Anda di halaman 1dari 8

Abses perianal

Abses perianal merupakan infeksi pada jaringan lunak sekitar saluran anal, dengan pembentukan abses rongga diskrit. Tingkat keparahan dan kedalaman dari abses cukup variabel, dan rongga abses sering dikaitkan dengan pembentukan saluran fistulous. Abses anorektal berasal dari infeksi yang timbul dalam cryptoglandular epitel yang melapisi saluran dubur. Sphincter anal internal sebagai penghalang terhadap infeksi lewat dari lumen usus ke jaringan perirectal mendalam. penghalang ini dapat dilanggar melalui kriptus dari Morgagni, yang dapat menembus sphincter internal ke dalam ruang intersphincteric. Setelah infeksi mendapatkan akses ke ruang intersphincteric, memiliki akses mudah ke ruang perirectal berdekatan. Perpanjangan infeksi dapat melibatkan ruang intersphincteric, ruang ischiorectal, atau bahkan ruang supralevator. Kejadian puncak abses anorectal adalah pada dekade ketiga dan keempat hidup. Pria lebih sering terkena daripada perempuan, dengan dominasi laki-laki-untuk-perempuan 2:01-03:01. Sekitar 30% dari pasien dengan abses anorektal laporan riwayat abses serupa yang baik diselesaikan secara spontan atau diperlukan intervensi bedah. Etiologi Perirectal abses dan fistula merupakan gangguan yang timbul anorectal didominasi dari obstruksi dari kriptus dubur. Infeksi dari hasil sekresi kelenjar sekarang statis di nanah dan pembentukan abses dalam kelenjar dubur. Biasanya, bentuk abses awalnya dalam ruang intersphincteric dan kemudian menyebar di sepanjang ruangruang potensial yang berdekatan. Patofisiologi Seperti disebutkan di atas, abses perirectal dan fistulas merupakan gangguan anorectal yang muncul didominasi dari obstruksi dari kriptus dubur. Normal anatomi menunjukkan mana saja 4-10 kelenjar dubur dikeringkan oleh kriptus yang bersangkutan pada tingkat garis dentate. Anal kelenjar biasanya berfungsi untuk melumasi saluran dubur. Obstruksi hasil kriptus dubur dalam stasis sekresi kelenjar dan, ketika kemudian terinfeksi, nanah dan pembentukan abses dalam hasil kelenjar dubur. abses ini biasanya terbentuk dalam ruang intersphincteric dan dapat menyebar di sepanjang ruang berbagai potensi. Organisme umum terlibat dalam pembentukan abses termasuk Escherichia coli, spesies Enterococcus, dan spesies Bacteroides, namun tidak ada bakteri yang spesifik telah diidentifikasi sebagai penyebab unik abses. Presentasi Lokasi klasik abses anorectal tercantum dalam urutan penurunan frekuensi adalah sebagai berikut: perianal 60%, ischiorectal 20%, intersphincteric 5%, supralevator 4%, dan submukosa 1%. Jenis utama diilustrasikan pada gambar di bawah. presentasi klinis berkorelasi dengan lokasi anatomi abses.

Pasien dengan abses perianal biasanya mengeluh ketidaknyamanan perianal kusam dan pruritus. nyeri perianal mereka sering diperburuk oleh gerakan dan tekanan perineum meningkat dari duduk atau buang air besar. Pemeriksaan fisik menunjukkan kecil, erythematous, yang jelas, berfluktuasi, massa bawah kulit dekat lubang dubur. Pasien dengan abses ischiorectal sering hadir dengan demam sistemik, menggigil, dan parah perirectal nyeri dan kepenuhan konsisten dengan sifat lebih maju dari proses ini. tanda-tanda eksternal yang sangat minim dan mungkin termasuk eritema, indurasi, atau fluctuancy. Pada pemeriksaan colok dubur (DRE), sebuah berfluktuasi, massa indurated mungkin ditemui. penilaian optimal fisik abses ischiorectal mungkin memerlukan anestesi untuk mengurangi ketidaknyamanan pasien yang seharusnya membatasi tingkat pemeriksaan. Pasien dengan abses intersphincteric hadir dengan nyeri dubur dan kelembutan menunjukkan terlokalisasi pada Dre. Pemeriksaan fisik mungkin gagal untuk mengidentifikasi suatu abses intersphincteric. Meskipun jarang, abses supralevator menjadi tantangan diagnostik yang sama. Akibatnya, kecurigaan klinis abses intersphincteric atau supralevator mungkin memerlukan konfirmasi melalui computed tomography (CT) scanning, Magnetic Resonance Imaging (MRI), atau ultrasonografi dubur. Penggunaan modalitas terakhir terbatas untuk mengkonfirmasikan kehadiran abses intersphincteric.

ABSES PERIANAL Definisi : Fistula : Hubungan abnormal antara anal dan kulit perianal oleh saluran yang dilapisi epitel Abses : Terdapat penumpukan Nanah pada saluran anal dan kulit perianal Gejala :

Nyeri/sakit berdarah atau bernanah rasa gatal sekitar anus

Sering disertai Demam bila ada

Penemuan yang Mungkin:


Terlihat Saluran di kulit dekat anus Nyeri pada pemeriksaan Warna Kemerahan/Radang Teraba penebalan pada kejadian kronis/lama Bisa terlihat adanya cairan yang keluar dari lobang

Pengobatan

Pemberian Antibiotik/Antinyeri Operasi Fistulotomy/Fistulektomy

Mastektomi radikal modifikasi (MRM) Suatu tindakan pembedahan onkologis pada keganasan payudara yaitu dengan mengangkat seluruh jaringan payudara yang terdiri dari seluruh stroma dan parenkhim payudara, areola dan puting susu serta kulit diatas tumornya disertai diseksi kelenjar getah bening aksila ipsilateral level I, II/III secara en bloc TANPA mengangkat m.pektoralis major dan minor. Dua macam prosedur MRM yaitu : 1. Mastektomi modifikasi Madden-Auchincloss: mastektomi total dengan diseksi kelenjar aksilla ipsilateral tanpa memotong otot pektoralis minor 2. Mastektomi modifikasi Patey: mastektomi total dengan diseksi kelenjar aksilla dan kelenjar Rotter dengan memotong otot pektoralis minor Indikasi 1. Karsinoma payudara yang terbatas pada payudara dan aksilla tanpa invasi pada otot pektoralis mayor 2. Tidak ada metastase jauh 3. Pada stadium lokal lanjut (stadium III) MRM sebagai bagian program pengobatan multi modalitas

Kontarindikasi (HAAGENSEN 1956) 1. Edema luas kulit payudara > 1/3 luas 2. Edema lengan 3. Satelit nodul pada kulit 4. Nodul para sternal 5. Metastase supraclavicular 6. Metastase jauh 7. Inflammatory carcinoma

FRAKTUR TIBIA PLATEAU 1. Mekanisme kerja Fraktur tibia plateau disebabkan oleh kekuatan varus atau valgus bersama sama dengan pembebanan aksial (kekuatan valgus saja mungkin hanya merobekan ligament). Keadaan ini kadang kadang akibat pejalan kaki tertabrak mobil (fraktur bemper). Biasanya ini akibat jatuh dari ketinggian dimana lutut dipaksa masuk dalam valgus atau varus.kondilus tibia remuk atau terbelah oleh kondilus femur yang berlawanan,yang tetap utuh. Pasien biasanya berumur antara 50 dan 60 tahun dan sedikit mengalami osteoporosis,tetapi fraktur dapat terjadi pada orang dewasa pada setiap umur. 2. Gambaran klinik Lutut membengkak dan mungkin mengalami deformitas.memar biasanya luas dan jaringan terasa seperti adonan karena hemartrosis. Pemeriksaan secara hati-hati (atau pemeriksaan dibawah anestesi) dapat menunjukan ketidakstabilan medial atau lateral.kaki dan ujung kaki harus diperiksa dengan cermat untuk mencari ada tidaknya tanda-tanda cedera pembuluh darah atau neurologi. PEMERIKSAAN SINAR X Sinar X anteroposterior, lateral, dan oblik biasanya dapat memperlihatkan fraktur,tetapi tingkat kominusi atau depresi dataran tidak terlihat jelas tanpa tomografi.foto tekanan(dibawah anestesi) kadang kadang bermanfaat untuk menilai tingkat ketidakstabilan sendi.bila kondilus lateralis remuk,ligamen medial sering utuh,tetapi apabial epikondilus medial remuk, ligament lateral sering robek. Dalam perencanaan terapi,perlu diketahui terlebih tipe frakurnya,yang terdiri dari 6 tipe,yaitu:

Tipe 1 (fraktur biasa pada kondilus tibia lateralis) Pada pasien yang lebih muda,mungkin terdapat retakan vertical dengan pemisahan fragment tunggal.fraktur ini mungkin sebenarnya tidak bergeser,atau jelas sekali tertekan dan miring. Kalau retakannya lebar,fragmen yang lepas atau meniscus lateral dapat terjebak dalam celah.

Tipe 2 (peremukan kominutif pada kondilus lateralis dengan depresi pada fragmen) Biasanya terjadi pada orang tua dengan osteoporosis. Tipe 3 (peremukan kominutif dengan fragment luar utuh) Mirip dengan tipe 2,tetapi segment tulang sebelah luar memberikan selembar permukaan sendi yang utuh.fragment yang tertekan dapat melesak ke dalam tulang subkondral.

Tipe 4 (fraktur pada kondilus media) Terkadang akibat cedera berat,dengan perobekan ligament kolateral lateral. Tipe 5 (fraktur pada kedua kondilus) Dengan batang tibia yang melesak diantara keduanya. Tipe 6 (kombinasi fraktur kondilus dan subkondilus) Biasanya akibat daya aksial yang hebat

3. Terapi Terapi dengan traksi dapat dilakukan dengan sederhana saja dan sering menghasilkan fungsi lutut yang baik,tetapi sering tersisa sedikit angulasi.disisi lain,tindakan pembedahan untuk pemulihan permukaan yang hancur dapat menghasilkan penampilan sinarX yang baik dan kekauan lutut. Fraktur yang tak bergeser atau yang sedikit bergeser. Hemartrosis diaspirasi dan pembalut kompresi dipasang. tungkai diistirahatkan pada mesin CPM (Continuous Passive Motion) dan gerakan lutut dimulai.segera setelah nyeri dan pembengkakan akut telah mereda(biasanya dalam seminggu),gips penyangga berengsel dipasang dan pasien diperbolehkan menahan beban sebagian dengan kruk penopang.pembebanan bebas ditunda hingga fraktur telah sembuh (6-8 minggu). Tipe 1-fraktur yang bergeser.

Fragment kondilus yang besar harus benar-benar direduksi dan difiksasi pada posisinya.ini yang terbaik dilakukan dengan operasi terbuka. Tipe 2-frakut kominutif Pada dasarnya ini adalah fraktur kompresi,mirip dengan fraktur kompresi pada vertebra.kalau depresi ringan (kurang dari 5mm) dan lutut stabil,atau kalau pasien telah tua dan lemah atau mengalami osteoporosis,fraktur diterapi secara tertutup dengan tujuan memperoleh kembali mobilitas dan fungsi dan bukannya restitusi anatomis. setelah aspirasi dan pembalutan kompresi,traksi rangka dipasang lewat pen berulir melalui tibia,7cm dibawah fraktur. Kondilus dicoba untuk dibentuk, lutut kemudian difleksikan dan diekstensikan beberapa kali untuk membentuk tibia bagian atas pada kondilus femur yang berlawanan.kaki diletakan dibantal dengan 5kg traksi, latihan aktif harus dilakukan tiap hari. Pilihan lainnya, lutut dapat diterapi sejak permulaan dengan mesin CPM, untuk semakin meningkatkan rentang gerakan. seminggu setelah terapi ini,penggunaan mesin dihentikan dan latihan aktif dimulai. segera setelah frakturlengket(biasanya setelah 3-4minggu) , pen traksi dilepas,g ips-penyangga berengsel dipasang dan pasien diperbolehkan bangun dengan kruk penopang.pembebanan penuh ditunda selama 6 minggu lagi. Pada pasien muda dengan fraktur tipe 2,terapi ini dianggap terlalu konservatif,dan reduksi terbuka dengan peninggian plateau dan fiksasi internal sering menjadi pilihan. Tipe 3-kominusi dengan fragment lateral yang utuh Prinsipnya hampir sama dengan terapi tipe 2. tetapi,fragment lateral dengan kartilago artikular yang utuh merupakan permukaan berpotensi mendapat pembebanan, maka reduksi yang sempurna lebih penting. cara ini kadang kadang dilakukan secara tertutup dengan traksi yang kuat dan kompresi lateral. jika berhasil, fraktur diterapi dengan traksi atau CPM. kalau reduksi tertutup gagal, reduksi terbuka dan fiksasi dapat dicoba. pasca operasi,latihan dimulai secepat mungkin dan 2 minggu kemudian pasien dibiarkan bangun dengan gipspenyangga yang dipertahankan hingga fraktur telah menyatu. Tipe 4-dapat diterapi dengan gips-penyangga. kalau fragment nyata sekali bergeser atau miring, reduksi terbuka dan fiksasi diindikasikan. kalau ligament lateral juga terobek, ini harus diperbaiki sekligus. Tipe 5 dan 6- cedera berat yang menambah risiko sindroma kompartement. fraktur bikondilus sering direduksi dengan traksi dan pasien kemudian diterapi seperti pada cedera tipe 2. fraktur yang lebih komplek dengan kominusi yang berat lebih baik ditangani secara tertutup, meskipun traksi dan latihan mungkin harus dilanjutkan selama 4-6 minggu hingga fraktur cukup lengket untuk memungkinkan penggunaan gips-penyangga.kalau terdapat beberapa fragment yang dengan jelas bergeser, fiksasi interna dapat dibenarkan. 4. Komplikasi Dini Sindroma kompartemen

pada fraktur bikondilus tertutup terdapat banyak perdarahan dan resiko munculnya sindroma kompartemen.kaki dan ujung kaki harus diperiksa secara terpisah unuk mencari tanda-tanda iskemia. Belakangan Kekakuan Sendi Pada fraktur kominutif berat,dan setelah operasi kompleks,terdapat banyak risiko timbulnya kekakuan lutut,resiko ini dicegah dengan (1) menghindari imobilisasi gips terlalu lama (2) mendorong dilakukannya gerakan secepat mungkin. Deformitas Deformitas varus atau valgus yang tersisa amat sering ditemukan,baik karena reduksi fraktur yang tak sempurna ataupun karena pergeseran ulang selama terapi.untungnya deformitas yang moderate dapat member fungsi yang baik,meskipun pembebanan berlebihan pada satu kompartement secara terus menerus dapat menyebabkan predisposisi untuk osteoarthritis dikemudian hari.

Mastitis TBC
TBC umumya memang menyerang jaringan paru. Tapi pada kenyataannya juga dapat menyerang organ tubuh lainnya yang disebut TBC ektra paru. TBC ektra paru, termasuk menyerang payudara. Istilahnya Mastitis TB atau TBC.Penyebabnya tentu saja oleh infeksi kuman M tubercolosis. Perbedaannya hanya terletak pada organ mana yang diserang kuman tersebut. TBC payudara atau Mastitis TBC sebenarnya sangat jarang. Awalnya kuman M tubercolosis tersebut menyerang organ paru terlebih dahulu kemudian sekitar 14% bisa menjalar lewat aliram lymph ke organ lainnya seperti payudara. Mastitis payudara juga bisa diderita oleh pria. Mereka dapat terkena infeksi kuman karena melakukan tindik di daerah puting. Kelainan di kelenjar dan saluran payudara bisa menyebar tak terkendali. Gejalanya berupa munculnya benjolan di payudara. Benjolan/ penebalan ini berwarna merah, juga terasa panas dan nyeri di sekitar daerah payudara. Benjolan seperti bisul ini bisa pecah dan sangat nyeri. Rasa nyeri inilah yang membedakan mastitis dengan kanker payudara. Pengidap kanker payudara pada awalnya tidak akan merasa nyeri sama sekali, melainkan hanya timbul benjolan saja. Benjolan pada mastitis berupa penebalan yang berisi cairan. Pada beberapa kondisi cairan bisa keluar. Cairannya berwarna putih kekuningan seperti nanah. Berbeda dengan cairan kanker yang biasanya merah atau

kuning kecoklatan seperti noda darah. Cairan nanah ini terbentuk dari kumpulan bakteri, jaringan, dan leukosit baik yang mati ataupun yang hidup. Bisa menyebar ke bagian tubuh lain hingga menyebabkan demam tinggi dan mengigil, keringat banyak, turunnya daya tahan tubuh, bahkan hingga menurunnya kesadaran. Dengan demikian, harus ada penanganan dokter untuk menentukan langkah penyembuhan. Dengan pemberian antibiotic saja atau harus dilakukan tindakan operasi.