Anda di halaman 1dari 14

TOPIK 4 MINYAK ATSIRI KAYU PUTIH (MELALEUCA LEUCADENDRON L ) I.

A.

TEORI

Latar Belakang Masalah

Sejalan dengan meningkatnya taraf pendidikan warga masyarakat yang menuntut cara berfikir rasional, maka obat dan cara pengobatan tradisional perlu dikaji lebih lanjut secara berkesinambungan. Permasalahan yang ada sampai sekarang adalah adanya kesenjangan persepsi antar pemerhati obat dan pengobatan tradisional dengan para cendekiawan obat dan pengobatan modern. Dalam upaya mempersempit kesenjangan tersebut maka perlu dilakukan penelitian dan tindak lanjutnya Tanaman obat tradisional merupakan salah satu modal dasar pembangunan kesehatan nasional. Di Indonesia disamping pelayanan kesehatan formal, pengobatan dengan cara tradisional dan pemakaian obat tradisional masih banyak dilakukan oleh masyarakat secara luas, baik di daerah pedesaan maupun daerah perkotaan (Hargono, 1986). Tiap-tiap tumbuhan bila diselidiki dan dipelajari maka akan diketahui kegunaannya. Penduduk desa jauh dari kota dan tidak mudah mendapatkan obat yang diperlukan, maka mereka memanfaatkan tumbuhtumbuhan sebagai obat. Salah satu tumbuhan yang berkhasiat adalah daun kayu putih. Hampir semua bagian tanaman ini (kulit batang, daun, ranting, dan buah kayu putih) dapat dimanfaatkan sebagai obat. Secara empirik, daun kayu putih berkhasiat untuk menghilangkan bengkak dan menghilangkan nyeri (analgetika). Khasiat lain dari daun kayu putih antara lain daun kayu putih antara lain untuk sakit radang usus, diare, reumatik, asma, radang kulit ekzema, insomnia dan sakit kepala. Pengobatan dapat dilakukan dengan meremas daun kayu putih lalu diletakkan pada bagian tubuh yang sakit atau dapat juga dilakukan dengan meminum rebusan daun kayu putih ini.

Sistematika tanaman
a. Sistematika tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron L) adalah: Divisio Sub divisio Classis Ordo Familia Genus Spesies b. Kandungan kimia Senyawa-senyawa ini diperoleh dengan cara destilasi daun yang maz muda. Daun kayu putih ini mengandung senyawa kimia, antara lain: sineol, melaleucin, minyak atsiri yang terdiri dari terpineol, cineol dan lignin c. Khasiat dan kegunaan tanaman Daun dimanfaatkan untuk keperluan sendiri yang dengan sangat sederhana yaitu dengan disuling. Minyak atsiri, dapat dipergunakan terhadap radang cabang tenggorokan (dihirup) dan sebagai bahan pelumas terhadap sakit encok. Seduhan dari daun-daun dapat diminum seperti teh sebagai penghilang kepenatan Daun kayu putih yang direbus dapat digunakan sebagai obat sakit perut, rematik, nyeri pada tulang dan saraf (neuralgia), radang, usus, diare, batuk, demam, sakit kepala dan sakit gigi atau dimanfaatkan sebagai obat luar untuk radang kulit akzema dan sakit kulit karena alergi. Dalam penggunaannya, kulit kayu putih dapat dicampur dengan ramuan lain. Misalnya untuk obat luka benanah, kulit kayu putih dapat dicampur dengan sedikit jahe dan asem jawa lalu ditumbuk halus yang kemudian ditempelkan pada bagian yang luka. Ramuan tersebut akan membersihkan luka dan menghisap nanah yang terdapat pada luka : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Myrtales : Myrtaceae : Melaleuca :Melaleuca leucadendron L.

d. Nama daerah Nama daerah tanaman kayu putih yaitu: di Jawa Barat disebut Gelam (Sunda), Gelam (Jawa Tengah), Ghelam (Madura), Di Kalimantan disebut Calam, Baru Galang (ujung pandang), Waru Galang (Bugis), Elan (Pulau Buru), dan Ngelak (Pulau Roti) (Thomas, 1992). e. Morfologi tanaman Kayu putih (Melaleuca leucadendron L) merupakan tumbuhan perdu yang mempunyai batang pohon kecil dengan banyak anak cabang yang menggantung ke bawah. Di Indonesia tidak terdapat secara liar. Tumbuhan yang diperkirakan asli dari Maluku dan Sulawesi ini lebih dikenal dengan nama kayu putih atau gelam. Daunnya berbentuk lancip dengan tulang daun yang sejajar. Bunga kayu putih berwarna putih. Sedang kulit batang kayunya berlapis-lapis dengan permukaan terkelupas. Keistimewaan dari tumbuhan ini adalah mampu bertahan hidup di tempat yang kering, ditanah yang berair, atau didaerah yang banyak memperoleh guncangan angin atau sentuhan air laut. Di beberapa daerah Indonesia seperti Pulau Buru, Ambon, Seram dan sebagainya tampak tumbuh subur

Metode Penyulingan
a. Penyulingan dengan air (water destilation) Pada metode ini, bahan tanaman yang akan disuling mengalami kontak langsung dengan air mendidih. Minyak atsiri akan dibawa oleh uap air yang kemudian didinginkan dengan mengalirkannya melalui pendingin. Hasil sulingan adalah minyak atsiri yang belum murni. Perlakuan ini sesuai untuk minyak atsiri yang tidak rusak oleh pemanasan (Guenther, 1987). b. Penyulingan dengan uap (steam destilation) Model ini disebut juga penyulingan uap atau penyulingan tak langsung. Pada metode ini bahan tumbuhan dialiri uap panas dengna tekanan tinggi. Uap air selanjutnya dialirkan melalui pendingin dan hasil sulingan adalah minyak atsiri

yang belum murni. Cara ini baik digunakan untuk bahan tumbuhan yang mempunyai titik didih yang tinggi (Guenther, 1987). c. Penyulingan dengan air dan uap (water and steam destilation) Bahan tumbuhan yang akan disuling dengan metode penyulingan air dan uap ditempatkan dalam suatu tempat yang bagian bawah dan tengah berlobanglobang yang ditopang di atas dasar alat penyulingan. Ketel diisi dengan air sampai permukaan air berada tidak jauh di bawah saringan, uap air akan baik bersama minyak atsiri kemudian dialirkan melalui pendingin. Hasil sulingannya adalah minyak atsiri yang belum murni (Guenther, 1987). Parameter Kualitas Minyak Atsiri Banyak yang bertanya kepada saya via email perihal maksud dari parameter-parameter kualitas minyak atsiri yang termaktub dalam SNI (standar Nasional Indonesia). Sedikit tulisan di bawah ini semoga dapat dijadikan wawasan/pengetahuan awal mengenai aspek kualitas minyak atsiri. Beberapa parameter yang biasanya dijadikan standar untuk mengenali kualitas minyak atsiri adalah sebagai berikut : 1. Berat Jenis Berat jenis merupakan salah satu kriteria penting dalam menentukan mutu dan kemurnian minyak atsiri. Nilai berat jenis minyak atsiri didefinisikan sebagai perbandingan antara berat minyak dengan berat air pada volume air yang sama dengan volume minyak pada yang sama pula. Berat jenis sering dihubungkan dengan fraksi berat komponen-komponen yang terkandung didalamnya. Semakin besar fraksi berat yang terkandung dalam minyak, maka semakin besar pula nilai densitasnya. Biasanya berat jenis komponen terpen teroksigenasi lebih besar dibandingkan dengan terpen tak teroksigenasi.

2. Indeks Bias Indeks bias merupakan perbandingan antara kecepatan cahaya di dalam udara dengan kecepatan cahaya didalam zat tersebut pada suhu tertentu. Indeks bias minyak atsiri berhubungan erat dengan komponen-komponen yang tersusun dalam minyak atsiri yang dihasilkan. Sama halnya dengan berat jenis dimana komponen penyusun minyak atsiri dapat mempengaruhi nilai indeks biasnya. Semakin banyak komponen berantai panjang seperti sesquiterpen atau komponen bergugus oksigen ikut tersuling, maka kerapatan medium minyak atsiri akan bertambah sehingga cahaya yang datang akan lebih sukar untuk dibiaskan. Hal ini menyebabkan indeks bias minyak lebih besar. Menurut Guenther, nilai indeks juga dipengaruhi salah satunya dengan adanya air dalam kandungan minyak jahe tersebut. Semakin banyak kandungan airnya, maka semakin kecil nilai indek biasnya. Ini karena sifat dari air yang mudah untuk membiaskan cahaya yang datang. Jadi minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang besar lebih bagus dibandingkan dengan minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang kecil. 3. Putaran optik Sifat optik dari minyak atsiri ditentukan menggunakan alat polarimeter yang nilainya dinyatakan dengan derajat rotasi. Sebagian besar minyak atsiri jika ditempatkan dalam cahaya yang dipolarisasikan maka memiliki sifat memutar bidang polarisasi ke arah kanan (dextrorotary) atau ke arah kiri (laevorotary). Pengukuran parameter ini sangat menentukan kriteria kemurnian suatu minyak atsiri. 4. Bilangan Asam Bilangan asam menunjukkan kadar asam bebas dalam minyak atsiri. Bilangan asam yang semakin besar dapat mempengaruhi terhadap kualitas minyak atsiri. Yaitu senyawa-senyawa asam tersebut dapat merubah bau khas dari

minyak atsiri. Hal ini dapat disebabkan oleh lamanya penyimpanan minyak dan adanya kontak antara minyak atsiri yang dihasilkan dengan sinar dan udara sekitar ketika berada pada botol sampel minyak pada saat penyimpanan. Karena sebagian komposisi minyak atsiri jika kontak dengan udara atau berada pada kondisi yang lembab akan mengalami reaksi oksidasi dengan udara (oksigen) yang dikatalisi oleh cahaya sehingga akan membentuk suatu senyawa asam. Jika penyimpanan minyak tidak diperhatikan atau secara langsung kontak dengan udara sekitar, maka akan semakin banyak juga senyawa-senyawa asam yang terbentuk. Oksidasi komponen-komponen minyak atsiri terutama golongan aldehid dapat membentuk gugus asam karboksilat sehingga akan menambah nilai bilangan asam suatu minyak atsiri. Hal ini juga dapat disebabkan oleh penyulingan pada tekanan tinggi (temperatur tinggi), dimana pada kondisi tersebut kemungkinan terjadinya proses oksidasi sangat besar. 5. Kelarutan dalam Alkohol Telah diketahui bahwa alkohol merupakan gugus OH. Karena alkohol dapat larut dengan minyak atsiri maka pada komposisi minyak atsiri yang dihasilkan tersebut terdapat komponen-komponen terpen teroksigenasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Guenther bahwa kelarutan minyak dalam alkohol ditentukan oleh jenis komponen kimia yang terkandung dalam minyak. Pada umumnya minyak atsiri yang mengandung persenyawaan terpen teroksigenasi lebih mudah larut daripada yang mengandung terpen. Makin tinggi kandungan terpen makin rendah daya larutnya atau makin sukar larut, karena senyawa terpen tak teroksigenasi merupakan senyawa nonpolar yang tidak mempunyai gugus fungsional. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin kecil kelarutan minyak atsiri pada alkohol (biasanya alkohol 90%) maka kualitas minyak atsirinya semakin baik.

II.

CARA KERJA
Persiapkan alat destilasi Timbang 800 g daun kayu putih Masukkan kedalam alat destilasi tanbahkan aquadest secukupnya (hingga ada rongga dilapisan bawah) Kemudian destilasi dengan alat destilasi hingga dicapai 1 erlemeyer campuran air dan minyak. Pisahkan campuran air dan minyak dengan eter menggunakan corong pisah. Didapatkan campuran eter dan minyak Biarkan eter menguap dan ambil minyak atsiri dari kayu putih. Hasil yang diperoleh dinyatakan dalam persen rendemen (%) dengan menggunakan rumus perhitungan sebagai berikut : Rendemen (%) = berat minyak Berat awal A. Persyaratan x 100%

I. Pemerian Warna : Bau : Rasa : II. Kelarutan Kelarutan diuji dalam etanol 70%,kocok biarkan selama 24 jam pada suhu 20-300 C ,amati. III. Indeks Bias Pengukuran indek bias menggunakan alat refraktometer Pengukuran indeks bias menggunakan alat refraktometer dengan cara sebagai berikut: Siapkan sampel Buka prisma refraktometer ,bersihkan dengan menggunakan tissue atau kapas beralkohol dan keringkan

Sesudah kering, teteskan zat yang diperiksa sampai menutup semua permukaan prisma tersebut kemudian tertutup Atur cahaya cahaya yang masuk apabila belum jelas, putar mikrometer hingga terlihar batas terang gelap memotong titik perpotongan dua garis diagonal yang ada pada alat tersebut Lalu baca angka( nilai yang tertera) pada layar bagian bawah sebagai nilai indeks bias senyawa tersebut dan suhunya dicatat Untuk penentuan nilai indeks bias senyawa tersebut, bersihkan kembali dengan kapas beralkohol dan biarkan hingga kering Pada saat meneteskan zat yang diperiksa , ujung pipet tidak boleh mengenai permukaan kaca prisma dan harus dilakukan ditempat yang kering dan bersih IV. Bobot jenis Pengukuran bobot jenis menggunakan alat piknometer dengan cata sebagao berikut : Perhitungan : Bobot jenis = berat (pikno +minyak atsiri)- berat pikno kosong x 100% Volume piknometer V. Rotasi Optik Menggunakan alat polarimeter yang nilainya dinyatakan dengan derajat rotasi. Sebagian besar minyak atsiri jika ditempatkan dalam cahaya yang dipolarisasikan maka memiliki sifat memutar bidang polarisasi ke arah kanan (dextrorotary) atau ke arah kiri (laevorotary).

III.

GAMBAR ALAT DAN TUMBUHAN KAYU PUTIH

Tumbuhan kayu putih

kayu putih

Gambar alat

Gambar Destilasi

Refraktometer

Corong pisah

Erlemeyer

piknometer

Polarimeter

Timbangan digital

IV.

HASIL
Dari 800 g daun kayu putih diperoleh minyak atsirinya sebanyak 3 ml.

Pemerian Warna : kuning kehijauan Bau Rasa Kelarutan Kelarutan tidak dilakukan karena minyak atsiri yang diperoleh sedikit. Tetapi dapat diketahui bahwa alkohol merupakan gugus OH. Karena alkohol dapat larut dengan minyak atsiri maka pada komposisi minyak atsiri yang dihasilkan tersebut terdapat komponen-komponen terpen teroksigenasi. Indek Bias Didapatkan indek bias dari minyak atsiri dari tumnuhan kayu putih yaitu : 1,471 Bobot jenis Bobot jenis tidak dilakukan karena minyak atsiri yang diperoleh sedikit. Rotasi Optik Rotasi optik sedikit. tidak dilakukan karena minyak atsiri yang diperoleh : Aroma khas (minyak kayu putih ) : Pedas,pahit,panas

V.

PEMBAHASAN
Berat jenis merupakan salah satu kriteria penting dalam menentukan mutu dan kemurnian minyak atsiri. Tetapi pada saat dilakukan percobaan dengan pengambilan minyak atsiri dengan alat destilasi hanya sedikit yang duperoleh . Nilai berat jenis minyak atsiri didefinisikan sebagai perbandingan antara berat minyak dengan berat air pada volume air yang sama dengan volume minyak pada yang sama pula. Berat jenis sering dihubungkan dengan fraksi berat komponen-komponen yang terkandung didalamnya. Semakin besar fraksi berat yang terkandung dalam minyak, maka semakin besar pula nilai densitasnya. Biasanya berat jenis komponen terpen teroksigenasi lebih besar dibandingkan dengan terpen tak teroksigenasi. Karena minyak kayu putih mengandung komponen terpen yang mudah menguap ataupun teroksigenasi.

Berat Jenis

Kelarutan
Kelarutan minyak atsiri dilakukan atau di uji dengan etanol 70% Telah diketahui bahwa alkohol merupakan gugus OH. Karena alkohol dapat larut dengan minyak atsiri maka pada komposisi minyak atsiri yang dihasilkan tersebut terdapat komponen-komponen terpen teroksigenasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Guenther bahwa kelarutan minyak dalam alkohol ditentukan oleh jenis komponen kimia yang terkandung dalam minyak. Pada umumnya minyak atsiri yang mengandung persenyawaan terpen teroksigenasi lebih mudah larut daripada yang mengandung terpen. Makin tinggi kandungan terpen makin rendah daya larutnya atau makin sukar larut, karena senyawa terpen tak teroksigenasi merupakan senyawa nonpolar yang tidak mempunyai gugus fungsional.

Hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin kecil kelarutan minyak atsiri pada alkohol maka kualitas minyak atsirinya semakin baik.dengan persyaratan kadar 1:1 sampai 1:10 jernih.

Indek Bias

Indeks bias dari suatu zat ialah perbandingan kecepatan cahaya dalam udara dan kecepatan cahaya dalam zat tersebut. Jika cahaya melewati media kurang pada ke media lebih padat, maka sinar akan membelok atau membias dari garis normal. Penentuan indeks bias menggunakan alat refraktometer. Indeks bias berguna untuk identifikasi suatu zat dan deteksi ketidakmurnian (Guent1her, 1987). Indeks bias merupakan perbandingan antara kecepatan cahaya di dalam udara dengan kecepatan cahaya didalam zat tersebut pada suhu tertentu. Indeks bias minyak atsiri kayu putih berhubungan erat dengan komponen-komponen yang tersusun dalam minyak atsiri yang dihasilkan. Sama halnya dengan berat jenis dimana komponen penyusun minyak atsiri dapat mempengaruhi nilai indeks biasnya. Semakin banyak komponen berantai panjang seperti sesquiterpen atau komponen bergugus oksigen ikut tersuling, maka kerapatan medium minyak atsiri akan bertambah sehingga cahaya yang datang akan lebih sukar untuk dibiaskan. Hal ini menyebabkan indeks bias minyak lebih besar. Menurut Guenther, nilai indeks juga dipengaruhi salah satunya dengan adanya air dalam kandungan minyak jahe tersebut. Semakin banyak kandungan airnya, maka semakin kecil nilai indek biasnya Ini karena sifat dari air yang mudah untuk membiaskan cahaya yang datang.. Dari hasil percobaan diperoleh nilai indeks bias minyak atsiri yang besar yaitu 1,471, nilai indeks bias yang diperoleh memiliki nilai yang tinggi dibandingkan dengan indek bias dari VCO yang sediaannya sebagian besar mengandung air. Jadi minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang besar lebih bagus dibandingkan dengan minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang kecil. Dengan persyaratan kadar 1,4501,470.

Bobot Jenis
Bobot jenis adalah perbandingan berat dari suatu volume contoh pada suhu 250C dengan berat air pada volume dan suhu yang sama. Cara ini dapat digunakan untuk semua minyak dan lemak yang dicairkan. Alat yang digunakan untuk penentuan ini adalah piknometer. Pada penetapan bobot jenis, temperatur dikontrol dengan hati-hati dalam kisaran temperatur yang pendek (Ketaren, 1985). Bobot jenis rasio bobot suatu zat terhadap bobot zat baku yang volumenya sama pada suhu yang sama dan dinyatakan dalam desimal.dengan bobot jenis 200c dengan persyaratan kadar 0,900-0.930.

Rotasi Optik

Sifat optik dari minyak atsiri ditentukan menggunakan alat polarimeter yang nilainya dinyatakan dengan derajat rotasi. Sebagian besar minyak atsiri jika ditempatkan dalam cahaya yang dipolarisasikan maka memiliki sifat memutar bidang polarisasi ke arah kanan (dextrorotary) atau ke arah kiri (laevorotary). Pengukuran parameter ini sangat menentukan kriteria kemurnian suatu minyak atsiri.

VI.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Kayu_putih http://domba-bunting.blogspot.com/2009/06/tumbuhan-kayu-putih.html http://tanamanherbal.wordpress.com/2007/12/16/kayu-putih/ http://ferry-atsiri.blogspot.com/2007/11/parameter-kualitas-minyak-atsiri.html http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/788/1/tekper-sentosa.pdf Anonim. Putramaja.Tripod.Com/Tanaman/Pengobatan.Html http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20421/4/Chapter%20II.pdf