Anda di halaman 1dari 32

JURNAL PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI II PENETAPAN KADAR PARASETAMOL DAN TRAMADOL DALAM TABLET DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

SIMULTAN

Oleh: Golongan I Kelompok X Made Krisna Adi Jaya Putu Desi Padmasari Luh Putu Eka Wahyuni Ni Luh Desi Rupadani ( 0908505034 ) ( 0908505035 ) ( 0908505036 ) ( 0908505037)

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2011

PENETAPAN KADAR PARASETAMOL DAN TRAMADOL DALAM TABLET DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS SIMULTAN

I. TUJUAN 1. Untuk mengetahui panjang gelombang pengukuran Tramadol dan Parasetamol. 2. Untuk membuat kurva absorpsi campuran dua zat. 3. Untuk menentukan absorbtivitas molar kedua zat pada setiap panjang gelombang pengukuran.
4. Untuk menetapkan kadar campuran Tramadol dan Parasetamol dalam tablet

dengan metode spektrofotometri UV-Visibel secara simultan. II. DASAR TEORI 2.1. Parasetamol Parasetamol atau Asetaminofen atau N-asetil-4-aminofenol mempunyai rumus molekul C8H9NO2, BM 151,2 g/mol memiliki struktur molekul :

Gambar 1. Struktur Kimia Parasetamol (Moffat et all, 2005). Paracetamol merupakan derivat dari asetanilida yang merupakan metabolit dari fenasetin yang dahulu banyak digunakan sebagai analgetikum, tapi pada tahun 1978 ditarik dari peredaran karena efek sampingnya berupa nefrotoksisitas dan karsinogen. Khasiat dari paracetamol ini adalah sebagai analgesik dan antipiretik, tetapi tidak untuk antiradang. Dewasa ini paracetamol dianggap sebagai zat antinyeri yang paling aman juga untuk swamedikasi (pengobatan sendiri) (Tjay dan Rahardja, 2008). 2.1.1. Sifat Fisiko Kimia Paracetamol mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% C8H9NO2, dihitung terhadap zat anhidrat (Depkes RI, 1995). Pemeriannya berupa hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau, dan berasa pahit. Parasetamol larut

dalam 70 bagian air, 7 bagian etanol 95% P, 13 bagian aseton P, 40 bagian gliserol P, 9 bagian propilenglikol P, dan larut dalam alkali hidroksida. Penyimpanannya dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya (Depkes RI, 1979). Larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidoksida 1 N; mudah larut dalam etanol (Depkes RI, 1995). Parasetamol memiliki pKa 9,5 (25o) dan koefisien partisi 0,5 (Moffat et al., 2005). Memiliki suhu lebur antara 168o dan 172o (Depkes RI, 1995). Larutan jenuh parasetamol memiliki pH antara 5,3-6,5 (Moffat et al., 2005). 2.1.2. Identifikasi Paracetamol memenuhi uji Identifikasi secara Kromatografi Lapis Tipis dengan menggunakan 1 mg per ml dalam methanol P dan fase gerak diklorometana P- methanol (4:1) (Depkes RI, 1995). Parasetamol bila diukur absorbansinya pada spektrofotometri UV akan memperlihatkan absorbansi maksimum pada panjang gelombang 245 nm untuk larutan asam dan 257 nm untuk larutan basa (Moffat et al., 2005)

Gambar 2. Spektra UV Paracetamol

2.1.3. Indikasi Sekalipun ekivalen dengan aspirin sebagai agen analgesik dan antipiretik yang efektif, paracetamol berbeda karena sifat antiinflamasinya lemah. Parasetamol tidak mempengaruhi kadar asam urat dan sifat penghambatan plateletnya lemah. Obat ini berguna untuk nyeri ringan sampai sedang seperti sakit kepala, mialgia, nyeri pascapersalinan, dan keadaan lain di mana aspirin tidak efektif sebagai analgesik. Parasetamol lebih disukai daripada aspirin pada pasien dengan hemofilia atau dengan riwayat ulkuks peptikum. Berbeda dengan aspirin, paracetamol tidak

mengantagonis efek agenagen urikosurik. Parasetamol lebih disukai daripada aspirin pada anak dengan infeksi virus (Katzung, 2002). 2.1.4. Farmakokinetika Parasetamol diberikan secara oral. Penyerapan dihubungkan dengan tingkat pengosongan perut, dan konsentrasi darah puncak biasanya tercapai dalam 30-60 menit. Parasetamol sedikit terikat pada protein plasma dan sebagian dimetabolisme oleh enzim mikrosomal hati dan diubah menjadi sulfat dan glukoronida acetaminophen, yang secara farmakologis tidak aktif. Kurang dari 5% diekskresikan dalam keadaan tidak berubah. Metabolit minor, tetapi sangat aktif (N-acetyl-pbenzoquinone) adalah penting dalam dosis besar karena efek toksiknya terhadap hati dan ginjal. Waktu paruh parasetamol adalah 2-3 jam dan relatif tidak berpengaruh oleh fungsi ginjal. Dengan kuantitas toksik atau penyakit hati, waktu paruhnya dapat meningkat dua kali lipat atau lebih (Katzung, 2002). 2.1.5. Efek-efek yang Tidak Diinginkan Dalam dosis terapetik sedikit peningkatan enzim-enzim hati kadang-kadang bisa terjadi tanpa adanya ikterus, keadaan ini reversibel bila obat dihentikan. Menelan 15 g acetaminophen bisa fatal, kematian disebabkan oleh hepatotoksik yang hebat dengan nekrosis lobules sentral, kadang-kadang dikaitkan dengan nekrosis tubular ginjal akut. Gejala-gejala awal dari kerusakan hati meliputi mual, muntah-muntah, diare dan nyeri perut. Di samping terapi suportif, tindakan-tindakan yang terbukti sangat berguna adalah pemberian grup-grup sulfhydryl untuk menetralisir metabolit-metabolit yang toksik. Acetylcysteine dipakai untuk tujuan ini. Nefritis interstisial dan nekrosis papilla yang merupakan komplikasi serius dari phenacetin, namun dengan pemakaian acetaminophen kronis yang luas tidak terjadi, padahal kenyataannya kurang lebih 80% dari phenacetyn dengan cepat dimetabolisme menjadi acetaminophen. Pendarahan gastrointestinal tidak terjadi. Harus berhati-hati pada penderita sakit hati (Katzung, 2002).

2.2 Tramadol

(Struktur Tramadol NaOH 0,1N) Tramadol atau trans-2-dimethylaminomethyl-1(3-methoxyphenyl) cyclo hexanol dengan struktur kimia C16H25NO2 adalah campuran rasemik dari dua isomer. Obat ini termasuk golongan aminocyclohexanol (Moffat, et al., 2005). Di sebagian Negara, tramadol dianggap sebagai analgetikum opiat karena bekerja pusat, yakni melalui pendudukan reseptor -opioid oleh cis-isomernya. Meskipun demikian zat ini tidak menekan pernapasan, praktis tidak mempengaruhi sistem kardiovaskuler atau motilitas lambung-usus (Tjay dan Rahardja, 2008). Tramadol bekerja secara sentral pada penghambat pengambilan kembali noradrenergik dan serotonin neurotransmission, dapat diberikan peroral, parenteral, intravena, intramuskular serta dikonsumsi secara tunggal ataupun dikombinasikan dengan acetaminophen (Moffat, et al., 2005).

Gambar 3. Struktur kimia tramadol

Rumus Kimia Sinonim Berat molekul Kelarutan Suhu lebur pKa Spektrum Serapan UV

: C16H25NO2 : trans-2-dimethylaminomethyl-1(3-methoxyphenyl) cyclo- hexanol : 263,4 gram/mol : Larut dalam air dan etanol : antara 180o - 181oC : 8.3; 9.41 : larutan asam 272 nm (A11=70a) lebih baik 279 nm. Tidak pada larutan basa

Gambar 4. Spektra serapan uv tramadol pada larutan asam (Moffat, et al., 2005)

2.2.

Spektrofotometri UV-Vis Spektrofotometri UV-Vis adalah metode analisis spektroskopik yang memakai

sumber radiasi elektromagnetik UV dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380 -780 nm) dengan memakai instrumen spektrofotometer. Radiasi UV jauh (100190 nm) tidak dipakai, sebab pada daerah tersebut, udara juga mengalami absorbs radiasi (Tim Penyusun, 2008). Radiasi di daerah UV/Vis diserap melalui eksitasi elektron-elektron yang terlibat dalam ikatan-ikatan antara atom-atom pembentuk molekul sehingga awan elektron

menahan atom-atom bersama-sama mendistribusikan kembali atom-atom itu sendiri dan orbital yang ditempati oleh elektron-elektron pengikat tidak lagi bertumpang tindih (Watson, 2007). Ketika sinar melewati suatu senyawa, energi dari sinar digunakan untuk mendorong perpindahan elektron dari orbital ikatan atau orbital non-ikatan ke salah satu orbital antiikatan yang kosong (Clark, 2007). Perpindahan/lompatan elektron yang mungkin terjadi akibat adanya sinar adalah:

Lompatan yang lebih besar membutuhkan energi yang lebih besar dan menyerap sinar dengan panjang gelombang yang lebih pendek. Lompatan yang ditunjukan dengan tanda panah abu-abu menyerap sinar UV dengan panjang gelombang yang lebih rendah dari 200 nm (Clark, 2007). Lompatan yang penting diantaranya adalah lompatan dari orbital pi ikatan ke orbital pi anti-ikatan; dari orbital non-ikatan ke orbital pi anti-ikatan; dan dari orbital non-ikatan ke orbital sigma anti-ikatan. Artinya untuk menyerap sinar pada daerah antara 200 800 nm (pada daerah dimana spektra diukur), molekul harus mengandung ikatan pi atau terdapat atom dengan orbital non-ikatan. Perlu diingat bahwa orbital non-ikatan adalah pasangan elektron bebas, misalnya pada oksigen, nitrogen, atau halogen (Clark, 2007). Analisis kuantitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vis dapat digolongkan atas tiga macam pelaksanaan pekerjaan, yaitu: (1) analisis zat tunggal atau analisis satu komponen; (2) analisis kuantitatif campuran dua macam zat atau analisis dua komponen; dan (3) analisis kuantitatif campuran tiga macam zat atau lebih (analisis multi komponen) (Gandjar dan Rohman, 2007). 2.2.1. Analisis Komponen Tunggal Jika absorpsi suatu seri konsentrasi larutan diukur pada panjang gelombang, suhu, kondisi pelarut yang sama; dan absorbansi masing-masing larutan diplotkan

terhadap konsentrasinya maka suatu garis lurus akan teramati sesuai dengan persamaan A = bc. Grafik ini disebut dengan plot hukum Lambert-Beer dan jika garis yang dihasilkan merupakan suatu garis lurus maka dapat dikatakan bahwa hukum Lambert-Beer dipenuhi pada kisaran konsentrasi yang teramati (Gandjar dan Rohman, 2007). Cara lain untuk menetapkan kadar sampel adalah dengan menggunakan perbandingan absorbansi sampel dengan absorbansi baku, atau dengan menggunakan persamaan regresi linier yang menyatakan hubungan konsentrasi baku dengan absorbansinya. Persamaan kurva baku digunakan untuk menghitung kadar dalam sampel (Gandjar dan Rohman, 2007).

2.2.2 Analisis Dua Campuran secara Bersama-sama Spektrofotometri merupakan metode relatif (bukan metode absolut), artinya perlu senyawa baku sebagai pembanding. Pengukuran absorbansi sampel maupun baku untuk campuran beberapa senyawa (multicomponent) dapat diukur pada beberapa maksimum masing-masing senyawa. Selanjutnya konsentrasi masingmasing senyawa dihitung berdasarkan persamaan simultan sederhana (SSE=simple simultan equation). Determinasi secara simultan akan diasumsikan pada total absorbansi pada masing-masing panjang gelombang yang dijumlahkan (Khopkar, 2003). Kadar larutan campuran dua zat dapat ditentukan dengan metode spektrofotometri tanpa harus dipisahkan lebih dahulu. Kedua zat harus memiliki panjang gelombang maksimum yang tidak berimpit. Absorpsi larutan sampel atau campurannya pada panjang gelombang pengukuran merupakan jumlah absorpsi dari masing-masing zat tunggalnya. Kadar masing-masing zat ditentukan menggunakan metode simultan (Pitri Susanti, dkk, 2011). Jika absorbansi suatu seri konsentrasi larutan diukur pada panjang gelombang, suhu, kondisi pelarut yang sama, dan absorbansi masing-masing larutan diplotkan terhadap konsentrasinya, maka suatu garis lurus akan teramati sesuai dengan persamaam A=abc. Grafik ini disebut dengan plot hukum Lambert-Beer dan jika garis yang dihasilkan merupakan suatu garis lurus maka dapat dikatakan bahwa

hukum Lambert-Beer dipenuhi pada kisaran konsentrasi yang diamati (Gandjar dan Rohman, 2007). Bila diinginkan dua buah senyawa secara bersama-sama secara spektrofotometri, maka dapat dilakukan pada dua panjang gelombang yang mana masing-masing komponen tidak saling mengganggu atau gangguan dari komponen yang lain paling kecil. Dua buah kromofor yang berbeda akan mempunyai kekuatan absorbsi cahaya yang berbeda pula pada satu daerah panjang gelombang. Pengukuran dilakukan pada masing-masing larutan pada dua panjang gelombang sehingga diperoleh dua persamaan hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi pada dua panjang gelombang, akibatnya konsentrasi masing-masing komponen dapat dihitung. Mula-mula dipilih panjang gelombang yang mana perbandingan
a1 a2 absorptivitas maksimum, yaitu : maksimum pada 1 dan maksimum a a 2 1

pada 2 (Gandjar dan Rohman, 2007).

Gambar 2. Spektra dua buah senyawa, senyawa I dan senyawa II Absorban jumlah suatu campuran beberapa senyawa yang mengabsorpsi pada masing-masing panjang gelombang merupakan jumlah absorban masingmasingnya. Pada campuran dua komponen akan terlihat absorban yang diukur pada 1 serta 2 merupakan jumlah dari absorban komponen tunggal pada panjang gelombang tersebut. Hal ini memungkinkan untuk pemeriksaan kemurnian senyawa obat secara spektrofotometri serta penentuan campuran beberapa komponen (Rot dan Blaschke, 1985). Dari hukum Lambert-Beer, dapat diketahui bahwa absorbansi berbanding lurus dengan absortivitas (a), tebal kuvet (b), dan konsentrasi (c). Supaya nilai b tetap maka selama pengukuran digunakan kuvet yang sama.

Absorbansi senyawa 1, A1= a1b1c1......................(1) Absorbansi senyawa 1, A1= a2b2c2......................(2) Selama kuvet yang digunakan sama, maka nilai b tetap sehingga persamaan 1 dan 2 menjadi persamaan 3 dan 4. A1= a1c1.......................(3) A2= a2c2.......................(4) Pengukuran campuran 2 senyawa dilakukan baik pada panjang gelombang 1 (1) maupun pada panjang gelombang 2 (2), oleh karena itu absorbansi pada kedua panjang gelombang tersebut merupakan jumlah dari absorbansi senyawa 1 dan absorbansi senyawa 2, yang secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut: A1= (a1c1)1 + (a2c2)2.......................(5) A2= (a1c1)2 + (a2c2)1.......................(6) Keterangan: nilai a (absortivitas) dapat juga diganti dengan absorptivitas molar. Yang mana: C1 C2 : konsentrasi senyawa 1 : konsentrasi senyawa 2

(a1) 1 : absorpsivitas senyawa 1 pada panjang gelombang pertama (a2) 2 : absorpsivitas senyawa 1 pada panjang gelombang kedua (a2) 1 : absorpsivitas senyawa 2 pada panjang gelombang pertama (a2) 2 : absorpsivitas senyawa 2 pada panjang gelombang kedua A1 : absorbansi senyawa campuran pada panjang gelombang pertama A2 : absorbansi senyawa campuran pada panjang gelombang kedua (Gandjar dan Rohman, 2007).

Data spektra UV-Vis secara tersendiri tidak dapat digunakan untuk identifikasi kualitatif obat atau metabolitnya. Sedangkan pada aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada cuplikan (larutan sampel) dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarnya. Radiasi yang diserap oleh cuplikan ditentukan dengan membandingkan intensitas sinar yang diteruskan dengan intensitas sinar yang diserap jika tidak ada spesies penyerap lainnya. Intensitas atau kekuatan radiasi cahaya sebanding dengan jumlah foton yang melalui satu-satuan luas penampang per detik. Besarnya intensitas energi REM yang diabsorpsi proporsional dengan jumlah

kromofornya (konsentrasinya), dan hubungan proporsional ini dirumuskan dalam bentuk persamaan Hukum Lambert Beer : A=bc Di mana: A = Absorbansi = Absorptivitas molar (cm mg/mL) b = Tebal kuvet (cm) c = Konsentrasi (mg/mL) (Gandjar dan Rohman, 2007) Dalam Hukum Lambert-Beer terdapat beberapa pembatasan, yaitu : Sinar yang digunakan dianggap monokromatis. Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai luas penampang yang sama. Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang lain dalam larutan tersebut. Tidak terjadi peristiwa fluororesensi atau fosforesensi. Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan. Dengan mengetahui nilai absorbansi dari larutan sampel, melalui kurva kalibrasi dapat ditentukan konsentrasinya. Penetapan kadar parasetamol juga dapat ditentukan melalui persamaan regresi linier : y = bx + a Keterangan: y = absorbansi; x = konsentrasi Apabila suatu REM dikenakan kepada suatu larutan dengan intensitas radiasi semula (I0), maka sebagian radiasi tersebut akan diteruskan (It), dipantulkan (Ir) dan diabsorbsi (Ia), sehingga :
I0 = It + Ir + Ia

Harga Ir ( 4%) dapat diabaikan karena pengerjaan dengan metode Spektrofotometri UV-Vis menggunakan larutan pembanding sehingga :
I0 = It + Ia

Bouguer, Lambert, dan Beer secara matematis menghubungkan antara transmitan dan absorban dengan intensitas radiasi sehingga didapatkan :
T = It = 10 .b.c I0 1 = . b . c T

A = log

Keterangan : T = persen transmitan Io = intensitas radiasi yang datang It c b = intensitas radiasi = absorbansi molar (L.mol-1.cm-1) = konsentrasi (mol. L-1) = tebal larutan (cm) (Tim Penyusun, 2008) Dengan mengetahui nilai absorbansi dari larutan sampel, melalui kurva kalibrasi dapat ditentukan konsentrasinya. Penetapan kadar parasetamol juga dapat ditentukan melalui persamaan regresi linier : y = bx + a Di mana: y = Absorbansi x = Konsentrasi Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisa dengan spektofotometri UV-Vis terutama untuk senyawa yang semula tidak berwarna yang akan dianalisis dengan spektrofotometri visible karena senyawa tersebut harus

A = absorbansi

diubah terlebih dahulu menjadi senyawa yang berwarna (Gandjar dan Rohman, 2007), antara lain : 1. Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vis Hal ini perlu dilakukan jika senyawa yang dianalisis tidak menyerap pada daerah tersebut. Cara yang digunakan adalah dengan merubah menjadi senyawa lain atau direaksikan dengan pereaksi tertentu. Pereaksi yang digunakan harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu yaitu: reaksinya reaktif dan sensitif, reaksinya cepat, kuantitatif, dan reprodusibel, dan hasil reaksi stabil dalam jangka waktu yang lama. Keselektifan dapat dinaikan dengan mengatur pH, pemakaian masking agent, atau penggunaan teknik ekstraksi (Gandjar dan Rohman, 2007). 2. Waktu operasional (operating time) Pada saat awal terjadi reaksi, absorbansi senyawa yang berwarna ini meningkat sampai waktu tertentu hingga diperoleh absorbansi yang stabil. Semakin lama waktu pengukuran, maka ada kemungkinan senyawa yang berwarna tersebut menjadi rusak atau terurai sehingga intensitas warnanya turun akibatnya absorbansinya juga turun. Karena alasan inilah, maka untuk pengukuran senyawa berwarna (hasil suartu reaksi kimia) harus dilakukan pada saat waktu operasional (Gandjar dan Rohman, 2007). Cara ini biasa digunakan untuk pengukuran hasil reaksi atau pembentukan warna. Tujuannya untuk mengetahui waktu pembentukan yang stabil. Waktu operasional ditentukan dengan mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan absorbansi larutan (Gandjar dan Rohman, 2007). 3. Pemilihan panjang gelombang Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif adalah panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. Untuk memilih panjang gelombang maksimal, dilakukan dengan membuat kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu (Gandjar dan Rohman, 2007). Ada beberapa alasan mengapa harus menggunakan panjang gelombang maksimal, yaitu:

Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena pada panjang gelombang maksimal tersebut, perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar. Di sekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi tersebut hukum Lambert-Beer akan terpenuhi. Jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang disebabkan oleh pemasangan ulang panjang gelombang akan kecil sekali ketika digunakan panjang gelombang maksimal. (Gandjar dan Rohman, 2007)

4.

Pembuatan kurva baku Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis dengan berbagai

konsentrasi. Masing-masing absorbansi larutan dengan berbagai konsentrasi diukur, kemudian dibuat kurva yang merupakan hubungan antara absorbansi (y) dengan konsentrasi (x). Kurva baku sebaiknya sering diperiksa ulang. Penyimpangan dari garis lurus biasanya dapat disebabkan oleh: (i) kekuatan ion yang tinggi; (ii) perubahan suhu, dan (iii) reaksi ikutan yang terjadi (Gandjar dan Rohman, 2007). 5. Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan Absorban yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2 sampai 0,8 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai transmitan. Anjuran ini berdasarkan anggapan bahwa kesalahan dalam pembacaan T adalah 0,005 atau 0,5% (kesalahan fotometrik) (Gandjar dan Rohman, 2007). 2.2.3 Linieritas Linieritas merupakan kemampuan suatu metode untuk memperoleh hasil-hasil uji yang secara langsung proporsional dengan konsentrasi analit pada kisaran yang diberikan. Linieritas suatu metode merupakan ukuran seberapa baik kurva kalibrasi yang menghubungkan antara respon (y) dengan konsentrasi (x). Linieritas dapat diukur dengan melakukan pengukuran tunggal pada konsentrasi yang berbeda-beda. Data yang diperoleh selanjutnya diproses dengan metode kuadrat terkecil, untuk

selanjutnya dapat ditentukan nilai kemiringan (slope), intersep, dan koefisien korelasinya (Gandjar dan Rohman, 2007). Linearitas adalah kemampuan metode analisis yang memberikan respon yang secara langsung atau dengan bantuan transformasi matematik yang baik, proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel. Rentang metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi analit yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan, keseksamaan, dan linearitas yang dapat diterima. Sebagai parameter adanya hubungan linier digunakan koefisien korelasi r pada analisis regresi linier Y = a + bX. Hubungan linier yang ideal dicapai jika nilai b = 0 dan r = +1 atau 1 bergantung pada arah garis. Sedangkan nilai a menunjukkan kepekaan analisis terutama instrumen yang digunakan. Parameter lain yang harus dihitung adalah simpangan baku residual (Sy). Dengan menggunakan kalkulator atau perangkat lunak komputer, semua perhitungan matematik tersebut dapat diukur:

(Harmita, 2004) 2.2.4 Instrumentasi Spektrofotometri UV-Vis Pada umumnya konfigurasi dasar setiap spektrofotometer UV-Vis berupa susunan peralatan optik terkontruksi sebagai berikut : SRMSKDAVD Keterangan : SR M D : Sumber radiasi : Monokromator : Detektor

A. Sistem Optik

SK : Sampel Kompartemen

: Amplifier atau penguat

VD : Visual display atau meter Setiap bagian peralatan optik spektrofotometer uv-vis memegang fungsi dan peranan masing-masing dan saling terkait. Fungsi dan peranan tersebut dituntut ketelitian dan ketepatan optimal, sehingga akan diperoleh hasil pengukuran dan tingkat ketelitian dan ketepatan yang tinggi (Tim Penyusun, 2008).

B. Instrumentasi 1. Sumber radiasi Sumber radiasi yang umum digunakan adalah lampu deuterium, lampu tungstein dan lampu merkuri. Lampu deuterium digunakan pada daerah panjang gelombang 190-380 nm (UV dekat) karena pada daerah tersebut lampu deuterium memberikan spectrum energi radiasi yang lurus. Lampu tungstein digunakan sebagai sumber radiasi pada daerah pengukuran sinar tampak dengan panjang gelombang 389-900 nm. Sumber radiasi merkuri merupakan sumber radiasi yang mengadung uap merkuri bertekanan rendah yang biasa digunakan untuk kalibrasi panjang gelombang spektrofotometer UV-Vis pada daerah 365 nm dan sekaligus mengecek resolusi dari monokromator (Tim Penyusun, 2008). 2. Monokromator Monokromator berfungsi untuk menghasilkan radiasi monokromatis dari sumber radiasi yang memencarkan radiasi polikromatis. Monokromator spektrofotometer UV-Vis umumnya terdiri dari : celah (slit) masuk, filter optik, prisma dan kisi (grating), serta celah keluar (Tim Penyusun, 2008). 3. Sel atau Kuvet

Sel atau kuvet merupakan wadah sampel yang akan dianalisis. Ditinjau dari cara pemakaiannya dan dari bahan yang dipakai, kuvet dibedakan menjadi kuvet permanen yang terbuat dari leburan silika (dipakai pada panjang gelombang 190-1100 nm) atau gelas (dipakai pada panjang gelombang 380-1100 nm), dan kuvet disposable satu kali pemakaian yang terbuat dari Teflon atau plastic (Tim Penyusun, 2008). 4. Detektor Detektor merupakan bagian spektrofotometer yang penting karena berfungsi untuk merubah sinyal radiasi yang diterima menjadi sinyal elektonik. Syarat detektor yang baik diantaranya: Kepekaan yang tinggi terhadap radiasi yang diteriama, dengan derau yang minimal. Mampu memberikan respon terhadap radiasi pada rentang panjang gelombang yang lebar (UV-Vis). Respon terhadap radiasi harus serempak. Respon harus kuantitatif dan sinyal elektronik yang keluar berbanding lurus dengan radiasi elektromagnetik yang diterima. Sinyal elektronik yang dihasilkan harus dapat diamplifikasikan oleh penguat (amplifier) ke rekorder (pencatat) (Tim Penyusun, 2008). Macam-macam detektor yang umumnya digunakan diantaranya: - Detektor Fotosel
- Detektor Tabung Foton Hampa (Vaccum Phototubes) - Detektor Tabung Penggandaan Foton (Photomultiplier Tubes/PMT) - Detektor Photo Diode-Array/ PDA yang merupakan detektor dengan

teknologi modern. (Tim Penyusun, 2008).

III ALAT DAN BAHAN 3.1 Alat Gelas beaker Neraca analitik

Pipet volume Pipet tetes Kertas saring Corong gelas Sendok tanduk Batang pengaduk Ballfiller Labu ukur Mortir dan stamper Seperangkat alat UV-Vis Kuvet Vial Lap Kertas perkamen Aluminium foil

3.2 Bahan

Tablet paracetamol dan tramdol Serbuk Parasetamol Serbuk Tramadol Larutan blanko NaOH 0,1N NaOH 0,1N Air bebas CO2

IV. PROSEDUR KERJA


4.1

Pembuatan Larutan NaOH 0,1N Diketahui : Normalitas NaOH Volume NaOH BM NaOH Ditanya : Massa NaOH = 0,1 N = 100 mL = 0,1 L = 40 gram = .....?

Perhitungan

mol

Jawab : Molaritas NaOH = Normalitas : ekivalen = 0,1 ek/L : 1 ek/mol = 0,1 M Mol NaOH = Molaritas NaOH x Volume NaOH = 0,1 M x 0,1 L = 0,01 mol Massa NaOH = Mol NaOH x BM NaOH = 0,01 mol x 40 gram = 0,4 gram Pembuatan Sebanyak 0,4 gram NaOH padat ditimbang, kemudian dilarutkan dengan sedikit air bebas CO2 di dalam gelas beaker. Setelah larut sempurna, kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL dan ditambahkan air bebas CO2 hingga tanda batas (Depkes RI, 1995).

mol

4.2

Pembuatan Larutan Baku Primer Paracetamol Diketahui : Massa serbuk parasetamol = 25 mg V metanol Ditanya Jawab :c=? : c=
gram paracetamo V methanol l 2 m 5 g 2 m 5 L

Perhitungan = 25 mL

= 1 mg

mL

Untuk memudahkan pemipetan dalam pembuatan seri larutan berikutnya ingin dibuat larutan baku primer Paracetamol dengan konsentrasi 0,1mg/ml sejumlah 10ml dari larutan dengan konsentrasi 1 mg/ml. C1 x V1 = C2 x V2

1 mg

mL

x Vbaku primer PCT Vbaku primer PCT

= 0.1 mg = 1 mL

mL

x 10 mL

Pembuatan Serbuk paracetamol ditimbang sebanyak 25 mg, kemudian serbuk dimasukkan ke dalam labu takar 25 mL. Selanjutnya serbuk tersebut dilarutkan dengan 5 mL metanol dan digojog hingga serbuk terlarut sempurna. Metanol ditambahkan kembali sampai tanda batas (25 mL), digojog kembali sampai larutan menjadi homogen. Konsentrasi larutan baku primer paracetamol yang diperoleh sebesar 1 mg/mL dipipet 1ml, kemudian ditambahkan metanol hingga tanda batas dalam labu ukur 10 ml.

4.3 Pembuatan Larutan Baku Kerja Paracetamol Perhitungan Untuk menentukan panjang gelombang maksimum dilakukan perhitungan konsentrasi larutan agar memperoleh absorbansi 0,434 karena pada absorbansi tersebut terjadi A 0,434 c c c c = = = = = = kesalahan terkecil. Perhitungan c c dilakukan dengan menggunakan rumus: b 715 L.mol-1.cm-1 1 cm 0,434 715 L.mol -1.cm -1 1 cm 6,07 10-4 gram/100 mL 6,07 10-6 gram/mL 6,07 g/mL

Perhitungan pembuatan larutan baku kerja paracetamol dari baku primer paracetamol Diketahui : Cbaku primer PCT = 0,1 mg Cbaku kerja PCT Vbaku kerja PCT Ditanya Jawab : Vbaku primer PCT = ? :

mL

= 6,07 x 10-3 mg = 10 mL

mL

Cbaku primer PCT x Vbaku primer PCT = Cbaku kerja PCT x Vbaku kerja PCT

0,1 mg

mL

x Vbaku primer PCT = 6,07 x 10-3 mg Vbaku primer PCT = 0,607 mL

mL

x 10 mL

Pembuatan Larutan baku primer paracetamol dipipet sebanyak 0,607 mL, lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Selanjutnya ditambahkan NAOH 0,1N hingga tanda batas. Labu ukur digojog hingga larutan homogen dan konsentrasi yang diperoleh 6,07 x 10-3 mg/mL.

4.4 Pembuatan Larutan Baku Primer Tramadol

Perhitungan Diketahui : Massa serbuk Tramadol V metanol Ditanya Jawab : c = ... ? : c= c=


gram tramadolHC V methanol l

= 25 mg = 25 mL

25 mg 25 mL

= 1 mg

mL

Untuk memudahkan pemipetan dalam pembuatan seri larutan berikutnya ingin dibuat larutan baku primer Tramadol dengan konsentrasi 0,1mg/ml sejumlah 10ml dari larutan dengan konsentrasi 1 mg/ml.

C1 x V1 = C2 x V2 1 mg

mL

x Vbaku primer TRA Vbaku primer PCT

= 0,1 mg = 1 mL

mL

x 10 mL

Pembuatan

Serbuk tramadol ditimbang sebanyak 25 mg. Kemudian serbuk tersebut dimasukkan ke dalam labu takar 25 mL dan dilarutkan dengan 5 mL metanol, digojog sampai serbuk Tramadol terlarut sempurna. Selanjutnya ditambahkan metanol sampai tanda batas, labu ukur digojog sampai larutan homogen sehingga konsentrasi larutan baku primer tramadol yang diperoleh sebesar 1 mg/mL. Konsentrasi larutan baku primer tramadol yang diperoleh sebesar 1 mg/mL dipipet 1ml, kemudian ditambahkan metanol hingga tanda batas dalam labu ukur 10 ml.
4.5 Pembuatan Larutan Baku Kerja Tramadol

Perhitungan Untuk menentukan panjang gelombang maksimum dilakukan perhitungan konsentrasi larutan agar memperoleh absorbansi 0,434 karena pada absorbansi tersebut terjadi kesalahan terkecil. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus: A 0,434 c c c c = = b -1 -1 70 L.mol .cm 1 cm 0,434 = 70 L.mol -1 .cm -1 1 cm = 62 10-4 gram/100 mL = 62 10-6 gram/mL = 62 g/mL c c

Pembuatan larutan baku kerja tramadol Diketahui : Cbaku primer Tramadol = 0,1 mg

mL

Cbaku kerja Tramadol= 6,2 x 10-2 mg Vbaku primer Tramadol Ditanya Jawab 0,1 mg : Vbaku primer Tramadol : = 10 mL = ?

mL

Cbaku primer Tramadol x Vbaku primer Tramadol

= Cbaku kerja tramadol x Vbaku kerja Tramadol = 6,2 x 10-2 mg = 6,2 mL

mL

x Vbaku primer Tramadol

mL

x 10 mL

Vbaku primer Tramadol Pembuatan

Larutan baku primer tramadol dipipet sebanyak 6,2 mL. Kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Selanjutnya ditambahkan NaOH 0,1N hingga 10 mL. Labu ukur digojog hingga larutan homogen dan konsentrasi yang diperoleh 6,2 x 10-2 mg/mL.
4.6 Penyiapan Larutan Campuran (Paracetamol dan Tramadol)

Larutan baku primer paracetamol dengan konsentrasi 6,07 x 10-3 mg/mL dipipet sebanyak 5 mL dan larutan baku primer Tramadol dengan konsentrasi 6,2 x 10 -2 mg/mL dipipet sebanyak 5 mL. Kedua larutan tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, dicampur hingga homogen.
4.7 Pengukuran Absorbansi dengan Spektrofotometer UV-Vis

Diukur absorbansi baku tunggal serta campuran parasetamol dan Tramadol rentang panjang gelombang 200-300 nm. Ditentukan panjang gelombang maksimum parasetamol dan Tramadol. Dari absorbansi yang didapatkan, dibuat persamaan metode simultan dan kromatogramnya.

4.8 Penyiapan Larutan Sampel


Ekstraksi dengan NaOH 0,1N Berat tiap tablet dimisalkan Kandungan Paracetamol Kandungan Tramadol Maka, Paracetamol Tramadol = 500 mg = 325 mg = 37,5 mg = 975 mg = 112,5 mg

Digunakan 3 tablet, sehingga bobotnya: 3 x 500mg = 1500mg

Berdasarkan yang tertera dan dijelaskan pada FI III, diambil 150 mg zat aktif dilarutkan dalam 50 ml NaOH 0,1N. Tetapi untuk memudahkan semua komponen dibagi 5 sehingga diambil 30 mg zat aktif dalam 10 ml NaOH 0,1N. Yang diperhatikan pada pembuatan larutan sampel ini hanya kadar paracetamol, karena tramadol nantinya akan menyesuaikan dengan kadar paracetamolnya.

Sebanyak 46,154 mg serbuk tersebut dilarutkan dengan 10 ml NaOH 0,1N Kadar Parasetamol menjadi : 30 mg

10mL =

3 mg

mL

Ditambahkan 20ml air (kocok selama 15 menit), dan disaring. Kadar Parasetamol = 30

mg

30mL =

1mg

mL

Sehingga dalam 30 ml larutan mengandung 30 mg Parasetamol dan 3,47 mg Tramadol. Kadar Parasetamol Kadar Tramadol = 1 mg/ml = 0,116 mg/ml

Dibuat konsentrasi sampel dengan kadar Parasetamol 30g/ml dan Tramadol 3,48 g/ml dalam 10 ml. Parasetamol : C1 V1 = C2 30 V2

mg 1

mL

V1

10 mL

mL

V1 Pembuatan :

0,3 mL

Dipipet sebanyak 0,3 mL dan larutan awal yang dengan kadar PCT = 1mg/ml. Larutan tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, dicampur hingga homogen dan ditambahkan NaOH 0,1N hingga tanda batas. Sehingga kadar masing-masing paracetamol dan tramadol dalam sampel berturut-turut adalah 3 x 10-2 mg/mL dan 3,48 x 10-3 mg/mL.

4.9 Pengukuran Larutan Baku dan Sampel

Parasetamol Dicari panjang gelombang maksimum dari sampel parasetamol menggunakan larutan baku kerja parasetamol 6,07 x 10-3 mg/mL pada rentang (200-300) nm. Tramadol Dicari panjang gelombang maksimum dari sampel tramadol menggunakan larutan baku kerja tramadol 6,2 x 10-2 mg/mL pada rentang (200-300) nm. Larutan Campuran Parasetamol dan Tramadol . Ukur absorbansi larutan campuran parasetamol dan tramadol pada rentang (200-300) nm.

V. Skema Kerja
5.1 Pembuatan Larutan NaOH 0,1N

Ditimbang 0,4 gram NaOH dilarutkan dalam sedikit air bebas CO2

Ditambahkan air bebas CO2 hingga tanda batas 100 mL, digojog homogen

5.2 Pembuatan Larutan Baku Primer Paracetamol Ditimbang 25 mg paracetamol, dilarutkan dalam sedikit metanol

Dilarutkan dengan 5 ml metanol di dalam labu ukur 25 ml Digojog hingga serbuk paracetamol larut sempurna Ditambahkan kembali metanol hingga tanda batas labu ukur 25 ml Digojog kembali hingga larutan homogen

Dipipet 1ml larutan di atas, dimasukkan dalam labu ukur 10ml

Ditambahkan methanol hingga tanda batas. Ad 10ml

5.3 Pembuatan Larutan Baku Kerja Paracetamol Dilarutkan 0,607 mL larutan baku paracetamol dalam sedikit NaOH 0,1N Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL Ditambahkan larutan NaOH 0,1N hingga tanda batas Digojog hingga larutan menjadi homogen Diperoleh larutan baku kerja Paracetamol dengan konsentrasi 6,07 x 10-3 mg/ml

5.4 Pembuatan Larutan Baku Primer Tramadol

Ditimbang sebanyak 25 mg serbuk Tramadol Dilarutkan dengan 5 ml metanol di dalam labu ukur 25 ml Digojog hingga serbuk Tramadol larut sempurna Ditambahkan kembali metanol hingga tanda batas labu ukur 25 ml Digojog kembali hingga larutan homogen

Dipipet 1ml larutan di atas, dimasukkan dalam labu ukur 10ml

Ditambahkan methanol hingga tanda batas. Ad 10ml

5.5 Pembuatan Larutan Baku Kerja Tramadol

Dilarutkan 6,2 mL larutan baku tramadol dalam sedikit NaOH 0,1N

Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL Ditambahkan larutan NaOH 0,1N hingga tanda batas Digojog hingga larutan menjadi homogen
Diperoleh larutan baku kerja Tramadol NaOH 0,1N dengan konsentrasi 6,2 x 10-2 mg/ml

5.6 Penyiapan Larutan Campuran (Paracetamol dan Tramadol) Dipipet sebanyak 5 mL larutan baku primer Paracetamol dan larutan baku primer Tramadol sebanyak 5 mL Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL

Digojog hingga larutan menjadi homogen

5.7 Pengukuran Absorbansi dengan Spektrofotometer UV-Vis Diukur absorbansi larutan baku tunggal dan campuran pada rentang 200300 nm Ditentukan max masing-masing larutan

Dibuat persamaan metode simultan dari absorbansi yang didapat dan dibuat kromatogramnya

5.8 Penyiapan Larutan Sampel Diambil 150 mg zat aktif dilarutkan dalam 50 ml NaOH 0,1N. Tetapi untuk memudahkan semua komponen dibagi 5 sehingga diambil 30 mg zat aktif dalam 10 ml NaOH 0,1N. Yang dihitung dalam pembuatan larutan sampel ini hanya kadar paracetamol saja, karena nantinya kadar tramadol akan mengikuti nilai dari kadar paracetamol.

Dilarutkan serbuk sebesar 46,154 tersebut dengan 10 ml NaOH 0,1N, Ditambahkan 20ml air (kocok selama 15 menit), dan disaring. Dibuat konsentrasi sampel dengan kadar PCT 30g/ml dan TRA 3,48 g/ml dalam 10 ml.

Dipipet sebanyak 0,3 mL dan larutan awal yang dengan kadar PCT = 1mg/ml. Larutan tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, dicampur hingga homogen dan ditambahkan NaOH 0,1N hingga tanda batas. Sehingga kadar masing-masing paracetamol dan tramadol dalam sampel berturut-turut adalah 3 x 10-2 mg/mL dan 3,48 x
10-3 mg/mL. .

5.9 Pengukuran Panjang Gelombang Maksimum Paracetamol Diukur absorbansi baku tunggal Paracetamol pada rentang panjang gelombang 200300 nm

Ditentukan panjang gelombang maksimum Parasetamol berdasarkan panjang gelombang yang memberikan absorbansi tertinggi

5.10 Pengukuran Panjang Gelombang Maksimum Tramadol Diukur absorbansi baku tunggal Tramadol pada rentang panjang gelombang 200-300 nm

Ditentukan panjang gelombang maksimum Tramadol NaOH 0,1N berdasarkan panjang gelombang yang memberikan absorbansi tertinggi

5.11 Pengukuran Panjang Gelombang Maksimum Campuran Parasetamol dan Tramadol Diukur absorbansi baku campuran Paracetamol dan Tramadol pada rentang panjang gelombang 200-300 nm

Ditentukan panjang gelombang maksimum campuran Parasetamol dan Tramadol berdasarkan panjang gelombang yang memberikan absorbansi tertinggi

5.12 Pengukuran Larutan Sampel

Diukur absorbansi masing-masing sampel pada max paracetamol dan max tramadol NaOH 0,1N

Dihitung konsentrasi sampel dengan memasukkan absorbansi ke dalam persamaan yang didapatkan

VI. HASIL PENGAMATAN (nm) 200 203 206 209 212 215 218 221 224 227 230 233 236 239 242 245 248 251 254 257 260 263 266 269 272 275 278 281 284 287 290 293 296 299 AParacetamol ATramadol ACampuran

DAFTAR PUSTAKA Clarck, J. 2007. Spektra Serapan UV-Tampak. (cited : 30 Oktober 2011). Available at :http://www.chem-is-try.org/spektrum_serapan_ultraviolet-tampak_uv-vis Dep Kes RI. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan RI: Jakarta Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar : Yogyakarta Harmita, 2004. Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya. Departemen Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia. Katzung, B. G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik. Salemba Medika : Jakarta. Khopkar, S. M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI-Press : Jakarta

Moffat, C.A., M. D. Osselton, B. Widdop. 2005. Clarke's Analysis of Drugs and Poisons. Pharmaceutical Press. Publications division of the Royal Pharmaceutical Society of Great Britain Pitri Susanti, dkk. 2011. Petunjuk Praktikum Kimia Analisis. Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana: Jimbaran Tim Penyusun. 2008. Buku Ajar Analisis Farmasi Fisiko Kimia. Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana: Jimbaran Tjay, Tan dan K. Rahardja. 2008. Obat-Obat Penting. Elex Media Komputindo: Jakarta Watson, David G. 2007. Analisis Farmasi. EGC : Jakarta.