Anda di halaman 1dari 14

KERATOMIKOSIS

PROVIDENTIUS REGODIAN
NIM I 11105001





REFERAT

















PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TAN1UNGPURA
PONTIANAK
2011
1

KERATOMIKOSIS
I. PENDAHULUAN
Di Indonesia kekeruhan kornea masih merupakan masalah kesehatan mata sebab kelainan
ini merupakan salah satu penyebab utama kebutaan. Kekeruhan kornea ini terutama disebabkan
oleh inIeksi mikroorganisme berupa bakteri, jamur dan virus dan bila terlambat didiagnosis atau
diterapi secara tidak tepat akan mengakibatkan kerusakan stroma dan meninggalkan jaringan
parut yang luas. InIeksi jamur pada kornea atau keratomikosis merupakan masalah tersendiri
secara oItalmologik, karena sulit menegakkan diagnosis keratomikosis ini, padahal
keratomikosis cukup tinggi kemungkinan kejadiannya sesuai dengan lingkungan masyarakat
Indonesia yang agraris dan iklim tropis dengan kelembaban tinggi. Keratomikosis pertama kali
digambarkan oleh Leber pada tahun 1879.
Keratomikosis bukan merupakan tipe inIeksi kornea yang sering terjadi, tetapi ianya
salah satu dari kausa mayor keratitis inIeksius di daerah tropis. Penting untuk
mempertimbangkan kausa jamur untuk keratitis inIeksius karena kerusakan okuler yang hebat
dapat terjadi tanpa diagnosa dan penanganan yang tepat dan eIektiI.
Walaupun jarang terjadi, inIeksi jamur pada kornea (keratomikosis) dapat menyebabkan
jejas berat pada kornea tersebut. Jamur menyebabkan nekrose stroma yang hebat dan masuk ke
dalam bilik mata depan dengan berpenetrasi ke dalam membran Descemet yang intak. Jika
organisme sudah masuk ke dalam bilik mata depan, inIeksi sukar untuk dikontrol, karena obat
antijamur tidak dapat berpenetrasi dengan baik. Dari 70 jenis Iungi yang dapat menyebabkan
keratomikosis, terdapat 2 kelompok penting secara medis, yaitu kelompok yeast dan Iungi
Iilamentosa (bersepta dan tidak bersepta). Patogen tersering adalah jamur Iilamentosa
(Aspergillus sp dan Fusarium sp) dan Candida albicans. Keratitis Iilamentosa mempunyai
prevalensi tinggi terutama di daerah agrikultural (pertanian) dan biasanya didahului oleh trauma
okuler yang melibatkan bahan organik.

2

II. DEFENISI
Keratomikosis merupakan istilah umum yang dipakai untuk inIlamasi yang disebabkan
oleh inIeksi jamur (dan menyebabkan peradangan) pada kornea. Faktor predisposisi antara
lainnya adalah trauma, pemakaian kontak lensa, dan steroid topikal. Trauma pada kornea yang
memicu terjadinya keratomikosis, biasanya trauma dengan tumbuhan atau benda-benda organik.
III. INSIDEN
enurut WHO (World Health Organization), penyakit kornea merupakan antara
penyebab utama penurunan visus dan kebutaan, dengan katarak menduduki ranking pertama.
Sedang di Asia keratomikosis khususnya, merupakan antara kausa mayor kebutaan. Di China,
insidens keratomikosis terus meningkat sejak 8 dekade yang lalu. anakala di daerah bersuhu
rendah seperti di Inggris dan Amerika Serikat Utara masih jarang terjadi keratitis akibat inIeksi
jamur, umumnya kurang dari 5-10 . Keratomikosis Iilamentosa didapati lebih sering terjadi
di daerah Amerika Serikat yang lebih hangat dan lebih lembab dari daerah lain di negara
tersebut.
Tipe Aspergillus merupakan tipe jamur penyebab keratomikosis tersering ditemukan di
seluruh dunia. Dari suatu studi di India, Aspergillus ditemukan terbanyak dengan persentase 27-
64, diikuti Fusarium (6-32) dan spesis Penicillium (2-29). Keratomikosis lebih sering
terjadi pada laki-laki dibanding wanita dan pada pasien dengan riwayat trauma okuler.
IV. ANATOMI
ata adalah suatu struktur sIeris berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan. Dari luar
ke dalam, lapisanlapisan tersebut adalah : (1) sklera/kornea, (2) traktus uvea, dan (3) retina.
Sebagian besar mata dilapisi oleh jaringan ikat yang protektiI dan kuat di sebelah luar, sklera,
yang membentuk bagian putih mata. Di anterior (ke arah depan), lapisan luar terdiri atas kornea
transparan tempat lewatnya berkasberkas cahaya ke interior mata. Lapisan tengah dibawah
sklera adalah koroid yang sangat berpigmen dan mengandung pembuluh-pembuluh darah untuk
memberi makan retina. Lapisan paling dalam dibawah koroid adalah retina, yang terdiri atas
lapisan yang sangat berpigmen di sebelah luar dan sebuah lapisan syaraI di dalam. Retina
3

mengandung sel batang dan sel kerucut, Iotoreseptor yang mengubah energi cahaya menjadi
impuls syaraI.
Struktur mata manusia berIungsi utama untuk memIokuskan cahaya ke retina. Semua
komponenkomponen yang dilewati cahaya sebelum sampai ke retina mayoritas berwarna gelap
untuk meminimalisir pembentukan bayangan gelap dari cahaya. Kornea dan lensa berguna untuk
mengumpulkan cahaya yang akan diIokuskan ke retina, cahaya ini akan menyebabkan perubahan
kimiawi pada sel IotosensitiI di retina. Hal ini akan merangsang impulsimpuls syaraI ini dan
menjalarkannya ke otak.
Kornea merupakan struktur unik, yang sangat transparan, mempunyai siIat pelindung dan
reparatiI yang baik. Kornea adalah 'jendela optik bagi mata yang membenarkan manusia untuk
melihat. SiIat kornea yang transparan dengan 43 dioptri menjadikan kornea media reIraktor
terpenting dalam struktur mata. Rata-rata diameter kornea adalah 11,5 mm (vertikal) dan 12 mm
(horizontal). Kornea tersusun atas lapisan :
1.pitelium memberi 10 dari ketebalan kornea yang terdiri atas lapisan-lapisan sel epitel
gepeng tidak bertanduk, dan terdiri dari:
a. satu lapis sel kolumnair basalis yang terikat secara hemidesmosom ke membran basalis.
b. dua sampai tiga lapis sel sayap
c. dua lapis sel gepeng superIisialis
d. luas permukaan sel terluar ditambah oleh adanya mikroplicae dan mikrovili yang
membantu perlengketan mucin. Setelah jangka hidup beberapa hari, sel-sel mati dilepaskan
ke dalam tear Iilm. Karena siIat beregenerasi dengan baik, sel-sel yang terlepas tidak
menyebabkan jaringan sikatriks pada lapisan epitelium.
e. Lapisan epitelium yang intak memberi perlindungan terhadap inIeksi; deIek pada epitelium
membenarkan patogen untuk masuk ke dalam.
2.embran Bowman merupakan lapisan superIisialis yang aseluler dan membentuk jaringan
sikatriks jika dirusak.
3.Stroma memberi 90 kepada ketebalan kornea. Terdiri atas lamela-lamela yang merupakan
susunan kolagen yang sejajar. Susunan tersebut dikawal oleh sulIas kondroitin, sulIas keratan
4

dan keratosit. Dan bila susunan ini terganggu, ia memberi kesan terhadap siIat transparan dari
kornea. Karena stroma merupakan lapisan avaskuler, regenerasi berlangsung perlahan.
4.embran descemet tersusun oleh kisi-kisi halus Iibril kolagen.
5.ndotelium terdiri dari satu lapis sel heksagonal yang memberi siIat transparen kepada kornea
dan memain peran penting dalam deturgensi kornea. ndotelium berperan sebagai pompa ion
untuk menjaga kestabilan air di dalam lapisan stroma. Dengan pertambahan usia, jumlah sel
berkurang secara gradual, dan karena endotelium tidak beregenerasi, maka sel-sel yang
berhampiran bermigrasi masuk mengisi kekosongan akibat kehilangan sel tersebut.
Kornea manusia mempunyai banyak innervasi aIIeren. Nervus ciliaris longus posterior (cabang
pertama nervus trigeminalis) masuk kedalam kornea melalui tiga bidang: sklera, episklera, dan
konjungtiva.8 Terdapat juga plexus di lapisan stroma dan subepitel kornea.
V. FISIOLOGI
Kornea berIungsi sebagai membran pelindung dan 'jendela yang dilalui berkas cahaya
menuju retina. SiIat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniIorm, avaskuler dan
deturgesens. Deturgesens, atau keadaan dehidrasi relatiI jaringan kornea, dipertahankan oleh
'pompa bikarbonat aktiI pada endotel dan oleh Iungsi sawar epitel dan endotel. ndotel lebih
penting daripada epitel dalam mekanisme dehidrasi, dan cedera kimiawi atau Iisik pada endotel
jauh lebih berat daripada cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan edema
kornea dan hilangnya siIat transparan. Sebaliknya, cedera pada epitel hanya menyebabkan edema
lokal sesaat stroma kornea yang akan menghilang bila sel-sel epitel itu telah beregenerasi.
Penguapan air dari Iilm air mata prakornea berakibat Iilm air mata menjadi h
ipertonik; proses itu dan penguapan langsung adalah Iaktor-Iaktor yang menarik air dari stroma
kornea superIisial untuk mempertahankan keadaan dehidrasi.
Penetrasi kornea utuh oleh obat bersiIat biIasik. Substansi larut-lemak dapat melalui
stroma yang utuh. Karenanya agar dapat melalui kornea, obat harus larut-lemak dan larut-air
sekaligus.

3

VI. ETIOLOGI
Secara ringkas dapat dibedakan :
1. Jamur berIilamen (Iilamentous Iungi); bersiIat multiseluler dengan cabang-cabang hiIa.
a. jamur bersepta; Fusarium sp, Acremonium sp, Aspergillus sp, Cladosporium sp,
Penicillium sp, Paecilomyces sp, Phialophora sp, Curvularia sp, Altenaria sp.
b.jamur tidak bersepta; ucor sp, Rhizopus sp, Absidia sp.
2. Jamur ragi (yeast) jamur uniseluler dengan pseudohiIa dan tunas: Candida albicans,
Crypococcus sp, Rodotolura sp.
. Jamur diIasik pada jaringan hidup membentuk ragi sedang pada media perbiakan membentuk
miselium: Blastomices sp, Coccidiodidies sp, Histoplasma sp, Sporothrix sp.
Faktor resiko terjadinya keratomikosis termasuk :
1. Trauma (mis., lensa kontak, benda asing); dalam sebuah studi Iungal keratitis di selatan
Florida, trauma dengan sayuran merupakan Iaktor risiko mayor yaitu sebanyak 44 dari
jumlah pasien keratomikosis.
2. Pemakaian kortikosteroid topikal yang lama
3. Operasi kornea seperti keratoplasti tembus, operasi katarak 'sutureless, atau laser in situ
keratomileusis (LASIK)
4. Keratitis kronis akibat herpes simplex, herpes zoster, atau keratoconjungtivitis vernal
5. Tiada penyakit mata yang signiIikan
6. Riwayat penyakit trauma (terutama terkait dengan tumbuhan)
7. Pekerjaan dalam bidang pertanian

VII. PATOGENESIS
Fungi biasanya tidak menyebabkan keratitis mikroba karena normalnya, Iungi tidak dapat
berpenetrasi ke dalam lapisan epitel kornea yang intak dan tidak masuk ke dalam kornea lewat
pembuluh darah limbus episklera. DeIek pada epitel sering diakibatkan oleh trauma (mis.,
6

pemakaian lensa kontak, benda asing, riwayat operasi kornea). Organisme dapat berpenetrasi ke
dalam membran Descement yang intak dan masuk ke dalam stroma.. Ia membutuhkan cedera
penetrasi atau riwayat deIek epitel untuk masuk ke dalam kornea. Setelah berada di dalam
kornea, organisme dapat berproliIerasi.
Organisme yang menginIeksi deIek pada epitel sebenarnya merupakan mikroIlora normal
yang terdapat pada konjungtiva dan andeksa. Fungi Iilamentosa merupakan kausa tersering dari
inIeksi pasca trauma. Fungi Iilamentosa berproliIerasi di dalam stroma kornea tanpa melepaskan
substansi kemotaktik, sehingga menunda munculnya respon imun host/ respon inIlamasi.
Berbeda dengan Iungi Iilamentosa, Candida albicans memproduksi IosIolipase A dan
lisoIosIolipase pada permukaan blastospora, untuk membantu ia masuk ke dalam jaringan.
Fusarium solani, yang merupakan Iungus yang virulen, dapat menyebar di dalam stroma kornea
dan berpenetrasi ke dalam membrane Descemet. Trauma kornea akibat tumbuhan merupakan
Iaktor resiko utama untuk terjadinya keratomikosis. Terutamanya, petani yang tidak memakai
alat proteksi diri, khususnya kaca mata. Trauma akibat pemakaian lensa kontak juga adalah salah
satu Iaktor resiko terjadinya keratomikosis.6 Trauma kornea paling sering menyebabkan
keratomikosis dan merupakan Iactor resiko major tipe keratitis tersebut .
Seorang dokter harus mempertimbangkan besar kemungkinan suatu keratomikosis jika
pasien mempunyai riwayat trauma kornea, terutama adanya kontak dengan tumbuhan atau tanah.
Resiko trauma akibat pemakaian lensa kontak adalah kecil, dan bukan merupakan Iaktor resiko
major untuk keratomikosis.
Selain dari itu, kortikosteroid topikal diketahui dapat mengaktivasi dan meningkatkan
virulensi organisme jamur dengan menurunkan resistensi kornea terhadap inIeksi. Candida sp
menyebabkan inIeksi okuler pada hospes yang mengalami imunodeIisiensi dan pada kornea
dengan ulkus kronik. Pemakaian kortikosteroid yang semakin meningkat sejak 4 dekade yang
lalu telah berimplikasi sebagai suatu penyebab utama peningkatan insidensi keratomikosis.
Tambahan, pemakaian kortikosteroid sistemik dapat menekan respon imun hospes, sehingga
terjadi perdisposisi kepada keratomikosis. Faktor resiko lainnya termasuk operasi kornea (mis.,
PK, keratotomi radial) dan keratitis kronik (mis., herpes simpleks, herpes zoster, atau
konjungtivitis vernal/alergi).
7

Jika pada hospes normal keratomikosis acapkali didahului oleh trauma, atau pemakaian
steroid, pada penderita AIDS kelainan ini dapat timbul secara spontan tanpa Iaktor predisposisi
pada kornea, dan dapat terjadi pada satu mata atau dua mata.
VIII. MANIFESTASI KLINIK
Pasien biasanya datang dengan keluhan rasa mengganjal, nyeri yang bertambah berat,
penglihatan menurun secara tiba-tiba, kemerahan pada mata, lakrimasi berlebihan, dan IotoIobia.
anakala tanda klinis yang dapat ditemukan berupa injeksi konjungtiva, deIek epitel, supurasi,
inIiltrasi stroma dan adanya reaksi bilik mata depan. aniIestasi klinis yang lebih spesiIik
berupa adanya inIiltrasi yaitu bercak-bercak putih, lesi satelit, hipopion, dan plak endotel.
Untuk menegakkan diagnosis klinik dapat dipakai pedoman berikut :
1. Riwayat trauma terutama tumbuhan, pemakaian steroid topikal lama.
2. Lesi satelit.
. Tepi ulkus sedikit menonjol dan kering, tepi yang ireguler dan tonjolan seperti hiIa di bawah
endotel utuh.
. Plak endotel.
5. Hipopion, kadang-kadang rekuren.
. Formasi cincin sekeliling ulkus.
. Lesi kornea yang indolen.
Reaksi di atas timbul akibat investasi jamur pada kornea yang memproduksi mikotoksin,
enzim-enzim serta antigen jamur sehingga terjadi nekrosis kornea dan reaksi radang yang cukup
berat.
Pasien dengan keratomikosis cenderung mengalami gejala dan tanda inIlamasi yang
minimal pada periode awal dibanding dengan penderita keratitis bakteri dan hampir tiada injeksi
konjungtiva saat presentasi klinis. Keratomikosis Iilamentosa sering bermaniIestasi dengan
inIiltrasi putih-keabuan, lesi tampak kering dengan tepi ireguler berawan atau dikenal dengan
berbatas Iilamentosa. Lesi superIicial mungkin muncul sebagai elevasi dari permukaan kornea
berwarna putih-keabuan, dengan permukaan kering, kasar atau rasa berpasir yang dapat
dirasakan saat melakukan kerokan kornea. Kadang terdapat lesi satelit atau lesi multiIokal, tetapi
8

sangat jarang terjadi. Plak endotel dan/atau hipopion dapat terjadi jika inIiltrasi jamur cukup
dalam atau cukup luas.
IX. DIAGNOSIS
ata merah yang ditemukan saat inspeksi (biasanya bersiIat unilateral), seperti yang
terdapat pada ulkus kornea serpiginosa. Dapat juga ditemukan hipopion. Pemeriksaan slit lamp
memperlihatkan inIiltrasi stroma berwarna keputihan, terutama keratomikosis yang disebabkan
oleh Candida albicans. InIiltrasi dan ulkus menyebar secara sangat perlahan. Lesi satelit, yaitu
beberapa inIiltrat kecil yang berdekatan, berkelompok disekitar pusat lesi yang lebih besar. Lesi
satelit ini merupakan karakteristik untuk keratomikosis, tetapi tidak selamanya muncul pada
inIeksi tersebut.
Yang utama adalah melakukan pemeriksaan kerokan kornea (sebaiknya dengan spatula
Kimura). Semua pasien suspek keratomikosis hendaklah dilakukan kerokan kornea. Kerokan
diambil di daerah luar dari tepi ulkus dan pada daerah di mana kultur bakteri memberikan hasil
negatiI. Sampel diambil dengan menggunakan spatula platinum, silet surgikal, atau apusan
kalsium alginate terinokulasi di medium agar Sabouraud, dan dipertahankan pada suhu 25C
untuk pertumbuhan Iungi. Dapat dilakukan pewarnaan KOH, Gram, Giemsa atau KOH Tinta
India. Pemeriksaan Gram dan Giemsa mempunyai 50 sensitivitas dalam menegakkan diagnosa.
Lebih baik lagi melakukan biopsi jaringan kornea dan diwarnai dengan Periodic Acid
SchiII (memberi pewarnaan merah pada dinding sel serta septa dan biru pada nukleus) atau
ethenamine Silver (memberi pewarnaan hitam pada dinding sel). Diagnosa juga dapat
ditegakkan dengan pemeriksaan Iluoresensi. Ultrasound B-scan oItalmik dilakukan untuk
membantu menyingkirkan endoItalmitis akibat jamur dari diagnosa banding.
X. DIAGNOSIS BANDING
1. Keratitis bakterialis
Secara klinis onset nyeri keratitis bakterialis sangat cepat disertai dengan injeksio
konjungtiva, IotoIobia dan penurunan visus pada pasien dengan ulkus kornea bakterial,
inIlamasi endotel, tanda reaksi bilik mata depan, dan hipopion sering ada. Penyebab inIeksi
9

tumbuh lambat, organisme seperti mikrobakteri atau bakteri anaerob inIiltratnya tidak
bersiIat supuratiI dan lapisan epitel utuh. Penggunaan kortikosteroid, kontak lensa, graI
kornea yang telah terinIeksi kesemuanya merupakan predisposisi terjadinya inIeksi
bacterial.
2. Keratitis viral
Dapat disebabkan oleh virus herpes simplex, varicella-herpes zoster atau
adenovirus. Pasien keratitis akibat nIeksi herpes simplex sering datang dengan keluhan
nyeri berat dan gambaran seperti inIiltrat yang bercabang-cabang (keratitis dendritik). Tes
sensitivitas pula menurun, bahkan pada inIeksi herpes zoster bisa hilang sama sekali.8
. Endoftalmitis
Didiagnosa bila inIlamasi melibatkan kedua-dua bilik mata depan dan belakang.
Tanda klasik pada endoItalmitis adalah penurunan visus, hiperemis konjungtiva, nyeri yang
memberat, edema palpebra, dan hipopion. Kemosis konjugtiva dan edema kornea dapat
ditemukan. Penyebab terjadi endoItalmitis bisa secara eksogen (mis. pasca operasi) atau
endogen (penyebaran secara hematogen ; mis. jalur IV yang terinIeksi, atau dari organ
tubuh lain yang terinIeksi).8
XI. PENATALAKSANAAN
Secara konservatiI, rawat inap dianjurkan saat terapi dimulai kerana keratomikosis
memerlukan terapi yang lama dan teliti. Sebelum pemberian sebarang terapi antimikotik,
hendaklah dilakukan kerokan kornea terlebih dahulu menggunakan silet surgikal untuk
mengurangi koloni jamur di kornea dan untuk membantu penetrasi agen anti jamur.
Yang utama dalam terapi keratomikosis adalah mengenai jenis keratomikosis yang
dihadapi; bisa dibagi :
a. Belum diidentiIikasi jenis jamur penyebabnya.
b. Jamur berIilamen.
c. Ragi (yeast).
10

d. Golongan Actinomyces yang sebenarnya bukan jamur sejati
Untuk golongan I : Topikal Amphotericin B, Thiomerosal, Natamycin (obat terpilih),
Imidazole (obat terpilih).
Untuk golongan II : Topikal Amphotericin B, Thiomerosal, Natamycin (obat terpilih),
Imidazole (obat terpilih).
Untuk golongan III : Amphotericin B, Natamycin, Imidazole.
Untuk golongan IV : Golongan SulIa, berbagai jenis antibitotik.
Steroid topikal adalah kontra indikasi, terutama pada saat terapi awal. Diberikan juga
obat siklopegik (atropin) guna mencegah sinekia posterior untuk mengurangi uveitis anterior.
Agen anti jamur dibagi kepada beberapa kelompok:
a. Polyene termasuk Natamycin, Nystatin dan Amphotericin B. Berdaya anti Iungi dengan
mengikat pada dinding sel Iungi dan mengganggu permeabilitas membran jamur sehingga
terjadi ketidakseimbangan intraseluler. Polyene dengan molekul kecil seperti Natamycin
menyebabkan lisis permanen pada membran dibanding perubahan reversibel oleh molekul
besar seperti Nystatin. Amphotericin B tidak larut dalam air dan tidak stabil pada oksigen,
cahaya, air, dan panas. Golongan ini mempunyai daya antiIungi spektrum luas tapi tidak
eIektiI terhadap Actinomyces dan Nocardia. Golongan ini eIektiI terhadap inIeksi jamur tipe
Iilamentosa dan yeast.
1. AmIoterisin B merupakan obat pilihan untuk keratomikosis akibat yeast dan Candida.
Dapat juga bermanIaat pada inIeksi akibat Iilamentosa. Dosis pemberian setiap 30 menit
untuk 24 jam pertama, 1 jam untuk 24 jam kedua, dan di tappering oII sesuai dengan
respon klinis tubuh pasien terhadap obat. Tersedia secara komersial dan bila diragukan
kestabilannya, bisa dibuat dari preparat perenteral dengan mengencerkannya dengan
akuades. Obat ini juga dianjurkan untuk keratitis Iilamentosa kausa jamur tipe
Aspergillus sp.
11

2. Natamycin (paramycin) bersiIat spektrum-luas terhadap organisme Iilamentosa seperti
polyene lain, tetapi dilaporkan lebih eIektiI terhadap Fusarium sp.
Pengobatan topikal hendaklah diberikan selama 6 minggu.
b. Azole (imidazole dan triazole) termasuk ketaconazole, miconazole, Iluconazole, itraconazole,
econazole, dan klotrimazole.2 Golongan Imidazol, dan ketokonazole dilaporkan eIektiI
terhadap Aspergillus, Fusarium, dan Candida.1,3 Tersedia secara komersial dalam bentuk
tablet.1 Ketoconazole oral (200-600 mg/hari) dapat dipertimbangkan sebagai terapi adjuntiva
pada keratomikosis Iilamentosa berat, dan Iluconazole oral (200-400 mg/hari) untuk keratitis
yeast berat. Itraconazole oral (200 mg/hari) mempunyai kesan spektrum-luas terhadap semua
Aspergillus sp dan Candida tetapi kerja yang bervariasi terhadap Fusarium. Voriconazole
oral dan topical dilaporkan bermanIaat untuk keratomikosis yang tidak berespon terhadap
pengobatan yang telah disebutkan sebelumnya.
1. Azole menghambat sintesa ergosterol pada konsentrasi rendah dan pada konsentrasi
tinggi bekerja merusak dinding sel.
2. Fluconazole dan ketoconazole oral di absorbsi secara sistemik dan terdapat dalam kadar
yang bagus di bilik mata depan dan kornea, maka pemberiannya harus dipertimbangkan
sebagai penanganan keratomikosis yang lebih lanjut. Karena kedua obat tersebut dapat
berpenetrasi dengan baik ke dalam jaringan okuler, ia merupakan pilihan pengobatan bagi
keratitis kausa Iilamentosa dan yeast. Pemberian obat tersebut juga melihat kepada
kedalaman penetrasi jamur ke dalam stroma. Dosis dewasa 200-400 mg/d, dengan dosis
maksimum 800 mg/d. Antimikotik sistemik diberikan pada kasus keratitis berat atau
endoItalmitis.

Apabila terjadi perburukan atau semakin bertambahnya inIeksi pada kornea walaupun
terlah mendapatkan pengobatan anti Iungi yang maksimum maka perlu di lakukan operasi.
Operasi dilakukan tergantung dari keadaan saat itu, luas lesi dan tingkat kerusakan dari kornea.


12

Ada beberapa jenis operasi, yang antara lain:
a. Corneal Scrapping
Dilakukan pada ulkus superIicial, dimana pada ulkus tersebut dapat ditangani
dengan menggunakan metode ini, dimana penyembuhannya cepat dan tidak
menimbulkan scar.
b. Keratectomy
Teknik ini dilakukan apabila ulkusnya lebih dalam atau deep injury dimana
kerusakan kornea menimbulkan terbentuknya jaringan ikat sehingga menimbulkan
kekeruhan pada kornea, dimana akan menghalangi cahaya yang menuju ke retina.
Operasi dilakukan dengan cara membelah kornea untuk menggapai area yang
mengalami scar kemudian membersihkan daerah yang opak dan daerah yang
mengalami inIeksi dengan menggunakan mikroskop.
c. Cornea transpalant (penetrating keratoplasty)
Apabila inIeksi menyebabkan kornea tidak dapat diperbaiki lagi, dimana telah terjadi
kekeruhan maka tindakan keratoplasty dapat dilakukan, dimana operasi dilakukan
dengan mengangkat bagian sentral dari kornea yang keruh kemudian menggantinya
dengan donated clear cornea. Sebuah penelitian di China menunjukkan dari 108 kasus
dengan severe keratomycosis,sekitar 86 pasien (79,6) yang mendapatkan kornea
graIt memiliki kornea yang jernih setelah dilakukan Iollow up dalam 6 24 bulan,
tidak terdapat rekurensi dari Iungal keratitis dan visus pasien didapatkan antara
40/200 20/20 dan dari penelitian tersebut muncul beberapa komplikasi yang antara
lain :
- Rekurensi Iungal keratitis 8 mata (7,4 )
- Cornea graIt rejection pada 32 mata (29, 6)
- Glaukoma sekunder pada 2 mata (1,9)
- Katarak pada 5 mata (4,6)
Dari penelitian tersebut dapat kita simpulkan bahwa keratoplasty merupakan terapi
eIektiI untuk Iungal keratitis yang tidak berespon pada pengobatan anti jamur dan
sebaiknya operasi ini dilakukan di awal sebelum penyakit menjadi lebih buruk.

13

XII. KOMPLIKASI
Keratitis Iungal dapat berperan utama untuk inIeksi berat yang melibatkan setiap struktur
intraokular dan dapat membuat hilangnya penglihatan atau kehilangan mata. PerIorasi kornea
jarang terjadi, dan endophthalmitis sekunder telah dilaporkan.

XIII. PROGNOSIS
Prognosis tergantung pada beberapa Iaktor, termasuk luasnya kornea yang terlibat, status
kesehatan pasien (contohnya pasien dengan kondisi immunosupresiI), dan waktu penegakan
diagnosis klinis yang dikonIirmasi dengan kultur di laboratorium. Pasien dengan inIeksi ringan
dan diagnosis mikrobiologi yang lebih awal memiliki prognosis yang baik; bagaimanapun,
kontrol dan eradikasi inIeksi yang meluas didalam sklera atau struktur intraokular sangat sulit.
Diperkirakan satu dari ketiga inIeksi jamur gagal terapi pengobatan atau perIorasi kornea.