang melintang pipa air limbah dapat dilihat pada gambar dibawah ini:








Untuk > 0,5 Untuk < 0,5

Gambar 2.2 Penampang Melintang Pipa Air Limbah
Sumber: Mecalf dan Eddy, 1981
2.9 KLASIFIKASI PERPIPAAN AIR LIMBAH
Sistem perpipaan dalam pengumpulan dan penyaluran air limbah mulai dari
sumber/asal limbah sampai ke instalasi pengolahan terdiri dari:
|
D
d
D
d
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

1. Pipa riol dalam sistem plambing rumah/gedung (riol gedung)
Instalasi air buangan terdiri dari peralatan seperti misalnya: bak cuci (dapur, tangan),
kamar mandi (bak air/bak rendam/bak pancuran), kamar kecil (WC, peturasan), dan
perpipaannya (riol gedung) termasuk saringan dan leher angsa, ventilasi, dan
pengglontorannya, yang membawa air buangan dari peralatan saniter ke sistem riol
persil/premise yang berada di pekarangan gedung atau rumah, kemudian dimasukkan ke riol
pengumpulan yang disebut pipa service/pelayanan. Ada kemungkinan dari riol persil
langsung ke riol lateral atau riol mayor, terutama dari persil gedung besar.
Dalam instalasi air buangan, penyaluran air buangan dari peralatan saniter di dalam
gedung disebut riol gedung. Riol gedung berakhir pada bak kontrol yang dilengkapi dengan
sistem leher angsa, untuk mencegah bau H
2
S masuk ke dalam gedung. Bak kontrol tersebut
didesain terletak dirabat luar gedung, berjarak sekitar 0.90 m dari dinding gedung, dan
dengan kedalaman benam sekitar 0.45 0.60 m. Dari sini kemudian diteruskan oleh riol
persil, menuju ke riol service atau langsung ke riol lateral.
Pembenaman lajur riol gedung pada lantai dasar, biasanya pada kedalaman > 0.45
m, diameter 100 mm, kemiringan 2 % atau lebih untuk pipa kasar (clay pipe) dan pendek,
1% atau lebih untuk pipa halus-panjang (PVC).
2. Pipa riol pada lahan rumah (riol persil)
Riol persil adalah jaringan pipa air limbah yang berada pada lahan tanah persil
(property/premise), dimulai dari bak kontrol akhir riol gedung. Terbuat dari bahan besi
tuang, tanah liat berlapis email pada dinding dalamnya (vitrified clay), beton, semen-
asbes atau plastik. Diameter pipa persil 100-150 mm,atau sekurang-kurangnya sama
dengan diameter akhir pipa riol gedung. Kemiringannya dianjurkan tidak kurang dari 1-
2% dan dibenamkan dengan kedalaman awal 0.45 m bila berada di bawah permukaan
perkedapan; 0.60 m bila berada di bawah permukaan tanah tidak diperkedap.
Semua lajur pembenaman pipa riol harus selalu berada di bawah lajur pipa air
bersih atau pipa/saluran air yang belum tercemar. Akhir pipa persil adalah pada bak
kontrol persil (cara dahulu tanpa bak kontrol), yang masih berada dalam lahan tanah milik
persil dekat dengan lajur riol service. Dari bak kontrol persil, kemudian disambung ke riol
service/lateral/mayor.
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Pipa sambungan persil ke service disebut pipa dinas sambungan persil-service,
yang dikerjakan oleh badan kedinasan terkait. Kedalaman benam, h
b
, awal pipa
sambungan persil service sekitar 0.60 m.
Jika pipa riol persil langsung disambung dengan riol lateral/mayor, terutama
pada persil besar (apartemen, rumah susun, asrama, dsb), akhir pipa persil adalah pada
bak kontrol persil yang masih berada dalam lahan tanah milik persil yang berdekatan
dengan lajur riol lateral/mayor (cara dahulu, umumnya tanpa bak kntrol). Dari bak
kontrol, persil kemudian disambung ke riol lateral/mayor. Pipa sambungannya disebut
pipa dinas sambungan persil-lateral/mayor, yang juga dikerjakan oleh badan kedinasan
terkait.
Selain itu, perlu diperhatikan pula beberapa persyaratan lain yang diperlukan
untuk penyambungan pipa persil ke rumah, yaitu:
- Diameter saluran dihitung berdasarkan debit puncak satuan air limbah hari maksimum
- Sambungan tidak mengganggu jalannya aliran air buangan dalam jaringan pengumpul,
sehingga penyambungan dilakukan menyerong dengan besar sudut maksimum 45
0
.
Apabila perbandingan debit antara q (dari rumah) dengan Q saluran pengumpul kecil
sekali, maka penyambungan dapat dilakukan secara tegak lurus.
- Sedapat mungkin sambungan-sambungan tersebut diperiksa agar mempermudah
pemeliharaan saluran.
- Air dalam jaringan pengumpul jangan sampai menghambat air yang berasal dari rumah
tangga, untuk itu sambungan dari rumah-rumah harus diletakkan di atas permukaan
aliran air limbah yang tertinggi.
Pada jaringan riol persil sampai service, yang perlu dicari adalah debit puncak
musim kering pada hari maksimum (debit infiltrasi musim hujan relatif sangat kecil, hal
ini sudah diantisipasi dengan adanya faktor hari maksimum). Debit puncak musim kering
pada hari maksimum untuk riol persil dirumuskan:
Q
pp
= 5p
1/2
.q
md


Dimana :
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Q
pp
= debit puncak persil (l/det)
p = jumlah penduduk (ribuan kapita)
q
md
= debit satuan air buangan pada hari maksimum (l/det/1000k)
3. Pipa riol retikulasi
Riol retikulasi melayani daerah pelayanan retikulasi (reticulation areas). Satu unit
daerah retikulasi dalam setiap program kerja umumnya mempunyai:
- Luas Daerah Pelayanan maksimum A
DP
= sekitar 10 Ha
- Panjang maksimum pipa riol L
t
= sekitar 5000 m
Ukuran, jumlah sambungan rumah, kemiringan pipa pada riol retikulasi dapat
dilihat pada tabel 2.4.
Tabel 2.4 Ukuran dan Jumlah Sambungan Rumah Pipa Riol Retikulasi
Diameter Maks. Sambungan rumah Kemiringan (%)
(mm) (inchi) Australia
a)
Indonesia
b)
Normal Minimum
100 4 4 8 2.50 1.67
150 6 50 100 1.00 0.83
225 9 450 800-900 0.50 0.33
Catatan: a) Berdasarkan debit satuan q
maks
= 300 Lkh
Penghuni rata-rata = 5 orang/rumah
b) Untuk q = 150 Lkh, mampu melayani sekitar 800-900 sambungan rumah,
penduduk pelayanan sekitar 400 jiwa.
Pipa riol retikulasi terdiri dari:
a. riol service
Riol service adalah lajur pipa air limbah sebagai penerima sambungan dari riol
persil. Ada 2 sistem, yaitu sistem brandgang dan sistem trotoir.
1. Sistem Brandgang, yaitu semua lajur riol persil diarahkan ke belakang rumah menuju
brandgang, dimana riol service penerima diletakkan (brandgang = lorong kebakaran di
belakang rumah).
2. Sistem Trotoir, yaitu semua lajur riol persil diarahkan ke depan rumah menuju trotoir,
dimana riol service penerima diletakkan.
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Diameter pipa riol service paling sedikit 150 mm, dengan lebar galian
pemasangannya minimum 0.45 m dan dengan kedalaman benam awal paling sedikit 0.60
m. Pada awal pipa riol service dibuat bak untuk memasukkan air penggelontor bila
diperlukan, atau secara berkala untuk pembersihan yang disebut Terminal Cleaning
Box. Kemiringan lajur pipa riol service umumnya antara (0.6-1.0) persen. Akhir lajur
pipa riol service adalah pada manhole pipa riol lateral dan mungkin pada manhole pipa
riol mayor.
Sambungan dinas pipa persil-service, yang paling baik adalah dengan sistem
terjunan (dari atas) dengan pipa tegak yang ditutup dengan bentuk tutup topi, ditempatkan
pada bak kontrol pipa service (cara dahulu tanpa bak kontrol). Untuk sambungan tidak
tegak, paling sedikit lubang sambungannya 45
0
terhadap horisontal, arah sambungan
vertikal perlu agak diserongkan, juga 45
0
terhadap normal vertikal pipa penerima. Namun
sambungan yang tidak tegak ini, pada waktu debit kecil, air yang hanya meleleh di bagian
dalam saluran penerima itu, terjadi lendir (slime), yang makin lama menebal, akhirnya
diameter bagian dalam riol service penerima itu berkurang dan kekasarannya bertambah.
Debit puncak pada akhir pipa servis dari 50 rumah, Q
ps
, dengan persamaan:
Q
ps
= 0,7 . n . Q
ppr
Dimana:
Q
ps
= debit ujung akhir pipaservice (l/det)

n = jumlah rumah atau sambungan pipa persil (buah)
Q
ppr
= debit puncak rerata pipa persil (l/det)

b. riol lateral
Riol lateral adalah lajur pipa riol yang menerima aliran air limbah dari lajur-lajur
pipa riol service. Umumnya terletak di jalur jalan umum, dimulai dari bangunan manhole
pertama sebagai pertemuannya dengan pipa riol service yang paling atas pada lajur pipa
riol lateral itu. Diameter pipa riol lateral D 200 mm. Jika pada lajur itu alirannya tidak
swa bersih dan ada permasalahan endapan potensial, pada manhole pertama itu diinstall
fasilitas pengglontoran. Bangunan pengglontoran ada yang dibuat di dalam atau di luar
manhole pertama itu.
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Pada awal pipa atau awal ruas pipa riol lateral, kedalaman air d pada saat debit
puncak musim basah, Q
PB
, tidak boleh lebih dari 0.60 kali diameternya (dalam praktek
d/D = 0.6). Pada hilir alirannya, setelah mendapatkan tambahan dari beberapa keluaran
riol service, kedalaman airnya maksimum 0.8 kali diameternya (dalam praktek d/D = 0.8).
Stelah itu, diameternya diperbesar dalam sebuah manhole. Dalam ruas awalan pipa yang
lebih besar itu, dipilih diameter yang dapat memberikan d/D = 0.6 lagi, dan setelah
mendapatkan tambahan debit lagi sehingga d/D nya menjadi 0.8 lagi, diameter pipa
diperbesar lagi atau kemiringannya yang diperbesar, dan seterusnya.
Di Indonesia, pembenaman awal riol lateral yang berada di lajur jalan paling sedikit
1.20 m di bawah permukaan jalan.
Ada beberapa persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung debit riol lateral
dan mayor, yaitu persamaan:
1. Moduto, dimana berlaku hanya untuk riol retikulasi sampai jumlah penduduk pelayanan
mencapai sekitar 2000-4000 jiwa. Persamaan Moduto tidak berlaku lagi bila hasilnya =
hasil persamaan Babbit, dan setelah itu selanjutnya dipakai persamaan Babbit dan
modifikasinya.
2. Persamaan Babbit dan modifikasinya, berlaku setelah persamaan Moduto tidak berlaku
lagi. Persamaan Babbit mulai berlaku dari jumlah penduduk sekitar (2000-4000) jiwa
sampai satu juta jiwa. Untuk penduduk pelayanan lebih besar dari satu juta jiwa (riol
mayor), berlaku persamaan Babbit yang dimodifikasi.
3. Persamaan MMBW (Melbourne and Metropolitan Board of Works), berlaku umum, baik
untuk pipa riol gedung, persil, retikulasi, maupun pipa riol mayor.
Persamaan Moduto
Q
pk
= |
.
|

\
|
+ + 1 2
4
x mx
mx
. Q
ps

Q
pb
= Q
pk
+ Q
inf
Q
inf
= f
r
. Q
r
+ L. q
inf

Dimana:
Q
pk
= debit puncak musim kering (l/det)
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

m = jumlah pipa servis terlayani
x =

rataservis pendudukre
tallateral pendudukto

Q
pb
= debit puncak musim basah (l/det)
q
inf
= debit satuan infiltrasi (l/det/km)
f
r
= faktor infiltrasi (0.1-0.3)
L = panjang lajur pipa lateral/mayor (km)
Q
r
= debit rerata air buangan (l/det)

4. pipa riol mayor, dimulai dari riol cabang sampai riol induk
Riol mayor dimulai dari percabangan lajur-lajur pipa lateral pada suatu manhole
pertemuan. Sistem jaringan riol mayor, terdiri dari pipa riol cabang dan riol induk/utama
(main/trunk sewer), dengan klas order sesuai dengan besar-kecilnya sistem jaringan
dalam daerah pelayanannya. Kriteria perhitungan diameter pipanya identik dengan
kriteria perhitungan diameter pipa riol lateral.

2.10 KEDALAMAN PEMASANGAN PIPA
Kedalaman pemasangan pipa saluran air buangan bergantung dari fungsi pipa itu
sendiri yang dibagi menjadi : pipa persil, pipa service dan pipa lateral.
- Kedalaman awal pemasangan pipa
Persil = 0,45 meter
Service = 0,6 meter
Lateral = 1,00 1,20 meter
- Kedalaman akhir pemasangan pipa
Kedalaman akhir pemasangan pipa air buangan diisyaratkan tidak melebihi 7 meter,
jika penanaman pipa sudah melebihi 7 meter harus dipergunakan pompa untuk
menaikkan air buangan untuk mendapatkan kedalaman galian yang disyaratkan.



Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

2.11 PEMILIHAN BENTUK DAN BAHAN SALURAN
Bentuk saluran yang biasa dipergunakan untuk penyaluran air buangan adalah
bulat dan oval dengan berbagai variasi.
Sedangkan untuk pemilihan bahan pipa harus diperhatikan faktor-faktor sebagai
berikut :
+ Harus mengalirkan air buangan sebaik mungkin
+ Kekuatan dan daya tahan harus terjamin baik dari gaya dalam maupun luar pipa
+ Mudah dalam pemasangan
+ Tahan terhadap penggerusan
+ Tahan terhadap korosi asam baik dari air buangan maupun air tanah
+ Ketersediaannya di pasaran terjamin
+ Harus kedap air begitu juga dengan sambungannya
+ Harga pipa
+ Kondisi geologi dan topografinya

2.12 TIPIKAL SISTEM PENGUMPUL
1. Pipa Persil
Pipa persil adalah pipa yang langsung menerima air buangan dari kamar mandi, tempat
cuci dan lain-lain. Pipa persil terletak pada pekarangan rumah dan berhubungan dengan pipa
service. Pada umumnya pipa persil berukuran 4 5 inch dan terbuat dari bahan tanah liat atau
PVC dengan profil bulat melingkar.
Adapun syarat yang perlu diperhatikan pada sambungan ke rumah adalah :
1. Sambungan jangan mengganggu jalannya air buangan dalam jaringan pengumpul. Untuk
itu penyambungan dilakukan menyerong dengan besar sudut maksimum 45. Apabila
perbandingan besar debit dari rumah dengan debit saluran pengumpul kecil sekali, maka
penyambungan dapat dilakukan secara tegak lurus.
2. Sedapat mungkin sambungan dapat diperiksa untuk mempermudah pemeliharaan saluran.
3. Air dalam jaringan pengumpul jangan sampai menahan air yang berasal dari rumah
tangga, untuk itu sambungan dari rumah-rumah harus diletakkan di atas permukaan aliran
air kotor yang tertinggi.
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

2. Pipa Service
Pipa service adalah pipa penyalur air buangan yang menghubungkan beberapa
sambungan dari rumah tangga, bangunan umum atau pipa yang menampung aliran dari
pipa persil yang merupakan sumber air buangan lainnya ke pipa lateral. Ukuran pipa
service berkisar antara 6 8 inch, terbuat dari tanah liat atau PVC dan diharapkan mampu
melayani sekitar 50 rumah.
3. Pipa Lateral
Merupakan pipa pengumpul air buangan dari pipa-pipa service untuk dialirkan ke
pipa cabang. Pipa lateral biasa ditempatkan di:
Tepi jalan di bawah trotoar untuk memudahkan penggalian di kemudian hari bila
diperlukan, terutama untuk pemeliharaan dan perbaikan.
Di bawah jalan tepat di bagian tengah bila jalan tidak cukup lebar dan di kedua sisi
jalan terdapat pemukiman yang sama padatnya.
Jika kuantitas air buangan dari kedua sisi jalan tidak sama besarnya, maka pipa di
pasang di sisi yang paling besar debit air buangannya.
Tengah jalan, untuk jalan-jalan yang di kedua sisinya mempunyai jumlah rumah yang
sama banyaknya dan elevasinya lebih tinggi dari jalan.
Kedua sisi jalan, bila terdapat banyak rumah baik di kiri maupun kanan jalan
Pada elevasi yang lebih tinggi, jika di sisi jalan terdapat perbedaan elevasi antara kedua
sisinya.
Ukuran pipa lateral tergantung dari jumlah pipa service yang dilayani. Untuk
sistem jaringan kecil, pipa service dapat berfungsi sebagai pipa lateral, sedangkan pada
jaringan yang besar, pipa lateral dapat berkembang menjadi pipa cabang. Diameter pipa
lateral biasanya lebih besar dari 8 inchi, dan materialnya dapat dipilih yang sesuai.
Bentuk saluran boleh bulat atau oval.
4. Pipa Cabang
Pipa cabang adalah pipa yang menampung air buangan dari pipa-pipa lateral yang
selanjutnya dialirkan ke pipa induk. Bentuk saluran boleh bulat atau oval.
5. Pipa Induk
Pipa induk adalah pipa yang menampung air buangan dari pipa cabang dan
meneruskannya ke bangunan pengolahan air buangan. Pipa ini merupakan penyaluran air
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

buangan terakhir sebelum instalasi pengolahan atau tempat pembuangan akhir. Ukuran
pipa induk ini tergantung dari jumlah populasi daerah pelayanan.

2.13 BEBAN DI ATAS SALURAN
Pipa yang ditanam di dalam galian akan menerima beban akibat penimbunan dan beban
bergerak di atasnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya pembebanan pada saluran
antara lain (PLP PU):
lebar galian
kedalaman pemasangan pipa
berat tanah penimbun
volume beban bergerak di atas saluran

2.14 POLA JARINGAN PENYALURAN AIR BUANGAN
1. Riol Mayor
Riol mayor dimulai dari percabangan lajur lajur pipa lateral pada suatu manhole
pertemuan. System jaringan roil mayor, terdiri dari pipa roil cabang dan roil induk/utama
(main/trunk sewer), dengan klas order sesuai dengan besar kecilnya system jaringan dalam
daerah pelayanannya. Criteria perhitungan diameter pipanya identik dengan kriteria
perhitungan diameter pipa roil lateral.
Pola jaringan riol mayor mengikuti pola sistem riol keseluruhan. Pola itu diantaranya ada
empat yaitu :
- Pola interseptor
Pola interseptor adalah pola campuran terkendali yaitu kedalam pipa riol hulu
dimasukkan porsi tertentu air hujan dengan pemasukan terkendali. Pada waktu ada
pemasukan air hujan, aliran pipa riol hulu penuh dan bertekanan dari awal hingga pipa
riol interseptor, tetapi dibatasi tidak mempunyai gradien hidrolis yang mengakibatkan
peluapan atau air balik (back water) pada perlengkapan saniter di daerah pelayanannya.
Hal ini identik dengan gradien hidrolis pada sistem SMALL BORE SEWERS.
- Pola Zona / wilayah
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Pola wilayah atau zona adalah pola yang diterapkan pada daerah pelayanan yang terbagi-
bagi oleh adanya fungsi pembagi daerah layanan tersebut, dimana pipa penyeberangan
atau perlintasannya tidak mungkin atau sangat mahal dibangun. Pada akhir riol riol
induknya dibuat BPAB.
- Pola kipas
Pola kipas adalah pola yang dapat diterapkan pada daerah bukit.
- Pola radial
Pola radial adalah pola dapat diterapkan pada daerah bukit.
2.15 BANGUNAN PELENGKAP PENYALURAN AIR BUANGAN
1. Manhole
Manhole adalah lubang pada jalur pipa yang berguna untuk melakukan pembersihan
saluran. Manhole biasanya ditempatkan pada perubahan diameter saluran, belokan,
perubahan kemiringan saluran dan juga pada junction.
Penempatan Manhole:
Manhole ditempatkan pada :
Jarak tertentu pada pipa lurus bergantung diameter pipa
Pada belokan > 22,5 baik horizontal maupun vertikal
Pada junction ( pertemuan aliran )
Pada perubahan kemiringan saluran
Pada perubahan diameter saluran
Tabel 3.3 Penempatan Manhole Pada Pipa Lurus
Diameter Pipa ( cm ) Jarak Manhole ( m )
20
50
100
200
50 100
100 125
125 150
150 -200
Sumber : PLP PU. Materi Training untuk Staf Teknis Proyek PLP Air Limbah
Bandung


Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Diameter Manhole:
Ukuran manhole disyaratkan supaya mudah dimasuki pekerja dalam pemeliharaan
saluran, diameter manhole bervariasi sesuai dengan kedalaman manhole.

Tabel 3.4 Diameter Manhole
Kedalaman (m) Diameter (m)
< 0,8
0,8 2,1
> 2,1
0,75
1,00
1,5
Sumber : PLP PU. Materi Training untuk Staf Teknis Proyek PLP Air Limbah
Bandung
Kriteria Manhole:
Agar manhole berfungsi sesuai dengan peruntukannya, maka manhole harus memenuhi
kriteria-kriteria sebagai berikut :
- Manhole harus bersifat padat.
- Dinding dan pondasi harus bersifat kedap air
- Manhole harus tahan terhadap gaya luar
- Luas manhole harus cukup dimasuki operator
- Bahan manhole beton atau pasangan batu bata/kali, jika kedalaman lebih dari 2,5 meter
harus menggunakan beton bertulang
- Bagian atas manhole harus fleksibel
- Tutup manhole harus mudah diperbaiki, kuat menahan gaya di atasnya, tersedia di
pasaran dan harganya murah serta dapat berfungsi sebagai ventilasi.
Manhole dapat terdiri dari beberapa penampang, yaitu :
Penampang empat persegi panjang
Umum digunakan untuk manhole dengan kedalaman kecil dan direncanakan tidak
untuk dimasuki operator.
Penampang bulat
Untuk manhole yang berukuran besar, dan berkonstruksi kuat komponen yang perlu
diperhatikan adalah :
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

- Pintu masuk manhole
Harus dapat memberikan keleluasaan petugas untuk masuk sehubungan dengan tugasnya dan
mempunyai daya tahan memikul beban sesuai dengan peruntukannya, tertutup rapat sehingga
aliran tidak keluar dan gas yang terbentuk dari fermentasi air buangan tidak keluar.
- Tangga manhole
Agar petugas dapat mencapai dasar manhole
- Dasar manhole
Dilengkapi dengan saluran yang akan meneruskan aliran air buangan berbentuk setengah
lingkaran atau huruf U.
- Diameter manhole
Tergantung kedalaman manhole.

2. Drop Manhole
Drop manhole harus dipasang pada pertemuan saluran yang ketinggiannya tidak sama.
Beda tinggi minimum drop manhole adalah 45 cm. Tujuan dipergunakannya drop manhole
adalah untuk menghindari splusing/penceburan air buangan yang dapat merusak saluran,
akibat penggerusan dan pelepasan H
2
S.


3. Siphon
Siphon diperlukan bila saluran melewati jalan, sungai, lembah atau jalan kereta api.
Yang harus diperhatikan dalam perencanaan siphon adalah kehilangan energi dan kemudahan
dalam pemeliharaan.
Kriteria Perencanaan Siphon:
Diameter minimum 15 cm
Pipa harus terisi penuh
Kecepatan pengaliran konstan agar mampu menghanyutkan kotoran, kecepatan
perencanaan biasanya > 1 m/s
Dibuat tidak terlalu tajam agar mudah dalam pemeliharaannya
Perencanaan harus mempertimbangkan debit minimum, rata-rata dan maksimum
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Pada awal dan akhir siphon dibuat sumur pemeriksaan untuk mempermudah dalam
pembersihan.
Dimensioning:
Dimensi siphon dapat dihitung dengan mempergunakan persamaan kontinuitas.
Q = A.v = v d
2
4
1
t
Dimana : Q : debit buangan (m3/s)
v : kecepatan aliran dalam siphon (m/det)
d : diameter pipa siphon
Kehilangan Tekanan:
Kehilangan tekanan dalam siphon sangat berperan dalam perencanaan siphon. Dengan
mengetahui kehilangan tekanan dalam siphon yang kita rencanakan, kita dapat
menentukan perbedaan ketinggian awal dan akhir saluran siphon dengan tepat.
Kehilangan tekanan dalam siphon dihitung berdasarkan persamaan :
|
.
|

\
|
+ + =
D
L
b a
g
v
h . 1
2
2

1
1
=

a
|
.
|

\
|
+ =
D
b
0005078 , 0
01989 , 0 5 , 1
Dimana : h : kehilangan tekanan sepanjang pipa siphon (m)
v : kecepatan aliran dalam siphon (m/det)
g : percepatan gravitasi (m
2
/det)
a : koefisien konstruksi pada mulut dan belokan pipa (minor
losses)
b : koefisien gaya gesek antara air dan pipa (mayor losses)
L : panjang pipa (m)
D : diameter pipa (m)
Ambang Pelimpah:
Untuk mengatur agar air buangan dapat masuk kedalam saluran pipa siphon sesuai
dengan perencanaan, maka diperlukan ambang pemisah yang sekaligus berfungsi sebagai
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

pelimpah kelebihan air buangan. Persamaan yang dipergunakan dalam perhitungan
ambang pelimpah adalah :

2
3
. .
3
1
H L Q =
Dimana : Q : debit air buangan (m
3
/detik)
L : panjang ambang (m)
H : ketinggian air di atas ambang (m)

4. Bangunan Penggelontor
a. Fungsi Bangunan Penggelontor
Bangunan penggelontor adalah sarana dalam sistem penyaluran air buangan yang
berfungsi untuk :
- Mencegah pengendapan kotoran dalam saluran
- Mencegah pembusukan kotoran padat dalam saluran
- Menjaga kedalaman air dalam saluran agar mencapai kedalaman berenang
Faktor yang perlu diperhatikan dalam merencanakan penggelontoran adalah :
- Air penggelontor harus bersih, tidak mengandung lumpur atau pasir, tidak asam, basa
atau asin
- Air penggelontor tidak boleh mengotori saluran
b. Jenis Penggelontoran
Menurut kontinuitasnya penggelontoran dibagi menjadi dua yaitu :
+ Sistem Kontinu
Penggelontoran dengan sistem kontinu dilakukan terus menerus dengan debit konstan.
Dalam perencanaan dimensi saluran, tambahan debit air buangan dari penggelontoran
harus diperhitungkan.
+ Sistem Periodik
Penggelontoran dengan sistem periodik dilakukan secara berkala/periodik pada
kondisi aliran minimum. Penggelontoran dengan sistem periodik paling sedikit dilakukan
sekali dalam sehari.
Volume air penggelontor tergantung pada:
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Diameter saluran yang digelontor
Panjang pipa yang digelontor
Kedalaman minimum aliran pada pipa yang digelontor
Kedalaman gelontor yang diinginkan.
Volume air yang diperlukan dalam penggelontoran diformulasikan sebagai :
( )
min
A A L V
gel gelontor
=
Dimana : V
gelontor
: volume air penggelontor (m/det)
L : panjang pipa yang digelontor (m)
A
gel
: luas penampang basah saat penggelontoran (m)
A
min
: luas penampang basah pada aliran minimum (m)
Pada waktu penggelontoran harus diperhitungkan kecepatan gelombang aliran
penggelontoran yang aman terhadap pipa sehingga dapat dicegah pukulan air yang besar
terhadap pipa atau terjadinya water hammer.
5. Terminal Clean Out
Bangunan terminal clean out berfungsi untuk memasukkan alat pembersih untuk
membersihkan saluran dan juga sebagai pipa tempat penggelontoran saluran, yaitu dengan
memasukkan air dari ujung bagian atas terminal clean out. Bangunan ini terdiri dari pipa
dengan diameter tertentu yang sesuai dengan diameter saluran, disambungkan vertikal
dengan menggunakan Y connection dan bend, dan bagian atasnya ditutup dengan frame yang
terbuat dari besi tuang. Bangunan terminal clean out biasa ditempatkan pada ujung pipa
lateral dan dekat fire hydrant atau pada bagian awal saluran, yaitu pada pipa service dan
mempunyai jarak manhole sekitar 50 - 70 meter.
6. Rumah Pompa
Dalam perencanaan sistem penyaluran air buangan adakalanya air buangan tidak dapat
dialirkan secara gravitasi, misalnya karena pembenaman pipa sudah melebihi 7 meter atau
ketika pipa harus melintasi prasarana lain sedangkan cara pengaliran lain tidak
memungkinkan. Keadaan tersebut walau tidak disukai terpaksa harus dicari pemecahannya
yaitu dengan memasang instalasi pompa pada tempat tersebut. Jadi pompa dalam sistem
penyaluran air buangan berfungsi sebagai :
- Alat untuk memindahkan air buangan dari suatu zone lain dalam suatu sistem.
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

- Alat untuk mengangkut air buangan dari tempat yang rendah ke tempat yang lebih
tinggi dalam sistem
- Memberikan head yang cukup pada proses pengolahan.
Karena pada instalasi pompa terjadi aliran tertutup, maka kemungkinan terjadinya
dekomposisi anaerob sangat besar. Oleh karena itu waktu pengaliran dalam sistem
perpompaan harus mendapat perhatian.
7. Belokan / Tikungan ( Bend )
Belokan merupakan salah satu bangunan pelengkap dalam sistem penyaluran air
buangan yang banyak dipakai pada pertemuan antara pipa lateral dengan pipa service , pipa
lateral dengan sub main pipa atau karena mengikuti belokan pada arah jalan. Biasanya pada
belokan terjadi kehilangan tekanan yang cukup besar, oleh karena itu pembuatan belokan
harus mengikuti kriteria-kriteria sebagai berikut :
- Pada belokan tidak beleh terjadi perubahan bentuk penampang melintang saluran
- Dinding saluran harus uniform baik radius maupun kemiringan
- Harus dibuat sebuah manhole untuk memudahkan pemeriksaan dan pemeliharaan
- Radius lengkung belokan yang terlalu pendek harus dihindari untuk mengurangi
kehilangan tekanan, radius lengkung dari pusat dianjurkan lebih besar dari tiga kali
diameter saluran.
8. Junction dan Transition
Junction adalah pertemuan beberapa saluran pada satu titik, pada setiap junction harus
dibuat manhole untuk kemudahan dalam pemeriksaan dan pemeliharaannya.
Transition adalah perubahan dimensi saluran yang biasanya dari diameter kecil ke
diameter yang lebih besar. Pada setiap transition harus dibangun sebuah manhole untuk
memudahkan dalam pemeriksaan dan pemeliharaannya.
Pada junction dan transition biasanya terjadi kehilangan energi aliran, untuk
memperkecil kehilangan energi tersebut dalam perencanaan dan pembangunan junction dan
transition harus memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut:
- Dinding dalam saluran harus dibuat selicin mungkin
- Kecepatan aliran dari setiap saluran yang bersatu diusahakan seragam
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

- Perubahan arah aliran pada junction tidak boleh terlalu tajam, sudut pertemuan antara
saluran cabang dan saluran utama maksimum 45.
- Harus ada manhole untuk pemeriksaan.

2.16 OPERASI DAN PEMELIHARAAN
1. Program dan Pemeliharaan
Tujuan utama program pemeliharaan adalah untuk memanfaatkan modal investasi yang
telah ditanamkan dalam pembangunan sistem riol suatu kota itu, agar dapat dioperasikan
dengan efisiensi dan kinerja yang optimum.
Jenis jenis program pemeliharaan diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Pemeliharaan pencegahan (preventive Maintenance)
Jadwal operasi pemeliharaan harus direncanakan yang rapih dan ketat, agar dapat
memperkecil gangguan (pengecatan agar tidak lekas keropos akibat korosi) dan
memeperbaiki kemacetan (pelumasan alat-alat berputar) serta memperlancar operasi
setempat (penyetelan alat-alat, missal mur baut yang lepas) agar umur efektifnya panjang.
b. Pemeliharaan Perbaikan (Corrective Maintenance)
Reparasi atau mengganti alat-alat/perlengkapan yang telah rusak.
c. Pemeliharaan Urusan Rumah Tangga (House Keeping Maintenance)
Menjaga kebersihan dan keindahan semua unit fasilitas yang ada
d. Pendataan dan Pelaporan (Records and Reports)
Pendataan dan pelaporan perlu dilaksanakan dengan jadwal waktu yang periodic dan
disusun rapi-informatif. File data diinventarisir berurutan sesuai tanggal dan abjad nama-
nama unit fasilitasnya dalam bentuk format standar.
Sebagai dokumenpenting bersejarah system riolerring suatu kota berguna sebagai
pedoman perbaikan system mendatang dan untuk pendidikan (data ilmiah).
2. Permasalahan Operasi dan Penanganannya
Permasalahan operasional yang sering terjadi diantaranya meliputi :
1. Hidrolis
Eksisting air penggelontor sangat kecil, sehingga transportasi tinja tidak selalu dapat
berenang hanyut, melainkan sebagian kandas, tertinggal dan lengket didasar saluran,
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

mengakibatkan kekasaran pipa menjadi besar dan mengecilnya ruang didalam pipa.
Disamping itu, emisi gas metana tak dapat dihindari.
Alternatif penanganannya :
- Sistem flushing di tiap WC distandarisasi misal > 15 L
- Menjaga agar kotoran padat dari luar tidak masuk ke dalam riol dengan membuat
saringan pada setiap inlet pengenceran air hujan
- Pembersihan saluran diintensifkan, terutama pembilasan air dari teminal clean out
sering dilakukan serta sistem penggelontoran yang ada diefektifkan
- Elevasi setiap bak kontrol dibuat lebih tinggi dari elevasi medan tebas lahan
sekitarnya. Agar tidak terbenam limpasan air hujan mungkin dapat masuk dan
membawa kotoran yang hanyut.
- Sistem drainase jalan yang dilalui jalur pipa riol diperbaiki. Agar air infiltrasi yang
masuk celah-celah lubang tutup manhole tidak membawa benda-benda padat kasar
yang berpotensi mengakibatkan penyumbatan.
2. Endapan dan Sampah
Lajur saluran pada jalan yang drainasenya jelek, infiltrasi air hujan yang masuk celah-
celah lubang manhole sering membawa hanyutan suspensi padatan diskrit dan sampah.hal
ini berpotensi untuk mebuat sumbatan aliran dan emisi gas metan.
Alternatif penanganan :
- Drainase jalan diperbaiki
- Kebersihan jalan dijaga
- Tutup manhole dikunci
- Inspeksi rutin tutup manhole
3. Tutup Manhole
Tutup manhole terbuat dari besi baja, mahal hargany. Jika tidak dikunci, berpotensi
hilang dicuri orang.
Alternatif penanganan :
- Tutup manhole dikunci
- Inspeksi rutin
4. Akar pohon
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Pepohonan disekitar lajur saluran mempunyai akar yang berpotensi untuk :
- Merubah kedudukan perletakkan pipa, yang dapat mengangkat, menggeser,
menurunkan kekanan dan kekiri. Bisa berakibat juga pipa patah atau lepas
- Masuk kedalam celah-celah sambungan
Alternatif penanganan :
- Dilarang menanam pohon terlalu dekat dengan lajur saluran pipa riol
- Pemeliharaan rutin

2.17 KERANGKA BERPIKIR
Setelah mempelajari referensi-referensi yang ada, dalam perencanaan sistem penyaluran
air buangan untuk Kecamatan Wadaslintang , akan menggunakan saluran tertutup dengan
sistem terpisah, dimana air buangan tidak
dialirkan dalam satu saluran bersama air hujan dalam saluran drainase. Dasar
pertimbangannya antara lain:
1. Dalam perencanaan ini tidak diperhitungkan fluktuasi debit air hujan.
2. Dengan menggunakan sistem terpisah biaya konstruksi yang diperlukan, yang meliputi
perpipaan dan penggalian jalur, akan lebih murah.
3. Saluran tertutup lebih aman terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, serta tidak
mengganggu estetika kota.
Dalam merencanakan sistem penyaluran air buangan di Kecamatan Wadaslintang kami
menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1. mengetahui jumlah penduduk di daerah pelayanan.
2. Menentukan debit air buangan yang dihasilkan di Kecamatan Wadaslintang sesuai
jumlah penduduk.
3. Mengambil satu RW dengan jumlah KK berkisar antara 200-500 untuk kemudian
dibagi menjadi blok-blok pengaliran.
4. Membuat jaringan perpipaan penyaluran air buangan pada daerah pelayanan yang
terpilih.
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

5. Menentukan dimensi perpipaan saluran air buangan dengan kecepatan dan slope yang
sesuai, dimana dalam perencanaan ini kami akan mengalirkan air menurut topografi
sehingga memperkecil biaya konstruksi, operasi, dan pemeliharaan.
6. Menentukan bangunan penunjang yang sesuai serta memberikan rekomendasi dalam
operasi dan pemeliharaannya.

























Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

BAB III
GAMBARAN UMUM KECAMATAN WADASLINTANG

3.1. UMUM
Dalam tugas ini, diambil daerah perencanaan pada Kecamatan Wadaslintang. Pada
bagian ini akan dibahas secara umum kondisi daerah perencanaan Kecamatan Wadaslintang
ditinjau dari aspek fisik yang meliputi posisi geografi, batas administrasi, kondisi iklim,
topografi, hidrologi dan hidrogeologi serta tata guna lahan yang ada saat ini, aspek sosial
ekonomi yang meliputi kependudukan dan kepadatan penduduk serta fasilitas-fasilitas yang
ada di daerah tersebut.

3.2. ASPEK FISIK
Geografi
Kecamatan Wadaslintang Kabupaten Wonosobo dengan luas 12.716 Ha terletak pada
ketinggian 268 m di atas permukaan laut dan berjarak 37 Km dari Ibu Kota Kabupaten ke
arah barat daya yang dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 1,5 jam menggunakan
angkutan umum.
Administrasi
Secara administrasi Kecamatan Wadaslintang dibatasi oleh :
Sebelah Utara : Kecamatan Kaliwiro
Sebelah Timur : Wilayah Kabupaten Purworejo
Sebelah Selatan : Wilayah Kabupaten Purworejo
Sebelah Barat : Wilayah Kabupaten Kebumen

Tabel 3.1. Kelurahan di Kecamatan Wadaslintang
No. Kelurahan
1 Kaligowong
2 Sumbersari
3 Sumberejo
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

4 Erorejo
5 Karanganyar
6 Panerusan
7 Wadaslintang
8 Plunjaran
9 Kumejing
10 Lancar
11 Somogede
12 Trimulyo
13 Tirip
14 Besuki
15 Gumelar
16 Ngalian
17 Kalidadap
Sumber : Kecamatan Wadaslintang Dalam Angka 2010
Topografi
Kecamatan Wadaslintang mempunyai ketinggian sebesar 268 m di atas permukaan
laut dengan kondisi bentang alam berupa daerah pegunungan yang banyak terdapat lembah.
Klimatologi
Suhu udara di Wonosobo rata rata 20
o
25
o
C sebagai bagian dari Wonosobo yang
merupakan daerah pegunungan berhawa dingin Wadaslintang memiliki suhu udara yang
relatif lebih tinggi dibandingkan dengan 14 kecamatan lain di Wonosobo dikarenakan
Wadaslintang terletak di ujung terendah Kabupaten Wonosobo. Curah hujan di Wadaslintang
turun lebih dari cukup, dari sini air mengalir dari sungai sungai dan memenuhi Waduk
Wadaslintang yang sangat bermanfaat untuk irigasi pertanian, pembangkit listrik, usaha
perikanan, dan pariwisata.

3.3. ASPEK KEPENDUDUKAN
Dengan luas 12.716 Ha Wadaslintang terbagi menjadi 1 Kelurahan dan 16 Desa dengan
jumlah penduduk di wilayah Kecamatan Wadaslintang dapat dikatakan cukup padat, untuk
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

tahun 2009 saja jumlah penduduk di Kecamatan Wadaslintang mencapai 55.054 jiwa pada
akhir tahun 2009 terdiri dari 17.235 KK.
Tabel 3.2. Jumlah Penduduk Kecamatan Wadaslintang Tahun 2005-2009
No. Tahun Jumlah Penduduk
1 2005 54136
2 2006 54340
3 2007 54548
4 2008 54896
5 2009 55081
Sumber : Kecamatan Wadaslintang dalam Angka Tahun 2010

Tabel 3.3. Kepadatan Penduduk Kecamatan Wadaslintang dirinci Perdesa Tahun 2009
No. Kelurahan/
Desa
Luas Wilayah
(Km
2
)
Jumlah
Penduduk
KepadatanPenduduk
(jiwa/km
2
)
1 Kaligowong 5,761 4510 783
2 Sumbersari 5,177 600 116
3 Sumberejo 6,421 1724 268
4 Erorejo 3,758 1684 448
5 Karanganyar 6,325 2583 408
6 Panerusan 5,738 2621 453
7 Wadaslintang 3,893 4786 1229
8 Plunjaran 5,471 2161 395
9 Kumejing 6,075 2443 402
10 Lancar 15,036 4773 317
11 Somogede 8,400 4122 491
12 Trimulyo 8,462 4969 587
13 Tirip 7,488 4535 605
14 Besuki 11,217 2751 245
15 Gumelar 4,815 2897 602
16 Ngalian 7,230 5694 785
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

17 Kalidadap 8,052 2228 277
Sumber : Kecamatan Wadaslintang dalam Angka Tahun 2010
3.4. FASILITAS-FASILITAS
Fasilitas Pendidikan
Fasilitas pendidikan yang ada di Kecamatan Wadaslintang berupa TK, SD, SLTP,
SMU dan Madrasah. Data mengenai fasilitas pendidikan ini dapat dilihat dalam tabel 3.4
sebagai berikut.

Tabel 3.4 Fasilitas Pendidikan di Kecamatan Wadaslintang tahun 2009
No Keterangan Jumlah
1.
2.
3.
4.
5.
TK
SD
SLTP
SMU
Madrasah
40
44
10
3
16
Sumber : Kecamatan Wadaslintang dalam Angka Tahun 2010

Fasilitas Peribadatan
Penduduk di Kecamatan Wadaslintang 99,547% mayoritas beragama Islam. Fasilitas
peribadatan di Kecamatan Wadaslintang berupa masjid, mushola atau langgar, gereja dan
kapel. Untuk data selengkapnya dapat dilihat pada tabel 3.5 berikut ini.

Tabel 3.5 Fasilitas Peribadatan di Kecamatan Wadaslintang tahun 2009
No Keterangan Jumlah
1
2
3
Masjid
Mushola / Langgar
Gereja
98
266
3
4 Kapel 1
Sumber : Kecamatan Wadaslintang dalam Angka Tahun 2010

Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

Fasilitas Kesehatan
Fasilitas kesehatan yang ada di Kecamatan Wadaslintang adalah terdiri dari Rumah
Bersalin, Puskesmas, Pustu, dan Posyandu. Untuk data selengkapnya dapat dilihat pada tabel
3.6 berikut ini.

Tabel 3.6 Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Wadaslintang Tahun 2009
No Keterangan Jumlah
1.
2.
3.
Rumah Bersalin
Puskesmas
Pustu
1
1
8
4. Posyandu 63
Sumber : Kecamatan Wadaslintang dalam Angka Tahun 2010
Fasilitas Perekonomian
Fasilitas Perekonomian di Kecamatan Wadaslintang berupa bank, koperasi, BMT, dan
penggilingan padi. Untuk data selengkapnya mengenai fasilitas Perekonomian dapat dilihat
pada tabel 3.7 sebagai berikut.
Tabel 3.7 Fasilitas perekonomian di Kecamatan Wadaslintang Tahun 2009
No Keterangan Jumlah
1 Bank 2
2 Koperasi 17
3 BMT 2
Sumber : Kecamatan Wadaslintang dalam Angka Tahun 2010
Fasilitas Usaha
Kecamatan Wadaslintang memiliki cukup banyak usaha baik itu pasar, warung
makan, kios, dan industri. Untuk data selengkapnya mengenai fasilitas usaha di Kecamatan
Wadaslintang dapat dilihat pada tabel 3.8 sebagai berikut.

Tabel 3.8 Fasilitas usaha di Kecamatan Wadaslintang Tahun 2009
No Keterangan Jumlah
1 Pasar Umum 6
Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080

2 Pasar Ikan 2
3 Pasar Hewan 2
4 Warung Kelontong 538
5 Warung Makan 71
6 Warung Besi 14
7 Kios Saprotan 40
8 Kios Pulsa 98
9 Industri Kecil 16
10 Industri Rumah Tangga 1828
11 Penggilingan Padi 68
Sumber : Kecamatan Wadaslintang dalam Angka Tahun 2010

Fasilitas Pemerintahan
Fasilitas Pemerintahan di Kecamatan Wadaslintang terdiri dari kantor Kecamatan dan
kantor Kelurahan / Desa. Untuk data selengkapnya mengenai fasilitas Perekonomian dapat
dilihat pada tabel 3.9 sebagai berikut.
Tabel 3.9 Fasilitas pemerintahan di Kecamatan Wadaslintang Tahun 2009
No Keterangan Jumlah
1 Kantor Kecamatan 1
2 Kantor Kelurahan / Desa 17
Sumber : Kecamatan Wadaslintang dalam Angka Tahun 2010








Penyaluran air buangan
Kecamatan wadaslintang
Kabupaten wonosobo

IRMA OKTAVIA L2J009080








DAFTAR PUSTAKA

Darmasetiawan, Martin. 2004. Sarana Sanitasi Perkotaan. Jakarta : Ekamitra Engineering
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2003. Pedoman Pengelolaan Air Limbah
Perkotaan. Jakarta
Hardjosuprapto, Masduki . 2000. Penyaluran Air Buangan. Bandung : ITB
Masduki Hs, H. M. 2000. Materi kuliah:Penyaluran air buangan (PAB) volume 2. Bandung :
Jurusan Teknik Lingkungan ITB
Metcalf dan Eddy, Second Edition, Wastewater Eng: Treatment Disposal Reuse, California :
University of California