Anda di halaman 1dari 20

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.

Latar belakang Kanker payudara adalah tumor ganas yang berasal dari kelenjar payudara. Termasuk saluran kelenjar air susu dan jaringan penunjangnya yang tumbuh infiltratif, destruktif, serta dapat bermetastase. Kanker payudara merupakan penyebab kematian paling umum pada perempuan antara usia 35 dan 55. Pada penelitian di Inggris, kanker payudara terjadi lebih dari 30.000 kasus setiap tahun dan 24.000 orang perempuan meninggal. Kanker payudara sangat jarang terjadi sebelum usia 25. Menurut WHO ada 58 juta kasus kematian didunia pada tahun 2005 dan 7,6 juta kasus disebabkan oleh kanker. Kanker payudara merupakan tumor ganas yang banyak terjadi pada wanita dan merupakan penyebab kematian ke-2 setelah kanker mulut rahim. Insidensi kanker payudara pada dekade ini memperlihatkan

kecenderungan meningkat. Hal ini diperkirakan disebabkan semakin baiknya edukasi dan teknologi yang mempunyai dampak luas dalam penemuan penyakit,semakin tingginya keadaan status sosial ekonomi yang mempunyai dampak pula terhadap perubahan pola hidup. Di AS tahun 1992 insidens kanker payudara 92 kasus/100.000 penduduk wanita dengan mortalitasnya 27/100.000 yaitu 18% dari angka kematian pada wanita. Prevalensi kanker payudara di Indonesia meningkat mencapai 11,6 % dari seluruh keganasan dengan rata-rata jumlah penderitanya adalah 10 dari 100.000 perempuan. Kemajuan dalam bidang

terapi dan diagnostik memberikan dampak dalam peenemuan dini terhadap penyakit kanker terutama kanker payudara. Namun yang paling penting dari semua kemajuan teknologi yang ada adalah bagaimana seorang wanita mampu menyadari adanya perubahan awal dari organ tubuhnya sehingga kanker payudara dapat diidentifikasi sejak dini sebelum memasuki stadium lanjut. Kanker payudara tergolong pada keganasan yang dapat di diagnosis secara dini. Usaha untuk ini adalah melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri). Ternyata dari penelitian bahwa lebih kurang 85% adanya tumor payudara, diketahui oleh penderita lebih dahulu. Dengan demikian sangat besar artinya jika SADARI ini lebih dilakukan terhadap kaum wanita terutama yang berusia diatas 30 tahun, diharapkan akan lebih banyak kasus dapat di jaring dalam stadium lebih dini. Prognosis kanker payudara ditentukan oleh stadiumnya. Semakin dini semakin baik prognosisnya.

BAB II PERENCANAAN PENANGGULANGAN MASALAH

2.1 Tujuan Penyuluhan Kegiatan ini bertujuan agar para wanita dapat mengetahui tentang kanker payudara serta mengerti dan dapat mempraktekan SADARI.

2.2 Sasaran Penyuluhan Sasaran kegiatan ini adalah ibu-ibu Komp. Gramapuri Tamansari serta para tokoh masyarakat dan kader.

2.3 Metode penyuluhan Metode penyuluhan imunisasi ini adalah: a. Penyampaian materi dengan cara ceramah interaktif b. Diskusi dan tanya jawab c. Praktek SADARI Materi penyuluhan ditampilkan dengan alur cerita dalam bentuk slide show power point dengan menggunakan alat bantu proyektor. Materi penyuluhan mencakup: a. Materi kanker payudara b. Materi SADARI

2.4 Materi Penyuluhan 2.4.1. Definisi Kanker Payudara Kanker adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan tidak terkendali. Kanker payudara (Carcinoma mammae) adalah suatu penyakit neoplasma yang ganas berasal dari parenchyma. Penyakit ini oleh Word Health Organization (WHO) dimasukkan ke dalam International Classification of Diseases (ICD).

2.4.2 Etiologi Kanker Payudara a. Genetik Semua saudara dari penderita kanker payudara memiliki peningkatan resiko mengalami kanker payudara namun saudara tingkat pertama (saudara kandung, orang tua, anak) memiliki peningkatan resiko dua sampai tiga kali lipat dibandingkan dengan populasi umum. Hampir 5% dari semua pasien kanker payudara memiliki kelainan genetik spesifik yang berperan dalam pembentukan kanker payudara mereka. Para peneliti menemukan gen dengan nama BRC-1 (Breast Cancer 1) dan BRC-2 (Breast Cancer 2). BRC-1 dapat dideteksi pada 1 dari 400 wanita dan mutasi BRC-2 memyababkan 5% dari kanker payudara yang disebabkan karena faktor keturunan. b. Lingkungan

Radiasi dalam bentuk terapi radiasi yang intensif pada penderita tuberculosis atau kanker lain diketahui meningkatkan resiko terkena kanker payudara (radiasi yang disebabkan sinar X pada payudara atau mamogram tidak dapat diperbandingkan dengan terapi radiasi tuberculosis atau kanker lain dan tidak menyebabkan kanker fan tidak perlu dikhawatirkan). Pestisida seperti DDT juga perlu diperhatikan. c. Endokrin Banyak faktor yang meningkatkan resiko kanker payudara. Menstruasi yang mulai pada usia terlalu muda, menopouse yang datangnya terlambat (usia lebih dari 51 tahun), mempunyai anak pertama di atas usia 30 tahun atau tidak sama sekali mempunyai anak akan meningkatkan resiko terkena kanker payudara. Semua faktor tersebut berhubungan dengan hormon estrogen. Kanker payudara juga berhubungan dengan penggunaan hormon estrogen yang digunakan sebagai terapi menopouse. d. Diet Sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa diet tinggi lemak dapat meningkatkan resiko terkena kanker payudara, tetapi penelitian lain tidak memperlihatkan hasil tersebut. Karena mengkonsumsi makanan berlemak tinggi dihunungkan dengan resiko terkena kanker payudara dan penyakit hati maka lebih baik apabila membatasi konsumsi makanan berlemak. e. Alkohol Beberapa penelitian memperlihatkan adanya hubungan yang bermakna antara intake alkohol dengan resiko kanker payudara. Data additional dari studi prospektif menunjukan dampak intake alkohol yang berhubungan dengan peningkatan level esterogen.

2.4.3 Faktor Resiko Berikut ini merupakan faktor resiko kanker payudara: a. Usia diatas 40 tahun. b. Ada riwayat kanker payudara pada individu atau keluarga. c. Menstruasi pada usia muda/usia dini. d. Menopouse pada usia lanjut. e. Tidak mempunyai anak atau mempunyai anak pada usia lanjut. f. Pendidikan lebih tinggi dan atau status sosial ekonomi yang lebih tinggi. g. Penggunaan eksogen esterogen jangka panjang dan progestin. h. Terpajan pada radiasi pengionisasi berrlebihan. i. Riwayat penyakit fibrokistik. j. Kanker edometrial, ovarium atau kanker kolon. 2.4.4 Klasifikasi Berdasarkan WHO Histological Classification of breast tumor, kanker payudara diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Non-invasif a. Intraduktal b. Lobular karsinoma in situ 2. Invasif a. Karsinoma invasif duktal b. Karsinoma invasif duktal dengan komponen intraduktal yang predominant c. Karsinoma invasif lobular d. Karsinoma mucinous

e. Karsinoma medullary f. Karsinoma papillary g. Karsinoma tubular h. Karsinoma adenoid cystic i. Karsinoma sekretori (juvenile) j. Karsinoma apocrine k. Karsinoma dengan metaplasia i. Tipe squamous ii. Tipe spindle-cell iii. Tipe cartilaginous dan osseous iv. Mixed type l. Lain-Lain 3. Pagets disease of the nipple

2.4.5 Gejala Klinis Kanker Payudara Wanita dengan kanker payudara, bisa jadi mengalami gejala-gejala berikut. Kadang meskipun di tubuhnya telah tumbuh kanker dia tidak merasakan gejala apapun. Atau boleh juga ditubuhnya menujukkan gejala tersebut tetapi bukan karena kanker payudara, tetapi akibat kondisi medis lain. Adapun tandatanda atau gejalanya antara lain : 1. Fase awal kanker payudara asimtomatik. Tanda dan gejala yang paling umum adalah benjolan dan penebalan pada payudara. Kebanyakan kira-kira 90% ditemukan oleh penderita sendiri. Kanker payudara pada stadium dini biasanya tidak menimbulkan keluhan. 2. Fase lanjut : a. Bentuk dan ukuran payudara berubah, berbeda dari sebelumnya. b. Luka pada payudara sudah lama tidak sembuh walau sudah diobati.

c. Eksim pada puting susu dan sekitarnya sudah lama tidak sembuh walau diobati. d. Puting sakit, keluar darah, nanah atau cairan encer dari puting atau keluar air susu pada wanita yang sedang hamil atau tidak menyusui. e. Puting susu tertarik ke dalam.
f. Kulit payudara mengerut seperti kulit jeruk (peud dorange).

3. Metastase luas, berupa :

a. b. c.

Pembesaran kelenjar getah bening supraklavikula dan servikal. Hasil rontgen toraks abnormal dengan atau tanpa efusi pleura. Peningkatan alkali fosfatase atau nyeri tulang berkaitan dengan penyebaran ke tulang.

d.

Fungsi hati abnormal. Di Indonesia, kanker payudara masih menjadi masalah besar karena lebih dari 70% pasien datang ke dokter pada stadium yang sudah lanjut dengan berbagai bentuk luka, antara lain tumor melekat pada kulit dan jaringan dibawahnya serta penyebaran pada kelenjar getah bening regional. Gejala lain yang mungkin timbul adalah batuk dan sesak nafas karena metastasis tumor pada paru, sakit di punggung akibat metastasis pada tulang belakang, berat badan semakin menurun dan anemia.

2.4.6 Terapi

Penatalaksanaan

kanker

payudara

dilakukan

dengan

serangkain

pengobatan meliputi pembedahaan, kemoterapi, terapi radiasi, dan yang terbaru adalah terapi imunologi (antibodi). Pengobatan ini ditujukan untuk memusnahkan kanker atau membatasi perkembangan penyakit serta menghilangkan gejalagejalanya. Keberagaman jenis terapi ini mengharuskan terapi dilakukan secara individual. a. Pembedahaan Tumor primer biasanya dihilangkan dengan pembedahan. Prosedur pembedahan yang dilakukan pada pasien kanker payudara tergantung pada tahapan penyakit, jenis tumor, umur dan kondisi kesehatan pasien secara umum. Ahli bedah dapat mengangkat tumor (lumpectomy), mengangkat sebagaian payudara yang mengandung sel kanker atau pengangkatan seluruh payudara (mastectomy). Untuk meningkatan harapan hidup, pembedahan biasanya diikuti dengan terapi tambahan seperti radiasi, hormone, atau kemoterapi. b. Terapi Radiasi Terapi radiasi dilakukan dengan sinar-X dengan intensitas tinggi untuk membunuh sel kanker yang tidak terangkat saat pembedahan. c. Terapi Hormon Terapi hormonal dapat menghambat pertumbuhan tumor yang peka horman dan dapat dipakai sebagai terapi pendamping setelah pembedahan atau pada stadium akhir. d. Kemoterapi Obat kemoterapi digunakan baik pada tahap awal ataupun tahap lanjut penyakit (tidak dapat lagi dilakukan pembedahan). Obat kemoterapi dapat digunakan secara tunggal atau dikombinasikan. Salah satu diantaranya Capecitabine dari Roche, obat anti kanker oral yang diaktivasi oleh enzim yang ada pada sel kanker, sehingga hanya menyerang sel kanker saja.

10

e. Terapi Imunologi Sekitar 15-25% tumor payudara menunjukkan adanya protein pemicu pertumbuhan atau HER2 secara berlebihan dan untuk pasien seperti ini, trastuzumab, antibodi yang secara khusus dirancang untuk menyerang HER2 dan menghambat pertumbuhan tumor, dapat menjadi pilihan terapi. Pasien sebaiknya juga menjalani tes HER2 untuk menentukan kelayakan terapi dengan trastuzumab. f. Mengobati Pasien Pada Tahap Akhir Penyakit Banyak obat anti kanker yang telah diteliti untuk membantu 50% pasien yang mengalami kanker tahap akhir dengan tujuan memperbaiki harapan. Meskipun demikian, hanya sedikit yang terbukti mampu memperpanjang hidup pada pasien, diantaranya adalah kombinasi trastuzumab dengan capecitabine. Fokus terapi pada kanker tahap akhir bersifat paliatif (mengurangi rasa sakit). Dokter berupaya untuk memperpanjang serta memperbaiki kualitas hidup pasien melalui terapi hormon, terapi radiasi, dan kemoterapi. Pada pasien kanker payudara dengan HER2 positif, trastuzumab memberikan harapan untuk pengobatan kanker payudara yang dipicu oleh HER2.

2.4.7 Pencegahan Pencegahan kanker payudara dapat dilakukan dengan menghindari faktor resiko dan melakukan deteksi dini. Ada beberapa cara deteksi dini kanker payudara yaitu: 1. Periksa payudara sendiri (SADARI) Pemeriksaan ini dilakukan sekali sebulan sekitar hari ke-8 menstruai. SADARI adalah salah satu cara yang sederhana, murah dan aman dilakukan dalam usaha menemukan kelainan payudara secara dini. American Cancer Society menganjurkan wanita yang berusia lebih dari 20 tahun untuk melakukan SADARI tiap 3 bulan.

11

2. Pemeriksaan payudara berkala Wanita yang berusia lebih dari 40 tahun atau yang termasuk golongan beresiko tinggi diperlukan pemeriksaan payudara secara berkala satu tahun sekali. Pemeriksaan dilakukan oleh dokter atau paramedis yang terlatih dan terampil. 3. Pemeriksaan mammografi Mammografi merupakan suatu pemeriksaan rontgen yang khusus membuat foto payudara. Mammografi terutama digunaka pada kelainan yang sangat kecil yang secara palpasi tidak teraba. Mammografi dilkaukan setiap 2 tahun sedangkan pada wanita dengan faktor resiko dilakukan setiap tahun.

2.4.8 Periksa Payudara Sendiri (SADARI)


a.

Definisi SADARI adalah pemeriksaan/ perabaan sendiri untuk menemukan timbulnya benjolan abnormal pada payudara (Otto, S, 2005).

b.

Tujuan SADARI Tujuan dilakukannya skrining kanker payudara adalah untuk deteksi dini. Wanita yang melakukan SADARI menunjukan tumor yang kecil dan masih pada stadium awal, hal ini memberikan prognosis yang baik. SADARI hanya untuk mendeteksi dini adanya ketidak normalan pada payudara, tidak untuk mencegah kanker payudara. Sebagian wanita berfikir untuk apa melakukan SADARI, apalagi yang masih berusia dibawah 30 tahun, kebanyakan berangapan bahwa kasus kanker payudara jarang

12

ditemukan pada usia dibawah 30 tahun. Dengan melakukan SADARI sejak dini akan membantu deteksi kanker payudara pada stadium dini sehingga kesempatan untuk sembuh lebih besar (Otto,S, 2005). 3. Target dan waktu pelaksanaan SADARI dianjurkan dilakukan secara intensif pada wanita mulai usia 20 tahun, segera ketika mulai pertumbuhan payudara sebagai gejala pubertas. Pada wanita muda, agak sedikit sulit karena payudara mereka masih berserabut (fibrous), sehingga dianjurkan sebaiknya mulai melakukan SADARI pada usia 20 tahun karena pada umumnya pada usia tersebut jaringan payudara sudah terbentuk sempurna. Wanita sebaiknya melakukan SADARI sekali dalam satu bulan. Jika wanita menjadi familiar terhadap payudaranya dengan melakukan SADARI secara rutin maka dia akan lebih mudah mendeteksi keabnormalan pada payudaranya sejak awal atau mengetahui bahwa penemuanya adalah normal atau tidak berubah selama bertahun - tahun. Wanita yang belum menopouse sebaiknya melakukan SADARI setelah menstruasi sebab perubahan hormonal meningkatkan kelembutan dan pembengkakan pada payudara sebelum menstruasi. SADARI sebaiknya dilakukan sekitar satu minggu setelah menstruasi. Satelah menopouse SADARI sebaiknya dilakukan pada tanggal yang sama setiap bulan sehingga aktifitas rutin dalam kehidupan wanita tersebut (Burroughs, 1997).

4. Pedoman melakukan SADARI Terdapat lima langkah SADARI, yaitu:

13

1. Berdiri didepan cermin, dada dibusungkan dan tangan diletakkan di pinggang. Perhatikan UKURAN, BENTUK dan WARNA payudara, serta puting. 2. Kemudian angkat kedua lengan untuk melihat apakah ada kelainan pada kedua payudara 3. Sementara masih didepan cermin, tekan puting apakah ada cairan yang keluar 4. Berbaring dengan tangan (pada sisi yang sama dengan payudara yang akan diperiksa), diletakkan dibawahkepala. Tangan kiri dipakai untuk memeriksa payudara kanan begitu sebaliknya. Raba seluruh payudara (seperti pada gambar) mulai dari atas kebawah, sisi kiri ke sisi dalam, dari lekukan ketiak sampai kearah payudara. Bisa juga mulai dari puting, dengan arah melingkar terus sampai ke sisi luar lingkaran payudara. Pastikan seluruh payudara terdeteksi, raba dengan kekuatan yang ringan, halus tapi mencapai seluruh kedalaman 5. Langkah terakhir, lakukan dengan berdiri atau duduk. Lakukan seperti pada langkah ke-4. Lebih mudah dilakukan ketika mandi

14

BAB III PELAKSANAAN PENYULUHAN

3.1 Judul Penyuluhan Judul kegiatan penyuluhan: MARI KENALI PAYUDARA KITA

3.2 Waktu dan Tempat Penyuluhan Hari dan Tanggal Waktu Tempat : : : Rabu. 23 Maret 2011 08.30-10.30 WIB Mushola Komp. Gramapuri Tamansari Pemilihan tempat dan hari yang tercantum di atas adalah supaya penyampaian penyuluhan dapat tercapai ke kelompok sasaran yaitu masyarakat di Komp Gramapuri Tamansaari, yaitu kelompok ibu-ibu, tokoh masarakat serta para kader.

3.3 Susunan Acara Tabel 3.2 Susunan Acara Penyuluhan Susunan acara 08.30 08.45 08.45 09.30 09.30 10.00 10.00 10.15 10.15 10.30 Kegiatan Tiba di lokasi dan persiapan Pemberian materi Diskusi Interaktif (tanya jawab) Praktek SADARI Penutup dan doa

3.4 Alat dan Bahan Penyuluhan

15

Alat dan bahan yang digunakan pada penyuluhan ini adalah:

Infocus Laptop Speaker Mikrofon

: : : :

1 buah 1 buah 1 buah 1 buah

Slide show materi

Pada penyuluhan ini, kami menggunakan slideshow untuk membantu dalam penyampaian isi materi agar dapat menstimulus indera penglihatan selama acara berlangsung.

16

BAB IV EVALUASI PENYULUHAN

4.1 Evaluasi Keberhasilan


4.1.1 a.

Unsur Masukan (Input) Persetujuan serta kerjasama Puskesmas Purwakarta dengan

masyarakat Gramapuri Tamansari, untuk diadakan penyuluhan. b. Tersedianya tempat yang memadai di mushola untuk dilakukan

penyuluhan.
c.

Materi dan alat penunjang penyuluhan yang direncanakan telah

tersedia dan namun infocus tidak berfungsi dengan baik sehingga hanya menggunakan laptop sebagai alat penyuluhan.

4.1.2

Proses a. Acara dilaksanakan sesuai dengan jadwal acara yang telah ditentukan.
b. Jumlah peserta yang hadir mengikuti penyuluhan cukup banyak yaitu

sebanyak 35 orang. c. Respon peserta terhadap kegiatan penyuluhan sangan baik. Terlihat dari aktifnya peserta menjawab setiap pertanyaan yang diberikan pada saat acara berlangsung serta para peserta juga aktif turut serta mempraktekkan SADARI bersama-sama. Daftar Pertanyaan dari peserta dapat dilihat pada lampiran.

17

4.1.3

Unsur Keluar (Output) a. Seluruh peserta penyuluhan yang datang, mengikuti penyuluhan sampai acara selesai. b. Sebagian besar sasaran memahami materi dan dapat mempraktekkan SADARI secara mandiri.

4.3.4 Evaluasi Terhadap Dampak Unsur ini merupakan unsur yang hanya dapat dinilai dalam jangka panjang. Karena kegiatan penyuluhan ini tidak terdapat pengamatan jangka panjang terhadap sasaran maka evaluasi terhadap dampak tidak dapat dilakukan

18

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1 Kesimpulan Program yang telah penulis laksanakan akhirnya dapat berjalan dengan baik dan lancar.. Tujuan dari penyuluhan ini telah tercapai yang dapat dilihat dari cukup berhasilnya dari segi input, proses dan output.

5.2 Rekomendasi Sosialisasi tentang acara penyuluhan harus lebih ditingkatkan lagi, agar respondennya lebih banyak dan sasaran penyuluhan dapat tercapai.

19

LAMPIRAN PERTANYAAN 1. Bagaimana cara melakukan sadari pada wanita yang sudaha menopouse? 2. Saya mempunyai benjolan yang terasa nyeri di payudara terutama ketika haid. Setelah konsultasi dengan dokter, menyatakan bahwa benjolan tersebut aman dan tidak perlu dioperasi karena bisa hilang dengan sendirinya setelah melahirkan nanti. Apa benar seperti itu? 3. Bagaimana cara membedakan adanya benjolan dengan air susu yang tidak keluar? 4. Jika sudah terdiagnosis benjolan yang ganas, apakah bisa sembuh total? 5. Bagaimana caranya menghindari kanker payudara? 6. Nenek saya menderita kanker payudara apakah saya mempunyai kecenderungan yang sama? 7. Apakah kanker payudara dapat diturunkan secara genetika?

20

DAFTAR PUSTAKA

1. Insidensi Kanker Payudara. Diunduh dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21769/5/Chapt er%20I.pdf. 2. Meningkatkan Kesadaran Wanita Dalam Deteksi Dini Kanker Payudara, diunduh dari http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/106/jtptunimus-gdldesyanggit-5299-3-bab2.pdf. 3. Persi. Periksa Payudara Sebelum Terlambat. 2007. Diunduh dari. http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode= 1009&tbl=biaswanita. Kurnia. Deteksi Dini Kanker Payudara. 2006. Diunduh dari http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0203/22/hikmah/ lainnya02. Htm.

4.

5. Dian Sofianty P. Memahami Kanker Payudara. 2009. Diunduh dari. http://www.medicastore.com. 6. 36. E. Widiyati. Kanker Payudara Perempuan Usia Muda. 2007. Diunduh dari http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=3&jd= Kanker+Payudara+Perempuan+Usia+Muda&dn=20071028200 937 7. Pemeriksaan Payudara Sendiri. Diunduh dari http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/106/jtptunimus-gdldesyanggit-5299-3-bab2.pdf.