Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEBIDANAN

PADA By. Ny. V USIA 3 HARI DENGAN IKTERUS NEONATORUM FISIOLOGIS DI RUANG BAYI BPRSD Dr. MOHAMAD SWANDHIE SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pada umumnya kehadiran bayi normal cukup dihadiri oleh bidan yang dapat diberi tanggung jawab penuh terhadap keselamatan ibu dan bayi pada persalinan normal. Maka seorang bidan harus mengetahui dengan segera timbulnya perubahan-perubahan pada ibu dan bayi dan bila perlu memberikan pertolongan pertama seperti, memberikan oksigen dan melakukan pernapasan buatan sampai ibu atau bayi tersebut dilihat oleh seorang dokter atau dibawa ke rumah sakit yang mempunyai perlengkapan serta perawatan yang baik, sehingga pengawasan dan pengobatan dapat dilakukan sebaik-baiknya. Penelitian telah menunjukkan bahwa lebih dari 50% kematian bayi terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan, sebagian besar bayi baru lahir mengalami hipotermi sampai tingkat yang bisa dilihat mata. Terdapat banyak sebab fisiologis timbulnya hipotermi selama minggu pertama setelah lahir. Tatalaksana hipotermi bergantung pada apakah hipotermi bersifat fisiologis atau patologis. Bidan harus belajar membedakan dua proses ini dan harus didorong dalam penerapan perawatan bayi yang meningkatkan hilangnya hipotermi. Hipotermi fisiologi lebih lazim dijumpai pada beberapa keadaan.. Bayibayi yang menyusu badan mempunyai insidens hipotermi fisiologis yang lebih tinggi daripada bayi-bayi yang mendapat makanan lewat botol.

Seluruh orang tua harus mendapatkan informasi mengenai tingginya frekuensi hipotermi pada bayi baru lahir. Mereka dapat dinasehati untuk memberi makan bayi sesering mungkin selama hari-hari pertama kehidupan agar merangsang pengeluaran mekoneum. Mekoneum mempunyai kandungan tinggi bilirubin dan pengeluarannya yang lambat meningkatkan penyerapanulang bilirubin sebagai bagian dari proses pintas enterohepatik. 1.2 Tujuan Penulisan 1.2.1 Tujuan Umum Penulis dapat menerapkan dan mengembangkan pola pikir secara ilmiah dalam memberikan asuhan kebidanan secara nyata serta mendapatkan pengetahuan dalam memecahkan masalah khusunya pada Asuhan Kebidanan Pada By. Ny. S Usia 2 Hari Dengan Hipotermi Fisiologis Di BPRSD Dr. Mochamad Swandhie Surabaya. 1.2.2 Tujuan Khusus Tujuan khusus yang akan dicapai adalah mampu melakukan : 1. dengan Hipotermi 2. 3. 4. 5. 1.3 Metode Penulisan Metode penulisan yang digunakan dalam proses penyusunan laporan ini adalah : 1. 2. Metode pendekatan deskriptif yaitu metode yang sifatnya Teknik pengumpulan data dan pengidentifikasian data melalui mengungkapkan peristiwa dan gejala yang terjadi. observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, studi dokumen dan studi kepustakaan. Merumuskan diagnosa kebidanan dan menetukan Menyusun rencana kebidanan. Melaksanakan tindakan kebidanan. Evaluasi asuhan kebidanan. prioritas masalah pada bayi dengan Hipotermi Pengkajian dan menganalisa data pada bayi

3.

Sumber data primer dari klien dan data sekunder dari keluarga

dan petugas kesehatan. 1.4 1.4.1 Lokasi Dan Waktu Lokasi Asuhan kebidanan ini disusun saat penulis melaksanakan praktek lapangan di Ruang Bayi BPRSD Dr. Mochamad Swandhie Surabaya. 1.4.2 1.5 Waktu Pada tanggal 2 Agustus 2008 jam 10.00 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan laporan ini terdiri dari : LEMBAR JUDUL LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I Pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan penulisan yang terbagi dalam tujuan umum dan tujuan khusus, metode penulisan, lokasi dan waktu, serta sistematika penulisan. BAB II BAB III Landasan teori meliputi konsep dasar teori, dan manajemen asuhan kebidanan. Tinjauan kasus meliputi pengkajian data yang terdiri dari identitas/biodata, data subyektif, data obyektif, dan uji diagnostik. Interpretasi data yang terdiri dari diagnosa, masalah, dan kebutuhan. Identifikasi diagnosa dan masalah potensial, identifikasi kebutuhan akan tindakan segera atau kolaborasi, merencanakan asuhan yang menyeluruh, pelaksanaan, serta evaluasi. BAB IV Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran. DAFTAR PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Konsep Dasar Teori Ikterus Neonatorum 2.2.1.Definisi Ikterus adalah warna kuning yang sering dijumpai pada bayi baru lahir dalam batas normal pada hari kedua sampai hari ketiga dan menghilang pada hari kesepuluh (Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOG, 1998: 325). 2.2.3.Klasifikasi Jenis-jenis ikterus neonatorum: 1. Ikterus fisiologik Terutama dijumpai pada bayi dengan berat badan lahir rendah. Ikterus ini biasanya timbul pada hari kedua lalu menghilang setelah sepuluh hari atau pada akhir minggu kedua. 2. Ikterus patologik Ikterus yang patologik timbul segera dalam 24 jam pertama, dengan bilirubin serum meningkat lebih dari 5 mg% perhari, kadarnya diatas 10 mg% pada bayi matur atau 15 mg% pada bayi premature, dan menetap setelah minggu pertama

kelahiran. Selain itu juga ikterus dengan bilirubin langsung diatas 1 mg% setiap waktu. Ikterus seperti ini ada hubungannya dengan penyakit hemolitik, infeksi dan sepsis. Ikterus patologik memerlukan penanganan dan perawatan khusus. 3. Kern ikterus Adalah ikterus berat dengan disertai gumpalan bilirubin pada ganglia basalis. Kernikterus biasanya disertai naiknya kadar bilirubin indirek dalam serum. Pada neonatus cukup bulan kadar bilirubin diatas 20 mg% sering berkembang menjadi kern ikterus, sedangkan pada bayi premature bila melebihi 18 mg%. Hiperbilirubinemia dapat menimbulkan ensefalopati dan ini sangat berbahaya bagi bayi. Untuk terjadinya kern ikterus tergantung pula pada keadaan umum bayi. Bila bayi menderita hipoksia, asidosis, dan hipoglikemia, kern ikterus dapat timbul walaupun kadar bilirubin di bawah 16 mg%. Pengobatannya adalah dengan transfuse tukar darah. 4. Ikterus hemolitik Hal ini dapat disebabkan oleh inkompatibilitas rhesus, golongan darah ABO, golongan darah lain, kelainan eritrosit congenital, atau defisiensi enzim G-6-PD. 5. Ikterus obstruktif Terjadi karena sumbatan penyaluran empedu baik dalam hati maupun diluar hati. Akibatnya kadar bilirubin direk dan indirek meningkat. Bila kadar bilirubin direk diatas 1 mg% kita harus curiga akan adanya obstruksi penyaluran empedu. Penanganannya adalah dengan tindakan operatif, bila keadaan bayi mengizinkan. 2.2.4.Patogenesis Ikterus disebabkan hemolisis darah janin dan selanjutnya diganti menjadi darah dewasa. Pada janin menjelang persalinan terdapat kombinasi antara darah janin dan darah dewasa yang mampu menarik O2 dari udara dan mengeluarkan CO2 melalui paru-paru. Penghancuran darah janin inilah yang menyebabkan terjadi ikterus yang sifatnya fisiologis. Sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa kadar

billirubin indirek bayi cukup bulan sekitar 15 mg%. Diatas angka tersebut dianggap hiperbilirubinemia, yang dapat menimbulkan kern ikterus. Kern ikterus adalah tertimbunnya bilirubin dalam jaringan otak sehingga dapat mengganggu fungsi otak dan menimbulkan gejala klinis sesuai tempat timbunan itu. Gambaran kliniknya sebagai berikut: Mata berputar Tertidur-kesadaran turun Sukar mengisap Tonus otot meninggi Leher kaku Akhirnya kaku seluruhnya Pada kehidupan lebih lanjut ada kemungkinan terjadi spasme otot dan Kejang-kejang Tuli Kemunduran mental.

kekakuan otot seluruhnya

2.2.5.Penanganan Ikterus Neonatorum Biarkan bayi sering menyusu. Ini mungkin membantu mengeluarkan cairan kimia kuning dari tubuh bayi. Minta pertolongan dokter segera jika bayi tampak mengantuk atau tidak menyusu dengan baik atau jika bayi terasa dingin ketika disentuh (atau sehu badannya turun dibawah 36 C atau 97 F). 2.2. Konsep Dasar Managemen Asuhan Kebidanan Pada Bayi Baru Lahir 2.3.1.Pengertian Manajemen kebidanan adalah: Proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien. Menurut Hellen

Varney (1997) terdiri dari 7 langkah yang berurutan membentuk kerangka yang lengkap dan bisa diaplikasikan dalam semua situasi. Setiap langkah berisi tugastugas tertentu dan bervariasi sesuai dengan kondisi klien. Secara berurutan langkahlangkah tersebut adalah: 2.3.2.Langkah pertama (Pengumpulan Data) Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Data yang dikumpulkan terdiri dari data subjektif dan data objektif.

2.3.2.1.Data subjektif terdiri dari: 1. Biodata Berisikan identitas bayi dan orang tua meliputi nama, umur, jenis kelamin, tanggal lahir, jenis persalinan, nama orang tua (ayah dan ibu), umur ibu, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, alamat, tujuannya untuk mengetahui secara lengkap dan luas sasaran asuhan kebidanan. 2. Riwayat Ante Natal Kemungkinan gravida empat atau lebih. HPHT tidak sesuai dengan umur kehamilan saat persalinan. Tidak pernah periksa kehamilan atau periksa tidak teratur serta periksa pada petugas yang tidak berwenang, tidak pernah mendapat imunisasi. Sewaktu hamil menderita penyakit pembuluh darah misalnya hipertensi, hipotensi, menderita penyakit jantung, paruparu, diabetes serta pengobatan yang didapat. 3. Riwayat Neonatus Meliputi beberapa APGAR score pada 1 menit dan 5 menit pertama. Bagaimana ketubannya keruh atau jernih, dengan cara apa bayi dilahirkan: SC, VE, FE, spontan dan lain-lain. Berapa usia kehamilan, adanya bayi kembar.

4. Riwayat Maternal dan Perinatal Berapa usia ibu saat hamil ini, taksiran persalinan kapan. Bagaimana kondisi dan kebiasaan selama hamil. Berapa kali memeriksakan kehamilannya, adakah penyakit yang diderita selama hamil. 5. Riwayat Kesehatan Keluarga Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit kronis seperti hipertensi, asma, DM, penyakit menular dan penyakit lainnya selain itu juga perlu ditanyakan apa ada keturunan kembar.

6. Riwayat Sosial Budaya Untuk mengetahui keadaan psikologi dan emosional ibu pada kehamilan, persalinan, bagaimana hubungan suami istri serta keluarga, harapan kehamilan serta kepercayaan yang dianut juga perlu ditanyakan bagaimana status ekonominya. Kebiasaan merokok, alkoholik, pemberian ASI. 7. Nutrisi Nutrisi terbaik untuk bayi baru lahir adalah ASI yang dapat diberikan segera setelah bayi lahir, pemberiannya ondeman. Bayi aspiksia sedang yang mengalami gangguan pernapasan ASI dapat diberikan personde dengan memperhatikan jumlah kebutuhan dan retensinya. Kebutuhan cairan neonatus yaitu: Hari I Hari II : 60cc/kgBB/hari : 90cc/kgBB/hari

Hari III : 120cc/kgBB/hari Hari IV : 150cc/kgBB/hari Selanjutnya ditambah sedikit-sedikit sampai hari ke 14 mencapai 200 cc/kgBB/hari. Jumlah cairan ini dikonsumsi dari ASI atau PASI, juga cairan perinfus sesuai kondisi bayi. Frekuensi pemberiannya tergantung dari berat badannya, yaitu: BB < 1250 gr : 24 x/hari tiap jam BB 1250-<2000 gr : 12 x/hari tiap jam

BB >2000 gr : 8 x/hari tiap jam 8. Pola Eliminasi Neonatus akan buang air kecil selama 6 jam setelah kelahirannya, buang air besar pertama kalinya dalam 24 jam pertama berupa mekoneum perlu dipikirkan kemungkinan pencernaan. 9. Hubungan Psikologi Bayi baru lahir bila kondisi memungkinkan di rawat gabung dengan ibunya dengan tujuan bayi mendapat kasih sayang, perhatian, mempererat hubungan psikologis ibu dan bayi. Bayi aspiksia memerlukan perawatan intensif sehingga harus berpisah dengan ibunya. 2.3.2.2.Data objektif Yaitu data yang diperoleh melalui suatu pengukuran dan pemeriksaan menggunakan standar yang diakui atau berlaku (Effendy Nasrul, 1995:20). Pada bayi premature aspiksia sedang didapatkan data objektif sebagai berikut: 1. Keadaan Umum 2. Tanda-tanda vital 3. Pemeriksaan fisik bayi baru lahir 1. Posisi: 2. Kulit: 3. Kepala: 4. Mata: 5. Hidung: 6. Mulut: 7. Telinga: 8. Leher: 9.Thoraq: 10.Paru-paru: mekoneum Plug Syndrome, megakolon, obstruksi saluran

11.Jantung: 12. Abdomen: 13. Umbilikus: 14. Genetalia: 15. Anus: 16. Kstremiras : 17. Refleks 18. Pemeriksaan penunjang 19.Gas darah Arteri 20. Darah Lengkap Tahap evaluasi adalah perbandingan hasil-hasil yang diamati dngan criteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan, klien keluar dari siklus proses keperawatan apabila criteria hasil telah dicapai. Klien akan masuk kembali ke dalam siklus apabila criteria hasil belum dicapai (Allen Carol Vestal, 1998: 123). Dalam melakukan evaluasi, sesuai dengan waktu dan tanggal yang telah ditetapkan dalam pernyataan tujuan. Hal-hal yang dievaluasi adalah kemampuan pasien menunjukkan perilaku sesuai dengan yang ditetapkan dalam tujuan rencana keperawatan. Ada tiga alternative yang dapat dipakai oleh bidan dalam memutuskan atau menilai, sejauh mana tujuan yang tekah ditetapkan itu tercapai, yaitu tujuan tercapai, tujuan sebagian tercapai, tujuan tidak tercapai. Tujuan tercapai jika pasien mampu menunjukkan perilaku pada waktu atau tanggal yang telah ditentukan, sesuai dengan pernyataan tujuan. Tujuan sebagian tercapai jika pasien mampu menunjukkan perilaku tapi tidak seluruhnya sesuai pernyataan tujuan yang telah ditentukan. Tujuan tidak tercapai jika pasien tidak mampu atau tidak mau sama sekali menunjukkan perilaku yang diharapkan sesuai tujuan yang telah ditentukan. Secara umum evaluasi dikatakan berhasil, bila: 1. Aspiksia tidak terjadi lagi 2. Tidak terjadi hipotermi 3. Kebutuhan nutrisi terpenuhi

4. Tidak terjadi infeksi 5. Tidak terjadi hypoglikemia.

BAB III TINJAUAN KASUS

3.1. PENGKAJIAN Tanggal : 02 Agustus 2008 Waktu : 09.00 WIB Tempat : Ruang Bayi BPRSD Dr. Mochamad Swandhie A. 1. Biodata Nama Bayi Tgl. Lahir Jenis Kelamin Umur Alamat Nama Ibu Umur Agama : By. Ny. S : 01 Agustus 2008 : Laki-laki : 1 hari : Tambak segoro wetan : Ny. S : 24 tahun : Islam Nama Ayah Umur Agama : Tn. K : 25 tahun : Islam Data Subjektif

Suku/ Bangsa Pendidikan Pekerjaan Alamat

: Madura : SMP : IRT : Tambak segoro Wetan

Jawa Pendidikan Pekerjaan Alamat

: Madura : STM : Swasta : Tambak segoro wetan

2. Alasan MRS Bayi lahir dengan berat badan 2800 Stel di lakukan observasi setiap 1 jam suhu menurun antara 36 C- 35 C

3. Keluhan Utama Bayi rewel/ merintih

4. Riwayat Natal Ibu melahirkan bayi laki-laki secara normal 1 hari yang lalu yaitu tanggal 1 Agustus 2008 jam 18.10 WIB dengan BB: 2800 gr PB: 51 cm AS: 8-7, ketuban hijau keruh, tangisan tak adekuat, lingkar dada: 31 cm, lingkar kepala: 31 cm, lingkar lengan atas: 10 cm B. Data Objektif Kemampuan menghisap: Lemah Warna Kulit Gerak 2. Tanda-tanda vital S : 35,3C RR: 50 x/menit N: 145 x/menit : Merah muda : lemah/ tidak aktif

1. Keadaan Umum

3. Pemeriksaan fisik Inspeksi

Kepala Muka Mata Hidung Telinga Mulut

: Rambut

hitam

tipis,

tidak

terlihat

adanya

caput

suksedaneum maupun cepal hematoma. : Simetris, kulit merah muda. : Simetris, conjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterus, tidak ada hematoma. : Simetris, tidak terlihat adanya polip, tidak terlihat adanya pernapasan cuping hidung. : Simetris, bersih, tidak ada kelainan. : Bibir tidak sumbing, simetris, refleks menghisap lemah, belum tumbuh gigi, lidah bersih, tidak terlihat adanya cyanosis. Leher Dada Abdomen Punggung Genetalia Anus Ekstremitas : Tidak terlihat adanya pembesaran kelenjar thyroid maupun vena jugularis. : Simetris, tidak terlihat adanya retraksi intercostae. : Tidak terlihat adanya pembesaran hepar, tali pusat basah, tidak ada tanda-tanda infeksi pada tali pusat. : Simetris, tidak terlihat adanya spina bifida. : Testis sudah masuk dalam scrotum, terlihat adanya penis. : Terlihat adanya lubang anus. : Simetris, jumlah jari kaki dan tangan lengkap, tidak ada polidaktil/sindaktil, tidak terjadi cyanosis. Palpasi Leher Dada Abdomen : tidak teraba pembesaran kelenjar tyroid, tidak teraba pembesaran vena jugularis. : tidak teraba retraksi. : Tidak teraba pembesaran kelenjar lien, tidak teraba pembesaran hepar. Ekstremitas atas dan bawah : Tidak ada bekas tekanan pada daerah tibia (tidak ada oedema).

Auskultasi Dada Perkusi Perut : Tidak kembung : Tidak terdengar wheezing, tidak terdengar ronchi.

4. Pemeriksaan Neurologis 1. Reflek moro : ketika bayi diberi sentuhan mendadak khususnya denga jari tangan menimbulkan gerak terkejut pada bayi. 2. Reflek menggenggam: ketika telapak tangan bayi disentuh dengan jari pemeriksa, bayi langsung menggenggam jari pemeriksa. 3. Reflek rotting 4. Reflek menghisap 5. Glabella reflek : ketika pipi bayi disentuh dengan jari pemeriksa, : saat diberi susu dengan menggunakan sendok/dot, : saat daerah os glabella atau pangkal hidung bayi menolehkan kepalanya mencari sentuhan itu. bayi tidak langsung berusaha menghisap. disentuh dengan jari tangan, bayi mengerutkan keningnya dan mengedipkan matanya. 6. Gland reflek : saat disentuh pada lipatan paha kanan dan kiri dengan jari tangan, bayi mengangkat kedua pahanya. 7. Conjungtiva mandibularis reflek: saat diberi rangsangan dari pangkal kelopak mata keatas dan membentuk garis lurus menuju mandibularis. Bayi menutup mata kemudian membuka dan disertai reflek mengangkat pipi. 5. Pemeriksaan Penunjang 6. Pemeriksaan Antropometri BB PB : 2800 gr : 51 cm

Lingkar Kepala : 31 cm

Lingkar lengan atas: 10 cm Lingkar dada : 31 cm

3.2. INTERPRETASI DIAGNOSA MASALAH DAN KEBUTUHAN Dx Ds Do : By Ny. S umur 2 hari dengan Hipotermia :: KU perlu perhatian, suhu 35 C

Masalah : Bayi kedinginan Kebutuhan: - Beri llingkungan yang hangat Bungkus bayi di kain yang kering Hindari bayi dengan benda-benda yang merangsang penurunan suhu Beri Asi dekatkan ke ibu Penanganan dengan inkubator, dll 3.3. MASALAH POTENSIAL Bisa terjadi hipotermi sedang sampai akut 3.4. KEBUTUHAN SEGERA 1. Pemberian lingkungan yang hangat 2. Metode kangguru 3. Penanganan dengan inkubator 3.5. PERENCANAAN Tgl 2 Agustus 2008 jam 10.00 Pendekatan terapuitik Rasional : pendekatan ini dilakukan kepada orang tua si bayi untuk memberikan pengertian/ pengarahan-pengarahan untuk diajak bekerja sama dalam membantu pengobatan/ pananganan bayinya sehigga tindakan yang dilakukan dapat maksimal Lakukan observasi TTV, BAB, BAK Rasional : Untuk mengantisipasi ke gawat daruratan dan komplikasi

Dilakukan kolaborasi dengan dokter Rasional Dilakukan rujukan Rasional : jika ada masalah belum dapat teratasi rujukan secepatnya merupakan solusi yang tepat 3.6. PELAKSANAAN Tgl 2 Agustus 2008 jam 10.00 Melakukan pendekatan terapiutik Tgl 2 Agustus 2008 jam 10.56 Melakukan observasi TTV, BAB, BAK RR S Nadi : 50 x/menit : 35,3 C : 145 x/menit : dengan kolaborasi akan mempercepat penyembuhan. Dan dapat diberikan terapi yang tepat

BAB (+) BAK (+) Tgl 2 Agustus 2008 jam 11.30 Melakukan kolaborasi dengan dokter 3.7. EVALUASI Tgl 2 Agustus 2008-08-08 S O :: KU TTV : cukup : RR S N A P : 50 x/menit : 35,3 C : 145 x/menit

BAB (+) BAK (+) : Masalah teratasi sebagian : Tindakan dilanjutkan HE : - Nutrisi

Kebersihan dan kehangatan lingkungan Perawatan bayi

BAB IV PENUTUP 4.1. KESIMPULAN Setelah penulis melaksanakan asuhan kebidanan dapat ditarik beberapa kesimpulan : 1. Dalam melakukan pengkajian diperlukan adanya ketelitian, kepekaan dan peranan dari pasien sehingga diperoleh data yang menunjang untuk mengangkat diagnosa kebidanan. 2. Dalam analisa data dan menegakkan diagnosa kebidanan pada dasarnya mengacu pada tinjauan pustaka dan adanya perubahan serta keseimbangan dengan tinjauan pustaka tergantung pada kondisi pasien. 3. Pada dasarnya perencanaan yang ada pada tinjauan pustaka tidak semuanya dapat direncanakan pada tinjauan kasus nyata, karena dalam perencanaan disesuaikan dengan masalah yang ada pada saat itu, sehingga masalah yang ada pada tinjauan pustaka tidak akan direncanakan jika tidak ada tinjauan kasus nyata.

4.

Pada dasarnya pelaksanaan merupakan perwujudan dari perencanaan akan tetapi tidak dilaksanakan seperti perawatan payudara dalam kasus nyata hanya dilakukan penyuluhan saja sehingga klaien melakukan sendiri dirumah sesuai petunjuk.

5.

Setelah penulis mengadakan evaluasi maka sebagian dari semua masalah dapat diatasi. Keberhasilan dalam mengatasi masalah pasien didukung oleh beberapa faktor diantaranya sarana yang memadai, adanya tindakan yang yang komprehensif serta adanya kesadaran pasien dan keluarga.

4.2.

SARAN Bagi petugas Bidan dalam fungsinya sebagai pelaksana pelayanan kebidanan harus meningkatkan kemampuan, ketrampilan dan kepribadian yang baik sehingga dapat bekerja sama yang baik dengan petugas kesehatan yang lain, pasien dan keluarga. Bagi pasien Pasien harus dapat bekerja sama dengan baik dengan tenaga dapat diatasi. Bagi pendidikan. Tenaga kesehatan yang berada disuatu instansi kesehatan supaya lebih memperhatikan dan memberikan bimbingan kepada calon tenaga kesehatan pada umumnya serta supaya melengkapi buku- buku yang ada di perpustakaan yang merupakan gudang ilmu bagi para anak didik. Bagi Rumah Sakit. kesehatan agar

keberhasilan dalam asuhan kebidanan dapat tercapai serta semua masalah pasien

Rumah sakit harus berusaha untuk memperthankan pelayanan yang sudah ada dan selalu berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien.

DAFTAR PUSTAKA Manuaba, Ida Bagus Gde, 1987 Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana, EGC, Jakarta Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Fisiologi dan Patologi Jilid I, EGC, Jakarta Prawirohardjo, Sarwono.1997. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka, Jakarta Prawirohardjo, Sarwono.2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal. Jakarta. NBP-SP Sastrawinata, Sulaiman. 1983. Obstetri Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Bandung