Pembelajaran IPA SD Berbasis Kolaborasi
Pembelajaran IPA SD Berbasis Kolaborasi
Disusun Oleh:
Kelompok 11
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Kami ucapkan rasa syukur atas kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
Makalah ini telah di susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan hasil
makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalah ini.
Pemakalah
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................ii
DAFTAR ISI..............................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................1
A. Latar Belakang.................................................................................1
B. Rumusan Masalah............................................................................2
C. Tujuan Masalah................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................3
A. Sejarah Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi.........3
B. Definisi dan Konsep Pembelajaran Berbasis Keterampilan
Berkolaborasi...................................................................................4
C. Indikator Pembelajaran Berbasis Keterampilan Berkolaborasi.......9
D. Aktivitas/Sintaks Pembelajaran Berbasis Keterampilan
Berkolaborasi..................................................................................11
E. Desain Pembelajaran IPA SD/MI Berorientasi Pembelajaran Berbasis
Keterampilan Berkolaborasi...........................................................14
DAFTAR PUSTAKA............................................................................23
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses pembelajaran yang dilaksanakan dalam dunia pendidikan bermula dari hal
yang kecil menuju hal yang besar atau bisa juga bermula dari hal yang sederhana
menuju pada hal yang lebih kompleks. Pendidikan yang ada ditingkat yang lebih
dijalani maka semakin luas juga pengetahuan yang dikembangkan. Dalam hal ini
model pembelajaran yang sesuai agar proses belajar mengajar bisa berjalan dengan
efektif.
Selain faktor diatas, berdasarkan pengalaman penulis faktor lain yang membuat
kurangnya minat belajar sejarah adalah media pembelajaran yang kurang memadai.
Media yang dimanfaatkan hanya berfokus pada buku dan papan tulis saja. Selain itu
ditambah jam pelajaran yang biasanya berada di jam siang atau sore menambah
kurangnya minat peserta didik dalam belajar karena sudah lelah dan mengantuk.
Selain permasalahan yang hanya berdasar pada minat belajar peserta didik, masalah
lain seperti penerapan model pembelajaran juga menjadi faktor peserta didik jenuh
dengan sejarah. Karena model ceramah saja yang diterapkan oleh guru, menjadikan
proses belajar mengajar menjadi bosan dan hanya berfokus pada satu arah
pembelajaran saja yakni antara guru kepada peserta didik. Hal ini menjadikan
perhatian peserta didik menjadi rendah dan minat belajar juga berkurang sehingga apa
yang diharapkan tidak sesuai dengan apa yang di inginkan. Tujuan pembelajaran
1
sejarah dapat dicapai melalui pelaksaan proses pembelajaran yang efektif dan efisien
mulai dari persiapan pembelejaran hingga evaluasi. Agar proses pembelajaran bisa
menarik minat peserta didik, guru harus mampu menerapkan berbagai model
pembelajaran untuk menarik minta belajar peserta didik. Dengan adanya model
pembelajaran, peserta didik akan lebih aktif dalam proses belajar mengajar
Terdapat berbagai cara dalam menerapkan teknik pembelejaran atau taktik belajar
untuk bisa mencapai tujuan pembelajaran yang kita inginkan. Salah satu usaha guru
startegi pembelajaran yang pas saat proses belajar berlangsung. Dengan pemilihan
startegi, teknik dan model pembelajaran yang pas akan menjadikan proses belajar
menjadi menarik dan tidak membosankan. Penggunaan media juga bisa menunjang
pembelajaran agar bisa berjalan lebih efektif. Media adalah segala sesuatu yang
menjadi perantara. Maka dari itu dengan adanya media sebagai perantara bahan ajar,
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Masalah
2
BAB II
PEMBAHASAN
pembelajaran bermakna.
belajar. Untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki pasangan. Pada tahun 1916, John
Dewey, menulis sebuah buku “Democracy and Education” yang isinya bahwa kelas
merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang
3
5. Pendidikan harus mencakup kegiatan belajar dengan prinsip saling memahami dan
saling menghormati satu sama lain, artinya prosedur demokratis sangat penting.
Salah satu dari empat keterampilan abad 21 yaitu kolaborasi yang memiliki peran
penting dalam mendukung kesuksesan seorang siswa baik ketika ia masih berstatus
Kolaborasi dalam KBBI diartikan sebagai kerja sama untuk membuat sesuatu.
Kaitan dengan dunia pendidikan, para siswa dilatih untuk meningkatkan keterampilan
berkolaborasi. Dalam meraih sebuah keberhasilan dan kesuksesan tentunya tidak dapat
keterampilan untuk bekerja bersama secara efektif dan menunjukkan rasa hormat pada tim
yang beragam, melatih kelancaran, dan kemauan dalam membuat keputusan yang
diperlukan untuk mencapai tujuan bersama. Keterampilan bekerja dalam kelompok; serta
tentunya ditunjang dengan kerja sama semua pihak yang terlibat pada perusahaan tersebut.
Begitupun sebuah organisasi terkelola dengan baik tentunya ditunjang dengan kerja sama
(kolaborasi) para pengurus yang terus bekerja dan sadar akan tugas, pokok, dan fungsinya
4
Kolaborasi menjadi salah satu keterampilan penting bagi setiap siswa ketika
saling membutuhkan orang lain dalam kehidupan sehari-hari seperti meniti sebuah
pada saat kegiatan diskusi di mana setiap siswa akan terlibat dan aktif pada saat kegiatan
terkait dengan topik tertentu dan lahirnya sikap saling menghargai terhadap berbagai
pendapat dan dapat diambil sebuah kesimpulan yang disetujui secara kolektif.
Suatu hari penulis pernah melihat proses sebuah gabah digiling di sebuah
penggilingan padi yang jaraknya tidak jauh dengan rumah penulis. Ketika melihat gabah
yang banyak kemudian digiling sehingga menghasilkan beras yang bersih. Seandainya
yang digiling hanya satu gabah tentunya gabah tersebut tidak akan menjadi beras yang
baik. Begitulah kira-kira manfaat dari sebuah diskusi yang akan menajamkan proses
diberikan tugas secara berkelompok. Hal itu diharapkan lahirnya kesadaran secara kolektif
terkait dengan pentingnya sebuah tugas diselesaikan secara bekerja sama yang tidak
mengandalkan satu orang saja misalnya ketua kelompok akan tetapi setiap siswa akan
terbangun kesadarannya untuk bekerja sama dalam menyelesaikan tugas dari guru.
Selain itu, keterampilan berkolaborasi dapat dilatih ketika siswa aktif di organisasi
yang berada di sekolah/madrasah seperti OSIS bagi siswa SMP/MTs dan SMA/MA/SMK
serta aktif di kegiatan ekstrakulikuler. Setiap organisasi memiliki program kerja yang
5
harus dilaksanakan setiap masa baktinya. Melalui organisasi, keterampilan berkolaborasi
akan terasah karena siswa akan termotivasi untuk menjalankan tanggung jawabnya serta
antarsiswa yang satu sama lain saling membantu dan melengkapi untuk melakukan tugas-
tugas tertentu agar diperoleh suatu tujuan yang telah ditentukan. Kecakapan kolaborasi
a) Tanggung jawab untuk bekerja sama dengan orang lain untuk menghasilkan tujuan
tertentu.
d) Mampu berkompromi dengan anggota yang lain dalam tim demi tercapainya
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa
dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-
Nya.”.
berkolaborasi (kerja sama) dilakukan oleh kita yaitu kerja sama yang mengarah kepada
kebaikan dan ketakwaan dan kita dilarang untuk bekerja sama dalam hal dosa dan
permusuhan.
6
yang positif seperti merangsang untuk melahirkan ide, menghargai orang lain,
membina hubungan dengan orang lain, dan bekerja sama dengan orang lain untuk
dalam merumuskan ide, dan diskusi atau berdebat dengan tingkat berpikir yang lebih
tinggi. Hal ini memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar saling memantau satu
sama lain, saling mendeteksi kesalahan dan belajar bagaimana untuk memperbaiki
keterampilan abad ke-21 seperti kemampuan untuk bekerja dalam tim, memecahkan
masalah yang kompleks, dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh ke dalam situasi
lain.
oleh siswa. Dengan demikian, tugas kita sebagai pendidik untuk terus berupaya
1
Masdul, M. R. (2018). Komunikasi pembelajaran learning communication. Iqra: Jurnal Ilmu Kependidikan
Dan Keislaman, 13(2), 1–9.
7
akademik dan dapat memingkatkan rasa sosial pada siswa. Kolaborasi merupakan
salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa masa kini agar siap ketika
terjun ke dunia pekerjaan, siswa masa kini dituntut dapat berkolaborasi satu sama lain
dalam lingkungan sekolah juga dengan masyarakat global. Selain untuk siap terjun ke
dunia kerja, keterampilan kolaborasi menunutun para siswa supaya siswa mendapatkan
memingkatkan rasa sosial pada siswa. Keterampilan kolaborasi masa kini membentuk
siswa didukung juga dengan penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Julita
tentang sikap kerjasama dan interaksi sosial yang dimiliki siswa. Hasil menunjukkan
bahwa sikap tersebut masih rendah, sehingga siswa perlu dilatihkan tentang sikap
bekerjasama.
terbiasanya siswa belajar dengan pembelajaran yang masih berfokus pada buku dan
guru masih mendominasi peranannnya sebagai sumber ilmu yang hanya menganggap
siswa laksana sebuah media yang akan diisi pengetahuan oleh guru serta guru tidak
2
Trilling, B., and Fadel, C. (2009). 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. San Francisco: CA, hlm
64
8
menggunakan model pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku membuat
siswa tidak dapat mengetahui bagaimana cara berkolaborasi dengan sesama siswa.
Abad ke-21 disebut juga sebagai abad yang meningkatnya kecanggihan teknologi,
informasi dan komunikasi serta berkembang pesatnya ilmu pengetahuan diseluruh dunia.
Perubahan yang terjadi pada abad ini terjadi begitu pesat dan sulit untuk diprediksi
sehingga memerlukan kesiapan yang matang bagi manuisa untuk menghadapinya. Jika
kita bisa memanfaatkan perubahan ini dengan baik, maka akan banyak kesempatan pula
yang dating pada kita. Tetapi kalau kita tida bisa menerima perubahan ini, maka kita akan
kalah dan menjadi orang yang tidak berguna. Perkembangan yang sangat pesat terjadi
pada bidang teknologi dan informasi yang menyuguhkan berbagai fasilitas media sosial
untuk memudahkan aktivitas manusia. Di abad ini terdapat banyak sekali informasi yang
beredar dimana-mana, dan bahkan dari informasi tersebut tidak sedikit apa yang
disampaikan merupakan berita bohong (hoax). Kalau kita tidak memiliki literasi informasi
yang cukup, maka kita akan dengan mudah termakan berita bohong tersebut. Dalam hal
ini, keterampilan abad 21 hadir untuk menangkal kebohongan dan ketidak pastian
informasi yang beredar di sosial media. Untuk mempersiapkan generasi bangsa yang baik
dalam menerapkan keterampilan abad 21, jalur pendidikan merupakan hal yang efektif
Proses belajar mengajar seorang guru tidak hanya bertugas untuk mentarsfer apa
yang mereka ketahui saja, tetapi juga memiliki tugas untuk melatih keterampilan peserta
didik serta merubah perilakunya. Salah satu keterampilan yang ada di abad 21 adalah
3
Aunurrahman. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta, hlm 88
9
medengarkan saran dalam diskusi kelompok maupun kelas dan mendukung satu sama lain
Pembelajaran kolaboratif adalah terjadinya hubungan saat belajar, bermula dari peserta
didik yang bertanya mengenai materi pembelajaran dan dilanjutkan dengan pemevahan
masalah dengan membuat kelompok kecil. Jadi dapat kita simpulkan, keterampilan
kolaborasi merupakan kemampuan untuk bekerja sama dalam melakukan sesuatu dan
untuk menyelesaikan suatu masalah bersama-sama. Keterampilan ini sangat penting untuk
dilatih sejak usia dini, karena untuk melatih peserta didik agar bisa bekerja sama dengan
1. Kerjasama
2. Fleksibilitas
berkontribusi dalam tim serta dapat beradaptasi kepada seluruh anggota tim
3. Tanggung Jawab
Peserta didik dikatakan dapat berkolaborasi apabila bertanggung jawab atas kerja tim,
dapat memimpin anggota tim, serta memiliki inisiatif dan dapat mengatur diri sendiri
4. Kompromi
bersama
5. Komunikasi
4
Greinstien, (2017). Skills for Today:What We Know about Teaching and Assessing Collaboration. Pearson,
hlm 209.
10
Peserta didik dikatakan dapat berkolaborasi apabila dapat terjalin komunikasi yang
memiliki keberdayaan dan kecerdasan emosional yang tinggi dan menguasai megaskills
yang mantap. Hal tersebut tidak lain adalah untuk menyiapkan manusia yang memenuhi
kualifikasi sesuai dengan tuntutan zaman dan masyarakat saat ini yang lebih dikenal
dengan tantangan abad ke 21. Tantangan abad ke-21 ditandai dengan terjadinya percepatan
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi serta tidak terdapatnya batas
antar “ruang dan waktu” antarnegara yang memunculkan adanya pasar bebas. Oleh karena
itu, pendidikan di Indonesia harus siap menghasilkan generasi muda yang dibekali
luwes, kreatif, dan proaktif. Semakin disadari pula bahwa perlu membentuk anak-anak
muda yang terampil memecahkan masalah, bijak dalam membuat keputusan, berpikir
mampu bekerja secara efisien baik secara individu maupun kelompok. Lebih jauh,
yaitu (1) berpikir kritis dan pemecahan masalah sebagai berpikir ahli; (2) komunikasi dan
kolaborasi sebagai bentuk berkomunikasi yang kompleks; serta (3) kreativitas dan
penemuan untuk menerapkan daya khayal dan hasil daya khayal atau penemuan. Ketiga
keterampilan tersebut merupakan kunci dalam pembelajaran dan menjadi tuntutan dalam
5
Trilling, B., and Fadel, C. (2009). 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. San Francisco: CA, hlm
99
11
dunia kerja abad 21. Dunia pendidikan memiliki erat hubungannya dengan berbagai
bidang pembangunan yang bersifat pada kebutuhan ekonomis (lebih spesifik dunia kerja). 6
menghubungkan dunia pendidikan dan dunia kerja yaitu, berpikir kritis, problem solving,
tertentu, yang terakreditasi dan tersertifikasi secra nasional dan bahkan internasional,
sehingga dapat link and match dengan kebutuhan riil dunia usaha dan pasar kerja. Sebagai
upaya dalam meningkatkan keterampilan abad 21, terutama pada keterampilan kolaborasi
dan komunikasi salah satunya adalah melalui pembelajaran IPA dengan menggunakan
sebagai proses, produk, dan sikap ilmiah. Sebagai proses, pembelajaran IPA memuat
Namun demikin, pada saat ini banyak praktik pembelajaran IPA yang kurang
6
Ibid, hlm 49
7
Sholikha, S. N., & Fitrayati, D. (2021). Integrasi keterampilan 4c dalam buku teks ekonomi SMA/MA.
Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(5), 2402–2418.
8
Susanto, Heri. 2014. Seputar Pembelajaran Sejarah (Isu, Gagasan dan Strategi Pembelajaran). Yogyakarta:
Aswaja Pressindo, hlm 83
12
keterampilan untuk bekerja sama, yaitu suatu proses belajar untuk merencanakan dan
berpartisipasi dalam diskusi dengan cara sumbang saran, mendengarkan, dan mendukung
orang lain. Kurangnya keterampilan kolaborasi peserta didik terlihat dari kerja sama yang
Di dalam satu kelompok kerja yang seharusnya setiap anggotanya mempunyai tujuan
dan target yang sama, tidak mampu menyelesaikan tugas praktikum yang diberikan. Di
dalam satu kelompok kerja itu pun tidak ada pembagian tugas yang jelas dan tidak ada
salah satu peserta didik yang berinisiatif mengambil peran sebagai koordinator atau ketua
dalam kelompok tersebut. Dengan demikian, kerja kelompok menjadi berantakan dan
hanya segelintir peserta didik yang giat dan serius bekerja melakukan praktikum
Komunikasi merupakan salah satu dari keenam keterampilan proses dasar sains yang
sangat penting dalam pembelajaran sains. Komunikasi merupakan dasar bagi pemecahan
masalah. Komunikasi sangat diperlukan karena sumua orang merasa perlu untuk
menyampaikan hasil pengamatan atau pengetahuan yang dimiliki kepada orang lain yang
bentuknya bisa berupa laporan, grafik, gambar, diagram, atau table yang dapat
Proses interasi baik antar peserta didik maupun interaksi peserta didik dengan guru
tergolong masih rendah. Hal ini terlihat saat proses pembelajaran, komunikasi belum
berlangsung secara dua arah melainkan hanya satu arah. Kondisi ini diakibatkan oleh
9
Rusman. 2014. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Grafindo
Persada, hlm 54
13
penyampaian pembelajaran yang menggunakan metode ceramah. Selain itu, komunikasi
dua arah hanya berlangsung pada saat guru melemparkan pertanyaan dan meminta peserta
didik untuk menjawab. Namun, kesadaran peserta didik untuk aktif menjawab dan
bertanya masih rendah sehingga peserta didik hanya pasif dan menjawab apabila ditunjuk
oleh guru. Selain itu, keterampilan komunikasi peserta didik juga masih kurang jika dilihat
Peserta didik dalam menyampaikan materi presentasi kurang serius dan cenderung
bercanda. Dalam satu kelompok presenter terlihat bahwa hanya beberapa peserta didik
yang menguasai materi dan peserta didik tertentu saja yang berbicara. Sebagian besar
peserta didik pun belum lancar berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Di samping
itu, peserta didik kurang mampu menyampaikan kegiatan selama proses praktikum dan
kurang dalam hal menyampaikan informasi yang didapatkan dari praktikum yang telah
dilakukan. Data hasil pengamatan juga tidak disampaikan dengan baik serta peserta didik
juga kurang ahli dalam mengkonversi data hasil pengamatan ke dalam bentuk tabel dan
grafik.10
Salah satu cara yang relevan bagi peserta didik untuk belajar menghadapi
tantangan hidup yang semakin kompleks adalah mengalami dan menghadapi nya
tantangan permasalahan tersebut dengan cara bekerja sama dalam kelompok. Hal-Hal
disebut dengan pembelajaran kolaboratif, yaitu suatu metode dalam pembelajaran yang
melibatkan beberapa peserta didik secara bersama-sama tergabung dalam kelompok yang
10
PANE, Pane & DASOPANG, Darwis, Muhammad. Belajar dan Pembelajaran. 2017. Jurnal Kajian Ilmu-ilmu
Keislaman. Vol:3. No.2.
14
Ketika terjadi kolaborasi, semua peserta didik aktif. Mereka saling berkomunikasi
secara alami. Dalam sebuah kelompok yang terdiri atas 4 sampai 6 anak, pendidik disana
sudah membuat rencana agar peserta didik yang satudengan yang lain bisa berkolaborasi.
Dalam kelompok yang sudah ditentukan oleh pendidik, fasilitas yang adapun diusahakan
instrumen yang tepat dan sesuai dengan keadaan atau karakateristik siswa yang ada di
Indonesia. Pada tahap ini peneliti menganalisis semua aspek yang terdapat pada rubrik
a. Kontribusi (Contributions)
karakteristik sikap siswa dalam memberikan gagasan atau ide sehingga mampu
karakteristik sikap siswa dalam mengatur waktu untuk menyelesaikan tugas kelompok
11
RAHMAWATI, Tutut, dkk. Implementasi Model Cooperative Learning Tipe Make A Match Untuk
Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar. 2019. Jurnal CANDI. Vol:19. No.2
15
Aspek bekerja dengan orang lain (Working with others) merupakan aspek yang
karakteristik sikap siswa dalam mencari sumber-sumber konten atau teori untuk
menjawab/memecahkan permasalahan.
siswa dalam menyusun gagasan yang kompleks kedalam susunan yang struktur.
dipindahkan begitu saja dari guru kepada siswa. Siswa adalah subjek yang memiliki
menerapkan model pembelajaran yang lebih terfokus kepada siswa yang lebih aktif
pembelajaran yang dapat digunakan untuk menuntut siswa menjadi aktif dalam
kegiatan belajar mengajar yaitu discovery learning, problem based learning, project
guru juga hampir menyamaratakan keterampilan dan sikap siswa karena banyaknya
16
jumlah siswa dalam satu kelas. Jumlah peserta didik dalam suatu kelas terdiri dari 30
siswa bahkan lebih, guru tidak akan mungkin melakasanakan penialian keterampilan
pada setiap siswa karena alokasi waktu yang sedikit. Selain alokasi waktu yang
sedikit kepribadian setiap siswa dalam suatu kelas sangat heterogen maka guru tidak
dapat menilai keterampilan setiap siswa oleh guru sendiri. Guru tidak akan mungkin
dapat melaksanakan penilaian untuk keterampilan siswa oleh guru sendiri karena
didik dengan melakukan penilaian antar teman atau lebih dikenal dengan Peer
penilaian terhadap peserta didik, peer assessment lebih melibatkan peserta didik
sendiri maka dari itu Peer Assessment dapat digunakan dalam penilaian keterampilan
kolaborasi siswa. Siswa cenderung menyukai menilai mereka sendiri atau dengan
informasi tentang diri sendiri yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang pendidik
nilai. Peer Assessment ini dapat membantu guru dalam menilai kemampuan kinerja
media online untuk menyampaikan materi pembelajaran secara daring (online), pada
12
SUNBANU, Halani, Felda, dkk. Peningkatan Keterampilan Kolaborasi Siswa Menggunakan Model
Pembelajaran Kooperatif Two Stay Twostray di Sekolah Dasar. 2019. Jurnal Basicedu. Vol:3. No.4. Hal. 2037-
2041.
17
penelitian kali ini peneliti meggunakan aplikasi daring untuk membantu
daring seluruh lapisan masyarakat dimana saja di Indonesia dimana saja dapat
mengikuti program ini. Misalkan, anak yang sekolah di sekolah dasar yang ingin
memperoleh ilmu pendidikan yang sama di sekolah dasar favorit namun karena suatu
kosisi tidak dapat meniggalka rumah maka dengan adanya program darig siswa
dapat menghemat waktu dan tenaga serta biaya yang dieluarkan oleh siswa tersebut.
Daring memberikan metode pembelajaran yang efektif, seperti berlatih denga adanya
dan permainan.
siswa melalui peer assessment dapat menggunakan materi apa saja, akan tetapi materi
yang digunakan pada penelitian kali ini adalah konsep sistem pernapasan. Konsep
sistem pernapasan ini dipilih karena konsep tersebut tidak asing bagi siswa, selain itu
materi ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari siswa karena dalam
materi ini siswa dapat mengetahui cara menjaga kesehatan organ-organ sistem
pernapasan.
18
Untuk mempelajari bahan pelajaran, siswa harus terlibat secara aktif dengan
bahan itu. Siswa perlu mengintegrasikan bahan baru ini dengan pengetahuan yang
telah dimiliki sebelumnya. Siswa membangun makna atau mencipta sesuatu yang
menantang yang terkait dengan konteks yang sudah dikenal siswa. Siswa terlibat
Para siswa mempunyai perbedaan dalam banyak hal, seperti latar belakang,
1. Dari pendengar, pengamat dan pencatat menjadi pemecah masalah yang aktif,
2. Dari persiapan kelas dengan harapan yang rendah atau sedang menjadi ke
3. Dari kehadiran pribadi atau individual dengan sedikit resiko atau permasalahan
19
4. Dari pilihan pribadi menjadi pilihan yang sesuai dengan harapan komunitasnya.
5. Dari kompetisi antar teman sejawat menjadi kolaborasi antar teman sejawat.
6. Dari tanggung jawab dan belajar mandiri, menjadi tanggung jawab kelompok dan
7. Dahulu melihat guru dan teks sebagai sumber utama yang memiliki otoritas dan
sumber pengetahuan sekarang guru dan teks bukanlah satu-satunya sumber belajar.
Banyak sumber belajar lainnya yang dapat digali dari komunitas kelompoknya.14
dalam kelompok kecil kearah satu tujuan. Dalam kelompok ini para siswa saling
membantu antara satu dengan yang lain. Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur
individu melalui belajar kelompok. Dalam belajar kolaboratif, tidak ada perbedaan
tugas untuk masing-masing individu, melainkan tugas itu milik bersama dan
Dari uraian diatas, kita bisa mengetahui hal yang ditekankan dalam belajar
kolaboratif yaitu bagaimana cara agar siswa dalam aktivitas belajar kelompok
14
Anantyarta, P., Listya, R., & Sari, I. (2017). Melalui Multimedia Berbasis Means Ends Analysis Collaborative
And Metacognitive Skills Through Multimedia Means Ends Analysis Based, 2, 33–43
20
1. Memaksimalkan proses kerjasama yang berlangsung secara alamiah di antara para
siswa.
4. Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses belajar.
pandang.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
15
Khanifah, Nur, L. (2016). Pengaruh Penggunaan Model Project Based Learning Dan Keterampilan
Kolaborasi Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas Iv Madrasah Ibtidaiyah Pada Tema Cita-Citaku.
Repository Universitas Islam Darul Ulum, 138–155.
21
Keterampilan kolaborasi berfokus pada kerja sama belajar antar kelompok kecil
dalam menyelesaikan sebuah masalah. Bermula dengan sebuah pertanyaan dari peserta didik
yang tidak paham akan materi pembelajaran dan diselesaikan dengan kerja sama kelompok
untuk mencari jawabannya. Pada proses ini akan menghasilkan perbedaan pendapat,
pemikiran serta argument antar peserta didik. Disaat ini lah mereka dilatih untuk bisa saling
Sehingga akan tercipta suasana belajar baru yang lebih efektif untuk belajar dan tidak
membuat peserta didik menjadi bosan. Model pembelajaran cooverative learning juga
mendukung efektifitas belajar agar bisa mencapai hasil yang maksimal. Hal ini juga
memberikan suasana baru bagi peserta didik, karena yang biasanya peserta didik hanya
mendengarkan ceramah dari guru sudah tergantikan dengan metode yang lain. Dengan
menerapkan model ini, peserta didik menjadi lebih aktif dalam proses belajar mengajar
DAFTAR PUSTAKA
22
Anantyarta, P., Listya, R., & Sari, I. (2017). Melalui Multimedia Berbasis Means Ends
Analysis Collaborative And Metacognitive Skills Through Multimedia Means Ends
Analysis Based, 2, 33–43.
Fitri, F., & et all. (2018). The Effectiveness of Guided Inquiry Strategy on Students’
Collaborative . Journal , 144 - 150.
Hermawan, Siahaan, P., Suhendi, E., Kaniawati, I., Samsudin, A., Setyadin, A.H., & Hidayat,
A.R. (2017). Desain Rubrik Kemampuan Berkolaborasi Siswa SMP dalam Materi
Pemantulan Cahaya. Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika. 3(2):
167-174
Heri Susanto & Helmi Akmal. 2019. Media Pembelajaran Sejarah Era Teknologi Informasi
(Konsep Dasar, Prinsip Aplikatif dan Perancangannya). Banjarmasin: Program Studi
Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat.
Lai, E., DiCerbo, K., & Foltz, P. (2017). Skills for Today:What We Know about Teaching
and Assessing Collaboration. Pearson.
23
24