Anda di halaman 1dari 5

MAZHAB POSITIVISME

Istilah Positivisme Hukum pertama kali oleh Saint Simon (1760-1825) dari
prancis sebagai metode dan sekaligus sebagai perkembangan dalam arah pemikiran
IilsaIat. Positivisme Hukum sebagai sebuah aliran pemikiran IilsaIat hukum
mendasarkan pemikirannya pada pemikiran seorang ahli IilsaIat Prancis terkemuka
yang pertama kali menggunakan istilah Positivisme, yaitu August Comte (1798-
1857). Pemikiran Comte merupakan ekspersi suatu periode kultur Eropa yang
ditandai dan diwarnai perkembangan pesat ilmu-ilmu eksakta berikut penerapannya.
Comte membagi perkembangan pemikiran manusia kedalam tiga taraI/ Iase, yang
menurutnya hal tersebut merupakan sebuah rentetan ketentuan umum yang sudah
ditetapkan. Tiga tahap tersebut melalui teori comte tentang kemajuan manusia adalah
sebagai berikut :
1. Tahap teologis (dimana manusia dan alam seisinya di jelaskan oleh supranatural).
2. Tahap metaIisis (menjelaskan alam serta gejala didalamnya dengan mengandalkan
kemampuan rasio atau akal budi).
3. Tahap positiI/ ilmiah (tahapan dimana seluruh pengalaman memberikan inspirasi
kepada manusia untuk merumuskan hukum).
Comte menuangkan gagasan positivisnya dalam bukunya the Course oI
Positivie Philosoph, yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi IilosoIis
dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis yang semuanya itu
tewujud dalam tahap akhir perkembangan. Perkembangan ini diletakkan dalam
hubungan statika dan dinamika, dimana statika yang dimaksud adalah kaitan organis
antara gejala-gejala (diinspirasi dari de Bonald), sedangkan dinamika adalah urutan
gejala-gejala (diinspirasi dari IilsaIat sejarah Condorcet).
Bagi Comte untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positiI yang
kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positiI ini mempunyai 4 (empat) ciri, yaitu :
a. Metode ini diarahkan pada Iakta-Iakta
b. Metode ini diarahkan pada perbaikan terus-meneurs dari syarat-syarat hidup
c. Metode ini berusaha ke arah kepastian
d. Metode ini berusaha ke arah kecermatan.


Metode positiI juga mempunyai sarana-sarana bantu yaitu pengamatan,
perbandingan, eksperimen dan metode historis. Tiga yang pertama itu biasa dilakukan
dalam ilmu-ilmu alam, tetapi metode historis khusus berlaku bagi masyarakat yaitu
untuk mengungkapkan hukum-hukum yang menguasai perkambangan gagasan-
gagasan.
Sehingga positivisme adalah merupakan sebagai ilmu pengetahuan sehingga menurut
pandangan para pakar positivism. Tugas pokok IilsaIat adalah menemukan prinsip
umum bagi semua ilmu pengetahuan dan yang selanjutnya digunakan panduan prilaku
manusia, sekaligus menjadi basis organisasi sosial.
Pengertian pokok dalam istilah positivisme hukum (Morawetz) dan Legal Positivism
(Paul Edwards), adalah sebagi berikut:
1. Positivisme hukum digunakan untuk menunjuk konsep hukum yang mendeIinisikan
hukum sebagai komando, sebagaimana diperkenalkan oleh pakar IilsaIat inggris yaitu
John Austin. Akan tetapi pemikiran ini ditolak oleh H.L.A Hart, karena deIinisi
Austin tidak cukup memadai dikarenakan mengabaikan peraturan lainnya yang
berIungsi sebagai hukum meskipun tidak harus dalam artian komando dari seorang
yang berdaulat. Jadi menurut Hart semua undang-undang dan kontitusi serta hukum
Internasional dapat dimasukkan dalam kategori positivisme. Dan dapat diperluas
meliputi hukum adat dan hukum yang dibuat oleh hakim dalam proses pengadilan
(Yurisprudensi).
2. Istilah positivisme digunakan untuk menandai perkembangan penting dalam konsep
hukum terdapat dua ciri, yaitu (a). Hukum harus netral dipisahkan dari moral dan
politik hukum yang disebut hukum murni dikembangkan oleh Hans Kelsen. Dan (b).
Hukum tidak mengenal hukum yang ideal, melainkan hukum denga aktual (hukum
yang ada). Pemisahan tersebut positivisme untuk hukum dari pernyataan moral yang
tidak ilmiah (konsep Iundamental seperti halnya hak, kewajiban, kepemilikan, dan
person hukum).
3. Positivisme hukum merupakan cara berIikir dalam proses judisial dimana hakim
menasarkan putusannya kepada peraturan yang ada (pengandalan kemanpuan berIikir
yang logis).
4. Positivisme hukum juga merupakan cara pandang berIikir penilaian moral kalau
dipandang perlu harus didasarkan dengan bukti-bukti Iaktual atau argument rasional.
Sebagaimana pandangan Joseph Raz melalui gagasannya mitos moralitas bersama
(the myth oI common morality), bahawa kesatuan tercipta karena adanya moralitas
yang diterima dalam masyarakat.
5. Positivisme sosiologis, yaitu positivisme menuntuk menunjuk pandangan hukum
yang ada bila tidak adil harus dipatuhi. Dengan kata lain validitas hukum tidak
tergantung dengan validitas moral sebagaimana yang dituntul oleh hukum kodrat.
Bagi Comte yang penting adalah stadium/ tahap ilmiah, sebagai tahap terakhir dan
tertinggi pemikiran manusia, dimana pada tahap ini pemikiran manusia sampai pada
suatu pengetahuan yang ultim. Dasar dari pengetahuan adalah Iakta-Iakta yang dapat
diobservasi. Pemikiran Ilmiah berikhtiar untuk mencari dan menelusuri hubungan-
hubungan dan ketentuan-ketentuan umum antara Iakta-Iakta melalui cara yang dapat
diawasi, artinya melalui metode eksperimental.
Melalui positivisme, hukum ditinjau dari sudut pandang positivisme yuridis
dalam arti yang mutlak. Artinya adalah ilmu pengetahuan hukum adalah undang-
undang positiI yang diketahui dan disistematikan dalam bentuk kodiIikasi-kodiIikasi
yang ada. Positivisme hukum juga berpandangan bahwa perlu dipisahkan secara tegas
antara hukum dan moral (antara hukum yang berlaku dan hukum yang seharusnya /
antara das Sollen dan das Sein). Dalam kacamata positivis tiada hukum lain kecuali
perintah penguasa (law is command Irom the lawgivers). Bahkan bagi sebagian aliran
Positivisme Hukum yang disebut juga Legisme, berpendapat bahwa hukum itu identik
dengan Undang-undang. Positivisme Hukum juga sangat mengedepankan hukum
sebagai pranata pengaturan yang mekanistik dan deterministik.
Salah satu pemikir Positivisme yang terkemuka adalah John Austin (1790-
1859). Bagi Austin hukum adalah perintah dari penguasa. Hakikat hukum sendiri
menurutnya terletak pada unsur 'perintah (command). Hukum dipandang sebagai
suatu sistem yang tetap, logis, dan tertutup. Austin menyatakan ' a law is a command
which obliges a person or person. Laws and other commands are said to proceed Irom
superior, and to bind or oblige inIeriors. Austin pertama-tama membedakan hukum
dalam dua jenis :
1. Hukum dari Tuhan untuk manusia (the divine laws), dan
2. Hukum yang dibuat oleh manusia, yang dibagi lagi kedalam dua bagian:
a. hukum yang sebenarnya.
b. hukum yang tidak sebenarnya.
Menrut ARISTOTELES, Hukum positiI adalah semua hukum yang ditentukan
oleh penguasa negara.Hukum positiI disini berarti hukum yang berlaku,baik yang
tertulis maupun tidak tertulis. Hukum itu harus selalu ditaati, sekalipun ada hukum
yang tidak adil. . Semua hukum positiI adalah perintah. Perintah dari yang berdaulat
atau command oI sovereign atau command oI law-giver.
Penjelasan hukum dalam arti yang sebenarnya ini (disebut juga hukum positiI)
meliputi hukum yang dibuat oleh penguasa dan hukum yang disusun oleh manusia
secara individu untuk melaksanakan hak-hak yang diberikan kepadanya. Hukum yang
tidak sebenarnya adalah hukum yang tidak dibuat oleh penguasa, sehingga tidak
memenuhi persyaratan sebagai hukum.
Senada dengan Austin, tokoh dari aliran Positivisme Hukum lainnya yaitu
Hans Kelsen (1881-1973), mengatakan bahwa hukum harus dibersihkan dari anasir-
anasir asing yang non-yuridis, seperti unsur sosiologis, politis, historis, bahkan etis.
Pemikirannya ini dikenal sebagai Teori Hukum Murni (the pure theory oI
law). Bagi Kelsen hukum adalah suatu sollens kategori (kategori keharusan)
bukannya sein kategorie (kategori Iaktual). Hukum dikonstruksikan sebagai suatu
keharusan yang mengatur tingkah laku manusia sebagai mahluk rasional. Dalam hal
ini yang dipersoalkan oleh hukum bukalah bagaimana hukum itu seharusnya' (what
the law ought to be) melainkan 'apa hukumnya (what is the law). Dengan demikian
hukum itu merupakan hukum positiI an sich.
Dalam paradigma positivisme deIinisi hukum harus melarang seluruh aturan
yang mirip hukum, tetapi tidak bersiIat perintah dari otoritas yang berdaulat.
Kepastian hukum harus selalu dijunjung apapun akibatnya dan tidak ada alasan untuk
tidak menjunjung hal tersebut, karena dalam paradigmanya hukum positiI adalah satu-
satunya hukum. Dari sini nampak bahwa bagi kaum positivistik adalah kepastian
hukum yang dijamin oleh penguasa. Kepastian hukum yang dimaksud adalah hukum
yang resmi diperundangkan dilaksanakan dengan pasti oleh negara. Kepastian hukum
berarti bahwa setiap orang dapat menuntut agar hukum dilaksanakan dan tuntutan itu
pasti dipenuhi


ESIMPULAN
Dalam paradigma postivistik sistem hukum tidak diadakan untuk memberikan
keadilan bagi masyarakat, melainkan sekedar melindungi kemerdekaan individu
(person). Kemerdekaan individu tersebut senjata utamanya adalah kepastian hukum.
Menrut ARISTOTELES, Hukum positiI adalah semua hukum yang ditentukan
oleh penguasa negara.Hukum positiI disini berarti hukum yang berlaku,baik yang
tertulis maupun tidak tertulis. Hukum itu harus selalu ditaati, sekalipun ada hukum
yang tidak adil. . Semua hukum positiI adalah perintah. Perintah dari yang berdaulat
atau command oI sovereign atau command oI law-giver.Paradigma positivistik
berpandangan demi kepastian, maka keadilan dan kemanIaatan boleh diabaikan.
Pandangan positivistik juga telah mereduksi hukum dalam kenyataannya sebagai
pranata pengaturan yang kompleks menjadi sesuatu yang sederhana, linear,
mekanistik dan deterministik. Hukum tidak lagi dilihat sebagai pranata manusia,
melainkan hanya sekedar media proIesi. Akan tetapi karena siIatnya yang
deterministik, aliran ini memberikan suatu jaminan kepastian hukum yang sangat
tinggi. Artinya masyarakat dapat hidup dengan suatu acuan yang jelas dan ketaatan
hukum demi tertib masyarakat merupakan suatu keharusan dalam positivisme hukum.