0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan27 halaman

Pembelajaran IPA SD Berbasis Kolaborasi

Pembelajaran IPA SD/MI berbasis keterampilan berkolaborasi memberikan peluang peserta didik untuk belajar secara kolaboratif dan aktif serta mengurangi perbedaan antar individu. Desain pembelajaran IPA SD/MI berorientasi pada pembelajaran berbasis keterampilan berkolaborasi melibatkan aktivitas kelompok dan proyek untuk meningkatkan keterampilan berkolaborasi siswa.

Diunggah oleh

Alfania Pane
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan27 halaman

Pembelajaran IPA SD Berbasis Kolaborasi

Pembelajaran IPA SD/MI berbasis keterampilan berkolaborasi memberikan peluang peserta didik untuk belajar secara kolaboratif dan aktif serta mengurangi perbedaan antar individu. Desain pembelajaran IPA SD/MI berorientasi pada pembelajaran berbasis keterampilan berkolaborasi melibatkan aktivitas kelompok dan proyek untuk meningkatkan keterampilan berkolaborasi siswa.

Diunggah oleh

Alfania Pane
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMBELAJARAN IPA SD/MI BERBASIS KETERAMPILAN BERKOLABORASI

Dosen Pengampu: Dr. Nirwana Anas, [Link]

Disusun Oleh:

Kelompok 11

Nadilla Indriani 0306231009

Hikma Sari 0306231016

Afni Rahma Sagita 0306233183

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA


KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

Kami ucapkan rasa syukur atas kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan

inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini telah di susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai

pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan

banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan hasil

makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan

baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan

terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki

makalah ini.

Medan, 16 April 2024

Pemakalah

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................ii
DAFTAR ISI..............................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN...........................................................................1
A. Latar Belakang.................................................................................1
B. Rumusan Masalah............................................................................2
C. Tujuan Masalah................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN............................................................................3
A. Sejarah Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi.........3
B. Definisi dan Konsep Pembelajaran Berbasis Keterampilan
Berkolaborasi...................................................................................4
C. Indikator Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi.......9
D. Aktivitas/Sintaks Pembelajaran Berbasis Keterampilan
Berkolaborasi..................................................................................11
E. Desain Pembelajaran IPA SD/MI Berorientasi Pembelajaran Berbasis
Keterampilan Berkolaborasi...........................................................14

BAB III PENUTUP................................................................................22


Kesimpulan............................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA............................................................................23

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proses pembelajaran yang dilaksanakan dalam dunia pendidikan bermula dari hal

yang kecil menuju hal yang besar atau bisa juga bermula dari hal yang sederhana

menuju pada hal yang lebih kompleks. Pendidikan yang ada ditingkat yang lebih

tinggi pastinya memiliki pembelajaran yang lebih kompleks dibandingkan dengan

pendidikan yang dibawahnya. Karena semakin tinggi tingkatan pendidikan yang

dijalani maka semakin luas juga pengetahuan yang dikembangkan. Dalam hal ini

eksplorasi materi pembelajaran sangat ditekankan untuk bisa memperluas pemahaman

materi pembelajaran. Untuk menerapkan hal tersebut perlu dilakukan pemilihan

model pembelajaran yang sesuai agar proses belajar mengajar bisa berjalan dengan

efektif.

Selain faktor diatas, berdasarkan pengalaman penulis faktor lain yang membuat

kurangnya minat belajar sejarah adalah media pembelajaran yang kurang memadai.

Media yang dimanfaatkan hanya berfokus pada buku dan papan tulis saja. Selain itu

ditambah jam pelajaran yang biasanya berada di jam siang atau sore menambah

kurangnya minat peserta didik dalam belajar karena sudah lelah dan mengantuk.

Selain permasalahan yang hanya berdasar pada minat belajar peserta didik, masalah

lain seperti penerapan model pembelajaran juga menjadi faktor peserta didik jenuh

dengan sejarah. Karena model ceramah saja yang diterapkan oleh guru, menjadikan

proses belajar mengajar menjadi bosan dan hanya berfokus pada satu arah

pembelajaran saja yakni antara guru kepada peserta didik. Hal ini menjadikan

perhatian peserta didik menjadi rendah dan minat belajar juga berkurang sehingga apa

yang diharapkan tidak sesuai dengan apa yang di inginkan. Tujuan pembelajaran

1
sejarah dapat dicapai melalui pelaksaan proses pembelajaran yang efektif dan efisien

mulai dari persiapan pembelejaran hingga evaluasi. Agar proses pembelajaran bisa

menarik minat peserta didik, guru harus mampu menerapkan berbagai model

pembelajaran untuk menarik minta belajar peserta didik. Dengan adanya model

pembelajaran, peserta didik akan lebih aktif dalam proses belajar mengajar

Terdapat berbagai cara dalam menerapkan teknik pembelejaran atau taktik belajar

untuk bisa mencapai tujuan pembelajaran yang kita inginkan. Salah satu usaha guru

yang dapat dilakukan untuk mengatasi pembelajaran adalah dengan menerapkan

startegi pembelajaran yang pas saat proses belajar berlangsung. Dengan pemilihan

startegi, teknik dan model pembelajaran yang pas akan menjadikan proses belajar

menjadi menarik dan tidak membosankan. Penggunaan media juga bisa menunjang

pembelajaran agar bisa berjalan lebih efektif. Media adalah segala sesuatu yang

menjadi perantara. Maka dari itu dengan adanya media sebagai perantara bahan ajar,

maka akan membuat proses belajar mengajar menjadi lebih diminati.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Sejarah Pembelajaran Sejarah Berbasis Keterampilan Berkolaborasi?


2. Apa definisi dan konsep Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi?
3. Apa indikator Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi?
4. Apa saja aktivitas Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi?
5. Apa saja desain Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi?

C. Tujuan Masalah

1. Mengetahui Sejarah Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi


2. Mengetahui definisi dan konsep Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi
3. Memahami indikator Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi
4. Memahami aktivitas Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi
5. Memahami desain Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi

Menurut Soekamto menyebutkan bahwa Pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan

peluang untuk menuju pada kesuksesan praktek-praktek pembelajaran. Sebagai teknologi

untuk pembelajaran (technology for instruction), pembelajaran kolaboratif melibatkan

partisipasi aktif para siswa dan meminimisasi perbedaan-perbedaan antar individu.

Pembelajaran kolaboratif telah menambah momentum pendidikan formal dan informal

dari dua kekuatan yang bertemu, yaitu :

1. Realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif

dalam kehidupan di dunia nyata.

2. Menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan

pembelajaran bermakna.

Ide pembelajaran kolaboratif bermula dari perpsektif filosofis terhadap konsep

belajar. Untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki pasangan. Pada tahun 1916, John

Dewey, menulis sebuah buku “Democracy and Education” yang isinya bahwa kelas

merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang

kehidupan nyata. Pemikiran Dewey yang utama tentang pendidikan adalah:

1. Siswa hendaknya aktif, learning by doing.

2. Belajar hendaknya didasari motivasi intrinsik.

3. Pengetahuan adalah berkembang, tidak bersifat tetap.

4. Kegiatan belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa.

3
5. Pendidikan harus mencakup kegiatan belajar dengan prinsip saling memahami dan

saling menghormati satu sama lain, artinya prosedur demokratis sangat penting.

6. Kegiatan belajar hendaknya berhubungan dengan dunia nyata dan bertujuan

mengembangkan dunia tersebut.

B. Definisi Dan Konsep Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi

Salah satu dari empat keterampilan abad 21 yaitu kolaborasi yang memiliki peran

penting dalam mendukung kesuksesan seorang siswa baik ketika ia masih berstatus

sebagai siswa bahkan ketika ia telah menyelesaikan studinya, keterampilan tersebut

menjadi pendukung ketika meniti kariernya di di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

Kolaborasi dalam KBBI diartikan sebagai kerja sama untuk membuat sesuatu.

Kaitan dengan dunia pendidikan, para siswa dilatih untuk meningkatkan keterampilan

berkolaborasi. Dalam meraih sebuah keberhasilan dan kesuksesan tentunya tidak dapat

dilakukan secara sendiri akan tetapi membutuhkan bantuan orang lain.

Menurut Greenstein keterampilan berkolaborasi (Collaboration Skill) merupakan

keterampilan untuk bekerja bersama secara efektif dan menunjukkan rasa hormat pada tim

yang beragam, melatih kelancaran, dan kemauan dalam membuat keputusan yang

diperlukan untuk mencapai tujuan bersama. Keterampilan bekerja dalam kelompok; serta

kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan kerja sama.

Sebuah perusahaan yang hebat, maju, dan dapat mensejahterakan karyawannya

tentunya ditunjang dengan kerja sama semua pihak yang terlibat pada perusahaan tersebut.

Begitupun sebuah organisasi terkelola dengan baik tentunya ditunjang dengan kerja sama

(kolaborasi) para pengurus yang terus bekerja dan sadar akan tugas, pokok, dan fungsinya

masing-masing serta saling mendukung program satu dengan program lainnya.

4
Kolaborasi menjadi salah satu keterampilan penting bagi setiap siswa ketika

mereka nantinya akan menghadapi kehidupan setelah mereka menyelesaikan belajarnya di

sekolah/madrasah. Kolaborasi akan mengingatkan kita sebagai makhluk sosial yang

saling membutuhkan orang lain dalam kehidupan sehari-hari seperti meniti sebuah

pekerjaan dan karier.

Keterampilan berkolaborasi dapat dimplementasikan pada kegiatan belajar seperti

pada saat kegiatan diskusi di mana setiap siswa akan terlibat dan aktif pada saat kegiatan

belajar berlangsung. Dengan berdiskusi setiap siswa akan menyampaikan gagasannya

terkait dengan topik tertentu dan lahirnya sikap saling menghargai terhadap berbagai

pendapat dan dapat diambil sebuah kesimpulan yang disetujui secara kolektif.

Suatu hari penulis pernah melihat proses sebuah gabah digiling di sebuah

penggilingan padi yang jaraknya tidak jauh dengan rumah penulis. Ketika melihat gabah

yang banyak kemudian digiling sehingga menghasilkan beras yang bersih. Seandainya

yang digiling hanya satu gabah tentunya gabah tersebut tidak akan menjadi beras yang

baik. Begitulah kira-kira manfaat dari sebuah diskusi yang akan menajamkan proses

berpikir siswa serta menghasilkan keputusan yang disepakati secara kolektif.

Keterampilan kolabaorasi juga dapat dilakukan dengan cara misalnya siswa

diberikan tugas secara berkelompok. Hal itu diharapkan lahirnya kesadaran secara kolektif

terkait dengan pentingnya sebuah tugas diselesaikan secara bekerja sama yang tidak

mengandalkan satu orang saja misalnya ketua kelompok akan tetapi setiap siswa akan

terbangun kesadarannya untuk bekerja sama dalam menyelesaikan tugas dari guru.

Selain itu, keterampilan berkolaborasi dapat dilatih ketika siswa aktif di organisasi

yang berada di sekolah/madrasah seperti OSIS bagi siswa SMP/MTs dan SMA/MA/SMK

serta aktif di kegiatan ekstrakulikuler. Setiap organisasi memiliki program kerja yang

5
harus dilaksanakan setiap masa baktinya. Melalui organisasi, keterampilan berkolaborasi

akan terasah karena siswa akan termotivasi untuk menjalankan tanggung jawabnya serta

bekerja sama dengan yang lainnya.

Kolaborasi dalam proses pembelajaran merupakan suatu bentuk kerja sama

antarsiswa yang satu sama lain saling membantu dan melengkapi untuk melakukan tugas-

tugas tertentu agar diperoleh suatu tujuan yang telah ditentukan. Kecakapan kolaborasi

yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut

a) Tanggung jawab untuk bekerja sama dengan orang lain untuk menghasilkan tujuan

tertentu.

b) Menghargai dan menghormati pendapat yang berbeda

c) Mampu bekerja efektif dan fleksibel dalam tim yang beragam

d) Mampu berkompromi dengan anggota yang lain dalam tim demi tercapainya

tujuan yang telah ditetapkan.

Urgensi Keterampilan Kolaborasi bagi Siswa. Allah SWT berfirman dalam

Surat Al-Maidah ayat 2 yang artinya, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam

(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa

dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-

Nya.”.

Ayat di atas memberikan sebuah gambaran betapa pentingnya kita

berkolaborasi (kerja sama) dilakukan oleh kita yaitu kerja sama yang mengarah kepada

kebaikan dan ketakwaan dan kita dilarang untuk bekerja sama dalam hal dosa dan

permusuhan.

Keterampilan kolaborasi sangat penting dikuasai oleh siswa. Selain untuk

meningkatkan prestasi belajar, keterampilan tersebut akan menumbuhkan karakter

6
yang positif seperti merangsang untuk melahirkan ide, menghargai orang lain,

membina hubungan dengan orang lain, dan bekerja sama dengan orang lain untuk

mencapai tujuan yang sama, dan tanggung jawab.

Selain itu, manfaat keterampilan kolaborasi akan dirasakan manakala siswa

telah menyelesaikan belajarnya di sekolah/madrasah seperti meniti karier di sebuah

perusahaan, merintis usaha, membangun lembaga pendidikan, dan lain sebagainya.1

Pada kegiatan pembelajaran, menurut Barron dan Darling-Hammond

pembelajaran kolaboratif dapat mengarah pada pengembangan metakognisi, perbaikan

dalam merumuskan ide, dan diskusi atau berdebat dengan tingkat berpikir yang lebih

tinggi. Hal ini memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar saling memantau satu

sama lain, saling mendeteksi kesalahan dan belajar bagaimana untuk memperbaiki

kesalahan mereka. Siswa dapat mengembangkan konten pengetahuan dan belajar

keterampilan abad ke-21 seperti kemampuan untuk bekerja dalam tim, memecahkan

masalah yang kompleks, dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh ke dalam situasi

lain.

Berdasarkan uraian di atas, betapa pentingnya keterampilan kolaborasi dikuasi

oleh siswa. Dengan demikian, tugas kita sebagai pendidik untuk terus berupaya

melakukan kegiatan pembelajaran kolaboratif seperti memilih metode dan strategi

pembelajaran yang dapat melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan tersebut.

Kolaborasi diidentifikasikan sebagai hasil pendidikan yang penting

dikarenakan pembelajaran abad ke-21 mencakup 4K, yaitu kolaborasi, kreatifivitas,

berpikir kritis, dan komunikasi. Keterampilan kolaborasi dianggap penting dalam

proses pembelajaran karena keterampilan kolaborasi ini dapat meningkatkan kinerja

1
Masdul, M. R. (2018). Komunikasi pembelajaran learning communication. Iqra: Jurnal Ilmu Kependidikan
Dan Keislaman, 13(2), 1–9.

7
akademik dan dapat memingkatkan rasa sosial pada siswa. Kolaborasi merupakan

salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa masa kini agar siap ketika

terjun ke dunia pekerjaan, siswa masa kini dituntut dapat berkolaborasi satu sama lain

dalam lingkungan sekolah juga dengan masyarakat global. Selain untuk siap terjun ke

dunia kerja, keterampilan kolaborasi menunutun para siswa supaya siswa mendapatkan

keselarasan hidup yaitu hidup bersama dengan sesama, sama-sama menghormati

pendapat, dapat menambumbukan prospek kerja, dan dapat menumbuhkan komitmen

akan partisipasi masyarakat.2

Keterampilan kolaborasi dianggap penting dalam proses pembelajaran karena

keterampilan kolaborasi ini dapat meningkatkan kinerja akademik dan dapat

memingkatkan rasa sosial pada siswa. Keterampilan kolaborasi masa kini membentuk

kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang sedemikian rupa untuk

menyederhanakan usaha kolektif untuk mencapai tujuan bersama dengan melalui

keterampilan kolaborasi, siswa memiliki kemampuan bekerjasama dan sosial untuk

mencapai keutuhuan bersama. Buruknya keterampilan kolaborasi yang dimiliki oleh

siswa didukung juga dengan penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Julita

tentang sikap kerjasama dan interaksi sosial yang dimiliki siswa. Hasil menunjukkan

bahwa sikap tersebut masih rendah, sehingga siswa perlu dilatihkan tentang sikap

bekerjasama.

Rendahnya keterampilan kolaborasi yang dimiliki siswa ini dikarenakan

terbiasanya siswa belajar dengan pembelajaran yang masih berfokus pada buku dan

guru masih mendominasi peranannnya sebagai sumber ilmu yang hanya menganggap

siswa laksana sebuah media yang akan diisi pengetahuan oleh guru serta guru tidak

2
Trilling, B., and Fadel, C. (2009). 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. San Francisco: CA, hlm
64

8
menggunakan model pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku membuat

siswa tidak dapat mengetahui bagaimana cara berkolaborasi dengan sesama siswa.

C. Indikator Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi

Abad ke-21 disebut juga sebagai abad yang meningkatnya kecanggihan teknologi,

informasi dan komunikasi serta berkembang pesatnya ilmu pengetahuan diseluruh dunia.

Perubahan yang terjadi pada abad ini terjadi begitu pesat dan sulit untuk diprediksi

sehingga memerlukan kesiapan yang matang bagi manuisa untuk menghadapinya. Jika

kita bisa memanfaatkan perubahan ini dengan baik, maka akan banyak kesempatan pula

yang dating pada kita. Tetapi kalau kita tida bisa menerima perubahan ini, maka kita akan

kalah dan menjadi orang yang tidak berguna. Perkembangan yang sangat pesat terjadi

pada bidang teknologi dan informasi yang menyuguhkan berbagai fasilitas media sosial

untuk memudahkan aktivitas manusia. Di abad ini terdapat banyak sekali informasi yang

beredar dimana-mana, dan bahkan dari informasi tersebut tidak sedikit apa yang

disampaikan merupakan berita bohong (hoax). Kalau kita tidak memiliki literasi informasi

yang cukup, maka kita akan dengan mudah termakan berita bohong tersebut. Dalam hal

ini, keterampilan abad 21 hadir untuk menangkal kebohongan dan ketidak pastian

informasi yang beredar di sosial media. Untuk mempersiapkan generasi bangsa yang baik

dalam menerapkan keterampilan abad 21, jalur pendidikan merupakan hal yang efektif

dalam memberikan pendidikan dasar mengenani keterampilan abad 21

Proses belajar mengajar seorang guru tidak hanya bertugas untuk mentarsfer apa

yang mereka ketahui saja, tetapi juga memiliki tugas untuk melatih keterampilan peserta

didik serta merubah perilakunya. Salah satu keterampilan yang ada di abad 21 adalah

ketermapilan kolaborasi.3 Keterampilan kolaborasi adalah proses belajar yang diterapkan

secara bersama-sama untuk menyatukan perbedaan pendapat serta pemikiran untuk

3
Aunurrahman. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta, hlm 88

9
medengarkan saran dalam diskusi kelompok maupun kelas dan mendukung satu sama lain

Pembelajaran kolaboratif adalah terjadinya hubungan saat belajar, bermula dari peserta

didik yang bertanya mengenai materi pembelajaran dan dilanjutkan dengan pemevahan

masalah dengan membuat kelompok kecil. Jadi dapat kita simpulkan, keterampilan

kolaborasi merupakan kemampuan untuk bekerja sama dalam melakukan sesuatu dan

untuk menyelesaikan suatu masalah bersama-sama. Keterampilan ini sangat penting untuk

dilatih sejak usia dini, karena untuk melatih peserta didik agar bisa bekerja sama dengan

baik dan tidak individualis.4

Indikator keterampilan kolaborasi terbagi menjadi 5 keterampilan, diantaranya


adalah:

1. Kerjasama

Peserta didik dikatakan dapat berkolaborasi apabila dapat bekerjasama berkelompok

secara efektif dan dengan tim yang beragam.

2. Fleksibilitas

Peserta didik dikatakan dapat berkolaborasi apabila masing-masing individu dapat

berkontribusi dalam tim serta dapat beradaptasi kepada seluruh anggota tim

3. Tanggung Jawab

Peserta didik dikatakan dapat berkolaborasi apabila bertanggung jawab atas kerja tim,

dapat memimpin anggota tim, serta memiliki inisiatif dan dapat mengatur diri sendiri

4. Kompromi

Peserta didik dikatakan dapat berkolaborasi apabila dapat bermusyawarah dalam

memecahkan masalah secara berkelompok dan berkompromi untuk mencapai tujuan

bersama

5. Komunikasi

4
Greinstien, (2017). Skills for Today:What We Know about Teaching and Assessing Collaboration. Pearson,
hlm 209.

10
Peserta didik dikatakan dapat berkolaborasi apabila dapat terjalin komunikasi yang

efektif dalam kelompok.5

D. Aktivitas/Sintaks Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi

Pendidikan mempunyai peranan strategis untuk mempersiapkan generasi muda yang

memiliki keberdayaan dan kecerdasan emosional yang tinggi dan menguasai megaskills

yang mantap. Hal tersebut tidak lain adalah untuk menyiapkan manusia yang memenuhi

kualifikasi sesuai dengan tuntutan zaman dan masyarakat saat ini yang lebih dikenal

dengan tantangan abad ke 21. Tantangan abad ke-21 ditandai dengan terjadinya percepatan

perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi serta tidak terdapatnya batas

antar “ruang dan waktu” antarnegara yang memunculkan adanya pasar bebas. Oleh karena

itu, pendidikan di Indonesia harus siap menghasilkan generasi muda yang dibekali

keterampilan abad ke-21.

Masyarakat abad 21 semakin menyadari pentingnya menyiapkan generasi muda yang

luwes, kreatif, dan proaktif. Semakin disadari pula bahwa perlu membentuk anak-anak

muda yang terampil memecahkan masalah, bijak dalam membuat keputusan, berpikir

kreatif, suka bermusyawarah, dapat mengkomunikasikan gagasannya secara efektif, dan

mampu bekerja secara efisien baik secara individu maupun kelompok. Lebih jauh,

menurut keterampilan pada abad 21 berfokus pada keterampilan pembelajaran inovasi

yaitu (1) berpikir kritis dan pemecahan masalah sebagai berpikir ahli; (2) komunikasi dan

kolaborasi sebagai bentuk berkomunikasi yang kompleks; serta (3) kreativitas dan

penemuan untuk menerapkan daya khayal dan hasil daya khayal atau penemuan. Ketiga

keterampilan tersebut merupakan kunci dalam pembelajaran dan menjadi tuntutan dalam
5
Trilling, B., and Fadel, C. (2009). 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. San Francisco: CA, hlm
99

11
dunia kerja abad 21. Dunia pendidikan memiliki erat hubungannya dengan berbagai

bidang pembangunan yang bersifat pada kebutuhan ekonomis (lebih spesifik dunia kerja). 6

Bradon dan Dorothy mengemukakan bahwa terdapat 5 kompetensi penting yang

menghubungkan dunia pendidikan dan dunia kerja yaitu, berpikir kritis, problem solving,

teknologi dan komunikasi, kolaborasi dan keterampilan secara mandiri

Dunia pendidikan berkontribusi dalam menghasilkan tenaga kerja berkualifikasi abad

21 melalui kurikulum dan silabusnya, yang mengarah pada pembentukan kompetensi

tertentu, yang terakreditasi dan tersertifikasi secra nasional dan bahkan internasional,

sehingga dapat link and match dengan kebutuhan riil dunia usaha dan pasar kerja. Sebagai

upaya dalam meningkatkan keterampilan abad 21, terutama pada keterampilan kolaborasi

dan komunikasi salah satunya adalah melalui pembelajaran IPA dengan menggunakan

berbagai model dan pembelajaran di dalamnya. Berdasarkan hakikatnya, IPA dipandang

sebagai proses, produk, dan sikap ilmiah. Sebagai proses, pembelajaran IPA memuat

keterampilan proses mengamati, menanya, mengumpulkan data, mengasosiasi,

mengkomunikasikan, meramalkan, dan menyimpulkan.7 Pada proses mengumpulkan data

atau mengekperimen dan mengasosiasi dapat memfasilitasi peserta didik untuk

mengembangkan keterampilan kolaborasi dan keterampilan komunikasi. Disamping itu,

keterampilan proses mengkomunikasikan, meramalkan, dan menyimpulkan hasil juga

mampu mengembangkan keterampilan komunikasi dalam diri peserta didik.

Namun demikin, pada saat ini banyak praktik pembelajaran IPA yang kurang

membangun keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia kerja, terutama keterampilan

komunikasi dan kolaborasi.8 Keterampilan kolaborasi memiliki makna lebih dari

6
Ibid, hlm 49
7
Sholikha, S. N., & Fitrayati, D. (2021). Integrasi keterampilan 4c dalam buku teks ekonomi SMA/MA.
Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(5), 2402–2418.
8
Susanto, Heri. 2014. Seputar Pembelajaran Sejarah (Isu, Gagasan dan Strategi Pembelajaran). Yogyakarta:
Aswaja Pressindo, hlm 83

12
keterampilan untuk bekerja sama, yaitu suatu proses belajar untuk merencanakan dan

bekerja bersama-sama, untuk menimbang perbedaan pandangan/ perspektif, dan untuk

berpartisipasi dalam diskusi dengan cara sumbang saran, mendengarkan, dan mendukung

orang lain. Kurangnya keterampilan kolaborasi peserta didik terlihat dari kerja sama yang

tidak baik antarpeserta didik

Di dalam satu kelompok kerja yang seharusnya setiap anggotanya mempunyai tujuan

dan target yang sama, tidak mampu menyelesaikan tugas praktikum yang diberikan. Di

dalam satu kelompok kerja itu pun tidak ada pembagian tugas yang jelas dan tidak ada

salah satu peserta didik yang berinisiatif mengambil peran sebagai koordinator atau ketua

dalam kelompok tersebut. Dengan demikian, kerja kelompok menjadi berantakan dan

hanya segelintir peserta didik yang giat dan serius bekerja melakukan praktikum

sedangkan peserta didik lainnya hanya bermain-main.9

Komunikasi merupakan salah satu dari keenam keterampilan proses dasar sains yang

sangat penting dalam pembelajaran sains. Komunikasi merupakan dasar bagi pemecahan

masalah. Komunikasi sangat diperlukan karena sumua orang merasa perlu untuk

mengkomuniksikan ide, perasaan, dan kebutuhannya kepada orang lain. Dalam

pembelajaran keterampilan komunikasi diartikan sebagai keterampilan untuk

menyampaikan hasil pengamatan atau pengetahuan yang dimiliki kepada orang lain yang

bentuknya bisa berupa laporan, grafik, gambar, diagram, atau table yang dapat

disampaikan kepada orang lain.

Proses interasi baik antar peserta didik maupun interaksi peserta didik dengan guru

tergolong masih rendah. Hal ini terlihat saat proses pembelajaran, komunikasi belum

berlangsung secara dua arah melainkan hanya satu arah. Kondisi ini diakibatkan oleh

9
Rusman. 2014. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Grafindo
Persada, hlm 54

13
penyampaian pembelajaran yang menggunakan metode ceramah. Selain itu, komunikasi

dua arah hanya berlangsung pada saat guru melemparkan pertanyaan dan meminta peserta

didik untuk menjawab. Namun, kesadaran peserta didik untuk aktif menjawab dan

bertanya masih rendah sehingga peserta didik hanya pasif dan menjawab apabila ditunjuk

oleh guru. Selain itu, keterampilan komunikasi peserta didik juga masih kurang jika dilihat

dari kegiatan presentasi di depan kelas.

Peserta didik dalam menyampaikan materi presentasi kurang serius dan cenderung

bercanda. Dalam satu kelompok presenter terlihat bahwa hanya beberapa peserta didik

yang menguasai materi dan peserta didik tertentu saja yang berbicara. Sebagian besar

peserta didik pun belum lancar berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Di samping

itu, peserta didik kurang mampu menyampaikan kegiatan selama proses praktikum dan

kurang dalam hal menyampaikan informasi yang didapatkan dari praktikum yang telah

dilakukan. Data hasil pengamatan juga tidak disampaikan dengan baik serta peserta didik

juga kurang ahli dalam mengkonversi data hasil pengamatan ke dalam bentuk tabel dan

grafik.10

E. Desain Pembelajaran IPA SD/MI Berorientasi Berbasis Keterampilan Berkolaborasi

Salah satu cara yang relevan bagi peserta didik untuk belajar menghadapi

tantangan hidup yang semakin kompleks adalah mengalami dan menghadapi nya

tantangan permasalahan tersebut dengan cara bekerja sama dalam kelompok. Hal-Hal

disebut dengan pembelajaran kolaboratif, yaitu suatu metode dalam pembelajaran yang

melibatkan beberapa peserta didik secara bersama-sama tergabung dalam kelompok yang

mengakui adanya perbedaan kemampuan dan kontribusi pemikiran tiap-tiap individu.

10
PANE, Pane & DASOPANG, Darwis, Muhammad. Belajar dan Pembelajaran. 2017. Jurnal Kajian Ilmu-ilmu
Keislaman. Vol:3. No.2.

14
Ketika terjadi kolaborasi, semua peserta didik aktif. Mereka saling berkomunikasi

secara alami. Dalam sebuah kelompok yang terdiri atas 4 sampai 6 anak, pendidik disana

sudah membuat rencana agar peserta didik yang satudengan yang lain bisa berkolaborasi.

Dalam kelompok yang sudah ditentukan oleh pendidik, fasilitas yang adapun diusahakan

anak mampu berkolaborasi.11

Kemampuan berkolaborasi akan dapat diidentifikasi dengan menggunakan

instrumen yang tepat dan sesuai dengan keadaan atau karakateristik siswa yang ada di

Indonesia. Pada tahap ini peneliti menganalisis semua aspek yang terdapat pada rubrik

standar kemampuan berkolaborasi. Rubrik standar kemampuan berkolaborasi dari

International Reading Association (IRA) ini memiliki 5 aspek yaitu

a. Kontribusi (Contributions)

Aspek kontribusi (Contributions) merupakan aspek yang menjelaskan bagaimana

karakteristik sikap siswa dalam memberikan gagasan atau ide sehingga mampu

berpasrtisipasi ketika kegiatan diskusi kelompok.

b. Manajemen waktu (Time management)

Aspek manajemen waktu (Time management) merupakan aspek yang menjelaskan

karakteristik sikap siswa dalam mengatur waktu untuk menyelesaikan tugas kelompok

dengan tepat waktu.

c. Pemecahan masalah (Problem solving)

Aspek pemecahan masalah (Problem solving) merupakan aspek yang menjelaskan

karakteristik siswa dalam melakukan usaha untuk menyelesaikan permasalahan.

d. Bekerja dengan orang lain (Working with others)

11
RAHMAWATI, Tutut, dkk. Implementasi Model Cooperative Learning Tipe Make A Match Untuk
Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar. 2019. Jurnal CANDI. Vol:19. No.2

15
Aspek bekerja dengan orang lain (Working with others) merupakan aspek yang

menjelaskan karakteristik sikap siswa dalam mendengarkan pendapat/ide rekan

kelompok dan membantu menyelesaikan tugas kelompok.

e. Teknik penyelidikan (Research techniques)

Aspek teknik penyelidikan (Research techniques) merupakan aspek yang menjelaskan

karakteristik sikap siswa dalam mencari sumber-sumber konten atau teori untuk

menjawab/memecahkan permasalahan.

f. Sintesis (Synthesis) (Read Write Think 2005)

Aspek sintesis (Synthesis) merupakn aspek yang menjelaskan karakteristik sikap

siswa dalam menyusun gagasan yang kompleks kedalam susunan yang struktur.

Kurikulum 2013 menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan tidak dapat

dipindahkan begitu saja dari guru kepada siswa. Siswa adalah subjek yang memiliki

kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengkonstruksi, dan

menggunakan pengetahuan. Agar benar-benar memahami dan dapat menerangkan

pengetahuan, siswa perlu di dorong untuk bekerja memecahkan masalah,

menemukakan segala sesuatu untuk dirinya, dan berusaha keras mewujudkan

ideidenya (Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 81A Tahun

2013). Solusi untuk meningkatkan keterampilan kolaborasi adalah dengan

menerapkan model pembelajaran yang lebih terfokus kepada siswa yang lebih aktif

atau disebut student centered learning. Dalam pembelajaran banyak model

pembelajaran yang dapat digunakan untuk menuntut siswa menjadi aktif dalam

kegiatan belajar mengajar yaitu discovery learning, problem based learning, project

based learning, dan cooperative learning.

Tidak hanya ketidak pahaman guru dalam menggunakan model pembelajaran,

guru juga hampir menyamaratakan keterampilan dan sikap siswa karena banyaknya

16
jumlah siswa dalam satu kelas. Jumlah peserta didik dalam suatu kelas terdiri dari 30

siswa bahkan lebih, guru tidak akan mungkin melakasanakan penialian keterampilan

pada setiap siswa karena alokasi waktu yang sedikit. Selain alokasi waktu yang

sedikit kepribadian setiap siswa dalam suatu kelas sangat heterogen maka guru tidak

dapat menilai keterampilan setiap siswa oleh guru sendiri. Guru tidak akan mungkin

dapat melaksanakan penilaian untuk keterampilan siswa oleh guru sendiri karena

keterbatasan waktu, guru dapat melakukan penialaian terhadap keterampilan peserta

didik dengan melakukan penilaian antar teman atau lebih dikenal dengan Peer

Assessment. Peer Assessment dapat mempermudah pendidik dalam melakukan

penilaian terhadap peserta didik, peer assessment lebih melibatkan peserta didik

dalam menilai hasil proses pembelajaran dan mengembangkan keterampilan mereka

sendiri maka dari itu Peer Assessment dapat digunakan dalam penilaian keterampilan

kolaborasi siswa. Siswa cenderung menyukai menilai mereka sendiri atau dengan

penilaian sebaya dibandingkan dengan guru, penilaian berbasis siswa memberikan

informasi tentang diri sendiri yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang pendidik

nilai. Peer Assessment ini dapat membantu guru dalam menilai kemampuan kinerja

peserta didik pada kegiatan praktikum dan berdiskusi.12

Kurikulum 2013 mengembangkan pendekatan saintifik dengan kegiatan inti

pembelajaran 5M yakni mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan

mengkomuikasikan. Kegitan pembelajaran menjadi lebih menarik dan memudahkan

pemahaman terhadap materi terutama materi yang bersifat abstrak membutuhkan

visualisasi. Penelitian ditengah pandemi Covid-19 membuat peneliti membutuhkan

media online untuk menyampaikan materi pembelajaran secara daring (online), pada

12
SUNBANU, Halani, Felda, dkk. Peningkatan Keterampilan Kolaborasi Siswa Menggunakan Model
Pembelajaran Kooperatif Two Stay Twostray di Sekolah Dasar. 2019. Jurnal Basicedu. Vol:3. No.4. Hal. 2037-
2041.

17
penelitian kali ini peneliti meggunakan aplikasi daring untuk membantu

menyampaikan materi dan untuk menyampaikan arahan-arahan kepada siswa selama

kegiatan belajar berlangsung. Ghirardini megungkapkan kelebihan pembelajaran

daring seluruh lapisan masyarakat dimana saja di Indonesia dimana saja dapat

mengikuti program ini. Misalkan, anak yang sekolah di sekolah dasar yang ingin

memperoleh ilmu pendidikan yang sama di sekolah dasar favorit namun karena suatu

kosisi tidak dapat meniggalka rumah maka dengan adanya program darig siswa

tersebut tetap dapat mengikuti pemelajaran tanpa meninggalkan rumah. Sehingga

dapat menghemat waktu dan tenaga serta biaya yang dieluarkan oleh siswa tersebut.

Daring memberikan metode pembelajaran yang efektif, seperti berlatih denga adanya

umpan balik terkait, menggabungkan kolaborasi kegiatan dengan belajar mandiri,

personalisasi pembelajran berdasrkan kebutuhan siswa yang menggunakan simulasi

dan permainan.

Pembelajaran IPA yang digunakan untuk mengetahui keterampilan kolaborasi

siswa melalui peer assessment dapat menggunakan materi apa saja, akan tetapi materi

yang digunakan pada penelitian kali ini adalah konsep sistem pernapasan. Konsep

sistem pernapasan ini dipilih karena konsep tersebut tidak asing bagi siswa, selain itu

materi ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari siswa karena dalam

materi ini siswa dapat mengetahui cara menjaga kesehatan organ-organ sistem

pernapasan.

Metode kolaboratif didasarkan pada asumsi-asumsi mengenai siswa proses

belajar sebagai berikut

1. Belajar itu aktif dan konstruktif

18
Untuk mempelajari bahan pelajaran, siswa harus terlibat secara aktif dengan

bahan itu. Siswa perlu mengintegrasikan bahan baru ini dengan pengetahuan yang

telah dimiliki sebelumnya. Siswa membangun makna atau mencipta sesuatu yang

baru yang terkait dengan bahan pelajaran.

2. Belajar itu bergantung konteks

Kegiatan pembelajaran menghadapkan siswa pada tugas atau masalah

menantang yang terkait dengan konteks yang sudah dikenal siswa. Siswa terlibat

langsung dalam penyelesaian tugas atau pemecahan masalah itu.

3. Siswa itu beraneka latar belakang

Para siswa mempunyai perbedaan dalam banyak hal, seperti latar belakang,

gaya belajar, pengalaman, dan aspirasi. Perbedaan-perbedaan itu diakui dan

diterima dalam kegiatan kerjasama, dan bahkan diperlukan untuk meningkatkan

mutu pencapaian hasil bersama dalam proses belajar.

4. Belajar itu bersifat sosial

Proses belajar merupakan proses interaksi sosial yang di dalamnya siswa

membangun makna yang diterima bersama.13

Dalam penerapan pembelajaran kolaborasi, terdapat pergeseran peran si belajar

1. Dari pendengar, pengamat dan pencatat menjadi pemecah masalah yang aktif,

pemberi masukan dan suka diskusi.

2. Dari persiapan kelas dengan harapan yang rendah atau sedang menjadi ke

persiapan kelas dengan harapan yang tinggi.

3. Dari kehadiran pribadi atau individual dengan sedikit resiko atau permasalahan

menjadi kehadiran publik dengan banyak resiko dan permasalahan.


13
Rusman. 2014. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Grafindo
Persada, hlm 110

19
4. Dari pilihan pribadi menjadi pilihan yang sesuai dengan harapan komunitasnya.

5. Dari kompetisi antar teman sejawat menjadi kolaborasi antar teman sejawat.

6. Dari tanggung jawab dan belajar mandiri, menjadi tanggung jawab kelompok dan

belajar saling ketergantungan.

7. Dahulu melihat guru dan teks sebagai sumber utama yang memiliki otoritas dan

sumber pengetahuan sekarang guru dan teks bukanlah satu-satunya sumber belajar.

Banyak sumber belajar lainnya yang dapat digali dari komunitas kelompoknya.14

Dari pengertian kolaborasi yang diungkapkan oleh berbagai ahli tersebut,

dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar kolaborasi adalah suatu strategi

pembelajaran di mana para siswa dengan variasi yang bertingkat bekerjasama

dalam kelompok kecil kearah satu tujuan. Dalam kelompok ini para siswa saling

membantu antara satu dengan yang lain. Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur

ketergantungan yang positif untuk mencapai kesuksesan.

Belajar kolaboratif menuntut adanya modifikasi tujuan pembelajaran dari

yang semula sekedar penyampaian informasi menjadi konstruksi pengetahuan oleh

individu melalui belajar kelompok. Dalam belajar kolaboratif, tidak ada perbedaan

tugas untuk masing-masing individu, melainkan tugas itu milik bersama dan

diselesikan secara bersama tanpa membedakan percakapan belajar siswa.

Dari uraian diatas, kita bisa mengetahui hal yang ditekankan dalam belajar

kolaboratif yaitu bagaimana cara agar siswa dalam aktivitas belajar kelompok

terjadi adanya kerjasama, interaksi, dan pertukaran informasi.

Selain itu, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pembelajaran kolaboratif

adalah sebagai berikut :

14
Anantyarta, P., Listya, R., & Sari, I. (2017). Melalui Multimedia Berbasis Means Ends Analysis Collaborative
And Metacognitive Skills Through Multimedia Means Ends Analysis Based, 2, 33–43

20
1. Memaksimalkan proses kerjasama yang berlangsung secara alamiah di antara para

siswa.

2. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual,

terintegrasi, dan bersuasana kerjasama.

3. Menghargai pentingnya keaslian, kontribusi, dan pengalaman siswa dalam

kaitannya dengan bahan pelajaran dan proses belajar.

4. Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses belajar.

5. Mengembangkan berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah.

6. Mendorong eksplorasi bahan pelajaran yang melibatkan bermacam-macam sudut

pandang.

7. Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses belajar.

8. Menumbuhkan hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di antara

para siswa, dan di antara siswa dan guru.

9. Membangun semangat belajar sepanjang hayat.15

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

15
Khanifah, Nur, L. (2016). Pengaruh Penggunaan Model Project Based Learning Dan Keterampilan
Kolaborasi Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas Iv Madrasah Ibtidaiyah Pada Tema Cita-Citaku.
Repository Universitas Islam Darul Ulum, 138–155.

21
Keterampilan kolaborasi berfokus pada kerja sama belajar antar kelompok kecil

dalam menyelesaikan sebuah masalah. Bermula dengan sebuah pertanyaan dari peserta didik

yang tidak paham akan materi pembelajaran dan diselesaikan dengan kerja sama kelompok

untuk mencari jawabannya. Pada proses ini akan menghasilkan perbedaan pendapat,

pemikiran serta argument antar peserta didik. Disaat ini lah mereka dilatih untuk bisa saling

bekerja sama dalam menyelesaikan masalah.

Sehingga akan tercipta suasana belajar baru yang lebih efektif untuk belajar dan tidak

membuat peserta didik menjadi bosan. Model pembelajaran cooverative learning juga

mendukung efektifitas belajar agar bisa mencapai hasil yang maksimal. Hal ini juga

memberikan suasana baru bagi peserta didik, karena yang biasanya peserta didik hanya

mendengarkan ceramah dari guru sudah tergantikan dengan metode yang lain. Dengan

menerapkan model ini, peserta didik menjadi lebih aktif dalam proses belajar mengajar

sehingga menciptakan suasana yang efektif dan kondusif dalam belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Aunurrahman. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

22
Anantyarta, P., Listya, R., & Sari, I. (2017). Melalui Multimedia Berbasis Means Ends
Analysis Collaborative And Metacognitive Skills Through Multimedia Means Ends
Analysis Based, 2, 33–43.
Fitri, F., & et all. (2018). The Effectiveness of Guided Inquiry Strategy on Students’
Collaborative . Journal , 144 - 150.

Hermawan, Siahaan, P., Suhendi, E., Kaniawati, I., Samsudin, A., Setyadin, A.H., & Hidayat,
A.R. (2017). Desain Rubrik Kemampuan Berkolaborasi Siswa SMP dalam Materi
Pemantulan Cahaya. Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika. 3(2):
167-174
Heri Susanto & Helmi Akmal. 2019. Media Pembelajaran Sejarah Era Teknologi Informasi
(Konsep Dasar, Prinsip Aplikatif dan Perancangannya). Banjarmasin: Program Studi
Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat.
Lai, E., DiCerbo, K., & Foltz, P. (2017). Skills for Today:What We Know about Teaching
and Assessing Collaboration. Pearson.

Purwaaktari, E. (2015). Pengaruh Model Collaborative Learning Terhadap Kemampuan


Pemecahan Masalah Matematika dan Sikap Sosial Siswa Kelas V SD Jarakan Sewon
Bantul. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan 8(1),, 95-111.

Prawitasari, Melisa. 2017. Workshop Pembelajaran Sejarah Berbasis Paperless Clash


Melalui Kegiatan Mahasiswa Praktik Mengajar di Sekolah. Banjarmasin. Pengabdian.
Prawitasari, Melisa. 2018. Sejarah Gerakan Kepemudaan di Kalimantan Selatan.
Banjarmasin: Dinas Pemuda dan Olahraga.
Republik Indonesia, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tantang
Sistem Pendidikan Nasional.
Rusman. 2014. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru.
Jakarta: Grafindo Persada.
RAHMAWATI, Tutut, dkk. Implementasi Model Cooperative Learning Tipe Make A Match
Untuk Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar. 2019. Jurnal CANDI. Vol:19. No.2.
REDHANA, Wayan, I. Mengembangakan Keterampilan Abad Ke-21 Dalam Pembelajaran
kimia. 2019. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia. Vol:13. No.1. Hal. 2239-2253.
Susanto, Heri. 2014. Seputar Pembelajaran Sejarah (Isu, Gagasan dan Strategi
Pembelajaran). Yogyakarta: Aswaja Pressindo.
Trilling, B., and Fadel, C. (2009). 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. San
Francisco: CA.
Khanifah, Nur, L. (2016). Pengaruh Penggunaan Model Project Based Learning Dan
Keterampilan Kolaborasi Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas Iv Madrasah Ibtidaiyah
Pada Tema Cita-Citaku. Repository Universitas Islam Darul Ulum, 138–155.

23
24

Anda mungkin juga menyukai