Anda di halaman 1dari 4

Ekonomi Kopi Indonesia di Tengah Dinamika Global

Kamis, 5 Mei 2011 22:43 WIB Indonesia adalah produsen keempat terbesar kopi dunia setelah Brasil, Vietnam dan Kolumbia, dengan sumbangan devisa cukup besar. Harga kopi Robusta dan Arabika di tingkat global mengalami kenaikan sangat signifikan dalam tiga tahun terakhir. Pada transaksi April 2011 harga kopi Robusta tercatat US$ 259 per ton, sangat jauh dibandingkan dengn harga rata-rata pada 2009 yang hanya US$ 165 per ton. Demikian pula, harga kopi Arabika yang tercatat telah melampaui US$ 660 per ton, suatu lonjakan tinggi dibandingkan dengan harga rata-rata pada 2009 yang hanya US$ 317 per ton. Dengan kinerja ekspor yang mencapai 300 ribu ton saja, maka devisa yang dapat dikumpulkan Indonesia mampu mencapai US$ 77,7 juta. Usahatani kopi di Indonesia melibatkan petani kopi rakyat dengan jumlah banyak, dan berkontribusi pada jutaan ekonomi rumah tangga, kecuali sistem produksi yang dilakukan oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN 12) di Jawa Timur. Produksi kopi hanya berkisar 500 ribu ton dan produktivitas hanya di bawah 900 kilogram per hektare, masih jauh dari potensi produksi yang sebenarnya, seandainya teknis budidaya dan pasca panen diterapkan secara baik dan benar. Selama ini sebagian besar produksi kopi Indonesia dijual ke pasar global, karena tingkat konsumsi kopi di Indonesia masih tergolong sangat rendah, hanya 120 ribu ton per tahun. Rendahnya tingkat konsumsi kopi di dalam negeri sebenarnya merupakan peluang besar untuk mengembangkan pasar kopi domestik, yang dapat berkontribusi pada pembangunan ekonomi Indonesia. Areal produksi kopi di Indonesia diperkirakan sekitar 1,3 juta hektare, yang tersebar dari Sumatra Utara, Jawa dan Sulawesi. Kopi jenis Robusta umumnya ditanam petani di Sumatra Selatan, Lampung, dan Jawa Timur, sedangkan kopi jenis Arabika umumnya ditanam petani di Aceh, Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, Bali dan Flores. Produktivitas kopi nasional yang sangat rendah tersebut masih sangat jauh dibandingkan dengan produktivitas kopi di Vietnam yang mencapai 3 ton per hektare. Di Indonesia, produktivitas kopi Robusta lebih tinggi dari produktivitas kopi Arabika yang akhir-akhir ini mulai banyak digemari petani Indonesia. Permintaan dunia yang tinggi terhadap kopi Arabika juga telah ikut mendorong Indonesia untuk meningkatkan produksi dan produktivitas kopi Arabika ini, yang secara rata-rata memiliki harga yang lebih tinggi. Sebagian besar (80 persen) dari total 300 ribu ton ekspor kopi Indonesia adalah Robusta, dan sebagian kecil saja ekspor kopi Arabika, sehingga petani kopi Indonesia yang sebagian besar juga produsen kopi Robusta juga sangat terpukul atas penurunan harga kopi global sejak paruh kedua tahun 2008. Berhubung permintaan yang semakin meningkat terhadap kopi Arabika atau juga dikenal dengan kopi spesialti maka Indonesia telah secara sistematis berusaha mengembangkan jenis kopi eksotik dan aroma yang kuat ini, seperti Kopi Gayo, Kopi Mandailing, Kopi Toraja, Kopi Kintamani-Bali dan sebagainya. Dengan semakin kondusifnya suasana kemanan sosial-politik di Aceh, maka produksi dan produktivitas kopi juga diharapkan meningkat karena petani kopi semakin percaya diri untuk pergi ke ladang dan mengurus kopinya. Provinsi Lampung dan Sumatra Selatan adalah sentra produksi kopi Robusta di Indonesia,

dengan total produksi mencapai 320 ribu ton. Sedangkan Provinsi Aceh dan Sumatra Utara adalah sentra kopi Arabika, walaupun produksinya masih berkisar 35 ribu ton setiap tahun. Jawa Timur adalah salah satu sentra produksi kopi Arabika yang juga cukup besar, dan akhir-akhir ini telah mengembangkan kopi Arabika karena dorongan permintaan dunia yang juga cukup besar. Hal yang lebih menarik adalah bahwa sistem produksi kopi di Jawa Timur juga melibatkan usaha skala besar, karena PT Perkebunan Nusantara (PT PN 12) telah cukup lama berkecimpung dalam usahatani kopi. Pergeseran dari kopi Robusta ke kopi Arabika juga banyak dipicu dan dipelopori oleh PTPN, yang telah terlebih dahulu menjalin kontak dengan pembeli kopi di pasar global. Berbeda halnya dengan sistem prouksi dan perdagangan kopi di Indonesia, di Sumatra Bagian Selatan seperti di Lampung, Sumatra Selatan dan Bengkulu yang didominasi oleh kopi Robusta, inisiatif baru tentang sertifikasi produk belum banyak dilakukan. Beberapa sentra produksi, terutama yang berbatasan dengan hutan lindung dan Taman Nasional seperti di daerah Sumberjaya, Lampung Barat sebenarnya telah mencoba mengikuti prinsip-prinsip keberlanjutan sistem produksi kopi. Pada kesempatan lain (Arifin dkk, 2008) penulis melakukan penelusuran mendalam tentang pemasyarakatan tanaman naungan, melalui program Hutan Kemasyarakatan (HKm), yang menekankan prinsip-prinsip wana-tani atau sistem agroforesti yang bernuansa multi-strata. Petani kopi pada Daerah Aliran Sungai Way Besai di Lampung Barat itu dapat meningkatkan produksi dan pendapatan rumah tangganya, karena tanama naungan telah memberikan tambahan penerimaan yang signifikan. Walaupun pada skala dan sofistikasi yang agak berebda, petani kopi yang memanfaatkan pola tanam multi-strata dan tanaman naungan pada Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman di Kabupaten Pesawaran seharusnya memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan petani di Lampung Barat, karena mereka menerapkan pola multi-strata HKm sebagaimana dijelaskan. **** Dalam lima tahun terakhir, ekonomi kopi mengalami perubahan global yang sangat dinamis, menyusul semakin berkembangnya sistem sertifikasi produk dan sistem label pada kopi dan produk pangan-pertanian lain. Standar sosial dan standar lingkungan hidup pada ekonomi kopi nyaris menjadi sesuatu yang teramat sangat penting dan membawa implikasi jangka panjang bagi kualitas lingkungan hidup dan tingkat keberlanjutan ekonomi kopi itu sendiri. Sementara itu, proses sertifikasi yang melibatkan pihak ketiga dan kecenderungannya sebagai persyaratan perdagangan global, tentu membawa konsekuensi biaya yang tidak sedikit bagi petani kopi, konsekuensi tekanan pada pemanfaatan sumberdaya alam, apalagi bagi mereka yang memiliki skala usaha tidak menguntungkan secara ekonomis. Perubahan arena baru dalam lingkungan korporasi global tersebut tentu saja membawa perubahan budaya baru dalam dunia agribisnis kopi, mulai dari petani kecil sampai perusahaan skala menengah besar. Pada skala perusahaan atau masyarakat bisnis umumnya, skema dan inisiatif baru dalam bidang tata-kelola usaha tingkat korporasi ini juga mempengaruhi kecenderungan terkini dalam perdagangan pangan dan pertanian (agri-food). Banyak perusahaan besar yang mulai menjadi pelopor perubahan atau pergeseran ke arah citra etika bisnis yang lebih bersahabat, melalui aplikasi tanggung jawab sosial korporasi (CSR=corporate social responsibility) dalam sistem rantai pasokan secara umum. Di lain sisi, munculnya beberapa lembaga baru atau organisasi nonpemerintah (LSM=lembaga swadaya masyarakat) yang memfokuskan dirinya pada jaringan sertifikasi produk dan sertifikasi tata-guna lahan, turut mewarnai perkembangan sistem inisiatif korporasi global saat ini dan ke depan. Bahkan tidak mustahil, kecenderungan baru dalam hal

tata-kelola sistem pangan-pertanian yang lebih berkelanjutan dan melibatkan perusahaan besar kopi, petani tradisional dan LSM lokal dan internasional. Secara hakikat pun, mereka harus terus berkiprah dan berkembang untuk memantapkan jaringan kerja ientrnasional dan efektivitas dari sertifikasi kopi secara interansional. Standar keberlanjutan dan sertifikasi kopi di tingkat global ini telah membawa manfaat langsung dan tidak langsung bagi petani, walaupun juga tidak terlalu jelas tentang manfaat bagi pelestarian keanekaragaman hayati di tingkat lokal. Indonesia sebenarnya mulai menerapkan beberapa inisiatif korporasi global di beberapa tempat seperti Organic, Fairtrade, Starbucks CAF Practices dan Rainforest Alliance, walau hanya sangat terbatas pada beberapa skala usaha saja. Beberapa sentra produksi, terutama yang berbatasan dengan hutan lindung dan taman nasional telah mencoba mengikuti prinsip-prinsip keberlanjutan sistem produksi kopi, misalnya dalam bentuk pemasyarakatan tanaman naungan. Dari beberapa studi dilakukan penulis di tingkat lapangan, di Sumatra Bagian Selatan seperti di Lampung, Sumatra Selatan dan Bengkulu yang didominasi oleh kopi Robusta, inisiatif baru tentang sertifikasi produk belum banyak diterapkan, walaupun beberapa petani kopi yang berfikir lebih maju telah mulai mangadopsinya. Perusahaan perkebunan milik negara di Jawa Timur misalnya, telah melakukan pengembangan pasar ekspor kopi ke arah kopi spesialti, suatu sistem yang mengutamakan kualitas dan cita rasa kopi. Para pedagang kopi telah semakin berhati-hati tentang keterlacakan dari biji kopi, apakah berasal dari hutan lindung, taman nasional atau aktivitas produksi yang menjurus ilegal dan sejenisnya. Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, beberapa koperasi petani kopi telah mulai dibentuk, sebagaimana disyaratkan dalam suatu proses sertifikasi, sehingga insiatif global ini benar-benar diharapkan dapat berfungsi sebagai salah satu upaya pengelolaan ekosistem Leuser di Aceh, yang sampai saat ini memperoleh ancaman yang tidak kecil. Di Aceh dan Sumatra Utara, yang banyak didominas oleh kopi Arabika, standarisasi internasional telah mulai diterapkan, karena Starbucks telah mampu menyerap kopi spesialti sekitar 30 ribu ton dari Sumatra Bagian Utara tersebut. Biji kopi yang diekspor langsung dari Pelabuhan Belawan di Medan sebenarnya telah mendekati harga premium di pasar global. Sedangkan di Toraja dan Enrekang di Sulawesi Selatan, kopi Arabika diekspor melalui Pelabuhan Soekarno-Hatta di Makassar, umumnya dengan tujuan pasar Jepang dan AS. Sistem produksi kopi di Toraja masih amat tradisional, tidak menggunakan pupuk dan pestisida, sehingga produktivitas masih sulit untuk ditingkatkan walaupun permintaan global dan dari pasar domestik demikian besar. Beberapa kelompok tani telah dimobilisasi untuk diikutsertakan dalam program atau skema sertifikasi kopi, seperti Organik dan lain-lain. **** Dari beberapa penjelasan di atas, maka Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib melaksanakan pemberdayaan petani kopi dengan sistematis dan terstruktur, bekerjasama dengan para pengampu kepentingan (stakeholders) yang lain. Seperti disebutkan sebelumnya, salah satu syarat dari sistem rantai nilai dalam skema inisiatif baru keberlanjutan sistem produksi pangan dan pertanian adalah pembentukan organisasi petani. Dalam hal ini, pemerintah masih memiliki ruang yang luas untuk meningkatkan manfaat inisiatif baru standarisasi kopi tingkat global bagi petani kopi adalah pemberdayaan petani, penguatan organisasi petani, pemberian informasi yang

memadai dan aktivitas lain yang mampu meningkatkan posisi tawar petani dan pelaku skala kecil lainnya. Sistem inisiatif baru sertifikasi keberlanjutan ini dapat menjadi potensi bagi penguatan modal sosial di tingkat lapangan serta struktur tata-kelola koperasi atau kelembagaan petani kopi atau masyarakat secara umum. Sistem governansi dalam sistem inisiatif korporasi global sebenarnya menerapkan suatu persyaratan generik tentang pembentukan organisasi petani atau koperasi yang menaungi sekian macam kepentingan para pengampu kepentingan dalam rangkaian sistem rantai pasokan. Langkah-langkah berikut perlu terintegrasi dalam kebihakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, yaitu pemberdayaan petani, penguatan organisasi petani, pemberian informasi yang memadai dan aktivitas lain yang mampu meningkatkan posisi tawar petani dan pelaku skala kecil lainnya. Apabila hal itu tidak dilakukan maka petani kopi dan pelaku skala kecil di dalam negeri hanya akan menjadi penonton pasif di tengah perubahan lingkungan global yang demikian cepat, yang tentu saja tidak akan memperoleh manfaat yang signifikan. Bustanul Arifin, Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian UNILA dan Ekonom Senior INDEF
http://www.metrotvnews.com/metromain/analisdetail/2011/05/05/159/EkonomiKopi-Indonesia-di-Tengah-Dinamika-Global