Anda di halaman 1dari 7

OMSK

Definisi dan Klasifikasi Peradangan kronis di telinga tengah dengan perforasi membrane timpani disertai keluarnya sekret, hilang timbul atau menetap dengan atau tanpa kolesteatoma. OMSK dapat dibagi atas 2 jenis, yaitu 1. OMSK tipe aman (tipe mukosa = tipe benigna) Proses peradangan pada tipe ini terbatas pada mukosa saja, dan biasanya tidak mengenai tulang. Perforasi terletak di sentral. Umumnya OMSK tipe aman jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe aman tidak terdapat kolesteatoma. 2. OMSK tipe bahaya (tipe tulang = tipe maligna) OMSK yang disertai dengan kolesteatoma. Perforasi pada OMSK tipe ini terletaknya marginal atau di atik, kadang-kadang terdapat juga kolesteatoma pada OMSK dengan perforasi subtotal. Sebagian besar komplikasi yang berbahaya atau fatal timbul pada OMSK tipe bahaya. Berdasarkan letak perforasi di membran timpani : Perforasi sentral (sub total). Letak perforasi di sentral dan pars tensa membran timpani. Seluruh tepi perforasi masih mengandung sisa membran timpani. Perforasi marginal. Sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus timpanikum. Perforasi atik. Letak perforasi di pars flaksida membran timpani. Sekret yang keluar dari telinga tengah ke telinga luar dapat berlangsung terus-menerus atau hilang timbul. Konsistensinya bisa encer atau kental. Warnanya bisa kuning atau berupa nanah.

Epidemiologi

Di Indonesia menurut Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran, Depkes tahun 1993-1996 prevalensi OMSK adalah 3,1% populasi. Usia terbanyak penderita infeksi telinga tengah adalah usia 7-18 tahun, dan penyakit telinga tengah terbanyak adalah OMSK. Etiologi dan Faktor Resiko OMSK dapat disebabkan oleh : - Barotrauma - Perforasi yang tidak diperbaiki - Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) tersering. Dewasa : Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, Proteus sp., Streptococcus pneumonia, dan Haemophilus influenza. Anak: bakteri Haemophilus influenza (tersering). - OMA (Otitis Media Akut) yang tidak diterapi adekuat Faktor risiko OMSK : - Anak-anak: Karena anatomi tuba eustachius yang lebih horizontal dan lebar - Pada penderita imunodefisiensi atau antibiotic resisten - Pada anak yang tidak mendapat prolonged breast feeding Patofisiologi Pada telinga, ada dua organ penting yang dapat berperan dalam terjadinya infeksi yang berujung pada OMSK, yaitu membrane tympani dan tuba eustachius. a. Membran Timpani Seperti yang telah diketahui, selain berperan dalam fungsi pendengaran, membrane tympani juga berperan melindungi telinga bagian tengah dan dalam dari benda asing yang berasal dari telinga luar. Pada sebagian besar kasus, OMSK terjadi sebagai hasil dari Otitis Media Akut dengan perforasi membrane timpani yang tidak sembuh. Ada juga yang mengatakan ada hubungan antara otitis media efusi (OME) dengan perforasi kronis. Efusi telinga tengah yang menetap mengakibatkan terjadinya degenerasi lapisan fibrosa dari membran timpani. Hilangnya lapisan fibrosa membuat membran timpani lebih rentan untuk perforasi, dan kehilangan kemampuan penyembuhan luka. Hal ini diduga karena efusi pada telinga mengakibatkan iskemik. Perforasi membran timpani yang kronis mengakibatkan telinga tengah semakin rentan akan infeksi. Ada dua mekanisme utama yang menjelaskan bagaimana perforasi kronis dapat mengakibatkan infeksi telinga tengah yang berulang: (1) Bakteri dapat menginfeksi telinga tengah langsung dari telinga luar karena membran timpani yang berfungsi sebagai pelindung telah rusak, sehingga bakteri dapat langsung masuk.

(2) Adanya reflux bakteri dari nasofaring. Normalnya, membran timpani yang intak (utuh) berfungsi sebagai bantalan gas pada bagian telinga tengah yang berfungsi untuk mencegah terjadinya reflux sekresi nasofaring ke telinga tengah melalui tuba eustachius. Hilangnya fungsi protektif ini mengakibatkan meningkatnya risiko telinga tengah untuk terpapar bakteri patogen dari nasofaring. b. Tuba eustachius Secara anatomi, tuba eustachius terletak antara nasofaring dan kavum timpani (telinga tengah). Fungsi tuba eustachius adalah : 1. Menyesuaikan tekanan gas pada kavum timpani dengan atmosfer 2. Mencegah masuknya sekret/mikroba dari nasofaring ke telinga tengah 3. Drainase sekret dari telinga tengah melalui mukosiliari dan mekanisme pompa drainase tuba eustachius Jika terjadi gangguan fungsi pada salah satu fungsi tuba eustachius dapat menyebabkan OM. Gangguan penyesuaian tekanan gas dapat disebabkan oleh obstruksi anatomis (inflamasi pada tuba eustachius atau tumor atau adenoid yang membesar) dan obstruksi fungsional (disebabkan karena gangguan otot mukosiliari tuba). Selain itu, bentuk dan posisi tuba eustachius juga mempengaruhi terjadinya OM. Pada pasien Down syndrome, tuba lebih pendek sehingga sekret dari nasofaring lebih mudah masuk ke telinga tengah. Karena itu pada pasien dengan Down syndrome, angka kejadian OM menjadi lebih tinggi. Patofisiologi OMA dibagi menjadi beberapa stadium jika diperhatikan dari membran timpaninya melalui otoskopi, yaitu: 1. Stadium oklusi tuba eustachius Tanda adanya oklusi tuba ialah retraksi membran timpani. Hal ini terjadi karena tekanan negatif di dalam telinga tengah akibat absorbsi udara(tuba membuka abnormal) 2. Stadium hiperemis Pembuluh darah terlihat melebar di membran timpani dan dapat disertai dengan edema. Sekret yang terbentuk di dalam telinga tengah belum dapat terlihat 3. Stadium supurasi Terjadi bulging membrana timpani. Hal ini diakibatkan karena edema hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, serta terbentuk eksudat yang purulen di telinga tengah. Pada stadium ini pasien umumnya datang ke dokter dikarenakan sakit dan sedemikian gejala yang terjadi pada pasien. Jika eksudat purulen tersebut semakin menekan membran timpani, maka dapat terjadi iskemi membran timpani yang selanjutnya dapat terjadi nekrosis. Pada otoskopi, membran timpani ini akan terlihat sebagai daerah kekuningan dan

telihat lebih lunak, dan sewaktu-waktu dapat pecah. Pada stadium ini, miringotomi dapat dilakukan untuk mencegah perforasi membran timpani. 4. Stadium perforasi Perforasi ini terjadi jika penanganan antibiotik terlambat atau miringotomi terlambat. Jika sudah terjadi perforasi membrana timpani, maka demam pasien akan turun. 5. Stadium resolusi Membran timpani dapat rapat kembali bila virulensi sudah rendah dan faktor pertahanan tubuh kembali normal. Namun, jika stadium resolusi ini tidak terjadi, yang artinya perforasi menetap, maka OMA dapat berlanjut ke OMSK. OMA stadium perforasi yang tidak sembuh lebih dari dua bulan dapat berlanjut ke Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK). Jika masih di bawah 2 bulan, dapat digolongkan ke Otitis Media Subakut. Diagnosis 1. Anamnesis - Sesuai dengan gejala klinis penderita yaitu yang paling sering dijumpai adalah telinga berair (Otorhea), adanya sekret di liang telinga, berbau busuk atau tidak berbau, kadang disertai pembentukan jaringan granulasi atau polip, maka sekret yang keluar dapat bercampur darah. - Penderita datang dengan keluhan berkurangnya pendengaran (hearing loss) dan rasa nyeri (Otalgia). - Riwayat penggunaan obat-obat tertentu yang dapat menyebabkan ototoksik. - Riwayat keluarga (genetik). - Riwayat penyakit seperti ISPA, alergi dan riwayat trauma telinga - Tanyakan juga apakah gejala yang muncul mengenai satu atau kedua telinga 2. Pemeriksaan Fisik a. Inspeksi Pemeriksaan dapat dilakukan dengan inspeksi pada telinga luar maupun telinga tengah. Pada inspeksi telinga luar dapat langsung dilihat apabila ada sekret, cairan atau darah yang keluar dari liang telinga. Sedangkan pada pemeriksaan telinga tengah, dapat menggunakan pemeriksaan otoskopi. Pemeriksaan otoskopi menunjukkan adanya dan letak perforasi. Melalui perforasi dapat dinilai kondisi mukosa telinga tengah. Pada OMSK benigna terlihat adanya perforasi sentral di membran timpani, mukosa kavum timpani yang hiperemis, dan sekret yang serous atau mukoid dan tidak berbau busuk. Pada OMSK maligna, terlihat adanya perforasi membran timpani di pars atik/marginal dan sekret purulen yang berbau busuk.

Kadang mukosa kavum timpani tampak edem, menonjol keluar, terdapat polip, dan berwarna kepucatan. b. Pemeriksaan fokal infeksi yaitu yang terdapat di hidung, sinus, tonsil, dan adenoid. c. Tes penala Tes Rinne akan memberikan hasil negatif (-) dan Tes Weber akan mengalami lateralisasi ke telinga OMSK (yang sakit). Hal ini menunjukkan adanya tuli konduktif. Pada kasus bilateral, Weber lateralisasi ke telinga OMSK yang lebih berat. d. Manuever untuk menilai patensi tuba - Valsava menekan ala nasi dan menutup mulut lalu pasien meniup, terlihat gerakan membran timpani ke lateral - Toynbee pasien disuruh menelan - Politzer tekanan positif dengan memakan balon politzer Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan audiogram Adanya gambaran tuli konduktif b. Pemeriksaan radiologi Radiologi konvensional dan foto polos radiologi untuk menilai kasus kolesteatoma, sedangkan pemeriksaan CT scan lebih efektif menunjukkan anatomi tulang temporal dan kolesteatoma. Pada OMSK benigna terlihat gambaran radiologi berupa pneumatisasi yang berkurang dan sklerotik sel mastoid tanpa adanya destruksi tulang. Pada OMSK maligna terlihat gambaran air cell atau pneumatik sel menghilang, sklerotik sel mastoid, dan gambaran destruksi (radiolusen) dikelilingi radioopak. Terapi -Lakukan drainase melalui membrane timpani yang perforasi. - Pembersihan dan pengeringan dari telinga sangat penting - Obat tetes telinga yang bersifat ototoksik hanya digunakan untuk tatalaksana pembengkakan akut dan hanya boleh dalam waktu singkat, tidak lebih dari 3 hari. -Sangat penting dilakukan proteksi telinga yang adekuat ketika mandi. Air dan sabun tidak boleh masuk ke dalam telinga. - Setelah telinga kering (kurang lebih 3 bulan) dapat dilakukan timfanoplasti (Operasi untuk menutup membrane timpani). OMSK dengan Kolesteatoma Lakukan tindakan operasi yang disebabkan oleh kolesteatoma. Tujuan operasi adalah untuk mengeradikasi peradangan destruktif tulang mastoid

Komplikasi Menurut Souza (1999) komplikasi OMSK dibagi menjadi : A. Komplikasi Intratemporal 1. Komplikasi di telinga tengah - paresis nervus fasialis - kerusakan tulang pendengaran - perforasi membrane timpani 2. Komplikasi ke rongga mastoid - petrositis - mastoiditis koalesen 3. Komplikasi ke telinga dalam - labirinitis - tuli saraf / sensorineural B. Komplikasi Ekstratemporal 1. Komplikasi intrakranial - abses ekstradura - abses subdura - abses otak - meningitis - tromboflebitis sinus lateralis - hidrosefalus otikus 2. Komplikasi ekstrakranial - abses retroaurikular - abses Bezolds - abses zigomatikus C. Perubahan tingkah laku Sebagian besar komplikasi dari OMSK disebabkan oleh kolesteatoma yang tumbuh membesar dan meluas hingga keluar dari cavum timpani. Berikut ini beberapa kemungkinan perluasan kolesteatoma yang bisa terjadi : Anterior: abses perituba, abses parafaring Posterior: destruksi tulang atticoantral bentuk kavitas, abses perisinus, trombosis sinus sigmoid, abses serebelar Medial: erosi kanalis semisirkuler labirinitis destruksi kanalis fasial paresis fasial dan destruksi os petrosa petrositis Lateral: abses subperiosteal (retroaurikuler) Superior: erosi tegmen timpani (atap timpani) meningoensefalitis, abses ekstradural Inferior: trombosis vena jugularis, bezold abses

D.D