Anda di halaman 1dari 4

REVIEW JURNAL KAKPM-04 PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP BIAYA MODAL EKUITAS OLEH : IBU WIWIK UTAMI

4. Latar Belakang Penelitian Adanya konflik kepentingan dan tidak transparannya laporan keuangan Emiten. Adanya bukti empirik bahwa tingkat manajemen laba emiten di Indonesia relative tinggi dan tingkat proteksi terhadap investor rendah. Penelitian tentang pengaruh manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas masih sangat sedikit. Adanya perbedaan manajemen laba di berbagai negara, dan perbedaan tersebut dikarenakan adanya perbedaan proteksi terhadap investor. 5. Rumusan Masalah

Apakah manajemen laba berpengaruh terhadap biaya modal ekuitas ?

6. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui apakah investor sudah merespon dengan tepat informasi akrual yang disajikan dalam laporan keuangan emiten. Untuk mengetahui apakah investor di Bursa Efek Jakarta telah mengantisipasi informasi akrual yang tersaji dalam laporan keuangan emiten. 7. Landasan Teori

Manajemen laba ialah mencakup usaha manajemen untuk memaksimumkan, atau

meminimumkan laba, termasuk perataan laba sesuai dengan einginan manajemen. Biaya modal adalah merupakan konsep yang dinamis yang dipengaruhi oleh beberapa faktor ekonomi. 8. Hipotesis

Ho : Manajemen laba tidak berpengaruh terhadap biaya modal ekuitas Ha : Manajemen laba berpengaruh positip terhadap biaya modal ekuitas
9. Metode Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian kausal yaitu Data

dikumpulkan dan dianalisis menggunakan pool data untuk periode 2001 dan 2002. Untuk menganalisis pengaruh manajamen laba terhadap biaya modal ekuitas dilakukan pengamatan untuk tiga hari perdagangan di BEJ (window tiga hari) yaitu: satu hari sebelum pengumuman laporan keuangan (t-1), pada hari pengumuman laporan keuangan (to), dan satu hari setelah pengumuman laporan keuangan (t + 1).

REVIEW JURNAL KAKPM-07 PENGARUH KOMITE AUDIT TERHADAP KUALITAS LABA OLEH : BAPAK AGUNG SUARYANA
1. Latar Belakang Penelitian Peraturan mewajibkan perusahaan tercatat memiliki komite audit

Beberapa penelitian cenderung mendukung keberadaan komite audit, karena meningkatkan kualitas pelaporan keuangan (Klien 2001, DeFond dan Jiambalvo 1991, McMulen 1996, Beasly dan Salterio 2001, McMullen dan Raghunandan 1996).Tapi ada hasil penelitian lain tidak menemukan perbedaan antara perusahaan yang membentuk dan tidak membentuk komite audit (Beasley 1996, Kalbers 1992, Crowford 1987 dan McMullen 1996).

2. Rumusan Masalah

Apakah perbedaan kualitas laba antara perusahaan yang memiliki dan tidak memiliki komite audit yang telah memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh BEJ ?. 3. Tujuan Penelitian

Dapat menambah literatur hubungan komite audit dalam kaitannya dengan kualitas laba yang diukur dengan ERC. Memberikan masukan mengenai efektifitas pembentukan komite audit audit independen, sesuai dengan peraturan BEJ tanggal 1 Juli 2001. 4. Landasan Teori

ERC mengukur pengaruh dari satu dolar laba kejutan terhadap return saham, dan diukur sebagai slopa dalam regresi return abnormal saham dan unexpected earnings. Komite audit bertugas membantu dewan komisaris untuk memonitor proses pelaporan keuangan oleh manajemen untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangan (Bradbury et al. 2004). Beberapa penelitan lain tidak dapat membuktikan perbedaan antara perusahaan yang membentuk dan tidak membentuk komite audit. Crowford (1987). Peneliti Anderson et al. (2003) menemukan karakteristik komite audit (independensi, aktivitas dan ukuran komite audit) mempengaruhi kandungan informasi dari laba yang diukur dengan ERC. 5. Hipotesis H1 : Koefisien respon laba perusahaan yang membentuk komite audit yang memenuhi syarat lebih besar dari pada koefisien respon laba perusahaan yang tidak membentuk komite audit.

6. Metode Penelitian

Metode penelitian menggunakan sampel dan data penelitian, cara pengambilan sampel, pengukuran unexpected earnings, returns abnormal dan pengujian statistik yang akan dilakukan untuk menguji hipotesis. Sampel perusahaan yang digunakan perusahaan manufaktur dan non manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Pemilihan sampel dilakukan dengan metoda purposive sampling yaitu metoda pemilihan sampel dengan beberapa kriteria tertentu

REVIEW JURNAL KAMP-01 PENGARUH SISTEM PENGUKURAN KINERJA, SISTEM REWARD, DAN PROFIT CENTER TERHADAP HUBUNGAN ANTARA TOTAL QUALITY MANAGEMENT DENGAN KINERJA MANAJERIAL OLEH : IBU AIDA AINUL MARDIYAH
1. Latar Belakang Penelitian

Banyaknya perusahaan manufaktur melakukan perbaikan terus menerus menggunakan teknik-teknik total quality management (TQM) atau Just-In-Time (JIT). Adanya perusahaan yang telah menerapkan TQM dan hasilnya ada yang telah berhasil meningkatkan kinerjanya, tetapi ada juga yang belum mampu meningkatkan kinerjanya (Sim dan Killough, 1998). Tidak ada Sistem Akuntansi Manajemen secara universal yang selalu tepat untuk dapat diterapkan di seluruh organisasi setiap keadaan. Peneliti Shih (2001) memberikan bukti empiris yang menunjukkan adanya kesempatan suatu perusahaan mengevaluasi kinerja manajer atas laba berhubungan positif dengan pentingnya produk yang berkualitas dan pelayanan pelanggan 2. Rumusan Masalah

Apakah interaksi penerapan TQM dan sistem pengukuran kinerja berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial ? Apakah interaksi penerapan TQM dan sistem reward berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial? Apakah interaksi penerapan TQM dan profit center berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial? 3. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui apakah interaksi penerapan TQM dan sistem pengukuran kinerja berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial. Untuk mengetahui apakah interaksi penerapan TQM dan sistem reward berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial, serta.

Untuk mengetahui apakah interaksi penerapan TQM dan profit center berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial. Landasan Teori Teori kontigensi adalah metoda penelitian yang menjelaskan bahwa efektivitas desain Sistem Akuntansi Manajemen tergantung eksistensi perpaduan antara organisasi dengan lingkungannya Ada dua faktor kontingensi, yaitu sistem pengukuran kinerja dan sistem reward terhadap keefektifan penerapan teknik Total Quality Management. Peneliti Mahoney (1963) menyatakan kinerja ialah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka mencapai tujuan organisasi Kinerja manajerial ialah kinerja individu anggota organisasi dalam kegiatan manajerial. Peneliti Mulyadi (1998) menyatakan Total Quality Management merupakan suatu sistem manajemen yang berfokus kepada orang yang bertujuan untuk meningkatkan secara berkelanjutan kepuasan customers pada biaya yang sesungguhnya secara berkelanjutan terus menerus. Tujuan sistem pengukuran kinerja ialah untuk mendorong pencapaian tujuan strategis yang memfokuskan aktivitas organisasi dimasa depan. Menurut Peneliti Mulyadi (1998) Sistem reward dan pengakuan atas kinerja karyawan merupakan sarana untuk mengarahkan perilaku karyawan keperilaku yang dihargai dan diakui oleh organisasi. Hipotesis

Ha1: Interaksi antara penerapan TQM dan sistem pengukuran kinerja berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial. Ha2: Interaksi antara penerapan TQM dan sistem reward berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial. Ha3: Interaksi antara penerapan TQM dan profit center berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan kuesioner yang dikirim melalui jasa pos. Subjek yang menjadi target penelitian adalah manajer tingkat menengah dan manajer pemasaran