KATA PENGANTAR
Seiring dengan terkendalinya pandemi COVID-19 di Indonesia pada tahun 2022 yang tidak terlepas
dari upaya penanganan dalam bidang kesehatan, aktivitas sosial-ekonomi mulai bangkit kembali.
Selaras dengan hal tersebut, pelaksanaan program Pemerintah kembali difokuskan kepada
kegiatan-kegiatan prioritas, termasuk upaya percepatan penurunan prevalensi stunting. Kondisi
yang semakin kondusif ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah dalam mengoptimalkan
pelaksanaan Percepatan Penurunan Stunting menuju target 14 persen pada tahun 2024.
Tahun 2022 menjadi barometer pelaksanaan Peraturan Presiden No. 72 Tahun 2021 tentang
Percepatan Penurunan Stunting yang dilakukan secara penuh sejak awal tahun 2022. Selain itu,
tahun 2022 juga menjadi tahun ke-5 (lima) dari perjalanan Strategi Nasional (Stranas) Percepatan
Pencegahan Anak Kerdil (Stunting) periode 2018 – 2024 yang menjadi salah satu prioritas
Pemerintah dalam RPJMN. Pemerintah terus berupaya melakukan optimalisasi pelaksanaan
Percepatan Penurunan Stunting melalui penajaman dan konvergensi intervensi, termasuk
memastikan bahwa keluaran (output) beserta anggarannya harus mendukung pencapaian target
indikator Perpres 72/2021.
Dalam rangka mengawal pelaksanaan anggaran intervensi stunting bersumber
Kementerian/Lembaga pada tahun anggaran 2022, Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian
Keuangan menyusun Laporan Kinerja Anggaran dan Pembangunan Program Percepatan Penurunan
Stunting melalui Belanja K/L Tahun 2022 yang utamanya menyajikan analisis perkembangan
penandaan (tagging), perkembangan pagu, realisasi anggaran, capaian output, serta konvergensi
terhadap target sasaran, lokasi, dan koordinasi atas intervensi yang dilakukan K/L pada tahun
anggaran 2022.
Hasil evaluasi menunjukkan mayoritas intervensi yang dilakukan K/L mendukung capaian indikator
spesifik, indikator sensitif dan indikator pilar program percepatan penurunan stunting dalam
Perpres 72/2021. Kinerja realisasi anggaran tahun 2022 mencapai 97,9 persen terhadap pagu revisi,
lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2021 sebesar 96,5 persen. Sebagian besar
intervensi dilaksanakan sesuai dengan kabupaten/kota lokus stunting tahun 2022 serta menyasar
sasaran prioritas yaitu ibu hamil, baduta, balita dan keluarga dengan balita. Intervensi tersebut
melibatkan koordinasi lintas sektor antara K/L, pemerintah daerah dan lembaga non pemerintah.
Kinerja realisasi anggaran ini sejalan dengan penurunan angka prevalensi stunting tahun 2022
sebesar 2,8 persen dari 24,4 persen pada tahun 2021 menjadi 21,6 persen pada 2022.
Pemerintah berharap laporan ini dapat menjadi sarana diseminasi informasi atas pelaksanaan
intervensi penurunan stunting melalui belanja K/L pada tahun 2022. Data dan informasi yang tersaji
dalam laporan diharapkan dapat membantu pemerintah, pihak di luar pemerintah, dan masyarakat
dalam menyusun strategi akselerasi ke depan dan rujukan dalam mengupayakan perbaikan
pelaksanaan intervensi.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat, terutama 17 K/L yang telah
menyediakan data, informasi, maupun masukan lainnya sehingga laporan ini dapat selesai dengan
baik. Selanjutnya, Pemerintah akan terus berupaya untuk dapat menyusun dan menyajikan laporan
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 1
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
kinerja secara andal sebagai perwujudan pemantauan dan evaluasi serta tata kelola pemerintahan
yang baik.
Jakarta, April 2023
Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Direktur Jenderal Anggaran,
Masyarakat, dan Kebudayaan, Kementerian Keuangan
Kementerian PPN/Bappenas
Amich Alhumami Isa Rachmatarwata
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 2
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
TIM PENYUSUN DAN KONTRIBUTOR
TIM PENGARAH:
Isa Rachmatarwata
Direktur Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan
Amich Alhumami
Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan, Kementerian PPN/Bappenas
Rofyanto Kurniawan
Direktur Penyusunan APBN, DJA- Kementerian Keuangan
Putut Hari Satyaka
Direktur Anggaran Bidang PMK, DJA- Kementerian Keuangan
Pungkas B. Ali
Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Kementerian PPN/Bappenas
KOORDINATOR PENULIS:
Agung Hidayat Purwanto
Direktorat Penyusunan APBN, DJA- Kementerian Keuangan
Muhammad Fajar Adipati
Direktorat Penyusunan APBN, DJA-Kementerian Keuangan
Agung Lestanto Notosoediro Raden
Direktorat Penyusunan APBN, DJA- Kementerian Keuangan
Dimas Adityo Kusumo
Direktorat Anggaran Bidang PMK, DJA-Kementerian Keuangan
Sidayu Ariteja
Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Kementerian PPN/Bappenas
TIM PENULIS:
Jony Chandra
Tenaga Ahli Analisis Pengeluaran Publik, Sekretariat INEY-Direktorat KGM Kementerian PPN/Bappenas
Ririn Ariani Dewi
Tenaga Ahli Analisis Kinerja Program, Sekretariat INEY-Direktorat KGM Kementerian PPN/Bappenas
KONTRIBUTOR:
Dinda Dea Pramaputri, Vera Wardyani
Direktorat Penyusunan APBN, DJA- Kementerian Keuangan
Susy Octaviany Kusuma Wardhany, Arif Wibowo, Iwan Noor Hidayat, Wirawan, Irwan Sujarwo Sianipar,
Rinawati
Direktorat Anggaran Bidang PMK, DJA-Kementerian Keuangan
Puji Triwijayanti, Dian Putri M. Saraswati, Miftahudduha, Firial Afra Raisa Mumtaz
Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Kementerian PPN/Bappenas
LAYOUTING/DESAIN GRAFIS:
Jony Chandra
Tenaga Ahli Analisis Pengeluaran Publik, Sekretariat INEY-Direktorat KGM Kementerian PPN/Bappenas
Annisa Hayatunnufus
Direktorat KGM Kementerian PPN/Bappenas
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 3
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................................... 1
DAFTAR ISI ............................................................................................................................... 4
DAFTAR TABEL DAN GRAFIK ..................................................................................................... 6
DAFTAR SINGKATAN .............................................................................................................. 11
RINGKASAN EKSEKUTIF .......................................................................................................... 12
I. PENDAHULUAN ................................................................................................................... 18
II. PERKEMBANGAN PENANDAAN DAN PERKEMBANGAN PAGU .............................................. 23
2.1. PERKEMBANGAN PENANDAAN ................................................................................................ 23
2.1.1. PROSES PENANDAAN (TAGGING) TEMATIK STUNTING ....................................................................... 23
2.1.2. HASIL PENANDAAN (TAGGING) TEMATIK STUNTING .......................................................................... 26
2.1.3. PERKEMBANGAN PENANDAAAN (TAGGING) TEMATIK STUNTING TAHUN 2019 – 2022 .......................... 31
2.1.4 TANTANGAN PENANDAAN (TAGGING) TEMATIK STUNTING ................................................................. 31
2.2. PEMETAAN INDIKATOR PERPRES 72/2021 TERHADAP RINCIAN OUTPUT TA 2022 .............................. 32
2.3. PERKEMBANGAN PAGU ......................................................................................................... 37
2.3.1 PERKEMBANGAN PAGU K/L LEVEL RINCIAN OUTPUT DAN ANALISIS LANJUTAN ....................................... 37
2.3.2 PERKEMBANGAN PAGU K/L MENURUT JENIS INTERVENSI ................................................................... 44
III. KINERJA ANGGARAN ......................................................................................................... 51
3.1. REALISASI ANGGARAN .......................................................................................................... 51
3.1.1. REALISASI ANGGARAN PADA LEVEL ANALISIS LANJUTAN ..................................................................... 51
3.1.3. REALISASI ANGGARAN BERDASARKAN JENIS INTERVENSI PADA LEVEL ANALISIS LANJUTAN ....................... 53
3.2. CAPAIAN OUTPUT ................................................................................................................ 56
3.3. ANALISIS KINERJA ANGGARAN ................................................................................................ 60
3.3.1. ANALISIS KINERJA ANGGARAN INTERVENSI SPESIFIK .......................................................................... 62
3.3.2. ANALISIS KINERJA ANGGARAN INTERVENSI SENSITIF .......................................................................... 63
3.3.3. ANALISIS KINERJA ANGGARAN INTERVENSI DUKUNGAN ..................................................................... 64
3.4. PERBANDINGAN TERHADAP KINERJA TAHUN SEBELUMNYA ............................................................. 65
IV. KINERJA PEMBANGUNAN .................................................................................................. 76
4.1 ANALISIS KINERJA PEMBANGUNAN INTERVENSI SPESIFIK ................................................................ 78
4.1.1 CAPAIAN OUTPUT INTERVENSI SPESIFIK ............................................................................................ 81
4.1.2 DUKUNGAN INDIKATOR PERPRES 72/2021 ...................................................................................... 83
4.1.3 KINERJA KONVERGENSI INTERVENSI SPESIFIK ..................................................................................... 88
4.2 . ANALISIS KINERJA PEMBANGUNAN INTERVENSI SENSITIF ....................................................... 97
4.2.1 CAPAIAN OUTPUT INTERVENSI SENSITIF ......................................................................................... 100
4.2.2 DUKUNGAN INDIKATOR PERPRES 72/2021 .................................................................................... 101
4.2.3 KINERJA KONVERGENSI INTERVENSI SENSITIF................................................................................... 106
4.3 ANALISIS KINERJA PEMBANGUNAN INTERVENSI DUKUNGAN ......................................................... 114
4.3.1 CAPAIAN OUTPUT INTERVENSI DUKUNGAN..................................................................................... 117
4.3.2 DUKUNGAN INDIKATOR PERPRES 72/2021 .................................................................................... 118
4.3.3 KINERJA KONVERGENSI INTERVENSI DUKUNGAN .............................................................................. 120
V. KINERJA PROGRAM DI LOKASI PRIORITAS ......................................................................... 126
5.1 PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN BERBASIS PANGAN LOKAL...................................................... 127
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 4
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
5.2 PROGRAM BANTUAN SOSIAL BERSYARAT DAN BANTUAN PANGAN SEMBAKO ................................... 131
5.3 FASILITASI DAN PEMBINAAN KELUARGA 1000 HPK .................................................................... 135
5.4 PEMBERDAYAAN KAMPUNG KELUARGA BERKUALITAS ................................................................. 137
5.5 AUDIT KASUS STUNTING....................................................................................................... 139
VI. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ................................................................................... 143
6.1. KESIMPULAN .................................................................................................................... 143
6.2. REKOMENDASI .................................................................................................................. 147
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 5
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
DAFTAR TABEL DAN GRAFIK
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Perkembangan Jumlah Rincian output K/L yang Mendukung Percepatan 26
Penurunan Stunting TA 2022 menurut Status Penandaan Tematik Stunting
Tabel 2. Rekapitulasi Perkembangan Pagu Rincian output K/L yang Mendukung Percepatan 38
Penurunan Stunting TA 2022 (dalam Juta Rupiah)
Tabel.3. Jumlah Rincian Output Berdasarkan Perubahan Pagu Rincian output K/L yang 39
Mendukung Percepatan Penurunan Penurunan Stunting TA 2022
Tabel 4. Rekapitulasi Perkembangan Pagu Pada Level Analisis Lanjutan menurut jenis 45
intervensi yang Mendukung Percepatan Penurunan Stunting TA 2022 (Juta Rupiah
Tabel 5. Rekapitulasi Realisasi Anggaran Rincian output K/L yang Mendukung Percepatan 51
Penurunan Stunting TA 2022 Level Analisis Lanjutan (dalam juta Rp)
Tabel 6. Alokasi Pagu dan Persentase Realisasi Terhadap Pagu Awal, Pagu Revisi Level 53
Analisis Lanjutan untuk Intervensi Spesifik, Tahun 2022
Tabel 7. Alokasi Pagu dan Persentase Realisasi Terhadap Pagu Awal, Pagu Revisi Level 54
Analisis Lanjutan untuk Intervensi Sensitif, Tahun 2022
Tabel 8. Alokasi Pagu dan Persentase Realisasi Terhadap Pagu Awal, Pagu Revisi Level 55
Analisis Lanjutan untuk Intervensi Dukungan, Tahun 2022
Tabel 9. Rekapitulasi Capaian Rincian output atas Rincian output K/L yang Mendukung 57
Percepatan Penurunan Stunting TA 2022 Tingkat Analisis Lanjutan Menurut Intervensi
Tabel 10. Rekapitulasi Capaian Rincian output atas Rincian output K/L yang Mendukung 57
Percepatan Penurunan Stunting TA 2022 Tingkat Analisis Lanjutan Menurut K/L
Tabel 11. Capaian Output Pada Rincian Output Tingkat Analisis Lanjutan Intervensi Sensitif, 59
2022
Tabel 12. Capaian Output Pada Rincian Output Tingkat Analisis Lanjutan Intervensi 60
Dukungan, 2022
Tabel 13. List RO Intervensi Spesifik Tagging Tematik Stunting, TA 2022 78
Tabel 14. Kinerja Capaian Output RO Intervensi Spesifik, TA 2022 81
Tabel 15. Perkembangan Capaian Output Intervensi Spesifik RO TA 2021-2022 83
Tabel 16. Capaian Hasil Indikator Spesifik Perpres 72/2021 83
Tabel 17. Rincian Output Intervensi Spesifik Sasaran Ibu Hamil, Balita, dan Remaja Putri TA 89
2022
Tabel 18. Perkembangan Capaian Output Analisis Lanjutan Intervensi Spesifik Sasaran Ibu 90
Hamil, Balita, dan Remaja Putri TA 2021-2022
Tabel 19. List RO Intervensi Sensitif Tagging Tematik Stunting, TA 2022 98
Tabel 20. Kinerja Capaian Output RO Intervensi Sensitif, TA 2022 100
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 6
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Tabel 21. Perkembangan Capaian Output Intervensi Spesifik RO TA 2021-2022 101
Tabel 22. Capaian Hasil Indikator Sensitif Perpres 72/2021 103
Tabel 23. Rincian Output Intervensi Sensitif Sasaran Ibu Hamil, Balita, Remaja Putri, Calon 108
pengantin dan Wanita Usia Subur TA 2022
Tabel 24. Perkembangan Capaian Output Analisis Lanjutan Intervensi Sensitif Sasaran Ibu 109
Hamil dan balita TA 2021-2022
Tabel 25. List RO Intervensi Dukungan Tagging Tematik Stunting, TA 2022 114
Tabel 26. Kinerja Capaian Output RO Intervensi Dukungan, TA 2022 1116
Tabel 27. Perkembangan Capaian Output Intervensi Spesifik RO TA 2021-2022 118
Tabel 28. Rincian Output Intervensi Dukungan Sasaran Ibu Hamil, Balita, Remaja Putri, 121
Calon pengantin dan Wanita Usia Subur TA 2022
Tabel 29. Perkembangan Capaian Output Analisis Lanjutan Intervensi Dukungan Sasaran 122
Ibu Hamil dan Balita TA 2021-2022
Tabel 30. Rincian Output Pilihan Kinerja Implementasi Pada Kunjungan Daerah, TA 2022 126
Tabel 31. Kinerja Anggaran, Output dan Konvergensi RO Pilihan PMT Berbasis Pangan 127
Lokal, TA 2022
Tabel 32. Hasil Pemantauan Evaluasi PMT Berbasis Pangan Lokal oleh Dinas Kesehatan Kab 130
Kupang
Tabel 33. Kinerja Anggaran, Output dan Konvergensi RO Pilihan Bantuan PKH dan Bantuan 132
Sembako, TA 2022
Tabel 34. Kinerja Anggaran, Output dan Konvergensi RO Fasilitasi dan Pembinaan Keluarga 135
1000 HPK, TA 2022
Tabel 35. Kinerja Anggaran, Output dan Konvergensi RO Pilihan Pemberdayaan Kampung 138
KB, TA 2022
Tabel 36. Kinerja Anggaran, Output dan Konvergensi RO Pilihan Audit Kasus Stunting 140
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 7
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1. Struktur Data Renja K/L TA 2021 25
Grafik 2. Perkembangan Penandaan (Tagging) Output/Rincian Output Tematik Stunting TA- 31
2019-2023
Grafik 3. Persandingan Indikator Intervensi Spesifik Lampiran Perpres 72/2021 terhadap 33
RO-RO Tematik Stunting melalui Belanja K/L Tahun 2022
Grafik 4. Persandingan Indikator Intervensi Sensitif Lampiran Perpres 72/2021 terhadap 34
RO-RO Tematik Stunting melalui Belanja K/L Tahun 2022
Grafik 5. Persandingan Indikator Output Pilar Stranas Lampiran Perpres 72/2021 terhadap 36
RO-RO Tematik Stunting melalui Belanja K/L Tahun 2022
Grafik 6. Tren Perkembangan Alokasi Pagu Anggaran Program Percepatan Penurunan 43
Stunting dari Belanja K/L pada Level Analisis Lanjutan TA 2019-2023 (dalam juta)
Grafik 7. Tren Perkembangan Alokasi Pagu Anggaran (Revisi) Intervensi Spesifik Program 45
Percepatan Penurunan Stunting dari Belanja K/L pada Level Analisis Lanjutan TA 2019-2023
(dalam miliar)
Grafik 8. Tren Perkembangan Alokasi Pagu Anggaran (Pagu Revisi) Intervensi Sensitif 46
Program Percepatan Penurunan Stunting dari Belanja K/L pada Level Analisis Lanjutan TA
2019-2023 (miliar)
Grafik 9. Tren Perkembangan Alokasi Pagu Anggaran (Pagu Revisi) Intervensi Dukungan 47
Program Percepatan Penurunan Stunting dari Belanja K/L pada Level Analisis Lanjutan TA
2019-2023 (miliar)
Grafik 10. Capaian Output Pada Rincian Output Tingkat Analisis Lanjutan Intervensi Spesifik, 58
2022
Grafik 11. Kondisi Umum Analisis Kinerja Anggaran RO yang Memiliki Data Kinerja Anggaran 62
(% Capaian Rincian Output/% Realisasi Anggaran) - Tahun 2022
Grafik 12. Kondisi Umum Analisis Kinerja Anggaran (% Capaian Rincian Output / % Realisasi 63
Anggaran) Kinerja Intervensi Spesifik, - Tahun 2022
Grafik 13. Kondisi Umum Analisis Kinerja Anggaran (% Capaian Rincian Output/% Realisasi 64
Anggaran) Kinerja Intervensi Sensitif, - Tahun 2022
Grafik 14. Kondisi Umum Analisis Kinerja Anggaran (% Capaian Rincian Output/% Realisasi 65
Anggaran) Kinerja Intervensi Dukungan, - Tahun 2022
Grafik 15. Perbandingan Realisasi Anggaran Terhadap Pagu Revisi pada Level Analisis 66
Lanjutan tahun 2019 s/d 2022 (dalam juta Rp)
Grafik 16. Perbandingan Realisasi Anggaran Terhadap Pagu Revisi pada Level Analisis 66
Lanjutan Intervensi Spesifik tahun 2019 s/d 2022 (dalam triliun Rp)
Grafik 17. Perbandingan Realisasi Anggaran Terhadap Pagu Revisi pada Level Analisis 67
Lanjutan Intervensi Sensitif tahun 2019 s/d 2022 (dalam triliun Rp)
Grafik 18. Perbandingan Realisasi Anggaran Terhadap Pagu Revisi pada Level Analisis 67
Lanjutan Intervensi Duungan tahun 2019 s/d 2022 (dalam triliun Rp)
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 8
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Grafik 19. Kerangka Analisis Kinerja Pembangunan Program Percepatan Penurunan 77
Stunting
Grafik 20. Jumlah RO Intervensi Spesifik TA 2022 Relevan Mendukung Indikator Perpres 84
72/2021
Grafik 21. Pagu Revisi Analisis Lanjutan 47 RO Intervensi Spesifik Mendukung Indikator 84
Perpres 72/2021
Grafik 22. Capaian Output 47 RO Intervensi Spesifik TA 2022 Mendukung Indikator Perpres 85
72/2021
Grafik 23. Konvergensi Lokasi Intervensi Spesifik RO di 514 Kab/Kota Lokus Stunting, TA 96
2022
Grafik 24. Konvergensi Koordinasi Intervensi Spesifik, TA 2022 97
Grafik 25. Jumlah RO Intervensi Sensitif TA 2022 Relevan Mendukung Indikator Perpres 102
72/2021
Grafik 26. Pagu Revisi Analisis Lanjutan 26 RO Intervensi Sensitif Mendukung Indikator 102
Perpres 72/2021
Grafik 27. Capaian Output 26 RO Intervensi Sensitif TA 2022 Mendukung Indikator Perpres 103
72/2021
Grafik 28. Konvergensi Lokasi Intervensi Sensitif RO di 514 Kab/Kota Lokus Stunting, TA 112
2022
Grafik 29. Konvergensi Koordinasi Intervensi Sensitif, TA 2022 113
Grafik 30. Jumlah RO Intervensi Dukungan TA 2022 Mendukung Indikator Perpres 72/2021 119
Grafik 31. Pagu Revisi Analisis Lanjutan 24 RO Intervensi Dukungan Mendukung Indikator 119
Perpres 72/2021
Grafik 32. Capaian Output 24 RO Intervensi Dukungan TA 2022 Mendukung Indikator 120
Perpres 72/2021
Grafik 33. Konvergensi Lokasi Intervensi Dukungan RO di 514 Kab/Kota Lokus Stunting, TA 124
2022
Grafik 34. Konvergensi Koordinasi Intervensi Dukungan, TA 2022 125
Grafik 35. Kerangka Konsep Kampung Keluarga Berkualitas 138
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 9
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Persebaran Jumlah Kab/Kota Menerima RO Program Penurunan Stunting 75
Melalui Belanja K/L Menurut Provinsi, TA 2022
Gambar 2. Dokumentasi Pemantauan Evaluasi RO di Kab Kupang 134
Gambar 3. Dokumentasi Pemantauan Evaluasi RO di Kab Lima Puluh Kota 142
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 10
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
DAFTAR SINGKATAN
BKKBN : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
BNPP : Badan Nasional Pengelola Perbatasan
BPOM : Badan Pengawas Obat dan Makanan
BPS : Badan Pusat Statistik
BABS : Buang Air Besar Sembarangan
Dirjen : Direktorat Jenderal
DIPA : Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
Dit APP : Direktorat Alokasi Pendanaan Pembangunan
DJA : Direktorat Jenderal Anggaran
HPK : Hari Pertama Kehidupan
INEY : Investing in Nutrition and Early Years
KEK : Kurang Energi Kronik
Kemenag : Kementerian Agama
Kemendagri : Kementerian Dalam Negeri
Kemendes PDTT : Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan
Transmigrasi
Kemendikbudristek : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Kemenkes : Kementerian Kesehatan
Kemenkeu : Kementerian Keuangan
Kemenkominfo : Kementerian Komunikasi dan Informatika
Kemenko PMK : Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan
Kebudayaan
Kemenperin : Kementerian Perindustrian
Kemen PPPA : Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
KemenPPN/Bappenas : Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional
Kemen PUPR : Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Kemensetneg : Kementerian Sekretariat Negara
Kemensos : Kementerian Sosial
Kementan : Kementerian Pertanian
KB : Keluarga Berencana
KRISNA : Kolaborasi Perencanaan dan Informasi Kinerja Anggaran
KKP : Kementerian Kelautan dan Perikanan
K/L : Kementerian/Lembaga
KRO : Komponen Rincian Output
PBI : Penerima Bantuan Iuran
PKH : Program Keluarga Harapan
PUS : Pasangan Usia Subur
Renja : Rencana Kerja
RKA-KL : Rencana Kerja Anggaran Kementerian Lembaga
RSPP : Redesain Sistem Perencanaan dan Penganggaran
RO : Rincian Output
SAKTI : Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi
SOTK : Struktur Organisasi dan Tata Kerja
Setwapres : Sekretariat Wakil Presiden
TA : Tahun Anggaran
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 11
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
RINGKASAN EKSEKUTIF
Pelaksanaan program percepatan penurunan stunting tahun 2022 memasuki tahun ke-5 (lima) dari
perjalanan pelaksanaan Strategi Nasional (Stranas) Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (Stunting)
periode 2018 – 2024 yang menjadi salah satu prioritas Pemerintah sejak tahun 2018. Stranas
Stunting bertujuan untuk mencapai target penurunan prevalensi stunting sebesar 14 persen pada
tahun 2024 sebagaimana telah ditetapkan dalam RPJMN 2020-2024. Sejalan dengan hal tersebut,
Pemerintah kemudian menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 Tahun 2021 tentang
Percepatan Penurunan Stunting pada akhir bulan Agustus 2021 untuk memperkuat kerangka
intervensi dan kelembagaan dalam pelaksanaan percepatan penurunan stunting. Perpres ini
mengatur antara lain: (1) koordinasi penyelenggaraan percepatan penurunan stunting; dan (2)
pemantauan, evaluasi, dan pelaporan.
Untuk mengawal pelaksanaan Program Percepatan Penurunan Stunting (PPS) melalui Belanja K/L
tahun 2022 ini, Pemerintah melakukan pemantauan dan evaluasi kinerja anggaran dan
pembangunan atas pelaksanaan intervensi percepatan penurunan stunting untuk kemudian
merumuskan rekomendasi perbaikan kinerja program PPS ke depan. Penyusunan laporan evaluasi
kinerja ini merupakan salah satu mandat Perpres 72/2021 pasal 25 ayat 2, dimana K/L
menyampaikan laporan penyelenggaraan percepatan penurunan stunting kepada Wakil Ketua
Pelaksana Bidang Perencanaan, Pemantauan dan Evaluasi sebanyak 2 (dua) kali dalam 1 (satu)
tahun atau sewaktu-waktu apabila diperlukan. Pelaksanaan dari amanat pasal 25 ayat 2 tersebut
telah dilakukan oleh Kementerian PPN/Bappenas bersama dengan Kementerian Keuangan dengan
membuat Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Program Percepatan Penurunan
Stunting melalui belanja K/L untuk periode semester I dan tahunan sejak tahun 2019 s/d 2022 ini.
Mekanisme pemantauan dan evaluasi belanja K/L dilakukan pada Rincian Output (RO) K/L sesuai
dengan Dokumen Ringkasan Rincian Output (RO) K/L TA 2022 yang mendukung Percepatan
Penurunan Stunting dan ditandatangani oleh Deputi Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan
Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas bersama dengan Direktur Jenderal Anggaran
Kementerian Keuangan pada bulan Maret 2022. Laporan ini meliputi analisis atas: (1)
Perkembangan penandaan dan perkembangan pagu; (2) Kinerja anggaran, mencakup kinerja
realisasi anggaran dan capaian target Rincian Output (RO); (3) Kinerja pembangunan, meliputi
kinerja capaian output, dukungan indikator Perpres 72/2021 dan konvergensi sasaran, lokus
prioritas stunting, dan proses koordinasi; dan (4) Kinerja RO pada lokasi prioritas intervensi.
Penyusunan laporan ini turut melibatkan para pemangku kepentingan lintas K/L dan lintas pelaku
dengan menggunakan sumber data dari database RKA-K/L Direktorat Jenderal Anggaran (DJA)
Kemenkeu dan data Formulir Evaluasi Mandiri K/L yang dikirimkan per tanggal 15 Februari 2023.
Dalam proses penandaan (tagging) tematik stunting, yang dimaksud dengan anggaran stunting
melalui belanja K/L adalah anggaran yang bersifat kontributif dari RO K/L yang mendukung
percepatan penurunan stunting. Definisi dari anggaran stunting adalah; a) anggaran spesifik, yaitu
anggaran yang digunakan untuk intervensi langsung; b) anggaran sensitif, yaitu anggaran prioritas
lain yang berkontribusi terhadap penurunan stunting dan dihitung menggunakan formula
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 12
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
berdasarkan derajat kontributifnya; c) tidak bersifat subsitusi, yaitu anggaran tidak dapat dialihkan
dan; d) berdasarkan proses penandaan (tagging) tematik dengan alokasi anggaran dihitung
berdasarkan RO-RO yang telah ditagging pada KRISNA Renja K/L.
Berdasarkan Dokumen Ringkasan RO K/L yang Mendukung Percepatan Penurunan Stunting TA
2022, disepakati sebanyak 192 RO dari 17 K/L yang terkait dengan program percepatan penurunan
stunting yang terdiri atas 87 RO intervensi gizi spesifik, 48 RO intervensi gizi sensitif, dan 57 RO
intervensi. Dari 192 RO tersebut, sebanyak 149 RO (77,6 persen) telah dilakukan tagging tematik
stunting dan 43 RO (22,4 persen) belum dilakukan tagging tematik stunting. Hal ini menunjukkan
bahwa tingkat kepatuhan K/L dalam tagging tematik stunting pada periode Maret 2022 mencapai
77,6 persen. Tingkat kepatuhan tersebut lebih rendah dibandingkan tingkat kepatuhan K/L dalam
tagging tematik stunting pada periode Maret 2021 yang sebesar 95,9 persen (215 RO) dari total
224 RO yang disepakati mendukung penurunan stunting TA 2021.
Sehubungan dengan perubahan mendasar pada Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK)
Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial yang merupakan salah satu K/L utama intervensi
spesifik dan intervensi sensitif, maka pada bulan Agustus tahun 2022 dilakukan pemutakhiran
penandaan tematik stunting kepada seluruh K/L yang terlibat. Hasil dari pemutakhiran tersebut
menjadi dasar revisi lampiran dokumen Ringkasan Rincian Output K/L yang Mendukung
Percepatan Penurunan Stunting TA 2022 versi bulan Maret 2022. Revisi tersebut meliputi
perubahan jumlah RO yang teridentifikasi mendukung percepatan penurunan stunting dari 192 RO
menjadi 179 RO dengan 176 RO (98,3 persen) telah dilakukan tagging tematik stunting dan 3 RO
(1,7 persen) belum dilakukan tagging tematik stunting. Hasil dari pemutakhiran tersebut
memperlihatkan perkembangan perbaikan kepatuhan tagging tematik stunting oleh K/L dari 77,6
persen pada awal tahun 2022 menjadi 98,3 akhir tahun 2022.
Pada proses tagging tematik stunting tahun 2022, telah dilakukan pemetaan dan sandingan antara
indikator Perpres 72/2021 dengan RO-RO yang teridentifikasi terkait dengan RO tematik stunting
di tahun 2022. Berdasarkan hasil sandingan untuk indikator spesifik, terdapat 9 indikator intervensi
spesifik pada Perpres 72/2021 yang didukung oleh 45 RO intervensi gizi spesifik sedangkan untuk
indikator sensitif, terdapat 9 dari 11 indikator intervensi sensitif pada Perpres 72/2021 yang
didukung oleh 25 RO dari 4 K/L yaitu Kementerian Kesehatan, BKKBN, Kementerian Sosial, dan
Kementerian PUPR. Sementara itu, 2 indikator sensitif lainnya tidak didukung oleh RO yang
bersumber dari belanja K/L namun didukung oleh sumber dana DAK. Selanjutnya, 17 indikator pilar
pada lampiran B Perpres 72/2021 telah didukung oleh 27 RO yang terdiri dari 2 RO intervensi gizi
spesifik yang berasal dari 9 K/L yaitu Kementerian Kesehatan, BKKBN, Kementerian Sosial,
Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa PDTT, Kementerian Sekretariat Negara,
Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Agama, dan Kementerian Koordinator PMK.
Alokasi anggaran pada level RO K/L yang tersebar di 17 K/L yang mendukung percepatan
penurunan stunting pada dokumen ringkasan tagging tematik stunting tahun 2022 sebesar
Rp128,49 triliun, turun Rp1,16 triliun menjadi Rp127,33 triliun pada pagu awal. Pada akhir tahun
2022, pagunya turun kembali sebesar Rp3,86 triliun menjadi Rp123,47 triliun pada pagu revisi. Pagu
pada level RO masih overestimate disebabkan karena sebagian besar anggaran yang terkait stunting
terdapat pada level di bawah RO, yaitu pada level komponen dan sub-komponen, sehingga
dilakukan analisis lanjutan untuk menghitung kembali alokasi pagu anggaran yang benar-benar
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 13
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
terkait stunting. Alokasi anggaran pada level analisis lanjutan pada dokumen ringkasan tagging
tematik stunting tahun 2022 adalah sebesar Rp 34,15 triliun, turun Rp1,63 triliun menjadi Rp32,52
triliun pagu awal, dan turun kembali sebesar RP3,62 triliun atau sebesar 11,12 persen menjadi 28,89
triliun.
Jika dilihat perkembangan pagu tahun 2022 menurut jenis intervensi pada level analisis lanjutan,
alokasi pagu anggaran tertinggi adalah pada intervensi sensitif, diikuti intervensi spesifik dan
terendah adalah intervensi dukungan. Intervensi sensitif mengalami penurunan pagu sebesar
Rp3,43 triliun atau sebesar 12,07 persen dari pagu awal sebesar Rp28,42 triliun menjadi Rp24,99
triliun pada pagu revisi. Intervensi spesifik turun sebesar Rp151,69 miliar atau sebesar 4,91 persen
dari pagu awal sebesar Rp3,09 triliun menjadi Rp2,94 triliun pada pagu revisi. Intervensi dukungan
mengalami penurunan sebesar Rp34,95 miliar atau sebesar 3,46 persen dari pagu awal sebesar
Rp1,01 triliun menjadi Rp976,05 miliar pada pagu revisi.
Salah satu penyebab turunnya alokasi pagu awal terhadap pagu revisi pada analisis lanjutan adalah
karena adanya penurunan pagu yang cukup besar pada Kementerian Sosial sebesar Rp3,2 triliun
atau sebesar 13,78 persen, yang semula sebesar Rp23,26 triliun pada pagu awal menjadi 20,06
triliun pada pagu revisi tahun 2022. Penurunan terbesar adalah pada RO terkait dengan pemberian
bantuan sosial bersyarat (PKH). Penurunan ini dikarenakan pada saat penetapan besaran pagu awal
alokasi yang terkait dengan program percepatan penurunan stunting (level analisis lanjutan) masih
menggunakan asumsi target penerima manfaat tahun sebelumnya (tahun 2021) sebesar 3.102.694
keluarga yang memiliki ibu hamil dan anak usia dini (AUD), sedangkan pada saat realisasi akhir
tahun 2022 jumlah keluarga penerima manfaat adalah sebanyak 2.099.271 keluarga yang memiliki
ibu hamil dan anak usia dini yang bersumber dari data DTKS Kementerian Sosial yang telah
dimutakhirkan. Dengan kata lain, penurunan pagu pada Kementerian Sosial terjadi bukan karena
penurunan manfaat maupun target, melainkan karena adanya penajaman data sasaran.
Kinerja realisasi anggaran penurunan stunting melalui belanja K/L tahun 2022 pada level analisis
lanjutan adalah sebesar Rp28,29 triliun. Realisasi anggaran tersebut sama dengan 87,01 persen
terhadap pagu awal sebesar Rp32,52 triliun, atau sama dengan 97,90 persen terhadap pagu revisi
sebesar Rp28,89 triliun. Capaian realisasi anggaran terhadap pagu revisi tahun 2022 sangat tinggi,
sebanyak 15 K/L dari 17 K/L realisasi anggarannya di atas 90 persen dan hanya 2 (dua) K/L yang
persentase capaian realisasi anggarannya di bawah 90 persen, yaitu Kemensetneg (83,36 persen)
dan Kemendes PDTT (84,10 persen). Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2021, capaian
persentase realisasi terhadap pagu revisi tahun 2022 sebesar 97,90 persen, lebih tinggi 1,39 persen
dibandingkan periode yang sama pada tahun 2021 sebesar 96,51 persen.
Intervensi dengan capaian persentase kinerja realisasi anggaran terhadap pagu revisi tertinggi
adalah intervensi sensitif dengan realisasi sebesar 99,84 persen atau sebesar Rp24,95 triliun
terhadap pagu revisi sebesar Rp24,99 triliun. Selanjutnya adalah intervensi dukungan sebesar 93,14
persen atau sebesar Rp0,91 triliun terhadap pagu revisi sebesar Rp0,98 triliun. Sementara itu
capaian persentase kinerja realisasi anggaran terhadap pagu revisi pada intervensi spesifik sebesar
82,96 persen atau sebesar Rp2,44 triliun terhadap pagu revisi sebesar Rp2,94 triliun. Khusus untuk
intervensi spesifik yang menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan, penyebab relatif
rendahnya capaian kinerja realisasi anggaran terhadap pagu revisi tersebut dibandingkan intervensi
yang lainnya dikarenakan adanya pergeseran pelaksanaan RO-RO yang telah ditetapkan di dalam
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 14
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
dokumen ringkasan, antara lain mekanisme pelaksanaan yang berubah dari melalui belanja K/L
menjadi melalui dana Dekon atau belanja DAK (fisik dan/atau non-fisik). Selain itu, ada beberapa
RO yang pada semester I berubah dan tidak dilanjutkan pada semester II, serta terdapat beberapa
RO lainnya yang tidak dapat dilakukan karena adanya kendala pengadaan oleh pihak ketiga
dikarenakan waktu pengadaan yang sangat singkat.
Berkaitan dengan capaian volume output terhadap targetnya di tingkat analisis lanjutan dari 176
rincian output yang tersebar di 17 K/L, terdapat 134 rincian output (74,9 persen) yang memiliki
capaian kinerja lebih besar dari 90 persen, 6 rincian output (3,4 persen) yang memiliki capaian
kinerja 70-90 persen, 4 rincian output (2,2 persen) yang memiliki capaian kinerja 50-70 persen, dan
20 rincian output (11,2 persen) yang memiliki capaian kinerja kurang dari 50 persen, serta 12 rincian
output (8,9 persen) yang tidak memiliki data capaian kinerja yang menjadi dasar perhitungan
kinerja.
Hasil analisis kinerja pembangunan intervensi spesifik menunjukkan bahwa dari total 81 RO
intervensi spesifik yang di-tagging tematik stunting TA 2022, mayoritas 63 RO (77,8 persen)
memiliki capaian output di atas 90 persen. Dibandingkan dengan tahun 2021, terdapat tren
peningkatan RO Intervensi spesifik yang memiliki capaian tinggi dari 57 RO (71,2 persen dari 80 RO)
tahun 2021 meningkat menjadi 63 RO (77,8 persen) tahun 2022. Sebanyak 47 RO (58 persen)
Intervensi spesifik yang di-tagging tematik stunting mendukung capaian indikator Perpres
72/2021 dengan rincian 45 RO mendukung indikator spesifik dan 2 RO mendukung indikator pilar
terkait publikasi data. Mayoritas 41 RO yang mendukung capaian indikator Perpres 72/2021
memiliki capaian output tinggi di atas 90 persen. Pada level outcome, dari total 9 (sembilan)
indikator spesifik Perpres 72/2021, sebanyak 7 (tujuh) indikator spesifik telah memenuhi target
pada tahun 2022, 1 (satu) indikator belum memenuhi target persentase bayi usia kurang dari 6
bulan mendapat ASI eksklusif dan 1 (satu) indikator terkait anak usia 6 sampai 23 bulan mendapat
MP-ASI yang belum dapat dihitung capaiannya.
Penilaian kinerja konvergensi intervensi spesifik, terdapat 21 RO intervensi spesifik memiliki
sasaran pada sasaran prioritas ibu hamil dan balita, serta remaja putri. Mayoritas RO intervensi
spesifik pada sasaran prioritas telah dilaksanakan berkesinambungan pada periode 2021-2022, dan
memiliki peningkatan capaian output dibandingkan tahun 2021. Namun gap antara capaian output
intervensi dengan jumlah sasaran program masih teridentifikasi seperti pada pelaksanaan pelatihan
dan peningkatan kapasitas pada tenaga kesehatan. Selain itu, pada cakupan pelaksanaan intervensi
spesifik, mayoritas 38 RO telah dilaksanakan pada level kabupaten/kota, terdiri dari 7 RO
dilaksanakan di seluruh 246 kabupaten/kota di 12 provinsi prioritas, 25 RO dilaksanakan
dilaksanakan di sebagian <246 kabupaten/kota di 12 provinsi prioritas, 2 RO dilaksanakan di luar
provinsi prioritas dan 4 RO tidak tersedia data kabupaten/kota. Sedangkan dari segi koordinasi
lintas sektor, mayoritas 34 RO intervensi spesifik dilaksanakan dengan melibatkan pemerintah
daerah.
Hasil analisis kinerja pembangunan intervensi sensitif menunjukkan bahwa dari total 39 RO
intervensi sensitif tagging tematik stunting TA 2022 mayoritas 34 RO (87,2 persen) memiliki
capaian output tinggi di atas 90 persen. Dibandingkan dengan tahun 2021, terdapat tren
peningkatan RO Intervensi sensitif yang memiliki capaian tinggi dari 74 RO (78,7 persen dari 94 RO)
tahun 2021 meningkat menjadi 34 RO (87,2 persen) tahun 2022. Mayoritas 26 RO (66,7 persen)
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 15
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
intervensi sensitif yang dilakukan penandaan tematik stunting telah sejalan dan berkontribusi
langsung pada capaian indikator Perpres 72/2021, terdiri dari 21 RO intervensi sensitif mendukung
capaian 11 (sebelas) indikator sensitif dan 5 RO intervensi sensitif mendukung capaian 1 (satu)
indikator pilar terkait bimbingan perkawinan. Mayoritas 22 RO intervensi sensitif yang mendukung
capaian indikator Perpres 72/2021 memiliki capaian output tinggi di atas 90 persen. Pada level
outcome, dari total 11 (sebelas) indikator sensitif Perpres 7/2021, mayoritas 8 (delapan) indikator
sensitif telah memenuhi target pada tahun 2022, dan 3 (tiga) indikator yang belum memenuhi
target.
Penilaian kinerja konvergensi intervensi sensitif, terdapat 21 RO intervensi sensitif memiliki
sasaran pada sasaran prioritas ibu hamil dan balita, dan sasaran penting remaja putri, wanita usia
subur dan calon pengantin. Namun sebagai catatan bahwa intervensi sensitif merupakan intervensi
yang bersifat kontributif dan bukan merupakan program yang didesain langsung untuk penurunan
stunting, sehingga beberapa RO seperti 1) PBI JKN, 2) program bantuan sosial sembako, 3) bantuan
sosial bersyarat (program keluarga harapan), dan 4) sistem pengelolaan domestik setempat skala
individu (SPALD-S) merupakan program yang memiliki sasaran pada masyarakat miskin dan rentan
serta masyarakat yang tidak memiliki akses sanitasi layak, yang memungkinkan RO tersebut juga
menyasar sasaran prioritas seperti ibu hamil dan balita. Namun demikian, salah satu kendala dalam
analisis sasaran adalah pada beberapa RO tersebut belum dapat diidentifikasi berapa jumlah
sasaran prioritas terhadap total jumlah penerima manfaat program. Berdasarkan lokasi
pelaksanaan, mayoritas 29 RO intervensi sensitif dilaksanakan pada level kabupaten/kota, terdiri
dari 16 RO dilaksanakan di seluruh 246 kabupaten/kota di 12 provinsi prioritas khusus dan 13 RO
dilaksanakan di sebagian <246 kabupaten/kota di 12 provinsi prioritas khusus. Dilihat dari segi
koordinasi lintas sektor, mayoritas 23 RO intervensi sensitif telah dilaksanakan dengan
melibatkan koordinasi multisektor yaitu K/L lain, pemerintah daerah dan lembaga non
pemerintah.
Hasil analisis kinerja pembangunan intervensi dukungan menunjukkan bahwa dari total 56 RO
intervensi dukungan yang di-tagging tematik stunting TA 2022, mayoritas 51 RO (91 persen)
memiliki capaian output di atas 90 persen. Jika dibandingkan dengan tahun 2021, terdapat tren
peningkatan RO Intervensi dukungan yang memiliki capaian tinggi dari 51 RO (89,5 persen dari 57
RO) tahun 2021 meningkat menjadi 51 RO (91 persen) tahun 2022. Terkait dengan dukungan pada
indikator Perpres 72/2021, hanya 24 RO (42,8 persen) intervensi dukungan yang di-tagging
tematik stunting relevan mendukung capaian indikator Perpres 72/2021 dengan rincian 20 RO
mendukung indikator pilar Stranas dan 4 RO mendukung indikator sensitif. Mayoritas 23 RO yang
mendukung capaian indikator Perpres 72/2021 tersebut telah dilaksanakan dengan capaian output
tinggi di atas 90 persen.
Penilaian kinerja konvergensi intervensi dukungan, terdapat 8 RO intervensi dukungan yang
memiliki sasaran pada sasaran prioritas ibu hamil dan balita, serta sasaran penting remaja putri,
wanita usia subur, dan calon pengantin. Cakupan pelaksanaan intervensi dukungan menunjukkan
mayoritas 34 RO intervensi dukungan dilaksanakan pada level kabupaten/kota, terdiri dari 11 RO
dilaksanakan di seluruh 246 kabupaten/kota di 12 provinsi prioritas, 22 RO dilaksanakan di sebagian
<246 kabupaten/kota di 12 provinsi prioritas, dan 1 RO dilaksanakan di luar provinsi prioritas.
Sedangkan dari segi koordinasi lintas sektor, mayoritas 34 RO intervensi dukungan dilaksanakan
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 16
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
dengan melibatkan koordinasi lintas sektor yaitu K/L lain, pemerintah daerah dan lembaga non
pemerintah.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa masih perlu peningkatan konvergensi sasaran terutama
pada RO-RO prioritas yang didukung oleh kebijakan agar program dapat tepat sasaran. Tepat
sasaran bermakna menyasar sasaran yang sama dan didukung dengan data sasaran yang valid,
sehingga cakupan sasaran dapat dipastikan menyasar keluarga 1.000 HPK. Selain itu, diperlukan
adanya mekanisme konvergensi dari sumber pendanaan APBN, DAK, APBD, dan Dana Desa untuk
mengoptimalkan capaian dari program-program prioritas. Berdasarkan hasil analisis, mayoritas
dukungan RO yang di-tagging stunting melalui belanja K/L memiliki sasaran pada level
kabupaten/kota dan OPD pengampu program di kabupaten/kota, sehingga kedepan perlu
dipastikan pelaksanaan program dari OPD di kabupaten/kota juga dipastikan dapat didukung oleh
sumber dana non belanja K/L seperti DAK, APBD, dan Dana Desa.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 17
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
I. PENDAHULUAN
Upaya Percepatan Penurunan Stunting di Indonesia telah berjalan secara terstruktur sejak tahun
2018 paska diterbitkannya Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting periode 2018-2024.
Stranas Stunting tersebut bertujuan untuk menciptakan generasi Indonesia yang sehat dan
produktif. Dengan demikian, pelaksanaan di tahun 2022 merupakan tahun ke-5 (lima) dari
perjalanan Stranas Stunting yang telah menjadi program prioritas Pemerintah sejak APBN tahun
2018 dalam rangka mencapai target penurunan prevalensi stunting sebesar 14 persen pada tahun
2024 sebagaimana telah ditetapkan dalam RPJMN 2020-2024.
Dalam pelaksanaannya, Stranas Stunting menekankan pelaksanaan program agar dapat menyasar
kelompok sasaran prioritas (rumah tangga 1.000 HPK) dan sasaran penting (a.l. remaja putri, wanita
usia subur, dan balita), dilaksanakan pada lokasi prioritas (memiliki prevalensi stunting relatif tinggi),
dan dilakukan melalui intervensi prioritas (intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif serta
enabling factors). Implementasi Stranas Stunting diharapkan dapat meningkatkan efektifitas
program percepatan penurunan prevalensi stunting seperti yang diamanatkan dalam RPJMN 2020-
2024. Selain mengacu pada Stranas Stunting, dalam pelaksanaan Program Percepatan Penurunan
Stunting juga mempedomani Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan
Penurunan Stunting di Indonesia yang telah terbit pada tanggal 20 Agustus 2021. Perpres 72/2021
ini ditetapkan dalam rangka untuk memperkuat kerangka intervensi dan kelembagaan dalam
pelaksanaan percepatan penurunan stunting. Perpres Nomor 72 Tahun 2021 ini mengatur tata
kelola percepatan penurunan stunting.
Sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 (Perpres 72/2021) tentang
Percepatan Penurunan Stunting, percepatan penurunan stunting memerlukan pendekatan secara
menyeluruh dan harus dimulai dari pemenuhan prasyarat pendukung yang dituangkan dalam lima
pilar. Adapun kelima pilar tersebut yaitu: 1) Komitmen dan visi kepemimpinan; 2) Kampanye
nasional dan komunikasi perubahan perilaku; 3) Konvergensi program pusat, daerah, dan desa; 4)
Ketahanan pangan dan gizi; dan 5) Pemantauan dan evaluasi. Dalam pelaksanaannya, strategi ini
diselenggarakan di semua tingkatan pemerintah dengan melibatkan berbagai institusi pemerintah
yang terkait dan institusi non-pemerintah, seperti swasta, masyarakat madani, dan komunitas
untuk menyasar kelompok prioritas rumah tangga sasaran dan masyarakat umum di lokasi fokus.
lmplementasi dari lima pilar diharapkan dapat meningkatkan cakupan layanan gizi spesifik dan
sensitif pada sasaran prioritas Stranas yang menjadi acuan kebijakan dan program baik di tingkat
pusat dan daerah, di tingkat kabupaten/kota sampai dengan tingkat desa.
Mengingat permasalahan stunting bersifat multidimensional, bukan hanya sektor kesehatan tetapi
juga sektor non kesehatan, serta untuk memastikan implementasi Stranas Stunting dan Perpres
72/2021 sehingga diperlukan konvergensi peran berbagai sektor. Terkait hal tersebut, dalam rangka
mengawal pelaksanaan Percepatan Penurunan Stunting melalui Belanja K/L, Pemerintah Pusat
melakukan pemantauan dan evaluasi atas pencapaian kinerja anggaran dan pembangunan yang
bersumber dari belanja K/L (Pemerintah Pusat). Dalam pelaksanaannya, pemantauan dan evaluasi
intervensi percepatan penurunan stunting melibatkan lintas K/L melalui Rincian Output (RO) yang
meliputi tiga jenis intervensi, yaitu:
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 18
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
1. Intervensi Gizi Spesifik melalui kegiatan perbaikan gizi bagi ibu hamil/menyusui dan anak,
dan pengobatan penyakit/infeksi
2. Intervensi Gizi Sensitif melalui kegiatan penyediaan air minum dan sanitasi, pendidikan
untuk perbaikan pola asuh dan gizi seimbang, pengembangan anak usia dini, perlindungan
sosial bagi kelompok berpendapatan rendah, dan ketahanan pangan.
3. Intervensi Dukungan, berupa Pendampingan, Koordinasi, dan Dukungan Teknis melalui
kegiatan koordinasi, riset, analisis, serta dukungan lainnya.
Dalam perkembangannya, pelaksanaan Percepatan Penurunan Stunting tahun 2022 terus
mengalami perbaikan. Menurut lokasinya, berdasarkan SK Menteri PPN/ Kepala Bappenas Nomor
Kep.10/[Link]/HK/02/2021 tentang penetapan perluasan kabupaten/kota lokasi fokus intervensi
penurunan stunting terintegrasi dilakukan perluasan cakupan lokus stunting menjadi seluruh
kabupaten/kota (514 Kab/Kota) pada tahun 2022, berkembang dari 100 kabupaten/kota pada
tahun 2018 menjadi 160 kabupaten/kota pada tahun 2019, menjadi 260 kabupaten/kota pada
tahun 2020, dan menjadi 360 kabupaten/kota pada tahun 2021. Selain itu, dalam rangka
memastikan percepatan berjalan dengan baik untuk mencapai target pervalensi stunting sebesar
14 persen pada tahun 2024, Pemerintah telah menetapkan kabupaten/kota lokasi fokus intervensi
percepatan penurunan stunting terintegrasi tahun 2023 yaitu seluruh 514 kabupaten/kota di 34
provinsi, dengan skema percepatan khusus pada 246 kabupaten/kota di 12 provinsi prioritas yang
memiliki angka prevalensi stunting tertinggi dan estimasi jumlah absolut balita stunting tertinggi di
Indonesia.
Tahun 2022 ini, terdapat 17 Kementerian/Lembaga (K/L) yang terlibat dalam program percepatan
penurunan stunting, dimana jumlah ini berkurang 2 K/L dari tahun 2021 yang berjumlah 19 K/L, hal
ini dikarenakan terjadinya penggabungan 2 (dua) lembaga negara yakni BATAN dan BPPT yang
melebur menjadi BRIN. Selain itu, dalam perjalanan tahun 2022 ini, terjadi perubahan yang cukup
mendasar pada beberapa K/L kunci, yaitu Kemenkes dan Kemensos. Kemenkes mengalami
perubahan Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) yang sangat mendasar yang diakibatkan
transformasi layanan kesehatan yang dicanangkan oleh Kemenkes, sehingga terjadi perubahan
yang cukup besar terhadap stuktur kelembagaannya yang berdampak kepada struktur anggaran
dan juga pada Rincian Output (RO) Kemenkes pada pertengahan tahun 2022. Hal ini juga terjadi
pada Kemensos, dimana terjadi perubahan SOTK yang mengakibatkan perubahan kewenangan dari
masing-masing eselon 1 maupun eselon 2 Kemensos, sehingga berdampak pada perubahan dalam
struktur pelaksanaan RO-RO Kemensos pada program Bantuan Sosial (PKH dan BPNT) yang terkait
dengan program percepatan penurunan stunting.
Selain perubahan SOTK pada beberapa K/L yang mendukung program percepatan penurunan
stunting yang telah dijelaskan sebelumnya, pelaksanaan pada tahun 2022 ini cukup menghadapi
tantangan. Tantangan yang dihadapi yakni belanja pemerintah yang masih difokuskan pada
penanganan lonjakan kasus harian akibat varian baru, khususnya pada awal Tahun 2022, dan proses
Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang masih berjalan, ditambah dengan kondisi gejolak
geopolitik dunia yang mempengaruhi harga komoditi pangan dan energi. Namun demikian,
Pemerintah tetap berkomitmen pada upaya penurunan stunting. Oleh karena itu, dalam laporan
tahun 2022 terdapat bahasan terkait pengaruh kebijakan penanganan Covid-19 dan PEN terhadap
kinerja anggaran dan pembangunan Program Percepatan Penurunan Stunting.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 19
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Dalam rangka mendukung upaya percepatan penurunan stunting tersebut, Pemerintah secara
periodik melakukan evaluasi dan memperbaiki pengelolaan program, khususnya yang melalui
belanja K/L. Langkah perbaikan yang dilakukan antara lain dengan memperbaiki proses akurasi
identifikasi rincian output yang mendukung penurunan stunting, meningkatkan kepatuhan K/L
terhadap proses penandaan (tagging) tematik stunting dalam rangka mengintegrasikan data dalam
sistem informasi, dan memperkuat koordinasi baik antar K/L di tingkat Pemerintah Pusat maupun
antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Perbaikan dalam pengelolaan program melalui K/L tersebut
juga mempertimbangkan rekomendasi hasil pemantauan dan evaluasi yang dilaksanakan secara
reguler dan dituangkan dalam Laporan Kinerja Anggaran dan Pembangunan Program Percepatan
Penurunan Stunting per periode dan tahunan. Perbaikan tersebut dapat dilihat dari meningkatnya
tingkat kepatuhan K/L dalam melakukan penandaan tematik stunting, dimana pada tahun 2019
tingkat kepatuhan K/L hanya sebesar 41,8 persen (41 output dari 98 output), tahun 2020 naik
menjadi 79,1 persen (68 output dari 86 output), lalu meningkat kembali pada awal tahun 2021
menjadi 96,3 persen 2021 (221 RO dari 224 RO) dan menjadi 97,3 persen (218 RO dari 224) saat
dilakukan revisi penandaan pada bulan Agustus tahun 2021.
Melalui penyusunan laporan kinerja tahun 2022 ini, Pemerintah berupaya menganalisis berbagai
keberhasilan maupun hambatan atas pelaksanaan 176 Rincian Output (RO) pada 17 K/L yang
berkontribusi terhadap penurunan stunting. Analisis ini dilakukan berdasarkan Dokumen Ringkasan
Penandaan Tematik Stunting pada level Rincian output K/L Tahun 2022 versi bulan Januari yang
telah direvisi pada bulan Juli s/d Agustus 2022 dan dimutakhirkan kembali saat K/L menyampaikan
formulir evaluasi mandiri K/L yang diserahkan pada tanggal 8 Februari 2023.
Tujuan penyusunan laporan adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan program dan merumuskan
rekomendasi perbaikan pada pelaksanaan program untuk tahun mendatang. Selain itu, Laporan ini
diharapkan dapat memberikan informasi bagi seluruh pihak yang berkepentingan untuk
mengetahui secara jelas dan transparan atas kinerja program tahun 2022.
Penyusunan laporan ini menggunakan berbagai data dan informasi yang bersumber dari:
1. Dokumen Ringkasan Rincian Output (RO) melalui belanja K/L Tahun 2022 yang Mendukung
Percepatan Penurunan Stunting;
2. Evaluasi Mandiri K/L terkait kinerja anggaran dan pembangunan atas pelaksanaan Program
Percepatan Penurunan Stunting tahun 2022;
3. Data Aplikasi SAKTI yang diakses melalui aplikasi Bussiness Intelligence pada Kementerian
Keuangan (DJA);
4. Forum koordinasi lintas K/L dalam rangka percepatan pencegahan stunting; dan
5. Data dan informasi lainnya yang relevan.
Laporan ini akan disampaikan dalam susunan sebagai berikut:
1. Analisis perkembangan penandaan (tagging) dan perkembangan pagu. Analisis
perkembangan penandaan (tagging) menilai tingkat kepatuhan K/L melakukan tagging
tematik stunting atas rincian output yang telah diidentifikasi mendukung penurunan
stunting oleh Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian Keuangan serta K/L terkait.
Tagging rincian output dilakukan pada sistem perencanaan (KRISNA) dan kemudian
dilakukan pengiriman data ke database sistem penganggaran RKA K/L (SAKTI). Hal tersebut
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 20
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
dilakukan untuk mempermudah proses pemantauan dan evaluasi pelaksanaan anggaran
dan meningkatkan akurasi atas analisis yang dilakukan. Pemantauan terhadap
perkembangan pagu dan realisasi anggaran dapat dilakukan secara harian sehingga dapat
dijadikan feedback bermanfaat bagi proses perencanaan dan penganggaran tahun
berikutnya. Sementara itu, analisis perkembangan pagu bertujuan untuk memastikan
konsistensi K/L dalam menjaga komitmen alokasi anggaran atas rincian output yang
mendukung percepatan penurunan stunting dalam pelaksanaan anggaran.
2. Analisis kinerja anggaran, meliputi analisis atas realisasi anggaran dan capaian rincian
output atas intervensi yang dilaksanakan K/L yang mendukung percepatan penurunan
stunting. Dalam bagian analisis kinerja anggaran juga akan membahas kinerja anggaran
tahun 2022 dibandingkan tahun 2021. Kinerja anggaran, khususnya terkait dengan realisasi
anggaran, dianalisis baik pada level rincian output (RO) maupun level analisis lanjutan.
Analisis di level lanjutan diperlukan untuk meningkatkan akurasi dari analisis yang dilakukan,
karena analisis pada level RO berpotensi overestimate mengingat alokasi di tingkat RO
tersebut ada kalanya tidak seluruhnya dimanfaatkan untuk penurunan stunting, namun
juga digunakan untuk mendukung program/kegiatan K/L lainnya. Level analisis lanjutan
dilaksanakan melalui dua pendekatan, yaitu dengan menggunakan asumsi bobot kontribusi
kegiatan/anggaran dan dengan memetakan informasi detail di bawah level rincian output
(komponen/sub-komponen/detil anggaran) yang mendukung penurunan stunting
sebagaimana terdapat dalam Dokumen Ringkasan RO K/L TA 2022 yang Mendukung
Percepatan Penurunan Stunting. Secara rinci, data anggaran berdasarkan pendekatan
dimaksud sebagai berikut:
1) Pada RO yang menggunakan asumsi bobot kontribusi kegiatan/anggaran, data pagu
revisi dan realisasi anggaran menggunakan data SAKTI yang kemudian dikalikan
dengan bobot kontribusinya dengan mengacu kepada Dokumen Ringkasan RO yang
Mendukung Percepatan Penurunan Stunting melalui Belanja K/L Tahun 2022.
2) Pada RO yang berasal dari proses pemetaan RO (komponen/sub-komponen/detail
anggaran), maka data pagu revisi dan realisasi anggaran menggunakan data yang
bersumber dari evaluasi mandiri K/L. Hal ini mempertimbangkan ketersediaan data
realisasi anggaran dalam SAKTI masih terbatas sampai dengan level RO. Namun, jika
data level RO tidak tersedia, maka digunakan pendekatan pertama.
3. Analisis kinerja pembangunan, meliputi analisis atas kinerja output intervensi,
kesinambungan intervensi, dukungan intervensi terhadap capaian hasil indikator Perpres
72/2021 dan kinerja konvergensi intervensi pada lokasi prioritas, sasaran prioritas dan
koordinasi multi sektor. Analisis kinerja pembangunan terbagi dalam analisis kinerja
pembangunan intervensi spesifik, analisis kinerja pembangunan intervensi sensitif dan
analisis kinerja pembangunan intervensi dukungan.
4. Analisis kinerja program di lokasi prioritas, meliputi kinerja implementasi intervensi
meliputi kesesuaian implementasi dengan pedoman, cakupan sasaran, ketepatan sasaran,
kendala implementasi dan pembelajaran atas implementasi pada RO pilihan yang
dilaksanakan di kabupaten/kota lokus prioritas.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 21
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Dari hasil analisis perkembangan penandaan dan perkembangan pagu, analisis kinerja anggaran,
dan analisis kinerja pembangunan serta analisis kinerja intervensi K/L di lokasi prioritas, maka
dibuat Kesimpulan dan Rekomendasi. Kesimpulan dan rekomendasi tersebut berisikan kesimpulan
hasil analisis kinerja yang telah dilakukan dan Rekomendasi pelaksanaan kegiatan pada I tahun 2022
yang lebih efektif dan efisien dengan memastikan capaian kinerja anggaran dan program dapat
tercapai dengan maksimal sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 22
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
II. Perkembangan Penandaan dan
Perkembangan Pagu
2.1. Perkembangan Penandaan
Proses penandaan (tagging) tematik stunting adalah kegiatan menandai uraian belanja K/L yang
mendukung upaya penanganan stunting. Dalam konteks penandaan anggaran belanja K/L terkait
dengan stunting adalah anggaran yang mendukung percepatan penurunan stunting dengan
kriteria; a) Anggaran Intervensi Spesifik, merupakan anggaran yang digunakan untuk intervensi
langsung dan menyasar 1000 HPK, Ibu hamil dan menyusui, dan baduta/balita ; b) Anggaran
Intervensi Sensitif, merupakan anggaran prioritas lain yang berkontribusi terhadap penurunan
stunting, dan dihitung menggunakan formula berdasarkan derajat kontributifnya, dan c) Anggaran
Intervensi Dukungan Teknis (enabling factors), melalui koordinasi, sinergi, dan sinkronisasi di antara
kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya, penelitian, kajian,
dll. Dalam pelaksanaannya, alokasi anggaran tidak bersifat subsitusi, anggaran sensitif tidak bisa
dialihkan keanggaran spesifik, begitu pula sebaliknya. Selain itu, penetapannya dilakukan
berdasarkan proses penandaan (tagging) tematik stunting, dimana anggaran dihitung berdasarkan
proses tagging (penandaan) keluaran (rincian output) dari KRISNA Renja-K/L dan alokasi pagu
anggaran dari SAKTI RKA-K/L.
2.1.1. Proses Penandaan (Tagging) Tematik Stunting
Pelaksanaan penandaan (tagging) tematik stunting tahun 2022 sudah menerapkan dan
melaksanakan kebijakan RSPP (Redesain Sistem Perencanaan dan Penganggaran) secara penuh
sejak awal proses penandaan dengan mengikuti struktur Program, Kegiatan, Komponen Rincian
Output (KRO), Rincian Output (RO) sampai dengan Komponen. Hal ini berbeda jika kita bandingkan
dengan tahun 2021, dimana dalam proses penandaan (tagging) awal di bulan Januari tahun 2021
masih pada level output, dan mengalami perubahan/revisi penandaan (tagging) pada level Rincian
Output (RO) pada bulan Juli s/d Agusutus tahun 2021 yang merupakan implikasi dari pelaksanaan
kebijakan RSPP yang diterbitkan pada pertengahan tahun 2021. Proses penandaan (tagging)
tematik stunting tahun 2022 dilakukan melalui serangkaian kegiatan yang terdiri atas:
No Aktivitas Metoda Waktu
1 Proses identifikasi RO-RO terkait dengan Identifikasi melalui kata kunci Oktober, 2021
tematik stunting pada aplikasi KRISNA pada aplikasi KRISNA Renja-KL
Renja K/L (PIC: Bappenas )
2 Melakukan desk review dengan melihat Desk review dan análisis singkat November,
dan menyaring kembali hasil identifikasi dengan membandinkan hasil 2021
dari aplikasi Renja K/L dengan melihat penandaan tahun sebelumnya
korelasi RO-RO tersebut dengan (PIC: Bappenas )
program dan kegiatan terkait stunting
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 23
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
No Aktivitas Metoda Waktu
dengan melihat dokumen ringkasan
tahun sebelumnya (2021).
3 Penyusunan draft awal lampiran Desk Review dan Analisis Desember
dokumen ringkasan penandaan tematik (PIC: Bappenas ) 2021
stunting yang berisikan Rincian Output
(RO) tersebut sampai dengan level
komponen (jika data didapatkan) dan
mengirimkan kepada K/L terkait untuk
bahan awal pelaksanaan
Multilateral/Trilateral Meeting
4 Multilateral Meeting dan Trilateral Workshop (konfirmasi) Januari 2022
Meeting melalui pelaksanaan Workshop (PIC: Bappenas dan DJA-
Konfirmasi kepada K/L terkait bersama Kemenkeu)
dengan Direktorat Mitra Bappenas dan
DJA Kemenkeu.
5 Pemutakhiran RO-RO terpilih hasil dari Desk Review, dan melakukan Januari s/d
Workshop Konfirmasi sampai dengan konfirmasi ulang ke K/L. Februari 2022
level komponen/sub-komponen. (PIC: Bappenas dan DJA-
Kemenkeu)
6 Penetapan Dokumen Ringkasan RO yang Penetapan bersama melalui Maret 2022
terkait dengan program percepatan Dokumen Ringkasan RO tematik
penurunan stunting tahun 2021 oleh stunting oleh Eselon 1 Deputi
Bappenas dan Kemenkeu sampai PMMK Bappenas dan Dirjen
dengan level komponen/sub-komponen Anggaran (DJA) Kemenkeu.
untuk setiap RO bagi data yang bisa (PIC: Bappenas dan DJA-
didapatkan Kemenkeu)
7 Mengecek kembali RO yang tercantum Crosschek untuk RO-RO yang April s/d Mei
dalam Dokumen Ringkasan RO tersebut belum dilakukan penandaan 2022
agar dilakukan tagging tematik stunting pada aplikasi KRISNA Renja K/L
dalam sistem Krisna dan Sakti dan SAKTI RKA K/L.
(PIC: Bappenas dan DJA-
Kemenkeu)
8 Revisi/ pemutakhiran Lampiran Workshop (konfirmasi) Agustus 2022
dokumen ringkasan tagging tematik (PIC: Bappenas dan DJA-
stunting dan telah diselaraskan didalam Kemenkeu)
Renja-K/L maupun RKA K/L untuk RO-RO
yang mengalami perubahan akibat dari
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 24
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
No Aktivitas Metoda Waktu
perubahan SOTK K/L atau perubahan
lainnya)
Melalui serangkaian kegiatan tersebut, diharapkan tujuan dari penandaan anggaran tematik
stunting untuk meningkatkan kinerja kegiatan dapat tercapai, dimana tujuan tersebut adalah:
1. Tujuan kuantitatif, yaitu untuk menghitung jumlah belanja yang berkontribusi pada upaya
percepatan pencegahan/penurunan stunting, serta menyediakan data kinerja anggaran yang
terintegrasi.
2. Tujuan kualitatif, yaitu untuk memastikan intervensi pencegahan/penurunan stunting
dilakukan secara terintegrasi dan konvergen oleh lintas sektor terkait. Selain itu, penandaan
juga bermanfaat dalam proses penyusunan dashboard program percepatan penurunan
stunting, sehingga proses pemantauan dan evaluasi pelaksanaan anggaran intervensi
penanganan stunting bisa dilakukan secara efektif dan efisien.
Harapan dari proses penandaan anggaran tematik stunting yang telah dilakukan pada level RO
adalah agar dapat menggambarkan informasi yang lebih memadai tentang indikator capaian,
besaran dana yang dialokasikan, realisasi anggaran, maupun capaian target output yang telah
ditetapkan, serta sedapat mungkin memuat informasi yang lebih detail terkait lokus dari RO-RO
tersebut. Hal ini sejalan dengan struktur data Renja-KL yang merupakan turunan dari kebijakan
RSPP sebagaimana digambarkan pada Grafik 1. berikut:
Grafik 1. Struktur Data Renja K/L TA 2022
Sumber: Bappenas, 2020
Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa kendala yang dihadapi, antara lain koordinasi internal
K/L (antara direktorat teknis dengan biro perencanaan) dan lintas K/L (konvergensi RO-RO
dilapangan yang saling terkait dan mendukung) yang masih perlu diperkuat dalam rangka
mencegah terjadinya exclusion error (tidak dilakukan penandaan pada RO yang teridentifikasi
berkontribusi terhadap penurunan stunting) serta inclusion error (dilakukan penandaan pada RO
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 25
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
yang tidak memiliki kontribusi terhadap penurunan stunting). Hal ini menjadi temuan saat
dilakukan penarikan data penandaan rincian output tematik stunting di tahap-tahap awal.
2.1.2. Hasil Penandaan (Tagging) Tematik Stunting
Hasil dari proses penandaan (tagging) tematik stunting Pada APBN tahun anggaran 2022
sebagaimana tercantum di dalam dokumen Ringkasan Rincian Output K/L yang Mendukung
Percepatan Penurunan Stunting TA 2022 bulan Maret adalah disepakatinya 192 RO dari 17 K/L
yang terkait dengan program percepatan penurunan stunting tahun 2022. Dari 192 RO tersebut,
sebanyak 149 RO (77,6 persen) telah dilakukan penandaan tematik stunting dan 43 RO (22,4
persen) belum dilakukan penandaan tematik stunting oleh K/L terkait (pada Renja K/L maupun
RKA K/L). Selain itu, dari 192 RO tersebut, 87 RO merupakan intervensi gizi spesifik, 48 RO
intervensi gizi sensitif, dan 57 RO intervensi dukungan (pendampingan, koordinasi, dan dukungan
teknis).
Jika kita bandingkan tingkat kepatuhan K/L pada awal tahun 2022 terhadap awal tahun 2021,
terdapat penurunan tingkat kepatuhan pada tahun 2022, hal ini bisa dilihat pada tahun 2021 di
periode yang sama (Maret 2021) terdapat 215 RO (95,9 persen) yang telah dilakukan penandaan
tematik stunting dari total 224 RO yang telah disepakati bersama antara K/L terkait dengan
Bappenas dan Kemenkeu. Dari hasil analisis dan konfirmasi yang dilakukan langsung kepada K/L,
menurunnya tingkat kepatuhan penyebab utamanya adalah karena pada awal tahun 2022 terjadi
perubahan besar pada Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) K/L utama, yaitu Kemenkes dan
Kemensos. Perubahan SOTK tersebut menyebabkan perubahan struktur eselon 1 dan eselon 2
pada dua K/L tersebut yang mengakibatkan terjadi perubahan yang mendasar terhadap struktur
RO dan direktorat teknis pengampunya. Dampaknya adalah banyak RO-RO yang sudah
teridentifikasi masih belum jelas direktorat pengampunya, sehingga belum dilakukan penandaan
dikarenakan perubahan tersebut.
Melihat dinamika perubahan besar SOTK dari K/L tersebut, maka pada bulan Agustus tahun 2022,
dilakukan revisi/pemutakhiran penandaan tematik stunting kepada seluruh K/L yang terlibat,
dimana hasil tersebut menjadi dasar revisi lampiran dokumen ringkasan penandaan (tagging)
tematik stunting tahun 2022 versi bulan Maret tahun 2022. Hasil dari kesepakatan
revisi/pemutakhiran lampiran dokumen ringkasan tersebut adalah perubahan jumlah RO yang
teridentifikasi terkait program percepatan penurunan stunting yang masuk didalam penandaan
tematik stunting, dimana terdapat total 179 RO yang terkait dengan dengan program percepatan
penurunan stunting dengan 176 RO (98,3 persen) yang telah dilakukan penandaan dan 3 RO (1,7
persen) yang belum dilakukan penandaan tematik stunting.
Untuk melihat lebih detail perkembangan dari hasil penandaan (tagging) tematik stunting sampai
dengan Agustus tahun 2022, dapat dilihat pada Tabel 1. berikut:
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 26
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Tabel 1. Perkembangan Jumlah Rincian output K/L yang Mendukung Percepatan Penurunan Stunting TA 2022 menurut Status Penandaan Tematik Stunting
Jumlah Rincian Output K/L yang Mendukung Percepatan Pencegahan Stunting TA 2022
Jumlah RO menurut Intervensi
No K/L RO Dokumen RO Dokumen RO ter-tagging
RO ter-tagging Per/Maret RO ter-tagging Per/Maret 2023
Ringkasan Ringkasan (akhir) Per/Maret
2022 Per/Agustus 2022 Dukunga
Maret Rev. Agustus 2023 Spesifik Sensitif
n
(n) (n) (%) (n) (n) (%) (n) (%) (n) (n) (n)
1 007 KEMENSETNEG 1 1 100,0% 1 1 100,0% 1 100,0% 0 0 1
2 010 KEMENDAGRI 4 3 75,0% 4 4 100,0% 4 100,0% 0 0 4
3 018 KEMENTAN 2 2 100,0% 4 2 50,0% 2 50,0% 0 1 1
4 023 KEMENDIKBUD 9 8 9 9
88,9% 9 100,0% 100,0% 0 2 7
RISTEK
5 024 KEMENKES 119 80 67,2% 100 100 100,0% 101 100,0% 81* 13 7
6 025 KEMENAG 2 2 100,0% 5 4 80,0% 5 100,0% 0 5 0
7 027 KEMENSOS 9 8 88,9% 6 6 100,0% 6 100,0% 0 5** 1
8 032 KEMEN KP 2 2 100,0% 2 2 100,0% 2 100,0% 0 2 0
9 033 KEMEN PU&PR 2 2 100,0% 2 2 100,0% 2 100,0% 0 2 0
10 036 KEMENKO PMK 1 1 100,0% 1 1 100,0% 1 100,0% 0 0 1
11 047 KEMEN PP & PA 5 4 80,0% 6 6 100,0% 6 100,0% 0 0 6
12 055 KEMENPPN/ 1 1 1 1
100,0% 1 100,0% 100,0% 0 0 1
BAPPENAS
13 059 KEMENKOMINFO 1 1 100,0% 1 1 100,0% 1 100,0% 0 0 1
14 063 BPOM 4 4 100,0% 5 5 100,0% 5 100,0% 0 5 0
15 067 KEMEN DES PDTT 1 1 100,0% 3 3 100,0% 3 100,0% 0 0 3
16 068 BKKBN 28 28 100,0% 28 28 100,0% 28 100,0% 0 6 22
17 111 BNPP 1 1 100,0% 1 1 100,0% 1 100,0% 0 0 1
TOTAL 192 149 77,6% 179 176 98,3% 178 98,3% 81 41 56
Sumber: Dokumen Ringkasan Tagging Tematik Stunting tahun 2022 versi Maret 2022, KRISNA Renja K/L dan SAKTI RKA K/L per 2 September 2022 dan Data BI DJA Kemenkeu (diolah)
*10 RO Intervensi Spesifik tidak dilakukan pada periode semester II karena terjadi perubahan struktur RO dari semester I ke semester II, terjadi Automatic Adjusment (AA), dan 1 RO batal
dilaksanakan karena pihak ke-3 tidak sanggup melaksanakan pengadaan.
**3 RO Intervensi Sensitif pada Kemenkes terkait dengan pelaksanaan program Bantuan Sosial Sembako yang dibedakan berdasar wilayah pada Semester I berubah dengan mengrgabungkan 3 RO
tersebut menjadi 1 RO.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 27
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Jika kita melihat perkembangan revisi/pemutakhiran penandaan (tagging) tematik stunting pada bulan
Agustus tahun 2022, maka kinerja penandaan tematik stunting pada tahun ke-4 (empat) penerapan
penandaan tematik stunting ini, menunjukan perbaikan tingkat kepatuhan K/L yang sangat baik, dimana
jika kita bandingkan antara tahun 2021 terhadap tahun 2022 terjadi peningkatan tingkat kepatuhan K/L
dari 97,3 persen pada tahun 2021, meningkat menjadi 98,3 persen pada tahun 2022.
Dalam proses revisi/pemutakhiran lampiran dokumen ringkasan penandaan (tagging) tematik stunting
tahun 2022 pada saat konfirmasi penandaan kepada K/L, terdapat beberapa hal atau temuan yang perlu
mendapat perhatian dari K/L terkait, yaitu:
A. Terjadi perubahan jumlah RO yang teridentifikasi pada dokumen ringkasan bulan Maret 2022
dari 192 RO menjadi 179 RO pada dokumen ringkasan hasil revisi pada bulan Agustus 2022.
B. Dari 179 RO versi bulan Agustus 2022, terdapat 3 RO yang sudah teridentifikasi dalam dokumen
ringkasan, tetapi belum dilakukan penandaan (tagging) tematik stunting sampai dengan proses
pemutakhiran pada akhir bulan Agustus tahun 2022, yaitu:
1. Kementan: sebanyak 2 RO, yaitu a) QDD-002-Pekarangan Pangan Lestari Stunting, dan b)
RO terkait dengan Benih Padi Bio-fortifikasi;
2. Kemenag: sebanyak 1 RO, yaitu QDE- 001-Bimbingan Keluarga Bahagia Kristen.
C. Terdapat RO-RO yang potensial dilakukan penandaan (tagging) tematik stunting tetapi belum
dilakukan penandaan (tagging) tematik stunting (exclusion error), salah satu penyebab belum
dilakukannya adalah kebijakan internal dari K/L terkait, diantaranya adalah:
1. Bappanas: sebanyak 4 RO diantaranya terkait dengan kegiatan Peta Rawan Pangan
Nasional, dan kegiatan Rekomendasi Kebijakan Kewaspadaan Pangan dan Gizi.
2. BPS: sebanyak 1 RO terkait Publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat yang Terbit Tepat
Waktu, RO tersebut terdapat pada Output tahun 2020, tetapi tidak di tagging karena
dianggap tidak terkait stunting dan merupakan kegiatan rutin.
3. Kementerian PUPR: terkait a) RO Air Minum dan Sanitasi yang bersifat komunal dan
regional, hal ini menjadi hal penting, mengingat menu air minum dan sanitasi pada menu
DAK Air Minum dan Sanitasi yang bersifat komunal dan/atau regional seluruhnya masuk
dalam penandaan tematik stunting untuk dana yang bersumber dari DAK, dan b) RO
terkait dengan Program Pengembangan Permukiman Kumuh (KOTAKU) terkait dengan
fasilitas air minum dan sanitasi.
4. Kemensos: terdapat perubahan struktur 3 RO tanpa mengakibatkan perubahan
intervensi terkait bantuan sosial pada Kemensos, yang awalnya teridentifikasi dan
dilakukan penandaan (tagging) tematik stunting tetapi mengalami perubahan dan hilang
dalam proses pelaksanaannya, yaitu RO terkait penyaluran bantuan sosial sembako
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 28
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
(BPNT), dimana awalnya terdapat penyaluran yang dilakukan melaui RO regular dan juga
RO PEN, tetapi dalam revisi/pemutakhiran RO, terjadi perubahan kebijakan terkait
pelaksanaan penyaluran bantuan sosial tersebut yang hanya dilakukan melalui RO PEN.
D. Khusus Kemenkes, akibat dari perubahan SOTK mengalami perubahan dari versi bulan Maret
2022 dengan jumlah RO Kemenkes sebanyak 119 RO (dari total 192 RO), menjadi 100 RO (dari
total 179 RO) pada versi bulan Agustus, dan tetap menjadi 100 RO (dari 176 RO) pada versi bulan
Februari 2023 yang bersumber dari form evaluasi mandiri K/L tahun 2022. Dari 176 RO tersebut
terdapat 12 RO yang tidak terlaksana kegiatannya, diantaranya disebabkan adanya perubahan
alokasi anggaran (automatic adjustment), nomeklatur RO yang berubah dan dilakukan
penggabungan beberapa RO menjadi 1 RO (Kemensos), RO dibatalkan pelaksanaannya, dan RO
tidak jadi dilaksanakan karena pihak ke-3 pelaksana program tidak dapat menyediakan item
pengadaan yang telah ditetapkan dalam proses pengadaan barang dan jasa. Berikut adalah RO-
RO tersebut:
1. Kemenkes: a) QEA.00 Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) yang mendapat makanan
tambahan, b) QEA.002 Balita kurus yang mendapat Makanan Tambahan, c) QEA.003
Anak balita yang mendapat Suplementasi Gizi Mikro d) QEA.004 Ibu hamil dan balita yang
diberikan Edukasi Gizi Seimbang melalui Pemberian Makanan Tambahan Lokal, e) UBA-
002 Kab/Kota mendapatkan pendampingan dalam implementasi edukasi gizi melalui
makanan tambahan lokal bagi ibu hamil dan balita, f) PEA-003 Terlaksananya Koordinasi
dan Advokasi Terkait Pengembangan Pelayanan Skrining Bayi Baru Lahir, g) RAB-003
Buku/Media KIE Terkait Pelayanan Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja, h) PFA-
002 NSPK Imunisasi, i) QAH-013 Intensifikasi penemuan kasus baru dalam rangka
eliminasi Malaria Provinsi Papua dan Papua Barat, j) PEF-001 Sosialisasi dan Diseminasi
Program Kesehatan Lingkungan,
2. Kemensos: a) QEB.105 KPM Yang Memperoleh Bantuan Sosial Pangan Sembako Pada
Direktorat Penanganan Fakir Miskin Wilayah II (PEN), b) QEB.105 KPM Yang Memperoleh
Bantuan Sosial Pangan Sembako Pada Direktorat Penanganan Fakir Miskin Wilayah II
(PEN), c) QEB.106 KPM Yang Memperoleh Bantuan Sosial Pangan Sembako Pada
Direktorat Penanganan Fakir Miskin Wilayah III (PEN) digabung menjadi 1 (satu) RO.
E. Perubahan RO-RO Kemenkes akibat perubahan SOTK yang berjumlah 119 RO versi bulan Maret
menjadi 100 RO pada versi bulan Agustus, dan tetap 100 RO pada Februari 2023, adalah sebagai
berikut:
RO Berlanjut/Bertambah:
1. 40 RO versi bulan Maret 2022 terus berlanjut dengan menggunakan nomenklatur dan
kode yang sama pada RO versi revisi bulan Agustus 2022 dan RO versi formulir evaluasi
mandiri K/L bulan Februari 2023.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 29
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
2. 47 RO versi bulan Maret 2022 terus berlanjut dengan penyesuaian SOTK baru pada RO
versi revisi bulan Agustus 2022 dan RO versi formulir evaluasi mandiri K/L bulan Februari
2023.
3. 5 RO versi bulan Maret 2022 terus berlanjut dengan perubahan nomenklatur dan
kodefikasi pada RO versi revisi bulan Agustus 2022 dan RO versi formulir evaluasi mandiri
K/L bulan Februari 2023.
4. 4 RO versi bulan Maret terus berlanjut dengan mengalami perubahan nomenklatur dan
kode serta mengalami pemecahan/penambahan menjadi dua RO atau lebih pada RO
versi revisi bulan Agustus 2022 dan RO versi formulir evaluasi mandiri K/L bulan Februari
2023,
5. Bertambah 4 RO dari versi bulan Maret yang merupakan RO baru pada RO versi revisi
bulan Agustus 2022 dan RO versi formulir evaluasi mandiri K/L bulan Februari 2023,
RO Berkurang/Tidak Berlanjut:
1. 51 RO dari total 192 RO versi bulan Maret 2022 tidak berlanjut/hilang pada RO revisi
versi bulan Agustus.
2. 43 RO dari 119 RO versi bulan Maret mengalami proses un-tagging pada versi bulan
Agustus menjadi 179 RO, dengan rincian, 4 RO mengalami proses untagging dikarenakan
perubahan substansi, dimana substansi pelaksanaan RO tersebut tidak terkait langsung
dengan stunting, yaitu a) PEF 002-Sosialisasi pelaksanaan imunisasi, b) RAB 031-Alat dan
bahan kesehatan pencegahan dan pengendalian penyakit Filariasis dan Kecacingan, c)
031-Pelatihan SDM Pencegahan dan Pengendalian Filariasis, Kecacingan, dan
Schistosomiasis, dan d) PEF 001-Sosialisasi dan Diseminasi Program Kesehatan
Lingkungan, sedangkan 39 RO merupakan RO yang tidak terkait dengan substansi
stunting (inclusion error) jika dilihat pada komponen/sub-komponen hasil konfirmasi
dengan Kemenkes.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 30
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
2.1.3. Perkembangan Penandaaan (Tagging) Tematik Stunting tahun 2019 – 2022
Grafik berikut memperlihatkan perkembangan proses penandaan (tagging) tematik stunting yang sudah
berjalan sejak tahun 2019 s/d 2020.
Grafik 2. Perkembangan Penandaan (Tagging) Output/Rincian Output Tematik Stunting TA-2019-2023
250 120,00%
95,98% 100,00%
100,00%
200 77,60% 85,71%
100,00%
80,00%
150
79,07%
60,00%
41,84%
100
40,00%
50
20,00%
0 0,00%
Tahun 2021 Tahun 2021 Tahun 2022 Tahun 2022 Tahun 2023
Tahun 2019 Tahun 2020
(Awal) (Revisi) (Awal) (Revisi) (awal)
Jumlah Total Output/RO 98 86 224 231 192 176 189
Jumlah Output/RO Tertagging 41 68 215 231 149 176 162
% Output/RO Tertagging 41,84% 79,07% 95,98% 100,00% 77,60% 100,00% 85,71%
Sumber: Dokumen Ringkasan Tagging 2019-2022, Form Evaluasi Mandiri K/L 2021-2022, dan Business Intelligence DJA (Diolah)
Berdasarkan Grafik 2. di atas tentang perkembangan penandaan temtatik stunting tahun 2019-2022
terlihat bahwa:
1. Tren perkembangan dan kepatuhan Penandaan (Tagging) Tematik Stunting K/L (2019-2021)
menunjukan peningkatan yang cukup baik, dimana TA 2019 sebesar 41,8%, naik menjadi 79,1%
pada TA 2020, lalu naik menjadi 95,9% awal 2021, dan menjadi 100% akhir 2021.
2. Tahun 2022 mengalami penurunan dari tren 3 (tiga) tahun sebelumnya, dikarenakan pada tahun
2022 terjadi perubahan SOTK pada 2 (dua) Kementerian utama yang mendukung program PPS,
yaitu Kemenkes dan Kemensos. Perubahan SOTK tersebut berdampak kepada perubahan struktur
Program, Kegiatan, KRO dan RO serta penanggung jawab eselon 1 maupun eselon 2, serta
mengakibatkan banyak RO yang berubah dalam pembahasan sehingga tidak bisa dilakukan
penandaan (tagging) tematik stunting.
2.1.4 Tantangan Penandaan (Tagging) Tematik Stunting
Penandaan tematik stunting saat ini masih dilakukan pada level rincian output, dengan pertimbangan
ketersediaan data realisasi anggaran dalam sistem aplikasi SAKTI yang saat ini masih sampai dengan level
rincian output. Sementara itu, sebagian rincian output K/L yang mendukung percepatan penurunan
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 31
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
stunting menggunakan rincian di bawah level rincian output, yang disebut sebagai tingkat analisis
lanjutan, yakni pemetaan level komponen/sub-komponen dan asumsi bobot kontribusi
kegiatan/anggaran. Oleh karena itu, penajaman proses penandaan pada level di bawah rincian output
(komponen dan sub-komponen) menjadi hal yang sangat penting dan krusial. Karena jika data sampai
level komponen dan sub-komponen didapatkan akan lebih memudahkan proses pemantauan dan
evaluasi melalui penyediaan data anggaran yang cepat dan lebih akurat. Hal ini sejalan dengan
implementasi RSPP secara penuh sejak awal tahun anggaran 2022 paska diterapkannya pada
pertengahan tahun 2021 yang lalu.
Selain hal tersebut di atas, faktor perubahan kebijakan diinternal K/L baik berupa arahan pimpinan,
maupun perubahan PIC yang mengelola proses penandaan tematik stunting dengan pemahaman yang
kurang terhadap substansi RO-RO yang teridentifikasi menjadi salah satu tantangan yang perlu dicarikan
solusi dan jalan keluarnya. Kondisi tersebut berakibat RO-RO yang secara substansi dan juga sasaran
penerima manfaat yang teridentifikasi mendukung program PPS tetapi tidak dilakukan penandaan.
2.2. Pemetaan Indikator Perpres 72/2021 terhadap Rincian Output TA 2022
Setelah diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan
Stunting pada tanggal 20 Agustus 2021, Bappenas bersama dengan Kemenkeu telah melakukan
pemetaan sandingan indikator lampiran Perpres 72/2021 dengan RO-RO yang telah dilakukan penandaan
tematik stunting tahun 2022. Sandingan ini dilakukan dengan menganalisis indikator yang telah
ditetapkan target antara terkait dengan prevalensi Stunting yang dijabarkan dalam sasaran, indikator
sasaran, target dan tahun pencapaian, penanggung jawab dan pihak pendukung (K/L dan Pemerintah
Daerah). Indikator tersebut dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu:
3. Indikator Intervensi Spesifik (sebanyak 9 indikator);
4. Indikator Intervensi Sensitif (sebanyak 11 indikator), dan;
5. Indikator Output Pilar (sebanyak 5 Pilar dengan turunannya).
Dalam pelaksanaannya, sandingan indikator Perpres 72/2021 dengan RO-RO tahun 2022 yang telah
teridentifikasi didalam dokumen ringkasan penandaan tematik stunting pada tahun 2022 dilakukan
hanya untuk indikator Perpres 72/2021 dengan penanggung jawabnya adalah K/L dan dilaksanakan
melalui belanja K/L, berikut adalah tahapan sandingan tersebut:
1. Desk Review, Tim Bappenas dan Kemenkeu melakukan sandingan awal dengan menganalisis
disain dari pelaksanaan kegiatan RO-RO K/L yang telah teridentifikasi dan masuk di dalam
penandaan tematik stunting dengan melihat target sasaran/penerima manfaat dan
disandingkan dengan indikator Perpres 72/2021 (sasaran, indikator sasaran, target dan tahun
pencapaian serta K/L penanggung jawab).
2. Konfirmasi Kepada K/L, hasil dari sandingan awal dilakukan konfirmasi kepada K/L terkait pada
saat workshop konfirmasi revisi penandaan tematik stunting yang dilakukan pada bulan Juli
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 32
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
2022 untuk memastikan dan menyepakati sandingan RO-RO tersebut telah sesuai dengan
indikator Perpres yang menjadi tanggung jawab dari masing-masing K/L.
Berikut adalah hasil analisis pemetaan sandingan indikator Perpres 72/2021 terhap RO-RO yang telah
teridentifikasi masuk di dalam penandaan (tagging) tematik stunting tahun 2022:
Grafik 3. Persandingan Indikator Intervensi Spesifik Lampiran Perpres 72/2021 terhadap RO-RO Tematik
Stunting melalui Belanja K/L Tahun 2022
Jumlah RO 2022
9. Persentase balita yang memperoleh imunisasi dasar
14
lengkap.
8. Persentase anak berusia di bawah lima tahun (balita) gizi
5
kurang yang mendapat tambahan asupan gizi.
7. Persentase anak berusia di bawah lima tahun (balita)
6
yang dipantau pertumbuhan dan perkembangannya.
6. Persentase anak berusia di bawah lima tahun (balita) gizi
2
buruk yang mendapat pelayanan tata laksana gizi buruk
5. Persentase anak usia 6-23 bulan yang mendapat
3
Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI).
4. Persentase bayi usia kurang dari 6 bulan mendapat air
3
susu ibu (ASI) eksklusif.
3. Persentase remaja putri yang mengonsumsi Tablet
8
Tambah Darah (TTD)
2. Persentase ibu hamil yang mengonsumsi Tablet Tambah
2
Darah (TTD) minimal 90 tablet selama masa kehamilan.
1. Persentase ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK) yang
9
mendapatkan tambahan asupan gizi
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Sumber: Lampiran Indikator Perpres 72/2021, revisi Lampiran Dokumen Ringkasan Penandaan Tematik Stunting 2022 (diolah)
Grafik 3. di atas memperlihatkan bahwa seluruh indikator intervensi spesifik dari lampiran Perpres
72/2021 telah didukung oleh 45 RO intervensi gizi spesifik, dalam hal ini adalah RO dari Kemenkes yang
merupakan K/L yang memiliki RO intervensi spesifik. Sebagai catatan bahwa 1 RO dapat mendukung
ketercapaian lebih dari satu indikator intervensi spesifik pada Grafik 3 di atas, sehingga total jumlah RO
mendukung seluruh indikator pada grafik di atas mungkin lebih dari 45 RO.
Grafik 4. Persandingan Indikator Intervensi Sensitif Lampiran Perpres 72/2021 terhadap RO-RO Tematik
Stunting melalui Belanja K/L Tahun 2022
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 33
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Jumlah RO 2022
11. Persentase desa/kelurahan stop Buang Air Besar
6
Sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free…
10. Jumlah keluarga miskin dan rentan yang
3
menerima bantuan sosial pangan.
9. Persentase target sasaran yang memiliki
8
pemahaman yang baik tentang Stunting di lokasi…
8. Jumlah keluarga miskin dan rentan yang
2
memperoleh bantuan tunai bersyarat.
7. Cakupan keluarga berisiko stunting yang
4
memperoleh pendampingan
6. Cakupan Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan
1
Kesehatan Nasional dari 40% penduduk…
5. Persentase rumah tangga yang mendapatkan
1
akses sanitasi (air limbah domestik) layak di…
4. Persentase rumah tangga yang mendapatkan
1
akses air minum layak di kabupaten/kota lokasi…
3. Cakupan calon pasangan usia subur (PUS) yang
0
memperoleh pemeriksaan kesehatan sebagai…
2. Persentase kehamilan yang tidak diinginkan 0
1. Persentase pelayanan Keluarga Berencana (KB)
1
pascapersalinan.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Sumber: Lampiran Indikator Perpres 72/2021, revisi Lampiran Dokumen Ringkasan Penandaan Tematik Stunting 2022 (diolah),
Grafik 4. di atas memperlihatkan bahwa seluruh indikator intervensi sensitif dari lampiran Perpres
72/2021 telah didukung oleh 25 RO terdiri dari 21 RO intervensi gizi sensitif dan 4 RO intervensi dukungan,
yang berasal dari 4 K/L yaitu Kementerian Kesehatan, BKKBN, Kementerian Sosial, Kementerian PUPR.
Untuk indikator intervensi sensitif terlihat bahwa dari 11 indikator, hanya 9 (Sembilan) indikator intervensi
sensitif yang didukung oleh 25 RO yang anggarannya bersumber dari belanja K/L, 2 (dua) indikator lainnya,
tidak didukung oleh RO yang bersumber dari belanja K/L, tetapi didukung oleh belanja yang bersumber
dari dana DAK pada menu BOK/KB yang terkait dengan BKKBN. Indikator terbanyak yang mendapatkan
dukungan 8 RO K/L adalah indikator 9 (Sembilan) yaitu persentase target sasaran yang memiliki
pemahaman baik tentang Stunting di lokasi prioritas, dan diikuti oleh indikator 11 (sebelas) yang didukung
oleh 6 RO, dan 2 (dua) indikator yang tidak mendapatkan dukungan dari anggaran yang bersumber dana
belanja K/L tetapi mendapatkan dukungan dari sumber dana DAK BOK KB adalah indikator 3 (tiga) yaitu
cakupan calon PUS yang memperoleh pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari pelayanan nikah dan
indikator 2 (dua) yaitu persentase kehamilan yang tidak diinginkan.
Dalam pelaksanaan Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (Stranas), indikator target antara
untuk mengukur ketercapaian pilar Stranas disusun dan dilampirkan dalam Lampiran B Peraturan Presiden
No. 72/2021. Terdapat 5 pilar Stranas yang terdiri dari:
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 34
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
1. Peningkatan komitmen dan visi kepemimpinan di kementerian/Lembaga, pemerintah daerah
provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, dan pemerintah desa
2. Peningkatan komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat
3. Peningkatan konvergensi intervensi spesifik dan intervensi sensitif di kementerian/Lembaga,
pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota dan pemerintah desa
4. Peningkatan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat individu, keluarga dan masyarakat
5. Penguatan dan pengembangan sistem, data, informasi, riset dan inovasi.
Dari total 71 indikator output Pilar Stranas, hanya 17 (tujuh belas) indikator yang terkait dengan belanja
K/L dan dengan penanggung jawabnya adalah K/L, sedangkan sisanya penanggung jawabnya adalah
Pemerintah Daerah, dan tidak dibahas di dalam laporan evaluasi kinerja ini. Untuk melihat RO-RO yang
mendukung program percepatan penurunan stunting dalam mendukung ketercapaian 17 indikator pilar
Stranas dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 35
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Grafik 5. Persandingan Indikator Output Pilar Stranas Lampiran Perpres 72/2021 terhadap RO-RO
Tematik Stunting melalui Belanja K/L Tahun 2022
Jumlah RO Dukungan
V.D.4. Tersusunnya kajian anggaran dan belanja
1
pemerintah untuk Percepatan Penurunan Stunting
V.D.3. Tersedianya sistem insentif finansial bagi daerah
0
yang dinilai berkinerja baik dalam Percepatan Penurunan…
V.D.2. Tersusunnya sistem penghargaan bagi daerah dalam
1
percepatan penurunan stunting
V.D.1. Tersusunnya platform berbagi pengetahuan untuk
1
Percepatan Penurunan Stunting
V.C.1. Persentase Kab/Kota yang menerima pendampingan
1
Percepatan Penurunan Stunting melalui Tri Dharma…
V.A.4. Tersedianya sistem skrining dan konseling calon
0
Pasangan Usia Subur (PUS) siap nikah
V.B.2. Tersedianya sistem data dan informasi terpadu untuk
1
Percepatan Penurunan Stunting
V.B.1. Tersedianya sistem dana transfer ke daerah dan dana
0
desa/kelurahan yang mendukung Percepatan Penurunan…
V.A.4. Terselenggaranya Pemantauan dan Evaluasi Strategi
9
Nasional Percepatan Penurunan Stunting
V.A.3. Publikasi data Stunting tingkat kabupaten / kota 4
V.A.2. Persentase PemerintahDesa yang memiliki kinerja
2
baik dalam konvergensi Percepatan Penurunan Stunting
V.A.1. Persentase Pemerintah Daerah provinsi dan
3
Pemerintah Daerah kabupatenlkota yang memiliki kinerja…
III.A.1. Jumlah provinsi dankabupaten/kota yang
1
mengintegrasikan program dan dan kegiatan Percepatan…
II.C.2. Persentase pasangan calon pengantin yang
5
mendapatkan bimbingan perkawinan dengan materi…
I.B.2. Jumlah pendamping Program Keluarga Harapan (PKH)
1
yang terlatih modul kesehatan dan gizi
I.A.7. Persentase Pemerintah Daerah Provinsi yang
1
meningkatkan alokasi APBD untuk Percepatan Penurunan…
I.A.1. Terselenggaranya Rapat Koordinasi Tahunan yang
1
dihadiri oleh pimpinan tinggi di pusat, provinsi, dan…
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Sumber: Lampiran Indikator Perpres 72/2021, revisi Lampiran Dokumen Ringkasan Penandaan Tematik Stunting 2022 (diolah).
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 36
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Grafik 5. di atas memperlihatkan bahwa pada 17 indikator pilar pada lampiran B Perpres 72/2021, dengan
penanggung jawab adalah K/L di tingkat pusat, telah didukung oleh 27 RO terdiri dari 2 RO intervensi gizi
spesifik, 5 RO intervensi gizi sensitif dan 20 RO intervensi dukungan, yang berasal dari 9 K/L yaitu
Kementerian Kesehatan, BKKBN, Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa
PDTT, Kementerian Sekretaris Negara/Setwapres, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Agama,
Kementerian Koordinator PMK. Sebagai catatan bahwa 1 RO dapat mendukung ketercapaian lebih dari
satu indikator intervensi spesifik terlampir di atas sehingga total jumlah RO mendukung seluruh indikator
pada grafik di atas mungkin lebih dari 27 RO.
Sebagai kesimpulan, bahwa tidak semua RO tagging tematik stunting tahun 2022 mendukung capaian
indikator Perpres 72/2021, yaitu sebanyak 97 RO (55,1 persen dari total 176 RO ter-tagging stunting) yang
mendukung capaian indikator spesifik, indikator sensitif dan indikator pilar program percepatan
penurunan stunting dalam Perpres 72/2021.
2.3. Perkembangan Pagu
2.3.1 Perkembangan Pagu K/L Level Rincian Output dan Analisis Lanjutan
Pelaksanaan Program Percepatan Penurunan Stunting yang bersumber dari belanja K/L pada APBN tahun
2022 telah menerapkan kebijakan Redisgn Sistem Perencanaan Pembangunan secara penuh semenjak
diterbitkannya kebijakan tersebut pada pertengahan tahun 2021. Proses dimulai dengan penandaan
anggaran tematik stunting yang dilakukan pada level Rincian Output (RO). Alokasi anggaran pada tingkat
Rincian Output (RO) K/L yang mendukung percepatan penurunan stunting pada pagu awal sebesar
Rp127,33 triliun dan turun Rp3,86 triliun menjadi Rp123,47 triliun pada pagu revisi yang tersebar di 17
K/L. triliun. Jika kita bandingkan dengan pagu revisi tahun 2021 alokasi pada pagu revisi tahun 2022 ini
turun sebesar RP3,35 triliun dari alokasi sebesar Rp126,82 triliun.
Dengan penandaan yang dilakukan pada level RO tersebut, menunjukkan bahwa besaran alokasi
anggaran pada tingkat RO tersebut masih overestimate. Untuk itu, dilakukan analisis dan pemetaan yang
lebih rinci dan detail pada level analisis lanjutan, mengingat sebagian alokasi anggaran yang mendukung
percepatan penurunan stunting berada pada rincian di bawah level RO, yaitu komponen/sub-komponen,
dan untuk beberapa RO harus menggunakan asumsi bobot kontributif dari setiap kegiatan/anggaran yang
dialokasikan secara khusus untuk penurunan stunting.
Pada level analisis lanjutan, telah dilakukan proses penajaman RO pada level komponen/sub-komponen
serta melakukan asumsi pembobotan kontribusi dari RO yang ada, maka alokasi anggaran RO K/L yang
benar-benar mendukung percepatan penurunan stunting dalam APBN tahun 2022 pada pagu awal adalah
sebesar Rp32,52 turun sebesar RP3,62 triliun atau sebesar 11,12 persen menjadi 28,89 triliun. Salah satu
penyebab turunnya alokasi pagu awal terhadap pagu revisi dikarenakan adanya penurunan pagu yang
cukup besar pada Kemensos sebesar Rp3,2 triliun atau sebesar 13,78 persen, yang semula sebesar
Rp23,26 triliun pada pagu awal menjadi 20,06 triliun pada pagu revisi tahun 2022. Penurunan terbesar
adalah pada RO Keluarga Yang Mendapat Bantuan Sosial Bersyarat (PEN) dengan penurunan sebesar
Rp.3,01 triliun atau 32,34 persen dari pagu awal Rp.9,31 triliun menjadi Rp.6,29 triliun pada pagu revisi.
Penurunan ini dikarenakan terjadinya perubahan target penerima manfaat dari target awal sebanyak
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 37
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
3.102.694 keluarga berkurang sebanyak 1.003.423 keluarga atau sebesar 32,34 persen menjadi sebanyak
2.099.271 Keluarga.
Jika kita bandingkan pagu revisi tahun 2022 terhadap tahun 2021 berdasarkan penajaman sasaran
penerima manfaat yang telah dijelaskan di atas, maka pagu revisi tahun 2022 sebesar Rp28,89 triliun
mengalami penurunan jika dibandingkan pagu revisi tahun 2021, yaitu sebesar Rp2,85 triliun dari total
pagu tahun 2021 sebesar Rp31,74 triliun. Salah satu faktor penyebab penurunan alokasi anggaran tersebut
adalah telah dilakukan penajaman penerima sasaran/penerima manfaat dari setiap RO dengan mengacu
pada lampiran indikator dan target dari intervensi spesifik, sensitif dan output pilar untuk masing-masing
K/L penanggung jawab dan K/L pendukungnya yang menjadi implikasi dari pelaksanaan Perpres 72/2021.
Selain itu, penurunan ini dipengaruhi adanya perubahan metode perhitungan pagu bantuan sosial
Kemensos dalam rangka perbaikan akurasi data, yaitu besaran pagu awal alokasi yang terkait dengan
program percepatan penurunan stunting. Salah satu contohnya adalah terkait dengan RO bantuan sosial
(baik PKH maupun Sembako) yang dilakukan oleh Kemensos. Pada program PKH terjadi penyesuaian
jumlah keluarga penerima manfaat dari tahun sebelumnya yang memiliki Ibu Hamil dan Anak Usia Dini
(AUD) yang bersumber dari data DTKS Kemensos saat perhitungan besaran pagu revisi.
Tabel 2 berikut menunjukkan rekapitulasi perkembangan pagu RO K/L yang mendukung percepatan
penurunan stunting tahun anggaran 2022, baik pada level RO maupun level analisis lanjutan. Untuk
keakurasian analisis, maka analisis dalam laporan ini akan dititikberatkan pada tingkat analisis lanjutan.
Tabel 2. Rekapitulasi Perkembangan Pagu Rincian output K/L yang Mendukung Percepatan Penurunan
Stunting TA 2022 (dalam Juta Rupiah)
Pagu Level Rincian output Pagu Level Analisis Lanjutan
No K/L
Pagu Awal Pagu Revisi Selisih Pagu Awal Pagu Revisi Selisih
1 007 KEMENSETNEG 25.299,4 25.299,4 - 25.299,4 25.299,4 -
2 010 KEMENDAGRI 24.960,3 25.033,8 73,4 24.960,3 29.805,1 4.844,8
3 018 KEMENTAN 157.100,0 149.200,0 (7.900,0) 157.100,0 147.953,4 (9.146,6)
023 KEMENDIKBUD
4 32.745,8 36.670,8 3.925,0 23.998,6 26.906,1 2.907,5
RISTEK
5 024 KEMENKES 50.705.816,5 47.363.677,4 (3.342.139,1) 7.314.325,4 6.906.134,5 (408.190,8)
6 025 KEMENAG 99.820,2 96.917,7 (2.902,5) 36.195,1 34.654,4 (1.540,7)
7 027 KEMENSOS 73.923.988,2 73.380.891,1 (543.097,1) 23.262.414,3 20.057.964,3 (3.204.450,1)
8 032 KEMEN KP 25.500,0 26.983,9 1.483,9 25.500,0 27.103,5 1.603,5
9 033 KEMEN PU & PR 1.352.465,8 1.397.571,1 45.105,4 677.600,0 684.600,0 7.000,0
10 036 KEMENKO PMK 1.250,0 1.090,0 (160,0) 1.250,0 1.090,0 (160,0)
11 047 KEMEN PP & PA 2.490,0 2.158,6 (331,4) 2.490,0 2.158,0 (332,0)
055 KEMENPPN/
12 1.645,0 23.542,1 21.897,1 700,0 12.508,9 11.808,9
BAPPENAS
13 059 KEMENKOMINFO 15.705,1 14.928,0 (777,1) 15.705,1 14.928,0 (777,1)
14 063 BPOM 132.548,7 125.314,2 (7.234,6) 132.548,7 125.314,6 (7.234,2)
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 38
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Pagu Level Rincian output Pagu Level Analisis Lanjutan
No K/L
Pagu Awal Pagu Revisi Selisih Pagu Awal Pagu Revisi Selisih
15 067 KEMEN DES PDTT 15.736,5 11.411,0 (4.325,6) 5.000,0 11.411,0 6.411,0
16 068 BKKBN 810.440,4 790.976,9 (19.463,5) 810.440,4 790.976,9 (19.463,5)
17 111 BNPP 700,0 700,0 - 700,0 700,0 -
Jumlah 127.328.211,9 123.472.365,9 (3.855.846,0) 32.516.227,3 28.899.508,0 (3.616.719,3)
Sumber: Formulir Evaluasi Mandiri K/L per tanggal 15 Februari 2023 dan Business Intelligence DJA TA 2022, (Diolah)
Berdasarkan Tabel 2 di atas, terlihat bahwa penurunan alokasi pagu anggaran terjadi pada pagu level
Rincian Output (RO) maupun level analisis lanjutan. Pada level Analisis Lanjutan, total penurunan pagu
adalah sebesar Rp3,62 triliun. Hal ini sejalan dengan penjelasan sebelumnya, dimana dalam laporan
tahunan TA 2022, terjadi penajaman penerima sasaran/penerima bantuan pada program bantuan sosial
PKH di Kemensos, RO tersebut menjadi salah satu alokasi anggaran terbesar yang berkontribusi dalam
program percepatan penurunan stunting. Sementara itu, penyebab kenaikan pagu untuk
KemenPPN/Bappenas dan Kemendes PDTT adalah belum masuknya alokasi dana hibah INEY ke dalam pagu
awal, dan mengalami top-up atau penambahan pagu pada paruh semester I TA 2022.
Khusus untuk BKKBN yang telah ditetapkan sebagai ketua pelaksana program percepatan penurunan
stunting, terjadi peningkatan yang sangat signifikan alokasi pagu anggaran tahun 2022 jika dibandingkan
tahun 2021. BKKBN mendapatkan alokasi pagu revisi tahun 2022 sebesar Rp810,44 miliar, meningkat
sebesar Rp659,94 miliar jika dibandingkan tahun 2021 yang hanya sebesar Rp150,5 miliar.
Tabel 3 berikut memperlihatkan informasi rincian jumlah RO K/L yang mengalami kenaikan alokasi
anggaran, alokasi tetap, maupun alokasi yang turun dari pagu awal terhadap pagu revisi berdasarkan
perubahan alokasi anggaran pada level analisis lanjutan. Selain informasi tersebut, terdapat juga informasi
K/L yang tidak terdapat data dan/atau tidak menyampaikan data alokasi pagu pada form evaluasi mandiri
K/L yang telah diterima oleh Bapenas dan Kemenkeu.
Tabel 3. Jumlah Rincian output Berdasarkan Perubahan Pagu Rincian output K/L yang Mendukung
Percepatan Penurunan Penurunan Stunting TA 2022
Jumlah Rincian output Berdasarkan Perubahan Pagu (Analisis Lanjutan)
No K/L
#Total RO #RO Naik #RO Tetap #RO Turun #RO N/A
1 007 KEMENSETNEG 1 0 1 0 0
2 010 KEMENDAGRI 4 2 1 1 0
3 018 KEMENTAN 2 0 0 2 0
4 023 KEMENDIKBUDRISTEK 9 1 5 3 0
5 024 KEMENKES 102 14 50 33 4
6 025 KEMENAG 5 0 0 4 1
7 027 KEMENSOS 6 0 2 4 0
8 032 KEMEN KP 2 1 1 0 0
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 39
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Jumlah Rincian output Berdasarkan Perubahan Pagu (Analisis Lanjutan)
No K/L
#Total RO #RO Naik #RO Tetap #RO Turun #RO N/A
9 033 KEMEN PU&PR 2 1 1 0 0
10 036 KEMENKO PMK 1 0 0 1 0
11 047 KEMEN PP & PA 6 0 3 3 0
12 055 KEMENPPN/BAPPENAS 1 1 0 0 0
13 059 KEMENKOMINFO 1 0 0 1 0
14 063 BPOM 5 0 0 5 0
15 067 KEMEN DES PDTT 3 1 0 2 0
16 068 BKKBN 28 1 22 5 0
17 111 BNPP 1 0 1 0 0
Jumlah 179 22 87 64 5
Sumber: Formulir Evaluasi Mandiri K/L per tanggal 15 Februari 2023 dan Business Intelligence DJA TA 2022, (Diolah)
Berdasarkan tabel 3, pada hasil analisis lanjutan, penurunan total pagu rincian output (RO) K/L tahun 2022
yang mendukung penurunan stunting dipengaruhi oleh menurunnya pagu pada 64 rincian output atau
sebesar 35,8 persen yang tersebar di 12 K/L. Kemenkes menjadi K/L dengan jumlah RO terbanyak yang
mengalami penurunan alokasi pagu revisinya yaitu sebanyak 33 RO, penurunan tersebut disebabkan
adanya pergeseran pelaksanaan RO-RO yang telah ditetapkan di dalam dokumen ringkasan maupun pagu
awal dilaksanakan melalui belanja K/L, tetapi dalam pelaksanaannya berubah melalui dana Dekon atau
menjadi belanja DAK (fisik dan/atau non-fisik).
Sedangkan jumlah RO yang mengalami kenaikan pagu adalah sebanyak 22 RO atau sebesar 12,3 persen
yang tersebar di 8 K/L. Selain itu, terdapat 5 RO yang tidak memiliki data (N/A) dari form evaluasi mandiri
yang telah K/L kirimkan, yaitu Kemenkes 4 RO dan Kemenag 1 RO.
Berikut adalah RO yang mengalami kenaikan pagu adalah:
1. Kemendagri pada RO Intervensi Dukungan, yaitu; QAA.004 Akta Kelahiran yang Diterbitkan, dan
FBA.032 Fasilitasi Peningkatan Kinerja Kabupaten/Kota dalam Implementasi Konvergensi
Penurunan Stunting di Daerah (INEY),
2. Kemendikbudristek pada RO Intervensi Dukungan, yaitu; RO BDC.007 Guru PAUD dan Dikdas yang
difasilitasi kompetensi melalui Program Kemitraan,
3. Kemenkes, pada RO Intervensi Spesifik, yaitu; QEA.006 Balita kurus yang mendapat makanan
tambahan Berbasis Pangan lokal, QEA Jaminan Persalinan, RAB-004 Alat Pemeriksaan Hb, PFA-001
NSPK Terkait Peningkatan Kapasitas Pelaksana Program Gizi dan KIA, RAB-003 Buku/Media KIE
Terkait Pelayanan Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja, QEC-516 Paket Penyediaan Vaksin
Imunisasi Rutin, QMA-001 Media komunikasi, informasi, edukasi imunisasi (LP), QAH-011
Intensifikasi penemuan kasus baru dalam rangka eliminasi Malaria, QAH-012 Intensifikasi
penemuan kasus baru dalam rangka eliminasi Malaria Tingkat Provinsi, QAH-U02 IRS/Indoor
Residual Spraying (Penyemprotan insektisida pada dinding rumah) di daerah sulit kategori I, QMA-
011 Media komunikasi, informasi, edukasi pencegahan dan pengendalian malaria, RAB-011 Alat
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 40
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
dan bahan kesehatan pencegahan dan pengendalian malaria, RCB-031 Pemeliharaan Sistim
Informasi Pencegahan dan Pengendalian penyakit filariasis dan kecacingan (EFILCA). Dan RO
Intervensi Sensitif, yaitu; QEH-001 Peningkatan Kualitas Kesehatan Lingkungan.
4. KemenKP pada RO Intervensi Sensitif, yaitu; PEH.001 Kampanye Gerakan Memasyarakatkan
Makan Ikan (Gemarikan),
5. KemenPUPR pada RO Intervensi Sensitif, yaitu; RBB.011 Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik
Setempat Skala Individu.
6. KemenPPN/Bappenas RO Intervensi Dukungan, yaitu; RO ABG.108 Kebijakan Percepatan Lingkup
Kesehatan dan Gizi Masyarakat,
7. Kemendes PDTT RO Intervensi Dukungan, yaitu; RO BDC.003 Masyarakat yang ditingkatkan
kapasitasnya dalam pencegahan stunting/INEY, dan,
8. BKKBN pada RO Intervensi Dukungan, yaitu; QMB.001 Kampanye Percepatan Penurunan Stunting
tingkat nasional.
Sedangkan RO yang mengalami penurunan pagu terdiri dari:
1. Kemendagri pada RO Intervensi Dukungan, yaitu; UBA.011 Daerah yang meningkat kapasitas
aparaturnya dalam penilaian kinerja penanganan stunting,
2. Kementan pada RO Intervensi Sensitif, yaitu; RAI.62 Kawasan Padi Kaya Gizi (Biofortifikasi),
3. Kemendikbudristek pada RO Intervensi Sensitif, yaitu; QDB 143 Satuan PAUD Menyelenggarakan
Pendekatan Holistik Integratif, dan RO Intervensi Dukungan, yaitu; SCI.001 Pelatihan calon pelatih
pemanfaatan Model Bidang pangan dan gizi di Kawasan Asia Tenggara, dan QDB.145 Satuan
PAUD yang melaksanakan program UKS.
4. Kemenkes, pada RO Intervensi Spesifik, yaitu; QEA.003 Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) yang
mendapat makanan tambahan Berbasis Pangan lokal, QEA-007 Anak balita yang mendapat
Suplementasi Gizi Mikro, QEA Jaminan Persalinan, UBA-002 Kab/Kota mendapatkan
pendampingan dalam implementasi edukasi gizi melalui makanan tambahan lokal bagi ibu hamil
dan balita, PEF-001 Pelaksana program mendapatkan sosialisasi dan Diseminasi
Pedoman/Modul/Petunjuk Teknis Terkait Kegiatan Pembinaan Gizi dan KIA, PFA-002 NSPK terkait
Pembinaan Gizi dan KIA, UBA-001 Provinsi/Kab/kota yang dilakukan Bimbingan Teknis, Monitoring,
Evaluasi Kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat, UAE-001 Terlaksananya Pemantauan dan evaluasi
pelaksanaan kegiatan pembinaan gizi dan KIA, PEA-002 Kegiatan Koordinasi dan Advokasi Terkait
Pencegahan Anemia dan Pendampingan Tablet Tambah Darah, UBA-004 Provinsi mendapatkan
fasilitasi Pemerintah Pusat dalam pelaksanaan kegiatan pendampingan masyarakat untuk
pencegahan dan penanggulangan anemia pada ibu hamil dan remaja putri, SCM-002 Tenaga
kesehatan yang ditingkatkan kapasitasnya terkait upaya peningkatan kelangsungan hidup ibu dan
anak, SCM-001 Tenaga kesehatan yang ditingkatkan kapasitasnya terkait upaya peningkatan
kualitas hidup ibu dan anak, RAB-005 Alat Antropometri, QKA-001 Surveilans gizi dan KIA yang
ditingkatkan kualitasnya, PEA-003 Terlaksananya Koordinasi dan Advokasi Terkait Pengembangan
Pelayanan Skrining Bayi Baru Lahir, QEC-515 Paket Penyediaan Buffer Obat dan Perbekalan
Kesehatan Program Pelayanan Kesehatan Dasar, PEH-003 Kampanye Posyandu Aktif, QEC-515
Paket Penyediaan Buffer Obat dan Perbekalan Kesehatan Program Pelayanan Kesehatan Dasar,
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 41
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
SCM-105 Pelatihan Konseling Menyusui, SCM-107 Pelatihan Manajemen Berat Bayi Lahir Rendah,
SCM-108 Pelatihan Manajemen Gizi Buruk, PFA-002 NSPK Imunisasi, QAH-002 Surveilans KIPI,
QMA-002 Media komunikasi, informasi, edukasi imunisasi, UBA-002 Monitoring dan Supervisi
Imunisasi, QAH-U01 IRS/Indoor Residual Spraying (Penyemprotan insektisida pada dinding rumah),
QAH-U04 Survei Darah Massal Malaria (angka parasite rate), QAH-U05 Survei Darah Massal Malaria
(angka parasite rate) di daerah sulit, QAH-U06 Survei Sentinel Malaria Knowlesi, dan BMA-001 Data
dan Informasi Kesehatan di Daerah. Pada RO Intervensi Sensitif, yaitu; PEH-001 Produksi dan
Penyebarluasan Informasi Kesehatan Germas dan Stunting Melalui Berbagai Media, PEH-003
Kampanye Posyandu Aktif, dan QEA-001 Cakupan penduduk yang menjadi Penerima Bantuan Iuran
(PBI) dalam JKN/KIS. Pada RO Intervensi Dukungan, yaitu; SCM-100 Pelatihan Penugasan Khusus
Tenaga Kesehatan Secara Team, SCM-101 Pelatihan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Secara
Individu.
5. Kemenag, pada RO Intervensi Sensitif, yaitu; QDE.001 Keluarga Islam yang Memperoleh
Bimbingan Perkawinan dan Keluarga Sakinah, QDE.001 Bimbingan Keluarga Hitta Sukkhaya,
QDE.001 Keluarga Katolik yang Memperoleh Bimbingan Keluarga Bahagia, dan QDE.001 Bimbingan
Keluarga Kristiani.
6. Kemensos pada RO Intervensi Sensitif, yaitu; QEB.201 Keluarga Yang Mendapat Bantuan Sosial
Bersyarat, QEB.202 Keluarga Yang Mendapat Bantuan Sosial Bersyarat (PEN), QEB.101 KPM
Yang Memperoleh Bantuan Sosial Pangan Sembako (PEN). Pada RO Intervensi Dukungan, yaitu;
SCJ.U01 Pendamping Sosial PKH yang telah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Kesos di BBPPKS
REG I-VI.
7. Kemenko PMK Pada RO Intervensi Dukungan, yaitu; ABG.001 Rekomendasi Alternatif Kebijakan
Bidang Ketahanan Gizi dan Promosi Kesehatan,
8. Kemen PPPA Pada RO Intervensi Dukungan, yaitu; UBA.001 Daerah yang Diberikan Bimtek
dan Supervisi tentang Pelaksanaan Kebijakan PHA atas Kesehatan (Stunting), BDB.001 K/L yang
Diberikan Bimtek dan Supervisi tentang Pelaksanaan Kebijakan PHAKP, dan BDB.002 K/L yang
Diberikan Bimtek dan Supervisi tentang Pengembangan dan Penguatan Lembaga Penyedia
Layanan PHAKP yang Ramah Anak.
9. Kemenkominfo Pada RO Intervensi Dukungan, yaitu; QMB.003 Diseminasi Informasi mengenai
Stunting.
10. BPOM pada RO Intervensi Sensitif, yaitu; QDB.002 Desa Pangan Aman, QIA.008 Sampel pangan
fortifikasi yang di periksa oleh UPT, QKB.001 Laporan Koordinasi pengawasan pangan fortifikasi,
QDC.001 KIE Obat dan Makanan Aman oleh UPT, dan BMB.001 Layanan Publikasi keamanan dan
mutu Obat dan Makanan oleh UPT.
11. Kemendes PDTT Pada RO Intervensi Dukungan, yaitu; QDD.001 Desa yang Mendapatkan
Penanganan Konvergensi Stunting, QDC-002 Tenaga Kerja Bidang Kesehatan yang Ditingkatkan
Kapasitasnya.
12. BKKBN pada RO Intervensi Sensitif, yaitu; QDE.001 Keluarga dengan Baduta yang
mendapatkan fasilitasi dan pembinaan 1000 HPK (Pro PN Provinsi DKI Jakarta), QDE.001 Keluarga
dengan baduta yang mendapatkan fasilitasi dan pembinaan 1000 HPK, ÚBA.002 Pemberdayaan
kampung KB dalam rangka penurunan stunting, QDD.001 PIK Remaja dan BKR yang mendapat
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 42
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
fasilitasi dan pembinaan Edukasi Kespro dan Gizi bagi Remaja Putri sebagai Calon Ibu, QDD.001 PIK
Remaja dan BKR yang mendapat fasilitasi dan pembinaan Edukasi Kespro dan Gizi bagi Remaja Putri
sebagai Calon Ibu (Pro PN Provinsi DKI Jakarta).
Berikut adalah perkembangan pagu K/L terkait dengan program percepatan penurunan stunting tahun
2019 sampai dengan tahun 2023.
Grafik 6. Tren Perkembangan Alokasi Pagu Anggaran Program Percepatan Penurunan Stunting dari
Belanja K/L pada Level Analisis Lanjutan TA 2019-2023 (dalam juta)
60.000 100,00%
81,76%
50.000 80,00%
40.000 60,00%
-4,14% -11,12%
0,88%
30.000 40,00%
20.000 20,00%
10.000 0,00% 0,00%
- -20,00%
2019 2020 2021 2022* 2023
Dokumen Ringkasan 29.006 27.526 35.334 34.151 30.043
Pagu Awal 29.006 27.526 33.110 32.516 -
Pagu Revisi 29.260 50.031 31.740 28.900 -
% selisih Pagu Awal Terhadap
0,88% 81,76% -4,14% -11,12% 0,00%
Pagu Revisi
Sumber: Dokumen Ringkasan Tagging 2019-2022, Form Evaluasi Mandiri K/L 2021-2023, dan Business Intelligence DJA (Diolah)
Dari Grafik 6. di atas terlihat bahwa Pada tabel dan grafik terlihat dinamika alokasi anggaran yang
mendukung percepatan penurunan stunting, berikut adalah beberapa catatan terhadap grafik tersebut:
1. Pada tahun 2020 terdapat kenaikan pagu revisi hampir dua kali lipat, dari Rp 27,5 triliun menjadi
50,03 triliun atau sebesar 81,76 persen. Kenaikan pagu revisi di akhir tahun karena meningkatnya
anggaran intervensi sensitif untuk penanganan pandemi Covid-19.
2. Pada tahun 2021, pagu revisi turun dari pagu awal sebesar Rp 33,11 triliun menjadi Rp 31,74 triliun
atau sebesar -4,14 persen.
3. Penurunan alokasi pagu anggaran juga terjadi pada tahun 2022, dimana pagu revisi turun dari pagu
awal sebesar Rp 34,15 triliun menjadi Rp 28,89 triliun atau sebesar -11,12 persen.
4. Penurunan pagu tahun 2020 s/d 2022 tersebut secara umum disebabkan terjadinya refocusing dan
realokasi anggaran sejak semester I yang digunakan untuk respon penanganan pendemi Covid-19.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 43
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
2.3.2 Perkembangan Pagu K/L Menurut Jenis Intervensi
Selain perkembangan pagu secara total dari setiap K/L, perkembangan pagu menurut jenis intervensi juga
menjadi informasi yang berguna untuk melihat tren perkembangan alokasi pagu yang terkait dengan
program percepatan penurunan stunting. Proporsi dari alokasi pagu anggaran per/intervensi dapat
menggambarkan seberapa besar dukungan dari masing-masing K/L dalam rangka mencapai target program
percepatan penurunan stunting, baik menurut tugas dan fungsi regular yang ada di masing-masing K/L
maupun amanat/mandat dari Perpres No. 72/2021 yang menjadi tanggung jawab dari masing-masing K/L.
Alokasi pagu yang terkait dengan Kemenkes maupun Kemensos mengalami perubahan yang sangat
signifikan dikarenakan terjadinya perubahan SOTK yang terjadi pada periode semester I tahun 2022.
Perubahan tersebut mempengaruhi struktur KRO dan RO serta alokasi anggaran di 2 (dua) K/L tersebut.
Hal ini terjadi sejak proses penyusunan dokumen ringkasan penandaan (tagging) tematik stunting dan juga
pagu awal RKA-KL, masih banyak RO-RO pada intervensi spesifik pada Kemenkes yang belum pasti status
dari pelaksanaan RO tersebut maupun besaran dari alokasi pagu anggarannya. Perubahan RO-RO tersebut
difasilitasi dalam proses pemutakhiran RO-RO tersebut melalui revisi penandaan (tagging) tematik stunting
yang dilakukan pada periode bulan Juli-Agustus tahun 2022. Hasil dari proses pemutakhiran/revisi tersebut
menjadi dasar penyusunan laporan evaluasi kinerja anggaran dan pembangunan Semester I maupun
laporan tahunan ini.
Tabel 4. Rekapitulasi Perkembangan Pagu Pada Level Analisis Lanjutan menurut jenis intervensi yang
Mendukung Percepatan Penurunan Stunting TA 2022 (Juta Rupiah)
Pagu Level Analisis Lanjutan (dalam juta rupiah)
Pagu Awal Pagu Revisi
No K/L
Intervensi Intervensi Intervensi Intervensi Intervensi Intervensi
Spesifik Sensitif Dukungan Spesifik Sensitif Dukungan
1 007 KEMENSETNEG 25.299,4 - - 25.299,4
2 010 KEMENDAGRI 24.960,3 - - 29.805,1
3 018 KEMENTAN 157.000,0 100,0 - 147.903,4 50,0
023 KEMENDIKBUD
4 RISTEK
13.482,4 10.516,1 - 11.639,5 15.266,6
5 024 KEMENKES 3.087.700,6 4.021.976,6 204.747,7 2.936.006,1 3.777.944,2 192.184,3
6 025 KEMENAG 36.195,1 - 34.654,4 -
7 027 KEMENSOS 23.213.814,3 48.600,0 - 20.057.964,3 8.129,4
8 032 KEMEN KP 25.500,0 - 27.103,5 -
9 033 KEMEN PUPR 677.600,0 - 684.600,0 -
10 036 KEMENKO PMK 1.250,0 - - 1.090,0
11 047 KEMEN PP & PA 2.690,0 - - 2.158,0
055 KEMENPPN/
12 BAPPENAS
700,0 - - 12.508,9
13 059 KEMENKOMINFO 15.705,1 - - 14.928,0
14 063 BPOM 132.548,7 - 125.314,6 -
15 067 KEMEN DES PDTT 5.000,0 - - 11.411,0
16 068 BKKBN 139.415,6 671.024,8 - 128.460,0 662.516,9
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 44
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Pagu Level Analisis Lanjutan (dalam juta rupiah)
Pagu Awal Pagu Revisi
No K/L
Intervensi Intervensi Intervensi Intervensi Intervensi Intervensi
Spesifik Sensitif Dukungan Spesifik Sensitif Dukungan
17 111 BNPP 700,0 - - 700,0
Jumlah 3.087.700,6 28.417.532,8 1.011.293,5 2.936.006,1 24,987.454,5 976.047,5
Sumber: Formulir Evaluasi Mandiri K/L per tanggal 15 Februari 2023 dan Business Intelligence DJA TA 2022, (Diolah)
Tabel 4 di atas memperlihatkan perkembangan pagu menurut jenis intervensi pada level analisis lanjutan,
dari tabel tersebut terlihat bahwa seluruh intervensi mengalami penurunan alokasi pagu anggaran.
Intervensi sensitif mengalami penurunan pagu awal ke pagu revisi yang cukup signifikan, sedangkan
intervensi spesifik dan intervensi dukungan mengalami penurunan yang relatif lebih kecil. Intervensi
sensitif mengalami penurunan pagu sebesar Rp3,43 triliun atau sebesar 4,91 persen dari pagu awal
sebesar Rp28,42 triliun menjadi Rp24,99 triliun pada pagu revisi. Intervensi spesifik turun sebesar
Rp151,69 miliar atau sebesar 4,91 persen dari pagu awal sebesar Rp3,09 triliun menjadi Rp2,44 triliun pada
pagu revisi. Intervensi dukungan mengalami penurunan sebesar Rp34,95 miliar atau sebesar 3,46 persen
dari pagu awal sebesar Rp1,01 triliun menjadi Rp976,05 miliar pada pagu revisi.
1. Intervensi Spesifik
Grafik 7. berikut adalah tren perkembangan alokasi pagu anggaran Intervensi Spesifik pada level analisis
lanjutan TA 2019 s/d 2023. Terlihat pada grafik tren alokasi pagu revisi anggaran intervensi spesifik
mengalami penurunan dari tahun 2019 (Rp3,66 triliun) ke tahun 2020 (Rp1,79 triliun), namun naik kembali
pada tahun 2021 (Rp2,38 triliun) dan tahun 2022 (Rp2,94 triliun). Penurunan yang sangat signifikan terjadi
pada tahun 2020, hal ini dikarenakan alokasi pagu awal mengalami penurunan dikarenakan terjadinya
refocusing dan realokasi anggaran yang ada untuk respon terhadap penanggulangan pandemi Covid-19
yang meningkat tajam pada akhir tahun 2020.
Grafik 7. Tren Perkembangan Alokasi Pagu Anggaran (Revisi) Intervensi Spesifik Program Percepatan
Penurunan Stunting dari Belanja K/L pada Level Analisis Lanjutan TA 2019-2023 (dalam miliar)
4,000.00
3,500.00
Alokasi (miliar Rupiah)
3,000.00
2,500.00
2,000.00
1,500.00
1,000.00
500.00
-
2019 2020 2021 2022 2023
Alokasi (miliar) 3,655.22 1,790.53 2,381.71 2,936.01 2,078.55
Sumber: Dokumen Ringkasan Tagging 2019-2022, Form Evaluasi Mandiri K/L 2021-2023, dan Business Intelligence DJA (Diolah)
2. Intervensi Sensitif
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 45
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Grafik 8. di bawah memperlihatkan tren perkembangan alokasi anggaran (pagu revisi) pada level analisis
lanjutan untuk Intervensi Sensitif tahun anggaran 2019-2023. Pada grafik tersebut terlihat bahwa tren
alokasi pagu revisi anggaran intervensi sensitif mengalami sedikit penurunan dari tahun 2019 (Rp24,29
triliun) ke tahun 2020 (Rp24,92 triliun), namun naik kembali pada tahun 2021 (Rp32,57 triliun). Sedangkan
dari tahun 2021 (Rp32,57 triliun) ke tahun 2022 (Rp24,99 triliun) mengalami penurunan. Penurunan yang
sangat signifikan terjadi pada tahun 2021 ke tahun 2022, hal ini disebabkan karena menurunnya target
sasaran KPM penerima manfaat pada RO terkait BPNT/Bansos Sembako dari target yang naik menjadi 20
juta jiwa pada tahun 2021 dari 15,5 juta jiwa pada tahun 2019, turun menjadi 18 juta jiwa pada tahun
2022. Kenaikan target sasaran penerima manfaat tersebut merupakan kebijakan pemerintah sebagai
jaring pengaman sosial dalam merespon penanggulangan pandemi Covid-19 yang meningkat tajam pada
sejak awal sampai dengan akhir tahun 2021.
Grafik 8. Tren Perkembangan Alokasi Pagu Anggaran (Pagu Revisi) Intervensi Sensitif Program
Percepatan Penurunan Stunting dari Belanja K/L pada Level Analisis Lanjutan TA 2019-2023 (miliar)
35,000.00
30,000.00
Alokasi (miliar Rupiah)
25,000.00
20,000.00
15,000.00
10,000.00
5,000.00
-
2019 2020 2021 2022 2023
Alokasi (miliar) 24,293.68 24,921.08 32,566.90 24,987.45 26,674.13
Sumber: Dokumen Ringkasan Tagging 2019-2022, Form Evaluasi Mandiri K/L 2021-2023, dan Business Intelligence DJA (Diolah)
3. Intervensi Dukungan
Tren perkembangan alokasi pagu anggaran Intervensi Dukungan dapat dilihat pada Grafik 9. di bawah.
Grafik di bawah memperlihatkan tren perkembangan alokasi anggaran (pagu revisi) pada level analisis
lanjutan untuk Intervensi dukungan tahun anggaran 2019-2023. Pada tahun 2019 sampai dengan tahun
2021 terjadi penurunan alokasi pagu yang cukup signifikan, dari alokasi Rp1,06 triliun pada tahun 2019,
turun menjadi Rp814,45 miliar pada tahun 2020, dan turun kembali menjadi Rp385,49 miliar pada tahun
2021. Sedangkan tahun 2022 dan 2023 mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari alokasi pagu
tahun 2021. Peningkatan alokasi pagu anggaran dari tahun 2021 sebesar Rp385,49 miliar meningkat
cukup tinggi sebesar Rp590,56 miliar atau sebesar 153,20 persen pada tahun 2022 menjadi Rp976,05
miliar, dan meningkat kembali sebesar Rp309,81 miliar dari alokasi tahun 2022 menjadi Rp1,29 triliun
pada tahun 2023.
Peningkatan alokasi anggaran pada tahun 2022 dan 2023 merupakan implikasi paska terbitnya Perpres
72/2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting pada akhir bulan Agustus tahun 2021, dimana BKKBN
ditunjuk oleh Presiden RI menjadi ketua pelaksana Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) pusat
dalam mengkoordinasikan pelaksanaan PPS ditingkat nasional dan juga daerah. Pelaksanaan fungsi ketua
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 46
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
pelaksana TPPS oleh BKKB tersebut adalah salah satu penyebab meningkatnya alokasi pagu anggaran
intervensi dukungan pada tahun 2022 dan 2023.
Grafik 9. Tren Perkembangan Alokasi Pagu Anggaran (Pagu Revisi) Intervensi Dukungan Program
Percepatan Penurunan Stunting dari Belanja K/L pada Level Analisis Lanjutan TA 2019-2023 (miliar)
1,400.00
1,200.00
Alokasi (miliar Rupiah)
1,000.00
800.00
600.00
400.00
200.00
-
2019 2020 2021 2022 2023
Alokasi (miliar) 1,055.86 814.45 385.49 976.05 1,285.86
Sumber: Dokumen Ringkasan Tagging 2019-2022, Form Evaluasi Mandiri K/L 2021-2023, dan Business Intelligence DJA (Diolah)
Selain adanya penurunan pagu secara total pada level analisis lanjutan, terdapat kenaikan yang cukup
signifikan pada beberapa RO intervensi spesifik yang menyasar penyebab langsung stunting (1000 HPK),
diantaranya adalah RO QEC-516 Paket Penyediaan Vaksin Imunisasi Rutin dimana pagunya naik sebesar
Rp189,64 miliar dari pagu awal sebesar Rp1,54 triliun naik menjadi Rp 1,73 triliun pada pagu revisi. Berikut
adalah rincian RO yang mengalami kenaikan pagu:
A. Kemendagri:
Intervensi Dukungan
1. QAA.004 Akta Kelahiran yang Diterbitkan, dengan kenaikan pagu sebesar Rp.73,34 juta.
2. FBA.032 Fasilitasi Peningkatan Kinerja Kab/Kota dalam Implementasi Konvergensi Penurunan
Stunting di Daerah (INEY) dengan kenaikan pagu sebesar Rp.4,81 miliar.
B. Kemendikbudristek
Intervensi Dukungan
3. BDC.007 Guru PAUD & Dikmas yang difasilitasi kompetensi melalui Program Kemitraan, dengan
kenaikan pagu sebesar Rp.4,81 miliar.
C. Kemenkes
Intervensi Spesifik
1. QEA.006 Balita kurus yang mendapat makanan tambahan Berbasis Pangan lokal, dengan kenaikan
pagu sebesar Rp.417,19 juta.
2. RAB-004 Alat Pemeriksaan HB, dengan kenaikan pagu sebesar Rp.1,00 miliar.
3. PFA-001 NSPK Terkait Peningkatan Kapasitas Pelaksana Program Gizi dan KIA, dengan kenaikan
pagu sebesar Rp.1,63 miliar.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 47
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
4. QEC-516 Paket Penyediaan Vaksin Imunisasi Rutin, dengan kenaikan pagu sebesar Rp.189,64
miliar.
5. QMA-001 Media komunikasi, informasi, edukasi imunisasi (LP) , dengan kenaikan pagu sebesar
Rp.1,69 miliar.
6. QAH-011 Intensifikasi penemuan kasus baru dalam rangka eliminasi Malaria, dengan kenaikan
pagu sebesar Rp.12,35 miliar.
7. QAH-012 Intensifikasi penemuan kasus baru dalam rangka eliminasi Malaria Tingkat Provinsi,
dengan kenaikan pagu sebesar Rp.1,19 miliar.
8. QAH-U02 IRS/Indoor Residual Spraying (Penyemprotan insektisida pada dinding rumah) di daerah
sulit kategori I, dengan kenaikan pagu sebesar Rp.499,70 jut.
9. QMA-011 Media komunikasi, informasi, edukasi pencegahan dan pengendalian malaria, dengan
kenaikan pagu sebesar Rp.1,86 miliar.
10. RAB-011 Alat dan bahan kesehatan pencegahan dan pengendalian malaria, dengan kenaikan pagu
sebesar Rp.5,58 miliar.
11. RCB-031 Pemeliharaan Sistim Informasi Pencegahan dan Pengendalian penyakit filariasis dan
kecacingan (EFILCA), dengan kenaikan pagu sebesar Rp.1 juta.
Intervensi Sensitif
12. QEH-001 Peningkatan Kualitas Kesehatan Lingkungan, dengan kenaikan pagu sebesar Rp.9,70
miliar.
D. Kemen KP
Intervensi Sensitif
1. PEH.001 Kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) , dengan kenaikan pagu
sebesar Rp.1,60 miliar.
E. Kemen PUPR
Intervensi Sensitif
1. RBB.011 Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Setempat Skala Individu, dengan kenaikan pagu
sebesar Rp.7 miliar.
F. KemenPPN/Bappenas
Intervensi Dukungan
1. ABG.108 Kebijakan Percepatan Lingkup Kesehatan dan Gizi Masyarakat, dengan kenaikan pagu
sebesar Rp.11,81 miliar.
G. Kemendes PDTT
Intervensi Dukungan
1. BDC.003 Masyarakat yang ditingkatkan kapasitasnya dalam pencegahan stunting/INEY, dengan
kenaikan pagu sebesar Rp.10,74 miliar.
H. BKKBN
Intervensi Dukungan
1. QMB.001 Kampanye Percepatan Penurunan Stunting tingkat nasional, dengan kenaikan pagu
sebesar Rp.923,37 juta.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 48
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Selain penurunan alokasi pagu pada seluruh intervensi pada tahun 2022, beberapa temuan menarik jika
dibandingkan dengan perkembangan pagu menurut intervensi pada tahun 2021 adalah meningkatnya
alokasi anggaran yang cukup tinggi pada alokasi pagu anggaran intervensi dukungan yang berasal dari
BKKBN. Peningkatan tersebut sangat signifikan, dimana alokasi tahun 2021 sebesar 150,50 miliar,
meningkat sangat tinggi sebesar Rp512,02 miliar atau sebesar 77,28 persen menjadi Rp662,52 miliar pada
tahun 2022. Peningkatan ini merupakan implikasi dari penerapan Perpres 72/2021 yang menetapkan
BKKBN menjadi ketua pelaksana program percepatan penurunan stunting.
Berdasarkan analisis perkembangan pagu, tergambar bahwa besaran alokasi rincian output K/L pada pagu
revisi yang mendukung percepatan penurunan stunting utamanya pada intervensi gizi sensitif yang
memiliki alokasi dana paling besar, yakni sebesar Rp15,97 triliun atau sebesar 80,33 persen dari seluruh
total alokasi anggaran stunting yang berasal dari belanja K/L yang sebesar Rp19,89 triliun, diikuti
intervensi spesifik dengan alokasi sebesar Rp2,94 triliun atau sebesar 14,76 persen dan intervensi
dukungan sebesar Rp976,05 miliar atau sebesar 4,91,00 persen. Seluruh intervensi tersebut mengalami
penurunan sebesar Rp.12,63 triliun dari pagu awalnya, intervensi spesifik mengalami penurunan sebesar
Rp151,69 miliar, intervensi sensitif mengalami penurunan sebesar Rp.12,44 triliun, dan intervensi
dukungan turun sebesar Rp.34,95 miliar.
Faktor utama yang menyebabkan penurunan secara total pagu awal terhadap pagu revisi adalah
terjadinya penurunan alokasi pagu anggaran Kemensos pada intervensi sensitif pada RO Bantuan Sosial
PKH sebesar Rp3,43 triliun atau sebesar 4,91 persen dari pagu awal intervensi sensitif sebesar Rp28,42
triliun menjadi Rp24,99 triliun pada pagu revisi. Penurunan pagu tersebut terjadi pada RO QEB.201
Keluarga Yang Mendapat Bantuan Sosial Bersyarat (PEN) dari pagu awal sebesar Rp9,31 triliun turun Rp3,01
triliun menjadi Rp6,29 triliun. Seperti penjelasan pada sub-bab sebelumnya di atas, penurunan tersebut
dikarenakan berubahnya penggunaan data alokasi pada pagu revisi, target sasaran dan realisasi
anggaran yang semula menggunakan asumsi data keluarga penerima manfaat yang memiliki Ibu Hamil dan
Anak Usia Dini tahun 2021, kemudian berubah pada semester II tahun 2022 menjadi menggunakan data
riil pelaksanaan semester I dan semester II keluarga penerima manfaat pelaksanaan tahun 2022, yaitu
keluarga yang memiliki Ibu Hamil dan/atau Anak Usia Dini yang telah tersedia di Kemensos dan
bersumber dari data DTKS yang telah dimutakhirkan.
Selama tahun 2022 ini, beberapa K/L masih mengalami beberapa tantangan terkait alokasi besaran pagu
anggaran, terutama dengan adanya Automatic Adjustment (AA) terhadap pagu anggaran untuk RO-RO K/L
yang terkait dengan program percepatan penurunan stunting. Kebijakan Automatic Adjustment (AA)
dilakukan oleh Pemerintah melalui Kementerian Keuangan dalam rangka penyesuaian keuangan negara
dalam mengantisipasi kondisi ketidakpastian ekonomi global dan gejolak geopolitik, sehingga APBN
mampu menahan berbagai gejolak tersebut. Kebijakan Automatic Adjustment merupakan mekanisme
pencadangan belanja kementerian atau lembaga yang diblokir sementara pada pagu belanja kementerian
atau lembaga tahun anggaran 2022. Pemblokiran dilakukan pada anggaran yang belum prioritas
dilaksanakan pada awal tahun, sehingga kementerian atau lembaga lebih fokus pada anggaran untuk
program dan kegiatan prioritas. Kebijakan ini, bukan merupakan pemotong anggaran, tetapi adalah upaya
untuk mengantisipasi ketidakpastian yang mungkin terjadi. Mekanismenya yaitu kementerian atau
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 49
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
lembaga mengusulkan sendiri anggaran yang masuk dalam kebijakan Automatic Adjustment, dan ini
merupakan kebijakan internal dari masing-masing K/L.
Untuk pelaksanaan tahun anggaran 2022 yang sudah berlangsung AA tersebut berjalan berdasarkan
dengan kebijakan alokasi anggaran di internal K/L masing-masing, sehingga diharapkan K/L dengan bijak
untuk tidak melakukan AA terhadap RO-RO yang sudah disepakati dan ditetapkan sebagai RO yang telah
dilakukan penandaan tematik stunting. Selain itu, AA ini dialami juga oleh beberapa K/L yang mengalami
perubahan SOTK, misalnya Kemenkes dan Kemensos. Dampak dari perubahan SOTK tersebut
menyebabkan perubahan struktur kelembagaan dan anggaran terhadap pagu masing-masing RO yang
sudah ada sebelumnya. Hal ini disebabkan karena terjadi penggabungan beberapa direktorat teknis
menjadi satu direktorat, atau adanya direktorat teknis yang dihapuskan maupun adanya direktorat yang
beralih kewenangannya. Penetapan RO-RO yang terkena AA ini adalah kebijakan internal K/L yang
dilakukan dalam rangka penyesuaian anggaran dan/atau pemenuhan anggaran RO-RO baru sebagai
dampak dari perubahan SOTK tersebut, baik kepada RO yang terkait stunting maupun yang tidak terkait
dengan stunting.
Pada tahun 2022 secara total terlihat penurunan pagu revisi dari pagu awalnya, dimana penurunan
terbesar pada Kemsos dan Kemenkes. Kemenkes hal utama dikarenakan adanya perubahan SOTK dan
kebijakan terkait Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pabrikan kirim daerah yang dikurangi dan diganti
dengan PMT Lokal. Sedangkan Kemensos dikarenakan adanya perubahan penggunaan data riil KPM
penerima manfaat yang memiliki Ibu Hamil dan/atau Anak Usia Dini dari program bantuan sosial PKH dan
sembako melalui pemutakhiran data DTKS yang sebelumnya (sejak tahun 2019 sampai dengan semester
I tahun 2022) untuk RO bansos Sembako masih menggunakan data formula pembobotan 30,8 persen dari
total KPM penerima manfaat. Sedangkan untuk K/L lainnya secara umum dikarenakan adanya kebijakan
Automatic Adjusment (AA) untuk total anggaran dari masing-masing K/L, sehingga kebijakan internal
masing-masing direktorat teknis melakukan penyesuaian alokasi anggaran, sehingga ada beberapa RO
yang terkait dengan program percepatan penurunan stunting mengalami pengurangan alokasi anggaran.
Sekalipun beberapa RO beberapa K/L pada program percepatan penurunan stunting terkendala
pelaksanaannya akibat menurunnya alokasi pada pagu revisi, namun komitmen pemerintah tetap
memprioritaskan RO tersebut agar tetap berjalan melalui penyesuaian dalam pelaksanaan kegiatannya.
Kondisi ini berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2021 sudah banyak RO-RO K/L baik
yang terkait stunting maupun tidak terkait stunting mengalami refocusing/realokasi anggaran untuk
mendukung kebijakan penanganan pandemi Covid-19 dan PEN. Pada tahun 2022 ini, alokasi anggaran
penanganan Covid-19 seperti anggaran vaksinasi Covid-19, klaim pasien Covid-19, dan insentif Nakes
diambil dari Anggaran Belanja Tambahan (ABT) BA-BUN, dan tidak berdampak kepada RO-RO yang terkait
dengan program percepatan penurunan stunting.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 50
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
III. Kinerja Anggaran
Dalam Bab ini akan dielaborasi hasil pengukuran, penilaian, dan analisis atas kinerja anggaran
Kementerian/Lembaga dalam mendukung percepatan penurunan prevalensi stunting di tahun 2022.
Adapun ruang lingkup analisis mencakup; 1) Realisasi Anggaran; 2) Capaian Rincian Output terkait dengan
Realisasi Anggaran, 3) Analisis Kinerja Anggaran untuk setiap intervensi, dan 4) Perbandingan Terhadap
Kinerja Tahun Sebelumnya. Selain itu, akan ada informasi tambahan yang mengaitkan belanja K/L dengan
pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK) Stunting yang berhubungan dengan RO-RO terkait sesuai dengan
menu DAK Stunting. Analisis yang dilakukan fokus pada level analisis lanjutan, dimana alokasi anggaran
pada level analisis lanjutan merupakan alokasi yang lebih riil dalam pelaksanan anggaran percepatan
penurunan stunting, hal ini dikarenakan analisis dilakukan lebih mendalam pada level komponen/sub-
komponen dari RO yang dilakukan penandaan tematik stunting, sehingga tidak mengalami overestimate
terhadap pagu anggaran jika kita bandingkan pada analisis pada level rincian output (RO).
3.1. Realisasi Anggaran
Analisis realisasi anggaran pada tingkat analisis lanjutan dilakukan dengan melihat perkembangan alokasi
anggaran dari pagu awal dan pagu revisi terhadap realisasi anggaran. Analisis ini dilakukan untuk menilai
efektivitas penggunaan anggaran oleh K/L serta untuk melihat dinamika pelaksanaan anggarannya sampai
dengan akhir tahun 2022. Diharapkan melalui proses ini dapat dihasilkan rekomendasi dalam rangka
peningkatan kinerja anggaran terkait penurunan stunting pada tahun berikutnya.
3.1.1. Realisasi Anggaran pada Level Analisis Lanjutan
Untuk meningkatkan akurasi analisis terkait capaian realisasi anggaran di tahun 2022, maka seluruh RO
tersebut akan dianalisis pada level analisis lanjutan, yaitu mempertimbangkan realisasi anggaran pada
level di bawah RO, yakni pada level komponen/sub-komponen dan juga asumsi bobot kontribusi
kegiatan/anggaran yang dialokasikan secara khusus untuk penurunan stunting. Untuk melihat
perbandingan realisasi tahun 2022 baik terhadap pagu awal, pagu revisi dapat dilihat pada tabel 7 berikut:
Tabel 5. Rekapitulasi Realisasi Anggaran Rincian output K/L yang Mendukung Percepatan Penurunan
Stunting TA 2022 Level Analisis Lanjutan (dalam juta Rp)
Level Analisis Lanjutan
No K/L % Realisasi % Realisasi
Pagu Awal Pagu Revisi Realisasi terhadap Pagu terhadap
Awal Pagu Revisi
1 007 KEMENSETNEG 25.299,4 25.299,4 21.088,8 83,36% 83,36%
2 010 KEMENDAGRI 24.960,3 29.805,1 28.863,4 115,64% 96,84%
3 018 KEMENTAN 157.100,0 147.953,4 142.570,0 90,75% 96,36%
023 KEMENDIKBUD
4 23.998,6 26.906,1 26.617,6 110,91% 98,93%
RISTEK
5 024 KEMENKES 7.314.325,4 6.906.134,5 6.369.373,3 87,08% 92,23%
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 51
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Level Analisis Lanjutan
No K/L % Realisasi % Realisasi
Pagu Awal Pagu Revisi Realisasi terhadap Pagu terhadap
Awal Pagu Revisi
6 025 KEMENAG 36.195,1 34.654,4 33.766,7 93,29% 97,44%
7 027 KEMENSOS 23.262.414,3 20.057.964,3 20.050.110,6 86,19% 99,95%
8 032 KEMEN KP 25.500,0 27.103,5 26.365,8 103,40% 97,28%
9 033 KEMEN PUPR 677.600,0 684.600,0 683.330,0 100,85% 99,81%
10 036 KEMENKO PMK 1.250,0 1.090,0 1.089,4 87,16% 99,95%
11 047 KEMEN PP & PA 2.490,0 2.158,0 2.155,4 86,56% 99,88%
055 KEMENPPN/
12 700,0 12.508,9 11.572,0 1653,14% 92,51%
BAPPENAS
13 059 KEMENKOMINFO 15.705,1 14.928,0 14.924,1 95,03% 99,97%
14 063 BPOM 132.548,7 125.314,6 124.824,1 94,17% 99,61%
15 067 KEMEN DES PDTT 5.000,0 11.411,0 9.596,3 191,93% 84,10%
16 068 BKKBN 810.440,4 790.976,9 744.252,5 91,83% 94,09%
17 111 BNPP 700,0 700,0 695,2 99,31% 99,31%
Jumlah 32.516.227,3 28.899.508,0 28.291.195,2 87,01% 97,90%
Sumber: Formulir Evaluasi Mandiri K/L per tanggal 15 Februari 2023 dan Business Intelligence DJA TA 2022, (Diolah)
Pada level analisis lanjutan (tabel 5), realisasi anggaran program percepatan penurunan stunting melalui
belanja K/L tahun 2022 sebesar Rp28,29 triliun. Realisasi anggaran tersebut sama dengan 87,01 persen
terhadap pagu awal sebesar Rp32,52 triliun, dan sama dengan 97,90 persen terhadap pagu revisi sebesar
Rp28,29 triliun. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2021, maka capaian persentase realisasi
terhadap pagu revisi tahun 2022 sebesar 97,90 persen lebih tinggi 1,39 persen dibandingkan periode yang
sama pada tahun 2021 sebesar 96,51 persen.
Perbandingan capaian persentase realisasi anggaran pagu awal (59,31 persen) terhadap pagu revisi (96,96
persen) terdapat selisih yang cukup besar sebesar 37,65 persen. Selisih yang cukup besar ini dikarenakan
terjadinya penurunan alokasi pagu revisi terhadap pagu awal yang terjadi pada 9 K/L, yaitu Kementan,
Kemenkes, Kemenag, Kemensos, Kemenko PMK, Kemen PPPA, Kemenkominfo, BPOM, dan BKKBN.
Penurunan pagu revisi terhadap pagu awal terbesar pada level analisis lanjutan terjadi pada Kemensos,
sehingga penyerapan anggaran terhadap pagu awal menjadi yang terendah hanya sebesar 47,48%.
Penurunan pagu pada Kemensos disebabkan perubahan perhitungan alokasi pagu revisi dan realisasi
anggaran dengan menggunakan data riil KPM penerima manfaat yang memiliki Ibu Hamil dan/atau Anak
Usia Dini dari sebelumnya menggunakan formula pembobotan 30,8 persen pada penetapan pagu awal.
Persentase capaian realisasi anggaran di atas 90 persen pada level analisis lanjutan terhadap pagu revisi
dicapai oleh 16 K/L dari 17 K/L, sisanya 1 K/L dengan capaian di bawah 90 persen adalah Kemendes PDTT
dengan capaian realisasi anggaran sebesar 84,10 persen atau realisasi sebesar Rp124,82 miliar dari pagu
revisi Rp.125,31 miliar. Hal yang menyebabkan realisasi terhadap pagu revisi Kemendes PDTT di bawah
90 persen diantaranya adalah pelaksanaan RO BDC.003 Masyarakat yang ditingkatkan kapasitasnya dalam
pencegahan stunting/ INEY dengan capaian sebesar 83,1 persen dimana dari pagu revisi sebesar Rp10,74
milliar realisasi anggarannya sebesar Rp8,9 milliar.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 52
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
3.1.3. Realisasi Anggaran Berdasarkan Jenis Intervensi pada Level Analisis Lanjutan
Untuk mengetahui lebih detail pencapaian realisasi anggaran lebih dalam, maka kita dapat melihat
capaian realisasi anggaran berdasarkan jenis intervensi. Hal ini bertujuan untuk mempermudah proses
pemantauan dan evaluasi terhadap pencapaian jenis intervensi yang terkait langsung dengan sasaran
penting (1000 HPK, Ibu hamil dan menyusui, balita, serta remaja), maupun lokus prioritas terutama untuk
intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Selain itu, untuk dapat melihat bentuk kegiatan pada RO apa
saja yang dilakukan K/L dalam rangka memastikan semua intervensi spesifik maupun sensitif dapat
berjalan dengan baik melalui pelaksanaan intervensi dukungan.
Berikut adalah gambaran alokasi pagu awal, pagu revisi dengan persentase realisasi anggaran terhadap
pagu awal, pagu revisi Tahun 2022 pada tingkat analisis lanjutan menurut jenis intervensi.
1. Intervensi Spesifik
Tabel 6. berikut memperlihatkan realisasi anggaran pada intervensi spesifik terhadap pagu awal, pagu
revisi. Dari 81 RO intervensi spesifik dengan pagu awal Rp3,08 triliun dan mengalami penurunan menjadi
Rp2,94 triliun pada pagu revisi dengan realisasi anggaran sebesar Rp2,44 triliun, maka terlihat bahwa
persentase capaian realisasi anggaran terhadap pagu awal adalah sebesar 78,88 persen dan terhadap pagu
revisi sebesar 82,96 persen. Capaian persentase realisasi anggaran, baik terhadap pagu awal maupun pagu
revisi masih di bawah 90 persen. Hal ini dikarenakan terjadinya penurunan alokasi pagu anggaran
dikarenakan adanya perubahan SOTK Kemenkes sehingga mengubah struktur pengelolaan pelaksanaan
RO-RO yang ada dengan mengikuti SOTK yang baru. Selain itu, RO-RO intervensi spesifik juga mengalami
Automatic Adjustment (AA) yang diakibatkan penyesuaian dari SOTK tersebut, serta terjadinya realokasi
anggaran untuk RO-RO terkait dengan PMT (pabrikan), yang awalnya ada pada belanja K/L menjadi RO PMT
lokal dengan melakukan pilot project di beberapa Kab/Kota dan baru terlaksana pada akhir tahun 2022
(Oktober s/d Desember).
Tabel 6. Alokasi Pagu dan Persentase Realisasi Terhadap Pagu Awal, Pagu Revisi Level Analisis Lanjutan
untuk Intervensi Spesifik, Tahun 2022
Perkembangan Pagu Intervensi Spesifik Level Analisis Lanjutan
(RO/Komponen/Sub-Komponen)
No K/L
% Realisasi % Realisasi
Pagu Awal Pagu Revisi Realisasi
Pagu Awal Pagu Revisi
1 024 KEMENKES 3.087.700,6 2.936.006,1 2.435.608,0 78,88% 82,96%
Jumlah 3.087.700,6 2.936.006,1 2.435.608,0 78,88% 82,96%
Sumber: Formulir Evaluasi Mandiri K/L per tanggal 15 Februari 2023 dan Business Intelligence DJA TA 2022, (Diolah)
2. Intervensi Sensitif
Tabel 7. berikut memperlihatkan capaian realisasi anggaran terhadap pagu awal, pagu revisi pada
intervensi sensitif. Dari 43 RO intervensi sensitif yang tersebar di 9 K/L dengan pagu awal Rp28,42 triliun
dan mengalami penurunan menjadi Rp2,94 triliun pada pagu revisi dengan realisasi anggaran sebesar
Rp24,99 triliun, maka terlihat bahwa persentase capaian realisasi anggaran terhadap pagu awal adalah
sebesar 87,92 persen dan terhadap pagu revisi sebesar 99,84 persen. Capaian persentase realisasi
anggaran terhadap pagu revisi sangat baik, yaitu di atas 90 persen. Seluruh K/L (9 K/L) yang berkontribusi
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 53
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
terhadap intervensi sensitif seluruhnya berkinerja di atas 90 persen, dengan Kemensos sebagai K/L dengan
kinerja realisasi tertinggi sebesar 99,98 persen, dan terendah adalah Kementan sebesar 96,3 persen.
Tabel 7. Alokasi Pagu dan Persentase Realisasi Terhadap Pagu Awal, Pagu Revisi Level Analisis Lanjutan
untuk Intervensi Sensitif, Tahun 2022
Perkembangan Pagu Intervensi Sensitif Level Analisis Lanjutan
(RO/Komponen/Sub-Komponen)
No K/L
% Realisasi % Realisasi
Pagu Awal Pagu Revisi Realisasi
Pagu Awal Pagu Revisi
1 007 KEMENSETNEG - - - - -
2 010 KEMENDAGRI - - - - -
3 018 KEMENTAN 157.000,0 147.903,4 142.530,0 90,78% 96,37%
023 KEMENDIKBUD
4 13.482,4 11.639,5 11.626,3 86,23% 99,89%
RISTEK
5 024 KEMENKES 4.021.976,6 3.777.944,2 3.759.303,4 93,47% 99,51%
6 025 KEMENAG 36.195,1 34.654,4 33.766,7 93,29% 97,44%
7 027 KEMENSOS 23.213.814,3 20.057.964,3 20.050.110,6 86,19% 99,98%
8 032 KEMEN KP 25.500,0 27.103,5 26.365,8 103,40% 97,28%
9 033 KEMEN PUPR 677.600,0 684.600,0 683.330,0 100,85% 99,81%
10 036 KEMENKO PMK - - - - -
11 047 KEMEN PPPA - - - - -
055 KEMENPPN/
12 - - - - -
BAPPENAS
13 059 KEMENKOMINFO - - - - -
14 063 BPOM 132.548,7 125.314,6 124.824,1 94,17% 99,61%
15 067 KEMENDES PDTT - - - - -
16 068 BKKBN 139.415,6 128.460,0 120.185,1 86,21% 93,56%
17 111 BNPP - - - - -
Jumlah 28.417.532,8 24.987.454,5 24.946.451,7 87,92% 99,84%
Sumber: Formulir Evaluasi Mandiri K/L per tanggal 15 Februari 2023 dan Business Intelligence DJA TA 2022, (Diolah)
3. Itervensi Dukungan
Intervensi dukungan sebagaimana terlihat pada Tabel 8. didukung oleh 13 K/L dengan total alokasi dengan
pagu awal Rp1,01 triliun dan mengalami penurunan menjadi Rp0,98 triliun pada pagu revisi dengan
realisasi anggaran sebesar Rp0,91 triliun. Dengan realisasi anggaran sebesar Rp0,91 triliun tersebut, maka
persentase capaian realisasi anggaran terhadap pagu awal adalah sebesar 89,92 persen dan terhadap pagu
revisi sebesar 93,14 persen. Capaian persentase realisasi anggaran terhadap pagu revisi sangat baik, yaitu
di atas 90 persen, dimana 8 K/L dengan capaian realisasi anggaran terhadap pagu revisi tinggi/lebih besar
dari 90 %, yaitu; Kemendagri (96,84%), Kemendikbudristek (98,20%), Kemenkes (90,78%), Kemenko PMK
(99,95%), KemenPPPA (99,88%), KemenPPN/Bappneas (92,51%), dan Kemenkominfo (99,97%) dan BNPP
(99,31%). Sedangkan K/L dengan capaian realisasi anggaran terendah atau di bawah 90 persen adalah
Kemensos (68,77%), Kementan (80,10%), KemendesPDTT (84,10%) dan Kemensetneg (83,36%),
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 54
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
yang berkontribusi terhadap intervensi sensitif seluruhnya berkinerja di atas 90 persen, dengan Kemensos
sebagai K/L dengan kinerja realisasi tertinggi sebesar 99,98 persen, dan terendah adalah Kementan sebesar
96,3 persen
Tabel 8. Alokasi Pagu dan Persentase Realisasi Terhadap Pagu Awal, Pagu Revisi Level Analisis Lanjutan
untuk Intervensi Dukungan, Tahun 2022
Perkembangan Pagu Intervensi Dukungan Level Analisis Lanjutan
(RO/Komponen/Sub-Komponen)
No K/L
% Realisasi % Realisasi
Pagu Awal Pagu Revisi Realisasi
Pagu Awal Pagu Revisi
1 007 KEMENSETNEG 25.299,4 25.299,4 21.088,8 83,36% 83,36%
2 010 KEMENDAGRI 24.960,3 29.805,1 28.863,4 115,64% 96,84%
3 018 KEMENTAN 100,0 50,0 40,1 40,05% 80,10%
023 KEMENDIKBUD
4 10.516,1 15.266,6 14.991,3 142,56% 98,20%
RISTEK
5 024 KEMENKES 204.648,2 192.184,3 174.461,9 85,25% 90,78%
6 025 KEMENAG - - - - -
7 027 KEMENSOS 48.600,0 8.129,4 5.590,4 11,50% 68,77%
8 032 KEMEN KP - - - - -
9 033 KEMEN PUPR - - - - -
10 036 KEMENKO PMK 1.250,0 1.090,0 1.089,4 87,16% 99,95%
11 047 KEMEN PPPA 2.490,0 2.158,0 2.155,4 86,56% 99,88%
055 KEMENPPN/
12 700,0 12.508,9 11.572,0 1653,14% 92,51%
BAPPENAS
13 059 KEMENKOMINFO 15.705,1 14.928,0 14.924,1 95,03% 99,97%
14 063 BPOM - - - - -
15 067 KEMENDES PDTT 5.000,0 11.411,0 9.596,3 191,93% 84,10%
16 068 BKKBN 671.024,8 662.516,9 624.067,4 - -
17 111 BNPP 700,0 700,0 695,2 99,31% 99,31%
Jumlah 1.010.993,9 976.047,5 909.135,7 89,92% 93,14%
Sumber: Formulir Evaluasi Mandiri K/L per tanggal 15 Februari 2023 dan Business Intelligence DJA TA 2022, (Diolah)
Dari Tabel 6, 7, 8 di atas, berikut adalah beberapa poin penting analisis persentase realisasi anggaran
terhadap pagu awal dan pagu revisi tahun 2022 menurut K/L:
Persentase realisasi anggaran terhadap pagu revisi dengan capaian terbesar pertama adalah intervensi
sensitif dengan capaian total sebesar 99,79 persen, sedangkan K/L intervensi sensitif dengan capaian
tertinggi adalah Kemensos dengan capaian 99,98 persen, diikuti Kemen PUPR dengan capaian sebesar
99,82 persen. Untuk intervensi dengan capaian terbesar kedua adalah intervensi dukungan dengan
capaian 93,14 persen, K/L intervensi dukungan dengan capaian tertinggi adalah Kemenkominfo dengan
capaian 99,95 persen, diikuti oleh Kemenko PMK dengan capaian 99,95. Sedangkan intervensi dengan
capaian terendah adalah intervensi spesifik dengan capaian sebesar 82,96 persen.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 55
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Khusus realisasi anggaran intervensi spesifik, penyebab rendahnya capaian realisasi anggaran
dikarenakan beberapa hal, diantaranya adalah:
1. 3 (tiga) RO mengalami pergeseran pelaksanaan RO-RO yang telah ditetapkan didalam dokumen
ringkasan maupun pagu awal yang dilaksanakan melalui belanja K/L, tetapi dalam pelaksanaannya
berubah melalui dana Dekon atau menjadi belanja DAK (fisik dan/atau non-fisik),
2. 6 (tiga) RO yang sudah dilakukan pada semester I berubah dan tidak dilanjutkan pada semester II,
serta
3. Terdapat 1 RO yang tidak dapat dilakukan karena adanya kendala pengadaan yang tidak dapat
dilakukan oleh pihak ke-3 karena waktu pengadaan yang sangat singkat, yaitu RO terkait dengan
pengadaan media KIE Imunisasi.
4. Terdapat beberapa RO yang mengalami Automatic Adjusment (AA) sehingga capaian realisasi
anggaran terhadap pagu awal maupun pagu revisi menjadi rendah.
Sedangkan untuk intervensi sensitif dan dukungan tidak mengalami perubahan yang cukup signifikan
terhadap struktur RO yang berubah, sehingga tidak menyebabkan realisasi anggaran menjadi rendah.
Pada intervensi sensitif dan dukungan, kendala umum yang terjadi hanya terjadinya Automatic Adjusment
(AA) tetapi secara total tidak berpengaruh besar terhadap capaian realisasi anggaran pada tahun 2022
dengan persentase capaian intervensi sensitif yang sangat tinggi sebesar 99,79 persen, dan diikuti
intervensi dukungan sebesar 93,14 persen.
3.2. Capaian Output
Kinerja realisasi anggaran pada RO yang mendukung percepatan penurunan stunting seharusnya
menggambarkan pula kinerja capaian output-nya. Maka, selanjutnya akan dibahas mengenai capaian
output K/L yang mendukung program percepatan penurunan stunting, terutama di tingkat analisis
lanjutan karena paling menggambarkan kinerja capaian output yang khusus mendukung percepatan
penurunan stunting.
Tabel 9. Rekapitulasi Capaian Rincian output atas Rincian output K/L yang Mendukung Percepatan
Penurunan Stunting TA 2022 Tingkat Analisis Lanjutan Menurut Intervensi
Capaian Ouput Pada Rincian Output Tingkat Analisis Lanjutan
% Total Total %
No Capaian Output Intervensi % Intervensi Intervensi Intervensi % Intervensi Jumlah'RO Capaian RO
Intervensi
Spesifik Spesifik Sensitif Dukungan Dukungan
Sensitif
1 Lebih dari 90% 63 35,00% 36 20,00% 33 28,33% 134 83,33%
2 70% - 90% 3 1,67% 2 1,11% 1 0,56% 6 3,33%
3 50% - 70% 2 1,11% 0 0,00% 1 0,56% 4 1,67%
4 Kurang dari 50% 2 1,11% 0 0,00% 17 1,11% 20 2,22%
5 N/A 11 6,11% 5 2,78% 4 0,56% 16 9,44%
Jumlah 81 45,0% 43 23,9% 56 31,1% 180 100,0%
Sumber: Formulir Evaluasi Mandiri K/L per tanggal 15 Februari 2023 dan Business Intelligence DJA TA 2022, (Diolah)
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 56
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Tabel 9 menunjukkan komposisi jumlah rincian output berdasarkan kategori tingkat capaian rincian
output di tingkat analisis lanjutan yang mendukung program penurunan stunting pada tahun 2022. Dari
180 rincian output yang tersebar di 17 K/L, terdapat 134 rincian output (74,9 persen) yang memiliki
capaian kinerja lebih besar dari 90 persen, 6 rincian output (3,4 persen) yang memiliki capaian kinerja 70-
90 persen, 4 rincian output (2,2 persen) yang memiliki capaian kinerja 50-70 persen, dan 20 rincian output
(11,2 persen) yang memiliki capaian kinerja kurang dari 50 persen, serta 16 rincian output (8,9 persen)
yang tidak memiliki data capaian kinerja yang menjadi dasar perhitungan kinerja anggaran tersebut. Untuk
lebih jelasnya dapat melihat tabel 12 di bawah ini.
Tabel 10 berikut menunjukkan komposisi jumlah rincian output berdasarkan K/L dan kategori tingkat
capaian rincian output di tingkat analisis lanjutan yang mendukung program penurunan stunting pada
tahun 2022.
Tabel 10. Rekapitulasi Capaian Rincian output atas Rincian output K/L yang Mendukung Percepatan
Penurunan Stunting - TA 2022 Tingkat Analisis Lanjutan Menurut K/L
Capaian Ouput Pada Rincian Output Tingkat Analisis Lanjutan
Total
No K/L
> 90% 70% - 90% 50% - 70% < 50% N/A Output
1 007 KEMENSETNEG 1 - - - - 1
2 010 KEMENDAGRI 3 - - - 1 4
3 018 KEMENTAN 2 - - - 2 4
4 023 KEMENDIKBUD RISTEK 9 - - - - 9
5 024 KEMENKES 82 5 3 3 8* 101
6 025 KEMENAG 2 1 - - 2 5
7 027 KEMENSOS 6 - - - - 6
8 032 KEMEN KP 2 - - - - 2
9 033 KEMEN PUPR 2 - - - - 2
10 036 KEMENKO PMK 1 - - - - 1
11 047 KEMEN PPPA 4 - - 2 - 6
055 KEMENPPN/
12 1 - - - - 1
BAPPENAS
13 059 KEMENKOMINFO 1 - - - - 1
14 063 BPOM 5 - - - - 5
15 067 KEMEN DES PDTT 3 - - - - 3
16 068 BKKBN 9 - 1 15 3 28
17 111 BNPP 1 - - - - 1
Jumlah 134 6 4 20 16 180
Sumber: Formulir Evaluasi Mandiri K/L per tanggal 15 Februari 2023 dan Business Intelligence DJA TA 2022, (Diolah)
*8 RO yang NA tersebut dikarenakan data yang tidak tersedia, atau RO tersebut statusnya berubah dan/atau tidak dilaksanakan
sampai dengan akhir tahun 2022.
Pada tabel 10 capaian kinerja rincian output yang di atas 90 persen tersebar di seluruh K/L (17 K/L),
terbesar adalah Kemenkes dengan 82 rincian output. Selanjutnya adalah Kemendikbudristek dan BKKBN
masing-masing dengan 9 RO, Kemensos sebanyak 6 rincian output, BPOM dengan 5 rincian output,, lalu
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 57
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Kemen PPPA dengan 4 rincian output, dan sisanya dengan capaian antara 1 sampai dengan 3 rincian
output. K/L yang memiliki capaian antara 70-90 persen terdapat di 2 K/L, yaitu Kemenkes dengan 5 rincian
output dan Kemenag dengan 1 rincian output. Sedangkan K/L yang memiliki capaian di bawah 50 persen
tersebar di 3 K/L, yaitu adalah Kemenkes sebanyak 3 rincian output, Kemen PPPA sebanyak 2 rincian
output, dan terbanyak adalah BKKBN sebanyak 15 rincian output. Selain itu, terdapat 16 rincian output
yang tidak memiliki data (NA) yang tersebar di 5 K/L, yaitu Kemendagri sebanyak 1 rincian output,
Kementan sebanyak 1 rincian output, Kemenkes 8 rincian output, Kemenag 2 rincian output, dan BKKBN
3 rincian output.
Untuk capaian output yang rendah, ada beberapa hal yang menyebabkannya, diantaranya adalah RO
tersebut baru dijalankan pada akhir tahun 2022 yang diakibatkan oleh perubahan SOTK, misalnya
Kemenkes dan Kemensos. Selain itu, ada juga RO yang sudah dilakukan pada semester I tahun 2022 tetapi
capaian output-nya baru tercapai di akhir tahun, ataupun ada RO yang baru dikerjakan pada semester II
tahun 2022 dan tidak tercapai target outputnya.
Selain melihat capaian output berdasarkan K/L, berikut adalah gambaran capaian output tingkat RO
menurut jenis intervensi berdasarkan hasil analisis level analisis lanjutan pada Grafik 8 di bawah ini:
Grafik 10. Capaian Output Pada Rincian Output Tingkat Analisis Lanjutan Intervensi Spesifik, 2022
70
63
60
50
Jumlah RO
40
30
20
11
10
3 2 2
0
Sumber: Formulir Evaluasi Mandiri K/L per tanggal 15 Februari 2023 dan Business Intelligence DJA TA 2022, (Diolah)
Grafik 8 menjelaskan bahwa capaian output pada tingkat RO di level analisis lanjutan untuk intervensi
spesifik yang menjadi tugas dari Kemenkes dengan total sebanyak 81 RO, terdapat 65 RO dengan capaian
di atas 90 persen, 3 RO dengan capaian 70 persen s/d 90 persen, 3 RO dengan capaian 50 persen s/d 70
persen, dan 3 RO masih memilik capaian di bawah 50 persen, serta 7 RO yang tidak memiliki data/belum
selesai pengolahannya/RO tersebut batal dilakukan pada tahun 2022 saat laporan ini disusun oleh
Kemenkes. Sesuai dengan penjelasan pada bagian perkembangan penandaan dan realisasi anggaran di
atas, penyebab utama dengan capaian yang telah dihasilkan oleh Kemenkes pada tahun 2022 ini
dikarenakan terjadinya perubahan SOTK di Kemenkes sampai dengan bulan Agustus tahun 2022.
Perubahan tersebut menyebabkan perubahan pada struktur kelembagaan eselon 1 dan eselon 2 selaku
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 58
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
pengampu dari RO-RO tersebut dan mengakibatkan banyak RO-RO yang terkait dengan percepatan
penurunan stunting terlambat pelaksanaan kegiatannya di periode tahun 2022.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi Kemenkes untuk dapat melakukan akselerasi dalam pelaksanaan
seluruh RO yang masih rendah capaian output maupun serapan anggarannya di semester II tahun 2022,
sehingga capaian output intervensi spesifik yang terkait dan mendukung pencapaian target indikator
antara dapat tercapai sesuai dengan target didalam Perpres 72/2021.
Sedangkan untuk capaian ouIput intervensi sensitif dapat dilihat pada Tabel 11 berikut:
Tabel 11. Capaian Output Pada Rincian Output Tingkat Analisis Lanjutan Intervensi Sensitif, 2022
Capaian Ouput Pada Rincian Output Tingkat Analisis Lanjutan Intervensi
No K/L Sensitif Total Output
> 90% 70% - 90% 50% - 70% < 50% N/A
1 018 KEMENTAN 1 - - - 2 3
023 KEMENDIKBUD
2 2 - - - - 2
RISTEK
3 024 KEMENKES 11 1 - - 1 13
4 025 KEMENAG 2 1 - - 2 5
5 027 KEMENSOS 5 - - - - 5
6 032 KEMEN KP 2 - - - - 2
7 033 KEMEN PUPR 2 - - - - 2
8 063 BPOM 5 - - - - 5
9 068 BKKBN 6 - - - - -
Jumlah 36 2 - - 5 43
Sumber: Formulir Evaluasi Mandiri K/L per tanggal 15 Februari 2023 dan Business Intelligence DJA TA 2022, (Diolah)
Capaian output pada level RO untuk intervensi sensitif pada tahun 2022 didukung oleh 9 K/L dengan total
RO adalah sebanyak 43 RO. Hasil dari analisis dari data formulir evaluasi mandiri K/L yang telah diserahkan
kepada Kemen PPN/Bappenas dan Kemenkeu, untuk capaian output tahun 2022 hanya 36 RO yang
capaiannya lebih dari 90 persen, yaitu Kementan sebanyak 1 RO, Kemendikbudristek sebanyak 2 RO,
Kemenkes sebanyak 1 RO, Kemenkes sebanyak 11 RO, Kemenag sebanyak 2 RO, Kemensos sebanyak 5
RO, Kemen KP sebanyak 2 RO, Kemen PUPR sebanyak 2 RO, BPOM sebanyak 5 RO, dan BKKBN sebanyak
6 RO. Capaian output sebesar 70 persen s/d 90 persen hanya dicapai oleh 2 RO dari 2 K/L, yaitu Kemenag
dan BPOM, dan sisanya 5 RO tidak memiliki data atau K/L tidak menyampaikan datanya (NA) yaitu
Kementan 2 RO, Kemenkes 1 RO dan Kemenag 2 RO.
Tabel 12. Capaian Output Pada Rincian Output Tingkat Analisis Lanjutan Intervensi Dukungan, 2022
Capaian Ouput Pada Rincian Output Tingkat Analisis
No K/L Lanjutan Intervensi Dukungan Total Output
> 90% 70% - 90% 50% - 70% < 50% N/A
1 007 KEMENSETNEG 1 - - - - 1
2 010 KEMENDAGRI 3 - - - 1 4
3 018 KEMENTAN 1 - - - - 1
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 59
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Capaian Ouput Pada Rincian Output Tingkat Analisis
No K/L Lanjutan Intervensi Dukungan Total Output
> 90% 70% - 90% 50% - 70% < 50% N/A
023 KEMENDIKBUD
4 7 - - - - 7
RISTEK
5 024 KEMENKES 6 1 - - - 7
6 027 KEMENSOS 1 - - - - 1
7 036 KEMENKO PMK 1 - - - - 1
8 047 KEMEN PP & PA 4 - - 2 - 6
055 KEMENPPN/
9 1 - - - - 1
BAPPENAS
10 059 KEMENKOMINFO 1 - - - - 1
11 067 KEMEN DES PDTT 3 - - - - 3
12 068 BKKBN 3 - 1 15 3 22
13 111 BNPP 1 - - - - 1
Jumlah 33 1 1 17 4 56
Sumber: Formulir Evaluasi Mandiri K/L per tanggal 15 Februari 2023 dan Business Intelligence DJA TA 2022, (Diolah)
Sedangkan intervensi dukungan pada tahun 2022 didukung oleh 13 K/L dengan total RO adalah sebanyak
56 RO. Dari 56 Ro tersebut, capaian output tahun 2020 menunjukan bahwa hanya 33 RO yang
capaiannya lebih dari 90 persen, yaitu Kemensetneg 1 RO, Kemendagri 3 RO, Kementan 1 RO,
Kemendikbudristek sebanyak 7 RO, Kemenkes sebanyak 6 RO, Kemensos 1 RO, Kemenko PMK 1 RO,
Kemen PPPA 4 RO, Kemen PPN/Bappenas sebanyak 1 RO, Kemenkominfo 1 RO, Kemendes PDTT 3 RO,
BKKBN sebanyak 3 RO, dan BNPP 1 RO. Untuk capaian output sebesar 70 persen s/d 90 persen hanya
dicapai oleh 1 RO dari Kemenkes, sedangkan capaian output sebesar 50 persen s/d 70 persen juga dicapai
oleh 1 RO dari BKKBN. Sedangkan RO dengan capaian output di bawah 50 persen sebanyak 17 RO dari 2
K/L, yaitu, Kemen PPPA 2 RO, dan BKKBN sebanyak 15 RO. Dengan sisanya 4 RO NA pada 1 RO Kemendagri
dan BKKBN 3 RO.
Jika kita melihat secara keseluruhan dari capaian output menurut jenis intervensi di atas, maka terlihat
bahwa intervensi sensitif merupakan intervensi dengan capaian paling baik dengan realisasi anggaran
sebesar Rp24,95 triliun dari pagu revisi sebesar Rp.24,99 triliun atau sebesar 99,79 persen (dibandingkan
intervensi lainnya, berikutnya adalah Intervensi dukungan dengan realisasi anggaran sebesar Rp0,91
triliun dari pagu revisi sebesar Rp.0,98 triliun atau sebesar 93,14 persen, dan terakhir adalah intervensi
spesifik dengan realisasi anggaran sebesar Rp2,44 triliun dari pagu revisi sebesar Rp.2,94 triliun atau
sebesar 82,96.
3.3. Analisis Kinerja Anggaran
Analisis Kinerja Anggaran merupakan analisis yang mengaitkan persentase capaian output dengan
persentase realisasi anggaran. Dengan begitu, dapat terlihat hubungan antara jumlah anggaran yang
direalisasikan dengan volume output yang dihasilkan. Analisis ini difokuskan pada tingkat analisis lanjutan
dalam rangka meningkatkan akurasi analisis pada rincian output. Seluruh rincian output tersebut akan
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 60
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
dianalisis pada level analisis lanjutan, yakni pemetaan sub-rincian output /komponen/sub-komponen yang
terkait dengan intervensi penurunan stunting dan asumsi bobot kontribusi kegiatan/anggaran yang
dialokasikan secara khusus untuk penurunan stunting di Indonesia.
Berikut adalah gambar yang menjelaskan kinerja anggaran baik secara kondisi umum (keseluruhan RO)
maupun kinerja anggaran berdasarkan jenis intervensinya:
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 61
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Grafik 11. Kondisi Umum Analisis Kinerja Anggaran RO yang Memiliki Data Kinerja Anggaran (% Capaian
Rincian Output/% Realisasi Anggaran) - Tahun 2022
Gambaran Umum Kinerja Anggaran TA 2022
(% Realisasi Anggaran RO terhadap % Capaian Output RO),
% Capaian Output
120
100
80
60
40
20
0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
% Realisasi Anggaran
Sumber: Formulir Evaluasi Mandiri K/L per tanggal 15 Februari 2023 dan Business Intelligence DJA TA 2022, (Diolah)
* data yang ditampilkan hanya untuk 114 RO yang memiliki data capaian kinerja anggaran (% Capaian Rincian Output/% Realisasi
Anggaran) dari total 224 RO di Dokumen RIngkasan Penandaan RO tahun 2022..
Grafik 9 memperlihatkan gambaran umum kinerja anggaran dengan perbandingan persentase realisasi
anggaran terhadap persentase capaian output atas 157 RO dari 176 RO K/L yang memiliki data persentase
realisasi anggaran dan pesentase capaian output dalam mendukung penurunan stunting pada tahun 2022.
Jika kita lihat, maka sebagian besar kinerja anggaran berada pada capaian kurang dari 50 persen, dan
sebagian besar lagi berada pada posisi capaian antara 50-70 persen dan antara 70-90 persen, hanya
sebagian kecil yang berada pada posisi kinerja anggaran lebih dari 90 persen.
Hal ini terjadi, mengingat sebagian besar pelaksanaan kegiatan RO-RO yang sudah ditetapkan diawal
tahun terhambat penyerapannya ditahun 2022, terutama Kemenkes sebagai K/L dengan jumlah RO
terbanyak (100 RO dari total 176 RO) dan juga kemensos sebagai salah satu K/L dengan alokasi anggaran
terbesar mengalami perubahan SOTK disemester 1 tahun 2022, sehingga Renja K/L dan RKA K/L dilakukan
penyesuaian dan revisi, sehingga RO-RO yang ada baru dapat terlaksana mulai dibulan Agustus 2022.
3.3.1. Analisis Kinerja Anggaran Intervensi Spesifik
Berikut adalah analisis kinerja anggaran intervensi spesifik dalam melihat capaian kinerja anggaran dan
capaian rincian output dari rincian output masing-masing K/L terkait.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 62
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Grafik 12. Kondisi Umum Analisis Kinerja Anggaran (% Capaian Rincian Output / % Realisasi Anggaran)
Kinerja Intervensi Spesifik, - Tahun 2022
Kinerja Anggaran Intervensi Spesifik TA 2022
(% Realisasi Anggaran RO terhadap % Capaian Output RO),
% Capaian Output
120
100
80
60
40
20
0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
% Realisasi Anggaran
Sumber: Formulir Evaluasi Mandiri K/L per tanggal 15 Februari 2023 dan Business Intelligence DJA TA 2022, (Diolah)
Grafik 10. di atas memperlihatkan perbandingan realisasi anggaran dan persentase penyerapannya
terhadap pagu revisi atas rincian output K/L untuk intervensi spesifik, dimana K/L pengampunya hanya
Kemenkes dengan jumlah RO yang mendukung penurunan stunting pada tahun 2022 sebanyak 81 RO
dari total 179 RO. Jika kita lihat, maka sebagian besar kinerja anggaran, baik realisasi anggaran maupun
capaian output-nya berada pada capaian kurang dari 50 persen, dan sebagian kecil berada pada posisi
capaian antara 50-70 persen dan antara 70-90 persen, hanya beberapa rincian output saja yang berada
pada posisi kinerja anggaran lebih dari 90 persen. Selain itu, terdapat RO-RO intervensi spesifik yang
mengalami pencapaian kinerja anggaran yang sangat tinggi (di atas 150 persen).
3.3.2. Analisis Kinerja Anggaran Intervensi Sensitif
Berikut adalah analisis kinerja anggaran intervensi spesifik dalam melihat capaian kinerja anggaran dan
capaian rincian output dari rincian output masing-masing K/L terkait.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 63
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Grafik 13. Kondisi Umum Analisis Kinerja Anggaran (% Capaian Rincian Output/% Realisasi Anggaran)
Kinerja Intervensi Sensitif, - Tahun 2022
Kinerja Anggaran Intervensi Sensitif TA 2022
(% Realisasi Anggaran RO terhadap % Capaian Output RO),
% Capaian Output
120
100
80
60
40
20
0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
% Realisasi Anggaran
Sumber: Formulir Evaluasi Mandiri K/L per tanggal 15 Februari 2023 dan Business Intelligence DJA TA 2022, (Diolah)
Grafik 11. di atas adalah perbandingan realisasi anggaran dan persentase penyerapannya terhadap pagu
revisi atas rincian output K/L untuk intervensi sensitif dengan RO yang mendukung penurunan stunting
pada tahun 2022 berjumlah 40 RO, kondisi tersebut menujukan hal yang hampir sama dengan intervensi
spesifik. Jika kita lihat, maka sebagian besar kinerja anggaran, baik realisasi anggaran maupun capaian
output-nya berada pada capaian kurang dari 50 persen, dan sebagian kecil berada pada posisi capaian
antara 50-70 persen dan antara 70-90 persen, hanya beberapa rincian output saja yang berada pada posisi
kinerja anggaran lebih dari 90 persen.
3.3.3. Analisis Kinerja Anggaran Intervensi Dukungan
Berikut adalah analisis kinerja anggaran intervensi dukungan dalam melihat capaian kinerja anggaran dari
rincian output masing-masing K/L terkait.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 64
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Grafik 14. Kondisi Umum Analisis Kinerja Anggaran (% Capaian Rincian Output/% Realisasi Anggaran)
Kinerja Intervensi Dukungan, - Tahun 2022
Kinerja Anggaran Intervensi Dukungan TA 2022
(% Realisasi Anggaran RO terhadap % Capaian Output RO),
% Capaian Output
120
100
80
60
40
20
0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
% Realisasi Anggaran
Sumber: Formulir Evaluasi Mandiri K/L per tanggal 15 Februari 2023 dan Business Intelligence DJA TA 2022, (Diolah)
Grafik 12. di atas memperlihatkan perbandingan realisasi anggaran dan persentase penyerapannya
terhadap pagu revisi atas rincian output K/L untuk intervensi dukungan yang mendukung penurunan
stunting pada tahun 2021. Jika kita lihat, maka sebagian besar kinerja anggaran berada pada capaian
kurang dari 50 persen, dan sebagian kecil berada pada posisi capaian antara 50-70 persen dan antara 70-
90 persen, hanya beberapa rincian output saja yang berada pada posisi kinerja anggaran lebih dari 90
persen.
Untuk melihat lebih jelas RO-RO mana saja dari setiap K/L dengan pencapaian tinggi (>90 persen), cukup
tinggi (70 s/d 90 persen), sedang (50 s/d 70 persen) dan rendah (< 50 persen), baik menurut jenis
intervensi maupun level analisisnya (level rincian output atau level analisis lanjutan), maka dapat melihat
BAB Lampiran dari laporan ini yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.
3.4. Perbandingan terhadap kinerja tahun sebelumnya
Dalam upaya memastikan keberlanjutan dari setiap intervensi yang telah dilakukan pada tahun
sebelumnya dan melihat kaitannya dengan tahun berjalan, maka berikut adalah perbandingan antara
kinerja tahun 2022 dengan kinerja tahun 2021. Pada bagian ini akan dilihatkan bagaimana perbandingan
kinerja realisasi anggaran terhadap pagu revisi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut:
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 65
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Grafik 15. Perbandingan Realisasi Anggaran Terhadap Pagu Revisi pada Level Analisis Lanjutan tahun
2019 s/d 2022 (dalam juta Rp)
60.000 100,0%
97,9% 98,0%
50.000 96,8% 96,5% 96,0%
94,0%
40.000
92,0%
30.000 90,0%
88,0%
20.000 86,9%
86,0%
84,0%
10.000
82,0%
- 80,0%
2019 2020 2021 2022*
Pagi Revisi 29.260 50.031 31.740 28.900
Realisasi 25.429 48.444 30.632 28.291
% Realisasi Terhadap Pagu Revisi 86,9% 96,8% 96,5% 97,9%
Sumber: Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Tahun 2019-2021, Form Evaluasi Mandiri K/L 2022 per 15
Februari 2023, dan Business Intelligence DJA (Diolah)
Grafik 16. Perbandingan Realisasi Anggaran Terhadap Pagu Revisi pada Level Analisis Lanjutan
Intervensi Spesifik tahun 2019 s/d 2022 (dalam triliun Rp)
3,50 120,00%
3,00 100,87% 82,96% 100,00%
97,01%
2,50 84,59%
80,00%
Anggaran (triliun)
2,00
60,00%
1,50
40,00%
1,00
0,50 20,00%
- 0,00%
2019 2020 2021 2022*
Realisasi 2,61 1,40 1,88 2,44
Pagu Revisi 3,08 1,45 1,87 2,94
% terhadap Total Pagu Revisi
84,59% 97,01% 100,87% 82,96%
Intervensi Spesifik
Sumber: Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Tahun 2019-2021, Form Evaluasi Mandiri K/L 2022 per 15
Februari 2023, dan Business Intelligence DJA (Diolah)
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 66
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Grafik 17. Perbandingan Realisasi Anggaran Terhadap Pagu Revisi pada Level Analisis Lanjutan
Intervensi Sensitif tahun 2019 s/d 2022 (dalam triliun Rp)
60,00 102,00%
99,84% 100,00%
50,00 98,00%
96,88% 96,47%
Anggaran (triliun) 96,00%
40,00 94,00%
92,00%
30,00
90,00%
20,00 88,00%
87,26%
86,00%
10,00 84,00%
82,00%
- 80,00%
2019 2020 2021 2022*
Realisasi 21,86 46,60 28,51 24,95
Pagu Revisi 25,06 48,11 29,56 24,99
% terhadap Total Pagu Revisi
87,26% 96,88% 96,47% 99,84%
Intervensi Sensitif
Sumber: Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Tahun 2019-2021, Form Evaluasi Mandiri K/L 2022 per 15
Februari 2023, dan Business Intelligence DJA (Diolah)
Grafik 18. Perbandingan Realisasi Anggaran Terhadap Pagu Revisi pada Level Analisis Lanjutan
Intervensi Duungan tahun 2019 s/d 2022 (dalam triliun Rp)
1,20 100,00%
97,90% 98,00%
1,00 96,00%
93,15%
Anggaran (triliun)
0,80 94,00%
92,00%
91,14%
0,60 90,00%
88,00%
0,40 86,43% 86,00%
0,20 84,00%
82,00%
- 80,00%
2019 2020 2021 2022*
Realisasi 0,96 0,44 0,29 0,91
Pagu Revisi 1,11 0,45 0,32 0,98
% terhadap Total Pagu Revisi
86,43% 97,90% 91,14% 93,15%
Intervensi Dukungan
Sumber: Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Tahun 2019-2021, Form Evaluasi Mandiri K/L 2022 per 15
Februari 2023, dan Business Intelligence DJA (Diolah)
Berdasarkan grafik 13, 14, 15 dan 16 di atas, terlihat bahwa:
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 67
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
1. Capaian Persentase Realisasi Anggaran sejak tahun 2019 s/d 2022 dengan tren fluktuatif, dari
capaian 86,9% pada tahun 2019, naik menjadi 96,8% pada tahun 2020, dan turun sedikit menjadi
96,5% pada tahun 2021, lalu naik kembali menjadi 97% pada tahun 2022.
2. Walau terjadi Pandemi Covid19 pada tahun 2020 dan 2021, tetapi secara keseluruhan tidak
berdampak terhadap total Realisasi anggaran yang telah direncanakan dan dijalankan.
3. Intervensi dengan alokasi dan realisasi anggaran terbesar dari total alokasi dan realisasi
anggaran adalah Intervensi Sensitif. Ini menandakan intervensi sensitif berkontribusi paling
besar terhadap total anggaran.
4. Realisasi intervensi spesifik, sensitif dan dukungan terhadap pagu revisi tahun 2019 s/d 2022
mengalami tren yang fluktuatif, khusus tahun 2020 s/d 2021 disebabkan oleh kebijakan
penanganan pandemi Covid19 dan PEN. Berikut adalah tren perkembangan masing-masing
intervensi tersebut:
a. Intervensi Spesifik: realisasi tahun 2019 sebesar 84,59%, terus naik menjadi 97,01% pada
tahun 2020, dan meningkat kembali menjadi 100,875 pada tahun 2021, dan mengalami
penurunan pada tahun 2022 menjadi 82,96 persen.
b. Intervensi Sensitif: Capaian realisasi tertinggi adalah tahun 2022 sebesar 99,84% dan
yang terendah adalah tahun 2019 sebesar 87,26% terhadap pagu revisi.
c. Intervensi dukungan: Capaian realisasi tertinggi adalah tahun 2020 sebesar 97,90% dan
yang terendah adalah tahun 2019 sebesar 86,43% terhadap pagu revisi.
Dengan melihat uraian pada Bab sebelumnya yaitu, perkembangan pagu, realisasi anggaran dan kinerja
anggaran, maka hasil dari analisis lebih mendalam dengan melihat data formulir evaluasi mandiri K/L yang
diserahkan kepada Bappenas dan Kemenkeu, berikut adalah beberapa kendala, tantangan yang terjadi
pada tahun 2022 serta rekomendasi perbaikan pada tahun 2023, diantaranya adalah:
1. Kemenkes
Intervensi Spesifik: diantaranya adalah terjadi keterlambatan pengadaan Pemberian Makanan
Tambahan (PMT), pelaksanaan Jaminan Persalinan, kegiatan koordinasi dan advokasi peningkatan
status gizi dan KIA, dll, yang terdiri dari:
a. QEA.001 Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) yang mendapat makanan tambahan Pabrikan
Kirim Daerah, pelaksanaan penyediaan Makanan Tambahan pabrikan berupa biskuit baru di
mulai pada tanggal 11 Oktober s/d 9 Desember 2022, dan ini cukup terlambat mengingat ada
beberapa daerah yang mengalami kekurangan stok PMT pabrikan. Usulan perbaikan tahun
2023 adalah PMT dilakukan berupa PMT pangan lokal yg dianggarkan melalui dana DAK Non
Fisik, tidak melalui belanja K/L.
b. QEA.002 Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) yang mendapat makanan tambahan Pabrikan
dari Buffer Stock Pusat, pelaksanaan penyediaan Makanan Tambahan pabrikan berupa
biskuit baru dimulai 11 Oktober sd 24 November 2022, dan ini cukup terlambat.
c. QEA.003 Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) yang mendapat makanan tambahan Berbasis
Pangan lokal, pelaksanaan penyediaan Penyediaan makanan Tambahan berbasis pangan
lokal berupa kudapan atau makanan lengkap baru dimulai pada bulan oktober sampai dengan
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 68
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Desember 2022. Usulan perbaikan tahun 2023 adalah pelaksanaan 2023 yang dilaksanakan
di daerah sebaiknya dilaksanakan pada awal tahun, sehingga Ibu Hamil KEK sudah
mendapatkan PMT sejak awal tahun berjalan.
d. QEA.004 Balita kurus yang mendapat Makanan Tambahan Pabrikan Kirim Daerah,
Penyediaan Makanan Tambahan pabrikan berupa biskuit yang terlambat proses
pengadaannya, dimana dilaksanakan mulai 11 Oktober sd 9 Desember 2022. Usulan
perbaikan tahun 2023 pengadaan PMT pangan lokal yang dianggarkan melalui dana DAK Non
Fisik.
e. QEA.005 Balita kurus yang mendapat Makanan Tambahan Pabrikan dari Buffer Stock Pusat,
Penyediaan Makanan Tambahan pabrikan berupa biskuit. Pelaksanaan mulai 11 Oktober sd
24 November 2022. Usulan perbaikan tahun 2023 adalah pelaksanaan 2023 yang
dilaksanakan di daerah sebaiknya dilaksanakan pada awal tahun, sehingga Ibu Hamil KEK
sudah mendapatkan PMT sejak awal tahun berjalan.
f. QEA.006 Balita kurus yang mendapat makanan tambahan Berbasis Pangan lokal,
Penyediaan makanan Tambahan berbasis pangan lokal berupa kudapan atau makanan
lengkap. Pelaksanaannya mulai Oktober sampai dengan Desember 2022 (selama 90 hari).
Pelaksanaan dari masing2 daerah tidak serentak sehingga ada daerah yang bisa melaksanakan
sesuai waktu dan ada yang tidak, bahan pangan terutama berupa Pangan Diet Khusus (PDK)
ada yang sulit didapat. Usulan perbaikan tahun 2023 adalah pelaksanaan 2023 yang
dilaksanakan di daerah sebaiknya dilaksanakan pada awal tahun, sehingga Ibu Hamil KEK
sudah mendapatkan PMT sejak awal tahun berjalan.
g. QEA-007 Anak balita yang mendapat Suplementasi Gizi Mikro, Penyediaan Suplementasi Gizi
Mikro berupa Taburia dengan pelaksanaannya 3 Agustus sampai 30 November 2022. Usulan
perbaikan tahun 2023; pelaksanaan 2023 yang dilaksanakan di daerah sebaiknya pada awal
tahun, sehingga Ibu Hamil KEK sudah mendapatkan PMT sejak awal tahun berjalan.
h. QEA-00 Jaminan Persalinan, Dana Jaminan Persalinan bagi ibu hamil yang termasuk kriteria
fakir miskin, orang tidak mampu dan tidak mempunyai jaminan kesehatan Pelayanan klaim
jampersal baru dapat dilaksanakan pada 28 September 2022 karena penyelesaian bridging
sistem informasi BPJS Kesehatan, e-Claim Kementerian Kesehatan dan e-Cohort. proses klaim
mengalami hambatan karena banyak data yang tidak valid, peserta sudah tercatat menjadi
anggota jaminan tetapi tidak aktif karena tidak mampu membayar premi. Usulan perbaikan
tahun 2023 adalah Perbaikan juknis penggunaan Dana Jampersal.
i. PEA-001 Kegiatan Koordinasi dan Advokasi Untuk Peningkatan Status Gizi dan KIA, kegiatan
ini tidak jadi dilaksanakan dikarenakan proses pengadaan dibatalkan karena pihak ke-3 yang
memenangkan pengadaan tidak dapat melakukan pengadaan mengingat waktunya yang
sangat singkat. Usulan perbaikan tahun 2023 adalah pelaksanaan 2023 sebaiknya
dilaksanakan pada awal tahun, sehingga pihak ke-3 dapat memenuhi tanggung jawabnya
sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
j. QEC-509 Paket Penyediaan Obat dan Perbekalan Kesehatan Program Penyakit Tropis
Terabaikan, proses penyediaan dilakukan sesuai alokasi kebutuhan; terdapat item obat yang
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 69
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
tidak terealisasi karena penyedia tidak sanggup untuk memastikan ketersediaannya, khusus
untuk penyediaan garam oralit.
k. QAH-031 Pelaksanaan POPM Filariasis dan Kecacingan, adanya simplifikasi menu dekon
sehingga terjadi pengurangan anggaran POPM Filariasis dan Cacingan melalui dekonsetrasi.
l. Terdapat 6 RO yang berubah pelaksanaannya dari K/L menjadi belanja Dekon, yaitu; a) QAH-
U01 IRS/Indoor Residual Spraying (Penyemprotan insektisida pada dinding rumah), b) QAH-
U02 IRS/Indoor Residual Spraying (Penyemprotan insektisida pada dinding rumah) di daerah
sulit kategori I, c) QAH-U03 IRS/Indoor Residual Spraying (Penyemprotan insektisida pada
dinding rumah) di daerah sulit katagori II (Provinsi Papua dan Papua Barat), d) QAH-U04 Survei
Darah Massal Malaria (angka parasite rate), e) QAH-U05 Survei Darah Massal Malaria (angka
parasite rate) di daerah sulit, dan f) QAH-U06 Survei Sentinel Malaria Knowlesi. Kondisi ini
menyebabkan keluaran dari proses pelaksanaan menjadi beragam, ada yang capaiannya
tinggi sekali ada juga yang sangat rendah sekali dari target yang telah ditentukan.
Intervensi Sensitif; secara umum kendala yang terjadi bersifat internal, dikarenakan pergantian
pimpinan, perubahan organisasi dan juga kebijakan alokasi anggaran dikarenakan terjadinya
automatic adjustment (AA) anggaran. Selain itu terjadi juga keterlambatan pembayaran PBI
JKN/KIS dikarenakan terlambatnya revisi buka blokir pemenuhan anggaran PBI JKN/KIS akibat
perbedaan data Kemensos dan BPJS Kesehatan. Berikut adalah beberapa kendala yang terjadi:
a. QEA-001 Cakupan penduduk yang menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI) dalam JKN/KIS,
terjadi kendala terkait dengan pembayaran tagihan PBI JK yang harus berdasarkan dan sesuai
dengan SK Mensos terkait data DTKS dan tagihan dari BPJS Kesehatan yang perlu
penyelarasan sejak awal penetapan. Usulan perbaikan tahun 2023 adalah menjaga ketepatan
waktu pembayaran iuran PBI JKN serta koordinasi intens dengan Kemensos dan BPJS untuk
memenuhi target peserta sebanyak 110 Juta Jiwa.
b. Terdapat 5 (lima) RO yang terkendala pelaksanaannya diakibatkan terjadinya perubahan
struktur organisasi secara internal pada direktorat teknis, yaitu; a) SCM-001 Peningkatan
Kapasitas dan Penerapan Komunikasi Antar Pribadi (KAP), b) SCM-007 Orientasi Pengelola
Posyandu dalam Rebranding Posyandu, c) QDD-004 Revitalisasi Posyandu, e) PEH-001
Produksi dan Penyebarluasan Informasi Kesehatan Germas dan Stunting Melalui Berbagai
Media, dan f) PEH-003 Kampanye Posyandu Aktif. Kendala yang dihadapi adalah perubahan
kebijakan anggaran dari rencana awal akibatnya terjadinya perubahan pimpinan dan
perubahan struktur organisasi sehingga berdampak kepada terhambat/tertundanyakinerja
anggaran, terutama RO QDE-004. Usulan perbaikan tahun 2023 adalah pimpinan tertinggi
tetap menjaga konsistensi pelaksanaan RO sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan
bersama, jika ada perubahan, sebaiknya tidak perubahan yang mendasar, tetapi berupa
pengembangan atau perbaikan teknis pelaksanaan saja.
2. Kemensos
Intervensi Sensitif; secara umum kendala yang terjadi adalah terjadinya automatic adjustment
(AA), perbedaan data penerima manfaat yang diusulkan daerah sehingga menyebabkan anggaran
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 70
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
menjadi SILPA tidak memenuhi target yang ditetapkan, teknis pencairan, dll. Berikut adalah
beberapa kendala yang terjadi:
a. QEB.101 KPM Yang Memperoleh Bantuan Sosial Pangan Sembako (PEN), RO ini merupakan
gabungan dari 3 RO yang ada dalam dokumen ringkasan penandaan, maupun pada laporan
evaluasi kinerja semester I tahun 2022 sebelumnya. Penggabungan terjadi akibat terjadi
perubahan SOTK di eselon 1 dan eselon 2 Kemensos yang terjadi pada rentang waktu
semester I tahun 2022, hal tersebut menyebabkan 3 RO itu tersebut dilebur menjadi 1 (satu)
RO pada semester II tahun 2022. Kendala lainnya adalah; a) tidak semua data SI yang sumber
awal dari usulan daerah via SIKS-NG dapat diproses karena berbagai hal, sehingga terjadi
SILPA dan tidak dapat memenuhi target 18,8 Juta KPM, b) TIKOR Daerah tidak memberikan
laporan pelaksanaan Program Sembako, sehingga bahan evaluasi hanya dari TIKOR Pusat
melalui Monev atau Respon Kasus dan Monev Internal Kemensos, c) Temuan BPK
menunjukkan bahwa masih terdapat KKS tidak distribusi atau gagal setting wallet pada
penyaluran via bank sehingga dana mengendap dan tidak tersalurkan ke KPM, d) Masih
terdapat paket bahan pangan oleh e-Warong serta kurang tepat nilai yang diterima KPM pada
penyaluran non tunai, selain itu terdapat beberapa oknum yang melakukan pemotongan
dana bansos secara tunai. Usulan perbaikan tahun 2023 diantaranya adalah a) Perbaikan
kualitas input data SIKS-NG oleh Pemda, b) Peningkatan kualitas data tepat sasaran berbasis
sistem IT, c) Pemantauan secara terpadu dan tepat serta cepat dalam penanganannya, d)
Pemantauan mendalam pada pemanfaatan bantuan sosial pangan, dan d) Peningkatan
kinerja mitra penyalur melalui evaluasi bersama pelaksanaan program, rekonsiliasi data
berkala dan peningkatan pelaporan realisasi
3. BPOM
Intervensi Sensitif; secara umum kendala yang terjadi adalah terkait dengan teknis pelaksanaan
kegiatan, koordinasi, dan juga keterlibatan stakeholder yang mendukung pelaksanaan dengan
maksimal dan tepat, dll. Berikut adalah beberapa kendala yang terjadi:
a. QIA.008 Sampel pangan fortifikasi yang di periksa oleh UPT, kendala yang dihadapi adalah;
a) beberapa lokasi pengambilan sampel adalah lokasi yang jauh, b) belum adanya instrumen
laboratorium yang memadai di wilayah UPT BPOM, contohnya di Tarakan sehingga harus
dikirim pengujiannya ke Samarinda, dan c) terdapat kelangkaan suplai minyak goreng sawit
pada awal tahun 2022. Usulan perbaikan tahun 2023 diantaranya adalah dengan melakukan
perencanaan pelaksanaan sampling yang lebih baik sebelum ditetapkan lokasi pelaksanaan
kegiatan.
b. QKB.001 Laporan Koordinasi pengawasan pangan fortifikasi, kendala yang dihadapi adalah
pelaku usaha yang didampingi khususnya produsen garam adalah termasuk usaha Mikro dan
Kecil yang memiliki keterbatasan permodalan dan pemahaman serta kesadaran keamanan
pangan yang bervariasi. Usulan perbaikan tahun 2023 diantaranya adalah mengikutsertakan
UMK garam pada kegiatan sosialisasi dan pendampingan yang diselenggarakan oleh BPOM.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 71
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
c. QDC.001 KIE Obat dan Makanan Aman oleh UPT, kendala yang dihadapi adalah kegiatan KIE
yang dilakukan secara langsung tidak dapat terlaksana secara maksimal dikarenakan pandemi
COVID-19 yang masih berlangsung sehingga kegiatan KIE lebih banyak dilakukan melalui
daring. Usulan perbaikan tahun 2023 diantaranya adalah KIE dilaksanakan dengan metode
daring dan secara langsung kepada masyarakat dengan menerapkan protokol kesehatan
secara ketat.
d. BMB.001 Layanan Publikasi keamanan dan mutu Obat dan Makanan oleh UPT, kendala yang
dihadapi adalah layanan publikasi keamanan dan mutu obat dan makanan tetap dilakukan
dengan menyebarkan informasi melalui berbagai media (media sosial, elektronik, online
maupun luar ruang) yang bekerja sama dengan berbagai lintas sektor, utamanya pada saat
kondisi pandemi COVID-19 seperti saat ini sehingga diharapkan masyarakat mendapatkan
informasi secara jelas. Usulan perbaikan tahun 2023 diantaranya meningkatkan intensitas
komunikasi kepada masyarakat dengan memberikan informasi secara jelas melalui media
baik media sosial, media elektronik, media cetak, media online, SMS blast, maupun media luar
ruang terutama pada masa pandemi COVID-19 seperti saat ini.
4. Kemendes PDTT
Intervensi Dukungan; secara umum kendala yang terjadi adalah terkait dengan teknis
pelaksanaan kegiatan, koordinasi, alokasi anggaran yang mengalami automatic adjustment (AA),
dll. Berikut adalah beberapa kendala yang terjadi:
a. QDD.001 Desa yang Mendapatkan Penanganan Konvergensi Stunting dan BDC.003
Masyarakat yang ditingkatkan kapasitasnya dalam pencegahan stunting/INEY.
kendala yang dihadapi adalah; a) adanya automatic adjusment 2 tahap mengakibatkan
adanya penyesuaian anggaran, sehingga banyak kegiatan Pelaksanaan Konvergensi
Pencegahan Stunting yang tidak bisa terlaksana di semester I, b) adanya pembekuan anggaran
dikarenakan automatic adjusment, menyebabkan kegiatan Sosialisasi Panduan Fasilitasi
Konvergensi Pencegahan Stunting di Desa yang semula diagendakan pada 3 regional
menyebabkan adanya pengurangan lokasi kegiatan sehingga hanya di 2 regional yaitu Kab
Probolinggo dan Kab Manggarai Barat. Hal tersebut sangat berpengaruh sekali pada
perubahan yang signifikan capaian target output Kinerja Kementerian Desa PDT dan
Transmigrasi, sehingga penting dilakukan penyesuaian capaian target output Kinerja
Pelaksanaan Konvergensi Pencegahan Stunting, c) Program INEY baru masuk on DIPA ditjen
PDP per tanggal 18 Mei 2022 artinya Program INEY baru dapat berjalan di Semester 2 Tahun
2022 hal tersebut menyebabkan kurang optimalnya penyerapan realisasi anggaran tahun
2022. Hal tersebut berpengaruh terhadap penyerapan realisasi anggaran percepatan
Penurunan stunting di Desa ada 1 kegiatan yang tidak dapat terlaksana di Tahun 2022, d)
terlambatnya surat persetujuan Clearance dari Kominfo untuk kegiatan Pembuatan Blended
Learning untuk Peningkatan Kapasitas Pelaku di Desa (Modul Klasikal, Modul Daring, Modul
dan Platform) di bulan November sehingga berpengaruh pada tidak terlaksananya kegiatan
tersebut di Tahun 2022.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 72
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Usulan perbaikan tahun 2023 diantaranya adalah; a) Kegiatan-kegiatan pada tahun 2022
yang terdampak automatic adjusment akan direkomendasikan kembali untuk dimunculkan
pada DIPA di tahun 2023 agar dapat dilaksanakan pada tahun 2023. Hal tersebut penting
dilakukan penyesuaian capaian target output Kinerja Pelaksanaan Konvergensi Pencegahan
Stunting yang difasilitasi oleh bagian perencanaan pada setiap unit kerja eselon 1 untuk
dikomunikasikan dengan biro perencanaan, b) Kegiatan pembuatan Blended Learning untuk
Peningkatan Kapasitas Pelaku di Desa (Modul Klasikal, Modul Daring, Modul dan Platform)
yang tidak terlaksana pada tahun 2022 dikarenakan terlambatnya surat clearance dari
Kominfo akan didiskusikan bersama Sekretariat Wakil Presiden, Kementerian Keuangan,
Bappenas dan direkomendasikan kembali untuk dapat dilaksanakan di Tahun 2023, c)
Optimalisasi penyelenggaraan kegiatan pencegahan stunting di Desa melalui program INEY
dengan melibatkan banyak pihak, baik eksternal K/L maupun dari lingkup internal Kemendes
dengan menggandeng Tenaga Pendamping Profesional (TPP) tingkat Pusat dan Unit Kerja
Eselon 1 lainnya di Kemendes untuk terjun ikut turun ke lapangan terlibat aktif dalam
mendukung penyelenggaraan kegiatan konvergensi pencegahan stunting di Desa melalui
Program INEY.
5. BKKBN
Intervensi Sensitif; secara umum kendala yang terjadi adalah terkait dengan dukungan dari
daerah (kantor perwakilan) dalam teknis pelaksanaan kegiatan, koordinasi, dan juga keterlibatan
stakeholder yang mendukung pelaksanaan dengan maksimal dan tepat, perbedaan data capaian,
dll. Berikut adalah beberapa kendala yang terjadi:
a. QDE.001 Keluarga dengan Baduta yang mendapatkan fasilitasi dan pembinaan 1000 HPK
(Pro PN Provinsi DKI Jakarta), kendala yang dihadapi adalah 'Dukungan dari Dinas PPAPP
Provinsi DKI dan mitra kerja terkait. Usulan perbaikan tahun 2023 diantaranya adalah
melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk dapat mengawal pencapaian output
dan realisasi anggaran agar sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
b. QDE.001 Keluarga dengan baduta yang mendapatkan fasilitasi dan pembinaan 1000 HPK,
kendala yang dihadapi adalah a) adanya perbedaan data capaian realisasi berdasarkan E-
Monev Bappenas dan pelaporan manual, karena data pagu anggaran pada E-Monev Bapenas
belum dikurangi pagu setelah refocusing, b) beberapa provinsi mengalami Keterlambatan
pelaksanaan kegiatan karena menunggu revisi sehingga berpengaruh terhadap realisasi
output dan anggaran, c) dukungan dari Kabupaten/Kota dalam melaksanakan kegiatan
promosi1000 HPK bagi keluarga yang memiliki baduta. Usulan perbaikan tahun 2023
diantaranya adalah menjaga keberlanjutan pelaksanaan fasilitasi dan pembinaan 1000 HPK
melalui promosi dan KIE pengasuhan1000 HPK bagi keluarga yang mempunyai baduta di
tahun anggaran 2023.
c. ÚBA.003 Pemberdayaan kampung KB dalam rangka penurunan stunting (Pro PN Provinsi
DKI Jakarta), kendala yang dihadapi adalah Komitmen yang tinggi dari pimpinan dan
pelaksana kegiatan. Usulan perbaikan tahun 2023 diantaranya adalah membangun sistem
komunikasi yang lebih intensif dan meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 73
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
d. QDD.001 PIK Remaja dan BKR yang mendapat fasilitasi dan pembinaan Edukasi Kespro
dan Gizi bagi Remaja Putri sebagai Calon Ibu, kendala yang dihadapi adalah; a) Terbatasnya
SDM yang memahami teknis pengisian Laporan R/I di New Siga, b) Keterbatasan sinyal di Kab/
Kota, c) Ketersediaan anggaran dalam pelaksanaan kegiatan baik di tingkat Provinsi maupun
pada tingkat Kabupaten/Kota, dan d) belum terinput semua kelompok PIK R dan BKR di dalam
aplikasi New SIGA 'Dukungan dari Dinas PPAPP Provinsi DKI dan mitra kerja terkait. Usulan
perbaikan tahun 2023 diantaranya adalah; a) Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi PKBR
dengan fokus pencapaian cakupan New SIGA, b) melaksanakan kegiatan Pendampingan
Pelaksanaan Pro PN PKBR di Kab/Kota yang capaiannya masih rendah, c) Pendampingan
edukasi PKBR di PIK Remaja dan BKR di Kab/Kota, serta koordinasi dengan kabupaten / kota
serta mitra terkait Monev secara berkala untuk mengawal pencapaian output dan anggaran.
e. QDD.001 PIK Remaja dan BKR yang mendapat fasilitasi dan pembinaan Edukasi Kespro
dan Gizi bagi Remaja Putri sebagai Calon Ibu (Pro PN Provinsi DKI Jakarta), kendala yang
dihadapi adalah a) Dukungan dari fasilitator nasionaI dalam kegiatan workshop "tentang kita"
untuk pendidik dan konselor sebaya di tingkat provinsi, b) kerja sama dengan fasilitator dari
pemerhati keluarga "Demi Kita" dalam workshop "1001 cara bicara dengan remaja untukpara
pengelola dan kader BKR, dan c) Pelaksana kegiatan pada tingkat Kota/Kabupaten hanya 1
Seksi untuk menangani seluruh kegiatan ProPN KSPK. Usulan perbaikan tahun 2023
diantaranya adalah; a) Pelaksanaan monitoring dan evaluasi Pelaksanaan Edukasi PKBR, b)
Pendampingan Pelaksanaan Edukasi PKBR di PIK Remaja dan BKR pada Triwulan III dan IV, dan
c) Apresiasi Duta dan Jambore Ajang Kreatifitas Remaja Monitoring dan Evaluasi secara
berkala untuk dapat mengawal pencapaian output dan anggaran.
Intervensi Dukungan; secara umum kendala yang terjadi adalah terkait dengan teknis
pelaksanaan kegiatan, koordinasi, alokasi anggaran yang mengalami automatic adjustment (AA),
konvergensi tingkat pelaksana didaerah, dll. Berikut adalah beberapa kendala yang terjadi:
a. SCM.001 Pelatihan dan Refreshing dalam rangka percepatan penurunan stunting (Pusat),
kendala yang dihadapi adalah a) Kekurangan fasilitator pelatihan pelayanan kontrasepsi bagi
dokter dan bidan sebab fasilitator merupakan SDM eksternal Pusdiklat, b) Pusdiklat belum
memiliki alokon/alat-alat peraga untuk praktik basah pelatihan, c) Pelatihan masih
dilaksanakan secara blended, namun waktunya masih terlalu panjang, d) Saat pelaksanaan
pelatihan, belum adanya persyaratan perserta yang ikut dalam pelatihan adalah peserta yang
belum terlatih dan belum melakukan pelayanan, e) Belum diadakan MOT bagi penyelenggara
pelatihan terkait pelatihan pelayanan kontrasepsi bagi dokter dan bidan. Usulan perbaikan
tahun 2023 diantaranya adalah; a) Perlu pengetatan kriteria peserta sehingga peserta yg
dikirim benar2 yang belum terlatih dan melakukan pelayanan, b) Proporsi target peserta
pelatihan untuk Bidan jumlahnya harus lebih banyak daripada dokter untuk pemenuhan
bidan yang kompeten, c) Pelaksanaan pelatihan akan tetap dilakukan secara blended. Tetapi
perlu perbaikan kurikulum utk metode pemberian materi sehingga dapat mempersingkat
waktu pelatihan, d) Sertifikat kompetensi bidan yang dikeluarkan PD IBI masih ada yang tidak
sama dan SKP berbeda. IBI perlu segara membuat surat edaran ke seluruh PD IBI untuk
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 74
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
menyampaikan template sertifikat termasuk jumlah SKP yang dikeluarkan. e) Terkait
keterlibatan anggota JNPK/P2KS dipertimbangkan hanya dengan pemberian workshop. Akan
dilakukan pendekatan lebih lanjut oleh ketua Pokja KB Kespro ke JNPK, g) Untuk mengatasi
kekurangan fasilitator makan pelaksanaan TOT masih perlu diusulkan oleh Kemenkes pada
tahun 2023, h) Untuk meningkatkan pemahaman perwakilan BKKBN, dalam penyelenggaraan
perlu dilibatkan dalam ToT atau dilakukan kembali orientasi penyelenggaraan pelatihan.
a. QAH.001 Layanan Humas Percepatan Penurunan Stunting tingkat Provinsi, kendala yang
dihadapi adalah a) belum berjalannya fungsi satgas di tingkat provinsi dan kabupaten/kota
secara optimal, terkait perlu adanya koordinasi dengan pihak terkait (TPPS) dalam upaya
percepatan penurunan stunting, dan b) Koordinasi terkadang sulit dilakukan terkait dengan
kondisi geografis di masing-masing wilayah. Usulan perbaikan tahun 2023 diantaranya
adalah; a) Penguatan Koordinasi dan advokasi dengan TPPS dan Lintas Sektoral, b)
Penambahan TA agar setiap TA bisa fokus membina satu Kabupaten, c) terus mendorong TPK
agar dapat menjalan tugas dan fungsinya, d). Terus berupaya melibatkan lintas sektor dalam
upaya percepatan penurunan stunting, dan e). Monev rutin terhadap kinerja satgas stunting.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 75
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
IV. Kinerja Pembangunan
Program percepatan penurunan stunting terdiri dari intervensi gizi spesifik, intervensi gizi sensitif dan
intervensi dukungan. Intervensi spesifik merupakan intervensi yang bertujuan untuk mengatasi penyebab
langsung stunting meliputi: (a) perbaikan asupan gizi; dan (b) penurunan penyakit infeksi dengan sasaran
utama pada ibu hamil, baduta (anak usia 0-23 bulan), balita (anak usia 0-59 bulan) dan remaja putri.
Sedangkan Intervensi sensitif bertujuan untuk mengatasi penyebab tidak langsung meliputi: a)
penyediaan air bersih dan sanitasi layak, b) peningkatan akses dan kualitas pelayanan gizi dan
kesehatan, c) peningkatan kesadaran, komitmen, dan praktik pengasuhan dan gizi ibu dan anak, dan d)
peningkatan akses pangan bergizi. Sedangkan intervensi dukungan program percepatan penurunan
stunting didefinisikan sebagai intervensi pendampingan, koordinasi dan dukungan teknis bertujuan
sebagai enabling environment terlaksananya intervensi spesifik dan sensitif secara terintegrasi.
Analisis kinerja pembangunan program percepatan penurunan stunting terbagi dalam kinerja pada
intervensi spesifik, intervensi sensitif dan intervensi dukungan yang telah disepakati ditandai tematik
stunting pada dokumen ringkasan tagging tahun berjalan. Analisis kinerja pembangunan mencakup
penilaian terkait:
a. Analisis Kinerja Konvergensi, Konvergensi didefinisikan sebagai sebuah pendekatan intervensi
yang dilakukan secara terkoordinasi, terpadu dan bersama-sama pada target sasaran wilayah
geografis dan rumah tangga prioritas untuk mencegah stunting. Kinerja konvergensi atas rincian
output K/L yang mendukung percepatan penurunan stunting dinilai dari tiga aspek, yaitu
kesesuaian lokasi intervensi dengan kabupaten/kota lokus prioritas stunting, kesesuaian sasaran
penerima manfaat dengan sasaran prioritas program stunting, dan pelibatan koordinasi dengan
stakeholder lain.
b. Relevansi dan Efektivitas, Analisis bertujuan untuk mengidentifikasi relevansi atau kesesuaian
RO tagging tematik stunting mendukung capaian indikator spesifik, indikator sensitif dan
indikator pilar yang telah ditetapkan dalam Perpres 72/2021. Sedangkan analisis efektivitas
mengidentifikasi efektivitas RO dalam mencapai tujuan yang diharapkan, dengan
menghubungkan capaian output RO dengan capaian hasil indikator spesifik, sensitif dan pilar
dalam Perpres 72/2021.
c. Analisis Kinerja Implementasi, bertujuan untuk mengidentifikasi implementasi
program/kegiatan/RO pilihan di daerah prioritas. Kinerja implementasi terdiri dari kesesuaian
implementasi dengan pedoman, cakupan sasaran, ketepatan sasaran, kendala implementasi dan
pembelajaran keberhasilan atas pelaksanaan program/kegiatan/RO. Implementasi intervensi
spesifik dan sensitif program percepatan penurunan stunting selanjutnya akan di bahas pada Bab
V Kinerja Program di Lokasi Prioritas.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 76
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Kerangka analisis kinerja pembangunan selanjutnya dapat dilihat sebagai berikut.
Grafik 19. Kerangka Analisis Kinerja Pembangunan Program Percepatan Penurunan Stunting
1. Konvergensi Lokasi, untuk menilai apakah intervensi
dilakukan pada kabupaten/kota lokus prioritas yang telah
ditetapkan
Kinerja 2. Konvergensi Sasaran, untuk menilai ketepatan sasaran
Konvergensi prioritas sebagai penerima manfaat intervensi
3. Konvergensi Koordinasi, untuk melihat keterlibatan
lintas sektor baik dari sisi pemerintah maupun non-pemerintah
Capaian Output untuk memantau progres dan gap capaian
output dibandingkan dengan target
KINERJA Relevansi Relevansi Hasil Indikator Perpres 72/2021 untuk
dan mengidentifikasi relevansi dukungan program/kegiatan/RO
PROGRAM terhadap capaian indikator hasil dalam Perpres 72/2021
Efektivitas
Capaian Hasil untuk memantau progres dan gap capaian
indikator hasil antara spesifik, sensitif dan pilar dalam Perpres
72/2021
Hasil Temuan pada RO Pilihan
Kinerja - Implementasi program/kegiatan/RO
Implementasi - Cakupan sasaran
- Kesesuaian dengan pedoman
- Kendala Implementasi
- Faktor Keberhasilan program
Analisis pada bab IV kinerja pembangunan mencakup unit analisis 176 RO dari 17 K/L yang
teridentifikasi dan telah dilakukan penandaan (tagging) mendukung Program Percepatan Penurunan
Stunting per Desember 2022 yang terdiri dari, 81 RO intervensi gizi spesifik, 38 RO intervensi gizi sensitif
dan 56 RO intervensi dukungan berupa pendampingan, koordinasi, dan dukungan teknis. Bab kinerja
pembangunan akan terbagi dalam 1) Analisis Kinerja Pembangunan Intervensi Spesifik, 2) Analisis Kinerja
Pembangunan Intervensi Sensitif dan 3) Analisis Kinerja Pembangunan Intervensi Dukungan.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 77
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
4.1 Analisis Kinerja Pembangunan Intervensi Spesifik
Intervensi spesifik didefinisikan sebagai intervensi gizi yang bertujuan untuk 1) perbaikan asupan gizi dan
2) penurunan penyakit infeksi, dengan sasaran utama pada remaja putri, ibu hamil, ibu menyusui dan
balita usia 0 – 59 bulan. Sub bab Kinerja Pembangunan Intervensi Spesifik selanjutnya akan membahas
mengenai:
1. Kinerja Output Intervensi Spesifik
2. Dukungan RO Pada Capaian Hasil Indikator Perpres 72/2021
3. Kinerja Konvergensi Lokasi, Sasaran dan Koordinasi
Unit analisis pada penilaian kinerja pembangunan intervensi spesifik yaitu 81 RO intervensi spesifik ter-
tagging tematik stunting TA 2022 didukung oleh 1 (satu) Kementerian/Lembaga yaitu Kementerian
Kesehatan. Berikut merupakan list 81 Rincian Output intervensi spesifik tagging tematik stunting TA 2022,
yang dikelompokkan dalam kategori intervensi/program tertentu.
Tabel 13. List RO Intervensi Spesifik Tagging Tematik Stunting, TA 2022
Intervensi RO
Pemberian tablet tambah darah 1. [Link].003 Pendampingan Tablet Tambah Darah Remaja Putri
remaja putri dan ibu hamil 2. [Link].002 Kampanye Penyebarluasan Informasi Tablet Tambah
Darah
3. [Link].003 NSPK terkait Gizi Remaja
4. [Link].004 Provinsi mendapatkan fasilitasi Pemerintah Pusat
dalam pelaksanaan kegiatan pendampingan masyarakat untuk
pencegahan dan penanggulangan anemia pada ibu hamil dan remaja
putri
5. [Link].002 Kegiatan Koordinasi dan Advokasi Terkait Pencegahan
Anemia dan Pendampingan Tablet Tambah Darah
6. [Link].003 Buku/Media KIE Terkait Pelayanan Kesehatan Anak
Usia Sekolah dan Remaja
7. [Link].004 Alat Pemeriksaan Hb
8. [Link].515 Paket Penyediaan Buffer Obat dan Perbekalan
Kesehatan Program Pelayanan Kesehatan Dasar
Pemberian makanan tambahan 9. 6799. QEA.001 Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) Yang mendapat
ibu hamil KEK dan balita kurus makanan tambahan Pabrikan Kirim Daerah
10. [Link].002 Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) Yang mendapat
makanan tambahan Pabrikan dari Buffer Stock Pusat
11. [Link].003 Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) Yang mendapat
makanan tambahan Berbasis Pangan lokal
12. [Link].004 Balita kurus Yang mendapat Makanan Tambahan
Pabrikan Kirim Daerah
13. [Link].005 Balita kurus Yang mendapat Makanan Tambahan
Pabrikan dari Buffer Stock Pusat
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 78
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Intervensi RO
14. [Link].006 Balita kurus Yang mendapat makanan tambahan
Berbasis Pangan lokal
15. [Link].001 Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) Yang mendapat
makanan tambahan
16. [Link].002 Balita kurus Yang mendapat Makanan Tambahan
17. [Link].004 Ibu hamil dan balita Yang diberikan Edukasi Gizi
Seimbang melalui Pemberian Makanan Tambahan Lokal
18. [Link].002 Kab/Kota mendapatkan pendampingan dalam
implementasi edukasi gizi melalui makanan tambahan lokal bagi ibu
hamil dan balita
19. [Link].001 Provinsi/Kab/kota Yang dilakukan Bimbingan Teknis
dan Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat
serta Evaluasi penurunan stunting
20. [Link].001 Provinsi/Kab/kota Yang dilakukan Bimbingan Teknis,
Monitoring, Evaluasi Kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat
21. [Link].001 Pelaksana program mendapatkan sosialisasi dan
Diseminasi Pedoman/Modul/Petunjuk Teknis Terkait Kegiatan
Pembinaan Gizi dan KIA
22. [Link].001 NSPK Terkait Peningkatan Kapasitas Pelaksana
Program Gizi dan KIA
23. [Link].002 NSPK terkait Pembinaan Gizi dan KIA
24. [Link].001 Buku/Media KIE Terkait Penanggulangan Masalah Gizi
Ibu Hamil dan Balita
25. [Link].001 Terlaksananya Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan
kegiatan pembinaan gizi dan KIA
26. [Link].001 Kegiatan Koordinasi dan Advokasi Untuk Peningkatan
Status Gizi dan KIA
Suplementasi gizi mikro (taburia) 27. [Link].007 Anak balita yang mendapat Suplementasi Gizi Mikro
28. [Link].003 Anak balita yang mendapat Suplementasi Gizi Mikro
29. [Link].001 Terlaksananya Uji laboratorium kandungan gizi dan
cemaran taburia kirim daerah setelah distribusi
Pemantauan pertumbuhan 30. 6799. PEA.003 Terlaksananya Koordinasi dan Advokasi Terkait
balita, tata laksana gizi buruk dan Pengembangan Pelayanan Skrining Bayi Baru Lahir
MTBS 31. [Link].001 Tenaga kesehatan yang ditingkatkan kapasitasnya
terkait upaya peningkatan kualitas hidup ibu dan anak
32. [Link].003 Tenaga kesehatan di Puskesmas Yang ditingkatkan
kapasitasnya untuk mampu memfasilitasi kader/sektor non kesehatan
dalam memberikan pelayanan Gizi dan KIA
33. [Link].002 Buku/Media KIE Terkait Pelayanan Kesehatan Ibu dan
Balita
34. [Link].005 Alat Antropometri
35. [Link].001 Surveilans gizi dan KIA yang ditingkatkan kualitasnya
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 79
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Intervensi RO
36. [Link].103 Pelatihan SDIDTK Bagi Petugas Kesehatan dan
Pemantauan Pertumbuhan
37. [Link].106 Pelatihan Manajemen Terpadu Balita Sakit
38. [Link].107 Pelatihan Manajemen Berat Bayi Lahir Rendah
39. [Link].108 Pelatihan Manajemen Gizi Buruk
Promosi konseling menyusui dan 40. [Link].002 Tenaga kesehatan yang ditingkatkan kapasitasnya
PMBA terkait upaya peningkatan kelangsungan hidup ibu dan anak
41. [Link].104 Pelatihan Pemberian Makan Bayi dan Anak
42. [Link].105 Pelatihan Konseling Menyusui
43. [Link].003 Tenaga Kesehatan Terorientasi Kelas Ibu Hamil dan Ibu
Balita
Program Imunisasi 44. [Link].516 Paket Penyediaan Vaksin Imunisasi Rutin
45. [Link].002 Koordinasi pelaksanaan imunisasi
46. [Link].002 NSPK Imunisasi
47. [Link].002 Surveilans KIPI
48. [Link].002 Media komunikasi, informasi, edukasi imunisasi
49. [Link].002 Monitoring dan Supervisi Imunisasi
50. [Link].001 Koordinasi Pelaksanaan Imunisasi (LP)
51. [Link].001 Sosialisasi pelaksanaan imunisasi (LP)
52. [Link].001 NSPK Imunisasi (LP)
53. [Link].002 Surveilans KIPI (LP)
54. [Link].003 Pelaksanaan Imunisasi di Daerah Sulit (LP)
55. [Link].001 Media komunikasi, informasi, edukasi imunisasi (LP)
56. [Link].001 Workshop bidang Imunisasi (LP)
57. [Link].001 -Monitoring dan Supervisi Imunisasi (LP)
Pengendalian penyakit filariasis 58. [Link].509 Paket Penyediaan Obat dan Perbekalan Kesehatan
dan kecacingan Program Penyakit Tropis Terabaikan
59. [Link].031 Pelaksanaan POPM Filariasis dan Kecacingan
60. [Link].031 Koordinasi pencapaian eliminasi eradikasi penyakit
tropis terabaikan
61. [Link].031 Sosialisasi pencegahan dan pengendalian penyakit
tropis terabaikan
62. [Link].031 NSPK pencegahan dan pengendalian penyakit Filariasis
dan Kecacingan
63. [Link].031 Surveilans dan deteksi dini penyakit Tropis Terabaikan
64. [Link].032 Pelaksanaan POPM Filariasis dan Kecacingan
65. [Link].031 Media KIE Penyakit Tropis Terabaikan
66. [Link].031 Pemeliharaan Sistim Informasi Pencegahan dan
Pengendalian penyakit filariasis dan kecacingan (EFILCA)
Pencegahan penyakit malaria 67. [Link].011 Intensifikasi penemuan kasus baru dalam rangka
eliminasi Malaria
68. [Link].012 Intensifikasi penemuan kasus baru dalam rangka
eliminasi Malaria Tingkat Provinsi
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 80
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Intervensi RO
69. [Link].013 Intensifikasi penemuan kasus baru dalam rangka
eliminasi Malaria Provinsi Papua dan Papua Barat
70. [Link].U01 IRS/Indoor Residual Spraying (Penyemprotan
insektisida pada dinding rumah)
71. [Link].U02 IRS/Indoor Residual Spraying (Penyemprotan
insektisida pada dinding rumah) di daerah sulit kategori I
72. [Link].U03 IRS/Indoor Residual Spraying (Penyemprotan
insektisida pada dinding rumah) di daerah sulit katagori II (Provinsi
Papua dan Papua Barat)
73. [Link].U04 Survei Darah Massal Malaria (angka parasite rate)
74. [Link].U05 Survei Darah Massal Malaria (angka parasite rate) di
daerah sulit
75. [Link].U06 Survei Sentinel Malaria Knowlesi
76. [Link].011 Media komunikasi, informasi, edukasi pencegahan
dan pengendalian malaria
77. [Link].011 Alat dan bahan kesehatan pencegahan dan
pengendalian malaria
78. [Link].011 Pemeliharaan Sistim Informasi Surveilans Malaria
(SISMAL)
Jaminan persalinan 79. [Link].008 Jaminan Persalinan
Publikasi Data 80. [Link].001 Data dan Informasi Kesehatan di Daerah
81. [Link].963 Layanan Data dan Informasi
4.1.1 Capaian Output Intervensi Spesifik
Kinerja capaian output dinilai berdasarkan gap capaian volume output RO pada level analisis lanjutan
terhadap target volume revisi yang telah disepakati. Tabel di bawah ini menunjukkan capaian output dari
81 RO intervensi spesifik mendukung program percepatan penurunan stunting TA 2022, dengan
mayoritas 63 RO (77,8 persen) memiliki capaian output tinggi di atas 90 persen, 3 RO memiliki capaian
cukup tinggi (70-90 persen), 2 RO memiliki capaian cukup rendah (50-69 persen) dan 2 RO memiliki
capaian rendah (<50 persen). Capaian output yang tinggi tersebut juga sejalan dengan capaian realisasi
anggaran intervensi spesifik yang mayoritas memiliki capaian realisasi tinggi di atas 90 persen.
Tabel 14. Kinerja Capaian Output RO Intervensi Spesifik, TA 2022
Capaian Hasil Output Jumlah RO %
Tinggi ( >90%) 63 77,8
Cukup tinggi (70%-90%) 3 3,7
Cukup rendah (50%-69%) 2 2,4
Rendah (<50%) 2 2,4
Tidak ada capaian output 11 13,5
Total 81
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 81
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Berdasarkan dari kepatuhan K/L dalam mengisi formulir evaluasi, seluruh RO intervensi spesifik telah
melaporkan capaian output, namun tabel di atas menunjukkan 11 RO tidak memiliki capaian output. Hal
tersebut karena pada tahun 2022, terdapat perubahan struktur organisasi dan tata kerja (SOTK) pada
Kementerian Kesehatan, dimana beberapa RO yang sebenarnya kegiatan yang sama teridentifikasi
duplikasi menjadi 2 RO dengan kode kegiatan lama dan kode kegiatan baru. RO dengan kode kegiatan
lama tersebut tetap dilaporkan, karena terdapat realisasi anggaran namun capaian outputnya dimasukkan
ke dalam capaian pada RO dengan kode kegiatan baru. Lebih lanjut, 11 RO intervensi spesifik TA 2022
tidak memiliki capaian output pada tabel di atas, dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut:
1. [Link].001 Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) yang mendapat makanan tambahan:
Pelaksanaan kegiatan (capaian output) dimasukkan pada RO kode kegiatan SOTK baru yaitu
[Link] Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) yang mendapat makanan tambahan Pabrikan
Kirim Daerah
2. [Link].002 Balita kurus yang mendapat Makanan Tambahan: Pelaksanaan kegiatan (capaian
output) dimasukkan pada RO kode kegiatan SOTK baru yaitu [Link].004. Balita kurus yang
mendapat Makanan Tambahan Pabrikan Kirim Daerah
3. [Link].003 Anak balita yang mendapat Suplementasi Gizi Mikro: Pelaksanaan kegiatan (capaian
output) dimasukkan pada RO kode kegiatan SOTK baru yaitu [Link].007. Anak balita yang
mendapat Suplementasi Gizi Mikro
4. [Link].004 Ibu hamil dan balita yang diberikan Edukasi Gizi Seimbang melalui Pemberian
Makanan Tambahan Lokal: Pelaksanaan kegiatan (capaian output) dimasukkan pada RO kode
kegiatan SOTK baru yaitu [Link].003 Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) yang mendapat
makanan tambahan Berbasis Pangan lokal dan [Link].006 Balita kurus yang mendapat makanan
tambahan Berbasis Pangan lokal
5. [Link].001 Provinsi/Kab/kota yang dilakukan Bimbingan Teknis, Monitoring, Evaluasi Kegiatan
Pembinaan Gizi Masyarakat : RO tidak dilaksanakan karena terkena automatic adjustment, kegiatan
pada semester 1 telah terealisasi dengan output pada kode kegiatan lama yaitu [Link].001
Provinsi/Kab/kota Yang dilakukan Bimbingan Teknis dan Monitoring dan Evaluasi Kegiatan
Pembinaan Gizi Masyarakat serta Evaluasi penurunan stunting
6. [Link].003 Buku/Media KIE Terkait Pelayanan Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja: RO tidak
dilakukan karena terkena automatic adjustment sejak awal dengan Pagu Revisi Rp 0.
7. [Link].001 Terlaksananya Uji laboratorium kandungan gizi dan cemaran Taburia kirim daerah
setelah distribusi: RO tidak dilakukan karena terkena automatic adjustment dengan Pagu Revisi Rp 0
8. [Link].002 NSPK Imunisasi: RO dihilangkan, pelaksanaan kegiatan (realisasi anggaran dan capaian
output) menggunakan RO pada SOTK baru yaitu [Link].001-NSPK Imunisasi (LP)
9. [Link].013 Intensifikasi penemuan kasus baru dalam rangka eliminasi Malaria Provinsi Papua dan
Papua Barat: RO sudah tidak digunakan di Dekon 2022
10. [Link].031 Media KIE Penyakit Tropis Terabaikan: RO sudah tidak digunakan di Dekon 2022
11. [Link].011 Pemeliharaan Sistim Informasi Surveilans Malaria (SISMAL): RO sudah tidak digunakan
di Dekon 2022
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 82
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Selanjutnya, jika dibandingkan dengan capaian output intervensi spesifik TA 2021, terdapat tren
peningkatan RO dengan capaian tinggi di atas 90 persen, sebanyak 57 RO (71,2 persen) pada TA 2021
meningkat menjadi 63 RO (77,8 persen) pada TA 2022, sebagaimana terlihat pada tabel di bawah ini.
Selain itu, terdapat penurunan RO capaian rendah di bawah 50 persen yaitu sebanyak 5 RO pada TA 2021
menurun menjadi 2 RO pada TA 2022. Dan terdapat peningkatan kepatuhan pada pelaporan, dimana pada
TA 2022 terdapat 11 RO yang tidak mencantumkan data capaian output namun melaporkan sebagai
catatan terkait adanya perubahan SOTK.
Tabel 15. Perkembangan Capaian Output Intervensi Spesifik RO TA 2021-2022
Jenis Capaian Output
Tahun
Intervensi > 90% 70-90% 50-70% <50% NA Total
2021 Spesifik 57 (71,2%) 6 1 5 11 80
2022 Spesifik 63 (77,8%) 3 2 2 11 81
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah), Laporan Kinerja Anggaran dan Pembangunan
Program Percepatan Penurunan Stunting TA 2021
Sebagai kesimpulan, mayoritas RO intervensi spesifik TA 2022 telah memiliki capaian output tinggi dan
cenderung meningkat dari kinerja capaian output pada TA 2021. Kinerja capaian output yang tinggi
tersebut diharapkan dapat mendukung capaian hasil (outcome) yang tinggi juga. Sub bab selanjutnya akan
menjelaskan mengenai relevansi RO mendukung indikator hasil (outcome) dalam Perpres 72/2021, serta
kinerja konvergensi dan capaian output dari RO-RO intervensi spesifik pada sasaran prioritas akan
disampaikan pada sub bab kinerja konvergensi sasaran.
4.1.2 Dukungan Indikator Perpres 72/2021
Setelah diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan
Stunting, Bappenas bersama dengan Kemenkeu telah melakukan pemetaan sandingan indikator
lampiran Perpres 72/2021 dengan RO-RO yang telah dilakukan penandaan tematik stunting tahun 2022.
Pemetaan sandingan RO-RO mendukung indikator Perpres 72/2021 dilakukan melalui mekanisme desk
review dan pertemuan konfirmasi melibatkan K/L penanggung jawab dan K/L terkait. Sandingan ini
dilakukan dengan menganalisis dukungan RO pada masing-masing indikator hasil antara pada lampiran
Perpres 72/2021, terdiri dari 9 (sembilan) indikator spesifik, 11 (sebelas) indikator sensitif dan 7 (tujuh)
indikator pilar dengan penanggung jawab tingkat K/L.
Sub bab ini akan menjelaskan mengenai dukungan RO intervensi spesifik tagging tematik stunting TA
2022 terhadap capaian hasil indikator Peraturan Presiden No 72 tahun 2021. Berdasarkan hasil analisis,
dari total 81 RO intervensi spesifik tagging tematik stunting tahun 2022, terdapat 47 RO intervensi
spesifik mendukung indikator Perpres 72/2021, terdiri dari 45 RO intervensi spesifik mendukung hasil
9 (sembilan) indikator spesifik Perpres 72/2021 dan 2 RO intervensi spesifik mendukung hasil 1 (satu)
indikator pilar terkait publikasi data dalam Perpres 72/2021, sebagaimana terlihat pada grafik di bawah
ini.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 83
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Grafik 20. Jumlah RO Intervensi Spesifik TA 2022 Relevan Mendukung Indikator Perpres 72/2021
42 47 RO
58% 58
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Total alokasi pagu revisi pada level analisis lanjutan dari 47 RO intervensi spesifik tagging tematik
stunting tahun 2022 mendukung capaian indikator spesifik dan indikator pilar dalam Perpres 72/2021,
yaitu sebesar Rp2.[Link] (83,5 persen dari total pagu revisi analisis lanjutan intervensi
spesifik), sebagaimana terlihat pada Grafik di bawah ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa mayoritas
RO intervensi spesifik yang dilakukan penandaan tematik stunting telah sejalan dan berkontribusi
langsung pada capaian indikator Perpres 72/2021.
Grafik 21. Pagu Revisi Analisis Lanjutan 47 RO Intervensi Spesifik Mendukung Indikator Perpres 72/2021
2,45T
83,5%
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Berdasarkan analisis kinerja, dari total 47 RO intervensi spesifik tagging stunting TA 2022 mendukung
capaian indikator Perpres 72/2021, mayoritas 41 RO (87,2 persen) memiliki capaian output tinggi di atas
90 persen. Capaian output intervensi spesifik yang tinggi tersebut diharapkan dapat berdampak langsung
pada perbaikan asupan gizi dan penurunan penyakit infeksi, dan berdampak pada penurunan prevalensi
stunting sesuai dengan target RPJMN 14 persen pada 2024.
Grafik 22. Capaian Output 47 RO Intervensi Spesifik TA 2022 Mendukung Indikator Perpres 72/2021
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 84
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
50% - < 50%; 1; N/A; 2; 4%
70%; 1; 2%
2%
70% -
90%; 2;
5%
> 90%; 41;
87%
> 90% 70% - 90% 50% - 70% < 50% N/A
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Selanjutnya penilaian pada level outcome atau hasil, dilakukan untuk memantau capaian indikator dan
mengidentifikasi gap capaian terhadap target pada Perpres 72/2021. Tabel berikut menunjukkan hasil
capaian 9 (sembilan) indikator spesifik pada lampiran Perpres 72/2021, dengan K/L penanggung jawab
Kementerian Kesehatan. Berdasarkan dari hasil analisis capaian hasil indikator spesifik tahun 2022, 7
(tujuh) indikator spesifik telah mencapai target pada tahun 2022, 1 (satu) indikator belum memenuhi
target dan 1 (satu) indikator yang belum dapat dihitung ketercapaiannya.
Tabel 16. Capaian Hasil Indikator Spesifik Perpres 72/2021
2022 2024
No Indikator (satuan) Jumlah RO 1
Target Capaian Target
Dukungan
1 Persentase ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK) yang 9 85% 89,1% 90%
mendapatkan tambahan asupan gizi (%)
2 Persentase ibu hamil yang mengonsumsi Tablet 2 60% 87,1% 80%
Tambah Darah (TTD) minimal 90 tablet (%)
3 Persentase remaja putri yang mengonsumsi Tablet 8 45% 46,4% 58%
Tambah Darah (TTD) (%)
4 Persentase bayi usia kurang dari 6 bulan mendapat air 3 70% 66,4% 80%
susu ibu (ASI) eksklusif (%)
5 Persentase anak usia 6-23 bulan yang mendapat 3 60% 4.974.380 80%
Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) (%) anak
11 RO dapat mendukung lebih dari 1 indikator, sehingga Jumlah RO dukungan pada tabel dapat melebihi dari 47 RO intervensi
spesifik mendukung indikator Perpres 72/2021
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 85
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
2022 2024
No Indikator (satuan) Jumlah RO 1
Target Capaian Target
Dukungan
6 Persentase anak berusia di bawah lima tahun (balita) 2 83% 90% 90%
gizi buruk yang mendapat pelayanan tata laksana gizi
buruk (%)
7 Persentase anak berusia di bawah lima tahun (balita) 8 75% 78,3% 90%
yang dipantau pertumbuhan dan perkembangannya
(%)
8 Persentase anak berusia di bawah lima tahun (balita) 6 80% 84,5% 90%
gizi kurang yang mendapat tambahan asupan gizi (%)
9 Persentase balita yang memperoleh imunisasi dasar 14 90% 97,5% 90%
lengkap (%)
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, Laporan PPS 2022
Pada indikator spesifik 1 ibu hamil KEK mendapat tambahan asupan gizi didukung oleh 9 (sembilan) RO
terkait: 1) Pemberian PMT ibu hamil KEK Pabrikan dan PMT berbasis pangan lokal, 2) Pendampingan
implementasi edukasi gizi melalui makanan tambahan lokal, 3) Penyusunan NSPK, 4) Sosialisasi dan
diseminasi petunjuk teknis, 5) Buku/Media KIE terkait penanggulangan masalah gizi, dan 6) Bimbingan
teknis, monitoring, evaluasi kegiatan pembinaan gizi masyarakat. RO bersifat penyediaan PMT memiliki
sasaran pada ibu hamil KEK, dan pendampingan, bimbingan teknis dan pemantauan evaluasi sasaran pada
level dinas kesehatan kabupaten/kota. Hasil capaian output RO Ibu hamil KEK yang mendapatkan
makanan tambahan pabrikan kirim daerah yaitu sebanyak 430.948 ibu hamil, dan hasil capaian output RO
Ibu hamil KEK yang mendapatkan makanan tambahan berbasis pangan lokal yaitu sebanyak 52.185 ibu
hamil. Selain bersumber dari belanja K/L, penyediaan PMT Pabrikan ibu hamil KEK pada tahun 2022 juga
didukung oleh dana DAK Fisik Bidang Kesehatan pada 1 Provinsi yaitu Provinsi Aceh. Hasil capaian
indikator spesifik 1 menunjukkan capaian yang tinggi yaitu 89,1 persen ibu hamil KEK telah mendapatkan
tambahan asupan gizi yaitu berupa PMT pabrikan atau pangan lokal dari target 85 persen.
Pada indikator spesifik 2 ibu hamil mengonsumsi tablet tambah darah didukung oleh 2 (dua) RO terkait:
1) Paket penyediaan buffer obat dan 2) kampanye penyebarluasan informasi tablet tambah darah. Hasil
capaian output RO mendukung indikator spesifik 2 yaitu penyediaan buffer obat memiliki capaian sebesar
1 paket. Selain bersumber dari belanja K/L, capaian hasil indikator spesifik 2 juga didukung melalui
penyediaan TTD bersumber dari dana DAK Fisik Kesehatan. Hasil capaian indikator spesifik 2 menunjukkan
capaian tinggi yaitu 87,1 persen ibu hamil mengonsumsi TTD, memenuhi dari target 60 persen.
Pada indikator spesifik 3 remaja putri mengonsumsi tablet tambah darah didukung oleh 8 (delapan) RO
terkait: 1) Paket penyediaan buffer obat, 2) kampanye penyebarluasan informasi tablet tambah darah, 3)
Penyediaan alat pemeriksaan Hb, 4) Koordinasi, advokasi dan pendampingan, 5) Penyusunan NSPK dan 6)
Buku/Media KIE terkait pelayanan kesehatan remaja. Sasaran RO mendukung indikator spesifik 2 terdiri
dari sasaran remaja putri dan sasaran pada level dinas kesehatan kabupaten/kota. Hasil capaian output
RO mendukung indikator spesifik 3 yaitu penyediaan buffer obat memiliki capaian sebesar 1 paket. Selain
bersumber dari belanja K/L, capaian hasil indikator spesifik 3 juga didukung melalui penyediaan TTD
bersumber dari dana DAK Fisik Kesehatan. Pelaksanaan program pemberian tablet tambah darah
dilakukan melalui program Aksi Bergizi dengan sasaran remaja putri usia sekolah SMP – SMA atau
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 86
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
sederajat. Hasil capaian indikator spesifik 3 menunjukkan capaian tinggi yaitu 46,4 persen remaja putri
usia sekolah SMP-SMA telah mengonsumsi tablet tambah darah dari target 45 persen.
Pada indikator spesifik 4 bayi usia kurang dari 6 bulan mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif dan indikator
spesifik 5 anak usia 6-23 bulan yang mendapat makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) didukung oleh
3 (tiga) RO terkait: 1) Pelatihan konseling menyusui dan Pelatihan pemberian makanan bayi dan anak oleh
Balai Pelatihan Kementerian Kesehatan dan 2) Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan oleh Direktorat
Gizi KIA Kementerian Kesehatan. RO dukungan indikator spesifik 4 dan indikator spesifik 5 tersebut
memiliki sasaran pada level tenaga kesehatan, dan belum ada dukungan RO pada sasaran prioritas balita.
Hasil capaian indikator spesifik 4 menunjukkan capaian 66,4 persen dan belum memenuhi target 70
persen. Hasil capaian indikator spesifik 5 menunjukkan capaian 4.974.380 anak mendapat MP-ASI, namun
belum dapat diketahui persentase capaian terhadap sasaran.
Pada indikator spesifik 6 balita gizi buruk mendapat tata laksana gizi buruk didukung oleh 2 (dua) RO
terkait: 1) Pelatihan manajemen gizi buruk oleh Balai Pelatihan Kementerian Kesehatan dan 2)
Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan oleh Direktorat Gizi KIA Kementerian Kesehatan. RO dukungan
indikator 6 tersebut memiliki sasaran pada level tenaga kesehatan, dan belum ada dukungan RO pada
sasaran prioritas balita. Hasil capaian indikator spesifik 6 menunjukkan capaian tinggi 90 persen dari target
83 persen.
Pada indikator spesifik 7 balita dipantau pertumbuhan dan perkembangannya didukung oleh 8 (delapan)
RO, terdiri dari 6 RO intervensi spesifik dan 2 RO intervensi dukungan terkait: 1) Peningkatan kapasitas
tenaga kesehatan, 2) Pemeliharaan sistem EPPGBM, 3) Pengadaan alat antropometri, 3) Buku/Media KIE
pelayanan kesehatan ibu dan balita, 4) Pelaksanaan survei status gizi Indonesia (SSGI) dan 5) Rekomendasi
kebijakan analisis gap angka stunting wasting berdasarkan data rutin. RO dukungan indikator spesifik 7
tersebut memiliki sasaran pada level balita, tenaga kesehatan, puskesmas/posyandu dan dinas kesehatan
kabupaten/kota. Selain bersumber dari belanja K/L dukungan pemantauan pertumbuhan dan
perkembangan juga didukung melalui dana DAK Non Fisik Bidang Kesehatan melalui BOK Provinsi, BOK
Kabupaten/Kota dan BOK Puskesmas. Hasil capaian indikator spesifik 7 menunjukkan capaian sebesar
78,3 persen balita dipantau pertumbuhan dan perkembangannya, memenuhi dari target 75 persen.
Pada indikator spesifik 8 balita gizi kurang mendapat tambahan asupan gizi didukung oleh 6 (enam) RO
terkait: 1) Pemberian PMT balita kurus Pabrikan dan PMT berbasis pangan lokal, 2) Pemberian
suplementasi gizi mikro (taburia), 3) Pendampingan implementasi edukasi gizi melalui makanan
tambahan lokal, dan 4) Buku/Media KIE terkait penanggulangan masalah gizi. RO bersifat penyediaan PMT
dan media KIE memiliki sasaran pada balita, sedangkan pendampingan implementasi memiliki sasaran
pada level dinas kesehatan kabupaten/kota. Hasil capaian output RO Balita kurus yang mendapatkan
makanan tambahan pabrikan kirim daerah yaitu sebanyak 574.575 balita, dan hasil capaian output RO
Balita kurus yang mendapatkan makanan tambahan berbasis pangan lokal yaitu sebanyak 133.334 balita.
Selain bersumber dari belanja K/L, penyediaan PMT Pabrikan balita kurus pada tahun 2022 juga didukung
oleh dana DAK Fisik Bidang Kesehatan pada 1 Provinsi yaitu Provinsi Aceh. Hasil capaian indikator spesifik
8 menunjukkan capaian sebesar 84,5 persen balita gizi kurang telah mendapat tambahan asupan gizi
melalui pemberian PMT pabrikan dan pangan lokal, memenuhi dari target 80 persen.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 87
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Pada indikator spesifik 9 balita memperoleh imunisasi dasar lengkap didukung oleh 14 (empat belas) RO
terkait: 1) Paket penyediaan vaksin, 2) Penyusunan NSPK, 3) Koordinasi, sosialisasi dan workshop bidang
imunisasi, 4) Media KIE imunisasi dan 5) Monitoring dan supervisi imunisasi. RO bersifat penyediaan
vaksin memiliki sasaran hingga ke balita, sedangkan RO lainnya memiliki sasaran pada level pelaksana
program imunisasi dinas kesehatan kab/kota. Hasil capaian output RO mendukung capaian indikator
spesifik 9 yaitu paket penyediaan vaksin imunisasi rutin yaitu sebesar 1 paket. Selain bersumber dari
Belanja K/L, dukung pelaksanaan program imunisasi juga bersumber dari dana DAK Fisik dan Non Fisik
Bidang Kesehatan. Hasil capaian indikator spesifik 9 menunjukkan capaian tinggi 97,5 balita telah
memperoleh imunisasi dasar lengkap, memenuhi dari target 90 persen.
Sebagai kesimpulan, mayoritas RO intervensi spesifik tagging tematik stunting TA 2022 relevan dan
sejalan mendukung Indikator Spesifik Perpres 72/2021 dengan mayoritas indikator telah mencapai
target. Selain dari RO belanja K/L, capaian hasil indikator Perpres 72/2021 juga didukung melalui sumber
dana DAK Fisik, DAK Non Fisik, APBD, dan Dana Desa. Selain itu, kebijakan pada level kabupaten/kota,
program inovasi daerah, serta nilai dan budaya kearifan lokal juga berpengaruh pada perubahan perilaku
masyarakat yang berkontribusi pada variasi capaian hasil indikator spesifik pada masing-masing
kabupaten/kota.
4.1.3 Kinerja Konvergensi Intervensi Spesifik
Konvergensi didefinisikan sebagai sebuah pendekatan intervensi yang dilakukan secara terkoordinasi,
terpadu dan bersama-sama pada target sasaran wilayah geografis dan rumah tangga prioritas untuk
mencegah stunting. Penyelenggaraan intervensi secara konvergen dilakukan dengan menggabungkan
atau mengintegrasikan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan bersama. Penilaian kinerja
konvergensi intervensi spesifik bertujuan untuk melakukan identifikasi pelaksanaan intervensi pada
kabupaten/kota lokus tahun 2022, pelaksanaan intervensi pada sasaran prioritas ibu hamil dan baduta
dan pelaksanaan koordinasi pelibatan lintas sektor dengan K/L lain, pemerintah daerah dan non
pemerintah. Sebagai upaya dalam percepatan penurunan stunting dengan target sebesar 14 persen tahun
2024, maka diperlukan konvergensi pada intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif yang
dilaksanakan secara konvergen, tepat sasaran, dan berkelanjutan terutama pada sasaran prioritas.
Secara umum, sasaran pada Intervensi Spesifik Program Percepatan Penurunan Stunting, dapat
dikelompokkan menjadi:
b. Sasaran prioritas: Ibu hamil, baduta (anak usia 0-23 bulan), balita (anak usia 0-59 bulan)
c. Sasaran penting: remaja putri
d. Sasaran lainnya: tenaga kesehatan, kader posyandu, lembaga posyandu/ puskesmas, pengelola
program dinas kesehatan provinsi/kabupaten/kota
Dari total 81 RO intervensi spesifik, terdapat 21 RO teridentifikasi memiliki sasaran langsung pada
sasaran prioritas, ibu hamil, anak usia 0-23 bulan, anak usia 0-59 bulan, keluarga memiliki baduta/balita,
dan sasaran penting yaitu remaja putri. Sedangkan mayoritas RO lainnya memiliki sasaran pada sasaran
lainnya, terdiri dari tenaga kesehatan, dinas kesehatan provinsi, dinas kesehatan kabupaten/kota,
pemangku kepentingan nasional, masyarakat umum, anak usia sekolah, fasilitas kesehatan (puskesmas
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 88
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
dan posyandu), kader posyandu, perguruan tinggi dan organisasi profesi. Secara lebih detail, tabel di
bawah ini menunjukkan 21 RO intervensi spesifik yang memiliki sasaran langsung hingga sasaran ibu
hamil, balita dan remaja putri.
Tabel 17. Rincian Output Intervensi Spesifik Sasaran Ibu Hamil, Balita, dan Remaja Putri TA 2022
Sasaran Remaja
Sasaran
Sasaran Sasaran Keluarga Putri
No K/L Rincian Output Ibu
Baduta Balita dengan
Hamil
Balita
1 Kemenkes Ibu hamil kekurangan energi Ya - - - -
kronis (KEK) mendapatkan
makanan tambahan pabrikan
kirim daerah
2 Kemenkes Ibu hamil kekurangan energi Ya - - - -
kronis (KEK) mendapatkan
makanan tambahan pabrikan
buffer stock
3 Kemenkes Ibu hamil kekurangan energi Ya - - - -
kronis (KEK) mendapatkan
makanan tambahan berbasis
pangan lokal
4 Kemenkes Jaminan persalinan Ya - - - -
5 Kemenkes Balita kurus yang mendapatkan - Ya Ya - -
makanan tambahan kirim daerah
6 Kemenkes Balita kurus kekurangan energi - Ya Ya - -
kronis (KEK) mendapatkan
makanan tambahan pabrikan
buffer stock
7 Kemenkes Balita kurus yang mendapat - Ya Ya - -
makanan tambahan Berbasis
Pangan lokal
8 Kemenkes Suplementasi Gizi Mikro - Ya Ya - -
(Taburia)
9 Kemenkes Pelaksanaan POPM Filariasis dan - Ya Ya - -
Kecacingan
10 Kemenkes Buku/Media KIE Terkait Ya Ya Ya - -
Pelayanan Kesehatan Ibu dan
Balita
11 Kemenkes Intensifikasi penemuan kasus Ya Ya Ya Ya Ya
baru dalam rangka eliminasi
Malaria Tingkat Provinsi
12 Kemenkes Survei Darah Massal Malaria Ya Ya Ya Ya Ya
(angka parasite rate)
13 Kemenkes Survei Darah Massal Malaria Ya Ya Ya Ya Ya
(angka parasite rate) di daerah
sulit
14 Kemenkes Survei Sentinel Malaria Knowlesi Ya Ya Ya Ya Ya
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 89
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Sasaran Remaja
Sasaran
Sasaran Sasaran Keluarga Putri
No K/L Rincian Output Ibu
Baduta Balita dengan
Hamil
Balita
15 Kemenkes Paket Penyediaan Obat dan - Ya Ya - -
Perbekalan Kesehatan Program
Penyakit Tropis Terabaikan
16 Kemenkes Paket Penyediaan Buffer Obat Ya Ya Ya - -
dan Perbekalan Kesehatan
Program Pelayanan Kesehatan
Dasar
17 Kemenkes Paket Penyediaan Vaksin - Ya Ya - -
Imunisasi Rutin
18 Kemenkes Surveilans KIPI - Ya Ya - -
19 Kemenkes Surveilans KIPI (LP) - Ya Ya - -
20 Kemenkes Kampanye Penyebarluasan - - - - Ya
Informasi Tablet Tambah Darah
21 Kemenkes Alat Pemeriksaan Hb - - - - Ya
Jumlah RO 10 15 15 4 6
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023 (diolah)
Penguatan implementasi dan konvergensi intervensi spesifik dan intervensi sensitif pada sasaran prioritas
tersebut sangat diperlukan sebagai upaya percepatan penurunan stunting terintegrasi. Selain itu, juga
diperlukan RO-RO yang berkelanjutan pada tahun berikutnya, untuk memastikan progres dan mencapai
hasil yang diharapkan.
Selanjutnya, perkembangan capaian output dan kesinambungan RO intervensi spesifik pada sasaran
prioritas ibu hamil dan balita selama periode tahun 2021 hingga 2022, dapat dilihat pada tabel di bawah
ini.
Tabel 18. Perkembangan Capaian Output Analisis Lanjutan Intervensi Spesifik Sasaran Ibu Hamil, Balita,
dan Remaja Putri TA 2021-2022
No Intervensi Rincian Output Capaian Rincian Output Capaian Perkembangan
2021 Output/ 2022 Output/
Lokasi Lokasi
1 Pemberian Ibu Hamil Kurang 246.560 Ibu hamil 430.948 Meningkat
makanan Energi Kronis orang, kekurangan energi orang,
tambahan bagi ibu (KEK) yang 360 kronis (KEK) 181
hamil Kurang mendapat kab/kota mendapatkan kab/kota
Energi Kronik (KEK) makanan makanan
tambahan tambahan
pabrikan kirim
daerah
Ibu hamil dan 33.600 Ibu hamil 56.205
balita yang orang, kekurangan energi orang,
diberikan kronis (KEK) Pusat
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 90
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
No Intervensi Rincian Output Capaian Rincian Output Capaian Perkembangan
2021 Output/ 2022 Output/
Lokasi Lokasi
Pendidikan Gizi 7 mendapatkan
melalui kab/kota makanan
Pemberian tambahan
Makanan pabrikan buffer
Tambahan Lokal stock
Ibu hamil 52.185
kekurangan energi orang,
kronis (KEK) 31
mendapatkan kab/kota
makanan
tambahan berbasis
pangan lokal
2 Jaminan - Jaminan 24.776 NA
persalinan persalinan orang,
514
kab/kota
3 Kelas Ibu Hamil Ibu Hamil 12 Tenaga Kesehatan 30 orang, NA
Terinformasi kegiatan, Terorientasi Kelas 34
Terkait Kesehatan N/A Ibu Hamil dan Ibu provinsi
Masa Kehamilan, Balita
Persalinan, Nifas,
KB dan Perawatan
BBL
4 Pemberian Balita kurus yang 441.000 Balita kurus yang 574.575 Meningkat
Makanan mendapat orang, mendapatkan orang,
Tambahan Balita Makanan 360 makanan 181
Kurus Tambahan kab/kota tambahan kirim kab/kota
daerah
Balita kurus 106.623
kekurangan energi orang,
kronis (KEK) Pusat
mendapatkan
makanan
tambahan
pabrikan buffer
stock
Balita kurus yang 133.334
mendapat orang,
makanan 31
tambahan Berbasis kab/kota
Pangan lokal
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 91
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
No Intervensi Rincian Output Capaian Rincian Output Capaian Perkembangan
2021 Output/ 2022 Output/
Lokasi Lokasi
5 Suplementasi Gizi Anak balita yang 140.000 Suplementasi Gizi 188.176 Meningkat
mendapat orang, Mikro (Taburia) orang,
Suplementasi Gizi 65 111
Mikro kab/kota kab/kota
Paket Penyediaan 1 Paket, Paket Penyediaan 2 Paket, NA
Obat Gizi 514 Buffer Obat dan 514
kab/kota Perbekalan kab/kota
Kesehatan
Program
Pelayanan
Kesehatan Dasar
Paket Penyediaan 2 Paket,
Obat dan 514
Perbekalan kab/kota
Kesehatan
Program
Kesehatan Ibu dan
Anak
6 Imunisasi Paket Penyediaan 1 Paket, Paket Penyediaan 1 Paket, Tetap
Vaksin Imunisasi 514 Vaksin Imunisasi 514
Rutin kab/kota Rutin kab/kota
Surveillance KIPI 3 layanan, Surveilans KIPI 3 Tetap
514 layanan,
kab/kota 1
kab/kota
Surveillance KIPI 2 daerah 002- Surveilans 18 Meningkat
di papua dan (provinsi), KIPI (LP) layanan,
papua barat 42 10
kab/kota provinsi
7 Pencegahan Pelaksanaan 64 Pelaksanaan 42 Menurun
Penyakit Filariasis POPM Filariasis layanan, POPM Filariasis layanan,
dan Kecacingan dan Kecacingan 472 dan Kecacingan 6
kab/kota kab/kota
Pelaksanaan 12
POPM Filariasis layanan,
dan Kecacingan di 42
Papua dan Papua kab/kota
Barat
Paket Penyediaan 2 Paket, Paket Penyediaan 2 paket, Tetap
Obat dan 514 Obat dan 514
Perbekalan kab/kota Perbekalan kab/kota
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 92
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
No Intervensi Rincian Output Capaian Rincian Output Capaian Perkembangan
2021 Output/ 2022 Output/
Lokasi Lokasi
Kesehatan Kesehatan
Program Penyakit Program Penyakit
Tropis Terabaikan Tropis Terabaikan
8 Pencegahan Ibu balita 2 NA
Penyakit TB kelompok rentan Kegiatan,
terinformasi 2 provinsi
pencegahan TB
melalui kelas Ibu
Balita (TB)
Balita yang 18.750 NA
ditingkatkan orang,
Asupan Gizi 15
Seimbang dalam kab/kota
rangka
Percepatan
Penanggulangan
TB
9 Pencegahan Intensifikasi 15
Penyakit Malaria penemuan kasus layanan,
baru dalam rangka 15
eliminasi Malaria kab/kota
Intensifikasi 32
penemuan kasus layanan,
baru dalam rangka 34
eliminasi Malaria provinsi
Tingkat Provinsi
Intensifikasi 20
penemuan kasus layanan,
baru dalam rangka 2 provinsi
eliminasi Malaria
Provinsi Papua dan
Papua Barat
Survei Darah 38 Survei Darah 4080 Meningkat
Massal Malaria layanan, Massal Malaria layanan,
(angka parasite 28 (angka parasite 25
rate) provinsi rate) provinsi
10 Media KIE Buku Kesehatan 5.183.750 Buku/Media KIE Menurun
Ibu dan Anak (KIA) buku, Terkait Pelayanan 1.847.500
514 Kesehatan Ibu dan buku,
kab/kota Balita Pusat
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 93
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas RO intervensi spesifik sasaran prioritas tersebut sudah
dilaksanakan secara berkelanjutan, meskipun terdapat beberapa RO TA 2021 tidak berlanjut dan
beberapa RO baru pada tahun 2022 yang belum teridentifikasi sebelumnya. Berdasarkan perkembangan
capaian output, RO yang mengalami peningkatan capaian output terdiri dari: 1) Pemberian makanan
tambahan ibu hamil KEK, 2) Pemberian makanan tambahan balita kurus, 3) Suplementasi gizi mikro
(taburia), 4) Paket buffer obat, dan 5) Survei darah masal malaria. Sedangkan RO yang mengalami
penurunan capaian output terdiri dari: 1) Buku/Media KIE dan 2) Pelaksanaan POPM filariasis dan
kecacingan.
Sehingga sebagai kesimpulan bahwa terkait dengan intervensi spesifik yang mengatasi penyebab langsung
stunting, terutama terkait perbaikan gizi dan penurunan penyakit infeksi, sangat penting untuk
memastikan bahwa RO-RO dilaksanakan secara berkelanjutan dan perlunya penguatan pelaksanaan
pada RO-RO pada sasaran prioritas 1000 HPK. Dalam mengoptimalkan pelaksanaan kegiatan, RO-RO
intervensi spesifik lainnya seperti penyusunan NSPK, penyediaan petunjuk teknis, peningkatan kapasitas
tenaga kesehatan, koordinasi, sosialisasi dan pemantauan evaluasi implementasi intervensi diperlukan
untuk meningkatkan efektivitas implementasi intervensi di daerah.
Salah satu isu pada penilaian kinerja pembangunan, yaitu keterbatasan data cakupan program pada
sasaran. Hingga saat ini, masih belum dapat diidentifikasi gap capaian output dari RO bersumber dari
belanja K/L terhadap sasaran total program. Misalnya dari data jumlah anak usia di bawah lima tahun
(balita) berdasarkan data SUPAS 2022 yaitu sebanyak 21.856.192 anak, sedangkan berdasarkan data SSGI
2022, prevalensi balita stunting sebesar 21,6 persen, wasting sebesar 7,7 persen, underweight sebesar
17,1 persen. Maka didapatkan jumlah sasaran balita stunting sebanyak 4.721.350 anak, balita wasting
sebanyak 1.682.927 anak dan balita underweight sebanyak 3.737.409 anak. Jika dibandingkan dengan
capaian RO PMT Pabrikan balita kurus tahun 2022 sebanyak 574.575 balita dan RO PMT pangan lokal
balita kurus tahun 2022 sebanyak 133.334 balita, maka masih terdapat gap antara jumlah sasaran balita
wasting dan balita yang diberi PMT melalui belanja K/L. Namun, selain dari belanja K/L, penyediaan PMT
balita kurus juga didanai melalui DAK Fisik dan Dana Desa. Integrasi antara data capaian program yang
didanai oleh lintas sumber dana dibutuhkan untuk memastikan bahwa alokasi anggaran yang
disediakan telah memenuhi jumlah sasaran.
Selain itu, pada beberapa RO terkait pelatihan dan peningkatan kapasitas dengan sasaran tenaga
kesehatan, jumlah capaian output masih rendah jika dibandingkan dengan total sasaran tenaga kesehatan.
Beberapa capaian pada RO-RO intervensi spesifik tagging stunting TA 2022 dengan sasaran tenaga
kesehatan, adalah sebagai berikut:
• 99.236 orang tenaga kesehatan yang ditingkatkan kapasitasnya terkait Pembekalan Fasilitator
Pelatihan Terintegrasi Tumbuh Kembang Dan Pemberian Makan Balita Bagi Tenaga Pelayanan
Balita Puskesmas Kementerian Kesehatan tahun 2022 di 30 kab/kota
• 11.351 orang tenaga kesehatan yang ditingkatkan kapasitasnya terkait pelatihan konseling
menyusui 18 provinsi, pelatihan SDIDTK 30 kab/kota, blended learning pelayanan kesehatan
terkait kelangsungan hidup balita bagi petugas kesehatan di 50 kab/kota
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 94
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
• 135.919 orang tenaga kesehatan di Puskesmas ditingkatkan kapasitasnya terkait pelatihan MTBS
dan TAGB di 50 kab/kota dan blended learning pemantauan kesehatan dan tumbuh kembang
balita bagi guru PAUD/Kader di 30 kab/kota
• 1.800 orang tenaga kesehatan dilatih peningkatan kapasitas dan penerapan komunikasi antar
pribadi (KAP) di 60 kab/kota
• 125 orang tenaga kesehatan mendapat pelatihan SDIDTK melalui balai pelatihan Kemenkes
• 607 orang tenaga kesehatan mendapat pelatihan pemberian makan bayi dan anak melalui balai
pelatihan Kemenkes
• 205 orang tenaga kesehatan mendapat pelatihan konseling menyusui melalui balai pelatihan
Kemenkes
• 140 orang tenaga kesehatan mendapat pelatihan manajemen terpadu balita sakit melalui balai
pelatihan Kemenkes
• 40 orang tenaga kesehatan mendapat pelatihan manajemen berat bayi lahir rendah melalui balai
pelatihan Kemenkes
• 100 orang tenaga kesehatan mendapat pelatihan manajemen gizi buruk melalui balai pelatihan
Kemenkes
Pelatihan dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader posyandu memegang peranan
penting dalam implementasi program yang efektif dan berkualitas. Namun kendala yang dihadapi saat
ini yaitu keterbatasan pada data capaian untuk mengukur gap tenaga kesehatan yang dilatih dengan
jumlah sasaran tenaga kesehatan. Mayoritas pelaksanaan RO pelatihan bersumber dari Belanja K/L hanya
berupa training of trainer pada level pengampu program kabupaten/kota, sedangkan pelatihan dan
peningkatan kapasitas pada tenaga kesehatan di puskesmas, bidan desa dan kader posyandu, didukung
melalui dana DAK Non Fisik yang hingga saat ini belum dapat ditelusuri capaian output jumlah tenaga
kesehatan yang dilatih tersebut. Sehingga dalam upaya percepatan penurunan stunting, selain
konvergensi pada sasaran prioritas, peningkatan kualitas pelaksanaan program juga diperlukan melalui
peningkatan kualitas tenaga kesehatan dan kader yang ditingkatkan kapasitasnya dalam melaksanakan
program.
Selanjutnya, kinerja konvergensi lokasi mengidentifikasi RO intervensi spesifik tagging stunting TA 2022
dengan cakupan pelaksanaan pada level pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Pada tahun 2022,
berdasarkan SK Menteri PPN/ Kepala Bappenas Nomor Kep.10/[Link]/HK/02/2021, kabupaten/kota
lokus untuk percepatan penurunan stunting telah diperluas menjadi seluruh 514 kabupaten/kota di
Indonesia, dengan percepatan pada kabupaten/kota di 12 Provinsi Prioritas, yaitu Aceh, Sumatera Utara,
Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat dan
Sulawesi Tenggara. Dari total 81 RO intervensi spesifik ter-tagging tematik stunting 2022, mayoritas 38
RO dilaksanakan pada level kabupaten/kota, 16 RO dilaksanakan di level pusat, dan 16 RO dilaksanakan
pada level pelaksana program tingkat provinsi, secara detail dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Grafik 23. Konvergensi Lokasi Intervensi Spesifik RO di 514 Kab/Kota Lokus Stunting, TA 2022
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 95
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
16 RO di tingkat
nasional
16 RO di tingkat
provinsi
81 RO 7 RO di 514
7 RO seluruh 246
kab/kota di 12
11 RO dihapus kab/kota lokus
provinsi prioritas
25 RO sebagian
38 RO di tingkat <246 kab/kota di
kab/kota 12 provinsi
prioritas
31 RO di <514 2 RO diluar 12
kab/kota lokus provinsi prioritas
4 RO tidak tersedia
data disagregat 12
provinsi prioritas
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L 2022 per 15 Februari 2023 (Diolah)
Grafik di atas juga menunjukkan dari total 38 RO intervensi spesifik tingkat kabupaten/kota, terdapat 7
RO dilaksanakan di seluruh 514 kabupaten/kota di Indonesia, dan 31 RO dilaksanakan di sebagian atau
kurang dari 514 kabupaten/kota di Indonesia. Jika dilihat pelaksanaan pada 12 provinsi prioritas, dari
total 31 RO dilaksanakan di sebagian kabupaten/kota tersebut, 25 RO menyasar 12 provinsi prioritas
dengan cakupan pelaksanaan kurang dari 246 kabupaten/kota, 2 RO dilaksanakan di luar 12 provinsi
prioritas dan 4 RO tidak melaporkan data disagregat terhadap 12 provinsi prioritas. Berikut 7 (tujuh) RO
dengan pelaksanaan pada seluruh 514 kab/kota, yaitu:
1. QEA-008 Jaminan Persalinan
2. PEF-001 Pelaksana program mendapatkan sosialisasi dan Diseminasi Pedoman/Modul/Petunjuk
Teknis Terkait Kegiatan Pembinaan Gizi dan KIA
3. QEC-509 Paket Penyediaan Obat dan Perbekalan Kesehatan Program Penyakit Tropis Terabaikan
4. QEC-516 Paket Penyediaan Vaksin Imunisasi Rutin
5. PEA-002 Koordinasi pelaksanaan imunisasi
6. PEA-001 Koordinasi Pelaksanaan Imunisasi (LP)
7. PEF 001- Sosialisasi pelaksanaan imunisasi (LP)
Sebagai kesimpulan, mayoritas RO intervensi spesifik tagging tematik stunting TA 2022 telah
dilaksanakan pada sebagian atau kurang dari 514 kabupaten/kota lokus stunting. Selain itu terdapat 31
RO dilaksanakan di 12 provinsi prioritas, terdiri dari 7 RO dilaksanakan di seluruh 246 kabupaten/koa
di 12 provinsi prioritas dan 25 RO dilaksanakan di sebagian atau kurang dari 246 kabupaten/kota di 12
provinsi prioritas. Sebagai catatan, bahwa kabupaten/kota lokus stunting pada tahun 2022 mencakup
514 kabupaten/kota, sehingga pelaksanaan konvergensi pada seluruh kabupaten/kota dapat terkendala
keterbatasan alokasi anggaran pada masing-masing Kementerian/Lembaga.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 96
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Analisis selanjutnya yaitu kinerja konvergensi koordinasi dengan tujuan memetakan koordinasi lintas
sektor pada RO ter-tagging tematik stunting tahun 2022, terbagi dalam koordinasi dengan
kementerian/lembaga lain, koordinasi dengan pemerintah daerah, dan koordinasi dengan sektor non
pemerintah. Koordinasi berperan penting dalam meningkatkan efektivitas penurunan stunting melalui
sinkronisasi, penyerasian, dan pemaduan berbagai kegiatan prioritas penurunan stunting beserta peran
masing-masing pihak. Penguatan koordinasi perlu dilakukan multi pihak, seperti antar
kementerian/lembaga, pemerintah pusat dan daerah, serta lembaga non pemerintah (a.l. dunia usaha,
akademisi, organisasi masyarakat madani, mitra pembangunan, dan media).
Grafik 24. Konvergensi Koordinasi Intervensi Spesifik, TA 2022
K/L lain:
2 RO
4 7
16
Pemda: Non Pemerintah:
34 RO 3 RO
Tidak ada data: 11 RO
Tidak ada koordinasi: 4 RO
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Grafik di atas menunjukkan terdapat 16 RO intervensi spesifik tagging tematik stunting TA 2022 telah
dilaksanakan dengan melibatkan koordinasi lintas sektor antara Kementerian/Lembaga lain,
pemerintah daerah dan lembaga non pemerintah. Sedangkan mayoritas 34 RO intervensi spesifik
dilaksanakan dengan melibatkan pemerintah daerah. Pada RO-RO intervensi spesifik, koordinasi lintas
K/L telah dilaksanakan dengan melibatkan K/L lain seperti Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian
Dalam Negeri, Kementerian Koordinator Bidang PMK, Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan dan Riset Teknologi, Kementerian Agama, Kemendesa PDTT, Kemenpora dan BPJSK.
Sedangkan pada level daerah, implementasi RO intervensi spesifik juga melibatkan dinas kesehatan, dinas
pendidikan dan fasilitas kesehatan swasta. Sedangkan koordinasi dengan non pemerintahan meliputi
pelibatan media televisi dan radio, kader, TP PKK, NGO, dan organisasi profesi.
4.2. Analisis Kinerja Pembangunan Intervensi Sensitif
Intervensi sensitif didefinisikan sebagai intervensi gizi yang bertujuan untuk 1) penyediaan air bersih dan
sanitasi layak, 2) peningkatan akses dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan, 3) peningkatan
kesadaran, komitmen, dan praktik pengasuhan dan gizi ibu dan anak, dan 4) peningkatan akses pangan
bergizi, dengan sasaran utama pada wanita usia subur, calon pengantin, keluarga miskin dan rentan,
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 97
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
sasaran keluarga dan sasaran keluarga berisiko stunting. Sub bab Kinerja Pembangunan Intervensi Sensitif
selanjutnya akan membahas mengenai:
1. Kinerja Output Intervensi Sensitif
2. Dukungan RO Pada Capaian Hasil Indikator Perpres 72/2021
3. Kinerja Konvergensi Lokasi, Sasaran dan Koordinasi
Unit analisis pada penilaian kinerja pembangunan intervensi sensitif yaitu 39 RO intervensi sensitif ter-
tagging tematik stunting TA 2022. Intervensi Sensitif Program Percepatan Penurunan Stunting didukung
oleh 9 (sembilan) Kementerian/ Lembaga, yaitu Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,
Kementerian Kelautan dan Perikanan , Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi,
Kementerian Pertanian, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Agama. Secara
lebih detail, list 39 RO intervensi sensitif tagging tematik stunting tahun 2022, terdiri dari:
Tabel 19. List RO Intervensi Sensitif Tagging Tematik Stunting, TA 2022
Intervensi RO K/L
Penyebarluasan informasi 1. Peningkatan Kapasitas dan Penerapan Komunikasi Kementerian
mengenai gizi dan Antar Pribadi (KAP) Kesehatan
kesehatan melalui 2. Orientasi Pengelola Posyandu dalam Rebranding
berbagai media Posyandu
3. Revitalisasi Posyandu
4. Produksi dan Penyebarluasan Informasi Kesehatan
Germas dan Stunting Melalui Berbagai Media
5. Kampanye Posyandu Aktif
Penyediaan akses PBI JKN 6. Cakupan penduduk Yang menjadi Penerima Kementerian
Bantuan Iuran (PBI) dalam JKN/KIS Kesehatan
Penyediaan akses air 7. Infrastruktur Air Minum Berbasis Masyarakat Kementerian PUPR
bersih dan air minum
(Program Pamsimas)
Penyediaan akses sanitasi 8. Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Setempat Kementerian PUPR
layak (Program Sanimas Skala Individu
SPALD-S)
Program Keluarga Harapan 9. Keluarga Yang Mendapat Bantuan Sosial Bersyarat Kementerian Sosial
(PKH) 10. Keluarga Yang Mendapat Bantuan Sosial Bersyarat
(PEN)
Bantuan sosial pangan 11. KPM Yang Memperoleh Bantuan Sosial Pangan Kementerian Sosial
sembako Sembako
Program penyehatan 12. Kebijakan Analisa Dampak Program Kesehatan Kementerian
lingkungan Lingkungan Kesehatan
13. Koordinasi Advokasi Program Kesehatan
Lingkungan
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 98
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Intervensi RO K/L
14. Sosialisasi dan Diseminasi Program Kesehatan
Lingkungan
15. Konferensi dan Event Pelaksanaan Peningkatan
Lingkungan Sehat
16. NSPK Kesehatan Lingkungan
17. Peningkatan Kualitas Kesehatan Lingkungan
18. Kab/kota Yang dibina dalam pemenuhan kualitas
kesehatan lingkungan
Fasilitasi dan pembinaan 19. Keluarga dengan Baduta Yang mendapatkan BKKBN
1000 HPK (Bina Keluarga fasilitasi dan pembinaan 1000 HPK (Pro PN Provinsi
Balita) DKI Jakarta)
20. Keluarga dengan baduta Yang mendapatkan
fasilitasi dan pembinaan 1000 HPK
Kampung Keluarga 21. Pemberdayaan kampung KB dalam rangka BKKBN
Berkualitas penurunan stunting
22. Pemberdayaan kampung KB dalam rangka
penurunan stunting(Pro PN Provinsi DKI Jakarta)
Bina Keluarga Remaja 23. PIK Remaja dan BKR Yang mendapat fasilitasi dan BKKBN
pembinaan Edukasi Kespro dan Gizi bagi Remaja
Putri sebagai Calon Ibu
24. PIK Remaja dan BKR Yang mendapat fasilitasi dan
pembinaan Edukasi Kespro dan Gizi bagi Remaja
Putri sebagai Calon Ibu (Pro PN Provinsi DKI
Jakarta)
PAUD HI 25. Pelatihan calon pelatih pemanfaatan Model Bidang Kemendikbud ristek
Pendidikan Anak Usia Dini dan Parenting di
Kawasan Asia Tenggara
26. Satuan PAUD Menyelenggarakan Pendekatan
Holistik Integratif
Bimbingan Perkawinan 27. Keluarga Islam Yang Memperoleh Bimbingan Kementerian Agama
Perkawinan dan Keluarga Sakinah
28. Bimbingan Keluarga Hitta Sukkhaya
29. Keluarga Katolik Yang Memperoleh Bimbingan
Keluarga Bahagia
30. Bimbingan Keluarga Kristiani
31. Bimbingan Perkawinan Hindu
Gemar makan ikan 32. Kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan Kementerian
(Gemarikan) (Gemarikan) Kelautan
33. Kampanye Gemarikan Yang dilaksanakan oleh Perikanan
daerah (Dekonsentrasi)
Padi Kaya Gizi 34. Kawasan Padi Kaya Gizi (Biofortifikasi) Kementerian
(Biofortifikasi) Pertanian
Desa Pangan Aman dan 35. Desa Pangan Aman BPOM
Pengawasan Pangan 36. Sampel pangan fortifikasi Yang di periksa oleh UPT
37. Laporan Koordinasi pengawasan pangan fortifikasi
38. KIE Obat dan Makanan Aman oleh UPT
39. Layanan Publikasi keamanan dan mutu Obat dan
Makanan oleh UPT
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 99
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Secara umum, sasaran intervensi sensitif Program Percepatan Penurunan Stunting, dapat dikelompokkan
menjadi:
a. Sasaran prioritas: Ibu hamil, baduta (anak usia 0-23 bulan), balita (anak usia 0-59 bulan), keluarga
memiliki baduta dan balita
b. Sasaran penting: remaja putri, calon pengantin, wanita usia subur
c. Sasaran lainnya: keluarga miskin dan rentan, keluarga berisiko stunting, masyarakat umum, lembaga
PAUD, kelompok tani, kader, komunitas, dan pengelola program tingkat provinsi/kabupaten/kota
4.2.1 Capaian Output Intervensi Sensitif
Kinerja capaian output dinilai berdasarkan gap capaian volume output RO pada level analisis lanjutan
terhadap target volume revisi yang telah disepakati. Tabel di bawah ini menunjukkan capaian output dari
39 RO intervensi sensitif mendukung program percepatan penurunan stunting TA 2022. Dari total 39 RO
intervensi sensitif tagging stunting TA 2022 mayoritas 34 RO (87,2 persen) memiliki capaian output tinggi
di atas 90 persen, 2 RO memiliki capaian cukup tinggi (70-90 persen), dan 3 RO tidak melaporkan data
capaian. Capaian output yang tinggi tersebut juga sejalan dengan capaian realisasi anggaran intervensi
sensitif yang mayoritas memiliki capaian realisasi tinggi di atas 90 persen.
Tabel 20. Kinerja Capaian Output RO Intervensi Sensitif, TA 2022
Capaian Hasil Output Jumlah RO %
Tinggi ( >90%) 34 87,2
Cukup tinggi (70%-90%) 2 5,1
Cukup rendah (50%-69%) 0 -
Rendah (<50%) 0 -
NA 3 7,7
Total 39
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Selanjutnya, jika dibandingkan dengan capaian output intervensi sensitif TA 2021, terdapat tren
peningkatan RO dengan capaian tinggi, sebanyak 74 RO (78,7 persen) pada 2021 meningkat menjadi 34
RO (87,2 persen) pada 2022. Selain itu, juga terdapat tren penurunan RO dengan capaian cukup tinggi
(70-90 persen), cukup rendah (50-70 persen) dan capaian rendah (< 50 persen), sebagaimana terlihat pada
tabel di bawah ini. Jika dilihat dari jumlah RO intervensi sensitif mendukung program penurunan stunting,
terdapat penurunan jumlah RO intervensi sensitif tagging stunting yaitu dari 94 RO pada 2021 menjadi
39 RO pada Desember 2022.
Tabel 21. Perkembangan Capaian Output Intervensi Spesifik RO TA 2021-2022
Jenis Capaian Output
Tahun
Intervensi > 90% 70-90% 50-70% <50% NA Total
2021 Sensitif 74 (78,7%) 6 3 1 10 94
2022 Sensitif 34 (87,2%) 2 0 0 3 39
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 100
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah), Laporan Kinerja Anggaran dan Pembangunan
Program Percepatan Penurunan Stunting TA 2021
Dari segi kepatuhan pelaporan, terdapat peningkatan kepatuhan pelaporan capaian output, dari RO
intervensi sensitif yang tidak melaporkan capaian (NA), sebanyak 10 RO pada tahun 2021 menurun
menjadi 3 RO pada tahun 2022. Tiga RO yang tidak melaporkan data capaian output tahun 2022 yaitu 2
RO dari Kementerian Agama: 1) Bimbingan Keluarga Hindu, dan 2) Keluarga Katolik yang Memperoleh
Bimbingan Keluarga Bahagia dan 1 RO dari Kementerian Kesehatan 3) Sosialisasi dan Diseminasi Program
Kesehatan Lingkungan.
Sebagai kesimpulan, mayoritas RO intervensi sensitif TA 2022 telah memiliki capaian output tinggi dan
cenderung meningkat dari kinerja capaian output pada TA 2021. Kinerja capaian output yang tinggi
tersebut diharapkan dapat mendukung capaian indikator hasil yang tinggi. Sub bab selanjutnya akan
menjelaskan mengenai relevansi RO mendukung indikator hasil Perpres 72/2021 dan lebih lanjut, kinerja
konvergensi dan capaian RO-RO intervensi sensitif pada sasaran prioritas akan disampaikan pada sub bab
kinerja konvergensi sasaran.
4.2.2 Dukungan Indikator Perpres 72/2021
Pada sub bab ini, analisis dilakukan untuk mengidentifikasi dukungan RO intervensi sensitif tagging
tematik stunting TA 2022 terhadap capaian indikator Perpres 72/2021. Berdasarkan hasil analisis,
terdapat total 26 RO intervensi sensitif TA 2022 mendukung capaian hasil 11 (sebelas) indikator sensitif
Perpres 72/2021 dan 1 (satu) indikator pilar terkait bimbingan perkawinan dalam Perpres 72/2021,
terdiri dari 21 RO mendukung capaian indikator sensitif Perpres 72/2021 dan 5 RO mendukung capaian
indikator pilar Perpres 72/2021. RO mendukung capaian indikator Perpres 72/2021 tersebut didukung
oleh 5 K/L yaitu BKKBN, Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama Kementerian Sosial dan
Kementerian PUPR.
Dari total 39 RO intervensi sensitif tagging stunting TA 2022, terdapat total 26 RO (66,7 persen) yang
teridentifikasi relevan mendukung indikator Perpres 72/2021, terdiri dari 21 RO berkontribusi pada
capaian 11 (sebelas) indikator sensitif dan 5 RO berkontribusi pada capaian 1 (satu) indikator pilar
terkait bimbingan perkawinan dalam Perpres 72/2021. Hal tersebut menunjukkan bahwa mayoritas RO
intervensi sensitif yang dilakukan penandaan tematik stunting telah sejalan dan berkontribusi langsung
pada capaian indikator Perpres 72/2021. Grafik di bawah juga menunjukkan bahwa, total pagu revisi pada
level analisis lanjutan dari 26 RO intervensi sensitif yang relevan mendukung capaian indikator Perpres
72/2021 sebesar Rp24.[Link] atau 98,5 persen dari total pagu revisi analisis lanjutan
intervensi sensitif.
Grafik 25. Jumlah RO Intervensi Sensitif TA 2022 Relevan Mendukung Indikator Perpres 72/2021
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 101
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
26 RO
66,7%
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Grafik 26. Pagu Revisi Analisis Lanjutan 26 RO Intervensi Sensitif Mendukung Indikator Perpres 72/2021
24,6T
98,5%
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Berdasarkan analisis kinerja, dari total 26 RO intervensi sensitif tagging tematik stunting TA 2022
mendukung capaian indikator Perpres 72/2021, mayoritas 22 RO (84 persen) memiliki capaian output
tinggi di atas 90 persen, diikuti dengan 2 RO memiliki capaian output cukup tinggi (70 -90 persen), dan 2
RO tidak diketahui data capaian. 2 RO tidak melaporkan data capaian tersebut merupakan 2 RO terkait
bimbingan perkawinan pada keluarga Katolik dan Hindu.
Capaian output intervensi sensitif mendukung indikator Perpres 72/2021 yang mayoritas memiliki capaian
tinggi tersebut diharapkan dapat berdampak langsung pada tujuan intervensi sensitif yaitu terkait
perbaikan pola asuh, akses pelayanan kesehatan, akses pangan bergizi dan akses air bersih dan sanitasi
layak, dan secara tidak langsung berkontribusi pada penurunan prevalensi stunting sesuai dengan target
RPJMN 14 persen pada 2024.
Grafik 27. Capaian Output 26 RO Intervensi Sensitif TA 2022 Mendukung Indikator Perpres 72/2021
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 102
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
N/A; 2; 8%
70% -
90%; 2;
8%
> 90%; 22;
84%
> 90% 70% - 90% 50% - 70% < 50% N/A
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Selanjutnya penilaian pada level outcome atau hasil, dilakukan untuk memantau capaian indikator dan
mengidentifikasi gap capaian indikator sensitif terhadap target pada Perpres 72/2021. Tabel berikut
menunjukkan hasil capaian 11 (sebelas) indikator sensitif pada lampiran Perpres 72/2021, dengan K/L
penanggung jawab Kementerian Kesehatan, BKKBN, Kementerian Sosial dan Kementerian PUPR.
Berdasarkan dari hasil analisis capaian tahun 2022, mayoritas 8 (delapan) indikator sensitif Perpres
72/2021 telah mencapai target pada tahun 2022 dan 3 (tiga) indikator belum memenuhi target capaian,
dijelaskan lebih lanjut pada tabel berikut.
Tabel 22. Capaian Hasil Indikator Sensitif Perpres 72/2021
2022 2024
No Indikator (satuan) Jumlah RO 2
Target Capaian Target
Dukungan
1 Persentase pelayanan Keluarga Berencana (KB) pasca 1 50% 52,6% 70%
persalinan (%)
2 Persentase kehamilan yang tidak diinginkan (%) 0 16,5% 11% 15,5%
3 Cakupan calon pasangan usia subur (PUS) yang 0 60% 75,5% 90%
memperoleh pemeriksaan kesehatan sebagai bagian
dari pelayanan nikah (pasangan)
4 Persentase rumah tangga yang mendapatkan akses air 1 95,9% 93% 100%
minum layak di kabupaten/kota lokasi prioritas (%)
21 RO dapat mendukung lebih dari 1 indikator, sehingga Jumlah RO dukungan pada tabel dapat melebihi dari 26 RO intervensi
sensitif mendukung indikator Perpres 72/2021
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 103
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
2022 2024
No Indikator (satuan) Jumlah RO 2
Target Capaian Target
Dukungan
5 Persentase rumah tangga yang mendapatkan akses 1 82,1% 79,1% 90%
sanitasi (air limbah domestik) layak di kabupaten/kota
lokasi prioritas (%)
6 Cakupan Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan 1 96,8 96,67 112,9
Kesehatan Nasional dari 40% penduduk berpendapatan juta juta juta
terendah (juta penduduk)
7 Cakupan keluarga berisiko Stunting yang memperoleh 4 30% 42,7% 90%
pendampingan (%)
8 Jumlah keluarga miskin dan rentan yang memperoleh 2 10juta 10juta 10juta
bantuan tunai bersyarat (juta penduduk)
9 Persentase target sasaran yang memiliki pemahaman 8 70% 74% 70%
yang baik tentang Stunting di lokasi prioritas (%)
10 Jumlah keluarga miskin dan rentan yang menerima 1 18,8 18,8 juta 15,6
bantuan sosial pangan (juta jiwa) juta juta
11 Persentase desa/kelurahan stop Buang Air Besar 6 50,6% 57% 90%
Sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF)
(%)
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, Laporan PPS 2022
Pada indikator sensitif 1 pelayanan keluarga berencana (KB) pasca persalinan didukung oleh 1 (sembilan)
RO dari BKKBN yaitu Pelaksanaan layanan Audit Stunting, Manajemen Kasus Stunting Kab/Kota, dan
koordinasi Intensifikasi pelayanan KB di faskes. Capaian output 1 RO dukungan tersebut yaitu 508 layanan,
dengan sasaran pada level pengampu program di kabupaten/kota. Hasil capaian hasil indikator sensitif 1
persentase pelayanan KB pasca persalinan menunjukkan capaian 52,6 persen, telah memenuhi dari target
50 persen pada tahun 2022.
Pada indikator sensitif 2 kehamilan tidak diinginkan dan indikator sensitif 3 calon pasangan usia subur
(PUS) yang memperoleh pemeriksaan kesehatan, tidak memiliki RO dukungan berasal dari belanja K/L,
namun kedua indikator tersebut didukung melalui sumber dana DAK Non Fisik Bidang Kesehatan dan KB.
Hasil capaian indikator sensitif 2 persentase kehamilan tidak diinginkan menunjukkan capaian 11 persen,
memenuhi target 16,5 persen pada tahun 2022. Sedangkan hasil capaian indikator sensitif 3 cakupan
calon pasangan usia subur memperoleh pemeriksaan kesehatan memiliki capaian sebesar 75,5 persen,
memenuhi target 60 persen pada tahun 2022.
Pada indikator sensitif 4 rumah tangga mendapatkan akses air minum layak di kabupaten/kota lokasi
prioritas didukung oleh 1 (satu) RO dari Kementerian PUPR yaitu RO Infrastruktur Air Minum Berbasis
Masyarakat, dengan capaian output 1.793 desa pada level output dan 441 desa pada level analisis lanjutan,
dengan sasaran kelompok masyarakat. Hingga saat ini, hasil capaian output RO infrastruktur air minum
masih menggunakan satuan desa, berbeda dengan satuan rumah tangga dalam indikator Perpres. Selain
dari sumber dana belanja K/L, penyediaan akses air minum layak juga didukung oleh dana DAK Fisik Air
Sanitasi. Hasil capaian indikator sensitif 4 rumah tangga mendapatkan akses air minum layak di
kabupaten/kota lokasi prioritas menunjukkan capaian yang tinggi yaitu 93 persen, namun belum
memenuhi target 95,9 persen pada tahun 2022.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 104
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Pada indikator sensitif 5 rumah tangga yang mendapatkan akses sanitasi layak di kabupaten/kota lokasi
prioritas didukung oleh 1 (satu) RO dari Kementerian PUPR yaitu RO Sistem Pengelolaan Air Limbah
Domestik atau dikenal dengan Program Sanimas. Capaian output program Sanimas pada tahun 2022 yaitu
sebesar 47.539 KK dan sasaran pada sasaran prioritas ibu hamil, balita dan keluarga dengan balita dan
sasaran lainnya yaitu masyarakat berpenghasilan rendah yang belum memiliki akses sanitasi layak. Untuk
penerima manfaat program Sanimas tahun 2022 juga telah mencantumkan data penerima manfaat pada
sasaran prioritas yaitu sebanyak 674 ibu hamil dan 17.888 keluarga dengan balita (15.713 balita dan 2.175
baduta). Hasil capaian indikator sensitif 5 rumah tangga mendapatkan akses sanitasi layak juga telah
menunjukkan capaian yang tinggi yaitu 79,1 persen, namun belum memenuhi dari target 82,1 persen
pada tahun 2022.
Pada indikator sensitif 6 penerima bantuan iuran (PBI) jaminan kesehatan nasional dari 40 persen
penduduk berpendapatan terendah didukung oleh 1 (satu) RO dari Kementerian Kesehatan yaitu RO
Cakupan penduduk yang menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI) dalam JKN/KIS, dengan sasaran fakir
miskin dan orang tidak mampu yang telah ditetapkan melalui SK Menteri Sosial tentang penetapan PBI
JKN. Capaian output PBI JKN pada tahun 2022 yaitu sebanyak 96.672.906 orang penerima manfaat.
Sedangkan hasil capaian indikator sensitif penerima PBI JKN menunjukkan capaian yang tinggi yaitu 96,67
juta jiwa, namun belum memenuhi target 96,8 juta jiwa.
Pada indikator sensitif 7 keluarga berisiko stunting yang memperoleh pendampingan didukung oleh 4
(empat) RO melalui belanja K/L dari BKKBN yaitu terkait Keluarga dengan baduta yang mendapatkan
fasilitasi dan pembinaan 1000 HPK dan pemberdayaan kampung KB dalam rangka penurunan stunting,
dengan sasaran pada sasaran prioritas keluarga dengan balita. Pada tahun 2022, tidak ada dukungan dari
belanja K/L yang secara khusus menarget pada keluarga berisiko stunting, namun dukungan
pendampingan pada keluarga berisiko stunting dilakukan melalui sumber dana DAK Non Fisik Bidang KB
(BO KB) melalui menu operasional TPK. Pendampingan keluarga berisiko stunting dilaksanakan oleh TPK
terdiri dari bidan, kader KB dan kader TP-PKK, dengan sasaran pada ibu hamil berisiko, ibu pascasalin
berisiko dan calon pengantin berisiko. Hasil capaian indikator sensitif 7 keluarga berisiko stunting
memperoleh pendampingan menunjukkan capaian 42,7 persen, memenuhi target 30 persen pada tahun
2022. Namun hasil capaian tersebut masih jauh dibandingkan dengan target dalam Perpres 72/2021 yaitu
90 persen pada tahun 2024, sehingga peningkatan upaya dalam memenuhi capaian pendampingan
keluarga berisiko stunting masih diperlukan.
Pada indikator sensitif 8 keluarga miskin dan rentan memperoleh bantuan tunai bersyarat didukung oleh
2 (dua) RO dari Kementerian Sosial yaitu 1) Keluarga Yang Mendapat Bantuan Sosial Bersyarat dan 2)
Keluarga Yang Mendapat Bantuan Sosial Bersyarat (PEN) melalui Program Keluarga Harapan. Program PKH
tersebut memiliki sasaran pada keluarga miskin yang memiliki ibu hamil, anak usia dini, anak usia sekolah,
lansia dan penyandang disabilitas. Hasil capaian output RO tersebut pada tahun 2022 sebanyak 10 juta
keluarga penerima manfaat. Kementerian sosial juga telah melaporkan capaian penerima manfaat
program PKH pada sasaran prioritas tahun 2022 yaitu sebanyak 2.389 ibu hamil dan 2.445.152 balita. Hasil
capaian indikator sensitif 8 menunjukkan capaian yang tinggi yaitu 10 juta keluarga dan telah memenuhi
target 10 juta keluarga pada tahun 2022.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 105
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Pada indikator sensitif 9 target sasaran yang memiliki pemahaman yang baik tentang stunting di lokasi
prioritas didukung oleh 8 (delapan) RO dari Kementerian Kesehatan yaitu 3 RO terkait Penugasan khusus
tenaga kesehatan program Nusantara Sehat, dan 5 RO dari promosi kesehatan yaitu Penerapan
komunikasi antar pribadi (KAP), produksi dan penyebarluasan informasi kesehatan germas dan stunting,
kampanye posyandu aktif, revitalisasi posyandu dan orientasi pengelola posyandu. Hasil capaian indikator
sensitif 9 menunjukkan capaian 74 persen, telah memenuhi dari target 70 persen pada tahun 2022.
Pada indikator sensitif 10 keluarga miskin dan rentan menerima bantuan sosial pangan didukung oleh 1
(satu) RO dari Kementerian Sosial yaitu KPM Yang Memperoleh Bantuan Sosial Pangan Sembako (PEN),
dengan capaian output tahun 2022 sebanyak 18,8 juta keluarga mendapatkan bantuan sosial pangan
sembako. Program bantuan sosial pangan sembako memiliki sasaran pada keluarga miskin dan rentan
berdasarkan data DTKS. Pada tahun 2022, penerima manfaat bantuan sosial pangan sembako, termasuk
dalam sasaran prioritas yaitu sebanyak 758 ibu hamil dan 2.052.648 balita. Hasil capaian indikator sensitif
10 keluarga miskin dan rentan menerima bantuan sosial pangan sembako sebanyak 18,8 juta keluarga,
dan telah memenuhi target tahun 2022.
Pada indikator sensitif 11 desa/kelurahan stop buang air besar sembarangan (BABS) atau Open
Defecation Free (ODF) didukung oleh 6 (enam) RO dari Kementerian Kesehatan yaitu 1) Kebijakan Analisa
Dampak Program Kesehatan Lingkungan, 2) Koordinasi Advokasi Program Kesehatan Lingkungan, 3)
Konferensi dan Event Pelaksanaan Peningkatan Lingkungan Sehat, 4) NSPK Kesehatan Lingkungan, 5)
Peningkatan Kualitas Kesehatan Lingkungan, dan 6) Kab/kota yang dibina dalam pemenuhan kualitas
kesehatan lingkungan, dengan capaian output tahun 2022 secara berurutan berupa 4 rekomendasi
kebijakan, 35 kegiatan, 4 kegiatan, 24 NSPK, 463 kelompok masyarakat, dan 514 daerah provinsi/kab/kota.
Seluruh RO dukungan indikator sensitif 11 tersebut masih memiliki sasaran pada level pengampu program
di kabupaten/kota dan sasaran kelompok masyarakat. Hasil capaian indikator sensitif 11 tersebut
menunjukkan capaian 57 persen, dan telah memenuhi target 50,6 persen pada tahun 2022. Namun jika
dibandingkan dengan target dalam Perpres 72/2021 yaitu 90 persen pada tahun 2024, capaian tahun 2022
masih cukup jauh dari target, sehingga masih diperlukan upaya percepatan dalam meningkatkan capaian
desa/kelurahan stop buang air besar sembarangan (BABS) atau open defecation free (ODF) tersebut.
Sebagai kesimpulan, mayoritas RO intervensi sensitif tagging tematik stunting TA 2022 telah sejalan
mendukung Indikator Sensitif Perpres 72/2021, dengan mayoritas indikator sensitif telah mencapai
target. Selain dari RO sumber dana belanja K/L, capaian hasil indikator Perpres 72/2021 juga didukung
oleh sumber dana DAK Fisik, DAK Non Fisik, APBD, dan Dana Desa. Selain itu, kebijakan pada level
kabupaten/kota, program inovasi daerah, serta nilai dan budaya kearifan lokal juga berpengaruh pada
perubahan perilaku masyarakat mungkin juga berkontribusi pada variasi capaian indikator hasil pada
masing-masing kabupaten/kota.
4.2.3 Kinerja Konvergensi Intervensi Sensitif
Konvergensi didefinisikan sebagai sebuah pendekatan intervensi yang dilakukan secara terkoordinir,
terpadu dan bersama-sama pada target sasaran wilayah geografis dan rumah tangga prioritas untuk
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 106
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
mencegah stunting. Penyelenggaraan intervensi secara konvergen dilakukan dengan menggabungkan
atau mengintegrasikan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan bersama. Penilaian kinerja
konvergensi intervensi sensitif bertujuan untuk mengidentifikasi pelaksanaan intervensi pada
kabupaten/kota lokus tahun 2022, pelaksanaan intervensi pada sasaran prioritas ibu hamil dan baduta
dan pelaksanaan koordinasi pelibatan lintas sektor dengan K/L lain, pemerintah daerah dan non
pemerintah. Sebagai upaya dalam percepatan penurunan stunting dengan target sebesar 14 persen tahun
2024, maka diperlukan konvergensi pada intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif yang
dilaksanakan secara konvergen, tepat sasaran, dan berkelanjutan terutama pada sasaran prioritas.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Intervensi sensitif merupakan intervensi yang bersifat kontributif
menyasar penyebab tidak langsung stunting, yaitu dengan peningkatan pada 1) penyediaan air bersih
dan sanitasi layak, 2) peningkatan akses dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan, 3) peningkatan
kesadaran, komitmen, dan praktik pengasuhan dan gizi ibu dan anak, dan 4) peningkatan akses pangan
bergizi.
Sasaran pada intervensi sensitif Program Percepatan Penurunan Stunting, dapat dikelompokkan menjadi:
a. Sasaran prioritas: Ibu hamil, baduta (anak usia 0-23 bulan), balita (anak usia 0-59 bulan), keluarga
memiliki baduta dan balita
b. Sasaran penting: remaja putri, calon pengantin, wanita usia subur
c. Sasaran lainnya: keluarga miskin dan rentan, keluarga berisiko stunting, masyarakat umum, lembaga
PAUD, kelompok tani, kader, komunitas, dan pengelola program tingkat provinsi/kabupaten/kota
Salah satu yang perlu menjadi pertimbangan dalam penilaian kinerja pembangunan pada intervensi
sensitif yaitu bahwa intervensi sensitif bersifat kontributif, bukan merupakan intervensi khusus
penurunan stunting, dan berdampak secara tidak langsung pada pencegahan stunting, sehingga RO
intervensi sensitif memiliki desain program yang tidak menyasar langsung pada sasaran prioritas, serta
kontribusi anggaran dan capaian output intervensi sensitif tersebut dihitung berdasarkan pembobotan
yang telah disepakati sebelumnya.
Pada tahun 2022, dari total 39 RO intervensi sensitif tagging tematik stunting, terdapat 21 RO
teridentifikasi memiliki sasaran pada sasaran prioritas, ibu hamil, anak usia 0-23 bulan, anak usia 0-59
bulan dan keluarga memiliki baduta/balita, dan sasaran remaja putri, calon pengantin dan wanita usia
subur, sebagai mana terlihat pada tabel di bawah ini.
Sedangkan RO lainnya memiliki sasaran pada sasaran lainnya, terdiri dari masyarakat miskin dan rentan,
tenaga kesehatan, kader, Pokjanal, TP PKK, aparat desa, lembaga PAUD, kelompok tani, dan pelaksana
program level kabupaten/kota.
Tabel 23. Rincian Output Intervensi Sensitif Sasaran Ibu Hamil, Balita, Remaja Putri, Calon pengantin dan
Wanita Usia Subur TA 2022
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 107
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Sasaran Remaja Calon Wanita
Sasaran
Sasaran Sasaran Keluarga Putri Pengantin Usia
No K/L Rincian Output Ibu
Baduta Balita dengan Subur
Hamil
Balita
1 Kemenkes Produksi dan Ya - - - - - -
Penyebarluasan Informasi
Kesehatan Germas dan
Stunting Melalui Berbagai
Media
2 Kemenkes Cakupan penduduk Yang Ya Ya Ya - - - -
menjadi Penerima Bantuan
Iuran (PBI) dalam JKN/KIS
3 BKKBN Keluarga dengan 1000 HPK - Ya - Ya - - -
yang mendapatkan
fasilitasi dan pembinaan
1000HPK
4 BKKBN Keluarga dengan 1000 HPK - Ya - Ya - - -
yang mendapatkan
fasilitasi dan pembinaan
1000HPK (Pro PN DKI
Jakarta)
5 BKKBN Pemberdayaan kampung Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya
KB dalam rangka
penurunan stunting
6 BKKBN Pemberdayaan kampung Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya
KB dalam rangka
penurunan stunting (Pro
PN DKI Jakarta)
7 BKKBN PIK Remaja dan BKR Yang - - - - Ya Ya Ya
mendapat fasilitasi dan
pembinaan Edukasi Kespro
dan Gizi bagi Remaja Putri
sebagai Calon Ibu
8 BKKBN PIK Remaja dan BKR Yang - - - - Ya Ya Ya
mendapat fasilitasi dan
pembinaan Edukasi Kespro
dan Gizi bagi Remaja Putri
sebagai Calon Ibu (Pro PN
DKI Jakarta)
9 Kementan Kawasan Padi Kaya Gizi Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya
(biofortifikasi)
10 KKP Kampanye gemarikan Ya Ya Ya Ya Ya - Ya
11 KKP Kampanye gemarikan Ya Ya Ya Ya Ya - Ya
(dekonsentrasi)
12 BPOM Desa pangan aman Ya - - Ya Ya - Ya
13 Kemensos Keluarga yang mendapat Ya - - Ya - - -
bantuan sosial bersyarat
14 Kemensos Keluarga yang mendapat Ya - - Ya - - -
bantuan sosial bersyarat
(PEN)
15 Kemensos KPM yang memperoleh Ya Ya Ya - - - -
Bantuan Sosial Pangan
Sembako
16 KemenPUPR Sistem Pengelolaan Air Ya Ya Ya Ya - - -
Limbah Domestik Setempat
Skala Individu
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 108
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Sasaran Remaja Calon Wanita
Sasaran
Sasaran Sasaran Keluarga Putri Pengantin Usia
No K/L Rincian Output Ibu
Baduta Balita dengan Subur
Hamil
Balita
17 Kemenag Keluarga Islam Yang - - - - Ya Ya Ya
Memperoleh Bimbingan
Perkawinan dan Keluarga
Sakinah
18 Kemenag Bimbingan Keluarga Hitta - - - - - Ya Ya
SukkhaYa
19 Kemenag Keluarga Katolik Yang - - - - - Ya Ya
Memperoleh Bimbingan
Keluarga Bahagia
20 Kemenag Bimbingan Keluarga - - - - - Ya Ya
Kristiani
21 Kemenag Bimbingan Perkawinan - - - - - Ya Ya
Hindu
Jumlah RO 12 10 8 11 9 10 13
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Sebagai catatan, bahwa intervensi sensitif tagging tematik stunting merupakan intervensi yang bersifat
kontributif dan bukan merupakan program yang didesain langsung untuk penurunan stunting, sehingga
pada beberapa program seperti 1) PBI JKN, 2) program bantuan sosial sembako, 3) bantuan sosial
bersyarat (program keluarga harapan), dan 4) sistem pengelolaan domestik setempat skala individu
(SPALD-S) merupakan program yang memiliki sasaran pada masyarakat miskin dan rentan dan/atau
masyarakat yang tidak memiliki akses sanitasi layak, namun juga memungkinkan menyasar pada sasaran
prioritas seperti ibu hamil dan balita. Namun hingga saat ini, terdapat kendala ketersediaan data sehingga
pada beberapa RO belum dapat diidentifikasi proporsi sasaran prioritas ibu hamil dan balita terhadap total
jumlah penerima manfaat program.
Penguatan implementasi dan konvergensi intervensi spesifik dan intervensi sensitif pada sasaran prioritas
sangat diperlukan sebagai upaya percepatan penurunan stunting terintegrasi. Selain itu, juga diperlukan
RO-RO yang berkelanjutan pada tahun berikutnya, untuk memastikan progres kegiatan mencapai hasil
yang diharapkan. Selanjutnya, perkembangan capaian output dan kesinambungan RO intervensi sensitif
pada sasaran prioritas ibu hamil dan balita selama periode tahun 2021 hingga 2022, dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.
Tabel 24. Perkembangan Capaian Output Analisis Lanjutan Intervensi Sensitif Sasaran Ibu Hamil dan
balita TA 2021-2022
No Intervensi Rincian Output Capaian Rincian Output Capaian Perkembangan
(K/L) 2021 Output/ 2022 Output
Lokasi /Lokasi
1 Penyebarluasan Promosi Peningkatan 1 promosi, Produksi dan 1 promosi, Tetap
informasi Literasi Pencegahan 514 kab/kota Penyebarluasan 34 provinsi
mengenai gizi dan Stunting melalui Informasi Kesehatan
kesehatan melalui berbagai media Germas dan
berbagai media Stunting Melalui
(Kemenkes) Berbagai Media
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 109
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
No Intervensi Rincian Output Capaian Rincian Output Capaian Perkembangan
(K/L) 2021 Output/ 2022 Output
Lokasi /Lokasi
Kelompok Masyarakat 200 N/A
yang Diberdayakan kelompok
dalam Pencegahan masyarakat,
Stunting 34 provinsi
2 Penyediaan akses Cakupan penduduk 96.800.000 Cakupan penduduk 96.672.906 Menurun
PBI Jaminan yang menjadi orang yang menjadi orang,
Kesehatan Penerima Bantuan 8.131.200 Penerima Bantuan 8.121.524
Nasional Iuran (PBI) dalam (bobot 12%) Iuran (PBI) dalam (bobot 12%)
(Kemenkes) JKN/KIS 514 kab/kota JKN/KIS 514 kab/kota
3 Fasilitasi dan Keluarga dengan 3.893.635 Keluarga dengan 8.017.931 Meningkat
pembinaan 1000 baduta yang keluarga, 1000 HPK yang keluarga,
HPK (Program mendapatkan fasilitasi 360 kab/kota mendapatkan 508 kab/kota
Bina Keluarga dan pembinaan 1000 fasilitasi dan
Balita) HPK pembinaan
(BKKBN) 1000HPK
Keluarga dengan 96.839
1000 HPK yang keluarga,
mendapatkan 6 kab/kota
fasilitasi dan
pembinaan
1000HPK (Pro PN
DKI Jakarta)
4 Kampung - - Pemberdayaan 503 daerah,
Keluarga kampung KB dalam 508 kab/kota
Berkualitas rangka penurunan
(BKKBN) stunting
Pemberdayaan 6 daerah,
kampung KB dalam 6 kab/kota
rangka penurunan
stunting (Pro PN DKI
Jakarta)
5 Padi Biofortifikasi Kawasan Padi Kaya 32.778 Kawasan Padi Kaya 15.345 hektar, Menurun
(Kementan) Gizi (biofortifikasi) hektar, Gizi (biofortifikasi) 121 kab/kota
88 kab/kota
6 Gemarikan Kampanye Gerakan 120 promosi, Kampanye 130 promosi, Meningkat
(KKP) Memasyarakatan 60 kab/kota gemarikan 76 kab/kota
Makan Ikan
(Gemarikan)
Kampanye 34 promosi,
gemarikan 34 provinsi
(dekonsentrasi)
7 Desa Pangan Desa pangan aman 354 layanan, Desa pangan aman 648 desa, Meningkat
Aman 97 kab/kota 86 kab/kota
(BPOM)
8 Program Keluarga Keluarga Yang 10juta KPM Keluarga yang 10juta KPM, Tetap
Harapan (PKH) Mendapat Bantuan 3.083.074 mendapat bantuan 2.099.271
(Kemensos) Sosial Bersyarat keluarga sosial bersyarat (bobot 30,8%)
(bobot 514 kab/kota
30,8%)
514 kab/kota
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 110
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
No Intervensi Rincian Output Capaian Rincian Output Capaian Perkembangan
(K/L) 2021 Output/ 2022 Output
Lokasi /Lokasi
Keluarga yang 10juta KPM,
mendapat bantuan 2.099.271
sosial bersyarat (bobot 30,8%)
(PEN) 514 kab/kota
9 Bantuan Sosial KPM Yang 7.580.525 KPM Yang 18,8 juta KPM, Meningkat
Pangan Sembako Memperoleh Bantuan KPM, Memperoleh 1.973.653
(Kemensos) Sosial Pangan 181 kab/kota Bantuan Sosial keluarga
Sembako Pada Pangan Sembako (pembobotan)
Direktorat (PEN) 514 kab/kota
Penanganan Fakir
Miskin Wilayah I
'KPM Yang 6.106.151
Memperoleh Bantuan KPM,
Sosial Pangan 151 kab/kota
Sembako Pada
Direktorat
Penanganan Fakir
Miskin Wilayah II
'KPM Yang 4.832.915
Memperoleh Bantuan KPM,
Sosial Pangan 182 kab/kota
Sembako Pada
Direktorat
Penanganan Fakir
Miskin Wilayah III
10 Penyediaan akses Sistem Pengelolaan 71.242 KK, Sistem Pengelolaan 47.539 KK, 135 Menurun
sanitasi layak Air Limbah Domestik 138 kab/kota Air Limbah kab/kota
(Program Sanimas Setempat Skala Domestik Setempat
SPALD-S) Individu Skala Individu
(Kemen PUPR)
Tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas RO intervensi sensitif sasaran prioritas tersebut sudah
dilaksanakan secara berkelanjutan, meskipun terdapat RO TA 2021 tidak berlanjut seperti Kelompok
Masyarakat yang Diberdayakan dalam Pencegahan Stunting merupakan program promosi kesehatan
melalui swakelola dengan organisasi masyarakat dan perguruan tinggi, serta terdapat RO baru pada tahun
2022 seperti Pemberdayaan Kampung Keluarga Berkualitas. Berdasarkan perkembangan capaian output,
RO yang mengalami peningkatan capaian output terdiri dari: 1) Keluarga dengan 1000 HPK yang
mendapatkan fasilitasi dan pembinaan 1000HPK, 2) Kampanye gemarikan, 3) Desa pangan aman, dan 4)
KPM mendapat bantuan sosial pangan sembako. Sedangkan RO yang mengalami penurunan capaian
output terdiri dari: 1) Kawasan padi kaya gizi (biofortifikasi) dan 2) Sistem Pengelolaan Air Limbah
Domestik Setempat Skala Individu. RO lain yang berpotensi juga menyasar pada sasaran prioritas namun
belum dapat diidentifikasi yaitu RO Infrastruktur air minum berbasis masyarakat dari Kementerian PUPR
berupa pembangunan SPAM Pedesaan (Program Pamsimas).
Selanjutnya, kinerja konvergensi lokasi mengidentifikasi RO intervensi sensitif tagging stunting TA 2022
dengan cakupan pelaksanaan pada level pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Pada tahun 2022,
berdasarkan SK Menteri PPN/ Kepala Bappenas Nomor Kep.10/[Link]/HK/02/2021, kabupaten/kota
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 111
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
lokus untuk percepatan penurunan stunting telah diperluas menjadi seluruh 514 kabupaten/kota di
Indonesia, dengan percepatan pada kabupaten/kota di 12 Provinsi Prioritas, yaitu Aceh, Sumatera Utara,
Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat dan
Sulawesi Tenggara. Dari total 39 RO intervensi sensitif ter-tagging tematik stunting 2022, mayoritas 29
RO dilaksanakan pada level kabupaten/kota, 1 RO dilaksanakan di level pusat, dan 16 RO dilaksanakan
pada level pelaksana program tingkat provinsi.
Grafik 28. Konvergensi Lokasi Intervensi Sensitif RO di 514 Kab/Kota Lokus Stunting, TA 2022
1 RO di tingkat
nasional
5 RO di tingkat
provinsi
39 RO
4 RO tidak diketahui
data
16 RO seluruh 246
16 RO di 514
kab/kota di 12
kab/kota lokus
provinsi prioritas
29 RO di tingkat
kab/kota
13 RO sebagian <246
13 RO di <514
kab/kota di 12
kab/kota lokus
provinsi prioritas
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L 2022 per 15 Februari 2023 (Diolah)
Dari total RO yang pelaksanaan pada level kab/kota, terdapat 16 (enam belas) RO intervensi sensitif yang
dilaksanakan di 514 kabupaten/kota, yang juga menyasar pada 246 kabupaten/kota di 12 provinsi
prioritas, yaitu:
1. Kebijakan Analisa Dampak Program Kesehatan Lingkungan
2. Koordinasi Advokasi Program Kesehatan Lingkungan
3. Konferensi dan Event Pelaksanaan Peningkatan Lingkungan Sehat
4. NSPK Kesehatan Lingkungan
5. Peningkatan Kualitas Kesehatan Lingkungan
6. Kab/kota Yang dibina dalam pemenuhan kualitas kesehatan lingkungan
7. Cakupan penduduk Yang menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI) dalam JKN/KIS
8. Keluarga dengan Baduta Yang mendapatkan fasilitasi dan pembinaan 1000 HPK (Pro PN Provinsi
DKI Jakarta)
9. Keluarga dengan baduta Yang mendapatkan fasilitasi dan pembinaan 1000 HPK
10. Pemberdayaan kampung KB dalam rangka penurunan stunting
11. Pemberdayaan kampung KB dalam rangka penurunan stunting(Pro PN Provinsi DKI Jakarta)
12. PIK Remaja dan BKR Yang mendapat fasilitasi dan pembinaan Edukasi Kespro dan Gizi bagi
Remaja Putri sebagai Calon Ibu
13. PIK Remaja dan BKR Yang mendapat fasilitasi dan pembinaan Edukasi Kespro dan Gizi bagi
Remaja Putri sebagai Calon Ibu (Pro PN Provinsi DKI Jakarta)
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 112
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
14. Keluarga Yang Mendapat Bantuan Sosial Bersyarat
15. Keluarga Yang Mendapat Bantuan Sosial Bersyarat (PEN)
16. KPM Yang Memperoleh Bantuan Sosial Pangan Sembako
Sebagai kesimpulan, mayoritas RO intervensi sensitif tagging tematik stunting TA 2022 telah
dilaksanakan pada seluruh 514 kabupaten/kota lokus stunting. Selain itu, Sebagai catatan, bahwa
kabupaten/kota lokus stunting pada tahun 2022 mencakup 514 kabupaten/kota, sehingga pelaksanaan
konvergensi pada seluruh kabupaten/kota dapat terkendala keterbatasan alokasi anggaran pada masing-
masing Kementerian/Lembaga.
Analisis selanjutnya yaitu kinerja konvergensi koordinasi yang dengan tujuan memetakan koordinasi
lintas sektor pada RO ter-tagging tematik stunting tahun 2022, terbagi dalam koordinasi dengan
kementerian/lembaga lain, koordinasi dengan pemerintah daerah, dan koordinasi dengan sektor non
pemerintah. Koordinasi berperan penting dalam meningkatkan efektivitas penurunan stunting melalui
sinkronisasi, penyerasian, dan pemaduan berbagai kegiatan prioritas penurunan stunting beserta peran
masing-masing pihak. Penguatan koordinasi perlu dilakukan multipihak, seperti antar
kementerian/lembaga, pemerintah pusat dan daerah, serta lembaga non pemerintah (a.l. dunia usaha,
akademisi, organisasi masyarakat madani, mitra pembangunan, dan media). Analisis kinerja konvergensi
koordinasi memetakan koordinasi lintas sektor pada RO ter-tagging tematik stunting tahun 2022, terbagi
dalam koordinasi dengan kementerian/lembaga lain, koordinasi dengan pemerintah daerah, dan
koordinasi dengan sektor non pemerintah.
Grafik 29. Konvergensi Koordinasi Intervensi Sensitif, TA 2022
K/L lain:
23
Pemda: Non Pemerintah:
2 RO 1 1 RO
Tidak ada data: 4 RO
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Grafik di atas menunjukkan mayoritas 23 RO intervensi sensitif tagging tematik stunting TA 2022 telah
dilaksanakan dengan melibatkan koordinasi lintas sektor antara Kementerian/Lembaga lain,
pemerintah daerah dan lembaga non pemerintah. 8 RO dilaksanakan melibatkan K/L lain dan pemerintah
daerah, 1 RO dilaksanakan melibatkan pemerintah daerah dan non pemerintah, 2 RO dilaksanakan
melibatkan pemerintah daerah saja, dan 1 RO dilaksanakan melibatkan non pemerintah saja.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 113
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Pada RO-RO intervensi sensitif, koordinasi lintas K/L dilaksanakan dengan melibatkan K/L lain seperti
Kementerian PUPR, Bappenas, Kementerian Dalam Negeri, Kemendesa PDTT, Kementerian Keuangan,
Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, BKKBN, Kementerian Pariwisata, Kementerian Perdagangan,
KLHK, dan Kementerian Perhubungan. Koordinasi dengan pemerintah daerah melibatkan dinas
kesehatan, pemerintah provinsi dan pemerintah desa. Sedangkan koordinasi dengan lembaga non
pemerintah melibatkan kelompok masyarakat, asosiasi profesi, pelaku usaha, Himbara dan PT POS.
4.3 Analisis Kinerja Pembangunan Intervensi Dukungan
Intervensi dukungan program percepatan penurunan stunting didefinisikan sebagai intervensi
pendampingan, koordinasi dan dukungan teknis bertujuan sebagai enabling environment
terlaksananya intervensi spesifik dan sensitif secara terintegrasi.
Sub bab Kinerja Pembangunan Intervensi Dukungan selanjutnya akan membahas mengenai:
1. Kinerja Output Intervensi Dukungan
2. Dukungan RO Pada Capaian Hasil Indikator Perpres 72/2021
3. Kinerja Konvergensi Lokasi, Sasaran dan Koordinasi
Unit analisis pada penilaian kinerja pembangunan intervensi dukungan yaitu pada 56 RO intervensi
dukungan ter-tagging tematik stunting TA 2022. Intervensi Dukungan Program Percepatan Penurunan
Stunting didukung oleh 12 (dua belas) Kementerian/ Lembaga, yaitu Kementerian Kesehatan,
Kementerian Sosial, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Kementerian Pendidikan
Kebudayaan Riset dan Teknologi, Kementerian Sekretariat Negara/Setwapres, Kementerian Dalam
Negeri, Kementerian Koordinator Bidang PMK, Kementerian Perencanaan Pembangunan
Nasional/Bappenas, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian
Komunikasi dan Informatika, Kementerian Desa PDTT, dan Badan Nasional Pengelola Perbatasan. Berikut
merupakan list 56 RO intervensi dukungan ter-tagging tematik stunting TA 2022.
Tabel 25. List RO Intervensi Dukungan Tagging Tematik Stunting, TA 2022
Intervensi RO K/L
Audit Kasus Stunting 1. Pelaksanaan layanan Audit Stunting, Manajemen BKKBN
Kasus Stunting Kab/Kota, dan koordinasi
Intensifikasi pelaYanan KB di faskes
Kampanye Percepatan 2. Kampanye Percepatan Penurunan Stunting tingkat BKKBN
Penurunan Stunting nasional
3. Kampanye Percepatan Penurunan Stunting tingkat
Provinsi dan kab/kota
Pendampingan Teknis 8 4. Fasilitasi Peningkatan Kinerja Kabupaten/Kota Kementerian Dalam
(delapan) Aksi Konvergensi dalam Implementasi Konvergensi Penurunan Negeri, Kemendesa
Stunting Stunting di Daerah (INEY) PDTT
5. Daerah Yang meningkat kapasitas aparaturnya
dalam penilaian kinerja penanganan stunting
6. Desa Yang Mendapatkan Penanganan Konvergensi
Stunting
7. Masyarakat Yang ditingkatkan kapasitasnYa dalam
pencegahan stunting/ INEY
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 114
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Intervensi RO K/L
Survei Status Gizi Indonesia 8. Rekomendasi kebijakan status gizi Indonesia Kementerian
Kesehatan
Diseminasi Informasi 9. Layanan Humas Percepatan Penurunan Stunting BKKBN,
Stunting tingkat Pusat Kemenkominfo
10. Layanan Humas Percepatan Penurunan Stunting
tingkat Provinsi
11. Diseminasi Informasi mengenai Stunting
Verifikasi Validasi 12. Layanan Pusat Pengendali data stunting BKKBN
Pendataan Keluarga PK-21 13. Data kasus stunting dan keluarga resiko stunting
yang terverifikasi
14. Sistem Informasi Stunting
Penyusunan Rekomendasi 15. Rekomendasi kebijakan analisis gap angka stunting Setwapres, Kemenko
Kebijakan wasting dan obesitas berdasarkan data rutin PMK, Kementerian
berbasis riset Kesehatan, Bappenas
16. Pedoman di bidang pembinaan keluarga balita dan BKKBN
anak
17. Laporan Monitoring stunting terpadu
18. Pengembangan Kebijakan Nasional dalam
mendukung upaya Percepatan Penurunan Stunting
19. Pengembangan kebijakan berdasarkan kajian atas
studi kasus stunting dan pembelajaran kegiatan
percepatan penurunan stunting
20. Pengembangan kebijakan konvergensi percepatan
penurunan stunting bagi pemerintah daerah
kab/kota
21. Rekomendasi kebijakan hasil Studi Kasus Stunting
provinsi
22. Kebijakan Percepatan Lingkup Kesehatan dan Gizi
Masyarakat
23. Rekomendasi Alternatif Kebijakan Bidang
Ketahanan Gizi dan Promosi Kesehatan
24. Hasil analisis kebijakan dalam rangka peningkatan
kapasitas kelembagaan dalam pelaksanaan strategi
percepatan pencegahan stunting
Program Mahasiswa Peduli 25. Pedoman Pembekalan Mahasiswa dan BKKBN
Stunting Pembimbing Pengabdian masyarakat (kerja sama
dengan perguruan tinggi)
Pelatihan penanggulangan 26. Pelaksanaan pelatihan penanggulangan stunting BNPP
stunting di kawasan dan gerakan masyarakat sehat di kawasan
perbatasan perbatasan
Pendidikan dan pelatihan 27. Penyelenggaraan Diklat Pendamping Program Kemensos
pendamping PKH Keluarga Harapan
Bimtek dan supervisi 28. Daerah Yang Diberikan Bimtek dan Supervisi Kementerian PPA
tentang pelaksanaan tentang Pelaksanaan Kebijakan Pengasuhan
kebijakan PHA dan Berbasis Hak Anak
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 115
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Intervensi RO K/L
pencegahan perkawinan 29. Daerah Yang Diberikan Bimtek dan Supervisi
anak tentang Pelaksanaan Kebijakan Pencegahan
Perkawinan Anak
30. Daerah Yang Diberikan Bimtek dan Supervisi
tentang Pelaksanaan Kebijakan PHA atas
Kesehatan (Stunting)
31. K/L Yang Diberikan Bimtek dan Supervisi tentang
Pelaksanaan Kebijakan PHAKP
32. K/L Yang Diberikan Bimtek dan Supervisi tentang
Pengembangan dan Penguatan Lembaga Penyedia
Layanan PHAKP Yang Ramah Anak
33. Daerah Yang diberikan Bimtek dan Supervisi dalam
Peningkatan Kapasitas PUG/PPRG Penurunan
Stunting dan AKI
Penugasan Tenaga 34. Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Secara Tim Kementerian
Kesehatan (Program 35. Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan di Papua dan Kesehatan
Nusantara Sehat) Papua Barat
36. Penugasan khusus tenaga kesehatan secara
individu
37. Pelatihan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan
Secara Team
38. Pelatihan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan
Secara Individu
Pengelolaan PKK dan 39. Lembaga PKK dan Posyandu Yang tertata Kementerian Dalam
Posyandu Negeri
Penerbitan Akta Kelahiran 40. Akta Kelahiran yang Diterbitkan Kementerian Dalam
Negeri
Peningkatan Kapasitas 41. Tenaga Kerja Bidang Kesehatan Yang Ditingkatkan Kemendesa PDTT
Tenaga Kesehatan Kapasitasnya
Pelatihan TPK 42. Pelatihan dan Refreshing dalam rangka percepatan BKKBN
penurunan stunting (Pusat)
43. Pelatihan dan Refreshing dalam rangka percepatan
penurunan stunting
Sekretariat Percepatan 44. Kegiatan penyelenggaraan Sekretariat Percepatan BKKBN
Penurunan Stunting Penurunan Stunting Pusat
45. Layanan Pengawasan Kegiatan Percepatan
Penurunan Stunting tk pusat
46. Kegiatan penyelenggaraan Sekretariat Percepatan
Penurunan Stunting Provinsi
47. Layanan Pengawasan Kegiatan Percepatan
Penurunan Stunting tk provinsi
48. Penyelenggaraan koordinasi satgas Percepatan
Penurunan Stunting Provinsi dan kab/kota
Penyusunan pedoman Padi 49. Peraturan/Norma/Pedoman Padi Kaya Gizi Kementerian
Biofortifikasi (Biofotifikasi) Pertanian
Pendidikan Anak Usia Dini 50. Pelatihan calon pelatih pemanfaatan Model Bidang Kemendikbud ristek
pangan dan gizi di Kawasan Asia Tenggara
51. Kemitraan Bidang Gizi dan Pangan di Kawasan Asia
Tenggara
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 116
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Intervensi RO K/L
52. Kajian dan Pengembangan Model Bidang Gizi dan
Pangan di kawasan Asia Tenggara
53. Kemitraan Bidang PAUD dan Parenting
54. Kajian dan Pengembangan Model Bidang
Pendidikan Anak Usia Dini dan Parenting di
Kawasan Asia Tenggara
55. Satuan PAUD Yang melaksanakan program UKS
56. Guru PAUD dan Dikmas Yang difasilitasi
kompetensi melalui Program Kemitraan
Secara umum, sasaran pada intervensi dukungan Program Percepatan Penurunan Stunting, meliputi:
a. Sasaran prioritas: Ibu hamil, baduta, balita dan keluarga memiliki baduta dan balita
b. Sasaran penting: remaja putri, calon pengantin, wanita usia subur
c. Sasaran lainnya: masyarakat umum, tenaga kesehatan, lembaga puskesmas/posyandu,
Kementerian/Lembaga tingkat pusat, pengelola program tingkat provinsi/kabupaten/kota dan
perguruan tinggi
4.3.1 Capaian Output Intervensi Dukungan
Kinerja capaian output dinilai berdasarkan gap capaian volume output RO pada level analisis lanjutan
terhadap target volume revisi yang telah disepakati. Tabel di bawah ini menunjukkan capaian output dari
56 RO intervensi dukungan mendukung program percepatan penurunan stunting TA 2022, dengan
mayoritas 51 RO (91 persen) memiliki capaian output tinggi di atas 90 persen, 1 RO memiliki capaian
cukup tinggi (70-90 persen), 1 RO memiliki capaian cukup rendah (50-69 persen) dan 2 RO memiliki
capaian rendah (<50 persen). Capaian output yang tinggi tersebut juga sejalan dengan capaian realisasi
anggaran intervensi dukungan yang mayoritas RO memiliki capaian realisasi tinggi di atas 90 persen.
Tabel 26. Kinerja Capaian Output RO Intervensi Dukungan, TA 2022
Capaian Hasil Output Jumlah RO %
Tinggi ( >90%) 51 91
Cukup tinggi (70%-90%) 1 1,8
Cukup rendah (50%-69%) 1 1,8
Rendah (<50%) 2 3,6
NA 1 1,8
Total 56
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Selanjutnya, jika dibandingkan dengan capaian output intervensi dukungan TA 2021, jumlah RO termasuk
intervensi dukungan tagging tematik stunting menurun dari 57 RO pada 2021 menjadi 56 RO pada 2022.
Namun terdapat tren peningkatan proporsi RO dengan capaian tinggi, sebanyak 51 RO (89,5 persen)
pada 2021 meningkat menjadi 51 RO (91 persen) pada 2022, sebagaimana terlihat pada tabel di bawah
ini.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 117
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Tabel 27. Perkembangan Capaian Output Intervensi Spesifik RO TA 2021-2022
Jenis Capaian Output
Tahun
Intervensi > 90% 70-90% 50-70% <50% NA Total
2021 Dukungan 51 (89,5%) 3 - - 3 57
2022 Dukungan 51 (92%) 1 1 2 1 56
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah), Laporan Kinerja Anggaran dan Pembangunan
Program Percepatan Penurunan Stunting TA 2021
Selain itu, dari segi kepatuhan pelaporan, terdapat peningkatan kepatuhan pelaporan, dari RO intervensi
dukungan yang tidak melaporkan capaian (NA) sebanyak 3 RO pada tahun 2021 menurun menjadi 1 RO
pada tahun 2022. Satu RO yang tidak mengisi pelaporan yaitu RO dari Kementerian Dalam Negeri yaitu
Lembaga PKK dan Posyandu yang tertata.
Sebagai kesimpulan, mayoritas RO intervensi dukungan TA 2022 telah memiliki capaian output tinggi
dan cenderung meningkat dari kinerja capaian output pada TA 2021. Kinerja capaian output yang tinggi
tersebut diharapkan dapat mendukung capaian indikator hasil yang tinggi. Sub bab selanjutnya akan
menjelaskan mengenai dukungan RO intervensi dukungan terhadap capaian indikator hasil pilar dalam
Perpres 72/2021.
4.3.2 Dukungan Indikator Perpres 72/2021
Dalam pelaksanaan Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (Stranas), indikator target antara
untuk mengukur ketercapaian pilar Stranas disusun dan dilampirkan dalam Lampiran B Peraturan Presiden
No. 72/2021. Terdapat lima pilar Stranas yaitu:
6. Peningkatan komitmen dan visi kepemimpinan di kementerian/lembaga, pemerintah daerah
provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, dan pemerintah desa
7. Peningkatan komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat
8. Peningkatan konvergensi intervensi spesifik dan intervensi sensitif di kementerian/Lembaga,
pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota dan pemerintah desa
9. Peningkatan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat individu, keluarga dan masyarakat
10. Penguatan dan pengembangan sistem, data, informasi, riset dan inovasi.
Sub bab ini akan menjelaskan mengenai dukungan RO intervensi dukungan tagging tematik stunting TA
2022 terhadap capaian hasil antara 17 (tujuh belas) indikator pilar pada Perpres 72/2021 dengan
penanggung jawab Kementerian/Lembaga tingkat pusat. Dari total 71 indikator output Pilar Stranas, 17
(tujuh belas) indikator pilar merupakan indikator dengan penanggung jawab Kementerian/Lembaga tingkat
pusat, sedangkan indikator lainnya merupakan indikator dengan penanggung jawab Pemerintah Daerah,
dan tidak dibahas di dalam laporan evaluasi kinerja ini.
Berdasarkan hasil analisis, dari total 56 RO intervensi dukungan, terdapat 24 RO (42,8 persen dari total
56 RO) intervensi dukungan tagging stunting TA 2022 mendukung capaian indikator dalam Perpres
72/2021, terdiri dari 20 RO mendukung capaian 17 indikator pilar Stranas dan 4 RO mendukung capaian
indikator sensitif dalam Perpres 72/2021. RO dukungan tersebut berasal dari 9 (sembilan) K/L yaitu
Kementerian Kesehatan, BKKBN, Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 118
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
PDTT, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Sekretariat Negara/Setwapres, Kementerian
Koordinator PMK, dan Kementerian Sosial. Hal tersebut menunjukkan bahwa, mayoritas RO intervensi
dukungan program percepatan penurunan stunting tidak berkontribusi langsung pada capaian indikator
Perpres 72/2021.
Grafik 30. Jumlah RO Intervensi Dukungan TA 2022 Mendukung Indikator Perpres 72/2021
24 RO
42,8%
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Total alokasi pagu revisi pada analisis lanjutan dari 24 RO intervensi dukungan berkontribusi pada capaian
indikator pilar dan indikator sensitif Perpres 72/2021 tersebut sebesar Rp396.136.062.000 (41% dari
total pagu revisi analisis lanjutan intervensi dukungan), sebagaimana terlihat pada Grafik di bawah ini.
Grafik 31. Pagu Revisi Analisis Lanjutan 24 RO Intervensi Dukungan Mendukung Indikator Perpres
72/2021
396M
41%
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Berdasarkan analisis kinerja, dari total 24 RO intervensi dukungan tagging stunting TA 2022 mendukung
capaian Perpres 72/2021, mayoritas sebanyak 23 RO (95,8 persen) memiliki capaian output tinggi di atas
90 persen.
Grafik 32. Capaian Output 24 RO Intervensi Dukungan TA 2022 Mendukung Indikator Perpres 72/2021
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 119
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
70% - 90%;
1; 4%
> 90%; 23;
96%
> 90% 70% - 90% 50% - 70% < 50% N/A
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Capaian output yang tinggi tersebut diharapkan dapat secara efektif mendukung keberhasilan capaian
indikator pilar terkait penguatan komitmen kelembagaan, perubahan perilaku, pelaksanaan konvergensi
program intervensi spesifik dan sensitif, dan sistem data informasi dan riset inovasi, dan secara tidak
langsung berdampak pada penurunan prevalensi stunting sesuai dengan target RPJMN 14 persen pada
2024.
4.3.3 Kinerja Konvergensi Intervensi Dukungan
Konvergensi didefinisikan sebagai sebuah pendekatan intervensi yang dilakukan secara terkoordinir,
terpadu dan bersama-sama pada target sasaran wilayah geografis dan rumah tangga prioritas untuk
mencegah stunting. Penyelenggaraan intervensi secara konvergen dilakukan dengan menggabungkan
atau mengintegrasikan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan bersama. Penilaian kinerja
konvergensi intervensi dukungan bertujuan untuk mengidentifikasi pelaksanaan intervensi pada
kabupaten/kota lokus tahun 2022, pelaksanaan intervensi pada sasaran prioritas ibu hamil dan baduta
dan pelaksanaan koordinasi pelibatan multi sektor dengan K/L lain, pemerintah daerah dan non
pemerintah. Sebagai upaya dalam percepatan penurunan stunting dengan target sebesar 14 persen tahun
2024, maka diperlukan konvergensi pada intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif yang
dilaksanakan secara konvergen, tepat sasaran, dan berkelanjutan terutama pada sasaran prioritas.
Sasaran pada intervensi dukungan Program Percepatan Penurunan Stunting, meliputi:
a. Sasaran prioritas: Ibu hamil dan keluarga memiliki baduta dan balita
b. Sasaran penting: remaja putri, calon pengantin, wanita usia subur
c. Sasaran lainnya: masyarakat umum, tenaga kesehatan, lembaga puskesmas/posyandu,
Kementerian/Lembaga tingkat pusat, pengelola program tingkat provinsi/kabupaten/kota dan
perguruan tinggi
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Intervensi dukungan meliputi intervensi pendampingan,
koordinasi dan dukungan teknis bertujuan sebagai enabling environment terlaksananya intervensi
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 120
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
spesifik dan sensitif secara terintegrasi. Sehingga, sebagai catatan bahwa dalam penilaian kinerja
pembangunan pada intervensi dukungan, mayoritas RO intervensi dukungan memang tidak didesain
menyasar pada sasaran prioritas atau penting, namun berupa tata kelola kelembagaan pada level daerah
provinsi/kabupaten/kota.
Dari total 56 RO intervensi dukungan, terdapat 8 RO teridentifikasi memiliki sasaran langsung pada
sasaran prioritas, ibu hamil, baduta, balita dan keluarga memiliki balita, serta sasaran penting yaitu
sasaran remaja putri, calon pengantin dan wanita usia subur. Sedangkan mayoritas RO intervensi
dukungan memiliki sasaran pada sasaran lainnya, yang terdiri dari masyarakat umum, masyarakat miskin
dan rentan, puskesmas, tenaga kesehatan, pendamping PKH, TPK, pemangku kepentingan tingkat
nasional, pelaksana program level kabupaten/kota dan perguruan tinggi. Delapan RO tersebut didukung
oleh 3 K/L yaitu, kementerian kesehatan, BKKBN dan Kominfo. Selanjutnya, delapan RO intervensi
dukungan tagging tematik stunting 2022 memiliki sasaran prioritas dan penting dapat dilihat pada tabel
di bawah ini.
Tabel 28. Rincian Output Intervensi Dukungan Sasaran Ibu Hamil, Balita, Remaja Putri, Calon pengantin
dan Wanita Usia Subur TA 2022
Sasaran Remaja Calon Wanita
Sasaran
Sasaran Sasaran Keluarga Putri Pengantin Usia
No K/L Rincian Output Ibu
Baduta Balita dengan Subur
Hamil
Balita
1 Kemenkes Rekomendasi kebijakan Ya Ya Ya Ya - - -
status gizi Indonesia
2 BKKBN Kampanye Percepatan Ya - - Ya Ya Ya Ya
Penurunan Stunting
tingkat nasional
3 BKKBN Kampanye Percepatan Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya
Penurunan Stunting
tingkat Provinsi dan
kab/kota
4 BKKBN Pelaksanaan layanan Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya
Audit Stunting,
Manajemen Kasus
Stunting Kab/Kota, dan
koordinasi Intensifikasi
pelayanan KB di faskes
5 BKKBN Data kasus stunting dan Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya
keluarga resiko stunting
yang terverifikasi
6 BKKBN Layanan Humas Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya
Percepatan Penurunan
Stunting tingkat Pusat
7 BKKBN Layanan Humas Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya
Percepatan Penurunan
Stunting tingkat Provinsi
8 Kemen Diseminasi Informasi Ya - - Ya Ya Ya Ya
Kominfo mengenai Stunting
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 121
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Sasaran Remaja Calon Wanita
Sasaran
Sasaran Sasaran Keluarga Putri Pengantin Usia
No K/L Rincian Output Ibu
Baduta Balita dengan Subur
Hamil
Balita
Jumlah RO 8 6 6 8 7 7 7
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Selanjutnya, penguatan implementasi dan konvergensi intervensi spesifik dan intervensi sensitif pada
sasaran prioritas sangat diperlukan sebagai upaya percepatan penurunan stunting terintegrasi. Selain itu,
juga diperlukan RO-RO yang berkelanjutan pada tahun berikutnya, untuk memastikan progres kegiatan
mencapai hasil yang diharapkan. Perkembangan capaian output dan kesinambungan RO intervensi
dukungan pada sasaran prioritas ibu hamil dan balita selama periode tahun 2021 hingga 2022, dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 29. Perkembangan Capaian Output Analisis Lanjutan Intervensi Dukungan Sasaran Ibu Hamil dan
Balita TA 2021-2022
No Intervensi Rincian Output Capaian Rincian Output Capaian Perkembangan
(K/L) 2021 Output/ 2022 Output/
Lokasi Lokasi
1 Survei SSGI Produk Hasil Riset 1 produk, Rekomendasi 1 Tetap
(Kemenkes) Status Kesehatan 352 kab/kota kebijakan status rekomendasi
Masyarakat pada gizi Indonesia kebijakan,
Riset Kesehatan 514 kab/kota
Nasional Wilayah II
Produk Hasil Riset 1 produk,
Status Kesehatan 70 kab/kota
Masyarakat pada
Riset Kesehatan
Nasional Wilayah V
Produk Hasil Riset 1 produk,
Status Kesehatan 127 kab/kota
Masyarakat pada
Riset Kesehatan
Nasional Wilayah I
Produk Hasil Riset 1 produk,
Status Kesehatan 66 kab/kota
Masyarakat pada
Riset Kesehatan
Nasional Wilayah IV
2 Kampanye Kampanye 1 layanan, Kampanye 3 layanan, Meningkat
Pencegahan Percepatan Pusat Percepatan Pusat
Stunting Penurunan Stunting Penurunan
(BKKBN) melalui media Stunting tingkat
nasional
- - Kampanye 32 layanan,
Percepatan 33 provinsi
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 122
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
No Intervensi Rincian Output Capaian Rincian Output Capaian Perkembangan
(K/L) 2021 Output/ 2022 Output/
Lokasi Lokasi
Penurunan
Stunting tingkat
provinsi dan
kab/kota
- - Layanan Humas 1 layanan,
Percepatan Pusat
Penurunan
Stunting tingkat
Pusat
- - Layanan Humas 32 layanan,
Percepatan 32 provinsi
Penurunan
Stunting tingkat
Provinsi
3 Pendampingan - - Data kasus 32 layanan,
Keluarga stunting dan 32 provinsi
Berisiko keluarga berisiko
Stunting Stunting
(BKKBN) terverivikasi
4 Audit Kasus - - Pelaksanaan
Stunting layanan Audit
(BKKBN) Stunting,
Manajemen Kasus
Stunting Kab/Kota,
dan koordinasi
Intensifikasi
pelayanan KB di
faskes
5 Publikasi Data Diseminasi 234 kegiatan, Diseminasi 267 kegiatan, Meningkat
(Kominfo) Informasi mengenai 100 kab/kota informasi 38 kab/kota
Stunting mengenai Stunting
Tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas RO intervensi dukungan sasaran prioritas sudah
dilaksanakan secara berkelanjutan, selain itu juga terdapat penambahan beberapa RO baru pada tahun
2022 seperti Audit Kasus Stunting dan Verifikasi Validasi Data PK 21. Berdasarkan perkembangan
capaiannya, RO yang mengalami peningkatan capaian output TA 2021-2022 terdiri dari: 1) Kampanye
percepatan penurunan stunting dan 2) Diseminasi informasi stunting.
Selanjutnya terkait kinerja konvergensi lokasi, pada tahun 2022, berdasarkan SK Menteri PPN/ Kepala
Bappenas Nomor Kep.10/[Link]/HK/02/2021, kabupaten/kota lokus untuk percepatan penurunan
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 123
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
stunting telah diperluas menjadi seluruh 514 kabupaten/kota di Indonesia, dengan percepatan pada
kabupaten/kota di 12 Provinsi Prioritas, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah,
Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara.
Dari total 56 RO intervensi dukungan ter-tagging tematik stunting 2022, mayoritas 34 RO dilaksanakan
pada level kabupaten/kota, 13 RO dilaksanakan di level pusat, dan 9 RO dilaksanakan pada level
pelaksana program tingkat provinsi. Dari total 34 RO dilaksanakan level kabupaten/kota, terdiri dari 11
RO dilaksanakan di seluruh 246 kabupaten/kota di 12 provinsi prioritas, 22 RO dilaksanakan di sebagian
atau kurang dari 246 kabupaten/kota di 12 provinsi prioritas dan 1 RO dilaksanakan di luar 12 provinsi
prioritas.
Grafik 33. Konvergensi Lokasi Intervensi Dukungan RO di 514 Kab/Kota Lokus Stunting, TA 2022
13 RO di tingkat
nasional
4 RO seluruh 246
56 RO 9 RO di tingkat
provinsi
4 RO di 514 kab/kota
lokus
kab/kota di 12
provinsi prioritas
7 RO seluruh 246
34 RO di tingkat
kab/kota di 12
kab/kota
provinsi prioritas
22 RO sebagian <246
30 RO di <514
kab/kota di 12
kab/kota lokus
provinsi prioritas
1 RO diluar 12
provinsi prioritas
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L 2022 per 15 Februari 2023 (Diolah)
Berikut merupakan 4 (empat) RO intervensi dukungan yang dilaksanakan di seluruh kab/kota di Indonesia,
yaitu: 1) Rekomendasi kebijakan status gizi Indonesia, 2) Akta Kelahiran yang Diterbitkan, 3) Fasilitasi
Peningkatan Kinerja Kabupaten/Kota dalam Implementasi Konvergensi Penurunan Stunting di Daerah
(INEY) dan 4) Daerah yang meningkat kapasitas aparaturnya dalam penilaian kinerja penanganan stunting.
Sebagai kesimpulan, mayoritas RO intervensi dukungan tagging tematik stunting TA 2022 dilaksanakan
di sebagian atau kurang dari 246 kabupaten/kota di 12 provinsi prioritas, dan memiliki sasaran pada
sasaran lainnya yaitu pengampu program di level daerah provinsi/kabupaten/kota.
Grafik 34. Konvergensi Koordinasi Intervensi Dukungan, TA 2022
K/L lain:
4 RO
7 3
34
Pemda:
1 Non Pemerintah
6 RO
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 124
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Tidak ada koordinasi: 1 RO
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023, (diolah)
Namun jika dilihat pada pelaksanaan konvergensi koordinasi, mayoritas 34 RO intervensi dukungan
tagging tematik stunting TA 2022 telah dilaksanakan dengan melibatkan koordinasi lintas sektor antara
Kementerian/Lembaga lain, pemerintah daerah dan lembaga non pemerintah. Sedangkan RO lainnya
yaitu 7 RO dilaksanakan melibatkan K/L lain dan pemerintah daerah, 3 RO melibatkan K/L lain dan non
pemerintah, 1 RO melibatkan pemerintah daerah dan non pemerintah, 6 RO dilaksanakan melibatkan
pemerintah daerah saja, dan 4 RO melibatkan K/L lain saja. Serta hanya 1 RO yang dilaksanakan tanpa
melibatkan koordinasi.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 125
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
V. Kinerja Program di Lokasi Prioritas
Pada bab V ini, akan dijabarkan mengenai kinerja implementasi dari RO pilihan mendukung program
percepatan penurunan stunting tahun 2022. Pada bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai capaian
output program secara umum dan kinerja konvergensi pada sasaran prioritas dan lokasi prioritas. Kinerja
implementasi dinilai melalui studi kualitatif dengan metode diskusi kelompok terarah dengan sasaran
pada pengampu program di level kabupaten/kota, pemerintah kabupaten/kota sebagai Tim Percepatan
Penurunan Stunting Kabupaten/Kota, pemerintah desa, serta melibatkan pelaksana teknis seperti tenaga
kesehatan puskesmas, kader KPM, kader TPK, kader posyandu dan pendamping PKH.
Pengumpulan data dilakukan melalui diskusi kelompok terarah yang dilaksanakan pada 2 (dua)
kabupaten/kota pilihan yaitu Kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat dan Kabupaten Kupang
Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pemilihan daerah didasarkan pada kabupaten/kota yang masuk daerah
prioritas, menerima intervensi dengan RO terbanyak berdasarkan pemetaan distribusi pelaksanaan RO
tahun 2022, dan kabupaten/kota lokasi pelaksanaan RO baru pada tahun 2022. Sedangkan unit analisis
pada bab ini meliputi, 7 (tujuh) RO intervensi spesifik, intervensi sensitif dan intervensi dukungan sasaran
prioritas, sebagai berikut.
Tabel 30. Rincian Output Pilihan Kinerja Implementasi Pada Kunjungan Daerah, TA 2022
No Rincian Output K/L Jenis Intervensi Kabupaten/Kota
1 Balita kurus yang mendapat PMT Kemenkes Spesifik Kab Kupang
berbasis pangan lokal
2 Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) Kemenkes Spesifik Kab Kupang
yang mendapat PMT berbasis pangan
lokal
3 Keluarga yang Mendapat Bantuan Kemensos Sensitif Kab Kupang
Sosial Bersyarat
4 KPM yang Memperoleh Bantuan Sosial Kemensos Sensitif Kab Kupang
Pangan Sembako
5 Keluarga dengan baduta Yang BKKBN Sensitif Kab Lima Puluh
mendapatkan fasilitasi dan pembinaan Kota
1000 HPK
6 Pemberdayaan kampung KB dalam BKKBN Sensitif Kab Lima Puluh
rangka penurunan stunting Kota dan Kab
Kupang
7 Pelaksanaan layanan Audit Stunting, BKKBN Dukungan Kab Lima Puluh
Manajemen Kasus Stunting Kab/Kota, Kota
dan koordinasi Intensifikasi pelaYanan
KB di faskes
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 126
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Tools yang digunakan dalam pemantauan dan evaluasi kinerja implementasi yaitu tools pertanyaan diskusi
kelompok terarah dengan OPD pengampu program di level kabupaten/kota dan puskesmas atau kader di
level desa. Sedangkan indikator penilaian pada kinerja implementasi yaitu kesesuaian implementasi
program dengan pedoman, ketepatan sasaran, cakupan sasaran program, ketepatan lokasi, konvergensi
lintas stakeholder, dukungan pembiayaan dari dana APBD dan dana desa, kendala implementasi dan
pembelajaran keberhasilan implementasi.
Selanjutnya penjelasan hasil dari kinerja implementasi akan dijelaskan berdasarkan masing-masing
program di bawah ini. Sebagai catatan bahwa hasil temuan program-program yang disampaikan
merupakan hasil temuan implementasi program yang didapatkan dari hasil kunjungan di Kabupaten
Kupang dan Kabupaten Lima Puluh Kota, dan tidak dapat dijadikan kesimpulan program secara nasional.
5.1 Pemberian Makanan Tambahan Berbasis Pangan Lokal
Pembahasan program pemberian makanan tambahan berdasarkan reviu dokumen pada PMK 51 Tahun
2016 tentang standar produk suplementasi gizi, Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
HK.01.07/Menkes/4631/2021 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Pemberian Makanan Tambahan
Balita Gizi Kurang dan Ibu Hamil KEK, Protokol Bagi Tenaga Kesehatan Tata Laksana Balita Weight faltering,
Balita BB kurang dan Balita Gizi Kurang dengan Pemberian Makanan Tambahan Berbasis Pangan Lokal
Tahun 2022, Paparan Padat Karya Tunai Desa (PKTD) Pendidikan Gizi Pemberian Tambahan Makanan
Lokal Bumil dan Balita Serta Pendidikan Gizi-PMBA Melalui Dana BOK Tahun 2019 dan Hasil Focus Group
Discussion dengan OPD Pengampu Program Kab Kupang.
Program pemberian makanan tambahan yang diamati di Kab Kupang merupakan program makanan
tambahan bersifat pemulihan dengan sasaran ibu hamil kekurangan energi kronis (KEK) dengan lingkar
lengan atas kurang dari 23,5 cm dan balita gizi kurang (wasting) dengan status z score BB/TB di bawah -2
SD. Dalam implementasi program pemberian makanan tambahan, terdapat beberapa perubahan skema
PMT yang diberikan berupa PMT pabrikan (biskuit) dan PMT dengan bahan pangan lokal. PMT yang
dianalisis pada sub bab ini merupakan PMT berbasis pangan lokal yang bersumber dari alokasi belanja K/L
pusat dilaksanakan pada daerah uji coba di 31 kabupaten/kota, salah satunya Kab Kupang.
Capaian kinerja RO pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal dapat dilihat lebih lanjut pada
tabel di bawah ini.
Tabel 31. Kinerja Anggaran, Output dan Konvergensi RO Pilihan PMT Berbasis Pangan Lokal, TA 2022
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 127
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Target Capaian
Pagu Revisi Realisasi % Revisi Output %
RO Tingkat RO Tingkat RO Realisasi Tingkat Tingkat Capaian Lokasi Sasaran Koordinasi
(Ribu rupiah) (Ribu rupiah) Anggaran RO RO Output
(Satuan) (Satuan)
[Link].003 59.582.805 58.691.985 98,5 47.619 51.185 100 31 Ibu K/L lain,
Ibu hamil KEK orang orang kab/kota hamil pemda dan
mendapat KEK non
makanan pemerintah
tambahan
berbasis
pangan lokal
[Link].006 90.417.195 90.024.931 100 66.667 133.334 100 31 Balita K/L lain,
Balita kurus orang orang kab/kota wasting pemda dan
mendapat usia 6- non
makanan 59 pemerintah
tambahan bulan
berbasis
pangan lokal
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023
Diskusi terkait pembelajaran dari pelaksanaan program pemberian makanan tambahan berbasis pangan
lokal dilaksanakan dalam kunjungan daerah di Kabupaten Kupang, NTT pada 15-18 November 2022,
dengan mengundang Kementerian Kesehatan, Ketua TPPS Kab Kupang, Bappeda Provinsi NTT, BP4D Kab
Kupang, Dinas Kesehatan dan Tenaga Gizi Puskesmas, dengan hasil temuan terkait program sebagai
berikut:
Hasil Temuan terkait Program PMT Berbasis Pangan Lokal di Kab Kupang:
1. Jumlah sasaran riil balita untuk PMT berbasis pangan lokal per Oktober 2022 di Kabupaten Kupang
yaitu sebanyak 2.885 balita gizi kurang, 5.954 balita BB kurang dan 1.024 balita tidak naik BB,
dengan total realisasi anggaran PMT pangan lokal Rp813.092.315 (25,2 persen dari total
pencairan anggaran Rp3.230.422.020).
2. Jumlah sasaran riil ibu hamil KEK per Oktober 2022 di kab Kupang yaitu sebanyak 598 orang
dengan total realisasi anggaran PMT pangan lokal Rp989.989.000 (86,9 persen dari total
pencairan anggaran Rp1.139.715.000).
3. PMT pangan lokal di Kab Kupang diberikan berupa pangan diet khusus dengan frekuensi
minimum 1x sehari selama 14 hari.
4. Sedangkan PMT pangan lokal ibu hamil KEK diberikan dengan frekuensi minimum 1x sehari
selama 90 hari.
5. PMT pangan lokal telah dilaksanakan sesuai dengan juknis pedoman yang disusun berisi
frekuensi pemberian, sasaran, definisi operasional, dan alur tata laksana, prinsip dalam komposisi
menu berisi protein hewani, disertai standar komposisi minimum kandungan makanan tambahan
lokal yang sama dengan kalori pada PMT pabrikan, misalnya untuk ibu hamil KEK 500-700 kkal
untuk makanan lengkap.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 128
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
6. Jumlah balita stunting di Kabupaten Kupang berdasarkan bulan penimbangan balita Agustus
2022 sebanyak 6.118 balita, sedangkan jumlah balita wasting sebanyak 3.479 balita, dan jumlah
balita underweight yaitu sebanyak 7.437 balita.
7. Cakupan sasaran program PMT pangan lokal di kab Kupang yaitu sebesar 82,9 persen (2.885
balita gizi kurang diberi PMT lokal dari total 3.479 per Agustus 2022) dan 80 persen (5.954 balita
BB kurang diberi PMT lokal dari total 7.437 balita BB kurang per Agustus 2022).
8. Persebaran lokasi untuk pemberian PMT telah terdistribusi merata pada seluruh wilayah
puskesmas yang ada di Kab Kupang.
9. Pelaksanaan pemberian PMT pangan lokal tahun 2022 mengalami keterlambatan sehingga baru
terealisasi per Oktober 2022. Sedangkan di Kab Kupang sempat mengalami kekosongan stok
PMT pabrikan biskuit untuk balita gizi kurang sehingga treatment balita gizi kurang selama
kekosongan PMT diberikan dengan mineral mix dan taburia.
10. Pemberian PMT pangan lokal dilaksanakan di posyandu/puskesmas yang telah ditunjuk, kendala
utama yang dihadapi yaitu pada partisipasi masyarakat, yang tidak datang ke posyandu
mayoritas karena alasan jarak rumah yang jauh.
11. Menu pada pemberian PMT berbasis pangan lokal disusun oleh tenaga gizi puskesmas. Contoh
menu untuk PMT pangan lokal ibu hamil KEK yaitu 5x makanan berat dan 2x kudapan, sebagai
berikut:
a. Hari 1: Nasi, telur ayam, tempe goreng, tumis bunga pepaya, kacang panjang, ikan teri,
buah pepaya, puding susu dan air putih
b. Hari 2: Nasi, ayam kecap, sayur sop telur puyuh, tahu goreng, pisang, dan air putih
c. Hari 3: Bubur kacang hijau, telur ayam rebus, lumpia dan pepaya
d. Hari 4: Nasi, cap cay goreng, telur orak arik, tempe balik bumbu, dan pisang
e. Hari 5: Nasi, ayam bumbu balado, sayur bening, sambal goreng tempe teri, pepaya dan
air putih
f. Hari 6: Mie goreng kelor, ayam, telur rebus, puding coklat susu, pisang dan jeruk
g. Hari 7: Nasi, sup ayam sayur, tumis tempe telur puyuh kacang panjang, puding kelor,
pisang dan air putih
12. Pembelajaran keberhasilan program dari pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal
menunjukkan 89,65 persen balita gizi kurang yang diberi PMT mengalami kenaikan berat badan
dan 86,96 persen ibu hamil KEK yang diberi PMT berbasis pangan lokal mengalami kenaikan
berat badan (terlampir pada tabel di bawah). Sehingga, berdasarkan pemantauan dan evaluasi
dapat disimpulkan bahwa pemberian PMT pangan lokal memberikan peningkatan pada berat
badan.
13. Berdasarkan perhitungan unit cost, untuk realisasi anggaran PMT pangan lokal bumil KEK di kab
Kupang dengan total realisasi Rp989.989.000 untuk 598 ibu hamil selama 90 hari maka unit cost
untuk 1x pemberian PMT bumil KEK yaitu Rp18.394/orang/hari.
14. Sistem pencatatan dan pemantauan PMT pangan lokal dimasukkan dalam pencatatan rutin
EPPGBM, dimana komponen pelaporan PMT lokal meliputi pemantauan harian: a) apakah PMT
dimakan/tidak, b) apakah sedang sakit/tidak, c) apakah PMT diberikan disertai edukasi/tidak, d)
apakah BB naik/tidak.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 129
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Tabel 32. Hasil Pemantauan Evaluasi PMT Berbasis Pangan Lokal oleh Dinas Kesehatan Kab Kupang
BALITA NO NAMA JUMLAH BUMIL STATUS GIZI
NO PUSKESMAS PUSKESMAS KEK DAPAT
GIKUR REALISASI NAIK BB MEMBAIK
1 UITAO 115 103 84 PMT
2 AKLE 79 71 63 1 AKLE 12 6
2 UITAO 14 14
3 BATAKTE 175 175 139
3 BATAKTE 23 20
4 OEMASI 90 90 85
4 OEMASI 24 20
5 TARUS 153 153 132
5 TARUS 60 52
6 BAUMATA 163 147 137
6 BAUMATA 25 25
7 OEKABITI 117 109 83
7 OEKABITI 16 14
8 BAUN 101 101 98
8 BAUN 24 24
9 SONRAEN 106 106 102
9 SONRAEN 3 2
10 PAKUBAUN 10 10 10
10 PAKUBAUN 15 13
11 OESAO 167 167 160
11 OESAO 14 13
12 NAIBONAT 163 163 152 12 NAIBONAT 64 55
13 OENUNTONO 185 185 167 13 OENUNTONO 41 39
14 FATUKANUTU 59 59 52 14 FATUKANUTU 18 16
15 SULAMU 73 73 67 15 SULAMU 13 9
16 PARITI 33 33 30 16 PARITI 16 10
17 CAMPLONG 187 187 170 17 CAMPLONG 23 20
18 OELBITENO 40 40 35 18 POTO 27 27
19 POTO 126 126 117 19 OELBITENO 13 10
20 TAKARI 81 81 72 20 TAKARI 30 24
21 HUEBUNIF 63 63 57 21 HUEBUNIF 31 27
22 LELOGAMA 52 52 47 22 LELOGAMA 11 8
23 MANUBELON 65 65 58 23 MANUBELON 15 12
24 FATUMONAS 89 89 74 24 NAIKLIU 12 12
25 NAIKLIU 161 161 146 25 SOLIU 30 26
26 SOLIU 115 115 99 26 OEPOLI 13 13
27 OEPOLI 117 117 111 27 FATUMONAS 11 9
TOTAL 2885 2841 2547 TOTAL 598 520
Sumber: Dinas Kesehatan Kab Kupang, 2023
Berdasarkan dari temuan - temuan yang disampaikan sebelumnya, berikut merupakan Rekomendasi
Pelaksanaan Program PMT Berbasis Pangan Lokal:
1. Perlu penguatan program PMT pangan lokal sebagai program makanan tambahan bersifat
pemulihan, dengan disertai adanya edukasi gizi pada keluarga dengan balita
wasting/underweight/weight faltering terkait menu gizi seimbang (isi piringku), serta pemenuhan
gizi seimbang dapat terpenuhi dari sumber bahan sehari-hari yang tidak harus mahal. Serta
menekankan bahwa program pemberian PMT merupakan makanan tambahan tidak mengganti
menu makanan utama.
2. Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kegiatan pemberian PMT pangan lokal dapat
diintegrasikan dengan kegiatan rutin seperti kelas ibu hamil, kegiatan posyandu, atau kegiatan
pemberdayaan masyarakat lainnya yang ada di desa.
3. Perlu partisipasi swadaya masyarakat atau pemerintah desa dalam mengoptimalkan distribusi
dari PMT pangan lokal, agar memenuhi frekuensi pemberian minimum 1x setiap hari, terutama
untuk ibu hamil dan balita dengan lokasi rumah yang jauh.
4. Konvergensi program intervensi spesifik PMT pangan lokal dengan program intervensi sensitif
seperti PKH, bantuan sembako, kelas bina keluarga balita, gemar makan ikan, pendampingan
keluarga berisiko stunting, sesuai faktor determinan pada balita dengan masalah gizi.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 130
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
5. Pemberian PMT pangan lokal, perlu didampingi oleh tenaga gizi puskesmas untuk memastikan
menu PMT pangan lokal terstandar dan memiliki kandungan protein hewani dan nabati
mencukupi.
6. Perlu adanya pemantauan dari standar higienis tempat memasak dan penyajian PMT berbasis
pangan lokal untuk menjaga mutu dan keamanan pangan. Hal tersebut dimitigasi dengan adanya
pelatihan orientasi kader terkait keamanan pangan dan memilih makanan yang baik.
7. Perlu adanya integrasi sumber pembiayaan, sehingga komponen pembiayaan yang belum
terpenuhi saat ini seperti distribusi makanan dan pengemasan makanan dapat dipenuhi dari
sumber dana lain, seperti Dana APBD atau Dana Desa.
8. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PMT perlu dilakukan berkala dan berkelanjutan, untuk
memantau capaian progres peningkatan status gizi.
5.2 Program Bantuan Sosial Bersyarat dan Bantuan Pangan Sembako
Berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Nomor 1 tahun 2018 tentang Program Keluarga Harapan, Program
Keluarga Harapan (PKH) merupakan program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada keluarga
dan/atau seorang miskin dan rentan yang terdaftar dalam data terpadu program penanganan fakir miskin,
diolah oleh Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial dan ditetapkan sebagai keluarga penerima
manfaat PKH.
Sasaran PKH diatur dalam Permensos 1/2018 adalah keluarga dan/atau seseorang yang miskin dan rentan
serta terdaftar dalam data terpadu program penanganan fakir miskin, memiliki komponen kesehatan,
pendidikan dan/atau kesejahteraan sosial. Kriteria komponen kesehatan yaitu ibu hamil dan anak berusia
0 (nol) – 6 (enam) tahun, komponen pendidikan yaitu anak sekolah dasar, anak sekolah menengah
pertama, anak sekolah menengah atas dan anak usia 6 (enam) – 21 (dua puluh satu) tahun yang belum
menyelesaikan wajib belajar 12 (dua belas) tahun. Serta komponen kesejahteraan sosial meliputi lanjut
usia mulai dari 60 (enam puluh) tahun dan penyandang disabilitas. Keluarga penerima manfaat PKH
berhak mendapatkan 1) Bantuan sosial PKH, 2) Pendampingan PKH, 3) Pelayanan di fasilitas kesehatan,
pendidikan dan/atau kesejahteraan sosial dan 4) Program bantuan komplementer di bidang kesehatan,
pendidikan, subsidi energi, ekonomi, perumahan dan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya.
Sedangkan program sembako diatur dalam Peraturan Menteri Sosial RI No. 5 Tahun 2021 tentang
pelaksanaan program sembako, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) adalah bantuan sosial yang disalurkan
secara non tunai dari pemerintah yang diberikan kepada KPM melalui uang elektronik selanjutnya
digunakan untuk membeli bahan pangan yang telah ditentukan di e-warong. Program sembako adalah
program bantuan sosial pangan yang merupakan pengembangan dari program BPNT dengan perubahan
nilai bantuan dan jenis bahan pangan.
Program sembako bertujuan untuk:
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 131
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
• Mengurangi beban pengeluaran KPM melalui pemenuhan sebagian kebutuhan pangan
• Memberikan bahan pangan dengan gizi seimbang kepada KPM
• Memberikan bahan pangan dengan tepat sasaran, tepat waktu, tepat jumlah, tepat kualitas, tepat
harga dan tepat administrasi
• Memberikan lebih banyak pilihan dan kendali kepada KPM dalam memenuhi kebutuhan pangan
Capaian kinerja dari program bantuan sosial bersyarat dan bantuan pangan sembako TA 2022 dapat
dilihat pada Tabel di bawah ini. Sebagai catatan, pagu revisi dan realisasi dari intervensi sensitif bantuan
sosial bersyarat dan bantuan pangan sembako ditampilkan pada tabel di bawah ini yaitu pada level tingkat
rincian output dan pada level analisis lanjutan melalui pembobotan kontribusi terhadap penurunan
stunting dengan bobot 30,8 %.
Tabel 33. Kinerja Anggaran, Output dan Konvergensi RO Pilihan Bantuan PKH dan Bantuan Sembako, TA
2022
Realisasi % Target Capaian %
Pagu Revisi
RO Anggaran Realisasi Revisi Output Capaian Lokasi Sasaran Koordinasi
(Ribu rupiah)
(Ribu rupiah) Anggaran (Satuan) (Satuan) Output
Keluarga 36.057.859 22.175.613 61,5 10juta 10 juta 100 514 Ibu hamil K/L lain
yang (RO) (RO) (RO) (RO) kab/kota dan balita dan
Mendapat Pemda
6.941.138 4.268.805 2.389 ibu
Bantuan
(analisis (analisis hamil dan
Sosial
lanjutan) lanjutan) 2.455.152
Bersyarat
balita
Keluarga [Link] [Link] 100 10juta 10 juta 100 514 Ibu hamil K/L lain
yang (RO) (RO) (RO) (RO) kab/kota dan balita dan
Mendapat Pemda
[Link] [Link] 2.389 ibu
Bantuan
(analisis hamil dan
Sosial
lanjutan) 2.455.152
Bersyarat
balita
(PEN)
KPM yang [Link] [Link] 100 18,8juta 18,8 juta 100 514 Ibu hamil, K/L lain
Memperoleh (RO) (RO) (RO) (RO) kab/kota balita dan dan
Bantuan sasaran Pemda
[Link] [Link] 758 ibu
Sosial lainnya
(analisis (analisis hamil dan
Pangan fakir
lanjutan) lanjutan) 2.052.648
Sembako miskin,
balita
kelompok
rentan dan
orang
tidak
mampu
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023
Pada tabel di atas, pagu anggaran dan realisasi pada level analisis lanjutan menggunakan pembobotan
sesuai kesepakatan 30,8 persen kontribusi pada penurunan stunting. Selain itu, pada capaian keluarga
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 132
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
penerima manfaat, capaian analisis lanjutan diisi berdasarkan data form evaluasi Kementerian Sosial,
keluarga penerima manfaat PKH tahun 2022 pada sasaran prioritas yaitu sebanyak 2.389 ibu hamil
penerima manfaat PKH dan 2.455.152 balita penerima manfaat PKH. Sedangkan keluarga penerima
manfaat bantuan pangan sembako tahun 2022 pada sasaran prioritas yaitu sebanyak 758 ibu hamil
penerima bantuan sosial sembako dan 2.052.648 balita penerima bantuan sosial sembako.
Selanjutnya, hasil temuan dari pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kedua program tersebut akan
dibahas di sub bab ini, berdasarkan hasil kunjungan daerah di Kabupaten Kupang, NTT yang dilaksanakan
pada 15-18 November 2022 dengan melibatkan Kementerian Sosial (Direktorat Pemberdayaan Kelompok
Rentan dan Direktorat Jaminan Sosial), Pemerintah Daerah kab Kupang, Bappeda Provinsi NTT, BP4D Kab
Kupang, Dinas Sosial dan Pendamping PKH.
Hasil Temuan Pelaksanaan Program PKH dan Bantuan Sembako:
1. Program bantuan tunai bersyarat (PKH) dan bantuan sosial pangan sembako merupakan
intervensi sensitif yang memiliki sasaran fakir miskin dan kelompok rentan berdasarkan data
DTKS, sehingga program tersebut bersifat kontributif secara tindak langsung pada pencegahan
kejadian stunting pada kelompok rentan, sehingga hingga saat ini belum ada mekanisme untuk
menyasar pada keluarga berisiko stunting dan balita stunting sebagai penerima manfaat.
2. Pendamping PKH di Kab Kupang telah melakukan penyisiran data dari data EPPGBM yang
disinkronkan dengan data penerima PKH secara manual, dimana terdapat total 16.739 keluarga
penerima manfaat PKH di Kab Kupang, dengan total 4.306 balita yang mendapatkan PKH di Kab
Kupang. Data tersebut dilakukan sandingan dengan data 6.118 balita stunting berdasarkan
EPPGBM bulan Agustus 2022, dan diidentifikasi terdapat 833 balita stunting yang mendapat
program PKH. Sehingga didapatkan bahwa 13,6 persen balita stunting mendapatkan program
PKH (833 balita dibagi dengan 6.118 balita stunting), dan total 19,3 persen balita penerima PKH
mengalami kejadian stunting (833 balita dibagi dengan 4.306 balita KPM PKH).
3. Berdasarkan perhitungan relative risk ratio, balita yang menerima PKH memiliki risiko stunting
relatif sebesar 0,96 kali dibandingkan dengan balita yang tidak mendapat PKH, atau risiko balita
stunting pada balita penerima PKH adalah 0,96 kali lebih tinggi dari balita yang tidak mendapatkan
PKH.
Stunting
Balita Penerima PKH Total Balita
Ya Tidak
Ya 833 3.473 4.306
Tidak 5.285 21.131 26.416
Total 6118 24.604 30.722
4. Salah satu kendala dari implementasi program bantuan sosial PKH dan bantuan sembako yaitu
kendala pada data adminduk dan NIK, dimana terdapat keluarga yang layak menerima bantuan
namun dinon-aktifkan datanya karena tidak memiliki NIK.
5. Penyaluran bantuan pangan sembako tahun 2022, dilaksanakan melalui transfer Rp200.000 per
keluarga tiap bulan yang disalurkan melalui PT POS, sehingga tidak melibatkan Himbara dan e-
warong.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 133
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Berdasarkan dari temuan - temuan yang disampaikan sebelumnya, berikut merupakan Rekomendasi
Pelaksanaan Program Bantuan Tunai Bersyarat dan Bantuan Sembako:
1. Perlu adanya mekanisme konvergensi sasaran antara intervensi spesifik dan sensitif menyasar
pada balita stunting atau keluarga berisiko stunting masuk kategori miskin dan rentan, sehingga
harapannya balita stunting yang berasal dari kelompok miskin dan rentan dapat dipermudah
untuk diusulkan menjadi KPM penerima bantuan sosial tunai bersyarat (PKH) bantuan sosial
pangan sembako, pada tahun berjalan.
2. Perlu adanya diskusi tindak lanjut terkait dengan data sasaran melibatkan direktorat
kependudukan dan pencatatan sipil di bawah Kementerian Dalam Negeri, disertai sosialisasi
pada masyarakat dalam mempermudah pendaftaran NIK, sehingga KPM yang layak menerima
bantuan tidak terkendala dengan data adminduk.
3. Untuk meningkatkan ketepatan guna bantuan sosial pangan sembako, bentuk penyaluran
bantuan pangan sembako dapat dioptimalkan dengan melibatkan e-warong dalam
pemanfaatan sehingga dapat efektif dibelanjakan untuk keperluan pangan.
Berikut merupakan lampiran dokumentasi dari kunjungan pemantauan dan evaluasi RO di Kab Kupang.
Gambar 2. Dokumentasi Pemantauan Evaluasi RO di Kab Kupang
Sumber: Dokumentasi tim Bappenas, 2022
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 134
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
5.3 Fasilitasi dan Pembinaan Keluarga 1000 HPK
Salah satu program intervensi sensitif yang memiliki sasaran pada sasaran prioritas dan bertujuan pada
perubahan pola asuh, yaitu Fasilitasi dan pembinaan keluarga 1000 HPK dari Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Berdasarkan Buku Panduan Pelaksanaan Pendampingan Keluarga
dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting di Tingkat Desa/Kelurahan yang dikeluarkan oleh BKKBN
Tahun 2021, pendampingan keluarga adalah serangkaian kegiatan yang meliputi penyuluhan, fasilitasi
pelayanan rujukan, dan fasilitasi pemberian bantuan sosial yang bertujuan untuk meningkatkan akses
informasi dan pelayanan kepada keluarga dan/atau keluarga berisiko stunting seperti ibu hamil, ibu pasca
persalinan, anak usia 0-59 bulan, serta calon pengantin/ calon pasangan usia subur melalui pendampingan
3 bulan pranikah sebagai bagian dari pelayanan nikah untuk deteksi dini faktor risiko stunting dan
melakukan upaya pencegahan pengaruh dari faktor risiko stunting.
Pendampingan keluarga dilakukan oleh Tim Pendamping Keluarga yaitu sekelompok tenaga yang terdiri
dari Bidan, Kader TP PKK, dan kader KB untuk melaksanakan pendampingan meliputi penyuluhan, fasilitasi
pelayanan rujukan dan fasilitasi penerimaan program bantuan sosial kepada calon pengantin/calon
pasangan usia subur, ibu hamil, ibu pasca persalinan, anak usia 0-59 bulan serta melakukan surveilans
keluarga berisiko stunting untuk mendeteksi dini faktor-faktor risiko stunting. Bentuk kegiatan RO fasilitasi
dan pembinaan keluarga 1000 HPK di atas yaitu meliputi kegiatan webinar, media KIE, kelas pengasuhan
online, dengan sasaran pengelola program, keluarga memiliki balita, kader dan petugas lapangan. Selain
itu, salah satu program yang didukung oleh RO tersebut adalah kelas Bina Keluarga Balita.
Selanjutnya, kinerja realisasi anggaran, capaian output dan kinerja konvergensi RO fasilitasi dan
pembinaan keluarga 1000 HPK, dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.
Tabel 34. Kinerja Anggaran, Output dan Konvergensi RO Fasilitasi dan Pembinaan Keluarga 1000 HPK,
TA 2022
Realisasi
Pagu Revisi
Anggaran % Target Capaian %
Tingkat RO
RO Tingkat RO Realisasi Revisi Output Capaian Lokasi Sasaran Koordinasi
(Ribu
(Ribu Anggaran (Satuan) (Satuan) Output
rupiah)
rupiah)
Keluarga 39.113.316 36.562.076 93,48 7.976.954 8.017.931 100,5 508 Baduta K/L lain,
dengan keluarga keluarga kab/kota dan pemda dan
baduta yang Keluarga non
mendapatkan memiliki pemerintah
fasilitasi dan baduta
pembinaan
1000 HPK
Keluarga 588.655 587.102 99,74 93.800 96.839 103,24 6 Baduta K/L lain,
dengan keluarga keluarga kab/kota dan pemda dan
baduta yang di DKI Keluarga non
mendapatkan Jakarta memiliki pemerintah
fasilitasi dan baduta
pembinaan
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 135
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Realisasi
Pagu Revisi
Anggaran % Target Capaian %
Tingkat RO
RO Tingkat RO Realisasi Revisi Output Capaian Lokasi Sasaran Koordinasi
(Ribu
(Ribu Anggaran (Satuan) (Satuan) Output
rupiah)
rupiah)
1000 HPK (Pro
PN DKI
Jakarta)
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023
Berdasarkan sumber data dari website [Link]
[Link]/indikator-stunting diketahui bahwa total jumlah keluarga dengan balita
berdasarkan data PBDKI 2022 per semester 1 tahun 2022 sebanyak 5.003.188 keluarga memiliki baduta
dan 11.275.776 keluarga memiliki balita. Dibandingkan dengan data sasaran keluarga dengan baduta
berdasarkan PBDKI 2022, maka capaian keluarga dengan baduta yang mendapatkan fasilitasi dan
pembinaan sejumlah 8.017.931 keluarga sebagaimana pada tabel di atas telah melebihi jumlah sasaran
(melebihi 100 persen). Penjelasan lebih lanjut mengenai implementasi dari program fasilitasi dan
pembinaan keluarga 1000 HPK berdasarkan hasil kunjungan daerah di Kabupaten Lima Puluh Kota,
Sumatera Barat yang dilaksanakan pada 18-21 Oktober 2022 dengan melibatkan BKKBN, Kanper BKKBN
Provinsi, Pemerintah Daerah, Bappeda, Dinas DP2KBP3A dan kader TPK, yaitu sebagai berikut.
Hasil Temuan Pelaksanaan Program Fasilitasi dan Pembinaan 1000 HPK:
1. Pelaksanaan pendampingan pada keluarga 1000 HPK melalui kegiatan Bina Keluarga Balita, dengan
sasaran bersumber dari data PK21
2. Total sasaran Bina Keluarga Balita di Sumatera Barat berdasarkan data PK21 yaitu sebanyak 349.677
KK dengan capaian 43,97 persen telah mengikuti kelas Bina Keluarga Balita, sedangkan di Kabupaten
Lima Puluh Kota dengan capaian 62 persen dari total 26.496 keluarga telah mengikuti kelas Bina
Keluarga Balita
3. Belum adanya perbedaan materi kelas Bina Keluarga Balita antara keluarga yang berisiko stunting dan
keluarga tanpa risiko stunting
4. Materi kelas BKB salah satunya terkait dengan menjadi orang tua hebat dan pengasuhan 1000 HPK,
sudah sesuai mendukung perubahan pola asuh yang menjadi salah satu tujuan dari intervensi sensitif
5. Pada saat BKB dilakukan juga pemantauan perkembangan dan pengisian Kartu Kembang Anak (KKA).
6. Pelaksanaan kelas BKB dilaksanakan di posyandu, balai penyuluhan KB dan PAUD
7. Kabupaten Lima Puluh Kota memiliki 79 desa /nagari, dengan jumlah kelas BKB sebanyak 432
kelompok (terbanyak di Sumatera Barat), terdiri dari 376 kelompok BKB telah memiliki SK, dan 56
kelompok BKB sudah Holistik Integratif
8. Integrasi dengan program lain: 427 kelas BKB telah terintegrasi dengan posyandu, 61 BKB terintegrasi
dengan PAUD, 134 BKB berada di kampung KB (sumber: [Link])
9. Sistem pelaporan kegiatan BKB dilaporkan rutin melalui website New Siga BKKBN
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 136
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
10. Pelaksanaan kelas BKB juga didukung dari sumber dana DAK fisik bidang KB yaitu penyediaan alat BKB
kit dan kartu kembang anak (KKA)
Rekomendasi Program Fasilitas dan Pembinaan 1000 HPK, lebih lanjut yaitu:
1. Partisipasi keluarga 1000 HPK mengikuti kelas BKB masih perlu ditingkatkan, yaitu salah satunya
melalui peningkatan integrasi kelas BKB dengan kegiatan rutin seperti PAUD dan posyandu
2. Pemantauan perkembangan melalui Kartu Kembang Anak, diintegrasikan dengan Stimulasi Deteksi
dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) yang dilakukan oleh puskesmas
3. Perlu integrasi sistem pencatatan pelaporan antara posyandu, kelas BKB dan PAUD (khususnya
kelompok umur 0-23 bulan), untuk meningkatkan temuan balita stunting dan peningkatan
pemantauan pendampingan pada sasaran prioritas 1000 HPK
4. Perlu adanya penambahan materi khusus untuk keluarga risiko stunting atau keluarga dengan balita
stunting yang mengikuti kelas BKB, seperti refreshment materi terkait PMBA, gizi seimbang, isi
piringku dan pemahaman terkait pentingnya penimbangan dan pemantauan tumbuh kembang
5. Peningkatan dukungan BKB kit untuk mengoptimalkan kelas BKB, dapat berupa BKB kit modul cetak
yang dialokasikan melalui DAK Fisik maupun modul digital yang dapat diakses melalui website atau
channel youtube
6. Penguatan basis data dalam penyusunan program khususnya dalam menentukan target keluarga
yang disasar untuk fasilitasi dan pembinaan
5.4 Pemberdayaan Kampung Keluarga Berkualitas
Kampung keluarga berkualitas (kampung KB) didefinisikan sebagai satuan wilayah setingkat desa dimana
terdapat integrasi dan konvergensi penyelenggaraan pemberdayaan dan penguatan institusi keluarga
dalam seluruh dimensinya guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia, keluarga dan masyarakat.
Hingga saat ini terdapat total 21.371 kampung KB yang sudah dicanangkan di seluruh Indonesia. Secara
nasional total 13.245 kampung KB telah memiliki kelompok kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB), 12.207
kampung KB telah memiliki kegiatan Bina Keluarga Remaja (BKR), 12.525 kampung KB telah memiliki
kegiatan Bina Keluarga Lansia (BKL), dan 10.426 kampung KB telah memiliki Usaha Peningkatan
Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA), 8.966 kampung KB telah memiliki Pusat Informasi dan Konseling
Remaja (PIK R) dan 9.064 kampung KB telah memiliki rumah dataku. Pelaksanaan program-program di
bawah kampung KB terdiri dari program terkait data dan kependudukan, komunikasi perubahan perilaku,
layanan kesehatan dan KB-KR, pendampingan dan layanan stunting, akses pendidikan, jaminan
perlindungan sosial, pemberdayaan ekonomi dan penataan lingkungan. Kerangka konsep kampung
keluarga berkualitas dapat dilihat lebih lanjut di bawah ini:
Grafik 35. Kerangka Konsep Kampung Keluarga Berkualitas
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 137
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Sumber: [Link]
Selanjutnya kinerja realisasi anggaran, capaian output dan kinerja konvergensi dari RO pemberdayaan
kampung KB dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel 35. Kinerja Anggaran, Output dan Konvergensi RO Pilihan Pemberdayaan Kampung KB, TA 2022
Realisasi
Pagu Revisi
Anggaran % Target Capaian %
Tingkat RO
RO Tingkat RO Realisasi Revisi Output Capaian Lokasi Sasaran Koordinasi
(Ribu
(Ribu Anggaran (Satuan) (Satuan) Output
rupiah)
rupiah)
Pemberdayaan 28.214.231 25.775.918 91,36 508 508 100 508 Ibu hamil, K/L lain,
kampung KB daerah daerah kab/kota baduta, pemda dan
dalam rangka balita, non
penurunan keluarga pemerintah
stunting memiliki
balita, catin,
remaja
putri, WUS
Pemberdayaan 371.500 371.455 99,99 6 6 100 6 Ibu hamil, K/L lain,
kampung KB daerah daerah kab/kota baduta, pemda dan
dalam rangka balita, non
penurunan keluarga pemerintah
stunting (Pro memiliki
PN DKI balita, catin,
Jakarta) remaja
putri, WUS
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 138
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Pelaksanaan implementasi dari Kampung KB diidentifikasi melalui diskusi kelompok terarah melalui
kunjungan pada Kabupaten Lima Puluh Kota pada 18-21 Oktober 2022 dengan melibatkan BKKBN, Kanper
BKKBN Provinsi, Pemerintah Daerah, Bappeda, Dinas DP2KBP3A dan kader TPK.
Hasil Temuan Pelaksanaan Program Kampung KB:
1. Pelaksanaan kampung KB berdasarkan pedoman terdiri dari kegiatan Bina Keluarga Balita, Bina
Keluarga Remaja, Bina Keluarga Lansia, Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor,
Rumah Dataku, Pusat informasi konseling remaja, dan Dashat (dapur sehat atasi stunting)
2. Kab Lima Puluh Kota terdiri dari total 79 nagari/desa dan terdapat 35 kampung KB. Kampung KB
Nagari Piobang yang dikunjungi merupakan contoh kampung KB yang telah terintegrasi dengan
posyandu dan PAUD. Kampung KB nagari piobang telah didukung dengan adanya bangunan
permanen yang dibangun bersumber dari dana desa, adanya ketersediaan lahan desa, sehingga
kampung KB, posyandu, dan PAUD dapat dibangun di lokasi yang sama. Hal tersebut merupakan
salah satu faktor pendukung dalam keberhasilan program kampung KB yang efisien dan
terintegrasi.
3. Pelaksanaan rumah dataku di dalam kampung KB nagari Piobang terdiri dari koordinasi dan
sinkronisasi data sasaran dari EPPGBM dengan data program lainnya.
4. Selain itu, pelaksanaan kegiatan dalam kampung KB di Nagari Piobang Kab Lima Puluh Kota juga
bersumber dari dana desa, meliputi pemberian PMT bersumber dari dana desa, bimtek memasak,
peningkatan kapasitas rumah desa sehat, musyawarah dan peningkatan ketahanan pangan.
Rekomendasi Program Kampung KB:
1. Optimalisasi kampung KB sebagai wadah konvergensi intervensi spesifik dan sensitif menyasar
pada sasaran prioritas ibu hamil dan balita, serta pada keluarga berisiko stunting.
2. Pelaksanaan rumah dataku dapat dimanfaatkan sebagai integrasi data sasaran program, dimana
sumber data seperti data EPPGBM, data PK21 dan data E-HDW dapat disinkronisasi
3. Optimalisasi Kampung KB sebagai wadah sinkronisasi kerja kader di desa dan peningkatan
kapasitas secara berkelanjutan pada kader Tim Pendamping Keluarga/ Kader Pembangunan
Manusia / Bidan Desa /Kader Posyandu di level desa
4. Peningkatan lokasi kampung KB pada lokasi prioritas yaitu pada desa lokus stunting, sebagai
sarana konvergensi intervensi spesifik dan sensitif dalam rangka percepatan penurunan stunting
5. Integrasi dan kolaborasi kampung KB dan rumah desa sehat, sehingga fungsi dan tugas masing-
masing dapat diperkuat dan tidak tumpang tindih.
6. Memastikan kendala dalam program penurunan stunting di level desa dapat dibawa di rembug
stunting tingkat kecamatan hingga level kab/kota (pendekatan bottom up)
5.5 Audit Kasus Stunting
Audit kasus stunting didefinisikan sebagai identifikasi risiko dan penyebab pada risiko pada kelompok
sasaran berbasis surveillance rutin atau sumber data lainnya. Identifikasi risiko pada audit kasus stunting
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 139
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
inia dalah menemukan atau mengetahui risiko potensial penyebab langsung (asupan gizi tidak adekuat,
penyakit infeksi), dan penyebab tidak langsung. Hingga triwulan III tahun 2022 terdapat total 504 dari
total 508 kabupaten/kota selain DKI Jakarta telah membentuk SK Tim Audit Kasus Stunting (99,21 persen),
dimana 4 kabupaten yang belum memiliki tim AKS yaitu beberapa kabupaten/kota di Provinsi Papua.
Tujuan dari audit kasus stunting yaitu:
1. Mengidentifikasi risiko terjadinya stunting pada kelompok sasaran
2. Mengetahui penyebab risiko terjadinya stunting pada kelompok sasaran sebagai upaya
pencegahan dan perbaikan tata laksana kasusu serupa
3. Menganalisis faktor risiko terjadinya stunting pada baduta/balita stunting sebagai upaya
pencegahan, penanganan kasus dan perbaikan tata laksana kasus yang serupa
4. Memberikan rekomendasi penanganan kasusu dan perbaikan tata laksanan kasusu serta updaya
pencegahan yang harus dilakukan
Langkah – langkah dalam audit kasus stunting yaitu dengan dibentuknya SK wakil bupati/ wakil wali kota
penunjukan tim audit kasus stunting, yang terdiri dari penanggung jawab wakil bupati, ketua kepala OPD
KB, wakil ketua dinas kesehatan, tim teknis pimpinan FKTP/FKRTL (kepala puskesmas,
dokter/bidan/tenaga gizi, kepala RSUD, unit koordinasi rekam medis), camat, PKB/ PL KB, TPK, kader
posyandu dan kader PKK. Sedangkan dalam melakukan audit tim pakar terdiri dari dokter spesialis anak,
dokter spesialis obstetri (SpOG), psikolog dan ahli gizi. Langkah – langkah dan output Audit Kasus Stunting
yaitu:
1. Pembentukan tim audit kasus stunting, dibentuk dengan SK wakil Bupati/ wakil Wali Kota, terdiri
dari OPD KB, dinas kesehatan, tim pakar dan tim teknis
2. Pelaksanaan audit dan manajemen pendampingan: terdiri dari 1) Identifikasi dan seleksi kasus
dan 2) Kajian dan Rencana Tindak Lanjut, dituangkan dalam Kertas Kerja Audit dan Rencana
Tindak Lanjut
3. Diseminasi Audit Kasus Stunting: dilaksanakan 2x setahun dan dilaporkan pada TPPS provinsi
4. Evaluasi Rencana Tindak Lanjut (RTL) Audit Kasus Stunting
Selanjutnya capaian kinerja realisasi anggaran, capaian output dan konvergensi RO Audit Kasus Stunting,
dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.
Tabel 36. Kinerja Anggaran, Output dan Konvergensi RO Pilihan Audit Kasus Stunting
Realisasi Target
Pagu Revisi % Capaian %
Anggaran Revisi
RO Tingkat RO Realisasi Output Capaian Lokasi Sasaran Koordinasi
Tingkat RO (Satuan
(Ribu rupiah) Anggaran (Satuan) Output
(Ribu rupiah) )
Pelaksanaan 88.299.818 77.491.387 87,76 508 508 100 508 Ibu hamil, K/L lain
layanan Audit layanan layanan kab/ baduta, dan
Stunting, kota balita, Pemda
Manajemen keluarga
Kasus Stunting dengan
Kab/Kota, dan balita,
koordinasi remaja
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 140
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
Realisasi Target
Pagu Revisi % Capaian %
Anggaran Revisi
RO Tingkat RO Realisasi Output Capaian Lokasi Sasaran Koordinasi
Tingkat RO (Satuan
(Ribu rupiah) Anggaran (Satuan) Output
(Ribu rupiah) )
Intensifikasi putri,
pelayanan KB di catin dan
faskes WUS
Sumber: Form Evaluasi Mandiri K/L tahun 2022 per 15 Februari 2023
Pelaksanaan implementasi dari Audit Kasus Stunting diidentifikasi melalui diskusi kelompok terarah
melalui kunjungan ke Kabupaten Lima Puluh Kota pada 18-21 Oktober 2022 dengan melibatkan BKKBN,
Kanper BKKBN Provinsi, Pemerintah Daerah, Bappeda, Dinas DP2KBP3A dan kader TPK, yaitu sebagai
berikut.
Hasil Temuan Audit Kasus Stunting:
1. Pedoman nasional audit kasus stunting telah disusun berupa buku saku audit kasus stunting yang
diterbitkan tahun 2022.
2. Pelaksanaan Audit Kasus Stunting di daerah kunjungan telah dilaksanakan sesuai dengan pedoman
dengan mengundang ahli pakar untuk memberikan feedback langsung pada hasil sampel yang diaudit.
3. Sampel audit kasus stunting dinilai masih cukup rendah, dan tidak adanya standar minimum sampel
kasus yang diaudit sehingga terdapat perbedaan jumlah sampel AKS antar kabupaten/kota.
4. Masih terdapat form audit stunting (kertas kerja audit) yang tidak lengkap pengisiannya.
5. Terdapat jeda waktu dari kasus audit dilaksanakan dengan diseminasi dan rencana tindak lanjut,
sehingga menyebabkan rencana tindak lanjut kurang tepat waktu (misal kasus ibu hamil, RTL saat ibu
sudah melahirkan, kasus catin, RTL saat pasangan sudah menikah).
6. Di Kabupaten Lima Puluh Kota, sampel audit kasus stunting hingga bulan Oktober 2022 yang berjalan
sejumlah 2 ibu hamil dan 4 balita stunting.
7. Sampel Audit Kasus Stunting di level Provinsi Sumatera Barat terdiri dari 147 sampel terdiri dari 7
calon pengantin, 45 ibu hamil, 9 ibu nifas dan 85 baduta/balita stunting.
8. Pembiayaan audit kasus stunting bersumber dari dana BO KB dan belanja K/L dengan pelaksana pada
Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi, pada implementasinya terdapat keterlambatan pada pencairan
dana BO KB, namun program audit stunting tetap berjalan menggunakan dana APBN melalui Kantor
Perwakilan BKKBN provinsi.
9. Telah tersedia dashboard untuk memantau jumlah kab/kota memiliki SK tim audit dan jumlah
kab/kota melaksanakan audit kasus stunting, yaitu diakses melalui [Link]
[Link]/indikator-stunting, namun belum tersedia data jumlah sampel kasus stunting
yang diaudit per kab/kota.
Rekomendasi:
1. Perlu adanya syarat minimum sampel yang dilakukan audit kasus, sehingga hasil kasus audit stunting
dapat lebih mewakili populasi kab/kota.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 141
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
2. Memasukkan lembar kerja audit/ form audit kasus stunting dalam laporan di level nasional,
sehingga dapat dianalisis lebih lanjut untuk mengetahui faktor risiko dan program apa saja diterima
oleh balita stunting untuk kemudian dijadikan pertimbangan dalam perumusan kebijakan ke depan
3. Meningkatkan kapasitas kader TPK dalam memastikan pengisian form audit secara terstandar, jika
diperlukan pengisian kertas kerja audit melibatkan tenaga puskesmas.
4. Mengurangi jeda waktu antara audit kasus stunting dengan diseminasi dan rencana tidak lanjut,
sehingga permasalahan yang ditemukan pada kasus audit dapat segera ditindaklanjuti.
5. Memasukkan jumlah sampel audit kasus stunting pada dashboard BKKBN
[Link] sehingga memudahkan
dalam pemantauan dan evaluasi.
Berikut merupakan lampiran dokumentasi dari kunjungan pemantauan dan evaluasi RO di Kab Lima
Puluh Kota, Sumatera Barat.
Gambar 3. Dokumentasi Pemantauan Evaluasi RO di Kab Lima Puluh Kota
Sumber: Dokumentasi tim Bappenas, 2022
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 142
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
VI. Kesimpulan dan Rekomendasi
6.1. Kesimpulan
1. Terdapat penurunan tingkat kepatuhan K/L dalam proses penandaan (tagging) tematik
stunting pada awal tahun 2022 jika dibandingkan dengan awal tahun 2021, yaitu pada tahun
2021 (Maret 2021) terdapat 215 RO dari 224 RO tematik stunting (95,9 persen) yang telah
dilakukan penandaan tematik stunting sedangkan tahun 2022 sebanyak 149 RO dari 192 RO
tematik stunting (77,6 persen) yang ter-tagging tematik stunting. Dari hasil analisis dan
konfirmasi yang dilakukan langsung kepada K/L, penyebab utama menurunnya tingkat
kepatuhan adalah karena pada awal tahun 2022 terjadi perubahan besar pada SOTK K/L utama,
yaitu Kemenkes dan Kemensos. Perubahan SOTK tersebut menyebabkan perubahan yang
mendasar terhadap struktur RO dan direktorat teknis pengampunya, sehingga terjadi kendala
dalam proses penandaan oleh K/L teknis. Kondisi tersebut telah dilakukan perbaikan dengan
melakukan revisi RO-RO yang telah dilakukan penandaan tematik stunting bulan Maret 2022
yang dilakukan pada bulan Agustus 2022 dengan total 176 RO telah dilakukan penandaan tematik
stunting.
2. Faktor penting yang berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan penandaan tematik stunting
oleh K/L terkait adalah dinamika kebijakan di internal K/L, seperti arahan pimpinan unit teknis,
perubahan PIC/operator, dan kedalaman pemahaman unit teknis terhadap substansi RO-RO
yang teridentifikasi mendukung penurunan stunting.
3. Sandingan indikator Perpres 72/2021 dengan RO-RO yang telah dilakukan penandaan tematik
stunting tahun 2022 menunjukkan bahwa, meskipun tidak semua RO tagging tematik stunting
tahun 2022 mendukung capaian indikator Perpres 72/2021, mayoritas 97 RO (55,1 persen dari
total 176 RO TA 2022) mendukung capaian indikator spesifik, indikator sensitif dan indikator pilar
program percepatan penurunan stunting dalam Perpres 72/2021:
a. Seluruh indikator intervensi spesifik dari lampiran Perpres 72/2021 telah didukung oleh
45 RO intervensi gizi spesifik, dalam hal ini adalah RO dari Kemenkes yang merupakan K/L
yang memiliki RO intervensi spesifik.
b. Sembilan dari sebelas indikator intervensi sensitif dari lampiran Perpres 72/2021 telah
didukung oleh 25 RO, terdiri dari 21 RO intervensi gizi sensitif dan 4 RO intervensi
dukungan, yang berasal dari 4 K/L yaitu Kementerian Kesehatan, BKKBN, Kementerian
Sosial, Kementerian PUPR. Sementara itu, sisa 2 (dua) indikator sensitif lainnya, tidak
didukung oleh RO yang bersumber dari belanja K/L, tetapi didukung oleh belanja yang
bersumber dari dana DAK Non Fisik Bidang KB yang terkait dengan BKKBN.
c. Dari total 71 indikator output Pilar Stranas, terdapat 17 (tujuh belas) indikator yang
didukung belanja K/L dan dengan penanggung jawabnya adalah K/L, telah didukung oleh
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 143
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
27 RO melalui belanja K/L, terdiri dari 20 RO intervensi dukungan, 2 RO intervensi spesifik
terkait publikasi data dan 5 RO intervensi sensitif terkait bimbingan perkawinan.
4. Pada tahun 2022 secara total terjadi penurunan dari pagu awal terhadap pagu revisi, dari semula
Rp32,52 triliun pada pagu awal turun sebesar RP3,62 triliun atau sebesar 11,12 persen menjadi
28,89 triliun pada pagu revisi. Penurunan tersebut utamanya dipengaruhi oleh perubahan pagu
Kemensos dan Kemenkes. Penyebab utama penurunan pagu Kemenkes adalah adanya perubahan
SOTK serta perubahan kebijakan terkait Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pabrikan kirim
daerah yang dikurangi dan diganti dengan PMT Lokal. Sedangkan penurunan pagu Kemensos
dikarenakan adanya penajaman data sasaran sesuai pembaruan data riil KPM penerima manfaat
yang memiliki Ibu Hamil dan/atau Anak Usia Dini dari program bantuan sosial PKH melalui
pemutakhiran data DTKS. Sedangkan untuk K/L lainnya, penurunan pagu secara umum
dikarenakan adanya kebijakan automatic adjusment (AA) yang menyebabkan K/L melakukan
penyesuaian alokasi anggaran termasuk pada beberapa RO yang terkait dengan program
percepatan penurunan stunting.
5. Khusus untuk Kemensos; terkait erat dengan penetapan target keluarga penerima manfaat serta
besaran alokasi anggaran riil untuk program bansos PKH dan Sembako dimana telah
dimutakhirkannya data DTKS, dan telah tersedianya data keluarga penerima manfaat yang
memiliki Ibu Hamil (Bumil) dan/atau Anak Usia Dini (AUD), maka untuk tahun 2023 dan seterusnya
dalam penentuan target keluarga penerima manfaat harus menggunakan data riil jumlah keluarga
penerima manfaat yang memiliki Ibu Hamil dan Anak Usia Dini (AUD) yang telah bisa
diklasifikasikan dan didapatkan dalam data DTKS terbaru pada Pusadatin Kemensos. Contohnya
adalah RO Bansos PKH, dimana telah dapat diklasifikasikan Keluarga penerima manfaat yang
memiliki Bumil dan AUD akhir tahun 2022 sebanyak 2.099.271 keluarga, turun dibandingkan
tahun 2021 yang sebesar 3.102.694 keluarga.
6. Kinerja realisasi anggaran penurunan stunting melalui belanja K/L tahun 2022 pada level
analisis lanjutan adalah sebesar Rp28,29 triliun. Realisasi anggaran tersebut sama dengan 87,01
persen terhadap pagu awal sebesar Rp32,52 triliun, atau sama dengan 97,90 persen terhadap
pagu revisi sebesar Rp28,89 triliun. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2021, maka capaian
persentase realisasi terhadap pagu revisi tahun 2022 sebesar 97,90 persen lebih tinggi 1,39 persen
dibandingkan periode yang sama pada tahun 2021 sebesar 96,51 persen. Tingginya capaian
realisasi anggaran terhadap pagu revisi tahun 2022 dipengaruhi oleh 15 K/L dari 17 K/L memiliki
realisasi anggaran di atas 90 persen, hanya 2 (dua) K/L yang persentase capaian realisasi
anggarannya di bawah 90 persen, yaitu Kemensetneg (83,36 persen) dan Kemendes PDTT (84,10
persen)
7. Intervensi dengan capaian realisasi anggaran terhadap pagu revisi tertinggi adalah intervensi
sensitif dengan realisasi sebesar 99,84 persen atau sebesar Rp24,95 triliun terhadap pagu revisi
sebesar Rp24,99 triliun, Selanjutnya adalah intervensi dukungan sebesar 93,14 persen atau
sebesar Rp0,91 triliun terhadap pagu revisi sebesar Rp0,98 triliun. Sementara itu, capaian
persentase kinerja realisasi anggaran terhadap pagu revisi pada intervensi spesifik sebesar 82,96
persen atau sebesar Rp2,44 triliun terhadap pagu revisi sebesar Rp2,94 triliun. Khusus untuk
intervensi spesifik yang menjadi tanggung jawab Kemenkes, penyebab relatif rendahnya capaian
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 144
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
kinerja realisasi anggaran terhadap pagu revisi tersebut dibandingkan intervensi yang lainnya
dikarenakan adanya pergeseran pelaksanaan RO-RO yang telah ditetapkan didalam dokumen
ringkasan, antara lain pelaksanaannya berubah dari melalui belanja K/L menjadi melalui dana
Dekon atau belanja DAK (fisik dan/atau non-fisik). Selain itu, ada beberapa RO yang sudah
dilakukan pada semester I berubah dan tidak dilanjutkan pada semester II, serta terdapat
beberapa RO lainnya yang tidak dapat dilakukan karena adanya kendala pengadaan oleh pihak
ketiga karena waktu pengadaan yang sangat singkat.
8. Hasil analisis kinerja pembangunan intervensi spesifik menunjukkan bahwa dari total 81 RO
intervensi spesifik tagging tematik stunting TA 2022 mayoritas 63 RO (77,8 persen) memiliki
capaian output yang tinggi di atas 90 persen. Dibandingkan dengan tahun 2021, terdapat tren
peningkatan RO intervensi spesifik yang memiliki capaian tinggi dari 57 RO (71,2 persen dari 80
RO) tahun 2021 meningkat menjadi 63 RO (77,8 persen) tahun 2022. Sebanyak 47 RO (58 persen)
Intervensi spesifik tagging tematik stunting mendukung capaian indikator Perpres 72/2021,
terdiri dari 45 RO mendukung indikator spesifik dan 2 RO mendukung indikator pilar terkait
publikasi data. Mayoritas 41 RO yang mendukung capaian indikator Perpres No. 72/2021 memiliki
capaian output tinggi di atas 90 persen. Pada level outcome, dari total 9 (sembilan) indikator
spesifik Perpres No. 72/2021 , 7 (tujuh) indikator telah memenuhi target pada tahun 2022, 1 (satu)
indikator belum memenuhi target yaitu persentase bayi usia dari 6 bulan mendapat ASI eksklusif
dan 1 (satu) indikator yang belum dapat dihitung ketercapaiannya yaitu anak usia 6-23 bulan
mendapat MP-ASI dengan capaian 4.974.380 anak.
9. Penilaian kinerja konvergensi intervensi spesifik, terdapat 21 RO intervensi spesifik memiliki
sasaran pada sasaran prioritas ibu hamil dan balita, serta remaja putri. Mayoritas RO intervensi
spesifik pada sasaran prioritas telah dilaksanakan berkesinambungan pada periode 2021-2022,
dan memiliki peningkatan capaian output dibandingkan tahun 2021. Namun gap antara capaian
output intervensi dengan jumlah sasaran program masih teridentifikasi seperti pada pelaksanaan
pelatihan dan peningkatan kapasitas pada tenaga kesehatan. Selain itu, pada cakupan
pelaksanaan intervensi spesifik, mayoritas 38 RO telah dilaksanakan pada level kabupaten/kota,
terdiri dari 7 RO dilaksanakan di seluruh 246 kabupaten/kota di 12 provinsi prioritas, 25 RO
dilaksanakan di sebagian <246 kabupaten/kota di 12 provinsi prioritas, 2 RO dilaksanakan di luar
provinsi prioritas dan 4 RO tidak tersedia data kabupaten/kota. Sedangkan dari segi koordinasi
lintas sektor, mayoritas 34 RO intervensi spesifik dilaksanakan dengan melibatkan pemerintah
daerah.
10. Hasil analisis kinerja pembangunan intervensi sensitif menunjukkan bahwa dari total 39 RO
intervensi sensitif tagging tematik stunting TA 2022 mayoritas 34 RO (87,2 persen) memiliki
capaian output tinggi di atas 90 persen. Dibandingkan dengan tahun 2021, terdapat tren
peningkatan RO Intervensi sensitif yang memiliki capaian tinggi dari 74 RO (78,7 persen dari 94
RO) tahun 2021 meningkat menjadi 34 RO (87,2 persen) tahun 2022. Mayoritas RO intervensi
sensitif yang dilakukan penandaan tematik stunting telah sejalan dan berkontribusi langsung pada
capaian indikator Perpres 72/2021, yaitu sebanyak 26 RO (66,7 persen), terdiri dari 21 RO
intervensi sensitif mendukung capaian 11 (sebelas) indikator sensitif dan 5 RO intervensi sensitif
mendukung capaian 1 (satu) indikator pilar terkait bimbingan perkawinan. Mayoritas 22 RO
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 145
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
intervensi sensitif yang mendukung capaian indikator Perpres 72/2021 memiliki capaian output
tinggi di atas 90 persen. Pada level outcome, dari total 11 (sebelas) indikator sensitif Perpres
7/2021, mayoritas 8 (delapan) indikator telah memenuhi target pada tahun 2022, dan 3 (tiga)
indikator yang belum memenuhi target.
11. Penilaian kinerja konvergensi intervensi sensitif, terdapat 21 RO intervensi sensitif memiliki
sasaran pada sasaran prioritas ibu hamil dan balita, dan sasaran penting remaja putri, wanita usia
subur dan calon pengantin. Namun sebagai catatan bahwa intervensi sensitif merupakan
intervensi yang bersifat kontributif dan bukan merupakan program yang didesain langsung untuk
penurunan stunting, sehingga beberapa RO seperti 1) PBI JKN, 2) program bantuan sosial
sembako, 3) bantuan sosial bersyarat (program keluarga harapan), dan 4) sistem pengelolaan
domestik setempat skala individu (SPALD-S) merupakan program yang memiliki sasaran pada
masyarakat miskin dan rentan dan/atau masyarakat yang tidak memiliki akses sanitasi layak, yang
memungkinkan menyasar sasaran prioritas seperti ibu hamil dan balita. Namun pada beberapa
RO tersebut belum dapat diidentifikasi berapa jumlah sasaran prioritas terhadap total jumlah
penerima manfaat program. Berdasarkan lokasi pelaksanaan, mayoritas 29 RO intervensi sensitif
telah dilaksanakan pada level kabupaten/kota, terdiri dari 16 RO dilaksanakan di seluruh 246
kabupaten/kota di 12 provinsi prioritas dan 13 RO dilaksanakan di sebagian <246 kabupaten/kota
di 12 provinsi prioritas. Sedangkan dari segi koordinasi lintas sektor, mayoritas 23 RO intervensi
sensitif telah dilaksanakan dengan melibatkan K/L lain, pemerintah daerah dan lembaga non
pemerintah.
12. Hasil analisis kinerja pembangunan intervensi dukungan menunjukkan bahwa dari total 56 RO
intervensi dukungan tagging tematik stunting TA 2022 mayoritas 51 RO (91 persen) memiliki
capaian output yang tinggi di atas 90 persen. Jika dibandingkan dengan tahun 2021, terdapat tren
peningkatan RO Intervensi dukungan yang memiliki capaian tinggi dari 51 RO (89,5 persen dari 57
RO) tahun 2021 meningkat menjadi 51 RO (91 persen) tahun 2022. Terkait dengan dukungan
pada indikator Perpres 72/2021, hanya 24 RO (42,8 persen) Intervensi dukungan tagging tematik
stunting yang relevan mendukung capaian indikator Perpres 72/2021, terdiri dari 20 RO
mendukung indikator pilar Stranas dan 4 RO mendukung indikator sensitif. Mayoritas 23 RO yang
mendukung capaian indikator Perpres 72/2021 tersebut, telah dilaksanakan dengan capaian
output tinggi di atas 90 persen.
13. Penilaian kinerja konvergensi intervensi dukungan, terdapat 8 RO intervensi dukungan memiliki
sasaran pada sasaran prioritas ibu hamil dan balita, serta sasaran penting remaja putri, wanita
usia subur dan calon pengantin. Cakupan pelaksanaan intervensi dukungan menunjukkan
mayoritas 34 RO intervensi dukungan dilaksanakan pada level kabupaten/kota, terdiri dari 11 RO
dilaksanakan di seluruh 246 kabupaten/kota di 12 provinsi prioritas, 22 RO dilaksanakan di
sebagian <246 kabupaten/kota di 12 provinsi prioritas, dan 1 RO dilaksanakan di luar provinsi
prioritas. Sedangkan dari segi koordinasi lintas sektor, mayoritas 34 RO intervensi dukungan
dilaksanakan dengan melibatkan K/L lain, pemerintah daerah dan lembaga non pemerintah.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 146
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
6.2. Rekomendasi
1. Rekomendasi perbaikan Penandaan (tagging) tematik stunting:
a. Penajaman informasi RO-RO yang teridentifikasi masuk dalam penandaan (tagging)
tematik stunting terkait dengan target, sasaran (prioritas, penting dan lainnya), dan lokasi
pelaksanaan sehingga dapat direkomendasikan pelaksanaan RO tersebut dilakukan pada
lokus-lokus prioritas yang telah ditetapkan.
b. K/L terkait tidak melakukan penandaan (tagging) tematik stunting dengan prinsip
hanya “mengikuti tahun sebelumnya (business as usual)” atau “sesuai dengan
kebijakan internal kami”. Hal ini mengakibatkan RO-RO yang potensial dan terkait erat
dengan percepatan penurunan stunting tidak masuk dalam dokumen penandaan
(tagging) tematik stunting. Misalnya: RO terkait dengan P2L Kementan, tidak dilakukan
penandaan tematik stunting pada belanja K/L tetapi masuk dalam belanja DAK yang
mendukung stunting, atau Kemen PUPR untuk RO terkait dengan perumahan swadaya,
dimana didalam RO tersebut terdapat komponen penyedian air minum dan sanitasi untuk
MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) yang merupakan keluarga berisiko stunting
tinggi.
c. Khusus Kemensos:
- Dengan telah tersedianya data riil sasaran penerima manfaat yang terdiri dari
keluarga penerima manfaat yang memiliki Ibu Hamil (Bumil) dan atau Anak Usia
Dini (AUD) dalam DTKS, maka sejak proses penandaan, Kemensos sudah
memberikan informasi data tersebut sebagai dasar dalam perhitungan alokasi
pagu RO terkait pada level analisis lanjutan.
- Direktorat teknis terkait bersama dengan bagian perencanaan memastikan bahwa
untuk RO bansos sembako/BPNT agar dapat menyediakan data backdate untuk
jumlah keluarga penerima manfaat yang memiliki Ibu Hamil (Bumil) dan/atau Anak
Usia Dini (AUD) sejak tahun 2019 sampai dengan 2022. Data tersebut akan
digunakan dalam proses pemutakhiran data realisasi anggaran untuk program
bansos BPNT/Sembako yang akan dibandingkan dengan data realisasi anggaran
dengan menggunakan data formula pembobotan 30,8% dari total KPM penerima
manfaat.
2. Rekomendasi perbaikan perkembangan alokasi pagu tematik stunting:
a. Penguncian anggaran melalui pendetailan anggaran sampai komponen, lokasi & sasaran
prioritas, dan jika ada perubahan anggaran harus melalui persetujuan kesepakatan tiga
pihak (Bappenas, DJA Kemenkeu dan K/L terkait)
b. Penajaman & inovasi pelaksanaan kegiatan untuk menjamin compliance pada sasaran
prioritas
c. Peningkatan cakupan intervensi pada Provinsi prioritas
d. Perlu dilakukan kaji ulang perhitungan Formula Pembobotan untuk Intervensi Sensitif
dengan alokasi besar dan bersifat kontributif, khususnya untuk RO-RO Bantuan Sosial di
Kemensos terutama untuk RO Bantuan Sosial Sembako.
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 147
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
e. Pelaksanaan Forum Koordinasi rutin tiga bulanan lintas K/L bersama Direktorat Mitra
Bappenas dan DJA Kemenkeu untuk menyiasati jika terjadi perubahan alokasi pagu.
3. Rekomendasi perbaikan Kinerja Anggaran:
a. Komitmen kuat Kementerian Kesehatan dalam menjalankan kebijakan alokasi
anggaran untuk intervensi spesifik dengan memastikan tidak adanya pemotongan
anggaran/refocusing anggaran.
b. K/L yang terkena automatic adjustment (AA) sedapat mungkin tidak mengurangi
alokasi pagu RO-RO yang terkait dengan PPS (terutama Intervensi Spesifik dan Sensitif
yang mendukung pencapaian indikator Perpres 72/2021)
c. Meneruskan inovasi pelaksanaan RO-RO tahun-tahun sebelumnya yang berdampak
pada efektivitas dan efisiensi anggaran, misalnya kegiatan bersifat daring atau hybrid
dengan tetap menjaga kualitas keluaran RO.
d. Pelaksanaan Forum Koordinasi rutin tiga bulanan lintas K/L bersama Direktorat Mitra
Bappenas dan DJA Kemenkeu dalam rangka menjadi proses pelaksanaan kegiatan PPS
sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
e. Perlu penguatan pendanaan yang bersifat komplementer melalui Dana Alokasi Khusus,
Dana APBD dan Dana Desa, untuk memastikan gap cakupan sasaran intervensi dari
dukungan RO melalui Belanja K/L tercukupi melalui sumber dana lainnya
4. Rekomendasi perbaikan Kinerja Pembangunan:
a. Peningkatan konvergensi intervensi spesifik dan intervensi sensitif pada sasaran
prioritas 1000 HPK dan lokasi prioritas, didukung melalui desain program pada level pusat
dan optimalisasi konvergensi melalui mekanisme rembug stunting (8 aksi konvergensi)
pada level daerah
b. Memastikan kesinambungan RO intervensi spesifik dan sensitif pada sasaran 1000 HPK
pada tahun berikutnya
c. Meningkatkan kualitas penandaan tagging tematik stunting relevan terhadap indikator
Perpres 72/2021
d. Menambahkan klasifikasi budgeting di atas Rincian Output untuk mengidentifikasi RO-
RO pada satu program yang sama misal program pemberian makanan tambahan atau
program pemberian dan promosi tablet tambah darah.
e. Meningkatkan cakupan capaian output intervensi spesifik dan sensitif sasaran prioritas
terhadap total jumlah sasaran ibu hamil dan balita
f. Sinkronisasi dukungan sumber dana APBN melalui belanja K/L dengan dukungan dana
DAK, APBN dan Dana Desa dalam meningkatkan efektivitas program dan mengurangi gap
jumlah penerima manfaat dengan jumlah sasaran
g. Penyusunan NSPK berupa pedoman atau petunjuk teknis program, agar dapat diinisiasi
pada tahun sebelumnya, sehingga mengantisipasi keterlambatan pelaksanaan intervensi
pada tahun berjalan
h. Penguatan intervensi spesifik bersifat tata laksana, seperti program pemberian
makanan tambahan balita wasting, pendampingan balita dengan masalah gizi dan
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 148
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022
rujukan ke FKRTL, sebagai upaya percepatan penurunan stunting dengan target 14 persen
pada tahun 2024
i. Penguatan pada deteksi dini masalah gizi melalui pemantauan pertumbuhan yang
dilaksanakan di posyandu dan penyisiran kunjungan balita oleh kader
j. Perbaikan pada sistem informasi pemantauan dan evaluasi dengan menyediakan data
realisasi lokasi pelaksanaan intervensi pada level kabupaten/kota hingga level desa lokus
k. Perbaikan pada sistem informasi pemantauan dan evaluasi dengan menyediakan data
sasaran penerima program berdasarkan kategori usia balita
l. Perbaikan pada satuan target dan capaian RO, menyesuaikan dengan satuan pada
indikator Perpres 72/2021, misal satuan wilayah menjadi satuan orang/keluarga
m. Sinkronisasi timeline rembug stunting sebelum Musrenbang tingkat provinsi dan
kabupaten/kota, dengan timeline aksi 1 konvergensi yaitu analisis situasi dapat diinisiasi
pada triwulan empat tahun sebelumnya
n. Dalam rangka penguatan satu data stunting, perlu adanya diskusi tindak lanjut terkait
dengan integrasi data sasaran dengan koordinasi Kementerian Dalam Negeri, disertai
sosialisasi dan mekanisme khusus bagi balita stunting untuk mendapatkan NIK
Laporan Evaluasi Kinerja Anggaran dan Pembangunan Hal. 149
Program Percepatan Penurunan Stunting, Tahun 2022