Anda di halaman 1dari 128

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sistem tenaga listrik umumnya terdiri dari beberapa pembangkit (sistem multi-
mesin) yang diinterkoneksi melalui saluran transmisi. Tujuan dari interkoneksi adalah
untuk menjamin kontinuitas ketersediaan terhadap kebutuhan tenaga listrik yang terus
meningkat. Semakin berkembangnya sistem tenaga listrik semakin lemahnya unjuk kerja
sistem terhadap gangguan-gangguan. Salah satu efek gangguan adalah osilasi daya akan
menyebabkan sistem keluar dari area kestabilannya yang mengakibatkan dampak yang
lebih buruk dari seperti pemadaman total.
Gangguan dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu gangguan kecil dan gangguan
besar. Gangguan kecil merupakan satu dari elemen sistem dinamik yang dapat dianalisis
menggunakan persamaan linear (analisis sinyal kecil). Gangguan kecil dapat berupa
perubahan beban pada sisi beban atau pembangkit secara acak, pelan, dan bertingkat.
Kestabilan sistem terhadap gangguan kecil disebut kestabilan sinyal kecil (small signal
stability) atau kestabilan steady-state (pada awal-awal literatur sering disebut kestabilan
dinamik). Kestabilan sistem tenaga sendiri adalah kemampuan sistem untuk kembali pada
kondisi kerja normalnya setelah terjadinya gangguan.
Perubahan beban yang kecil pada sistem tenaga listrik adalah suatu hal yang tidak
dapat dihindari dan selalu terjadi. Oleh karena itu perlu didesain suatu pengendali yang
dapat menjaga sistem tenaga listrik tetap stabil.

2

1.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk perancangan pengendali untuk mengendalikan sistem
tenaga listrik menggunakan metode LQR.

1.3 Manfaat Penelitian
Tugas akhir ini diharapkan dapat memberikan informasi rancangan pengendali untuk
mengendalikan kestabilan frekuensi dalam rangka memperbaiki kinerja sistem tenaga
listrik multimesin.

1.4 Batasan masalah
Untuk membatasi pembahasan yang meluas dalam tugas akhir ini dilakukan
pembatasan sebagai berikut :
1. Setiap pembangkit diwakili satu unit generator. Sistem eksitasi dan governor
dianggap mempunyai pemodelan yang sama.
2. Perhitungan aliran daya menggunakan metoda Newton-Rhapson.
3. Pengendali dirancang dengan metode Linear Quadratic Regulator(LQR).
4. Keluaran yang dianalisis berupa frekuensi sistem .
5. Nilai fungsi pembobot ditentukan dengan menggunakan metode Bryson.

1.5 Metodologi Penelitian
Langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penyusunan tugas akhir ini sebagai
berikut :

3

1. Pembuatan persamaan model matematis sistem tenaga listrik, meliputi studi aliran
daya dan studi dinamika sistem tenaga.
2. Perancangan model kendali optimal untuk mendapatkan kondisi sistem yang sesuai
dengan kriteria yang diinginkan.
3. Simulasi hasil rancangan kendali optimal pada beban yang berubah-ubah, sehingga
batas-batas kestabilan sistem berdasarkan kriteria yang diinginkan dapat
ditentukan.
4. Menganalisis hasil simulasi.
5. Penyusunan laporan.

1.6 Sistematika penulisan
Laporan tugas akhir ini disusun dengan sistematika sebagai berikut :
BAB I Merupakan bagian pendahuluan yang terdiri tentang latar belakang, tujuan,
batasan masalah, metodologi penelitian, manfaat penulisan serta sistematika
penulisan.
BAB II Merupakan bagian yang menjelaskan tentang penyelesaian aliran daya dengan
metode Newton-Rhapson dan penurunan model dinamik sistem dinamik sistem
tenaga listrik multimesin.
BAB III Pembentukan matrik ruang keadaan dari model dinamik sistem tenaga listrik
multimesin dan perancangan pengendali dengan metode LQR.
BAB IV Memuat hasil simulasi dan analisa.
BAB V Berisikan kesimpulan dan saran.


4

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pendahuluan
Dalam suatu sistem tenaga listrik yang terinterkoneksi dan terdiri dari beberapa
pembangkit (multimesin) dengan kapasitas unit-unit pembangkit yang relatif besar dan
terletak cukup berjauhan satu dengan yang lainnya akan sangat mudah terjadi ayunan
(osilasi) variabel keadaan sistem disekitar titik kerjanya. Ayunan ini dapat terjadi terus-
menerus sehingga dapat mempengaruhi kerja mesin dengan mesin lainnya yang
disebabkan perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem berupa perubahan beban yang
terjadi setiap saat seperti perubahan pada sisi pembangkit maupun pada penyaluran daya
yang berakibat sistem menjadi tidak stabil.
Pada sistem multimesin, suatu sistem dikatakan stabil secara dinamik apabila setelah
gangguan (perubahan beban) selisih sudut rotor menuju pada nilai tertentu yang berhingga.
Bila ada selisih sudut rotor generator semakin lama semakin besar maka sistem tidak stabil.
Untuk menjaga kestabilan sistem tenaga tersebut dikarenakan perubahan beban yang kecil
adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari dan selalu terjadi maka perlu didesain suatu
pengendali yang dapat menjaga sistem tenaga listrik tetap stabil.

2.2 Metoda Newton-Raphson Untuk Aliran Daya
[4,7,10]

Dalam studi aliran daya langkah awal dilakukan penomoran bus terhadap sistem
yang akan dianalisis. Bus-bus yang terhubung dengan generator diberi nomor terlebih
dahulu setelah itu penomoran bus dilanjutkan pada bus-bus beban, bus yang memiliki

5

kapasitas pembangkit terbesar dipilih sebagai sebagai slack bus dan diberi nomor 1 (satu),
untuk bus-bus yang lain yang terhubung ke generator diberi nomor 2 (dua) sebagai bus
pembangkit dan 0 (nol) sebagai bus beban.
Menyusun data tentang sistem yang akan dianalisis yang meliputi data resistansi,
reaktansi dan kapasitansi antara saluran, data tapping transformator, data beban terjadwal,
data pembangkitan, asumsi awal magnitude tegangan dan sudut phasa tegangan bus.
Perhitungan dimulai dengan membentuk impedansi jaringan (Z
ij
) dengan rumus
ij ij ij
jX R Z + = (2.1)
dimana

ij
Z = Impedansi jaringan antara bus ke-i dan bus ke-j

ij
R = Resistansi jaringan antara bus ke-i dan bus ke-j

ij
X = Reaktansi jaringan antara bus ke-i dan bus ke-j
kemudian impedansi jaringan dikonversi ke admitansi jaringan
ij ij ij
jYx Yr Y + = (2.2)
dimana ;

2
ij
2
ij
ij
ij
X R
R
Yr
+
=


2
ij
2
ij
ij
ij
X R
X
Yx
+
=
Selanjutnya matrik admitansi bus Y dibentuk dengan komponen-komponen yang
terdiri atas admitansi jaringan, kapasitansi saluran dan perubahan tapping transformator.
Kemudian matrik admitansi bus Y yang terbentuk dalam bentuk rectangular kemudian

6

diubah ke dalam bentuk polar. Dimana sebelumnya matrik admitansi bus Y tersebut
dipisahkan menjadi komponen matrik G dan matrik B. Daya terjadwal yang ada pada
setiap bus dihitung dengan rumus
Li Gi
jd
i
P P P = (2.3)
Li Gi
jd
i
Q Q Q =
(2.4)

dimana ;
jd
i
P = Daya aktif terjadwal
jd
i
Q = Daya reaktif terjadwal
Gi
P = Daya aktif pembangkitan
Gi
Q = Daya reaktif pembangkitan
Li
P = Daya aktif beban
Li
Q = Daya reaktif beban
Dalam proses iterasi dicari daya terhitung dengan rumus ;
( )
i n in n
N
1 n
i
in
i
cos V V Y P + =

=
(2.5)
)
i n in n i
N
1 n
in i
sin( V V Y Q + =

=
(2.6)
dimana ;
i
P = Daya aktif terhitung pada bus ke-i
i
Q
= Daya reaktif terhitung pada bus ke-i
i i
, V
= Magnitude tegangan dan sudut phasa pada bus ke-i

7

j j
, V
= Magnitude tegangan dan sudut phasa pada bus ke-j
in in
, Y = Magnitude dan sudut phasa elemen matrik admitansi Y
Selisih daya dihitung dengan persamaan dibawah ini
hit
i
P
jd
i
P
i
P = (2.7)
hit
i
Q
jd
i
Q
i
Q = (2.8)
dimana ;
i
P = Selisih daya aktif bus ke-i
i
Q = Selisih daya reaktif bus ke-i
Setelah selisih daya dihitung maka selanjutnya membentuk matrik Jacobian

(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

= =

= =

=
n
n
n
2
n
2
n
n
2
n
4 3
n
2
n
2
2
2
n
2
2
2
n
n
n
2
n
2
n
n
2
n
2 1
n
2
n
2
2
2
n
2
2
2
V
Q
V
V
Q
V

Q
J L J M
V
Q
V
V
Q
V

Q
V
P
V
V
P
V

P
J N J H
V
P
V
V
P
V

P
J
L L
M M M M
L L
L L
M M M M
L L

(2.9)
Matrik Jacobian ini terdiri dari 4 submatrik yaitu submatrik H, N, M dan L atau
dengan ekspresi yang lain
1
J ,
2
J ,
3
J dan
4
J . Untuk submatrik
1
J atau H dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut ;
Untuk komponen off -diagonal

8

( )
i j ij ij j i
j
i
sin Y V V

P
+ =

(2.10)
Komponen diagonal
( )
i n in in
N
i n 1, n
n i
j
i
sin Y V V

P
+ =

=
(2.11)
Untuk komponen diagonal dengan membandingkan pada persamaan Q
i
hit
diperoleh
persamaan sebagai berikut

ii
2
i i
j
i
B V Q

P
=

(2.12)
Untuk submatrik M atau
3
J dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut ;
Untuk komponen off-diagonal
( )
i j ij ij j i
j
i
cos Y V V

Q
+ =

(2.13)
Untuk komponen diagonal
)

= =

= + =

N
i n 1, n n
i
i j ij ij j
N
i n 1, n
i
i
i

Q
cos( Y V V

Q
(2.14)
Untuk komponen diagonal M atau
3
J dengan membandingkan pada persamaan P
I
hit
diperoleh persamaan sebagai berikut
ii
2
i i
i
i
G V P
Q
=

(2.15)
Untuk submatrik N atau
2
J dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut ;
Untuk komponen off-diagonal

9

( )
i j ij ij i j
j
i
j
cos Y V V
V
P
V + =

(2.16)
j
i
j
i
j
Q
V
P
V


Untuk komponen diagonal
ii
2
i i ii
2
i
i
i
i
i
i
G V P G V 2
Q
V
P
V + = +

(2.17)
Untuk komponen submatrik L atau
4
J dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut
Untuk komponen Off diagonal
( )
j
i
i j ij ij i j
j
i
j

P
sin Y V V
V
Q
V

= + =

(2.18)
Untuk komponen diagonal
ii
2
i i ii
2
i
i
i
i
i
i
B V Q B V 2
P
V
Q
V =

(2.19)
dimana ;
i
i
P

dan
j
i
P

: Elemen-elemen dari submatrik H J


1
=
j
i
Q

dan
i
i
Q

: Elemen-elemen dari submatrik M J


3
=

j
i
j
V
P
V

dan
i
i
i
V
P
V

: Elemen-elemen dari submatrik N J


2
=
j
i
j
V
Q
V

dan
i
i
i
V
Q
V

: Elemen elemen dari submatrik L J


4
=

10

i i
, V : Magnitude tegangan dan sudut phase tegangan pada bus-i
j j
, V : Magnitude tegangan dan sudut phase tegangan pada bus-j
i i
P , Q : Daya reaktif dan daya aktif pada bus-i
in in
, Y : Magnitude dan sudut phase admitansi pada bus i s/d n

ii ii
B , G : Konduktansi dan suseptansi bus ke-i
Setelah diperolehnya harga dari masing-masing elemen pada submatrik Jacobian
maka selanjutnya dibentuk matrik Jacobian dengan menggabungkan keempat submatrik
Jacobian tersebut sehingga terbentuk rumus umum untuk menghitung aliran daya dengan
metode Newton Raphson :
(
(

=
(

V
V

L J
N H
Q
P
(2.20)
atau
(
(

=
(

V
V

J J
J J
Q
P
4 3
2 1
(2.21)
Selanjutnya matrik Jacobian yang terbentuk selanjutnya diinvers dengan menggunakan
metoda dekomposisi LU dan kemudian sudut phasa dan magnitude tegangan tiap bus yang
baru dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut
(

=
(
(


Q
P
L J
N H
V
V
1
(2.22)
atau

11

(

=
(
(


Q
P
J J
J J
V
V
1
4 3
2 1
(2.23)
atau
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

2 2
2 2
n
2
V V
V V

M
M
M
M
=
1
n
n
n
2
n
2
n
n
2
n
4 3
n
2
n
2
2
2
n
2
2
2
n
n
n
2
n
2
n
n
2
n
2 1
n
2
n
2
2
2
n
2
2
2
V
Q
V
V
Q
V

Q
J L J M
V
Q
V
V
Q
V

Q
V
P
V
V
P
V

P
J N J H
V
P
V
V
P
V

P

(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

= =

= =

L L
M M M M
L L
L L
M M M M
L L
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

n
2
n
2
Q
Q
P
P
M
M
M
M
(2.24)
Hasil perkalian yang diperoleh selanjutnya dipisah-pisah menjadi bagian
i
dan
i
i
V
V

kemudian ;
) k (
i
) k (
i
) 1 k (
i
+ =
+
(2.25)
) k (
i
) k (
i
) 1 k (
i
V V V + =
+

=

\
|
|
|

|
+
) k (
i
) k (
i
) k (
i
V
V
1 V

(2.26)
dimana ;
=
i
Perubahan sudut phasa tegangan bus ke-i
=
i
V Perubahan magnitude tegangan bus ke-i
Perbedaan nilai daya aktif dan daya reaktif tiap bus antara yang lama dengan yang baru
selanjutnya dibandingkan dengan nilai ketelitian yang telah ditentukan, jika nilai ketelitian

12

belum tercapai maka iterasi diulangi dari awal sampai ketelitian terpenuhi dan
konvergensi tercapai.
Daya pada Slack Bus selanjutnya dihitung setelah konvergensi tercapai. Adapun
rumus yang digunakan adalah ;
( )
i n in n
N
1 n
i
in
i
cos V V Y P + =

=
(2.27)
)
i n in n i
N
1 n
in i
sin( V V Y Q + =

=
(2.28)
dimana ;
i
P = Daya aktif pada slack bus
i
Q = Daya reaktif pada slack bus
Selain itu pula daya reaktif pada Bus PV (Bus Pembangkit) juga dihitung setelah
konvergensi tercapai, adapun rumus yang digunakan adalah ;
)
i n in n i
N
1 n
in i
sin( V V Y Q + =

=
(2.29)
dimana ;
=
i
Q Daya reaktif pada Bus Pembangkit i
Aliran daya antara bus dihitung dengan menggunakan rumus
( )
ij
*
i
*
ij
*
ij
*
i ij
c Y V Y V V S + = atau
)
ij i
*
i ij j i
*
i ij ij
Yc V V Y V V ( V JQ P + = (2.30)
dimana ;
ij
S = Aliran daya kompleks dari bus-i ke bus-j

13

(2.32)
ij
P = Aliran daya aktif dari bus-i ke bus-j
ij
Q = Aliran daya reaktif dari bus-i ke bus-j
i
V = Vektor tegangan di bus-i
j
V = Vektor tegangan di bus-j
ij
V = Vektor tegangan antara bus i dan bus j
ij
Y = Admitansi antara bus i dan bus j
ij
Yc = Admitansi line charging antara bus i dan bus j
Rugi-rugi daya antar bus dihitung dengan menggunakan rumus
) ( s losse S
ij
=
ji ij
S S + (2.31)
dimana ;
) ( s losse S
ij
= Rugi-rugi daya kompleks dari bus i ke bus j
ij
S = Daya kompleks dari bus i ke bus j
ji
S = Daya kompleks dari bus j ke bus i

2.3 Reduksi Kron
[10]
Tahap pertama dalam analisa kestabilan adalah penyelesaian aliran daya dan
menentukan nilai tegangan bus dan sudut phasa.Untuk mengurangi kompleksitas dalam
analisis kestabilan maka digunakan reduksi Kron.
Arus sebelum gangguan dapat dihitung berdasar rumus berikut ;
I

jQ

i 1,2, , m

14

Dimana m adalah jumlah generator, V
i
adalah tegangan generator ke-i dan P
i
dan Q
i

adalah daya aktif dan reaktif generator ke-i, kemudian seluruh beban di konversi menjadi
admitansi ekivalen dengan menggunakan rumus berikut ;
y

|V

jQ

|V


Untuk memasukkan E , m-bus ditambahkan pada n-bus pada sistem tenaga, maka
persamaannya ;

(2.34)
Formula reduksi Kron yakni mereduksi bus beban dari matrik admitansi, karena
tidak ada arus yang masuk ataupun yang keluar dari bus beban maka baris n atas bernilai
nol. Arus generator dilambangkan dengan vektor I
m
dan tegangan generator dilambangkan
vektor E
m
dan tegangan beban dilambangkan dengan vektor V
n
maka Persamaan (2.34)
dalam bentuk submatrik menjadi ;

(2.35)
Vektor V
n
dapat dieliminasi dengan subtitusi sebagai berikut ;
0

(2.36)

(2.37)
dari Persamaan (2.36),

15


kemudian subtitusi ke Persamaan (2.37) , yang menjadi

(2.38)
reduksi matrik admitansinya adalah ;

(2.39)
Matrik admitansi yang tereduksi mempunyai dimensi (m x m), dimana m adalah jumlah
generator. Maka daya elektrik tiap keluaran mesin dirumuskan ;

atau

(2.40)
dimana

(2.41)
dengan menyatakan tegangan dan admitansi dalam bentuk polar maka daya elektrik
dirumuskan ;

||

(2.42)

2.4 Generator Sinkron Kutub Menonjol
[2,7]
Generator sinkron terdiri dari dua bagian. Bagian yang diam berupa sebuah silinder
kosong dinamakan stator atau jangkar (armature) dan mempunyai slot yang di dalamnya
terdapat lilitan kumparan stator. Rotor adalah bagian dari mesin yang dipasang pada poros
dan berputar di dalam stator yang kosong. Lilitan rotor dinamakan lilitan medan dan
dicatu dengan arus dc. Gambar 2.1 menunjukkan penampang stator generator sinkron
dengan penempatan sumbu A, B, C yang terpisah sejauh 120
0
.

16


Gambar 2.1 Penampang Stator dan Penempatan Sumbu Referensi A,B, dan C

Tegangan terminal generator sinkron dapat dirumuskan sebagai berikut ;

(2.43)
dimana ;
V
t
= Tegangan terminal (V)
E
f
= Tegangan yang dibangkitkan tanpa beban (V)
I
a
= Arus jangkar (A)
X
ar
= Reaktansi jangkar (ohm)
X
l
= Reaktansi bocor dari lilitan (ohm)
Dari persamaan tersebut dapat kita buat rangkaian ekivalennya ;

Gambar 2.2 Rangkaian Ekivalen Generator Sinkron
Dalam studi kestabilan mesin sinkron, efek kutub menonjol dan perubahan fluksi
medan yang melingkupi dapat diperhitungkan dengan mempresentasikan arus dan

17

tegangan ac tiga fasa dari mesin sinkron yang bekerja pada sumbu d (direct) dan sumbu q
(quadratur). Sumbu d digambarkan terletak pada sepanjang sumbu utama kutub mesin
sedangkan sumbu q tertinggal 90
o
dari sumbu d yang digambarkan pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Penempatan Sumbu d-q pada Generator Sinkron Kutub Menonjol

Interpresentasi hubungan antara arus dan tegangan dari mesin sinkron kutub
menonjol dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4 Diagram Phasor Hubungan Arus dan Tegangan Mesin Sinkron
Fluksi medan (
f
) yang dihasilkan oleh arus medan terletak sepanjang sumbu d.
Tegangan induksi (E
f
) yang dihasilkan arus medan tersebut tertinggal 90
o
dari fluksi
medan, dan karenanya terletak sepanjang sumbu q. Jika terjadi reaksi jangkar maka fluksi
medan dan menghasilkan fluksi resultan (
r
) atau dikenal sebagai fluksi celah udara yang

18

akan menginduksikan tegangan belitan stator. Tegangan tersebut dapat dicari dengan cara
sebagai berikut ;
Arus I
a
ditransformasi ke V
a
sehingga didapatkan rumus sebagai berikut ;
(2.44)
Besar sudut antara sumbu q dengan V
a
adalah,
tan

(2.45)
Tegangan V
a
yang ditransformasi ke kordinat d-q menjadi

sin (2.46)

cos (2.47)
Sedangkan transformasi arus ke koordinat dq menjadi

sin (2.48)

cos (2.49)
Selanjutnya dari gambar diagram phasor tersebut dapat ditentukan tegangan mesin
dalam koordinat q yakni ;

(2.50)
Sedangkan komponen sumbu q dari tegangan yang tertinggal dari reaktansi peralihan
dirumuskan ;

(2.51)

2.5 Dinamika Rotor dan Persamaan Ayunan
[1,2,3,6,8]
Jika generator serempak dibebani, akan mengalir arus dari generator ke beban
selanjutnya arus ini akan menghasilkan fluksi di stator dan akan menimbulkan torsi

19

elektris T
e
yang melawan torsi mekanik T
m
. Saat kondisi steady state , torka elektrik sama
dengan dengan torka mekanik dan generator akan berputar dengan kecepatan tetap yaitu
kecepatan serempak. Tetapi keadaan ini tidak selalu mungkin karena beban akan berubah
setiap saat. Dalam keadaan seperti ini terjadi ketidakseimbangan torka yang akan
menimbulkan percepatan dan perlambatan. Persamaan generator sinkron pada kondisi ini;

(2.52)
dengan ;
J = Total momen inersia mesin sinkron (kg.m)
T
m
= Torsi mekanik turbin (Nm)
T
e
= Torsi elektrik rotor (Nm)
T
a
= Percepatan Torka (Nm)

= Sudut Mekanis Rotor (radian mekanis)


t = waktu (detik)
Persamaan (2.52) disebut persamaan ayunan mesin yang mengatur dinamika
(gerak) perputaran mesin sinkron dalam studi kestabilan. Dari persamaan tersebut dapat
diketahui bahwa perbedaan antara daya mekanik turbin dan daya elektrik generator
menyebabkan sudut rotor mengalami percepatan atau perlambatan.
Persamaan (2.52) dapat dinormalisasi dalam bentuk konstanta inersia per unit (H)
dimana persamaan H sendiri adalah ;

(2.53)
Momen inersia J dalam hubungan dengan H

20


(2.54)
Dengan memasukkan Persamaan (2.54) pada Persamaan (2.52) maka didapatkan ;

(2.55)
Dengan menyusun kembali persamaan dan mengingat T
base
=

maka
2

(2.56)
Dimana

adalah kecepatan sudut rotor dalam rad/s elektrik dan

adalah nilai rating


serta

jumlah kutub generator.


Jika adalah posisi sudut rotor dalam radian elektrik terhadap referensi rotasi sinkron dan

0
adalah nilai pada saat t = 0, maka;

(2.57)
Dengan penurunan terhadap waktu didapatkan ;

(2.58)
dan

(2.59)
Dengan memasukan Persamaan (2.59) ke Persamaan (2.56) serta menambahkan peredam
torka maka persamaan ayunan menjadi ;

(2.60)
Dan Persaman (2.58) menjadi ;

(2.61)

21

2.6 Model Dinamik Sistem Tenaga Listrik Multimesin
[2,3,4,6,8]
Pada sistem tenaga listrik multimesin, perubahan satu mesin akan mempengaruhi
mesin yang lain. Hal ini terjadi karena antara mesin yang satu dengan mesin yang lain
terhubung melalui suatu jaringan.
Dalam memodelkan sistem tenaga listrik multimesin, pertama kali persamaan arus,
daya dan tegangan pada terminal bus perlu diturunkan. Untuk mempelajari interaksi
dinamika suatu sistem tenaga listrik multimesin dapat dipelajari dari adanya interaksi
antara mesin-mesin sinkron dalam sistem tersebut. Sistem tenaga listrik untuk analisis
kestabilan dinamik terdiri dari persamaan rotor dan stator, sistem eksitasi dan sistem
governor.
Untuk penyederhanaan perhitungan mesin sinkron dimodelkan dengan tegangan
peralihan E
q
yang tertinggal dari reaktansi peralihan x
i
sehingga bentuk hubungan
terminal sebuah mesin sinkron dalam sebuah sistem multimesin dapat digambarkan seperti
Gambar 2.5.

Gambar 2.5 Representasi Mesin Sinkron Dalam Sistem Multimesin

22

Untuk mempertahankan tegangan peralihan generator E
q
sebagai tegangan pada
bus yang terhubung padanya, reaktansi peralihan x
i
dari generator yang bersangkutan
dapat dieliminasi ke dalam matrik admitansi jaringan. Sehingga tegangan peralihan
generator menjadi tegangan terminal bus tersebut. Dengan demikian bentuk hubungan
terminal generator sinkron yang baru seperti Gambar 2.6

Gambar 2.6 Representasi Mesin Sinkron yang Disederhanakan
Dengan menganggap hanya bus E
q
untuk studi aliran beban, arus yang mengalir
pada bus dihitung saat studi aliran daya dan diperoleh :
I = Y
n
V (2.60)
E
q
=V+[jx
d
]I (2.61)
dan
I = YE
q
(2.62)

(2.63)
Y mempunyai elemen diagonal Y
ii
dan elemen bukan diagonal Y
ij
dan I,V, E
q
adalah vektor.
Submatrik Y
ii
dan Y
ij
dirumuskan ;

23

(2.64)

(2.65)
Daya pada titik i dengan daya keluaran mesin-i diberikan oleh ;

(2.66)

Gambar 2.7 Koordinat d-q Masing-masing Mesin i dan Koordinat D-Q
Selanjutnya dengan konversi ke dalam sumbu D-Q untuk semua mesin maka arus mesin-i
dapat dituliskan ;


dengan

sin

cos

(2.68)


dalam bentuk linear menjadi

(2.67)

24


(2.69)



daya keluaran mesin i adalah

(2.70)
Karena besarnya daya litrik dalam per unit sama dengan besarnya torsi elektrik dalam per
unit, sehingga dalam bentuk linear ;

(2.71)
dengan

,

,

sin

,
2

cos

cos


Persamaan tegangan terminal dari mesin ke-i dalam sistem sumbu d-q dan dalam bentuk
linear adalah ;

(2.72)
Sedangkan komponen tegangan dalam komponen sumbu d dan komponen sumbu q
adalah;


(2.73)

25


Sehingga didapatkan persamaan sebagai berikut

(2.74)
dengan ;

,

,

cos

,
cos

sin

(2.75)

sin

tan


Dengan menurunkan persamaan untuk arus, daya dan tegangan terminal maka persamaan
keadaan yang berlaku untuk sistem multi mesin dapat diturunkan.
2.7 Persamaan Torsi Mesin i
[2,8]
Persamaan mesin ayunan mesin sinkron dalam bentuk linear ditulis sebagai berikut;

(2.76)

(2.77)
dimana ;

= perubahan torka mekanik mesin ke-i

= perubahan torka elektrik mesin ke-i

= perubahan kecepatan sudut mesin ke-i

= konstanta peredaman mesin ke-i



26

= kecepatan dasar mesin ke-i

= konstanta inersia mesin ke-i


Dengan mensubtitusikan persamaan (2.77) ke persamaan (2.71) maka didapatkan ;


(2.78)
Blok diagram persamaan mekanik mesin i dalam sistem multimesin dapat dilihat pada
Gambar 2.8
S M
i
1
s
o

qj E' qi E'

Gambar 2.8 Persamaan Mekanik Mesin i dalam Sistem Multimesin

2.8 Persamaan Tegangan Terminal Mesin i
[2,8]
Persamaan terminal mesin i dalam bentuk linear dituliskan :

(2.79)
dimana :
x
di
= reaktansi sumbu d mesin ke-i.
i
di
= perubahan arus sumbu d mesin ke-i.

27

= konstanta waktu transien mesin i.

= tegangan eksitasi mesin i.


Dengan subtitusi persamaan (2.69) ke persamaan (2.79) maka diperoleh ;

(2.80)
dimana ;

,
1

,

,

sin

cos


Dalam bentuk blok diagram dapat dilihat pada Gambar 2.9
'
1
doi
T

Gambar 2.9 Blok Diagram Persamaan Medan Mesin i dalam Sistem Multimesin

2.9 Persamaan Regulator Tegangan dan Sistem Eksitasi
[2]
Regulator tegangan berfungsi mengukur tegangan regulasi yang sebenarnya dan
menentukan deviasi antara tegangan terminal V
t
dengan tegangan referensi V
ref
. sinyal

28

deviasi diperkuat sehingga mengubah arus medan. Penguat medan menghasilkan
tegangan dc yang akan mengalirkan arus pada lilitan medan pada rotor sehingga tegangan
medan dapat dijaga nilainya. Regulator tegangan sederhana dan eksitasi solid state dapat
dilihat pada Gambar 2.10

Ei
U
Ai
Ai
sT
K
+ 1
Ei
sT + 1
1

Gambar 2.10 Regulator Tegangan dan Sistem Eksitasi
maka persamaannya ditulis ;

(2.81)
dimana ;
K
Ai
= konstanta penguatan amplifier
T
Ai
= waktu tanggap amplifier

= perubahan sinyal kontrol mesin ke-i .

= perubahan tegangan amplifier mesin ke-i.

= perubahan tegangan keluaran penyearah mesin ke-i.


Konstanta waktu eksitasi T
E
diabaikan karena reaksinya lebih lambat terhadap
perubahan-perubahan variabel keadaan dbandingkan dengan dengan konstata waktu T
A
dengan memasukkan persamaan (2.74) pada persamaan (2.81) didapatkan pengatur
tegangannya sebagai berikut ;

29


(2.82)
Blok diagram dari pengatur tegangan dapat digambarkan sebagai berikut ;

Ei
U
Ai
Ai
sT
K
+ 1

Gambar 2.11 Blok Diagram Regulator Tegangan

2.10 Persamaan Pengaturan Kecepatan Turbin
[8]
Model turbin dan sistem pengaturan (governor) yang digunakan mengacu pada
model IEEE. Persamaan pengaturan dapat dirumuskan sebagai berikut ;

(2.83)

(2.84)
dimana ;
Y
i
= perubahan ketinggian katup
T
t
= waktu tanggap turbin
T
sg
= waktu tanggap pengatur turbin

30

K
sg
= penguatan pengatur turbin air
R
i
= konstanta pengatur turbin air
U
t
= perubahan sinyal kontrol pada mesin ke-i
Maka blok diagramnya
sgi
sgi
sT
K
+ 1
ti
sT
Kti
+ 1
i
R
1

Gambar 2.12 Turbin dan Governor Standar IEEE
Dari blok-blok diagram yang terbentuk diatas, diagram blok mesin i dalam sistem tenaga
listrik multimesin secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar 2.13

31

S M
i
1
s
o

gi
gi
sT
K
+ 1
1
1
R
Ai
Ai
sT
K
+ 1
1
, 3
'
, 3
+
ii doi
ii
sK T
K
ti
ti
sT
K
+ 1

Gambar 2.13 Blok Diagram Lengkap Interaksi Dinamik Mesin i
dengan Adanya Pengaruh Mesin j




32

2.11 Pembentukan Persamaan Keadaan Sistem
[4,5,6,8]
Variabel keadaan sistem adalah ;

perubahan sudut rotor generator i

perubahan kecepatan sudut generator i

perubahan tegangan generator i

perubahan tegangan medan eksitasi generator i

perubahan torsi mekanik generator i

perubahan level katup turbin generator i


Input sistem adalah ;

masukan eksitasi generator i

masukan turbin generator i


Dengan indeks i adalah mesin ke-i, bentuk matrik keadaan (Matrik A) yang terdiri
dari submatrik A
ij
dan A
ii
dapat ditulis sebagai berikut ;
A
ii

0
0
0

-K
1,ii
M
i

-D
M
i
-K
2,ii
M
i

-K
4,ii
T
doi
0
-K
3,ii
T
doi
0 0 0
0
1
M
i
0
1
T
doi
0 0

K
A,ii
K
5,ii
T
Ai
0
-K
A,ii
K
6,ii
T
Ai
0 0 0
0
-K
4,ii
T
doi
0
1
T
Ai
0 0
0
1
T
ti

1
T
ti
0 0
1
T
sgi

(2.85)


33

A
ij

0 0 0

K
1,ij
M
i
0
K
2,ij
M
i

K
4,ij
T
doi
0
-K
3ij
T
doi

0
0
0

0
0
0

0
0
0

K
A,ii
K
5,ij
T
Ai
0
-K
A,ii
K
6,ij
T
Ai
0 0 0
0 0 0
0 0 0
0

0

0
0 0 0

(2.86)
Matrik B adalah

0
0
0
0
0
0
K
Ai
T
Ai
0
0
0
0

(2.87)

Matrik C dapat dipilih sesuai dengan keluaran yang diinginkan sedang matrik D bernilai
nol.











34

BAB III
SISTEM KENDALI OPTIMAL
LINEAR QUADRATIC REGULATOR (LQR)

3.1 Pendahuluan
Umpan balik adalah ciri-ciri dari sistem pengendalian loop tertutup yang
membedakannya dari sistem loop terbuka. Umpan balik pada sistem loop tertutup berarti
membandingkan keluaran sistem dengan masukan sistem sedemikian rupa sehingga dapat
dilakukannya tindakan pengendalian yang tepat. Sifat-sifat umpan balik berkaitan dengan
kestabilan, sensitivitas dan peredaman gangguan. Sifat-sifat tersebut hanya dapat diubah-
ubah untuk mendapatkan spesifikasi kinerja yang diinginkan dengan menggunakan umpan
balik. Untuk sistem satu masukan dan satu keluaran perancangan untuk memperoleh
sistem yang memiliki sifat-sifat umpan balik yang baik telah lama ditemukan diantaranya
dengan cara menyelidiki diagram Nyquist atau Nichols. Cara-cara ini merupakan teori
kontrol klasik yang juga apat diterapkan untuk banyak masukan dan banyak keluaran
namun dengan analisa loop per loop. Oleh karena itu semenjak tahun 1960 teori kontrol
modern dikembangkan oleh para ahli dengan menerapkan beberapa metode yang dapat
digunakan untuk merancang sistem kendali multivariabel, sehingga melalui metode
tersebut diharapkan didapat sistem kendali yang memiliki sifat kendali yang baik.

3.2 Desain Kendali Optimal Berdasarkan Indeks Performansi Kuadratik
[5,10]

Kendali optimal merupakan cabang dari kontrol modern yang menarik perhatian
besar selama dasawarsa terakhir sebagai akibat meningkatnya kebutuhan sistem dengan
performansi tinggi disamping tersedianya fasilitas komputer digital .

35

Penyelesaikan persoalan sistem kendali optimal bertujuan mencari suatu aturan
untuk menentukan pengambilan keputusan sistem kendali dengan beberapa masalah
tertentu sehingga dapat meminimumkan ukuran simpangan dari perilaku idealnya, ukuran
ini biasanya ditetapkan berdasarkan kriteria optimasi atau indeks performansi. Indeks
performansi merupakan suatu fungsi yang harganya menunjukkan seberapa baik
performansi sistem yang sebenarnya mendekati performansi yang diinginkan.
Perancangan kendali optimal untuk sistem linear dengan indeks performansi
kuadratik disebut sebagai Linear Quadratic Regulator (LQR). Sasaran dari perancangan
pengendalian adalah menentukan hukum kendali optimal u(x,t) yang dapat memindahkan
sistem dari keadaan awal ke keadaan akhir sedemikian rupa sehingga dapat memberikan
indeks kerja minimum.
Persamaan sistem yang akan ditinjau dapat dinyatakan sebagai berikut ;
x Axt (3.1)
dengan ;
x(t) = vektor keadaan ( vektor nyata n-dimensi)
u(t) = vektor kendali (vektor nyata r- dimensi)
A = matrik konstan n x n
B = matrik konstan n x r
Gambar 3.1 adalah sistem kontrol optimal dengan K adalah elemen-elemen matrik yang
harus ditentukan sedemikian rupa sehingga akan meminimumkan indeks performansi


36

Bu Ax x + =


Gambar 3.1 Sistem Kontrol Optimal
Dari gambar hukum kontrol optimal adalah
u(t)=-Kx(t) (3.2)
dimana K adalah matrik r x n atau

(3.3)
Dengan mensubtitusikan persamaan (3.2) ke (3.1) diperoleh
x Axt (3.4)
x A- (3.5)
Matrik (A-BK) dianggap stabil atau nilai eigen (A-BK) mempunyai bagian nyata negatif.
Dalam melakukan desain kendali optimal berdasarkan indeks performansi kuadratik
adalah bagaimana menentukan elemen matrik K.
Dengan meminimumkan indeks performansi,

(3.6)
dengan ;
Q = matrik bobot n x n simetris, semi definit positif
R = matrik bobot n x n simetris, definit positif

37

Matrik Q dan R adalah matrik pembobot, dimana matrik Q menentukan presisi dari
kontroller, dan matrik R menyatakan biaya ekonomi dari kontroller. Pemilihan elemen Q
dan R memenuhi pembobotan pada masing-masing variabel keadaan dan masing-masing
kendali masukan.
Penyelesaian dari persamaan (3.5) dilakukan dengan menggunakan pengali
Lagrange yang merupakan konstanta positif yang menunjukkan bobot biaya kontrol
terhadap kesalahan yang diminimumkan,maka
, , ,

(3.6)
Harga optimal (ditunjukkan dengan tanda *) diperoleh dengan menyamakan
turunan parsial sama dengan nol,

(3.7)

(3.8)

(3.9)
dengan
2

(3.10)
Asumsi beban p(t) adalah matrik simetrik nyata definit positif, sehingga dengan
memasukkan persamaan (3.2) ke dalam persamaan (3.8) memberikan hukum kendali
optimal loop tertutup.

(3.11)
Dengan menurunkan persamaan (3.10) akan diperoleh

(3.12)
Dengan menyamakan persamaan (3.12) dan (3.9) didapatkan

38

(3.13)
Persamaan (3.13) disebut sebagai persamaan matrik Riccati, matrik p akan mencapai
keadaan mantap dengan harga p(t) menuju satu titik sehingga pada kondisi tersebut p(t)
sama dengan nol dan persamaan (3.13) menjadi,

0 (3.14)
Dari persamaan (3.14) matrik p menuju harga konstan, oleh karenanya penyelesaian dari
matrik p pada persamaan diatas adalah konstan, maka harga K pada persamaan (3.5)
adalah ;

(3.15)
Persamaan keadaan sistem pada persamaan (3.5), ditinjau dalam transformasi
Laplace yaitu;
(3.16)
0 (3.17)
0 (3.18)

0 (3.19)
Nilai s pada persamaan diatas disebut sebagai nilai eigen dari matrik A-BK. Nilai eigen
tersebut berupa bilangan real atau komplek.
Suatu sistem dikatakan stabil ditentukan oleh nilai eigen atau disebut juga akar-akar
persamaan karakteristik sistem, yaitu ;
1. Jika semua nilai eigen sistem mempunyai bagian nyata negatif, terletak di sebelah
kiri sumbu imajiner bidang s, maka sistem dikatakan stabil.

39

2. Jika salah satu nilai eigen mempunyai bagian nyata positif, berarti terjadi
pertambahan secara eksponensial terhadap waktu dan pada akhirnya akan
mempengaruhi perilaku sistem, sehingga sistem dikatakan tidak stabil.
3. Jika salah satu nilai eigen mempunyai bagian nyata nol, maka sistem mempunyai
respon osilasi tidak teredam.

3.3 Metode Bryson
[8]
Metode ini dikembangkan oleh Bryson sebagai perbaikan dari metode trial-error.
Pada metode ini diasumsikan bahwa matriks pembobot

dan

adalah
matriks diagonal.
= diag{q
1
, , q
n
}, R = diag {r
1
,..,r
m
}.
q
1
, , q
n
: komponen diagonal matriks .
r
1
, ..,r
m
: komponen diagonal matriks R.
Algoritma metode Bryson adalah sebagai berikut :
i. Menentukan metode Bryson adalah sebagai berikut :
x
i
(maks), i=1,,n
u
i
(maks), j=1,,m
ii. Menentukan komponen matrik pembobot.

(3.20)

(3.20)



40

BAB IV
SIMULASI DAN ANALISA KENDALI (CONTROLLER)

4.1 Pendahuluan
Dalam menerapkan dan merancang sistem kendali optimal dengan metode LQR
pada sistem tenaga listrik multi mesin diperlukan perhitungan yang cukup rumit, untuk itu
dipergunakan program Matlab 7.01. Pada simulasi ini dirancang sistem kendali optimal
dengan metode LQR untuk pengendalian perubahan frekuensi, sehingga dari hasil
simulasi tersebut dapat diketahui respon frekuensi sebelum dan sesudah diberikan
pengendali.

4.2 Data Jaringan dan Generator
Diagram satu garis jaringan sistem tenaga listrik Sumbar-Riau yang akan dianalisis
dapat dilihat pada Lampiran A.1. Sistem ini terdiri dari 7 mesin 21 bus, dimana
penomoran bus dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Data Penomoran Sistem Tenaga Listrik Sumbar-Riau
NO. NAMA BUS TIPE BUS
1. PLTU Ombilin Slack
2. PLTG Pauh Limo PV
3. PLTA Maninjau PV
4. PLTA Batang Agam PV
5. PLTA Singkarak PV
6. PLTA Koto Panjang PV
7. PLTD Teluk Lembu PV
8. Dumai PQ
9. Duri PQ
10. Garuda Sakti PQ

41

11. Bangkinang PQ
12. Payakumbuh PQ
13. Padang Luar PQ
14. Lubuk Alung PQ
15. PIP PQ
16. Batusangkar PQ
17. Indarung PQ
18. Solok PQ
19. Salak PQ
20. Simpang Haru PQ
21. Bagan Batu PQ

Data-data yang diperlukan dalam melakukan studi kestabilan dinamik ini adalah
data bus pada Tabel 4.2 yang akan digunakan dalam perhitungan aliran daya untuk
mendapatkan kondisi awal sistem. Hasil perhitungan aliran daya dapat dilihat pada
Lampiran B.1 s/d Lampiran B.15. Dengan perhitungan aliran daya yang menggunakan
metode Newton-Rhapson, maka besar tegangan dan sudut phasa tiap bus, daya nyata dan
daya reaktif generator bisa ditentukan. Hasil ini digunakan untuk mencari nilai parameter
mesin.
Tabel 4.2 Data Pembangkitan dan Beban Sistem Tenaga Listrik Sumbar-Riau
No.
Pembangkitan Beban
Tegangan
(pu)
Jenis P
(MW)
Q
(MVAR)
P
(MW)
Q
(MVAR)
1 - - - -
1,050
0
0
Slack
2 31,700 - 34,100 5,800
1,030
0
0
PV
3 64,600 - 23,300 19,00
1,030
0
0
PV
4 7,000 - 5,850 0,000
1,030
0
0
PV
5 171,900 - 9,000 0,000
1,030
0
0
PV
6 114,8700 - 23,500 7,000
1,030
0
0
PV
7 49,2000 - 69,9000 25,800
1,030
0
0
PV
8 0,0000 0,0000 23,000 11,400
1,000
0
0
PQ
9 0,0000 0,0000 20,200 4,000
1,000
0
0
PQ

42

10 0,0000 0,0000 35,0000 17.500
1,000
0
0
PQ
11 0,0000 0,0000 13,200 4,200
1,000
0
0
PQ
12 0,0000 0,0000 14,500 5,000
1,000
0
0
PQ
13 0,0000 0,0000 30,000 12,000
1,000
0
0
PQ
14 0,0000 0,0000 18,700 0,000
1,000
0
0
PQ
15 0,0000 0,0000 16,3900 7,900
1,000
0
0
PQ
16 0,0000 0,0000 7,800 0,000
1,000
0
0
PQ
17 0,0000 0,0000 15.500 9,000
1,000
0
0
PQ
18 0,0000 0,0000 17,200 5,800
1,000
0
0
PQ
19 0,0000 0,0000 10,300 3,100
1,000
0
0
PQ
20 0,0000 0,0000 57,100 28,900
1,000
0
0
PQ
21 0,0000 0,0000 8,7000 1,000
1,000
0
0
PQ

Tabel 4.3 Data Saluran Sistem Tenaga Listrik Sumbar-Riau
Line Z (pu)
Y/2 (pu)
Dari Bus Ke Bus R X
1 17 0,104 0,323 0,0175
1 19 0,007 0,010 0,0009
2 20 0,019 0,050 0,0024
2 14 0,093 0,269 0,0105
2 15 0,063 0,181 0,0027
3 13 0,117 0,335 0,0143
6 11 0,088 0,296 0,0054
6 10 0,059 0,205 0,0229
9 8 0,052 0,501 0,0077
10 7 0,292 0,853 0,0046
10 9 0,083 0,277 0,0153
11 10 0,025 0,084 0,1865
12 4 0,033 0,130 0,00007
12 16 0,029 0,602 0,0225
13 12 0,089 0,256 0,0109
14 5 0,030 0,097 0,0033
14 3 0,155 0,422 0,0155
15 14 0,033 0,096 0,0000
17 2 0,018 0,053 0,0026
18 17 0,064 0,019 0,0093
19 18 0,077 0,221 0,0085

43

21 9 0,158 0,142 0,0470
Data saluran sistem 21 bus dan 7 mesin yang terdapat pada Tabel 4.3, direduksi
menjadi matrik admintansi 7 x 7 dengan menggunakan teknik reduksi kron, hasil reduksi
matrik admitansi ini dapat dilihat pada Lampiran C.
Tabel 4.4 Data Generator
Nama
Pembangkit
Ra
(pu)
Xd
(pu)
Xd
(pu)
Xq
(pu)
Xq
(pu)
H
(pu)
Ombilin 0 1,495 0,208 1,405 0,422 3,266
Pauh Limo 0 1,400 0,256 0,800 0,453 7,39
Maninjau 0 1,000 0,344 0,621 0,453 3,406
Batang Agam 0 1,145 0,215 0,700 0,453 5,009
Singkarak 0 0,997 0,301 0,663 0,453 4,569
Teluk Lembu 0 1,867 0,256 1,760 0,453 7,390

Data mesin pada Tabel 4.4 digunakan untuk menghitung parameter mesin yang
akan dimasukkan dalam matrik keadaan sistem.

4.3 Perhitungan Parameter Multimesin
Pada jaringan multimesin terdapat parameter yang sudah tetap atau terbawa dari
sifat mesinnya dan ada parameter yang muncul dari kondisi sistem. Proses perhitungan
parameter jaringan diperlihatkan pada Gambar 4.1 dan hasil perhitungan dapat dilihat
pada Lampiran D.1 s/d Lampiran D.15.






44





E
q
,Y
ij
,,,x
d
,x
d
,B
ii
,G
ii

,

,

,
2

,

,

,

,

cos

,
cos

sin

sin



K
1
,K
2
,K
3
,K
4
,K
5
,K
6

Gambar 4.1 Proses Perhitungan Parameter Mesin





45


4.4 Diagram Alir Simulasi


46

Gambar 4.2 Diagram Alir Simulasi
4.5 Pembobotan
Pada tiap-tiap variabel keadaan akan diberikan faktor-faktor tertentu sebagai
pembobot untuk memperkecil simpangan dari nilai awalnya. Faktor bobot yakni matrik Q
dan R diterapkan pada semua variabel keadaan tanpa membedakan yang satu dengan yang
lain. Penentuan dimensi matrik Q berdasarkan pada jumlah keadaan yang terdapat pada
matrik A dalam persamaan keadaan. Dengan demikian matrik Q mempunyai dimensi 42 x
42 sesuai dengan state yang terdapat pada matrik A dalam persamaan keadaan dan
merupakan matrik semidefinit positif. Penentuan dimensi matrik R didasarkan pada
jumlah input yang terdapat pada matrik B dalam persamaan keadaan, dengan demikian
matrik R mempunyai dimensi 42 x 14 sesuai dengan jumlah state yang terdapat pada
matrik B yang merupakan matrik definit positif. Penentuan nilai dilakukan dengan metode
Bryson supaya dapat memenuhi kriteria yang ditentukan.
Pembobotan Q dan R ditentukan setelah melihat kestabilan sistem sebelum
pemasangan pengendali atau sistem dalam keadaan loop terbuka. Jika sistem belum stabil
dan belum sesuai dengan kriteria yang diinginkan, maka dilakukan perancangan
pengendali dengan memilih matrik bobot Q dan R. Hasil pemilihan nilai bobot Q dan R
untuk uji kestabilan sistem dapat dilihat pada Lampiran F.1 dan Lampiran F.2. selanjutnya
didapat matrik umpan balik optimal k atau disebut sebagai harga pengendali yang dapat
dilihat pada Lampiran G.1 s/d Lampiran G.15, dengan didapatkannya nilai k yang optimal
maka kestabilan sistem yang sesuai dengan kriteria yang ditentukan, dan respon waktu
sistem loop tertutup dengan umpan balik optimal dapat dilihat dari akar-akar persamaan
karakteristik atau nilai eigen dengan determinan (sI-(A-BK))=0.

47


Adapun kriteria yang ingin dicapai dari simulasi ini yakni;
1. Lewatan maksimum (overshoot) < 5 %.
Lewatan maksimum adalah nilai puncak kurva respon unit satuan yang diukur dari
keadaan mantap.
2. Waktu keadaan mantap (steady state) < 4 detik
Waktu keadaan mantap ditunjukkan oleh kurva respon yang tidak lagi berosilasi.

4.6 Hasil dan Analisa

Kondisi awal dari sistem tenaga listrik multimesin dinyatakan dalam bentuk
persamaan keadaan sebagaimana telah dijelaskan pada bab 3 yaitu ;

(4.1)


Dengan elemen-elemen matrik A,B,C,D dapat dilihat pada Lampiran E.1 s/d E.4.
Selanjutnya akan diperlihatkan respon sistem sebelum penambahan pengendali,
kemudian nilai umpan balik k akan dicari. Nilai k untuk beban dasar dapat dilihat pada
Lampiran G.1.





48


4.7 Respon Waktu Sebelum Menggunakan Pengendali

(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 1 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 1
Gambar 4.3 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 1


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 2 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 2
Gambar 4.4 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 2
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-50
0
50
100
150
200
250
300
Tanggapan Perubahan Frekuensi Generator Terhadap Masukan Eksitasi Pada Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-0.2
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
Tanggapan Perubahan Frekuensi Generator Terhadap Masukan Turbin Pada Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-0.06
-0.05
-0.04
-0.03
-0.02
-0.01
0
0.01
Tanggapan Perubahan Frekuensi Generator Terhadap Masukan Eksitasi Pada Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
w
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Tanggapan Perubahan Frekuensi Generator Terhadap Masukan Turbin Pada Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

49


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 3 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 3
Gambar 4.5 Respon Waktu MesinTerhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 3


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 4 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 4
Gambar 4.6 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 4

0 0.5 1 1.5 2 2.5
-14
-12
-10
-8
-6
-4
-2
0
2
4
x 10
-3
Tanggapan Perubahan Frekuensi Generator Terhadap Masukan Eksitasi Pada Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
7
Tanggapan Perubahan Frekuensi Generator Terhadap Masukan Turbin Pada Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-10
-8
-6
-4
-2
0
2
x 10
-3
Tanggapan Perubahan Frekuensi Generator Terhadap Masukan Eksitasi Pada Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
Tanggapan Perubahan Frekuensi Generator Terhadap Masukan Turbin Pada Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

50


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 5 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 5
Gambar 4.7 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 5


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 6 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 6
Gambar 4.8 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 6
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-600
-500
-400
-300
-200
-100
0
100
200
Tanggapan Perubahan Frekuensi Generator Terhadap Masukan Eksitasi Pada Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-2
0
2
4
6
8
10
12
14
Tanggapan Perubahan Frekuensi Generator Terhadap Masukan Turbin Pada Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-30
-20
-10
0
10
20
30
Tanggapan Perubahan Frekuensi Generator Terhadap Masukan Eksitasi Pada Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
Tanggapan Perubahan Frekuensi Generator Terhadap Masukan Turbin Pada Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar
Gambar 4.3 s/d 4.9 menunjukkan bahwa sebelum menggunakan pengendali,
frekuensi pada masing-masing mesin terus berosilasi atau nilainya tidak konstan dengan
kata lain kestabilannya tidak tercapai. Sedangkan nilai eigen tiap
pada Tabel 4.5 dan letak nilai eigen tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.10.
0 0.5 1 1.5
-140
-120
-100
-80
-60
-40
-20
0
20
Tanggapan Perubahan Frekuensi Generator Terhadap Masukan Eksitasi Pada Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar 4.9 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 7
4.3 s/d 4.9 menunjukkan bahwa sebelum menggunakan pengendali,
masing mesin terus berosilasi atau nilainya tidak konstan dengan
kata lain kestabilannya tidak tercapai. Sedangkan nilai eigen tiap-tiap mesin dapat dilihat
dan letak nilai eigen tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.10.
Gambar 4.10 Letak Nilai Eigen Sistem
1.5 2 2.5
Tanggapan Perubahan Frekuensi Generator Terhadap Masukan Eksitasi Pada Mesin 7
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5
-1
0
1
2
3
4
5
Tanggapan Perubahan Frekuensi Generator Terhadap Masukan Turbin Pada Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
51

Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
4.3 s/d 4.9 menunjukkan bahwa sebelum menggunakan pengendali,
masing mesin terus berosilasi atau nilainya tidak konstan dengan
tiap mesin dapat dilihat
dan letak nilai eigen tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.10.

1.5 2 2.5
Tanggapan Perubahan Frekuensi Generator Terhadap Masukan Turbin Pada Mesin 7

52

Tabel 4.5. Nilai Eigen Sebelum Pemasangan Pengendali
Nomor
Nilai Eigen
Mesin
Real Imajiner
1
8.50e-001 + 3.67e-001i
8.50e-001 - 3.67e-001i
1.47e-001
3.66e-002
1.55e-002 + 1.59e+000i
1.55e-002 - 1.59e+000i
2
-2.89e-002 + 3.31e+000i
-2.89e-002 - 3.31e+000i
-3.82e-002
-4.55e-002
-5.21e-002 + 4.11e+000i
-5.21e-002 - 4.11e+000i



3
-5.59e-002
-7.84e-002 + 2.23e+000i
-7.84e-002 - 2.23e+000i
-1.02e-001 + 2.84e+000i
-1.02e-001 - 2.84e+000i
-1.39e-001 + 1.93e-001i
4
-1.39e-001 - 1.93e-001i
-1.87e+000 + 5.45e+000i
-1.87e+000 - 5.45e+000i
-2.25e+000
-2.39e+000 + 9.77e+000i
-2.39e+000 - 9.77e+000i
5
-2.50e+000 + 1.20e+001i
-2.50e+000 - 1.20e+001i
-6.66e+000
-6.66e+000
-6.66e+000
-6.66e+000
6
-6.66e+000
-6.66e+000
-6.67e+000
-9.90e+000 + 1.31e+001i
-9.90e+000 - 1.31e+001i
-1.00e+001

53


7
-1.00e+001
-1.00e+001
-1.00e+001
-1.00e+001
-1.00e+001
-1.00e+001

Sistem dapat dikatakan kurang baik kinerjanya karena nilai eigen masih ada yang
bernilai positif, pada Tabel 4.5 nilai ini terdapat pada mesin 1 dan terletak pada sebelah
kanan sumbu khayal bidang s pada Gambar 4.10. Gambar 4.10 juga menunjukkan bahwa
akar-akar karakteristik sistem terletak berdekatan dengan sumbu khayal s dapat
diasumsikan sistem sebelum ditambahkan pengendalian sistem belum memenuhi kriteria
pengendalian yang diinginkan.

4.8 Menggunakan Pengendali
Hasil yang didapatkan sebelum menggunakan pengendali menunjukkan bahwa
keadaan sistem belum memenuhi kriteria kestabilan yang diinginkan. Oleh karena itu,
pada sistem akan dirancang nilai penguatan yang diumpanbalikkan pada masing-masing
variabel keadaan sistem. Hasil rancangan tersebut berupa nilai matrik Q dan R yang
mempengaruhi nilai penguatan umpan balik sehingga tercapai kriteria sistem yang
diinginkan. Matrik pembobot Q dan R yang dipakai dapat dilihat pada Lampiran F.1 dan
Lampiran F.2.




54

4.8.1 Beban Dasar
Gambar 4.11 s/d 4.17 memperlihatkan respon waktu perubahan frekuensi pada
tiap-tiap mesin setelah menggunakan umpan balik optimal. Lewatan maksimum kecil dari
5 % dan keadaan mantap tercapai dalam batas waktu kurang dari 4 detik. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa dengan menggunakan umpan balik optimal sistem
mempunyai kinerja yang lebih baik dari sebelumnya dan memenuhi kriteria kestabilan
yang diinginkan.



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 1 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 1

Gambar 4.11 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 1

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

55


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 2 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 2
Gambar 4.12 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 2


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 3 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 3
Gambar 4.13 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 3


0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

56



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 4 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 4
Gambar 4.14 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 4



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 5 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 5
Gambar 4.15 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 5

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
-1
0
1
2
3
4
5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

57


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 6 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 6
Gambar 4.16 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 6


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar 4.17 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 7

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
-3
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)


Gambar 4.18 Letak Nilai Eigen untuk Beban Dasar Sistem
Sistem dikategorikan stabil dengan dibuktikannya
mesin pada Tabel 4.6 yang tidak lagi memiliki nilai positif pada mesin 1. Sedangkan letak
nilai eigen mesin pada Gambar 4.18 berada pada sisi kiri dari sumbu s.
Tabel 4.6
Gambar 4.18 Letak Nilai Eigen untuk Beban Dasar Sistem
Sistem dikategorikan stabil dengan dibuktikannya nilai eigen masing
mesin pada Tabel 4.6 yang tidak lagi memiliki nilai positif pada mesin 1. Sedangkan letak
nilai eigen mesin pada Gambar 4.18 berada pada sisi kiri dari sumbu s.
6. Nilai Eigen Setelah Pemasangan Pengendali
Nomor
Nilai Eigen
Mesin
Real Imajiner
1
-1.97e+000 + 4.17e+000i
-1.97e+000 - 4.17e+000i
-2.20e+000 + 5.02e+000i
-2.20e+000 - 5.02e+000i
-2.41e+000 + 4.34e+000i
-2.41e+000 - 4.34e+000i
2
-2.51e+000 + 4.56e+000i
-2.51e+000 - 4.56e+000i
-2.74e+000 + 4.10e+000i
-2.74e+000 - 4.10e+000i
-2.89e+000 + 4.34e+000i
-2.89e+000 - 4.34e+000i
3
-3.20e+000 + 6.27e+000i
-3.20e+000 - 6.27e+000i
58

Gambar 4.18 Letak Nilai Eigen untuk Beban Dasar Sistem
nilai eigen masing-masing
mesin pada Tabel 4.6 yang tidak lagi memiliki nilai positif pada mesin 1. Sedangkan letak
nilai eigen mesin pada Gambar 4.18 berada pada sisi kiri dari sumbu s.
Nilai Eigen Setelah Pemasangan Pengendali

59

-4.42e+000
-6.93e+000 + 1.98e+000i
-6.93e+000 - 1.98e+000i
-7.50e+000 + 2.01e+000i
4
-7.50e+000 - 2.01e+000i
-7.92e+000 + 1.98e+000i
-7.92e+000 - 1.98e+000i
-8.03e+000 + 2.00e+000i
-8.03e+000 - 2.00e+000i
-8.73e+000 + 1.75e+000i
5
-8.73e+000 - 1.75e+000i
-8.93e+000
-9.51e+000 + 2.18e+000i
-9.51e+000 - 2.18e+000i
-1.04e+001 + 8.94e+000i
-1.04e+001 - 8.94e+000i


6
-1.26e+001 + 1.09e+001i
-1.26e+001 - 1.09e+001i
-1.64e+001 + 1.86e+001i
-1.64e+001 - 1.86e+001i
-2.71e+001 + 3.99e+001i
-2.71e+001 - 3.99e+001i


7
-4.86e+001 + 5.50e+001i
-4.86e+001 - 5.50e+001i
-8.04e+001 + 9.75e+001i
-8.04e+001 - 9.75e+001i
-1.19e+002
-3.80e+002

Hasil rancangan pengendali pada beban dasar kemudian digunakan pada beban
yang divariasikan dari kondisi beban dasarnya. Perubahan beban akan menyebabkan
tegangan dan daya pada tiap bus berubah, demikian juga dengan matrik keadaan sistem.
Variasi beban dilakukan supaya dapat memenuhi batas kinerja sesuai dengan kriteria yang
telah ditentukan.


60

4.8.2 Beban 1.1 Kali Beban Dasar
Perubahan frekuensi yang dihasilkan dengan umpan balik optimal pada kondisi
beban 1.1 didapatkan respon waktu menuju keadaan mantap kecil dari 4 detik dan lewatan
maksimum kecil dari 5 %. Respon waktu perubahan frekuensi untuk keseluruhan mesin
dapat dilihat pada Gambar 4.19 s/d 4.25.


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 1 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 1
Gambar 4.19 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 1

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
mesin 1
mesin 2
mesin 3
mesin 4
mesin 5
mesin 6
mesin 7
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

61



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 2 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 2
Gambar 4.20 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 2


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 3 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 3
Gambar 4.21 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 3

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

62


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 4 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 4
Gambar 4.22 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 5 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 5
Gambar 4.23 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 5

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1
0
1
2
3
4
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

63


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 6 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 6
Gambar 4.24 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 6


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar 4.25 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 7

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-3
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)


Nilai eigen pada Tabel 4.7 menunjukkan perubahan frekuensi bergeser ke kiri
daripada beban dasar, artinya pada pembebanan 1.1 beban dasar sistem bekerja dengan
stabil. Sedangkan untuk kedudukan akarnya dapat dili
Gambar 4.26 Letak Nilai Eigen untuk 1.1 Kali Beban Dasar
Tabel 4.7. Nilai Eigen
Nilai eigen pada Tabel 4.7 menunjukkan perubahan frekuensi bergeser ke kiri
daripada beban dasar, artinya pada pembebanan 1.1 beban dasar sistem bekerja dengan
stabil. Sedangkan untuk kedudukan akarnya dapat dilihat pada Gambar 4.26.
Gambar 4.26 Letak Nilai Eigen untuk 1.1 Kali Beban Dasar
Nilai Eigen Untuk Beban 1.1 Kali Beban D

Nomor
Nilai Eigen
Mesin
Real Imajiner
1
-2.15e+000 + 4.10e+000i
-2.15e+000 - 4.10e+000i
-2.30e+000 + 5.01e+000i
-2.30e+000 - 5.01e+000i
-2.41e+000 + 4.32e+000i
-2.41e+000 - 4.32e+000i
2
-2.56e+000 + 4.55e+000i
-2.56e+000 - 4.55e+000i
-2.72e+000 + 4.14e+000i
-2.72e+000 - 4.14e+000i
-2.91e+000 + 4.33e+000i
-2.91e+000 - 4.33e+000i
3
-3.21e+000 + 6.27e+000i
64
Nilai eigen pada Tabel 4.7 menunjukkan perubahan frekuensi bergeser ke kiri
daripada beban dasar, artinya pada pembebanan 1.1 beban dasar sistem bekerja dengan
hat pada Gambar 4.26.

Gambar 4.26 Letak Nilai Eigen untuk 1.1 Kali Beban Dasar
Beban 1.1 Kali Beban Dasar

65

-3.21e+000 - 6.27e+000i
-4.29e+000
-6.93e+000 + 1.98e+000i
-6.93e+000 - 1.98e+000i
-7.50e+000 + 2.01e+000i
4
-7.50e+000 - 2.01e+000i
-7.93e+000 + 1.98e+000i
-7.93e+000 - 1.98e+000i
-8.04e+000 + 2.00e+000i
-8.04e+000 - 2.00e+000i
-8.73e+000 + 1.75e+000i
5
-8.73e+000 - 1.75e+000i
-8.80e+000
-9.51e+000 + 2.18e+000i
-9.51e+000 - 2.18e+000i
-1.04e+001 + 8.97e+000i
-1.04e+001 - 8.97e+000i
6
-1.26e+001 + 1.09e+001i
-1.26e+001 - 1.09e+001i
-1.64e+001 + 1.86e+001i
-1.64e+001 - 1.86e+001i
-2.72e+001 + 3.98e+001i
-2.72e+001 - 3.98e+001i



7
-4.90e+001 + 5.44e+001i
-4.90e+001 - 5.44e+001i
-8.04e+001 + 9.75e+001i
-8.04e+001 - 9.75e+001i
-1.19e+002
-3.81e+002

4.8.3 Beban 1.15 Kali Beban Dasar
Respon waktu dari frekuensi yang dihasilkan dengan kondisi beban 1.15 kali
beban dasar dengan menggunakan umpan balik optimal didapatkan lama sistem menuju
keadaan mantap kecil dari 4 detik sedangkan lewatan maksimalnya kecil dari 5 % dengan

66

demikian sistem dikatakan masih dalam keadaan stabil berdasar kriteria yang ditetapkan
sebelumnya. Respon waktu untuk ketujuh mesin dapat dilihat pada Gambar 4.27 s/d 4.32.


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 1 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 1
Gambar 4.27 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 1


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 2 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 2
Gambar 4.28 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 2
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
mesin 1
mesin 2
mesin 3
mesin 4
mesin 5
mesin 6
mesin 7
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

67


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 3 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 3
Gambar 4.29 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 3




(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 4 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 4
Gambar 4.30 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 4


0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1
0
1
2
3
4
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

68


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 5 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 5
Gambar 4.31 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 5


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 6 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 6
Gambar 4.32 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 6

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar


Gambar 4.34 Letak Nilai Eigen kondisi beban 1.2 beban dasar
Letak nilai eigen dapa
sebelah kiri sumbu s sehingga dapat dikatakan sistem dalam keadaan stabil.
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-3
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar 4.33 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 7
Gambar 4.34 Letak Nilai Eigen kondisi beban 1.2 beban dasar
Letak nilai eigen dapat dilihat pada Gambar 4.34. Letak nilai masih berada di
sebelah kiri sumbu s sehingga dapat dikatakan sistem dalam keadaan stabil.
2.5 3 3.5 4 4.5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
69

(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7

Gambar 4.34 Letak Nilai Eigen kondisi beban 1.2 beban dasar
t dilihat pada Gambar 4.34. Letak nilai masih berada di
sebelah kiri sumbu s sehingga dapat dikatakan sistem dalam keadaan stabil.
2.5 3 3.5 4 4.5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7
Waktu (Detik)

70

Nilai eigen yang ditampilkan pada Tabel 4.8 menunjukkan pergeseran nilai
menjauhi sumbu s dengan bertambah besarnya nilai eigen pada mesin 1 dengan tidak
adanya nilai eigen bertanda positif maka sistem masih bekerja stabil.

Tabel 4.8. Nilai Eigen untuk Beban 1.15 Kali Beban Dasar
Nomor
Nilai Eigen
Mesin
Real Imajiner
1
-2.25e+000 + 4.05e+000i
-2.25e+000 - 4.05e+000i
-2.34e+000 + 4.99e+000i
-2.34e+000 - 4.99e+000i
-2.40e+000 + 4.32e+000i
-2.40e+000 - 4.32e+000i
2
-2.57e+000 + 4.54e+000i
-2.57e+000 - 4.54e+000i
-2.71e+000 + 4.16e+000i
-2.71e+000 - 4.16e+000i
-2.92e+000 + 4.32e+000i
-2.92e+000 - 4.32e+000i
3
-3.21e+000 + 6.26e+000i
-3.21e+000 - 6.26e+000i
-4.15e+000
-6.93e+000 + 1.97e+000i
-6.93e+000 - 1.97e+000i
-7.50e+000 + 2.01e+000i
4
-7.50e+000 - 2.01e+000i
-7.93e+000 + 1.98e+000i
-7.93e+000 - 1.98e+000i
-8.05e+000 + 2.01e+000i
-8.05e+000 - 2.01e+000i
-8.63e+000
5
-8.73e+000 + 1.75e+000i
-8.73e+000 - 1.75e+000i
-9.51e+000 + 2.18e+000i
-9.51e+000 - 2.18e+000i
-1.03e+001 + 8.99e+000i

71

-1.03e+001 - 8.99e+000i
6
-1.26e+001 + 1.09e+001i
-1.26e+001 - 1.09e+001i
-1.64e+001 + 1.86e+001i
-1.64e+001 - 1.86e+001i
-2.72e+001 + 3.98e+001i
-2.72e+001 - 3.98e+001i
7
-4.93e+001 + 5.42e+001i
-4.93e+001 - 5.42e+001i
-8.04e+001 + 9.75e+001i
-8.04e+001 - 9.75e+001i
-1.20e+002
-3.81e+002

4.8.4 Beban 1.2 Kali Beban dasar
Pada beban ini kriteria desain yang ditetapkan masih dapat dipenuhi dimana
lewatan maksimum tiap mesin tidak melebihi 5 % sedangkan waktu menuju keadaaan
mantapnya masih kecil dari 4 detik. Respon waktu frekuensi mesin dapat dilihat pada
Gambar 4.35 s/d 4.42.




72


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 1 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 1
Gambar 4.35 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 1



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 2 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 2
Gambar 4.36 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 2




0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
mesin 1
mesin 2
mesin 3
mesin 4
mesin 5
mesin 6
mesin 7
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

73



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 3 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 3
Gambar 4.37 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 3


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 4 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 4
Gambar 4.38 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 4



0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1
0
1
2
3
4
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

74


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 5 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 5
Gambar 4.39 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 5




(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 6 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 6
Gambar 4.40 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 6

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar


Gambar 4.42 Letak Nilai Eigen beban 1.2 kali beban dasar
Kestabilan sistem pada beban 1.2 kali beban dasar tidak mengalami perubahan dari
kondisi beban dasar. Nilai eigen pada beban ini dapat dilihat pada Tabel 4.9 dimana
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-3
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar 4.41 Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 7
Gambar 4.42 Letak Nilai Eigen beban 1.2 kali beban dasar
Kestabilan sistem pada beban 1.2 kali beban dasar tidak mengalami perubahan dari
kondisi beban dasar. Nilai eigen pada beban ini dapat dilihat pada Tabel 4.9 dimana
2.5 3 3.5 4 4.5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
75

(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7

Gambar 4.42 Letak Nilai Eigen beban 1.2 kali beban dasar
Kestabilan sistem pada beban 1.2 kali beban dasar tidak mengalami perubahan dari
kondisi beban dasar. Nilai eigen pada beban ini dapat dilihat pada Tabel 4.9 dimana
2.5 3 3.5 4 4.5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7
Waktu (Detik)

76

terdapat penambahan nilai dari beban 1.1 kali beban dasar, sedangkan letaknya dapat
dilihat pada Gambar 4.42 yang juga bergeser .
Tabel 4.9 Nilai Eigen Kondisi Beban 1.2 Kali Beban dasar
Nomor Nilai Eigen
Mesin Real Imajiner
1
-2.29e+000 + 3.97e+000i
-2.29e+000 - 3.97e+000i
-2.38e+000 + 5.01e+000i
-2.38e+000 - 5.01e+000i
-2.40e+000 + 4.33e+000i
-2.40e+000 - 4.33e+000i
2
-2.59e+000 + 4.54e+000i
-2.59e+000 - 4.54e+000i
-2.71e+000 + 4.19e+000i
-2.71e+000 - 4.19e+000i
-2.93e+000 + 4.31e+000i
-2.93e+000 - 4.31e+000i
3
-3.22e+000 + 6.26e+000i
-3.22e+000 - 6.26e+000i
-4.23e+000
-6.93e+000 + 1.97e+000i
-6.93e+000 - 1.97e+000i
-7.50e+000 + 2.01e+000i
4
-7.50e+000 - 2.01e+000i
-7.93e+000 + 1.98e+000i
-7.93e+000 - 1.98e+000i
-8.05e+000 + 2.01e+000i
-8.05e+000 - 2.01e+000i
-8.72e+000
5
-8.73e+000 + 1.75e+000i
-8.73e+000 - 1.75e+000i
-9.51e+000 + 2.18e+000i
-9.51e+000 - 2.18e+000i
-1.03e+001 + 9.04e+000i
-1.03e+001 - 9.04e+000i
6
-1.26e+001 + 1.09e+001i
-1.26e+001 - 1.09e+001i

77

-1.64e+001 + 1.86e+001i
-1.64e+001 - 1.86e+001i
-2.72e+001 + 3.98e+001i
-2.72e+001 - 3.98e+001i



7
-4.93e+001 + 5.41e+001i
-4.93e+001 - 5.41e+001i
-8.03e+001 + 9.76e+001i
-8.03e+001 - 9.76e+001i
-1.19e+002
-3.81e+002

4.8.5 Beban 1.25 Kali Beban Dasar
Pada kondisi beban 1.25 kali beban dasar kriteria desain yang ditentukan masih
bisa terpenuhi, setiap tanggapan perubahan frekuensi mesin tidak melewati lewatan
maksimum 5 % dan waktu menuju keadaan mantapnya kecil dari 4 detik hal ini
dibuktikan pada Gambar 4.43 s/d 4.49 yang merupakan respon tanggapan frekuensi setiap
mesin.

(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 1 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 1
Gambar 4.43. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 1
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
mesin 1
mesin 2
mesin 3
mesin 4
mesin 5
mesin 6
mesin 7
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

78


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 2 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 2
Gambar 4.44. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 2




(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 3 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 3
Gambar 4.45. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 3


0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

79



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 4 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 4
Gambar 4.46. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 4


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 5 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 5
Gambar 4.47. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 5


0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

80


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 6 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 6
Gambar 4.48. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 6



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar 4.49. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 7


0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-3
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)


Nilai eigen pada kondisi beban 1.25 tidak mengalami perubahan tanda sehingga
dapat dikatakan sistem stabil, namun nilainya bertambah besar yang pertambahannya
dapat dilihat pada Tabel 4.10 dan letak nilai eigen sendiri dapat diihat pada Gambar 4.50.
Gambar 4.50 Letak Nilai Eigen Beban 1.25 Kali Beban Dasar
Tabel 4.10 Letak Nilai Eigen Beban 1
Nilai eigen pada kondisi beban 1.25 tidak mengalami perubahan tanda sehingga
dapat dikatakan sistem stabil, namun nilainya bertambah besar yang pertambahannya
pat dilihat pada Tabel 4.10 dan letak nilai eigen sendiri dapat diihat pada Gambar 4.50.
Gambar 4.50 Letak Nilai Eigen Beban 1.25 Kali Beban Dasar

Letak Nilai Eigen Beban 1.25 Kali Beban Dasar
Nomor
Nilai Eigen
Mesin
Real Imajiner
1
-2.25e+000 + 3.80e+000i
-2.25e+000 - 3.80e+000i
-2.43e+000 + 4.32e+000i
-2.43e+000 - 4.32e+000i
-2.50e+000 + 5.02e+000i
-2.50e+000 - 5.02e+000i
2
-2.61e+000 + 4.53e+000i
-2.61e+000 - 4.53e+000i
-2.75e+000 + 4.24e+000i
-2.75e+000 - 4.24e+000i
-2.97e+000 + 4.29e+000i
81
Nilai eigen pada kondisi beban 1.25 tidak mengalami perubahan tanda sehingga
dapat dikatakan sistem stabil, namun nilainya bertambah besar yang pertambahannya
pat dilihat pada Tabel 4.10 dan letak nilai eigen sendiri dapat diihat pada Gambar 4.50.

Gambar 4.50 Letak Nilai Eigen Beban 1.25 Kali Beban Dasar
25 Kali Beban Dasar

82

-2.97e+000 - 4.29e+000i
3
-3.25e+000 + 6.19e+000i
-3.25e+000 - 6.19e+000i
-4.20e+000
-6.93e+000 + 1.97e+000i
-6.93e+000 - 1.97e+000i
-7.50e+000 + 2.01e+000i
4
-7.50e+000 - 2.01e+000i
-7.94e+000 + 1.98e+000i
-7.94e+000 - 1.98e+000i
-8.06e+000 + 2.01e+000i
-8.06e+000 - 2.01e+000i
-8.60e+000
5
-8.74e+000 + 1.75e+000i
-8.74e+000 - 1.75e+000i
-9.53e+000 + 2.19e+000i
-9.53e+000 - 2.19e+000i
-1.03e+001 + 9.16e+000i
-1.03e+001 - 9.16e+000i
6
-1.26e+001 + 1.09e+001i
-1.26e+001 - 1.09e+001i
-1.62e+001 + 1.87e+001i
-1.62e+001 - 1.87e+001i
-2.71e+001 + 3.99e+001i
-2.71e+001 - 3.99e+001i
7
-4.94e+001 + 5.40e+001i
-4.94e+001 - 5.40e+001i
-8.01e+001 + 9.79e+001i
-8.01e+001 - 9.79e+001i
-1.19e+002
-3.81e+002

4.8.6 Beban 1.3 Kali Beban Dasar
Pada kondisi beban 1.3 kali beban dasar kriteria desain yang ditetapkan tidak lagi
terpenuhi seluruhnya pada mesin 2, 3, 4, 5 dan 6 lewatan maksimum melebihi 5 %
sedangkan waktu menuju keadaan mantap masih dibawah 4 detik namun keadaan sistem

83

tetap stabil. Respon waktu frekuensi seluruh mesin dapat dilihat pada Gambar 4.51 s/d
4.57.

(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 1 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 1
Gambar 4.51. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 1


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 2 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 2
Gambar 4.52. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 2

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
mesin 1
mesin 2
mesin 3
mesin 4
mesin 5
mesin 6
mesin 7
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
x 10
-6
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-10
-8
-6
-4
-2
0
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
0
2
4
6
8
10
12
14
x 10
-6
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

84


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 3 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 3
Gambar 4.53. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 3



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 4 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 4
Gambar 4.54. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 4

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-12
-10
-8
-6
-4
-2
0
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-2
0
2
4
6
8
x 10
-5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-12
-10
-8
-6
-4
-2
0
2
4
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-2
0
2
4
6
8
10
12
14
x 10
-5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

85


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 5 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 5
Gambar 4.55. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 5




(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 6 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 6
Gambar 4.56. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 6



0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-3
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-7
-6
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)


(a) Terhadap Masukan Eks
Gambar


Gambar 4.58 Letak Nilai Eigen Beban 1.3 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 1.3 kali beban dasar
imajiner dan real namun masih dalam keadaan stabil yang dapat dilihat pada Gambar 4.58.
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar 4.57. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 7
Gambar 4.58 Letak Nilai Eigen Beban 1.3 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 1.3 kali beban dasar bergeser menjauhi sumbu
imajiner dan real namun masih dalam keadaan stabil yang dapat dilihat pada Gambar 4.58.
2.5 3 3.5 4 4.5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
86

itasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7

Gambar 4.58 Letak Nilai Eigen Beban 1.3 Kali Beban Dasar
bergeser menjauhi sumbu
imajiner dan real namun masih dalam keadaan stabil yang dapat dilihat pada Gambar 4.58.
2.5 3 3.5 4 4.5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7
Waktu (Detik)

87

Nilai eigen pada kondisi beban ini semakin besar terutama pada mesin 2 dan 3 apabila
dibandingkan pada nilai eigen pada beban sebelumnya. Nilai eigen beban 1.3 kali beban
dasar dapat dilihat pada Tabel 4.11, dengan tidak adanya perubahan tanda maka sistem
dapat dikatakan stabil.
Tabel 4.11 Nilai Eigen Beban 1.3 kali Beban Dasar
Nomor
Nilai Eigen
Mesin
Real Imajiner
1
-2.15e+000 + 4.79e+000i
-2.15e+000 - 4.79e+000i
-3.23e+000 + 4.18e+000i
-3.23e+000 - 4.18e+000i
-4.16e+000 + 5.55e+000i
-4.16e+000 - 5.55e+000i
2
-6.58e+000 + 1.31e+001i
-6.58e+000 - 1.31e+001i
-6.90e+000 + 2.01e+000i
-6.90e+000 - 2.01e+000i
-6.90e+000 + 8.32e+000i
-6.90e+000 - 8.32e+000i
3
-7.18e+000 + 2.07e+000i
-7.18e+000 - 2.07e+000i
-7.31e+000 + 9.67e+000i
-7.31e+000 - 9.67e+000i
-7.47e+000 + 1.66e+000i
-7.47e+000 - 1.66e+000i
4
-7.51e+000 + 1.64e+000i
-7.51e+000 - 1.64e+000i
-7.70e+000
-8.78e+000 + 1.77e+000i
-8.78e+000 - 1.77e+000i
-9.75e+000 + 2.25e+000i
5
-9.75e+000 - 2.25e+000i
-1.05e+001 + 4.87e+000i
-1.05e+001 - 4.87e+000i
-1.26e+001 + 1.09e+001i
-1.26e+001 - 1.09e+001i

88

-1.55e+001 + 1.98e+001i


6
-1.55e+001 - 1.98e+001i
-1.57e+001
-2.64e+001 + 4.11e+001i
-2.64e+001 - 4.11e+001i
-4.50e+001 + 5.96e+001i
-4.50e+001 - 5.96e+001i
7
-4.92e+001
-5.01e+001
-7.85e+001 + 1.00e+002i
-7.85e+001 - 1.00e+002i
-1.17e+002
-3.81e+002

4.8.7 Beban 0.9 Kali Beban Dasar
Pada kondisi beban 0.9 Kali beban dasar kriteria desain yang ditetapkan masih bisa
terpenuhi dan sistem berada dalam kondisi stabil, respon waktu perubahan frekuensi
terhadap kondisi beban ini dapat diihat pada Gambar 4.59 s/d 4.65.

(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 1 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 1
Gambar 4.59. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 1

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-3
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
mesin 1
mesin 2
mesin 3
mesin 4
mesin 5
mesin 6
mesin 7
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

89


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 2 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 2
Gambar 4.60. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 2




(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 3 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 3
Gambar 4.61. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 3


0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-3
-2
-1
0
1
2
3
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

90


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 4 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 4
Gambar 4.62. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 4



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 5 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 5
Gambar 4.63. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 5


0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

91



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 6 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 6
Gambar 4.64. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 6






(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar 4.65. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 7

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)


Gambar 4.66 Letak Nilai Eigen Beban 0.9 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.9 kali beban dasar bergeser mendekati sumbu
imajiner dan real namun masih dalam keadaan stabil yang dapat dilihat pada Gambar 4.66.
Nilai eigen pada kondisi beban ini akan semakin kecil apabila dibandingkan pada nilai
eigen pada beban dasar. Nilai eigen beban 0.9 kali beban dasar dapat dilihat pada Tabel
4.11, dengan tidak adanya perubahan tanda maka sistem dapat dikatakan stabil.
Tabel 4.11 Nilai
Gambar 4.66 Letak Nilai Eigen Beban 0.9 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.9 kali beban dasar bergeser mendekati sumbu
imajiner dan real namun masih dalam keadaan stabil yang dapat dilihat pada Gambar 4.66.
pada kondisi beban ini akan semakin kecil apabila dibandingkan pada nilai
eigen pada beban dasar. Nilai eigen beban 0.9 kali beban dasar dapat dilihat pada Tabel
4.11, dengan tidak adanya perubahan tanda maka sistem dapat dikatakan stabil.
Tabel 4.11 Nilai Eigen Beban 0.9 Kali Beban Dasar
Nomor
Nilai Eigen
Mesin
Real Imajiner
1
-1.87e+000 + 4.22e+000i
-1.87e+000 - 4.22e+000i
-2.21e+000 + 5.02e+000i
-2.21e+000 - 5.02e+000i
-2.41e+000 + 4.33e+000i
-2.41e+000 - 4.33e+000i
2
-2.50e+000 + 4.56e+000i
-2.50e+000 - 4.56e+000i
-2.75e+000 + 4.09e+000i
-2.75e+000 - 4.09e+000i
92

Gambar 4.66 Letak Nilai Eigen Beban 0.9 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.9 kali beban dasar bergeser mendekati sumbu
imajiner dan real namun masih dalam keadaan stabil yang dapat dilihat pada Gambar 4.66.
pada kondisi beban ini akan semakin kecil apabila dibandingkan pada nilai
eigen pada beban dasar. Nilai eigen beban 0.9 kali beban dasar dapat dilihat pada Tabel
4.11, dengan tidak adanya perubahan tanda maka sistem dapat dikatakan stabil.
ali Beban Dasar

93

-2.88e+000 + 4.35e+000i
-2.88e+000 - 4.35e+000i
3
-3.20e+000 + 6.26e+000i
-3.20e+000 - 6.26e+000i
-4.38e+000
-6.93e+000 + 1.98e+000i
-6.93e+000 - 1.98e+000i
-7.50e+000 + 2.01e+000i
4
-7.50e+000 - 2.01e+000i
-7.92e+000 + 1.98e+000i
-7.92e+000 - 1.98e+000i
-8.03e+000 + 2.00e+000i
-8.03e+000 - 2.00e+000i
-8.73e+000 + 1.75e+000i
5
-8.73e+000 - 1.75e+000i
-8.88e+000
-9.51e+000 + 2.18e+000i
-9.51e+000 - 2.18e+000i
-1.04e+001 + 8.90e+000i
-1.04e+001 - 8.90e+000i
6
-1.26e+001 + 1.09e+001i
-1.26e+001 - 1.09e+001i
-1.64e+001 + 1.86e+001i
-1.64e+001 - 1.86e+001i
-2.71e+001 + 4.00e+001i
-2.71e+001 - 4.00e+001i
7
-4.86e+001 + 5.50e+001i
-4.86e+001 - 5.50e+001i
-8.03e+001 + 9.76e+001i
-8.03e+001 - 9.76e+001i
-1.20e+002
-3.81e+002

4.8.9 Beban 0.85 Kali Beban Dasar
Pada kondisi beban 0.85 Kali beban dasar kriteria desain yang ditetapkan masih
bisa terpenuhi dan sistem berada dalam kondisi stabil, respon waktu perubahan frekuensi
terhadap kondisi beban ini dapat dilihat pada Gambar 4.67 s/d 4.73.

94


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 1 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 1
Gambar 4.67. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 1



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 2 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 2
Gambar 4.68. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 2


0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-3
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
mesin 1
mesin 2
mesin 3
mesin 4
mesin 5
mesin 6
mesin 7
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

95


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 3 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 3
Gambar 4.69. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 3



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 4 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 4
Gambar 4.70. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 4

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-3
-2
-1
0
1
2
3
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

96


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 5 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 5
Gambar 4.71. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 5




(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 6 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 6
Gambar 4.72. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 6


0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Tur
Gambar


Gambar 4.74 Letak Nilai Eigen Beban 0.85 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.85 kali beban dasar bergeser mendekati sumbu
imajiner dan real namun masih dalam keadaan stabil yang dapat dilihat pada Gambar 4.74.
0 0.5 1 1.5 2
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Tur
Gambar 4.73. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 7
Gambar 4.74 Letak Nilai Eigen Beban 0.85 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.85 kali beban dasar bergeser mendekati sumbu
mun masih dalam keadaan stabil yang dapat dilihat pada Gambar 4.74.
2.5 3 3.5 4 4.5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
97

(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7

Gambar 4.74 Letak Nilai Eigen Beban 0.85 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.85 kali beban dasar bergeser mendekati sumbu
mun masih dalam keadaan stabil yang dapat dilihat pada Gambar 4.74.
2.5 3 3.5 4 4.5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7
Waktu (Detik)

98

Nilai eigen pada kondisi beban ini akan semakin kecil apabila dibandingkan pada nilai
eigen pada beban sebelumnya, penurunan tersebut tampak pada mesin 1 pada Tabel 4.13.
Nilai eigen sistem tidak terjadi perubahan tanda maka sistem dapat dikatakan stabil.
Tabel 4.13 Nilai Eigen Beban 0.85 kali Beban Dasar
Nomor
Nilai Eigen
Mesin
Real Imajiner
1
-1.81e+000 + 4.25e+000i
-1.81e+000 - 4.25e+000i
-2.20e+000 + 5.02e+000i
-2.20e+000 - 5.02e+000i
-2.41e+000 + 4.33e+000i
-2.41e+000 - 4.33e+000i
2
-2.48e+000 + 4.57e+000i
-2.48e+000 - 4.57e+000i
-2.76e+000 + 4.09e+000i
-2.76e+000 - 4.09e+000i
-2.87e+000 + 4.35e+000i
-2.87e+000 - 4.35e+000i
3
-3.20e+000 + 6.26e+000i
-3.20e+000 - 6.26e+000i
-4.40e+000
-6.93e+000 + 1.98e+000i
-6.93e+000 - 1.98e+000i
-7.50e+000 + 2.01e+000i
4
-7.50e+000 - 2.01e+000i
-7.92e+000 + 1.98e+000i
-7.92e+000 - 1.98e+000i
-8.03e+000 + 2.00e+000i
-8.03e+000 - 2.00e+000i
-8.73e+000 + 1.75e+000i
5
-8.73e+000 - 1.75e+000i
-8.90e+000
-9.51e+000 + 2.18e+000i
-9.51e+000 - 2.18e+000i
-1.04e+001 + 8.89e+000i
-1.04e+001 - 8.89e+000i

99



6
-1.26e+001 + 1.09e+001i
-1.26e+001 - 1.09e+001i
-1.64e+001 + 1.86e+001i
-1.64e+001 - 1.86e+001i
-2.71e+001 + 4.00e+001i
-2.71e+001 - 4.00e+001i
7
-4.85e+001 + 5.51e+001i
-4.85e+001 - 5.51e+001i
-8.03e+001 + 9.76e+001i
-8.03e+001 - 9.76e+001i
-1.20e+002
-3.80e+002

4.8.10 Beban 0.8 Kali Beban Dasar
Pada kondisi beban 0.8 kali beban dasar kriteria desain yang ditetapkan masih bisa
terpenuhi dimana lewatan maksimum tidak melebihi 5 % dan waktu menuju keadaan
mantap tidak lebih dari 5 detik sehingga dapat dikatakan sistem berada dalam kondisi
stabil, respon waktu perubahan frekuensi terhadap kondisi beban ini dapat dilihat pada
Gambar 4.75 s/d 4.81.



100


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 1 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 1
Gambar 4.75. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 1



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 2 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 2
Gambar 4.76. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 2


0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
mesin 1
mesin 2
mesin 3
mesin 4
mesin 5
mesin 6
mesin 7
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

101


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 3 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 3
Gambar 4.77. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 3




(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 4 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 4
Gambar 4.78. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 4

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

102


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 5 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 5
Gambar 4.79. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 5




(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 6 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 6
Gambar 4.80. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 6


0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar


Gambar 4.82 Letak Nilai Eigen Beban 0.8 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.8 kali beban dasar bergeser mendekati sumbu
imajiner dan real namun masih dalam keadaan stabil yan
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar 4.81. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 7
Gambar 4.82 Letak Nilai Eigen Beban 0.8 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.8 kali beban dasar bergeser mendekati sumbu
imajiner dan real namun masih dalam keadaan stabil yang dapat dilihat pada Gambar 4.82.
2.5 3 3.5 4 4.5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
103

(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7

Gambar 4.82 Letak Nilai Eigen Beban 0.8 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.8 kali beban dasar bergeser mendekati sumbu
g dapat dilihat pada Gambar 4.82.
2.5 3 3.5 4 4.5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7
Waktu (Detik)

104

Nilai eigen pada kondisi beban ini akan semakin kecil apabila dibandingkan pada nilai
eigen pada beban sebelumnya, penurunan tersebut tampak pada mesin 1 pada Tabel 4.14.
Nilai eigen sistem tidak terjadi perubahan tanda maka sistem dapat dikatakan stabil.
Tabel 4.14 Nilai Eigen Beban 0.8 kali Beban Dasar
Nomor
Nilai Eigen
Mesin
Real Imajiner
1
-1.74e+000 + 4.29e+000i
-1.74e+000 - 4.29e+000i
-2.19e+000 + 5.02e+000i
-2.19e+000 - 5.02e+000i
-2.40e+000 + 4.33e+000i
-2.40e+000 - 4.33e+000i
2
-2.48e+000 + 4.57e+000i
-2.48e+000 - 4.57e+000i
-2.76e+000 + 4.09e+000i
-2.76e+000 - 4.09e+000i
-2.87e+000 + 4.35e+000i
-2.87e+000 - 4.35e+000i
3
-3.21e+000 + 6.25e+000i
-3.21e+000 - 6.25e+000i
-4.41e+000
-6.93e+000 + 1.98e+000i
-6.93e+000 - 1.98e+000i
-7.50e+000 + 2.01e+000i
4
-7.50e+000 - 2.01e+000i
-7.92e+000 + 1.98e+000i
-7.92e+000 - 1.98e+000i
-8.03e+000 + 2.00e+000i
-8.03e+000 - 2.00e+000i
-8.73e+000 + 1.75e+000i
5
-8.73e+000 - 1.75e+000i
-8.91e+000
-9.51e+000 + 2.18e+000i
-9.51e+000 - 2.18e+000i
-1.04e+001 + 8.87e+000i
-1.04e+001 - 8.87e+000i

105

6
-1.26e+001 + 1.09e+001i
-1.26e+001 - 1.09e+001i
-1.64e+001 + 1.86e+001i
-1.64e+001 - 1.86e+001i
-2.70e+001 + 4.01e+001i
-2.70e+001 - 4.01e+001i
7
-4.84e+001 + 5.52e+001i
-4.84e+001 - 5.52e+001i
-8.03e+001 + 9.77e+001i
-8.03e+001 - 9.77e+001i
-1.20e+002
-3.80e+002

4.8.11 Beban 0.75 Kali Beban Dasar
Pada kondisi beban 0.75 Kali beban dasar kriteria desain yang ditetapkan masih
bisa terpenuhi dan sistem berada dalam kondisi stabil, respon waktu perubahan frekuensi
terhadap kondisi beban ini dapat dilihat pada Gambar 4.83 s/d 4.89.


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 1 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 1
Gambar 4.83. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 1
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
mesin 1
mesin 2
mesin 3
mesin 4
mesin 5
mesin 6
mesin 7
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

106




(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 2 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 2
Gambar 4.84. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 2



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 3 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 3
Gambar 4.85. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 3


0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

107


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 4 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 4
Gambar 4.86. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 4


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 5 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 5
Gambar 4.87. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 5


0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

108



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 6 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 6
Gambar 4.88. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 6





(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar 4.89. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 7

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)


Gambar 4.90 Letak Nilai Eigen Beban 0.75 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.75 kali beban dasar bergeser mendekati sumbu
imajiner dan real namun masih dalam keadaan stabil yang dapat dilihat pada Gambar 4.90.
Nilai eigen pada kondisi beban ini akan semakin kecil apabila dibandingkan pada nilai
eigen pada beban sebelumnya, penurunan tersebut tampak pada mesin 1 pada Tabel 4.15.
Nilai eigen sistem tidak terjadi perubahan tanda maka sistem dapat dikatakan stabil.
Tabel 4.1
Gambar 4.90 Letak Nilai Eigen Beban 0.75 Kali Beban Dasar
kondisi beban 0.75 kali beban dasar bergeser mendekati sumbu
imajiner dan real namun masih dalam keadaan stabil yang dapat dilihat pada Gambar 4.90.
Nilai eigen pada kondisi beban ini akan semakin kecil apabila dibandingkan pada nilai
lumnya, penurunan tersebut tampak pada mesin 1 pada Tabel 4.15.
Nilai eigen sistem tidak terjadi perubahan tanda maka sistem dapat dikatakan stabil.
Tabel 4.15 Nilai Eigen Beban 0.75 Kali Beban Dasar
Nomor
Nilai Eigen
Mesin
Real Imajiner
1
-1.69e+000 + 4.32e+000i
-1.69e+000 - 4.32e+000i
-2.19e+000 + 5.02e+000i
-2.19e+000 - 5.02e+000i
-2.40e+000 + 4.34e+000i
-2.40e+000 - 4.34e+000i
2
-2.47e+000 + 4.57e+000i
-2.47e+000 - 4.57e+000i
-2.77e+000 + 4.08e+000i
-2.77e+000 - 4.08e+000i
109

Gambar 4.90 Letak Nilai Eigen Beban 0.75 Kali Beban Dasar
kondisi beban 0.75 kali beban dasar bergeser mendekati sumbu
imajiner dan real namun masih dalam keadaan stabil yang dapat dilihat pada Gambar 4.90.
Nilai eigen pada kondisi beban ini akan semakin kecil apabila dibandingkan pada nilai
lumnya, penurunan tersebut tampak pada mesin 1 pada Tabel 4.15.
Nilai eigen sistem tidak terjadi perubahan tanda maka sistem dapat dikatakan stabil.
ali Beban Dasar

110

-2.86e+000 + 4.36e+000i
-2.86e+000 - 4.36e+000i
3
-3.21e+000 + 6.25e+000i
-3.21e+000 - 6.25e+000i
-4.42e+000
-6.93e+000 + 1.98e+000i
-6.93e+000 - 1.98e+000i
-7.50e+000 + 2.01e+000i
4
-7.50e+000 - 2.01e+000i
-7.92e+000 + 1.98e+000i
-7.92e+000 - 1.98e+000i
-8.03e+000 + 2.00e+000i
-8.03e+000 - 2.00e+000i
-8.72e+000 + 1.75e+000i
5
-8.72e+000 - 1.75e+000i
-8.92e+000
-9.51e+000 + 2.19e+000i
-9.51e+000 - 2.19e+000i
-1.05e+001 + 8.86e+000i
-1.05e+001 - 8.86e+000i




6
-1.26e+001 + 1.09e+001i
-1.26e+001 - 1.09e+001i
-1.63e+001 + 1.86e+001i
-1.63e+001 - 1.86e+001i
-2.70e+001 + 4.01e+001i
-2.70e+001 - 4.01e+001i
7
-4.84e+001 + 5.53e+001i
-4.84e+001 - 5.53e+001i
-8.02e+001 + 9.77e+001i
-8.02e+001 - 9.77e+001i
-1.20e+002
-3.80e+002

4.8.12 Beban 0.7 Kali Beban Dasar
Pada kondisi beban 0.7 Kali beban dasar kriteria desain yang ditetapkan masih
bisa terpenuhi dengan lewatan maksimum kecil dari 5 % dan waktu menuju keadaan
mantap kecil dari 4 detik dengan demikian sistem berada dalam kondisi stabil, respon

111

waktu perubahan frekuensi terhadap kondisi beban ini dapat dilihat pada Gambar 4.91 s/d
4.97.

(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 1 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 1
Gambar 4.91. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 1



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 2 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 2
Gambar 4.92. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 2
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
mesin 1
mesin 2
mesin 3
mesin 4
mesin 5
mesin 6
mesin 7
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

112


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 3 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 3
Gambar 4.93. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 3



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 4 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 4
Gambar 4.94. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 4

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

113


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 5 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 5
Gambar 4.95. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 5




(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 6 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 6
Gambar 4.96. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 6


0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbi
Gambar


Gambar 4.98 Letak Nilai Eigen Beban 0.7 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.7 kali beban dasar masih dalam keadaan stabil
yang letaknya dapat dilihat pada Gambar 4.98. Nilai eigen pada kondisi beban ini pada
mesin 1 lebih kecil apabila dibandingkan pada nilai eigen pada beban sebelumnya,
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbi
Gambar 4.97. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 7
Gambar 4.98 Letak Nilai Eigen Beban 0.7 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.7 kali beban dasar masih dalam keadaan stabil
lihat pada Gambar 4.98. Nilai eigen pada kondisi beban ini pada
mesin 1 lebih kecil apabila dibandingkan pada nilai eigen pada beban sebelumnya,
2.5 3 3.5 4 4.5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
114

(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7

Gambar 4.98 Letak Nilai Eigen Beban 0.7 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.7 kali beban dasar masih dalam keadaan stabil
lihat pada Gambar 4.98. Nilai eigen pada kondisi beban ini pada
mesin 1 lebih kecil apabila dibandingkan pada nilai eigen pada beban sebelumnya,
2.5 3 3.5 4 4.5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7
Waktu (Detik)

115

penurunan tersebut tampak pada Tabel 4.16.Nilai eigen sistem tidak terjadi perubahan
tanda maka sistem dapat dikatakan stabil.
Tabel 4.16 Nilai Eigen Beban 0.7 kali Beban Dasar
Nomor
Nilai Eigen
Mesin
Real Imajiner
1
-1.64e+000 + 4.35e+000i
-1.64e+000 - 4.35e+000i
-2.18e+000 + 5.03e+000i
-2.18e+000 - 5.03e+000i
-2.40e+000 + 4.34e+000i
-2.40e+000 - 4.34e+000i
2
-2.46e+000 + 4.57e+000i
-2.46e+000 - 4.57e+000i
-2.78e+000 + 4.08e+000i
-2.78e+000 - 4.08e+000i
-2.86e+000 + 4.36e+000i
-2.86e+000 - 4.36e+000i



3
-3.21e+000 + 6.24e+000i
-3.21e+000 - 6.24e+000i
-4.42e+000
-6.93e+000 + 1.98e+000i
-6.93e+000 - 1.98e+000i
-7.50e+000 + 2.01e+000i
4
-7.50e+000 - 2.01e+000i
-7.92e+000 + 1.98e+000i
-7.92e+000 - 1.98e+000i
-8.03e+000 + 2.00e+000i
-8.03e+000 - 2.00e+000i
-8.72e+000 + 1.75e+000i
5
-8.72e+000 - 1.75e+000i
-8.92e+000
-9.51e+000 + 2.19e+000i
-9.51e+000 - 2.19e+000i
-1.05e+001 + 8.84e+000i
-1.05e+001 - 8.84e+000i
6
-1.26e+001 + 1.09e+001i
-1.26e+001 - 1.09e+001i

116

-1.63e+001 + 1.86e+001i
-1.63e+001 - 1.86e+001i
-2.70e+001 + 4.01e+001i
-2.70e+001 - 4.01e+001i
7
-4.83e+001 + 5.54e+001i
-4.83e+001 - 5.54e+001i
-8.02e+001 + 9.78e+001i
-8.02e+001 - 9.78e+001i
-1.20e+002
-3.80e+002

4.8.13 Beban 0.65 Kali Beban Dasar
Pada kondisi beban 0.65 Kali beban dasar kriteria desain yang ditetapkan masih
bisa terpenuhi dengan lewatan maksimum kecil dari 5 % dan waktu menuju keadaan
mantap kecil dari 4 detik dengan demikian sistem berada dalam kondisi stabil, respon
waktu perubahan frekuensi terhadap kondisi beban ini dapat dilihat pada Gambar 4.99 s/d
4.105.

(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 1 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 1
Gambar 4.99. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 1
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
mesin 1
mesin 2
mesin 3
mesin 4
mesin 5
mesin 6
mesin 7
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

117


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 2 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 2
Gambar 4.100. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 2



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 3 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 3
Gambar 4.101. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 3


0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

118


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 4 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 4
Gambar 4.102. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 4


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 5 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 5
Gambar 4.103. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 5


0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

119



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 6 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 6
Gambar 4.104. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 6




(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar 4.105. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 7

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)


Gambar 4.106 Letak Nilai Eigen Beban 0.65 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.65 kali beban dasar masih dalam keadaan stabil
seperti yang terlihat pada Gambar 4.106. Nilai eigen pada mesin 1 pada kondisi beban ini
lebih kecil dari nilai eigen pada beban sebelumnya, penurunan tersebut tampak pada mesin
1 pada Tabel 4.17.Nilai eigen sistem tidak terjadi perubahan tanda maka sistem dapat
dikatakan stabil.
Tabel 4.1
Gambar 4.106 Letak Nilai Eigen Beban 0.65 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.65 kali beban dasar masih dalam keadaan stabil
lihat pada Gambar 4.106. Nilai eigen pada mesin 1 pada kondisi beban ini
lebih kecil dari nilai eigen pada beban sebelumnya, penurunan tersebut tampak pada mesin
1 pada Tabel 4.17.Nilai eigen sistem tidak terjadi perubahan tanda maka sistem dapat
Tabel 4.17 Nilai Eigen Beban 0.65 Kali Beban Dasar
Nomor Nilai Eigen
Mesin Real Imajiner
1
-1.60e+000 + 4.38e+000i
-1.60e+000 - 4.38e+000i
-2.17e+000 + 5.04e+000i
-2.17e+000 - 5.04e+000i
-2.40e+000 + 4.34e+000i
-2.40e+000 - 4.34e+000i
2
-2.44e+000 + 4.58e+000i
-2.44e+000 - 4.58e+000i
-2.78e+000 + 4.08e+000i
-2.78e+000 - 4.08e+000i
-2.86e+000 + 4.36e+000i
120

Gambar 4.106 Letak Nilai Eigen Beban 0.65 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.65 kali beban dasar masih dalam keadaan stabil
lihat pada Gambar 4.106. Nilai eigen pada mesin 1 pada kondisi beban ini
lebih kecil dari nilai eigen pada beban sebelumnya, penurunan tersebut tampak pada mesin
1 pada Tabel 4.17.Nilai eigen sistem tidak terjadi perubahan tanda maka sistem dapat
ali Beban Dasar

121

-2.86e+000 - 4.36e+000i
3
-3.20e+000 + 6.24e+000i
-3.20e+000 - 6.24e+000i
-4.43e+000
-6.93e+000 + 1.98e+000i
-6.93e+000 - 1.98e+000i
-7.50e+000 + 2.01e+000i
4
-7.50e+000 - 2.01e+000i
-7.92e+000 + 1.98e+000i
-7.92e+000 - 1.98e+000i
-8.03e+000 + 2.00e+000i
-8.03e+000 - 2.00e+000i
-8.72e+000 + 1.75e+000i
5
-8.72e+000 - 1.75e+000i
-8.93e+000
-9.52e+000 + 2.19e+000i
-9.52e+000 - 2.19e+000i
-1.05e+001 + 8.83e+000i
-1.05e+001 - 8.83e+000i
6
-1.26e+001 + 1.09e+001i
-1.26e+001 - 1.09e+001i
-1.63e+001 + 1.86e+001i
-1.63e+001 - 1.86e+001i
-2.70e+001 + 4.02e+001i
-2.70e+001 - 4.02e+001i
7
-4.82e+001 + 5.56e+001i
-4.82e+001 - 5.56e+001i
-8.01e+001 + 9.78e+001i
-8.01e+001 - 9.78e+001i
-1.20e+002
-3.80e+002

4.8.14 Beban 0.6 Kali Beban Dasar
Pada kondisi beban 0.6 Kali beban dasar kriteria desain yang ditetapkan tidak
bisa dipenuhi lagi dimana waktu menu keadaan mantap pada mesin 2, 3 dan 4 sudah
melewati dari 4 detik sedangkan untuk lewatan maksimum pada mesin 2 dan 4 melewati

122

dari 5 % namun sistem masih berada dalam kondisi stabil. Respon waktu perubahan
frekuensi terhadap kondisi beban ini dapat dilihat pada Gambar 4.107 s/d 4.113.

(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 1 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 1
Gambar 4.107. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 1



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 2 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 2
Gambar 4.108. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 2
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
mesin 1
mesin 2
mesin 3
mesin 4
mesin 5
mesin 6
mesin 7
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 1

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-16
-14
-12
-10
-8
-6
-4
-2
0
2
4
x 10
-5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 2

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

123


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 3 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 3
Gambar 4.109. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 3



(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 4 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 4
Gambar 4.110. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 4

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 3

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-14
-12
-10
-8
-6
-4
-2
0
2
4
x 10
-5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 4

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)

124


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 5 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 5
Gambar 4.111. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 5




(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 6 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 6
Gambar 4.112. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 6



0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 5

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
-1
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 6

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)


(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar


Gambar 4.114 Letak Nilai Eigen Beban 0.6 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kond
dan real namun masih dalam keadaan stabil yang dapat dilihat pada Gambar 4.114. Nilai
eigen pada kondisi beban ini tetap namun untuk mesin 1 nilainya lebih kecil apabila
dibandingkan pada nilai eig
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7
Gambar 4.113. Respon Waktu Mesin Terhadap
Masukan Eksitasi dan Turbin Mesin 7
Gambar 4.114 Letak Nilai Eigen Beban 0.6 Kali Beban Dasar
Nilai eigen pada kondisi beban 0.6 kali beban dasar dekat dengan sumbu imajiner
dan real namun masih dalam keadaan stabil yang dapat dilihat pada Gambar 4.114. Nilai
eigen pada kondisi beban ini tetap namun untuk mesin 1 nilainya lebih kecil apabila
dibandingkan pada nilai eigen pada beban sebelumnya, penurunan tersebut tampak pada
2.5 3 3.5 4 4.5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Eksitasi Mesin 7
Waktu (Detik)
0 0.5 1 1.5 2 2.5
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
x 10
-4
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7

P
e
r
u
b
a
h
a
n

F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
H
z
)
Waktu (Detik)
125

(a) Terhadap Masukan Eksitasi Mesin 7 (b) Terhadap Masukan Turbin Mesin 7


Gambar 4.114 Letak Nilai Eigen Beban 0.6 Kali Beban Dasar
isi beban 0.6 kali beban dasar dekat dengan sumbu imajiner
dan real namun masih dalam keadaan stabil yang dapat dilihat pada Gambar 4.114. Nilai
eigen pada kondisi beban ini tetap namun untuk mesin 1 nilainya lebih kecil apabila
en pada beban sebelumnya, penurunan tersebut tampak pada
2.5 3 3.5 4 4.5
Perubahan Frekuensi Generator Akibat Masukan Turbin Mesin 7
Waktu (Detik)

126

Tabel 4.18. Nilai eigen sistem tidak terjadi perubahan tanda maka sistem dapat dikatakan
stabil.
Tabel 4.18 Nilai Eigen Beban 0.6 Kali Beban Dasar
Nomor Nilai Eigen
Mesin Real Imajiner



1
-1.55e+000 + 4.41e+000i
-1.55e+000 - 4.41e+000i
-2.16e+000 + 5.05e+000i
-2.16e+000 - 5.05e+000i
-2.40e+000 + 4.35e+000i
-2.40e+000 - 4.35e+000i



2
-2.42e+000 + 4.59e+000i
-2.42e+000 - 4.59e+000i
-2.79e+000 + 4.08e+000i
-2.79e+000 - 4.08e+000i
-2.86e+000 + 4.37e+000i
-2.86e+000 - 4.37e+000i
3
-3.18e+000 + 6.24e+000i
-3.18e+000 - 6.24e+000i
-4.44e+000
-6.93e+000 + 1.98e+000i
-6.93e+000 - 1.98e+000i
-7.50e+000 + 2.01e+000i



4
-7.50e+000 - 2.01e+000i
-7.92e+000 + 1.98e+000i
-7.92e+000 - 1.98e+000i
-8.03e+000 + 2.00e+000i
-8.03e+000 - 2.00e+000i
-8.72e+000 + 1.75e+000i



5
-8.72e+000 - 1.75e+000i
-8.94e+000
-9.51e+000 + 2.18e+000i
-9.51e+000 - 2.18e+000i
-1.05e+001 + 8.82e+000i
-1.05e+001 - 8.82e+000i


-1.26e+001 + 1.09e+001i
-1.26e+001 - 1.09e+001i

127


6
-1.63e+001 + 1.87e+001i
-1.63e+001 - 1.87e+001i
-2.70e+001 + 4.02e+001i
-2.70e+001 - 4.02e+001i



7
-4.80e+001 + 5.58e+001i
-4.80e+001 - 5.58e+001i
-8.01e+001 + 9.78e+001i
-8.01e+001 - 9.78e+001i
-1.20e+002
-3.80e+002

Hasil simulasi yang telah dilakukan dirangkum dalam Tabel 4.19 dan Tabel 4.20.
Berdasarkan kedua tabel tersebut daerah kerja sistem sesuai dengan kriteria yang
diinginkan berada pada rentang beban 0.65 sampai 1.25 kali beban dasar. Berkurangnya
beban akan menyebabkan waktu menuju keadaan mantap akan semakin lama sedangkan
naiknya beban akan menyebabkan lewatan maksimum akan menjadi semakin lebih besar.

Tabel 4.19 . Daerah Kerja Sistem dengan Perubahan Beban Berdasarkan Kriteria
Lewatan maksimum
Beban
Lewatan Maksimum < 5%
Mesin 1 Mesin 2 Mesin 3 Mesin 4 Mesin 5 Mesin 6 Mesin 7
0.6 x Bd M TM M TM M M M
0.65 x Bd M M M M M M M
0.7 x Bd M M M M M M M
0.75 x Bd M M M M M M M
0.8 x Bd M M M M M M M
0.85 x Bd M M M M M M M
0.9 x Bd M M M M M M M
1 x Bd M M M M M M M
1.1 x Bd M M M M M M M
1.15 x Bd M M M M M M M
1.2 x Bd M M M M M M M
1.25 x Bd M M M M M M M
1.3 x Bd M TM TM TM TM TM M

128


Tabel 4.20 . Daerah Kerja Sistem dengan Perubahan Beban Berdasarkan Kriteria
Respon Menuju Keadaan Mantap
Beban
Respon Menuju Keadaan Mantap < 4 detik
Mesin 1 Mesin 2 Mesin 3 Mesin 4 Mesin 5 Mesin 6 Mesin 7
0.6 x Bd M TM TM TM M M M
0.65 x Bd M M M M M M M
0.7 x Bd M M M M M M M
0.75 x Bd M M M M M M M
0.8 x Bd M M M M M M M
0.85 x Bd M M M M M M M
0.9 x Bd M M M M M M M
1 x Bd M M M M M M M
1.1 x Bd M M M M M M M
1.15 x Bd M M M M M M M
1.2 x Bd M M M M M M M
1.25 x Bd M M M M M M M
1.3 x Bd M M M M M M M

Keterangan :
Bd = Beban dasar
M = Memenuhi
TM = Tidak Memenuhi
Pengaruh nilai eigen terhadap frekuensi telah dijelaskan pada tiap-tiap pembebanan
sistem. Untuk keadaan sistem secara umum sebelum diberikan pengendali nilai eigen
masih ada yang bertanda positif sehingga berdasarkan teori hal ini menandakan sistem
dalam keadaan tidak stabil. Setelah dipasang pengendali nilai eigen tersebut bertanda
negatif sehingga sistem stabil. Penambahan beban akan menyebabkan nilai eigen tersebut
semakin besar sedangkan dengan berkurangnya beban akan menyebabkan nilai eigen
semakin kecil.